Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 2 hours 51 mnt yang lalu

Umat ​​Katolik Nigeria lakukan protes damai nasional dengan senjata Rosario

Sel, 22/05/2018 - 23:02

 

Dua imam yang tewas, (dari kiri ke kanan): Pastor Felix Tyolaha dan Pastor Joseph Gor

Hanya dengan ‘bersenjatakan’ Rosario, umat Katolik di 54 kota di seluruh Nigeria, pada tanggal 22 Mei 2018, ikut berpawai dalam protes damai nasional yang disebut “March for Life” (pawai untuk kehidupan), yang dilakukan bertepatan dengan pemakaman 17 umat paroki dan dua imam Katolik yang dibunuh oleh tersangka gembala, di Keuskupan Markudi, 24 April 2018.

Direktur Komunikasi Keuskupan Agung Abuja, Nigeria, Pastor Patrick Alumuku mengatakan kepada Paul Samasumo dari Vatican News di Vatikan bahwa March for Life, yang diumumkan oleh Konferensi Waligereja Nigeria, merupakan aksi solidaritas terhadap mereka yang tewas itu serta terhadap banyak korban terorisme lainnya di Nigeria.

Pastor Alumuku yang merupakan ketua yang dibentuk untuk March for Life di ibukota Abuja itu mengatakan bahwa Pastor Joseph Gor dan Pastor Felix Tyolaha dibunuh secara brutal bersama dengan umat paroki, ketika Misa berakhir di Paroki Santo Ignatius Ukpo-Mbalom, di Negara Bagian Benue.

Media lokal Nigeria melaporkan adanya ketegangan yang jelas dirasakan di Negara Bagian Benue tempat kedua imam dan para umat paroki itu tewas. Personel keamanan telah meyakinkan penduduk dan mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan keamanan. Mereka berulang kali memastikan bahwa para peserta pawai dan tempat pemakaman akan aman.

Para uskup Nigeria mengatakan kepada umat Katolik Nigeria di semua kota untuk datang hanya dengan ‘bersenjatakan’ Rosario dan Lilin.

Ketika berbicara dalam wawancara eksklusif dengan Vatican News di Roma, sehari setelah serangan Makurdi, empat Uskup dari Sabuk Tengah Nigeria, Uskup Makurdi Mgr Wilfred Anagbe CMF, Uskup Katsina-Ala Mgr Peter Adoboh, Uskup Gboko Mgr William Avenya, dan Uskup Otukpo Mgr Michael Ekwoy Apochi mengatakan bahwa teroris dan tentara bayaran telah menyusup dalam para gembala itu.

Mereka menggambarkan serangan-serangan di gereja itu sebagai sesuatu yang ”menghebohkan, biadab dan kejam.” Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin serangan mematikan seperti itu bisa terjadi di siang hari bolong dan para pelaku tidak memperhitungkan tindakan mereka.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa sebabnya Sakramen-Sakramen itu perlu bagi keselamatan?

Sel, 22/05/2018 - 21:51
Basilika Santo Petrus (dari Canadian Catechist)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

230. Apa sebabnya Sakramen-Sakramen itu perlu bagi keselamatan?

Bagi orang beriman kepada Kristus, walaupun Sakramen-Sakramen itu tidak semuanya diberikan kepada setiap orang beriman, Sakramen perlu untuk keselamatan karena memberikan rahmat Sakramental, pengampunan dosa, pengangkatan sebagai anak-anak Allah, menyelaraskan diri kepada Kristus Tuhan dan keanggotaan di dalam Gereja. Roh Kudus menyembuhkan dan mengubah mereka yang menerima Sakramen-Sakramen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1122-1126, 1133

231. Apa itu rahmat Sakramental?

Rahmat Sakramental adalah rahmat Roh Kudus yang diberikan oleh Kristus dan terdapat dalam setiap Sakramen. Rahmat ini membantu orang beriman dalam perjalanannya menuju kesucian dan dengan demikian juga membantu Gereja untuk berkembang di dalam cinta kasih dan memberikan kesaksian kepada dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1129, 1131, 1134, 2003

232. Apa hubungan antara Sakramen dengan kehidupan kekal?

Dalam Sakramen, Gereja sudah ”mencicipi” kehidupan kekal, sambil ”menantikan penggenapan pengharapan yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1130

KWI terbitkan Nota Pastoral untuk pahami gagasan dan makna Pancasila sebagai Dasar Negara

Sel, 22/05/2018 - 18:56

“Memajukan dan mengembangkan  pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila sejalan dengan panggilan dan perutusan Gereja dalam menegakkan Kerajaan Allah di bumi Indonesia, di mana semua orang dapat hidup bersama dan bersaudara, merajut kesatuan, kerukunan dan perdamaian, serta bekerja keras demi perwujudan cita-cita kesejahteraan umum demi Indonesia jaya.”

Pernyataan itu ditulis dalam kata pengantar Nota Pastoral KWI 2018 bertajuk “Panggilan Gereja dalam Hidup Berbangsa – Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan,” yang diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di hadapan presidium dan beberapa sekretaris departemen dari KWI di Ruang Rapat KWI, Jakarta, 17 Mei 2018.

Menurut catatan yang diterima PEN@ Katolik dari KWI, Nota Pastoral KWI 2018 itu diterbitkan untuk menanggapi situasi bangsa yang diwarnai berbagai masalah dalam mewujudkan Indonesia yang satu sebagai rumah bagi semua komponen bangsa, juga dalam merespon tibanya tahun politik 2018-2019.

“Para Uskup Indonesia ingin mengajak umatnya dan masyarakat luas untuk semakin memahami gagasan dan makna Pancasila sebagai Dasar Negara, mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan lintas batas dengan berbagai cara yang pas dalam konteks keindonesiaan yang Bhinneka Tunggal Ika. Saya Indonesia Saya Pancasila,” lanjut catatan itu.

Dalam pengantar buku itu juga ditegaskan bahwa keinginan menerbitkan nota pastoral itu muncul dalam Hari Studi tahunan KWI 2017 yang berlangsung di Jakarta, 6-8 November 2017, dengan tema “Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan: Tugas Gereja Menyucikan Dunia.”

Materi bahasan dan dinamika diskusi dalam hari studi itu menyingkapkan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang memprihatinkan saat ini. “Dengan bantuan para narasumber, diskusi tentang realitas tersebut mengerucut pada penegasan kembali tugas perutusan Gereja di dunia dan komitmen menjadi Gereja yang relevan dan signifikan,” tulis pengantar itu.

