Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 49 mnt yang lalu

Paus kepada Bapa-Bapa Sinode: Jangan biarkan kesalahan masa lalu hancurkan impian dan harapan

Kam, 04/10/2018 - 23:34
Vatican Media

Paus Fransiskus merayakan Misa pembukaan Sinode Para Uskup pada hari Rabu, 3 Oktober 2018, seraya mengungkapkan kepercayaannya kepada orang-orang muda, yang menurut Paus, dipanggil untuk membantu memperbarui kapasitas Gereja untuk bermimpi, untuk berharap dan untuk membangun dunia yang lebih baik.

Ketika berbicara dalam homili saat Misa di alam terbuka di Lapangan Santo Petrus untuk membuka Sinode selama tiga minggu tentang “Kaum Muda, Iman, dan Pencermatan Panggilan”, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, Paus Fransiskus menyerukan kepada rekan-rekan uskupnya agar mendengarkan suara-suara orang muda dalam upaya membangun dunia yang lebih baik daripada dunia orang-orang yang lebih tua dari mereka.

Paus mengungkapkan keyakinannya kepada generasi baru, yang “mampu bernubuat dan bermimpi” dan Paus berdoa agar Roh Kudus boleh memberikan kepada Bapa-Bapa Sinode anugerah diurapi dengan “karunia bermimpi dan berharap” yang muda.

Paus mengatakan, karena patuh mendengarkan suara Roh Kudus, “kita berkumpul dari seluruh penjuru dunia.” Bahkan, pada kenyataan bahwa untuk pertama kalinya dalam Sinode, ada dua uskup dari Cina daratan dan “persekutuan seluruh Episkopat dengan Penerus Petrus lebih terlihat berkat kehadiran mereka.”

Paus berharap agar pertemuan kegerejaan itu akan membantu memperluas cakrawala, membesarkan hati dan “mengubah kerangka pikir yang saat ini melumpuhkan, memisahkan dan menjauhkan kita dari orang-orang muda.” Kalau orang muda dibiarkan terkena badai lautan, kata Paus, mereka akan menjadi “anak yatim piatu tanpa komunitas

iman yang harus menopang mereka, anak yatim piatu tanpa arah dan makna dalam kehidupan.”

Namun, kata Paus, harapan menantang dan menggerakkan kita, dengan menghancurkan konformisme yang mengatakan, “sudah selalu seperti ini.” Juga dikatakan, “Harapan menuntut kami bangun dan melihat langsung ke mata orang muda dan melihat situasi mereka.” Saat ini, lanjut Paus Fransiskus,  orang-orang muda memanggil kita “untuk ikut bersama mereka menghadapi masa kini dengan komitmen lebih besar dan untuk berupaya melawan apa pun yang menghalangi hidup mereka untuk tumbuh dengan cara bermartabat.”

Paus mengatakan, orang muda menuntut dari kita kreativitas, kedinamisan, kecerdasan, antusiasme dan harapan. Mereka minta kepada kita “untuk tidak meninggalkan mereka sendirian di tangan begitu banyak penjaja kematian yang menindas hidup mereka dan menggelapkan visi mereka.”

Paus mengingatkan rekan-rekan uskup dan imamnya bahwa mereka dipanggil untuk menjadi rendah hati dan tanpa prasangka saat mereka melihat kepentingan orang lain: “Dalam semangat ini kita akan mencoba saling mendengarkan guna bersama mencermati apa yang Tuhan minta dari Gereja-Nya.”

Cinta kepada Injil dan cintai kepada orang-orang yang dipercayakan kepada kita menantang kita “untuk memperluas wawasan kita dan tidak melupakan misi yang menjadi tujuan panggilan kita,” lanjut Paus.

Paus mengakhiri homili dengan mengingat kembali pesan dari Bapa-Bapa Konsili di akhir Konsili Vatikan II saat Sinode Para Uskup didirikan.

Pesan itu, kata Paus Fransiskus, mendesak Gereja untuk “meremajakan citranya” agar bisa menanggapi rancangan Kristus dengan lebih baik. Dan Paus mengakhiri homilinya dengan mengutip sambutan Paus Paulus VI tahun 1965 kepada muda-mudi di dunia: “Atas nama-Nya, hari ini kami menasihati kalian  untuk membuka hati kalian terhadap dimensi dunia, untuk memperhatikan seruan saudara-saudara kalian, untuk melayani mereka dengan energi masa muda kalian. Lawanlah semua egoisme. Jangan biarkan naluri kekerasan dan kebencian yang melahirkan perang dan semua rentetan kesengsaraannya bebas bergerak. Bersikaplah murah hati, murni, penuh hormat, dan tulus, dan bangunlah dengan antusiasme dunia yang lebih baik daripada dunia yang dimiliki orang-orang yang lebuh tua dari kalian.”(PEN@ Karolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa yang dituntut oleh perintah keempat?

Rab, 03/10/2018 - 23:28

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

PERINTAH KEEMPAT:

HORMATILAH AYAH DAN IBUMU

455. Apa yang dituntut oleh perintah keempat?

Perintah ini menuntut kita untuk menghormati orang tua kita dan menghormati mereka yang diberi otoritas oleh Allah demi kebaikan kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2196-2200, 2147-2248

456. Apa kodrat keluarga dalam rencana Allah?

Seorang laki-laki dan perempuan yang dipersatukan dalam perkawinan membentuk sebuah keluarga bersama-sama dengan anak-anak mereka. Allah menetapkan keluarga dan memberinya prinsip fundamental. Perkawinan dan keluarga dimaksudkan untuk kebaikan pasangan dan untuk kelahiran serta pendidikan anak-anak. Anggota-anggota keluarga yang sama membentuk relasi pribadi antarmereka dan menetapkan tanggung jawab masing-masing. Dalam Kristus, keluarga menjadi Gereja domestik karena merupakan satu komunitas iman, harapan, dan kasih.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2201-2205, 2249

457. Di mana tempat keluarga dalam masyarakat?

Keluarga merupakan masyarakat paling kecil sehingga mendahului setiap pengakuan dari pihak otoritas publik. Nilai-nilai dan norma keluarga merupakan dasar hidup sosial. Kehidupan dalam keluarga merupakan inspirasi untuk masuk ke dalam hidup bermasyarakat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2207-2208

458. Apa kewajiban masyarakat terhadap keluarga?

Masyarakat, sambil menghormati prinsip subsidiaritas, mempunyai kewajiban untuk mendukung dan memperkuat perkawinan dan keluarga. Otoritas publik harus menghormati, melindungi, dan memelihara kodrat sejati perkawinan dan keluarga, moralitas publik, hak-hak orang tua, dan kesejahteraan rumah tangga.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2209-2213, 2250

Umat di Manado berdoa bagi pahlawan revolusi di rumah ibadah masing-masing

Rab, 03/10/2018 - 22:43
Misa di Gereja Paroki Wanea turut dihadiri personil TNI dan Polri, yang khusus mendoakan para Pahlawan Revolusi PEN@ Katolik/a. ferka

Dengan cara masing-masing, umat dari semua agama yang berada di Manado telah mendoakan secara serentak para pahlawan revolusi yang menjadi korban keganasan Gerakan 30 September 1965. “Doa bersama ini dilaksanakan secara serentak pada hari Minggu, 30 September 2018,” kata Kepala Bimbingan Mental Kodam XIII/Merdeka Kolonel Heru Rinawan. Untuk yang beragama Katolik, jelasnya kepada PEN@ Katolik, berdoa di Gereja Paroki Yesus Gembala Yang Baik Wanea pukul 18.00 Wita dalam Misa bersama umat paroki yang dipimpin Kepala Paroki Pastor Melky Pantouw Pr, sedangkan umat Protestan berdoa di Gereja GMIM Sion Teling pukul 17.30. Yang beragama Islam, lanjutnya, berdoa di Mesjid Kodam pukul 17.00, sementara yang beragama Hindu di Pura Jagad Hita Taas pukul 09.00. Menurut Kepala Rohaniwan Katolik Dam XIII/Merdeka Mayor Venceslaus Mamoradia, doa yang dipanjatkan umat di Paroki Wanea berintikan doa untuk para pahlawan revolusi agar mereka diberikan keselamatan jiwa dan keluarganya diberikan kekuatan iman. “Mereka juga berdoa agar bangsa Indonesia senantiasa berada dalam lindungan Tuhan, tetap menjaga kerukunan dan merawat Pancasila, agar masyarakat tidak terprovokasi dengan upaya adu domba dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang ingin mengganti Pancasila, dan agar TNI, Polri dan masyarakat dapat terus bersatu dalam menjaga dan merawat Pancasila,” tegas Mamoradia.(PEN@ Katolik/A Ferka)

Artikel Terkait:

Tahun ini anggota TNI dan Polri Manado mulai rayakan Misa Jumat Pertama guna pertebal iman

Pembaharuan Karismatik Katolik harus temukan cara baru sesuai tuntutan jaman

Rab, 03/10/2018 - 15:41
Pembukaan Konvensi Nasional XIV Pembaharuan Karismatik Katolik di Pontianak. Komsos Pontianak/sam

Banyak peristiwa dramatis kini terjadi di negara kita seperti perpecahan dalam masyarakat, ketidakadilan, korupsi. Menghadapi pembaharuan semacam ini, Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) sebagai bagian Gereja untuk mewujudkan Misi Gereja dalam pembaharuan tata duniawi, “harus menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan karya misi yang sesuai tuntutan jaman sekarang.”

