UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 1 jam 53 mnt yang lalu

Para Pemimpin di India Kutuk Teror Atas Nama Agama

Rab, 28/03/2018 - 10:02

Ketika pemerintah di India terus melakukan upaya untuk memulangkan jenazah 39 warga negara India yang dibunuh oleh ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Irak, para tokoh agama mengutuk teror atas nama agama.

Jenazah para buruh migran itu akan tiba di India akhir Maret nanti karena proses hukum membutuhkan waktu hingga 10 hari, kata Wakil Menteri Luar Negeri V.K. Singh kepada media segera setelah kematian para buruh migran itu diberitakan.

Menteri Luar Negeri Sushma Swaraj mengonfirmasi kematian para buruh migran tersebut kepada media pada Selasa (20/3). Ia mengatakan tes DNA mengidentifikasi 38 dari 39 korban yang diculik di Mosul empat tahun lalu.

Segera setelah Mosul dibebaskan tahun lalu dari ISIS, pemerintah Irak mulai melakukan operasi pencarian. Sampel DNA dari banyak jenazah cocok dengan beberapa buruh migran yang hilang, kata Swaraj kepada anggota parlemen.

Uskup Theodore Mascarenhas, sekretaris jenderal Konferensi Waligereja India, menyebut kabar tentang pembunuhan itu tragis.

“Tidak ada agama di dunia yang mengajarkan penganutnya untuk membunuh orang lain dan jika ada agama yang mengajarkan penganutnya untuk membunuh orang lain, itu bukan agama,” katanya kepada ucanews.com, Senin (26/3).

Media di India melaporkan bahwa 40 buruh migran diculik, tetapi satu buruh migran berhasil meloloskan diri.

Manish Sharma, aktivis hak asasi manusia (HAM) di New Delhi, mengatakan buruh migran yang berhasil meloloskan diri itu memalsukan identitasnya dan mengatakan kepada para penculiknya bahwa namanya Ali dan ia seorang Muslim. Para penculik pun melepasnya.

Sharma mengatakan kasus itu “membuka semua kotak Pandora bahwa pembunuhan itu dilakukan atas nama agama.”

Media atau pejabat di India belum mengungkap identitas agama dari para buruh migran yang hilang, tetapi spekulasi menyebutkan bahwa sebagian besar dari mereka yang meninggal beragama Hindu, atau setidaknya non-Muslim, karena klaim dari buruh migran yang berhasil meloloskan diri menyebutkan bahwa identitas agama Islam-nya membantunya bebas.

Molvi Azhar Amin, cendekiawan dan anggota Noor-e-Islam, mengatakan kepada ucanews.com bahwa berita pembunuhan itu mengejutkan seluruh dunia Islam.

“Kelompok pinggiran seperti ISIS ini telah merendahkan Islam yang mengajarkan toleransi, persaudaraan dan persatuan di kalangan umat manusia dari berbagai agama. Umat Islam sedih dengan aksi sadis dan tidak manusiawi seperti itu dan mengutuk mereka,” katanya.

Molvi Ghulam Ali Gulzar, pengkotbah Muslim yang tinggal di Kashmir, mengatakan pembunuhan itu menunjukkan wajah tidak manusiawi dari ISIS dan mengoyak hati nurani semua umat Islam.

“Bagaimana mungkin aksi brutal seperti itu dibenarkan? Tidak ada satu kata pun dalam Islam yang membenarkan pembunuhan terhadap manusia yang tidak berdosa. Apa yang dilakukan ISIS melukai Islam dalam segala cara,” katanya.

Ia mengatakan nabi Islam sudah meramalkan akan ada anak-anak muda yang mendaraskan Alquran tetapi dicuci otaknya.

“Nabi itu mengatakan orang-orang ini akan membunuh manusia atas nama Islam. ISIS melakukan hal yang sama persis,” Molvi Gulzar kepada ucanews.com.

 

Prosesi Minggu Palma yang Menantang Diadakan di Desa Pakistan

Sel, 27/03/2018 - 14:39
Umat Kristiani di sebuah desa di Pakistan yang diguncang protes penodaan  agama  sebulan lalu – tetap mengadakan prosesi  publik pertama mereka pada Minggu Palma.

Sekitar 200 ratus umat Kristiani bergabung dalam prosesi melewati  wilayah Kristen di desa Dhir, Kota Shadara sekitar 22 kilometer dari kota Lahore. Pria, wanita dan anak-anak berpartisipasi di bawah pengawasan   dua relawan bersenjata.

Prosesi Minggu Palma diadakan  setelah banyak umat Kristen di desa itu terpaksa meninggalkan desa mereka bulan lalu karena protes terkait dugaan kasus penistaan ​​agama.

“Kami tidak yakin  mengadakan perarakan secara publik. Hanya sebulan  lalu, sebagian besar penduduk desa melarikan diri dari desa karena takut serangan massa,” kata Pastor Safnia Bashir dari Gereja Bethani kepada ucanews.com.

“Akhirnya, kami memutuskan  memimpin para pendevosan hanya di lingkungan Kristen,” katanya.

Massa Muslim dilaporkan menyerbu umat Kristen ke luar dari daerah itu pada pertengahan Februari ketika mereka menuntut penangkapan Patras Masih, seorang pekerja sanitasi lokal yang dituduh memposting konten menista  agama di akun Facebook-nya.

Aktivis dari partai politik Islam, Tehreek-e-Labaik menuntut hukuman mati dan menggelar protes di Dhir dan lokasi lainnya di Lahore.

Situasi menjadi lebih tegang setelah salah satu kerabat remaja dimintai keterangan oleh pasukan keamanan dan diduga melompat keluar dari gedung ketika dia sedang diinterogasi.


Orang Kristen menghiasi  dan palma  di  Dhir. (Foto: Kamran Chaudhry/ucanews.com)

Sajid Masih, sepupu Patras, kedua kakinya patah dan menderita luka setelah dia melompat dari lantai empat markas  Federal Investigation Agency (FIA) Punjab pada 23 Februari.

Umat ​​Kristen menanggapi dengan melakukan protes nasional dan mogok makan. Sementara itu, keluarga kedua pria itu tetap bersembunyi karena mereka takut akan pembalasan dari ekstremis Muslim.

Hameed Masih, yang biasa menyewa lantai bawah di gedung yang sama di mana Patras tinggal, mengatakan ia membawa keempat anaknya dan pindah ke bagian lain kota itu segera setelah kekacauan meletus bulan lalu.

“Ketika kami kembali ke sini dua minggu kemudian, kami menemukan apartemen kami telah dihancurkan,” kata buruh kasar itu.

“Semua peralatan dan pakaian kami berserakan di lantai. Mereka telah menghancurkan perangkat TV dan lemari kami. Mesin cuci rusak. Mereka bahkan merusak sepeda motor tetangga saya,” tambahnya.

Ia mengatakan perarakan Minggu Palma telah memberi komunitas Kristen dorongan yang sangat dibutuhkan setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu yang mengkhawatirkan hidup mereka.

“Kami benar-benar mendapat dorongan  kemampuan untuk mengakui iman kami secara terbuka di jalan-jalan setelah dihantui dan hidup dalam teror,” katanya. “Itu masalah besar.”

Namun, aktivis hak asasi manusia Katolik seperti Khalid Shehzad menyatakan keprihatinan atas konsekuensi yang bisa terjadi.

“Pastor seharusnya menghubungi polisi dan meminta  bantuan,” katanya.

“Penduduk desa Kristen bisa dengan mudah menjadi sasaran lagi. Pihak berwenang akan menyalahkan penyelenggara perarakan jika memprovokasi lebih banyak serangan,” tambahnya.

Uskup Emmanuel dari Gereja Bethani  juga dilaporkan dihadang agar tidak kembali ke Dhir oleh penduduk desa Muslim, banyak di antaranya percaya dia membantu menyembunyikan Patras dan kemudian menyerahkan remaja itu ke polisi untuk melindungi anak muda itu.

Enam sukarelawan bersenjata sekarang menjaga gereja selama layanan doa karena suasana di kota tetap tegang.

Saat membawakan  homili  Minggu Palma, Pastor Bashir mendesak penduduk desa  berhati-hati dan menunjukkan kepekaan agama ketika menggunakan media sosial.

“Ketidaktahuan menyebabkan masalah di desa kami. Amati cepat dan berdoa guna  mengakhiri pelanggaran hukum dan terorisme ini,” katanya.

“Berdoalah bagi para penguasa, bahkan jika Anda tidak menyukainya. Kita hanya aman ketika negara kita aman,” tambahnya.

 

Imam Menunggang Keledai untuk Menyampaikan Pesan Minggu Palma

Sel, 27/03/2018 - 09:31

Mengisahkan ulang tentang Yesus menunggang seekor keledai membantu para anggota paroki lansia menjelaskan ‘kisah Minggu Palma’ kepada cucu-cucu mereka, saat imam itu berarak secara perlahan sementara anak-anak  dan orang muda melambaikan ranting-ranting palma dan menyanyikan lagu hosana selama prosesi Minggu Palma di sebuah paroki di India bagian tengah.

Pastor Thomas Rajamanikam dan umat parokinya di Gereja Santot Joseph di Nanda Nagar, Keuskupan Indore menceritakan  kisah alkitab tentang masuknya Yesus ke kota Yerusalem, pada Minggu Palma, yang tahun ini jatuh pada 25 Maret.

Pastor paroki menunggang keledai pada saat memimpin prosesi Minggu Palma mengejutkan banyak orang.

