UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 39 mnt 35 dtk yang lalu

Misa Terbuka Paus Menjadi Even Terbesar dalam Sejarah Myanmar

Kam, 30/11/2017 - 12:02

Paus Fransiskus merayakan Misa di ruang terbuka selama dua jam untuk sekitar 150.000 orang di Yangon pada 29 November. Pada kesempatan itu paus berkotbah tentang pengampunan dan memuji upaya gereja, meskipun jumlahnya kecil, di seluruh negeri.

Misa tersebut merupakan sebuah acara terbesar yang diselenggarakan di Myanmar, mencakup sekitar 150 kardinal, uskup dan imam di atas panggung. Basaha Inggris, Burma, Latin dan Italia digunakan selama Misa.

Paus Fransiskus berpakaian jubah hijau dan emas, sementara paduan suara para biarawati dan imam mengenakan pakaian putih dengan sulaman biru V di bagian depan pakaian mereka.

Sebelum misa, paus melewati kerumunan dari belakang dengan sebuah mobil pick-up terbuka berwarna putih dengan pelindung depan dari kaca transparan dan penutup atap.

Dalam homilinya Paus Fransiskus menekankan pengampunan dan kemudian meminta karya Karuna Myanmar (Caritas) Katolik dalam hal memberikan bantuan untuk sejumlah besar laki-laki, wanita dan anak-anak, tanpa memandang agama atau latar belakang etnis.

“Saya tahu bahwa banyak di Myanmar menanggung luka kekerasan, luka yang terlihat dan tidak terlihat,” kata Paus Fransiskus dalam bahasa Italia, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Burma untuk umat.

“Ada godaan untuk menanggapi luka-luka ini dengan kebijaksanaan duniawi, seperti yang dilakukan oleh raja pada bacaan pertama, sangat cacat. Kita berpikir bahwa penyembuhan bisa datang dari kemarahan dan balas dendam. Namun cara membalas dendam bukan jalan Yesus, cara Yesus sangat berbeda, Ketika kebencian dan penolakan membawanya ke gairah dan kematiannya, dia menanggapi dengan pengampunan dan kasih sayang, “katanya sebelum meluangkan waktu untuk memuji usaha gereja yang hanya berjumlah 1 persen dari populasi di sebuah negara berpenduduk 51 juta jiwa.

“Saya tahu bahwa gereja di Myanmar telah berbuat banyak untuk membawa rahmat penyembuhan Tuhan kepada orang lain, terutama yang paling membutuhkan. Ada tanda-tanda yang jelas bahwa walaupun dengan sarana yang sangat terbatas, banyak komunitas mewartakan Injil ke minoritas kesukuan tidak pernah dengan memaksa atau menggunakan kekerasan tapi selalu dengan ajakan dan sambutan, “kata paus.

“Di tengah kemiskinan dan kesulitan, banyak di antara Anda menawarkan bantuan praktis dan solidaritas kepada orang miskin dan menderita. Melalui pelayanan harian para uskup, imam, para religius dan katekis, dan terutama melalui karya terpuji Caritas Myanmar dan bantuan dermawan yang diberikan oleh Masyarakat Misi Kepausan, gereja di negara ini membantu sejumlah besar pria, wanita dan anak-anak, terlepas dari latar belakang agama atau etnis mereka. ”

Banyak yang menghadiri misa tersebut adalah peziarah yang telah melakukan perjalanan dari seluruh pelosok Myanmar karena sebagian besar umat Katolik di negara tersebut tinggal di negara bagian Kachin, Shan, Karen dan Kayah.

Sebelum Misa, lebih dari 120.000 umat Katolik dan orang-orang dari agama lain berkumpul di lapangan olahraga Kyaikkasan sambil melambaikan bendera. Mereka berteriak “Papa Fransiskus” saat kendaraan paus memasuki lapangan dan melakukan tur di sekitar ribuan peziarah.

Saw Zabinus, 60, seorang Katolik dari Keuskupan Taungngu, di negara bagian Shan Utara, mengatakan bahwa dia telah menunggu sejak pukul 2 pagi, karena dia sangat senang bisa bertemu dengan paus dan menghadiri misa publik.

“Kunjungannya sangat membantu umat Katolik minoritas untuk memperdalam iman kami dan memiliki hubungan baik dengan agama-agama lain,” kata Zabinus kepada ucanews.com. Dia mengatakan bahwa kunjungan paus akan mendorong perdamaian di negara ini.

Peter, seorang pemuda Katolik berusia 18 tahun dari Gereja St. Anthony  Yangon yang bekerja sebagai sukarelawan di Misa tersebut, mengatakan bahwa ini adalah sebuah hak istimewa. Dia mengatakan bahwa dia tidak dapat mengungkapkan kegembiraan dan suka citanya, terutama saat paus melakukan tur di kendaraannya menjelang Misa.

“Saya sangat senang karena saya mendapat kesempatan untuk menjadi sukarelawan di Misa. Kesempatan ini sekali dalam hidup saya,” kata Peter kepada ucanews.com.

Hkun Htun Aung, seorang insinyur Buddhis dan sipil yang membantu pembangunan panggung untuk Misa Paus, mengatakan bahwa dia senang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Paus Fransiskus dan adalah hal yang baik bahwa seorang pemimpin Katolik telah mengunjungi mayoritas umat Buddha di negara ini.

“Kekristenan berfokus pada cinta dan kedamaian, dan Buddhisme juga menekankan belas kasihan dan cinta kasih, dan paus datang ke Myanmar untuk membawa perdamaian,” kata Htun Aung, seorang etnis Pa-oo dari kota Pekha di Negara Bagian Shan di mana mayoritas adalah orang Kristen.

Dia menambahkan bahwa ada hubungan baik antara umat Buddha dan orang Kristen karena umat Buddha berpartisipasi dalam perayaan Kristen dan orang Kristen juga datang ke upacara Buddhis.

Perdamaian Tercipta oleh Persatuan, Bukan Keseragaman

Kam, 30/11/2017 - 09:14

Dalam sebuah pertemuan kecil informal dengan berbagai pemimpin agama, Paus Fransiskus mengemukakan inti pesannya untuk Myanmar: persatuan, bukan keseragaman, adalah rahasia untuk perdamaian.

Perwakilan komunitas gereja Baptis, Anglikan, Budha, Hindu, Yahudi dan Muslim, serta pemimpin organisasi ekumenis, secara singkat mengatakan kepada paus tentang keberadaan komunitas mereka selama pertemuan 28 November di kediaman uskup agung di Yangon.

“Ketika Anda berbicara, sebuah doa datang ke dalam pikiran. Doa yang sering kita doakan, diambil dari Kitab Mazmur: ‘Alangkah baiknya dan senangnya, ketika saudara-saudara hidup rukun sebagai saudara,'” katanya, mengutip Mazmur 133.

“Bersatu tidak berarti sama, persatuan tidak berseragam, bahkan dalam pengakuan iman yang sama,” katanya. “Masing-masing memiliki martabat, kekayaan dan juga kekurangannya.”

Meskipun sebagian besar orang di Myanmar beragama Buddha, keragaman agama di negara ini bervariasi. Myanmar juga memiliki sekitar 135 kelompok etnis yang diakui dan dalam perjuangan untuk mendapatkan pengakuan dan kekuasaan politik, agama sering dijadikan penyebab atau sorotan perbedaan.

“Jangan takut pada perbedaan,” kata paus kepada para pemimpin agama seperti dikutip Catholic News Service.

Sementara kelompok yang bertemu dengan paus termasuk perwakilan komunitas Muslim di negara tersebut, tidak ada perwakilan khusus dari Muslim Rohingya, sebuah kelompok yang telah mengalami pembatasan dan penindasan yang parah oleh pemerintah. Rohingya tidak dikenali sebagai kelompok etnis atau sebagai warga negara. Dan mayoritas rakyat menganggap mereka sebagai ancaman bagi perdamaian dan harmoni.

Salah satu perwakilan, yang tidak mau disebutkan namanya menggunakan kata “harmoni” tiga kali. Paus Fransiskus mengatakan bahwa dalam kehidupan, seperti dalam musik, harmoni berasal dari menyatukan perbedaan, tidak menghilangkannya.

Hari ini, kata paus, ada “kecenderungan global menuju keseragaman, melakukan semua hal yang sama,” tapi “itu membunuh manusia, itulah kolonisasi budaya.”

Orang-orang beriman percaya pada pencipta sebagai seorang ayah, yang juga berarti mengakui manusia lain sebagai saudara laki-laki dan perempuan, katanya. “Mari kita menjadi seperti saudara laki-laki dan perempuan, dan jika kita berdebat di antara kita sendiri, biarlah menjadi seperti saudara laki-laki dan perempuan – mereka segera didamaikan, mereka bersaudara lagi, saya pikir itu hanya cara membangun perdamaian.”

Pihak Vatikan mengatakan bahwa Paus Fransiskus juga bertemu secara terpisah dengan Sitagu Sayadaw, seorang pemimpin Buddhis yang secara terbuka mendukung tindakan keras militer terhadap minoritas Rohingya.

Greg Burke, direktur kantor pers Vatikan, mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya paus untuk mendorong perdamaian dan hidup bersama sebagai saudara, satu-satunya jalan menuju hari depan yang lebih damai.

Komunitas MAGIS Beri Penyuluhan Gigi untuk Anak-anak Nelayan

Kam, 30/11/2017 - 09:06

Puluhan anak kecil berlarian dan berkumpul di Rumah Kerang Puteri Kasih, Cilincing, Jakarta Utara, untuk mengikuti penyuluhan gigi untuk anak-anak yang dilakukan komunitas MAGIS Jakarta pada hari minggu pagi 26 November.

Rumah Kerang Puteri Kasih menjadi sebutan untuk sebuah rumah yang dibina oleh suster-suster Puteri Kasih di daerah Cilincing, Jakarta untuk melayani warga sekitar dalam hal pendidikan, kesehatan, pendayagunaan dll tanpa memadang agama, suku dsb. Mayoritas warga menyandarkan hidupnya sebagai nelayan dan pengupas kerang.

Dalam acara tersebut, anak-anak yang berjumlah sekitar 60 anak dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah anak dari tingkat TK – 3 SD dan kelompok kedua dari kelas 4-6 SD. Anak-anak di kelompok pertama diberikan pertunjukan boneka yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kelompok kedua diberikan drama yang diperankan oleh panitia dengan tema yang sama.

Setelah itu, anak-anak antuias dalam menjawab karena diadakan pertanyaan berhadiah yang berhubungan kegiatan sebelumnya. Selanjutnya, anak-anak diberi contoh tentang bagaimana menggosok gigi yang benar dengan cara bernyanyi dan dengan phantom gigi.

Dalam kegitatan tersebut anak-anak dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah anak TK hingga kelas 3 SD dan kelompok kedua dari kelas 4-6 SD.

 

Setelah menerima penjelasan dan contoh tentang cara menggosok gigi yang benar, anak-anak diajak untuk mempraktekkannya sendiri menggunakan sikat dan pasta gigi yang sudah disediakan panita.

