UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 43 mnt 49 dtk yang lalu

24 Jemaat Ahmadiyah di Lombok Timur Masih Mengungsi Pasca-Serangan

Sel, 22/05/2018 - 12:31

Sebanyak 24 jemaat Ahmadiyah – 21 perempuan dan 3 laki-laki – masih mengungsi di kantor kepolisian resor di Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat, setelah terjadi penyerangan dan perusakan terhadap sejumlah rumah milik mereka di Desa Gereneng, Kecamatan Sakra Timur, pada akhir pekan lalu.

“Teror penyerangan, kekerasan dan pengusiran terhadap warga negara yang sah, komunitas Muslim Ahmadiyah, terjadi tiga kali saat sedang berlangsungnya puasa Ramadan pada Sabtu dan Minggu (19-20 Mei) oleh kelompok radikal atas dasar kebencian dan intoleransi terhadap kelompok yang berbeda,” kata Yendra Budiana, juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), kepada jurnalis di Jakarta, Senin (22/5).

Akibatnya, lanjutnya, delapan rumah rusak ringan dan berat serta empat sepeda motor hangus terbakar.

Menurut Yendra, para pelaku adalah warga setempat. “Keinginan mereka adalah meratakan (rumah dengan tanah) karena dengan demikian (rumah) tidak bisa lagi ditinggali. Sehingga kemudian (jemaat Ahmadiyah) terpaksa mengungsi,” katanya kepada ucanews.com.

Ia pun meminta aparat kepolisian untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku. “Seharusnya aparat kepolisian tidak bimbang. Walaupun motifnya seakan-akan isu agama, tetapi itu kriminal. Aparat kepolisian seharusnya mengambil tindakan bukan berdasarkan pada isu melainkan pada tindakan (kriminal),” lanjutnya.

Yendra menambahkan bahwa saat ini jumlah jemaat Ahmadiyah yang bermukim di Pulau Lombok ada sekitar 1.000 orang. “Di kabupaten-kabupaten, mereka cenderung sulit didata karena tidak mau menampakkan diri karena ada ancaman kekerasan yang sangat kental,” katanya.

Wakil Ketua SETARA Institute Bonar Tigor Naipospos menyebut penyerangan dan perusakan rumah milik jemaat Ahmadiyah itu sebagai “tindakan biadab atas nama agama.”

“Aksi yang dilakukan oleh massa dari desa setempat ini didasari oleh sikap kebencian dan intoleransi pada paham keagamaan yang berbeda,” katanya.

“SETARA menuntut pemerintah untuk menjamin keamanan jiwa-raga dan hak milik seluruh warga Ahmadiyah, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Jemaat Ahmadiyah memiliki seluruh hak dasar sebagai warga negara yang dijamin oleh UUD 1945, hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegasnya.

Sementara itu, Khariroh Ali dari Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengatakan penyerangan dan perusakan rumah milik jemaat Ahmadiyah itu “menambah potret buram situasi kehidupan keagamaan yang diwarnai oleh kekerasan dan tindakan intoleransi.”

“Peristiwa ini seharusnya dapat diantisipasi segera oleh pemerintah daerah dan aparat keamanan mengingat ancaman penyerangan dan diskriminasi yang terus berlangsung di Propinsi Nusa Tenggara Barat terhadap jemaat Ahmadiyah,” katanya.

 

Uskup Agung Jepang Sangat Terkejut Ditunjuk Sebagai Kardinal

Sel, 22/05/2018 - 10:39

Uskup Agung Osaka Mgr Manyo Maeda sangat terkejut melebihi siapapun karena diberitakan bahwa ia akan menjadi kardinal.

“Orang-orang telah mengirim email dan menelepon satu demi satu  mengatakan mereka telah mendengar pengumuman itu,” kata kardinal itu kepada seorang wartawan ucanews.com setelah Paus Fransiskus mengumumkan daftar kardinal baru di Roma pada 20 Mei.

“Saya  sendiri sama sekali tidak tahu tentang pengumuman itu dan saya  tidak mendapat  kontak sebelumnya. Secara pribadi, saya  tidak berpikir saya  orang yang paling tepat  menjadi seorang kardinal, jadi saya  masih merasa sulit untuk percaya.”

Uskup Agung Maeda adalah wakil ketua  Konferensi Waligereja Jepang (CBCJ). Ia lahir di prefektur Nagasaki  tahun 1949 dan ditahbiskan sebagai imam untuk Keuskupan Agung Nagasaki  tahun 1975. Setelah melayani sebagai sekjen CBCJ dari tahun 2006 hingga 2011, ia ditahbiskan sebagai uskup untuk Keuskupan Hiroshima pada September 2011. Pada  Agustus 2014, dia dipindahkan ke Osaka sebagai uskup agung.

Sebagai penduduk asli Nagasaki, Uskup Maeda secara luas terlibat dalam gerakan perdamaian di Hiroshima. Dia juga bekerja untuk beatifikasi “orang Kristen yang hilang” yang telah diasingkan ke Tsuwano di prefektur Shimane sekarang, bagian dari Keuskupan Hiroshima.

Pada puncak peristiwa penganiayaan anti-Kristen di Jepang, sekitar 3.400 orang Kristen dari Nagasaki diasingkan ke berbagai tempat di seluruh negeri, dan lebih dari 600 orang meninggal.

Uskup Agung Maeda dapat disebut sebagai pengganti yang sah dari para rasul yang menjadi nelayan. Ketika dia menjadi pastor paroki, dia sering pergi memancing dengan kapalnya sendiri dan membawa  bendera warna-warni yang dikibarkan nelayan Jepang.

Selama bertahun-tahun, dia telah melayani orang-orang difabel, sementara sebagai anggota CBCJ dia bertugas di komisi pendidikan dan ekumene.

Kardinal itu juga dikenal sebagai seorang ahli puisi pendek Jepang yang disebut haiku dan puisinya sering muncul dalam khotbah dan artikelnya.

Uskup Agung Maeda adalah orang Jepang keenam yang diangkat sebagai kardinal, tetapi tidak seperti pendahulunya dia belum aktif dalam masalah internasional.

 

Biarawan Benediktin Korea Tawarkan Beasiswa di Afrika

Sel, 22/05/2018 - 08:03

Biara Benediktin Waegwan di Korea Selatan akan menawarkan beasiswa kepada para pelajar Afrika di Togo dan Tanzania yang tengah menempuh studi di sekolah-sekolah yang dikelola oleh biara Benediktin lainnya.

Biarawan Benediktin Korea kini tengah membantu sejumlah gereja dan paroki miskin di Afrika, Asia dan Amerika Latin.

Blasio Park Hyun-dong, kepala biara, mengunjungi beberapa biara di Tanzania, termasuk Ndanda dan Peramiho di bawah Kongregasi St. Ottilien, sejak 28 April hingga 5 Mei.

Biara Benediktin di negara Afrika Timur itu mengelola sekolah teknik, keperawatan dan keguruan serta seminari menengah. Kepala biara melakukan inspeksi ke sekolah untuk menilai kebutuhan finansial dan melihat situasi secara umum.

Misionaris Benediktin pertama kali menginjakkan kaki di wilayah itu pada 1888. Mereka telah menyebarkan iman Katolik dan memberi kontribusi bagi perkembangan komunitas lokal selama 130 tahun.

Membantu mengelola fasilitas sosial seperti sekolah dan rumah sakit merupakan salah satu cara utama yang dilakukan oleh biarawan Benediktin untuk berbagi persaudaraan dengan masyarakat setempat.

“Saya terkejut melihat sitruasi sekolah. Setiap ruang kelas berisi 180 pelajar dan banyak pelajar tidak memiliki akses terhadap air minum,” kata Blasio Park.

“Saya bertemu beberapa biarawan Benediktin Afrika yang mendedikasikan diri sepenuhnya untuk evangelisasi di wilayah itu,” lanjutnya.

Dalam koordinasi dengan biara Benediktin di Tanzania, Biara Waegwan akan memutuskan siapa yang paling layak untuk menerima beasiswa. Para pelajar ini akan diberi beasiswa mulai tahun depan.

“Mereka membutuhkan doa dan dukungan kita. Saya berharap banyak umat Katolik Korea akan bergabung dalam proyek ini dan membantu para pelajar tersebut,” katanya.

 

Berupaya Mengampuni di Tengah Derai Air Mata

Sen, 21/05/2018 - 10:06

Dibopong suami dan keluarga dekat, Wenny Angelina, 47,  mendekati jasad dua anaknya, lalu menabur minyak wangi setelah Misa requiem yang digelar di rumah duka Adi Jasa di Surabaya, Jawa Timur pada 16 Mei.

Kedua putranya Vincentius Evan Hudojo, 11 dan Nathanael Ethan Hudojo, 8 merupakan dua dari enam korban yang meninggal dalam peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katolik St Maria Tak Bercela (SMTB).

Wenny, yang tubuhnya penuh luka, menghadiri upacara itu dilengkapi alat-alat medis, termasuk botol infus yang masih terus tersambung ke tangannya.

Kondisinya masih belum stabil setelah terkena serpihan bom, membuat ia masih harus mendapat perawatan lanjutan.

“Ia hanya diberi waktu empat jam oleh dokter untuk menghadiri upacara itu karena harus melewati perawatan lanjutan,” kata Ratna Handayani, kerabatnya.

