Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 2 hours 8 mnt yang lalu

Apa rencana Allah untuk manusia?

Min, 07/01/2018 - 10:48

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

  1. Apa rencana Allah untuk manusia?

Allah, yang sempurna dan penuh bahagia, berencana membagikan kebaikan-Nya dengan menciptakan manusia agar manusia ikut ambil bagian dalam kebahagiaan-Nya. Dalam kepenuhan waktu, ketika saatnya tiba, Allah Bapa mengutus Putra-Nya sebagai Penebus dan Penyelamat manusia, yang sudah jatuh ke dalam dosa, memanggil semuanya ke dalam Gereja-Nya, dan melalui karya Roh Kudus, mengangkat mereka sebagai anak-anak-Nya dan pewaris kebahagiaan abadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1-25

”Betapa besar dan sungguh agunglah Engkau, ya Allah. …

Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu,

dan tidak tenanglah hati kami

sampai kami beristirahat dalam Engkau”

(Santo Agustinus)

  1. Mengapa manusia mempunyai kerinduan akan Allah?

Allah, dalam menciptakan manusia menurut citra-Nya, telah mengukirkan dalam hati manusia kerinduan untuk melihat Dia. Bahkan walaupun kerinduan ini diabaikan, Allah tidak pernah berhenti menarik manusia kepada Diri-Nya karena hanya dalam Dialah manusia dapat menemukan kepenuhan akan kebenaran yang tidak pernah berhenti dicarinya dan hidup dalam kebahagiaan. Karena itu, menurut kodrat dan panggilannya, manusia adalah makhluk religius yang mampu masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Hubungan akrab dan mesra dengan Allah mengaruniakan martabat kepada manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 27-30, 44-45

  1. Bagaimana mungkin manusia mengenal Allah hanya melalui terang

Dengan bertolak dari ciptaan, yaitu dari dunia dan pribadi manusia, hanya melalui akal budinya manusia dapat mengenal Allah secara pasti sebagai asal dan tujuan alam semesta, sebagai kebaikan tertinggi, dan sebagai kebenaran dan keindahan yang tak terbatas.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 31-36, 46-47

  1. Apakah terang akal budi saja sudah memadai untuk mengenal misteri Allah?

Jika hanya melalui terang akal budi saja, manusia mengalami banyak kesulitan untuk mengenal Allah. Dengan kekuatannya sendiri, manusia sungguh-sungguh tidak mampu masuk ke dalam kehidupan intim misteri ilahi. Karena itu, manusia membutuhkan pencerahan melalui wahyu; tidak hanya untuk hal-hal yang melampaui pemahamannya, tetapi juga untuk kebenaran religius dan moral, yang sebenarnya tidak melampaui daya tangkap akal budi manusia. Bahkan dalam kondisi saat ini, kebenaran-kebenaran tadi dapat dipahami dengan mudah oleh semua manusia, secara pasti, dan tanpa kesalahan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 37-38

  1. Bagaimana kita dapat bicara tentang Allah?

Sebagai titik tolak, kita berbicara tentang kesempurnaan manusia dan ciptaan lainnya, yang – meskipun terbatas – merupakan cerminan kesempurnaan Allah yang tak berkesudahan. Namun, kita perlu terus-menerus memurnikan bahasa kita sejauh itu mungkin walaupun harus kita sadari bahwa kita tidak akan pernah dapat mengungkapkan misteri Allah yang tak terbatas.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 39-43, 48-49

  1. Apa yang diwahyukan Allah kepada manusia?

Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, Allah mewahyukan Diri. Melalui sabda dan karya, Allah mewahyukan Diri dan rencana-Nya yang berasal dari cinta kasih yang dalam Kristus telah dinyatakan sejak kekal. Menurut rencana ini, semua umat manusia, melalui rahmat Roh Kudus, mengambil bagian dalam kehidupan ilahi sebagai ”anak-anak angkat” dalam Putra Tunggal Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 50-53, 68-69

  1. Apa saja tahap-tahap awal pewahyuan Allah?

Sejak awal mula, Allah mengungkapkan Diri-Nya kepada leluhur kita yang pertama, Adam dan Hawa, dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam persatuan yang intim dengan-Nya. Sesudah kejatuhan mereka ke dalam dosa, Allah tidak menghentikan pewahyuan-Nya kepada mereka, tetapi menjanjikan penebusan bagi semua keturunan mereka. Sesudah bencana air bah, Allah membuat perjanjian dengan Nabi Nuh, perjanjian antara Allah sendiri dengan semua makhluk hidup.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 50-53, 68-69

Majus

Min, 07/01/2018 - 08:47

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

7 Januari 2018

Matius 2:1-12

“Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur (Mat 2:11)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Menurut tradisi, nama tiga orang Majus adalah Balthazar, Melchior, dan Gaspar. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk Majus adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis atau sihir’, dan mempraktekkan ilmu magis adalah sebuah kesalahan besar di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33: 6). Bahkan Gereja Katolik sendiri melarang kita memiliki kontak dengan praktek magis atau sihir apa pun (Katekismus 2116). Namun, kita tidak bisa memastikan bentuk magis apa yang digunakan oleh orang Majus ini, tapi satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda zaman dan mengikuti bintang. Karena itu, mereka bias disebut sebagai astrolog kuno, pembaca bintang yang memprediksi perilaku manusia dan masa depan.

Anehnya, Injil hari ini mempersembahkan ketiga orang Majus ini sebagai protagonis. Mengapa para praktisi magis ini bisa menjadi orang baik di sini? Jika kita memeriksa dengan seksama kisah Injil, kita menemukan bahwa orang-orang Majus ini dikontraskan dengan Herodes bersama dengan imam-imam kepala dan ahli-ahli Tauratnya. Berbeda dengan orang Majus yang membaca bintang untuk menemukan raja yang baru lahir, Herodes dan para pembantunya meneliti Kitab Suci untuk menemukan Mesias. Memang, Kitab Suci, sebagai Firman Allah, adalah cara yang benar untuk mencari Yesus. Sayangnya, meski memiliki metode yang benar, maksud Herodes adalah untuk memusnahkan Yesus, yang merupakan ancaman terhadap takhtanya. Herodes menjadi lambang bagi orang-orang yang menggunakan Kitab Suci untuk mencapai agendanya sendiri, untuk membingungkan orang-orang dan untuk menghancurkan Tuhan. Sementara orang Majus, terlepas dari metode yang tidak benar, dengan tulus mencari Yesus dan sungguh, Tuhan membawa mereka kepada Yesus.

Pertemuan dengan Yesus membawa transformasi yang nyata. Orang Majus menawarkan Yesus emas, kemenyan, dan mur. Secara tradisional, ketiga hadiah itu adalah simbol kerajaan, imamat dan penderitaan Yesus, namun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ketiga hadiah itu adalah barang yang biasanya digunakan untuk mempraktekkan sihir di zaman kuno. Jadi, ketika orang Majus menawarkan tiga hadiah, ini melambangkan penyerahan profesi lama mereka. Ketika mereka melihat Raja sejati, mereka telah menemukan arti sebenarnya dari kehidupan dan kebahagiaan. Mereka menyadari bahwa profesi lama mereka walaupun memberi mereka kekuatan, tidaklah benar. Perjalanan mereka telah sampai pada puncaknya, dan inilah saatnya bagi mereka untuk memutuskan apakah akan bertahan dengan cara lama atau untuk menerima Kristus sepenuhnya. Dan, mereka membuat pilihan yang tepat.

Kisah orang Majus mengingatkan saya akan kisah Bartolo Longo. Tumbuh dalam masa sulit di Italia dan Gereja, Bartolo muda kehilangan kepercayaan pada Paus, dan memasuki sebuah kelompok pemuja setan, sampai pada akhirnya, dia menjadi imam dari kelompok tersebut. Namun, terlepas dari kekuatan dan kekayaan yang ia dapatkan dari setan, ia terus resah. Jauh di lubuk hatinya, ia merindukan kedamaian sejati. Didorong oleh keinginannya untuk mendapatkan kebenaran, dan dibantu oleh seorang imam Dominikan, dia kembali ke iman yang telah ditinggalkannya. Dia menjadi seorang yang mencintai Bunda Maria dan promotor rosario yang penuh semangat. Dia memulai pemulihan gereja yang rusak di kota Pompey, dan menempatkan lukisan Maria Ratu Rosario di sana. Melalui usahanya, kini gereja tersebut telah menjadi situs peziarahan yang dihormati di Italia. Kekudusannya diakui oleh Gereja, dan dia dibeatifikasi pada tahun 1980 oleh Yohanes Paulus II.

Seperti orang Majus dan Bartolo Longo, apakah kita siap untuk mengenali Kristus sebagai kebahagiaan sejati kita? Apakah kita bersedia untuk mencari Yesus dalam perjalanan hidup kita? Dan, ketika saatnya tiba, apakah kita rela melepaskan hidup kita yang lama dan untuk merangkul Yesus sepenuhnya?

 

Gereja di Timor memberdayakan ekonomi umat dengan menanam kopi di kebun masing-masing

Jum, 05/01/2018 - 10:56
Pastor Kristo Tara OFM (pakai topi) dan Bupati Belu Willybrodus Lay (pakai kameja putih) di sebelah Pastor Kristo, ketika bersama umat Paroki Laktutus menanam anakan kopi 4 Januari 2018

Sebuah paroki di Timor sedang melakukan program pemberdayaan ekonomi umat dengan membagikan benih anakan bibit kopi kepada umat dan mewajibkan mereka menanam kopi minimal 100 pohon di kebunnya masing-masing. “Tugas pastor terutama melayani kebutuhan rohani umat, namun melihat tantangan ekonomi yang dihadapi umat semakin kompleks, maka Gereja memberikan perhatian pada upaya pemberdayaan ekonomi umat,” kata Pastor Kristo Tara OFM.

Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus, Keuskupan Atambua, Timor Barat, NTT, itu berbicara dengan PEN@ Katolik, 4 Januari 2018, tentang program yang sudah dimulai dilakukan sejak 2017 itu. Hari itu, Pastor Kristo bersama umat dan Bupati Belu turun ke kebun ikut menanam anakan kopi.

Menurut Pastor Kristo, paroki tidak hanya mewajibkan umat menanam kopi, “tetapi memberi contoh dengan menanam 12.000 anakan kopi di area seluas 5-6 hektare di Bukit Laktutus yang merupakan merupakan hutan adat, namun kopi-kopi itu nanti akan menjadi milik paroki.”

Dijelaskan, hingga saat ini masih tersedia 30.000-an anakan bibit yang akan dibagikan ke setiap umat untuk menanam di kebunnya masing-masing. “Mimpi besar kita, ke depan Laktutus bisa menjadi salah satu sentra penghasil kopi di Belu,” tegas imam itu.

Program penanaman kopi, lanjut Pastor Kristo, merupakan bagian dari program parokinya guna meningkatkan ekonomi umat sesuai potensi lokal, dan juga merupakan terjemahan lanjutan dari Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Atambua yang memfokuskan peningkatan ekonomi umat.

Sejak tahun lalu, Paroki Laktutus telah menerjemahkan Ardas itu lewat Budidaya Kopi sebagai salah satu program unggulan yang menjadi pusat perhatian Gereja setempat. “Pada akhirnya umat diajak dan dianimasi untuk memulai dan membangun kesadaran baru dalam meningkatkan ekonomi melalui budidaya tanaman jangka panjang sesuai potensi lokal yakni lewat kopi.”

Apa yang dilaksanakan paroki itu, menurut Pastor Kristo, didukung juga oleh pemerintah. Bupati Kabupaten Belu Willybrodus Lay mengatakan saat penanaman itu seperti dikutip oleh kepala paroki itu bahwa bupati mendukung dan tidak mengintervensi program-program Gereja berkaitan dengan peningkatan ekonomi dan lingkungan hidup.

