Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 5 hours 38 mnt yang lalu

OMK Keuskupan Agung Pontianak bertekad menjadi Misionaris Online

Sen, 04/06/2018 - 04:54

 

Sebagian peserta, Komsos KAP dan pembicara/PEN@ Katolik/pcp

“Komsos KAP Misionaris Online … Komsos KAP Misionaris Online … Komsos KAP Misionaris Online.” Tekad itu terdengar berulang kali di Pontianak sebagai dasar komitmen dari 48 orang yang hampir semua adalah OMK yang datang dari paroki-paroki di Keuskupan Agung Pontianak.

Peserta Pelatihan Jurnalistik 2018 Komsos Keuskupan Agung Pontianak (KAP) di Rumah Retret Immaculata SFIC Pontianak, 1-3 Juni 2018, mengeluarkan komitmen bersama untuk membentuk Instagram KAP, membuat blogspot paroki-paroki, menjalin hubungan kerja dengan Komsos KAP, memanfaatkan WhatsApp sebagai sarana komunikasi peserta pelatihan, dan menjadi kontributor paroki dalam pelaksanaan Jambore Nasional (jamnas) Sekami (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner).

Pelatihan itu menghadirkan Direktur Utama Suara Surabaya Media Errol Jonathans, Pemred PEN@ Katolik Paul C Pati, Fotografer dan Pilot Drone Rogasianus Soni P sebagai narasumber serta Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan CO Jamnas Sekami 2018 Pastor Gregorius Sabinus CP.

“Kita sebagai orang muda Katolik dapat menjadi misionaris yang berbasis online, dengan cara mempublikasikan ajaran-ajaran agama, berita seputar kegiatan yang ada di paroki, dan video atau film pendek yang bersifat rohani lewat website atau media massa lainnya,” kata Mgr Agus yang datang mengunjungi peserta pelatihan itu.

Oleh karena itu, selain mengungkapkan berbagai perkembangan dan program keuskupan itu, Mgr Agus berharap agar pelatihan itu membantu OMK untuk menguasai media massa secara positif dan memilah-milah berita mana yang layak dikonsumsi publik. Mgr Agus juga mengajak OMK untuk bergabung dalam Komsos KAP dengan “mengirimkan berita Gereja ke media-media cetak dan online yang dimiliki KAP.”

Mgr Agus berharap agar dengan pelatihan itu OMK bisa menggunakan media massa sebagai media untuk mencegah, menghilangkan, dan melawan sejumlah berita hoax. “Kita harus melawan berita hoax dan menyebarkan berita yang menimbulkan suka cita. Ini pesan untuk kaum muda, kita harus menjadi misionaris online,” minta uskup seraya mengajak OMK untuk tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya.

Dalam pelatihan itu peserta belajar tentang jurnalisme sebagai sarana pewartaan Gereja, dasar-dasar jurnalisme, serta teknik wawancara oleh Errorl Jonathans, Good Storytelling Stories oleh Paul C Pati, dan fotografi oleh Damianus Soni P.

Pelatihan itu dilengkapi dengan latihan peliputan, wawancara, dan penulisan yang hasilnya langsung diedit bersama editor PEN@ Katolik. Hasil editan itu dimasukkan dalam media milik KAP, yang dijalankan oleh Komsos KAP “yang akan dibenahi,” baik cetak maupun online.(ditulis kembali oleh penakatolik.com berdasarkan tulisan peserta pelatihan jurnalistik komsos kap)

Errol Jonathans membimbing peserta dalam diskusi kelompok/PEN@ Katolik/pcp Rogasianus Soni P membantu peserta untuk membuat foto dengan perencanaan yang baik dan angle yang tepat/PEN@ Katolik/pcp Salah satu suasana pelatihan jurnalistik/PEN@ Katolik/pcp

Tubuh

Sab, 02/06/2018 - 23:59

(Renungan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus, 3 Juni 2018, berdasarkan Injil Markus 14: 12-16, 22-26)

Tubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.

Sejak awal mulanya, Gereja telah berjuang melawan berbagai ajaran sesat yang merongrong integritas dan kesucian tubuh. Gereja dengan gigih membela kebaikan tubuh melawan sekte Gnostik yang mengajarkan tubuh sebagai jahat, penjara bagi jiwa kita, dan kutukan bagi eksistensi kita. Saya adalah anggota Order of Pewarta (atau Dominikan), dan Ordo ini didirikan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Beberapa teman saya mengomentari mengapa kami hanya menyelamatkan jiwa dan mengabaikan aspek lain dari kemanusiaan kita. Saya mengingatkan mereka bahwa Ordo ini awalnya didirikan untuk memerangi sekte Albigensian, dan salah satu ajaran dasar mereka adalah bahwa tubuh adalah jahat, bahwa bunuh diri adalah sarana yang baik untuk mencapai pembebasan akhir. Untuk mewartakan dan berjuang bagi kebaikan dan integritas tubuh kita adalah mendasar bagi pewartaan Dominikan, seperti juga untuk pewartaan Gereja.

Sayangnya, ajaran gnostik tetap bertumbuh dan mengambil bentuk-bentuk baru di dunia modern. Kesucian tubuh kita terus diremehkan dan bahkan menjadi sebuah komoditas. Perdagangan manusia adalah salah satu pelanggaran terbesar terhadap tubuh kita. Perempuan muda, sebagian besar dari latar belakang miskin, terjebak ke dalam prostitusi dan menjadi objek seks belaka. Anak-anak muda dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi di banyak negara. Pengambilan organ tubuh telah menjadi bisnis paling menggiurkan yang melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar. Ada harga untuk setiap organ yang kita miliki. Bahkan, ada cerita di media sosial tentang seorang remaja yang menjual ginjalnya untuk membeli iPhone model terbaru. Tambahan ‘tubuh’ lain di dalam rahim menjadi sebuah beban dan hambatan untuk kemajuan diri dan pengembangan karier, dan dengan demikian, lebih baik untuk mengaborsi ‘tubuh’ ini sebelum mereka tumbuh dan menjadi masalah yang lebih besar.

Hari ini kita merayakan tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita diundang melalui bacaan Injil, untuk kembali ke Perjamuan Terakhir Yesus. Di sana, Yesus dengan bebas mempersembahkan tubuh-Nya sebagai karunia kepada murid-murid-Nya, “Ambillah, ini tubuh-Ku.” Dia kemudian meminta para murid ini untuk membagikan tubuh-Nya yang telah mereka terima kepada generasi murid-murid masa depan. Yesus menerima tubuh-Nya sebagai karunia, dan sekarang, dalam Perjamuan Terakhir-Nya, Dia memberikan karunia ini agar kita dapat memiliki kehidupan yang penuh. Ini adalah dasar dari Ekaristi, juga inti dari seksualitas Kristiani.

Di dalam sakramen pernikahan, suami dan istri tidak lagi “dua tetapi satu tubuh.” Ketika kedua pasangan menghadap altar Allah, mereka mengakui bahwa tubuh mereka adalah karunia dari Tuhan, dan dengan mempersembahkan tubuh mereka kepada pasangan mereka, mereka menghormati Tuhan yang telah menciptakan mereka. Kita menentang seks pra-nikah dan seks di luar nikah karena hanya saat tubuh kita diberikan secara bebas dan total dalam komitmen pernikahan, kita selalu akan selalu menghancurkan tubuh kita. Tubuh suami atau istri bukan sekadar “milik” atau objek untuk memuaskan kebutuhan seksual dan psikologis, tetapi itu adalah karunia dari Tuhan yang bahkan menuntun kita untuk menghargai tubuh kita sendiri. Dalam pernikahan, suami dan istri memberikan tubuh mereka sebagai karunia terhadap satu sama lain dalam kasih dan hormat, sehingga mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih berlimpah dan juga, mereka dapat menyambut tubuh baru, kehidupan baru, karunia baru, ke dalam pernikahan mereka.

Kehidupan pernikahan adalah salah satu di antara beberapa cara dimana kita bisa menerima dan mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Kehidupan selibat yang didedikasikan untuk melayani sesama adalah cara lain untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Seperti Yesus dalam Perjamuan Terakhir, hanya dengan menerima tubuh kita sebagai karunia dan dengan bebas mempersembahkannya sebagai karunia, kita memiliki kehidupan yang penuh dan bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Kantor Pers Vatikan beri pernyataan tentang kasus pelecehan seksual di Chili

Kam, 31/05/2018 - 23:11

Paus Fransiskus akan mengirim surat yang ditulis secara pribadi kepada Presiden Konferensi Waligereja Chili. Surat itu ditujukan kepada semua Umat Allah, seperti yang telah dijanjikan Paus kepada para Uskup. Pengumuman itu disampaikan oleh Direktur Kantor Pers Tahta Suci, Greg Burke, dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Kamis, 31 Mei 2018. Komunike Vatikan itu juga mencatat bahwa Paus akan menjadi tuan rumah bagi kelompok kedua korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus dari Chili di kediaman Santa Marta dari 1-3 Juni 2018. Dikatakan bahwa Uskup Agung Charles Scicluna dan Mgr Jordi Bertomeu akan kembali ke Chili sebagai bagian dari misi berkelanjutan mereka untuk menjangkau para korban pelecehan yang dilakukan imam dari Chili, Pastor Fernando Karadima, dan para pengikutnya serta melakukan penyelidikan lebih lanjut atas kasus ini. Dalam akhir pekan ini, Paus Fransiskus dijadwalkan mengadakan serangkaian pertemuan pribadi dengan para korban pelecehan dari Chili bersama dengan dua imam yang menemani mereka, yang telah memberikan dukungan spiritual kepada para korban.(pcp berdasarkan Vatican News)

Mengapa satu Misteri Kristus dirayakan oleh Gereja dalam bermacam-macam tradisi liturgi?

