UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 50 mnt 28 dtk yang lalu

Paus Fransiskus akan Mengunjungi Jepang Tahun Depan

Kam, 13/09/2018 - 10:38

Dalam sebuah pertemuan di Roma dengan delegasi Jepang yang berkunjung pada 12 September, Paus Fransiskus mengumumkan rencana  mengunjungi Jepang tahun depan.

“Karena kamu ada di sini, aku ingin mengumumkan niatku  mengunjungi Jepang tahun depan. Saya  harap saya  bisa memenuhi janji ini,” kata Paus Fransiskus kepada anggota Asosiasi Tensho Kenoh Shisetsu Kenshoukai.

“Sekali lagi, terima kasih atas kunjungan Anda,” kata paus, seraya meminta para tamunya untuk “menyampaikan kepada masyarakat Anda yang luar biasa dan negara besar Anda, rasa persahabatan dari Paus dan penghargaan dari seluruh Gereja Katolik.”

Anggota asosiasi itu berada di sana bersama Pastor Renzo De Luca dan Shinzo Kawamura. Pastor De Luca adalah provinsi Yesuit kelahiran Argentina di Jepang dan merupakan seorang novis Paus Fransiskus ketika ia menjadi magister novis di Argentina.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Paus Fransiskus berharap menjadi misionaris di Jepang setelah bergabung dengan Serikat Yesus dan menjadi imam. Tetapi, atasannya percaya bahwa dia tidak memiliki kesehatan yang baik untuk melakukannya.

Paus berbicara tentang bagaimana 400 tahun  lalu,  tahun 1585, empat pemuda Jepang tiba di Roma, ditemani oleh beberapa misionaris Yesuit, untuk mengunjungi Paus Gregorius XIII.

“Ini adalah perjalanan yang luar biasa, karena ini adalah pertama kalinya sekelompok perwakilan dari negara besar Anda datang ke Eropa,” kata paus.

“Orang Eropa bertemu orang Jepang dan Jepang bertemu Eropa di jantung Gereja Katolik,” katanya. “Pertemuan bersejarah antara dua budaya besar dan tradisi spiritual, merupakan hal yang tepat untuk dikenang, seperti halnya asosiasi Anda.”

Empat pemuda dari era Tensho melakukannya dengan komitmen dan keberanian, kata paus. “Secara khusus, saya ingin mengingat pemimpin mereka, Mancio Ito, yang menjadi imam, dan Julian Nakaura, yang seperti banyak lainnya menjadi  martir di Nagasaki dan dinyatakan sebagai orang kudus,” tambahnya.

“Perjalanan para pendahulu muda Anda berlangsung lebih dari delapan tahun, tidak ada pesawat pada waktu itu. perjalanan Anda lebih singkat dan kurang melelahkan. Tetapi saya berharap Anda merasa disambut oleh paus sebagaimana adanya dan bahwa, seperti mereka, Anda akan menikmati sukacita pertemuan ini dan didorong untuk kembali ke negara Anda sebagai duta persahabatan dan promotor nilai-nilai manusia dan Kristen yang besar,” kata Paus Fransiskus.

Dia juga mendorong anggota asosiasi itu  mempromosikan proyek-proyek budaya dan solidaritas, “menyumbangkan dana bantuan untuk pelatihan orang-orang muda dan anak yatim, terimakasih atas kontribusi perusahaan yang peduli terhadap masalah mereka.”

“Anda ingin menunjukkan bahwa agama, budaya, dan dunia ekonomi dapat bekerja sama secara damai untuk menciptakan dunia yang lebih manusiawi yang dicirikan oleh ekologi integral. Ini sepenuhnya sesuai dengan apa yang saya inginkan untuk kemanusiaan hari ini dan esok, seperti yang saya tulis didalam ensiklik Laudato si‘. Ini adalah jalan yang benar untuk masa depan rumah kita bersama,’ kata paus.

Paus Yohanes Paulus II adalah satu-satunya paus yang pernah mengunjungi Jepang. Kunjungannya ke negara itu pada 23-26 Februari 1981, adalah bagian dari perjalanan panjang termasuk mengunjungi Pakistan, Filipina, Guam dan negara bagian Alaska, AS.

 

Vatikan Dituduh Tidak Bertindak Tegas Dalam Kasus Pemerkosaan

Kam, 13/09/2018 - 08:00

Seorang biarawati Katolik di India yang menuntut seorang uskup memperkosanya menuduh Vatikan dan pejabat Gereja  tidak bertindak apa-apa dan diam meskipun dia sudah berulang kali mengadukan laporannya kepada pihak  berwewenang.

Dalam pengaduan terakhirnya  kepada Duta Besar Vatikan untuk India, Uskup Agung Giambattista Diquattro, pada 8 September, biarawati itu mengatakan dia pertama kali mengadu kepada pimpinan Gereja pada Juni 2017 bahwa dia telah diperkosa oleh Uskup Franco Mulakkal, uskupkeuskupan Jalandhar.

Setahun kemudian dalam laporan pengaduan polisi 28 Juni, dia menuduh Uskup Mulakkal memperkosanya 13 kali dari 2014- 2016 di biara ketika dia mengunjungi keuskupan Kerala di negara bagian Punjab.

Uskup Mulakkal menegaskan bahwa  tuduhan itu tidak berdasar dan bertujuan  melemahkan tindakan pendisiplinan yang telah dia mulai terhadap biarawati itu karena pelanggarannya terhadap kaul religius  termasuk ketidaktaatannya dan hubungan seksual dengan seorang pria.

Keluhan pertamanya adalah kepada pastor paroki dan uskup setempat, Mgr Joseph Kallarangatt, uskup Palai, di mana biaranya berpusat di keuskupan Kerala. Sejak itu, dia mengadu ke beberapa uskup India yang berhubungan dengan kongregasinya termasuk nuntius dan Kardinal George Alencherry, uskup agung Gereja Syro-Malabar yang berpusat  di Kerala.

Namun, dia tidak melihat ada tindakan yang dilakukan terhadap Uskup Mulakkal dan bahkan tidak mendapat tanggapan dari nuntius, katanya.

Setelah menunggu sebulan, ia mengirim surat pengaduan ke Paus Fransiskus, Sekretaris Negara  Vatikan Kardinal Pietro Parolin dan para prefek Kongregasi  Uskup dan prefek Kongregasi Ajaran Iman. Dia tidak mendapat tanggapan selain catatan pengiriman perusahaan kurir, kata suster itu.

“Pihak berwenang Gereja menutup mata terhadap permohonan saya untuk keadilan dan kebenaran … Kami tidak punya pilihan lain selain mendekati polisi dalam pencarian kami untuk keadilan dan keselamatan kami,” demikian bunyi surat terakhirnya, dan menambahkan bahwa Uskup Mulakkal telah melecehkan beberapa biarawati dan memaksa sedikitnya 20 orang  dalam lima tahun terakhir.

Lebih dari dua bulan setelah polisi mulai menyelidiki kasus ini, “Uskup Franco tetap  bebas dengan semua hak istimewanya … Sikap diam dan tidak mengambil tindakan apapun dari  pihak otoritas Gereja Katolik di India memberi kesan akan kekebalan hukum yang ia nikmati di hadapan hukum negara,” kata biarawati itu.

“Akankah otoritas Gereja  tetap berdiri kokoh untuk melindungi Uskup Franco dan menjaga martabat Gereja?” tanyanya.

Sang biarawati juga menjelaskan mengapa dia membiarkan dirinya disiksa berulang kali. “Saya memiliki rasa takut dan malu yang luar biasa untuk membawa ini ke tempat terbuka,” katanya.

Dia mengatakan banyak wanita dan biarawati menderita penyiksaan klerus. Diam dan tidak mengambil tindakan apapun dari pejabat Gereja untuk membendung pelecehan dari para rohaniwan  akan memiliki “efek yang sangat merugikan” pada wanita dan mengakibatkan Gereja kehilangan kredibilitasnya, katanya.

Dia ingin Gereja memulai penyelidikan atas tuduhannya sambil menonaktifkan uskup itu dari keuskupannya. Dia mengklaim bahwa uskup menggunakan uang Gereja dan kuasanya  menjegal penyelidikan.

“Kami merasa Gereja Katolik berkepentingan hanya untuk para uskup dan imam. Kami ingin tahu apakah ada ketentuan dalam hukum bagi para suster dan perempuan,” demikian catatan keluhannya.

 

Kardinal Bo Minta Dunia Bantu Myanmar Wujudkan Perdamaian

Rab, 12/09/2018 - 13:56

Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon meminta komunitas internasional untuk memahami situasi rumit yang tengah dihadapi Myanmar dan terus membantu transisinya menuju sebuah persatuan demokrasi federal.

Ia mengatakan perwujudan perdamaian merupakan sebuah mandat yang mendesak. Namun demokrasi belum kuat karena usianya masih sangat muda.

“Di tangan Aung San Suu Kyi, masyarakat Myanmar meletakkan harapan mereka bagi sebuah negara yang damai dan makmur,” kata Bo dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Senin (10/9).

“Sejarah Myanmar adalah sejarah yang terluka. Kini saatnya untuk menyembuhkan (luka ini), bukan membuka luka baru,” lanjutnya.

Permohonannya disampaikan ketika Myanmar tengah menghadapi kritik keras setelah misi pencarian fakta PBB menemukan bahwa militer melakukan pelanggaran hak asasi manusia berat di Rakhine, Negara Bagian Kachin dan Negara Bagian Shan.

“Istilah-istilah esktrim seperti pembunuhan massal, pembersihan etnis dan sanksi tidak akan membantu kita dalam perjalanan menuju perdamaian dan demokrasi,” kata Kardinal Bo.