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus berbicara dalam sambutan pembukaan Konvensi Nasional (Konvenas) XIV PKK, di sebuah hotel di Pontianak, 27-30 September 2018, seraya memohon rahmat kesatuan serta rahmat mengasihi dan mengampuni seperti yang didoakan oleh Paus Fransiskus.

Konvenas itu dibuka dengan pemukulan gendang oleh Mgr Agus diiringi tarian Barongsai serta tarian Cindayu (Cina, Dayak dan Melayu), serta Misa yang dipimpin oleh Mgr Agustinus Agus, yang didampingi Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang dan Episcopal Advisor Badan Pelayanan Nasional (BPN) PKK Indonesia Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm bersama 69 imam.

Sebanyak 1211 anggota BPN dan Badan Pelayanan Keuskupan (BPK) se-Indonesia, juga wakil dari Sabah, Serawak, Singapura dan Timor Leste, serta 300 orang panitia, mengikuti konvenas bertema “Bagikanlah Rahmat Pembaharuan” (bdk Titus 3: 5), yang diketuai oleh Marni Suprapto.

Dalam homili, Mgr Agus mengingatkan agar dalam perjumpaan dengan Kristus itu, “PKK menjadi anugerah untuk semua orang yang merindukan kasih Kristus, “ dan “peserta semakin dibakar dengan Roh Karisma yang juga untuk kehidupan bermasyarakat.”

Dalam sambutan, Mgr Agus mengingatkan homili Paus Fransiskus dalam Yubileum Emas PKK di Circo Massimo Roma (31 Mei-4 Juni 2017), “Roh Pencipta menjadikan segala sesuatu baru. Roh Kudus menciptakan keberagaman dan kesatuan, yang membentuk umat baru, Gereja universal. Pertama-tama, dengan imajinasi dan tidak dapat diduga, Roh Kudus menciptakan keberagaman tanpa kesatuan atau kesatuan tanpa keberagaman. Doa kita adalah memohon kesatuan dan mengusahakan kesatuan. Juga semoga rumah kita menjadi rumah terbuka untuk menerima siapa pun, tempat kita berbagi sukacita.”

Paus juga mengatakan, Yesus menunjukkan rahmat Roh Kudus yang pertama, yaitu mengampuni dosa, rahmat par excellence, kasih lebih besar. “Pengampunan membebaskan hati dan mulai hidup kembali. Tanpa pengampunan tidak ada Gereja. Roh Pengampunan menanamkan dalam diri kita pengampunan yang ditawarkan dan pengampunan yang diterima,” kata Paus seraya memohon kepada Roh Kudus rahmat kesatuan dalam keberagaman dan supaya memiliki hati yang mengasihi dan mengampuni.

Sebagai salah satu bentuk pembaharuan dalam Gereja, Mgr Agus berharap PKK dapat menjalin kerjasama dengan semua bentuk pembaharuan dalam Gereja, bersatu sebagai satu tubuh dalam Kristus dan tanggap membaca tanda-tanda zaman.”

Mgr Pidyarto Gunawan mengatakan, sebelum konvenas, Pontianak juga menjadi tuan rumah Temu Pastor Moderator Nasional (Modernas VII), 25-27 September 2018. “Kami berharap, semoga kedua peristiwa berskala nasional itu sungguh-sungguh membuat api Roh Kudus semakin berkobar dalam hati pengikut PKK seluruh Indonesia. Kami juga berharap, semoga PKK Indonesia mewujudkan segala sesuatu yang diserukan oleh Paus Fransiskus pada kesempatan Golden Jubilee di Roma.”

Menurut Koordinator BPN PKK Indonesia Endie Rahardja, Konvenas Pontianak sangat istimewa karena dirayakan setelah ulang tahun emas PKK tahun 2017, saat Paus meminta agar PKK membagikan rahmat baptisan dalam Roh Kudus kepada Gereja. “Tema Konvenas ini merupakan jawaban atas permintaan Bapa Suci untuk membagikan rahmat baptisan dalam Roh Kudus kepada  Gereja. Untuk itu mari kita semakin giat mengadakan Seminar Hidup dalam Roh, agar semakin banyak orang Katolik mengalami pembaharuan dalam hidupnya dan menjadi saksi Kristus untuk mewartakan Injil dan ikut terlibat dalam pelbagai macam kegiatan di Gereja,” katanya.

Sementara itu, Moderator BPN PKK Indonesia, Pastor Antonius Gunardi Prayitna MSF, mengatakan konvenas itu menarik, “bukan pertama-tama karena kita dapat mengunjungi Gereja Katedral yang megah dan indah, serta melakukan kuliner yang memuaskan lidah, namun “karena kita diundang bersama untuk berbagi rahmat pembaharuan.”

Konvenas XIV sudah selesai, namun Marni Suprapto berharap peserta lebih intens mengalami dan membagikan pengalaman spiritual kepada setiap orang. “Harapan kami kepada seluruh peserta Konvenas XIV agar pertemuan ini dapat sungguh dimanfaatkan untuk memupuk iman kita dan semakin mengalami kasih Kristus.”

Dia juga berharap semoga ceramah, lokakarya dan pengalaman selama konvenas “mempersatukan serta memampukan kita oleh bimbingan dan kuasa Roh Kudus untuk membagikannya kepada keluarga kita, lingkungan kita, paroki kita dan kepada siapa saja yang Tuhan gerakkan kita untuk pergi.”(Samuel)

Misa Pembukaan Konvenas XIV PKK dipimpin Mgr Agustinus Agus, yang didampingi Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang dan Episcopal Advisor Badan Pelayanan Nasional (BPN) PKK Indonesia Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm bersama 69 imam. Komsos Pontianak/sam Sebagian peserta Konvenas XIV Pontianak. Komsos Pontianak/sam Mgr Agus bersama Koordinator BPN PKK Indonesia Endie Rahardja (kiri). Komsos Pontianak/sam Sebagian peserta Konvenas XIV PKK. Komsos Pontianak/sam Ketua Panitia Marni Suprapto. Komsos Pontianak/sam

Bagaimana orang menjaga kekudusan hari Minggu?

Sab, 29/09/2018 - 19:16
Katedral Larantuka. PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

452. Dengan alasan apa hari Sabat diubah menjadi hari Minggu bagi orang-orang Kristen?

Alasannya, hari Minggu adalah hari kebangkitan Kristus. Sebagai ”hari pertama minggu itu” (Mrk 16:2) mengingatkan penciptaan pertama, dan sebagai ”hari kedelapan”, sesudah hari Sabat, melambangkan ciptaan baru yang di- dahului oleh kebangkitan Kristus. Jadi, bagi orang Kristen, hari itu merupakan yang pertama dari semua hari dan pesta yang lain. Hari itu merupakan hari Tuhan yang dengan Paskah-Nya, Dia menyempurnakan kebenaran rohani hari Sabat Yahudi dan mewartakan istirahat abadi manusia dalam Allah.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2174-2176, 2190-2191

453. Bagaimana orang menjaga kekudusan hari Minggu?

Orang-orang Kristen menjaga kekudusan hari Minggu dan hari-hari wajib lainnya dengan berpartisipasi pada Ekaristi, serta menghindari kegiatan-kegiatan yang menghalangi ibadah kepada Allah dan mengganggu sukacita hari Allah itu atau relaksasi yang dibutuhkan oleh badan dan jiwa. Kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan pada hari Sabat adalah kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan keluarga atau pelayanan sosial yang penting, asalkan tidak mengarah kepada kebiasaan yang merugikan kekudusan hari Minggu, hidup keluarga, dan kesehatan.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2177-2185, 2192-2193

454. Mengapa pengakuan sipil bahwa hari Minggu adalah hari libur itu penting?

Pengakuan itu penting supaya semua diberi kemungkinan nyata untuk beristirahat, memberi perhatian pada religiositas mereka, hidup keluarga, hidup sosial dan budaya. Juga penting menyediakan waktu khusus untuk meditasi, refleksi, keheningan,studi, dan waktu untuk melakukan perbuatan baik, terutama bagi orang sakit dan usia lanjut.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 2186-2188, 2194-2195

Amputasi

Sab, 29/09/2018 - 17:27
Pengakuan Dosa. Antri mulai dari sini. Apakah kita cukup berani untuk mengakui dosa-dosa kita?

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-26 pada Masa Biasa, 30 September 2018: Markus 9: 36-43, 45, 47-48)

“Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah. (Mk. 9:43) ”

Ketika saya bertugas pelayanan di rumah sakit di Manila, saya menyadari bahwa kasus diabetes berkembang secara pesat, dan juga efeknya yang menakutkan bagi para pasien. Secara sederhana, diabetes adalah suatu kondisi pada seseorang yang tidak lagi dapat secara alami mengelola gula darahnya. Dalam kasus yang lebih serius, tubuh kehilangan kemampuan alami untuk menyembuhkan luka-lukanya. Pada awalnya adalah luka yang kecil, namun karena tubuh tidak lagi bisa menyembuhkan, infeksi-infeksi pun berkembang, dan ini mengarah pada gangren atau kematian jaringan-jaringan tubuh. Saya menemani beberapa pasien yang bergulat dengan situasi ini, dan menyaksikan bagaimana jari atau bahkan kaki mereka menghitam dan berubah bentuk. Ketika pengobatan biasa tidak lagi bekerja, amputasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi. Sebagai seorang frater yang bertugas di rumah sakit, mendampingi pasien-pasien ini adalah salah satu misi terberat saya di rumah sakit.

