Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 31 mnt 32 dtk yang lalu

Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?

Jum, 20/07/2018 - 23:31
Foto diambil dari faithfulman.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

339. Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?

Karena dosa asal, yang menyebabkan perpecahan persekutuan laki-laki dan perempuan yang dianugerahkan Allah, kesatuan perkawinan sangat sering terancam oleh ketidakharmonisan dan ketidaksetiaan. Tetapi, Allah dalam kerahiman-Nya yang tanpa batas memberikan kepada laki-laki dan perempuan rahmat untuk membawa kesatuan hidup mereka ke dalam harmoni dengan rencana ilahi asali.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1606-1608

340. Apa yang diajarkan Perjanjian Lama mengenai Perkawinan?

Allah membantu umat-Nya terutama melalui ajaran Hukum dan para Nabi untuk sedikit demi sedikit mendalami pemahaman kesatuan dan ketakterceraian perkawinan. Perjanjian perkawinan antara Allah dengan Israel mempersiapkan dan melambangkan awal Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus, Putra Allah, dengan mempelai-Nya, yaitu Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1609-1611

Superior Jenderal MC, Suster Mary Prema: Para suster Ibu Teresa tidak terlibat penjualan bayi

Kam, 19/07/2018 - 22:44
Suster Mary Prema, superior jenderal para suster Misionaris Cinta Kasih milik Ibu Teresa.

Suster Mary Prema, superior jenderal Misionaris Cinta Kasih (MC) yang didirikan dan dimiliki oleh oleh Ibu Teresa mengatakan, para suster tidak terlibat dalam penjualan bayi dari sebuah pusat penampungan ibu-ibu tidak menikah di Ranchi, India. Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja India Mgr Theodore Mascarenhas sependapat.

Karena kasus itu, seorang suster MC Teresa dan seorang pekerja di penampungan Nirmal Hriday, yang dikelola oleh para suster MC itu telah ditahan dan pihak berwenang memerintahkan pemeriksaan semua rumah yang dikelola para suster itu. Penahanan awal bulan ini terjadi karena pengaduan sepasang suami-isteri India yang membayar 120.000 rupee kepada karyawan Nirmal Hriday bernama Anima Indwar.

Menanggapi hal itu, Pemimpin Umum MC Suster Mary Prema mengeluarkan siaran pers di hari Selasa, 17 Juli 2018, yang mengatakan bahwa penjualan bayi yang baru lahir itu “tidak ada hubungannya dengan Kongregasi Misionaris Cinta Kasih.”

“Kami sangat sedih mendengar perkembangan terakhir” di rumah MC, tulis suster itu dalam pernyataan resmi itu. “Walaupun kami percaya penuh pada proses peradilan yang sedang berlangsung, kami ingin mengungkapkan penyesalan dan kesedihan atas apa yang terjadi dan keinginan untuk mengungkapkan dengan tegas kecaman terhadap tindakan individu yang tidak ada hubungannya” dengan kongregasi MC.

Meskipun percaya pada hukum dan pengadilan, Suster Prema menyesali “berkembangnya banyak cerita yang dibuat-buat, informasi menyimpang, berita palsu yang tersebar dan sindiran tanpa dasar yang dilontarkan mengenai Suster-Suster Ibu Teresa.”

Dalam siaran pers, Suster Prema bercerita, ketika Karishma Toppo, ibu yang tidak menikah, melahirkan bayinya tanggal 1 Mei di Nirmal Hriday, ia menyatakan dalam pendaftaran bahwa ia akan menyerahkan anaknya ke Komite Kesejahteraan Anak (CWC), otoritas pemerintah tingkat distrik yang bertugas untuk adopsi anak.

Indwar, yang sangat dipercaya oleh para suster, menemani Toppo dan pengawalnya untuk menyerahkan bayi itu ke CWC, tetapi, kata Suster Prema, penampungan atau para suster tidak dapat memastikan apakah anak itu benar-benar diserahkan kepada CWC, karena komite itu tidak mengeluarkan surat tanda terima telah mengambil hak asuh seorang anak.

Ketika ditanya tentang bayi yang diambil oleh CWC tanggal 3 Juli, Indwar mengakui bayi itu dijual di tempat lain. Dia diserahkan ke polisi.

Kemudian terungkap bahwa dari uang 120.000 rupee yang dibayar oleh pasangan yang mengadopsi anak itu, Indwar mengambil 20,000 rupee, yang mengawal 10.000 rupee dan Toppo, ibu biologis, 90.000 rupee guna melanjutkan studinya.

Keesokan harinya, Suster Concelia, penanggung jawab bagian ibu-ibu tidak menikah, dan Suster Marie Deanne, superior Nirmal Hriday ditangkap. Suster Deanne kemudian dibebaskan.

Yang terjadi di Nirmal Hriday itu “menyedihkan, tragis, tercela, tidak dapat diterima,” demikian penyesalan Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen Konferensi Waligereja India (CBCI) yang juga uskup pembantu Ranchi. Namun, kongregasi MC “benar-benar tidak terlibat dalam hal ini,” kata uskup itu kepada saluran TV Mirror Now.

Ketika berbicara dengan Vatican News lewat telepon, Uskup Mascarenhas mengatakan bahwa kepentingan pribadi sedang mengeksploitasi isu itu untuk memfitnah Ibu Teresa dan Gereja Katolik.

Ketika ditanya tentang pernyataan resmi Suster Prema, pejabat CBCI itu menguraikan pernyataan suster itu dalam tiga poin. Pimpinan MC telah menyatakan penyesalan dan kesedihan atas apa yang terjadi di pusat ordo itu di Ranchi. Kedua, para suster sama sekali tidak terlibat dan tidak bertanggung jawab atas tindakan-tindakan individu beberapa orang. Terakhir, para suster berdoa untuk peradilan dan mereka “terbuka untuk penyelidikan peradilan yang bebas dan adil.” Mereka juga berdoa bagi semua orang yang memihak mereka dan terus memihak mereka.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Kerabat Kerja Ibu Teresa melayani tanpa kata tapi karya nyata

Gereja India rayakan hari raya Ibu Teresa, guru yang paling unggul

Apa rencana Allah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?

Kam, 19/07/2018 - 21:00

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN PERKAWINAN

337. Apa rencana Allah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?

Allah yang adalah cinta dan yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk cinta telah memanggil mereka untuk mencinta. Dengan menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah memanggil mereka kepada persatuan hidup yang intim dan cinta dalam perkawinan. ”Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mat 19:6). Allah bersabda dan memberkati mereka: ”Beranak-cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1601-1605

338. Untuk tujuan apa Allah menetapkan Perkawinan?

Hubungan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, yang didasarkan dan didukung dengan hukum-hukumnya sendiri oleh sang Pencipta, menurut kodratnya bertujuan untuk persatuan dan kebaikan pasangan dan menurunkan serta mendidik anak-anak. Menurut rencana ilahi asali, persatuan perkawinan ini tak dapat diceraikan, seperti Yesus Kristus menegaskan: ”Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1659-1660

Membunyikan lonceng gereja tidaklah cukup untuk melawan pembunuhan, kata seorang imam

Kam, 19/07/2018 - 15:59
Pastor Albert Alejo SJ minta orang-orang Gereja untuk bertindak melawan pembunuhan, dalam Kongres Filipina tentang Evangelisasi Baru di Paviliun Quadricentennial UST di Manila, 18 Juli 2018. Foto: MARTINA SUMMER DAGAL

Di hari pertama Kongres Filipina tentang Evangelisasi Baru di Manila, seorang imam Katolik mendesak para klerus dan pelaku hidup bakti untuk “bangun” dan bertindak memperjuangkan kehidupan di saat pembunuhan di Filipina terus berlanjut.

Pembela perdamaian Pastor Albert Alejo mengatakan, Gereja harus bersuara menentang pembunuhan seperti yang dilakukannya terhadap RUU Kesehatan Reproduksi. “Masalah sebelumnya adalah RUU Kesehatan Reproduksi. Para suster dan seminaris mau datang ke Kongres untuk membela kesucian hidup. Tapi sekarang, telur yang dibuahi sudah menjadi orang dewasa … yang sedang dibunuh. Mengapa kalian tidak mau melakukan sesuatu?” tanya Pastor Alejo.

