KatolikNews

Subscribe to pasokan KatolikNews
Berita Terkait Gereja Katolik
Di-update: 1 jam 42 mnt yang lalu

Anies Baswedan Hadiri Peringatan 5 Tahun Takhta Suci Paus Fransiskus

Jum, 16/11/2018 - 18:32

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menghadiri peringatan 5 tahun Takhta Suci Paus Fransiskus yang digelar di Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta, Kamis (15/11/2018) malam.

Kabar ini pertama kali diketahui dari postingan Anies di akun Instagramnya, @aniesbaswedan.

Pantauan Katoliknews.com, dari sejumlah foto yang ia posting, Anies terlihat sempat bertemu dengan Dubes Vatikan untuk Indonesia, Mgr Piero Pioppo dan Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo.

Anies kemudian menjelaskan bahwa Indonesia dan Vatikan sudah memiliki hubungan erat sejak lama. Vatikan, kata dia, negara pertama di Eropa yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

“Takhta Suci Vatikan merupakan salah satu negara Eropa yang cukup awal dalam mengakui kemerdekaan Indonesia. Ditandai dengan pembukaan misi diplomatik Vatikan di Jakarta pada tahun 1947, dan hubungan diplomatik resmi dijalin sejak 25 Mei 1950,” tulis Anies dalam keterangan foto.

Lantas, kata dia, hubungan antara Jakarta dan Vatikan bukan merupakan sesuatu yang baru.

“Jadi Vatikan bukan sahabat baru bagi Jakarta, kita telah menjalin hubungan baik sejak lama dengan pusat peradaban agama Katolik dunia ini,” lanjutnya.

Di akhir tulisannya, Anies lalu mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang ia rasakan dari Mgr Piero dan Uskup Suharyo.

“Terima kasih atas sambutan hangat Mgr Piero Pioppo, dan senang bisa berdiskusi lagi dengan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo,” tutupnya.

Katoliknews

Pesan Paus Fransiskus untuk Kaum Religius Spanyol: ‘Jadilah Nabi Harapan’

Rab, 14/11/2018 - 17:56

Paus Fransiskus berpesan kepada kaum religius di Spanyol untuk berani rendah hati dan menjadi nabi harapan bagi semua orang.

Hal tersebut disampaikannya lewat sebuah pesan yang ia kirim pada Selasa (13/11) waktu setempat, kepada semua biarawan/biarawati yang menghadiri acara 25 tahun Majelis Umum Konferensi Agama di Spanyol yang biasa disebut Confer.

“Tuhan memberi kita harapan dengan pesan cinta dan kejutan yang tidak pernah berubah, yang kadang membuat kita bingung, namun mereka membantu kita untuk keluar dari mentalitas dan spiritualitas yang tertutup,” kata Paus Fransisukus dalam pesan itu, seperti dilansir Vaticannews.va.

“Tidak ada upaya yang dilakukan untuk membuat misi para imam dan suster di Spanyol lebih baik. Mereka diharapkan menjadi menjadi nabi, ‘pria dan wanita harapan’,” lanjutnya.

Paus Fransiskus juga mengatakan, kehidupan religus selalu diliputi oleh antusiasme dan gairah, meski terkadang muncul ketidakpastian dan kekhawatiran.

“Misalnya lebih sedikit panggilan, anggota lanjut usia, masalah ekonomi, tantangan yang ditimbulkan oleh internasionalitas dan globalisasi, dan perangkap relativisme, marjinalisasi, dan ketidakrelevanan sosial,” kata uskup asal Argentina ini.

Selain itu, ia juga mengundang biarawan/biarawati untuk menghadapi tantangan injil pada diri orang muda dan membantu mereka mendengarkan undangan Tuhan bagi hidup mereka.

“Pria dan wanita religius yang berani dibutuhkan, yang membuka jalan baru dan menyajikan pertanyaan tentang panggilan sebagai pilihan Kristen yang fundamental,” ujarnya.

Paus juga menegaskan bahwa hidup yang disucikan berarti berjalan dalam kesucian.

“Mereka dipanggil untuk bekerja tanpa lelah untuk menjalankan karya-karya belaskasih,” katanya.

“Ini bukan masalah menjadi pahlawan atau menampilkan diri kita sebagai teladan bagi orang lain, tetapi bersama orang-orang yang menderita dan mendampingi mereka, mencari jalan alternatif, sadar akan kemiskinan kita sementara mempercayai Tuhan dan cinta tanpa batas-Nya.”

Akhirnya, Paus Fransiskus mengajak semua kaum religius di Spanyol untuk ‘hidup bersama Gereja dan di dalam Gereja’.

“Melangkah keluar dari zona nyaman mereka untuk menerangi yang menderita dan putus asa dengan cahaya Injil,” tutupnya.

Katoliknews

Diduga Korsleting, Gedung Lama Sebuah Gereja di Papua Barat Terbakar

Sel, 13/11/2018 - 18:37

Gedung lama Gereja Santo Laurensius Wasior di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat terbakar, Senin (12/11) sekitar pukul 03.00 WIT.

Seperti dikutip dari Merdeka.com, Kepala Distrik Wasior Anthonius Alex Marani kebakaran tersebut diduga disebabkan oleh korsleting arus listrik.

“Saat saya tiba api masih kecil tapi di atas di lisplang, kita sudah sudah berusaha siram tapi susah karena agak tinggi. Akhirnya papan lisplang itu jatuh kena tumpukan buku-buku jadi langsung membesar,” kata Marani.

Ia menjelaskan, bangunan yang tebakar sudah lama tak digunakan sebagai tempat ibadat bagi umat Katolik.

Sejak dua tahun terakhir, kata dia, gedung itu difungsikan sebagai sekolah Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Usia Dini (PAUD).

