Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 3 hours 53 mnt yang lalu

Apa itu Sakramen Ekaristi?

Jum, 15/06/2018 - 17:33
Foundation of Prayer for Priests

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

271. Apa itu Sakramen Ekaristi?

Sakramen Ekaristi adalah kurban Tubuh dan Darah Tuhan Yesus sendiri yang ditetapkan-Nya untuk mengabadikan kurban salib selama perjalanan waktu sampai kembali-Nya dalam kemuliaan. Dia mempercayakan kepada Gereja kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya. Sakramen Ekaristi merupakan tanda kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah, saat Kristus diterima sehingga jiwa dipenuhi rahmat dan jaminan kemuliaan yang akan datang diberikan kepada kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1322-1323, 1409

272. Kapan Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi?

Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi pada hari Kamis Putih: ”Pada malam waktu Ia diserahkan” (1Kor 11:23), ketika Yesus merayakan Perjamuan Malam Terakhir bersama para Rasul-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1323, 1337-1340

273. Bagaimana Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi?

Setelah mengumpulkan para Rasul di Cenaculum, Yesus mengambil roti. Dia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka sambil berkata, ”Ambillah ini dan makanlah, kamu semua, inilah tubuh-Ku yang akan diserahkan bagimu.” Kemudian, Dia mengambil piala berisi anggur dan berkata: ”Ambillah ini dan minumlah, kamu semua. Inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, yang akan ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1337-1340, 1365, 1406

Mengenal 13 pemain sepak bola terkemuka beragama Katolik dalam Piala Dunia 2018

Jum, 15/06/2018 - 05:26
Aleteia

Sepak bola layaknya agama bagi banyak orang, tetapi para atlet ini bergantung pada imannya dalam mengejar kemenangan. Memulai Piala Dunia 2018, 14 Juni 2018, PEN@ Katolik mengutip satu tulisan Cerith Gardiner dari Aleteia tentang para pemain beragama Katolik yang menonjol bukan saja di lapangan sepak bola tapi karena iman serta keinginan mereka untuk membagikannya agar seluruh dunia melihatnya. Ada yang mengungkapkan imannya di depan umum, ada yang lewat ziarah, atau dalam keterlibatan aktif di badan-badan amal Katolik.

Foto-foto dan keterangan di bawah ini memperlihatkan para pria yang berbakat di bidang sepak bola dan peran aktif agama dalam hidup mereka. Meskipun nanti Italia tidak berhasil sampai ke Piala Dunia, Aleteia memberikan perhatian khusus kepada kiper luar biasa, Gianluigi Buffon, yang sudah ikut serta dalam lima Piala Dunia berturut-turut.

Lionel Messi, Argentina
Pemain depan, dengan tato besar Yesus di otot lengan bagian atas, mengatakan bahwa dia akan melakukan ziarah sejauh 30 mil ke San Nicolas, di negara asalnya Argentina, untuk merayakan kemenangan Piala Dunia. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 1/13) Sergio Aguero, Argentina
Striker itu akan ikut dengan Messi untuk berziarah. Namun, dia menambahkan tantangan lain. Mereka berdua akan datang San Nicolas dengan berlari.(AP, 2/13) Cristiano Ronaldo, Portugal
Pemenang beberapa “Ballon d’Or” itu sdelalau berdoa sebelum bertanding, mengumpulkan Rosario yang dikirim oleh para penggemar, tidak bertato dan sering menjadi pendonor darah.
Wikipedia CC oleh SA 3.0
3/13 Andres Iniesta, Spanyol
Sebelum Piala Dunia 2010, gelandang itu berjanji, kalau timnya menang, ia akan melakukan ziarah sepanjang Camino de Santiago, “Jalan Santo Yakobus.” (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 4/13)Yes Sergio Ramos, Spanyol
Bek tengah itu memiliki tato Bunda Maria di lengan kiri atasnya. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 5/13) Gianluigi Buffon, Italia
Kiper terkenal yang kini berusia 40 tahun itu berziarah ke Medjugorje di Bosnia setelah kejuaraan Euro 2012. (Wikipedia CC oleh 2.0, 6/13) James Rodriguez, Kolombia
Gelandang serang itu memiliki tato Yesus di tulang keringnya. Dia cepat berbagi di media sosial bahwa semua kesuksesannya untuk Tuhan. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 7/13) Radamel Falcao, Kolumbia
Penyerang yang sungguh beriman ini mempelajari Alkitab dan berdoa sebelum setiap pertandingan, dan berusaha melibatkan teman-teman timnya. Saat mencetak gol, dia mengangkat kausnya untuk memperlihatkan t-shirt bertuliskan, “Dengan Yesus Anda tidak akan pernah sendirian.” (AP, 8/13) Manuel Neuer, Jerman
Kiper luar biasa itu mendukung sebuah kelompok Katolik yang membantu memerangi kemiskinan anak dan mendukung sebuah kelompok orang muda yang dipimpin oleh para biarawan Amigonian, sebuah cabang dari Kapusin. (Wikipedia CC oleh SA 4.0, 9/13) Olivier Giroud, Prancis
Striker Katolik yang saleh ini memiliki tato bertuliskan Mazmur 23 (dalam bahasa Latin): “Tuhan adalah gembalaku; takkan kekurangan aku.” Dia juga membagikan bagaimana agama membawa kedamaian baginya. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 10/13) Vedran Corluka, Kroasia
Lari dari negara kelahirannya Bosnia ketika perang, bek tengah ini pulang ke Bosnia untuk membantu pendanaan dan membangun kembali gereja desanya. Dia juga memakai gelang dengan ikon-ikon Katolik. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 11/13) Edinson Cavani, Uraguay
Dalam sebuah wawancara, striker ini menyebut dirinya sebagai “atlet untuk Kristus.” Dia mengatakan, “Saya bermain untuk Dia, untuk memberikan kemuliaan bagi-Nya, untuk berterima kasih kepada-Nya karena memberikan saya kemampuan untuk bermain sepak bola.” (AP, 12/13) Jakub Błaszczykowski, Polandia
Sebagai seorang anak, tragedi menghantam winger ini ketika ayahnya membunuh ibunya. Tetapi, ia tetap teguh dalam imannya dan menjadi duta Hari Orang Muda se-Dunia tahun 2016. (Wikipedia CC oleh SA 1.0, 13/13)

Paus berharap Piala Dunia FIFA 2018 jadi kesempatan dialog dan perjumpaan

Jum, 15/06/2018 - 02:48
Logo Piala Dunia 2018 FIFA pada sebuah bangunan di Moscow (AFP or licensors)