Kanti Kumrawat, seorang nenek dan umat paroki, mengatakan ini adalah pertama kalinya mereka melakukan prosesi seperti itu dan tidak pernah mendengar ada paroki lain di sekitarnya yang memperingati peristiwa tersebut sedemikian rupa.

Keledai dengan mudah tersedia di India utara untuk mengangkut produk pertanian di desa-desa yang tidak memiliki jalan yang layak, dan  membawa bahan-bahan bangunan seperti semen dan pasir melalui jalan sempit di kota-kota.

Kumrawat mengatakan dia “tidak pernah melihat ada imam yang menunggang keledai. Ini membutuhkan kerendahan hati yang luar biasa,” kata wanita itu, yang tinggal di negara bagian yang mayoritas Hindu di Madhya Pradesh di mana orang Kristen hanya satu persen dari 73 juta orang.

Dia mengatakan peragaan ini membantunya dan para lansia  lainnya untuk menjelaskan “kisah Minggu Palem” dengan cara yang lebih baik kepada para cucu mereka. Imam menunggangi keledai membuat anak-anak tertarik untuk mengetahui tentang kisah itu, katanya.

Cucunya Abhinav Kumtrawat mengatakan ia biasa melihat keledai membawa batu dan semen  tetapi tidak pernah ditunggangi manusia. “Imam yang mengenakan jubah duduk di atas keledai membuat saya tertawa terkekeh. Tetapi, nenek saya menceritakan kisah itu kepada saya,” katanya.

Pastor Rajamanikam mengatakan kepada ucanews.com bahwa tujuannya adalah mengisahkan ulang hari Minggu Palma dan membantu orang-orang memahami kehidupan sederhana yang Yesus jalani.

“Kami sekarang telah hidup dalam kemewahan dan kenyamanan bahkan kehilangan cinta sebagai Kristiani. Yesus memilih untuk bepergian dengan seekor keledai ketika dia bisa mendapatkan seekor kuda. Itu seharusnya mengilhami kita untuk menjalani kehidupan yang sederhana,” katanya.

John Bastian, seorang umat, mengatakan prosesi selama 30 menit di dalam kompleks gereja “akan menjadi kenangan” karena “menunggang keledai akan dianggap lebih sebagai sebuah kegilaan.”

Namun, tindakan Pastor Rajamanikam menjadi “panggilan bagi kita semua untuk melepaskan ego kita dan tetap dengan nilai-nilai kerendahan hati Kristiani,” katanya.

Imam itu mengatakan dia ingin melakukan sesuatu untuk menginspirasi umat dan hanya beberapa hari sebelumnya ia mendapatkan ide itu dan menemukan seorang lelaki dengan dua keledai dan memesan satu ekor.

 

Imam Teolog” Meninggal, Gereja Katolik di Banglades Berduka  

Sel, 27/03/2018 - 09:00

Gereja Katolik di Banglades tengah berduka atas kematian seorang imam yang mengajar di satu-satunya seminari tinggi di negara itu selama beberapa abad dan yang memainkan peranan penting dalam penerjemahan dan pengeditan sejumlah dokumen penting Gereja, termasuk dokumen Konsili Vatikan II.

Pastor Bernard Palma meninggal dunia pada usia 75 tahun di Dhaka pada 23 Maret setelah menjalani istirahat akibat penyakit jantung.

Ia dimakamkan di pemakaman Gereja Katolik Rosario di Dhaka bagian tengah pada 24 Maret setelah Misa pemakaman yang dipimpin oleh Kardinal Patrick D’Rozario dari Dhaka. Ribuan umat Katolik menghadiri Misa pemakaman tersebut.

“Pastor Bernard memainkan peranan penting dalam Gereja dan mewujudkan semangat Konsili Vatikan II. Ia adalah orang yang penuh dengan kebijakan dan doa. Hidup dan karyanya menjadi kontribusi abadi bagi Gereja,” kata Kardinal D’Rozario dalam homilinya.

Pastor Bernard masuk Seminari Menengah Bunga Kecil di Dhaka pada 1965 dan menempuh studi di Seminari Tinggi Kristus Raja di Karachi, Pakistan, sejak 1965. Ia ditahbiskan imam pada 1971.

Ia belajar teologi dogmatik di Universitas Kepausan Urbania di Roma, tempat ia mengikuti studi doktoral.

Pada 1981-2006, ia mengajar di Seminari Menengah Roh Kudus dan menjadi editor berbagai publikasi teologi.

Ia menulis beberapa buku. Ia juga menerjemahkan Katekismus Gereja Katolik dan beberapa dokumen Konsili Vatikan II ke dalam bahasa Bengali.

Pada 2006-2013, ia berkarya sebagai direktur Seminari St. Yosef dan pensiun dari pelayanan imam pada 2014.

 

Komunitas Sant’Egidio Gunakan Minggu Palma Mempromosikan Perdamaian

Sen, 26/03/2018 - 22:15

Kominitas Sant’Egidio Indonesia, sebuah kelompok  awam Katolik, mengambil kesempatan Minggu Palma dengan  mengunjungi lebih dari 500 orang marjinal di Jakarta, dan sejumlah tempat lainnya di Tanah Air.

Setelah menghadiri Misa Minggu Palma di Gereja Santa Maria Bunda Perantara Cideng, Jakarta Barat, para anggota  komunitas ini mengunjungi dan membagikan daun-daun palma yang bertuliskan pesan-pesan damai kepada para sopir bajaj, pemulung, anak jalanan, para lansia di panti jompo serta sejumlah orang yang mereka jumpai di jalan-jalan bahwa “Damai itu Indah”.

Eveline Winarko, koordinator Komunitas Sant’Egidio Indonesia, mengatakan para anggota komunitas itu membagikan pesan-pesan damai yang ditulis pada secarik kertas dan mengikatnya di tangkai daun-daun palma.

“Daun palma dan pesan damai ini kita bagikan kepada semua orang termasuk umat Muslim karena misi kami untuk membawa damai. Kami ingin memberikan makna dari Minggu Palma ini agar umat Katolik tidak sekadar memahaminya sebagai sebuah ritus rutin setiap tahun,” kata Eveline kepada ucanews.com pada 26 Maret.

Kegiatan semacam ini telah dilakukan komunitas tersebut sejak 2016.

“Kami ingin menggunakan even ini untuk membawa perdamaian kepada orang miskin, anak-anak, dan lansia. Dan bahkan kami disambut dengan baik. Pastor parodie juga mendukung kegiatan kami ini,” lanjutnya.

 Para anggota Komunitas Sant’Egidio memberikan daun palma kepada seorang ibu di Medan pada 25 Maret.

 

Kegiatan yang sama juga diadakan oleh para angota Komunitas Sant’Egidio  di Yogyakarta, Medan, Nusa Tenggara Timur, dan beberapa tempat lainnya.

“Kami melakukan ini karena  Yesus telah melakukannya pada 2000 tahun yang lalu ketika Ia masuk kota Yerusalem untuk membawa damai kepada semua orang,” katanya.

Ia mengatakan tahun ini kegiatan ini diadakan dengan makna khusus yang mana Komunitas Sant’Egidio Internasional merayakan  50 tahun. Komunitas ini didirikan di Roma, Italia, tahun 1968.

Komunitas ini tiba di Indonesia tahun 1990 dan sekarang memiliki  16 cabang di seluruh tanah air dan sekitar 600 anggota.

Gereja Ubah Hidup Kaum Muda Berkebutuhan Khusus di Pakistan

Sen, 26/03/2018 - 13:50

Komunitas Iman dan Terang  (FLC) Keuskupan Hyderabad di Pakistan membantu warga  berkebutuhan khusus baik fisik ataupun mental untuk berkontribusi lebih banyak bagi kehidupan keluarga walaupun masih berusaha  mengatasi hambatan yang dihadapi anak-anak berkebutuhan khusus ini.

Uskup Samson Shukardin mengajak keluarga Katolik membawa anak-anak berkebutuhan khusus mereka  ke kelompok itu sejak dia meluncurkan sebuah program khusus pada Mei 2012 saat  masih menjabat vikaris jenderal.

Pertemuan kelompok itu dimulai dengan doa permohonan dan pembacaan Alkitab.

Pertemuan ini diselingi dengan permainan, menari, menggambar dan melukis saat orangtua dan anak-anak didorong  terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan bersama-sama untuk mempererat  ikatan persahabatan mereka.

Riaz Ghulam secara rutin menghadiri pertemuan itu bersama  dua anaknya yang berkebutuhan khusus, Tabish  berusia 13 tahun dan Nisha, 8.

Ghulam mengatakan dia berbesar hati menyaksikan wajah anak-anaknya yang penuh kegembiraan karena mereka sudah tidak sabar menunggu dengan penuh semangat pertemuan bulanan berikutnya dan menyiapkan lemari khusus mereka untuk menyiapkan hari besar itu, bahkan menyetrika baju dan celana yang dipakai khusus untuk acara itu.

Sebelumnya, mereka kurang tertarik saat menjaga  penampilan atau pun memikirkan rencana masa depan.

“Anakku dulu sering menghabiskan waktu hanya bermain di jalan,” kata Ghulam.

“Kami senang dia mulai tertarik pada pekerjaan rumah tangga seperti pergi ke pasar termasuk membeli sayuran. Dia mengalami kesulitan berbicara sehingga kami menulis daftar yang bisa dia tunjukkan kepada penjaga toko.”

Dia mengatakan pertemuan itu membawanya lebih dekat kepada anak-anaknya dan membantunya  memahami mereka dengan lebih baik.

