Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 37 mnt 4 dtk yang lalu

Mgr Suharyo tegaskan klaim Presiden Donald Trump tak sesuai Resolusi PBB dan pendirian Paus

Jum, 29/12/2017 - 00:43

Belum lama ini, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo berkumpul bersama sejumlah tokoh agama lain di kantor Pengurus Pusat Nahdatul Ulama (NU) untuk membuat pernyataan bersama berkaitan dengan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel.

Dalam pertemuan itu disepakati bahwa anggota dan warga dunia yang tergabung dalam organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seyogyanya mengikuti Resolusi PBB.

Tanggal 21 Desember 2017, sebanyak 128 negara menentang Presiden Donald Trump dan mendukung resolusi Majelis Umum PBB yang mendesak Amerika Serikat menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sementara itu, 9 negara menolak, 35 negara abstain, dan 21 negara tidak memberikan suara.

Dengan gambaran itu Mgr Suharyo menjawab pertanyaan seorang wartawan dalam acara konferensi pers dan penyampaian Pesan Natal yang berlangsung di Gedung Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), 25 Desember 2017.

Dalam acara yang dipandu oleh Kepala Bagian Humas Gereja Katedral Jakarta Sisyana Suwadie dan yang dihadiri puluhan jurnalis media cetak dan elektronik itu, Mgr Suharyo didampingi oleh  Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr dan Kepala Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Hani Rudi Hartoko SJ.

“Apa yang diungkapkan oleh Presiden Donald Trump ternyata tidak sesuai dengan Resolusi PBB. Alasan lainnya, umat Katolik tunduk kepada pimpinan tertinggi umat Katolik dunia di Roma yaitu Paus, yang selama ini secara eksplisit menolak apa yang dikatakan oleh Donald Trump,” kata Mgr Suharyo.

Lebih lanjut Mgr Suharyo mengatakan, pemerintah Indonesia telah menyatakan sikap sangat tegas menolak pernyataan Donald Trump, “maka sebagai umat Katolik yang ada di Indonesia mengikuti apa  yang telah menjadi sikap dasar pemerintah Indonesia.”

Menurut Uskup Agung Jakarta itu, penyelesaian secara cepat atau lambat sangat tergantung dari kedua negara (Palestina dan Israel) dan konflik yang sedang melanda kedua negara itu bukan persoalan agama  melainkan persoalan politik dan kemanusiaan yang  telah berlangsung sejak bertahun-tahun lamanya.

Maka, lanjut Mgr Suharyo, peran negara lain di liar kedua negara itu adalah “memastikan dan memfasilitasi perundingan, sehingga menyelesaikan dengan cara damai tanpa kekerasan.”

Mgr Suharyo juga menjelaskan tentang Arah Dasar (Ardas) KAJ yang menekankan setiap tahun sejak 2016, umat Katolik merenungkan setiap sila Pancasila. Selama tahun 2017 umat Katolik merenungkan “makin adil dan makin beradab” dan tahun 2018 seluruh umat akan mendalami sila ketiga “Persatuan Indonesia.”

Setiap tema, lanjut uskup, direnungkan kemudian dijabarkan dalam berbagai kegiatan dan pembuatan Rosario Merah Putih merupakan salah satu kegiatan umat untuk mewujudkan setiap gagasan atau tema setiap tahun itu. “Umat Katolik dikenal sangat tekun berdoa kepada Bunda Maria, bukan hanya untuk dirinya dan keluarga tapi bagi bangsa dan negaranya. Lewat doa yang didaraskan itu, diharapkan masyarakat yang sejahtera bisa diwujudkan,” tegas uskup agung.

Gerakan untuk mencapai Indonesia  sejahtera, menurut Mgr Suharyo, belum selesai dan umat Katolik sebagai bagian dari negara ini melakukan hal-hal itu, “bahkan menjadi habitus baru dalam kehidupannya.” (Konradus  R. Mangu)

Pemilihan Pastor Abzalón Alvarado sebagai Superior General MSC, tanda perubahan

Kam, 28/12/2017 - 01:17

 

Pastor Mario Absalón Alvarado Tovar MSC adalah superior general Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) terpilih dalam kapitel umum September 2017. Pemilihan superior general dari “dunia ketiga” yang pertama dengan semangat “option for the poor” itu dirasakan sebagai sebuah perubahan.

Indonesia akan sangat merasakan pembaruan ini, karena Indonesia adalah provinsi MSC dengan jumlah anggota terbesar sedunia yakni 4 uskup, 231 imam, 23 bruder, 77 frater, 20 novis, 21 pranovis, dan 11 postulan (data 2017).

Untuk melihat apa yang akan menjadi penekanan Tarekat MSC yang memiliki 1663 anggota sedunia ini untuk periode enam tahun mendatang dan seterusnya, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menemui Pastor Absalón Alvarado MSC di Generalat MSC, Via Asmara 11, Roma, di awal Desember 2017 untuk sebuah wawancara.

PEN@ Katolik: Bagaimana Pastor mengartikan terpilihnya Pastor sebagai Superior General MSC?

PASTOR MARIO ABSALÓN ALVARADO TOVAR MSC: Saya kira sebagian besar peserta Kapitel Umum MSC September 2017 menginginkan perubahan, menginginkan wajah baru untuk pelayanan ini. Maka, untuk pertama kalinya mereka memilih seseorang dari “dunia ketiga” untuk menjadi superior general. Padahal sebelumnya, superior general MSC berasal dari Eropa atau Australia. Superior General terakhir, Pastor Mark McDonald MSC, yang telah melakukan pekerjaan dengan sangat bagus, adalah Americano pertama, yang pertama dari Amerika Serikat.

Saya kira mereka menginginkan seseorang dari dunia baru, dan Roh Kudus mendorong tindakan mereka. Nama saya ada di antara nama-nama lain. Mereka lebih baik daripada saya. Saya hanya memiliki PhD dalam fisioterapi dan beberapa karir, termasuk provinsial, dan ketua Konferensi Religius Guatemala yang bekerja dengan Konfederasi Religius Amerika Latin, dan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation, JPIC). Maka saya terkejut.

Saya tahu nama saya ada di daftar calon, tapi saya tidak menyangka saat ini kongregasi berani memilih seseorang dari dunia lain. Saya berasal dari negara sangat miskin, dari salah satu provinsi MSC terkecil, dan kini saya berada di sini. Saya tahu, pekerjaan ini pelayanan dan harus dikerjakan dengan rendah hati. Namun, saya punya tim yang bagus, salah satunya dari Indonesia, Pastor Paulus Polce Pitoy MSC. Yang lain dari Brazil, Belgia, dan Australia.

Apa yang akan dilakukan sekarang?

Ini saat transisi. Baru-baru ini Pastor McDonald MSC yang saya gantikan berada di sini untuk menemani saya. Para anggota Dewan Pimpinan Umum MSC yang baru akan datang Januari 2017. Yang akan kami lakukan adalah berupaya menjalankan apa yang diminta oleh kapitel umum, yang menjadi prioritas dalam enam tahun ke depan.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah menghadapi tantangan budaya dan politik yang berbeda di seluruh dunia, yang sebenarnya adalah sama, yakni berjuang membela kehidupan, menjaga bumi dan ciptaan Tuhan, serta dekat dengan orang yang paling miskin.

Bumi adalah milik Tuhan yang harus dipertahankannya dari semua sistem ekonomi dunia yang mengeksploitasinya seperti kelapa sawit, pertambangan dan cara-cara lain yang menghancurkan ‘rumah kita bersama’. Itulah salah satu prioritas kami dalam JPIC.

Apa prioritas MSC saat ini?

Dalam enam tahun masa bakti ini, kami harus menghadapi provinsi barat yang menua. Sebagai provinsi mereka sedang sekarat. Mereka perlu bangun kembali dan memulai sesuatu yang berbeda. Kami harus mencari cara baru menjadi MSC di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Prioritas di sana. Kami akan bekerja sama dengan mereka. Saya baru mengunjungi dua provinsi, Belanda dan Belgia. Kenyataannya, anggota-anggota kami di sana sudah tua, beberapa di antaranya sakit berat. Mereka adalah misionaris di lima benua. Banyak orang Belanda pernah berkarya di Indonesia selama 40, 50 bahkan 60 tahun.

Prioritas lain adalah kaum awam. Sebagai tim pimpinan, kami yakin, karisma kongregasi ini bukanlah milik kami. Ini karisma dunia, karisma Gereja. Maka, karisma atau spiritualitas kami, akan terus hidup melalui kaum awam. Kalau tidak, tidak akan berhasil. Maksud saya, kaum awam sekarang adalah protagonist. Mereka selalu ada, tapi belum diakui. Awam adalah salah satu prioritas kami saat ini.

