Berita dan Event

Lentera Keluarga – Membuka Hati

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 23:02
Kamis, 19 Juli 2018. Bacaan:  Yes  26:7-9.12.16-19; Mzm  102:13-14ab.15.l6-18.19-21; Mat  11:28-30 Renungan: SABDA Tuhan hari ini menyejukkan kita “Datanglah kepadaKu, kalian yang letih lesu dan berbeban berat…” Setidaknya ada 3 undangan sekaligus: datang kepada Yesus, pikul kuk dan belajar dari Yesus.  Ketiga-tiganya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Beban berat dengan […]

Bersama Yesus Pikul Beban Kehidupan

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 22:19
YESUS memahami kelemahan kita sebagai manusia dan sangat peduli kepada penderitaan yang kita alami. HatiNya tergerak oleh belas kasih sehingga diulurkanNya tanganNya untuk menolong kita agar tidak terpuruk di dalam keputusasaan. Kepada siapa saja yang sedang menanggung beban kehidupan yang berat dan amat melelahkan, diundangNya untuk datang ke hadapanNya dan berserah kepadaNya agar mengalami kelegaan. […]

Kata Mutiara – Kamis 19 Juli 2018

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 22:15
JANGAN minta kepada Tuhan untuk memberi anda beban yang ringan. Mintalah kepadaNya untuk memberi anda bahu yang kuat untuk menanggung beban yang berat. Bob Jones, Sr. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Renungan Harian, Kamis: 19 Juli 2018, Mat. 11:28-30

Mirifica.net - Rab, 18/07/2018 - 19:00
EKAN beriman terkasih. Allah menghendaki agar kita menjalani kehidupan ini dengan kedamaian dan ketentraman. Namun nyatanya, hal itu tidak berlangsung demikian. Sebab, banyak manusia yang masih hidup di luar aturan Allah. Ada banyak orang yang mengalami kegelisahan dalam hidup. Rasa damai dan ketentraman seakan menjadi sesuatu yang begitu mahal untuk diperoleh. Berhadapan dengan situasi manusia …

Pasukan polisi di Nduga hanya bikin trauma masyarakat - Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Google News - Rab, 18/07/2018 - 18:56

Pasukan polisi di Nduga hanya bikin trauma masyarakat
Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
Di tempat sama, dan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Benediktus Bame menambahkan, ada langkah lain yang bisa diambil oleh pemerintah terhadap OMP atau TPN dengan pendekatan yang lebih ...

Bagaimana pelaksanaan upacara Sakramen Penahbisan?

Pen@ Katolik - Rab, 18/07/2018 - 18:01
Paus menahbiskan imam-imam di Vatikan/Foto dari Catholic For Life

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

331. Bagaimana pelaksanaan upacara Sakramen Penahbisan?

Sakramen Penahbisan dilaksanakan, dalam setiap tingkatannya, dengan cara penumpangan tangan ke atas kepala yang ditahbiskan oleh Uskup yang mengucapkan doa agung Penahbisan. Dengan doa ini, Uskup memohon kepada Allah, bagi yang ditahbiskan, pencurahan Roh Kudus dan anugerah Roh sesuai dengan pelayanan yang dimaksud oleh Penahbisan tersebut.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1572-1574, 1597

332. Siapa yang dapat melayani Sakramen ini?

Hanya para Uskup yang ditahbiskan dengan sah sebagai pengganti para Rasul yang dapat melaksanakan Sakramen Penahbisan ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1575-1576, 1600

333. Siapa yang dapat menerima Sakramen ini?

Sakramen ini hanya dapat diterima secara sah oleh orang yang sudah dibaptis. Gereja mengakui dirinya terikat pada pilihan yang sudah dibuat oleh Tuhan. Tak seorang pun dapat menuntut untuk menerima Sakramen Penahbisan ini, tetapi harus melalui penilaian kelayakan untuk pelayanan ini oleh otoritas Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1577-1578, 1598

Perempuan di India Tidak Pernah Jauh Dari Bahaya

UCANews - Rab, 18/07/2018 - 17:02

Setelah sebuah survei baru-baru ini melaporkan bahwa India merupakan tempat paling berbahaya di dunia bagi perempuan untuk menjalani hidup, sejumlah aktivis hak asasi manusia meminta pemerintah untuk mengambil tindakan agar negara itu menjadi tempat yang aman bagi setengah dari jumlah penduduk di sana.

Survei yang dirilis oleh Thomson Reuters Foundation (TRF) yang berbasis di London, Inggris, pada 26 Juni itu menyebut resiko tinggi akan kekerasan seksual dan pekerja budak yang dihadapi perempuan.

Afghanistan dan Suriah berada pada urutan kedua dan ketiga, menyusul Somalia dan Arab Saudi.

Sebelumnya, survei TRF pada 2011 menyebut India sebagai negara keempat dalam indeks global. Hal ini memperlihatkan bagaimana situasi semakin memburuk ketimbang membaik selama tujuh tahun terakhir.

