UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 2 hours 8 mnt yang lalu

Ordo Karmel Pastikan Anggotanya yang Hilang Masih Hidup

Rab, 10/01/2018 - 09:59

Romo Yohanes Martinianus Rada O.Carm, imam yang selama tiga pekan terakhir dikabarkan hilang telah ditemukan, demikian pernyataan resmi dari pimpinan Ordo Karmel.

Imam berusia 32 tahun itu, kini berada di Denpasar, Bali setelah ditemukan di Surabaya, Jawa Timur.

Romo Yohanes Bosco Djawa O.Carm, Komisariat Ordo Karmel Indonesia Timur dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (9/1) menyebutkan, keberadaan Romo Rada diketahui sejak Sabtu pekan lalu.

Awalnya, kata dia, saudari sulung imam itu atas nama Elisabeth Arina Rupa Rada mendapat informasi dari seseorang di Bali bahwa pada 30 Desember Romo Mar menyeberang dari Gilimanuk-Bali menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

“lnformasi ini diterima keluarga dari seseorang yang melihat wajah mirip Rm Rada yang diposting via Facebook,” katanya.

Proses pencarian pun dilakukan, termasuk dengan menghubungi polisi dan otoritas pelabuan di Bali.

Beberapa waktu kemudian, jelasnya, Romo Rada mengirim email kepada saudarinya dan memberitahukan lokasi keberadaannya di Surabaya.

Imam itu kemudian berhasil ditemukan pada Minggu, 7 Januari, lalu diterbangkan ke Bali.

“Rm. Rada sekarang ini sedang didampingi oleh keluarga dan beberapa konfrater Karmel di Bali,” tulis Romo Djawa.

Ia menambahkan, keluarga Romo Rada sudah menjumpai pihak Ordo Karmel di Maumere dan bersama-sama menemui polisi mencabut laporan sebelumnya tentang orang hilang.

“Dewan Pimpinan Ordo Karmel Indonesia Timur mengucapkan limpah terima kasih kepada berbagai pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pencarian saudara kami,” katanya.

Ia menambahkan, mereka juga memohon maaf alas semua kekurangan dan kekhilafan selama proses pencarian Romo Rada.

Kasus menghilangnya imam itu menghebohkan banyak pihak dan ramai dibicarakan di media sosial.

Polisi, TNI dan Basarnas pun dilibatkan untuk mencarinya sejak 20 Desember 2019, sehari setelah ia dinyatakan hilang.

Ia dilaporkan pergi dari biaranya pada 19 Desember, dengan alasan hendak mandi di laut. Namun, ia tidak kembali lagi dan putus kontak sama sekali.

Dalam penjelasan Ordo Karmel, tidak diungkap mengapa Romo Rada bisa sampai di Surabaya serta apa tujuannya.

Paus Anggap ‘Bully’ Sebagai Pengaruh Setan dalam Diri Manusia

Sel, 09/01/2018 - 17:32

Sama seperti pengaruh Roh Kudus dikenali ketika seseorang melakukan tindakan amal, orang Kristen juga harus mengenali kehadiran iblis saat adanya intimidasi, kata Paus Fransiskus.

“Ketika kita menyadari bahwa kita memiliki keinginan untuk menyerang seseorang karena mereka lemah, kita tidak ragu lagi bahwa itu adalah iblis. Karena menyerang yang lemah adalah karya setan,” kata paus dalam homilinya pada 8 Januari saat misa pagi di Domus Sanctae Marthae.

“Saya bertanya pada diri sendiri: Apa yang ada di dalam orang-orang ini? Apa yang ada di dalam diri kita yang mendorong kita untuk mengejek dan menganiaya orang lain yang lebih lemah dari kita?” tanya paus seperti dikutip Catholic News Service.

“Bisa dimengerti bila seseorang membenci seseorang yang lebih kuat dari mereka, mungkin karena rasa iri … tapi terhadap yang lemah? Apa yang membuat kita melakukan itu? Ini menjadi kebiasaan, seolah-olah saya perlu menertawakan orang lain untuk merasa percaya diri, seolah-olah itu suatu kebutuhan, “kata paus.

Paus Fransiskus bercerita bahwa sewaktu dia kecil ada seorang wanita bernama Angelina di lingkungannya dan dia terus diejek oleh orang lain, terutama anak-anak, karena mengalami sakit mental.

Saat orang-orang dengan murah hati memberinya makanan dan pakaian, anak-anak setempat akan mengolok-olok wanita tersebut dan berkata, “Mari kita cari Angelina dan bersenang-senang,” kata paus.

“Hari ini kita melihat terus-menerus di sekolah kita fenomena bullying, menyerang yang lemah entah karena gemuk atau asing atau karena berkulit hitam,” katanya.

“Ini berarti ada sesuatu di dalam diri kita yang membuat kita bertindak agresif terhadap yang lemah.”

Meskipun psikolog mungkin memberikan alasan yang berbeda mengapa beberapa orang cenderung mem-bully orang-orang yang lemah, Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia percaya itu adalah “konsekuensi dari dosa asal” dan karya setan yang “tidak memiliki belas kasihan.”

India Abaikan Larangan Perceraian Instan di Kalangan Muslim

Sel, 09/01/2018 - 15:12

Langkah India untuk melarang perceraian instan di kalangan umat Islam menglami hambatan ketika Partai Pro-Hindu Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa pro-Hindu mengabaikan sebuah undang-undang di majelis tinggi parlemen di tengah perlawanan dan kemarahan dari kelompok-kelompok Muslim.

RUU tentang Wanita Muslim (Perlindungan Hak atas Perkawinan) 2017 tidak bisa diloloskan di parlemen setelah debat panjang pada 3 Januari.

RUU tersebut tidak membolehkan perceraian instan atau talaq tiga, sebuah praktik yang memungkinkan pria Muslim untuk menceraikan istri mereka dengan hanya mengucapkan kata talaq (perceraian) tiga kali. Beberapa pria juga menggunakan telepon dan pesan teks untuk menceraikan istrinya dengan cara seperti itu.

Partai oposisi di majelis tinggi menginginkan agar RUU tersebut dibawa ke rapat panel dewan untuk diteliti lebih lanjut. Pemerintah menolak permintaan tersebut, yang menyebutnya inkonstitusional.

Partai Kongres menuduh Partai BJP yang sedang berkuasa tidak bersikap serius agar RUU disahkan di parlemen.

Namun, meski ada 18 partai oposisi yang menuntut pemungutan suara untuk membawa RUU tersebut ke rapat panitia dewan, BJP mengabaikan seruan mereka dan tidak memulai proses pada 4 Januari, kata pemimpin Kongres Pramod Tiwari.

“BJP tidak memiliki kebijakan atau niat untuk meloloskan RUU talaq tiga di parlemen,” katanya kepada wartawan.
Pengadilan tinggi India melarang talaq tiga pada bulan Agustus namun larangan tersebut berlaku hanya selama enam bulan sampai Februari. Sebuah undang-undang perlu disahkan untuk mengakhiri praktik misoginis yang membuat perempuan mengalami ketidakadilan dan kemiskinan, menurut pemerintah.

Namun, organisasi Muslim menuduh pemerintah federal, yang dipimpin oleh BJP, mencampuri urusan agama Muslim dengan maksud untuk intervensi praktik keagamaan mereka.

Beberapa negara yang didominasi Muslim seperti Pakistan dan Bangladesh melarang praktik tersebut, namun sebagian besar dari 170 juta Muslim di India mengikuti sebuah sekolah hukum khusus Islam yang disebut Hanafi Islam, yang memungkinkan praktik tersebut.

Setelah Mahkamah Agung menyebut talaq “inkonstitusional” dan merekomendasikan sebuah undang-undang untuk menghapusnya, RUU tersebut disiapkan. Itu disahkan di majelis rendah parlemen atau Lok Sabha pada 28 Desember.

RUU tersebut akan membuat talaq tiga menjadi kejahatan yang dapat dihukum hingga tiga tahun penjara.

Ghulam Ahmad Mir, pemimpin partai Kongres di Jammu dan Kashmir yang mayoritas Muslim, mengatakan bahwa RUU tersebut bertujuan untuk melecehkan umat Islam.

“Ia ingin mengirim pria Muslim ke penjara tanpa ada jaminan, tapi siapa yang akan mengurus keluarga orang-orang yang dipenjara?” Tanya Mir.

Organisasi Muslim seperti Front Populer India menentang undang-undang tersebut, menyebutnya sebagai campur tangan negara dan tidak konstitusional karena mengganggu praktik keagamaan.

Tokoh Terkemuka Abu Bakar mengatakan RUU tersebut disusun tanpa konsultasi dengan pihak-pihak yang terkena dampak termasuk wanita Muslim.

Dewan Hukum Pribadi Muslim India, yang menangani penerapan hukum Islam dalam urusan pribadi, mengecam langkah pemerintah tersebut, dengan mengatakan bahwa RUU tersebut membuat perceraian di kalangan umat Islam lebih kompleks.

Juru Bicara Maulana Khalilur Rahman Sajjad Nomani mengatakan kepada media pada 3 Januari bahwa dewan tersebut didukung partai oposisi yang mendesak agar mengirim RUU tersebut ke komite ahli untuk menghapus kekurangannya.

Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa wanita Muslim di India berpendidikan paling rendah dan dipekerjakan dan banyak yang dipaksa menikah sebelum berusia 15 tahun. Hanya 1,5 persen wanita Muslim yang menempuh pendidikan di sekolah menengah atas, menurut sebuah studi oleh Indian Institute of Public Administration.

Sensus pemerintah tahun 2011 menunjukkan bahwa 13,5 persen wanita Muslim menikah sebelum usia 15 tahun dan 49 persen antara 14 sampai 19 tahun.

Di seluruh komunitas religius, lebih banyak wanita bercerai daripada pria, menurut data sensus.

Namun, data menunjukan persentase lebih tinggi di kalangan wanita Islam. Bagi setiap satu pria Muslim yang bercerai, ada empat wanita yang bercerai.

Sekitar 95 persen wanita bercerai melalui talaq tidak mendapat kompensasi dari suami mereka, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Bharatiya Muslim Mahila Andolan, sebuah gerakan wanita Muslim India. Dikatakan 92 persen wanita Muslim ingin talaq dilarang.

Umat Membanjiri Kota Manila untuk Devosi Black Nazarene

Sel, 09/01/2018 - 14:58

Jutaan umat Katolik Filipina mulai berduyun-duyun ke ibukota Filipina menjelang perayaan Black Nazarene pada 9 Januari untuk berdoa.

Para pendevosi berpakaian kaos kuning dan kemeja berbaris di sekitar Taman Luneta di Manila untuk mendapatkan kesempatan untuk mencium gambar Yesus berwarna hitam yang sedang memanggul salib.

Panitia berharap pesta keagamaan tahunan ini mampu menarik sekitar 20 juta orang untuk memperingati pemindahan dan penempatan gambar itu pada 400 tahun yang lalu ke gereja di distrik Quiapo di kota itu.

Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila mengingatkan umat Katolik untuk “mengenal Yesus secara mendalam” selama perayaan tersebut dan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pesta tersebut.

Dengan banyaknya orang yang menghadiri perayaan tersebut, kardinal berdoa agar “aman, damai, dan bersih” selama kegiatan perayaan Black Nazarene

Penyelenggara kegiatan tahun ini telah mengubah rute prosesi 9 Januari untuk “alasan keamanan”.

Pejabat gereja mengatakan bahwa mereka mengharapkan lebih banyak orang untuk hadir tahun ini dari perkiraan 18 juta pendevosi pada tahun 2017.

Militer Filipina memperingatkan agar tidak berdesak-desakan selama acara keagamaan tersebut.

“Skenario terburuk kami adalah terjadinya aksi saling dorong, yang menyebabkan patah tulang, korban jiwa dan luka-luka,” kata komandan militer setempat Brigjen. Alan Arrojado.

Para pendevosi biasanya saling mendorong untuk mendekati gerbong yang membawa gambar Black Nazarene atau menyentuh tali yang digunakan untuk menariknya.

Beberapa orang yang ingin mendapatkan seutas tali dengan keyakinan bahwa ia memiliki kekuatan ajaib bahkan mencoba menggigit demi seutas tali tersebut.

Menghubungkan ke yang ilahi

Sementara para kritikus acara tahunan tersebut mengatakan bahwa devosi kepada Black Nazarene beda tipis dengan penyembahan berhala, Uskup Clemente Ignacio, mantan rektor Gereja Quiapo, mengatakan bahwa umat hanya mengekspresikan “penghormatan mereka”.

“Ungkapan kita dinyakatakan, dalam ungkapan konkret,'” kata uskup tersebut, ia menambahkan bahwa itu adalah sifat orang Asia. Dia mengatakan itu adalah sifat orang Filipina yang ingin menyentuh, mencium, atau memeluk benda-benda suci.

“Orang Filipina percaya akan kehadiran yang ilahi di barang-barang kudus dan tempat-tempat suci,” katanya.

“Orang ingin terhubung dengan yang ilahi, baik itu melalui antrean untuk mencium gambar atau menyentuh tali,” kata Pastor Ignacio.

“Ini adalah cara untuk mengekspresikan iman seseorang, ini adalah ekspresi dari penghormatan mereka,” katanya.

“Kita semua tahu kita tidak menyembah patung-patung, kita menyembah Tuhan dan jika patung-patung ini menjembatani kita dengan Tuhan, maka kita ingin berhubungan dengan Tuhan dengan menggunakan patung-patung ini,” tambahnya.

Gambar nazaret Hitam adalah gambar patung kayu Yesus yang berukuran besar dan berwarna hitam yang sedang memanggul sebuah salib, yang dibawa ke Manila oleh imam Augustin pada tahun 1607.

Tradisi mengatakan bahwa patung itu berwarna hitam setelah mengalami kebakaran di kapal Spanyol yang mengangkutnya.

Siaga dengan jas hujan

Dengan cuaca yang tidak menentu di Manila pada bulan Januari, panitia prosesi menyiapkan jas hujan untuk gambar Black Nazarene.

“Hujan atau cerah prosesi akan terus berlanjut,” kata Pastor Douglas Badong, imam Gereja Quiapo.

“Jas hujannya sudah siap, itu khusus dibuat untuknya,” kata imam itu, ia menambahkan bahwa jas hujan terbuat dari bahan transparan sehingga pendevosi masih bisa melihat gambarnya.

Pastor Badong mengatakan bahwa ketika hujan di masa lalu, gambar itu hanya terbungkus plastik. “Itu tidak rapi,” katanya.

Para pendevosi yang secara tradisional ingin menyeka gambar dengan saputangan dan handuk selama prosesi dapat memberikan kepada orang-orang yang menjaga gambar di atas kereta.

Keamanan tinggi

Sedikitnya 1.000 tentara dan sekitar 500 tentara cadangan telah dikerahkan untuk mendukung 5.000 petugas polisi yang ditugaskan untuk menjaga acara tersebut.

Jenderal Arrojado mengatakan pasukan keamanan waspada tinggi meski tidak ada laporan tentang ancaman teroris.

“Kami berharap yang terbaik tapi bersiap menghadapi yang terburuk,” katanya.

Pada tahun 2012, sebuah kelompok teroris dilaporkan merencanakan untuk melakukan serangan bom selama perayaan tersebut, yang membuat pihak berwenang memberi sinyal komunikasi di Manila.

Umat Katolik di China Protes Penghancuran Gereja

Sen, 08/01/2018 - 15:59

Hampir 100 umat Katolik memprotes pembongkaran gereja di China, sambil berteriak “Kembalikan gereja saya” dan “Kebebasan beragama.”

Pihak berwenang menghancurkan gereja di desa Zhifang di distrik Lauyu, kota Xian di provinsi Shaanxi pada 27 Desember setelah mengklaim bahwa gereja tersebut menduduki lahan secara ilegal.

Uskup Wu Qinjing dari Keuskupan Zhouzhi pada hari yang sama mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa pejabat setempat datang ke keuskupan untuk meminta maaf.

Keuskupan tersebut telah membentuk tim khusus untuk bernegosiasi dengan pemerintah untuk menyelesaikan insiden tersebut.

“Negosiasi sedang berlangsung dan akan diserahkan ke pastor yang bersangkutan,” katanya kepada ucanews.com.

Umat Katolik lokal menggunakan media sosial untuk menunjukkan foto pembongkaran dan dokumen resmi yang menyetujui gereja itu untuk beribadah. Satu dokumen juga menunjukkan bahwa pejabat setempat telah memberi izin kepada gereja untuk menggunakan lahan tersebut untuk bangunan.

Namun, tanpa konsultasi dengan paroki tersebut, pemerintah setempat menyampaikan pemberitahuan pada 20 Desember yang mengatakan bahwa gereja tersebut menduduki tanah tersebut secara ilegal dan akan dirubuhkan pada tanggal 27 Desember.

Saat gereja dibongkar, sebuah salib telah hancur dan barang-barang suci dipindahkan. Orang dilarang keras untuk pergi ke gereja.

Gereja ini dibangun pada tahun 1999 setelah semua persetujuan dilengkapi untuk dijadikan sebagai tempat bagi umat Katolik beribadah.

Seorang sumber mengatakan di WeChat bahwa jalan raya telah dibangun di dekat gereja tersebut dan pemerintah bermaksud untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi tempat yang indah.

“Oleh karena itu, tanah gereja menjadi sangat bermanfaat dan cepat dibongkar dengan dalih pembangunan ekonomi,” tulis sumber tersebut.

Seorang sumber setempat mengatakan kepada ucanews.com bahwa perundingan terus berlanjut dan memperkirakan pemerintah akan memberikan kompensasi atas hilangnya gereja tersebut.

Dia juga menunjukkan bahwa gereja tersebut tidak dapat dibangun kembali di tempat yang sama karena pemerintah mengklaim bahwa gereja tersebut akan menghadapi risiko longsor dari lereng terdekat.

Dia mengklaim pihak berwenang perlu menyediakan lahan untuk membangun kembali gereja karena banyaknya umat Katolik di daerah tersebut.

“Jika mereka hanya mengkompensasi dengan uang, paroki dan umat Katolik tidak akan setuju,” katanya.

Diperiksa, Jenazah Kandidat Orang Kudus Filipina Utuh dan Tidak Berbau

Sen, 08/01/2018 - 15:40

Jenazah Uskup Agung Teofilo Camomot dari Cebu, kandidat orang kudus, menjalani pemeriksaan forensik selama sembilan jam minggu ini sebagai bagian dari proses kanonisasi.

