Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 3 hours 42 mnt yang lalu

Kapel yang baru diberkati uskup dirusak oleh orang yang ingin bakar kebencian

Jum, 09/03/2018 - 01:31

Beredar sebuah laporan di medsos tentang “Pengrusakan Kapel Santo Zakaria” di Stasi Ogan Ilir dari Paroki Santa Maria Ratu Rosario, Seberang Ulu, Palembang, yang baru diberkati oleh Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ 4 Maret 2018.

“Pengrusakan dengan cara merusak pintu, memecahkan kaca, merusak kursi dan mengacak-acak ruangan dalam gereja kemudian mengumpulkan kursi ditumpuk di dalam ruangan gereja lalu dibakar, namun api belum sempat membesar sudah dapat padamkan oleh warga,” tulis laporan itu seraya merinci waktu  kejadian, Hari Kamis tanggal 8 Maret 2018, Pukul 00.30 WIB, dan baru dilaporkan ke Polsek sekira pukul 01.30 dan Polsek melaporkan ke Polres sekira pukul 05.40.

Kepada PEN@ Katolik, Ketua Komsos Keuskupan Agung Palembang Pastor Fransiskus de Sales SCJ, mengatakan bahwa pesan berantai itu sudah dibenarkan oleh Kapolres setempat, dan imam itu sedang mengirim wartawan dari keuskupan agung itu ke gereja itu. “Klarifikasi akan segera diberikan oleh wartawan KOMUNIO dari TKP,” kata imam itu.

Sementara itu, Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ mengatakan kepada Agenzia Fides dari Vatikan bahwa “Tanggal 4 Maret saya baru memberkati kapel baru yang terletak di desa yang jauhnya tiga jam perjalanan dari paroki itu. Perayaan itu berlangsung dalam suasana penuh keramahtamahan, dengan kehadiran tulus para pemimpin desa, otoritas sipil, serta pemimpin agama Muslim.”

Gereja itu, lanjut uskup agung, dibangun mengikuti semua peraturan dan proses hukum yang diperlukan. “Tindakan kekerasan serampangan ini mengejutkan kita, tapi kami percaya ini perbuatan beberapa anggota radikal yang ingin membakar kebencian, intoleransi dan kekerasan antaragama, di sini dan di seluruh Indonesia,” kata Mgr Sudarso.

Uskup Agung menginformasikan bahwa pastor paroki, petugas polisi, otoritas sipil sudah ada di gereja itu. Banyak orang Muslim juga mengungkapkan simpati dan membantu membersihkan gereja. “Polisi sedang menyelidiki tindakan yang dianggap memalukan seluruh masyarakat ini,” kata prelatus itu.

Mgr Sudarso mengaku sedih atas kejadian itu, “namun solidaritas yang diterima dari banyak umat Muslim menghibur kita.” Meski demikian Gereja tetap akan “mencari keadilan sesuai peraturan hukum, tanpa terperangkap dalam reaksi emosional.”

Dalam pesan yang tersebar itu ditulis bahwa gereja di Dusun 3 Desa Mekar Sari Kecamatan Rantau Alai Kabupaten Ogan Ilir itu diserang oleh enam orang laki-laki dengan mengendarai tiga unit sepeda motor. Mereka juga memecahkan dinding pintu depan dengan palu, melepaskan daun jendela, memecahkan kaca dengan melempar batu kali.

Polisi segera datang ke kapel dan meminta keterangan dari beberapa orang saksi dan mengambil beberapa barang bukti.(pcp)

Semua foto ini dibagikan oleh Pastor Fransiskus de Sales SCJ

Pelajaran apa yang kita dapat dari godaan Yesus di padang gurun?

Jum, 09/03/2018 - 00:57

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

106. Pelajaran apa yang kita dapat dari godaan Yesus di padang gurun?

Godaan Yesus di padang gurun mengulangi godaan Adam di Taman Firdaus dan godaan-godaan Israel di padang gurun. Setan menggoda Yesus terkait dengan ketaatan-Nya terhadap misi yang diberikan Bapa kepada-Nya. Kristus, Adam baru, tetap teguh dan kemenangan-Nya merupakan pewartaan kemenangan atas penderitaan yang merupakan puncak dari ketaatan cinta Sang Putra. Gereja mempersatukan dirinya dengan misteri ini secara khusus dalam liturgi masa Puasa (Prapaskah).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 538-540, 566

107. Siapa saja yang diundang masuk ke dalam Kerajaan Allah yang diwartakan dan diwujudkan oleh Yesus?

Semua orang diundang oleh Yesus untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bahkan, para pendosa yang paling jahat pun dipanggil untuk bertobat dan menerima kerahiman Bapa yang tak terbatas. Di dunia ini pun Kerajaan Allah milik mereka yang menerimanya dengan rendah hati. Bagi merekalah misteri Kerajaan dinyatakan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 541-546, 567

Paus Fransiskus akan membuka prakarsa ’24 Jam untuk Tuhan’ 9 Maret 2018

Kam, 08/03/2018 - 23:02

Hari Jumat 9 Maret 2018, prakarsa tahunan ’24 Jam untuk Tuhan’ akan dimulai dengan perayaan tobat di Basilika Santo Petrus yang dipimpin oleh Paus Fransiskus. Acara itu diselenggarakan dan dipromosikan oleh Dewan Kepausan untuk Peningkatan Evangelisasi Baru. Prakarsa 24 Jam untuk Tuhan adalah kesempatan bagi umat untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi. Di setiap keuskupan di seluruh dunia akan ada satu gereja yang dibuka selama 24 jam berturut-turut sebagai bagian dari prakarsa itu. Paus Fransiskus, dalam Pesan Prapaskah 2018, mengajak umat beriman untuk menjalani kesempatan ini sebagai kesempatan “merayakan Sakramen Rekonsiliasi dalam konteks adorasi Ekaristi.” Pernyataan pers dari Dewan Kepausan untuk Peningkatan Evangelisasi Baru mengatakan, Paus Fransiskus “akan membuka prakarsa besar ini dengan Perayaan Tobat di Basilika Santo Petrus.” Perayaan tahun ini adalah yang kelima. “Tujuannya,” menurut Presiden Dewan Kepausan untuk Peningkatan Evangelisasi Baru Uskup Agung Salvatore Fisichella, “adalah untuk memberikan kepada semua orang – terutama yang merasa tidak nyaman memasuki gereja – kesempatan untuk mencari rangkulan Allah yang penuh belas kasihan.” Uskup itu menyebutnya sebagai “kesempatan unik untuk kembali kepada Bapa.” Dewan kepausan itu telah menyiapkan panduan pastoral dalam berbagai bahasa untuk menemani mereka yang ikut dalam Prakarsa 24 Jam untuk Tuhan.(pcp berdasarkan Vatican News)

Pastor Javier Abanto Silva OP diangkat sebagai Promotor Komunikasi yang baru

Kam, 08/03/2018 - 17:41

Master Order (Dominikan) Pastor Bruno Cadoré OP menunjuk Pastor Javier Abanto Silva OP sebagai promotor jenderal yang baru untuk bidang komunikasi dalam Ordo Pewarta. Pastor Javier dari Provinsi Santo Yohanes Pembaptis Peru itu menggantikan Pastor Eric Salobir OP yang telah menyelesaikan masa jabatannya. Pastor Javier yang lahir di Cajamarca, Peru bagian utara, tahun 1974, mengikrarkan profesi pertama tahun 1996 dan ditahbiskan imam tahun 2011. Setelah belajar filsafat dan teologi di Peru, imam itu meraih gelar master dalam Teologi Pastoral dan lisensiat dalam Teologi Media dari Kolombia. Pastor yang pernah berkarya di Radio Santo Domingo di Chimbote selama enam tahun itu, pernah juga menjadi direktur Radio Santa Rosa de Lima. Promotor Media pernah juga menjadi tugasnya di provinsi asalnya. Sebagai pengakuan atas semangatnya di bidang komunikasi, Paguyuban Wartawan Nasional Peru melantiknya sebagai anggota kehormatan. Komunikasi menjadi bagian integral dari kehidupan Pastor Javier. Tugas kantor barunya adalah meningkatkan kehidupan dan misi Ordo melalui sarana komunikasi. Menurut imam itu, “Dunia baru dengan teknologi maju adalah mimbar yang penting bagi seorang Dominikan, karena dari mimbar itu dia dapat mewartakan belas kasih, pengharapan dan kebenaran Yesus Kristus, sang komunikator agung.”(pcp berdasarkan op.org)

Mengajarkan apa kehidupan Yesus yang tersembunyi selama di Nazaret?