“Pembunuhan anak-anak perempuan terjadi besar-besaran di sini. Secara efektif ini berarti bahwa seorang perempuan dibunuh bahkan sebelum dilahirkan,” kata Monique Villa dari TRF.

“Ironis bahwa di sebuah negara yang sedang berkembang seperti India, perempuan tidak cukup aman untuk menjalani hidup secara bebas,” lanjutnya.

Dalam survei itu, India menduduki peringkat tinggi dalam hal kekerasan seksual terhadap perempuan, perdagangan anak perempuan dan kondisi kesehatan perempuan.

“Ini menjadi keprihatinan kami dan juga membantah klaim bahwa seorang perempuan dihormati dan diakui dengan baik di India,” kata Fatima Sheikh, seorang aktivis yang tinggal di New Delhi, kepada ucanews.com.

“Kenyataannya perempuan masih dianggap sebagai subyek yang tabu dalam masyarakat kita di mana kelahiran seorang anak perempuan pun dilihat sebagai pertanda buruk bagi seluruh keluarga atau klan,” lanjutnya.

Menurut data PBB, 27 persen dari jumlah penduduk perempuan di India menikah sebelum berumur 18 tahun, sementara 29 persen dari mereka mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasangan mereka.

“Situasi pasti buruk di lapangan karena 70 persen dari jumlah perempuan tidak melaporkan kekerasan seksual,” kata Sheikh.

Seorang seniman, Aruna Roy, mengatakan kelompok reaksioner di India menggagalkan langkah untuk memberi hak yang sama kepada perempuan.

“Tradisi yang ditentang oleh perempuan selama berabad-abad lalu tengah dihidupkan kembali oleh mereka yang menghormati nilai-nilai fundamentalis semacam itu,” katanya.

“Akibatnya, nilai-nilai sosial kita diabaikan dan kita kehilangan rasa kesopanan,” katanya.

Bahkan iklan TV menampilkan perempuan lebih sebagai simbol atau komoditas daripada individu yang dihormati, lanjutnya.

Menurut Harsh Kumar, seorang ekonom yang tinggal di Uttar Pradesh, urutan survei itu sepertinya berdampak pada pembangunan dan reputasi India di tingkat global.

“Pemerintah berusaha memberi kesan bahwa negara itu merupakan tempat yang menjanjikan bagi kemajuan dan pertumbuhan ekonomi. Namun berbagai survei seperti ini membantah klaim tersebut,” katanya kepada ucanews.com.

Pemerintah sebelumnya sama sekali gagal memberi rasa aman kepada perempuan atau mempercepat proses peradilan bagi para pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan, kata Basit Ahmad, seorang pengacara yang tinggal di ibukota itu.

“Kita tidak punya banyak hakim dan tidak ada pengadilan khusus untuk menghukum mereka yang melakukan kejahatan terhadap perempuan. Pemerintah harus memperbaiki krisis ini dan membentuk pengadilan yang bisa memproses dengan cepat kasus-kasus semacam itu sehingga perempuan kembali memperoleh kepercayaan diri dalam sistem peradilan kita dan berani melaporkan kasus kekerasan,” lanjutnya.

Data Badan Laporan Kejahatan Nasional milik pemerintah menunjukkan bahwa angka kasus pemerkosaan di India meningkat 80 persen dalam 10 tahun sejak 2007 hingg 2016, ketika empat kasus pemerkosaan dilaporkan rata-rata setiap jam.

Data menunjukkan bahwa 34.652 kasus pemerkosaan atau pencobaan pemerkosaan dilaporkan pada 2015. Tetapi angka ini meningkat 12,4 persen setahun kemudian dan menjadi 38.947 kasus.

Pada 2016, sekitar 39 kasus kekerasan terhadap perempuan dilaporkan setiap jam, hampir dua kali lipat dari data pada 2007, yakni 21 kasus.

Kebanyakan “kejahatan yang dilakukan oleh suami atau kerabat” (32,6 persen), menyusul “serangan terhadap perempuan dengan maksud untuk melecehkan kespoanan mereka” (25 persen), “penculikan dan penyanderaan” (19 persen) dan “pemerkosaan” (11,5 persen).

Angka pasti dari kejahatan terhadap perempuan mencapai 18 persen, demikian data tersebut.

 

Pelita Hati: 19.07.2018 – Datang kepada-Nya

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 17:00
Bacaan Matius 11:28-30 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan. Sahabat pelita hati, WARTA pelita sabda hari ini sungguh […]

Fransiskan muda hendaknya jalani kedinaan, miliki pengharapan, teladani Santo Bonaventura

Pen@ Katolik - Rab, 18/07/2018 - 15:57

Provinsial Ordo Fratrum Minorum (OFM) Indonesia Pastor Mikael Peruhe OFM mengatakan ada tiga jurus penting yang perlu dilakukan Fransiskan muda, yang mengucapkan profesi pertama, sehingga dapat memelihara panggilannya dalam Keluarga Besar Fransiskan, yakni “menjalani kesederhanaan (kedinaan), memiliki pengharapan serta meneladani cara hidup Santo Bonevantura.”

