Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 2 hours 23 mnt yang lalu

Para uskup ajak umat pahami gagasan dan makna Pancasila dan mencintainya sebagai dasar negara

7 hours 44 mnt yang lalu
Konferensi Pers sesudah Sidang KWI 2017 diberikan oleh Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. Foto Dokpen KWI

Di akhir sidang tahunan 2017, para uskup Indonesia mengeluarkan pesan yang memanggil Gereja untuk membangun tata dunia dan mengajak umat Katolik untuk semakin memahami gagasan dan makna Pancasila serta meyakini dan mencintainya sebagai Dasar Negara Indonesia.

Para uskup percaya, seperti ditulis dalam pesan yang dikeluarkan 16 November 2017, bahwa kehadiran Gereja Katolik menjadi lebih berarti kalau seluruh umat mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan untuk menciptakan perubahan yang baik bagi bangsa Indonesia.

Berikut ini PEN@ Katolik menurunkan keseluruhan isi pesan itu:

Pesan Sidang Panggilan Gereja Membangun Tata Dunia

Segenap umat Katolik yang terkasih,

Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema “Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia.” Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan dari pengamat proses. Dengan hari studi itu, kami semakin menyadari panggilannya untuk ikut membangun tata dunia serta mengajak seluruh umat dan masyarakat untuk lebih memahami situasi kebangsaan saat ini, memperkuat suara kenabian Gereja di zaman sekarang, dan membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Gereja Katolik, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia, diharapkan ikut merawat dan terlibat menentukan masa depan bangsa. Konsili Vatikan II dalam dokumen Apostolicam Actuositatem (AA), yang membahas tentang panggilan dan peran awam di tengah-tengah dunia, mengajak Gereja untuk tidak hanya menyampaikan warta tentang Kristus dan menyalurkan rahmat-Nya kepada umat, tetapi juga ikut meresapi dan menyempurnakan tata dunia dengan semangat Injili (bdk. AA. no. 5). Peran utama Gereja dalam menata dan membangun hidup bersama yang Pancasilais terletak di pundak kaum awam. Dokumen Gaudium et Spes (GS), yang berbicara tentang Gereja di dunia dewasa ini, menggarisbawahi bahwa secara khas kegiatan keduniawian menjadi wewenang kaum awam (bdk. GS. no. 43). Kaum awam yang hadir dalam berbagai kehidupan hendaknya menekuni bidang keahlian dan karya sampai menjadi profesional agar pelayanan mereka untuk masyarakat lebih bermutu. Dalam hal ini, para gembala umat diundang untuk mendampingi, menguatkan, dan memberi teladan lewat kerjasama dengan para tokoh pemerintah, agama dan adat. Para Uskup, imam, dan diakon diharapkan menaruh perhatian terhadap kaum awam dalam karya kerasulan mereka. Anggota lembaga hidup bakti, baik religius maupun sekuler,hendaknya juga berusaha ikut mengembangkan kegiatan-kegiatan kaum awam (bdk. AA. no. 25).

Kita bersyukur kepada Allah karena Bangsa Indonesia dianugerahi wilayah yang luas, kekayaan alam yang melimpah, dan keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama yang sangat indah. Kita berterima kasih kepada para pejuang dan pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah menyarikan kenyataan Indonesia tersebut dalam Pancasila dan dijadikan sebagai landasan hidup berbangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kendati demikian, kita menyayangkan keadaan akhir-akhir ini, di mana Pancasila dirongrong oleh radikalisme dan terorisme, serta kesatuan bangsa dicederai oleh sikap tidak toleran terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Situasi itu diperparah oleh adanya politik yang menggunakan isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) untuk mencapai kepentingan tertentu dengan mengabaikan cita-cita kesejahteraan bersama, keadilan sosial, dan keluhuran martabat manusia. Kondisi ini kian memprihatinkan manakala kekayaan alam dikelola dan dinikmati segelintir golongan, tanah adat atau milik masyarakat dibeli dan dikuasai pengusaha tertentu dengan restu penguasa, kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia masih terjadi di mana-mana. Persoalan lain adalah derasnya perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Di samping membawa kemajuan, kehadiran mereka di daerah tujuan juga menimbulkan masalah lain seperti benturan antar suku, perebutan lahan kerja, dan  persengketaan tempat pemukiman.

Situasi bangsa seperti itu, tidak lepas dari kurangnya sosialisasi dengan metode yang tepat, kurangnya pengamalan nilai-nilai Pancasila, lemahnya keteladanan dan kepedulian sebagian para pemimpin, serta kurangnya keadilan sosial dan kesamaan di hadapan hukum. Disamping itu, perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, membuat ideologi dan paham yang bertentangan dengan Pancasila mudah menyebar di masyarakat. Media sosial saat ini juga sering dipakai untuk melontarkan ujaran kebencian dan kebohongan yang dapat merusak sendi-sendi hidup bersama.

Menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah mengambil sikap tegas dengan membuat beberapa kebijakan seperti membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) untuk membumikan dan memperkuat nilai-nilai Pancasila,  menetapkan UU No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan, dan memblokir situs-situs yang terbukti menyebarkan ajaran, ajakan, dan paham yang bertentangan dengan Pancasila. Selain itu, pemerintah juga berusaha mengarusutamakan nilai-nilai Pancasila dan kebinekaan dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan kemasyarakatan dengan mempercepat pembangunan di daerah pinggiran. Pembuatan jalan, irigasi, bandara, dan pelabuhan di berbagai daerah yang dapat memajukan perekonomian daerah adalah langkah nyata Pemerintah untuk mewujudkan keadilan sosial. Meskipun begitu, pembangunan di daerah, khususnya di perbatasan hendaknya tetap melindungi masyarakat setempat, agar pembangunan tidak hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Saudara-Saudari terkasih,

Gereja Katolik harus terus membuka diri untuk membangun dialog dengan agama lain yang didasari ketulusan. Dialog ini penting untuk membangun sikap saling mengenal satu sama lain, meruntuhkan berbagai kecurigaan, dan mengikis fanatisme agama. Dengan dialog, Gereja ingin meneruskan misi Tuhan yaitu merobohkan tembok-tembok pemisah dan membangun jembatan persahabatan dengan semua orang demi terwujudnya persaudaraan sejati yang mengarah pada hidup bersama yang lebih damai dan tenteram.

Persaudaraan ini diperkuat dengan melakukan kegiatan kekeluargaan dan kemanusiaan seperti silaturahmi saat perayaan hari besar keagamaan, bakti sosial lintas iman, pertemuan rutin para tokoh lintas agama, dan keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat. Gereja Katolik dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan dengan mewartakan ujaran dan ajaran kasih dan pengalaman persaudaraan dalam perbedaan.

Gereja Katolik di Nusantara hadir lewat  pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tindakan amal-kasih. Saat ini, wajah Gereja dalam bidang-bidang tersebut ingin terus di tampilkan dengan meningkatkan mutu pelayanan bagi semua orang. Dengan pendidikan, Gereja dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila di kalangan anak-anak dan kaum muda hingga mereka makin baik dan benar memahami gagasan Pancasila dan makna nilai-nilainya, sehingga mau dan mampu membuat gerakan bersama yang memperkuat persaudaraan. Dengan karya kesehatan, Gereja ikut meningkatkan kesehatan masyarakat, melayani semua lapisan masyarakat terutama mereka yang miskin, dan mengembangkan persaudaraan lintas suku, agama, dan golongan. Di sinilah bersama semua pihak yang berkehendak baik, kita makin meningkatkan tindakan amal kasih demi kesejahteraan bersama.  Disamping tiga bidang pelayanan tersebut, para pemimpin Gereja tetap harus berani bersuara untuk membela masyarakatnya, khususnya masyarakat adat yang hak-haknya atas tanah dan budaya sering kurang diperhatikan.

Saudara-Saudari terkasih,

Peran hierarki sangat penting dalam mendukung kaum awam agar lebih berani mengambil peran-peran sosial dan politik sebagai lahan pewartaan Kabar Gembira dan menghidupi nilai-nilai Pancasila. Tahun 2018 akan diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah  serentak di 171 daerah dan tahun 2019 akan berlangsung Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Dalam konteks agenda politik seperti itu, hierarki diharapkan hadir untuk membimbing umat agar tidak mudah terpecah-pecah oleh pilihan politik yang berbeda, tahan terhadap berbagai kampanye yang berbau SARA, dan mendorong kaum awam yang mempunyai kemampuan ikut dalam pertarungan politik tersebut. Semakin banyak orang Katolik yang berkomitmen menjadi pejabat negara atau pejabat publik yang berkualitas, serta berani mengambil kebijakan berdasarkan nilai-nilai Pancasila demi kesejahteraan masyarakat umum, peran Gereja Katolik untuk Indonesia kian nyata.

