Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 9 mnt yang lalu

Tulang belulang 4000 saudara Kapusin hiasi kapel ruang bawah tanah di Roma

Sel, 30/10/2018 - 22:50
web-skulls-santa-maria-della-concezione-dei-cappuccini-relics-bones-saints-capuchins-franciscans-cc-by-2-5Batok-batok kepala para biarawan Kapusin menghiasi ruang bawah tanah Gereja Santa Maria della Concezione di Roma. Sumber Wikipedia CC BY 2.5

Vittoria Traverso | Aleteia

Di tengah-tengah salah satu daerah paling menawan di Roma, beberapa blok dari Piazza Barberini dan Air Mancur Triton, terletak salah satu rahasia yang tersimpan dengan sangat baik, yakni ruang bawah tanah yang dihiasi tulang belulang manusia milik biarawan-biarawan Kapusin setempat.

Untuk memahami asal-usul gagasan seram seperti itu, kita perlu kembali ke abad 17, ketika Paus Urbanus VII, saudara dari biarawan Kapusin setempat, Antonio Marcello Barberini, menugaskan sebuah gereja untuk menerima dengan senang hati keperluan dari kongregasi saudara-saudara Kapusin yang sedang berkembang.

Gereja bernama Santa Maria della Concezione dei Cappuccini itu dibangun berkat sumbangan dari beberapa keluarga terkaya di Roma dan dirancang oleh arsitek Antonio Casoni, yang memilih interior sederhana, sebuah permulaan yang kuat dari kemewahan yang biasanya dimiliki oleh gereja-gereja Roma saat itu.

Namun, tidak butuh waktu lama bagi Santa Maria della Concezione dei Cappuccini untuk mendapatkan efek “dekorasi yang hebat.” Tahun 1631, ketika gereja itu selesai, Kardinal Antonio Barberini, keponakan dari Antonio Marcello Barberini, memerintahkan agar jenazah-jenazah saudara-saudara Kapusin yang dimakamkan di pemakaman di Via dei Lucchesi untuk dipindahkan ke gereja baru itu agar semua Kapusin dapat “berada di tempat yang sama.”

Tetapi, bukannya mengatur dengan baik tulang-belulang itu dalam peti jenazah atau dalam kuburan, para biarawan memutuskan untuk menggunakannya sebagai ornamen-ornamen Baroque. Hasilnya, tercipta enam ruang kecil berhiaskan tulang belulang dari 4.000 biarawan yang meninggal antara tahun 1528 hingga 1870. Dua di antara ruangan itu menggunakan nama jenis tulang yakni “Ruang Batok Kepala” dan “Ruang Tulang Pinggang.”

Alasan tampilan tulang-tulang manusia yang tidak biasa ini masih belum jelas, meskipun kongregasi Kapusin setempat menghubungkannya dengan kehendak para leluhur agar selalu diingat bahwa kematian itu tidak bisa diprediksi, bisa terjadi dalam diri kita kapan saja. Memang, ruangan-ruangan, yang selama bertahun-tahun juga menerima dengan senang hati mumi-mumi para biarawan Kapusin dalam jubah berkerudung, digunakan oleh para biarawan sebagai tempat-tempat kontemplasi dan doa. Sebuah kalimat, yang terukir pada plakat di salah satu ruang bawah tanah itu, membenarkan penjelasan itu. Bunyinya, “Keadaan kalian sekarang, pernah kami alami dulu, keadaan kami sekarang, akan nanti kalian alami.” Ribuan biarawan pasti pernah datang ke ruang-ruang bawah tanah ini untuk merenungkan kenyataan bahwa suatu hari nanti mereka akan bergabung dengan saudara-saudaranya.

Pernyataan tertulis pertama dari ruang bawah tanah ditemukan dalam sebuah surat dari tahun 1775. Dalam surat itu, bangsawan dan penulis Perancis, Marquis de Sade, mengatakan bahwa dia “tidak pernah melihat sesuatu yang lebih menarik perhatian.” Dan, dapat dipahami bahwa, perhatian para penulis akan dekorasi luar biasa pada Santa Maria della Concezione tidak berakhir di sana. Seratus tahun kemudian, Mark Twain menyebutkan kapel itu di awal Bab XXVII dari bukunya tahun 1869, The Innocents Abroad, sementara penulis romantis Amerika Nathaniel Hawthorne menyebutnya dalam novelnya tahun 1860, The Marble Faun.

Kini, kapel itu adalah salah satu dari daya tarik yang kurang dikenal di Kota Abadi, karena banyak pengunjung tertipu oleh penampilan sederhana Santa Maria della Concezione. Bagi kalian yang berani menjelajah ke ruang bawah tanah, ingatlah bahwa kalian akan berada dalam ruang-ruang yang dikonsekrasikan, sehingga pakaian-pakaian terbuka (celana pendek, kaos tanpa lengan, dll.) tidak diperbolehkan. Kenakan pakaian terbaik Anda dan bersiap-siap untuk bertatap muka dengan biarawan Kapusin berusia 300 tahun! (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Aleteia)

Gereja Santa Maria della Concezione dei Cappuccini. Sumber Wikipedia CC BY-SA 3.0 Salah satu sisi kapel bawah tanah. Sumber Wikipedia CC BY 2.5 Sumber Wikimedia. CC BY-SA 3.0 Sumber Wikimedia. CC BY-SA 3.0

KWI berharap Negara tidak terlalu jauh mengatur urusan teknis pendidikan agama

Sel, 30/10/2018 - 05:34

Mencermati Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan yang telah diputuskan menjadi RUU usulan DPR RI dalam Rapat Paripurna 16 Oktober 2018, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) mengeluarkan masukan yang berharap agar Negara tidak terlalu jauh mengatur urusan teknis pendidikan agama karena setiap agama memiliki kekhasannya masing-masing.

“RUU tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan itu belum pernah dikonsultasikan dan mendapat tanggapan serta masukan dari institusi Gereja Katolik di Indonesia,” tulis masukan KWI, yang dikeluarkan di Jakarta, 29 Oktober 2018, dan ditandatangani oleh Sekretaris Komisi Kerawam KWI Pastor Paulus Christian Siswantoko Pr.

Bahkan masukan itu juga menyebutkan bahwa KWI menemukan beberapa bagian dari RUU itu yang sangat krusial dari konsideran, pasal, dan ayat yang membutuhkan perubahan dan/atau tidak perlu diatur, yakni judul RUU yang perlu dipertimbangkan kembali, rumusan Pendidikan Keagamaan Katolik belum lengkap perlunya penjelasan makna makna kata ta’awun, tawazun, dan tawasut karena kata-kata itu hanya dikenal dan dipahami oleh agama Islam, Pendidikan Diniyah yang tidak dikenal dalam Pendidikan Agama Katolik dan lain-lain.

Terhadap RUU tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan, KWI mengatakan, “Kami akan memberikan Daftar Isian Masalah (DIM) sandingan secara lengkap kepada Presiden sebagai bahan pertimbangan pengisian DIM dan kepada DPR RI dalam membantu pembahasan RUU ini pada Pembicaraan Tingkat I (satu) sesuai tahapan pembentukan undang-undang.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Masukan lengkap dari KWI itu bisa dibaca di bawah ini:

Paus nyatakan belasungkawa bagi para korban kecelakaan pesawat di Indonesia

Sel, 30/10/2018 - 02:54
Foto: Dokumentasi Lion Air

Paus Fransiskus menyatakan kesedihan bagi para korban dari pesawat Indonesia yang jatuh ke laut hari Senin, 29 Oktober 2018, dengan membawa 189 orang tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menuju Pangkalpinang.

“Mendengar dengan sedih kecelakaan pesawat baru-baru ini di Jakarta, Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa kepada semua orang yang terkena dampak tragedi ini,” demikian telegram belasungkawa yang ditandatangani atas nama Sri Paus oleh Menteri Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, demikian laporan Robin Gomes dari Vatican News.

“Dia memastikan akan berdoa bagi semua yang meninggal dan bagi yang berdukacita atas kehilangan mereka. Yang Mulia memohon kekuatan dan kedamaian dari Allah Yang Mahakuasa untuk bangsa (Indonesia) dan semua yang terlibat dalam upaya penyelamatan dan pemulihan,” tulis kardinal itu dalam pesan kepada Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo.

Menurut informasi, penerbangan Lion Air JT610 menuju ke Pangkalpinang, Pulau Bangka, itu kehilangan kontak dengan pejabat di darat tak lama setelah pilotnya meminta untuk kembali ke pangkalan sekitar 13 menit setelah tinggal landas.

Seorang pejabat transportasi mengatakan, pesawat itu meminta untuk segera kembali setelah lepas landas dari Jakarta sekitar pukul 06.20. Kondisi cuaca normal tetapi pesawat merek baru Boeing 737 MAX 8 itu mengalami masalah teknis pada penerbangan sebelumnya.

Sebuah kapal tunda yang sedang meninggalkan pelabuhan Jakarta melihat jatuhnya pesawat itu. Namun, tidak nampak tanda-tanda ada yang selamat.

Dari jumlah orang di dalam pesawat itu, menurut Lion Air, ada satu anak dan dua bayi, serta delapan awak. Juga dikatakan ada sekitar 20 staf Kementerian Keuangan di antara penumpang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan kepada Komite Keselamatan Transportasi untuk melakukan penyelidikan terhadap penyebab jatuhnya pesawat itu dan serta “mohon doa dan dukungan dari semua.”