Apakah sudah ada MSC awam?

Sudah ada bahkan menjadi organisasi dunia. Namanya, Awam Keluarga Chevalier (Jules Chevalier adalah pendiri tarekat MSC). Juli lalu mereka bertemu di Brasil. Kami mencoba mempromosikannya sebagai panggilan, karena mereka bukan pembantu kami. Panggilan mereka sama pentingnya dengan panggilan kami sebagai imam. Kami mencoba bekerja sama dengan mereka. Kami adalah pelayan kaum awam. Seharusnya, panggilan hidup religius atau imamat harus disadari sebagai panggilan Allah untuk melayani kaum awam, jika tidak, panggilan kami tidak ada artinya. Sayang sekali, hal itu hampir berlawanan sekarang. Padahal, Yesus Kristus datang untuk melayani bukan untuk dilayani.

Apa tujuan kepemimpinan yang baru?

Dalam berkarya di paroki-paroki, sekolah-sekolah atau proyek-proyek lainnya, yang terpenting sebagai MSC adalah jangan sampai kehilangan option for the poor. Itu akar kami. Kalau itu hilang, kami akan tersesat. Semakin jauh dari masyarakat semakin buruk hidup kami. Kami harus dekat dengan masyarakat, dekat dengan kenyataan. Tentu kami harus jalankan doa pribadi serta kehidupan spiritual secara bersama dalam biara, tetapi selalu harus dekat dengan kenyataan masyarakat. Jika jauh dari masyarakat, imam akan kehilangan dirinya. Dengan dekat dengan orang miskin, seorang imam akan diajari oleh orang miskin tentang cara menolong dirinya sendiri. Itulah salah satu tujuan utama kami enam tahun ke depan.

Langkah konkret yang akan dilaksanakan?

Kami masih harus mempersiapkannya. Sebagai tim baru, kami akan mulai membuat perencanaan di bulan Januari. Namun yang pertama adalah mendukung apa yang telah dan sedang dilakukan, karena di seluruh dunia ada banyak MSC yang sedang bekerja sangat dekat dengan masyarakat.dan kami harus menemukan jawaban-jawaban. Karisma kami adalah menanggapi yang kurang baik saat ini.

Di awal pembicaraan, Pastor berbicara tentang perubahan!

Ya, inilah saat perubahan. Kami harus memikirkan cara untuk terus menjadi MSC di Eropa. Di sana kami hanya miliki anggota-anggota tua. Di Belanda, misalnya, ada proyek yang dijalankan komunitas internasional, dua dari Belanda, satu dari Indonesia dan satu dari Filipina. Mereka bekerja dengan orang-orang paling miskin di Belanda. Hal yang sama dilakukan di Belgia oleh dua orang MSC dari Kongo. Di Spanyol ada MSC dari Guatemala yang sedang bekerja di sana, dan tiga atau empat anggota dari dari Republik Dominika bekerja di Kanada.

Sekarang adalah saat perubahan. Di negara-negara seperti Indonesia, Nicaragua, Filipina dan Papua New Guinea pun harus ditemukan cara baru menjadi anggota MSC sekarang ini, karena sudah banyak yang berubah. Maka saya katakan, inilah kesempatan untuk mengartikan kembali cara memperlihatkan keadilan dan cinta Tuhan sejati di tengah kesulitan yang dihadapi orang-orang sekarang.

Pilihan Pastor sebagai Superior General adalah tanda perubahan?!

Ya, saya kira itu sungguh sebuah tanda (perubahan), karena saya masih muda, saya berasal dari dunia ketiga. Namun, bukan hanya saya sendiri. Ini pelayanan. Ini komitmen. Saya harus mencoba bekerja sebagai tim. Kami harus menemukan paradigma baru dalam otoritas, kerja, dan pengorganisasian kongregasi. Itu tidak mudah, tapi kami akan bisa melaksanakan yang terbaik. Ini panggilan Tuhan. Kami diminta melakukan sesuatu, bukan yang lebih baik, tetapi yang berbeda.

Ketika terpilih, Pastor langsung membasuh kaki lima misionaris mewakili lima benua. Apa artinya?

Bukan saya yang memutuskan untuk melakukannya. Itu bagian dari program. Namun, saya lakukan dengan segenap kasih saya, karena itu sangat signifikan, membasuh kaki anggota dari dari masing-masing benua. Itulah yang ingin saya jalani.

Benar, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, saya orang berdosa, orang lemah yang memiliki keterbatasan, saya bukan superman, tapi saya akan mencoba menjalankan tugas pelayanan yang diberikan kepada saya.

Apa komitmen Pastor dalam pelayanan ini?

Komitmen pertama menciptakan tim dengan tugas berbeda untuk berbagai tanggung jawab. Saya harus mendelegasikan atau mendistribusi (tenaga) ke berbagai wilayah kami.

Akhir pekan ini, Komunitas Meksiko akan dipindahkan dari Provinsi Kanada ke Provinsi Amerika Tengah. Maka, saya akan ke Meksiko. Ini tidak umum dalam kongregasi ini. Perpindahan komunitas terakhir terjadi tahun 1971. Ini tanda-tanda jaman. Mungkin karena Kanada tidak dapat lagi mendukung MSC lagi, maka setelah proses tiga tahun, Komunitas Meksiko akan jadi anggota Provinsi Amerika Tengah.

Ada semangat baru dari pimpinan Gereja untuk memberantas klerikalisme!

Beberapa hari lalu saya berbicara tentang klerikalisme dalam konferensi yang saya pimpin. Bagi saya, klerikalime bukan hanya masalah paroki. Ini bahan diskusi semua provinsi. Bagi saya, klerikalisme adalah masalah kekuasaan, bagaimana mengelola kekuasaan. Maka, klerikalisme bisa berada di antara para imam, suster, bruder dan awam.

Dalam kasus kami sebagai imam, kleriskalisme lebih buruk karena machismo, pria merasa superior. Itu jelek karena dalam budaya tertentu tidak adil dalam keluarga, khususnya dalam menghargai perempuan. Gereja juga memberi kami banyak kekuasaan, kekuasaan publik, dan banyak imam merasa seperti pemilik di paroki-paroki, padahal bukanlah demikian. Klerikalisme adalah memusatkan kekuasaan dalam diri saya sebagai imam dengan mengatakan “saya adalah bos.”

Menjadi pastor paroki kadang merasakan klerikalisme, tapi banyak pastor paroki tidak klerikalis. Tapi sulit karena kekuasaan, kekuasaan adalah sesuatu. Kami kurang mempersiapkan para imam dalam proses pembinaan. Pria muda yang baru menyelesaikan teologi ditahbiskan dan segera kami kirim ke paroki, kadang-kadang sebagai pastor paroki. Maka baru beberapa bulan melepaskan status mahasiswa dia langsung menjadi seperti bos. Jadi ada yang kurang, ada kekosongan, belum berpengalaman, belum tahu cara menjalankannya, dan timbul rasa bingung. Apabila bingung, ia tak boleh menjalankannya. Itu persoalan besar dalam Gereja dan harus dirubah.

Indonesia masih lahan subur panggilan MSC!

Saya kurang tahu tentang Indonesia karena saya belum pernah ke sana. Saya belum punya gambaran tentang Indonesia. MSC Indonesia dibutuhkan di seluruh dunia. Semua propinsi ingin memiliki imam dari Indonesia. Panggilan di sana harus terus dipromosikan. Tapi saat ini, kami harus lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Kualitas harus ditekankan, harus diperhatikan. Kalau dengan demikian jumlah fraternya menjadi sedikit, itu lebih baik.

Tetapi saya tidak tahu, saya belum penah ke sana. Tapi sebagai MSC itulah harapan besar kami. Jadi, bukan karena kebutuhan lalu dicari banyak orang untuk memenuhi seminari. Tidak, tidak, tidak.

Tapi, banyak keuskupan di Indonesia masih perlu banyak imam, karena untuk merayakan Misa saja sudah tidak cukup!

Tidak! Itu klerikalisme. Yang pertama kami harus belajar menjadi manusia. Bagaimana saya bisa membantu orang kalau saya bukan manusia seimbang. Maka seorang imam harus belajar untuk tahu mengerjakan tugasnya. Itu salah satu cobaan, hanya menjadi petugas iman untuk merayakan Misa sebagai tugas, tanpa ada nilai religius, tanpa ada nilai melayani, tanpa memberi ruang untuk awam.