Kami mengajak Saudara-Saudari untuk semakin memahami gagasan dan makna Pancasila serta menyakini dan mencintainya sebagai Dasar Negara Indonesia. Marilah kita mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan untuk menciptakan perubahan yang baik bagi bangsa Indonesia. Dengan terlibat aktif dalam berbagai gerakan bersama yang mengembangkan sikap terbuka dalam hidup beragama, memperkuat Bhinneka Tunggal Ika, membangkitkan semangat bermusyawarah, dan mewujudkan keadilan sosial, kehadiran kita menjadi lebih berarti. Semoga dengan demikian, kita membangun Indonesia menjadi semakin sesuai dengan kehendak Allah. Itulah bagian dari panggilan kita untuk menyempurnakan tata dunia. Tuhan memberkati!

Misa Penutupan Sidang Tahunan KWI 2017 di Gereja Stasi Santo Andreas Kim Tae Gon, Kelapa Gading, 16 November 2017. Foto Dokpen KWI

Umat Katolik Dekanat Belu Utara di Atambua rayakan HUT-32 THS-THM yang juga suburkan iman

Jum, 17/11/2017 - 23:54

Dengan iringan drum band anak-anak Sekolah Dasar Katolik (SDK) Halilulik, terlihat arak-arakan meninggalkan terminal Halilulik di Atambua, Timor, menuju Paroki Roh Kudus Halilulik. Di paroki itu, rombongan disambut tetua adat dengan sapaan Hase-Hawaka (bahasa Tetum) yang berarti bertegur sapa untuk menyambut tamu-undangan yang datang atau memasuki suatu wilayah di Belu.

Setelah penerimaan secara adat oleh panitia, tuan rumah, Pastor Paroki bersama DPP dan para tetua adat, peziarah ini diarak masuk ke dalam Gereja untuk berdoa bersama. Setelah menerima berkat dari Kepala Paroki Halilulik Pastor Roni Fenat Pr, acara dilanjutkan dengan peringatan HUT ke-32 Organisasi Bela Diri Pencak Silat Tunggal Hati Seminari (THS)-Tunggal Hati Maria (THM) Distrik Keuskupan Atambua, Dekanat Belu Utara, di lapangan depan paroki yang diikuti seluruh peziarah dan umat setempat.

Acara yang berlangsung Sabtu dan Minggu, 11-12 November 2017, dengan peserta sekitar 500 orang itu diisi dengan ceramah rohani dan penguatan pengetahuan organisasi yang dibawakan Pastor Roni Fenat, serta meditasi bersama yang dipimpin seorang senior THS Julio Elio dari ranting Haliwen.

Koordinator Belu Utara Elias YT Mali dalam sambutannya mengatakan selain memupuk tali persaudaraan dalam mempertahankan dan menjaga kerukunan NKRI, kegiatan yang merupakan acara tahunan yang diadakan secara bergilir itu bertujuan “untuk menjalin silaturahmi antarsesama anggota THS-THM, serta menjalin kekeluargaan dengan umat Katolik setempat, sehingga iman Katolik dapat tumbuh subur berkat keteladanan dan kerendahan hati dari masing-masing orang.”

Menurut Pastor Fenat yang juga menjadi penasihat THS-THM Ranting Paroki Halilulik, THS-THM masuk ke Keuskupan Atambua melalui banyak tantangan dan pergumulan iman. Uskup Atambua saat itu, Mgr Anton Pain Ratu SVD, yang kini sudah merupakan Uskup Emeritus, meminta agar THS-THM harus mampu menunjukkan jati dirinya sebelum diakui Gereja lokal, Keuskupan Atambua. “Tantangan itu akhirnya membuat THS-THM menjadi besar seperti saat sekarang,” jelas imam itu.

Perjalanan THS-THM adalah perjalanan sangat panjang dan cukup melelahkan, kata Pastor Fenat. “Tapi, dengan keyakinan kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, kita terus maju. Kita sudah matang, dan terus berbenah diri. Satu hal penting, jangan pernah melecehkan organisasi lain, karena kekuatan THS-THM tidak terletak pada fisik, melainkan pada Sabda Allah, pondasi hidup iman kristiani. Kekuatan THS-THM ada pada batin, dan bukan pada kekuatan fisik,” tegas imam itu.

Lince Fahik, seorang panitia dari Sub Ranting Lebur, Halilulik, mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa karena cintanya pada organisasi THS-THM itu, “saya dapat menikmati berbagai berkat dan kemudahan selama menjalani pergumulan hidup. Saya banyak terbantu berkat doa-doa sesama anggota THS-THM. Iman saya semakin bertumbuh subur, dan terlebih lagi saya makin rendah hati, dan aktif di Gereja dan lingkungan lewat berbagai kegiatan.”(Felixianus Ali)

Jumat, 17 November 2017

Jum, 17/11/2017 - 13:04

PEKAN BIASA XXXII (H)

Peringatan Wajib Santa Elizabeth dari Hungaria, Perawan
Santo Dionisius Agung; Santo Gregorius Thaumaturgos; Santo Gregorius dari Tours

Bacaan I: Keb. 13:1-9

Mazmur: 19:2-3.4-5; R:2a

Bacaan Injil: Luk. 17:26-37

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: “Sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Renungan

Paus Fransiskus sering mengingatkan supaya kita tidak terjebak dalam ”kesementaraan”. Pada level pertama, kesementaraan menunjuk pada gaya hidup yang berpusat pada materi dan kesenangan duniawi. Paus mengingatkan kita untuk menghindari materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan keterikatan pada uang. Pada level kedua, kesementaraan juga menunjuk pada keyakinan bahwa semua yang ada di dunia ada dalam kuasa manusia.

Hal ini yang dikritik oleh Kitab Kebijaksanaan, bahwa manusia menganggap diri sebagai allah penguasa jagat raya. Kitab Kebijaksanaan menyampaikan pesan yang sebenarnya sederhana, tetapi dalam: Barang fana hanya ciptaan yang menggambarkan sepotong gambaran kuasa Allah yang maha dahsyat. Tetapi, barang ciptaan itu memang sedemikian menggoda, sehingga tidak sedikit manusia yang berhenti terpaku di hadapan kefanaan sehingga seakan hal material menjadi nyawa mereka. Injil Lukas mengingatkan kita akan kisah istri Lot yang kehilangan nyawa karena ingin mempertahankan ”nyawanya”. Karena terikat pada dunia yang ada di belakangnya, istri Lot mengalami kebinasaan.

Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Di mana nyawa hidup kita letakkan? Kepada siapa hidup kita sandarkan? Pada gambarnya atau pelukisnya?

Allah Bapa pencipta semesta, bantulah aku dengan tuntunan Roh-Mu untuk melepaskan diri dari keterikatan akan segala yang fana dan mengarahkan diri kepada kebahagiaan sejati bersama-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Doa bersama keluarga adalah kekuatan yang perlu ditekankan dalam pembinaan perkawinan

Kam, 16/11/2017 - 21:49

Doa adalah kekuatan dalam keluarga. Itu adalah keyakinan Komisi Keluarga Keuskupan Manado. Maka, di saat doa bersama dalam keluarga-keluarga saat makan, sebelum tidur dan bangun pagi mulai cenderung jarang terjadi, komisi itu membawa tema “Keluarga Bahagia adalah Keluarga yang Berdoa” dalam program pendampingan bagi pimpinan umat dan pembina perkawinan.

Ketika menggelar program pendampingan bagi pimpinan umat dan pembina perkawinan di Paroki Maria Ratu Damai Melongguane dan Paroki Santa Maria Mangaran, Talaud, Komisi Keluarga Keuskupan Manado yang dipimpin ketua komisi, Selvie Rumampuk, juga membawa tema itu.

Sebanyak 48 pimpinan umat yang terdiri dari Pengurus Dewan Pastoral Paroki, Stasi dan Wilayah Rohani serta Pembina Perkawinan “yang merupakan ujung tombak di tengah umat” di dua paroki yang ada di Kabupaten Kepulauan Talaud itu mengikuti kegiatan yang digelar di Paroki Melongguane, 11-12 November 2017.

Doa bersama dalam keluarga pun menjadi salah satu materi, berkaitan dengan cara membangun keluarga bahagia, yang disampaikan oleh Pasutri Johanis Pantouw-Selvie Rumampuk. Materi lain adalah komunikasi yang baik dalam keluarga, keterbukaan, kejujuran, kerelaan memaafkan satu sama lain, dan menjadikan keluarga sebagai Gereja kecil.

Selain mendengarkan paparan materi-materi itu, dalam kegiatan yang dibuka dan ditutup oleh Kepala Paroki Maria Ratu Damai Melongguane Pastor Delis Umbas SJ, peserta juga berdiskusi seputar peran sebagai suami dan sebagai istri.

