Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 45 mnt yang lalu

Apa peranan Kitab Suci di dalam kehidupan Gereja?

Sel, 16/01/2018 - 21:24
Pintu Suci Basilika Santo Paulus di Luar Tembok. PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

23. Bagaimana kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

Kitab Suci adalah satu sejauh Sabda Allah itu satu. Rencana penyelamatan Allah itu satu, dan inspirasi ilahi dari kedua Perjanjian itu juga satu. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru dan Perjanjian Baru menyempurnakan yang Lama, keduanya saling menerangkan satu sama lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 128-130, 140

24. Apa peranan Kitab Suci di dalam kehidupan Gereja?

Kitab Suci memberikan dukungan dan kekuatan bagi kehidupan Gereja. Bagi Putra-Putri Gereja, Kitab Suci merupakan suatu peneguhan iman, makanan jiwa, dan sumber hidup spiritual. Kitab Suci adalah jiwa teologi dan khotbah pastoral. Para pemazmur berkata bahwa Kitab Suci ”pelita bagi kakiku dan cahaya bagi langkahku” (Mzm 119:105). Karena itu, Gereja menganjurkan semua umat beriman untuk sering membaca Kitab Suci karena ”tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (Santo Hieronimus).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 131-133, 141-142

Pengurus Kawanua Katolik Jabodetabek dilantik untuk “membasuh kaki” teman-temannya

Sel, 16/01/2018 - 03:58

Pengurus lengkap Kawanua Katolik Jabodetabek dilantik bukan untuk berkuasa, bukan untuk memerintah, bukan untuk memberikan instruksi, tetapi untuk menjadi pelayan, untuk membungkuk dan mencuci kaki teman-teman mereka, umat Katolik Kawanua yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), kata Pastor Johny Luntungan MSC.

“Jika Anda yang dilantik sore hari ini memiliki semangat untuk dilayani, coret namanya. Kalau Anda yang akan dilantik minta untuk diistimewakan, dinomorsatukan, selalu disebut namanya, delete namanya. Tetapi, kalau Anda siap memberikan apapun yang Anda miliki bahkan nyawa Anda untuk kemuliaan nama Tuhan dan untuk nama baik Kawanua Katolik Jabodetabek, Anda adalah pengurus yang belum kerja tetapi sudah membuat sesuatu yang istimewa,” lanjut imam itu.

Provinsial MSC Indonesia Pastor Johny Luntungan MSC berbicara dalam homili Misa Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 Kawanua Katolik Jabodetabek yang dirayakan di Graha Zeni Angkatan Darat, Jakarta, 14 Januari 2018. Tema Misa itu menggunakan motto organisasi itu Nos Unum Sumus (kita adalah satu) yang bersinergi dengan semboyan Sulawesi Utara “Torang Samua Basudara.” Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Angelica Tengker serta beberapa tokoh masyarakat Kawanua lainnya di Jabodetabek juga hadir.

Di depan sekitar 800 umat yang hadir, imam yang diangkat sebagai moderator dari pengurus sebesar 75 orang itu mengingatkan mereka yang hendak dia lantik agar bertanya, “kalau saya mendapat trust (kepercayaan) dari teman-teman Kawanua Katolik, siapkah saya jalankan kepercayaan itu dengan berani melepaskan kepentingan pribadi dan keuntungan diri sendiri dan selalu memprioritaskan ad maiorem dei gloriam (untuk kemuliaan Allah), dan untuk mengedepankan kepentingan orang lain?”

Seusai homili, nama-nama pengurus dibaca dan semuanya datang ke depan altar. Pastor Luntungan lalu berdoa dan memberkati serta memerciki mereka dengan air kudus. Di depan bendera Merah Putih dan Bendera Kawanua Katolik yang juga berdiri di depan altar, para pengurus mengungkapkan janji mereka.

Organisasi kemasyarakatan itu resmi diproklamirkan pada Perayaan Syukur Tahbisan Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC di Aula Sekolah Tarsisius Kemakmuran, 26 Agustus 2017, dan dihadiri Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta. Dewan Presidium 2018-2023 dipimpin oleh Stefanus Rengkuan sebagai ketua dan Welly Boseke, John Puah serta Stella Mamahit masing-masing sebagai wakil ketua, serta J Maxi Paat sebagai sekretaris jenderal, dan Sonny Liauw sebagai bendahara.

 

Organisasi itu memiliki bidang Seni, Budaya dan Pariwisata; Kesejahteraan Sosial; Pendidikan dan Kaderisasi; Liturgi; Keadilan, Perdamaian, Keutuhan Ciptaan; Ekonomi dan Pengembangan Usaha; Olahraga, Kepemudaan, dan Kreativitas; Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Kesehatan; Public Relation dan Humas; serta Multi Media dan Dokumentasi.

 

Di bagian penutup Misa, Stefanus Rengkuan mengajak seluruh warga Kawanua Katolik untuk terus bekerja sama memajukan organisasi yang baru itu, dan mendorong agar organisasi itu bekerja sama dengan semua kelompok Kawanua dan semua kelompok etnis berlabel Katolik yang ada di Jabodetabek.

 

Seusai Misa, kelompok Tari Selendang Biru, Tari Jajar Orang Muda Katolik Kawanua Katolik Jabodetabek, Kor Kerukunan Keluarga Kawanua Katolik Kalvari, Musik Kolintang, dan Tari Kabasaran menghibur para undangan sambil makan kue-kue dan makanan malam khas Manado.

 

Siaran pers, yang dikeluarkan pengurus yang baru dilantik itu, menulis bahwa kehadiran organisasi Kawanua Katolik Jabodetabek disambut oleh warga Kawanua Katolik, karena sudah lama dinantikan. “Terasa ada kerinduan hadirnya suatu wadah yang dapat menghimpun warga Kawanua Katolik untuk terus bersatu dan bersama-sama berkarya lewat berbagai potensi yang ada, termasuk dalam pelestarian nilai-nilai luhur leluhur Minahasa,” tulisnya.

 

Organisasi itu, lanjutnya, juga hadir karena merasa keragaman suku, budaya, agama, bahasa dan adat-istiadat yang ada di Indonesia merupakan suatu kekayaan yang potensial dan disyukuri untuk memperkuat kepribadian bangsa menjadi suatu bangsa yang besar. (paul c pati)

 

Paus Fransiskus pergi melakukan Kunjungan Apostolik ke Chili dan Peru

Sen, 15/01/2018 - 19:40
Paus Fransiskus melambaikan tangan dari pintu pesawat Alitalia yang membawanya ke Amerika Selatan. Foto AFP

Paus Fransiskus memulai perjalanan kepausan ke-22 ke luar wilayah Italia pada hari Senin pukul 8:55, saat pesawat yang ditumpanginya berangkat dari Bandara Fiumicino di Roma, untuk melakukan perjalanan selama 15 jam ke Santiago, Chili, Amerika Selatan.

Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Chili dan negara tetangga Peru dalam waktu kurang dari seminggu, menurut laporan Christopher Wells dari Vatican News, akan membawanya ke enam kota yang berbeda.

Perjalanannya dimulai di ibu kota Chili, Santiago. Di sana, selain merayakan Misa untuk umat beriman, Bapa Suci akan bertemu dengan para pemimpin sipil dan agama dan mengunjungi penjara wanita. Pada hari Rabu, 17 Januari, Paus akan pergi ke Temuco, sebuah kota yang dihuni banyak penduduk pribumi. Sesudahnya Paus akan kembali ke Santiago untuk bertemu kaum muda. Paus Fransiskus akan menghabiskan hari terakhirnya di Chili, di kota pelabuhan utara Iqique.

Seperti biasanya, Bapa Suci akan mengirim telegram ke berbagai negara yang akan dia lalui saat bepergian ke Amerika Selatan. Telegram pertama, yang ditulis dalam bahasa Italia dan dikirim ke Presiden Italia, Sergio Mattarella, berbunyi:

“Saat saya meninggalkan Roma untuk pergi ke Chili dan Peru untuk mendukung misi Gereja setempat, dan untuk menyampaikan pesan pengharapan, saya perlu menyampaikan salam hormat saya kepada Anda, Tuan Presiden. Saya juga berharap orang Italia mengalami kesejahteraan spiritual, sipil, dan sosial, dan oleh karena itu saya dengan sukarela memberikan berkat Apostolik saya.”