Wenny dan kedua anaknya baru saja diturunkan dari mobil pada Minggu, 13 Mei ketika tiba-tiba sebuah sepeda motor yang dikendarai dua remaja bersaudara melaju kencang memasuki gereja dan meledakkan bom yang dipasang di pinggang mereka.

Pelaku, Firman Halim (15) dan kakaknya Yusuf (17) tidak bisa memasuki gedung gereja, setelah berhasil dihentikan oleh seorang petugas keamanan, Aloysius Bayu Rendra Wardhana yang membuat Bayu tewas dan tubuhnya hancur.

Robertus Ditu (23) korban lain dalam kejadian itu yang datang ke gereja hendak mengikuti Misa kedua pada Mingggu itu dan sempat bertemu dengan pelaku di dekat Gereja, mengatakan, ia memilih merem motornya ketika mendengar pelaku yang membunyikan klakson tanpa henti dan mengarahkan kendaraan yang kencang ke gerbang gereja.

“Mendengar bunyi klakson itu, saya merem motor,” kata mahasiswa teknik elektro ini.

“Dalam hitungan detik kemudian, terjadi ledakan. Saya tak sadar lagi, lalu terjatuh. Saya baru mulai sadar atas atas apa yang terjadi setelah ada yang menolong,” katanya.

Saat merabah wajahnya, ada banyak daging dan darah.  “Ada serpihak kaca yang menancap di leher dan tangan saya,” katanya, di mana kemudian ia menjalani operasi.

Itu adalah ledakan pertama hari itu, sebelum kemudian, ledakan kembali terjadi di dua gereja Protestan oleh pelaku dari keluarga yang sama, yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegero, ledakan itu hanya melukai penjaga keamanan, oleh ibu dan dua saudari dari Firman dan Yusuf.

Wilianti, 41, seorang Muslim yang bekerja selama tujuh tahun sebagai perawat di gereja itu mengatakan, ia mendengar ledakan saat sedang berada di ruangan perawatan.

“Saya keluar dan kaget melihat tubuh pelaku hancur,” katanya. “Saya lari lagi ke dalam ruangan karena ada yang teriak bahwa itu bom dan melarang saya mendekat.”

Di Gereja Pentekosta Surabaya, di mana ledakan merupakan yang paling parah, menurut Pendeta Jonathan Bintoro, serangan itu terjadi saat ibadah sudah hendak berakhir.

“Bunyi ledakan sangat dahsyat. Api dan asap hitam masuk gereja. Semua jemaat pun lari keluar,”  katanya.

Dari 6 korban yang meninggal, salah satunya adalah Martha Djumani, pengurus gereja yang sehari sebelumnya bertunangan dengan kekasihnya.

Trauma

Serangan bom itu, yang merupakan pertama kali terjadi di kota yang terkenal toleran dan menjadi basis Nahdatul Ulama, organsiasi Muslim moderat terbesar, menyisahkan trauma bagi para korban.

“Setiap kali keluar kamar, ada rasa takut, jangan-jangan akan ada bom lagi,” ungkap Ditu kepada ucanews.com.

Ia mengatakan akan cuti kuliah untuk semester ini dan kembali ke kampung halamannya di Manggarai Barat, Flores untuk istirahat.

“Saya masih belum bisa beraktivitas seperti biasa. Pikiran saya tidak lagi fokus pada kuliah,” kata pemuda 23 tahun ini yang kini sedang menempuh semester akhir di Universitas 17 Agustus Surabaya.

Wilianti mengaku terpaksa untuk datang kembali ke gereja pada 15 Mei setelah garis polisi dicabut.

“Saya masih sulit untuk melupakan apa yang saya lihat waktu kejadian,” katanya.

Monica Dewi Andini, isteri Bayu, masih lebih banyak berdiam diri tentang apa yang menimpa keluarganya.

Ia ditinggalkan suaminya yang bekerja sebagai fotografer bersama dua anak yang kini berusia 3 tahun dan 10 bulan.

Sejauh ini, pimpinan gereja-gereja sudah berupaya memberi perhatian pada upaya penyembuhan trauma ini.

Pastor Paroki SMTB, Alexius Kurdo Irianto mengatakan, upaya itu menjadi salah satu agenda utama mereka.

“Membangkitkan semangat umat menjadi salah satu upaya prioritas agar mereka berani datang ke gereja sebagaimana biasanya,” katanya.

Daniel Theopilus Hage, ketua umum majelis jemaat GKI Diponegoro mengatakan, mereka akan melakukan pendekatan dan memberi bantuan, terutama kepada anak-anak.

Pemerintah juga sudah mengambil langkah, di mana pada 17 Mei, Walikota Surabaya Tri Rismaharinimembentuk tim trauma center di mana disediakan lebih dari 100 psikolog.

Pengampunan

Di tengah perasaan trauma, para korban berupaya melihat peristiwa ini dalam kaca mata iman.

Rosalia Iswaty, tanta dari Bayu menyatakan, “ini memang pengalaman menyakitkan.”

“Namun, kami menyakini bahwa Tuhan memiliki rencana besar di balik semua ini,” katanya.

“Yesus bilang, tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang menyerahkan nyawanya. Itulah yang Bayu lakukan, karena ia merelakan nyawanya demi 500-an umat yang saat itu ada dalam gereja,” katanya.

Monica, dalam salah satu postingannya di Facebook menulis berupa pesan yang ditujukan kepada dua anaknya bahwa nanti akan tiba saatnya di mana orang bertanya tentang ayah mereka.

“Kalian dengan bangga akan menjawab, ‘papaku di surga dengan Allah Bapa karena dia jadi martir di gereja,’” tulisnya.

Handayani, kerabat Wenny mengatakan, di tengah peristiwa ini, Wenny akhirnya bisa mengampuni pelaku.”

“Dengan hati yang rela, ia menyerahkan Evan dan Nathan ke pangkuan Tuhan,” katanya.

Pastor Kurdo, yang juga sudah menemui Wenny mengatakan, Wenny menyandingkan pengalamannya itu dengan pengalaman Bunda Maria yang kehilangan anaknya, Yesus.

Meski demikian, kata dia, pengampunan tidak berarti menghentikan proses hukum terhadap siapapun yang terlibat dalam serangan teror ini.

“Dosa selalu memilki dua aspek, perbuatan dan hukuman. Kami mengampuni perbuatannya, tapi hukuman tetap berjalan,” katanya.

 

 

Para Uskup Malaysia Memuji Kesuksesan Pemilu Sebagai Kesempatan Menata Ulang Negara

Sen, 21/05/2018 - 09:59

Para uskup Malaysia mengeluarkan pernyataan menyusul kemenangan  Mahathir Mohamad pada 9 Mei, mereka menyebutnya sebagai kesempatan emas menata ulang negara itu menuju sebuah tujuan baru.

Penyingkiran pemerintahan Najib Razak yang tercemar oleh korupsi menandai berakhirnya dominasi selama enam dekade Koalisi Organisasi Nasional Bersatu (UMNO).

Para uskup berterima kasih  kepada Tuhan untuk pemilihan yang relatif damai dan menyatakan terima kasih kepada pemilih yang telah dewasa. Mereka menyerukan agar masyarakat terus berdoa untuk Malaysia.

“Kepada semua pejabat komisi pemilu, lembaga polling, ribuan sukarelawan dan orang yang bertanggung jawab membantu keberlangsungan pemilu, “syabas” (sudah dilakukan dengan baik) untuk pemilihan yang hampir bebas insiden,” menurut pernyataan mereka yang dikeluarkan 16 Mei.

Konferensi Waligereja Malaysia dipimpin oleh Uskup Sebastian Francis dari Penang, yang beranggotakan, Mgr Julian Leow, uskup agung Kuala Lumpur, Mgr Simon Poh, uskup Kuching dan Mgr John Wong, uskup Kota Kinabalu serta enam uskup lain.

“Kami telah menyaksikan kerendahan hati dan pencarian pengampunan atas kesalahan masa lalu,” kata para uskup.

“Kami telah melihat rekonsiliasi yang ditawarkan dan diterima; melihat keanggunan dalam kekalahan; dan cinta untuk perdamaian dan harmoni bagi negara ini.”

Ini adalah kesempatan untuk semakin mempraktekkan nilai-nilai Injil.

“Kita harus berdoa untuk pemulihan dan persatuan di antara kita semua,” kata para pemimpin Gereja tersebut, mereka menyerukan agar umat Katolik berdoa agar  perdamaian negara itu dipertahankan.

Dalam dekade-dekade terakhir, pemerintahan dan layanan pemerintah di negara mayoritas multi-etnis dan beragam agama itu tetapi mayoritas Muslim telah menjadi semakin condong kearah etnis Melayu yang sebagian besar penganut Islam.

Para uskup Katolik di negara bagian Sabah dan Sarawak, yang dipimpin oleh Uskup Agung Wong, di wilayah utara pulau Kalimantan telah menyuarakan keprihatinan atas Islamisasi di provinsi-provinsi yang dulunya mayoritas Kristen.

Oposisi mampu menang setelah sejumlah besar orang Melayu bergabung dengan sebagian besar etnis minoritas lainnya dalam pemungutan suara melawan rezim Najib, mengurangi suara dari 50 persen lima tahun lalu menjadi 36 persen.

