UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 1 jam 55 mnt yang lalu

Dituduh Komunis, Aktivis Anti Tambang Asal Banyuwangi Terancam Penjara 7 Tahun

Jum, 12/01/2018 - 12:25

Seorang aktivis anti pertambangan mengatakan tidak bersalah di pengadilan Indonesia atas tuduhan menyebarkan komunisme, dalam kasus yang menurut para pendukungnya merupakan usaha kotor untuk melemahkan perjuangannya.

Heri Budiawan, akan menghadapi hukuman tujuh tahun penjara jika dinyatakan bersalah. Ia membacakan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Negeri Banyuwangi di Jawa Timur pada 9 Januari.

Komunisme dilarang di Indonesia setelah pembunuhan beberapa perwira militer senior pada tahun 1965, yang kemudian menyebabkan serangkaian gerakan anti-komunis di mana ratusan ribu orang dibantai dan terbunuh.

Budiawan ditangkap pada bulan April tahun lalu setelah perusahaan pertambangan emas, PT Bumi Suksesindo dan PT Damai Suksesindo mengajukan laporan ke polisi terhadapnya, setelah aktivis tersebut melakukan demonstrasi menentang kegiatan mereka di Kabupaten Banyuwangi.

Sebuah spanduk yang bergambar simbol komunis seperti palu dan sabit ditampilkan pada demonstrasi menurut tuduhan perusahaan.

Jaksa kemudian menuduh Budiawan “melakukan kejahatan terhadap keamanan negara,” mengacu pada  Pasal 107 ayat a UU No 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara.

Pendukung Budiawan mengatakan tuduhan tersebut palsu.

“Tuduhan ini jelas terkait dengan penolakan Budiawan terhadap penambangan emas.” kata Deva Kusuma, juru bicara “untuk Banyuwangi,” sebuah kelompok advokasi lingkungan.

“Tuduhan itu konyol. Demonstrasi itu hanya ditujukan untuk menentang kehadiran perusahaan pertambangan,” katanya.

Tidak ada bukti bahwa spanduk yang bergambar palu arit itu pernah ada, kata Kusuma, ia menambahkan bahwa tidak pernah sepanduk seperti itu dibuat yang bisa dijadikan sebagai alat bukti.

“Fakta ini menjadi semakin mencurigakan karena para pemrotes membuat spanduk di bawah pengawasan polisi sebelum demonstrasi berlangsung. Jadi dari mana spanduk yang menyinggung itu berasal? “Katanya.

Melky Nahar, manajer kampanye Anti Pertambangan menuduh polisi berpihak pada perusahaan pertambangan dan mengabaikan laporan masyarakat setempat terhadap perusahaan pertambangan emas yang beroperasi di lokasi seluas 11.600 hektar itu.

Sejak penambangan dimulai pada 2012, katanya, setidaknya lima desa telah mengalami bencana seperti tanah longsor.

“Pasokan air lokal juga mengering akibat kegiatan penambangan,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa pengadilan Budiawan bertentangan dengan undang-undang perlindungan lingkungan yang menyatakan bahwa “mereka yang memperjuangkan hak mereka untuk tinggal di lingkungan yang sehat dan tidak dapat dikenai denda atau hukuman sipil.”

Tuntutan Dalit di India Mengancam Hegemoni Hindu

Jum, 12/01/2018 - 12:18

Dalit India, yang sebelumnya dikenal sebagai kelompok yang hina-dina, menantang ideologi supremasi dari kelompok garis keras Hindu.

Namun aktivis hak asasi manusia menyalahkan fundamentalisme Hindu atas serangan baru-baru ini terhadap Dalit yang merayakan kemenangan dalam pertempuran abad ke-19 melawan kasta atas yang menguasai mereka.

Serangkaian bentrokan kekerasan antara Dalit dan orang-orang Maratha kasta tinggi dilaporkan terjadi di beberapa bagian negara bagian Maharashtra barat pada awal Januari.

Ini berrmula dari serangan pada 1 Januari terhadap orang-orang Dalit yang merayakan seratus tahun pertempuran antara penguasa lokal dan pasukan perusahaan India Timur Inggris.

Pertarungan di desa Bhima Koregaon mengakibatkan Inggris membatasi dominasi penguasa Maratha Peshwa Bajirao II.

Kekalahan tersebut telah dirayakan oleh Dalits sejak saat itu.

Namun, pada tahun yang keseratus ini berubah menjadi kekerasan, dengan satu orang terbunuh dan ratusan terluka.

Laporan media menunjukkan bahwa kelompok sayap kanan yang membawa bendera safron melempari Dalit dengan batu, mendorong mereka untuk melakukan pembalasan.

Dalam bentrokan berikutnya, lebih dari 30 kendaraan, termasuk bus dan van polisi serta kendaraan pribadi, dibakar atau rusak dan Rahul Fatangale yang berusia 28 tahun, seorang pengamat kasta atas Maratha, dibunuh oleh sebuah batu yang dilemparkan.

“Ini adalah tren yang sangat berbahaya karena kita akan kembali ke tahun 1947 ketika kasta dan kepercayaan membagi negara ini,” kata Joseph Dias, seorang pemimpin Katolik yang berbasis di Mumbai, ibu kota Maharashtra.

Sungguh mengejutkan bahwa apa yang telah terjadi 100 tahun yang lalu masih menimbulkan konflik, tambahnya.

“Tiba-tiba hal ini terjadi karena beberapa unsur pinggiran telah memprovokasinya,” kata Dias mengacu pada kelompok fundamentalis Hindu.

Jurnalis Saquib Salim mengatakan dalam sebuah komentar bahwa kekerasan harus dilihat sebagai awal kampanye untuk mencap orang-orang Dalit sebagai orang yang tidak patriotik.

Pendukung penjajah Inggris di India.

Pastor Z. Devasagaya Raj, sekretaris Kantor keuskupan untuk kelompok Dalit dan Masyarakat Adat India, mengatakan bahwa serangan tersebut mengalir dari kepercayaan kuno bahwa Dalit seharusnya menjadi pelayan umat Hindu kasta tinggi.

Kata Dalit berarti “diinjak-injak” dalam bahasa Sanskerta dan mengacu pada semua kelompok yang pernah dianggap hina dan berada di luar empat kasta Hindu

Data pemerintah menunjukkan 201 juta dari 1,2 miliar penduduk India termasuk dalam segmen masyarakat yang kurang beruntung secara sosial.

Sekitar 60 persen dari 25 juta orang Kristen India berasal dari kelompok Dalit atau masyarakat suku.

Pastor Raj mengatakan kelompok Hindu kasta atas tidak dapat menerima kenyataan bahwa orang-orang Dalit semakin menegaskan hak-hak mereka.

Paus Minta Orang Katolik untuk Tanpa Ragu Mengaku Dosa

Kam, 11/01/2018 - 16:29

Ketakutan dan rasa malu untuk mengakui dosa yang kita lakukan menyebabkan kita menunjuk jari dan menuduh orang lain daripada mengakui kesalahan sendiri, kata Paus Fransiskus.

“Sulit untuk mengaku bersalah, tapi sangat bagus untuk mengaku dengan tulus. Tapi kita harus mengaku dosa kita sendiri,” kata paus saat audiensi awal tahun.

Mengakui dosa yang dilakukan mempersiapkan seseorang untuk memberi ruang di dalam hatinya untuk Kristus, kata paus. Tapi seseorang yang memiliki hati “penuh dengan dirinya sendiri, penuh dengan kesuksesannya sendiri” tidak menerima apapun karena dia sudah kenyang oleh “keadilan yang diberikan dirinya sendiri.”

“Mendengarkan suara hati nurani dalam keheningan memungkinkan kita menyadari bahwa pikiran kita jauh dari pikiran ilahi, bahwa kata-kata dan tindakan kita seringkali bersifat duniawi, dipandu oleh pilihan yang bertentangan dengan Injil,” kata paus.

Mengakui dosa seseorang kepada Tuhan dan gereja membantu orang memahami bahwa dosa tidak hanya memisahkan kita dari Tuhan tetapi juga dari saudara dan saudari kita, kata paus seperti dikutip Catholic News Service.

“Dosa memutuskan hubungan kita dengan Tuhan dan dengan saudara dan saudari kita, di keluarga kita, di masyarakat, di komunitas,” kata paus. “Dosa selalu memutuskan, memisahkan, memecahbelah.”

Lebih dari 6 Juta Orang Mengikuti Prosesi Black Nazarene di Filipina

Kam, 11/01/2018 - 15:54

Lautan manusia bergerak kiri dan kanan, maju dan mundur, diperkirakan enam juta orang tanpa alas kaki dalam khidmat melakukan devosi kepada Black Nazarene yang berlangsung 22 jam.

Teriakan  “Viva Senor Nazareno,” menggema saat kerumunan baik pria, wanita, dan bahkan anak-anak, menarik tali yang diikat ke sebuah kereta yang membawa gambar Yesus yang hitam (karena terbakar) selama pawai yang bergerak lamban di jalan-jalan sempit ibukota Filipina, Manila.

Jumlah orang yang mengikuti prosesi tersebut mencapai sekitar 6,3 juta, dua kali lipat dari tahun lalu, menurut Joel Coronel, kepala Polisi Manila.

Prosesi tersebut sampai di Basilika Black Nazarene di distrik Quiapo Manila sekitar pukul 3 pagi pada 10 Januari, sekitar 22 jam setelah dimulai di Luneta Park pagi-pagi sekali hari sebelumnya.

Memakai jubah merah marun, dengan mahkota duri dan memanggul salib, patung Nazarene dibawa ke Manila oleh biarawan Augustin pada tahun 1607, pada masa penjajahan Spanyol.