“Saya dulu sering marah dan memperlakukan mereka dengan kasar setiap kali mereka membuat  masalah, tetapi sekarang saya lebih tenang dan tahu bagaimana memperlakukan mereka dengan lembut,” katanya.

“Sesi itu membantu saya  menyadari bahwa anak-anak saya bukanlah beban (tetapi sukacita).”

Berbagi cerita dengan orangtua lain yang menghadapi masalah serupa juga memacu dia, katanya.

“Saya benar-benar terkejut melihat betapa anak saya berubah. Sebelumnya  dia begitu susah  diajak pergi ke gereja, tetapi sekarang dia tidak sabar untuk pergi ke rumah Tuhan itu.”

Uskup  Samson Shukardin memimpin pertemuan bulanan  Komunitas Iman dan Terang di keuskupan  Hyderabad, Pakistan. (Foto: Ayyaz Gulzar)

 

Inayat Aslam, 19, mengambil cuti dari pekerjaan pabriknya untuk menghadiri pertemuan pada  Jumat pertama setiap bulan. Dia bermasalah dengan komunikasi dan memiliki cacat penglihatan, yang membuatnya tidak naik kelas.

Namun, Aslam sekarang senang mengikuti pertemuan dan menghafal doa-doa. Perubahan dalam pola pikir dan sikap positif ini menyebabkan reaksi berantai yang mengakibatkan dia mendapatkan pekerjaan baru beberapa bulan  lalu, katanya.

Dia sekarang mendapat gaji sebesar  8.000 rupee (US$ 72) sebulan untuk membantu keluarganya dan, satu hal yang penting, dia memiliki kepercayaan diri karena memiliki penghasilan yang sebelumnya sangat ketergantungan pada anggota keluarga lain.

“Saya benar-benar merasa tidak enak ketika orang tidak berbicara kepada saya karena mereka tidak mengerti apa yang saya coba katakan,” kata Aslam. “Aku dulu bersembunyi dari teman-teman seusiaku karena mereka akan memanggilku nama-nama lucu.”

“Tapi, setelah mengikuti pertemuan demi pertemuan, saya menyadari saya dapat melakukan lebih banyak daripada yang saya pikir meskipun saya cacat.”

Para staf di Caritas  Hyderabad dan Hayat-e-Nau, dua organisasi pengembangan kemanusiaan, menyediakan layanan antar – jemput gratis bagi keluarga yang menghadiri pertemuan.

Thomas Waris, 15, memiliki cacat fisik di kaki dan lehernya. Dia sering berkelahi jika  sering mengalami pelecehan  tetapi sekarang menemukan teman-teman di komunitas baru  yang memupuk kepercayaan dan rasa harga dirinya.

“Aku benar-benar tidak punya teman di lingkunganku,” kata Thomas. “Teman-teman di lingkungan  di sana sering berkelahi denganku.”

Thomas mengatakan  pertemuan-pertemuan itu menanamkan dalam dirinya suatu kebangkitan rohani yang mengajarinya bahwa dia tidak sendirian jika dia memutuskan untuk berjalan bersama  Yesus.

“Dua bulan  lalu saya belajar bahwa Tuhan itu adalah sumber cinta,” katanya. “Dia mencintai kita dan ingin kita saling mencintai.”

Namun, Thomas terus belajar dengan penuh perjuangan dan sulit mengingat hal-hal yang diajarkan di sekolah, demikian menurut ayahnya.

“Dia bahkan tidak mau sekolah lagi karena dia merasa berbeda dari anak-anak lain,” kata ayahnya. “Aku hanya berdoa bahwa suatu hari dia akan belajar membaca dan menulis.”

Kini sudah mendekati kenyataan karena berbagai pertemuan memberikan anak ini mendapat semangat hidup   baru, katanya.

“Aku senang putraku  mempelajari semua doa dan mulai pergi ke gereja secara teratur. Sekarang dia berbeda. Dia suka belajar dan melukis.”

Uskup Shukardin mengatakan senang bekerja dengan anak-anak cacat, dan melihat mereka berkembang.

“Ini membuat saya bahagia,” kata Uskup Shukardin. “Kita semua memiliki kelemahan dalam tubuh kita. Dalam kasus saya, saya memiliki penglihatan yang buruk dan membutuhkan kacamata. Maka saya ingin membantu para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus ini menyadari bahwa anak-anak mereka tidak hanya berharga tetapi juga merupakan karunia  Tuhan.”

“Saya senang membimbing orangtua dan mengajar mereka bagaimana menangani dan merawat anak-anak mereka. Saya mendapatkan senang dengan  pekerjaan saya,” katanya.

“Salah satu keponakan saya cacat fisik dan mental, dan saya banyak membantu dia sebelum saya menjadi seorang seminaris.”

“Jadi menghadiri pertemuan bulanan ini juga membantu saya berfokus pada kelemahan saya dan bagaimana mengatasinya,” tambah uskup.

The Faith and Light Community terdiri dari dua komunitas sekitar delapan keluarga masing-masing di delapan atau sembilan paroki di Keuskupan Hyderabad. Kelompok ini berafiliasi dengan International Faith and Light group.

Sebagai direktur Hayat-e-Nau,  Javed Sadiq mengelola  pusat rehabilitasi bagi para saudara-saudari kita yang berkebutuhan khusus. Dia mengatakan bekerja dengan anak-anak dengan kebutuhan khusus adalah pekerjaan yang menuntut tetapi bermanfaat.

“Kami membantu anak-anak yang datang ke pusat rehabilitasi ini untuk  belajar membaca dan menulis, dan mendorong mereka  berminat dalam olahraga,” katanya.

Pusat rehabilitasi ini  sekarang merawat dan mendidik 27 anak yang menderita berbagai masalah termasuk polio, gangguan otot, tunawicara dan tunarungu untuk sesi harian yang berlangsung dari jam  8 pagi sampai 1 siang, katanya.

LSM itu bernaung di bawah payung Caritas  Hyderabad. Kemudian mulai bisa mandiri.

“Saudara-saudari kita yang cacat fisik dan mental menemukan sedikit peluang di kota karena mereka tidak diajarkan  percaya diri, atau menghargai potensi diri mereka,” katanya.

 

Cina Memperketat Kontrol Semua Agama via Perombakan Birokrasi

Sen, 26/03/2018 - 12:55

Partai Komunis yang berkuasa di Cina semakin meningkatkan kontrol terhadap  semua agama, membubarkan administrasi negara untuk biro urusan agama  lama dan menyerahkan fungsinya kepada Departemen Kerja  Front Persatuan  (UFWD) atau  Front Persatuan.

Langkah itu diumumkan pada hari penutupan  rapat tahunan “dua pertemuan” di Beijing dan merupakan bagian dari perombakan birokrasi yang menyeluruh dari seluruh birokrasi Cina dan hanya tujuh minggu setelah peraturan baru yang lebih ketat tentang agama diperkenalkan pada 1 Februari.

Berita resmi dari Kantor Berita Xinhua yang dikelola negara menjelaskan sebagai berikut:

“CPC (Partai Komunis Cina) menjalankan kepemimpinan secara keseluruhan terhadap  semua lembaga di negara ini, dan reformasi ini dimaksudkan  memperkuat kepemimpinan partai di semua bidang dan meningkatkan struktur organisasi partai, sesuai dengan rencana.

“Menurut rencana beberapa lembaga negara yang sebelumnya di bawah kepemimpinan Dewan Negara telah dibubarkan atau diintegrasikan ke dalam sebuah badan baru di bawah kepemimpinan Komite Sentral CPC, seperti Depertemen Agama, Depertemen Internasional,  Komisi Pusat untuk Inspeksi Kedisiplinan dan Badan Nasional Pencegahan Korupsi.”

Menurut Feng Yue, seorang ahli ilmu politik di Akademi Ilmu Sosial Cina: “Inti dari reformasi ini adalah  memperkuat dan mempererat kepemimpinan partai, dan menyesuaikan sistem politik manajemen Partai-Negara di Tiongkok.”

Sementara UFWD – pernah dideskripsikan oleh pemimpin Tiongkok Xi Jinping sebagai “tongkat sulap” – yang sebelumnya memiliki kendali pada kebijakan atas agama, sekarang ini memiliki kuasa untuk mengawasi setiap hari dan kontrol langsung atas organisasi-organisasi yang dikelola negara dari kelima agama resmi termasuk Asosiasi Patriotik Katolik Cina dan Konferensi Waligereja  Cina.

Ini merupakan kontrol atas pekerjaan yang dilakukan agama, pemilihan imam dan interpretasi doktrin agama.

Kebijakan itu datang pada saat yang menarik bagi Gereja Katolik, yang sedang dalam pembicaraan dengan Beijing tentang normalisasi pengangkatan para uskup  menyatukan dua komunitas Gereja Cina – Gereja bawah tanah dan Gereja yang diakui negara yang dikenal dengan Asosiasi Patriotik Tiongkok.

Desas-desus telah menyebar bahwa kesepakatan akan diumumkan bertepatan dengan Pekan Suci, dimulai dengan Minggu Palma pada 25 Maret, tetapi tidak jelas apakah para diplomat Vatikan menyadari perubahan besar yang dilakukan Cina terhadap manajemen agama menjelang pengumuman.

Or Yan Yan, yang bekerja di Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Hong Kong, menggambarkan langkah itu sebagai “langkah mundur yang besar dalam pekerjaan keagamaan”.

“Di daratan dulu disebut ‘pemerintah mengelola agama,’ tetapi sekarang mereka tidak takut mundur dan langsung menunjukkan pada dunia luar ‘partai yang mengelola agama’,” katanya kepada ucanews.com.