Pengacara Persida Rueda-Acosta, kepala tim ahli forensik yang memeriksa jenazah tersebut, menyatakan bahwa jenazah tidak memancarkan bau busuk meski mengalami pembusukan.

“Saya menganggap ini ajaib karena jasad Uskup Camomot tidak berbau busuk terlepas dari kenyataan bahwa dia meninggal hampir 30 tahun yang lalu,” kata Rueda-Acosta, kepala Kantor Kejaksaan Pemerintah.

Mayat orang-orang kudus dianggap tidak membusuk dan memancarkan bau harum saat digali.

Dalam laporannya, dokter forensik Erwin Erfe, mengatakan bahwa kerangka prelatus tersebut tidak memancarkan bau, berbeda yang umum terjadi pada manusia.

Dia juga mencatat bahwa pakaian uskup Camomot berada dalam “kondisi utuh” dan tidak dimakan kutu dan serangga.

Tim medis mencatat bahwa kerangka prelatus tersebut menunjukkan beberapa patah tulang rusuk, patah pada klavikula kiri, dan tengkoral dan wajah yang hancur karena kecelakaan.

Uskup Agung, yang dikenal karena kemurahan hatinya dan bekerja di komunitas miskin, meninggal pada 27 September 1988 dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Pada bulan November Vatikan melalui Kongregasi untuk Penganugerahan Orang kudus mengeluarkan sebuah keputusan tentang keabsahan untuk alasan beatifikasi bagi almarhum uskup agung Filipina.

Sebuah komite gereja yang mendorong beatifikasi almarhum uskup, suster-suster dari Putri Santa Teresa, dan anggota keluarga, menyaksikan pemeriksaan terhadap jenazah prelatus tersebut, yang dimulai pada 3 Januari.

Uskup Agung Romulo Valles dari Davao, Ketua konferensi para uskup Filipina yang menyaksikan pemeriksaan tersebut, memuji “kehidupan saleh” Uskup Agung dalam sebuah pernyataan.

“Kami percaya bahwa diri Uskup Camomot sebagai saksi kehidupan Tuhan dalam kehidupan dan kepribadiannya saat dia melakukan karya amal, belas kasihan dan penggembalaan jiwa yang menakjubkan dalam hidupnya,” katanya.

Uskup Agung Camomot lahir di Cogon di kota Carcar, Filipina tengah pada tanggal 3 Maret 1914.

Dia diangkat menjadi uskup auxilier Jaro pada tanggal 26 Maret 1955. Pada tahun 1959, dia ditunjuk menjadi uskup koadjutor Cagayan de Oro. Dia kemudian mendirikan Carmelite Tertiaries untuk Ekaristi Terberkati, yang juga dikenal sebagai Putri Santa Teresa.

Pada tahun 1968, ia menjadi uskup auxilier Cebu dan pastor paroki Carcar di provinsi Cebu.

Jenazahnya yang terbungkus lilin dipajang untuk publik di museum yang menampung barang-barang dan tulisan pribadinya di panti asuhan Suster Santa. Teresa.

Aktivis Indonesia, Umat Kristiani Tolak RUU Perkebunan Sawit

Sen, 08/01/2018 - 14:32

Aktivis dan sekelompok umat Kristiani Indonesia bereaksi keras  terhadap rancangan undang-undang yang akan dibahas anggota dewan yang bertujuan untuk mengatur industri kelapa sawit, dan mengatakan rancangan tersebut menguntungkan perusahaan kelapa sawit skala besar dan gagal melindungi hak-hak masyarakat dan lingkungan.

RUU tersebut dijadwalkan untuk dibahas di DPR dan kemungkinan akan disahkan menjadi undang-undang akhir tahun ini.

Undang-undang tersebut disusun untuk mengatur industri, terutama perusahaan besar, yang mendapat kritik keras dari kelompok hak asasi manusia dan lingkungan, serta Gereja Katolik mengenai dugaan kerusakan lingkungan dan peminggiran masyarakat miskin dan masyarakat adat.

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencakup lebih dari 12 juta hektar, dimana 7 juta adalah milik perusahaan, dan sisanya oleh pemerintah dan petani kecil.

Pengamat industri mengatakan bahwa rancangan undang-undang itu benar-benar cacat dan akan gagal memberikan perlindungan yang seharusnya diberikannya.

Inda Fatinaware, direktur eksekutif Sawit Watch, salah satu kelompok pencinta lingkungan hidup mengatakan banyak artikel dalam draft undang – undang itu saling tumpang tindih dan akan memberi lebih banyak ruang bagi perusahaan untuk melanggar undang-undang lain termasuk penggundulan hutan.

“Tidak peduli dengan kesejahteraan petani dan pekerja, dan berpotensi memperburuk konflik sosial,” katanya kepada ucanews.com pada 4 Januari.

“Ini juga tidak bertujuan untuk mengatasi konflik tanah, yang kerap terjadi antara masyarakat adat dan perusahaan,” katanya.

Mansuetus Darto, direktur Serikat Petani Minyak Sawit, mengatakan petani kecil keberatan dengan rancangan tersebut, karena mengurangi sanksi terhadap perusahaan yang melanggar undang-undang.

Menurut hukum pidana yang ada di Indonesia, perusakan lingkungan dan pengabaian hak-hak karyawan dijerat dengan hukuman lima tahun penjara dan denda sebesar US $ 380.000.

Namun draf tersebut memungkinkan hukuman menjadi 16 bulan penjara dan denda $ 11.000.

“Kami khawatir rancangan undang-undang itu akan disalahgunakan oleh perusahaan besar untuk mendirikan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut,” katanya.

“Itu [draft RUU] harus ditolak karena tidak membantu petani kecil,” tambahnya.

Pastor Anselmus Amo,MSC, Direktur JPIC Keuskupan  Agung Merauke mengatakan bahwa Indonesia tidak memerlukan undang-undang khusus untuk industri kelapa sawit karena telah memiliki undang-undang perkebunan.

Pastor Amo, yang berkampanye untuk petani Papua yang dipengaruhi oleh bisnis besar, juga mengatakan bahwa rancangan undang-undang itu hanya akan menguntungkan investor berskala besar, bukan masyarakat lokal.

“Saya khawatir akan memberi lebih banyak kesempatan untuk perkebunan skala besar di Papua,” katanya.

Antonius Sido, 46, seorang petani di provinsi Kalimantan Utara, mengatakan jika draf tersebut diloloskan, lebih banyak petani kecil akan menjadi korban aneksasi tanah.

“Saya tidak sependapat dengan draf ini karena kita akan kehilangan tanah dan lebih banyak terkena banjir karena deforestasi,” katanya kepada ucanews.com.

Beberapa anggota dewan, terus berusaha untuk menghilangkan kekhawatiran itu.

Hamdhani, anggota Dewan yand duduk di sebuah komisi yang mengawasi pertanian, mengatakan kepada wartawan baru-baru ini bahwa hak-hak petani dan perusahaan kelapa sawit akan dipertimbangkan selama penafsiran dan artikel RUU tersebut dapat diubah, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Dia mengatakan bahwa kelapa sawit adalah industri besar dan sekitar 30 juta orang bekerja di sektor ini. Pada 2016, perusahaan tersebut menyumbang sekitar US $ 20 miliar untuk Produk Domestik Bruto nasional.

Undang-undang yang baru, katanya, akan membantu pemerintah dalam mengatur industri yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

Pengungsi Hindu Bersiap untuk Kembali ke Myanmar

Sen, 08/01/2018 - 12:05

Pemerintah Myanmar akan memulai pemulangan lebih dari 450 pengungsi Hindu pada 22 Januari.

Aung Min, direktur Departemen Imigrasi dan Kependudukan Rakhine, mengatakan bahwa dua pusat penampungan pengungsi hampir selesai dan, sebagai langkah awal, lebih dari 450 pengungsi Hindu akan dipulangkan.

Pengungsi telah menerima formulir untuk diisi dan data mereka akan diperiksa oleh petugas, yang juga akan memeriksa pengungsi di penyeberangan perbatasan.

“Proses dan prosedur berlaku untuk semua pengungsi apakah mereka beragama Hindu atau Bengali (Rohingya) tapi kami akan memulai pemulangan pengungsi Hindu karena jumlah mereka hanya ratusan dan dapat diproses dengan cepat,” kata Aung Min kepada ucanews.com.

Pengungsi yang kembali perlu mengajukan permohonan untuk Kartu Verifikasi Nasional yang dikelola pemerintah sebagai bukti tinggal di Myanmar dan sebelum mendapatkan kewarganegaraan berdasarkan undang-undang kewarganegaraan 1982, menurut Aung Min.

Sedikitnya 3.000 dari sekitar 8.000 orang Hindu yang tinggal di Maungdaw, Buthidaung dan Sittwe melarikan diri selama eksodus Muslim Rohingya selama operasi “pembersihan” oleh militer Myanmar. Beberapa di antaranya mengungsi, sementara yang lainnya menyeberang ke negara tetangga Bangladesh.

Lebih dari 650.000 orang Rohingya pergi ke Bangladesh untuk menghindari tindakan keras dan brutal militer di Rakhine dalam rangka pembelasan terhadap serangan militan Muslim terhadap pos keamanan pada 25 Agustus.

