Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 11 mnt 40 dtk yang lalu

Apa itu pertobatan batin?

Rab, 04/07/2018 - 00:29

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

300. Apa itu pertobatan batin?

Pertobatan batin ialah suatu dinamika ”hati yang patah dan remuk (Mzm 51:19) yang digerakkan oleh rahmat ilahi untuk menjawab cinta yang penuh kerahiman dari Allah. Pertobatan ini mengandung penyesalan akan dosa-dosa yang telah dilakukan, niat yang kuat untuk tidak berdosa lagi di masa datang, dan percaya akan pertolongan Allah. Orang yang bertobat ini berharap penuh kepada kerahiman ilahi.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1430-1433, 1490

301. Apa bentuk-bentuk silih dalam kehidupan Kristen?

Perbuatan silih dapat diungkapkan dalam macam-macam bentuk, tetapi terutama dalam puasa, doa, dan memberi derma. Bentuk-bentuk itu dan banyak bentuk yang lainnya dapat dipraktekkan dalam kehidupan seorang Kristen, secara khusus selama masa Puasa dan pada hari Jumat, hari silih.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1434-39

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Sel, 03/07/2018 - 14:58
Remaja Sekami dari Keuskupan Timika menyalami teman-teman dari Keuskupan Agung Pontianak/PEN@ Katolik/pcp

Anggota Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) dari 35 keuskupan beserta pendamping dan pembina mereka berkumpul di Pontianak untuk mengikuti Jambore Nasional Sekami, 3-6 Juli 2018. Ketika memasuki tempat pertemuan mereka meneriakkan ye-yel dan masing-masing menerima gelang yang terbuat dari anyaman kulit kayu khas Kapus dalam gelang kain bertuliskan Jamnas Sekami.

Dengan senyum sukacita mereka memasuki kompleks pertemuan di SMA Paulus Pontianak sambil menyalami anak-anak Sekami dari Keuskupan Agung Pontianak. “Anak-anak kami memang datang membawa sukacita dan membagikannya dengan semua peserta dari Nusantara,” kata Pendamping Rohani Sekami Keuskupan Ketapang Suster Florentina PIJ kepada PEN@ Katolik.

Oleh karena itu, suster berharap, peserta dari Keuskupan Ketapang bersemangat dalam jambore itu, “serta bertumbuh dalam iman, harap dan kasih kepada Yesus demi masa depan Gereja, agar nanti pulang mereka menjadi misionaris kecil dan duta-duta kasih bagi sesamanya.”

Pastor Yooce Pati dari Keuskupan Pangkalpinang yang datang dengan kekuatan 30 orang yang terdiri peserta, pembina dan pendamping juga berharap agar jambore itu membuat pesertanya “setelah kembali dari sini mempunyai semangat menjadi misionaris cilik untuk terus menerus mewartakan suka cita Injil  kepada siapa pun.”

Imam itu mengatakan kepada media ini bahwa mereka datang membawa semangat untuk bermisi dan “secara istimewa kami juga mempunyai misi untuk menyampaikan kebudayaan kami dalam sebuah tarian daerah, dan berharap membawa pulang pengalaman kebersamaan dalam keberagaman yang dialami di sini dan menjalaninya di keuskupan kami.”

Keuskupan Timika juga datang dengan kekuatan yang sama, 30 orang. Anselma Doo, pembina Sekami Keuskupan Timika, berharap “anak-anak yang datang bisa belajar dari anak-anak lain dari keuskupan lain dan mendapat banyak teman, banyak pengetahuan serta keceriaan.”

Pengetahuan itu yang ingin mereka bawa pulang ke Timika, “untuk dibagikan kepada-anak-anak lain di sana,” kata Anselma kepada PEN@ Katolik seraya mengaku bahwa tim Keuskupan Timika akan membagikan sukacita anak-anak misioner kepada seluruh peserta jambore itu.

Jambore Nasional Sekami di Pontianak, yang bertema “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan,” sesuai data yang diterima dari sekretariat jambore itu, akan dihadiri oleh 1315 peserta termasuk direktur keuskupan (dirdios) masing-masing serta biarawabiarawati yang menjadi pembina dan para animators dan animatris.

Para peserta akan tinggal dan beraktivitas dalam tiga kampung, yakni Kampung Galilea di SMA Santo Paulus, Kampung Nazareth di Persekolahan SD Susteran dan Kampung Betlehem di TK dan SD Bruder.

Keuskupan yang berhalangan atau tidak ikut jambore nasional itu adalah keuskupan adalah Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Maumere. Namun, jambore itu juga diikuti oleh dirdios dan animator-animatris dari Keuskupan Agung Kuching dan oleh Direktur Nasional serta dirdios-dirdios dari tiga keuskupan di Timor Leste.

Menurut Panitia, Jambore National Pontianak itu bertujuan untuk merayakan HUT ke-175 dari Sekami, meningkatkan wawasan remaja dan pendamping bahwa hakikat Gereja ialah persekutuan paguyuban murid-murid yang diutus untuk mewartakan sukacita Injil, meningkatkan rasa bangga dan bahagia pada diri remaja dan pendamping yang hidup dalam kebinekaan, dan mengobarkan semangat misioner pada diri remaja dan pendamping sehingga berani menjalani hidup dengan berbagi 2D2K (doa, derma, kurban, kesaksian) dalam kebinekaan.(paul c pati)

Wakil dari Keuskupan Timika menerima gelang tanda peserta/PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp Anselma Doo dari Timika/PEN@ Katolik/pcp

Bilamana Kristus menetapkan Sakramen (Rekonsiliasi) ini?

Sel, 03/07/2018 - 01:53
Paus Fransiskus dan para imam memberikan Sakramen Rekonsiliasi kepada OMK

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

298. Bilamana Kristus menetapkan Sakramen (Rekonsiliasi) ini?

Tuhan yang sudah bangkit menetapkan Sakramen ini pada malam Paskah ketika Dia menampakkan Diri kepada para Rasul dan berkata kepada mereka: ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23).

