Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 44 mnt 16 dtk yang lalu

Kardinal Turkson: Pariwisata seharusnya memuliakan Tuhan dan meningkatkan martabat manusia

Sen, 06/08/2018 - 01:42
Kardinal Peter Turkson. Vatican Media

Prefek Dikasteri Promosi Pengembangan Manusia Integral Kardinal Peter Turkson telah menulis Pesan untuk Hari Pariwisata se-Dunia, yang berlangsung setiap tahun tanggal 27 September, dengan merefleksikan tema peringatan tahun ini: “Pariwisata dan Transformasi Digital.” Fokus tema itu, kata kardinal, adalah cara teknologi digital mengubah usia dan perilaku kita.

Karena perubahan itu, kata Kardinal Turkson, Hari Pariwisata se-Dunia, “mengajak kita untuk merefleksikan sumbangan kemajuan teknologi tidak hanya untuk meningkatkan produk dan layanan wisata, tetapi juga karena kemajuan ini merupakan bagian pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang hendaknya menjadi arah pertumbuhan sektor itu.”

Gereja, lanjut kardinal, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, “selalu secara khusus memperhatikan pastoral pariwisata, rekreasi dan liburan,” sehingga wanita dan pria bisa berbagi nilai-nilai dan cita-cita mereka, dan bertumbuh sebagai individu.

Pariwisata merupakan cara penting untuk berbagi sumber daya, dan untuk “mendidik masyarakat tentang tanggung jawab bersama terhadap ‘rumah kita bersama.’”

Kardinal Turkson juga “secara khusus memikirkan” orang-orang muda, yang menjadi pusat Sidang Umum Sinode Para Uskup mendatang. Dokumen kerja sinode, demikian catatan kardinal itu, membahas betapa “perlu memberikan mereka pembinaan dan pendidikan antropologi, sehingga mereka bisa menjalani ‘kehidupan digital’ tanpa memisahkan perilaku online dan offline, atau membiarkan diri mereka tertipu oleh dunia maya.”

Akhirnya, kata Kardinal Turkson, “diharapkan Dikasteri ini merumuskan untuk semua, wisatawan dan orang yang berlibur, ‘agar pariwisata berkontribusi untuk memuliakan Tuhan, dan untuk semakin mengesahkan martabat manusia, pengetahuan bersama, persaudaraan spiritual, penyegaran tubuh dan jiwa.’”(pcp berdasarkan Vatican News)

Vatikan dianugerahi hadiah internasional untuk video tentang migran dan pengungsi

Amin

Sab, 04/08/2018 - 21:03

(Renungan berdasarkan bacaan Injil Minggu ke-18 pada Masa Biasa, 5 Agustus 2018: Yoh 6: 24-35)

 “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29)

Mengatakan “Amin” adalah sesuatu yang biasanya kita lakukan dalam doa. Kata ini biasanya digunakan untuk mengakhiri doa. Doa alkitabiah seperti Bapa Kita dan Salam Maria biasanya disimpulkan oleh kata amin. Namun, dalam beberapa kesempatan, amin disebutkan lebih sering. Salah satu tugas pastoral saya di rumah sakit adalah memimpin doa penyembuhan bagi yang sakit. Saya selalu meminta keluarga dan mereka yang menemani pasien untuk berdoa bersama saya. Biasanya, mereka akan mengatakan amin di akhir doa. Namun, beberapa orang akan mengucapkan beberapa amin dalam doa, dan bahkan, ada beberapa orang mengucapkan lebih banyak amin daripada doa yang saya ucapkan! Dalam beberapa kesempatan, amin digunakan di luar konteks doa. Pengkhotbah karismatik akan mengajak pendengar mereka untuk mengatakan amin sebagai bentuk penegasan. Tentunya, ini adalah juga teknik yang bagus untuk membuat pendengar tidak tertidur!

Amin adalah kata yang sederhana namun sangat kuat. Amin menunjukkan penegasan dan persetujuan kita yang kuat terhadap sesuatu. Ini adalah manifesto paling ringkas dari iman kita. Amin adalah bahasa alkitabiah, dan sebenarnya, ini berasal dari kata Ibrani, yang berarti “Sungguh!” Atau “Terjadilah!”. Sangat menarik untuk dicatat bahwa penggunaan awal kata amin dalam Alkitab adalah untuk menegaskan kutukan dan hukuman (lihat Bil 5:22; Ul 27:15). Untungnya, Kitab Mazmur mengajarkan kita untuk menggunakan amin untuk menegaskan berkat Tuhan. Yesus sendiri suka mengatakan Amin [walaupun dalam alkitab Bahasa Indonesia kata ‘Amin’ diganti dengan kata ‘sesungguhnya’). Ia menggunakan amin untuk menegaskan kebenaran dan kuasa firman-Nya (lihat Mat 5:18; Mat 8: 5). Ada pergeseran radikal di sini. Berbeda dengan praktik biasa untuk menegaskan berkat Tuhan, Yesus mengatakan amin pada kata-kata-Nya sendiri. Ini karena kata-kata Yesus adalah berkat Tuhan. Dengan demikian, belajar dari tradisi Alkitab, kita mengatakan amin untuk menegaskan berkat-berkat Tuhan. Lebih dari itu, belajar dari Yesus, kita mengatakan amin untuk mengekspresikan iman kita dalam Firman-Nya, dan akhirnya kepada Yesus sendiri. Tak mengejutkan bahwa orang pertama dalam Perjanjian Baru yang menyatakan amin kepada Yesus tidak lain adalah ibu-Nya, Maria. Di hapadapan malaikat Gabriel, dia berkata, “Terjadilah padaku menurut kehendakmu,” singkatnya, “Amin!” (Lihat Luk 1:38)