Suster Adriana, PK memberikan tanggapan positif dengan kegiatan ini. Beliau dalam sambutannya menekankan kepedulian orang muda akan orang miskin walau dalam hal sederhana.

“Kemiskinan tidak selalu berhubungan dengan harta, namun juga ada kemiskinan akan kasih, kepedulian dan perhatian. Orang miskin adalah harta yang  diberikan Tuhan untuk kita. Dari mereka, kita menemukan wajah Allah,” ujar suster yang selaku Pembina Rumah Kerang saat ini.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40) merupakan penggalan bacaan Injil di hari minggu ini. Kegiatan ini dilakukan bertepatan pada Perayaan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam yang baru saja kita rayakan menjelang Hari Minggu I Masa Adven.

Uji Tesli selaku Ketua Panitia juga menuturkan “banyak orang sepele akan kesehatan gigi, tapi kalau sudah sakit? Mau melakukan apapun tak enak. Secara tidak langsung, kesehatan gigi berhubungan erat dengan kualitas hidup seseorang. Berangkat dari hal tersebut, kita tergerak untuk mengadakan penyuluhan tentang kesehatan gigi mulut kepada anak usia sekolah. Karena mencegah jelas lebih baik dari pada mengobati.”

Kegiatan yang berlangsung ceria ini ditutup dengan foto bersama. Semoga berawal dari kesadaran gigi anak-anak kecil ini semakin membuka hati kita semua untuk saling memberi dalam bentuk kasih, kepedulian dan perhatian kepada sesama. Serta kegiatan penyuluhan gigi ini tidak akan terhenti disini karena akan diadakan kembali oleh komunitas MAGIS Jakarta. Tunggu tanggal mainnya!.

Duc in Altum.

RIP Pastor Frans Mido SVD, Guru Seminari Kisol Selama 50 Tahun

Rab, 29/11/2017 - 21:20

Pastor Frans Mido SVD, sosok yang diakui sebagai guru yang luar biasa di  Seminari Pius XII Kisol, Keuskupan Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia Rabu, 29 November 2017.

Imam yang lahir pada 7 November 1936 di Worosambi Tonggo, Nangaroro, Kabupaten Nagekeo ini meninggal dalam usia imamat ke-52.

Berkarya di Seminari Kisol sejak 1966, di kalangan alumni, Pastor Frans dikenal sebagai guru Bahasa Indonesia, Logika dan Dramaturgi yang hebat.

Pada 2015, saat usia emas imamatnya, para alumni mempersembahkan buku khusus untuknya, berjudul “Menabur Kesetiaan, Memuliakan Panggilan”.

Buku yang berisi kesan tentang dirinya itu diserahkan oleh perwakilan alumni yang juga muridnya, Uskup Sorong-Manokwari, Mgr Hilarion Datus Lega.

Uskup Datus menegaskan, Pater Frans berhak mendapat predikat “top” sebagai guru Bahasa Indonesia, karena tidak hanya mengajar pelajaran ‘tata bahasa’ dengan segala kompleksitasnya, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap sastra.

“Ia bukan saja mengajarkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, melainkan juga menumbuhkembangkan kreativitas berbahasa dengan alur pemikiran yang berkaitan erat dengan logika dan filsafat,” ungkapnya.

Ia pun menyebut, tidak heran jika sejumlah anak didik Pater Frans banyak yang terjun ke dunia jurnalistik, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Pater Frans menempuh pendidikan menegah di Seminari Mataloko pada 1950-1957, lalu masuk Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Ia ditahbiskan pada  25 April 1965 dan tahun berikutnya mulai berkarya di Seminari Kisol.

Berita kepergian Pater Frans meninggalkan duka mendalam.

Romo Laurens Sopang, mantan praeses di Seminari Kisol menyebutnya, sebagai  “pahlawan setia” karena  mengabdi di Seminari Kisol sejak kedatangan di Keuskupan Ruteng.

Saat ini, jenazahnya disemayamkan di Wisma Soverdi Ruteng.  Misa requiem dijadwalkan digelar hari ini pukul 17.30 Wita di Kapel Soverdi dan Kamis esok pukul 08.00 Wita di Gereja Katedral Ruteng yang lama.

Tidak Bahas Rohingya, Paus Tekankan Toleransi, Keadilan, Perdamaian di Myanmar

Rab, 29/11/2017 - 13:59

Paus Fransiskus telah menghindari penyebutan secara khusus beberapa konflik Myanmar, termasuk krisis pengungsi Rohingya, dalam pidatonya pada tanggal 28 November yang dilakukan di ibukota negara, Nay Pyi Taw.

Sebagai gantinya, Paus Fransiskus yang merupakan paus pertama yang mengunjungi negara itu, memilih untuk secara luas membahas pentingnya perdamaian, toleransi, penghormatan terhadap perbedaan agama dan tugas generasi sekarang terhadap kaum muda, hal itu disampaikan  ketika dia berbicara dengan perwakilan diplomat, politisi dan masyarakat sipil di parlemen nasional

“Proses perdamaian dan rekonsiliasi nasional yang sulit hanya bisa dilakukan melalui komitmen terhadap keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia,” kata Paus Fransiskus. “Perbedaan agama tidak perlu menjadi sumber perpecahan dan ketidakpercayaan, melainkan kekuatan untuk persatuan, pengampunan, toleransi dan pembangunan bangsa dengan bijak.”

“Masa depan Myanmar harus damai, damai berdasarkan penghormatan terhadap martabat dan hak setiap anggota masyarakat, menghormati setiap kelompok etnis dan identitasnya, menghormati peraturan undang-undang, dan menghormati tatanan demokratis yang memungkinkan masing-masing individu dan setiap kelompok – tidak ada yang dikecualikan – untuk menawarkan kontribusi yang sah untuk kebaikan bersama.

BACA JUGA: Pidato Lengkap Paus Fransiskus di Hadapan Pemerintah Myanmar, Diplomat, dan Tokoh Agama

“Masa depan Myanmar dalam dunia yang berubah dengan cepat dan saling berhubungan akan bergantung pada pelatihan anak-anaknya, tidak hanya di bidang teknis, tapi terutama nilai etika kejujuran, integritas dan solidaritas manusia yang dapat menjamin konsolidasi demokrasi dan pertumbuhan persatuan dan perdamaian di setiap lapisan masyarakat. ”

Kelompok hak asasi manusia menyatakan kekecewaannya karena paus tetap diam mengenai tragedi Rohingya, yang telah mengakibatkan 620.000 orang masuk ke negara tetangga Bangladesh dengan cerita pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan dan penghancuran harta benda oleh militer Myanmar.

Tapi paus telah diminta oleh Kardinal Charles Bo dari Yangon, satu-satunya kardinal di negara itu, dan juga mantan kepala PBB Kofi Annan untuk tidak menyebutkan kelompok tersebut dengan nama Rohingya, karena takut memicu kekerasan sektarian.
 
Rohingya adalah sebuah istilah yang mayoritas orang Myanmar hindari untuk mendukung “orang Bengali” atau sebagaimana pemimpin sipil Aung San Suu Kyi menyebutnya “Muslim Rakhine” saat merujuk pada negara asal mereka dan agama mereka.
 

Kyaw Min, ketua kelompok Demokrasi dan Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Yangon, mengatakan tidak mengherankan bahwa paus tidak menggunakan istilah “Rohingya” karena para pemimpin gereja di Myanmar telah mendesaknya untuk menghindarinya. “Tapi saya yakin paus mengangkat isu Rohingya dalam pertemuannya dengan Penasihat Negara Aung San Suu Kyi,” katanya.
 
“Kunjungan paus ke Myanmar mungkin berdampak pada proses perdamaian namun kecil kemungkinannya untuk memilih satu per satu soal krisis Rakhine karena para pemimpin Myanmar keras kepala dan mungkin tidak melunakkan hati mereka.Tapi kita tidak kehilangan harapan dengan paus” kata Kyaw Min kepada ucanews.com.

Direktur Eksekutif UCAN Pastor Michael Kelly, SJ, sama seperti paus yang juga seorang Yesuit, mengatakan bahwa “tidak mengejutkan tidak ada yang eksplisit mengenai hal yang orang tanya-tanyakan, apakah yang dia akan bicarakan saat berada di sini. Kenyataannya adalah bahwa meskipun kengerian situasi, Rohingya adalah puncak gunung es di Myanmar. ”

Eksodus Rohingya adalah noda terbaru dalam catatan militer Myanmar yang secara agresif telah melancarkan perang sipil melawan pejuang kemerdekaan dari berbagai kelompok etnis yang mengelilingi pusat di mana orang-orang Bamar tinggal, menyebabkan setidaknya 250.000 orang hari ini tinggal di kamp-kamp pengungsian internal di Myanmar utara dan melintasi perbatasannya di Thailand.

Pastor Kelly mengatakan bahwa dengan berulang kali mengucapkan kata “toleransi” dan “keadilan”, ada pesan yang biasanya dikodekan oleh paus tentang krisis sekarang, namun menambahkan: “Apa yang dapat orang harapkan: dia bukan dari Myanmar dia adalah pengunjung ke negara ini, kepala negara berdaulat dan umat Katolik berjumlah kurang dari 1 persen dari populasi? ”

Paus tersebut diperkenalkan oleh Suu Kyi menyusul sebuah pertemuan pribadi antara keduanya, yang juga bertemu di Roma pada bulan Mei di mana gagasan bahwa Paus Fransiskus perjalanan saya ke negara yang sengketa telah dilanda perang.

Menjelang pertemuan dengan Suu Kyi, Paus Fransiskus melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Htin Kyaw.

Menjelang penerbangan selama satu jam ke Nay Pyi Daw, yang menggantikan Yangon sebagai ibukota negara itu pada tahun 2008, paus bertemu dengan seorang biarawan senior Budha yang kontroversial dan juga mengadakan pertemuan terpisah dengan pemimpin lintas agama.

Pada pagi hari tanggal 29 November, Paus merayakan Misa terbuka di Yangon dengan setidaknya 40 pastor, uskup dan kardinal lainnya. Sekitar 200.000 orang diperkirakan hadir.

Pidato Lengkap Paus Fransiskus di Hadapan Pemerintah, Diplomat di Myanmar

Rab, 29/11/2017 - 09:24

Berikut adalah pidato lengkap Paus Fransiskus di hadapan Otoritas Pemerintah, Masyarakat Sipil dan Korps Diplomatik di Pusat Konvensi Internasional Myanmar, Nay Pyi Taw, Selasa, 28 November 2017

 

Ibu Penasihat Negara, Yang Terhormat Pemerintah dan Otoritas Sipil, Yang Mulia, Para Uskup Saudaraku, Anggota Terkemuka Korps Diplomatik, Ibu dan Bapak, hadirin semuanya:

Saya bersyukur atas kebaikan hati mengundang saya untuk mengunjungi Myanmar dan saya berterima kasih, Madam State Counselor, atas sambutan baik Anda. Saya sangat berterima kasih kepada semua orang yang telah bekerja keras untuk membuat kunjungan ini dilakukan.