Sebagai bagian utuh dari bangsa dan negara Indonesia, lanjutnya, “Gereja tidak dapat berdiam diri menghadapi kondisi memprihatinkan yang mengancam keberlangsungan kehidupan bersama di negara Indonesia. Gereja berada dalam satu rumah bersama, yaitu “Indonesia” yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kerukunan, perdamaian, keadilan, dan kebenaran demi kebaikan bersama.”

Para uskup juga yakin bahwa realitas yang memprihatinkan yang tengah diarungi bangsa dan negara “merupakan momentum dan panggilan bersama semua anak bangsa untuk menyatukan tekad dan menegaskan komitmen menjaga kesatuan serta merawat kebinekaan bangsa dan negara kita.”

Gereja, tegas para uskup dalam nota pastoral itu, “dipanggil untuk secara lebih tegas dan nyata menghadirkan diri sebagai komponen utuh bangsa dan negara Indonesia, yang juga bertanggung jawab merawat kesatuan dalam kebinekaan serta menjamin keutuhan negara Indonesia dalam keberagaman warisan budaya, agama, suku, dan bahasa.” (paul c pati)

foto-foto dari KWI dan Obor

Paus Fransiskus menjelaskan doa Salam Maria kalimat demi kalimat

Sen, 21/05/2018 - 23:41
Paus Fransiskus berdoa kepada Perawan Maria
Foto oleh Antoine Mekary | ALETEIA

Kita semua berdoa Salam Maria, tetapi berapa banyak dari kita yang tahu artinya yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya dikatakan oleh doa itu?

Dalam buku, “Maria, Bunda Semua” (María, Mamma di tutti), Paus Fransiskus sendiri mengajarkan kepada kita arti dari kata-kata dalam doa penting ini.

Penuh Rahmat

Malaikat Gabriel menyebut Maria “penuh karunia” (Luk 1:28). Dalam dirinya, jelas Paus, “tidak ada tempat untuk dosa, karena Tuhan telah memilih dia dari segala kekekalan untuk menjadi ibu Yesus, dan telah membebaskannya dari dosa asal.”

“Sabda menjadi daging di dalam rahimnya. Kita, juga, diminta untuk mendengarkan Allah, yang berbicara kepada kita, dan untuk menerima kehendak-Nya. Tuhan selalu berbicara kepada kita.”

Tuhan sertamu

Yang terjadi secara unik dalam Perawan Maria, kata Paus Fransiskus, “juga terjadi dalam tingkat spiritual dalam diri kita ketika kita menerima Sabda Tuhan dengan hati yang baik dan tulus, dan mempraktekkannya. Yang terjadi seolah-olah Tuhan menjadi daging dalam diri kita. Dia datang untuk tinggal dalam diri kita, karena Dia membuat rumah-Nya dalam diri mereka yang mengasihi Dia dan mematuhi Sabda-Nya. Tidaklah mudah memahami hal ini, tetapi, ya, mudah merasakannya di dalam hatimu.”

“Apakah kita mengira bahwa inkarnasi Yesus hanyalah peristiwa masa lalu, yang tidak mempengaruhi kita secara pribadi? Percaya kepada Yesus berarti memberikan tubuh kita kepada-Nya, dengan kerendahan hati dan keberanian yang sama seperti Maria.”

Terpujilah engkau di antara wanita

Bagaimana Maria menjalani imannya? Paus menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa “Dia menjalani imannya dalam kesederhanaan dari banyak pekerjaan sehari-hari serta kekhawatiran setiap ibu, misalnya menyediakan makanan dan pakaian, dan mengurus rumah … Justru, keberadaan normal Perawan Maria inilah yang menjadi dasar berkembangnya hubungan istimewa dan dialog mendalam antara dia dan Tuhan, antara dia dan Putranya.”

Terpujilah buah tubuhmu, Yesus

Maria mau menerima, tetapi tidak pasif, jelas Paus Fransiskus.

“Sama seperti dia menerima kuasa Roh Kudus secara jasmani, tetapi kemudian memberikan tubuh dan dan darah kepada Putera Allah yang bertumbuh dalam dirinya, demikian juga secara spiritual, dia menerima kasih karunia dan menanggapinya dengan iman. Karena alasan ini, Santo Agustinus mengatakan bahwa Perawan Maria ‘mengandung di dalam hatinya sebelum di rahimnya.’ Pertama-tama dia mengandung iman, dan kemudian Tuhan.”

Santa Maria, Bunda Allah

Bunda Penebus, lanjut Paus, “mendahului kita dan senantiasa menguatkan iman kita, panggilan kita, dan misi kita. Dengan teladan kerendahan hati dan kesiapannya untuk mematuhi kehendak Tuhan, dia membantu kita menerjemahkan iman kita menjadi pewartaan Injil yang penuh sukacita, tanpa batas.”

Doakanlah kami yang berdosa ini

Untuk menjelaskan arti dari bagian doa ini, Paus Fransiskus menceritakan suatu anekdot:

“Saya ingat suatu peristiwa, di Tempat Ziarah Lujan, saya berada di ruang pengakuan dosa, yang di depannya ada antrean panjang. Ada juga seorang pria muda yang sangat modern, dengan anting-anting, tato, semua … Dan dia datang mengatakan kepada saya apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Masalahnya besar, sangat sulit. Dan dia berkata kepada saya, ‘Saya ceritakan semua ini kepada ibu saya, dan ibu saya mengatakan: Pergilah kepada Perawan Maria Terberkati dan dia akan memberi tahu apa yang harus kaulakukan.’ Nah, itulah wanita yang punya karunia nasihat. Dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah putranya, tetapi dia menunjukkan jalan yang benar: pergilah ke Perawan Maria Terberkati, dan dia akan mengatakan kepadamu. Inilah karunia nasihat. Wanita yang rendah hati dan sederhana itu memberi putranya nasihat terbaik. Bahkan, pria muda itu berkata kepada saya, ‘Saya memandang Perawan Maria Terberkati dan saya merasa harus melakukan ini, ini, dan ini …’ Saya tidak tidak perlu berbicara; ibunya dan pria muda itu sendiri telah mengatakan segalanya. Inilah karunia nasihat. Kalian, ibu-ibu, yang memiliki karunia ini: mohonlah agar karunia itu diberikan kepada anak-anak kalian. Karunia menasehati anak-anak kalian adalah karunia dari Tuhan.”

Sekarang, dan waktu kami mati

Marilah kita mempercayakan diri kita kepada Maria, kata Paus Fransiskus, “agar dia, sebagai Ibu dari kakak sulung kita, Yesus, dapat mengajarkan kepada kita untuk memiliki semangat keibuan yang sama terhadap saudara-saudara kita, dengan kemampuan tulus untuk menerima, untuk memaafkan, untuk memperkuat, dan untuk menanamkan kepercayaan dan harapan. Dan inilah yang dilakukan seorang ibu.”