Selvie Rumampuk mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa kegiatan itu dimaksudkan untuk memberi pembekalan kepada pembina atau pendamping keluarga dan agar mereka dapat memberi persiapan perkawinan kepada calon nikah. “Setelah kegiatan ini diharapkan peserta menerapkan apa yang telah mereka terima baik untuk keluarga maupun kepada umat termasuk kepada calon-calon nikah,” katanya. (A. Ferka)

Tokoh-tokoh agama sepakat pertahankan Pancasila agar negara kokoh dan tidak goyah

Kam, 16/11/2017 - 20:21

Ketika Pancasila sebagai dasar negara kokoh, negara juga kokoh. Ketika Pancasila rapuh atau goyah, maka negara juga akan goyah dan roboh,” kata seorang tokoh Buddha, Suparetno, dalam Srawung Kebangsaan bertema “Nunggal Bangsa, Nunggal Rasa, Pancasila” di Muntilan.

Suparetno berbicara dalam acara yang diselenggarakan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS), Paroki Santo Antonius Muntilan, Museum Misi Muntilan, OMK Santo Antonius Muntilan, serta Banser dan Ansor Muntilan.

Ketua Komisi HAK KAS Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan, Pancasila sudah final, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harga mati. “Sehingga kita bersyukur dengan Pancasila. Kita mempunyai payung nunggal bangsa, nunggal rasa. Itu ada payungnya. Dan payung Pancasila itu tidak akan hancur oleh badai dan petir apapun, karena kekuatan dan kedahsyatannya mampu menaungi dan merangkul semua.

Selanjutnya dalam acara 29 Oktober 2017 itu, tokoh Islam Bambang mengatakan, Pancasila sudah mengakomodir konsep Ketuhanan. Islam mengenal konsep ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga negara), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan antar sesama manusia), jelas Bambang.

Oleh karena itu, lanjutnya, “kebersamaan kita dalam berbangsa dan bernegara atau nunggal bangsa, kemudian ukhuwah basyariah nunggal rasa pada manusia, akan selalu dibawa. Kita perlu memahami, wajiblah kita berhubungan dengan Allah, namun kita memahami juga bahwa di Indonesia ini kita harus mempersiapkan diri, membangun kepercayaan diri dan membangun semangat diri untuk berbangsa dan bermasyarakat.”

Dalam acara yang dimeriahkan oleh seni Gejog Lesung “Laras Ati”, Sholawat Pitutur, tarian Senyum Indonesia dan pencak silat itu, Bambang mengatakan bahwa NU selalu berada di garda depan ketika Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, pluralisme, semangat kebangsaan, dan kebersamaan di Indonesia terusik.

Sedangkan tokoh Kristen, Pendeta Kristi mengapresiasi acara srawung itu. Baginya, acara itu merupakan usaha untuk saling mengenal satu sama lain apapun latar belakang kepercayaannya. “Saya rasa kasih dan cinta itu bahasa yang universal,” katanya.

Menurut Pendeta Kristi, Pancasila adalah harga mati. “Kita sebagai bagian dari Indonesia apapun agamanya rasanya tidak tinggal diam, tidak bisa sibuk dengan diri kita dengan agama kita masing-masing tanpa kita punya sikap yang nyata terkhusus juga kepada negara. Karena kita selain umat beragama, kita ini warga negara,” katanya.

Tokoh agama Konghucu, Tjan Kie, mengatakan bahwa setiap agama pasti menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa dan perikemanusiaan. “Sebagai manusia ya jelas harus menganggap semuanya saudara,” katanya.

Acara Srawung Budaya merupakan salah satu rangkaian Gelar Budaya Muntilan 2017 yang diselenggarakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Selain sarasehan dalam Srawung Budaya, beberapa acara diselenggarakan dalam waktu terpisah seperti seminar Pancasila untuk pelajar, festival film pendek tentang Pancasila, peringatan hari Sumpah Pemuda, pameran pendidikan, gelar budaya pelajar dan kesenian lokal, dan refleksi kebudayaan.

Kepala Paroki Santo Antonius Muntilan Pastor A Kristiono Purwadi SJ mengapresiasi acara itu karena semangat Sumpah Pemuda 1928 perlu terus diserukan dengan lantang. “Rasa-rasanya menjadi semakin relevan bagi  kita terutama Indonesia. Betul bahwa kita berasal dari berbagai macam wilayah. Tetapi toh, kita merasa disatukan. Kita berasal dari atau besar dari berbagai warna kulit,” katanya.(Lukas Awi Tristanto)

 

 

Kamis, 16 November 2017

Kam, 16/11/2017 - 13:04

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santa Margarita dari Skotlandia, Santo Yohanes de Castillo, dan Santo Alphonsus Rodrigues;

Santa Gertrudis dari Hefta

Bacaan I: Keb. 7:22–8:1

Mazmur: 119:89.90.91.130.135.175; R: 89a

Bacaan Injil: Luk. 17:20-25

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.”

Renungan

Dalam sejarah dunia, ada banyak cerita manusia yang dengan berbagai macam cara dan keyakinan berusaha mencari dan menemukan Tuhan. Belum lama ini ada kegaduhan mengenai sebuah kelompok yang oleh sebagian orang disebut ”ajaran sesat”. Mereka dianggap sesat karena tidak sesuai dengan ajaran yang diyakini oleh kelompok mayoritas dan membentuk kelompok eksklusif yang mencurigakan. Gerakan semacam itu bukan yang pertama dan boleh jadi bukan pula yang terakhir dalam masyarakat. Gerakan yang dianggap sesat itu, dan juga berbagai cara manusia untuk mencari Tuhan, menampilkan kegelisahan yang menyelimuti manusia. Sebuah pertanyaan mendasar tentang Tuhan: bagaimana bisa berjumpa dengan Tuhan? Masalahnya, Tuhan tidak bisa diukur dan ditebak.

Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah tidak bisa diperkirakan dengan tanda-tanda lahiriah. Sementara manusia cenderung berpegang pada tanda-tanda yang bisa diterima secara inderawi. Maka, pertanyaannya, Tuhan seperti apa yang dicari manusia? Yang sejati atau yang seturut gambaran manusia?

Untuk sampai kepada Tuhan yang sejati dan untuk mengenal kehadiran-Nya, manusia perlu dituntun oleh kebijaksanaan ilahi sendiri. Maka, dengan indah, Kitab Kebijaksanaan menunjukkan sikap yang perlu dibangun dalam pencarian akan Tuhan. Di akhir bacaan pertama dikatakan, dengan ”Aku jatuh cinta kepada kebijaksanaan dan kucari sejak masa mudaku”. Barang siapa merindukan dan mencari kebijaksanaan, ia akan menemukan Allah.

Ya Allah, penuhilah aku dengan Kebijaksanaan-Mu yang menuntunku pada jalan kebenaran-Mu. Amin. 

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Sekretaris Postulator Umum OP kunjungi pusat Legio Maria dalam upaya penggelaran kudus Frank Duff

Rab, 15/11/2017 - 23:50
Frank Duff, pendiri Legio Maria

Sekretaris Postulator Umum Ordo Pewarta Pastor Llewellyn Muscat OP mengunjungi Kantor Pusat Internasional Legio Maria di Dublin, 3-7 November 2017, guna memberi pengarahan bagi orang-orang yang mengupayakan penggelaran kudus bagi pendiri Legio Maria, Frank Duff (1889-1980), dengan perhatian khusus pada karya Komisi Sejarah guna menyelesaikan pekerjaannya.

Selama di Dublin, Pastor Muscat bertemu berbagai orang yang terlibat dengan berbagai aspek Penggelaran Kudus Frank Duff dan diterima oleh Uskup Agung Dublin Mgr Diarmuid Martin. Imam itu juga mengunjungi rumah tempat Frank Duff menjalani sebagian besar hidupnya dan tempat dia meninggal.

Makam Frank Duff di Pemakaman Glasnevin, Dublin, dan Konferensi (tahunan) Evangelisasi Legio (Peregrinatio Pro Christo) juga dikunjungi. Dalam konferensi itu, imam Dominikan itu mendorong 200 orang yang hadir untuk mempromosikan dan berdoa untuk Penggelaran Kudus Frank Duff.

Legio Maria

Legio Maria didirikan tahun 1921 oleh Frank Duff. Dia adalah anggota Serikat Santo Vincentius (Saint Vincent de Paul Society, SVP) yang saat itu hanya memiliki keanggotaan laki-laki. Setelah mendengar ceramah yang disampaikan Frank Duff tentang Devosi Sejati Santo Louis Marie de Montfort kepada Maria, beberapa wanita yang berpikiran kerasulan bertanya apa yang mungkin mereka lakukan. Dari sinilah, tanggal 7 September 1921 lahir Legio Maria. Ke mana mana saja SVP pergi untuk menangani kebutuhan fisik yang besar saat itu, Legio Maria melengkapi pekerjaannya dengan berkonsentrasi pada kebutuhan spiritual yang jumlahnya banyak.

Doktrin Tubuh Mistik Kristus menjadi bagian dari aksi Legio Maria dan Frank Duff melihat bahwa semua bagian mencapai kepenuhannya dengan melihat dan melayani Kristus dalam setiap orang yang ditemui. Dengan organisasi ini umat Katolik memenuhi kewajiban Pembaptisan. Setelah Kongres Ekaristi 1932 Legio Maria berkembang pesat di seluruh dunia. Berkat dukungan para uskup dan klerus yang memberikan dorongan dan pembinaan spiritual yang sangat mereka dibutuhkan, kini Legio Maria berada di lebih dari 170 negara dan di sebagian besar keuskupan.