“Buku-buku dan alat peraga pembelajaran siswa TK dan PAUD serta sejumlah barang berharga lainnya ludes terbakar,” ujarnya.

Menurutnya, kebakaran ini membuat puluhan siswa PAUD dan TK Santa Laurensia terpaksa diliburkan untuk waktu yang belum ditentukan.

Gedung gereja yang terbakar dibangun pada 2006 dan diresmikan pada 2007. Ini merupakan gedung gereja Katolik pertama di Kabupaten Teluk Wondama.

Sejak 2016, gedung gereja ini tidak lagi dipakai sebagai tempat peribadatan karena sudah dibangun gedung gereja yang lebih besar di daerah Iriati.

Katoliknews

Mgr Suharyo Kembali Terpilih Jadi Ketua KWI

Sel, 13/11/2018 - 16:32

BANDUNG – Mgr Ignatius Suharyo kembali terpilih sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), untuk periode yang ketiga.

Uskup Agung Jakarta itu akan menjadi nahkoda KWI untuk tahun 2018-2021.

Ia terpilih pada hari terakhir Sidang Sinodal KWI 2018, Selasa 13 November 2018 di Bandung, Jawa Barat.

Sekertaris Jenderal KWI, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, juga kembali terpilih Uskup Bandung itu menempati posisi yang sama untuk periode yang kedua.

Keduanya dipilih dengan suara melebihi jumlah yang diperlukan untuk keterpilihan, demikian menurut situs Dokpen KWI.

Mgr Ignatius Suharyo mendapat 31 suara dan Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC mendapat 33 suara.

Berikut para fungsionaris di jajaran KWI periode 2018-2021:

  • Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta
  • Wakil Ketua I: Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF, Uskup Agung Keuskupan Agung Samarinda
  • Wakil Ketua II: Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Uskup Keuskupan Bogor
  • Bendahara: Mgr. Silvester San, Uskup Keuskupan Denpasar
  • Sekretaris Jenderal: Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC, Uskup Keuskupan Bandung

Katoliknews

Bertemu Panitia dan Pemenang Pesparani, Jokowi: Dari Paduan Suara Kita Belajar Toleransi

Sen, 12/11/2018 - 16:15

Aset terbesar bangsa Indonesia tak lain adalah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. Pemahaman soal itu terus disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sejumlah kesempatan.

Saat bersilaturahmi dengan panitia dan pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Tahun 2018 di Istana Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 12 November 2018, Kepala Negara mengatakan bahwa paduan suara juga dapat mengajarkan kita mengenai filosofi dari kerukunan yang dibutuhkan bangsa Indonesia.

Menurutnya, paduan suara mampu mengharmoniskan karakter-karakter vokal yang beragam menjadi sebuah kesatuan yang lengkap dan indah.

“Suara sopran, alto, tenor, dan bas semua harus saling menghargai. Enggak mungkin satu minta dominan, satu lainnya minta terus-terusan. Harus saling menjaga dan mengurangi ego masing-masing untuk mendapat sebuah suara yang padu, harmonis, dan indah,” tuturnya.

Selain itu, Kepala Negara mengajak para peserta Pesparani untuk turut mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan dan persaudaraan. Saat ini, bangsa Indonesia membutuhkan pemahaman lebih soal pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan antarelemen bangsa.

“Kebutuhan kita saat ini akan persatuan, mengingatkan akan pentingnya persatuan. Saya ingin itu betul-betul terus disampaikan kepada masyarakat. Karena banyak kita ini yang tidak ingat bahwa negara ini memang sangat beragam,” ujarnya.

“Jangan sampai intoleransi dan ekstremisme menganggap dirinya yang paling benar dan merasuk ke mana-mana. Akhirnya nantinya masyarakat merasa tidak rukun. Itu yang sangat berbahaya,” tandasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo.

Katoliknews

Para Uskup Bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor

Sen, 12/11/2018 - 12:33

Di sela-sela rapat tahunan yang digelar di Bandung, Jawa Barat, para uskup mengikuti silahturahmi dengan Presiden Joko Widodo, Senin, 12 November 2018.

35 uskup aktif dan 4 uskup emeritus hadir dalam pertemuan tersebut yang digelar di Istana Bogor.

Presiden Jokowi secara khusus mengundang mereka, demikian menurut situs Dokpen KWI.

Para uskup ini didampingi oleh lima imam, yakni Sekretaris Eksekutif KWI, RD. Siprianus Hormat, RD. PC. Siswantoko, RD. Antonius Haryanto, RD. Agus Ulahayanan, dan RD. John Russae.

Mereka berangkat dari Pusat Pastoral Keuskupan Bandung pukul 05.00 WIB dini hari dengan menggunakan bis.

Sebelumnya, pada 24 Agustus, Jokowi mengadakan silaturahmi ke Kantor KWI.

Pada waktu itu Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara, Pramono Anung dan Menteri Sekretaris Kabinet, Pratikno.

Kedatangannya ke KWI disambut langsung oleh Ketua KWI, Mgr. Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jenderal KW!, Mgr. Antonius Subianto OSC beserta para anggota Presidium KWI lainnya.

Memperingati Hari Pahlawan, Ormas Katolik di Depok Gelar Diskusi Kebangsaan

Min, 11/11/2018 - 12:04

Depok, Katoliknews.com – Memperingati hari Pahlawan Nasional yang jatuh setiap tanggal 10 November, organisasi masyarakat (Ormas) Katolik di kota Depok, Jawa Barat menggelar diskusi kebangsaan di Aula Gereja Paroki St. Paulus Depok, pada Minggu 11 November 2018.