“Bukankah ini waktunya bagi Gereja untuk lebih aktif? Apakah kita menunggu sampai lonceng gereja berbunyi?” ini kata sosiolog agama, ‘Kami butuh engkau nabi’,” kata imam itu. Beberapa bulan terakhir, beberapa keuskupan menyerukan agar lonceng gereja dibunyikan saat mereka berdoa bagi para korban pembunuhan terkait narkoba.

Menurut imam Yesuit itu, diperlukan orang-orang Gereja untuk terlibat aktif dalam “diskursus publik” bahkan di tengah serangan-serangan terhadap gereja. “Apakah kita tetap sebagai pengamat?” tanya Pastor Alejo.

“Kita perlu belajar bahasa bergabung, ikut serta dalam diskursus publik dan siap untuk diganggu oleh orang yang melihat kesalahan dalam diri kita. Tapi seharusnya itu tidak membuat kita berhenti berbicara,” lanjut imam itu.

Pastor Alejo memperingatkan juga bahwa pembunuhan imam hanyalah indikasi adanya “budaya impunitas” (kejahatan tanpa hukuman yang menimbulkan ancaman serius bagi hak asasi manusia. Red.) (pcp berdasarkan tulisan Joselle Dela Cruz di CPCPNews, 19 Juli 2018)

Artikel Terkait:

Keluarga Dominikan Filipina akan puasa melawan pembunuhan akibat perang melawan narkoba

Para uskup Filipina ajak umat berdoa, mengaku dosa, beramal untuk masa masa sulit

Umat Katolik Filipina berdemo menentang ancaman terhadap kehidupan

Gereja mendesak pertobatan atas pembunuhan yang merajalela di Filipina

Para uskup Filipina khawatir, perang lawan narkoba tewaskan 81 orang dalam empat hari

Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri diminta terus perjuangkan cita-cita bangsa

Kam, 19/07/2018 - 07:12
Uskup Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri Mgr Ignatius Suharyo membagikan Rosario Merah-Putih untuk semua anggota TNI dan Polri beragama Katolik di Kalimantan Barat/PEN@ Katolik

“Saya yakin di NKRI ada komunitas-komunitas kecil yang terus berpegang teguh pada idealisme bangsa yang tidak luntur dipengaruhi arus zaman. Saya yakin pula, TNI dan Polri adalah komunitas kecil, apalagi kalau dicari umat Katoliknya, yang terus memperjuangkan cita-cita kemerdekaan yakni Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, NKRI dan Pancasila.”

Pernyataan itu disampaikan Uskup Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia, OCI) Mgr Ignatius Suharyo dalam homili di Kodam XII Tanjungpura, 18 Juli 2018.

Gereja Katolik Indonesia memiliki 37 keuskupan teritorial dan satu keuskupan kategorial, yakni OCI atau Keuskupan (Ordinariat) Militer di Indonesia, yang berdiri berdasarkan Surat Keputusan Kongregasi Suci untuk Pengembangan Iman tertanggal 2 Desember 1947 dengan Mgr Albertus Soegijapranata SJ sebagai Uskup Militer pertama di Indonesia, kedua Justinus Kardinal Darmojuwono, ketiga Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, dan keempat Mgr Suharyo.

Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, NKRI dan Pancasila, menurut Mgr Suharyo, adalah “nilai-nilai pokok yang tidak boleh luntur oleh arus zaman, yang hendaknya melandasi tugas dan tanggung jawab anggota TNI dan Polri Katolik untuk menjaga supaya Negara kita tetap sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa kita.”

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus membenarkan bahwa Gereja Katolik peduli kepada TNI dan Polri. Salah satu langkah yang diambilnya adalah meminta izin Uskup Agung Ende agar Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli Pr boleh mengikuti pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas),  karena KWI memiliki jatah satu orang setiap tahun.

“Dan dia diterima.” Kini imam itu menjadi Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri (Pasbanmilpol) OCI, yang mendampingi Mgr Suharyo dalam kunjungan pastoral 17-19 Juli 2018 itu.

Namun, Mgr Agus memohon maaf kepada Uskup OCI karena selama ini dia belum maksimal memberikan perhatian bagi umat di keuskupan itu. “Saya berjanji membagikan pengalaman dua hari ini kepada semua pastor paroki di Keuskupan Agung Pontianak ini agar mereka memberikan perhatian kepada anggota TNI dan Polri beragama Katolik.”

Dalam paparannya, Pastor Ronny menjelaskan, segenap insan TNI dan Polri menjunjung tinggi nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Tri Brata, “yang dapat membantu segenap prajurit (perwira, bintara, tamtama) dan purnawirawan untuk menjadi warga negara yang utuh dan warga Gereja yang utuh.”

Atau, lanjut imam itu, dalam bahasa uskup pribumi pertama dan pahlawan nasional Mgr Albertus Sugiyopranoto, “menjadi umat Katolik dan warga negara yang utuh, menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia, yakni mengabdi bagi pencapaian tujuan nasional atas dasar Pancasila serta demi keutuhan dan kedaulatan NKRI yang majemuk, plural, dan multikultural ini.”

Pastor Ronny juga mengajak umat keuskupan OCI untuk menyadari bahwa mereka semua, seperti para murid Yesus yang pertama, adalah pribadi-pribadi yang terpanggil dan terpilih dan “tidak pernah boleh mengatakan ‘kebetulan saya Katolik’.”

Keyakinan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan dipanggil, lanjut imam itu “seharusnya membuat kita menjadi warga Gereja yang bangga dengan jati diri kita sebagai murid murid Kristus. Kita sadar bahwa kita dipilih dan dipanggil tidak demi kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk mengikuti  Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan hidup demi sesama, demi kebaikan bersama.”

Mengamati wajah-wajah “cantik dan ganteng” para prajurit dan bayangkara negara, polisi dan tentara, yang “sungguh mengalami sukacita” saat kunjungan Uskup OCI itu, Pastor Ronny menambahkan, “mereka perlu mengalami sukacita dalam Tuhan Yesus dan Bunda Maria karena gembala utama OCI boleh datang menyapa, meneguhkan, menguatkan, dan memberi berkat dan doa agar mereka mampu dan dikuatkan dalam hidup menggereja, bermasyarakat dan bernegara dalam NKRI.”

Wakapolda Kalbar Brigjen Pol Gracia Sri Handayani mengatakan “Allah mengajak kita untuk menghormati orang lain walau berbeda ras, agama, pekerjaan, maupun strata sosial,” maka sebagai aparatur negara yang menangani keamanan adalah “kewajiban kita untuk memulai toleransi dalam diri sendiri, sehingga diteladani masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa.”

Kunjungan pastoral Uskup OCI dengan tema “Lebih Dekat dengan Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri, serta Peningkatan Spiritualitas Katolik dan Kebangsaan Prajurit Katolik demi Keutuhan dan Kedaulatan NKRI,” lanjut wakapolda, sangat dirindukan dan berguna bagi anggota TNI dan Polri di Kalbar.

Dalam acara tatap muka dengan umat Keuskupan OCI se-Garnizun Pontianak, Mgr Suharyo menjelaskan, kunjungan itu dilakukan secara konsisten untuk menguatkan iman umat keuskupan itu sekaligus menanamkan kecintaan mereka kepada NKRI. “Kunjungan ini untuk menanamkan semangat iman Katolik agar para prajurit mengabdi NKRI sebagai bagian perwujudan perutusan ke tengah dunia, bahwa cinta kepada bangsa adalah bagian dari iman.”

Mgr Suharyo yang juga membagikan Rosario Merah-Putih kepada semua yang hadir, membenarkan bahwa OCI  mempertegas komitmen militansi “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia”, terutama “agar para prajurit TNI dan Polri menanamkan semangat melayani.”(ak)

Artikel Terkait:

Mgr Suharyo di Pontianak: Keuskupan Militer tanda dukungan Gereja atas Kemerdekaan RI

Wakapolda Kalbar Brigjen Pol Gracia Sri Handayani memberi kesaksian/PEN@ Katolik Mgr Suharyo meyalami para anggota TNI/PEN@ Katolik Foto PEN@ Katolik Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri (Pasbanmilpol) OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli Pr bersama anggota TNI dan Polri beragama Katolik/PEN@ Katolik Mgr Agustinus Agus bercakap-cakap dengan anggota TNI beragama Katolik/PEN@ Katolik

Bagaimana pelaksanaan upacara Sakramen Penahbisan?

