Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 27 mnt 21 dtk yang lalu

Siapa yang termasuk dalam Gereja Katolik?

Jum, 13/04/2018 - 23:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

168. Siapa yang termasuk dalam Gereja Katolik?

Semua manusia dengan bermacam-macam cara termasuk dalam kesatuan Katolik Umat Allah atau terarah kepadanya. Mereka yang termasuk dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik adalah mereka, yang memiliki Roh Kristus, bergabung dengan Gereja melalui ikatan pengakuan iman, Sakramen-Sakramen, pemerintahan gerejawi, dan kesatuan. Mereka yang dibaptis, tetapi tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dalam arti tertentu berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik walaupun secara tidak sempurna.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 836-838

169. Apa hubungan Gereja Katolik dengan bangsa Yahudi?

Gereja Katolik mengakui hubungan khusus dengan bangsa Yahudi di dalam fakta bahwa Allah memilih mereka untuk menerima Sabda-Nya sebelum bangsa- bangsa lain. Mereka ”diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaannya sebagai manusia” (Rom 9:4-5). Iman bangsa Yahudi, tidak seperti agama-agama non-Kristen lain, sudah merupakan jawaban terhadap wahyu Allah dalam Perjanjian Lama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 839-840

Pastor Leo Kleden SVD: Relasi suami-istri dan anak harus cerminkan Keluarga Kudus Nazareth

Jum, 13/04/2018 - 23:26

Sebagai laskar Bunda Maria, relasi suami-istri dan anak harus mencerminkan Keluarga Kudus Nazareth. Jadikanlah keluargamu sebagai rumah Tuhan yang  memiliki iman kuat dalam menghadapi berbagai problem hidup.

Ajakan itu diungkapkan Pastor Leo Kleden SVD dalam homili Misa Acies (pembaharuan janji) Legio Maria bertema “Legioner dalam hidup keluarga bercermin pada Keluarga Kudus Nazareth” yang dilaksanakan di Kapel Rumah Alma SLB Bhakti Luhur Wairklau Maumere, 13 April 2018.

Selain itu, doktor filsafat lulusan Universitas Leuven Belgia itu meminta 250 anggota Legio Maria dari 17 presidium, yang terdiri dari Paroki Wairpelit Nita, Paroki Koting dan Paroki Spiritu Santo Misir di Keuskupan Maumere itu, untuk selalu kembali ke Kitab Suci guna menemukan spiritualitas dan jati diri Maria. Dengan demikian, imam itu percaya bahwa sebagai laskar Bunda Maria mereka bisa menjadi “militan dalam menghadapi badai kehidupan yang datang silih berganti.”

Menyinggung tentang janji setia yang diperbarui para anggota Legio Maria, mantan Provinsial SVD Ende itu mengatakan, “Janji setia legioner harus betul-betul memahami acies yang bermakna kesiapan, ketajaman pandangan, dan keputusan tepat seorang prajurit di medan tempur.”

Fiat dari Bunda Maria yang berbunyi “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu,” minta imam itu, harus menjadi dasar hidup seorang legioner. “Janji setia untuk selalu menjadi laskar Bunda Maria harus nyata dalam tugas, pengabdian dan pelayanan di KBG, di Lingkungan dan juga di Gereja,” tegas imam Serikat Sabda Allah itu.

Leny, anggota Legio Maria dari Paroki Koting mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia menjadi anggota Legio Maria atas kemauan sendiri, “karena hidup ini belum lengkap tanpa doa dan baca Kitab Suci.” Sebagai guru SDK I Koting, lanjutnya, dia selalu membagi waktu untuk tugas mengajar dan waktu untuk Legio Maria, dan kalau menghadapi problem “saya selalu menanggapinya dengan tenang.”

Sebelum menjadi anggota Legio Maria, kata Getrudis, dari Kuria Mawar yang Gaib Paroki Spiritu Santo Misir, segala persoalan hidup yang terjadi dalam keluarga selalu dia tanggapi dengan emosional dan menimbulkan keributan. “Setelah jadi anggota Legio Maria, kehidupan dalam diri saya berubah. Saya harus menjadi teladan, karena semua orang dalam lingkungan tahu bahwa sebagai keluarga legioner harus menghayati kehidupan Bunda Maria dan Santo Yosef,” jelas Getrudis yang sudah 11 tahun bersama kelompok Legio Maria.

Setelah Misa Pembaharuan Janji, nampak para anggota Legio Maria itu makan siang bersama anak-anak Panti Asuhan SLB Bhakti Luhur Wairklau Maumere. (Yuven Fernandez)

Semua foto diambil oleh Yuven Fernandez

Malaikat, Ciptaan yang Tidak Kelihatan

Jum, 13/04/2018 - 18:32
Patung Malaikat di Basilika Santo Petrus Vatikan, diambil 26 November 2017 oleh PEN@ Katolik/Paul C Pati

Pastor Johanes Robini Marianto OP

Hadirnya misteri kejahatan, dosa (dan kematian sebagai akibatnya) tidak bisa dipisahkan dengan sebuah kebenaran iman yang mungkin sering terlupakan, yaitu adanya ciptaan yang tidak kelihatan yang disebut malaikat. Santo Thomas Aquinas mengamini yang diimani Gereja bahwa Tuhan menciptakan ciptaan lain selain yang kelihatan, yaitu malaikat. Kehadiran mereka mencerminkan secara dekat kesempurnaan Allah yang semata-mata roh murni.

Apa yang terjadi dengan ciptaan “yang tidak kelihatan” ini sehingga misteri kejahatan dan dosa harus dimengerti dari sini? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya mengerti dulu hakikat malaikat dan kemampuan kodratiah mereka serta panggilan mereka dan bagaimana perjalanan mereka menurut iman Kristen. Dari situ semua jawaban menjadi terang.

Mengapa berbicara tentang malaikat? Karena dengan berbicara tentang malaikat tidak hanya kita akan mengerti mereka (baca: malaikat) melainkan juga manusia. Dengan mengerti malaikat, kita mengerti panggilan terdalam kita, yaitu sisi spiritual manusia. Kehidupan malaikat (baca: kodrat kerohanian sebagai roh murni) adalah panggilan masa depan manusia. Manusia tidak akan jatuh pada sisi material saja dan melihat bahwa kesempurnaan untuk menjadi citra Allah itu terletak pada panggilannya yang sejati, yaitu kerohanian di dalam Allah.

Menjadi seperti malaikat itu adalah kemungkinan dan atau panggilan untuk membuka cakrawala panggilan sejati manusia (melampaui hal-hal material) dan dengan demikian menjadikan kehidupan kita lebih mendalam. Di situ kelihatan juga bagaimana sisi atau kemampuan intelektual melebihi hanya sisi teknologi dan kemampuan rasional yang dimiliki manusia.

Bicara tentang malaikat merupakan sebuah panggilan untuk semakin melampaui hal material, untuk lebih mendalam daripada hanya melihat sisi tehne (how) dan masuk pada interioritas manusia.1

Di tempat lain Bonino mengatakan, pembicaraan teologis tentang malaikat berakibat ganda. Pertama, berbicara tentang malaikat dan peranan mereka membuka perspektif kita akan keyakinan tentang persekutuan para kudus dan menguatkan keyakinan kita akan sisi sosial dan kosmis dari iman Kristiani. Kedua, dengan berbicara tentang malaikat kita diajak untuk mengerti bahwa Kerajaan Allah itu bukan utopia (artinya: masa depan yang tidak mungkin tercapai). Kita melihat Kerajaan Allah itu sudah ada dan diberikan kepada kita dengan cuma-cuma dan kita hanya perlu mau menerima Kerajaan Allah itu. Doa kita akan datangnya Kerajaan Allah sudah terjadi di dalam hidup para malaikat. Maka pembicaraan tentang malaikat, meskipun bukan yang utama di dalam Teologi Katolik, namun sangat penting, karena kehadiran malaikat itu pernyataan iman (wahyu) dan tidak bisa ditolak atau dikecilkan.

