UCANews

Subscribe to pasokan UCANews UCANews
Sebuah layanan dari UCA News
Di-update: 1 jam 1 mnt yang lalu

Orang Muda Hong Kong Diminta Peduli Terhadap Orang Miskin

Sen, 27/08/2018 - 17:03

Bruder Alois Leser menempuh perjalanan dari Perancis ke Hong Kong untuk menghadiri Pertemuan Internasional Taize untuk Orang Dewasa guna meningkatkan kepercayaan dan rekonsiliasi.

Pada 10 Agustus, pemimpin Komunitas Taize itu bertemu dengan para wakil media Gereja di Hong Kong untuk membahas dampak dari perubahan internasional yang begitu cepat di kalangan orang muda.

Taize adalah komunitas biara Kristiani ekumene yang berbasis di Burgundy. Komunitas ini terdiri atas para bruder dari tradisi Katolik dan Protestan.

Pada pertemuan di Hong Kong itu, Bruder Alois menyinggung soal tekanan terhadap orang muda untuk tampil dan meraih cita-cita. “Ini tidak mudah,” katanya. “Banyak orang muda berpaling dari Gereja atau iman akan Kristus.”

Tetapi kepercayaan akan Allah itu penting, lanjutnya.

Ia mendorong orang muda agar memiliki pengharapan dan secara rendah hati melayani orang-orang yang membutuhkan bantuan, khususnya orang miskin dan imigran, serta agar memperhatikan lingkungan.

Menurutnya, memperlihatkan kepedulian terhadap orang miskin hendaknya menjadi prioritas konstan seperti misalnya melalui kunjungan secara rutin.

Banyak orang muda takut akan masa depan. “Maka, dalam Taize, kami mendorong orang muda untuk merengkuh jauh tanpa batas, khususnya kepada orang miskin,” jelas Bruder Alois.

Namun hal ini memerlukan upaya untuk mengatasi perpecahan antar-komunitas, Gereja, kebudayaan dan bangsa dengan menghidupi Injil dan doa. Pendekatan seperti itu akan memberi kebebasan dan kegembiraan individu.

Selama persiapan pertemuan internasional di Hong Kong itu, para bruder Taize mengunjungi para biarawati yang melayani orang miskin. Tujuannya adalah untuk mendorong orang muda agar meluangkan waktu bersama orang tua yang kesepian dan sakit-sakitan dan agar mendengarkan kisah mereka.

Bruder Alois mengatakan meskipun umat Kristiani tidak harus mengatasi semua masalah dan konflik di dunia, mereka bisa membantu menyatukan orang tanpa memandang latar belakang bangsa, etnis dan agama mereka.

Ia juga menyebut ikatan yang mendalam dengan umat Kristiani di Cina, termasuk Hong Kong. Ia mengagumi ketekunan dan keteguhan iman umat Kristiani Cina meskipun kenyataannya mereka memiliki keterbatasan.

Pada 2009, Komunitas Taize membagikan satu juta Kitab Suci di Cina daratan sebagai ungkapan persaudaraan.

Pertemuan Internasional Taize untuk Orang Dewasa dengan tema “Ziarah Kepercayaan dan Rekonsiliasi” diadakan pada 8-12 Agustus. Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 2.700 peserta dari lebih dari 40 negara termasuk Cina daratan. Berbagai komunitas Kristiani setempat juga berpartisipasi dalam pertemuan itu.

Sepertiga dari peserta adalah umat Protestan.

 

Puluhan Jurnalis di Asia Tenggara Bersatu Melawan Berita Bohong

Sen, 27/08/2018 - 17:00

Di tengah keprihatinan global akan meningkatnya berita bohong, puluhan jurnalis dari Asia Tenggara – pada pertemuan regional di Bangkok, Thailand – mengimbau upaya bersama untuk melawan berita bohong.

Dalam sebuah pernyataan bersama, para anggota Konfederasi Jurnalis ASEAN (CAJ, Confederation of ASEAN Journalists) menekankan perlunya membagikan pengalaman dan praktek terbaik “untuk mengatasi … momok berita bohong.”

CAJ mengatakan berita bohong menciptakan “kekacauan, kebencian dan bahkan kekerasan di banyak lapisan masyarakat.”

Namun para jurnalis itu mengingatkan akan langkah hukum atau aturan yang bisa diinisiasi untuk melawan berita bohong meskipun langkah ini juga memiliki dampak terhadap kebebasan media.

CAJ menekankan bahwa media besar harus menjadi pelopor dalam perjuangan melawan berita bohong karena hal ini akan mempengaruhi segala aspek dan lapisan masyarakat.

Di Singapura, perwakilan sejumlah media mengatakan masyarakat telah ditipu oleh informasi yang keliru tentang makanan dan kesehatan. Di banyak kasus, banyak orang tertipu oleh penyebaran berita bohong secara sistematis.

Di Vietnam dan beberapa negara lain di wilayah itu, “foto yang dimanipulasi dan dusta yang begitu jelas” telah menciptakan kebingungan dan kekacauan.

Di negara-negara di mana terjadi perpecahan politik yang serius atau konflik agama seperti Indonesia dan Kamboja, “berita bohong selalu berpotensi memicu konfrontasi.”

CAJ juga mengatakan pemerintah atau lembaga negara “tidak berkutik soal kepentingan politik … bisa juga menjadi sumber berita bohong bagi banyak individu berpikiran sinis.”

“Apa yang terjadi di Filipina adalah peringatan suram,” demikian pernyataan CAJ, seraya merujuk pada kesalahan yang berulangkali dilakukan oleh para pejabat informasi negara itu.

Sementara proliferasi berita bohong terus terjadi, CAJ mengatakan ada kesadaran yang cukup tinggi di kalangan masyarakat akan sebuah upaya bersama untuk mendidik masyarakat dalam memerangi berita bohong.

“Menciptakan masyarakat yang melek informasi dan media adalah pendekatan jangka panjang yang paling efektif untuk mengatasi berita bohong,” demikian pernyataan CAJ.

CAJ mengatakan dengan sumber dan keahlian mereka, “media besar tidak bisa menyangkal akan tanggung jawab mereka dalam memimpin pengendalian berita bohong.”

Namun CAJ menekankan perlunya media untuk memperoleh kepercayaan masyarakat dengan memperkuat profesionalisme melalui liputan yang obyektif dn faktual. “Senjata yang paling ampuh untuk melawan berita bohong adalah fakta,” demikian pernyataan CAJ.

Forum itu merupakan bagian dari serangkaian kegiatan rencana aksi CAJ yang diadopsi dalam pertemuan di Bangkok setiap tahun.

CAJ adalah salah satu organisasi media tertua dan teraktif di Asia Tenggara. CAJ didirikan pada 1975 untuk menempa kerjasama di kalangan para jurnalis di ASEAN.

 

Paus Diminta Berdoa bagi Korban Perang Narkoba di Filipina

Sen, 27/08/2018 - 12:20

Seorang senator oposisi Filipina telah meminta Paus Fransiskus untuk berdoa bagi Filipina, terutama bagi orang miskin Filipina yang menderita akibat pembunuhan yang berkaitan dengan narkoba.

Senator Bam Aquino menunjukkan kepada Paus surat-surat dari para pemimpin agama Filipina, umat awam dan organisasi Gereja yang meminta doa. 

“Bapa Suci, saya memiliki beberapa surat dari para pemimpin agama kami di Filipina. Negara kami membutuhkan doa-doa Anda,” kata Aquino kepada Paus Fransiskus selama audiensi pribadi di Vatikan.

Legislator itu bertemu dengan Sri Paus di sela-sela pertemuan tahunan  ke-9 dari Jaringan Legislator Katolik Internasional di Roma.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor Aquino pada 23 Agustus mencatat bahwa Paus Fransiskus “tersenyum balik” kepada sang senator, mengambil surat-surat dan memberkati Aquino dan rosario yang ia pegang.

Aquino mengatakan salah satu surat meminta paus untuk berdoa agar kekerasan di Filipina berakhir.

 

Sang senator juga meminta paus untuk berdoa bagi kesejahteraan para janda dan anak-anak yatim piatu yang tewas dalam perang narkoba pemerintah yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 23.000 jiwa.

Pihak berwenang mengklaim bahwa hampir 1,3 juta pengguna dan pengedar narkoba telah menyerahkan diri dalam kampanye dua tahun tersebut, termasuk 215.000 yang telah menjalani rehabilitasi. 

Polisi Filipina telah beberapa kali berjanji  merombak kampanye anti-narkoba, namun, kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan hanya ada sedikit perubahan nyata.

Pada awal Agustus, pihak berwenang berjanji  mengubah dan mengintensifkan perjuangan mereka melawan kejahatan dan narkoba setelah Presiden Rodrigo Duterte berjanji tidak akan menggunakan tindakan berdarah-darah.

Kepala Kepolisian Filipina  Oscar Albayalde mengatakan bahwa “kampanye anti-narkoba dan anti-kriminalitas yang dibangkitkan kembali akan dilakukan dengan cermat dan dingin.

Polisi telah menolak tuduhan oleh kelompok-kelompok HAM yang mengatakan pengguna dan pengedar narkoba dieksekusi secara sistematis.

Jaksa dari Pengadilan Pidana Internasional telah mengeluarkan penilaian apakah “kejahatan terhadap kemanusiaan” mungkin telah dilakukan oleh pemerintahan Duterte. 