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1485

299. Apakah orang yang dibaptis itu membutuhkan pertobatan?

Panggilan Kristus untuk pertobatan terus berlangsung selama hidup orang yang dibaptis. Pertobatan merupakan kewajiban terus-menerus bagi seluruh Gereja. Gereja itu kudus, tetapi di dalamnya juga termasuk orang-orang berdosa.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1427-1429

Iman Sang Perempuan

Sab, 30/06/2018 - 20:48

(Renungan Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa, 1 Juli 2018, Markus 5: 21-43)

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-murid-Nya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Paus Fransiskus dan 14 kardinal yang baru diciptakan kunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI

Sab, 30/06/2018 - 17:14
Paus Fransiskus menemui Paus Benediktus XVI bersama para kardinal baru/Vatican Media

Setelah mengangkat 14 kardinal baru dalam konsistori umum biasa pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, 28 Juni 2018, Paus Fransiskus mengajak mereka  mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI. Para kardinal baru itu adalah Louis Raphaël I Sako (69, Patriark Katolik Babilonia), Luis Fransisco Ladaria Ferrer (74, Prefek Kongregasi Ajaran Iman), Angelo De Donatis (64, Vikaris Jenderal Roma), Giovanni Angelo Becciu (70, Wakil Sekretaris Negara dan Delegasi Khusus Ordo Militer Berdaulat Malta), Konrad Krajewski (54, Kepala Lembaga Amal Kasih Kepausan),  Joseph Coutts (72, Uskup Agung Karachi), António Augusto dos Santos Marto (71, Uskup Leiria-Fátima, Portugal), Pedro Ricardo Barreto Jimeno (74, Uskup Agung Huancayo, Peru), Desiré Tsarahazana (64, Uskup Agung Toamasina, Madagaskar),  Giuseppe Petrocchi (69, Uskup Agung L’Aquila, Italia), Thomas Aquinas Manyo Maeda (69, Uskup Agung Osaka, Jepang), Sergio Obeso Rivera (86, Uskup Agung Emeritus Xalapa, Mexico), Toribio Ticona Porco (81, Uskup Emeritus Corocoro), dan Aquilino Bocos Merino CMF (80, imam asal Spanyol yang bertugas sebagai Superior Jenderal Emeritus Misionaris Putra-Putra Hati Maria Tak Bercela). Kini jumlah kardinal menjadi 227 orang, 125 di antaranya tidak ada hak memilih. Kardinal Konrad Krajewski menjadi kardinal kedua termuda dengan usia 54, sedangkan yang termuda tetap Kardinal Dieudonne Nzapalainga, Uskup Agung Bangui, Republik Afrika Tengah, dengan usia 51 tahun.(pcp)

Paus Fransiskus menemui Paus Benediktus XVI bersama para kardinal baru/Vatican Media

Mencerna Hakikat Malaikat

Sab, 30/06/2018 - 16:22

Oleh Johannes Robini Marianto OP

Bagaimana hakikat malaikat? Santo Agustinus sejak awal sudah mengingatkan kita bahwa “malaikat” itu bukan nama (apanya mereka atau hakikat mereka), melainkan kata kerja (artinya: diutus menjalankan misi). Kalau ditanya apa hakikat mereka, jawablah bahwa mereka adalah roh murni. Apa maksudnya?

Pertama, hal yang paling gampang untuk mengerti, malaikat adalah roh murni, tidak berbadan (bahkan tidak membutuhkan badan). Sudah dikatakan, karena diciptakan untuk semakin mencerminkan diri Allah yang Roh Murni, maka mereka tidaklah berbadan. Karena statusnya yang tidak berbadan, mereka tidak hidup seperti kita. Mereka tidak perlu makan dan minum. Mereka tidak melahirkan (maka tidak ada keturunan malaikat). Mereka juga tidak mengawinkan dan dikawinkan seperti kata Tuhan Yesus (Mrk 12:25). Bahkan nanti kita akan melihat bahwa cara mereka mengetahui dan menghendaki (kehendak) sangat berbeda dengan kita. Pertanyaan yang mungkin perlu dijawab adalah: bagaimana sebagai roh murni, malaikat tetap tidak sama dengan Tuhan?

Santo Thomas dalam hal ini mengembangkan pemikiran mendalam dengan membedakan dalam tataran metafisis (kenyataan keberadaan sesuatu) perbedaan antara esensi (apanya sesuatu atau hakikat sesuatu) dan keberadaan sesuatu. Kita bisa memikirkan sebuah konstruksi tentang sesuatu di pikiran kita. Namun, belum tentu sesuatu itu real. Saya bisa memikirkan adanya gajah yang terbang dengan segala deskripsi hakikat gajah terbang dan bagaimana dia hidup. Namun kenyataannya gajah yang bisa terbang tidak pernah ada. Tetapi sesuatu itu sungguh ada atau berada (nyata) apabila memang terbukti di kenyataan memang dia ada (berada).

Untuk membuat sesuatu itu ada, meski hakikatnya bisa dipikirkan, dibutuhkan sebuah tindakan, yaitu tindakan mengadakan sesuatu itu ada. Tindakan ini yang menyebabkan sesuatu itu ada. Di dalam hal ini kita sebut penciptaan. Penciptaan adalah pemberian keberadaan kepada sebuah hakikat. Apa artinya perbedaan hakikat dan keberadaan di dalam hubungannya dengan malaikat?

Di sinilah kita masuk dalam sebuah pemikiran yang mendalam dari Thomas Aquinas tentang keberadaan sebuah realitas. Bagi Thomas Aquinas, yang tersempurna di dalam pemikiran dan imajinasi kita, bukanlah yang utama. Yang terpenting adalah keberadaan sesuatu. Berada (nyata) sendiri adalah sebuah kesempurnaan! Itulah sebabnya dikatakan apa pun yang ada di dunia ini adalah kesempurnaan di dalam dirinya sendiri (lepas dari kekurangannya sebagai kodrat tercipta; hal mana adalah bagian sebagai ciptaan dibandingkan dengan Pencipta yang Mahasempurna) dan layak diterima dengan penuh syukur.

Bedanya antara kita dan Tuhan adalah bahwa Tuhan itu sejak awal adalah ada dan tidak pernah tidak ada. Maka keberadaan Tuhan (nyata) adalah hakikat-Nya sendiri. Tuhan selalu berada dan yang selalu berada dan ada adalah Tuhan! Maka hanya pada Tuhan ada identifikasi (kesamaan) antara hakikat dan keberadaan. Apa yang sempurna yang bisa dipikirkan di pikiran manusia, ada pada Tuhan dan bukan imajinasi belaka!