Kam, 31/05/2018 - 22:08

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

247. Mengapa satu Misteri Kristus dirayakan oleh Gereja dalam bermacam-macam tradisi liturgi?

Jawabannya, kekayaan misteri Kristus yang tak terperikan tidak dapat dimuat oleh tradisi liturgi mana pun. Karenanya sejak semula, kekayaan itu diungkapkan melalui bermacam-macam bangsa dan budaya dalam bermacam-macam cara yang bercirikan keanekaragaman yang indah dan saling melengkapi.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1200-1204, 1207-1209

248. Kriteria apa yang menjamin kesatuan di antara keanekaragaman?

Kriteria yang menjamin kesatuan itu ialah kesetiaan kepada Tradisi Apostolik, yaitu kesatuan dalam iman dan Sakramen-Sakramen yang diterima dari para Rasul, suatu kesatuan yang ditandai dan dijamin oleh tradisi Apostolik. Gereja itu Katolik dan karena itu dapat mengintegrasikan semua kekayaan autentik macam-macam budaya ke dalam kesatuannya.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1209

249. Apakah setiap hal dalam liturgi itu tak dapat diubah?

Dalam liturgi, khususnya Sakramen-Sakramen, ada unsur-unsur yang tidak dapat diubah karena berasal dari penetapan ilahi. Gereja menjadi penjaganya yang setia. Tetapi, terdapat juga unsur-unsur yang bisa diubah dan Gereja mempunyai wewenang, bahkan kadang bertugas untuk menyesuaikannya dengan aneka macam kebudayaan.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1205-1206

Maria Bunda Kita Semua

Kam, 31/05/2018 - 01:16
PEN@ Katolik/soni

Oleh Putut Prabantoro

Seberapa besar Indonesia? Jika ditarik garis diagonal dari Sabang ke Merauke, itu sama saja dengan garis diagonal dari London ke Ankara. Sepanjang garis diagonal itu, Indonesia memiliki 17.499 pulau, terdiri dari 1.340 suku bangsa dan memiliki 740 bahasa daerah yang aktif. [1] Dengan kekayaan yang luar biasa seperti ini, Indonesia menghadapi tantangan utama yakni persatuan sebagai bangsa dengan berbagai latar belakangnya. Sehingga, tidak mengherankan jika kemudian Bhinneka Tunggal Ika menjadi motto Bangsa Indonesia.

Seberapa besar Kalimantan Barat? Provinsi ini luasanya 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Dengan besarnya 1,13 Pulau Jawa, Kalimantan Barat merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Provinsi yang disebut sebagai Pulau Seribu Sungai ini, memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Berdasarkan sensus tahun 2010 [2], etnis paling dominan di Kalimantan Barat, yaitu Dayak (49.91%), suku Melayu (16.50%), etnis Jawa (8.66%), Etnis Tionghoa (8,17%), etnis Madura (6,27%) Bugis (3,13%), Sunda (1,13%), Batak (0,60%), Daya (0,52%) dan Banjar (0,33%) dan suku-suku lainnya (1,33%).  Menurut penelitian, ada berbagai bahasa daerah yang ada di Kalimantan Barat termasuk di dalamnya, Bahasa Dayak, Bahasa Tionghoa, Bahasa Melayu Pontianak, Melayu Sambas dan Bahasa Senganan menurut wilayah penyebarannya. Yang menarik adalah, menurut penelitian Institut Dayakologi terdapat 188 dialek yang dituturkan oleh suku Dayak dan Bahasa Tionghoa seperti Tiochiu dan Khek atau Hakka.

Dengan berbagai latar belakang sejarah dan masa depan para suku yang tinggal di provinsi ini, sebagaimana Indonesia, Kalimantan Barat juga menghadapi tantangan utama yaitu persatuan suku sebagai satu bangsa Indonesia. Berbagai latar belakang kepentingan termasuk politik menorehkan sejarah kelam bagi Kalimantan Barat dalam menyatukan visi misi semua suku dalam balutan Bhinneka Tunggal Ika.

Pulau Kalimantan (Borneo) disebut secara jelas oleh Ordo Fransiskan dalam catatan perjalanan seorang biarawannya dari Italia yang bernama Odorico Mattiussi de Pordone. Mattiussi mengunjungi Sumatera, Jawa dan Borneo (Kalimantan) dalam perjalanannya ke wilayah Asia dengan tujuan Cina.  Perjalanan dalam rangka misi diplomatik atas perintah paus saat itu dilakukan Mattiussi dalam kurun waktu 1313-1330. Dalam perjalanan misi diplomatik ini, Mattiussi menuliskan catatannya mengunjungi ibukota Kerajaan Majapahit di Jawa.

Meskipun perjalanan Mattiussi pada abad ke-13 itu disebut sebagai kontak pertama Gereja Katolik dengan Nusantara, namun tahun yang diakui sebagai masuknya agama Katolik ke Indonesia adalah tahun 1543 ketika kepala kampung Mamuya, Halmahera, Maluku Utara, dibaptis bersama warganya oleh pedagang berasal dari Portugis Gonzalo Veloso. Tiga tahun kemudian, Fransiskus Xaverius mengunjungi daerah Indonesia bagian Timur yakni Ambon, Saparua dan Ternate pada ahun 1546-1547. Berdasarkan catatan, Gereja Katolik ke Kalimantan Barat pada tahun 1847, ketika Mgr Vrancken, Vikaris Apostolik Koajutor Batavia bertemu dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda JJ Rochussen untuk diijinkan berkarya di Kalimantan.

Kalimantan Barat sejak jaman dulu adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang negara Indonesia yang dulu dikenal dengan sebutan Nusantara. Ketapang yang dulu disebut Tanjungpura adalah satu dari 10 kota yang disebut dalam Sumpah Palapa Gadjah Mada tahun 1336. Selain Ketapang (Tanjungpura), kota lain yang disebut dalam sumpah tersebut adalah, Pahang (Malaysia), Tumasik yang sekarang disebut Singapura, Haru yang berada di Sumatera Utara, Palembang, Sunda, Bali, Dompo (Sumbawa), Seran (Seram), Gurun atau Pulau Gorom (Seram bagian Timur).

Disebutnya Ketapang (Tanjungpura) dalam Sumpah Palapa menjadikan Kalimantan Barat sebagai daerah yang sangat istimewa dalam sejarah Indonesia. Tanpa Ketapang (Tanjungpura), persatuan Nusantara di bawah Gajah Mada tidak akan pernah terjadi. Ketapang adalah bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Singasari yang menjadi salah satu basis pertahanan Singosari (Kertanegara) dalam mempertahankan serangan dari Cina pasca Raja Kertanegara menolak untuk tunduk kepada Kaisar Kubilai Khan.

Hanya saja dalam perjalanan sejarahnya, Kalimantan Barat harus menerima kenyataan bahwa ada beberapa kali masa terjadi konflik horisontal yang dilatarbelakangi ras atau suku. Konflik antara Tionghoa (Cina) dan Dayak, salah satunya, telah menoreh luka batin yang mendalam dan membutuhkan lama untuk disembuhkan. Konflik horisontal antara masyarakat Dayak-Tionghoa tahun 1967 disebut sebagai konflik horisontal terbesar di Kalimantan Barat. Sebagian suku Dayak yang beragama Katolik juga terlibat dalam pengusiran masyarakat Tionghoa yang sebagian juga beragama Katolik.

Dilatarbelakangi oleh iman yang sama itulah, Pastor Rohani Katolik Angkatan Darat (Rohkat AD) yang bertugas di Kodam XVI/Tanjungpura, Isak Doera Pr mengambil inisiatip untuk mendamaikan masyarakat Dayak dan Tionghoa yang diawali oleh mereka yang beragama Katolik. Di bawah kaki Bunda Maria yang berada di Gua Maria Pencinta Damai, Anjongan, Menpawah.

Pada hari Minggu 27 Mei 2018, Patung Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan diberkati dan diresmikan oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus. Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan sudah ada sejak 29 April 1973, sedangkan pembangunan rumah retret dimulai 29 Oktober 2017 dan pembangunan Patung Maria Ratu Pencinta Damai dimulai dengan peletakan batu pertama 10 Maret 2018. Semua itu berada dalam kawasan wisata rohani milik Keuskupan Agung Pontianak satu-satunya.

Mei dan Oktober

Bulan Mei dan Oktober, dalam tradisi Gereja Katolik, sangat kental dengan kehidupan Bunda Maria. Segala tradisi devosi bunda Maria dilakukan pada bulan Mei dan Oktober. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari Penampakan Bunda Maria di Fatima, sebuah kota kecil di Portugal. Kota yang diambilkan dari nama tersebut diambil dari nama puteri kesayangan Nabi Muhammad SAW, menjadi sangat terkenal di dunia karena penampakan Bunda Maria kepada 3 (tiga) anak kecil pada Mei 1917.

“Aku akan menampakkan diri setiap tanggal 13 di awali pada bulan Mei,” ujar Bunda Maria kepada Lucia de Jesus (10 tahun), Fransesco Marto (9 tahun) dan Jacinta Marto (7 tahun). Sejak Mei hingga Oktober 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada ketiga anak itu setiap tanggal 13, terkecuali pada bulan Agustus. Penampakan Bunda Maria itu diawali dengan penampakan Malaikat kepada Lucia, Fransesco dan Jacinta pada April dan Oktober tahun 1916.