Paus Fransiskus berharap agar Kejuaraan Dunia Sepak Bola atau FIFA World Cup terbukti menjadi kesempatan untuk “perjumpaan, dialog dan persaudaraan antara budaya-budaya dan agama-agama berbeda, dan agar mendukung solidaritas dan perdamaian di antara bangsa-bangsa.” Di akhir Audiensi Umum mingguan di Lapangan Santo Petrus, 13 Juni 2018, Paus mengatakan bahwa besok turnamen sepakbola internasional itu dimulai di Rusia. “Saya ingin menyampaikan salam hormat saya kepada para atlet dan penyelenggara, juga kepada semua orang yang akan mengikuti peristiwa itu melalui media,” kata Paus. “Piala Dunia FIFA 2018 Rusia” dijadwalkan berlangsung dari 14 Juni hingga 15 Juli 2018. Pertandingan pembukaan menampilkan tuan rumah Rusia melawan Arab Saudi.(Laporan Linda Bordoni dari Vatikan News)

Siapa pelayan Sakramen Penguatan?

Kam, 14/06/2018 - 22:36
gemaliturgi.blogspot.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

269. Siapa yang dapat menerima Sakramen ini?

Hanya mereka yang sudah dibaptis dapat menerima Sakramen Penguatan, dan Sakramen ini hanya dapat diterima satu kali saja. Agar penerimaan Sakramen Penguatan berdaya guna, calon harus berada dalam keadaan berahmat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1306-1311, 1319

270. Siapa pelayan Sakramen Penguatan?

Petugas aslinya adalah Uskup. Dengan demikian, bisa ditampakkan hubungan antara orang yang menerima dan Gereja dalam dimensi apostoliknya. Jika yang melaksanakan Sakramen ini adalah seorang imam, yang biasanya terjadi di Gereja Timur dan dalam kasus khusus juga terjadi di Barat, hubungan dengan Uskup dan Gereja diungkapkan oleh Imam yang menjadi pembantu (kolaborator) Uskup dan dengan Krisma Suci yang diberkati oleh Uskup sendiri.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1312-1314


Pelaku teror tidak perlu dikecam tapi dikasihi karena mereka sebetulnya korban juga

Kam, 14/06/2018 - 18:24
Drama musikal tentang perdamaian/Foto Lukas Awi Tristanto

Sebagai pribadi maupun atas nama umat manusia kita berduka, kita sedih, atas peristiwa-peristiwa teror, tetapi kita tidak perlu kemudian mengecam, karena tidak ada kata yang lebih keras daripada mengecam aksi terorisme.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan hal tersebut dalam Festival Pancasila di halaman rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, 6 Juni 2018.

“Justru yang terpenting adalah bagaimana kita mengembangkan belas kasihan, kerahiman, karena para pelaku teror ini juga korban sebetulnya. Itu di mata saya. Maka, kita bersama-sama mengajak, ayo, hentikan balas dendam. Teror itu mengguncang Pancasila, mulai dari sila pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima,” katanya dalam Festival Pancasila itu.

Sejumlah tokoh bangsa dan rektor dari beberapa universitas menyampaikan orasi tentang Pancasila dalam acara yang dihadiri para mahasiswa dan kaum muda itu. Buya Syafii Maarif menekankan pentingnya semua pihak terlibat untuk menghidupi Pancasila, seraya berharap “nilai-nilai Pancasila bisa dibawa turun untuk menyelamatkan bangsa dari segala macam ancaman seperti liberalisme, kapitalisme, maupun terorisme.”

Semangat dasar Pancasila, menurut Yudi Latif, adalah semangat gotong royong. “Jiwa gotong royong itu adalah jiwa saling mencintai, menyayangi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, bersambung rasa, membebaskan beban penderitaan manusia, menuntaskan beban penderitaan yang masuk kemanusiaan,” katanya.

Rektor Universitas Gajah Mada Yogyakarta Panut Mulyono mengatakan, Pancasila merupakan karakter dan identitas bangsa Indonesia. “Pancasila sebagai pemersatu dan pengikat komitmen bersama dari seluruh elemen bangsa, harus dipraktekkan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari,” tegasnya.

Sedangkan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Sutrisna Wibawa mengatakan, Pancasila menyatukan dan menggerakkan kita yang bhinneka. “Pancasila mengajarkan kita untuk mengutamakan musyawarah sebelum mufakat. Hari ini, saya mengajak hadirin semuanya, kita ber-Pancasila, kita bersatu, kita berprestasi untuk Indonesia raya, untuk Indonesia jaya,” ajaknya.

Dalam festival itu, digelar drama musikal tentang perdamaian. Yunan Helmi sebagai koordinator drama musikal itu mengatakan, Islam adalah agama damai yang terus menerus senantiasa akan membawa perdamaian. “Begitu juga akan bersama-sama dengan yang lain untuk terus menjadi bagian dan berperan untuk perdamaian,” katanya.

Musisi muda itu mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama bergerak karena, menurutnya, “perdamaian bangsa ini lebih mahal dibandingkan dengan apa pun di Indonesia.”

Acara yang mendapat perhatian besar dari para rektor berbagai universitas itu mendapat apresiasi dari Pastor Budi, karena perhatian itu “menunjukkan komitmen yang tinggi bahwa kampus yang dipimpin mereka pun menghidupi nilai-nilai Pancasila.”(Lukas Awi Tristanto)

Para rektor di universitas kota Yogyakarta, Buya Syafii Maarif dan Yudi Latif menyampaikan salam Pancasila/Foto Lukas Awi Tristanto Buya Syafii Maarif menyampaikan orasi tentang Pancasila/Foto Lukas Awi Tristanto Para mahasiswa yang datang sebagai peserta/Foto Lukas Awi Tristanto Yunan Helmi dan Pastor Aloys Budi Purnomo Pr berbicara tentang perdamaian/Foto Lukas Awi Tristanto

Lourdes dilanda banjir, para peziarah dievakuasi

Kam, 14/06/2018 - 05:15
Lourdes dilanda banjir/Foto tangkapan layar dari La Croix