Bahkan di malam hari, Presiden Jokowi memerintahkan tim pencari pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang itu, untuk terus bekerja selama 24 jam, hingga malam hari, agar mempercepat pencarian badan pesawat yang hingga kini belum ditemukan.

Deputi Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Mayjen Nugroho Budi Wiryanto mengatakan, sekitar 300 orang termasuk tentara, polisi, dan nelayan setempat terlibat dalam pencarian dan sejauh ini tidak menemukan mayat, hanya KTP, barang-barang pribadi dan puing pesawat dari lokasi kecelakaan, sekitar 15 km di lepas pantai.

Berdasarkan data Posko Basarnas di Pelabuhan JICT 2, Tanjung Priok, tulis Kompas 29 Oktober pukul 21.25, setidaknya ada enam tanda identitas yang sudah ditemukan. Pertama, KRI Cobra pukul 18.29 membawa dompet atas nama Michelle Virginia dan Mariam Ulfa. Kapal itu juga membawa bagian tubuh, sepatu abu-abu, sepatu hitam, sepatu anak-anak nomor tujuh, serpihan pesawat, dan tas cokelat berwarna satu.

Pukul 18.35, lanjutnya, KNP 365 tiba di pelabuhan membawa identitas atas nama Denny Maulana serta dua dompet atas nama Vita D dan Faisaleh Harhara. Ditemukan pula bagian tubuh, sepatu anak-anak, sepatu dewasa, dan serpihan pesawat.

Pukul 18.40, kembali datang RIB KDPASKA membawa satu dompet dan identitas atas nama Niko Yoga M, satu tas, satu life jacket, serpihan pesawat, dan empat bagian tubuh. Hingga pukul 20.45, setidaknya ada 29 kapal penyelamatan yang berlayar ke perairan Tanjung Karawang. Kapal-kapal ini terus bersandar di Pelabuhan JICT 2 Tanjung Priok untuk menyerahkan hasil temuan mereka.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Paus minta kita mendengarkan dan menjadi sesama orang yang meminta bantuan

Sen, 29/10/2018 - 23:14
Paus menyalami seorang auditor Sinode Para Uskup dalam Misa Penutupan (Vatican Media)

Yesus memperagakan kepada murid-muridnya tiga “langkah mendasar dalam perjalanan iman,” kata Paus Fransiskus dalam homilinya, yang mengambil benang dari kisah Injil tentang Yesus menyembuhkan Bartimeus yang buta. Injil ini sangat berhubungan dengan liturgi yang merayakan penutupan Sidang Umum Biasa XV Sinode Para Uskup tentang Orang Muda, 28 Oktober 2018.

Yesus bereaksi terhadap permintaan Bartimeus dengan cara berbeda daripara para murid, kata Paus Fransiskus, seperti dilaporkan oleh Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News. Meskipun jelas apa yang diinginkan seorang buta, Yesus “pergi kepadanya; membiarkan dia berbicara.” Selanjutnya, Yesus mengambil waktu untuk mendengarkan.

Paus Fransiskus melanjutkan:

“Inilah langkah pertama dalam membantu perjalanan iman: mendengarkan. Itulah kerasulan telinga: mendengarkan sebelum bicara.

Murid-murid yang mengikuti rencana mereka sendiri bukan rencana Tuhan melihat orang-orang seperti Bartimeus sebagai gangguan, kata Paus Fransiskus. Dia menyebut hal itu sebagai risiko yang harus terus-menerus diperhatikan. Murid-murid yang benar-benar anak-anak Bapa mendekati orang yang sama dengan cara berbeda.

“Mereka mendengarkan dengan sabar dan penuh kasih, sama seperti yang dilakukan Tuhan kepada kita dan kepada doa-doa kita, betapa pun doa-doa itu mungkin sudah berulang-ulang kali diucapkan. Tuhan tidak pernah lelah; dia selalu senang kalau kita mencari-Nya. Semoga kita juga meminta karunia hati yang mendengarkan.”

Atas nama semua orang dewasa, Paus Fransiskus kemudian meminta pengampunan dari orang-orang muda.

“Maafkan kami jika kami sering tidak mendengarkan kalian, jika, bukannya membuka hati kami, kami memenuhi telinga kalian.

Langkah kedua dalam perjalanan iman ini adalah menjadi sesama bagi orang yang meminta bantuan. Yesus tidak mendelegasikan tugas kepada orang lain, kata Paus Fransiskus. Yesus secara pribadi datang kepada Bartimeus dan menanyakan apa yang dia inginkan sehingga jawabannya sesuai dengan kebutuhan Bartimeus. Beginilah cara Tuhan bekerja, kata Paus.

Lihatlah pada salib, mulai dari satu dan ingat bahwa Tuhan menjadi sesama saya dalam dosa dan kematian. Dia menjadi sesama saya: semuanya dimulai dari sana. Dan ketika, karena cinta akan Dia, kita juga menjadi sesama, kita menjadi pembawa kehidupan baru.”

Karena mematuhi Yesus, para murid mendekati Bartimeus. Mereka tidak melempar koin, tetapi mereka mengatakan kepadanya kata-kata yang Yesus katakan sebelum kisah ini: “Kuatkan hatimu,” dan “berdirilah.”

“Dalam Injil, Yesus sendiri berkata, “Bangunlah,” dan Dia menyembuhkan roh dan tubuh. Yesus sendiri meminta, seraya merubah kehidupan orang-orang yang mengikutinya, membantu membangkitkan orang-orang yang jatuh, membawa terang Allah ke dalam kegelapan hidup.”

Akhir dari kisah Injil itu mengejutkan, kata Paus mengakhiri homili. Tanpa pengakuan iman atau pekerjaan yang baik, Bartimeus mendengar Yesus berkata, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Kebutuhannya akan keselamatan adalah awal dari imannya, kata Paus Fransiskus.

Iman yang menyelamatkan Bartimeus tidak ada hubungannya dengan gambarannya yang jelas tentang Tuhan, tetapi dalam mencari Dia dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. Iman berkaitan dengan perjumpaan, bukan teori. Dalam perjumpaan, Yesus lewat; dalam perjumpaan, hati Gereja berdetak. Lalu, yang akan terbukti efektif bukanlah pewartaan kami, tetapi kesaksian hidup kami.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Surat dari Para Bapa Sinode untuk Orang Muda: kami ingin ikut dalam sukacita kalian

Min, 28/10/2018 - 21:30
Kardinal Lorenzo Baldisseri membacakan “Suarat dari Bapa-Bapa Sinode untuk Orang Muda” di akhir Misa penutupan. (Vatican Media)

Sidang Umum XV dari Sinode Para Uskup

SURAT DARI  BAPA-BAPA SINODE UNTUK ORANG MUDA

Kami Bapa-Bapa Sinode sekarang menyapa kalian, orang muda sedunia, dengan kata harapan, kepercayaan, dan hiburan. Pada hari-hari ini, kami telah berkumpul bersama untuk mendengar suara Yesus, “Kristus yang senantiasa muda,” dan untuk mengenali di dalam Dia banyak suara kalian, teriakan kegembiraan kalian, tangisan kalian, dan saat-saat hening kalian.

Kami akrab dengan pencarian batin Anda, sukacita dan harapan, penderitaan dan kesedihan yang melengkapi kerinduan kalian. Sekarang kami ingin kalian mendengar sepatah kata dari kami: kami ingin ikut dalam sukacita kalian, sehingga harapan kalian bisa menjadi nyata. Kami yakin, dengan antusiasme kalian untuk hidup, kalian akan siap terlibat sehingga mimpi-mimpi kalian bisa terwujud dan terbentuk dalam sejarah kalian.

Kelemahan-kelemahan kami seharusnya tidak menghalangi kalian; kelemahan dan dosa kami seharusnya tidak menjadi penghalang bagi kepercayaan kalian. Gereja adalah ibumu; dia tidak meninggalkan kalian; dia siap menemani kalian di jalan yang baru, pada jalur-jalur yang lebih tinggi di mana angin Roh bertiup lebih kuat – menyapu kabut ketidakpedulian, kedangkalan dan keputusasaan.

Ketika dunia yang begitu dicintai Tuhan, sehingga Dia memberi kepada kita Anak tunggal-Nya, Yesus, berfokus pada hal-hal materi, pada kesuksesan jangka pendek, pada kesenangan, dan ketika dunia menggilas orang-orang yang terlemah, kalian harus membantunya bangkit kembali dan sekali lagi mengalihkan pandangannya kepada cinta, keindahan, kebenaran, dan keadilan.

Selama sebulan, kami telah berjalan bersama beberapa orang dari kalian dan bersama banyak orang lain yang telah dipersatukan dengan kami melalui doa dan kasih sayang. Kami ingin melanjutkan perjalanan sekarang di setiap bagian bumi, tempat Tuhan Yesus mengirim kami sebagai murid-murid misionaris.