Dalam penampakan tersebut, Bunda Maria memberikan tiga rahasia yang harus dipegang oleh ketiga anak kecil itu. [3]

Pesan pertama dan kedua menggambarkan penglihatan tentang neraka, devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, tentang Perang Dunia kedua, dan prediksi tentang kerusakan yang dapat diperbuat oleh Rusia kepada umat manusia dengan penolakan terhadap iman Kristiani dan penerapan totalitarianisme-komunisme. Pesan pertama dan kedua ini telah dituliskan terlebih dahulu 31 Agustus 1941, dan dipublikasikan terlebih dahulu sebelum pesan yang ketiga.

Sedangkan pesan ketiga yang dituliskan oleh Suster Lucia tanggal 3 Januari 1944 atas perintah Uskup Leiria. Pesan atau rahasia ketiga ini dibawa ke hadapan Paus Yohanes XXIII tahun 1959, namun beliau memutuskan untuk tidak menyatakan secara publik, demikian juga Paus Paulus VI. Namun Paus Yohanes Paulus II, setelah percobaan pembunuhan dirinya tanggal 13 Mei 1981 gagal, kemudian memutuskan untuk memberitahukan pesan itu secara publik, yang dikenal sebagai “The third secret of Fatima.”

Teks pesan ketiga Fatima baru dipublikasikan 26 Juni 2000, (setelah diumumkan oleh Kardinal Angelo Sedano atas nama Paus, bahwa pesan ketiga tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat. Pengumuman ini diadakan tanggal 13 Mei 2000, pada hari beatifikasi Francisco dan Jacinta Marto). Tanggal 7 Juni 1981, Paus Yohanes Paulus, pada perayaan Pentakosta, mendoakan dan mengkonsekrasikan dunia kepada hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, yang disebutkan sebagai “Act of Entrustment”, memohon agar Bunda Maria menjaga dan mendoakan para umat beriman dan dunia.

Kebetulankah?

Pertanyaannya, sekalipun berjarak ribuan kilometer dari Fatima Portugal, Apakah ada korelasi antara Penampakan Maria Fatima dan Gua Maria Ratu Pecinta Damai di Anjongan ?

Penampakan Maria di Fatima sering disebut penampakan Bunda Maria dengan bernuansa politik. Penembakan Paus Yohanes Paulus II oleh Mehmet Ali Agca di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, 13 Mei 1981. Tanggal 13 Mei adalah penampakan pertama Bunda Maria kepada tiga anak kecil di Fatima, Portugal.

Peluru yang digunakan untuk menembak dirinya, oleh Paus Yohanes Paulus II dipersembahkan dan diletakkan di Mahkota Bunda Maria di Fatima. Dua tahun setelah ditembak, 27 Desember 1983, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Mehmet Ali Agca di penjara Italia, memeluk dan mengampuni kesalahannya. Alasan Paus Yohanes Paulus II mengampuni penembaknya adalah, Paus menginginkan Mehmet Ali Agca, pembunuh bayaran dari Tukri, juga mengalami kerahiman Allah sebagaimana dirinya yang selamat dari tembakan tersebut. Perdamaian terjadi di antara Paus Yohanes Paulus II dan upaca percobaan pembunuhan atas dirinya. Alasan percobaan pembunuhan tidak jelas hingga kini, sekaligus ada dugaan dari berbagai pihak adanya campur tangan Uni Soviet.

“Di dunia ini, tidak ada yang kebetulan,” tegas Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo Pr dalam pidatonya saat memberi penghargaan kepada pemenang sayembara Maria, Bunda Segala Suku, pada 22 Mei 2017. Pengumuman pemenang sayembara lomba lukis, patung dan fotografi seharusnya dilakukan setahun setelah pembukaan resminya pada 30 Mei 2016, dengan berbagai alasannya. Pengumuman baru terjadi pada 22 Mei 2017, ketika Indonesia terpolarisasi karena agama ketika Pilkada DKI Jakarta berlangsung.

Tidak ada yang pernah meramalkan bahwa Kalimantan Barat akan memiliki Bunda Maria Ratu Pencinta Damai yang mendamaikan dua masyarakat besar Dayak dan Tionghoa untuk mengakhiri konflik terbesar. Sebagaimana dengan penampakan Maria di Fatima, kita semua tahu, konflik terjadi dalam latar belakang yang sama yakni komunisme. Penjelasan sejarah atas masa depan Uni Soviet terjadi setelah Uni Soviet runtuh pada 26 Desember 1991 atau 77 tahun setelah didirikan pada 30 Desember 1922.

Memiliki Gua dan Patung Maria Ratu Pencinta Damai bukanlah sebuah kebetulan. Hendaknya, masyarakat Kalimantan Barat diingatkan akan sejarah yang seharusnya mendorong untuk mewujudkan perdamaian. Adalah takdir bagi Kalimantan Barat yang memiliki Ketapang (Tanjungpura) untuk menjadi bagian dari terciptanya persatuan Indonesia (Nusantara) secara untuk dengan mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika dalam keseharian.

Bagi kita, Santa Maria sebagai Bunda tidaklah monopoli untuk umat Katolik. Santa Maria adalah Bunda Segala Bangsa dan Bunda Siapa saja, seperti yang disampaikan Santa Maria kepada Ida Peerdeman (40 tahun) di Amsterdam, Belanda.

Setahun setelah Paus Pius XII memaklumkan dogma “Santa Maria Diangkat ke Surga pada 1 November 1950, Santa Maria memperkenalkan gelarnya sebagai “Bunda Segala Bangsa” pada 16 November 1951. Santa Maria  menegaskan kembali gelarnya kepada Ida Peerdeman dengan mengatakan, “Tak peduli siapapun engkau, aku ini untukmu; Bunda Segala Bangsa” yang ditegaskan mengadakan penampakan pada 31 Mei 1954. Dalam penampakan itu, Santa Maria juga menyatakan dirinya sebagai Co-Redemptrix, Mediatrix dan Advocata yang bersama bersama Kristus melakukan penebusan, menjadi perantara dan pengacara dunia.

Arti dari Patung Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan

Patung ini mendapat inspirasi dari asal-usul Gua Maria Pencipta Damai, Anjongan, yang dibuat untuk menandai kedamaian antara orang Dayak dan etnis Cina setelah konflik berdarah.

> Maria digambarkan sebagai merangkul dan melindungi semua kelompok etnis yang menjadi Ibu kita semua seperti yang diinginkan oleh Yesus Kristus di kayu salib. Kelompok etnis utama direpresentasikan sebagai anak-anak karena anak-anak dilahirkan tanpa kepura-puraan, dan tanpa prasangka rasial. Anak-anak Cina dan Dayak keduanya dalam tindakan melepaskan merpati karena mereka adalah protagonis utama.

> Maria mengenakan pakaian dayak untuk mengenali bahwa tempat ziarah ini ada di tanah Kalimantan.

> 12 bintang mahkota kepalanya mirip dengan wanita yang digambarkan dalam Kitab Wahyu.

> Di dada Bunda Maria ada tulisan dalam karakter bahasa Mandarin yang berarti kedamaian. Bunda Maria adalah Bunda Perdamaian sejak ia melahirkan Sang Raja Damai, Tuhan Yesus Kristus.

> Maria berdiri di atas sapu lidi untuk melambangkan perannya untuk menyatukan dan memperkuat semua orang. Sebagai anak-anak Maria marilah kita menjadi pembawa damai.

> Ada 12 merpati yang dikirim ke seluruh dunia untuk menyebarkan Injil perdamaian.

[1] BPS tahun 2010

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat

[3] [3] http://www.katolisitas.org/bagaimana-pandangan-vatikan-tentang-pesan-bunda-maria-di-fatima-1917/

 

 

 

 

 

Apakah Gereja membutuhkan tempat untuk merayakan liturgi?

Rab, 30/05/2018 - 23:47

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

244. Apakah Gereja membutuhkan tempat untuk merayakan liturgi?

Penyembahan dalam ”roh dan kebenaran” (Yoh 4:24) Perjanjian Baru tidak terikat secara eksklusif pada tempat tertentu karena Kristus adalah kenisah Allah yang sejati. Melalui Dia, orang Kristen dan seluruh Gereja menjadi kenisah Allah yang hidup karena karya Roh Kudus. Meskipun demikian, Umat Allah dalam kondisi dunia ini membutuhkan tempat agar komunitas dapat berkumpul bersama untuk merayakan liturgi.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1179-1181

245. Apa itu bangunan suci?

Bangunan suci adalah rumah Allah, simbol Gereja yang tinggal di tempat itu dan simbol Yerusalem surgawi. Bangunan suci terutama merupakan tempat berdoa, tempat Gereja merayakan Ekaristi dan menyembah Kristus yang sungguh- sungguh hadir dalam tabernakel.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1181, 1198-1199

246. Manakah tempat-tempat yang dikhususkan dalam bangunan suci?

Tempat-tempat itu ialah altar, tabernakel, tempat meletakkan minyak Krisma suci dan minyak-minyak suci lainnya, kursi Uskup atau Imam, ambo, tempat pembaptisan, dan kamar pengakuan.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1182-1186

Keuskupan Agung Pontianak kini memiliki sekolah pendidikan tinggi guru Katolik pertama

Rab, 30/05/2018 - 21:03
Tim dari Pontianak dipimpin Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus (duduk dengan pakaian batik) menemui Provincial Ordo Dominikan Filipina Pastor Napoleon Sipalay OP (pakaian putih di sebelah uskup)

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus baru-baru ini mengedarkan surat berisi kabar gembira kepada para pastor paroki, biara-biara, persekolahan Katolik, pendidik dan tokoh pendidikan, tokoh-tokoh masyarakat, dan umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Pontianak dan sekitarnya bahwa Keuskupan Agung Pontianak “atas kebaikan para pendiri Yayasan Landak Bersatu telah diserahkan STKIP Pamane Talino di Kota Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.”