Sebelum keberangkatan ke Amerika Selatan, Paus Fransiskus mempercayakan perjalanan apostoliknya itu kepada Perawan Maria dengan berdoa di Kapel Maria Penyelamat Bangsa Romawi di Basilika Santa Maria Maggiore. (pcp berdasarkan Vatican News)

Apa pentingnya Perjanjian Baru bagi umat Kristen?

Sen, 15/01/2018 - 18:07

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

20. Apa kanon Kitab Suci itu?

Kanon Kitab Suci ialah daftar lengkap dari tulisan-tulisan suci yang diakui oleh Gereja melalui Tradisi Apostolik. Kanon ini terdiri dari 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 120, 138

21. Apa pentingnya Perjanjian Lama bagi umat Kristen?

Para pengikut Kristus menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Seluruh Kitab Perjanjian Lama itu diinspirasikan secara ilahi dan mempunyai nilai tetap. Kitab-kitab itu memberikan kesaksian tentang pedagogi ilahi cinta Allah yang menyelamatkan. Kitab-kitab itu ditulis terutama untuk mempersiapkan kedatangan Kristus sang Penyelamat alam semesta.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 121, 123

22. Apa pentingnya Perjanjian Baru bagi umat Kristen?

Perjanjian Baru, yang berpusat pada Yesus Kristus, menyatakan kebenaran terakhir wahyu ilahi kepada kita. Dalam Perjanjian Baru, keempat Injil menurut Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes merupakan inti dari seluruh Kitab Suci karena merupakan saksi utama hidup dan ajaran Yesus. Dengan demikian, keempatnya mempunyai tempat yang unik di dalam Gereja

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 124-127, 139

Yayasan Santo Dominikus Cirebon memenangkan Saint Dominic Olympiad

Sen, 15/01/2018 - 04:43

 

Saint Dominic Olympiad 2018 bidang akademik dan non akademik yang meliputi matematika, IPA, story telling,  menulis cerpen dan puisi, khotbah, vocal group, menyanyi tunggal, solo gitar,  tenis meja, basket, voli, bulu tangkis, lompat jauh, dan catur, sudah selesai dilaksanakan.

Kegiatan itu diakhiri dengan gelar budaya yang menampilkan kreativitas seni dalam bentuk tarian, paduan suara, dan drama dari para siswa dari empat cabang. Dan saat itu diumumkan bahwa juara umum kompetisi 2018 itu adalah Yayasan Santo Dominikus (YSD) Cabang Cirebon, karena berhasil memperoleh medali emas terbanyak.

YSD Cabang Cirebon mampu mengalahkan tiga cabang lainnya yakni Cabang Yogyakarta, Cabang Purwokerto, dan Cabang Cimahi dalam Saint Dominic Olympiad 2018 yang berlangsung  di SMP Susteran Purwokerto, tanggal 4 hingga 6 Januari 2018. YSD dijalankan oleh para suster dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia., OP.

Kegiatan tahunan itu, kata ketua panitia Aloysius Hariadi, adalah untuk “menghidupi enam semangat Santo Dominikus, yang menjadi nilai sekolah yang diterapkan dalam proses pembelajaran dalam sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan YSD, yakni doa, studi, demokrasi, persaudaraan, bela rasa, dan  kegembiraan.

Tema Saint Dominic Olympiad, yang dibuka dan ditutup dengan Misa di Katedral Purwokerto, adalah “Chanakta Widya Bagya Buana Indonesia,” yang artinya, menurut Aloysius Hariadi, “pelajar yang baik akan selalu mencari ilmu demi kebahagiaan tanah air Indonesia.”

Kepala YSD Cabang Purwokerto Suster Maria Rosiana OP membenarkan dalam sambutannya bahwa “Seorang pelajar yang baik selalu menuntut ilmu.” Suster itu juga berharap anak-anak didik selalu bersyukur , menumbuhkan devosi, dan mengembangkan masa depan cerah.

Selain untuk mewujudkan kegembiraan sehingga menguatkan semangat cinta kebenaran, persaudaraan, dan studi guna meningkatkan prestasi bidang akademik dan non akademik, jelas suster itu, kegiatan itu “bisa digunakan oleh pelajar yang berprestasi menemukan Tuhan, meninggalkan kesan yang baik, dan memperoleh nilai untuk kehidupan yang nyata.”

Kepala YSD Pusat Suter Maria Patricia OP yang membuka acara itu menegaskan bahwa dalam Saint Dominic Olympiad para siswa tidak hanya bertanding “tetapi berbagi kegembiraan dengan semangat Santo Dominikus, karena sebagai generasi yang sedang menyiapkan diri menghadapi masa depan yang diperlukan bukan hanya memiliki keterampilan akademis tetapi juga karakter sebagai pribadi yang utuh, cerdas, dan cinta kebenaran (Veritas).”

Gelar budaya untuk menutup Saint Dominic Olympiad 2018 di Gedung Pascalis Hall Purwokerto itu menampilkan kreativitas seni dalam bentuk tarian, paduan suara, dan drama dari para siswa dari empat cabang yang selesai berkompetisi.

Pemimpin Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia Suster Anna Marie OP dan Wakil Bupati Banyumas Budhi Setyawan, yang juga alumnus SD Santa Maria Purwokerto yang berada di bawah naungan YSD Cabang Purwokerto, hadir dalam gelar budaya itu.

“Kegiatan ini juga merupakan wujud nyata karya kongregasi yang mampu menciptakan generasi berprestasi serta menjadi sarana pewartaan kebenaran dalam kehidupan nyata di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat,” kata Suster Anna Marie OP. (Angela Reni Suryoresmi)

Suster Anna Marie OP

Datanglah dan Alamilah!

Min, 14/01/2018 - 12:32

Minggu di Biasa ke-2

14 Januari 2018

Yohanes 1:35-43

“Kata mereka kepada-Nya: ‘Rabi, di manakah Engkau tinggal?’ Ia berkata kepada mereka, ‘Datang dan lihatlah.”  (Yoh 1: 38-39)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Dalam Injil Yohanes, kita tidak akan menemukan kata “rasul” atau seseorang yang diutus untuk memberitakan Injil. Yohanes Penginjil secara konsisten memanggil orang-orang yang dengan setia mengikuti Yesus sebagai seorang murid. Kenapa demikian? Mungkin, Yohanes penginjil ingin menunjukkan kepada kita bahwa aspek terpenting dan mendasar dari menjadi pengikut Yesus adalah benar-benar menjadi seorang murid.

Apa artinya menjadi murid di zaman Yesus? Kita biasanya memahami bahwa seorang murid sebagai orang yang belajar di sekolah tertentu yang dilengkapi dengan bangunan, fasilitas dan sistem pembelajarannya. Seperti Frater Bayu adalah murid di Universitas Santo Tomas, dan setiap hari Senin sampai Jumat, dia harus menghadiri kelas di kampus Manila. Saya diharapkan untuk memahami ilmu teologi, seperti teologi Santo Paulus atau menguasai keterampilan khusus seperti berkhotbah. Pada akhir semester, saya diharuskan lulus ujian untuk membuktikan bahwa saya telah menguasai ilmu atau keterampilan yang diharapkan. Jika saya gagal, saya harus mengambil ujian ulang atau mengulang kembali mata kuliah yang gagal. Tentunya, ini adalah cara sederhana untuk membayangkan sistem pembelajaran di zaman kita, tetapi jika kita ingin menjadi murid pada masa Yesus, kita harus memasuki dunia yang berbeda.