Rab, 18/07/2018 - 18:01
Paus menahbiskan imam-imam di Vatikan/Foto dari Catholic For Life

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

331. Bagaimana pelaksanaan upacara Sakramen Penahbisan?

Sakramen Penahbisan dilaksanakan, dalam setiap tingkatannya, dengan cara penumpangan tangan ke atas kepala yang ditahbiskan oleh Uskup yang mengucapkan doa agung Penahbisan. Dengan doa ini, Uskup memohon kepada Allah, bagi yang ditahbiskan, pencurahan Roh Kudus dan anugerah Roh sesuai dengan pelayanan yang dimaksud oleh Penahbisan tersebut.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1572-1574, 1597

332. Siapa yang dapat melayani Sakramen ini?

Hanya para Uskup yang ditahbiskan dengan sah sebagai pengganti para Rasul yang dapat melaksanakan Sakramen Penahbisan ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1575-1576, 1600

333. Siapa yang dapat menerima Sakramen ini?

Sakramen ini hanya dapat diterima secara sah oleh orang yang sudah dibaptis. Gereja mengakui dirinya terikat pada pilihan yang sudah dibuat oleh Tuhan. Tak seorang pun dapat menuntut untuk menerima Sakramen Penahbisan ini, tetapi harus melalui penilaian kelayakan untuk pelayanan ini oleh otoritas Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1577-1578, 1598

Fransiskan muda hendaknya jalani kedinaan, miliki pengharapan, teladani Santo Bonaventura

Rab, 18/07/2018 - 15:57

Provinsial Ordo Fratrum Minorum (OFM) Indonesia Pastor Mikael Peruhe OFM mengatakan ada tiga jurus penting yang perlu dilakukan Fransiskan muda, yang mengucapkan profesi pertama, sehingga dapat memelihara panggilannya dalam Keluarga Besar Fransiskan, yakni “menjalani kesederhanaan (kedinaan), memiliki pengharapan serta meneladani cara hidup Santo Bonevantura.”

Pastor Mikael Peruhe OFM berbicara dalam homili Misa Profesi Pertama 17 Novis Fransiskan di Gereja Paroki Santo Paulus Depok, Keuskupan Bogor, 15 Juli 2018. Pembina Rumah Transitus Depok Pastor Fransiskus Asisi Oki Dwihatmanto OFM dan Kepala Paroki Santo Paulus Pastor Gregrorius Pontus OFM menjadi konselebran Misa yang dihadiri sekitar 500 umat setempat termasuk keluarga dan sahabat dari para Fransiskan yang mengucapkan kaul pertama.

Dalam Misa bertema “Jika kami untuk melayani baiklah kita melayani” itu Pastor Mikael Peruhe menegaskan bahwa karya pewartaan Kabar Gembira di zaman Yesus bukanlah pekerjaan mudah karena ada ancaman bahkan ancaman keselamatan bagi mereka yang setia mewartakan-Nya. Meski demikian Yesus mengajak para murid dan rasul-Nya untuk memanfaatkan setiap karunia, dan itu menjadi kekuatan yang luar biasa, jelas imam itu.

Di zaman itu, jelas Pastor Peruhe, memang tidak mudah melakukan jurus kesederhanaan atau kedinaan. “Namun, setiap orang bisa secara sadar melepaskan kelekatannya pada hal-hal duniawi untuk merawat panggilannya, sehingga tetap baik adanya,” kata imam itu seraya meminta seorang Fransiskan “menghayati panggilan secara mendalam dan menghidupinya dengan semangat pelayanan dengan pengalaman hidup sederhana.”

Memiliki pengharapan berarti membangun relasi dengan Sang Pencipta, pemilik kehidupan. “Relasi yang baik dengan Yesus adalah suatu yang mutlak bagi mereka mencari kesucian diri. Sama halnya seperti Nabi Amos. Dia yakin bahwa dia diutus berbuat baik untuk Israel, kendati dia menyadari bahwa  tantangan dunia sangat berat,” kata Pastor Peruhe. Dia berharap 17 Fransiskan muda itu memiliki semangat pengharapan untuk “membangun relasi yang baik dengan Tuhan baik dalam suka maupun duka.”

Pada Pesta Santo Bonaventura itu, Pastor Peruhe juga mengajak para novis OFM yang mengucapkan profesi pertama itu meneladani cara hidup orang kudus itu, yakni pengalaman yang dirasakan sesuai dengan pesan aktual yang dialami saat ini.

Pastor Pontus bangga karena Profesi Pertama yang selama ini dilakukan di rumah pembinaan itu telah memantik semangat hidup membiara putera-putera di paroki itu, sedangkan Pastor Oki melihat kehadiran umat paroki sebagai tanda umat ikut mendoakan para novis “sehingga panggilan menjadi Fransiskan dapat terwujud sesuai cita cita para Fransiskan muda.”

Para Fransiskan muda yang umumnya berasal dari Manggarai, Flores, dan dari Malang, Jawa Timur, akan melanjutkan kuliah di STF Driyarkara Jakarta. (Konrad R. Mangu)

Artikel Terkait:

Fransiskan muda diajak melayani penuh persaudaraan seperti Santo Bonaventura

Provinsial OFM ajak 14 frater kaul pertama bersukacita berani bangun persaudaraan

Mgr Suharyo di Pontianak: Keuskupan Militer, tanda dukungan Gereja atas Kemerdekaan RI

Rab, 18/07/2018 - 06:56
Kapolda dan Wakapolda Kalbar diapit oleh Mgr Agustinus Agus dan Uskup OCI Mgr Ignatius Suharyo bersama Pastor Pasbanmilpol OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli/Foto: rk

Dalam kunjungan pastoral kepada umat di Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan POLRI (Ordinariatus Castrensis Indonesia, OCI) di Pontianak, 17-19 Juli 2018, Uskup OCI Mgr Ignatius Suharyo berkunjung juga ke Keuskupan Agung Pontianak (KAP) dan menjelaskan sejarah OCI kepada Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama Kuria KAP, Dewan Keuangan KAP, DPP Katedral Pontianak dan panitia kunjungan itu.

Mgr Suharyo memang bersahabat dengan Mgr Agus sejak mereka hidup bersama di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta, tahun 1969. “Saya kakak kelas Mgr Agus,” kata Uskup Agung Jakarta dalam pertemuan di Wisma Keuskupan, di hari pertama, seraya berterima kasih kepada Mgr Agus, karena “selama menjalankan tugas sebagai Uskup OCI, saya belum pernah dijemput uskup di bandara.”

Uskup OCI, yang datang bersama Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri (Pasbanmilpol) OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli dan staf sekretariat OCI Redem Kono, datang mengunjungi dan beraudiensi dengan Panglima Kodam XII/Tanjungpura dan pejabat Kodam XII/Tpr, Danlantamal XII/Pontianak, Danlanud Pontianak, serta dengan Kapolda Kalbar dan Pejabat Polda Kalbar. Kegiatan utamanya adalah bertemu warga OCI se-Garnisun Pontianak.

Keuskupan Militer di Asia, menurut Mgr Suharyo hanya ada di Filipina, Korea Selatan dan Indonesia. “Khusus Indonesia, sejarahnya amat menarik, karena Bapa Suci mendirikan Vikariat Militer di Indonesia bersamaan dengan zaman perjuangan kemerdekaan. Sesudah kemerdekaan, Belanda masih mengganggu di sana-sini.”

November 1948, lanjut Mgr Suharyo, Menteri Pertahanan saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendirikan unit pelayanan rohani dan mental untuk Angkatan Perang demi perjuangan kemerdekaan, dan satu bulan kemudian, Paus mendirikan Keuskupan Militer di Indonesia “untuk menunjukkan sikap jelas bahwa Gereja Katolik dari pusat di Vatikan mendukung perjuangan Kemerdekaan RI.”

Sebelumnya tahun 1946, Mgr Albertus Soegijopranoto SJ menulis surat kepada Paus meminta supaya Vatikan mengakui kemerdekaan RI. “Itu tanda lain bahwa Gereja Katolik sejak awal kemerdekaan sungguh mendukung kemerdekaan negara kita tercinta ini. Banyak tanda menunjukkan kedekatan sangat erat antara Gereja Katolik dengan negara. Itulah warisan bagi umat Katolik bahwa seperti apa pun tidak akan pernah tidak mencintai NKRI.”

