Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 33 mnt yang lalu

Suster ikut lomba semi-maraton dengan mengenakan jubah dan kerudung  

Rab, 20/06/2018 - 18:33
Suster Carmen Vilches berlari dalam lomba Semi Maraton Cúcuta/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi

Dengan mengenakan jubah dan kerudung, Suster Carmen Vilches, ikut dalam Lomba Semi-Maraton sepanjang 10 km di Cúcuta, di Kolombia, 3 Juni 2018. Biarawati asal Maracaibo, Venezuela, itu mengatakan kepada kantor berita Katolik berbahasa Spanyol,  ACI Prensa, bahwa komunitasnya baru tahu tentang lomba itu sehari sebelumnya, ketika “para novis ingin mengumpulkan dana di Cúcuta dengan penjualan kue. Saat itu mereka diperingatkan bahwa jalan-jalan akan akan ditutup pada hari berikutnya karena ada lomba maraton.”

Suster Carmen adalah anggota Kongregasi Suster-Suster Trovadoras de la Eucaristía atau Trovadoras Ekaristi (pemuja Ekaristi dengan lagu, puisi, dan tarian). Komunitasnya tinggal di kota Pamplona. Untuk mengikuti lomba itu mereka meminta izin kepada ibu superior. Mereka mendapat izin dengan syarat mereka tetap mengenakan kerudung dan jubah. Namun, ketika mereka mendaftar “hanya satu quota yang tertinggal.” Maka, satu-satunya yang dipilih adalah Suster Carmen, yang sudah menjadi anggota kongregasi itu selama tujuh tahun.

Suster Carmen menjelaskan bahwa alasan dia terpilih “karena saya sangat suka olahraga dan para suster sudah melihat bakat itu dalam diri saya, terutama daya tahan saya saat berlari, jogging atau bermain.”

Meskipun belum pernah ikut maraton sebelumnya, religius berusia 29 tahun itu berkomentar bahwa ketika sekolah dia bermain bola voli dan sepak bola.

Dalam komunitas, “kami olahraga dua atau tiga kali seminggu. Kami main sepak bola, basket, voli, tenis meja dan naik sepeda.” Selain itu, di Pamplona, “​​saya mendapat kesempatan keluar setiap hari dengan bersepeda untuk melakukan berbagai kegiatan.” Kegiatan fisik yang konstan itu membuat dia bisa berlari sepuluh kilometer dalam sirkuit maraton itu.

Ketika para biarawati itu mendaftarkan Suster Carmen, “mereka tahu bahwa mereka bisa ikut dengan mengenakan jubah, karena yang harus dikenakan adalah baju dan nomor dada atau bib.” Dengan demikian, mereka bisa “mempromosikan komunitas dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa status religius kami tidak menghalangi kami untuk ikut dalam acara semacam ini.”

Suster asal Venezuela itu mengatakan kepada ACI Prensa bahwa berlari maraton itu “merupakan pengalaman indah dan unik, karena dia menerima motivasi dari para suster, terutama dari Ibu Superior Angarita González.”

“Melihat orang-orang mendukung saya dan mengatakan ‘ayo suster’ memberi saya sukacita yang besar, karena mereka tidak menyebutkan Carmen tetapi kenyataan saya sebagai religius. Saya juga bersemangat meninggalkan bau Allah di jalan-jalan Cúcuta,” kata suster itu.

Dari 1500 peserta, “Saya tiba di posisi ke-15 dan panitia senang bahwa seorang religius ikut serta dengan jubahnya. Walikota Cúcuta memberi komunitas kami sumbangan ekonomi sebesar satu juta peso,” kata biarawati itu seraya menambahkan bahwa dia ingin berlari lagi dalam maraton mendatang.

Kongregasi Trovadoras Ekaristi adalah salah satu kongregasi termuda di Kolombia. Karya kerasulannya dimulai tahun 2006, dengan otorisasi dari Uskup Agung Nueva Pamplona, waktu itu, Mgr Gustavo Martínez Frías.

Bagian dari kerasulan mereka adalah menginjili dengan menggunakan seni teater, musik, tarian dan puisi. Tahun 2015, mereka menjadi perhatian orang-orang Kolombia karena mereka mulai bersepeda di jalanan sebagai cara untuk menjaga lingkungan. Mereka juga melakukan misi di berbagai bagian Kolombia yang terkena dampak perang gerilya dan kekerasan, khususnya penduduk di perbatasan. (Ditulis oleh Maria Ximena Rondon dari ACI Prensa dan diterjemahkan dengan perubahan oleh Paul C Pati untuk PEN@ Katolik)

Sister Carmen dengan dua postulan dari komunitasnya/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi Para suster bermain sepakbola/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi Sister Carmen dengan beberapa peserta Semi Maraton Cúcuta/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi saat penyerahan penghargaan/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi Para suster bersepeda di jalan-jalan di Pamplona/Foto Courtesy: Para Suster Trovadoras Ekaristi

Dengan cara apa Sakramen Ekaristi merupakan kenangan kurban Kristus?

Sel, 19/06/2018 - 21:52
Kredit Foto: pexels

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

278. Siapa pelayan perayaan Sakramen Ekaristi?

Pemimpin perayaan Ekaristi adalah seorang Imam tertahbis (Uskup atau Pastor) yang ditahbiskan secara sah, yang bertindak dalam Pribadi Kristus Sang Kepala dan atas nama Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1348, 1411

279. Apa hal-hal pokok dan unsur-unsur yang perlu untuk merayakan Sakramen Ekaristi?

Unsur-unsur pokok adalah roti gandum dan anggur murni.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1412

280. Dengan cara apa Sakramen Ekaristi merupakan kenangan kurban Kristus?

Ekaristi merupakan kenangan dalam arti menghadirkan dan mengaktualkan kurban yang dipersembahkan oleh Kristus kepada Bapa di kayu salib, satu kali untuk selamanya demi umat manusia. Ciri khas kurban Ekaristi Kudus dinyatakan dalam kata-kata penetapannya: ”Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu” dan ”Cawan ini adalah perjanjian baru oleh Darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20). Kurban salib dan kurban Ekaristi adalah kurban yang satu dan sama. Imam dan kurban adalah sama, hanya cara persembahannya berbeda: dengan cara berdarah pada kurban salib, dengan cara yang tak berdarah pada Sakramen Ekaristi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1362-1367

Konferensi Waligereja Filipina memuji kembalinya visa misionaris Suster Fox

Sel, 19/06/2018 - 20:57
Suster Patricia Fox menyalakan lilin dalam doa untuk para imam Katolik yang terbunuh. Peristiwa ini berlangsung di luar Gereja Quiapo, Manila, 18 Juni 2018. RICHARD DE LEON

Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) memuji keputusan Departemen Kehakiman yang membiarkan Suster Patricia Fox melanjutkan karya misionarisnya di negara itu. Ketua CBCP Uskup Agung Romulo Valles mengatakan bahwa keputusan itu “bijaksana, sangat pengertian dan sangat baik” sehingga biarawati Australia yang berusia 71 tahun itu dapat terus melayani penduduk miskin dan terpinggirkan.