Saya telah datang, terutama, untuk berdoa bersama komunitas Katolik yang kecil, namun tetap teguh, untuk menguatkan mereka dalam iman mereka, dan untuk mendorong mereka dalam usaha mereka untuk berkontribusi demi kebaikan bangsa.

Saya sangat bersyukur bahwa kunjungan saya dilakukan segera setelah membangun hubungan diplomatik formal antara Myanmar dan Takhta Suci. Saya ingin melihat keputusan ini sebagai pertanda komitmen bangsa ini untuk terus melakukan dialog dan kerja sama yang konstruktif dalam masyarakat internasional yang lebih besar, walaupun mereka berusaha memperbarui struktur masyarakat sipil.

Saya juga ingin kunjungan saya untuk merangkul seluruh penduduk Myanmar dan memberikan dorongan kepada semua orang yang sedang bekerja untuk membangun tatanan sosial yang adil, rekonsiliatif dan inklusif.

Myanmar telah diberkati dengan keindahan alam dan sumber daya yang luar biasa, namun harta terbesarnya adalah rakyatnya, yang telah sangat menderita, dan terus menderita, dari konflik sipil dan permusuhan yang telah berlangsung lama dan menciptakan perpecahan yang dalam.

Seiring dengan upaya bangsa saat ini memulihkan perdamaian, penyembuhan luka-luka itu harus menjadi prioritas politis dan spiritual yang paling penting. Saya hanya dapat mengungkapkan penghargaan saya atas upaya Pemerintah untuk menghadapi tantangan ini, terutama melalui Konferensi Damai Panglong, yang mempertemukan perwakilan berbagai kelompok dalam upaya untuk mengakhiri kekerasan, untuk membangun kepercayaan dan untuk memastikan penghormatan terhadap hak-hak semua yang menyebut tanah ini rumah mereka.

Memang, proses perdamaian dan rekonsiliasi nasional yang sulit hanya bisa dilakukan melalui komitmen terhadap keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kebijaksanaan para pendahulu mendefinisikan keadilan secara tepat sebagai kemauan yang kuat untuk memberi setiap orang haknya, sementara para nabi zaman dulu melihat keadilan sebagai dasar dari semua kedamaian sejati dan abadi.

Wawasan ini, yang dikuatkan oleh pengalaman tragis dua perang dunia, menyebabkan pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan deklarasi universal hak asasi manusia sebagai dasar upaya masyarakat internasional untuk mempromosikan keadilan, perdamaian dan pembangunan manusia di seluruh dunia, dan untuk menyelesaikan konflik melalui dialog, bukan penggunaan kekuatan.

Dalam hal ini, kehadiran korps diplomatik di tengah-tengah kita memberi kesaksian tidak hanya terhadap tempat Myanmar di antara bangsa-bangsa, tetapi juga komitmen negara ini untuk menegakkan dan menjalankan prinsip-prinsip dasar tersebut.

Masa depan Myanmar harus damai, damai berdasarkan penghormatan terhadap martabat dan hak setiap anggota masyarakat, penghormatan terhadap masing-masing kelompok etnis dan identitasnya, penghormatan terhadap peraturan undang-undang, dan penghormatan terhadap tatanan demokratis yang memungkinkan setiap individu dan setiap kelompok – tanpa terkecuali- untuk menawarkan kontribusinya yang sah terhadap kepentingan bersama.

Dalam karya besar membangun rekonsiliasi dan integrasi nasional, komunitas agama Myanmar memiliki peran istimewa. Perbedaan agama tidak perlu menjadi sumber perpecahan dan ketidakpercayaan, melainkan kekuatan untuk persatuan, pengampunan, toleransi dan pembangunan bangsa yang bijak.

Agama-agama dapat memainkan peran penting dalam memperbaiki luka emosional, spiritual dan psikologis dari mereka yang telah menderita selama konflik bertahun-tahun. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai yang dianut, mereka dapat membantu menghilangkan penyebab konflik, membangun jembatan dialog, mencari keadilan dan menjadi suara kenabian untuk semua orang yang menderita.

Menjadi tanda harapan bahwa para pemimpin dari berbagai tradisi keagamaan di negara ini berusaha untuk bekerja sama, dalam semangat keharmonisan dan saling menghormati, untuk perdamaian, untuk membantu orang miskin dan untuk mendidik nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan yang otentik. Dalam upaya membangun budaya interaksi dan solidaritas, mereka berkontribusi pada kebaikan bersama dan meletakkan fondasi moral yang tak terpisahkan untuk masa depan harapan dan kemakmuran bagi generasi yang akan datang.

 

Masa depan itu bahkan sekarang berada di tangan kaum muda bangsa. Anak muda adalah hadiah untuk dihargai dan didorong, sebuah investasi yang akan menghasilkan keuntungan melimpah hanya jika diberi kesempatan nyata untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan berkualitas. Ini adalah persyaratan mendesak untuk keadilan antargenerasi.

Masa depan Myanmar dalam dunia yang berubah dengan cepat dan saling berhubungan akan bergantung pada pelatihan kaum mudanya, tidak hanya di bidang teknis, namun terutama nilai etika kejujuran, integritas dan solidaritas manusia yang dapat menjamin konsolidasi demokrasi dan pertumbuhan persatuan dan perdamaian di setiap lapisan masyarakat.

Keadilan antargenerasi juga menuntut agar generasi penerus mewarisi lingkungan alam yang tidak dinodai oleh keserakahan dan kehancuran manusia. Sangat penting bahwa harapan dan kesempatan tidak dirampok dari kaum muda kita untuk menggunakan idealisme dan talenta mereka dalam membentuk masa depan negara mereka, bahkan seluruh keluarga manusia.

 

Madam State Counselor, para sahabat yang baik:

Pada hari-hari ini, saya ingin mendorong saudara dan saudari Katolik saya untuk bertekun dalam iman mereka dan terus menyampaikan pesan rekonsiliasi dan persaudaraan melalui karya amal dan kemanusiaan yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

Harapan saya bahwa melalui kerja sama yang tulus dengan para pengikut agama lain, dan semua pria dan wanita yang berkehendak baik, mereka akan membantu membuka era baru kerukunan dan kemajuan bagi semua warga negara tercinta ini.

“Hidup Myanmar!”

Saya berterima kasih atas perhatian Anda, dan dengan penuh harapan atas pelayanan Anda sekalian untuk kebaikan bersama, semoga Tuhan menurunkan kepada anda semua kebijaksanaan, kekuatan dan kedamaian.

Pindah Tugas, Romo Budi Berjalan Kaki 15 Kilometer

Rab, 29/11/2017 - 08:26

Hujan yang menguyur tak menyurutkan Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, untuk tetap berjalan kaki dari Paroki Kristus Raja, Ungaran, menuju Kota Semarang. Jalan kaki menuju tempat tugas yang baru diikuti sebagian umat katolik dan seniman. Dia berjalan kaki sejauh 15 km.

Sebelum memulai jalan kaki, di kompleks Gereja Kristus Raja, Ungaran, sejumlah siswa TK Santa Theresia, menampilkan drum band. Ada beberapa lagu yang dibawakan, salah satunya berjudul Selamat Jalan Kekasih. Setelah itu, siswa SMK Kanisius membawakan lima lagu, salah satunya berjudul Kemesraan.

Di hadapan umat katolik saat diminta menyampaikan kesan dan pesannya, Romo Budi meminta, maaf bila dalam memberikan pelayanan banyak kesalahan. Setelah melakukan doa bersama tepat pada pukul 15.10 WIB, Selasa (28/11/2017), Romo Budi yang memakai caping, baju warna putih dan celana panjang hitam serta membawa tongkat, mulai berjalan.

Dalam perjalanan dari Ungaran menuju tempat tugasnya yang baru di Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Kota Semarang, Romo Budi diikuti sejumlah umat yang juga memakai caping. Selain diikuti umat, juga ada pendeta, seniman maupun budayawan yang ikut mengantarkannya. Ada pula seorang ibu-ibu turut serta berjalan kaki di barisan paling belakang dengan membawa wiruk atau tempat menyalakan dupa.

Romo Budi kepada wartawan mengaku, akan mengakhiri tugas memberikan pelayanan di Ungaran yang disebutnya lereng gunung menuju Unika Soegijapranata yang disebut pinggiran kota. Di Unika, ia menjadi Pastur Kepala Campus Ministry (Reksa Pastural Kampus).

“Tugas utama saya, memberikan reksa pelayanan bagi Unika Soegipranata bersama seluruh civitas akademika, mahasiswa, karyawan dan bersama rektor,” katanya.

Di Unika, katanya, misi utamanya adalah untuk mengembangkan spiritualitas Mgr Soegijapranata yang menjadi pelindung universitas dan pahlawan nasional.

“Salah satu spirit yang terkenal menjadi 100 persen katolik, 100 persen Indonesia. Berhubung di Unika tidak semua katolik, maka tagline itu saya kembangkan menjadi 100 persen religius apapun agamanya, 100 persen nasionalis, apalagi mahasiswa di sana ada dari Timor Timur, tapi semangat kebangsaan dikembangkan,” ujar romo yang piawai bermain saksofon, itu.

Selain itu, katanya, Unika Soegijapranata juga mengambil moto dari spirit dari Mgr Soegijapranata dalam bahasa latin yakni talenta pro patria et humanitane.

“Ini yang berarti mengembangkan semua bakat dan kemampuan untuk kepentingan bangsa dan kemanusiaan,” tuturnya.

 

Sumber: Pindah Tugas, Romo Budi Berjalan Kaki dari Ungaran ke Semarang   (Detik.com)

 

Umat Katolik India Hanya Bisa Mengeluh Tidak Dikunjungi Paus Fransiskus

Sel, 28/11/2017 - 15:00

Ketika Paus Fransiskus memulai kunjungannya ke Myanmar dan Bangladesh, orang-orang Katolik di negara tetangga India merasa kehilangan kesempatan untuk menemuinya di tanah air mereka, setelah kunjungan paus terakhir.

Kelompok-kelompok Katolik mulai mendiskusikan rencana untuk menjadi tuan rumah bagi kunjugan paus berikutnya setelah Vatikan awal tahun ini mengkonfirmasi kunjungan paus ke wilayah tersebut.

Tidak ada yang mengira jadwal kunjungan paus tidak mencakup India yang memiliki 19 juta umat Katolik. Kardinal Baselios Cleemis, ketua konferensi Wali Gereja India, mengatakan bahwa Gereja Katolik India mengharapkan untuk menerima Paus Fransiskus.

“Tapi itu tidak terjadi,” keluhnya.

Pada bulan Agustus, Vatikan mengumumkan bahwa 27 November sampai 2 Desember  perjalanan hanya akan mencakup Myanmar dan Bangladesh, padahal rencana awalnya adalah mengunjungi India dan Bangladesh.

Tidak adanya undangan resmi kepada Paus Fransiskus untuk mengunjungi India secara luas dilihat sebagai hasil pertimbangan politis oleh pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.