Prosesi tahunan yang menampilkan gambar tersebut, mencakup rute sepanjang tujuh kilometer, memperingati perpindahan Black Nazarene pada tahun 1787 dari kapel San Nicolas de Tolentino di kota tua Manila ke Gereja Quiapo.

Gambar itu dilukis oleh pematung Meksiko dan dibawa ke Manila dengan kapal Spanyol dari Acapulco. Cerita tradisional mengaitkan warnanya dengan lilin yang menyala di depan gambar, meskipun kepercayaan yang paling umum mengatakan bahwa itu merupakan api yang telah menghanguskan patung itu di kapal.

Membawa orang lebih dekat kepada Tuhan

Pastor Douglas Badong, vikaris Basilika Black Nazarene, mencatat kenaikan jumlah pendevosi yang ikut prosesi tahun ini.

“Sungguh kerumunan yang besar di seluruh rute,” kata imam tersebut, ia menambahkan bahwa pendevosi dipinggir jalanan sepanjang rute juga memperlambat prosesi, namun tetap “tertib dan damai.”

Monsignor Hernando Coronel, rektor basilika, mengucapkan terima kasih kepada panitia festival tersebut, yang ia gambarkan sebagai “usaha besar demi iman”.

Dia mengatakan bahwa stasi doa yang diperkenalkan untuk prosesi tahun ini “membantu memperdalam iman para pendevosi kami.”

Untuk tahun kedua, streaming lewat media sosial yang menyiarkan langsung dari tempat acara tersebut yang memungkinkan orang-orang Filipina yang tinggal di luar negeri untuk menikmati tontonan tersebut.

Perayaan itu bertujuan untuk mendekatkan umat “Pencinta black Nazarene,” Ujar Pastor Coronel

Nuntius Kagum

Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila mengatakan bahwa kerumunan besar orang yang menghadiri Misa sebelum prosesi tahunan membuat kagum Uskup Agung Gabriele Caccia, nuntius yang baru untuk negara tersebut.

“Bahkan sebelum dia ditugaskan di sini, dia telah banyak mendengar tentang devosi orang-orang Filipina …. Dia ingin [secara pribadi] melihat,” kata kardinal tersebut.

Kardinal Tagle mengatakan bahwa ketika nuntius melihat sejumlah besar umat dia berkata: “Lihatlah bagaimana iman orang dapat menginspirasi kita.”

“Saya mengatakan kepadanya bahwa ini belum menampakan keseluruhannya tapi nanti pada saat prosesi terjadi,” kata kardinal dalam homili pada Misa tengah malam pada 9 Januari.

Tampilan semangat religius

Ribuan pendevosi mulai berkumpul di Taman Luneta di Manila pada tanggal 8 Januari karena akan diawali dengan ciuman tradisional terhadap gambar dan misa tengah malam sebelum prosesi berlangsung.

Orang-orang di sekitar kereta menarik tali, sementara sejumlah besar orang melambaikan handuk putih dan saputangan sambil melantunkan pujian kepada Tuhan. Mereka yang tidak dapat mengikuti prosesi mengangkat lengan mereka atau berlutut di tepi jalan dalam doa.

Perayaan untuk menghormati Black Nazarene juga dirayakan di berbagai belahan negeri itu.

Di Cagayan de Oro di wilayah Mindanao, Filipina selatan, diperkirakan 200.000 orang bergabung dalam prosesi dua jam meski ada ancaman serangan oleh kelompok ekstremis.

Pihak berwenang mengerahkan setidaknya seribu petugas keamanan berseragam yang membentuk rantai manusia di sepanjang rute prosesi.

Di provinsi Bohol tengah, para pendevosi berjalan ke gunung setempat di mana sebuah perayaan untuk menghormati penderitaan Kristus diadakan.

Di Manila, seorang pendevosi meninggal karena serangan jantung pada puncak prosesi.

Ramil dela Cruz, seorang petugas penjara berusia 51 tahun, mengeluh karena sakit dada setelah turun dari kereta yang mengangkut gambar itu. Dia dilarikan ke rumah sakit tempat dia dinyatakan meninggal pada saat kedatangan.

Petugas medis mengatakan lebih dari 1.000 orang dirawat karena berbagai kondisi medis, termasuk luka ringan.
Diadakan setiap tahun pada tanggal 9 Januari, Pesta Black Nazarene adalah salah satu acara keagamaan terbesar di Asia.

Lagi, Seorang Imam di China Dinyatakan Hilang

Kam, 11/01/2018 - 09:38

Pastor Lu Danhua dari Keuskupan Lishui di provinsi Zhejiang timur China dilaporkan menghilang sejak pejabat pemerintah tiba-tiba membawanya pergi setelah Natal.

Dia adalah satu-satunya imam Keuskupan Lishui dan pendahulunya adalah Pastor Kenneth Roderick Turner dari Scarboro Foreign Mission Society dari tahun 1948 sampai 1983. Keuskupan Wenzhou kemudian mengelola Keuskupan Lishui.

Pastor Lu ditahbiskan oleh gereja bawah tanah Uskup Peter Shao Zhumin dari Wenzhou pada tanggal 14 Desember 2016, dan telah melayani Keuskupan Lishui sampai sekarang.

Uskup Shao dibebaskan oleh pihak berwenang pada 3 Januari setelah ditahan sejak Mei 2017. Seorang sumber yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada ucanews.com bahwa alasan untuk membawa Pastor Lu pergi tidak berhubungan dengan Uskup Shao.

Namun dia mengatakan bahwa pihak berwenang telah menyatakan bahwa Pastor Lu harus pergi ke Wenzhou untuk “pendidikan ulang” tentang peraturan-peraturan agama baru yang mulai berlaku 1 Februari dan bahwa dia akan kembali setelah mendapatkan izin untuk menjadi seorang imam.

Pada siang hari tanggal 29 Desember, pejabat Administrasi Negara untuk Urusan Agama (SARA) membawa Pastor Lu pergi dari pastoran.

Seorang Katolik yang menyaksikan kejadian tersebut mengatakan kepada ucanews.com bahwa para pejabat tersebut mengklaim bahwa Pastor Lu hanya pergi untuk ngobrol sebentar.

Keesokan harinya, umat tersebut pergi ke kantor SARA dimana pejabat mengklaim Pastor Lu telah dibebaskan.

Akan tetapi Pastor Lu tetap hilang dan panggilan ke telepon genggamnya belum terjawab.

Wanita ‘Leher Panjang’ Mulai Berpaling dari Tradisi

Rab, 10/01/2018 - 15:00

Bagi Ma Tha yang berusia 21 tahun, mengenakan setumpuk cincin perunggu di leher merupakan tanda kecantikan dan mempertahankan tradisi suku Kayan.

Dia kembali ke desa Pan Pet yang terpencil di Kota kecil Demoso di Negara Bagian Kayah Myanmar pada tahun 2016 dengan ayahnya setelah sembilan tahun bekerja di Thailand sementara ibu dan saudara perempuannya tinggal di Myanmar.

Ma Tha berharap dengan boomingnya pariwisata dan pendapatan yang lebih besar dari menjual barang-barang tradisional akan memberinya stabilitas ekonomi di tanah airnya.

“Ini adalah situasi yang sulit dan kami tidak memiliki cukup pendapatan untuk kebutuhan keluarga, jadi kami memutuskan untuk meninggalkan Thailand,” katanya kepada ucanews.com.

Ma Tha dan ayahnya sekarang mengelola sebuah toko kecil sederhana yang menjual boneka kayu buatan lokal, syal dan cincin leher perunggu.

“Penghasilan harian kami bergantung pada para wisatawan dan kami memiliki harapan besar untuk mendapatkan penghasilan yang baik di tanah air kami di masa depan,” kata Ma Tha saat ia membuat syal di toko di samping rumah tembok dua lantai.

Seorang wanita single Kayan yang bisa berbicara sedikit bahasa Inggris atau Thailand, Ma Tha tidak menikah dan dengan tersenyum mengatakan bahwa dia tidak punya pacar.

Pada masa lalu dilarang bagi pelancong dianggap sebagai daerah etnik di bawah pemerintahan junta, Myanmar sekarang menjadi objek wisata yang menarik. Sebagian besar Negara Bagian Kayah terlarang bagi orang asing dan dianggap sebagai daerah yang belum dijelajahi selama beberapa dekade di bawah pemerintahan militer yang keras.

Di desa terpencil Pan Pet, jalan baru diaspal dan jalur kabel listrik terpancang di samping rumah tembok yang bagus dan toko yang menjual souvenir hasil kerajinan tangan. Wisatawan berkeliaran mengambil foto potret wanita Kayan tua dan muda.

Selama bertahun-tahun, perempuan Kayan telah pindah ke Thailand untuk menghindari konflik dan kemiskinan dan mendapatkan uang dengan berpose untuk turis di desa-desa Thailand yang dibangun dengan tujuan pariwisata yang dikecam oleh aktivis hak asasi manusia sebagai “kebun binatang manusia”.

Sekitar tiga tahun yang lalu, mereka mulai kembali ke tanah air mereka karena situasi mulai lebih damai, memungkinkan wisatawan bisa mengakses kawasan tersebut dan perbaikan infrastruktur seperti jalan dan listrik.

Gadis Kayan diberi hingga 10 cincin leher untuk dipakai mulai dari usia lima tahun. Mereka kemudian menambahkan yang baru setiap tahun sampai dewasa. Praktik ini memberi mereka penampilan seperti jerapah karena secara menyakitkan memampatkan bahu dan selangkang daripada merentangkan leher mereka.

