Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 2 hours 27 mnt yang lalu

Paus mendesak kaum religius untuk mengejar doa, kemiskinan, kesabaran

Sab, 05/05/2018 - 03:27

Berbicara spontan dengan peserta sebuah konvensi, yang diselenggarakan oleh Kongregasi untuk Hidup Bakti, pada hari Jumat 4 April 2018, Paus Fransiskus mendesak kaum religius pria dan wanita untuk menumbuhkan komitmen radikal kepada Tuhan dan memahami bimbingan Roh Kudus.

Paus Fransiskus menerima para peserta itu dalam audiensi di Aula Paulus VI pada pukul 10.30 pagi. Konvensi internasional itu dilakukan di Universitas Kepausan Antonianum dari tanggal 3 hingga 6 Mei 2018.

Seraya mengatakan bahwa roh adalah “pengarang keanekaragaman” dan “pencipta persatuan” dalam Tubuh Kristus, Paus Fransiskus berbicara tentang apa yang dia sebut tiga P (bahasa Inggris) dalam kehidupan religius yakni prayer (doa), poverty (kemiskinan) dan patience (kesabaran).

Doa, kata Paus, berarti selalu kembali kepada Dia, yang pertama-tama memanggil kita untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti Dia. Komitmen radikal ini, kata Paus, “berarti meninggalkan keluarga, karier, dan segala sesuatu yang kita sayangi.” Paus menunjuk Bunda Teresa sebagai contoh dari wanita hidup bakti yang selalu menghabiskan waktu bersama Tuhan dalam doa, meskipun banyak masalah dan tantangan yang dia hadapi.

Paus Fransiskus juga berbicara tentang kemiskinan, yang tanpa itu tidak ada hasil dalam hidup religius. “Iblis memasuki hidup kita melalui kantong-kantong kita, dan semangat kemiskinan menjaga kita dari keduniawian yang mengarah pada kesombongan dan kebanggaan,” kata Paus.

Akhirnya, Paus berbicara tentang pentingnya kesabaran guna menghadapi penderitaan dan kesulitan dunia, termasuk kurangnya panggilan untuk kehidupan religius. “Tanpa kesabaran, kita menjadi lelah dan menutup hati terhadap rahmat Tuhan dalam semacam euthanasia spiritual,” kata Paus seraya mengingatkan cara Tuhan mendesak Abraham dan istrinya Sarah untuk bersabar, bahkan di usia tua mereka. Dengan cara yang sama, kata Paus, “melalui kesabaran, kemiskinan dan doa, Tuhan akan membawa buah dalam kehidupan pribadi dan masyarakat kita.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Vox Point Indonesia akan lakukan pendidikan politik dan kaderisasi sebagai program unggulan

Jum, 04/05/2018 - 23:18

Kami, Vox Populi Institute (Vox Point) Indonesia mengupayakan rekrutmen politik dan pencalonan politisi Katolik yang berintegritas, berkualitas, dan teguh pada Pancasila, sebagai kader-kader bangsa yang negarawan. Kami bekerja sama dengan partai-partai politik dan mengusulkan agar melakukan rekrutmen terbuka, jujur, adil dan mendengarkan suara publik (vox populi).

Sedangkan untuk menghasilkan politisi Katolik yang berkualitas, kami akan melakukan pendidikan politik dan kaderisasi berkelanjutan sebagai program unggulan Vox Point Indonesia. Kami akan menerapkan kaderisasi berjenjang dan kader pemula, madya dan utama secara selektif.

Itulah dua dari 16 pernyataan dan rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat koordinasi nasional (rakornas) pertama Vox Point Indonesia dengan tema “Membumikan Pancasila Menjaga Kebhinekaan” yang berlangsung di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur, 29 April hingga 1 Mei 2018. Pernyataan sikap dan rekomendasi yang juga diterima oleh PEN@ Katolik itu ditandatangani oleh ketua dan sekretaris perkumpulan itu, Yohanes Handojo Budhisedjati dan Lidya Natalia Sartono di hari terakhir.

Homili dan arahan Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo dalam Misa yang membuka rakornas itu, mereka sepakat, telah menyemangati mereka. Selain itu, seminar dan sidang-sidang komisi memberikan mereka kesempatan berdiskusi dan bersaksi tentang pemberdayaan dan kapasitas kelembagaan lembaga itu, serta “bertekad melaksanakan  pendidikan politik dan kaderisasi bagi tokoh dan kaum muda Katolik.”

Untuk meneguhkan rekrutmen politik Katolik baik dalam menyambut Tahun Eletoral 2019 maupun selanjutnya, mereka sepakat akan merumuskan arah dan metodologi pendidikan politik dan kaderisasi dengan mempertimbangkan prinsip pendidikan orang dewasa, sesuai kondisi masyarakat, “serta merancang model ‘sekolah’ politik yang menyatu dengan rakyat, sebagai pendidikan politik dan kaderisasi terpadu-berkelanjutan.”

Mereka pun mengenang semboyan Pahlawan Nasional Mgr Albertus Soegijapranata SJ yang menyatakan setiap warga Katolik harus “Seratus Persen katolik dan Seratus Persen Indonesia”, maka dalam pernyataan  dan rekomendasi itu mereka menulis, “kami mendalami enam jalan pembentukan kepribadian pemimpin negarawan yakni berkarakter, mengenal potensi diri, pemberani, penguatan panggilan sebagai Garam dan Terang Dunia, hidup asketik (sederhana, jujur dan rela berkorban) serta siap memanggul Salib.”

Menghadapi Pilkada serentak 2018 dan Pileg 2019, Vox Point Indonesia menyatakan “dengan tegas menolak kampanye yang menggunakan isu-isu SARA, kampanye hitam, ujaran kebencian, kebohongan (hoax), serta intimidasi dan mobilisasi yang menimbulkan ketakutan, tekanan atas kebebasan pemilih, serta menolak dengan berbagai upaya yang mau melemahkan bahkan mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi lain.”

Selain berjanji akan aktif melakukan dialog dengan berbagai kelompok dan elemen yang ada di masyarakat guna menolak kampanye hitam dan pelemahan Pancasila, mereka juga sepakat membudayakan perilaku politik bermartabat, adil, cinta damai, jujur, transparan, mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa di bawah Pancasila.

