Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 11 mnt 16 dtk yang lalu

Mewartakan Iman

Sab, 11/08/2018 - 19:29

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil hari Minggu ke-19 dalam Masa Biasa, 12 Agustus 2018: Yohanes 6: 41-51)

Amin, amin, saya katakan kepada Anda, siapa pun yang percaya memiliki hidup yang kekal. Akulah roti hidup. (Yoh 6: 47-48)

Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi, dan membagikan buah dari kontemplasi).” Dia menekan lebih jauh dan bertanya apa yang ada di balik kontemplasi itu. Saya mulai bingung mencari jawaban. “Apakah ini studi? Hidup komunitas? Atau doa? Dia mengatakan bahwa semua jawaban saya adalah benar, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar. Saya akui saya tidak tahu. Dia pun tersenyum, dan dia mengatakan ini adalah iman.

Jawabannya sangat sederhana namun sangat masuk akal. Kita berdoa karena kita memiliki iman kepada Tuhan. Kita pergi ke gereja karena kita memiliki iman kepada Allah yang penuh belas kasih yang memanggil kita untuk menjadi umat pilihan-Nya. Sedangkan saya sendiri, saya memasuki Ordo Dominikan karena saya memiliki iman bahwa Allah yang murah hati memanggil saya untuk hidup membiara. Kita mewartakan karena kita memiliki iman pada Tuhan yang pengasih dan kita ingin berbagi Tuhan dengan sesama.

Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar filsafat dan teologi di salah satu universitas ternama di Filipina, tetapi ketika saya bertemu pasien dengan penyakit dan masalah yang sangat berat, saya menyadari bahwa semua pencapaian, pengetahuan, dan kebanggaan saya itu sia-sia. Bagaimana saya akan membantu pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang sangat besar? Bagaimana saya akan membantu pasien-pasien di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana saya akan membantu pasien yang marah pada Tuhan atau kecewa dengan hidup mereka? Namun, saya harus ada di sana untuk mereka, dan pewartaan yang terbaik sebenarnya adalah yang paling mendasar. Ini bukan pewartaan dalam bentuk diskursus teologis, diskusi filosofis, dan khotbah atau nasihat yang panjang. Untuk mewartakan di sini adalah untuk membagikan iman saya dan untuk menerima iman mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk mendengarkan kisah dan pergulatan mereka, untuk berbagi sedikit canda dan tawa, dan berdoa bersama dengan mereka. Berdoa untuk mereka adalah saat-saat langka di mana saya berdoa dengan semua iman saya karena saya tahu bahwa hanya iman ini yang dapat saya berikan kepada mereka.

Dalam Injil kita hari ini, kita membaca bahwa beberapa orang Yahudi bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki iman kepada Yesus. Namun, Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk benar-benar memakan-Nya karena Dia adalah Roti Kehidupan. Iman dalam Ekaristi sungguh menjadi penentu. Hanya dua kemungkinan: sebuah kegilaan atau iman terbesar. Sebagai umat Kristiani yang percaya pada Ekaristi dan menerima Yesus di setiap Misa, kita menerima rahmat dan tantangan luar biasa untuk memiliki dan menyatakan iman ini. Namun, ketika kita gagal untuk menghargai arti dan keindahan dari iman ini, dan hanya menerima Roti Hidup secara rutin, kita akan kehilangan iman ini.

Sebagai orang yang pergi ke gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Roti Hidup? Apakah iman kita memberdayakan kita untuk melihat Tuhan di tengah-tengah perjuangan dan tantangan hidup kita sehari-hari? Apakah kita memiliki iman yang dapat kita bagikan di saat yang paling penting?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Pondok Si Boncel rayakan Pesta St Dominikus bersama anak-anak dan Dominikan Awam

Sab, 11/08/2018 - 18:52
Suster Maria Yohana OP berdialog dengan Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF dalam Misa perayaan Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018 di Panti Asuhan Pondok Si Boncel. PEN@ Katolik/pcp

“Suster, mengapa suster memilih Ordo Pewarta (OP) sebagai cara hidup suster sampai sekarang?” tanya seorang imam. “Karena hubungan dengan para suster OP lebih akrab dan rumah saya dekat sekolah yang dijalankan para suster OP,” jawab suster itu. “Apa yang suster hidupi dalam kongregasi OP?” kejar imam itu. “Saya mengagumi cara hidup serta karya pelayanan para suster OP,” jawab suster itu.

Tanya jawab itu terjadi di Panti Asuhan Pondok Si Boncel, Srengseng Sawah Pasar Minggu, antara Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF dan Suster Maria Yohana OP yang merayakan HUT ke-80 dalam Misa perayaan Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018. Santo Dominikus, pendiri Ordo Dominikan (Ordo Pewarta, OP), lahir 8 Agustus 1170 di Caleruega, Spanyol.

Misa di bagian pintu masuk pondok itu, dihadiri 11 suster OP, 23 Dominikan Awam dari Chapter Santa Katarina Siena Jakarta, termasuk presidennya Stephanus Suriaputra OP, dan Koordinator Nasional Dominikan Awam di Indonesia Theo A Atmadi OP, dan 50 dari 72 anak Pondok Si Boncel bersama 15 ibu pendamping yang bertugas shift saat itu. 12 anak yang lain tidak hadir karena masih bayi.

Setelah mengingatkan riwayat Santo Dominikus dan usahanya melawan bidaah yang waktu itu berkembang, “agar manusia kembali kepada Allah,” Pastor Herlambang memastikan bahwa para suster dan Dominikan Awam sebelum berkaul pasti sudah dibekali atau merefleksikan cara hidup Santo Dominikus.

“Setiap biarawan-biarawati juga Dominikan Awam mengerti bahwa ikut kongregasi tidaklah mudah. Cara hidup biarawati memiliki sikap lepas bebas atau totalisme, siap terjun ke mana pun saat diutus. Untuk pesta ini, Dominikan Awam pun harus meninggalkan yang mereka sukai,” dalam kaitan dengan relasi dan kedekatan dengan barang duniawi, kata Pastor Herlambang seraya mengutip Lukas 9:62, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Awam, suster, anak-anak panti dan pengasuh pun diundang menjadi pewarta sejati seperti Santo Dominikus, “mewartakan yang benar dan tidak membuat berita tidak benar, karena kita hendak melawan bidaah jaman sekarang,” kata Pastor Herlambang. Imam itu juga mengajak mereka membawa berita-berita benar “supaya dunia tidak ditutupi kepalsuan dan kebohongan, tetapi cahaya kebenaran seperti yang diwartakan Santo Dominikus, yang selalu memberi inspirasi bagi wajah Gereja yang baru.”

Suster Maria Hildegardis Afra OP yang menjadi pimpinan komunitas para suster di panti itu sekaligus pembina rohani Dominikan Awam Jakarta, dari Taman Aries dan Pondok Indah, mengatakan kepada PEN@ Katolik, “meski acara ini sederhana dan singkat, namun terasa sekali persaudaraan Dominikan, khususnya semangat melayani, dan antusias dalam menghadiri perayaan.”

Memang, menurut suster itu, studi adalah salah satu pilar Dominikan yang perlu ditingkatkan dan diminati Dominikan Awam. Selain itu, mereka membutuhkan pendamping khusus, “bukan seperti saya yang sudah terbatas waktunya.”

Yang diharapkan dari Dominikan Awam, tegas Suster Hilde, adalah keterlibatan semakin besar dari generasi muda. “Kita sudah mulai. Di setiap perayaan, komunitas para suster melibatkan anak-anak, membiasakan mereka untuk studi atau mempertanyakan mengapa ada peristiwa ini atau bagaimana menghadapi situasi ini. Pertanyaan itu selalu kita bawa dalam dialog bersama,” kata Suster Hilde.

Pondok Si Boncel didirikan untuk mengurus anak-anak yatim piatu di bawah umur tujuh tahun. Panti itu didirikan tahun 1972 di Jalan Raden Saleh Raya nomor 7 Jakarta. Karena terbatas daya tampung, 1 April 1981 panti itu pindah ke Srengseng Sawah Pasar Minggu. Pengelolaan panti dipercayakan kepada para suster OP, yang tidak hanya merawat dan mendampingi anak-anak, tetapi perduli terhadap pendidikan yang harus diperoleh anak-anak khususnya pendidikan formal tingkat awal atau Taman Kanak Kanak.

Misa Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018, menurut Suster Hilde, “mencoba mengangkat dan menunjukkan kepedulian dan keterlibatan lebih besar pada karya-karya kita” dan saat itu anak-anak kecil Pondok Si Boncel bukan hanya duduk sebagai peserta Misa melainkan terlibat sebagai koor. Mereka menyanyi dipimpin dua teman mereka yang bergantian menjadi dirigen, dan seorang membawa persembahan bersama seorang ibu pendamping. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Suster-Suster Dominikan gelar halalbihalal bersama warga sekitar panti asuhan

Kerasulan Dominikan Awam di Jakarta resmi didirikan sebagai yang pertama di Indonesia

Dominikan Awam diminta mewartakan dalam persaudaraan di masyarakat dan Gereja

Kapitel pertama Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena berlangsung penuh rahmat

Tiga chapter persaudaraan Dominikan Awam di Indonesia diresmikan

Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF memimpin Misa Pesta Santo Dominikus di Panti Asuhan Pondok Si Boncel. (PEN@ Katolik/pcp) Seorang anak Pondok Si Boncel memimpin lagu dalam Misa Pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp) Pastor menerima bahan roti dan anggur serta bahan persembahan yang dibawa seorang anak panti bersama ibu pendamping. (PEN@ Katolik/pcp) Suster M Yohana OP memotong tumpeng ulang gtahun ditemani Suster M Hildegardis Afra OP. (PEN@ Katolik/pcp) Suster Maria Hildegardis Afra OP (berdiri di tengah) bergambar bersama Dominikan Awam Jakarta yang hadir dalam pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp)

Seminar Kebangsaan PMKRI: Keragaman jadikan Indonesia miliki kekhasan di mata dunia

Sab, 11/08/2018 - 00:29

Bangsa Indonesia memiliki banyak keragaman suku, adat, budaya dan agama. Dari keragaman itu terbentuklah bangsa ini. Keragaman ini menjadikan Indonesia memiliki kekhasan tersendiri di mata dunia. Lihat saja bangsa lain, mereka tidak mampu mempersatukan keragaman atau perbedaan sehingga muncullah perpecahan atau pun konflik. Namun, Indonesia mampu mempersatukan perbedaan, sehingga kita sangat diperhitungkan oleh bangsa lain.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTT Abdul K Makarim berbicara dalam Seminar Kebangsaan bertema “Meneguhkan Kembali Semangat #Kita_Indonesia, yang dilakukan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Aula Universitas Katolik Widya Mandira Penfui, Kupang, 10 Agustus 2018. Sekitar 700 peserta, terdiri dari seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, mahasiswa maupun pelajar, pimpinan ormas dan kaum millennial, mengikuti seminar itu.