Pastor Mikael Peruhe OFM berbicara dalam homili Misa Profesi Pertama 17 Novis Fransiskan di Gereja Paroki Santo Paulus Depok, Keuskupan Bogor, 15 Juli 2018. Pembina Rumah Transitus Depok Pastor Fransiskus Asisi Oki Dwihatmanto OFM dan Kepala Paroki Santo Paulus Pastor Gregrorius Pontus OFM menjadi konselebran Misa yang dihadiri sekitar 500 umat setempat termasuk keluarga dan sahabat dari para Fransiskan yang mengucapkan kaul pertama.

Dalam Misa bertema “Jika kami untuk melayani baiklah kita melayani” itu Pastor Mikael Peruhe menegaskan bahwa karya pewartaan Kabar Gembira di zaman Yesus bukanlah pekerjaan mudah karena ada ancaman bahkan ancaman keselamatan bagi mereka yang setia mewartakan-Nya. Meski demikian Yesus mengajak para murid dan rasul-Nya untuk memanfaatkan setiap karunia, dan itu menjadi kekuatan yang luar biasa, jelas imam itu.

Di zaman itu, jelas Pastor Peruhe, memang tidak mudah melakukan jurus kesederhanaan atau kedinaan. “Namun, setiap orang bisa secara sadar melepaskan kelekatannya pada hal-hal duniawi untuk merawat panggilannya, sehingga tetap baik adanya,” kata imam itu seraya meminta seorang Fransiskan “menghayati panggilan secara mendalam dan menghidupinya dengan semangat pelayanan dengan pengalaman hidup sederhana.”

Memiliki pengharapan berarti membangun relasi dengan Sang Pencipta, pemilik kehidupan. “Relasi yang baik dengan Yesus adalah suatu yang mutlak bagi mereka mencari kesucian diri. Sama halnya seperti Nabi Amos. Dia yakin bahwa dia diutus berbuat baik untuk Israel, kendati dia menyadari bahwa  tantangan dunia sangat berat,” kata Pastor Peruhe. Dia berharap 17 Fransiskan muda itu memiliki semangat pengharapan untuk “membangun relasi yang baik dengan Tuhan baik dalam suka maupun duka.”

Pada Pesta Santo Bonaventura itu, Pastor Peruhe juga mengajak para novis OFM yang mengucapkan profesi pertama itu meneladani cara hidup orang kudus itu, yakni pengalaman yang dirasakan sesuai dengan pesan aktual yang dialami saat ini.

Pastor Pontus bangga karena Profesi Pertama yang selama ini dilakukan di rumah pembinaan itu telah memantik semangat hidup membiara putera-putera di paroki itu, sedangkan Pastor Oki melihat kehadiran umat paroki sebagai tanda umat ikut mendoakan para novis “sehingga panggilan menjadi Fransiskan dapat terwujud sesuai cita cita para Fransiskan muda.”

Para Fransiskan muda yang umumnya berasal dari Manggarai, Flores, dan dari Malang, Jawa Timur, akan melanjutkan kuliah di STF Driyarkara Jakarta. (Konrad R. Mangu)

Artikel Terkait:

Fransiskan muda diajak melayani penuh persaudaraan seperti Santo Bonaventura

Provinsial OFM ajak 14 frater kaul pertama bersukacita berani bangun persaudaraan

Ribuan Orang Protes Pelecehan Terhadap Orang Kristen di India

UCANews - Rab, 18/07/2018 - 14:16

Sekitar 10.000 orang Kristen di Negara Bagian Jharkhand,  India bagian timur membentuk rantai manusia sepanjang 20 kilometer  memprotes apa yang mereka sebut pelecehan yang didukung negara terhadap orang Kristen dan kampanye kebencian terhadap mereka.

Sebagian besar orang Kristen pribumi mengatakan pemerintah mereka, yang dijalankan oleh Partai Bharatiya Janata (BJP), pro-Hindu, telah mengembangkan kebijakan mengambil hak dan tanah mereka.

Menghadapi hujan lebat pada 15 Juli, perempuan, anak-anak, dan orangtua dari berbagai Gereja bergabung dengan rantai manusia setelah ibadat pada hari Minggu.

Protes itu diadakan di Ranchi, Gumla, Simdega, Bokaro, Jemshedpur dan Khunty sambil  meneriakkan slogan-slogan menentang langkah pemerintah negara bagian itu.

“Biarawati Katolik, imam, pendeta diserang dan dipenjarakan. Lembaga mereka digeledah. Mereka dituduh atas setiap kesalahan yang terjadi di negara bagian,” kata penyelenggara Prabhakar Tirkey, ketua Forum  Kristen Ekumenis Rashtriya Isai Mahasangh.

