UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 1 jam 27 mnt yang lalu

Pria Bersenjata Ditembak Mati di Kediaman Uskup Agung di Filipina

Sel, 10/07/2018 - 16:23

Seorang pria bersenjata ditembak mati di komplek kediaman uskup agung di Propinsi Cebu, Filipina, pada Selasa (10/7).

Otoritas setempat mengidentifikasi pria bersenjata itu sebagai Jeffrey Mendoza Canedo dari surat izin mengemudi seorang sopir yang ditemukan dalam barang kepunyaannya setelah penembakan.

Remegio Debuayan yang tengah menjaga kediaman uskup agung mengatakan Canedo mengendarai sebuah motor dengan mengenakan penutup muka dan helm ketika memasuki komplek kediaman uskup agung.

Menurut laporan, ia mencari Uskup Agung Cebu Mgr Jose Palma dan telah bertanya kepada beberapa orang apakah ia bisa berbicara dengan prelatus itu.

Aparat polisi yang dipanggil ke tempat kejadian perkara memerintahkan Canedo untuk membuka tangan tetapi ia malah menarik senjata api sehingga aparat polisi menembaknya.

Otoritas setempat mengatakan tidak satu orang pun di kediaman uskup agung terluka. Uskup Agung Palma tengah berada di Manila saat insiden terjadi.

Dalam sebuah pernyataan, Keuskupan Agung Cebu mengatakan bahwa “tidak ada ancaman sebelumnya” kepada Uskup Agung Palma dan sebuah laporan resmi dari polisi akan menjelaskan detil dari insiden itu seusai penyelidikan.

Penembakan itu terjadi setelah serangkaian serangan bersenjata kepada sejumlah imam di Filipina yang telah menewaskan tiga orang dan melukai satu orang.

Insiden tersebut terjadi sehari setelah pertemuan antara Presiden Rodrigo Duterte dan Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, ketua Konferensi Waligereja Filipina, berlangsung.

 

Gereja Khawatir Para Pekerja Anak Mempertaruhkan  Jiwa dan Raga Mereka

Sel, 10/07/2018 - 12:58

Catherine yang berusia tiga belas tahun merasa sulit untuk makan sejak sepeda motor menabraknya ketika dia melayani kopi untuk pelanggan sebagai pekerjaan paruh waktu di Kota Hue, provinsi Thua-Hue Hue, Vietnam pada  Mei  lalu.

Dia kehilangan empat gigi dan menghabiskan satu bulan di rumah sakit untuk menyembuhkan luka-lukanya sebelum dia dapat kembali ke rumah kumuh sewanya seluas 36 meter persegi, yang dia bagi dengan orangtuanya dan saudara kandungnya di distrik Phu Vang.

“Pristiwa ini membuat saya sedih  memikirkannya,” kata anak kelas enam yang berbaju lusuh, yang nama Vietnamnya adalah Huynh Thi Anh Quyen.

Tagihan medis awalnya berjumlah 7 juta dong (Rp 4, 3 juta), atau 10 kali lipat dari pendapatannya di kedai kopi pada  minggu sebelum kecelakaan.

Catherine mengatakan dia menggunakan tabungan keluarganya untuk membayar sisa uang yang belum dibayar yang disisihkan untuk membayar uang sekolah dan membeli seragam baru menjelang tahun ajaran baru pada  September.

Ketika ditanya bagaimana dia akan mendapatkan 20 juta dong yang dibutuhkan mengganti giginya yang hilang, dia mengatakan suster dari Kongregasi Suster-suster Santo Paulus dari Chartres (SPC), sebuah badan amal Katolik, bekerja sama dengan dokter gigi setempat  memasang gigi palsu.

Para aktivis Gereja mengklaim bahwa perlindungan terhadap anak-anak miskin dan yatim piatu di Vietnam masih terlalu sedikit, di mana banyak orang mengais-ngais hidup atau berisiko kehilangan  anggota badan karena persenjataan   yang belum meledak yang nantinya bisa mereka jual.

Provinsi ini meluncurkan sebuah proyek pada 25 Juni yang bertujuan  mencegah  masuknya  pekerja migran anak di negara tersebut dan  mencegah mereka dieksploitasi sejak  usia dini.

Proyek ini disponsori oleh Yayasan Anak-Anak Blue Dragon, yang berpusat  di Australia, menyatukan kembali pekerja anak dengan keluarga mereka dan membuat mereka digabungkan  kembali ke komunitas mereka dengan cara yang lebih sehat.

Suster Mary Vu Thi Ngoc bekerja untuk badan amal yang dikelola  oleh para suster dari Putri Maria Tak Bernoda di Kota Hue.

Dia mengatakan badan itu mencari donasi dari para donatur dan membangun tiga hingga lima rumah per tahun bagi keluarga miskin untuk mencegah anak-anak mereka putus sekolah lebih awal demi membantu mencari nafkah, ini satu dari sekian banyak program amal yang dibantu Gereja.

Nguyen Van Hieu, 13, meninggalkan sekolah beberapa waktu lalu dan sekarang mengumpulkan sampah dari tempat pembuangan sampah terdekat. Orangtuanya meninggal dan dia bekerja membiayai dirinya dan neneknya.

Dia dulu bekerja secara ilegal di sebuah tempat konstruksi tetapi karena menderita luka parah di lengan kanan dan kakinya tahun lalu ketika beberapa batu jatuh menimpa tubuhnya, dia tidak dapat kembali ke sana.

“Sekarang saya hanya bisa berjalan tertatih-tatih dan sulit berjalan,” katanya. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan di masa depan atau seperti apa hidup saya nantinya.”

Anak-anak lain juga berisiko kehilangan nyawa dengan mengemis di tempat bom mortir yang setengah terkubur di hutan sisa warisan dari Perang Vietnam 1955-75.

James Nguyen Dinh Hanh, dari Paroki Son Thuy, distrik Luoi Hue, mengatakan sejumlah anak di distrik itu terlibat dalam aktivitas berbahaya ini selama musim panas demi mendapatkan uang saku yang cukup untuk mempertahankan  hidup.

Hanh, 75, mengatakan satu anak tewas akibat pecahan peluru setelah salah satu bom itu meledak Agustus lalu. Sekitar 30 anak di distrik itu meninggal karena penyebab serupa sejak 2008.

Rata-rata, 220 anak per tahun terluka di provinsi yang mempekerjakan pekerjaan yang hanya dianggap cocok untuk orang dewasa apalagi seorang anak, dan 20-30 orang telah meninggal dunia, kata seorang pejabat dari Serikat Perempuan di Thua Thien.

Dan ini hanya sebagian kecil dari jumlah korban karena banyak kasus yang tidak dilaporkan, kata wanita itu, yang menolak menyebutkan namanya.

Dia mengatakan banyak anak yatim mengikuti kerabat mereka menjadi buruh kasar di kota-kota besar atau di sekitar Laos, mengekspos mereka terhadap bahaya pekerjaan, eksploitasi dan risiko kesehatan  terkait dengan tingkat pencemaran yang mencekik.

Sekitar 250 anak putus sekolah setiap tahun di provinsi ini  mendukung perekonomian keluarga mereka, tambahnya.

Suster Ngoc mengatakan para suster itu menawarkan kursi roda anak-anak yang terluka, keterampilan kerja, asuransi kesehatan, dan  persediaan makanan pokok yang cukup untuk hidup.

Paul Truong Tien dari Katedral Phu Cam di Hue mengatakan, paroki setempat menyumbangkan beras, menawarkan beasiswa, dan membayar uang sekolah untuk siswa dari keluarga yang sangat miskin atau anak yatim yang menjanjikan.

Dia mengatakan banyak  umat lain dari paroki-paroki tetangga mengumpulkan uang di pasar loak dan membawa makanan bagi mereka yang terluka dalam pekerjaan, lalu lintas atau kecelakaan lainnya. Gereja juga menjalankan kelas pendidikan dan kegiatan luar ruangan di musim panas, tambahnya.

Catherine mengatakan, keluarganya menerima 10 kilogram beras dan mie instan dari para biarawati setiap bulan.

Dia telah menerima beasiswa yang disponsori Gereja sejak kelas pertama dan mendapat sepeda baru dari Ordo Redemptorists lokal pada  April sehingga dia bisa naik ke sekolah.

Catherine Huynh Thi Anh Quyen, yang masih dirawat menyusul kecelakaan lalulintas belum lama ini, di rumahnya di provinsi Thua Thien-Hue pada 30 Juni. (Foto: ucanews.com)

Para Uskup Menyerukan Pembebasan Warga Filipina yang Diculik di Libya  

Sel, 10/07/2018 - 10:41

Para pemimpin Gereja Katolik di Filipina telah meminta pembebasan tiga pekerja migran Filipina yang diculik di Libya.

Ketiganya, yang bekerja sebagai teknisi, diculik pada 6 Juli, menurut laporan Kementerian Luar Negeri Filipina. Dua wanita Filipina yang diculik pada hari yang sama di Irak telah dibebaskan, pada 9 Juli.

“Kami berterima kasih kepada Tuhan atas keberhasilan menyelamatkan dua warga kami,” kata Menteri Luar Negeri Alan Peter Cayetano dalam sebuah pernyataan.

“Pembebasan mereka tidak akan mungkin terjadi tanpa respon cepat dari teman-teman di Irak dan untuk itu kami sangat berterima kasih,” katanya.

Para pemimpin Gereja Katolik di Manila sebelumnya mengimbau pihak berwenang “melakukan segala cara” untuk membebaskan warga Filipina.