Kegiatan itu merupakan rangkaian “road show kebangsaan’ di 15 kota di Indonesia. Kupang adalah kota tujuan pertama. Menurut informasi yang disampaikan kepada PEN@ Katolik, kegiatan itu digelar untuk menjawab kondisi bangsa hari ini. “Ketegangan yang ditimbulkan oleh viralnya frasa ‘Tahun Politik’ begitu dahsyat, sehingga dampak psikologisnya pun dirasakan hingga ke pelosok negeri,” tulisnya.

Yang menegangkan, lanjutnya, merebaknya isu-isu fundamentalisme agama di akar rumput dengan garang memisahkan kami dan kamu dari bingkai kekitaan. “Rasa persaudaraan yang selama ini terbangun begitu apik di atas fondasi kebhinekaan tergilas oleh pesona primordialisme yang menampilkan wajah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) demi kepentingan dan tendensi negatif,” tulis mereka.

Abdul K Makarim mengamati, keragaman bangsa Indonesia tidak membuat perpecahan, tetapi mampu mempererat tali persatuan. Untuk itu, Makarim mengajak generasi muda zaman now agar “selalu menggali sejarah bangsa, membangun nasionalisme dalam diri masing-masing, serta memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa.”

Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi majemuk telah membuktikan semangat  persatuan dan kesatuan dalam hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. “Ketika hadir dalam berbagai forum nasional saya selalu menyerukan bahwa NTT itu Nusa Tinggi Toleransi, itulah yang saya serukan berulang kali,” kata Makarim mengakhiri pembicaraannya.

Sekjen PP PMKRI, Thomson Silalahi, mengatakan ‘Kita Indonesia’ sebagai tema besar yang diangkat PMKRI sebagai tagline moral politik pembinaan-perjuangannya, menjadi relevan dengan konteks Indonesia hari ini. “#Kita_Indonesia adalah seruan moral sekaligus gerakan politik untuk menjahit kembali tenun kebangsaan yang terkoyak oleh arogansi identitas keakuan, kekamian, keagamaan, dan kesukuan,” kata Thomson.

#Kita_Indonesia, lanjutnya, adalah gerakan yang tidak hanya menghendaki persatuan Indonesia namun menentang gerakan-gerakan yang mengoyak tenun kebangsaan kita. Maka, “PMKRI secara konsisten menggaungkan gerakan #Kita_Indonesia di 15 Kota di Indonesia agar gerakan ini menjadi ‘serum’ perdamaian yang mempersatukan seluruh anak bangsa demi memajukan Indonesia lebih baik lagi.”

Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang, Engelbertus Boli Tobin, dalam pidato mengatakan, refleksi atas koyaknya persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan problem kemanusiaan. “Ketidakadilan yang berdampak langsung pada kesenjangan ekonomi dan memicu terjadinya pelanggaran HAM menimbulkan gerakan-gerakan yang ingin menggantikan dasar negara (Pancasila) dengan ideologi yang datang dari luar,” katanya.

Maka, Obi meminta pemerintah lebih serius mewujudkan keadilan yang berpijak di atas kepentingan semua dan di atas segalanya perlu menghormati martabat kemanusiaan. “Pemerintah dinilai belum mampu mewujudkan cita-cita pendirian bangsa: terwujudnya kesejahteraan umum di segala aspek kehidupan,” tegasnya.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

https://penakatolik.com/PMKRI menghimbau seluruh kadernya untuk mengawal jalannya Pilkada

calon-PMKRI diajak jadi kader militan yang tidak takut merongrong demi kebenaran

Ketua baru PMKRI akan teladani semangat intelektualitas dan kerendahan hati St Thomas Aquinas

Paus puji Ksatria Columbus untuk amal kasih, Injil keluarga, bantuan bagi umat Kristen teraniaya

Jum, 10/08/2018 - 23:41
Wakil-wakil negara membawa gambar Maria Pembantu Umat Kristiani dalam Misa pembukaan Program Doa Maria ke-18 Ksatria Colombus. Foto dari Knights of Colombus

Paus Fransiskus mendorong Ksatria Columbus untuk melaksanakan kegiatan amal kasih yang praktis serta berterima kasih atas komitmen mereka terhadap Injil keluarga dan jangkauan mereka kepada umat Kristen yang teraniaya.

Perasan Paus itu diungkapkan dalam pesan yang dikirim oleh Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin ke Konvensi Tertinggi ke-136 Ksatria Columbus, yang berlangsung di Baltimore, Maryland, AS, 7-9 Agustus 2018, seperti yang dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Mengomentari tema konvensi, “Ksatria Columbus: Ksatria Amal Kasih,” Kardinal Parolin mengatakan tema itu menyebabkan timbulnya ikatan tak terpisahkan antara iman dan aksi belas kasih para pendiri mereka yang ingin membangun komunitas persaudaraan yang berkomitmen untuk pembinaan umat Kristiani dan saling mendukung para anggotanya.

Kardinal Parolin mengajak mereka memperhatikan Seruan Apostolik Paus Fransiskus “Gaudete et Exsultate” tentang “Panggilan pada Kesucian.” Dalam seruan itu Bapa Suci berbicara tentang Sabda Bahagia sebagai “tanda pengenal” para pengikut Kristus, seraya mengatakan Khotbah di Bukit memberi kita “potret Sang Guru, yang diminta kami renungkan dalam kehidupan sehari-hari.”

Paus berharap agar program “Iman dalam Tindakan” para Ksatria, dengan penambahan komponen “Helping Hands” (tangan-tangan yang membantu), akan berbuah dalam kreativitas amal kasih, yang semakin disesuaikan dengan bentuk-bentuk baru kemiskinan dan kebutuhan manusia yang bermunculan di masyarakat saat ini.

Menyambut Pertemuan Keluarga-Keluarga se-Dunia di Dublin, Irlandia, 21-26 Agustus, Paus berterima kasih kepada para Ksatria atas komitmen mereka terhadap Injil Keluarga yang menyemangati panggilan laki-laki sebagai suami dan ayah Katolik, dan dengan mempertahankan sifat otentik pernikahan dan keluarga dalam masyarakat.

Bapa Suci juga menyatakan rasa terima kasih atas jangkauan belas kasih Para Ksatria Columbus terhadap orang Kristen yang teraniyaya, dan terutama mendesak mereka bagi berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah, pertobatan hati, komitmen tulus untuk berdialog dan menyeleaikan pertikaian secara adil

Ksatria Colombus yang didirikan tahun 1882 di Connecticut, AS, oleh Pastor Michael McGivney, adalah serikat pelayanan persaudaraan terbesar di dunia dalam Gereja Katolik dengan hampir dua juta anggota.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apakah suara hati moral itu?

Jum, 10/08/2018 - 22:49
Shutterstock photo

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

372. Apakah suara hati moral itu?

Suara hati moral yang terdapat dalam hati setiap orang merupakan suatu pertimbangan akal budi yang muncul pada saat tertentu dan mengarahkannya untuk melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. Berkat suara hati moral ini, pribadi manusia memahami kualitas moral suatu tindakan untuk dilaksanakan atau sudah dilakukan, membuat dia bisa mengambil tanggung jawab terhadap tindakannya. Jika betul-betul memperhatikan suara hati moral ini, orang bijak dapat mendengar suara Allah yang berbicara kepadanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1776-1780, 1795-1797

373. Apa peranan martabat manusia berhadapan dengan suara hati moral ini?

Martabat pribadi manusia menuntut suara hati moral ini lurus dan benar (yang berarti sesuai dengan apa yang adil dan baik menurut hukum Allah). Karena menyangkut martabat manusia, tak seorang pun dapat dipaksa untuk melakukan tindakan yang berlawanan dengan suara hatinya, atau dihalangi untuk bertindak sesuai dengan suara hatinya, khususnya dalam hal-hal religius dan dalam batas batas kebaikan umum.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1780-1782, 1798

Edith Stein, seorang perempuan dialog dan pengharapan

Jum, 10/08/2018 - 05:08

https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2018-08/edith-stein-patron-saint-europe.html#play

Untuk merayakan Pesta Santa Teresa Benedicta dari Salib, kita ingat kata-kata Paus Santo Yohanes  Paulus II tentang Pelindung Eropa, yang juga dikenal sebagai Edith Stein, di kanonisasinya tahun 1998. Paus itu mengatakan bahwa Edith Stein “mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Kristus melewati penderitaan. Siapa pun yang benar-benar mencintai … menerima persekutuan dalam penderitaan bersama yang dicintai.”

Edith Stein (12 Oktober 1891 – 9 Agustus 1942), adalah seorang filsuf Yahudi Jerman yang masuk Katolik dan menjadi biarawati Karmelit Tak Bersepatu setelah membaca karya-karya pembaharu Ordo Karmelit, Santa Theresia dari Avila.

Dia dibaptis ke dalam Gereja Katolik Roma tanggal 1 Januari 1922 dan ingin menjadi Karmelit Tak Bersepatu tetapi dihalangi oleh penasehat spiritualnya. Dia mengejar panggilannya dan diterima di biara Karmelit Tak Bersepatu di Cologne, tanggal 14 Oktober 1934. Dia menerima pakaian religius Ordo itu sebagai novis di bulan April 1934. Edith Stein sekarang dikenal sebagai Suster Teresia Benedicta a Cruce – Teresa, Benedicta dari Salib. Baginya Salib Kristus adalah pembimbingnya dan merasa bahwa mereka yang memahami Salib Kristus harus memikulnya sendiri atas nama semua orang.

Tanggal 9 November 1938, anti-Semitisme Nazi jelas terlihat di seluruh dunia. Sinagoga dibakar, dan orang-orang Yahudi menjadi sasaran teror.

Tanggal 7 Agustus, pagi-pagi sekali, 987 orang Yahudi dideportasi ke Auschwitz. Barangkali pada tanggal 9 Agustus, Suster Teresa Benedicta dari Salib, saudara perempuannya Rosa yang juga telah masuk Katolik dan melayani di Biara Echt, dan banyak lagi orang-orangnya dibunuh di kamar-kamar gas.(pcp berdasarkan Vatican News)

Mgr Agus minta wartawan Katolik bersyukur atas talenta mereka sebagai pewarta

Kam, 09/08/2018 - 21:13
Mgr Agustinus Agus memberi homili kepada para wartawan Katolik. Foto Komsos KAP

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengajak para wartawan Katolik yang bekerja di media sekuler dan media Katolik agar jangan lupa bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kepada mereka talenta khusus sebagai pewarta.