Mereka menyerukan agar semua warga negara menggunakan hak pilih dan tidak golput … agar Komisi Pemilihan Umum di semua tingkatan proaktif mendatangi dan mendaftar calon pemilih tanpa diskriminasi, politisasi dan manipulasi, … dan agar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memantau dan mengawasi pilkada secara ketat dan menghadapkan setiap pelanggaran pilkada atau pemilu ke ranah hukum untuk ditindak tegas.

Selain itu, Vox Point Indonesia meminta pemerintah, pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, TNI khususnya Badan Intelijen Negara (BIN) dan institusi lain untuk menangkal dan menindak tegas gerakan yang mengaburkan Ideologi Negara Pancasila, kejahatan sibernetika, perilaku korupsi dan narkoba.

Hal-hal lain yang ditetapkan dalam rakornas itu lebih menyangkut kepentingan rumah tangga organisasi itu, misalnya tentang keuangan dan ketenagaan serta kartu tanda anggota, dan AD serta ART, juga kesepakatan untuk menetapkan status Vox Poin Indonesia tetap berbentuk ‘perkumpulan,’ mendedikasikan seluruh hidup dan perjuangan kami untuk mewujudkan politik bermartabat dalam terang iman Katolik dan didasari nilai-nilai Pancasila UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. (paul c pati)

foto-foto diambil dari Facebook Lidya Natalia Sartono

Apa arti ”kebangkitan badan”?

Jum, 04/05/2018 - 22:27

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

202. Apa arti istilah ”badan” (atau ”daging”) dan apa arti pentingnya?

Kebangkitan daging merupakan rumusan harfiah dalam Syahadat Para Rasul untuk kebangkitan badan. Istilah ”daging” menunjuk pada kemanusiaan dalam situasinya yang mempunyai kelemahan dan dapat mati. ”Daging membutuhkan keselamatan” (Tertullianus). Kita percaya kepada Allah Pencipta daging ini, kita percaya kepada Sabda yang menjadi daging demi menyelamatkan daging, dan kita percaya akan kebangkitan daging yang merupakan kepenuhan dari keduanya, penciptaan dan penyelamatan daging.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 990-1015

203. Apa arti ”kebangkitan badan”?

Artinya, keadaan definitif manusia bukanlah perpisahan antara jiwa spiritual dengan badannya. Bahkan, badan kita yang fana ini suatu ketika akan hidup lagi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 990

Paus umumkan konsistori untuk memilih beato dan beata yang akan dikanonisasi

Jum, 04/05/2018 - 22:19
Beato Paus Paulus VI

Paus Fransiskus telah mengumumkan akan melaksanakan Konsistori Umum Biasa untuk memberikan suara dan memutuskan kanonisasi bagi enam beato dan beata yang masih dalam proses penggelaran kudus. Konsistori itu akan berlangsung hari Sabtu, 19 Mei 2018.

Bapa Suci akan memimpin doa Terce (pukul 9.00 pagi) yang langsung disusul dengan konsistori. Semua kardinal yang tinggal di Roma atau berada di Kota Vatikan diundang untuk ambil bagian.

Dalam konsistori itu, para kardinal akan mempertimbangkan proses penggelaran kudus untuk kanonisasi bagi enam beato dan beata itu, termasuk Paulus VI, yang bertugas sebagai Paus sejak tahun 1963 hingga tahun 1978, serta Beato Oscar Romero, Uskup Agung San Salvador, yang menjadi martir saat merayakan Misa di tahun 1980.

Beato dan beata lain yang akan dipertimbangkan proses penggelaran kudusnya adalah:

 – Francesco Spinelli, imam diosesan, pendiri Institut Para Suster Pencinta Sakramen Mahakudus

 – Vincenzo Romano, imam diosesan

 – Maria Katharina Kasper, perawan, pendiri Para Pelayan Miskin Yesus Kristus

 – Nazaria Santa Teresa Yesus (née Nazaria Ignacia March Mesa), perawan, pendiri Para Misionaris Perang Salib. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Intensi doa Paus Fransiskus untuk bulan Mei: ‘Misi Awam’

Jum, 04/05/2018 - 22:09

Paus Fransiskus pada hari Kamis, 3 Mei 2018, merilis sebuah pesan video yang menyertai intensi doanya untuk Mei yang merupakan “Misi Awam”.

Dalam intensi doanya untuk bulan Mei, Paus Fransiskus mengatakan: “Orang-orang awam berada di garis depan kehidupan Gereja” dan Paus menyatakan keyakinannya bahwa “Kami membutuhkan kesaksian mereka tentang kebenaran Injil dan teladan mengungkapkan iman mereka dengan mempraktikkan solidaritas.”

Sudah menjadi kebiasaan Paus Fransiskus untuk merilis pesan video yang merinci intensi doanya yang  baru setiap bulan.

Teks lengkap pesan Paus:

Umat awam berada di garis depan kehidupan Gereja.

Kami membutuhkan kesaksian mereka mengenai kebenaran Injil dan teladan mereka dalam mengungkapkan iman mereka dengan mempraktikkan solidaritas.

Mari kita berterima kasih kepada umat awam yang menanggung risiko, yang tidak takut dan yang memberikan  alasan pengharapan bagi orang-orang yang paling miskin, yang dikucilkan, dan yang terpinggirkan.

Mari kita berdoa bersama bulan ini agar umat beriman awam dapat memenuhi misi khusus mereka, misi yang mereka terima dalam Pembaptisan, melakukan karya kreativitas untuk melayani tantangan-tantangan dunia saat ini.

Worldwide Prayer Network of the Apostleship of Prayer mengembangkan prakarsa “Video Paus” untuk membantu penyebaran intensi-intensi bulanan Bapa Suci yang berkaitan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi umat manusia. (pcp berdasarkan Vatican News)

Manado membuka Tahun Yubileum Kembalinya Gereja Katolik dengan defile dan Misa

Kam, 03/05/2018 - 23:13
Uskup Manado Mgr Rolly Untu diapit oleh Uskup Emeritus Manado Mgr Suwatan dan Walikota Manado GVS Lumentut serta para imam, wakil rakyat, keamanan, FKUB dan pimpinan kelompok teritorial dan kategorial membuka Tahun Yubelium 150 Tahun Gereja Katolik Bertumbuh Kembali di Keuskupan Manado dengan memukul tetengkoran

Sekitar 5000 umat dari paroki-paroki di Kevikepan Manado mengikuti defile dan rally Rosario sekitar dua kilometer seraya berdoa Rosario untuk merayakan Pembukaan Tahun Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik Bertumbuh Kembali di Keuskupan Manado dan Pembukaan Bulan Maria 2018 di Kompleks Megasmas Manado 30 April 2018.