Dalam Injil hari ini, kata-kata Yesus sangat keras. Dia ingin orang yang menyebabkan orang lain berbuat dosa, dibuang ke laut. Dia ingin tangan dan kaki dipotong, dan mata tercungkil. Dia bahkan menggambarkan Gehenna dengan detail yang lebih jelas, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam (Mk. 9:48).” Yesus kali ini tampaknya jauh berbeda dengan Yesus yang lembut dan penuh belas kasihan. Apa yang sedang terjadi? Apakah Yesus mempromosikan kekerasan? Apakah Yesus seorang penderita skizofrenia atau memiliki kepribadian ganda?

Tidak ada yang salah dengan Yesus. Namun, dia menjadi penuh semangat karena dia mengajar tentang hal yang serius dengan konsekuensi sangat berat. Ini tidak lain adalah dosa. Yesus tahu benar bahwa dosa merusak, dan seperti akar yang tumbuh, dosa merusak ke segala sisi. Dosa menghancurkan jiwa kita, sesama kita, lingkungan kita dan bahkan hubungan kudus kita dengan Tuhan. Apa yang lebih menyeramkan tentang dosa adalah dosa merusak hati nurani kita dan membuat kita percaya bahwa kita tidak melakukan sesuatu yang salah. Dalam bukunya ‘The Name of God is Mercy, Paus Fransiskus berbicara tentang efek dari korupsi dosa, “Korupsi jiwa bukanlah suatu tindakan tetapi suatu kondisi, keadaan pribadi dan sosial yang menjadi kebiasaan hidup… Orang yang korup selalu memiliki muka untuk mengatakan, ‘Bukan aku!’ … Dia adalah orang yang pergi ke Misa setiap Minggu tetapi tidak memiliki masalah menggunakan posisinya yang kuat untuk meminta suap … lalu dia memamerkan kepada teman-temannya tentang cara-cara liciknya tersebut.”

Seperti dalam kasus orang yang bergulat dengan diabetes dan memiliki gangren di jarinya, lebih baik baginya untuk mengamputasi jari untuk mencegah penyebaran infeksi, dan dengan demikian, menyelamatkan organ lain, dan hidupnya. Demikian juga dengan dosa. Yesus memerintahkan kita untuk “mengamputasi” area-area dalam hidup kita yang dirusak oleh dosa, untuk menyelamatkan jiwa kita. Tapi, ini tidak mudah. Seperti beberapa pasien yang saya layani, mereka menolak menyerahkan bagian-bagian berharga dari tubuh mereka. Mereka menolak, marah dan frustrasi, dan mencoba tawar-menawar dengan dokter untuk menghindari amputasi. Dengan mentalitas yang sama, kita sering menyangkal bahwa kita memelihara sifat buruk kita. Kita menjadi marah ketika orang mengoreksi kita dan mengungkapkan dosa-dosa kita. Kita juga tawar-menawar dengan Tuhan untuk tetap menyimpan dosa-dosa favorit kita, dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita akan menjadi lebih baik dalam aspek-aspek lain dari kehidupan kita. Namun, ini tidak akan pernah berhasil. “Amputasi” radikal diperlukan untuk menyelamatkan jiwa kita yang sakit.

Namun, kabar baiknya adalah bahwa jiwa kita tidak seperti tubuh yang tidak akan mendapatkan kembali anggota badan yang hilang, jiwa kita bahkan akan tumbuh bahkan lebih kudus setelah “amputasi”. Hubungan antara orang lain akan dimurnikan, sikap kita terhadap lingkungan akan dipenuhi dengan perhatian dan belas kasihan, dan cinta kita kepada Tuhan akan diperdalam.

Apa dosa-dosa kita yang merugikan diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan? Apakah kita cukup rendah hati untuk menerima koreksi? Apakah kita cukup berani untuk mengakui dosa-dosa kita? Apakah kita meminta rahmat Tuhan untuk mempersiapkan kita untuk sakramen pengakuan dosa?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Sebagai imam SVD, Pastor Anselmus Meo asal Bajawa NTT ingin jadi orang Papua sejati

Sab, 29/09/2018 - 15:57
Pastor Anselmus Meo SVD (kanan). PEN@ Katolik/YM

“Kalau saya diutus ke tanah ini untuk bersama dengan masyarakat asli di sini, … Jangan sibuk kalau saya mati. Jangan bawa saya kubur di Flores, tetapi kuburkan saya di tanah ini supaya jasad saya, tubuh saya menyatu dengan tanah ini dan memberkati tanah ini.”

Pastor Anselmus Meo SVD yang akrab disapa Pastor Ansel mengatakan hal itu dalam Pesta Perak Imamatnya bersama umat Kuasi Paroki Kristus Raja Damai Kampung Nasem, Keuskupan Agung Merauke, 22 September 2018. Pesta Perak Imamat itu dirayakan bersama Peringatan 143 Tahun Tarekat Societas Verbi Divini (SVD) atau Tarekat Serikat Sabda Allah.

Homili dari Kepala Kuasi Paroki Nasem itu menekankan keinginan dirinya untuk jadi seperti orang Papua, di dunia maupun di surga nanti. “Karena telah melayani orang Papua, saya ingin menjadi bagian dari mereka,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa seorang SVD sejati berada dan bersama masyarakat yang dilayaninya dan “bila perlu kematiannya juga harus menjadi bagian dari umat yang dilayani.”

Menyadari bahwa panggilan hidupnya adalah mewujudkan kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang miskin, terpinggirkan dan yang menderita, imam itu mengajak semua yang hadir dalam Misa itu untuk menyatukan ucapan syukur 25 tahun imamat dan 143 tahun usia SVD, dengan “terus menghadirkan kasih di setiap panggilan hidup kita.”

Perayaan 25 Tahun Imamat itu, lanjut imam itu, “tidak saya rayakan sebagai puncak ucapan syukur kehadiran saya di sini, tetapi sebagai sebuah komitmen, setelah lima tahun saya berkarya di sini.”

Misa yang dipimpin oleh Pastor Ansel dengan konselebran Pastor Vitalis Atty SVD, Pastor John Kota Sando Pr dan dibantu oleh Diakon Simon Kaize MSC itu, diawali dengan arakan tarian adat Suku Bajawa yang kemudian disambut dan diterima oleh masyarakat lokal dengan tarian adat Suku Marind (suku Asli Merauke).

Misa yang juga dihadiri Ketua DPRD Merauke, Sekda Merauke, mantan Bupati Merauke, dan oleh Ketua Flobamora Merauke itu dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun dan juga pemotongan sagu sep (makanan khas suku Marind) yang telah disiapkan masyarakat,” ucap Pastor Ansel. (Yakobus Maturbongs)

Pastor Ansel dijemput dengan tarian Adat Suku Marind. PEN@ Katolik/YM Pastor Ansel Meo SVD bersama Sekda Merauke Daniel Pauta, Ketua DPRD Fransiskus Sirfefa, Mantan Bupati Romanus Mbaraka, dan Ketua Flobamora Adrianus Molo memotong kue ulang tahun Pastor Ansel. PEN@ Katolik/pcp

Uskup baru Maumere ditahbiskan oleh Mgr Kherubim Pareira SVD

Kam, 27/09/2018 - 04:51
Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu saat mengitari Gelora Samador da Cunha Maumere dengan mobil terbuka sambil memberkati puluhan ribu umat yang memadatinya saat Misa Tahbisannya. PEN@ Katolik/pcp

“Saudara-saudari terkasih, Keuskupan Maumere kini mempunyai seorang uskup baru yang akan memimpin serta mempersatukan umat pada Kristus, memperhatikan keselamatan, serta hidup bersatu sehati sejiwa dalam suka dan duka dengan umat. Sebagai tanda syuur kepada Tuhan, kita semua dengan gembira menyambut Uskup Edwaldus Martinus Sedu sebagai pemimpin Keuskupan Maumere.”

Serentak sekitar 30 ribu umat yang memenuhi Gelora Samador da Cunha Maumere dalam Misa Tahbisan Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu, 26 September 2018, bertepuk tangan menanggapi pernyataan dari Penahbis Utama, Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD, yang akan menjalani masa emeritusnya.

Sebanyak 27 uskup, termasuk Penahbis Pertama Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota, Penahbis Kedua Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung dan Duta Vatikan Mgr Piero Pioppo, dan satu uskup emeritus hadir dalam Misa itu bersama 420 imam dari berbagai keuskupan dan kongregasi di Indonesia. Dua vikjen mewakili uskupnya juga hadir. Misa itu dimeriahkan oleh koor berkekuatan 1000 orang dari delapan paroki serta para frater.

Tokoh-tokoh pemerintah seperti Gubernur NTT serta Bupati Sikka dan bupati lainnya serta anggota DPR RI dan DPRD, anggota TNI dan Polri, tokoh masyarakat dan tokoh agama lain, serta orangtua dan keluarga Mgr Edwaldus juga hadir dalam Misa itu.

Tahbisan itu diterima setelah semua yang hadir mendengarkan surat pengangkatan dari Tahta Suci yang diperlihatkan kepada semua uskup dan semua yang hadir. Surat yang dibacakan Mgr Piero Pippo itu menyatakan bahwa Mgr Edwaldus memiliki kualitas yang diperlukan serta keahlian dalam formasi imamat dan dalam perkara pastoral.