Malaikat yang merupakan makhluk roh murni, levelnya tidak mungkin sama dengan Allah karena malaikat itu, bagaimana pun mulianya dan menyerupai dan dekat dengan Allah yang roh murni, adalah sebuah tindakan Allah, yaitu penciptaan. Hakikat mereka yang ada sebagai roh murni tidak pernah akan ada kalau tidak diadakan (diciptakan). Santo Thomas, sebagaimana dikutip oleh Bonino, mengatakan bahwa semua yang bersifat roh murni tetaplah terbatas apabila keberadaannya (sebagai tercipta) membatasinya karena keberadaannya sebagai roh murni yang diciptakan selalu ada karena berpartisipasi (dicurahkan dan mengambil bagian) dari Keberadaan yang lebih luas (yaitu Tuhan sebagai Pencipta). Memang dibandingkan dengan semua ciptaan yang bertubuh (korporealitas) malaikat itu lebih sempurna. Malaikat sempurna dibandingkan ciptaan lain (termasuk manusia) karena di dalam malaikat tidak ada unsur material (tubuh) yang menyebabkan sesuatu itu kurang sempurna dan terbatas.

Kedua, mungkin yang lebih menarik adalah akibat kenyataan bahwa malaikat adalah roh murni. Karena malaikat bersifat roh murni, maka malaikat itu unik dan tidak sama satu dengan yang lain. Kalau manusia, yang membuat unik adalah kepribadiannya (psikologi) dan penampakannya (materialitas: bentuk tubuh, bentuk muka dll), tetapi sebagai spesies manusia dia itu sama. Kebertubuhan (materialitas) manusialah yang  membuat manusia satu dengan yang lainnya berbeda. Di dalam bahasa Thomas Aquinas, meminjam Aristoteles, materialitas (materi) yang ada pada manusialah yang membuat manusia beda; namun formanya (hakikatnya sebagai manusia yang membedakan dia dari makhluk lainnya) adalah sama.

Duplikasi terjadi bukan pada hakikat melainkan pada aspek materialitas (penampakan hakikat kemanusiaan). Dan karena kesempurnaan itu pada hakikat (bukan penampakannya), maka apabila sebuah ciptaan tidak mempunyai unsur material (tidak berbadan), maka perbedaannya mesti bukanlah dicari pada penampakan hakikat (badaniah) melainkan di dalam hakikat itu sendiri. Maka Gabriel dan Mikael itu berbeda bukan karena sifat (aspek psikologis) dan penampakan muka dan tubuh mereka berbeda (mereka tidak bertubuh!), melainkan karena zat atau hakikat Gabriel dan Mikael dari awalnya berbeda.

Maka perbedaan pada malaikat satu dengan yang lain adalah sebanyak (jumlah) keberadaan mereka yang diciptakan Tuhan. Masing-masing mewakili satu zat atau hakikat. Itulah yang membuat keunikan pada malaikat berbeda dengan manusia. Pada manusia perbedaannya bukan di hakikat melainkan pada perwujudan hakikat di dalam kebertubuhan dan konsekuensinya, sedangkan pada malaikat pada level hakikatnya sendiri (karena mereka tidak memiliki tubuh). Malaikat yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama sejak mereka diciptakan dan itu berakar di dalam keberadaan dan hakikat mereka sendiri yang diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan (dengan tugas dan fungsinya masing-masing tentunya).

Hal kedua dari konsekuensi immaterialitas pada malaikat adalah bahwa mereka tidak dapat mati. Mati dan hancur adalah akibat bertubuh. Apabila tidak ada tubuh, hanya roh murni, maka tidak akan mati. Tidak mati tidak sama dengan kekekalan. Kekekalan itu tiada awal dan akhir dan selalu ada dan berada: dari dulu, sekarang dan selamanya berada. Kekekalan hanya pada Tuhan. Namun tidak dapat mati (hancur) hanya ada pada malaikat sebagai ciptaan roh murni.

Setelah kita melihat keberadaan malaikat dan hakikat mereka, kita akan menelusuri lebih dalam lagi mengenai kehidupan malaikat. Yang kami maksudkan di sini adalah beberapa pertanyaan berikut: (a) bagaimana status kemampuan malaikat dibandingkan dengan manusia; terutama di dalam hal mengetahui, menghendaki, (b) apakah mereka bisa memengaruhi hidup manusia? (c) relasi mereka sebagai ciptaan roh murni dengan Allah, terutama di dalam misteri sejarah keselamatan (tata rahmat), dan (d) apa yang terjadi pada mereka setelah itu: apakah mereka selamanya bersama Allah atau mereka memberontak melawan Allah di dalam suatu saat setelah diciptakan. Dari kesemuanya yang kita bahas pada kehidupan malaikat. Dalam pembahan itu,diharapkan kita akan mengetahui asal muasal misteri kejahatan.

(Bersambung…)

 

Paus Fransiskus: Kemuliaan Kristus dan salib-Nya tidak dapat dipisahkan

Jum, 29/06/2018 - 23:13
Paus merayan Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus/Vatican Media

Pada Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus di Lapangan Santo Petrus, Roma, 29 Juni 2018, Paus Fransiskus mendesak umat Katolik untuk tidak menjadi batu sandungan di jalan Kristus, Yang Terurapi, yang kemuliaan-Nya tidak dapat dipisahkan dari salib-Nya.

“Dengan tidak memisahkan kemuliaan-Nya dari salib-Nya, Yesus ingin membebaskan murid-murid-Nya, Gereja-Nya, dari bentuk-bentuk kosong triumphalisme: bentuk-bentuk cinta, pelayanan, belas kasihan yang kosong, kosong manusia,” kata Paus dalam homilinya seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Dalam Misa untuk memperingati dua orang kudus yang menjadi pelindung Roma, yang bersama-sama menjadi martir di Kota Abadi itu, Paus juga memberkati pallium yang akan dikirim kepada 30 uskup agung metropolitan yang baru ditunjuknya di seluruh dunia dalam setahun terakhir.

Pallium adalah pita wol putih yang dipakai para uskup agung metropolitan di sekitar bahu mereka sebagai simbol otoritas dan persatuan mereka dengan Paus. Dalam satu keuskupan agung metropolitan dikelompokkan bersama keuskupan-keuskupan suffragan untuk membentuk wilayah geografis Gereja.

Paus memusatkan homili pada Injil Markus tentang pengakuan iman Santo Petrus kepada Yesus ketika mengatakan, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.” Paus mengatakan, Petrus telah melihat bagaimana Yesus “mengurapi” umat-Nya dengan harapan, sambil berjalan dari desa ke desa dengan satu tujuan yakni menyelamatkan dan menolong mereka yang dianggap hilang, mati, sakit, terluka dan bertobat.