Kekerasan tersebut berdampak pada ribuan umat Hindu Rohingya. Militer Myanmar dilaporkan menemukan dua kuburan massal Hindu. Hindu membentuk 0,5 persen dari populasi di Myanmar, sementara 89 persen adalah umat Buddha dan 4,3 persen adalah umat Islam, menurut sensus 2014.

Ni Maw, pemimpin masyarakat Hindu di Maungdaw, Rakhine utara, membenarkan bahwa lebih dari 450 umat Hindu akan dipulangkan akhir bulan ini.

Pemimpin Hindu Surendra Jain, sekretaris jenderal internasional dari Vishwa Hindu Parishad, mengatakan bahwa Myanmar telah “selalu siap untuk menarik kembali umat Hindu Rohingya karena seluruh dunia setuju bahwa orang Hindu adalah minoritas terbaik.”

“Dunia Islam sekarang harus memikirkan apakah hal yang disebut jihad berjalan baik atau tidak,” katanya.

Kyaw Min, ketua Partai Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, sebuah partai Rohingya yang berbasis di Yangon, mengatakan bahwa rencana pemulangan tersebut tidak akan berjalan semana mestinya dan hanya merupakan pertunjukan untuk masyarakat internasional.

“Kebijakan diskriminasi yang telah berlangsung puluhan tahun terhadap Muslim Rohingya masih ada di Negara Bagian Rakhine, saya rasa tidak banyak orang yang akan kembali ke Rakhine,” katanya.

Kyaw Min mengatakan bahwa Rohingya memiliki harapan tinggi pada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi namun dia menggunakan kebijakan yang sama dari mantan presiden yang didukung militer Thein Sein dalam masalah Rohingya, jadi hal-hal tidak akan membaik di Negara Bagian Rakhine.

Sultan, seorang warga Rohingya dari Maungdaw, Rakhine utara, mengatakan bahwa dia telah mendengar beberapa orang masih melarikan diri ke Bangladesh dan sekitar 1.500 Rohingya melarikan diri dari Rakhine pada bulan Desember.

“Semua pengungsi bersedia kembali ke Rakhine jika mereka mendapatkan hak kewarganegaraan mereka, yang merupakan penghalang utama bagi mereka untuk kembali ke rumah,” kata Sultan kepada ucanews.com.

Human Rights Watch yang berbasis di New York mengatakan bahwa rencana pemulangan harus ditunda karena “waktu yang tepat” untuk keamanan dan kepulangan yang  bersifat sukarela.

Kelompok pemikir International Crisis Group yang berpusat di Brussels percaya bahwa prospek untuk mengembalikan sejumlah besar pengungsi Rohingya dalam jangka pendek dan menengah masih kabur.

Kondisi di lapangan di Rakhine utara jauh dari kondusif dan eksodus pengungsi yang mengalami trauma terus berlanjut, kata kelompok tersebut dalam sebuah laporan pada 7 Desember.

Jasad Calon Santo Asal Filipina Digali

Jum, 05/01/2018 - 16:44

Almarhum Uskup Agung Cebu Mgr Teofilo Camomot dicalonkan menjadi orang kudus. Uji forensik selama sembilan jam pun dilakukan minggu ini terhadap jasadnya sebagai bagian dari proses kanonisasi.

Persida Rueda-Acosta, seorang pengacara dan ketua tim ahli forensik yang menguji jasad prelatus itu, mengaku terkejut karena jasad tersebut tidak mengeluarkan bau busuk meskipun sudah membusuk.

“Saya kira ini mukjizat karena jasad Uskup Agung Camomot tidak mengeluarkan bau busuk meskipun kenyataannya ia telah wafat hampir 30 tahun lalu,” katanya.

Rueda-Acosta juga menjabat sebagai kepala Kantor Kejaksaan Umum.

Jasad orang-orang kudus diyakini tidak membusuk dan tidak mengeluarkan bau busuk ketika digali.

Dalam laporannya, dokter forensik Erwin Erfe mengatakan kerangka Uskup Agung Camomot tidak mengeluarkan bau menyengat yang umum terjadi pada jasad manusia.

Juga dikatakan, jubah Uskup Agung Camomot “dalam keadaan baik” dan “tidak terkoyak oleh segala macam bentuk aktivitas kutu dan insekta.”

Sementara itu, tim medis mengatakan kerangka Uskup Agung Camomot menunjukkan banyak patahan tulang rusuk, patahan tulang selangka, dan patahan tulang wajah dan tengkorak.

Uskup Agung Camomot dikenal karena kebaikan hatinya dan karyanya bagi komunitas miskin. Ia meninggal pada 27 September 1988 karena kecelakaan.

November lalu, Kongregasi untuk Penganugerahan Orang Kudus di Vatikan memberi validitas untuk penganugerahan beatifikasi bagi uskup agung itu.

Sebuah komisi Gereja yang mendesak beatifikasi prelatus itu, para biarawati dari Kongregasi Puteri-Puteri St. Teresa dan juga anggota keluarga menyaksikan penggalian jasad Uskup Agung Camomot yang dimulai pada 3 Januari lalu.

Turut menyaksikan penggalian tersebut adalah Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, ketua Konferensi Waligereja Filipina. Ia memuji “kehidupan luhur” dari Uskup Agung Camomot dalam sebuah pernyataan.

“Dalam diri Uskup Agung Camomot, kami percaya bahwa kami memiliki seorang saksi kehidupan Allah dalam kehidupannya dan pribadinya karena ia mampu melakukan berbagai karya yang mengagumkan terkait amal kasih, pengampunan dan penggembalaan jiwa-jiwa dalam kehidupannya,” katanya.

Uskup Agung Camomot lahir di Cogon, bagian tengah dari Kota Carcar, pada 3 Maret 1914.

Ia diangkat menjadi uskup auksilier Keuskupan Jaro pada 26 Maret 1955. Pada tahun 1959, ia diangkat menjadi uskup koajutor Keuskupan Cagayan de Oro. Kemudian ia mendirikan Carmelite Tertiaries of the Blessed Eucharist yang juga dikenal sebagai Kongregasi Puteri-Puteri St. Teresa.

Pada tahun 1968, ia menjadi uskup auksilier Keuskupan Cebu dan pastor Paroki Carcar, Propinsi Cebu.

Jasadnya diformalin dan diletakkan di sebuah museum yang menampung benda-benda pribadi dan berbagai karya tulisannya di halaman Kongregasi Puteri-Puteri St. Teresa.

 

Paroki di Keuskupan Atambua Canangkan Program Tanam kopi 

Jum, 05/01/2018 - 15:39

Paroki Hati Kudus Laktutus di Keuskupan Atambua memberdayakan ekonomi umat dengan program budidaya tanaman komoditas kopi.

Pada Kamis, 4 Desember, paroki memulai program itu dengan menanam kopi di lahan contoh milik paroki seluas 6 hektar.

Kegiatan itu dihadiri Uskup Atambua, Mgr Dominikus Saku dan Bupati Belu, Willybrodus Lay.

Pastor Paroki Laktutus, Yohanes Kristoforus Tara OFM mengatakan, terdapat 30.000-an bibit yang sudah disiapkan sejak tahun lalu dan akan dibagikan kepada umat untuk ditanam di kebun masing-masing selama bulan ini.

“Mimpi besar kita, ke depan Laktutus bisa menjadi salah satu sentra penghasil kopi di Kabupaten Belu,” ujarnya.

Ia mengatakan, paroki menyadari bahwa “umat tak hanya perlu diberi santapan rohani, tetapi juga diberdayakan secara ekonomi.”

Menurut dia, program ini merupakan terjemahan lanjutan dari Arah Dasar Keuskupan Atambua dengan fokus peningkatan ekonomi umat, di mana umat diajak, dianimasi untuk mulai membangun kesadaran baru dalam meningkatkan ekonomi melalui budidaya tanaman jangka panjang.

“Kami menilai, kopi adalah salah satu yang pas untuk daerah ini,” katanya saat berbicara dengan ucanews.com.

Ia menjelaskan, program ini juga diharapkan mampu menjadi jalan untuk menghentikan arus umat yang memilih meninggalkan kampung mereka dan bekerja sebagai buruh migran di luar negeri, di mana banyak dari antara mereka yang menjadi korban kejahatan perdagangan manusia atau human trafficking.

Menurut Pastor Kristo, dari 3.000 umat Paroki Laktutus, sekitar 300 di antaranya saat ini bekerja di luar negeri dan sebagian lagi merantau menjadi buruh perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

“Selama ini umat kita hanya bergantung pada tanaman jangka pendek seperti jahe dan kacang-kacangan, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kehidupan mereka. Karena itu, merantau menjadi jalan yang mereka pilih,” katanya.

Yoakim Taek, 32, salah satu umat mengatakan, ia antusias menyambut program ini dan sudah menyiapkan secara khusus lahan dua hektar untuk perkebunan kopi.

“Selama ini memang ada umat yang tanam kopi, tapi skalanya kecil. Program paroki, yang disertai pendampingan terhadap kami menjadi hal baru bagi kami,” kata ayah empat anak ini.

Ia mengakui, selama ini memang warga belum banyak melihat potensi yang bisa dikembangkan dari sektor pertanian.

“Tanaman komoditas yang umumnya dikembangkan di sini adalah kemiri. Tapi, hasilnya tidak seberapa,” katanya.

Dengan program ini, Pastor Kristo berharap, lima sampai sepuluh tahun ke depan, taraf hidup umat bisa berubah signifikan.

Ia menyadari, mimpi itu akan terlaksana, jika Gereja memberi pendampingan berkelanjutan.