Apa yang diinginkan oleh para pekerja Filipina adalah “memperoleh hidup yang lebih baik,” kata Mgr Ruperto Santos, uskup Balanga, ketua  Komisi Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Filipina.

“Mereka bermigrasi ke negara lain dengan satu-satunya niat  melayani dan membantu majikan mereka dan orang yang mereka cintai yang mereka telah tinggalkan.”

Dia juga meminta umat Katolik  berdoa bagi “perubahan hati para penculik.”

Menurut laporan yang diterima oleh kedutaan Filipina di Irak, para wanita Filipina sedang menuju ke Baghdad dari Erbil di wilayah Kurdistan utara ketika orang-orang bersenjata menghentikan kendaraan mereka di jalan raya.

Di Libya, kedutaan Filipina di Tripoli mengatakan tiga teknisi Filipina berada di antara empat warga negara asing yang diculik oleh orang-orang bersenjata dari lokasi proyek pengairan.

Pemimpin proyek, Mardomel Melicor mengatakan orang-orang bersenjata memasuki lokasi konstruksi yang terletak 500 kilometer dari Tripoli dan membawa lima orang asing dan empat warga Libya.

Orang-orang bersenjata itu kemudian melepaskan salah satu pekerja asing dan semua orang Libya.

Ada sekitar 4.000 orang Filipina yang bekerja di Irak, 3.000 di antaranya berbasis di Kurdistan.

 

Umat Islam Turut Berdukacita atas Wafatnya Kardinal Tauran

Sen, 09/07/2018 - 17:18

Umat Islam menyampaikan belasungkawa atas wafatnya  Kardinal Jean-Louis Tauran, ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Agama. Menurut mereka, Kardinal Tauran turut membina hubungan antaragama selama kunjungannya ke Indonesia sembilan tahun lalu.

Ia  lahir  di Bordeaux, Prancis, dan  ditahbiskan menjadi imamtahun 1969. Paus Yohanes Paulus  II mengangkatnya  sebagai  kardinal tahun 2003.

Kardinal Tauran meninggal pada usia 75 tahun akibat penyakit Parkinson pada Kamis (5/7) lalu di Amerika Serikat (AS).

Meskipun didiagnosa menderita penyakit itu pada 2003, Kardinal Tauran terus melanjutkan diplomasi dengan berbagai negara untuk meningkatkan hubungan Vatikan dengan dunia Muslim.

Pada November 2009, ia mengunjungi Indonesia dan bertemu sejumlah tokoh Muslim. Ia juga mengunjungi Masjid Istiqlal yang terletak di seberang Gereja Katedral St. Maria Diangkat ke Surga di Jakarta.

Azumardy Azra, seorang tokoh Muslim yang baru-baru ini memimpin pertemuan para cendekiawan Muslim dan ulama dari seluruh dunia, menyebut wafatnya  Kardinal Tauran sebagai sebuah kehilangan besar bagi dialog antaragama di dunia.

“Beliau memiliki peran penting dalam membangun jembatan, toleransi dan saling pengertian  antara Gereja Katolik, umat Islam dan umat beragama lain,” katanya kepada ucanews.com, Senin (9/7).

Beliau, katanya, banyak berdialog dengan pemimpin Muslim, termasuk dirinya  diundang beliau dalam dialog di Vatikan dan  juga berbicara dalam 1 panel di Rimini, Italia.

“Saya berharap pengganti beliau akan melanjutkan karyanya dalam membangun hubungan antaragama untuk mewujudkan kerukunan dan perdamaian,” kata rektor  Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Jakarta itu.

Sementara itu, Dahnil Anzar Simanjuntak, ketua PP Pemuda Muhammadiyah, juga mengaku sedih atas kematian Kardinal Tauran.

“Kita butuh pemimpin (seperti Kardinal Tauran) yang bisa menjaga hubungan antaragama, yang bisa memberi solusi jika agama-agama berkonflik,” katanya.

“Kunjungan beliau ke Indonesia meningkatkan hubungan antaragama khususnya antara umat Islam dan Gereja Katolik,” lanjutnya.

 

Semangat Seorang Biarawati di Sri Lanka Tetap Membara

Sen, 09/07/2018 - 16:21

Suster Benedict Fernandopulle dari Kongregasi Salvatorian tidak henti-hentinya memperjuangkan martabat orang miskin dari segala bentuk diskriminasi tanpa memandang kasta atau etnis mereka.

Meskipun didiagnosa menderita leukemia, biarawati berusia 79 tahun itu tetap melanjutkan misinya dengan penuh keberanian hingga ajal menjemputnya pada 17 Juni lalu di Distrik Kurunegala, Propinsi Barat Laut, Sri Lanka.

Dalam memberikan pelayanan selama puluhan tahun, ia membentuk pusat kesehatan Suhada Sevana untuk membantu warga miskin di Vijaya Katupotha yang dilayani Keuskupan Chilaw.

Suster Helen Lambert, seorang biarawati Salvatorian dan pejuang hak asasi manusia, mengatakan Suster Fernandopulle adalah seorang perawat dan bidan terdidik.

Ketika Pastor Michael Rodrigo OMI ditembak mati di Keuskupan Buttala di Sri Lanka bagian tengah pada 1987, Suster Fernandopulle bersamanya saat itu untuk membantu membangun dialog antara umat Kristen dan Buddha.

Saat terjadi pemberontakan kelompok kiri pada 1987-1989, militer dan kelompok paramiliter membunuh dan menyiksa para pejuang pemberontak muda dan warga sipil.

Para biarawati dari komunitas Suster Fernandopulle pernah diancam oleh pasukan pro-pemerintah karena menentang penculikan dan pembunuhan.

Dalam beberapa kesempatan, para biarawati juga dimintai keterangan dengan todongan senjata.

Selain aktif dalam politik, Suster Fernandopulle melakukan banyak upaya untuk memperbaiki program diet dan pelayanan kesehatan bagi warga setempat.

“Biarawati itu menanam tumbuhan herbal, meracik obat tradisional, mendidik para remaja desa dan mendorong para petani untuk menggunakan pupuk lokal ketimbang pupuk kimia,” kata Suster Lambert.

Pada 1992, Suster Fernandopulle meluncurkan proyek Vimukthi Nivasa untuk mendidik anak-anak miskin.

Proyek itu kemudian dikelola oleh sebuah kelompok dan perannya meluas hingga mencakup pemberdayaan perempuan, perawatan orang lanjut usia, pelatihan ketrampilan dan pembangunan sumur desa.

Shiromi Fernano, seorang guru taman bermain yang berusia 47 tahun, memuji cara Suster Fernandopulle dalam mendidik orang lain.

“Ia mengajar kami untuk mandiri,” katanya. “Kami akan melanjutkan misinya dengan cara seperti yang diajarkannya kepada kami.”

Seorang imam Anglikan, Pastor Marimuthu Sathivel, mengatakan Suster Fernandopulle membantu warga Suku Tamil yang menderita saat terjadi perang sipil selama 30 tahun.

“Ia pergi ke wilayah perang untuk memberi bantuan medis kepada orang miskin,” katanya.

Perang sipil yang terjadi pada 1983-2009 di Sri Lanka antara pemberontak Suku Tamil dan pasukan keamanan menewaskan sekitar 100.000 orang.

Suster Fernandopulle mengucapkan kaul kekal pada 1962.

 

Orang Muda Katolik dari 100 Negara Berkumpul di Manila

Sen, 09/07/2018 - 14:57

Orang Muda Katolik (OMK)  dari sekitar 100 negara berkumpul di Manila pada 6 juli untuk memulai festival OMK  internasional yang diselenggarakan oleh Gerakan Focolare internasional.

Acara  Genfest ke-11, yang diadakan untuk pertama kalinya di luar Eropa, mengusung tema “Beyond All Borders.”

Acara berlangsung tiga hari ini bertujuan untuk memfasilitasi “berbagi pengalaman” di antara orang-orang muda, terutama tentang budaya dan lingkungan yang berkelanjutan.

Gio Francisco, fasilitator acara, mengatakan lokakarya akan diadakan secara serentak untuk mendorong orang-orang muda “melampaui batas.”

Kegiatan lain telah membawa peserta ke daerah pinggiran, termasuk perjalanan ke Pulau Boracay untuk mengenali suku Ati.

“Di dunia global ini, kita diundang untuk tidak takut pada perbedaan dengan yang lain dan dengan kebudayaan mereka untuk berkontribusi pada dunia yang lebih bersatu dan bersaudara,” kata Pastor Emmanuel Mijares, koordinator Kelompok  Persatuan Kaum Muda International.

Joseph Azoury dari Lebanon menyatakan rasa terima kasih atas kesempatan untuk imersi budaya dengan suku Ati di Pulau Boracay, yang telah ditutup untuk wisatawan selama enam bulan hingga Oktober.

Genfest adalah pertemuan kaum muda dari seluruh dunia yang dimulai pada tahun 1973 di Roma. Diadakan setiap lima tahun. Pertemuan terakhir adalah di Budapest, Hongaria.

Acara tahun ini di Manila termasuk eksplorasi interaktif pada berbagai topik dan kegiatan yang bertujuan untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari lokakarya.

Didirikan  tahun 1943 di Trent, Italia, oleh Chiara Lubich, Gerakan Focolare, yang telah tersebar di 194 negara, adalah gerakan gerejawi untuk pembaruan sosial dan spiritual.

Lubich adalah seorang aktivis Katolik Italia yang dianggap sebagai salah satu spiritualis paling penting pada abad ke-20.