Jalan Maria menuju Surga dimulai “dengan ‘ya’ yang dia bicara di Nazareth, dalam menanggapi Utusan surgawi yang memberitahukan kehendak Tuhan kepadanya. Dalam kenyataannya, yang sebenarnya adalah: setiap ‘ya’ kepada Tuhan adalah langkah menuju Surga, menuju kehidupan kekal.”(paul c pati berdasarkan tulisan Gelsomino Del Guercio, Aleteia)

Mengapa Sakramen itu berdaya guna?

Sen, 21/05/2018 - 20:34
Tujuh Sakramen. Diambil dari Pinterest

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

228. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan iman?

Sakramen-Sakramen tidak hanya mengandaikan iman; unsur kata-kata dan ritual juga mengembangkan, memperkuat, dan mengungkapkannya. Dengan merayakan Sakramen, Gereja mengakui iman yang datang dari para Rasul. Hal ini menjelaskan asal dari rumusan kuno, ”lex orandi, lex credendi”, artinya Gereja percaya seperti yang didoakannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1122-1126, 1133

229. Mengapa Sakramen itu berdaya guna?

Sakramen itu berdaya guna ex opere operato (”melalui kenyataan bahwa tindakan Sakramen itu dilaksanakan”) karena Kristuslah yang bertindak dalam Sakramen itu dan mencurahkan rahmat yang ditandakan. Daya dari Sakramen tidak tergantung dari kesucian pribadi pelayannya. Namun, buah dari Sakramen itu tergantung dari disposisi orang yang menerimanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1127-1128, 1131

Paus Fransiskus umumkan nama-nama 14 kardinal baru sesudah Ratu Surga

Sen, 21/05/2018 - 02:00
CNS photo/Paul Haring

Berbicara kepada para peziarah dan pengunjung yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada hari Minggu, 20 Mei 2018, di penghujung sambutan seusai doa Ratu Surga, Paus Fransiskus mengumumkan bahwa dia akan mengangkat kardinal-kardinal baru dalam Konsistori tanggal 29 Juni 2018.

Paus mengatakan bahwa tempat-tempat asal para kardinal baru itu “mengungkapkan universalitas Gereja, yang terus mewartakan cinta kasih Tuhan yang penuh belas kasih kepada semua pria dan wanita di bumi.”

Orang-orang yang akan menerima topi merah dari Paus antara lain para uskup dari Irak, Pakistan, Portugal, Peru, Madagaskar, Italia dan Jepang.

Dalam daftar ini terdapat juga uskup agung asal Polandia Mgr Konrad Krajewski, yang bertugas sebagai almoner paus di Roma, dan tiga uskup agung Italia, Vikjen Keuskupan Roma Mgr Angelo De Donatis, Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman Mgr Luis Ladaria, dan Wakil Sekretaris Negara dan Delegasi Khusus untuk Ordo Militer Berdaulat Malta Mgr Giovanni Becciu. Paus Francis mengatakan bahwa nominasi mereka “menunjukkan ikatan yang tak terputus antara Tahta Petrus dan Gereja-Gereja lokal di seluruh dunia.

Bersama mereka, Paus Fransiskus juga menominasikan ke dalam Dewan Kardinal, uskup agung (pensiunan) Meksiko, uskup (pensiunan) Bolivia dan seorang imam dari Ordo Claretian. Mereka semua, menurut Paus, “telah menunjukkan keistimewaan dalam melayani Gereja.”

Nama-nama Kardinal baru itu adalah:

Yang Berbahagia Louis Raphaël I Sako (Patriark Katolik Babilonia Babilonia), usia 69,9 tahun

Yang Mulia Luis Frsnsico Ladaria Ferrer (Prefek Kongregation untuk Ajaran Iman), usia 74,1 tahun

Yang Mulia Angelo De Donatis (Vikaris Jenderal Roma), usia 64,4 tahun

Yang Mulia Giovanni Angelo Becciu (Wakil Sekretaris Negara dan Delegasi Khusus Ordo Militer Berdaulat Malta), usia 70 tahun

Yang Mulia Konrad Krajewski (Almoner dari Kantor Amal Kasih Kepausan), usia 54,5 tahun

Yang Mulia Joseph Coutts (Uskup Agung Karachi), usia 72,9 tahun

Yang Mulia António Augusto dos Santos Marto (Uskup Leiria-Fátima, Portugal), usia 71,1 tahun

Yang Mulia Pedro Ricardo Barreto Jimeno (Uskup Agung Huancayo, Peru), usia 74,3 tahun

Yang Mulia Desiré Tsarahazana (Uskup Agung Toamasina, Madagascar), usia 64 tahun

Yang Mulia Giuseppe Petrocchi (Uskup Agung L’Aquila, Italia), usia 69,8 tahun

Yang Mulia Thomas Aquinas Manyo Maeda (Uskup Agung Osaka, Jepang), usia 69,3 tahun

Yang Mulia Sergio Obeso Rivera (Uskup Agung Emeritus Xalapa, Mexico), usia 86,6 tahun

Yang Mulia Toribio Ticona Porco (Uskup Emeritus Corocoro), usia 81,1 tahun

Pastor Aquilino Bocos Merino CMF (Superior Jenderal Emeritus Misionaris Putra-Putra Hati Maria Tak Bercela), 80,1 tahun.

Dengan penambahan itu, maka jumlah kardinal akan menjadi 227 orang, 125 di antaranya tidak ada hak untuk memilih. Uskup Agung Konrad Krajewski akan menjadi kardinal kedua termuda dengan usia 54, sedangkan yang termuda tetap Dieudonne Kardinal Nzapalainga, Uskup Agung Bangui, Republik Afrika Tengah dengan usia 51 tahun.(paul c pati)

Paus Paulus VI akan dikanonisasi di Vatikan tanggal 14 Oktober 2018

Sab, 19/05/2018 - 23:16
Paus Paulus VI

Paus Fransiskus telah mengumumkan bahwa Paulus VI akan dinyatakan sebagai orang kudus pada hari Minggu, 14 Oktober 2018, di Vatikan. Paus Paulus VI, yang menutup Konsili Vatikan II di tahun 1965, akan dikanonisasi di Lapangan Santo Petrus bersama dengan Uskup Agung Oscar Arnulfo Romero, dan empat orang kudus lainnya, selama Sinode para Uskup di Vatikan.

Paulus VI lahir dengan nama Giovanni Battista Montini tahun 1897. Dia meninggal di kediaman kepausan Castel Gandolfo tanggal 6 Agustus 1978 setelah menjadi Paus selama 15 tahun. Saat Audiensi Umum tanggal 16 Maret 1966, Paulus VI menjelaskan “kekudusan bisa dijangkau oleh setiap orang” dan yang diperlukan untuk menjadi orang kudus hanyalah dua elemen yakni “rahmat Tuhan dan kehendak baik.”