Sekali lagi Bonio mengatakan ini sama saja dengan “peristiwa pelipatgandaan roti di mana roti bagaimanapun kecil harus dikumpulkan sehingga tidak ada yang dihilangkan (Yoh 6: 12). Itulah sebabnya Angelology (Teologi tentang Malaikat) merupakan bagian esensial dari sebuah teologi juga dan layak dipelajari dan direnungkan karena maknanya yang dalam buat kita mengerti diri kita, panggilan kita serta apa yang terjadi pada kita.

Siapakah malaikat itu dan bagaimana kita yakin akan kehadiran (keberadaan) mereka?

Santo Thomas Aquinas mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa Tuhan, ketika menciptakan alam semesta dan seisinya (termasuk malaikat), bertujuan supaya mahluk tercipta semakin berpartisipasi di dalam kehidupan ilahinya supaya bahagia. Semakin sebuah ciptaan menyerupai Dia, semakin makhluk tercipta itu dekat dan berbahagia. “Semakin menyerupai Dia” itu juga semakin mencerminkan siapa Dia, di dalam arti diri Allah dan kesempurnaan-Nya. Ciptaan “barang mati” (baca: yang kami maksudkan adalah seperti batu, gunung) tentu hanya mencerminkan sifat hidup. Kalau tumbuhan dan binatang memang lebih tinggi dari ciptaan “barang mati” karena mempunyai instink kehidupan, namun belum mencerminkan kesempurnaan Tuhan sebagai persona (pribadi) dan bahkan kreativitas daya ilahi. Manusia sebagai kesatuan substansial antara tubuh dan jiwa memang merupakan ciptaan yang layak dianggap sebagai citra Allah (Kej 1:26). Namun Tuhan yang menciptakan dengan daya akal ilahi dan kehendak murni berkenan menciptakan juga ciptaan yang sungguh mencerminkan kedekatan dengan Dia yang adalah roh murni. Tujuannya selain supaya makhluk yang lebih dekat ini berbahagia, juga untuk menunjukkan “kedekatan” kesempurnaan hakikat-Nya. Di sinilah Tuhan menciptakan malaikat yang merupakan roh murni.

Di tempat lain Santo Thomas Aquinas juga mengatakan bahwa Tuhan yang merupakan Pencipta dan semata roh murni, dilengkapi dengan kehendak dan akal budi yang bebas, kreatif dan tidak terikat oleh ketidaksempurnaan karena korporealitas (kebertubuhan). Manusia yang merupakan citranya memang dilengkapi dengan kemampuan akal budi dan kehendak (bebas). Namun itu masih dibatasi oleh kebertubuhannya sehingga tetap tidaklah sempurna sebagai makhluk yang dekat mencerminkan hakikatnya (sebagai roh murni yang kehendak dan akal budi-Nya tidak terbatasi ruang dan waktu karena kebertubuhan). Maka Tuhan ingin supaya tampak dengan sempurna hakikat-Nya diciptakan-Nya malaikat yang roh murni dan menjalankan segala kehendak dan akal budi tanpa terikat oleh ruang dan waktu (karena bertubuh). Malaikat inilah yang mencerminkan paling dekat hakekat-Nya. Selain keberadaan malaikat memberikan gambaran kepada kita tujuan dan hakikat kita: memuji dan memuliakan Tuhan, sebagaimana hidup para malaikat.

Maka dari itu keberadaan malaikat bukanlah sebuah ciptaan atau rekaan mitos semata-mata melainkan secara akal budi, setidaknya menurut Santo Thomas Aquinas, bisa dibuktikan keberadaannya.

(Tulisan berikut tentang hakikat malaikat)

1 Serge-Thomas Bonino, O.P., Angesl and Demons. A Catholic Introduction, Washington DC: The Catholic University of America Press, 2016, hal. 106.

“Love” menyelamatkan gadis-gadis muda dari prostitusi di Freetown

Kam, 12/04/2018 - 23:14

Berkat cinta dan dedikasi para Imam Misionaris Salesian di Sierra Leone, gadis-gadis muda diselamatkan dari jalan-jalan di Freetown, diberikan perlindungan, pelatihan, dan bantuan medis serta psikologis, dan kemudian dibantu untuk kembali ke masyarakat.

“Love” adalah nama sebuah video, yang dipresentasikan di Roma hari ini, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, 12 April 2018. Video itu mendokumentasikan karya para Misionaris Salesian di Sierra Leone dan proyek mereka untuk menyelamatkan dan membantu para gadis yang dieksploitasi untuk pelacuran atau prostitusi di ibukota Freetown.

Program ini dirancang khusus untuk membantu gadis-gadis muda yang menemukan diri mereka di jalanan dan yang dipaksa atau terpikat ke dalam prostitusi tempat mereka digunakan, dilecehkan dan dicampakkan oleh orang dewasa, di daerah miskin di Congo Water dan Grafton di Sierra Leone, ibukota Freetown.

Sejak pembukaan “Fambul Girl Shelter” Don Bosco, lebih dari 120 anak perempuan telah meninggalkan jalanan dan banyak dari mereka telah bersatu kembali dengan keluarga mereka, kembali ke sekolah atau pelatihan kerja.

Seperti dijelaskan oleh direktur pusat itu, Pastor Jorge Crisafulli, dia memberikan kepada wanita-wanita muda itu bantuan medis dan psikologis yang berorientasi pada reintegrasi sosial, serta akomodasi, makanan, pakaian, pendidikan non-formal, pelatihan kerja, dan terutama … .love!

Pastor Crisafulli mengatakan dia sedang bekerja di jalan-jalan di Freetown seraya berupaya menjangkau anak-anak jalanan yang miskin, ketika dia menyadari ada kebutuhan nyata untuk program khusus bagi gadis-gadis muda karena begitu banyak dari mereka mendapati diri mereka terlibat dalam jaringan prostitusi.

Jadi, jelas imam itu, di tahun 2016 “Shelter Girl” itu didirikan.

“Ketika bekontak dengan mereka kami segera tahu bahwa mereka adalah anak-anak,” kata imam itu.

Pastor Crisafulli menggambarkan mereka sebagai gadis-gadis yang “merasa seperti anak-anak, berpikir seperti anak-anak, berperilaku seperti anak-anak, maka jalan-jalan dan prostitusi jelas bukan untuk mereka.”

Itulah sebabnya, lanjut imam itu, kami membuat tempat perlindungan khusus bagi mereka, rumah yang menyambut mereka dan tempat mereka dapat menemukan bantuan medis dan kemungkinan untuk kembali ke sekolah atau melakukan pelatihan kejuruan dan melanjutkan kehidupan normal.

Secara khusus, kata Pastor Crisafulli, penting bagi mereka untuk mendengar bahwa mereka tidak bersalah atau jelek, dan bahwa ada kemungkinan besar untuk kebaikan dalam hati mereka.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Mengapa Gereja disebut Katolik?