Dalam pesannya kepada para legislator Katolik dan Kristen, Paus Fransiskus mengatakan politisi Kristen harus menunjukkan kerendahan hati dan keberanian untuk menjadi saksi iman mereka.

Aquino mengatakan bahwa pesan paus mendorong umat Katolik “membela Tuhan dan sesama orang Filipina dari segala rintangan dan dengan segala kerendahan hati dan keberanian.”

“Jika Anda benar-benar memiliki keyakinan, maka Anda tidak perlu takut untuk membela Tuhan dan sesama,” kata sang senator, seorang pengkritik terkenal terhadap perang Narkoba Duterte.

 

Persekusi  Agama Terus  ‘Memburuk di Asia’

Sen, 27/08/2018 - 08:30

Kebebasan beragama terus terkikis di sebagian besar wilayah Asia dan  fundamentalisme agama sedang meningkat, demikian Utusan Khusus PBB untuk kebebasan beragama atau berkeyakinan.

“Kebebasan beragama terus-menerus  dilanggar di sebagian besar wilayah Asia,” kata Ahmad Shaheed pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh the Foreign Correspondents’ Club  Thailand di Bangkok. “Secara umum, hak asasi manusia sedang mengalami kemunduran di Asia.”

Shaheed, seorang diplomat Maladewa yang mendapat mandat sebagai utusan khusus sejak  November 2016, dengan mencontohkan negara-negara komunis seperti Cina dan Vietnam di mana para penganut agama terus – menerus dianiaya.  Dia juga menyuarakan keprihatinan kepada  negara-negara seperti Myanmar dan Pakistan di mana minoritas agama menghadapi diskriminasi dan rangkaian kekerasan.

Di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, ratusan ribu Muslim Rohingya  dipaksa keluar oleh militer ke negara tetangganya Banglades dalam apa yang digambarkan oleh para pengamat asing sebagai pembersihan etnis skala besar.

Sementara itu, di Pakistan yang mayoritas Muslim, penganut Kristen setempat  dan kelompok Ahmadiyah, yang berasal dari sekte Islam kecil,  menghadapi diskriminasi terus-menerus serta pengucilan sosial, politik dan ekonomi yang sistematis.

Kasus-kasus diskriminasi terhadap penganut agama minoritas tersebut, Shaheed mengatakan, “seharusnya memberi kita jeda sejenak tentang apa yang terjadi di bagian dunia kita.”

Menurut pengamatannya  di negara-negara di mana diskriminasi terbuka jarang terjadi, minoritas agama bisa saja menemukan diri mereka terpinggirkan. “Dibiarkan tidak cukup. Harus ada keterbukaan,” Shaheed menekankan.

Pengamat dari PBB juga mencatat bahwa pelanggaran terhadap kebebasan beragama jarang terjadi dalam ruang hampa. Sebaliknya, mereka selalu disertai dengan pelanggaran hak-hak penting lainnya seperti kebebasan berbicara.

Kelompok-kelompok ekstremis agama mayoritas dan otoritas negara, katanya, sering menggunakan keyakinan dan praktik keagamaan normatif sebagai dalih untuk mengurangi kebebasan berekspresi, seperti melalui penegakan hukum penistaan ​​dan penodaan agama.

“Jika negara tidak membiarkan Anda percaya apa pun yang Anda ingin percaya, maka mereka tidak akan membiarkan Anda mengatakan apa pun yang ingin Anda katakan,” katanya.

Meresahkan, banyak pemerintah, terutama di negara-negara mayoritas Muslim, mempertaruhkan  legitimasi mereka dari menjunjung tinggi norma dan keyakinan agama mayoritas. Dengan demikian, mereka akhirnya terus melanggar hak-hak minoritas agama, baik dengan sengaja atau karena kelalaian mereka.

“Kewajiban negara adalah menjadi penjamin yang tidak memihak terhadap hak-hak agama setiap warganya” terlepas dari isi keyakinan agama, kata Shaheed. “Tidak boleh ada paksaan baik dari negara atau dari kelompok-kelompok agama mayoritas.”

Para pejabat pemerintah juga tidak boleh ikut terlibat  mendukung keyakinan atau norma agama tertentu dengan mengabaikan  warga beriman lain. “Negara tidak dapat dan tidak harus menentukan takaran iman seseorang,” katanya.

Shaheed menekankan bahwa kebebasan beragama juga harus berlaku sama untuk orang yang tidak percaya, termasuk ateis yang terang-terangan.

“Kebebasan beragama juga mencakup kebebasan dari agama –  kebebasan untuk tidak memiliki agama,” katanya.

 

Lembaga Korea Buka Yatim Piatu AIDS Ke-2 di Uganda

Jum, 24/08/2018 - 20:13

Lembaga kesejahteraan sosial terbesar di Korea Selatan meresmikan Pusat Kardinal Kim Sou-hwan di Kiruhura, Uganda, pada 18 Agustus lalu untuk memperkuat program pelayanannya bagi anak-anak yatim piatu yang orangtuanya meninggal akibat penyakit terkait AIDS.

Pada 2009, lembaga bernama Kkottongnae itu membuka fasilitas yang sama di Karama, sebuah distrik lain di Wilayah Barat Uganda. Nama fasilitas itu Rumah Cinta.

Misa pembukaan untuk peresmian pusat baru itu dipimpin oleh Duta Besar Vatikan untuk Uganda, Uskup Agung Michael Blume.

Uskup Agung Mbarara Mgr Paul K. Bakyenga dan Pastor John Oh Woong-jin, pendiri Kkottongnae, menghadiri upacara pembukaan tersebut. Sekitar 1.500 umat juga turut hadir.

Presiden Uganda Yoweri Museveni memperlihatkan dukungannya terhadap proyek itu dengan mengirimkan salah seorang menterinya, John Byabagambi dari Karamoja. Ia pun menjanjikan bantuan sebesar 5 juta Shilling Uganda (sekitar 1.300 dolar AS).

Fasilitas seluas 1.800 meter persegi itu bisa menampung sekitar 150 anak. Kardinal Kim – nama yang dipakai untuk pusat baru itu – meninggal dunia pada 2009. Ia adalah mantan uskup agung Seoul yang menghabiskan masa hidupnya untuk melayani orang miskin dan marginal.

Kardinal Kim sangat dihormati di Korea Selatan karena menantang kepemimpinan Park Chung-hee pada 1970-an dan 1980-an ketika negara itu mengalami transisi berdarah menuju demokrasi.

Pada usia 46, Kardinal Kim juga menjadi anggota termuda Kolese Kardinal.

Dalam homilinya saat upacara pembukaan, Uskup Agung Blume mengatakan pusat itu – untuk mengenang berbagai upaya yang dilakukan oleh tokoh ikonik tersebut, akan meneruskan karyanya bagi orang-orang yang paling rentan, sebuah fakta terkait perdagangan orang yang marak di wilayah itu.

“Dalam situasi di mana anak-anak mengalami pelecehan seksual atau menjadi korban perdagangan orang, Kkottongnae peduli terhadap mereka yang lemah dan rentan, dengan dituntun oleh cinta Allah dan belas kasih-Nya,” katanya.

Pastor Oh mengatakan mendiang Kardinal Kim ingin mengupayakan sejumlah cara untuk mengubah kehidupan anak-anak yang masa depannya nampak suram.

“Ia menunjukkan kepedulian yang begitu besar kepada para penderita AIDS dan sepakat dengan Kkottongnae sesaat sebelum ia meninggal dunia tentang perlunya membentuk yayasan beasiswa untuk anak-anak yatim piatu yang orangtuanya meninggal karena penyakit itu,” katanya.

Kkottongnae akan membentuk Pusat Paul Bakyenga sebagai sebuah sekolah untuk anak-anak yatim piatu di sebelah pusat baru itu. Sekolah ini akan mendidik anak-anak TK hingga SMU.

 

 

Umat ​​Katolik Vietnam Tetap Setia dalam Iman Meski Banyak Menderita

Jum, 24/08/2018 - 10:28

Joseph Mua Vang Sang dan tujuh anggota keluarganya berkumpul di depan altar yang didirikan di dalam rumah mereka di Vietnam utara untuk berdoa dan Rosario dalam bahasa asli mereka Hmong, setiap hari setelah makan malam.

Orangtua dan ibu mertuanya juga ikut bergabung dalam doa  malam mereka, yang merupakan tradisi yang telah lama ada dalam rumah tangga ini dan rumah tangga Hmong lainnya di distrik Van Chan,  provinsi Yan Bai.

“Kami sudah membabtis semua anak-anak kami di gereja,” kata Sang. “Kemudian kami mengajari mereka cara membuat tanda salib, menghafalkan doa Bapa Kami sebelum makan dan mengucapkan doa harian sebelum tidur.”

Anak bungsunya berusia satu tahun, sementara yang tertua adalah 17 tahun. Empat putri tertua telah menerima Komuni pertama dan Krisma.

Mereka juga merupakan bagian dari paduan suara yang dipimpin oleh istri Sang di rumah mereka di dekat kapel Ngon Lanh, yang melayani 200 umat Katolik dari etnis Hmong di daerah terpencil ini.

“Kami berupaya  mengajar anak-anak kami  berlandaskan iman kristiani yang kami pelajari dari orang tua kami, yang mengalami kesulitan selama puluhan tahun dan mengalami banyak pembatasan karena agama mereka,” kata Sang, 37 tahun, yang melayani sebagai anggota dewan sub-distrik .