“Yang jelas, kami berkomitmen memfokuskan perhatian pada sektor ekonomi ini,” katanya.

Ia menambahkan, Gereja juga tidak bisa menyelesaikan sendiri mimpi besar ini. Karena itu, baik Keuskupan maupun Paroki, menjadikan pemerintah setempat sebagai mitra kerja.

Ia mengatakan, sejauh ini ada titik terang. “Bupati Belu amat antusias mendukung dan mengintervensi program-progam Gereja yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi dan lingkungan hidup,” katanya.

Misalnya, kata dia, tahun ini ada tiga paroki yang mendapat dana hibah dari Pemda untuk pembangunan Gereja.

“Tetapi sebagai kompensasinya, Gereja mesti melakukan sejumlah kegiatan pelestarian lingkungan hidup seperti reboisasi lahan kritis atau peningkatan ekonomi, termasuk salah satunya adalah program budidaya kopi,” katanya.

 

Misionaris Yesuit Ini Mampu Wujudkan Mimpinya di India

Jum, 05/01/2018 - 15:31

Tinggi dan kurus. Berkacamata bundar. Selalu mengenakan tas selempang. Inilah sosok Pastor Bob Slattery SJ yang tidak asing lagi bagi masyarakat adat di Propinsi Hazaribag di India bagian timur.

Imam Yesuit asal Australia berusia 83 tahun itu berada di India sudah hampir 60 tahun. Namun ia terus melayani warga Dalit yang tertindas dan warga suku lainnya yang merupakan kelompok minoritas di propinsi tersebut.

Ia menginjakkan kaki pertama kali di wilayah itu – sekarang Negara Bagian Jharkhand – pada tahun 1958. Wilayah ini merupakan basis Provinsialat SJ Propinsi Hazaribag.

“Saya memilih India karena – sebagai seorang Yesuit – melayani orang miskin itu baik,” katanya.

Ia kini menjabat sebagai direktur Provinsialat SJ Propinsi Hazaribag.

Pastor Slattery biasanya mengawali hari dengan doa dan karya hingga larut malam. Ia punya banyak agenda. Ia juga tengah mencari sumber daya demi kesejahteraan warga suku dan warga Dalit.

Pada dasarnya pekerjaannya adalah “mengemis, sebuah tugas yang menantang,” katanya.

Ia memulai karya misinya di Hazaribag dengan menjadi guru di Sekolah St. Xaverius yang menampung banyak anak warga Dalit dan kelompok minoritas etnis lainnya. Prioritasnya adalah pendidikan.

“Yang saya rasakan pertama kali adalah tantangan dan sekaligus diterima oleh para siswa dan imam Yesuit di sini. Saya senang karena saya menikmati pekerjaan saya sebagai guru,” katanya.

Negara Bagian Jharkhand memiliki 32 kelompok etnis, baik besar maupun kecil. Etnis Santal merupakan suku terbesar. Menurut sensus 2001, semua komunitas etnis ini memiliki tujuh juta anggota. Sementara total penduduk negara bagian itu sendiri adalah 26 juta orang.

Pastor Slattery berbicara dalam berbagai bahasa warga suku seperti Santal dan Oraon. Baginya, ini membantu menjalin relasi yang baik dengan warga suku. Ia sering mengunjungi sejumlah desa karena ini memberi kesempatan baginya untuk bertemu para tokoh masyarakat.

Ia pun memilih transportasi umum di wilayah miskin itu. Dengan demikian, ia punya banyak kesempatan untuk berkomunikasi dengan warga setempat dan mengetahui masalah mereka, katanya.

Imam-imam Yesuit Australia memfokuskan pendidikan sejak kedatangan mereka ke India tahun 1951. Karya misi mereka antara lain membangun sekitar 13 sekolah menengah atas (SMA), tujuh sekolah menengah pertama (SMP), 12 sekolah dasar (SD) dan beberapa sekolah kecil di desa.

Karya misi yang tersebar di tujuh distrik di Negara Bagian Jharkhand itu membantu pendidikan sekitar 25.000 siswa SD hingga perguruan tinggi.

Selain itu, imam-imam Yesuit juga mengelola sebuah universitas dan kolese untuk mendidik para guru SD. Rencananya, mereka akan membangun sebuah kolese lagi untuk mendidik para guru.

Tanggung jawabnya adalah mencari dana untuk proyek ini, kata Pastor Slattery.

Ia menjadi guru cukup lama dan kemudian menjadi kepala sekolah di beberapa sekolah di Propinsi Hazaribag. Ia selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan staf dan “saya belajar banyak dari mereka.”

Berkat Pastor Slattery, kehidupan warga desa selalu menjadi lebih hidup. “Saya suka karena warga desa sangat baik. Kami biasanya meluangkan waktu bersama di desa dan duduk bersama saat malam hari dan bergegas ke hutan sekitar keesokan harinya karena tidak ada toilet saat itu,” katanya.

Tahun 1978, ia diangkat sebagai direktur pendidikan di propinsi itu. Sejak 1993 hingga 1999, ia berkarya sebagai sekretaris pendidikan Yesuit untuk Asia Selatan dan terlibat dalam peluncuran beberapa sekolah di India, Pakistan dan Nepal.

Ia hanya makan makanan ringan seperti nasi, roti India, kacang-kacangan dan telur. “Saya diberkati dengan makanan sehat, inilah yang saya dapat dari orangtua saya. Jika Anda menikmati makanan sehat, secara alami Anda akan berumur panjang,” katanya.

Komitmen Pastor Slattery untuk melayani warga suku dan warga Dalit di Propinsi Hazaribag begitu kuat. Ia pun meninggalkan kewarganegaraan Australia dan menjadi warga negara India pada tahun 1993.

‘Saya kira jika saya memperoleh kewarganegaraan India, saya punya kesempatan baik untuk tinggal di India,” katanya, seraya menceritakan bahwa seorang imam Yesuit asal Australia “diusir karena ia menentang keras kasus korupsi di negara itu.”

Pastor Slattery juga menjaga hubungan baik dengan banyak siswa, bahkan sebagian siswa yang pernah diajarnya pada tahun 1958. Baginya, bertemu mereka dan mengetahui bahwa mereka baik itu sangat membahagiakan.

Ia pun menikmati waktu bersama dengan para siswa, guru dan sesama imam Yesuit.

“Saya akan terus menjalankan karya misi yang telah diberikan kepada saya karena untuk itulah saya berada di sini,” katanya.

Misa Novena Maria di Manila Mencatat Rekor Tertinggi

Jum, 05/01/2018 - 14:34

Umat yang menghadiri Misa hari Rabu pertama di Tempat Ziarah Nasional Maria Bunda Penolong Abadi di Manila mencapai rekor tertinggi tahun ini.

Rektor basilika tersebut mengatakan bahwa sekitar 300.000 pendevosi menghadiri Misa, melebihi tahun sebelumnya yang berjumlah 230.000.

Devosi pada hari Rabu oleh umat Filipina kepada Maria Bunda Penolong Abadi dimulai pada tahun 1946 sebagai tanggapan atas permintaan tentara Amerika yang terluka selama Perang Dunia II.

Meskipun “novena” dilakukan di semua gereja Redemptoris di seluruh Filipina, sekitar 100.000 pendevosi menghadiri misa di gereja di distrik Baclaran, Manila, setiap minggu.

Kata “novena”, berasal dari kata Latin novem yang berarti sembilan, adalah tradisi doa, yang terdiri dari doa pribadi atau bersama yang dilakukan selama sembilan hari atau minggu berturut-turut.

“Setiap tahun jumlah pendevosi menghadiri Misa semakin tinggi,” kata Pastor Carlos Ronquillo, rektor tempat ziarah tersebut.

“Ini memberitahu kita bahwa lebih banyak orang mencari perantaraan Bunda Maria,” tambah imam itu.

Para pendevosi yang membanjiri kompleks gereja minggu ini berasal dari semua lapisan masyarakat, kata Pastor Ronquillo, menambahkan bahwa “mayoritas adalah orang miskin yang memanjatkan permohonan dan doa mereka.”

Selama tiga hari pertama tahun ini, gereja tersebut menerima sekitar 1.500 surat permohonan dan setidaknya 200 ucapan syukur.

Kebanyakan orang berdoa untuk solusi atas masalah keuangan mereka, meminta pekerjaan, sementara yang lain berdoa untuk perdamaian dan rekonsiliasi dalam hubungan, kata pastor tersebut.

Pastor Ronquillo mengatakan bahwa dia tidak dapat menjelaskan kenaikan jumlah pendevosi mengunjungi tempat suci tersebut “namun devosi kepada Maria secara khusus tertanam dalam budaya kami.”

“Fenomena ini mengindikasikan bahwa orang Filipina merasakan dan mengalami cinta abadi dan pertolongan Tuhan melalui perantaraan Maria,” kata imam tersebut kepada ucanews.com.

Novena kepada Bunda yang selalu menolong pada awalnya diterbitkan pada tahun 1899 di Jaen, Spanyol.

Pastor Ronquillo mengatakan bahwa popularitas novena tersebut berhubungan dengan pekerjaan misi kongregasinya yang dipercayakan oleh Paus Pius IX pada tahun 1865 “untuk membuat ikon Bunda Maria selalu menolong dikenal”

Gereja di Baclaran adalah satu-satunya tempat suci Maria di dunia yang diberi otorisasi oleh Vatikan pada tahun 1958 untuk tetap buka 24 jam sehari.