Mgr Agus berbicara dalam homili Misa yang mengawali wawan hati dan pertemuan pertama pimpinan Keuskupan Agung Pontianak (KAP) itu bersama para wartawan Katolik, yang bekerja di wilayah keuskupannya, di gedung Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Pontianak, 7 Agustus 2018. Selain Misa, para wartawan Katolik makan bersama dan sharing.

Tujuan kegiatan itu, menurut informasi dari Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) KAP yang memprakarsai kegiatan itu, adalah untuk membangun jaringan komunikasi yang intensif demi terlaksananya tugas-tugas pewartaan Gereja melalui peluang-peluang yang tersedia di berbagai media.

“Kita patut bersyukur karena Tuhan telah memberikan talenta khusus dan telah memilih kita untuk menjadi rasul khususnya di media cetak, televisi dan online. Keberadaan dan sumbangsih yang Anda tuangkan melalui goresan pena dan bidikan lensa sangat besar faedahnya bagi hidup menggereja dan masyarakat,” tegas Mgr Agus.

Silaturahmi semacam itu hendaknya dirawat terus-menerus, mengingat “tugas utama dan peran maha penting para insan media dalam mewartakan kebenaran,” kata Mgr Agus yang prihatin atas maraknya penyebaran hoax di jejaring media dengan ramuan sangat menarik pada judulnya sehingga orang tertarik dan membagikannya.

Media sosial, jika salah digunakan akan menjadi sarana yang membantu penyebaran hoax lebih masif, kata Mgr Agus. “Di sinilah peranan para wartawan Katolik untuk menjadi penangkal dengan mengedepankan kode etik jurnalistik dalam setiap bentuk pewartaan,” tegas uskup.

Saat ini, lanjut Mgr Agus, Gereja mulai proaktif membuka diri untuk menggunakan media sosial sebagai sarana evangelisasi “yang sangat membantu perkembangan iman umat.” Bahkan, “persekutuan gerejawi mulai aktif menggali terobosan baru yang inovatif dan kreatif dengan aneka model pewartaan yang tersaji lengkap di aplikasi media sosial.”

Prelatus yang lahir di Desa Lintang, Sanggau Kapuas itu menyayangkan umat dewasa ini yang kerap keliru berpikir bahwa pewartaan hanya dilakukan dengan metode pengajaran. “Padahal pewartaan bisa terwujud melalui aneka karya pelayanan,” jelas Mgr Agus seraya bercerita tentang misionaris zaman dulu yang datang bukan langsung mengajar tetapi membuka sekolah dan rumah sakit, kemudian mengumpulkan banyak orang dan mulai menceritakan siapa Yesus itu.

Seraya berharap agar pewartaan melalui karya pelayanan di sekolah maupun di rumah tetap berjalan sesuai visi dan misi yang mencerminkan ciri khas Katolik, Mgr Agus meminta para wartawan Katolik untuk belajar dari Santo Dominikus.

Santo Dominikus yang pesta kelahirannya dirayakan Gereja tanggal 8 Agustus, kata Mgr Agus, mewartakan Kristus melalui karya pelayanan khususnya pendidikan. “Semangat pewartaan Santo Dominikus, pendiri Ordo Pewarta ini, diaktualisasikan oleh para pengikutnya melalui karya pendidikan yang konsisten merawat spiritualitas berciri khas Katolik,” kata Mgr Agustinus Agus Pr yang bertekad “membuka pintu lebar-lebar untuk para wartawan Katolik guna menggalang sinergi dalam mengemban misi pewartaan apostolik di era digital.”(Suster Maria Seba SFIC)

Misa bersama wartawan Katolik KAP dipimpin Mgr Agus yang didampingi Vikjen Pastor William Chang OFMCap. Foto Komsos KAP Beberapa dari wartawan yang hadir termasuk Ketua Komisi Komsos KAP Paulus. Foto Komsos KAP

Apa itu nafsu?

Kam, 09/08/2018 - 18:14

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

370. Apa itu nafsu?

Nafsu ialah perasaan, emosi, atau gerakan dari selera yang dirasakan – komponen alamiah dari psikologi manusia – yang mendorong manusia untuk bertindak atau tidak bertindak menurut apa yang dipandangnya baik atau buruk. Nafsu-nafsu yang penting ialah cinta dan benci, keinginan dan ketakutan, kegembiraan, kesedihan, dan kemarahan. Nafsu yang utama ialah cinta yang didorong oleh kebaikan. Seseorang hanya dapat mencintai apa yang baik, entah nyata entah palsu.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1762-1766, 1771-1772

371. Secara moral, nafsu itu baik atau buruk?

Nafsu, sejauh merupakan gerakan selera yang bisa dirasakan, tidak baik dan juga tidak buruk pada dirinya sendiri. Nafsu bisa menjadi baik jika ikut andil dalam melaksanakan suatu tindakan yang baik, dan bisa menjadi buruk dalam hal sebaliknya. Nafsu bisa diangkat menjadi keutamaan atau dibelokkan oleh kebiasaan buruk.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1767-1770, 1773-1775

Para Uskup di Papua keluarkan edaran untuk membangun Papua yang damai dan sejahtrera

Kam, 09/08/2018 - 17:56
Anak remaja Sekami Papua dalam pentas seni Jambore Nasional Sekami 2018 di Pontianak. PEN@Katolik/pcp

Lima uskup Gereja Katolik di Tanah Papua meminta “agar Pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM sambil terus bekerja keras bersama dengan semua komponen masyarakat agar hak-hak asasi atas kehidupan, atas kesehatan dan pendidikan yang baik dapat diwujudkan.”

Rekomendasi itu adalah salah satu dari tujuh poin rangkuman dan rekomendasi kepada kepada Gereja, kepada Pemerintah Daerah dan pihak-pihak yang terkait, yang mereka keluarkan lewat edaran dari Jayapura tanggal 8 Agustus 2018, “dalam suasana pemilihan pimpinan-pimpinan baru untuk Provinsi Papua dan sejumlah Kabupaten, serta penyaringan Calon Legislatif dan Calon Presiden-Wakil Presiden Republik Indonesia.”

Uskup Agung Merauke Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC, Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM, Uskup Manokwari-Sorong Mgr Hilarion Datus Lega, Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito OFM, dan Uskup Timika Mgr Yohanes Philipus Gaiyabi Saklil juga meminta agar pemangku jabatan dan kekuasaan  memberikan perlindungan dan penghargaan yang nyata bagi orang asli Papua.

“Pemegang kekuasaan itu hendaknya memberikan pelatihan dan pengembangan kemampuan dalam berbagai bidang karya bagi orang Papua. Lapangan kerja lebih-lebih yang menyangkut pemanfaatan sumber daya alam harus diperuntukkan pertama-tama bagi orang asli setempat,” minta para uskup.

Selain berharap agar migrasi penduduk dari luar Papua “harus diatur dan dikendalikan agar  tidak membuat orang Papua menjadi minoritas dan penonton di daerah sendiri,” para uskup juga meminta agar “hak kepemilikan dan pemanfaatan atas tanah hendaknya diatur dan dilindungi” dan “agar Pemerintah meninjau kembali kesepahaman/MOU tentang sewa-menyewa tanah oleh investor sawit dan harga kayu gelondongan.”

Namun sebelum itu, para uskup mengajak umat Katolik “agar tekun mendalami dan menghayati iman Katolik serta ajaran Gereja dan berdoa agar hidup dan aktivitas di tengah masyarakat dijiwai oleh iman dan kasih.”

Dalam masyarakat kita, pesan para uskup, ada banyak agama dengan ajaran iman yang berbeda-beda. “Kita dipanggil bukan untuk memusuhi yang lain, tetapi untuk menaruh sikap toleran dan hormat terhadap yang lain agar apa yang beda tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai hal-hal luhur yang dapat memperkaya kita sendiri.”

Demikian rangkuman dan rekomendasi para uskup yang juga mendorong para pastor dan tokoh umat “untuk ikut aktif dalam forum-forum kerukunan atau gerakan yang membangun persahabatan dan kerukunan antariman.”

Di bawah ini, PEN@ Katolik menurunkan secara penuh surat edaran yang dikirim oleh Abdon Bisei, dari Jayapura  itu:

Surat Edaran Para Uskup Gereja Katolik di Tanah Papua

Dalam Terang Iman Marilah Membangun Papua

Yang Damai dan Sejahtera

  1. Pendahuluan

Gereja Katolik di Tanah Papua merupakan satu Provinsi Gerejawi yang mencakup lima keuskupan, yaitu: Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agats dan Keuskupan Timika. Tiap-tiap keuskupan merupakan satu kesatuan yang otonom. Uskup dalam kesatuan yang otonom itu menjalankan tugas penggembalaan  secara otonom pula, dengan kuasa dan wewenang yang diterimanya  dari Yesus Kristus sendiri, Sang Gembala Gereja. Gereja  tersusun rapi sebagai satu tubuh dengan Sri Paus sebagai Kepalanya. Dalam Gereja Kristus yang kelihatan di bumi, Sri Paus mewakili  Yesus Kristus, Kepala Gereja yang tidak kelihatan.  Para Uskup, meskipun masing-masing menjalankan tugas penggembalaan di keuskupannya secara otonom, namun harus tetap bersama dalam kolegialitas dengan Sri Paus dan dengan semua uskup. Dengan begitu persatuan dan kesatuan Gereja diwujudkan secara nyata dan kelihatan. Uskup-uskup dalam satu Konferensi Uskup dan Provinsi Gerejawi mewujudnyatakan kolegialitas itu dalam kerja sama. Juga dalam bersuara bersama  untuk memberikan bimbingan bagi umat lebih-lebih dalam menghadapi peristiwa-peristiwa hidup yang sama. Untuk itulah kami bersama-sama mengeluarkan Surat Edaran ini.

Surat Edaran ini kami sampaikan kepada Umat Katolik di Tanah Papua,para Pastor dan Dewan Pastoral Paroki, Komunitas-komunitas Basis Gerejawi, Lembaga-lembaga Hidup Bakti dan organisasi-organisasi awam katolik. Dan karena banyak hal yang kami suarakan ini terjalin  dengan Pemerintah Daerah dan kehidupan masyarakat seluruhnya, maka Surat Edaran ini kami sampaikan juga kepada Pemerintah Daerah, Lembaga-lembaga Wakil  Rakyat dan semua orang yang berkehendak baik. Setelah kita melaksanakan “Pesta Demokrasi” dengan baik, meskipun masih ada duri-duri kecil di sana-sini, dan sambil melangkah menjelang pemilihan Wakil-wakil Rakyat dan Presiden-Wakil Presiden RI, kami anggap inilah momentum yang tepat untuk mengangkat sejumlah hal yang perlu diperhatikan demi kebersamaan kita dalam membangun Papua yang damai dan sejahtera.