Dengan demikian, lanjut poin kedua Pengumuman Terbuka tertanggal 27 Mai 2017 yang ditandatangani oleh Mgr Agustinus Agus, “terhitung sekarang STKIP Pamane Talino sudah dikelola oleh Keuskupan Agung Pontianak.”

Poin ketika surat itu menegaskan bahwa Uskup Agung Pontianak menunjuk para pastor Ordo Dominikan sebagai “pengelola utama” dan pihak lain seperti Kongregasi Passionis sebagai “pendukung” di dalam pengelolaan yayasan dan persekolahan nantinya.

“Kami berharap pengumuman ini menjadi kabar gembira terutama untuk semua pihak di Keuskupan Agung Pontianak bahwa kini kita mempunyai sekolah pendidikan tinggi guru Katolik pertama di Keuskupan Agung Pontianak,” tulis surat itu.

Selain itu uskup memohon dukungan atas perkembangan dan kemajuan STKIP Pamane Talino “baik dengan doa dan keterlibatan umat.” Salah satu keterlibatan umat, jelas Mgr Agus, adalah “menyebarkan berita kabar gembira ini sehingga banyak anak kita yang ingin melanjutkan pendidikan setelah SMA atau SMK bisa menjadikan STKIP Pamane Talino sebagai salah satu tujuan pendidikan mereka dan menjadi tujuan utama apabila melanjutkan sekolah untuk pendidikan menjadi guru kelak.”

Juga disampaikan dalam surat itu bahwa saat ini STKIP Pamane Talino memiliki tiga program studi yakni Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).

Menanggapi surat itu, Pastor Johanes Robini Marianto OP yang ditugaskan oleh Mgr Agus untuk menangani proses peralihan itu mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia menghargai Keuskupan Agung Pontianak yang mau menerima penyerahan pengelolaan dan kepemilikan ini STKIP Pamane Talino itu.

“Mgr Agus sangat mengerti peranan strategis pendidikan. Dunia pendidikan itu penting di dalam mendidik generasi muda. Guru selalu dibutuhkan dan sangat strategis peranan mereka dalam membentuk manusia. Sudah saatnya Gereja terlibat di dalam pendidikan guru yang akan menjadi pendidik, penanam nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan kepada anak didik,” tegas Pastor Robini.

Dewan Pimpinan Ordo Dominikan Provinsi Filipina pun telah setuju untuk terlibat dalam proyek pendidikan di Kalbar. “Persetujuan itu diterima setelah tiga kali tim memberi presentasi di Manila dan yang terakhir dipimpin langsung  oleh Mgr Agus di bulan Maret 2018,” jelas imam itu.

Dalam pembicaraan resmi di Manila, lanjut Pastor Robini, Mgr Agus meminta Ordo Dominikan menjadi rekan kerja dan pengelola utama manajemen STKIP Pamane Talino dan “membuka akses ke semua perguruan tinggi yang ditangani oleh Ordo Dominikan, pertama-tama di Filipina, untuk mendukung proyek ini.”

Selain persetujuan dari Provinsial Filipina, lanjut Pastor Robini, pimpinan tertinggi Ordo Dominikan di Roma juga menjawab positif. Dalam pembicaraan informal, “pihak Universitas Santo Thomas Manila yang sudah berusia 407 tahun, bersedia terlibat untuk konsultasi dan pengiriman tenaga serta memberi beasiswa kepada tenaga pengajar STKIP Pamane Talino sampai S3. Mgr Agus juga masih menunggu surat jawaban dari salah satu kongregasi suster Dominikan di Spanyol untuk terlibat, jelas imam itu.

September 2018 nanti Pastor Robini akan menghadiri rapat di Roma. “Saat itu akan saya gunakan sebagai kesempatan untuk bicara dengan salah satu perguruan tinggi untuk memikirkan keterlibatan di Kalbar. Mudah-mudahan mereka bisa menerima usulan kerjasama.”

Meski demikian, Pastor Robini menegaskan bahwa STKIP itu merupakan lembaga pendidikan yang terbuka untuk semua, baik mahasiswa dan pengajarnya, bukan hanya Katolik. Namun, “nilai-nilai manajemen, karakter orientasi lembaga, dan pembinaan mental, terutama mereka yang Katolik, tentu jadi beda. Mereka yang beragama Katolik akan dibina secara khusus di bidang kemahasiswaan dan secara khusus dalam kapelan kampus.”

Sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pengelola utama, biarawan Dominikan itu menegaskan, selain meyakinkan semua pihak bahwa STKIP Pamane Talino itu legal dan semua program studinya masih berakreditasi C, dia akan membangun gedung perkuliahan sesuai instruksi Mgr Agus setelah design dan tata letak selesai dibicarakan.

Pastor Robini juga sudah sedang mengupayakan kerjasama dengan lembaga pendidikan lain di dalam dan luar negeri, berbicara dengan beberapa pimpinan perusahaan untuk menyiapkan pelatihan dan tempat magang demi perkembangan mahasiswa, serta bersiap untuk merumuskan kembali visi atau arah pendidikan STKIP Pamane Talino.(paul c pati)

 

 

Sahur Keliling Bu Shinta menguatkan ikatan tali persaudaraan sesama anak bangsa

Sel, 29/05/2018 - 23:09

Pelataran Pastoran Johannes Maria di kompleks Kampus Universitas Soegijapranata Semarang menjadi hingar bingar karena lantunan lagu-lagu Islami dan kebangsaan dengan iringan rebana anak-anak muda Muslim, 25 Mei 2018, dini hari.  Sementara itu warga sekitar mulai berdatangan di tempat itu untuk mengikuti sahur bersama istri mendiang Gus Dur, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Lagu-lagu dan suara-suara musik memecah keheningan pagi yang masih terlalu pekat.

Sementara menanti kedatangan Bu Shinta, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr bersama Kiai Budi Harjono dan Gus Nuril Arifin menyanyikan beberapa lagu dengan iringan musik keroncong dari Gereja Isa Almasih. Pastor Budi mengiringinya dengan alunan saksofonnya. Beberapa saat kemudian, alunan rebana dari aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menambah suara rancak yang dinamis.

Itu adegan yang memukau para pengunjung sesaat sebelum Bu Shinta, yang sepanjang bulan Ramadhan ini melakukan program sahur keliling, tiba di pelataran. Mereka dibuat terperangah karena beberapa orang dengan latar belakang agama yang berbeda berkolaborasi mempersembahkan pertunjukan seni yang memukau.

Beberapa saat kemudian, Bu Shinta tiba di lokasi kegiatan. Para pengunjung menyambutnya dengan penuh antusias. Beberapa hari sebelumnya hingga pagi itu, anak-anak muda dari berbagai latar belakang organisasi dan agama bahu membahu menyiapkan acara tersebut.

Melalui tausiah kepada pengunjung, wanita itu menyampaikan perihal kegiatan sahur kelilingnya. Dalam kegiatan itu, ia tidak ingin hanya sekadar sahur. “Saya sahur bersama mereka. Saya juga ingin langsung bertatap muka, berdialog bersama mereka, face to face, langsung tanpa ada tabir apa pun yang menghalangi antara saya dengan masyarakat semuanya. Karena itu, saya akan bersahur bersama mereka langsung di tempat masing-masing,” katanya.

Bu Shinta mengatakan, kegiatannya juga dilakukan untuk lebih menjalin ikatan tali persaudaraan di antara sesama anak bangsa. “Itu sangat penting, karena kita ini memang tinggalnya di sebuah negara yang disebut Indonesia dan penduduknya, masyarakatnya, adalah masyarakat yang majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, terdiri dari berbagai agama, berbagai bahasa, adat, budaya dan sebagainya,” katanya.

Ia menegaskan, dalam setiap penyelenggaraan sahur keliling, ia akan mengajak banyak pihak terlibat. “Saya akan selalu mengajak saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air untuk bersama-sama menyelenggarakan acara sahur ini sebagai ungkapan rasa kasih, rasa persaudaraan, rasa saling menghormati, rasa saling menghargai, dan sebagai ungkapan kekeluargaan di antara kita sesama anak bangsa untuk membantu saudaranya yang beragama Islam agar bisa melaksanakan ibadah puasanya di bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya,” katanya dalam tausiah yang disampaikan dengan interaktif.

Dengan kebersamaan yang dialami melalui program sahur keliling yang diikuti dan didukung pihak-pihak dari berbagai agama dan suku yang ada di Indonesia, Bu Shinta merasa tenang dan merasa masih punya harapan besar. “Sesungguhnya orang Indonesia yang baik-baik ini bisa hidup rukun dan damai, bisa  saling bergotong royong. Bisa saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi dan saling tolong menolong,” katanya.

Namun, ia menyesalkan kondisi Indonesia akhir-akhir ini ketika banyak sesama anak bangsa mulai saling memfitnah di antara sesama anak bangsa. “Saling melontarkan hujatan ke mana-mana. Kotbah di mana-mana dengan penuh hujatan. Menebar kebohongan di media massa. Ke mana-mana. Kemudian menebar kata-kata yang menyakitkan, kata-kata kebencian di antara sesama anak bangsa. Bahkan lebih keji lagi, bom bunuh diri diledakkan di mana-mana,” katanya.

Ia menyesalkan semua itu terjadi mengingat Indonesia mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua. “Artinya, kita bisa hidup rukun dan damai saling gotong royong saling menghormati dan menghargai, tapi kenapa terjadi hal-hal yang seperti ini? Apa yang terjadi di Indonesia? Apa yang harus kamu lakukan wahai anak-anak muda? Apa yang terjadi di Indonesia?”  tanyanya khusus kepada anak-anak muda. Hadirin pun sempat terhenyak. “Karena rakyat Indonesia sudah mulai kehilangan hati nuraninya,” jawabnya beberapa saat kemudian.