Gereja dan dunia sangat membutuhkan antusiasme kalian. Pastikanlah orang-orang paling rapuh, orang-orang miskin dan orang-orang terluka oleh kehidupan menjadi teman-teman seperjalanan kalian.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Saksikan videonya:

https://www.youtube.com/watch?v=pm3TZaTM9gA

Artiket terkait:

Bapa-Bapa Sinode menyetujui Dokumen Akhir Sinode untuk Orang Muda

Orang muda peserta sinode berterima kasih kepada Paus Fransiskus dengan sebuah pertunjukan

Paus Fransiskus memberikan suvenir kepada peserta sinode

Tantangan orang muda Indonesia, antara lain, pendidikan, pekerjaan, intoleransi, kata uskup

Orang muda dari Indonesia salah satu penyusun pesan sinode untuk orang muda sedunia

Sinode para uskup: Orang muda kurang digunakan bukan tidak berguna

Bapa-Bapa Sinode menyetujui Dokumen Akhir Sinode untuk Orang Muda

Min, 28/10/2018 - 20:36
Foto bersama peserta Sinode untuk Orang Muda. Foto Vatican Media

Pada hari Sabtu sore, 27 Oktober 2018, Dokumen Akhir dari Sidang Umum Biasa XV Sinode Para Uskup yang terdiri dari 3 bagian, 12 bab, 167 paragraf dan 60 halaman disetujui di Ruang Sinode.

Teks itu diterima dengan tepuk tangan, kata Kardinal da Rocha. Ini adalah “hasil dari kerja tim yang nyata” di pihak para Bapa Sinode, bersama peserta Sinode lainnya dan “orang muda dengan cara tertentu.” Oleh karena itu, dalam dokumen itu ada 364 modifikasi, atau amandemen, yang dipresentasikan. “Sebagian besar,” kata Kardinal, “tepat dan konstruktif”. Selanjutnya, seluruh dokumen disahkan dengan suara 2/3 mayoritas yang dibutuhkan.

Inspirasi untuk Dokumen Akhir untuk Sinode tentang Orang Muda itu adalah kisah para murid dari Emaus, yang diceritakan oleh penginjil Lukas. Kisah itu dibacakan di Ruang Sinode oleh Pelapor Umum, Kardinal Sérgio da Rocha, oleh Sekretaris-Sekretaris Khusus, Pastor Giacomo Costa dan Pastor Rossano Sala, bersama Uskup Bruno Forte, seorang anggota Komisi untuk penyusunan naskah itu. Dokumen, yang merupakan pelengkap dari Instrumentum laboris dari Sinode, itu dibagi dalam tiga bagian.

Bagian Satu: “Dia berjalan bersama mereka”

Bagian pertama dokumen itu mempertimbangkan aspek-aspek konkret kehidupan orang muda. Bagian itu menekankan pentingnya sekolah-sekolah dan paroki-paroki. Dokumen itu mengakui perlunya orang awam dilatih untuk mendampingi orang muda terutama karena begitu banyak imam dan uskup sudah terbebani banyak pekerjaan. Dokumen itu mencatat peran tak tergantikan dari lembaga-lembaga pendidikan Katolik. Tantangan yang dihadapi, tulis dokumen itu, adalah kebutuhan untuk memikirkan kembali peran paroki berkenaan dengan misi panggilannya karena sering tidak efektif dan tidak terlalu dinamis, terutama di bidang katekese.

Realitas orang muda berkaitan dengan migrasi, pelecehan, “budaya membuang” juga ada di bagian satu. Mengenai pelecehan, dokumen Sinode itu menghimbau “komitmen kuat untuk mengadopsi langkah-langkah pencegahan ketat yang akan mencegah terulangnya pelecehan itu, dimulai dengan seleksi dan formasi orang-orang yang akan dipercayakan dengan peran kepemimpinan dan pendidikan.” Dunia seni, musik dan olahraga juga dibahas dalam hal penggunaannya sebagai “sumber daya pastoral.”

Bagian Dua: “Mata mereka terbuka”

Dokumen Sinode itu menyebut orang-orang muda sebagai salah satu dari “tempat-tempat teologis” di mana Tuhan menghadirkan diri-Nya. Berkat mereka, kata dokumen itu, Gereja dapat memperbarui dirinya sendiri, seraya menyingkirkan “beban dan kelambatannya.” Misi, kata dokumen itu, adalah “kompas mujarab” bagi orang muda karena merupakan karunia diri yang membawa kebahagiaan otentik dan abadi. Yang berkaitan erat dengan konsep misi adalah panggilan. Setiap panggilan baptisan adalah panggilan menuju kekudusan.

Dua aspek lain yang tercakup dalam bagian dua, yang membantu pengembangan misi dan panggilan orang muda, adalah aspek pendampingan dan percermatan.

Bagian Tiga: “Mereka pergi tanpa penundaan”

Ikon yang diberikan oleh Bapa-Bapa Sinode tentang Gereja muda adalah Maria Magdalena, saksi pertama dari Kebangkitan. Semua orang muda, tegas para Bapa Sinode, termasuk mereka yang memiliki visi hidup berbeda, ada di hati Tuhan.

“Berjalan bersama” adalah dinamika sinode yang juga dibawa oleh para Bapa Sinode di bagian tiga. Mereka mengajak Konferensi-Konferensi Waligereja di seluruh dunia untuk melanjutkan proses pencermatan dengan tujuan mengembangkan solusi pastoral khusus. Definisi “sinodalitas” yang diberikan adalah sebuah gaya misi yang mendorong kita beralih dari “aku” ke “kami” dan untuk mempertimbangkan keanekaragaman wajah, kepekaan, asal-usul dan budaya. Satu permintaan yang berulang kali muncul di Ruang Sinode adalah pembuatan “Direktori pelayanan orang muda dengan kata kunci panggilan” di tingkat nasional, yang dapat membantu para pemimpin keuskupan dan paroki mengkualifikasi pelatihan dan tindakan mereka “dengan” dan “untuk” orang muda, seraya membantu mengatasi fragmentasi tertentu dari pelayanan pastoral Gereja.

Dokumen Sinode mengingatkan keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas Kristiani tentang pentingnya mendampingi orang muda guna menemukan karunia seksualitas mereka. Para uskup mengakui kesulitan Gereja dalam menyebarkan “keindahan pandangan Kristen tentang seksualitas” dalam konteks budaya saat ini. Sangatlah mendesak, kata dokumen itu, untuk mencari “cara-cara lebih tepat yang diterjemahkan secara konkret dalam pengembangan langkah-langkah pembinaan yang diperbarui.”

Akhirnya, dokumen itu juga memasukkan berbagai topik yang tercakup dalam Sinode ke dalam satu tujuan dalam hal panggilan, yaitu, panggilan menuju kekudusan. “Perbedaan-perbedaan panggilan disatukan dalam panggilan unik dan universal untuk kekudusan.” Melalui kekudusan dari begitu banyak orang muda yang mau meninggalkan kehidupan di tengah-tengah penganiayaan untuk tetap setia kepada Injil, Gereja dapat memperbarui semangat spiritualnya dan semangat kerasulannya.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Orang muda peserta sinode berterima kasih kepada Paus Fransiskus dengan sebuah pertunjukan

Paus Fransiskus memberikan suvenir kepada peserta sinode

Tantangan orang muda Indonesia, antara lain, pendidikan, pekerjaan, intoleransi, kata uskup

Orang muda dari Indonesia salah satu penyusun pesan sinode untuk orang muda sedunia

Sinode para uskup: Orang muda kurang digunakan bukan tidak berguna

Vatican Media

Orang muda peserta Sinode berterima kasih kepada Paus dengan sebuah pertunjukan

Min, 28/10/2018 - 14:09
Paus Fransiskus menyaksikan pertunjukan yang dibawakan orang muda peserta Sinode (Vatican Media)

Orang-orang muda yang berperanserta sebagai auditor, yang boleh mendengarkan seluruh diskusi  dalam Sinode Para Uskup di Vatikan, menyelenggarakan malam hiburan bagi Paus dan para uskup yang mengambil bagian dalam pertemuan itu. Para Bapa Sinode juga larut dalam kesempatan itu. Kardinal Baldisseri memainkan dua lagu dengan piano. Puisi, tarian, lagu dan musik juga merupakan bagian dari pertunjukan di kompleks Aula Paulus VI.

Inilah terjemahan dari pesan kepada Paus yang dibacakan oleh orang muda di akhir Sinode:

Paus Fransiskus tersayang,

Kami, orang muda yang hadir dalam Sinode, ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih dan sukacita kepada Anda karena telah memberikan kepada kami ruang untuk membuat bagian kecil sejarah ini secara bersama. Ide-ide baru membutuhkan ruang dan Anda memberikannya kepada kami. Dunia saat ini, yang memberikan kepada kami, orang-orang muda, peluang-peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya tetapi juga banyak penderitaan, membutuhkan jawaban baru dan kekuatan cinta yang baru. Ada kebutuhan untuk menemukan kembali harapan dan untuk menjalani kebahagiaan yang dialami dalam memberi lebih dari sekadar menerima, seraya mengupayakan dunia yang lebih baik.

Kami ingin menegaskan bahwa kami ikut bermimpi bersama Anda: Gereja yang ramah, yang terbuka untuk semua, terutama yang paling lemah, Gereja rumah sakit lapangan. Kami sudah menjadi bagian aktif dari Gereja ini dan kami ingin terus membuat komitmen konkrit untuk memperbaiki kota-kota dan sekolah-sekolah kami, serta bidang sosial dan politik dan lingkungan kerja, dengan menyebarkan budaya perdamaian dan solidaritas serta dengan memusatkan perhatian pada orang miskin, karena dalam diri mereka Yesus sendiri diakui.