Ketika semua suster, bruder, dan frater, serta umat, ada yang mengenakan pakaian Bunda Maria, ada juga membawa patung dan gambar Bunda Maria, lilin bernyala, gambar-gambar para rasul, bendera-bendera Merah Putih dan Kuning dan Putih, lambang Garuda Pancasila serta lambang Keuskupan Manado, menyelesaikan defile, mereka merayakan Misa yang dipimpin oleh Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dengan konselebran Emeritus Uskup Manado Mgr Josef Suwatan MSC dan 18 imam.

Dalam homili, Mgr Rolly Untu menegaskan tentang peran Bunda Maria yang begitu hebat dalam karya penyelamatan umat manusia serta tentang makna kehadiran umat pada acara pembukaan itu. “Kehadiran begitu banyak umat di sini karena digerakkan oleh kepercayaan umat sendiri,” kata uskup seraya mengharapkan iman umat semakin dikuatkan dengan devosi kepada Bunda Maria.

Secara khusus uskup meminta umatnya untuk meneladani Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan, yang merupakan sosok yang rendah hati dan mau menerima perintah Allah untuk mengandung Putra Allah yang menjadi manusia dan menjadi penebus dosa umat manusia dengan mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Sikap demikian, menurut mantan Provinsial MSC Indonesia ini, menjadi contoh dan teladan bagi umat.

Misa yang dimulai pukul 17:00 itu diawali perarakan dengan sekitar 100 Putra Putri Altar, 1000 Remaja Rasul Rosario dari masing-masing Wilayah Rohani yang dilantik, diberkati dan diutus oleh uskup agar menjadi para rasul yang mampu memimpin ibadat Rosario di wilayahnya dan pewarta kabar baik, serta kontingen dari 10 paroki di kevikepan itu yang berjalan sambil mendaraskan doa Rosario serta litani dan lagu-lagu pujian kepada Maria.

Dalam sambutan seusai Misa, Walikota Manado GVS Lumentut mengapresiasi pelaksanaan pembukaan kegiatan menyambut 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado itu dan berharap kegiatan yang akan berpuncak pada 14 September 2018 itu menjadi salah satu agenda kegiatan Manado Fiesta 2018, program Pemerintah Kota Manado yang akan dibuka 30 Agustus dan berpuncak 9 September 2018 dalam acara Thanksgiving Kota Manado dengan mendorong wisata religi sebagai salah satu suguhan umat di Kota Manado.

Walikota Manado terkesan dengan umat Katolik, karena biasanya pawai meninggalkan pekerjaan rumah bagi pemerintah Kota Manado untuk mengangkat sampah, tapi walikota yang sudah berada di lokasi acara itu sejak sore melihat sampahnya kurang maka dia bersyukur bahwa umat Katolik sudah memberi teladan dengan mengangkat sampah sambil berjalan. “Terima kasih sudah memberikan teladan. Ini menjadi cerita baru dalam upaya kami untuk menghadirkan Manado, bukan hanya paling toleran, melainkan semakin bersih dan memiliki lingkungan yang semakin berkualitas,” kata walikota.

Untuk menandai pembukaan tahun yubileum  itu, di akhir sambutan Walikota Lumentut, terdengar pekikan “Ave Maria” oleh MC yang diikuti dengan pemukulan tetengkoren (gong khas Minahasa yang terbuat ari bambu) oleh Mgr Rolly Untu, Mgr Josef Suwatan MSC, beberapa pastor, serta walikota, Kepala SPN Polda Sulut  Kombes Pol Henny Posumah, Danrem 131/Santiago Brigjen Tonny R Giri, Kapolres Manado Kombes Pol Surya Kumara, ketua FKUB, dan beberapa ketua kelompok kategorial, serta atraksi kembang api.

Menurut catatan sejarah Gereja, di tahun 1563, Pastor Magelhaes sudah membaptis Raja Siau, Raja Manado dan 1,500 orang lainnya. Namun, pelayanan Gereja Katolik berhenti di antara tahun 1677 hingga 1868 persoalan dengan VOC. Kemudian tanggal 14 September 1868, Pastor Johanes de Vries SJ membaptis 24 orang di Kema dan ini menjadi awal bertumbuh kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado.

Tahun Yubileum itu bertema “Betapa mulia nama-Mu, ya Tuhan, di seluruh bumi (Mzm 8:10)” dan sub tema “Dengan semangat Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik Keuskupan Manado berjalan bersama semua orang dalam terang Yesus Kristus.”(A. Ferka/pcp)

Misa Yubileum Keuskupan Manado dipimpin Mgr Rolly Untu dengan konselebran Mgr Suwatan dan 18 imam. Foto A Ferka

Salah satu paroki peserta defile. Foto A Ferka Berkat untuk para Remaja Rasul Rosario. Foto A Ferka Suasana Defile. Foto A Ferka

Mengapa Gereja mempunyai kuasa mengampuni dosa?

Kam, 03/05/2018 - 22:35

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

200. Bagaimana dosa diampuni?

Sakramen yang pertama dan terutama untuk pengampunan dosa ialah Sakramen Pembaptisan. Untuk dosa-dosa yang dilakukan sesudah Sakramen Pembaptisan, Kristus memberikan Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi. Melalui Sakramen ini, seorang yang sudah dibaptis diperdamaikan kembali dengan Allah dan Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 876-980, 984-985

201. Mengapa Gereja mempunyai kuasa mengampuni dosa?

Gereja mempunyai perutusan dan kuasa untuk mengampuni dosa karena Kristus sendiri sudah memberikan kepadanya. ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 981-983, 986-987

WKRI diingatkan untuk mengurus keluarga, terlibat dalam lingkungan, dan menyentu masyarakat

Kam, 03/05/2018 - 22:23
Kepala Paroki Katedral Merauke Pastor Anselmus Amo MSC (paling kanan)

Selain terlibat dan berperan dalam lingkungan, kaum ibu yang menjadi anggota Wanita Katolik RI (WKRI) hendaknya mempererat hubungan antara keluarga, mengajak keluarga untuk berdoa, dan mencoba membawa semua anggota menuju Allah.