Kam, 12/04/2018 - 20:17

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

166. Mengapa Gereja disebut Katolik?

Gereja itu Katolik, artinya universal, sejauh Kristus hadir di dalamnya. ”Di mana terdapat Kristus, di sana jugalah Gereja Katolik” (Santo Ignatius dari Antiokhia). Gereja mewartakan kepenuhan dan totalitas iman, membawa dan mengatur kepenuhan sarana keselamatan, dan diutus kepada segala bangsa dari segala zaman apa pun kebudayaannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 830-831, 868

167. Apakah Gereja partikular itu Katolik?

Setiap Gereja partikular (yaitu keuskupan atau eparchy) adalah Katolik. Gereja itu terbentuk oleh komunitas orang-orang Kristen yang ada dalam kesatuan iman dan Sakramen dengan Uskup mereka, yang ditahbiskan dalam tradisi Apostolik, dan dalam kesatuan dengan Gereja Roma yang ”memimpin dalam cinta kasih” (Santo Ignatius dari Antiokhia).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 832-835

Pelecehan seks Chili: Paus Fransiskus memohon maaf atas “kesalahan-kesalahan serius”

Kam, 12/04/2018 - 19:46

Dalam sebuah surat luar biasa yang ditujukan kepada para uskup Chili, Paus Fransiskus mengakui telah membuat “kesalahan serius dalam penilaian dan pemahaman situasi” tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus.

Bapa Suci mengatakan bahwa tergerak untuk menulis surat itu setelah dengan hati-hati membaca laporan yang dikirimkan kepadanya oleh dua utusan khusus yang dikirim ke Chili untuk tujuan mendengarkan kisah-kisah para korban.

Uskup Agung Malta Mgr Charles Scicluna dan Pastor Jordi Bertomeu Farnós dikirim untuk menerima kesaksian dari orang-orang yang diduga menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus setelah Paus dikritik oleh publik atas caranya menangani kasus Uskup Juan Barros yang diduga menutupi, dan bahkan ikut serta dalam pelecehan pria dan anak laki-laki oleh imam lain, demikian laporan Christopher Wells dari Vatican News.

Dalam suratnya kepada para uskup Chili, Paus meminta bantuan mereka untuk menyembuhkan luka-luka terbuka yang disebabkan oleh “kesalahan dan dosa” dalam menangani kasus-kasus pelecehan seks.

Ditegaskan dalam surat itu, “kesaksian yang terkumpul berbicara dengan keras, tanpa tambahan atau pemanis, tentang banyak kehidupan yang tersalib, dan saya mengaku kepada kalian bahwa hal itu menyebabkan saya sedih dan malu,” tulis Paus.

Paus juga mengakui tanggung jawabnya sendiri, dengan mengatakan “Saya telah melakukan kesalahan serius dalam penilaian dan pemahaman situasi, terutama karena kurangnya informasi yang jujur ​​dan seimbang.” Paus meminta maaf “kepada semua yang telah saya singgung,” dan mengatakan dia akan bertemu dengan perwakilan dari orang-orang yang diwawancarai, guna meminta maaf secara pribadi.

Mengingat situasi yang suram yang sedang berlangsung, Paus Fransiskus “dengan rendah hati” meminta “kerja sama dan bantuan” para uskup “untuk dengan cerdas memikirkan langkah-langkah pendek, menengah, dan panjang yang akan diadopsi guna membangun kembali persekutuan gerejawi di Chili, dengan tujuan untuk sedapat mungkin memperbaiki skandal itu, dan membangun kembali keadilan.”

Untuk itu, Paus mengatakan dia bermaksud untuk memanggil semua uskup Chili untuk datang ke Roma untuk berdiskusi, dan menyerahkan penetapan waktu kunjungan itu kepada Konferensi Waligereja.

Sepanjang surat itu, Paus Fransiskus menekankan perlunya doa. Dan, kata Paus, dia ingin berbagi dengan para uskup tentang “keyakinan bahwa kesulitan-kesulitan saat ini juga merupakan kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan dalam Gereja, kepercayaan yang dirusak oleh kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita; dan untuk menyembuhkan luka yang tidak berhenti berdarah di seluruh masyarakat Chili.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

12 foto Santo Yohanes Paulus II yang belum pernah Anda lihat sebelumnya

Kam, 12/04/2018 - 15:22

Yohanes Paulus II adalah manusia modern, hidup selaras dengan zamannya. PEN@ Katolik mengajak Anda untuk melihat 12 foto Karol Wojtyla yang jarang dilihat, seorang pria saleh yang selalu berbakti kepada sesamanya.

Foto-foto dari seorang Karol Wojtyla muda, yang kami diambil dari Aleteia ini, menunjukkan bagaimana orang kudus itu menikmati hal-hal sederhana dalam hidupnya: mengayuh kano, mendaki bersama teman-teman, dan bercukur. Tidak peduli lingkungannya, Karol Wojtyla selalu penuh semangat untuk menjalani hidup dan berdedikasi bagi sesama di sekitarnya.

Karol Wojtyla berkano di Sungai Drawa, 1955. © Photoshoot/REPORTER Karol Wojtyla sedang mencukur, 1959. © Photoshoot/REPORTER Karol Wojtyla dalam sebuah ekspedisi di pegunungan Bieszczady, 1953. Karol Wojtyla dalam pelayanan militer, musim panas 1939.
© EAST NEWS Karol Wojtyla bersama para mahasiswa di dekat Gereja Santo Floriana di Krakow, 1951.
© EAST NEWS Kardinal Karol Wojtyla bersama Paus Yohanes Paulus I, 1978.
© EAST NEWS Mgr Karol Wojtyla dalam ziarah ke Tanah Suci, 1963.
© EAST NEWS Pastor Karol Wojtyla dalam perjalanan ke pegunungan Tatra, antara 1950 dan 1959.
© EAST NEWS Karol Wojtyla sebagai pastor pembantu di sebuah paroki di Niegowic, 1948.
© EAST NEWS Karol Wojtyla sebagai pastor pembantu sebuah paroki di Niegowic, antara 1948 dan 1951. Karol Wojtyla bersama dengan bibinya Maria Anna Wiadrowska di Krakow, 1943. Karol Wojtyla sebagai seminaris klandestin (rahasia) di Krakow, 1942.
© EAST NEWS

Bagaimana seseorang dapat berkarya untuk persatuan umat Kristen?

Rab, 11/04/2018 - 20:46

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

164. Bagaimana seseorang dapat berkarya untuk persatuan umat Kristen?

Kerinduan untuk mempersatukan kembali semua orang Kristen adalah rahmat dari Kristus dan panggilan Roh Kudus. Kerinduan ini melibatkan seluruh Gereja dan perlu diikuti dengan pertobatan hati, doa, pengakuan sebagai saudara satu sama lain, dan dialog teologis.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 820-822, 866

165. Dengan cara bagaimana Gereja itu Kudus?

Gereja itu Kudus sejauh Allah yang menjadi pendirinya. Kristus telah menyerahkan Diri-Nya bagi Gereja untuk menguduskannya dan menjadikannya sumber pengudusan. Roh Kudus mencurahkan cinta kasih kepada Gereja. Di dalam Gereja, manusia menemukan kepenuhan sarana keselamatan. Kekudusan merupakan panggilan setiap anggotanya dan merupakan tujuan dari semua kegiatannya. Di antara anggota-anggota Gereja, terdapatlah Perawan Maria dan santo-santa yang menjadi model dan perantara. Kekudusan Gereja merupakan sumber pengudusan bagi anak-anaknya yang di dunia ini mengakui diri mereka sebagai pendosa yang selalu membutuhkan pertobatan dan penyucian.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 823-829, 867

Paskah Inkulturasi Jawa untuk tumbuhkan solidaritas, kekeluargaan dan kerukunan

Rab, 11/04/2018 - 19:54

Lantunan musik Karawitan khas Jawa ‘Wijoyo Laras’, yang mayoritas personilnya beragama Muslim, terdengar di Gereja Paroki Santo Agustinus Kubu Raya Pontianak mengiringi lagu-lagu liturgi yang dibawakan oleh kelompok paduan suara gabungan dari paroki-paroki yang ada di wilayah Pontianak.