“Jalan yang perlu ditempuh adalah menerima peran semua pihak untuk (mewujudkan) perdamaian abadi dan resolusi untuk semua isu,” lanjutnya.

Kardinal berusia 69 tahun itu mengatakan pemerintahan sipil dan militer perlu bekerja sama untuk menjadikan negara ini “sebuah bangsa yang penuh pengharapan bagi jutaan orang.”

“Saya sungguh-sungguh meminta semua teman kita untuk mengakui realitas ini dan membantu masyarakat Myanmar dalam menyelesaikan masalah mereka,” katanya.

Ia mengakhiri pesannya dengan mengatakan “Myanmar adalah sebuah bangsa yang penuh dengan janji.” Untuk itu, “marilah kita semua membantu memenuhi janji ini.”

Kardinal Bo terkenal sebagai pengkampanye rekonsiliasi di Myanmar, sebuah negara di mana negosiasi damai dengan milisi etnis bersenjata terus berlanjut dan krisis pengungsi Rohingya terus diatasi.

Ia mendukung Penasihat Negara Aung San Suu Kyi dalam upayanya untuk memelihara demokrasi dengan bekerja sama dengan militer. Meskipun demikian, ia mengimbau agar penghargaan Nobel Perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi ditanggalkan karena ia membisu soal persekusi yang dialami pengungsi Rohingya.

 

Larangan Kadet Polwan Picu Debat Soal Seksisme di Thailand

Rab, 12/09/2018 - 12:00

Pemerintah Thailand memancing kritik atas keputusannya untuk menghentikan pendaftaran tes masuk akademi kepolisian bagi perempuan mulai tahun depan.

Otoritas menolak memberikan penjelasan di balik keputusan mereka untuk mengembalikan fungsi Akademi Kepolisian Kerajaan (AKK) sebagai sebuah institusi hanya untuk laki-laki. Mereka sekedar mengumumkan keputusan itu sebagai perubahan kebijakan.

“Ini kebijakan (baru),” kata Worawut Sripakhon, kepala AKK, kepada media Thailand. “Kami tidak diperkenankan menyampaikan informasi lebih dari itu.”

Institusi yang telah berusia seabad dan berbasis di Bangkok itu menerima 300 siswa baru setiap tahun. Sampai saat ini, AKK menerima sejumlah perempuan.

Para pengkritik khawatir keputusan itu merupakan sinyal adanya suatu upaya baru untuk melarang perempuan menduduki posisi-posisi berpengaruh di sebuah bangsa konservatif di mana tuas kekuasaan telah lama berada di tangan laki-laki.

“Ini langkah yang sangat mundur bagi hak-hak perempuan dan keselamatan perempuan di Thailand,” kata Jadet Chaowilai, direktur Gerakan Progresif Perempuan dan Laki-Laki, sebuah kelompok advokasi.

Para pembela hak asasi manusia mengatakan semakin sedikit jumlah polisi wanita (Polwan), para perempuan yang menjadi korban kejahatan bisa semakin dikorbankan khususnya ketika bersentuhan dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual.

Kepolisian Thailand telah lama menghadapi tuduhan bahwa mereka sering menutup mata terhadap kasus-kasus KDRT dan perkosaan termasuk sejumlah kasus serius yang melibatkan turis asing.

Praktek saat ini, para perempuan yang melaporkan bahwa mereka menjadi korban perkosaan sering diwawancarai oleh Polwan supaya mereka merasa lebih nyaman.

Para pengkritik mengatakan jika ada sedikit Polwan maka hanya ada sedikit Polwan yang melakukan pemeriksaan tubuh terhadap perempuan yang menjadi terduga pelaku kejahatan di jalan.

Thailand sudah lama mengalami kekurangan jumlah Polwan. Saat ini Polwan hanya berjumlah sekitar delapan persen dari 230.000 aparat polisi di negara itu.

Pemerintah mengijinkan perempuan untuk mengikuti pelatihan sebagai polisi pada 2009. Satu dekade kemudian, ratusan perempuan lulus AKK.

Beberapa veteran polisi laki-laki mengemukakan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan itu.

“Saya sangat tidak setuju dengan keputusan ini,” kata Letnan Sompoch Learchwittayathavom, 57, kepada ucanews.com. “Ini membatasi hak-hak perempuan.”

Ia mengatakan Polwan berperan penting dalam kepolisian tetapi tidak bisa menjalankan semua tugas.

“Menghadapi kejahatan keras pada umumnya lebih baik diserahkan kepada polisi laki-laki,” katanya. “Namun ada banyak tugas yang bisa dilakukan secara lebih baik oleh Polwan ketimbang polisi laki-laki antara lain investigasi, pendekatan komunitas dan tugas-tugas administratif.”

 

Para Suster Kerala Tuntut Penangkapan Uskup

Rab, 12/09/2018 - 08:42

Para biarawati Katolik  turun ke jalan-jalan kota Kerala di Kochi  memprotes polisi dan Gereja yang  mereka tuduh berusaha melindungi seorang uskup Katolik yang dituduh memperkosa seorang suster di negara bagian selatan India.

Ribuan orang lain bergabung dengan para suster Kongregasi Misionaris Yesus pada 8 September ketika sekelompok aktivis melakukan mogok makan  menuntut penangkapan Uskup Franco Mulakkal, uskup Jalandhar.

Para demonstran melambaikan poster sambil berorasi dekat Pengadilan Tinggi negara bagian itu dan markas kepolisian mengatakan  bahwa pihak berwenang tidak memihak dalam kasus Uskup Mulakkal.

Prelatus itu telah dilaporkan ke polisi lebih dari dua bulan lalu.

Pelapor,  termasuk seorang suster keuskupan di bawah Uskup Mulakkal, ia menuduh uskup memperkosanya 13 kali dari tahun 2014-2016 di biara ketika ia mengunjungi Kerala dari keuskupannya di negara bagian Punjab.

Uskup itu mengatakan suster itu mengarang tuduhan itu setelah dia melakukan tindakan  karena ada tuduhan suster itu melakukan hubungan seksual dengan suami dari salah satu sepupunya.

“Kami mengetuk semua pintu Gereja, termasuk Vatikan,” kata seorang biarawati, yang merupakan sanak saudara dari penuduh itu, kepada ucanews.com. “Tidak ada yang menanggapi permohonan keadilan kami.”

Namun, penyelidik polisi K. Subash membantah tuduhan itu dan ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa penyelidikan masih berlanjut. “Beberapa rincian tambahan harus dikumpulkan agar polisi bisa membawa uskup itu ke tahanan untuk diinterogasi,” katanya.

Para pembicara dalam  unjuk rasa itu mengatakan pihak berwenang  Gereja tidak meminta uskup  mundur guna mempercepat penyelidikan karena mereka takut melakukan hal itu karena akan mencoreng citra Gereja.

Namun, seorang pejabat Gereja senior mengatakan tidak adil  menyalahkan para uskup.

“Kami sangat menyesal bahwa ini telah terjadi,” kata Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen  Konferensi Waligereja India (CBCI).

Dia mengatakan bahwa tidak ada tindakan apapun dari CBCI karena tidak memiliki yurisdiksi dalam kasus ini.

Selain itu, biarawati diminta pergi ke polisi daripada ke Konferensi Waligereja India.

“Sekarang, kita harus menunggu polisi menyelesaikan proses penyelidikan,” kata Uskup Mascarenhas.

Dia percaya bahwa masalah ini adalah masalah di antara dua individu di Gereja. “Jika otoritas Gereja mengganggu sebelum polisi menyelesaikan penyelidikan, salah satu pihak dapat menuduh mereka mempengaruhi penyelidikan,” katanya. “Otoritas Gereja pasti akan bertindak ketika polisi mengungkapkan temuan akhir mereka.”

Para uskup sangat prihatin dan akan segera mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah untuk mencoba menghindari situasi seperti itu timbul di masa depan, tambahnya.

 

Menyebarkan protes

Sebuah federasi organisasi Kristen yang disebut Dewan Aksi Bersama mengatakan kepada ucanews.com bahwa sekitar 7.000 orang, termasuk 30 biarawati dan 10 imam, menghadiri unjuk rasa itu dan memperkirakan bahwa jumlah orang yang tidak setuju akan bertambah.

Anggota dewan dan pengacara Jose Joseph mengatakan mogok makan, yang telah dia ikuti, tidak akan dibatalkan sampai Uskup Mulakkal ditangkap.

Pastor Capuchin Jijo Kurian, yang bergabung dalam protes itu, mengatakan Gereja Katolik, yang selalu berbicara tentang perlunya keadilan dan belas kasihan, tidak menganggap serius ketidakadilan di dalam barisannya.

Dia mencatat bahwa Gereja telah gagal memulai penyelidikannya sendiri. “Ini memberi kesan bahwa Gereja bersama memburu dan bukan yang diburu,” katanya, ia menggambarkan pertempuran para biarawati untuk hak-hak perempuan di dalam Gereja sebagai tonggak sejarah Gereja.

Pensiunan hakim Pengadilan Tinggi Kemal B. Pasha dan aktivis hak asasi manusia C.R. Neelakandan termasuk diantara yang lain yang mengorganisasi para demonstran.

Hakim Pasha mengatakan dia mencurigai ada hubungan pribadi antara terdakwa dan polisi.

Dia mencatat bahwa alasan mengapa Uskup Mulakkal tidak ditangkap kemungkinan karena dia diberi jaminan rahasia bahwa dia tidak akan ditangkap.

“Kami tidak tahu apakah perkosaan itu terjadi atau tidak,” kata Justice Pasha. “Dalam kasus seperti ini, polisi seharusnya menangkap orang itu.”