Tetapi, Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan juga membutuhkan sebuah mukjizat. Mukjizat itu terjadi tahun 2014, saat seorang bayi yang belum lahir bisa disembuhkan secara misterius dalam rahim ibunya. Dalam kunjungan ke Brescia, tempat kelahiran Paulus VI, ibu dari bayi itu berdoa kepada Paus itu untuk pemulihan anaknya. Dan, berbeda dengan semua prediksi medis, bayi itu bisa sembuh total, dan wanita itu melahirkan bayi perempuan yang sehat. Keajaiban yang diperlukan untuk beatifikasi juga melibatkan penyembuhan seorang bayi dalam kehamilan yang sukar.

Kedua penyembuhan ini penting sampai saat ini karena di tahun ini dirayakan 50 tahun Ensiklik Paulus VI, Humanae Vitae, demi membela kehidupan, terutama yang belum lahir.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Roh Kudus Pentakosta

Sab, 19/05/2018 - 21:30

Pentakosta

20 Mei 2018

Yoh 20: 19-23

“Kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11).”

Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom.  Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristiani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentakosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?

Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah nyala api dan hinggap pada setiap rasul dan murid lainnya. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa yang berbeda, dan mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Hari itu, orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bisa mendengar dan mengerti karya Allah dan dipersatukan sebagai komunitas. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa misi Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan di antara kita yang dipisahkan oleh banyak tembok dan sekat-sekat perbedaan.

Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, dan bangsa, dengan beragam latar belakang, karakter, dan sistem nilai. Kita memiliki kepercayaan, keyakinan dan iman yang berbeda. Ini adalah pekerjaan roh jahat untuk menabur benih rasa takut dan kebohongan, dan dengan ketakutan dan ketidakpahaman terhadap yang lain, lebih mudah bagi kita untuk membangun tembok yang lebih tinggi dan menggali parit yang lebih dalam. Ini menjadi akar fundamentalisme dan radikalisme yang mematikan.

Roh Kudus mendorong kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menjangkau yang lain. Jika kita diciptakan menurut citra Allah yang adalah Tritunggal Mahakudus, dan jika Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang unik, namun hidup dalam kesatuan kasih, kita juga dirancang untuk menjadi individu yang unik, namun kita juga diciptakan sebagai pribadi yang hidup dengan sesama dan bagi sesama. Roh Kudus seperti induk burung elang yang ketika waktunya tiba, akan melemparkan anak-anak mereka dari tebing tinggi dan memampukan mereka terbang.

Beberapa jam setelah pengeboman, masyarakat membanjiri rumah sakit tempat para korban teror dirawat, dan menawarkan diri untuk menjadi donor darah bagi para korban. Seorang relawan berkomentar bahwa darah tidak mengenal suku, agama atau bangsa; hanya tahu tipe O, A, B atau AB! Roh Kudus bekerja melawan pekerjaan roh kudus, bapa segala dusta. Dengan demikian, Roh Kudus memberdayakan kita untuk mewartakan kebenaran dan karya besar Allah. Beberapa menit setelah pemboman, media sosial dibanjiri oleh gambar-gambar kurban-kurban yang tewas untuk menyebarkan ketakutan, tetapi kemudian para pengguna internet Indonesia menolak untuk menyebarkan rasa takut, dan mulai memasang di akun media sosial mereka tagar #kamitidaktakut.

Kisah-kisah heroik juga muncul. Ada Aloysius Bayu, seorang sukarelawan paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya, yang tewas dalam ledakan. Seandainya dia tidak menghentikan para teroris yang mencoba memasuki premis gereja, bisa tak terhitung orang menjadi korban hari itu. Kematiannya tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mengharapkan suaminya pulang dan seorang bayi kecil yang membutuhkan ayahnya. Namun, itu bukan tanpa harapan. Daripada menyerah pada ketakutan atau kemarahan, teman-teman Bayu melihat kematiannya sebagai pengorbanan yang mengarah ke harapan baru. Salah seorang temannya menyatakan, “Kita tidak boleh berhenti pergi ke Gereja. Jika kita berhenti, Bayu akan mati sia-sia.” Roh Kudus mendorong kita untuk berani mewartakan karya Allah dan membuat dunia yang penuh kejahatan menjadi tempat yang lebih baik.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Hubungan Islam dan Katolik harus berubah dari persaingan menjadi kerja sama

Sab, 19/05/2018 - 21:02

“Pikiran yang ingin kami bagikan kepada kalian pada kesempatan ini, saudara-saudari Muslim yang terkasih, menyangkut aspek penting hubungan antara umat Kristen (baca: Katolik) dan Muslim: kebutuhan untuk berubah dari persaingan menjadi kerja sama.”

Pernyataan itu disampaikan dalam Pesan untuk Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1439 H atau 2018 M yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dengan judul “Kristen dan Muslim: Dari Persaingan menuju Kerja Sama.”

Dalam pesan yang sama dewan kepausan itu mengungkapkan juga penghargaan atas pentingnya bulan Ramadan dan upaya umat Islam di seluruh dunia untuk berpuasa, berdoa dan membagikan karunia Allah Yang Maha Kuasa kepada orang miskin.

Pesan yang ditandatangani di Vatikan, 20 April 2018, oleh Jean-Louis Kardinal Tauran dan Uskup Miguel Ángel Ayuso Guixot, M.C.C.I., masing-masing presiden dan sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama itu menegaskan bahwa semangat persaingan telah terlalu sering menandai hubungan masa lalu antara orang Kristen dan Muslim.

Konsekuensi negatif akibat semangat itu, tulis pesan itu, adalah “kecemburuan, saling tuduh dan ketegangan,” dan dalam beberapa kasus menyebabkan konfrontasi penuh kekerasan, “terutama saat agama diperalat, terutama karena kepentingan pribadi dan motif-motif politik.”

Persaingan antaragama seperti itu, lanjut pesan dewan kepausan itu, “melukai citra agama dan pengikutnya, dan menumbuhkan pandangan bahwa agama bukanlah sumber perdamaian, tetapi sumber ketegangan dan kekerasan.”

Untuk mencegah dan mengatasi konsekuensi-konsekuensi negatif ini, tulis pesan itu, umat Kristen dan Muslim perlu mengingat kembali nilai-nilai agama dan moral yang mereka miliki bersama, sambil mengakui perbedaan-perbedaan mereka.