“Tahun ini ada tiga paroki yang mendapat dana hibah dari Pemda untuk pembangunan gereja. Tetapi sebagai kompensasinya, Gereja mesti melakukan sejumlah kegiatan pelestarian lingkungan hidup seperti mereboisasi lahan kritis atau peningkatan ekonomi,” kata Bupati Willy. (Felixianus Ali)

Mgr Rubiyatmoko menerima kunjungan Gubernur Jawa Tengah di Hari Natal

Kam, 04/01/2018 - 11:30

Hari Natal 25 Desember 2017, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko (Mgr Rubi) mendapat banyak ucapan selamat, bukan hanya dari umat, para imam dan kaum religius, tetapi juga dari umat non-Katolik, pemerintah, khususnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Saat para suster OSF dan para mahasiswa Manggarai sedang bernyanyi di teras rumah uskup, Gubernur Ganjar Pranowo bersama rombongan datang menyampaikan ucapan Selamat Natal kepada Mgr Ruby dan para anggota kuria.

Selain gubernur, datang juga bersama-sama Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Kepala Badan Kesbangpol Jateng dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng.

Rombongan Serikat Paguyuban Petani Qariyah Thayyibah (SPPQT) Salatiga yang dipimpin Ahmad Bahrudin dan mahasiswa-mahasiswi jurusan Studi Agama-agama Universitas Walisongo Semarang juga datang mengucapkan selamat Natal.

Mgr Rubi mengatakan kepada wartawan bahwa dia sangat senang menerima kunjungan gubernur rombongannya termasuk pimpinan FKUB, “yang bagi kami sungguh-sungguh merupakan sebuah kehormatan dan menjadi bukti kesatuan di antara kita.”

Mgr Rubi berharap, momen Natal itu membawa implikasi positif dalam kehidupan bersama. “Orang-orang Katolik diharapkan menjadi pembawa damai, pembawa kerukunan dan persatuan bagi bangsa Indonesia ini. Apalagi di saat sangat mendesak, saat bangsa Indonesia itu terguncang oleh berbagai macam prahara keterpecahan.”

Banyak hal nampaknya ingin menggerogoti Pancasila, menggerogoti kesatuan bangsa, tegas Mgr Rubi seraya berharap dengan Natal ini, “kita semua diajak membangun kembali, merajut kembali kesatuan bangsa ini dengan mencoba untuk hidup berdamai dengan orang lain.”

Gubernur dan rombongan melanjutkan kunjungannya ke tempat lain, namun rumah uskup masih dikunjungi berbagai pihak. Suster-suster CM datang bernyanyi di hadapan para uskup dan tamu, dan Mgr Rubi bersama anggota kuria menyanyikan lagu Feliz Navidad bersama para suster itu diiringi gitar oleh ekonom KAS Pastor Aria Dewanta SJ.

Sekretaris FKUB Jawa Tengah Taslim Syahlan senang dengan pertemuan itu. “Ketika berjabat erat dengan Bapak Uskup Mgr Robertus Rubiyatmoko ada getaran kedamaian yang tulus. Sama sekali tidak muncul dalam perasaan saya bahwa beliau adalah ‘orang lain’ tapi beliau adalah ‘saudara saya’. Bahkan kami kompak bercanda ‘kok kumis kita sama-sama tebal ya’ Inilah yang spontan saya dan beliau tertawa lepas lalu saling berpelukan. Saya sangat berharap bisa ‘semakin dekat’ dengan beliau dalam tekad memperkokoh persaudaraan sejati,” kata Taslim Syahlan.(Lukas Awi Tristanto)

 

Di hari terakhir 2017, OFM Kapusin kehilangan mantan provinsial, mantan Vikjen Pontianak

Kam, 04/01/2018 - 09:10

Tanggal 31 Desember 2017 pukul 12.20 WIB, Pastor Petrus Rostandy OFMCap yang bersama beberapa tokoh awam pernah mendirikan sebuah yayasan pendidikan, yang pernah menjadi kepala paroki Katedral Pontianak, yang pernah menjadi Vikjen Keuskupan Agung Pontianak dan yang selama dua periode menjadi provinsial OFMCap meninggal karena sakit di Rumah Sakit Mitra Medika Pontianak.

Setelah disemayamkan di kapel Rumah Retret Tirta Ria dan Misa Requiem di Gereja Santo Agustinus, imam yang lahir di Pontianak, 6 Desember 1942, dengan nama Simon Rostandy dari pasangan Cosmas Tan Tek Hong dan Lucia Ang Hui Khim itu dimakamkan di Kerkop Santo Yusuf Sungai Raya, 2 Januari 2018.

Menurut catatan yang beredar, benih panggilan imamatnya sudah tumbuh di hati Simon sejak dia menjadi putra altar dan ibunya aktif di gereja. Maka, tanggal 1 Agustus 1964, Simon masuk Komunitas Ordo Fransiskan Kapusin, dan mengganti namanya dari Simon menjadi Petrus sejak belajar di Seminari Tinggi Parapat di Sumatera Utara.

Setelah mengucapkan kaul kekal, 2 Agustus 1969, Frater Petrus Rostandy OFMCap menerima tahbisan imamat dari Uskup Agung Pontianak saat itu, Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OMFCap, di Gereja Katedral Pontianak, 15 Juli 1972.

Setelah kembali dari Roma dengan lisensiat di bidang sosiologi, imam itu bertahun-tahun berkecimpung di Perguruan Tinggi Widya Dharma Pontianak dan bersama Petrus Djuman, Widjaja Tandra, dan Peit Andjioe Nyangun mendirikan Yayasan Widya Dharma yang menaungi STIE Widya Dharma (WD), STMIK Widya Dharma, ASM Widya Dharma, ABA Widya Dharma yang semuanya berlokasi di Pontianak.

Mantan kepala Paroki Katedral Pontianak (1979-2003 dan 2009-1010)  serta Vikjen Keuskupan Pontianak (1989-2006) itu pernah mejabat provinsial OFMCap (2003-2009) setelah sebelumnya menjadi anggota Dewan Pimpinan Ordo (1976-2003).

Selain menjadi moderator WKRI dan PMKRI Pontianak, dan tetap mengurusi Yayasan Widya Dharma, Yayasan Gembala Baik, dan Legio Maria, Pastor Petrus Rostandy OFMCap pernah juga menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan Sabatu yang menaungi Pusat Rehabilitasi Anak-anak Cacat Fisik di Pontianak.(aop)

 

Lilin-lilin kecil yang dinyalakan umat Kristiani di hari Natal ingatkan nilai saling mengasihi

Rab, 03/01/2018 - 11:24

Ketika melihat lilin-lilin kecil dalam Natal Bersama Nasional 2017 di Rumah Radakng, Pontianak, Kalbar, 28 Desember 2017, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa lilin-lilin kecil yang akan dinyalakan umat Kristiani dalam perayaan Natal di seluruh tanah air “menjadi lambang terang di dalam kehidupan, cahaya yang mengingatkan kita akan nilai-nilai keutamaan bahwa manusia harus saling mengasihi, saling menjaga dan saling mencintai.”

Nilai-nilai itu, lanjut Presiden Jokowi, dibutuhkan Indonesia pada hari ini maupun di masa-masa yang akan datang terlebih dalam menjalani kodrat kita untuk hidup dalam keragaman, dalam kemajemukan, dalam kebinekaan. “Keberagaman yang perlu dirawat dengan cinta kasih untuk terus menjaga persaudaraan, menjaga kebersamaan, menjaga kerukunan dalam jalinan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan balutan cinta kasih, kita akan saling menghormati, kita akan saling menghargai, kita akan saling menjaga, kita akan saling melindungi sesama anak bangsa,” kata presiden.

Selain ibu negara, nampak juga hadir pada perayaan itu Wakil Presiden keenam Try Sutrisno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri ESDM yang menjadi Ketua Perayaan Natal Bersama Nasional 2017 Ignasius Jonan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta Gubernur Kalimantan Barat Cornelis.

Presiden Jokowi yakin, semangat cinta kasih yang akan menghadirkan kedamaian di hati, akan mengobarkan kedamaian di seluruh penjuru tanah air serta mewujudkan perdamaian abadi di seluruh muka bumi. “Saya percaya, semangat cinta kasih akan menjadikan kita semua bersatu untuk menghadapi semua tantangan sebagai bangsa serta secara bersama-sama berjuang menghadirkan kesejahteraan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata presiden.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi juga mengajak seluruh umat Kristiani di seluruh tanah air Indonesia agar “jangan pernah lelah bekerja di ladangnya Tuhan, jangan pernah lelah bekerja di ladang pengabdian kita masing masing, apa pun profesinya, apapun pekerjaannya, apapun status yang kita miliki baik pedagang, supir, petani, guru, PNS, TNI, Polri. Jangan pernah lelah bekerja untuk kemauan dan kejayaan bangsa dan negara,” pinta presiden.

Menyadari bahwa Tuhan sudah memberi anugerah kepada kita untuk hidup di tanah air yang kekayaan alamnya begitu melimpah dan memberi kecukupan, presiden mendorong masyarakat Indonesia untuk terus berusaha , bekerja keras dan berdoa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju, bangsa yang makmur, bangsa yang sejahtera; untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang menghadirkan kesejahteraan dan keadilan social bagi seluruh rakyatnya.”

Indonesia, lanjut presiden, sedang berlayar menuju negara maju dengan membangun manusia Indonesia, manusia Indonesia yang unggul, manusia Indonesia yang tangguh, manusia Indonesia yang bermartabat. “Perjalanan menuju kemajuan bangsa ini membutuhkan peran semua elemen bangsa, termasuk umat Kristiani, untuk menjadi manusia-manusia terbaik di bidangnya masing-masing, untuk menjadi pribadi-pribadi yang optimis, tangguh, dan selalu hidup dengan kasih sayang di hati, yang selalu membantu sesama manusia, yang selalu mau bergotong royong.”(aop)

 

Foto-foto oleh Suster Maria Seba SFIC

Mgr Agus dalam Natal Bersama 2017: Tuhan memanggil kita untuk jadi duta-duta perdamaian

Min, 31/12/2017 - 15:10

Hidup penuh kedamaian menjadi dambaan setiap orang. Damai yang dikumandangkan para Malaikat lebih dari 2000 tahun lalu masih jauh dari kenyataan. Di dunia, bahkan di negara kita tercinta, Indonesia, suasana hidup penuh kedamaian masih terus-menerus harus diperjuangkan! “Tuhan, Pencipta kita memanggil kita untuk menjadi duta-duta perdamaian.”

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus berbicara dalam kotbah Natal Bersama tingkat nasional yang dilaksanakan di Rumah Radakng, Pontianak, Kalimantan Barat, 28 Desember 2017.  “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah”(Kol.3,15), kutip Mgr Agus.

Prelatus itu lalu menggambarkan kecemasan dewasa ini saat persatuan sebagai bangsa Indonesia terancam perpecahan. “Keresahan dan kecemasan ini semakin terasa tahun-tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak, yang dalam memperjuangkan kepentingannya, secara samar-samar atau terang-terangan tergoda untuk  menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus nasional dan salah satu pilar bangsa dan negara kita, yaitu Pancasila,” tegas uskup.

Persaingan politik yang tidak sehat dan menghalalkan segala cara, fanatisme yang sempit yang bahkan tak malu-malu menggunakan agama atau kepercayaan untuk memperjuangkan kepentingan diri atau kelompoknya diungkapkan uskup itu sebagai buktinya.