Keluarga Filipina Terpidana Mati di Indonesia Terus Mencari Dukungan

Rab, 12/09/2018 - 08:00

Anggota keluarga dari perempuan Filipina yang dihukum  mati di Indonesia  terbang ke Jakarta minggu ini untuk mencari dukungan dunia internasional atas banding mereka agar kesaksiannya diambil untuk mendukung tuduhan kriminal terhadap orang yang diduga perekrutnya di Filipina.

Ayah dan anak-anak Mary Jane Veloso, yang dihukum karena perdagangan narkoba di Indonesia, akan bergabung dengan “misi antaragama untuk solidaritas dan pelayanan” dengan para migran dan pengungsi di Jakarta.

Selama pertemuan pencarian dukungan  Veloso di Manila, ayahnya, Cesar, mengkritik apa yang digambarkannya sebagai kurangnya perhatian pemerintah Filipina terhadap kasus  ini.

“Kami pergi ke (istana presiden) empat kali tetapi presiden tidak pernah bertemu kami … Mary Jane benar-benar ingin mengungkapkan apa yang dia tahu tentang sindikat narkoba tetapi  sepertinya pemerintah tidak ingin dia berbicara tentang kebenaran,” lanjutnya.

Keluarga Veloso mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Filipina pekan lalu untuk mengamankan deposisi terhadap orang yang diduga perekrutnya.

Veloso ditangkap tahun 2010 oleh pihak berwenang Indonesia setelah 2,6 kilogram heroin ditemukan di dalam kopernya pada saat kedatangannya ke Jakarta dari Malaysia. Dia mengklaim dia ditipu  membawa barang haram tersebut  oleh perekrutnya, Maria Cristina Sergio dan Julius Lacanilao.

Tahun 2011, Mahkamah Agung Indonesia menjatuhkan hukuman mati kepada Veloso. Dia diberikan penangguhan hukuman setelah mengajukan dakwaan perdagangan manusia terhadap Sergio dan Lacanilao. Namun, pengadilan Filipina melarang Veloso menyerahkan deposisi.

Arman Hernando, juru bicara kelompok migran, Migrante International, meminta pemerintah Filipina untuk menyoroti kasus Veloso sebagai bagian dari perang Presiden Rodrigo Duterte melawan narkotika.

“Ini adalah kesempatan kami untuk menunjukkan bahwa korban seperti Mary Jane layak mendapat dukungan dari pemerintah dan tidak boleh diperlakukan sebagai penjahat,” kata Hernando.

Rebecca Lawson dari Gugus Tugas Gereja untuk Menyelamatkan Mary Jane mengatakan mereka akan “berdoa agar  sebuah keajaiban bahwa para pemimpin negara akan merasa kasihan pada Mary Jane dan memandangnya sebagai seseorang korban yang benar-benar layak mendapat grasi.”

 

Perempuan Timor-Leste Berjuang untuk Orang Miskin

Sel, 11/09/2018 - 15:40

Pada mulanya, para uskup sangat mendukung proyeknya. Mereka mengira dia akan memulai sebuah kongregasi religius.

Tapi Maria de Lourdes Martins Cruz, juga dikenal sebagai Mana Lou, memiliki sesuatu yang lain dalam pikirannya.

Mana Lou yang saat itu baru pulang studi dari Indonesia ingin memulai “lembaga sekuler” untuk “memahami Injil dengan cara tradisi orang Timor-Leste.”

Para uskup terperanjat. Mereka tidak menginginkan “ide revolusioner” seperti itu di tengah situasi Timor-Leste yang penuh dengan konflik.

Tidak ada yang dapat menghentikan Mana Lou. Dia dianggap sebagai “louco” atau gila oleh para pengkritiknya karena memimpikan apa yang mungkin merupakan proyek yang mustahil.

“Hidup itu tidak mudah,” katanya kepada ucanews.com di Manila di mana dia menerima Magsaysay Award tahun ini untuk pelayanannya kepada masyarakat di negaranya.

“Saya menemui banyak kesulitan, dan para uskup baru memberi saya waktu yang sulit,” katanya.

“Tapi itulah kenyataannya, dan saya harus melanjutkan pekerjaan saya,” kata pendiri Instituto Seculare Maun Alin Iha Kristo (ISMAIK).

Dia mengatakan dia ingin “melengkapi” apa yang Gereja tidak bisa lakukan.

“Banyak yang harus kami lakukan, seperti katekismus, mengajar dan membantu orang, evangelisasi,” katanya tentang apa yang dia gambarkan sebagai “bagian dari misi saya.”

“Banyak pastor dan biarawati memahami situasi dari perspektif agama, tetapi mereka tidak memahami jalan umat awam,” kata Mana Lou.

 

Menemukan panggilannya

Maria de Lourdes Martins Cruz lahir  tahun 1962, salah satu dari tujuh anak dari petani kopi yang kaya di Liquica, Timor-Leste.

Dia belajar di sebuah institut Yesuit di Yogyakarta di mana dia terpengaruh “teologi pembebasan” Gustavo Gutierrez dan pedagogi Paulo Freire.

Dia bergabung dengan Kongregasi Suster-Suster Putri Canossian, tetapi mengundurkan diri sebelum mengucapkan kaul kekalnya ketika dia menemukan bahwa panggilan pribadinya terletak di luar batas-batas dinding biara.

Tahun 1989, ia mendirikan Instituto Seculare Maun Alin Iha Kristo atau Lembaga Sekuler Saudara Sekuler di dalam Kristus, sebuah lembaga awam laki-laki dan perempuan yang didedikasikan untuk mengangkat orang-orang miskin yang paling miskin.

Organisasinya memulai proyek dalam bidang perawatan kesehatan, pendidikan, pertanian, peternakan, dan inisiatif swadaya lainnya.

Selama perjuangan kemerdekaan Timor-Leste dari Indonesia, Mana Lou membangun tempat perlindungan di perkebunan kopi ayahnya di Dare, di perbukitan dekat  ibukota negara itu, Dili.

Dalam perkembangan waktu, perlindungan akan mencakup sekolah untuk anak perempuan, panti asuhan, rumah bagi orang sakit, dan tempat di mana orang-orang dari berbagai agama dan politik dapat menemukan keamanan dan kedamaian.

Tahun-tahun berikutnya, proyek ini diperluas untuk lebih dari sepuluh rumah di seluruh negeri yang disebut “sekolah kehidupan”.

Mana Lou juga mendirikan Klinik Bairo-Ata, sebuah klinik gratis yang besar untuk orang miskin yang melayani rata-rata 300 pasien setiap hari.

“Humanitarianisme murni” Mana Lou dalam mengangkat orang Timor-Leste yang miskin “dikutip ketika dia menerima Magsaysay Award, penghargaan Asia yang setara dengan Hadiah Nobel pada 31 Agustus.

Penghargaan ini juga mengakui “perjuangannya yang berani untuk keadilan sosial dan perdamaian, dan dia memelihara perkembangan warga negara yang otonom, mandiri, dan peduli.”

 

Cara Mana Lou  mengikuti Yesus

Itu bukan perjalanan yang mudah untuk Mana Lou. Bahkan hari ini, dia mengatakan orang-orang, termasuk para imam, biarawati dan uskup, tidak mengerti apa yang dia lakukan.

“Pemimpin Gereja membuat saya kesulitan,” katanya. “Mereka tidak mengerti spiritualitas dan karisma saya.”

Dia menggambarkan panggilannya sebagai terkait dengan kebebasan negaranya, Timor-Leste.

“Saya memilih untuk membentuk lembaga sekuler, bukan  religius, karena saya tidak ingin hanya tinggal di biara dan berdoa,” katanya kepada ucanews.com.

Mana Lou berkata dia ingin mengikuti jejak Yesus, “tetapi saya juga ingin pergi ke luar dan bersama orang-orang dan bekerja dengan orang-orang.”

Dia mengatakan Injil mengajarkan bahwa Yesus hidup sederhana. “Mengapa kita begitu rumit,” katanya, seraya menambahkan bahwa Gereja “telah menjadi terlalu rumit.”

“Daripada fokus pada hierarki, mengapa kita tidak menjalani kehidupan  sederhana,” kata Mana Lou. “Jika kita memahami Kristus, maka hidup akan menjadi sederhana, seperti Kristus.”

Dia mengatakan semua orang harus merayakan Ekaristi dan melihat contoh Yesus yang menawarkan dirinya “bagi kita untuk menjadi satu dan bersatu.”

Mana Lou mengatakan orang harus mengikuti Yesus “dengan cara yang lebih praktis.”

“Orang-orang harus mengambil kendali. Jika jalan perlu diperbaiki, kami memperbaikinya. Jika seseorang membutuhkan bantuan dalam pekerjaan pertanian, kami membantu,” katanya.

“Kami adalah negara baru,” kata Mana Lou. “Negara ini membutuhkan orang yang memiliki hati yang cukup besar untuk cintai dan tubuh yang siap  melakukan kerja keras.”

Dia mengatakan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan mencapai kebebasan sejati. Pada usia 56 tahun, dia mengatakan sudah waktunya bagi kaum muda  mulai bekerja untuk “masyarakat yang lebih baik dan bebas.”

 

Gereja Berjuang untuk Minoritas Dalam Pemerintahan Pakistan

Sel, 11/09/2018 - 15:04

Gereja Katolik Pakistan telah meminta pemerintah baru negara itu untuk membantu minoritas di tengah kritik terhadap penarikan kembali  seorang ahli ekonomi  dari Ahmadiyah dari posisi penasihat senior.