Memang benar, banyak imam baru tidak mau datang ke tempat-tempat terpencil. Mereka ingin tinggal di kota karena mereka mungkin perlu wifi, komputer, dan mobil yang bagus. Ya, ini masalah seluruh dunia. Di beberapa negara di lima benua, ada banyak imam di keuskupan yang tidak melakukan apa-apa, paahal di negara yang sama ada keuskupan yang sangat luas dengan banyak sekali paroki. Ya, kami juga punya paroki di kota besar di Nikaragua dengan 147 stasi misi, namun hanya ada tiga misionaris, dua MSC dan satu diosesan tinggal bersama. Mereka berkeliling selama 15 hari dengan naik kuda, naik bis atau berjalan kaki, dan mereka bisa pergi dua atau tiga kali setahun ke setiap stasi misi. Dan di utara Brasil, kami memiliki paroki dengan luas sekitar sepuluh ribu kilometer persegi. Berada di sana adalah sebuah tantangan.

Kami harus mempromosikan panggilan untuk misi itu dan juga panggilan untuk datang ke sini, ke Eropa, bukan untuk menjadi pekerja misi, tetapi datang ke sini untuk bekerja dengan kaum migran, orang yang tergantung pada obat terlarang, dan kaum pengungsi, serta warga miskin dan tuna wisma yang banyak di sini. Itulah fungsi panggilan itu. itu tujuan panggilan kami saat ini.

Apa sebenarnya visi pelayanan Pastor?

Visi saya membangun kembali kehidupan religius yang manusiawi, gereja yang manusiawi,  seperti banyak kali dikatakan oleh Paus Fransiskus. Paus pernah mengatakan bahwa gereja harus seperti rumah sakit untuk orang-orang berdosa, bukan gereja indah dan megah namun kosong. Kosong bukan berarti tak ada orang, tetapi kosong atau tidak ada nilai, tidak ada harapan, dan tidak ada kedekatan.

Jadi visi saya adalah berusaha mempromosikan wajah Tuhan yang manusiawi, karena ini bagian dari karisma kami, Misionaris Hati Kudus. Hati membuat kami bertekad mencintai seperti Yesus mencintai. Cinta harus dikaitkan dengan kehidupan manusia, nilai-nilai manusiawi, kalau tidak kami hanya akan berbicara, berbicara, berbicara, menulis buku, menulis laporan.

Selain itu kami tidak perlu memperhatikan kaum muda. Ini tantangan besar seluruh dunia. Kami kehilangan anggota muda dalam komunitas kami, dalam misi kami. Maka, kami perlu banyak memperhatikannya.

Apakah ada Kaum Muda MSC?

Ya, kami punya kaum muda MSC, tapi tidak seperti keluarga awam MSC. Beberapa negara telah mengaturnya, tapi kami tidak punya jaringan yang seharusnya kami buat. Sekarang keluarga awam atau Lay Chavelier Family sedang memikirkan cara mempromosikan Youth Chevalier Family.***

 

Mahasiswi Islam bantu umat paroki bagikan paket Natal untuk umat Katolik

Rab, 27/12/2017 - 22:35

Seorang mahasiswi beragama Islam terkesan saat mengikuti kegiatan sosial menyambut Natal. “Rasanya seru ikut berbaur dengan umat agama lain. Dan adalah indah jika dapat berbagi dengan orang lain,” kata Syafaatun Naim saat membantu aksi sosial pembagian paket kebutuhan bahan pokok bagi umat Katolik di Paroki Santa Theresia Bongsari, Semarang.

“Saya pengen ikut acara sosial itu karena saya ingin lebih dekat dengan umat beragama lain.  Dengan ikut acara sosial menyambut Natal itu saya dapat nambah wawasan, supaya tidak berfikir dangkal, tidak menjadi fanatis beragama yang sempit dan bisa memperkuat rasa toleransi,” lanjut mahasiswi jurusan studi agama-agama dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Syafaatun yang datang bersama temannya, Febian Nurkhalifah, menceritakan bahwa sejak kecil dia tinggal di kalangan Muslim dan yang ditanamkan adalah bergaul dengan umat Muslim saja. “Saya tidak diajarkan mengenal umat yang lain,” katanya kepada PEN@ Katolik di sela-sela membantu menyalurkan paket kebutuhan bahan pokok kepada umat yang membutuhkan.

Aksi sosial itu diselenggarakan umat Paroki Santa Theresia Bongsari sebagai ungkapan sukacita menyambut hari raya Natal. Umat Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang ingin berbagi suka cita agar kegembiraan sungguh dialami oleh seluruh umat secara nyata.

Sebanyak 200 paket kebutuhan bahan pokok dibagikan kepada yang membutuhkan saat itu. Selain itu, ada 30 paket kebutuhan pokok yang dibagikan untuk warga korban banjir di Simongan, Gedungbatu, Semarang, sekitar tiga kilometer dari gereja.

Syafaatun berpesan agar teman-teman mahasiswa dan siapapun untuk terlibat dalam karya bersama untuk orang yang membutuhkan. “Buat teman-teman sejurusan program studi dan yang lain, coba luangkan waktumu beberapa jam untuk memperdalam toleransi. Luangkanlah waktumu untuk lebih dekat dengan umat beragama lain. Kesediaan berjumpa dan bekerja sama dengan umat beragama lain akan berguna bagi kepentingan bersama, bermanfaat untuk bangsa dan negara,” tegasnya.

Selain membagi paket kebutuhan bahan pokok, dalam acara 17 Desember itu panitia menggelar pasar murah yang diselenggarakan oleh komunitas Kelompok Doa Michael Catholic. Hasil penjualan barang-barang itu digunakan untuk merayakan Natal bersama siswa-siswi yang kurang mampu.

Pastor Paroki Bongsari Eduardus Didik Chahyono SJ mengapresiasi kegiatan yang melibatkan mahasiswa dari agama lain dengan mengatakan bahwa itu mencerminkan semangat membangun kerukunan di tengah masyarakat.

Anggota Dewan Paroki Bongsari Natalis Utomo mengatakan, selain berbagi dengan yang berkekurangan, upaya itu juga dalam rangka untuk “membangun kerukunan.”(Lukas Awi Tristanto)

Katedral Santo Yosep Pontianak hias diri menyambut Natal 2017 dengan keanekaragaman

Min, 24/12/2017 - 17:11
http://penakatolik.com/wp-content/uploads/2017/12/WhatsApp-Video-2017-12-24-at-16.25.40.mp4

Gereja Katedral Santo Yosep Pontianak sejak dua minggu lalu sibuk “mempercantik diri”. Aroma Natal mulai terasa ketika memasuki area katedral megah itu dengan berbagai macam ornamen khas Natal seperti hiasan pohon Natal, kandang Natal, dan pernak-pernik Natal lainnya. Menurut ketua bagian Dekorasi Natal, Yosep Chong, yang ditemui di katedral, 23 Desember 2017, tahun ini Katedral Santo Yosep merancang desain dekorasi mulai dari pintu masuk utama katedral, bagian dalam lantai bawah dan atas, panti koor, altar, dan  kandang Natal, sesuai tema Natal “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu” (Kolose 3:15). “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dengan aneka bahasa dan budaya. Keanekaragaman unik ini membuat kita kaya. Maka, sebagai warga negara yang mencintai bangsanya, kita tidak mau kekayaan kita dirampas oleh permusuhan, pertikain dan sebagainya,” ungkap Yosep yang sudah dua tahun berturut-turut ditunjuk oleh Panitia Natal untuk menjadi koordinator dekorasi Kandang Natal. Ia juga tidak lupa berkonsultasi dengan pastor paroki sebelum mendesain dekorasi Kandang Natal. Setelah menyelesaikan seluruh dekorasi, yang menurut Yosep yang memakan waktu kurang lebih sebulan, tanggal 23 Desember 2017, Panitia Inti Natal menyerahkan karyanya itu kepada Kepala Paroki Katedral Santo Yosep Pontianak Pastor Alexius Alex Mingkar Pr. (mssfic)

Pameran Kitab Suci enam agama di Katedral Semarang untuk bangun kehidupan yang damai

Min, 24/12/2017 - 15:37

Memamerkan Kitab Suci berbagai agama seperti terjadi baru-baru ini di Gedung Sukasari, samping Katedral Semarang, bukan hanya sebatas menunjukkan Kitab Suci masing-masing agama, tetapi disertai harapan agar Kitab Suci dihayati dalam kehidupan sehari-hari, kata Vikaris Episkopal (Vikep) Semarang Pastor Aloysius Gonzaga Luhur Pribadi Pr.

“Dan saya yakin, kehidupan sehari-hari, yang mengalir dari penghayatan iman berdasarkan Kitab Suci akan membangun kehidupan yang damai,” demikian pembukaan sambutan Pastor Luhur  seraya menambahkan bahwa tujuan utama pameran itu adalah membangun kehidupan yang damai atas dasar iman yang bersumber pada Kitab Suci masing-masing.