Paus asal Argentina itu mengatakan, “Orang Yang Diurapi Tuhan terus membawa cinta dan belas kasih Bapa sampai akhir.” Paus juga mengatakan, “Kasih yang penuh belas kasih menuntut agar kita juga pergi ke setiap sudut kehidupan, untuk menjangkau semua orang, meskipun ini mungkin merugikan ‘nama baik’ kita, kenyamanan kita, status kita … bahkan kemartiran.”

Ketika Petrus tidak dapat menerima bahwa Yesus harus mati, ungkap Paus, dia menjadi musuh Tuhan dan “batu sandungan di jalan Mesias.” Kehidupan dan pengakuan iman Petrus, lanjut Bapa Suci, “juga berarti belajar mengenali cobaan-cobaan yang akan menyertai kehidupan setiap murid.”

Seperti Petrus, kata Paus, kita akan selalu tergoda untuk mendengar “bisikan” si jahat, yang akan menjadi batu sandungan bagi misi. Iblis, jelas Paus, menggoda dengan “berbisik” dari persembunyian, karena seperti seorang munafik dia ingin tetap tersembunyi dan tidak ditemukan.

Ikut bersama dalam pengurapan Kristus, juga berarti ikut bersama dalam kemuliaan-Nya, yang adalah salib-Nya. “Dalam Yesus,” kata Paus, “kemuliaan dan salib berjalan bersama; mereka tidak dapat dipisahkan.”

Paus menjelaskan, di saat kita menolak salib, meskipun kita dapat mencapai tingginya kemuliaan, kita akan membodohi diri sendiri, karena itu bukan kemuliaan Tuhan, tetapi jerat musuh.

Menurut Paus, kita sering merasakan godaan untuk menjadi orang Kristen dengan tetap menjaga jarak dari luka-luka Tuhan. Yesus menyentuh kesengsaraan manusia dan Dia meminta kepada kita untuk ikut bersama Dia menyentuh penderitaan tubuh orang lain yang menderita.(pcp berdasarkan Vatican News)

Mengapa Kristus menetapkan Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit?

Jum, 29/06/2018 - 17:53
Paus Fransiskus berlutut di depan seorang imam dan mengaku dosa. Foto: Vatican News

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

295. Mengapa Kristus menetapkan Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit?

Kristus, Sang Penyembuh jiwa dan badan kita, menetapkan Sakramen-Sakramen ini karena kehidupan baru yang Dia berikan kepada kita dalam Sakramen-Sakramen inisiasi Kristiani dapat melemah, bahkan hilang karena dosa. Karena itu, Kristus menghendaki agar Gereja melanjutkan karya penyembuhan dan penyelamatan-Nya melalui Sakramen-Sakramen ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1420-1421, 1426

SAKRAMEN TOBAT

296. Apa nama Sakramen ini?

Namanya Sakramen Penebusan Dosa, Sakramen Rekonsiliasi, Sakramen Pengampunan, Sakramen Pengakuan, dan Sakramen Tobat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1422-1424

297. Mengapa ada Sakramen Rekonsiliasi setelah Sakramen Pembaptisan?

Karena rahmat kehidupan baru yang diterima dalam Sakramen Pembaptisan tidak menghapuskan kelemahan kodrat manusia dan juga kecenderungan kepada dosa (yang disebut konkupisensi), Kristus menetapkan Sakramen ini untuk pertobatan orang yang dibaptis yang terpisah dari Dia karena dosa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1425-1426, 1484

Kardinal Joseph Coutts khawatir tidak bisa memberi banyak waktu untuk masyarakat

Jum, 29/06/2018 - 16:00
Kardinal Joseph Coutts dari Pakistan

Dalam Konsistori Umum Biasa, 28 Juni 2018, Paus Fransiskus menciptakan 14 kardinal baru dari berbagai negara. Salah satu di antaranya adalah Uskup Agung Karachi dari Pakistan, Kardinal Joseph Coutts. Namun dalam wawancara dengan Vatican News, Kardinal Coutts mengatakan terkejut dengan pencalonannya, karena “para klerus di Pakistan sangat dekat dengan masyarakat.” Lebih lanjut, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari media itu, Kardinal Coutts mengatakan, “Bagi kami, di negara miskin seperti Pakistan dan di Gereja kecil dan muda secara historis, kita semua, sebagai uskup atau uskup agung, menghabiskan banyak waktu dengan masyarakat. Dan syukur kepada Tuhan, kita tidak memiliki gaya hidup yang membuat kami melebihi masyarakat. Kami mencoba untuk bersama masyarakat dalam sebagian besar waktu kami.” Kardinal Coutts tidak yakin apakah tugas barunya akan mengurangi waktu yang dia miliki untuk bersama masyarakat. “Jadi untuk menjadi kardinal, saya belum tahu apa implikasinya. Tapi saya khawatir akan tercipta jarak,” kata kardinal itu, karena dia tidak lagi bisa memberi begitu banyak waktu bagi masyarakat. (pcp berdasarkan vatican news)

Wawancara dengan Kardinal Joseph Coutts

Wawancara dengan Kardinal Joseph Coutts

Artikel terkait:

Paus Fransiskus umumkan nama-nama 14 kardinal baru sesudah Ratu Surga

Paus Fransiskus: ‘Tuhan memiliki tempat khusus di hati-Nya untuk orang-orang cacat’

Kam, 28/06/2018 - 23:44
Paus nyalakan lilin Olimpiade Khusus/Vatican Media

Sebelum Audiensi Umum di ruang ber-AC Aula Paulus VI, Rabu, 27 Juni 2018, Paus Fransiskus secara khusus menyapa beberapa orang yang sakit dan cacat, dengan mengatakan bahwa Tuhan memiliki tempat khusus di hati-Nya bagi para penyandang cacat. Kemudian Paus memuji organisasi Olimpiade Khusus yang merayakan ulang tahun ke-50. Paus memberikan sambutan hangat kepada kelompok “Prakarsa Orang Muda Katolik Tuna Rungu dari Amerika” dan berdoa untuk hasil spiritual dari ziarah mereka ke Roma. Di luar Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus menyambut delegasi organisasi “Olimpiade Khusus”, yang merayakan ulang tahun ke-50 yayasannya. “Dunia olahraga memberikan kesempatan khusus bagi orang-orang untuk bertumbuh dalam saling pengertian dan persahabatan, dan saya berdoa agar Api Olimpiade ini bisa menjadi tanda sukacita dan harapan di dalam Tuhan yang menganugerahkan karunia persatuan dan perdamaian bagi anak-anak-Nya,” kata Paus. Paus kemudian memberi berkat sukacita dan perdamaian atas “semua orang yang mendukung tujuan Olimpiade Khusus.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Vatican Media Vatican Media Vatican Media

Bagaimana kemungkinan memberikan Komuni Kudus kepada orang Kristen yang lain?