Orang-orang Kristen marah terkait penahanan seorang suster Misionaris Cinta Kasih (MC) baru-baru ini atas tuduhan perdagangan anak. Penangkapan terjadi setelah pasangan yang tidak memiliki anak melapor bahwa seorang anggota staf di sebuah rumah untuk ibu yang tidak menikah mengambil uang untuk memberikan bayi tetapi gagal memenuhi janjinya.

Pastor Alphonse Aind, kepala sekolah di sebuah desa terpencil, ditangkap dan dipensiunkan pada 22 Juni atas tuduhan bersekongkol untuk pemerkosaan setelah orang-orang tak dikenal menculik lima aktivis sosial yang menggelar drama jalanan di sekolahnya yang diduga mengkritik tuntutan masyarakat suku untuk otonomi.

Para pemimpin Kristen mengatakan penangkapan itu adalah bagian dari kampanye kebencian yang disponsori negara untuk memproyeksikan orang Kristen dan misionaris sebagai pelanggar hukum dan menodai institusi mereka.

“Ini adalah bagian dari rencana  menjauhkan orang-orang biasa dari institusi Kristen dan misionaris,” kata Tirkey.

Sejak BJP berkuasa di Jharkhand tahun  2014, kelompok-kelompok Hindu telah menuduh orang-orang Kristen terlibat dalam pembabtisan secara ilegal orang-orang Dalit dan orang-orang pribumi yang miskin secara sosial, katanya.

Setahun  lalu, negara memberlakukan undang-undang yang mengatur perpindahan agama, dimana menjadi kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman penjara jika dilakukan tanpa memberi tahu pemerintah, kata Tirkey.

Ankita Kujur, salah satu pengunjuk rasa, mengatakan kepada ucanews.com bahwa pemerintah telah bekerja  membagi masyarakat pribumi sebagai orang Kristen dan non-Kristen untuk mengisolasi dan melemahkan masyarakat pribumi. Strategi ini bertujuan  menarik suara non-Kristen dan merusak persatuan masyarakat suku untuk mempertahankan hak kesukuan, katanya.

Pemerintah mengklaim bahwa semua orang pribumi non-Kristen beragama Hindu. Namun, sebagian besar masyarakat adat non-Kristen menjalankan agama tradisional Sarna mereka dan ingin agar pemerintah menerimanya di antara agama-agama resmi.

Pemerintah telah mencoba  mengamandemen dua undang-undang negara bagian dengan menghapus klausul untuk melindungi hak-hak tanah masyarakat adat, namun para pemimpin masyarakat adat  mencurigai langkah tersebut bertujuan  mengalihkan tanah mereka ke perusahaan-perusahaan pertambangan.

“Pemerintah datang dengan banyak gerakan untuk menggeser orang Kristen dan suku. Kalau ini tidak ditentang, secara bertahap akan membinasakan komunitas suku,” kata Kujur.

 

Di Vietnam, Seorang Aktivis Yang Dipenjara Gelar Aksi Mogok Makan  

UCANews - Rab, 18/07/2018 - 13:45

Ibu dari seorang aktivis dan blogger perempuan Katolik terkenal di Vietnam yang kini tengah menjalani hukuman penjara selama 10 tahun menuntut para pejabat penjara untuk memperbaiki kondisi di dalam penjara yang menyebabkan anaknya menggelar aksi mogok makan.

Nguyen Tuyet Lan mengatakan anaknya – Nguyen Ngoc Nhu Quynh – menggelar aksi mogok makan sejak 6 Juli lalu karena diperlakukan secara buruk di Penjara Kamp Nomor 5 di Propinsi Thanh Hoa.

“Saya minta para pejabat penjara untuk memenuhi permintaan anak saya yang sangat wajar,” kata Lan dalam sebuah surat yang dikirim ke penjara itu pada Senin (16/7).

Lan, 62, meminta para pejabat untuk memisahkan anaknya dari beberapa narapidana perempuan yang meneriakinya dan bertengkar dengannya dan untuk menindak sejumlah narapidana yang secara sengaja menyebabkan anaknya menderita gangguan mental.

Ia mengatakan anaknya seharusnya dimasukkan ke dalam sel biasa seperti para narapidana lainnya.

Lan pernah berbicara selama satu jam dengan anaknya yang juga terkenal sebagai “Ibu Jamur” itu di penjara pada 12 Juli lalu. Menurutnya, anaknya sekarang nampak kurus dan kondisi kesehatannya buruk.

Penjara itu terletak 1.200 kilometer dari rumah Lan di Propinsi Khanh Hoa.

Lan mengatakan anaknya telah dipindahkan ke sebuah sel di mana ia tidak memiliki privasi. Anaknya pernah mengeluh bahwa sel itu tidak memiliki banyak dinding dan toilet pun bisa dilihat dari luar.

Ia meminta anaknya yang adalah seorang narapidana politik itu untuk berhenti melakukan aksi mogok makan, Namun anaknya menolak.

“Quynh meminta saya untuk menghormati keputusannya. Ia mengatakan: ‘Saya sadar akan perbuatan saya,’” kata Lan.