“Dengan mengakui apa yang kita miliki bersama dan menghormati perbedaan, kita dapat lebih kuat membangun landasan hubungan yang penuh damai, seraya berubah dari persaingan menjadi kerja sama efektif demi kebaikan bersama,” tulis pesan itu.

Menurut dewan kepausan itu, umat Katolik dan Muslim bersama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk memberi kesaksian tentang Yang Mahakuasa, dan untuk membagikan kepercayaan mereka kepada sesama, sambil menghormati agama dan sentimen agama mereka.

Untuk bisa melanjutkan hubungan damai dan persaudaraan, tulis pesan itu, “marilah kita bekerja bersama dan saling menghormati. Dengan cara ini kita akan memuliakan Yang Maha Kuasa dan meningkatkan kerukunan dalam masyarakat, yang menjadi semakin multi-etnis, multi-agama dan multi-budaya.”

Dewan kepausan itu mengakhiri pesannya dengan kembali mengucapkan selamat menjalani puasa yang berbuah dan selamat merayakan ‘Id yang penuh sukacita, dan kami “memastikan kepada kalian solidaritas kami dalam doa.”(paul c pati)

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Sab, 19/05/2018 - 20:48
Anggota-anggota Konferensi Waligereja Chili merilis sebuah pernyataan yang dalamnya mereka mengajukan pengunduran diri menyusul pelecehan seksual yang dilakukan klerus di negara mereka (AFP)

Sebanyak 34 uskup Chili yang membentuk Konferensi Waligereja Chili merilis pernyataan pada hari Jumat, 18 Mei 2018, yang menganjuran pengunduran diri dan meletakkan nasib mereka di tangan Paus Fransiskus, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News.

Setelah tiga hari pertemuan dengan Paus Fransiskus di Vatikan, para uskup Chili bertemu dengan pers dan membacakan pernyataan yang berisi ucapkan terima kasih kepada Paus karena telah mendengarkan mereka “secara kebapakan dan karena telah memberikan koreksi persaudaraan” selama hari-hari “refleksi dan doa” ini.

Berbicara singkat kepada pers setelah membaca pernyataan mereka, para uskup menjelaskan bahwa mereka telah menyerahkan jabatan mereka “ke tangan Bapa Suci dan akan membiarkan dia untuk bebas mengambil keputusan” atas mereka masing-masing.

Mereka juga merujuk dokumen yang diserahkan kepada mereka secara pribadi oleh Paus yang di dalamnya ditunjukkan serangkaian “hal yang benar-benar tercela yang telah terjadi di Gereja Chili terkait penyalahgunaan kekuasaan, hati nurani dan seksual yang tidak dapat diterima, dan yang telah menyebabkan berkurangnya semangat kenabian yang menunjukkan sifat Gereja.”

Di atas segalanya, kata para uskup, mereka memohon maaf atas penderitaan yang dialami para korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus, kepada Paus, kepada umat Allah dan kepada negara mereka atas kesalahan dan kelalaian besar mereka.

Mereka juga berterima kasih kepada Uskup Agung Charles Scicluna dan kepada Pastor Jordi Bertomeu, para prelatus yang ditugaskan Paus untuk menyelidiki dan menyusun laporan sebanyak 2.300 halaman berkaitan dengan skandal pelecehan seks yang telah mengguncang Gereja Chili, atas dedikasi pastoral dan pribadi mereka, dan atas upaya mereka selama beberapa minggu untuk menyembuhkan luka-luka masyarakat dan Gereja di negara mereka.

“Kami berterima kasih kepada para korban atas ketekunan dan keberanian mereka dalam menghadapi semua kesulitan berat secara pribadi, spiritual, sosial dan keluarga,” sebuah beban yang sering diperburuk oleh ketidakpahaman dan serangan umat gerejani.

Seraya menggambarkan hari-hari “dialog jujur” yang baru berlalu itu sebagai tonggak sejarah dalam proses perubahan mendalam yang dipandu oleh Paus Fransiskus, para uskup mengatakan bahwa dalam persekutuan dengan Paus, mereka ingin menegakkan kembali keadilan dan berkontribusi untuk memperbaiki kerusakan yang ada, guna memberikan dorongan baru bagi misi kenabian Gereja di Chili. Di sana, kata mereka, “Kristus seharusnya selalu menjadi pusat.”

Seraya bersumpah untuk bertanggung jawab sepenuhnya pada jalan baru ini, para uskup mengakhiri pernyataan mereka dengan mengungkapkan keinginan mereka agar “wajah Tuhan bisa bersinar lagi” di Gereja Chili dan dengan “kerendahan hati dan pengharapan” mereka menghimbau semua orang untuk membantu mereka dalam upaya mereka.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa itu meterai Sakramental?

Jum, 18/05/2018 - 23:16

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

226. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan Gereja?

Kristus sudah mempercayakan Sakramen-Sakramen kepada Gereja-Nya. Sakramen-Sakramen itu adalah Sakramen-Sakramen ”Gereja” dalam arti ganda: Sakramen-Sakramen itu ”dari Gereja” sejauh merupakan tindakan Gereja, yang pada gilirannya merupakan Sakramen tindakan Kristus, dan ”untuk Gereja” sejauh Sakramen-Sakramen itu membangun Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1117-1119

227. Apa itu meterai Sakramental?

Karena meterai ini, orang Kristen dipersatukan dengan Kristus, mengambil bagian dalam imamat-Nya dalam berbagai cara, dan mempunyai peranan di dalam Gereja sesuai dengan kondisi dan fungsinya. Karena itu, mereka ini dikhususkan untukkondisi Gereja. Meterai ini tak dapat dihapuskan sehingga Sakramen-Sakramen bersangkutan hanya diterimakan satu kali selama hidup.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1121

Guru Persink diajak jadi teladan bagi anak didik guna menghalangi disintegrasi bangsa

Jum, 18/05/2018 - 23:00

Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Banten Bazari Syam  mengatakan, guru-guru yang mengajar agama Katolik bagi siswa-siswi yang tergabung dalam Persatuan Siswa-Siswi Negeri Katolik (Persink) se-Banten agar menjadi teladan dalam berperilaku di sekolah dan di masyarakat.

“Disintegrasi bangsa akhir-akhir ini adalah akibat jauhnya pengamalan agama dalam kehidupan. Mungkin guru hanya bertugas mentransfer ilmu kepada anak didik dan kurang memberikan teladan kepada mereka,” kata Bazari Syam di depan 60 guru pengajar Persink se-Provinsi Banten yang berkumpul di sebuah hotel di Serang, 11-12 Mei 2018.

Guru, hendaknya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan agama, tetapi yang lebih penting “mengaplikasikan ilmu agama di tengah masyarakat,” lanjut Bazari Syam dalam pertemuan yang dilaksanakan Bimas Katolik Banten untuk mendengarkan pengalaman guru Persink.