Maka, saat membuka pameran tahunan Kitab Suci lintas agama di Semarang itu, Pastor Luhur berharap agar umat sesuai agamanya membaca Kitab Suci dan merenungkannya. “Yang direnungkan itu dipahami. Yang dipahami diyakini dan yang diyakini itu yang dihayati dalam kehidupan. Karena yang dibaca hal yang suci tentu akhirnya yang dihayati adalah juga cara hidup yang suci,” tegas imam itu.

Pameran itu melibatkan umat agama Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu yang menggelar stan-stan dengan menyajikan Kitab Suci dan buku-buku yang berkaitan dengan Kitab Suci. Selain pameran, yang berlangsung 9-10 Desember 2017 itu, saat pembukaan diadakan sarasehan yang menjelaskan Kitab Suci masing-masing. Pameran yang dikunjungi masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa itu juga menampilkan pentas seni lintas agama.

Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang Pastor Petrus Tri Margono Pr mengapresiasi acara yang melibatkan tokoh-tokoh agama itu. “Kita bisa menjalin relasi yang makin akrab, dekat, hangat, disertai kegiatan-kegiatan lintas agama,” kata imam itu.

Apresiasi senada diberikan oleh tokoh Islam, Muksin Jamil. Acara itu, tegasnya, merupakan oase di tengah krisis persaudaraan. “Ini harus dikembangkan. Bila perlu tidak semata-mata dalam bentuk ritual tahunan, tapi jadi even sosial yang menunjukkan persaudaraan lintas iman, dan ekspresi keimanan untuk peduli terhadap persoalan di tengah masyarakat,” katanya.

Muksin berharap supaya umat beragama memiliki pemahaman yang segar dan kontekstual akan Kitab Suci mereka. “Saya kira kalau kita kembali kepada Kitab Suci dengan pemahaman yang segar dan kontekstual, kita akan selalu mendapat inspirasi dan bimbingan iman serta rohani mengenai kita hidup sebagai manusia yang selalu berhubungan dengan dua aspek, dengan Tuhan dan dengan sesama manusia,” lanjutnya.

Kalau umat beragama mempunyai keterkaitan batiniah dengan Tuhan, lanjutnya, maka secara otomatis bisa memiliki penghayatan yang baik tentang kemanusiaan. “Jadi, kita beriman pada saat yang sama bukan semata-mata meyakini keberadaan Tuhan saja, tapi bagaimana bisa memanusiakan manusia.” (Lukas Awi Tristanto)

Kabar Sukacita

Min, 24/12/2017 - 06:42

Minggu Adven ke-4

24 Desember 2017

Lukas 1: 26-38

“… hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya… (Luk 1: 47-48).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Lukas memiliki cara yang tajam dan unik dalam menulis kisah tentang Penerimaan Kabar Sukacita. Dia dengan sengaja menempatkan kisah Zakharia dan Maria secara berdampingan, dan membiarkan pembacanya melihat kedua cerita itu dalam perbandingan. Kisah pertama berbicara tentang seorang imam yang suci yang melayani di Bait Allah. Zakharia adalah simbol dari orang Israel ideal yang berdiri di pusat peribadatan bangsa Israel. Kisah kedua berbicara tentang seorang wanita sederhana yang tinggal di Nazaret, sebuah desa kecil yang jauh dari pusat pemerintahan dan keagamaan. Dalam masyarakat patriarki, Maria adalah simbol dari bangsa Israel yang miskin dan terpinggirkan dan terdorong ke pinggiran. Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada keduanya, dan Tuhan melakukan perbuatan yang luar biasa bagi keduanya. Namun, Kabar Sukacita bagi Maria ternyata jauh lebih baik. Pertama, sang Malaikat menyapa Maria dengan gelar kehormatan, “Engkau yang dikaruniai”, sementara sang malaikat tidak menyapa Zakharia sama sekali. Kedua, sang malaikat membuat Zakharia bisu karena keraguannya, tapi dia meyakinkan Maria saat Maria bertanya-tanya. Ketiga, pembuahan Yohanes Pembaptis terjadi secara alamiah, sementara Yesus di dalam rahim Maria terjadi melalui cara yang supernatural. Zakharia dan Elizabeth mewakili karya besar Tuhan dalam Perjanjian Lama seperti ketika Tuhan membuka rahim Sarah, istri Abraham, dan Hannah, ibu Samuel, meskipun sudah tua dan mandul. Namun, apa yang terjadi pada Maria melampaui segala mukjizat Perjanjian Lama ini.

Membaca buku-buku Perjanjian Lama dan membandingkan kisah Zakharia, kita menemukan bahwa Kabar Sukacita Maria berada di puncak. Belum pernah terjadi sebelumnya, malaikat akan memberi kehormatan kepada seorang manusia biasa. Belum pernah sebelumnya, Tuhan memberi karunia-Nya yang dahsyat kepada manusia biasa. Namun, yang membuat kisah ini bahkan luar biasa adalah pilihan Tuhan bagi Maria yang adalah seorang wanita muda miskin yang berasal dari desa yang tidak penting. Tuhan memilih seorang yang bukan siapa-siapa untuk menjadi ibu Putra-Nya. Oleh karena itu, kidung Maria atau “Magnificat” bukanlah sebuah lagu yang imut, namun ternyata merupakan kesaksian yang menyata tentang kekuatan Tuhan terhadap Maria, hamba-Nya, “…hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya… (Luk 1: 47-48).”

Kita, seperti Maria, sering merasa bahwa kita lemah dan putus asa dengan begitu banyak masalah dalam hidup. Kita diintimidasi oleh teman sekelas, kerja, pelayanan, dan bahkan masyarakat karena keunikan dan bakat kita. Kita merasa bahwa kita tidak penting karena kita tidak memiliki pencapaian apa-apa. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia mengerjakan karya besar-Nya pada saat kita merasa bahwa kita bukanlah apa-apa.

Seorang imam Dominikan yang baru saja ditahbiskan mengaku bahwa dia melakukan banyak hal bodoh waktu dia muda, dia tidak menyelesaikan kuliahnya dan menyia-nyiakan hidupnya. Hidupnya benar-benar berantakan dan dia adalah sebuah kegagalan. Merasa hilang, dia memutuskan untuk masuk seminari. Namun, hidupnya perlahan-lahan semakin membaik, dan dia mengambil kesempatan kedua itu dengan serius. Dia belajar dengan tekun, dan menjadi seorang frater yang baik. Akhirnya, dia dianggap layak menjadi imam. Dalam Misa perdananya, dia mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena Dia telah memilihnya, hamba-Nya yang hina dan gagal, dan bahwa dalam kelemahan terbesarnya, Tuhan telah bersinar terang. Seperti Maria, kita dipanggil untuk menemukan perbuatan-perbuatan besar Allah dalam hidup kita, bahkan di dalam kegagalan hidup, dan menyatakannya kepada dunia.

 

 

596. Apa arti ”Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan”?

Sab, 23/12/2017 - 23:03

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

596. Apa arti ”Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan”?

Kita memohon kepada Allah Bapa agar tidak membiarkan kita sendirian dan berada dalam kuasa godaan. Kita meminta agar Roh Kudus membantu kita untuk membedakan, di satu pihak, antara pencobaan yang membuat kita berkembang dalam kebaikan dan godaan yang membawa kita pada dosa dan kematian. Dan di lain pihak, membedakan antara digoda dan menyetujui godaan. Permohonan ini menyatukan kita dengan Yesus yang mengalahkan godaan dengan doa-Nya. Ini menuntut kesiap-siagaan dan ketekunan sampai akhir.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2846-2849, 2863

597. Mengapa kita menutup dengan permohonan ”Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat”?

”Kejahatan” menunjuk pada pribadi Setan yang melawan Allah dan ”yang menyesatkan seluruh dunia” (Why 12:9). Kemenangan terhadap Setan sudah terjadi dalam Kristus. Tetapi, kita terus berdoa agar keluarga manusia dibebaskan dari Setan dan pekerjaan-pekerjaannya. Kita juga memohon rahmat kedamaian dan ketekunan sementara kita menantikan kedatangan Kristus yang akan membebaskan kita secara definitif dari Si Jahat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2850-2854, 2864

598. Apa arti ”Amin”?

 ”Pada akhir doa, kamu berseru ‘Amin’ dan dengan kata ini yang berarti:

‘semoga demikian’, kamu mengesahkan semua yang tertera dalam doa ini,

yang diajarkan Allah”

(Santo Cyrillus dari Yerusalem)

 Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 888-890, 939

Pohon Natal Layar bermotif aneka ragam batik lambangkan keberagaman umat di Pontianak

Jum, 22/12/2017 - 23:51

Di tahun 2015, sebuah Pohon Natal setinggi 10 meter dengan 6000 kuntum mawar yang terbuat dari koran bekas berdiri di Paroki Santo Agustinus Keuskupan Agung Pontianak, namun tahun ini pohon itu tinggal kenangan, dan di sana berdiri Pohon Natal setinggi 9,5 meter dengan enam layar segi tiga sama kaki. Nama pohon itu adalah Pohon Natal Layar.