Kam, 28/06/2018 - 21:17
cruxnow.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

293. Bagaimana kemungkinan memberikan Komuni Kudus kepada orang Kristen yang lain?

Pelayan Katolik boleh memberikan Komuni Kudus secara legitim kepada anggota Gereja Timur yang tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik jika mereka memintanya dengan kehendak mereka sendiri dan mempunyai disposisi yang memenuhi syarat. Sedangkan, kepada anggota komunitas gerejawi lainnya boleh diberikan jika mereka memintanya atas kemauan sendiri, mempunyai disposisi yang dituntut, dan ada tanda yang jelas bahwa mereka juga mempunyai iman yang sama mengenai Sakramen Ekaristi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1398-1401

294. Mengapa Ekaristi merupakan ”jaminan untuk kemuliaan yang akan datang”?

Ekaristi merupakan jaminan untuk kemuliaan yang akan datang karena Ekaristi memberikan berkat dan rahmat surgawi kepada kita, memperkuat kita dalam peziarahan kita dalam kehidupan ini dan membuat kita rindu akan kehidupan kekal. Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus yang duduk di sisi kanan Bapa, dengan Gereja di surga, dengan Perawan Maria yang Terberkati, dan dengan semua santo-santa.

Dalam Ekaristi, kita ”memecah-mecah satu roti

yang memberi kita obat keabadian, penawar racun kematian,

dan makanan yang membuat kita hidup selamanya dalam Yesus Kristus”

(Santo Ignatius dari Antiokhia)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1402-1405

Paus Fransiskus menerima lagi pengunduran diri dua uskup Chili

Kam, 28/06/2018 - 19:16

 

Paus Fransiskus bersama para uskup Chili dalam kunjungan mereka ke Roma, Mei 2018/Vatican News

Setelah menerima pengunduran diri tiga uskup Chili, seperti dilaporkan oleh Vatican News tanggal 11 Juni 2018, hari ini, 28 Juni 2018, Kantor Pers Tahta Suci mengumumkan bahwa Paus Fransiskus menerima pengunduran diri dua uskup Chili.

Diumumkan bahwa Bapa Suci telah menerima pengunduran diri dari kepemimpinan pastoral Keuskupan Rancagua, Chili, yang disampaikan oleh Mgr Alejandro Goić Karmelić, karena alasan telah mencapai batas usia.

Bapa Suci pun mengangkat Uskup Pembantu Santiago de Chile Mgr Luis Fernando Ramos Pérez sebagai Administrator Apostolik sede vacante et ad nutum Sanctae Sedis dari Keuskupan Rancagua, Chili.

Bapa Suci juga menerima pengunduran diri dari kepemimpinan pastoral Keuskupan Talca, Chili, yang disampaikan oleh Mgr Horacio del Carmen Valenzuela Abarca dan menunjuk Uskup Pembantu  Santiago de Chile Mgr Galo Fernández Villaseca sebagai Administrator Apostolik sede vacante et ad nutum Sanctae Sedis dari keuskupan yang sama, Talca, Chili.

Sebelumnya, menurut laporan Vatican News 11 Juni 2018,  Paus Fransiskus menerima permintaan pengunduran diri tiga orang uskup Chili yakni Uskup Osorno Mgr Juan Barros Madrid, Uskup Agung Puerto Montt Mgr Cristián Caro Cordero, dan Uskup Valparaiso Mgr Gonzalo Duarte García De Cortázar SS.CC.

Menurut laporan itu, permintaan pengunduran diri Mgr  Cordero dan Mgr Cortázar karena alasan telah mencapai batas usia.

Untuk mengisi tahta kosong tiga keuskupan itu, Bapa Suci mengangkat Mgr Jorge Enrique Concha Cayuqueo OFM sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Osorno, Pastor Ricardo Basilio Morales Galindo (Provinsial Ordo Mercedarian di Chili) sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Puerto Montt, dan Mgr Pedro Mario Ossandón Buljevic sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Valparaiso. Mgr Cayuqueo dan Mgr Buljevic adalah juga Uskup Pembantu Santiago de Chile.

Tanggal 18 Mei 2018, sebanyak 34 uskup Chili memohon maaf atas skandal pelecehan seks yang dilakukan klerus di negara mereka dan mengajukan pengunduran diri kepada Paus Fransiskus. Permintaan pengunduran mereka itu disampaikan setelah mereka bertemu dengan Paus Fransiskus selama tiga hari.

Ketika berbicara dengan pers setelah membaca pernyataan mereka, para uskup menjelaskan bahwa mereka telah menyerahkan jabatan mereka “ke tangan Bapa Suci dan akan membiarkan dia untuk bebas mengambil keputusan” atas mereka masing-masing.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Berita Terkait:

Kantor Pers Vatikan beri pernyataan tentang kasus pelecehan seksual di Chili

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Para uskup Chili ungkapkan rasa sedih dan malu atas pelecehan dan ingin dengarkan Paus

Paus akan menerima tiga korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus di Chili

Pelecehan seks Chili: Paus Fransiskus memohon maaf atas kesalahan kesalahan serius

Greg Burke: Paus Fransiskus rutin bertemu korban pelecehan seks yang dilakukan klerus

Pastor Philipp Johannes Wagner OP, rektor baru Basilika Santa Sabina

Kam, 28/06/2018 - 13:36
Pastor Philipp Johannes Wagner OP di dalam Basilika Santa Sabina, Roma

Dengan Dekrit yang sesuai Hukum Kanon 556-563, Uskup Agung Titular Mottola Mgr Angelo de Donatis, yang menjabat sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Roma, mengangkat Pastor Philipp Johannes Wagner OP sebagai rektor Basilika Santa Sabina. Keputusan itu diberikan di markas Vikaris Apostolik di Istana Lateran, Roma, tanggal 1 Juni 2018.

Melalui surat keputusan itu, Mgr Donatis memberikan kepada Pastor Philipp wewenang yang sesuai jabatannya. Selain itu, Mgr Donatis berterima kasih kepada rektor yang lama Pastor Miguel Ángel Del Río González OP.