Selain kehilangan nurani, menurutnya, kepercayaan dan ketaatan kepada agama juga sudah mulai tergerus. Ikatan tali persaudaraan yang selama ini dibangun oleh para leluhur bangsa termasuk Gus Dur yang memperjuangkan ikatan tali persaudaraan itu, kian melonggar. “Benang-benang sulaman yang untuk merajut tali persaudaraan di antara sesama anak bangsa mulai tercerabut dari akarnya dan mulai tersebar di mana-mana. Kalau semua itu terjadi apa yang terjadi di Indonesia? Indonesia akan menjadi terpecah belah. Apakah ini yang kita inginkan? Kalau tidak lantas apa yang harus kita lakukan? Bersatu, caranya bersatu bagaimana?” katanya menantang pengunjung untuk berefleksi.

Ia pun mengajak pengunjung untuk mengembangkan kearifan. “Kita tumbuhkan, kita kembangkan kearifan kita untuk menghadapi semua itu. Kemudian kita jalin dengan kebenaran dan keadilan untuk menjaga, untuk menahan semua berita-berita yang tidak baik, kekerasan, kemunafikan dan sebagainya. Demi semuanya itu adalah untuk menjaga keutuhan dan kerukunan anak bangsa Indonesia dan negara Indonesia,” pungkasnya.

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr selaku tuan rumah merasa senang karena Bu Shinta memberi contoh tentang kepedulian. “Seorang ibu yang peduli untuk anak-anak bangsa tanpa diskriminasi. Nah itu yang penting,” katanya.

Sahur yang dilakukan di halaman pastoran itu dihadiri setidaknya 750 orang dari berbagai komunitas dan tempat. Mereka mengikuti acara sahur tersebut dengan antusias. (Lukas Awi Tristanto)

 

 

Apa fungsi tahun liturgi?

Sel, 29/05/2018 - 22:21
dari amoredio.org

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

242. Apa fungsi tahun liturgi?

Dalam tahun liturgi, Gereja merayakan seluruh misteri Kristus sejak dari Penjelmaan sampai dengan kembalinya ke dalam kemuliaan. Pada hari-hari yang sudah ditentukan, Gereja menghormati dengan cinta yang khusus Perawan Maria yang Terberkati, Bunda Allah. Gereja juga memperingati santo-santa yang sudah hidup bagi Kristus, yang menderita bersama-Nya dan hidup dengan-Nya dalam kemuliaan.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1168-1173, 1194-1195

243. Apa itu Ibadat Harian?

Ibadat harian, doa umum dan resmi Gereja, ialah doa Kristus dengan tubuh-Nya, Gereja. Melalui Ibadat harian, misteri Kristus yang kita rayakan dalam Ekaristi, menguduskan dan mentransformasikan seluruh hari kita. Liturgi terdiri dari mazmur, teks Kitab Suci, dan bacaan-bacaan dari para Bapa Gereja dan guru spiritual.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1174-1178

Pematung rasakan energi besar terpancar saat menaruh simbol perdamaian di dada patung Maria

Sel, 29/05/2018 - 15:18
Patung Maria Ratu Pencinta Damai/PEN@ Katolik, soni

Patung Maria Ratu Pencinta Damai sudah berdiri di bawah kaki bukit Anjongan, Mempawah, Kalimantan Barat. Dan saat ini, “saya mengharapkan tema itu mengejawantah atau menjadi kenyataan dalam kehidupan masyarakat lokal atau Indonesia bahkan dunia,” kata pematungnya Leonardo Ismanto dari Muntilan, Jawa Tengah.

Di dada patung Maria itu tertulis sebuah tulisan kanji Mandarin yang berarti damai. “Kebetulan huruf yang berarti damai itu visualnya mirip salib, jadi kami sebagai pematung merasakan sesuatu. Sebelum ada tulisan itu, kelihatan patung itu timpang, tetapi ketika simbol itu ditaruh di dada, saya betul-betul merasakan sesuatu yang universal. Saya merasakan energi yang sangat besar, dan banyak orang juga merasakan itu,” kata Ismanto kepada PEN@ Katolik seusai Misa Pemberkatan dan Peresmian Patung Maria Ratu Pencinta Damai di Anjongan 27 Mei 2018.

Artinya, lanjut Ismanto, “Kami punya ciri khas wajah Maria, tetapi ketika simbol itu dimasukkan saya sebagai pematungnya merasakan sesuatu yang lain sekali, saya merasakan ada sesuatu yang menyatu betul dengan alam di sini.”

Sebagai seniman patung, Ismanto lalu mengatakan bahwa keindahan atau estetika dicapai harus melewati etika. “Keindahan tentu harus dicapai dengan kelembutan, kasih sayang, dan gotong royong. Itu yang harus diangkat, bagaimana kita merealisasikan keindahan dan perdamaian mulai dari diri sendiri dengan memvisualkan kedamaian dalam bentuk apapun, tingkah laku, budi pekerti, pekerjaan dan mimpi-mimpi kita,” jelas Ismanto.

Gagasan uskup untuk membuat patung itu sekarang, menurut Ismanto, adalah momen yang tepat dan bagus sekali, ketika ada sekelompok orang yang ingin merobek kebinekaan. Maka pematung itu senang melihat keterlibatan semua umat di Anjongan, “apalagi ketika badan patung-patung itu datang dan kita mau mengangkatnya, semua umat di sini terlibat, bukan hanya umat Katolik, tetapi juga Muslim dan Kristen datang tanpa kita ajak, mereka datang ikut mengangkat bagian-bagian patung itu.”

Yang dibuat di Anjongan itu, menurut pematung itu, adalah membuat patung sesuai rancangan patung dengan berbagai filosofinya. “Kami hanya merealisasikan gagasan dari Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus untuk membuat patung Maria Ratu Pencinta Damai. Lewat kolaborasi dengan uskup untuk mendesainnya, maka kami masukkan desain-desain Dayak dalam jubahnya dan desain beberapa suku di Indonesia,” jelasnya.

Memang, Ismanto mengalami berbagai kesulitan, karena membuat motif Dayak agak beda dengan motif di Jawa, karena motif Dayak memiliki kekuatan seperti optical art, sehingga ketika dilihat ada gerak. “Optikal itu memiliki komposisi besar dengan warna yang berlawanan sehingga menimbulkan gerak. Kalau orang yang tidak biasa dengan itu dia bisa bingung. Itulah energi alam dan desain-desain yang diciptakan nenek moyang dulu di sini. Bagi saya itu hal yang baru,” kata Ismanto.

Sebagai seorang Katolik, Ismanto merasakan kelebihan yang besar sekali dalam menempatkan patung itu di Taman Ziarah Anjongan, karena “tema patung ini betul-betul tercermin dalam kehidupan sehari-hari umat di sini.” Sayangnya, dalam menggarap tema kedamaian ada saja yang tidak mudah bagi manusia untuk bertahan atau untuk melepaskannya, kata Ismanto yang mengaku kadang jengkel dan kadang emosi, apalagi patung besar dengan tujuh bagian dan dengan ketinggian seperti itu hanya dikerjakan sejak Februari 2018.

Karya itu pun, menurut Ismanto, belum selesai. “Tidak pernah ada karya yang selesai, karena kami sebagai manusia ingin terus berkomunikasi, berkarya, dan menyentuh terus. Mungkin orang lain akan juga terlibat atau bekerja sama dengan kami dengan menempelkan atau mengecat, maka saya sangat berharap keterlibatan umat lokal supaya ini tidak hanya karya saya tetapi gagasan pertama uskup dan kami realisasikan dengan bantuan umat setempat.”

Petrus Anyim dari Pemuda Katolik melihat patung itu sebagai sesuatu “yang sangat bagus sekali,” maka dia mengatakan kepada PEN@ Katolik, “Kami sangat berterima kasih dengan program keuskupan ini. Ini ikon baru bagi Anjongan dan sekitarnya. Ini sesuatu yang multi etnis. Ini menggambarkan kedamaian. Kami senang karena patung ini akan membantu kampung ini menjadi  ramai dan menggerakkan ekonomi baru bagi masyarakat di sini.”

Menurut Petrus, suasana masyarakat Anjongan cukup damai, “ikon baru ini kita harapkan menjadi virus kedamaian bagi semua masyarakat di Kalimantan Barat juga Indonesia secara keseluruhan, karena kita cinta damai.” Warga Anjongan itu mengatakan akan lebih giat berdoa Rosario dan mengajak masyarakat untuk menularkan kedamaian dan membawa kebaikan bersama tanpa memandang latar belakang suku, bahasa dan agama, karena iman “hendaknya menjadi perekat yang mendekatkan kita kepada Tuhan dan dengan sesama.”

Riki yang datang bersama wanita yang baru dinikahinya merasa senang sekali karena pertama kali melihat dan memiliki patung seperti itu di Anjongan. “Saya akan selalu datang untuk berdoa di sini,” kata Riki yang harus datang dari daerah perkebunan lewat jalan kebun yang basah. Dan di sini, katanya, “saya dengan senang hati berdoa untuk keluarga, dan untuk umat di sini agar rajin datang untuk berdoa.”

Bagi Markus Akim, peristiwa peresmian patung itu adalah momentum luar biasa untuk umat Katolik Kalimantan Barat karena mereka semakin merasakan kehadiran Tuhan. Selain berdoa untuk keluarga dan pribadinya, warga Anjongan yang kini tinggal di Pontianak itu berdoa untuk keamanan dan kedamaian di Anjongan. “Setiap bulan Maria saya datang ke sini, dan patung ini menjadi pelengkap  tempat ziarah kita,” kata Markus.