Hasil karya umat yang nampak di halaman gereja paroki di Jalan Adi Sucipto, Kubu Raya Pontianak, itu adalah ide kreatif dari Kepala Paroki Santo Agustinus Pontianak Pastor Joanes Yandhie Buntoro CDD. “Kali ini saya ingin menciptakan pohon Natal yang berbeda dengan pohon Natal pada umumnya, yang berbentuk pohon cemara,” kata Pastor Yandhie kepada PEN@ Katolik.

Keunikan pohon Natal itu terletak pada motif yang disulam dengan tali rafia di atas jaring keramba yang terdiri dari motif batik Dayak, batik Jawa, dan batik modern. “Motif beraneka ragam melambangkan umat Katolik yang beraneka ragam dari berbagai suku, yang disatukan dalam Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik,” jelas imam itu.

Pohon itu, lanjut Pastor Yandhie, “juga melambangkan layar para rasul yang siap menjaring jiwa dengan menerima angin Roh Tuhan.”

Menurut Anton, seorang anak OMK yang ikut dalam proses pembuatan pohon itu, proses pembuatan cukup rumit dan banyak kali pengulangan. “Proses pembuatan pohon Natal ini memakan waktu sekitar tiga minggu lebih dengan melibatkan sekitar 40 umat, baik orang tua, OMK dan anak-anak Sekami, dari berbagai kring,” katanya.

Untuk membuat pohon itu, jelas Anton, pertama mereka  mempersiapkan bahan-bahan dasar seperti tali rafia dan jaring keramba, serta alat-alat yang akan digunakan seperti mal untuk memotong pola, cat kompresor, dan jarum jahit karung untuk menyulam.

Setelah membuat sketsa dari kertas yang diletakkan di atas jaring kemudian semprot dengan cat kompresor biarkan kering, mereka membuat bingkai masing-masing pola batik itu dengan menggunakan tali rafia yang disulam sesuai sketsanya.

Langkah terakhir mengisi bingkai-bingkai sketsa dengan sulaman tali rafia sesuai pola masing-masing, dan menggabungkan lembar-lembar sulaman dengan cara dijahit membentuk pola segi tiga sama kaki. “Jadwal penyulaman tidak dibatasi. Kapan saja umat sempat. Mereka boleh membuatnya di kring masing-masing. Dengan panduan koordinator kring mereka kerja bareng,” katanya.

Seorang ibu yang akrab diisapa Ibu Yohanes menjelaskan, “Waktu pertama kali menyulam tali rafia ini, saya sempat stres, karena dalam waktu tiga jam cuman dapat sedikit, dan sering bongkar pasang karena salah sulam pola. Namun setelah bisa malah asyik sampai lupa waktu hingga subuh.”

Yang membanggakan umat yang membuat pohon Natal itu, lanjut Ibu Yohanes, “Pastor Yandhie dari Kongregasi Murid-Murid Tuhan itu turut terlibat langsung mulai dari memberikan training awal sampai hasil akhir.”

Pohon Natal yang sama juga dibuat di Stasi Santo Petrus Supadio dan Stasi Kanisius yang berada dekat Bandara Supadio Pontianak. “Saya ingin tahun ini dibuat adil, di pusat paroki ada pohon Natalnya, di stasi juga ada,” kata Pastor Yandhie. (Suster  Maria Seba SFIC)

Apa arti permohonan ”Berilah kami rezeki pada hari ini”?

Jum, 22/12/2017 - 15:38

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

592. Apa arti permohonan ”Berilah kami rezeki pada hari ini”?

Memohon kepada Allah dengan kepercayaan seorang anak untuk makanan sehari-hari yang perlu untuk kita semua berarti mengakui betapa baiknya Allah mengatasi semua kebaikan. Kita juga memohon rahmat untuk mengetahui bagaimana bertindak sehingga keadilan dan solidaritas menyebabkan kelimpahan beberapa orang digunakan untuk membantu mereka yang kekurangan dan membutuhkan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2828-2834, 2861

593. Apa arti khas Kristen dari permohonan ini?

Karena ”manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang ke luar dari mulut Allah” (Mat 4:4), permohonan ini dengan cara yang sama dapat dikenakan pada lapar akan Sabda Allah dan Tubuh Kristus yang diterima dalam Ekaristi sebagaimana juga lapar akan Roh Kudus. Kita memohon dengan kepercayaan penuh pada hari ini – pada kekinian Allah – dan ini diberikan kepada kita terutama dalam Ekaristi yang mengantisipasi perjamuan Kerajaan yang akan datang.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2835-2837, 2861

594. Mengapa kita berkata ”Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”?

Dengan memohon agar Allah Bapa mengampuni kita, kita mengakui di hadapan-Nya bahwa kita adalah pendosa. Sekaligus kita mewartakan belas kasihan-Nya karena dalam Putra-Nya dan melalui Sakramen ”kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (Kol 1:14). Namun, permohonan kita akan dijawab hanya jika kita lebih dulu mengampuni.

 

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2838-2839, 2862

Apa arti ”Dimuliakanlah Nama-Mu”?

Kam, 21/12/2017 - 16:07
Bagian dalam Basilika St Petrus/PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

588. Apa arti ”Dimuliakanlah Nama-Mu”?

Memuliakan Nama Allah terutama merupakan sebuah doa pujian yang mengakui Allah sebagai Kudus. Allah sudah mewahyukan Nama-Nya yang kudus kepada Musa dan ingin agar umat-Nya dikuduskan bagi-Nya sebagai bangsa yang kudus dan di dalamnya Dia akan tinggal.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2807-2812, 2858

589. Bagaimana membuat Nama Allah Kudus dalam diri kita dan di dunia?

Membuat Kudus Nama Allah, yang memanggil kita kepada ”kekudusan” (1Tes 4:7) adalah menghendaki pengudusan Sakramen Pembaptisan menjiwai seluruh hidup kita. Sebagai tambahan, berarti meminta – lewat hidup dan doa kita – agar Nama Allah dikenal dan dipuji oleh setiap orang.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2813-281

590. Apa yang dimohon oleh Gereja ketika berdoa ”Datanglah Kerajaan-Mu”?

Gereja berdoa untuk kedatangan yang terakhir Kerajaan Allah melalui kembalinya Kristus dalam kemuliaan-Nya. Gereja juga berdoa agar Kerajaan Allah berkembang sejak sekarang dan selanjutnya melalui pengudusan umat dalam Roh dan melalui komitmen mereka pada pelayanan keadilan dan perdamaian sesuai Sabda Bahagia. Permohonan ini merupakan seruan Roh dan Mempelai ”Datanglah, Tuhan Yesus” (Why 22:20).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2816-2821, 2859

Paus Fransiskus: Misa adalah perjumpaan kasih bersama Kristus

Kam, 21/12/2017 - 09:34

Dalam Audiensi Umum hari Rabu, 20 Desember 2017, Paus Fransiskus melanjutkan katekese tentang Misa Kudus, dengan memulai serangkaian refleksi tentang berbagai bagian liturgi. Unsur-unsur yang berbeda dalam Misa, termasuk Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dengan ritus pembuka dan ritus penutup, kata Paus seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Radio Vatikan, membentuk satu tubuh “dan tidak dapat dipisahkan.”

Meskipun demikian, kata Bapa Suci, dia ingin menjelaskan berbagai momen, “yang masing-masing mampu menyentuh dan melibatkan dimensi kemanusiaan kita.” Untuk menjalani Misa dan menikmati semua keindahannya, tegas Paus, “Perlulah memahami tanda-tanda suci ini.”

Paus Fransiskus memulai katekesenya dengan membicarakan ritus pengantar, yang tujuannya untuk memastikan bahwa umat beriman, yang berkumpul bersama, “dapat membentuk satu komunitas, dan agar mereka bisa mempersiapkan diri untuk mendengar firman Allah dengan penuh keyakinan dan merayakan Ekaristi dengan penuh penghormatan.”

Paus mengatakan bahwa datang terlambat datang dalam liturgi itu tidak baik. Agar tepat waktu memenuhi kewajiban menghadiri Misa, tegas Paus, sebaiknya direncanakan sebelumnya agar kita datang lebih awal, guna “mempersiapkan hati kita untuk ritus ini, untuk perayaan komunitas ini.”

