Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 2 hours 22 mnt yang lalu

Pastor Christopher Ogaga dari Nigeria dibebaskan oleh para penculiknya

Jum, 07/09/2018 - 19:16

Kepala Paroki Emmanuel Pastor Christopher Ogaga yang diculik akhir pekan lalu di Negara Bagian Delta, Nigeria, dibebaskan tanggal 5 September 2018 dan dilaporkan dalam keadaan sehat setelah menjalani penahanan di tempat terbuka tanpa makanan atau air. Konferensi Waligereja Nigeria mengecam wabah penculikan yang semakin mempengaruhi bangsa itu.

Ketika berbicara dengan “Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan,” seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, Pastor Clement Abobo dari Keuskupan Warri di Nigeria bagian selatan mengatakan bahwa Pastor Ogaga dalam keadaan sehat dan tidak ada tebusan yang dibayarkan untuk pembebasannya.

Pastor Ogaga diculik hari Sabtu, 1 September, ketika dia melakukan perjalanan dari Okpe ke Warri. Imam itu dijadwalkan untuk merayakan Misa tanggal 2 September pagi.

Para penculik dilaporkan meminta tebusan lebih dari 15 juta Naira (sekitar 40.000 dolar AS), tetapi menurut Pastor Abobo, “segera setelah mereka menyadari tidak ada yang akan membayar uang tebusan itu, mereka membebaskannya.”

Pastor Abobo telah mengunjungi Pastor Ogaga di rumah sakit tempat imam itu menjalani beberapa pengecekan kesehatan dan menegaskan bahwa dia dalam keadaan sehat meskipun dia ditahan di tempat terbuka tanpa makanan atau air.

Pastor Abobo juga menegaskan kembali bahwa tidak ada motif agama di balik penculikan itu. Selama bertahun-tahun, para imam dan religius menjadi sasaran penculikan untuk mendapatkan uang tebusan oleh geng-geng kriminal di Nigeria, bahkan di wilayah-wilayah yang didominasi umat Kristen seperti Negara Bagian Delta.

Di bulan Januari, para uskup Nigeria mengecam “wabah penculikan untuk mendapatkan tebusan yang telah mencapai proporsi yang tak terbayangkan.” Dalam sebuah pernyataan, para uskup menulis bahwa “hari demi hari warga diculik, dihina dan dibuat trauma oleh geng-geng bersenjata. Para penculik itu tanpa ampun. Dalam upaya mereka untuk mendapatkan sejumlah besar uang, mereka melakukan kekerasan terhadap para korban selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan,”

Selama bertahun-tahun, Konferensi Waligereja Nigeria telah mengeluarkan rekomendasi yang melarang pembayaran uang tebusan demi pembebasan para imam dan kaum religius.(pcp berdasarkan Vatican News)

Paus kepada janda-janda yang menjalani hidup bakti: Jalani kehidupan sederhana dan rendah hati

Kam, 06/09/2018 - 23:35
Paus Fransiskus bersama peserta konferensi internasional untuk para janda (Foto Vatican Media)

Paus Fransiskus bertemu para peserta konferensi internasional untuk para janda yang menjalani hidup bakti dan mengajak mereka untuk menggunakan pengalaman-pengalaman mereka guna membantu orang muda dan kaum miskin, dan untuk menjalani hidup sederhana dan rendah hati.

Dalam sambutan yang sudah disiapkan untuk para wanita itu, Paus menggarisbawahi betapa “hidup menjanda merupakan pengalaman yang sangat sulit.” Beberapa janda, lanjut Paus, mencurahkan energi mereka bagi anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Dalam pertemuan 6 September 2018 itu, Paus mengatakan bahwa dengan hidup bakti, para janda menunjukkan bahwa dengan dukungan para anggota Gereja mereka bisa menjalani kehidupan pelayanan dengan tetap menjalankan tanggung jawab keluarga, profesional dan sosial mereka.

Hidup bakti kalian dalam menjanda, kata Paus Fransiskus, “adalah karunia yang Tuhan berikan kepada Gereja-Nya untuk mengingatkan kepada semua orang yang dibaptis bahwa kuasa kasih-Nya yang penuh belas kasih adalah jalan kehidupan dan kekudusan, yang memungkinkan kita mengatasi cobaan dan dilahirkan kembali dalam pengharapan dan dalam sukacita Injil.”

Oleh karena itu, kata Paus, “Saya mengajak kalian untuk tetap memandang Yesus Kristus dan memupuk ikatan tertentu yang menyatukan kalian kepada-Nya. Karena di situlah, dalam hati ke hati bersama Tuhan, sambil mendengarkan firman-Nya, kita mendapatkan keberanian dan ketekunan untuk memberikan … yang terbaik dari diri kita melalui hidup bakti dan komitmen kita.”

Paus kemudian mendesak para janda untuk menggunakan pengalaman-pengalaman mereka guna membantu orang muda dan orang miskin, seraya menunjukkan kepada mereka kelembutan Allah dan kedekatan-Nya dalam kasih.

Dengan cara ini, lanjut Paus, “Saya mendorong kalian untuk menjalani hidup bakti kalian dalam kehidupan sehari-hari dengan kesederhanaan dan kerendahan hati.”

Di antara mereka yang hadir hari itu adalah Persaudaraan Our Lady of the Resurrection dan Komunitas Anne the Prophetess yang ada di sejumlah negara. Tujuan mereka adalah untuk menegaskan bahwa keberlangsungan cinta orang sudah menikah berlabuh di dalam Kristus dan menjadi perantara bagi pasangan-pasangan.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Bagaimana mewujudkan solidaritas manusia?

Kam, 06/09/2018 - 22:55
Solidaritas. Foto: Antara

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

413. Bagaimana kita harus memandang ketidaksetaraan sosial?

Terdapat ketidaksetaraan sosial dan ekonomi yang penuh dosa yang menimpa jutaan manusia. Ketidaksetaraan ini sangat bertentangan dengan Injil, berlawanan dengan keadilan, dengan martabat pribadi manusia, dan dengan perdamaian. Tetapi, ada beberapa perbedaan di antara orang-orang karena beberapa faktor yang termasuk dalam rencana Allah. Allah menghendaki agar setiap orang menerima apa yang dia butuhkan dari orang lain dan dari mereka yang dilengkapi dengan kemampuan khusus supaya membaginya dengan yang lain. Perbedaan-perbedaan semacam itu mendorong, bahkan memaksa orang, untuk mempraktekkan kemurahan hati, kebaikan, dan saling berbagi. Perbedaan-perbedaan itu juga mendorong untuk saling memperkaya budaya mereka yang bermacam-macam.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1936-1938, 1946-1948