Membuka TV Lourdes dini hari, 14 Juni 2018, waktu Jakarta, televisi itu tidak menayangkan peziarah dari berbagai penjuru dunia berdoa bergantian di Gua Maria yang dikatakan sebagai tempat Perawan Maria Terberkati menampakkan diri kepada Bernadette Soubirous (sekarang Santa Bernadette) Februari 1858. Yang nampak adalah air meluap dari Sungai Gave de Pau hingga pelataran depan Gua Maria. Sungai itu membentang sepanjang tepian tempat ziarah itu. Menurut Independent Catholic News (ICN) satu-satunya sumber berbahasa Inggris yang menjadi sumber PEN@ Katolik pagi itu, “Sebagian Lourdes telah dievakuasi karena hujan lebat menyebabkan banjir bandang di banyak bagian Perancis.” Juga dikatakan,13 departemen di negara itu bersiaga. Tanggal 13 Juni 2018, sekitar pukul 11.00, lanjut media itu, Uskup Portsmouth, Inggris, Mgr Philip Egan ngetweet, “Tolong doakan Pastor Christian Rutledge dan kelompok parokinya yang sedang berziarah ke Lourdes. Mereka aman tetapi tadi malam pinggiran Sungai Gave pecah. Gua dilanda banjir dan Misa Internasional di basilika Bawah Tanah dibatalkan. Banjir dimana-mana. Semoga Tuhan melindungi semua orang.”(pcp)

Tangkapan layar dari La Croix

Ketua MUI Kota Kotamobagu terharu melihat umat paroki membersihkan mesjid

Rab, 13/06/2018 - 22:36
Umat Paroki Kristus Raja Kotamobagu sedang membersihkan Mesjid Baitul Makmur. Foto: Paroki Kotamobagu

“Saya merasa terharu melihat kepedulian dan rasa kebersamaan umat Kristiani di Kota Kotamobagu. Manfaat kerja bakti mereka di mesjid itu sangat dirasakan oleh seluruh Jemaah Mesjid Baitul Makmur,” kata Ketua MUI Kota Kotamobagu Haji Yusuf Dany Pontoh kepada PEN@ Katolik 13 Juni 2018.

Haji Yusuf berbicara mengomentari kerja bakti umat Katolik Paroki Kristus Raja Kotamobagu yang membersihkan ruangan dan halaman Mesjid Baitul Makmur di hari yang sama.

“Kami merasakan kebahagian dalam kebersamaan di hari Idul Fitri, hari kemenangan bagi kita semua,” kata Haji Pontoh yang meyakini bahwa masyarakat Kota Kotamobagu bisa hidup rukun berdampingan “karena saling membantu sebagai satu keluarga.”

Menurut Kepala Paroki Kristus Raja Kotamobagu Pastor Canisius Rumondor MSC, keterlibatan umat beragama dalam menjaga maupun membantu membersihkan tempat ibadah melambangkan rasa persaudaraan yang kuat.

“Kita tahu Indonesia terdiri dari berbagai etnis, suku dan agama yang harus kita syukuri. Perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan penghalang persatuan bangsa,” kata pastor itu kepada PEN@ Katolik seraya menegaskan bahwa apa yang dilakukan itu merupakan “wujud bahwa perbedaan bukan halangan dan hambatan untuk bersatu.”

Dengan kekuatan seperti itu, imam itu percaya bahwa masyarakat Kota Kotamobagu bisa mengantisipasi segala bentuk provokasi yang ingin memecah belah masyarakat. “Mari kita junjung persatuan dan persamaan di tengah perbedaan,” tegas Pastor Rumondor.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kotamobagu, Herman Aray,  membenarkan bahwa kerja bakti itu adalah untuk memupuk tali persaudaraan antarumat beragama serta sebagai perekat tali kasih.

“Tujuan pelaksanaan kerja bakti ini agar lokasi ini bersih ketika mereka merayakan Idul Fitri. Selain membersihkan sisa-sisa bahan bangunan di halaman, kami pun membersihkan ruangan dalam Mesjid Baitul Makmur,” jelas umat Paroki Kristus Raja Kotamobagu itu. (michael)

Umat Paroki Kristus Raja Kotamobagu bergambar bersama di depan mesjid setelah membersihkannya/Foto dari Paroki Kotamobagu Mesjid Baitul Makmur

Apa ritus pokok Sakramen Penguatan?

Rab, 13/06/2018 - 21:35
Adoremus Bulletin

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

267. Apa ritus pokok Sakramen Penguatan?

Ritus pokok Sakramen Penguatan ialah pengurapan dengan minyak Krisma Suci (minyak yang dicampur dengan balsam dan diberkati Uskup), yang dilaksanakan dengan penumpangan tangan petugas Gereja (Uskup atau wakilnya) yang mengucapkan kata-kata sakramental dari ritus tersebut. Di Gereja Barat, pengurapan ini diberikan di dahi orang yang sudah dibaptis dengan kata-kata: ”Semoga engkau dimeteraikan dengan karunia Roh Kudus”. Di Gereja-Gereja Timur dari ritus Byzantin, pengurapan ini diberikan juga pada bagian badan yang lain dengan kata-kata: ”Meterai karunia Roh Kudus”.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1290-1301, 1318, 1320-1321

268. Apa buah Sakramen Penguatan?

Buah Sakramen Penguatan ini ialah pencurahan Roh Kudus secara khusus seperti pada hari Pentekosta. Pencurahan ini memberikan meterai yang tak terhapuskan dan menumbuhkembangkan rahmat Sakramen Pembaptisan. Sakramen ini membuat si penerima masuk lebih dalam menjadi putra-putri ilahi, mempererat hubungannya dengan Kristus dan Gereja, dan memperkuat anugerah Roh Kudus di dalam jiwanya. Sakramen ini memberikan kekuatan khusus dalam memberikan kesaksian iman Kristen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1302-1305, 1316-1317

Para uskup menentang ide mempersenjatai para imam

Rab, 13/06/2018 - 20:34
Uskup Agung Romulo Valles/CBCPNews

Ketua Konferensi Waligereja Filipina mengatakan sangat menentang ide mempersenjatai para imam demi keselamatan pribadi di tengah serangan baru-baru ini terhadap para klerus. Uskup Agung Romulo Valles mengatakan, para imam seharusnya menjadi manusia perdamaian, bukan manusia kekerasan. “Saya akan sangat menentang untuk mempersenjatai para imam,” kata Mgr Valles kepada Radio Veritas yang dikelola Keuskupan Agung Manila. “Kami orang-orang Tuhan, orang-orang Gereja, dan adalah bagian pelayanan kami untuk menghadapi bahaya, untuk menghadapi kematian. Tetapi kami akan melakukan persis seperti yang dilakukan Yesus,” lanjut prelatus itu. Uskup Pembantu Cebu Mgr Oscar Florencio, yang juga bertugas sebagai administrator apostolik Ordinariat Militer Filipina, mengatakan, mempersenjatai para imam hanya “akan menciptakan lebih banyak kekacauan” dan “tidak akan menyelesaikan apa pun.” Pastor Richmond Nilo ditembak mati dalam sebuah kapel di Zaragoza, Provinsi Nueva Ecija, 10 Juni, saat bersiap merayakan Misa. Empat hari sebelumnya, Pastor Rey Urmeneta, mantan kapelan polisi, terluka dalam penembakan di Kota Calamba, Provinsi Laguna, 6 Juni. Sedangkan 29 April, Pastor Mark Ventura, yang dikenal karena advokasi anti-penambangan, ditembak mati setelah merayakan Misa di Provinsi Cagayan. (pcp berdasarkan CBCPNews)