Ketika Andreas atau Petrus menjadi murid Yesus, ini tidak berarti bahwa mereka akan menghadiri kelas-kelas yang diadakan Yesus. Mereka benar-benar mengikuti Yesus ke mana pun Yesus pergi. Itulah sebabnya pertanyaan pertama yang diajukan Andreas bukan berapa biaya kuliah atau pelajaran apa yang akan diberikan Yesus, melainkan “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Karena jelas di dalam benak Andreas bahwa jika dia ingin menjadi seorang murid, dia harus mengikuti Yesus secara penuh, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Mereka akan berjalan ke tempat Yesus pergi, makan apa makanan yang Yesus makan, tidur di mana Yesus meletakkan kepala-Nya, mengalami semua yang Yesus rasakan, sukacita, kesedihan, penderitaan dan kebangkitan! Belajar kemudian bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan atau keterampilan, tapi juga tentang berbagi hidup, memberi dan menerima kehidupan.

Menarik juga untuk dicatat bahwa tanggapan Yesus terhadap Andreas adalah “come and see” atau “datang dan lihatlah”, namun jika kita kembali ke teks Yunani kuno, kata yang digunakan adalah “erkesthe kai opheste”. Jika diterjemahkan secara harfiah, ini adalah “datang dan alamilah!” Untuk menjadi murid adalah mengalami kehidupan Yesus, untuk mengalami Yesus sendiri. Tentunya, ini adalah pengalaman total tentang Yesus. Dengan demikian, akhir pembelajaran bukanlah nilai, melainkan kehidupan baru dan sungguh menjadi citra Yesus, sang Guru. Ini adalah mengikuti Kristus dalam arti sebenarnya.

Namun, untuk menjadi murid semacam ini, tidaklah mudah. Untuk mengikuti dan mengalami kehidupan Yesus, kita harus menyerahkan hidup kita. Hidup untuk hidup. Kita tidak bisa menjadi murid Yesus hanya dari jam 8 pagi sampai 5 sore, tetapi setelah itu, kita bebas. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita adalah murid Yesus ketika kita berada di Gereja saja, tapi bukan murid-Nya di tempat kerja dan rumah. Kita menjadi murid Yesus pada saat-saat indah maupun masa-masa sulit. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita bersedia mengorbankan kehidupan lama kita? Apakah kita siap untuk mengikuti Yesus siang dan malam? Apakah kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seperti Kristus?

 

 

Bagaimana Kitab Suci seharusnya dibaca?

Sab, 13/01/2018 - 13:35

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

18. Mengapa Kitab Suci mengajarkan kebenaran?

Karena Allah sendirilah pengarang Kitab Suci. Atas alasan inilah Kitab Suci disebut ”terinspirasikan”, dan tanpa kesalahan mengajarkan kebenaran yang perlu untuk keselamatan kita. Roh Kudus menginspirasikan para pengarang yang menuliskan apa yang Dia inginkan untuk mengajar kita. Tetapi, iman Kristen bukanlah ”agama Kitab”, tetapi agama Sabda Allah – ”bukan kata-kata yang tertulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Santo Bernardus dari Clairvaux).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 105-108, 135-136

19. Bagaimana Kitab Suci seharusnya dibaca?

Kitab Suci harus dibaca dan ditafsirkan dengan bantuan Roh Kudus dan di bawah tuntunan Kuasa Mengajar Gereja menurut kriteria: 1) harus dibaca dengan memperhatikan isi dan kesatuan dari keseluruhan Kitab Suci, 2) harus dibaca dalam Tradisi yang hidup dalam Gereja, 3) harus dibaca dengan memperhatikan analogi iman, yaitu harmoni batin yang ada di antara kebenaran-kebenaran iman itu sendiri.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 109-119, 137

Keuskupan Ruteng tetapkan 2018 sebagai Tahun Persekutuan dari keuskupan hingga KBG

Sab, 13/01/2018 - 04:57

“Semoga kita sehati sejiwa membangun kembali persekutuan di keuskupan ini, di dekanat,di paroki, di stasi, di lingkungan, dan terutama di KBG-KBG, dan juga di komunitas-komunitas rohani dan komunitas-komunitas kategorial. Ini yang perlu menjadi perhatian kita.”

Ajakan untuk membangun persekutuan itu diungkapkan oleh Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Mgr Silvester San ketika membuka Sidang Pastoral Post Natal Keuskupan Ruteng yang berlangsung di Aula Efata, Ruteng, tanggal 9 hingga 12 Januari 2018.

Topik yang dibahas sidang itu adalah upaya membangun persekutuan, sebagai implementasi dari Sinode Ketiga Keuskupan Ruteng, yang menetapkan tahun 2018 sebagai Tahun Persekutuan. Sidang empat hari yang melibatkan para imam, biarawan-biarawati dan tokoh-tokoh umat itu diawali dengan rekoleksi yang dipimpin Praeses Seminari Santo Yohanes Paulus II, Labuan Bajo, Pastor Laurens Sopang Pr.

Melihat Program Pastoral Keuskupan Ruteng 2017 tentang Pewartaan, Uskup Denpasar itu menegaskan bahwa Injil yang diwartakan itu “membangun persekutuan Gereja” dan “kita menyadari bahwa Gereja itu adalah sebuah persekutuan.”

Sementara itu, dalam homili Misa Natal Bersama peserta sidang itu di tempat yang sama, 12 Januari 2018, yang juga dihadiri Bupati Manggarai Deno Kamelus, Wakil Bupati Manggarai Victor Madur bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah di lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai, Mgr Silvester San mengungkapkan bahwa Natal membawa harapan bagi Keuskupan Ruteng.

“Yang perlu kita lakukan adalah membangun persekutuan, persaudaraan terutama di KBG sebagai bentuk kesepakatan dari hasil sinode,” kata Mgr Silvester seraya menegaskan bahwa dalam situasi tidak adanya persatuan atau persekutuan, “akan muncul pihak ketiga atau provokator yang merusak persekutuan, persaudaraan dan kedamaian.”

Terkait proses Pilkada yang akan datang, Mgr Silvester berpesan agar masyarakat memanfaatkan hak pilih dengan baik dan mimbar gereja tidak dipakai sebagai tempat untuk mempraktekkan politik praktis. “Meskipun tahun 2018 adalah tahun politik, namun kita tetap menjaga persaudaraan dan perdamaian di tengah masyarakat,” pesan Mgr Silvester.

Pada tahun yang sama pemerintah akan menjalankan agenda politik yakni pemilihan gubernur dan wakil gubernur dan menyebut 2018 sebagai Tahun Politik. Menurut Bupati Deno Kamelus, Tahun Politik dan Tahun Persekutuan “menjadi tantangan bagi pemerintah dan Gereja lokal, terutama bagaimana mewujudkan persekutuan di tengah peluang perbedaan pilihan politik.”

Untuk itu, Bupati mengharapkan agar Gereja, baik sebagai institusi, juga melalui pribadi para pemimpinnya, menjalankan peran profetisnya, sehingga masyarakat yang berbeda pilihan dalam politik mampu hidup dalam persekutuan yang utuh berlandaskan cinta kasih. “Tentang bagaimana langkah-langkah praktisnya, saya yakin para imam, biarawan-biarawati, dan tokoh umat yang hadir di sini pasti telah memikirkannya dengan baik,” kata Bupati Deno Kamelus.

Atas nama pemerintah, bupati berharap Gereja “membantu memberi pencerahan terkait ideal pemimpin yang dibutuhkan wilayah ini … sehingga yang nantinya terpilih adalah pemimpin kita, dan bukan pemimpin kami yang mewakili kelompok atau kepentingan tertentu.”(pcp berdasarkan laporan Komsos Ruteng, Tim Humas pro Manggarai dan Floresa.co)

Kardinal Parolin: 2018 adalah tahun kaum muda dan keluarga untuk Paus Fransiskus

Sab, 13/01/2018 - 03:14

Dalam wawancara dengan Alessandro Gisotti dari Vatikan News seperti dilaporkan oleh Devin Watkins, Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin menggambarkan bahwa tahun 2018 menjadi “perhatian khusus Gereja bagi harapan, tujuan, dan tantangan yang dihadapi kaum muda.”