414. Bagaimana mewujudkan solidaritas manusia?

Solidaritas, yang muncul dari persaudaraan manusiawi dan Kristiani, pertama-tama diwujudkan dengan pembagian barang yang adil, upah kerja yang layak, dan dalam usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan tatanan sosial yang lebih adil. Keutamaan solidaritas juga mempraktekkan saling berbagi hal-hal spiritual dari iman yang bahkan lebih penting daripada hal-hal yang material.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1939-1942, 1948

Gerakan Daniel Mandagi dan Pastor Vries SJ bangun semangat pewartaan di Keuskupan Manado

Kam, 06/09/2018 - 22:37
Mgr Rolly memukul tetengkoren sebagai tanda penutupan rangkaian Peringatan Yubileum 150 Tahun Bertumbuh Kembali Gereja Katolik di Keuskupan Manado Tingkat Kevikepan Manado (Foto A. Ferka)

Gerakan yang dilakukan Daniel Mandagi dan Pastor Johanes de Vries SJ, yang menjadi peringatan “Yubileum 150 Tahun Bertumbuh Kembali Gereja Katolik di Keuskupan Manado” kiranya menjadi momen penyemangat munculnya gerakan lanjutan untuk karya pewartaan Injil, Kabar Baik, di wilayah Keuskupan Manado yang majemuk.

Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC mengatakan hal itu dalam homili Misa Syukur Puncak dan Penutupan Peringatan 150 Tahun Bertumbuh Kembali Gereja Katolik Tingkat Kevikepan Manado di Aula Kantor Gubernur Sulut, 2 September 2018.

Ribuan umat dari 10 paroki di Kevikepan Manado hadir pada acara puncak yang diisi sejumlah atraksi dan door price itu. Uskup Emeritus Yos Suwatan MSC, puluhan imam, frater, suster, bruder dan tamu undangan dari berbagai agama, Kapolda Sulut Irjen Polisi Bambang Waskito bersama isteri Dionesya Rutry, Kapolresta Manado Kombes Polisi FX Surya Kumara dan Wakil Walikota Manado Mor Bastian nampak hadir dalam acara itu.

“Kita berharap gerakan yang dilakukan Daniel Mandagi, Pastor Johanes de Vries SJ dan lain-lain akan berlanjut dalam upaya pewartaan Injil atau Kabar Baik di tengah kemajemukan sekarang ini,” ujar Mgr Rolly.

Apa yang dilakukan Daniel Mandagi dan Pastor de Fritz, menurut Mgr Rolly, akan berkesan bila diikuti gerakan-gerakan lain dalam karya pewartaan Kabar Gembira atau Kabar Baik dalam kemajemukan. “Kita mohon dan berdoa agar gerakan mereka dalam peristiwa kembalinya Gereja Katolik di sini dapat menggerakkan hati dan batin kita,” kata Mgr Rolly.

Uskup juga berharap agar umat bukan hanya menjadi pendengar Firman melainkan pelaku Firman, sebagaimana yang terkandung dalam bacaan Minggu Kitab Suci itu.

Sebelum homili, Mgr Suwatan MSC menyampaikan sejarah awal mula tumbuh kembali Gereja Katolik di Keuskupan Manado, yang diawali permohonan Daniel Mandagi dan kedatangan Pastor Johanes de Vries SJ untuk membaptis 24 orang di Kema, 14 September 1868, kemudian di Langowan, Minahasa, dan di seluruh Bumi Nyiur Melambai, Sulawesi Utara.

Ketua Panitia Yubelium 150 Tahun Gereja Katolik Bertumbuh Kembali di Keuskupan Manado Tingkat Kevikepan Manado Pastor Frans Mandagi dalam laporannya menyebutkan pelbagai kegiatan yang mengusung tema “Betapa Mulia Nama-Mu  Ya Tuhan, di Seluruh Bumi.”

Kegiatan itu antara lain Prosesi Doa Rosario di Kawasan Megamas Manado dan Misa yang dipimpin Mgr Rolly, 30 April, yang mengawali kegiatan tingkat Kevikepan Manado, Lomba Paduan Suara Antarparoki se-Kevikepan Manado di Aula Pemkot Manado, 17 Juni, Kebangunan Rohani Katolik di Gubernuran Bumi Beringin, 8 Agustus, Lomba Paduan Suara Dewasa Campuran Antardenominasi Gereja di Atrium Mantos, 11 Agustus, dan acara puncak yang diawali Misa dan diikuti sejumlah atraksi termasuk penampilan paduan suara dari salah satu denominasi gereja dan lagu solo oleh Dionesya Rutry. (PEN@ Katolik/A. Ferka)

Misa dipimpin Mgr Rolly dan didampingi Uskup Emeritus Suwatan dan pastores Kevikepan Manado Sebagian umat yang memadati Aula Kantor Gubernur, tempat acara puncak Peringatan Yubileum 150 Tahun Tumbuh Kembali Gereja Katolik di Keuskupan Manado Kevikepan Manado. (Foto A. Ferka)

Semakin banyak orang diterima dan berkaul kekal dalam Persaudaraan Dominikan Awam

Rab, 05/09/2018 - 21:57
Elisabeth Maria Magdalena Mait OP membacakan pernyataan janji Kaul/Profes Kekal dalam Persaudaraan Dominikan Awam (PEN@ Katolik/pcp)

Dengan lilin bernyala, seorang ibu datang ke depan altar dan membaca sebuah pernyataan di atas Kitab Suci: “Dalam nama Tuhan yang Mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus dan bersama Bunda Maria dan Santo Dominikus, saya, Elisabeth Maria Magdalena Mait, di hadapan Bapak Stephanus Suryaputra OP, Presiden Persaudaraan Dominikan Awam (PDA) Chapter Santa Katarina Siena Jakarta dan Romo Andreas Kurniawan OP, moderator yang mewakili Master Jenderal Ordo Pewarta, berjanji akan hidup sesuai Anggaran Dasar Dominikan Awam sampai ajal saya.”

Selesai berjanji, lilin di tangannya diserahkan untuk diletakkan tetap bernyala di depan Patung Santo Dominikus. Janji yang sama juga dinyatakan oleh Mathilde Avonia OP, Filipus Budiono OP, Maria Yovita Budiono OP, dan Nony Hisani OP. Dengan demikian, Chapter Jakarta memiliki 31 orang berkaul kekal.

Kelima orang itu menyatakan janji Profes (kaul) Kekal dalam Misa Penerimaan Postulan dan Novis serta Pernyataan Janji Profes Sementara dan Kekal Persaudaraan Dominikan Awam (PDA) Chaper Santa Katarina Siena Jakarta dan Komunitas Cirebon dan Cimahi, di sebuah vila di Bogor, 2 September 2018.

