Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 55 mnt yang lalu

Tahta Uskup Mgr Tri Harsono diberkati: Semoga umat-Mu dipelihara dengan pimpinan kudus

Sen, 15/10/2018 - 23:59
Mgr Tri Harsono mengucapkan janji sambil menyentuh Kitab Suci dihadapan Uskup Agung Piero Pioppo dan Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. PEN@ Katolik/pcp

“Kami mohon dengan rendah hati semoga melalui yang Kaupilih sebagai rekan pengajar kebenaran, Engkau menghidupi umat-Mu dan memelihara mereka dengan pimpinan yang kudus. Semoga baik domba-domba maupun para gembala kelak dengan gembira masuk ke padang rumput surgawi.”

Sesudah berdoa demikian, Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC mengisi pendupaan lalu mendupai tahta uskup Keuskupan Purwokerto yang ditinggalkan Mgr Julianus Sunarka SJ yang pensiun mulai 29 Desember 2016.

Pemberkatan tahta uskup itu berlangsung dalam Ibadat Agung Menjelang Tahbisan Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono di Katedral Kristus Raja Purwokerto, 15 Oktober 2018, yang dipimpin Mgr Subianto.

Sebelum memberkati tahta uskup itu, Mgr Subianto juga memberkati insignia uskup dan tanda-tanda yang akan dikenakan uskup setelah tahbisannya 16 Oktober 2018 di Graha Widyatama Universitas Soedirman, Purwokerto, 16 Oktober 2018. Tanda-tanda itu adalah mitra, cincin, tongkat, dan kalung salib, serta beberapa perlengkapan yang akan digunakan untuk kegiatan liturgis uskup.

“Berkatilah benda-benda ini, perlambang kesucian yang akan dikenakan oleh hamba-Mu, Mgr Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto.  Semoga, sebagai gembala utama yang bersinarkan kesucian dan berhiaskan kemuliaan, dia akan selalu membimbing  dan mencintai Gerejanya, serta mengantar semua orang kepada Allah,” demikian doa yang disampaikan Mgr Subianto.

Dalam Ibadat Agung itu, Mgr Tri Harsono juga mengungkapkan pengakuan iman dan membacakan janji sambil memegang Kitab Suci dihadapan Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo dan Mgr Subianto.

Setelah dibaca, Mgr Tri Harsono menandatangani pengakuan iman dan janji itu yang kemudian ditandatangani juga oleh Mgr Subianto dan Mgr Pioppo, yang lalu menyalami dan memeluk uskup terpilih.

Uskup terpilih itu akan memimpin keuskupan yang meliputi 12 kabupaten di wilayah Jawa Tengah bagian barat (Purworejo, Wonosobo, Batang, Kebumen, Banjarnegara, Pemalang, Pekalongan, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Brebes, Tegal, dan dua kota (Pekalongan dan Tegal).

Jumlah umat Katolik di 12 kabupaten dan 2 kota itu, menurut data statistik 2015 sekitar 61.000 umat di tengah jumlah penduduk sekitar 20 juta jiwa.

Sebanyak 18 uskup termasuk Mgr Piero Pioppo serta Mgr Julianus Sunarka SJ dan Julius Kardinal  Darmaatmadja SJ menghadiri Misa di katedral yang dipenuhi para imam, kaum religius dan umat dan dimeriahkan dengan koor para frater diosesan dan religius.

Mgr Tri Harsono yang dengan rendah hati mengaku tidak punya banyak kelebihan “tetapi karena imannya kepada Allah dan komitmennya pada Gereja, Mgr Tri mau menjadi teladan yang diyakini sebagai kunci tugas penggembalaan di mana pun.”

Yang penting, lanjut Uskup Bandung yang juga Sekretaris Jenderal KWI itu, adalah menjadi teladan iman bagi para imam, bagi para biarawan-biarawati dan umat dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. “Dengan penuh iman Mgr Tri akan menggembalakan umat dan imamnya terutama bukan dengan kata-kata dan ajaran tetapi dengan perbuatan dan teladan sebagaimana yang dia lihat dalam diri Maria yang nekad menerima panggilan Tuhan yang berat ‘Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum’ (Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu).”

Melalui peristiwa ini, kata Mgr Subianto dalam homilinya, Mgr Tri Harsono mengajak kita untuk saling menjadi teladan dan saling menggembalakan.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Mgr Christophorus Tri Harsono akan ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto 16 Oktober

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Tahta Uskup Mgr Tri Harsono sudah diberkati. PEN@ Katolik/pcp Mgr Subianto memberkati insignia uskup dan tanda-tanda yang akan dikenakan Mgr Tri Harsono setelah tahbisannya sebagai uskup 16 Oktober 2018. PEN@ Katolik/pcp Foto PEN@ Katolik/pcp Foto PEN@ Katolik/pcp

Paus Fransiskus mengkanonisasi tujuh orang kudus baru: tanda dan simbol kesucian

Min, 14/10/2018 - 21:58
Prefek Kongregasi Panggelaran Kudus Kardinal Giovanni Becciu membacakan nama-nama dan biografi singkat orang-orang kudus yang baru di hadapan Paus dan ribuan orang di Lapangan Santo Petrus, Minggu pagi, 14 Oktober 2018. Foto Vatican News

Dalam Misa di Lapangan Santo Petrus, Minggu 14 Oktober 2014, Paus Fransiskus mengkanonisasi tujuh orang kudus baru. Ketujuh orang itu, adalah seorang paus yang memperjuangkan dialog dan misi, seorang uskup agung yang dibunuh karena membela yang tak berdaya, dua imam dan dua suster, yang mendedikasikan hidup mereka untuk melayani orang yang paling miskin dan paling membutuhkan, dan seorang awam yang meninggal karena tuberkulosis tulang ketika baru berusia 19 tahun.

Paulus VI, Oscar Romero, Francesco Spinelli, Vincenzo Romano, Kaser Maria Catherine, Nazaria Ignazia dari Santa Teresa dari Yesus, dan Nuncio Sulprizio, semuanya bersaksi tentang iman mereka dengan cara berbeda pada waktu yang berbeda. Mereka semua diakui secara resmi oleh Gereja sebagai orang-orang layak diteladani.

Dengan menyatakan secara resmi kesucian mereka dalam Misa hari Minggu itu, seperti dilaporkan oleh Seàn-Patrick Lovett dari Vatican News, Paus Fransiskus mengakui bahwa nama-nama mereka boleh dimasukkan dalam kanon (kanonisasi) orang-orang kudus, gereja-gereja boleh dibangun untuk menghormati mereka, altar-altar boleh didedikasi untuk mereka, dan doa-doa boleh dipanjatkan kepada mereka sebagai pelindung khusus.

Merenungkan Injil Markus untuk Minggu Biasa ke-28, Paus Fransiskus menekankan perlunya bersikap tanpa kompromi dalam memberikan diri sepenuhnya kepada Allah. “Yesus itu radikal,” kata Paus. “Dia memberikan segalanya dan Dia meminta semua: Dia memberikan cinta yang total dan Dia meminta hati yang tak terbagi.”

Tentang orang-orang kudus yang baru dikanonisasi, Paus Fransiskus mengatakan bahwa mereka semua, “dalam konteks berbeda, memasukkan sabda hari ini ke dalam kehidupan mereka, tanpa suam-suam kuku, tanpa perhitungan, dengan semangat mempertaruhkan segalanya.” Paus lalu berharap, “semoga Tuhan membantu kita meniru teladan mereka.”

Selain gambar-gambar raksasa yang menghiasi bagian depan Basilika Santo Petrus, kehadiran orang-orang kudus yang baru itu tampak jelas dalam tujuh relikui yang berdiri di satu sisi altar sepanjang perayaan. Tetapi Paus Fransiskus secara khusus menunjukkan kedekatannya dengan Paulus VI dan Oscar Romero, khususnya.

Piala yang digunakan Paus Fransiskus dalam Misa Kanonisasi itu adalah piala favorit Paulus VI. Demikian juga Salib Kegembalaan yang menemaninya dalam banyak perjalanan kerasulannya keliling dunia. Dan untuk memperingati Oscar Romero, Paus Fransiskus mengenakan singel atau ikat pinggang bernoda darah milik Uskup Agung yang terbunuh di San Salvador, yang dikenakan ketika dia ditembak saat merayakan Misa di Kapel Rumah Penyelenggaraan Ilahi, tanggal 24 Maret 1980.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Galeri foto Misa Kanonisasi bisa diklik di sini

Foto Vatican Media

Mgr Rolly: Di masa darurat ini saya minta bantuan kemanusiaan dan karya relawan dilanjutkan

Min, 14/10/2018 - 13:31
Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC membagikan bantuan di Gereja Stasi Sidera. Foto: Komsos Keuskupan Manado

“Di masa darurat bencana tahap kedua ini, saya meminta supaya bantuan kemanusiaan dan karya para relawan harus terus dilanjutkan secara intensif, kerja sama dengan banyak pihak harus terus dibangun dan diupayakan demi kepentingan masyarakat terdampak bencana.”

Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC menegaskan hal itu dari Manado, 13 Oktober 2018, setelah kembali dari kunjungan ke Palu, Sulawesi Tengah, yang masuk dalam wilayah Keuskupan Manado, 11 dan 12 Oktober, menyusul gempa bumi, tsunami dan likuifaksi (semburan lumpur) yang terjadi di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala, 28 September.

Keuskupan Manado, kata Mgr Rolly dalam pernyataan tentang “Penanganan Bencana Palu dan Sekitarnya,” seperti dilaporkan oleh Komsos Keuskupan Manado lewat halaman Facebook, memberi perhatian kepada umat dan masyarakat terdampak bencana dengan bekerja sama dengan semua pihak lain yang bersedia membantu.

Dalam Tahap Kedua Tanggap Darurat, tegas uskup, tim relawan akan fokus memberi bantuan berupa makanan dan minuman, family kit atau pakaian serta kebutuhan keluarga, hygiene kit atau sabun dan perlengkapan mandi, serta shelter kit atau tenda.

Sesudah Tahap Tanggap Darurat, lanjut Uskup Manado, “kita akan mempersiapkan tahap rehabilitasi dengan mengupayakan tempat tinggal sementara, mengusahakan tersedianya fasilitas air bersih, memberdayakan umat dan masyarakat di bidang ekonomi, menguatkan kapasitas pelayanan kemanusiaan dan menggelar usaha-usaha trauma healing.”

Mgr Rolly menyatakan duka mendalam atas mereka yang menjadi korban, senasib-sepenanggungan dengan mereka yang terdampak bencana, mendukung usaha-usaha para relawan, berterima kasih kepada mereka yang sudah dan akan terus membantu dan mengajak seluruh umat dan masyarakat untuk mengungkapkan solidaritas kita kepada mereka yang menderita.

Bencana itu, “sungguh membuat ribuan orang meninggal dunia, puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan puluhan ribu rumah dan gedung hancur,” tulis Mgr Rolly yang dalam kunjungan itu melihat kerusakan di mana-mana.

Mgr Rolly pertama-tama berkunjung ke Gereja Katolik Santo Paulus. “Ada dapur umum. Gereja baru yang sedang dalam tahap penyelesaian masih berdiri kokoh walau ada kerusakan kecil. Gereja digunakan sebagai tempat berlindung, tidur, dan berdoa. Pastoran masih bisa dipakai walaupun ada retak di bagian kamar,” tulis uskup.

Di Stasi Sidera dan Jonooge, Kabupaten Sigi, uskup melihat umat terkumpul di halaman rumah ketua stasi. “Gereja Sidera yang sedang dibangun terkena musibah jatuhnya dinding atas bagian depan dan belakang. Kemudian kami membagikan makanan kepada masyarakat Jonooge yang tinggal di tenda-tenda,” kata uskup.