Diskusi bertema ‘Demokrasi dan Konsensus Bersama dalam Bernegara’ dan digagas oleh Pemuda Katolik, Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) dan Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) itu menghadirkan sejumlah pembicara, diantaranya, Pastor Bantuan Militer dan Polri (Pasbanmilpol) Keuskupan Umat Katolik TNI dan POLRI, RD Rofinus Neto Wuli dan Ketua Umum Presidium Pusat ISKA, Hargo Mandirahardjo.

Pembicara lain ialah, Staf Ahli DPD RI, Bondan Wicaksono dan anggota DPRD kota Depok, Veronica Wiwin Widarini. Sementara, bertindak sebagai moderator, Benny Seman Wahi, Pengurus Pusat Pemuda Katolik.

Ketua Panitia, Edi Silaban mengatakan, diskusi digagas sebagai hasil refleksi Ormas Katolik tersebut, terkait masa depan demokrasi di tengah gempuran ideologi yang mengancam keberadaan demokrasi.

“Yang mendasari diskusi ini adalah kegelisahan bersama dalam melihat proses demokrasi yang berlangsung saat ini dan mengingatkan kembali konsensus bersama dalam bernegara,” katanya.

Hargo Mandiraharjo, dalam pemaparannya menegaskan demokrasi sebagai sistem politik yang menjadi kesepakatan bersama.

“Esensi demokrasi itu sendiri tidak lain adalah nilai-nilai yang berkeadaban dan berbasis pada nilai kearifan lokal. Dan, terdapat 4 konsensus dasar yang perlu dirawat bersama diantaranya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945,” katanya.

Sementara, Romo Rofinus dengan penuh semangat memberikan penguatan spirit kebangsaan, kenegaraan dan kekatolikan. “Politik kebangsaan adalah sebuah pilihan final sebagaimana semboyan 100% Katolik 100% Indonesia dari Mgr. Soegijapranoto,” ujarnya.

Sementara, Veronica Wiwin Widarini membagikan pengalamanbya sebagai politisi Katolik dalam mewujudkan kesejahteraan umum.

Selain itu, Bondan Wicaksono berharap generasi muda mampu berorganisasi dan terlibat dalam gerakan sosial kemasyarakatan.

“Generasi muda musti berani menyuarakan kepentingan masyarakat demi mewujudkan bonnum commune,” katanya.

Diskusi diakhir dengan penandatanganan komitmen bersama, di antaranya, pertama: Menjaga Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kedua, mempromosikan cinta, keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan solidaritas di antara seluruh keluarga umat manusia, serta melawan semua sistem sosial, ekonomi, dan politik yang tidak adil, yang menginjak harkat dan martabat manusia serta yang mengeksploitasi alam ciptaan secara tidak bijaksana dan berlebihan.

Ketiga, menolak secara tegas munculnya politik identitas, politik kebohongan, politik uang, ujaran kebencian, teror dan mendukung suksesnya pelaksanaan pemilu 2019.

BW/J-aR/Katoliknews

 

Empat Imam di Nigeria Diculik Sekelompok Orang Bersenjata

Jum, 09/11/2018 - 17:22

Empat imam di Nigeria diculik sekelompok orang bersenjata ketika dalam perjalanan menuju Seminari All Saints di Uhiele, Ekpoma, Selasa (6/11) malam, waktu setempat.

Imam-imam itu antara lain Pastor Victor Adigboluja dari keuskupan Ijebu Ode, Pastor Anthony Otegbola dari Abeokuta, Pastor Joseph Ediae dari Benin and Pastor Obadjere Emmanuel dari Warri.

Seperti dilansir Vaticannews.va, Kamis (8/11), penculikan itu berawal ketika empat imam tersebut kembali dari acara reuni sekaligus perayaan ulang tahun imamat mereka yang ke 10 di Warri, pada Senin hingga Selasa lalu.

Pada Selasa malam, bersama sejumlah imam lain, mereka lalu memutuskan berangkat ke seminari All Saints untuk melanjutkan acara ulang tahun imamat bersama komunitas di seminari tersebut.

Namun dalam perjalanan, sekelompok orang bersenjata tiba-tiba menyerang dan menembaki ban mobil yang mereka tumpangi.

Empat imam ini kemudian dibawa oleh para penculik sementara imam lain berhasil melarikan diri. Hingga saat ini, Kepolisian setempat belum bisa memastikan keberadaan mereka.

Sementara itu, kejadian naas ini bukan pertama kali terjadi di Nigeria. Sebelumnya penculikan juga menimpa lima biarawati dari kongregasi Marta dan Maria dari keuskupan Issele, Uku.

Namun tak lama kemudian, pihak kepolisian setempat mengkonfirmasi bahwa lima biarawati tersebut sudah dilepaskan, namun informasi detail soal itu belum jelas.

Katoliknews

Kabar Duka, Seorang Pastor Muda di Kupang Meninggal Dunia

Jum, 09/11/2018 - 13:21

Kabar duka baru saja datang dari Misionaris Claretian (CMF), Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Seorang imam muda, Pastor Marianus Keo Gili atau akrab disapa Pater Ryan Gili meninggal dunia pada Rabu, 7 November 2018 malam di Malang, Jawa Timur.

Seperti dilansir Vito.id, kabar duka ini sudah dikonfirmasi oleh rekan imamnya, Pastor Sil CMF.

“Telah meninggal dunia Pater Ryan Gili, CMF. Dia meninggal di Malang di rumah retret,” kata Pater Sil, Kamis, 8 November 2018.

Pater Sil menjelaskan, kepergian Pastor Ryan ini membuat rekan-rekannya kaget.

Pasalnya, kata dia, tak ada kabar sakit yang dialami Pater Ryan sebelumnya. Menurutnya, kepergian pastor muda asal Bajawa itu tiba-tiba saja.

“Tadi pagi dia tidak ikut doa, dan setelah doa dan cek dia sudah meninggal dunia. Kita sama-sama mendoakan beliau,” ujarnya.