“Kami sungguh menghargai keputusan otoritas pemerintah yang mempertahankan visa misionaris Suster Patricia Fox,” kata Mgr Valles. Secara khusus, lanjut prelatus itu, para uskup menghargai dan berterima kasih kepada pejabat Departemen Kehakiman (DOJ) yang memerintahkan “sampai Kantor Imigrasi mengeluarkan keputusan tentang kasus deportasinya atau sampai visanya berakhir, Suster Pat dapat terus melakukan pelayanannya sebagai misionaris di negeri ini,” kata uskup agung itu.

Menteri Kehakiman Menardo Guevarra, dalam resolusi yang dikeluarkan 18 Juni 2018, membatalkan perintah Kantor Imigrasi yang membatalkan visa misi Suster Fox atas dugaan “kegiatan politik.” Guevarra berpendapat, perintah kantor itu “tanpa dasar hukum.” Kantor itu, lanjutnya, tidak punya kuasa untuk merampas visa.

Namun, bagi biarawati itu, perjuangan berlanjut karena Kantor Imigrasi masih bisa menyuruh Suster Fox dideportasi jika kantor itu bisa memperkarakannya. “Saya akan terus (melakukan karya misionaris) karena itu adalah ungkapan misi saya,” kata suster itu. “Saya tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Beberapa jam setelah dikeluarkannya keputusan DOJ, biarawati itu kemarin muncul dalam Misa solidaritas di Gereja Quiapo yang dipersembahkan bagi para imam yang terbunuh. Saya di sini untuk mengungkapkan solidaritas, kesedihan dan kemarahan atas pembunuhan Pastor (Richmond) Nilo dan imam-imam lainnya,” kata Suster Fox. “Pembunuhan para imam harus dihentikan. Pembunuhan ini menurunkan martabat dan nilai kehidupan,” tegas suster itu.(pcp berdasarkan berita CBCPNews)

“Jangan percaya. Itu fake news. Paus baik-baik saja”

Sel, 19/06/2018 - 17:03
Paus merayakan Misa di Casa Santa Marta Selasa 19 Juni 2018 (Foto: Vatican Media)

Padre Marco Solo SVD

Selasa pagi, 19 Juni 2018, saya dikejutkan dengan tiga pesan WA: Paus sakit berat. Minta doa sampai 10 juta kali Salam Maria. Foto Paus Fransiskus yang jatuh saat Misa di Jasna Gora, Polandia tahun 2016 digandeng dengan berita sakitnya tadi. Ketika membaca target 10 juta kali Salam Maria, saya mulai ragu. Bagi yang sudah familiar dengan internet, ini bukan hal baru. Banyak orang menyebar petisi online dengan target angka tertentu, supaya bisa menekan atau memaksa pihak pengambil keputusan untuk mengambil aksi tertentu atau merubah tujuan. Ada lagi yang mengarang berita lalu meminta penerima untuk meneruskannya sampai kesekian jumlah sahabat lain, dan dengan itu akan menerima pahala yang tidak bisa disebutkan sebelumnya. Macam-macamlah.

Setelah membaca berita di atas, saya langsung tidak yakin. Tadi malam pukul 19.30 saya masih mondar-mandir di depan rumahnya. Tidak ada berita sakitnya. Selain tidak ada sumber jelas pada berita WA itu, aneh juga ada tuntutan untuk memenuhi angka 10 juta kali Salam Maria. Masa’ Tuhan bisa ditekan atau dipaksa untuk menyembuhkan Paus dengan 10 juta kali Salam Maria! Apakah Tuhan sendiri yang menentukan angka itu? Kalau ya, Tuhan mengatakannya kepada siapa? Apakah ada sumber tertulis? Bukankah Yesus pernah berkata, “Kalau Anda ingin berdoa, janganlah bertele-tele. Tuhan tahu apa isi hatimu.” Lalu kita diberikan doa Bapa Kami dalam rumusan yang pendek dan padat. Yesus juga tidak mengatakan supaya kita mengulang-ulang doa Bapa Kami hingga angka tertentu kalau kita mau supaya permohonan kita dikabulkan-Nya. Bukankah Tuhan itu Mahatahu, Mahapendengar, Mahabijaksana dan Mahasegala-galanya, yang hanya ingin mendengar doa yang muncul dari hati yang tulus ikhlas, penuh keimanan dan penyerahan diri yang total?

Saya start mobil ke Kantor di Vatikan. Cuaca indah pagi ini. Sekitar 20 derajat Celsius. Pukul 07.45 saya lewat di depan Domus Santa Marta, rumah kediaman Paus. Serdadu Swiss dan Tentara Vatikan berjaga seperti biasa di pintu rumah. Beberapa umat berpenampilan rapi keluar beriringan dari pintu rumah itu. Saya teringat lagi berita WA dari beberapa orang dari Indonesia dan satu dari Roma: Paus sakit berat, minta doa 10 juta kali Salam Maria. Saya berlari pelan sekitar 50 meter lalu berhenti, menanti sepasang suami istri bersama dua anak kecil yang sedang berjalan keluar dari pintu Rumah Paus.

Saya keluar dari mobil. Keluarga muda itu berjalan saling bergandengan tangan dan anak-anaknya meloncat-loncat tanda kegirangan. Saya menyalami mereka dalam bahasa Italia. Mereka menjawab juga dalam bahasa Italia tetapi saya langsung mengetahui kalau mereka pengguna bahasa Jerman. Ternyata benar. Mereka berasal dari Swiss. Saya bertanya, “Saya melihat Anda baru saja keluar dari Rumah Paus. Apakah Anda tinggal di sana? Mereka menggeleng kepala dan menjawab: Kami mendapat kehormatan untuk boleh Misa bersama Paus pagi ini dan baru saja selesai.” Saya bertanya lagi sekedar ingin konfirmasi: “Benar?” Mereka menjawab: “Ya, benar. Misa baru saja selesai dan kami mendapat berkat Paus. Oleh karena itu kami semua masih sangat bahagia saat ini.”