Anggota aktif Legio Maria menghadiri pertemuan mingguan yang berlangsung tidak lebih dari 1 jam 30 menit dan ditugaskan untuk melaksanakan (selalu dengan berpasangan) tugas kerasulan minimal dua jam per minggu. Anggota auxilier menemani anggota aktif dengan mengucapkan doa Tessera, Doa Rosario, Catena (Magnificat) dan doa-doa penutup. Doa-doa ini dipersembahkan kepada Bunda Maria untuk digunakan sesuai kehendaknya.

Tugas-tugas Legio Maria tergantung pastor paroki. Legio Maria hanya bisa masuk ke keuskupan dengan izin uskup dan hanya bisa masuk paroki dengan izin dari pastor paroki.

Doa untuk Beatifikasi Hamba Allah Frank Duff:

Allah Bapa, Engkau mengilhami hamba-Mu Frank Duff dengan wawasan mendalam tentang misteri Gereja-Mu, Tubuh Kristus, dan tentang tempat Maria Bunda Yesus dalam misteri ini. Dalam keinginannya yang besar untuk berbagi wawasan ini dengan sesama dan karena bakti sejatinya kepada Maria, dia membentuk Legio Maria menjadi tanda cinta keibuan bagi dunia dan sarana untuk mengikutsertakan semua anaknya dalam karya evangelisasi Gereja.

Kami berterima kasih kepada-Mu Bapa atas rahmat yang diberikan kepadanya dan atas manfaat yang diperoleh Gereja dari imannya yang berani dan bersinar. Dengan keyakinan kami memohon kepada-Mu agar melalui perantaraannya Engkau mengabulkan permohonan yang kami panjatkan ke hadapan-Mu. …………… Kami juga memohon, kalau sesuai kehendak-Mu, agar kekudusan hidupnya bisa diakui oleh Gereja demi kemuliaan Nama-Mu, melalui Kristus Tuhan kami , Amin.

Semua orang yang menerima rahmat dengan perantaraan Hamba Allah itu diajak menghubungi kantor Postulator Umum Ordo Pewarta (postulatio@curia.op.org) atau kantor Legio Maria di Dublin (Kantor Pusat Internasional: Concilium Legionis Mariae, De Montfort House, Morning Star Avenue, Brunswick Street, Dublin 7, Irlandia). (pcp berdasarkan tulisan Sile NiChochlain dalam www.op.org)

Rabu, 15 November 2017

Rab, 15/11/2017 - 13:05

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Albertus Agung

Bacaan I: Keb. 6:1-11

Mazmur: 82:3-4.6-7; R: 8a

Bacaan Injil: Luk. 17:11-19

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: ”Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

Lalu Ia memandang mereka dan berkata: ”Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

Lalu Yesus berkata: ”Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Renungan

Kata orang, manusia itu tempatnya lupa. Kisah sepuluh orang kusta yang disembuhkan kiranya bisa membenarkan ungkapan itu. Ada sepuluh orang yang disembuhkan, tetapi hanya satu yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus.

Tidak mudah rupanya untuk menyadari kebaikan yang didapat dari orang lain. Mungkin lebih tidak mudah lagi menyadari bahwa dalam hidup kita ada begitu banyak kebaikan yang berasal dari Allah. Kitab Kebijaksanaan menampilkan pula orang-orang yang lupa akan Allah karena merasa memiliki kuasa. Para pemimpin yang lupa, yang main kuasa, yang menyalahgunakan kekuasaan, yang merasa di atas segalanya. Para penguasa yang lupa bahwa kekuasaan dan kekuatan yang mereka miliki hanya debu di hadapan Allah.

Tetapi, tidak semua orang terlena dan lupa. Dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan, ada seorang yang kembali kepada Yesus dan berterima kasih atas kesembuhan yang dialami. Kiranya ia adalah potret manusia-manusia yang sadar akan kebaikan Allah. Kepadanya Yesus lalu berkata, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau”. Sepuluh orang disembuhkan, tetapi hanya satu yang mendapat keselamatan. Ia diselamatkan karena iman, karena ia menolak lupa akan kebaikan yang ia terima. Yesus mengajak kita selalu menyadari kasih Allah dan senantiasa ”mencondongkan telinga dan merindukan perkataan Allah”.

Allah yang mahabaik, ingatkanlah aku selalu akan kebaikan-Mu dan penuhilah hatiku dengan syukur akan keindahan hidup yang aku terima dari-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Duta Vatikan Mgr Piero Pioppo tiba di Indonesia disambut semua uskup dari Indonesia

Rab, 15/11/2017 - 01:27
Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo (foto John Laba Wujon)

Duta Vatikan yang baru untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo sudah tiba di Jakarta pada hari Selasa sore, 14 November 2017. Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo, Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Wakil Ketua I KWI Mgr Leo Laba Ladjar OFM, Wakil Ketua II Mgr Yustinus Harjosusanto MSF dan Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Siprianus Hormat menjemput Mgr Piero Pioppo di Bandara Soekarno-Hatta. Uskup Agung Titular Torcello itu diangkat oleh Paus Fransiskus menjadi Nuntius Apostolik atau Duta Vatikan di Indonesia tanggal 8 September 2017, ketika bertugas sebagai Duta Vatikan untuk Kamerun dan Guinea Khatulistiwa. Uskup Agung berusia 56 tahun yang lahir di Savona 29 September 1960 itu menggantikan Mgr Antonio Guido Filipazzi yang sejak 26 April 2017 diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai Duta Vatikan untuk Nigeria. Uskup agung yang mengkhususkan diri pada teologi dogmatis dan memasuki dinas diplomatik Tahta Suci tahun 1993 itu, menurut laporan website Komsos KWI dan Dokpen KWI, disambut oleh para uskup lainnya di Kedutaan Vatikan Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 18, Jakarta. Para uskup se-Indonesia sedang berada di Jakarta dalam rangka Sidang KWI 2017 dari tanggal 6 hingga 16 November 2017. Setelah  diterima dengan pengalungan bunga, Mgr Piero Pioppo yang ditahbiskan imam di Italia 29 Juni 1985 dan ditahbiskan uskup di Basilika Santo Petrus, Vatikan, 18 Maret 2010, itu diajak ke kepela kedutaan untuk berdoa dan memberikan berkat pertama bagi para uskup, kemudian makan malam bersama para uskup se-Indonesia.(pcp)

 

Selasa, 14 November 2017

Sel, 14/11/2017 - 14:16

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Yosef Maria Pignatelli; Santo Duns Scotus; Santo Nikolaus Tavelic

Bacaan I: Keb. 2:23–3:9

Mazmur: 34:2-3.16-17.18-19; R: 2a

Bacaan Injil: Luk. 17:7-10

Yesus bersabda kepada para murid: ”Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Renungan

Bernard Sesboue, seorang teolog Perancis, mengatakan bahwa salah satu ”alergi” bagi orang modern di zaman ini adalah ajaran dan gambaran mengenai Allah sebagai Yang Mahakuasa atas seluruh alam semesta dan harus disembah dengan ketaatan. Mereka tidak sanggup memahami bahwa manusia adalah ”hamba” dari Allah.

Gambaran Allah yang menjadi ”alergi” tersebut terasa sekali dalam sabda Yesus hari ini. Yesus menampilkan gambaran relasi majikan dan hamba, yang seakan membenarkan bahwa Allah adalah majikan dan manusia adalah hamba. Apakah Allah memang sedemikian ”kejam”? Bagaimana dengan belas kasih-Nya? Kiranya Kitab Kebijaksanaan memberi penjelasan yang inspiratif. Penulis Kitab Kebijaksanaan menegaskan bahwa kebahagiaan manusia ada di tangan Allah yang telah menciptakan manusia ”untuk kebakaan dan menjadikannya gambar hakikat-Nya sendiri”. Maka, ketaatan bukan sekadar sebuah sikap tunduk menghamba. Ketaatan kepada Allah adalah pilihan manusia yang didasari oleh iman bahwa kehendak Allah adalah kebahagiaan sejati bagi manusia.

Memberikan dan menyerahkan diri kepada kehendak Allah, sebagaimana digambarkan oleh sikap hamba kepada tuannya, adalah ungkapan ketaatan iman itu. Hanya dalam iman, manusia bisa memahami kebaikan Allah dan mengalami keselamatan.

Bapa yang penuh kasih, berilah aku kerendahan hati dan mampukanlah aku untuk taat kepada-Mu sebagai ungkapan imanku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Cinta tanah air harus dimulai dari anak-anak dengan tiga cara dan pengawaan orangtua

Sen, 13/11/2017 - 23:59
Kapolda Banten Brigjen Polisi L  Sigit Prabowo sedang tanya jawab dengan seorang peserta Kelas VII

Mencintai tanah air  bukan pekerjaan sulit bagi anak-anak. Cukup anak-anak bersikap anti narkoba, menggunakan internet yang sehat dan membangun kerukunan antarteman merupakan bentuk cinta tanah air yang nyata. Namun, ketiga bentuk nyata itu tidak bisa dilepaskan dari peran orangtua dalam wujud pengawasan dan arahan, antara lain mendorong anak-anak untuk bergaul dengan rekan sebaya agar tidak menjadi egois karena internet, dan peka akan perubahan sikap yang terjadi pada anak-anak.