Hari itu, Minggu 8 April 2018, Paroki Kubu Raya merayakan Misa Paskah Inkulturasi dalam bahasa Jawa. Perayaan tahunan dari komunitas umat Katolik etnis Jawa itu bukan hanya dihadiri oleh ribuan umat Katolik etnis Jawa, melainkan oleh umat Katolik dari berbagai suku, seperti suku Dayak dan Tionghoa.

Menurut Kepala Paroki Kubu Raya Pastor Yandhie Buntoro CDD, tujuan dari  kegiatan Paskah Inkulturasi itu adalah untuk semakin menumbuhkan rasa solidaritas dan kekeluargaan serta kerukunan umat beragama dalam budaya yang beraneka ragam, “yang selaras dengan tema Paska 2018 yakni ‘Bergerak dan berjuanglah guna mewujudkan sukacita bagi seluruh ciptaan di bumi Kalimantan Barat.’”

Imam itu mengungkapkan rasa senang karena saat itu mereka boleh merayakan Paskah dengan bahasa yang sangat akrab di telinga mereka, yang dia percaya itu akan membawa nuansa budaya yang bagus bagi kehidupan kita. “Semoga kegiatan Paskah Inkulturasi ini membawa angin segar serta atmosfir positif di tengah masyarakat kita yang majemuk,” kata imam itu.

Setelah Misa yang dipimpin Pastor Laurentius Prasetyo CDD dengan lima imam konselebran termasuk Provinsialat CDD dari Malang, umat diundang menikmati santapan khas Jawa seperti nasi gudek, pecal, soto Jawa, aneka kue-kue dan minuman segar yang disediakan oleh masing-masing paroki, dan menikmati hiburan dan ramah tamah di samping halaman Gereja.

Pastor Yandhie CDD juga mengundang Grup Band Rock bernuansa budaya Jawa yaitu Gafarock (Gamelan Faiz Rock) asal Lamongan. “Kehadiran kami sebagai pekerja seni dalam konteks pelestarian budaya adalah untuk menghibur. Kehadiran perdana kami di tengah orang-orang Jawa yang beragama Katolik di Pontianak ini membawa warna tersendiri yaitu, bahwa perbedaan agama, bahasa dan budaya yang ada di Indonesia bukan menjadi unsur yang memisahkan, namun menyatukan agar kita senantiasa menjunjung tinggi kebhinekaan,” ungkap vokalis Gafarock, Faiz Alhabib.(Suster Maria Seba SFIC)

Mengapa Gereja itu Satu?

Sel, 10/04/2018 - 19:10
PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

161. Mengapa Gereja itu Satu?

Gereja itu Satu karena sumber dan teladannya adalah kesatuan Pribadi-Pribadi dalam satu Allah Tritunggal. Sebagai Pendiri dan Kepala, Yesus Kristus menetapkan kesatuan semua umat manusia dalam satu tubuh. Sebagai jiwa Gereja, Roh Kudus mempersatukan semua umat beriman dalam kesatuan dengan Kristus. Gereja hanya mempunyai satu iman, satu kehidupan Sakramental, satu warisan Apostolik, satu pengharapan yang umum, dan cinta kasih yang satu dan sama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 813-815, 866

162. Di mana terdapat Gereja Kristus yang satu?

Gereja Kristus yang satu, sebagai sebuah susunan masyarakat dan terorganisir, ada dalam (subsistit in) Gereja Katolik, dipimpin oleh Pengganti Petrus dan para Uskup dalam kesatuan dengannya. Hanya melalui Gereja inilah orang bisa mendapatkan kepenuhan sarana keselamatan, karena Allah sudah mempercayakan semua berkat Perjanjian Baru kepada persekutuan Apostolik yang dikepalai oleh Petrus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 816-870

163. Bagaimana dengan orang-orang Kristen non-Katolik?

Di dalam Gereja dan komunitas-komunitas gerejawi yang terpisah dari kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dapat dijumpai banyak unsur pengudusan dan kebenaran. Semua anugerah ini berasal dari Kristus dan mendorong pada kesatuan Katolik. Anggota-anggota Gereja dan komunitas ini dipersatukan ke dalam Kristus melalui Sakramen Pembaptisan, dan karena itu kita mengakui mereka sebagai saudara-saudara kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 817-819, 870

Kekhasan Pesta Kerahiman Ilahi adalah penetapannya diminta sendiri oleh Yesus

Sel, 10/04/2018 - 16:52

Seraya mendaraskan Doa Rosario dan menyanyikan lagu-lagu Kerahiman Allah, sekitar 1300 orang melakukan prosesi dengan kendaraan bermotor sepanjang 9 kilometer dari SMK Santo Josef Nenuk menuju Katedral Maria Imakulata Atambua membawa Lukisan Kerahiman Ilahi.

Di Katedral Atambua itu, anggota Tunggal Hati Suci dan Tunggal Hati Maria (THS-THM) Keuskupan Atambua bersama para anggota kelompok-kelompok Kerahiman Ilahi dari Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, serta Keuskupan Dili, Keuskupan Maliana dan Keuskupan Baucau, yang ketiganya dari Timor Leste, melangsungkan ibadah penutupan Novena Agung Kerahiman Allah dan Lectio Divina.

Acara tanggal 8 April 2018 rangka Pesta Yesus Kerahiman Ilahi itu juga dilengkapi dengan Misa yang dipimpin Ketua Komisi Karya Misioner atau Dirdios Keuskupan Atambua Pastor Salvator Towary SVD. Misa itu sekalian menutup Novena Agung Kerahiman Ilahi yang dimulai pada Jumat Agung di paroki masing-masing yang dilaksanakan para devosan Kerahiman Ilahi dan kelompok Kategorial THS-THM se-Keuskupan Atambua.

Dalam homili, Pastor Salvator menggarisbawahi kekhasan Pesta Kerahiman yang menempati peringkat paling tinggi dari empat inti devosi kepada Yesus Kerahiman Ilahi yakni Lukisan Yesus Kerahiman Ilahi, Rosario Kerahiman Ilahi (Koronka), Jam Kerahiman Ilahi (pukul 15.00) dan Penyebaran Devosi Kerahiman Ilahi.

Kekhasan Pesta Kerahiman Ilahi, tegas jebolan dari Universitas Pontifikal Salesian Roma itu, adalah penetapan pesta itu “yang diminta oleh Yesus sendiri di tahun 1931 dalam penampakan-Nya kepada Suster Faustina di Plock-Polandia, agar pada hari ini semua Lukisan Yesus diberkati secara meriah dan dihormati di muka umum.”