Elisabeth Mait yang sudah jadi anggota PDA sekitar enam tahun mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia mau berkaul kekal karena “saya ingin hidup dan bekerja sebagai Dominikan yang selalu siap melayani masyarakat, lingkungan dan Gereja.” Untuk menjalani pelayanan itu, Elisabeth mengaku tidak mudah namun akan terus belajar, “khususnya dalam menjaga sikap maupun dalam bertutur kata.”

Selain lima orang itu, dalam Misa yang dipimpin Pastor Andreas Kurniawan OP itu, 8 orang menyatakan janji Profes Ketiga, 13 orang Profes Kedua, 17 orang Profes Pertama, dan 5 orang diterima sebagai novis serta 2 orang sebagai postulan. 15 anggota yang sudah Profes Kekal juga membaharui janji saat itu.

Misa itu merupakan puncak Rekoleksi Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena, 1-2 September 2018 dengan tema “Kita Dominikan, Kita Bhinneka, Kita Indonesia.” Komunitas Rosa de Lima menjadi panitia pelaksana acara itu dengan Aloysius Loberto OP sebagai ketua panitia.

Dalam rekoleksi itu, selain doa pagi, ibadat sore, ibadat malam serta doa alam oleh Suster Maria Christiana OP, dan Pengakuan Dosa, peserta mendengarkan masukan dari Suster Maria Hildegardis OP tentang “Panggilan Menjadi Dominikan adalah Rahmat” dan dari Pastor Andreas Kurniawan OP tentang “Semua Sangat Baik dan Indah,” dan “Terima Kasih, Baik, Lanjutkan” serta “Membangun Jembatan untuk sampai Kehidupan Kekal.”

Kini, PDA di Indonesia di bawah Koordinator Theophilus Adiwiyarta Hartana Atmadi OP memiliki sekitar 250 anggota di empat  chapter, yakni Jakarta, Pontianak, Surabaya dan Yogyakarta. “Menurut laporan bulan Februari, jumlah anggota kaul kekal sebanyak 67 orang, yakni 31 di Jakarta (termasuk hari ini), 7 di Pontianak, 19 di Surabaya, dan 10 di Yogyakarta; jumlah kaul sementara 58 orang, novis 26, postulan 31 dan aspiran sekitar 60 orang,” kata Theo Atmadi.

Vinsentius Yosef Teguh Adityaputra Witono dari Cirebon mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia mau menjadi postulan karena kerinduan untuk berkumpul bersama dalam doa, khususnya brevir. Mantan biarawan SMM itu yakin, kerinduannya bisa diperoleh dalam PDA, “buktinya semenjak jadi anggota PDA saya yang sering marah-marah bisa perlahan-lahan lebih sabar dan hidup doa saya semakin rutin.”

Sementara itu Paulina Purwaningsih dari Cirebon mengatakan mau mengikrarkan kaul sementara tahun kedua “agar lebih kuat dan lebih dekat dengan Tuhan, dan lebih bersungguh-sungguh dalam hal doa, studi, komunitas  dan pewartaan.” Dia juga yakin bahwa “dengan rahmat Tuhan saya bisa mencapainya.”

Dia bersyukur karena janjinya disampaikan setelah melewati rekoleksi yang “sangat inspiratif karena memberi semangat dan penyegaran untuk hidup sederhana, dan menyadarkan bahwa rahmat dan kekuatan bisa diperoleh dari hal-hal yang kita anggap remeh dan sepele.”

Kalau jumlah anggota PDA di Cirebon 17 orang, jumlah di Cimahi tujuh orang, termasuk Marcel Wara. Menurut Marcel yang bersama isteri menyatakan profes pertama, setahun novisiat belum membuat seseorang memahami kesucian. “Saya harap yang diterima sebagai novis dikenal wataknya dan benar-benar menjadi manusia baru di masa novisiat,” katanya.

Namun apapun kekurangan yang ada dalam PDA, sebelum diterima sebagai postulan dan novis dan mengungkapkan janji, Pastor Andrei mengingatkan agar dengan chapter dan pengurus baru, para anggota PDA memiliki jiwa dan semangat baru yang menghilangkan kekesalan dan mau saling memaafkan “sehingga kita pulang dengan kedamaian damai di hati.”

Imam itu meminta agar tidak hanya melihat penampilan luar orang-orang seperti Zakeus dan Beata Margaret dari Castello, wanita tua dan buta dengan tubuh kecil dan bungkuk sambil memegang tongkat dan jantung, “tetapi apa yang keluar dari hati mereka,” karena “kita bisa dituntun oleh Tuhan lewat orang-orang yang tidak disangka-sangka.”

Anggota PDA, harap imam itu, mau belajar dari orang-orang yang “kita tidak pikir bahkan kita benci dan kesel, karena dari mereka juga suara Tuhan bisa menuntun dan menerangi kita,” dan mau menyerahkan semua kekurangan dalam absen, pertemuan, dan komunikasi, serta kelalaian dan perasaan yang tidak enak dalam komunitas kepada Tuhan untuk kita sempurnakan pelan-pelan.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Berkat untuk lima orang yang mengikrarkan kaul kekal dalam Persaudaraan Dominikan Awam (PEN@ Katolik/pcp) Anggota PDA yang sudah berkaul kekal siap membaharui janji mereka (PEN@ Katolik/pcp) Pemberkatan untuk Dominikan Awam yang mengikrarkan kaul sementara (PEN@ Katolik/pcp) PDA Chapter Santa Katarina Siena Jakarta termasuk Cirebon dan Cimahi dalam Misa. (PEN@ Katolik/pcp) Lima Novis baru Dominikan Awam menerima skapulir dan Pin Novis (PEN@ Katolik/pcp) Para anggota PDA yang mengikrarkan Profes Pertama menerima pin salib. (PEN@ Katolik/pcp) Pastor Andreas Kurniawan OP memberkati pin untuk yang menyatakan janji (PEN@ Katolik/pcp) Pastor Andreas Kurniawan OP dalam Misa. (PEN@ Katolik/pcp)

Bagaimana masyarakat menjamin keadilan sosial?