Lan mengatakan ia memberi anaknya satu set pakaian dan sebuah buku tata bahasa dalam Bahasa Inggris. Namun sebuah Kitab Suci disimpan oleh para pejabat penjara.

Ia menambahkan bahwa bulan lalu anaknya dimasukkan ke dalam sebuah sel bersama tiga narapidana lainnya. Seorang narapidana meneriakinya dengan kata-kata kasar sepanjang waktu tetapi anaknya tidak menanggapinya. Para sipir menuduh keduanya bertengkar.

Quynh telah melakukan aksi mogok makan sebanyak tiga kali untuk memprotes perlakukan buruk di dalam penjara termasuk makanan yang diracun sejak ia dipindahkan dari kampung halamannya di Nha Trang ke penjara itu pada Januari lalu.

“Para pejabat penjara harus bertanggungjawab atas kesehatan, kehidupan dan keselamatan para narapidana di dalam penjara,” kata Lan dalam suratnya.

Tahun lalu, sebuah pengadilan di Propinsi Khanh Hoa menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Quynh menurut Pasal 88 KUHP karena ia melakukan propaganda melawan negara.

Amnesty International melaporkan bahwa sedikitnya 97 narapidana politik menderita di dalam beberapa penjara di Vietnam, banyak di antaranya dimasukkan ke ruang isolasi dengan kondisi yang kotor dan menjadi sasaran penyiksaan atau perlakuan buruk rutin lainnya.

 

Ibu adalah Pahlawan

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 13:26

Yuk Daftar Ikuti http://www.sesawi.net/yuk-daftar-ikuti-gerakan-kebangsaan-indonesia-bijak-gratis-kok/ – Gratis Kok

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 12:03
INILAH Gerakan Kebangsaan Indonesia Bijak. Apa dampak kalau sosial media disalahgunakan? Bagaimana cara untuk mengetahui itu hoax dan bagaimana cara menangkis berita agar sesuai dengan datanya di media sosial? Bagaimana cara mengemasnya menjadi berita yang menarik melalui video, meme dan media sosial lainnya? Kontribusi apa yg bisa kita lakukan melalui sosial media untuk Indonesia? Semua […]

Pameran Foto dan Lainnya untuk Peringati Pesta Pelindung Paroki Katedral Malang

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 11:55
SUDAH beberapa hari ini, udara sejuk berhembus di Kota Malang sepanjang hari. Ini bukan karena sinar matahari enggan menyapa warga Bumi Arema, tapi karena Indonesia mendapatkan pengaruh dari aliran massa dingin dari Australia  menuju ke Asia, demikian menurut BMKG. Nah, kondisi seperti itu tidak menyurutkan para pengurus lingkungan untuk hadir ke Gedung Widya Bhakti yang […]

Gereja Katolik Sri Lanka Tolak Film Tentang Seorang  Imam Pembunuh

UCANews - Rab, 18/07/2018 - 10:45

Film terbaru Sri Lanka,  “According to Mathew”, karya Chandran Rutnam, memicu kontroversi menjelang peluncurannya, para pejabat Gereja  berpandangan bahwa film itu menjatuhkan Gereja  Katolik  di negara mayoritas Buddha ini.

Film ini menggambarkan kisah nyata Pastor Mathew Peiris, seorang pastor Anglikan yang melakukan pelecehan seksual dan  berselingkuh dengan sekretarisnya dan kemudian membunuh suaminya Russel Ingram sebelumnya  juga merenggut kehidupan istrinya sendiri Eunice Peiris  tahun 1979 dengan menyebabkan dia overdosis karena obat anti diabetis.

Peiris, seorang imam dari Gereja Santo Paulus Rasul di Jalan Kynsey, Kolombo, kemudian dijatuhi hukuman mati dengan digantung karena tuduhan pembunuhan ganda.

Film ini, yang diangkat di saat peristiwa sejarah terjadi, dibintangi oleh Jacqueline Fernandez, mantan Miss Universe Sri Lanka dan aktris Bollywood, serta penyanyi dan penulis lagu asal Australia kelahiran Australia serta aktor Alston Koch.

Rutnam, yang juga menjabat sebagai  the Asian Film Location Services, pada mulanya menjadwalkan film  detektif – kriminal  itu akan dirilis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan  ke dalam bahasa Sinhala dan bahasa Tamil pada April 2017, namun pemutarannya terhenti.

Sutradaranya, seorang pemenang penghargaan internasional yang telah mengecam skandal seksual dalam semua agama, mengatakan dia bertekad untuk memutarkan filmnya tanpa membuat konsesi atau perubahan apa pun.

“Pastor Mathew juga melecehkan anak-anak. Ketika gadis-gadis muda mengaku dosa di hadapannya, ia melakukan perbuatan tak terpuji itu terhadap mereka,” kata Rutnam, yang telah bekerja dengan seorang sutradara dan produser film ternama  seperti Steven Spielberg.

“Saya sangat mengecam pelecehan seksual atau perilaku seksual yang dilakukan oleh setiap pemimpin agama  dalam agama apa pun,” kata Rutnam, seraya menambahkan skandal semacam itu adalah wabah yang mempengaruhi sebagian besar agama.