Untuk diketahui, Pastor Ryan sendiri dithabiskan menjadi imam pada 29 September 2016 di Kupang silam.

Katoliknews

Gelar Sidang Tahunan, KWI Bakal Bahas RUU Pesantren

Rab, 07/11/2018 - 22:13

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kembali menyelenggarakan sidang tahunan yang digelar di Bandung, 5 hingga 15 November 2018 mendatang.

Seperti dilansir Duta.co, sidang tahunan ini bertujuan membicarakan dinamika Gereja Katolik Indonesia, sekaligus memfasilitasi pertemuan pemerintah dan gereja Katolik terkait RUU Pesantren

“Kami akan memfasilitasi pertemuan Pemerintah dan Gereja untuk membahas secara mendalam tentang RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Hasilnya, akan kami sampaikan kepada Menteri Agama,” kata Dirjen Bimas Katolik, Eusabius Binsasi dalam sambutannya, Selasa (06/11).

Eusabius juga mengapresiasi kerja keras KWI dalam membangun kehidupan beragama di Indonesia. Menurutnya, Kementerian Agama akan selalu berusaha hadir dan bersinergi bersama KWI dalam melayani umat.

“Melalui Rencana Strategi yang telah disusun, Bimas Katolik akan mengalokasikan anggaran untuk memfasilitasi kebutuhan gereja dan memfasilitasi Badan Amal Kasih Katolik (BAKKAT),” terangnya.

“Kami juga memberi perhatian untuk perkembangan Pendidikan Keagamaan Katolik, baik tingkat dasar, menengah dan tinggi agar berjalan baik dan semakin bertumbuh kembang dari waktu ke waktu,” sambungnya.

Sementara itu, ketua KWI, Mgr Ignatius Suharyo mengatakan, dirinya mengapresiasi peran Pemerintah, yang dalam kapasitasnya sebagai mitra semakin gencar mewartakan Injil dan melayani Gereja.

Selain itu, ia juga mengapresiasi suksesnya penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional Perdana yang telah dilaksanakan di Ambon 27 Oktober hingga 2 November lalu.

Katoliknews

Sejumlah Uskup Desak UU Negara Yahudi Dicabut

Sel, 06/11/2018 - 17:43

Sejumlah uskup menyerukan pencabutan Undang-Undang (UU) Negara Yahudi di Yerusalem yang disahkan parlemen Israel, Knesset, pada Juli lalu.

Seruan ini merujuk pada isi UU tersebut yang memberikan ‘hak unik’ bagi orang Yahudi untuk menentukan nasib sendiri, dan secara tidak langsung membedakan warga keturunan non-Yahudi.

Seperti dilansir CNNIndonesia.com, dalam sebuah pernyataan bersama, para uskup yang berasal dari sejumlah keuskupan di Tanah Suci (Israel, Negara Palestina, Siprus, dan Yordania), Suriah, Armenia, dan gereja Yunani Melkite itu menegaskan warga non Yahudi posisinya tidak lebih rendah dari orang-orang Yahudi.

“Kami harus bisa menarik perhatian pihak berwenang terkait sebuah fakta sederhana. Pengikut kami yang setia, sesama warga, kaum Muslim, Druze, dan Baha’i, kita semua yang merupakan orang Arab tidak lebih rendah dari saudara kita orang Yahudi,”  demikian isi pernyataan bersama tersebut, Senin (5/11).

“Kami sebagai pemimpin agama dari Gereja Katolik meminta pihak berwenang membatalkan konstitusi dasar ini dan meyakinkan semua umat bahwa negara Israel berupaya mendukung dan melindungi kesejahteraan serta keselamatan warganya,” lanjut isi pernyataan tersebut.

Selain itu, penolakan juga muncul Presiden Israel, Reuven Rivlin. Dikutip AFP, Reuven Rivlin bahkan menganggap versi UU itu saat itu “buruk bagi negara Israel dan orang Yahudi.”

Kemudian, sejumlah anggota Knesset keturunan Arab dan Palestina juga turut menentang pengesahan UU tersebut. Mereka menyebut aturan itu sebagai hukum yang “rasis”. Beberapa politikus oposisi juga menganggap UU itu harus diamandemen.

Pada Juli lalu, UU itu disahkan dengan dukungan suara 62-55. Aturan baru tersebut menjadikan Bahasa Ibrani sebagai bahasa nasional dan menetapkan pembentukan komunitas Yahudi sebagai salah satu kepentingan nasional.

Sementara itu, bahasa Arab, yang sebelumnya juga dianggap sebagai bahasa resmi negara, kini hanya diberikan status khusus dalam undang-undang tersebut.

Hukum tersebut juga menetapkan Israel sebagai Tanah Air bersejarah bangsa Yahudi dan menyatakan bahwa kaum Yahudi memiliki hak menentukan nasib sendiri di wilayah mereka.

Katoliknews

Kaltim Jadi Juara Umum Pesparani Katolik Nasional Pertama di Ambon

Sen, 05/11/2018 - 22:13

Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sukses menjadi juara umum Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional pertama di Ambon, Maluku, Kamis (1/11/2018).

Gelar tersebut diberikan setelah kontingen Kaltim berhasil meraih nilai tertinggi yakni, 299 poin. Perolehan poin itu gabungan dari 25 poin champion, perolehan 25 medali emas dan 25 partisipasi mata lomba.

Seperti dilansir Tribunnews.com, penyerahan piala dalam acara ini terdiri dari dua jenis yakni piala bergilir dan tetap.

Piala bergilir berasal dari Presiden RI Joko WIdodo, dan diserahkan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise. Sementara piala tetap juara umum diserahkan oleh Gubernur Maluku, Said Assagaff.