“Oh ya?” Saya menjawab sambil memuji mereka. Saya teruskan, “Tadi pagi beberapa WA masuk, katanya Paus sedang sakit berat dan kita diminta berdoa sampai 10 juta kali Salam Maria.” Mereka tertawa. “Ah, itu fake news,” kata mereka serempak. “Paus baik-baik saja. Kami tidak menemukan tanda-tanda kalau beliau sakit. Fake news!”

Pada saat yang sama WA dari Ajudan Paus dan seorang teman yang tinggal di rumah Paus masuk ke HP saya. Keduanya mengatakan hal yang sama. “Jangan percaya. Itu fake news. Paus baik-baik saja,” tulisnya.

Ketelitian dan sikap kritis dalam membaca dan mencernakan berita, disertai dengan cross-check sebelum menyebarkannya, adalah sebuah sikap yang bijaksana untuk tidak turut menyebarkan hoax atau fake news atau malah diri sendiri ikut tertipu. Paus tentu bukan mesin yang tidak akan sakit. Beliau juga manusia seperti kita dan bisa jatuh sakit. Tetapi menyebarkan berita palsu itu tidak etis. Mari kita tetap berdoa untuk beliau dengan cara yang wajar. Salam. ***

Bagaimana Sakramen Ekaristi itu sesuai dengan rencana penyelamatan ilahi?

Sen, 18/06/2018 - 23:55
commons.wikimedia.org

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

276. Bagaimana Sakramen Ekaristi itu sesuai dengan rencana penyelamatan ilahi?

Ekaristi sudah dipralambangkan dalam Perjanjian Lama terutama dalam Perjamuan Paskah yang dirayakan setiap tahun oleh orang Yahudi dengan roti tak beragi untuk mengenang kepergian mereka dari Mesir, yang terburu-buru tapi membebaskan. Yesus mengisahkan hal ini dalam pengajaran-Nya, dan Dia menetapkannya ketika merayakan Perjamuan Malam Terakhir dengan para Rasul-Nya dalam perjamuan Paskah. Gereja, yang setia kepada perintah Allahnya, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1Kor 11:24), selalu merayakan Ekaristi khususnya pada hari Minggu, hari kebangkitan Yesus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1333-1344

277. Bagaimana melaksanakan perayaan Sakramen Ekaristi Kudus?

Ekaristi terbagi menjadi dua bagian besar yang membentuk satu ibadah. Liturgi Sabda berisi pewartaan dan mendengarkan Sabda Allah. Liturgi Ekaristi terdiri dari persembahan roti dan anggur, doa atau Anafora yang mencakup katakata Konsekrasi dan Komuni.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1345-1355, 1408

Vatikan dianugerahi hadiah internasional untuk video tentang migran dan pengungsi

Sen, 18/06/2018 - 23:16

www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2018-06/vatican-dicastery-integral-human-award-video-migrants-refugees.html#play

Sebuah kampanye video dari Vatikan tentang kaum migran dan pengungsi telah menjadi praktik terbaik yang diakui secara internasional dalam mempromosikan perubahan positif di dalam masyarakat melalui iklan sosial.

Festival Iklan Sosial Internasional atau Publifestival memberikan penghargaan “Strategi Terbaik dalam Aksi Sosial” untuk video yang dibuat oleh Seksi Migran dan Pengungsi dari Dikasteri Vatikan untuk Promosi Pembangunan Manusia Terpadu. Video itu diproduksi oleh agen bernama La Machi Communication for Good Causes.

Edisi 12 dari Publifestival itu, menurut laporan Robin Gomes dari Vatican News, berlangsung Jumat malam, 15 Juni 2018, di Teater Fernando Rojas dari Círculo de Bellas Artes di Madrid, Spanyol. Agen-agen dan pengiklan seluruh dunia ikut dalam teater itu.

Video sepanjang tiga setengah menit itu menampilkan Paus Fransiskus yang menjelaskan empat kata kerja aktif yang dia usulkan untuk menjadi dasar tindakan-tindakan para pemerintah, organisasi dan warga untuk menangani hal-hal yang problematik dalam mobilitas manusia:  Menyambut, Melindungi, Mempromosikan, dan Memadukan.

Video, yang tersedia dalam hampir 30 bahasa itu, pertama kali ditampilkan pada sesi penilaian untuk Global Compact PBB tentang tentang Kaum Migran (Puerto Vallarta, Meksiko), Desember 2017, dan dalam Dialog Komisaris Tinggi tentang Tantangan Perlindungan untuk Global Compact for Refugees di Palais des Nations (Jenewa). Video itu telah dipresentasikan juga di markas besar PBB di New York dan banyak tempat lain di seluruh dunia.

“Paus Fransiskus memberi tanggapan Kristen dan tentunya beradab terhadap kebutuhan mendesak orang-orang rentan yang saat berpindah tempat,”  kata Pastor Michael Czerny, Wakil Sekretaris Seksi Migran dan Pengungsi dari dikasteri itu dalam upacara penghargaan itu.

“Dalam gambar, musik, dan gerakan,” katanya, “video itu membuat permohonan mendesak Bapa Suci begitu nyata.” Juga dikatakan, “Kami senang membantu pesan, yang menyentuh dan sungguh memotivasi ini, menjangkau jutaan orang yang peduli di mana pun.”

Publifestival juga memberikan penghargaan kepada video-spot tentang Seruan Apostolik Paus Fransiskus, “Gaudete et Exsultate”, tentang panggilan untuk kekudusan di dunia saat ini. Spot sepanjang dua setengah menit itu diproduksi oleh Vatican Media dengan kolaborasi dari La Machi Agency.(pcp berdasarkan laporan Vatican News)

Suster Fox boleh tinggal di Filipina sekarang ini, pembatalan visanya tidak punya dasar hukum

Sen, 18/06/2018 - 19:12
Suster Patricia Fox berbicara dengan para wartawan dalam sebuah konferensi pers di Quezon City, April 26, 2018. ROY LAGARDE

Departemen Kehakiman (Department of Justice, DOJ) Filipina untuk sementara waktu menghentikan perintah meninggalkan negeri itu terhadap biarawati Australia Suster Patricia Fox. Dengan demikian suster itu bisa tinggal di negara itu untuk sekarang ini.

Dalam resolusi yang dikeluarkan hari Senin, 18 Juni 2018, Sekretaris DOJ Menardo Guevarra mengabulkan petisi Suster Fox untuk membatalkan perintah Kantor Imigrasi yang membatalkan visa misionaris dari biarawati berusia 71 tahun itu.