Ini mencerminkan fakta bahwa partai tidak akan melonggarkan kontrolnya atas agama dan ideologi sama sekali, tambahnya.

Selain itu, Departemen Propaganda telah mengambil alih pekerjaan yang menyangkut ideologi termasuk manajemen pers dan publikasi dan penelaahan terhadap film dan film dokumenter.

Sang Pu, seorang kritikus partai itu dari Hong Kong, mencatat  manajemen terpadu untuk kerja keagamaan oleh UFWD menekankan kekuatan absolut partai, yang bertentangan dengan arah yang telah ditempuh Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir.

 

Kongregasi Suster di Vietnam Merayakan 300 Tahun

Jum, 23/03/2018 - 21:44

Sebuah kongregasi biarawati di Vietnam bagian tengah telah memulai perayaan tahun yubileum untuk memperingati upayanya dalam mewartakan kesaksian akan iman Katolik dan pelayanannya bagi orang miskin selama 300 tahun.

Uskup Agung Hue Mgr Joseph Nguyen Chi Linh memimpin Misa pembukaan pada Rabu (21/3) untuk merayakan peringatan ke-300 tahun berdirinya Kongregasi Pecinta Salib Suci di Hue. Sebanyak 70 imam turut merayakan Misa yang dihadiri 400 biarawati tersebut.

Uskup Agung Linh memuji para biarawati yang dengan berani mengorbankan diri mereka untuk membangun kongregasi itu meskipun mereka mengalami persekusi pada abad ke-18 dan ke-19.

Ia juga berterima kasih kepada para dermawan yang membantu kongregasi menjadi seperti sekarang ini.

Suster Teresa Tran Thi Tuy, superior jenderal kongregasi, mengatakan program yang berlangsung selama setahun itu “bertujuan untuk mengingatkan para biarawati agar mengingat kembali masa-masa sulit dulu dan berterima kasih kepada mereka yang membantu membentuk kongregasi ini.”

Pastor Pierre de Sennemand membentuk komunitas itu di Hue pada 1719. Para biarawati mengajar agama Katolik dan pendidikan dasar untuk anak-anak dan perempuan dan merawat orang sakit. Masyarakat setempat mengagumi pelayanan mereka dan banyak gadis masuk biara.

Sejak akhir abad ke-18, para biarawati mengalami persekusi yang sangat parah dari otoritas setempat. Banyak biara ditutup, sementara para biarawati harus kembali ke rumah mereka, dipaksa tinggal di tengah masyarakat non-Katolik atau masuk biara lain yang letaknya jauh dari Hue, ibukota dinasti Nguyen.

Banyak umat Katolik termasuk para biarawati dibunuh karena iman mereka. Sekitar 58 biarawati dari Biara Nhu Ly dibunuh atau dibakar hidup-hidup bersama 2.000 umat awam pada 1885.

Pada 1954, tiga biara di Propinsi Quang Binh pindah ke selatan untuk menghindari persekusi komunis.

Pada 1962, Uskup Agung Hue Mgr Martin Ngo Dinh Thuc menyatukan biara-biara yang terpisah menjadi Pecinta Salib Suci di Hue.

Banyak biara pindah ke propinsi-propinsi bagian selatan untuk menghindari Perang Vietnam selama 1972-1975.

Kongregasi itu mendirikan sejumlah komunitas di Perancis, Italia dan Amerika Serikat.

Pecinta Salib Suci di Hue kini memiliki 447 biarawati yang melayani orang-orang yang mengalami gangguan psikis, yatim piatu dan kelompok minoritas etnis. Kongregasi ini juga mengelola pusat penitipan anak.

 

Peringati Earth Hour, Filipina akan Matikan Lampu

Jum, 23/03/2018 - 20:00

Sejumlah paroki di Filipina akan mematikan lampu dan mengadakan pertemuan doa pada Sabtu (24/3) sebagai bagian dari peringatan Earth Hour.

Di Manila, Kardinal Luis Antonio Tagle meminta umat Katolik untuk menggunakan kesempatan itu untuk berdoa dan mendaraskan rosario supaya “kita mengijinkan Ibu Pertiwi untuk menyimpan energi dan beristirahat.”

Prelatus itu mengatakan “bagian dari peran kita sebagai murid Tuhan yang baik adalah merawat dan memanfaatkan Ibu Pertiwi dengan baik.”

Di Propinsi Negros Occidental di Filipina bagian tengah, Uskup San Carlos Mgr Gerardo Alminaza meminta umat Katolik untuk turut memperingati Earth Hour.

“Jika ini terkait dengan pelestarian rumah kita bersama, Ibu Pertiwi, setiap orang punya sesuatu untuk disumbangkan,” katanya.

Pastor Anton Pascual dari Radio Veritas 846 mengatakan selain mengikuti kegiatan itu, masyarakat hendaknya juga menyadari tentang dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati.”

“Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan kebiasaan kita dalam melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam secara efektif,” katanya.

Peringatan tahunan Earth Hour dimulai di Australia dengan kegiatan mematikan lampu secara simbolis yang dipimpin oleh World Wide Fun (WWF) pada 2007.

Sejak saat itu, Earth Hour menjadi gerakan akar rumput terbesar di dunia untuk lingkungan hidup karena menggerakkan ratusan juta orang di lebih dari 7.000 kota dan 172 negara.

Tim Earth Hour di seluruh dunia menggunakan gerakan itu untuk meningkatkan dukungan dan dana untuk mengakses energi yang bisa diperbarui dan mendorong legislasi dan kebijakan yang ramah iklim.

Filipina merupakan negara pertama di Asia yang mengikuti gerakan itu pada 2008.

Kini Filipina dijuluki sebagai “Earth Hour Hero Country” karena memiliki jumlah peserta Earth Hour terbanyak sejak 2009 hingga 2013. Filipina memberi kontribusi lebih dari 1.600 dari 7.000 pusat diadakannya Earth Hour di dunia.

Tahun ini, selain berpartisipasi dalam pemadaman lampu di dunia, kelompok lingkungan hidup dunia WWF juga mengundang masyarakat untuk mengunjungi connect2earth untuk membagikan dan berbicara tentang makna alam bagi mereka.

“Alam mengalami penurunan yang mengkhawatirkan. Menghentikan kerusakannya merupakan hal yang urgen dan krusial sama seperti mengatasi perubahan iklim,” kata Marco Lambertini, direktur jenderal WWF, dalam sebuah pernyataan.

Ia mengatakan peringatan tahun ini bertujuan “untuk menyinari pentingnya keanekaragaman hayati dan alam.”

 

Para Imam Filipina Diminta Menemani Orang Miskin

Jum, 23/03/2018 - 14:14

Para imam dan biarawati yang bergabung dengan confessio peccati atau “pengakuan dosa” dan “jalan pertobatan” di ibukota Filipina pada 21 Maret diminta untuk “menemani mereka yang menderita” sebagai bagian dari penebusan dosa mereka.

Kegiatan itu, yang diadakan tepat sebelum dimulainya Pekan Suci, adalah bagian dari perayaan “Tahun Klerus.”

Uskup Agung Lingayen-Dagupan Mgr Socrates Villegas  mengingatkan para rohaniwan dan religius untuk “menemani mereka yang menderita dan haus akan keadilan.”

Dia mengatakan gerakan yang sedang berjalan ini adalah “gerakan pengiring” untuk menunjukkan bahwa Gereja “menemani mereka yang telah membunuh (dan) mereka yang telah dibunuh.”

Prelatus itu adalah  kritikus vokal terhadap “perang total” pemerintah terhadap narkoba  yang dilaporkan telah membunuh sekitar 12.000 orang.

Namun, pihak berwenang Filipina mengatakan kurang dari 3.000 pengguna  dan pengedar narkoba yang diduga telah tewas dalam operasi polisi dalam 20 bulan terakhir.

Perjalanan yang disebut “Jalan Salib, Jalan Penyembuhan” merupakan tanggapan terhadap desakan para uskup agar para rohaniwan membuat “refleksi yang tulus dan pertobatan yang rendah hati dan penebusan.”

Uskup Agung Villegas mengatakan mereka yang telah menyebabkan penderitaan harus ditemani, dan ia “menemani adalah cara lain untuk mencintai.”

Prelatus itu mengatakan bahwa “menuntun orang lain kita harus mengenal kekurangan orang-orang yang kita tuntun.”

“Menemani berarti bersikap konfrontatif, menemani berarti menantang saudara-saudari kita, diri kita sendiri bahwa ada sesuatu yang salah,” kata uskup agung.

Dalam semangat masa prapaskah, prelatus itu mengatakan  “menyakiti mereka yang harus disakiti” seharusnya bukan berasal dari kebenaran diri sendiri tetapi harus ada “undangan untuk pertobatan.”

Dia mengatakan untuk dapat menemani dan bekerja dengan orang miskin dan korban ketidakadilan, imam, biarawati dan religius harus “mengakui kebutuhan kita sendiri untuk ditemani.”

“Kita tidak boleh melupakan kebutuhan kita sendiri untuk ditemani,” kata prelatus itu. “Pertemuan kita dimaksudkan untuk menawarkan kepada diri kita sendiri sarana untuk menyembuhkan diri dari pelanggaran kita,” katanya.

Perhimpunan Pemimpin Tarekat Religus di Filipina memimpin kegiatan itu untuk memberi kesempatan bagi para imam dan kongregasi untuk “mengakui kesalahan dan kekurangan mereka.”