Mgr Suharyo menyebut pahlawan nasional beragama Katolik, Mgr Albertus Soegijapranata SJ dan Kasimo, serta Slamet Riyadi dari TNI AD, Yos Sudarso dari TNI AL, dan Adi Sucipto dari TNI AU. “Warisan yang mereka tunjukkan menjadi warisan bagi kita semua,” tegas uskup.

Diceritakan, dulu Polri pernah masuk dalam kesatuan ABRI, dan waktu itu keuskupan di Indonesia bernama Keuskupan ABRI. Ketika Polisi disendirikan dan tidak ada lagi ABRI, “kami tidak mau melupakan warisan itu, maka namanya dirubah menjadi Keuskupan untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI dan POLRI. Itu khas Indonesia yang tidak ada di tempat lain.”

Tapi, Vatikan mulai menggunakan istilah yang selalu ditulis dalam laporan keuskupan yang dikirim Mgr Suharyo. “Bedanya, di Indonesia ini lembaga khas Gereja Katolik yang tidak diketahui institusi TNI dan POLRI, sedangkan di beberapa negara lain namanya Keuskupan Militer, di mana Pastor Militer dan Uskup Militer tinggal bersama tentara-tentara itu.”

Di Indonesia, jelas Mgr Suharyo, sejarahnya berbeda. Sukarno dan Soegijapranata yang bersahabat kental lupa membicarakan segi legalnya sehingga pada periode tertentu para pastor masuk ke lingkungan TNI dan POLRI dengan pangkat tituler, yang kini sudah tidak ada.

Julius Kardinal Darmaatmadja mencari jalan dengan menugaskan lima imam menjadi PNS masing-masing di Mabes TNI, di AD, AL, AU dan Kepolisian. “Tetapi ternyata posisi sebagai PNS kadang-kadang tidak menguntungkan, maka setelah imam imam itu pensiun, keadaan PNS tidak dilanjutkan.”

Kardinal mencari jalan lain lagi dengan mengutus empat imam ikut pendidikan militer sebagai perwira karir. Yang lulus hanya yang AD dan AU dengan perutusan jelas, tinggal di tempat pendidikan tanpa memikirkan karir lain. “Pastor Yos Bintoro dari AU masih tetap mengajar di Pangkalan Udara Adi Sucipto, sedangkan yang dari AD ternyata senang dengan karir maka dia meninggalkan imamat dan meniti jenjang karier di AD,” jelas Mgr Suharyo.

Sekarang, Uskup OCI berusaha bertemu para petinggi TNI dan Polri untuk menawarkan imam di TNI dan POLRI “asal ditempatkan di pendidikan, tidak di tempat lain.”

Menurut Pastor Ronny, selain mendengarkan pengarahan dari Danlantamal XII/Pontianak Laksma TNI Gregorius Agung WD dan Wakapolda Kalbar Brigjen Polisi Sri Handayani, yang juga beragama Katolik, dia juga mengajak umat Katolik TNI dan Polri se-Garnisun Pontianak untuk lebih dekat mengenal OCI dan meningkatkan spiritualitas Katolik serta “Kebangsaan Prajurit Katolik Demi Keutuhan dan Kedaulatan NKRI”.

Mereka juga mengikuti kegiatan penyegaran rohani dan tatap muka wawan hati dengan Uskup OCI, yang memimpin Misa bagi mereka di Aula Makodam XII Tpr sebagai puncak Kunjungan Pastoral OCI.(rk/ak)

Bergambar bersama di Polda Kalbar/Foto: rk Kunjungan ke Wisma Keuskupan Agung Pontianak/Foto: PEN@ Katolik Mgr Suharyo memberikan Plakat OCI kepada Mgr Agus/Foto: PEN@ Katolik Anak-anak pelajar menyambut Mgr Suharyo/Foto: rk

Apa buah Penahbisan Episkopat?

Sel, 17/07/2018 - 21:35
Tahbisan Mgr Carmel Zammit di Katedral Mdina /Foto: Photocity, Valletta

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

326. Apa buah Penahbisan Episkopat?

Penahbisan episkopat memberikan kepenuhan Sakramen Penahbisan. Penahbisan ini menyebabkan seorang Uskup menjadi penerus sah para Rasul dan mengintegrasikannya ke dalam kolegium para Uskup untuk bersama-sama dengan Paus melayani seluruh Gereja. Penahbisan ini memberikan wewenang mengajar, menguduskan, dan memerintah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1557-1558

327. Apa wewenang yang diserahkan kepada seorang Uskup dalam Gereja partikular?

Uskup yang diserahi tanggung jawab untuk mengurus Gereja particular merupakan kepala yang kelihatan dan dasar kesatuan bagi Gereja partikular tersebut. Demi Gereja dan sebagai wakil Kristus, seorang Uskup menjalankan wewenangnya sebagai gembala dibantu para Imam dan Diakon.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1560-1561

Peserta Jamnas Sekami 2018 akan terus wartakan sukacita Injil dan mencintai kebinekaan

Sel, 17/07/2018 - 20:48
Para remaja serta animator dan animatris peserta Jamnas Sekami 2018 di Pontianak mengucapkan komitmen di Katedral Santo Yosef Pontianak/Foto tangkapan layar dari video panitia Jamnas Sekami 2018.

Dengan tangan kanan terkepal di dada kiri sambil berdiri di Katedral Santo Yosef Pontianak terdengar seruan, “Kami, remaja dan animator-animatris, peserta Jambore Nasional Sekami 2018 berkomitmen  terus mewartakan sukacita Injil dengan menjalankan semangat dasar Sekami: doa, derma, kurban dan kesaksian; dan semboyan children helping children.”

Komitmen misioner peserta Jamnas Sekami 2018 di Pontianak itu dibaca bersama-sama dengan panduan Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia (Dirnas KKI) Pastor Markus Nur Widipranoto Pr di akhir Misa Penutupan 2018 di Katedral Santo Yosef Pontianak 6 Juli 2018.

Sekitar 1300 peserta jamnas dari 35 keuskupan di Indonesia (Keuskupan Agung Ende dan keuskupan Maumere tidak datang) kemudian mengucapkan komitmen kedua bahwa mereka akan, “selalu belajar menerima, menghargai dan mencintai kebinekaan yang ada dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud kasih kami kepada Kristus.”

Di hadapan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus yang memimpin Misa serta konselebran  Sekjen Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Sanggau Mgr Yulius Mencuccini CP dan Uskup Emeritus Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap, mereka lanjutkan komitmen ketiga untuk “selalu menggunakan cara-cara yang benar dalam mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai di tengah keanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya di masyarakat dan negara Indonesia.”

Mereka sudah pulang ke keluarga, paroki, keuskupan masing-masing, dan sesuai komitmen empat, mereka “siap sedia menjadi misionaris yang selalu membantu terwujudnya gerakan anak-anak Sekami di tempat kami masing-masing.” Dan, semua tugas misioner tersebut, sesuai poin kelima, hendak mereka persembahkan “kepada Yesus, Sang Misionaris Sejati.”

Setelah pulang, Mgr Subianto yang juga Uskup Bandung meminta dalam homili Misa itu agar anak-anak Sekami menunjukkan identitas anak-anak missioner. “Sanggupkah anak-anak melawan arus, menjadi anak-anak anti nyontek, anti korupsi dan anti narkoba? Itulah tugas perutusan sangat konkret dalam hidup kita. Jangan mengaku anak-anak Sekami kalau masih nyontek!” tegas Uskup Bandung itu.

Selama jamnas, selain kegiatan outdoor dan dinamika terpimpin, peserta menerima edukasi tentang “Hakekat Gereja Misioner” dan melakukan dialog sukacita dengan Mgr Agus, Mgr Sudarso dan Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi. Dalam Misa itu, Mgr Subianto meminta mereka melihat dan mencari akar masalah mereka agar mampu mengikuti Yesus seperti Matius. “Selama akar masalah tidak ditinggalkan, tidak mungkin kita berjumpa dengan Tuhan dan mengalami sukacita, dan sepulang dari jambore ini kita belum menemukan Tuhan.”

Namun uskup itu yakin selama jambore para remaja bukan hanya berjumpa teman baru tapi sungguh bertemu Tuhan sehingga mengalami sukacita. “Mari pergi dari akar masalah dengan terus melaksanakan aktivitas doa, derma, kurban dan kesaksian (2D2K). Kalau sudah dilaksanakan, laksanakan jauh lebih banyak lagi, sehingga teman-teman lain akan mengenal kita sebagai anak-anak missioner.”

