Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 13 mnt yang lalu

Pemerintah buka Jamnas Sekami: Ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Rab, 04/07/2018 - 03:10
Jamnas Sekami 2018 dimulai dengan pengguntingan pita balon oleh wakil pemerintah/PEN@ Katolik/pcp

“Membangun rasa toleransi dengan pihak-pihak atau umat lainnya adalah sejalan dengan tujuan semua ajaran agama yang mengajarkan perdamaian dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ajaran ini semakin penting ketika kita memasuki era globalisasi, saat hubungan antarmanusia semakin terbuka tanpa batas dan cenderung bebas.”

Kadis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Suprianus Herman berbicara mewakili Pejabat Gubernur Kalbar Doddy Riyadmadji dalam peresmian Jambore Nasional (Jamnas) Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (Sekami) di Lapangan SMA Santo Paulus Pontianak, 3 Juli 2018.

Suprianus membuka Jamnas Sekami 2018, yang akan berlangsung sampai 6 Juli itu, dengan mengatakan “Demi Nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus, dengan ini Jambore Sekami 2018 dimulai” kemudian dia menggunting pita balon. Balon-balon kemudian terbang ke udara.

Selain dihadiri oleh wakil pihak keamanan dan Dirjen Bimas Katolik, pengguntingan pita di depan peserta jambore itu ditemani juga oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Kuching Malaysia Mgr Simon Poh, Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi, Uskup Agung Pontianak Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, dan Uskup Weetebula Mgr Edmund Woga CSsR.

Menurut Suprianus, peran Gereja dan orangtua dituntut untuk “memberikan pendidikan kondusif kepada anak-anak tentang keagamaan, agar iman mereka bertumbuh sesuai ajaran Katolik yang baik dan benar.” Oleh karena itu dia berharap agar jambore itu “menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, bermartabat dan religius yang mengutamakan keamanan dengan menjaga stabilitas dan kerukunan.”

Atas nama pemerintah, Suprianus mengucapkan selamat atas pelaksanaan “acara yang sangat besar itu,” dan berharap  “semoga perayaan HUT ke-175 Sekami dan Jamnas Sekami 2018 berjalan baik dan lancar dan memberikan masukan positif bagi Gereja dan pemerintah dalam rangka pembangunan daerah untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera dan untuk pertumbuhan anak-anak yang belia dalam keimanan Katolik.”

Dalam rangka HUT ke-175 berdirinya Sekami, yang berdiri tahun 1843, ditampilkan tarian massal dengan penari sebanyak 175, yang antara lain memperlihatkan budaya Dayak, Melayu dan Tionghoa. Selain animasi misioner, penampilan lain dalam acara yang dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu adalah display Drumband SMA Santo Paulus dan Pertunjukan Barongsai.

Direktur Diosesan Sekami KAP Pastor Gregorius Sabinus CP menegaskan dalam sambutannya bahwa tema Jamnas Sekami 2018, “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan” sangat sesuai dengan situasi negara dan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa agama dan budaya.

Total peserta dari 35 keuskupan se-Indonesia ditambah dari Keuskupan Agung Kuching, Malaysia, dan utusan dari tiga keuskupan di Timor Leste, menurut imam itu, berjumlah sekitar 1500 orang termasuk panitia. “Peserta menempati ruang-ruang kelas di kompleks persekolahan Bruder MTB yaitu SD Bruder Melati, SMA Santo Paulus dan Kompleks Persekolahan SD dan SMP Suster SFIC. Mereka dibagi dalam tiga kampung yaitu Kampung Galilea, Kampung Nazareth dan Kampung Betlehem. Masing-masing kampung dihuni oleh kurang lebih 500 orang,” jelas Dirdios Sekami KP itu.(paul c pati)

PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik PEN@ Katolik PEN@ Katolik PEN@ Katolik PEN@ Katolik

Apa itu pertobatan batin?