Kepala Paroki Katedral Merauke Pastor Anselmus Amo MSC berbicara dalam Konvercab WKRI Santo Fransiskus Xaverius Cabang Katedral Merauke bertema “Meningkatkan Keterlibatan WKRI melalui lima tugas Gereja,” di Aula Paroki, Gedung Vertenten Sai, Merauke, 28 April 2018.

“WKRI harus menjalankan tugas-tugas Gereja dan membuat semua anggota keluarga menampilkan kekhasan iman Katolik,” kata Pastor Amo, seraya mengajak para anggota organisasi massa Katolik itu untuk meletakkan fondasi lebih kokoh dalam iman serta moral, “agar bisa melangkah lebih maju membawa semua anggota keluarga ke dalam lingkungan Gereja dan masyarakat.”

Dengan bentuk cinta kasih, kesabaran, dan kerendahan hati, lanjut imam itu, WKRI harus juga menyentuh semua golongan agama “supaya dekat dengan Allah” dan “mengalirkan hal positif  bagi golongan lain, misalnya golongan Muslim dan Protestan.”

Ketua WKRI Cabang Katedral Merauke Jenne Vonnie Kelanit berharap semua anggota WKRI dan umat Katolik lebih peduli dan terlibat pada lima tugas Gereja yakni liturgia, koininia, kerygma, martiria, dikonia. “Semua itulah tugas umat Katolik. Anggota WKRI harus mengambil peran dalam kelima tugas Gereja itu agar umat terarah kepada Allah lewat berbagai karya karitatif dan pewartaan kabar baik dan sukacita dalam dunia, terutama sesama,” katanya.

Menurut ketua panitia Yohana Ulukayanan, konvercab bertujuan mempertanggungjawabkan pengurus masa bakti 2015-2018 serta memilih dan mengesahkan pengurus yang baru, dan yang terpilih adalah Ketua Yosepha Tambonop Apcowo, Wakil Ketua I Katrin Minggu Abarura, Wakil Ketua 2 Yohana A Ulukyanan. (Agapitus Batbual)

Dengan terima Sakramen Pembaptisan kita tak bisa lagi hidup bersama Tuhan dan bersama setan

Rab, 02/05/2018 - 23:50

Paus Fransiskus dalam audiensi umum 2 April 2018 melanjutkan katekese tentang Sakramen Pembaptisan dengan merenungkan tentang air, sumber kehidupan, dan bahwa tidak mungkin berada bersama Tuhan dan bersama iblis.

Ketika merenungkan tentang simbolisme air yang kuat dan bagaimana air itu merupakan sumber kehidupan dan kesejahteraan, Paus Fransiskus mencatat bahwa tanpa air tidak ada lagi kesuburan dan air bisa menjadi penyebab kematian “ketika ia menenggelamkan segala sesuatu” dan juga menjadi elemen yang membersihkan dan memurnikan.

Paus mengingat banyak contoh dilukiskan dalam Kitab Suci dan dalam Perjanjian Baru di mana Allah mengintervensi atau membuat janji-janji melalui ‘tanda-tanda’ air, termasuk pembaptisan Yesus sendiri di sungai Yordan dan air yang mengalir dari lambung-Nya di kayu salib.

Dengan memberkati air dari kolam baptisan, jelas Paus, Gereja berdoa agar air itu dapat menjadi sumber kehidupan baru di dalam Kristus dan pembersihan dosa melalui pencurahan Roh Kudus.

Melalui Baptisan, lanjut Paus, Gereja meminta Roh Kudus bertindak agar mereka yang menerima Sakramen itu dapat masuk ke dalampencurahan Roh Kudus Kristus yang menyelamatkan, “dan bersama-Nya bangkit menuju kehidupan kekal.” Namun, untuk melakukan hal itu, jelas Paus, “kita harus menolak setan dan semua pekerjaannya.”

Kalau seseorang sudah disucikan oleh wadah pembaptisan, untuk bisa memperoleh akses menuju keselamatan, kata Paus, “seseorang harus membuka hatinya” dan meninggalkan setan. Seraya mengingatkan mereka yang hadir bahwa setan adalah dia yang memecah sementara Tuhan selalu menyatukan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa tidaklah mungkin bersama dengan Tuhan dan bersama dengan iblis.

Paus mengatakan, kalau kita memutuskan untuk menjalani jalan hidup dan keselamatan, penting untuk secara aktif menolak iblis dan semua karyanya dan pergi, bersama, dalam iman.

Sebagai tanda keputusan kita untuk menjalani misteri kehidupan baru dan abadi ini, Paus mengatakan, kita dipanggil untuk mewartakan iman kita dan kapan pun kita memberkati diri dengan air suci, kita harus mengingat, dengan rasa syukur, karunia yang kita terima pada hari itu Pembaptisan kita.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Devosi macam apa yang ditujukan kepada Perawan Suci Maria?

Rab, 02/05/2018 - 22:58

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

198. Devosi macam apa yang ditujukan kepada Perawan Suci Maria?

Devosi kepada Bunda Maria adalah devosi yang secara esensial berbeda dengan penyembahan yang hanya pantas diberikan kepada Tritunggal. Devosi khusus kepada Bunda Maria ini terdapat dalam pesta-pesta liturgi untuk Bunda Allah ini dan dalam doa-doa untuk menghormati Maria seperti doa Rosario Suci yang merupakan ringkasan seluruh Injil.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 971

199. Dengan cara bagaimana Santa Perawan Maria merupakan gambaran eskatologis Gereja?

Dengan memandang Maria, yang sepenuhnya suci dan sudah dimuliakan bersama jiwa dan raganya, Gereja merenungkan dalam diri Maria panggilannya sendiri di dunia sekarang ini dan apa yang akan dialaminya kelak dalam tanah air surgawi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 972

Paus memulai Bulan Maria dengan berdoa Rosario di Tempat Ziarah Bunda Maria Cinta Ilahi

Rab, 02/05/2018 - 22:43

Paus Fransiskus memulai Bulan Maria di bulan Mei dengan berziarah pertama kali dan berdoa Rosario di tempat ziarah terkenal di Roma yakni Bunda Maria Cinta Ilahi (Divino Amore). Di sana Paus disambut oleh Vikjen Keuskupan Roma Uskup Agung Angelo De Donatis, uskup pembantu untuk sektor selatan Mgr Paolo Lujudice, bersama direktur dan pastor paroki tempat kudus itu. Paus juga disambut oleh biarawan-biarawati Putra dan Putri Bunda Maria Cinta Ilahi yang tinggal di tempat itu.