Dalam perjalanan ke Desa Jonooge, uskup melihat tenda-tenda di tanah kosong maupun di halaman gedung atau rumah, serta jalan yang terbelah dan hilang, rumah dan bangunan yang hancur, patah, miring, retak, serta persawahan yang berubah menjadi perkebunan jagung karena pergeseran oleh likuifaksi. Di Petobo, uskup melihat sekitar 700-an rumah tenggelam ditutup oleh lumpur, jalan turun dua meter dan di Pantai Talise, yang terkena dampak tsunami, uskup melihat kehancuran di mana-mana.

Ketika tiba di Kompleks Gereja dan Pastoran Santa Maria Palu, Mgr Rolly melihat banyak pastor, suster, frater, dewan pastoral, relawan dari dalam dan luar negeri, serta menyaksikan aula tempat penampungan dan distribusi bantuan.

“Ada lubang di bagian depan aula akibat dinding atas roboh, demikian juga plafon di atas panggung jatuh. Gereja yang raksasa itu masih berdiri kokoh meski ada kancingan-kancingan kawat di bawah atap terlepas. Salib besar di dinding altar masih tergantung pada tempatnya meski marmer-marmer di sekitarnya banyak yang berjatuhan merusak kursi di panti imam,” cerita uskup dalam pernyataan yang dibagikan oleh Komsos Keuskupan Manado itu.

Mgr Rolly menyaksikan solidaritas dan semangat umat yang membuka dapur umum untuk umat dan masyarakat agama lain, yang berdoa rosario dan yang merayakan Ekaristi. “Pukul 20.30, semua tim berkumpul di bawah koordinasi Ketua PSE Keuskupan Manado Pastor Joy Derry Pr untuk melaporkan dan mengevaluasi layanan hari itu serta mempersiapkan pelayanan untuk hari berikut.

Uskup melaporkan, sejak 28 September , Pastor Joy Derry yang juga penanggung jawab Caritas Keuskupan Manado menjalin komunikasi dengan Karina, Caritas Makassar, dan paroki-paroki di Kevikepan Palu, untuk merespon Bencana Palu, dan keesokan harinya uskup bersama Ketua Komsos dan Ketua PSE menyampaikan bela rasa dan solider kepada para korban, dan mengajak umat Katolik dan masyarakat untuk menyatakan kepedulian melalui rekening keuskupan.

“Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak, umat, masyarakat, keuskupan-keuskupan, tarekat-tarekat dan seluruh komunitas nasional dan internasional yang sudah memberi bantuan konkret. Sampai 11 Oktober 2018, sumbangan yang terkumpul 2.712.023.268 rupiah. Sungguh bentuk dukungan dan solidaritas luar biasa,” tegas Mgr Rolly.

Juga dilaporkan, PSE Keuskupan telah membentuk pos pelayanan di Paroki Santa Maria Palu dan di Sentrum Agraris Lotta, Pineleng, Sulut, dan bekerja sama dengan Karitas Indonesia dan Karitas Makassar. “Posko di Lotta dikoordinir oleh staf Komisi PSE Divisi Kebencanaan dibantu suster-suster DSY, frater-frater diosesan dan Misionaris Hati Kudus Pineleng, Kaum Bapak Katolik Kevikepan Manado dan umat Keuskupan Manado,” jelas uskup.

Bantuan bahan makanan untuk Pos Pelayanan Santa Maria, lanjut uskup, didukung penuh oleh pastores dan umat paroki-paroki sekitar Palu. “Paroki Kota Raya, Beteleme, Tentena, dan Tolai menjadi pemasok logistik baik yang dikumpulkan umat maupun yang dibiayai oleh dana bantuan bencana Keuskupan Manado,” kaya uskup seraya menambahkan bahwa para pastor paroki di Kevikepan Palu membantu mengumpulkan relawan, bahkan terjun langsung menjadi relawan.

Pelayanan kemanusiaan dari Posko Santa Maria Palu, sesuai catatan Mgr Rolly, melibatkan pastor dan umat paroki di Kevikepan Palu, Karina, keuskupan-keuskupan lain (yang membantu tenaga, dana dan logistic), JPIC OFM, Camilian International, Catholic Relief Service, Caritas Jerman Indonesia, dan ERCB.

Tim kesehatan, lanjut uskup, datang dari Suster Puteri Kasih, ALMA puteri, RGS, Vincentians, Suster JMJ dari RS Gunung Maria, RS Budi Mulia, dan RS Budi Setia, dokter dan perawat dari Palu, Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) dan Perdhaki.

Posko Santa Maria mencatat sudah melayani lebih dari 2000 kepala keluarga Katolik dan non-Katolik, serta 668 pasien. “Pelayanan ini masih berlangsung dan sekarang sedang menjangkau daerah yang sama sekali belum mendapat bantuan, seperti wilayah Kulawi,” jelas uskup.

Menyadari banyak umat dari Palu mengungsi ke rumah-rumah keluarga di Manado dan sekitarnya, Mgr Rolly menegaskan, “Saya mohon supaya paroki-paroki di mana ada keluarga-keluarga ini untuk memberi perhatian dan solidaritas. Seandainya paroki membutuhkan dukungan bantuan dana dan logistik dari posko keuskupan, silahkan mengirimkan permintaan ke Komisi PSE Divisi Kebencanaan dan keuskupan akan menyalurkannya lewat paroki.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Komsos Keuskupan Manado)

Foto Komsos Keuskupan Manadi di Stasi Jannoge. Gereja Katolik Janooge. Foto Komsos Keuskupan Manado Posko Santa Maria, Palu. Foto Komsos Keuskupan Manado Mgr Rolly Untu MSC menyalami para korban dan memberi bantuan. Foto Komsos Keuskupan Manado

Paus Fransiskus membuat dua uskup Chili kehilangan status klerikal

Min, 14/10/2018 - 01:46
Paus Fransiskus. Foto Vatican Media

Kantor Pers Takhta merilis pernyataan yang berisi keputusan Paus Fransiskus untuk laisasi atau membuat dua orang Uskup Chili kehilangan status klerikal yang mereka sandang.

Teks Pernyataan Kantor Pers Takhta Suci tentang laisisasi dua uskup Chili adalah sebagai berikut:

Bapa Suci telah menghapus status klerikal dari Francisco José Cox Huneeus, uskup agung emeritus La Serena, Cile, anggota Institute Para Imam Schoenstatt, dan Marco Antonio Fernrdenes Fernández, uskup emeritus Iquique, Chili.

Dalam kedua kasus tersebut diterapkan pasal 21 § 2, 2 ° dari motu proprioSacramentorum Sanctitatis Tutela,” sebagai konsekuensi dari pelecehan yang telah terbukti terhadap anak di bawah umur.

Keputusan, yang diambil oleh Paus pada hari Kamis, 11 Oktober 2018, itu tidak dapat diajukan banding.(PEN@ Katolik berdasarkan Vatican News)

Kasih yang Tangguh

Sab, 13/10/2018 - 16:20

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-28 pada Masa Biasa, 14 Oktober 2018: Markus 10: 17-30)

“Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya…” (Markus 10:21)

Kita menemukan setidaknya tiga episode dalam Alkitab di mana Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa Dia mengasihi seseorang. Yang pertama adalah Yesus yang mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus (Yohanes 11: 5). Yang kedua adalah kasih Yesus bagi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34). Yang ketiga dan menjadi fokus kita hari ini adalah Yesus yang mengasihi orang muda kaya yang mencari kehidupan kekal (Mrk 10:21).

Dalam ketiga kisah ini, kasih Yesus bukan sekadar kasih sayang yang emosional. Bukan cinta yang menyebabkan meningkatnya kadar adrenalin dan jantung yang berdebar-debar. Bukan cinta yang yang datang di pagi hari tetapi lenyap di sore hari. Kasih Yesus adalah kasih yang berakar dalam kehendak bebas dan keputusan yang tegas. Kata Yunani yang digunakan untuk menggambarkan kasih ini adalah “agape.” Bukan “eros”, cinta emosional dan seksual, atau pun “philia,” kasih sayang di antara sahabat. Santo Thomas Aquinas secara ringkas dan tepat menjelaskan “kasih” sebagai menghendaki yang baik bagi sesama. Ketika Yesus mengasihi mereka, Yesus dengan bebas memilih bahwa hal-hal yang baik dapat terjadi dalam kehidupan mereka meskipun ini berarti Yesus harus melupakan diri-Nya sendiri. Ini adalah cinta kasih yang kuat yang memerlukan pengorbanan diri, komitmen dan bahkan rasa sakit. Ini adalah kasih yang tumbuh subur bahkan ketika hidup semakin hambar dan pahit.

Kembali lagi ke kisah pemuda kaya yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana cara mewarisi kehidupan kekal, pada dasarnya dia adalah pria yang baik. Dia telah melakukan banyak perbuatan baik dan setia kepada Tuhan dan Hukum Musa. Yesus sendiri memberinya nilai sembilan. Hanya satu hal yang masih kurang. Ketika Yesus mengajak pemuda itu untuk menjual apa yang dia miliki, memberikannya kepada orang miskin, dan mengikuti Yesus, sang pemuda pun meninggalkan Yesus dengan sedih. Mengapa? Penginjil memberi kita jawaban: ia memiliki banyak “ktemata,” atau properti. Pemuda ini tidak hanya kaya, tapi super kaya. Mungkin, sang pemuda itu berpikir bahwa kehidupan kekal adalah sesuatu yang dapat ditambahkan ke dalam barang-barang koleksinya, sesuatu yang bisa diperoleh dengan melakukan hal-hal baik dan menghindari kejahatan, atau sesuatu yang dapat membuatnya semakin kaya. Namun, ini bukanlah hidup yang kekal, tetapi hanya shopping di mal.

Kehidupan kekal adalah karunia dari Tuhan yang diberikan kepada mereka yang Dia kasihi. Sang pemuda ini sejatinya sungguh diberkati karena Yesus mengasihi dia. Hidup yang kekal sudah ada dalam jangkauannya. Namun, meskipun karunia itu cuma-cuma, itu tidak berarti murahan. Yesus ingin agar pemuda itu mengikuti Dia karena Dia ingin mengajarkan pria muda itu bagaimana mengasihi. Yesus ingin dia melakukan kebaikan bagi orang lain, dan ini dimulai dengan menjual properti berharganya dan membantu orang miskin. Di sinilah terletak paradoks kasih: kecuali kita memberikan diri kita untuk sesama, kita tidak pernah akan mendapatkan diri kita yang sepenuhnya. Dalam kata-kata Santo Fransiskus dari Asisi, “Karena dalam memberi yang kita menerima, dalam mengampuni, kita diampuni, dan  dalam kematian, kita dilahirkan kembali dalam hidup yang kekal.”

Saya telah menjalani di formasi selama lebih dari 16 tahun, lebih dari separuh hidup saya! Saya sempat frustrasi karena saya telah memenuhi berbagai persyaratan dengan baik, namun tahbisan tidak kunjung datang. Namun, saya menyadari bahwa saya sebenarnya berpikir seperti orang muda yang kaya. Saya lupa bahwa panggilan, serta tahbisan, adalah karunia, bukan hak atau upah. Perspektif ini membebaskan saya dari keangkuhan dan membuat saya rendah hati dan selalu bersyukur. Yesus mengasihi saya, dan Dia mengasihi saya dengan tegar.

Yesus mengasihi kita namun, ini bukan kasih yang mudah dan memanjakan. Ini kasih yang tangguh dan tegar. Ini adalah kasih yang menantang kita untuk tumbuh; itu adalah kasih yang menantang kita untuk tetap hidup dalam kebenaran, itu adalah kasih yang mendorong kita untuk mengasihi seperti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Kapel Tuan Meninu, bagian dari perayaan Semana Santa di Larantuka, sudah dibangun baru

Sab, 13/10/2018 - 14:08
Seorang imam Dominikan berdoa di depan patung-patung Tuan Meninu di Keuskupan Larantuka. PEN@ Katolik/pcp

Jumat Agung 2019 nanti, Tuan Meninu (patung kanak-kanak Yesus) akan dibawa keluar dari Kapela Tuan Meninu yang baru di Kota Rowido Kelurahan Sarotari Tengah, untuk merayakan Puncak Semana Santa (Pekan Suci) yang sudah dilakukan lebih dari lima abad.