Jalan tobat ini adalah “stasi” yang mendramatisasi salib kontemporer yang harus dibawa oleh orang Kristen Filipina, termasuk bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim dan pembunuhan karena perang anti-narkotika pemerintah.

Ritual tobat ditunjukkan  pada tindakan pertobatan Paus Yohanes Paulus II  tahun 2000 untuk menebus dosa yang dilakukan oleh Gereja Katolik terhadap orang Yahudi, bidaah, wanita,  dan masyarakat adat.

 

Tokoh Utama Pembokaran Salib Menduduki   Posisi Kunci di  Cina

Jum, 23/03/2018 - 11:55

Pria yang diyakini sebagai tokoh kunci yang memimpin pembongkaran salib di Provinsi Zhejiang dipromosikan menduduki posisi kunci, yang oleh para pengamat  dianggap sebagai kemunduran bagi kebebasan beragama di Cina.

Xia Baolong  terpilih sebagai wakil ketua dan sekretaris jenderal Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Cina (PKCC).

Dari tahun 2002 hingga 2007, ketika Presiden Xi Jinping  berkuasa di  Zhejiang, Xia adalah bawahan Xi yang dapat dipercaya dan anggota “Pasukan Xi” (Xi Jia Jun).

Setelah ditunjuk sebagai sekretaris komite partai provinsi Zhejiang  tahun 2013, Xia dianggap berada di belakang pembongkaran secara paksa  1.700 salib dari gereja-gereja Katolik dan Protestan serta  pembongkaran gereja yang memicu pertumpahan darah.

Menurut informasi  yang sudar beredar,  Xia akan dipromosikan ke posisi  yang lebih penting di Beijing, tetapi pada April 2017 ia malah dipindahkan ke pos yang tidak penting sebagai wakil direktur komite perlindungan lingkungan dan sumber daya di bawah Kongres Rakyat Nasional.

Ketika muncul keraguan  tentang hubungan di antara Xi dan Xia,  di saat terakhir malah  Xia menerima promosi ganda di CPPCC  pada  14 Maret di Beijing. Posisi sekjen  umumnya dikenal sebagai “pelayannya CPPCC” dan membawa kekuatan nyata.

Sang Pu, seorang pengamat  kritis rezim di Hong Kong, mengatakan kepada ucanews.com bahwa promosi Xia menunjukkan bahwa penindasan terhadap umat Kristen oleh Partai Komunis dan Xi akan terus berlanjut.

“Setelah Xia dipindahkan ke pos kosong, spekulasi pun beredar bahwa penurunan salib secara paksa akan berhenti di Zhejiang. Namun, penurunan salib tidak pernah berhenti dari satu  provinsi ke  provinsi lainnya, yang mencerminkan tidak ada perubahan sikap dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah mengenai penindasan agama,” kata Sang.

Untuk menganalisis apakah penganiayaan agama sudah berkurang, seseorang tidak boleh hanya melihat pejabat yang secara langsung menangani masalah penindasan itu tetapi juga bagaimana pemerintah pusat  berusaha menghentikan  penindasan itu, katanya.

“Pemerintah pusat tidak pernah mengubah seluruh kebijakannya, kebenciannya terhadap agama dan mentalitasnya untuk melenyapkan agama,” kata Sang.

Dia mengutip Wang Qishan sebagai contoh bagaimana seorang diktator dapat memanipulasi birokratnya. Wang, yang pernah menjabat sebagai sekretaris Komisi Inspeksi Pusat untuk Disiplin  tetapi kemudian tidak mendapat jabatan, lalu tiba-tiba terpilih sebagai wakil presiden dengan masa jabatan yang tidak terbatas.

“Sebelum memberikan jabatan  penting kepada mereka, dia harus terlebih dahulu mengambil jabatan  resmi mereka sebelumnya, membuat mereka takut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan kemudian melihat kesetiaan mereka. Mereka akan ditawarkan posisi yang lebih tinggi setelah mereka lulus ujian – taktik yang digunakan oleh seorang kaisar untuk memanipulasi birokratnya,” kata Sang.

Profesor Ying Fuk-tsang, direktur Sekolah Tinggi Teologi Chung Chi di Chinese University of Hong Kong, mengatakan kepada ucanews.com bahwa peran Xia dalam pembongkaran  salib tidak perlu dipertanyakan lagi dan promosinya mencerminkan sikap tegas Xi tentang apa yang dilakukannya.

“Meskipun jabatan Xia sekarang tidak akan memiliki pengaruh langsung pada kebijakan agama, CPPCC sebagai lembaga terkemuka bersatu yang dipimpin  oleh seseorang yang memusuhi  Kristen. Tidak terhindarkan untuk menganggap ini sebagai sebuah kemunduran,” katanya.

 

Awam Katolik di Filipina Luncurkan Kelompok Dukungan untuk Para Imam 

Kam, 22/03/2018 - 15:17

Sebuah kelompok awam Katolik di Keuskupan Agung Jaro di Filipina bagian tengah telah meluncurkan sebuah sistem dukungan untuk para imam untuk menunjukkan “rasa syukur dan cinta” mereka terhadap para imam.

Namun inisiatif tersebut berfokus pada “kebutuhan spiritual” para imam seperti kelompok “lingkaran doa” atau pengiriman “buket spiritual.”

Paul Soberano dari sekretariat pastoral Keuskupan Agung Jaro mengatakan inisiatif itu merupakan “cara kecil kami (untuk) menjalankan peran kami dalam Tahun Klerus dan Hidup Suci ini.”

Konferensi Waligereja Filipina telah mendeklarasikan 2018 sebagai sebuah tahun yang didedikasikan untuk para imam dan kaum religius.

“Mengingat kesulitan dan perjuangan para imam setiap hari dalam menjalankan pelayanan, komitmen kami untuk mendoakan mereka merupakan resolusi kami,” kata Soberano.

Ia mengatakan kegiatan kelompok dukungan itu antara lain menyampaikan intensi doa dalam Misa, mengadakan adorasi Ekaristi dan menulis surat kepada para imam untuk menunjukkan rasa syukur kepada mereka sebagai para penggembala.

Kelompok dukungan itu juga berencana akan mengadakan Hari Para Imam di paroki-paroki untuk merayakan ulang tahun pastor paroki atau peringatan para imam lainnya.

Soberano menambahkan bahwa inisiatif yang telah dimulai Februari lalu itu sudah memulai lingkaran doa secara rutin di 54 paroki di wilayah Keuskupan Agung Jaro.

 

Caritas Pakistan Karachi Bantu Perempuan Mendapatkan Pekerjaan

Kam, 22/03/2018 - 15:03

Neetu Dilesh sangat senang ketika Caritas Pakistan Karachi mengatakan kepadanya bahwa ia dan 19 perempuan lain akan dibantu agar bisa menjalankan bisnis sendiri.

Ia mulai memperoleh penghasilan sebesar 4.000 rupee per bulan selama pelatihan berlangsung dan bisa menyekolahkan kedua anak perempuannya.

“Dulu, ketika penghasilan suami saya pas-pasan, menyekolahkan kedua anak perempuan saya yang berumur lima dan tujuh tahun hanyalah mimpi belaka bagi saya. Ini tidak mungkin terjadi,” katanya.

“Saya dengar tentang pelatihan dari Caritas ini, dan saya bergabung untuk belajar memotong dan menjahit baju. Selama pelatihan yang berlangsung empat bulan, saya mulai menjahit pakaian,” lanjutnya.

“Saya senang Caritas memberi saya sebuah mesin jahit. Sekarang saya bisa bekerja lebih efektif dan bisa menghasilkan uang untuk membantu suami dan anak-anak saya,” katanya.

Program Mata Pencaharian dari Caritas Pakistan Karachi meluncurkan sebuah proyek kewiraswastaan dengan slogan “Memberdayakan Perempuan, Memberdayakan Pakistan” dan melatih 240 wanita dan remaja putri sejak November 2017 hingga Februari 2018.

Koordinator proyek, Samina Maqbool, mengatakan: “Pelatihan mencakup pembuatan lilin, kerajinan tangan, pembuatan perhiasan, mencetak di atas kain, mencetak di atas layar, karya seni, memotong dan menjahit, desain baju dan desain fesyen. Kami juga melatih mereka untuk membuat kue dan telur Paskah dan Natal serta pernak-pernik Paskah lainnya.”

Maqbool adalah seorang wiraswasta dan mengelola bisnis rumahan yang memproduksi lilin.

Elizabeth Pervez juga terpilih oleh Caritas untuk menerima sebuah mesin jahit.

“Saya sepenuhnya membantu suami saya. Dengan penghasilan saya sebesar 10.000 rupee, saya bisa membayar tagihan, biaya sekolah anak-anak dan sebagian uang sewa rumah. Saya berterima kasih kepada Caritas karena telah membantu saya,” katanya.

“Kami pekerja migran dari Punjab. Menyewa sebuah rumah di sebuah kota seperti Karachi itu tidak mudah. Dulu kami hanya mampu membiayai kebutuhan pokok kami. Saat ini menikmati pekerjaan saya, dan saya merasa senang karena kami juga mampu menabung sedikit untuk masa depan anak-anak,” lanjutnya.

Tahun lalu, Caritas Pakistan Karachi memberi pelatihan kepada 625 orang dan membantu mereka mengelola bisnis sendiri atau mendapatkan pekerjaan di sejumlah pabrik.

Sekretaris Eksekutif Caritas Pakistan Karachi Mansha Noor mengatakan organisasinya berkarya untuk membantu masyarakat miskin.