Yang dilakukan para imam di awal Misa, terutama penghormatan terhadap altar, “sangat penting” kata Paus, meski mungkin itu tidak nampak. Di awal liturgi, para imam mengungkapkan bahwa “Misa adalah perjumpaan kasih dengan Kristus.”

Segera setelah penghormatan altar, selebran dan umat membuat Tanda Salib, yang menandakan bahwa setiap doa “boleh dikatakan, berkisar pada Tritunggal Yang Mahakudus … awal dan akhirnya adalah cinta Tuhan Yang Maha Esa, yang terwujud dan diberikan kepada kita pada kayu Salib Kristus.”

Bapa Suci lalu mendorong orang tua dan kakek-nenek agar mengajar anak-anak membuat Tanda Salib dengan baik, dan untuk menjelaskannya kepada mereka bahwa dengan membuat Tanda Salib mereka menempatkan diri di bawah perlindungan Salib.

Selebran lalu mengucapkan sapaan liturgi, yang kemudian dijawab umat, “Dan bersama rohmu.” Ini, kata Paus, adalah awal “sebuah simfoni.” Di situ, semua orang yang ikut serta dalam liturgi menyadari bahwa mereka “digerakkan oleh Roh yang satu, dan untuk tujuan yang sama.” Dialog antara imam dan umat ini “menunjukkan misteri Gereja yang berkumpul bersama.”

Dan segera masuk dalam “saat yang sangat menyentuh,” yakni pernyataan tobat, saat semua yang hadir memikirkan dosa-dosa mereka sendiri, namun yang lebih penting, kata Paus, mengakui diri sebagai orang berdosa. “Jika Ekaristi benar-benar menghadirkan Misteri Paskah,” lanjut Paus, “hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali situasi kematian kita, agar dapat bangkit bersama Dia menuju kehidupan baru.” Hal itu, kata Paus, “membantu kita tahu betapa pentingnya pernyataan tobat itu.”

Paus mengakhiri katekesenya dengan berjanji melanjutkan refleksinya tentang bagian-bagian Misa Kudus dalam katekese yang akan datang.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Apa artinya ”Yang ada di surga”?

Rab, 20/12/2017 - 18:40
Bagian belakang Basilika Santo Petrus diambil dari Vatikan/PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

585. Dengan semangat persekutuan dan perutusan yang bagaimana kita berdoa kepada Allah sebagai Bapa ”kita”?

Karena berdoa Bapa ”kami” merupakan berkat umum bagi orang-orang yang dibaptis, kita merasakan dorongan yang mendesak untuk bergabung dalam doa Yesus untuk kesatuan para murid-Nya. Berdoa ”Bapa Kami” berarti berdoa dengan semua orang dan untuk semua orang agar mereka mengenal satu Allah yang benar dan dikumpulkan bersama dalam satu kesatuan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2791-2793, 2801

586. Apa artinya ”Yang ada di surga”?

Ungkapan biblis ini tidak menunjukkan suatu tempat tertentu, tetapi suatu cara berada. Allah mengatasi segala sesuatu. Ungkapan ini menunjuk pada keagungan, kesucian, dan juga kehadiran-Nya di dalam hati orang-orang benar. Surga, atau rumah Bapa, itu tanah air kita yang sejati dan kita sedang menuju ke sana dalam pengharapan sementara kita masih tinggal di dunia ini. ”Tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol 3:3), kita sudah tinggal di dalam tanah air ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2794-2796, 2802

587. Bagaimana struktur Doa Tuhan?

Doa Tuhan berisi tujuh permohonan kepada Allah Bapa. Tiga yang pertama lebih berpusat kepada Allah, menarik kita kepada-Nya untuk kemuliaan-Nya, merupakan ciri khas cinta yang pertama-tama berpikir untuk yang dicintainya. Permohonan ini menganjurkan secara khusus apa yang seharusnya kita mohon kepada-Nya: pengudusan nama-Nya, kedatangan Kerajaan-Nya, dan terjadinya apa yang menjadi kehendak-Nya. Keempat permohonan yang terakhir mempersembahkan kepada Bapa yang maharahim, kemalangan dan harapan kita. Yang dimohon dari Bapa ialah: rezeki, pengampunan, perlindungan dari pen cobaan, dan pembebasan dari yang jahat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2803-2806, 2757

Serangan di Quetta tak manusiawi, kata para uskup seraya ajak umat berdoa bagi perdamaian

Sel, 19/12/2017 - 23:55
Penyelamatan bagi yang terluka akibat bom bunuh diri di Gereja Metodis Quetta, Pakistan. Foto oleh AFP/Banaras Khan

“Pembunuhan kejam terhadap orang-orang yang tak berdosa meningkat di Pakistan. Mari berdoa kepada Tuhan kita Yesus Kristus agar, sebagai sebuah bangsa, Dia dapat memberi kita kekuatan, kebijaksanaan, toleransi dan kedamaian. Semoga Tuhan memberikan kepada keluarga para korban kekuatan untuk sabar menanggung hilangnya orang yang mereka cintai dan agar yang terluka bisa segera pulih,” kata Ketua Konferensi Waligereja Pakistan Mgr Joseph Arshad.

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Pakistan dan juga Uskup Agung Islamabad itu berbicara setelah terjadi serangan bunuh diri mengerikan di hari Minggu, 17 Desember 2017, yang melanda Gereja Methodis Bethel di Quetta, ibu kota Provinsi Beluchistan, dan menyebabkan kematian 13 orang dan lebih dari 56 lainnya cedera.

Dalam pernyataan Komisi “Keadilan dan Perdamaian” yang dikirim ke Agenzia Fides, ditandatangani bersama oleh Mgr Joseph Arshad, Direktur Nasional Pastor Emmanuel Yousaf dan Direktur Eksekutif Cecil S Chaudhry, Gereja di Pakistan dengan keras mengutuk “serangan pengecut dan tidak manusiawi terhadap Gereja dan orang yang tidak berdosa.”

Agenzia Fides dalam laporan 18 Desember 2017 menegaskan bahwa para uskup mengungkapkan belasungkawa terhadap para korban, dan mengatakan “sangat menghargai tanggapan cepat dari polisi dan pasukan keamanan yang membantu memastikan kehidupan sekitar 400 umat beriman di gereja itu” dan memastikan doa untuk keluarga keluarga dari umat beriman yang tewas dan terluka.

Komisi itu meminta agar institusi-institusi “membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan, dan menangani akar penyebab intoleransi ini,” seraya menekankan perlunya “memperkuat langkah-langkah untuk melindungi semua warga negara, terutama selama masa Natal ini.” Para Uskup meminta semua warga negara untuk secara sukarela mengamankan institusi-institusi Kristen.

Komisi juga mengutip keputusan Mahkamah Agung tanggal 19 Juni 2014, yang meminta pemerintah mengadopsi serangkaian tindakan konkret guna melindungi kelompok minoritas agama, dan mengharapkan pelaksanaannya yang efektif. Juga disoroti Rencana Aksi nasional melawan terorisme sebagai :prioritas maksimum untuk menghapuskan ekstremisme dari negara itu.”

Di antara suara-suara masyarakat sipil Pakistan, Nasir Saeed yang beragama Kristen dan menjabat direktur LSM CLAAS, mengatakan kepada Fides, “Menyerang umat beriman, terutama selama masa Natal, adalah tindakan pengecut. Kebencian dan kekerasan semacam itu tidak akan membantu siapa pun untuk mendapatkan tempat di surga.”

Pemimpin itu mengamati, “orang Kristen adalah komunitas yang paling damai dan juga paling rentan di Pakistan, dan telah berjuang dengan semua warga negara lainnya untuk kemerdekaan Pakistan, dengan memainkan peran penting dalam pembangunan bangsa.”

Saeed menambahkan, “Adalah tanggung jawab negara untuk memberikan perlindungan kepada warganya dan khususnya kaum minoritas. Pemerintah gagal memberikan jaminan keamanan dan gagal menyelesaikan masalah mereka. Sebagian besar orang Kristen kecewa dan tidak melihat masa depan mereka di Pakistan. Banyak yang melarikan diri dari negara tempat mereka bertempur bersama Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan.” (pcp berdasarkan laporan PA daro Agenzia Fides)

Bagaimana mungkin menyebut Allah sebagai ”Bapa”?