“Untuk alasan-alasan inilah setelah mendengarkan nasihat dari Kongregasi untuk Penginjilan Bangsa-Bangsa, melalui otoritas apostolik tertinggi, kami mengangkat Anda sebagai Uskup Maumere dengan segala kewajiban dan hak khusus yang terkait dengan jabatan ini dan seturut Hukum Kanonik,” tulis surat pengangkatan dari Paus Fransiskus yang diberikan di Basilika Santo Petrus, Roma, 14 Juli 2018.

Setelah mendengarkan homili dari Uskup Denpasar yang merangkap Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr Silvester San, Mgr Edwaldus menyatakan kesediaan untuk mewartakan Injil Kristus, memelihara harta iman sesuai Tradisi yang dipertahankan Gereja, membangun Tubuh Kristus, setia kepada pengganti Rasul Santo Petrus, membimbing umat Allah, berhati lapang dan penuh belas kasih terhadap orang miskin, terlantar dan berkekurangan, mencari domba-domba tersesat, menghormati semua yang memegang kekuasaan sah dalam negara dan masyarakat serta memajukan kerukunan umat beragama dan menggalang persatuan dan kesatuan, berdoa tanpa henti kepada Tuhan dan menunaikan tugas Imam Agung tanpa cela.

Sebagai ungkapan kerendahan hati dan ketidakmampuan, Mgr Edwaldus memohon bantuan Tuhan seraya bertiarap di hadapan Tuhan selama Litani Orang Kudus dinyanyikan. Setelah berdiri, Mgr Kherubim dan semua uskup lain secara bergantian menumpangkan tangan ke atas kepala Mgr Edwaldus yang diikuti dengan Doa Tahbisan yang diucapkan di bawah Injil terbuka di atas kepala Mgr Edwaldus.

Selesai Doa Tahbisan, Mgr Kherubim mengurapi kepala Uskup Baru itu dengan minyak Krisma, dan kepadanya diserahkan Kitab Injil dan dikenakan Cincin, Mitra dan Tongkat Kegembalaan.

Meski Gereja Indonesia masih berduka dengan meninggalnya Uskup Sibolga Mgr Ludovikus Simanullang OFMCap, namun, menurut Mgr Piero Pioppo, Allah menghibur Gereja-Nya dengan memberikan seorang gembala yang baru yang berharga bagi keluarga besar Keuskupan Maumere.

“Paus Fransiskus juga hadir secara rohani di antara kita dan bersukacita sepenuh hati, karena melihat betapa banyak putra dan putri Keuskupan Maumere yang berkumpul di sini dalam momen amat penting dalam sejarahnya,” kata Mgr Pioppo yang mengajak semua untuk bersyukur atas karunia berlimpah yang Dia berikan melalui sosok kebapaan Mgr Kherubim.

“Pelayanannya yang berbuah telah memberkati Keuskupan Maumere sejak 2007 dan akan berlanjut dengan memberikan dorongan, nasehat dan pelayanan bagi Uskup Baru dan Anda semua sebagai bapa rohani,” lanjut Duta Vatikan seraya mengajak umat mendengar lagi suara kebapaan Santo Yohanes Paulus II di Ledalero, Rabu 11 Oktober 1989, “sebagai uskup dan imam Anda, akan melayani banyak orang yang membutuhkan. Anda dipanggil untuk bertindak sebagai jembatan di sepanjang jalan mereka menuju Allah, menjadi citra Sang Gembala Baik yang hidup yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.”

Mgr Pioppo berharap agar Mgr Edwaldus dan domba-dombanya terus mengasihi Allah agar kalian semua dapat “mempunyai hidup dan hidup yang berlimpah di dunia ini dan dunia yang akan datang.”

Mgr Kherubim mengatakan bahwa kita semua berbahagia. “Hari ini kerinduan kita untuk mendapat seorang uskup baru sudah dipenuhi. Bagi saya sendiri, dua tahun tanpa kepastian sejak saya menulis surat untuk memohon dibebastugaskan karena usia. Sesudah satu tahun diberitakan bahwa permohonan dikabulkan tapi tunggu sampai ada pengganti. Dan hari ini kita menyaksikan uskup baru ditahbiskan.”

Uskup baru itu, menurut Mgr Kherubim, bukan orang baru di Keuskupan Maumere. “Sejak ditahbiskan dia bekerja di Keuskupan Maumere dan punya pengalaman di kota dan desa serta sesudah gempa. Dia seorang calon uskup berpengalaman. Untuk saya suatu kabar gembira ketika dia diangkat menjadi uskup karena sudah beberapa tahun lamanya dia menjadi vikjen saya. Dia menghadiri seluruh rapat konsultores dan kuria sehingga dia tahu segala masalah dalam keuskupan ini.” Mgr Edwaldus memiliki hubungan baik dengan umat agama lain karena ditugaskan juga dalam bidang antaragama bahkan menjadi ketua badan kerja sama antarumat beragama.

“Hari ini begitu menggembirakan di saat kita sekalian boleh mengalami cinta Allah. Betapa mengagumkan kita semua boleh menyaksikan betapa indahnya rencana Tuhan di dalam hidup kita terutama ziarah hidup menggereja Keuskupan Maumere,” kata Uskup Baru Mgr Edwaldus.

Perayaan Pentahbisan Uskup Merauke, menurut Mgr Edwaldus, “adalah perayaan kasih Allah yang boleh kita syukuri dengan penuh sukacita. Ketika jabatan pelayanan ini mesti dihayati dalam kesederhanaan dan  kerendahan hati, ketika tugas kepemimpinan ini mesti selalu  terbuka pada setiap kritikan, masukan dan mungkin juga kecaman pedas, kuasa jabatan sebagai rahmat harus dibagikan dengan penuh cinta, harus dibagikan dengan penuh keikhlasan.”

Atas nama Konferensi Waligereja Indonesia, Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC  mengucapkan selamat berkarya kepada Mgr Edwaldus. “Selamat bergabung dengan kolegium para uskup di Konferensi Waligereja Indonesia, dan selamat bertemu pada pertemuan pertama Sidang Pleno KWI tanggal 5-15 November 2018. Mon segera dijadwalkan,” kata Mgr Subianto seraya berharap Mgr Edwaldus menjadi gembala yang baik.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Mgr Edwaldus diterima di Katedral Maumere dengan sapaan dalam bahasa Sikka

Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan setia kepada Gereja Katolik dan memajukan peranan awam

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Permohonan pensiun sudah dikabulkan Paus kata Mgr Kherubim saat HUT ke-75

Mgr Edwaldus didampingi Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD dan Mgr Vincentius Sensi Potokota memberkati umat seputar Gelora Samador da Cunha Maumere. PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp Mgr Piero Pioppo memperlihatkan Surat Pengangkatan Mgr Edwaldus sebagai Uskup Maumere sebelum membacanya. PEN@ Katolik/pcp Penumpangan tangan di kepala uskup baru. PEN@ Katolik/pcp Doa Tahbisan. PEN@ Katolik/pcp Pengenaan mitra dan tongkat penggembalaan yang dibawa oleh saudara-saudarinya (dua suster). PEN@ Katolik/pcp “Saudara-saudari terkasih, Keuskupan Maumere kini mempunyai seorang uskup baru”. PEN@ Katolik/pcp Suasana Misa. Alar ditempatkan dalam panggung yang dihias bagaikan bahtera oleh seorang haji. PEN@ Katolik/pcp Membawa persembahan dalam bentuk kapal. PEN@ Katolik/pcp

Mgr Edwaldus diterima di Katedral Maumere dengan sapaan dalam bahasa Sikka

Rab, 26/09/2018 - 12:20
Mgr Edwaldus Martinus Sedu bersama duta Vatikan dan para uskup disambut dengan cara Budaya Sikka. PEN@ Katolik/pcp

“Hari ini seluruh umat Maumere boleh datang bersukacita bersama Yang Mulia Mgr Edwaldus Martinus Sedu untuk memohon berkat dan rahmat serta penyertaan Tuhan bagi perjalanan kegembalaan Mgr Edwaldus Martinus Sedu dalam perjalanan sebagai uskup. Semoga Tuhan menyertai dia dan menjauhkan dia dari aral dan rintangan. Ini berkat yang luar biasa untuk Keuskupan Maumere.”

Pernyataan itu merupakan terjemahan dari Sapaan Penerimaan yang diucapkan dalam Bahasa Sikka oleh Patrisius Permoto, seorang guru SD, yang ditemani dua orang lainnya dalam pakaian adat Sikka di depan Katedral Santo Yoseph Maumere.

Mgr Edwaldus Martinus Sedu datang bersama Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo dan Uskup Emeritus Maumere Mgr Vincentius Sensi Potokota bersama uskup-uskup dari seluruh Indonesia dan Bupati Sikka yang yang baru, Fransiskus Roberto Diogo, bersama istri, yang dijemput oleh Marching Band SMPK Frateran Maumere.

Ribuan umat memadati katedral dan halaman seputar katedral itu untuk mengikuti Salve Agung, Pengakuan Iman dan Sumpah Setia Menjelang Tahbisan Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu yang membawa motto Duc in Altum (Lukas 5:4) tanggal 25 September 2018.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan setia kepada Gereja Katolik dan memajukan peranan awam

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Permohonan pensiun sudah dikabulkan Paus kata Mgr Kherubim saat HUT ke-75

PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp Katedral Maumere. PEN@ Katolik/pcp

Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan setia kepada Gereja Katolik dan memajukan peranan awam

Rab, 26/09/2018 - 02:51
Mgr Edwaldus Martinus Sedu membacakan Pengakuan Iman didampingi Duta Vatikan Mgr Piero Pioppo dan Mgr Sensi Potokota. PEN@ Katolik/pcp

“Saya Mgr Edwaldus Martinus Sedu, yang diangkat menjadi Uskup Keuskupan Maumere akan senantiasa setia kepada Gereja Katolik dan Santo Bapa, gembala-Nya yang utama, wakil Kristus, pengganti rasul Santo Petrus.”