Rab, 05/09/2018 - 16:13

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

411. Bagaimana masyarakat menjamin keadilan sosial?

Masyarakat menjamin keadilan sosial jika menghormati martabat dan hak pribadi sebagai tujuan dari masyarakat itu sendiri. Kecuali itu, masyarakat melaksanakan keadilan sosial, yang berhubungan dengan kebaikan umum dan pelaksanaan otoritas, jika menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan asosiasi-asosiasi dan individu untuk mendapatkan apa yang menjadi hak mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1928-1933, 1943-1944

412. Berdasar pada apakah kesetaraan antarmanusia?

Semua pribadi mempunyai martabat dan hak fundamental yang setara karena mereka diciptakan menurut gambaran Allah yang satu, dilengkapi dengan jiwa rasional yang sama, mempunyai kodrat dan asal usul yang sama, dan dipanggil dalam Kristus, satu-satunya juru selamat, menuju kebahagiaan ilahi yang sama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1934-1935, 1945

Pastor Yohanes Vincentius Sutiarso Tondowidjojo CM meninggal dunia

Rab, 05/09/2018 - 09:34

Pagi hari ini, 5 September 2018, Wakil Provinsial dari Congregatio Missionis (Kongregasi Misi, CM) Indonesia Pastor Ignatius Suparno CM mewartakan lewat berbagai media sosial bahwa Romo Tondo (panggilan akrab dari Pastor Yohanes Vincentius Sutiarso Tondowidjojo CM) telah meninggal dunia.

“Para Romo, Bruder, Suster dan Saudara-Saudari sekalian. Romo Tondo telah menderita sakit dan dirawat di ICU Rumah Sakit St Vincentius Surabaya sejak tanggal 31 Juli 2018. Beliau menderita infeksi paru-paru serius dan beberapa gangguan kecil pada kerja jantungnya. Dini hari tadi beliau sempat menerima sakramen pengurapan orang sakit. Pagi ini tanggal 5 September 2018 jam 05.35 Romo Tondo telah menghadap Bapa Surgawi dengan tenang,” demikian pengumuman dari Pastor Suparno CM.

Atas nama segenap anggota Kongregasi Misi, imam itu mengucapkan  “terima kasih atas doa-doa banyak pihak, dan terus mohon doa untuk damai kekal Beliau.” Dijelaskan bahwa jenazah Pastor John Tondowidjojo akan disemayamkan di Gereja Paroki Kristus Raja, Jalan Residen Sudirman 3, Surabaya, sebelum diberangkatkan ke Pemakaman Griya Martani Kediri. “Jadwal Misa Requiem dan pemberangkatan akan kami umumkan selanjutnya,” tulis imam itu.

Romo Tondo yang berkarya di Paroki Kristus Raja Surabaya itu lahir di Ngawi, 27 September 1934. Setelah mengikuti pendidikan filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Surabaya dan teologi di Collegio Sale Bignole, Negroni, Genova, Italia, imam itu ditahbiskan imam imam di Italia tahun 1963.

Menurut beberapa sumber, imam yang pernah mengikuti pendidikan Komunikasi Intercultural ‘Ethnologia’ di Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, Italia itu pernah juga mengikuti pelatihan musik, komunikasi penerbitan, journalism dan radio, televisi dan film di berbagai negara dan paska sarjana di bidang ‘Interpersonal Communication and Public Relations’ dan ‘Human Resources Management’ diraihnya di Amerika Serikat.

Penulis banyak buku dan wartawan di berbagai media cetak, yang juga cucu dari RA Kartini, juga pernah membina Sanggar Bina Tama di Surabaya dan berkarya sebagai guru besar ilmu komunikasi di sejumlah universitas.(PEN@ Katolik/pcp)

Intensi doa Paus untuk bulan September: Untuk orang muda di Afrika

Sel, 04/09/2018 - 23:01

Paus Fransiskus pada hari Selasa, 4 September 2018, merilis pesan video yang menyertai intensi doanya untuk bulan September, yakni “Untuk orang-orang muda di Afrika.”

Dalam intensi doanya untuk bulan September 2018, Paus Fransiskus mengatakan: “Mari kita berdoa agar orang-orang muda di Afrika dapat memiliki akses pendidikan dan bekerja di negara mereka sendiri.”

Sudah menjadi kebiasaan Paus Fransiskus untuk merilis pesan video yang merinci intensi doanya setiap bulan.

Teks lengkap intensi doa Paus:

Afrika adalah benua yang kaya, dan sumber daya terbesar dan paling berharganya adalah orang mudanya.

Mereka harus bisa memilih apakah membiarkan diri dikuasai oleh kesulitan atau mengubah kesulitan menjadi peluang.

Cara paling efektif untuk membantu mereka dalam pilihan ini adalah berinvestasi dalam pendidikan mereka.

Jika orang muda tidak memiliki kemungkinan pendidikan, masa depan apa yang bisa mereka miliki?

Mari kita berdoa agar orang-orang muda di Afrika dapat memiliki akses pendidikan dan bekerja di negara mereka sendiri.

Worldwide Prayer Network of the Apostleship of Prayer mengembangkan prakarsa “Video Paus” untuk membantu penyebaran intensi-intensi bulanan Bapa Suci yang berkaitan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi umat manusia. (pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Intensi doa Paus Fransiskus di bulan Agustus: Untuk keluarga

Intensi doa Paus Fransiskus untuk bulan Mei: Misi Awam

Intensi doa Paus Fransiskus di bulan April: Menolak ekonomi pengecualian

Intensi doa Paus bulan Maret 2018: Untuk pembinaan dalam membedakan roh

Intensi doa Paus Fransiskus untuk bulan Februari: Katakan tidak kepada korupsi

Bagaimana seseorang dapat berpartisipasi dalam mengusahakan kebaikan umum?

Sel, 04/09/2018 - 17:47

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

409. Di mana orang bisa menemukan realisasi yang paling lengkap dari kebaikan umum ini?

Realisasi paling lengkap dari kebaikan umum ini dapat ditemukan dalam komunitas politik yang membela dan mengembangkan kebaikan warga mereka dan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat tanpa melupakan kebaikan universal seluruh keluarga manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1901-1912, 1927

410. Bagaimana seseorang dapat berpartisipasi dalam mengusahakan kebaikan umum?

Semua orang menurut tempat dan peranan yang mereka punyai dapat berpartisipasi dalam mengusahakan kebaikan umum, yakni dengan menghormati hukum yang adil dan melaksanakan tugas di tempat dia mempunyai tanggung jawab, misalnya mengurus keluarga dan komitmen pada pekerjaannya sendiri. Para warga negara juga wajib berpartisipasi aktif dalam kehidupan publik sejauh itu mungkin.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1913-1917, 1926

Paus Fransiskus menerima skuter Vespa dari para penggemar

Sel, 04/09/2018 - 17:30
Kardinal Konrad Krajewski menaiki Vespa yang dihadiahkan kepada Paus untuk mengecek kendaraan itu. Vatican Media