Guevarra berpendapat bahwa penyitaan visa misi dari Suster Fox oleh Kantor Imigrasi atas dugaan ikut serta dalam kegiatan politik partisan adalah “tanpa dasar hukum.”

Undang-undang imigrasi, jelasnya, memberikan kekuasaan yang luas kepada kantor itu dalam mengatur masuk dan tinggal orang asing di negara itu, namun perampasan visa tidak ada dalam kekuasaan itu. “Apa yang Kantor Imigrasi lakukan dalam kasus ini di luar penetapan undang-undang. Itulah mengapa (perampasan visa) itu harus dibatalkan,” kata Guevarra.

Kepala DOJ memerintahkan kepada Kantor Imigrasi “untuk memastikan apakah tuduhan dan bukti terhadap Fox menjadi kasus untuk pembatalan visa, dan apakah alasan-alasannya dinyatakan dalam undang-undang.”

Dikatakan, Kantor Imigrasi memperlakukan ini sebagai kasus penyitaan visa bukan kasus pembatalan visa. “Karena Kantor Imigrasi belum memutuskan apakah tindakan-tindakan yang diduga dilakukan Fox benar-benar membenarkan pembatalan visanya, maka prematur bagi kami di Departemen Kehakiman untuk memutuskan hal itu sekarang.”

Guevarra juga memerintahkan Kantor Imigrasi untuk mengadili kasus pembatalan visa bersama dengan kasus deportasi terhadap Suster Fox yang sudah ditunda oleh kantor itu. “Sampai dicapainya penyelesaian akhir dari proses pembatalan visa dan atau deportasi itu, atau sampai berakhirnya visa misionarisnya, yang mana lebih dulu, Suster Fox dapat terus melakukan tugasnya sebagai misionaris di Filipina,” lanjutnya.

Fox menyambut baik perintah DOJ dan dia menegaskan kembali kesediaan untuk tinggal dan melayani kaum miskin di negara itu. “Kami hanya harus menunggu dan melihat apa yang terjadi, apakah itu (keputusan DOJ tentang visa misionaris) mempengaruhi kasus deportasi, karena kasus itu terpisah dari masalah visa,” kata suster itu. (Roy Lagarde di CBCPNews)

Apa yang digambarkan oleh Sakramen Ekaristi dalam kehidupan Gereja?

Min, 17/06/2018 - 23:28
Paus Fransiskus memegang monstran pada Pesta Tubuh Kristus di Basilika Santa Maria Maggiore. (CNS/Tony Gentile, Reuters)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

274. Apa yang digambarkan oleh Sakramen Ekaristi dalam kehidupan Gereja?

Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak semua kehidupan Kristen. Dalam Sakramen Ekaristi, karya pengudusan Allah untuk kita dan ibadah kita kepada-Nya mencapai puncaknya. Sakramen Ekaristi berisikan seluruh harta rohani Gereja, yaitu Kristus, Paskah kita. Persatuan dengan kehidupan ilahi dan kesatuan dengan Umat Allah diungkapkan dan dilaksanakan dalam Sakramen Ekaristi. Melalui Sakramen Ekaristi, kita dipersatukan dengan liturgi surgawi dan dapat mencicipi kehidupan kekal.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1324-1327, 1407

275. Apa nama-nama dari Sakramen ini?

Kekayaan yang tak terperikan dari Sakramen ini diungkapkan dengan bermacam-macam nama yang menunjuk kepada berbagai macam segi. Nama yang paling umum adalah Sakramen Ekaristi, Ekaristi Kudus, Perjamuan Allah, Pemecahan Roti, Perayaan Ekaristi, Kenangan akan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan, Kurban Kudus, Liturgi Kudus dan Ilahi, Misteri Kudus, Sakramen Altar yang Paling Kudus, dan Komuni Kudus.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1328-1332

Gereja merundingkan gencatan senjata sementara di Nikaragua

Min, 17/06/2018 - 20:07

 

Ziarah untuk perdamaian di Nikaragua di Bulan Mei/LA PRENSA

Pemerintah dan oposisi Nikaragua menyetujui gencatan senjata sementara mengakhiri demonstrasi dan pertempuran jalanan yang telah menyebabkan hampir dua ratus orang tewas. Setelah upaya sebelumnya gagal, persetujuan gencatan senjata itu disetujui setelah Gereja bertindak sebagai penengah dalam negosiasi terakhir. Komisi Kebenaran sekarang akan dibentuk untuk menyelidiki krisis itu dan untuk selanjutnya mengajukan proposal agar kehidupan sehari-hari kembali normal. Bulan lalu Komisi Lintas Amerika untuk Hak Asasi Manusia mengunjungi Nikaragua. Laporannya, yang baru saja keluar …  mengkritik keras tanggapan kejam terhadap demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan Pasukan Keamanan Pemerintah. Laporan itu ditolak oleh Kementerian Luar Negeri dengan mengatakan sebagai sesuatu yang miring dan bias. Namun demikian, Komisi Lintas Amerika untuk Hak Asasi Manusia bersama faksi-faksi HAM Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang akan datang ke Nikaragua, sebagai bagian dari perjanjian terbaru ini. Krisis itu dimulai tanggal 19 April, ketika Pemerintahan Presiden Daniel Ortega meningkatkan pembayaran jaminan sosial tetapi sekaligus memangkas pembayaran pensiun. Protes terhadap hal itu sekarang berkembang menjadi tuntutan untuk pengunduran dirinya. (pcp berdasarkan laporan James Blears dari Vatican News)

Paus Fransiskus kepada Forum Keluarga-Keluarga: ‘Terima kasih atas usaha kalian!’

Min, 17/06/2018 - 19:25
Paus Fransiskus bersama Forum Asosiasi Keluarga/Vatican Media

Ketika bertemu para anggota Forum Asosiasi Keluarga di Sala Clementina, Italia, 17 Juni 2018, Paus Fransiskus berterima kasih kepada mereka atas dukungan mereka untuk nilai-nilai keluarga. Asosiasi itu merayakan ulang tahun ke-25.

Mendengar keinginan yang disampaikan anggota asosiasi itu saat memperkenalkan kelompok itu, Paus Fransiskus mengesampingkan sambutan yang sudah disiapkan. Berikut ini adalah pernyataan yang Paus siapkan sebelumnya . Sambutan itu diberikan kepada perwakilan asosiasi itu untuk dibagikan. Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News lalu memberitakannya.