Kam, 08/03/2018 - 06:16
Jesus-Nazareth-dari-Gods-HotSpot

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

104. Mengajarkan apa kehidupan Yesus yang tersembunyi selama di Nazaret?

Dalam kehidupan-Nya yang tersembunyi di Nazaret, Yesus tinggal sebagai orang biasa. Hal itu mengajarkan kepada kita untuk masuk ke dalam persahabatan dengan Dia dalam kesucian yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang diisi dengan doa, kesederhanaan, pekerjaan, dan cinta keluarga. Ketaatan-Nya kepada Maria dan Yosef, bapa asuh-Nya, merupakan gambaran ketaatan sang Putra kepada Bapa. Maria dan Yosef menerima dalam iman misteri Yesus ini walaupun mereka tidak selalu dapat memahaminya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 533-534, 564

105. Mengapa Yesus menerima ”baptis pertobatan untuk pengampunan dosa-dosa” dari Yohanes (Luk 3:3)?

Untuk menandai penampilan Yesus di muka umum dan mengantisipasi ”Pembaptisan” kematian-Nya, Dia yang tanpa dosa menerima untuk dihitung di kalangan para pendosa. Dia adalah ”Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Bapa menyatakan Dia sebagai ”Anak-Nya yang Kukasihi” (Mat 3:17) dan Roh Kudus turun ke atas-Nya. Pembaptisan Yesus merupakan prefigurasi pembaptisan kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 535-537, 565

Paus setujui keputusan tentang mukjizat terkait dengan Paulus VI dan Oscar Romero

Kam, 08/03/2018 - 05:44

Bapa Suci Paus Fransiskus menerima dalam audiensi Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus Kardinal Angel Amato SDB, 6 Maret 2018. Kantor Pers Vatikan melaporkan bahwa dalam audiensi itu, Paus memberi kuasa kepada kongregasi itu untuk menyebarluaskan surat-surat keputusan mengenai:

  • Mukjizat, terkait dengan perantaraan Beato Paulus VI (Giovanni Battista Montini), Paus; lahir di Concesio (Italia) tanggal 26 September 1897 dan meninggal di Castel Gandolfo (Italia) tanggal 6 Agustus 1978
  • Mukjizat, terkait dengan perantaraan Beato Óscar Arnulfo Romero y Galdámez, Uskup Agung San Salvador (El Salvador), martir; lahir di Ciudad Barrios (El Salvador) tanggal 15 Agustus 1917 dan dibunuh di San Salvador (El Salvador) tanggal 24 Maret 1980
  • Mukjizat, terkait dengan perantaraan Beato Francesco Spinelli, imam diosesan, pendiri Institut Para Suster Penyembah Sakramen Mahakudus; lahir di Milan (Italia) tanggal 14 April 1853 dan meninggal di Rivolta d’Adda (Italia) tanggal 6 Februari 1913
  • Mukjizat, terkait dengan perantaraan Beato Vincenzo Romani, imam diosesan; lahir di Torre del Greco (Italia) tanggal 3 Juni 1751 dan meninggal di sana tanggal 20 Desember 1831
  • Mukjizat, terkait dengan perantaraan Beata Maria Catherine Kasper, pendiri Kongregasi Para Pembantu Miskin Yesus Kristus (the Poor Handmaids of Jesus Christ); lahir tanggal 26 Mei 1820 di Dernbach (Jerman) dan meninggal di sana tanggal 2 Februari 1898
  • Mukjizat, terkait dengan perantaraan Hamba Allah María Felicia Jesus dalam Sakramen Mahakudus (nama sekuler: María Guggiari Echeverría), Suster dari Ordo Karmelit Tak Berkasut; lahir di Villarica (Paraguay) tanggal 12 Januari 1925 dan meninggal di Asuncion (Paraguay) tanggal 28 April 1959
  • Kemartiran dari Hamba Allah Anna Kolesárová, wanita awam; lahir di Vysoká nad Uhom (Slovakia) tanggal 14 Juli 1928 dan terbunuh karena kebencian iman tanggal 22 November 1944
  • Keutamaan Heroik dari Hamba Allah Bernard Łubieński, imam dari Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (Redemptoris atau dalam singkatan CSsR); lahir di Guzów (Polandia) tanggal 9 Desember 1846 dan meninggal di Warsawa (Polandia) tanggal 10 September 1933
  • Keutamaan Heroik dari Hamba Allah Cecilio Maria Cortinovis (nama sekuler: Antonio Pietro), biarawan dari Ordo Saudara Dina Kapusin; lahir di Nespello (Italia) tanggal 7 November 1885 dan meninggal di Bergamo (Italia) tanggal 10 April 1984
  • Keutamaan Heroik dari Hamba Allah Giustina Schiapparoli, pendiri Kongregasi Suster-Suster Benediktin Penyelenggaraan Ilahi dari Voghera; lahir di Castel San Giovanni (Italia) tanggal 19 Juli 1819 dan meninggal dari Voghera (Italia) tanggal 30 November 1877
  • Keutamaan Heroik dari Hamba Allah Maria Schiapparoli, pendiri Kongregasi Suster-Suster Benediktin Penyelenggaran Ilahi dari Voghera; lahir di Castel San Giovanni (Italia) tanggal 19 April 1815 dan meninggal di Vespolate (Italia) tanggal 2 Mei 1882
  • Keutamaan Heroik dari Hamba Allah Maria Antonella Bordoni, awam dari Ordo Ketiga Santo Dominikus, pendiri Persaudaraan Awam dari Puteri-Puteri Kecil Bunda Allah; lahir 13 Oktober 1916 di Arezzo (Italia) dan meninggal di Castel Gandolfo (Italia) tanggal 16 Januari 1978
  • Keutamaan Heroik dari Hamba Allah Alessandra Sabattini, Awam; lahir tanggal 19 Agustus 1961 di Riccione (Italia) dan meninggal di Bologna (Italia) tanggal 2 Mei 1984.(paul c pati)

Sekitar 100 Komunitas Meditasi Kristiani di Indonesia bermeditasi dan umat lain dikuatkan

Kam, 08/03/2018 - 03:19

Di banyak paroki di dunia juga Indonesia banyak bertumbuh sebuah komunitas dunia yang sudah 10 tahun mengajarkan tradisi meditasi Kristen seraya menjelajahi konteks kaya dari kebijaksanaan praktis sederhana yang membawa kebenaran iman hidup dalam pengalaman umat sendiri.

Untuk menandai satu dekade komunitas bernama Komunitas Meditasi Kristiani itu, para anggota merayakan Misa yang dipimpin oleh Moderator Komunitas Meditasi Kristiani Pastor Tan Thian Sing MSF di Gereja Materdei, Lampersari, Semarang, 23 Februari 2018, seraya berpesan agar anggota “bertekun setia dalam meditasi.”

Dalam Misa itu, Pastor Tan menegaskan bahwa dalam komunitas itu, meskipun hanya ada satu anggota, namun dia sungguh-sungguh bertekun setia bermeditasi, maka teman-temannya akan dikuatkan. “Bisa jadi ada orang mengalami keraguan dan semangatnya melemah. Namun, ketika ada satu saja yang bertahan, yang mau setia, maka teman yang lemah dikuatkan. Dia pun akan semangat,” demikian keyakinan imam itu.