Mgr Edwaldus mengatakan itu dalam Salve Agung, Pengakuan Iman dan Sumpah Setia Menjelang Tahbisan Uskup Maumere di Katedral Santo Yoseph Maumere, 25 September 2018. Sumpah setia itu diucapkan didampingi oleh Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo dan Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota, pemimpin Salve Agung itu.

Sumpah setia itu dibacakan setelah uskup baru Maumere itu menyampaikan pengakuan iman kepada Allah dengan mengucapkan Syahadat Para Rasul dan kepercayaannya yang teguh “akan segala sesuatu yang terkandung dalam Sabda Allah baik yang tertulis maupun yang diturunkan dalam tradisi dan yang diputuskan oleh Gereja baik melalui keputusan yang definit maupun melalui Magisterium yang biasanya ditetapkan untuk dipercaya sebagai yang diwahyukan secara ilahi.”

Selain akan menghormati pelaksanaan tugas Bapa Suci atas Gereja universal, memajukan dan mempertahankan hak-hak dan kewibawaan Bapa Suci, serta mengakui dan menghormati hak dan tugas prerogatif Bapa Suci, Mgr Edwaldus bersumpah akan dengan sangat saksama “menjalankan tugas-tugas apostolik yang dipercayakan kepada para uskup yang mengajarkan, menguduskan, dan memimpin umat Allah dalam persekutuan dengan kepala dan anggota kolegium para uskup” serta “akan menjalankan hukum Gereja universal.”

Hal lain yang termasuk dalam sumpahnya adalah menjaga iman yang telah diturunkan para rasul, meneruskan dan menerangkan kebenaran yang disampaikan oleh Magisterium Gereja kepada semua orang, menunjukkan kasih kebapaan kepada yang sesat imannya dan berusaha membimbing mereka kepada kepenuhan kebenaran Katolik.

Dalam salve yang dilaksanakan sehari sebelum penahbisan, Mgr Edwaldus juga bersumpah akan memenuhi tugas kepercayaan yang dipercayakan kepada dirinya, menjadi suri teladan  bagi umat beriman untuk mencapai kesempurnaan kristiani, menjunjung tinggi tata tertib yang berlaku umum di dalam seluruh Gereja, dan melaksanakan semua tugas Gereja terutama yang ditemukan dalam Hukum Kanonik.

Sumpah lain berkenaan dengan upaya menghindari penyalahgunaan berkaitan dengan Perayaan Sabda dan Perayaan Sakramen, pengelolaan harta benda Gereja, perhatian khusus bagi para imam dan diakon, panggilan hidup imamat dan biara.

“Saya akan mengakui dan memajukan martabat awam dan peranan mereka yang khas dalam tugas perutusan Gereja dan secara khusus akan memperhatikan perkembangan karya missioner yang diperuntukkan bagi evangelisasi bangsa-bangsa,” sumpah Mgr Ewaldus yang juga bersedia hadir secara pribadi atau menjawab sesegera mungkin jika dipanggil untuk konsili dan kegiatan kolegial lain, dan memberikan pertanggungjawaban tentang tugas-tugas pastoralnya kepada Tahta Suci, serta menerima dan melaksanakan dengan penuh rasa hormat perintah, saran dan nasehat” Tahta Suci.

Sesudah Pengakuan Iman dan Pengucapan Sumpah Setia, Mgr Edwaldus sebagai Uskup Terpilih bersama Mgr Sensi Potokota dan Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD sebagai uskup emeritus yang menjadi pendamping dalam Salve itu menandatangani dokumen-dokumen pengakuan iman dan sumpah setia itu.  Penandatanganan dan serah terima dokumen-dokumen itu diakhiri dengan rangkulan Duta Vatikan kepada Mgr Ewaldus.

Dalam Salve itu, Provinsial SVD Ende Pastor Lukas Jua SVD membacakan Injil dan menyampaikan homili dan Mgr Sensi Potokota memberkati insignia atau tanda-tanda yang akan dikenakan uskup baru yakni mitra, cincin, tongkat dan kalung salib serta beberapa perlengkapan yang akan digunakan untuk kegiatan liturgis uskup yang baru.

Mgr Pareira, yang menjadi uskup kedua Keuskupan Maumere (sejak 2008) menggantikan Mgr Potokota yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende, kemudian mengalungkan Salib itu kepada Mgr Edwaldus.

Setelah lagu penyerahan Magnifikat dan Tantum Ergo, Mgr Potokota sebagai pemimpin upacara memberkati umat dengan Sakramen Mahakudus.

Acara malam itu diakhiri dengan makan malam bersama para uskup serta para imam dan biarawan-biarawati dan undangan di rumah dinas Bupati Sikka yang baru, Fransiskus Roberto Diogo.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Permohonan pensiun sudah dikabulkan Paus kata Mgr Kherubim saat HUT ke-75

Mgr Edwaldus Martinus Sedu menandatangani dokumen Pengakuan Iman dan Sumpah Setia. PEN@ Katolik/pcp Duta Vatikan memeluk dan menyalami Mgr Edwaldus. PEN@ Katolik/pcp Penandatanan dokumen oleh Mgr Pareira. PEN@ Katolik/pcp

Mgr Potokota memberkati umat dengan Sakramen Mahakudus. PEN@ Katolik/pcp Para Uskup di rumah dinas Bupati Sikka yang baru. PEN@ Katolik/pcp Tahta Uskup Maumere yangakan ditempati Mgr Edwaldus Martinus Sedu dengan semboyan “Duc In Altum”. PEN@ Katolik pcp

Sekretaris Komisi Seminari KWI: Seminari itu jantung Gereja yang akan mati tanpa seminaris

Sen, 24/09/2018 - 10:19
Foto bersama para rektor seminari menengah Regio MAMPU. Foto PEN@ Katolik/YM

“Seminari menengah di Indonesia ada 39. Paling banyak ada di Regio Makassar, Amboina, Manado dan Papua (MAMPU), maka semestinya Papua dapat melahirkan banyak imam dan adik-adik semua yang masih muda-muda inilah yang nanti dipanggil. Kita manusia punya jantung, kita hidup karena jantung kita berdetak. Nah, seminari adalah jantung Gereja, maka ketika seminari itu tidak ada calon-calonnya, nanti Gereja akan mati.”

Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Pastor Yoseph Kristanto Pr berbicara dalam homili Misa Aksi Panggilan bagi Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Agung Merauke di Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph Bambu Pemali Merauke, 22 September 2018.

Perayaan Misa itu membuka Temu Rektor Seminari Menengah Regio MAMPU 2018 yang dilaksanakan di Rumah Bina Pankat Keuskupan Agung Merauke selama empat hari 22-25 September 2018. Misa yang dihadiri ratusan OMK itu dipimpin oleh Rektor Seminari Menengah Pastor Bonus Merauke Pastor Maternus Minarto Pr dengan konselebran Pastor Kristanto Pr dan 15 imam lain dari regio itu.

Pastor Kristanto mengajak OMK untuk mengikuti jejaknya menjadi imam. “Panggilan Tuhan itu sudah ada pada setiap orang, tinggal bagaimana panggilan itu bisa dijawab,” tegas imam itu seraya mengatakan perlunya kerelaan menjawab panggilan Tuhan.

Menurut imam itu, seminari menengah di Regio MAMPU cukup banyak, hanya saja tahbisan imam, khusus di Papua nampaknya masih sangat sedikit. Maka, imam itu berharap ada putra-putra daerah yang terpanggil melayani umat di keuskupannya masing-masing, apalagi jumlah imam diosesan di Keuskupan Agung Merauke masih sangat minim.

“Kita lihat masih ada pastor dipinjam dari Keuskupan Agung Semarang dan beberapa pastor juga dikontrak dari keuskupan lain. Kami bermimpi, Gereja Katolik di Indonesia akan semakin kaya, kalau putra-putra daerah mampu juga menyumbangkan diri untuk menjadi imam, atau bruder maupun suster,” harap Pastor Kristanto dalam Misa yang juga mendengarkan sharing pengalaman dua orang imam.

Temu Rektor Seminari Menengah ini merupakan kegiatan tahunan Komisi Seminari KWI yang memiliki lima regio, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara dan MAMPU.(PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia Pastor Yoseph Kristanto Pr membawakan homili Misa Aksi Panggilan bagi OMK Keuskupan Agung Merauke. PEN@ Katolik/YM

Pastor Spadaro: Perjanjian antara Tahta Suci dan Cina adalah tanda harapan dan perdamaian

Sen, 24/09/2018 - 00:37
Pastor Antonio Spadaro SJ. Vatican Media

Direktur Civiltà Cattolica, sebuah media milik Yesuit, Pastor Antonio Spadaro SJ, yang ikut bersama Paus dalam perjalanannya ke Negara Baltik, berbicara dengan Alessandro De Carolis dari Vatican News, tentang Perjanjian Sementara tentang pengangkatan Uskup, yang ditandatangani di Beijing, 22 September 2018.