“Cita-cita luhur bangsa Indonesia, sebagaimana diungkapkan dalam Pembukaan UUD 1945, untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan damai sejahtera, bukan saja di antara kita, tetapi juga di dunia, masih harus kita perjuangkan terus-menerus secara bersama-sama dengan orang-orang yang berkehendak baik,” tegas uskup.

Menurut Mgr Agus, lahirnya Tuhan Yesus ke dunia yang dirayakan hari itu merupakan bukti nyata bahwa Tuhan mau berdamai dengan umat manusia yang penuh dosa. “Kita semua, saya dan Anda! Kalau Tuhan yang karena kasih-Nya yang tanpa batas mau berdamai dengan kita, bagaimana kita membalasnya?! Apa yang pantas menjadi jawaban kita?!”

Karena dosa keangkuhan menguasai Adam dan Hawa yang bukan membalas kasih Tuhan melainkan mengingkari Tuhan bahkan ingin lebih Tinggi dari Tuhan, maka mereka  diusir dari firdaus. “Berapa banyak orang dewasa ini dikuasai oleh nafsu, tidak pernah puas, keangkuhan dan merasa diri mampu sehingga bukan hanya orang lain tidak dibutuhkan, tetapi Tuhan pun diabaikannya bahkan tidak dipedulikannya lagi,” tegas uskup.

Bahkan prelatus itu menegaskan, ada orang yang merasa hidup akhirat seakan-akan tidak ada dan hidup mereka seakan-akan tak dapat mati. “Kalau hidup kekal tidak ada, rugi saya jadi pastor! Rugi suster dan bruder hidup tanpa nikah!” kata Mgr Agus seraya menegaskan bahwa karena ada hidup kekal maka kaum berjubah mau hidup seperti itu.

Oleh karena itu, Mgr Agus mengajak umat Katolik dan umat Kristen untuk mawas diri. “Tuhan sudah mengulurkan tangan-Nya seluas-luasnya agar kita kembali ke pangkuan-Nya, agar kita memperoleh kembali Firdaus yang hilang, agar kita memperoleh hidup yang kekal.”

Itu bukan berarti  bahwa kita tidak boleh hidup enak didunia ini. “Tidak dilarang kita punya harta yang banyak, rumah atau mobil yang bagus, jabatan yang tinggi, istri yang cantik, dan suami yang ganteng. Yesus pun selama masa hidup-Nya tidak mau bahwa manusia menderita. Maka Yesus menyembuhkan banyak orang yang sakit, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang bisu berbicara, yang tuli mendengar, yang lapar dikasih makan, bahkan Lazarus yang mati dibangkitkan.”

Tetapi, lanjut uskup agung itu, “Yesus  mengingatkan bahwa makanan yang sesungguhnya adalah yang turun dari surga, diri-Nya sendiri, sehingga siapa yang percaya kepada-Nya akan hidup, tidak akan mati.

Tuhan sudah mengulurkan tangan sebesar-besarnya untuk berdamai dengan kita umat manusia yang penuh dosa ini!”

Maka, tidak ada jawaban atau jalan lain, tegas Mgr Agus, selain percaya kepada Yesus Sang Penyelamat, yang mendamaikan kita dengan Allah Bapa, Sang Pencipta. “Kalau Bapa Sang Pencipta mengulur tangan selebar-lebarnya untuk berdamai dengan kita, manusia yang penuh dosa ini, maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk membalasnya dengan sikap untuk selalu siap sedia untuk berdamai dengan orang lain, dengan sesama, bahkan dengan sesama yang berbuat jahat kepada kita.”

Seraya menyadarkan umat Kristiani bahwa mereka dipanggil untuk merajut kerukunan dan kehangatan persaudaraan, Mgr Agus menegaskan bahwa mereka dipanggil oleh Sang Juru Selamat yang adalah “Jalan Kebenaran dan Hidup” (Yoh.14,6) untuk mampu merendahkan diri dan membuka diri satu sama lain. “Dalam semangat itulah, kita diundang untuk belajar mengulurkan kebaikan dan kasih kepada sesama. Kita dipanggil untuk saling mengampuni dan memaafkan.”

Mgr Agus mengakhiri kotbahnya dengan mengajak umat berdoa “agar perayaan Natal tahun ini mendorong dan menyemangati kita semua untuk belajar dan mengembangkan kemampuan untuk menerima perbedaan dan mensyukurinya sebagai kekayaan kehidupan bersama di Negeri kita tercinta ini, Indonesia.”

“Mari kita menghidupi dan mengembangkan damai sejahtera yang merupakan anugerah dari Allah, dengan jalan merangkul sesama, serta memajukan kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Hanya dengan demikian, kita dapat memberi kesaksian bahwa damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hati kita.”(aop)

Foto-foto diambil oleh PEN@ Katolik/Suster Maria Seba SFIC

Umat Kristiani bersyukur atas tanah air beraneka ragam, ratusan suku dan budaya serta Pancasila

Min, 31/12/2017 - 11:23

 

Perayaan Natal Bersama tingkat nasional telah berlangsung Rumah Radakng, Pontianak, Kalimantan Barat, tanggal 28 Desember 2017. Salah satu yang menonjol dalam peristiwa itu adalah Doa Natal Oikoemene Nasional. PEN@ Katolik menurunkan isi doa itu secara lengkap:

Doa Natal Oikoumene Nasional

Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin.

Allah, Bapa kami, Engkau telah menciptakan alam semesta sebagai kediaman umat manusia

Pada kesempatan yang sangat membahagiakan ini, di mana kami merayakan peringatan lahirnya Sang Penyelamat Manusia, Raja Damai, Tuhan kami Yesus Kristus, kami ingin menghaturkan syukur yang berlimpah kepada-Mu, Bapa kami yang Mahabaik.

Kami bersyukur atas tanah air kami, Indonesia, yang luas dengan isinya yang beraneka ragam, lautan dengan ribuan pulau, gunung-gemunung dan dataran yang luas, hutan belantara,ikan-ikan di laut, burung-burung di udara semua hewan di daratan, semuanya menyemarakkan tanah air kami.

Kami bersyukur atas ratusan suku dan aneka budaya serta bahasa yang Kauhimpun menjadi satu bangsa dan satu bahasa. Indonesia.

Kami bersyukur karena kami mempunyai Pancasila sebagai salah satu pilar hidup berbangsa dan bernegara.

Kami bersyukur atas pembangunan di tanah air kami, atas segala sarana dan prasarana yang tersedia bagi rakyat kami.

Terlebih-lebih kami menghaturkan syukur yang tak terhingga, karena Engkau mencintai kami tanpa batas dengan mengutus Putra-Mu sendiri ke dunia ini untuk berdamai dan menyelamatkan kami.

Dalam suasana penuh damai dan rasa syukur kami ini, kami mohon supaya Engkau tetap mencintai serta melindungi bangsa dan negara kami, Indonesia.

Dalam suasana penuh rahmat dan syukur ini, kami mohon supaya Engkau tetap mencintai dan menuntun para pemimpin bangsa kami dari pusat pemerintahan sampai para pemimpin di desa-desa dan di dusun-dusun.

Secara khusus kami mohon supaya Engkau tetap mencintai, menuntun, serta memberikan kesehatan yang prima kepada Bapak Presiden kami,Bapak Joko Widodo dan Bapak Wakil Presiden kami Bapak Yusuf Kala,agar dalam kasih dan bimbingan-Mu, Bapak Presiden serta Bapak Wakil Presiden, serta para pemimpin  kami mampu mewujudkan Indonesia yang penuh dengan kedamaian, sehingga masyarakat yang adil dan makmur serta merata yang menjadi cita-cita bangsa kami sungguh-sungguh menjadi kenyataan.

Mampukanlah kami sebagai rakyat Indonesia dalam naungan kasih-Mu mampu berperan bersama-sama dengan para pemimpin kami, mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan merata tersebut.

Bebaskan bangsa dan tanah air kami dari bahaya, bencana alam, kelaparan, wabah penyakit, perpecahan, pertikaian,serta peperangan.

Berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu menerima perbedaan, baik itu perbedaan karena suku, golongan maupun perbedaan karena agama atau kepercayaan.

Allah Bapa yang mahabaik, jadikanlah kami pembawa damai.

Bila terjadi kebencian, jadikanlah kami pembawa cintakasih.

Bila terjadi penghinaan, jadikanlah kami pembawa pengampunan.

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah kami pembawa kerukunan.

Bila terjadi kebimbangan,jadikanlah  kami pembawa kepastian.

Bila terjadi kesesatan, jadikanlah kami pembawa kebenaran.

Bila terjadi kecemasan, jadikanlah kami pembawa harapan.

Bila terjadi kesedihan, jadikanlah kami sumber kegembiraan.

Bila terjadi kegelapan, jadikanlah kami pembawa terang.

Tuhan, semoga kami lebih ingin menghibur daripada dihibur,

memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.

Sebab dengan memberi, kami menerima, dengan mengampuni, kami diampuni.

Semua ini kami haturkan kehadirat-Mu, Allah Bapa kami yang Mahabaik, melalui Putera-Mu Tuhan kami Yesus Kristus, Sang Raja damai, yang hidup dan meraja bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Demi nama Bapa … Amin

Pontianak, 28 Desember 2017.(aop)

Pastor Andang Binawan SJ: Makan Siang Natal menyapa yang lemah untuk ikut sukacita Natal

Sab, 30/12/2017 - 14:51

Gerakan makan siang Natal merupakan kegiatan rutin yang sudah dilaksanakan beberapa tahun terakhir ini di wilayah KAJ untuk menyapa mereka yang lemah, tersingkir dan kurang mendapat perhatian, dan untuk memberikan kepada mereka sukacita di hari Natal yang penuh kegembiraan.

Vikep Keuskupan Agung Jakarta Pastor  Alexius Andang Binawan SJ berbicara di sela-sela Makan Siang Natal di Gedung Karya Pastoral Paroki Santa Helena, Curug, Tangerang, 25 Desember 2017, pukul 15.00. Acara itu dihadiri Kepala Paroki Santa Helena Pastor Lucas Sulaeman OSC, Pastor Adhi Pramono OSC dan Pastor Cornelius Balok Priyanto Basuki OSC.

Gerakan Makan Siang Natal KAJ yang dilaksanakan bersama oleh berbagai kelompok kategorial paroki dan serentak di 15 titik itu, lanjut Pastor Andang, bukan saja menumbuhkan iman umat tapi merupakan tanda bahwa “umat Katolik mewujudkan imannya secara nyata.”

Ketua Panitia Makan Siang Natal, Mikael Syah, menjelaskan gerakan itu pertama kali diperkenalkan oleh Kelompok Sant Egidio yang kemudian dilakukan secara berkala di Paroki Santa Helena dan paroki-paroki lain. “Khusus di Helena, ini merupakan tahun keempat pelaksanaan Makan Siang Natal ini,” tegasnya seraya menambahkan bahwa yang diundang adalah keluarga dari anggota ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) dan seluruh anggota karyawan paroki itu.

Sebelum pelaksanaan acara di Paroki Santa Helena, seluruh anggota ASAK diijinkan memesan terlebih dahulu kado yang dibutuhkan. Ada yang memesan sepatu, baju, tas sekolah dan sebagainya. Semua pesanan dipenuhi oleh panitia yang terdiri atas Komunitas Pria Katolik (KPK) Santa Helena dan didukung oleh Wanita Katolik RI Cabang Santa Helena, Legio Maria, dan OMK.

 

Dasrini (46 tahun), seorang Muslim yang ikut hadir mengatakan senang atas kegiatan itu, serta berharap tahun depan ia bisa diundang dan dapat menghadiri acara seperti itu.