Menurut Mgr Subianto, kebinekaan itu adalah ciptaan, anugerah dan kehendak Tuhan, maka anak-anak Sekami harus menikmati kekayaan luar biasa itu secara bersama. Maka, uskup berharap ketika pulang orangtua kaget melihat anaknya mengalami sukacita luar biasa dan mau mengabdikan diri bagi keluarga, Gereja dan bangsa.

Dan, di saat kebinekaan bangsa sedang terancam, Mgr Subianto minta agar anak-anak Sekami “menjadi duta-duta kebinekaan bangsa Indonesia sehingga dengan demikian mudah-mudahan orangtua boleh bertanya ‘kapan ada jamnas untuk orangtua,’ karena mereka melihat anak-anaknya menjadi luar biasa hanya dalam tiga hari di Pontianak. Anak-anak mungkin juga berkata, ‘mama-papa, saya ketemu Yesus di Pontianak’ dan kalau mama-papa mau sukacita, ikutlah Yesus!”(paul c pati)

Dirnas KKI Pastor Markus Nur Widipranoto mengajak peserta Jamnas Sekami mengepalkan tangan dan mengucapkan komitmen mereka/Foto tangkapan layar dari video panitia Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC meminta anak-anak Sekami tunjukkan identitas anak-anak missioner/Foto Komsos KAP Misa Penutupan Jamnas Sekami 2018 dipimpin Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus/Foto Komsos KAP

Paus Fransiskus tiba-tiba muncul pimpin pernikahan Garda Swiss dan pasangannya

Sel, 17/07/2018 - 15:53
Paus Fransiskus dalam upacara pernikahan anggota Garda Swiss Luca Schafer dan Leticia Vera asal Brasil. Foto diambil dari La Stampa

Paus Fransiskus mengejutkan anggota Garda Swiss, Luca Elia Maria Schafer, dan calon istrinya dari Brasil, Leticia Vera, yang bekerja di Museum Vatikan, ketika muncul tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya di Gereja Santo Stephanus dari Abisinia untuk memberkati pernikahan mereka, 14 Juli 2018.

Garda Swiss adalah tentara Swiss yang bertugas sebagai pasukan upacara, penjaga Vatikan dan pengawal Paus. Gereja Santo Stephanus dari Abisinia yang kuno itu terletak di belakang Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Menurut Pastor Renato dos Santos, yang juga hadir dalam upacara itu, seperti dilaporkan oleh Vatican News, baik pasangan yang hendak menikah maupun orang-orang yang hadir dalam upacara itu tidak tahu langkah mengejutkan Paus itu. Memang, menurut La Stampa, anggota Garda Swiss itu pernah meminta Paus hadir dalam perkawinan mereka, tapi yang diharapkan bukanlah seperti yang terjadi hari itu.

Yang pertama terkejut adalah Pastor dos Santos asal Brasil itu. Ketika imam itu masuk ke sakristi untuk mempersiapkan perayaan itu, dia terkejut melihat Paus Fransiskus duduk di sakristi menunggunya sambil tersenyum. Bapa Suci mengambil alih tugasnya dan pergi ke depan.

“Tidak pernah dalam hidupku, tidak pernah aku berpikir bertemu Paus dalam sakristi,” kata Pastor dos Santos kepada Vatican News. Imam asal Brasil itu melihat orang-orang dalam gereja itu sangat terkejut dan mereka bertanya-tanya apakah itu benar-benar Paus Fransiskus. “Saya melihat dia sebagai pastor paroki sejati yang peduli pada domba-dombanya sendiri di paroki,” kata Pastor dos Santos. “Dia selalu begitu.”

Berita kehadiran Paus dalam pesta pernikahan itu disebarkan oleh imam-imam lain yang hadir lewat berbagai jejaring sosial. Rektor Tempat Ziarah Kristus Sang Penebus di Corcow (Rio de Janeiro) Pastor Omar Reposo menerbitkan dalam akun Instagramnya foto Paus dengan mempelai pria dan wanita itu disertai keterangan, “Lihatlah siapa yang datang sebagai kejutan! Paus Fransiskus selalu mengejutkan!” tulis La Stampa.

Namun, media itu mencatat bahwa peristiwa itu bukanlah yang pertama kalinya Paus Fransiskus memimpin pernikahan di Vatikan, karena bulan September 2014 Paus pernah memimpin upacara pernikahan 20 pasangan di Basilika Santo Petrus, dan sepasang orang tunarungu di kapel Casa Santa Marta, Juli 2016. Paus juga pernah memimpin “Pernikahan dalam penerbangan” yang terkenal antara pramugari dan pramugara asal Chili di pesawat yang Paus gunakan dalam perjalanan bulan Januari ke Chili.

Menurut Pastor dos Santos, homili Bapa Suci mencakup tiga kata kerja yakni “memulai”, berhenti”, “melanjutkan perjalanan.” Ketiga kata itu, menurut Paus  Fransiskus, diperlukan untuk dapat menjalani pernikahan dengan sepenuhnya.

“Paus menunjukkan betapa berharganya pernikahan di hatinya,” kata Pastor dos Santos. “Paus sangat menyukai sakramen ini karena membantu memulai sebuah keluarga dan ingin menempatkan Tuhan di tengah-tengahnya,” lanjut Pastor dos Santos. (pcp berdasarkan Vatican News dan La Stampa)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus minta tempatkan Kristus di pusat kehidupan perkawinan

Paus Fransiskus minta pastor paroki mendukung pasangan yang sudah menikah

Di mana tempat Sakramen Penahbisan dalam rencana penyelamatan ilahi?

Sen, 16/07/2018 - 22:52

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

324. Di mana tempat Sakramen Penahbisan dalam rencana penyelamatan ilahi?

Sakramen ini sudah dipralambangkan dalam Perjanjian Lama dalam pelayanan para Levi, dalam imamat Harun, dan dalam penetapan tujuh puluh ”Penatua” (Bil 11:25). Pralambang awal ini mencapai pemenuhannya dalam diri Yesus Kristus yang melalui kurban salib-Nya merupakan ”satu pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:5), ”Imam Besar menurut peraturan Melkisedek” (Ibr 5:10). Imamat Kristus yang tunggal dihadirkan melalui imamat jabatan.

”Hanya Kristuslah Imam yang sejati,

yang lainnya hanyalah pembantu-pembantu-Nya”

(Santo Thomas Aquinas)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1539-1546, 1590-1591

325. Apa tingkatan-tingkatan dalam Sakramen Penahbisan?

Sakramen Penahbisan terdiri dari tiga tingkatan yang tak tergantikan dalam struktur organik Gereja, yaitu: Episkopat, Presbiterat, dan Diakonat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1554-1593

Empat pekerja sosial Belanda bantu warga dusun untuk dapatkan air bersih

Sen, 16/07/2018 - 22:39
Para pekerja sosial Vrienden van Bokki membangun menara air dan sumur bor/ym

Empat orang dari sebuah yayasan amal dari negeri Belanda nampak di antara masyarakat Dusun Sarsang, Kampung Yasa Mulya, di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, membangun sumur bor guna mendapatkan air bersih bagi masyarakat setempat.

Para pekerja sosial dari Yayasan Vrienden van Bokki, Richard van Stel, Frank de Ron, Corne Grinwis, dan Jan van Gastel, berada di Merauke untuk membantu Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Merauke (PSE KAME) membangun sumur bor bagi masyarakat Dusun Sarsang tanggal 16 Juli 2018 itu.

Ketua Komisi PSE KAME Bruder Yohannes Kedang MTB mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa sumur bor itu merupakan program Komisi PSE, “karena selama ini warga dusun itu sangat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.”

Masyarakat di Sarsang jelasnya, kesulitan air bersih. “Maka, ketika tahun lalu saya ke Belanda dan berjumpa dengan Richard, kami ngobrol-ngobrol, lalu mereka punya niat untuk membantu,” kata bruder yang akrab disapa Bruder John itu, seraya menjelaskan bahwa keempat pekerja sosial itu memiliki koneksi dengan para bruder MTB di Belanda.