Belum terlihat apakah pemerintah yang terpilih, yang untuk sementara dipimpin oleh Mahathir, akan mulai membendung Islamisasi.

Mahathir, mantan perdana menteri yang memimpin lama, diharapkan untuk kemudian menyerahkan jabatan perdana menteri kepada politisi veteran Anwar Ibrahim setelah dia dibebaskan dari penjara. Anwar masuk politik awalnya sebagai pemimpin mahasiswa Islam.

 Michael Sainsbury, Penang,  Malaysia

 

Slogan Patriotik Dipaksakan, Konferensi Waligereja India Mulai Khawatir

Sen, 21/05/2018 - 09:00

Arahan kepada siswa sekolah negeri di negara bagian Madhya Pradesh, India, untuk menjawab dengan slogan patriotik yang disebut ‘Jai Hind’ (hujan es India) selama presensi kehadiran dikritik oleh konferensi Waligereja India.

Pada 15 Mei departemen pendidikan mengatakan pemerintah memutuskan untuk membuat slogan wajib bagi sekolah-sekolah negeri dari awal tahun ajaran baru pada Juni nanti.

“Ini adalah ide patriotisme yang salah tempat,” kata Uskup Agung Bhopal Mgr Leo Cornelio, ketua dewan uskup di wilayah itu.

Slogan yang biasa digunakan Jai Hind muncul selama perjuangan kemerdekaan India dan terus dibangkitkan di akhir lagu kebangsaan. Namun, Hind adalah bentuk singkat dari Hindustan (tanah Hindu) yang mengecualikan minoritas agama di India seperti Kristen dan Muslim.

Pemerintah negara bagian India Tengah, yang dipimpin oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) yang pro-Hindu, tetap mengecualikan sekolah-sekolah yang dikelola  Gereja dari praktik baru.

Namun, sumber resmi yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada ucanews.com bahwa pemerintah mengecualikan sekolah-sekolah swasta yang takut akan serangan balasan karena pemilihan umum akan dilaksanakan pada bulan Desember tahun ini. Sembilan keuskupan di negara bagian memiliki  500 sekolah.

Saat semua sekolah sudah memberi hormat bendera nasional dan menyanyikan lagu kebangsaan setiap hari di sekolah-sekolah, prelatus itu tidak merasa perlu dengan menolak persyaratan slogan Jai Hind.

“Ini konyol,” kata Uskup Agung Leo. Dia menambahkan bahwa tuntutan semacam itu dimaksudkan  mendorong rasa kebangsaan yang tidak menentu, yang menegasikan ide masyarakat inklusif yang menerima warga dari semua agama dan budaya.

Pemimpin agama minoritas seperti Uskup Agung Leo lebih jauh  mengeluhkan kebijakan dan sikap dominan Partai BJP pro-Hindu.

Uskup Agung Leo mengatakan sekolah-sekolah negeri memiliki siswa dari berbagai komunitas agama dan slogan-slogan tersebut, tidak akan bisa mendorong patriotisme, malah menciptakan perpecahan dengan menanamkan gagasan diskriminasi agama dalam pikiran generasi  muda.

Menteri Pendidikan Vijay Shah pada  September menjelaskan lebih jauh terus mempromosikan slogan Jai Hind untuk dipraktekkan di sekolah-sekolah.

Pastor Babu Joseph, mantan juru bicara konferensi waligereja India yang sekarang berpusat  di Madhya Pradesh, mengatakan patriotisme – rasa bangga menjadi warga negara – akan bertumbuh  secara alami tidak bisa dipaksakan kepada setiap warga.

“Tetapi dalam kasus ini, ideologi tertentu dipromosikan atas nama patriotisme,” katanya.

“Ideologi itu tidak diinginkan, terutama di sekolah.”

 

Kelompok Awam Katolik di Korea Desak MK Pertahankan UU Anti-Aborsi 

Jum, 18/05/2018 - 16:10

Di tengah meningkatnya desakan legalisasi aborsi di Korea Selatan, Dewan Kerasulan Awam Katolik Korea (DKAKK) dan Organisasi Wanita Katolik Korea (OWKK) Keuskupan Agung Seoul mengajukan petisi kepada Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (11/5) untuk meminta agar Undang-Undang (UU) Anti-Aborsi tetap dipertahankan.

Petisi diajukan oleh Ketua DKAKK Augustine Sohn Byeong-seon dan Ketua OWKK Keuskupan Agung Seoul Elizabeth Park Hyun-sun.

“Masyarakat Korea mengakui martabat kehidupan sejak dalam kandungan,” demikian bunyi salah satu poin dalam petisi itu.

Merujuk pada UU Anti-Aborsi yang dijabarkan dalam putusan penting MK pada 2012, petisi itu menyebut bahwa UU Anti-Aborsi hendaknya tidak diperdebatkan oleh argumen yang mengatakan bahwa wanita berhak memutuskan apakah ingin hamil atau tidak.

“Kami memutuskan untuk mengajukan petisi ini untuk menunjukkan bahwa Gereja masih menentang legalisasi aborsi,” kata Augustine Sohn.

“Saya berharap para hakim mendengar permintaan awam Katolik Korea karena mereka khawatir masyarakat yang menentang (UU Anti-Aborsi) berusaha mengukur nilai dari sebuah kehidupan manusia, sementara kehidupan manusia merupakan hal penting,” lanjutnya.

Pengadilan akan meninjau kembali UU Anti-Aborsi pada 24 Mei.

Para pembela UU Anti-Aborsi khawatir bahwa peraturan ini akan dipengaruhi oleh petisi online yang ditandatangani oleh 235.000 orang yang telah diserahkan kepada staf kantor presiden Cheong Wa Dae pada September 2017. Petisi online ini meminta agar aborsi dilegalkan.

Pada November lalu, Cho Kuk, sekretaris urusan sipil dari kantor kepresidenan, menanggapi isu ini dengan berjanji untuk meningkatkan kualitas pendidikan seks bagi para remaja dan mendukung para ibu dan keluarga yang diadopsi.

Aborsi masih menjadi isu sensitif di Korea Selatan di mana seorang wanita bisa dihukum penjara maksimal satu tahun dan didenda sebanyak 1.820 dolar AS karena memiliki anak di luar pernikahan.

Selain itu, sejumlah kelompok hak asasi manusia (HAM) beragumen bahwa aborsi ilegal masih terjadi dan dakwaan jarang sekali diberikan.

Aborsi dilegalkan hanya dalam beberapa kasus seperti perkosaan, hubungan darah, jika orangtua tidak bisa menikah secara legal, jika melahirkan membahayakan kesehatan ibu, atau jika orangtua memiliki penyakit menular. Semua aborsi ilegal setelah 24 minggu tanpa ada pengecualian.

Ketika isu penolakan terhadap UU Anti-Aborsi mengemuka enam tahun lalu, MK menyuarakan dukungannya dengan mengatakan, “Hak wanita hamil untuk menentukan nasib sendiri hendaknya tidak dicegah oleh hak janin untuk hidup.”

Awal tahun ini, Konferensi Waligereja Korea mengajukan petisi yang sama disetrtai lebih dari satu juta tanda tangan.

 

Imam dan Aktivis HAM Dilarang Meninggalkan Vietnam

Jum, 18/05/2018 - 12:53

Seorang  perempuan  Katolik yang juga Aktivis HAM dan seorang imam menuduh pemerintah Vietnam berusaha menghalangi mereka melakukan perjalanan ke luar negeri.

Pada 16 Mei, Maria Do Thi Minh Hanh, ketua  Masyarakat Sipil, Gerakan Buruh Vietnam dihentikan di Bandara Internasional Tan Son Nhat di Kota Ho Chi Minh, di mana ia berencana terbang ke Jerman untuk mengunjungi ibunya.

Hanh, 33, mengatakan dalam sebuah video yang diposting di Facebook bahwa pejabat di bandara mengatakan kepadanya bahwa dia tidak diizinkan meninggalkan negara itu demi alasan “keamanan nasional”.

Dia mengatakan dia menulis di dokumen resmi bahwa “Saya jelas kehilangan hak saya untuk kebebasan bepergian.”

Namun, para pejabat keamanan mengatakan dokumen dengan keluhan itu tidak diterima.

Aktivis itu mengatakan pihak berwenang Vietnam sebelumnya telah berjanji kepada para pejabat Jerman bahwa mereka akan mengizinkan dia  pergi ke luar negeri. Dia kemudian dapat melakukan perjalanan ke negara tetangga Kamboja.

“Pemerintah menipu pemerintah Jerman dan saya ketika mereka mengizinkan saya pergi ke Kamboja, tetapi sekarang melarang saya bepergian ke Jerman,” katanya.

Dia merasa malu dengan perlakuan pemerintah Vietnam yang tidak bisa diterima, kata Hanh.

Halangan yang terakhir ini  adalah yang keempat terhadapnya dalam tiga tahun terakhir.

Aktivis serikat buruh itu ditangkap karena “mengganggu keamanan”  tahun 2010. Dia dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara, namun dibebaskan  tahun 2014.

Tahun ini, Departemen Luar Negeri AS mengakui dia sebagai pahlawan HAM  atas usahanya  mempromosikan HAMa dan pekerja di Vietnam.