 

Gereja Korea Dukung Pengungsi Yaman di Pulau Jeju

Sen, 09/07/2018 - 10:00

Karena prasangka yang terbangun terhadap para pengungsi Yaman yang tiba di selatan pulau  Jeju, Gereja Katolik Korea memperkuat dukungannya bagi mereka sementara melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang penderitaan mereka.

Dipermudah dengan  visa turis yang ramah dan melarikan diri dari perang saudara dan bahkan disiksa saat kembali ke rumah, mereka mulai mendatangi  pulau semi tropis ini pada musim semi dan sekarang berjumlah sekitar 560 orang saat mereka mencari tempat perlindungan.

Para pencari suaka telah dibantu oleh Pusat Pastoral Migran Naomi Keuskupan Jeju, yang telah menyediakan mereka akomodasi, pekerjaan, kebutuhan sehari-hari, sekolah untuk anak-anak mereka dan banyak lagi.

Keuskupan itu telah memberikan prioritas untuk menawarkan penginapan kepada keluarga dengan wanita hamil atau anak-anak dan telah mendesak umat kristiani setempat untuk membantu dengan mengedarkan pemberitahuan mingguan dan buletin.

Konferensi Waligereja Korea juga telah memutuskan untuk secara aktif bekerja sama dalam menawarkan dukungan kepada mereka.

“Dengan kerja sama yang erat dari Keuskupan Jeju, kami akan mengambil langkah-langkah untuk menawarkan dukungan multilateral dan pendidikan bagi anak-anak,” kata Pastor David Cha Kwang-joon, sekretaris Komisi Pastoral Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Korea.

Namun, tidak semua orang menerima mereka di negara atau pulau itu.

Petisi yang dipasang di situs resmi Gedung Biru Presiden pada 13 Juni menuntut pemerintah merevisi undang-undang tentang pengungsi serta program bebas visa Jeju untuk menghentikan lebih banyak pencari suaka Yaman masuk. Lebih dari 400.000 orang telah menandatangani petisi pada akhir Juni.

Pastor Cha mengatakan dia mencoba menghapus persepsi negatif para pengungsi di antara penduduk lokal di pulau itu.

“Beberapa orang menganggap mereka berbahaya tetapi ketakutan semacam itu tidak berdasar,” katanya.

Joseph Shin Kang-hyup, aktivis hak asasi manusia setempat, mengatakan: “Kami perlu meluncurkan lebih banyak prakarsa untuk memahami orang-orang dari budaya yang berbeda. Kami harus membuat lebih banyak program pendidikan untuk meningkatkan kesadaran, tidak hanya para pengungsi, tetapi budaya Islam secara umum.”

Mgr John Baptist Jung Shin-chul, uskup keuskupan Incheon, ketua komisi Pastoral Migran dan Perantau, menambahkan: “Gereja selalu menyambut mereka dengan sikap ramah dan melihat mereka sebagai saudara dan saudari kita. Kami bertujuan untuk terus memberikan dukungan kami kepada mereka.”

Perang sipil yang sengit telah berkecamuk di Yaman sejak 2014.

Korea Selatan adalah penandatangan Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951 dan negara pertama di Asia yang membentuk dan memberlakukan Undang-Undang Pengungsi sendiri  tahun 2013.

Jeju memungkinkan sebagian besar orang asing untuk tinggal tanpa visa selama 30 hari tetapi bagi para pengungsi Yaman provinsi ini telah memperpanjang visa mereka  menjadi tiga bulan.

 

Vietnam Didesak   Melindungi Aktivis Katolik dari Pelaku Kriminal

Min, 08/07/2018 - 21:36

Aktivis hak asasi manusia (HAM)   Amnesty International mendesak pemerintah Vietnam untuk menjamin keselamatan aktivis buruh yang terus mendapat teror di rumahnya.

Pada  3 Juli malam, sekelompok pria bertopeng melemparkan batu bata ke rumah Do Thi Minh Hanh, merusak bangunan dan perabotan serta barang-barang pribadi lainnya.

Hanh, seorang anggota Gerakan Lao Dong Viet, yang mengadvokasi hak-hak buruh di Vietnam, mengatakan mereka memutus aliran listrik dan menyemprotkan “asap” berbau busuk yang membuat ayahnya yang berusia 76 tahun  sakit.

Dia mengatakan ini adalah serangan keempat kepada keluarganya, di Distrik Di Linh, Provinsi Lam Dong di dataran tinggi tengah, dalam 10 hari terakhir ini.

Salah satunya dengan menggunakan sekantong bahan peledak dilemparkan ke rumah mereka tetapi gagal meledak.

Hanh, yang dicekal bepergian ke luar negeri karena alasan keamanan nasional pada 16 Mei, menelepon polisi setempat beberapa kali tetapi tidak mendapat bantuan apa pun.

Dinh Van Hai, seorang aktivis, dipukuli dengan kejam oleh empat pria bertopeng pada 27 Juni setelah ia mengunjungi Hanh dan memposting klip video yang menggambarkan adegan serangan itu. Hai mengalami patah tulang rusuk,  tangan serta bahu.

Amnesti menyerukan kepada pemerintah untuk mengambil langkah-langkah mendesak untuk melindungi Hanh sebelum situasinya semakin memburuk.

“Ini keterlaluan bahwa polisi melepaskan tanggung jawab mereka dan membiarkan serangan ini terjadi tanpa mengambil tindakan apa pun,” kata Minar Pimple, direktur senior operasi global  Amnesty International, pada 2 Juli.

“Serangan yang terus meningkat, kemungkinan dimotivasi oleh aktivisme kalangan atas Do Thi Minh Hanh – ini tidak boleh digunakan oleh pihak berwenang sebagai alasan untuk menutup mata.”

Dia menambahkan bahwa para pembela hak asasi manusia harus dapat melaksanakan pekerjaan mereka tanpa menghadapi pelecehan atau kekerasan.

Tahun 2006, Hanh mendirikan Organisasi Serikat Pekerja Petani, sebuah serikat independen untuk mempromosikan upah  yang lebih tinggi dan meningkatkan keselamatan di tempat kerja.

Empat tahun kemudian, dia dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara karena “mengganggu keamanan nasional” tetapi ia tiba-tiba dibebaskan  tahun 2014.

 

Pastor Paul Budi Kleden SVD: Pemimpin Baru SVD Sejagat

Jum, 06/07/2018 - 14:08

Pastor Paul Budi Kleden SVD, asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) terpilih menjadi superior jenderal atau pemimpin umum Serikat Sabda Allah/Societas Verbi Divini (SVD) di seluruh dunia.

Ia memimpin kongregasi itu selama 6 tahun hingga 2024, terhitung sejak ia terpilih pada Rabu, 4 Juli.

Pastor Paul menjadi superior jenderal ke-12 dalam sejarah SVD, kongregasi yang didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen, imam diosesan asal Jerman  tahun 1875.

Ia menggantikan pendahulunya, imam asalah Jerman, Heinz Kulueke. Ia juga tercatat sebagai orang kedua dari Asia yang menduduki jabatan itu, di mana yang pertama berasal dari Filipina.

Dari Waibalun untuk Dunia

Pastor Paul lahir pada 16 November 1965 di Waibalun-Larantuka, Flores Timur, yang dikenal sebagai gerbang masuknya Agama Katolik di Flores.

Ia merupakan anak kelima dari almarhum Bapak Petrus Sina Kleden dan Ibu Dorotea Sea Halan. Pastor Paul memiliki dua saudara laki-laki dan empat saudara perempuan.

Pendidikan formalnya dimulai dari SDK Waibalun, lalu ke Seminari Menengah San Dominggo, Hokeng, di dekat kota Larantuka.

Ia bergabung dengan SVD  tahun 1985, lalu menyelesaikan studi filsafat di Sekolah Tinggi Fisafat Katolik (STFK) Ledalero.

Studi teologi kemudian ditempuhnya di Austria dan kemudian ditahbisan menjadi imam di negara tersebut pada 15 Mei 1993.

Selama tiga tahun pasca tahbis, ia bekerja di Swiss sebagai pastor kapelan di dua paroki, di Steinhausen dan kemudian di Auw.

Pada 1996-2000, ia menjalani studi doktoral bidang teologi sistematik di Albert Ludwig’s University, Freiburg, Jerman.

Pulang studi, ia mengabdi di alma maternya STFK Ledalero dan mengampu sejumlah mata kuliah di program sarjana, termasuk eklesiologi, teodicea dan postmodernisme, juga teologi politik di program magister.

Ia menduduki posisi anggota dewan provinsi SVD Ende pada 2005-2008 dan wakil provinsial selama satu tahun pada periode ini.

Pada 2011, ia diangkat menjadi direktur program pasca sarjana di Ledalero.

Namun, posisi itu kemudian ia tinggalkan setelah setahun kemudian, ia pindah ke Roma, karena dipilih menjadi anggota dewan jenderal SVD.

Cerdas, Ramah

Kabar pemilihannya sebagai superior jenderal memunculkan beragam reaksi dari rekan-rekannya, juga mantan mahasiswanya.

Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM, teman kelas Pastor Paul selama kuliah doktor menyebut, penunjukkan itu bukan sesuatu yang mengejutkan, “mengingat kemampuan yang dia miliki.”

“Ia (memiliki) banyak talenta, tekun, pandai, juga suka mencari ide-ide yang baru,” ungkap uskup yang ditahbiskan 23 september 2017 lalu itu.

Ia mengaku dibimbing oleh profesor yang sama dengan Pastor Paul saat kuliah. Pada 2010, keduanya juga sempat sama-sama menjadi editor untuk buku Dialektika Sekularisasi, yang menampilkan diskusi antara Filsuf Jerman, Jurgen Habermas dan Joseph Ratzinger (Paus Emeritus Benediktus XVI), lalu masing-masing menulis tanggapan terhadap keduanya.