2. Beriman Dalam Masyarakat yang Majemuk

Umat Katolik di Indonesia merupakan satu kawanan kecil. Juga di Papua kita yang katolik merupakan kawanan kecil, meskipun bersama-sama dengan  kaum  Protestan, jumlah umat  kristiani di Papua melebihi agama-agama lain. Kita yang katolik tidak perlu berkecil hati karena jumlah kita kecil dan seakan-akan tidak bertumbuh lagi dalam jumlah. Kinerja para gembala sering dipertanyakan. Lebih-lebih ketika sejumlah denominasi Protestan serta agama lain gencar mencari penganut, para gembala ditanya: mengapa kita tidak lebih aktif merebut pengikut? Baiklah kita ingat pesan Guru dan Gembala kita. Kepada pengikut-Nya yang merupakan kawanan kecil, Yesus berkata “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil” (Luk 12:32). Tidak perlu takut, karena panggilan kita bukanlah untuk menjadi kawanan yang besar dan berkuasa, bukan untuk menjadi mayoritas dalam jumlah. Panggilan kita ialah menjadi “garam dan terang bagi dunia” (Mat 5:13-16). Kiasan-kiasan itu menunjukkan bahwa kita tidak perlu menjadi paling besar dan banyak, apalagi dengan membangun dan mengandalkan simbol-simbol keagamaan yang lahiriah. Tetapi, dengan cara hidup kita, kita dipanggil untuk memberi rasa nyaman dan damai dalam masyarakat; dan dengan perilaku yang baik kita menunjukkan mana jalan yang menuju kebahagiaan dan mana yang menuju kecelakaan.

Seperti agama-agama lain, Gereja Katolik juga punya misi untuk menyiarkan iman kepercayaannya kepada orang lain. Dalam masyarakat kita yang menganut berbagai agama, misi itu kita jalankan sambil menghormati hak kebebasan beragama setiap orang, dan bersikap toleran serta hormat pada orang lain yang berbeda agama dan iman dengan kita. Kadang-kadang terjadi ketegangan dan konflik di tanah ini karena tidak ada toleransi, karena persaingan merebut penganut, atau karena satu Gereja mau  memonopoli satu daerah dan menghambat perealisasian hak-hak Gereja dan agama lain. Hal-hal itu tentu saja tidak sesuai dengan semangat misioner kita yang mau menyebarluaskan kasih Allah untuk membawa semua orang  ke dalam rangkulan kasih Allah itu.

Untuk mengatasi hambatan-hambatan  itu kita meminta Pemerintah daerah agar melaksanakan tugasnya membangun hubungan baik antaragama. Dan  kepada para pastor dan tokoh awam kita, kami serukan untuk ikut aktif dalam Persekutuan Gereja-gereja dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) atau Forum dan gerakan lain yang bertujuan menumbuhkan persahabatan, kerjasama dan  dialog demi damai dan harmoni dalam hidup bersama, sambil berjuang bersama mencegah dan mengikis fanatisme dan radikalisme agama yang mengarah kepada terorisme.

  1. Papua Tanah Damai

”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”(Mat 5:9). Yesus Kristus adalah “Damai sejahtera kita” (Ef 2:14). Ia telah mendamaikan kita dengan Allah, dan merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sehingga semua golongan dipersatukan dalam damai sejahtera itu. Berita gembira bagi kita ialah bahwa dalam diri Yesus Kristus Allah telah berdamai dengan kita dan mengutus kita sebagai pembawa damai bagi semua orang dan semua makhluk. Itulah berita sukacita, Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Inti sari Injil itu adalah damai sejahtera yang sudah diwujudkan oleh Yesus Kristus dan yang harus kita bawa kepada semua orang dan semua makhluk.

Dalam masyarakat kita hidup bermacam-macam agama, masing-masing dengan visinya mengenai kehidupan. Namun ada titik-temu yang sama: Semua merindukan damai, semua mau hidup dalam damai. Dan semua  dipanggil untuk membangun kerukunan serta hubungan yang harmonis  dengan semua komponen dalam masyarakat. Gereja-gereja dan agama-agama dalam forum kerja  samanya mau mewujudkan visi dan misi itu: “Papua Tanah Damai”. Umat katolik seluruhnya dipanggil untuk bersama komponen masyarakat lainnya mengembangkan usaha-usaha membangun Papua menjadi tanah damai. Dengan begitu kita mewujudkan Injil Tuhan serta misi  untuk membawa damai.

Kita, umat katolik, harus ikut-serta secara aktif dalam semua kegiatan pembangunan yang menunjang damai sejahtera semua warga masyarakat. Secara khusus, karena panggilan injili kita, kita harus membangun hubungan yang baik dan harmonis dengan agama-agama dan gereja-gereja lain. Kita tahu ada banyak perbedaan di antara kita baik dalam hal ajaran tentang Tuhan Allah dan akhirat, maupun dalam pandangan tentang manusia dan tata cara beragama. Perbedaan-perbedaan itu tidak perlu dijadikan alasan untuk permusuhan dan konflik antarkita. Kita dipanggil untuk membangun sikap dan langkah yang positif dengan menjalin hubungan persahabatan, menghormati kebebasan beragama serta apa yang khas dan khusus dalam masing-masing agama.

Segala bentuk perseteruan, konflik dan perang adalah “tembok-tembok pemisah” yang harus dirubuhkan. Segala senjata perang, pedang, tombak dan panah harus ditempa menjadi mata bajak dan alat pertanian yang menopang damai sejahtera (Lih Yes 2:4). Perang suku bukan olah raga dan bukan “warisan budaya” yang harus dilestarikan. Perang seperti itu dan  semua tindak kekerasan lainnya harus dihentikan. Tidak cukup diselesaikan hanya dengan upacara adat. Untuk penyelesaian damai hukum positif mesti ditegakkan agar dengan bantuan hukum dan keadilan terang Injil lebih kuat mengusir kegelapan  dan menerangi segalanya.

Kita berharap agar masalah kependudukan pun diatur dengan memperhatikan status otonomi khusus Papua dan hak-hak orang asli Papua yang mayoritas beragama kristiani. Kenyataan bahwa orang-orang yang bermigrasi dari luar Papua kebanyakan datang dari daerah-daerah yang mayoritas muslim menimbulkan kecemasan dan kecurigaan yang mengganggu hubungan antaragama. Maka penataan kependudukan dan perlindungan hak-hak orang asli Papua seperti ditetapkan dalam UU OTSUS perlu dilaksanakan dengan peraturan yang pasti dan jelas, karena masalah kependudukan itu gampang memicu konflik dan merusak  kerukunan umat beragama.

  1. Otonomi Khusus Untuk Papua

Dengan dikeluarkannya Undang-undang R.I. No.21 Tahun 2001, Papua memperoleh status  “Otonomi Khusus”.  Dengan berjalannya waktu, ada sejumlah hal yang perlu diperbarui untuk menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam tata pemerintahan dan dalam penanganan berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan masyarakat. Pembaruan juga diperlukan dalam penegasan mengenai eksekusi undang-undang itu, seperti perlu adanya perdasi dan perdasus, yang sampai sekarang banyak terabaikan dengan akibat sejumlah pokok undang-undang itu tetap mati atau ditafsirkan sesuka hati.

Dasar dan tujuan Otonomi Khusus disebutkan dengan jelas dalam UU OTSUS itu. Sebagai dasar pertimbangan disebut kekurangan-kekurangan yang ada dalam masyarakat Papua, seperti:  belum terpenuhinya  rasa keadilan, belum tercapainya kesejahteraan rakyat, belum sepenunya ada penegakan hukum, dan belum sepenuhnya terwujud penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia, khususnya masyarakat Papua. Hasil kekayaan alam belum digunakan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat asli, sehingga terjadi kesenjangan dengan daerah lain.

Maka untuk mengurangi kesenjangan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua serta memberikan kesempatan kepada penduduk asli Papua, diperlukan adanya kebijakan khusus seperti tertuang dalam Undang-undang Otsus. Nilai-nilai dasar  yang termaktub di dalam kebijakan itu  adalah perlindungan dan penghargaan terhadap etika dan moral, hak-hak dasar penduduk asli Papua, Hak Asasi Manusia, supremasi hukum, demokrasi, pluralisme, serta persamaan kedudukan konstitusional, pengakuan terhadap hak-hak dasar  serta  penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pelanggaran dan perlindungan  Hak Asasi Manusia penduduk asli Papua.

Untuk melaksanakan kebijakan itu, UU OTSUS memberikan kewenangan yang lebih luas disertai tanggung jawab yang besar untuk mengatur dan mengurus diri sendiri. Pokok-pokok sentral yang mau diperbaiki dan dibangun adalah:  bidang penyelenggaraan pemerintahan, pemanfaatan kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat asli,  pemberdayaan/ peningkatan kemampuan orang asli Papua dalam hal ekonomi, sosial dan budaya, pengakuan atas hak-hak dasar serta penyelesaian masalah pelanggaran dan perlindungan HAM, pemenuhan rasa keadilan.

Sesudah berjalan sekitar 16 tahun, kita bertanya sejauh mana kebijakan-kebijakan khusus itu sudah terlaksana? Pasti ada perbaikan dan kemajuan dalam banyak hal. Pimpinan daerah sudah di tangan orang asli Papua, kota dan sejumlah kabupaten maju dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik  dan bersih, ada kebijakan beasiswa untuk banyak anak, ada pelatihan-pelatihan dan  peningkatan  kesejahteraan dan kesehatan, dan ada suasana damai  dalam masyarakat yang menandakan ada hubungan baik antaragama dan antara berbagai komponen  masyarakat. Meskipun demikian, masih banyak hal yang harus dikerjakan terus-menerus, karena yang mau kita bangun adalah manusia seutuhnya yang harus terus bertumbuh dalam semua dimensinya.

Kunci untuk maju dan mandiri adalah bekerja. Semua umat dan warga masyarakat hendaknya bekerja dalam bidang yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Kita mengharapkan Pemerintah daerah  bekerja dengan disiplin, rajin dan jujur untuk kemajuan masyarakat;  pelajar dan mahasiswa belajar dengan rajin; pengusaha dan petani menekuni bidangnya masing-masing, memakai dana desa secara produktif dan bukannya hanya menanti turunnya dana  dari pemerintah  yang kemudian dihabiskan hanya untuk konsumsi.