Tanggal 21-26 Agustus 2018, lanjut kardinal itu, akan dilakukan Pertemuan Keluarga se-Dunia Dublin, Irlandia,  sebelum berlangsungnya  Majelis Biasa Sinode Para Uskup di Roma (Oktober 2918), yang fokusnya adalah “tentang Kaum Muda, Iman, dan Pilihan Hidup.”

Menurut Kardinal Parolin, aspek inovatif dan penting adalah “hubungan baru Gereja dengan kaum muda, yang terungkap dalam paradigma tanggung jawab, tanpa jenis paternalisme apa pun.”

“Gereja dan Paus meminta kaum muda … kontribusi apa yang dapat mereka berikan bagi Injil dan pewartaannya, saat ini!” kata kardinal itu..

Tentang seruan apostolik Amoris laetitia, Kardinal Parolin mengatakan bahwa dokumen itu “dihasilkan dari sebuah paradigma baru yang Paus Fransiskus lanjutkan dengan kebijaksanaan, kehati-hatian, dan kesabaran.” Kesulitan yang kini mengitari dokumen itu, “selain beberapa aspek isi, adalah karena perubahan sikap yang Paus minta dari kita,” lanjut kardinal.

Selain menjadi perhatian Gereja terhadap keluarga dan persoalan-persoalannya dalam dunia sekarang ini, dan sungguh-sungguh membantu menginkarnasikan Injil di dalam keluarga, yang sudah merupakan Injil: Injil keluarga, Kardinal Parolin yakin bahwa “Amoris laetitia juga merupakan ajakan bagi keluarga untuk ikut bekerja sama dan berkontribusi bagi pertumbuhan Gereja.”

Tentang reformasi Kuria, yang katanya “sudah mengambil beberapa langkah penting ke depan,” Kardinal Parolin menegaskan bahwa Paus Fransiskus lebih fokus “pada semangat lebih dalam yang harus menjiwai setiap reformasi Kuria, yang merupakan dimensi fundamental kehidupan Kristen, yaitu pertobatan.”

Sikap ini, kata kardinal, lebih diutamakan daripada “reformasi struktural, dengan promulgasi undang-undang baru, norma-norma, nominasi, dan lain-lain.”

Reformasi harus membuat Kuria Romawi menjadi “bantuan nyata bagi Paus untuk pewartaan Injil,” kata Kardinal Parolin seraya menegaskan bahwa dia akan mendesak dan bersikeras pada aspek itu.

Mengenai perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Chili dan Peru, kardinal itu mengatakan bahwa “Paus akan pergi sebagai Gembala Gereja universal untuk bertemu dengan gereja-gereja lokal … yang kini menghadapi berbagai tantangan akibat realitas dunia sekarang ini.”

Yang pertama, kata kardinal itu, “adalah tantangan bagi penduduk pribumi” yang mengacu pada Sinode Amazonia 2013 yang Paus Fransiskus adakan “tentang peran dan kontribusi penduduk ini dalam negara dan masyarakat mereka.”

Tantangan kedua adalah korupsi. “Topik yang sungguh dirasakan Paus dan kembali diungkapkan dengan bahasa sangat tajam adalah korupsi, yang menghambat pembangunan dan pengurangan kemiskinan dan kesengsaraan,” kata Kardinal Parolin.

Kardinal itu yakin, kunjungan itu tidaklah mudah, “tapi pasti akan sangat menyenangkan.” (pcp berdasarkan Vatican News)

Apa hubungan antara Kitab Suci, Tradisi, dan Kuasa Mengajar?

Jum, 12/01/2018 - 13:04
Pintu Suci Basilika Santo Petrus

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

16. Kepada siapa diberikan tugas untuk menafsirkan khazanah iman ini secara autentik?

Tugas untuk memberikan tafsir autentik terhadap khazanah iman ini dipercayakan kepada otoritas Kuasa Mengajar Gereja, yaitu pengganti Petrus, Uskup Roma, dan para Uskup yang ada dalam kesatuan dengannya. Dalam pelayanan Sabda Allah, pengajaran resmi ini mempunyai karisma kebenaran, dan kepadanya juga diberi tugas untuk merumuskan dogma yang merupakan rumusan kebenaran yang terdapat dalam wahyu Ilahi. Otoritas pengajaran resmi ini juga diperluas pada kebenaran-kebenaran lain yang mempunyai hubungan erat dengan wahyu.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 85-90, 100

17. Apa hubungan antara Kitab Suci, Tradisi, dan Kuasa Mengajar?

Kitab Suci, Tradisi, dan Kuasa Mengajar berhubungan erat satu sama lain sedemikian sehingga yang satu tidak dapat ada tanpa yang lain. Dengan bekerja sama, masing-masing dengan caranya sendiri, ketiga hal tersebut memberikan sumbangan secara efektif bagi keselamatan jiwa-jiwa di bawah naungan karya Roh Kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 95

Kaum perempuan Papua mulai menabung hasil penjualannya lewat bank

Kam, 11/01/2018 - 23:04
Kaum perempun Kampung Poo sedang mendafttar di depan petugas BRI Unit Jagebob. Foto: Beatrix

Oleh Agapitus Batbual

Baru-baru ini, ketua Perkumpulan Lembaga Advokasi Peduli Perempuan  (El-Adpper) Beatrix Meiwag Gebze berkunjung ke Stasi Kristus Raja Semesta Alam Kampung Poo, di Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, yang bersebelahan dengan Papua Nugini. Kelompok perempuan, yang dibentuknya untuk memperkuat persaudaraan dan melatih perempuan untuk mandiri dan terampil, itu khusus datang mengunjungi perempuan lokal di Kampung Poo yang mulai tergerak untuk menyimpan uang di bank.

Selama ini El-Adpper melihat perempuan Kampung Poo, warga Suku Marind yang umumnya beragama Katolik, tidak bisa memanfaatkan sumber alamnya karena usahanya hanya “menumpang saja” maka hasil panen harus dibagi dua dengan pemilik dusun. Namun, Beatrix senang melihat perempuan di sana ingin menabung dari hasil pendapatan berjualan hasil alam. “Walaupun hanya sedikit, tetapi kalau aga gerakan menabung sangat positif,” tegasnya.

Selain itu, El-Adpper mengamati lewat pertemuan dan kelompok diskusi, kaum perempuan Poo yang dililit banyak masalah menginginkan suasana baru, ketimbang tergantung pada sistem bagi hasil. Apalagi selama ini, hasil alam mereka hanya berakhir di gerobak sayur milik transmigran dari Distrik Jagebob. Mereka tinggal menelan air liur saja.

Perempuan Kampung Poo, tiga jam perjalanan dengan kendaraan roda empat dari Distrik Jagebob, sulit sekali memasarkan dagangannya karena sayur hasil pekarangan mereka sudah diborong habis oleh warga transmigran. Mereka hanya mengkonsumsi hasil kebun sendiri, “sedangkan ikan yang mereka  tangkap dijual ke pedagang sayur yang biasanya membawa gerobak, plus hasil air sungai, buah-buahan dan lain sebagainya,” urai Beatrix Gebze.

Melihat kemauan baik untuk menyimpan uang atau menabung demi masa depan, El-Adpper bekerja sama dengan pihak BRI Unit Jagebob, dengan harapan informasi itu diberitakan ke kampung tetangga dan keinginan menabung itu didukung suami. Beatrix gembira karena di hari pertama terdaftar 16 nasabah dan di hari kedua menjadi 20 nasabah. BRI Jagebob memberikan perhatian khusus untuk Kampung Poo. Setoran dimulai 50.000 rupiah hingga 1.000.000 rupiah.

PEN@ Katolik mengamati perempuan Kampung Poo sangat  antusias menabung. Salah satunya, Leonila  Webtu, seorang janda yang menggantungkan hidupnya dari berjualan sayur serta dari ternak ayam dan sapi bantuan Pemda Merauke.  Dia percaya, dengan menabung dia bisa menyekolahkan anaknya lebih tinggi.