Alessandro De Carolis: Pastor Antonio Spadaro, dengan penandatanganan Perjanjian antara Tahta Suci dan pemerintah di Beijing, perubahan apa yang akan terjadi untuk Gereja Cina?

Pastor Antonio Spadaro SJ: Dengan Perjanjian ini, tidak ada lagi kesulitan-kesulitan yang membuat Gereja terpecah antara dua komunitas. Pada titik ini, tidak ada rintangan bagi persekutuan Gereja dalam globalitasnya di Cina, dan dalam hubungannya dengan Bapa Suci. Inilah tujuan yang dicapai oleh Perjanjian Sementara ini. Di saat yang sama, selesailah sebuah proses yang sudah berlangsung lama, yang dimulai oleh Yohanes Paulus II, yaitu, legalisasi penerimaan kembali ke dalam persekutuan dengan Paus dan legalisasi para Uskup yang ditahbiskan secara ilegal, secara tidak sah, yaitu, ditahbiskan oleh pemerintah tanpa Mandat Pontifikal. Sekitar 40 Uskup telah dilegitimasi sejak tahun 2000. Paus Fransiskus telah menyelesaikan pekerjaan ini. Tidak diragukan lagi, itu juga bagian penting untuk misi Injil. Gereja, yang tidak lagi terbagi, akan bisa lebih bebas, dengan menjalani proses rekonsiliasi, untuk memberitakan Injil, yang merupakan hal yang paling penting.

Apakah boleh menelusuri kembali akar Perjanjian Sementara ini pada surat yang ditulis Paus emeritus Benediktus XVI kepada umat Katolik Cina tahun 2007?

Paus Benediktus memiliki gagasan yang sangat, sangat jelas, yakni: kita harus menemukan cara untuk membangun kepercayaan di antara pemerintah Cina, otoritas Cina, dan Tahta Suci. Dan, kepercayaan akan membuka ruang untuk dialog, dan secara bertahap kita akan sampai pada titik yang telah kita capai hari ini. Jadi, saya mau mengatakan bahwa Paus Fransiskus telah menyelesaikan hasrat mendalam yang ditulis Paus emeritus Benediktus XVI dalam dokumen yang sangat penting itu.

Kami telah berbicara tentang masa lalu yang panjang, termasuk penderitaan. Sekarang kita sedang berbicara tentang hadiah baru, yang dimulai dengan harapan terbaik. Bagaimana bayangan masa depan, menurut Anda?

Unsur utama masa depan adalah pewartaan Injil. Tidak ada tujuan lain dalam Perjanjian ini. Oleh karena itu, ada dimensi pastoral, yang jelas-jelas mengandung benih masa depan. Jadi, hendaknya kita mengerti juga apa artinya ini bagi Gereja universal. Misalnya, Benediktus XVI, dalam pengantar bukunya, The Light of the World, yang diterbitkan dalam edisi bahasa Cina, berharap adanya Kristianitas Cina, yaitu, sepenuhnya Kristen dan sepenuhnya Cina. Apa istilahnya dalam teologi, refleksi, mengingat budaya besar negeri ini telah berulang kali diserukan oleh Paus Fransiskus, yang mengatakan kagum atas kebijaksanaan ini? Saya ulangi, tantangan mendasar adalah tantangan karakter pastoral. Saat ini perlu mewartakan Injil, dan mungkin, jika kita mau, Perjanjian ini juga akan menjadi tanda, tanda harapan, tanda perdamaian di dunia tempat sementara orang terus membangun tembok, terutama antara Barat dan Timur.

Penandatanganan Perjanjian Sementara ini bertepatan dengan tahap pertama perjalanan Paus Fransiskus ke negara-negara Baltik, kunjungannya ke Lituania. Berbicara dengan otoritas dan dengan orang-orang muda, Paus mengatakan bahwa menjaga jiwa dan menemukan kembali akar-akar sebuah masyarakat itu penting. Apakah Anda hendak mengatakan bahwa pesan ini bisa juga bermanfaat bagi umat Katolik di Cina?

Pesan Fransiskus di sini di Lituania, tentu sangat berharga bagi semua umat Katolik, termasuk umat Katolik Cina. Ketika Paus di sini di Vilnius berbicara tentang akar, Paus juga berbicara tentang penyambutan dan keterbukaan. Bahwa, pada dasarnya, seseorang perlu menyelamatkan akarnya agar tidak terlalu bergantung pada akar tanpa buah: akar seseorang adalah akar dari pohon yang menghasilkan buah. Dan Paus telah mengatakan dengan sangat jelas, terutama ketika mendarat di Vilnius, bahwa negara ini adalah negara yang, karena kuat di akarnya, tahu cara menyambut orang-orang dari kebangsaan yang berbeda, bahasa yang berbeda, agama yang berbeda. Inilah masa depan.

Serikat Yesus memiliki sejarah sangat panjang di Cina, yang dimulai beberapa abad lalu – 500 tahun lalu – dengan Pastor Matteo Ricci. Apa yang dimaksud dengan penandatanganan Perjanjian ini bagi para Yesuit?

Bagi kami para Yesuit, Perjanjian ini sangat berarti, karena kami mengatakan bahwa Cina berada di hati setiap Yesuit. Matteo Ricci adalah orang yang dibentuk dalam budaya Renaissance dan, dengan menyerap budaya Eropa, dia memutuskan pergi ke Cina. Dan ini – tepatnya formasinya – memungkinkan dia untuk berdialog dengan budaya negara besar ini: dia jatuh cinta padanya, dia menyerapnya. Dan para Yesuit setelah dia memahami budaya ini, mempelajari budaya ini, termasuk Konfusianisme, dan meneruskannya ke Eropa. Dengan cara ini mereka membuat Eropa lebih Cina. Sangat mengejutkan melihat bagaimana evangelisasi, bagi para Jesuit awal ini, diwariskan dari cinta yang mendalam terhadap budaya masyarakat. Jadi tidak ada keinginan untuk evangelisasi fundamentalis, atau sesuatu seperti misi budaya, melainkan keinginan untuk menjumpai orang-orang dan ide-ide mereka. Saya juga sangat terkejut karena Global Times, yang merupakan surat kabar resmi Cina, tepat pada hari saat Perjanjian antara Cina dan Tahta Suci ditandatangani, menggambarkan Paus Fransiskus sebagai “Paus Yesuit pertama,” dan menghubungkan dia secara langsung dengan Matteo Ricci, dengan mengatakan bahwa orang ini, seperti pendahulunya, telah dan kini memiliki kaitan sangat fleksibel dan dinamis berkenaan dengan evangelisasi, yang mampu mencintai umatnya. Ini mengejutkan saya karena ini persis seperti pengertian Perjanjian itu: membangun kepercayaan, mencintai sebuah bangsa.(Diterjemahkan oleh PEN Katolik/pcp)

Paus menerima pengunduran diri dua uskup Chili lainnya

Sab, 22/09/2018 - 15:37
Paus bersama para uskup Chili. Vatican Media

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri dua uskup Chili lainnya dan menunjuk dua administrator apostolik di tempat mereka. Tujuh uskup Chili sekarang mengundurkan diri sebagai akibat dari skandal pelecehan seksual.

Paus Francis telah menerima pengunduran diri Uskup Carlos Eduardo Pellegrín Barrera, dari Keuskupan San Bartolomé de Chillán. Pastor Sergio Hernán Pérez de Arce Arriagada, yang berasal dari keuskupan yang sama, telah ditunjuk sebagai administrator kerasulan.

Paus juga menerima pengunduran diri Uskup Cristián Enrique Contreras Molina dari Keuskupan San Felipe, dan menunjuk Pastor Jaime Ortiz de Lazcano Piquer, vikaris yudicial Keuskupan Agung Santiago de Chile.

Dengan pengunduran diri dua uskup itu, sudah tujuh uskup Chili yang telah mengundurkan diri setelah pertemuan luar biasa pada Mei lalu saat Paus memanggil mereka ke Roma karena skandal pelecehan seksual yang telah mengguncang Gereja di negara itu. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus berterima kasih kepada para uskup Chili untuk upaya tegas melawan pelecehan

Para uskup Chili ungkapkan rasa sedih dan malu atas pelecehan dan ingin dengarkan Paus

Kantor Pers Vatikan beri pernyataan tentang kasus pelecehan seksual di Chili

Paus Fransiskus menerima lagi pengunduran diri dua uskup Chili

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Paus akan menerima tiga korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus di Chili

Pelecehan seks Chili: Paus Fransiskus memohon maaf atas kesalahan kesalahan serius

Greg Burke: Paus Fransiskus rutin bertemu korban pelecehan seks yang dilakukan klerus

Kekudusan dalam Keagungan

Sab, 22/09/2018 - 13:35
Paus Benediktus XVI merayakan Misa tahbisan di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Juni 2010. Foto: SIPA PRESS / REX FEATURES

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-25 pada Masa Biasa, 23 September 2018: Markus 9: 30-37)

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35)

Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [diakon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.