Dalam sambutannya, Yohana Yambise mengatakan, lewat pelaksanaan Pesparani Nasional I, semua kalangan diminta tetap mempertahankan nilai-nilai kebangsaan yang tertuang dalam Kebhinekaan terutama bagi generasi penerus untuk bangun bangsa Indonesia ke depan.

Selain itu, kata kata dia, Pesparani diharapkan mampu berkontribusi untuk semua orang agar semakin memahami pembangunan di segala bidang sebagai bentuk nyata kecintaan terhadap bangsa.

“Kebhinekaan adalah kekayaan besar yang dimiliki oleh bangsa ini dan harus dapat dipertahankan. Perlu menjaga kebhinekaan ini dengan persatuan kerukunan dan persaudaraan, sehingga membawa Indonesia menjadi negara besar dan dihormati di dunia. Kami mengapresiasi Gubernur yang menunjukan satu model dengan latar belakang agama yang berbeda dalam event ini,” kata Yohana Yambise.

Ia juga menjelaskan, tema acara ini ‘Merajut Persaudaraan Sejati dari Maluku untuk Indonesia’ sangat tepat sebagai refleksi dari komponen bangsa sehingga dapat memberikan kesetaraan gender serta pemenuhan hak anak.

“Saya apresiasi Pak Gubernur dan dapat memberikan motivasi bagi kita semua dalam pemenuhan hak-hak perempuan dan anak dalam rangka mewujudkan kemajuan bangsa,” ujarnya.

Gubernur Maluku, Said Assagaff mengatakan Pesparani membuktikan bahwa Maluku benar-benar menjadi laboratorium kerukunan hidup orang basudara bagi Indonesia bahkan dunia.

“Artinya moment ini telah menjadi milik semua umat beragama, dan peserta 34 provinsi mendapat kesan manis tentang sikap toleransi umat beragaama,” kata Said Assagaff.

Ia juga berharap semangat persaudaraan diantara seluruh umat beragama tidak boleh berhenti, tetapi terus menggalir dalam kerukunan yang abadi dan terdengar dalam setiap pujian-pujian yang dilatunkan.

“Terus bernyanyi dan bermusik, dari tanah ini ibarat memanggil suadara-saudara untuk kembali mengunjungi Maluku pada masa mendatang,”tukasnya.

Lebih lanjut, Ketua Umum Panitia Pesparani, Zeth Sahuburua mengatakan, Pesparani yang merupakan berkat yang luar biasa bagi masyarakat Maluku, yang menjadi roh ilhami umat Katolik.

Dari Maluku, kata dia, Pesparani mendapat posisi yang setara dengan MTQ milik umat Islam, Pesparawi milik umat Kristen Protestan, juga umat Hindu dan Buddha.

“Ini akan menjadi catatan sejarah untuk anak cucu kita di waktu yang akan datang,”ucapnya.

Untuk diketahui, juara umum Pesparani mendapat dana pembinaan sebesar 50 Juta rupiah, posisi kedua 45 juta, posisi ketiga 40 juta, posisi keempat 35 juta, posisi kelima 30 juta, dan lainnya masing-masing 15 juta. Selain itu, sertifikat juga akan diberikan kepada semua peserta lomba.

Katoliknews

OMK Stasi Warat di Paroki Borong Gelar Perlombaan Kerohanian Tingkat SD-SMA

Sen, 05/11/2018 - 06:12

Borong, Katoliknews.com – Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Warat, di Paroki Borong, Keuskupan Ruteng, menggelar berbagai perlombaan kerohanian tingkat SD-SMA di stasi tersebut.

Selain untuk menganimasi peserta perlombaan, kegiatan ini juga dibuat untuk membangkitkan kembali semangat OMK di stasi itu, kata Ketua OMK, Cozta Datut.

“Selama ini, mereka enggan untuk menunjukan jati dirinya sebagai OMK yang harus bahu-membahu mengambil bagian dalam kehidupan menggereja. Mereka lebih mementingkan kesibukan pribadi,” kata Cozta.

“Peran serta dan keterlibatan OMK dalam gereja sangat menentukan masa depan gereja. Atas dasar itulah kemudian lahirlah inisiatif untuk menyelenggarakan kegiatan ini,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan itu juga digelar untuk mengakhiri bulan rosario yang berjalan selama bulan Oktober lalu yang dimulai Kamis 1 hingga Minggu 3 November. Melibatkan 15 kelompok basis gereja (KBG).

Sementara, jenis perlombaannya, yakni kuis kitab suci tingkat SD, lomba lektor dan lektris tingkat SMP dan lomba mazmur tingkat SMA.

Sementara Godefridus Purnama, salah satu umat turut menyaksikan jalannya kegiatan, mengapresiasi keterlibatan OMK stasi tersebut dan berharap kegiatan serupa rutin digelar di waktu mendatang.

“Besar harapan OMK Stasi Warat agar kedepanya mendapat perhatian dari orang tua dan semua umat agar tetap mendukung baik secara materil maupun moril, juga mendorong anak-anaknya untuk terlibat aktif dan bergabung dalam dalam program-program OMK selanjutnya,” harapnya.

Selain itu, kata Cozta, kegiatan ini juga dibuat agar umat memahami pedoman hidup kristiani.

“Kitab Suci juga diperuntukan bukan hanya untuk kelompok-kelompok tertentu di dalam tubuh gereja melainkan untuk semua kalangan umat katolik,” tutupnya.

PP/J-aR/KatolikNews

DKI dan NTT Jadi Calon Tuan Rumah Pesparani Katolik Nasional Ke 2

Kam, 01/11/2018 - 16:19

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan DKI Jakarta terpilih menjadi dua calon tuan rumah untuk ajang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional ke 2.

Keputusan ini merupakan hasil dari Musyawarah Nasional Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) yang digelar di Islamic Center, Kota Ambon, Rabu (31/10) malam.