Pastor Tan menambahkan dalam Misa yang diisi lagu-lagu Taize dari komunitas Cantate Domino itu, jika seseorang tetap bertekun bermeditasi, rekan-rekan lain tidak mungkin hanya cukup mendengar, melainkan akan mengalami kehadiran Tuhan, mengalami keakraban dengan Tuhan, kedekatan dengan Tuhan, dia akan datang dan diteguhkan, “dan dengan demikian komunitas akan terbentuk.”

Selanjutnya, imam yang hari itu juga merayakan HUT ke-70 menegaskan, “Manakala kita sungguh-sungguh bertekun akrab, penuh percaya, penuh harap akan kasih setia Tuhan, maka iman, pengharapan itu juga akan menggarami saudara-saudara yang lain.”

Komunitas apa pun dalam Gereja yang tetap mau bertekun “akan menjadi garam, menjadi terang bagi Gereja, bahkan juga bagi dunia,” demikian keyakinan Pastor Tan yang juga mengajak para meditator (orang yang tekun bermeditasi) untuk mensyukuri rahmat 10 tahun berjalannya Meditasi Kristiani.

“Kita turut bersyukur karena Tuhan tetap menyertai kita, tetap meneguhkan kita, menghibur kita, membahagiakan kita. Dan dengan demikian kita semua boleh percaya Tuhan tetap menyertai, mendampingi, mengantar kita semua bersama-sama dan pribadi untuk kembali kepada kemuliaan kasih Allah,” kata imam itu dalam Misa yang diakhiri dengan meditasi bersama sekitar 20 menit.

Biarawan Benediktin Pastor John Main OSB membuka Komunitas Meditasi Kristiani pertama tahun 1975. Setelah Pastor John Main meninggal, pengembangan pengajaran tentang Meditasi Kristiani diteruskan oleh muridnya, Rahib Laurence Freeman OSB yang membentuk WCCM (World Community for Christian Meditation) tahun 1992 atas usulan dari Rahib Bede Griffiths (1906-1993). Saat ini, komunitas itu hadir di sekitar 100 negara. Indonesia kini memiliki sekitar 100 kelompok yang berkumpul dan bermeditasi bersama seminggu sekali. (Lukas Awi Tristanto)

Dalam arti apa hidup Kristus adalah sebuah misteri?

Sel, 06/03/2018 - 09:10
Interior, St. Paul Outside the Walls, Rome. Begun 386 A.D. (etching by G. B. Piranesi, 1749)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

101. Dalam arti apa hidup Kristus adalah sebuah misteri?

Seluruh hidup Kristus merupakan pewahyuan. Apa yang dapat dilihat dalam hidup Yesus di dunia ini membawa kita kepada misteri Putra ilahi yang tak kelihatan barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Lebih dari itu, walaupun keselamatan datang sepenuhnya melalui salib dan kebangkitan, seluruh hidup Kristus merupakan suatu misteri penebusan karena segala sesuatu yang dikerjakan, dikatakan, dan diderita Yesus bertujuan untuk penyelamatan umat manusia yang sudah jatuh dan untuk pemulihan panggilan mereka sebagai anak-anak Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 512-521, 561-562

102. Bagaimana Allah mempersiapkan dunia untuk misteri Kristus?

Allah mempersiapkan kedatangan Putra-Nya selama berabad-abad. Dia membangkitkan dalam hati manusia sebuah harapan samar-samar tentang kedatangan ini, dan Dia mempersiapkannya secara khusus melalui Perjanjian Lama, yang berpuncak pada Yohanes Pembaptis, nabi terbesar dan terakhir. Kita menghidupkan kembali periode panjang penantian ini dalam upacara liturgi tahunan selama masa Adven.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 522-524

103. Apa yang diajarkan Injil tentang misteri kelahiran dan kanak-kanak Yesus?

Pada hari Natal, kemuliaan surgawi ditampakkan dalam seorang bayi yang lemah; Upacara sunat merupakan tanda bahwa Yesus termasuk bangsa Yahudi dan merupakan prefigurasi pembaptisan kita; Epifani merupakan penampakan Mesias Raja Israel kepada semua bangsa; waktu Yesus dipersembahkan di kenisah, Simeon dan Anna merupakan simbol semua antisipasi Israel yang sedang menanti untuk bertemu dengan Penyelamat mereka; Pengungsian ke Mesir dan pembunuhan para bayi yang tak bersalah menunjukkan bahwa seluruh kehidupan Yesus akan ditandai oleh penganiayaan; Kembali dari Mesir mengenangkan kembali peristiwa keluaran dan menghadirkan Yesus sebagai Musa baru, pembebas sejati dan definitif.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 525-530, 563-564

Politisi Katolik perlu mengandalkan bonum commune dan menolak politik identitas

Sen, 05/03/2018 - 22:35

Pastor Yong Ohoitimur MSC menegaskan, politisi Katolik perlu mengandalkan nalar politik yang rasional yakni bonum commune (apa yang benar, adil, baik bagi semua) dan menolak praktik politik identitas (politik yang didasarkan pada sentimen primordial yakni suku, agama ras, antargolongan), yang berimplikasi pada diskriminasi.

Rektor Unika De La Salle Manado itu berbicara dalam Diskusi Bedah Pilkada 2018 serta Pileg dan Pilpres 2019 yang diselenggarakan oleh ISKA Sulut, yang dipimpin oleh Adry Manengkey, di Wisma Montini Manado, 27 Februari 2018.

Puluhan peserta termasuk Presidium Pemerintahan dan Politik DPP ISKA Daniel Tonapa dan Kepala Sekolah Polisi Negara Polda Sulut Kombes Polisi Henny Posumah hadir pada diskusi dengan keynote speaker Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC yang datang didampingi Moderator ISKA Sulut Pastor John Montalalu Pr.

Orang Katolik, menurut Pastor Yong Ohoitimur, perlu masuk ke dalam dunia politik, hukum dan pemerintahan sebagai jalan melaksanakan kerasulan Gereja.

“Hierarki mendampingi kaum awam yang kompeten untuk menjawab panggilan di bidang politik berupa membina spiritual dan moral politik,” lanjut imam itu seraya memberikan rekomendasi agar Gereja Katolik memprakarsai gerakan seperti “Bhinneka Tunggal Ika” dan “anti politik uang”.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Josef Raco, Frankie Taroreh, Yulius Raton dan Stevanus Ngenget dari Unika De La Salle Manado, sesuai permintaan Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Sulut, ada empat faktor yang menjadi penentu tingkat keterpilihan pemimpin publik. Keempat faktor itu adalah fair (keadilan), courage (keberanian), competence (kompetensi) dan compassion (empati atau kepedulian).

Karena, menurut Raco, kriteria dominan pemimpin publik di mata pemilih rasional adalah competence 29 persen,  fair 27 persen, courage 26 persen, compassion 16 persen,” maka dia direkomendasikan agar pihak-pihak yang berkepentingan dalam kepemimpinan publik di tahun demokrasi ini mempertimbangkan faktor-faktor itu.

Dalam presentasinya, Mgr Rolly Untu yang membuka acara itu dengan Misa, menguraikan Ajaran Sosial Gereja untuk menjadi pedoman dan pegangan bagi umat Katolik yang akan terjun dalam bidang sosial kemasyarakatan termasuk bidang politik, yakni Lumen Gentiun, Gaudium et Spes dan Apostolicam Aquasitatem. (A. Ferka)

Pekerja Katolik diajak baca peluang dan buka usaha positif guna tambah penghasilan

Sen, 05/03/2018 - 21:15

Pengusaha Muda beragama Katolik, William Ernst Sommeling, mengajak para pekerja  Katolik untuk berani membuka usaha positif dalam bentuk apa pun yang bisa meningkatkan ekonomi keluarga, karena selalu terbuka peluang bagi siapa pun, termasuk pekerja pabrik, untuk menambah penghasilan selain dari  pekerjaan pokoknya.