Di akhir Sinode ini kami ingin mengatakan kepada Anda bahwa kami bersama Anda dan bersama dengan semua uskup Gereja kami, juga di saat-saat sulit. Kami memohon agar Anda terus melanjutkan perjalanan yang telah Anda lakukan dan kami menjanjikan kepada Anda dukungan penuh dan doa harian kami.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus memberikan souvenir kepada peserta Sinode

Min, 28/10/2018 - 13:50
Paus Fransiskus memperlihatkan hadiah suvenirnya kepada peserta Sinode. (Vatican Media)

Paus Fransiskus pada hari Sabtu 27 Oktober 2018 menghadiahkan suvenir kepada semua peserta Sidang Umum Biasa XV Sinode Para Uskup untuk mengingatkan mereka tentang keterlibatan mereka dalam pertemuan dunia 3-28 Oktober tentang orang muda. Suvenir itu berupa sebuah ukiran timbul berbentuk persegi panjang terbuat dari perunggu di dalam sebuah kotak yang menggambarkan Yesus dan murid muda yang terkasih. Suvenir itu merupakan kreasi seniman Italia, Gino Giannetti. Hadiah itu diberikan secara pribadi oleh Paus kepada Para Bapa Sinode dan peserta lainnya di aula Atrium Sinode sebelum dimulainya sesi kerja terakhir di hari Sabtu itu, setelah foto bersama. Sinode Para Uskup tentang tema, “Orang Muda, Iman dan Pencermatan Panggilan,” berakhir pada hari Minggu, 28 Oktober, dengan Misa oleh Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus di Vatikan.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tantangan orang muda Indonesia antara lain pendidikan, pekerjaan, intoleransi, kata uskup

Sab, 27/10/2018 - 23:58
Vatican Media

Bapa Sinode dari Indonesia, Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi, mengatakan dalam Sinode tentang kaum muda di Vatikan bahwa pendidikan, pekerjaan, perjuangan melawan intoleransi dan perlindungan lingkungan hidup merupakan tantangan utama yang dihadapi orang muda di negaranya.

“Negara diminta untuk memberi kepada mereka pendidikan yang memadai, dengan kualitas yang sama baik di daerah lebih maju, seperti Jawa dan Sumatra, serta daerah kurang sejahtera, seperti Papua dan Kalimantan,” kata Mgr Prapdi kepada AsiaNews seperti dilaporkan oleh Vatican News.

Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) itu mewakili Gereja Indonesia dalam Sinode Para Uskup sedunia di Vatikan bersama Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko. Selain itu, OMK Indonesia diwakili oleh seorang wanita awam muda, yang anggota Komisi Kepemudaan KWI, Anastasia Indrawan, yang hadir sebagai auditor.

Sinode Para Uskup 3-28 Oktober dengan tema, “Kaum Muda, Iman dan Pencermatan Panggilan” akan berakhir hari Minggu, 28 Oktober dengan Misa yang akan dipimpin Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan merupakan negara terpadat keempat di dunia, sedang mengalami transisi demografis. Di tahun-tahun mendatang, segmen penduduk yang lebih muda akan terus tumbuh, meskipun sedikit lebih lambat daripada orang tua mereka. Menurut data pemerintah, yang berusia antara 15 dan 29 berjumlah lebih dari 62 juta dari perkiraan penduduknya sebanyak lebih dari 266 juta.

Puas dengan jumlah besar orang muda itu, Uskup Prapdi mengatakan, jumlah angkatan kerja yang banyak itu membutuhkan pekerjaan berkualitas, sehingga pelatihan kejuruan menjadi sangat penting. “Akan menjadi bencana jika orang muda tidak berkualitas dan memiliki pola pikir lemah,” tegas uskup itu.

Di samping itu, Mgr Prapdi mengakui orang muda di negara dengan penduduk Muslim terbanyak itu juga terancam oleh tekanan Islamis. “Hubungan antara umat yang berbeda itu baik,” tetapi perlu diakui bahwa “kelompok-kelompok radikal beroperasi dalam masyarakat, mempromosikan intoleransi dengan daya tarik yang besar bagi orang muda.”

Menurut uskup itu, pembangunan ekonomi tidak boleh mengabaikan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Maka, uskup itu menyerukan adanya “komitmen serius terhadap alam” melalui program dan inisiatif yang melawan konsumerisme dan masalah-masalah yang ditimbulkannya, seperti monokultur, penggunaan plastik dan kertas yang berlebihan dan penggundulan hutan.

Di Indonesia, dari sekitar tujuh juta umat Katolik, dua juta masih muda. “Kami sadar, mereka merupakan ‘kawanan kecil’ tetapi kami dapat menghadapi tantangan-tantangan itu karena tahu bahwa mereka adalah misionaris di dunia saat ini,” kata Uskup Prapdi.

Indonesia memiliki 37 keuskupan. Di banyak keuskupan itu, lanjut Mgr Prapdi, dan juga di tingkat nasional, Gereja menawarkan kepada anak-anak muda, pria dan wanita, berbagai program pelatihan bisnis, kepemimpinan, perlindungan lingkungan, dan dialog antaragama. “Dengan cara ini,” kata uskup itu, “mereka dapat berpartisipasi dalam pembangunan Gereja dan masyarakat.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Orang muda dari Indonesia salah satu penyusun pesan sinode untuk orang muda sedunia

Sinode para uskup: Orang muda kurang digunakan bukan tidak berguna

Tuhan, Kasihanilah

Sab, 27/10/2018 - 17:22

Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-30 di Masa Biasa, 28 Oktober 2018: Markus 10: 46-52

“Yesus, anak Daud, kasihanilah aku.” (Markus 10:47)

Saya mengucapkan kaul lebih dari delapan tahun yang lalu bersama dengan 12 frater lainnya. Salah satu momen paling menyentuh dalam ritual profesi religius ini adalah ketika Romo Provinsial bertanya kepada kami, “Apa yang kamu cari?” Dan kami semua bersujud dan berbaring di lantai, sambil berseru, “Belas kasih Tuhan dan juga komunitas!” Setelah beberapa saat, Pastor Provinsi meminta kami untuk berdiri, dan kami mulai mengucapkan kaul kami di hadapannya. Saat saya mengingat momen yang penting ini, saya merenungkan dalam hati saya, “Mengapa harus meminta belas kasih?” Mengapa kita tidak memilih keutamaan lainnya? Mengapa tidak keadilan, yang adalah salah satu keutamaan penting dalam tradisi Kristiani? Mengapa tidak cinta kasih, yang adalah keutamaan terbesar dari semua keutamaan?

Namun, profesi religious ini bukanlah satu-satunya. Jika kita mengamati perayaan Ekaristi Kudus, ritus ini penuhi dengan permohonan belas kasihan. Pada awal Misa, setelah kita mengingat dosa-dosa kita, kita berseru, “Tuhan, kasihanilah kami” tiga kali. Dalam doa Syukur Agung, kita sekali lagi memohon belas kasihan Tuhan agar kita bisa menikmati kehidupan kekal bersama para kudus. Dan, sebelum kita menerima Komuni Kudus, kita berdoa kepada Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, supaya Dia berbelas kasihan kepada kita. Tidak hanya dalam Ekaristi, tetapi permohonan belas kasih juga ditemukan dalam sakramen-sakramen lainnya. Sekali lagi, pertanyaannya adalah mengapa harus belaskasih?

Kita mungkin melihat sekilas jawaban dalam Injil kita hari ini. Yesus meninggalkan Yerikho dan melakukan perjalanan terakhirnya ke Yerusalem. Kemudian, tiba-tiba Bartimeus, seorang pengemis buta, berteriak dengan penuh daya, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Dia begitu gigih sehingga setelah ditegur oleh banyak orang, dia bahkan berteriak lebih keras. Setelah mendengar permohonan belas kasihan, Yesus yang telah menetapkan pandangannya ke Yerusalem memutuskan untuk berhenti. Yesus tidak bisa pura-pura tuli terhadap seruan Bartimeus. Dia tidak bisa mengabaikan belas kasihan. Namun, ini bukan satu-satunya episode di mana Yesus mengubah rencana awalnya dan mendengarkan permintaan belas kasihan. Dia membersihkan seorang penderita kusta karena belas kasihan (Mrk 1:41). Tergerak oleh belas kasihan, Dia memberi makan lima ribu orang (Mrk 6:30). Jika ada sesuatu yang dapat mengubah pikiran dan hati Yesus, pikiran dan hati Tuhan, ini adalah belas kasih.

Menggemakan para pendahulunya, Santo Paus Yohanes Paulus II, dan Paus Benediktus XVI, Paus Fransiskus mengatakan bahwa karakter pertama dan esensial dari Allah adalah belas kasih. Sesungguhnya, Tuhan yang penuh belas kasihan ditemukan di banyak tempat dalam Alkitab (lihat Kel 34: 6,7; Ul. 4:31; Mz 62:12, dll.). Itulah mengapa nama Tuhan adalah belas kasih.