Orangtuanya termasuk di antara 20 umat Katolik Hmong yang menetap di daerah ini tahun 1993 dan masuk Katolik. Mereka buta huruf tetapi berhasil belajar doa-doa Gereja dan doa Rosario, kata Sang.

“Ketika saya berusia tiga tahun, mereka mengajari saya bagaimana membuat tanda salib sebelum makan dan sebelum tidur. Saya mulai berdoa Rosario ketika saya berusia lima tahun,” tambahnya.

Dia mengenang doa Rosario dan yanyian rohani yang ia lakukan bersama tiga saudara kandungnya di depan altar pada malam-malam gelap tanpa listrik. Anak-anak didorong untuk bersyukur kepada Tuhan – “uo trau” dalam bahasa Hmong –  membawa mereka ke dunia dan memberi mereka kesehatan, cuaca dan panen yang baik.

Istri Sang, Mary Ho Thi La, mengatakan leluhur mereka berpindah ke iman Katolik karena pengaruh para misionaris asing. Setelah itu iman kristiani diturunkan dari generasi ke generasi.

“Jadi sekarang kami memiliki tugas untuk mengajarkannya kepada anak-anak kami,” katanya.

La, yang mengenakan pakaian tradisional etnis dan fasih berbahasa Hmong dan Vietnam, mengatakan di masa lalu keluarganya harus berjalan 15 kilometer ke gereja Vinh Quang setiap kali imam mengunjungi daerah itu untuk merayakan Misa.

“Saya ingat suatu kali saya berjalan ke sana membawa bayi saya yang berumur tiga bulan. Sangat melelahkan tetapi saya senang karena dapat menghadiri Misa,” katanya.

La memimpin paduan suara dan mengajar pelajaran katekese. Dia mengatakan sebagian besar penduduk setempat memelihara ternak dan menanam tanaman di perbukitan untuk mencari nafkah. Banyak yang menderita kekurangan makanan yang parah pada sekitar seperempat tahun, tambahnya.

Joseph Mua Vang Sang, istri and anaknya  berdiri di depan rumah mereka di provinsi Yen Bai. (Foto: Peter Tran)

 

Hmong telah menyebarkan iman Katolik mereka dan menjaganya tetap hidup di wilayah ini selama beberapa dekade dengan sedikit bantuan dari para imam, kata La, ia menambahkan bahwa doa diwariskan secara lisan kepada generasi yang lebih muda. 

Yang berpendidikan lebih baik di antara mereka mengajarkan doa dalam bahasa Hmong untuk membantu melestarikan budaya mereka dan terutama bahasa tertulis mereka, yang diciptakan oleh misionaris asing. Bahasa Hmong tidak diajarkan di sekolah umum di Vietnam.

Banyak yang memakai rosario di leher mereka untuk menunjukkan pengabdian mereka kepada Bunda Maria.

Sejak 2011, umat Katolik di daerah itu mulai pergi ke rumah La pada hari Minggu untuk berdoa bersama. Mereka juga akan menghadiri Misa tidak teratur yang dirayakan dengan mengunjungi para imam secara bersama-sama, katanya.

Namun, pemerintah tidak mengakui mereka sebagai anggota yang sah dari kuasi paroki Ngon Lanh  hingga 2014. Sekarang mereka dikunjungi oleh para imam datang dari bagian lain negara itu untuk mengadakan Misa sebulan sekali atau dua kali sebulan di gereja kayu mereka, yang dibangun awal tahun ini dengan luas 3.000 meter persegi.

La mengatakan keluarganya menyumbangkan tanah dan sebagian dari rumah mereka sehingga gereja dapat didirikan. Sekarang mereka tinggal di dapur.

Dia mengatakan penduduk setempat berkumpul di sana untuk berdoa pada akhir pekan tetapi berdoa di rumah pada hari kerja. Di musim panas, biarawati dan seminaris juga mengajar kelas katekismus untuk anak-anak dan membantu pasangan mempersiapkan pernikahan mereka.

Sang mengatakan bahwa orang-orang Hmong yang masuk agama Katolik segera meninggalkan kehidupan lama mereka seperti tidak menggunakan jasa para dukun untuk mengobati pasien yang sakit atau tidak melakukan pemakaman mewah.

Mereka adalah komunitas yang sangat rukun yang saling  menghormati dan membantu satu sama lain, dan saling mengucapkan selamat kepada tetangga mereka untuk rumah barunya, pernikahan atau kelahiran, katanya. 

Sang, seorang anggota kelompok evangelisasi dari kuasi paroki, mengatakan bahwa mereka juga menjalankan program untuk mengevagelisasi orang-orang dari berbagai distrik. Hasilnya, 31 Hmong dari distrik Mu Cang Chay dibaptis pada hari raya Paskah.

Suster Dominikan Mary Cu Thi Huynh Hoa, seorang Hmong dari Paroki Giang La Pan, mengatakan dia berterima kasih kepada orang tuanya karena mengajarkan berdoa dan membawanya ke panggilan religius. Ibunya berusia 83 tetapi masih mengunjungi penduduk desa dan berbagi iman Katolik dengan mereka.

Suster Hoa, 41, mengatakan umat Katolik Hmong setempat biasa mendengarkan program radio Kristen dari luar negeri dan diam-diam mempraktekkan iman mereka di rumah tanpa bantuan para imam karena mereka bermigrasi di sana pada tahun 1960-an sampai seorang imam ditugaskan ke daerah itu ptahun 2003.

Pastor Peter Phan Kim Huan, pastor paroki Lai Chau, mengatakan 2.300 umat Katolik termasuk 800 etnis Hmong tinggal di 15 komunitas di provinsi Lai Chau yang berdekatan.

Ia dilarang oleh pihak berwenang untuk memberikan layanan pastoral bagi 10 komunitas tersebut karena pemerintah tidak mengakui komunitas mereka.

Pada  Juli 2017, parokinya menawarkan pelajaran katekismus, keterampilan hidup dan akomodasi untuk 60 anak-anak Hmong di pastoran paroki. Pastor Huan mengatakan banyak yang kekurangan gizi.

Dua paroki lain dari Dien Bien dan provinsi Lao Cai juga menyelenggarakan program musim panas dan kursus bahasa Hmong untuk anak-anak setempat.

Pastor Huan mengatakan imam setempat berdialog dengan pemerintah untuk mendapat persetujuan resmi untuk menawarkan kegiatan keagamaan kepada komunitas yang tidak diakui secara resmi oleh pemerintah.

Keuskupan Hung Hoa mencakup delapan provinsi di Vietnam termasuk bagian dari Hanoi, di mana banyak kelompok etnis tinggal. Keuskupan Ini melayani 250.000 umat Katolik termasuk 20.000 etnis Hmong, Dao, Tay, Thailand dan Muong. Mereka kebanyakan tinggal di stasiun misi dan kuasi paroki yang tidak memiliki imam yang menetap.

 

Buruh Migran di  India Menjadi Lebih Miskin

Jum, 24/08/2018 - 09:54

India perlu merevisi kebijakan tenaga kerja dan tata perekonomiannya untuk memasukkan jutaan buruh migran dalam pembangunan perekonomiannya demi mengurangi kesenjangan dengan kaum kaya yang terus melebar, demikian pendapat para ahli ekonomi  pada saat pertemuan konsultasi New Delhi.

Masalah migrasi pekerjaan sejak 1991 dibahas dalam pertemuan konsultasi 18-19 Agustus yang mencari cara untuk memasukkan jutaan buruh migran antar negara dalam pembangunan perekonomian  India.

“Buruh Migran dalam negeri India dikecualikan dari tata kehidupan ekonomi, budaya, sosial dan politik dan sering diperlakukan sebagai orang asing dan warga kelas dua,” Ellina Samantroy, seorang profesor di V.V. Giri National Labor Institute, mengatakan itu dalam pertemuan 100 peserta.

India perlu menemukan mekanisme untuk memasukkan buruh migran ke dalam kemajuan India, jika tidak, kesenjangan antara kaya dan miskin akan terus meperlebar, katanya.

Sekitar 10 persen warga India terkaya memiliki 80 persen kekayaan negara, sementara separuh dari 1,2 miliar penduduk India hidup dengan hampir 4 persen kekayaan nasional, dengan para warga di bawah piramida kelaparan, demikian menurut laporan Credit Suisse 2016.

Sekitar 10 persen orang terkaya telah semakin kaya sejak tahun 2000, demikian menurut data  Credit Suisse 2014.

“Model pembangunan kami berpusat di kota-kota besar dan mengabaikan desa-desa, kesenjangan sosial, keadilan sosial dan melebarnya jurang antara orang kaya dan miskin,” kata Pastor Denzil Fernandes SJ, rektor Institut Sosial India, tuan rumah  rapat konsultasi.

Kebijakan perekonomian India, yang diterapkan sejak 1991, telah membuka pasar untuk liberalisasi, privatisasi dan globalisasi, yang menyebabkan migrasi dan tata kehidupan yang menyusahkan, katanya.

Meningkatnya kemiskinan dan pengangguran karena berkurangnya lahan pertanian mengakibatkan migrasi besar-besaran ke kota-kota besar dan kecil, di mana sebagian besar terpaksa tinggal di permukiman kumuh karena kemiskinan, kata imam itu.