 

Veronika Bella Noverain, pemeran Bunda Maria dalam acara itu sangat senang bisa menjadi pemeran Bunda Maria dan merasakan suka cita bersama seluruh undangan dan boleh makan bersama dalam acara itu.

 

Makan Siang Natal dilakukan di 15 titik, 10 di Jakarta, 4 di Tangerang dan 1 di Bekasi. Jumlah keseluruhan yang hadir dalam Makan Siang Natal 2017 sebanyak 3.783 undangan, termasuk 380 orang yang hadir di Paroki Santa Helena. (Konradus R Mangu)

Pemilihan Pastor Abzalón Alvarado sebagai Superior General MSC, tanda perubahan

Jum, 29/12/2017 - 17:26

Pastor Mario Absalón Alvarado Tovar MSC adalah superior general Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) terpilih dalam kapitel umum September 2017. Pemilihan superior general dari “dunia ketiga” yang pertama dengan semangat “option for the poor” itu dirasakan sebagai sebuah perubahan.

Indonesia akan sangat merasakan pembaruan ini, karena Indonesia adalah provinsi MSC dengan jumlah anggota terbesar sedunia yakni 4 uskup, 231 imam, 23 bruder, 77 frater, 20 novis, 21 pranovis, dan 11 postulan (data 2017).

Untuk melihat apa yang akan menjadi penekanan Tarekat MSC yang memiliki 1663 anggota sedunia ini untuk periode enam tahun mendatang dan seterusnya, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menemui Pastor Absalón Alvarado MSC di Generalat MSC, Via Asmara 11, Roma, di awal Desember 2017 untuk sebuah wawancara.

PEN@ Katolik: Bagaimana Pastor mengartikan terpilihnya Pastor sebagai Superior General MSC?

PASTOR MARIO ABSALÓN ALVARADO TOVAR MSC: Saya kira sebagian besar peserta Kapitel Umum MSC September 2017 menginginkan perubahan, menginginkan wajah baru untuk pelayanan ini. Maka, untuk pertama kalinya mereka memilih seseorang dari “dunia ketiga” untuk menjadi superior general. Padahal sebelumnya, superior general MSC berasal dari Eropa atau Australia. Superior General terakhir, Pastor Mark McDonald MSC, yang telah melakukan pekerjaan dengan sangat bagus, adalah Americano pertama, yang pertama dari Amerika Serikat.

Saya kira mereka menginginkan seseorang dari dunia baru, dan Roh Kudus mendorong tindakan mereka. Nama saya ada di antara nama-nama lain. Mereka lebih baik daripada saya. Saya hanya memiliki gelar PhD dalam fisioterapi dan beberapa karir, termasuk provinsial, dan ketua Konferensi Religius Guatemala yang bekerja dengan Konfederasi Religius Amerika Latin, dan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation, JPIC). Maka saya terkejut.

Saya tahu nama saya ada di daftar calon, tapi saya tidak menyangka saat ini kongregasi berani memilih seseorang dari dunia lain. Saya berasal dari negara sangat miskin, dari salah satu provinsi MSC terkecil, dan kini saya berada di sini. Saya tahu, pekerjaan ini pelayanan dan harus dikerjakan dengan rendah hati. Namun, saya punya tim yang bagus, salah satunya dari Indonesia, Pastor Paulus Polce Pitoy MSC. Yang lain dari Brazil, Belgia, dan Australia.

Apa yang akan dilakukan sekarang?

Ini saat transisi. Baru-baru ini Pastor McDonald MSC yang saya gantikan berada di sini untuk menemani saya. Para anggota Dewan Pimpinan Umum MSC yang baru akan datang Januari 2017. Yang akan kami lakukan adalah berupaya menjalankan apa yang diamanatkan oleh kapitel umum, yang menjadi prioritas dalam enam tahun ke depan.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah menghadapi tantangan budaya dan politik yang berbeda di seluruh dunia, yang sebenarnya adalah sama, yakni berjuang membela kehidupan, menjaga bumi dan ciptaan Tuhan, serta dekat dengan orang yang paling miskin.

Bumi adalah milik Tuhan yang harus dipertahankannya dari semua sistem ekonomi dunia yang mengeksploitasinya seperti kelapa sawit, pertambangan dan cara-cara lain yang menghancurkan ‘rumah kita bersama’. Itulah salah satu prioritas kami dalam JPIC.

Apa prioritas MSC saat ini?

Dalam enam tahun masa bakti ini, kami harus menghadapi provinsi barat yang menua. Sebagai provinsi mereka sedang menyusut jumlahnya. Mereka perlu bangun kembali dan memulai sesuatu yang berbeda. Kami harus mencari cara baru menjadi MSC di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Prioritas kami di sana. Kami akan bekerja sama dengan mereka. Saya baru mengunjungi dua provinsi, Belanda dan Belgia. Kenyataannya, anggota-anggota kami di sana sudah tua, beberapa di antaranya sakit berat. Mereka adalah misionaris di lima benua. Banyak orang Belanda pernah berkarya di Indonesia selama 40, 50 bahkan 60 tahun.

Prioritas lain adalah kaum awam. Sebagai tim pimpinan, kami yakin, karisma kongregasi ini bukanlah milik kami. Ini karisma dunia, karisma Gereja. Maka, karisma atau spiritualitas kami, akan terus hidup melalui kaum awam. Kalau tidak, tidak akan berhasil. Maksud saya, kaum awam sekarang adalah protagonist. Mereka selalu ada, tapi belum diakui. Awam adalah salah satu prioritas kami saat ini.

Apakah sudah ada MSC awam?

Sudah ada bahkan menjadi organisasi dunia. Namanya, Awam Keluarga Chevalier (Jules Chevalier adalah pendiri tarekat MSC). Juli lalu mereka bertemu di Brasil. Kami mencoba mempromosikannya sebagai panggilan, karena mereka bukan pembantu kami. Panggilan mereka sama pentingnya dengan panggilan kami sebagai imam. Kami mencoba bekerja sama dengan mereka. Kami adalah pelayan kaum awam. Seharusnya, panggilan hidup religius atau imamat harus disadari sebagai panggilan Allah untuk melayani kaum awam, jika tidak, panggilan kami tidak ada artinya. Sayang sekali, hal itu hampir berlawanan sekarang. Padahal, Yesus Kristus datang untuk melayani bukan untuk dilayani.

Apa tujuan kepemimpinan yang baru?

Dalam berkarya di paroki-paroki, sekolah-sekolah atau proyek-proyek lainnya, yang terpenting sebagai MSC adalah jangan sampai kehilangan option for the poor. Itu akar kami. Kalau itu hilang, kami akan tersesat. Semakin jauh dari masyarakat semakin buruk hidup kami. Kami harus dekat dengan masyarakat, dekat dengan kenyataan. Tentu kami harus jalankan doa pribadi serta kehidupan spiritual secara bersama dalam biara, tetapi selalu harus dekat dengan kenyataan masyarakat. Jika jauh dari masyarakat, imam akan kehilangan dirinya. Dengan dekat dengan orang miskin, seorang imam akan diajari oleh orang miskin tentang cara menolong dirinya sendiri. Itulah salah satu tujuan utama kami enam tahun ke depan.

Langkah konkret yang akan dilaksanakan?

Kami masih harus mempersiapkannya. Sebagai tim baru, kami akan mulai membuat perencanaan di bulan Januari. Namun yang pertama adalah mendukung apa yang telah dan sedang dilakukan, karena di seluruh dunia ada banyak MSC yang sedang bekerja sangat dekat dengan masyarakat dan kami harus menemukan jawaban-jawaban. Karisma kami adalah menanggapi yang kurang baik saat ini.

Di awal pembicaraan, Pastor berbicara tentang perubahan!

Ya, inilah saat perubahan. Kami harus memikirkan cara untuk terus menjadi MSC di Eropa. Di sana kami hanya miliki anggota-anggota tua. Di Belanda, misalnya, ada proyek yang dijalankan komunitas internasional, dua dari Belanda, satu dari Indonesia dan satu dari Filipina. Mereka bekerja dengan orang-orang paling miskin di Belanda. Hal yang sama dilakukan di Belgia oleh dua orang MSC dari Kongo. Di Spanyol ada MSC dari Guatemala yang sedang bekerja di sana, dan tiga atau empat anggota dari dari Republik Dominika bekerja di Kanada.

Sekarang adalah saat perubahan. Di negara-negara seperti Indonesia, Nicaragua, Filipina dan Papua New Guinea pun harus ditemukan cara baru menjadi anggota MSC sekarang ini, karena sudah banyak yang berubah. Maka saya katakan, inilah kesempatan untuk mengartikan kembali cara memperlihatkan keadilan dan cinta Tuhan yang sejati di tengah kesulitan yang dihadapi orang-orang sekarang.

Pilihan Pastor sebagai Superior General adalah tanda perubahan?!

Ya, saya kira itu sungguh sebuah tanda (perubahan), karena saya masih muda, saya berasal dari dunia ketiga. Namun, bukan hanya saya sendiri. Ini pelayanan. Ini komitmen. Saya harus mencoba bekerja sebagai tim. Kami harus menemukan paradigma baru dalam otoritas, kerja, dan pengorganisasian kongregasi. Itu tidak mudah, tapi kami akan bisa melaksanakan yang terbaik. Ini panggilan Tuhan. Kami diminta melakukan sesuatu, bukan yang lebih baik, tetapi yang berbeda.

Ketika terpilih, Pastor langsung membasuh kaki lima misionaris mewakili lima benua. Apa artinya?

Bukan saya yang memutuskan untuk melakukannya. Itu bagian dari program. Namun, saya lakukan dengan segenap kasih saya, karena itu sangat signifikan, membasuh kaki anggota dari masing-masing benua. Itulah yang ingin saya jalani.

Benar, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, saya orang berdosa, orang lemah yang memiliki keterbatasan, saya bukan superman, tapi saya akan mencoba menjalankan tugas pelayanan yang diberikan kepada saya.

Apa komitmen Pastor dalam pelayanan ini?

Komitmen pertama menciptakan tim dengan tugas berbeda untuk berbagai tanggung jawab. Saya harus mendelegasikan atau mendistribusi (tenaga) ke berbagai wilayah kami.

Akhir pekan ini, Komunitas Meksiko akan dipindahkan dari Provinsi Kanada ke Provinsi Amerika Tengah. Maka, saya akan ke Meksiko. Ini tidak umum dalam kongregasi ini. Perpindahan komunitas terakhir terjadi tahun 1971. Ini tanda-tanda jaman. Mungkin karena Kanada tidak dapat lagi mendukung MSC di Amerika Tengah, maka setelah proses tiga tahun, Komunitas Meksiko akan jadi anggota Provinsi Amerika Tengah.

Ada semangat baru dari pimpinan Gereja untuk memberantas klerikalisme!

Beberapa hari lalu saya berbicara tentang klerikalisme dalam konferensi yang saya pimpin. Bagi saya, klerikalime bukan hanya masalah paroki. Ini bahan diskusi semua provinsi. Bagi saya, klerikalisme adalah masalah kekuasaan, bagaimana mengelola kekuasaan. Maka, klerikalisme bisa berada di antara para imam, suster, bruder dan awam.

Dalam kasus kami sebagai imam, kleriskalisme lebih buruk karena machismo, pria merasa superior. Itu jelek karena dalam budaya tertentu tidak adil dalam keluarga, khususnya dalam menghargai perempuan.

Gereja juga memberi kami banyak kekuasaan, kekuasaan publik, dan banyak imam merasa seperti manager perusahaan di paroki-paroki, padahal bukanlah demikian. Klerikalisme adalah memusatkan kekuasaan dalam diri saya sebagai imam dengan mengatakan “saya adalah bos.”