Sekelompok penggemar Vespa memberikan skuter Vespa 50R tahun 1971 kepada Paus Fransiskus pada hari Minggu, 2 September 2018. Vesta itu akan dijual untuk mengumpulkan uang bagi kegiatan amal kasih. Paus Fransiskus bertemu dengan para peserta Rally Roma Caput Vespa Internasional ke-2 di Vatikan pada hari yang sama. Vespa Club in Time, yang menyumbangkan moped itu, menghias moped itu dengan lambang kepausan dan plat nomor khusus: BF362918, yang merupakan singkatan dari “Bergoglio” dan “Fransiskus” serta tahun kelahirannya (36) tanggal pemberian kendaraan itu (2 September 2018. Kardinal Konrad Krajewski menaiki motor itu sebentar untuk mengecek kendaraan baru Paus itu. Sebagai almoner Paus, kardinal itu akan bertanggung jawab melelang Vespa antik itu. Hasilnya akan disumbangkan atas nama orang miskin oleh Kantor Amal Kasih Kepausan. Setelah memarkir Vespa-Vespa 600-odd mereka di Vatikan, para penggemar skuter itu ikut dalam Doa Angelus yang Paus Fransiskus pimpin di Lapangan Santo Petrus pada siang hari. (Devin Watkins, Vatican News)

Vespa-vespa dari peserta Rally Roma Caput Vespa Internasional ke-2 diparkir Vatikan untuk mengikuti Doa Angelus yang dipimpin Paus. Vatican Media

Para uskup bersumpah tak akan menutup-nutupi pelanggaran yang dilakukan klerus

Sel, 04/09/2018 - 02:04

Terguncang dengan gugatan pelecehan seksual yang dilakukan klerus dalam Gereja Katolik khususnya di Amerika Serikat, para uskup di Filipina mengungkapkan “rasa sakit dan malu” atas kejahatan-kejahatan itu, seraya menjanjikan aksi dan tidak ada penyembunyian atas tindakan kriminal semacam itu.

Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) telah bersumpah bahwa klerus yang mencabuli gadis-gadis dan anak-anak kecil akan ditangani dengan tepat.

Ketua CBCP Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles mengatakan “situasi menyakitkan” itu memanggil para uskup untuk “meninjau kembali” hukum Gereja universal dan lokal tentang pelecehan seksual.

“… Dan dengan tekad dan komitmen baru menerapkannya dan tidak menutupinya,” kata Mgr Valles dalam pernyataan pastoral yang dikeluarkan 31 Agustus 2018.

Dalam suratnya di tahun 2016, CBCP telah memastikan kerjasama dengan otoritas sipil untuk mengatasi pelanggaran yang dilakukan klerus yang telah mencoreng wajah Gereja di seluruh dunia.

Para uskup mengatakan bertekad untuk memastikan bahwa Gereja adalah lingkungan yang aman bagi semua umat Katolik, terutama anak-anak, dan menjamin perhatian yang layak bagi para korban dan keluarga mereka.

Pernyataan berjudul “Seruan pastoral tentang perhatian dan perlindungan pastoral bagi anak-anak di bawah umur,” itu dimaksudkan untuk memandu keuskupan-keuskupan berdasarkan pendekatan global namun sejalan dengan hukum pidana lokal.

Seraya menyerukan seruan Paus Fransiskus, kepala CBCP juga meminta Gereja berdoa dan berpuasa di tengah pengungkapan rahasia pelanggaran yang dilakukan klerus.

“Situasi ini juga memanggil kami kepada sesuatu yang penting. Situasi itu mengingatkan kita untuk datang kepada Tuhan dalam doa,” lanjut Mgr Valles.

“Ini sesuatu yang dapat kita adakan dan lakukan di keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki kita, di komunitas-komunitas agama kita, dan dalam KBG-KBG (Komunitas Basis Gerejani) kita,” kata Mgr Valles.(Roy Lagarde dari cbcpnews)

Apa itu kebaikan umum?

Sen, 03/09/2018 - 23:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

407. Apa itu kebaikan umum?

Yang dimaksud dengan kebaikan umum ialah semua kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan orang-orang sebagai kelompok atau individu mencapai kesempurnaan (kebahagiaan) mereka sendiri.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 190-1906, 1924

408. Apa saja yang tercakup dalam kebaikan umum?

Kebaikan umum ini meliputi hormat dan pengakuan akan hak-hak fundamental pribadi, perkembangan hal-hal rohani dan jasmani pribadi dan masyarakat, damai dan keamanan bagi semua.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1907-1909, 1925

Pastor Andy Fanumbi rayakan pesta perak dengan operasi bibir sumbing dan gerakan seribu rupiah

Sen, 03/09/2018 - 23:43

Menyambut Pesta Perak (25 Tahun) Imamat yang akan berlangsung 5 September 2018, Pastor Andreas Fanumbi Pr atau yang akrab disapa Pastor Andy mengadakan bakti sosial operasi bibir sumbing dan celah langit-langit secara gratis di Rumah Sakit Bunda Pengharapan Merauke, dan mencanangkan  Gerakan Seribu Rupiah (Geser) untuk pemeliharaan situs-situs rohani yang ada di Keuskupan Agung Merauke.

Pelaksanaan operasi bibir sumbing gratis selama dua hari, 1-2 September 2018, itu dilakukan imam itu bekerja sama dengan Rumah Sakit Bunda Pengharapan, Yayasan Vivitas Indonesia, Smile Train dan Yayasan Permata Sari Semarang Indonesia, dan pencanangan Geser dilakukan bersama Yayasan Vivitas Indonesia, Yayasan Prima Unggul dan Smile Train, pada pembukaan kegiatan Character Building di Halaman Patung Hati Kudus Yesus Bandara Mopah Merauke, 1 September 2018.

Pastor Andy mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa operasi bibir sumbing diprioritaskan untuk anak-anak asli Papua yang kurang mampu, namun terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

“Kami tidak membuat perbedaan, hanya skala prioritas. Saudara-saudara orang asli Papua harus mendapat prioritas, sebab mereka yang mempunyai tanah ini. Kita memberi penghargaan dan apresiasi kepada orang asli Papua dan sesudah itu kepada saudara-saudara lain yang datang dan hidup bersama orang Papua di sini,” kata Pastor Andy di sela-sela kegiatan itu.

Dijelaskan, operasi bibir sumbing dilaksanakan karena imam itu memiliki visi di bidang kesehatan, dan Yayasan Vivitas Indonesia yang didirikan oleh imam itu juga memiliki relasi dengan Smile Train yang merupakan salah satu LSM Internasional dari New York.