Mengamati berbagai kendala antara lain keterbatasan bahan ajar dan rendahnya motivasi orangtua untuk mendorong anaknya ikut Persink, kepala kantor kemenag itu berharap, meskipun gaji atau honor kecil, para guru “tetap ikhlas dan melakukan tugas dengan penuh tanggungjawab.”

Seorang guru Muslim, yang juga mengajar agama Islam, kisah Bazari Syam, secara riil tidak bisa menghidupi tiga orang anak kalau hanya mengandalkan honor dari sekolah tempat ia mengajar. Tapi karena keikhlasan, dengan rasa tanggungjawab, ternyata Tuhan memberikan rezeki dengan cara lain, dia mendapat keuntungan dengan menjadi perantara menjual motor dan tanah. “Inilah yang disebut ‘Rahmat Tuhan itu tidak jauh,’ kalau semua dijalankan dengan ikhlas,” tegasnya.

Sementara itu terdengar juga beberapa keluhan. Anggota tim kateketik dari Keuskupan Bogor Lorensius Atrik Wibawa mengelukan kesulitan bahan ajar dan menganjurkan guru selalu bekerja sama yang erat dengan Bimas Katolik setempat. “Kadang-kadang kesulitan tidak dikomunikasikan, maka tidak diketahui. Mulai sekarang coba bekerja sama dengan Bimas Katolik,” harapnya.

Agustina Maryati, guru Persink di Paroki Kristus Raja Cikande bagian timur mengatakan hanya enam guru Persink yang melayani 120 murid di daerahnya, apalagi “jarak rumah murid dengan tempat pembelajaran jauh, maka kadang anak-anak tidak datang.”

Rosa Ruwiyani, pengajar Persink di Kedaung, Sepatan, Tangerang, mengatakan hal yang sama bahwa banyak anak tidak hadir dalam sekolah minggu karena tidak diantar oleh orang tua mereka. Menurut catatan PEN@ Katolik, sekolah minggu terkadang menghadapi masalah juga di Paroki Odilia, Citraraya, karena untuk transportasi seorang anak dari daerah Solear harus mengeluarkan uang sebesar 50 ribu rupiah sekali jalan ke gereja.

Selama setahun, Pembimbing Masyarakat Katolik Banten Osner Purba selalu melakukan kunjungan ke paroki untuk menjalin kerja sama dengan pastor paroki dalam mengatasi kesulitan itu. “Kepala paroki bukan atasannya Pembimas Katolik atau sebaliknya, tetapi keduanya adalah mitra, yang berarti saling bekerja sama menyelesaikan problem yang dialami umat Katolik, termasuk guru Persink,” katanya. (Konradus R. Mangu)

12 orang terkenal yang mengandalkan Perawan Maria

Jum, 18/05/2018 - 18:38

Dalam Bulan Mei, saat perhatian kita tercurah kepada Maria, PEN@ Katolik secara khusus mengangkat sebuah artikel dari Aleteia yang ditulis oleh Cerith Gardiner tanggal 17 Mei 2018 yang menampilkan 12 aktor hingga olahragawan terkenal yang secara terbuka membagikan kasih sayang mereka kepada Bunda Maria Terberkati.

Dikatakan dalam tulisan itu bahwa sepanjang bulan ini perhatian kita tercurah kepada Maria, karena di sepanjang sejarah Maria telah mengilhami jutaan orang dengan rahmat, teladan, dan kasihnya. “Seperti semua ibu yang baik, dia mendukung kita melalui yang baik dan yang buruk, dengan cinta tanpa syarat …”

Bahkan beberapa orang yang sangat terkenal itu tidak pernah malu mengungkapkan cinta mereka kepada Perawan Maria, dan mereka berbicara tentang bagaimana mereka masih menyandarkan karier mereka kepadanya.

Maka, lihatlah gambar dan pandangan beberapa orang terkenal di bawah ini yang mengungkapkan pengabdian, kekaguman, rasa hormat, dan cinta mereka yang luar biasa untuk Bunda Yesus …

Jim Caviezel
Tentang devosi sang aktor kepada Maria: “Inilah inti iman saya. Hubungan saya dengan Yesus adalah berkat dia. Dia membawa Yesus kepada kami.”
AP
1/12 Willa Cather
Penerima American Pulitzer Prize mengklaim: “Hanya seorang wanita, yang ilahi, yang bisa tahu semua yang bisa diderita wanita.”
Wikipedia PD
2/12 Eduardo Verasregui
“Brad Pitt” dari Meksiko tidak pernah akan melakukan syuting kalau “Perawan Maria Yang Terberkati atau ibu saya menutup mata mereka.”
Eduardo Verastegui | Facebook |
3/12 Tim Watkins
Produser, sutradara, dan penulis film religius hanya menyatakan: “Saya tidak layak menyentuh jumbai-jumbai gaun Maria.”
The Blood & The Rose | Facebook |
4/12 Katie Ledecky
Juara renang yang saleh menyatakan: “Saya kira devosi kita kepada Maria sangat indah. Dia memiliki peran suci dalam agama Katolik, dan kita bisa belajar dari imannya yang kuat serta dari kerendahan hatinya.”
Katie Ledecky | Facebook |
5/12 J. R. R. Tolkien
Novelis terkenal dan penganut Katolik yang saleh menyatakan: “Semua persepsi saya tentang keindahan baik dalam keagungan dan kesederhanaan didasarkan pada Bunda Maria.”
Wikipedia PD
6/12 Gerry Faust
Mantan pelatih sepak bola Notre Dame mengatakan: “Ketidaksempurnaan kita dilupakan kalau intensi-intensi kita disampaikan kepada Kristus oleh Bunda-Nya yang tak bercela.”
Universitas Dominikan Ohio | Facebook |
7/12 Lech Walesa
Presiden Polandia yang kedua membagikan: “Dalam diri saya, saya bukan apa-apa. Semuanya berasal dari Tuhan dan Perawan Maria.”
UNESCO | Christelle ALIX | Flickr CC oleh NC ND 2.0
8/12

Simone Biles
Juara gimnastik Olimpiade berbicara tentang kekuatan Maria: “Salam Maria adalah doa yang indah dan saya merasakan doa itu menenangkan saya.”
ABC | Grup Gambar LA | Flickr CC oleh ND 2.0
9/12

GK Chesterton
Penulis dan filsuf Inggris mengklaim bahwa kita “mengabdi seorang Ibu yang tampaknya semakin cantik ketika generasi-generasi baru bangkit dan memanggilnya yang terberkati.”
Wikipedia PD
10/12 Johnny Sauter
Di akhir lombanya, juara NASCAR ini mengejutkan pemirsa dengan mengatakan: “Saya berterima kasih kepada Bunda Terberkati dan kepada Hati Kudus Yesus.”
Wikipedia CC oleh SA 3.0
11/12 Mark Van Guilder
Pemain hoki ini berbagi: “Saya penggemar berat Perawan Maria – kerendahan hatinya yang luar biasa … Maria adalah contoh yang luar biasa untuk melepaskan dan membiarkan kehendak Tuhan mengambil alih.”
AP
12/12

 

 

Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan Kristus?