Sementara itu, dalam Misa pemberkatan dan peresmian patung itu Eva Krista Asmarani mengalami rasa persaudaraan dan kekompakan dari berbagai suku dan daerah yang dipersatukan oleh Bunda Maria. “Saya sangat setuju dengan kehadiran patung ini dalam suasana itu, maka saya senang meski datang jauh dengan motor selama dua jam dari Pahuman, Kabupaten Landak. Saya berdoa semoga kedamaian di negara kita ini. Saya berdoa agar Bunda Maria senantiasa melindungi kita semua,” kata Eva yang berniat datang setiap tahun untuk berdoa di depan Patung Maria Ratu Pencinta Damai itu.(paul c pati)

Ismanto (kiri) berbincang dengan Mgr Agustinus Agus sebelum melepaskan balon dalam peresmian Patung Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan/PEN@, pcp

Tantangan adalah Solidaritas, kata Bartolomeus I dalam pertemuan Centesimus Annus

Sel, 29/05/2018 - 03:09
Paus Fransiskus dan Patriark Bartolomeus dari Constantinople (Vatican Media)

Dengan mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Centesimus Annus Pro Pontifice karena telah mengundangnya untuk berbicara, Patriark Konstantinopel Bartolomeus I memulai pidatonya dalam pertemuan Centesimus Annus dengan mengatakan bahwa prinsip-prinsip Kristen sendiri dapat menyembuhkan penyakit ekologi, teknologi dan politik.

Centesimus Annus  yang berarti “seratus tahun” adalah ensiklik yang ditulis Paus Yohanes Paulus II tahun 1991, pada saat perayaan ke-100 dari Rerum Novarum. Ensiklik ini merupakan bagian dari tulisan mengenai Ajaran Sosial Katolik, yang bermula dari Rerum Novarum, yang dikeluarkan oleh Paus Leo XIII pada 1891, dan terutama Perjanjian Baru.

Menurut laporan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News, Patriark itu berbicara dalam pertemuan 26 Mei 2018 dengan menggunakan tema konferensi, “Kebijakan Baru dan Gaya Hidup di Era Digital,” sebagai kerangka presentasinya.

Patriark itu mengakui bahwa “kita menghadapi krisis serius dan hasil sosialnya dalam skala global” dan mendefinisikan krisis itu sebagai salah satu “krisis solidaritas” atau “desolidarisasi,” karena krisis itu telah dipengaruhi oleh bidang ekonomi dan ekologi, sains dan teknologi, serta masyarakat dan politik.

Dengan terciptanya lebih banyak kebutuhan yang tak terpuaskan, lanjut patriark itu, tampaknya warisan spiritual umat manusia sedang dimusnakan. Teknologi, tegasnya, telah membuktikan dirinya tidak mampu menyelesaikan masalah seperti “ketidakadilan sosial, perceraian, kekerasan, kejahatan, kesepian, fanatisme dan benturan peradaban.”

Karena masalah-masalah itu bukan “sifat teknologi,” maka mereka “tidak dapat diselesaikan melalui akumulasi lebih banyak informasi.” Dengan mengutip ensiklik dari Dewan Suci dan Agung Gereja Ortodoks Agung yang berkumpul di Kreta bulan Juni 2016, patriark itu mengatakan bahwa “pengetahuan ilmiah tidak memotivasi kehendak moral manusia.”

Akhirnya, patriark itu menarik perhatian pada ketegangan mengenai hak asasi manusia yang telah menyebabkan individualisme ekstrim di Barat dan penolakan hak asasi manusia dalam “peradaban-peradaban non-barat” sebagai reaksi terhadap Barat.

Dia pun melanjutkan bahwa iman kita yang “memperkuat komitmen kita untuk melakukan aksi kemanusiaan, dan imanlah yang memperluas kesaksian kita tentang kebebasan, keadilan dan perdamaian.”

Visi Tradisi Ortodoks menggambarkan manusia sebagai “makhluk hidup untuk didewakan, yang memberikan kepada manusia martabat tertinggi.” Visi itu menjadi inspirasi untuk melihat “krisis multifaset”  (beraneka ragam segi) ini sebagai “kesempatan untuk melatih solidaritas,” tegasnya.

Dia pun menyatakan bahwa “Gereja-Gereja kita dipanggil untuk berfungsi sebagai tantangan positif bagi individu dan masyarakat, dengan memberikan model kehidupan alternatif dalam budaya kontemporer yang memberikan karunia berharga bagi umat manusia, tetapi pada saat yang sama tampaknya mendorong orang untuk hidup bagi diri mereka sendiri, dengan mengabaikan orang lain yang hidup bersama mereka dalam dunia yang sama.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa tujuan lukisan-lukisan atau gambar-gambar suci?

Sen, 28/05/2018 - 22:28
Pintu Suci Basilika Santo Petrus

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

  1. Apa tujuan lukisan-lukisan atau gambar-gambar suci?

Gambar Kristus merupakan ikon liturgis par exellence. Gambar-gambar yang lain, yang melukiskan Bunda Maria dan para santo-santa, menandakan Kristus yang dimuliakan dalam diri mereka. Gambar-gambar itu mewartakan pesan Injil yang sama seperti yang dikomunikasikan oleh Kitab Suci melalui kata-kata. Gambar-gambar atau lukisan-lukisan itu membantu untuk menghidupkan dan mengembangkan iman orang-orang yang percaya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1159-1161, 1192

  1. Apa yang menjadi pusat masa liturgi?

Pusat masa liturgi ialah hari Minggu yang merupakan dasar dan inti seluruh tahun liturgi dan mencapai puncaknya pada perayaan tahunan Paskah, pesta dari segala pesta.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1163-1167, 1193

 

 

Mgr Agus memberkati dan meresmikan Patung Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan

Sen, 28/05/2018 - 20:40

Ave Maria, gracia plena Dominus tecum …terdengar di suatu pagi di kaki bukit Anjongan, Mempawah, Kalimantan Barat, dan dari bawah Patung Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan terbanglah sebuah Rosario besar berwarna Merah dan Putih yang terbuat dari balon, terbang melewati patung setinggi 12 meter termasuk kakinya itu diikuti balon-balon warna-warni serta balon-balon putih berbentuk burung merpati lambang perdamaian, semakin tinggi dan hilang dari pandangan.

Namun, lagu Salam Maria dalam bahasa Latin yang dinyanyikan oleh artis penyanyi rohani dari Surabaya Mirelle dan Anthony setelah Berkat Penutup Misa Pemberkatan dan Peresmian Patung Maria Ratu Pencinta Damai itu masih terdengar dan ribuan pasang mata dari lebih dari 5000 orang yang hadir di lapangan rumput di kaki bukit Anjongan, tempat bertengker Gua Maria dan rumah retret yang sedang dibangun, masih menatap ke udara.

Dalam Misa, 27 Mei 2018 yang dipimpin Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dengan tujuh konselebran itu, Mgr Agus memberkati patung itu lalu memercikinya dengan air kudus dan mendupainya, serta meresmikan patung itu di akhir Misa dengan penandatangan prasasti.

Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan sudah ada sejak 29 April 1973, sedangkan pembangunan rumah retret dimulai 29 Oktober 2017 dan pembangunan Patung Maria Ratu Pencinta Damai dimulai dengan peletakan batu pertama 10 Maret 2018. Semua itu merupakan bagian dari kawasan wisata rohani milik Keuskupan Agung Pontianak satu-satunya.

“Mudah-mudahan tahun depan kita memulai Pembukaan Bulan Maria, 1 Mei, dengan perarakan dari Gua Maria, mutar keliling, dan masuk ke sini, ke depan patung Maria ini, dan ditutup dengan Berkat Sakramen Mahakudus,” demikian doa Mgr Agus yang juga berharap umat membantu penyelesaian pembangunan rumah retret berupa gedung aula, rumah suster, kamar makan, dapur dan tempat tinggal karyawan.

Yang juga direncanakan adalah pembangunan Jalan Salib serta rumah penginapan dengan gaya kebinekaan, “supaya kalau ke sini bisa melihat Indonesia kecil,” kata uskup.

Uskup Agus menjelaskan bahwa patung yang dia berkati dan resmikan itu untuk melestarikan peristiwa perdamaian yang terjadi di Gua Maria itu. “Tahun 1965 terjadi Gerakan 30 S PKI yang mempunyai dampak negatif di Kalbar hingga konflik berdarah antara orang Dayak dan Tionghoa di sini di tahun 1967. Waktu itu, rohaniwan Katolik untuk Kodam 12 Tanjungpura Almarhum Pastor Isak  Doera, yang kemudian menjadi Uskup Sintang, mengajak dua kelompok itu untuk bersama-sama  berdoa di Gua Maria ini untuk memohon perdamaian.”

Mgr Agus mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa meresmikan patung dengan nama Maria Ratu Pencinta Damai bukan berarti bahwa saat ini masih ada konflik di daerah itu melainkan “untuk preventif,” karena godaan terhadap manusia akan terjadi terus menerus apalagi di saat pilkada dan pemilihan presiden nanti.

“Kita hendaknya terus mengedepankan damai, bukan perbedaan. Kalau di sini tidak ada konflik doa kita hendaknya konflik itu tidak terjadi. Kalau di sini ada konflik hendaknya konflik itu berhenti,” kata Mgr Agus seraya berharap agar umat menjadi orang baik, masih mau berdoa, masih mau datang kepada Bunda Maria bukan ke dukun dan kalau punya kelebihan masih mau menyumbang pembangunan yang ada.

Dalam acara itu juga dibagikan kenangan berupa Patung Maria Ratu Pencinta Damai dalam bentuk mini kepada beberapa wakil dari Pontianak, Jakarta, Surabaya dan Bali, serta bagi arsitek, pematung, Wakapolda Pontianak dan wakil dari Komandan Lantamal XII Pontianak dan donatur lainnya.