Namun, apa yang membuat Bartimeus unik adalah bahwa ia adalah yang pertama dalam Injil Markus yang menyatakan secara verbal permohonan belas kasihan kepada Yesus. Mengikuti contoh Bartimeus, Gereja terus menjadi pengemis belas kasihan Allah. Seperti Bartimeus yang mengikuti Yesus, mengikuti-Nya berarti bahwa kita memiliki kesadaran bahwa Allah sangat berbelas kasih kepada kita dan kita membutuhkan kemurahan Tuhan. Seperti Bartimeus, kita mengungkapkan kebutuhan kita akan belas kasih Tuhan dalam ibadah kita, doa-doa kita, dan hidup kita. Kita memohon belas kasihan saat hidup menjadi sulit dan diluar kendali kita. Kita berseru “Tuhan, kasihanilah!” Ketika kita menghadapi pencobaan, atau pun saat kita gagal. Saya juga memiliki kebiasaan bahwa setiap malam sebelum saya beristirahat, saya berdoa “Tuhan, kasihilah aku!”, mengakui kegagalan saya pada hari ini, namun yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya. Kita memohon belas kasihan ketika mengetahui bahwa kita tidak layak, namun kita percaya bahwa Tuhan akan mengubah “pikiran-Nya” dan merangkul kita sekali lagi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Syukuran tahbisan Mgr Tri diwarnai 52 tumpeng, tampilan putra-putri Gusdurian, wayang kulit

Jum, 26/10/2018 - 23:57
Uskup Emeritus Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ bernyanyi bersama putra-putri Gusdurian. PEN@ Katolik/pcp

Setelah Misa Stasional Perdana Uskup Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono, uskup baru itu bersama Uskup Emeritus Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ, Uskup Emeritus Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja serta para imam, biarawan-biarawati dan umat menghadiri sajian wayang kulit Gagrag Banyumas semalam suntuk dengan lakon Mbangun Amarta oleh dalang Ki Kukuh Bayu Aji di Paschalis Hall, Purwokerto, 17 Oktober 2018. Tontonan wayang itu diawali Kenduren Agung Jumenengan Bapak Uskup Pufrwokwerto dengan Pemotongan Tumpeng oleh Mgr Tri yang dibagikan kepada Mgr Sunarka dan Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono. Selain tumpeng yang hampir setinggi Mgr Tri, ada 52 tumpeng lain, sebagai lambang 52 tahun usia Mgr Tri, tersebar di berbagai tempat gedung itu, di halaman katedral bahkan di halaman keuskupan. Dalam sambutannya Tri Lastiono menegaskan keinginan pemerintah untuk bekerja sama dengan Keuskupan Purwokerto. “Saya yakin, ke depan Keuskupan Purwokerto bisa bersinergi dengan pemerintah,” kata wakil bupati itu seraya mengingatkan bahwa sebentar lagi Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, mengingatkan bahwa di Indonesia tidak ada hanya satu agama tetapi beragam agama. “Indonesia adalah Nusantara, berbeda-beda tapi tetapi tetap satu juga,” katanya. Dalam acara itu, saudara-saudari Gusdurian yang pernah bertugas koor dalam Misa Ulang Tahun Paroki Majenang mengibur peserta dengan lagu Yalal Waton (cinta tanah air). Mgr Sunarka ikut bersama mereka menyanyi dan bergoyang di panggung. (PEN@ Katolik/paul c pati).

PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp

Filipina bersiap merayakan “Tahun Orang Muda 2019”

Jum, 26/10/2018 - 22:29
Ziarah Salib OMK mempersiapkan OMK Keuskupan Gumaca untuk Tahun Orang Muda Filipina 2019. Foto diambil dari cbcpnews.net

Setelah Sinode Para Uskup tentang Orang Muda yang dimulai 3 Oktober 2018 dengan tema “Orang Muda, Iman dan Pencermatan Panggilan” berakhir di Vatikan hari Minggu, 28 Oktober, Gereja Katolik Filipina akan merayakan “Tahun Orang Muda” 2019.

Berbicara kepada kantor berita Fides dari Vatikan, Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) mengatakan bahwa “Tahun Orang Muda 2019″ akan secara resmi dimulai pada pesta Kristus Raja, 25 November 2018, tetapi upacara pembukaannya akan diadakan 2 Desember di Manila.

Komisi itu telah mengundang jaringan dari 86 pemimpin pelayanan orang muda Katolik (OMK) tingkat keuskupan dan para pemimpin organisasi kaum muda nasional untuk “mengambil bagian dalam pelaksanaan umum dan memberikan kontribusi mereka, termasuk dalam menciptakan logo resmi dan lagu tema,” kata seorang anak OMK, Eva Mae Famillaran Palmero, kepada Fides.

“Perayaan Tahun Orang Muda akan menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman, untuk berbagi, berdoa, mewartakan cinta Tuhan bagi orang lain. Tahun  itu akan menjadi kesempatan untuk menjadi lebih teguh dalam iman,”  kata Jovanie Bacolcol, seorang pemimpin dan animator OMK kepada Fides.

Tahun Orang Muda adalah bagian dari persiapan bertahun-tahun oleh Gereja Katolik Filipina menuju 2021, perayaan lima abad kedatangan Injil di Filipina. Setiap tahun didedikasikan pada tema khusus. Tahun 2018 untuk para imam dan kaum religius.

Menurut surat gembala CBCP 2012, persiapan untuk perayaan itu dilakukan selama sembilan tahun. “Kami menantikan dengan rasa syukur dan sukacita tanggal 16 Maret 2021, perayaan lima abad kedatangan agama Kristen ke tanah tercinta kami,” tulis para uskup.

Misa pertama di bumi Filipina, tulis surat gembala itu, dirayakan di Pulau Limasawa pada Minggu Paskah, 31 Maret 1521, dan orang-orang Kristen Filipina pertama adalah Rajah Humabon dan Hara Amihan, yang dibaptis masing-masing dengan nama Carlos dan Juana.

Para misionaris Spanyol membawa iman Kristen ke Filipina 500 tahun lalu dan kini negara itu menjadi rumah bagi populasi Katolik terbesar di Asia. Dari 110 juta penduduk, 80 persen di antaranya beragama Katolik.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Agenzia Fides dan Vatican News)

Orang muda Katolik di Arab menyalakan kembali iman, harapan, dan cinta mereka

Jum, 26/10/2018 - 20:52
OPMK ikut serta dalam Kongres OMK Arab di Ras Al Khaimah, Uni Emeriat Arab. Foto Vatican Media

Menjelang penutupan Sinode Para Uskup tentang Orang Muda di hari Minggu, 28 Oktober 2018, sebanyak 1.500 orang muda Katolik (OMK) yang tinggal di Semenanjung Arab menghadiri “Kongres OMK Arab” di Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab (UEA), 25-27 Oktober 2018. Mereka menanggapi ajakan untuk “Bangun, yalakan kembali iman Anda, harapan dan cinta, dan alamilah Yesus lebih mendalam.”

Vikaris Apostolik untuk Arab Selatan dan Yaman Mgr Paul Hinder mengatakan dalam wawancara dengan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News bahwa kongres itu merupakan prakarsa yang diusulkan oleh OMK. Ide awal mereka adalah “untuk menyatukan OMK tidak hanya dari satu negara, tetapi dari beberapa negara di wilayah kami.” Para uskup dengan gembira menerima usul mereka, dan lahirlah kongres itu.

Kongres itu adalah acara OMK terbesar di Semenanjung Arab. OMK yang berperanserta datang dari UAE, Oman, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Kuwait. Kongres pertama diadakan tahun 2009 di Dubai dengan tema “Bertolak ke tempat yang dalam.” Tema kongres selanjutnya di Abu Dhabi, UAE, 2012, adalah “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.” Sedangkan tema tahun ini adalah “Jangan takut, hai Maria. Engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.”

Para tamu internasional sudah berkumpul untuk “menghidupkan” peserta dengan berbagai cara. Mereka, antara lain, Uskup Agung Prowse dari Canberra, Suster Anne Flanagan dari Amerika Serikat, Pastor Wissam Mansour yang merupakan pastor orang muda dari Yordania, John Pridmore seorang bekas penjahat dari London, Mark Nimo yang berasal dari Ghana, dan JC Libiran yang mendirikan Proyek Zona Keberanian (Courage Zone) di Filipina.

Mgr Hinder berharap, iman dan harapan, baik dari OMK yang hadir dan para uskup, akan diperkuat. “Kehidupan OMK di wilayah kami tidaklah mudah, karena situasi secara umum, baik ekonomi dan apa yang sedang terjadi di dunia. Maka, saya berharap kongres ini akan memperkuat iman OMK. Dan, katakanlah juga untuk kami para uskup. Kami juga orang beriman, dan berada bersama OMK memberi kami harapan dan dinamika baru,” kata uskup itu. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Paus dalam Misa: Siapakah Yesus Kristus bagi Anda?

Kam, 25/10/2018 - 23:05
Misa di Casa Santa Marta. Vatican Media

Siapa Yesus Kristus bagi Anda? Paus Fransiskus mengajukan pertanyaan ini dalam homili Misa pagi di Casa Santa Marta, 25 Oktober 2018. Jika seseorang bertanya kepada kita, “Siapakah Yesus Kristus?” Kita harus mengatakan apa yang kita pelajari: Dia adalah Juruselamat dunia, Putra Bapa, yang “kita ucapkan dalam Kredo.”