“Kami telah melakukan munas dan menghasilkan dua keputusan. Pertama memutuskan Provinsi NTT dan DKI Jakarta untuk menjadi calon tuan rumah Pesparani Katolik Nasional II,” ujar Sekretaris Umum LP3KN Toni Pardorsi saat ditemui di Hotel Santika, Ambon, Kamis (01/10).

Toni menjelaskan, NTT dan DKI terpilih lantaran sudah memenuhi syarat, yakni telah membawa surat rekomendasi dukungan dari gubernur masing-masing.

“Untuk penentuan tuan rumah Pesparani selanjutnya, LP3KN akan mengadakan konsultasi dengan otoritas Gereja Katolik, yakni Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan keuskupan terkait untuk nantinya ditetapkan oleh Menteri Agama, sebagai tuan rumah Pesparani II,” ujarnya.

Selain penentuan tempat, musyawarah itu juga menetapkan Pesparani akan diselenggarakan tiga tahun sekali.

Namun, kata dia, untuk Pesparani II akan diadakan pada tahun 2020 karena pada tahun 2021 akan diadakan MTQ Nasional (Islam) dan Pesparawi Nasional (Kristen).

“Dengan diadakannya Pesparani pada dua tahun mendatang akan mempermudah pemerintah daerah dalam memberangkatkan kontingen untuk mengikuti Pesparani Katolik Nasional II,” lanjutnya.

Untuk diketahui, Pesparani sendiri merupakan suatu aktivitas seni budaya umat Katolik dalam bentuk pagelaran, lomba musik, dan nyanyian liturgi dengan tujuan mengembangkan pemahaman, penghayatan, dan pemahaman masyarakat Katolik terhadap ibadah dan liturgi gerejani.

Selain itu, Pesparani juga merupakan salah satu bentuk kegiatan kerohanian untuk pengembangan iman yang mendorong seni budaya bernafaskan iman Katolik.

Katoliknews

Tak Setujui Sekolah Minggu di RUU Pesantren, Ini Alasan JK

Rab, 31/10/2018 - 20:18

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta ketentuan tentang sekolah minggu tak perlu diatur dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Pesantren dan Lembaga Pendidikan Keagamaan.

Dalam draf RUU tersebut tercantum pengaturan atas pengadaan atau penyelenggaraan sekolah minggu yang dilakukan umat Kristen (Pasal 69 ayat 1-4) dan Katolik (Pasal 85 ayat 1-4).

Seperti dilansir CNNIndonesia.com, menurut JK pengaturan Sekolah Minggu dalam RUU tersebut akan menyulitkan pemerintah.

“Semua agama punya cara untuk pendidikan. Kalau Kristen/Katolik itu ada Sekolah Minggu untuk anak-anak, kalau kita (Islam) juga sama, ada pengajian TPA. Kalau itu semua diatur pemerintah kan susah amat itu,” ujar JK di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (30/10).

“Saya kira patut diperhatikan itu. Jangan nanti Sekolah Minggu atau pengajian harus semua minta izin negara itu,” ujarnya.

Sebelumnya, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) mengkritisi sejumlah poin dalam draf RUU tersebut.

“RUU tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan itu belum pernah dikonsultasikan dan mendapat tanggapan serta masukan dari insitusi Gereja Katolik di Indonesia,” demikian keterangan KWI yang ditandatangani Sekretaris Komisi Kerawam, Siswantoko, Senin (29/10).

Selain itu, ditegaskan bahwa ada lima poin bagian dari RUU tersebut dari mulai judul hingga isi yang perlu diperhatikan untuk diubah, dan/atau tidak perlu diatur.

“Terhadap RUU tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Kami akan memberikan daftar isian masalah (DIM) sandingan secara lengkap kepada Presiden sebagai bahan pertimbangan pengisian DIM dan kepada DPR RI dalam membantu pembahasan RUU ini,” demikian pernyataan KWI tersebut.

Sementara itu, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dalam pernyataan sikap sejak Rabu (23/10), menilai bahwa penyusunan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan adalah kecenderungan membirokrasikan pendidikan nonformal khususnya bagi pelayanan anak-anak dan remaja yang sudah dilakukan sejak lama oleh gereja-gereja di Indonesia.

“Kecenderungan ini dikhawatirkan beralih pada model intervensi negara pada agama,” demikian pernyataan PGI.

PGI menyatakan mendukung Rancangan Undang-Undang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan ini menjadi undang-undang sejauh hanya mengatur kepentingan Pendidikan formal dan tidak memasukkan pengaturan model pelayanan pendidikan nonformal gereja-gereja di Indonesia seperti pelayanan kategorial anak dan remaja menjadi bagian dari RUU tersebut.

Untuk diketahui pada salah satu ayat RUU ini, diatur bahwa pendidikan keagamaan nonformal bagi umat dua agama itu harus memiliki peserta paling sedikit 15 peserta didik.

Katoliknews

 

 

Hadir di Kongres Wanita Katolik, Ini Kata Jokowi

Rab, 31/10/2018 - 02:43

Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut menghadiri pembukaan Kongres XX Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang digelar di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, (30/10/2018) kemarin.

Kongres ini diselenggarakan untuk berbagi pandangan soal kebangsaan.

Di hadapan para anggota kongres, Jokowi mengatakan ada sejumlah fakta menarik mengenai kaum perempuan.

Salah satunya, kata dia, terkait sejumlah keunggulan perempuan yang dikutipnya dari Harvard Business Review.

“Saya ingin menyampaikan beberapa fakta yang menarik mengenai perempuan. Beberapa riset (menyebut) perempuan memiliki keunggulan dibandingkan laki-laki, perempuan memiliki harapan hidup lebih tinggi, perempuan lebih kuat dalam menghadapi persaingan,” kata Jokowi.