Dalam perayaan agama sekaligus perayaan adat itu, Tuan Meninu, yang dimasukkan dalam peti hitam dibawa oleh seorang pimpinan adat di atas kepalanya melewati pintu masuk Taman Doa Tuan Meninu kemudian diletakkan pada perahu yang membawanya dalam prosesi laut, diikuti ribuan umat yang menaiki puluhan kapal laut dan perahu kecil atau berjalan sepanjang jalan di tepi pantai menuju Kota Reinha, Larantuka.

Akhir bulan September 2018, PEN@ Katolik mengunjungi Kapela Tuan Meninu bersama seorang imam Dominikan, Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP. Menurut penduduk setempat, kapela itu total baru karena kapel yang lama, di tempat yang sama, telah dibongkar total dan dibangun yang baru. Prasasti yang ditempelkan di dinding depan kapela itu menulis bahwa Kapela Tuan Meninu itu diberkati oleh Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopung Kung tanggal 25 Mei 2018.

Saat kunjungan itu, kapela itu khusus dibuka untuk kita oleh dua orang ibu yang lalu menyalakan lilin dalam kapel itu, sedangkan seorang ibu adat, sebagai petugas, khusus dipanggil untuk membuka tempat khusus di ujung kapela itu. Setelah membuka bagian khusus itu, ibu itu membuka semacam tabernakel di dalamnya yang menyimpan patung kanak-kanak Yesus yang tertutup dengan kain hitam dan bagian-bagian lain dari patung itu yang ditutup dengan kain putih. Kemudian ibu itu menyalahkan kami untuk berdoa di depan ‘tabernakel’ itu.

Menurut cerita, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha atau Kota Maria, karena di tahun 1510, seorang bocah berjumpa sosok perempuan cantik yang wajahnya sendu dan diam sambil menuliskan sesuatu di pasir pantai. Saat ditanya yang ditulis, perempuan itu berubah menjadi patung. Patung itu dibawa pulang dan tulisan itu dipagari agar tidak terhempas ombak. Beberapa tahun  kemudian, ketika si bocah sudah dewasa, dia memperlihatkan patung itu kepada imam Dominikan yang datang menyebarkan agama bersamaan kedatangan Portugis, dan membawa imam Dominikan itu ke pantai tempat tulisan itu. Reinha Rosario Maria, demikian imam Dominikan itu membaca tulisan itu.

Saat Semana Santa, ribuan warga akan mengarak patung Reinha Rosari dari Kapela Tuan Ma (Maria), ornamen-ornamen yang mengingatkan umat tentang wafat dan sengsaranya Yesus dari Kapela Tuan Ana (Tuhan Yesus), dan patung kanak-kanak Yesus dari Kapela Tuan Meninu untuk diarak berkeliling kota hingga berakhir di Katedral Reinha Rosari Larantuka.(PEN@ Katolik/paul c  pati) Foto PEN@ Katolik/pcp

Kapela Tuan Meninu yang baru diambil dari Taman Doa Tuan Meninu. PEN@ Katolik/pcp Bagian dalam Kapela Tuan Meninu. Di balik kain putih itu tersimpan patung kanak-kanak Yesus. PEN@ Katolik/pcp Seorang ibu adat sebagai petugas khusus membuka ‘tabernakel’ berisi patung kanak-kanak Yesus. PEN@ Katolik/pcp Ibu dari pengurus adat yang khusus ditugaskan membuka bagian khusus Kapela Tuan Meninu merapikan isi ‘tabernakel’ dan dua ibu lainnya menyalakan lilin-lilin di depannya. PEN@ Katolik/pcp Taman Doa Tuan Meninu dengan jalan salib di pinggir laut yang menjadi tempat prosesi laut membawa patung Tuan Meninu. PEN@ Katolik/pcp Kapela Tuan Ana. PEN@ Katolik/pcp Kapela Tuan Ma. PEN@ Katolik/pcp Katedral Larantuka. PEN@ Katolik/pcp

Saudara-saudara Dominikan Belanda ziarah sepanjang 130 kilometer ke biara baru di Rotterdam

Jum, 12/10/2018 - 23:33
Para saudara Dominikan berziarah melintasi Belanda. Foto IDI

Enam biarawan Dominikan berjalan melintasi Belanda sepanjang 130 kilometer menuju biara baru mereka di kota Rotterdam. Dengan ditemani dan disambut oleh banyak orang, mereka pergi ‘dengan keyakinan yang kuat,’ seperti moto acara yang menarik banyak perhatian di negara itu.

Pastor Alain Arnould OP, socius untuk Eropa Barat Laut dan Kanada, menyertai saudara-saudara Belanda itu sepanjang minggu. Saudara-saudara itu berjalan sesuai misi baru mereka untuk menghormati para pendahulu mereka.

Ordo Dominikan hadir di Belanda sejak 1252. Saat ini provinsi itu memiliki 53 anggota, 45 di antaranya sudah lanjut usia. Ziarah itu dimulai 13 Agustus 2018 dari Gereja Santo Stephanus yang besar di Nijmegen, yang dikonsekrasi oleh Albert Agung tahun 1273. Relikui orang kudus Dominikan itu disimpan di gereja itu. Sebelum melakukan perjalanan, saudara-saudara itu menyalami relikui itu. Mereka juga berjalan untuk merayakan tradisi mereka ke komunitas baru di Rotterdam.

Setiap hari 10 hingga 20 orang bergabung dengan ziarah itu, sebagian besar saudara dan saudari dari Keluarga Dominikan dan teman-teman Dominikan, baik pribadi maupun Ordo. Makanan dan tempat tinggal disediakan oleh paroki-paroki setempat, beberapa di antaranya dulunya dijalankan oleh Dominikan, dan paroki-paroki sukarelawan.

Menjadi pewarta di abad 21 juga berarti berkomunikasi melalui media massa. Perhatian para wartawan sungguh luar biasa. Menarik membaca kisah pria-pria muda berubah putih berjalan di tanggul sungai positif di musim panas, terutama di masyarakat Belanda yang sangat sekuler.

Namun, permintaan-permintaan wartawan untuk berjalan bersama ditolak, guna menjaga ziarah itu. Namun sebelumnya saudara-saudara itu memberi kesempatan wawancara, dan dua profesional muda membantu mereka membuat blog lewat situs web www.dominicanen.nl dan media sosial.

Setiap hari dimulai dengan meditasi singkat melalui YouTube dan berakhir dengan kesan yang difilmkan. Di awal 2013, saudara-saudara Belanda rata-rata merupakan yang tertua di dunia, dan tidak ada siswa selama 18 tahun. Kemudian mereka memilih saudara terbungsu mereka, René Dinklo (saat itu 47) sebagai superior provinsi mereka. Itu terjadi di hari yang sama saat Paus Fransiskus terpilih, 13 Maret. Sejak itu, delapan pria muda bergabung dengan Ordo.

 

Saudara-saudara baru disambut hangat oleh para biarawan Dominikan Belanda dan Keluarga Dominikan. Namun demikian, dewan provinsi memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada pria yang lebih muda untuk membentuk misi mereka sendiri, daripada menugaskan mereka hidup di biara-biara yang sebagian besar saudaranya sudah lansia.

 

Saudara-saudara yang tinggal di Rotterdam dengan ramah memberi tempat bagi penerus mereka yang lebih muda, yang akan mulai membangun komunitas bersama dua saudara lebih tua. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan International Dominican Information (IDI) Agustus 2018)

Artikel Terkait:

Biarawan, suster dan awam Dominikan lakukan napak tilas Santo Dominikus

OP rayakan yubileum dengan ziarah tiga hari tanpa alas kaki makan roti kering

Dua imam Dominikan jalan kaki sekitar 725 kilometer untuk berjumpa masyarakat

Paus Fransiskus: Yesus mengajarkan kita untuk berdoa tanpa lelah

Kam, 11/10/2018 - 23:58
Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta. Vatican Media

Dalam homilinya di Casa Santa Marta pada hari Kamis 11 Oktober 2018, Paus Fransiskus mengatakan kita harus berani kalau meminta dari Tuhan. Tuhan adalah teman yang dapat memberi kepada kita apa yang kita butuhkan.

Kutipan Injil hari Kamis Luk. 11:5-13.menjadi inti homili Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta. Tema yang dibahas adalah doa, tentang bagaimana kita harus berdoa. Yesus menceritakan kepada murid-murid-Nya tentang seorang pria yang, pada tengah malam, mengetuk rumah seorang teman dan meminta sesuatu untuk dimakan. Dan teman itu menjawab saat itu bukanlah waktu yang tepat, karena dia sudah di tempat tidur, namun dia bangun dan memberikan apa yang diminta.

Paus Fransiskus menekankan tiga unsur: orang yang membutuhkan, seorang teman, sedikit makanan. Kunjungan teman yang membutuhkan itu mengejutkan dan permintaannya mendesak karena dia yakin temannya memiliki apa yang dia butuhkan. Tuhan ingin mengajarkan kepada kita cara berdoa, kata Paus Fransiskus. “Dia ingin kita berdoa dengan ‘kecenderungan mengganggu.’”

Beranilah, karena kalau kita berdoa biasanya ada sesuatu yang diperlukan. Teman itu adalah Tuhan: Dia adalah teman yang kaya, yang memiliki makanan, dia memiliki apa yang kita butuhkan. Seperti Yesus berkata: “Dalam doa mengganggulah. Jangan lelah.” Tapi, jangan lelah apa? Meminta. “Mintalah dan itu akan diberikan kepadamu.”

Namun, lanjut Paus, “doa bukanlah seperti tongkat sihir,” bukan begitu kita minta, kita langsung mendapatnya. Bukan berdoa dua kali “Bapa Kami” dan selesai. Doa, tegas Paus, membutuhkan usaha: doa menuntut kemauan, doa menuntut keteguhan, doa menuntut kita tekun, tanpa malu. Mengapa? Karena saya mengetuk pintu teman saya. Tuhan adalah teman, dan dengan seorang teman saya bisa melakukan ini. Doa konstan dan membosankan. Bayangkan Santa Monika, misalnya, berapa tahun dia berdoa seperti ini, bahkan dengan air mata, untuk pertobatan putranya. Tuhan akhirnya membuka pintu.

Lalu, Paus Fransiskus memberikan contoh lain. Paus sebuah kisah kehidupan nyata yang terjadi di Buenos Aires. Seorang pria, pekerja, memiliki anak perempuan yang sedang sekarat. Para dokter telah putus asa. Dia pun melakukan perjalanan sejauh 70 kilometer ke Tempat Ziarah Bunda Maria dari Lujan. Saat itu sudah malam dan tempat ziarah itu sudah tutup. Tetapi dia berdoa sepanjang malam memohon kepada Bunda Maria: “Aku ingin anakku, aku ingin anakku, engkau bisa memberikannya kepadaku.” Dan, ketika pagi hari dia pulang ke rumah sakit, dia bertemu istrinya yang mengatakan kepadanya: “Kau tahu, para dokter membawanya untuk melakukan tes lain, mereka tidak dapat menjelaskan mengapa dia bangun dan meminta makan, tidak ada yang salah, dia baik-baik saja, dia keluar dari bahaya.” Pria ini, simpul Paus Fransiskus, tahu cara berdoa.