Dijelaskan, target pengerjaan sumur bor lengkap dengan menara air selesai dalam waktu satu minggu. “Ada dua titik sumur bor yang akan dibangun. Anggarannya sekitar 150 juta rupiah yang semuanya dibiayai oleh Yayasan Vrienden van Bokki,” kata bruder.

“Misi mereka ke sini adalah ingin menyaksikan langsung bagaimana sumur bor itu dibuat, lalu mereka ikut terjun bekerja bersama masyarakat. Jadi mereka tidak punya misi lain, mereka hanya pekerja sosial dan hati mereka hanya untuk bantu masyarakat miskin. Ini pertama kali mereka datang ke Indonesia dan ke Merauke,” lanjut Bruder John.

Selain itu, mereka akan mengunjungi beberapa kampung yang sudah mendapat program pemberdayaan masyarakat dari Komisi PSE KAME. Setelah pembangunan sumur bor selesai, Komisi PSE juga akan memberdayakan masyarakat Sarsang melalui program perkebunan organik, jelas bruder.

Richard van Stel mengaku telah melakukan aksi amal di beberapa negara di Afrika, Amerika dan Asia, bahkan pernah membangun perumahan murah bagi masyarakat miskin di Afrika. Tapi, “ini pertama kali kami datang di Indonesia … dan kami akan tinggal sampai Jumat depan, kita perlu waktu untuk kerja,” kata kata Richard dalam bahasa Inggris kepada PEN@ Katolik.

Ketua Dewan Stasi Santo Yoseph Sarsang Petrus Gonzalez berterima kasih kepada Komisi PSE KAME dan Yayasan Vrienden van Bokki atas program pembuatan sumur bor di dusun yang hanya biasa menampung air di saat hujan itu.

“Selama ini, kami menampung air atau mengambil air dari desa SP 2 dan desa Kuper. Kalau tidak punya kendaraan, masyarakat merasa kesulitan dan harus membeli air dari mobil tangki. Satu tangki harganya 150-200 ribu rupiah. Di sini ada 200 kepala keluarga,” kata Petrus. (Yakobus Maturbongs)

Para pekerja sosial Vrienden van Bokki membangun menara air dan sumur bor/ym Para pekerja sosial Vrienden van Bokki bergambar bersama Komisi PSE Kame dan warga Sarsang di lokasi pembangunan sumur bor/ym Ketua Komisi PSE KAME Bruder Yohannes Kedang MTB/ym

“Walikota suci” dari Florence, seorang Dominikan awam, sedang dalam proses beatifikasi

Sen, 16/07/2018 - 18:56
Giorgio La Pira

Namanya Giorgio La Pira. Hamba Allah itu adalah seorang Dominikan Awam yang lahir di Pozzallo, Sisilia, Italia, 9 Januari 1904 dan meninggal di Florence, Italia, 5 November 1977. Politisi dan sarjana hukum yang kemudian menjadi Walikota Florence itu kini dalam proses untuk menjadi seorang beato.

Menurut laporan Iacopo Scaramuzzi dari La Stampa di Kota Vatikan, 5 Juli 2018, Paus Fransiskus telah memberi wewenang kepada Kongregasi Penggelaran Kudus untuk menyebarluaskan ketetapan mengenai kebajikan heroik dari “walikota suci” dari Florence itu.

Animator muda dari Catholic Action (Aksi Katolik) itu tiba di Florence tahun 1926 untuk meraih gelar sarjana hukum dan kemudian tinggal terus di ibukota Tuscan, sebagai profesor hukum Romawi sejak 1933. Anggota Majelis Konstituante dari partai Demokrat yang beragama Katolik itu kemudian menjadi anggota Parlemen, dan Menteri Tenaga Kerja (1948-49). Kemudian La Pira menjadi Walikota Florence selama dua masa jabatan 1951-1957 dan 1961-1966.

Dia dikenal jauh di luar batas-batas Florentine karena perjuangan sosialnya yang diilhami Injil dan karena upayanya meningkatkan peristiwa-peristiwa perdamaian, seperti peristiwa 1965 yang membawanya ke Vietnam Utara, atau impian Mediterania sebagai “danau besar Tiberias” atau komitmen yang mendukung negara-negara dalam proses dekolonisasi.

Yohanes Paulus II mengenang La Pira beberapa kali. Misalnya, ketika di tahun 2004, La Pira menunjukkan “pengalaman luar biasa sebagai seorang politikus dan seorang umat beriman, yang mampu menyatukan kontemplasi dan doa untuk kegiatan sosial dan pemerintahan, dengan lebih mengutamakan orang miskin dan orang yang menderita.”

Ketua Konferensi Waligereja Italia Kardinal Gualtiero Bassetti pernah menulis “dia tidak bisa dipahami tanpa mempertimbangkan panggilan mistiknya, yang berlimpah-limpah kedalaman dan belaskasihannya.”

Proses beatifikasi La Pira dimulai di tingkat keuskupan di Florence tahun 1986 dan ditutup tahun 2005. Sekarang, dengan tanda tangan Paus Fransiskus, “Hamba Allah” La Pira menjadi “Yang Dimuliakan” dan mulailah proses untuk beatifikasi.

Selain La Pira, dalam audiensi yang diberikan Paus Fransiskus 5 Juli 2018 kepada Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus Kardinal Angelo Amato, Paus memerintahkan kepada departemen Vatikan itu untuk mengumumkan penetapan mengenai kebajikan heroik Pietro Di Vitale Italia (1916-1940), Alessia González-Barros y González (1971-1985), seorang gadis Spanyol yang meninggal pada usia 14 tahun, dan Carlo Acutis, seorang gadis muda yang lahir di Inggris dan meninggal karena leukemia pada usia 15 tahun di Monza (1991-2006).(pcp berdasarkan La Stampa)

Apa itu Sakramen Penahbisan?

Sen, 16/07/2018 - 01:21
Paus Fransiskus ketika menahbiskan imam dalam Misa di Basilika Santo Petrus 21 April 2017. (CNS photo/Paul Haring)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN UNTUK PELAYANAN PERSEKUTUAN DAN PERUTUSAN

321. Sakramen untuk pelayanan persekutuan dan perutusan?

Dua Sakramen, Penahbisan dan Perkawinan, memberikan rahmat khusus untuk perutusan tertentu dalam Gereja untuk melayani dan membangun Umat Allah. Sakramen-Sakramen ini memberikan sumbangan dengan cara yang khusus pada persekutuan gerejawi dan penyelamatan orang-orang lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1533-1535

SAKRAMEN PENAHBISAN

322. Apa itu Sakramen Penahbisan?

Sakramen yang melaluinya perutusan yang dipercayakan Kristus pada para Rasul-Nya terus dilaksanakan dalam Gereja sampai akhir zaman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1536

323. Mengapa Sakramen ini disebut dengan Penahbisan?

Tahbisan (ordo) menunjukkan tingkatan gerejawi yang dimasuki oleh seseorang melalui upacara pengudusan khusus (ordinasi). Melalui rahmat khusus Roh Kudus, Sakramen ini membuat orang yang ditahbiskan mampu melaksanakan kuasa suci atas nama dan dengan wewenang Kristus untuk pelayanan Umat Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1537-1538

 

 

Animatris Sekami main sulap agar anak-anak kenal Yesus, tapi menangis di meja makan

Sen, 16/07/2018 - 01:20
Narita bersama anak remaja Agats di stand Pameran Sekami Keuskupan Agats/PEN@ Katolik/pcp

Ketika anak remaja peserta Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (Jamnas Sekami) 2018 di Pontianak mempersiapkan diri untuk Pentas Seni dan para pembina rohani dan direktur diosesan menyiapkan pameran, seorang perempuan asal Saumlaki, Kei, mempertunjukkan kemahiran bermain sulap, tali rafia dipotong-potong dengan gunting namun tersambung kembali saat ditariknya.

Sekitar 275 animator dan animatris Sekami yang datang, sebagai peserta aktif, dari 34 keuskupan di Indonesia bertepuk tangan dalam pertemuan mereka di hari kedua jambore itu, 4 Juli 2018. Pertemuan di Gedung Pasifikus, belakang Katedral Santo Yoseph Pontianak,  itu diadakan untuk saling berbagi kreativitas masing-masing keuskupan dalam melayani anak-anak dan  remaja Sekami.