Ernst  mengatakan hal itu dalam seminar setengah hari bertema “Seminar Koperasi dan Wirausaha,” yang dihadiri sekitar 100 pekerja Katolik, di aula Paroki Santo Matius Penginjil, Bintaro, Tangerang Selatan, 4 Maret 2018. Seminar merupakan lanjutan dari rangkaian pra-May Day untuk menyongsong Hari Buruh, 1 Mei 2018.

Peserta seminar itu datang dari sembilan paroki di Dekenat Tangerang itu. Para moderator pekerja Katolik Tangerang, Pastor Rafael Adi Pramono OSC dan Pastor Sipri Smakur SSCC dan seluruh pengurus Seksi  Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dari paroki-paroki di dekenat itu juga hadir.

Ernst telah merintis usaha lukis sepatu di awal 2008 dan kini usahanya merambah di bidang konveksi kaos yang disablon dengan mengikuti tren saat ini. Usaha itu bernama Callme clothing vendor itu “saya rintis dari kecil tetapi lama-kelamaan semakin maju dan membawa keuntungan dengan nama,” demikian dia bersaksi.

Ernst mengingatkan para pekerja Katolik agar tidak boleh malu bekerja di perusahaan kecil, karena dari perusahaan kecil mereka bisa mempelajari cara pemimpin perusahaan membawahi pekerjanya. “Janganlah kamu malu bekerja di perusahaan kecil, karena dari perusahaan besar seorang pekerja kurang mendapatkan peluang untuk melakukan usaha tertentu. Dari perusahaan kecil kalian bisa belajar bagaimana pengusaha melakukan briefing dengan pekerjanya,” kata umat Paroki Bintaro itu.

Bahkan dia mengajarkan para pekerja Katolik untuk ikut menyuplai barang yang dibutuhkan kantor atau tempat kerjanya. “Kalau ada peluang lain, perhatikanlah peluang itu dan mulailah melakukan suatu untuk mengisi peluang itu. Mungkin seorang pekerja terampil membuat kue atau menjahit. Ya, itu bisa dilakukan asal tidak mengganggu rutinitas,” jelasnya.

Saat ini sudah ada ojek online, Ernst memberi contoh. “Ojek sudah lama ada. Ojek online memberikan nilai lebih daripada ojek konvensional,” kata Ernst seraya mengajak pekerja Katolik mencari ide-ide kreatif lain untuk mulai melakukan peluang usaha yang bisa membawa peningkatan ekonomi.

Pembicara lain, Ketua Asosiasi Kader Sosial Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto, mengajak seluruh pekerja Katolik untuk “tahan banting” dengan berbagai kegagalan yang dialami. Kegagalan, menurut Suroto, adalah “guru yang terbaik dalam kehidupan.”

Sebagai orang yang menjalankan usaha (sendiri maupun kelompok) kegagalan adalah hal biasa. Yang menjadi soal, menurut Ernst, apakah setiap menghadapi kegagalan seseorang maju terus atau berhenti. “Kegagalan itu perlu dimaknai sebagai suatu proses untuk mencapai suatu keberhasilan yang sempurna,” tegasnya.

Thomas Yulianto, Ketua Panitia Pra May Day mengharapkan agar lewat seminar, yang ditutup dengan doa oleh Pastor Rafael Adi Pramono OSC itu, para pekerja Katolik bisa menangkap peluang kerja di lingkungan maupun tempat kerjanya.(Konradus R Mangu)

Dalam arti apa Maria selalu perawan?

Sen, 05/03/2018 - 17:08

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

98. Apa arti Yesus dikandung oleh seorang perawan?

Yesus dikandung oleh seorang perawan berarti bahwa Yesus dikandung dalam rahim Perawan melulu karena kuasa Roh Kudus tanpa campur tangan seorang lelaki. Dia adalah Putra Bapa surgawi menurut kodrat ilahi-Nya dan Putra Maria menurut kodrat manusiawi-Nya. Tetapi, Dia adalah Putra Allah dalam kedua kodrat itu karena dalam Dia hanya terdapat satu Pribadi, yaitu Pribadi yang ilahi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 496-498, 503

99. Dalam arti apa Maria selalu perawan?

Maria selalu perawan dalam arti ”tetap seorang perawan dalam mengandung Putranya, tetap seorang perawan ketika melahirkan Yesus, tetap seorang perawan ketika merawat-Nya, tetap seorang perawan selama menyusui-Nya, selalu tetap seorang perawan” (Santo Agustinus). Karena itu, waktu Injil mengatakan ”Saudara-saudari Yesus”, itu dimaksudkan sebagai keluarga-keluarga dekat Yesus, sesuai dengan cara bicara Kitab Suci.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 499-507, 510-511

100. Dalam arti apa keibuan spiritual Maria itu universal?

Maria hanya mempunyai satu Putra, Yesus, tetapi di dalam Dia keibuan spiritualnya melingkupi semua yang diselamatkan-Nya. Dengan taatnya berdiri di sisi Adam yang baru, sang Perawan Maria adalah Hawa yang baru, bunda sejati dari semua yang hidup, yang dengan cinta seorang ibu bekerja sama dalam kelahiran dan perkembangan mereka dalam suasana rahmat Perawan dan Bunda, Maria merupakan figur Gereja, realisasinya yang paling sempurna.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 501-507, 511

Jumat Belas Kasih: Paus mengagetkan lima ibu yang berada dalam tahanan

Min, 04/03/2018 - 18:32

Paus Fransiskus melanjutkan tradisi Jumat Belas Kasih, dengan mengejutkan lima ibu dan anak-anak mereka, serta para staf “Casa di Leda,” sebuah semi penjara wanita di distrik EUR Roma. Dengan kunjungan itu Paus Fransiskus ingin terus mengungkapkan kedekatannya dengan mereka yang hidup dalam situasi yang sulit.

Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News melaporkan bahwa kunjungan Paus Fransiskus, yang didampingi Uskup Agung Rino Fisichella, Presiden Dewan Evangelisasi Baru, yang menyelenggarakan prakarsa itu, mendadak dan mengejutkan.

Pukul 16:00, Paus mengejutkan kelima ibu (yang berusia antara usia 25 sampai 30 tahun) bersama anak-anak mereka, dan para staf Casa di Leda saat mereka sedang menjalani kegiatan normal di sore hari. Paus Fransiskus pun bertukar kabar dengan para ibu dan staf yang bertugas, serta bermain bersama anak-anak. Anak-anak menyambut hadiah telur Paskah yang besar dengan sorak sorai. Mereka kemudian mengajak Paus untuk makan makanan ringan bersama mereka.

Kemudian para ibu memberi Paus hadiah yang merupakan hasil dari banyak kegiatan dan tugas sederhana yang mereka lakukan di dalam tempat penampungan itu. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menceritakan kepada Paus tentang kesempatan bagus yang mereka miliki untuk membesarkan anak-anak mereka sendiri.

Direktur Casa di Leda, Dr Lillo Di Mauro, mengatakan kepada Paus, “Yang Mulia, Bapa yang terkasih, kami adalah orang-orang yang tidak terlihat.” Dia kemudian menggambarkan upaya yang dilakukan untuk mendirikan bangunan itu. Ada kesadaran tentang pentingnya merubah ruang yang dikontribusikan pada aktivitas kriminal, guna mengembalikan kepada masyarakat proyek yang membantu mengembangkan peradaban dan kemanusiaan.

Bapa Suci juga meninggalkan hadiah untuk para ibu, termasuk perkamen yang ditandatangani untuk mengenang kunjungannya. Kunjungannya berlangsung sekitar satu jam, setelah itu dia kembali ke Santa Marta, di Vatikan.