Paus mengajak orang-orang yang menghadiri Misa itu untuk membayangkan anak-anak yang tiba-tiba datang saat mereka inginkan sesuatu. Mereka menangis dan menangis sambil berkata: “Aku mau itu! Aku mau itu!” Dan akhirnya orang tua menyerah. Tetapi ada orang mungkin bertanya: tidakkah Tuhan akan marah kalau saya begitu? Yesus sendirilah, kata Paus, yang, dalam mengantisipasi hal ini, memberi tahu kepada kita: Kalau Anda saja, yang jahat, tahu bagaimana memberi yang bagus untuk anak-anakmu, betapa lebih banyak akan Bapa surgawi berikan. Dia memberi Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya!” Dia seorang teman: dia selalu memberikan yang baik. Dia memberikan lebih banyak: Saya meminta kalian memecahkan persoalan ini dan Dia memecahkannya dan juga memberi Roh Kudus kepada kalian. Lebih banyak. Coba pikir sedikit: bagaimana Anda berdoa? Seperti burung beo? Apakah saya benar-benar berdoa dengan kebutuhan di dalam hati saya? Apakah benar berjuang dengan Tuhan dalam doa agar Dia memberi saya apa yang saya butuhkan? Kami belajar cara berdoa dari kutipan Injil ini. (PEN@ Katolik, paul c pati)

Berkat Tuhan lewat persaudaraan, kini para imam Dominikan miliki Griya Rosa de Lima

Kam, 11/10/2018 - 22:53
Misa pemberkatan Griya Santa Rosa de Lima dipimpin oleh Vicar Provinsial Ordo Pewarta untuk Indonesia Pastor Edmund C Nantes OP.

Mendengar masukan almarhum Pastor Thoby Muda Kraeng SVD, Socius Master Ordo Pewarta untuk Asia-Pasifik waktu itu Pastor Vincent Lu Vien Ha, dan pengalaman pelayanan di Vietnam, agar para imam Dominikan memiliki tempat tinggal entah besar atau kecil di Surabaya untuk memberikan tempat khusus bagi formasi dan komunitas, “membuat saya dengan berkat Tuhan, melalui para sahabat yang terlibat membantu sejak proses awal, berupaya mewujudkan tempat tinggal ini demi pelayanan para imam Dominikan di Surabaya,” kata Pastor Andreas Kurniawan OP.

Pastor Andrei, demikian nama panggilannya, bersyukur bahwa tempat itu bisa dibangun dan diberkati dalam Misa, 17 September 2018, dengan nama Griya Santa Rosa de Lima. Misa itu dipimpin oleh Vicar Provinsial Ordo Pewarta untuk Indonesia Pastor Edmund C Nantes OP dengan enam imam konselebran. Tiga suster Dominikan termasuk Pemimpin Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster M Anna Marie OP, serta sejumlah sahabat, penderma dan para frater Dominikan di Surabaya menghadiri Misa itu.

Menurut Pastor Nantes dalam homilinya, Tuhan menjawab doa yang disampaikan dengan kemurahan. “Tanpa kemurahan hati Anda, rumah ini tidak bisa berdiri,” kata Pastor Nantes seraya menjelaskan kisah hidup Santa Rosa de Lima bersama dua sahabatnya, Santo Yohanes Masias dan Santo Martinus de Porres. “Sungguh menarik karena pemberkatan rumah Santa Rosa de Lima dilaksanakan sehari sebelum pesta Santo Yohanes Masias. Persahabatan ketiga orang kudus itu, jelas imam itu, “memotivasi kita bahwa kekudusan adalah usaha kita bersama, baik imam, biarawan-biarawati, dan awam.”

Griya Santa Rosa de Lima kini dihuni oleh para suster Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia, seta sejumlah penerima beasiswa Dominikan yang belajar di Universitas Katolik Darma Cendika, Surabaya. (PEN@ Katolik/Robertus Silveriano)

Suasana Misa pemberkatan Griya Santa Rosa de Lima Pemberkatan Gedung Para sahabat, penderma, suster dan imam OP yang hadir Paras frater Dominikan di Surabaya

Relikui darah Santo Paus Yohanes Paulus II kini ada di kamar huniannya di Seminari Ritapiret

Kam, 11/10/2018 - 14:42
Kamar dan tempat tidur Santo Paus Yohanes Paulus II saat berkunjung dan menginap Seminari Tinggi Ritapiret Maumere. PEN@ Katolik/pcp

Hari ini dan besok 11-12 Oktober 2018, adalah peringatan ke-29 tahun kunjungan Santo Paus Yohanes Paulus II di Seminari Tinggi Ritapiret Maumere, tempat orang kudus itu menginap semalam. PEN@ Katolik, yang baru-baru ini berkunjung ke seminari interdiosesan itu, mengambil gambar kamar tidur orang kudus itu, yang kini dilengkapi relikui darahnya, yang ditatahkan dalam montrans di dinding tempat tidur yang digunakan orang kudus itu di kamar itu.

Menurut informasi, relikui untuk seminari itu diberikan oleh Uskup Agung Krakow Kardinal Stanislauas Dziwisz tanggal 27 September 2017 atas permintaan tertulis dari Praeses Seminari Ritapiret Pastor Philip Ola Daen Pr. Kardinal Dziwisz juga hadir dalam kunjungan orang kudus itu ke Seminari Ritapiret, 11-12 Oktober 1989.

Saat mengambil gambar ini, ada beberapa umat awam serta biarawan dan biarawati dari berbagai kota di Indonesia yang datang berziarah dan berdoa di “Kamar Paus Yohanes Paulus II” itu. Menurut seorang frater yang menemani PEN@ Katolik dalam kunjungan itu, kamar yang dulu merupakan kamar para frater itu kini semakin banyak dikunjungi peziarah dan menjadi tempat berdoa bagi umat Katolik dan para frater seminari itu. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Kamar Santo Paus Yohanes Paulus II di Maumere hendaknya jadi tempat ziarah

PEN@ Katolik/pcp

Paus Fransiskus: Orang Kristen sejati tidak takut tangan mereka menjadi kotor

Sel, 09/10/2018 - 23:48
Paus dalam Misa 8 Oktober 2018. Vatican News

Dalam Misa pagi di Casa Santa Marta, Paus Fransiskus mendorong umat awam dan para pastor untuk merenungkan apa artinya menjadi orang Kristen, seraya meminta mereka agar “terbuka” terhadap kejutan-kejutan Tuhan, dan semakin dekat dengan mereka yang membutuhkan.

Ajakan untuk menjadi “orang Kristen yang sungguh-sungguh,” orang Kristen yang “tidak takut tangan dan pakaian kotor, kalau mereka mendekat,” orang Kristen yang “terbuka pada kejutan-kejutan” dan yang, seperti Yesus, “menderita untuk orang lain.” Itulah kata-kata Paus Fransiskus dalam homilinya dalam Misa pagi di Casa Santa Marta.

Dengan inspirasi Injil Lukas tanggal 8 Oktober 2018, Lukas 10:25-37. Paus merenungkan “enam tokoh” dari perumpamaan yang diceritakan Yesus kepada para ahli Taurat yang, untuk mencobai-Nya, bertanya kepada-Nya: “Siapakah sesamamu manusia?” Kemudian Yesus menyebut tokoh-tokoh itu, para penyamun, orang terluka, imam, orang Lewi, orang Samaria, dan pemilik penginapan.

Para penyamun yang “memukul orang” meninggalkannya setengah mati. Iman yang melihat orang terluka itu “lewat” tanpa memperhitungkan misinya, hanya memikirkan “jam Misa” sebentar lagi. Demikian juga orang Lewi, “orang hukum yang berbudaya.”

Paus Fransiskus meminta kita memikirkan konsep “melewati” seperti yang dilakukan imam dan orang Lewi itu yang mengatakan “bukanlah saya” yang harus membantu orang yang terluka. Sebaliknya, orang yang “tidak melewati” adalah orang Samaria, “yang adalah orang berdosa, orang yang dikucilkan oleh orang Israel.”

Pendosa besar, tegas Paus, memiliki belas kasihan. Mungkin juga dia “pedagang yang sedang melakukan perjalanan bisnis. Tanpa melihat jam, dan tanpa memikirkan perbedaan darah, “dia turun dari keledainya, mendekatinya, membalut luka-lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur, kemudian menaikkannya ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Tangannya menjadi kotor, bajunya menjadi kotor.”

Paus menegaskan bahwa dia ia tidak mengatakan, “Tapi, aku akan meninggalkan dia di sini, mengontak para dokter untuk datang. Aku akan pergi, aku sudah melakukan bagianku.” Tidak. “Dia peduli” dan mengatakan, “Sekarang kau milikku, bukan untuk memiliki, tetapi untuk melayani Anda.” Dia bukan pejabat, dia pria yang punya hati, pria dengan hati terbuka, kata Paus.

Paus kemudian berbicara tentang pemilik penginapan yang “tertegun” melihat “orang asing,” seorang “penyembah berhala, karena dia bukan orang Israel” yang berhenti untuk menyelamatkan pria itu, yang membayar “dua dinar” dan berjanji membayar semua biaya saat dia kembali. Pemilik penginapan itu tidak ragu bahwa dia akan mendapat sisa pembayaran itu, kata Paus Fransiskus. Itulah reaksi orang yang menjalankan kesaksian, orang terbuka terhadap kejutan-kejutan Allah, sama seperti orang Samaria.

Kedua orang itu bukan pejabat. “Apakah Anda orang Kristen? Apakah Anda Kristen?” “Ya ya ya, saya mengikuti Misa hari Minggu dan saya mencoba melakukan hal benar.” Apakah Anda terbuka? Apakah Anda terbuka terhadap kejutan Tuhan atau apakah Anda seorang pejabat Kristen, tertutup?

“Saya melakukan ini, saya hadiri Misa hari Minggu, menerima Komuni, melakukan Pengakuan Dosa sekali setahun, ini, ini … ” Inilah para pejabat Kristen, mereka yang tidak terbuka terhadap kejutan-kejutan Tuhan, mereka tahu banyak tentang Tuhan tetapi tidak bertemu dengan Tuhan. Mereka tidak pernah mengagumi kesaksian. Sebaliknya, mereka tidak mampu memberikan kesaksian.

Oleh karena itu, Paus mendesak semua orang, “awam dan para pastor,” untuk bertanya pada diri sendiri apakah kita orang Kristen terbuka terhadap apa yang Tuhan berikan kepada kita “setiap hari,” terbuka “kepada kejutan-kejutan Tuhan yang sering, seperti orang Samaria ini, menyulitkan kami,” atau apakah kami pejabat Kristen, yang melakukan apa yang harus kami kerjakan, merasa bahwa kami mematuhi “aturan” dan kemudian dibatasi oleh aturan yang sama. Beberapa teolog kuno, kata Paus Fransiskus, mengatakan bahwa “seluruh Injil” terkandung dalam kutipan ini.

Kita masing-masing adalah orang terluka, dan orang Samaria adalah Yesus. Dan Dia menyembuhkan luka kami. Dia mendekati kami. Dia merawat kita. Dia membayar kita. Dan dia berkata kepada Gereja-Nya: “Tetapi, kalau kalian perlu bayaran lebih banyak, kalian bayar dulu, saya akan kembali dan saya akan bayar.” Pikirkan ini: dalam kutipan ini ada seluruh Injil.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Gubernur NTT harapkan kerja sama tanpa kemunafikan dengan Gereja guna berantas kemiskinan

Sel, 09/10/2018 - 21:54
Gubernur NTT Viktor Laiskodat memberi sambutan pada Tahbian Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu. PEN@ Katolik/pcp

“Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah penyumbang orang-orang yang mencerdaskan bangsa lain, karena mengirim misionaris-misionaris yang hebat ke negara lain untuk mengajarkan kasih dan cinta Kristus. Tetapi sayangnya, rahimnya sendiri berada dalam penderitaan luar biasa. NTT adalah provinsi termiskin ketiga di Indonesia.”

Itulah ‘catatan kritis’ yang disampaikan Gubernur NTT Viktor Laiskodat bagi pemerintah dan Gereja. “Kita patut malu untuk itu. Dan karena malu, baik pemerintah maupun Gereja harus kerja luar biasa dengan kejujuran hati,” lanjut gubernur seraya mengharapkan kerja sama pemerintah dan Gereja, “bukan kerja sama biasa dalam kemunafikan dan kepura-puraan, tetapi yang betul-betul membangun dalam semangat persatuan yang kita miliki.”

Gubernur NTT berbicara di depan sekitar 30.000 umat Katolik serta 450 imam dan 27 uskup termasuk Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo, dalam sambutan Tahbisan Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu di Gelora Samador da Cunha, Maumere, 26 September 2018.