Tetapi, ada juga berita yang tidak begitu baik. Saat ini, Gereja juga menghadapi krisis yang mendalam. Di banyak negara dan tempat, para klerus dan biarawan, terlibat dalam skandal dan hal-hal yang memalukan. Salah satu yang terburuk adalah pelecehan seksual yang melibatkan anak di bawah umur yang dilakukan oleh beberapa imam dan bahkan uskup, dan ada usaha untuk menutup-nutupi hal ini sehingga kejahatan struktural ini berkembang subur. Namun, ini bukan satu-satunya hal yang mengganggu Gereja. Beberapa klerus tidak jujur dan memiliki kehidupan ganda. Beberapa diam-diam memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa mungkin tidak melakukan skandal apa pun, tetapi kurang berbelas kasih dan tidak miliki semangat dalam melayani umat Allah. Banyak cerita yang beredar tentang pastor yang menolak untuk mendengar pengakuan dosa atau mengurapi orang yang sakit karena mereka memprioritaskan hobi mereka atau para biarawan yang gampang marah terhadap orang lain. Sikap-sikap ini hanya membuat umat menjauh dari Gereja.

Injil kita Minggu ini berkisah tentang Yesus yang mengajar para murid, yang kemudian akan menjadi pemimpin Gereja perdana. Injil ini sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berbicara tentang Yesus menubuatkan penderitaan dan kematian yang akan datang di Yerusalem. Di sini, para murid hanya terdiam. Mungkin, memori akan Yesus yang menegur Petrus dan memanggilnya “Setan” masih segar di pikiran para murid dan tidak ada yang ingin mengulangi peristiwa pemalukan yang sama. Bagian kedua dari Injil berbicara tentang tema kebesaran dan kepemimpinan. Kali ini, para murid memiliki reaksi yang berbeda. Tidak hanya mereka yang memulai diskusi, tetapi mereka juga dengan penuh semangat berdebat di antara mereka sendiri. Kita dapat membayangkan Petrus membanggakan dirinya sebagai pemimpin di antara para rasul, atau Yohanes mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah yang paling dekat dengan Yesus, atau Matius bangga akan kekayaannya. Bagaimanapun, mereka adalah Paus pertama dan para uskup pertama kita. Namun, ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka sekali lagi terdiam.

Para rasul sepertinya lupa bahwa murid-murid Yesus yang sejati harus memikul salib mereka dan mengikuti Yesus ke Yerusalem. Namun, Yesus memahami bahwa keinginan manusia untuk menjadi yang terbaik adalah karunia dari Allah juga. Yesus tidak melarang rasul-rasul-Nya untuk bermimpi dan berusaha untuk mencapai kebesaran, tetapi Dia membuat perubahan radikal. Dia mengarahkan energi yang kuat ini dari sekedar untuk mencapai kepentingan pribadi, berubah menjadi untuk melayani orang lain. Lalu, Yesus pun berkata, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35) Memang, mereka perlu menjadi unggul, tetapi tidak dala ukuran duniawi, tetapi dalam melayani dan memberdayakan sesama.

Dalam dokumen terbarunya, Gaudete et Exsultate, Paus Fransiskus berbicara tentang “Logika Salib.” Kebahagiaan sejati adalah sebuah paradoks. Jika para klerus, biarawan dan kita semua ingin bahagia, bukanlah kejayaan dan kesuksesan duniawi yang kita kejar, tetapi pelayanan dan pengorbanan kita untuk orang lain.

Kita terus berdoa bagi para imam dan uskup kita, serta para biarawan. Kita berdoa tidak hanya agar mereka dapat menghindari dosa, tetapi mereka mungkin menjadi kudus. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, “kekudusan tidak lain adalah kasih yang dihidupi sampai penuh.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Paus Fransiskus mengirimkan salam sebelum berkunjung ke Baltik

Sab, 22/09/2018 - 03:51
Paus Fransiskus berdoa di depan gambar Maria Salus Populi Romani di dalam Basilika Santa Maria Maggiore sebelum melakukan Kunjungan Apostolik ke Lithuania, Latvia, dan Estonia. Foto Vatican Media

Hari ini, 22 September 2018, Paus Fransiskus mengadakan Perjalanan Apostolik ke Lithuania, Latvia, dan Estonia, yang akan berlangsung hingga 25 September 2018. Sebelum melakukan perjalanan itu, Paus mengirimkan ucapan hangat kepada rakyat Lithuania, Latvia, dan Estonia.

“Meskipun saya datang sebagai Gembala Gereja Katolik,” kata Paus Fransiskus seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, “Saya ingin merangkul semua orang dan memberikan pesan perdamaian, kehendak baik, dan harapan untuk masa depan.”

Paus melihat kunjungannya bertepatan dengan ulang tahun ke-100 kemerdekaan tiga bangsa itu, dan mengatakan akan menghormati “semua orang yang pengorbanannya di masa lalu telah memungkinkan adanya kebebasan kita sekarang ini.”

“Kebebasan, seperti kalian tahu, adalah harta yang harus tetap dilestarikan dan diwariskan, sebagai warisan berharga, untuk generasi baru,” kata Paus.

Paus Fransiskus mengajak semua orang di Baltik untuk bekerja demi masyarakat yang lebih baik. “Di masa-masa kegelapan, kekerasan, dan penganiayaan, nyala kebebasan tidak padam, tetapi menginspirasi harapan akan masa depan saat martabat setiap yang diberikan Tuhan dihormati dan setiap kita merasa dipanggil untuk bekerja sama menuju terbentuknya masyarakat yang adil penuh persaudaraan.”

Bapa Suci mengungkapkan bahwa sekarang ini solidaritas dan pelayanan lebih penting dari sebelumnya. “Saya berharap kunjungan saya akan menjadi sumber dorongan bagi semua orang yang berkehendak baik, yang terinspirasi oleh nilai-nilai spiritual serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari masa lalu, sedang berupaya secara damai untuk meringankan penderitaan saudara-saudari kita yang membutuhkan bantuan dan meningkatkan persatuan dan kerukunan di setiap lapisan masyarakat.”

Akhirnya, Paus Fransiskus berterima kasih kepada banyak orang yang sedang bekerja tanpa lelah menyiapkan Kunjungan Apostoliknya ke Lituania, Latvia, dan Estonia. “Kepada kalian semua, saya pastikan kedekatan saya dalam doa dan saya mengirimkan berkat saya.” Dan, seperti selalu, Paus meminta kita untuk terus berdoa untuk dirinya.

“Tuhan memberkati kalian!”

Sebagaimana telah menjadi kebiasaan dalam kepausannya sebelum mengadakan kunjungan apostolik, pada Kamis sore, 20 September, Paus Fransiskus datang ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa bagi perjalanannya ke negara-negara Baltik itu.

Begitu sampai di dalam Basilika, Paus hening dalam doa di depan gambar Maria Salus Populi Romani (Keselamatan Penduduk Roma). (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Apa yang terkandung dalam pernyataan Allah: ”Akulah Tuhan Allahmu”?

Jum, 21/09/2018 - 19:23
Dari sytereitz.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

442. Apa yang terkandung dalam pernyataan Allah: ”Akulah Tuhan Allahmu” (Kel 20:2)?

Ini berarti bahwa orang beriman harus menjaga dan menjalankan tiga keutamaan teologal dan menghindari dosa yang bertentangan dengan itu. Iman percaya kepada Allah dan menolak segala sesuatu yang berlawanan dengannya, seperti keragu-raguan yang disengaja, ketidakpercayaan, kesesatan, penyangkalan iman dan skisma. Harapan menanti dengan penuh kepercayaan penampakan Allah yang terberkati dan pertolongan-Nya, dan menghindari keputusasaan dan kecurigaan. Kasih mencintai Allah di atas segalanya dan karena itu menolak sikap acuh tak acuh, sikap tidak tahu terima kasih, kelesuan, kejenuhan rohani, dan kebencian akan Allah yang muncul dari kesombongan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2083-2094, 2133-2134

443. Apa arti sabda Allah, ”Sembahlah Tuhan Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Mat 4:10)?

Kata-kata ini berarti menyembah Allah sebagai Allah segala sesuatu yang ada, merayakan ibadah individual dan komunitas kepada-Nya yang menjadi kewajibannya, berdoa kepada-Nya dengan pujian, syukur, dan permohonan, mempersembahkan kurban kepada-Nya terutama kurban rohani dari kehidupannya sendiri,yang dipersatukan dengan kurban sempurna Kristus, dan memegang teguh janji dan kaul yang telah diikrarkan di hadapan-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2095-2105, 2135-2136

Keterkejutan melanda Perancis, seorang imam muda bunuh diri

Jum, 21/09/2018 - 01:57
Pastor Jean Baptiste Sèbe dalam setelah Pemberian Saramen Permandian di tahun 2017 © F3 Normandie

Perancis dilanda keterkejutan karena Pastor Jean-Baptiste Sèbe, seorang imam berusia 38 tahun yang sangat terkenal dan sangat dihargai, ditemukan tewas di Gereja Santo Romain di pagi hari, 18 September 2018. Malam hari setelah penemuan jenazahnya, dirayakan Misa untuk mendoakan imam itu.

Kepala Paroki Santo Yohanes XXIII Rouen Perancis, dosen teologi di Institut Katolik Paris, imam di beberapa perguruan tinggi negeri dan sekolah menengah di Rouen itu ditemukan tewas menyusul tuduhan perilaku tidak senonoh dan pelecehan seksual terhadap seorang gadis muda.

Dalam sebuah surat yang diterbitkan di situs Keuskupan Rouen, Uskup Agung Rouen Mgr Dominique Lebrun menyebut imam itu bunuh diri.