Menjadi pastor paroki kadang merasakan klerikalisme, tapi banyak pastor paroki tidak klerikalis. Tapi sulit karena kekuasaan, kekuasaan adalah sesuatu. Kami kurang mempersiapkan para imam dalam proses pembinaan. Pria muda yang baru menyelesaikan teologi ditahbiskan dan segera kami kirim ke paroki, kadang-kadang sebagai pastor paroki. Maka baru beberapa bulan melepaskan status mahasiswa dia langsung menjadi seperti bos. Jadi ada yang kurang, ada kekosongan, belum berpengalaman, belum tahu cara menjalankannya, dan timbul rasa bingung. Apabila bingung, ia tak boleh menjalankannya. Itu persoalan besar dalam Gereja dan harus dirubah.

Indonesia masih lahan subur panggilan MSC!

Saya kurang tahu tentang Indonesia karena saya belum pernah ke sana. Saya belum punya gambaran tentang Indonesia. MSC Indonesia dibutuhkan di seluruh dunia. Semua propinsi ingin memiliki imam dari Indonesia. Panggilan di sana harus terus dipromosikan. Tapi saat ini, kami harus lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Kualitas harus ditekankan, harus diperhatikan. Kalau dengan demikian jumlah fraternya menjadi sedikit, itu lebih baik.

Tetapi saya tidak tahu, saya belum penah ke sana. Tapi sebagai MSC itulah harapan besar kami. Jadi, bukan karena kebutuhan lalu dicari banyak orang untuk memenuhi seminari. Tidak, tidak, tidak.

Tapi, banyak keuskupan di Indonesia masih perlu banyak imam, karena untuk merayakan Misa saja sudah tidak cukup!

Tidak! Itu klerikalisme. Yang pertama kami harus belajar menjadi manusia. Bagaimana saya bisa membantu orang kalau saya bukan manusia seimbang. Maka seorang imam harus belajar untuk tahu mengerjakan tugasnya. Itu salah satu cobaan, hanya menjadi petugas iman untuk merayakan Misa sebagai tugas, tanpa ada nilai religius, tanpa ada nilai melayani, tanpa memberi ruang untuk awam.

Memang benar, banyak imam baru tidak mau datang ke tempat-tempat terpencil. Mereka ingin tinggal di kota karena mereka mungkin perlu wifi, komputer, dan mobil yang bagus. Ya, ini masalah seluruh dunia.

Di beberapa negara di lima benua, ada banyak imam di keuskupan yang tidak melakukan apa-apa, padahal di negara yang sama ada keuskupan yang sangat luas dengan banyak sekali paroki. Ya, kami juga punya paroki di kota besar di Nikaragua dengan 147 stasi misi, namun hanya ada tiga misionaris, dua MSC dan satu diosesan tinggal bersama. Mereka berkeliling selama 15 hari dengan naik kuda, naik bis atau berjalan kaki, dan mereka bisa pergi dua atau tiga kali setahun ke setiap stasi misi. Dan di utara Brasil, kami memiliki paroki dengan luas sekitar sepuluh ribu kilometer persegi. Berada di sana adalah sebuah tantangan.

Kami harus mempromosikan panggilan untuk misi itu dan juga panggilan untuk datang ke sini, ke Eropa, bukan untuk menjadi pekerja misi, tetapi datang ke sini untuk bekerja dengan kaum migran, orang yang tergantung pada obat terlarang, dan kaum pengungsi, serta warga miskin dan tuna wisma yang banyak di sini. Itulah fungsi panggilan itu. itu tujuan panggilan kami saat ini.

Apa sebenarnya visi pelayanan Pastor?

Visi saya membangun kembali kehidupan religius yang manusiawi, gereja yang manusiawi,  seperti banyak kali dikatakan oleh Paus Fransiskus. Paus pernah mengatakan bahwa gereja harus seperti rumah sakit untuk orang-orang berdosa, bukan gereja indah dan megah namun kosong. Kosong bukan berarti tak ada orang, tetapi kosong atau tidak ada nilai, tidak ada harapan, dan tidak ada kedekatan.

Jadi visi saya adalah berusaha mempromosikan wajah Tuhan yang manusiawi, karena ini bagian dari karisma kami, Misionaris Hati Kudus. Hati membuat kami bertekad mencintai seperti Yesus mencintai. Cinta harus dikaitkan dengan kehidupan manusia, nilai-nilai manusiawi, kalau tidak kami hanya akan berbicara, berbicara, berbicara, menulis buku, menulis laporan.

Selain itu kami tidak perlu memperhatikan kaum muda. Ini tantangan besar seluruh dunia. Kami kehilangan anggota muda dalam komunitas kami, dalam misi kami. Maka, kami perlu banyak memperhatikannya.

Apakah ada Kaum Muda MSC?

Ya, kami punya kaum muda MSC, tapi tidak seperti keluarga awam MSC. Beberapa negara telah mengaturnya, tapi kami tidak punya jaringan yang seharusnya kami buat. Sekarang keluarga awam atau Lay Chavelier Family sedang memikirkan cara mempromosikan Youth Chevalier Family.***

Mgr Suharyo tegaskan klaim Presiden Donald Trump tak sesuai Resolusi PBB dan pendirian Paus

Jum, 29/12/2017 - 00:43

Belum lama ini, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo berkumpul bersama sejumlah tokoh agama lain di kantor Pengurus Pusat Nahdatul Ulama (NU) untuk membuat pernyataan bersama berkaitan dengan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel.

Dalam pertemuan itu disepakati bahwa anggota dan warga dunia yang tergabung dalam organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seyogyanya mengikuti Resolusi PBB.

Tanggal 21 Desember 2017, sebanyak 128 negara menentang Presiden Donald Trump dan mendukung resolusi Majelis Umum PBB yang mendesak Amerika Serikat menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sementara itu, 9 negara menolak, 35 negara abstain, dan 21 negara tidak memberikan suara.

Dengan gambaran itu Mgr Suharyo menjawab pertanyaan seorang wartawan dalam acara konferensi pers dan penyampaian Pesan Natal yang berlangsung di Gedung Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), 25 Desember 2017.

Dalam acara yang dipandu oleh Kepala Bagian Humas Gereja Katedral Jakarta Sisyana Suwadie dan yang dihadiri puluhan jurnalis media cetak dan elektronik itu, Mgr Suharyo didampingi oleh  Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr dan Kepala Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Hani Rudi Hartoko SJ.

“Apa yang diungkapkan oleh Presiden Donald Trump ternyata tidak sesuai dengan Resolusi PBB. Alasan lainnya, umat Katolik tunduk kepada pimpinan tertinggi umat Katolik dunia di Roma yaitu Paus, yang selama ini secara eksplisit menolak apa yang dikatakan oleh Donald Trump,” kata Mgr Suharyo.

Lebih lanjut Mgr Suharyo mengatakan, pemerintah Indonesia telah menyatakan sikap sangat tegas menolak pernyataan Donald Trump, “maka sebagai umat Katolik yang ada di Indonesia mengikuti apa  yang telah menjadi sikap dasar pemerintah Indonesia.”

Menurut Uskup Agung Jakarta itu, penyelesaian secara cepat atau lambat sangat tergantung dari kedua negara (Palestina dan Israel) dan konflik yang sedang melanda kedua negara itu bukan persoalan agama  melainkan persoalan politik dan kemanusiaan yang  telah berlangsung sejak bertahun-tahun lamanya.

Maka, lanjut Mgr Suharyo, peran negara lain di liar kedua negara itu adalah “memastikan dan memfasilitasi perundingan, sehingga menyelesaikan dengan cara damai tanpa kekerasan.”

Mgr Suharyo juga menjelaskan tentang Arah Dasar (Ardas) KAJ yang menekankan setiap tahun sejak 2016, umat Katolik merenungkan setiap sila Pancasila. Selama tahun 2017 umat Katolik merenungkan “makin adil dan makin beradab” dan tahun 2018 seluruh umat akan mendalami sila ketiga “Persatuan Indonesia.”

Setiap tema, lanjut uskup, direnungkan kemudian dijabarkan dalam berbagai kegiatan dan pembuatan Rosario Merah Putih merupakan salah satu kegiatan umat untuk mewujudkan setiap gagasan atau tema setiap tahun itu. “Umat Katolik dikenal sangat tekun berdoa kepada Bunda Maria, bukan hanya untuk dirinya dan keluarga tapi bagi bangsa dan negaranya. Lewat doa yang didaraskan itu, diharapkan masyarakat yang sejahtera bisa diwujudkan,” tegas uskup agung.

Gerakan untuk mencapai Indonesia  sejahtera, menurut Mgr Suharyo, belum selesai dan umat Katolik sebagai bagian dari negara ini melakukan hal-hal itu, “bahkan menjadi habitus baru dalam kehidupannya.” (Konradus  R. Mangu)

Pemilihan Pastor Abzalón Alvarado sebagai Superior General MSC, tanda perubahan

Kam, 28/12/2017 - 01:17

 

Pastor Mario Absalón Alvarado Tovar MSC adalah superior general Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) terpilih dalam kapitel umum September 2017. Pemilihan superior general dari “dunia ketiga” yang pertama dengan semangat “option for the poor” itu dirasakan sebagai sebuah perubahan.

Indonesia akan sangat merasakan pembaruan ini, karena Indonesia adalah provinsi MSC dengan jumlah anggota terbesar sedunia yakni 4 uskup, 231 imam, 23 bruder, 77 frater, 20 novis, 21 pranovis, dan 11 postulan (data 2017).

Untuk melihat apa yang akan menjadi penekanan Tarekat MSC yang memiliki 1663 anggota sedunia ini untuk periode enam tahun mendatang dan seterusnya, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menemui Pastor Absalón Alvarado MSC di Generalat MSC, Via Asmara 11, Roma, di awal Desember 2017 untuk sebuah wawancara.

PEN@ Katolik: Bagaimana Pastor mengartikan terpilihnya Pastor sebagai Superior General MSC?

PASTOR MARIO ABSALÓN ALVARADO TOVAR MSC: Saya kira sebagian besar peserta Kapitel Umum MSC September 2017 menginginkan perubahan, menginginkan wajah baru untuk pelayanan ini. Maka, untuk pertama kalinya mereka memilih seseorang dari “dunia ketiga” untuk menjadi superior general. Padahal sebelumnya, superior general MSC berasal dari Eropa atau Australia. Superior General terakhir, Pastor Mark McDonald MSC, yang telah melakukan pekerjaan dengan sangat bagus, adalah Americano pertama, yang pertama dari Amerika Serikat.

Saya kira mereka menginginkan seseorang dari dunia baru, dan Roh Kudus mendorong tindakan mereka. Nama saya ada di antara nama-nama lain. Mereka lebih baik daripada saya. Saya hanya memiliki PhD dalam fisioterapi dan beberapa karir, termasuk provinsial, dan ketua Konferensi Religius Guatemala yang bekerja dengan Konfederasi Religius Amerika Latin, dan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation, JPIC). Maka saya terkejut.

Saya tahu nama saya ada di daftar calon, tapi saya tidak menyangka saat ini kongregasi berani memilih seseorang dari dunia lain. Saya berasal dari negara sangat miskin, dari salah satu provinsi MSC terkecil, dan kini saya berada di sini. Saya tahu, pekerjaan ini pelayanan dan harus dikerjakan dengan rendah hati. Namun, saya punya tim yang bagus, salah satunya dari Indonesia, Pastor Paulus Polce Pitoy MSC. Yang lain dari Brazil, Belgia, dan Australia.

Apa yang akan dilakukan sekarang?

Ini saat transisi. Baru-baru ini Pastor McDonald MSC yang saya gantikan berada di sini untuk menemani saya. Para anggota Dewan Pimpinan Umum MSC yang baru akan datang Januari 2017. Yang akan kami lakukan adalah berupaya menjalankan apa yang diminta oleh kapitel umum, yang menjadi prioritas dalam enam tahun ke depan.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah menghadapi tantangan budaya dan politik yang berbeda di seluruh dunia, yang sebenarnya adalah sama, yakni berjuang membela kehidupan, menjaga bumi dan ciptaan Tuhan, serta dekat dengan orang yang paling miskin.

Bumi adalah milik Tuhan yang harus dipertahankannya dari semua sistem ekonomi dunia yang mengeksploitasinya seperti kelapa sawit, pertambangan dan cara-cara lain yang menghancurkan ‘rumah kita bersama’. Itulah salah satu prioritas kami dalam JPIC.

Apa prioritas MSC saat ini?

Dalam enam tahun masa bakti ini, kami harus menghadapi provinsi barat yang menua. Sebagai provinsi mereka sedang sekarat. Mereka perlu bangun kembali dan memulai sesuatu yang berbeda. Kami harus mencari cara baru menjadi MSC di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Prioritas di sana. Kami akan bekerja sama dengan mereka. Saya baru mengunjungi dua provinsi, Belanda dan Belgia. Kenyataannya, anggota-anggota kami di sana sudah tua, beberapa di antaranya sakit berat. Mereka adalah misionaris di lima benua. Banyak orang Belanda pernah berkarya di Indonesia selama 40, 50 bahkan 60 tahun.

Prioritas lain adalah kaum awam. Sebagai tim pimpinan, kami yakin, karisma kongregasi ini bukanlah milik kami. Ini karisma dunia, karisma Gereja. Maka, karisma atau spiritualitas kami, akan terus hidup melalui kaum awam. Kalau tidak, tidak akan berhasil. Maksud saya, kaum awam sekarang adalah protagonist. Mereka selalu ada, tapi belum diakui. Awam adalah salah satu prioritas kami saat ini.

Apakah sudah ada MSC awam?

Sudah ada bahkan menjadi organisasi dunia. Namanya, Awam Keluarga Chevalier (Jules Chevalier adalah pendiri tarekat MSC). Juli lalu mereka bertemu di Brasil. Kami mencoba mempromosikannya sebagai panggilan, karena mereka bukan pembantu kami. Panggilan mereka sama pentingnya dengan panggilan kami sebagai imam. Kami mencoba bekerja sama dengan mereka. Kami adalah pelayan kaum awam. Seharusnya, panggilan hidup religius atau imamat harus disadari sebagai panggilan Allah untuk melayani kaum awam, jika tidak, panggilan kami tidak ada artinya. Sayang sekali, hal itu hampir berlawanan sekarang. Padahal, Yesus Kristus datang untuk melayani bukan untuk dilayani.

Apa tujuan kepemimpinan yang baru?

Dalam berkarya di paroki-paroki, sekolah-sekolah atau proyek-proyek lainnya, yang terpenting sebagai MSC adalah jangan sampai kehilangan option for the poor. Itu akar kami. Kalau itu hilang, kami akan tersesat. Semakin jauh dari masyarakat semakin buruk hidup kami. Kami harus dekat dengan masyarakat, dekat dengan kenyataan. Tentu kami harus jalankan doa pribadi serta kehidupan spiritual secara bersama dalam biara, tetapi selalu harus dekat dengan kenyataan masyarakat. Jika jauh dari masyarakat, imam akan kehilangan dirinya. Dengan dekat dengan orang miskin, seorang imam akan diajari oleh orang miskin tentang cara menolong dirinya sendiri. Itulah salah satu tujuan utama kami enam tahun ke depan.

Langkah konkret yang akan dilaksanakan?

Kami masih harus mempersiapkannya. Sebagai tim baru, kami akan mulai membuat perencanaan di bulan Januari. Namun yang pertama adalah mendukung apa yang telah dan sedang dilakukan, karena di seluruh dunia ada banyak MSC yang sedang bekerja sangat dekat dengan masyarakat.dan kami harus menemukan jawaban-jawaban. Karisma kami adalah menanggapi yang kurang baik saat ini.

Di awal pembicaraan, Pastor berbicara tentang perubahan!

Ya, inilah saat perubahan. Kami harus memikirkan cara untuk terus menjadi MSC di Eropa. Di sana kami hanya miliki anggota-anggota tua. Di Belanda, misalnya, ada proyek yang dijalankan komunitas internasional, dua dari Belanda, satu dari Indonesia dan satu dari Filipina. Mereka bekerja dengan orang-orang paling miskin di Belanda. Hal yang sama dilakukan di Belgia oleh dua orang MSC dari Kongo. Di Spanyol ada MSC dari Guatemala yang sedang bekerja di sana, dan tiga atau empat anggota dari dari Republik Dominika bekerja di Kanada.

Sekarang adalah saat perubahan. Di negara-negara seperti Indonesia, Nicaragua, Filipina dan Papua New Guinea pun harus ditemukan cara baru menjadi anggota MSC sekarang ini, karena sudah banyak yang berubah. Maka saya katakan, inilah kesempatan untuk mengartikan kembali cara memperlihatkan keadilan dan cinta Tuhan sejati di tengah kesulitan yang dihadapi orang-orang sekarang.

Pilihan Pastor sebagai Superior General adalah tanda perubahan?!

Ya, saya kira itu sungguh sebuah tanda (perubahan), karena saya masih muda, saya berasal dari dunia ketiga. Namun, bukan hanya saya sendiri. Ini pelayanan. Ini komitmen. Saya harus mencoba bekerja sebagai tim. Kami harus menemukan paradigma baru dalam otoritas, kerja, dan pengorganisasian kongregasi. Itu tidak mudah, tapi kami akan bisa melaksanakan yang terbaik. Ini panggilan Tuhan. Kami diminta melakukan sesuatu, bukan yang lebih baik, tetapi yang berbeda.

Ketika terpilih, Pastor langsung membasuh kaki lima misionaris mewakili lima benua. Apa artinya?

Bukan saya yang memutuskan untuk melakukannya. Itu bagian dari program. Namun, saya lakukan dengan segenap kasih saya, karena itu sangat signifikan, membasuh kaki anggota dari dari masing-masing benua. Itulah yang ingin saya jalani.

Benar, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, saya orang berdosa, orang lemah yang memiliki keterbatasan, saya bukan superman, tapi saya akan mencoba menjalankan tugas pelayanan yang diberikan kepada saya.

Apa komitmen Pastor dalam pelayanan ini?

Komitmen pertama menciptakan tim dengan tugas berbeda untuk berbagai tanggung jawab. Saya harus mendelegasikan atau mendistribusi (tenaga) ke berbagai wilayah kami.

Akhir pekan ini, Komunitas Meksiko akan dipindahkan dari Provinsi Kanada ke Provinsi Amerika Tengah. Maka, saya akan ke Meksiko. Ini tidak umum dalam kongregasi ini. Perpindahan komunitas terakhir terjadi tahun 1971. Ini tanda-tanda jaman. Mungkin karena Kanada tidak dapat lagi mendukung MSC lagi, maka setelah proses tiga tahun, Komunitas Meksiko akan jadi anggota Provinsi Amerika Tengah.

Ada semangat baru dari pimpinan Gereja untuk memberantas klerikalisme!

Beberapa hari lalu saya berbicara tentang klerikalisme dalam konferensi yang saya pimpin. Bagi saya, klerikalime bukan hanya masalah paroki. Ini bahan diskusi semua provinsi. Bagi saya, klerikalisme adalah masalah kekuasaan, bagaimana mengelola kekuasaan. Maka, klerikalisme bisa berada di antara para imam, suster, bruder dan awam.

Dalam kasus kami sebagai imam, kleriskalisme lebih buruk karena machismo, pria merasa superior. Itu jelek karena dalam budaya tertentu tidak adil dalam keluarga, khususnya dalam menghargai perempuan. Gereja juga memberi kami banyak kekuasaan, kekuasaan publik, dan banyak imam merasa seperti pemilik di paroki-paroki, padahal bukanlah demikian. Klerikalisme adalah memusatkan kekuasaan dalam diri saya sebagai imam dengan mengatakan “saya adalah bos.”

Menjadi pastor paroki kadang merasakan klerikalisme, tapi banyak pastor paroki tidak klerikalis. Tapi sulit karena kekuasaan, kekuasaan adalah sesuatu. Kami kurang mempersiapkan para imam dalam proses pembinaan. Pria muda yang baru menyelesaikan teologi ditahbiskan dan segera kami kirim ke paroki, kadang-kadang sebagai pastor paroki. Maka baru beberapa bulan melepaskan status mahasiswa dia langsung menjadi seperti bos. Jadi ada yang kurang, ada kekosongan, belum berpengalaman, belum tahu cara menjalankannya, dan timbul rasa bingung. Apabila bingung, ia tak boleh menjalankannya. Itu persoalan besar dalam Gereja dan harus dirubah.

Indonesia masih lahan subur panggilan MSC!

Saya kurang tahu tentang Indonesia karena saya belum pernah ke sana. Saya belum punya gambaran tentang Indonesia. MSC Indonesia dibutuhkan di seluruh dunia. Semua propinsi ingin memiliki imam dari Indonesia. Panggilan di sana harus terus dipromosikan. Tapi saat ini, kami harus lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Kualitas harus ditekankan, harus diperhatikan. Kalau dengan demikian jumlah fraternya menjadi sedikit, itu lebih baik.

Tetapi saya tidak tahu, saya belum penah ke sana. Tapi sebagai MSC itulah harapan besar kami. Jadi, bukan karena kebutuhan lalu dicari banyak orang untuk memenuhi seminari. Tidak, tidak, tidak.

Tapi, banyak keuskupan di Indonesia masih perlu banyak imam, karena untuk merayakan Misa saja sudah tidak cukup!

Tidak! Itu klerikalisme. Yang pertama kami harus belajar menjadi manusia. Bagaimana saya bisa membantu orang kalau saya bukan manusia seimbang. Maka seorang imam harus belajar untuk tahu mengerjakan tugasnya. Itu salah satu cobaan, hanya menjadi petugas iman untuk merayakan Misa sebagai tugas, tanpa ada nilai religius, tanpa ada nilai melayani, tanpa memberi ruang untuk awam.

Memang benar, banyak imam baru tidak mau datang ke tempat-tempat terpencil. Mereka ingin tinggal di kota karena mereka mungkin perlu wifi, komputer, dan mobil yang bagus. Ya, ini masalah seluruh dunia. Di beberapa negara di lima benua, ada banyak imam di keuskupan yang tidak melakukan apa-apa, paahal di negara yang sama ada keuskupan yang sangat luas dengan banyak sekali paroki. Ya, kami juga punya paroki di kota besar di Nikaragua dengan 147 stasi misi, namun hanya ada tiga misionaris, dua MSC dan satu diosesan tinggal bersama. Mereka berkeliling selama 15 hari dengan naik kuda, naik bis atau berjalan kaki, dan mereka bisa pergi dua atau tiga kali setahun ke setiap stasi misi. Dan di utara Brasil, kami memiliki paroki dengan luas sekitar sepuluh ribu kilometer persegi. Berada di sana adalah sebuah tantangan.

Kami harus mempromosikan panggilan untuk misi itu dan juga panggilan untuk datang ke sini, ke Eropa, bukan untuk menjadi pekerja misi, tetapi datang ke sini untuk bekerja dengan kaum migran, orang yang tergantung pada obat terlarang, dan kaum pengungsi, serta warga miskin dan tuna wisma yang banyak di sini. Itulah fungsi panggilan itu. itu tujuan panggilan kami saat ini.

Apa sebenarnya visi pelayanan Pastor?

Visi saya membangun kembali kehidupan religius yang manusiawi, gereja yang manusiawi,  seperti banyak kali dikatakan oleh Paus Fransiskus. Paus pernah mengatakan bahwa gereja harus seperti rumah sakit untuk orang-orang berdosa, bukan gereja indah dan megah namun kosong. Kosong bukan berarti tak ada orang, tetapi kosong atau tidak ada nilai, tidak ada harapan, dan tidak ada kedekatan.

Jadi visi saya adalah berusaha mempromosikan wajah Tuhan yang manusiawi, karena ini bagian dari karisma kami, Misionaris Hati Kudus. Hati membuat kami bertekad mencintai seperti Yesus mencintai. Cinta harus dikaitkan dengan kehidupan manusia, nilai-nilai manusiawi, kalau tidak kami hanya akan berbicara, berbicara, berbicara, menulis buku, menulis laporan.

Selain itu kami tidak perlu memperhatikan kaum muda. Ini tantangan besar seluruh dunia. Kami kehilangan anggota muda dalam komunitas kami, dalam misi kami. Maka, kami perlu banyak memperhatikannya.

Apakah ada Kaum Muda MSC?

Ya, kami punya kaum muda MSC, tapi tidak seperti keluarga awam MSC. Beberapa negara telah mengaturnya, tapi kami tidak punya jaringan yang seharusnya kami buat. Sekarang keluarga awam atau Lay Chavelier Family sedang memikirkan cara mempromosikan Youth Chevalier Family.***

 

Mahasiswi Islam bantu umat paroki bagikan paket Natal untuk umat Katolik

Rab, 27/12/2017 - 22:35

Seorang mahasiswi beragama Islam terkesan saat mengikuti kegiatan sosial menyambut Natal. “Rasanya seru ikut berbaur dengan umat agama lain. Dan adalah indah jika dapat berbagi dengan orang lain,” kata Syafaatun Naim saat membantu aksi sosial pembagian paket kebutuhan bahan pokok bagi umat Katolik di Paroki Santa Theresia Bongsari, Semarang.

“Saya pengen ikut acara sosial itu karena saya ingin lebih dekat dengan umat beragama lain.  Dengan ikut acara sosial menyambut Natal itu saya dapat nambah wawasan, supaya tidak berfikir dangkal, tidak menjadi fanatis beragama yang sempit dan bisa memperkuat rasa toleransi,” lanjut mahasiswi jurusan studi agama-agama dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Syafaatun yang datang bersama temannya, Febian Nurkhalifah, menceritakan bahwa sejak kecil dia tinggal di kalangan Muslim dan yang ditanamkan adalah bergaul dengan umat Muslim saja. “Saya tidak diajarkan mengenal umat yang lain,” katanya kepada PEN@ Katolik di sela-sela membantu menyalurkan paket kebutuhan bahan pokok kepada umat yang membutuhkan.

Aksi sosial itu diselenggarakan umat Paroki Santa Theresia Bongsari sebagai ungkapan sukacita menyambut hari raya Natal. Umat Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang ingin berbagi suka cita agar kegembiraan sungguh dialami oleh seluruh umat secara nyata.

Sebanyak 200 paket kebutuhan bahan pokok dibagikan kepada yang membutuhkan saat itu. Selain itu, ada 30 paket kebutuhan pokok yang dibagikan untuk warga korban banjir di Simongan, Gedungbatu, Semarang, sekitar tiga kilometer dari gereja.

Syafaatun berpesan agar teman-teman mahasiswa dan siapapun untuk terlibat dalam karya bersama untuk orang yang membutuhkan. “Buat teman-teman sejurusan program studi dan yang lain, coba luangkan waktumu beberapa jam untuk memperdalam toleransi. Luangkanlah waktumu untuk lebih dekat dengan umat beragama lain. Kesediaan berjumpa dan bekerja sama dengan umat beragama lain akan berguna bagi kepentingan bersama, bermanfaat untuk bangsa dan negara,” tegasnya.

Selain membagi paket kebutuhan bahan pokok, dalam acara 17 Desember itu panitia menggelar pasar murah yang diselenggarakan oleh komunitas Kelompok Doa Michael Catholic. Hasil penjualan barang-barang itu digunakan untuk merayakan Natal bersama siswa-siswi yang kurang mampu.

Pastor Paroki Bongsari Eduardus Didik Chahyono SJ mengapresiasi kegiatan yang melibatkan mahasiswa dari agama lain dengan mengatakan bahwa itu mencerminkan semangat membangun kerukunan di tengah masyarakat.

Anggota Dewan Paroki Bongsari Natalis Utomo mengatakan, selain berbagi dengan yang berkekurangan, upaya itu juga dalam rangka untuk “membangun kerukunan.”(Lukas Awi Tristanto)

Katedral Santo Yosep Pontianak hias diri menyambut Natal 2017 dengan keanekaragaman

Min, 24/12/2017 - 17:11
http://penakatolik.com/wp-content/uploads/2017/12/WhatsApp-Video-2017-12-24-at-16.25.40.mp4

Gereja Katedral Santo Yosep Pontianak sejak dua minggu lalu sibuk “mempercantik diri”. Aroma Natal mulai terasa ketika memasuki area katedral megah itu dengan berbagai macam ornamen khas Natal seperti hiasan pohon Natal, kandang Natal, dan pernak-pernik Natal lainnya. Menurut ketua bagian Dekorasi Natal, Yosep Chong, yang ditemui di katedral, 23 Desember 2017, tahun ini Katedral Santo Yosep merancang desain dekorasi mulai dari pintu masuk utama katedral, bagian dalam lantai bawah dan atas, panti koor, altar, dan  kandang Natal, sesuai tema Natal “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu” (Kolose 3:15). “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dengan aneka bahasa dan budaya. Keanekaragaman unik ini membuat kita kaya. Maka, sebagai warga negara yang mencintai bangsanya, kita tidak mau kekayaan kita dirampas oleh permusuhan, pertikain dan sebagainya,” ungkap Yosep yang sudah dua tahun berturut-turut ditunjuk oleh Panitia Natal untuk menjadi koordinator dekorasi Kandang Natal. Ia juga tidak lupa berkonsultasi dengan pastor paroki sebelum mendesain dekorasi Kandang Natal. Setelah menyelesaikan seluruh dekorasi, yang menurut Yosep yang memakan waktu kurang lebih sebulan, tanggal 23 Desember 2017, Panitia Inti Natal menyerahkan karyanya itu kepada Kepala Paroki Katedral Santo Yosep Pontianak Pastor Alexius Alex Mingkar Pr. (mssfic)

Pameran Kitab Suci enam agama di Katedral Semarang untuk bangun kehidupan yang damai

Min, 24/12/2017 - 15:37

Memamerkan Kitab Suci berbagai agama seperti terjadi baru-baru ini di Gedung Sukasari, samping Katedral Semarang, bukan hanya sebatas menunjukkan Kitab Suci masing-masing agama, tetapi disertai harapan agar Kitab Suci dihayati dalam kehidupan sehari-hari, kata Vikaris Episkopal (Vikep) Semarang Pastor Aloysius Gonzaga Luhur Pribadi Pr.

“Dan saya yakin, kehidupan sehari-hari, yang mengalir dari penghayatan iman berdasarkan Kitab Suci akan membangun kehidupan yang damai,” demikian pembukaan sambutan Pastor Luhur  seraya menambahkan bahwa tujuan utama pameran itu adalah membangun kehidupan yang damai atas dasar iman yang bersumber pada Kitab Suci masing-masing.

Maka, saat membuka pameran tahunan Kitab Suci lintas agama di Semarang itu, Pastor Luhur berharap agar umat sesuai agamanya membaca Kitab Suci dan merenungkannya. “Yang direnungkan itu dipahami. Yang dipahami diyakini dan yang diyakini itu yang dihayati dalam kehidupan. Karena yang dibaca hal yang suci tentu akhirnya yang dihayati adalah juga cara hidup yang suci,” tegas imam itu.

Pameran itu melibatkan umat agama Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu yang menggelar stan-stan dengan menyajikan Kitab Suci dan buku-buku yang berkaitan dengan Kitab Suci. Selain pameran, yang berlangsung 9-10 Desember 2017 itu, saat pembukaan diadakan sarasehan yang menjelaskan Kitab Suci masing-masing. Pameran yang dikunjungi masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa itu juga menampilkan pentas seni lintas agama.

Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang Pastor Petrus Tri Margono Pr mengapresiasi acara yang melibatkan tokoh-tokoh agama itu. “Kita bisa menjalin relasi yang makin akrab, dekat, hangat, disertai kegiatan-kegiatan lintas agama,” kata imam itu.

Apresiasi senada diberikan oleh tokoh Islam, Muksin Jamil. Acara itu, tegasnya, merupakan oase di tengah krisis persaudaraan. “Ini harus dikembangkan. Bila perlu tidak semata-mata dalam bentuk ritual tahunan, tapi jadi even sosial yang menunjukkan persaudaraan lintas iman, dan ekspresi keimanan untuk peduli terhadap persoalan di tengah masyarakat,” katanya.

Muksin berharap supaya umat beragama memiliki pemahaman yang segar dan kontekstual akan Kitab Suci mereka. “Saya kira kalau kita kembali kepada Kitab Suci dengan pemahaman yang segar dan kontekstual, kita akan selalu mendapat inspirasi dan bimbingan iman serta rohani mengenai kita hidup sebagai manusia yang selalu berhubungan dengan dua aspek, dengan Tuhan dan dengan sesama manusia,” lanjutnya.

Kalau umat beragama mempunyai keterkaitan batiniah dengan Tuhan, lanjutnya, maka secara otomatis bisa memiliki penghayatan yang baik tentang kemanusiaan. “Jadi, kita beriman pada saat yang sama bukan semata-mata meyakini keberadaan Tuhan saja, tapi bagaimana bisa memanusiakan manusia.” (Lukas Awi Tristanto)

Kabar Sukacita

Min, 24/12/2017 - 06:42

Minggu Adven ke-4

24 Desember 2017

Lukas 1: 26-38

“… hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya… (Luk 1: 47-48).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Lukas memiliki cara yang tajam dan unik dalam menulis kisah tentang Penerimaan Kabar Sukacita. Dia dengan sengaja menempatkan kisah Zakharia dan Maria secara berdampingan, dan membiarkan pembacanya melihat kedua cerita itu dalam perbandingan. Kisah pertama berbicara tentang seorang imam yang suci yang melayani di Bait Allah. Zakharia adalah simbol dari orang Israel ideal yang berdiri di pusat peribadatan bangsa Israel. Kisah kedua berbicara tentang seorang wanita sederhana yang tinggal di Nazaret, sebuah desa kecil yang jauh dari pusat pemerintahan dan keagamaan. Dalam masyarakat patriarki, Maria adalah simbol dari bangsa Israel yang miskin dan terpinggirkan dan terdorong ke pinggiran. Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada keduanya, dan Tuhan melakukan perbuatan yang luar biasa bagi keduanya. Namun, Kabar Sukacita bagi Maria ternyata jauh lebih baik. Pertama, sang Malaikat menyapa Maria dengan gelar kehormatan, “Engkau yang dikaruniai”, sementara sang malaikat tidak menyapa Zakharia sama sekali. Kedua, sang malaikat membuat Zakharia bisu karena keraguannya, tapi dia meyakinkan Maria saat Maria bertanya-tanya. Ketiga, pembuahan Yohanes Pembaptis terjadi secara alamiah, sementara Yesus di dalam rahim Maria terjadi melalui cara yang supernatural. Zakharia dan Elizabeth mewakili karya besar Tuhan dalam Perjanjian Lama seperti ketika Tuhan membuka rahim Sarah, istri Abraham, dan Hannah, ibu Samuel, meskipun sudah tua dan mandul. Namun, apa yang terjadi pada Maria melampaui segala mukjizat Perjanjian Lama ini.