Ia mengutip kasus baru-baru ini yang melibatkan Kardinal Australia George Pell, tokoh paling senior Vatikan untuk menghadapi tuduhan pelecehan seksual, serta serangkaian tuduhan yang ditujukan kepada pastor Katolik di AS.

“Ini adalah kisah nyata. Saya terjebak pada fakta-fakta dan catatan pengadilan persidangan Pastor Peiris. Saya tidak membuat apa pun,” kata Rutnam kepada ucanews.com.

“Saya tahu fakta-fakta karena Pastor Mathew adalah gembala  saya dan juga teman saya,” kata Rutnam, yang juga manajer produksi untuk film Ibu Teresa: Dalam Nama Allah Miskin dan Indiana Jones Spielberg dan Temple of Doom, bagian yang diangkat  di Kandy  tahun 1983.

“Kami menerima keberatan dari semua pihak. Banyak surat pengaduan (tentang film itu) dikirim ke perdana menteri, presiden dan menteri yang bersangkutan,” kata Rutnam, seorang Kristen taat.

Seorang juru bicara Gereja Katolik yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan kepada ucanews.com bahwa di sebuah negara mayoritas Buddha di mana para pemimpin agamanya diperkirakan tidak melakukan hubungan seks dan pernikahan, para imam Katolik dan para pemimpin dari denominasi lain cenderung disatukan menjadi satu kelompok.

“Banyak umat Buddha di sini tidak akan memahami perbedaan antara seorang pastor Anglikan dan seorang imam Katolik,” katanya.

“Dalam kasus Pastor Peiris, dia tidak menikah, memulai perkawinan di luar nikah dan kemudian berkomplot untuk membunuh suami kekasihnya dan juga istrinya sendiri,” kata imam itu.

Gereja akan terus memprotes film,  yang akan beredar di Sri Lanka dan Australia,  dan gambarannya terhadap imam, katanya.

“Non-Katolik tidak akan mengerti perbedaan antara umat Katolik dan Anglikan karena para imam dari kedua denominasi itu mengenakan pakaian yang mirip, yaitu, jubah putih,” tambahnya.

Ketika media disuguhi pemutaran film tahun lalu, Kardinal Malcolm Ranjith, uskup agung Kolombo, mengeluarkan pernyataan tegas yang membantah  film tersebut.

Dia menekankan bahwa para imam Katolik tidak menikah, film ini menyangkut tindakan menyimpang dari satu individu, dan itu tidak ada artinya bagi umat Katolik atau Gereja.

“Dalam film ini, pastor Anglikan berpakaian seperti pastor lain dan ini mungkin mengirim pesan yang salah kepada orang,” katanya.

Rutnam mengatakan dia tidak akan mundur dari perang salibnya untuk mengekspos kesalahan di dalam Gereja.

“Skandal seksual yang melibatkan imam harus dipublikasikan dan saya sangat bangga untuk melayani  sebagai alat untuk mencapai tujuan ini,” katanya.

“Saya bangga telah membuat film ini karena jenis pelecehan ini telah berlangsung bertahun-tahun di seluruh dunia. Hanya karena Anda mengenakan gaun atau jubah tidak berarti Anda dapat melecehkan orang lain secara seksual, terutama anak-anak.

“Pesan yang mendasari adalah bahwa beberapa orang yang berada dalam posisi kekuasaan menyalahgunakan kelompok-kelompok rentan. Ini terjadi di seluruh dunia. Itu terjadi di Boston. Itu terjadi di seluruh Amerika. Dan itu terjadi di Sri Lanka.”

Lima imam Katolik di Boston dituntut lebih dari satu dekade yang lalu karena melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Sebuah film tentang kasus itu, Spotlight, dirilis  tahun 2015 yang berfokus pada penyelidikan skandal oleh The Boston Globe. Film  itu memenangkan dua Academy Awards termasuk satu untuk film terbaik.

“Ini adalah topik penting dan film ini tepat waktu karena ada banyak diskusi terjadi di seluruh dunia tentang masalah ini sekarang,” kata Rutnam,  seraya menambahkan dia siap  mengambil tindakan hukum terhadap segala upaya menghentikan film yang telah beredar itu.

“Saya tidak akan pernah berhenti memperjuangkan film ini dan mereka tidak dapat menghentikan saya membuat film tentang masalah ini,” katanya.

Setelah produksi selesai, Rutnam mengatakan, Uskup Anglikan Kolombo mengirim surat protes kepada Presiden Maithripala Sirisena.

Pembuat film itu mengatakan dia kemudian bertemu dengan pejabat dari Badan Sensor Film Nasional Sri Lanka, dan membela keabsahan filmnya dan akurasi historisnya.

Pastor Hans Zollner SJ, seorang  Jerman yang mengepalai Pusat Perlindungan Anak di Universitas Gregoriana Roma yang dikelola Yesuit, mengatakan bahwa masalah pelecehan seksual dan kekerasan fisik oleh pastor merajalela di Asia dan harus segera dihentikan.