Sel, 19/12/2017 - 19:20
Basilika Santo Petrus Vatikan dilihat dari Pusat Misi dan Formasi Internasional (CIAM) di Bukit Gianicolo, yang masuk teritori Vatikan

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

582. Mengapa kita berani mendekat kepada Allah dengan kepercayaan penuh?

Karena Yesus, Penebus kita, membawa kita ke hadapan Bapa dan Roh-Nya menjadikan kita anak-anak Bapa-Nya. Jadi, kita dapat berdoa Bapa Kami Dengan penuh kepercayaan sebagai anak-anak-Nya, dengan penuh keyakinan dan kerendahan hati, dengan kepastian dicintai dan didengarkan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2777-2778, 2797

583. Bagaimana mungkin menyebut Allah sebagai ”Bapa”?

Kita dapat menyebut ”Bapa” karena Putra Allah yang menjadi manusia sudah mewahyukan-Nya kepada kita dan karena Roh-Nya membuat Dia bisa kita kenal. Seruan ”Bapa” menyebabkan kita masuk ke dalam misteri-Nya dengan perasaan takjub yang selalu baru dan membangkitkan dalam diri kita kerinduan untuk bertindak sebagai anak-anak-Nya. Karena itu, jika kita mendoakan Doa Tuhan ini, kita sadar bahwa kita menjadi anak-anak Bapa di dalam Putra-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2779-2785, 2789, 2798-2800

584. Mengapa kita berkata Bapa ”Kami”?

Kata ”kami” mengungkapkan hubungan dengan Allah yang baru secara total. Jika kita berdoa kepada Bapa, kita menyembah dan memuliakan Dia bersama Putra dan Roh Kudus. Dalam Kristus kita adalah ”umat-Nya” dan Dia Allah ”kita” sekarang dan selama-lamanya. Kenyataannya, kita juga berkata Bapa ”kami” karena Gereja Kristus adalah kesatuan banyak sekali saudara dan saudari yang ”sehati dan sejiwa” (Kis 4:32).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2786-2790, 2801

Selasa, 19 Desember 2017

Sel, 19/12/2017 - 14:28

HARI BIASA KHUSUS ADVEN III (U)

Novena Natal hari ke-4 – Santo Nemesio

Bacaan I: Hak. 13:2-7.24-25a

Mazmur: 71:3-4a.5-6b.16-17; R: 8ab

Bacaan Injil: Luk. 1:5-25

Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya. Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ. Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: ”Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: ”Bagaimanakah aku tahu, (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab…)

Renungan

Istri Manoah dalam Perjanjian lama adalah seorang yang mandul, tidak beranak. Tetapi, Allah memberikan kepada Manoah sebuah tanda yang menakjubkan. Demikian juga dalam masa Perjanjian Baru, Elisabeth istri dari Zakharia yang dikatakan mandul itu akan melahirkan seorang anak laki-laki; kelak ia dikenal sebagai Yohanes Pembaptis, tokoh yang mempersiapkan kedatangan Yesus. Tokoh Manoah dalam Perjanjian Lama dan tokoh Zakharia dalam Perjanjian Baru memberikan kepada kita ajaran yang berharga bahwa doa adalah kekuatan yang membangkitkan pengharapan.

Kelahiran Yohanes memang dipersiapkan Allah. Yohanes memang bukan terang yang dinantikan, tetapi melalui Yohanes banyak orang disadarkan untuk menerima terang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus. Kelahiran Yohanes menjadi momentum yang menggembirakan Zakharia dan Elizabeth di hari tuannya. Dalam hidup, kita sering juga mengalami keragu-raguan. Kita bahkan putus asa bila mengetahui bahwa ada keterbatasan yang tidak mungkin diubah. Namun, cerita tentang Zakharia dan Elisabet membangkitkan harapan untuk bangkit dan berharap kepada Allah. Allah dapat melakukan segala hal demi menghadirkan kebaikan dan damai sejahtera.

Ya Tuhan, semoga hidup, perkataan dan tindakanku membantu diriku dan sesama untuk menyongsong kelahiran Sang Raja Damai. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pastor Johny Luntungan MSC harap tak tambah barisan para imam yang cari enak sendiri

Sel, 19/12/2017 - 04:13
Pastor Johny Luntungan MSC saat homili/Foto: Maxi Paat

“Doakan saya supaya saya menjadi utusan Allah yang siap melayani dan berbagi dengan murah hati, supaya saya tidak menambah barisan para imam yang siap dilayani, supaya saya tidak menambah barisan para imam yang kerja untuk diri sendiri, supaya saya tidak menambah barisan para imam yang hanya mencari enaknya sendiri.”

Permohonan itu disampaikan Provinsial MSC Indonesia Pastor Herman Joseph Johny Luntungan MSC dalam homili Misa Perayaan 40 Tahun Imamatnya yang dirayakan di Gereja Paroki Bunda Hati Kudus Kemakmuran Jakarta 16 Desember 2017.

Misa, yang dipimpin Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo dengan sekitar 30 imam konselebran, itu dihadiri undangan termasuk keluarga dan kaum religius yang memenuhi gereja, dan dimeriahkan dengan Musik Kolintang dari Kawanua Katolik Jabodetabek, dan Tarian Selendang Biru yang merupakan tarian khas Wanita Katolik RI Sulut.

Seraya berharap 40 tahun imamatnya menjadi momen refleksi tentang setia, taat, dan rendah hati, Pastor Johny meminta untuk mendoakan dirinya “supaya saya menjadi imam yang tidak neko-neko, dan doakan saya supaya saya tidak jadi imam yang macam-macam, karena satu macam pun sudah susah, kalau buat macam-macam, susah diri sendiri, susah umat, susah yang lain, dan susah Tuhan Allah.”

Pastor Johny yang dilahirkan di Lembean, Sulut, 21 April 1949, ditahbiskan imam di Katedral Manado oleh Mgr Theodorus Moors MSC, 16 Desember 1977. Sejak itu, dengan jujur imam itu mengatakan bahwa dia “bahagia,” meski bukan berarti tanpa problem atau semua serba mulus dan menyenangkan.

Namun, “kalau saya seorang imam yang problematis, kalau saya tidak taat, kalau saya menyusahkan orang di mana pun, saya tetap susah!” kata Pastor Johny seraya menegaskan bahwa “kota tidak mengubah saya, metropolitan tidak mengubah saya, mal-mal yang indah tidak mengubah saya, saya yang harus menjadi penentu hidup saya.”

Selama menjalani perutusan, lanjut imam yang pernah menjadi Minister Provinsialat MSC Jakarta, Ekonom Keuskupan Purwokerto, dan Pimpinan Daerah MSC Komunitas Sulawesi dan Kalimantan Timur itu, dia telah berusaha tidak menyusahkan atasan, entah atasan teritori (uskup), atau atasan kongregasi. “Prinsip saya, lebih baik saya yang dibuat susah sampai lumpuh dan mati daripada saya membuat susah sekecil pun untuk yang lain,” tegas imam itu.

Dalam kotbah yang lebih bersifat sharing itu, Pastor Johny menegaskan bahwa dia hanyalah “biasa-biasa saja,” tapi “saya percaya dalam keadaan sangat biasa-biasa itu Tuhan yang luar biasa tetap memakai saya.”

Imam itu mengaku bisa menjalankan 40 tahun imamat bukan pertama-tama tergantung dari dukungan, tepuk tangan, dan caci maki orang-orang yang hadir dalam Misa itu. “Saya bertahan karena ada Tuhan di belakang saya, di samping kiri dan kanan saya, di muka saya, di atas saya di bawah kaki saya. Tuhan itulah yang sore hari ini saya katakan ‘Deo Gratias’ karena memberikan kepercayaan bagi saya.”

Pastor John juga menegaskan bahwa dia tetap belajar untuk taat, rendah hati dan murah hati. “Kerendahan hati dan ketaatan adalah keutamaan-keutamaan dasar yang memungkinkan banyak keutamaan lain tumbuh berkembang dan menghasilkan buah dengan subur. Kalau saya sombong, tinggi hati, merasa hebat dan tahu segala-galanya, saat itulah awal kegagalan saya.

Mgr Suharyo, dalam sambutannya, mengapresiasi homili Pastor Johny yang “amat bagus untuk mengingat kembali panggilan hidup kita, religius dan umat yang berkeluarga. Kita punya panggilan sama, yaitu bertumbuh menuju kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih, hanya jalannya berbeda. Karena itu, saya sadar betul seperti dikatakan Romo Johny, bahwa hidup itu selalu belajar dan belajar, kadang-kadang belajarnya ngak jadi, lalu harus ulang lagi belajar mengenai itu.”

Mewakili Keuskupan Agung Jakarta dan para uskup yang pernah dilayani imam itu, Mgr Suharyo mengucapkan, “Proficiat, selamat merayakan HUT 40 anugerah imamat yang telah Romo hayati dengan tekun dan setia. Kami semua ikut bersyukur, ikut bergembira dan ikut mendoakan supaya kebahagiaan yang sudah Romo alami sebagai imam selama 40 tahun semakin bertambah, semakin bahagia dalam imamat, semakin gembira dalam pelayanan.”