Florianus Geong, salah satu mantan mahasiswanya yang kini bekerja sebagai aktivis di Papua menggambarkan bagaimana Pastor Paul sangat dekat dengan mereka, tidak hanya di bangku kuliah.

“Ia selalu memotivasi dan rendah hati mendengarkan keluhan serta berdiskusi dengan para mahasiswa,” katanya.

“Kamarnya tak pernah sepi, selalu ramai oleh mahasiswa yang datang berdiskusi atau meminjam buku, juga hanya untuk menghabiskan jagung titi,” lanjut Flori.

Ia menyebut Pastor Paul sebagai pastor teladan. “Hidupnya adalah contoh yang patut ditiru.”

Mantan murid lainnya, Gusti Adi Tetiro, mengatakan, terpilihnya Pastor Paul adalah sesuatu yang ”tepat, cerdas dan bijak” bagi SVD.

“Ia orang yang pintar dan baik, yang selalu bisa menyapa orang dari berbagai latar belakang dan golongan, baik pejabat, petinggi gereja, masyarakat adat, hingga anak muda,” katanya.

Pastor Otto Gusti Madung, rekan dosennya di STFK Ledalero menyebut Pastor Paul sebagai “teolog yang cerdas” dan mengakui kekhasannya yang sangat dekat dengan mahasiswa.

“Ia mengenal semua mahasiswanya dengan namanya. Bayangkan, dari sekitar 800-an mahasiswa kuliah di Ledalero, ia mengenal mereka semua,” katanya.

Teologi Terlibat

Di STFK Ledalero, salah satu hal yang dianggap sebagai warisan penting Pastor Paul adalah apa yang disebut dengan teologi terlibat, gagasan yang dituangkannya dalam buku berjudul sama pada 2003.

Dalam salah satu tulisannya, ia memadatkan konsep itu dengan penjelasan berikut: menjadi seorang teolog berarti menjadi bagian dari upaya untuk melawan kondisi yang tidak manusiawi dan membangun masyarakat yang adil dan damai.

Menurut Pastor Otto, dengan persepektifnya itu, Pastor Paul “tidak berteologi di menara gading kampus, tetapi terlibat dalam advokasi untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat pinggiran.”

Pastor Otto mengingat bagaimana Pastor Paul terlibat aktif dalam kasus advokasi seorang pembantu yang dihamili seorang bupati di Flores, juga membela para petani di Colol, Kabupaten Manggarai yang ditembak mati pada 2004 karena menentang kebijakan pejabat lokal.

Ia mengatakan, Pastor Paul senantiasa membangun teologinya dalam dialektika dengan ilmu-ilmu sekular dan persoalan-persoalan sosial, baik politik, pendidikan, kebijakan publik, hak hak asasi manusia, gender, hingga korupsi.

Pastor Avent Saur SVD, imam yang menjadi perintis kelompok pemerhati penderita ganggung jiwa menyebut “teologi terlibat” itu sebagai gagasan “yang cerdas dan progresif” karena memberi dasar penting bagi keberpihakan Gereja atau misionaris SVD dalam masalah-masalah sosial.”

Harapan

Dengan tugasnya yang dipercayakan kepadanya kini, Pastor Paul memimpin lebih dari 6.000 anggota SVD yang tersebar di seluruh dunia.

Gusti Adi Tetiro berharap, semoga di bawah kepemimpinannya, SVD bisa selalu keluar dari ghetto dan membawa inspirasi angin perubahan bagi gerakan sosial politik dunia dan lokal di tempat mereka bermisi.

Pastor Avent menyatakan harapan serupa, agar Pastor Paul mencetus kebijakan-kebijakan misioner untuk tak jemu-jemunya terlibat secara serius dalam persoalan-persoalan sosial dunia.

Hal demikian, kata dia, penting “agar kenyamanan posisi religius dan kesunyian di balik tembok biara tidak diakrabi sebagai strata sosial dan kesejahteraan ekonomi yang hampa.

“Tetapi, itu terutama sebagai wadah untuk mewujudkan iman yang benar-benar terlibat,” katanya.

 

 

Jokowi Dituntut Memenuhi Janjinya Mengakhiri Pelanggran HAM di Papua

Rab, 04/07/2018 - 20:44

Sebuah laporan  kelompok HAM  internasional yang mendokumentasikan pembunuhan secara ilegal terhadap 95 orang sejak 2010 oleh pasukan keamanan Indonesia merupakan sebuah ingatan bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memenuhi janjinya sendiri untuk mengakhiri pelanggaran HAM  di Papua, kata aktivis Katolik.

Konflik dengan kelompok separatis telah melanda di wilayah Papua  setelah referendum PBB   tahun 1969. Laporan-laporan tentang pelanggaran telah muncul sejak itu yang mendorong Jokowi untuk berjanji mengakhiri pelanggaran tersebut selama kampanye pemilihannya, tetapi para aktivis mengatakan bahwa mereka masih terus menunggu.

Dalam laporannya, yang dirilis pada 2 Juli, Amnesty International mendokumentasikan setidaknya 95 tewas  dalam 69 insiden antara Januari 2010 hingga  Februari 2018.

Dari mereka yang meninggal, 39 orang terjadi selama kegiatan politik damai seperti demonstrasi atau mengibarkan bendera “Bintang Kejora”, yang melambangkan gerakan kemerdekaan provinsi. Warga lainnya dibunuh saat mengambil bagian dalam kegiatan damai non-politik.

“Banyak pembunuhan adalah hasil dari pendekatan militer yang tidak perlu atau berlebihan dan tidak satupun dari mereka telah di investigasi sebagai seorang kriminal,” kata Usman Hamid, direktur eksekutif Amnesty International  Indonesia di Jakarta.

Dalam sebuah  kasus, seorang pria yang cacat mental terbunuh setelah dia memukul seorang petugas polisi dengan sepotong tebu.

Laporan itu mengecam Presiden Jokowi karena gagal memenuhi janjinya  memperbaiki situasi HAM  di Papua ketika ia menjabat tahun 2014.

“Budaya impunitas dalam pasukan keamanan harus berubah dan mereka yang bertanggung jawab atas kematian di masa lalu harus bertanggung jawab,” kata Hamid.

Pastor John Djonga, seorang aktivis HAM terkemuka di Papua, mengatakan laporan itu mendukung kisah-kisah pelanggaran di Papua yang sering ditolak oleh pemerintah.

“Laporan itu adalah bukti paling konkret yang menegaskan kurangnya kemajuan dalam penegakan HAM di Papua,” katanya.

Ini juga merupakan panggilan bagi pemerintah Indonesia untuk merespon dan menghentikan praktik serupa, tambahnya.

“Potensi  mengulangi kekerasan ini sangat besar karena Presiden Jokowi tidak mengambil pendekatan yang berbeda dari sebelumnya,” kata Pastor Djonga.

Yuliana Langowuyo,  wakil direktur JPIC  Fransiskan, mengatakan pemerintah harus melihat kasus-kasus ini dan transparan dalam prosesnya. Hasil harus tersedia untuk umum, katanya.

Pemerintah menanggapi dengan mengatakan akan menyelidiki kasus-kasus yang diperinci dalam laporan kelompok HAM.

“Kami (perlu) menjelaskan siapa dan bagaimana, apakah (orang-orang yang dibunuh) dalam operasi atau tidak. Kami akan melihatnya secara kasus perkasus,” kata Wiranto, menteri koordinator politik, hukum dan keamanan, kepada wartawan.

Wiranto memperingatkan agar masyrakat tidak melihat laporan itu sebagai benar-benar akurat.

“Jangan ceroboh (hanya dengan mempercayai semua data),” katanya.

Papua memiliki total populasi 3 juta, 65 persen di antaranya adalah Protestan, 17 persen Katolik, 15 persen Muslim, sementara sisanya kebanyakan beragama Hindu dan Buddha.

 

Ratusan Imam Projo Regio Papua akan Gelar Temu Unio

Rab, 04/07/2018 - 15:00

Ratusan  imam diosesan (Projo) di lima keuskupan yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat akan menggelar Temu Unio Regio (TUR) Papua di Timika, Kabupaten Mimika pada 9 – 16 Juli mendatang.

Penghubung Unio Regio Papua, dan juga sebagai Ketua Unio Gereja Katolik Keuskupan Timika, Pastor Domin D Hodo Pr, di Timika,  mengatakan, kegiatan TUR Papua V/2018 merupakan kegiatan rutin dua tahunan para imam diosesan yang berkarya di lima keuskupan yang ada di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

“Ada empat  keuskupan dan satu keuskupan agung – keuskupan Timika, keuskupan Jayapura, keuskupan Agats, dan keuskupan Manokwari-Sorong, serta keuskupan agung Merauke. Semua imam projo dari keuskupan-keuskupan ini akan mengikuti agenda dua tahunan ini di Timika pekan depan,” kata Pastor Domin.

Pastor Domin menjelaskan pertemuan rutin dua tahunan yang akan digelar selama sepekan tersebut akan menggumuli tema besar: “Imam Beraroma Tungku Api”, dengan sub temanya, Imam projo Papua bersama umat dalam semangat gerakan tungku api keluarga sebagai gerakan penyelamatan manusia dan alam Papua menuju Gereja yang solider dengan duka dan kecemasan umat manusia di tengah pluralisme.

Tema tersebut, menurut Pastor Domin, untuk mendukung Gerakan Tungku Api yang dicetus Uskup Keuskupan Timika Mgr Jhon Philip Saklil ketika menjabat sebagai ketua PSE KWI dan telah dibahas oleh lima uskup di Papua sebagai gerakan bersama di masing-masing wilayah pelayanannya.