Banyak mitos dan legenda mengelilingi tradisi tersebut, mulai dari cerita tentang wanita yang memakai cincin untuk melindungi diri dari harimau atau demi meningkatkan kecantikan mereka.

Tradisi Kayan kuno yang telah berabad-abad lamanya dalam praktiknya menghadapi masa depan yang tidak menentu karena modernisasi mulai berkembang bagi generasi muda.

Mu Par, 20, mengatakan bahwa dia akan terus mengenakan cincin perunggu di lehernya tapi tidak mengizinkan anak perempuannya melakukannya. “Saya ingin mereka melanjutkan pendidikan mereka,” katanya.

Hilangnya tradisi secara bertahap jelas terlihat di Pan Pet, di mana lebih dari 1.000 penduduk tinggal.

Seiring modernisasi muncul dengan mudahnya akses ke ponsel dan internet, orang muda memilih untuk berpakaian santai dengan kaos, blus, celana panjang dan longyis.

Margarita, seorang wanita Katolik berusia 20 tahun, mengatakan bahwa dia tidak mengenakan cincin perunggu di lehernya dan lebih memilih gaya bebas dengan mengenakan blus dan longyi.

Dia berasal dari desa Kathanku, sebuah dusun Pan Pet dimana sekitar 80 orang tinggal di komunitas campuran umat Buddha dan umat Katolik. Sebuah gereja Katolik kecil terlihat di dekat rumah Margarita di bawah bukit hijau.

Maria, 80, berpose dalam foto di pondok kecilnya di Kathanku dan mengatakan bahwa dia menjadi seorang Katolik 20 tahun yang lalu dan sebelumnya ia beragama budda.

Generasi yang lebih tua seperti Maria tampak nyaman dan bangga akan kecantikan mereka dengan mengenakan cincin di tengah booming pariwisata di Myanmar timur, namun orang muda menghadapi dilema memilih antara tradisi kuno atau mengenakan cincin demi tujuan komersial.

Uskup Shao Dibebaskan setelah Ditahan Selama Tujuh Bulan

Rab, 10/01/2018 - 14:48

Uskup Peter Shao Zhumin telah dibebaskan oleh pemerintah China setelah ditahan selama tujuh bulan.

Uskup bawah tanah dari Keuskupan Wenzhou di provinsi Zhejiang dibebaskan 3 Januari dan diperkirakan akan segera kembali ke Wenzhou, salah satu kota Kristen terbesar di China.

Sebuah sumber yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada ucanews.com bahwa setelah Uskup Shao dibawa pergi pada Mei 2017, pejabat dari Biro Urusan Etnis dan Agama Kota Wenzhou berusaha memaksanya menandatangani sebuah kesepakatan.

Kesepakatan tersebut meminta uskup untuk mendukung Administrasi Negara untuk Urusan Agama dan pemilihan sendiri serta penahbisan uskup.

Setelah mendapat banyak tekanan, Uskup Shao menandatangani kesepakatan tersebut untuk membuktikan bahwa dia telah membacanya namun memberikan ucapan bahwa dia tidak setuju dengan persyaratan tersebut, kata sumber tersebut.

“Apa yang pemerintah lakukan adalah seperti Revolusi Kebudayaan, menangkap dan memaksa seseorang untuk menandatangani dokumen untuk mendukung pihak berwenang,” kata sumber tersebut.

Sekarang uskup tersebut tinggal di rumah seorang Katolik di kota Xining, provinsi Qinghai di China tengah, 2.500 kilometer dari Wenzhou, dan akan pergi ke Beijing untuk pemeriksaan pendengaran 22 Januari sebelum kembali ke Wenzhou.

Uskup Shao menderita penyakit telinga bawaan. Selama penahanannya pada September lalu, dia dibawa ke Beijing Tongren Hospital untuk menjalani operasi telinga.

Setelah dioperasi, ia pun diantar ke Xining untuk pemulihan namun masih dipantau.
Uskup Shao dibawa dari keuskupannya pada tanggal 18 Mei 2017. Ini adalah penahanan keempat setelah dia dikonfirmasi sebagai uskup.

“Namun, ini adalah pertama kalinya pejabat dari Biro Etnis dan Agama Kota Wenzhou terlibat untuk menangkapnya; sementara hanya pejabat keamanan nasional yang melakukannya di masa lalu, “kata sumber tersebut.

Alasan untuk menyingkirkan uskup masih menjadi misteri, namun diyakini bahwa direktur baru Administrasi Urusan Agama Provinsi Wenzhou ingin menyelesaikan masalah mengenai Uskup Shao.

Uskup Shao berasal dari gereja bawah tanah Wenzhou dan menolak untuk bergabung dengan Administrasi Negara untuk Urusan Agama. Pada bulan September 2016, dia dikonfirmasi dalam misinya oleh Vatikan setelah kematian pendahulunya, Uskup Vincent Zhu Weifang.

Sumber tersebut juga percaya bahwa pihak berwenang melepaskannya sebagai akibat tekanan dari luar negeri dan doa dan puasa yang diselenggarakan oleh Keuskupan Wenzhou selama Natal.

“Berita tentang Keuskupan Wenzhou meluncurkan doa bulanan dan puasa untuk uskup itu mulai dari 18 Desember yang tersebar di luar negeri dengan cepat, menyebabkan pihak berwenang melakukan tindakan,” kata sumber tersebut kepada ucanews.com.

Vatikan mengeluarkan sebuah pernyataan pada tanggal 26 Juni 2017, menyatakan bahwa sangat sedih dengan situasi hilangnya Uskup Shao. Pemerintah Jerman juga secara terbuka mengungkapkan harapan agar uskup tersebut dapat dibebaskan.

AS Sebut Pakistan Lakukan Pelanggaran Berat Kebebasan Beragama

Rab, 10/01/2018 - 11:00

Beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam untuk memangkas dana bantuan Amerika ke Pakistan, Departemen Luar Negeri menempatkan negara Islam Selatan tersebut dalam daftar Pengawasan Khusus karena dianggap melakukan  “pelanggaran berat terkait kebebasan beragama” menurut  Undang-Undang Kebebasan Beragama Internasional tahun 1998.

Langkah tersebut dilakukan tiga hari setelah Trump, dalam tweet pertamanya tahun ini, menuduh Pakistan memberikan tempat yang aman bagi para teroris meski menerima bantuan miliaran dolar selama bertahun-tahun.

“Amerika Serikat dengan bodohnya memberikan Pakistan lebih dari 33 miliar dolar dana bantuan selama 15 tahun terakhir, dan mereka tidak memberi kita apa-apa selain kebohongan dan kebohongan, memikirkan pemimpin kita sebagai orang bodoh. Mereka memberi tempat yang aman bagi para teroris yang kita cari di Afghanistan, dengan sedikit bantuan. Tidak ada lagi! “Trump menulis.

Islamabad menolak langkah AS dan mengatakan bahwa hal itu tidak didasarkan pada kriteria objektif.

“Pakistan berkomitmen kuat untuk mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia termasuk hak kebebasan beragama yang diatur menurut  konstitusi. Tindakan legislatif, institusional dan administratif yang luas mulai dilakukan oleh pemerintah Pakistan untuk memastikan pelaksanaan jaminan penuh yang diberikan oleh konstitusi, “kata Kementerian Luar Negeri pada 6 Januari.

Pemerintahan Trump menghentikan bantuan keamanan senilai $ 900 juta US ke Pakistan.

Pakistan menuduh AS memakai standar ganda. “Mengherankan bahwa negara-negara yang memiliki catatan terkenal tentang penganiayaan sistematis terhadap kelompok minoritas agama belum masuk dalam daftar. Ini mencerminkan standar ganda dan motif politik di balik daftar dan karenanya tidak memiliki kredibilitas, “kementerian tersebut menambahkan tanpa memberi nama negara manapun.

Pakistan mengatakan bahwa kampanye kontra-terorisme  berfungsi sebagai benteng melawan perluasan sejumlah organisasi teroris di Afghanistan – sebuah fakta yang diakui oleh otoritas AS pada tingkat tertinggi.

Kerja sama anti terorisme Pakistan yang berhasil melawan Al-Qaeda menyebabkan Pakistan menderita serangan balik yang brutal, termasuk pembunuhan ratusan anak sekolahnya oleh teroris yang berbasis di Afghanistan, demikian  sebuah pernyataan oleh Komite Keamanan Nasional Pakistan yang berkuasa yang dirilis pada 2 Januari.

Pada 4 Januari, pemerintah Trump mengumumkan penangguhan semua bantuan keamanan ke Pakistan sampai negara ini membuktikan komitmennya untuk memerangi semua kelompok teroris yang beroperasi di wilayah tersebut.

Selain Pakistan, Menteri Luar Negeri AS juga mendesain ulang Myanmar, China, Eritrea, Iran, Korea Utara, Sudan, Arab Saudi, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan sebagai “negara-negara yang harus mendapatkan perhatian khusus” ujarnya pada 22 Desember.

AS setiap tahun menandai pemerintah yang terlibat dalam atau mentolerir pelanggaran kebebasan beragama yang terus menerus  dan mengerikan sebagai negara yang harus mendapat  perhatian khusus.

“Perlindungan kebebasan beragama sangat penting bagi perdamaian, stabilitas dan kemakmuran. Penyebutan ini ditujukan untuk meningkatkan rasa hormat terhadap kebebasan beragama di negara-negara ini, “kata AS dalam sebuah pernyataan.

Juga diakui bahwa beberapa negara yang ditandai itu sedang berupaya meningkatkan rasa hormat mereka terhadap kebebasan beragama.