Pemerintah dikuasai oleh partai nasionalis Bharatiya Janata sayap kanan (BJP).

Pengamat mengatakan BJP khawatir bahwa Modi khawatir Paus Fransiskus akan menjauhkan mayoritas pemilih Hindu menjelang pemilihan nasional pada 2019.

Namun, Kardinal George Alencherry dari Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly, mengatakan bahwa hasilnya mengecewakan seluruh gereja di India. Kardinal Alencherry tetap akan menghadiri misa kepausan yang akan diadakan di Bangladesh.

Kepada ucanews.com sebagian besar umat katolik mengharapkan bahwa kunjungan Paus ke India akan mengangkat orang-orang Kristen yang sekarang menghadapi kekerasan dan ancaman dari kelompok garis keras Hindu, terutama di India utara.

Salah satu dari mereka yang menyesal Paus Fransiskus  tidak mengunjungi India adalah Johana Xalxo, seorang wanita etnis minoritas Oraon dan kepala sekolah di ibukota New Delhi.

 

Nostalgia

Xalxo, 52, mengatakan bahwa dia mendapat kehormatan untuk bertemu  Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1986 saat dia mengunjungi 15 kota di India, termasuk kotanya Ranchi, ibu kota negara bagian Jharkhand saat ini.

Saat itu ia berusia 21 tahun adalah bagian dari kelompok yang menari untuk menyambut Paus Yohanes Paulus, yang Misa meriahnya disambut dengan tepuk tangan gemuruh.

“Itu adalah pengalaman yang menyenangkan,” kenangnya.

Xalxo mencatat bahwa kunjungan paus mengangkat moral orang-orang Kristen asli yang sering merasa lemah dan terpinggirkan, memberi mereka rasa memiliki komunitas yang lebih luas.

Dia menambahkan bahwa satu generasi masyarakat adat telah tumbuh sejak paus terakhir mengunjungi daerah kesukuan.
Kunjungan paus terakhir adalah pada tahun 1999, ketika Paus Yohanes Paulus datang untuk meluncurkan dokumen sinode Gereja Asia di Asia. Paus 79 tahun yang sakit itu kemudian membatasi turnya hanya untuk ibu kota negara.

Paus yang pertama berkunjung ke India adalah Paus Paulus VI. Dia datang ke Mumbai, yang juga dikenal sebagai Bombay, pada tahun 1964 untuk Kongres Ekaristi di kota pesisir barat, ibukota bisnis India dan sebuah basis Katolik.

Pastor Nicholas Barla, sekretaris Komisi Urusan Ketenagakerjaan Katolik India, mengatakan kepada ucanews.com bahwa orang-orang di seluruh dunia memandang Paus Fransiskus sebagai “pembawa perdamaian.”

Dia mengatakan banyak hal yang bisa didapat dari Paus Fransiskus jika dia datang ke India tahun ini, terutama mengingat  penganiayaan terhadap kelompok minoritas agama seperti Kristen dan Muslim oleh kelompok ekstremis Hindu.

Peter Lobo, 59, seorang perwira pensiunan polisi Katolik di Pune, mengatakan bahwa umat Katolik seperti dirinya sendiri kehilangan kesempatan langka untuk menemui Paus Fransiskus.

Mengenang bagaimana orang-orang di Pune menyambut Paus Yohanes Paulus II, Lobo mencurigai keputusan pemerintah untuk tidak mengundangnya adalah bagian dari permainan politik “untuk menjaga agar kaum nasionalis Hindu tetap dalam suasana hati yang menyenangkan.”

 

Politik luar negeri

M.D. Lawrence, seorang awam Katolik dan kepala sekolah di Pune, mengatakan kepada ucanews.com bahwa India melewatkan kesempatan besar karena Paus Fransiskus juga dicintai oleh orang-orang dari agama lain, termasuk orang-orang Hindu, Budha, Jain dan Sikh.

“Myanmar dan Bangladesh adalah negara-negara kecil yang memandang India sebagai pemimpin,” kata Lawrence.

“Paus seharusnya pertama kali mendarat di India dan kemudian melanjutkan ke negara-negara tetangga.”

Pemimpin awam seperti Shaji George, dari Dewan Katolik Latin Daerah Istimewa Kerala, melihat ini sebagai kesalahpahaman yang serius dalam kebijakan luar negeri India.

Jika pejabat India mengira Paus Fransiskus akan menunggu undangan sebelum menetapkan jadwal kunjungan  untuk Asia Selatan, dia sekarang mengejutkan mereka dengan menghilangkan India dari peta kunjungannya, kata George.

Citra India sebagai negara sekuler telah dikalahkan, tambahnya.

Kunjungan Paus Fransiskus bisa meningkatkan citra itu secara global, “kata George kepada ucanews.com.

“Pemerintah dan BJP kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan solidaritas dengan pemimpin spiritual yang diterima secara global dan upayanya untuk perdamaian dunia.”

Kardinal Pertama Laos Ingin Membangun Persatuan Antar Agama

Sel, 28/11/2017 - 14:54

Di Katedral Hati Kudus di Vientiane, terpampang spanduk besar yang mudah dilihat oleh siapa saja.

Spanduk “17 Martir dari Laos” itu tergantung di langit-langit Katedral Hati Kudus satu-satunya gereja di Vientiane untuk memperingati sekelompok umat Katolik, termasuk beberapa imam, yang meninggal antara tahun 1954 dan 1970 dalam sebuah tindakan keras terhadap agama oleh pemerintah komunis.

Setiap tahun, pada tanggal 16 Desember, Louis-Marie Ling Mangkhanekhoun, 73, memastikan bahwa para martir tidak dilupakan. “Kami mengingat mereka dengan sebuah upacara, karena mereka adalah saksi iman,” kata Ling di dalam katedral.

Ling, yang tumbuh dalam keluarga miskin tanpa ayah dan dibesarkan bersama minoritas etnis Khmu di provinsi Xiengkhouang di Laos, juga dapat digambarkan sebagai “saksi iman.” Ling, yang menjadi kardinal pertama Laos pada 28 Juni, dikirim ke penjara pada tahun 1984. Bukan karena melakukan kejahatan, tapi karena karyanya sebagai imam yang berkeliling di seluruh negeri.

Dia menghabiskan tiga tahun di balik jeruji besi. Tapi kardinal melihat waktu selama di penjara sebagai pengalaman spiritual dimana imannya diuji. “Ada beberapa kesulitan saat saya dikurung, kesulitan kesehatan misalnya,” katanya. “Tapi itu tidak merepotkan saya, itu tidak mengganggu saya dalam kehidupan pribadi saya, karena kita dapat menganggapnya sebagai ujian, di manakah iman Anda?”

 

Kardinal bagi gereja yang lemah

Penunjukan Kardinal Ling, yang belajar teologi dan filsafat di Kanada, mengejutkan banyak orang, termasuk dia sendiri, yang berada di kota kecil Laos, Pakse – tempat dia bertugas sebagai uskup – ketika mendengar kabar tersebut.

“Saya sedang berjalan-jalan saat seseorang memanggil saya, dan berkata: ‘Kakek, Anda terpilih sebagai kardinal’ Saya berkata ‘tidak, ini bukan saat bercanda’, karena saya tidak mempercayainya,” katanya sambil tertawa.  “Kemudian dikonfirmasi, dan saya harus pergi ke Roma.”

Menjadi kardinal seperti sesuatu yang tidak mungkin sehingga dia bahkan tidak pernah bermimpi tentang kemungkinannya, apalagi membicarakannya dengan orang lain. Bagaimanapun, Laos adalah negara kecil dengan komunitas Katolik kecil. Alasan di balik pengangkatannya menjadi jelas baginya ketika bertemu dengan paus. “Paus mengatakan ‘kekuatan gereja ada di gereja kecil dan lemah, karena mereka benar-benar berada di dalam gereja, mereka selalu ditantang untuk percaya.’

Jadi ketika Anda berada dalam situasi khusus, Anda harus waspada dan realistis, yang membuat Anda terjaga Dan Anda tahu, Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan dunia. Dia menerima penderitaan dalam hidupnya. Kita harus mengikuti Kristus, itu bukan hanya teoritis atau filosofis. Anda harus memasukkannya ke dalam hati dan tubuh Anda. ”

 

Gereja yang terus bertumbuh

Ada sekitar 45.000 umat Katolik di Laos, menurut sebuah laporan pemerintah AS pada 2007 tentang kebebasan beragama internasional. Tapi Kardinal Ling percaya jumlah sebenarnya mendekati 50-60.000, karena populasi Katolik Laos telah tumbuh secara perlahan tapi pasti. Beberapa tinggal di kota-kota utama di sepanjang sungai Mekong. Yang lainnya tinggal di daerah terpencil, seringkali tanpa gereja di dekatnya.

“Di daerah pegunungan Xiengkhouang, misalnya, gereja telah hancur, namun masih ada beberapa umat Katolik yang setia di sana,” kata kardinal tersebut.

Di seluruh negeri, hanya ada empat uskup dan 20 imam. Tapi jumlah yang rendah sama sekali tidak mengganggu Kardinal Ling. “Bagi saya bukan jumlah imam yang terhitung, tapi kualitasnya, kami harus melakukan yang terbaik untuk membuat mereka memenuhi syarat sebagai imam, dan bahkan tanpa hasil apapun, kami masih bisa melakukan sesuatu.”

Apa yang paling penting adalah bahwa komunitas Katolik Laos memiliki persatuan yang kuat, kata kardinal berulang kali.

Ini perlu di negara di mana pemerintah sangat curiga terhadap agama Kristen. Terutama di provinsi utara dimana orang-orang mengalami kesulitan untuk mempraktikkan iman mereka. Pemerintah komunis, yang telah memerintah Laos sebagai negara satu partai sejak 1975, melihat komunitas Katolik sebagai ancaman terhadap stabilitas negara.

Kardinal Ling percaya bahwa kecurigaan ini tidak perlu, “Kita sama seperti semua orang di Laos, itu seharusnya tidak menjadi masalah, tapi terkadang kita harus menjelaskan kepada mereka bagaimana kita mempraktikkan iman kita. Kita memiliki kebebasan untuk mempraktikkannya di bawah Konstitusi, tapi apakah mereka mengerti dengan tepat apa artinya itu? ”

Bagi Kardinal Ling kurangnya pemahaman di pihak pemerintah mengakibatkan ia menghabiskan tiga tahun penjara. Tapi kardinal yakin itu bukan dia di balik jeruji besi tapi juga Yesus Kristus. “Saat saya tinggal di penjara, bukan saya, itu dia, Yesus Kristus, jadi saya bebas, karena Anda tidak dapat menghentikan kebebasan di dalam diri Anda.”

 

Menjangkau agama yang berbeda

Tak lama setelah menjadi kardinal, dia mendekati pihak berwenang setempat untuk sebuah pembicaraan. Dia mengundang mereka untuk mengikuti perayaan yang akan datang di gereja tersebut. Pertemuan semacam itu diperlukan untuk menciptakan saling pengertian, kata Kardinal Ling.