Kam, 17/05/2018 - 22:52

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

224. Apa itu Sakramen dan ada berapa macam?

Sakramen-Sakramen yang ditetapkan oleh Kristus dan dipercayakan kepada Gereja merupakan tanda yang mendatangkan rahmat yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Ada tujuh Sakramen, yaitu Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi Kudus, Tobat, Pengurapan Orang Sakit, Penahbisan, dan Perkawinan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1113-1131

225. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan Kristus?

Misteri-misteri hidup Kristus merupakan dasar dari apa yang Dia bagikan di dalam Sakramen-Sakramen melalui para pelayan Gereja.

“Apa yang tampak di dalam diri Penyelamat kita

diwujudkan dalam Sakramen-Sakramen-Nya”

(Santo Leo Agung)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 461-463, 483

Umat Katolik harus terus meningkatkan persaudaraan sejati di tingkat akar rumput

Kam, 17/05/2018 - 20:57
Ist.

Umat Katolik harus terus-menerus mengupayakan dan meningkatkan persaudaraan sejati di tingkat akar rumput dengan membangun dialog dengan aksi yang nyata dan terus bergerak menciptakan perdamaian sejati, kata Pastor Benny Susetyo Pr kepada PEN@ Katolik menanggapi Silaturahmi Kebangsaan yang berlangsung di beranda Masjid Istiqlal, Jakarta, 16 Mei 2018.

Silaturahmi dalam rangka Memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2018, itu dihadiri enam tokoh lintas agama yakni Nasaruddin Umar dari agama Islam, Pendeta Henriette T Hutabarat-Lebang dari agama Kristen Protestan, Mgr Iqnatius Suharyo dari agama Katolik, Ida Pengelingsir Agung Patra Sukahef dari agama Hindu, Biksu Pannavaro Mahathera dari agama Budha, dan Chandra Setiawan dari agama Konghucu.

Menurut imam itu, hadir juga dalam Silaturahmi Kebangsaan, yang dilakukan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) itu, Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, Menko PMK Puan Maharani, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, dan tokoh-tokoh agama lain.

Menjawab pertanyaan media ini tentang bentuk dialog dengan aksi yang nyata yang masih perlu dilakukan umat Katolik, Pastor Benny Susetyo yang juga anggota Dewan Pengarah BPIP menegaskan bahwa “umat Katolik masih perlu meningkatkan dialog kehidupan dengan menciptakan hubungan yang harmonis dengan tetangga dan menciptakan suasana saling membutuhkan.”

Imam itu membenarkan bahwa umat Katolik sudah sedang melakukannya tetapi masih kurang dan, “sudah harus ditingkatkan dengan dialog praksis di akar rumput.”

Menag berharap agar kegiatan silaturahmi itu bisa menghangatkan kesadaran memori kolektif bangsa melalui tokoh-tokoh agama, bahwa pengejawantahan atau pengamalan nilai-nilai Pancasila itu hakikatnya adalah pengamalan dari nilai-nilai agama itu sendiri. “Seluruh sila yang ada dalam Pancasila kita hakikatnya adalah nilai-nilai agama,” tegas Menteri Lukman Hakim Saifuddin.(paul c pati)

Paus ucapkan selamat memasuki Ramadan dan sedih melihat ketegangan di Tanah Suci

Kam, 17/05/2018 - 17:27
Berdasarkan Vatican News

Dalam audiensi umum hari Rabu, 16 Mei 2018, di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus Fransiskus memberikan salam hormat bagi umat Muslim yang hendak memulai Bulan Ramadan keesokan harinya, seraya berharap “waktu yang istimewa untuk doa dan puasa ini membantu dalam menjalani jalan Allah yakni jalan perdamaian.”

Sebelumnya, Paus juga mengungkapkan rasa sangat khawatir dan sedih “karena meningkatnya ketegangan di Tanah Suci dan di Timur Tengah, dan karena spiral kekerasan yang semakin jauh dari jalan perdamaian, dialog dan negosiasi.”

Selain mengungkapkan “rasa duka mendalam terhadap orang-orang yang telah mati dan yang terluka dan saya dekat dengan doa dan kasih sayang bagi semua orang yang menderita,” Paus Fransiskus kembali menegaskan bahwa “penggunaan kekerasan tidak pernah mengarah pada perdamaian.” Sebaliknya, lanjut Paus, seperti terjemahan sambutan Paus dalam bahasa Inggris yang dibagikan oleh Kantor Pers Vatikan, “Perang melahirkan perang, kekerasan melahirkan kekerasan.”

Paus pun mengajak semua pihak yang terlibat serta masyarakat internasional untuk memperbarui komitmen mereka sehingga terjadi dialog, keadilan, dan perdamaian. “Mari kita mohon kepada Maria, Ratu Perdamaian. “Salam Maria …”(paul c pati)

Bagaimana Roh Kudus berkarya dalam liturgi Gereja?

Rab, 16/05/2018 - 23:33
dari http://www.newliturgicalmovement.org/

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

221. Dengan cara apa Bapa merupakan sumber dan tujuan liturgi?

Melalui liturgi, Bapa memenuhi kita dengan berkat-berkat-Nya dalam Sabda yang menjadi daging, yang wafat dan bangkit untuk kita dan mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati kita. Pada saat yang sama, Gereja menghormati-Nya dengan ibadah, pujian, dan syukur serta memohon kepada-Nya anugerah-anugerah Putra dan Roh Kudus

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1077-1083, 1110

222. Apa karya Kristus dalam liturgi?

Dalam liturgi Gereja, misteri Paskah Kristus ditandakan dan dihadirkan. Dengan memberikan Roh Kudus kepada para Rasul-Nya, Yesus mempercayakan kepada mereka dan pengganti-pengganti mereka kekuatan untuk menghadirkan karya penyelamatan Allah melalui kurban Ekaristi dan Sakramen-Sakramen lainnya. Dalam Sakramen-Sakramen inilah Kristus bertindak untuk mengomunikasikan rahmat-Nya kepada semua umat beriman di segala macam tempat dan waktu di dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1084-1090