Salah satu amin terbesar yang kita nyatakan adalah ketika kita menerima Ekaristi. Bagi ratusan juta umat Katolik yang menerima Komuni Suci setiap hari Minggu, mengatakan amin tampaknya biasa-biasa saja. Namun, ini sebenarnya menjadi amin yang paling sulit yang kita katakan. Untuk percaya dan menegaskan bahwa hosti kecil putih adalah Tubuh Kristus yang mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus adalah tanda iman yang luar biasa besar. Saya percaya ini adalah ajakan Yesus untuk percaya kepada-Nya dalam Ekaristi. Berkaitan dengan Injil hari Minggu ini, Yesus mengatakan bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah percaya kepada Yesus, yang diutus oleh Bapa (lihat Yoh 6:29). Membaca bab 6 dari Injil Yohanes ini, kita menemukan bahwa percaya kepada Yesus berarti menerima bahwa Dia adalah Roti Kehidupan, dan mereka yang memakan Roti ini akan memiliki hidup yang kekal (lihat Yoh 6:51). Jadi, untuk mengatakan amin yang dipenuhi oleh iman kepada Ekaristi adalah pemenuhan kata-kata Yesus, dan menuntun kita pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sebagai umat yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita mengatakan Amin kita dalam kepenuhan iman kita atau ini hanya sebuah kata yang diulang-ulang? Apakah Amin kita memungkinkan kita untuk mengenali berkat harian yang kita terima? Seperti Maria, apakah iman kita terwujud dalam tindakan sehari-hari kita, dan membuat perbedaan dalam kehidupan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

KAJ tingkatkan persatuan masyarakat dan bantu pembangunan gereja lewat Run4U

Sab, 04/08/2018 - 15:39
Moderator PUKAT KAJ Pastor Stefanus Roy Djakarya Pr ikut serta dalam Run4U. Foto: krm

Profesional dan Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (PUKAT KAJ) bekerjasama dengan Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Jakarta (BP PKK KAJ)  menyelenggarakan kegiatan pagi dengan nama Run4U 2018 bertema “Unity in Diversity” yang terdiri dari Joy Run, Joy Walk dan Festival Musik dan Seni.

Ketua Panitia Charles Santoso mengatakan kepada PEN@ Katolik, hasil bersih semua kegiatan yang juga dilengkapi “donasi sukarela” itu akan disumbangkan untuk pembangunan Gereja Santo  Leo Agung di Jatiwaringin Jakarta, pembangunan Gedung Karya Pastoral Santo Nikodemus Ciputat Jakarta, pembangunan gereja Stasi Paroki Pamakayo Santo Aloysius Gonzaga di Nusa Tenggara Timur.

Joy run yang berlangsung di area Mall Alam Sutera, Tangerang Selatan, Minggu 29 Juli 2018, dihadiri oleh sekitar 3600 umat dari berbagai paroki di KAJ serta umat non-Katolik. Sejumlah pastor dan suster yang bertugas di wilayah KAJ juga ikut dalam kegiatan itu.

Moderator PUKAT KAJ Pastor Stefanus Roy Djakarya menjelaskan kegiatan itu dilaksanakan sehubungan dengan ‘Tahun Persatuan’ yang dicanangkan oleh KAJ. “Kegiatan ini mirip Family Gathering yang melibatkan banyak keluarga Katolik dari berbagai usia,” jelas imam itu.

Menurut imam diosesan itu, “kegiatan ini sebagai ajakan kepada semua pihak untuk terlibat dan mengupayakan persatuan antarkomunitas dalam Gereja Katolik dan bersama dengan masyarakat pada umumnya.” Meskipun dilakukan oleh komunitas Gereja Katolik, namun kegiatan itu melibatkan masyarakat umum, serta sejumlah perusahaan yang membuka stand di lokasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan itu.

Pelaksanaan olahraga yang dimulai pukul 06.10 di lokasi Mall Alam Sutera dan sekitarnya menggunakan format Joy Run sejauh 5 km dan Joy Walk sejauh 2,5 km. Acara dilanjutkan dengan hiburan yang menampilkan kelompok band dari sejumlah komunitas dan kegiatan bazar di halaman mall itu.(Konradus R Mangu)

Sebagian peserta. Foto: krm Penampilan seni. Foto: krm

Di tengah krisis politik, Nikaragua mengundurkan diri dari tuan rumah acara-acara WYD

Jum, 03/08/2018 - 23:52
Peserta WYD 2018

Karena situasi sosial politik saat ini di negaranya, para uskup Katolik Nikaragua mengatakan negara itu tidak akan menampung para peziarah yang akan menghadiri “Days in Diocese” (Hari-Hari di Keuskupan) yang akan mendahului Hari Orang Muda Katolik se-Dunia (WYD) di Panama.

Keputusan para uskup itu, menurut laporan Francesca Merlo dari Vatican News, dikirim melalui surat dari Wakil Sekretaris Departemen Kepemudaan Konferensi Waligereja Nikaragua Pastor Jhader Hernandez dan dialamatkan kepada Ketua Pelaksana WYD 2019 Mgr Jose Domingo Ulloa.

Dalam surat itu Pastor Jhader Hernandez berterima kasih kepada panitia pelaksana karena memilih Nikaragua untuk menjadi tuan rumah acara itu, tetapi dijelaskan bahwa situasi politik saat ini di negara itu membuat peziarah tidak akan aman mengunjungi negara itu.

WYD 2019 akan dilaksanakan Januari 2019. Kalau sebelumnya WYD digelar di Denver, Manila, Paris, Toronto, Madrid, Rio de Janeiro dan Krakow, acara itu akan berlangsung di Panama City, Panama, tahun 2019.

Seperti biasanya, perayaan-perayaan utama WYD, yang sering dihadiri 3 juta orang, didahului dengan 14 hari “Days in Diocese”. Dua minggu itu adalah kesempatan bagi peziarah untuk tinggal di keuskupan-keuskupan di negara pelaksana.

Namun, untuk pertama kalinya, “Days in Diocese” akan dilakukan di banyak negara. Tahun ini Paus Fransiskus meminta “Days in Diocese” diperluas ke Keuskupan Kosta Rika dan Nikaragua, karena Paus ingin agar WYD itu sepenuhnya Amerika Tengah.

Dalam suratnya kepada Mgr Ulloa, Pastor Jhader Hernandez menyatakan bahwa Konferensi Waligereja Nikaragua telah membuat keputusan penuh penyesalan untuk mundur dari “Days in Diocese” demi keselamatan para peziarah dan staf pastoral yang terlibat dalam pengalaman Gereja itu.

 

Imam itu mengakhiri suratnya dengan mengucapkan terima kasih kepada Panama “untuk pesan-pesan dan dukungan konstan yang telah mereka tunjukkan kepada rakyat Nikaragua selama periode sulit ini.”

 

Dalam Siaran Pers berjudul “Nikaragua di Hati WYD,” Panitia Pelaksana Panama mendesak para peziarah untuk menjalani pengalaman “Days in Diocese” di Kosta Rika dan Panama. Mereka menyatakan bahwa “kedua negara ini bersiap menyambut dan berbagi dua minggu ini dengan para peziarah muda dan bahwa peristiwa ini adalah salah satu kekayaan yang menandai, dengan cara khusus, kehidupan kaum muda.”