“Untuk memahami dan dipahami, kita harus berhubungan dekat dan benar-benar perlu berdialog, apakah Anda orang Katolik atau tidak, kita semua orang Laos, dan kita semua adalah anak-anak Allah. Kita tidak perlu membuat masalah satu sama lain. Fungsi kita di sini adalah menjadi pembawa damai. ”

Kardinal melihatnya sebagai tugasnya untuk mempersatukan keyakinan dan kepercayaan yang berbeda.

“Saya benar-benar menginginkan kita, gereja, dan agama-agama lain, untuk saling memahami”, katanya tentang negara yang berpenduduk mayoritas beragama Buddha. “Karena itu membawa persatuan ke negara. Persatuan kita bisa membangun kekuatan yang kuat, kita bisa saling membantu membangun negara.”

“Saya hanya mengatakan, bersikaplah tulus kepada diri sendiri, Anda percaya apa yang Anda percaya, tapi tolonglah bersungguh-sungguh, dan cobalah untuk melakukan yang terbaik. Karena nama Tuhan, bisa jadi Allah, bisa jadi itu Manitou, bisa menjadi Buddha. Itulah nama-nama yang kita berikan kepadanya, tetapi Tuhan, pencipta itu lebih tinggi dari itu. ”

Umat ​​Buddha mungkin merupakan mayoritas besar di negara Asia kecil ini yang memiliki 6,7 juta orang, namun di mata Kardinal Ling mereka tidak berbeda dengan orang Katolik. “Saya pikir kita sama, kita semua sama.”

Paus Bertukar Cinderamata dengan Pemimpin Militer Myanmar

Sel, 28/11/2017 - 13:40

Disambut oleh puluhan anak-anak yang mengenakan pakaian tradisional dan oleh uskup negara tersebut, Paus Fransiskus tiba di Myanmar pada 27 November untuk kunjungan empat hari.

Upacara kedatangan di bandara Yangon berlangsung singkat dan dipimpin oleh seorang utusan presiden, karena sambutan formal dijadwalkan keesokan harinya di Naypyitaw, yang telah menjadi ibukota Myanmar sejak tahun 2005.

Namun, Paus Fransiskus memiliki “kunjungan kehormatan” dengan pemimpin militer yang memiliki pengaruh kuat di negara tersebut. Paus dan Jenderal Min Aung Hlaing, yang didampingi oleh tiga jenderal lainnya dan seorang letnan kolonel, bertemu pada Senin (27/11) malam di kediaman uskup agung Yangon, tempat paus menginap.

Greg Burke, direktur kantor pers Vatikan, mengatakan kepada wartawan bahwa pertemuan tersebut berlangsung selama 15 menit. Setelah diskusi tentang “tanggung jawab besar pemerintah negara ini pada saat transisi,” keduanya saling bertukar hadiah.

Paus memberi jenderal sebuah medali untuk memperingati kunjungannya ke Myanmar dan jenderal tersebut memberi paus “sebuah kecapi dalam bentuk perahu dan mangkuk nasi hiasan,” kata Burke.

Paus Fransiskus dijadwalkan bertemu dengan Jenderal itu pada 30 November, pagi terakhirnya di Myanmar. Meskipun negara ini beralih dari pemerintahan militer ke demokrasi, jenderal memiliki kekuatan untuk menunjuk sebagian anggota legislatif dan untuk menominasikan beberapa menteri pemerintah.

Meskipun digambarkan oleh Burke sebagai “kunjungan kehormatan” dan bukan sambutan resmi, kunjungan tersebut tampaknya bertentangan dengan protokol yang biasa, yang mengindikasikan bahwa pertemuan pertama paus dengan pihak berwenang akan dilanjutkan dengan kepala negara dan kepala pemerintahan.

Burke tidak mengatakan apakah Paus Fransiskus telah menyinggung situasi Rohingya, sebuah minoritas Muslim dari negara bagian Rakhine Myanmar, yang diperlakukan sebagai orang asing di negara tersebut. Jenderal Min Aung Hlaing telah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia karena tindakan keras yang telah dilakukan secara tidak proporsional terhadap seluruh masyarakat Rohingya menyusul serangan terhadap pos keamanan oleh sekelompok militan Rohingya.

Menurut laman Facebook jenderal tersebut, dia mengatakan kepada Paus Fransiskus bahwa tidak ada diskriminasi agama di Myanmar.

Paus tiba di Myanmar setelah terbang lebih dari 10 jam pada malam hari dari Roma. Anak-anak yang menggunakan pakain adat, yang mewakili sebagian dari kelompok etnis Myanmar, bergabung dengan 100 anak sekolah lainnya yang mengenakan celana panjang putih dan kaos putih dengan logo kunjungan paus.

Spanduk dan papan iklan di sepanjang jalan dari bandara ke kota memproklamasikan: “ucapan Selamat datang yang paling tulus kepada Bapa Suci, Paus Fransiskus.”

Karena penerbangan lepas landas larut malam, Paus Francis menghabiskan lebih sedikit waktu dengan wartawan daripada biasanya. Dia tidak berkomentar mengenai harapannya untuk perjalanan tersebut, hanya menyebutkan bahwa dia diberitahu bahwa di Yangon sangat panas dan dia berharap para wartawan tidak akan terlalu menderita.

Seperti kebiasaan, paus mengirim telegram kepada kepala dari negara dari 13 negara yang dia lalui dalam perjalanannya, termasuk Italia.

Dalam pesannya kepada Presiden Italia Sergio Mattarella, Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan ke Myanmar dan Bangladesh pada 27 November-2 Desember sebagai “peziarah perdamaian, untuk mendukung komunitas Katolik kecil tapi kuat dan untuk bertemu dengan orang-orang yang percaya dari berbagai agama.”

Mayoritas orang di Myanmar adalah Budha, sementara mayoritas orang Bangladesh beragama Islam. Paus Fransiskus mengadakan pertemuan dengan para pemimpin agama yang dijadwalkan di kedua negara.

Kardinal D’Rosario: Paus Fransiskus Datang untuk Dialog

Sel, 28/11/2017 - 09:23

Setelah mengunjungi Myanmar, Paus Fransiskus akan ke Bangladesh dan diharapkan dapat mendorong perdamaian dan harmoni melalui dialog.

“Paus Fransiskus datang untuk berbicara dengan rakyat Bangladesh,” kata Kardinal Patrick D’Rozario dari Dhaka.

Dialog akan berpusat pada budaya dan tradisi serta agama dan kemiskinan melalui pertemuan dengan pejabat negara yang berwewenang, pemimpin lintas agama, pemuda dan komunitas Kristen yang lebih luas.

Briefing untuk wartawan diselenggarakan pada 21 November oleh sebuah komite media khusus yang menangani  kunjungan kepausan 30 November –  2 Desember.

Pada kesempatan tersebut pesan video dari Paus Fransiskus diperlihatkan. Buku berbahasa Bengali 83 halaman berjudul Paus Fransiskus juga diluncurkan.

Buku ini berisi sejarah singkat semua paus dan biografi Paus Fransiskus serta rincian ajaran dan kunjungan pastoralnya di luar Italia selama lima tahun masa pontificatnya. Sebuah CD audio ‘Shrodhhargho’ (Penghormatan)  yang berisi 10 lagu kebaktian, sedang dalam tahap akhir produksi di Dhaka.

Dan sebuah film dokumenter yang berhubungan dengan Gereja Katolik, Kristen dan Paus Fransiskus telah dikeluarkan  di delapan keuskupan. Film dokumenter ini diperkirakan akan segera disiarkan di beberapa saluran TV Bangladesh.

 

Pertanyaan mendesak

Jagoron Chakma dari The Independent, surat kabar harian berbahasa Inggris, bertanya apakah Pemerintah Bangladesh mengundang Paus Fransiskus sebagai tindakan politik sehubungan dengan krisis pengungsi Rohingya.

Ini mengacu pada ratusan ribu Muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar dalam beberapa bulan terakhir.

Kardinal D’Rozario menjawab bahwa kunjungan Paus Fransiskus disetujui lebih dari setahun yang lalu, jauh sebelum arus masuk Rohingya saat ini.

Kunjungan paus bertujuan untuk merangkul semua orang di negara ini, namun Paus Fransiskus dapat memilih untuk mengatasi penderitaan Rohingya.

“Beliau sudah berbicara tentang Rohingya, memanggil mereka ‘saudara dan saudari’ dan beliau mungkin memiliki pesan tentang mereka untuk seluruh dunia,” kata Cardinal D’Rozario.

Porimol Palma, seorang wartawan surat kabar berbahasa Inggris Daily Star, bertanya apakah Paus Fransiskus mengetahui masalah di Bangladesh seperti kurangnya peraturan hukum dan pelanggaran hak asasi manusia yang mencakup penganiayaan terhadap kelompok minoritas agama dan etnis.

“Dia sadar tentang situasi negara ini, jadi dalam pesan videonya untuk Bangladesh dia memprioritaskan rekonsiliasi, pengampunan dan perdamaian,” jawab Cardinal D’Rozario.

Paus Fransiskus berkhotbah tentang teladan Yesus untuk membantu masyarakat Bangladesh mencapai keharmonisan dan damai melalui kasih dan pengampunan, prelatus tersebut menambahkan.

 

Paus Fransiskus Tiba di Myanmar, Panitia Malah Khawatir

Sen, 27/11/2017 - 19:58

Ribuan umat Katolik dan simpatisan berkumpul di jalan-jalan di Yangon saat pesawat Paus Fransiskus mendarat pada 27 November untuk perjalanan kepausannya yang dianggap paling kontroversial secara politis.

Ketakutan pihak penyelenggara tidak terkait dengan kemungkinan penggunaan istilah kontroversial ‘Rohingya’ tapi fokus pada beberapa acara publik terbuka yang dijadwalkan selama kunjungan tiga setengah hari tersebut.

“Kekhawatiran terbesar kami sekarang adalah keamanan Bapa Suci,” kata Pastor Mariano Soe Naing, juru bicara Konferensi Waligereja Myanmar untuk perjalanan kepausan, namun dia tidak menjelaskan lebih jauh.

Lebih dari 7.000 etnis Kachin dari negara yang dilanda konflik di utara Myanmar melakukan perjalanan untuk menyambut paus di Yangon. Orang-orang berpakaian tradisional Kachin menyanyikan lagu dan menari, sementara yang lain meneriakkan “Papa Fransiskus” dan berharap agar paus tetap sehat saat iring-iringan mobilnya lewat.

Paus akan memimpin sebuah Misa terbuka di lapangan olahraga Kyaikkansan di Yangon pada 29 November di mana lebih dari 150.000 umat Katolik dan orang-orang dari agama lain diharapkan untuk bergabung.

Moses U Kyar, dari suku etnis Kayah di Keuskupan Taunggyi, mengatakan bahwa kunjungan pertama oleh seorang paus ke negara miskin seperti Myanmar adalah berkah khusus dan akan memberi kekuatan kepada umat Katolik minoritas.

