UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 39 mnt 3 dtk yang lalu

Pontianak Berbenah Menyambut Jambore Nasional SEKAMI 2018

Jum, 08/12/2017 - 07:40

Panitia jambore nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (SEKAMI) mengadakan rapat koordinasi persiapan jambore nasional  di Aula Susteran KFS, paroki Maria Ratu Pembawa Damai (MRPD) di Pontianak, 7 Desemver 2017.

Jambore nasional yang akan diakan pada 3-6 Juli 2018  di Keuskupan Agung Pontianak merupakan bagian dari perayaan 175 tahun SEKAMI yang dirayakan secara internasional. Kegiatan ini akan diikuti oleh 37 keuskupan.

Turut hadir dalam rapat koordnasi pada 7 Desember Pastor Markus Nur Widipranoto, Ketua Komisi Karya Misioner Konfrerensi Waligereja Indonesia (KWI).

Tema jambore nasional SEKAMI kali ini adalah Berbagi Sukacita Injil Dalam Kebhinekaan, dan akan diikuti oleh seluruh keuskupan di Indonesia. Tiap keuskupan akan mengirim 30 perwakilan, dengan keistimewaan peserta dari keuskupan di Kalimantan Barat akan lebih banyak.

“Tema ini diambil karena ingin memadukan apa yang diamanatkan bapa suci Paus Fransiskus dan realitas atau konteks Indonesia,” kata Pastor Markus.

Bapa suci mengamanatkan agar umat Katolik di seluruh dunia hendaknya berbagi sukacita Injil, mewartakan sukacita Injil sebagai identitas gereja.

“Indonesia sendiri sangatlah plural, terdiri dari berbagai macam suku, pulau dan ras, di sinilah kita ingin berbagi sukacita di bumi nusantara,” tambahnya.

Dia mengatakan dalam pertemuan yang dilangsungkan selama empat hari, peserta yang terdiri dari remaja dan pendamping akan bersama-sama belajar lebih lanjut mengenai identitas gereja yang berbagi sukacita Injil.

“Anak-anak diajak untuk mengenal lebih jauh mengenai hakikat gereja misioner dan bagaimana memberikan pemahaman agar dapat direalisasikan dalam konteks kebhinekaan di Indonesia,” tuturnya.

Dia berharap dengan adanya jambore ini para remaja Katolik semakin mencintai negara dan bangsa Indonesia sekaligus semakin memiliki ketangguhan iman katolik.

“Dengan kata lain para peserta akan mengokohkan diri untuk membangun komitmen 100 persen katolik 100 persen Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: 37 Keuskupan Seluruh Indonesia Akan Ikuti Jambore Nasional SEKAMI 2018

Surat dari Uskup Agung Menuai Protes Perdana Menteri India

Kam, 07/12/2017 - 19:20

Perdana Menteri India Narendra Modi memprotes keras seorang Uskup Agung Katolik yang memperingatkan bahwa “kekuatan nasionalis” dapat mengambil alih negara.

Perselisihan itu berawal dari surat kontroversial Uskup Agung Macwan dari Keuskupan Agung Gandhinagar, ibu kota Gujarat, pada 21 November yang dikirim kepada semua uskup di negara bagian tersebut.

Surat tersebut memperingatkan bahwa kaum nasionalis semakin dominan secara politik di India dan di ambang memegang kekuasaan di seluruh negeri.

Ini dilihat sebagai referensi yang jelas kepada Partai Bharatiya Janata (BJP) yang sangat nasionalis dan pro-Hindu.

Pemilihan akan diadakan pada tanggal 9 dan 14 Desember di negara bagian Gujarat, India barat, di mana BJP memerintah sejak 1995.

BJP menguasai secara nasional dan juga di sebagian besar 29 negara bagian di India.

Perdana Menteri Modi menjawab bahwa dia “terkejut” bahwa seorang pria beragama secara efektif berusaha mengarahkan umat Katolik tentang bagaimana memilih.

Modi sedang menghadiri sebuah pertemuan publik di Gandhinagar pada 2 Desember menjelang pemilihan di negara asalnya.

Pengamat percaya hasil pemilihan di negara bagian  akan mempengaruhi  pemilihan umum nasional pada 2019.

Uskup Agung Macwan, tidak secara khusus menyebut partai politik mana saja dalam suratnya, namun meminta doa untuk membantu pemilih memilih orang-orang yang akan tetap “setia” terhadap konstitusi sekuler India dan menghormati hak asasi manusia.

Orang yang kritis terhadap kelompok BJP dan kelompok Hindu garis keras  mendukung langkah uskup agung itu, dan mengatakan bahwa telah terjadi penurunan toleransi beragama di India dan adanya dorongan untuk mengabadikan dominasi Hindu di bawah Modi.

Modi tidak menyebut Uskup Agung Macwan saat menanggapi komentar tersebut.

Namun, Modi mengatakan dengan tegas bahwa mereka yang mengeluarkan fatwa agama terhadap nasionalis harus mempertimbangkan usaha yang dilakukan pemerintahnya untuk membebaskan dua imam Katolik yang diculik oleh teroris Islam.

Perdana Menteri mengatakan bahwa pemerintahnya dengan aman mengembalikan Pastor Thomas Uzhunnalil yang dibebaskan pada bulan September, 18 bulan setelah dia diculik di Yaman.

Dia mengatakan bahwa pemerintahnya juga berhasil  untuk membebaskan Pastor Alexis Prem Kumar pada bulan September 2015, delapan bulan setelah para tersangka militan Taliban menculiknya di Afghanistan.

Uskup Agung Macwan tidak bersedia berkomentar mengenai ucapan perdana menteri tersebut.

Komisi Pemilihan Umum Gujarat pada 25 November meminta Uskup Agung Macwan untuk menjelaskan mengapa suratnya tidak dipandang sebagai pelanggaran undang-undang pemilihan.

Prelatus tersebut mengatakan bahwa dia hanya mengeluarkan surat untuk meminta doa tanpa niat buruk terhadap partai politik tertentu.

Seorang juru bicara Keuskupan Agung Delhi, Pastor Savari Muthu, mengatakan kepada ucanews.com bahwa seharusnya tidak ada kontroversi mengenai surat tersebut karena prelatus tersebut telah mengeluarkan sebuah klarifikasi.

Uskup agung tersebut hanya menyatakan keprihatinannya terhadap situasi yang ada tanpa menyebut partai politik tertentu, kata Pastor Muthu.

Klerus, Religus Bersatu Melawan Tindakan Keras Rodrigo Duterte

Kam, 07/12/2017 - 14:59

Pembunuhan  terhadap  Pastor Marcelito Paez di Filipina pada 4 Desember muncul sehari setelah pejabat Katolik bertemu untuk mempersiapkan diri menghadapi tindakan keras yang dilakukan kepada para aktivis.

Pater Paez ditembak di Provinsi Nueva Ecija yang di pulau Luzon beberapa jam setelah membantu membebaskan tahanan politik.

Pastor Oliver Castor, juru bicara Misionaris Pedesaan Filipina (RMP), mengatakan bahwa pertemuan tersebut sebelumnya mencakup berbagai organisasi gereja, berbagai pengalaman tentang kekerasan akhir-akhir ini.

RMP, yang sebagian besar bekerja dengan petani dan masyarakat adat, menyatakan keprihatinannya atas ancaman dari Presiden Rodrigo Duterte terhadap dugaan sebagai “organisasi terdepan” komunis.

“Kami mengambil langkah-langkah keamanan, posisi mundur,” kata pastor Castor. “Tapi kami tidak pernah menduga, mereka akan memukul kami begitu dekat dengan rumah, begitu cepat.”

Ucanews.com mewawancarai Pastor Castor pada 5 Desember, satu jam sebelum Duterte mendeklarasikan Partai Komunis Filipina (CPP), Tentara Rakyat Baru (NPA) dan Front Demokratik Nasional (NDF) sebagai organisasi “teroris”.

BACA: Warga Filipina Berduka dan Marah atas Pembunuhan Imam

Sehari kemudian, juru bicara Angkatan Bersenjata, Kolonel Edgard Arevalo mengatakan bahwa pasukan keamanan akan mengejar kelompok-kelompok kiri yang diduga memberikan bantuan logistik dan dukungan lainnya kepada pemberontak komunis.

Dalam sebuah wawancara radio, Arevalo menyebutkan Bayan Muna, yang mencalonkan diri dalam pemilihan Kongres dan Bagong Alyansang Makabayan merupakan payung hukum organisasi massa progresif.

Juru bicara Angkatan Bersenjata bahkan menargetkan Akbayan, sebuah partai politik yang terkait dengan pemerintahan mantan Presiden Beningo Aquino.

“Kami telah menerima informasi mengenai bantuan yang mereka berikan,” kata Arevalo.

Gereja perisai bagi  yang tertindas

RMP mengatakan pembunuhan Pater Paez adalah tindakan brutal terhadap Gereja Katolik dan sebenarnya bertujuan menabur teror di kalangan pembangkang politik yang menentang pembunuhan ekstra-yudisial dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

Castor mengatakan bahwa anggota kelompok agama di seluruh negeri rentan terhadap serangan karena gereja dipandang sebagai tempat perlindungan, terutama bagi orang-orang yang paling miskin.

“Bukan pemimpin massa yang paling mereka inginkan,” kata pastor tersebut kepada ucanews.com.

Pasukan keamanan akan memilih pemimpin low-profile dengan jaringan akar rumput.

Dia menambahkan bahwa profil pater Paez cocok sebagi target mereka.

“Dia sangat dicintai dan bekerja keras dengan segala kemampuan untuk menyatukan berbagai komunitas dan sektor,” kata Castor

Langkah Duterte untuk mendeklarasikan organisasi pemberontak terlama di Asia, sebuah kelompok teroris setelah dia mengakhiri perundingan damai yang berlangsung berminggu-minggu.

Iglesia Filipina Independiente (IFI), yang memisahkan diri dari Gereja Katolik lebih dari seabad yang lalu, juga telah mempersiapkan diri untuk menghadapi tindakan keras yang diumumkan.

Pater Jonash Joyohoy mengatakan kepada ucanews.com bahwa IFI memiliki banyak misi di daerah konflik dimana militer mencap aktivis yang tidak bersenjata sebagai pemberontak Tentara Rakyat Baru.