 

Nikaragua sedang mengalami krisis, setelah meletus pemberontakan seluruh penjuru bangsa itu melawan Presiden Daniel Ortega dan istrinya, Wakil Presiden Rosaria Murillo. Ortega dituduh mengikis demokrasi dan hak asasi manusia. Pihak oposisi mengatakan ia telah menjadi sejenis tiran yang brutal dan korup yang pernah dia lawan selama revolusi Sandinista. Saat itu, dengan bantuannya, pemerintahan Somoza sayap kanan digulingkan.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apakah kebebasan itu?

Jum, 03/08/2018 - 22:31

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

363. Apakah kebebasan itu?

Kebebasan adalah kemampuan yang diberikan Allah untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, dan dengan demikian melaksanakan tindakan yang sudah dipertimbangkan dan atas tanggung jawab sendiri. Kebebasan merupakan ciri tindakan manusia. Semakin seseorang itu melakukan yang baik, semakin bebaslah dia. Kebebasan mencapai kesempurnaannya jika diarahkan kepada Allah, Kebaikan tertinggi dan Kebahagiaan kita. Kebebasan juga berarti kemungkinan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat. Pilihan akan yang jahat merupakan penyalahgunaan kebebasan dan akan berujung pada perbudakan dosa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1730-1733, 1743-1744

364. Apa hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab?

Kebebasan membuat orang bertanggung jawab terhadap tindakannya sejauh tindakan itu dikehendaki, bahkan walaupun kesalahan dan tanggung jawab dari suatu tindakan dapat berkurang atau kadang-kadang malah ditiadakan karena ketidaktahuan, kelalaian, paksaan dengan kekerasan, ketakutan, kelekatan yang tidak teratur, atau kebiasaan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1734-1737, 1745-1746

Pembunuhan uskup Koptik Ortodoks di Mesir masih penuh keurigaan dan ketidakpastian

Jum, 03/08/2018 - 19:11

Kecurigaan dan ketidakpastian masih menyelimuti Mesir atas kematian uskup Koptik Ortodoks dari Alexandria, Anba Epiphanius, Kepala Biara (Abbas) Biara Agung Santo Makarius (Dayr Abū Maqār) yang ditemukan tidak bernyawa di biara itu di kala fajar, Minggu 2 Juli 2018.

Menurut laporan Francesca Merlo dari Vatican News, abbas itu terbaring dalam genangan darah saat berjalan dari kamarnya menuju gereja. Nampaknya ada luka di kepala yang diduga akibat benda yang tajam dan berat.

Kematiannya dikonfirmasi dalam catatan resmi yang dirilis oleh Pastor Boulos Hallym. Dalam catatan itu ditambahkan bahwa tanggal pemakaman uskup Epiphanius hanya akan diberikan setelah otoritas peradilan di dalam biara itu menyelesaikan penyelidikan mereka.

Situs berita lokal menyebutnya sebagai “aksi teroris” dan “tindakan kriminal,” demikian tulis Fides News Agency, meskipun penyelidikan belum memberikan informasi lebih lanjut.

Anba Epiphanius, murid dari Matta el Meskin, adalah bapa rohani dan tokoh kunci dalam sejarah modern Gereja Ortodoks Koptik. Menurut Fides Agency, dia menjalani hubungan spiritual yang intens dengan teman-temannya dan para anggota komunitas-komunitas monastik dari Gereja Katolik,.

Abbot Epiphanius, 64 tahun, yang berasal dari Tanta, memiliki gelar dalam bidang kedokteran. Ia menjadi imam tahun 2002 setelah memasuki Biara Agung Santo Makarius tahun 1984. Abbas Epiphanius menerjemahkan beberapa buku Kitab Suci, dari bahasa Yunani ke bahasa Arab.

Sebagai peneliti dan sarjana, ia ikut dalam konferensi internasional ke-10 studi Koptik di Roma tahun 2012. Satu tahun kemudian, 3 Februari 2013, ia terpilih sebagai Kepala Biara oleh 100 biarawan dari Biara Santo Makarius.

Patriark Ortodoks Koptik, Paus Tawadros II, telah mengirim utusannya sendiri ke Biara itu untuk memperoleh informasi tentang kejadian tragis itu.(pcp berdasarkan Vatican News)

Intensi doa Paus Fransiskus di bulan Agustus: Untuk keluarga

Kam, 02/08/2018 - 22:59

Paus Fransiskus merilis pesan video tanggal 2 Agustus 2018 yang menyertai intensi doanya untuk bulan Agustus yakni “Untuk harta kekayaan dalam bentuk Keluarga-Keluarga,” dengan mengatakan: “Bersama-sama, marilah kita meminta kepada Yesus agar setiap keputusan yang berpengaruh besar dari para ekonom dan politisi dapat melindungi keluarga sebagai salah satu harta kekayaan umat manusia.”

Sudah menjadi kebiasaan pada setiap bulan bahwa Paus Fransiskus merilis pesan video yang merinci intensi doanya.

Teks lengkap intensinya adalah:

Kalau berbicara tentang keluarga, sering gambaran harta kekayaan menjadi pikiran saya.

Ritme kehidupan saat ini, stres, tekanan di tempat kerja, dan juga perhatian kecil dari lembaga-lembaga, bisa membuat mereka berada dalam keadaan membahayakan.

Tidaklah cukup berbicara tentang kepentingan mereka: yang perlu adalah meningkatkan sarana-sarana yang konkret dan mengembangkan peran mereka dalam masyarakat dengan kebijakan keluarga yang baik.

Bersama-sama, marilah kita meminta kepada Yesus agar setiap keputusan para ekonom dan politisi yang berpengaruh besar dapat melindungi keluarga sebagai salah satu harta kekayaan umat manusia.

Worldwide Prayer Network of the Apostleship of Prayer mengembangkan prakarsa “Video Paus” ini untuk membantu penyebaran intensi bulanan Bapa Suci dalam kaitannya dengan tantangan yang dihadapi umat manusia.(pcp berdasarkan Vatican News)

Mengapa Sabda Bahagia itu penting bagi kita?