“Sulap dan berbagai games atau permainan menjadi sarana kami dalam memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anak di Keuskupan Agats, Asmat, Papua, dan itu yang kami tampilkan dalam,” kata Margareta Elsina Watkaat yang akrab dipanggil Narita kepada PEN@ Katolik dalam jambore yang diikuti sekitar 1500 orang termasuk panitia.

Penyuluh pertanian di Agats dan relawan Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agats itu membenarkan, games termasuk sulap “membantu karya kami di Papua yang tidak punya banyak alat praga” dan alat-alat praga yang diperkenalkan teman-teman seluruh Indonesia dalam pertemuan itu “sangat membantu kami.”

Masih banyak anak di Keuskupan Agats, menurut Narita, belum mengenal siapa Tuhan Yesus itu dan belum bisa membaca. “Maka kami memperkenalkan Tuhan Yesus dengan games atau permainan tentang Kitab Suci serta cara membuka Kitab Suci, mengucapkan kalimat Kitab Suci dan melengkapi kalimat Kitab Suci dengan berbagai cara termasuk Alkitab Ajaib dan matematika Kitab Suci yang menggunakan angka-angka tapi sulit dijelaskan saat ini,” jelas Narita.

Perempuan singel itu juga mengaku sulit menjelaskan kepada anak-anak perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Maka, selain tali rafia, kami gunakan kayu ‘ajaib’ kecil agar anak mempercayai Tuhan, tali pramuka, dan lain-lain.”

Namun, Narita yang belum dua tahun berpindah dari Saumlaki, Keuskupan Amboina, ke Agats merasa berada di tengah anak-anak dan remaja Agats karena panggilan Tuhan. “Dulu saya di Maluku, Saumlaki, tapi panggilan, cara dan rancangan Tuhan berbeda, lebih indah daripada jalan saya, maka ketika Tuhan menyuruh saya ke sana, ya saya ke sana.”

Dijelaskan bahwa dia pindah karena banyak yang bisa menangani anak-anak di Saumlaki. “Di Papua banyak anak butuh sentuhan, maka hati saya tergerak ke sana … dan di sana, saya menikmati keindahan saat bergembira bersama anak-anak. Sungguh, itu kegembiraan yang tidak ternilai. Kalau anak-anak di sana melihat saya datang, mereka ikut dari belakang.”

Meski demikian Narita perlu kekuatan yang dia dapatkan dari doa. “Di sana, kalau saya tidak mendekatkan diri dengan Tuhan, pasti saya tidak kuat,” jelas perempuan asal Maluku yang mengaku mendapat banyak pembelajaran dalam animasi dan edukasi selama Jamnas Sekami 2018.

Selain mendapat banyak teman dari seluruh keuskupan, “satu hal membuat saya menangis saat mendengar ‘Tujuh Permenungan Sebelum Makan’, khususnya mengenai makan berkeadilan atau makan secukupnya dan dihabiskan.” Dalam Laudato Si’, menurut permenungan itu, Paus Fransiskus mengatakan “Membuang makanan sama halnya kita mencuri dari meja makan orang miskin.”

Jamnas Sekami 2018 memang bernuansa Laudato Si’. Dalam acara makan, peserta menjalankan pola makan dengan kesadaran ekologis. Setelah semua mengambil makanan, mereka berdoa bersama, mendengarkan permenungan itu lalu makan dengan hening sekitar lima hingga tujuh menit, baru boleh bicara atau menambah makanan, dan ditutup dengan doa.

Selain makan secara berkeadilan, peserta disadarkan bahwa sepiring makanan adalah alam semesta, karena dihasilkan oleh kerja sama ibu di dapur, pedagang, petani, cacing dan mikroba, mineral, sinar matahari, air dan serangga. Peserta juga diminta makan dengan penuh syukur sambil menikmati keajaiban setiap rasa yang hadir di lidah, mengunyah perlahan-lahan, dan berharap semoga makanan itu penuh welas asih dan tidak di atas penderitaan makluk lain.

Selesai makan, mereka diajak memandang piring kosong di hadapannya dengan penuh rasa syukur karena telah menerima kebaikan alam, dan menyadari bahwa makanan itu telah berubah menjadi tubuh mereka dan kebaikan untuk mereka.

“Benar kan?! Saya datang ke sini tidak sia-sia! Saya dapatkan sesuatu yang paling penting dari Sekami. Selama ini kita membuang-buang makanan tanpa mengingat orang yang tak punya apa-apa, tetapi di sini saya belajar makan sedikit tanpa menyisakan satu butir nasi pun, karena memang saya mengasihi anak-anak miskin,” kata Narita yang menata berbagai alat praga termasuk alat sulap tali rafia di meja pameran Sekami Keuskupan Agats. (paul c pati)

Artikel terkait:

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Stand Pameran Sekami Keuskupan Agats menampilkan beberapa alat praga pendidikan agama termasuk alat sulap tali rafia, kayu ajaib dan akitab ajaib/PEN@ Katolik/pcp Narita memperagakan sulap dengan tali rafia/PEN@ Katolik/pcp Narita bersama tim animatris Keuskupan Agats sedang berbagi pengalaman/PEN@ Katolik/pcp

Paus pikirkan kelelahan dan kesepian para imam dalam pelayanan pastoral

Sen, 16/07/2018 - 01:00

JULI 2018: Para Imam dan Pelayanan Pastoral mereka

Kelelahan para imam … Anda tahu seberapa sering saya memikirkannya? Dengan kelebihan dan kekurangannya para imam bekerja di berbagai bidang. Karena bekerja di banyak bidang, mereka harus tetap aktif meskipun  kecewa.

Di saat seperti itu, ada baiknya bagi mereka untuk mengingat bahwa orang-orang mencintai imam-imam mereka, membutuhkan mereka, dan memercayai mereka.

Marilah berdoa bersama agar para imam, yang mengalami kelelahan dan kesepian dalam pelayanan pastoral mereka, dapat menemukan bantuan dan penghiburan dalam keintiman mereka dengan Tuhan dan dalam persahabatan mereka dengan sesama imam.

Debu di Kakimu

Sab, 14/07/2018 - 22:23

(Renungan berdasarkan bacaan Injil Markus 6:7-13 pada Minggu kelima belas pada Masa Biasa, 15 Juli 2018)

Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”  (Markus 6:11)

Injil kita hari ini berbicara tentang misi Dua Belas Rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Tidak ada beban tambahan dan yang tidak perlu. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Dan ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.

Saya saat ini menjalani program pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Program ini melatih saya untuk menjadi seorang pekerja pastoral yang baik dan penuh kasih. Salah satu tugas pokok saya adalah mengunjungi pasien, dan selama kunjungan, saya akan mendengarkan pasien dan mendampingi mereka dalam perjalanan mereka di rumah sakit. Sampai taraf tertentu, saya merasa bahwa saya berpartisipasi dalam misi dua belas murid Yesus, khususnya dalam pelayanan penyembuhan orang sakit. Namun, tidak seperti para murid Yesus, saya sadar bahwa saya tidak memiliki karunia penyembuhan. Saya sering mendoakan pasien, tetapi sejauh ini tidak ada penyembuhan instan, dan pasien terus berjuang dengan penyakit mereka. Namun, penyembuhan tidak terbatas hanya pada aspek fisik dan biologis. Penyembuhan adalah menyeluruh dan mencakup penyembuhan emosional dan spiritual. Dokter, perawat, dan staf rumah sakit telah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit pasien mereka, atau setidaknya membantu mereka untuk menanggung penyakit mereka dengan martabat. Saya percaya bahwa mereka pada dasarnya rekan kerja utama Yesus dalam pelayanan penyembuhan. Namun, dengan begitu banyaknya beban kerja yang mereka bawa dan waktu serta energi yang terbatas, mereka harus fokus pada penyembuhan fisik dan biologis. Para pekerja pastoral ada di sana untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi praktisi medis dan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual.