Tetapi, kata Paus, seperti dilaporkan oleh Debora Donnini dari Vatican News, agak lebih sulit menjawab pertanyaan tentang siapa Yesus Kristus itu “untuk saya.” Ini pertanyaan yang dapat membuat kita sedikit malu, karena untuk menjawab pertanyaan itu, “Saya harus masuk ke dalam hatiku,” yakni, harus memulai dari pengalaman kita sendiri.

Santo Paulus justru mengalami ketidaknyamanan ini ketika memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus. Dia mengenal Yesus melalui pengalamannya sendiri terlempar dari kudanya, ketika Tuhan berbicara kepada hatinya. Dia tidak mulai mengenal Kristus dengan mempelajari teologi, meskipun kemudian dia “melihat bagaimana Yesus diwartakan dalam Kitab Suci.”

Paulus ingin agar umat Kristen merasakan apa yang dia sendiri rasakan. [Menanggapi] pertanyaan yang dapat kita ajukan kepada Paulus – “Paulus, siapakah Kristus bagi Anda?” – ia berbicara hanya tentang pengalamannya sendiri: “Dia mengasihi aku, dan menyerahkan diri-Nya bagiku.” Paulus menginginkan setiap orang Kristen – dalam hal ini, orang-orang Kristen di Efesus – untuk memiliki pengalaman ini, untuk masuk dalam pengalaman ini, sampai pada titik di mana setiap orang dapat mengatakan, “Dia mengasihi aku, dan menyerahkan diri-Nya untukku,” tetapi mengatakannya dari pengalaman pribadi mereka sendiri.

Melantunkan Kredo dapat membantu kita untuk tahu tentang Yesus, kata Paus Fransiskus. Tetapi untuk benar-benar mengenal Dia, seperti bagaimana Santo Paulus mengenal Dia, lebih baik dengan mulai mengakui bahwa kita orang berdosa. Ini, kata Paus, adalah langkah pertama. Ketika Paulus mengatakan bahwa Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dia, dia mengatakan bahwa Dia membayarnya, dan ini keluar dalam semua suratnya. Dan definisi pertama yang Paulus berikan tentang dirinya berasal dari ini: Dia mengatakan dia adalah “orang berdosa,” dia mengakui bahwa dia menganiaya orang Kristen. Dia justru mulai dengan mengakui bahwa dia “dipilih karena kasih, meskipun dia seorang pendosa.”

“Langkah pertama untuk mengenal Kristus,” tegas Paus Fransiskus, terletak persis dalam mengakui bahwa kita orang berdosa. Dia mengatakan bahwa dalam Sakramen Rekonsiliasi, kita mengakui dosa kita – tetapi, katanya, “pertama menyebut dosa-dosa kita,” dan kedua mengakui diri sebagai orang berdosa, mampu melakukan apa saja.” Santo Paulus “memiliki pengalaman atas kemalangannya sendiri,” dan mengakui bahwa ia perlu ditebus, mengakui bahwa ia membutuhkan seseorang yang “akan membayar haknya untuk menyebut dirinya ‘anak Tuhan.’” Kita semua orang berdosa, tetapi untuk mengatakannya, untuk merasakannya, kata Paus, “kita membutuhkan pengorbanan Kristus.”

Tapi untuk mengenal Yesus, ada juga langkah kedua: kita mengenal Dia melalui kontemplasi dan doa. Paus mengenang “sebuah doa yang indah, dari seorang kudus: ‘Tuhan, biarkan aku mengenal Engkau, dan mengenal diriku.” Seharusnya kita tidak puas diri “dengan mengatakan tiga atau empat hal baik tentang Yesus,” lanjut Paus, karena mengenal Yesus “adalah petualangan, tetapi petualangan serius, bukan petualangan seorang anak kecil,” karena cinta Yesus tanpa batas.

Paulus mengatakan bahwa Dia dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita doakan dan kita pikirkan.” Dia memiliki kekuatan untuk melakukannya. Tetapi kita harus meminta kepada-Nya: “Tuhan, biarkan saya mengenal-Mu; sehingga kalau saya berbicara tentang Engkau, saya tidak mengulangi kata-kata seperti burung beo, [tetapi] saya mengatakan kata-kata yang lahir dari pengalaman saya sendiri. Sehingga seperti Paulus saya dapat mengatakan: “Dia mengasihi aku, dan menyerahkan diri-Nya untukku” – dan mengatakannya dengan keyakinan. “Inilah kekuatan kami, inilah kesaksian kami. Orang Kristen kata-kata, kita memiliki banyak kata; kita juga, begitu banyak [kata]. Dan ini bukan kesucian. Kesucian adalah orang Kristen yang bekerja dalam kehidupan yang diajarkan Yesus dan apa yang telah ditaburkan Yesus di dalam hati kita.

Paus mengakhiri homili dengan mengulangi dua langkah yang perlu kita ambil untuk benar-benar mengenal Yesus Kristus:

Langkah pertama adalah mengenal diri sendiri: [bahwa kita] orang berdosa, orang berdosa. Tanpa memahaminya, dan tanpa pengakuan batin ini – bahwa saya orang berdosa – kita tidak bisa maju. Langkah kedua adalah doa kepada Tuhan, yang dengan kuasa-Nya membuat kita mengetahui misteri Yesus ini, yang merupakan api yang telah Dia bawa ke atas bumi. Akan menjadi kebiasaan yang baik jika setiap hari, di setiap saat, kita bisa berkata, “Tuhan, biarkan aku mengenal Engkau, dan mengenal diriku sendiri.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Kontingen Papua menuju Pesparani di Ambon: “Papua Harus Berkualitas dalam hal Rohani”

Kam, 25/10/2018 - 21:26
Simbolis pelepasan peserta menuju Pesparani I di Ambon dengan penyerahan Bendera Kontingen Papua dari wakil kabupaten/kota ke Wakil Ketua LPKKKD Propinsi, Ketua LPKKKD ke Wakil Gubernur, Wakil Gubernur ke Ketua Kontingan atau Panitia. Foto Vincentius Lokobal

“Papua harus berkualitas secara rohani untuk memberi kesaksian iman kepada saudara lain di Indonesia bagian Barat. Kualitas rohani bukan pertama-tama berorientasi untuk mendapatkan juara, tetapi kemampuan peserta untuk berdoa dan memuliakan Tuhan yang lahir dari hati.”

Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal mengatakan itu, 23 Oktober 2018, di Hotel Aston Jayapura, dalam pada acara pelepasan Kontingen Provinsi Papua untuk mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) I di kota Ambon. Pesparani akan berlangsung 26 Oktober-2 November 2018. Kloter pertama dan kedua dari Papua sudah berangkat dan kloter ketiga berangkat 26 Oktober 2018.

Doa yang lahir dari hati, lanjut wakil gubernur, “mengalir melalui suara kontingen Papua dalam Pesparani Katolik Nasional di Ambon, akan menjadi saksi bahwa dari Negeri Matahari Terbit ini, iman para peserta lomba akan menyinari semua saudara di Indonesia.”

Selain menghimbau peserta “agar mengikuti lomba dengan sepenuh hati, sebab Allah membutuhkan kesungguhan hati kita,” Klemen Tinal menyebut peserta sebagai “Duta-Duta Papua” dan meminta  mereka memperkenalkan Papua di ajang nasional, “bahwa Papua bukan hanya terkenal dengan sumber daya alam (SDA) melimpah, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang kaya dalam hal hidup rohani, yang hendaknya terungkap melalui keterlibatan kontingen Papua dalam semua mata lomba yang diikuti.”

Klemen Tinal memberi apresiasi kepada Gereja Katolik Indonesia dan terutama Dirjen Bimas Katolik, Kementerian Agama Republik Indonesia atas penyelenggaraan Pesparani I di Ambon. “Melalui Pesparani, negara mendukung bahwa Ambon dapat menunjukkan persatuan dalam kemajemukan, hidup rukun dan damai setelah beberapa waktu lalu dilanda konflik antaragama.”

Melalui Pesparani, lanjutnya, pemerintah melalui kementerian agama, dirjen Bimas Katolik, mau memperlihatkan bahwa Rohlah yang menghidupkan Indonesia. “Negara tidak mentolerir ekstrim kiri maupun ekstrim kanan. Melalui Pesparani, “kebenaran akan kemajemukan dalam hidup bersama secara damai diwariskan dari generasi ke generasi, dan umat Katolik adalah perekat, pendorong hidup bersama di Indonesia.”

Sebelumnya, Ketua Kontingen Papua Pastor Konstantinus Bahang OFM menyampaikan bahwa Pesparani I di Ambon tidak melalui proses perlombaan berjenjang dari paroki sampai keuskupan, “karena Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Paduan Suara Gerejani Katolik baru terbentuk 2015, namun syukur kepada Allah untuk pertama kali umat Katolik di Indonesia boleh menyelenggarakan pesparani sebagaimana MTQ di kalangan para saadara Muslim dan Pesparawi dalam gereja Protestan yang sudah lama berlangsung.”