“Saya telah melihat kondisi aktual dari masyarakat miskin, dan sebagian besar dari mereka sangat miskin. Setelah menyelesaikan pelatihan, kami membawa mereka ke sejumlah pabrik yang bekerja sama dengan Caritas untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan pekerjaan,” katanya.

“Adalah karunia Allah bahwa banyak pemilik pabrik mendengar kami dan menghormati kami dan karya baik kami. Saya senang kami telah melihat perubahan dalam kehidupan masyarakat,” lanjutnya.

Pastor Anthony Ibraz dari Paroki St. Yakobus mengaku telah melihat semangat dari para pekerja Caritas.

“Dengan cinta, mereka melayani bukan hanya umat Kristiani tapi juga umat Hindu dan Islam.”

 

Kesepakatan Pekan Suci di antara Roma dan Beijing?

Kam, 22/03/2018 - 13:49

Seorang pengamat yang sangat kritis terkait  kesepakatan penting di antara Beijing dan Takhta Suci tentang  pengangkatan  uskup, Kardinal Joseph Zen Ze-kuin dari Hong Kong, percaya bahwa  perjanjian penting itu akan ditandatangani paling cepat 23 Maret.

Dalam posting blog panjang yang mengkritik  kebijakan itu, prelatus emeritus  berusia 86 tahun itu mencatat bahwa perjanjian  itu kemungkinan akan ditandatangani pada “23 atau 27 Maret”. Dan meskipun dia mengaku tidak yakin apakah kesepakatan akhir bisa dicapai, dia mengulangi janjinya  baru-baru ini untuk menghormati setiap kesepakatan yang dicapai oleh Paus Fransiskus dan tidak berkomentar jika perjanjian itu sudah ditandatangani.

Kepada publik kardinal itu mengatakan  melalui blok pribadinya: “Jika perjanjian ditandatangani, saya akan berdiam diri dan berdoa dan tidak lagi menyampaikan  pendapat atau mengatakan apa pun karena tidak mungkin menentang keputusan Paus. Namun, sebelum perjanjian itu  tercapai, menjadi seorang anggota klerus yang juga memahami Cina, saya memiliki tanggung jawab untuk memberikan saran.”

Kardinal Zen juga menulis di blognya bahwa saat dia membaca kesepakatan: “Saya menolak untuk percaya bahwa itu bisa menjadi kenyataan. Hanya jika benar penandatanganan yang tidak menguntungkan ini terjadi, yang menurut rencana pada 23 atau 27 Maret, saya akan menerima itu sebagai sebuah kekalahan dan  pensiun dalam diam.”

Pastor Jeroom Heyndrickx, mantan direktur dan pendiri Yayasan Verbiest Belgia dan seorang ilmuwan Katolik Cina, baru-baru ini menulis artikel berjudul “2018, Tahun Kebenaran” untuk mengomentari perjanjian Tiongkok – Vatikan. Dan komentar Kardinal Zen muncul di tengah spekulasi yang berkembang bahwa kesepakatan “Pekan Suci” dapat ditandatangani.

Profesor Lawrence C. Reardon dari Fakultas  Ilmu Politik Universitas New Hampshire mengatakan: “Sangat menarik untuk membaca laporan ucanews.com terbaru yang berasal dari CPPCC/NPC (Pertemuan Konsultatif Politik Rakyat Cina, Kongres Rakyat Nasional), terutama komentar dari para uskup yang diekskomunikasi.”

“Saya berasumsi bahwa mereka yang diwawancarai mencari dan menerima pengampunan dari Paus. Jika benar, saya kira akan ada upaya untuk mengumumkan kesepakatan selama Pekan Suci, yang dimulai pada 25 Maret,” kata Reardon.

Waktunya juga akan menyesuaikan dengan Beijing, dengan Partai Komunis yang berkuasa yang muncul belakangan saat dua pertemuan tahunan parlemen mengejek dengan kasar  – NPC dan yang disebut badan penasihat, CPPCC.

Pada pertemuan NPC, pemimpin Tiongkok Xi Jinping mengamankan kursi kepresidenan yang berlaku efektif seumur hidup seandainya dia menginginkannya dan memasang sekutu-sekutunya di pos-pos kunci termasuk letnan kepala dan mantan bintang anti-korupsi Wang Qishan sebagai wakil presiden (juga dengan jangka tidak terbatas).

NPC juga patut diperhatikan karena memiliki uskup atas peran kekuasaan yang lebih tinggi dari Asosiasi Patriotik Katolik Cina yang dikuasai pemerintah yang berkuasa dalam mendukung kesepakatan uskup.

Mgr Peter Fang Jianping, uskup Tangshan, seorang anggota NPC, mengatakan dia berharap hubungan Tiongkok-Vatikan akan mendapatkan hasil yang baik tahun ini, dan dia yakin kedua pihak dapat mencapai kesepakatan tentang penunjukan uskup.

Uskup Fang, yang “tidak diangkat Vatikan” tetapi sekarang diakui oleh Vatikan, mencatat bahwa jika para uskup daratan dapat memperoleh status hukum dari Vatikan, kebijakan itu secara efektif dapat  mempromosikan hubungan Tiongkok-Vatikan dan perkembangan Gereja Cina.

Uskup itu mengatakan  kemajuan dan isi spesifik dari perundingan tidak begitu jelas. Namun, dia percaya bahwa Cina dan Vatikan telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mencapai kesepakatan, dan sekarang tidak ada hambatan  teoritis antara kedua pihak dalam negosiasi.

Sebagai anggota CPPCC, Uskup Leshan Mgr Paul Lei Shiyin mengatakan kepada media bahwa jika hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Vatikan didirikan, itu akan berdampak baik pada pengaruh internasional. Dia menambahkan bahwa hubungan diplomatik akan menguntungkan pelaksanaan kebijakan agama sementara memungkinkan Gereja  melakukan pekerjaannya secara lebih normal di Cina daratan.

Uskup Mindong Mgr Vincent Zhan Silu  yang diekskomunikasikan,  saat diwawancarai oleh surat kabar pro-Beijing Hong Kong, Sing Tao Daily, pada 10 Maret, mengatakan hubungan Tiongkok-Vatikan telah membuat terobosan besar. “Tidak ada hambatan jika semua orang hanya memikirkan manfaat dari Gereja demi perdamaian,” katanya.

Masih ada yang berpendapat bahwa perjanjian itu dapat ditunda untuk ditandatangani pada  Juni, seperti Pastor Anthony Chang Sang-loy dari  Hong Kong, yang mendukung pembentukan hubungan diplomatik antara Vatikan dan Cina serta  pandangannya tentang pembicaraan Tiongkok-Vatikan di halaman Facebook-nya.

Menurut angka yang dikeluarkan oleh Pusat Studi Roh Kudus, ada sekitar 9-10,5 juta umat Katolik di Cina tahun  2015. Pemerintah Cina merilis angka sekitar 6 juta tetapi yang lain percaya masih ada umat lain yang tak terhitung di Gereja bawah tanah, jadi perbandingan antara penganut Gereja terbuka dengan penganut  Gereja bawah tanah diperkirakan antara 50-70 persen.

Menurut buku Panduan Gereja Katolik Cina yang ditulis oleh Pastor Jean Charbonnier MEP, ada lebih dari 100 keuskupan di Cina (angka resmi pemerintah adalah 97, sementara Takhta Suci mengakui 138).

Jumlah uskup di Cina lebih dari 100, beberapa dari mereka  diangkat oleh pihak pemerintah  Cina; beberapa diakui oleh negara dan Vatikan dan lainnya, sekitar 30 persen, hanya diakui oleh Vatikan.

Vatikan mengatakan perjanjian itu terutama akan difokuskan pada pengangkatan  uskup. Ini berarti bahwa tujuh uskup yang tidak sah, yang hanya diakui oleh pemerintah, akan diakui oleh Takhta Suci dan dua uskup bawah tanah dari keuskupan Shantau dan keuskupan Mindong, seorang uskup  yang berusia 86 tahun, hanya akan menjadi uskup pembantu bagi para uskup yang tidak  sah.

Beberapa pengamat menyatakan bahwa ketentuan perjanjian akan mengadopsi “Model Vietnam” tahun 2010 di mana di setiap keuskupan, daftar calon uskup akan dipilih oleh Beijing dan diserahkan kepada Paus untuk disetujui.

Perdana Menteri India Enggan Mengundang Paus Fransiskus

Kam, 22/03/2018 - 10:45

Perdana Menteri India Narendra Modi terus menunjukkan ketidakkomitmennya  mengundang Paus Fransiskus ke negara itu meskipun ada permintaan dari para pemimpin Gereja setempat karena kekerasan sporadis dan intimidasi terhadap orang Kristen terus berlanjut di seluruh India.

Tahun lalu  Vatikan mengusulkan untuk berkunjung ke negara terpadat kedua di dunia, namun gagal, dan  kunjungan itu hanya ditujukan  ke Myanmar yang dilanda perselisihan dan ke Banglades yang mayoritas Muslim.

Terkait rencana kunjungan Paus Fransiskus, Kardinal Oswald Gracias tidak  mendapatkan persetujuan  dari pemimpin Partai Bharatiya Janata pro-Hindu, Perdana Menteri Modi pada 20 Maret.

“Saya mengatakan kepada perdana menteri tentang cinta yang besar dan penerimaan Sri Paus di antara orang-orang di dunia, juga di India, dan menghadirkan dia di India akan menguntungkan negara itu,” kata Kardinal Gracias kepada media setelah pertemuan.