Suatu ketika, ceritanya, anaknya yang bersekolah di SMP Negeri Jagebob meminta tambahan uang les. Namun dia hanya punya Rp. 50.000, yang langsung diberikan kepada anaknya. Dia pun menimba pengalaman warga transmigrasi, yang “dulunya tak punya apa-apa, tetapi sekarang punya rumah beton, karena menabung,” jelas ibu itu.

Meski menanam manga, nanas, bayam, katok, daun kelor, rebung dan banyak sayur lain di pekarangan rumah, dia mengeluh “kesulitan tak memiliki pasar  yang memadai.” Kalaupun ada, tegasnya, “jaraknya sangat jauh.” Selain itu ada pengalaman pahit. Satu saat seorang penduduk dari kampung lain menawarkan pinjaman, tetapi bunganya sangat mencekik. Padahal mereka adalah ibu rumah tangga yang kebutuhan rumah tangganya hanya dari alam.

Karena itu dia menyambut baik dan berterima kasih kepada bank dan El-Adpper yang mulai mendatangi ibu-ibu di kampung itu. “Syukur lembaga El-Adpper mulai bergerak mendatangi masing-masing rumah,” katanya seraya berterima kasih juga kepada Dinas Peternakan yang memberikan bantuan sepasang ternak sapi dan beberapa pasang ayam.

Ketua Dewan Stasi  Kristus Raja Semesta Alam Kampung Poo, Mathias Kwipalo, memberikan dorongan besar bagi perempuan kampung itu untuk menabung di bank, yang semuanya dimulai 12 Januari 2018, karena dia tidak mau pengalaman lalu terulang saat para perempuan  di kampung itu ditipu oknum tertentu untuk menjalankan koperasi.  “Apa yang mereka lakukan demi keluarga saat ini sangat bagus dan sangat positif,” tegasnya.

Ketua Credit Union Sinar Papua Selatan Pastor Cayetanus Tarong MSC menyebut kesadaran perempuan stasi itu bahwa menyimpan uang untuk masa  depan itu penting, “sangat bagus.”  Dikatakan, pasti ada masa suram yang dialami, “tetapi sekarang mereka mulai sadar betapa pentingnya simpanan untuk mengantisipasi suram tersebut.”

Kepada PEN@ Katolik imam itu mengatakan bahwa sikap menabung untuk mengatasi kebutuhan mendesak atau masalah darurat, untuk pendidikan, untuk perumahan dan untuk masa depan anak-anak sangat bagus. “Saya kagum dengan perempuan ini. Saya berpesan supaya ditingkatkan, dan jangan tunggu banyak baru tabung, karena hari esok memiliki cerita sendiri lagi,” kata Pastor Cayetanus seraya menegaskan bahwa segala urusan keluarga harus dimulai dari peran perempuan, dan kaum perempuan lokal di Papua Selatan harus giat menabung dari hasil usaha mereka sendiri.

Kepala Paroki Santa Perawan Maria Erambu Pastor Johanes Kota Sando Pr juga menyambut baik sikap menabung itu. “Walaupun tidak banyak seperti di kota Merauke, tetapi saat ini, makin banyak anggota asal Stasi Poo ini,” kata imam itu kepada PEN@ Katolik seraya menggambarkan bahwa pendapatan asli kampung itu cukup tinggi, tetapi kemauan menyimpannya belum cukup.***

Direktris El-Adpper, Merauke Pastor Johanes Kota Sando Pr Kaum perempuan sedang mendengar penjelasan dari BRI Foto: Beatrix

Tahun Persatuan di Keuskupan Agung Jakarta dibuka dengan Sarasehan Kebangsaan

Kam, 11/01/2018 - 12:22
Foto dari Website KAJ

Sejak tiga tahun lalu Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ditetapkan berdasarkan Pancasila, dan dalam rangka pembukaan Tahun Persatuan 2018, sesuai sila ketiga, KAJ menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan yang menghadirkan pembicara Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo dan aktivis serta cendekiawan muda yang kini bertugas sebagai Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif.

Kegiatan di Aula Katedral, 6 Januari 2018, yang bertema “Amalkan Pancasila; Kita Bhinneka, Kita Indonesia,” itu dihadiri juga perwakilan agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan Konghucu, serta 200-an pengurus dewan paroki yang membidangi hubungan antaragama dan kepercayaan.

Pancasila sebagai Ideologi bangsa diejawantahkan dalam bentuk gagasan dan diwujudkan dengan gerakan. “Harapannya, jika gerakan itu diulang dan diulang, akan menjadi sebuah habitus yang berlaku dalam keseharian,” kata Mgr Suharyo dalam dalam acara yang diawali dengan doa dan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia, Camat Jakarta Pusat dan Pastor Paroki Katedral.

Mgr Suharyo mengawali paparannya dengan menceritakan tentang mantan Uskup Agung Semarang yang menjadi Pahlawan Nasional Mgr Albertus Soegijapranata SJ. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Mgr Soegijapranata meninggalkan Semarang dan pindah ke Yogyakarta karena pemerintah Indonesia pindah ke sana, dan menulis surat ke Vatikan agar mengakui kemerdekaan RI dan Vatikan menanggapi dengan menghadirkan Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia tahun 1947.

Juga dijelaskan bahwa Mgr Soegijapratana membuat berbagai ikatan dengan nama Pancasila, atau Gerakan Ekonomi Pancasila yakni Ikatan Buruh Pancasila (1954), Ikatan Petani Pancasila (1958), Ikatan Paramedis Pancasila (1959), Ikatan Usahawan Pancasila (1959) dan (4) Ikatan Nelayan Pancasila (1964).

Bagi umat Katolik, tegas Mgr Suharyo, “ini sebenarnya adalah tindakan kenabian, warisan dan pesan agar umat Katolik sungguh-sungguh menjadi warga negara yang baik.” Bahkan, lanjut Uskup Agung Jakarta yang bertugas sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia itu, dikenal satu semboyan Mgr Soegijapranata yakni “100 % Katolik, 100 % Indonesia,” yang sebetulnya menurut Mgr Suharyo dirumuskan oleh Mgr Soegijapranata dengan “100 % Patriotik, 100 % Katolik,” jadi tidak bukan Katolik baru Indonesia.

Khusus untuk Tahun Persatuan 2018, Mgr Suharyo juga memperkenalkan Bunda Pelindung Berbagai Suku dengan atribut Bunda Maria yang khas Indonesia, Lambang Pancasila di dada, selubung merah putih, dan mahkota bertuliskan Nusantara, dengan harapan agar “umat berdoa untuk pribadi, umat berdoa juga untuk kebaikan negara,” kata Mgr Suharyo.

Setelah sarasehan, peserta ikut bersama menyaksikan  pelepasan burung dan penanaman pohon di depan Katedral Jakarta yang dilakukan para tokoh agama yang hadir.(Konradus R Mangu)

HIDUP

Apa hubungan antara Tradisi dan Kitab Suci?