Secara Theologis, lanjut mantan Ketua Komisi Kepemudaan Atambua itu, pemilihan hari Minggu pertama sesudah Paskah sebagai Pesta Kerahiman memiliki relasi yang sangat mendalam antara misteri Paskah dan Misteri Kerahiman Ilahi. “Relasi inilah yang diwujudnyatakan dalam Novena Agung yang dibuka hari Jumat Agung,” jelas Pastor Salvator.

Sedangkan dari aspek biblis, sesuai  Injil Yohanes 19: 31-37, devosi itu mengalir dari peristiwa Salib saat seorang serdadu menikam lambung Yesus dengan tombak dan segeralah mengalir air dan darah. “Dari sinilah memancar sakramen-sakramen Gereja yang menguduskan dan menyembuhkan umat yang setia dan penuh iman menerimanya,” jelas imam itu.

Dengan demikian Pastor Salvator mengajak semua umat untuk “menjadi Rasul Kerahiman Ilahi” sesuai ensiklik Paus Yohanes Paulus II berjudul “Dives in Misericordia” dan menjadi “misionaris Kerahiman Ilahi” sesuai Bulla Misericordiae Vultus dari Paus Fransiskus.

“Dengan berani berbuat baik, berbelas kasih dan mengampuni sesama di mana saja kita berada, kita membuat devosi itu berbobot bukan devosi kosong saja atau ritual belaka,” kata Pastor Salvator.

Menurut informasi yang diterima oleh PEN@ Katolik, peranserta dalam peristiwa itu atas undangan Koordinator Distrik THS-THM Keuskupan Atambua. “Peristiwa iman ini adalah salah satu kekhasan dari THS-THM Keuskupan Atambua untuk memberi warna khas dalam Spiritualitas THS-THM,” kata Pastor Salvator SVD, perintis, pembimbing dan pendamping rohani THS-THM Keuskupan Atambua sejak 2000.

Selain siraman rohani di pelataran Katedral Atambua dengan tema “Aku Bangga Menjadi Katolik” yang dibawakan oleh Poulden, seorang devosan Kerahiman Ilahi dari Keuskupan Surabaya, peserta juga menghadiri penutupan acara itu berupa Salve Agung di Katedral Atambua.(Fredirikus Tjeunfin)

Panduan untuk menjalani agama Kristen Katolik di abad ke-21

Sel, 10/04/2018 - 04:29

Dalam video eksklusif ini, Vatican Media menyoroti tema Seruan Apostolik yang baru dari Paus Fransiskus berjudul GAUDETE ET EXSULTATE (bergembiralah dan bersukacitalah) tentang panggilan untuk hidup suci di dunia saat ini.

Di Minggu Kerahiman Ilahi, Paus minta umat ‘kembaran Tomas’ untuk lihat diri sendiri

Sel, 10/04/2018 - 02:53

Dalam Minggu Kerahiman Ilahi, yang selalu dirayakan pada Minggu Kedua Paskah, Paus Fransiskus memfokuskan homili pada Tomas yang ragu namun kemudian “jatuh cinta kepada Tuhan,” menegaskan bahwa Tomas adalah kembaran kita, dan mengajak umat Katolik untuk melihat diri sendiri.

Kata “melihat,” kata Paus terdengar berulang kali dalam Injil hari itu, 8 April 2018. “Para murid bersukacita ketika mereka melihat Tuhan (Yoh. 20:20). Mereka memberi tahu Tomas, “Kami telah melihat Tuhan” (ayat 25),” demikian homili Paus yang dibagikan oleh Kantor Pers Vatikan.

Tetapi Injil tidak menggambarkan bagaimana mereka melihat-Nya, tegas Paus, tidak digambarkan bagaimana Yesus bangkit. Yang disebut hanyalah, “Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka” (ayat 20). Seolah-olah Injil ingin memberitahukan kepada bahwa itulah cara para murid mengenali Yesus hanyalah melalui luka-luka-Nya. Hal yang sama terjadi pada Tomas. Dia juga ingin melihat “tanda paku di tangan-Nya” (ayat 25), dan setelah melihat, dia percaya (ayat 27).

Terlepas dari kurangnya iman Tomas, lanjut Paus, kita harus berterima kasih kepadanya, karena dia tidak puas mendengar dari orang lain bahwa Yesus hidup, atau hanya untuk melihat Dia dalam daging. “Dia ingin melihat ke dalam, menyentuh dengan tangannya luka-luka Tuhan, tanda-tanda cinta-Nya.”

Injil menyebut Tomas itu Didymus (ayat 24), yang berarti Kembar, dan “dalam hal ini dia benar-benar saudara kembar kita. Karena bagi kita juga, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Tuhan sudah bangkit, tetapi tetap jauh tidak mengisi hidup kita. Tuhan yang menyendiri tidaklah menarik kita, betapa pun Dia adil dan suci. Tidak, kita juga perlu ‘melihat Tuhan, untuk menyentuh Dia dengan tangan kita dan untuk mengetahui bahwa Dia telah bangkit, dan bangkit bagi kita,” kata Paus.

Seperti para murid, menurut Paus Fransiskus, kita dapat melihat Tuhan juga melalui luka-luka-Nya. “Menatap luka-luka itu, para murid memahami kedalaman kasih-Nya. Mereka mengerti bahwa Dia telah mengampuni mereka, meskipun beberapa orang menolak dan meninggalkan Dia. “Masuk ke dalam luka-luka Yesus adalah merenungkan cinta tak terbatas yang mengalir dari hati-Nya. Ini jalannya. Jantungnya berdetak untuk saya, untuk kalian, untuk masing-masing kita,” kata Paus.

Dari lubuk hati Thomas muncul jawaban, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Paus juga menegaskan kalau kita masuk ke dalam misteri Tuhan melalui luka-luka Kristus, kita akan seperti Thomas yang tidak lagi hidup sebagai murid yang tidak yakin dan goyah, tetapi “jatuh cinta kepada Tuhan!”

Untuk mengalami cinta itu, tegas Paus, kita harus membiarkan diri kita diampuni. “Saya bertanya kepada diri sendiri, dan masing-masing kalian: apakah saya membiarkan diri saya diampuni? Untuk mengalami cinta itu, kita harus mulai dari sana. Apakah saya membiarkan diri saya diampuni?”

Di hadapan Allah kita tergoda melakukan apa yang dilakukan para murid dalam Injil: menyembunyikan diri di balik pintu tertutup, kata Paus. “Mereka melakukannya karena takut, namun kita juga bisa takut, malu membuka hati dan mengakui dosa-dosa kita. Semoga Tuhan memberi kita rahmat untuk memahami rasa malu, melihatnya bukan sebagai pintu tertutup, tetapi sebagai langkah pertama menuju perjumpaan.”

Kalau toh kita merasa malu, Paus mengatakan harus bersyukur. “Ini berarti kita tidak menerima kejahatan, dan itu bagus. Rasa malu adalah ajakan tersembunyi dari jiwa yang membutuhkan Tuhan untuk mengatasi kejahatan. Tragedinya adalah ketika kita tidak lagi malu pada apapun. Janganlah kita takut mengalami rasa malu! Biarkan kita melewati rasa malu demi pengampunan! Jangan takut malu! Jangan takut,” tegas Paus.(paul c pati)

Apakah itu karisma?