Kam, 02/08/2018 - 21:45
Gereja Bukit Sabda Bahagia di Israel. Foto dari situs Universitas Notre Dame, faith.nd.edu

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

360. Mengapa Sabda Bahagia itu penting bagi kita?

Sabda bahagia merupakan inti pewartaan Yesus. Sabda itu melaksanakan dan memenuhi janji yang dibuat Allah sejak Abraham. Sabda itu melukiskan wajah Yesus dan menjadi ciri hidup Kristen yang autentik, serta menunjukkan tujuan akhir hidup manusia, yaitu kebahagiaan abadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1716-1717, 1725-1726

361. Apa hubungan antara Sabda Bahagia dan kerinduan kita akan kebahagiaan?

Sabda Bahagia menjawab kerinduan asali akan kebahagiaan yang diletakkan Allah ke dalam hati manusia untuk menarik kita kepada-Nya. Hanya Allah yang dapat memuaskan kerinduan ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1718-1719

362. Apa kebahagiaan abadi itu?

Ialah memandang Allah dalam kehidupan kekal saat kita sepenuhnya ”mengambil bagian dalam kodrat  ilahi” (2Ptr 1:4), dalam kemuliaan Kristus dan kegembiraan hidup Tritunggal. Kebahagiaan ini melampaui kemampuan manusia, merupakan anugerah adikodrati dan cuma-cuma dari Allah seperti halnya rahmat yang menuntun ke arahnya. Kebahagiaan yang dijanjikan ini menantang kita untuk membuat pilihan moral yang tegas berkenaan dengan hal-hal duniawi, dan mendorong kita untuk mencintai Allah di atas segala-galanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1720-1724, 1727-1729

OMK Jakarta akan menggelar JOYFest 2018 di ICE BSD Tangerang

Kam, 02/08/2018 - 18:09

Orang Muda Katolik (OMK) di bawah naungan Pertemuan Mitra Kategorial (PEMIKAT) KAJ akan menghadirkan Jakarta Catholic Youth Festival 2018 (JOYFest 2018) di ICE BSD Tangerang, 11 September 2018,  “sebagai wujud ekspresi iman orang muda Katolik untuk memenuhi kebutuhan dinamika generasi zaman kini dalam semangat keberagaman Indonesia.”

Menurut catatan yang diperoleh PEN@ Katolik, sudah banyak OMK yang “registrasi,” karena menurut panitia, acara yang merupakan bagian evangelisasi Gereja Katolik dan sekaligus merayakan tahun kebhinekaan dengan spirit “JOY in Diversity” ini adalah “investasi yang memberikan pengalaman dan nilai yang berbeda dari kegiatan OMK pada umumnya.”

JOYFest akan dimulai pukul 09:00 dengan Misa Pembukaan, kemudian ditayangkan 22 sesi seminar yang dilakukan paralel pada pagi dan siang hari, dan diakhiri dengan Festival yang akan diisi oleh komunitas OMK dan dua International Guest Star yaitu Suster Cristina (The Voice of Italy 2014) dan Matt Maher (Musisi Katolik & Worship Leader dari US). Acara akan ditutup pukul 21.00 WIB.

Akan dibicarakan topik-topik besar dalam 22 sesi seminar itu antara lain, Iman Katolik dengan pembicara Vikaris Episkopalis KAJ dan Pengajar STF Driyarkara Pastor Andang Binawan SJ, serta Kitab Suci yang menampilkan Pengajar STF Driyarkara Pastor Josep Ferry Susanto Pr tentang “Menghidupi Sabda” serta Founder Katolisitas.org Stefanus & Inggrid Tay tentang “Ada apa dengan Maria?”

Dalam topik Social Life Diakon Adrian Ng dari Keuskupan Johor, Malaysia, akan berbicara tentang “Importance of Community” dan topik Career tentang Career Planning dibawakan oleh Founder Career Guide Indonesia Adityo Indrasanto. Sementara itu Direktur Marketing PT Astra Honda Motor Thomas Wijaya akan berbicara tentang Sukses dalam Dunia Kerja.

Topik Entrepreneurship tentang “Start-Up” akan menampilkan Agung Nugroho (Kudo), Greta (Popbox), Melisa Irene (East Venture) dan Adrian Lim (Block71). Topik Relasi tentang “How to Find the Right Soulmate” menampilkan Ratih Ibrahim (Psikolog & Founder Personal Growth) dan tentang “Menyikapi LGBT” oleh Riko Ariefano (Founder Domus Cordis).

Selain itu, Stephen dari Katolik Vidgram akan berbicara tentang “Evangelisasi Media Sosial” dalam topik Media Social. Ada juga topik Aktualisasi Diri tentang “Menemukan Jati Diri.” Pembicaranya adalah Mona Sugianto (Psikolog & Direktur AdFamilia Indonesia). Sedangkan “Inspired Leadership” dalam topik yang sama oleh Th. Wiryawan (CEO WYR Solution).

Pastor Yos Bintoro yang berpangkat Letkol dari TNI AU akan juga hadir. Dia akan berbicara tentang “100% Katolik 100% Indonesia” dalam topik Kebhinekaan. Dalam topik itu, Adrianto Gani dari Kantor Staf Presiden akan juga berbicara tentang “Proud to be Chatolic in Indonesia.”

PEMIKAT atau Pertemuan Mitra Kategorial adalah forum jejaring dan sinergi antarberbagai komunitas kategorial lintas paroki yang berkarya di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang bertujuan untuk menumbuhkan iman umat, membangun semangat persaudaraan serta mengembangkan berbagai karya pelayanan seturut arah dasar KAJ.

Ada 16 komunitas yang berada dalam PEMIKAT dan tergabung dalam kegiatan JOYFest, yaitu Catholic Fellowship Jakarta (CFJ), CHOICE, Domus Cordis (DC), John Paul II Foundation Youth (JPII Youth), The Indonesian Pilgrims (TIP), SANT’EGIDIO, Komunitas Jomblo Katolik (KJK), Maria Advocata (MA), Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK), Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (GROPESH), LEGIO MARIA, Komunitas Tritunggal Maha Kudus (KTM YOUTH), Lights Of Jesus Family (LOJF), Single For Christ (SFC), Tunggal Hati Seminari Tunggal Hati Maria (THS THM), BUNDA TERESA.

Maka, meski harga tiket regular 250.000 rupiah untuk early bird dan 300.000 rupiah untuk normal, dan harga tiket VIP 400.000 rupiah untuk early bird dan 500.000 rupiah untuk normal, semuanya sudah termasuk Seminar Kit, menurut laporan panitia sudah banyak OMK yang mendaftar di www.joyfest.id/book.(paul c pati)

Kadinal Gracias: Permintaan melarang Pengakuan Dosa melawan kebebasan beragama

Kam, 02/08/2018 - 03:03
Kardinal Oswald Gracias. Foto Keuskupan Pagadian

Gereja Katolik India menyatakan kaget mendengar permintaan Komisi Nasional Wanita (NCW) milik pemerintah agar Sakramen Pengakuan Dosa dihapuskan, dengan mengatakan seruan itu merupakan campur tangan yang tidak semestinya dilakukan dalam isu yang vital dan sakral dalam kehidupan umat Katolik.