Casa di Leda terletak di distrik EUR Roma, dan tersembunyi di daerah pemukiman yang hijau dan indah. Dulu, bangunan itu dimiliki oleh orang-orang yang terkait dengan dengan kejahatan terorganisir. Bangunan yang disita oleh negara itu telah diubah menjadi tempat berlindung bagi wanita-wanita dalam kesulitan.

Dibuka bulan Maret 2017, Casa di Leda dijalankan oleh perusahaan nirlaba “Cecilia Onlus.” Di Casa di Leda, para ibu yang ditahan karena pelanggaran ringan, yang hak orangtua diakui secara hukum, dapat menjalani masa penahanan bersama anak-anak mereka dalam tata cara keluarga. Para ibu didampingi oleh staf, pendidik, dan sukarelawan dari asosiasi sukarelawan bernama “A Roma Insieme” (Bersama-sama ke Roma). Asosiasi-asosiasi lain yang terlibat dalam proyek itu adalah “P.I.D. Emergency Intervention Disagio Società Cooperativa Sociale Onlus” dan Asosiasi “Ain Karim.”

Para ibu yang tinggal di gedung itu diizinkan membawa dan menjemput anak-anak mereka dari sekolah. Mereka ikut kegiatan yang mempersiapkan mereka untuk bekerja mengingat pembauran mereka kembali di masa depan ke dalam masyarakat. Ini adalah bangunan jenis pertama di Italia, dan mungkin di dunia.(pcp berdasarkan Vatican News)

Paus tetapkan perayaan Maria yang baru, Bunda Gereja, sehari setelah Pentakosta

Min, 04/03/2018 - 03:49

Paus Fransiskus memasukkan devosi kuno Peringatan Perawan Maria yang Diberkati, Ibu Gereja, dalam Kalender Romawi di hari Senin setelah hari Minggu Pentakosta. Perayaan liturgi, B. Mariæ Virginis, Ecclesiæ Matris, itu akan dirayakan setiap tahun sebagai peringatan pada hari setelah Pentakosta.

Dalam keputusan yang dikeluarkan hari Sabtu oleh Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen, Kardinal Robert Sarah yang merupakan prefeknya mengatakan, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, bahwa keputusan Paus memperhitungkan tradisi di seputar devosi kepada Maria sebagai Bunda Gereja.

Dikatakan bahwa Bapa Suci ingin meningkatkan devosi ini untuk “mendorong pertumbuhan rasa keibuan Gereja dalam diri para pastor, kaum religius dan umat beriman, serta pertumbuhan rasa hormat yang  sejati kepada Maria.”

Keputusan itu mencerminkan sejarah teologi Maria dalam tradisi liturgi Gereja dan tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Dikatakan, baik Santo Agustinus dan juga Paus Santo Leo Agung keduanya merenungkan tentang pentingnya Perawan Maria dalam misteri Kristus.

“Sebenarnya Santo Agustinus mengatakan bahwa Maria adalah ibu dari anggota-anggota Kristus, karena dengan kemurahan hati dia bekerja sama dalam kelahiran kembali umat beriman dalam Gereja, sementara Santo Leo Agung mengatakan bahwa kelahiran Kepala adalah juga kelahiran tubuh, ini mengindikasikan bahwa Maria adalah sekaligus Bunda Kristus, Putra Allah, dan ibu dari anggota-anggota Tubuh Mistiknya, yaitu Gereja.”

Keputusan itu mengatakan bahwa refleksi-refleksi ini merupakan hasil dari “keibuan ilahi Maria dan dari persatuan intimnya dalam karya Sang Penebus.”

Kitab Suci, kata dekret itu, menggambarkan Maria di kaki Salib (lih Yoh 19:25). Di sana dia menjadi Ibu Gereja saat dia “menerima pernyataan kasih Putra-Nya dan menyambut semua orang dalam pribadi murid tercinta sebagai putra dan putri yang akan dilahirkan kembali untuk hidup yang kekal.”

Tahun 1964, tulis dekret itu, Paus Paulus VI “menyatakan Perawan Maria Terberkati sebagai ‘Ibu Gereja, yaitu untuk mengatakan bahwa semua orang Kristiani, umat beriman dan juga para imam, yang memanggilnya Ibu yang paling dikasihi’ dan menegaskan bahwa ‘Bunda Allah harus dihormati dan dipanggil oleh seluruh umat Kristiani dengan gelar-gelar yang paling lembut ini’.”

Kemudian, di Tahun Suci Rekonsiliasi 1975, Gereja memasukkan dalam Buku Misa Romawi sebuah Misa yang dipersembahkan untuk menghormati Santa Perawan Maria, Bunda Gereja.

Dengan keputusan ini, Paus Fransiskus menyisipkan perayaan itu ke dalam liturgi Gereja universal sebagai peringatan pada tanggal yang pasti.

Kongregasi untuk Ibadat Ilahi telah menerbitkan teks liturgi resmi dalam bahasa Latin. Terjemahan, tulis keputusan itu, harus dipersiapkan dan disetujui oleh Konferensi Waligereja setempat sebelum dikonfirmasi oleh Kongregasi.(pcp berdasarkan Vatican News)

Misi Katolik di antara suku Jawa: mengenal budaya terlebih dahulu, sebelum membaptis

Min, 04/03/2018 - 02:57

Para misionaris pertama yang datang dari tahun 1808 sampai 1859 ke Batavia adalah para pastor praja atau diosesan dari Belanda dengan pikiran untuk melayani kebutuhan rohani orang Katolik Belanda dan Eropa. Mereka tidak berfikir untuk mewartakan iman di kalangan pribumi atau inlander karena bahasanya sulit bagi mereka dan sebagai misionaris yang digaji pemerintah Belanda mereka hanya bekerja untuk kalangan orang Belanda. Mgr Vrancken sendiri mengakui kesulitan mewartakan iman Katolik di kalangan suku Jawa.

Vikaris Apostolik itu mengatakan, “Di pulau Jawa, kita mempunyai lima pusat misi. Pekerjaan misionaris di pulau ini dikhususkan untuk orang-orang Eropa dan keturunannya. Orang-orang pribumi di Jawa seluruhnya Muslim dan mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa tertarik dengan agama Katolik. Pulau Jawa sendiri mempunyai penduduk 5 juta yang semuanya Muslim dan sampai sekarang belum ada yang mau masuk agama Katolik. Tidak ada banyak harapan bahwa dalam waktu dekat, mereka akan mau menjadi katolik.”[1]

Sejak tahun 1859 misionaris praja digantikan oleh Ordo Yesuit. Dua Yesuit pertama yang datang, Pastor  van den Elzen dan Pastor Palinckx, juga melihat bahwa tidak ada tanda-tanda orang Jawa berminat belajar agama kristiani. Menurut mereka ada dua alasan. Pertama, karena kehidupan sosial dan kultural orang Jawa ditentukan oleh adat dan kokohnya persaudaraan antarkampung, dan karena semua orang beragama Islam, maka tidak ada satu pun orang Jawa yang berani untuk berbeda. Kedua, karena perilaku orang Eropa sendiri yang buruk menurut pandangan orang Jawa, seperti minum minuman keras dan juga mereka bangsa penjajah. Agama Katolik dianggap sama dengan agama penjajah. Kalau ada orang mau jadi Katolik berarti ia mau jadi orang Belanda. Jadi beban historis dan psikologis pewartaan iman Katolik di antara orang Jawa adalah sangat berat.