Pencalonan Atif Mian, seorang Ahmadiyah, untuk bergabung dengan dewan penasehat ekonomi yang beranggotakan 18 negara ditarik  kembali di tengah tekanan oposisi dari beberapa Muslim arus utama. Ahmadiyah adalah kelompok Islam minoritas yang tidak diterima oleh semua Muslim.

Komisi Nasional untuk Keadilan dan Perdamaian (NCJP), badan hak asasi manusia Gereja Katolik di Pakistan, memberi ucapan selamat kepada Perdana Menteri baru Imran Khan dan Presiden (terpilih) Arif Alvi atas pelantikan mereka dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh media pada 6 September.

“Selain berjuang  untuk pembangunan dan kemajuan bangsa, pemerintah juga harus memprioritaskan isu-isu minoritas sehingga mereka terintegrasi dengan baik di masyarakat dan merasa bangga menjadi orang Pakistan yang bertanggung jawab,” kata Mgr Joseph Arshad, uskup agung  Islamabad-Rawalpindi, direktur nasional NCJP, Pastor Emmanuel Yousaf dan direktur eksekutif Cecil Shane Chaudhry mengatakan dalam pernyataan bersama.

Komisi itu juga menekankan perlunya pemerintah untuk membentuk Kementerian Urusan Minoritas di tingkat provinsi dan federal untuk memberikan representasi yang semestinya kepada minoritas di semua kementerian.

Gereja juga meminta komisi nasional untuk melindungi hak-hak minoritas agama. Pemerintah adalah juga milik minoritas seperti mayoritas, tambah pernyataan itu.

Uskup Agung Arshad menyatakan “doa terbaik” untuk pemerintahan baru. Dia mengatakan semua pihak harus berjuang untuk meningkatkan kehidupan bagi masyarakat yang lemah dan terpinggirkan serta mengarahkan pemuda dan bangsa menuju koeksistensi damai.

Partai politik Pakistan Tehreek-e-Insaf  pimpinan Imran Khan menolak penunjukan Mian, seorang profesor di Universitas Princeton di Amerika Serikat.

Menteri Penerangan Fawad Chaudhry menulis bahwa tidak pantas jika nominasi tunggal memecah belah.

Namun, menteri sebelumnya mengatakan pemerintah tidak akan “tunduk pada ekstremis” yang menentang penunjukan itu.

Tahun 2014, Mahkamah Agung Pakistan mengamanatkan sistem kuota, dengan 5 persen kuota pegawai negeri disisihkan untuk minoritas agama. Namun, aturan itu jarang ditegakkan.

Sabir Michael, seorang peneliti dan profesor di departemen pekerja sosial Universitas Karachi, menyatakan kekecewaan atas penanganan penunjukan Mian. “Mian adalah orang yang berkualifikasi tertinggi di dewan penasihat ekonomi,” katanya.

Dan, untuk pertama kalinya, anggota agama minoritas belum dimasukkan dalam pemerintahan federal atau kabinet provinsial Punjab dan Khyber Pakhtunkhwa, katanya.

“Kami tidak punya banyak harapan untuk berubah,” kata Michael kepada ucanews.com. “Mungkin para pemimpin gereja harus bertemu dengan PM dan presiden secara pribadi dan berbagi keprihatinan mereka. Kami tidak melihat keadilan sedang dilakukan.”

 

Peziarah Rayakan Pesta St. Ibu Teresa di India

Sen, 10/09/2018 - 13:49

Serangkaian program menandai pesta  St. Ibu Teresa dari Kolkata di kota India.

Doa, nyanyian dan pujian sukacita memenuhi rumah induk Misionaris Cinta Kasih (MC) di kota bagian Timur India pada 5 September, peringatan ke-21 atas wafatnya  biarawati itu dan hari ulang tahun perayaannya sejak ia dikanonisasi oleh Paus Fransiskus September 2016.

Pintu terbuka sepanjang hari ketika sejumlah besar pengunjung dan peziarah memberi penghormatan di makam biarawati peraih Nobel itu, yang dikenal sebagai Ibu Teresa.

Jenazahnya dimakamkan di Biara Pusat Misionaris Cinta Kasih, yang didirikannya  tahun 1950 untuk  bekerja di antara yang termiskin dari orang miskin di Kalkuta, pusat karya pelayanan sosial globalnya.

Perayaan dimulai dengan Misa yang dipimpin oleh Mgr Thomas D’Souza,  uskup agung keuskupan Kolkata dan diikuti oleh 31 anggota gerakan Corpus Christi dari imam diosesan yang didirikan oleh Ibu Teresa. Mereka berasal dari beberapa negara Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia.

Para imam menghabiskan waktu selama dua minggu di Kolkata untuk menimba semangat biarawati suci ini dengan mengunjungi rumah pertamanya untuk orang-orang miskin yang sekarat dan rumah-rumah lain yang ia mulai di kota itu.

“Mereka mencoba untuk menimba spirit Ibu Teresa  dan akan  berjalan di jalan yang dilalui Ibu  Teresa,” kata seorang misionaris dari Tarekat Misionaris  Cinta Kasih  yang lebih senior.

Pastor Gary Walsh, pustakawan London Corpus Christi untuk komunitas Albania, membawa dua kelompok komunitas Albania dari  Inggris dan Belgia dan membawa  mereka di makam biarawati kelahiran Albania yang mencari doa dan syafaatnya.

Sementara polisi terus mengontrol nomor media di acara tersebut di tahun-tahun setelah kematiannya, tahun ini hanya dihadiri 20 fotografer dan wartawan yang hadir.

Kongregasi MC terus  melebarkan sayap keanggotaannya lebih dari 70 persen dalam dua dekade terakhir. Tahun 1997, ketika Ibu  Teresa meninggal, ia hanya memiliki 3.026 biarawati di 456 rumah di 101 negara. Tetapi pada Desember 2017, jumlah mereka terus bertambahh menjadi   5.167 biarawati di 760 rumah di 139 negara. India memiliki 244 rumah.

Penerus kedua Ibu Teresa yang memimpin kongregasi itu, Suster Mary Prema Pierick MC, mengatakan para biarawati dari ordonya “meninggalkan keluarga dan menjadi tunawisma untuk menjadi satu dengan yang termiskin dari yang miskin … dan untuk membentuk keluarga Kristus yang membawa cinta dan kasih sayang kepada yang membutuhkan.”

Sebuah kelompok lintas agama Hindu, Sikh, Muslim, Jain, dan Kristen berkumpul di sekitar makam di sore hari. Dengan mantra khusus dari tulisan suci yang berbeda, mereka berdoa bagi para korban runtuhnya jembatan di Kolkata pada 4 September.

Michelle Wood, seorang yatim piatu yang bekerja dengan umat, mengatakan sekarang berbeda karena tidak dapat melihat dan menyentuh Ibu Teresa, tetapi dia yakin biarawati itu masih ada dalam semangat untuk membantunya.

Ibu Teresa memulai kongregasinya dengan 12 sahabat  tahun 1950. Tahun 1965, kongregasi itu  diangkat oleh Paus Paulus VI menjadi  sebuah serikat  kepausan, menempatkannya langsung di bawah Takhta Suci.

 

Prefek Vatikan Desak Vietnam Bantu Mereka yang Membutuhkan

Sen, 10/09/2018 - 08:50

Prefek Kongregasi  Vatikan meminta kaum religius Vietnam untuk mengikuti teladan leluhur mereka dengan membawa kasih Tuhan kepada orang-orang di daerah terpencil.

Kardinal Joao Braz de Aviz, Prefek Kongregasi  Tarekat  Hidup Bakti dan  Hidup Kerasulan  yang berkedudukan di Roma, mengadakan  kunjungan kerja ke keuskupan agung Kota Ho Chi Minh, Hue dan Hanoi, dan Keuskupan Xuan Loc,  2-7  September.

Kardinal, yang didampingi oleh sekretarisnya, Pastor Donato Cauzzo, juga mempersembahkan Misa khusus untuk berdoa bagi Gereja setempat, mengunjungi dua konggregasi  suster dan bertemu ribuan rohaniwan dan rohaniwati.

Prefek berusia 71 tahun itu mengatakan bahwa Tuhan sangat mencintai Gereja Katolik  Vietnam karena dibangun oleh darah para martir.

Dia mengatakan sejarah Gereja lokal ditandai oleh pria, wanita dan anak-anak yang berani mati untuk Tuhan dan iman Katolik. Lebih dari 130.000 umat Katolik dibunuh karena iman mereka pada abad ke-17, 18 dan 19.

Kardinal Brasil itu mengatakan bahwa gereja lokal secara konsekuen menghasilkan banyak orang untuk mengikuti para orang kudus, para martir yang hidup suci. Tujuh juta umat Katolik Vietnam dilayani oleh 21.000 kaum  religius.

“Saya sangat terkesan bahwa banyak dari Anda – para religius dan seminaris – sangat muda dan ceria,” katanya kepada ratusan imam dan religius yang menyambutnya di wisama keuskupan Xuan Loc di provinsi Dong Nai.

Kardinal Braz de Aviz mendesak kaum religius untuk mengikuti teladan  para martir untuk membawa Kabar Baik kepada orang lain karena “kasih yang lebih besar tidak memandang siapa pun selain mereka  yang menyerahkan nyawanya bagi teman-temannya.”

Dia mengatakan  bahwa mereka harus menyerahkan diri untuk mengikuti Yesus. Mereka harus memberitakan Kabar Baik dalam kehidupan sehari-hari mereka  termasuk kesalahan dan dosa mereka ketika Tuhan selalu mengasihi mereka bahkan ketika mereka telah melakukan dosa. Mereka harus menghormati, mencintai, dan bersatu dengan orang lain.

“Mengikuti contoh para martir berarti memberikan hidup kita kepada Tuhan dan orang lain. Dengan demikian, kita akan menarik banyak orang untuk datang kepada Tuhan,” kata Kardinal Braz de Aviz.