“Kami menyambut baik prakarsa ini dan berharap dapat melanjutkan dialog. Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah, organisasi masyarakat sipil dan pemimpin agama untuk memajukan kebebasan beragama di seluruh dunia, “tambahnya.

Sementara itu, perwakilan minoritas mengatakan bahwa ada banyak pembenaran bagi AS untuk menempatkan Pakistan dalam daftar pengawasan.

Pastor Abid Habib dari Komisi Keadilan dan Perdamaian dari Asosiasi Para Pemimpin Tarekat Religius Pakistan juga menyampaikan keprihatinannya pada situasi kebebasan beragama di negara tersebut.

“Kenangan akan pembantaian baru-baru ini di Quetta masih menghantui kita. Faktanya ada di depan mata semua orang, “katanya, merujuk pada pemboman bunuh diri pada 17 Desember di Bethel Memorial Methodist Church di provinsi Balochistan. Sembilan jemaat tewas dan lebih dari 50 lainnya cedera dalam sebuah serangan yang memicu tindakan pengetatan untuk gereja pada Natal dan Tahun Baru.

“Teroris mungkin kecil jumlahnya tapi dari mana mereka mendapat inspirasi? Saya bahkan takut membicarakannya di telepon, “kata Pastor Habib kepada ucanews.com.

“Setiap upaya untuk memperbaiki undang-undang penistaan agama yang kontroversial menyebabkan malapetaka di negara ini. Pemimpin negara benar-benar membenci Ahmadi dan tetap bungkam setiap kali tempat ibadah mereka diserang. Bungkamnya negara-negara Muslim atas kekejaman yang dilakukan atas nama Islam sangat mengerikan. ”

Imam kapusin itu menyambut baik penangguhan bantuan keamanan AS ke Pakistan. “Negara bagian mendapatkan bantuan, seperti Gereja, tergantung pada bantuan luar negeri. Sudah saatnya kita berdiri di atas kaki kita sendiri, “katanya.

Anjum James Paul, ketua Asosiasi Guru Minoritas Pakistan, mengatakan bahwa sistem pendidikan di Pakistan tidak memiliki kebebasan beragama.

“Siswa Muslim bisa belajar Islam tapi siswa minoritas terpaksa belajar etika sebagai subjek alternatif. Mereka sengaja dijauhkan dari mempelajari agama mereka. Mereka sering menjadi target dan dengan demikian merasa tidak aman bahkan di dalam institusi, “kata aktivis Katolik tersebut, mengutip Sharoon Masih, seorang siswa Kristen yang dibunuh Agustus lalu oleh seorang teman sekelas di sebuah sekolah pemerintah.

“Mereka yang menargetkan pejabat yang mendukung agama minoritas kemudian menjadi pahlawan. Hukuman untuk kejahatan agama terhadap minoritas ringan. Konstitusi juga ambigu saat membicarakan hak-hak agama minoritas, “kata Paul.

Saleem ud Din, juru bicara Ahmadiyah Pakistan, mengakui bahwa keadaan terus memburuk dari pada komunitas minoritas mereka di tahun 2017.

“Saya akan mengumumkan untuk pertama kalinya bahwa kami akan memboikot pemilihan umum yang akan datang,” katanya.

“Kami telah dipinggirkan lagi melalui Undang-Undang Pemilu yang baru diadopsi yang menyetujui daftar pemilih terpisah untuk Ahmadiyah. Kami diperlakukan sebagai kasta rendah di negara kita sendiri.

“Kami sama sekali tidak memiliki kaitan dengan amandemen yang sekarang ditarik mengenai pernyataan pemilihan, namun kami merupakan sasaran utama pidato kebencian yang dibuat oleh kelompok radikal selama kunjungan mereka di Islamabad baru-baru ini.

“List pengawasan AS tidak ada bedanya saat kita menghadapi penganiayaan negara yang sistematis sejak tahun 1970an.”
Saleem ud Din mengatakan 300 orang Ahmadi terbunuh karena kekerasan berbasis agama di Pakistan selama tiga dekade terakhir.

Ordo Karmel Pastikan Anggotanya yang Hilang Masih Hidup

Rab, 10/01/2018 - 09:59

Romo Yohanes Martinianus Rada O.Carm, imam yang selama tiga pekan terakhir dikabarkan hilang telah ditemukan, demikian pernyataan resmi dari pimpinan Ordo Karmel.

Imam berusia 32 tahun itu, kini berada di Denpasar, Bali setelah ditemukan di Surabaya, Jawa Timur.

Romo Yohanes Bosco Djawa O.Carm, Komisariat Ordo Karmel Indonesia Timur dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (9/1) menyebutkan, keberadaan Romo Rada diketahui sejak Sabtu pekan lalu.

Awalnya, kata dia, saudari sulung imam itu atas nama Elisabeth Arina Rupa Rada mendapat informasi dari seseorang di Bali bahwa pada 30 Desember Romo Mar menyeberang dari Gilimanuk-Bali menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

“lnformasi ini diterima keluarga dari seseorang yang melihat wajah mirip Rm Rada yang diposting via Facebook,” katanya.

Proses pencarian pun dilakukan, termasuk dengan menghubungi polisi dan otoritas pelabuan di Bali.

Beberapa waktu kemudian, jelasnya, Romo Rada mengirim email kepada saudarinya dan memberitahukan lokasi keberadaannya di Surabaya.

Imam itu kemudian berhasil ditemukan pada Minggu, 7 Januari, lalu diterbangkan ke Bali.

“Rm. Rada sekarang ini sedang didampingi oleh keluarga dan beberapa konfrater Karmel di Bali,” tulis Romo Djawa.

Ia menambahkan, keluarga Romo Rada sudah menjumpai pihak Ordo Karmel di Maumere dan bersama-sama menemui polisi mencabut laporan sebelumnya tentang orang hilang.

“Dewan Pimpinan Ordo Karmel Indonesia Timur mengucapkan limpah terima kasih kepada berbagai pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pencarian saudara kami,” katanya.

Ia menambahkan, mereka juga memohon maaf alas semua kekurangan dan kekhilafan selama proses pencarian Romo Rada.

Kasus menghilangnya imam itu menghebohkan banyak pihak dan ramai dibicarakan di media sosial.

Polisi, TNI dan Basarnas pun dilibatkan untuk mencarinya sejak 20 Desember 2019, sehari setelah ia dinyatakan hilang.

Ia dilaporkan pergi dari biaranya pada 19 Desember, dengan alasan hendak mandi di laut. Namun, ia tidak kembali lagi dan putus kontak sama sekali.

Dalam penjelasan Ordo Karmel, tidak diungkap mengapa Romo Rada bisa sampai di Surabaya serta apa tujuannya.

Paus Anggap ‘Bully’ Sebagai Pengaruh Setan dalam Diri Manusia

Sel, 09/01/2018 - 17:32

Sama seperti pengaruh Roh Kudus dikenali ketika seseorang melakukan tindakan amal, orang Kristen juga harus mengenali kehadiran iblis saat adanya intimidasi, kata Paus Fransiskus.

“Ketika kita menyadari bahwa kita memiliki keinginan untuk menyerang seseorang karena mereka lemah, kita tidak ragu lagi bahwa itu adalah iblis. Karena menyerang yang lemah adalah karya setan,” kata paus dalam homilinya pada 8 Januari saat misa pagi di Domus Sanctae Marthae.

“Saya bertanya pada diri sendiri: Apa yang ada di dalam orang-orang ini? Apa yang ada di dalam diri kita yang mendorong kita untuk mengejek dan menganiaya orang lain yang lebih lemah dari kita?” tanya paus seperti dikutip Catholic News Service.

“Bisa dimengerti bila seseorang membenci seseorang yang lebih kuat dari mereka, mungkin karena rasa iri … tapi terhadap yang lemah? Apa yang membuat kita melakukan itu? Ini menjadi kebiasaan, seolah-olah saya perlu menertawakan orang lain untuk merasa percaya diri, seolah-olah itu suatu kebutuhan, “kata paus.

Paus Fransiskus bercerita bahwa sewaktu dia kecil ada seorang wanita bernama Angelina di lingkungannya dan dia terus diejek oleh orang lain, terutama anak-anak, karena mengalami sakit mental.

Saat orang-orang dengan murah hati memberinya makanan dan pakaian, anak-anak setempat akan mengolok-olok wanita tersebut dan berkata, “Mari kita cari Angelina dan bersenang-senang,” kata paus.

“Hari ini kita melihat terus-menerus di sekolah kita fenomena bullying, menyerang yang lemah entah karena gemuk atau asing atau karena berkulit hitam,” katanya.

“Ini berarti ada sesuatu di dalam diri kita yang membuat kita bertindak agresif terhadap yang lemah.”

Meskipun psikolog mungkin memberikan alasan yang berbeda mengapa beberapa orang cenderung mem-bully orang-orang yang lemah, Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia percaya itu adalah “konsekuensi dari dosa asal” dan karya setan yang “tidak memiliki belas kasihan.”

India Abaikan Larangan Perceraian Instan di Kalangan Muslim

Sel, 09/01/2018 - 15:12

Langkah India untuk melarang perceraian instan di kalangan umat Islam menglami hambatan ketika Partai Pro-Hindu Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa pro-Hindu mengabaikan sebuah undang-undang di majelis tinggi parlemen di tengah perlawanan dan kemarahan dari kelompok-kelompok Muslim.

RUU tentang Wanita Muslim (Perlindungan Hak atas Perkawinan) 2017 tidak bisa diloloskan di parlemen setelah debat panjang pada 3 Januari.