Ia menjelaskan Gerakan Tungku Api bertujuan melindungi masyarakat, secara khusus masyarakat adat orang asli Papua untuk memiliki upaya dalam menghidupi kehidupan mereka dengan semangat dalam mengusahakan kesejahteraan hidup mereka.

Untuk itu, kata Domin, pada pertemuan tersebut panitia penyelenggara akan menghadirkan dua narasumber utama yaitu Uskup Keuskupan Timika Mgr Jhon Philip Saklil dan Ketua STFT Fajar Timur, Pastor Dr. Neles Tebai yang juga sebagai animator dalam kegiatan tersebut.

“Setelah tema ini dibahas, pada hari terakhir pertemuan ada pernyataan sikap bersama dan deklarasi Gerakan Tungku Api sebagai gerakan imam Projo di Papua dan Papua Barat,” ucapnya.

Tulisan ini dikirim oleh Jmy Rahadat Debeiyoka, Timika, Papua

 

Anak-anak  Thailand Terlibat Dalam Daur Ulang Sampah

Rab, 04/07/2018 - 13:21

Setiap pagi, sebelum pelajaran  dimulai, rutinitas yang sama dilakukan di 22 TK yang dioperasikan oleh Human Development Foundation, sebuah badan amal Katolik untuk anak-anak yang tinggal di komunitas  kurang beruntung di sekitar Bangkok.

Anak-anak berkemeja putih  berbaris di depan tempat penampungan, membawa kantong plastik besar.

Seorang guru mengukur berat setiap tas dan dengan cermat mencatatnya dalam buku catatan. Dalam kantong itu ada botol plastik kosong dan  sampah daur ulang  yang dikumpulkan anak-anak sehari sebelumnya di rumah mereka dan sekitar lingkungan mereka.

“Kami memberi tahu mereka bagaimana memilah sampah plastik dan mereka kemudian mengambil barang-barang yang dapat didaur ulang dari tempat sampah di rumah dan di jalan,” kata Prapa Wisedrit, seorang guru TK yang bekerja untuk badan amal itu dan mengawasi daur ulang di sekolah untuk 2.500 siswa, mereka berusia antara 3 hingga 7 tahun.

“Beberapa anak berjuang dengan tas besar (barang daur ulang) yang mereka bawa ke sekolah,” tambahnya. “Mereka mengambil tugas mengumpulkan barang daur ulang dengan serius.”

Salah satu dari anak-anak itu adalah Prom, seorang bocah berusia 6 tahun yang membawa  6 kg sampah plastik.

“Kemarin saya pergi ke lapangan sepak bola dan mengumpulkan banyak botol kosong. Kita perlu menggunakan kembali dan mendaur ulang,” katanya, mengulangi slogan yang telah ia pelajari dari para pengajarnya di  Mercy Center Foundation di mana dia menghadiri prasekolah.

“Menggunakan kembali dan mendaur ulang” adalah pelajaran bagi sebagian besar orang Thailand lainnya, baik muda maupun tua, sebaiknya belajar juga. Sampah plastik telah mencapai proporsi epidemik di negara Asia Tenggara, yang memiliki salah satu tingkat polusi plastik per kapita tertinggi di dunia. Thailand menghasilkan lebih dari 2 juta ton sampah plastik setiap tahun, hanya sebagian kecil yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

Sebagian besar sisa sampah terdiri dari barang-barang plastik sekali pakai seperti tas belanja, yang dibagikan secara gratis oleh pengecer seperti di  toko-toko 7-Eleven yang ada di mana-mana. Seringkali pembeli di toko-toko mengumpulkan banyak tas sekali pakai dalam berbagai ukuran.

Menurut survei pemerintah tahun lalu, setiap warga negara Thailand menggunakan delapan kantong plastik rata-rata setiap hari, yang jumlahnya mencapai sekitar 200 miliar kantong plastik per tahun.

Untuk setiap satu botol minuman yang mereka beli, pelanggan juga secara rutin menerima sedotan plastik gratis, yang dibungkus dalam bungkus plastik.

Kebanyakan  plastik  murah dan sekali pakai itu menjadi  sampah setelah digunakan, yang menyebabkan tumpukan sampah yang terus bertambah yang kemudian sering tidak terkumpul, terutama di daerah-daerah yang kekurangan ekonomi.

Lingkungan semacam itu di sekitar Bangkok memiliki tumpukan barang-barang plastik yang tidak terhitung jumlahnya, dari botol air kosong sampai sikat gigi, sampah di jalan-jalan, dan saluran yang sempit.

Pastor  Joseph Maier CSsR menunjuk ke sebuah kanal yang ditutupi sampah plastik di Bangkok. (Foto: Tibor Krausz/ucanews.com) 

 

Pastor Joseph Maier CSsR dapat memberi tahu Anda semua tentang dampak limbah plastik beracun.

Imam Redemptoris dari Amerika Serikat itu mengelola yayasan itu di daerah miskin distrik Klong Toey di mana ia telah tinggal selama hampir setengah abad, menjaga “yang termiskin dari  termiskin,” seperti yang dia katakan.

Ketika jalan-jalan di kawasan miskin tersebut yang  sempit dan  berliku  dengan gubuk-gubuk dari tripleks, Pastor Maier, 79, berjalan kaki ke sebuah kanal dengan seorang wartawan UCAN di belakangnya, menyapa penduduk setempat dengan ramah di sepanjang jalan.

Dia berhenti di hamparan sampah busuk yang terletak di bawah timbunan sampah plastik yang menutupi permukaannya kanal. “Kami membersihkan kanal ini tiga hari  lalu, membuang 20 truk sampah,” jelas imam itu. “Sekarang sama kotornya seperti biasanya.”

Petugas pembersihan, yang direkrut oleh imam dari  pria setempat, akan segera mulai memindahkan 20 truk sampah plastik lainnya dari saluran sampah  itu.

Namun, kecuali kebiasaan boros penduduk setempat berubah, kalau tidak akan menjadi sia-sia. Jumlah sampah plastik yang terus meningkat dan  kemauan penduduk setempat untuk membersihkannya.

Itulah sebabnya mengapa Pastor Maier dan umat  Buddha Thailand memutuskan  mengajar anak-anak yang menghadiri sekolah-sekolah yayasan tentang kejahatan sampah plastik. Idenya adalah untuk menanamkan sikap ramah lingkungan  sejak usia dini.

“Kami mengajarkan anak-anak  menggunakan lebih sedikit plastik,” kata Pastor Maier. “Mereka kemudian pulang dan mengajar ayah, ibu, kakek dan nenek.”

Banyak penduduk lokal yang hidupnya sulit di lingkungan itu telah lama akrab dengan daur ulang, mencari nafkah dengan memulung untuk didaur ulang dan menjualnya ke perusahaan daur ulang. Anak-anak prasekolah yayasan sekarang membantu beberapa pemulung ini dengan mengumpulkan barang-barang plastik yang dapat didaur ulang juga.

“Beberapa siswa membawa 100 gram plastik daur ulang, mereka  membawa beberapa kilogram,” jelas Boonyiam Nianthong, seorang guru TK.

“Tidak mungkin untuk tidak menggunakan produk plastik sama sekali, tetapi secara bertahap anak-anak dapat belajar  menggunakan lebih sedikit dan lebih sedikit dari sebelumnya.”

Anak-anak didorong  menularkan perilaku konsumsi plastik yang baru dipelajari ke saudara dan orangtua mereka.

“Sejumlah  siswa menegur orangtua mereka karena terlalu banyak membuang plastik,” kata guru TK Sa-ad Puengwarin.

“Sebelumnya, keluarga hanya membuang barang-barang plastik sekali pakai ke tempat sampah. Sekarang mereka cenderung melakukan itu lebih jarang. Sebaliknya, banyak dari mereka menyortir limbah mereka dan membawanya untuk didaur ulang.”

Banyak anak-anak prasekolah juga membantu membersihkan lingkungan  mereka dungeon mengumpulkan sampah dari jalan-jalan. Para siswa di sekolah yayasan mengumpulkan sekitar 10.000 kg barang daur ulang setiap tahun dengan bantuan dari orangtua dan kakak mereka.

Bagi banyak anak muda, kegiatan daur ulang di sekolah mereka telah menjadikan yang menyenangkan.

“Saya suka mengumpulkan plastik,” kata Tonhom, seorang bocah 5 tahun. “Nenek saya memiliki sebuah toko kecil,” gadis itu menambahkan, mengacu pada warung kayu neneknya dari mana dia menjual makanan ringan dan minuman untuk buruh harian dan penerima upah minimum lainnya.

“Setelah orang minum Pepsi (dan minuman lainnya), saya mengumpulkan botol-botol kosong dan membawanya ke sekolah. Saya ingin menjaga rumah dan sekolah saya tetap bersih.”

 

Paus Berdoa Bagi Sejumlah Anak yang Terperangkap di Gua

Sel, 03/07/2018 - 10:52

Paus Fransiskus terus berdoa untuk sekelompok anak  muda yang terperangkap di gua bawah tanah di Thailand selama lebih dari seminggu ini.

Regu penyelamat terus berusaha menemukan 12 anak laki-laki, berusia 11-16 tahun, dan pelatih sepak bola berusia 26 tahun di  gua yang banjir menggunakan pompa besar untuk mengurangi ketinggian air,  yang  memungkinkan penyelam menempatkan tali panduan dan tangki oksigen di sepanjang rute.

Meningkatnya banjir di gua propinsi Chiang Rai bagian utara  membuat  operasi pencarian dan penyelamatan dihentikan sementara.