Ia menjelaskan, perempuan juga memiliki kemampuan untuk mengerjakan lebih banyak hal di waktu bersamaan, dan lebih baik dibandingkan kaum laki-laki.

“Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan multitasking perempuan ini memang benar jauh lebih hebat dibandingkan laki-laki,” ucapnya.

Menurut mantan Walikota Solo tersebut, sejumlah keunggulan ini menjadi alasan ia mempercayakan sebagian posisi di Kabinet Kerja kepada perempuan.

“Kenapa banyak perempuan di kabinet yang saya pimpin? Karena saya meyakini kehebatan perempuan,” imbuhnya.

Saat ini, misalnya, terdapat 8 perempuan yang mengemban amanah di sejumlah pos kementerian.

“Pemerintahan di bawah kepemimpinan saya dulunya ada 9 perempuan, kemudian mundur 1 karena jadi Gubernur Jawa Timur,” tuturnya.

Jokowi juga menceritakan, beberapa menteri perempuan yang saat ini bergabung di kabinetnya memiliki keunikan sifat masing-masing

“Ada yang halus seperti Bu Yohana (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) dan Bu Nila Moeloek (Menteri Kesehatan). Tapi ada yang galak juga, Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) misalnya. Ini paling galak ini,” ujarnya.

Jokowi lantas berharap, di saat yang akan datang berbagai organisasi perempuan bisa membangun negeri ini.

“Oleh sebab itu, saya juga banyak berharap terhadap peran organisasi perempuan dalam membangun negara ini. Termasuk di dalamnya peran besar dari Wanita Katolik Republik Indonesia,” tuturnya.

Untuk diketahui, kongres ini juga dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Ketua Presidium DPP Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Justina Rostiawati, dan Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Ignatius Suharyo.

(Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden)

Paus Fransiskus Kirim Pesan untuk Anak Muda Indonesia di Hari Sumpah Pemuda

Sen, 29/10/2018 - 18:26

Paus Fransiskus mengirimi pesan kepada semua orang muda Indonesia di Hari Sumpah Pemuda, Minggu (28/10) kemarin.

Pesan ini disampaikannya lewat sebuah video, yang disiarkan oleh Sekertaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI, Pastor Antonius Haryanto Pr lewat akun Instagramnya, @Harykomkep.

Dalam video tersebut, Paus Fransiskus terlihat sempat berbincang dengan Ketua Komisi Kepemudaan (Komkep) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Pius Riana Prapdi.

Mgr Pius lalu mengarahkan Uskup asal Argentina tersebut untuk menghadap ke kamera yang sedang merekam keduanya.

Sembari tersenyum, Paus Fransiskus kemudian menyampaikan pesan kepada semua orang muda di Indonesia, untuk terus maju dan tidak takut menghadapi banyak hal dalam hidup.

“Orang muda Indonesia, salam dan doaku, ayo maju dan jangan takut. Doakan saya juga. Tuhan memberkati kalian semua,” kata Paus Fransiskus dalam video itu.

Usai menyampaikan pesan itu, Paus Fransikus kembali tersenyum, lalu menyalami Mgr Pius yang tengah berdiri di sampingnya.

Katoliknews

MUI Ambon Turut Mendukung Pesparani Katolik Nasional

Jum, 26/10/2018 - 17:59

Euforia jelang perhelatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional di Kota Ambon, Maluku pada 27 Oktober hingga 2 November mendatang ternyata turut dirasakan oleh umat Islam di daerah itu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama (MUI) Provinsi Maluku, Haji Abdullah Latuapo belum lama ini.

Seperti dilansir JPNN.com, Jumat (26/10) Abdullah juga meminta semua umat Islam di Maluku mendukung dan menyukseskan pelaksanaan Pesparani tersebut.

“Mari kita mendukung dan menyukseskan acara PESPARANI Katolik Nasional yang pertama kali dilakukan,” kata Abdullah.

Ia menjelaskan, antusiasme warga Ambon menyambut Pesparani sudah terlihat di beberapa pekan terakhir.

“Empat belas kilometer jalan membentang dari Bandara Pattimura ke Kota Ambon dipasang spanduk, umbul-umbul, dan baliho tentang Pesparani Katolik pertama tersebut,” lanjutnya.

Selain itu, kata dia, perkantoran dan pertokoan juga akan memasang berbagai atribut menyongsong kedatangan ribuan kontingen umat Katolik dari 34 provinsi.

Abdullah pun berharap Pesparani tak kalah meriah dari acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang digelar tahun 2012 dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) tahun 2015 di Ambon.

“Kami harapkan semoga PESPARANI ini tidak kalah dari keberhasilannya dengan MTQ dan PESPARAWI. Itu yang kami harapkan,” kata Abdullah.

Katoliknews

Sejumlah Tokoh Agama di NTT Dukung Niat Viktor Laiskodat Bangun Daerah

Kam, 25/10/2018 - 22:16

Sejumlah tokoh agama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersatu mendukung tekad Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi untuk memajukan NTT di berbagai bidang pembangunan.

Dukungan ini mereka sampaikan ketika menggelar dialog dengan Lasikodat di Hotel Aston Kupang, Rabu (24/10) kemarin.

Tokoh-tokoh agama tersebut antara lain, Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang, Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota, Ketua PHDI NTT GM Putra Kusuma dan Ketua MUI NTT Abdul Kadir Makarim.

Seperti dilansir Victorynews.id, Mgr Petrus mengatakan, dirinya bakal terus mendukung sejumlah gagasan Laiskodat untuk membangun NTT.

“Kami dukung 100 persen gagasan-gagasan yang disampaikan gubernur,” kata Mgr Petrus Turang.