Dalam keputusan itu, Uskup Agung Angelo de Donatis, mengingatkan semangat pastoral dalam budaya iman. “Gereja-gereja yang bersejarah di kota Roma, warisan seni yang tak tertandingi, pertama-tama menggambarkan nilai pastoral yang harus dijaga ketat, karena nilai itu selalu hidup dan aktif dalam kehidupan umat Katolik Keuskupan Roma.

Mgr Donatis menekankan pentingnya menjadi rektor “yang sebaik mungkin menjaga kultus dalam gereja Santa Sabina di Bukit Aventine itu dan melindungi warisan seni dan sejarahnya, sesuai bimbingan Master General (Pastor Bruno Cadoré OP). Uskup Agung Donatis dengan senang menggelari Pastor Philipp sebagai Rektor Basilika Santa Sabina.”

Pastor Philipp lahir tanggal 26 Mei 1969 dan menjadi seorang Dominikan sejak tahun 1990. Setelah masa novisiat dan studi di Bonn dan Roma, imam itu bekerja selama hampir sembilan tahun di Paroki Dominikan di Braunschweig, sebuah kota universitas di Jerman bagian utara.

Tahun 2004, Kapitel Provinsi mengangkatnya sebagai Master Mahasiswa dan tahun 2008 sebagai Master Novis. Selama itu Pastor Philipp tinggal di Worms, rumah novisiat bersama untuk provinsi-provinsi Dominikan yang berbahasa Jerman. Imam itu menjadi formator selama 13 tahun dan kemudian selama enam bulan tinggal di biara Santo Yohanes dan Santo Paulus di Venesia. Di sana, imam itu menerima pencalonannya sebagai Rektor Basilika Santa Sabina di Roma.

“Saya percaya bahwa Santa Sabina akan lebih memperlihatkan kehadiran Dominikan di Roma, dengan memberikan kepada banyak pengunjung di gereja itu, baik umat beriman dan wisatawan, kesempatan untuk menerima Basilika itu sebagai tempat spiritual, dan dengan menemui para biarawan Dominikan yang bersaksi tentang Injil,” kata imam itu. (paul c pati berdasarkan www.op.org)

Suster yang juga PNS mengaku, 25 tahun sebagai suster adalah kehebatan Tuhan

Rab, 27/06/2018 - 23:51
Suster Clarentine CIJ/Konradus

Keluarga dari Flores itu disebut keluarga besar, karena anak dalam keluarga itu sebanyak delapan orang. Dari delapan anak itu, satu di antaranya menjadi imam dan dua lainnya menjadi suster. Salah satu dari kedua suster itu, Suster Clarentine CIJ, merayakan pesta perak hidup membiara.

“25 tahun sebagai suster bukanlah suatu kehebatan saya, tapi kehebatan Tuhan dalam merawat perjalanan hidupku, serta dukungan kedua orangtua serta rekan-rekan saya,” kata Suster Clarentine  kepada PEN@ Katolik. Suster itu lahir di Larantuka, 2 Oktober 1969.

Petrus Ece Muda Pr yang memimpin Misa Perayaan 25 Tahun Hidup Membiara Suster Clarentine  CIJ, di Tebet, Jakarta Selatan, 23 Juni 2018 membenarkan bahwa “cinta dan kesetiaan Tuhan yang memanggil Suster Clarentine berkarya dalam pelayanan pendidikan.”

Misa yang dihadiri sekitar 100 orang yang terdiri dari keluarga dekat Suster Clarentine, umat Paroki Santo Antonius Padua, Jakarta, dan handai tolannya itu, menurut imam diosesan itu, adalah pesta iman saat seluruh yang hadir ikut mendukung dan mendoakan Suster Clarentine “agar tetap setia dalam tugas pelayanan sebagai seorang suster dari Kongregasi Pengikut Yesus (Congregatio Imitationis Jesu, CIJ).”

Perayaan bertema “Segalanya kutanggung  dalam Dia yang memberikanku kekuatan” (Filipi 4: 13), juga dihadiri Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi serta istrinya dan sejumlah tokoh asal Flores, NTT. Kepada mereka Pastor Ece mengatakan bahwa “umat Katolik dari Keuskupan Larantuka, Flores, umumnya memiliki sifat banyak bicara, suka kerja keras, suka berdoa dan banyak yang menjadi pewarta Injil, dan ciri-ciri itu ada dalam keluarga dari Suster Clarentine.”

Suster Clarentine mengucapkan kaul pertama tahun 1993 dan berkarya di bidang pendidikan setelah merampungkan Bimbingan Konseling (BK) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sebelumnya dia pernah mengajar di sejumlah sekolah yakni di Lembata, Kupang, Kranji (Bekasi), Maumere, Kalimantan, dan Manggarai (Flores).

Saat ini Suster Clarentine yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu bertugas sebagai guru BK di SMAN II Ende. Suster itu mengaku menghadapi berbagai tantangan, namun dengan motonya sesuai tema Misa itu, “saya bisa menghalau kegelisahan dan tantangan yang dihadapi dalam meniti panggilan sebagai abdi Yesus.” (Konradus R. Mangu)

Syarat apa yang dituntut untuk menyambut Komuni Kudus?

Rab, 27/06/2018 - 20:08
Paroki Santo Thomas Aquinas di Monterey Park, California, AS

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

291. Syarat apa yang dituntut untuk menyambut Komuni Kudus?

Untuk menerima Komuni Kudus, seseorang harus secara penuh tergabung dalam Gereja Katolik, dan dalam keadaan rahmat, yaitu tanpa kesadaran akan dosa yang mendatangkan maut. Setiap orang yang sadar melakukan dosa berat harus menerima Sakramen Rekonsiliasi lebih dahulu sebelum menerima Komuni. Hal yang juga penting bagi mereka yang hendak menerima Komuni Kudus adalah suasana hening dan doa, selain itu perlu memperhatikan pantang yang diwajibkan Gereja dan sikap tubuh (tata gerak dan pakaian) yang pantas sebagai tanda penghormatan di hadapan Kristus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1385-1389, 1415

292. Apa buah-buah Komuni Kudus?

Komuni Kudus mempererat kesatuan kita dengan Kristus dan dengan Gereja-Nya. Kecuali itu, juga menjaga dan memperbarui hidup rahmat yang diperoleh pada saat menerima Sakramen Pembaptisan dan Penguatan, dan membuat kita berkembang dalam cinta kepada sesama, memperkuat kita dalam cinta kasih, menghapus dosa- dosa ringan, dan menjaga kita dari bahaya dosa berat di masa depan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1391-1397, 1416

Paus Fransiskus mengubah hari Minggu biasa menjadi kejutan luar biasa

Rab, 27/06/2018 - 14:10
Paus dengan seorang cacat di Casa OSA/Foto berdasarkan Vatican News

Pada hari Minggu biasa 24 Juni 2018, Paus Fransiskus melakukan kunjungan yang disebut “kejutan luar biasa” oleh Vatican News yakni ke “Casale 4.5” di pinggiran kota Roma. Hal itu disebut  luar biasa oleh media itu karena yang biasa dilakukan Paus adalah kunjungan Jumat Belas Kasih atau Jumat Kerahiman.