Dalam kotbahnya untuk menyambut Tahun Baru, Kardinal Luis Antonio Tagle meminta umat Katolik untuk belajar dari Maria “dalam usaha mencari kedamaian sejati.”

“Anda bukan orang Kristen sejati atau orang Filipina jika Anda tidak peduli pada orang lain,” kata prelatus tersebut, ia menambahkan bahwa orang Filipina perlu “mendengarkan dan bermeditasi” untuk mencapai kedamaian.

Serangan ke Marawi Tinggalkan Luka Mendalam Bagi Korban Selamat

Jum, 05/01/2018 - 06:15

Konflik mematikan yang terjadi selama lima bulan pada tahun lalu di Kota Marawi, Filipina bagian selatan, tidak hanya meninggalkan kehancuran tapi juga membuat para korban selamat menderita. Mereka akan terus dihantui mimpi buruk sepanjang hidup mereka.

Pada 23 Mei tahun lalu, kota pinggir danau nan indah itu diserang oleh kelompok orang-orang bersenjata yang terinspirasi oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Akibatnya, sekitar 400.000 orang mengungsi.

Bulan-bulan berikutnya menjadi mimpi buruk bagi sejumlah lembaga bantuan pemerintah dan swasta. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan penduduk yang mayoritas beragama Islam.

Seusai pertempuran, pemerintah Filipina melaporkan bahwa 1.100 orang tewas terbunuh. Sebagian besar adalah teroris bersenjata yang melancarkan serangan untuk membentuk sebuah negara Islam di kota itu.

Jamil Ampaso, seorang ayah dari 12 anak, mengecam serangan tersebut. Namun ia juga cemas akan kehancuran sebagai akibat dari serangan udara militer di kampung halamannya.

Menurut pemerintah, rehabilitasi kota itu membutuhkan biaya sekitar satu miliar dolar AS.

“Perang itu tidak hanya merusak sekolah anak-anak kami tapi juga menghancurkan kehidupan kami,” katanya kepada ucanews.com.

“Saya tidak tahu bagaimana kami memulainya kembali,” lanjutnya.

Presiden Rodrigo Duterte telah memberlakukan darurat militer di seluruh wilayah bagian selatan Mindanao. Konggres Filipina memutuskan untuk memperpanjang status ini hingga akhir 2018.

 

Upaya Membangun Kembali 

 

Lebih dari dua bulan sejak perang berakhir, wilayah pertempuran utama di Kota Marawi yang mengapit 14 dari 100 desa tetap tertutup untuk warga sipil.

“Banyak dari mereka yang pergi lagi setelah melihat rumah mereka hancur dan dijarah,” kata Aminoden Macalandap, seorang pengacara dan ketua Integrated Bar of the Philippines.

Ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa banyak orang bahkan kembali ke kamp pengungsi yang disediakan oleh pemerintah atau lembaga bantuan di luar Kota Marawi atau tinggal bersama kerabat mereka di bagian lain dari Mindanao.

Juga dikatakan bahwa layanan dasar belum buka, sementara pasar masih kosong.

Rekonstruksi belum dimulai. Lokasi pemukiman kembali seluas 17 hektar masih tutup karena pekerjaan pembangunan masih berlangsung.

Eduardo del Rosario, kepala satuan tugas yang diorganisasi untuk membantu membangun kembali kota itu, mengatakan 1.100 kamp pengungsi sementara siap ditempati bulan ini.

Rekontsruksi kota itu akan dimulai pada bulan ke delapan tahun ini.

Menurutnya, berbagai lembaga masih memantau situasi. Juga, rekomendasi dari berbagai kelompok masih dipertimbangkan.

Sementara itu, Macalandap mengeluhkan “tidak adanya konsultasi yang jelas dengan warga sipil sejauh ini” dalam tahap perencanaan pembangunan kembali kota tersebut.

“Para korban hendaknya diberi peran penting dalam rehabilitasi itu untuk menghormati sensitivitas budaya dan agama orang-orang Marawi,” katanya.

Penduduk Marawi yang beragama Islam merupakan kelompok etnis mayoritas di kota itu.

Macalandap juga mengingatkan bahwa “isu tajam” terkait kepemilikan tanah hendaknya diselesaikan setelah adanya penemuan yang menunjukkan bahwa sebagian dari Marawi adalah bagian dari reservasi militer.

Selain itu ia juga menekankan perlunya transparansi khususnya tentang uang senilai jutaan dolar AS yang telah disumbangkan untuk pemulihan dan rehabilitasi kota tersebut.

 

Tanggapan Gereja

 

Umat Katolik yang tinggal di sekitar Kota Marawi membantu memenuhi kebutuhan tetangga mereka dengan mengorganisir apa yang mereka sebut “Duyog Marawi” untuk membantu proses penyembuhan bagi para korban selamat.

“Duyog” adalah istilah Visayan yang berarti pendampingan, sering dipahami sebagai tindakan memainkan alat musik untuk mendampingi seorang penyanyi atau penari.

Uskup Edwin dela Pena dari Prelatur Marawi mengatakan sekitar 100 umat Islam dan Kristiani terlibat secara sukarela dalam program tersebut dan bekerjasama dengan para misionaris Redemptoris.

Menurutnya, “Duyog Marawi” – yang melibatkan para tokoh agama Islam, sudah tertanam dalam advokasi Gereja untuk mempromosikan kerukunan lintas-agama “dalam perayaan hidup dan iman.”

Sejumlah keuskupan di Filipina dan beberapa individu mulai mengirim donasi untuk melaksanakan program itu, katanya.

Program itu berfokus pada kesehatan, penyembuhan dan rekonsiliasi, komunikasi dan perlindungan sektor-sektor rawan.

Uskup dela Pena mengatakan program itu bertujuan untuk menjamin bahwa agama dan budaya masyarakat “diperhatikan dan dipertimbangkan dalam proses pembangunan kembali Kota Marawi dan hak masyarakat dilindungi.”

Jamalic Umpar, 24, warga Marawi yang keluarganya mengungsi, mengaku secara sukarela terlibat dalam program itu “untuk membina persatuan dan persahabatan antara umat Islam dan Kristiani.”

Meskipun ada luka yang ditinggalkan oleh konflik itu, para korban selamat berharap tragedi itu akan membawa hal baru bagi kehidupan mereka.

Pastor Teresito Soganub, seorang imam yang disandera oleh orang-orang bersenjata di hari pertama serangan, mengatakan pertempuran itu akan menghantuinya sepanjang hidup.

“Saya marah kepada Allah karena membiarkan saya berada dalam situasi yang mengerikan itu,” katanya. “Namun iman saya akan Tuhan tidak pernah luntur. Malah semakin kuat.”

Ia pun mengaku bahwa siksaan selama 116 hari di tangan teroris bersenjata memperdalam imannya akan Allah dan membuatnya semakin rajin berdoa. “Saya lebih sering berdoa ketimbang dulu,” katanya.

Bagi Uskup dela Pena, umat Katolik di Kota Marawi “ada di sini untuk mendukung dan menemani (Saudara-Saudari) kami sepanjang waktu.”

“Kami sadar bahwa misi membangun kembali kota itu adalah milik orang Marawi,” katanya.

Kata Pakar, Hong Kong Berubah Menjadi Semi-Otoriter

Jum, 05/01/2018 - 05:00

Pembicara pada sebuah simposium yang diadakan oleh sebuah komisi Katolik mengklaim bahwa Hong Kong telah memasuki era semi otoriter yang telah membawa jalan demokratis yang lebih sulit.

Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Katolik Hong Kong baru-baru ini mengadakan Simposium Tahunan ke-40 dengan topik “Hak Asasi Manusia, Demokrasi dan Aturan Hukum Hong Kong di bawah Pemerintahan Otoriter.”

Dua hari sebelum simposium tersebut, Dewan Legislatif Hong Kong mengeluarkan amandemen yang kontroversial mengenai peraturan prosedur yang memungkinkan kuorum untuk komite yang bertanggung jawab memeriksa undang-undang akan dikurangi dari 35 menjadi 20 orang.

Margaret Ng Ngoi-yee, mantan anggota parlemen Partai Kewarganegaraan yang pro-demokrasi, mengatakan pada simposium bahwa pengurangan tersebut akan menjadi inkonstitusional dan berdampak buruk pada efektivitas undang-undang. Dia mengaku tidak ada seorang pun di Dewan Legislatif yang akan peduli.

Dia mengatakan presiden, Demokrat dan Konservatif tidak tertarik untuk mengurangi konstitusionalitas kuorum tersebut.

Dia mendesak Demokrat untuk meminta judicial review namun memperingatkan bahwa mungkin diperlukan banyak biaya litigasi dan mengarah pada Komite Kongres Rakyat Nasional (NPCSC) yang menafsirkan undang-undang tersebut. ”

Menurut Pasal 75 Undang-Undang Dasar Hong Kong, kuorum untuk rapat Dewan Legislatif harus tidak kurang dari setengah anggotanya.

“Di masa lalu, Undang-Undang Dasar dianggap sebagai konstitusi tertulis, dan meskipun NPCSC memiliki kekuatan untuk menafsirkan, kami merasa bahwa mereka tidak akan menafsirkannya terlalu jauh. Tapi sekarang mereka semakin ganas, bahkan mengabaikan prinsip hukum dan prosedur yang adil, untuk melakukan apa yang mereka mau, “kata Ng.