RUU tersebut tidak membolehkan perceraian instan atau talaq tiga, sebuah praktik yang memungkinkan pria Muslim untuk menceraikan istri mereka dengan hanya mengucapkan kata talaq (perceraian) tiga kali. Beberapa pria juga menggunakan telepon dan pesan teks untuk menceraikan istrinya dengan cara seperti itu.

Partai oposisi di majelis tinggi menginginkan agar RUU tersebut dibawa ke rapat panel dewan untuk diteliti lebih lanjut. Pemerintah menolak permintaan tersebut, yang menyebutnya inkonstitusional.

Partai Kongres menuduh Partai BJP yang sedang berkuasa tidak bersikap serius agar RUU disahkan di parlemen.

Namun, meski ada 18 partai oposisi yang menuntut pemungutan suara untuk membawa RUU tersebut ke rapat panitia dewan, BJP mengabaikan seruan mereka dan tidak memulai proses pada 4 Januari, kata pemimpin Kongres Pramod Tiwari.

“BJP tidak memiliki kebijakan atau niat untuk meloloskan RUU talaq tiga di parlemen,” katanya kepada wartawan.
Pengadilan tinggi India melarang talaq tiga pada bulan Agustus namun larangan tersebut berlaku hanya selama enam bulan sampai Februari. Sebuah undang-undang perlu disahkan untuk mengakhiri praktik misoginis yang membuat perempuan mengalami ketidakadilan dan kemiskinan, menurut pemerintah.

Namun, organisasi Muslim menuduh pemerintah federal, yang dipimpin oleh BJP, mencampuri urusan agama Muslim dengan maksud untuk intervensi praktik keagamaan mereka.

Beberapa negara yang didominasi Muslim seperti Pakistan dan Bangladesh melarang praktik tersebut, namun sebagian besar dari 170 juta Muslim di India mengikuti sebuah sekolah hukum khusus Islam yang disebut Hanafi Islam, yang memungkinkan praktik tersebut.

Setelah Mahkamah Agung menyebut talaq “inkonstitusional” dan merekomendasikan sebuah undang-undang untuk menghapusnya, RUU tersebut disiapkan. Itu disahkan di majelis rendah parlemen atau Lok Sabha pada 28 Desember.

RUU tersebut akan membuat talaq tiga menjadi kejahatan yang dapat dihukum hingga tiga tahun penjara.

Ghulam Ahmad Mir, pemimpin partai Kongres di Jammu dan Kashmir yang mayoritas Muslim, mengatakan bahwa RUU tersebut bertujuan untuk melecehkan umat Islam.

“Ia ingin mengirim pria Muslim ke penjara tanpa ada jaminan, tapi siapa yang akan mengurus keluarga orang-orang yang dipenjara?” Tanya Mir.

Organisasi Muslim seperti Front Populer India menentang undang-undang tersebut, menyebutnya sebagai campur tangan negara dan tidak konstitusional karena mengganggu praktik keagamaan.

Tokoh Terkemuka Abu Bakar mengatakan RUU tersebut disusun tanpa konsultasi dengan pihak-pihak yang terkena dampak termasuk wanita Muslim.

Dewan Hukum Pribadi Muslim India, yang menangani penerapan hukum Islam dalam urusan pribadi, mengecam langkah pemerintah tersebut, dengan mengatakan bahwa RUU tersebut membuat perceraian di kalangan umat Islam lebih kompleks.

Juru Bicara Maulana Khalilur Rahman Sajjad Nomani mengatakan kepada media pada 3 Januari bahwa dewan tersebut didukung partai oposisi yang mendesak agar mengirim RUU tersebut ke komite ahli untuk menghapus kekurangannya.

Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa wanita Muslim di India berpendidikan paling rendah dan dipekerjakan dan banyak yang dipaksa menikah sebelum berusia 15 tahun. Hanya 1,5 persen wanita Muslim yang menempuh pendidikan di sekolah menengah atas, menurut sebuah studi oleh Indian Institute of Public Administration.

Sensus pemerintah tahun 2011 menunjukkan bahwa 13,5 persen wanita Muslim menikah sebelum usia 15 tahun dan 49 persen antara 14 sampai 19 tahun.

Di seluruh komunitas religius, lebih banyak wanita bercerai daripada pria, menurut data sensus.

Namun, data menunjukan persentase lebih tinggi di kalangan wanita Islam. Bagi setiap satu pria Muslim yang bercerai, ada empat wanita yang bercerai.

Sekitar 95 persen wanita bercerai melalui talaq tidak mendapat kompensasi dari suami mereka, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Bharatiya Muslim Mahila Andolan, sebuah gerakan wanita Muslim India. Dikatakan 92 persen wanita Muslim ingin talaq dilarang.

Umat Membanjiri Kota Manila untuk Devosi Black Nazarene

Sel, 09/01/2018 - 14:58

Jutaan umat Katolik Filipina mulai berduyun-duyun ke ibukota Filipina menjelang perayaan Black Nazarene pada 9 Januari untuk berdoa.

Para pendevosi berpakaian kaos kuning dan kemeja berbaris di sekitar Taman Luneta di Manila untuk mendapatkan kesempatan untuk mencium gambar Yesus berwarna hitam yang sedang memanggul salib.

Panitia berharap pesta keagamaan tahunan ini mampu menarik sekitar 20 juta orang untuk memperingati pemindahan dan penempatan gambar itu pada 400 tahun yang lalu ke gereja di distrik Quiapo di kota itu.

Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila mengingatkan umat Katolik untuk “mengenal Yesus secara mendalam” selama perayaan tersebut dan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pesta tersebut.

Dengan banyaknya orang yang menghadiri perayaan tersebut, kardinal berdoa agar “aman, damai, dan bersih” selama kegiatan perayaan Black Nazarene

Penyelenggara kegiatan tahun ini telah mengubah rute prosesi 9 Januari untuk “alasan keamanan”.

Pejabat gereja mengatakan bahwa mereka mengharapkan lebih banyak orang untuk hadir tahun ini dari perkiraan 18 juta pendevosi pada tahun 2017.

Militer Filipina memperingatkan agar tidak berdesak-desakan selama acara keagamaan tersebut.

“Skenario terburuk kami adalah terjadinya aksi saling dorong, yang menyebabkan patah tulang, korban jiwa dan luka-luka,” kata komandan militer setempat Brigjen. Alan Arrojado.

Para pendevosi biasanya saling mendorong untuk mendekati gerbong yang membawa gambar Black Nazarene atau menyentuh tali yang digunakan untuk menariknya.

Beberapa orang yang ingin mendapatkan seutas tali dengan keyakinan bahwa ia memiliki kekuatan ajaib bahkan mencoba menggigit demi seutas tali tersebut.

Menghubungkan ke yang ilahi

Sementara para kritikus acara tahunan tersebut mengatakan bahwa devosi kepada Black Nazarene beda tipis dengan penyembahan berhala, Uskup Clemente Ignacio, mantan rektor Gereja Quiapo, mengatakan bahwa umat hanya mengekspresikan “penghormatan mereka”.

“Ungkapan kita dinyakatakan, dalam ungkapan konkret,'” kata uskup tersebut, ia menambahkan bahwa itu adalah sifat orang Asia. Dia mengatakan itu adalah sifat orang Filipina yang ingin menyentuh, mencium, atau memeluk benda-benda suci.

“Orang Filipina percaya akan kehadiran yang ilahi di barang-barang kudus dan tempat-tempat suci,” katanya.

“Orang ingin terhubung dengan yang ilahi, baik itu melalui antrean untuk mencium gambar atau menyentuh tali,” kata Pastor Ignacio.

“Ini adalah cara untuk mengekspresikan iman seseorang, ini adalah ekspresi dari penghormatan mereka,” katanya.

“Kita semua tahu kita tidak menyembah patung-patung, kita menyembah Tuhan dan jika patung-patung ini menjembatani kita dengan Tuhan, maka kita ingin berhubungan dengan Tuhan dengan menggunakan patung-patung ini,” tambahnya.

Gambar nazaret Hitam adalah gambar patung kayu Yesus yang berukuran besar dan berwarna hitam yang sedang memanggul sebuah salib, yang dibawa ke Manila oleh imam Augustin pada tahun 1607.

Tradisi mengatakan bahwa patung itu berwarna hitam setelah mengalami kebakaran di kapal Spanyol yang mengangkutnya.

Siaga dengan jas hujan

Dengan cuaca yang tidak menentu di Manila pada bulan Januari, panitia prosesi menyiapkan jas hujan untuk gambar Black Nazarene.

“Hujan atau cerah prosesi akan terus berlanjut,” kata Pastor Douglas Badong, imam Gereja Quiapo.

“Jas hujannya sudah siap, itu khusus dibuat untuknya,” kata imam itu, ia menambahkan bahwa jas hujan terbuat dari bahan transparan sehingga pendevosi masih bisa melihat gambarnya.

Pastor Badong mengatakan bahwa ketika hujan di masa lalu, gambar itu hanya terbungkus plastik. “Itu tidak rapi,” katanya.

Para pendevosi yang secara tradisional ingin menyeka gambar dengan saputangan dan handuk selama prosesi dapat memberikan kepada orang-orang yang menjaga gambar di atas kereta.

Keamanan tinggi

Sedikitnya 1.000 tentara dan sekitar 500 tentara cadangan telah dikerahkan untuk mendukung 5.000 petugas polisi yang ditugaskan untuk menjaga acara tersebut.

Jenderal Arrojado mengatakan pasukan keamanan waspada tinggi meski tidak ada laporan tentang ancaman teroris.