Di Bulan Kitab Suci Nasional 2018, umat Keuskupan Maumere, yang mencakup seluruh Kabupaten Sikka, mendapat gubernur (NTT) dan wakil gubernur baru Viktor Laiskodat dan Josef A Nae Soi yang dilantik 5 September, bupati (Sikka) dan wakil Fransiskus Roberto Diogo dan Romanus Woga yang dilantik 19 September dan Mgr Edwaldus yang ditahbiskan sebagai Uskup Maumere, 26 September.

Menurut Viktor Laiskodat , “Tidak ada lagi waktu untuk hidup dalam kepura-puraan, pura-pura baik dan pura-pura kerja. Kita harus mulai dengan jati diri kita. Kalau kita memang kurang baik, didik diri untuk jadi baik, kalau kita malas mulailah benahi diri menjadi orang rajin, kalau kita memang masih bodoh mulai belajar untuk menjadi orang pintar dan hidup membawa kasih karunia Allah di tengah masyarakat.”

Bahkan gubernur itu berani menegaskan komitmen dengan mengatakan, “saya tidak ingin mati meninggalkan provinsi ini tetap miskin, tapi kalau memang kehendak Tuhan, apabila memang nyawa saya harus dicabut untuk kesejahteraan NTT, perkenankanlah nyawa saya dicabut asal NTT sejahtera.”

Juga ditegaskan, tidak ada lagi waktu bagi pemalas dan orang yang mau bodoh, melainkan bangkit dan bekerja keras bersama pemerintah dan Gereja di NTT “untuk mengentaskan rakyat dari kemiskinan di NTT,” dan “Kita harus memastikan tidak ada lagi mayat-mayat datang dari negeri-negeri orang di mana orang kita bekerja sebagai pembantu dan budak belian, kita harus memastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi. Itu tantangan kita bersama, pemerintah dan Gereja. Kita harus mampu menyelesaikannya.”

Menurut gubernur, Tuhan memberikan kekayaan luar biasa untuk NTT, sehingga tidak boleh lagi mengatakan NTT nomor satu gizi buruk di Indonesia, karena pohon yang menyelesaikan masalah gizi buruk ada di NTT. “Apa namanya itu?” Pertanyaan gubernur itu dijawab serentak oleh umat yang memenuhi gelora itu “Pohon kelor!” Gubernur membenarkan, “Kita pernah berdosa terhadap pohon ini, dan kita harus bertobat dan mulai mengkonsumsi daun kelor mulai saat ini. Kalau Eropa bangun dengan revolusi putih, kita bangun dengan revolusi hijau, makan kelor!”

Menurut catatan ketua umum panitia tahbisan itu, Fransiskus Roberto Diogo, situasi konkret serta harapan dan kenyataan umat Keuskupan Maumere serentak menjadi harapan dan kenyataan masyarakat di wilayah Kabupaten Sikka. “Upaya menjadikan umat semakin beriman, mandiri, solider dan membebaskan, yang merupakan visi Keuskupan Maumere, boleh menjadi motivasi bagi pemerintah di Kabupaten Sikka untuk lebih menghayati visi dan misi pelayanan dan kebutuhan masyarakat.”

Visi Keuskupan Maumere, lanjutnya, juga menjadi inspirasi pelayanan pemerintah daerah dalam melayani masyarakat. “Rencana pembangunan Pemerintah Sikka berdasarkan pada semangat perubahan menuju ke tempat yang lebih dalam atau lebih baik,” lanjutnya.

Masyarakat yang membebaskan, lanjut Fransiskus, “adalah masyarakat yang terpenuhi hak-hak dasar seperti air bersih, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, listrik, pupuk, hak disabilitas, pemerintah desa yang baik, dan semakin kecilnya jurang kesenjangan antara wilayah dalam pertumbuhan ekonomi dan pelayanan dasar.”

Dia juga yakin, Keuskupan Maumere “dapat terus mengingatkan kerja sama dengan Pemda Kabupaten Sikka dalam memperdalam keimanan, yang salah satunya dengan menjadikan Gelora Samador da Cunha, tempat perayaan Tahun Maria 1988, Kunjungan Santo Paus Yohanes Paulus II 1989, Tahbisan Uskup Mgr Kherubim Pareira SVD, dan Tahbisan Mgr Edwaldus saat ini, menjadi replika Baslika Santo Petrus.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Sekitar 30 ribu umat dan sekitar 520 imam dan 27 uskup hadir dalam pentahbisan Mgr Edwaldus mendengarkan sambutan Gubernur NTT. PEN@ katolik/pcp

Kaum Bapak Katolik meningkatkan kualitas dan kapasitas tukang beragama Katolik dan Protestan

Sel, 09/10/2018 - 20:26
Foto Mono Turang

Guna meningkatkan kualitas dan kapasitas bapak-bapak Katolik yang masuk dalam kelompok Kaum Bapak Katolik (KBK) se-Kevikepan Tomohon dan bapak-bapak Protestan yang masuk Pria Kaum Bapak (PKB) Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) se-Kelurahan Woloan yang berprofesi tenaga konstruksi, baik tukang kayu, listrik, beton, dan aspal, Badan Pengurus KBK Keuskupan Manado (KBK-KM) melaksanakan “Pelatihan dan Sertifikasi Tenaga Konstruksi.”

Sebanyak 140 anggota KBK dan 20 anggota PKB menghadiri kegiatan di Aula Gereja Paroki Bunda Hati Kudus Woloan, 8 Oktober 2018, yang merupakan kerjasama Badan Pengurus KBK-KM dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sulut serta Lembaga Penjaminan Jasa Konstruksi (LPJK) Sulut.

Selain itu, Ketua Tim Kerja Pelatihan dan Sertifikasi Tenaga Konstruksi Johan Wewengkang menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan program kerja Badan Pengurus KBK-KM bidang Pendidikan dan Latihan untuk semua kevikepan yang dimulai dari Kevikepan Tomohon.

Ketua Umum KBK-KM Edwin Kindangen menegaskan, lewat kegiatan itu, “selain kualitas dan kapasitas peserta meningkat, akan ada pengakuan resmi dari pemerintah terhadap para anggota KBK dan PKB yang ikut kegiatan ini, karena ada sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga berkompeten yakni LPJK.

Itulah sebabnya, Kepala Biro Pembangunan Setdaprov Sulut itu berharap agar momen yang jarang terjadi itu dimanfaatkan. “Apalagi para peserta boleh mengikuti kegiatan itu secara gratis dan akan mendapat sertifikat sesuai tingkatannya,” tegas Kindangen.

Kepala Dinas  PUPR Sulawesi Utara Stevi Keppel, Kepala LPJK Sulut Billy Masinambouw, dan Staf Balai Jasa Konstruksi (BJK) Wilayah VI Makassar Bambang Siahaan menyambut positif program itu.

Keppel mengingatkan, selain kualitas dan kapasitas peserta meningkat, akan ada dampak positif lain bagi peserta yakni peningkatan taraf hidup. “Setelah pelatihan dan sertifikasi ini, akan ada pengakuan formal terhadap bapak-bapak dan peningkatan pendapatan karena bayarannya bertambah,” ujarnya.

Ketua KBK Kevikepan Tomohon Ferdinand Mono Turang mengatakan kepada PEN@ Katolik 9 Oktober 2018 bahwa “pelatihan dan sertifikasi tukang itu sangat bermanfaat bagi para tukang dan akan menambah kompetensi mereka sebagai tukang di bidangnya masing-masing sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup mereka.”(PEN@ Katolik/A. Ferka)

Ketua Umum KBK-KM Edwin Kindangen memberikan sambutan. Ist Foto Mono Turang Foto Mono Turang Foto Mono Turang

Mengapa harus menghormati kehidupan manusia?

Sen, 08/10/2018 - 22:00
Paus Fransiskus dalam audiensi umum di Lapanan Santo Petrus Oktober 2017. Hukuman mati bertentangan dengan Injil. Foto CNS

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

PERINTAH KELIMA: JANGAN MEMBUNUH

466. Mengapa harus menghormati kehidupan manusia?

Kehidupan manusia haruslah dihormati karena hidup itu suci. Sejak awal mula, hidup manusia ikut serta dalam tindakan kreatif Allah dan berada dalam hubungan yang khusus dengan Sang Pencipta, yang menjadi tujuan akhir satu-satunya. Menghancurkan secara langsung manusia yang tidak bersalah adalah tindakan melawan hukum. Ini sama sekali bertentangan dengan martabat pribadi manusia dan kekudusan Sang Pencipta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh” (Kel 23:7).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2258-2262, 2318-2320

467. Mengapa hak pribadi dan masyarakat untuk mempertahankan diri tidak bertentangan dengan norma ini?

Karena dalam mempertahankan diri, seseorang harus menghormati hak untuk hidup, baik dirinya sendiri maupun orang lain, dan tidak memilih untuk membunuh. Sungguh, karena seseorang bertanggung jawab atas kehidupan orang lain, hak untuk mempertahankan hidup bukan sekadar hak, tetapi juga sungguh menjadi kewajiban. Namun, harus dihindari penggunaan kekuatan yang tidak proporsional.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2263-2265

Keuskupan Agung Merauke membicarakan keluarga Katolik sejahtera dalam muspas

Sen, 08/10/2018 - 19:56
Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Merauke Gabriel Rettobjaan dan Kasubbag TU Kantor Kementerian Agama Mappi Yohanes Jamtel membuka muspas di Aula Pankat. Foto PEN@ Katolik/ym

Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC membuka Musyawarah Pastoral (Muspas) Keuskupan Agung Merauke bertema Keluarga Katolik Keuskupan Agung Merauke yang Sejahtera di Rumah Bina Pankat, Merauke, 7 Oktober 2018.

Muspas yang akan dilaksanakan hingga 14 Oktober 2018 itu, menurut Mgr Adi Saputra, adalah saat rahmat, “saat seluruh umat Allah yang diberkati oleh Roh Kudus dapat melihat kembali apa yang telah dikerjakan, sambil membaca tanda zaman serta melihat terang iman yang menjadi kebutuhan umat dan masyarakat saat ini dan yang akan datang.”

Muspas, yang dibuka dengan Misa yang dipimpin Mgr Adi Saputra dengan beberapa imam sebagai konselebran itu, dihadiri oleh para imam, dewan paroki dan tokoh-tokoh umat serta para biarawan-biarawati dari berbagai tarekat religius yang berkarya di keuskupan itu.

Menurut Mgr Adi Saputra, muspas juga merupakan saat pertobatan dan pembaharuan diri yang mengarah ke depan dengan langkah-langkah tepat sesuai perutusan yang telah dan akan ditetapkan. “Dengan tema yang kita gumuli dalam muspas ini, kita masing-masing digugah untuk memberi apa yang dipercayakan kepada kita, bukan dengan bersungut-sungut, tetapi dengan suka cita,” kata uskup.

Oleh karena itu Mgr Adi Saputra mengajak peserta untuk hadir dan memperkaya muspas dengan penuh semangat dan suka cita, “sebab kualitas muspas kita, bukan hanya karena kita dibimbing oleh Roh Kudus, tetapi karena kita semua memilih untuk menjadi bagian dan turut mengambil bagian aktif dalam mewujudkan kesejahteraan umat dan masyarakat kita.”

Mgr Adi Saputra yakin, dalam kehidupan sehari-hari, seluruh peserta telah turut berperan, bekerja, dan mengambil bagian dalam mengembangkan masyarakat. “Kita telah terlibat dalam kehidupan dan pengembangan itu, baik di dalam keluarga, lingkungan kerja, lingkungan Gereja Katolik atau di bidang maupun lembaga apa saja. Pengalaman itu akan dibagikan, dikuatkan dan diperkaya oleh peserta muspas lain serta dalam diskusi umum,” lanjut uskup.

Pemerintah, jelas Mgr Adi Saputra, telah berjuang keras untuk membuat masyarakatnya makmur dan sejahtera, namun masih banyak yang harus dibenahi. “Untuk itu, Gereja juga turut membantu pemerintah untuk bekerja di bidang pendidikan dan kesehatan serta berusaha melibatkan diri dalam pengembangan sosial ekonomi,” tegas uskup.