“Hari Perbaikan” di Filipina akan diisi bunyi lonceng, perarakan, adorasi, pengakuan, puasa

Sel, 12/06/2018 - 23:42
SABINS STUDIO

Uskup Agung Lingayen-Dagupan, Filipina, Mgr Socrates Villegas mengajak umat beriman untuk merayakan “Day of Reparation” (hari perbaikan) tanggal 18 Juni 2018, seraya mendesak umat beriman untuk menentang pembunuhan. Dalam sepucuk surat kepada umat beriman, uskup agung itu mengatakan bahwa seruan itu dibuatnya karena “pembunuhan terus berlanjut tanpa ada penyesalan.”

Tanggal 18 Juni 2018 adalah hari Senin, hari kesembilan setelah pembunuhan brutal terhadap Pastor Richmond Nilo, imam ketiga yang dibunuh di Filipina dalam enam bulan terakhir. “Kini, para pembunuh dipuji dan sang raja tidak terganggu,” lanjut prelatus itu.

“Penghakiman Allah hendaknya terjadi pada mereka yang membunuh orang-orang yang diurapi Tuhan. Ada tempat khusus di neraka untuk para pembunuh. Ada tempat lebih jelek untuk pembunuh para imam,” kata Mgr Villegas seperti dilaporkan oleh wartawan CBCPNews, Roy Lagarde dari Dagupan City.

Uskup agung itu bahkan mengajak para imam dari keuskupan lain dan kongregasi-kongregasi religius untuk ikut dalam prakarsa itu dengan persetujuan uskup dan atasan mereka. “Kami mohon kepada Tuhan untuk membangunkan orang-orang kami, yang sekarang berjalan dalam kegelapan dan mati rasa karena ketakutan, untuk berpihak kepada Tuhan dan berani merubah kesalahan dan dosa,” kata uskup.

“Semoga kita menemukan di antara umat awam kesiapan untuk secara aktif mengupayakan perubahan sosial dan politik yang berdasarkan ajaran moral Katolik dan etika sosial Kristen,” lanjut Mgr Villegas.

Tanggal 18 Juni 2018, jelas uskup, semua Misa di Keuskupan Agung Lingayen-Dagupan akan dipersembahkan sebagai perbaikan atas dosa-dosa penghujatan terhadap Tuhan, dosa-dosa penistaan ​​dan kesedihan terhadap para imam dan uskup kita, pembunuhan yang berlanjut tanpa penyesalan. Para pemimpin Misa harus mengenakan warna penyesalan, ungu. Hari itu akan menjadi hari puasa dan pantang bagi para imam, religius dan umat beriman Gereja kita.

Selain itu, pastor paroki hendaknya memperlihatkan Sakramen Mahakudus selama satu jam pada waktu yang paling nyaman bagi umat paroki untuk adorasi dan membuat perbaikan. Pada hari itu juga, para imam harus mengaku dosa dan juga mendengarkan pengakuan dosa umat beriman.

Semua lonceng gereja paroki harus berdentang selama lima belas menit pada pukul enam sore di malam hari 18 Juni guna memperingati saat terbunuhnya Pastor Richmond Nilo.

Pada malam itu akan juga dilakukan perarakan dengan membawa patung  atau gambar Santo Entierro atau Nazarene Hitam untuk menutup Hari Perbaikan.

Para seminaris dari seminari-seminari Bunda Maria Penolong umat Kristiani akan memimpin ziarah jalan kaki sebagai tanda pertobatan dari Gereja Paroki San Jacinto ke Basilika Manaoag pukul 4.30 pagi. Kaum muda juga didorong untuk bergabung.

Mgr Villegas juga meminta umat beriman memohon rahmat Allah “untuk menyentuh hati” Presiden Rodrigo Duterte agar menghentikan “penganiayaan verbal” terhadap Gereja Katolik. “Serangan seperti itu tanpa disadari dapat meningkatkan kejahatan terhadap para imam,” lanjut uskup agung.

“Kami mohon bimbingan Roh Kudus agar para pemimpin dalam pemerintahan bisa menahan semakin merosotnya ketertiban hukum dan peraturan di negara ini dan memulihkan penghormatan terhadap kehidupan manusia dan martabat manusia,” kata Mgr Villegas. (pcp berdasarkan laporan CBCPNews)

Apa peran Sakramen Penguatan dalam rencana keselamatan ilahi?

Sel, 12/06/2018 - 19:47
Paus Fransiskus ketika mengurapi seorang perempuan dengan minyak krisma/Foto CNS oleh Paul Haring

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

265. Apa peran Sakramen Penguatan dalam rencana keselamatan ilahi?

Dalam Perjanjian Lama, para nabi mewartakan bahwa Roh Allah akan turun ke atas Mesias yang dinantikan dan ke seluruh umat mesianis. Seluruh hidup Yesus dijalani dalam persatuan total dengan Roh Kudus. Para Rasul menerima Roh Kudus pada hari Pentekosta dan mewartakan karya agung Allah (Kis 2:11). Mereka memberikan anugerah Roh yang sama kepada orang yang baru dibaptis dengan penumpangan tangan. Selama berabad-abad, Gereja terus menjalani hidup dalam Roh dan menurunkan-Nya kepada anak-anaknya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1285-1288, 1315

266. Mengapa Sakramen ini disebut dengan Krisma atau Penguatan?

Disebut dengan Krisma (dalam Gereja-Gereja Timur, artinya mengurapi dengan Myron suci – Myron: minyak dari biji Sesawi hitam, atau disebut juga dengan krisma) karena ritus pokok Sakramen ini ialah pengurapan dengan minyak suci (krisma). Disebut dengan Penguatan karena Sakramen ini bertujuan untuk menguatkan dan memperkokoh rahmat Sakramen Pembaptisan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1289

Gereja di Korea akan mengadakan novena untuk perdamaian di semenanjung Korea

Sel, 12/06/2018 - 18:54
Pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump di Singapura/Daily Star

Gereja Katolik di Korea mengusulkan pelaksanaan novena tanggal 17-25 Juni 2018 untuk berdoa bagi perdamaian dan rekonsiliasi serta persatuan di semenanjung Korea di saat serangkaian pertemuan puncak dan deklarasi menandai jalan hubungan diplomatik yang baru antara kedua Korea dan dengan Amerika Serikat.