Dia khawatir tentang bagaimana orang Hong Kong dapat melindungi properti, hak asasi manusia dan kebebasan mereka di masa depan.

Benny Tai Yiu-ting, seorang profesor hukum di Universitas Hong Kong, juga mengatakan bahwa Hong Kong sedang menuju era semi-otoriter.

“Sebelum kerangka kerja 831, kita masih memiliki kesempatan untuk bergerak menuju demokrasi, tapi sekarang Hong Kong belum demokratis tapi semi otoriter,” katanya.

Kerangka kerja 831 NPCSC untuk pemilu memicu Occupy Central Campaign.

Keputusan 831 tersebut mengacu pada keputusan yang dibuat Komite Kongres Rakyat Nasional pada tahun 2014, 1,200 anggota komite pemilihan memutuskan pemilihan kepala eksekutif dan hanya dua sampai tiga kandidat yang dapat dipilih.

Keputusan tersebut dikritik oleh kaum pro-demokrat karena tidak mencerminkan hak pilih universal yang nyata karena mayoritas warga negara kehilangan hak untuk mencalonkan orang ke komite pemilihan. Hal itu menyebabkan pecahnya gerakan pro-demokrasi pada tahun yang sama.

Tai mengatakan Chief Executive Carrie Lam Cheng Yuet-ngor telah membuat banyak perubahan selama enam bulan terakhir setelah menjabat namun wilayah tersebut tampaknya secara bertahap bergerak menuju era otoriter.

Dia mengatakan bahwa Hong Kong mungkin tidak dapat membalikkan keadaan dalam jangka pendek “karena perkembangan internal China juga mempengaruhi demokratisasi Hong Kong, dan sekarang tampaknya Presiden China Xi Jinping bergerak dari era semi otoriter ke negara yang otoriter.”

Tapi Tai tetap optimis dengan perkembangan demokrasi China daratan dan Hong Kong. Dia menyarankan agar pemrotes lebih berusaha menerapkan cita-cita demokrasi di distrik dan melibatkan lebih banyak warga.

Dia mengatakan bahwa kaum demokrat mungkin memiliki pendirian yang berbeda namun harus bersatu. “Persatuan sangat penting di bawah pemerintahan otoriter karena ini adalah satu-satunya cara untuk menentang kekuasaan,” katanya.

Kegagalan undang-undang Pasal 23 pada tahun 2003 disebabkan oleh kekuatan warga ketika 500.000 orang turun ke jalan, katanya.

Hui Po-keung, associate professor di Departemen Studi Budaya di Universitas Lingnan, mengatakan bahwa masyarakat harus dibuat untuk memahami bahwa demokrasi adalah cara untuk melindungi “hak untuk tidak taat.”

“Itu hak minoritas dengan persetujuan mayoritas,” jelasnya.

Dia mengutip sebuah cerita baru-baru ini tentang siswa yang tidak berdiri untuk lagu kebangsaan. Di bawah perlindungan undang-undang hak untuk tidak taat, hak asasi manusia dan kebebasan mereka dipastikan tidak terpengaruh.

“Lingkungan politik saat ini melemahkan suara minoritas,” katanya.

Tai masih percaya bahwa “meski di sana ada musim dingin yang gelap, Tuhan masih menciptakan cahaya matahari. Jalan menuju demokrasi di Hong Kong sudah lama dan kita mungkin tidak melihat harapan, tapi kita tetap bersikeras.”

Uskup Ini Berharap Ada OMK yang Mau Menjadi Imam

Kam, 04/01/2018 - 15:33

Uskup Hyderabad Mgr Samson Shukardin telah meluncurkan fasilitas studi khusus bagi Orang Muda Katolik (OMK) di keuskupannya guna mendidik dan mempersiapkan OMK laki-laki untuk masuk seminari.

“Saya sedih jika tidak ada panggilan satu pun dari keuskupan selama satu tahun pertama masa jabatan saya sebagai uskup Hyderabad,” katanya.

“Hari itu saya memutuskan tahun depan saya akan mulai memotivasi imam-imam saya untuk mengupayakannya. Tahun berikutnya kami sukses mengadakan kemah panggilan untuk 12 OMK laki-laki,” lanjutnya.

“Kami memilih dua OMK laki-laki, namun kami tetap menjaga 10 OMK laki-laki lainnya di sebuah paroki dan membantu mereka meningkatkan ketrampilan linguistik khususnya Bahasa Inggris dan Urdu,” katanya.

“Ini permulaan bagi keuskupan, tapi kami ingin punya seminari menengah sendiri di keuskupan dalam dua tahun ke depan,” lanjutnya.

Keuskupan Hyderabad merupakan pecahan dari Keuskupan Agung Karachi dan dibentuk tahun 1958. Keuskupan ini melayani wilayah seluas 137.386 kilometer persegi dan memiliki 16 paroki. Setengah dari jumlah paroki ini terletak di area yang dihuni oleh komunitas adat Bheel, Kachi, Kholi dan Parkari.

Uskup Shukardin diangkat menjadi uskup kelima Keuskupan Hyderabad tahun 2014. Sebelumnya ia berkarya sebagai Vikjen Keuskupan Hyderabad.

Cita-citanya yang lain adalah memberikan pendidikan berkualitas tinggi kepada orang miskin di keuskupanya. Uskup Shukardin telah membantu anak-anak petani miskin sejak 2012.

Tahun lalu, ia mengunjungi seorang anak laki-laki yang lulus kelas 10. Remaja ini adalah orang pertama dari sebuah keluarga pengemis jalanan yang mengenyam pendidikan.

Uskup Shukardin juga berkarya sebagai sekretaris Konferensi Waligereja Pakistan dan ketua Komisi Klerus Nasional dan Komisi Kerasulan Awam Nasional.

Ia juga dikenal atas dukungannya untuk umat awam, khususnya OMK.

Bulan lalu ia menghadiri retret bersama Pemuda Yesus, sebuah gerakan awam Katolik.

“Saya tinggal semalam untuk meyakinkan OMK bahwa mereka tidak sendiri,” katanya.

“Sudah menjadi tugas saya untuk melaksanakan tanggung jawab yang diberikan kepada saya,” lanjutnya.

Selama retret, Uskup Shukardin tidak hanya menerimakan Sakramen Tobat dan merayakan Misa tapi juga memberi penyuluhan kepada OMK agar menanggapi panggilan misi secara serius.

Juli lalu, ia mengadakan sebuah acara selama tiga hari untuk OMK di keuskupannya.

Uskup Shukardin memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan OMK di bidang pendidikan dan profesi. Ia telah mengirim 150 OMK laki-laki dari keuskupannya untuk mengikuti pelatihan di institut-institut teknik di Hyderabad dan wilayah sekitarnya.

Agustus lalu ia mendampingi sebuah tim dari Caritas Pakistan Hyderabad dalam kunjungan ke sejumlah institut teknik di kota itu untuk mencari peluang bagi mereka.

Misteri Menyelimuti Hilangnya Imam Karmel di Flores

Kam, 04/01/2018 - 14:57

Misteri masih menyelimuti nasib imam Karmel Indonesia yang hilang bulan lalu setelah mandi di laut di sebuah pantai di Pulau Flores.

Pastor Yohanes Marthinianus Rada, O.Carm yang berusia 32 tahun, dilaporkan hilang pada 19 Desember setelah pergi berenang di pantai Wai Ri’i, di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Pastor John Djawa dari Ordo Karmel Indonesia mengatakan bahwa Pastor Rada sempat memberitahu salah seorang seminaris di biara di mana dia tinggal bahwa dia hendak berenang. Namun dia tidak pernah melihatnya lagi sejak saat itu.

Polisi kemudian menemukan pakaian dan sepatu pastor itu di pantai.

Pencarian terhadap imam itu dihentikan pada 27 Desember, dan polisi berasumsi bahwa dia telah meninggal setelah hanyut ke laut.

Akan tetapi salah seorang kerabatnya mengatakan kepada ucanews.com bahwa keluarga tersebut telah meminta polisi untuk melihat penyebab lain dari hilangnya pendeta tersebut.

“Karena dia tidak ditemukan di laut, kemungkinan dia tidak tenggelam,” katanya pada 4 Januari, dan meminta tidak disebutkan namanya.

Pastor Rada ditahbiskan menjadi imam pada tahun 2013 dan telah bertugas sebagai bendahara untuk Ordo Karmel di Indonesia timur.

Pemerintahan Timor Leste di Ambang Keruntuhan

Kam, 04/01/2018 - 13:47

Timor-Leste telah mengalami krisis konstitusional setelah pemerintah minoritas Perdana Menteri Mari Alkatiri gagal mengeluarkan kebijakan-kebijakan kunci, termasuk anggaran baru, pada minggu sebelum Natal.

Negara Asia yang memiliki penduduk mayoritas Katolik itu berpotensi memiliki pemerintahan baru, atau pemilihan kedua dalam sembilan bulan, karena parlemen negara tersebut mengalami kebuntuan setelah pemilu pada 22 Juli gagal mendapatkan suara moyoritas di parlemen.

Partai Fretlin yang menaungi Alkatiri, yang memenangkan kursi terbanyak dalam pemilihan, dan mitra koalisinya, Partai Demokrat, memegang 30 kursi di parlemen yang berkapasitas 65 kursi dan harus bergantung pada dukungan anggota parlemen oposisi agar undang-undang disahkan.