Para Yesuit terkenal dengan karya-karya misi di seluruh dunia. Mereka berkeliling dunia sampai ke lembah Amazon di Amerika Latin, pergi ke pulau-pulau di Maluku dan juga berhasil di Jepang. Maka diutuslah dua orang untuk mewartakan iman Katolik di Jawa Tengah yaitu Pastor Franciscus Gregorius Josephus van Lith dan Pastor Petrus Hoevenaars. Keduanya kemudian dikenal sebagai dua misionaris hebat di Jawa. Namun, mereka terkenal juga karena pertentangan tajam di antara keduanya. Metode bermisi mereka berbeda akibat perbedaan visi mereka. Pastor van Lith ingin mengenal budaya Jawa dan Orang Jawa terlebih dahulu baru kemudian mengajari agama dan membaptis. Pastor van Lith tidak mau tergesa-gesa membaptis. Sebaliknya, Pastor Hoevenaars memakai metode membaptis sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat supaya umat Katolik bertambah dengan cepat. Akibatnya, pimpinan Yesuit di Belanda mendapat kesan bahwa Pastor Hoevenaar berhasil dan Pastor van Lith gagal. Ketika Mgr Staal SJ berkunjung ke pusat misi Pastor van Lith di Muntilan, memang nampak bahwa misi itu seperti tidak menghasilkan buah.

Pastor van Lith sendiri mengeluh atas banyaknya kesulitan dalam mewartakan iman Katolik di antara orang Jawa Tengah: “Pekerjaan penyelamatan jiwa-jiwa ini adalah salib yang berat untuk saya. Sedikit kesuksesan yang dibarengi dengan tuduhan adalah surga di dunia ini. Semua tindakan baik dihargai dengan kebohongan dan pengkhianatan. Aku harus menenangkan pikiranku saat ini: nafsu makan dan kegembiraan lenyap. Saya tidak mempunyai antusiasme dalam pekerjaan saya maupun seluruh karya di tempat ini…[2]

Tuhan menolong Pastor van Lith yang putus harapan dengan suatu mujizat. Ada empat orang datang dari Kalibawang ke Muntilan untuk memohon pengajaran agama Katolik untuk mereka dan untuk orang sekampungnya. Empat orang itu kemudian dibaptis di Muntilan tanggal 20 Mei 1904. Tujuh bulan kemudian Pastor van Lith membaptis 171 orang di Sendangsono tanggal 14 Desember 1904. Salah satu dari empat orang yang dibaptis di Muntilan itu adalah Sariman yang kemudian diberi nama Barnabas Sariman Sarikrama.

Sariman adalah pemuda dari desa Jamblangan, di pegunungan Menoreh yang lahir tahun 1874. Setelah menikah ia memakai nama tua (jeneng tuwa) Soerawirja (dibaca: Surawiryo) sesuai adat kebiasaan Jawa. Hidupnya penuh dengan kemiskinan dan penderitaan sejak kecil, maka ia terbiasa matiraga dan bersemèdi. Bahkan setelah beberapa lama menikah ia menderita sakit kaki sehingga tidak bisa berjalan. Ia harus bergerak dengan ngesot, yaitu berjalan dengan pantat dan ditopang oleh kedua tangannya, karena kakinya lumpuh. Untuk mencari kesembuhan, ia sudah melakukan laku tapa di Sendang Semagung di dekat desanya. Namun ia tidak sembuh. Kemudian secara aneh ia seperti mendapatkan wangsit, atau ilham atau bisikan dalam hati untuk berjalan ke arah timur laut. Dengan keyakinan teguh atas dorongan kuat yang misterius itu akhirnya ia sampai di Muntilan, yang berjarak sekitar 20 km dari desanya. Sesampai di pinggir jalan sebelah Gereja Katolik, kebetulan saat itu Pastor van Lith SJ sedang menyeberang jalan untuk sekedar berjalan-jalan mencari angin. Melihat Sariman yang berjalan ngesot itu, spontan Pastor van Lith membopongnya ke pastoran dan minta kepada Bruder Th Kersten SJ untuk merawatnya.[3]

Siapa menyangka bahwa ternyata Sariman itu, yang kemudian dibaptis Katolik dengan nama Barnabas dan namanya diubah oleh Pastor van Lith dari Soerawirja menjadi Sarikrama, adalah tokoh atau katekis yang ada di belakang layar sampai terjadi pembaptisan 171 orang di Sendang Sono tanggal 14 Desember 1904. Sendang Sono itu tidak lain adalah Sendang Semagung yang sudah lama dikenal oleh penduduk setempat sebagai tempat keramat di mana tinggal Dewi Lantamsari dan anaknya Den Baguse Samijo. “Barnabas Sarikrama, tatkala belum dibaptis, pernah juga bertapa di situ. Niatnya waktu itu ialah mencari kesembuhan bagi sakit kakinya. Beruntunglah sakit kakinya tidak sembuh, permohonannya tidak terkabulkan. Dan justru karena itu ia bertemu Pastor van Lith dan Bruder Kersten, dan disembuhkan.”

Cerita yang dituturkan Sarikrama (tentang kesembuhannya dan tentang perkenalannya dengan agama Katolik) menimbulkan decak kagum di hati penduduk desa Kajoran dan sekitarnya dan menimbulkan pertanyaan: Seperti apa wajah dan tampilan Kyai Londo itu? (Mereka belum pernah mendengar kata Pastor atau Romo), maka mereka hanya menyebut “Romo van Lith Kyai Londo”. Kyai adalah sebutan untuk tokoh agama Islam di kampung-kampung (isterinya disebut Nyai). Diam-diam pertanyaan itu muncul di benak orang-orang desa itu untuk kemudian menimbulkan hasrat kuat untuk mengikuti jejak Sarikrama untuk menjadi Katolik.[4]

Muntilan kemudian berkembang menjadi pusat misi Katolik untuk orang-orang Jawa. Melalui sekolah di Muntilan itu lahirlah para tokoh Nasional seperti Mgr Soegijopranata, uskup pribumi pertama dan I J Kasimo yang sudah menjadi anggota dewan sejak zaman Belanda (Volksraad) dan menjadi menteri pada zaman Presiden Soekarno. Melalui para lulusan sekolah guru, Muntilan mengirimkan mereka ke seluruh pelosok Jawa untuk menyebarkan iman Katolik. Perkembangan iman Katolik di Jawa Tengah itu kemudian menghasilkan umat Katolik yang baik dan tangguh di Keuskupan Agung Semarang, yang meliputi juga wilayah Yogyakarta dan Surakarta.

Pada zaman Pastor van Lith, ada seorang keturunan raja Jogya yang menjadi Katolik yaitu Maria Soelastri. Beliau ini juga adalah pendiri Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).  R Ay Maria Soelastri, lahir tanggal 22 April 1898, adalah putra kelima (puteri ketiga) dari Pangeran Sasraningrat, Putera Mahkota Sri Paku Alam III dan adik kandung R A J Sutartinah (isteri Ki Hadjar Dewantara).

Cerita di bawah ini saya ambil dari Sejarah Berdirinya WKRI yang ditulis oleh anggota Dewan Pengurus WKRI Ranting Ungaran Jawa Tengah: Sejak kanak-kanak sampai remaja, Soelastri Soejadi (baca: Suyadi) selalu ingin tahu mengenai kebudayaan bangsa lain, kebudayaan Barat dan aktivitasnya, budi pekerti dan kecerdasannya, untuk menjawab pertanyaan yang selalu ada dalam hati dan pikiran beliau mengapa tanah air kita dikuasai bangsa Barat dan terdesak hingga tinggal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Surakarta. DIY ini ada atas dasar persetujuan “Bedah Mataram” di desa Giyanti dekat Salatiga. Dalam perjanjian ini dicantumkan bahwa penjajah tidak dapat mencampuri pemerintah DIY. Itulah sebabnya rakyat Yogyakarta yang dipimpin oleh seorang raja (Hamengku Buwono I) dan pengganti-penggantinya selalu waspada terhadap infiltrasi politik dari luar.