Dia menambahkan bahwa Modi mendengarkan dengan penuh perhatian tetapi tidak membuat komitmen untuk mengundang Paus ke India.

Para pengamat menyatakan  Modi tidak akan mengundang Paus – suatu keharusan diplomatik karena Vatikan adalah negara berdaulat – sebelum pemilu  April 2019.

“Saya mengingatkan perdana menteri tentang kontribusi Gereja di bidang pendidikan, kesehatan dan masalah sosial dan  hal itu ingin dilakukan di masa depan dan menjadi bagian dari pembangunan bangsa,” kata Kardinal Gracias, uskup agung Bombay.

“Meskipun kami (umat Katolik) adalah kelompok minoritas kecil, sekitar 2 persen dari populasi di negara ini, selama berabad-abad Gereja telah berada di garis depan dalam malayani pendidikan dan kesehatan serta  orang miskin.”

Kardinal Gracias, yang juga ketua Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia, mengatakan ia juga menarik perhatian Modi pada situasi yang dihadapi komunitas minoritas di India, termasuk serangan baru-baru ini terhadap rumah sakit Katolik dan biarawati di Ujjain.

Dia mengatakan Modi menanggapi dengan sangat positif dan mengatakan: “Saya perdana menteri untuk semua orang India, terlepas dari kasta dan keyakinan, dan jika ada masalah Anda dapat datang langsung kepada saya dan kami dapat mencarikan penyelesaiannya.”

Tetapi fokus utama media India dalam hal Gereja sekarang adalah kontroversi mengenai tanah, Uskup Agung Ernakulam-Angamaly Kardinal George Alencherry bersama  beberapa stafnya  dituduh terkait  transaksi tanah yang mencurigakan.

“Seluruh Gereja bersama Kardinal Alencherry tetapi kami menghormati hukum dan akan membiarkan pengadilan memutuskan,” kata Kardinal Gracias, seorang pakar hukum agama.

Kardinal Alencherry dan timnya telah dituduh menjual lahan utama dengan harga yang terlalu rendah, menyebabkan kerugian keuskupan agung itu. Sebagai pemimpin  Gereja, dia adalah pemilik tituler (sementara sampai selesai masa tugasnya) dari semua tanah Gereja di keuskupan agung.

Kontroversi itu telah meningkatkan perhatian terutama tentang peraturan tanah khususnya di Kerala, yang telah dimasukkan ke dalam es setelah ditulis sekitar satu dekade lalu oleh V.R. Krishna Iyer, mantan hakim Mahkamah Agung India dan anggota Komisi Reformasi Hukum.

“Saya tidak mendukung aturan tanah yang diajukan pada  Gereja Kerala karena kami memiliki lebih dari cukup hukum internal untuk memeriksa korupsi, semuanya diaudit dari waktu ke waktu dan ada transparansi,” kata Kardinal Gracias.

“Saya takut jika aturan tanah itu digunakan, itu bisa disalahgunakan dan akan lebih merugikan Gereja daripada kebaikan.”

 

Kelompok Gereja Menentang Kebijakan Alkohol di India

Rab, 21/03/2018 - 19:36

Sejumlah kelompok Gereja di India memprotes kebijakan pemerintah yang dipimpin komunis di Negara Bagian Kerala terkait penjualan alkohol karena menurut mereka kebijakan ini bertujuan untuk memperoleh pendapatan tanpa memikirkan dampak negatif dalam masyarakat.

Dewan Uskup-Uskup Negara Bagian Kerala dan sejumlah lembaga Gereja lainnya berencana akan menggelar aksi protes untuk menuntut pencabutan kebijakan yang akan mulai berlaku pada 2 April setelah disetujui pada 14 Maret tersebut.

Para pemimpin Gereja khawatir bahwa kebijakan yang akan mengijinkan penjualan alkohol tanpa batas itu akan menciptakan kecanduan di kalangan masyarakat. Selain itu, ratusan pekerja miskin dan orang muda akan menjadi pecandu alkohol dan akibatnya keluarga mereka akan jatuh miskin dan berakhir dengan perpisahan.

Gereja di Negara Bagian Kerala akan “memperingati 2 April sebagai hari hitam, aksi protes akan digelar di semua paroki dan 31 pusat keuskupan di negara bagian ini karena (penjualan alkohol) ini merupakan isu moral,” kata Uskup Thamarassery Mgr Remigiose Inchananiyil, ketua komisi anti-alkohol dari dewan para uskup regional.

Pemerintah koalisi sayap kiri yang mulai berkuasa di Negara Bagian Kerala pada Mei 2016 meninggalkan kebijakan pemerintah sebelumnya yang mengupayakan larangan total penjualan alkohol.

Sejak 2014, pemerintah yang dipimpin Congress mulai menutup 10 persen toko alkohol setiap tahun untuk mengakhiri penjualan alkohol pada 2023.

Namun menurut Uskup Inchananiyil, pemerintah yang dipimpin komunis itu membuka semua toko alkohol yang telah ditutup termasuk bar. Mereka juga menemukan cara untuk membuka lebih banyak bar di desa-desa.

Menyinggung keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa desa yang memiliki lebih dari 10.000 penduduk bisa dianggap sebagai kota, pemerintah berencana mengeluarkan lisensi untuk membuka bar dan warung di sebagian besar wilayah di Negara Bagian Kerala, demikian para kritisi.

Hanya 12 dari 942 desa yang memiliki kurang dari 10.000 penduduk.

“Pemerintah tengah berusaha memanjakan masa depan orang muda dan keluarga di Kerala. Protes kami tidak ditujukan untuk komunitas tertentu. Baik komunitas Muslim maupun Hindu mendukung kampanye anti-alkohol kami,” kata prelatus itu.

Sekretaris komisi anti-alkohol Pastor Jacob Vellamaruthunkal mengatakan kepada ucanews.com bahwa kampanye Gereja itu merupakan aksi sosial. “Ini demi kesejahteraan seluruh negara bagian. Konsumsi alkohol adalah dosa sosial dan harus dihentikan,” katanya.

Pemerintah mengklaim bahwa kebijakan penjualan alkohol bertujuan untuk menarik banyak wisatawan. Namun para kritisi mengatakan pemerintah berniat meningkatkan pendapatan dari penjualan alkohol.

Alkohol dikenai pajak lebih dari 200 persen di Negara Bagian Kerala.

Penjualan alkohol, baik grosir maupun eceran, menjadi monopoli negara bagian yang dilakukan melalui Perusahaan Minuman Negara Bagian Kerala. Penjualan ini merupakan pendapatan terbesar bagi pemerintah negara bagian pada 2014.

Pada 2014, perusahaan itu mencatat keuntungan sejumlah 22 dolar AS dan meningkat menjadi 23 dolar AS pada 2015. Namun angka ini turun menjadi 5,7 dolar AS pada 2016.

“Keuntungan menurun karena beberapa alasan termasuk pajak dan harga,” kata V.G. Shaji, manajer keuangan perusahaan. “Tapi penjualan tidak menurun setiap tahunnya.”

Dokumen yang dipublikasikan menunjukkan bahwa penjualan alkohol meningkat setiap tahun sejak perusahaan itu didirikan pada 1984, meningkat 100 persen atau lebih setiap lima tahun. Perusahaan menjual alkohol senilai 1,84 miliar dolar AS pada 2016. Pada 2006 perusahaan menjual alkohol senilai 498 miliar dolar AS.

Menteri Bea Cukai Negara Bagian Kerala T.P. Ramakrishnan mengatakan kepada media pada 18 Maret bahwa kebijakan pemerintah itu bertujuan untuk mendorong pantang alkohol tapi tidak menerapkan larangan.

Namun ia mengatakan pemerintah siap berbicara dengan kelompok manapun termasuk Gereja untuk menenangkan kekhawatiran mereka.

“Tak satu orang pun perlu khawatir. Kebijakan kami tentang penjualan alkohol adalah untuk menindaklanjuti kebijakan pantang alkohol dan tidak mengarah pada larangan … itulah yang kami katakan dalam manifesto pemilihan kami,” katanya.

Pastor Vellamaruthunkal mengatakan Gereja tidak berencana untuk bicara dengan pemerintah terkait isu itu. “Namun pintu kami selalu terbuka untuk pembicaraan itu,” katanya kepada ucanews.com.

 

Mendiang Uskup Agung Vietnam ‘Ikut Bangun Gereja dan  Bangsa’

Rab, 21/03/2018 - 15:58

Pejabat pemerintah dan Gereja memuji mendiang uskup agung  Vietnam bagian selatan karena menghadirkan cinta, perhatian dan kegembiraan kepada orang lain.

Uskup Agung Ho Chi Minh City Mgr Paul Bui Van Doc  wafat karena stroke pada  6 Maret di Roma di saat dia  dan para uskup Vietnam lainnya mengadakan kunjungan ad limina ke  Vatikan.

Jenazahnya diantar kembali ke  keuskupan  agung Ho Chi Minh City pada  15 Maret dan disemayamkan di Katedral Notre Dame pada hari berikutnya untuk memberi kesempatan penghormatan terakhir  kepada umat Katolik  sebelum dimakamkan di Pemakaman Keuskupan pada  17 Maret. Banyak orang melayat dan mendoakannya setiap saat, sementara 10.000 orang menghadiri pemakamannya.

Wakil Perdana Menteri Vietnam Truong Hoa Binh memberi kesan kepada mendiang Uskup Agung Doc sebagai seorang pemimpin Gereja yang memiliki peran penting dalam membangun dan mengembangkan Gereja  Vietnam.  Dia adalah “seorang gembala  yang lembut, baik hati dan rendah hati yang berhubungan baik dengan semua orang.”