Sekitar sembilan juta orang bermigrasi dari satu negara bagian India ke negara lain setiap tahun, demikian menurut Survei Ekonomi India 2016-17. Hampir dua kali lipat tingkat migrasi antarnegara yang dicatat oleh sensus nasional 2011.

Survei Sampel Nasional tahun 2010 memperkirakan bahwa setiap 16 orang di perkotaan India terdapat seorang penghuni kawasan kumuh. Menurut sensus 2011, 68 juta orang tinggal di daerah kumuh, mewakili 20,1 persen dari penduduk perkotaan.

Dua proses utama pengucilan buruh migran dalam negeri adalah diskriminasi terhadap orang miskin dalam perencanaan tata kota dan kategorisasi mereka sebagai orang luar, kata Teena Anil, yang telah melakukan studi kasus buruh migran di New Delhi.

“Hak mereka atas kesempatan kerja di kota-kota, termasuk pekerjaan pemerintah, sering ditolak dengan pembelaan politik dari teori putra-of-the-tanah,” kata Anil.

Namun, hampir semua sektor mempekerjakan buruh migran melalui sistem kontraktor dan agen yang kompleks yang memiliki posisi yang baik untuk mengeksploitasi para migran, kata Sweta, seorang peneliti di Universitas Jawaharlal Nehru yang menggunakan satu nama.

Ojasvi Goyal, seorang peneliti di Universitas Delhi, mengatakan sebagian besar buruh  migran juga menjadi korban kecanduan alkohol, penyalahgunaan narkoba, kekerasan dalam rumah tangga dan buta huruf.

“Ada kebutuhan mendesak bagi pemerintah untuk membantu mereka dengan proyek konseling sejawat, untuk memeriksa pekerja anak dan mendapatkan anak-anak yang harus diselamatkan masuk ke sekolah-sekolah,” kata Goyal.

Dia menyarankan pemerintah mengembangkan sistem untuk mendaftarkan setiap buruh migran dan menyiapkan tata kehidupan  mereka dengan kartu identitas, perlindungan polisi dan tempat tinggal sehingga mereka tidak menjadi orang asing tanpa alamat di negara mereka sendiri.

 

Keluarga Korban Konflik di Marawi Dapat Daging Kurban 

Kam, 23/08/2018 - 18:33

Sebuah organisasi kemanusiaan internasional membagikan daging kepada keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal di Marawi, Filipina bagian selatan, saat perayaan Idul Adha atau “Perayaan Kurban” pada Rabu (22/8).

Islamic Relief Worldwide membagikan daging kepada 1.800 keluarga dari 44 sapi yang dibeli dan disembelih oleh organisasi itu untuk perayaan tersebut.

Maryann Zamora, juru bicara kelompok itu di Filipina, mengatakan hewan disembelih untuk merayakan kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anak laki-lakinya kepada Allah.

Sedikitnya 3.870 kilogram daging dibagikan kepada keluarga-keluarga yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian di luar Marawi.

Omar Rahaman, ketua misi Islamic Relief di negara itu, berharap berkat itu akan memberi pengharapan kepada para korban konflik. “(Kami juga berharap) bahwa ini akan mengingatkan semua orang untuk membarui iman mereka akan Allah, seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim,” katanya.

Meskipun sebagian besar keluarga yang kehilangan tempat tinggal beragama Islam, Rahaman mengatakan bahkan sejumlah keluarga non-Muslim yang kehilangan tempat tinggal akibat perang selama lima bulan tahun lalu juga menerima daging kurban.

Umat Katolik di kota yang berpenduduk mayoritas Muslim itu berjanji untuk membantu komunitas-komunitas yang terdampak melalui program aksi sosial Prelatur Marawi.

“Kami tetap bersama masyarakat Marawi dalam pengharapan dan keinginan mereka untuk memulai perjalanan panjang menuju pemulihan dan pembangunan kembali kota mereka dan memulai tugas penting pemulihan, rekonsiliasi dan menciptakan perdamaian,” kata Uskup Marawi Mgr Edwin dela Pena.

Prelatus itu mengatakan umat Katolik “ada di sini untuk mendukung dan mendampingi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal sepanjang perjalanan.”

Ribuan orang masih tinggal di tenda pengungsian di sekitar Marawi sembilan bulan setelah pasukan pemerintah memukul mundur para pejuang yang terinspirasi ISIS dari kota itu.

Keluarga-keluarga yang kembali ke rumah juga menghadapi tantangan dalam membangun kembali rumah mereka.

Mark Bidder, ketua Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, mengatakan “jalan masih panjang.”

Ia mengatakan “konsekuensi kemanusiaan” dari konflik sepertinya akan dirasakan hingga lebih dari tahun 2018 dan pemerintah masih harus menyelesaikan rencana rehabilitasi dan pembangunan kota itu.

Bidder mengatakan masyarakat membutuhkan pekerjaan dan mata pencaharian layak yang bisa menstabilkan pendapatan mereka, meningkatkan keamanan dan menginisiasi pemulihan sosial-ekonomi jangka panjang.

Pemerintah sebelumnya mengumumkan bahwa sekitar 1,5 miliar dolar AS diperlukan untuk rekonstruksi dan rehabilitasi yang menurut rencana akan selesai pada akhir 2021.

 

OMK  Belajar Keteladanan Para Martir pada Hari Orang Muda Korea

Kam, 23/08/2018 - 11:21

 Sekitar 2.000 umat Katolik dari seluruh Korea Selatan menerjang gelombang panas dan menghayati iman mereka dengan mengunjungi tempat-tempat suci di seluruh ibukota saat mereka merayakan Hari Orang Muda Korea (KYD) di Seoul, 11-15 Agustus  lalu.

KYD IV   berlangsung di bawah tema  “Ini Aku; jangan takut,” dikutip dari Injil Yohanes 6:20.

Panitia pelaksana memilih tema ini untuk menanamkan pola pikir positif di kalangang kaum muda di paroki-paroki  ketika mereka menghadapi realitas yang menantang dari masyarakat yang sangat kompetitif dan pasar kerja yang sulit.

Setelah serangkaian upacara penyambutan di paroki-paroki di Seoul, umat seluruhnya menyatukan diri dalam Misa pembukaan di Seminari Tinggi Keuskupan Agung Seoul dan kemudian mengadakan  ziarah ke tempat-tempat suci para martir yang sudah mendahului mereka semua pada hari berikutnya.

“Yesus tidak hanya ingin kita mencari Dia, tetapi juga mengenal Dia lebih baik,” kata Kardinal Andrew Yeom Soo-jung, uskup agung  Seoul saat membawakan kotbahnya pada Misa pembukaan.

“Saya berharap Anda mengalami iman dan semangat yang besar bersama Yesus bahwa para martir di berbagai tempat peziarahan yang kalian  kunjungi, dan ini membantu meningkatkan iman, semangat, dan kebahagiaan Anda.”

Uskup Auksilier Peter Chung Soon-taick dari Keuskupan Agung Seoul, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Korea, mengatakan: “Tujuan dari KYD ini adalah untuk menunjukkan kepada orang muda bahwa untuk mencapai kebahagiaan sejati, mereka perlu membuka mata hati kepada Tuhan dan membuang nilai-nilai sekuler.”

Seluruh OMK  yang hadir juga  mengalami kelas pendalaman iman  melalui pengajaran para uskup, liturgi dengan berbagai lembaga agama dan festival budaya pada 13 Agustus.

Rencananya akan ada rangkaian acara seperti konser dan pertemuan doa Taize pada 14 Agustus sebelum Misa penutupan diadakan di Seoul Plaza pada 15 Agustus.

Doa Taize, dengan lagu-lagu  pendek berbahasa Latin  yang diulang-ulang dalam kegelapan malam yang diikuti dengan keheningan, semakin populer di gereja-gereja Katolik dan Protestan di seluruh dunia, terutama pada Masa Adven.

Seluruh  rangkaian acara selama  lima hari itu berpuncak dengan  ziarah, yang biasa disebut  “Yesus yang kita temui di jalanan.” Kita bisa menyaksikan orang muda Korea berziarah ke sejumlah tempat suci di Seoul dan mencontohi iman heroik para martir  di masa lampau.

Catatan menunjukkan bahwa hampir 10.000 umat Kristen Katolik meninggal  selama periode penganiayaan agama yang kejam di Korea pada abad ke-19.

Paus St. Yohanes Paulus II membetifikasi 103 martir di Seoul pada  6 Mei 1984, menandai sebuah terobosan penting dari tradisi karena kehormatan ini biasanya diberikan di Roma.

Paus Fransiskus meresmikannya  pada Hari Orang Muda Asia  tahun 2014 ketika dia mengunjungi kota itu dan juga mempersembahkan Misa di katedral terbesar  Korea Selatan.

Sophia Lee Seon-hee dari paroki  Sinam, Keuskupan Agung Daegu mengatakan adalah suatu kehormatan untuk menghadiri tempat-tempat suci mereka dan merenungi pengorbanan yang telah mereka buat.

Dia mengatakan para sukarelawan yang memimpin ziarah itu sungguh menjadi “inspirasi.”

“Kita bisa melihat Yesus dalam rupa wajah orang lain saat kami berjalan bersama meskipun panas membakar,” katanya. “Para sukarelawan adalah ‘Yesus yang kami temui di jalan-jalan’ karena mereka mengabaikan panas dan terus berjalan.”