Regu penyelamat di gua Tham Luang yang tergenang pada 2 Juli mencoba menembus lorong yang sangat sempit ke “Pantai Pattaya,” sebuah area di dataran tinggi tempat 13 orang yang hilang.

Gubernur Chiang Rai Narongsak Osotthanakorn mengatakan  tim penyelamat telah berhasil mencapai persimpangan tiga arah Sam Yak, tetapi belum sampai pada bagian paling kritis dari labirin bawah tanah yang gelap.

Regu  Penyelamat Angkatan Laut Kerajaan  bekerja dengan sekitar 230 polisi, 840 tentara dan puluhan penyelamat dan pejabat dari negara-negara di seluruh dunia berusaha untuk menemukan korban yang masih terperangkap.

Wakil Perdana Menteri Prawit Wongsuwan mengatakan di Bangkok bahwa arus air yang deras  di lorong sempit menjadi hambatan besar.

Upaya yang tak kunjung henti terus mengurangi air dari gua dan mencegah air baru mengalir ke dalamnya, semakin meningkatkan ketinggian air.

Anak-anak dan pelatih mereka memasuki gua setelah latihan sepakbola mereka pada 23 Juni dan pencarian memasuki hari ke-10 pada 2 Juli.

 

Suster Rema Mengabdikan Dirinya Membantu Para Migran

Sel, 03/07/2018 - 10:33

Setelah menempuh perjalanan satu jam dengan bus, Suster Zita Rema dari Kongregasi Suster-suster Salesian Maria Imakulata berjalan di jalan berlumpur,  melewati kawasan industri Shitalpur di Banglades bagian tenggara.

Biarawati berusia 59 tahun itu akan mengunjungi beberapa pekerja migran Katolik yang mencari nafkah di sana, seringkali dalam kondisi  sulit.

Di sana ia mengunjungi setiap keluarga, semuanya adalah masyarakat adat dari kelompok Garo dan Tripura. Dia adalah wajah yang akrab bagi mereka semua.

Di antara mereka yang dikunjungi adalah Niten Mankin, 40, seorang Garo Katolik yang merupakan kepala keluarga. Mankin pindah ke Chittagong 18 tahun  lalu untuk mencari pekerjaan dan menikah tahun 2002. Dia memiliki tiga putra, masing-masing berusia tujuh, empat dan dua tahun.

Mankin dulu bekerja di pabrik tabung oksigen sebelum kecelakaan mengubah segalanya  tahun lalu.

“Pekerjaan saya adalah memuat dan membongkar barang di truk. Beberapa tabung jatuh menimpa saya dan mematahkan kaki kanan saya,” katanya.

Para dokter yang merawat kakinya  mengatakan kepadanya bahwa dia harus menjalani operasi untuk dapat pulih sepenuhnya tetapi dia tidak mampu membayar biaya 100.000 taka (1.176 dolar AS) dan majikannya menolak untuk menutup biayanya. Setelah delapan hari, dia meninggalkan rumah sakit. Biaya menginap 23.000 taka dari kantongnya sendiri.

Suster Rema mengatakan bahwa setelah Mankin pulang dari rumah sakit, ia ditawari bantuan keuangan dari Gereja setempat untuk perawatannya, tetapi ia menolak.

“Dia bertekad mendapatkan perawatan herbal, yang menurutnya merupakan pilihan yang lebih baik, jadi kami tidak paksa,” katanya.

Kembali ke desanya di timur laut negara itu, Mankin dirawat oleh seorang dokter desa yang menyuruhnya untuk menggosokkan salep herbal ke kakinya. Meski masih tidak bisa berjalan dengan baik, ia kembali ke Shitalpur dan baru-baru ini ia mulai melakukan pekerjaan yang lebih ringan.

Di gubuk dua kamarnya, Suster Rema memijat kakinya dan menasihatinya agar dia melakukan latihan fisik untuk membantu kakinya menjadi lebih baik.

Suster Rema berharap ia dapat berbuat lebih banyak untuk Mankin dan keluarganya yang tetap tinggal di desa asalnya karena ia tidak mampu merawat mereka. Itu adalah situasi lain yang menambah keyakinan para biarawati bahwa  kongregasi religius dapat berbuat lebih banyak untuk membantu para pekerja migran.

“Mereka perlu menyadari bahwa mereka dapat menawarkan sesuatu untuk pekerja migran. Jika kita semua bekerja bersama, Gereja dapat melayani mereka dengan lebih baik,” katanya.

“Kita perlu menjangkau mereka, mendengarkan masalah mereka dan membantu mereka. Kita tidak dapat mencapai apa pun hanya dengan mengadakan seminar dan pertemuan.”

Selama dekade terakhir, banyak orang Kristen bermigrasi ke pusat kota besar seperti Dhaka dan Chittagong mencari pekerjaan. Menurut Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Banglades, sekitar 60.000-70.000 orang Kristen migran bekerja di kawasan industri di Dhaka.

Waktu Suster Rema bersama Mankin hanyalah salah satu kunjungan dari sekian banyak kunjungan yang dilakukan hari itu di Shitalpur, juga termasuk kunjungannya ke sekolah dasar dan pusat penjahitan yang didukung Gereja untuk membantu baik wanita Kristen maupun Hindu.

Suster Rema juga bertemu dengan anggota keluarga Sajib Tripura, seorang Katolik Tripura pribumi. Tripura bekerja di sebuah pabrik oksigen sampai dia dipenjara  tahun 2011 karena tuduhan bahwa dia menjual minuman keras secara ilegal. Dengan dukungan dari otoritas Gereja setempat, Suster Rema telah menawarkan dukungan hukum kepada keluarga.

“Polisi meringkus dan menangkapnya, dan mengirimnya ke pengadilan,” kata suster itu.

“Dengar pendapat tentang kasus ini terjadi setiap dua bulan. Ini telah berlangsung lama dan tetap tidak terselesaikan,” katanya.

 

Suster Zita Rema bergabung dalam sebuah Misa bersama umat Katolik di distrik Bandarban pada sebuah acara musyawarah pastoral keuskupan agung  Chittagong pada 19 Januari. (Foto: Rock Ronald Rozario/ucanews.com)

 

Seorang katekis dan  guru

Ini merupakan perjalanan panjang bagi sang biarawati. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari keluarga petani Garo Katolik di Gereja Santa Teresa di Bhalukapara,  keuskupan Mymensingh bagian timur laut.

Ayahnya selalu ingin dia menjadi seorang biarawati.

“Dia berupaya  membentuk saya dengan religiusitas sejak usia dini. Dia mengirim saya ke program Gereja dan Misa  secara teratur,” katanya.

Tahun 1977, setelah ia menyelesaikan sekolah, seorang pastor paroki setempat memberinya pekerjaan sebagai seorang guru sekolah sekaligus katekis.

Dua tahun kemudian dia membantu biarawati setempat menjalankan pusat medis di mana sebuah insiden mengubah jalan hidupnya.

“Seorang wanita hamil mengalami komplikasi dan kami tidak dapat melakukan persalinan meskipun mencoba sepanjang malam,” kata Suster Rema. “Baik ibu dan anak itu meninggal. Aku sedih dan memutuskan bahwa aku akan mengabdikan hidupku  melayani orang miskin dan membutuhkan.”

Tahun 1986, ia bergabung dengan Kongregasi Salesian. Dari tahun 1990 hingga 2006, Suster Rema bekerja dalam berbagai peran, termasuk menjadi guru sekolah, katekis dan pelayanan pastoral  di paroki-paroki di seluruh Banglades. Sebagai bagian dari ini dia menawarkan pelayanan pastoral kepada umat Katolik pribumi di keuskupan Mymensingh dengan mengajarkan katekese,  liturgi dan seminar pelatihan.

Dari tahun 2006 hingga 2009, Suster Rema tinggal di  Dhaka, di mana dia menjabat sebagai sekretaris  Komisi Kepemudaan Keuskupan itu. Selama di komisi  ini dia mengunjungi pabrik-pabrik garmen dan salon kecantikan di mana banyak orang Kristen dipekerjakan. Selain menawarkan mereka perawatan spiritual dan pastoral, dia membantu mereka dengan masalah yang mereka hadapi.

Sebagai bagian dari itu, Suster Rema menangani kasus pelecehan terhadap pekerja Kristen di pabrik garmen dan salon kecantikan. Dia juga membantu menyelesaikan beberapa kasus di mana gadis-gadis Kristen mati secara misterius, mungkin bunuh diri di tempat kerja mereka.

“Saya mengembangkan hubungan dengan beberapa petugas polisi dan pengacara yang baik, dan mereka membantu dalam menyelesaikan beberapa kasus. Kadang-kadang, saya bekerja dari belakang layar dan mereka mampu memecahkan masalah mereka,” tambahnya.

Dari tahun 2009 hingga 2014, Suster Rema bekerja untuk kongregasinya dan setahun kemudian dia pindah ke keuskupan agung Chittagong di mana dia ditunjuk sebagai ketua Komisi Migran dan Perantauan.

Gereja Katolik di Banglades memiliki sekitar 350.000 anggota yang tersebar di delapan keuskupan. Ada sekitar 500.000 orang Kristen di Banglades yang  mayoritas Muslim, yang memiliki populasi total sekitar 160 juta.

 

Diakon Korea Rangkul Agama Lain Dengan Ziarah Bersama

Sen, 02/07/2018 - 16:13

Lebih dari 100 diakon Katolik di Korea Selatan berziarah ke tempat-tempat ibadah agama-agama lain di Seoul dari 20-22 Juni untuk mempromosikan toleransi dan pemahaman  agama.