Dia menambahkan bahwa kunjungan kepausan tersebut terjadi karena keterbukaan politik Myanmar yang merupakan bagian dari negara yang bergerak maju menuju demokrasi penuh.

“Semboyan paus adalah cinta dan kedamaian sehingga dia pasti akan membicarakan perdamaian,” kata U Kyar, seorang guru negeri, kepada ucanews.com.

Suster Bambina, seorang biarawati dari kongregasi St. Josep Aparisi di Yangon, mengatakan bahwa dia sangat gembira atas kunjungan paus tersebut sehingga dia tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.

“Kunjungan tersebut akan membawa perdamaian dan kemakmuran bagi negara dan akan memperdalam iman kita,” kata Bambina kepada ucanews.com.

Ribuan umat Katolik dan umat Buddha memadati jalan di dekat Katedral Sta. Maria untuk melihat sekilas iring-iringan mobil paus.

John Hong Khong, 59, seorang katekis dari Myitkyina, Kachin, mengatakan bahwa ini adalah hak istimewa bagi rakyat Myanmar bahwa paus mengunjungi negara tersebut.

“Harapan terbesar kami adalah untuk mendapatkan perdamaian melalui kunjungan paus karena kami yakin akan mengangkat isu perdamaian dan mendorong para pemimpin negara ini untuk mengakhiri konflik etnis,” kata Hong Khong.

Myanmar sangat menderita akibat puluhan tahun konflik etnis dan pertempuran masih berkecamuk di Kachin dan negara bagian Shan Utara antara pejuang setempat dan militer.

Namun, terlepas dari perdebatan internal selama puluhan tahun, eksodus baru-baru ini yang melibatkan lebih dari 620.000 orang Muslim Rohingya dari Negara Bagian Rakhine utara dan apa yang hendak dikatakan paus secara publik tentang mereka yang telah menarik perhatian dunia.

Kardinal Myanmar pertama dan satu-satunya Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon, telah memperingatkan paus bahwa menggunakan istilah Rohingya, dapat memicu kekerasan di negara mayoritas Buddha tersebut. Rohingya, yang telah melarikan diri ke Bangladesh setelah aksi militer Myanmar, tidak diakusi secara resmi sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis dan sering disebut sebagai orang Bengali.

Paus Fransiskus akan bertemu dengan Presiden Htien Kyaw, Penasihat Negara Aung San Suu Kyi, komandan militer Jenderal Senior Min Aun Hlaing serta diplomat, perwakilan masyarakat sipil dan kaum muda.

Aung San Suu Kyi telah dikritik karena kegagalannya untuk berbicara mendukung Rohingya, namun dia tidak memiliki kendali atas militer di bawah Konstitusi 2008.

Paus Fransiskus telah menggunakan istilah Rohingya dua kali saat mempersembahkan doa untuk penderitaan mereka.

Berita kunjungan tersebut telah menimbulkan kemarahan dari nasionalis Buddhis karena mereka mengatakan bahwa kunjungan paus termotivasi secara politis.

Pengamanan Tinggi untuk Paus Fransiskus di Bangladesh

Sen, 27/11/2017 - 03:00

Bangladesh tengah meningkatkan level keamanan untuk kunjungan Paus Fransiskus minggu depan di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu, kata para pejabat keamanan.

Paus akan berada di ibukota negara, Dhaka, mulai 30 November hingga 2 Desember.

“Kami akan memberikan pengamanan tertinggi selama kunjungan Paus. Semua tempat yang akan dikunjunginya akan dijaga ketat oleh aparat keamanan. Tidak akan ada kompromi untuk pengamanan Paus Fransiskus,” kata Ehsanul Ferdous, wakil komandan Kepolisian Kota Dhaka kepada ucanews.com.

Media lokal melaporkan bahwa ribuan polisi, paramiliter dan detektif akan dikerahkan di kota itu selama kunjungan Paus.

“Kami tidak bisa menyebut jumlah persisnya, tapi lebih dari 8.000 orang dari seluruh agen keamanan. Selain itu, ratusan polisi berpakaian preman dan inteligen akan siaga di sejumlah tempat,’ kata para pejabat keamanan.

Bangladesh mengalami peningkatan radikalisme dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah pejabat polisi mengatakan mereka akan siaga terhadap milisi selama kunjungan Paus.

“Paus Fransiskus adalah pemimpin negara dan kunjungannya merupakan kehormatan luar biasa bagi kami. Maka kami sangat serius soal keamanan. Selama kunjungannya, polisi akan memperketat pengawasan terhadap militansi, melakukan razia secara rutin dan tetap waspada terhadap kelompok radikal apa pun yang berusaha menyebarkan kebencian,” kata Inspektur Jenderal A.K.M. Shadidul Hoque kepada DMP News, portal berita Kepolisian Kota Dhaka pada 22 November.

Panitia relawan dan pengamanan kunjungan Paus dari Gereja Katolik telah melatih 650 relawan untuk membantu berbagai program kunjungan Paus, kata ketua panitia Nirmol Rozario.

“Kami telah mengadakan serangkaian pertemuan bersama lembaga pemerintah. Mereka menjamin dan melatih kami soal keamanan. Para relawan kami akan membantu aparat keamanan dalam menjaga keamanan dan kedua pihak sepakat memberikan keamanan maksimal selama kunjungan Paus,” kata Rozario kepada ucanews.com.

Paus Fransiskus tiba di Dhaka pada 30 November setelah meninggalkan Yangon, Myanmar. Sore harinya, ia akan bertemu Presiden Abdul Hamid dan menyampaikan sambutan kepada anggota korps diplomatik dan warga sipil di Istana Negara.

Pada 1 Desember, Paus akan merayakan Misa untuk lebih dari 100.000 orang di Suhrawardy Udyan di Ramna. Di sana ia akan menahbiskan 16 diakon menjadi imam.

Kemudian Paus akan bertemu Perdana Menteri Sheikh Hasina di Kedutaan Besar Vatikan dan menghadiri pertemuan lintas-agama dan ekumene.

Pada 2 December, Paus akan meresmikan sebuah panti untuk orang miskin yang dikelola oleh Misionaris Cinta Kasih, sebuah kongregasi yang didirikan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta. Ia kemudian bertemu anak muda di Kolese Notre Dame sebelum terbang kembali ke Rome sore harinya.

 

#popeheartofasia

Penganut Kepercayaan Ancam akan Protes Menentang Perayaan Natal

Sen, 27/11/2017 - 03:00

Sejumlah pengikut aliran kepercayaan di Negara Bagian Jharkhand mengancam akan menggelar aksi protes menentang perayaan Natal karena mengganggu sensibilitas warga setempat.

Para tokoh Kristiani menyalahkan agenda politik dari luar wilayah tersebut yang didesain untuk memecah-belah masyarakat adat dengan memancing kemarahan.

Pada pertemuan 19 November lalu, forum aliran kepercayaan Sarna Samiti menuduh para misionaris Kristiani menggunakan kebudayaan masyarakat adat untuk melakukan kristenisasi.

Sarna merupakan sebutan untuk agama-agama lokal yang bersifat animis.

Forum itu menentang umat Kristiani yang merayakan Natal.

Sekretaris Komisi Masyarakat Adat Konferensi Waligereja India Pastor Nicholas Barla SVD mengatakan kepada ucanews.com bahwa tujuan dari forum itu adalah mempertahankan perpecahan untuk menciptakan sebuah “bank suara” demi kepentingan pemilihan umum nasional 2019.

Negara Bagian Jharkhand memiliki sekitar 9 juta masyarakat adat.

Nampaknya Bharatiya Janata Party (BJP) atau partai penguasa pro-Hindu di wilayah itu akan memenangkan seluruh 14 kursi nasional.

Menurut Pastor Barla, BJP menganggap umat Kristiani sebagai musuh karena menentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak adil.

Sementara itu, Ketua Bharatiya Adivasi Sangamam (Forum Masyarakat Adat India) Cabang New Delhi Nabore Ekka mengatakan kelompok masyarakat adat yang dipimpin para pelayan Gereja sukses melawan pemerintah yang mengambil alih tanah adat.

Selain itu, katanya, kelompok Hindu ekstremis menargetkan para misionaris guna mencegah pendidikan dan pengembangan masyarakat adat.

Agustus lalu, negara bagian itu mengesahkan undang-undang anti-konversi yang menargetkan karya misi umat Kristiani karena memberi iming-iming bagi masyarakat adat yang mau pindah agama.

Negara Bagian Jharkhand memiliki 1,5 juta umat Kristiani dari total penduduk yang berjumlah sekitar 33 juta orang, sebagian besar masyarakat adat. Hampir setengah dari jumlah ini adalah umat Katolik.

Gladson Dungdung, seorang aktivis, mengatakan anggota Sarna sekarang terbagi dalam dua kelompok. Salah satunya didukung oleh partai penguasa.

Ia pun menggambarkan ancaman aksi protes terkait perayaan Natal tersebut sebagai upaya untuk menaikkan publisitas.

Reformasi UU Penistaan Memudar akibat Menguatnya Kelompok Radikal

Sen, 27/11/2017 - 03:00

Para ekstremis Islam di Pakistan mengeksploitasi amandemen kecil konstitusi yang mengijinkan anggota sekte moderat untuk memberikan suara tanpa menyatakan diri mereka sebagai non-Muslim.

Sekte Ahmadiyah percaya bahwa Yesus berusaha untuk mengakhiri konflik agama dan mereka dituduh tidak menerima bahwa Muhammad adalah nabi terakhir Allah.

Partai yang berkuasa di Parlemen segera membatalkan perubahan kecil tersebut, yang digambarkan sebagai kesalahan administrasi.

Tapi itu tidak menghentikan tekanan dari kelompok politik-religius yang baru diluncurkan, Tehreek-e-Labaik Pakistan (TLP), yang demonstrasi di ibukota, Islamabad.

TLP, yang dikenal dengan sikap kerasnya mendukung undang-undang anti-penghujatan yang berdampak pada minoritas agama Kristen dan agama lainnya, mengantongi lebih dari 10 persen suara dalam pemilihan baru-baru ini.

Ini lebih dari sekadar partai politik mapan seperti Partai Rakyat Pakistan partai dari mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto yang terbunuh.

TLP memperoleh kekuatan setelah eksekusi Mumtaz Qadri, penjaga pasukan elit yang membunuh gubernur liberal Salmaan Taseer yang berbicara menentang hukuman mati juga karena penghujatan oleh wanita Katolik, Asia Bibi.

Sayap religius kelompok tersebut melakukan agitasi seminggu di Islamabad dan memaksa pemerintah untuk menegosiasikan kesepakatan enam poin pada 3 November.

Ketentuan kesepakatan tersebut termasuk dewan konsultasi nasional untuk menolak ajaran sesat bahwa Mohammad bukanlah nabi terakhir.

Ada investigasi apakah ada ‘konspirasi’ untuk mengubah konstitusi yang mempengaruhi hak suara anggota sekte Ahmadiyah. Dan para ilmuwan Muslim Sunni diberi kesempatan untuk membantah isi beberapa klip video yang menunjukkan dukungan bagi Ahmadiyah.