“Saya sudah minta prioritas untuk kuota Papua dan sudah tiga kali dilaksanakan operasi bibir sumbing di Merauke. Untuk kuota tidak ada batasan. Berapa banyak pun siap dilayani, seribu, dua ribu atau tiga ribu orang, kami layani,” kata Pastor Andy.

Geser, menurut Pastor Andy, bertujuan untuk pemeliharaan situs-situs rohani yang ada di Keuskupan Agung Merauke, yakni Patung Hati Kudus Yesus di areal Bandara Mopah Merauke, Patung Kristus Raja Segala Bangsa di Kampung Poo, Distrik Jagebob, Patung Hati Kudus Yesus di Pulau Habe, Kampung Wambi, Distrik Okaba, dan beberapa situs lain.

Geser juga digalakkan untuk menolong masyarakat pinggiran kota Merauke yang butuh uluran tangan, khususnya yang terpuruk dalam kesehatan, pendidikan maupun ekonomi. “Dengan seribu rupiah kami dapat menolong. Saya ingin mengajak generasi muda memiliki keprihatinan sosial seperti ini. Saya ingin mengetuk hati anak-anak muda agar memiliki satu keprihatinan sosial demi kepentingan bersama. Melalui Geser kita membangun solidaritas rela berbagi dari kekurangan sesuai tema saya, yaitu berbagi kekurangan bersama sesama yang membutuhkannya,” kata imam itu.

Pastor Andy yakin Tuhan akan membuat mujizat dan tanda heran, “bahwa dari yang sedikit ada mujizat dan tanda-tanda heran yang luar biasa seperti dua ekor ikan dan lima roti, Yesus mengubahnya dan bisa memberi makan 5000 orang dan mereka makan sampai kenyang,” kata imam itu.

Setelah Geser, kegiatan dilanjutkan dengan acara Character Building yang dikemas dalam permainan outbound, yang menurut imam itu bertujuan “untuk membangun karakter anak-anak Papua.” (Yakobus Maturbongs)

Keluarga saat mengunjungi pasien yang selesai melakukan operasi bibir sumbing. YM Pencanangan Gerakan Seribu Rupiah oleh Pastor Andreas Fanumbi Pr yang ditandai dengan pemukulan tifa. YM

Sekolah-sekolah Katolik hendaknya membentuk dan menghasilkan siswa-siswi berkarakter

Sen, 03/09/2018 - 22:51

Sekolah-sekolah Katolik hendaknya sungguh membentuk dan menghasilkan siswa-siswa yang berkarakter. Harapan itu dikemukakan oleh Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dalam homili Misa Pembukaan Rapat Pleno XVI Komisi Pendidikan KWI.

Selain itu, dalam Misa yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Ambon, 27 Agustus 2018, Mgr Mandagi menegaskan dukungannya untuk rapat pleno itu dan berharap peserta mengalami keramahtamahan dan persaudaraan di Ambon secara nyata.

Selesai Misa, peserta disambut oleh Marching Band SMA Xaverius dan diantar menuju wisma Uskup Amboina untuk ramah tamah yang dihiasi nyanyian dan tarian khas Ambon serta jamuan makan bersama uskup, para imam, suster, frater dan umat.

Sebanyak 69 peserta, yang terdiri dari pengurus Komisi Pendidikan (Komdik) KWI, ketua-ketua Komisi Pendidikan Keuskupan dari Regio Sumatra, Jawa, Kalimantan, MAM (Manado, Amboina, Makassar), Nusra dan Papua serta perwakilan pengurus Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan serta perwakilan mitra Komdik yaitu Majelis nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK), Perhimpunan Akademi Politeknik Katolik Indonesia (PAPKI), dan Ikatan Insan Pendidikan Katolik Nasional (IIPKN), menghadiri rapat pleno itu.

Tema Rapat Pleno Komisi Pendidikan KWI yang berlangsung hingga 30 Agustus 2018 itu adalah “Aktualisasi Nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja dalam pendidikan Katolik di Indonesia.”

Dalam rapat pleno itu, selain mendengarkan sambutan dan laporan dari Sekretaris Eksekutif Komdik KWI Dr C Kuntoro Adi SJ, peserta menerima masukan dari beberapa narasumber, yaitu Ibu Alissa Wahid, Pastor Albertus Bagus Laksana SJ, Pastor Albertus Hartana SJ, dan Ch Bema Indradjis.

Dengan panduan Prof Anita Lie Ed.D, peserta lalu melaksanakan pendalaman bersama per regio dan menyusun Action Plan yang akan dilaksanakan di sekolah-sekolah Katolik di regio keuskupan masing-masing. Peserta juga mendengarkan sharing dari Ketua MPK Keuskupan Amboina Pastor Agustinus Arbol Pr tentang contoh raport karakter.

Di sela-sela rapat itu, peserta menghadiri undangan Walikota Ambon Richard Louhenapessy, alumni SMA Xaverius Ambon, yang menggambarkan potensi penduduk Ambon dalam bidang musik dan tarik suara sehingga kota Ambon disebut sebagai “City of Music.” Bahkan, menurut walikota, Ambon siap melaksanakan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I yang akan diadakan Oktober 2018. (Suster Sesil OP)

Tradisi

Sab, 01/09/2018 - 19:57

Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-22 pada Masa Biasa, 2 September 2018: Markus 7: 1-8, 14-15, 21-23

“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7: 8)

Dalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.

Seandainya Yesus meninggalkan semua tradisi, Dia seharusnya berhenti berbicara bahasa Aram, menahan diri untuk mengajar orang-orang, dan mulai melepas semua pakaian Yahudi-Nya. Namun, Yesus tidak melakukan hal-hal itu. Yesus menghormati tradisi dan mengakui pentingnya hal-hal ini. Namun, Yesus juga mengakui bahwa ada beberapa tradisi yang bermasalah dan perlu ditinggalkan. Menjadi bagian dalam aliran tradisi, Yesus mengajak kita untuk memahami dengan baik tradisi apa yang membawa kita kepada ibadat sejati kepada Allah dan kemajuan sejati bagi komunitas manusia.