Pada  14 Mei, Pastor Joseph Dinh Huu Thoai dihentikan oleh petugas militer di perbatasan darat dengan Laos ketika dia bermaksud pergi ke Amerika Serikat untuk mengunjungi kerabat dan teman-temannya.

Dalam rekaman audio yang diposting di Facebook, Pastor Thoai meminta petugas  menjelaskan mengapa dia dilarang meninggalkan negara itu. Para petugas menyatakan bahwa mereka bertindak atas perintah atasan mereka.

Imam itu mengatakan dia tidak melanggar hukum apa pun dan tidak tunduk pada perintah larangan polisi. November lalu, dia bisa bepergian keluar dari Vietnam.

Pastor Thoai menuduh pemerintah mengambil kebebasan bepergian warga negara dan melanggar hukum dengan mengganggu kegiatan kelompok independen.

Pastor Thoai secara rutin berbicara menentang pelanggaran HAM dan  kebebasan beragama. Dan dia aktif dalam mendukung mantan tentara Vietnam Selatan yang hidup dalam kemiskinan ekstrim sejak Perang Vietnam berakhir pada 1975.

Tahun 2011, imam itu juga dilarang pergi ke Kamboja. Sejak Juni 2017, sudah tiga imam Redemptoris (CSsR) dilarang bepergian ke luar negeri.

 

Keamanan Masjid Ditingkatkan Selama Ramadan

Jum, 18/05/2018 - 12:46

Serangkaian aksi teror mematikan yang terjadi baru-baru ini di beberapa wilayah di Indonesia mendorong sejumlah masjid untuk meningkatkan keamanan selama Bulan Suci Ramadan yang dimulai sejak Kamis (17/5).

Pada Rabu (16/5) petang, Masjid Istiqlal memasang pintu detektor metal ketika Presiden Joko Widodo dan ribuan umat Islam menjalankan sholat tarawih perdana.

Menurut polisi, lebih dari 1.000 aparat kepolisian dikerahkan untuk menjaga masjid terbesar di negara ini tersebut.

Peningkatan keamanan dilakukan menyusul serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan Mapolrestabes pada akhir pekan lalu di Surabaya, Propinsi Jawa Timur. Pada Rabu (16/5), sebuah kantor polisi di Pekanbaru, Propinsi Riau, juga diserang.

Sedikitnya 30 orang, termasuk pelaku, tewas.

Helmi Muhammad Nur, humas Masjid Al Akbar di Surabaya, mengatakan pengurus masjid juga sempat mengkhawatirkan penurunan jumlah jamaah yang menjalankan sholat tarawih di masjid itu.

“Di samping kami percaya dengan polisi, kami secara internal melakukan upaya lain seperti membuat command center di mana kami mempunyai 16 CCTV indoor. Ada 7 CCTV di jalan raya. Semua terkoneksi dan masuk ke command center. Kami bersama-sama melakukan monitoring, mulai dari pintu masuk, wilayah wudhu, dsb,” katanya kepada ucanews.com.

“Selama Ramadan, pada jam-jam padat antara pukul 16.00 dan 22.00, kami melibatkan 20 personel pengamanan dan 17 petugas parkir. Selain itu juga ada petugas relawan, baik jamaah putra maupun putri, yang membantu jamaah jika ada kesulitan,” lanjutnya.

Langkah-langkah keamanan selama Ramadan tersebut diambil “untuk membantu jamaah agar bisa beribadah dengan tenang dalam kondisi apa pun.”

Ahmad Toha, ketua Yayasan Masjid Jami’ Istiqomah di Ungaran, Propinsi Jawa Tengah, mengatakan keamanan masjid terbesar kedua di kota itu juga ditingkatkan.

“Dengan situasi seperti ini, kami memasang semua CCTV, kami aktifkan. Ada sekitar 6 CCTV di masjid. Kami waspada, bukan mencurigai,” katanya kepada ucanews.com.

“Tadi malam, sekitar pukul 21:30, ada patroli polisi. Saya kira kalau patroli polisi di Ungaran itu sudah biasa. Tapi kalau situasi secara umum seperti ini, mungkin ada peningkatan,” lanjutnya.

Beberapa wilayah di Indonesia juga meningkatkan keamanan. Di Sukabumi, Propinsi Jawa Barat, misalnya, polisi membentuk Polisi Ramadan yang beranggotakan sekitar 400 aparat kepolisian untuk menjaga semua masjid dan fasilitas umum selama Ramadan di wilayah itu.

Jelang Ramadan, seorang Muslim berusia 26 tahun dari Jakarta, menyambut baik peningkatan keamanan di masjid.

“Saya senang sekali ada pengamanan dari polisi. Itu menambah situasi semakin kondusif. Tapi di sisi lain, bisa jadi sekarang tempat ibadah bukan lagi suatu tempat yang aman. Harusnya tempat ibadah tempat yang aman, tidak perlu dijaga lagi,” katanya kepada ucanews.com.

Menurut Rama, Ramadan hendaknya menjadi memontem “untuk melakukan evaluasi bagi umat Islam bahwa masih ada Saudara-Saudari kita yang terkontaminasi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Islam sehingga solidaritas terhadap sesama kurang.”

Keamanan gereja 

Selain masjid, serangkaian aksi teror juga mendorong sejumlah gereja khususnya di Propinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan keamanan.

Pastor Dominikus Beda Udjan SVD, pastor kepala Paroki St. Yoseph di Matraman, Jakarta Timur, mengatakan kepada ucanews.com bahwa paroki mulai memperketat pengamanan dengan menambah jumlah petugas keamanan setiap shift.

Setiap shift harus dua orang yang jaga dan pintu gerbang dikunci. Jika ada orang yang tidak dikenal, pengecekan dilakukan. Jendela mobil harus dibuka,” katanya.

Ia mengatakan paroki juga berkoordinasi dengan polisi setempat.

“Biasanya ada monitoring dari Polsek Matraman. Mereka datang ke gereja untuk memonitor. Monitoring rutin itu dilakukan satu orang polisi, tapi sekarang ditingkatkan menjadi 2-3 polisi. Mereka datang setiap hari,” lanjut imam itu.

Upaya peningkatan keamanan juga dilakukan sebagai bagian dari persiapan Misa yang akan digelar pada Minggu (20/5) sore untuk memperingati 64 tahun pelayanan imam SVD di paroki tersebut. Menurut rencana, Misa akan dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo.

“Pengamanannya seperti perayaan besar. Jadi kita monitor dengan detektor metal seperti perayaan Natal dan Paskah. Minggu pagi nanti gereja disterilkan. Ini khusus, ada kehadiran Bapak Uskup, maka kita mohon ijin,” kata Pastor Domi, seraya mengimbau umat agar tidak membawa tas besar saat Misa.

Hal senada disampaikan oleh Darsono, seorang petugas keamanan di Paroki St. Fransiskus Xaverius di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Kebetulan banyak umat di sini berpartisipasi dalam penjagaan gereja. Umat di sini banyak yang peduli. Tapi memang pengamanan diperketat,” katanya kepada ucanews.com.

 

211 Tahun KAJ Dirayakan Dengan Jalan Santai Lintas Agama

Jum, 18/05/2018 - 12:00

Tahun ini keuskupan agung Jakarta merayakan 211 tahun namun perayaannya cukup unik dengan mengadakan jalan santai lintas agama – Protestan, Islam, Hindu, Buddha, Konfucu, dan juga umat Katolik dari paroki-paroki di keuskupan agung tersebut.

Hampir 1.000 peserta berpartisipasi dalam acara itu yang diadakan belum lama ini. Meskipun di tengah ancaman teror di sejumlah tempat, namun para peserta berbusana budaya khas  daerah di Indonesia sangat antusias  menyanyi dan menari sambil berjalan sejauh empat kilometer.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengatakan melalui acara itu Gereja Katolik KAJ ingin merayakan perbedaan.

“Acara ini menjadi simbol kerukunan. Saya menyampaikan terima kasih kepada kelompok-kelompok agama dan pejabat pemerintah dalam acara ini karena kehadiran mereka memperkuat Gereja,” kata Mgr Suharyo.

Ia menyatkan acara ini sesuai dengan arah dasar  KAJ bahwa 2018 sebagai Tahun  Persatuan. “Di tahun 2018, kita ingin memperdalam pemahaman tentang sila ketiga Pancasila – Persatuan Indonesia – dengan thema ‘Kita Bhinneka, Kita Indonesia,” katanya.


 

Ia mengatakan thema Pancasila ini menjadi gerakan bersama hingga tahun 2020 karena ini adalah gerakan persaudaraan dan gerakan ini juga diadakan di tingkat paroki di wilayah KAJ.

Ignatius Jonan, Menteri SDEM, berharap bahwa umat Katolik perlu bekerjasama dengan kelompok-kelompok agama lain.

“Kita sebagai bangsa, jangan eksklusif dan memisahkan diri dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya dalam sambutan mengawali jalan santai.

Ahmad Syafii Mufid, ketua FKUB DKI Jakarta, mengatakan kehadiran kelompok lintas agama pada acara jalan santai ini untuk mendukung Gereja Katolik di keuskupan ini.