Selain itu, anak-anak harus mendapat keteladanan dan menghargai mereka yang berjasa terutama dengan belajar sejarah. Jika generasi baru tidak pernah mendapat arah untuk belajar sejarah, Indonesia kelak akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak tahu tentang Indonesia, generasi yang tidak tahu akan pahlawannya.

Demikian kesimpulan pertemuan kebangsaan yang diikuti sekitar 150 putra altar puteri sakristi (PAPS) kelas VI-XI di Gereja Katolik Santa Helena Lippi Karawaci, Tangerang, 12 November 2017. Kapolda Banten Brigjen Polisi L Sigit Prabowo, Direktur Bidang Narkoba Polda Banten Kombes Polisi Y Hernowo, Pastor Adi Pramono OSC, dan anggota DPRD Banten Ananta Wahana hadir dalam acara bertajuk “Iman dan Pelayanan di Era Digital” yang dimoderatori oleh AM Putut Prabantoro.

“Anak-anak harus bermain bersama temannya dan bukan dengan gadgetnya. Anak-anak harus mengetahui lingkungannya baik keluarga, rumah dan sekolah. Mereka  harus belajar hidup serta tumbuh bersama dan menjauhi pergaulan yang tidak sehat. Semakin banyak bergaul, anak-anak bisa memilih dan membedakan mana teman yang baik dan mana yang tidak. Kalau hal ini tidak dibiasakan, anak-anak akan berhadapan dengan musuh yang tak nampak,” kata Sugit Prabowo.

Untuk mencegah pengaruh buruk internet, lanjutnya, orangtua harus mendampingi anak-anak sehingga pengaruh buruk dari pergaulan dengan internet bisa dicegah. Orangtua juga bisa melihat beberapa tanda bahwa anaknya sudah kecanduan narkoba, yakni malas sekolah, tidur larut malam, tidak mau belajar, tidak fokus, tidak mau makan, gerak gerik mencurigakan, dan mulai belajar mencuri, jelasnya.

“Disiplin, rajin belajar, bergembira, bermain dalam keceriaan yang perlu kalian alami. Jangan tidak bergaul dengan teman-teman. Kalian juga harus bisa memilih teman yang baik atau yang tidak baik,” minta Sigit Prabowo kepada anak-anak yang hadir.

Untuk membangkitkan cinta tanah air, polisi itu mengadakan berbagai gimik dan tanya jawab tentang Pancasila dan pengetahuan umum tentang Indonesia. Anak-anak pun diajak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.

Ananta Wahana mengatakan dalam dialognya dengan anak-anak bahwa yang paling utama dalam pergaulan sesama teman adalah kerukunan. “Dengan kerukunan, hal-hal positif atau baik akan muncul. Kerukunan adalah kebutuhan semua orang dan itu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang ujungnya adalah prestasi,” jelasnya.

Bahkan dia menegaskan bahwa anak-anak tidak mengharapkan adanya prestasi kalau tidak rukun. “Kalau rukun apa saja bisa dilakukan, dicapai dan diraih. Tetapi kerukunan tidak mungkin terwujud kalau saling membedakan warna kulit, suku, ras dan agama. Semua sama tidak ada bedanya. Lalu kerukunan juga akan memunculkan sikap positif, saling tolong menolong, saling menghormati, saling mengasihi dan bukan membenci. Hidup kita menjadi berarti kalau diri kita berguna bagi orang lain dan bukan hanya untuk diri kita,” tegas Ananta Wahana.

Menurut Pastor Adi Pramono OSC, adalah kewajiban pemuka agama untuk membangun dan membentuk generasi baru Indonesia yang mencintai tanah airnya, mencintai Pancasila dan kebhinnekaannya. “Wujud nyata dari itu semua adalah kerukunan, perdamaian, tolong menolong, solidaritas tanpa sekat-sekat. Dengan demikian Indonesia seperti apa yang diinginkan oleh orangtua harus terwujud dalam dunia anak-anak,” kata imam itu.

Bahkan ditegaskan bahwa tidak mungkin membangun Indonesia yang rukun dan damai kalau orangtua atau pemimpinnya tidak rukun, “atau kalau orangtua mengajari atau memberi contoh kepada anak-anak sikap yang bertolak belakang dari sikap yang ditanamkan kepada mereka,” kata Pastor Pramono OSC.(***)

Kapolda Banten Brigjen Pol L Sigit Prabowo berfoto bersama seluruh peserta

 

 

 

Senin, 13 November 2017

Sen, 13/11/2017 - 13:46

PEKAN BIASA XXXII (H)

Santo Stanislaus Kostka; Santo Didakus; Santa Fransiska Xaveria Cabrini; Santo Aloisius Versiglia dan Santo Callistus Caravario; Beato Engenius Bossilkov

Bacaan I: Keb. 1:1-7

Mazmur: 139:1-10; R: 24b

Bacaan Injil: Luk. 17:1-6

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: ”Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: ”Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

Renungan

Pepatah Inggris mengatakan, ”To err is human”—Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kita bersikap bila terjadi kesalahan? Atau, lebih tepatnya, bagaimana bila orang lain melakukan kesalahan kepada kita? Kurang lebih pertanyaan itu yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Kenyataan bahwa manusia itu dekat dengan kesalahan tidak secara otomatis membuat pengampunan juga menjadi hal yang dekat dengan hidup manusia. Yesus mengingatkan para murid-Nya akan nilai penting pengampunan. Berusaha untuk menghindari dosa itu penting, tetapi mengampuni yang bersalah mengantar manusia pada kemanusiaan sejati.

Salah satu aspek penting dari pengampunan yang disampaikan Yesus adalah memberi kesempatan. Pengampunan bukan hanya memberikan maaf, tetapi juga kesediaan menerima kembali dan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tentu saja ini adalah hal yang sulit. Bukan hanya untuk kita, karena bagi para murid Yesus pun demikian. Permintaan mereka sangat tepat, ”tambahkan iman kami!”. Pengampunan hanya bisa diberikan bila manusia membuka diri untuk dipenuhi oleh kebijaksanaan Allah. Keterbukaan itulah yang kita sebut iman.

Ya Allah, tambahkanlah imanku supaya hatiku senantiasa terbuka untuk mengampuni sesamaku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Di “Tahun Persatuan” 2018, KAJ ingin wujudkan Kerajaan Allah dengan mengamalkan Pancasila

Min, 12/11/2017 - 20:25

Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 2016-2020 menulis bahwa Gereja KAJ sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan.

Atas dorongan Roh Kudus berlandaskan spiritualitas inkarnasi Yesus Kristus, serta semangat Gembala Baik dan Murah Hati, demikian yang PEN@ Katolik baca dalam website KAJ, umat KAJ berupaya menyelenggarakan tata-pelayanan pastoral-evangelisasi agar semakin tangguh dalam iman, terlibat dalam persaudaraan inklusif, dan berbelarasa terhadap sesama dan lingkungan hidup.

Melalui tata-pelayanan pastoral-evangelisasi yang sinergis, dialogis, partisipatif dan transformatif, seluruh umat KAJ berkomitmen mengembangkan pastoral keluarga yang utuh dan terpadu, meningkatkan kualitas pelayan pastoral dan kader awam, meningkatkan katekese dan liturgi yang hidup dan memerdekakan, meningkatkan belarasa melalui dialog dan kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat yang adil, toleran dan manusiawi khususnya untuk mereka yang miskin, menderita dan tersisih, dan meningkatkan keterlibatan umat dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.

Terkait Arah Dasar itu, baru-baru ini diedarkan Filosofi Logo Tema 2018 yang dijadikan sebagai “Tahun Persatuan” dalam keuskupan agung itu dengan tema “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia.”

Bentuk oval dari logo itu merupakan simbol dari ikatan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang kokoh-kuat. Dalam konfigurasi oval itu terdapat dua bentuk yakni telur yang telah pecah dan Bunda Maria yang mendekap burung Garuda.

Dijelaskan, telur yang telah pecah menetas menandai “kebangkitan bangsa Indonesia yang bersatu dan siap mengalahkan pelbagai kepentingan yang hendak memecah-belah” dan siluet Bunda Maria yang mendekap burung Garuda menjadi simbol “penyertaan dan doa-restu Santa Maria, Bunda Segala Suku bagi NKRI yang berlandaskan Pancasila.”

Garis silang warna kuning emas yang melintas di bagian atas, selain menjadi simbol garis khatulistiwa, juga “menjadi tanda Salib sebagai bentuk kehadiran Tuhan yang telah memberikan pelbagai anugerah, memberkati, membimbing, dan menuntun perjalanan NKRI,” jelasnya.