Unsur lain dari kesepakatan tersebut berpusat pada jaminan bahwa Asia Bibi, seorang ibu dari lima anak Katolik, tidak dikirim ke luar negeri meskipun dia menghujat keyakinan.

Selanjutnya, pemerintah akan terus memberikan dukungan politis, diplomatik dan moral bagi umat Islam yang dianiaya di Myanmar, termasuk melalui usaha kolaboratif dengan Turki.

Pemerintah federal juga memberikan jaminan kepada perwakilan TLP Islam bahwa mereka akan memainkan peran dalam upaya untuk mengakhiri pembatasan jumlah pengeras suara di masjid-masjid di Punjab.

Penyerahan pemerintah yang salah kepada tuntutan TLP hanya memberikan legitimasi dan kekebalan hukum bagi kelompok radikal ini.

Jika beberapa ribu orang fanatik agama diizinkan untuk memaksa negara untuk menerima permintaan tidak sah mereka, masa depan tampak agak suram bagi sebuah negara yang telah berjuang untuk memerangi meningkatnya intoleransi dan kekerasan agama.

Seperti yang dikhawatirkan oleh beberapa orang, konsesi yang diberikan pemerintah masih gagal memuaskan kaum fundamentalis.

Baru enam hari kemudian, TLP membawa ribuan pendukung dari Lahore ke Islamabad dan memblokir sebuah jalan persimpangan penting yang menghubungkan ibukota federal ke kota-kota lain.

Menyajikan daftar tuntutan baru, mereka menolak untuk mengadakan pembicaraan dengan pihak berwenang kecuali Menteri Hukum Federal Zahid Hamid mengundurkan diri karena dugaan perannya dalam amandemen konstitusi undang-undang pemilu.

“Keluarga saya dan saya siap untuk menyerahkan hidup kami untuk menghormati Nabi Muhammad,” kata menteri hukum tersebut.

Dia menambahkan bahwa daftar pemilih yang terpisah akan dibuat untuk Ahmadiyah karena mereka tidak dimasukkan dalam daftar yang diperuntukkan bagi umat Islam arus utama.

Meskipun demikian, TLP tidak sepakat untuk mengakhiri pemblokiran jalan di Islamabad.

Dalam situasi dimana kelompok radikal menguat, sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap reformasi undang-undang penghujatan dalam waktu dekat akan hampir tidak mungkin tercapai.

Orang-orang Kristen dan kelompok minoritas lainnya, yang sering menerima penghujatan, harus hidup dengan realitas baru.

Tapi aspek yang paling memilukan adalah rencana aksi nasional melawan terorisme dan ekstremisme yang direncana oleh pemerintah dan badan keamanan menjadi terlupakan.

Rencana tersebut diinisiasi setelah pembunuhan militan Islam Pakistan terhadap lebih dari 130 anak sekolah di Peshawar timur, dekat Khyber Pass yang bersejarah.

Uskup Memimpin Pencarian Orang Hilang di Marawi

Jum, 24/11/2017 - 12:37

Sejumlah orang Kristen masih hilang di Marawi sebulan setelah militer Filipina membebaskan kota tersebut dari serangan teroris menyusul pengepungan selama lima bulan yang menewaskan lebih dari seribu orang.

Tim Aksi Tanggap Darurat Kemanusiaan di Daerah Otonom Muslim Mindanao  melaporkan bahwa pada minggu lalu setidaknya 293 orang dalam daftar Palang Merah masih belum diketahui keberadaannya, walaupun belum jelas berapa banyak orang Kristen.

Jumlah yang hilang bisa jauh lebih tinggi, menurut LSM yang bekerja di wilayah ini. Komite manajemen orang yang meninggal dan hilang dari LSM “Task Force Bangon Marawi” tidak memiliki daftar resmi orang hilang.

“Mereka tidak ingin keluar dan mencatat nama mereka secara resmi,” kata Revie Sani, ketua komite tersebut, dan menambahkan bahwa kleuarga yang hilang “takut ditandai sebagai saudara seorang ekstremis.”

“Tantangannya di sini adalah bahwa orang-orang dengan keluarga yang hilang tidak ingin menggunakan jalur resmi. Mereka mencari sanak keluarga mereka yang hilang menggunakan media sosial namun mereka tidak meminta bantuan kami,” katanya.

Uskup Edwin de la Pena dari Marawi, mengatakan bahwa dia terus mencoba dan menemukan orang-orang Kristen yang hilang yang diduga melarikan diri saat orang-orang bersenjata kelompok Maute menyerang dan menduduki kota tersebut pada tanggal 23 Mei.

“Sebagai seorang uskup, adalah kewajiban bagi saya untuk mencari umat saya, menemukan mereka dan bagimana keadaan kehidupan, bagaimana mengatasi keadaan mereka,” kata prelatus tersebut dalam sebuah jumpa pers di Manila pada 21 November.

Uskup mengatakan bahwa pencarian difokuskan untuk menemukan kelompok orang Kristen “karena sangat penting membangun masyarakat sebelum membangun struktur.”

“Prioritas kami adalah membantu pengungsi sesuai dengan koridor perdamaian,” katanya, seraya menambahkan bahwa sudah ada relawan yang menjelajahi provinsi-provinsi sekitarnya untuk menemukan keluarga-keluarga Kristen pengungsi dari Marawi.

Pada puncak pertempuran di bulan Juni, pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro menetapkan “koridor perdamaian” untuk membantu warga sipil yang terkena dampak perang di Marawi.

Koridor perdamaian yang disebut mencakup beberapa kota di provinsi Lanao Del Sur, Cotabato dan Davao di wilayah selatan Mindanao.

Uskup de la Pena mengatakan bahwa kelompok Gereja Katolik dari Marawi sedang melakukan “penjangkauan solidaritas” dan program rehabilitasi pembangunan perdamaian di masyarakat di sepanjang koridor.

Dia mengatakan bahwa para relawan juga memperhatikan kebutuhan sandera yang dibebaskan oleh militer selama akhir konflik. “Tidak ada kelompok lain yang melihat kebutuhan para mantan sandera tersebut,” kata uskup tersebut.

“Mendengarkan cerita mereka membuat Anda merasa … maaf, bagi mereka bahwa mereka harus melalui [cobaan berat],” kata Uskup de la Pena. “Bagaimana mereka bisa keluar dari neraka jika tidak ada keajaibannya,” tambahnya.

Pada 20 November, militer Filipina menyerahkan kepada Uskup de la Pena, Pastor Teresito Soganub, vikjen Marawi yang disandera oleh para teroris bersama beberapa pekerja gereja.

Uskup mengatakan bahwa pastor tersebut “baik-baik saja” dan badannya bertambah berat selama dua bulan dia melakukan pembekalan dengan militer setelah dibebaskan pada bulan September.

Pastor Soganub menghadiri retret minggu ini di lokasi yang tidak diungkapkan.

Prelatus tersebut mengatakan bahwa pastor tersebut harus “menjalani sebuah proses” sebelum diberi tugas paroki lagi. “Mungkin butuh waktu lama,” kata Uskup Dela Pena. “Kita akan menyeberangi jembatan itu sampai kita sampai di sana,” tambahnya.

Sekitar 10.000 warga kembali ke rumah mereka di Marawi minggu ini setelah tinggal di tempat penampungan sementara dan di tempat-tempat evakuasi di luar kota selama enam bulan terakhir. Hampir 400.000 orang mengungsi akibat pertempuran tersebut.

Umat Katolik Filipina Mengalami ‘Persekusi Media Sosial’

Jum, 24/11/2017 - 11:37

Umat Katolik di Filipina tetap mengalami persekusi meskipun mereka adalah kelompok mayoritas di Filipina, kata seorang imam pada serangkaian kegiatan yang diadakan untuk merayakan Red Wednesday.

Red Wednesday merupakan kampanye global yang bertujuan untuk menunjukkan solidaritas kepada umat Kristiani yang mengalami persekusi.

Meski “tidak ada siksaan fisik” di kalangan umat Kristiani di negara itu, Pastor Alvin Platon dari Keuskupan Lingayen-Dagupan mengatakan bahwa persekusi bisa dilihat di media sosial.

“Ini bentuk baru persekusi,” katanya. Persekusi ini tidak seperti apa yang terjadi di masa lalu ketika persekusi “lebih pada fisik, seperti penganiayaan.”

Sementara itu, Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Agung Socrates Villegas mengatakan bahwa para pemimpin Gereja menjadi “martir” di media sosial karena mengkritik kebijakan pemerintah.

Para pemimpin Gereja, katanya, diserang di media sosial karena bertindak sebagai “kompas moral bagi masyarakat.”

“Kapan pun kami mengimbau penghormatan kepada kehidupan dan martabat manusia, kami dicap sebagai musuh dan menjadi target paratroll,” lanjutnya.

“Troll” adalah istilah gaul untuk seseorang yang menabur perselisihan dengan mengunggah pesan-pesan yang berisi hasutan, tidak relevan atau di luar topik di internet.

Menurut Pastor Platon, umat Katolik di negara itu menghadapi “perang kata” yang menguji iman mereka.

“Kami berharap dan berdoa semoga umat Kristiani yang mengalami persekusi lewat media sosial tetap teguh dalam iman dan tidak menyerah,” katanya.

Untuk melawan perang kata, katanya, Gereja terlibat dalam evangelisasi melalui media sosial “di mana umat berada.”

Sebanyak 45 katedral, 24 tempat ziarah dan lima basilika di Filipina ikut dalam serangkaian kegiatan Red Wednesday tahun ini. Mereka berdoa dan menghiasi bagian depan gedung gereja dengan warna merah.

Kampanye Red Wednesday diluncurkan oleh Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan dan bertujuan untuk menciptakan kesadaran tentang persekusi terhadap umat Kristiani di seluruh dunia.

Di Manila, Uskup Marawi Mgr Edwin de la Pena mengatakan kepada umat Katolik yang berkumpul di Katedral Manila bahwa ia tidak mengharapkan adanya serangan teroris di wilayah prelaturnya yang berakibat pada konflik selama lima bulan.

Sekitar 400.000 orang terkena dampak dari pertempuran yang mulai terjadi sejak 23 Mei lalu ketika kelompok bersenjata yang diiinspirasi oleh ISIS menyerang dan menduduki Kota Marawi di Filipina bagian selatan.

“Kami tidak pernah menyangka bahwa persekusi umat Kristiani yang bermula dari Timur Tengah, sebagai akibat dari meningkatnya terorisme dan ektstremisme Islam radikal, akan sampai ke Filipina,” katanya.

Uskup de la Pena mengambil kesempatan itu untuk berterima kasih kepada umat Katolik yang turut membangun kembali Kota Marawi “dengan berbagi tugas yang berat dalam membangun kembali kehidupan yang hancur.”

Tahun ini, bagian dari misi Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan, sebuah kelompok karitatif Katolik internasional, adalah mencari dana untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Marawi.