“Kehadiran kami dalam acara ini untuk menunjukkan bahwa kami ingin berjalan bersama Anda sebagai satu bangsa dan saya memuji peran Gereja Katolik bagi bangsa ini – Hidup KAJ, hidup Gereja Katolik, Hidup Indonesia Raya,” katanya.

Mitha, 43, seorang Muslim, yang berpartisipasi dalam acara itu mengatakan ia berpartisipasi dalam acara itu sebagai wujud  toleransinya.

“Saat ini Indonesia terjadi  banyak kasus intoleransi dan teror. Kehadiran sejumlah warga Mulsim dalam acara ini menunjukkan kami anti-intolerasi,” katanya.

 

Budi Suherman, 52,  seorang beragama Buddha, yang juga berpartispasi dalam acara itu mengatakan acara seperti ini perlu diadakan setiap tahun untuk mengingatkan masyarakat tentang keberagaman.

“Acara ini menunjukkan bahwa perbedaan agama, etnis dan budaya bukan masalah,” katanya.

Romo Antonius Suyadi, ketua pantia, dan juga ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Masyarakat KAJ mengatakan acara jalan santai lintas agama adalah baru pertama kali diadakan tahun ini.

“Jalan santai kerukunan dan kebhinnekaan ini data menjadi media bersama dalam mewujudkan silaturahmi nyata dalam mempererat persaudaraan antaragama,” kata Romo Suyadi.

Acara itu diberiahkan dengan Drumband, Barongsai, Rebana, Ondel-ondel.

KAJ didirikan pada 8 Mei 1807 sejak Vatikan mendirikan Perfektur Apostolik Batavia (kini Jakarta), yang meliputi seluruh nusantara.

Menurut Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia tahun 2017, KAJ memiliki lebin dari 500.000 umat Katolik yang tersebar di 66 paroki serta memiliki  64 imam diosesan, 273 imam religius, 590 suster, dan 175 bruder.

 

Proyek Air Bintang Bollywood Adopsi Metode Yesuit Swiss

Jum, 18/05/2018 - 10:04

Ribuan orang muda India bersama gerakan konservasi air yang dipimpin oleh seorang aktor – produser terkenal Bollywood, Aamir Khan, mengatasi masalah kekeringan dengan menggunakan metode yang awalnya digerakkan oleh Yesuit  Swiss.

Lebih dari 150.000 mahasiswa dari kota-kota India barat yang rawan kekeringan bergabung dengan Khan pada  1 Mei  menggali parit-parit menjelang musim hujan di lebih dari 100 desa di 24 kabupaten, di Negara Bagian Maharashtra.

Saurabh Vishal, seorang mahasiswa dari Universitas Internasional Symbiosis di Pune, mengatakan dia bangga bisa membantu.

“Ini sebuah karya besar bagi negara, desa dan rakyat kami,” kata Vishal yang membantu penggalian parit di desa Savargaon, distrik Parbhani.

“Saya merasa terhormat  bergabung dengan penduduk desa yang bekerja keras demi  membebaskan desa mereka dari kekeringan,” kata pria berusia 25 tahun itu kepada ucanews.com.

Khan, 53, mengatakan gerakan ini semula direncanakan melibatkan 100.000 mahasiswa untuk menawarkan ‘Shramdaan’ (tenaga kerja fisik gratis) demi membantu desa-desa terpencil yang rawan kekeringan.

Ini semua adalah program kerja  Yayasan Paani (air)  yang didirikannya tahun 2016.

Khan memerlukan 45 hari  menyiapkan desa yang rawan kekeringan untuk konservasi air. Metode yang digunakan dengan penggalian parit yang memungkinkan air hujan  ditampung dan diresap ke bumi tempat ia akan membantu mengisi lebih banyak  tingkat volume air yang dieksploitasi.

Pekerjaan akan selesai bulan ini agar siap untuk musim hujan Juni-September. Penyerapan dan penampungan air akan membuat desa mandiri dalam persediaan  air di musim panas berikutnya.

Yayasan  Paani  bekerja dengan Organisasi Watershed Trust (WOTR) sebagai “mitra ahlinya.” WOTR menyediakan dukungan teknis dan pelatihan untuk yayasan, kata Khan.

Produser aktor itu mengatakan dia menghargai karya pelestarian air  yang dilakukan oleh Yesuit Swiss, Pastor Hermann Bacher SJ, yang mendirikan WTOR bersama Crispino Lobo, mantan imam Yesuit  tahun 1993.

WTOR dibentuk membantu penduduk desa mengatasi kekurangan air di daerah kering dan sekarang aktif di delapan negara bagian India.

Ide ‘Shramdaan’ mencari tenaga kerja fisik gratis untuk konservasi air “dimulai dan dilaksanakan oleh Pastor Bacher tahun 1980-an yang menginspirasi kelompok relawan lainnya  mengikutinya,” kata Lobo.

Pastor Joe D’Souza SJ, direktur Pusat Sosial Yesuit di Ahmednagar, yang membantu memberdayakan para petani yang terpinggirkan, mengatakan Pastor Bacher telah “meramalkan krisis air 50 tahun lalu ketika ia meluncurkan tim pengeboran tahun 1966  menggali sumur” di distrik Ahmednagar untuk menampung air.

Mimpi bebas kekeringan

Di Maharashtra,  setengah dari 43.665 desa dinyatakan mengalami kemarau tahun 2016.

“Mimpi kami adalah membuat Maharashtra bebas kekeringan dalam lima tahun,” kata Khan.

“Kami menemukan bahwa di mana pun masalah air telah dipecahkan, solusinya ada pada upaya kolektif masyarakat dan tenaga kerja,” kata Khan.

Sebagai persiapan dalam proyek ini, lima orang dari setiap desa yang berpartisipasi akan dilatih. Mereka diajarkan metode konservasi air penduduk desa lainnya termasuk cara terbaik menampung air hujan.

Yayasan Khan mengikutsertakan desa-desa  menjadi bagian dari program melalui kompetisi yang menawarkan hadiah uang besar.

Satyajit Bhatkal, staf  yayasan, mengatakan tiga desa teratas akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 1,5 Milyar, Rp 988 juta dan Rp 793 juta untuk juara pertama, kedua dan ketiga.

Kompetisi ini melibatkan perancangan proyek konservasi air dengan menggali pematang, parit dan danau buatan dengan mnggunakan tenaga kerja gratis  menampung air hujan, dan melestarikannya di desa dan di lahan pertanian.

Desa-desa yang berpartisipasi juga melakukan pengujian dan perawatan tanah  mempertahankan kelembaban dan penggunaan air anggaran itu. Desa-desa memenangkan hadiah berdasarkan kerja maksimal yang mereka lakukan untuk konservasi DAS dan pengelolaan air.

Khan mengatakan pemerintah negara bagian mendukung pemberian izin jika diperlukan, terutama ketika pekerjaan DAS perlu dilakukan di hutan.

Tetapi, Khan telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan pemerintah, kata Abraham Mathai, seorang pemimpin Kristen dan mantan wakil ketua Komisi Minoritas Negara Bagian Maharashtra.

Khan telah “melakukan apa yang belum pernah dilakukan aktor film lainnya  melindungi, melestarikan dan memelihara lingkungan, terutama membebaskan desa-desa yang rawan kekeringan di Maharashtra,” katanya.

Yayasan ini didanai oleh perusahaan-perusahaan besar di India dan memiliki anggaran tahunan Rp 91 milyar, kata Khan.

 

Dua Gereja yang Rusak Akibat Bom Bunuh Diri Mulai Diperbaiki

Kam, 17/05/2018 - 15:52

Dua dari tiga gereja yang menjadi sasaran bom bunuh diri di Surabaya, Propinsi Jawa Timur, mulai melakukan perbaikan gedung gereja dan membantu para korban yang selamat agar terhindar dari trauma.

Gereja ketiga belum bisa melakukan perbaikan pada 16 Mei karena tim forensik polisi masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.

Upaya perbaikan gedung gereja Paroki St. Maria Tak Bercela dimulai sehari setelah serangan bom bunuh diri terjadi pada Minggu (13/5). Fokusnya adalah memperbaiki menara, pintu utama, dinding dan jendela di bagian depan gedung gereja.

“Kami berharap perbaikan ini selesai minggu ini,” kata Pastor Alexius Kurdo Irianto kepada ucanews.com.

Selain perbaikan gedung gereja, paroki juga memfokuskan upaya bantuan bagi para korban yang masih trauma.

Pastor Kurdo dan dewan paroki telah mengunjungi semua korban yang masih dirawat di rumah sakit dan juga keluarga mereka.

“Saya sangat terkesan, mereka menerima apa yang telah terjadi dan ingin memaafkan para pelaku,” katanya.

Ia menambahkan bahwa paroki sepakat membantu para korban termasuk memberi bantuan finansial untuk anak-anak yang orangtuanya meninggal, termasuk kedua anak Aloysius Bayu Rendra Wardhana.

Bayu tewas saat berusaha menghadang dua pelaku bom bunuh diri yang mencoba menerobos masuk ke gereja.

Di Gereja Kristen Indonesia (GKI), upaya perbaikan dimulai pada Selasa (15/5) setelah polisi selesai melakukan investigasi di lokasi ledakan.

Gedung gereja GKI mengalami kerusakan ringan.

Ledakan melukai beberapa pertugas keamanan gereja, kata Josua Poli, anggota dewan gereja. Gereja juga tengah melakukan program penyembuhan trauma.