Ketika para pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara mengadakan KTT bersejarah di Singapura tanggal 12 Juni 2018, Linda Bordoni dari Vatican News melaporkan bahwa Gereja Korea menyerukan novena doa dan pelaksanaan konferensi untuk rekonsiliasi dan persatuan antara kedua Korea, yang secara teknis masih berperang sejak Perjanjian Gencatan Senjata Korea yang ditandatangani tahun 1953.

Setelah berlangsungnya pertemuan puncak Singapura itu, Donald Trump dan Kim Jong-un menandatangani dokumen “komprehensif” yang menjanjikan hubungan baru antara negara-negara itu dan mempercayakan kepada Korea Utara mengupayakan “denuklirisasi tuntas di semenanjung Korea.”

Lebih dari sebulan yang lalu para pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan, Moon Jae-in dan Kim Jong-un menandatangani perjanjian di mana mereka sepakat melanjutkan pembicaraan tentang perjanjian damai serta denuklirisasi.

Dalam Deklarasi Panmunjom tertanggal 27 April 2018, kedua pemimpin itu berkomitmen untuk segera mengakhiri peninggalan Perang Dingin berupa perpecahan dan konfrontasi yang sudah berlangsung lama, untuk berani mendekati era baru rekonsiliasi nasional, perdamaian serta kemakmuran, dan untuk meningkatkan dan memupuk hubungan antar-Korea dengan cara yang lebih aktif.

Para Uskup Katolik Korea mengusulkan intensi doa yang berbeda setiap hari dalam novena itu, yakni untuk penyembuhan setelah pemisahan bangsa Korea; untuk keluarga-keluarga yang terpisah karena perang Korea; untuk saudara dan saudari yang tinggal di Utara; untuk pengungsi dari Utara yang saat ini tinggal di Selatan; untuk para politisi dari Utara dan Selatan; untuk evangelisasi Utara; untuk peningkatan pertukaran dan dialog antara Selatan dan Utara; untuk rekonsiliasi sejati antara kedua negara; untuk reunifikasi damai semenanjung itu.

Para Uskup juga mendorong berlangsungnya Konferensi tanggal 21 Juni di Seminari Tinggi Keuskupan Agung Daegu. Peristiwa, yang didedikasikan untuk masa depan baru di semenanjung Korea berkat pertukaran yang bermanfaat antara Selatan dan Utara itu, diharapkan akan dihadiri oleh para Uskup dari Uijeongbu dan Daegu serta sebuah panel ahli.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Pastor Richmond Nilo jadi imam ketiga yang tewas di Filipina dalam enam bulan terakhir

Sen, 11/06/2018 - 23:49
Pastor Richmnond Nilo. Foto Courtesy, Ilsa Reyes

“Kami sangat sedih dan sangat terganggu karena satu lagi imam dibunuh secara brutal. Pastor Richmond Nilo, Kepala Paroki Santo Vincent Ferrer di Keuskupan Cabanatuan, ditembak mati dan tewas di tempat pada sore hari kemarin di dalam Kapel Barangay Mayamot, Zaragoza, Nueva Ecija, tepat ketika dia akan merayakan Misa.”

Pernyataan para uskup Filipina itu ditulis dan ditandatangani oleh ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Agung Davao Mgr Romulo G Valles, 11 Juni 2018. Pastor Nilo adalah imam Katolik ketiga yang dibunuh dalam beberapa bulan terakhir. Pastor Tito Paez dibunuh bulan Desember 2017 dan Pastor Mark Anthony Ventura pada bulan April 2018.

Pastor Nilo, yang juga Administrator Keuangan Keuskupan Cabanatuan, ditembak mati oleh penyerang tak dikenal dan tewas di tempat di dalam kapel sesaat sebelum merayakan Misa pada Minggu, 10 Juni 2018, sekitar pukul 5 sore. Laporan awal mengungkapkan para tersangka melarikan diri ke arah yang tidak diketahui menggunakan mobil. Serangan itu terjadi hanya empat hari setelah Pastor Rey Urmeneneta, mantan kapelan polisi, selamat dari upaya pembunuhan di Kota Calamba, 6 Juni 2018.

Seraya mencela tindakan yang dikatakannya “sangat jahat” itu, para uskup juga berdoa untuk istirahat abadi jiwa Pastor Nilo. “Kami juga berdoa bagi keluarga yang ditinggalkannya. Kami ikut berdoa bersama Uskup Sofronio Bancud SSS, para klerus, religius, dan umat awam Keuskupan Cabanatuan dalam menghadapi kematian brutal imam mereka di tangan para pembunuh berdarah saat ini, ketika seluruh Gereja Filipina sedang merayakan tahun 2018 sebagai Tahun Imam & Orang-Orang Hidup Bakti.

Sekali lagi para uskup memohon kepada pihak kepolisian untuk “bertindak cepat dalam menyelidiki dan mengejar para pelaku kejahatan keji ini serta membawa mereka ke pengadilan.”

Selain berbagai posisi penting, Pastor Nilo, 43, dikenal karena keterlibatan aktifnya dalam kerasulan untuk orang tuli dan bisu di keuskupan. Kematian imam itu adalah “hari tragis dan hari kehilangan yang tak dapat diperbaiki,” bagi Keuskupan Cabanatuan, kata Uskup Cabanatuan Mgr Sofronio Bancud.

“Kami mengutuk dengan istilah paling keras dan kami sangat meratapi pembunuhan brutal terhadap Pastor Nilo, serta meningkatnya kekerasan dan budaya impunitas bahkan terhadap klerus yang tak berdaya di negara ini,” kata Mgr Bancud.