Setelah berdoa Rosario di depan gambar Bunda Maria dan Anak Yesus yang terletak di dinding altar kapel, Paus memberkati makam Hamba Allah Pastor Umberto Terenzi, rektor pertama Paroki Divino Amore dan pendiri dua ordo religius itu. Paus kemudian menemui umat paroki lansia yang dibaptis oleh Pastor Terenzi, imam yang mendirikan paroki di tempat kudus yang terletak di Via Ardeatina, 12 km selatan Roma itu.

Paus Fransiskus juga menyalami para penghuni rumah jompo Divino Amore dan Rumah Keluarga Mater Divini Amoris, yang dikelola oleh Kongregasi Putera-Putera Cinta Ilahi dan yang menampung anak-anak dan bayi-bayi.

Tempat Ziarah Bunda Maria Cinta Ilahi berasal dari lukisan dinding mural abad pertengahan yang menghiasi salah satu menara dari gerbang abad ke-13 yang disebut Castel di Leva. Gambar kudus itu populer di kalangan gembala setempat yang sering bertemu di sana untuk berdoa Rosario. Menurut cerita tradisi, seorang peziarah yang sedang berjalan menuju Basilika Santo Petrus di tahun 1740 diserang oleh anjing-anjing yang marah di gerbang dan dia diselamatkan karena perantaraan Santa Perawan Maria Terberkati. Akibatnya, jumlah peziarah ke situs itu meningkat dan gambar kudus itu dipindahkan ke kapel baru yang dibangun di samping gerbang.

Tempat itu semakin signifikan bagi orang-orang Romawi dalam Perang Dunia Kedua saat Paus Pius XII, bersama beberapa ribu warga, berdoa di depan lukisan dinding itu demi perlindungan Roma selama pertempuran terakhir kota itu tahun 1944 yang menyebabkan terbebasnya dari pendudukan Jerman.

Beberapa hari setelah kedatangan sekutu ke kota itu, Pius XII menggelari gambar Salvatrice dell’Urbe, yang berarti “Dia yang menyelamatkan kota.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Pastor dan pendeta serta umat Katolik dan Protestan kunjungi Vihara demi kebersamaan

Sel, 01/05/2018 - 22:29

“Kita membangun kebersamaan walaupun kita berbeda. Perbedaan itu tidak harus membuat kita bermusuhan dan berpisah. Saat silaturahmi, kita bisa menikmati betapa indahnya perbedaan itu.” Itulah beberapa pernyataan yang disampaikan oleh Pendeta Rahmat Paska Rajagukguk dalam acara Sambang Srawung di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, 24 April 2018.

Menurut Pendeta dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gereformeerd itu, silaturahmi adalah sesuatu yang mereka renung-renungkan. “Silaturahmi adalah salah satu budaya lokal yang sudah mendarah daging dalam kehidupan kita. Silaturahmi menjadi sarana untuk mengikis paradigma-paradigma yang mungkin semakin bertumbuh dalam perdebatan-perdebatan kita di Facebook atau di WA dengan segala informasi-informasi yang mungkin membuat kita bisa saling mencurigai,” katanya.

Kunjungan “Sambang Srawung,’ yang diikuti pendeta, pastor, tokoh-tokoh umat Kristiani dan aktivis ormas Katolik, itu merupakan kelanjutan dari kegiatan ekumene antara Gereja Protestan dan Katolik dalam Pekan Doa se-Dunia untuk Kesatuan Umat Kristiani di bulan Januari 2018.

Selain melakukan kegiatan dengan sesama umat kristiani, menurut Pendeta Rahmat, mereka juga ingin mengenal umat yang berbeda agama. Maka, setelah tahun 2017 mereka mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah, di tahun ini mereka mengunjungi vihara untuk mengenal tradisi agama Buddha.

“Kita rindu silaturahmi ini dapat berjalan dengan baik dan semakin luas sehingga kita berpikir bagaimana kalau kita silaturahmi dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama,” katanya.

Pengurus Vihara Buddhagaya, Halim Wijaya, menyambut baik kegiatan silaturahmi itu. “Terima kasih atas kunjungannya, mudah-mudahan dengan pertemuan ini kita bisa saling mempererat persahabatan, persaudaraan, terutama dalam kondisi politik yang memanas karena pilkada dan tahun depan pemilihan presiden,” kata Halim seraya berharap pimpinan agama bisa memberikan teladan dalam mengamalkan Pancasila.

Pastor FX Tirta Dewantara MSF menjelaskan tentang kehidupan imam Katolik yang selibat mirip dengan kehidupan para bhikkhu.

Bhikkhu Sujano lalu menjelaskan tentang tradisi Budha dan kehidupan para bhikku. “Dalam agama Buddha, kehidupan ini bisa dijalankan melalui dua cara. Pertama, dengan menempuh kehidupan berumah tangga, punya anak, punya istri, punya kekayaan, dan punya kedudukan. Kedua, seseorang bisa meninggalkan semuanya termasuk kehidupan rumah tangga, tidak berumah tangga, dengan menjadi seorang bhikkhu,” jelas Bhikkhu Sujano seraya menegaskan pentingnya meditasi bagi umat Buddha.

Para peserta mendapat kesempatan untuk berkeliling guna mengenal bangunan vihara dan segala fasilitas peribadatan di sekitarnya.

Dengan silaturahmi, jelas Pendeta Rahmat, peserta bisa saling berdialog dan merasakan kehadirannya tidak seperti dalam ceramah-ceramah tentang kerukunan-kerukunan yang sudah terlalu banyak. “Kita memperbanyak dialog dan pertemuan-pertemuan lintas iman. Jadi, maksud dan tujuan kami datang ke sini, ingin mengunjungi para bhante di sini untuk bisa berdialog bersama,” katanya.(Lukas Awi Tristanto)

Dalam arti apa Perawan Maria yang Terberkati itu Bunda Gereja?