Sementara itu, upaya perbaikan di Gereja Pentekosta Pusat Surabaya (GPPS) yang mengalami kerusakan parah belum dimulai. Polisi masih melakukan pengumpulan barang bukti terkait jenis bom yang digunakan.

Soehendro, seorang jemaat yang berada di dalam gereja saat terjadi ledakan, mengatakan gedung gereja membutuhkan perbaikan besar karena interior rusak parah.

“Ledakannya besar dan menyebabkan atap roboh. Jemaat lari karena panik,” katanya kepada ucanews.com.

Seorang wanita yang berada di dalam gereja ketika terjadi ledakan dan minta tidak disebutkan namanya mengatakan ledakan itu meninggalkan rasa takut luar biasa sehingga ia tidak mau datang kembali ke gereja itu selama beberapa hari ke depan.

“Saya berani datang hari ini (Rabu) saja setelah suami saya minta berkali-kali,” katanya.

Serangan terhadap ketiga gereja tersebut dilakukan oleh satu keluarga termasuk anak-anak yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Serangan ini menewaskan 12 umat Kristiani dan mencederai banyak umat lainnya.

Serangan lain terjadi di Mapolrestabes Surabaya keeseokan harinya oleh sebuah keluarga. Sedikitnya empat orang tewas dan 10 orang cedera.

Densus 88 menemukan 54 bom rakitan di rumah keluarga pelaku bom bunuh diri yang menyerang Mapolrestabes Surabaya.

Pada 16 Mei, beberapa teroris menyerang kantor polisi di Pekanbaru, Propinsi Riau. Serangan ini menewaskan satu polisi, dan empat teroris yang berafiliasi dengan ISIS ditembak mati oleh polisi.

 

Caritas Asia Berkomitmen Kembangkan Pertanian Berkelanjutan

Kam, 17/05/2018 - 15:00

Caritas Asia memutuskan untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan dan menghidupkan kembali ketahanan pangan dengan tujuan untuk meningkatkan penghasilan para petani.

Lembaga aksi sosial Gereja itu menyampaikan komitmennya pada sebuah konferensi yang digelar pada 8-11 Mei di Keuskupan Ruteng.

Keuskupan Ruteng memiliki sekitar 791.200 umat Katolik, setengah lebih dari jumlah ini adalah petani.

Perwakilan dari 13 negara Asia termasuk India, Sri lanka, Nepal, Filipina, Kazakhstan dan Timor Leste menghadiri konferensi tersebut. Sejumlah lembaga donor, pejabat pemerintah setempat, mahasiswa dan aktivis juga hadir.

Direktur Caritas Keuskupan Ruteng Pastor Yuvens Rugi mengatakan peserta membahas pembangunan pertanian berkelanjutan melalui pertanian organik yang telah diadopsi di proyek-proyek besar di Kamboja dan Indonesia.

“Peserta sepakat bahwa penggunaan pupuk organik bisa mengatasi masalah produktivitas dan lingkungan yang dihadapi para petani,” katanya.

Di banyak negara, pupuk kimia yang digunakan selama beberapa dekade telah merusak lingkungan dan kesuburan tanah. Akibatnya, jumlah panen pun berkurang.

Dalam tiga tahun terakhir, Keuskupan Ruteng melatih petani dalam membuat pupuk organik melalui pembentukan 16 kelompok pemandu di desa-desa.

Gereja, katanya, membantu kelompok ini mencari cara murah untuk mengatasi masalah kesuburan tanah yang mulai berkurang.

“Mereka kini sadar bahwa mereka harus mengubah metode pertanian yang biasa dilakukan dan menggantinya dengan pertanian organik,” kata Pastor Rugi.

Ia mengatakan Caritas Keuskupan Ruteng mengembangkan sebuah pendekatan holistik kepada para petani dengan memberi bukan hanya ketrampilan tetapi juga bantuan spiritual melalui katekese.

Peserta konferensi berkesempatan untuk mengunjungi dua kelompok petani yang dipandu oleh Keuskupan Ruteng. Para petani ini memperlihatkan kepada mereka cara membuat pupuk organik.

Chintan Manandhar dari Nepal terkesan dengan apa yang sudah dilakukan di Keuskupan Ruteng dan ingin menerapkan prinsip yang sama di negaranya.

“Saya akan pulang dan membagikan hal ini kepada para petani di Nepal,” katanya.

Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng Pastor Marthen Chen mengatakan upaya untuk mempromosikan pertanian berkelanjutan bisa berhasil jika ada sinergi dengan sejumlah pihak termasuk pemerintah.

Mengangkat derajat hidup para petani menjadi tanggung jawab semua pihak – pemerintah dan lembaga agama, katanya.

Bupati Manggarai Kamelus Deno mengatakan pertanian berkelanjutan merupakan satu dari sekian banyak cara untuk meningkatkan kualitas hidup petani.

Ia menambahkan bahwa 63 persen dari 137.440 pekerja di Kabupaten Manggarai bekerja di sektor pertanian dan terjebak dalam kemiskinan selama bertahun-tahun.

“Sejak tahun lalu kami memulai pertanian organik dengan melibatkan 12 kelompok yang terdiri atas sekitar 400 orang. Total lahan ada 50 hektar,” katanya.

Hasilnya pun menjanjikan.

“Dalam setahun, produksi mencapai 320.000 kilogram, sebagian besar buah-buahan dan sayuran,” lanjutnya.

 

Para Uskup Taiwan Mengundang Paus Fransiskus

Kam, 17/05/2018 - 14:24

Tujuh uskup Taiwan yang mengunjungi Roma telah mengundang Paus Fransiskus untuk melakukan kunjungan pertama yang bersejarah ke Taiwan pada Maret tahun depan.

Uskup Agung  Taipei Mgr John Hung Shan-chuan, ibukota Taiwan, mengatakan dia suka “memimpikan yang mustahil.”

Uskup Agung Hung, dalam sebuah resepsi pada 10 Mei yang diadakan di kedutaan Taiwan untuk Takhta Suci, diceritakan membuat lelucuan dengan memprediksi bahwa kedutaan akan “hilang” pada  Maret tahun depan.

Dia merujuk pada laporan berita bahwa Cina  dan Takhta Suci setuju menjalin hubungan diplomatik.

Itu terjadi di tengah spekulasi kesepakatan antara Takhta Suci dan Beijing akan segera dicapai tentang  pengangkatan  uskup, membuka jalan bagi Takhta Suci mengalihkan pengakuan dari Taiwan ke Cina.

Namun, Uskup Agung Hung mencatat bahwa hal ini tidak terjadi karena “diketahui bahwa hubungan antara Taiwan dan Vatikan penuh dengan rumor.”

Seorang juru bicara Vatikan mengatakan pada malam Kamis Putih bahwa tidak ada kesepakatan yang akan segera terjadi.

Sementara itu, tujuh uskup Taiwan melaporkan kepada Vatikan perkembangan keadaan keuskupan mereka, sesuatu yang umumnya terjadi setiap lima tahun.

Terakhir kali para uskup Taiwan mengunjungi Vatikan pada  Desember 2008 pada masa  Paus Benediktus XVI.

Uskup Agung Hung, ketika bertemu dengan Paus Fransiskus mengatakan dia secara resmi mengundang Paus ke Taiwan untuk menghadiri Kongres Ekaristi yang akan diselenggarakan di Taiwan pada Maret mendatang.

Dan bahkan jika Paus tidak dapat mengunjungi Taiwan secara khusus, uskup agung berharap dia setidaknya akan transit di Taiwan selama beberapa jam karena belum ada Paus yang sebelumnya mendarat di sana.

“Paus peduli pada orang yang kurang beruntung,” kata Uskup Agung Hung.

Taiwan telah “terbebani” dalam komunitas internasional selama beberapa dekade dengan diperlakukan sebagai bagian dari Cina dan tidak diizinkan  berpartisipasi dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Masyarakat Taiwan merasa seperti anak yatim internasional,” tambah Uskup Agung Hung.

Uskup Han Yingjin dari Keuskupan Snyuan di provinsi Shaanxi China, yang diakui oleh Vatikan dan Cina, mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa Paus yang bertemu dengan para uskup Taiwan akan memiliki dampak.

Dia berpikir bahwa Vatikan akan mempertimbangkan pendapat mereka bersama dengan beberapa pandangan dari pemerintah Taiwan.

Namun, dia yakin bahwa peralihan final pengakuan diplomatik oleh Takhta Suci tidak dapat dihindarkan.

Uskup Agung Paul Richard Gallagher, Sekretaris Hubungan Antara Bangsa, posisi tertinggi ketiga di Vatikan, mengatakan kepada upacara penyambutan di kedutaan bahwa dia berharap para uskup akan kembali ke Taiwan dengan keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi setelah bertemu paus.

Taiwan memiliki kurang dari 300.000 umat Katolik, hanya dua persen dari populasi.

Vatikan adalah satu dari 19 negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan.

 

Umat Katolik Filipina Memberi Penghormatan kepada Maestro Musik Gereja

Kam, 17/05/2018 - 10:20

Umat ​​Katolik Filipina tengah berduka atas kematian seorang  yang mereka cintai, sang ” Maestro” musik gerejawi Filipina.