“Jelas dia bunuh diri,” kata uskup agung itu. Sikap itu sulit dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. “Ada banyak pertanyaan dalam hati kami, mengapa?” Otoritas Gereja mengungkapkan ketidakpahaman mereka atas sikap pastor itu. Penjelasan satu-satunya yang disampaikan  dalam surat itu bahwa imam itu ”sedang mengalami saat yang sulit.”

Setelah menemukan imam itu tak bernyawa lagi, menurut Mgr Lebrun, keluarganya, orang tuanya, saudara-saudaranya segera diberitahu. “Kami memikirkan keluarganya, parokinya, pelayanan pendidikannya, Kolese Saint-Dominique, para mahasiswa dan rekan-rekannya, dan semua yang menemaninya .”

Namun, tanggal 19 September, jaksa Republik Rouen melaporkan bahwa bunuh diri adalah subjek dari pengaduan uskup agung dari tangan seorang ibu. “Seorang wanita datang mengeluh kepada Uskup Agung Rouen tentang perilaku tidak senonoh dan serangan seksual yang dilakukan terhadap putrinya. Tapi tidak ada yang menjadi perhatian polisi sebelum bunuh diri ini,” kata sebuah sumber polisi seperti ditulis dalam The Cross. Polisi yang menyelidiki fakta-fakta berhati-hati meneliti apa yang mungkin menjadi motivasi tindakan putus asa dari imam muda itu.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan beberapa media dari Perancis)

Mgr Rolly canangkan Kusuma Youth Day untuk tingkatkan kualitas iman OMK

Kam, 20/09/2018 - 23:45
Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, didampingi Ketua Komkep Kusuma, memberkati Patung Salib Kusuma Youth Day 2018 yang akan diarak menuju tempat pelaksanaan di Tompaso Baru. (Foto: PEN@ Katolik/A. Ferka)

Guna meningkatkan kualitas iman Orang Muda Katolik (OMK) yang ada di Keuskupan Manado serta dalam rangka merayakan Yubileum 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado, Komisi Kepemudaan Keuskupan Manado (Komkep Kusuma) akan menggelar Kusuma Youth Day 2018.

Kusuma Youth Day merupakan kelanjutan dari Pertemuan Berkala OMK Keuskupan Manado yang sudah berlangsung 22 kali sejak tahun 1980. Pencanangan Kusuma Youth Day 2018 dilakukan saat acara puncak Peringatan Yubileum 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado di Emmanuel Amphitheater Lotta, Pineleng, Sulawesi Utara, 14 September 2018.

Sebagai tanda pencanangan itu, Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, didampingi Ketua Komkep Kusuma Pastor Hendro Kandowangko Pr, memberkati Patung Salib Kusuma Youth Day yang akan diarak menuju tempat pelaksanaan yakni Paroki Santo Paulus Tompaso Baru.

Diawali ibadah singkat yang dipimpin Ketua Komkep Kusuma didampingi anggota Komkep dan Panitia, Salib Suci itu mulai diarak keesokan harinya, 15 September, dari Emmanuel Amphitheater menuju Gereja Santo Cornelius Lotta dan dijemput puluhan OMK Paroki Lotta dan sejumlah suster.

Sebanyak 11 paroki akan mendapat giliran kunjungan Salib Suci tersebut yakni di Kevikepan Manado, Kevikepan Tombulu dan Kevikepan Stella Maris yang akan menjadi tuan rumah kegiatan.

Pastor Kandowangko menjelaskan, dalam momen Kusuma Youth Day kali ini, ada empat bagian yang akan dilakukan yakni Pra Event (Agustus-September), Live in (23-25 Oktober 2018), Main Event (25-28 Oktober 2018) dan Youth Competition (2019).

“Kegiatan yang bertema “OMK, Iman dan Diskresi Panggilan” ini akan dihadiri sekitar 3.000 peserta yakni para utusan OMK dan pendamping OMK paroki se-Keuskupan Manado,” jelas Pastor Hendro (PEN@ Katolik/A. Ferka)

Salib Kusuma Youth yang dibawa oleh Ketua Komkep Kusuma Pastor Hendro Kandowangko Pr dari Emmanuel Amphitheater menuju Gereja Santo Cornelius Lotta. (Foto: PEN Katolik/A. Ferka)

Mengapa Dekalog wajib ditaati?

Kam, 20/09/2018 - 22:47
Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum 15 November 2017: Ketaatan pada perintah-perintah Allah hendaknya mengalir dari hubungan pribadi dengan Bapa dan dari tempat bersyukur untuk hal-hal yang telah dilakukan-Nya dalam hidup seseorang. Kredit Foto: Daniel Ibez/CNA

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

439. Mengapa Dekalog membentuk satu kesatuan organis?

Sepuluh Perintah Allah membentuk satu keseluruhan organis dan tak terpisahkan karena setiap perintah menunjuk pada perintah-perintah lainnya dan pada seluruh Dekalog. Karena itu, melanggar satu perintah berarti melanggar seluruh hukum.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2069-2079

440. Mengapa Dekalog wajib ditaati?

Karena Dekalog mengungkapkan kewajiban mendasar manusia terhadap Allah dan sesamanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2072-2073, 2081

441.  Apakah mungkin menaati Dekalog?

Ya, karena Kristus membuat kita mampu menaatinya dengan anugerah Roh dan rahmat-Nya. Tanpa Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2074, 2082

Uskup Sibolga Mgr Ludovikus Simanullang OFMCap meninggal dunia

Kam, 20/09/2018 - 05:52
Mgr Ludovicus Simanullang OFMCap. Foto dari Kantor Waligereja Indonesia

RIP. Telah wafat MGR. LUDOVIKUS SIMANULLANG OFMCap, hari Kamis 20 September 2018, jam 03.25 di ruang ICU RSE Medan. Setelah jenazahnya diurus, akan dibawa ke dalam kapel dan diikutsertakan dalam Misa pagi jam 6.00. Kemudian akan diantar ke Sibolga dengan ambulans.

Berita kematian Mgr Simanullang itu disampaikan oleh Vikaris Episcopalis (Vikep) Pro Religiosis et Clericis Keuskupan Agung Medan Pastor Leo Sipahutar OFMCap lewat halaman Facebook sekitar pukul 4.30 pagi ini.

Ketika PEN@ Katolik meminta konfirmasi berita itu sekitar 15 menit kemudian, Pastor Sipahutar membenarkan dan menceritakan bahwa Mgr Simanullang masuk Rumah Sakit Elisabeth sejak 1 September 2018 karena keluhan sakit pada ginjalnya.

“Tanggal 6 September, saluran empedunya dibersihkan dengan tembak laser. Hasilnya baik. Lalu tanggal 8 September dilakukan operasi empedu sebab di empedu itu ada batu dan sudah bernanah. Hasilnya baik. Tetapi dua hari kemudian mulai sesak dan tensinya tidak stabil. Ternyata jantungnya tak sanggup menahan kondisinya itu,” jelas imam itu.

Dijelaskan,obat pengencer darah sudah diberikan agar jantung dapat lebih baik mengasup darah. “Ternyata hal itu kemudian mengakibatkan pendarahan pada bekas operasi empedu. Kemudian operasi kedua terpaksa dilaksanakan untuk membersihkan darah yang banyak di dalam lambungnya, sekaligus mengatasi pendarahan itu, dan terpaksa dilakukan transfusi darah sebab sudah banyak darah yang habis,” lanjut imam yang juga sering terdengar di Radio Karina mewartakan Kabar Sikacita itu.

Sesudah itu, lanjut imam itu, ternyata ada keracunan pada ginjal Mgr Simanullang “sehingga perlu darahnya dicuci, dan tubuhnya makin lemah, sehingga tidak dapat lagi dibawa ke Singapura untuk tindakan lebih canggih.”

Diinformasikan bahwa Mgr Simanullang sudah menerima Sakramen Orang Sakit tanggal 12 September 2018 dari tangan Uskup Agung Medan Mgr Anicetus Bongsu Antonius Sinaga OFMCap.

Mgr Simanullang ditunjuk sebagai Uskup Sibolga tanggal 14 Maret 2007 untuk mengisi sede vacante Keuskupan Sibolga yang sudah berlangsung hampir tiga tahun, sejak Mgr Sinaga diangkat sebagai sebagai Uskup Agung Koadjutor Medan, 3 Januari 2004.

Mgr Simanullang ditahbiskan sebagai Uskup Sibolga 20 Mei 2007 oleh Penahbis Utama Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Leopoldo Girelli, didampingi Uskup Padang Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap dan Uskup Agung Koadjutor Medan yang kemudian menjadi Uskup Agung Medan Mgr Sinaga.

Mantan Minister Provinsial di Propinsi Kapusin Santo Fidelis (Sibolga) sejak 1997-2003 dan 2006-2007 (tidak selesai karena diangkat menjadi uskup) itu lahir di Sogar, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 23 April 1955, mengikrarkan kaul kekal sebagai Kapusin tanggal 2 Agustus 1981, dan menjadi imam Kapusin tanggal 10 Juli 1983

Seusai tahbisan, tugas perdananya adalah berkarya di Paroki Tarutung Bolak, kemudian mengikuti studi lanjut di Universitas Antonianum Roma, Italia: 1988-1993 dan lulus dalam program doktoral. Setelah kembali, imam itu menjadi Magister Postulan Mela dan Moderator Paroki Tarutung Bolak (1993-1997)

Selama menjadi imam, Mgr Simanullang juga aktif sebagai formator bagi para calon imam di STFT Santo Yohanes Pematang Siantar, Sumatera Utara.(PEN@ Katolik, paul c pati)

Halaman