KYD  pertama diadakan tahun 2007 di Jeju. Pulau  itu sekarang bereaksi keras terhadap masuknya pengungsi Yaman meskipun Sri Paus baru saja memberikan dana untuk mereka, sementara KUD kedua berlangsung di Uijeongbu  tahun 2010.

KYD yang ketiga bertepatan dengan Hari Orang Muda  Asia ke-6 di kota Daejeon  tahun 2014, yang dikunjungi Paus Fransiskus.

Di antara KYD kedua dan ketiga, Vatikan mengundang empat mantan pengungsi Korea Utara yang telah menetap di Korea Selatan untuk berpartisipasi dalam perayaan Hari Orang Muda  Sedunia (WYD) di Madrid, Spanyol.

 

Uskup Agung Tokyo Bingung Dengan Rencana Pembangunan Seminari Baru untuk Asia

Kam, 23/08/2018 - 03:00

Uskup Agung Tokyo, Mgr Tarcisius Isao Kikuchi, mengaku kebingungan setelah diberitahu bahwa seminari Katolik yang baru untuk Asia akan didirikan di ibukota Jepang.

Dia mengeluarkan pernyataan pada 15 Agustus yang mengatakan dia tidak tahu persis di mana seminari akan berada atau kapan akan beroperasi. “Saya sangat bingung dengan keputusan kongregasi,” kata pernyataan itu.

Uskup Agung Kikuchi mengatakan ia menerima surat dari Kardinal Fernando Filoni, prefek Kongregasi  Evangelisasi, yang secara sepihak mengumumkan bahwa seminari itu akan didirikan di suatu tempat di Keuskupan Agung Tokyo.

Konstitusi tentang seminari, yang dilampirkan pada surat kardinal, menyatakan bahwa tujuan dari seminari itu adalah  “mempersiapkan umat awam  tentang  Katekese Baru (Neocatechumenal Way) untuk imamat dan evangelisasi Asia.”

“Oleh karena itu, menanggapi ajakan yang diserukan oleh Paus untuk evangelisasi di Asia, setelah berkonsultasi dengan para uskup, imam, bruder dan suster, dan awam, yang sangat peduli pada evangelisasi benua Asia, dengan persetujuan dari Paus Fransiskus, saya mendirikan Seminari Mater Redemptoris untuk Asia, berkedudukan  di Tokyo, dan secara langsung bergantung pada konggregasi,” lanjut surat Kardinal Filoni.

Uskup Agung Kikuchi menyatakan terkejut bahwa para rohaniwan senior di Jepang termasuk dirinya belum diajak untuk diskusi tentang masalah ini.

Untuk sedikitnya, baik saya, uskup agung setempat, maupun Uskup Agung Okada, pendahulu saya, telah berunding,” katanya.

Sebuah seminari dengan nama Mater Redemptoris yang sama didirikan tahun 1990 di Keuskupan Takamatsu sebagai sebuah lembaga keuskupan tetapi ditutup  tahun 2009 setelah konflik dengan umat awam setempat karena  sistem keuangan  dibebankan kepada mereka.

Konflik itu menggelembung menjadi perselisihan antara kelompok-kelompok tertentu dan Uskup Satoshi Fukahori, perselisihan itu berujung pada gugatan pencemaran nama baik, dan uskup kalah.

Dalam pernyataannya, Uskup Agung Kikuchi mengenang “hari-hari kelam” itu.

“Saya tidak ingin menolak atau melarang sebuah gerakan yang disetujui oleh Takhta Suci. Selain itu, saya tidak akan pernah membatasi atau melarang gerakan-gerakan yang disetujui Vatikan ini,” katanya.

Namun, “sulit bagi saya untuk memahami pembentukan kembali seminari semata-mata untuk Neocatechumenal Way di Jepang tanpa refleksi dan belajar tentang sejarah ini,” tambahnya.

Pada  Maret, Jepang mengumumkan akan melakukan merger seminari nasional menjadi  dua kampus seminari Katolik Jepang di Tokyo dan di Fukuoka.

Uskup Agung Kikuchi diangkat oleh Paus Fransiskus pada 25 Oktober 2017. Mantan misionaris ke Afrika itu juga pernah menjabat sebagai presiden Caritas Jepang dan Caritas Asia.

Prelatus untuk keuskupan  itu bertanggung jawab atas 90.000 orang  Katolik di kota itu dengan lebih dari sembilan juta penduduk. Ada sekitar 500.000 umat Katolik di antara 127 juta orang Jepang.

 

OMK Vietnam Didorong Pelajari Nilai-Nilai Katolik

Rab, 22/08/2018 - 22:00

Ratusan Orang Muda Katolik (OMK) di Vietnam didorong untuk menggunakan telepon seluler untuk mempelajari nilai-nilai Katolik dan memperteguh iman mereka,

Sekitar 400 OMK termasuk kelompok minoritas Suku Hmong dan Suku Thai mengikuti sebuah pertemuan OMK yang diselenggarakan oleh Dekenat Nghia Lo di Gereja Vinh Quang di Propinsi Yen Bai pada 17 Agustus.

Wilayah barat daya yang terisolasi itu merupakan rumah bagi kelompok minoritas suku yang tidak memiliki imam dan menghadapi larangan terkait kegiatan keagamaan.

Ketika Uskup Auksilier Hung Hoa Mgr Alfonse Ngiyen Huu Long bertanya apakah peserta menggunakan telepon seluler, mereka semua mengangkat tangan, bahkan beberapa orang memiliki dua telepon seluler. Ketika prelatus bertanya apakah mereka mengakses situs keuskupan dan situs-situs Katolik lainnya untuk mendapatkan informasi tentang Gereja dan mempelajari katekismus, hanya beberapa orang yang mengangkat tangan.

“Saya ingin kalian secara bijak menggunakan telepon seluler dan aplikasinya yang bermanfaat untuk mengakses internet dan mempelajari ketekismus, nilai-nilai agama dan hal-hal baik untuk menuntun hidup kalian dalam masyarakat yang cepat berubah ini,” kata Uskup Long kepada peserta.

Ia mendesak mereka agar tidak menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang segala sesuatu yang kurang bernilai dan tidak mengakses berita bohong yang tidak baik.

Ketua Komisi Evangelisasi Konferensi Waligereja Vietnam itu meminta OMK untuk meneladani para martir Vietnam yang dengan gagah berani mengorbankan nyawa demi iman mereka. “Jangan takut ancaman, tapi hidupi iman secara terbuka,” katanya.

Ia meminta mereka untuk secara berani menjadi saksi akan kebenaran dalam masyarakat di mana kebohongan, kesalahan, perilaku negatif dan ketidakjujuran berkembang. Mereka hendaknya menjalani kehidupan yang aktif dan menyenangkan dan menunjukkan iman mereka dengan menjadi anggota dan ikut mengembangkan kelompok Katolik di paroki-paroki.

Uskup Long mengatakan masa depan Gereja lokal ada di tangan OMK. Ia pun memperingatkan bahwa nilai-nilai moral tengah menurun dan hanya 30 persen dari 250.000 umat Katolik di keuskupan menjalani iman Katolik dan menghadiri pelayanan liturgi. Orang jaman sekarang mencari kebutuhan materi daripada Allah, katanya.

Seorang gadis Suku Hmong, Mary Sung Thi Xua, mengatakan ia belajar banyak hal bermanfaat dari pertemuan itu. Umat Paroki My Hung itu berharap OMK Suku Hmong akan meninggalkan pernikahan dini yang menjadi tradisi lama serta mempelajari katekismus dan keterampilan.

“Saya tahu beberapa situs Katolik dan akan mengaksesnya untuk mendapatkan informasi tentang Gereja,” katanya.

Selama pertemuan itu, peserta mengaku dosa, mengikuti lomba katekismus, memainkan permainan tradisional, mengikuti pertunjukan budaya yang menampilkan persekusi para martir dan menghadiri Misa yang dipimpin oleh Uskup Long dan 10 imam.

Dekenat Nghia Lo memiliki 15.000 umat Katolik – setengahnya adalah kelompok Suku Hmong, Suku Thai dan Suku Tay – di lima distrik di wilayah pegunungan di Propinsi Yen Bai. Mereka dilayani oleh 10 imam.

Pada 8 Agustus, 9.000 OMK menghadiri sebuah pertemuan yang dipimpin oleh Uskup Long dan para imam di Paroki Yen Hop.

 

Korea Sambut Gereja Pertama untuk Urusan Perkawinan

Rab, 22/08/2018 - 12:23

Sebuah Gereja Katolik yang mengkhususkan diri dalam sakramen perkawinan telah dibuka di kota pesisir barat daya Busan, Korea Selatan, untuk membantu umat paroki yang tidak mampu membayar pernikahan mewah di negara itu. Gereja pertama yang khusus  dalam urusan perkawinan

Keuskupan Pusan ​​baru saja menyelesaikan pembangunan Gereja Keluarga Busan di Choryang-dong. Gereja ini akan fokus pada upacara pernikahan Katolik dan urusan pelayanan keluarga di keuskupan.

Alih-alih melayani sebagai gereja paroki tradisional, gereja itu akan menjadi poros untuk evangelisasi keluarga, menurut seorang imam.