Ia juga meminta semua kompenen masyarakat untuk ikut memberi dukungan penuh terhadap berbagai program yang dijalankan pemerintah.

“Pemprov juga perlu menjalin kerja sama sampai ke desa dalam suasana keterbukaan satu sama lain demi mewujudkan pemerintahan yang baik dan terhormat,” lanjutnya.

Kemudian, Mgr Vincentius mengatakan, setelah mendengar gagasan Laiskodat, ia merasa optimis akan kemajuan NTT ke depan.

Namun, kata dia, NTT harus dibangun secara komprehensif dan didukung dengan komitmen yang kuat.

“Konsep yang sangat jelas dan juga sangat komprehensif dan didukung dengan satu komitmen yang kuat dari cara Bapak Gubernur mengungkapkan segalanya sesuai dengan cita-cita yang jelas dan tekad yang jelas. Saya apresiasi,” kata Mgr Vincentius.

Ia juga menjelaskan, birokrasi yang menjadi salah satu lokomotif penggerak pembangunan NTT harus segera diubah. Menurutnya, jika birokrasi masih pincang, pelaksanaan berbagai program bakal terganggu.

“Saya melihat ini satu peluang kerja sama kita ke depan. Kami siap untuk bekerjasama dalam kemitraan ke depan untuk membangun NTT bangkit dan sejahtera,” tuturnya.

Sementara itu, GM Putra Kusuma mengatakan salah satu yang mesti diperhatikan Pemprov adalah pariwisata yang mempunyai potensi yang besar untuk memajukan NTT.

Ia lalu mengusulkan agar dana desa diberdayakan untuk pengembangan sektor pariwisata.

Lebih lanjut, menurut Abdul Kadir Makarim, pembangunan NTT mesti melibatkan lembaga-lembaga agama. Menurutnya, sinergi lembaga keagamaan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) penting untuk mensukseskan pelaksanaan program pemerintah.

“Banyak mimpi besar pasti tercapai tentu stakeholder harus membantu untuk mewujudkan mimpi besar. Pariwisata ke depan menjadi industri dan saya yakin NTT melalui gubernur dan wakil gubernur akan membawa NTT ke lompatan yang lebih jauh. Peran lembaga agama antara lain menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab,” ungkap Abdul Kadir.

Katoliknews

Desak Perhatikan Penderita Gangguan Jiwa, Seorang Imam Kembali Surati Bupati Manggarai Barat

Rab, 24/10/2018 - 19:01

Keadaan menyedihkan yang menimpa para penderita gangguan jiwa di Manggarai Barat (Mabar), NTT kembali mengetuk hati Pastor Avent Saur SVD untuk bersuara.

Keluh kesah ini disampaikan Pater Avent kepada Bupati Mabar, Gusti Ch Dula, lewat sebuah surat terbuka kedua yang ditulisnya pada Selasa (23/10) kemarin.

Imam pendiri Kominitas Kasih Insanis (KKI) yang berbasis di Ende ini mengatakan, ia begitu sedih lantaran surat terbuka pertama yang ia kirimkan kepada Dula belum ditanggapi hingga saat ini.

“Dengan hati teriris dan jantung bergetar menyaksikan hebatnya derita saudara kita ini, untuk kedua kalinya, saya mengirim surat terbuka ini buat Bapak Bupati,” kata Pater Avent dalam surat itu.

Ia melanjutkan, sejak menjadi Bupati, Dula belum pernah memberikan sentuhan khusus bagi penderita gangguan jiwa.

“Sudah hampir delapan tahun Bapak memerintah rakyat Manggarai Barat (Mabar). Tetapi sentuhan tangan pengabdian Bapak buat rakyat kita yang menderita gangguan jiwa tak kunjung terasa,” ujarnya.

Buktinya, kata dia, salah satu penderita gangguan jiwa di Kecamatan Welak yang sama sekali tidak diperhatikan pemerintah.

“Lihat saja saudara kita yang satu ini, Dua kaki terpasung di luar kampung, pada gubuk luar biasa, tanpa perawatan medis sedikit pun,” lanjutnya.

Menurut Imam yang bertugas di Ende, NTT ini, pada surat terbuka pertamanya beberapa waktu lalu, ia menulis tentang penderita gangguan jiwa yang sama.

Sayangnya, kata dia, semuanya itu tidak membuahkan hasil.

Padahal, menurut Pater Avent, jika ingin melihat kondisi penderita tersebut, akses jalan ke daerah Welak sebenarnya tidak begitu sulit untuk dilewati.

“Saya membayangkan jalan yang kurang terlalu sulit dalam menggapai saudara-saudari kita yang menderita gangguan jiwa yang hampir terdapat di seantero Mabar,” lanjutnya.

Ia juga mengatakan, uluran tangan Pemda untuk para penderitan ini pada dasarnya tidak begitu rumit.

Misalnya, kata dia, dengan cara mendayagunakan sejumlah tenaga kesehatan di Mabar untuk melayani para penderita.

“Perawat, dilatih, agar berani mengunjungi dan mendatangkan pasien-pasien gangguan jiwa,” jelas Pater Avent.

Di bagian akhir surat terbuka ini, Pater Avent berharap Dula segera menjumpai relawan kemanusiaan peduli penderita gangguan jiwa, yang menurutnya sudah tersebar di banyak daerah di Mabar.

“Besar harapan, pada suatu waktu nanti, kita berjumpa, berjumpa dengan para relawan kemanusiaan peduli orang dengan gangguan jiwa yang selama ini sudah berjalan-jalan dari kampung yang satu ke kampung yang lain di wilayah Mabar, dan yang juga sudah berkontak dengan beberapa pihak puskesmas, demi mengangkat martabat rakyat yang dililit derita jiwa,” tutupnya.

Katoliknews

Halaman