Dia meminta mereka untuk secara berani menjangkau orang miskin, terpinggirkan dan tertekan di daerah terpencil dan di luar negeri.

Pada 5 September, kardinal bertemu 500 kaum religius di Katedral Phu Cam di Hue. Dia meminta mereka untuk membawa Kabar Baik kepada orang miskin dengan menawarkan dukungan material dan spiritual kepada mereka.

Kardinal Braz de Aviz mengatakan para biarawati di Vietnam dengan bebas menjalankan kebiasaan dan melayani orang yang membutuhkan.

Pastor Anthony Huynh Day, pemimpin umum  Kongregasi Hati Kudus dan ketua komisi hubungan antaragama keuskupan agung Hue, mengatakan bahwa agama menawarkan layanan pastoral, menyediakan akomodasi dan pendidikan dasar bagi siswa, merawat pasien, orang cacat dan orang tua yang kesepian, dan membangun rumah untuk korban bencana alam.

Selama kunjungan pertamanya ke Vietnam, Kardinal Braz de Aviz juga memberikan ceramah kepada Majelis Umum Konferensi Institut Sekuler Asia yang diselenggarakan pada 4-6 September di Pusat Pastoral di Kota Ho Chi Minh. Pertemuan itu dihadiri perwakilan dari institut Sekuler dari  seluruh Asia.

 

Warisan Seorang Pastor Misionaris Polandia yang Luar Biasa

Jum, 07/09/2018 - 10:51

Lima puluh tahun sukses di bidang akademik di Indonesia membawa pujian kepada Pastor Habil Jozef Glinka SVD baik dari rekan-rekan Katolik maupun umat  dari agama-agama lain.

Misionaris asal Polandia itu meninggal karena usia lanjut pada 30 Agustus  lalu, usia 86 tahun, di Rumah Sakit Katolik Vincentius a Paulo  Surabaya, Jawa Timur, empat hari setelah biografinya diluncurkan.

Pastor Fritz Meko SVD yang tinggal bersamanya di Surabaya, menceritakan bahwa Pastor Glinka meramalkan waktu kematiannya, tetapi percaya bahwa dia akan hidup selamanya lewat karya nyata yang sudah ia lakukan selama hidupnya.

Pastor Meko mencatat bahwa Pastor Glinka sering mengajarkan  para pengkhotbah untuk perlu membaca secara luas untuk menanamkan pemahaman Kristiani dengan cara yang menarik dan menjawab tantangan zaman.

Pastor Glinka, yang ditahbiskan  tahun 1957, tiba di Indonesia  tahun 1964 bersama 20 rekannya.

Dia sebelumnya belajar di Universitas Adam Mickiewicz, Poznan, Polandia, yang mempelajari secara khusus bidang ilmu bioantropologi, spesialisai dalam bidang biologi dan perilaku manusia.

Tahun 1965, Pastor Glinka mulai mengajar antropologi di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Flores, NTT,  tempat ia tinggal hingga tahun 1985.

Akademisi Polandia itu juga mengajar antropologi di kampus-kampus seperti Universitas Nusa Cendana  Kupang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta dan Universitas Airlangga  Surabaya, Jawa Timur.

 

Warisan akademik

Pastor Glinka, yang terkenal sebagai pelopor bioantropologi di Indonesia, pensiun  tahun 2010.

Pelopor lain dari disiplin ilmu itu, adalah seorang  ilmuwan Katolik Adi Sukadana, yang meminta Pastor Glinka untuk bergabung dengan Universitas Airlangga, tempat ia melakukan beberapa karyanya yang paling terkenal.

Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di situs web kampus itu, Pastor Glinka mengatakan bahwa ia pindah ke universitas itu setelah Sukadana menulis kepada Superior General SVD di Roma menjelaskan bahwa keahliannya dibutuhkan karena bioantropologi adalah sesuatu yang baru bagi Indonesia.

Beberapa Cendikiawan Muslim menuduh Pastor Glinka  mencoba untuk mengkristenkan mahasiswa di kampus mayoritas Muslim.

Tetapi, para mahasiswa berdemonstrasi ketika mereka mendengar bahwa dia akan dipindahkan dan berhasil menuntut agar rektor mempertahankannya.

Pastor Glinka menulis delapan buku, 58 artikel ilmiah, dan 35 artikel tentang antropologi dalam berbagai bahasa.

Bernada Triwara Rurit, yang menulis biografinya, mengatakan bahwa seperti  prestasinya sendiri di bidang bioantropologi, pastor SVD ini  menyiapkan berbagai asisten untuk mengajar mata kuliah itu  di universitas.

Pastor Glinka juga menyumbangkan ribuan bukunya ke perpustakaan kampus itu.

 

Dihormati bahkan oleh non-Katolik

Kongregasi SVD  mengambarkan Pastor Glinka ini sebagai teladan bagi orang-orang biasa serta siswa dan akademisi lainnya.

Pemimpin Umum Konggregasi SVD, Paul Budi Kleden, mengatakan kepada ucanews.com bahwa Pastor Glinka adalah seorang misionaris yang mengintegrasikan intelektualisme dengan menjembatani sains, iman, dan nalar dengan panggilan imamatnya.

“Kami kehilangan seorang misionaris dan ilmuwan hebat,” kata Pastor Kleden.

Perginya Pastor Glinka membuat banyak orang berkabung  dalam  seluruh spektrum luas masyarakat Indonesia.

Pejabat publik, termasuk gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, memberikan penghormatan  terakhirnya sebelum ia dimakamkan pada 1 September di Surabaya.

“Terima kasih atas dedikasi Anda untuk peningkatan pendidikan di Indonesia,” Parawansa menulis di halaman Facebook-nya.

Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan satu-satunya orang Katolik di kabinet, memuji dedikasi Pastor Glinka.

“Dia memberi kami sebuah contoh tentang bagaimana benar-benar membaktikan kehidupan seseorang kepada banyak orang,” katanya setelah menghadiri Misa requiem untuk imam itu  yang meninggalkan jejak manis di sebuah negeri asing.

 

Relikwi Padre Pio akan Mengunjungi Filipina Pada Oktober

Jum, 07/09/2018 - 10:06

Untuk pertama kalinya, hati yang “tidak fana” dari seorang suci yang terkenal akan mengunjungi Filipina pada  Oktober ini.

Bagian relikwi Santo Padre Pio, yang jarang meninggalkan biara Capusin di Italia, akan berada di negara itu setidaknya selama 20 hari, mulai 6 hingga 26 Oktober.

Pastor Joselin Gonda, pemimpin tempat Ziarah Nasional Santo Padre Pio, mengatakan Filipina akan memiliki waktu lebih lama untuk menghormati relikwi itu, jauh lebih lama dari negara lain yang telah memamerkan relikwi itu sejauh ini.

Relikwi  jantung Padre Pio hanya dipamerkan untuk tiga negara – sepuluh hari di Amerika Serikat; delapan hari di Paraguay, dan lima di Argentina.

Pastor Gonda mengatakan kunjungan itu adalah “masa anugerah” bagi warga Filipina yang akan merayakan ulang tahun ke-500 kedatangan agama Kristen di negara itu tahun 2021.

Kunjungan ini sangat signifikan karena tahun ini menandai seratus tahun Padre Pio menerima stigmata, satu atau lebih dari lima luka Yesus, pada 20 September.

Tahun ini juga menandai 50 tahun kematian santo Padre Pio pada 23 September 1968.

“Kunjungan relikwi jantung Padre Pio adalah epilog yang cocok untuk dua peristiwa penting ini dalam kehidupan St. Padre Pio,” kata Pastor Gonda.

Dia mengatakan Padre Pio dapat menjadi teladan bagi para imam Filipina yang merayakan “Tahun Klerus dan Orang-Orang yang dikuduskan” tahun ini.

“Padre Pio dapat menjadi inspirasi dan panutan bagi kita untuk memiliki hati seperti dia, dekat dengan hati Ekaristi dan mengampuni seperti Tuhan,” kata imam itu.

Secara eksklusif akan disediahkan sehari Sebuah devosi kepada hati padre Pio untuk para imam dan religius di tempat-tempat berbeda di kota-kota Manila, Cebu, dan Davao.

Sekelompok umat Filipina akan menjemput dan menemani relikwinya ke Filipina. Relikwi itu juga akan ditemani oleh dua biarawan kapusin.

 

Kardinal Bo Kritik Militer Myanmar atas Kebrutalan di Kachin

Kam, 06/09/2018 - 12:29

Militer Myanmar masih menganiaya etnis Kachin, yang mayoritas beragama Kristen di negara bagian yang dilanda konflik, sebagaimana Muslim Rohingya, kata Kardinal Charles Maung Bo, uskup agung Yangon.

Berbicara di forum perdamaian di Korea Selatan, Kardinal Bo mengatakan penderitaan yang dialami Rohingya telah menarik perhatian dunia dan menggambarkan penderitaan mereka sebagai “bekas luka mengerikan di hati nurani negara saya.” sementara kelompok-kelompok sasaran lainnya diabaikan karena pertempuran etnis berkecamuk di Myanmar utara, dengan ribuan etnis minoritas telah terluka, dibunuh dan terlantar, katanya.

“Desa-desa dibom dan dibakar, para wanita diperkosa, gereja-gereja hancur, penduduk desa digunakan sebagai penyapu ranjau manusia dan perisai manusia,” kata Kardinal Bo kepada para pakar perdamaian di forum perdamaian Semenanjung Korea 2018 di Universitas Katolik Korea di Seoul pada 1 September.