Rab, 04/07/2018 - 00:29

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

300. Apa itu pertobatan batin?

Pertobatan batin ialah suatu dinamika ”hati yang patah dan remuk (Mzm 51:19) yang digerakkan oleh rahmat ilahi untuk menjawab cinta yang penuh kerahiman dari Allah. Pertobatan ini mengandung penyesalan akan dosa-dosa yang telah dilakukan, niat yang kuat untuk tidak berdosa lagi di masa datang, dan percaya akan pertolongan Allah. Orang yang bertobat ini berharap penuh kepada kerahiman ilahi.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1430-1433, 1490

301. Apa bentuk-bentuk silih dalam kehidupan Kristen?

Perbuatan silih dapat diungkapkan dalam macam-macam bentuk, tetapi terutama dalam puasa, doa, dan memberi derma. Bentuk-bentuk itu dan banyak bentuk yang lainnya dapat dipraktekkan dalam kehidupan seorang Kristen, secara khusus selama masa Puasa dan pada hari Jumat, hari silih.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1434-39

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Sel, 03/07/2018 - 14:58
Remaja Sekami dari Keuskupan Timika menyalami teman-teman dari Keuskupan Agung Pontianak/PEN@ Katolik/pcp

Anggota Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) dari 35 keuskupan beserta pendamping dan pembina mereka berkumpul di Pontianak untuk mengikuti Jambore Nasional Sekami, 3-6 Juli 2018. Ketika memasuki tempat pertemuan mereka meneriakkan ye-yel dan masing-masing menerima gelang yang terbuat dari anyaman kulit kayu khas Kapus dalam gelang kain bertuliskan Jamnas Sekami.

Dengan senyum sukacita mereka memasuki kompleks pertemuan di SMA Paulus Pontianak sambil menyalami anak-anak Sekami dari Keuskupan Agung Pontianak. “Anak-anak kami memang datang membawa sukacita dan membagikannya dengan semua peserta dari Nusantara,” kata Pendamping Rohani Sekami Keuskupan Ketapang Suster Florentina PIJ kepada PEN@ Katolik.

Oleh karena itu, suster berharap, peserta dari Keuskupan Ketapang bersemangat dalam jambore itu, “serta bertumbuh dalam iman, harap dan kasih kepada Yesus demi masa depan Gereja, agar nanti pulang mereka menjadi misionaris kecil dan duta-duta kasih bagi sesamanya.”

Pastor Yooce Pati dari Keuskupan Pangkalpinang yang datang dengan kekuatan 30 orang yang terdiri peserta, pembina dan pendamping juga berharap agar jambore itu membuat pesertanya “setelah kembali dari sini mempunyai semangat menjadi misionaris cilik untuk terus menerus mewartakan suka cita Injil  kepada siapa pun.”

Imam itu mengatakan kepada media ini bahwa mereka datang membawa semangat untuk bermisi dan “secara istimewa kami juga mempunyai misi untuk menyampaikan kebudayaan kami dalam sebuah tarian daerah, dan berharap membawa pulang pengalaman kebersamaan dalam keberagaman yang dialami di sini dan menjalaninya di keuskupan kami.”

Keuskupan Timika juga datang dengan kekuatan yang sama, 30 orang. Anselma Doo, pembina Sekami Keuskupan Timika, berharap “anak-anak yang datang bisa belajar dari anak-anak lain dari keuskupan lain dan mendapat banyak teman, banyak pengetahuan serta keceriaan.”

Pengetahuan itu yang ingin mereka bawa pulang ke Timika, “untuk dibagikan kepada-anak-anak lain di sana,” kata Anselma kepada PEN@ Katolik seraya mengaku bahwa tim Keuskupan Timika akan membagikan sukacita anak-anak misioner kepada seluruh peserta jambore itu.

Jambore Nasional Sekami di Pontianak, yang bertema “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan,” sesuai data yang diterima dari sekretariat jambore itu, akan dihadiri oleh 1315 peserta termasuk direktur keuskupan (dirdios) masing-masing serta biarawabiarawati yang menjadi pembina dan para animators dan animatris.

Para peserta akan tinggal dan beraktivitas dalam tiga kampung, yakni Kampung Galilea di SMA Santo Paulus, Kampung Nazareth di Persekolahan SD Susteran dan Kampung Betlehem di TK dan SD Bruder.

Keuskupan yang berhalangan atau tidak ikut jambore nasional itu adalah keuskupan adalah Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Maumere. Namun, jambore itu juga diikuti oleh dirdios dan animator-animatris dari Keuskupan Agung Kuching dan oleh Direktur Nasional serta dirdios-dirdios dari tiga keuskupan di Timor Leste.