Selain berterima kasih kepada pimpinan tarekat MSC Indonesia yang sejak lama dan akan terus mengutus imam, bruder dan frater untuk bersama-sama melayani umat di KAJ, Mgr Suharyo juga berterima kasih untuk kesaksian yang dibagikan Pastor Johny. “Kita semua ucapkan terima kasih, dan sambutan saya satu kata: Lanjutkan!”(paul c pati)

Koor OMK Kemakmuran Jakarta/Maxi Paat Maxi Paat Foto oleh Maxi Paat Tarian Selendang Biru mengantar persembahan/Maxi Paat Koor dan Kolintang Kawanua Katolik Jakarta/Maxi Paat

Doa Bapa Kami atau Doa Tuhan dalam Kitab Suci dan doa Gereja

Sen, 18/12/2017 - 15:25

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

579. Apa peranan Bapa Kami dalam Kitab Suci?

Doa Bapa Kami merupakan ”ringkasan dari seluruh Injil” (Tertullianus), ”doa yang sempurna” (Santo Thomas Aquinas). Doa yang terdapat di tengah-tengah Khotbah di Bukit (Mat 5-7) ini melukiskan inti seluruh Injil dalam bentuk doa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2761-2764, 2774

580. Mengapa doa ini disebut ”Doa Tuhan”?

Doa Bapa Kami disebut ”Oratio Dominica”, yaitu Doa Tuhan, karena doa ini diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yesus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2765-2766, 2775

581. Di mana tempat doa Bapa Kami ini dalam doa Gereja?

Doa Tuhan ini merupakan doa Gereja yang utama. Doa ini ”diberikan” dalam Sakramen Pembaptisan untuk menandakan kelahiran baru anak-anak Allah ke dalam hidup ilahi. Makna penuh doa Bapa Kami ini diungkapkan dalam Ekaristi karena permohonan yang ada di dalamnya berdasarkan misteri penyelamatan yang sudah dilaksanakan, permohonan yang akan terdengar secara penuh pada saat kedatangan Tuhan. Doa Bapa Kami merupakan bagian integral dari Ibadat Harian.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2767-2772, 2776

Senin, 18 Desember 2017

Sen, 18/12/2017 - 14:36

HARI BIASA KHUSUS ADVEN III (U)

Santa Makrina Muda – Novena Natal hari ke-3

Bacaan I: Yer. 23:5-8

Mazmur: 72:1-2.12-13.18-19; R: 7

Bacaan Injil: Mat. 1:18-24

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel”—yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya.

Renungan

Adil artinya memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Kita merasa gembira manakala mengalami perlakuan yang adil. Kita juga bergembira bila menerima apa yang menjadi hak kita. Seperti seorang buruh yang bekerja keras sepanjang bulan lalu menerima upah pada waktunya, merasa diperlakukan secara adil, demikian juga setiap manusia yang menerima pemenuhan janji dari sesama atau atasannya akan merasa bahagia. Jarang kita menemukan orang kecewa saat sebuah janji dan harapan terpenuhi.

Bangsa Israel juga dalam perjalanan memasuki tanah terjanji mendapatkan pemenuhan janji tentang Tunas Daud yang adil. Janji tentang kelahiran Tunas Daud yang adil tergenapi dalam kelahiran Mesias, Imanuel, Allah beserta kita. Allah tetap melibatkan manusia dalam menyatakan rencana keselamatan-Nya. Maria dan Yosef yang tulus hati dilibatkan Allah untuk mempersiapkan kedatangan Tunas Daud. Maria dan Yosef mengikuti tuntunan Tuhan seperti yang disampaikan Malaikat Gabriel. Ketaatan dan kesetiaan mereka diperhitungkan Allah sebagai kebaikan dan kebenaran sampai saat kelahiran sang Juru Selamat.

Kita belajar dari sikap iman Maria dan Yosef yang dengan tulus dan rendah hati berjalan mengikuti tuntunan tangan Tuhan. Sebagai manusia mereka juga gentar, tetapi rahmat Allah senantiasa menyertai dan meneguhkan perjalanan mereka. Tuhan adalah keadilan kita, Dia mengerjakan dan membuat semua indah pada waktunya. Kelahiran Sang Juru Damai dinantikan semua orang. Semoga hati kita juga tergerak dan terarah dalam persiapan penantian kelahiran Tuhan Sang Raja Damai. Keadilan Tuhan dalam hidup kita sungguh nyata bila direnungkan dengan baik.

Ya Tuhan, ajarlah aku untuk belajar terbuka kepada kehendak-Mu. Bukalah mata hatiku agar siap sedia menerima tawaran keselamatan. Datanglah Tuhan, Sang raja Damai. Aku menantikan kedatangan-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

 

Paus rayakan ulang tahun ke-81 dengan anak-anak yang sakit

Sen, 18/12/2017 - 02:12
Selamat Ulang Tahun Paus Fransiskus

Paus Fransiskus berusia 81 tahun tanggal 17 Desember 2017. Untuk merayakan ulang tahunnya, pada hari Minggu pagi Paus bertemu sekelompok anak yang dirawat oleh Pediatric Dispensary (Klinik Pengobatan Anak  Santa Marta) di Vatikan.

Sementara itu, menurut laporan Seàn-Patrick Lovett dari Radio Vatikan, pengunjung dan simpatisan seluruh dunia berkumpul di Lapangan Santo Petrus di siang hari untuk berdoa Angelus bersama Paus dan untuk mengungkapkan rasa sayang dan selamat kepada Paus.

Hadir di lapangan itu banyak anak dari Roma yang membawa patung-patung kecil Bayi Yesus agar Paus memberkatinya. Menurut tradisi, patung-patung itu akan mereka tempatkan di Kandang Natal di rumah-rumah mereka di seputar kota Roma.

Tahun lalu, Paus Fransiskus merayakan hari ulang tahun ke-80 dengan mengundang sekelompok orang tunawisma untuk ikut sarapan pagi bersama Paus di kediamannya Santa Marta. Kemudian hari itu, Paus merayakan Misa bersama para kardinal yang hadir di Roma dan menyindir mereka dengan mengatakan “rasa humor yang baik membantu kita hidup terus.”

Dua tahun lalu, 17 Desember 2015, Paus merayakannya bersama sekelompok anak muda dari Aksi Katolik Italia. Pesannya kepada mereka pada kesempatan itu adalah terus mengikuti jalan kebaikan, pengampunan, kedamaian dan solidaritas.

Tahun 2014, ulang tahun ke-78 Paus Fransiskus jatuh hari Rabu dan Paus dihibur dalam Audiensi Umum oleh seratus pemain sirkus yang menari tango untuknya di Lapangan Santo Petrus. Tahun sebelumnya, ulang tahun ke-77 dan yang pertama sebagai Paus, Paus Fransiskus memilih merayakan Misa bersama kaum tunawisma yang kemudian dia undang ikut sarapan bersama di Casa Santa Marta tempat Paus tinggal.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Nuncio kalungkan pallium kepada Mgr Ruby sebagai lambang persatuan dengan Tahta Suci

Sen, 18/12/2017 - 01:19

Pengalungan pallium kepada Uskup Metropolitan (Uskup Agung) Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko Pr (Mgr Ruby) dilakukan oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo atas nama Paus Fransiskus di Gereja Katedral Semarang, dalam Misa Minggu Adven III, 16 Desember 2017. Sehari kemudian, Mgr Ruby mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa pallium yang dikenakan di atas punggungnya adalah pallium yang diterimanya bersama 35 uskup agung lainnya dari Paus Fransiskus di Vatikan pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, 29 Juni 2017. “Ketika itu Paus Fransiskus memberikan pallium itu dalam kotak, dan kini Nuncio mengenakan pallium itu kepada saya,” kata Uskup Metropolis itu. Peristiwa itu dihadiri dua uskup dan satu administrator diosesan dari tiga keuskupan sufragan yang masuk Provinsi Gerejawi Semarang yakni Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono Pr, Uskup Malang Mgr Hendricus Pidyarto Gunawan OCarm dan Administrator Diosesan Purwokerto Pastor Tarsisius Puryanto Pr. Uskup Emeritus Purwokerto Julianus Sunarko SJ, Uskup Emeritus Ketapang Mgr Blasius Pujaraharjo Pr, dan Julius Kardinal Darmaatmadja SJ hadir dalam Misa itu. Pallium, atau  selempang putih dari wol berhiaskan enam salib hitam, adalah pakaian liturgi yang dikenakan Paus dan para uskup agung metropolitan di gereja-gereja mereka sebagai lambang persatuan dan yurisdiksi dari Tahta Suci yang mereka emban. (paul c pati)

 

Tiga foto di atas diambil oleh Romo Dadang

Halaman