Paus membuka sambutannya dengan mengatakan, “Keluarga, yang kalian promosikan dalam berbagai cara, adalah pusat rencana Allah,” dan keluarga adalah “tempat lahirnya kehidupan.” Kasih Yesus bagi anak-anak, ajarannya tentang keluarga dan tidak bisa mencairnya perkawinan mengungkapkan tempat keluarga dalam rencana Allah. Keluarga itu “bagaikan jendela yang diarahkan pada misteri Allah sendiri yakni Cinta akan satu Allah tiga pribadi,” kata Paus.

Dunia yang dipandu oleh logika yang berpusat pada diri sendiri telah kehilangan rasa ikatan yang stabil, lanjut Paus. Dengan demikian, sulit memahami nilai keluarga. Lembaga-lembaga sipil seharusnya berupaya mendukung keluarga. Mereka yang telah belajar “menjalani hubungan otentik dalam keluarga” juga akan menjalankannya dalam konteks lain di masyarakat, kata Paus.

Paus Fransiskus lalu mendorong mereka yang hadir untuk bersaksi tentang sukacita cinta. “Tidak ada argumen persuasif selain sukacita,” kata Paus seraya mendorong mereka agar dengan sukacita “menunjukkan harta yang telah kami temukan dan keinginan untuk berbagi.”

Paus juga berterima kasih kepada kelompok itu seraya mengutip Statuta Asosiasi itu. “Terima kasih untuk komitmen yang telah kalian ambil,… melalui partisipasi aktif dan bertanggung jawab dari keluarga di bidang budaya, sosial, dan politik’ dan untuk ‘promosi kebijakan-kebijakan keluarga yang melindungi dan mempertahankan fungsi keluarga serta hak-haknya’.”

Mengakhiri sambutannya, Paus mengatakan bahwa masalah-masalah yang ditemukan keluarga dalam masyarakat harus dihadapi “dengan tegas dan murah hati.” Kepekaan mereka berkaitan dengan keluarga, lanjut Paus, hendaknya berakar “pada martabat pribadi manusia. Dengan demikian, kepekaan itu bisa diakui dan dibagikan oleh semua orang.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Kematian Tiga Imam

Min, 17/06/2018 - 07:23

(refleksi atas kematian tiga imam di Filipina)

17 Juni 2018

Gereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Pastor Richmond Nilo dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan Misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan Maria, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Tanggal 4 Desember 2017, Pastor Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu, 29 April, Pastor Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan Misa. Kita mungkin bisa mendoakan juga Pastor Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.

Beberapa Minggu yang lalu saya menulis sebuah refleksi emosional tentang kematian Pastor Ventura (lihat “Kematian Seorang Imam) dan saya tidak akan pernah berharap bahwa saya akan menulis lagi tentang ini. Namun, hanya beberapa saat setelah sang imam dimakamkan tanpa keadilan, Pastor Nilo kehilangan nyawanya saat menjalankan tugas sucinya. Tentunya, ini bukan pertama kalinya seorang imam dibunuh di Filipina. Sejarah telah menyaksikan pembunuhan imam di negeri ini, tetapi kehilangan tiga nyawa hanya dalam kurun waktu enam bulan benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa pertanyaan tersirat dalam benak saya, “Apakah kita (secara khusus umat di Filipina) sekarang hidup dalam waktu yang berbahaya bagi para imam? Apakah menjadi imam adalah panggilan yang berbahaya? Apa gunanya menjadi seorang imam jika hal ini tidak membawa apa pun kecuali penganiayaan dan kematian?” Kita telah meninggalkan segalanya bagi Kristus, keluarga kita, masa depan kita. Haruskah kita menyerahkan hidup kita dengan cara yang keji ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, tetapi saya sadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul dari rasa takut. Banyak imam dan bahkan seminaris, termasuk saya, telah hidup dalam kenyamanan seminari, paroki, atau biara kita. Dilengkapi berbagai kebutuhan dasar, dengan kamar individu yang nyaman, dengan pendidikan berkualitas, dengan fasilitas lainnya, kita sebenarnya hidup sebagai bujangan kelas menengah atas. Hak-hak istimewa ini tentunya dimaksudkan untuk membuat kita menjadi imam yang lebih baik dalam pelayanan, tetapi terbiasa dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas ini, kita sering kehilangan tujuan utama dari imamat suci. Imamat adalah sakramen yang ditujukan untuk pelayanan. Karena itu, imam ditahbiskan untuk melayani umat Allah secara khusus kebutuhan rohani mereka. Namun, alih-alih melayani, para imam akhirnya dilayani oleh umat Allah. Kadang-kadang, virus klerikalisme dan karierisme menginfeksi pikiran kita. Pentahbisan dan posisi di Gereja dilihat sebagai promosi, karier, atau prestise. Posisi yang lebih baik berarti tunjangan yang lebih baik! Jika imamat hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kaya, kita telah kehilangan imamat bahkan sebelum kita mati! Kematian seorang imam adalah sebuah duka, tetapi kehilangan imamat adalah sebuah tragedi.

Uskup Caloocan Mgr Pablo David mengingatkan para seminaris yang bercita-cita menjadi imam, bahwa jika kematian para imam ini memberi mereka keputusasaan, bukan inspirasi, lebih baik bagi mereka untuk melupakan imamat dan meninggalkan seminari sesegera mungkin. Uskup David menyatakan bahwa tiga imam ini bukanlah korban yang tidak berdaya, tetapi para martir yang dengan berani memilih untuk menghadapi konsekuensi berbahaya dari memberitakan Injil dan bekerja untuk keadilan.

Sejak permulaan agama Kristiani, menjadi seorang Kristiani dan terutama imam adalah panggilan yang berbahaya karena kita mengikuti Kristus di jalan salib-Nya. Namun, kematian ketiga imam ini ternyata merupakan terapi kejut yang membangunkan kita dari tidur yang nyaman. Ini adalah seruan bagi banyak dari kita, para seminaris, religius, dan imam untuk melihat kembali apa tujuan dari imamat kita. Apakah kita mati setiap hari pada diri kita sendiri? Apakah kita siap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan umat-Nya? Apakah kita siap mengikuti Kristus sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Apa itu Sakramen Ekaristi?