Rab, 10/01/2018 - 15:59

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

12. Apa Tradisi Apostolik itu?

Tradisi Apostolik adalah pewarisan pesan Kristus, yang diturunkan sejak awal Kekristenan melalui khotbah, kesaksian, institusi, ibadah, dan tulisan-tulisan yang diilhami. Para Rasul mewariskan apa yang sudah mereka terima dari Kristus dan belajar dari Roh Kudus kemudian terus berlanjut kepada pengganti-pengganti mereka, para Uskup, dan melalui mereka kepada semua generasi sampai akhir dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 75-79, 83, 96-98

13. Bagaimana terjadinya Tradisi Apostolik?

Tradisi Apostolik terjadi dalam dua cara: melalui pewarisan langsung Sabda Allah (yang disebut sebagai Tradisi) dan melalui Kitab Suci yang merupakan pewartaan keselamatan yang sama dalam bentuk tulisan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 76

14. Apa hubungan antara Tradisi dan Kitab Suci?

Tradisi dan Kitab Suci berhubungan erat dan saling melengkapi. Masing-masing menghadirkan misteri Kristus dan berbuah di dalam Gereja. Kedua hal ini mengalir dari satu sumber ilahi yang sama, dan bersama-sama membentuk khazanah iman yang suci dan dari sinilah Gereja mendapatkan kepastian tentang wahyu.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 80-82, 97

15. Kepada siapa iman ini dipercayakan?

Para Rasul mempercayakan khazanah iman ini kepada seluruh Gereja. Berkat makna iman yang adikodrati inilah umat Allah secara keseluruhan, dengan bimbingan Roh Kudus dan dituntun oleh Kuasa Mengajar Gereja, tidak pernah berhenti untuk menerima, meresapkan lebih dalam, dan menghayati anugerah wahyu ilahi ini secara lebih penuh.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 84, 91, 94, 99

Gereja Maria Ratu Pencinta Damai Pancasila akan selalu dikenang umat di Kalbar

Rab, 10/01/2018 - 02:25

Gereja Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila, yang diresmikan dan ditahbiskan 1 Januari 2018, merupakan salah satu dari tiga gereja yang akan selalu dikenang oleh umat di Kalimantan Barat. Dua gereja lainnya adalah Gereja Katedral Santo Yosep Pontianak dan Gereja Katedral Kristus Raja Sintang.

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengatakan hal itu seraya berterima kasih kepada Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, karena di masa jabatannya telah memberikan dukungan bagi umat Katolik di Kalimantan Barat dalam membangun dua katedral dan gereja MRPD itu.

“Bapak Gubernur kita ini luar biasa. Mengapa saya katakan luar biasa, karena beliau sungguh memperhatikan seluruh masyarakat Kalimantan Barat tanpa memandang agama dan suku. Hal ini terbukti juga dengan berdiri kokohnya bangunan Mesjid Mujahidin yang megah berkat bantuan dan dukungan beliau semasa jabatannya,” kata Mgr Agus.

Gereja MRPD Pancasila yang diresmikan oleh Gubernur Cornelis dan diberkati oleh Mgr Agus itu merupakan renovasi dari gedung serbaguna yang sudah cukup tua. Menurut Karolin, Ketua Umum Pembangunan Gereja MRPD yang juga Bupati Landak, panitia pembangunan gereja ini mulai aktif tahun 2014 dan panitia memberanikan diri menghadap Gubernur Cornelis yang juga umat paroki itu.

Gereja MRPD dengan luas lantai 1594,5 meter persegi, yang dibangun di atas lahan seluas 4680 meter persegi itu, bisa menampung umat sekitar 1500 orang. Biaya pembangunan sekitar 37 milyar yang terdiri dari sumbangan Gubernur Cornelis sebesar 30 milyar dan sisanya swadaya umat, sumbangan donatur, sumbangan beberapa BUMN, BUMD, dan sumbangan dari Katedral Pontianak.

Menurut Gubernur Cornelis, membangun gereja tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus secara bersama dan gotong royong antara pemerintah dan masyarakat. “Kita membangun tidak bisa sendiri. Sebagai gubernur, saya juga harus bekerja sama dengan pemerintah pusat, harus bekerja sama dengan pemerintah kabupaten kota, masyarakat, sampai ke daerah-daerah sehingga pembangunan bisa berjalan dengan lancar,” kata Gubernur Cornelis.

Selain itu gubernur mengajak panitia menyelesaikan segala persoalan administrasi, “karena itu merupakan bentuk transparansi pembangunan gereja.” Laporan pertanggungjawaban, jelasnya, bila perlu dilakukan audit, “sehingga jelas, tidak ada duga-duga.”

Menurut Kepala Paroki MRPD Pancasila Pastor John Rustam Pr, gereja itu dipersembahkan kepada Bunda Maria yaitu Bunda Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD). Oleh karena itu, lanjut imam itu, “panitia sengaja memilih tanggal 1 Januari 2018 sebagai tanggal peresmian, karena bertepatan dengan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, pelindung gereja ini.”

Umat Paroki MRPD, lanjut Pastor Rustram, percaya bahwa terlaksananya peresmian dan pemberkatan gereja itu pada pesta Tahun Baru itu tidak terlepas dari doa dan penyertaan Bunda Maria, “sebab begitu banyak pengalaman iman yang umat dan saya sendiri alami selama proses pembangunan gereja ini.”

Pastor Rustam sangat khawatir ketika dipercayakan sebagai pastor paroki di saat gereja itu sedang dalam proses pembangunan. “Saya sangat khawatir, darimana dana untuk membangun gereja yang cukup megah ini?! Namun, semua kekhawatiran dan ketakutan itu sama sekali tidak terjadi. Ini sungguh Bunda Maria yang memberi pertolongan,” imam itu yakin. (mssfic)

Peresmian Gereja MRPD oleh Mgr Agustinus Agus Pr dan Gubernur Cornelis Gubernur Kalbar Cornelis memancung tebu muda sebagai simbol penymbutan kedatangan pejabat penting dalam upacara adat Dayak

Mgr Rolly Untu rayakan HUT ke-61 dengan semangat syukur dan kebersamaan

Sel, 09/01/2018 - 23:44

Selama enam bulan menjadi Uskup Manado, Mgr Benediktus Estephanus Rolly Untu MSC merasakan perhatian dan semangat kebersamaan dari kuria keuskupan, para imam, dan umat. “Ini menjadi hal penting dalam tugas penggembalaan saya di Keuskupan Manado.”

Mgr Rolly berbicara dengan beberapa wartawan termasuk PEN@ Katolik saat merayakan HUT ke-62 , 4 Januari 2018, di Manado. Pesta HUT itu dirayakan dalam Misa Pagi di Katedral Hati Tersuci Maria Manado yang dipimpinnya bersama konselebran beberapa imam termasuk Provinsial MSC Pastor John Luntungan MSC dan Vikjen Keuskupan Manado Pastor Agus Sumaraw, serta dalam sarapan pagi di samping katedral.

Meski berulang tahun, Mgr Rolly tetap menjalankan rapat pastores di Wisma Montini Manado yang dilanjutkan dengan makan siang yang diawali dengan pemasangan dan peniupan lilin. Pesta masih berlanjut dengan makan malam di Wisma Keuskupan.

Yang penting dirayakan dalam ulang tahun itu, menurut Mgr Rolly, adalah rasa syukur dan kebersamaan, “seperti yang terlihat saat uskup itu melakukan kunjungan pastoral. “Ketika berkunjung ke wilayah diaspora di Kabupaten Banggai, Kabupaten Kepulauan Banggai dan Kabupaten Perairan Banggai, misalnya, kebersamaan sangat terlihat di antara masyarakat, umat, pemerintah di sana,” kata uskup.

Sejak pagi, umat, suster, frater, bruder dan imam silih berganti datang menyalami uskup. Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan beberapa pejabat Pemprov Sulut seta Bupati Minahasa Jantje Sayouw juga datang memberikan ucapan selamat.

Mgr Rolly mengatakan dalam Misa di pagi hari bahwa hadiah terindah yang dia diperoleh hingga saat ini adalah pengangkatannya sebagai Uskup Manado beberapa bulan lalu. “Pengangkatan sebagai Uskup Manado adalah hadiah istimewa dan terindah yang saya terima di hari ulang tahun kali ini. Puji dan syukur kepada Tuhan atas hadiah ini,” ujar Mgr Rolly.

Dalam perjalanan beberapa bulan usai menjadi Uskup Manado, jelas Mgr Rolly, dia sangat merasakan betapa besar dukungan dari umat di tempat yang dikunjungi. “Ini juga menjadi ‘kado’ hari ullang tahun. Terima kasih juga untuk semuanya itu,” lanjut Mgr Rolly. (A. Ferka)

Mengapa dan dengan cara bagaimana wahyu ilahi itu diwariskan?