Sebanyak  108 diakon  itu turut serta dalam  acara tiga hari yang dijuluki Peziarah Ekumenis dan Antaragama yang diselenggarakan oleh Konferensi Waligereja Korea (CBCK).

Mereka mengunjungi kantor pusat CBCK, Nadematur Apostolik Vatikan di Korea, Katedral Ortodoks St. Nicholas, Katedral Anglikan Seoul, kuil Hwagyesa dari Buddha Jogye Order, Kuil Buddha Won di Gangnam, dan Masjid Pusat Seoul.

“CBCK menyelenggarakan ziarah sehingga para diakon dapat lebih memahami berbagai agama di Korea,” kata Pastor Stephano An Pong-hwan, direktur komunikasi CBCK.

“Dengan mengunjungi (tempat-tempat ibadah) dan mengalami budaya agama-agama lain, mereka dapat memperluas pemahaman mereka tentang agama-agama lain dan denominasi Kristen  berbeda.”

Selama kunjungan ke masjid terbesar Korea pada 22 Juni, Song Bo-ra, seorang pejabat Perhimpunan  Muslim Korea, mengatakan bahwa Islam sering disalahpahami sebagai agama kekerasan karena hubungannya dengan kelompok ekstrimis seperti ISIS.

“Alquran mengatakan, ‘Siapapun yang membunuh seseorang (secara tidak adil) – seolah-olah dia telah membunuh semua manusia’,” katanya.

“Tapi Islam adalah agama damai bukan kekerasan. Itu sebabnya kami selalu menyapa orang dengan salam, ‘As-salamu ʿalaykum,’ yang berarti ‘damai bagimu’.”

Diakon  John Lee Heun-kwan SJ  mengatakan kunjungan ke masjid adalah cara yang efektif untuk menciptakan pemahaman yang lebih besar.

“Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengalami agama lain dan menghancurkan rintangan dan prasangka,” katanya.

“Terutama ketika berbicara tentang Islam, saya merasa kita bisa hidup berdampingan secara harmonis melalui dialog karena kita memiliki banyak kesamaan. Saya tidak melihatnya sebagai ancaman.”

Imam Lee Ju-hwa, yang berkhotbah di masjid, memuji para peziarah ini sebagai contoh tindakan yang pantas untuk diikuti warga lain.

“Kami merasa diberkahi agar para diakon  Katolik yang akan ditahbiskan mengunjungi kami dengan pikiran terbuka seperti itu,” katanya.

“Upaya mereka  memahami agama-agama lain akan bermakna sebagai langkah kecil menuju perdamaian dunia.”

 

Imam Pakistan Janji Keajaiban dari Musik

Sen, 02/07/2018 - 09:11

Dengar, dan kamu akan menerima (keajaiban – atau setidaknya CD gratis).

Menawarkan sesuatu tanpa garansi sudah menjadi pokok pemasaran penjualan secara online, tetapi menggantungkannya sebagai janji kepada umat paroki yang gagal mengalami “keajaiban” setelah mendengarkan musik Gereja harus menjadi sesuatu untuk buku rekor.

Namun itu adalah apa yang Pastor  James Shamaun, yang telah memperoleh pengikut untuk pelayanan kebangunan rohani  yang diadaken oleh Pantekosta atau Karismatik  dalam mengakhiri Misa di Paroki Santa Maria di Jamke Cheema, sebuah kota pedesaan Punjab di Pakistan pada 17 Juni.

Tanpa bisa mengetahui jawabannya – kecuali secara intuitif atau mungkin melalui ilham ilahi – ia mengumumkan jumlah pasti orang yang menderita penyakit selama pelayanannya yang penuh kegembiraan.

“Jika Anda tidak sembuh, kembalikan CD-nya,” kata orangtua itu, yang telah berusia 61 tahun, yaang sangat paham media sosial kepada hadirin  yang terpesona di hadapannya.

Pastor Shamaun – yang namanya terdengar menakutkan mirip “shaman” (dukun) – berada di barisan depan menjaga tradisi Karismatik tetap hidup di Pakistan hari ini.

Dia mengklaim bahwa ratusan keajaiban telah dihasilkan dari khotbah-khotbahnya yang terinspirasi musik.

Misinya, yang telah dipilihnya untuk dilakukan, adalah untuk menjaga semangat gerakan kebangkitan Karismatik yang didukung oleh Vatikan, yang menguat di negara Islam itu, yang sedang berjuang secara ekonomi dan setelah peringkat kreditnya diturunkan oleh Moodi pada 20 Juni dari “stabil “menjadi” negatif “di tengah kekhawatiran risiko likuiditas pemerintah.

Berbekal harmonium dan tim yang terdiri lebih dari 20 relawan pendoa, imam itu melakukan perjalanan panjang di seluruh negeri itu atas undangan Gereja Katolik dan Protestan untuk menyebarkan injil dan menyuburkan iman umat paroki dengan Roh Kudus.

Kelompok itu melihat hari puasa sebagai bagian dari persiapan untuk festival musik dan mukjizat yang akan datang, dan setiap kebaktian berakhir dengan serangkaian kesaksian dari para devosan yang mengaku telah merasakan tangan Tuhan.

“Doa penyembuhan terpendek berlangsung sekitar empat jam,” kata Pastor Shamaun kepada ucanews.com.

“Gereja Katolik kehilangan umat (di Pakistan) karena Gereja-gereja lain lebih fokus pada ibadat penyembuhan. Kami jarang memberi orang kesempatan untuk mengalami ekstase spiritual,” katanya.

Pastor Paroki Santo Thomas di Wah Cantonment, sebuah kota militer di provinsi Punjab, sudah mengaransmen musik sebelum Pastor Shamaun ditahbiskan  tahun 1987.

Dari Punjabi Tappay yang bertemakan Kristen (bait kehidupan sehari-hari) hingga berkat agama, ia telah menulis dan menyusun lagu-lagu pujian dan menampilkannya pada hari Jumat pertama setiap bulan pada perayaan yang dapat berlangsung sepanjang malam di sebuah gereja di Rawalpindi.

“Setiap orang harus membawa minyak dan air dan menuliskan doa permohonannya di selembar kertas ketika mereka datang dan bergabung dalam acara doa kami,” katanya, seraya menambahkan  sebuah iklan untuk khotbahnya, yang ditampilkan di Facebook dan biasanya menarik dan dilihat sekitar 300 orang.

“Sejak 2013 banyak uskup di Pakistan mulai menyampaikan doa Karismatik di keuskupan mereka,” katanya. “Tapi sayangnya banyak dari momentum itu telah mereda.”

 

Keajaiban manusia

Asistennya melakukan tur bulanan di berbagai paroki untuk membagikan CD musiknya secara gratis. Setiap koordinator juga membawa rekaman video di handphone dari salah satu doa sepanjang malamnya yang lebih legendaris yang terjadi pada Februari 2014.

“Kami sedang menyanyikan pujian bersama-sama ketika dinding di belakang altar mulai dirembesi oleh air sekitar jam 2 pagi,” kenang Perwaiz Rehmat, salah satu koordinator Gereja Santo Thomas.

“Segera terpal plastik yang menaungi altar ditutupi lapisan kelembaban. Fenomena ini berlanjut sampai jam 5 pagi,” tambah Rehmat, yang juga bekerja di Air Weapons Complex, salah satu pabrikan persenjataan udara Pakistan.

Seorang pendevosi sangat terpikat dengan khotbah sang imam sehingga dia menamai putra keduanya sama dengan nama  Pastor Shamaun.

“Setelah kelahiran putra pertama saya pada tahun 1998, para dokter mengatakan kepada saya bahwa saya tidak dapat melahirkan lagi,” katanya.

“Orang-orang menyarankan agar kami mengunjungi Babajis (sebutan kehormatan di India yang berarti “ayah”, tetapi digunakan untuk merujuk ke mistikus Muslim] tetapi kami mengabaikan saran mereka dan terus berdoa di gereja kami,” katanya.

“Tahun 2012 kami menghadiri kebaktian satu hari oleh Pastor Shamaun, yang berkunjung dari Peshawar,” kata Rehmat, mengacu pada ibukota provinsi Khyber Pakhtunkhwa di utara.

“Selama perayaan doa itu dia mengumumkan bahwa dua pasangan sangat menginginkan seorang anak. Pada saat itu kami mulai berdoa dengan sungguh-sungguh dan dengan devosi yang lebih besar,” tambahnya.

“Dua bulan kemudian para dokter memberi tahu saya bahwa istri saya hamil. Tuhan telah mendengar permohonan kami.”

Mendiang Uskup Andrew Francis dari Multan mendirikan gerakan Karismatik di Pakistan dengan nama Sara Gharana di akhir tahun 80-an.

“Gharana” berasal dari kata Hindi “ghar,” yang berasal dari bahasa Sansekerta untuk “griha” atau rumah. Ini sering mengacu pada tempat di mana ideologi musik berasal.

Uskup lain yang telah meninggal, Anthony Lobo dari Islamabad-Rawalpindi, menunjuk Uskup Fransiskus sebagai direktur spiritual Pembaruan Karismatik Katolik beberapa tahun lalu.

Layanannya sekarang berada di antara gerakan awam paling populer dari semua denominasi di Pakistan, yang mencatat 2,5 juta orang Kristen atau 1,6 persen dari populasi pada tahun 2005 – dengan Katolik dan Protestan seimbang.