Kali ini Paus Fransiskus muncul di sebuah koperasi bernama “Durante e dopo di Noi. Casa OSA” (Selama dan setelah kami. Rumah Para Pekerja Perawatan Kesehatan Terkait). Paus datang ke sana, menurut laporan itu, untuk berbicara dengan sekitar 200 ” dan memeluk mereka.

“Kami selalu mengindahkan kebahagiaan dan kesejahteraan mereka yang kami bantu – yang saat ini berjumlah sekitar 50.000 di seluruh Italia,” jelas presiden kelompok itu,  Luca Milanese, kepada Paus Fransiskus.

Tujuan mereka, lanjutnya, adalah agar setiap orang yang dilayani akan dapat meningkatkan kehidupan mereka, menjadi semakin otonomi, dengan bantuan orang-orang yang mereka cintai dan para pekerja perawatan kesehatan.

‘Casa OSA’ adalah proyek kehidupan yang menstimulasi emosi, sikap, hubungan dan keinginan mereka yang dibantu. Proyek itu juga “menopang keluarga-keluarga yang keinginan satu-satunya adalah menjamin masa depan yang bermartabat bagi anak-anak mereka bahkan ketika mereka sudah tidak ada,” kata Milanese.

Paus Francis mengatakan dia bersyukur akan adanya  “hari keluarga” dan mendorong mereka yang hadir dengan mengatakan “percayalah pada mimpi-mimpi dan pada keindahan hidup dalam persatuan dengan Tuhan.”

Fasilitas yang dikunjungi Paus Fransiskus itu adalah bagian dari rantai kerja dengan orang-orang penyandang cacat berat dan keluarga mereka untuk memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan dan bantuan jangka panjang bagi orang-orang cacat.

Yayasan “Dopo di Noi” yang non-profit itu didirikan tahun 1984 guna  membantu penyandang cacat untuk mengembangkan rencana jangka panjang dalam pandangan masa depan di saat anggota-anggota keluarga tidak dapat lagi memberikan perawatan. Ini adalah bagian dari organisasi lebih besar yang bernama Anffas yang telah mendedikasikan dirinya selama 60 tahun untuk mengadvokasi hak-hak para penyandang cacat.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus mengagetkan lima ibu yang berada dalam tahanan

Paus membuat kunjungan kejutan ke rumah sakit dan pelayanan sosial di Roma

Paus tiba-tiba kunjungi para imam lansia dan menderita

Paus memeluk orang-orang cacat di Casa OSA/Ist Paus bersama orang cacat di Casa OSA/Foto Vatican News

Paus bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron, penerima gelar Kanon Kehormatan

Rab, 27/06/2018 - 12:39
Paus Fransiskus dan Presiden Perancis berbagi hadiah/Vatican News

Paus Fransiskus bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam audiensi hari Selasa, 26 Juni 2017. Kemudian di hari yang sama, Presiden Macron menerima warisan gelar kanon kehormatan dari Basilika Lateran. Dalam audiensi itu Presiden Macron didampingi istrinya, Brigitte.

Menurut komunike dari Kantor Pers Tahta Suci, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, pembahasan Paus Fransiskus dan Presiden Perancis itu adalah tentang perlindungan lingkungan, migrasi, dan pencegahan konflik.

Komentar-komentar mereka tentang isu-isu global mencakup perlunya “komitmen multilateral untuk pencegahan dan penyelesaian konflik, terutama dalam kaitannya dengan pelucutan senjata.”

Selain berbagi pandangan tentang konflik di Timur Tengah dan Afrika, serta merefleksikan “prospek-prospek proyek Eropa,” Paus Fransiskus dan Presiden Macron berbicara tentang bagaimana agama berkontribusi bagi “kebaikan bersama” Perancis, terutama komitmen Gereja Katolik untuk memperbaiki masyarakat.

Mereka juga saling bertukar hadiah. Paus Fransiskus memberikan kepada Macron, yang dibaptis Katolik pada usia 12 tahun, sebuah medali Santo Martin dari Tours. Menurut cerita, orang kudus itu memotong dua jubahnya dan memberikan setengahnya kepada seorang pengemis di musim dingin.

Presiden Macron memberikan kepada Paus sebuah buku langka tahun 1936 dari Georges Bernanos yakni “Diary of a Country Priest”.

Setelah itu, Presiden Macron bertemu Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin dan Sekretaris Hubungan dengan Negara-Negara Uskup Agung Paul Richard Gallagher.

Kemudian pada sore hari, Presiden Emmanuel Macron menerima gelar “Kanon Kehormatan yang pertama dan satu-satunya” dari Basilika Santo Yohanes Lateran atau Katedral Roma.

Para pemimpin Perancis secara otomatis mewarisi gelar “Kanon Kehormatan” sesuai tradisi abad ke-15 saat Perancis adalah monarki. Kardinal terpilih Angelo De Donatis memimpin upacara itu dan memberikan gelar itu kepada Presiden Macron.(pcp berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus berbincang dengan Presiden Perancis/Vatican News Presiden Perancis Emmanuel Macron menerima warisan gelar Kanon Kehormatan dari Basilika Lateran/Daily Express

Kaul sementara butuh komitmen, waktu, pengorbanan yang sama dengan kaul kekal

Sel, 26/06/2018 - 16:37
Frater Robertus Adi Nugroho OP dari Jakarta bertanda tangan atas janjinya

“Pengucapan kaul sementara, meski saat ini dilakukan untuk satu tahun, seharusnya dilakukan dengan suatu visi akan pengucapan kaul kekal di masa depan. Janji ini membutuhkan komitmen, waktu, dan pengorbanan yang sama dengan kaul kekal, janji yang menjadi kesaksian akan harapan kita akan kehidupan kekal.”