Keluarga Katolik yang Terlibat adalah tema keuskupan itu di tahun lalu. Berdasarkan tema itu, lanjut Mgr Adi Saputra, Gereja sudah memberi bukan hanya uang atau benda tetapi juga sumbangan pemikiran, tenaga, keterampilan, kehadiran serta perhatian. “Dengan memberi sebenarnya setiap orang meningkatkan kualitas, kapasitas, pengalaman dan kematangan kepribadiannya,” kata Mgr Adi Saputra. (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Peserta muspas saat pembukaan. PEN@ Katolik/ym

 

Hubungan Santo Dominikus dan Santo Fransiskus diungkap dalam Pesta Santo Fransiskus Assisi

Sen, 08/10/2018 - 03:39
Dalam Pesta Santo Fransiskus Assisi di Pontianak, imam Ordo Dominikan Pastor Andreas Kurniawan OP membawakan homili. Foto Komsos KAP/aldi&afra

Tahun 1255 di Milan, Miniter Jenderal Ordo Fransiskan Yohanes dari Parma dan Master Jenderal Dominikan Humbert dari Roma bersama-sama menerbitkan sebuah surat yang merekomendasikan perdamaian dan kerukunan di antara kedua Ordo itu.

Peristiwa kedua beato itu adalah salah satu contoh persaudaraan antara Ordo Dominikan dan Ordo Fransiskan yang diceritakan oleh Pastor Andreas Kurniawan OP (Ordo Pewarta atau Ordo Dominikan), yang akrab dipanggil Pastor Andrei, dalam homili Misa untuk mengenang teladan dan spiritualitas Bapa Serafik Santo Fransiskus Assisi yang dirayakan oleh sejumlah ordo dan kongregasi yang tergabung dalam komunitas Keluarga Fransiskan/Fransiskanes Pontianak (KEFRAP) di Pontianak, 4 Oktober 2018.

Misa di Kapel Rumah Retret Tirta Ria itu dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr dengan konselebran Vikjen Keuskupan Agung Pontianak (KAP) Pastor William Chang OFMCap, Minister Provinsial Kapusin Pontianak Pastor Hermanus Mayong OFMCap serta Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Antonino Ventimiglia Pastor Edmund Nantes OP dan Ekonom KAP Pastor Andrei OP beserta Diakon Tjhen Pr dan Diakon Plasida OFMCap.

Sesuai tradisi, manakala Ordo Dominikan merayakan pesta maka yang membawakan homili adalah imam Fransiskan, begitu juga sebaliknya. Maka, yang membawakan homili Misa ini adalah Pastor Andrei.

Di hadapan Fransiskan dan Fransiskanes, imam Dominikan ini menceritakan hubungan persahabatan antara Santo Fransiskus Assisi sebagai pendiri Ordo Fransiskan dan Santo Dominikus sebagai pendiri Ordo Dominikan. Hubungan kedua orang kudus itu, menurut Pastor Andrei, seperti saudara kembar.

“Layaknya kembar dalam keluarga, mereka memiliki keunikan masing-masing. Berbeda tetapi punya satu kesatuan, bukan bersaing tetapi bersatu dan bersaudara,” kata Pastor Andrei seraya menegaskan banyaknya seniman mengabadikan kedua orang kudus itu dalam berbagai kisah, gambar, ikon dan simbol yang mirip.

Dalam homili, Pastor Andrei menceritakan banyak kisah persahabatan dan persaudaraan kedua orang kudus itu, misalnya nama ibu yang sama, “nama ibu Santo Fransiskus Assisi adalah Yohana Madona Pica dan nama ibu Santo Dominikus adalah Beata Yoana de Aza.”

Juga diceritakan bahwa Paus Innocentius III pernah bermimpi tentang Dominikus dan Fransiskus yang dengan cara masing-masing yang berbeda mempertahankan gereja yang roboh, namun bukan fisiknya tapi rohani umatnya yang terlantar karena ajaran abigentia.

Santo Dominikus meninggal 5 tahun lebih awal dari Santo Fransiskus, namun, jelas imam itu, cara meninggal kedua orang kudus itu hampir mirip, dikelilingi saudara-saudaranya dalam doa dan sebelum meninggal mereka mengatakan “lebih berguna saya kembali  ke rumah bapa untuk mendoakan saudara-saudariku yang ada dunia ini dan bisa menyelamatkan lebih banyak orang lain.”

Pastor Andrei berharap hubungan persaudaraan yang dirajut dalam persahabatan kedua orang kudus itu “menjadi permenungan bagi para pengikutnya untuk tetap melanjutkan tugas perutusan tanpa batas, yakni keberpihakan kepada orang-orang kecil dan lemah,” dan untuk “terus merawat ikatan persaudaraan sejati dengan keunikan masing-masing, namun punya kesamaan dalam satu kesatuan.”

Biarawan Dominikan mengaku banyak mengenal Santo Fransiskus, “sehingga saya pun membuat kartu kenangan-kenangan tahbisan yang menggambarkan kedekatan saya dengan Fransiskus, yaitu gambar gambar Santo Fransiskus dan Santo Dominikus berpelukan,” karena “dalam kehidupan kita juga diajak bisa seperti mereka, menjadi orang kudus.”

Pastor Andrei ingat kawannya, kakak-beradik yang “bersemangat” mau masuk Dominikan. Tapi dalam perjalanan, sang kakak lebih dulu masuk Dominikan. “Saya pikir, nanti adiknya akan ikut juga. Tapi cara Tuhan sungguh berbeda, setelah lulus Fakultas Teknik di Surabaya seperti kakaknya, beberapa tahun kemudian sang adik masuk Fransiskan. Meskipun demikian, sang adik (Fransiskan) lebih dulu ditahbiskan, dan sang kakak (Dominikan) baru ditahbiskan sekitar satu setengah tahun lalu,” cerita imam itu.

Pastor Mayong membenarkan hubungan Santo Fransiskus Assisi dan Santo Dominikus seraya menegaskan bahwa yang perlu menjadi keutamaan dalam hidup Fransiskan dan Dominikan adalah “persaudaraan.” Persaudaraan atau ‘fraternitas’, menurut imam itu, merupakan identitas dan keutamaan yang mampu menerobos segala batasan, sekat-sekat dan struktur-struktur yang membeda-bedakan status, kelas, suku, budaya, dan agama, yang dijadikan alat oleh mentalitas individualisme zaman kini.”

Ketika banyak orang zaman modern mengagungkan kekuasaan, kekayaan dan kebebasan, lanjut imam itu “para Fransiskan dan Dominikan tampil memberikan kesejukan, pengharapan dan kasih yang terpancar dalam persaudaraan sejati.”

Menurut Mgr Agus, Fransiskan patut berbangga karena memiliki tokoh luar biasa, Santo Fransiskus Assisi. “Jika kita semua pengikutnya bisa seperti itu maka kita bisa mengubah dunia. Mari promosikan keteladanan dan cara hidup Santo Fransiskus melalui kesaksian nyata hidup kita masing-masing,” pinta Mgr Agus. (PEN@ Katolik/Sr M Seba SFIC, pcp)

Misa yang dipimpin Mgr Agustinus Agus dengan konselebran para imam Kapusin dan Dominikan. Foto Komsos KAP/aldi&afra Persahabatan di antara biarawan Fransiskan dan Dominikan. Komsos KAP/aldi&afra Biarawan-biarawati Fransiskan dan Fransiskanes yang tergabung dalam komunitas Keluarga FransiskanFransiskanes Pontianak (KEFRAP) dakam Misa Pesta Satnto Fransiskus. Komsos KAP/aldi&afra

Rosario dan Keluarga

Sab, 06/10/2018 - 22:55

(Renungan berdasarkan Bacaan Minggu ke-27 dalam Masa Biasa, Pesta Rosario Suci, 7 Oktober 2018: Markus 10: 2-16)

Jika ada satu doa yang mampu mengubah jalannya sejarah dunia, itu adalah pendarasan rosario. Pada 1571, melalui doa rosario tanpa henti, liga negara-negara Katolik yang dipanggil oleh Paus Pius V mampu menghentikan kemajuan militer dari kerajaan Ottoman ke Eropa Barat di perang Lepanto, dekat Yunani. Pada tahun 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak kecil di Fatima, dan salah satu pesannya adalah berdoa rosario untuk kedamaian dunia. Melalui pendarasan rosario secara nasional, Austria terbebas dari rejim komunis pada tahun 1955. Pada tahun 1960, dipimpin oleh wanita-wanita Katolik yang turun ke jalan sambil berdoa rosario, Brasil juga terhindar dari komunisme.

Bagi umat Katolik di Filipina, pendarasan rosario telah menaklukkan hal-hal yang mustahil. Pada 1646, pasukan Belanda yang datang dari Hindi Belanda berusaha mengambil alih Filipina dari otoritas Spanyol yang lemah. Dengan hanya galleon [kapal dagang], pasukan gabungan Spanyol dan Filipina menghadapi kapal-kapal perang Belanda dalam serangkaian pertempuran laut. Saksi mata menceritakan bagaimana para prajurit berdoa rosario saat pertempuran berlangsung. Mujizat pun terjadi. Ketiga galleon praktis tidak mengalami kerusakan berarti, sementara kapal-kapal musuh tenggelam atau rusak berat. Mujizat ini terjadi karena perantaraan Bunda Maria Rosario, La Naval de Manila. Rosario diyakini juga menjadikan revolusi “People Power” pada tahun 1986 sebagai peristiwa yang berhasil dan damai.

Ini adalah beberapa dari banyak peristiwa sejarah di mana pendarasan rosario telah memainkan peran penting dalam kehidupan bangsa-bangsa. Namun, berdoa rosario tidak hanya mempengaruhi bangsa tetapi lebih berarti kehidupan orang biasa dan keluarga.

Injil hari ini berbicara tentang kekudusan pernikahan dan keluarga. Dalam pernikahan, suami dan istri saling berjanji memberi sesuatu yang tidak dapat mereka penuhi, yaitu kebahagiaan sempurna. Kita adalah makhluk yang tidak sempurna dan terluka oleh dosa, dan di luar kemampuan alami kita untuk mencapai kebahagiaan sejati. Berpegang pada kekuatan kita sendiri, kita pasti gagal atau kehilangan makna. Secara emosional kita tidak stabil, kita menginginkan hal-hal untuk diri kita sendiri, dan kita saling menyakiti. Tidak heran, Uskup Fulton Sheen pernah berkata, “Pernikahan tidaklah sulit, hanya saja mustahil secara manusiawi. ”

Yesus mengingatkan kita bahwa pria dan wanita diciptakan untuk satu sama lain untuk menjadi “satu daging,” dan segera Yesus mengajarkan, “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kita sering lupa bahwa yang menyatukan pria dan wanita adalah Allah Sendiri. Pernikahan dan keluarga adalah karya Allah, bukan hanya manusia. Tuhan menginginkan sukacita sejati bagi kita, dan ini dapat dicapai dengan paradoks kasih. Bukan dengan mengumpulkan hal-hal untuk diri sendiri tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada sesama. Pernikahan menjadi salah satu cara yang Tuhan rancang untuk mencapai pemberian diri ini. Suami memberikan dirinya sepenuhnya kepada istrinya, dan sang istri menyerahkan dirinya seutuhnya kepada suaminya. Ketika mereka kehilangan diri, mereka mendapatkan segala yang tidak bisa mereka dapatkan secara manusiawi, yakni pertumbuhan yang otentik, kehidupan yang bermakna, dan kebahagiaan sejati. Dengan demikian, doa bersama menjadi cara yang sederhana namun berdaya untuk mengingatkan para suami-istri akan karya Allah ini di tengah-tengah mereka.