  1. OTSUS dan Kependudukan

Dalam hal kependudukan, UU OTSUS mewajibkan Pemerintah untuk melakukan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk (Ps 61:1). Pokok ini perlu ditangani dengan serius karena berdampak langsung pada perlindungan serta penghormatan hak-hak dasar penduduk asli seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang itu. Migrasi penduduk yang masuk ke Papua amat besar dan tidak terkendali. Marginalisasi dan kesenjangan ekonomi menjadi makin besar. Juga migrasi dari pegunungan dan pedalaman ke kota menciptakan masalah yang sama. Orang yang dari pedalaman ke kota tidak mendapat peluang untuk memperoleh pekerjaan dan tempat tinggal. Mereka menjadi orang pinggiran, tersingkir dari sentra kegiatan ekonomi dengan segala konsekuensi buruk. Di mana ada sentra pemukiman yang berkembang, penduduk asli tersingkir dari jalan-jalan utama dan menyingkir makin jauh ke dalam hutan. Banyak yang dengan mudah melepaskan hak atas tanah untuk memperoleh pendapatan sesaat, tetapi kehilangan “ibu” yang menyuap dan menopang hidup mereka.

Dengan status otonomi khusus, orang Papua menyatakan mau menjadi “tuan di negeri sendiri”. Dalam bidang politik dan pemerintahan, jabatan-jabatan tinggi sudah di tangan orang Papua.  Maka keinginan sudah tercapai, kalau itulah yang dimaksudkan dengan menjadi tuan di negeri sendiri. Tetapi pasti bukan hanya itu yang diharapkan dengan memperoleh status OTSUS. Dalam banyak bidang lain orang asli Papua belum menjadi tuan di tanah sendiri karena belum memegang peranan yang menentukan dan menguntungkan mereka.

Penambahan penduduk dalam jumlah besar dari luar Papua  menciptakan persaingan yang tidak seimbang dalam mencari lapangan kerja. Orang asli Papua kalah bersaing. Banyak lapangan kerja, lebih-lebih di sektor informal, dikuasai para pendatang. Bagaimana mengatasi kepincangan itu?  Tentu saja tidak pada tempatnya hanya mengejek dan menggerutu bahwa mereka itu malas, bodoh, terbelakang dan berbagai stigma lainnya. Yang mereka butuhkan adalah perlindungan yang nyata dan dukungan yang tegas dari penyelenggara pemerintahan. Karena justru dalam sektor informal itu, yang sebenarnya bisa ditangani orang setempat, paling dirasakan persaingan yang tidak seimbang.  Maka kami minta agar dalam usaha-usaha di sektor informal itu, para pendatang dibatasi dan masyarakat setempat dilatih untuk bergiat di sektor-sektor itu. Wilayah pertambangan rakyat yang ada misalnya di Kabupaten Nabire, Senggi, Mimika, Asmat dan Korowai serta pendulangan “tailing” Freeport, perlu diatur untuk menjamin hak atas mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Demikian juga pelayanan umum dengan “angkot dan ojek” di pinggiran kota dan  pedalaman, usaha kios, cukur rambut, bengkel dan lain-lainnya, pasti bisa dijadikan bidang usaha khusus bagi masyarakat setempat. Pemerintah Daerah kami minta agar mengatur hal itu, seperti diamanatkan UU OTSUS  (pasal 38:2).

Berkenaan dengan perusahaan sawit dan investasi lainnya kami minta agar hak masyarakat lokal atas tanah dilindungi dan dijaga. Untuk itu Pemerintah Daerah hendaknya meninjau kembali dan menegaskan kesepakatan tentang sewa-menyewa atau kepemilikan atas tanah. Kesepakatan itu harus mencakup tanggung jawab perusahaan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat,penetapan harga kayu gelondongan yang lebih tinggi, rehabilitasi dan pemeliharaan lingkungan hidup serta keutuhan alam ciptaan.

  1. Hak-hak Asasi Manusia

Warga masyarakat Papua, seperti warga negara pada umumnya, berhak memperoleh perlindungan atas hak-hak asasinya, antara lain hak atas kehidupan dan atas hidup yang layak, hak untuk hidup sehat dan untuk memperoleh pendidikan yang baik. Banyak kemajuan sudah dicapai. Hormat pada kehidupan dan martabat manusia membaik sejauh diukur dari berkurangnya jumlah dan jenis pelanggaran HAM  dengan kekerasan  oleh pihak keamanan. Tetapi tindakan kekerasan yang mengancam dan  menghancurkan kehidupan manusia masih terjadi dalam masyarakat kita. Kita dipanggil untuk menjaga dan melindungi kehidupan mulai dari saat kehidupan itu bersemi dalam rahim ibu sampai saat Tuhan  memanggilnya kembali kepada  sumber kehidupan itu. Terhadap semua pelanggaran perlu penegakan hukum yang tegas. Tindakan-tindakan yang mengancam nyawa manusia  harus diselesaikan bukan dengan main hakim sendiri tetapi dengan hukum positif. Penyelesaian secara “adat” tidak cukup karena besaran denda sering ditentukan dengan sewenang-wenang dan rantai balas-membalas tidak diputuskan.

Untuk penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM serta rekonsiliasi dan untuk  melakukan klarifikasi sejarah Papua, ditegaskan dalam UU OTSUS (Pasal 45-46) bahwa Pemerintah membentuk Perwakilan KOMNAS HAM, Pengadilan Hak Asasi Manusia serta Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Amanat UU OTSUS itu belum dilaksanakan, selain Perwakilan KOMNAS HAM. Sementara itu makin gencar kampanye Papua Merdeka dan teriakan pembebasan ras Melanesia. Kasus-kasus pelanggaran HAM yang tidak diselesaikan sering diangkat sebagai senjata untuk menuntut pisah dari NKRI. Hal-hal itu menjadi seperti duri dalam daging karena menyebarkan sikap  sinis dan tidak percaya terhadap  OTSUS dan tentu saja  menghambat gairah pembangunan. Maka kita sekali lagi meminta agar  diselesaikan kasus-kasus besar pelanggaran HAM, paling kurang yang terjadi dalam 17 tahun terakhir (Wasior 2001, Wamena berdarah 2003  dan Paniai 2014) agar  perjuangan luhur untuk penegakan hak-hak asasi manusia tidak lagi dimanipulasi untuk tujuan politik. Belakangan diberitakan bahwa KEMENKO POLHUKAM menyiapkan badan lain yang disebut Dewan Kerukunan Nasional untuk menyelesaikan pelanggaran kasus HAM dengan jalur adat bukan jalur yuridis. Apapun namanya, “Komisi” atau “Dewan”, penyelesaian kasus-kasus itu harus sampai ke sasarannya: Mengungkapkan Kebenaran dan menegakkan Keadilan.

Rangkuman-Rekomendasi

Sebagai penutup Surat Edaran ini kami menegaskan hal-hal berikut sebagai rekomendasi kepada Gereja, kepada Pemerintah Daerah dan pihak-pihak yang terkait.

  • Kami mengajak umat katolik agar tekun mendalami dan menghayati iman katolik serta ajaran Gereja dan berdoa agar hidup dan aktivitas di tengah masyarakat dijiwai oleh iman dan kasih.
  • Dalam masyarakat kita ada banyak agama dengan ajaran iman yang berbeda-beda. Kita dipanggil bukan untuk memusuhi yang lain, tetapi untuk menaruh sikap toleran dan hormat terhadap yang lain agar apa yang beda tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai hal-hal luhur yang dapat memperkaya kita sendiri. Para pastor dan tokoh umat kami dorong untuk ikut aktif dalam forum-forum kerukunan atau gerakan yang membangun persahabatan dan kerukunan antariman.
  • Kami minta kepada pemangku jabatan dan kekuasaan agar memberikan perlindungan dan penghargaan yang nyata bagi orang asli Papua. Pemegang kekuasaan itu hendaknya memberikan pelatihan dan pengembangan kemampuan dalam berbagai bidang karya bagi orang Papua. Lapangan kerja lebih-lebih yang menyangkut pemanfaatan sumber daya alam harus diperuntukkan pertama-tama bagi orang asli setempat.
  • Migrasi penduduk dari luar Papua harus diatur dan dikendalikan agar tidak membuat orang Papua menjadi minoritas dan penonton di daerah sendiri.
  • Hak kepemilikan dan pemanfaatan atas tanah hendaknya diatur dan dilindungi.
  • Kami minta agar Pemerintah meninjau kembali kesepahaman/MOU tentang sewa-menyewa tanah oleh investor sawit dan harga kayu gelondongan.
  • Kami minta agar Pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM sambil terus bekerja keras bersama dengan semua komponen masyarakat agar hak-hak asasi atas kehidupan, atas kesehatan dan pendidikan yang baik dapat diwujudkan.

Dikeluarkan di Jayapura dalam suasana pemilihan Pimpinan-pimpinan baru untuk Provinsi Papua dan sejumlah Kabupaten, serta penyaringan Calon Legislatif dan Calon Presiden-Wakil Presiden Republik Indonesia.

Semoga Tuhan melimpahkan berkat-Nya atas semuanya dan memberikan kepada kita semua terang dan kebijaksanaan untuk melaksanakan pembangunan dan pengembangan masyarakat pada arah yang benar dan baik bagi semuanya.

Jayapura, 8 Agustus 2018

Uskup-uskup Gereja Katolik di Tanah Papua:

Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC – Uskup Keuskupan Agung Merauke

Mgr Leo Laba Ladjar OFM – Uskup Keuskupan Jayapura

Mgr Hilarion Datus Lega – Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong

Mgr Aloysius Murwito OFM – Uskup Keuskupan Agats

Mgr Yohanes Philipus Gaiyabi Saklil – Uskup Keuskupan Timika

Foto-foto di atas diambil dari kawali.org

 

 

 

 

 

 

 

 

Paus berterima kasih kepada para uskup Chili untuk upaya ‘tegas’ melawan pelecehan

Sel, 07/08/2018 - 19:11

Paus Fransiskus mengirimkan surat tulisan tangan kepada Ketua Konferensi Waligereja Chili pada tanggal 5 Juli. Surat itu berisi ucapan terima kasih kepada para uskup di negara itu atas “contoh yang mendidik” dari komunitas Gereja yang bersatu.

Paus juga mengapresiasi refleksi para uskup Chili atas kegagalan mereka untuk mendengarkan atau menanggapi para korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus.

Devin Watkins dari Vatican News melaporkan, Paus Fransiskus juga “terkesan dengan karya refleksi, kebijaksanaan, dan keputusan” yang dilakukan para uskup Chili untuk menghasilkan dokumen dalam bahasa Spanyol berjudul “Deklarasi, Keputusan, dan Komitmen Konferensi Waligereja Chili.”

Paus menyebut keputusan mereka itu “realistis dan konkret” dan akan menjadi bantuan “yang menentukan” dalam menghadapi krisis.