Klerus hidup dengan suku-suku selama berminggu-minggu pada suatu waktu untuk memastikan panen dan musim tanam tidak terganggu oleh kekuatan militer atau paramiliter.

“Kami tidak akan menarik diri, kami tidak akan pernah menarik diri,” pater Joyohoy menekankan.

“Tapi kita perlu memperketat pengamanan karena meningkatnya risiko keamanan.”

Tantangan

Kelompok hak asasi manusia Karapatan mencatat 98 kasus pembunuhan aktivis di luar hukum, dan tiga penghilangan paksa, di bawah pemerintahan Duterte.

Polisi dan masyarakat, bahkan kelompok hak asasi manusia yang mengklaim sebagai agen negara, juga telah membunuh ribuan orang yang dicap sebagai pecandu narkoba atau bandar.

Langkah terakhir Duterte melawan perbedaan pendapat telah ditentang dengan demonstrasi. Misalnya, aktivis berkumpul di depan markas Angkatan Bersenjata negara tersebut.

Dan lebih dari seratus seminaris, para biarawati dan pemimpin awam memprotes menyusul sebuah forum perundingan perdamaian yang dibatalkan.

Luis Jalandoni adalah pensiunan ketua panel perundingan NDF, yang mewakili berbagai kelompok kiri dan progresif.

“Saya percaya bahwa gereja dan religius memiliki peran penting dalam menentang kediktatoran,” kata Jalandoni, seorang mantan imam, kepada ucanews.com.

“Mereka berjuang keras sepanjang tahun melawan kediktatoran Marcos, membantu rakyat dan pada akhirnya menggulingkannya.

“Mereka membenamkan diri dalam perjuangan rakyat dan memberikan segala macam dukungan.

Mereka memberi perlindungan yang aman bagi para aktivis yang dicari, merawat korban militer dan keluarga mereka, dan membawa orang-orang yang terluka ke dokter. ”

Beberapa telah bergabung dengan revolusi bawah tanah atau berjuang dan meninggal bersama Tentara Rakyat Baru.

Partai Komunis Filipina memiliki 70.000 anggota di seluruh negeri, menurut para pejabatnya.

Sayap bersenjata, NPA, memiliki 4.000 gerilyawan bersenjata, menurut perkiraan pemerintah.

Masyarakat Diajak Memilih Pemimpin Muslim

Kam, 07/12/2017 - 11:32

Sejumlah pemimpin kelompok Islam garis keras meminta kaum Muslim di Indonesia untuk memilih pemimpin seiman dalam pemilihan umum mendatang.

Pertimbangannya adalah jika tidak memilih pemimpin seiman maka penerapan ajaran Islam tidak akan berjalan dengan baik.

Sabtu lalu (2/12), sekitar 40.000 umat Islam berkumpul di kawasan Monumen Nasional (Monas) untuk memperingati aksi protes yang digelar setahun lalu. Saat itu, aksi protes ini menargetkan Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, seorang Protestan.

Ahok dihukum dua tahun penjara atas kasus penodaan agama setelah menantang klaim bahwa Alquran mewajibkan umat Islam hanya dipimpin oleh pemimpin seiman.

Sebenarnya Ahok mengklaim bahwa ayat Alquran disalahgunakan oleh para lawan politiknya yang beragama Islam.

Aksi protes akhir pekan lalu tersebut diadakan oleh beberapa kelompok Islam termasuk Front Pembela Islam (FPI). Tujuannya untuk mempromosikan para calon pemimpin Muslim menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Beberapa orator mendorong masyarakat yang memiliki hak pilih untuk meminta nasihat dari para ulama sebelum menentukan pilihan.

“Saat ini Indonesia butuh lebih banyak pemimpin Islam – baik di tingkat nasional maupun daerah – yang bisa membela Islam dan memastikan bahwa ajaran Islam diterapkan,” kata Ketua Umum FPI Ahmad Sobri Lubis kepada ucanews.com seusai aksi protes.

“Kami tidak ingin orang seperti Ahok untuk memimpin,” lanjutnya.

Namun, beberapa umat Islam radikal mengkritik Presiden Joko “Jokowi” Widodo karena menargetkan kelompok-kelompok intoleran termasuk melarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Slamet Ma’arif, koordinator Aksi 212 untuk menentang Ahok yang digelar tahun lalu, juga kecewa dengan pemerintahan saat ini meski pemimpinnya seorang Muslim.

“Umat Islam dipecahbelah dan hanya pemimpin Muslim yang baik yang bisa menyatukan mereka dengan menerapkan ajaran Islam,” katanya.

“Saya yakin ini bisa mengatasi permasalahan bangsa,” lanjutnya.

Sementara itu, pemimpin FPI Muhammad Rizieq Shihab hanya bisa menyapa para pendukungnya lewat telekonferensi. Ini dikarenakan ia masih berada di Arab Saudi sejak polisi menetapkannya sebagai tersangka utama dalam sebuah kasus skandal seks.

“Mari kita berjuang untuk NKRI bersyariah,” katanya, merujuk pada Syariat Islam yang mengandung hukuman berat bagi suatu kesalahan.

“Itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan negara ini dan melindungi agama-agamanya dari penodaan agama,” katanya.

Mitha Aulia, mantan anggota HTI, bergabung dengan aksi protes itu karena kecewa dengan Presiden Jokowi yang telah membubarkan kelompoknya.

“Saya ikut dalam acara ini untuk menunjukkan keprihatinan bahwa Indonesia saat ini sangat membutuhkan seorang pemimpin yang bisa menyatukan umat Islam,” kata wanita berusia 23 tahun itu.

Namun, Mafud, seorang mahasiswa Muslim lainnya, tidak sepakat dengan imbauan itu.

“Kita butuh pemimpin yang bisa memajukan Indonesia, tidak peduli agamanya apa,” katanya.

Sementara itu, Bonie Hargens, pengamat politik dari Universitas Indonesia, menyebut aksi protes itu bernuansa politik. Targetnya adalah Presiden Jokowi.

“Setelah Ahok, sekarang mereka menargetkan Presiden Jokowi,” katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa imbauan mereka adalah hak mereka.

“Indonesia adalah sebuah negara demokratis. Mereka boleh saja menentukan kandidat mereka sendiri atau bahkan membentuk partai politik,” katanya.

Meski Berusia 94, Pria Asal Vietnam Tetap Ajarkan Iman Katolik

Rab, 06/12/2017 - 16:28

Meski sudah berusia 94 tahun, Joseph Tran Minh Nhu tetap membantu warga desa di wilayah pegunungan di Vietnam bagian barat laut untuk mengenal agama Katolik.

Baginya, ini salah satu hal yang paling memuaskan dalam hidupnya.

Dengan selera humor yang baik. ia rutin mengunjungi beberapa desa di Propinsi Yen Bai. Ia memberi warga desa materi ajaran agama Katolik dan mengajak mereka untuk menghadiri Misa.

“Saya sudah melayani warga adat di wilayah ini selama lebih dari 50 tahun,” katanya.

Nhu menguasai Bahasa Thailand dan bahasa Suku Muong.

“Saya tidak bisa berhenti melakukan ini meski saya harus meminjam uang untuk membayar semua pengeluaran saya dan ongkos perjalanan,” lanjutnya.

Belum lama ini, selama beberapa hari, ia mengunjungi beberapa desa. Ia juga mendorong 14 warga Suku Kinh, Muong dan Thai yang bukan beragama Katolik untuk menghadiri sebuah Misa yang khusus diadakan untuk memperingati Hari Misi Sedunia di Gereja Vinh Quang, Distrik Van Chan. Warga suku ini berusia 40-75 tahun, dan banyak diantaranya tinggal sejauh 50 kilometer dari gereja itu.

Pada 22 Oktober lalu, ada suatu perayaan yang dihadiri oleh sekitar 1.000 umat Katolik. Dalam kesempatan ini, umat non-Katolik yang berkunjung itu diperlkenalkan dengan agama Katolik dan diberi hadiah.

Baik umat Katolik dan non-Katolik berbagi pandangan soal iman mereka dan tugas membesarkan anak. Mereka juga mengungkap keprihatinan mereka terkait masalah sosial serta menjalin relasi.

Nhu juga mengundang beberapa warga Suku Thai dan Muong untuk menghadiri Misa yang diadakan di gereja itu November lalu supaya mereka bisa mendoakan keluarga mereka yang sudah meninggal. Ia pun berencana mengajak umat non-Katolik ini untuk mengunjungi gereja itu pada perayaan Natal.

“Saya berusaha membangun hubungan baik dengan mereka, mengunjungi mereka, memberi mereka makan dan obat-obatan ketika mereka membutuhkannya serta menghormati keyakinan mereka,” katanya. “Ini baik supaya hati mereka terbuka untuk merangkul Gereja.”

Ayah dari lima bersaudara itu telah membaptis sekitar 100 warga Suku Muong dan Thai di wilayah-wilayah yang tidak memilki imam tetap.

“Saya rutin mengunjungi dan mendorongg mereka agar menghadiri Misa di gereja,” katanya.

 

Anak Yatim Piatu Yang Diadopsi Keluarga Katolik

Nhu pindah ke Paroki Vinh Quang dari Propinsi Thai Binh tahun 1930. Ia adalah anak yatim piatu yang diadopsi oleh sebuah keluarga Katolik.

Paroki itu dibangun oleh para misionaris Perancis pada tahun 1909. Saat ini paroki itu memiliki 3.400 umat Katolik, termasuk 900 warga Suku Hmong, Muong, Tay dan Thai.

Tidak ada imam tetap yang berkarya di paroki itu sejak 2014.

“Para misionaris menginspirasi saya untuk melayani warga suku. Mereka melayani kelompok-kelompok minoritas etnis sejak 1905 hingga 1952,” katanya.

Para misionaris membangun sejumlah fasilitas dan mempelajari bahasa dan budaya warga suku. Mereka berjalan dan menunggang kuda untuk melayani warga suku. Mereka juga berdoa dalam bahasa suku, dan bahkan membuat kamus untuk warga suku.

Tiga dari misionaris Perancis meninggal di wilayah itu. Satu misionaris lainnya diusir oleh para komunis pada 1952.