Sel, 01/05/2018 - 22:01

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

196. Dalam arti apa Perawan Maria yang Terberkati itu Bunda Gereja?

Perawan Maria yang Terberkati itu Bunda Gereja sesuai dengan rahmat yang diterimanya karena Maria sudah melahirkan Yesus, Putra Allah, Kepala dari Tubuh Mistik-Nya, yaitu Gereja. Ketika Yesus tergantung di kayu salib, Dia menyerahkan ibu-Nya kepada murid-Nya dengan kata-kata ini: ”Inilah ibumu” (Yoh 19:27).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 963-964, 973

197. Bagaimana Perawan Maria membantu Gereja?

Sesudah kenaikan Putranya ke surga, Perawan Maria membantu permulaan Gereja dengan doa-doanya. Bahkan sesudah Maria diangkat ke surga, ia terus menjadi pengantara bagi anak-anaknya, memberikan contoh model iman dan cinta kasih untuk semuanya, dan memberikan berkatnya yang berasal dari rahmat Kristus yang berlimpah-limpah. Umat beriman melihat dalam diri Maria suatu antisipasi kebangkitan yang dinanti-nantikan, dan mereka berseru kepadanya sebagai pembela, penolong, pelindung, dan pengantara.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 965-970, 974-975

Di Hari Buruh, Kardinal Tagle meminta kebijakan-kebijakan untuk melindungi pekerja

Sel, 01/05/2018 - 21:51

Pada pesta Santo Yosef Pekerja, Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila meminta adanya kebijakan-kebijakan yang melindungi dan membela martabat kerja dan hak-hak para pekerja. Dengan kebijakan-kebijakan yang membuat masyarakat lebih inklusif, bertanggung jawab dan adil, “kita dapat mengatasi hambatan dan mengubah dunia kerja kita menjadi sesuatu yang berdasarkan pada keadilan sosial, rasa hormat dan cinta.”

Menurut Kardinal Tagle, kerja itu lebih dari sekedar melakukan sesuatu demi uang, tetapi bagaimana kita berbagi aktivitas kreatif Tuhan. “Kerja pada dasarnya adalah apa yang terjadi pada pribadi manusia: pikiran yang aktif, alis yang berkeringat, tangan yang retak, punggung yang sakit, perut yang sakit, hati yang gelisah, semangat yang bergairah, mimpi-mimpi yang terpenuhi,” kata kardinal.

“Maka, kondisi kerja yang benar bukan hanya dijaga dengan transaksi tapi dengan hubungan perjanjian antara mitra yang menghormati dan melindungi martabat setiap orang. Dalam hubungan perjanjian tidak ada ruang untuk eksploitasi,” kata kardinal.

Berbagai kelompok merayakan Hari Buruh dengan protes di seluruh negeri, seraya menuntut kenaikan upah dan menghentikan sistem kerja kontrak atau kontraktualisasi yang ilegal.

Mengakhiri kontraktualisasi (endo) adalah salah satu janji kampanye utama Presiden Rodrigo Duterte. Sungguh pun demikian, Uskup Pembantu Manila Mgr Broderick Pabillo mengatakan Duterte telah membiarkan para pekerja. “Dia tidak memenuhi janjinya untuk mengakhiri endo,” kata Mgr Pabillo. “Endo adalah ketidakadilan yang besar bagi para pekerja. Endo mengeksploitasi pekerjaan mereka tanpa memberi mereka keamanan.”

Di Kota Cebu, Duterte menandatangani perintah eksekutif yang melarang kontrak dan subkontrak yang ilegal. Tetapi kelompok-kelompok buruh mengatakan undang-undang ketenagakerjaan yang ada sudah mengandung larangan itu. Yang diperlukan, lanjut mereka, adalah kebijakan yang melarang semua bentuk kontrak kerja. (paul c pati berdasar CBCPNews)

Dengan aneka lagu kebangsaan, warga lintas agama Semarang ikut Karnaval Paskah

Sen, 30/04/2018 - 23:36

Sepanjang jalan Pemuda di Kota Semarang, nampak anak-anak, remaja, orang muda hingga dewasa dari berbagai agama menampilkan berbagai atraksi dalam Karnaval Paskah. Ada yang bernyanyi, menari, memainkan drum band, dan ada pula yang menampilkan pertunjukan seni Liong. Peserta dengan aneka pakaian berjalan dari kompleks Gereja Blenduk, gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu tahun 1753, menuju Balaikota Semarang, 27 April 2018.

Sambil berjalan dalam barisan lintas agama, peserta mereka menyanyikan lagu-lagu kebangsaan seperti Garuda Pancasila, Maju Tak Gentar, Bandung Lautan Api, dan Indonesia Pusaka dengan iringan saksofon yang dimainkan oleh Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang (KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr.

Selain itu, sejumlah kendaraan hias turut memeriahkan karnaval yang dipadati penonton sepanjang jalan itu. Selain dari sekolah, Gereja maupun kelompok-kelompok kategorial, karnaval itu diikuti juga oleh kelompok lintas agama seperti Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Jurusan Studi Agama-agama UIN Walisongo, Perhimpunan Penghayat Sapta Darma (Persada), dan Forum Perantara.

Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Rukma Setyabudi mewakili panitia mengatakan, Karnaval Paskah itu bertujuan untuk membangun keberagaman di kota Semarang sehingga betul-betul hidup dalam kebinekaan dan Pancasila. “Kita di sini berbagi dengan semua warga kota Semarang yang kita cintai. Paskah adalah berbagi kasih di mana kita saling mendukung, saling menolong, gotong royong di sini,” kata Setyabudi.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi juga berpesan agar perbedaan bukan membuat kita semakin lemah, tetapi justru dengan perbedaan ini, “Indonesia dan kota Semarang akan menjadi wilayah yang semakin kuat, dan Semarang menjadi lebih baik dan lebih hebat.”

Walikota juga mengajak masyarakat untuk merawat kondusivitas kota Semarang. “Mari rawat kota ini, kota yang kita cintai dan kita banggakan, kota tempat kita setiap hari beraktivitas, kota yang hari ini butuh banyak tangan untuk membangun menjadi Semarang hebat, senantiasa guyub.”