Romo Patrick Payton pernah berkata, “Keluarga yang berdoa bersama tetap bersama.” Doa yang dia maksudkan tidak lain adalah pendarasan rosario. Pada awalnya, kedengarannya hal ini biasa-biasa saja, tetapi saya dapat mengatakan ini memang doa yang kuat bagi keluarga. Saya masih ingat bagaimana orang tua saya mengajari saya rosario, dan itu dalam konteks doa keluarga dan komunitas lingkungan. Saya percaya bahwa keluarga saya selamat dari banyak badai karena kami tidak lupa untuk berdoa bersama. Saya juga percaya banyak keluarga-keluarga, dan komunitas telah menaklukkan kesulitan dan tantangan karena mereka telah berdoa rosario dengan setia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Pernyataan Kantor Pers Tahta Suci tentang kasus mantan kardinal McCarrick

Sab, 06/10/2018 - 22:42
Mantan kardinal Theodore McCarrick. Vatican Media

Paus Fransiskus menginstruksikan kepada Kantor Pers Tahta Suci untuk mengeluarkan pernyataan berikut mengenai tanggapan Vatikan terhadap dugaan pelanggaran seksual di pihak mantan kardinal Theodore McCarrick. Inilah teks lengkap pernyataan pers itu:

Setelah publikasi tuduhan mengenai perbuatan Uskup Agung Theodore Edgar McCarrick, Bapa Suci Paus Fransiskus, yang menyadari dan prihatin atas kebingungan yang disebabkan oleh tuduhan-tuduhan ini terhadap hati nurani umat beriman, menetapkan agar hal-hal berikut ini dikomunikasikan:

Bulan September 2017, Keuskupan Agung New York memberi tahu kepada Tahta Suci bahwa seseorang pria telah menuduh mantan Kardinal McCarrick telah melecehkan dia di tahun 1970-an. Bapa Suci memerintahkan penyelidikan awal yang seksama mengenai hal ini, yang dilakukan oleh Keuskupan Agung New York. Pada akhir penyelidikan itu, dokumentasi yang berhubungan dengan hal itu diteruskan ke Kongregasi untuk Ajaran Iman. Sementara itu, karena munculnya indikasi-indikasi penting selama proses penyelidikan, Bapa Suci menerima pengunduran diri Uskup Agung McCarrick dari Kolese Kardinal, dengan melarang dia melaksanakan pelayanan publik, dan mewajibkan dia menjalani hidup doa dan melakukan pengakuan dosa.

Pada waktunya nanti, Takhta Suci akan mengumumkan kesimpulan dari masalah mengenai Uskup Agung McCarrick. Selain itu, dengan mengacu pada tuduhan-tuduhan lain yang diajukan terhadap Uskup Agung McCarrick, Bapa Suci telah memutuskan bahwa informasi yang dikumpulkan selama penyelidikan awal akan digabungkan dengan studi seksama yang akan dilakukan terhadap seluruh dokumentasi yang ada di Arsip dari Dikasteri-Dikasteri dan Kantor-Kantor Tahta Suci mengenai mantan Kardinal McCarrick, guna mengetahui semua fakta relevan, agar ditempatkan dalam konteks historis dan dievaluasi secara objektif.

Tahta Suci sadar bahwa, dari pemeriksaan fakta dan kenyataan, mungkin muncul pilihan-pilihan yang diambil tidak sejalan dengan pendekatan kontemporer terhadap isu-isu tersebut. Namun, seperti dikatakan oleh Paus Fransiskus: “Kami akan mengikuti jalan kebenaran ke mana pun perginya” (Philadelphia, 27 September 2015). Baik pelecehan maupun upaya menutupinya tidak lagi dapat ditolerir dan perlakuan berbeda terhadap para uskup yang telah melakukan atau menutupi pelecehan, sebenarnya merupakan sebuah bentuk klerikalisme yang tidak lagi dapat diterima.

Bapa Suci Paus Fransiskus kembali mengajak untuk menyatukan kekuatan guna melawan momok seram pelecehan di dalam dan di luar Gereja, dan guna mencegah kejahatan-kejahatan semacam itu dilakukan di masa depan yang merusak orang-orang yang paling tidak berdosa dan yang paling rentan di masyarakat. Seperti diberitahukan sebelumnya, Bapa Suci telah mengundang ketua-ketua Konferensi Waligereja dari seluruh dunia melakukan pertemuan di bulan Februari mendatang.

Sementara itu kata-kata dalam Surat kepada Umat Allah masih bergema: “Satu-satunya cara yang kita miliki untuk menanggapi kejahatan yang telah menghitamkan begitu banyak kehidupan ini adalah mengalaminya sebagai sebuah tugas yang menyangkut kita semua sebagai Umat Allah. Kesadaran menjadi bagian dari satu bangsa dan satu sejarah bersama ini akan membuat kita bisa mengakui dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan masa lalu kita dengan keterbukaan untuk mengaku dosa yang dapat memungkinkan kita diperbarui dari dalam”(20 Agustus 2018).(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Kardinal McCarrick

Presiden Konferensi Waligereja Amerika Serikat kami akan melakukan yang lebih baik

Mgr Edwaldus terharu melihat banyak umat hadiri tahbisannya: Apakah saya bisa jawab harapan mereka?

Sab, 06/10/2018 - 01:34
Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu. PEN@ Katolik/pcp

Wawancara dengan Uskup baru Keuskupan Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu

Sore hari, pukul 15.00, 26 September 2018, terik matahari masih terasa “membakar” sekitar 30.000 orang di Gelora Samador da Cunha Maumere, namun arak-arakan panjang sebanyak 420 imam bersama 27 uskup termasuk Duta Vatikan Indonesia Mgr Piero Pioppo dan Uskup Terpilih Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu mulai memasuki gelora untuk Misa Tahbisan Uskup baru Maumere itu.

Ketika masuki gelora itu, kegelisahan atas cuaca yang panas tiba-tiba berubah karena awam mulai menutupi matahari dan cuaca berangsur menjadi “bersahabat” dan umat mulai menutup payung yang mereka bawa. Namun, kegelisahan Mgr Edwaldus yang lahir di Bajawa 30 Juli 1963 itu semakin besar melihat begitu banyaknya orang yang  datang.

Maka, ketika Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD bersama Mgr Edwaldus menghadap umat setelah ritual tahbisan dan mengumumkan bahwa Keuskupan Maumere sudah memiliki uskup baru, tampak wajah dan gerakan mulut dan bibir uskup lulusan pedagogi dari Universitas Salesianum Roma itu seperti menahan ledakan tangis haru dan seperti berat mengangkat tangannya membalas tepuk tangan umat.

Untuk mendapat jawaban apa yang dirasakan saat itu oleh pemimpin Gereja Keuskupan Maumere yang memiliki umat sekitar 303.000 yang tersebar di 36 paroki dan 185 stasi itu, sehari setelah tahbisannya Paul C Pati dari PEN@ Katolik mewawancarai uskup yang membawa moto Duc in Altum itu di Lepo Bispu atau rumah kediaman uskup di Maumere.

PEN@ KATOLIK:  Di saat Mgr Kherubim mengumumkan bahwa kini Keuskupan Maumere mempunyai seorang Uskup Baru, wajah Mgr Edwaldus nampak menahan sesuatu. Apa sebenarnya yang Mgr rasakan?

MGR EDWALDUS MARTINUS SEDU: Saya terharu melihat begitu banyak umat yang begitu antusias datang menghadiri Misa tahbisan saya sebagai Uskup Maumere. Begitu banyak orang, termasuk anak-anak, menyapa saya saat arak-arakan memasuki gelora. Ini mungkin karena saya sudah lama bekerja di sini sehingga banyak dikenal. Saya memang sering ke paroki-paroki sebagai pastor, berkeliling memberikan Sakramen Krisma sebagai Vikjen Keuskupan Maumere, dan melayani DPP di paroki-paroki.

Ya, luar biasa sekali kehadiran umat kemarin. Saat itu langsung muncul pertanyaan dalam diri saya, “Apakah saya bisa melayani mereka dengan baik. Apakah saya bisa  menjawab kebutuhan rohani mereka?” Maka saat itu saya langsung berdoa, “Tuhan tolong saya, supaya saya bisa memenuhi harapan mereka.” Ini sangat berat saya rasakan sebagai manusia, sehingga saya katakan dalam sambutan saya, “Dalam kelemahan dan kerapuhan saya, saya yakin Tuhan pasti akan membantu saya, termasuk menjawab harapan umat.”

Selain karena mengenal mereka dan mereka mengenal Mgr, ada alasan lain sehingga banyak orang datang menghadiri tahbisan itu?

Selain saya mengenal mereka, umat keuskupan ini memang sudah mempersiapkan adanya seorang uskup baru dengan doa selama hampir dua tahun. Tahun 2016, ketika mencapai usia 75 tahun Mgr Kherubim mengumumkan bahwa dia sudah menulis surat ke Tahta Suci untuk minta berhenti. Mgr Kherubim pun mempersiapkan segala sesuatu. Yang paling pertama, mengimbau umat untuk berdoa. Kami langsung membuat doa dengan judul “Doa Umat Keuskupan Maumere, Persiapan Kehadiran Uskup Baru.”

Isi doa itu antara lain “Hadirkanlah ke tengah kami, seorang gembala yang mengenal persoalan hidup konkret kawanan dombanya … Anugerahilah kami seorang gembala yang bijaksana, gembala yang mengayomi kami sebagai bapa yang penuh kasih. Berilah bagi kami, gembala seperti Engkau yang menggembalakan kami dalam kuasa ilahi. Hadirkanlah bagi kami seorang gembala yang mengalami kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasannya juga.”

Setelah Paus Fransiskus mengangkat saya sebagai Uskup Maumere, seluruh umat juga masih terus mendoakan “Doa Umat Keuskupan Maumere Menjelang Penahbisan Uskup Mgr Edwaldus Martinus Sedu.” Selain bersyukur atas terpilihnya seorang uskup dan memohon bantuan Roh Kudus agar acara tahbisan berjalan sukses, umat juga berdoa agar saya disertai dalam menjalankan tugas penggembalaan.

“Kini umat-Mu hendak bertolak ke tempat yang dalam, maka lindungilah seluruh umat Keuskupan Maumere dari segala macam marabahaya dan dampingilah kami dalam perjalanan menuju Keuskupan Maumere yang beriman, mandiri, solider dan membebaskan dalam terang Firman-Mu,” demikian mereka terus berdoa disertai Doa Bapa Kami, tiga Salam Maria dan Kemuliaan.

Tadi Mgr menyebut kecemasan? Apa sebenarnya keprihatinan atau kecemasan dalam keuskupan ini?

Perhatian atau keprihatinan yang  utama, seperti yang juga disampaikan oleh Mgr Kherubim adalah ketahanan umat di sini terhadap budaya pesta pora atau budaya hidup tidak hemat. Umat hanya mendapat sedikit, tetapi mereka tidak berpikir untuk masa depan atau menabung. Sebenarnya tradisi Komuni Pertama atau Sambut Baru dan Peringatan Orang Meninggal punya nilai yang baik, tetapi saya sayang ada unsur lain yang masuk, sehingga pengeluaran begitu besar. Maka, kami berusaha mengecilkan itu sesuai keadaan dan kemampuan, sehingga jangan lebih besar pasak daripada tiang bahkan mengakibatkan hutang bergenerasi. Komuni Pertama, misalnya. Sebenarnya kita bersyukur karena anak menerima Tubuh dan Darah Kristus, tapi pemborosannya luar biasa.

Apa lagi yang menjadi prioritas dalam karya pastoral di keuskupan ini?

Ada tiga hal yang menjadi prioritas kita. Pertama adalah pemberdayaan petugas pastoral atau pemimpin umat, supaya mereka mampu menggerakkan umat, misalnya memfasilitasi pertemuan atau katekese di tengah umat. Kita akan berjuang melahirkan orang-orang seperti itu di Komunitas Umat Basis, lingkungan, stasi dan paroki yang tidak ada orang yang bisa memimpin. Perjuangan kami yang kedua adalah dalam bidang Pengembangan Sosial Ekonomi, paling kurang sesuai sesuai visi dan misi Keuskupan Maumere: Umat Tuhan yang semakin beriman, sejahtera, dan solidaritas untuk saling membagi dan saling membantu dalam terang Sabda Allah. Yang ketiga adalah pemberdayaan keluarga-keluarga Kristiani terhadap budaya-budaya baru yakni globalisasi millennial. Pastoral Keluarga, dalam hal ini, bergerak paling kurang dalam persiapan dan sesudah perkawinan.