Paus Fransiskus mengatakan sangat terkesan dengan “teladan komunitas Episkopal yang bersatu dalam penggembalaan umat Allah.” Paus menyebut teladan mereka itu “mendidik” dan “membangun Gereja.”

“Semoga Tuhan memberi rahmat berlimpah kepada kalian untuk upaya komunal dan pastoral ini,” tulis Paus.

Uskup Santiago Silva, yang menjadi alamat surat Paus itu, berterima kasih kepada Paus Fransiskus dan mengatakan bahwa kata-kata Paus itu “menghibur kami saat ini dan memperkuat kami dalam langkah koreksi, penyembuhan, dan perbaikan” ini.

Para uskup Chile bertemu pekan lalu untuk membahas krisis pelecehan seksual yang dihadapi Gereja Katolik dan kegagalan mereka dalam menanggapinya.

Dalam dokumen bersama mereka, para uskup mengakui “kegagalan dan kelalaian” mereka dan berjanji membantu para jaksa dalam menyelidiki dugaan-dugaan pelecehan seksual.

Seraya memohon maaf, para uskup Chile mengatakan mereka gagal membantu dan mendampingi para korban yang telah menderita “dosa-dosa besar dan ketidakadilan yang dilakukan oleh para imam dan klerus.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Surat yang ditulis tangan oleh Paus Fransiskus untuk para uskup Chili. Foto Vatican Media

Kapan suatu tindakan itu baik secara moral?

Sel, 07/08/2018 - 18:00

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

367. Apa sumber-sumber moralitas tindakan manusia?

Moralitas tindakan manusia tergantung dari tiga sumber: objek yang dipilih, apakah berupa kebaikan sejati atau semu, intensi dari subjek yang melakukan tindakan, yaitu tujuan yang dimaksud oleh subjek dalam melaksanakan tindakannya, dan konteks yang berkenaan dengan tindakan itu, termasuk juga konsekuensinya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1749-1754, 1757-1758

368. Kapan suatu tindakan itu baik secara moral?

Suatu tindakan itu baik secara moral jika mencakup sekaligus kebaikan dari objek, tujuan, dan konteksnya. Objek yang dipilih dapat menyebabkan tindakan itu buruk seluruhnya (secara moral), bahkan walaupun intensinya baik. Tidaklah bisa dibenarkan melakukan suatu kejahatan agar kebaikan dapat muncul darinya. Tujuan yang jahat merusak tindakan, bahkan walaupun objeknya itu baik pada dirinya sendiri. Di lain pihak, tujuan yang baik tidak membuat suatu tindakan itu baik jika objek tindakan itu buruk karena tujuan tidak menghalalkan sarana. Keadaan konteks dapat menambah atau mengurangi tanggung jawab seseorang yang melakukan tindakan, tetapi tidak dapat mengubah kualitas moral tindakan itu sendiri. Konteks tidak pernah dapat membuat suatu tindakan yang buruk pada dirinya sendiri menjadi baik.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1755-1756, 1759-1760

369. Apakah ada tindakan yang selalu tidak halal?

Ada tindakan-tindakan tertentu yang selalu tidak halal pada dirinya sendiri karena objeknya (misalnya, menghujat Allah, pembunuhan manusia, perzinaan). Memilih tindakan-tindakan tersebut menyebabkan kekacauan kehendak. Suatu keburukan moral tidak pernah dapat dibenarkan dengan menunjuk kepada akibat baik yang mungkin dapat muncul darinya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1756, 1761

Paus Fransiskus mengenang ‘Paus modernitas’, Paulus VI, yang akan dikanonisasi 14 Oktober

Sel, 07/08/2018 - 03:04
Paus Paulus VI

Paus Paulus VI meninggal dunia 6 Agustus 1978. Maka, ketika menyalami para peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk Doa Malaikat Tuhan di hari Minggu, 5 Agustus 2018, Paus Fransiskus mengenang paus yang meninggal 40 tahun lalu itu.

Kanonisasi Paulus VI sedang dipersiapkan dan menurut Paus Fransiskus, “kanonisasinya dijadwalkan berlangsung tanggal 14 Oktober mendatang.” Menurut pengumuman resmi Vatikan di bulan Maret, Misa kanonisasi untuk Paulus VI akan berlangsung pada penutupan Sinode Para Uskup, lembaga yang didirikan oleh Beato Paulus VI sendiri.

Dalam percakapan dengan para imam dan diakon dari Keuskupan Roma, Paus Fransiskus sendiri sudah membenarkan bahwa Paulus VI akan diangkat menjadi orang kudus.

“Kami mengenangnya dengan penuh hormat dan syukur” dan seraya menanti kanonisasi itu, Paus Fransiskus berdoa agar “dari surga, semoga dia menjadi perantara bagi Gereja dan untuk perdamaian di dunia.”

Paulus VI memimpin Gereja Katolik dari tahun 1963 hingga 1978. Beato yang menutup Konsili Vatikan Kedua (1962-65) itu sering disebut ‘Paus modernitas’, karena dia mengatur transisi dalam liturgi, pembinaan seminari, studi teologi, dan banyak bidang kehidupan gerejawi lainnya.

Paulus VI memulai Sinode Para Uskup tahun 1965 dengan tujuan memperluas keterlibatan para uskup seluruh dunia dalam tata pemerintahan Gereja.

Sinode Para Uskup berikut akan berlangsung di Vatikan bulan Oktober dengan tema kaum muda dan panggilan.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus  mengirim ucapan belasungkawa bagi para korban gempa di Indonesia

Sen, 06/08/2018 - 22:48
Gempa di Lombok. Berdasarkan foto ANSA

Paus Fransiskus pada hari Senin, 6 Agustus, mengungkapkan kesedihan atas “kehilangan nyawa yang tragis” akibat oleh gempa berkekuatan 7 magnitudo di pulau Lombok sehari sebelumnya dan menyatakan “solidaritas tulus” dengan semua orang yang terkena dampak gempa itu.

Dalam telegram yang dikirim kepada pejabat Gereja dan otoritas sipil di Indonesia, Bapa Suci mengatakan dia merasa “sedih” ketika diberitahu tentang “kehilangan jiwa yang tragis dan kehancuran properti yang disebabkan oleh gempa bumi” itu.

Paus mengatakan dia berdoa untuk “ketenangan orang-orang yang meninggal, penyembuhan orang-orang yang terluka, dan penghiburan bagi semua yang berduka atas kehilangan orang yang mereka cintai.”

Paus Fransiskus mendorong upaya pencarian dan penyelamatan serta memohon “berkat penghiburan dan kekuatan ilahi bagi orang-orang Indonesia.”

Koresponden Vatican News, Alastair Wanklyn, mengatakan setidaknya 98 orang tewas ketika gempa bumi melanda pulau Lombok dan Bali. Dia mengatakan rumah-rumah runtuh, dan satu lembaga bantuan menyerukan sumbangan darah untuk membantu orang-orang yang terluka.

Warga yang panik, demikian laporannya, lari menghindari bangunan-bangunan di pulau Lombok dan Bali. Satu orang yang selamat mengatakan orang-orang terluka karena reruntuhan yang jatuh. Ribuan rumah rusak atau hancur, bahkan rumah sakit pun terkena dampaknya.

Presiden Indonesia mengatakan kepada pihak berwenang untuk membantu mereka yang selamat. Pesawat-pesawat militer mengirimkan tenda dan peralatan komunikasi.

Palang Merah Indonesia menyerukan sumbangan darah. Dikatakan, PMI menerbangkan terpal dan kasur untuk para korban yang kehilangan rumahnya.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo minta pihak berwenang untuk membantu wisatawan asing untuk pulang. Bali dan Lombok adalah tujuan populer bagi wisatawan dari Eropa dan Australia dan dari negara-negara Muslim di Timur Tengah.

Menurut laporan sebuah surat kabat Indonesia, sekitar 1000 turis dievakuasi dari tiga pulau kecil.

(Gempa berkekuatan 6.4 magnitudo terjadi 29 Juli 2019. Setelah gempa berkekuatan 7 magnitudo  Minggu, 5 Agustus 2018 Pukul 18.46, terjadi 170 gempa susulan hingga Senin pukul 15.00. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah pengungsi di Lombok utara pada hari Senin berjumlah sekitar 20.000 orang. Red)

Setidaknya satu gereja Katolik di kota Mataram, Lombok, rusak. Langit-langit dari Katedral di Denpasar, Bali, jatuh. Namun media lokal mengutip seorang imam yang mengatakan gempa terjadi setelah Misa berakhir, dan tidak ada korban.(Vatican News)

Mengapa setiap orang mempunyai hak untuk melaksanakan kebebasannya?

Sen, 06/08/2018 - 18:02
Simbol-simbol agama. Dioambil dari elsaonline.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

365. Mengapa setiap orang mempunyai hak untuk melaksanakan kebebasannya?

Melaksanakan kebebasan adalah hak setiap orang karena kebebasan itu tidak terpisahkan dari martabatnya sebagai pribadi manusia. Karena itu, hak ini harus selalu dihormati, khususnya yang menyangkut hal-hal moral dan religius, dan kebebasan ini harus diakui dan dilindungi oleh otoritas sipil dalam batas-batas kebaikan umum dan tatanan publik yang adil.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1738, 1747

366. Di mana tempat kebebasan manusia dalam rencana keselamatan?

Kebebasan kita menjadi lemah karena dosa asal. Kelemahan ini menjadi lebih berat lagi karena dosa-dosa yang dilakukan sesudahnya. Tetapi, Kristus membebaskan kita ”supaya kita sungguh-sungguh merdeka” (Gal 5:1). Berkat rahmat-Nya, Roh Kudus membimbing kita ke arah kebebasan spiritual untuk menjadikan kita teman sekerja dengan-Nya dalam Gereja dan dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1739-1742, 1748

Mgr Agus minta diakon dan imam renungkan kembali moto panggilan di saat ‘kekeringan’

Sen, 06/08/2018 - 04:26
Tiga imam baru serta empat diakon baru bergambar bersama Mgr Agustinus Agus dan Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap dan para imam konselebran di Katedral Santo Yosef Pontianak.

Sebagai Alter Christus atau Kristus yang lain, imam adalah tokoh penting dalam Gereja dengan tugas utama membawa umat kepada keselamatan kekal. Namun, sebagai manusia dengan aneka keterbatasan, mereka harus selalu dengan rendah hati mengungsi kepada Tuhan dalam pelaksanaan tugas panggilan sebagai nabi, imam dan raja.

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus berbicara dalam homili Misa Tahbisan diakon dan imam di Katedral Santo Yosef Pontianak yang dipimpinnya pada Pesta Santo Yohanes Maria Vianney, 4 Agustus 2018. Uskup Agung Emeritus Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap dan 52 imam jadi selebran.