Sen, 09/04/2018 - 21:32

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

159. Mengapa Gereja disebut kenisah Roh Kudus?

Disebut demikian karena Roh Kudus tinggal di dalam tubuh itu, yaitu Gereja, baik dalam Kepalanya maupun dalam anggota-anggotanya. Roh Kudus juga membangun Gereja dalam cinta kasih melalui Sabda Allah, Sakramen-Sakramen, keutamaan-keutamaan, dan karisma-karisma.

”Sebagaimana jiwa untuk badan manusia, Roh Kudus bagi anggota-anggota Kristus,

yaitu Tubuh Kristus yang adalah Gereja” (Santo Agustinus)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 797-798, 809-810

160. Apakah itu karisma?

Karisma adalah anugerah-anugerah khusus Roh Kudus yang diberikan kepada individu untuk kebaikan orang lain, kebutuhan dunia, dan secara khusus untuk membangun Gereja. Merupakan tanggung jawab Kuasa Mengajar untuk membedakan karisma-karisma.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 799-801

Tujuan dan misi Vox Point dibentuk dengan tujuan mulia demi kepentingan kebangsaan

Sen, 09/04/2018 - 21:00

“Pergilah kita diutus!” Melihat tema Pertemuan Rapat Kerja dan Paskah Bersama Vox Point Indonesia di Aula Vertenten Sai Merauke, Ketua Vox Point Indonesia DPD Papua Kristosimus Yohanes Agawemu meminta peserta pertemuan untuk mengimani kata-kata itu dan menjadikan semua orang mengenal Vox Point “dengan seluruh tujuan dan misinya yang dibentuk dengan tujuan yang mulia, yaitu untuk kepentingan kebangsaan.”

Bagaimana pengurus Vox Point DPW yang ada di Keuskupan Agung Merauke dapat mengambil peran dalam mewujudkan itu adalah pertanyaan yang dikemukakan Kristosimus dalam Pengukuhan Pengurus Vox Populi Intitute (Vox Point) Indonesia Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Merauke, 7 April 2018.

Dia percaya, kalau tugas-tugas yang telah dirumuskan dilakukan dengan mengobarkan semangat Roh Kudus, “seluruh pengurus Vox Point DPW Merauke dapat menjadi garam dan terang demi kepentingan banyak orang, karena dengan demikian menjadi kekuatan iman yang dapat menghadirkan cinta kasih Tuhan lewat kedamaian serta persaudaraan.”

Melalui Vox Point Indonesia, jelasnya, meskipun berada di ujung Timur, suara orang Katolik dalam pikiran dan tindakan akan menjadi perhatian khusus bagi semua pihak, karena Vox Point hadir dan sejajar dalam berpikir untuk kepentingan bangsa dan negara. “Pikiran kita, tindakan kita, komunikasi kita dan tindakan kita harus menunjukan kedewasaan, menunjukan bahwa Vox Point sejajar dengan organisasi keagamaan lainnya dan sejajar dalam struktur organisasi pemerintahan maupun politik,” kata Kristosimus.

Dia juga berharap Vox Point dapat bangkit dengan semangat baru, seluruh pengurusnya bersatu dan meninggalkan segala bentuk perbedaan. “Mari menjadikan rasa persaudaraan yang kita miliki sebagai kekuatan iman untuk mewartakan kabar suka cita melalui tugas dan fungsi Vox Point,” pesannya.

Pertemuan yang diawali rapat pleno untuk membahas berbagai program kerja masing-masing bidang itu dilanjutkan dengan Misa Paskah Bersama dipimpin oleh Pastor Anselmus Amo MSC yang sekaligus mengukuhkan Pengurus Vox Point Indonesia DPW Merauke yang diketuai oleh Yoseph B Gebze.

Vox Point merupakan organisasi awam Katolik yang bertujuan untuk menyuarakan dan mewujudkan kebenaran serta keadilan, mengembangkan nila-nilai kebangsaan dan sebagai wadah kajian strategis bidang sosial politik, kemasyarakatan dan kenegaraan. Vox Point beranggotakan politisi, pejabat pemerintahan, TNI dan Polri, profesional dan pengusaha serta orang muda Katolik.

Vox Point DPD Papua terdiri dari DPW Merauke, DPW Jayapura, DPW Timika, DPW Asmat, DPW Mappi, DPW Boven Digoel dan DPW Pegunungan Bintang.(Getrudis Saga Keo)

Paus salami yang hadir dalam doa Ratu Surga dan serukan perdamaian di Suriah

Min, 08/04/2018 - 23:08

Sebelum berdoa Ratu Surga di akhir Misa Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 8 April 2018, Paus Fransiskus menyalami anggota-anggota umat beriman yang hadir di lapangan Santo Petrus, dan setelah doa itu Paus mengeluarkan seruan khusus untuk perdamaian di Suriah.

Paus Fransiskus berterima kasih kepada semua orang yang berpartisipasi dalam liturgi di hari Minggu itu, terutama Misionaris Cinta Kasih yang berkumpul di Roma untuk sebuah pertemuan. “Terima kasih atas pelayanan kalian!” kata Paus kepada mereka.

Paus juga mengucapkan Selamat Hari Paskah kepada umat Kristiani yang termasuk dalam Gereja-Gereja Timur yang merayakan Paskah hari ini, 8 April 2018. “Semoga Tuhan Yang Bangkit memenuhi mereka dengan cahaya dan kedamaian, dan menghibur komunitas-komunitas yang hidup dalam situasi-situasi yang sangat sulit,” kata Paus kepada mereka.

Pada kesempatan Hari Romani Internasional, Paus Fransiskus juga menyalami orang Rom dan Sinti yang hadir. “Saya memohon  perdamaian dan kerukunan bagi mereka yang menjadi anggota bangsa-bangsa kuno ini, dan berharap agar setiap hari bisa terjadi peningkatan budaya perjumpaan, dengan niat baik untuk saling mengenal dan menghormati.” Paus meminta mereka untuk berdoa baginya, dan mengajak mereka untuk berdoa bersamanya untuk bagi saudara-saudari Suriah yang menjadi pengungsi.

Paus juga menyalami semua peziarah yang hadir, seraya menempatkan semua yang hadir di bawah “mantel Maria, Bunda Kerahiman Ilahi.”

Setelah berdoa Ratu Surga bersama umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus itu, Paus Fransiskus secara khusus kembali memanjatkan permohonan atas nama Suriah.

Bapa Suci mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa kabar buruk datang dari Suriah. Pengeboman di Suriah telah menelan puluhan korban, banyak dari mereka wanita dan anak-anak, kata Paus. Selain itu, ada berita bahwa bom-bom itu mengandung zat kimia.