Melvin Corpin, 55, komposer, penulis lirik, dan arasement, meninggal pada 11 Mei di Amerika Serikat setelah sekian lama menderita sakit.

“Dia adalah kehilangan besar bagi pelayanan musik di Keuskupan Agung Palo,” kata Eileen Ballesteros, umat Paroki  Santo Nino – Tacloban.

“Dia adalah salah satu komposer musik Gereja terbaik di keuskupan agung Palo,” kata Ballesteros.

Beberapa komposisi Corpin dimainkan saat Misa yang dipimpin Paus selama kunjungan Paus Fransiskus ke provinsi Leyte tahun 2015.

Pada 17 Januari 2015, Corpin memimpin paduan suara keuskupan agung Palo yang beranggotakan 250 orang  selama Misa Paus untuk korban Topan Haiyan.

“Keuskupan agung kami telah kehilangan harta karun musik, tetapi surga memperoleh bakat lain untuk orkestra surgawi,” kata Philip Jude Acidre yang berkolaborasi dengan Corpin untuk perayaan Hari Kaum  Muda di Filipina.

“Saya ingat dia memenuhi permintaan kami untuk sebuah komposisi musik dari Credo dalam (bahasa Tagalog) dan Agnus Dei yang memungkinkan para pelayan Ekaristi memiliki waktu untuk pindah ke lebih dari 50 tempat penerimaan komuni,” kenang Acidre.

Dia mengatakan ada rencana tahun lalu  membuat album lagu-lagu liturgi yang berjudul “Karya Suci Melvin Corpin.”

“Menyedihkan bahwa kita tidak bisa merealisasikan proyek itu, paling tidak dengan Melvin,” kata Acidre.

Madonna Songalia mengatakan dia tumbuh dengan musik Corpin di parokinya. “Dia bisa menciptakan  musik hangat dan indah kepada umat beriman,” katanya kepada ucanews.com.

Juru bicara Keuskupan Agung Palo, Pastor Chris Arthur Militante, mengucapkan terima kasih kepada Corpin yang digambarkan pastor itu sebagai “seorang mentor, dan seorang teman.”

Corpin adalah wakil ketua untuk Ensemble, Pelatihan dan Pengembangan kelompok Waraynon Initiative Network, sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di California bagian selatan, sampai dia meninggal.

Organisasi ini berasal dari sekelompok warga Filipina yang bertujuan “melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Filipina melalui seni.”

Dalam sebuah pernyataan, kelompok itu mengatakan  almarhum musisi ini adalah “bagian tak terpisahkan dari organisasi” dan dia meninggalkan “warisan musik, cinta, dan persahabatan.”

Jess de Paz, direktur artistik dari Leyte Dance Theatre, mengatakan musik Corpin “akan bertahan sebagai memoar yang indah.”

Cinta Corpin pada musik ditunjukkan sejak  awal hidupnya ketika berusia empat tahun dia mulai bermain piano. Ketika dia berusia 10 tahun, dia mulai menulis dan mengaransemen musik.

Dia menyelesaikan gelar musik di Leyte Normal University di Kota Tacloban. Setelah lulus, ia mulai menyelenggarakan konser dan paduan suara di paroki dan sekolah.

Konferensi Waligereja Filipina dan pemerintah kemudian menugaskan Corpin  menyusun nyanyian dan musik liturgi. Dia biasa bepergian ke luar negeri mengadakan  lokakarya dan konser sebagai direktur musik dari kelompok karismatik “Keluarga Anak – anak Allah.”

Dia memimpin paduan suara anak-anak dari Yayasan Pendidikan St. Theresa Tacloban dalam memenangkan penghargaan berbagai kompetisi di Filipina.

Kecerdasan musik Corpin memungkinkan dia untuk hidup dan bekerja di Amerika Serikat tempat Gereja Paroki St. Monica Carpentersville, Illinois, menugasi dia  menjadi direktur musik paduan suara.

Corpin bertahan hidup sekian lama karena dukungan istrinya, Carla, seorang perawat dan penyanyi, dan keempat anak mereka yang juga memainkan alat musik yang berbeda.

 

Aparat Tetap Perketat Pengamanan Gereja di Surabaya

Kam, 17/05/2018 - 10:00

Menyusul terjadinya serangan bom bunuh diri secara beruntun terhadap tiga gereja dan satu kantor polisi di Surabaya, aparat menerapkan pengamanan ketat untuk gereja-gereja di ibukota Provinsi Jawa Timur tersebut.

Sebagaimana disaksikan ucanews.com, Selasa, 15 Mei, para polisi, tentara dan Satpol PP tampak berjaga-jaga di sejumlah gereja, juga  fasilitas umum yang dinilai rawan.

Hingga kini, total 13 orang korban dan 12 pelaku yang dinyatakan meninggal, sementara puluhan lainnya luka-luka akibat serangan yang dilakukan selama dua hari.

Serangan pertama yang terjadi pada Minggu, 13 Mei berlokasi di Gereja Katolik St Maria Tak Bercela di Ngagel; Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro dan Gereja Pentekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuna. Pada hari yang sama, terjadi ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Hari berikutnya, Senin, 14 Mei, Mapolresta Surabaya menjadi sasaran, di mana empat pelaku kemudian tewas.

Mimik Sugiono, salah satu kordinator Satpol PP yang ditemui di GKI Jalan Diponegoro mengatakan, penjagaan ketat itu atas instruksi Polda Jawa Timur dan Walikota Risma, demi memastikan tidak ada lagi kejadian serupa.

“Kami tidak mau kecolongan lagi,” katanya. “Pemerintah berkomitmen untuk melindungi semua warga negara,” katanya.

Selain Gereja, sekolah-sekolah Kristen dan Katolik juga menjadi pusat pengamanan, katanya.

“Kita selalu berkoordinasi dengan intelijen. Penentuan objek yang menjadi prioritas pengamanan mengacu pada informasi mereka,” katanya.

Setiap lokasi yang dianggap rawan ancaman, kata dia, ditempatkan lebih dari 10 petugas.

Di Gereja Katolik St Maria. penjagaan ketat dilakukan sejak 13 Mei, yang melibatkan belasan pasukan gabungan.

“Umat memang saat ini masih dihantui trauma dan kehadiran aparat bisa membuat umat bisa beribadah dengan tenang,” kata Fransiskus Xaveris Ping Tedja, ketua keamanan di paroki tersebut.

Ia menjelaskan, kini di Gereja itu yang bagian depannya hancur, masih berlangsung sejumlah kegiatan Gereja, termasuk Misa harian.

“Ada peningkatan jumlah umat, karena mereka mau bersama-sama mendoakan para korban,” katanya.

Di Gereja Katedral, Surabaya, jalan di depannnya masih disterilkan dan aparat kepolisian selalu mengadakan patroli rutin ke lokasi tersebut, kata Indra Tewa, koordinator penjaga keamanan.

 

Umat Kristiani di Surabaya Masih Trauma Akibat Serangan Bom

Rab, 16/05/2018 - 19:51

Umat Kristiani di Surabaya, Propinsi Jawa Timur, masih berjuang menghilangkan rasa trauma dan dukacita mendalam setelah terjadi serangan bom di tiga gereja termasuk Paroki St. Maria Tak Bercela di kota terbesar kedua di Indonesia tersebut pada 13 Mei lalu.

Serangan bom bunuh diri di ketiga gereja yang dilakukan oleh satu keluarga yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan juga serangan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya pada keesokan harinya yang dilakukan oleh satu keluarga lainnya menewaskan sedikitnya 25 orang termasuk para pelaku dan mencederai puluhan orang.

“Umat paroki masih dihantui rasa trauma,” kata Fransiskus Xaverius Ping Tedja, koordinator keamanan di paroki tersebut.

Meskipun demikian, kegiatan paroki tetap berlangsung seperti biasa, termasuk Misa harian, lanjutnya.

“Ada kenaikan jumlah umat yang menghadiri Misa karena mereka ingin berdoa bersama bagi para korban,” katanya.

Rosalia Siswaty, tante dari Aloysius Bayu Rendra Wardhana yang tewas saat berusaha menghadang dua pelaku bom bunuh diri yang mengendarai sepeda motor dan mencoba menerobos masuk ke lingkungan gereja, mengatakan ia dan keluarganya sangat bangga dengan aksi keponakannya.

“Kami sangat sedih dengan insiden ini. Tapi kami juga bangga karena ia meninggal untuk menyelamatkan banyak orang,” katanya kepada ucanews.com.

Pastor Alexius Kurdo Irianto, selaku pastor paroki, mengatakan parokinya kini memfokuskan pemberian bantuan kepada keluarga korban.

Josua Poli, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) – gereja yang juga menjadi sasaran serangan bom, mengatakan umat Protestan masih trauma.

Tetapi “sejauh ini hubungan kami dengan penduduk setempat baik-baik saja,” katanya.

Sementara itu, keamanan ketat masih dilakukan di kedua gereja tersebut serta di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) yang juga menjadi sasaran serangan bom.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini memerintahkan agar keamanan diperketat untuk memastikan “tidak akan ada lagi insiden,” kata Mimik Sugiono, juru bicara Satpol PP.

“Kami tidak mau kehilangan lebih banyak orang,” katanya kepada ucanews.com.