“Kami berharap yang terbaik tapi bersiap menghadapi yang terburuk,” katanya.

Pada tahun 2012, sebuah kelompok teroris dilaporkan merencanakan untuk melakukan serangan bom selama perayaan tersebut, yang membuat pihak berwenang memberi sinyal komunikasi di Manila.

Umat Katolik di China Protes Penghancuran Gereja

Sen, 08/01/2018 - 15:59

Hampir 100 umat Katolik memprotes pembongkaran gereja di China, sambil berteriak “Kembalikan gereja saya” dan “Kebebasan beragama.”

Pihak berwenang menghancurkan gereja di desa Zhifang di distrik Lauyu, kota Xian di provinsi Shaanxi pada 27 Desember setelah mengklaim bahwa gereja tersebut menduduki lahan secara ilegal.

Uskup Wu Qinjing dari Keuskupan Zhouzhi pada hari yang sama mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa pejabat setempat datang ke keuskupan untuk meminta maaf.

Keuskupan tersebut telah membentuk tim khusus untuk bernegosiasi dengan pemerintah untuk menyelesaikan insiden tersebut.

“Negosiasi sedang berlangsung dan akan diserahkan ke pastor yang bersangkutan,” katanya kepada ucanews.com.

Umat Katolik lokal menggunakan media sosial untuk menunjukkan foto pembongkaran dan dokumen resmi yang menyetujui gereja itu untuk beribadah. Satu dokumen juga menunjukkan bahwa pejabat setempat telah memberi izin kepada gereja untuk menggunakan lahan tersebut untuk bangunan.

Namun, tanpa konsultasi dengan paroki tersebut, pemerintah setempat menyampaikan pemberitahuan pada 20 Desember yang mengatakan bahwa gereja tersebut menduduki tanah tersebut secara ilegal dan akan dirubuhkan pada tanggal 27 Desember.

Saat gereja dibongkar, sebuah salib telah hancur dan barang-barang suci dipindahkan. Orang dilarang keras untuk pergi ke gereja.

Gereja ini dibangun pada tahun 1999 setelah semua persetujuan dilengkapi untuk dijadikan sebagai tempat bagi umat Katolik beribadah.

Seorang sumber mengatakan di WeChat bahwa jalan raya telah dibangun di dekat gereja tersebut dan pemerintah bermaksud untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi tempat yang indah.

“Oleh karena itu, tanah gereja menjadi sangat bermanfaat dan cepat dibongkar dengan dalih pembangunan ekonomi,” tulis sumber tersebut.

Seorang sumber setempat mengatakan kepada ucanews.com bahwa perundingan terus berlanjut dan memperkirakan pemerintah akan memberikan kompensasi atas hilangnya gereja tersebut.

Dia juga menunjukkan bahwa gereja tersebut tidak dapat dibangun kembali di tempat yang sama karena pemerintah mengklaim bahwa gereja tersebut akan menghadapi risiko longsor dari lereng terdekat.

Dia mengklaim pihak berwenang perlu menyediakan lahan untuk membangun kembali gereja karena banyaknya umat Katolik di daerah tersebut.

“Jika mereka hanya mengkompensasi dengan uang, paroki dan umat Katolik tidak akan setuju,” katanya.

Diperiksa, Jenazah Kandidat Orang Kudus Filipina Utuh dan Tidak Berbau

Sen, 08/01/2018 - 15:40

Jenazah Uskup Agung Teofilo Camomot dari Cebu, kandidat orang kudus, menjalani pemeriksaan forensik selama sembilan jam minggu ini sebagai bagian dari proses kanonisasi.

Pengacara Persida Rueda-Acosta, kepala tim ahli forensik yang memeriksa jenazah tersebut, menyatakan bahwa jenazah tidak memancarkan bau busuk meski mengalami pembusukan.

“Saya menganggap ini ajaib karena jasad Uskup Camomot tidak berbau busuk terlepas dari kenyataan bahwa dia meninggal hampir 30 tahun yang lalu,” kata Rueda-Acosta, kepala Kantor Kejaksaan Pemerintah.

Mayat orang-orang kudus dianggap tidak membusuk dan memancarkan bau harum saat digali.

Dalam laporannya, dokter forensik Erwin Erfe, mengatakan bahwa kerangka prelatus tersebut tidak memancarkan bau, berbeda yang umum terjadi pada manusia.

Dia juga mencatat bahwa pakaian uskup Camomot berada dalam “kondisi utuh” dan tidak dimakan kutu dan serangga.

Tim medis mencatat bahwa kerangka prelatus tersebut menunjukkan beberapa patah tulang rusuk, patah pada klavikula kiri, dan tengkoral dan wajah yang hancur karena kecelakaan.

Uskup Agung, yang dikenal karena kemurahan hatinya dan bekerja di komunitas miskin, meninggal pada 27 September 1988 dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Pada bulan November Vatikan melalui Kongregasi untuk Penganugerahan Orang kudus mengeluarkan sebuah keputusan tentang keabsahan untuk alasan beatifikasi bagi almarhum uskup agung Filipina.

Sebuah komite gereja yang mendorong beatifikasi almarhum uskup, suster-suster dari Putri Santa Teresa, dan anggota keluarga, menyaksikan pemeriksaan terhadap jenazah prelatus tersebut, yang dimulai pada 3 Januari.

Uskup Agung Romulo Valles dari Davao, Ketua konferensi para uskup Filipina yang menyaksikan pemeriksaan tersebut, memuji “kehidupan saleh” Uskup Agung dalam sebuah pernyataan.

“Kami percaya bahwa diri Uskup Camomot sebagai saksi kehidupan Tuhan dalam kehidupan dan kepribadiannya saat dia melakukan karya amal, belas kasihan dan penggembalaan jiwa yang menakjubkan dalam hidupnya,” katanya.

Uskup Agung Camomot lahir di Cogon di kota Carcar, Filipina tengah pada tanggal 3 Maret 1914.

Dia diangkat menjadi uskup auxilier Jaro pada tanggal 26 Maret 1955. Pada tahun 1959, dia ditunjuk menjadi uskup koadjutor Cagayan de Oro. Dia kemudian mendirikan Carmelite Tertiaries untuk Ekaristi Terberkati, yang juga dikenal sebagai Putri Santa Teresa.

Pada tahun 1968, ia menjadi uskup auxilier Cebu dan pastor paroki Carcar di provinsi Cebu.

Jenazahnya yang terbungkus lilin dipajang untuk publik di museum yang menampung barang-barang dan tulisan pribadinya di panti asuhan Suster Santa. Teresa.

Aktivis Indonesia, Umat Kristiani Tolak RUU Perkebunan Sawit

Sen, 08/01/2018 - 14:32

Aktivis dan sekelompok umat Kristiani Indonesia bereaksi keras  terhadap rancangan undang-undang yang akan dibahas anggota dewan yang bertujuan untuk mengatur industri kelapa sawit, dan mengatakan rancangan tersebut menguntungkan perusahaan kelapa sawit skala besar dan gagal melindungi hak-hak masyarakat dan lingkungan.

RUU tersebut dijadwalkan untuk dibahas di DPR dan kemungkinan akan disahkan menjadi undang-undang akhir tahun ini.

Undang-undang tersebut disusun untuk mengatur industri, terutama perusahaan besar, yang mendapat kritik keras dari kelompok hak asasi manusia dan lingkungan, serta Gereja Katolik mengenai dugaan kerusakan lingkungan dan peminggiran masyarakat miskin dan masyarakat adat.

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencakup lebih dari 12 juta hektar, dimana 7 juta adalah milik perusahaan, dan sisanya oleh pemerintah dan petani kecil.

Pengamat industri mengatakan bahwa rancangan undang-undang itu benar-benar cacat dan akan gagal memberikan perlindungan yang seharusnya diberikannya.

Inda Fatinaware, direktur eksekutif Sawit Watch, salah satu kelompok pencinta lingkungan hidup mengatakan banyak artikel dalam draft undang – undang itu saling tumpang tindih dan akan memberi lebih banyak ruang bagi perusahaan untuk melanggar undang-undang lain termasuk penggundulan hutan.

“Tidak peduli dengan kesejahteraan petani dan pekerja, dan berpotensi memperburuk konflik sosial,” katanya kepada ucanews.com pada 4 Januari.

“Ini juga tidak bertujuan untuk mengatasi konflik tanah, yang kerap terjadi antara masyarakat adat dan perusahaan,” katanya.

Mansuetus Darto, direktur Serikat Petani Minyak Sawit, mengatakan petani kecil keberatan dengan rancangan tersebut, karena mengurangi sanksi terhadap perusahaan yang melanggar undang-undang.

Menurut hukum pidana yang ada di Indonesia, perusakan lingkungan dan pengabaian hak-hak karyawan dijerat dengan hukuman lima tahun penjara dan denda sebesar US $ 380.000.

Namun draf tersebut memungkinkan hukuman menjadi 16 bulan penjara dan denda $ 11.000.

“Kami khawatir rancangan undang-undang itu akan disalahgunakan oleh perusahaan besar untuk mendirikan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut,” katanya.

“Itu [draft RUU] harus ditolak karena tidak membantu petani kecil,” tambahnya.

Pastor Anselmus Amo,MSC, Direktur JPIC Keuskupan  Agung Merauke mengatakan bahwa Indonesia tidak memerlukan undang-undang khusus untuk industri kelapa sawit karena telah memiliki undang-undang perkebunan.

Pastor Amo, yang berkampanye untuk petani Papua yang dipengaruhi oleh bisnis besar, juga mengatakan bahwa rancangan undang-undang itu hanya akan menguntungkan investor berskala besar, bukan masyarakat lokal.