Walikota juga berharap agar warisan budaya yang selama ini sudah ada dalam diri orang Semarang yakni saling menghormati, saling menghargai, gotong royong, “dapat hidup terus di bumi kota tercinta kita, di kota Semarang.”

Sementara itu Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko dalam renungannya mengatakan, bahwa perayaan bertema “Dengan Kebangkitan-Nya Kita Srawung dalam Keberagaman” itu bertujuan supaya semua menyadari keberagaman suku, bahasa, bahkan agama di Indonesia.

Perbedaan itu, menurut Mgr Rubiyatmoko, bisa menjadi bahan konflik kalau memang perbedaan yang ditonjolkan dan orang tidak bisa saling menerima. “Namun, ketika semua duduk bareng, saling mengagumi, saling memahami, saling menerima, lalu akhirnya yang terjadi adalah jabat tangan, maju bareng, melangkah bersama dalam sebuah harmoni dan dalam kegembiraan,” kata uskup agung itu seraya menegaskan bahwa perayaan itu mengajak semua orang membangun kebersamaan di dalam perbedaan. “Caranya dengan srawung,” katanya.

Mgr Rubiyatmoko juga mendorong umat Kristiani supaya tidak hanya bersahabat dengan teman-teman Kristiani, melainkan “ambyur, srawung di tengah masyarakat di mana kita berada dan mencoba membawa kebangkitan Kristus dalam arti membawa rekonsiliasi, kedamaian dalam kehidupan bersama-sama.”

Karnaval sudah usai, dan peserta pulang membawa pesan Mgr Rubiyatmoko untuk “tinggal di tengah masyarakat, srawung dengan sebanyak mungkin orang, membangun kebersamaan dalam keberagaman.” (Lukas Awi Tristanto)

Apa arti ”persekutuan para kudus”?

Sen, 30/04/2018 - 23:20

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

194. Apa arti ”persekutuan para kudus”?

Ungkapan ini terutama menunjukkan seluruh anggota Gereja yang hidup dengan saling berbagi dalam hal-hal suci (sancta): iman, Sakramen-Sakramen, khususnya Ekaristi, karisma-karisma, dan anugerah-anugerah spiritual yang lainnya. Akar terdalam dari kesatuan ini ialah cinta yang ”tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1Kor 13:5), tetapi mendorong umat beriman untuk mempunyai sikap hidup bahwa ”segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (Kis 4:32), bahkan menyediakan barang-barangnya untuk yang paling miskin dan membutuhkan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 946-953, 960

195. Apakah ”persekutuan para kudus” mempunyai arti yang lain lagi?

Ungkapan ini juga menunjuk pada kesatuan antara orang-orang suci(sancti), yaitu antara mereka yang berkat rahmat Allah dipersatukan dengan Kristus yang mati dan bangkit. Ada yang masih berjuang di dunia ini, yang lainnya sudah melewati hidup di dunia dan sedang mengalami proses pemurnian yang membutuhkan bantuan doa-doa kita. Yang lain lagi sudah masuk ke dalam kemuliaan Allah dan mendoakan serta menjadi pengantara kita. Semua anggota ini bersama-sama membentuk satu keluarga di dalam Kristus, yaitu Gereja, untuk memuji dan memuliakan Allah Tritunggal.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 954-959, 961-962

Gereja Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila, Pontianak

Sen, 30/04/2018 - 08:52

Gereja Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila Pontianak diberkati oleh Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo dalam Misa 11 Maret 2018 dengan didampingi oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, Uskup Sanggau Mgr Julius Meccucini CP, dan Uskup Agung Emeritus Pontianak Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap serta sekitar 30 imam konselebran dan sekitar 1500 umat termasuk kaum religius yang memenuhi gereja hingga balkon.(pcp)

Imam muda ditembak mati di Cagayan setelah Misa saat sedang berkati anak-anak

Sen, 30/04/2018 - 01:10
Pastor Mark Ventura. MARIA TAN

Pastor Mark Ventura, 37, ditembak mati di Provinsi Cagayan pada hari Minggu, 29 April 2018, sekitar pukul 08:15 tepat setelah merayakan Misa di sebuah gimnasium di Barangay Peña Weste, di pinggiran kota Gattaran. Inilah imam kedua yang terbunuh sekitar empat bulan terakhir.

Pembunuhan itu terjadi ketika imam itu sedang memberkati anak-anak dan berbicara dengan anggota paduan suara. Saat itu, seorang laki-laki yang tidak dikenal dengan mengenakan helm sepeda motor muncul dari belakang gym dan menembak korban sebanyak dua kali.

Mengutip laporan Kantor Polisi Wilayah No. 2 di Tuguegarao City, Kepala Polisi Nasional Filipina Oscar Albayalde mengatakan, tersangka berlari ke jalan raya dan naik sepeda motor yang dikendarai oleh rekan lain yang tidak diketahui identitasnya serta melarikan diri ke arah Baggao, Cagayan.

Uskup Agung Sergio Utleg Tuguegarao yang memimpin doa di tempat terjadinya kejahatan itu akan mengeluarkan pernyataannya.

Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) menyesalkan pembunuhan imam itu, serta berdoa untuk Pastor Ventura, untuk keluarga yang ditinggalkan, dan untuk umat Tuguegarao.

“Kami mencela tindakan jahat ini!” kata Ketua CBCP Mgr Romulo Valles. “Kami benar-benar terkejut dan sama sekali tidak percaya mendengar pembunuhan brutal atas Pastor Mark Ventura,” lanjut uskup agung itu.  Para uskup juga menghimbau pihak berwenang “untuk bertindak cepat dalam mengejar para pelaku kejahatan ini dan membawa mereka ke pengadilan.”

Pastor Ventura saat ini adalah pemimpin Stasi Misi San Isidro Labrador, jabatan yang baru diterimanya awal bulan ini, di desa Mabuno, juga Gattaran. Pria yang sudah menjalani imamat hampir tujuh tahun itu juga dikenal karena anjuran-anjuran anti-tambang dan bantuannya terhadap masyarakat adat di provinsi itu. Sebelum ditugaskan di Gattaran, Pastor Ventura menjabat Rektor Seminari Tinggi Thomas Aquinas di Aparri, Cagayan.