Imam itu menegaskan, kontingen Provinsi Papua akan mengikuti 10 mata lomba, yakni Paduan Suara (PS) Dewasa Campuran dari Kabupaten Agats, PS Dewasa Pria dan Dewasa Perempuan keduanya dari Kabupaten Merauke, PS Gregorian Dewasa Campuran dari Kabupaten Timika, PS Gregorian Remaja dari Kabupaten Mappi, PS Remaja Campuran dari Kabupaten Jayapura. Sementara kabupaten Waropen mengutus peserta lomba Mazmur anak dan Dewasa dan Kota Jayapura mengirim Menutur/Ceritera Alkitab dan Cerdas Cermat Alkitab.

Di samping itu, Provinsi Papua akan mengikuti Ambon Expo 2018, menjadi penggembira dan pengisi acara seni. Acara seni akan diisi oleh SMA YPPK Taruna Bakti Waena. Jumlah peserta dari Papua sebanyak 300 orang, di luar penggembira, peserta pameran, dan pengisi acara malam seni.(PEN@ Katolik/Abdon Bisei)

Wakil Gubernur bergambar bersama pejabat pemerintah, pimpinan Gereja dan panitia inti. Foto Vincentius Lokobal

Dalam Misa Stasional Perdana, Mgr Tri ajak umat hidup berkualitas dan tanam benih yang baik

Kam, 25/10/2018 - 02:37
Suasana Misa Stasional Perdana, Pengambilalihan Secara Kanonik Keuskupan Purwokerto. PEN@ Katolik/pcp

“Dengan ini dinyatakan bahwa hari Selasa, 16 Oktober 2018, selama Misa Pontifikal, ketika Yang Mulia Uskup Christophorus Tri Harsono telah ditahbiskan sebagai uskup, Prelat tersebut mengambil ahli secara kanonik Keuskupan Purwokerto di Indonesia.”

Bula yang dibuat dan ditandatangani di Purwokerto, hari keenambelas dari Bulan Oktober tahun 2018, oleh Nuntius Apostolik Mgr Piero Pioppo itu terdengar di awal Misa Stasional Perdana Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr Tri di Katedral Kristus Raja Purwokerto, 17 Oktober, yang merupakan Misa Pengambilalihan Secara Kanonik.

Mgr Tri, yang datang ke katedral didampingi beberapa imam anggota Kuria Keuskupan Purwokerto, disambut di pintu utama katedral oleh Kepala Paroki Katedral Purwokerto dengan mencium salib yang diserahkan oleh kepala paroki itu. Setelah berdoa sebentar di kapel adorasi, Mgr Tri berganti pakaian Misa di sakristi dan memasuki katedral lengkap dengan mitra dan tongkat kegembalaannya.

Di panti imam sudah ada 45 imam beserta Uskup Emeritus Purwokerto Julianus Sunarka SJ dan Uskup Emeritus Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja. Misa itu dihadiri sekitar 3000 orang, yang juga memenuhi balkon dan halaman seputar katedral.

Setelah bulla dibacakan, terdengar Paduan suara menyanyikan lagu “Ecce Sacerdos Magnus” dan Mgr Tri dihantar oleh kepala katedral menuju tahta uskup atau kateralnya. Namun, Mgr Tri membuat umat tertawa di awal homili karena mengatakan, “Seberat apapun pekerjaan akan menjadi ringan kalau tidak dilakukan.”

Merenungkan Injil “singkat tapi padat dan berat” dalam Misa itu, Yohanes 12:24-26, Mgr Tri menegaskan bahwa iman juga kelihatan berat karena susah mengikuti kehendak Allah apalagi memberikan teladan bagi orang lain. Namun, “sesuatu harus diikuti dari awal secara perlahan-lahan, mencobanya berulang-ulang, dan membiasakannya, sehingga menjadi kultur, menjadi budaya, dan itulah yang akan menjadi iman. Kalau tidak dicoba, tidak pernah dimulai, tidak akan pernah bisa,” tegas Mgr Tri.

Uskup baru mengajak umatnya untuk berkualitas dalam hidup dengan mengatakan, “Meski hanya memiliki hal baik yang kecil, jangan dihapus, tapi dihidupi dan ditanam, maka akan berbuah berlimpah.”

Mgr Tri yang memilih motto “Fiat Mihi Secundum Verbum Tuum” menambahkan, kehidupan akan menjadi berkualitas kalau diungkapkan dengan kasih. Tapi, kasih tanpa pemberian itu omong kosong, lanjut uskup seraya menegaskan bahwa tidak semua pemberian dengan kasih. “Jangan-jangan kita memberi dengan satu penjajahan atau pamrih yang bahkan lebih mahal daripada pemberian kita.”

Juga diingatkan, pemberian berkualitas bisa berupa pemberian atau tenaga, pemikiran, teladan, doa, jasa, “tidak harus dengan harta benda,” dan pemberian itu akan hilang tanpa bekas, dan yang memberikan akan merasa rugi, menderita, bahkan sakit, miskin dan mati.

Mengaku sudah melihat banyak ciri khas baik di Gereja Katolik Keuskupan Purwokerto, Mgr Tri mengajak umatnya melupakan, mengampuni dan membereskan kesalahan masa lalu, karena yakin ke depan pasti ada titik terang, dan berkata, “Yuk, lihat yang baik ke depan dan tanam benih yang baik untuk kehidupan kekal dengan mulai memaaafkan siapa pun.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Mgr Tri ajak umat, imam, religius bekerja sama untuk jadi 100 persen Katolik 100 persen Indonesia

Si unyil, anak kolong yang fasih berbahasa Arab, ditahbiskan jadi Uskup Purwokerto

Tahta Uskup Mgr Tri Harsono diberkati: Semoga umatmu dipelihara dengan pimpinan yang kudus

Uskup Purwokerto bertanya, siapa bilang enak menjadi uskup?

Mgr Christophorus Tri Harsono akan ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto 16 Oktober

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp

Sinode Para Uskup: Orang muda kurang digunakan, bukan tidak berguna

Rab, 24/10/2018 - 22:07
Paus bergambar bersama beberapa orang muda. Foto diambil dari La Stampa

Rancangan dokumen akhir Sinode Para Uskup tentang Orang Muda sudah disajikan kepada Bapa-Bapa Sinode pada hari Selasa pagi, 23 Oktober 2018, dan disambut dengan tepuk tangan panjang, kata Dr Paolo Ruffini Prefek dari Dikasteri Vatikan untuk Komunikasi dalam briefing di hari yang sama.

Keesokan harinya, demikian laporan Russell Pollitt SJ dari Vatican News, para Bapa Sinode akan mengajukan proposal untuk memasukkannya ke dalam dokumen akhir. Dr Ruffini mengatakan, dokumen itu berbeda dengan dokumen kerja, Instrumentun Laboris, tetapi mencerminkan banyak masalah yang diuraikan dalam dokumen itu. Dia mengatakan, ikon untuk seluruh dokumen itu adalah cerita Kitab Suci tentang Jalan Menuju Emaus. Dia juga mengatakan, sebuah surat sedang dipersiapkan dan ditujukan kepada orang muda.

Joseph Sepati Moeono-Kolio, seorang auditor yang mewakili Caritas International dan Oseania dari Somoa, mengatakan Sinode telah menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Dia mengatakan, Sinode itu  adalah saat di mana Gereja merefleksikan keterlibatannya dalam dunia, dengan sangat menyadari akan tantangan yang dihadapi Gereja dan secara proaktif keluar untuk menghadapi tantangan-tantangan itu. Dia mengatakan, Sinode berbicara tentang  dan bagaimana melengkapi orang muda untuk pergi dan menggunakan ajaran itu di dunia guna menghadapi persoalan yang ada di hadapan mereka.

Sepati mengatakan, gambaran Sinode baginya sesuai konteksnya sendiri di wilayah Pasifik adalah seorang bijak dan tua serta orang muda dalam sebuah kano. Yang lebih tua tahu cara membaca bintang-bintang dan menavigasi lautan, yang lebih muda memiliki kekuatan untuk bergerak maju.

Sementara itu, Kardinal Charles Maung Bo dari Myanmar mengatakan, setelah Sinode dia secara pribadi dan Gereja di Myanmar akan memberikan perhatian lebih kepada orang muda. Kardinal itu mengatakan, dia sadar bahwa orang muda belum didengarkan padahal mereka layak untuk itu. Gereja, lanjut kardinal itu, perlu menyadari bahwa orang muda kurang digunakan dan bukan tidak berguna. Maka, kardinal itu berharap seluruh Gereja memberikan perhatian kepada orang muda dan menindaklanjuti rekomendasi-rekomendasi dari Sinode.

Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina mengatakan, dia tidak suka membandingkan Sinode-Sinode, karena tujuh Sinode yang dia hadiri, masing-masing unik. Sinode ini seperti sekolah, orang muda telah mengajarkan kami, dengan berbagi impian dan keinginan mereka, tetapi terutama dengan menceritakan kisah-kisah mereka, jelas kardinal.

Kardinal Tagle menambahkan, Sinode ini juga berbeda karena suara feminin menjadi titik fokus. Dikatakan, sering disarankan agar tokoh perempuan dalam Kitab Suci digunakan sebagai lampu interpretatif bagi kaum muda saat ini. Kesaksian para perempuan muda dalam Sinode memberikan perluasan cakrawala yang sangat dibutuhkan. Kardinal itu mengatakan, berbicara tentang keragaman bukan hanya tentang budaya tetapi juga pengalaman perempuan yang unik.