Dalam pidatonya, Kardinal Bo memaparkan tentang serangan udara militer di Kachin pada  Februari dan serangan besar pada  April yang menyebabkan lebih dari 7.000 orang mengungsi.

Dia mengatakan serangkaian “perang” sedang berkecamuk di Myanmar terhadap mereka yang mendukung kebebasan beragama berhadapan dengan kekuatan yang mengajarkan ketidaktoleranan dan kebencian agama.

Kardinal juga menyesalkan serangkaian konflik kekerasan karena sengketa kepemilikan tanah dan masalah lainnya termasuk perdagangan manusia, degradasi lingkungan, penyalahgunaan narkoba oleh orang muda, kemiskinan dan kurangnya perlindungan hak-hak asasi.

“Perang’ ini terus berlanjut meskipun Myanmar telah bergerak selama delapan tahun terakhir melalui (serangkaian) reformasi dan dengan transisi yang rapuh dari kediktatoran militer menuju demokrasi yang rapuh,” kata prelatus berusia 69 tahun itu.

 

Militer masih mendominasi

Pertempuran telah pecah secara sporadis di Negara Bagain Kachin yang mayoritas Kristen sejak negara yang kemudian dikenal sebagai Burma terbebas dari belenggu kolonialnya tahun 1948 dengan memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan Inggris.

Situasi memburuk  tahun 2011 ketika sekitar 100.000 orang mengungsi. Sebagian besar populasi negara bagian yang memiliki 1,7 juta jiwa itu adalah orang Kristen, termasuk 116.000 umat Katolik.

Kardinal Bo mengatakan militer mempertahankan kekuatan tertinggi, terutama dalam penguasaannya terhadap tiga kementerian utama, sementara pemerintah sipil hanya memiliki sedikit atau malah tidak memiliki wewenang.

Situasi makin diperparah oleh meningkatnya nasionalisme dan militansi Buddhis, telah menciptakan pendorong untuk kebencian dan represi yang menyangkal minoritas etnis dan agama”, katanya.

Kardinal Bo dikenal sebagai juru kampanye setia rekonsiliasi di Myanmar, di mana perundingan perdamaian dengan milisi bersenjata sedang berlangsung dan krisis pengungsi Rohingya masih sedang diselesaikan.

Dia telah membela Konselor Negara Aung San Suu Kyi dalam usahanya untuk memupuk demokrasi dengan bekerja dengan militer, meskipun ada tuntutan hadiah Nobelnya dicabut karena tetap diam terhadap penganiayaan terhadap Rohingya.

Myanmar menghadapi kecaman keras atas pelanggaran hak asasi di Rakhine setelah sebuah misi pencari fakta menemukan bahwa militer telah melakukan pelanggaran HAM berat di negara bagian itu.

 

Mengincar kedamaian abadi

Kardinal Bo juga berbicara tentang membangun perdamaian permanen di Semenanjung Korea di tengah serangkaian pertemuan penting antara pemimpin Korea Selatan, Korea Utara, AS dan Cina, sekutu kunci Pyongyang.

Dia mengatakan impian perlucutan senjata nuklir dan denuklirisasi di semenanjung itu sekarang menjadi mungkin dan mendesak dialog lanjutan.

Namun, perdamaian sejati tidak dapat direalisasikan ketika warga Korea Utara masih dilucuti hak asasi manusianya dan kebebasan dasar mereka, tambahnya.

AS telah menggambarkan kebijakan represif pemimpin Kim Jong-un sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Di Korea Utara, lebih dari 100.000 orang ditahan di kamp-kamp penjara, disiksa, kerja paksa, dan dilecehakan, kebebasan beragama benar-benar terbatas.

“Perdamaian lahir dari konsep martabat manusia,” kata Kardinal Bo.

“Setiap manusia, termasuk mereka yang membenci kita, dibuat serupa dengan Tuhan. Kebencian diajarkan melalui narasi kebencian. Kita juga bisa mengajarkan setiap jiwa manusia untuk mencintai,” tambahnya.

Dia mengatakan bahwa situasi di Myanmar dan Korea tidak persis sama, tapi tujuan utamanya sama.

Tujuan di kedua kawasan itu adalah “untuk membangun perdamaian abadi yang sejati,” katanya, seraya menambahkan, “martabat manusia harus dibela dihadapan ketidakadilan dan impunitas.”

 

Gereja Bantu Korban Banjir Vietnam Utara

Kam, 06/09/2018 - 10:00

Para karyawan Gereja di Vietnam bergegas  menyediakan  bantuan darurat bagi warga yang terisolasi setelah beberapa kali banjir terburuk dalam beberapa dasawarsa menghantam provinsi pegunungan utara dan tengah negara itu.

Banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu hujan lebat selama beberapa minggu terakhir telah meluluhlantakan  delapan provinsi, demikian menurut para pejabat setempat.

Komite Pengarah Pusat Vietnam untuk Pencegahan dan Pengendalian Bencana Alam melaporkan pada 4 September banjir telah menewaskan 14 orang, sementara empat orang lainnya masih  hilang. Banjir bandang itu juga merusak atau menghancurkan 1.200 rumah, 5.700 hektar tanaman, dan mematikan 60.200 ternak dan unggas.

Thanh Hoa adalah provinsi terparah menurut relawan bantuan aksi sosial Gereja.

Setidaknya lima paroki terkena dampak banjir, demikian menurut laporan pejabat Caritas  Keuskupan Thanh Hoa, dan menambahkan bahwa sebuah gereja di paroki Phong Y dan satu di stasi paroki Da Loc benar-benar terkena dampak terparah.

Banyak umat Katolik setempat mencari perlindungan di pastoran paroki sementara yang lain naik ke atap rumah mereka untuk menghindari banjir, demikian laporan staf pekerja Caritas.

Pastor James Mai Van Toan, pastor paroki setempat, tiga imam, seminaris, dan pemimpin awam lainnya menggunakan perahu untuk menggerakkan warga setempat ke tempat yang lebih tinggi dan menyediakan persediaan kebutuhan sembako.

Sumber-sumber Gereja mengatakan ribuan siswa terkena dampak karena sekolah juga rusak parah dan akan tetap ditutup meskipun tahun ajaran baru dimulai pada 5 September.

Pastor Paul Nguyen Van Thuong, direktur cabang Caritas setempat, dan timnya menempuh perjalanan sejauh  70 kilometer selama 7 jam pada 2 September untuk memberikan bantuan ke paroki Phong Y karena beberapa jembatan runtuh dan jalan-jalan masih terkena banjir, demikian menurut seorang  karyawan gereja.

Pastor Thuong sejak itu meminta sumbangan uang, makanan, pakaian, dan perlengkapan lain untuk membantu meringankan kerugian dan penderitaan korban.

Pastor Joseph Nguyen Tien Lien, yang melayani paroki Mai Lien di Provinsi Son La, mengatakan umat Katolik setempat telah menawarkan roti, air bersih, pakaian, kelambu dan selimut kepada korban banjir yang sangat terpukul di kota Hat Lot, delapan kilo meter jauhnya dari paroki mereka.

Sekitar 100 keluarga semua barang-barang mereka hanyut terbawa banjir terburuk sejak 1991, katanya.

“Pemerintah setempat masih menghitung kerugian korban dan berencana untuk menyediakan pasokan kebutuhan dasar bagi mereka. Di masa depan kami akan mencari dukungan keuangan dan membangun rumah bagi mereka yang rumahnya hancur,” kata Pastor Lien.

Warga Filipina Menghormati Patung Santa Perawan Maria Berusia 243 Tahun 

Rab, 05/09/2018 - 17:07

Setiap tahun warga Filipina di provinsi Albay mengadakan ritual syukur di hadapan  patung St Perawan Maria yang dikenal sebagai Bunda Penyelamat   yang sudah dihormati selama 243 tahun.

Para devosan mengungkapkan bahwa patung ini, yang juga dikenal sebagai Bunda Terang, adalah sumber kekuatan dan inspirasi.

Setiap Sabtu terakhir  Agustus, umat Katolik berduyun-duyun ke kota Tiwi, di bagian tenggara pulau  Luzon, untuk memberi penghormatan kepada Bunda Maria, penyelamat kita.

Patung Bunda Penyelamat  kemudian diarak dalam prosesi sembilan kilometer dari pantai ke sebuah tempat khusus di puncak bukit.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa devosi Maria itu dimulai tahun 1770-an karena mukjizat yang dikaitkan dengan gambar itu, yang pada masa kolonial Spanyol paling dikenal sebagai Nuestra Senora de Salvacion.

Ketika perampok bajak laut Moro menyerang kota pantai, para warga mencari perlindungan di desa perbukitan Joroan, di mana gambar Bunda Maria berada, dan berdoa di kapel di sana untuk memohon perlindungan Bunda Maria.

Kisah keajaiban

Sebuah laporan menceritakan seorang wanita dengan seorang anak yang ‘muncul’ dihadapan seorang peternak dan meminta dua ekor sapi untuk warga Joroan, yang ternyata sedang membangun sebuah gereja untuk St Perawan Maria.

Dan dikatakan bahwa ketika para perompak mencoba membakar rumah-rumah penduduk di Joroan, obor mereka tidak menyala.

Cerita lain mengkisahkan seorang janda bernama Hermanang Tiray yang ditangkap oleh perompak dan dibawa ke negeri yang jauh.

Namun setelah berdoa kepada St  Perawan Maria dikisahkan bahwa seekor rusa membawa pulang ke rumahnya.

Seorang peziarah melaporkan bahwa sebatang lilin yang diberikannya secara ajaib muncul di tempat suci itu.

Dan seorang pria yang mengalami sakit lumpuh  ditugaskan untuk memperbaiki gereja yang menurut mereka itu terjadi hanya karena campur tangan ilahi.