Dalam sambutan saat tahbisan, Gubernur NTT juga berbicara bahkan mengajak Gereja bekerja sama dalam hal pengembangan sosial ekonomi atau kesejahteraan. Bagaimana Mgr menanggapinya?

Ya, kita tidak bisa lagi memakai cara biasa untuk mengentaskan umat dari kemiskinan. Dari segi pembicaraan, termasuk dengan Bupati Sikka, kami mempunyai harapan besar, memenuhi harapan kami. Tetapi tidak hanya dalam bentuk bicara dan mengajak kerja sama. Gereja juga bisa bicara dan menganimasi. Masalahnya uang. Jadi, pemerintah akan membantu dan melibatkan kita dalam merancang program kerja sama. Saya rasa itu bagus. Artinya, dari tingkat pembicaraan kita lihat ke depan. Gubernur dan Wakil Gubernur sudah memperlihatkan bentuk perhatian kepada kita degan memberikan mobil operational, yang mereka janjikan sebelum menjadi gubernur dan wakil gubernur. Itu dari uang pribadi mereka. Tapi itu bukan berarti kita tidak akan kritis.

Apakah moto tahbisan episkopal “Duc in Altum (bertolak ke tempat yang dalam) yang Mgr pilih juga ingin menjawab persoalan masyarakat Maumere saat ini?

Moto itu berangkat dari pengalaman hidup bersama yang sudah ada. Kita ingin meningkatkan, kita ingin berjalan lebih jauh atau bertolak lebih ke dalam. Jadi, kita bukan hanya akan menjalani hidup yang biasa-biasa atau yang rutin saja, tetapi harus ada usaha untuk membuat kita lebih maju, lebih ke depan. Itu hasil dari evaluasi program kegiatan kita selama ini seperti terungkap dalam sinode keuskupan yang pertama.

Selama ini kita sudah hidup bersama Bapak Uskup Kherubim dengan moto episkopal “Ut omnes unum sint.” Sekarang, kita ingin meningkatkannya, karena kita merasakan itu belum maksimal. Kita harus berjalan lebih dalam lagi. Setiap pribadi dan komunitas harus lebih mendalami hidupnya agar semakin lebih baik, semakin lebih beriman, dan semakin lebih matang menghadapi tantangan-tantangan.

Tentu Mgr akan bersama para imam untuk mendorong umat keuskupan ini “bertolak ke tempat yang dalam.” Bagaimana hubungan Mgr dengan para imam?

Ketika saya menjadi imam di Keuskupan Maumere, saya mengenal banyak imam angkatan di atas saya, karena mereka memang senior saya. Saya juga mengenal banyak imam angkatan kemudian di seminari saat saya menjadi staf pembina Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret Maumere (2001-2016). Maka, coba lihat, hampir 500 imam menghadiri tahbisan saya. Sebagian besar adalah angkatan muda yang saya dampingi dari Keuskupan Ruteng, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Denpasar dan Keuskupan Maumere.

Selain mengenal mereka, saya juga tahu potensi mereka, karena saya sadar saya tidak bisa bekerja sendiri. Kesadaran akan kelemahan itu membuat saya menjadi orang yang cukup terbuka dan menghargai orang lain. Salah satu kelemahan saya adalah menyanyi. Saya tidak bisa menyanyi, maka kalau menyanyi saya butuh orang lain. Tetapi, kelemahan saya ini menjadi kekuatan saya. Saya harus terbuka dan harus bisa menerima bantuan orang lain. Saya tidak boleh paksa diri. Karena itu saya menjadi sangat terbuka dan mau melibatkan semua. Saya selalu berpikir positif tentang orang lain. Di seminari, misalnya, saya selalu melihat orang dari segi yang baik, dan dari situ saya bisa mendampingi seorang frater untuk menjadi lebih baik.

Maka, saya berterima kasih kepada Mgr Silvester San yang dalam homilinya menyinggung moto saya Duc in Altum dan menambahkan “menebarkan jala untuk menangkap ikan.” Jala itu lambang kerja sama dan itu juga menjadi jiwa saya.

Saya begitu terharu bahwa adik-adik angkatan saya yang bekerja di keuskupan ini menyampaikan kesediaan mereka untuk bekerja sama. Jadi, saya bisa mengajak mereka untuk bekerja bersama dan saya juga bisa marah kalau mereka berbuat salah. Saya yakin, adik-adik ini sangat mau bekerja sama dan tidak mau menunjukkan bahwa mereka mau sendirian atau egois.

Ada berapa imam diosesan atau projo di Keuskupan Maumere?

Jumlah imam projo di keuskupan ini sebanyak 62 orang. Kami menjadi sangat sedikit setelah perpisahan dengan Keuskupan Agung Ende, yang dulu memiliki imam projo terbanyak di Indonesia. Memang setelah berpisah dengan Keuskupan Agung Ende, tahbisan imam di keuskupan ini hanya satu atau dua. Tapi setelah kami mengelola Seminari Bunda Segala Bangsa untuk tamatan SMP dan SMA, hasilnya saat ini jumlah calon imam tingkat 3 di seminari tinggi sebanyak 20 orang, tingkat dua sebanyak 25 orang, tingkat 1 sebanyak 20-an, dan tahun rohani yang baru masuk  ada belasan. Mudah-mudahan jumlah itu bertahan sampai  selesai. Keuskupan ini memiliki 36 paroki jadi kami sangat mengharapkan banyak imam untuk paroki dan kelompok kategorial.

Sexual abuse (pelecehan seksual) oleh klerus menjadi berita aktual Gereja aktual saat ini. Bagaimana Mgr akan menanganinya di keuskupan ini?

Kalau kita melihat gejala ini, baik di seminari menengah dan di seminari tinggi, kita langsung menyampaikannya kepada murid atau frater tersebut, karena mungkin dia tidak sadar karena kadang-kadang ada orang melakukan itu tanpa kesadaran. Memang kita tidak punya keahlian khusus untuk mendampingi dalam hal ini, tapi kalau ada indikasi-indikasi seperti itu kita minta dia untuk berhenti.

Kalau gejala itu ada pada seorang imam, sebagai satu strategi kita akan menempatkannya dengan dengan orang-orang yang bisa menjadi teman yang menjaga mereka. Kita tidak akan membiarkan mereka, karena orang-orang seperti ini bisa menciptakan jurus-jurus baru yang memungkinkan mereka bisa bersembunyi di belakang satu kegiatan sosial misalnya dengan membuka asrama laki-laki di paroki. Itu terjadi. Modus-modus seperti itu harus kita hindari.

Jelasnya, kita berusaha mencegah hal itu dari seminari. Kalau memang sampai terjadi, saya akan menganjurkan untuk berhenti. Kita harus mengikuti kebijakan Gereja universal, termasuk penyampaian dari Paus Fransiskus sendiri, supaya jangan ada korban-korban lagi yang akan sangat berpengaruh pada pastoral kita. Ya, kita tidak mau seperti di Boston dan Chili, yang bahkan melibatkan uskup. Itu menghancurkan Gereja. Kita tidak akan menutup-nutupi. Kita akan berlaku adil, bukan hanya dengan kasus pedophilia tapi juga yang lain, termasuk kalau mereka melakukan hubungan dengan perempuan.

Sebelum ditahbiskan menjadi diakon, seorang frater harus membuat surat pernyataan dan bertanda tangan di atas materai bahwa dia tidak akan melakukan sexual abuse itu dan menyalahgunakan harta kekayaan Gereja.

Apa yang pertama akan Mgr lalukan setelah tahbisan uskup ini?

Yang pertama saya akan mengajak para imam di paroki dan lembaga-lembaga untuk merapatkan barisan hati dan pikiran. Kebetulan November ini kami akan mengevaluasi kegiatan tahunan sekaligus evaluasi sinode pertama keuskupan yang sudah dilaksanakan untuk masuk dalam sinode kedua.

Sekali lagi saya akan melakukannya bersama teman-teman pastor, karena tanpa mereka saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan bersatu hati, serasa dan sepenanggungan, kami bisa menjalankan banyak program. Setelah bekerja sama ke dalam baru kami akan keluar. Saya sudah bersama mereka sekian tahun sebagai ketua pelaksana dewan imam dan sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Maumere. Tapi keberadaan saya sekarang sudah agak berbeda, sebagai teman dan sebagai uskup. Dan saya harus menunjukkan bahwa yang terpenting bukan uskupnya, tetapi sebagai imam yang menjadi teman seperjalanan.***

Artikel Terkait:

Uskup Maumere yang baru ditahbiskan oleh Mgr Kherubim Pareira SVD

Mgr Edwaldus diterima di Katedral Maumere dengan sapaan dalam bahasa Sikka

Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan setia kepada Gereja Katolik dan memajukan peranan awam

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Permohonan pensiun sudah dikabulkan Paus kata Mgr Kherubim saat HUT ke-75

PEN@ Katolik/pcp

Apa kewajiban anak-anak terhadap orang tua mereka?

Jum, 05/10/2018 - 20:38
Pinterest

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

459. Apa kewajiban anak-anak terhadap orang tua mereka?

Anak-anak harus menghormati, berterima kasih, patuh, dan taat kepada orang tua mereka. Dalam menghormati dan memelihara hubungan baik dengan saudara-saudari mereka, anak-anak memberikan sumbangan mereka bagi perkembangan keselarasan dan kekudusan hidup keluarga secara umum. Anak yang sudah dewasa berkewajiban memberikan dukungan moral dan material jika orang tua ada dalam keadaan susah, sakit, kesepian, atau usia lanjut.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2214-2220, 2251

460. Apa kewajiban orang tua terhadap anak-anak mereka?

Orang tua, karena partisipasi mereka dalam kebapaan Allah, mempunyai tanggung jawab pertama untuk mendidik anak-anak mereka dan mereka merupakan pewarta iman yang pertama bagi anak-anak. Mereka mempunyai kewajiban untuk mengasihi dan menghormati anak-anak mereka sebagai pribadi dan sebagai anak-anak Allah dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan material dan spiritual mereka sejauh itu mungkin. Mereka harus memilih sekolah yang tepat dan membantu mereka dengan nasihat-nasihat yang bijaksana dalam memilih profesi dan status hidup mereka. Secara khusus, orang tua mempunyai misi untuk mendidik anak-anak mereka dalam iman Kristen.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2221-2231

461. Bagaimana orang tua seharusnya mendidik anak-anak mereka dalam iman Kristen?

Orang tua melakukannya terutama dengan teladan, doa, katekese keluarga, dan berpartisipasi dalam Gereja.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2252-2253

462. Apakah ikatan keluarga itu merupakan kebaikan yang absolut?

Ikatan keluarga itu penting, tetapi tidak mutlak karena panggilan pertama seorang Kristen ialah mengikuti dan mengasihi Yesus. ”Barangsiapa mengasihi bapa dan ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Orang tua harus mendukung dengan gembira pilihan anak-anak mereka untuk mengikuti Yesus dalam status hidup apa pun, bahkan dalam hidup bakti atau pelayanan imamat.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2232-2233

463. Bagaimana melaksanakan otoritas dalam bermacam-macam situasi masyarakat sipil?

Otoritas harus selalu dilaksanakan sebagai suatu pelayanan, dengan menghormati hak asasi fundamental seseorang, hierarki nilai-nilai yang adil, hukum, keadilan distributif, dan prinsip subsidiaritas. Semua yang diberi otoritas harus mendahulukan kepentingan komunitas di atas kepentingan mereka sendiri dan keputusan-keputusan mereka harus diinspirasikan oleh kebenaran tentang Allah, manusia, dan dunia.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2234-2237, 2254

Halaman