Dan ternyata, hujan yang turun di lokasi taman ziarah itu dan di berbagai daerah Kalimantan Barat hingga Pontianak berhenti saat Misa dimulai dan tidak turun hingga acara selesai. Bahkan, ketika balon Rosario serta balon merpati dan balon-balon lain terbang ke angkasa, umat melihat matahari muncul mengintip dari balik awan yang tebal di atasnya.

“Tadi pagi orang pada takut dan bertanya, Bapak Uskup, kalau hujan bagaimana? Tapi saya jawab bahwa saya yakin berhenti dia dan hujan memang berhenti,” kata Mgr Agus seraya berterima kasih kepada Ibu Novi yang menghias altar dengan bunga yang dibawa dari Surabaya dan tidak layu tanpa air sampai di Anjongan.

Lebih daripada itu, pohon yang biasanya berbunga sedikit, nampak berbunga lebat setelah patung Bunda Maria berdiri di depannya, jelas Mgr Agus seraya menegaskan bahwa Tuhan itu baik, Indonesia itu baik, orang Katolik itu baik.(paul c pati)

Relikui Santo Yosef dari Copertino hadir di Unika Seogijapranata untuk teguhkan semangat belajar

Sen, 28/05/2018 - 01:08
Rektor Unika Soegijapranata Prof Ridwan Sanjaya (paling kiri) menerima Relikui Santo Yosef Copertino dari Gregorius Hidayat Tjokrodjojo (tengah) disaksikan Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko (paling kanan)

Kalau sekarang kita mendapatkan relikui Santo Yosef Copertino, yang menjadi pelindung para mahasiswa dan pelajar, harapannya nanti adalah para pelajar dan mahasiswa khususnya yang Katolik sungguh-sungguh mendapatkan perlindungan, mendapatkan berkat dari Santo ini, sehingga mereka semua bisa sungguh-sungguh mempersiapkan masa depan dengan baik.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko berbicara ketika bersama-sama Rektor Unika Soegijapranata Prof Ridwan Sanjaya menerima Relikui Santo Yosef Copertino dari Gregorius Hidayat Tjokrodjojo di kantor keuskupan untuk disemayamkan di kapel Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, 17 Mei 2018.

Menurut Mgr Rubi, keberadaan relikui dan penghormatan kepada relikui itu sebenarnya bukan sebuah tradisi yang sangat panjang. Orang dinyatakan santo-santa itu karena memang mempunyai peran sangat istimewa dalam hidup orang beriman termasuk karena kesuciannya. Dan kesuciannya itu biasanya ditandai oleh berbagai macam mukjizat yang dibuat dalam pengantaraan doa-doa kepadanya, jelas uskup.

Mgr Rubi juga mengingatkan, devosi kepada santo-santa bukanlah jaminan bahwa doa tersebut mesti terkabul. “Namun, itu mengungkapkan iman betapa besar peran santo-santa dalam pengantaraan doa-doa kita. Dalam arti itu tentu pengantara utamanya adalah Yesus Kristus,” kata uskup.

Prof Ridwan menyatakan rasa gembira bisa menerima relikui itu. “Dengan adanya relikui dari Santo Yosef ini, diharapkan memang bisa mendukung, entah itu situasi pembelajaran, entah itu semangat mahasiswa, dan lingkungan mereka belajar, sehingga ketika berada di Unika itu, mereka terdorong untuk bisa lebih positif, lebih semangat, lebih berhasil, karena memang Santo Yosef dari Copertino itu kan memang pelindung pelajar,” katanya.

Dia mengakui, banyak mahasiswa mengalami tantangan dalam proses belajar. “Bisa jadi mereka mempunyai banyak kesulitan tersendiri. Bisa jadi mereka juga menghadapi situasi yang berbeda, lingkungan perkuliahan yang berbeda, terus mungkin juga jejaring pertemanan yang berbeda di kampus, sehingga itu membentuk satu tantangan tersendiri bagi mahasiswa,” katanya.

Dengan berkat dari Santo Yosef dari Copertino, Prof Ridwan berharap agar tantangan yang dihadapi mahasiswa dari yang paling sederhana maupun paling sulit bisa diselesaikan. Dia juga berencana mengenalkan sosok dan semangat Santo Yosef dari Copertino di kampus kepada mahasiswa, “sehingga bukan hanya sekadar tahu bahwa di sana ada relikui, tetapi juga ada ceritanya di sana. Mereka juga bisa terilhami, mereka bisa mengetahui sejarah dari Santo itu.”

Relikui itu, menurut Gregorius Hidayat Tjokrodjojo, didatangkan dari Italia atas prakarsa dan bantuan Pastor Salavatore M Sabato OFMConv. “Kebahagiaan yang luar biasa, karena bisa menjadi alat untuk membawakan relikui ini sampai ke sini,” kata Gregorius yang mengantarkan relikui itu ke unika.

Selain pelindung mahasiswa dan pelajar, Santo Yosef dari Copertino juga dikenal sebagai pelindung para pilot karena dia mendapatkan karunia levitasi. Dalam belajarnya, sebenarnya, dia tidak memiliki kemampuan yang baik. Namun, berkat ketekunan dan penyerahan diri kepada Tuhan serta devosi pada Bunda Maria, dia bisa menyelesaikan kesulitannya dengan baik. (Lukas  Awi Tristanto)

Uskup Agung Becciu diangkat sebagai prefek baru Kongregasi untuk Penggelaran Kudus

Sen, 28/05/2018 - 00:39

Uskup Agung Giovanni Angelo Becciu saat ini adalah Wakil Urusan Umum dari Sekretariat Negara Vatikan dan utusan khusus Paus untuk Ordo Berdaulat Malta. Tanggal 26 Mei 2018, Paus Fransiskus mengangkat uskup agung itu untuk mengepalai kantor Vatikan yang bertugas untuk mengurus proses beatifikasi dan kanonisasi para kandidat orang kudus, demikian laporan Robin Gomes dari Vatican News.

Uskup Agung Italia yang berusia 69 tahun itu akan mulai bertugas akhir Agustus dan sekarang masih meneruskan tugasnya sebagai Wakil Urusan Umum Sekretariat Negara hingga tanggal 29 Juni 2018, dan sebagai delegasi khusus untuk Ordo Berdaulat Malta, yang dikenal sebagai Kesatria Malta.

Uskup Agung Becciu, yang merupakan salah satu dari 14 kardinal baru yang akan dilantik Paus Fransiskus tanggal 29 Juni 2018, menggantikan Kardinal Angelo Amato yang berusia 79 tahun atau sudah melewati usia pensiun 75 tahun. Kardinal Amato telah memimpin Kongregasi itu sejak 2008.

Uskup Agung Becciu lahir di Pattada tanggal 2 Juni 1948. Setelah lulus dalam Hukum Kanon, ia ditahbiskan sebagai imam di Keuskupan Ozieri, tanggal 27 Agustus 1972, dan masuk pelayanan diplomatik Tahta Suci tahun 1984, serta bertahun-tahun berkarya di berbagai misi di seluruh dunia, termasuk di Republik Afrika Tengah, Selandia Baru, Liberia, Kerajaan Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

 

Tanggal 15 Oktober 2001, Santo Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Apostolik Nuncio untuk Angola dan sebulan kemudian juga sebagai Nuncio untuk São Tomé dan Príncipe. Tanggal 1 Desember tahun itu, dia ditahbiskan sebagai uskup di Pattada.

 

Tanggal 23 Juli 2009, Paus Benediktus XVI memindahkannya ke Nunsiatur Apostolik Kuba, dan dari sana dipanggil kembali ke Vatikan untuk menjadi Wakil Urusan Umum Sekretariat Negara. Paus yang baru terpilih, Paus Fransiskus mempertahankan dia pada pos itu tahun 2013.

 

Tanggal 2 Februari 2017, Paus mengangkatnya sebagai delegasi khusus untuk Kesatria Malta untuk menyelesaikan krisis dalam ordo tersebut.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Allah Tritunggal dan Kita

Sab, 26/05/2018 - 23:30

Hari Raya dari Tritunggal Mahakudus

27 Mei 2018

Matius 28: 16-20

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.(Mat. 28:19)”

Hari ini kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini tepat disebut misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar ini tidak hanya sangat sulit untuk dimengerti, tetapi juga pada kenyataannya, melampaui penalaran manusiawi kita. Bagaimana mungkin kita bisa percaya pada tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun mereka tetap satu Allah? Beberapa tokoh besar seperti Santo Agustinus, Santo Thomas Aquinas dan Paus Emeritus Benediktus XVI telah berusaha untuk memberi sedikit cahaya pada misteri ini. Namun, di hadapan kebenaran maha besar ini, penjelasan terbaik pun akan tampak seperti setetes air di samudra raya

Saya sendiri tidak memiliki ilusi bahwa saya dapat menjelaskan misteri ini dengan baik, tetapi kita mungkin merefleksikan bersama maknanya dalam kehidupan sehari-hari kita. Masa Paskah yang penuh sukacita berakhir dengan perayaan hari Pentakosta minggu lalu, dan kita pun melanjutkan masa biasa tahun liturgi. Ketika kita melanjutkan masa biasa, Gereja mengundang kita untuk merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Gereja tampaknya mengajarkan kita bahwa misteri Trinitas yang melebihi segala nalar sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia, dengan perjuangan kita sehari-hari, dengan rasa sakit dan sukacita kita sehari-hari. Bagaimana iman kita dalam misteri terbesar dari semua misteri ini dapat terhubung dengan kehidupan sehari-hari dan bahkan duniawi kita?