223. Bagaimana Roh Kudus berkarya dalam liturgi Gereja?

Kerja sama yang paling erat antara Roh Kudus dengan Gereja terjadi dalam liturgi. Roh Kudus mempersiapkan Gereja untuk berjumpa dengan Allahnya. Roh Kudus mengingatkan dan menyatakan Kristus kepada iman jemaat. Dia membuat misteri Kristus betul-betul hadir. Dia mempersatukan Gereja dengan hidup dan perutusan Kristus dan menghasilkan buah persekutuan di dalam Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1091-1109, 1112

‘Nenek peziarah’ berjalan 900 kilometer lebih untuk berdoa bagi keluarga-keluarga

Rab, 16/05/2018 - 22:07
Emma Morosini mendapat julukan “nenek peziarah.” Foto Yolanda Longino

Awal bulan ini, di usia 94 tahun, Emma Morosini mendapat julukan “nenek peziarah” setelah dia menyelesaikan perjalanan ziarah sepanjang 570 mil atau 917,326 kilometer untuk menghormati Santa Perawan Maria dari Guadalupe.

Ziarahnya itu berlangsung selama 40 hari dari Monterrey, di Meksiko timur laut, ke Mexico City. Di sana dia berdoa di Basilika Perawan Maria dari Guadalupe, di depan tilma (mantol kasar yang dipakai suku Indian di Mexico) milik Santo Juan Diego.

Morosini, nenek asli Italia yang sudah 25 tahun lebih melakukan ziarah keliling dunia, tiba sore hari tanggal 12 Mei 2018 di Basilika Perawan Maria Guadalupe di Mexico City, untuk berdoa bagi keluarga-keluarga, bagi orang muda, dan bagi “perdamaian dunia.”

“Nenek peziarah” itu telah mengunjungi tempat-tempat ziarah di Portugal, Spanyol, Polandia, Israel, Brasil dan Argentina.

Selama ziarah, Morosini mulai berjalan setiap hari pukul 6:30 pagi, membawa koper kecil dan payung, dan demi keamanan dia mengenakan rompi reflektif.

Untuk makan, Morosini membawa susu, jus, roti, dan air, seraya menerima sepanjang jalan beberapa sumbangan buah dan sayuran.

Di berbagai titik dalam perjalanannya ia didampingi oleh personel medis dan keamanan sipil atau oleh Polisi Federal Meksiko. Sepanjang rute perjalanannya, dia sering mendapat rumah penginapan dari otoritas kota.

Dalam ziarah tahun 2015 di Argentina, ketika berusia 91 tahun, Morosini mengatakan kepada wartawan bahwa dia sedang berdoa untuk “perdamaian di dunia, untuk orang muda, untuk semua keluarga yang hidup terpisah. Banyak yang terpisah, sebagian hidup bersama tetapi bukan pasangan, atau mereka tidak memiliki anak. Sangat menyedihkan.”

“Nenek peziarah” itu disambut tepuk tangan sesama peziarah ketika dia tiba di Basilika Perawan Maria dari Guadalupe. Sebelum memasuki gereja, wanita itu berlutut, mencium tanah, membuat tanda salib dan berdoa hening selama beberapa saat.(paul c pati berdasarkan Catholic News Agency, 15 Mei 2018, Mexico City, Meksiko)

dari www.noticiasdequeretaro.com dari Pinterest Tempat Ziarah Perawan Maria Guadalupe di Mexico City, Mexico. Foto Eduardo Berdejo/CNA

Paus: kita perlu bersyukur kalau pemimpin agama aktif tumbuhkan budaya perjumpaan

Rab, 16/05/2018 - 19:10
Paus Fransiskus bertemu dengan umat Buddha di Yangon, Myanmar, 29 November 2017.

Perwakilan umat Buddha, Hindu, Jain, Sikh dan Kristen ikut serta dalam konferensi yang diselenggarakan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dengan tema “Dharma dan Logos – Dialog dan Kerja Sama dalam Abad yang Kompleks,” yang diikuti sekitar 200 wakil agama-agama Dharmik, atau agama-agama yang berasal dari anak benua India, 15 Mei 2018.

Keesokan harinya, 16 Mei 2018, Paus Fransiskus secara singkat bertemu dengan delegasi umat Buddha, Hindu, Jain, dan Sikh yang berpartisipasi dalam konferensi satu hari di Vatikan itu beserta satu kelompok lain biarawan Budha dari Thailand.

Ketika bertemu dengan perwakilan agama-agama Dharmik menjelang audiensi umum mingguannya, Paus menyatakan puas dengan konferensi yang mereka hadiri, seraya mengatakan “dialog dan kerja sama sangat penting pada saat seperti sekarang ini” yang ditandai oleh ketegangan, konflik dan kekerasan.

Paus mengatakan, kita perlu bersyukur kepada Tuhan kalau “para pemimpin agama secara aktif menumbuhkan budaya perjumpaan dengan memberikan contoh dialog yang berbuah dan dengan bekerja bersama secara efektif dalam melayani kehidupan, martabat manusia dan kepedulian terhadap ciptaan.”

Dalam pertemuan terpisah, delegasi biksu Budha dari Thailand memberikan kepada Paus “Kitab Suci yang diterjemahkan ke dalam bahasa hari ini oleh para biksu dari Kuil Wat Pho.” Paus berterima kasih kepada mereka untuk buku itu dengan mengatakan itulah tanda nyata kemurahan hati dan persahabatan yang dialami bersama umat Buddha dan Katolik selama bertahun-tahun.

Dalam hal ini, Paus Fransiskus mengingat kembali pertemuan di Vatikan antara Beato Paus Paulus VI dan Yang Mulia Somdej Phra Wanaratana, yang potretnya dapat dilihat di kantor Dewan Kepausan itu.

Paus mendesak umat Buddha dan umat Katolik untuk terus lebih berdekatan, “semakin saling mengenal dan semakin  menghargai tradisi spiritual masing-masing, serta memberikan kepada dunia kesaksian akan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan pembelaan martabat manusia.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa peranan liturgi dalam kehidupan Gereja?

Sel, 15/05/2018 - 23:37

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

219. Apa peranan liturgi dalam kehidupan Gereja?

Liturgi sebagai tindakan suci par excellence adalah puncak yang menjadi arah kegiatan Gereja dan merupakan sumber semua kekuatannya. Melalui liturgi, Kristus meneruskan karya penebusan kita dalam, dengan, dan melalui Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1071-1075

220. Apa isi tata keselamatan Sakramental?

Tata keselamatan Sakramental terdapat dalam komunikasi buah-buah penebusan Kristus melalui perayaan Sakramen-Sakramen Gereja, secara khusus Ekaristi, ”sampai Ia datang” (1Kor 11:26).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1076

Halaman