Di gereja itu, Misa pernikahan akan dirayakan dengan gaya yang mirip dengan Misa Minggu, memungkinkan upacara pernikahan bagi banyak orang yang mungkin tidak mampu membayar biaya pernikahan yang mahal di negara tersebut.

Keuskupan Pusan ​​membangun gereja sebagai bagian dari rencana pastoral yang lebih besar untuk menyebarkan nilai-nilai perkawinan dan mendukung pertumbuhan keluarga baru.

Pastor Romano Song Hyeon, ketua komisi  keluarga keuskupan Pusan, akan memimpin gereja itu. Kantor komisi keluarga akan berlokasi di dalam gereja.

Gereja ini juga akan mendukung layanan untuk keluarga seperti pelajaran katekese dan konseling pernikahan.

“Gereja keluarga Busan akan menjadi tonggak baru bagi pelayanan keluarga dan evangelisasi keluarga di Korea,” kata Pastor Song.

Gereja itu dibuka pada 19 Agustus dengan Misa yang dipimpin oleh Uskup Paul Hwang Chul-soo dari Pusan.

Keuskupan Pusan mengabdikan tahun 2017 lalu sebagai Tahun untuk Evangelisasi paroki dan penyuluhan aturan gereja.

 

Misionaris  Fransiskan Mewartakan Kabar Baik   di Wilayah  Ekstremis  Mindanao

Rab, 22/08/2018 - 11:44

Tak gentar dengan ancaman bahaya yang ditimbulkan oleh para kelompok ekstremis di wilayah Mindanao,  Filipina selatan, para misionaris Fransiskan mempersembahkan Misa dan pelayanan   lainnya di pegunungan propinsi Basilan, rumah kelompok terror Abu Sayyaf.

Pastor Elton Viagedor OFM, imam dari San Roque di kota Lantawan, mengatakan bahwa mereka ingin menunjukkan bahwa Gereja itu “sentrifugal” dalam pendekatan misionarisnya, yang dapat “fleksibel dalam menyebarkan misi.”

“Kami mengadakan Misa baik di jalan-jalan atau di halaman belakang untuk menunjukkan bahwa Gereja tidak harus menunggu umatnya datang ke kapel paroki,” kata imam itu kepada ucanews.com.

Dia mengatakan itu adalah “cara sederhana dari Ordo Fransiskan untuk menjawab tantangan hari ini untuk keluar dari kenyamanan di paroki atau biara-biara dan hidup bersama orang-orang terpinggirkan.”

“Bersama orang terpinggirkan, kita berubah,” kata Pastor Viagedor.

“Sebagai Fransiskan, saya percaya bahwa kita harus bersedia untuk pergi ke pinggiran, bahkan jika wilayah-wilayah itu dianggap berisiko dan sulit,” kata imam itu.

“Keberanian seperti itu tidak didorong oleh arogansi tetapi oleh fakta sederhana bahwa kita bergantung pada anugerah Allah dan oleh keinginan untuk bertemu warga di pinggiran,” tambah Pastor Viagedor.

Imam itu mengatakan Misa yang ia rayakan di jalan-jalan tidak dimaksudkan untuk menarik umat Islam untuk masuk Kristen, sambil mencatat bahwa orang-orang di propinsi itu memelihara hubungan antaragama dan antar-budaya yang sehat.

Misa jalanan atau halaman belakang diadakan setiap  Sabtu kedua, ketiga, dan keempat setiap bulan.

Pastor Viagedor memprioritaskan persembahan Misa Jalanan karena banyak umat paroki jarang menghadiri perayaan Ekaristi.

“Hidup, bekerja dan melayani umat ini sangat transformatif dan memperkaya saya sebagai seorang misionaris,” katanya.

Propinsi Basilan adalah tugas kedua misionaris berusia 28 tahun setelah “baptisan api” di kota Marawi, yang dirusak oleh lima bulan bentrokan tahun lalu antara pasukan pemerintah dan gerilyawan Isis.

Konflik membuat sekitar 400.000 orang mengungsi.

Paroki Pastor Viagedor di Basilan melayani 231 keluarga Katolik di dua desa berpenduduk mayoritas Muslim di kota Lantawan, tempat kelahiran pemimpin teroris Isnilon Hapilon, yang dilaporkan sebagai emir yang ditunjuk dari kelompok Isis Asia Tenggara.

Pada  31 Juli, sebuah bom mobil yang kuat meledak di Basilan, menewaskan 11 orang. Tahun ini saja, setidaknya 55 kelompok terrorist Abu Sayyaf menyerah kepada pihak berwenang.

Pastor Viagedor menggambarkan propinsi kepulauan sebagai pinggiran tidak hanya secara geografis tetapi juga “secara ekonomi, politik dan budaya,” tetapi dia mengatakan dia menganggap penugasannya di Basilan sebagai “hak istimewa dan berkah.”

“Di sini saya menemukan bentuk-bentuk wacana alternatif terutama dari kehidupan orang-orang di akar rumput,” katanya, seraya menambahkan bahwa dia akan terus pergi keluar dengan warga “yang merupakan perwujudan sejati dari gereja.”

Dari sekitar 400.000 penduduk Basilan, 126.000 adalah umat Katolik yang dilayani oleh 20 imam, termasuk empat Fransiskan dan lima misionaris Claretian yang melayani 10 paroki di bawah Prelatur Isabela.

 

Gereja Pakistan Tawarkan Pedoman Idul Adha Terkait Daging Kurban

Sel, 21/08/2018 - 16:56

Gereja Katolik di Pakistan tengah melakukan aksi penyadaran tentang konsumsi daging kurban selama perayaan Idul Adha.

“Perayaan Kurban” dirayakan oleh umat Islam untuk memperingati peristiwa ketika Allah menampakkan diri kepada Nabi Ibrahim dalam sebuah mimpi dan memintanya untuk mengorbankan anak laki-lakinya, Ismail, untuk menunjukkan ketaatannya kepada Allah.

Umat Islam merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban, biasanya seekor kambing atau domba.

Sebuah tenda buatan didirikan untuk penyembelihan hewan kurban di wilayah Gulistan-e-Johar di Karachi. (Foto: Zahid Hussain/ucanews.com

 

Pastor Inayat Bernard, pastor Paroki Katedral Hati Kudus di Lahore, mengecam orang-orang yang menyebut perayaan umat Islam itu sebagai “kurban iblis.”

“Salah pengertian semacam itu disebarluaskan oleh para pemimpin gereja yang agak buta huruf pada tahun ini. Mereka menggunakan ayat-ayat Kitab Suci pilihan untuk membuktikan bahwa perayaan ini memuja iblis,” katanya kepada umat paroki pada Minggu (19/8).

“Ini Sunnat-e-Ibrahimi (tradisi keturunan Ibrahim) dan berkaitan dengan seorang nabi yang dipuja oleh tiga agama besar. Ini murni makanan and tidak masalah jika memakan daging kurban. Tapi jangan memaksa orang lain untuk memakannya.”

“Kita hendaknya mengindahkan norma-norma budaya dan membagikan kebahagiaan Saudara-Saudara Muslim kita. Ini bagian dari menghidupi dialog antaragama seperti ajaran Konsili Vatikan. Tidak haram bagi kita kecuali segala sesuatu yang keluar dari tubuh manusia seperti yang tertulis dalam Kitab Suci.”

Kotbah imam itu merupakan bagian dari kampanye penyadaran Gereja karena umat Islam di Pakistan tengah mempersiapkan perayaan Idul Adha pada 22-24 Agustus.

Hewan di wilayah Gulistan-e-Johar di Karachi akan dikurbankan sebagai bagian dari perayaan Idul Adha yang dirayakan untuk mengakhiri ibadah haji. (Foto: Wahid Hussain/ucanews.com

 

Sebuah delegasi dari Komisi Nasional untuk Dialog Antaragama dan Ekumene (KNDAE) akan mengunjungi tiga masjid di kota itu selama perayaan Idul Adha. Uskup Agung Sebastian Shaw juga akan menjadi tuan rumah acara buka puasa Idul Adha pada 24 Agustus.

“Perayaan ini memberi kita kesempatan untuk membagikan kegembiraan kepada komunitas-komunitas lain. Bersama kita berdoa bagi perdamaian di negara ini,” kata Pastor Francis Nadeem, sekretaris eksekutif KNDAE.

Meskipun ada upaya dari pihak Gereja, jutaan umat Kristiani di Pakistan masih terpecah terkait dengan daging kurban. ucanews.com menghubungi beberapa imam tetapi sebagian besar menolak berkomentar. Berbagai diskusi tentang konsumsi daging kurban banyak dilakukan umat Kristiani di media sosial pekan ini.

Menurut Uskup Mardan Mgr Jimmy Matthew, umat Katolik lebih terbuka terhadap daging kurban daripada umat Protestan.

“Saya menerima daging dari para pengunjung tetapi membagikannya kepada tetangga,” katanya.

“Kristus, sebagai Anak Domba Allah, mengorbankan dirinya demi dosa-dosa kita dan kita turut memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya dalam Sakramen Komuni Kudus,” katanya.

 

Topi Kardinal Filipina Pertama Dapat Tempat Penghormatan 

Sel, 21/08/2018 - 16:05

Sebuah topi merah berumbai yang disebut galero milik kardinal Filipina pertama akan diletakkan di kasau Katedral Manila. Mendiang prelatus itu turut membangun kembali gereja katedral setelah Perang Dunia II.