Pastor Inayat Bernard, rektor Katedral Hati Kudus di Lahore, meluncurkan album ke-72 Pastor Shamaun pada 15 Mei selama Misa yang sangat meriah. Album ini berjudul Aab-e Hayat (Air Kehidupan Abadi), “Tidak setiap imam dapat melakukan mukjizat. Setiap orang dari kita memiliki karunia kita sendiri,” kata mantan rektor Seminari menengah Keuskupan Agung Lahore itu.

“Kami berharap musisi ahli ini (Pastor Shamaun) yang terbaik untuk visinya akhirnya bisa menyusun  albumnya yang ke-100 ,” katanya.

 

Camat Torere Tewas Ditembak KKB Pasca Pilkada di Papua

Jum, 29/06/2018 - 16:36

Camat Torere Obaja Froaro tewas dan dua aparat polisi hilang ketika sebuah kelompok kriminal bersenjata (KKB) menembaki sebuah speed boat yang mengangkut kotak suara berisi surat suara seusai pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Propinsi Papua, Rabu (27/6).

Kabid. Humas Polda Papua Kombes. Pol. Ahmad Mustofa Kamal mengatakan kepada ucanews.com bahwa pembunuhan itu terjadi pada sore hari sekitar pukul 16.00 waktu setempat ketika camat dan aparat polisi dalam perjalanan pulang menuju Distrik Torere, Kabupaten Puncak, seusai pelaksanaan Pilkada di Distrik Mamberamo Hulu di Kabupaten Mamberamo Raya.

Kemudian terjadi baku tembak antara KKB dan aparat polisi sehingga Camat Obaja tertembak di bagian dada dan tewas di tempat, katanya.

Menurutnya, KKB sudah memperhitungkan keberadaan mereka dan sudah mengetahui bahwa mereka akan melewati jalur sungai itu. Lokasi kejadian berada di ujung Kabupaten Puncak yang berbatasan dengan Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Tolikara.

Ia menambahkan bahwa sebuah speed boat lain yang mengangkut beberapa warga setempat dan polisi juga melewati jalur itu tetapi mereka berhasil lolos.

Dikatakan, dua tim aparat polisi telah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk mencari dua polisi yang hilang dan juga para pelaku.

Papua adalah satu dari 17 propinsi, 115 kabupaten dan 39 kota yang menyelenggarakan Pilkada serentak pada hari itu dan ada lebih dari 150 juta penduduk yang mempunyai hak pilih. Namun propinsi ini mengalami ketegangan menjelang Pilkada.

Pada Senin (25/6), kelompok orang yang tidak dikenal menembaki sebuah pesawat Twin Otter yang mengangkut logistik Pilkada dan 15 aparat polisi yang akan mengamankan pelaksanaan Pilkada di wilayah tersebut.

Tembakan berasal dari kawasan hutan sesaat setelah pesawat itu mendarat di Bandar Udara Kenyam di Kabupaten Nduga. Pilot mengalami cedera.

Menyinggung soal insiden baru-baru ini, Pastor John Djonga Pr, seorang imam aktivis dari Keuskupan Jayapura, mengatakan para pejuang separatis masih cukup aktif.

Mereka tidak terlalu simpatik dengan Pilkada karena hampir semua kandidat setelah terpilih tidak mengakomodasi keluhan atau permasalahan yang dihadapi oleh orang Papua dan cenderung diam ketika orang Papua ditembak atau dibunuh.

“Kepercayaan mereka terhadap pemerintah sudah hilang,” katanya.

“Mereka lebih banyak berjuang untuk kemerdekaan,” lanjutnya.

Sementara itu, Pastor Paulus Christian Siswantoko, sekretaris eksekutif Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (Kerawam-KWI), mengatakan pelaksanaan Pilkada yang secara umum berjalan secara damai menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang demokrasi.

Para pemilih tidak hanya berpartisipasi dalam Pilkada tetapi juga turut menjaga keamanan, lanjutnya.

 

Paus: Iman Dihidupi oleh Rasa Syukur, Bukan Kerja Layaknya Budak  

Jum, 29/06/2018 - 11:37

Allah selalu mencintai dan terlebih dahulu memberi dengan penuh kemurahan hati sebelum meminta kesetiaan akan semua perintah-Nya yakni perkataan dari seorang Bapa yang penuh kasih yang menunjukkan kepada umat manusia jalan yang benar untuk menjalani kehidupan, kata Paus Fransiskus.

“Hidup Kristiani merupakan respon penuh syukur kepada seorang Bapa yang murah hati,” bukan pemenuhan yang dipaksakan dan tanpa kegembiraan atas serangkaian kewajiban, kata Paus Fransiskus pada Minggu (27/6) dalam audiensi umumnya di Lapangan St. Petrus.

Audiensi umum tersebut merupakan yang terakhir sebelum jeda sejenak selama bulan Juli.

Sebelum mengelilingi lapangan dengan mobil Paus, seraya menyapa para pengunjung, Paus Fransiskus bertemu orang sakit dan tidak berdaya yang duduk di aula Paulus VI yang difasilitasi AC. Di sana mereka bisa dengan nyaman mengikuti katekese di lapangan dari sebuah layar video yang besar.

Saat menyapa kerumunan umat, Paus Fransiskus mengatakan kepada sekelompok peziarah di Roma yang dipimpin oleh Inisiatif Orang Muda Katolik untuk Amerika bahwa setiap Paus dan “Tuhan mempunyai sebuah tempat khusus di hati-Nya bagi siapa saja yang menderita cacat.”

Paus Fransiskus juga menyambut perwakilan Olimpiade Khusus dan menyalakan obor dari api Olimpiade Khusus, seraya mengatakan: “Saya berdoa agar api Olimpiade ini menjadi tanda kegembiraan dan pengharapan akan Tuhan yang memberikan anugerah persatuan dan perdamaian atas anak-anak-Nya.”

Kemudian Paus Fransiskus melanjutkan serangkaian pembicaraan audiensi baru tentang 10 Perintah Allah dengan merenungkan bagaimana Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir, kemudian mengungkap perintah-perintah itu kepada Musa.

“Allah tidak pernah meminta tanpa memberi terlebih dahulu. Ia menyelamatkan terlebih dahulu, lalu meminta” kesetiaan atas perintah-perintah-Nya, yakni “perkataan penuh kasih dari seorang Bapa” kepada anak-anak-Nya sehingga mereka bisa menjalani kehidupan melalui jalan yang benar.

Ini adalah “rahasia” pendekatan Kristiani, yakni pendekatan Yesus – untuk mengetahui bahwa seseorang itu dicintai oleh seorang Bapa dan kemudian untuk mencintai sesama, kata Paus Fransiskus.

Yesus “tidak mulai dengan diri-Nya sendiri, melainkan dengan Bapa,” lanjut Paus Fransiskus.

Proyek atau upaya gagal jika berakar dalam keegoisan, bukan dalam “rasa syukur kepada Tuhan, kata Paus Fransiskus.

Landasan akan segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang Kristiani bukan berdasarkan pada kewajiban: “Saya harus melakukan ini, ini, ini … ,” kata Paus Fransiskus.

“Bukan. Landasan akan tugas ini adalah cinta akan Allah, Bapa, yang terlebih dahulu memberi dan kemudian memerintah,” kata Paus Fransiskus. Ini merupakan situasi berdasarkan sebuah hubungan dan pengalaman personal antara Bapa dan anak.

“Mendahulukan hukum dari hubungan itu tidak membantu perjalanan iman. Bagaimana mungkin seorang anak muda ingin menjadi Kristen jika kita mulai dengan kewajiban, tugas, konsistensi dan bukan dengan pembebasan?”

“Menjadi Kristiani merupakan perjalanan akan pembebasan. Perintah-perintah itu membebaskan kalian dari sikap memikirkan diri sendiri, dan perintah-perintah itu membebaskan kalian karena ada cinta Allah sehingga kalian bisa terus maju.”

Pembinaan Kristiniani bukan tentang tekad, tetapi tentang membuka diri akan keselamatan dan membiarkan seseorang untuk dicintai, katanya.

Paus Fransiskus mengatakan penting bagi umat manusia untuk bertanya pada diri mereka sendiri: “Berapa banyak hal indah yang Allah telah lakukan kepada saya?” Sambil mengakui bahwa semua anugerah ini “membebaskan kita,” katanya.

Namun bisa juga terjadi, kata Paus Fransiskus, bahwa umat manusia tidak mengalami pembebasan ini dan mereka masih menghidupi iman mereka dari kewajiban – sebuah spiritualitas yang dihidupi “seperti budak” dan bukan seperti anak-anak Allah.

Jika itu masalahnya, kata Paus Fransiskus, umat manusia harus berteriak kepada Allah untuk perjalanan hidup mereka sendiri.

“Kita tidak diselamatkan oleh diri kita sendiri, tetapi kita bisa mulai dengan meminta bantuan, ‘Tuhan, selamatkan saya. Tuhan, tunjukkan jalan kepada saya. Tuhan, sentuh saya. Tuhan, beri saya sedikit kegembiraan.’”

Semua tergantung pada seseorang apakah akan meminta bantuan, meminta pembebasan dari keegoisan, dosa dan ikatan perbudakan, kata Paus Fransiskus. “Permintaan ini penting, ini adalah doa, ini adalah kesadaran akan apa yang masih ditindas dan belum dibebaskan dalam diri kita.”

Allah sedang menunggu untuk mendengar permintaan umat-Nya akan pembebasan dan keselamatan. “Ia ingin menghancurkan rantai kita. Allah tidak meminta kita untuk menjalani hidup agar tetap ditindas, tetapi untuk dibebaskan dan hidup dengan penuh rasa syukur, menikmati kegembiraan yang hanya Tuhan bisa berikan kembali, katanya.

 

Halaman