Uskup itu mengatakan, tidak ada imam, dan tidak ada manusia yang layak dibunuh dengan kebrutalan, tanpa hormat, dan impunitas yang keras seperti itu. “Maka, membunuh seorang imam, apa pun motif atau alasannya, bukan hanya tidak kristiani dan tidak manusiawi, bukan juga jiwa orang Filipina,” kata uskup itu.

Uskup Bancud kemudian menuntut keadilan bagi Pastor Nilo yang telah melayani keuskupannya selama hampir 17 tahun, saat dia ia meminta umat beriman untuk berdoa bagi jiwa imam yang terbunuh itu dan juga bagi berakhirnya pembunuhan di negara itu.

“Kami menuntut keadilan, penyelidikan menyeluruh dan tidak memihak atas kasus ini, dan penyelesaiannya yang cepat, saat kami juga memohon kepada mereka yang mungkin memiliki pengetahuan material tentang masalah ini untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian,” kata uskup.

“Kami sungguh-sungguh meminta umat kami untuk berdoa bagi Pastor Richmond, bagi perdamaian, penyembuhan dan keamanan umat-umat kami, dan bagi para klerus dan religius, terutama di keuskupan kami,” lanjut Mgr Bancud. (paul c pati berdasarkan berbagai laporan dari CBCPNews)

Mungkinkah diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan?

Sen, 11/06/2018 - 18:00
Gambar diambil dari www.atotheword.com/doctrine-of-baptisms/water-baptism-necessary-salvation/

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

262. Mungkinkah diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan?

Karena Kristus wafat untuk keselamatan semua orang, yang diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan adalah mereka yang meninggal karena iman (Pembaptisan Darah), para katekumen, dan mereka yang bahkan tidak mengenal Kristus dan Gereja mencari Allah dengan sungguh-sungguh di bawah tuntunan rahmat dan berusaha melaksanakan kehendak-Nya (Pembaptisan Rindu). Gereja dalam liturgi mempercayakan anak-anak yang meninggal tanpa Sakramen Pembaptisan ke dalam kerahiman Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1258-1261, 1281-1283

263. Apa buah Sakramen Pembaptisan?

Sakramen Pembaptisan menghapuskan dosa asal, semua dosa pribadi, dan semua hukuman karena dosa. Hal ini membuat orang yang dibaptis ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi Tritunggal melalui rahmat pengudusan, rahmat pembenaran yang mempersatukan seseorang dengan Kristus dan Gereja-Nya. Seseorang ikut ambil bagian dalam imamat Kristus dan menerima dasar persatuan dengan semua orang Kristen. Ia menerima keutamaan teologal dan anugerah-anugerah Roh Kudus. Seseorang yang dibaptis menjadi milik Kristus selamanya. Dia ditandai dengan meterai Kristus yang tak dapat dihapuskan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1262-1274, 1279-1280

264. Apa arti nama Kristen yang diterima waktu menerima Sakramen Pembaptisan?

Nama itu penting karena Allah mengenal masing-masing dari kita dengan nama, yaitu dalam keunikan sebagai pribadi. Dalam Sakramen Pembaptisan, seorang Kristen menerima namanya dalam Gereja. Lebih baik jika nama dari seorang santo atau santa yang bisa menjadi model kesucian bagi yang dibaptis dan dapat menjadi pengantara di hadapan Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1256-1259, 1267

Paus ajak anak-anak untuk mengingat guru-guru dan sekolah pertama mereka

Sen, 11/06/2018 - 04:55

“Jangan pernah melupakan guru-guru pertama, jangan pernah melupakan sekolah, karena mereka adalah akar dari budaya Anda. Dan mengingat para guru kalian dan sekolah-sekolah kalian akan membantu kalian untuk tidak tercabut, dan membantu kalian menghasilkan bunga dan buah.”

Seruan itu disampaikan Paus Fransiskus kepada lebih dari 500 anak dari berbagai agama dari pinggiran kota Roma dan Milan di Italia, yang datang menemuinya di Vatikan, Sabtu, 9 Juni 2018 dalam prakarsa bernama “Treno dei Bambini” (bahasa Italia) yang berarti “Kereta Anak-Anak.”

Prakarsa “Treno dei Bambini,” yang merupakan bagian dari program “Courtyard of the Gentiles” dari Dewan Kepausan Vatikan untuk Kebudayaan bekerja sama dengan kereta api negara Italia, mencakup anak-anak bukan hanya Katolik tetapi juga Muslim, Budha, Ortodoks, ateis dan lain-lain.

“Treno dei Bambini” edisi keenam tahun ini bertema, “Kota yang Penuh Persahabatan.” Tujuannya adalah membangun kembali pinggiran-pinggiran kota yang tak terpelihara tempat anak-anak mengalami banyak kesulitan.

Ketika bertemu dengan anak-anak yang mengenakan topi merah Kereta Api Italia dan kaos putih bertuliskan “Treno dei Bambini,” Paus Fransiskus tidak menyampaikan pidato yang disiapkan tetapi menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tamu-tamu mudanya.

Paus mengenang guru-gurunya, terutama Stella, yang mengajarinya di kelas pertama dan ketiga. Paus mengatakan dia terus berhubungan dengan guru itu dan kemudian sebagai uskup dia menolong guru itu di saat sakitnya hingga kematiannya pada usia 94 tahun.

Paus Fransiskus sangat menghargai hadiah-hadiah yang dibuat anak-anak itu untuk dirinya dengan mengatakan, “ini penting karena kalian telah membuatnya dengan kecerdasan, dengan tangan dan dengan hati kalian.” Sesuatu yang dibuat dengan kecerdasan, dengan hati dan dengan tangan, lanjut Paus, adalah tulus dan manusiawi.(pcp berdasarkan Vatican News)

Buka Puasa di aula Katedral Jakarta: Sepakat menjaga kerukunan umat beragama

Sen, 11/06/2018 - 03:10
Tur ke dalam Katedral Jakarta/detikcom

Sekitar 300 umat dari berbagai komunitas mengikuti acara buka puasa bersama di aula Katedral Maria Diangkat ke Surga Jakarta. Acara bertema “Menguatkan toleransi, persaudaraan dan solidaritas kemanusiaan” itu, menurut Alissa QM Wahid yang merupakan Koordinator Jaringan Gusdurian, adalah kegiatan spontan tanpa sangkut paut dengan tokoh politik yang diundang.