Sebelum tahbisan, Mgr Agus minta kepada empat diakon dan tiga imam agar “merenungkan kembali moto panggilanmu, di mana olehnya engkau merasa diteguhkan dan dikuatkan,” kalau kalian mengalami masalah atau “kekeringan.”

Moto Panggilan Diakon Paulinus Surip Pr asal Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Serimbu Keuskupan Agung Pontianak (KAP) adalah “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku” (Ef. 3:7), Diakon Valerius Hilarion Pr asal Paroki Santo Yosep Pemangkat KAP adalah “Inilah aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8b), Diakon Josemaria Caritas CSE asal Paroki Gembala yang Baik Surabaya adalah “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8), dan Diakon Methoddius CSE asal Magelang adalah “Bagiku hidup adalah Kristus, Kristuslah yang hidup dalam aku” (Galatia 2:20).

Sementara itu Pastor Matius Pr asal Paroki Santo Pius X Bengkayang KAP membawa moto “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini” (Markus 8:2), Pastor Marselinus M Jano OSM asal Keuskupan Ruteng membawa “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4a), dan Pastor Marsianus Iwan Setiawan CSE asal Paroki Kalvari Lubang Buaya Jakarta Timur membawa “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26).

Yang pertama bagi seorang imam, kata Mgr Agus kepada sekitar 2000 umat yang hadir, “dia mampu memberikan teladan yang baik kepada umat yang dilayani. Teladan seorang imam yang baik akan berdampak pada perkembangan iman dan perilaku umatnya.”

Uskup yakin, “Jika pastor paroki seorang yang kudus, umat akan menjadi suci. Sebaliknya, jika imam suam-suam kuku, umatnya menjadi buruk.” Untuk menjadi teladan yang baik, Mgr Agus minta para imam memperhatikan hal-hal kecil, misalnya, “bangun pagi tepat waktu untuk mempersembahkan Misa.” Banyak hal kecil bisa dilakukan, “tetapi kadang kita sepelekan, sehingga berdampak pada menurunnya kepercayaan umat terhadap kualitas hidup rohani imamnya.”

Mgr Agus mengingatkan bahwa Santo Yohanes Maria Vianney tidak cerdas secara intelektual tetapi mampu menginspirasi banyak orang melalui hidupnya yang sederhana dan saleh, bahkan menjadi orang kudus dan pelindung para imam, “karena dia melayani bukan dengan intelektualnya tetapi dengan hati.”

Mgr Agus minta semua imam, khususnya diakon dan imam yang baru ditahbiskan membawa semangat itu dalam menjalankan tugas di Paroki Santo Yosep Pemangkat untuk Diakon Paulinus Surip Pr; Paroki Santo Yosef Katedral Pontianak untuk Diakon Valerius Hilarion Pr; Paroki Santo Pius X Bengkayang untuk Diakon Josemaria Caritas CSE; Lambah Karmel Cikanyere, Jawa Barat, untuk Diakon Methoddius CSE; Paroki Santo Christoforus Sungai Pinyuh untuk Pastor Matius Pr; Kuasi Paroki Santo Yosef Jelimpo untuk Pastor Marselinus M Jano OSM; dan Pertapaan Shanti Bhuana Bandol untuk Pastor Marsianus Iwan Setiawan CSE.

Saat menyampaikan tempat tugas itu, Mgr Agus mengumumkan status Kuasi Paroki Jelimpo akan ditingkatkan menjadi paroki bulan Desember, dan Diakon Surip dan Hilarion akan ditahbiskan imam bulan Februari 2019 di Pemangkat.

Secara khusus Uskup Agung Pontianak mengatakan kepada orangtua dari dua diakon dan satu imam diosesan yang baru bahwa mereka bertiga telah masuk dalam keluarga besar imam projo KAP “dan kami akan menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak itu, namun tetap diharapkan kerja sama dari keluarga.”

Mewakili para imam dan diakon baru, Pastor Matius Pr menegaskan, tahbisan adalah langkah awal karya pewartaan Injil, maka mereka mohon dukungan agar setia melaksanakan tugas dan perutusan itu. Meski menyadari banyak tantangan dan ancaman di dunia, kata Pastor Matius, “kami percaya Tuhan akan memampukan kami mewartakan Injil dengan penuh sukacita Injil dan melayani dengan semangat dan komitmen panggilan kami sebagai imam dan diakon. Semoga berkat rahmat Roh Kudus dan bantuan Santa Perawan Maria, kami setia kepada Allah dan Gereja sampai akhir.”(Sr Maria Seba SFIC/ak)

Lebih dari 30.000 OMK Italia berziarah jalan kaki seminggu di seluruh keuskupan mereka

Sen, 06/08/2018 - 02:26

Lebih dari 30.000 orang muda Katolik (OMK) dari sekitar 200 keuskupan Italia berangkat secara berkelompok pada hari Jumat pagi, 3 Agustus 2018, mengikuti ziarah jalan kaki selama seminggu di wilayah keuskupan masing-masing. Ziarah itu akan berakhir dengan apel akbar di Roma di akhir pekan depan dengan pertemuan dengan Paus Fransiskus.

Ziarah itu, menurut laporan Robin Gomes dari Vatican News, diprakarsai oleh Pelayanan Nasional Departemen Kepemudaan Konferensi Waligereja Italia guna mempersiapkan Sinode tentang kaum muda di Vatikan bulan Oktober dan Hari Orang Muda se-Dunia (WYD) di Panama bulan Januari.

Pastor Michele Falabretti yang mengepalai kantor Departemen Kepemudaan itu menjelaskan bahwa mereka ingin menambahkan pengalaman khusus untuk pertemuan mereka dengan Paus, maka prakarsa itu disebut, “Per Mille Strade” (Melalui seribu jalan), yang merupakan ziarah OMK dan para pendamping mereka, dan Siamo Qui” (Kami ada Di sini), perjumpaan dengan Paus Fransiskus dalam dua hari terakhir di Roma, 11 dan 12 Agustus 2018.

Agar bisa memanfaatkan sebaik-baiknya ziarah berjalan kaki itu, setiap peserta dibekali perangkat ziarah berisi barang-barang praktis dan spiritual. Ini termasuk tas bahu dengan barang-barang seperti lampu untuk malam hari, topi, kantong air, buku harian, Injil, salib, buku komentar tentang perjumpaan antara Yesus dan para murid, kanvas kecil dengan gambar kafan suci, peta dan tanda pengenal.

Para peziarah muda juga dilengkapi kayu bundar, tempat menempatkan pengalaman mereka saat melewati berbagai tahap perjalanan mereka.

Pastor Falabretti mengatakan, tujuan ziarah itu untuk “membantu orang muda keluar dari jalan yang biasa mereka lalui, mengurangi kegiatan dan terus menyaksikan kesaksian-kesaksian hidup dan iman yang mereka temukan serta mengetahui kisah-kisah manusia zaman sekarang dan kesulitan-kesulitan dan harapan-harapannya. Perjalanan ini hendak membuat anak-anak berpikir dan merasa sebagai bagian dari Gereja.”

Setelah berziarah melintasi keuskupan masing-masing, anak-anak muda itu akan naik bus, kereta api, atau sarana lain untuk berkumpul di Roma hari Sabtu, 11 Agustus. Di sana mereka akan mengadakan doa malam di Circus Maximus yang akan dihadiri Bapa Suci.

Hari berikutnya, mereka akan menghadiri Misa di Lapangan Santo Petrus. Di akhir Misa, Paus akan menyerahkan mandat misionaris dan memberkati Salib Santo Damian dan Bunda Kita dari Loreto yang akan mereka bawa ke WYD di Panama, tahun depan.

Orang-orang muda itu didorong untuk tetap berhubungan dengan memposting pengalaman mereka secara online di media sosial yang akan dibagikan kepada semua secara real time di saat perjalanan ziarah berlangsung.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait

Paus Fransiskus dalam Minggu Palma minta OMK berteriak sebelum batu-batu berteriak

Paus Fransiskus pada pertemuan pra sinode orang muda harus serius diperhatikan

Logo ziarah jalan kaki OMK Italia

Kardinal Turkson: Pariwisata seharusnya memuliakan Tuhan dan meningkatkan martabat manusia

Sen, 06/08/2018 - 01:42
Kardinal Peter Turkson. Vatican Media

Prefek Dikasteri Promosi Pengembangan Manusia Integral Kardinal Peter Turkson telah menulis Pesan untuk Hari Pariwisata se-Dunia, yang berlangsung setiap tahun tanggal 27 September, dengan merefleksikan tema peringatan tahun ini: “Pariwisata dan Transformasi Digital.” Fokus tema itu, kata kardinal, adalah cara teknologi digital mengubah usia dan perilaku kita.

Karena perubahan itu, kata Kardinal Turkson, Hari Pariwisata se-Dunia, “mengajak kita untuk merefleksikan sumbangan kemajuan teknologi tidak hanya untuk meningkatkan produk dan layanan wisata, tetapi juga karena kemajuan ini merupakan bagian pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang hendaknya menjadi arah pertumbuhan sektor itu.”

Gereja, lanjut kardinal, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, “selalu secara khusus memperhatikan pastoral pariwisata, rekreasi dan liburan,” sehingga wanita dan pria bisa berbagi nilai-nilai dan cita-cita mereka, dan bertumbuh sebagai individu.

Pariwisata merupakan cara penting untuk berbagi sumber daya, dan untuk “mendidik masyarakat tentang tanggung jawab bersama terhadap ‘rumah kita bersama.’”

Kardinal Turkson juga “secara khusus memikirkan” orang-orang muda, yang menjadi pusat Sidang Umum Sinode Para Uskup mendatang. Dokumen kerja sinode, demikian catatan kardinal itu, membahas betapa “perlu memberikan mereka pembinaan dan pendidikan antropologi, sehingga mereka bisa menjalani ‘kehidupan digital’ tanpa memisahkan perilaku online dan offline, atau membiarkan diri mereka tertipu oleh dunia maya.”