Jum, 15/06/2018 - 17:33
Foundation of Prayer for Priests

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

271. Apa itu Sakramen Ekaristi?

Sakramen Ekaristi adalah kurban Tubuh dan Darah Tuhan Yesus sendiri yang ditetapkan-Nya untuk mengabadikan kurban salib selama perjalanan waktu sampai kembali-Nya dalam kemuliaan. Dia mempercayakan kepada Gereja kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya. Sakramen Ekaristi merupakan tanda kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah, saat Kristus diterima sehingga jiwa dipenuhi rahmat dan jaminan kemuliaan yang akan datang diberikan kepada kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1322-1323, 1409

272. Kapan Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi?

Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi pada hari Kamis Putih: ”Pada malam waktu Ia diserahkan” (1Kor 11:23), ketika Yesus merayakan Perjamuan Malam Terakhir bersama para Rasul-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1323, 1337-1340

273. Bagaimana Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi?

Setelah mengumpulkan para Rasul di Cenaculum, Yesus mengambil roti. Dia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka sambil berkata, ”Ambillah ini dan makanlah, kamu semua, inilah tubuh-Ku yang akan diserahkan bagimu.” Kemudian, Dia mengambil piala berisi anggur dan berkata: ”Ambillah ini dan minumlah, kamu semua. Inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, yang akan ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1337-1340, 1365, 1406

Mengenal 13 pemain sepak bola terkemuka beragama Katolik dalam Piala Dunia 2018

Jum, 15/06/2018 - 05:26
Aleteia

Sepak bola layaknya agama bagi banyak orang, tetapi para atlet ini bergantung pada imannya dalam mengejar kemenangan. Memulai Piala Dunia 2018, 14 Juni 2018, PEN@ Katolik mengutip satu tulisan Cerith Gardiner dari Aleteia tentang para pemain beragama Katolik yang menonjol bukan saja di lapangan sepak bola tapi karena iman serta keinginan mereka untuk membagikannya agar seluruh dunia melihatnya. Ada yang mengungkapkan imannya di depan umum, ada yang lewat ziarah, atau dalam keterlibatan aktif di badan-badan amal Katolik.

Foto-foto dan keterangan di bawah ini memperlihatkan para pria yang berbakat di bidang sepak bola dan peran aktif agama dalam hidup mereka. Meskipun nanti Italia tidak berhasil sampai ke Piala Dunia, Aleteia memberikan perhatian khusus kepada kiper luar biasa, Gianluigi Buffon, yang sudah ikut serta dalam lima Piala Dunia berturut-turut.

Lionel Messi, Argentina
Pemain depan, dengan tato besar Yesus di otot lengan bagian atas, mengatakan bahwa dia akan melakukan ziarah sejauh 30 mil ke San Nicolas, di negara asalnya Argentina, untuk merayakan kemenangan Piala Dunia. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 1/13) Sergio Aguero, Argentina
Striker itu akan ikut dengan Messi untuk berziarah. Namun, dia menambahkan tantangan lain. Mereka berdua akan datang San Nicolas dengan berlari.(AP, 2/13) Cristiano Ronaldo, Portugal
Pemenang beberapa “Ballon d’Or” itu sdelalau berdoa sebelum bertanding, mengumpulkan Rosario yang dikirim oleh para penggemar, tidak bertato dan sering menjadi pendonor darah.
Wikipedia CC oleh SA 3.0
3/13 Andres Iniesta, Spanyol
Sebelum Piala Dunia 2010, gelandang itu berjanji, kalau timnya menang, ia akan melakukan ziarah sepanjang Camino de Santiago, “Jalan Santo Yakobus.” (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 4/13)Yes Sergio Ramos, Spanyol
Bek tengah itu memiliki tato Bunda Maria di lengan kiri atasnya. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 5/13) Gianluigi Buffon, Italia
Kiper terkenal yang kini berusia 40 tahun itu berziarah ke Medjugorje di Bosnia setelah kejuaraan Euro 2012. (Wikipedia CC oleh 2.0, 6/13) James Rodriguez, Kolombia
Gelandang serang itu memiliki tato Yesus di tulang keringnya. Dia cepat berbagi di media sosial bahwa semua kesuksesannya untuk Tuhan. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 7/13) Radamel Falcao, Kolumbia
Penyerang yang sungguh beriman ini mempelajari Alkitab dan berdoa sebelum setiap pertandingan, dan berusaha melibatkan teman-teman timnya. Saat mencetak gol, dia mengangkat kausnya untuk memperlihatkan t-shirt bertuliskan, “Dengan Yesus Anda tidak akan pernah sendirian.” (AP, 8/13) Manuel Neuer, Jerman
Kiper luar biasa itu mendukung sebuah kelompok Katolik yang membantu memerangi kemiskinan anak dan mendukung sebuah kelompok orang muda yang dipimpin oleh para biarawan Amigonian, sebuah cabang dari Kapusin. (Wikipedia CC oleh SA 4.0, 9/13) Olivier Giroud, Prancis
Striker Katolik yang saleh ini memiliki tato bertuliskan Mazmur 23 (dalam bahasa Latin): “Tuhan adalah gembalaku; takkan kekurangan aku.” Dia juga membagikan bagaimana agama membawa kedamaian baginya. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 10/13) Vedran Corluka, Kroasia
Lari dari negara kelahirannya Bosnia ketika perang, bek tengah ini pulang ke Bosnia untuk membantu pendanaan dan membangun kembali gereja desanya. Dia juga memakai gelang dengan ikon-ikon Katolik. (Wikipedia CC oleh SA 3.0, 11/13) Edinson Cavani, Uraguay
Dalam sebuah wawancara, striker ini menyebut dirinya sebagai “atlet untuk Kristus.” Dia mengatakan, “Saya bermain untuk Dia, untuk memberikan kemuliaan bagi-Nya, untuk berterima kasih kepada-Nya karena memberikan saya kemampuan untuk bermain sepak bola.” (AP, 12/13) Jakub Błaszczykowski, Polandia
Sebagai seorang anak, tragedi menghantam winger ini ketika ayahnya membunuh ibunya. Tetapi, ia tetap teguh dalam imannya dan menjadi duta Hari Orang Muda se-Dunia tahun 2016. (Wikipedia CC oleh SA 1.0, 13/13)

Paus berharap Piala Dunia FIFA 2018 jadi kesempatan dialog dan perjumpaan

Jum, 15/06/2018 - 02:48
Logo Piala Dunia 2018 FIFA pada sebuah bangunan di Moscow (AFP or licensors)

Paus Fransiskus berharap agar Kejuaraan Dunia Sepak Bola atau FIFA World Cup terbukti menjadi kesempatan untuk “perjumpaan, dialog dan persaudaraan antara budaya-budaya dan agama-agama berbeda, dan agar mendukung solidaritas dan perdamaian di antara bangsa-bangsa.” Di akhir Audiensi Umum mingguan di Lapangan Santo Petrus, 13 Juni 2018, Paus mengatakan bahwa besok turnamen sepakbola internasional itu dimulai di Rusia. “Saya ingin menyampaikan salam hormat saya kepada para atlet dan penyelenggara, juga kepada semua orang yang akan mengikuti peristiwa itu melalui media,” kata Paus. “Piala Dunia FIFA 2018 Rusia” dijadwalkan berlangsung dari 14 Juni hingga 15 Juli 2018. Pertandingan pembukaan menampilkan tuan rumah Rusia melawan Arab Saudi.(Laporan Linda Bordoni dari Vatikan News)

Siapa pelayan Sakramen Penguatan?