“Saya curiga dengan apa yang saya lihat dari belahan dunia lain bahwa di Asia ada pelecehan seksual dari pastor yang melibatkan orang dewasa lainnya dan saya sangat berharap ini ditonton oleh otoritas gerejawi,” kata imam itu, yang juga melayani sebagai anggota Komisi Kepausan  untuk Perlindungan Anak.

“Ini harus segera dihentikan untuk semua. Kita harus terus meningkatkan kesadaran bahwa perilaku semacam ini tidak dapat ditoleransi,” katanya.

Pastor Zollner mengunjungi Sri Lanka pada  Februari untuk berbicara dengan para imam di keuskupan Kandy.

Dia mengatakan  65 uskup termasuk  dari Asia Selatan membahas  tentang  tata cara kanonik dan apa yang dapat dilakukan untuk melindungi korban pelecehan seksual pada pertemuan Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia 2017.

“Saya percaya bahwa di beberapa budaya di Asia di mana seksualitas tidak dibicarakan di depan umum, perilaku seksual yang salah dilihat sebagai sesuatu yang tabu oleh semua agama karena anda tidak seharusnya membicarakan sesuatu yang dianggap kotor,” kata Pastor Zollner.

“Konferensi Waligereja Sri Langka telah menyusun pedoman tentang cara terbaik untuk menangani pelecehan seksual, seperti yang diminta oleh Takhta Suci  tahun 2011. Pertanyaannya adalah seberapa jauh kita telah menerapkannya.”

 

Injil Minggu Biasa XVI-Th B 22 Juli 2018: Mrk 6:30-34, Ke Tempat Sunyi Sejenak

Sesawi.Net - Rab, 18/07/2018 - 10:38
REKAN-rekan yang baik, Kedua belas murid yang diutus dua-berdua ke pelbagai tempat kini kembali berkumpul dengan dia. Injil jelas-jelas menyebut mereka “rasul”, artinya orang yang diutus. Dalam pengutusan itu mereka dibekali kuasa atas roh jahat sehingga orang-orang yang mereka datangi dapat mulai mengenal siapa yang mengutus. Orang yang luar biasa. Dan ia bakal datang sendiri […]

Mgr Suharyo di Pontianak: Keuskupan Militer, tanda dukungan Gereja atas Kemerdekaan RI

Pen@ Katolik - Rab, 18/07/2018 - 06:56
Kapolda dan Wakapolda Kalbar diapit oleh Mgr Agustinus Agus dan Uskup OCI Mgr Ignatius Suharyo bersama Pastor Pasbanmilpol OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli/Foto: rk

Dalam kunjungan pastoral kepada umat di Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan POLRI (Ordinariatus Castrensis Indonesia, OCI) di Pontianak, 17-19 Juli 2018, Uskup OCI Mgr Ignatius Suharyo berkunjung juga ke Keuskupan Agung Pontianak (KAP) dan menjelaskan sejarah OCI kepada Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama Kuria KAP, Dewan Keuangan KAP, DPP Katedral Pontianak dan panitia kunjungan itu.

Mgr Suharyo memang bersahabat dengan Mgr Agus sejak mereka hidup bersama di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta, tahun 1969. “Saya kakak kelas Mgr Agus,” kata Uskup Agung Jakarta dalam pertemuan di Wisma Keuskupan, di hari pertama, seraya berterima kasih kepada Mgr Agus, karena “selama menjalankan tugas sebagai Uskup OCI, saya belum pernah dijemput uskup di bandara.”

Uskup OCI, yang datang bersama Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri (Pasbanmilpol) OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli dan staf sekretariat OCI Redem Kono, datang mengunjungi dan beraudiensi dengan Panglima Kodam XII/Tanjungpura dan pejabat Kodam XII/Tpr, Danlantamal XII/Pontianak, Danlanud Pontianak, serta dengan Kapolda Kalbar dan Pejabat Polda Kalbar. Kegiatan utamanya adalah bertemu warga OCI se-Garnisun Pontianak.

Keuskupan Militer di Asia, menurut Mgr Suharyo hanya ada di Filipina, Korea Selatan dan Indonesia. “Khusus Indonesia, sejarahnya amat menarik, karena Bapa Suci mendirikan Vikariat Militer di Indonesia bersamaan dengan zaman perjuangan kemerdekaan. Sesudah kemerdekaan, Belanda masih mengganggu di sana-sini.”

November 1948, lanjut Mgr Suharyo, Menteri Pertahanan saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendirikan unit pelayanan rohani dan mental untuk Angkatan Perang demi perjuangan kemerdekaan, dan satu bulan kemudian, Paus mendirikan Keuskupan Militer di Indonesia “untuk menunjukkan sikap jelas bahwa Gereja Katolik dari pusat di Vatikan mendukung perjuangan Kemerdekaan RI.”