Akhirnya, kata Kardinal Turkson, “diharapkan Dikasteri ini merumuskan untuk semua, wisatawan dan orang yang berlibur, ‘agar pariwisata berkontribusi untuk memuliakan Tuhan, dan untuk semakin mengesahkan martabat manusia, pengetahuan bersama, persaudaraan spiritual, penyegaran tubuh dan jiwa.’”(pcp berdasarkan Vatican News)

Vatikan dianugerahi hadiah internasional untuk video tentang migran dan pengungsi

Amin

Sab, 04/08/2018 - 21:03

(Renungan berdasarkan bacaan Injil Minggu ke-18 pada Masa Biasa, 5 Agustus 2018: Yoh 6: 24-35)

 “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29)

Mengatakan “Amin” adalah sesuatu yang biasanya kita lakukan dalam doa. Kata ini biasanya digunakan untuk mengakhiri doa. Doa alkitabiah seperti Bapa Kita dan Salam Maria biasanya disimpulkan oleh kata amin. Namun, dalam beberapa kesempatan, amin disebutkan lebih sering. Salah satu tugas pastoral saya di rumah sakit adalah memimpin doa penyembuhan bagi yang sakit. Saya selalu meminta keluarga dan mereka yang menemani pasien untuk berdoa bersama saya. Biasanya, mereka akan mengatakan amin di akhir doa. Namun, beberapa orang akan mengucapkan beberapa amin dalam doa, dan bahkan, ada beberapa orang mengucapkan lebih banyak amin daripada doa yang saya ucapkan! Dalam beberapa kesempatan, amin digunakan di luar konteks doa. Pengkhotbah karismatik akan mengajak pendengar mereka untuk mengatakan amin sebagai bentuk penegasan. Tentunya, ini adalah juga teknik yang bagus untuk membuat pendengar tidak tertidur!

Amin adalah kata yang sederhana namun sangat kuat. Amin menunjukkan penegasan dan persetujuan kita yang kuat terhadap sesuatu. Ini adalah manifesto paling ringkas dari iman kita. Amin adalah bahasa alkitabiah, dan sebenarnya, ini berasal dari kata Ibrani, yang berarti “Sungguh!” Atau “Terjadilah!”. Sangat menarik untuk dicatat bahwa penggunaan awal kata amin dalam Alkitab adalah untuk menegaskan kutukan dan hukuman (lihat Bil 5:22; Ul 27:15). Untungnya, Kitab Mazmur mengajarkan kita untuk menggunakan amin untuk menegaskan berkat Tuhan. Yesus sendiri suka mengatakan Amin [walaupun dalam alkitab Bahasa Indonesia kata ‘Amin’ diganti dengan kata ‘sesungguhnya’). Ia menggunakan amin untuk menegaskan kebenaran dan kuasa firman-Nya (lihat Mat 5:18; Mat 8: 5). Ada pergeseran radikal di sini. Berbeda dengan praktik biasa untuk menegaskan berkat Tuhan, Yesus mengatakan amin pada kata-kata-Nya sendiri. Ini karena kata-kata Yesus adalah berkat Tuhan. Dengan demikian, belajar dari tradisi Alkitab, kita mengatakan amin untuk menegaskan berkat-berkat Tuhan. Lebih dari itu, belajar dari Yesus, kita mengatakan amin untuk mengekspresikan iman kita dalam Firman-Nya, dan akhirnya kepada Yesus sendiri. Tak mengejutkan bahwa orang pertama dalam Perjanjian Baru yang menyatakan amin kepada Yesus tidak lain adalah ibu-Nya, Maria. Di hapadapan malaikat Gabriel, dia berkata, “Terjadilah padaku menurut kehendakmu,” singkatnya, “Amin!” (Lihat Luk 1:38)

Salah satu amin terbesar yang kita nyatakan adalah ketika kita menerima Ekaristi. Bagi ratusan juta umat Katolik yang menerima Komuni Suci setiap hari Minggu, mengatakan amin tampaknya biasa-biasa saja. Namun, ini sebenarnya menjadi amin yang paling sulit yang kita katakan. Untuk percaya dan menegaskan bahwa hosti kecil putih adalah Tubuh Kristus yang mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus adalah tanda iman yang luar biasa besar. Saya percaya ini adalah ajakan Yesus untuk percaya kepada-Nya dalam Ekaristi. Berkaitan dengan Injil hari Minggu ini, Yesus mengatakan bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah percaya kepada Yesus, yang diutus oleh Bapa (lihat Yoh 6:29). Membaca bab 6 dari Injil Yohanes ini, kita menemukan bahwa percaya kepada Yesus berarti menerima bahwa Dia adalah Roti Kehidupan, dan mereka yang memakan Roti ini akan memiliki hidup yang kekal (lihat Yoh 6:51). Jadi, untuk mengatakan amin yang dipenuhi oleh iman kepada Ekaristi adalah pemenuhan kata-kata Yesus, dan menuntun kita pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sebagai umat yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita mengatakan Amin kita dalam kepenuhan iman kita atau ini hanya sebuah kata yang diulang-ulang? Apakah Amin kita memungkinkan kita untuk mengenali berkat harian yang kita terima? Seperti Maria, apakah iman kita terwujud dalam tindakan sehari-hari kita, dan membuat perbedaan dalam kehidupan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

KAJ tingkatkan persatuan masyarakat dan bantu pembangunan gereja lewat Run4U

Sab, 04/08/2018 - 15:39
Moderator PUKAT KAJ Pastor Stefanus Roy Djakarya Pr ikut serta dalam Run4U. Foto: krm

Profesional dan Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (PUKAT KAJ) bekerjasama dengan Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Jakarta (BP PKK KAJ)  menyelenggarakan kegiatan pagi dengan nama Run4U 2018 bertema “Unity in Diversity” yang terdiri dari Joy Run, Joy Walk dan Festival Musik dan Seni.

Ketua Panitia Charles Santoso mengatakan kepada PEN@ Katolik, hasil bersih semua kegiatan yang juga dilengkapi “donasi sukarela” itu akan disumbangkan untuk pembangunan Gereja Santo  Leo Agung di Jatiwaringin Jakarta, pembangunan Gedung Karya Pastoral Santo Nikodemus Ciputat Jakarta, pembangunan gereja Stasi Paroki Pamakayo Santo Aloysius Gonzaga di Nusa Tenggara Timur.

Joy run yang berlangsung di area Mall Alam Sutera, Tangerang Selatan, Minggu 29 Juli 2018, dihadiri oleh sekitar 3600 umat dari berbagai paroki di KAJ serta umat non-Katolik. Sejumlah pastor dan suster yang bertugas di wilayah KAJ juga ikut dalam kegiatan itu.

Moderator PUKAT KAJ Pastor Stefanus Roy Djakarya menjelaskan kegiatan itu dilaksanakan sehubungan dengan ‘Tahun Persatuan’ yang dicanangkan oleh KAJ. “Kegiatan ini mirip Family Gathering yang melibatkan banyak keluarga Katolik dari berbagai usia,” jelas imam itu.

Menurut imam diosesan itu, “kegiatan ini sebagai ajakan kepada semua pihak untuk terlibat dan mengupayakan persatuan antarkomunitas dalam Gereja Katolik dan bersama dengan masyarakat pada umumnya.” Meskipun dilakukan oleh komunitas Gereja Katolik, namun kegiatan itu melibatkan masyarakat umum, serta sejumlah perusahaan yang membuka stand di lokasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan itu.

Pelaksanaan olahraga yang dimulai pukul 06.10 di lokasi Mall Alam Sutera dan sekitarnya menggunakan format Joy Run sejauh 5 km dan Joy Walk sejauh 2,5 km. Acara dilanjutkan dengan hiburan yang menampilkan kelompok band dari sejumlah komunitas dan kegiatan bazar di halaman mall itu.(Konradus R Mangu)

Sebagian peserta. Foto: krm Penampilan seni. Foto: krm

Di tengah krisis politik, Nikaragua mengundurkan diri dari tuan rumah acara-acara WYD

Jum, 03/08/2018 - 23:52
Peserta WYD 2018

Karena situasi sosial politik saat ini di negaranya, para uskup Katolik Nikaragua mengatakan negara itu tidak akan menampung para peziarah yang akan menghadiri “Days in Diocese” (Hari-Hari di Keuskupan) yang akan mendahului Hari Orang Muda Katolik se-Dunia (WYD) di Panama.

Keputusan para uskup itu, menurut laporan Francesca Merlo dari Vatican News, dikirim melalui surat dari Wakil Sekretaris Departemen Kepemudaan Konferensi Waligereja Nikaragua Pastor Jhader Hernandez dan dialamatkan kepada Ketua Pelaksana WYD 2019 Mgr Jose Domingo Ulloa.

Dalam surat itu Pastor Jhader Hernandez berterima kasih kepada panitia pelaksana karena memilih Nikaragua untuk menjadi tuan rumah acara itu, tetapi dijelaskan bahwa situasi politik saat ini di negara itu membuat peziarah tidak akan aman mengunjungi negara itu.

WYD 2019 akan dilaksanakan Januari 2019. Kalau sebelumnya WYD digelar di Denver, Manila, Paris, Toronto, Madrid, Rio de Janeiro dan Krakow, acara itu akan berlangsung di Panama City, Panama, tahun 2019.

Seperti biasanya, perayaan-perayaan utama WYD, yang sering dihadiri 3 juta orang, didahului dengan 14 hari “Days in Diocese”. Dua minggu itu adalah kesempatan bagi peziarah untuk tinggal di keuskupan-keuskupan di negara pelaksana.

Namun, untuk pertama kalinya, “Days in Diocese” akan dilakukan di banyak negara. Tahun ini Paus Fransiskus meminta “Days in Diocese” diperluas ke Keuskupan Kosta Rika dan Nikaragua, karena Paus ingin agar WYD itu sepenuhnya Amerika Tengah.

Dalam suratnya kepada Mgr Ulloa, Pastor Jhader Hernandez menyatakan bahwa Konferensi Waligereja Nikaragua telah membuat keputusan penuh penyesalan untuk mundur dari “Days in Diocese” demi keselamatan para peziarah dan staf pastoral yang terlibat dalam pengalaman Gereja itu.

 

Imam itu mengakhiri suratnya dengan mengucapkan terima kasih kepada Panama “untuk pesan-pesan dan dukungan konstan yang telah mereka tunjukkan kepada rakyat Nikaragua selama periode sulit ini.”

 

Dalam Siaran Pers berjudul “Nikaragua di Hati WYD,” Panitia Pelaksana Panama mendesak para peziarah untuk menjalani pengalaman “Days in Diocese” di Kosta Rika dan Panama. Mereka menyatakan bahwa “kedua negara ini bersiap menyambut dan berbagi dua minggu ini dengan para peziarah muda dan bahwa peristiwa ini adalah salah satu kekayaan yang menandai, dengan cara khusus, kehidupan kaum muda.”

 

Nikaragua sedang mengalami krisis, setelah meletus pemberontakan seluruh penjuru bangsa itu melawan Presiden Daniel Ortega dan istrinya, Wakil Presiden Rosaria Murillo. Ortega dituduh mengikis demokrasi dan hak asasi manusia. Pihak oposisi mengatakan ia telah menjadi sejenis tiran yang brutal dan korup yang pernah dia lawan selama revolusi Sandinista. Saat itu, dengan bantuannya, pemerintahan Somoza sayap kanan digulingkan.(pcp berdasarkan Vatican News)

Halaman