Topi lebar milik Kardinal Rufino Santos dari Manila tersebut baru-baru ini ditemukan di sebuah pojok ruang stok museum Keuskupan Agung Manila.

“Mungkin berkat dorongan karunia ilahi … topi itu ditemukan masih dalam kotak aslinya dengan label pembuat Tanfani dan Bertarelli di Roma,” demikian pernyataan Katedral Manila.

Menurut pernyataan itu, topi itu “ditemukan pada saat yang sangat tepat.”

Katedral Manila yang secara resmi dikenal sebagai Basilika Kecil dan Katedral Metropolitan Maria Dikandung Tanpa Noda tahun ini merayakan peringatan pembangunan kembali ke-60.

Untuk mengenang Kardinal Santos, galero miliknya akan diletakkan di kasau Katedral Manila pada 3 September, peringatan kematiannya ke-45.

Sebuah topi kardinal secara tradisional tergantung di dalam katedral setelah kematiannya.

Topi milik Kardinal Santos sebelumnya tergantung di dalam Katedral Manila. Tetapi topi itu jatuh beberapa tahun lalu sehingga topi milik Kardinal Jaime Sin tergantung sendiri dari kubah tengah.

“Saat terjatuh, topi itu diletakkan di museum,” kata Uskup Agung Lingayen-Dagupan Mgr Socrates Villegas, mantan ketua Konferensi Waligereja Filipina.

Lahir dari orangtua yang memiliki tujuh anak di Guagua, Propinsi Pampanga, pada 1908, Kardinal Santos masuk Sekolah Paroki Katedral Manila pada usia sembilan tahun. Ia kemudian menempuh studi di Seminari San Carlos di Manila dengan bantuan beasiswa.

Pada 1927, ia pergi ke Roma untuk menempuh program studi doktor teologi di Universitas Kepausan Gregoriana. Ia ditahbiskan sebagai imam di Basilika St. Yohanes Lateran di Roma pada 1931.

Ia kembali ke Filipina pada 1932 sebagai pastor rekan di Kota Imus, Propinsi Cavite. Sebagai pastor kepala Paroki Marilao, ia dikenal sebagai “Padre Pinong.”

Ia menjadi uskup auksilier Manila pada 1947 sebelum diangkat sebagai uskup agung pada 1953. Ia menerima topi merah dari Paus Yohanes XXIII pada 1960 dan menjadi kardinal Filipina pertama.

 

Kekuatan Asing Diperingatkan untuk Tidak  Sebarkan  Agama di Tiongkok

Sel, 21/08/2018 - 13:42

Wakil Menteri  Tenaga Kerja  Front Persatuan Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) menegaskan bahwa urusan agama di Cina tidak boleh  didominasi oleh kekuatan asing.

Dengan putaran baru perundingan Sino-Vatikan yang diharapkan akan dilanjutkan pada  September, Wang Zuoan, yang juga Direktur Pemerintahan Negara Urusan Agama, menulis sebuah artikel dalam edisi terbaru jurnal CCP Qiushi.

Dalam artikel yang diterbitkan pada 17 Agustus, Wang menekankan pentingnya enam poin – berpegang pada bimbingan agama, mengarah pada Cinanisasi, membangun hubungan agama yang positif dan sehat, berpedomankan pada aturan hukum untuk mempromosikan kerja keagamaan, mendukung komunitas agama  untuk memperkuat konstruksinya sendiri, dan memperkuat kepemimpinan terpusat dan bersatu partai atas pekerjaan keagamaan.

Dia mengatakan bahwa Cinanisasi  agama adalah tugas penting, yang paling mendasar adalah  “agama harus mendukung kepemimpinan PKC” dan  ia harus membimbing semua agama untuk memiliki kesadaran politik, integrasi budaya dan adaptasi sosial terhadap sosialisme Cina, “secara aktif terus melawan infiltrasi asing melalui agama dan dengan tegas mengekang pengaruh pemikiran ekstrem agama asing.”

Wang percaya hubungan baik antara negara dan Gereja adalah intinya. Penting untuk menegakkan kepemimpinan partai, mengkonsolidasikan statusnya berkuasa, mematuhi pemisahan politik dan agama, menjaga agama terpisah dari pemerintahan, keadilan dan pendidikan, dan mematuhi manajemen pemerintah urusan agama yang melibatkan kepentingan publik negara dan masyarakat.

Dia juga menegaskan kembali bahwa semua agama di Cina harus mematuhi prinsip kemerdekaan dan manajemen diri, menekankan bahwa “Agama di Cina tidak memiliki afiliasi dengan agama asing, dan kelompok agama dan urusan agama kita tidak didominasi oleh kekuatan asing.”

Wang mengatakan peraturan yang direvisi mengenai urusan agama, yang mulai berlaku pada 2 Februari, harus ditingkatkan ke undang-undang dan tata cara pelaksanaan pada waktunya.

Dia juga menegaskan bahwa budidaya bakat adalah masalah utama dalam pekerjaan keagamaan. Itu perlu untuk mematuhi standar “warga yang secara politis dapat diandalkan, yang secara agama berhasil, secara moral meyakinkan dan kritis”.

Wang mengatakan United Front Work Department akan mengelola pekerjaan religius, sementara partai dan departemen pemerintah, serikat pekerja, Liga Pemuda Komunis, Federasi Perempuan dan organisasi sosial lainnya harus bekerja sama erat.

Sementara itu, Kung Kao Po, mingguan keuskupan Hong Kong, menerbitkan sebuah editorial pada 19 Agustus mengatakan bahwa perjanjian Sino-Vatikan tentang pengangkatan uskup akan ditandatangani pada  Oktober.

Editorial itu menegaskan kembali bahwa Takhta Suci memperjelas apa yang sudah terjadi di masa lalu bahwa Cina dan Vatikan memiliki pandangan yang berbeda mengenai banyak masalah, tetapi isi dari perjanjian itu terkait dengan ruang lingkup dan masalah yang dapat disetujui oleh kedua belah pihak.

“Jika Anda menyerah pada persyaratan pemerintah Cina, maka Gereja mungkin akan terluka karena pemerintah daratan tidak peduli dengan gereja atau perkembangannya,” kata editorial tersebut.

 

Kardinal Sri Lanka: Ibu Rumah Tangga Berhak Mendapat Gaji

Sel, 21/08/2018 - 09:42

Wanita yang mengorbankan karir mereka untuk melayani sebagai ibu rumah tangga harus diberi gaji untuk mendorong lebih banyak ibu rumah tangga untuk menjamin  anak-anak dibesarkan dengan nilai-nilai Kristiani  dan keluarga yang benar.

Kardinal Malcolm Ranjith, uskup agung Kolombo, menyampaikan pesan tersebut selama kotbahnya pada  perayaan tahunan yang diselenggarakan di tempat ziarah Maria Bunda Kita dari Madhu, yang berusia 400 tahun di distrik Mannar pada 15 Agustus.

“Para wanita pergi bekerja, meninggalkan anak-anak mereka dengan orang lain. Jika seseorang melahirkan anak-anak ke dunia ini, mereka harus dijaga dan dibesarkan dengan nilai-nilai yang tepat,” kata uskup agung Kolombo itu.

“Mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya tentang tenaga kerja mengatakan, gaji harus dibayarkan kepada ibu yang tidak bekerja yang tinggal di rumah untuk merawat anak-anak mereka,” katanya. “Ini akan mendorong mereka dan membantu mereka menyadari pentingnya pekerjaan yang mereka lakukan dalam membesarkan anak-anak.”

Kardinal mengeluarkan pernyataannya di tempat ziarah paling terkenal di negara itu yang memiliki sejarah kelam dimana terjadi serangan penembakan selama perang saudara  selama seperempat abad di antara pemberontak Tamil demi  kemerdekaan dan pasukan keamanan pemerintah. Konflik berakhir satu dekade lalu  tahun 2009.

“Jika anak Anda berprilaku buruk, uang yang Anda hasilkan akan  sia-sia. Anak-anak harus dibesarkan dengan nilai-nilai yang baik,” kata prelatus itu.

Tempat ziarah itu adalah magnet untuk para peziarah dan pendevosi di kalangan umat Katolik Sri Lanka. Tempat ini juga berfungsi sebagai simbol persatuan, bukan hanya antara orang Tamil dan Sinhala tetapi berbagai agama.

Kardinal Ranjith mengutip  ensiklik Paus Fransiskus mengenai keluarga, menunjukkan bahwa periode ketika seorang ibu mengandung seorang anak di rahimnya adalah waktu  paling penting dan berharga dalam hidupnya.

Walau menjadi ibu secara tradisional dianggap sebagai berkat, tetapi banyak wanita di negara itu enggan memiliki anak pada saat ini,  menurut survei.

“Para wanita meninggalkan anak-anak mereka,” kata uskup agung itu. “Anak-anak ditolak terus menerus.”

“Beberapa orang tidak mengerti bahwa  berkat Tuhan datang bersamaan dengan kedatangan seorang anak. Dengan itu, kita dikutuk Tuhan ketika kita (menolak) berkat ini.”

Dia mengatakan perkembangan ekonomi Sri Lanka telah menghancurkan beberapa norma dan nilai budaya.

“Paus Fransiskus mengatakan keluarga besar membawa kebahagiaan. Menolak kehidupan dengan cara apapun bukanlah tindakan yang bertanggung jawab. Orangtua harus melihat anak-anak sebagai berkat,” tambahnya.