Ayahanda Soelastri  Soejadi, Pangeran Sasraningrat, sangat menaruh minat pada Kesusasteraan Jawa Kuno dengan pergolakan-pergolakan dan perubahan jamannya. Kegiatan beliau dalam bidang jurnalistik membawa beliau berkenalan dengan tamu-tamu dari luar daerah, juga dari Batavia. Salah satunya adalah Dr Hazeu (adviseur voor inlandse zaken/penasehat urusan pemerintahan jajahan), yang membawa serta seorang anggota Misi Gereja Katolik untuk Jawa Tengah yaitu Pastor van Lith, yang kemudian sering berkunjung ke rumah bermaksud mempelajari Sastra Jawa, adat istiadat dan kebudayaan Jawa, agar beliau tidak membuat kesalahan dalam tugasnya mendekati bangsa Jawa untuk tujuan pembinaan lahir batin (pembinaan spiritual).

Kegiatan rumah tangga dengan banyak tamu ini menyebabkan suasana rumah penuh dengan diskusi. Pengetahuan mengenai sejarah bangsa Jawa, sejarah Majapahit, Demak, Mataram, Diponegoro dan Kesusasteraan Jawa diberikan oleh B R A (Bendara Raden Ayu) Sastraningrat, ibunda Maria Soelastri Soejadi, kepada seluruh putera puteri nya. Bekal dasar warna rumah tangga seperti inilah yang membawa Soelastri Soejadi menjadi cepat matang, memacu kedewasaan berpikir, membawa kematangan jiwa dan tumbuhnya iman Katolik “Mencintai Tuhan lebih dari segalanya dan mencintai sesama manusia seperti pada dirinya sendiri”. Inilah penyempurnaan tingkah laku hidup bermasyarakat.

Tahun 1906, dengan rekomendasi Pastor van Lith dan disetujui ibunda B R A Sasraningrat masuklah Maria Soelastri ke Europeese Meisjesschool dari Ordo Suster Fransiskanes Kidul Loji Mataram, Yogyakarta.  Tahun 1914, R Ay (Raden Ayu) Maria Soelastri Sasraningrat dipersunting oleh Dokter Hewan R M (Raden Mas) Jacobus Soejadi Darmosapoetro, yang meskipun pegawai negeri dalam pemerintahan tetapi berideologi politik melawan Politik Kapitalis Kolonial. Sebagai pendamping suami, Ibu Soelastri Soejadi ber-Tut Wuri Handayani dalam berpolitik. Setelah bekerja di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Lombok, tahun 1923 Jacobus Soejadi sebagai single-fighter menjadi  anggota Volksraad (DPR Belanda) dengan tugas mewakili seluruh umat Katolik pribumi di seluruh kepulauan Hindia Belanda. Soejadi menjadi pendamping dan pendorong suami yang setia.

Panggilan Tuhan untuk memikirkan nasib kaum wanita membuat Soelastri Soejadi mencari jalan keluar guna meningkatkan martabat dan mempersatukan wanita yang beragama Katolik. Pada masa pendudukan Belanda, kedudukan para buruh di Indonesia sangat buruk. Keadaan semacam ini juga terdapat di daerah Yogyakarta, tepatnya di Pabrik Cerutu dan Pabrik Gula yang mempunyai banyak buruh wanita Katolik atau calon Katolik. Dari buruh-buruh wanita inilah usaha peningkatan derajat dan martabat wanita pada umumnya dan wanita Katolik pada khususnya dimulai.

Soelastri Soejadi menghubungi kedua pemilik pabrik yang kebetulan beragama Katolik. Beliau mengadakan pendekatan dan berusaha mencari jalan untuk meningkatkan taraf hidup buruh-buruh ini dengan meningkatkan penghasilan mereka tanpa mengadakan pemogokan, karena pada waktu itu banyak terjadi pemogokan untuk menuntut kenaikan upah. Kepada kedua pemilik pabrik diterangkan bahwa sebagai seorang Katolik mereka harus menaati ajaran Gereja dalam hal ini Ensiklik Rerum Novarum, yang menurut Soelastri Soejadi belum diterapkan di kedua pabrik itu. Akhirnya kedua pemilik pabrik itu mengikuti petunjuk beliau. Usaha perbaikan nasib buruh dilaksanakan antara lain dengan membagikan tatiem (keuntungan) dari sebagian keuntungan perusahaan kepada para buruh. Pada masa itu pembagian keuntungan perusahaan kepada buruh tidak dapat disetujui perusahaan lain. Akibatnya pabrik gula tersebut dikeluarkan dari Ikatan Pengusaha Pabrik Gula.

Selain peningkatan ekonomi dan sosial para buruh ini, ada sebab lain yang mendorong didirikannya organisasi Wanita Katolik. Pada waktu itu telah berdiri Budi Utomo, Sarekat Islam. Tetapi ada anggapan umum yang mengatakan bahwa menjadi Kristen atau Katolik itu merupakan “balane Landa” (pengikut Belanda), anggapan yang tidak dapat diterima oleh para Katolik Pribumi (istilah pada waktu itu). Bagaimanapun juga umat Katolik harus menampilkan diri sebagai Katolik Pribumi (baca: Katolik Indonesia!). Khususnya untuk wanita Katolik dan demi kepentingan perbaikan nasib para buruh wanita, harus ada organisasi yang mengurusi wanita Katolik. Dengan mengumpulkan guru-guru lulusan Mendut dan  dengan dukungan Pastor Henri van Driessche SJ, Soelastri Soejadi melemparkan gagasan untuk mendirikan Organisasi Wanita Katolik, organisasi dengan usaha ke arah pembentukan para wanita Katolik yang mengetahui dan menyadari kedudukannya di tengah kehidupan masyarakat : sebagai anggota masyarakat dan anggota Gereja. Gagasan disetujui, maka berdirilah Organisasi Wanita Katolik tanggal 26 Juni 1924.

Dalam perjalanan Organisasi Wanita Katolik ini, Soelastri Soejadi selalu menandaskan bahwa Organisasi Wanita Katolik ini bukanlah hasil impor dari negeri Belanda dan bukan usaha wanita Katolik negeri Belanda. Wanita Katolik Indonesia benar-benar lahir sebagai akibat desakan dan tuntutan masyarakat Indonesia sendiri. Adapun surat menyurat antara Soelastri Soejadi dengan wanita Katolik Belanda hanya bersifat personal atau pribadi dan bukan merupakan faktor penentu dalam lahirnya Wanita Katolik Indonesia. Tentang surat menyurat ini Soelastri Soejadi mengatakan pernah menerima surat tawaran bantuan wanita Katolik Belanda untuk wanita Katolik Pribumi (inlander). Jawaban Soelastri Soejadi benar-benar mengejutkan dan menggemparkan pihak wanita katolik Belanda. Surat jawaban itu diberi judul “Zonder tropen geen Nederland” (Tanpa daerah tropis, tidak ada Negeri Belanda), yang menguraikan dengan disertai angka-angka statistik hal-hal yang menyangkut kekayaan Indonesia yang telah diangkut ke negeri Belanda, dan sebagai akibatnya rakyat Indonesia menderita kemiskinan. Dalam surat jawaban itu juga ditandaskan bahwa sebenarnya rakyat Indonesialah yang telah memberi bantuan kepada rakyat Belanda. Jadi seharusnya wanita Katolik Belanda merasa malu karena terlambat menawarkan jasa”[5].

Kalau diperhatikan sampai hari ini, struktur umat Katolik di Jawa itu memang bermula dari keberhasilan Pastor van Lith dalam Misi Muntilan itu. Dari Muntilan tersebarlah iman Katolik melalui para lulusan sekolah  guru Muntilan-Mendut ke pelbagai tempat mereka pergi. Penyebaran itu bukan hanya dalam arti geofrafis, melainkan juga strata sosial dan politis. Secara geografis, ke mana saja orang-orang Katolik suku Jawa itu pergi, mereka membawa iman Katolik. Secara sosial dan politis, tingkat pendidikan yang tinggi memungkinkan anggota umat Katolik suku Jawa masuk juga dalam bidang pemerintahan sudah sejak zaman Belanda (seperti dalam kasus di atas, Jacobus Soejadi) sampai zaman perjuangan kemerdekaan. Kita mengenal nama-nama Agustinus Adisoecipto, Ignatius Slamet Riyadi, Josaphat Soedarso dan Mgr Albertus Soegijopranata. Mereka adalah pahlawan nasional.