Sel, 09/01/2018 - 01:40

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

  1. Apa saja tahap-tahap selanjutnya wahyu Allah?

Allah memilih Abram, memanggilnya keluar dari tanah airnya, menjadikannya ”bapa banyak bangsa” (Kej 17:5), dan berjanji melalui dia ”semua bangsa di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej 12:3). Bangsa keturunan Abraham akan menjadi orang-orang kepercayaan dari janji ilahi yang sudah diberikan kepada para bapa bangsa. Allah membentuk Israel sebagai bangsa terpilih, membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, menetapkan perjanjian di Gunung Sinai, dan melalui Nabi Musa, memberikan hukum-Nya kepada mereka. Para nabi memaklumkan penebusan bagi seluruh umat dan penyelamatan bagi segala bangsa dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal. Dari bangsa Israel, dari keturunan Raja Daud akan lahir sang Mesias, yaitu Yesus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 59-64, 72

  1. Bagaimana wahyu Allah yang penuh dan definitif itu terlaksana?

Tahap wahyu Allah yang penuh dan definitif terlaksana dalam Sabda-Nya yang menjadi daging, Yesus Kristus, pengantara dan kepenuhan wahyu. Sebagai Putra Tunggal Allah yang menjadi manusia, Dialah Sabda Bapa yang sempurna dan definitif. Dalam pengutusan Sang Putra dan pemberian Roh Kudus, sekarang wahyu Allah menjadi lengkap secara penuh, namun iman Gereja harus sedikit demi sedikit memahami maknanya yang lengkap selama berabad-abad.

”Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Putra-Nya, yang adalah Sabda-Nya yang

tunggal dan definitif, Allah tidak mempunyai sabda yang lain lagi untuk kita.

Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu dan tidak lagi

mengatakan hal lain”

(Santo Yohanes dari Salib Suci)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 65-66, 73

10. Apa nilai wahyu-wahyu pribadi?

Walaupun tidak termasuk dalam khazanah iman, wahyu-wahyu pribadi dapat membantu manusia untuk menghidupi imannya sejauh membawa kita kepada Kristus. Kuasa Mengajar Gereja yang mempunyai tugas untuk menilai wahyu-wahyu pribadi semacam itu tidak dapat menerima mereka yang mengklaim bahwa wahyu pribadi itu melebihi atau mengoreksi wahyu definitif, yaitu Kristus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 67

11. Mengapa dan dengan cara bagaimana wahyu ilahi itu diwariskan?

Allah menghendaki agar manusia diselamatkan dan sampai pada pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4), yaitu Yesus Kristus. Karena alasan inilah, Kristus harus diwartakan kepada semua menurut perintah-Nya, ”Pergilah dan ajarlah segala bangsa” (Mat 28:19). Dan, ini diwariskan oleh Tradisi Apostolik.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 74

Yesus bukan lahir di kandang tapi di hati, kalau kita beri maaf dan lakukan kebaikan

Sen, 08/01/2018 - 20:25

Jika kita keluar dari diri sendiri untuk memberi maaf dan melakukan kebaikan-kebaikan kepada orang lain, Yesus bukan lahir di kandang, tetapi di hati kita masing-masing. “Beribu kali kita merayakan pesta Natal, tetapi jika kita belum keluar dari diri sendiri dan mencari Yesus untuk kepenuhan hidup, sia-sialah hidup ini.”

Pastor Vande Raring SVD berbicara di depan 700-an peserta didik SMAK Frateran Maumere (Smater) bersama para guru dan karyawan-karyawati sekolah itu yang sedang merayakan Perayaan Natal dan Tahun Baru Bersama Keluarga Besar Smater di Aula Mardi Wiyata Maumere, 8 Januari 2018.

Perayaan bertema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu” itu dimeriahkan oleh koor Gita Smater Choir (GSC) dan dihadiri Kepala Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Maumere Frater Maria Herman BHK.

Pastor Vande menegaskan, Natal tidak boleh berhenti pada ucapan selamat, tetapi harus melahirkan manusia baru yang cinta damai. “Seperti tiga orang Majus yang keluar dari kemapanan untuk menemukan orang lain, kita keluar dari diri sendiri untuk membagi kasih bersama orang lain,” tegas imam itu seraya menambahkan bahwa perdamaian adalah pesan universal bagi semua agama, dan orang yang merusak perdamaian bukan orang yang beragama.

Sementara itu, Kepala Smater Frater Polikarpus BHK menggaris bawahi tiga perilaku yang menghambat yakni kebiasaan menunda, membandingkan diri dengan orang lain yang negatif dan kurang me-manage sumber daya yang ada dalam diri kita.

“Perayaan Natal ada damai dan sukacita. Tahun baru kita juga harus berubah. Untuk itu hentikan kebiasaan menunda dan hal-hal yang buruk yang masih melilit diri kita dan mari mengenakan pakaian baru tahun 2018 dengan satu niat untuk berubah,” ajak Frater Poli.(Yuven Fernandez)

Semua foto dibuat oleh Yuven Fernandez

Paus Fransiskus minta orangtua tularkan iman dengan ‘bahasa keluarga’ kepada anak-anak

Sen, 08/01/2018 - 18:21

Hari Minggu 7 Januari 2017 di Roma dirayakan sebagai Hari Pembaptisan Tuhan. Pada hari itu Paus Fransiskus membaptis tiga puluh empat bayi dari pegawai Vatikan di Kapel Sistina dan meminta orang tua agar menjadi orang pertama yang meneruskan iman kepada anak-anak mereka.

Meski di tengah tangisan bayi, Paus Fransiskus memberkati 18 bayi perempuan dan 16 bayi laki-laki satu per satu dan memberikan Sakramen Pembaptisan kepada mereka semua. Pada hari raya mengenang pembaptisan Yesus di Sungai Yordan, Paus memberi homili dalam bahasa Italia tanpa teks dan menggunakan kata “dialek” guna menggambarkan bahasa  yang perlu digunakan untuk memastikan pewartaan iman dalam keluarga.

Menurut Paus, keluarga-keluarga harus menggunakan “dialek” mereka sebagai “bahasa” untuk saling berkomunikasi. “Bayi punya dialek sendiri. Kalau satu bayi mulai menangis, yang lain akan ikut, dan terdengar sebagai sebuah orkestra,” kata Paus.

Namun, lanjut Bapa Suci, Yesus sendiri meminta kita “untuk menjadi seperti anak-anak: kita tidak boleh melupakan bahasa anak-anak ini. Itu bahasa yang Yesus suka. Maka, doa-doa kita harus sederhana, seperti bahasa anak-anak.”

Setelah berbicara mengenai “bahasa keluarga,” di akhir homili, Paus Fransiskus memberikan beberapa saran praktis bagi orang tua. “Jika bayi-bayi kalian ‘mulai konser’, itu berarti mereka tidak nyaman atau lapar. Dan kalau mereka lapar, berilah mereka makan. Ini juga adalah ‘bahasa cinta’.

Selain itu, saat Doa Angelus bersama umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada hari itu,  Paus Fransiskus mengajak umat Kristiani untuk mengetahui tanggal pembaptisan mereka, saat mereka menerima karunia Roh Kudus dari Allah dan merayakannya.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Apa rencana Allah untuk manusia?