“Saya ingin terus melakukan evangelisasi di sini sebagai ungkapan terima kasih saya yang begitu mendalam kepada mereka,” kata Nhu.

Ia  mulai melayani warga suku sejak 1963 setelah imam asal Vietnam terakhir yang melayani wilayah itu – Pastor Peter Du Kim Khoa – dipenjarakan oleh para komunis selama terjadi persekusi agama.

Di banyak desa di sekitar paroki itu, para penguasa mencegah para imam asing yang ingin mengunjungi warga desa dan melarang mereka untuk mengajarkan agama Katolik. 

Para penguasa juga mengancam akan menarik lahan dan suplai kebutuhan dasar dari siapa pun yang menganut agama Katolik. 

“Banyak orang muda dari Tu Le Commune tidak berani pergi ke gereja dan harus mengubur rosario yang diberikan kepada mereka karena mereka takut akan diancam,” kata Nhu.

Ia mengaku telah mengatasi banyak tantangan seperti ini dengan cara menjalin pertemanan dengan para pejabat desa.

“Saya mengunjungi warga desa ketika ada pemakaman dan perkawinan. Saya memberi mereka ratusan digital audio player supaya mereka bisa mendengar homili tentang Kerahiman Ilahi,” katanya.

Selama kunjungannya, Nhu memberi susu, gula dan obat-obatan herbal bagi warga desa yang sakit. “Saya ceritakan lelucon agar mereka rileks sehingga mereka bisa menemukan kebahagiaan dalam hidup mereka,” katanya.

Banyak warga suku menghormati Nhu karena aksi kemanusiaan dan kepeduliannya.

“Saya sangat mengaguminya karena ia mau mengunjungi dan mengajak kami untuk menghadiri pelayanan baru-baru ini di gereja,” kata Dinh Thi Buom, seorang non-Katolik dari Suku Muong.

Bagi Buom, 68, Nhu membuatnya tertarik untuk mempelajari agama Katolik.

Menurutnya, agama Katolik mengajarkan orang bagaimana menjalani kehidupan yang baik, menghormati orang lain, membesarkan anak dengan baik dan bekerja untuk kepentingan orang banyak.

Bulan lalu, sebagai bagian dari upaya evengalisasinya, Nhu mengundang seorang anggota komunis berusia 75 tahun dan mantan guru untuk menghadiri suatu Misa. Ia berusaha memperkenalkan nilai-nilai Kristiani kepada para pensiunan pejabat dan anggota partai di wilayah pedesaan.

“Saya percaya ketika orang sudah menginjak usia tua, mereka akan mencari nilai-nilai spiritual. Agama Katolik bisa memenuhi kebutuhan spiritual mereka,” katanya.

UU Baru China Dikhawatirkan di Balik Larangan Tur ke Vatikan

Rab, 06/12/2017 - 16:08

Agen perjalanan di China dilaporkan takut didenda hingga US $ 45.000 jika mereka mengatur tur ke Vatikan.

Namun para ahli percaya bahwa hal ada kaitannya dengan  undang – undang baru tentang  agama yang mulai berlaku pada bulan Februari.

Undang – undang tersebut akan memberlakukan kontrol pemerintah Partai Komunis yang lebih ketat terhadap organisasi keagamaan dan praktisi di seluruh China.

Anthony Lam, seorang peneliti senior di Pusat Studi Roh Kudus Keuskupan Hong Kong, mengatakan bahwa ketidakpastian dapat timbul dari berbagai peraturan yang umum.

Lam mengatakan peraturan tersebut melampaui isu – isu  keamanan nasional dan sangat keras sehingga agen dan pejabatnya takut dituntut jika mengizinkan dan membantu mengatur ziarah ke Vatikan.

Beberapa agen perjalanan mengatakan kepada ucanews.com bahwa mereka telah diberi tahu secara lisan oleh pejabat pariwisata pemerintah bahwa pelanggan dari China seharusnya tidak “langsung” ke Vatikan.

Lam khawatir bahwa masalah saat ini bisa melebar untuk memasukkan kunjungan dari China ke vihara dan tempat suci lainnya.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lu Kang, dalam sebuah konferensi pers  pada 23 November, mengatakan bahwa dia tidak mengetahui adanya “larangan” dalam tur dari China ke Vatikan.

Pastor Jeroom Heyndrickx, mantan direktur dan pendiri Yayasan Verbiest, mengatakan bahwa tidak semua pejabat China menunggu petunjuk baru Presiden Xi Jingping dan ini menghasilkan “berita dan keputusan yang kontradiktif”.

Seorang Katolik China yang melakukan perjalanan ke Eropa, Fransiskus, mengatakan bahwa masih mungkin bagi orang-orang di China untuk memesan wisata ke Italia dan membuat pengaturan terpisah untuk mengunjungi Vatikan.

Warga Filipina Berduka dan Marah atas Pembunuhan Imam

Rab, 06/12/2017 - 14:58

Orang-orang bersenjata membunuh seorang imam Katolik berusia 72 tahun di pulau Luzon, Filipina, pada 4 Desember, sehari setelah polisi membunuh seorang pastor yang mereka anggap sebagai anggota komunis Tentara Rakyat Baru.

Orang-orang tak dikenal menembak mati Pastor Marcelito Paez sekitar pukul 8 malam saat dia mengemudi di kota San Leonardo, provinsi Nueva Ecija, 180 kilometer timur laut Manila. Dia meninggal hampir tiga jam kemudian di sebuah rumah sakit setempat.

Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Paez, seorang pensiunan pastor Keuskupan San Jose dan seorang anggota dewan nasional Misionaris Pedesaan Filipina (RMP), memfasilitasi pembebasan tahanan politik di Cabanatuan, ibukota provinsi tersebut.

RMP adalah organisasi para imam dan umat awam nasional, antar-keuskupan dan antar kongregasi yang bekerja sama dengan petani dan masyarakat adat. Paez juga merupakan koordinator Kelompok Luzon Pusat.

Uskup Keuskuoan San Jose, Roberto Mallari, dan klerus lainnya mengecam pembunuhan tersebut dan menuntut keadilan bagi Paez yang telah menjadi imam selama 33 tahun dan telah pensiun pada tahun 2015.

Dalam sebuah pernyataan, Uskup Mallari mengatakan bahwa Paez pernah memimpin komisi keadilan dan perdamaian di keuskupan tersebut, sehingga dia dapat berhubungan dekat dengan pekerja dan petani miskin.

Serangan terhadap Paez menyusul pembunuhan Pastor Lovelito Quinones dari King Glory Ministry pada tanggal 3 Desember di kota Mansalay, Mindoro Oriental, hampir 800 kilometer barat daya Manila.

Kepolisian mengatakan bahwa mereka membunuh Quinones dalam baku tembak, memberi dia cap sebagai anggota Tentara Rakyat Baru (NPA).

Keluarga dan kritikus menolak tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa polisi menyembunyikan pistol setelah menembak Quinones hanya lima menit dari tempat tinggalnya. Tes parrafin dilakukan terhadap korban dan hasilnya negatif, menurut Christina Palabay, direktur eksekutif kelompok hak asasi manusia Karapatan. Tes parrafin dilakukan pada tangan tersangka, yang kemudian dilanjutkan tes kimia untuk memeriksa residu bubuk pistol.

Cap Teroris

Serangan terhadap Paez adalah pembunuhan ketiga terhadap kaum religius dalam beberapa minggu. Orang-orang bersenjata menembak mati pastor Perfecto Hoyle dan meletakkannya di  United Church of Christ di Filipina pada 16 November, di Jabonga, Agusan del Norte.

Duterte mengakhiri perundingan damai dengan Front Demokratik Nasional (NDF), gerakan kiri bawah tanah, pada 23 November, dengan mencap Partai Komunis Filipina (CPP) dan kelompok NPA sebagai “teroris”.

Presiden juga mengancam akan mengejar kelompok aktivis hukum. Juru bicaranya, Harry Roque, mengatakan kelompok dan individu yang dicurigai “bersekongkol” dengan gerakan bawah tanah akan dimasukkan sebagai target.

Duterte kemudian mengatakan kepada tentara bahwa mereka dapat menembak warga sipil yang tidak bersenjata jika mereka merasa terancam. Dia menjanjikan perlindungan hukum militer dari kasus-kasus hak asasi manusia, janji yang sama ditawarkan kepada sebuah pasukan polisi yang telah membunuh hampir 4.000 pecandu dan bandar yang dicurigai.

Paez dikenal sebagai aktivis. Seorang mantan pastor paroki, dia pernah memimpin Aliansi Pusat Luzon untuk Filipina yang Berdaulat, yang berkampanye untuk menghapus pangkalan militer AS di Central Luzon dan dibagian lain negara ini.

Pada hari dimana dia terbunuh, Paez telah memfasilitasi pembebasan tahanan politik Rommel Tucay, koordinstor kelompok tani yang ditangkap pada bulan Maret tahun ini oleh tentara.

Pastor Oliver Castor, juru bicara kantor nasional RMP, mengatakan kepada ucanews.com bahwa serangan Duterte terhadap pembangkang politik mengikuti pola tindakan kerasnya terhadap para pecandu dan bandar narkoba yang dicurigai.

“Ini adalah pembunuhan sistematis yang diarahkan pada kelompok penduduk tertentu. Tahun lalu, targetnya adalah pengguna narkoba; kali ini, kaum kiri.”

Melabeli organisasi masyarakat dan pendukung mereka, termasuk orang-orang gereja, sebagai kaum kiri dan destabilisir “secara mengerikan mengingatkan pada tahun-tahun pemerintahan militer Marcos.” Kata Castor

Protes

Gereja meminta dukungan rakyat, imam dan kelompok agama untuk bergabung dalam sebuah demonstrasi di pagi hari pada tanggal 5 Desember untuk menuntut keadilan bagi Paez, yang juga anggota kelompok tersebut.

“Paez dikenal sebagai advokat hak asasi manusia, perdamaian dan keadilan tidak hanya di keuskupannya tapi juga di negara ini,” kata Nardy Sabino, sekretaris jenderal organisasi tersebut.

“Kami mengutuk dengan cara yang paling keras terhadap tindakan pengecut dan brutal terhadap orang-orang gereja,” kata Sabino. “Kami mendesak pemerintah Duterte untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan meminta pertanggungjawaban pelaku.”