Menurut Panitia, Jambore National Pontianak itu bertujuan untuk merayakan HUT ke-175 dari Sekami, meningkatkan wawasan remaja dan pendamping bahwa hakikat Gereja ialah persekutuan paguyuban murid-murid yang diutus untuk mewartakan sukacita Injil, meningkatkan rasa bangga dan bahagia pada diri remaja dan pendamping yang hidup dalam kebinekaan, dan mengobarkan semangat misioner pada diri remaja dan pendamping sehingga berani menjalani hidup dengan berbagi 2D2K (doa, derma, kurban, kesaksian) dalam kebinekaan.(paul c pati)

Wakil dari Keuskupan Timika menerima gelang tanda peserta/PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp Anselma Doo dari Timika/PEN@ Katolik/pcp

Bilamana Kristus menetapkan Sakramen (Rekonsiliasi) ini?

Sel, 03/07/2018 - 01:53
Paus Fransiskus dan para imam memberikan Sakramen Rekonsiliasi kepada OMK

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

298. Bilamana Kristus menetapkan Sakramen (Rekonsiliasi) ini?

Tuhan yang sudah bangkit menetapkan Sakramen ini pada malam Paskah ketika Dia menampakkan Diri kepada para Rasul dan berkata kepada mereka: ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23).

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1485

299. Apakah orang yang dibaptis itu membutuhkan pertobatan?

Panggilan Kristus untuk pertobatan terus berlangsung selama hidup orang yang dibaptis. Pertobatan merupakan kewajiban terus-menerus bagi seluruh Gereja. Gereja itu kudus, tetapi di dalamnya juga termasuk orang-orang berdosa.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1427-1429

Iman Sang Perempuan

Sab, 30/06/2018 - 20:48

(Renungan Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa, 1 Juli 2018, Markus 5: 21-43)

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-murid-Nya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Paus Fransiskus dan 14 kardinal yang baru diciptakan kunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI

Sab, 30/06/2018 - 17:14
Paus Fransiskus menemui Paus Benediktus XVI bersama para kardinal baru/Vatican Media

Setelah mengangkat 14 kardinal baru dalam konsistori umum biasa pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, 28 Juni 2018, Paus Fransiskus mengajak mereka  mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI. Para kardinal baru itu adalah Louis Raphaël I Sako (69, Patriark Katolik Babilonia), Luis Fransisco Ladaria Ferrer (74, Prefek Kongregasi Ajaran Iman), Angelo De Donatis (64, Vikaris Jenderal Roma), Giovanni Angelo Becciu (70, Wakil Sekretaris Negara dan Delegasi Khusus Ordo Militer Berdaulat Malta), Konrad Krajewski (54, Kepala Lembaga Amal Kasih Kepausan),  Joseph Coutts (72, Uskup Agung Karachi), António Augusto dos Santos Marto (71, Uskup Leiria-Fátima, Portugal), Pedro Ricardo Barreto Jimeno (74, Uskup Agung Huancayo, Peru), Desiré Tsarahazana (64, Uskup Agung Toamasina, Madagaskar),  Giuseppe Petrocchi (69, Uskup Agung L’Aquila, Italia), Thomas Aquinas Manyo Maeda (69, Uskup Agung Osaka, Jepang), Sergio Obeso Rivera (86, Uskup Agung Emeritus Xalapa, Mexico), Toribio Ticona Porco (81, Uskup Emeritus Corocoro), dan Aquilino Bocos Merino CMF (80, imam asal Spanyol yang bertugas sebagai Superior Jenderal Emeritus Misionaris Putra-Putra Hati Maria Tak Bercela). Kini jumlah kardinal menjadi 227 orang, 125 di antaranya tidak ada hak memilih. Kardinal Konrad Krajewski menjadi kardinal kedua termuda dengan usia 54, sedangkan yang termuda tetap Kardinal Dieudonne Nzapalainga, Uskup Agung Bangui, Republik Afrika Tengah, dengan usia 51 tahun.(pcp)

Paus Fransiskus menemui Paus Benediktus XVI bersama para kardinal baru/Vatican Media

Mencerna Hakikat Malaikat

Sab, 30/06/2018 - 16:22

Oleh Johannes Robini Marianto OP

Bagaimana hakikat malaikat? Santo Agustinus sejak awal sudah mengingatkan kita bahwa “malaikat” itu bukan nama (apanya mereka atau hakikat mereka), melainkan kata kerja (artinya: diutus menjalankan misi). Kalau ditanya apa hakikat mereka, jawablah bahwa mereka adalah roh murni. Apa maksudnya?