Pastor Filemon Dela Cruz OP mengatakan hal itu dalam renungannya saat, atas nama Master Ordo Dominikan Pastor Bruno Cadore OP, menerima kaul sementara dari Frater Johnny Luntungan OP yang berasal dari Manado, Frater Robertus Adi Nugroho OP dari Jakarta, dan Frater Lukas Sabdaningrat OP dari Bekasi.

Pembaruan Kaul Sementara bagi Ordo Dominikan sebagai pembaruan janji religius untuk taat kepada Tuhan, Bunda Maria, Santo Dominikus, Master Ordo dan penerus-penerusnya itu berlangsung hari Minggu, 24 Juni 2018, bertepatan dengan peringatan kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Pembaruan kaul itu dilangsungkan bersama-sama dengan doa pagi komunitas di kapel pastoran Redemptor Mundi Surabaya dan dihadiri seluruh komunitas frater dan suster Dominikan di Surabaya, serta formator Pastor Joseto Bernadas Jr OP.

Namun, dalam kehidupan religius, jelas imam dari Filipina yang bertugas sebagai kepala Rumah Santo Tomas Aquino Surabaya itu, sering muncul pertanyaan, “Bagaimana jika…?” Pertanyaan itu bisa menjadi persiapan yang baik akan masa depan, namun bisa juga menjadi sebuah cobaan.

Bagaimana jika saya tidak mampu? Bagaimana jika saya jatuh? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan keluarga saya yang sedang di luar? It semua adalah contoh-contoh pertanyaan yang sering muncul. Meski demikian, tegas imam itu, “Tuhan telah menyiapkan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dalam hidup komunitas dan dalam relasi dengan-Nya.”

Pastor Filemon juga mengajak para frater itu untuk menanyakan kembali berbagai hal yang ada dalam peraturan-peraturan hidup bersama sebagai religius. Di situ, jelas imam itu, “Terdapat kebijaksanaan para pendahulu kita dalam regula dan konstitusi yang kita taati. Jika saja kita benar-benar memahami dan melakukannya, niscaya kita dapat menjadi orang kudus di mata Tuhan.”(fr johnny luntungan op)

Artikel terkait:

Mgr Sutikno ingatkan hidup imamat tak janjikan sukses duniawi tapi bayang-bayang salib

Pastor Napoleon-Sipalay OP: Ordo Pewarta tak kejar kuantitas tapi kualitas pelayanan bagi Gereja

Tiga frater OP bertiarap di lantai kapel/Ist Dari kiri ke kanan: Frater Lukas Sabdaningrat OP, Frater Johnny Luntungan OP, Frater Robertus Adi Nugroho OP/Ist Pastor Filemon Dela Cruz OP bersama tigra frater yang mengucapkan kaul sementara/Ist Bersama beberapa imam, suster dan frater di Surabaya/Ist

Bilamana seseorang harus menyambut Komuni Kudus?

Sel, 26/06/2018 - 15:11
michaelckw.blogspot.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

289. Bilamana Gereja mengharuskan anggota-anggotanya berpartisipasi dalam perayaan Sakramen Ekaristi Kudus?

Gereja mengharuskan warga-Nya untuk berpartisipasi dalam perayaan Sakramen Ekaristi Kudus setiap Minggu, dan pada hari-hari suci yang diwajibkan, serta menganjurkan juga pada hari-hari lainnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1389, 1417

290. Bilamana seseorang harus menyambut Komuni Kudus?

Gereja menganjurkan kaum beriman, jika mereka mempunyai disposisi yang dituntut, menerima Komuni Kudus setiap kali mereka berpartisipasi dalam Ekaristi Kudus. Tetapi, Gereja mewajibkan mereka menerima Komuni Kudus paling sedikit satu kali dalam setahun selama masa Paskah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1389

PMKRI menghimbau seluruh kadernya untuk mengawal jalannya Pilkada

Sel, 26/06/2018 - 05:33
Berdasarkan Foto Baret Merah PMKRI/Ist

“Menghimbau kepada seluruh kader PMKRI di daerah-daerah yang melaksanakan Pilkada agar terlibat secara aktif untuk mengawal jalannya proses demokratis tersebut secara jujur dan adil dengan mengedepankan politik nilai yang berpijak pada keadilan, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif.”

Demikian salah satu dari beberapa pernyataan sikap Pengurus Pusat PMKRI dalam Pilkada Serentak 2018 yang dikeluarkan di Jakarta, 25 Juni 2018, dan ditandatangani oleh Presidium Gerakan Kemasyarakatan Yohanes Paulus Arianto Sani Namang, dan diketahui oleh Ketua Presidium Juventus Prima Yoris Kago dan Sekretaris Jenderal Tomson Sabungan Silalahi.

Pernyataan itu dikeluarkan karena Pengurus Pusat PMKRI menyadari bahwa momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara demokratis yang akan berlangsung 27 Juni 2018 menuntut tanggung jawab moral segenap tumpah darah Indonesia untuk menjamin terlaksananya pemilihan umum itu secara adil dan jujur tanpa mencederai persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dalam terang itu, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merasa terpanggil untuk terlibat aktif dalam upaya untuk mengawal Pilkada tersebut, sehingga momentum kontestasi kepemimpinan itu, selain mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang kredibel dan cakap, juga mampu meneguhkan keharmonisan bangsa dalam bingkai persatuan dan kesatuan sesuai dengan Pancasila,” tulis pernyataan sikap yang juga dikirim kepada PEN@ Katolik itu.

Dalam semangat mengawal proses demokratis serta menjaga keharmonisan bangsa pada momentum Pilkada itu, Pengurus Pusat PMKRI juga menyerukan agar pemilih “menolak praktek politik uang dan segala bentuk kampanye hitam yang berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan di antara sesama anak bangsa.”

Selain itu, pemilih diminta menggunakan pertimbangan rasional dan suara hati dalam memilah dan memilih kandidat kepala daerah sesuai dengan rekam jejak dan kapasitas intelektual untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kedaerahan dan kebangsaan, dan bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam keragaman di bawah terang Pancasila.

Pengurus Pusat PMKRI juga menghimbau kepada pihak Penyelenggara Pemilu, Polri, dan TNI untuk bersikap netral dalam proses Pilkada 2018.(paul c pati)

Halaman