Kelompok tersebut mencantumkan 31 pekerja gereja yang dibunuh sejak tahun 2000.

Tiga belas imam telah dibunuh sejak almarhum Ferdinand Marcos meluncurkan kediktatorannya sampai berakhirnya pemerintahan Aquino pada 2016, kata Sabino. Seperti Paez, semua imam yang terbunuh, mereka tinggal dan bekerja di masyarakat miskin dan comunitas akar rumput.

Serangan di Pemukiman Kristen Menewaskan Bocah Berusia 7 Tahun

Sel, 05/12/2017 - 20:08

Sebuah bom meledak di gerbang utama sebuah pemukiman Kristen di kota Chaman, Pakistan pada 2 Desember, menewaskan seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dan dua lainnya, demikian laporan polisi setempat, sebuah insiden kekerasan terkini di provinsi barat daya Baluchistan yang bergolak.

“Serangan itu menggunakan granat tangan yang menyebabkan ledakan di gerbang pemukiman,” kata Gul Mohammad, seorang perwira polisi kepada English daily Dawn. “Ledakan itu juga menghancurkan jendela rumah-rumah terdekat,” katanya.

Bocah Kristen yang tewas dalam ledakan tersebut telah diidentifikasi sebagai Lucky Saleem, menurut petugas polisi tersebut. Korban luka dilarikan ke Rumah Sakit Chaman untuk perawatan medis.

Serangan di Chaman terjadi sehari setelah orang-orang bersenjata Taliban yang mengenakan burqa menyerbu sebuah perguruan tinggi di wilayah barat laut negara tersebut, menewaskan sembilan orang, kebanyakan dari mereka adalah pelajar.

Sebuah faksi Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan mengatakan bahwa Institut Pertanian Peshawar adalah rumah aman bagi pejabat intelijen.

Kedua serangan teroris tersebut terjadi saat umat Islam merayakan Maulud Nabi Muhamad SAW.

Dalam sebuah pernyataan pers, Perdana Menteri Baluchistan Nawaz Sanaullah mengutuk ledakan tersebut dan menyatakan kesedihan atas hilangnya nyawa yang tidak bersalah.

Dia mengharapkan pihak berwenang untuk memastikan perawatan medis terbaik bagi yang terluka. Perdana Menteri memerintahkan pasukan keamanan untuk menangkap unsur-unsur teroris yang terlibat dalam serangan teroris tersebut.

Shezan William, Sekretaris Eksekutif Caritas Quetta, mengutuk ledakan tersebut.

“Orang-orang Kristen tinggal di komunitas yang tersebar di seluruh provinsi terbesar dan jarang diserang. Serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan gereja-gereja terutama pada hari Natal. Kami berhubungan dekat dengan penduduk lokal dari pemukiman yang diserang dan berdoa untuk keluarga yang terkena dampak,” demikian William mengatakan kepada ucanews.com

Beberapa bulan terakhir, Baluchistan, yang memiliki perbatasan besar dengan Afghanistan dan Iran, dirampas oleh serangkaian serangan kekerasan dari kelompok separatis dan militan Islam.

Pada tanggal 15 November, Mohammad Ilyas, seorang perwira polisi senior, istri, anak laki-laki dan cucu laki-laki terbunuh saat orang-orang bersenjata menyerang kendaraan mereka di Quetta.

Sebulan sebelumnya, lima anggota komunitas minoritas Syiah terbunuh dalam tembak-menembak. Sedikitnya 20 pekerja migran yang mencoba menyelinap ke Iran dalam perjalanan mereka ke Eropa ditembak oleh kelompok separatis di provinsi tersebut bulan lalu.

Beberapa serangan tahun lalu, menewaskan lebih dari 180 orang di antaranya pengacara dan petugas keamanan di Balochistan.

Terbatasnya Jumlah Donor Darah di Indonesia

Sel, 05/12/2017 - 19:57

Fitri tahu betul apa arti kekurangan kantong darah di rumah sakit.

Sekitar tahun 2009, ketika masih bermukim di Kabupaten Merauke, Propinsi Papua, ia merasakan sakit yang begitu hebat akibat endometriosis, suatu kelainan di mana adanya jaringan rahim (endometrium) yang berada di luar dari rahim.

Ia pun menjalani perawatan di sebuah rumah sakit dan harus menerima transfusi darah. Namun sayang, jumlah kantong darah yang disediakan di rumah sakit tersebut tidak mencukupi.

“Suami saya minta bantuan teman-temannya untuk mendonorkan darah mereka untuk saya,” katanya.

“Untung saya masih bisa menunggu sampai teman-teman suami saya datang dan mendonorkan darah mereka untuk saya. Mestinya saya harus ditangani secepat mungkin,” lanjutnya.

Data Palang Merah Indonesia (PMI) menunjukkan bahwa Propinsi Papua terus mengalami kekurangan kantong darah. Tahun 2013, misalnya, propinsi ini membutuhkan 66.124 kantong darah, tapi hanya 2.726 kantong darah yang tersedia.

Di tingkat nasional, World Health Organization (WHO) menyebut jumlah kebutuhan minimal darah di Indonesia sekitar 5,1 juta kantong darah per tahun, atau dua persen dari jumlah penduduk Indonesia, yakni sekitar 250 juta orang.

Sedangkan produksi darah dan komponennya saat ini hanya sebanyak 4,1 juta kantong per tahun dari 3,4 juta donasi. Dari jumlah yang tersedia, 90 persen di antaranya berasal dari donasi sukarela.

 

Faktor Utama

Menurut Kepala Humas Unit Transfusi Darah Pusat PMI Putri Srihartaty, faktor utama kekurangan kantong darah adalah rendahnya jumlah donor darah khususnya selama bulan Ramadan dan libur panjang.

Banyak umat Islam tidak melakukan donor darah selama bulan Ramadan karena mereka tengah berpuasa.

Hampir 90 persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah Muslim. Sisanya adalah penganut agama Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu serta aliran kepercayaan.

Selain itu, PMI juga mengalami kekurangan stok darah untuk jenis golongan darah tertentu.

“Perlu dipahami bahwa pendonor darah sukarela dengan berbagai jenis golongan darah datang ke seluruh Unit Transfusi Darah (UTD) PMI yang saat ini berjumlah 216 untuk mendonorkan darah mereka, bisa golongan A, B, O dan AB,” katanya.

“UTD harus menerima pendonor darah dengan golongan darah apapun. Secara populasi golongan darah O paling banyak, dan terkadang di suatu tempat kondisi golongan darah O menumpuk stoknya, tetapi permintaan dari rumah sakit yang banyak adalah golongan A dan B. Nah ini yang belum match, antara kebutuhan dan stok darah yang ada,” lanjutnya.

Bagi Suster Julia Sinaga FSE, koordinator bank darah di Rumah Sakit Santa Elizabeth di Medan, Sumatera Utara, situasi kekurangan donor darah seperti ini sangat memprihatinkan.

“Waktu puasa beberapa bulan lalu, kami kekurangan stok kantong darah. Tidak begitu banyak. Namun pernah dua hari kosong. Pasien harus menunggu sampai kantong darah disuplai oleh PMI,” katanya, seraya menambahkan bahwa banyak pasien yang membutuhkan donor darah menderita gagal ginjal.

Padahal rumah sakit itu menyediakan lebih dari 400 kantong darah setiap bulan.

Di Jakarta, Rumah Sakit Sint Carolus di Salemba memilih mencari donor darah dari keluarga pasien jika ada kekurangan kantong darah.

Menurut Roestri Nurwulan, humas rumah sakit tersebut, “selain bulan Ramadan, rasa takut akan jarum suntik juga menjadi penyebab utama orang tidak mau donor darah.”

 

Quick Wins program

Bulan Juli lalu, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengeluhkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan donor darah khususnya untuk menyelamatkan nyawa ibu yang akan melahirkan.

Data tahun lalu menunjukkan bahwa 28 persen penyebab kematian ibu adalah pendarahan.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkenalkan program Quick Win untuk meningkatkan jumlah donor darah. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 2/2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 52/2015 tentang Rencana Strategi Kementerian Kesehatan 2015-2019.

Untuk program tersebut, Kemenkes akan merangkul 5.600 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) hingga tahun 2019. Saat ini, 2.394 Puskesmas melalui 123 dinas kesehatan kabupaten/kota telah menandatangani nota kesepahaman dengan UTD dan rumah sakit.

Bagi Prasetyo Nurhardjanto, seorang pendonor darah aktif sejak 1989, PMI mampu lebih kreatif lagi dalam mengatasi masalah kekurangan donor darah.

“Sekarang pendonor lebih banyak berasal dari komunitas yang menggunakan media sosial,” katanya.

Katharina R. Lestari

Blokade Bantuan, Militer Filipina Dikecam

Sel, 05/12/2017 - 19:53

Sejumlah pejabat Gereja di Filipina bagian selatan mengatakan militer memblokade bantuan untuk sekitar 2.000 warga suku yang meninggalkan rumah mereka di tengah operasi militer yang semakin gencar dilakukan guna melawan pemberontak komunis di Mindanao minggu lalu.

Pada 26 November lalu, lebih dari 257 keluarga dari 14 komunitas suku meninggalkan rumah mereka yang  terletak di wilayah pengunungan di Kota Lianga, Propinsi Surigao del Sur. Mereka menuju pusat emergensi terdekat.

Pastor Raymond Montero Ambray dari Keuskupan Tandag mengatakan bantuan makanan dan obat-obatan dari Gereja dan beberapa lembaga bantuan dilarang masuk.

“Militer juga melarang warga biasa yang ingin membawa makanan dan bantuan kepada para pengungsi yang kelaparan dan sakit,” katanya.

Chad Booc, seorang guru dari Pusat Belajar Alternatif untuk Pengembangan Pertanian and Mata Pencaharian, mengatakan militer menutup jalan-jalan di wilayah pegunungan menuju kota itu. Hanya tim kesejahteraan sosial dari pemerintah setempat yang bisa mengantar suplai makanan yang sangat terbatas untuk para pengungsi.

Sementara itu, Richmond Seladores, sebuah kelompok multi-agama yang beranggotakan 70 orang, pernah membawa bantuan untuk para pengungsi. Kelompok ini melakukan negosiasi selama beberapa jam untuk bisa masuk ke pusat pengungsian, namun gagal.