Aktivis perempuan Nalini Ratnarajah mengatakan nilai ekonomi ibu rumah tangga tidak pernah diakui.

“Mereka adalah buruh tanpa upah. Mereka tidak memiliki jaminan sosial, tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada asuransi,” kata Ratnarajah, ibu dua anak yang bekerja sebagai konsultan Akademi Politik Perempuan di negara itu, yang didirikan tahun 2010.

“Kontribusi seorang ibu adalah untuk negara. Dia mendidik anak-anak, membawa generasi masa depan. Ayah bisa mendapatkan uang tetapi ibu adalah orang-orang yang memelihara anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang.

“Dalam budaya Asia Selatan, di mana sikap patriarkal berlaku, wanita diharuskan memasak di rumah setiap hari. Jika mereka mendapatkan uang, gaji mereka harus masuk ke rekening suami mereka.”

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe juga menghadiri perayaan tahunan itu. Dia memuji perayaan itu sebagai kesempatan bagus  merangkul orang-orang dari semua agama dan membantu mendorong rekonsiliasi nasional.

“Umat Katolik dan non-Katolik semua datang ke sini untuk mendaraskan permohonan dan menerima berkat Tuhan,” katanya.

 

Umat Hindu India Tolak Penyembelihan Hewan Kurban

Sen, 20/08/2018 - 17:14

Kelompok-kelompok Hindu di India meminta umat Islam untuk merayakan Hari Raya Idul Adha tanpa melakukan ritual penyembelihan hewan kurban.

Kelompok-kelompok ternama seperti Vishwa Hindu Parishad (VHP) dan Bajrang Dal telah meminta pemerintah untuk mengambil langkah menentang umat Islam yang menyembelih kambing, banteng, kerbau air atau hewan lainnya pada perayaan yang juga disebut sebagai Bakr-Eid di India itu. Menurut mereka, aksi semacam itu menyakiti sentimen agama di kalangan umat Hindu.

Umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha dengan mengorbankan seekor hewan jantan dan merayakannya sebagai peringatan akan kesediaan Nabi Abraham untuk mengorbankan anak laki-lakinya sendiri di hadapan Allah.

Perayaan tersebut dirayakan pada hari ke-10 dalam bulan terakhir penanggalan Islam. Tahun ini, Hari Raya Idul Adha jatuh pada 23 Agustus.

Umat Islam di negara-negara lain sebagian besar menyembelih domba, kambing, unta atau banteng untuk Hari Raya Idul Adha. Mengingat sebagian besar negara bagian di India memiliki undang-undang yang menentang penyembelihan banteng atau sapi yang dianggap suci oleh umat Hindu, sebagian besar umat Islam di India menyembelih kambing atau kerbau air.

Namun para pemimpin Hindu menduga bahwa umat Islam di beberapa wilayah menyembelih banteng untuk merayakan Hari Raya Idul Adha.

“Umat Islam hendaknya merayakan pesta mereka tanpa daging sapi atau dalam cara yang tidak keras. Jika seseorang melanggar aturan itu, pemerintah harus mengambil langkah tegas terhadap mereka,” kata pemimpin VHP, Vilas Nayak, kepada wartawan pekan lalu.

Raja Singh, seorang tokoh agama Hindu di Telangana, memperingatkan bahwa jika pemerintah negara bagian gagal menghentikan penyembelihan banteng pada Hari Raya Idul Adha, kekerasan mungkin terjadi.

Singh – yang juga anggota dewan legislatif – ingin agar pemerintah bersikap tegas. “Jika Anda tidak mendirikan pos pengecekan di luar kota dan melakukan penjarahan di kota tua, ada 200 persen peluang untuk pembantaian dan kekerasan,” katanya.

Rashid Ahmad, seorang aktivis hak asasi manusia di Negara Bagian Bengal Barat di India bagian timur, mengatakan umat Islam dan Hindu di India hidup rukun selama berabad-abad. Ia menuduh kelompok-kelompok Hindu menggunakan perayaan keagamaan “untuk mencetak skor politik.”

“Apa yang ingin dibuktikan oleh kelompok-kelompok pinggiran ini dengan mengibarkan bendera perlindungan sapi? Apakah perayaan Hari Raya Idul Adha hanya berusia beberapa tahun saja di India dan bukannya perayaan ini pernah dirayakan di negara ini sebelumnya?” tanya Ahmad.

Umat Islam seperti Ahmad mengatakan kelompok-kelompok Hindu ingin melindungi diri mereka sebagai pemenang atas tujuan Hindu untuk memperoleh suara bagi Bharatiya Janata Party (BJP) yang pro-Hindu dalam pemilihan nasional dan negara bagian awal tahun depan.

“Sekarang masyarakat negara ini menyadari betul akan taktik semacam itu dan tidak akan membiarkan mereka berhasil dalam cara apa pun,” katanya.

Umat Hindu terdiri atas 966 juta atau 80 persen dari total jumlah penduduk di India yang mencapai 1,3 miliar orang. Umat Islam terdiri atas 172 juta orang atau 14 persen, sementara umat Kristiani terdiri atas 29 juta atau 2,3 persen.

 

Kardinal Puji PM Kehendaki India yang Lebih Adil

Sen, 20/08/2018 - 11:22

Atal Bihari Vajpayee, orang pertama yang memimpin pemerintahan India yang berasal dari Partai Bharatiya Janata yang pro-Hindu (BJP), meninggal pada 16 Agustus karena  usia di rumah sakit New Delhi. Dia berusia  93 tahun.

Ketua pendiri BJP, yang dikenal sebagai moderat, memiliki pendirian yang unik dalam memimpin negara demokrasi terbesar di dunia hanya selama 16 hari  tahun 1996.

“Bangsa akan mengingatnya sebagai pemimpin yang merindukan sebuah negara di mana semua orang hidup dalam damai dan harmonis,” kata Kardinal Oswald Gracias, ketua presidium Konferensi Waligereja  India.

India telah kehilangan “salah satu pemimpin tertinggi” yang memesona orang India selama beberapa dekade “dengan campuran puisi dan prosa yang luar biasa” yang disampaikan “dengan humor, kecerdasan dan suara yang dimodulasi dengan baik,” katanya.

Kardinal Gracias mengingat beberapa pertemuannya dengan Vajpayee dan mengatakan “setiap pertemuan menyenangkan karena kehangatannya, kecerdasannya dan kecintaannya pada negara.”

“Dia menginginkan India di mana tidak ada seorang pun yang diabaikan, tidak ada yang menderita dan semua orang menikmati manfaat dari kemajuan,” kata kardinal.

Bersama Vajpayee di pucuk pimpinan, BJP memperoleh keunggulan politik dan dia kembali berkuasa tahun 1998 selama lebih dari satu tahun dan kemudian  tahun 1999 untuk jangka waktu lima tahun penuh.

Fondasi partai yang diletakkan oleh Vajpayee membantu partai itu memenangkan kemenangan telak dalam pemilu 2014 di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Modi dan pemerintahnya dituduh oleh para pemimpin Kristen dan Muslim, secara diam-diam mengizinkan kelompok Hindu melakukan  pelecehan dan kekerasan secara terus-menerus terhadap minoritas dalam aktivitas mereka untuk menciptakan negara  Hindu.

Kardinal Gracias juga ingat “dengan sukacita dan nostalgia” pertemuan dengan Vajpayee dan Paus Santo Yohanes Paulus II selama kunjungan kepausan  tahun 1999 ke India.

Gereja Katolik di India juga akan mengingat kekaguman Vajpayee kapada  Santa Teresa dari Kolkata, kata kardinal. Dia mengutip Vajpayee yang mengatakan bahwa “di zaman sinisme dia adalah simbol kepercayaan pada iman.”

Pemimpin, yang dikenal karena keterampilannya dalam bahasa Hindi itu, akan dikenang karena “kehangatannya tanpa memandang perbedaan agama, politik atau daerah,” kata kardinal itu.

Vajpayee lahir pada Hari Natal tahun 1924. Putra seorang guru yang menyukai sastra Hindi, ia juga sebagai seorang penyair-politisi. Pengamat mengatakan dia sering berhasil menggunakan kecintaannya pada ayat-ayat dalam bahasa Hindi.

Pada pemerintahan Vajpayee juga terjadi kekerasan anti-Kristen termasuk pembunuhan misionaris Australia Graham Stuart Staines, yang dibakar sampai mati bersama putra-putranya, Philip, 10, dan Timotius, 6, oleh sekelompok radikal Hindu pada 23 Januari 1999, ketika mereka tidur di sebuah stasion, desa Manoharpur, negara bagian Odisha.

Tahun 2002, selama puncak kerusuhan anti-Muslim di Gujarat, Vajpayee telah menjatuhkan petunjuk untuk pemecatan  Modi, yang saat itu menjabat sebagai menteri utama negara bagian barat, tetapi Modi melanjutkan di tengah klaim bahwa Vajpayee telah menyerah pada tekanan dari ekstremis.

“Sekarang dia telah meninggal, kita seharusnya tidak berbicara buruk tentang dia, tetapi memang benar bahwa sebagai perdana menteri Vajpayee gagal melindungi misionaris Kristen seperti Staines atau melindungi umat Islam,” kata seorang pemimpin partai Kongres yang tidak mau namanya disebut.

 

Halaman