Kam, 14/06/2018 - 22:36
gemaliturgi.blogspot.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

269. Siapa yang dapat menerima Sakramen ini?

Hanya mereka yang sudah dibaptis dapat menerima Sakramen Penguatan, dan Sakramen ini hanya dapat diterima satu kali saja. Agar penerimaan Sakramen Penguatan berdaya guna, calon harus berada dalam keadaan berahmat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1306-1311, 1319

270. Siapa pelayan Sakramen Penguatan?

Petugas aslinya adalah Uskup. Dengan demikian, bisa ditampakkan hubungan antara orang yang menerima dan Gereja dalam dimensi apostoliknya. Jika yang melaksanakan Sakramen ini adalah seorang imam, yang biasanya terjadi di Gereja Timur dan dalam kasus khusus juga terjadi di Barat, hubungan dengan Uskup dan Gereja diungkapkan oleh Imam yang menjadi pembantu (kolaborator) Uskup dan dengan Krisma Suci yang diberkati oleh Uskup sendiri.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1312-1314


Pelaku teror tidak perlu dikecam tapi dikasihi karena mereka sebetulnya korban juga

Kam, 14/06/2018 - 18:24
Drama musikal tentang perdamaian/Foto Lukas Awi Tristanto

Sebagai pribadi maupun atas nama umat manusia kita berduka, kita sedih, atas peristiwa-peristiwa teror, tetapi kita tidak perlu kemudian mengecam, karena tidak ada kata yang lebih keras daripada mengecam aksi terorisme.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengatakan hal tersebut dalam Festival Pancasila di halaman rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, 6 Juni 2018.

“Justru yang terpenting adalah bagaimana kita mengembangkan belas kasihan, kerahiman, karena para pelaku teror ini juga korban sebetulnya. Itu di mata saya. Maka, kita bersama-sama mengajak, ayo, hentikan balas dendam. Teror itu mengguncang Pancasila, mulai dari sila pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima,” katanya dalam Festival Pancasila itu.

Sejumlah tokoh bangsa dan rektor dari beberapa universitas menyampaikan orasi tentang Pancasila dalam acara yang dihadiri para mahasiswa dan kaum muda itu. Buya Syafii Maarif menekankan pentingnya semua pihak terlibat untuk menghidupi Pancasila, seraya berharap “nilai-nilai Pancasila bisa dibawa turun untuk menyelamatkan bangsa dari segala macam ancaman seperti liberalisme, kapitalisme, maupun terorisme.”

Semangat dasar Pancasila, menurut Yudi Latif, adalah semangat gotong royong. “Jiwa gotong royong itu adalah jiwa saling mencintai, menyayangi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, bersambung rasa, membebaskan beban penderitaan manusia, menuntaskan beban penderitaan yang masuk kemanusiaan,” katanya.

Rektor Universitas Gajah Mada Yogyakarta Panut Mulyono mengatakan, Pancasila merupakan karakter dan identitas bangsa Indonesia. “Pancasila sebagai pemersatu dan pengikat komitmen bersama dari seluruh elemen bangsa, harus dipraktekkan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari,” tegasnya.

Sedangkan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Sutrisna Wibawa mengatakan, Pancasila menyatukan dan menggerakkan kita yang bhinneka. “Pancasila mengajarkan kita untuk mengutamakan musyawarah sebelum mufakat. Hari ini, saya mengajak hadirin semuanya, kita ber-Pancasila, kita bersatu, kita berprestasi untuk Indonesia raya, untuk Indonesia jaya,” ajaknya.

Dalam festival itu, digelar drama musikal tentang perdamaian. Yunan Helmi sebagai koordinator drama musikal itu mengatakan, Islam adalah agama damai yang terus menerus senantiasa akan membawa perdamaian. “Begitu juga akan bersama-sama dengan yang lain untuk terus menjadi bagian dan berperan untuk perdamaian,” katanya.

Musisi muda itu mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama bergerak karena, menurutnya, “perdamaian bangsa ini lebih mahal dibandingkan dengan apa pun di Indonesia.”

Acara yang mendapat perhatian besar dari para rektor berbagai universitas itu mendapat apresiasi dari Pastor Budi, karena perhatian itu “menunjukkan komitmen yang tinggi bahwa kampus yang dipimpin mereka pun menghidupi nilai-nilai Pancasila.”(Lukas Awi Tristanto)

Para rektor di universitas kota Yogyakarta, Buya Syafii Maarif dan Yudi Latif menyampaikan salam Pancasila/Foto Lukas Awi Tristanto Buya Syafii Maarif menyampaikan orasi tentang Pancasila/Foto Lukas Awi Tristanto Para mahasiswa yang datang sebagai peserta/Foto Lukas Awi Tristanto Yunan Helmi dan Pastor Aloys Budi Purnomo Pr berbicara tentang perdamaian/Foto Lukas Awi Tristanto

Lourdes dilanda banjir, para peziarah dievakuasi

Kam, 14/06/2018 - 05:15
Lourdes dilanda banjir/Foto tangkapan layar dari La Croix

Membuka TV Lourdes dini hari, 14 Juni 2018, waktu Jakarta, televisi itu tidak menayangkan peziarah dari berbagai penjuru dunia berdoa bergantian di Gua Maria yang dikatakan sebagai tempat Perawan Maria Terberkati menampakkan diri kepada Bernadette Soubirous (sekarang Santa Bernadette) Februari 1858. Yang nampak adalah air meluap dari Sungai Gave de Pau hingga pelataran depan Gua Maria. Sungai itu membentang sepanjang tepian tempat ziarah itu. Menurut Independent Catholic News (ICN) satu-satunya sumber berbahasa Inggris yang menjadi sumber PEN@ Katolik pagi itu, “Sebagian Lourdes telah dievakuasi karena hujan lebat menyebabkan banjir bandang di banyak bagian Perancis.” Juga dikatakan,13 departemen di negara itu bersiaga. Tanggal 13 Juni 2018, sekitar pukul 11.00, lanjut media itu, Uskup Portsmouth, Inggris, Mgr Philip Egan ngetweet, “Tolong doakan Pastor Christian Rutledge dan kelompok parokinya yang sedang berziarah ke Lourdes. Mereka aman tetapi tadi malam pinggiran Sungai Gave pecah. Gua dilanda banjir dan Misa Internasional di basilika Bawah Tanah dibatalkan. Banjir dimana-mana. Semoga Tuhan melindungi semua orang.”(pcp)