Permintaan itu, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News, disampaikan NCW kepada pemerintah India menyusul skandal yang muncul bulan lalu di negara bagian Kerala, India selatan, yang melibatkan empat imam Gereja Ortodoks Suriah Malankara yang dituduh menggunakan pengakuan dosa seorang wanita yang sudah menikah untuk memeras dan melakukan pelecehan seksual terhadapnya.

Ketua Konferensi Waligereja India (CBCI) yang juga Uskup Agung Bombay Kardinal Oswald Gracias mengeluarkan siaran pers tanggal 27 Juli 2018 yang mengatakan permintaan komisi itu tidak masuk akal.

Berbicara dengan Vatikan News, 30 Juli 2018, kardinal, yang juga ketua Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC), mengulangi pernyataan persnya bahwa “permintaan komisi itu memperlihatkan ketidakpahaman tentang sifat, makna, kesucian dan pentingnya Sakramen ini bagi umat kami.”

Ketua NCW Rekha Sharma merekomendasikan agar Perdana Menteri Narendra Modi dan beberapa menteri kabinetnya mengambil langkah-langkah guna menghapus praktik pengakuan dosa di Gereja-Gereja Katolik.

Kardinal Gracias mengatakan, Gereja Katolik “berhati-hati dan memiliki hukum yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan sakramen itu.” Larangan seperti itu, kata kardinal, akan langsung melanggar kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi. “Saya merasa ini pelanggaran hak asasi manusia kami.”

Menurut kardinal, “jutaan umat di seluruh dunia, selama berabad-abad, bersaksi tentang manfaat spiritual yang mereka dapatkan setelah menerima Sakramen itu, dan mereka menerima rahmat, pengampunan dan kedamaian sebagai akibat Pengakuan Dosa.”

Dengan menyebut seruan itu sebagai “permintaan yang tidak masuk akal,” Kardinal Gracias berharap pemerintah akan pasti menolaknya.

Kardinal berusia 73 tahun itu mencatat permintaan NCW itu didasarkan pada beberapa insiden dalam Gereja Ortodoks Suriah Malankara, tapi ada lebih banyak isu perempuan di India yang sedang ditangani Gereja dan Gereja ingin bekerja dengan komisi itu untuk menangani perempuan yang mendapat perlakuan jelek, keselamatan perempuan, pencegahan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, membangun kapasitas perempuan serta sistem penyelamatan bagi perempuan yang babak belur karena dipukul.

Meskipun Sharma belum menarik tuntutannya, Kardinal Gracias optimis “suasana sekarang jauh lebih baik,” karena ketua komisi tidak mengulangi dan mendesak larangan itu. “Bahkan seorang menteri dengan terbuka mengatakan tidak setuju dengan permintaan ini,” lanjut kardinal.

Banyak suara mendukung Kardinal Gracias dalam memprotes permintaan untuk membuang Sakramen itu. Uskup Agung Trivandrum Kardinal Baselios Cleemis mengatakan, tidak ada orang yang bisa mempersoalkan hak konstitusional kaum minoritas dan merusak kelaziman agama mereka.

“Kalian tidak boleh membuat generalisasi dengan mengutip beberapa insiden. Jika ada kejahatan, hukum negara harus menghadapinya. Kalian tidak bisa menyalahkan kebiasaan agama dengan mengutip hal ini,” kata Kardinal Cleemis yang merupakan kepala Gereja Katolik Syro-Malankara. “Kami ingin tahu apa kata pemerintah persatuan tentang pendapat kepala NCW itu,” kata Kardinal.

Konferensi Para Uskup Kerala (KCBC) juga mengatakan permintaan NCW itu menyakiti perasaan beragama umat Katolik yang minoritas di negara itu. “Itu serangan terhadap iman dan praktek spiritual Katolik. Kami yakin rekomendasi itu tidak beralasan dan melanggar kehormatan serta kredibilitas umat Kristiani,” kata juru bicara KCBC Pastor Varghese Vallikkatt.

Uskup Agung Trivandrum dari ritus Latin Mgr Soosai Pakiam mengatakan, “Ketua NCW seharusnya tidak mendikte kalian menghapuskan ini (praktik keagamaan pengakuan dosa).”

Sharma, yang berada di Kerala pekan lalu untuk menemui orang-orang yang diduga korban pelecehan seksual oleh para imam, mengatakan banyak yang mengatakan kepadanya bahwa pengakuan dosa sering disalahgunakan oleh beberapa imam untuk mengeksploitasi umat beriman, terutama wanita.

Uskup Agung Bhopal Mgr Leo Cornelio mengatakan, komisi itu tidak memiliki alasan untuk menyerukan “penghapusan sesuatu yang dianggap suci oleh umat Katolik hanya karena ada sebuah penyimpangan.”

George Kurian, wakil ketua Komisi Nasional untuk Kaum Minoritas milik pemerintah juga mengkritik permintaan NCW dalam diskusi TV dengan mengatakan Konstitusi India “menjamin hak-hak tertentu untuk kaum minoritas dan tidak ada orang bisa mengambil hak itu.” Dia meminta orang-orang yang memegang posisi konstitusional yang tinggi untuk tidak membuat pernyataan seperti itu yang dapat menciptakan “kesalahpahaman di antara komunitas-komunitas minoritas.”

Juru bicara Syro-Malabar Pastor Jimmy Poochakat mengkritik Sharma dengan mempertanyakan bagaimana seseorang dengan posisi konstitusional bisa mengajukan rekomendasi seperti itu. “Dia tidak boleh menyakiti perasaan umat lain seperti ini. Hendaknya pemerintah menolak rekomendasinya dengan  cibiran yang layak diterimanya,” katanya.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apa akar martabat manusia?

Rab, 01/08/2018 - 23:05
Foto dari https://catholiccharitiescamden.org

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

357. Bagaimana kehidupan moral Kristen berhubungan dengan iman dan Sakramen?

Apa yang diakui dalam pengakuan iman disampaikan oleh Sakramen-Sakramen. Melalui Sakramen-Sakramen, orang beriman menerima rahmat Kristus dan anugerah-anugerah Roh Kudus yang membuat mereka mampu mengalami kehidupan baru sebagai anak-anak Allah dalam diri Kristus yang mereka terima dalam iman.