Kita sering memiliki gambaran salah tentang Tuhan. Kita kadang berpikir bahwa Tuhan atau Allah Tritunggal adalah pribadi terbesar (atau tiga pribadi terbesar) di antara hal-hal yang ada. Dia seperti seorang CEO universal yang mengelola semua hal dari lokasi yang dirahasiakan atau makhluk super besar dan super kuat yang mengendalikan hampir segalanya. Namun, gambaran ini tidak sepenuhnya benar. Ia bukan sekedar “satu” di antara makhluk yang tak terhitung jumlahnya. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada. Dia adalah alasan mengapa sesuatu ada, daripada tidak ada sama sekali. Jadi, penciptaan bukanlah yang terjadi pada “Big Bang” 13,7 miliar tahun lalu. Penciptaan pada dasarnya adalah karunia keberadaan dari Allah bagi kita. Menjadi makhluk ciptaan berarti keberadaan kita tidak mutlak. Kita ada fana. Namun, saat kita tahu bahwa kita sungguh ada di dunia, kita menyadari bahwa setiap saat dalam hidup kita adalah karunia Tuhan.

Kitab Suci mengungkapkan misteri Allah kita. Dia bukan Tuhan yang menyendiri dan mementingkan diri sendiri, tetapi Tuhan kita adalah satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Tuhan kita adalah komunitas yang berdasarkan pada kasih hidup dan kreatif dan pada pemberian diri yang total dan konstan. Oleh karena itu, penciptaan kita bukanlah sekedar ketidaksengajaan semata, tetapi tindakan kreatif Allah dan karunia kasih-Nya. Kita ada karena kita adalah bagian dari rencana kasih-Nya. Kita ada di dunia karena Tuhan tidak dapat tidak mengasihi kita dan ingin kita berbagi dalam kehidupan yang sempurna dalam Tritunggal. St Thomas Aquinas pun mengatakan bahwa kita hanya percaya dua ajaran dasar, dua “credibilia,” pertama, Tuhan itu ada, dan kedua, kita dikasihi dalam Yesus Kristus.

Kita sering menerima begitu saja hidup kita dan terlarut dalam masalah sehari-hari; kita jarang bertanya apa tujuan dan makna kehidupan ini. Namun, hal ini tidak mengurangi kebenaran bahwa Tuhan dengan penuh kasih menopang keberadaan, bahkan sampai ke bagian terkecil dari atom kita, dan peduli kepada kita, setiap detik dari hidup kita. Apakah kita sibuk melakukan pekerjaan, fokus pada urusan keluarga, atau hanya menikmati hobi, Tuhan terlibat dan memperhatikan. Jadi, terlepas dari Tuhan, hidup kita, kerja harian kita, dan kekhawatiran, kesedihan dan sukacita kita tidak ada artinya dan bahkan kembali ke ketiadaan. Merayakan Tritunggal Mahakudus berarti bersukacita dalam keberadaan kita sebagai karunia, dan memuliakan Tuhan yang sangat mengasihi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Mgr Rubiyatmoko memukul dan menyobek-nyobek hoax dengan jurus-jurus silat

Sab, 26/05/2018 - 12:32

Suatu hari di Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang,  Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko melihat hoax lalu menghampirinya dan sejurus kemudian dengan gerakan jurus-jurus silat ia memukul dan menyobek-nyobek bidang tulisan hoax itu.

“Kalau ada hal-hal yang tidak baik, berita yang tidak baik, tinggalkan, tidak usah digubris. Yang baik disebarkan. Itulah cara pewartaan kita orang-orang Katolik. Siap? Sanggup? Sanggup menjadi pewarta kabar sukacita? Pewarta kebenaran? Menolak hal-hal yang tidak baik?” tanya Mgr Rubi menantang komitmen umat untuk melawan hoax.

Pemukulan dan penyobekan bidang tulisan hoax itu adalah tanda atau komitmen siap melawan hoax, tegas Mgr Rubi seraya mengajak orang-orang yang berkumpul di gereja itu untuk menjadi jurnalis-jurnalis, menjadi pewarta-pewarta, “menjadi saksi-saksi kebenaran Tuhan.”

Menurut Mgr Rubi, umat Katolik harus berusaha menjadi pewarta kebenaran seperti para rasul yang menjadi pewarta kebenaran yang memerdekakan. “Pewarta kebenaran yang menyelamatkan banyak orang,” kata uskup saat membuka Pekan Komsos 2018 Keuskupan Agung Semarang, 10-13 Mei 2018, di gereja itu dengan  menggunting pita film.

Mgr Rubi juga mengajak umat supaya peduli pada kerasulan komunikasi sosial (Komsos). “Komsos mau menyumbangkan karya pewartaan. Diharapkan kreativitasnya menjadi semakin bagus. Beberapa karyanya bisa diakses di web maupun youtube. Ada banyak kreativitas untuk bersama membangun kebersamaan kita,” katanya.

Ketua panitia Rosalia Rachma Rihadani mengatakan, Pekan Komsos 2018 mempunyai misi untuk mempertemukan semua anggota komsos se-Keuskupan Agung Semarang untuk belajar bersama dalam berbagai kegiatan di dalam workshop film, musik, dan menulis. Dia berharap dengan ketrampilan yang cukup, pelaku komsos bisa menjadi garda depan Gereja melawan hoax.

Sejumlah kegiatan digelar untuk memeriahkan acara tersebut seperti pameran karya, temu karya, workshop foto jurnalistik, workshop musik ilustrasi, film workshop penulisan naskah film, pagelaran seni dan perayaan ekaristi hari Komsos.(Lukas Awi Tristanto)

Suster Fox naik banding pada Departemen Kehakiman atas perintah pengusiran dirinya

Jum, 25/05/2018 - 23:51
Suster Fox naik banding

Ditemani oleh pengacara, biarawati-biarawati, para imam, dan pendukung lainnya, Misionaris Australia Suster Patricia Fox memohon kepada Departemen Kehakiman untuk membatalkan perintah pengusiran yang dikeluarkan terhadap dirinya oleh Kantor Imigrasi dan mengembalikan visa misionarisnya serta diizinkan untuk tinggal di negara Filipina.

Biarawati berusia 71 tahun, yang menghabiskan 27 tahun terakhir di Filipina, mengatakan dia ingin tetap tinggal di negara itu dan melanjutkan pelayanannya bagi orang Filipina yang miskin. “Keinginan saya adalah untuk dapat melanjutkan pekerjaan misi saya bersama dengan orang miskin dan saya harap ini akan menjadi hasil dari permohonan saya,” kata Suster Fox kepada wartawan, seperti dilaporkan oleh Roy Lagarde dari CBCPNews, Manila, 25 Mei 2018.

Tanggal 23 April, Kantor Imigrasi  mencabut visa misionaris biarawati itu dan memberinya waktu hanya sampai 25 Mei untuk meninggalkan negara itu atau kalau tidak dia akan dideportasi. Kantor itu menjelaskan bahwa Suster Fox masih dapat mengunjungi negara itu, asalkan dia mengajukan permohonan visa turis. Namun, petisi dari Kathy Panguban yang merupakan pengacara dan penasehat Suster Fox membuat perintah dari Kantor Imigrasi itu ditahan.

“Kami mengajukan banding hari ini. Berdasarkan Peraturan Omnibus Imigrasi, eksekusi Kantor Imigrasi itu ditunda,” kata Panguban dari National Union of People’s Lawyers. “Kami juga meminta Departemen Kehakiman untuk mengakui hukum kami sendiri,” lanjutnya.

Kemarin, Kantor Imigrasi menegaskan bahwa perintah bagi biarawati itu untuk meninggalkan Filipina sudah final karena diduga terlibat dalam kegiatan politik, melanggar ketentuan dalam visa misionarisnya.

Namun, Suster Mary John Mananzan dari Gerakan Melawan Tirani mengatakan bahwa tidak memeriksa suster itu adalah pelanggaran haknya berkaitan dengan proses yang sebenarnya. “Adalah tidak adil memerintahkan deportasi Suster Pat tanpa uraian yang jelas tentang apa yang telah dilakukannya demi kepentingan Filipina dan rakyat Filipina,” kata Mananzan.(paul c pati)

Apa kriteria lagu-lagu dan musik yang sesuai dengan perayaan liturgi?

Jum, 25/05/2018 - 23:11

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

238. Apa hubungan antara tindakan dan kata-kata dalam perayaan Sakramen?

Tindakan dan kata-kata sangat erat berhubungan dalam perayaan Sakramen. Bahkan walaupun tindakan simbolis itu sendiri sudah menjadi bahasa pada dirinya sendiri, masih perlulah kata-kata ritus menyertainya karena menghidupkan tindakan tersebut. Kata-kata liturgis dan tindakan itu tidak terpisahkan sebab keduanya merupakan tanda-tanda yang bermakna dan melaksanakan apa yang ditandakan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1153-1155, 1190

239. Apa kriteria lagu-lagu dan musik yang sesuai dengan perayaan liturgi?

Karena lagu-lagu dan musik sangat erat berhubungan dengan perayaan liturgi, perlulah memperhatikan beberapa kriteria: syairnya harus sesuai dengan ajaran Katolik, lebih baik kalau diambil dari Kitab Suci dan sumber-Sumber liturgi; harus merupakan ungkapan doa yang indah. Musiknya harus mempunyai kualitas tinggi. Lagu dan musik harus mendorong partisipasi aktif orang-orang yang hadir dalam perayaan liturgi, harus mengungkapkan kekayaan budaya Umat Allah dan ciri khas perayaan yang sakral dan agung. ”Dia yang bernyanyi dengan baik, berdoa dua kali” (Santo Agustinus).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1156-1158, 1191

Halaman