Keamanan juga diperketat di sekolah-sekolah Katolik dan Protestan, lanjutnya.

“Kami selalu berkoordinasi dengan intelijen dan langkah-langkah pengamanan diambil berdasarkan informasi mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa sedikitnya 20 aparat keamanan dikerahkan di setiap lokasi.

Orang muda Katolik juga diminta untuk menjaga keamanan, termasuk di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, kata Indra Tewa, koordinator keamanan gereja katedral.

“Sejak insiden terjadi, setiap malam, ada sekitar 30 orang muda Katolik ikut berjaga-jaga,” katanya.

 

Harga BBM di Sri Lanka “Mencekik” Para Nelayan

Rab, 16/05/2018 - 19:46

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah memicu aksi protes di kalangan nelayan di Sri Lanka. Banyak nelayan menolak melaut sejak Senin (14/5) karena mereka menuntut pemerintah agar mendengarkan permintaan mereka untuk mengontrol harga BBM.

Sebagai bagian dari aksi protes, mereka juga mengibarkan bendera hitam di perahu dan kapal pemukat. Hal ini memaksa pasar ikan untuk tutup dan meninggalkan pelabuhan.

Pada 10 Mei, pemerintah menaikkan harga minyak tanah menjadi 57 rupee (sekitar 0,36 dolar AS) per liter, premium menjadi 20 rupee dan solar menjadi 14 rupee.

Sebuah perahu bermesin tunggal membutuhkan 20-35 liter minyak tanah untuk melaut sepanjang hari. Akhirnya banyak nelayan tidak bisa melanjutkan aktivitas melaut mereka dan memutuskan untuk tidak melaut sampai harga BBM diturunkan, kata Loyal Pieris, ketua Perhimpunan Nelayan Nasional.

“Biaya yang dikeluarkan untuk membeli BBM naik dari 1.500 menjadi 3.000 rupee per hari (sekitar 9,40-18,80 dolar AS),” kata Pieris yang mewakili 2.000 anggota perhimpunan itu.

Menyusul aksi protes di seluruh negeri dan aksi boikot melaut yang masih berlanjut, pemerintah sepakat untuk menyediakan subsidi BBM mulai 18 Mei.

Namun Pieris mengatakan anggotanya tidak akan puas dengan langkah yang pernah dilakukan ini dan mendesak pemerintah agar menurunkan harga BBM di seluruh negeri itu.

“Ketika mereka memberi subsidi BBM beberapa waktu lalu, sejumlah pejabat meminta suap dan memberi subsidi kepada orang lain dan bukan mereka yang pergi ke laut untuk bertahan hidup,” katanya kepada ucanews.com.

“Ribuan nelayan turun ke jalan pada 2012 untuk menentang kenaikan harga BBM yang diperkenalkan di bawah kepemimpinan Mahinda Rajapaksa,” lanjutnya.

“Kemudian polisi menembak para demonstran yang melakukan aksi protes secara damai, dan sedikitnya satu orang Katolik, Anton Fernando, tewas,” kata Peiris dari Barudalpola di Kota Maravilla, Propinsi Barat Laut.

Ia mengatakan pekerja teh dan petani juga mengalami kesulitan akibat kenaikan harga BBM secara mendadak.

Seorang nelayan lainnya, Anton Samare dari Negombo, mengatakan harga suku cadang mesin dan jaring juga meningkat beberapa kali baru-baru ini sehingga cukup sulit bagi nelayan untuk membeli membiayai kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saya punya tiga anak. Maka sangat sulit bertahan hidup sekarang. Belum lagi kami harus membeli BBM,” kata Samare.

“Beberapa hari kami tidak menangkap ikan. Tapi kami masih harus membayar minyak tanah yang naik 130 persen,” lanjutnya.

Kardinal Malcolm Ranjith mengatakan nelayan adalah orang yang paling terdampak dan pemerintah bertanggungjawab untuk membantu mereka.

Banyak nelayan di Sri Lanka beragama Kristen dari komunitas marginal yang secara rutin mengorbankan penghasilan harian mereka setiap Hari Minggu untuk menghadiri Misa dan menghormati Hari Sabat sebagai hari istirahat.

Mereka mengaku sulit karena jaring yang rusak bisa merogoh penghasilan mingguan mereka dan jika mereka kembali ke pelabuhan dengan tangan kosong, mereka hanya menghabiskan uang dan tidak membawa pulang apa pun.

Mangala Samaraweera, perdana menteri Sri Lanka, mengatakan pemerintah tidak akan mampu memulihkan harga BBM seperti sebelumnya akibat kenaikan harga minyak di pasar dunia.

Sementara itu, para pengusaha bus meminta kenaikan ongkos minimum sebagai dampak dari kenaikan harga BBM.

 

Uskup Filipina Peringatkan Jatuhnya Duterte dari Kekuasaan

Rab, 16/05/2018 - 18:59

Seorang uskup Filipina memperingatkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte bahwa dia bisa menyusul setelah pemecatan Maria Lourdes Sereno, ketua pengadilan negeri itu.

Uskup Auksilier Manila Mgr Broderick Pabillo, seorang kritikus vokal  pemerintahan Duterte, mengatakan  pemecatan Sereno pada 11 Mei lalu oleh hakim Mahkamah Agung (MA) “menumbangkan demokrasi.”

“Mahkamah agung jatuh ….kejadian ini menghancurkan diri sendiri dengan memberikan quo warranto. Pemecatan  itu menjatuhkan Sereno dari menjadi benteng kemerdekaan dalam sistem demokrasi kita,” kata Uskup Pabillo.

Delapan dari 15 hakim pengadilan mendukung pemberian petisi  quo warranto untuk menyingkirkan Sereno dari jabatannya.

Quo warranto adalah tindakan hukum khusus  menyelesaikan sengketa apakah seseorang memiliki hak untuk memegang jabatan publik yang didudukinya.

Kegagalan Sereno  melaporkan harta kekayaan dan kewajibannya  sebelum dia diangkat menjadi kepala pengadilan  tahun 2012 disebut sebagai alasan  memulai proses.

“(Mahkamah agung) kehilangan harga diri dan bahkan rasa hormat dari rakyat. Mahkamah agung  tidak diragukan lagi  menjadi alat Duterte,” kata Uskup Pabillo.

Prelatus itu mengatakan keputusan MA telah membuat marah rakyat banyak yang sekarang secara terbuka menyatakan seruan agar presiden mengundurkan diri.

“Pertarungan sekarang bergerak dari mahkamah agung ke istana kepresidenan karena rakyat dengan jelas menyaksikan gerakan diktator rezim Duterte,” kata prelatus itu.

Pada 15 Mei, para pengacara, mahasiswa hukum, dan berbagai organisasi pengacara berdemonstrasi menuju  ke gedung MA di Manila untuk menyatakan penolakan mereka terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai “melanjutkan serangan terhadap independensi peradilan.”

“Komunitas hukum telah berbicara. Kami menyatakan diri  melakukan perlawanan terkuat kami terhadap pengusiran ketua hakim agung,” kata pengacara Ephraim Cortez, sekjen Perhimpunan Pengacara Persatuan Nasional (NUPL).

Cortez menggambarkan keputusan pengadilan sebagai sesuatu yang “keliru secara hukum dan tidak konstitusional” dan “praktis memenggal peradilan dan memberi pesan yang mengerikan.”

“Keputusan itu memberikan predikat otoritarianisme karena menyelesaikan pemusatan kekuasaan di eksekutif,” kata pengacara, memperingatkan bahwa serangan terhadap independensi peradilan “menempatkan demokrasi kita dalam bahaya.”

Presiden NUPL, Edre Olalia, mengatakan keputusan itu akan memiliki “efek merusak kemerdekaan  sebuah lembaga negara yang dianggap sama bebas dari eksekutif, sebagai wasit terakhir yang berkuasa dari banyak masalah hukum.”

“Keputusan ini menjadi pertanda buruk bagi isu-isu kemasyarakatan yang membutuhkan perlindungan dan promosi peradilan,” kata Olalia, seraya menambahkan bahwa keputusan untuk menggulingkan hakim agung “menjadi preseden berbahaya karena pemecatan dari jabatan pejabat publik konstitusional dapat dipotong melalui trik hukum yang tidak jujur.”

Beberapa uskup  sebelumnya mengutuk langkah MA.

Uskup Emeritus Teodoro Bacani dari keuskupan Novaliches, salah satu penyusun  konstitusi negara 1987, mengatakan penggulingan Sereno telah “melemahkan” MA, yang digambarkan oleh prelatus itu sebagai “pelindung utama demokrasi kita.”

“Saya sangat menyesal atas apa yang terjadi,” kata uskup.

Uskup  Agung Ozamis Mgr Martin Jumoad memohon kepada rakyat “tetap tenang” dan tidak menggunakan kekerasan.

Uskup Pabillo memperingatkan lebih banyak protes dalam beberapa hari mendatang. “Berharap lebih banyak membuka kedok kemunafikan Duterte dan para pengikutnya,” kata prelatus itu.

Dalam beberapa bulan terakhir, Duterte terus menyerukan pengusiran Sereno setelah sikap kritisnya  terhadap tindakan keras presiden atas  dugaan pecandu narkoba, penjual, dan pelindung mereka tanpa proses hukum.

 

Halaman