Dalam beberapa kunjungan , saya bersyukur bahwa banyak yang menyambut kehadiran saya. Namun, kadang-kadang, saya merasa keberadaan dan kunjungan saya tidak diinginkan. Pada saat seperti ini, saya tergoda untuk “mengebaskan debu dari kaki saya” sebagai peringatan bagi mereka. Seperti halnya, para murid diinstruksikan untuk melakukan itu. Namun, saya mencoba memahami mengapa pasien tidak begitu ramah. Mungkin, mereka merasa sakit. Mungkin, mereka butuh istirahat. Mungkin, obat mempengaruhi disposisi emosional mereka. Mungkin, mereka masih memiliki beberapa masalah serius yang harus mereka hadapi. Dengan kesadaran ini, saya tidak bisa hanya menilai mereka sebagai “orang jahat”. Mencoba untuk memahami mereka dan berempati dengan mereka, saya juga “mengebaskan debu dari kaki saya”, tetapi kali ini, itu bukan sebagai bentuk peringatan, tetapi mengebaskan “debu” kesalahpahaman, terburu-buru menghakimi, dan apati. Seorang pekerja pastoral adalah orang yang menjalankan misi Kristus untuk membawa kesembuhan, dan jika saya menanggapi penolakan dan kesulitan dengan kemarahan dan kebencian, maka saya hanya menciptakan lebih banyak rasa sakit dan perpecahan.

Apakah kita seorang praktisi medis atau bukan, kita semua dipanggil untuk berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Yesus Kristus ini. Kita semua terluka dan sakit dengan begitu banyak masalah yang kita miliki dalam hidup. Dengan demikian, itu adalah panggilan kita untuk membawa kesembuhan emosional dan spiritual bagi keluarga kita, bagi teman-teman kita, bagi masyarakat kita, bagi lingkungan sekitar kita dan bagi Gereja kita. Ini dimulai dengan kesediaan kita untuk “mengebaskan debu dari kaki kita”, debu ketakutan dan kebencian, debu reaksi emosional yang terburu-buru dalam menghadapi situasi yang menantang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Sab, 14/07/2018 - 21:41
Mgr Ewaldus Martinus Sedu/Foto berdasarkan Komsos KWI

Bapa Suci telah menerima pengunduran diri dari tugas pastoral Keuskupan Maumere yang sampaikan oleh Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD dan “Il Papa ha nominato Vescovo di Maumere (Indonesia) il Rev.do Sacerdote Ewaldus Martinus Sedu, finora Vicario Generale della stessa Circoscrizione” (Paus telah mengangkat sebagai Uskup Maumere (Indonesia) Pastor Ewaldus Martinus Sedu, yang kini bertugas sebagai Vikaris Jenderal keuskupan yang sama.”

Pengumuman itu disampaikan oleh Paus Fransiskus lewat Sala Stampa atau Kantor Pers Vatikan hari ini Sabtu, 14 Juli 2018, pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 17.00 WIB.

Pastor Ewaldus Martinus Sedu, menurut penjelasan dalam bahasa Italia itu, lahir tanggal 30 Juli 1963 di Bajawa (Keuskupan Agung Ende). Setelah mengikuti Seminari Menengah Mataloko, imam itu menyelesaikan studi filsafat dan teologinya di Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret, Flores. Dia ditahbiskan imam Keuskupan Agung Ende tanggal 7 Juli 1991.

Saat Keuskupan Maumere tercipta sebagai hasil pemekaran Keuskupan Agung Ende 14 Desember 2005, imam itu menjadi imam Keuskupan Maumere. Imam itu kemudian menjadi Pastor Rekan di Paroki Santo Joseph Maumere (1991-1993), Kepala Paroki Maria dari Gung Karmel Wolofeo (1993-1995), Pastor Paroki Santo Yoseph Maumere  dan Kepala Komisi Katekese Keuskupan Maumere (1995-1997).

Imam itu mengikuti menjalani studi untuk Lisensi Pedagogi di Salesianum di Roma (1997-2001) dan kembali menjadi dosen dan formator di Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret (2001-2009). Di tahun 2010 imam itu menjadi Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret dan sejak tahun 2015 menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Maumere.

Pastor Ewaldus Martinus Sedu akan menggantikan Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD. Mgr Kherubim adalah uskup kedua Keuskupan Maumere (sejak 2008) menggantikan Mgr Vincentius Sensi Potokota yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende. Menurut Komsos KWI, ketika bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi Ritapiret, Pastor Ewaldus Martinus aktif sebagai dosen dan pendamping para calon imam diosesan untuk beberapa keuskupan di Provinsi Gerejawi Ende.(paul c pati)

Artikel terkait:

https://penakatolik.com/2016/06/14/mgr-pareira-minta-para-imam-dan-pemimpin-belajar-dari-kebijaksanaan-salomo/

 

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Sab, 14/07/2018 - 19:42
Foto dari Berita Umat Katedral Bogor

Hari ini 14 Juli 2018, pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 17.00 WIB, Sala Stampa (Kantor Pers) Vatikan mengeluarkan pengumuman “Il Santo Padre ha nominato Vescovo della diocesi di Purwokerto (Indonesia) il Rev.do Sacerdote Christophorus Tri Harsono, finora Vicario Generale della diocesi di Bogor” (Bapa Suci telah mengangkat Uskup Keuskupan Purwokerto (Indonesia) Pastor Christophorus Tri Harsono, yang sampai sekarang menjabat Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor).

Pengumuman itu juga menjelaskan bahwa Pastor Christophorus Tri Harsono lahir tanggal 18 Januari 1966 di Bogor. Setelah mengikuti Seminari Menengah Stella Maris di Bogor, dia menyelesaikan studi filsafat dan teologinya di Universitas Katolik Bandung (Parahyangan). Dia ditahbiskan imam tanggal 5 Februari 1995 sebagai imam Keuskupan Bogor.

Menurut catatan di hari yang sama dari halaman Facebook dari Pastor Agustinus Surianto Himawan dari Bogor, uskup terpilih itu adalah “anak kolong” yang tinggal dan dibesarkan di kompleks Lanud Atang Sendjaja, Semplak, Bogor, karena ayahnya (Almarhum Pitoyo) merupakan anggota Paskhas TNI-AU. Pastor yang pernah mengenyam studi di Seminari Tinggi Petrus Paulus di Buah Batu, Bandung, itu ditahbiskan imam oleh Uskup Emeritus Bogor Mgr Michael Cosmas Angkur OFM.

“Tugas pastoral pertamanya setelah penahbisan adalah menjadi pastor rekan di Paroki Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung (1995-1996). Setelah itu pindah ke Bogor untuk menjadi pamong di Seminari Menengah Stella Maris (1996-1998),” jelasnya.

Sejak 1998 hingga 2001, imam itu ditugaskan melanjutkan studi bahasa dan budaya Arab di The Center or Arabic Studies of Comboni Missionaries, Cairo, Mesir, dan Pontifical Institut for Arabic & Islamic Studies (PISAI), Roma, Italia.

Sekembalinya ke Indonesia dia “mendapat perutusan sebagai dosen Islamologi pada Fakultas Filsafat Unpar sampai sekarang. Selain itu, pernah juga merangkap menjadi Rektor Seminari Tinggi Petrus Paulus, Bandung (2002-2005, lalu 2008-2014).”

Ketika menetap di Bandung, lanjutnya, imam itu “melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dialog antarumat beragama dan akrab dengan berbagai tokoh lintas agama,” namun di tahun 2014, Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menariknya kembali ke kota Bogor untuk menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor.

Hari ini, Sabtu 14 Juli 2018, Paus Fransiskus mempercayakan tugas baru bagi Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai gembala di Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah, melanjutkan pelayanan Mgr Julianus Kema Sunarka SJ yang telah mengundurkan diri karena usia pensiun.

Pengumuman itu secara resmi telah disampaikan pada hari yang sama oleh Pastor Tarcisius Puryatno sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Purwokerto di awal Perayaan Ekaristi Syukur di Gereja Katedral Kristus Raja.

Tanggal 29 Desember 216, Kantor Pers Vatikan mengumumkan bahwa Paus Fransiskus menerima pengunduran diri tugas kepemimpinan pastoral dari Uskup Purwokerto Mgr Julianus Kema Sunarka SJ.

Mgr Sunarka, yang lahir di Minggir, Sleman, DIY, 25 Desember 1941 itu, menjadi Uskup Purwokerto sejak 10 Mei 200 dengan memimpin umat sesuai statistik 27 Juli 2009 sebanyak 64.648 jiwa yang tersebar di 25 paroki.(paul c pati)

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Purwokerto Mgr Sunarka SJ

Mgr Sunarka tidak tahu tanggal kelahirannya tapi menjadi biji mata Tuhan

https://penakatolik.com/2017/08/10/terima-kasih-untuk-tni-au-paroki-lanud-atang-sendjaja-berhari-ulang-tahun-kedua

 

Halaman