“Gerakan ini berasal dari aspirasi kelompok masyarakat yang senantiasa mendambakan perdamaian,” kata Alissa yang tidak menampik bahwa gerakan itu hendak mendorong orang melakukan kebaikan di negeri ini setelah teror bom mengguncang sejumlah gereja di Surabaya bulan lalu. “Kita sepakat perlu menjaga kerukunan umat beragama,” katanya seraya menambahkan keinginan untuk mengajak segelintir kelompok yang selalu menaruh kebencian terhadap kelompok lain untuk kembali melakukan kebaikan.

Kegiatan 1 Juni 2018 itu dihadiri Komunitas Gusdurian, Komunitas Tatar Sunda, Komunitas Islam Kenusantaraan, dan Komunitas Rumah Kajian Al Quran Al Barru-Tebet. Niat komunitas-komunitas yang Alissa sebut sebagai “Komunitas Kebajikan” itu, “sesungguhnya untuk memelihara perdamaian di negara Indonesia,” tegas Alissa. Acara itu juga dihadiri wakil PBNU, MUI, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Kepala Paroki Maria Diangkat ke Surga Jakarta Pastor Albertus Hani Hartoko SJ serta pengusaha Dewi Motik.

Dalam acara itu, Pastor Albertus Hani SJ memandu tur peserta ke dalam Gereja Katedral. Imam itu berharap kegiatan buka puasa bersama itu menjadi sarana memperkuat kebersamaan dalam perbedaan.

Acara yang dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya itu juga diisi dengan pemutaran video anak-anak diaspora yang membacakan teks Pancasila, dan penyerahan sumbangan buku cerita anak untuk perpustakaan di daerah terpencil pada perwakilan Pustaka Bergerak. (Konradus R. Mangu)

Alissa Q.M Wahid yang merupakan Koordinator Gus Durian/Kon Foto dari detikcom foto dari detikcom

Dominikan Awam diminta mewartakan dalam persaudaraan di masyarakat dan Gereja

Min, 10/06/2018 - 23:44
Peserta dan pembimbing Retret Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena Jakarta/Foto: Winarno Broto OP

Untuk mewartakan wajah Allah Maharahim dan murah hati melalui belas kasih-Nya seperti Kristus demi keselamatan jiwa-jiwa, Dominikan Awam diminta, sesuai perutusan Baptis, untuk menjadi utusan Kristus sebagai Imam, Raja dan Nabi, dan melaksanakannya di dalam Gereja dan Masyarakat.

Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP mengingatkan hal itu dalam retret tahunan Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena Jakarta yang dilaksanakan dengan tema “Peran Dominikan Awam dalam Pengembangan Iman Umat Katolik di Indonesia” di sebuah hotel di Cisarua, Bogor, 1-3 Juni 2018.

Pastor Mingdry, yang membimbing retret itu bersama adiknya Pastor Fransiskus Andry Hanafi Tjipto OFM, menyegarkan kembali tentang visi dan misi Ordo Pewarta. “Sesuai motto Dominikan yakni Laudare, Benedicere dan Praedicare yang artinya selalu memuji Tuhan, menjadi berkat Tuhan dan mewartakan Kabar Gembira dalam perjumpaan dengan Tuhan dan sesama, maka setiap Dominikan Awam dikaruniai panggilan yang unik,” tegas imam itu.

Pastor Mingdry mengajak Dominikan Awam untuk “menerangi daripada hanya bersinar” seperti refleksi Santo Thomas Aquinas, serta berdiri kokoh pada empat pilar Dominikan yakni Doa, Studi, Komunitas Persaudaraan, dan Pelayanan. Sebagai anggota Komunitas Pewarta atau bagian dari Persaudaraan Ordo Dominikan, lanjutnya, “Dominikan Awam terpanggil menjadi saksi-saksi Kerajaan Allah dengan membagikan Damai, Sukacita dan Kebenaran (Veritas) dan mengundang sesama dalam pengalaman sukacita yang sama.”

Semangat persaudaraan, lanjutnya, hendaknya diungkapkan dengan “mau mendengarkan, belajar bersama yang lain dan mentransformasikan diri dalam membangun dunia dengan seluruh kapasitas kemanusiaan sebagai saudara dan saudari dalam persaudaraan.”

Menurut imam Dominikan itu, kaum awam yang memilih menjadi anggota Ordo sebagai Awam, “melaksanakan pilihan ini sebagai cara baru mewujudkan karisma pembaptisan mereka, yaitu sebagai hadiah yang amat bermanfaat di jantung kehidupan keluarga mereka.”

Lebih daripada itu, Dominikan Awam bisa membantu menemukan inti sejarah dunia bahwa “keluarga yang dengan sendirinya adalah pewarta, saksi rahmat Tuhan yang juga rahmat persaudaraan,” kata imam itu. Juga dijelaskan bahwa persaudaraan adalah tempat seseorang dapat bebas berbagi pengalaman dalam keluarga, atau juga menemukan dukungan yang diharapkan. “Keluarga Nazareth menjadi inspirasi dan teladan bagi setiap Dominikan Awam,” tegas imam itu.

Pastor Mingdry juga berbicara tentang hidup berkomunitas dalam persaudaraan yang memberikan dukungan dan pengayaan kepada para anggotanya serta pewartaan sukacita injil yang merupakan bagian integral dari penginjilan Sabda Tuhan. “Iman dan pencarian akan kebenaran (veritas) dalam kebersamaan sangat penting dalam dimensi komunitas,” tegas imam itu.

Sesuai konstitusi Konsili Vatikan Kedua “Gaudium et Spes”, lanjut imam itu, Gereja memiliki kesempatan menerima pengalaman komitmen yang dihidupi kaum awam dalam tugas sekuler dunia. Maka, Dominikan Awam hendaknya membuat kreativitas yang terinspirasi kehidupan Injil dan dorongan apostolik agar dunia dapat dihuni semua orang. Mereka juga diminta menuliskan di pusat kehidupan Ordo bahwa nilai persaudaraan Pewarta merupakan panggilan terhadap apa yang harus dilakukan dunia.

Dalam retret itu Pastor Mingdry juga berbicara tentang dunia kaum muda dan refleksi persaudaraan yang mendalam dalam kehidupan bersama.

Pastor Andry Hanafi OFM dalam paparannya yang bertema “Aku dipilih menjadi misionaris awam melampaui sikap rasuli dan evangelis,” mengajak Dominikan Awam menjadi “rasul bahkan misionaris awam.” Evangelisasi, jelasnya, berarti memelihara 99 ekor domba, kerasulan berarti mencari dan menemukan serta membawa kembali 1 domba yang hilang, dan misionaris berarti menambah jumlah domba-domba-Nya.