“Para keluarga itu harus bertahan hanya dengan lima kilogram beras, dua kaleng sarden dan dua kardus mie instan yang mereka terima minggu lalu,” kata kelompok itu dalam pernyataannya. “Ini tidak cukup untuk kebutuhan setiap keluarga.”

Militer tidak membantah tuduhan itu. Namun mereka mengatakan bahwa mereka mencegah “evakuasi taktis” yang dilakukan oleh elemen-elemen komunis dari New People’s Army (TRB, Tentara Rakyat Baru) di wilayah itu.

Menurut pernyataan militer, pemberontak berusaha “menarik warga setempat dan organisasi asing supaya pemimpin mereka tidak ditangkap oleh pasukan keamanan,” menyusul berhentinya pembicaraan damai antara pemerintah dan sayap politik pemberontak komunis – National Democratic Front (NDF, Front Demokrasi Nasional) bulan lalu.

“Pasukan pemerintah sedang memonitor semua aksi yang mungkin dilakukan oleh para konspirator. Mereka bisa saja memberi bantuan atau mendukung organisasi teroris ini,” kata militer.

Pada 29 November lalu, warga sipil, sejumlah pemuka agama dan guru sekolah untuk warga suku di Kota San Luis, Propinsi Agusan del Sur, meninggalkan komunitas mereka setelah terjadi serangan yang diduga dilakukan oleh pasukan paramiliter.

Michael Lumbian, seorang relawan guru dari Program Literasi Filipina dari Misi Pedesaan, mengatakan sekitar 103 keluarga dari enam desa warga suku di kota itu telah pergi sejak 16 November lalu.

Menurut Kepala Suku Manobo Datu Makapukaw, pasukan paramiliter memberondong rumah warga suku dengan peluru karena curiga bahwa warga suku merupakan pendukung atau anggota TRB.

Bulan lalu, Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan bahwa pemerintah akan mengejar para aktivis dan kelompok yang mengelola sekolah untuk komunitas warga suku. Menurut pemerintah, mereka melakukan konspirasi dengan pemberontak komunis.

Presiden menyebut pemberontak dengan sebutan “teroris” dan “segerombolan penjahat” setelah ia mengakhiri negosiasi damai dengan NDF, kelompok pemeberontak komunis.

32 Nelayan Katolik Tewas Saat Badai Melanda India

Sel, 05/12/2017 - 13:37

Terjangan topan -yang dikenal dengan sebutan Ockhi -di pantai selatan India selama akhir pekan merenggut nyawa setidaknya 32 nelayan Katolik yang berada di laut, sedangkan 200 lainnya masih hilang.

Ribuan penduduk pesisir lainnya telah mengungsi ke perlindungan sementara.

Angin kencang dan hujan lebat mulai menyerang pantai dekat ujung selatan India pada hari Kamis setelah pusaran angin di dekat Sri Lanka berkembang menjadi topan.

Kematian yang dikonfirmasi terjadi di negara bagian Kerala dan Tamil Nadu, menurut sumber pemerintah.

Semua korban tewas adalah orang-orang Katolik yang tengah melaut, kata Pastor V. Wilfred, pastor dari paroki Vizhinjam, sebuah desa nelayan di dekat ibu kota Kerala, Thiruvananthapuram.

“Angin topan yang tak terduga muncul saat nelayan masih berada di laut,” kata Pastor Wilfred.

Antony Silvaster, seorang nelayan Katolik di desa nelayan Vizhinjam, mengatakan tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Dia menambahkan dengan adanya 200 nelayan masih hilang, kemungkinan jumlah korban tewas akan meningkat.

Yang terkena dampak terburuk adalah daerah pesisir dekat ujung selatan India, sebuah daerah Katolik yang berada di bawah ritus Latin.

Uskup Agung Soaki Pakiam dari Trivandrum dan imam setempat berkeliling ke daerah yang mengatur pasokan bantuan untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah negara bagian Kerala telah membuka 29 kamp bantuan untuk menampung sekitar 3.000 orang dari sekitar 500 keluarga.

Sebanyak 200 rumah hancur total, kata Menteri Perikanan J. Mercykutty Amma kepada media setempat.

Pastor Justin Jude dari Poonthura mengatakan bahwa para nelayan kehilangan kapal dan jala. Pemerintah harus memberikan kompensasi yang memadai untuk membantu mereka memulai kehidupan baru, katanya.

Imam tersebut menambahkan bahwa jarang terjadi topan yang melanda pantai barat India, tidak seperti pantai timur India yang rawan.

Badai besar terakhir di pantai Kerala adalah pada tahun 1941, yang menewaskan 62 orang dan menghancurkan sekitar 50.000 rumah, media setempat melaporkan.

Pemda DKI Mengkaji Aturan Ornamen Natal di Pusat Keramaian

Sel, 05/12/2017 - 09:11

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mengatakan pihaknya tengah mengkaji kebijakan tentang pemasangan ornamen Natal di pusat keramaian.

Sandiaga tak menjelaskan detail apakah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI nanti akan dalam bentuk surat edaran atau instruksi Gubernur. Dia hanya memastikan bahwa aturan tersebut akan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan gejolak atau gesekan di masyarakat.

“Yang penting mempersatukan warga. Itu yang penting,” kata Sandiaga seperti dikutip Viva.co.id 3 Desember 2017.

Seperti diketahui, menjelang hari raya Natal, kerap timbul perdebatan mengenai larangan pemasangan ornamen atau atribut Natal di pusat perbelanjaan dan tempat usaha hiburan lainnya.

Bahkan tahun lalu, Majelis Ulama Indonesia atau MUI mengeluarkan fatwa yang dituangkan dalam tujuh poin. Salah satunya ialah perlu menghormati antarumat beragama dan meminta karyawan muslim tidak harus mengenakan atribut Natal.

 

Polisi akan libatkan Muslim mengamankan Natal

Sebelumnya Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian mengatakan akan melakukan pendekatan secara persuasif kepada kelompok atau organisasi kemasyarakatan (ormas) agar tak melakukan sweeping atribut Natal.

“Tekniknya kami lakukan langkah pendekatan kepada mereka, sosialisasi. Di grassroot banyak enggak paham,” kata Tito di Mabes Polri, Jakarta.

Tito mengatakan, Polri dan TNI dan pemangku kepentingan (stakeholder) terkait akan secara bersama-sama melakukan pengamanan agar hari besar umat Kristiani bisa berjalan lancar. Tak hanya itu, selain Natal, pengamanan ini juga dilakukan untuk perayaan tahun baru 2018.

“Semua antisipasi potensi gangguan. Tapi semua kembali pada masyarakat agar mendukung untuk tertib. Soal pengamanan akan kami libatkan kelompok Islam, NU, Anshor, untuk bantu amankan gereja,” ujarnya.

Mantan kapolda Metro Jaya ini mengatakan, selain pengamanan, Polri bersama kementerian dan lembaga terkait juga memastikan agar harga kebutuhan bahan pokok tetap stabil dan tidak mengalami lonjakan. Lalu, mengantisipasi lonjakan arus lalu lintas karena libur panjang dan antisipasi aksi teror.

“Saya pikir jangan khawatir, yang besar seperti Lebaran saja kami tangani. Insya Allah kami bisa tangani dengan kerja sama, kekompakan, sinergi di lingkungan pemerintah, didukung masyarakat,” ujarnya.

Sumber: Viva.co.id

Terapi “Konversi Gay” Sebuah Realitas di Cina

Sen, 04/12/2017 - 17:28

Human Rights Watch (HRW) mengungkap bahwa beberapa rumah sakit dan klinik swasta di Cina tengah berusaha membuat pasien menjalani terapi ”konversi gay”untuk mengembalikan orientasi seksual mereka.

Namun sejumlah analis mengatakan bahwa penyebab utama adalah tekanan dari orangtua, bukan kebijakan pemerintah.

Orangtua ingin agar anak-anak mereka mengikuti aturan sosial, khususnya terkait perkawinan.

Meski demikian, HRW mengatakan bahwa tidak satu pun dari 17 orang yang diwawancarainya memberi informasi “secara bebas” karena mereka mengalami tekanan pribadi.

Banyak dari mereka menjalani terapi elektro-syok dan pengobatan baik secara oral maupun injeksi. Mereka sendiri tidak memahami ini semua.

Selain itu, tidak satu pun dari mereka yang menjalani terapi konversi menyampaikan keluhan.

Beberapa di antaranya takut jika orientasi seksual mereka akan diketahui oleh publik.

Cina mendekriminalisasi homoseksualitas lebih dari 20 tahun lalu. Tahun 2001, Cina mendeklasifikasi homoseksualitas sebagai penyakit mental.

Tahun 2013, revisi UU Kesehatan Mental melarang terapi konversi.

Konversi gay dikecam sejak beberapa tahun lalu di dunia karena dianggap sebagai pelanggaran terhadap konvensi PBB tentang penyiksaan.

Maya Wong, peneliti senior HRW, mengakui bahwa kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transeksual) sulit mencari keadilan atas diskriminasi yang mereka alami.

Cina tidak memiliki UU tentang diskriminasi terkait orientasi seksual atau identitas gender.

Menurut Wang, perhimpunan psikiatri and psikolog profesional tidak melarang klinik konversi yang memberikan banyak keuntungan.

Di dunia, terapi konversi sering dikaitkan dengan kelompok Kristiani fundamental.

Tapi aspek Kristiani fundamental tidak signifikan di Cina.

Emmanuele Lazzara, pakar perilaku sosial terhadap kelompok minoritas orientasi seksual di Cina, mengatakan bahwa berbagai tekanan sosial lain lebih relevan.

Selain tidak ada komunitas Kristiani yang kuat dan berpengaruh, homoseksualitas masih dianggap sebagai penyakit oleh sejumlah besar orang, jelasnya.

Sementara itu, katanya, survei yang dilakukan baru-baru ini oleh para aktivis LGBT di Cina mengungkap bahwa hanya dua persen dari responden mendukung pandangan patologi terkait homoseksualitas.

 

Namun ia meragukan hasil survei tersebut.

Menurutnya, orang yang memiliki pandangan semacam itu jumlahnya jauh lebih besar karena responden dari survei itu sendiri diragukan.