”Hai orang-orang Kristen, kenalilah martabatmu”

(Santo Leo Agung)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1691-1698

358. Apa akar martabat manusia?

Martabat pribadi manusia berakar pada penciptaannya menurut gambar dan rupa Allah. Dilengkapi dengan jiwa yang spiritual dan tak dapat mati, intelek dan kehendak bebas, pribadi manusia terarah kepada Allah dan dipanggil untuk kebahagiaan kekal dalam jiwa dan badannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1699-1715

359. Bagaimana kita mencapai kebahagiaan?

Kita mencapai kebahagiaan melalui jasa rahmat Kristus yang membuat kita ambil bagian dalam kehidupan ilahi. Dalam Injil, Kristus menunjukkan kepada para pengikut-Nya, jalan menuju kepada kebahagiaan abadi: Sabda Bahagia. Rahmat Kristus juga bekerja dalam diri setiap orang yang mengikuti suara hatinya yang benar, mencari dan mencintai kebenaran dan kebaikan serta menghindari yang jahat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1716

Paus Fransiskus kepada 70.000 misdinar yang berziarah ke Roma: Kalian bisa jadi rasul!

Rab, 01/08/2018 - 19:41
Paus di tengah 72.000 putra-putri altar. Foto Vatican Media

Dalam Audiensi Luar Biasa di Lapangan Santo Petrus dengan lebih dari 70.000 misdinar berusia 13 sampai 23 tahun dari 19 negara berbeda yang berziarah ke Roma, 31 Juli 2018, Paus Fransiskus menanggapi pertanyaan dari lima misdinar mengenai perdamaian, doa, pelayanan, iman dan kesucian.

Para misdinar itu adalah peserta Ziarah Internasional ke-12 untuk Putera-Puteri Altar yang diselenggarakan oleh Coetus Internationalis Ministrantium (CIM), organisasi internasional untuk perhatian pastoral bagi misdinar yang didirikan tahun 1960.  Ziarah 30 Juli hingga 4 Agustus 2018 itu bertema “Carilah Perdamaian dan Kejarlah!” (Mazmur 34:15).

Dalam laporan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News, Paus Fransiskus sependapat dengan misdinar yang mengajukan pertanyaan mengenai salam damai dalam Misa. “Perdamaian dan Misa Kudus berjalan bersama,” kata Paus Fransiskus. “Kami berdoa seraya memohon kepada Yesus untuk memberikan kepada kami damai-Nya, dan kami diutus untuk pergi dengan damai di akhir Misa,” lanjut Paus. Kemudian Paus Fransiskus mengusulkan agar kaum muda bertanya pada diri sendiri dalam setiap situasi: “Apa yang akan Yesus lakukan di tempat saya?” Dengan melakukan itu “kita akan membawa damai Kristus ke dalam kehidupan kita sehari-hari,” kata Paus.

Peziarah lain meminta Paus untuk menjelaskan bagaimana mereka dapat hidup kontemplatif ketika melayani. Terhadap pertanyaan ini, Paus mengatakan, “Akan luar biasa jika, di samping pelayanan dalam liturgi, kalian lebih terlibat dalam kehidupan paroki dan mengambil waktu hening dalam kehadiran Tuhan.” Praktik itu, kata Paus, akan memungkinkan mereka menemukan bakat mereka sendiri, cara mengembangkannya dan apa yang direncanakan Allah bagi mereka. “Ingat,” kata Paus kepada mereka, “semakin kalian memberi diri kepada orang lain, semakin kalian mendapatkan kembali kepuasan pribadi dan kebahagiaan sejati!”

Menanggapi pertanyaan mengenai teman-teman peziarah yang tidak masuk gereja, Paus Fransiskus menegaskan, “kalian bisa menjadi rasul, yang mampu menarik orang lain kepada Yesus.” Paus pun menjelaskan dengan mengatakan hal itu akan terjadi “jika kalian dipenuhi semangat besar untuk Yesus.” Paus kemudian mendorong peziarah untuk mengenal dan mengasihi Yesus melalui doa, Misa, bacaan Injil, dan orang miskin. “Cobalah berteman, tanpa pamrih, dengan semua orang di sekitar kalian, sehingga seberkas cahaya Yesus dapat bersinar kepada mereka melalui hati kalian sendiri yang mencintai Dia,” kata Paus.

Untuk pertanyaan tentang perlunya iman, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “iman itu laksana udara yang kita hirup” dan iman “membantu kita memahami makna hidup.” Juga dikatakan, imanlah yang membuat kita yakin bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan menjadi anggota keluarga-Nya, Gereja. Di sana, “Tuhan memberi makan putra-putri-Nya dengan firman-Nya dan dengan sakramen-sakramen-Nya,” kata Paus Fransiskus kepada mereka.

Pertanyaan terakhir datang dari peziarah yang ingin tahu cara mewujudkan pelayanan menjadi  karya amal kasih guna menjadi suci. Paus menanggapi dengan mengatakan bahwa “rancangan sederhana Yesus untuk semakin suci” adalah perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Perintah ini menjadi lebih konkret dalam karya-karya belas kasih, lanjut Paus. Yang harus ditanyakan adalah, “Apa yang dapat saya lakukan saat ini untuk memenuhi kebutuhan sesama saya?” yang mungkin adalah teman atau orang asing, kata Paus. “Percayalah, dengan melakukan ini, kalian bisa menjadi orang suci sejati, pria dan wanita yang mengubah dunia dengan menjalani cinta Kristus,” Paus mengakhiri sambutannya.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus dorong putra-putri altar untuk pergi menjadi misionaris ke seluruh dunia

Pastor Laurentius Prasetyo CDD dapat kekayaan rohani dari Pastor Patrick Hartadi OFMCap

Rab, 01/08/2018 - 04:32
Pastor Patrick (kiri) dan Pastor Pras (kanan) di depan kolam ikan dan kebun pisang di belakang Pastoran Paroki Sungai Raya, Kubu Raya (dok pribadi Pastor Pras)

“Bonne journée, Padre!” Seruan Pastor Laurentius Prasetyo CDD itu tidak terdengar lagi setiap pagi pukul 6.00 di Pastoran Paroki Santo Agustinus Sungai Raya di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Timur, karena Pastor Patrick Hartadi OFMCap telah meninggal dunia dalam usia 74 tahun di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak 28 Juli 2018, pukul 00.10.