Kalau kita mengarahkan perhatian pada intern Gereja Katolik, maka kebanyakan uskup yang berasal dari suku Jawa, pasti berasal dari daerah Yogyakarta atau Keuskupan Agung Semarang yang adalah hasil misi dari Pastor van Lith. Semua Uskup Agung Jakarta berasal dari Jawa Tengah (Mgr Djajasepoetra SJ, Mgr Leo Soekoto SJ, Julius Kardinal Darmaatmaja SJ, dan Mgr Ignatius Soeharjo Pr). Belum ada putera daerah Jakarta atau Betawi yang menjadi uskup. Imam dari suku Betawi juga mungkin belum ada. Umat Katolik dari suku Betawi dan juga suku Sunda juga mungkin sangat sedikit. Uskup Bandung dan Bogor juga, setelah periode uskup Belanda selesai, digantikan oleh suka Jawa atau Flores, karena putera daerah Bandung dan Bogor juga sangat sedikit yang menjadi Katolik.Yang situasinya berbeda mungkin adalah daerah Keuskupan Malang yang sejak pemekaran prefekturat tahun 1927 diserahkan kepada Ordo Carmel dan Keuskupan Surabaya yang sejak tahun 1928 diserahkan kepada Imam Lazaris (CM).

Dengan mencermati “struktur umat Katolik suku Jawa” di Pulau Jawa itu, maka nampaklah benang merah dari sejarah bahwa keberhasilan misi Pastor van Lith dalam budaya Jawa itulah yang menjadi dasar dan motor penggerak Gereja Katolik di Pulau Jawa untuk seterusnya. Iman Katolik yang telah ditaburkan di daerah Muntilan-Mendut dan berkembang dalam Keuskupan Agung Semarang itu telah menghasilkan panggilan untuk menjadi imam, bruder, suster, uskup, dan kardinal, yang kemudian menjadi pimpinan Gereja Katolik di seluruh Indonesia. Beberapa uskup suku Jawa juga menjadi uskup di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Rupanya metode pewartaan iman Pastor van Lith yang mulai dengan mengenal budaya dan orang-orang Jawa terlebih dahulu, sebelum membaptisnya telah memberikan keberhasilan lebih besar daripada rekannya Pastor Hoevenaars yang memakai metode membaptis sebanyak mungkin tanpa pengenalan budaya dan pengajaran iman yang mendalam. Tahun 1904 Pastor Engbers (pimpinan Yesuit) memindahkan Pastor Hoevenaars dari Mendut ke Bandung. Karya Mendut dan Muntilah diserahkan kepada Pastor van Lith.(Sujoko)

  • Tulisan ini merupakan tulisan ke-17 dari rangkaian tulisan Pastor Albertus Sujoko MSC berjudul “Jejak Allah dalam Sejarah”

 

 

[1] Mgr. Vrancken, “Rapport sur la Mission de Batavia” , Haarlemsche Bijdragen, 53/I. 1935.

[2] Hasto Rosariyanto, Father Franciscus van Lith SJ, hlm 216 – 217.

[3] St. S. Tartono, Barnabas Sarikrama, Orang Pertama Indonesia Penerima Bitang Kepausan, Musium Misi Muntilan, 2005, hlm. 21.

[4] Op.cit hlm 26.

[5] Wanita Katolik RI, Dewan Pengurus Ranting Ungaran, Jawa Tengahhttps://wkriungaran.wordpress.com/2008/12/15/wanita-katolik-republik-indonesia-sekilas-sejarah/ diunduh tgl. 1 Maret 2018 oleh Sujoko msc

 

 

 

Pasar

Min, 04/03/2018 - 01:42

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Prapaskah

4 Maret 2018

Yohanes 2: 13-23

“Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan. (Yoh 2:16).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kehadiran pedagang hewan dan penukar uang di Bait Allah Yerusalem berasal dari kebutuhan praktis. Ketika orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru Palestina datang ke Yerusalem, terutama pada hari-hari penting seperti Paskah, mereka akan memenuhi kewajiban religius mereka untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Karena tidak praktis membawa hewan kurban seperti lembu, anak domba, atau burung tekukur dari daerah asal mereka, orang-orang Yahudi lebih memilih solusi mudah dengan membelinya di sekitar Bait Allah. Ini tidak hanya menghemat usaha, tapi juga memberi jaminan bahwa binatang-binatang itu tidak bercacat seperti yang telah ditentukan oleh Hukum Musa. Oleh karena itu, banyak penjual yang memiliki otorisasi dari para tetua Bait Allah bahwa hewan mereka tidak bercacat dan siap dikorbankan. Orang-orang Yahudi juga diminta untuk mendukung pemeliharaan Bait Allah dan para imam melalui “pajak Bait Allah.” Namun, mereka tidak diperbolehkan untuk membayar pajak Bait Allah dengan uang Romawi karena uang ini memiliki citra Kaisar sebagai dewa, sebuah penghujatan. Dengan demikian, mereka perlu menukar uang mereka dengan mata uang yang lebih dapat diterima. Ini adalah semacam “win-win solution” bagi para peziarah, para pedagang, penukar uang dan otoritas Bait Allah. Kita bisa membayangkan bahwa dengan begitu banyak orang yang mengunjungi Bait Allah, pergerakan uang, komoditas dan usaha sangat cepat dan dalam volume besar.

Ketika Yesus datang dan mengusir mereka semua keluar dari Bait Allah, pastinya Yesus membuat tidak senang hampir semua orang. Yesus mengatakan alasan di balik tindakannya, “orang-orang Yahudi telah menjadikan rumah Bapa-Nya sebagai pasar.” Fungsi inti dari Bait Allah Yerusalem adalah sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan umat pilihannya, antara Allah Bapa dan anak-anak-Nya. Namun dengan begitu banyak aktivitas, perdagangan, dan kebisingan, esensi Bait Allah ini hilang. Bait Allah berarti bisnis manusia biasa. Para imam mengesahkan hewan korban untuk para pedagang, para pedagang menjualnya kepada peziarah, dan para peziarah memberi hewan itu kepada para imam untuk disembelih. Semua senang!

Yesus datang dan mematahkan lingkaran setan “normalitas” yang membuat kegiatan ibadat di Bait Allah dangkal. Yesus mengkritik struktur yang mengeksploitasi Bait Allah hanya untuk mendapatkan keuntungan dan pendangkalan sebuah peribadahan kudus. Ini semua membuat rumah Allah menjadi pasar.

Di masa Prapaskah ini, kita bisa bertanya, jikalau Yesus datang ke Gereja, keuskupan, paroki, kongregasi, kelompok, dan bahkan keluarga kita, apa yang akan Yesus lakukan? Akankah Dia mengusir kita keluar seperti Dia mengusir para pedagang dari Bait Allah? Atau, apakah Dia akan membuat rumah-Nya di antara kita? Benar bahwa uang dan sumber daya lain adalah penting dalam membantu pertumbuhan Gereja kita, tetapi apakah kita menjadikan Gereja sebagai lembaga yang ‘profitabel’? Benar bahwa struktur kepemimpinan sangat penting dalam Gereja dan kelompok kita yang lebih kecil, tetapi apakah kita diberdayakan untuk melayani orang lain, atau sekedar mengeksploitasi orang lain? Apakah kita menemukan kedamaian dan sukacita dalam komunitas kita, atau apakah ini penuh dengan intrik, gosip, kompetisi yang tidak sehat? Apakah kita menjumpai Tuhan di Gereja kita, atau hanya menemukan diri kita sendiri? Kita bersyukur jika kita menemukan Tuhan, Bapa kita, di dalam Gereja dan komunitas kita, tetapi jika tidak, sebaiknya kita memanggil Yesus untuk mengusir kita dari rumah Bapa-Nya.

 

 

Halaman