Alkatiri yang menggantikan rekan separtai Rui Maria de Araujo sebagai Perdana Menteri mengikuti pemilihan 22 Juli, semula sudah membagun koalisi mayoritas. Tapi hanya beberapa hari sebelum dilantik, mitra ketiga koalisi tersebut, Kmanek Haburas Unidade Nasional Timor Oan (Khunto) yang memiliki lima kursi, meninggalkan koalisi Alkatiri.

Alkatiri, seorang Muslim di sebuah negara yang berpenduduk lebih dari 90 persen Katolik, terpaksa mengundurkan diri di tahun 2006 sebelum masa jabatannya sebagai perdana menteri pertama di negara itu selesai.

Dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi dari Singapura pada 19 November, para pemimpin oposisi Timor-Leste meyakinkan publik bahwa mereka siap untuk mengambil alih kepemimpinan.

Siaran menampilkan negarawan senior dan mantan presiden dan perdana menteri Xanana Gusmao yang didampingi oleh Taur Matan Ruak, presiden Partai Pembebasan Populer (PLP) dan Jose do Santos Naimori dari Partai Khunto.

“Jika presiden memberi kami tanggung jawab untuk memimpin negara keluar dari krisis saat ini, kami akan menerimanya,” kata Gusmao.

Alkatiri menolak untuk mengadakan sidang parlemen dan mengklaim bahwa pihak oposisi berusaha untuk melakukan kudeta, terlepas dari kenyataan bahwa presidenlah yang bersumpah di parlemen.

Akademisi Australia Damien Kingsbury telah menggambarkannya sebagai “perpecahan pemerintah nasional” dan Alkatiri memiliki “gaya politik yang dapat mengendalikannya”.

Gusmao telah menegosiasikan sebuah perjanjian baru dengan Australia mengenai cadangan minyak dan gas senilai A$ 50 miliar ($U 39 miliar) di apa yang disebut deposit Greater Sunrise di perairan antara kedua negara.

Dia belum berada di negara ini dan secara umum dianggap bahwa kehadirannya dibutuhkan untuk kebuntuan politik agar bisa diselesaikan atau pemerintah dibubarkan.

Apa yang terjadi selanjutnya sangat banyak berhubungan dengan Presiden Francisco Guterres, seorang rekan Fretilin Alkatiri.

Manuel Tilman, seorang pengacara Timor-Leste, setuju bahwa krisis politik akan terjadi jika program pemerintah ditolak oleh parlemen lagi.

“Ini sesuai dengan Pasal 112 undang-undang dasar. Jika program pemerintah ditolak untuk kedua kalinya berturut-turut, pemerintah akan jatuh,” kata Tilman kepada ucanews.com.

Menurut Pasal 112, menurut Tilman, Presiden Guterres harus mempertimbangkan bagaimana membentuk pemerintahan baru jika yang sekarang dibubarkan.

Pilihannya termasuk menawarkannya kepada partai Xanana Gusmao, partai Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste (CNRT) yang memperoleh suara terbanyak kedua dalam pemilu 22 Juli, atau membentuk pemerintahan “persatuan nasional”.

Jika dialog antara elit politik gagal, presiden dapat membubarkan parlemen nasional pada awal 22 Januari, kata Tilman.

“Pemilu bisa terjadi pada bulan April 2018, namun pada tanggal tersebut bertepatan dengan Masa Prapaskah dan Paskah di negara yang mayoritas Katolik tersebut, kemungkinan besar akan terjadi pada bulan Mei 2018,” tambahnya.

Dalam hal pemilihan diawal Mei, Timor-Leste bisa mengalami krisis keuangan karena anggaran negara belum disetujui.

“Saya akan membuat keputusan sesuai dengan konstitusi agar tidak membebani rakyat dan tidak akan ada darah atau luka, apalagi kematian,” kata Presiden Guterres pada 4 Desember.

Hal-hal yang lebih penting selanjutnya akan diumumkan pada tanggal 26 Desember.  Australia dan Timor Lorosa’e akan menandatangani sebuah perjanjian baru tahun ini yang menetapkan batas-batas maritim dalam upaya menyelesaikan perselisihan yang masih berlangsung mengenai ladang minyak dan gas yang menguntungkan di Laut Timor Timur.

Perjanjian baru akan ditandatangani pada bulan Maret sesuai dengan arahan dari Pengadilan Tetap Arbitrase di Den Haag. Tapi ini perlu ratifikasi dari parlemen yang, pada saat ini, mungkin akan dibubarkan. Parlemen Timor-Leste akan bertemu kembali pada 8 Januari.

Timor-Leste secara resmi mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 2002 setelah 24 tahun berada di bawah kekuasaan Indonesia. Namun lima belas tahun setelah kemerdekaan, ia terus berjuang untuk mengatasi kemiskinan, kurangnya pendidikan dan layanan kesehatan.

Paus Meminta Dunia Memperhatikan Migran dan Pengungsi

Kam, 04/01/2018 - 13:37

Paus Fransiskus memulai Tahun Baru dengan mendoakan agar dunia menunjukkan peningkatan solidaritas dan menerima para migran dan pengungsi.

“Janganlah kita memadamkan harapan di dalam hati mereka, janganlah kita menipiskan harapan mereka akan kedamaian,” kata paus kepada para pengunjung yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus seperti dilansir Catholic News Service.

Untuk perayaan Hari Perdamaian Dunia pada Tahun Baru dan hari raya Maria, Bunda Allah, Paus Fransiskus memilih untuk berfokus pada migran dan pengungsi dan kerinduan mereka akan perdamaian.

“Demi kedamaian ini, yang merupakan hak semua orang, banyak dari mereka bersedia mempertaruhkan nyawa mereka dalam sebuah perjalanan yang, dalam banyak kasus, panjang dan berbahaya dan menghadapi cobaan dan penderitaan,” kata paus kepada sekitar 40.000 orang yang berkumpul di basilika di sekitar pohon Natal dan kandang Natal pada 1 Januari.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa penting bagi setiap individu, pemerintah, sekolah, gereja dan gereja, membuat komitmen untuk “memastikan masa depan yang damai bagi pengungsi, migran.”

Mempercayakan kebutuhan migran dan pengungsi kepada Bunda Maria, paus mengajak kerumunan mendaraskan doa Maria tradisional: “Di bawah perlindunganmu, kami mencari perlindungan, ya Bunda Allah yang kudus. Janganlah menolak permohonan kami pada saat-saat susah, tetapi bebaskanlah kami dari semua mara bahaya.”

Surat Gembala Mgr Suharyo Tekankan Tahun Persatuan

Rab, 03/01/2018 - 17:10

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengawali tahun ini dengan mengeluarkan surat gembala yang menekankan tahun persatuan.

Surat gembala tersebut akan disampaikan sebagai pengganti kotbah pada Perayaan Ekaristi Hari Raya Penampakan Tuhan pada Sabtu dan Minggu (6-7/1) di seluruh paroki di wilayah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

“Pada tahun 2018 kita ingin mendalami secara khusus sila ketiga ‘Persatuan Indonesia’ dengan semboyan ‘Kita Bhinneka – Kita Indonesia,’” kata Mgr Suharyo dalam surat gembalanya.

Menurut prelatus itu, semboyan tersebut mengandung berbagai macam gagasan yang seyogyanya diterjemahkan menjadi berbagai gerakan yang membarui kehidupan.

“Kalau gerakan-gerakan ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten akan terbentuklah habitus baru, yaitu cara merasa, cara berpikir, cara bertindak dan berperilaku baik, baik dalam tataran pribadi maupun bersama, dalam keluarga, komunitas dan masyarakat yang lebih luas,” lanjutnya.

Mgr Suharyo menambahkan bahwa salah satu penanda gerakan “Kita Bhinneka – Kita Indonesia” adalah gambar Maria Bunda Segala Suku yang sangat khas Indonesia. Gambar ini memiliki Garuda Pancasila di bagian dada, selubung kepala yang berwarna merah dan putih, serta mahkota yang memiliki peta nusantara.

“Semoga gambar ini dapat membantu devosi kepada Maria Bunda Segala Suku, yang akan semakin menyadarkan kita bahwa persaudaraan, kebersamaan, dan persatuan baik di dalam Gereja maupun di dalam masyarakat luas adalah anugerah Tuhan yang terus-menerus mesti dimohon dalam doa sambil didukung dengan gerakan-gerakan yang lain,” katanya.

Mgr Suharyo juga mengajak seluruh umat dan lembaga Katolik di wilayah KAJ “untuk bersama-sama menyambut tawaran-tawaran itu atau secara kreatif merancang gerakan-gerakan lain dalam rangka menyambut Tahun Persatuan 2018 ini.”

Sebelumnya KAJ memilih semboyan “Amalkan Pancasila” dalam Arah Dasar (Ardas) KAJ 2016-2020 sebagai salah satu upaya untuk mengamalkan Pancasila.

Tahun 2016, KAJ mendalami sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan semboyan “Kerahiman Allah Memerdekakan.” Untuk tahun 2017, KAJ memilih semboyan “Makin Adil – Makin Beradab” untuk mendalami sila kedua “Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.”

“Kita ingin semakin memahami, merenungkan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam masing-masing sila, tahun demi tahun,” kata Mgr Suharyo.

 

Halaman