“Mari kita berdoa untuk semua yang meninggal, untuk yang terluka, untuk keluarga-keluarga yang menderita,” kata Paus Fransiskus, seraya menambahkan “Tidak ada perang yang baik atau perang yang buruk. Tidak ada, tidak ada, yang dapat membenarkan penggunaan instrumen pemusnahan semacam itu terhadap orang-orang dan penduduk yang tidak bersenjata.” (paul c pati berdasarkan laporan-laporan Vatican News)

Shalom

Min, 08/04/2018 - 00:06

Minggu Paskah Kedua (Minggu Kerahiman Ilahi)

8 April 2018

Yohanes 20: 19-31

“Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:19)

Ketakutan adalah emosi manusia yang alami dan mendasar. Takut memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup manusia karena emosi ini memperingatkan kita akan datangnya bahaya, dan menggerakkan kita untuk menghindarinya. Ilmu anatomi menunjukkan bahwa sumber emosi ini ada di dalam amygdala, bagian primitif dari otak yang juga dimiliki oleh hewan lain. Namun, tidak seperti binatang yang melarikan diri di hadapan predator, dengan otak yang lebih kompleks, kita juga menghadapi jenis ketakutan yang kompleks. Kita tidak hanya takut pada pemangsa, tetapi kita juga takut kehilangan pekerjaan, akan penyakit, dan kehilangan orang yang kita kasihi. Ada yang takut akan ketinggian (acrophobia), akan ruang kecil (claustrophobia), dan bahkan terhadap pisang (Bananaphobia)! Karena pikiran kita yang superior, ketakutan kita bahkan membesar karena kita bisa mengantisipasi bahaya yang masih jauh atau bahkan yang sesungguhnya belum ada. Inilah dasar dari kecemasan dan kekhawatiran.

Dalam Injil, para murid Yesus ketakutan. Mereka takut pada “orang Yahudi.” Mereka mungkin takut akan ditangkap karena dituduh mencuri tubuh Yesus oleh tentara Romawi dan penguasa Yahudi yang menemukan kuburan yang kosong. Para murid juga mungkin cemas akan masa depan mereka, apa yang akan terjadi setelah kematian dan berita tentang kebangkitan Yesus. Haruskah mereka membubarkan diri, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, atau apakah mereka akan tetap bersama? Akankah Yesus datang dan membalas mereka? Dikuasai oleh rasa takut dan ketidakpastian, mereka mengunci diri. Mereka lumpuh, hati mereka mengerut, dan mereka merekatkan diri pada hal-hal yang aman namun rapuh. Seperti para murid, rasa takut membekukan kita dan mengunci kita di zona nyaman kita. Takut terluka, kita berhenti mengasihi. Takut akan kegagalan, kita tidak lagi mengejar impian kita. Takut dimanipulasi, kita menolak membantu orang lain. Takut pengkhianatan, kita menghindari komitmen.

Namun, rasa takut tidak memiliki kata terakhir akan hidup kita. Meskipun ruangan terkunci, Tuhan masuk di tengah-tengah mereka. Kata pertama yang Dia katakan adalah “Damai”, dalam bahasa Ibrani, “Shalom.” Kemudian, Yesus menunjukkan luka-lukanya kepada mereka, sebuah bukti bahwa Dia benar-benar Yesus, guru mereka, yang disalibkan dan bangkit. Melihat Tuhan, sukacita memenuhi hati mereka, dan mereka tidak takut lagi. Shalom Yesus mengampuni dan memberdayakan. Shalom Yesus memberikan kekuatan batin dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Shalom Yesus memberikan keberanian untuk menerima penderitaan dan cobaan.

Yesus benar-benar bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, tetapi ini tidak mengubah situasi para murid. Masa depan mereka tetap tidak pasti. Otoritas Yahudi masih berusaha untuk menghancurkan mereka. Para prajurit Romawi setiap saat dapat menangkap mereka. Komunitas mereka sangat kecil dan lemah. Situasi mereka tetap suram, tetapi satu hal telah berubah. Mereka tidak takut lagi. Dengan Shalom-Nya di dalam hati para murid, Yesus menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka dan mengirim mereka dalam misi untuk mengampuni. Karena mereka telah diampuni dan menerima belas kasihan, mereka menjadi misionaris perdamaian dan mereka membawa pengampunan kepada orang lain. Seperti pintu batu kubur tidak dapat menghentikan Tuhan yang bangkit, sekarang pintu yang terkunci tidak dapat menghalangi para murid yang diberdayakan.

Shalom Yesus adalah anugerah kebangkitan bagi kita semua. Benar bahwa situasi dan masalah kita tidak banyak berubah, tetapi rasa takut tidak bisa lagi membekukan kita. Kita dipanggil untuk keluar dari kamar kita yang terkunci dan menjadi misionaris perdamaian dan belas kasihan. Meskipun sakit, gagal, dan penuh dengan frustrasi, kita terus mengasihi, melayani dan berkomitmen karena ini adalah siapa kita sesungguhnya, orang-orang yang telah menerima Shalom Yesus, belas kasihan Tuhan dan Roh Kudus. Kita tidak takut karena kita adalah umat yang tertebus!

Shalom!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Biara-biara tertua dalam agama Kristen Katolik terletak di padang gurun Mesir

Sab, 07/04/2018 - 22:30
Biara Santo Antonius. LorisRomito | CC BY-SA 3.0

Sejarah hidup bakti Katolik dimulai pada abad-abad awal setelah kematian Yesus Kristus. Awalnya ada banyak pria dan wanita yang mengikuti teladan Yesus Kristus dan hidup dalam pengasingan sebagai pertapa di padang gurun, seraya mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk doa dan kabar gembira.

Pertapa Kristen pertama yang tercatat adalah Santo Paulus dari Thebes, yang lahir tahun 227 di Mesir. Awalnya dia pergi ke padang gurun untuk menghindari penganiayaan, namun kemudian dia tetap tinggal di sana karena dia semakin dekat dengan Tuhan. Teladannya mengilhami Santo Antonius Agung untuk menerima kehidupan doa tapa yang sama di padang gurun sekitar tahun 270.

Santo Antonius umumnya dianggap sebagai “Bapak Monastik” atau “Bapa dari Semua Biarawan,” karena dia menarik banyak pengikut yang tinggal di dekatnya dan belajar cara-cara kesempurnaan Kristen dari dia. Namun, dia tidak membangun biara fisik apa pun, karena komunitasnya menciptakan sel pribadi sendiri di sekelilingnya, dengan menggunakan gua yang berdekatan atau gubuk-gubuk kecil. Namun dipercaya, beberapa pengikut awalnya mendirikan biara di situs pemakamannya di abad ke-4.

Biara itu sekarang dikenal sebagai “Biara Santo Antonius” dan terletak sekitar 200 mil tenggara Kairo. Mulanya hanya sekelompok pertapa yang tinggal saling berdekatan, tetapi seiring waktu biara itu menjadi lebih formal dan tumbuh menjadi sebuah komunitas.

Salah satu murid terdekat dari Santo Antonius, yakni Santo Makarius, juga mendirikan sebuah biara di gurun pasir Mesir yang terus digunakan saat ini. Biara itu bernama “Biara Santo Makarius di Scetis.”

Makarius hidup dari sekitar tahun 300 hingga tahun 391 dan dipengaruhi oleh Santo Antonius untuk mendedikasikan hidupnya pada doa. Teladan kekudusan-Nya menarik banyak orang dan Makarius mengumpulkan para pengikutnya ke dalam sebuah jenis kehidupan monastik yang “eremitis” atau “semi pertapa.”

Menurut Catholic Encyclopedia, “Para biarawan itu tidak terikat oleh aturan apa pun; sel-sel mereka berdekatan, dan mereka bertemu untuk ibadah ilahi hanya di hari-hari Sabtu atau Minggu. Prinsip yang menyatukan mereka adalah saling membantu, dan otoritas para sesepuh diakui tidak seperti otoritas superior monastik dalam arti kata yang ketat, tetapi lebih sebagai pedoman dan model kesempurnaan.”