Namun, sharing Pastor Pras yang disampaikan kepada PEN@ Katolik ini mengungkapkan pengalaman hidup dan kekayaan rohani yang Pastor Pras terima saat hidup bersama Pastor Patrick selama 20 bulan 26 hari 12 jam. “Itu kekayaan pribadi saya, kekayaan rohani saya, yang tidak bisa diambil oleh orang lain,” kata imam dari Kongregasi Murid-Murid Tuhan (Congregatio Discipulorum Domini, CDD) tentang perjumpaan dan hidup bersamanya dengan Pastor Patrick dari Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFMCap) Pontianak.

Pastor Patrick, yang lahir dengan nama permandian “Yohanes” di Teluk Pakedai, 26 Juli 1944, sebelum masuk biara bernama Lim Keng Siang dan menggunakan nama biara Patrick Hartadi saat masuk novisiat, adalah ekonom OFMCap Pontianak dan membantu Paroki Santo Agustinus Sungai Raya. Pemegang Lisensiat Pedagogi dari Universitas Salesiana itu pernah pimpin Persekolahan Katolik Nyarumkop di Singkawang, Vikjen Sanggau, Ekonom Keuskupan Palangkaraya, Sekretaris Provinsi Kapusin Indonesia, Sekretaris Provinsi Kapusin Pontianak.

Kebersamaan dari hari ke hari

Ucapan doa agar harimu menyenangkan di atas setiap pagi diucapkan Pastor Pras saat berjumpa Pastor Patrick sebelum sarapan. Kepada media ini, Pastor Rekan di Paroki Sungai Raya itu bercerita, “Biasanya jam 6 pagi Pastor Patrick sudah duduk manis di ruang makan, menunggu saya untuk sarapan. Kadang-kadang ada kepala paroki Pastor Joanes Yandhie Buntoro CDD, tapi lebih sering kami duduk berdua. Kami awali dengan doa. Selesai sarapan, kami ngobrol, minum pagi, lalu jalan ke kolam dan memberi makan ikan. Setelah itu kami ngobrol tentang rencana masing-masing hari itu.”

Dengan sukacita dan kegembiraan, mereka masuk kamar masing-masing dan persiapkan kegiatan sepanjang hari. Lima menit kemudian, cerita Pastor Pras, Pastor Patrick dijemput oleh supir dan berangkat ke Provinsialat OFMCap Pontianak di Tirta Ria, Pontianak. Dia ambil sesuatu di sana dan pergi ke rumah Kapusin di samping Katedral Pontianak untuk minum kopi, tengok sana-tengok sini, dan mengambil surat serta majalah di kotak surat keuskupan, lalu keliling kota, entah ke kantor pos, bank, perpanjangan STNK, pembayaran pajak kendaraan dan lain-lain, dan kembali ke provinsialat.

Pukul 11.00 biasanya Pastor Patrick dijemput dan pulang ke pastoran untuk makan siang. Sebelum pukul 12.00, imam itu sudah duduk dan saya bergegas duduk juga untuk berdoa santap siang. “Kembali kami mengucap syukur atas berkat yang kami terima dari kemurahan Tuhan setengah hari itu.” Kalau karyawan tidak ada, biasanya hari Minggu, “saya siapkan makanan dan memblender makanan Pater.”

Selepas santap siang, kata Pastor Pras, mereka kembali berbincang tentang pengalaman dan kesibukan masing-masing sepanjang hari. “Kami sharing dan tertawa bersama.” Kemudian istirahat. “Pukul 15.00, Pastor Patrick keluar kamar, mengambil sabit dan sandal, lalu menuju kebun untuk merawat pisang. Takut terjadi apa-apa, pukul 15.30 saya juga turun ke kebun mendampingi Pater mengurus kebun pisang, menanam pisang, angkat tanah dan bertukang.”

Meski mengaku tidak banyak yang dikerjakan, hanya potong daun pisang kering, “namun di situlah kami mengalami kebersamaan,” kata Pastor Pras seraya mengingat Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Seorang saudara dilahirkan untuk menolong kita pada masa kesulitan” dan Santo Vincentius de Paul yang mengatakan, “J’ai peine de votre peine” (kesukaranku dari kesukaranmu).

Menurut Pastor Pras, pengalaman bersama Pastor Patrick dari hari ke hari adalah pengalaman rohani. “Ketika di kebun, di kamar makan, di hari Sabtu siang, kami diskusi tentang kotbah. Ketika Pastor Patrik kesulitan menemukan bahan kotbah, saya berikan solusi dengan ayat dan gagasan. Kami berbagi pengalaman, hidup rohani, dan banyak hal.”

Biasanya pukul 16.00, Pastor Patrick minum kopi campur havermud. “Supaya ada energi, katanya.” Setelah minum dia kembali ke kebun sampai pukul 17.30, lalu mandi. “Pukul 18.00, kami makan malam, selesai makan malam Pastor Pastrik bergegas ke kantor Provinsialat Kapusin di Tirta Ria untuk menyelesaikan pekerjaan hariannya. Saya juga melakukan kegiatan harian, misalnya doa di lingkungan. Pukul 20.00 kami bertemu kembali di pastoran, lalu nonton Metro Tv, kesenangannya, atau Indonesian Lawyers Club (ILC) di TvOne, sambil baca koran. Dalam usia 74 tahun beliau setia membaca kolom-kolom rubrik penting sehingga ketika berbicara dengan beliau bahasanya sangat tertata.”

Bersahaja juga konsisten

Hari ke hari, kedua imam itu, yang satu CDD yang lain OFMCap selalu bersama. “Kebiasaan Pastor Patrick dari hari ke hari saya perhatikan, dan beliau memperhatikan saya, setiap hal kecil dalam diri saya beliau perhatikan, hal kecil, bukan hal besar, kesederhanaan.”

Kesan mendalam yang diamati Pastor Pras adalah “meski orang penting dalam Ordo Kapusin, tetapi Pastor Patrick sangat bersahaja, beliau tokoh kunci yang penting namun tidak arogan. Beliau sederhana, sangat rendah hati.” Selain tutur katanya lembut, menurut Pastor Pras, kotbah Pastor Patrick “yang sederhana, teratur dan tertata, bisa mematangkan iman umat dan iman saya sebagai pastor, yang hidup serumah dengan beliau.”