“Saya khawatir akan memberi lebih banyak kesempatan untuk perkebunan skala besar di Papua,” katanya.

Antonius Sido, 46, seorang petani di provinsi Kalimantan Utara, mengatakan jika draf tersebut diloloskan, lebih banyak petani kecil akan menjadi korban aneksasi tanah.

“Saya tidak sependapat dengan draf ini karena kita akan kehilangan tanah dan lebih banyak terkena banjir karena deforestasi,” katanya kepada ucanews.com.

Beberapa anggota dewan, terus berusaha untuk menghilangkan kekhawatiran itu.

Hamdhani, anggota Dewan yand duduk di sebuah komisi yang mengawasi pertanian, mengatakan kepada wartawan baru-baru ini bahwa hak-hak petani dan perusahaan kelapa sawit akan dipertimbangkan selama penafsiran dan artikel RUU tersebut dapat diubah, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Dia mengatakan bahwa kelapa sawit adalah industri besar dan sekitar 30 juta orang bekerja di sektor ini. Pada 2016, perusahaan tersebut menyumbang sekitar US $ 20 miliar untuk Produk Domestik Bruto nasional.

Undang-undang yang baru, katanya, akan membantu pemerintah dalam mengatur industri yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

Pengungsi Hindu Bersiap untuk Kembali ke Myanmar

Sen, 08/01/2018 - 12:05

Pemerintah Myanmar akan memulai pemulangan lebih dari 450 pengungsi Hindu pada 22 Januari.

Aung Min, direktur Departemen Imigrasi dan Kependudukan Rakhine, mengatakan bahwa dua pusat penampungan pengungsi hampir selesai dan, sebagai langkah awal, lebih dari 450 pengungsi Hindu akan dipulangkan.

Pengungsi telah menerima formulir untuk diisi dan data mereka akan diperiksa oleh petugas, yang juga akan memeriksa pengungsi di penyeberangan perbatasan.

“Proses dan prosedur berlaku untuk semua pengungsi apakah mereka beragama Hindu atau Bengali (Rohingya) tapi kami akan memulai pemulangan pengungsi Hindu karena jumlah mereka hanya ratusan dan dapat diproses dengan cepat,” kata Aung Min kepada ucanews.com.

Pengungsi yang kembali perlu mengajukan permohonan untuk Kartu Verifikasi Nasional yang dikelola pemerintah sebagai bukti tinggal di Myanmar dan sebelum mendapatkan kewarganegaraan berdasarkan undang-undang kewarganegaraan 1982, menurut Aung Min.

Sedikitnya 3.000 dari sekitar 8.000 orang Hindu yang tinggal di Maungdaw, Buthidaung dan Sittwe melarikan diri selama eksodus Muslim Rohingya selama operasi “pembersihan” oleh militer Myanmar. Beberapa di antaranya mengungsi, sementara yang lainnya menyeberang ke negara tetangga Bangladesh.

Lebih dari 650.000 orang Rohingya pergi ke Bangladesh untuk menghindari tindakan keras dan brutal militer di Rakhine dalam rangka pembelasan terhadap serangan militan Muslim terhadap pos keamanan pada 25 Agustus.

Kekerasan tersebut berdampak pada ribuan umat Hindu Rohingya. Militer Myanmar dilaporkan menemukan dua kuburan massal Hindu. Hindu membentuk 0,5 persen dari populasi di Myanmar, sementara 89 persen adalah umat Buddha dan 4,3 persen adalah umat Islam, menurut sensus 2014.

Ni Maw, pemimpin masyarakat Hindu di Maungdaw, Rakhine utara, membenarkan bahwa lebih dari 450 umat Hindu akan dipulangkan akhir bulan ini.

Pemimpin Hindu Surendra Jain, sekretaris jenderal internasional dari Vishwa Hindu Parishad, mengatakan bahwa Myanmar telah “selalu siap untuk menarik kembali umat Hindu Rohingya karena seluruh dunia setuju bahwa orang Hindu adalah minoritas terbaik.”

“Dunia Islam sekarang harus memikirkan apakah hal yang disebut jihad berjalan baik atau tidak,” katanya.

Kyaw Min, ketua Partai Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, sebuah partai Rohingya yang berbasis di Yangon, mengatakan bahwa rencana pemulangan tersebut tidak akan berjalan semana mestinya dan hanya merupakan pertunjukan untuk masyarakat internasional.

“Kebijakan diskriminasi yang telah berlangsung puluhan tahun terhadap Muslim Rohingya masih ada di Negara Bagian Rakhine, saya rasa tidak banyak orang yang akan kembali ke Rakhine,” katanya.

Kyaw Min mengatakan bahwa Rohingya memiliki harapan tinggi pada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi namun dia menggunakan kebijakan yang sama dari mantan presiden yang didukung militer Thein Sein dalam masalah Rohingya, jadi hal-hal tidak akan membaik di Negara Bagian Rakhine.

Sultan, seorang warga Rohingya dari Maungdaw, Rakhine utara, mengatakan bahwa dia telah mendengar beberapa orang masih melarikan diri ke Bangladesh dan sekitar 1.500 Rohingya melarikan diri dari Rakhine pada bulan Desember.

“Semua pengungsi bersedia kembali ke Rakhine jika mereka mendapatkan hak kewarganegaraan mereka, yang merupakan penghalang utama bagi mereka untuk kembali ke rumah,” kata Sultan kepada ucanews.com.

Human Rights Watch yang berbasis di New York mengatakan bahwa rencana pemulangan harus ditunda karena “waktu yang tepat” untuk keamanan dan kepulangan yang  bersifat sukarela.

Kelompok pemikir International Crisis Group yang berpusat di Brussels percaya bahwa prospek untuk mengembalikan sejumlah besar pengungsi Rohingya dalam jangka pendek dan menengah masih kabur.

Kondisi di lapangan di Rakhine utara jauh dari kondusif dan eksodus pengungsi yang mengalami trauma terus berlanjut, kata kelompok tersebut dalam sebuah laporan pada 7 Desember.

Jasad Calon Santo Asal Filipina Digali

Jum, 05/01/2018 - 16:44

Almarhum Uskup Agung Cebu Mgr Teofilo Camomot dicalonkan menjadi orang kudus. Uji forensik selama sembilan jam pun dilakukan minggu ini terhadap jasadnya sebagai bagian dari proses kanonisasi.

Persida Rueda-Acosta, seorang pengacara dan ketua tim ahli forensik yang menguji jasad prelatus itu, mengaku terkejut karena jasad tersebut tidak mengeluarkan bau busuk meskipun sudah membusuk.

“Saya kira ini mukjizat karena jasad Uskup Agung Camomot tidak mengeluarkan bau busuk meskipun kenyataannya ia telah wafat hampir 30 tahun lalu,” katanya.

Rueda-Acosta juga menjabat sebagai kepala Kantor Kejaksaan Umum.

Jasad orang-orang kudus diyakini tidak membusuk dan tidak mengeluarkan bau busuk ketika digali.

Dalam laporannya, dokter forensik Erwin Erfe mengatakan kerangka Uskup Agung Camomot tidak mengeluarkan bau menyengat yang umum terjadi pada jasad manusia.

Juga dikatakan, jubah Uskup Agung Camomot “dalam keadaan baik” dan “tidak terkoyak oleh segala macam bentuk aktivitas kutu dan insekta.”

Sementara itu, tim medis mengatakan kerangka Uskup Agung Camomot menunjukkan banyak patahan tulang rusuk, patahan tulang selangka, dan patahan tulang wajah dan tengkorak.

Uskup Agung Camomot dikenal karena kebaikan hatinya dan karyanya bagi komunitas miskin. Ia meninggal pada 27 September 1988 karena kecelakaan.

November lalu, Kongregasi untuk Penganugerahan Orang Kudus di Vatikan memberi validitas untuk penganugerahan beatifikasi bagi uskup agung itu.

Sebuah komisi Gereja yang mendesak beatifikasi prelatus itu, para biarawati dari Kongregasi Puteri-Puteri St. Teresa dan juga anggota keluarga menyaksikan penggalian jasad Uskup Agung Camomot yang dimulai pada 3 Januari lalu.

Turut menyaksikan penggalian tersebut adalah Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, ketua Konferensi Waligereja Filipina. Ia memuji “kehidupan luhur” dari Uskup Agung Camomot dalam sebuah pernyataan.

“Dalam diri Uskup Agung Camomot, kami percaya bahwa kami memiliki seorang saksi kehidupan Allah dalam kehidupannya dan pribadinya karena ia mampu melakukan berbagai karya yang mengagumkan terkait amal kasih, pengampunan dan penggembalaan jiwa-jiwa dalam kehidupannya,” katanya.

Uskup Agung Camomot lahir di Cogon, bagian tengah dari Kota Carcar, pada 3 Maret 1914.

Ia diangkat menjadi uskup auksilier Keuskupan Jaro pada 26 Maret 1955. Pada tahun 1959, ia diangkat menjadi uskup koajutor Keuskupan Cagayan de Oro. Kemudian ia mendirikan Carmelite Tertiaries of the Blessed Eucharist yang juga dikenal sebagai Kongregasi Puteri-Puteri St. Teresa.

Pada tahun 1968, ia menjadi uskup auksilier Keuskupan Cebu dan pastor Paroki Carcar, Propinsi Cebu.

Jasadnya diformalin dan diletakkan di sebuah museum yang menampung benda-benda pribadi dan berbagai karya tulisannya di halaman Kongregasi Puteri-Puteri St. Teresa.