Para biarawan hidup dengan cara seperti ini sejak didirikan tahun 360. Kini, para biarawan Koptik yang tinggal di sana meneruskan tradisi-tradisi pendiri mereka, tradisi monastik jenis tertua dalam agama Katolik dan sangat populer di tempat-tempat seperti Irlandia. Di sana mereka menciptakan biara-biara tipe pertapa sama yang menampilkan sel-sel pribadi yang berhimpit mengitari gereja pusat atau tempat pertemuan. Skellig Michael adalah salah satu biara-biara paling terkenal dalam barisan monastisisme ini.(paul c pati berdasarkan Aleteia)

Biara Santo Makarius di Padang Gurun Scetis. Berthold Werner | CC BY-SA 3.0 Biara Santo Makarius

Intensi doa Paus Fransiskus di Bulan April menolak ekonomi pengecualian

Sab, 07/04/2018 - 17:27

Paus Fransiskus pada hari Jumat, 6 April 2018, merilis pesan video yang mengiringi intensi doanya untuk bulan April 2018 yakni “Untuk Mereka yang Bertanggung Jawab dalam Masalah Ekonomi”. Dalam intensi doa untuk bulan April itu, Paus Fransiskus mengatakan, “Marilah kita mengangkat suara kita bersama, seraya meminta kepada para ekonom agar berani untuk menolak economy of exclusion (ekonomi pengecualian) dan tahu bagaimana cara membuka jalan baru.”

Sudah menjadi kebiasaan bagi Paus Fransiskus untuk merilis pesan video yang merinci intensi doa barunya setiap bulan.

Teks lengkap pesannya itu:

Ekonomi tidak bisa berupaya meningkatkan keuntungan dengan mengurangi tenaga kerja dan dengan demikian menambah barisan orang-orang yang dikecualikan.

(Ekonomi) harus mengikuti jalan yang ditandai oleh para pemimpin bisnis, politisi, pemikir, dan pemimpin dalam masyarakat yang menempatkan pribadi manusia pada tempat pertama, dan melakukan segala kemungkinan untuk memastikan bahwa ada peluang kerja yang bermartabat.

Marilah kita mengangkat suara bersama-sama, seraya meminta kepada ekonom untuk berani menolak ekonomi pengecualian dan tahu cara membuka jalan baru.

Jaringan Worldwide Prayer Network of the Video Apostleship of Prayer mengembangkan prakarsa “Video Paus” itu untuk membantu penyebaran intensi bulanan Bapa Suci terkait dengan tantangan yang dihadapi umat manusia.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Uskup Tanjung Selor Mgr Paulinus Yan Olla MSF akan ditahbiskan 5 Mei 2018

Sab, 07/04/2018 - 03:04

Dengan moto penggembalaan “Servus Veritatis”, Mgr Paulinus Yan Olla MSF akan ditahbiskan sebagai Uskup Tanjung Selor, Kalimantan Utara, 5 Mei 2018, demikian selebaran yang beredar di media dan ditandatangani oleh Ferdy Manurun Tanduklangi sebagai Ketua Umum, Pastor Stephanus Sumardi sebagai Sekretaris Umum, dan Mgr Yustinus Harjosusanto MSF sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Tanjung Selor.

Dalam selebaran yang berisi lambang dan jadwal penahbisan dari Uskup Tanjung Selor itu tertulis bahwa Ibadat Agung Menjelang Penahbisan Uskup Tanjung Selor akan dilaksanakan di Gereja Katedral Santa Maria Assumpta Tanjung Selor, 4 Mei 2018, pukul 18.00 wita, sedangkan penahbisannya berlangsung di Lapangan Agatis Tanjung Selor, 5 Mei 2018, pukul 09.00, dan dilanjutkan dengan perayaan syukur pukul 12.30. Misa Episkopal dirayakan di Katedral Tanjung Selor pada hari Minggu 6 Mei 2018, pukul 8.30.

Mgr Paulinus Yan Olla MSF yang lahir di Seoam, Eban, Timor, 22 Juni 1963, itu ditahbiskan imam 28 Agustus 1992 dan dipilih menjadi uskup 22 Februari 2018. Sebagai anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Congregatio Missionariorum a Sacra Familia, MSF), Mgr Yan Olla menempatkan elemen-elemen lambang tarekatnya itu di bagian atas dengan latar belakang warna merah pada lambang uskupnya, yang berbentuk perisai.

Elemen-elemen itu adalah sebuah bintang bersinar berwarna kuning keemasan, “yang melambangkan kedatangan Sang Juruselamat dan misteri inkarnasi-Nya,” sebuah salib berwarna hitam, “yang mengingatkan akan kepenuhan misteri keselamatan dalam wafat dan kebangkitan Kristus,” dan sebuah lingkaran berwarna putih “yang mengingatkan akan perintah misioner Kristus kepada kita: ‘Pergilah ke seluruh dunia!’”

Dua ekor burung rangkong atau enggang badak, yang dalam bahasa Dayak disebut tingang, nampak mengapit elemen-elemen lambang MSF itu. “Burung ini dihormati dan disucikan oleh masyarakat Dayak di tempat penggembalaan Mgr Yan Olla,” tulis selebaran itu.

Di bagian bawah kiri perisai itu, dengan latar belakang putih, adalah catut berwarna keperakan dan palu berkelir keperakan dengan pegangan berwarna coklat kayu, melambangkan Maria dari La Salette. “Dalam penampakan di La Salette, Perancis pada 1846, Maria berkalungkan sebuah salib yang pada sisi kiri Yesus terdapat palu sedangkan sisi kanan-Nya catut,” jelasnya.

Palu, lanjutnya, merupakan simbol karya kejahatan manusia yang terungkap dalam penggunaannya sebagai alat penyaliban, dan catut merupakan alat yang digunakan oleh mereka yang mencintai Yesus untuk menurunkan-Nya dari salib. “Maria La Salette dikenal sebagai Bunda Rekonsiliatriks atau Bunda Pendamai karena warta pertobatan yang diserukannya,” jelasnya.

Di bagian bawah kanan, dengan latar belakang hitam, terdapat setangkai bunga lili dengan tiga kuntum berwarna putih serta sebuah siku, peralatan tukang kayu, berwarna coklat kayu, yang  “melambangkan Yosef, mempelai Maria dan penjaga Keluarga Kudus.”

Di atas perisai terdapat galero atau topi khas klerus berwarna hijau, dengan enam jumbai di masing-masing sisinya, sedangkan di bagian tengah belakang perisai adalah salib pancang berwarna kuning keemasan.  “Galero hijau dengan enam jumbai berikut salib pancang ini merupakan penanda bahwa sang empunya lambang adalah seorang uskup,” jelasnya.

Di bagian bawah perisai terdapat pita berwarna kuning keemasan, bertuliskan moto penggembalaan Mgr Yan Olla dalam Bahasa Latin yakni Servus Veritatis, yang berarti pelayan atau hamba kebenaran (bdk. Yoh 14:6). “Yesus yang adalah kepenuhan pewahyuan Allah dan patut disembah merupakan pula Kebenaran tertinggi yang memerdekakan (bdk. Yoh 8:32),” demikian lambang uskup Mgr Yan Olla yang pernah menjabat Asisten Jenderal Kongregasi MSF di Roma (2001-2007) kemudian merangkap Sekretaris Jenderal Kongregasi MSS (2007-2013).

Ketika dipilih menjadi Uskup Tanjung Selor, Doktor Teologi Spiritual dari Pontificio Instituto di Spiritualita Teresianum Roma, 2004, itu menjabat Rektor Teologan MSF di Malang. (paul c pati)

Halaman