Pertama, hal yang paling gampang untuk mengerti, malaikat adalah roh murni, tidak berbadan (bahkan tidak membutuhkan badan). Sudah dikatakan, karena diciptakan untuk semakin mencerminkan diri Allah yang Roh Murni, maka mereka tidaklah berbadan. Karena statusnya yang tidak berbadan, mereka tidak hidup seperti kita. Mereka tidak perlu makan dan minum. Mereka tidak melahirkan (maka tidak ada keturunan malaikat). Mereka juga tidak mengawinkan dan dikawinkan seperti kata Tuhan Yesus (Mrk 12:25). Bahkan nanti kita akan melihat bahwa cara mereka mengetahui dan menghendaki (kehendak) sangat berbeda dengan kita. Pertanyaan yang mungkin perlu dijawab adalah: bagaimana sebagai roh murni, malaikat tetap tidak sama dengan Tuhan?

Santo Thomas dalam hal ini mengembangkan pemikiran mendalam dengan membedakan dalam tataran metafisis (kenyataan keberadaan sesuatu) perbedaan antara esensi (apanya sesuatu atau hakikat sesuatu) dan keberadaan sesuatu. Kita bisa memikirkan sebuah konstruksi tentang sesuatu di pikiran kita. Namun, belum tentu sesuatu itu real. Saya bisa memikirkan adanya gajah yang terbang dengan segala deskripsi hakikat gajah terbang dan bagaimana dia hidup. Namun kenyataannya gajah yang bisa terbang tidak pernah ada. Tetapi sesuatu itu sungguh ada atau berada (nyata) apabila memang terbukti di kenyataan memang dia ada (berada).

Untuk membuat sesuatu itu ada, meski hakikatnya bisa dipikirkan, dibutuhkan sebuah tindakan, yaitu tindakan mengadakan sesuatu itu ada. Tindakan ini yang menyebabkan sesuatu itu ada. Di dalam hal ini kita sebut penciptaan. Penciptaan adalah pemberian keberadaan kepada sebuah hakikat. Apa artinya perbedaan hakikat dan keberadaan di dalam hubungannya dengan malaikat?

Di sinilah kita masuk dalam sebuah pemikiran yang mendalam dari Thomas Aquinas tentang keberadaan sebuah realitas. Bagi Thomas Aquinas, yang tersempurna di dalam pemikiran dan imajinasi kita, bukanlah yang utama. Yang terpenting adalah keberadaan sesuatu. Berada (nyata) sendiri adalah sebuah kesempurnaan! Itulah sebabnya dikatakan apa pun yang ada di dunia ini adalah kesempurnaan di dalam dirinya sendiri (lepas dari kekurangannya sebagai kodrat tercipta; hal mana adalah bagian sebagai ciptaan dibandingkan dengan Pencipta yang Mahasempurna) dan layak diterima dengan penuh syukur.

Bedanya antara kita dan Tuhan adalah bahwa Tuhan itu sejak awal adalah ada dan tidak pernah tidak ada. Maka keberadaan Tuhan (nyata) adalah hakikat-Nya sendiri. Tuhan selalu berada dan yang selalu berada dan ada adalah Tuhan! Maka hanya pada Tuhan ada identifikasi (kesamaan) antara hakikat dan keberadaan. Apa yang sempurna yang bisa dipikirkan di pikiran manusia, ada pada Tuhan dan bukan imajinasi belaka!

Malaikat yang merupakan makhluk roh murni, levelnya tidak mungkin sama dengan Allah karena malaikat itu, bagaimana pun mulianya dan menyerupai dan dekat dengan Allah yang roh murni, adalah sebuah tindakan Allah, yaitu penciptaan. Hakikat mereka yang ada sebagai roh murni tidak pernah akan ada kalau tidak diadakan (diciptakan). Santo Thomas, sebagaimana dikutip oleh Bonino, mengatakan bahwa semua yang bersifat roh murni tetaplah terbatas apabila keberadaannya (sebagai tercipta) membatasinya karena keberadaannya sebagai roh murni yang diciptakan selalu ada karena berpartisipasi (dicurahkan dan mengambil bagian) dari Keberadaan yang lebih luas (yaitu Tuhan sebagai Pencipta). Memang dibandingkan dengan semua ciptaan yang bertubuh (korporealitas) malaikat itu lebih sempurna. Malaikat sempurna dibandingkan ciptaan lain (termasuk manusia) karena di dalam malaikat tidak ada unsur material (tubuh) yang menyebabkan sesuatu itu kurang sempurna dan terbatas.