Juga dikatakan bahwa sekelompok peziarah lainnya, yang selamat dari perahu mereka yang terbalik dalam badai, ditemukan setelah berenang ke pantai dalam kondisi pakaian mereka kering.

Setelah gereja dihancurkan oleh topan, patung Bunda Maria masih berdiri, tetapi dilaporkan telah berubah dari melihat ke arah laut berganti menghadap ke desa itu.

Sebuah laporan yang ditulis oleh pastor paroki pertama di desa itu, Pastor Lamberto Fulay, menyatakan bahwa  tahun 1770, seorang Don Silverio Arcilla menugaskan seorang penyewa bernama Mariano Dacuba ke salah satu kebunnya.

Dacuba menebang pohon ketika membersihkan sebidang tanah di Joroan, namun, daunnya tidak layu seperti hari-hari yang sudah lewat.

Seorang biarawan di kota Buhi memanggil seorang pematung bernama Bagacumba yang mengukir tiga gambar dari belalainya: Nuestra Senora de Salvacion; patung Santo Antonius dari Padua; dan patung Nuestra Senora de Soledad (Bunda kita yang berduka).

Pada 25 Agustus 1776, gambar Bunda Penyelamat  dipinjamkan kepada orang-orang Joroan dengan syarat bahwa mereka membangun sebuah kapel di pusat desa.

Tahun 1853, Buhi setuju untuk melepaskan haknya atas patung  itu jika orang-orang Joroan memberikan persembahan 50 peso dan tambahan 25 peso untuk lonceng.

Ketika topan daksyat melanda  tahun 1805, gambar itu sementara dipindahkan ke kota Tiwi, yang menyebabkan perselisihan tidak terselesaikan.

Dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan  tahun 1918 untuk menyelesaikan masalah dan gambar itu akhirnya dibawa kembali ke Joroan pada 15 September 1919.

Tahun 1975, Mgr Teotimo Pacis dari keuskupan Legazpi, ibu kota provinsi itu, menyatakan patung itu sebagai “pelindung propinsi Albay.”

Tahun 1976, keuskupan merayakan peringatan dua abad dari pelindungnya dengan pembangunan sebuah tempat khusus baru dan peresmian gambar itu.

 

Imam, Biksu Ikut Kampanye Dukung Aktivis Vietnam

Rab, 05/09/2018 - 15:00

Sebuah kampanye diluncurkan di Vietnam untuk meminta pemerintahan komunis untuk membebaskan seorang aktivis yang tengah melakukan aksi mogok makan di dalam sebuah penjara di Propinsi Nghe An.

Sejumlah anggota keluarga dari Tran Huynh Duy Thuc dan lima mantan narapidana politik ikut dalam kampanye itu.

Kampanye yang diluncurkan pada Senin (1/9) itu mengajak “semua pendukung untuk ikut bersama Thuc dalam aksi mogok makan.” Setiap peserta berkomitmen untuk mogok makan selama satu hari secara berurutan sampai Thuc mengakhiri aksi protesnya.

Thuc mulai melakukan aksi mogok makan pada pertengahan Agustus untuk memprotes tuntutan aparat keamanan bahwa ia “mengakui kejahatannya” sehingga ia bisa mendapat pembatalan hukuman dari presiden.

Thuc, seorang umat Buddha berusia 52 tahun, dihukum penjara 16 tahun karena “berusaha menggulingkan pemerintahan komunis” pada 2010. Ia memprotes aksinya yang tidak bersalah.

Thuc juga memprotes perlakukan buruk di dalam penjara seperti larangan baginya untuk menulis surat kepada keluarganya dan untuk menyampaikan keluhan kepada lembaga negara.

Hingga berita ini diturunkan, sekitar 40 orang termasuk imam dan biksu ikut dalam kampanye itu.

Pada Januari lalu, Thuc meminta Pengadilan Tinggi untuk mengurangi masa tahanannya berdasarkan amandemen Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mulai berlaku awal tahun ini. KUHP ini menyatakan bahwa hukuman atas kejahatannya hanya dihukum satu hingga lima tahun penjara.

Kerabat Thuc mengatakan ia menolak diasingkan ke Amerika Serikat atau Eropa karena ia ingin tetap tinggal di Vietnam dan melayani negaranya.

 

Keuskupan Agung Manila Mengenang Kardinal Filipina Pertama

Rab, 05/09/2018 - 12:14

Ratusan umat Katolik menghadiri peletakan sebuah topi merah berumbai yang disebut galero milik kardinal Filipina pertama  di kasau katedral Manila pada 3 September.

Peletakan galero mendiang  uskup agung Manila Kardinal Rufino Santos “dipimpin oleh Kardinal Luis Antonio Tagle, yang merayakan Misa sebelum upacara tersebut.

“Kami ingin berterima kasih kepada Tuhan karena mempercayakan kepada kami Kardinal Santos,” kata uskup agung  Manila itu, dan  berterima kasih kepada keluarga mendiang kardinal itu karena “berbagi (dia) dengan Gereja.”

Kardinal Tagle memuji pendahulunya itu karena  banyak proyek yang dia rintis selama masa hidupnya, terutama rekonstruksi katedral Manila setelah Perang Dunia II.

“Katedral yang indah ini, kita berhutang kepada Kardinal Santos,” kata uskup agung Manila saat ini.

“Dia tahu itu bukan bakatnya. Itu milik Tuhan. Tapi dilakukan oleh seorang kardinal yang hebat, Kardinal Santos,” tambahnya.

“Saya tidak iri pada Kardinal Santos karena bertahan dari tantangan selama perang,” kata Kardinal Tagle.

Pastor Reginald Malicdem, kepala katedral Manila, mengatakan peletakan”galero” dilakukan untuk mengenang mendiang prelatus itu dan  menghormati usahanya dalam membangun kembali katedral  tahun 1958.

“Ini adalah panggilan bagi Gereja untuk melanjutkan warisan dan misi membangun kembali kehidupan dan saling mendukung satu sama lain dalam iman dan perbuatan,” kata imam itu.

Galero adalah topi merah yang dihiasi dengan jumbai yang digunakan oleh para kardinal di masa lalu sebagai simbol tanggung jawab yang diberikan kepada mereka. Warna merah melambangkan kesiapan mereka untuk menumpahkan darah bagi Injil.

Meskipun penggunaan galero dihapuskan  tahun 1969, tradisi menggantung topi di  katedral untuk menghormati kardinal yang meninggal hingga hari ini.

Ketika Kardinal Jaime Sin meninggal  tahun 2005, sebuah galero miliknya digantung di kubah katedral Manila.

Galero Kardinal Santos digantung di katedral tetapi jatuh beberapa tahun lalu. Baru-baru ini ditemukan di ruang stok katedral.

Mendiang kardinal itu menjabat sebagai uskup agung Manila dari 1953 ketika negara masih belum pulih dari kengerian Perang Dunia II.

Di tengah kehancuran yang diakibatkan oleh perang, kepemimpinannya berfokus pada pembangunan kembali dan memperkuat struktur gedung gereja untuk memenuhi kebutuhan mendesak gereja di negara tersebut.

 

Komisi UU di India Ingin Perempuan Jadi Pendengar Pengakuan Dosa  

Sel, 04/09/2018 - 16:14

Saran Komisi Undang-Undang (UU) di India agar perempuan diperbolehkan mendengar pengakuan dosa untuk mengatasi masalah eksploitasi seksual mendapat pertentangan dari Gereja.

Namun lembaga pemerintah itu tidak mendukung seruan agar pengakuan dosa dilarang.

“Ada penyalahgunaan pengakuan dosa oleh sejumlah imam tertentu yang perlu dicek,” kata Komisi UU dalam sebuah dokumen konsultasi UU tentang keluarga yang dirilis pada 31 Agustus.

“Ini saran yang sangat progresif san bijaksana agar pada akhirnya membolehkan para suster untuk mendengar pengakuan dosa.”

Perubahan semacam itu perlu didukung oleh UU karena hal ini bisa dilakukan melalui “pembangunan konsensus” di dalam komunitas.

Sikap itu muncul menyusul proposal Komisi Nasional Perempuan (KNP) agar praktek pengakuan dosa dilarang di India.

Seruan tersebut mengemuka setelah penyelidikan yang dilakukan Juni lalu oleh KNP terhadap seorang pria mengklaim bahwa empat imam dari Gereja Ortodoks Syria menggunakan rahasia pengakuan dosa istrinya untuk melakukan eksploitasi seksual terhadapnya.

Namun Komisi UU menyebut seruan itu sebagai respon spontan dan justru mengatakan bahwa membolehkan wanita mendengar pengakuan dosa bisa menghalangi pria untuk melakukan eksploitasi seksual terhadap wanita.

Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen Konferensi Waligereja India, mengatakan pengakuan dosa bukan sesuatu yang bisa diputuskan oleh lembaga pemerintah.

Ini adalah isu dan peraturan Gereja dan juga tradisi yang sudah teruji oleh waktu, kata prelatus itu. Ditambahkan, Komisi UU dan lembaga serupa lainnya hendaknya tidak melewati batas mandat mereka.

Uskup Rajkot Mgr Jose Chittooparambil mengatakan upaya untuk mengubah praktek pengakuan dosa “mengabaikan” ajaran Kristiani.

“Pengakuan dosa bukan sesuatu yang dilakukan secara paksa,” katanya kepada ucanews.com.

“Ini soal pilihan individu,” katanya. “Orang harus memahami kenyataan ini.”

Sementara itu, pada 2 Agustus, Pengadilan Tinggi Negara Bagian Kerala menolak sebuah petisi yang meminta sebuah pernyataan agar mendengarkan pengakuan dosa bertentangan dengan konstitusi.