“Saya kira ini karena sebagian besar masyarakat Cina masih percaya bahwa homoseksualitas itu abnormal,” katanya.

Banyak dari responden untuk penelitian yang dilakukannya memiliki pandangan serupa, khususnya orang tua dan masyarakat pedesaan.

“Masuk akal jika orangtua ingin menemui seorang dokter ketika mereka tahu bahwa anak mereka diyakini sakit,” katanya.

Mereka mengunjungi klinik-klinik konversi tanpa pertimbangan. Hal ini disebabkan karena perkawinan di Cina masih merupakan praktek universal.

Sebagian besar orang yang diwawancarai HRW mengunjungi sebuah klinik untuk menjalani pemeriksaan homoseksualitas karena tekanan besar dari orangtua mereka.

Bagi sejumlah dokter, keinginan orangtua agar anak-anak mereka mengikuti norma sosial di Cina mudah dieksploitasi.

“Terapi konversi itu bisnis yang besar,” kata Lazzara.

“Saya pernah berbicara dengan seorang aktivis Cina yang menegaskan hal ini … orangtua sering memiliki keinginan untuk mengeluarkan banyak uang guna ‘memperbaiki’ anak mereka.”

Lazzara tengah menempuh studi PhD di Universitas Nottingham di Inggris. Ia menekuni perilaku orientasi seksual di Cina.

Di Hong Kong, di mana kelompok Kristiani fundamental memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan, tidak mempersoalkan terapi konversi gay.

Awal tahun ini, media VICE mengungkap bahwa pemerintah Hong Kong melatih dan mensponsori pekerja sosial dalam praktek yang dikenal dengan sebutan SAFE-T.

Sexual Attraction Fluidity Exploration Therapy (terapi eksplorasi ketidakstablian rangsangan seksual) merujuk pada mereka yang ingin menghilangkan rangsangan seksual sesama jenis.

Pemerintah Hong Kong telah secara terbuka mendanai sebuah kelompok yang disebut “Aliansi Mantan Gay,” sebuah kelompok Kristiani fundamental yang mengekspos SAFE-T.

Lazzara juga menyinggung sebuah survei baru-baru ini yang mengungkap bahwa 73 persen dari praktisi kesehatan di Cina yang diwawancarai percaya bahwa beberapa orientasi seksual orang bisa diubah dan 14 persen percaya bahwa semua orientasi seksual bisa diubah.

Sebagian besar praktisi kesehatan yang menjadi responden percaya bahwa homoseksualitas disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti propaganda media, pengaruh dari lingkungan dan asuhan keluarga.

Ringkasnya, baik peluang untuk memperoleh keuntungan dan tekanan besar untuk mengikuti norma sosial bisa menjelaskan alasan mengapa masih ada terapi konversi gay di Cina, meski tidak ada kelompok Kristiani fundamental.

Secara umum, Beijing apatis terhadap hak-hak kaum LGBT. Pemerintah tidak bisa menoleransi perbedaan pendapat, termasuk aksi protes.

Permusuhan resmi semacam itu juga berlaku bagi aktivis LGBT yang melakukan kampanye secara terbuka untuk perubahan.

‘Berhentilah Bermain Ponsel, Pedulilah Terhadap Orang Sekitar’

Sen, 04/12/2017 - 15:58

Beberapa jam sebelum meninggalkan Bangladesh untuk kembali ke Vatikan pada 2 Desember, Paus Fransiskus mengajak sekitar 10. 000 orang muda untuk lebih memberi perhatian pada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Berbicara di depan sekelompok mahasiswa Kristen dan Muslim di Universitas Notre Dame di Dhaka, paus memperingatkan bahaya “budaya yang membuat janji-janji palsu.”

Dia mengatakan sikap seperti itu hanya bisa mengarah pada “keterpusatan diri yang memenuhi hati dengan kegelapan dan kepahitan.”

Pernyataan tersebut ia serukan sehari setelah dia bertemu dengan 16 pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari penganiayaan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Para pengungsi tersebut, termasuk seorang anak dan dua orang muda, mengatakan kepada ucanews.com dalam sebuah wawancara bahwa paus berjanji untuk membantu menceritakan kisah Rohingya kepada dunia.

“Jangan menghabiskan sepanjang hari bermain dengan telepon genggam anda dan mengabaikan dunia di sekitar Anda,” demikian seruan paus kepada orang-orang muda beberapa jam sebelum dia terbang kembali ke Vatikan.

“Sungguh menyedihkan ketika kita mulai menutup diri di dunia kecil kita dan melihat batin sendiri … dan kita menjadi terjebak, tertutup sendiri,” katanya pada akhir perjalanan enam hari ke Myanmar dan Bangladesh.

Tema yang terus diulang dalam pernyataannya di Bangladesh, paus mengulangi lagi ajakan tentang dialog dan harmoni.

“Saya senang bahwa, bersama dengan umat Katolik, kami juga memiliki banyak teman anak muda Muslim dan orang-orang dari latar belakang agama lainnya,” katanya di acara universitas Notre Dame.

Dia memuji apa yang dia katakan sebagai tekad kaum muda negeri ini “untuk menumbuhkan lingkungan harmonis, merangkul orang lain, terlepas dari perbedaan agama Anda.”

Paus mengatakan bahwa dia selalu menemukan “sesuatu yang unik” tentang orang muda, terutama dalam antusiasme mereka, dan menambahkan bahwa hal itu membuat dia merasa menjadi muda kembali.

Paus mengaitkan “antusiasme muda” dengan semangat petualangan yang menurutnya membuat generasi baru “selalu siap bergerak maju” dan mengambil risiko.

“Saya mendorong Anda untuk terus bergerak dengan antusiasme ini di saat-saat menyenangkan dan masa-masa sulit,” kata Paus Fransiskus.

Dia mengingatkan, para pendengarnya memastikan untuk memilih jalan yang benar dengan tidak “berkeliaran tanpa tujuan” dalam perjalanan mereka.

“Hidup bukan tanpa arah, (dan) kita memiliki tujuan yang diberikan kepada kita oleh Tuhan,” katanya. “Dia membimbing dan mengarahkan kita dengan anugerahnya,” tambahnya.

Paus mengatakan bahwa seolah-olah Tuhan menempatkan setiap perangkat lunak komputer yang membantu kita “untuk membedakan program ilahi-Nya.”

Dia mengatakan setiap individu memiliki kebebasan untuk menanggapi rancangan Tuhan, “tapi seperti semua perangkat lunak, juga perlu terus diperbarui.”

“Terus perbarui program Anda dengan mendengarkan Tuhan,” katanya, menambahkan bahwa “kebijaksanaan Tuhan” membantu orang untuk mengetahui bagaimana menerima orang lain.

Dia mengatakan hikmat Tuhan “membantu kita melihat melampaui diri kita untuk melihat kebaikan dalam warisan budaya kita.”

Dia mencatat budaya Bangladesh dan Asia untuk menghormati orang tua yang “membawa serta kenangan dan kebijaksanaan pengalaman, yang membantu kita menghindari pengulangan kesalahan masa lalu.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa orang tua memiliki “karisma untuk menjembatani kesenjangan” dan memastikan bahwa nilai penting diturunkan ke generasi berikutnya.

Sesaat sebelum perpisahan, paus mencatat bahwa ketika sebuah bangsa, agama atau masyarakat “berubah menjadi ‘dunia kecil,’ mereka kehilangan yang terbaik yang mereka miliki dan terjun ke dalam mentalitas cinta diri.”

Dia mengingatkan orang muda bahwa hikmat Tuhan “membuka kita kepada orang lain” dan “membantu kita untuk melihat melampaui kenyamanan pribadi kita dan kenyamanan palsu.”

Paus Samakan Gosip dalam Kehidupan Membiara dengan Terorisme

Sen, 04/12/2017 - 14:40

Paus Fransiskus membandingkan sikap kaum religius yang suka menebar gosip dengan teroris. Dia menjelaskan bahwa orang-orang seperti itu adalah “musuh” agama.

Paus berbicara kepada para religius dan seminaris di ibukota Bangladesh, Dhaka, menjelang akhir kunjungan tiga hari ke negara berpenduduk mayoritas Muslim, 30 November-2 Desember 2017.

Paus berbicara berangkat dari sebuah pidato yang telah dipersiapkan dan berbicara dengan lantang dalam bahasa Italia, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Paus Fransiskus menyamakan kehidupan seorang religius dalam mengembangkan kebijaksanaan, iman dan pelayanan seperti sebuah tanaman yang sedang tumbuh.

“Tuhan menabur benih, dan Tuhanlah yang menentukan pertumbuhannya,” kata Paus Fransiskus.

Meskipun demikian, dalam panggilan religius ada peran untuk dimainkan dalam memenuhi kebutuhan spiritual seperti perawatan anak atau orang sakit.

Paus kemudian berbicara tentang kecenderungan para imam, biarawati, dan religius untuk bergosip.

“Lidah, saudara dan saudari, dapat menghancurkan sebuah komunitas dengan berbicara buruk tentang orang lain,” kata Paus Fransiskus.

Paus menambahkan bahwa pembicaraan tentang orang lain di belakang mereka bisa mengakibatkan ketidakpercayaan, kecemburuan, dan perpecahan.

Gosip, seperti teroris, bertindak dengan cara diam-diam tanpa mengumumkan diri secara terbuka.

“Seorang teroris mengatakannya secara rahasia dan kasar, lalu melempar bom dan meledak,” kata paus.

Gosip akan melakukannya dengan baik untuk menahan lidah mereka, tambahnya.

“Berapa banyak komunitas yang telah dihancurkan melalui semangat gosip?” tanya Paus Fransiskus.

Berbicara sekitar 15 menit, Paus Fransiskus juga mengungkapkan kekagumannya pada imam, uskup, dan biarawati tua yang telah “menjalani kehidupan yang penuh.”

Paus, bagaimanapun, mengatakan bahwa hal itu secara pribadi menyakitkan ketika dia melihat imam, orang-orang yang dikuduskan, dan bahkan para uskup, yang tidak bahagia.

Dia menggambarkan mereka memiliki “muka masam” dan “wajah yang jelek” karena mereka hanya khawatir dengan pengakuan dan selalu berusaha membandingkan diri mereka dengan orang lain.