Konfigurasi oval berwarna hijau di bagian paling atas setengah lingkaran merupakan representasi dari pohon beringin, “lambang sila ketiga Pancasila yang menjadi fokus pastoral evangelisasi 2018, yaitu menghayati dan semakin mewujudkan serta menguatkan nilai-nilai Persatuan Indonesia di tengah masyarakat.”

Sedangkan bagian berwarna merah dan putih di bawah setengah lingkaran hijau itu menandakan warna bendera Indonesia dengan pulau-pulau berwarna warni untuk “mengingatkan kita betapa luasnya tanah air Indonesia dengan 17.508 pulau dan dengan beragam kekayaan alam serta budayanya.”

Siluet putih kepala burung Garuda menandai Dasar Negara yang “mengikat pelbagai keragaman Indonesia.”

Dua tangan dengan warna berbeda dan saling menggenggam adalah simbol ”semangat pelbagai komponen bangsa lintas budaya, suku, adat-istiadat, agama, dan golongan untuk bersatu dan bekerja sama membangun negeri ini dengan rasa, cipta, cinta kasih, karsa, dan keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa.”

Sementara itu, di sekeliling konfigurasi oval terdapat tulisan tema Tahun Pastoral Evangelisasi 2018 “AMALKAN PANCASILA: KITA BHINNEKA, KITA INDONESIA” dilengkapi bendera Merah Putih yang berkibar dan Garuda Pancasila.

Warna abu-abu pada tulisan AMALKAN PANCASILA adalah warna permanen “bermakna komitmen dan ketetapan hati.” Tulisan KITA berwarna hijau mengandung “semangat menjaga keutuhan ciptaan.” Tulisan BHINNEKA berwarna-warni sebagai simbol “keberagaman.” Tulisan KITA INDONESIA berwarna merah menandai “semangat keberanian untuk bersatu-padu mempertahankan NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.”(pcp)

Menjadi Bijak dalam Hal Kecil

Min, 12/11/2017 - 01:03

MINGGU BIASA KE-32

12 November 2017

Matius 25: 1-13

“Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak (Mat 25:3).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Pada zaman Yesus, seorang perempuan yang belum menikah harus tinggal dengan ayah dan keluarganya. Hanya saat dia menikah, dia akan pindah ke rumah suaminya. Peralihan dari keluarga asalnya ke keluarga barunya ini dilambangkan oleh perarakan pernikahan yang melibatkan hampir semua orang di desa. Pengantin laki-laki akan menjemput sang istri dari rumah ayahnya, dan bersama-sama mereka diarak kembali ke rumah pengantin laki-laki di mana biasanya perayaan pernikahan diadakan. Untuk alasan praktis, perarakan berlangsung setelah matahari terbenam, dan dengan demikian, pria dan wanita yang terlibat dalam perarakan harus membawa obor atau pelita mereka.

Dalam konteks inilah kehadiran sepuluh gadis harus dipahami. Mereka ditugaskan untuk menyongsong pengantin pria dan wanita, dan bergabung dengan komunitas dalam perarakan cahaya. Karena belum ada sarana komunikasi seperti handphone dengan GPS, mereka tidak dapat melacak lokasi perarakan, tetapi mereka harus siap dengan pelita mereka kapan pun perarakan datang. Ada unsur kejutan dan penantian, dan para gadis ini harus mempersiapkan diri dengan baik.

Yesus membandingkan lima gadis yang bijaksana dan lima gadis bodoh. Kebijaksanaan kelima gadis tersebut terletak pada kemampuan mereka untuk melihat beberapa pertimbangan praktis seperti perkiraan jarak antara rumah mempelai pria dan wanita, kemungkinan keterlambatan, dan perarakan yang berjalan dengan lambat. Dengan demikian, membawa tambahan minyak untuk lampu adalah sesuatu yang masuk akal dan sebenarnya diharuskan. Minyak tambahan mungkin hanya hal yang sederhana dibandingkan dengan keseluruhan perayaan pernikahan, tetapi kegagalan untuk mempersiapkannya terbukti membawa bencana bagi kelima gadis lain. Tentu saja hal yang “bodoh” tidak bisa mengikuti seluruh perayaan hanya karena mereka gagal membawa hal sederhana seperti minyak. Bagi Yesus, hal ini seperti mempersiapkan Kerajaan Surga. Semua dimulai dengan kemampuan kita untuk menentukan dan mempersiapkan hal-hal yang tampaknya sederhana dalam hidup, tetapi terbukti penting bagi kita yang menyambut Yesus dan Kerajaan-Nya.

Orang-orang kudus yang paling besar adalah mereka yang paling rendah hati dan sederhana. Bunda Teresa dari Kalkuta memberikan hidupnya melayani orang-orang miskin di India. Terkadang, dia dan para susternya memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang miskin, tapi sering kali mereka tidak memiliki apa-apa kecuali belas kasih. Namun, bagi mereka yang sakit, miskin dan menjelang ajal mereka, persahabatan dan kasih Bunda Teresa adalah yang paling penting. Bunda Teresa pun mengatakan, “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” Ketika suster Breda Carroll, seorang rahib Dominikan dari Drogheda, Irlandia, ditanya oleh seorang wartawan, “Bukankah kehidupan di dalam pertapaan sama sekali tidak berguna? Dan bagaimana Anda menjadi seorang pewarta jika Anda tidak pernah pergi keluar dan berkarya?” Dia menerangkan, “Pewartaan terbesar adalah untuk membuat orang-orang merasakan dan berpikir tentang Tuhan, dan kehadiran kami sebagai petapa dan doa-doa kami mengundang mereka untuk melihat sesuatu yang lebih dari mereka, untuk memikirkan Tuhan.”

Kita diundang untuk bertindak seperti gadis-gadis bijaksana ini. Kita mempersiapkan diri kita untuk Yesus dengan kesetiaan melakukan hal-hal yang tampak sederhana dan biasa dalam hidup kita. Mempersiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya setiap hari tampaknya tidak istimewa, tapi bagi ibu dengan lima anak, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Bekerja keras dan jujur setiap hari terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi pria miskin dan tua yang perlu menghidupi keluarganya, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Apakah kita lakukan untuk mempersiapkan diri kita untuk menyambut Kerajaan? Apakah kita melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar? Apakah kita siap untuk menyambut Kristus?

 

 

Kaum muda lintas agama Semarang perlu rayakan Sumpah Pemuda, tanda komitmen bersatu

Sab, 11/11/2017 - 15:00

Indonesia tak akan ada tanpa komitmen bersatu melampaui identitas primordial. Sumpah Pemuda yang dideklarasikan 28 Oktober 1928 adalah salah satu tonggak penting komitmen itu. Maka, semangat Sumpah Pemuda perlu dirawat terus di tengah upaya beberapa pihak untuk menyangkal kebhinekaan dan menghancurkan persatuan bangsa.

Dengan keyakinan itu, “generasi muda lintas agama Semarang merasa perlu mengenang, meneguhkan, dan merayakan momentum Sumpah Pemuda sekaligus pesan persatuan yang melampaui kebhinnekaan,” kata Sabiq Ahmad, ketua panitia peringatan Sumpah Pemuda Lintas Agama di Semarang yang dilaksanakan di Gereja JKI Golden Gate Community Church (G2CC) Semarang.

Sebanyak 250 orang muda hadir dalam acara yang diakhiri dengan pembacaan Sumpah Pemuda itu. Sebelumnya, OMK Gereja Santa Theresia Bongsari bermain teater dan musik akustik, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Al Ghozali dan Gus Dur menampilkan seni rebana, Kaum Muda JKI G2CC membawakan beberapa lagu, Kaum Muda Klenteng Tay Kak Sie menampilkan Chinese Music, Anak-anak muda Jemaat Allah Global Indonesia menari Gambang Semarang dan Tarian Maumere, dan Mahasiswa STT Abdiel bermain keroncong.

Gus Ubadillah Achmad juga tampil membaca puisi yang diiringi tiupan saksofon oleh Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, kemudian Bengkel Sastra Taman Maluku mengadakan penampilan sastra dan musikalisasi puisi.

Pendeta Gereja JKI G2CC Sonny mengatakan, cara berteologi seseorang akan mewarnai Indonesia. “Saya setuju dengan konsep kerukunan umat beragama, teologi kerukunan umat beragama. Dengan teologi itu kita tidak menjadi eksklusif, Gereja tidak eksklusif, masjid tidak eksklusif, semua tempat-tempat ibadah tidak eksklusif. Kita berbaur menjadi satu menunjukkan keindonesiaan kita,” katanya.

Berbaur, menurutnya, akan membuat Indonesia makin kaya akan keragaman. “Di dalam keragaman, kita justru memperlihatkan kesatuan kita, kita bisa merasakan semangat persatuan dan kesatuan terutama yang diwariskan oleh founding fathers bangsa ini, dan kita adalah penerusnya,”  lanjutnya.