Sebelumnya tahun 1946, Mgr Albertus Soegijopranoto SJ menulis surat kepada Paus meminta supaya Vatikan mengakui kemerdekaan RI. “Itu tanda lain bahwa Gereja Katolik sejak awal kemerdekaan sungguh mendukung kemerdekaan negara kita tercinta ini. Banyak tanda menunjukkan kedekatan sangat erat antara Gereja Katolik dengan negara. Itulah warisan bagi umat Katolik bahwa seperti apa pun tidak akan pernah tidak mencintai NKRI.”

Mgr Suharyo menyebut pahlawan nasional beragama Katolik, Mgr Albertus Soegijapranata SJ dan Kasimo, serta Slamet Riyadi dari TNI AD, Yos Sudarso dari TNI AL, dan Adi Sucipto dari TNI AU. “Warisan yang mereka tunjukkan menjadi warisan bagi kita semua,” tegas uskup.

Diceritakan, dulu Polri pernah masuk dalam kesatuan ABRI, dan waktu itu keuskupan di Indonesia bernama Keuskupan ABRI. Ketika Polisi disendirikan dan tidak ada lagi ABRI, “kami tidak mau melupakan warisan itu, maka namanya dirubah menjadi Keuskupan untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI dan POLRI. Itu khas Indonesia yang tidak ada di tempat lain.”

Tapi, Vatikan mulai menggunakan istilah yang selalu ditulis dalam laporan keuskupan yang dikirim Mgr Suharyo. “Bedanya, di Indonesia ini lembaga khas Gereja Katolik yang tidak diketahui institusi TNI dan POLRI, sedangkan di beberapa negara lain namanya Keuskupan Militer, di mana Pastor Militer dan Uskup Militer tinggal bersama tentara-tentara itu.”

Di Indonesia, jelas Mgr Suharyo, sejarahnya berbeda. Sukarno dan Soegijapranata yang bersahabat kental lupa membicarakan segi legalnya sehingga pada periode tertentu para pastor masuk ke lingkungan TNI dan POLRI dengan pangkat tituler, yang kini sudah tidak ada.

Julius Kardinal Darmaatmadja mencari jalan dengan menugaskan lima imam menjadi PNS masing-masing di Mabes TNI, di AD, AL, AU dan Kepolisian. “Tetapi ternyata posisi sebagai PNS kadang-kadang tidak menguntungkan, maka setelah imam imam itu pensiun, keadaan PNS tidak dilanjutkan.”

Kardinal mencari jalan lain lagi dengan mengutus empat imam ikut pendidikan militer sebagai perwira karir. Yang lulus hanya yang AD dan AU dengan perutusan jelas, tinggal di tempat pendidikan tanpa memikirkan karir lain. “Pastor Yos Bintoro dari AU masih tetap mengajar di Pangkalan Udara Adi Sucipto, sedangkan yang dari AD ternyata senang dengan karir maka dia meninggalkan imamat dan meniti jenjang karier di AD,” jelas Mgr Suharyo.

Sekarang, Uskup OCI berusaha bertemu para petinggi TNI dan Polri untuk menawarkan imam di TNI dan POLRI “asal ditempatkan di pendidikan, tidak di tempat lain.”

Menurut Pastor Ronny, selain mendengarkan pengarahan dari Danlantamal XII/Pontianak Laksma TNI Gregorius Agung WD dan Wakapolda Kalbar Brigjen Polisi Sri Handayani, yang juga beragama Katolik, dia juga mengajak umat Katolik TNI dan Polri se-Garnisun Pontianak untuk lebih dekat mengenal OCI dan meningkatkan spiritualitas Katolik serta “Kebangsaan Prajurit Katolik Demi Keutuhan dan Kedaulatan NKRI”.

Mereka juga mengikuti kegiatan penyegaran rohani dan tatap muka wawan hati dengan Uskup OCI, yang memimpin Misa bagi mereka di Aula Makodam XII Tpr sebagai puncak Kunjungan Pastoral OCI.(rk/ak)

Bergambar bersama di Polda Kalbar/Foto: rk Kunjungan ke Wisma Keuskupan Agung Pontianak/Foto: PEN@ Katolik Mgr Suharyo memberikan Plakat OCI kepada Mgr Agus/Foto: PEN@ Katolik Anak-anak pelajar menyambut Mgr Suharyo/Foto: rk

Puncta 18.07.18. Matius 11:25-27: Dinyatakan bagi Orang Kecil

Sesawi.Net - Sel, 17/07/2018 - 23:02
SAYA masih teringat apa yang disharingkan Pak Redes di teras Pastoran Tayap. Ia sangat bersyukur atas hidup ini dan atas rahmat-Nya untuk semua yang telah dianugerahkan-Nya. Kerjaannya tiap hari adalah noreh getah karet. Sebelum “menggores” kulit pohon karet, dia berdoa. “Tuhan seperti Engkau menumpahkan darah-Mu, pohon karet ini juga memberikan getahnya untuk kehidupanku. Aku merasa […]

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator