Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 25 mnt yang lalu

Selasa, 7 November 2017

Sel, 07/11/2017 - 17:47

PEKAN BIASA XXXI (H)

Santo Willibrordus; Beata Maria Assumta Pallota; Santo Ernestus; Santo Herkulanus; Beata Gratia dari Kotar

Bacaan I: Rm. 12:5-16a
Mazmur: 131:1.2.3
Bacaan Injil: Luk. 14:15-24

Pada waktu itu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Sementara perjamuan berlangsung, seorang dari tamu-tamu itu berkata kepada Yesus: ”Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.”

Renungan

Tidak semua orang mengerti apa karunia yang diberikan Allah kepadanya. Boleh jadi, sampai orang menutup mata, ada banyak karunia yang belum disadari, digali, dan dikembangkan. Maka, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ”apa yang sudah kulakukan dengan karunia yang diberikan Allah?” Setiap orang mesti terlebih dahulu sadar akan karunia yang dimiliki.

Dalam Injil hari ini Yesus menceritakan kisah orang yang abai dengan karunianya. Karunia yang dimaksud adalah ”status” orang terpilih untuk diundang ke perjamuan. Para undangan ini malah asyik dengan diri sendiri. Sebagai seorang kristiani, lepas dari semua karunia khusus dan personal yang dimiliki masing-masing orang, kita semua diberi karunia dasar: orang-orang terpilih yang diberkati dan dikasihi Allah, para undangan istimewa Allah. Tetapi Santo Paulus melontarkan pertanyaan, untuk apa dan siapa karunia itu? Seberapa penting maknanya bagi kita?

Karunia mengandaikan tanggung jawab. Maka, merujuk kepada refleksi Santo Paulus, kita dipanggil untuk senantiasa membuka diri dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari kesatuan yang mesti saling menopang dengan orang lain. Kasih membuka gerbang sehingga aneka karunia dapat saling berjumpa dan menyempurnakan kemanusiaan.

Allah maha belas kasih, mampukan aku untuk selalu terbuka kepada sesama dan saling menopang supaya terjadilah kehendak-Mu di atas bumi ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Sidang KWI 2017 dibuka untuk bicarakan Gereja yang relevan dan signifikan

Sen, 06/11/2017 - 16:34
Maxi Paat

Hari ini, 6 November 2017, para uskup se-Indonesia berkumpul di Jakarta untuk mengikuti Sidang KWI 2017. Pembukaan Sidang KWI yang akan berlangsung hingga 16 November 2107 itu bertema “Gereja yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia.” Karena Duta Vatikan yang baru untuk Indonesia belum datang ke Indonesia, maka pembukaan sidang, yang seperti biasa dihadiri oleh Dirjen Bimas Katolik dan Ketua PGI, itu dihadiri oleh Pastor Fabio Salerno, pelaksana tugas Ad Interim dari Duta Besar Vatikan untuk Indonesia. Ada empat uskup baru yang untuk pertama kalinya hadir dalam Sidang KWI yakni empat uskup yang baru ditahbiskan tahun ini: Uskup Sintang Mgr  Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Pangkalpinang Mgr Mgr Adrianus Sunarko OFM. Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC.(pcp)

 

Semua foto ini diambil oleh Maxi Paat

Senin, 6 November 2017

Sen, 06/11/2017 - 12:33

PEKAN BIASA XXXI (H)

Santo Nuno Pereira; Santo Leonardus dari Noblac

Bacaan I: Rm. 11:29-36
Mazmur: 69:30-31.33-34.36-37; R:14cd

Bacaan Injil: Luk. 14:12-14

Yesus berkata kepada orang Farisi yang mengundang Dia makan: ”Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Renungan

“Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya!” (Rm. 11:29). Kemurahan hati adalah keutamaan yang tidak bergantung pada apa pun, sebuah pilihan sikap yang datang dari dalam. Bukan karena orang lain murah hati kepada saya maka saya bermurah hati kepadanya. Murah hati adalah pilihan pribadi saya karena saya mencintai sesama. Inilah semangat kemurahan hati Allah. Kemurahan hati yang demikian tidak akan pernah mengenal kata menyesal, karena tidak bersyarat.

Pernyataan St. Paulus di atas sungguh mengungkapkan kemurahan hati sejati Allah, yang didasari cinta teramat besar kepada manusia. Apa pun balasan yang diterima, kemurahan hati sejati tidak pernah menyesal dan mundur. Yesus mengundang kita untuk menghidupi kemurahan hati sejati ini. Bukan tentang apa yang bisa kita dapatkan atau tentang siapa yang pantas mendapatkan, tetapi memberi sebagai pilihan hati.

Di era komersialisasi sekarang ini, kemurahan hati sangat mungkin menjadi gratifikasi berbalut negosiasi, transaksi, dan pelancar aneka kepentingan. Kemurahan hati berubah menjadi cinta murahan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengkritisi kemurahan hati yang bercabang, dan harapan yang seakan wajar untuk menerima ganjaran dari setiap kebaikan kita. Yesus mengajak kita untuk merasakan kebahagiaan dari tindakan memberi, bukan karena kita menerima balasan setimpal, tetapi, kata Yesus: “engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar” (Luk. 14:14).

Tuhan Yesus, berilah aku hati yang tulus untuk mencintai dan melakukan kebaikan kepada sesama. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pelajar dan alumni Kolese Gonzaga diminta jadi putra-putri Allah yang memerdekakan orang lain

Min, 05/11/2017 - 18:15

Belajar mengajar di SMA Kolese Gonzaga harus membuat pelajar menjadi putra-putri Allah yang merdeka dari belenggu dan ketakutan serta mau memerdekakan orang lain karena diri mereka sendiri sudah merdeka. Karena, kalau Anda makan dan yang lain tidak makan dan kalau Anda berpendidikan dan yang lain tidak berpendidikan, itu tidak adil, padahal Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) berharap kita adil dan beradab, berarti menciptakan budaya kasih dengan saling memperhatikan sesama di mana pun.

Vikaris Jenderal KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr berbicara dalam homili Misa Syukur 30 Tahun atau Lustrum VI SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti Jakarta yang dilaksanakan di sekolah yang terletak di Pejaten Barat Jakarta Selatan, 3 November 2017.

Dalam Misa bertema “Mensyukuri Kebhinekaan” yang dipimpin vikjen bersama para imam lulusan Wacana Bhakti sebagai konselebran, Pastor Pangestu menegaskan bahwa kebhinekaan bukanlah slogan karena “Roh Kudus yang mempersatukan kita dalam Gereja dengan simbol satu tubuh yang berarti kalau yang satu menderita yang lain pun ikut menderita.”

Ditegaskan, negara, bangsa, masyarakat, serta sekolah dan seminari itu sama-sama membutuhkan daya kesatuan dan kerja sama, maka “jangan sekedar bersyukur atas kebhinekaan tapi atas wujud nyatanya, karena sekarang banyak orang berpikir sangat primordialisme, sangat memperhatikan kesukuan dan agamanya.”

Namun imam itu percaya, hal itu “no way” dalam Generasi Milenial di Kolese Gonzaga. “Dalam teman-teman orang muda generasi ini tidak ada itu primordial dan diskriminasi. Mereka sangat cair dan sangat mudah menerima hal-hal yang baik,” kata imam itu.

Vikjen berharap agar lulusan Kolese Gonzaga menjadi yang terbaik bukan setengah-setengah dalam memberikan sumbangan bagi Gereja dan bangsa ini. “Berbahagialah Anda Generasi Milenial dengan teknologi yang ‘hanya tek langsung jadi’, tapi jangan lupa, dengan dijiwai oleh Roh Kudus, selamatkanlah semua orang dan berikan kesejahteraan bersama, bukan menjadi monster yang membunuh orang lain.”

Dalam sambutan mewakili Provinsial Serikat Yesus (SJ) Indonesia, Socius Provinsial Ordo Serikat Yesus (Jesuit) Provinsi Indonesia Pastor Lucianus Suharjanto SJ menyampaikan pesan dari pastor provinsial yang juga merupakan pesan dari Kongregasi Jenderal ke-36 Serikat Yesus yang berakhir 12 November 2016 di Roma agar institusi itu mendalami dan mengadopsi tiga ketrampilan dasar yang dibutuhkan zaman ini yakni diskresi (discernment), kolaborasi (collaboration), dan networking.

“Diskresi letaknya di antara logika dan estetika. Logika itu kotak bentuknya, tetapi kalau kita dikotak-kotakan kita tidak rela. Kalau kita diperlakukan hanya dengan logika kita marah. Tapi tanpa logika kita bubrah. Di antara logika dan estetika ada diskresi, yaitu kejernihan batin untuk menangkap yang paling baik yang dikehendaki Tuhan. Keterampilan diskresi harus dimiliki oleh institusi ini,” tegas imam itu.

Kolaborasi terletak antara kata dan sastra. “Antara kata dan sastra ada elokuensi,  yaitu kemampuan untuk menemukan kata, frasa dan kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan peristiwa. Ketepatan itu adalah langkah untuk memulai karya yang baik dan benar,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa di jaman ini, networking telah difasilitasi dengan teknologi tingkat tinggi yakni cyberspace yang harus dikuasai, khususnya oleh Generasi Milenial.

Sesudah Misa para pelajar serta alumni dan undangan menyaksikan berbagai penampilan angkatan serta Wacana Bhakti Symphony Orchrestra dan makan bersama yang diawali dengan pemotongan Tumpeng Lambang Rasa Syukur oleh Kepala Sekolah SMA Gonzaga Pastor Leonardus E.B. Winandoko SJ, M.Ed, yang diberikan vikjen KAJ yang mewakili Uskup Agung Jakarta sebagai pemilik seminari dan sekolah.

Acara itu dilengkapi pengenalan orang-orang “yang demikian berdedikasi dalam pendidikan, yakni para pastor dan bruder yang pernah pernah berkarya sebagai rektor, minister atau moderator di Kolese Gonzaga dan pamong di Seminari Wacana Bakti, serta para alumni Kolese Gonzaga dan Wacana Bhakti yang sudah menjadi imam. Selain itu diberikan penghargaan bagi guru dan karyawan yang sudah berkarya selama 10, 15, 20, 25 dan 30 di kolese dan seminari itu.

Di saat Misa Syukur, terdengar juga doa bagi para imam, guru, karyawan dan siswa SMA Kolese Gonzaga yang sudah meninggal. Secara khusus disebut Almarhum Pastor Joseph Ignatius Gerardus Maria Drost SJ dan Pastor Redemptus Murtisunu Wisnumurti SJ. Doa-doa umat lain, selain dalam Bahasa Indonesia disampaikan juga dalam Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bahasa Batak Karo dan Bahasa Batak Toba.

“Ya Bapa, berkatilah para alumni SMA Kolese Gonzaga agar selalu mengembangkan semangat magis dalam memperjuangkan nilai-nilai luhur hasil pendidikan di sekolah ini: Competence, Conscience, Compassion, dan Commitment semata-mata demi kemuliaan-Mu yang lebih besar.

Dalam rangka 30 tahun Kolese Gonzaga dilaksanakan juga Seminar Kebangsaan Memperingati Hari Soempah Pemoeda “Merajut Semangat Kebangsaan dalam bingkai NKRI” tanggal 28 Oktober 2017 dengan tema “Kembali ke Semangat Soempah Pemoeda 1928 untuk Keutuhan Indonesia” khusus untuk para pendidik dengan pembicara Pastor Franz Magnis Suzeno SJ, Syafei Maarif, dan KH Said Agil Siradj.  Sedangkan 1 November 2017 bertema “Pengamanan dan Pengamalan Pancasila” khusus untuk SMP dan SMA dengan pembicara Yudi Latif, Pastor Baskoro Poedji Noegroho SJ dan Mohamad Sobari.

Acara-acara lain yang juga dilakukan untuk “mensyukuri kebhinekaan” adalah Pameran Buku dan Peluncuran buku karya siswa (28 Oktober-1 November), Gonzaga Lustrum Festival 21-28 Oktober, Family Gathering 22 Oktober, Pagelaran Wayang Kulit “Pandawa Ngencer” 4 November, Live In Kolese 24 Oktober sampai 5 November, dan Art Performance 31 Oktober dan 1 November. Lustrum VI Kolese Gonzaga bertema Gonz for Indonesia.

Rektor Seminari Menengah Wacana Bhakti Pastor Adrianus Andy Gunardi Pr  dalam sambutannya mensyukuri begitu banyak orang hebat yang telah dibangun dari sekolah dan seminari itu, juga guru-guru dan karyawan, serta 68 imam yang ditahbiskan dari seminari itu.

“Cinta kepada Tuhan dapat dilihat lewat cinta kepada sesama. Dimensi-dimensi humanistik, man for others, merupakan bagian dari hidup kita. Maka, lingkungan sekolah dan seminari ini membangun cinta kepada Allah yang dibuktikan melalui cinta kepada sesama,” tegas alumnus Seminari Wacana Bhakti itu.(aop)

Pergulatan Seorang Pewarta

Min, 05/11/2017 - 01:30

MINGGU BIASA KE-30

5 November 2017

Matius 23: 1-12

“Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Mat 23: 3)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Membaca Injil Minggu ini, saya merasa bahwa Yesus menegur para imam dan pewarta sabda-Nya karena “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Sayangnya, banyak dari kita gagal dalam hal ini. Kita memberitakan pengampunan, namun beberapa imam hidup dalam pertengkaran berkepanjangan dengan rekan imam lainnya atau dengan beberapa umat mereka. Kita mengajarkan kebaikan dan persahabatan dengan Tuhan, namun beberapa dari kita tidak pernah tersenyum dan tampak sombong. Kita memberitakan keadilan, tapi terkadang kita gagal memberi keadilan kepada mereka yang bekerja di paroki atau biara.

Saya sendiri bergulat dengan hal ini. Sering kali saya berkhotbah atau menulis meminta umat untuk mengambil bagian yang lebih aktif di Gereja atau terlibat dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian, namun saya sendiri kesulitan untuk mewujudkan ajakan tersebut. Saya pernah menjadi anggota KADAUPAN di rumah formasi kami di Manila. Ini adalah kelompok kerasulan para frater Dominikan yang memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Salah satu tugas dasar kami adalah membantu orang-orang miskin yang datang ke tempat kami. Terkadang, kami membantu secara finansial, tapi sering kali kita menyediakan makanan, air minum dan pakaian. Harus kuakui bahwa setiap kali orang miskin datang, aku bergulat untuk menemui dan membantu mereka karena lebih mudah bagi saya untuk tinggal di perpustakaan dan membaca buku.

Namun, terlepas dari ketidakkonsistenan ini, saya percaya bahwa Yesus penuh belas kasihan kepada kita, para pewarta Sabda-Nya dan pekerja di ladang anggur-Nya, karena Dia mengerti bahwa terlepas dari niat kudus kita, kita terus jatuh karena kelemahan manusiawi kita. Bahkan Santo Paulus memahami pergulatan kita dengan kelemahan kita, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17)”

Tuhan Yesus akan sangat berbelaskasihan kepada kita yang bergulat untuk menghidupi apa yang kita wartakan, tetapi Dia tidak akan mentolerir jika pewartaan hanya untuk pamer atau keuntungan pribadi. Inilah konteks Injil hari ini. Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan ahli Taurat yang berkhotbah tentang Hukum Taurat dan mengajarkan penerapannya yang rumit karena ingin memamerkan kelihaian mereka, dan dengan demikian, mendapatkan kehormatan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan gelar kehormatan, “Rabi” atau “Bapa”, dan diperlakukan sebagai VIP di masyarakat Yahudi. Mereka tidak melayani Tuhan, tapi mereka memanipulasi Hukum Allah untuk melayani kepentingan mereka pribadi. Yesus sangat geram karena ini adalah pelecehan serius terhadap panggilan suci mereka untuk mewartakan dan melayani Allah Israel yang telah memilih mereka.

Pesan yang sama berlaku bagi kita, para pewarta dan pelayan Firman Allah. Apakah ada niat tersembunyi dan egois dalam pewartaan dan pelayanan kita? Apakah kerasulan kita hanya mendapatkan ketenaran dan kepuasan? Apakah kita menimbun kekayaan dan mencari kehidupan yang lebih nyaman? Apakah kita menjadikan panggilan suci kita sebagai pewarta sebuah karir untuk mencapai sukses dan kemuliaan? Dalam suratnya kepada para imam Filipina, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan memiliki poin kuat untuk kita refleksikan bersama baik sebagai imam maupun para awam pewarta Sabda-Nya, “Merupakan sebuah skandal bagi seorang imam untuk meninggal kaya raya … Inilah satu-satunya tugas kita – untuk menjadi Yesus dan untuk memberi Yesus yang adalah harta kita yang sejati.”

 

Intensi Doa Paus Fransiskus untuk November: Memberi kesaksian tentang Injil di Asia

Sab, 04/11/2017 - 21:06
Umat Kristiani India berdoa bagi ketenangan orang-orang yang ditinggalkan di sebuah pemakaman di saat Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman di di Bhopal – EPA

Paus Fransiskus telah merilis pesan video yang menyertai intensi doa bulanannya untuk November 2017. Intensi bulan ini adalah untuk Evangelisasi: Memberi kesaksian tentang Injil di Asia. Semoga umat Kristiani di Asia, yang memberi kesaksian tentang Injil dalam kata-kata dan perbuatan, boleh meningkatkan dialog, perdamaian, dan saling pengertian, terutama dengan orang-orang yang berbeda agamanya.

Teks pesan video itu berbunyi:

Keistimewaan paling mencolok di Asia adalah keragaman masyarakat yang menjadi ahli waris budaya-budaya, agama-agama dan tradisi-tradisi kuno.

Di benua ini, tempat Gereja adalah minoritas, tantangannya sangat kuat.

Kita harus meningkatkan dialog di kalangan agama-agama dan budaya-budaya.

Marilah berdoa agar umat Kristiani di Asia dapat meningkatkan dialog, perdamaian dan saling pengertian, terutama dengan mereka yang beragama lain.

Jaringan Kerasulan Doa se-Dunia dari Paus Fransiskus mengembangkan inisiatif “Video Paus” guna membantu penyebaran intensi bulanan Bapa Suci di seluruh dunia terkait tantangan-tantangan yang dihadapi umat manusia.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

 

 

Sabtu, 04 November 2017

Sab, 04/11/2017 - 14:26

PEKAN BIASA XXX

Peringatan Wajib Santo Karolus Boromeus, Uskup (P)
Santo Emerik

Bacaan I: Rm. 11:1-2a.11-12.25-29

Mazmur : 93:12-13a.14-15.17-18; R: 14a

Bacaan Injil: Luk. 14:1.7-11

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Santo Paulus menyampaikan seruan tegas: ”Jangan kamu merasa pandai!” (Rm. 11:25). Seruan ini berkaitan dengan situasi orang Israel yang merasa kaum pilihan. Karena status itu, mereka merasa mempunyai derajat lebih tinggi daripada bangsa lain. Mereka meyakini pula bahwa hidup mereka lebih unggul dari yang lain.

Arogansi bukan hanya persoalan orang Israel. Kenyataannya, merasa lebih tinggi dan terhormat itu ”kesukaan alamiah” manusia. Termasuk kita, mungkin. Inilah pula yang dibicarakan Yesus dalam Injil. Dengan sederhana, Yesus mengingatkan bahwa ”di atas langit masih ada langit”. Ia tidak hanya bicara tentang kenyataan bahwa selalu ada orang yang lebih pandai atau hebat daripada kita. Lebih dari itu, Ia ingin kita menyadari kehadiran Allah yang melebihi segala sesuatu. Dia pulalah yang memberikan semua kehebatan yang kita miliki.

Allah sesungguhnya menjadi standar atau ukuran kehormatan bagi kita. Bukan seberapa hebat kita, melainkan kerendahan hati dan ketaatan kepada-Nya yang menjadi pangkal kehormatan. Allah akan memuliakan mereka yang berkenan kepada-Nya, sebagaimana Ia telah memuliakan Yesus Kristus. Bersikaplah rendah hati, demikian ditandaskan Yesus: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11).

Tuhan Yesus, ajarilah aku menjadi rendah hati dan taat kepada kehendak Allah. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Paus Fransiskus peringatkan penghasut perang bahwa buah peperangan hanyalah kematian

Jum, 03/11/2017 - 19:04

Paus Fransiskus merayakan Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, Kamis 2 November 2017, dengan memperingati semua orang yang meninggal dalam perang, seraya mengingatkan umat manusia agar tidak melupakan pelajaran masa lalu dan bahwa satu-satunya buah yang dihasilkan oleh konflik adalah kematian.

Paus mengungkapkan kata-kata peringatan yang keras kepada para penghasut perang dalam homili di Monumen Peringatan dan Pemakaman Perang AS Nettuno sekitar 50 kilometer selatan Roma.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan melaporkan, dalam kesempatan itu Paus mengulangi lagi keyakinannya bahwa “peperangan menghasilkan tidak lebih dari kuburan dan kematian.” Paus juga menegaskan bahwa dia memilih berkunjung ke pemakaman perang sebagai pertanda bahwa “kini umat manusia sepertinya tidak belajar dari pelajaran masa lalu, atau tidak ingin mempelajarinya.”

Monumen itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan orang yang tewas dalam operasi militer yang dilakukan untuk membebaskan Italia (dari Sisilia ke Roma) dari Nazi Jerman. Kapel di pemakaman itu berisi daftar 3095 orang yang hilang.

Paus tiba di pemakaman itu sebelum sore hari maka dia bisa menghabiskan waktu untuk refleksi dan penghormatan pribadi kepada 7.860 tentara yang kebanyakan masih muda, yang menyerahkan hidup mereka demi kebebasan dan rasa hormat kepada umat manusia.

Seraya berjalan dalam hening di antara deretan-deretan batu nisan, Paus Fransiskus membungkuk untuk membaca beberapa nama dan tanggal yang tertulis di marmer putih. Dalam homili, Paus menegaskan bahwa fakta-fakta itu menunjukkan bahwa satu-satunya buah dari perang adalah kematian .

Kepada umat berkumpul di hari suci itu untuk menghormati semua orang yang telah meninggal, Paus mengatakan bahwa dia memilih datang ke tempat ribuan orang tewas dalam pertempuran berdarah itu untuk kembali memohon kepada Tuhan “Tolonglah Tuhan: hentikan mereka. Jangan ada lagi perang. Jangan ada lagi pembantaian yang sia-sia.”

“Tolonglah Tuhan, semuanya hilang karena peperangan,” doa Paus dalam homili tanpa teks dan emosi melihat makam ratusan ribu pria muda yang harapannya “diputuskan dengan kejam, di saat dunia kembali berperang bahkan bersiap meningkatkan perang.”

Menurut Paus, saat ini ada orang yang kerjanya hanya untuk menyatakan perang dan melakukan konflik. “Mereka akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri dan segalanya.” Karena hari itu hari pengharapan dan air mata, Paus mengatakan bahwa air mata yang bercucuran dari yang kehilangan suami, anak laki-laki dan teman-temannya saat perang hendaknya tidak pernah dilupakan.

“Tapi umat manusia tidak belajar dari pelajaran dan sepertinya tidak mau mempelajari pelajaran itu,” kata Paus yang kemudian mengajak umat berdoa secara khusus  bagi kaum muda yang terjebak dalam konflik. “Banyak di antara mereka yang sekarat setiap hari dalam perang kecil-kecil,” kata Paus seraya mengingat ribuan anak tak berdosa yang sedang membayar harga perang.

Setelah merayakan Misa Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman di Pemakaman Militer Nettuno, Paus Fransiskus pergi ke Monumen Peringatan Gua-Gua Ardeatine untuk berdoa bagi korban pembantaian Perang Dunia Kedua. Di sana tahun 1962 dibantai 335 pria dan anak laki-laki sipil Italia dalam aksi balas dendam atas serangan yang dilakukan pejuang perlawanan yang menewaskan 33 anggota unit polisi militer Nazi. Di sana Paus berdoa dan memberikan refleksi singkat. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Halaman