Menyambut baik acara 26 Oktober 2017 itu, Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan, “Kita harus bersatu dalam kerukunan. Isu-isu yang memecah belah hanya bisa dilawan bukan dengan kekerasan melainkan dengan merajut kerukunan yang semakin kuat.” (Lukas Awi Tristanto)

Sabtu, 11 November 2017

Sab, 11/11/2017 - 13:50

PEKAN BIASA XXXI

Peringatan Wajib Santo Martinus dari Tours, Uskup (P)
Santo Theodorus Konstantinopel

Bacaan I: Rm. 16:3-9.16.22-27

Mazmur: 145:2-3.4-5.10-11; R: 1b

Bacaan Injil: Luk. 16:9-15

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”

Renungan

Paus Fransiskus mengatakan, ”Kebahagiaan tidak dapat diunduh dari internet”. Ungkapan ini senada dengan kebijaksanaan tua yang berkata, ”uang tidak dapat membeli kebahagiaan”. Tuhan Yesus mengajak kita beranjak dari ilusi kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia materi. Istilah ”mammon” kiranya bukan hanya menunjuk pada perkara uang, melainkan juga semua berhala dunia materi yang mengikat manusia untuk merasa cukup dengan kesementaraan. Tuhan Yesus secara jelas menyodorkan dua hal untuk dipilih: Allah atau mammon?

Kekuatan uang dan materi memang sangat menarik dan mampu meyakinkan kita bahwa tanpa materi kita tidak bisa bahagia, bahkan tidak bisa hidup. Tuhan Yesus kiranya juga tidak meminta kita meninggalkan uang dan materi begitu saja. Ia mengarahkan kita untuk waspada terhadap keterikatan. Ketika kita sulit tersenyum ketika tidak punya uang, atau ketika hidup kita disibukkan oleh belanja dan belanja tanpa kendali, mungkin kita mulai terikat oleh mammon.

Allah mengundang kita untuk memilih keabadian dan beranjak mengikuti kehendak-Nya. Hanya persahabatan dengan-Nya yang menuntun kita pada kebahagiaan sejati. Dalam dunia materialistis dan konsumeris ini, mari kita tiada henti mohon kekuatan Roh Allah untuk memampukan kita memilih Allah, dan bukan mammon.

Tuhan Yesus, bantulah aku melepaskan diri dari ikatan berhala-berhala duniawi dan mampukanlah aku setia kepada-Mu dalam penziarahan hidup ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Gereja harus berjuang wujudkan nilai nilai Pancasila agar tetap relevan dan signifikan bagi bangsa

Jum, 10/11/2017 - 23:00
Pastor Doktor Peter C Aman OFM/Dokpen KWI

Gereja, yang dalam sejarahnya dikenal karena memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial-karitatif, “perlu berjerih payah dan bekerja keras dengan semua yang berkehendak baik, dan mengoptimalkan potensinya sendiri untuk berkiprah dan terlibat di banyak bidang dan lembaga publik.”

Pernyataan itu adalah bagian hasil pengamatan Pastor Doktor Peter C Aman OFM dalam Sidang Tahunan 2017 Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang dimulai dengan hari studi tiga hari dengan mendengar sharing dari Pastor Feliks Supranto SSCC, Jeirry Sumampaw dari PGI, dan Alisa Q Munawaroh Rahman dari Jaringan Gus Durian, serta diskusi di antara para uskup.

Sidang bertema “Menjadi Gereja Yang Relevan Dan Signigfikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia” dan berlangsung 6-16 November 2017 di Jakarta itu dihadiri 35 uskup serta beberapa uskup emeritus.

Kondisi yang digambarkan para narasumber, tulis dosen Moral Kristiani di STF Driyarkara dalam laporan yang disebarkan oleh Dokpen KWI itu, “berpotensi menghancurkan bangunan kebangsaan” maka lewat diskusi para uskup merasa “Gereja ditantang untuk menjadi kekuatan masyarakat warga dalam memperjuangkan kebersamaan dan merawat Pancasila, demi mewujudkan keluarga bangsa Indonesia atas dasar Pancasila.”

Menurut pengamatan Direktur Komisi JPIC-OFM Indonesia itu, Gereja perlu mengupayakan pemurnian dan optimalisasi tugas Gereja dalam menyucikan dunia melalui perjuangan perwujudan nilai-nilai Pancasila sehingga “akan tetap relevan dan signifikan bagi dunia, khususnya Indonesia.”

Para gembala juga perlu semakin menyadari bahwa “padang rumput Indonesia semakin gersang.” Maka, mereka ditantang untuk tetap setia, menyerupai Sang Gembala Agung. “Para gembala berbau domba adalah tuntutan nyata, merajut kesatuan dan hadir dalam kehidupan umat; bahkan memberi terang pengarah atau menjadi suara hati dunia, seperti kata Paus Paulus VI,” tegas imam itu.

Ditambahkan, “Gereja diminta bersuara untuk keadilan dan perampasan hak-hak masyarakat, merevitalisasi organisasi-organisasi Katolik agar lebih terlibat dalam persoalan bangsa, serta meretas jalan bagi evangelisasi yang memperhitungkan soal-soal sosial, budaya serta keadilan sosial-ekologis.”

Pastor Aman mengamati, Gereja ditantang untuk keluar menebarkan kasih sayang tulus bagi masyarakat Indonesia, yang semakin eksklusif berdasar agama atau kepercayaan. “Berdialog dengan tulus, berbagi kebaikan tanpa ingin menguasai adalah pintu lebar bagi dialog iman dan perwujudan kebersamaan persaudaraan.”

Maka, tegasnya, Gereja Katolik ditantang untuk mengintegrasikan spirit dialog dalam kebijakan pastoral dan formasi tenaga pastoral ke depan. “Nilai-nilai Pancasila, yang memang sejalan dengan nilai-nilai Kristiani, dapat diangkat dalam pastoral dan refleksi teologis Gereja (teologi Pancasila).”

Yang juga diperlukan adalah memajukan kerja sama awam-hierarki dalam pendidikan nilai-nilai Pancasila serta mendorong awam untuk terjun ke bidang politik, ekonomi dan pemerintahan, mengasah kepekaan dan mendorong aksi: mewujudkan tugas dan tanggung jawab sosial awam Katolik agar menjadi pelaku keadilan dan pemulih keutuhan ciptaan, dan menggalakkan usaha pembangunan ekonomi dengan memperhatikan hak-hak masyarakat (adat), keadilan dan perlindungan lingkungan hidup.

“Mesti menjadi komitmen awam Katolik untuk mencegah semakin lebarnya kesenjangan antara yang kaya dan miskin, dan pencabutan hak-hak masyarakat serta kecemburuan sosial. Kerasulan kepada awam kaya perlu dilakukan. Kedamaian hanya dapat terwujud jika ada keadilan. Mewujudkan keadilan adalah saripati dari tugas mewartakan Injil. Pendampingan dan panduan pemimpin Gereja untuk awam agar berani terlibat di pelbagai lini kehidupan terasa makin perlu,” tegas Pastor Aman.

Bagian akhir pernyataan itu mengharapkan gembala Gereja menjadi promotor utama untuk mendekatkan Gereja dengan masyarakat, “agar Gereja tidak terkesan eksklusif, tetapi hadir dalam gerakan afirmatif melalui aksi sosial, pemberdayaan masyarakat serta membangun kebersamaan hidup demi mengikis kecemburuan, antipati dan penolakan.”

Kerja sama dengan pemerintah, pemimpin masyarakat atau adat dan agama menjadi pilihan penting untuk pemimpin Gereja. “Memajukan peran masyarakat awam, terutama tokoh-tokoh adat, yang sebenarnya masih signifikan, kendati sering diperalat korporasi,” tegasnya.

Selain itu, Komsos KWI melaporkan, Pastor Feliks Supranto SSCC, imam yang berkarya di pinggiran Tangerang, Banten, yang sehari-hari bergelut dengan persoalan dialog lintas agama, mengatakan, umat Katolik itu minoritas, “tapi kita harus menjadi minoritas kreatif yang mampu merawat Pancasila, sekaligus mampu memperkenalkan identitas Katolik secara benar bahwa kita juga warga negara yang baik.”

Dalam membangun relasi keagamaan, lanjut imam itu, orang perlu menghilangkan apriori dalam dirinya seraya berusaha menjadi ragi bagi yang lain.“Kita ini kadang-kadang sudah berpikir yang bukan-bukan. Padahal belum kenal, belum saling sapa,” jelas imam itu seraya meminta peserta sidang agar terlebih dahulu merubah pandangan-pandangan apriori.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas PGI Jeirry Sumampaw menegaskan, negara sedang mengalami semacam degradasi, masyarakat begitu mudah mengeritik pemimpin negara, lemahnya penegakan hukum, situasi sosial ekonomi yang rawan, kemiskinan di mana-mana, fenomena kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin, merajalelanya korupsi, merenggangnya relasi antarpenganut agama secara kualitatif, meningkatnya ujaran kebencian, dan kecenderungan meningkatnya pendidikan sektarian.