Lebih dekat dengan Injil hari ini, orang-orang Yahudi memiliki ritual-ritual pemurnian karena mereka hanya bisa menyembah Tuhan ketika mereka bersih secara ritual atau tidak najis. Mereka pun dengan hati-hati menghindari benda-benda yang dapat membuat mereka najis seperti darah dan binatang-binatang najis, termasuk juga benda apa pun yang bersentuhan dengan hal-hal najis ini. Karena mereka tidak yakin apakah tangan dan peralatan makan mereka tidak bersentuhan dengan hal-hal najis, terutama jika mereka datang dari pasar atau ladang, mereka membuat kebiasaan untuk memurnikan tangan dan peralatan mereka untuk menghindari hal ini. Dengan demikian, berbagai ritual pemurnian berkembang menjadi tradisi bagi orang Yahudi. Ujud dari tradisi-tradisi ini baik karena mereka membantu orang-orang Yahudi bersih dari kenajisan dan dapat menyembah Tuhan. Namun, beberapa orang Farisi memberi penekanan berlebihan pada tradisi-tradisi ini dan menjadikannya absolut seolah-olah kegagalan untuk menjalankan ritual-ritual ini berarti mereka gagal untuk menghormati Tuhan. Mereka tidak bisa membedakan antara ibadat sejati yang mendatangkan kehormatan sejati bagi Tuhan, dan praktik-praktik tradisional lainnya yang membantu orang dalam mencapai ibadah ini.

Yesus tidak hanya mengundang kita untuk membedakan dengan seksama berbagai tradisi yang kita miliki, tetapi Yesus juga memberikan kepada kita sebuah tradisi yang lebih mendasar dalam menyembah Allah. Alih-alih “menurunkan” sebuah praktik atau hal, Yesus “menurunkan” sesuatu yang paling penting, yakni hidup-Nya sendiri untuk Allah dan kita semua. Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, diri-Nya yang sepenuhnya, dalam Perjamuan Terakhir, dan pengorbanan ini mencapai puncaknya di Salib. Persembahan diri-Nya menjadi ibadah yang paling sempurna bagi Allah, dan memenangkan rahmat keselamatan bagi kita semua. Yesus menyerahkan Tradisi besar ini kepada para murid-murid-Nya dan sepanjang zaman, kita dengan setia menjalan Tradisi ini dan mempersembahkan pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi. Sewaktu kita mengambil bagian dari persembahan diri Yesus, kita juga diberdayakan untuk “menurunkan” dan menyerahkan diri kita kepada orang lain. Ini berarti kita diundang untuk melakukan pengorbanan kita sehari-hari, bertekun dalam melakukan kebaikan, dan setia pada komitmen kita baik sebagai suami-istri, orang tua, imam, kaum religius, atau seorang profesional. Ketika kita menjalani tradisi terbesar ini setiap hari, kita tidak hanya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi menawarkan ibadah yang sempurna kepada Tuhan.

Frater Valentinus Bayuahadi Ruseno OP

 

 

Paroki Redemptor Mundi resmikan rumah formasi tempat orang muda dibina jadi pemimpin melayani

Jum, 31/08/2018 - 23:45

Beberapa menit menjelang peresmian sebuah gedung baru yang akrab disebut Rumah Formasi Paroki Redemptor Mundi, 29 Agustus 2018, seorang umat paroki itu bertanya, “Apa manfaat dari rumah formasi?”

“Gedung baru ini disebut Rumah Formasi. Rumah Formasi diperuntukkan bagi generasi muda paroki untuk melakukan dan merencanakan kegiatan paroki. Rumah Formasi adalah tempat untuk membuat sebuah power dan power itu bisa mempengaruhi yang lain. Generasi muda harus mempunyai power supaya bisa menjadi leader, supaya bisa membuat perubahan dalam masyarakat.”

Homili Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya Pastor Adrian Adiredjo OP menjawab pertanyaan tak langsung umat. “Kita tentu menginginkan anak-anak bisa menjadi centurion atau perwira untuk melayani. Centurio, dalam bahasa Latin, adalah perwira atau pemimpin bijaksana yang siap melayani. Biasanya orang yang sudah menjadi centurion atau pemimpin lupa akan dirinya. Namun centurion ini luar biasa, dia tidak seperti kacang lupa kulit. Dia tidak lupa akan orang kecil dan mau memikirkan orang lain. Perwira ini lain, dia ingat bawahannya,” tutur imam itu.

Biasanya, lanjut Pastor Adrian, orang yang sudah punya power sering kali merusak dirinya sendiri. “Nah, cara agar kita tidak dirusak oleh power lain adalah melayani. Akhirnya tujuan kita semua untuk mengenal Yesus sebagai Juru Selamat. Perbedaan suku, ras, warna kulit dan lain-lain tidak menghalangi centurion untuk mengenal Kristus,” kata Pastor Adrian.

Pemberkatan Rumah Formasi dihadiri para para ketua DPP dan BGKP, para ketua wilayah, ketua lingkungan, para suster OP dan suster SPM, serta para pastor di Redemptor Mundi.

Rumah Formasi itu didirikan tahun 2017 dan kini sudah selesai. Gedung baru yang berukuran sekitar 12 meter x 5 meter dan berlantai dua itu berada sisi timur Gereja Redemptor Mundi atau berhadapan dengan Klinik Pratama Redemptor Mundi. Gedung baru itu akan digunakan oleh Remaja Katolik (Rekat) dan OMK. (PEN@ Katolik/herman yk)

Mgr Suharyo ajak umat jadi anggota Gereja hidup dan kreatif saat gereja paroki diberkati

Jum, 31/08/2018 - 23:19
Foto Komsos Paroki Karawaci

Uskup Agung Jakarta (KAJ) Mgr Ignatius Suharyo mengajak seluruh umat Paroki Santo Agustinus Perum, Karawaci, Tangerang, agar menjadi anggota Gereja yang hidup dan penuh kreatif seperti Gereja Anthiokia, yang bertumbuh penuh pelayanan sehingga menjadi model perkembangan Gereja zaman sekarang.

Mgr Ignatius Suharyo berbicara dalam Misa 28 Agustus 2018 saat merayakan HUT ke-30 Paroki Karawaci, pesta pelindung paroki itu dan pemberkatan serta penandatanganan prasasti gedung gereja yang IMB-nya baru diterima “setelah menunggu lama dan melelahkan” yakni enam tahun lalu waktu Paroki Karawaci merayakan HUT ke-24. Pendirian gedung gereja juga awalnya diprotes warga sekitar.

Misa yang dipimpin Mgr Suharyo dengan konselebran Provinsial OSC Pastor Basilius Hendra Kimawan OSC, Kepala Paroki Karawaci Pastor Stefanus Suwarno OSC dan sembilan imam lain serta dihadiri sekitar 3000-an umat itu bertema “Bersatu dalam Keberagaman, Mensyukuri Rahmat Tuhan.”

Dalam sejarah awal Gereja Katolik, Mgr Suharyo mengisakan, ada tiga Gereja yakni Gereja Yerusalem, Gereja Efesus dan Gereja Anthiokia. Perkembangan Gereja Yerusalem dengan tokoh Yakobus ternyata tidak bertahan lama, karena tradisi orang Yahudi dikenal sangat fundamental dengan aturan Gerejanya, sedangkan Gereja Efesus yang melibatkan tokoh Yohanes hilang tak berbekas karena pertengkaran dan perselisihan antarumat. “Gereja yang selalu diwarnai perselisihan justru tidak bertahan lama,” kata uskup.