“Tidak ada sukacita dalam cara berpikir seperti itu,” kata Paus Fransiskus.

Sebaliknya, ada banyak hal yang bisa dicapai melalui doa.

“Berdoa berarti meminta Tuhan menjaga kita, agar memberi kita kelembutan yang harus kita sampaikan kepada orang lain,” kata paus.

Bruder OSC, Romeo Paul Rozario menggambarkan komentar paus tentang gosip sebagai peringatan tepat waktu.

“Adalah saat yang menyenangkan bagi saya untuk mendengarkan kata-kata paus,” kata Bruder Rozario, yang juga mengajar bahasa Inggris di Sekolah St. Paul di Keuskupan Khulna di bagian selatan Bangladesh.

Bruder Rozario menempuh perjalanan hampir sepuluh jam dari keuskupannya untuk bertemu dengan paus.

Usahanya tidak sia-siang karena ia bisa duduk sangat dekat dengan paus.

Dalam pidatonya, Paus Fransiskus mengulangi kekagumannya terhadap teladan Bangladesh dalam mempromosikan dialog dan harmoni antaragama, sesuatu yang dia katakan juga harus dipraktekkan di komunitas religius.

Paus Fransiskus mengakhiri kunjungannya ke Bangladesh dengan bertemu orang-orang muda di Universitas Notre Dame, satu-satunya universitas Katolik di negara ini.

Paus Fransiskus Tegaskan ‘Allah Hadir Melalui Rohingya’

Sen, 04/12/2017 - 14:25

Paus Fransiskus tidak sekedar menyebut pengungsi Rohingya beragama Islam ketika bertemu mereka di Dhaka Jumat lalu, namun ia juga menyebut mereka “kehadiran Allah hari ini.”

Ini pertama kalinya Paus Fransiskus menyebut kelompok minoritas yang mengalami persekusi itu setelah sebelumnya muncul berbagai kritik yang mengatakan bahwa ia menghindari penggunaan kata tersebut selama kunjungannya ke Myanmar awal pekan lalu.

Pada Pertemuan Lintas-Iman dan Ekumene untuk Perdamaian di kediaman uskup agung Dhaka pada 1 Desember lalu, Paus Fransiskus menyalami dan berdoa bersama 16 pengungsi Rohingya – 12 laki-laki, tiga perempuan dan seorang anak – yang menempuh perjalanan dari Kota Cox’s Bazar di Banglades bagian selatan.

Dalam perjumpaan yang emosional itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “kita semua adalah citra Allah, termasuk pengungsi Rohingya.”

“Mereka juga citra Allah, Sang Pencipta,” katanya. “Hari ini, kehadiran Allah juga disebut Rohingya.”

Dalam sambutannya kepada para pemuka agama Buddha, Hindu, Islam, Katolik dan Protestan, Paus Fransiskus menyampaikan kisah religi yang menceritakan seorang pencipta yang membuat manusia dari sedikit garam yang dicampur dengan tanah.

“Kita semua punya sedikit garam. Saudara dan Saudari ini juga mengandung garam,” katanya.

Paus Fransiskus menghabiskan waktu untuk menyalami para pengungsi dan mendengarkan kisah mereka. Kemudian ia mengatakan kepada mereka bahwa “tragedi yang kalian alami sangat sulit, tapi ini memiliki tempat di hati kami.”

“Atas nama mereka yang telah menganiaya dan menyakiti kalian serta ketidakpedulian dunia, saya meminta maaf kepada kalian,” katanya.

 

‘Katakan kepada dunia kisah kami’

 

Dalam wawancara dengan ucanews.com, sejumlah pengungsi mengatakan bahwa mereka meminta Paus Fransiskus untuk membantu menceritakan kisah mereka kepada dunia.

“Saya katakan kepada Paus Fransiskus bahwa kami minta keamanan bagi hidup kami, kewarganegaraan kami di Myanmar serta keadilan atas pembakaran rumah dan pembunuhan dua paman kami,” kata Muhammad Nurullah.

“Paus bilang ia akan berusaha membantu saya,” katanya.

Nurullah, kini berusia 37 tahun, mengungsi ke Kamp Pengungsi Balukhali di Kota Cox’s Bazar bersama istri dan ketiga anaknya Oktober lalu.

Seorang pengungsi Rohingya lainnya, Ahmed Hossen, 60, menceritakan kepada Paus Fransiskus tentang kehidupannya di kamp pengungsi. Ia mengungsi ke Banglades bersama enam anggota keluarganya Desember tahun lalu.

Paus Fransiskus meyakinkannya bahwa ia akan membantu pengungsi Rohingya.

“Saya minta keadilan ditegakkan atas pembunuhan orang-orang kami,” kata Hossen.

Bagi Foyez Ali Majhi yang meninggalkan desanya yang dibakar habis oleh aparat keamanan di Myanmar, “saya minta Paus Fransiskus membantu kami memperoleh keadilan.”

Sementara itu, Abu Syed mengatakan bahwa ia minta Paus Fransiskus untuk membantu mendapatkan kembali identitas mereka sebagai warga Rohingya.

“Rohingya” berarti “penghuni Rohang,” atau sebutan bagi umat Islam dari Arakan. Namun justru pemerintah dan militer serta banyak warga negara Myanmar menyebut Rohingya sebagai “etnis Bengali.” Ini mengindikasikan bahwa kelompok minoritas ini merupakan imigran gelap dari Banglades.

Sejumlah besar warga Rohingya tinggal di Myanmar selama beberapa dekade. Kini jumlah mereka mencapai 1,1 juta orang.

“Kami minta kewarganegaraan kami,” kata Syed. Tanpa identitas, warga Rohingya akan selalu berada dalam bahaya.

Menurutnya, warga Rohingya juga minta Myanmar untuk menjamin kepulangan semua pengungsi dengan aman.

“Paus Fransiskus mendengarkan kami. Ia bilang akan membicarakan semua permintaan kami,” katanya.

Seorang wanita pengungsi Rohingya mengaku tidak tahu pasti apakah Paus Fransiskus mampu membantu mereka. Sudah banyak orang berbicara dengan pengungsi Rohingya tapi “kami terus menderita setiap hari.”

Paus Fransiskus mempertegas permohonan bantuan

Paus Fransiskus mendesak para pemuka agama yang hadir pada pertemuan itu untuk terus membantu warga Rohingya dan “menunjukkan kepada dunia bagaimana egoisme bekerja saat ini terhadap citra Allah.”

“Mari kita terus menerus bekerja agar hak-hak mereka diakui. Mari kita buka hati kita. Jangan kita berpaling,” katanya.

Dalam sambutannya, Paus Fransiskus meminta para pemuka agama “untuk merengkuh orang lain” agar penghormatan kepada hak asasi manusia dan perdamaian bisa ditingkatkan.

Menurut Paus Fransiskus, dialog lintas-iman “menantang kita untuk menjangkau orang lain dengan saling memahami dan mempercayai” supaya manusia mampu membangun “persatuan yang melihat keberagaman bukan sebagai ancaman.”

“Keterbukaan hati itu seperti jalan yang menuju pada kebaikan, keadilan dan solidaritas. Keterbukaan hati mengarah pada kebaikan sesama,” kata Paus Fransiskus.

Ditambahkan, keprihatinan terhadap kesejahteraan orang lain bisa “membasahi lahan yang kering dan tandus akibat kebencian, korupsi, kemiskinan dan kekerasan yang merusak kehidupan manusia (dan) memecahbelah keluarga.”

Seorang pemuka agama Islam, Farid Uddin Masud, memuji Paus Fransiskus yang telah menyampaikan sambutan atas nama “orang-orang yang tertindas serta tidak adanya penghormatan terhadap agama, kasta dan kewarganegaraan.”

Pada pertemuan yang diadakan sebelumnya dengan para uskup, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “option for the poor” (keberpihakan kepada orang miskin) merupakan suatu tanda pengampunan dan cinta kasih Allah.

“Inspirasi bagi karya bantuan kalian untuk mereka yang membutuhkan harus selalu bersifat karitatif pastoral karena ini cepat mengenal luka manusia dan menanggapinya dengan kebaikan hati,” katanya.

Sekitar 620.000 warga Rohingya mengungsi ke Banglades dalam beberapa bulan terakhir menyusul pembakaran sejumlah desa, pembunuhan dan pemerkosaan perempuan di wilayah Rakhine State di Myanmar.

Para Diakon Ini Ditahbiskan Imam oleh Paus Fransiskus pada 1 Desember

Jum, 01/12/2017 - 14:23

Sampai kelas sepuluh di sekolah, Vincent Kanak Gomes tidak tahu apa panggilan hidupnya.

Kemudian pastor paroki setempat memperhatikan remaja laki-laki yang rendah hati dan pemalu itu yang menghadiri misa pada hari kerja, bertugas di altar dan membaca Alkitab di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius di Keuskupan Agung Dhaka.

“Suatu hari, Pastor memanggil ibuku dan bersikeras agar dia mengirimku ke seminari untuk menjadi imam,” kenang Gomes.

Gomes kemudian memasuki sebuah seminari keuskupan di Dhaka, dan memulai perjalanannya menuju imamat.

“Setelah masuk seminari, saya menyadari bahwa Tuhan telah memanggil saya untuk menjadi imam untuk melayani umat,”kata Gomes, yang sekarang berusia 31 tahun.

Setelah lebih dari satu dekade mengikuti pendidikan akademis dan formasi religius, Gomes, mendekati hari terhebat dalam hidupnya, pentahbisan oleh Paus Fransiskus di sebuah lapangan terbuka di Dhaka pada 1 Desember.

Paus dijadwalkan menahbiskan 16 diakon untuk menjadi imam dalam Misa di Taman Udyan Suhrawardy di pusat kota Dhaka,  10 orang calon imam diosesan, lima dari kongregasi Salib Suci (OSC) dan satu dari kongregasi Oblat Maria Immaculata (OMI).

Bagi Gourob G. Pathang, 34, dari kongregasi Salib Suci, kongregasi religius terbesar di Bangladesh, panggilan untuk menjadi religius sudah tumbuh sejak usia dini.

“Ayah saya adalah seorang katekis dan sewaktu kecil saya bergabung dengannya dalam pelayanan doa,” kata Pathang, seorang Katolik suku Garo dari Gereja St. Teresa Keuskupan Mymensingh, kepada ucanews.com.