Dia mengajak para uskup dan peserta sidang untuk mulai terlibat aktif, terutama dalam penguatan dan pendampingan masyarakat. ““Masyarakat ini harus dijadikan sebagai subjek dan tidak sekedar menjadi penonton terhadap apa yang terjadi di tengah masyarakat saat ini,” tegasnya.

Alisa Rahman juga menegaskan adanya peningkatan insiden kekerasan dan intoleransi dalam 12 tahun terakhir, serta peningkatan jumlah legislasi yang rentan diskriminasi atas dasar prinsip mayoritas-minoritas, menguatnya intoleransi dalam masyarakat umum yang didasarkan pada sikap eksklusivisme dan ekstrimisme dalam beragama, terorisme, intoleransi, dan lemahnya penegakan hukum.

Mencermati dinamika sentimen agama di Indonesia yang terus berkembang, Alisa berharap para uskup dan pemimpin Gereja Katolik di Indonesia terus memperhatikan dinamika sentimen agama dalam politik Indonesia. “Kita membutuhkan peran pemuka agama yang lebih kuat, terutama untuk merespons situasi yang diprediksi tidak setenang seperti yang diharapkan,” kata Alisa.(paul c pati, berdasarkan laporan Dokpen dan Komsos KWI)

Foto-foto berdasarkan Website Dokpen KWI

Pastor Feliks Supranto SSCC/Dokpen KWI Jeirry Sumampaw/Dokpen KWI Alisa Rahman/Dokpen KWI

Jumat, 10 November 2017

Jum, 10/11/2017 - 14:21

PEKAN BIASA XXXI

Peringatan Wajib Santo Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja (P)
Santo Andreas Avelino

Bacaan I: Rm. 15:14-21

Mazmur: 98: 1.2-3ab.3cd-4; R: 2b

Bacaan Injil: Luk. 16:1-8

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”

Renungan

Sering dikatakan bahwa pencuri itu cenderung lebih cerdik dari polisi. Mungkin salah satu alasannya adalah kebutuhan bertahan hidup, dalam hal ini tidak tertangkap, yang memaksa mereka mencari segala macam jalan yang paling aman. Kiranya demikianlah situasi yang digambarkan dalam kisah bendahara yang cerdik. Ia harus bertahan hidup, sehingga muncullah ide cerdiknya.

”Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya” (Luk. 16:8). Yesus mengkonfrontasikan anak-anak dunia dengan anak-anak terang, mengisyaratkan sebuah tantangan bagaimana anak-anak terang dapat membawa terang itu kepada dunia. St. Paulus menegaskan tugas pelayanan kita kepada dunia, yaitu pewartaan injil. Di dunia yang sering dikatakan semakin sekuler dan materialistis, kita bertanya tentang bagaimana menemukan cara-cara kreatif untuk menyampaikan kabar sukacita ke hati manusia. Tetapi, sebelum itu, jauh lebih penting bertanya kepada diri kita, apa yang menggerakkan diri kita untuk melayani dan mewartakan Injil? Apakah pelayanan itu bernilai situasi hidup-mati bagi kita, atau dengan kata lain sesuatu yang maha penting, sebagaimana St. Paulus dan bendahara yang cerdik? Atau karena ingin ikut terlibat saja?

Allah Bapa penuh kasih, penuhilah aku dengan semangat untuk mewartakan Injil sehingga kebaikan-Mu semakin dikenal oleh semua orang. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Paus Fransiskus melarang penjualan rokok di dalam Negara Kota Vatikan

Kam, 09/11/2017 - 22:28

Paus Fransiskus akan menghentikan penjualan rokok dan tembakau di dalam Kota Vatikan. Demikian pernyataan yang dikeluarkan hari Kamis, 9 November 2017, oleh Direktur Kantor Pers Tahta Suci Greg Burke. Dalam pernyataan itu dikatakan bahwa Tahta Suci “tidak dapat bekerja sama dengan praktik yang jelas-jelas merugikan kesehatan orang.” Seraya mengutip statistik Organisasi Kesehatan Dunia bahwa merokok menyebabkan lebih dari tujuh juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, Greg Burke mengatakan mulai awal tahun depan rokok tidak akan lagi dijual di Vatikan. Burke mengakui, penjualan rokok menjadi sumber pendapatan Takhta Suci, namun dia mengatakan “tidak ada keuntungan yang sah jika mengorbankan nyawa manusia,” meskipun rokok yang dijual kepada karyawan dan pensiunan di Vatikan mendapat pemotongan harga. Burke menambahkan, penjualan cerutu besar akan terus berlanjut saat ini karena asapnya tidak dihirup. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Paus mulai rangkaian katekese Ekaristi dan mengatakan “Arahkan hatimu bukan ponselmu”

Kam, 09/11/2017 - 15:04

Paus Fransiskus mengingatkan umat beriman bahwa Ekaristi adalah peristiwa indah di mana Yesus Kristus sendiri hadir. Namun saat Misa, Paus sangat sedih melihat bermunculan banyak ponsel bukan saja milik umat beriman, tapi juga milik banyak imam dan uskup.

Berbicara kepada orang-orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk Audiensi Umum 8 November 2017, Paus Fransiskus memulai serangkaian refleksi baru yang berfokus pada Ekaristi dan menyoroti pentingnya cara menghadiri dan berpartisipasi dalam Misa, agar benar-benar mengalami hubungan kita dengan Tuhan.

Kepada sekitar 13.000 peziarah yang hadir untuk audiensi mingguan itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa selama perayaan Misa “Tuhan hadir bersama kita, namun berkali-kali kita berbicara dengan orang lain dan tidak dekat dengan Dia.”

Paus Fransiskus menjelaskan, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Radio Vatikan bahwa penting bagi orang Kristiani untuk “memahami makna dan nilai Misa Kudus agar dapat sepenuhnya menjalani hubungan kita dengan Tuhan.”

Paus berharap agar kita tidak melupakan begitu banyak orang di seluruh dunia yang selama 200 tahun berjuang sampai mati membela Ekaristi. “Sampai hari ini, ada orang yang mempertaruhkan nyawa untuk mengikuti Misa di hari Minggu,” kata Paus.

Paus mengenang sejarah orang-orang Kristen di Afrika Utara yang ditangkap saat merayakan Misa di tahun 304 dalam penganiayaan oleh Kaisar Diocletian Romawi. “Kalau ditanya mengapa mereka menghadapi bahaya sedemikian, orang-orang Kristiani itu mengatakan bahwa kehidupan Kristiani mereka akan berakhir jika mereka tidak menghadiri Misa.” Orang-orang kristiani itu, kata Paus, dibunuh dan menjadi saksi-saksi Ekaristi, yang mereka pilih di atas kehidupan fana mereka.

Melihat pentingnya kembali ke akar dan menemukan kembali makna sebenarnya dari tindakan yang kita lakukan dalam perayaan Sakramen-Sakramen, Paus mengatakan bahwa Ekaristi mengizinkan kita “mengambil bagian dalam pengorbanan Misa dan mendekati meja Tuhan.”

Juga dijelaskan, kata Ekaristi berarti ucapan syukur, karena kita bersyukur kepada Tuhan yang membolehkan kita menerima-Nya. Paus juga merujuk Konsili Vatikan II yang terus membuat pembaharuan liturgi guna mendorong perjumpaan antara umat beriman dan Kristus.

Bahkan ketika menggambarkan Sakramen Ekaristi sebagai “peristiwa yang menakjubkan di mana Tuhan hadir,” Paus mencatat bahwa terlalu sering umat beriman menggambarkan Misa itu membosankan. “Apakah Tuhan membosankan?,” tanya paus kepada yang hadir. “Tidak, bukan, imamnya. Para imam? Kalau begitu para imam itu harus bertobat!”

Dan, ketika menjelaskan mengapa kita harus melakukan hal-hal tertentu selama Misa, Paus bertanya: “Sudahkah kalian melihat cara anak-anak membuat Tanda Salib?” tanya Paus seraya menambahkan, “Kita harus mengajari mereka cara melakukannya dengan baik, karena begitulah Misa dimulai, begitulah hidup dimulai, begitulah hari dimulai!”

Melanjutkan komentarnya tentang seringnya Misa dijalani dengan cara yang dangkal, Paus Fransiskus mengatakan bahwa sebenarnya yang dikatakan imam saat merayakan Ekaristi adalah “Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan” bukan “Marilah mengarahkan ponsel kalian untuk mengambil foto!”

“Ini jelek,” kata Paus. “Saya sangat sedih saat merayakan Misa di Lapangan atau di Basilika (Santo Petrus) dan saya melihat banyak ponsel bermunculan. Dan bukan hanya milik umat beriman, tapi juga banyak imam dan uskup. Tolong! Misa bukan pertunjukan!”

Sangatlah penting untuk menemukan kembali makna Ekaristi dan Sakramen-Sakramen lain yang merupakan tanda-tanda kasih Allah, cara-cara istimewa untuk bertemu dengan Dia, Paus Fransiskus mengakhiri katekesenya. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Halaman