Membaca buku-buku Perjanjian Lama dan membandingkan kisah Zakharia, kita menemukan bahwa Kabar Sukacita Maria berada di puncak. Belum pernah terjadi sebelumnya, malaikat akan memberi kehormatan kepada seorang manusia biasa. Belum pernah sebelumnya, Tuhan memberi karunia-Nya yang dahsyat kepada manusia biasa. Namun, yang membuat kisah ini bahkan luar biasa adalah pilihan Tuhan bagi Maria yang adalah seorang wanita muda miskin yang berasal dari desa yang tidak penting. Tuhan memilih seorang yang bukan siapa-siapa untuk menjadi ibu Putra-Nya. Oleh karena itu, kidung Maria atau “Magnificat” bukanlah sebuah lagu yang imut, namun ternyata merupakan kesaksian yang menyata tentang kekuatan Tuhan terhadap Maria, hamba-Nya, “…hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya… (Luk 1: 47-48).”

Kita, seperti Maria, sering merasa bahwa kita lemah dan putus asa dengan begitu banyak masalah dalam hidup. Kita diintimidasi oleh teman sekelas, kerja, pelayanan, dan bahkan masyarakat karena keunikan dan bakat kita. Kita merasa bahwa kita tidak penting karena kita tidak memiliki pencapaian apa-apa. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia mengerjakan karya besar-Nya pada saat kita merasa bahwa kita bukanlah apa-apa.

Seorang imam Dominikan yang baru saja ditahbiskan mengaku bahwa dia melakukan banyak hal bodoh waktu dia muda, dia tidak menyelesaikan kuliahnya dan menyia-nyiakan hidupnya. Hidupnya benar-benar berantakan dan dia adalah sebuah kegagalan. Merasa hilang, dia memutuskan untuk masuk seminari. Namun, hidupnya perlahan-lahan semakin membaik, dan dia mengambil kesempatan kedua itu dengan serius. Dia belajar dengan tekun, dan menjadi seorang frater yang baik. Akhirnya, dia dianggap layak menjadi imam. Dalam Misa perdananya, dia mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena Dia telah memilihnya, hamba-Nya yang hina dan gagal, dan bahwa dalam kelemahan terbesarnya, Tuhan telah bersinar terang. Seperti Maria, kita dipanggil untuk menemukan perbuatan-perbuatan besar Allah dalam hidup kita, bahkan di dalam kegagalan hidup, dan menyatakannya kepada dunia.

 

 

596. Apa arti ”Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan”?

Sab, 23/12/2017 - 23:03

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

596. Apa arti ”Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan”?

Kita memohon kepada Allah Bapa agar tidak membiarkan kita sendirian dan berada dalam kuasa godaan. Kita meminta agar Roh Kudus membantu kita untuk membedakan, di satu pihak, antara pencobaan yang membuat kita berkembang dalam kebaikan dan godaan yang membawa kita pada dosa dan kematian. Dan di lain pihak, membedakan antara digoda dan menyetujui godaan. Permohonan ini menyatukan kita dengan Yesus yang mengalahkan godaan dengan doa-Nya. Ini menuntut kesiap-siagaan dan ketekunan sampai akhir.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2846-2849, 2863

597. Mengapa kita menutup dengan permohonan ”Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat”?

”Kejahatan” menunjuk pada pribadi Setan yang melawan Allah dan ”yang menyesatkan seluruh dunia” (Why 12:9). Kemenangan terhadap Setan sudah terjadi dalam Kristus. Tetapi, kita terus berdoa agar keluarga manusia dibebaskan dari Setan dan pekerjaan-pekerjaannya. Kita juga memohon rahmat kedamaian dan ketekunan sementara kita menantikan kedatangan Kristus yang akan membebaskan kita secara definitif dari Si Jahat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2850-2854, 2864

598. Apa arti ”Amin”?

 ”Pada akhir doa, kamu berseru ‘Amin’ dan dengan kata ini yang berarti:

‘semoga demikian’, kamu mengesahkan semua yang tertera dalam doa ini,

yang diajarkan Allah”

(Santo Cyrillus dari Yerusalem)

 Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 888-890, 939

Pohon Natal Layar bermotif aneka ragam batik lambangkan keberagaman umat di Pontianak

Jum, 22/12/2017 - 23:51

Di tahun 2015, sebuah Pohon Natal setinggi 10 meter dengan 6000 kuntum mawar yang terbuat dari koran bekas berdiri di Paroki Santo Agustinus Keuskupan Agung Pontianak, namun tahun ini pohon itu tinggal kenangan, dan di sana berdiri Pohon Natal setinggi 9,5 meter dengan enam layar segi tiga sama kaki. Nama pohon itu adalah Pohon Natal Layar.

Hasil karya umat yang nampak di halaman gereja paroki di Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya Pontianak, itu adalah ide kreatif dari Kepala Paroki Santo Agustinus Pontianak Pastor Joanes Yandhie Buntoro CDD. “Kali ini saya ingin menciptakan pohon Natal yang berbeda dengan pohon Natal pada umumnya, yang berbentuk pohon cemara,” kata Pastor Yandhie kepada PEN@ Katolik.

Keunikan pohon Natal itu terletak pada motif yang disulam dengan tali rafia di atas jaring keramba yang terdiri dari motif batik Dayak, batik Jawa, dan batik modern. “Motif beraneka ragam melambangkan umat Katolik yang beraneka ragam dari berbagai suku, yang disatukan dalam Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik,” jelas imam itu.

Pohon itu, lanjut Pastor Yandhie, “juga melambangkan layar para rasul yang siap menjaring jiwa dengan menerima angin Roh Tuhan.”

Menurut Anton, seorang anak OMK yang ikut dalam proses pembuatan pohon itu, proses pembuatan cukup rumit dan banyak kali pengulangan. “Proses pembuatan pohon Natal ini memakan waktu sekitar tiga minggu lebih dengan melibatkan sekitar 40 umat, baik orang tua, OMK dan anak-anak Sekami, dari berbagai kring,” katanya.

Untuk membuat pohon itu, jelas Anton, pertama mereka  mempersiapkan bahan-bahan dasar seperti tali rafia dan jaring keramba, serta alat-alat yang akan digunakan seperti mal untuk memotong pola, cat kompresor, dan jarum jahit karung untuk menyulam.

Setelah membuat sketsa dari kertas yang diletakkan di atas jaring kemudian semprot dengan cat kompresor biarkan kering, mereka membuat bingkai masing-masing pola batik itu dengan menggunakan tali rafia yang disulam sesuai sketsanya.

Langkah terakhir mengisi bingkai-bingkai sketsa dengan sulaman tali rafia sesuai pola masing-masing, dan menggabungkan lembar-lembar sulaman dengan cara dijahit membentuk pola segi tiga sama kaki. “Jadwal penyulaman tidak dibatasi. Kapan saja umat sempat. Mereka boleh membuatnya di kring masing-masing. Dengan panduan koordinator kring mereka kerja bareng,” katanya.

Seorang ibu yang akrab diisapa Ibu Yohanes menjelaskan, “Waktu pertama kali menyulam tali rafia ini, saya sempat stres, karena dalam waktu tiga jam cuman dapat sedikit, dan sering bongkar pasang karena salah sulam pola. Namun setelah bisa malah asyik sampai lupa waktu hingga subuh.”

Yang membanggakan umat yang membuat pohon Natal itu, lanjut Ibu Yohanes, “Pastor Yandhie dari Kongregasi Murid-Murid Tuhan itu turut terlibat langsung mulai dari memberikan training awal sampai hasil akhir.”

Pohon Natal yang sama juga dibuat di Stasi Santo Petrus Supadio dan Stasi Kanisius yang berada dekat Bandara Supadio Pontianak. “Saya ingin tahun ini dibuat adil, di pusat paroki ada pohon Natalnya, di stasi juga ada,” kata Pastor Yandhie. (Suster  Maria Seba SFIC)

Apa arti permohonan ”Berilah kami rezeki pada hari ini”?

Jum, 22/12/2017 - 15:38

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

592. Apa arti permohonan ”Berilah kami rezeki pada hari ini”?

Memohon kepada Allah dengan kepercayaan seorang anak untuk makanan sehari-hari yang perlu untuk kita semua berarti mengakui betapa baiknya Allah mengatasi semua kebaikan. Kita juga memohon rahmat untuk mengetahui bagaimana bertindak sehingga keadilan dan solidaritas menyebabkan kelimpahan beberapa orang digunakan untuk membantu mereka yang kekurangan dan membutuhkan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2828-2834, 2861

593. Apa arti khas Kristen dari permohonan ini?

Karena ”manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang ke luar dari mulut Allah” (Mat 4:4), permohonan ini dengan cara yang sama dapat dikenakan pada lapar akan Sabda Allah dan Tubuh Kristus yang diterima dalam Ekaristi sebagaimana juga lapar akan Roh Kudus. Kita memohon dengan kepercayaan penuh pada hari ini – pada kekinian Allah – dan ini diberikan kepada kita terutama dalam Ekaristi yang mengantisipasi perjamuan Kerajaan yang akan datang.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2835-2837, 2861

594. Mengapa kita berkata ”Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”?

Dengan memohon agar Allah Bapa mengampuni kita, kita mengakui di hadapan-Nya bahwa kita adalah pendosa. Sekaligus kita mewartakan belas kasihan-Nya karena dalam Putra-Nya dan melalui Sakramen ”kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (Kol 1:14). Namun, permohonan kita akan dijawab hanya jika kita lebih dulu mengampuni.

 

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2838-2839, 2862

Apa arti ”Dimuliakanlah Nama-Mu”?

Kam, 21/12/2017 - 16:07
Bagian dalam Basilika St Petrus/PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

588. Apa arti ”Dimuliakanlah Nama-Mu”?

Memuliakan Nama Allah terutama merupakan sebuah doa pujian yang mengakui Allah sebagai Kudus. Allah sudah mewahyukan Nama-Nya yang kudus kepada Musa dan ingin agar umat-Nya dikuduskan bagi-Nya sebagai bangsa yang kudus dan di dalamnya Dia akan tinggal.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2807-2812, 2858

589. Bagaimana membuat Nama Allah Kudus dalam diri kita dan di dunia?

Membuat Kudus Nama Allah, yang memanggil kita kepada ”kekudusan” (1Tes 4:7) adalah menghendaki pengudusan Sakramen Pembaptisan menjiwai seluruh hidup kita. Sebagai tambahan, berarti meminta – lewat hidup dan doa kita – agar Nama Allah dikenal dan dipuji oleh setiap orang.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2813-281

590. Apa yang dimohon oleh Gereja ketika berdoa ”Datanglah Kerajaan-Mu”?

Gereja berdoa untuk kedatangan yang terakhir Kerajaan Allah melalui kembalinya Kristus dalam kemuliaan-Nya. Gereja juga berdoa agar Kerajaan Allah berkembang sejak sekarang dan selanjutnya melalui pengudusan umat dalam Roh dan melalui komitmen mereka pada pelayanan keadilan dan perdamaian sesuai Sabda Bahagia. Permohonan ini merupakan seruan Roh dan Mempelai ”Datanglah, Tuhan Yesus” (Why 22:20).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2816-2821, 2859

Halaman