Desember 2017, Pastor Marcelito Paez, 72, dibunuh oleh orang-orang bersenjata yang hingga kini masih belum teridentifikasi setelah dia memfasilitasi pembebasan seorang tahanan politik di Jaen, Nueva Ecija. (paul c pati berdasarkan CBCPNews)

Para uskup memohon agar perintah pengusiran seorang suster dari Filipina dicabut

Sen, 30/04/2018 - 00:58
Suster Patricia Fox ditahan. Foto Philippine Star

Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Romulo Valles mengeluarkan seruan tertanggal 27 April 2018 kepada pemerintah negara itu untuk mencabut perintah pengusiran terhadap Suster Patricia Fox NDS yang akrab dipanggil Suster Pat. Visa Suster Pat telah dicabut oleh Biro Imigrasi tanggal 23 April.

Karena dianggap sebagai “orang asing yang tidak diinginkan”, maka suster itu diberikan waktu 30 hari untuk pergi atau menghadapi deportasi. Kantor imigrasi mengklaim Suster Pat terlibat dalam kegiatan politik, dan visanya sangat terbatas pada karya misionaris. Tanggal 16 April, sebelum perintah pencabutan visa itu dikeluarkan, kantor imigrasi itu menahan Suster Pat. Namun mereka harus membebaskannya setelah 22 jam karena protes keras dari berbagai sumber.

“Dengan tulus kami membuat seruan ini agar pihak berwenang dapat mempertimbangkan ulang perintah mereka terhadap Suster Pat untuk meninggalkan negara itu,” kata Uskup Valles. “Selanjutnya kami percaya bahwa dia tergerak untuk melayani umat kita karena kasih Kristus.”

Pengacara Suster Pat, Jobert Pahilga, mengkritik betapa cepatnya perintah itu dikeluarkan serta kurangnya proses hukum. Sedangkan juru bicara biro itu, Antonette Mangrobang, mengatakan tidak perlu pemeriksaan terhadap Suster Pat karena mencabut visa orang asing tetap berada dalam kebijaksanaan biro itu.

“Penerbitan dan pemberian visa adalah hak istimewa, bukan hak, maka pemeriksaan tidak diperlukan dalam proses penyitaan visa,” kata Mangrobang dalam sebuah pesan teks seraya melanjutkan bahwa “orang asing itu bisa mengajukan mosi untuk peninjauan kembali.”

Pahilga bermaksud menyampaikan mosi itu dalam minggu ini. Mereka siap untuk membawa kasus ini ke Mahkamah Agung jika diperlukan.

Menurut Suster Patricia Pat, dan banyak orang lain, dia belum melakukan apa pun untuk menghentikan tindakan kantor itu. Pada usia 71 tahun, Suster Fox kelahiran Australia telah melayani di Filipina selama 27 tahun. Menurut kata-katanya sendiri, dia telah membantu “meningkatkan mata pencaharian petani” dan telah membantu mereka mendapatkan hak atas tanah, mata pencaharian, perdamaian, keadilan dan keamanan.” Orang lain menggambarkan Suster Pat mendedikasikan dirinya bagi kaum tertindas dan terpinggirkan.

Penangkapan oleh biro imigrasi terjadi tak lama setelah suster itu ikut serta dalam sebuah misi pencarian fakta hak asasi manusia di bagian selatan negara itu.

Sementara itu, dalam Misa Solidaritas untuk Suster Patricia Fox NDS yang dilaksanakan  oleh Asosiasi Para Pemimpin Tinggi Tarekat Religius di Filipina (AMRSP) yang dipimpin oleh ketuanya Pastor Cielito Almazan OFM di Tempat Ziarah Santo Antonius di Sampaloc, Manila, tanggal 27 April 2018, Suster Regina Kuizon RGS, yang juga salah seorang ketua AMRSP, membacakan pernyataan kelompok itu mengenai Suster Patricia Fox.

Pernyataan berjudul “Pernyataan AMRSP tentang Penangkapan dan Penahanan Ilegal Suster Patricia Fox oleh Biro Imigrasi” yang diterbitkan beberapa hari lalu itu menegaskan kembali dukungan kelompok itu kepada Suster Pat, seraya memuji tahun-tahun pelayanannya di Filipina. “Bersama dengan mereka yang bekerja untuk keadilan … bahkan di usia tuanya, Suster Pat memenuhi misi kenabiannya untuk solider dengan orang miskin dan tak berdaya,” tulis dokumen itu.

Setelah membaca pesan itu, Suster Kuizon menyapa Suster Pat dengan mengatakan, “Orang-orang Filipina masih membutuhkanmu.”(paul c pati berdasarkan Vatican News an CBCPNews)

Suster Pat berbicara dengan media saat dibebaska dari tahanan. Foto Catholic Leader Dukungan untuk Suster Pat. Foto Philippine Star

Imam Meksiko yang diculik ditemukan tewas, meski tebusan sudah dibayarkan

Sen, 30/04/2018 - 00:17
Pastor Jose Moises Fabila Reyes. Foto dari Mexico News Daily

Seorang imam Meksiko yang diculik awal bulan ini, telah ditemukan tewas, meskipun tebusan sudah dibayarkan. Menurut James Blears dari Vatican News, pembunuhan itu merupakan pembunuhan imam yang ketiga di Meksiko selama lebih dari satu minggu. Pastor Jose Moises Fabila Reyes yang 83 tahun, tinggal di Basilika Guadalupe Mexico City sejak 2001. Tanggal 3 April, imam itu diculik dalam perjalanannya ke Kota Cuernavaca. Uang tebusan dua juta peso, yang setara dengan 106.000 dolar telah dibayarkan, tetapi itu tidak menyelamatkan nyawanya. Mayatnya ditemukan di Cuernavaca. Polisi mengatakan bahwa tes forensik menunjukkan Pastor Jose menderita penyakit jantung dan mati sebelum uang tebusan dibayarkan. Juga dikatakan ada bukti bahwa imam itu diikuti dan dibayangi, sebuah penculikan yang direncanakan dengan hati-hati. Pastor Jose ditahbiskan tahun 1961. Menurut umatnya, imam itu adalah pria lembut dan baik hati dan tetap rendah hati. Lima imam telah dibunuh di Meksiko tahun ini. 24 imam dibunuh di Meksiko sejak 2012. (pcp berdasarkan Vatican News)

Basilika Guadalupe di Mexico City tempat Pastor Reyes tinggal

Halaman