Pathang mengatakan sebagai imam dia ingin bekerja untuk kaum muda dan memperjuangkan keadilan sosial.

“Gereja melakukan banyak hal untuk masyarakat termasuk pendidikan, kesehatan dan pembangunan, tapi kadang-kadang gagal mengambil sikap tegas mengenai masalah keadilan ketika orang-orang tertindas,” tambahnya.

“Berdiri untuk kebenaran dan keadilan tidaklah mudah, tapi saya akan menjadikannya sebuah motto hidup imamat saya.”

 

Persiapan untuk hari besar

 

Para diakon telah menyelesaikan enam tahun belajar teologi, spiritualitas dan psikologi di Seminari Tinggi Roh Kudus di Dhaka, yang berafiliasi dengan Pontifical Urbaniana University di Roma.

Diakon Rinku Cizar Costa, 32, dari Keuskupan Rajshahi, mengatakan kepada ucanews.com bahwa akan sangat istimewa jika di tabiskan Paus Fransiskus.

Persiapan untuk hari besar tersebut mencakup retret dalam diam serta spiritual dan konseling pribadi, menurut Pastor Emmanuel Kanon Rozario, rektor Seminari Roh Kudus.

“Ini menyangkut sukacita dan privalese bagi para diakon dan gereja bahwa paus, Vikaris Kristus di dunia, akan menahbiskan mereka,” kata Pastor Rozario.

 

Peralihan panggilan religius

 

Di Bangladesh, orang Katolik sangat kecil jumlahnya dibandingkan dengan mayoritas Muslim.

Ada sekitar 375.000 umat Katolik yang tersebar di delapan keuskupan, setengah dari kelompok etnis Bengali dan sisanya dari masyarakat adat.

Dalam beberapa dekade terakhir, panggilan religius telah menurun di masyarakat Bengali dan meningkat di daerah-daerah adat.

Karena semakin banyak orang memperoleh pekerjaan di negara-negara Teluk Persia, Eropa dan Amerika, mereka menjadi lebih kaya dan keluarga mereka semakin kecil.

Hal ini terbukti menjadi pukulan bagi panggilan religius, meskipun orang-orang masih berpandangan religius.

Akibatnya, panggilan religius telah beralih ke keuskupan-keuskupan yang didominasi masyarakat adat seperti etnik Garut yang didominasi oleh kaum Pathang yang mendominasi Mymensingh.

“Tahun ini kita akan memiliki 16 imam baru, yang luar biasa,” kata Pastor Rozario antusias.

Tujuannya adalah untuk menghasilkan imam yang tidak hanya melayani orang Kristen tapi juga komunitas miskin dan terpinggirkan lainnya.

Rata-rata, 10 sampai 15 imam baru ditahbiskan di Bangladesh setiap tahunnya.

 

Kenangan pentahbisan oleh Paus Yohanes Paulus II

 

Pastor Tapan C. De Rozario adalah di antara 18 diakon yang ditahbiskan menjadi imam oleh Paus Yohanes Paulus II saat ia mengunjungi Bangladesh pada 19 November 1986.

“Dia sekarang orang suci di gereja dan saya merasa bangga mengatakan pada diri sendiri bahwa seorang suci menahbiskan saya!” kata Pastor Rozario, ketua Departemen Agama dan Budaya Dunia di Universitas Dhaka.

“Setelah penahbisan tersebut, paus menyentuh pipi saya dengan pipinya dan saya menyambutnya dengan mengatakan,” Damai sejahtera bagimu! ”

 

Nikmati juga theme song kunjungan Paus Fransiskus di Bangladesh:

 

Masalah Iklim, Perbudakan Menjadi Perhatian Paus di Bangladesh

Jum, 01/12/2017 - 12:44

Paus Fransiskus tiba di Bangladesh pada Kamis, 30 November.

Selain penderitaan Rohingya yang sering dibicarakan, perubahan iklim, perbudakan modern, penganiayaan karena agama, termasuk serangan terhadap orang Kristen, menjadi isu yang menunggu Paus Fransiskus di Bangladesh.

Kardinal Patrick D’Rozario dari Dhaka telah menyatakan keyakinannya bahwa paus tidak hanya berbicara tentang pengungsi Rohingya yang telah hidup dalam kondisi mengerikan di bagian selatan negara tersebut, namun juga tentang keadaan lingkungan.

Bangladesh, negara dengan dataran rendah, telah berada di antara negara-negara yang paling terkena dampak perubahan iklim.

Menurut Global Climate Risk Index Bangladesh berada di peringkat keenam di antara negara-negara yang paling terpengaruh oleh perubahan pola cuaca dari tahun 1997 sampai 2016.

“Saya berharap bahwa dia akan berbicara masalah perubahan iklim,” kata Kardinal D’Rozario dalam sebuah wawancara sebelum kunjungan paus ke Dhaka. “Saya yakin Paus Fransiskus akan menghargai semua langkah yang telah ditempuh Bangladesh untuk memerangi perubahan iklim.”

Prelatus Dhaka mengatakan bahwa dia mengharapkan paus untuk mengungkapkan cintanya kepada Bangladesh, terutama bagi pekerja miskin yang menderita yang oleh paus digambarkan sebagai “perbudakan modern.”

Paus Fransiskus mengutuk “kerja paksa” setelah runtuhnya sebuah pabrik garmen di Bangladesh pada tahun 2013 yang menewaskan lebih dari 1.100 pekerja.

Bangladesh juga telah menyaksikan beberapa tahun terakhir ini, sejumlah serangan terhadap agama minoritas, termasuk Hindu dan Kristen, dimulai pada tahun 2001 ketika sebuah ledakan bom di sebuah gereja Katolik menewaskan sembilan orang.

Pada tahun 2014, setidaknya delapan orang Katolik dilaporkan terluka setelah rumah mereka dibakar. Setelah tahun itu, beberapa biarawati dan pastor dipukuli saat sekelompok massa menyerang sebuah biara Katolik. Pada tahun 2015, seorang imam ditikam pada masa Paskah.

Baru tahun lalu, sebuah gereja Katolik dan sebuah biara digerebek oleh sekelompok pria yang memukuli para biarawati tersebut. Sebuah serangan militan Juli 2016 di sebuah kafe yang sering dikunjungi orang asing di Dhaka menyebabkan 22 orang tewas.

Dan beberapa hari sebelum kunjungan paus, seorang pastor yang terlibat dalam persiapan kunjungan paus hilang.

“Kami memiliki harapan yang besar bahwa dia akan membicarakan semua masalah ini, yang sangat nyata. Kami benar-benar berharap dia akan merespons,” kata Kardinal D’Rozario dalam sebuah wawancara dengan media.

Ada banyak spekulasi tentang apa yang akan dikatakan Paus Fransiskus terutama ketika dia berbicara di depan 80.000 orang di Suhrawardy Uddyan, sebuah taman era kolonial di ibu kota, pada 1 Desember.

Kunjungan tiga hari Paus Francis ke Bangladesh akan menjadi yang pertama sejak kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada 1986.

Orang-orang Kristen berjumlah kurang dari 0,5 persen populasi Muslim di Bangladesh yang berpenduduk 165 juta. Sekitar 12 persen orang beragama Hindu, dan setidaknya satu persen adalah umat Budha.

Pada tahun 2016, ada sekitar 350.000 umat Katolik di Bangladesh, sekitar 0,2 persen dari populasi. Sekitar 60 persen umat Katolik berasal dari komunitas kesukuan.

Jelang Kedatangan Paus, Seorang Imam Bangladesh Dinyatakan Hilang

Kam, 30/11/2017 - 15:26
Paus Fransiskus meninggalkan Myanmar hari ini 30 November menuju negara tetangga Bangladesh. Namun kabar kurang menyenangkan terjadi menjelang kedatangan paus. Tiga militan Islam Bangladesh  meledakkan diri mereka dalam sebuah serangan anti-teror dan dalam insiden lain seorang imam dikhawatirkan telah diculik. Serangan polisi terhadap sebuah tempat persembunyian militan di distrik Chapai Nawabganj utara Bangladesh terjadi pada 28 November. Mufti Mahmud Khan, direktur media Batalyon Aksi Cepat paramiliter, mengatakan kepada wartawan di Dhaka bahwa militan tersebut meledakkan rompi bunuh diri untuk menghindari penangkapan. Sebelumnya, pejabat kepolisian mengatakan Bangladesh mendorong operasi kontra-teror sebagai bagian dari pengamanan tingkat tinggi selama kunjungan Paus Fransiskus pada 30 November sampai 2 Desember. Pada insiden lainnya, Pastor Walter William Rozario, 41, pastor kapelan paroki Gereja Maria Virgo Potens, telah hilang sejak petang tanggal 27 November. Dia adalah kepala sekolah St. Louis High School yang dikelola gereja di Paroki Borni kabupaten Natore di utara negara tersebut. Ponsel milik Pastor Rozario sudah dimatikan sejak saat itu. Sumber di paroki tersebut mengatakan kepada ucanews.com bahwa pastor yang hilang tersebut terlibat dalam persiapan kunjungan paus tersebut. Pada 27 November, Pastor Rozario pergi ke daerah benteng Kristen Bonpara untuk mengawasi pencetakan majalah suvenir yang didedikasikan untuk dua diakon lokal untuk ditahbiskan oleh Paus Fransiskus di Dhaka pada 1 Desember. Dia menghilang dalam perjalanan kembali ke parokinya dengan sepeda motor. Pejabat Gereja setempat membuat  laporan polisi mengenai hilangnya pastor tersebut. “Kami telah melakukan segalanya untuk melacak dan menyelamatkan imam itu,” kata Shahriar Kabir, petugas di kantor polisi setempat, kepada ucanews.com. Belum diketahui secara pasti  apakah ini adalah penculikan atau ada hubungannya dengan keterlibatan permusuhan pribadi. Uskup Gervas Rozario dari Keuskupan Rajshahi, yang keuskupannya meliputi wilayah tersebut, mengungkapkan keprihatinan yang mendalam. “Kami menduga kasus ini adalah penculikan karena kami mengetahui bahwa dia menerima telepon dari orang-orang tak dikenal yang menuntut uang,” kata Uskup Rozario.

Halaman