Tangkapan layar dari La Croix

Ketua MUI Kota Kotamobagu terharu melihat umat paroki membersihkan mesjid

Rab, 13/06/2018 - 22:36
Umat Paroki Kristus Raja Kotamobagu sedang membersihkan Mesjid Baitul Makmur. Foto: Paroki Kotamobagu

“Saya merasa terharu melihat kepedulian dan rasa kebersamaan umat Kristiani di Kota Kotamobagu. Manfaat kerja bakti mereka di mesjid itu sangat dirasakan oleh seluruh Jemaah Mesjid Baitul Makmur,” kata Ketua MUI Kota Kotamobagu Haji Yusuf Dany Pontoh kepada PEN@ Katolik 13 Juni 2018.

Haji Yusuf berbicara mengomentari kerja bakti umat Katolik Paroki Kristus Raja Kotamobagu yang membersihkan ruangan dan halaman Mesjid Baitul Makmur di hari yang sama.

“Kami merasakan kebahagian dalam kebersamaan di hari Idul Fitri, hari kemenangan bagi kita semua,” kata Haji Pontoh yang meyakini bahwa masyarakat Kota Kotamobagu bisa hidup rukun berdampingan “karena saling membantu sebagai satu keluarga.”

Menurut Kepala Paroki Kristus Raja Kotamobagu Pastor Canisius Rumondor MSC, keterlibatan umat beragama dalam menjaga maupun membantu membersihkan tempat ibadah melambangkan rasa persaudaraan yang kuat.

“Kita tahu Indonesia terdiri dari berbagai etnis, suku dan agama yang harus kita syukuri. Perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan penghalang persatuan bangsa,” kata pastor itu kepada PEN@ Katolik seraya menegaskan bahwa apa yang dilakukan itu merupakan “wujud bahwa perbedaan bukan halangan dan hambatan untuk bersatu.”

Dengan kekuatan seperti itu, imam itu percaya bahwa masyarakat Kota Kotamobagu bisa mengantisipasi segala bentuk provokasi yang ingin memecah belah masyarakat. “Mari kita junjung persatuan dan persamaan di tengah perbedaan,” tegas Pastor Rumondor.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kotamobagu, Herman Aray,  membenarkan bahwa kerja bakti itu adalah untuk memupuk tali persaudaraan antarumat beragama serta sebagai perekat tali kasih.

“Tujuan pelaksanaan kerja bakti ini agar lokasi ini bersih ketika mereka merayakan Idul Fitri. Selain membersihkan sisa-sisa bahan bangunan di halaman, kami pun membersihkan ruangan dalam Mesjid Baitul Makmur,” jelas umat Paroki Kristus Raja Kotamobagu itu. (michael)

Umat Paroki Kristus Raja Kotamobagu bergambar bersama di depan mesjid setelah membersihkannya/Foto dari Paroki Kotamobagu Mesjid Baitul Makmur

Apa ritus pokok Sakramen Penguatan?

Rab, 13/06/2018 - 21:35
Adoremus Bulletin

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

267. Apa ritus pokok Sakramen Penguatan?

Ritus pokok Sakramen Penguatan ialah pengurapan dengan minyak Krisma Suci (minyak yang dicampur dengan balsam dan diberkati Uskup), yang dilaksanakan dengan penumpangan tangan petugas Gereja (Uskup atau wakilnya) yang mengucapkan kata-kata sakramental dari ritus tersebut. Di Gereja Barat, pengurapan ini diberikan di dahi orang yang sudah dibaptis dengan kata-kata: ”Semoga engkau dimeteraikan dengan karunia Roh Kudus”. Di Gereja-Gereja Timur dari ritus Byzantin, pengurapan ini diberikan juga pada bagian badan yang lain dengan kata-kata: ”Meterai karunia Roh Kudus”.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1290-1301, 1318, 1320-1321

268. Apa buah Sakramen Penguatan?

Buah Sakramen Penguatan ini ialah pencurahan Roh Kudus secara khusus seperti pada hari Pentekosta. Pencurahan ini memberikan meterai yang tak terhapuskan dan menumbuhkembangkan rahmat Sakramen Pembaptisan. Sakramen ini membuat si penerima masuk lebih dalam menjadi putra-putri ilahi, mempererat hubungannya dengan Kristus dan Gereja, dan memperkuat anugerah Roh Kudus di dalam jiwanya. Sakramen ini memberikan kekuatan khusus dalam memberikan kesaksian iman Kristen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1302-1305, 1316-1317

Para uskup menentang ide mempersenjatai para imam

Rab, 13/06/2018 - 20:34
Uskup Agung Romulo Valles/CBCPNews

Ketua Konferensi Waligereja Filipina mengatakan sangat menentang ide mempersenjatai para imam demi keselamatan pribadi di tengah serangan baru-baru ini terhadap para klerus. Uskup Agung Romulo Valles mengatakan, para imam seharusnya menjadi manusia perdamaian, bukan manusia kekerasan. “Saya akan sangat menentang untuk mempersenjatai para imam,” kata Mgr Valles kepada Radio Veritas yang dikelola Keuskupan Agung Manila. “Kami orang-orang Tuhan, orang-orang Gereja, dan adalah bagian pelayanan kami untuk menghadapi bahaya, untuk menghadapi kematian. Tetapi kami akan melakukan persis seperti yang dilakukan Yesus,” lanjut prelatus itu. Uskup Pembantu Cebu Mgr Oscar Florencio, yang juga bertugas sebagai administrator apostolik Ordinariat Militer Filipina, mengatakan, mempersenjatai para imam hanya “akan menciptakan lebih banyak kekacauan” dan “tidak akan menyelesaikan apa pun.” Pastor Richmond Nilo ditembak mati dalam sebuah kapel di Zaragoza, Provinsi Nueva Ecija, 10 Juni, saat bersiap merayakan Misa. Empat hari sebelumnya, Pastor Rey Urmeneta, mantan kapelan polisi, terluka dalam penembakan di Kota Calamba, Provinsi Laguna, 6 Juni. Sedangkan 29 April, Pastor Mark Ventura, yang dikenal karena advokasi anti-penambangan, ditembak mati setelah merayakan Misa di Provinsi Cagayan. (pcp berdasarkan CBCPNews)

Halaman