Menurut imam Fransiskan itu, rasul awam itu tangguh dan kokoh dalam memperjuangkan iman, rasul awam itu tidak mudah mengeluh dalam memikul salib melainkan solider dengan derita orang lain, serta tidak mudah menyalahkan situasi atau pihak lain, sebaliknya dengan sadar dan dengan kehendak bebas terus mengikuti jejak Yesus Kristus.

Retret tahunan itu dibuka oleh Ketua Panitia JRM Winarendra OP dan Presiden Chapter Katarina Siena Stefanus Suriaputra OP yang memperkenalkan pengurus hasil Kapitel I serta program kerja chapter itu untuk masa tiga tahun. “Retret Tahunan Dominikan Awam ini bukan sekedar ritual yang berlangsung tiap tahun, namun lebih sebagai refleksi komunitas untuk selalu siap sedia dalam setiap aktivitas pewartaan di Indonesia,” jelas Stefanus.

Dalam retret itu, peserta terlibat dalam dinamika kelompok, diskusi, dialog serta sharing tentang keprihatinan dan harapan Dominikan Awam dalam keterlibatannya di setiap kegiatan pewartaan di tempat masing-masing dalam konteks keindonesiaan, dimulai dari komunitas terkecil yaitu keluarga hingga lingkungan lebih luas. Hasil diskusi kelompok beserta segala bentuk karya, komunitas dan keluarga dipersembahkan dalam Misa.

Selain menyegarkan kembali komitmen Dominikan Awam dalam peran kerasulan aktualnya lewat Yayasan Martin de Porres untuk memberikan beasiswa bagi pendidikan kaum muda, Koordinator Dominikan Awam Nasional Theo Atmadi OP mengingatkan pentingnya Dominikan Awam  Indonesia untuk terlibat dalam kongres Dominikan Awam dunia di Fatima, Spanyol.

Dalam retret itu, peserta juga mendengarkan ajakan untuk terlibat dan berperan nyata dalam masyarakat yang dipaparkan oleh Michael Utama Purnama OP, memperdalam meditasi dengan bimbingan Suster Alberta Sterry OP dan Suster Hildegardis OP, melakukan pengakuan dosa dan adorasi Jumat Pertama serta brevir setiap pagi dan malam, serta merayakan Misa. (Yohanes Udi Cahyanto OP dan Yohanes Wahono)

Suasana retret/Foto: P Winarno Broto OP Ketua Panitia Retret JRM Winarendra OP/Foto: Winarno Broto OP Presiden Dominikan Awam Chapter Katarina Siena Stefanus Suriaputra OP/Foto: Winarno Broto OP

Yesus dan Keluarga-Nya

Min, 10/06/2018 - 13:08
Keluarga Kudus. Gambar ini di Gereja Santo Joseph di Nazareth menggambarkan kehidupan setiap hari dari Keluarga Kudus. holylandnetwork.com

(Renungan berdasarkan bacaan Minggu ke-10 dalam Masa Biasa, 10 Juni 2018, Markus 3: 20-35)

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’ (Mrk 3:35).”

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang.

Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina saya, “Jika rumah kamu terbakar, apa hal pertama yang akan kamu selamatkan?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tetapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus menyambut dengan baik Maria, ibu-Nya, dan saudara-saudaranya yang datang dan mencari Dia. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya, “Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’”(Mrk 3:34-35) Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dan saudara-saudara-Nya dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah orang tua-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria dan sanak saudara-Nya. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Korupsi, nepotisme, dan kronisme adalah praktik jahat yang berakar dalam keluarga. Sisi ekstrim lainnya adalah ketika saudara saling bertikai, bahkan membunuh, karena rebutan warisan seolah-olah mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Pastor Rey Urmeneta terhindar dari kematian dalam penembakan di Laguna, Filipina

Jum, 08/06/2018 - 23:13
Tangkapan layar dari rekaman CCTV polisi setempat tentang penembakan Pastor Rey Urmeneta di Calamba City

Seorang imam Katolik terhindar dari kematian saat seorang pria melepaskan tembakan ke mobilnya di Kota Calamba, Filipina, pada hari Rabu, 6 Juni 2018. Namun dalam serangan itu, Pastor Rey Urmeneta Pr dari Paroki Malaikat Agung Santo Michael di Calamba harus dilarikan ke rumah sakit karena terluka. Menurut laporan polisi, serangan itu terjadi sekitar pukul 9.40 pagi ketika imam itu sedang dalam perjalanan bersama sekretarisnya menuju tempat pertemuan. Pastor Urmeneta, yang pernah bertugas sebagai kapelan polisi, menderita luka di punggung bagian kiri dan lengan kirinya, tetapi sekarang dalam kondisi stabil. Pihak berwenang mengatakan bahwa tersangka melarikan diri dengan motor yang dikemudikan orang lain ke arah yang tidak diketahui. Pastor Urmeneta adalah imam diosesan dari Keuskupan San Pablo, namun keuskupan itu belum mengeluarkan pernyataan tentang insiden itu. Pastor Urmeneta menjadi korban ketiga serangan kekerasan terhadap klerus dalam rentang waktu enam bulan. Pada bulan April, Pastor Mark Ventura dari Keuskupan Agung Tuguegaraio ditembak mati tak lama setelah merayakan Misa Minggu di kota Gattaran, Cagayan. Tanggal 4 Desember, Pastor Marcelito Paez dari Keuskupan San Jose juga ditembak mati oleh orang-orang yang masih tidak dikenal di Jaen, provinsi Nueva Ecija. (pcp berdasarkan CBCPNews)

 

 

Siapa yang dapat membaptis?

Jum, 08/06/2018 - 16:02
www.slideshare.net/MoniqueCarpenter1/lesson-2-baptism

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

260. Siapa yang dapat membaptis?

Pelayan Sakramen Pembaptisan yang biasa ialah Uskup dan Imam. Dalam Gereja Latin, Diakon juga dapat membaptis. Dalam kasus mendesak, setiap orang dapat membaptis dengan syarat dia mempunyai intensi melaksanakan apa yang dilakukan oleh Gereja. Ini dilaksanakan dengan menuangkan air ke atas kepala calon baptis dengan mengucapkan formula Trinitaris untuk Sakramen Pembaptisan: ”Aku membaptis engkau atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1256 1284

261. Apakah Sakramen Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan?

Sakramen Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan bagi mereka yang sudah mendengar pewartaan Injil dan mempunyai kemungkinan untuk meminta Sakramen itu.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1257

Halaman