Pengadilan tinggi itu melihat bahwa tidak ada UU yang memaksa siapa pun untuk menganut sebuah agama atau mengaku dosa kepada seorang imam.

Siapa saja yang tidak setuju dengan sebuah praktek atau ritual dalam sebuah agama bisa menolaknya, demikian menurut pengadilan tinggi itu.

Petisi itu diajukan di tengah kontroversi di Gereja Ortodoks di Negara Bagian Kerala terkait dugaan adanya ajakan kepada umat paroki untuk mengaku dosa di hadapan seorang imam. Ada klaim bahwa hal ini melanggar hak privasi baik pria maupun wanita.

Sejumlah pemimpin Gereja melihat intervensi federal dalam urusan Gereja sebagai bagian dari kelompok-kelompok Hindu yang berusaha mengintimidasi umat Kristiani sejak Partai Bharatiya Janata (BJP, Bharatiya Janata Party) memenangkan pemilihan nasional pada 2014.

Kelompok-kelompok Hindu yang berafiliasi dengan BJP dituduh terlibat dalam kegiatan anti-Kristen yang bertujuan untuk menambah hegemoni Hindu.

Dan banyak pemimpin Kristiani mengeluh bahwa kekerasan terhadap umat Kristiani memburuk di bawah pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi dari BJP.

 

Gereja Katolik Banglades Tetapkan Prioritas untuk Dekade Selanjutnya

Sel, 04/09/2018 - 16:00

Gereja Katolik di Banglades berencana mengangkat isu kesejahteraan keluarga dan kemiskinan serta perlindungan lingkungan dan kesejahteraan buruh migran sebagai prioritas pastoral untuk dekade selanjutnya.

Menurut pedoman baru itu, pendekatan semacam ini akan “memberi kesaksian” bagi Gereja di negara itu.

Sebuah “pernyataan misi” berisi 12 poin dikeluarkan pada akhir lokakarya pastoral nasional Gereja Katolik yang digelar pada 28-31 Agustus di sekretariat Konferensi Waligereja Banglades di Dhaka. Lokakarya bertema “Persekutuan: Saksi Gereja di Banglades.”

Prioritas pastoral mencakup spiritualitas persekutuan dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat serta pembinaan iman, evangelisasi dan pelayanan pastoral.

Ada juga peluang pendidikan dan penanaman nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan keluarga dan pelayanan pastoral bagi komunitas marginal dan orang miskin.

Prioritas lainnya adalah pengembangan sosial-ekonomi dan kemandirian, kerukunan antaragama dan persatuan umat Kristiani serta promosi panggilan religius dan pelayanan.

Selain itu, prioritas juga menekankan perlindungan lingkungan, penyadaran hak-hak sipil dan peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan keterlibatan politik dan adopsi teknologi baru serta penggunaan media massa.

Lokakarya dihadiri oleh 200 peserta termasuk semua uskup agung dan uskup dari delapan keuskupan serta perwakilan klerus, kaum religius dan umat awam. Hadir pula sejumlah tokoh sosial dan politik dari seluruh Banglades.

Prioritas pastoral Gereja bertujuan untuk menjawab tantangan zaman, kata Uskup Agung Chittagong Mgr Moses M. Costa MSF, ketua panitia.

Prioritas yang diumumkan itu akan menjadi tuntunan bagi umat Katolik agar terlibat dalam persekutuan, lanjutnya.

Detil panduan pastoral akan dibagikan beserta sebuah pandangan keuskupan yang menjelaskan tentang cara menerapkan prioritas tersebut, kata Uskup Agung Costa kepada ucanews.com.

Tantangan yang beranekaragam akan mengakibatkan perselisihan dan perpecahan, katanya. Prestasi yang luar biasa bisa diraih jika orang bekerja bersamap-sama.

Lokakarya pastoral di tingkat keuskupan akan diselenggarakan untuk memperdalam prioritas itu, kata Uskup Khulna Mgr James Romen Boiragi.

Khulna berada di Banglades bagian selatan. Wilayah ini rawan perubahan iklim.

Selain pembinaan persekutuan, rencana pastoral keuskupan akan menangani dampak buruk perubahan iklim, katanya kepada ucanews.com.

Banyak umat Katolik melihat rencana pastoral itu diperlukan tapi sulit diterapkan.

“Saat ini umat di banyak tempat perlahan-lahan menjauhkan diri dari klerus dan kaum religius, terutama karena para imam dan kaum religius kurang tertarik dengan kunjungan pastoral dan kunjungan keluarga,” kata Babli Talang, seorang wanita dari Suku Khasia dan juga umat di Keuskupan Sylhet.

“Selain itu, para pejabat Gereja sering gagal mengambil sikap tegas terkait isu-isu keadilan dan perdamaian,” lanjutnya.

“Para imam dan kaum religius perlu lebih dekat dengan umat agar rencana pastoral itu bisa terwujud,” katanya.

Meskipun prioritas pastoral dianggap sebagai hal positif, ada keprihatinan bahwa Gereja dulu pernah gagal menerapkannya.

“Beberapa isu seperti migrasi, perubahan iklim, kepedulian terhadap orang miskin dan komunitas warga suku sangat penting,” kata Kerubin Hambrom, seorang pria Katolik dari Suku Santal dan umat di Keuskupan Dinajpur.

“Keprihatinan saya adalah para pejabat Gereja tidak bisa memenuhinya sendiri jika umat awam tidak dilibatkan,” lanjutnya.

“Di banyak tempat, umat tidak terlalu dekat dengan Gereja meskipun mereka anggota Gereja, maka Gereja punya banyak hal yang perlu dilakukan untuk menyatukan umat dan bekerja demi kebaikan bersama,” katanya.

Di Banglades yang berpenduduk mayoritas Muslim, umat Kristiani hanya membentuk kurang dari setengah dari 160 juta penduduk, atau sekitar 600.000 orang.

Gereja Katolik memiliki sekitar 350.000 umat dari Bengali dan kelompok etnis di delapan keuskupan.

 

Paus Serukan Jaminan Akses ke Air Bersih 

Sel, 04/09/2018 - 13:24

Air adalah karunia Tuhan yang memungkinkan kehidupan dan jutaan orang tidak memiliki akses ke air minum yang aman, dan sungai, laut dan lautan terus tercemar, kata Paus Fransiskus.

“Merawat sumber air dan waduk air adalah keharusan yang mendesak,” kata Paus dalam pesannya pada 1 September, Hari Doa Sedunia untuk Pemiliharaan Ciptaan, sebuah perayaan yang dimulai oleh Gereja Ortodoks dan sekarang dirayakan oleh banyak orang Kristen.

Perayaan Hari Doa Sedunia untuk Pemiliharaan Ciptaan 2018 berfokus pada air, Paus Fransiskus memberi perhatian khusus kepada lebih dari 600 juta orang yang tidak memiliki akses reguler ke air bersih.

“Akses ke air bersih  yang aman adalah hak asasi manusia universal dan dasar, karena itu penting bagi kelangsungan hidup manusia dan merupakan syarat untuk tercapainya pelaksanaan hak asasi manusia lainnya,” katanya, mengutip dari ensikliknya Laudato Si”  tentang  lingkungan hidup.

“Dalam mempertimbangkan peran mendasar air dalam penciptaan dan dalam perkembangan manusia,” ia menulis, “Saya merasa perlu bersyukur kepada Tuhan untuk ‘Saudari Air,'” seperti kata Santo Fransiskus dari Asisi. Air “sederhana dan berguna untuk kehidupan seperti tidak ada yang lain yang lebih penting di planet kita.”

Memenuhi mandat Injil untuk memberikan minum kepada yang haus melibatkan lebih dari tindakan amal individu, meskipun itu penting, katanya. Ini juga melibatkan “pilihan konkret dan komitmen konstan untuk memastikan semua kebaikan utama air.”

Orang beriman memiliki kewajiban  berterima kasih kepada Tuhan atas karunia air dan “memuji Dia karena telah menutupi bumi dengan lautan,” kata Paus Fransiskus. Tetapi kita juga memiliki kewajiban untuk bekerja sama menjaga lautan tetap bersih dan bukannya membiarkan lautan “dikotori oleh sampah plastik yang mengambang yang tak ada habisnya.”

Membicarakan lautan dan laut, juga membuat Sri Paus memikirkan ribuan migran dan pengungsi yang “mempertaruhkan hidup mereka di laut untuk mencari masa depan yang lebih baik.”

“Mari kita bertanya kepada Tuhan dan semua orang yang terlibat dalam politik tentang beberapa pertanyaan sensitif di zaman kita, seperti yang terkait dengan gerakan migrasi, perubahan iklim dan hak setiap orang untuk memenuhi kebutuhan primer, dapat dihadapi dengan kemurahan hati dan tanggung jawab yang berpandangan jauh ke depan dan dalam semangat kerjasama, terutama di antara negara-negara yang paling bisa membantu,” tulisnya.

Paus Fransiskus juga menawarkan doa bagi nelayan dan orang-orang yang mencari nafkah di laut, bagi mereka yang melayani para pelaut dan untuk semua ilmuwan dan ahli kebijakan publik yang membantu masyarakat mengenali harta karun laut dan bekerja  melindungi mereka.

Dan, ketika Gereja Katolik sedang mempersiapkan  Sinode Para Uskup sedunia bagi orang-orang muda, Paus mendesak orang-orang Kristen untuk mendidik dan berdoa bagi kaum muda “agar mereka tumbuh dalam pengetahuan dan menghormati rumah kita bersama dan dalam keinginan untuk merawat yang kebaikan esensial untuk air, demi kepentingan semua. ”

 

Halaman