 

Paroki di Keuskupan Atambua Canangkan Program Tanam kopi 

Jum, 05/01/2018 - 15:39

Paroki Hati Kudus Laktutus di Keuskupan Atambua memberdayakan ekonomi umat dengan program budidaya tanaman komoditas kopi.

Pada Kamis, 4 Desember, paroki memulai program itu dengan menanam kopi di lahan contoh milik paroki seluas 6 hektar.

Kegiatan itu dihadiri Uskup Atambua, Mgr Dominikus Saku dan Bupati Belu, Willybrodus Lay.

Pastor Paroki Laktutus, Yohanes Kristoforus Tara OFM mengatakan, terdapat 30.000-an bibit yang sudah disiapkan sejak tahun lalu dan akan dibagikan kepada umat untuk ditanam di kebun masing-masing selama bulan ini.

“Mimpi besar kita, ke depan Laktutus bisa menjadi salah satu sentra penghasil kopi di Kabupaten Belu,” ujarnya.

Ia mengatakan, paroki menyadari bahwa “umat tak hanya perlu diberi santapan rohani, tetapi juga diberdayakan secara ekonomi.”

Menurut dia, program ini merupakan terjemahan lanjutan dari Arah Dasar Keuskupan Atambua dengan fokus peningkatan ekonomi umat, di mana umat diajak, dianimasi untuk mulai membangun kesadaran baru dalam meningkatkan ekonomi melalui budidaya tanaman jangka panjang.

“Kami menilai, kopi adalah salah satu yang pas untuk daerah ini,” katanya saat berbicara dengan ucanews.com.

Ia menjelaskan, program ini juga diharapkan mampu menjadi jalan untuk menghentikan arus umat yang memilih meninggalkan kampung mereka dan bekerja sebagai buruh migran di luar negeri, di mana banyak dari antara mereka yang menjadi korban kejahatan perdagangan manusia atau human trafficking.

Menurut Pastor Kristo, dari 3.000 umat Paroki Laktutus, sekitar 300 di antaranya saat ini bekerja di luar negeri dan sebagian lagi merantau menjadi buruh perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

“Selama ini umat kita hanya bergantung pada tanaman jangka pendek seperti jahe dan kacang-kacangan, sehingga tidak cukup untuk memenuhi kehidupan mereka. Karena itu, merantau menjadi jalan yang mereka pilih,” katanya.

Yoakim Taek, 32, salah satu umat mengatakan, ia antusias menyambut program ini dan sudah menyiapkan secara khusus lahan dua hektar untuk perkebunan kopi.

“Selama ini memang ada umat yang tanam kopi, tapi skalanya kecil. Program paroki, yang disertai pendampingan terhadap kami menjadi hal baru bagi kami,” kata ayah empat anak ini.

Ia mengakui, selama ini memang warga belum banyak melihat potensi yang bisa dikembangkan dari sektor pertanian.

“Tanaman komoditas yang umumnya dikembangkan di sini adalah kemiri. Tapi, hasilnya tidak seberapa,” katanya.

Dengan program ini, Pastor Kristo berharap, lima sampai sepuluh tahun ke depan, taraf hidup umat bisa berubah signifikan.

Ia menyadari, mimpi itu akan terlaksana, jika Gereja memberi pendampingan berkelanjutan.

“Yang jelas, kami berkomitmen memfokuskan perhatian pada sektor ekonomi ini,” katanya.

Ia menambahkan, Gereja juga tidak bisa menyelesaikan sendiri mimpi besar ini. Karena itu, baik Keuskupan maupun Paroki, menjadikan pemerintah setempat sebagai mitra kerja.

Ia mengatakan, sejauh ini ada titik terang. “Bupati Belu amat antusias mendukung dan mengintervensi program-progam Gereja yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi dan lingkungan hidup,” katanya.

Misalnya, kata dia, tahun ini ada tiga paroki yang mendapat dana hibah dari Pemda untuk pembangunan Gereja.

“Tetapi sebagai kompensasinya, Gereja mesti melakukan sejumlah kegiatan pelestarian lingkungan hidup seperti reboisasi lahan kritis atau peningkatan ekonomi, termasuk salah satunya adalah program budidaya kopi,” katanya.

 

Misionaris Yesuit Ini Mampu Wujudkan Mimpinya di India

Jum, 05/01/2018 - 15:31

Tinggi dan kurus. Berkacamata bundar. Selalu mengenakan tas selempang. Inilah sosok Pastor Bob Slattery SJ yang tidak asing lagi bagi masyarakat adat di Propinsi Hazaribag di India bagian timur.

Imam Yesuit asal Australia berusia 83 tahun itu berada di India sudah hampir 60 tahun. Namun ia terus melayani warga Dalit yang tertindas dan warga suku lainnya yang merupakan kelompok minoritas di propinsi tersebut.

Ia menginjakkan kaki pertama kali di wilayah itu – sekarang Negara Bagian Jharkhand – pada tahun 1958. Wilayah ini merupakan basis Provinsialat SJ Propinsi Hazaribag.

“Saya memilih India karena – sebagai seorang Yesuit – melayani orang miskin itu baik,” katanya.

Ia kini menjabat sebagai direktur Provinsialat SJ Propinsi Hazaribag.

Pastor Slattery biasanya mengawali hari dengan doa dan karya hingga larut malam. Ia punya banyak agenda. Ia juga tengah mencari sumber daya demi kesejahteraan warga suku dan warga Dalit.

Pada dasarnya pekerjaannya adalah “mengemis, sebuah tugas yang menantang,” katanya.

Ia memulai karya misinya di Hazaribag dengan menjadi guru di Sekolah St. Xaverius yang menampung banyak anak warga Dalit dan kelompok minoritas etnis lainnya. Prioritasnya adalah pendidikan.

“Yang saya rasakan pertama kali adalah tantangan dan sekaligus diterima oleh para siswa dan imam Yesuit di sini. Saya senang karena saya menikmati pekerjaan saya sebagai guru,” katanya.

Negara Bagian Jharkhand memiliki 32 kelompok etnis, baik besar maupun kecil. Etnis Santal merupakan suku terbesar. Menurut sensus 2001, semua komunitas etnis ini memiliki tujuh juta anggota. Sementara total penduduk negara bagian itu sendiri adalah 26 juta orang.

Pastor Slattery berbicara dalam berbagai bahasa warga suku seperti Santal dan Oraon. Baginya, ini membantu menjalin relasi yang baik dengan warga suku. Ia sering mengunjungi sejumlah desa karena ini memberi kesempatan baginya untuk bertemu para tokoh masyarakat.

Ia pun memilih transportasi umum di wilayah miskin itu. Dengan demikian, ia punya banyak kesempatan untuk berkomunikasi dengan warga setempat dan mengetahui masalah mereka, katanya.

Imam-imam Yesuit Australia memfokuskan pendidikan sejak kedatangan mereka ke India tahun 1951. Karya misi mereka antara lain membangun sekitar 13 sekolah menengah atas (SMA), tujuh sekolah menengah pertama (SMP), 12 sekolah dasar (SD) dan beberapa sekolah kecil di desa.

Karya misi yang tersebar di tujuh distrik di Negara Bagian Jharkhand itu membantu pendidikan sekitar 25.000 siswa SD hingga perguruan tinggi.

Selain itu, imam-imam Yesuit juga mengelola sebuah universitas dan kolese untuk mendidik para guru SD. Rencananya, mereka akan membangun sebuah kolese lagi untuk mendidik para guru.

Tanggung jawabnya adalah mencari dana untuk proyek ini, kata Pastor Slattery.

Ia menjadi guru cukup lama dan kemudian menjadi kepala sekolah di beberapa sekolah di Propinsi Hazaribag. Ia selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan staf dan “saya belajar banyak dari mereka.”

Berkat Pastor Slattery, kehidupan warga desa selalu menjadi lebih hidup. “Saya suka karena warga desa sangat baik. Kami biasanya meluangkan waktu bersama di desa dan duduk bersama saat malam hari dan bergegas ke hutan sekitar keesokan harinya karena tidak ada toilet saat itu,” katanya.

Tahun 1978, ia diangkat sebagai direktur pendidikan di propinsi itu. Sejak 1993 hingga 1999, ia berkarya sebagai sekretaris pendidikan Yesuit untuk Asia Selatan dan terlibat dalam peluncuran beberapa sekolah di India, Pakistan dan Nepal.

Ia hanya makan makanan ringan seperti nasi, roti India, kacang-kacangan dan telur. “Saya diberkati dengan makanan sehat, inilah yang saya dapat dari orangtua saya. Jika Anda menikmati makanan sehat, secara alami Anda akan berumur panjang,” katanya.

Komitmen Pastor Slattery untuk melayani warga suku dan warga Dalit di Propinsi Hazaribag begitu kuat. Ia pun meninggalkan kewarganegaraan Australia dan menjadi warga negara India pada tahun 1993.

‘Saya kira jika saya memperoleh kewarganegaraan India, saya punya kesempatan baik untuk tinggal di India,” katanya, seraya menceritakan bahwa seorang imam Yesuit asal Australia “diusir karena ia menentang keras kasus korupsi di negara itu.”

Pastor Slattery juga menjaga hubungan baik dengan banyak siswa, bahkan sebagian siswa yang pernah diajarnya pada tahun 1958. Baginya, bertemu mereka dan mengetahui bahwa mereka baik itu sangat membahagiakan.

Ia pun menikmati waktu bersama dengan para siswa, guru dan sesama imam Yesuit.

“Saya akan terus menjalankan karya misi yang telah diberikan kepada saya karena untuk itulah saya berada di sini,” katanya.

Halaman