Prelatus itu berjanji akan melakukan berbagai upaya guna menghentikan persekusi umat Kristiani “dengan kekuatan Injil tentang cinta kasih, pengampunan dan belas kasih Allah.”

Pemuda Myanmar, Bangladesh Temukan Makna Kunjungan Paus

Jum, 24/11/2017 - 10:02

Banyak orang muda di Myanmar dan Bangladesh percaya bahwa kunjungan Paus Fransiskus akan membantu mereka menghadapi tantangan hidup.

Paus Fransiskus, yang akan berada di dua negara bertetangga itu dari 27 November-2 Desember, bermaksud untuk fokus pada pertemuan kaum muda dari berbagai agama dan denominasi.

Paus diharapkan menggunakan kesempatan untuk mengambil “detak jantung” kaum muda menjelang Sinode Pemuda tahun depan di Vatikan.

Pada 29 November, paus akan merayakan sebuah misa khusus untuk sekitar 5.000 pemuda Kristen dan non-Kristen di Katedral St. Maria di Yangon, pusat komersial Myanmar.

Di ibu kota Bangladesh, Dhaka, Paus Fransiskus pada tanggal 2 Desember menghadiri pertemuan antaragama dan ekumenis dengan 8.000-10.000 pemuda di Notre Dame College yang dikelola gereja.

Sebuah hak istimewa

Jacinta Lu Seng, 20, dari Negara Bagian Kachin di Myanmar utara, mengharapkan pertemuan paus dengan kaum muda akan memperdalam kepercayaan mereka dan memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam urusan gereja.

Di negara Bagian Kachin bagian utara, para pemuda termasuk anak perempuan menghadapi tantangan besar karena kecanduan narkoba, katanya, dengan alasan pengangguran dan kurangnya kesempatan pendidikan.

“Saya berharap paus akan mengangkat isu-isu penting yang dihadapi pemuda Myanmar selama kunjungannya dan dia juga akan menangani masalah perdamaian,” kata Lu Seng, salah seorang dari ribuan etnis Kachin yang mengungsi karena konflik sipil.

Manik Willver D’Costa, mantan koordinator pemuda di Keuskupan Agung Chittagong di Bangladesh, mengharapkan paus untuk merujuk pada masalah keluarga dan sosial yang berkontribusi pada kurangnya spiritualitas di kalangan kaum muda.

Banyak orang tua tidak punya waktu untuk berdoa atau untuk mengajar anak-anak mereka tentang agama di dunia yang semakin dipengaruhi oleh ateisme, katanya.

Tuntutan akademik yang mengharuskan untuk menghadiri ibadah keagamaan hari Minggu dapat dikesampingkan, tambahnya.

D’Costa menunjukkan bahwa paus dapat membimbing gereja untuk menjangkau orang muda dengan lebih efektif.

Pastor Patrick Simon Gomes, mantan sekretaris Komisi Pemuda Uskup Bangladesh, mengatakan bahwa struktur keluarga dan sosial telah dilemahkan oleh budaya digital.

Ini termasuk memberi status pahlawan pada hubungan pribadi yang tidak bermoral.

Pastor Gomes mencatat bahwa Paus Fransiskus memprioritaskan kehidupan keluarga karena di sinilah karakter anak terbentuk.

Promosikan harmoni di tengah ekstremisme

Meskipun secara keseluruhan menjadi negara Muslim moderat, Bangladesh telah mengalami peningkatan tajam dalam ekstremisme agama dan kekerasan terhadap kaum minoritas belakangan ini.

Afsara Azim, 22, seorang mahasiswa keuangan Muslim, mengatakan bahwa kunjungan Paus Fransiskus dapat membantu kaum muda mengupayakan toleransi.

“Kebanyakan orang Bangladesh percaya pada harmoni agama dan komunal, tapi juga ada beberapa fanatik agama di negara ini,” kata Azim.

Baik Myanmar dan Bangladesh menderita kekurangan fasilitas pendidikan dan bimbingan karir serta tingginya tingkat pengangguran.

Sekitar 40 persen orang muda dari Myanmar telah pindah ke Thailand dan Malaysia untuk bekerja sebagai buruh atau pekerja pabrik dalam beberapa tahun terakhir, menurut sebuah survei.

Di Bangladesh, sekitar satu juta pemuda, atau 25 persen dari kelompok usia 15-29 tahun, menganggur pada 2015-2016, menurut Biro Statistik.

Pastor Gomes, yang memiliki pengalaman panjang sebagai pekerja muda, mengatakan bahwa orang muda harus keluar dari “zona nyaman” mereka untuk mencari pekerjaan di luar negeri dan di LSM atau mungkin mempertimbangkan peluang bisnis kecil.

Krisis Rohingya

Priyangka Debnath, 21, seorang mahasiswa ekonomi Hindu, berharap Paus Fransiskus akan menyoroti penderitaan pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Bangladesh saat ini sedang berjuang untuk mengatasi masuknya ratusan ribu orang Rohingya dari negara tetangga Myanmar.

Debnath, yang akan menghadiri pertemuan pemuda di Dhaka, mencatat reputasi Paus Fransiskus sebagai pembawa damai.

Dia juga mengharapkan paus untuk mengatasi ketidakadilan ekonomi di Bangladesh dimana sekitar seperempat dari 160 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

Meningkatkan hubungan ekumenis

Saikat Sarker, 26, pemimpin pemuda gereja Baptis di Bangladesh, percaya bahwa Paus Fransiskus dapat mendorong hubungan yang lebih baik antara pemuda Katolik dan Protestan.

Hubungan saat ini tidak kuat karena penekanan pada doktrin dan mentalitas yang berbeda, kata Sarker.

Namun, Paus Fransiskus bisa mendorong generasi muda untuk mencari rasa persatuan yang lebih besar diantara orang kristen, tambahnya.

Harapan pada pemuda

Maximilian Menu, presiden Komisi Keuskupan Agung Mandalay di Myanmar, mengatakan bahwa orang-orang muda bersemangat dan termotivasi oleh dorongan yang diberikan Paus Fransiskus kepada kaum muda sebagai masa depan gereja.

Ini bagian dari “kekecewaan” karena kurangnya kolaborasi dan dorongan oleh para pemimpin gereja seperti para uskup dan imam.

Suara pemuda terlalu sering diabaikan, tambah Menu.

William Nokrek, 25, seorang Katolik dari suku Garo Bangladesh, mengatakan bahwa Paus Fransiskus dapat membantu mempromosikan kaum muda sebagai pengambil keputusan gereja.

Nokrek, yang adalah presiden Gerakan Mahasiswa Katolik Bangladesh, juga mengatakan bahwa kaum muda sendiri perlu lebih sadar akan peran mereka di gereja dan masyarakat.

Kardinal Charles Bo dari Yangon meminta perhatian lebih besar di Myanmar untuk mengatasi konflik, kemiskinan, nasib para pemuda yang bekerja sebagai budak modern di negara-negara terdekat dan ancaman obat-obatan terlarang.

Uskup Korea, Jepang Serukan Dialog Atasi Konflik Nuklir

Kam, 23/11/2017 - 14:30

Para uskup Korea dan Jepang mengimbau agar petinggi militer dan politisi di Asia Timur Laut menciptakan perdamaian lewat dialog mengingat ketegangan mulai muncul di wilayah tersebut terkait ambisi Pyongyang soal nuklir.

Sebuah pernyataan bersama berjudul “Harapan akan Perdamaian di Asia Timur Laut” ditandatangani oleh 21 uskup Korea dan Jepang di hari terakhir pertemuan tahunan mereka yang diadakan pada 14-16 November di Kota Kirishima, Jepang.

Kota Kirishima masuk wilayah Prefektur Kagoshima.

Pada 17 November lalu, utusan senior Beijing Song Tao mengunjungi Pyongyang untuk menyampaikan sambutan kepada para pejabat Korea Utara yang menghadiri Kongres Partai Komunis di Cina. Kongres ini baru saja berakhir.

Song juga merupakan ketua Departemen Luar Negeri Partai Komunis Cina.

Kunjungan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Song berada di sana untuk membahas isu senjata nuklir.

Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing tidak mengadakan banyak pertemuan tingkat tinggi dengan Korea Utara. Namun sebelumnya, Beijing berulang kali mendorong adanya solusi diplomatik untuk mengatasi krisis terkait pengembangan senjata nuklir dan rudal oleh Pyongyang.

Kunjungan Song dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump mengunjungi Beijing. Saat itu Presiden Trump menekan Cina supaya melakukan aksi yang lebih besar agar bisa bertahan di Korea Utara.

Korea Utara menguasai 90 persen perdagangan dengan Cina.

“Negara-negara di Asia Timur Laut tengah berupaya membangun stabilitas dan kemakmuran demi kekuatan militernya dengan melakukan kerjasama atau membentuk aliansi dengan para penguasa lain yang memiliki sistem politik yang sama,” kata para uskup dalam pernyataan yang ditandatangani sebelum kunjungan Song itu.

“Hal ini menciptakan ancaman bagi keamanan masing-masing negara dan menimbulkan ketegangan saat ini. Kita semua hendaknya menyadari bahwa perdamaian sejati tidak bisa dijamin dengan persenjataan nuklir atau militerisasi.”

Para uskup menekankan bahwa “masyarakat kedua negara hendaknya ingat bahwa orang miskin dan lingkungan hidup terus menderita, sementara sejumlah besar uang dibuang untuk pengembangan senjata.”

Tema Kolokium Uskup Korea-Jepang Ke-23 adalah “Orang Tua dan Gereja.” Kedua negara ini menghadapi masalah serius terkait angka kelahiran yang rendah dan penduduk berusia senja.

Di Korea Selatan, hampir setengah dari jumlah penduduk berusia lebih dari 65 tahun hidup dalam kemiskinan, demikian survei ekonomi OECD 2016. Sekitar seperempatnya hidup sendiri dan banyak di antaranya berjuang mengatasi kesendirian dan depresi.

Suster Theophano Lee Kye-yeong dari Kongregasi Abdi Keluarga Kudus menyampaikan kepada para uskup tentang situasi di Korea Selatan.

Dikatakan, 49,6 persen orang tua hidup miskin dan satu dari empat orang tua harus mengumpulkan koran bekas untuk bertahan hidup. Selain itu, ada banyak orang tua yang “berziarah” ke gereja Katolik dan Protestan untuk meminta sedekah setiap pagi.

“Para orang tua Korea menghadapi siksaan dan kematian seorang diri. Selain itu, rata-rata 10,6 orang bunuh diri setiap hari,” katanya.

Yasuhiro Yuki, seorang dosen dari Universitas Shukutoku di Jepang, mengatakan bahwa situasi di negaranya tidak lepas dari kesepian, mati mendadak, dan jumlah penderita demensia yang terus bertambah.

Ia pun memperlihatkan kepada para uskup sebuah program televisi Singapura tentang kematian di kalangan orang tua di Jepang. Program ini menayangkan sejumlah kamar yang penuh dengan belatung.

 

Halaman