Uskup Agung Kongo Mgr Bienvenu Manamika Bafouakouahou menggunakan gambaran ini untuk Sinode: dokumen akhir Sinode akan menjadi salah satu yang melontarkan para uskup ke orbit, seperti satelit, dan pada gilirannya mereka akan memberikan sinyal balik kepada orang-orang muda di bumi.

Mgr Bafouakouahou mengatakan, di berbagai belahan dunia isu-isu untuk orang muda berbeda. Baginya, migrasi adalah masalah nyata. Orang muda sedang mencari kehidupan yang lebih baik tetapi mereka juga diusir dari rumah mereka, diusir dari tanah mereka. Ini disebabkan, misalnya, oleh degradasi ekosistem di tangan perusahaan-perusahaan multinasional. Hal-hal seperti COP21, kata uskup itu, sering tidak dipatuhi juga meskipun semua janji telah dibuat.

Uskup agung itu selanjutnya mengatakan, perhatian besar lainnya adalah pembinaan dan pendidikan. Dikatakan, pendidikan di Eropa maju tetapi masih merupakan masalah serius di banyak negara Afrika. Harus dilakukan sesuatu agar orang muda dapat tumbuh dan perkembangan integral dapat terjadi di benua itu, simpul Mgr Bafouakouahou.

Pastor Antonio Spadaro dalam pengarahannya bercerita tentang sebuah buku yang akan diluncurkan malam hari itu, 23 Oktober. Saat itu Paus Fransiskus hadir dan menjawab berbagai pertanyaan. Buku itu berjudul “The Wisdom of Time” dan ditujukan untuk menjembatani dan menghubungkan generasi yang berbeda. Pastor Spadaro mengatakan, Paus terlibat dalam buku ini dalam tiga cara: Bapa Suci menulis kata pengantar, Paus menulis pengalamannya sendiri sebagai orang yang lebih tua dan kemudian Paus berkontribusi juga sebagai pembimbing spiritual dengan mengomentari kisah-kisah dalam buku itu. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Orang muda dari Indonesia salah satu penyusun pesan sinode untuk orang muda sedunia

Sinode para Uskup: Melayani secara online

Sinode para Uskup tentang Orang Muda: Menjadi misionaris digital

Paus mencopot Uskup Memphis dari perhatian pastoral keuskupannya

Rab, 24/10/2018 - 20:55

 

Negara Kota Vatikan. Foto Vatican Media

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Pers Takhta Suci pada hari Rabu, 24 Oktober 2018, mengungkapkan bahwa Paus Fransiskus telah mengeluarkan Uskup Martin D. Holley dari pelayanan pastoral Keuskupan Memphis di Amerika Serikat. Pernyataan itu juga mengatakan Uskup Agung Luisville Mgr Joseph E. Kurz telah ditunjuk sebagai administrator apostolik sementara untuk mengawasi keuskupan itu sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Pemecatan itu menyusul investigasi Vatikan ke Keuskupan Memphis pada bulan Juni untuk mengatasi kekhawatiran tentang perubahan besar yang telah dilakukan oleh Uskup Holley. Uskup Holley diangkat sebagai Uskup Memphis bulan Oktober 2016 setelah berkarya sebagai Uskup Auksilier Washington, D.C. selama 12 tahun. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatikan News)

Paus Fransiskus berdoa di makam Santo Yohanes Paulus II pada hari rayanya

Rab, 24/10/2018 - 05:17
Paus Fransiskus sedang berdoa di makam Santo Yohanes Paulus II tanggal 22 Oktober 2018. (ANSA)

Pesta Santo Yohanes Paulus II dirayakan tanggal 22 Oktober, peringatan pelantikannya sebagai paus. Pada tanggal yang sama di tahun ini, Paus Fransiskus mampir sebentar untuk berdoa di makam Santo Yohanes Paulus II di Basilika Santo Petrus Roma. Secara tradisional, pesta orang kudus dirayakan pada peringatan kematiannya, saat seseorang pergi menuju tempat kediaman abadinya. Namun, dalam kasus Paus Yohanes Paulus II, pestanya ditetapkan tanggal 22 Oktober, saat kepausannya diresmikan. Yohanes Paulus II dari Polandia terpilih tanggal 16 Oktober 1978, menjadi paus Slav pertama dan paus non-Italia pertama dalam 455 tahun sejak Paus Adrian VI dari Belanda, yang menjabat dari tahun 1522 hingga 1523. Enam hari kemudian, tanggal 22 Oktober, Yohanes Paulus II meresmikan kepausannya dengan Misa Agung di Lapangan Santo Petrus Roma. Yohanes Paulus II meninggal 2 April 20015, setelah memimpin Gereja selama lebih dari 26 tahun. Paus Benediktus XVI membeatifikasinya tanggal 1 Mei 2011, seraya menetapkan tanggal 22 Oktober, hari pelantikannya, sebagai hari rayanya. Tiga tahun kemudian, Paus Fransiskus secara resmi mengumumkan Yohanes Paulus II sebagai orang kudus tanggal 27 April 2014, bersama dengan Paus Yohanes XXIII.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel terkait:

Relikui darah Santo Paus Yohanes Paulus II kini ada di kamar huniannya di Seminari Ritapiret

12 foto Santo Yohanes Paulus II yang belum pernah Anda lihat sebelumnya

Rabi Rosen: kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Israel buka komunikasi antarpemimpin agama

Gereja baru ditahbiskan di Polandia untuk menghormati Yohanes Paulus II

Kaderisasi yang dilakukan Komisi Pendidikan KAJ masih hadapi berbagai tantangan

Sel, 23/10/2018 - 23:46
Peserta kaderisasi di Civita Youth Camp, Foto PEN@ Katolik/km

Program Kaderisasi Katolik untuk anak-anak usia SMP dan SMA yang dilaksanakan Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta (Komdik KAJ) setiap tiga bulan sekali di sembilan dekanat, guna menciptakan kader-kader handal yang memiliki visi hidup penuh pelayanan yang gigih dan penuh kasih ternyata masih menghadapi berbagai tantangan.

Untuk mengatasi hak itu, kata staf Komdik KAJ Mari Irawati Sidharta, seksi-seksi pendidikan di paroki-paroki KAJ harus “menjalin hubungan ‘mesra’ dengan kepala paroki, agar dapat mendukung kegiatan program ini.” Jalinan yang baik itu, jelasnya, dapat diukur dari keikutsertaan peserta setiap paroki dalam program itu.

Mari Sidharta mengakui, sejumlah pastor paroki kurang mendukung kaderisasi itu. Padahal, ketika ia berkunjung ke paroki dan bertemu para guru Katolik dan orangtua, “mereka mengatakan bahwa program pembinaan kaum muda atau kaderisasi itu merupakan hal yang sangat penting.”

Mari Sidharta berbicara dengan PEN@ Katolik di sela-sela kegiatan kaderisasi yang diikuti 70 peserta di Civita, Youth Camp, Tangerang, 19-21 Oktober 2018.

“Orangtua kadang tidak mengizinkan anaknya ikut, padahal anak sendiri memiliki keinginan kuat untuk ikut. Alasan orangtua, program ini mengganggu kegiatan proses belajar mengajar setiap Sabtu. Apalagi kalau ada program live-in, orangtua tidak berani melepaskan anaknya tinggal di keluarga kurang mampu, dengan alasan keluarga itu tidak dikenal,” kata Mari Sidharta.

Sebanyak 24 pengajar (trainer) mendampingi para calon pemimpin dalam menyelesaikan 10 modul dalam waktu yang ditentukan oleh program kaderisasi itu. Jumlah trainer itu, menurut Mari Sidharta, sesungguhnya sudah mencukupi, namun sekali waktu perlu penambahan dari sekolah-sekolah. Maka dia berharap, “para pastor paroki di wilayah KAJ berkomitmen mendukung pelaksanaan pembinaan kader Katolik ini.”

Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, Lusia Arianti, salah seorang trainer untuk pelajar SMP mengakui ada masalah kehadiran peserta pada setiap jadwal kaderisasi. “Peserta sering tidak mendapat informasi dari dekenat tentang jadwal pelaksanaan,” kata Lusia seraya menambahkan bahwa Komdik KAJ memberikan keleluasaan bagi pelajar untuk ikut di dekenat lain.

Menurut Lusia, kaderisasi yang dilaksanakan sejak berkala sejak tahun 2012 itu “merupakan langkah baik dan sekiranya seluruh peserta menggunakan kesempatan ini untuk menempa dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik.”

Trainer lain, Eko Sidik Pramono, mengakui ada beberapa paroki yang tidak berkontribusi untuk kegiatan Komdik KAJ. “Saat ini ada sejumlah paroki yang belum terlibat mengirimkan anaknya mengikuti kaderisasi itu, maka tidak ada kontribusi dana yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan.”

Kaderisasi itu ditutup dengan Misa yang dipimpin Pastor Odemus Bei Witomo SJ, yang mengatakan dalam homilinya, “Negara Indonesia bukan hanya membutuhkan pemimpin berkarakter ‘baja,’ tetapi juga rendah hati, daya juang tinggi, terbuka dan penuh kasih.”(PEN@ Katolik/Konrad R. Mangu)

Halaman