Mantan ketua Konferensi Waligereja  Vietnam itu memimpin  umat Katolik untuk  bersama bangsa, membangun tanah air dan membawa umat beragama untuk terus bersatu,  demikian Binh menuliskan kesannya  dalam buku tamu pemakaman tersebut.

Nguyen Thien Nhan, sekretaris Partai Komunis Ho Chi Minh City, mengatakan Uskup Agung Doc  bekerja sama dengan instansi pemerintah dan bersama-sama melewati berbagi tantangan dan prestasi di kota tersebut.

“Dia meminta para imam setempat, umat beragama dan umat awam  melaksanakan pesan Paus Benediktus XVI dengan baik bahwa umat Katolik yang baik juga warga negara yang baik,” tulisnya dalam buku tamu pemakaman tersebut.

Nhan mengatakan, wafatnya Uskup Agung Doc adalah kehilangan besar bagi Gereja Katolik Vietnam dan kota Ho Chi Minh City.  Dia juga mendupai dan berdoa bagi jiwa yang telah meninggal itu untuk beristirahat selamanya dalam terang Kebangkitan.

Presiden Tran Dai Quang, mantan perdana menteri Nguyen Tan Dung dan perdana menteri, pejabat daerah setempat, gubernur tetangga dan sejumlah organisasi dalam dan luar negeri mengirim karangan bunga  memberikan penghormatan kepada uskup agung tersebut.

Surat kabar Tuoi Tre yang dikelola negara bagian mengatakan  mendiang uskup agung, yang motto uskupnya:  “Tuhan adalah sukacitaku,” menjalani hidup dengan sukacita dan mewartakan sukacita bagi orang lain, apapun agama dan kepercayaan mereka.

Surat kabar itu memujinya karena peduli pada semua anak Tuhan, terutama orang miskin di daerah terpencil. Uskup Agung Doc merayakan Misa pada malam 2018 di sebuah stasiun misi di distrik Nha Be yang terpencil.

Surat kabar itu juga memujinya karena “menjalani kehidupan yang sederhana dan tidak ragu-ragu untuk meminta maaf atas kesalahannya.”

Pada pentahbisannya sebagai uskup agung  Ho Chi Minh City  tahun 2014, dia mengatakan: “Mohon doakan kami, sebagai gembala  Anda, dan maafkan kesalahan kami saat kami melayani Anda.”

Uskup Agung Joseph Nguyen Chi Linh, ketua Konferensi Waligereja Vietnam, memimpin upacara pemakaman secara konselebrasi dengan  selebran utama  Kardinal Peter Nguyen Van Nhon, uskup agung Hanoi, Kardinal Emeritus John Baptist Pham Minh Man,  uskup agung Ho Chi Minh City, dan para uskup dari 26 keuskupan di negara tersebut.  Sebanyak 700 imam juga ikut dalam upacara tersebut.

Dalam kotbahnya, Kardinal Nhon, 80, mengatakan  uskup agung tersebut diinspirasi oleh semangat konsili Vatikan II saat ia mempelajari teologi dan filsafat di Universitas Kepausan Urbaniana  Roma.  Dia memancarkan  roh Vatikan II kepada banyak imam ketika dia mengajar di seminari, kata kardinal.

Kardinal Nhon, teman dekatnya, mengatakan mendiang uskup agung itu telah menjalani kehidupan doa dan dialog.

 

Uskup Bogor Kunjungi Sekolah Santo Yoseph

Rab, 21/03/2018 - 15:28

Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM pada Selasa, 20 Maret 2018 mengadakan  kunjungan kegembalaan ke Sekolah Santo Yoseph di Harvest City, Jawa Barat.

Keluarga besar yayasan dan sekolah-sekolah ini baru saja merayakan Pesta Nama Pelindung Santo Yoseph pada 19 Maret. Mereka menyelenggarakan perayaan Ekaristi di beberapa gereja dimana sekolah ini hadir melayani.

Mgr Paskalis disambut sukacita oleh para pimpinan, guru dan siswa. Anak-anak menyanyikan lagu Mars Keuskupan Bogor, dengan membawa foto-foto uskup itu bertuliskan “Selamat Datang Bapak Uskup. We love you”. Tidak lupa beliau juga masuk ke kelas untuk menyapa para siswa dan guru di  kelas. Berdialog dengan mereka, bagai seorang bapak dengan anak-anaknya.

“Ini adalah kunjungan yang sangat berarti bagi kami dan menambah semangat dan membawa berkat bagi kami,” kata Fransisca Rusmini, kepala Sekolah SD Santo Yoseph Harvest City.

 

 

Dalam pesannya  Uskup Paskalis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Yayasan dan Sekolah Santo Yoseph yang telah hadir dan berkarya di keuskupan Bogor.

Prelatus itu  juga menghargai keberanian para awam dalam dedikasinya untuk karya pendidikan.

“Semoga keluarga besar yayasan dan persekolahan Santo Yoseph tetap setia dalam langkah dan upayanya untuk ikut juga memajukan negara, bangsa dan Gereja-Nya,” tutupnya.

Sebelum meninggalkan gedung Sekolah Santo Yoseph Harvest City, Mgr Paskalis  memberikan berkat untuk semua yang hadir.

Oleh Yohannes Sugiyono Setiadi, Bogor

 

Imam, Religius Didesak Mengaku Dosa 

Rab, 21/03/2018 - 09:59

Asosiasi Pemimpin Tarekat Religius di Filipina akan mengadakan peccati atau “pengakuan dosa” bagi para imam dan biarawati yang mungkin telah membuat orang tersinggung “dengan hidup bertentangan dengan kehidupan yang pantas bagi seorang imam atau religius.”

Ketua asosiasi tersebut mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari perayaan “Tahun Klerus” yang diadakan oleh Gereja setempat yang dimulai pada  Desember tahun lalu.

“Selama masa-masa sulit ini … semangat dialog dan transformasi dapat terjadi jika orang-orang yang ditahbiskan dan para imam mengakui kekurangan dan kesalahan mereka dan memutuskan untuk menjalankan janji, menjalankan iman mereka,” kata sebuah pernyataan dari asosiasi tersebut.

Sebuah “jalan pertobatan” yang disebut “Jalan Salib, Jalan Penyembuhan” juga akan diadakan sebagai tanggapan atas desakan dari para uskup untuk para rohaniwan  untuk membuat “refleksi yang tulus, rendah hati dan pertobatan.”

Upacara Tobat tersebut dimulai sejak  Santo Paus Yohanes Paulus II dengan menyebut  dosa-dosa yang dilakukan oleh Gereja Katolik termasuk  orang Yahudi, bidaah, wanita,  dan penduduk asli  tahun 2000.

Jalan pertobatan, di Quezon City pada 21 Maret, akan menjadi peragaan ulang dari 14 stasi Jalan Salib  dan akan mencerminkan realitas sosial yang terjadi di dalam negara, termasuk kelaparan, kemiskinan, tunawisma, perdagangan manusia, kecanduan narkoba dan pembunuhan.

“Biarkan pertobatan ini menjadi cara penyembuhan Gereja, manusia, dan negara,” kata Pastor Fransiskan, Dexter Toledo, sekretaris eksekutif Asosiasi Pemimpin Religius Filipina.

Pekan lalu, seorang uskup terkemuka meminta para imam  melakukan “pemeriksaan gaya hidup” untuk melihat apakah mereka tetap setia terhadap misi mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Uskup San Carlos Mgr Gerardo Alminaza, ketua Komisi Seminari Konferensi Waligereja Filipina, meminta para imam  memeriksa kegiatan sehari-hari mereka dan berapa banyak waktu dan sumber daya yang mereka curahkan untuk tanggung jawab ke-imamat-an mereka.

Prelatus tersebut bahkan mengumpulkan dompet, telepon selular,  dan barang-barang pribadi lainnya dari para imam dalam sebuah ceramah di hadapan sekelompok sekitar 120 imam di sebuah seminari di Manila.

“Berapa banyak uang umat yang saya keluarkan untuk pendidikan keponakan saya? “Apakah kita puas dengan telepon selular yang masih bisa digunakan atau haruskah Blackberry atau iPhone tipe terbaru?” kata prelatus itu.

“Berapa banyak teman kita yang termasuk orang kaya, kelas menengah, orang miskin? Berapa banyak rumah orang miskin yang pernah kita kunjungi? Kegiatan sosialisasi macam apa yang saya lakukan? Di tempat dan dengan siapa?” tambah Uskup Alminaza, menanyakan.

Dia mengatakan laporan keuangan bulanan seorang imam adalah “dokumen spiritual” yang mengungkapkan nilai-nilai dan prioritasnya.

Prelatus tersebut mengatakan  agar seorang imam “menampakkan Kristus” berarti tidak mengejar apa yang mereka inginkan untuk memperolehnya, tetapi apa yang dapat mereka berikan untuk Tuhan dan orang lain.

“Seorang imam yang membaharui diri sangat diperlukan untuk membaharui Gereja dan  sangat penting membaharui negara. Pembinaan  sangat penting,” katanya, ia menambahkan seorang imam adalah “pekerjaan yang terus berproses.”

Selama pertemuan tahunan para uskup negara ini, formasi para imam menduduki puncak agenda setelah dikeluarkannya pedoman baru tentang pembentukan imam oleh Vatikan.

Kongregasi Klerus Vatikan mengeluarkan instrumen terbaru untuk formasi imam yang berjudul Rasio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis.

 

Halaman