Min, 07/01/2018 - 10:48

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

  1. Apa rencana Allah untuk manusia?

Allah, yang sempurna dan penuh bahagia, berencana membagikan kebaikan-Nya dengan menciptakan manusia agar manusia ikut ambil bagian dalam kebahagiaan-Nya. Dalam kepenuhan waktu, ketika saatnya tiba, Allah Bapa mengutus Putra-Nya sebagai Penebus dan Penyelamat manusia, yang sudah jatuh ke dalam dosa, memanggil semuanya ke dalam Gereja-Nya, dan melalui karya Roh Kudus, mengangkat mereka sebagai anak-anak-Nya dan pewaris kebahagiaan abadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1-25

”Betapa besar dan sungguh agunglah Engkau, ya Allah. …

Engkau telah menciptakan kami untuk Diri-Mu,

dan tidak tenanglah hati kami

sampai kami beristirahat dalam Engkau”

(Santo Agustinus)

  1. Mengapa manusia mempunyai kerinduan akan Allah?

Allah, dalam menciptakan manusia menurut citra-Nya, telah mengukirkan dalam hati manusia kerinduan untuk melihat Dia. Bahkan walaupun kerinduan ini diabaikan, Allah tidak pernah berhenti menarik manusia kepada Diri-Nya karena hanya dalam Dialah manusia dapat menemukan kepenuhan akan kebenaran yang tidak pernah berhenti dicarinya dan hidup dalam kebahagiaan. Karena itu, menurut kodrat dan panggilannya, manusia adalah makhluk religius yang mampu masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Hubungan akrab dan mesra dengan Allah mengaruniakan martabat kepada manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 27-30, 44-45

  1. Bagaimana mungkin manusia mengenal Allah hanya melalui terang

Dengan bertolak dari ciptaan, yaitu dari dunia dan pribadi manusia, hanya melalui akal budinya manusia dapat mengenal Allah secara pasti sebagai asal dan tujuan alam semesta, sebagai kebaikan tertinggi, dan sebagai kebenaran dan keindahan yang tak terbatas.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 31-36, 46-47

  1. Apakah terang akal budi saja sudah memadai untuk mengenal misteri Allah?

Jika hanya melalui terang akal budi saja, manusia mengalami banyak kesulitan untuk mengenal Allah. Dengan kekuatannya sendiri, manusia sungguh-sungguh tidak mampu masuk ke dalam kehidupan intim misteri ilahi. Karena itu, manusia membutuhkan pencerahan melalui wahyu; tidak hanya untuk hal-hal yang melampaui pemahamannya, tetapi juga untuk kebenaran religius dan moral, yang sebenarnya tidak melampaui daya tangkap akal budi manusia. Bahkan dalam kondisi saat ini, kebenaran-kebenaran tadi dapat dipahami dengan mudah oleh semua manusia, secara pasti, dan tanpa kesalahan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 37-38

  1. Bagaimana kita dapat bicara tentang Allah?

Sebagai titik tolak, kita berbicara tentang kesempurnaan manusia dan ciptaan lainnya, yang – meskipun terbatas – merupakan cerminan kesempurnaan Allah yang tak berkesudahan. Namun, kita perlu terus-menerus memurnikan bahasa kita sejauh itu mungkin walaupun harus kita sadari bahwa kita tidak akan pernah dapat mengungkapkan misteri Allah yang tak terbatas.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 39-43, 48-49

  1. Apa yang diwahyukan Allah kepada manusia?

Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, Allah mewahyukan Diri. Melalui sabda dan karya, Allah mewahyukan Diri dan rencana-Nya yang berasal dari cinta kasih yang dalam Kristus telah dinyatakan sejak kekal. Menurut rencana ini, semua umat manusia, melalui rahmat Roh Kudus, mengambil bagian dalam kehidupan ilahi sebagai ”anak-anak angkat” dalam Putra Tunggal Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 50-53, 68-69

  1. Apa saja tahap-tahap awal pewahyuan Allah?

Sejak awal mula, Allah mengungkapkan Diri-Nya kepada leluhur kita yang pertama, Adam dan Hawa, dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam persatuan yang intim dengan-Nya. Sesudah kejatuhan mereka ke dalam dosa, Allah tidak menghentikan pewahyuan-Nya kepada mereka, tetapi menjanjikan penebusan bagi semua keturunan mereka. Sesudah bencana air bah, Allah membuat perjanjian dengan Nabi Nuh, perjanjian antara Allah sendiri dengan semua makhluk hidup.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 50-53, 68-69

Majus

Min, 07/01/2018 - 08:47

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

7 Januari 2018

Matius 2:1-12

“Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur (Mat 2:11)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Menurut tradisi, nama tiga orang Majus adalah Balthazar, Melchior, dan Gaspar. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk Majus adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis atau sihir’, dan mempraktekkan ilmu magis adalah sebuah kesalahan besar di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33: 6). Bahkan Gereja Katolik sendiri melarang kita memiliki kontak dengan praktek magis atau sihir apa pun (Katekismus 2116). Namun, kita tidak bisa memastikan bentuk magis apa yang digunakan oleh orang Majus ini, tapi satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda zaman dan mengikuti bintang. Karena itu, mereka bias disebut sebagai astrolog kuno, pembaca bintang yang memprediksi perilaku manusia dan masa depan.

Anehnya, Injil hari ini mempersembahkan ketiga orang Majus ini sebagai protagonis. Mengapa para praktisi magis ini bisa menjadi orang baik di sini? Jika kita memeriksa dengan seksama kisah Injil, kita menemukan bahwa orang-orang Majus ini dikontraskan dengan Herodes bersama dengan imam-imam kepala dan ahli-ahli Tauratnya. Berbeda dengan orang Majus yang membaca bintang untuk menemukan raja yang baru lahir, Herodes dan para pembantunya meneliti Kitab Suci untuk menemukan Mesias. Memang, Kitab Suci, sebagai Firman Allah, adalah cara yang benar untuk mencari Yesus. Sayangnya, meski memiliki metode yang benar, maksud Herodes adalah untuk memusnahkan Yesus, yang merupakan ancaman terhadap takhtanya. Herodes menjadi lambang bagi orang-orang yang menggunakan Kitab Suci untuk mencapai agendanya sendiri, untuk membingungkan orang-orang dan untuk menghancurkan Tuhan. Sementara orang Majus, terlepas dari metode yang tidak benar, dengan tulus mencari Yesus dan sungguh, Tuhan membawa mereka kepada Yesus.

Pertemuan dengan Yesus membawa transformasi yang nyata. Orang Majus menawarkan Yesus emas, kemenyan, dan mur. Secara tradisional, ketiga hadiah itu adalah simbol kerajaan, imamat dan penderitaan Yesus, namun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ketiga hadiah itu adalah barang yang biasanya digunakan untuk mempraktekkan sihir di zaman kuno. Jadi, ketika orang Majus menawarkan tiga hadiah, ini melambangkan penyerahan profesi lama mereka. Ketika mereka melihat Raja sejati, mereka telah menemukan arti sebenarnya dari kehidupan dan kebahagiaan. Mereka menyadari bahwa profesi lama mereka walaupun memberi mereka kekuatan, tidaklah benar. Perjalanan mereka telah sampai pada puncaknya, dan inilah saatnya bagi mereka untuk memutuskan apakah akan bertahan dengan cara lama atau untuk menerima Kristus sepenuhnya. Dan, mereka membuat pilihan yang tepat.

Kisah orang Majus mengingatkan saya akan kisah Bartolo Longo. Tumbuh dalam masa sulit di Italia dan Gereja, Bartolo muda kehilangan kepercayaan pada Paus, dan memasuki sebuah kelompok pemuja setan, sampai pada akhirnya, dia menjadi imam dari kelompok tersebut. Namun, terlepas dari kekuatan dan kekayaan yang ia dapatkan dari setan, ia terus resah. Jauh di lubuk hatinya, ia merindukan kedamaian sejati. Didorong oleh keinginannya untuk mendapatkan kebenaran, dan dibantu oleh seorang imam Dominikan, dia kembali ke iman yang telah ditinggalkannya. Dia menjadi seorang yang mencintai Bunda Maria dan promotor rosario yang penuh semangat. Dia memulai pemulihan gereja yang rusak di kota Pompey, dan menempatkan lukisan Maria Ratu Rosario di sana. Melalui usahanya, kini gereja tersebut telah menjadi situs peziarahan yang dihormati di Italia. Kekudusannya diakui oleh Gereja, dan dia dibeatifikasi pada tahun 1980 oleh Yohanes Paulus II.

Seperti orang Majus dan Bartolo Longo, apakah kita siap untuk mengenali Kristus sebagai kebahagiaan sejati kita? Apakah kita bersedia untuk mencari Yesus dalam perjalanan hidup kita? Dan, ketika saatnya tiba, apakah kita rela melepaskan hidup kita yang lama dan untuk merangkul Yesus sepenuhnya?

 

Halaman