Pastor Pras yakin, sebagai orang sederhana dan bersahaja, Pastor Patrick hidup benar. “Orang yang hidup benar adalah orang yang jujur, orang yang hidup benar dan jujur adalah orang yang melahirkan keadilan, dan dari keadilan muncullah  kedamaian.”

Menurut imam CDD itu, Pastor Patrick selalu tegas dan berusaha melakukan yang benar secara prinsip. “Orang yang melakukan kebenaran dan kejujuran akan membawa keadilan, dan keadilan akan membawa kedamaian dan dari kedamaian lahirlah sukacita. Jujur, benar, adil, damai dan sukacita adalah pelajaran hidup yang paling penting yang saya perhatikan dalam keseharian kami.”

Selain itu, Pastor Patrick adalah orang konsisten, “yang tahu bagaimana harus bertindak dari waktu ke waktu,” kata Pastor Pras seraya mengutip Lukas 16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Qui fidelis est in minimo, et in majori fidelis est : et qui in modico iniquus est, et in majori iniquus est).

Beryukur

Ketika duduk bersama dan mengalami situasi tidak enak karena kebijaksanaan tertentu, atau ketika Pastor Pras tidak puas dengan situasi di komunitas, Pastor Patrik mengajaknya untuk bersyukur dengan mengatakan, “Si non est satis, memento paupertatis (jika engkau tidak puas, ingatlah akan orang miskin). Perkataan, yang mengajarkan bahwa semua yang Tuhan berikan kepada kita sudahlah cukup malah berlebih, itu ditempel di jendela kamar Pastor Patrick. “Maka kalau saya lewat di situ, dia suruh saya membacanya.”

Di saat-saat sulit Pastor Patrick menyanyikan lagu Gregorian untuk Pastor Pras atau bersama mereka menyanyikan lagu “Salve Regina.” Kalau situasi tak sesuai situasi batin, Pastor Patrick meneguhkan Pastor Pras dengan mengatakan “Quod licet Iovi, non licet bovi” (Apa yang diizinkan untuk Jupiter belum tentu diperbolehkan untuk kerbau). “Kita ini kerbau!” kata Pastor Patrick, dan mereka tertawa.

Imam CDD itu menyadari bahwa Pastor Patrick mengajarkan bahwa hidup harus penuh syukur, sesuai Efesus 5:20 yang mengatakan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.”

Disiplin dan menohok

Pastor Patrick adalah juga seorang yang disiplin dengan waktu. “Orang yang disiplin bagi saya adalah orang yang setia. Benar, dia orang setia dengan ritmenya,” kata Pastor Pras seraya mengingat Amsal 3:3 “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu.”

Pastor Patrick juga dikenang secara pribadi oleh Pastor Pras karena canda atau tegurannya kadang-kadang menggunakan kata-kata menohok dan membingungkan untuk dijawab. Ada banyak sekali pengalaman menarik. “Suatu ketika anak-anak OMK mengambil rambutan di kebun dan beliau tegur, ‘Kenapa kamu tidak ambil sekalian dengan pohonnya?’ Kami pun tertawa bersama.” Benar, Pastor Patrick itu “Fortiter in Re, Suaviter in Modo” (keras dalam prinsip, halus dalam cara), kata Pastor Pras.

Kekayaan rohani

Meskipun tanggal 30 Juli 2018 seharusnya Pastor Pras bersama komunitas CDD pergi ke Miri, Sarawak, tetapi dia putuskan tidak ikut. “Walaupun berat, tetapi lebih berat tidak mengantar Pastor Patrick ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Santo Yusuf,” kata Pastor Pras seraya mengenang ketepatan waktu atau pungtualitas, serta menghargai waktu yang diajarkan Pastor Patrick dengan pepatah Latin yang berbunyi “Omnias Tempus Habent” (segala sesuatu ada saatnya).

Maka, Pastor Pras berterima kasih kepada Ordo Kapusin yang mengizinkan Pastor Patrick tinggal di pastoran itu. “Di sini dia tidak disebut sebagai Pastor Rekan. Sejak kami ke sini dia sudah ada di sini. Bagi saya pribadi tidak masalah. Justru saya senang, karena kekayaan rohani dan pengalaman rohani saya bertambah dan menjadi kekayaan pribadi saya, yang tidak bisa diambil orang lain. Ini kekayaan saya.”

Pastor Pras mengenal Pastor Patrick selama “20 bulan, 26 hari, 12 jam” dan “dalam waktu-waktu itulah saya menemukan kegembiraan, persahabatan, relasi dan hubungan batin luar biasa bersama beliau.”

Pastor Pras masih ingat pertemuan terakhirnya dengan Pastor Patrick saat ulang tahunnya 26 Juli 2018 di rumah sakit. “Saya masih menyiapkan makanan serta memotong pepaya dan menatakan supaya mudah untuk beliau makan. Saya siapkan juga sayur di hadapannya supaya beliau nyaman menikmatinya meski di rumah sakit.”

“Selesai beliau makan, pukul 12.20 saya mohon diri, karena ada janji doa dan pemberkatan di salah satu keluarga. Tidak ada beban dan perasaan apa-apa. Dengan sukacita saya katakan, Pater saya tinggal dulu, saya pamit dulu. Besok kalau tidak ada halangan saya datang. Ternyata semua sudah selesai. Dan itulah yang terbaik bagi Pastor Patrick. Tuhan Yesus tidak mau beliau menderita terlalu banyak karena dia orang independen, yang tidak mau merepotkan orang lain, dia sangat mandiri, pribadi luar biasa.”

Totalitas

Jenazah Pastor Patrick sudah dimakamkan. Kini, Pastor Pras makan sendiri sambil mengenang pepatah Latin dari Pastor Patrick untuk melakukan sesuatu dengan kesungguhan atau totalitas yakni “Age quod agis” (lakukan dengan sungguh-sungguh apa yang harus kamu lakukan) serta ayatnya dalam Kitab Suci yakni Kolese 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Orang berkualitas yang sederhana itu tak lagi bersama dia di kebun atau di kamar makan untuk mencari bahan kotbah, namun teladan dan kebijaksanaannya, perlu dipelajari, termasuk oleh para Kapusin muda, kata Pastor Pras seraya mengutip Amsal 23:23 “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.”

Pastor Pras yakin Tuhan memberkati dan menerima Pastor Patrick dan barisan para malaikat menyambutnya. “Jadilah pendoa bagi kami imam-imam Allah yang masih harus berjuang dalam kehidupan ini. Arrivederci Padre (selamat jalan Pater),” doa dan harapan Pastor Pras. (paul c pati)

Halaman