Kedua, mungkin yang lebih menarik adalah akibat kenyataan bahwa malaikat adalah roh murni. Karena malaikat bersifat roh murni, maka malaikat itu unik dan tidak sama satu dengan yang lain. Kalau manusia, yang membuat unik adalah kepribadiannya (psikologi) dan penampakannya (materialitas: bentuk tubuh, bentuk muka dll), tetapi sebagai spesies manusia dia itu sama. Kebertubuhan (materialitas) manusialah yang  membuat manusia satu dengan yang lainnya berbeda. Di dalam bahasa Thomas Aquinas, meminjam Aristoteles, materialitas (materi) yang ada pada manusialah yang membuat manusia beda; namun formanya (hakikatnya sebagai manusia yang membedakan dia dari makhluk lainnya) adalah sama.

Duplikasi terjadi bukan pada hakikat melainkan pada aspek materialitas (penampakan hakikat kemanusiaan). Dan karena kesempurnaan itu pada hakikat (bukan penampakannya), maka apabila sebuah ciptaan tidak mempunyai unsur material (tidak berbadan), maka perbedaannya mesti bukanlah dicari pada penampakan hakikat (badaniah) melainkan di dalam hakikat itu sendiri. Maka Gabriel dan Mikael itu berbeda bukan karena sifat (aspek psikologis) dan penampakan muka dan tubuh mereka berbeda (mereka tidak bertubuh!), melainkan karena zat atau hakikat Gabriel dan Mikael dari awalnya berbeda.

Maka perbedaan pada malaikat satu dengan yang lain adalah sebanyak (jumlah) keberadaan mereka yang diciptakan Tuhan. Masing-masing mewakili satu zat atau hakikat. Itulah yang membuat keunikan pada malaikat berbeda dengan manusia. Pada manusia perbedaannya bukan di hakikat melainkan pada perwujudan hakikat di dalam kebertubuhan dan konsekuensinya, sedangkan pada malaikat pada level hakikatnya sendiri (karena mereka tidak memiliki tubuh). Malaikat yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama sejak mereka diciptakan dan itu berakar di dalam keberadaan dan hakikat mereka sendiri yang diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan (dengan tugas dan fungsinya masing-masing tentunya).

Hal kedua dari konsekuensi immaterialitas pada malaikat adalah bahwa mereka tidak dapat mati. Mati dan hancur adalah akibat bertubuh. Apabila tidak ada tubuh, hanya roh murni, maka tidak akan mati. Tidak mati tidak sama dengan kekekalan. Kekekalan itu tiada awal dan akhir dan selalu ada dan berada: dari dulu, sekarang dan selamanya berada. Kekekalan hanya pada Tuhan. Namun tidak dapat mati (hancur) hanya ada pada malaikat sebagai ciptaan roh murni.

Setelah kita melihat keberadaan malaikat dan hakikat mereka, kita akan menelusuri lebih dalam lagi mengenai kehidupan malaikat. Yang kami maksudkan di sini adalah beberapa pertanyaan berikut: (a) bagaimana status kemampuan malaikat dibandingkan dengan manusia; terutama di dalam hal mengetahui, menghendaki, (b) apakah mereka bisa memengaruhi hidup manusia? (c) relasi mereka sebagai ciptaan roh murni dengan Allah, terutama di dalam misteri sejarah keselamatan (tata rahmat), dan (d) apa yang terjadi pada mereka setelah itu: apakah mereka selamanya bersama Allah atau mereka memberontak melawan Allah di dalam suatu saat setelah diciptakan. Dari kesemuanya yang kita bahas pada kehidupan malaikat. Dalam pembahan itu,diharapkan kita akan mengetahui asal muasal misteri kejahatan.

(Bersambung…)

 

Halaman