Gereja Anthiokia dikenal sebagai Gereja yang berkembang dengan baik, “bahkan selalu hidup dan sangat kreatif,” tegas Mgr Suharyo seraya mengajak perlu untuk mencontohi Gereja itu.

Syarat-syarat Gereja yang hidup dan kreatif, jelas Mgr Suharyo, pertama, “setiap pribadi atau anggota Gereja rela menyerahkan nyawanya untuk domba-domba.” Gereja Katolik Batavia (Jakarta) dibawa ke tanah Batavia 210 tahun lalu oleh para misionaris asing yang umumnya “berusia muda dan penuh semangat.”

Kehadiran mereka bukan disambut meriah tetapi disambut oleh wabah penyakit kolera dan berbagai penyakit lain. “Wabah kolera da malaria menjadi tantangan kala itu, tetapi mereka tekun mewartakan kasih Tuhan.” Akibat wabah itu, para misionaris meninggal dunia. “Mereka disebut martir-martir kecil saat itu. Mereka menyerahkan nyawa untuk mewartakan kebaikan Tuhan,” kata Mgr Suharyo.

Kedua, ketaatan dan kepasrahan yang diungkapkan oleh Santo Agustinus bahkan dengan ungkapan sangat menyentuh hati, “Tuhan, aku tidak akan tenang sebelum aku temukan Tuhan di dalam hatiku.” Ungkapan itu, lanjut uskup, “menjadi spirit sangat dahsyat buat umat paroki ini. Ungkapan ini adalah wujud nyata iman sangat kepada Tuhan.”

Pastor Suwarno mengapresiasi seluruh umat, para pastor yang bertugas di Paroki Karawaci sebelumnya, Ketua Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Sonny Wibisono dan kawan-kawannya, serta seluruh umat yang giat mengusahakan dana sehingga selesai pembangunan sarana yang paling dibutuhkan umat itu.

Pastor Suwarno berterimakasih kepada seluruh umat yang memberikan perhatian demi kelancaran pembangun gedung gereja itu. Sebelumnya, tak jauh dari gereja itu, dibangun Graha Agustinus yang dilengkapi berbagai sarana sehingga setiap Minggu bisa dilakukan pembinaan setiap kelompok kategorial di paroki itu. (PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

Apa dasar otoritas sosial?

Jum, 31/08/2018 - 17:19
Gambar dari Facebook Umat Katolik

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

405. Apa dasar otoritas sosial?

Setiap komunitas manusia membutuhkan otoritas yang sah untuk menjaga keteraturan dan memberikan sumbangan untuk mewujudkan kebaikan umum. Dasar otoritas itu terletak dalam kodrat manusia karena berhubungan dengan tatanan yang ditetapkan oleh Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1897-1902, 1918-1920

406. Bilamana otoritas itu dilaksanakan dengan cara yang sah?

Otoritas dilaksanakan secara sah jika bertindak demi kebaikan umum dan menggunakan sarana yang bisa dibenarkan secara moral untuk mencapainya. Karena itu, rezim politik harus ditentukan oleh keputusan bebas dari warga negaranya. Mereka harus menghormati prinsip ”aturan hukum” (rule of law) tempat hukum yang berkuasa, bukan kehendak sewenang-wenang dari beberapa orang. Hukum yang tidak adil dan peraturan-peraturan yang bertentangan dengan tatanan moral itu tidak mengikat bagi suara hati.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1901-1904, 1921-1922

Pastor Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia meninggal di usia 86 tahun

Jum, 31/08/2018 - 04:39

“Romo Glinka, semua telah tertata. Kamu pergi dengan megah dan gagah. Hidupmu betapa berarti… senyumlah dengan bangga menuju cahaya abadi yang telah menjemputmu. Requiescat in Pace,” tulis Pastor Agustinus Tri Budi Utomo Pr yang akrab dipanggil Romo Didik dalam halaman Facebooknya.

Berita media sosial tanggal 30 Agustus 2018 sekitar pukul 21.10 tentang meninggalnya Pastor Habil Josef Glinka SVD agak mengejutkan banyak orang karena Pastor Glinka baru merayakan HUT ke-86 tanggal 7 Juni lalu, dan tanggal 26 Agustus masih menghadiri peluncuran buku karangan Bernada Rurit berjudul “Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD – Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia.”

Pastor yang lahir di Chorzow, Polandia, 7 Juni 1932 itu adalah juga ilmuwan yang sejak 1985 hingga meninggal berkarya sebagai sebagai guru besar antropologi di Universitas Airlangga, Surabaya. Menurut berbagai catatan, imam yang menguasai dengan baik sembilan bahasa itu hidup mau menolong sesama tanpa memandang latar belakang agama dan status sosial seseorang.

Profesor Bioantropologi (Antropologi Ragawi) pada Jurusan Antropologi, FISIP, Universitas Airlangga, dan pada Fakultas Psikologi, Unversitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, itu menempuh pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah di Polandia (1939-1951), kemudian filsafat di Seminari Tinggi Serikat Sabda Allah (SVD), Pieniezno, Polandia (1951- 1954) dan teologi di seminari yang sama (1954-1958). Pastor Glinka ditahbiskan imam tahun 1957.

Sesudah pendidikan teologi, imam itu belajar biologi dan antropologi ragawi di Universitas Adam Mickiewicz, Poznan, Polandia, dan 1974-1975 serta 1976-1977 mengikuti Alexander von Humboldt postdoctoral research fellowship. Gelar Doktor Biologi dalam Antropologi diraihnya tahun 1969 di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, dan guru besar dalam Bioantropologi, di universitas yang sama tahun 1977.

Tanggal 27 Agustus 1965 Pastor Glinka tiba di Jakarta. Tahun berikutnya, imam yang pernah mengajar Filsafat Alam di Seminari Tinggi SVD di Pieniezno, Polandia, itu menjadi dosen Antropologi dan Filsafat Alam Hidup di STFK Ledalero, Flores, hingga 1977. Di samping itu Pastor Glinka menjadi dosen tamu di Universitas Nusa Cendana, Kupang, dan Unika Atma Jaya, Jakarta, sejak 1972 hingga 1974.

Sejak 1977 hingga 1985, imam itu menjadi guru besar Antropologi dan Filsafat Alam Hidup di STFK, Ledalero, namun dua tahun di antaranya, yakni 1982 sampai 1983, dia menjadi guru besar tamu di Johannes-Gutenberg-Universität, Mainz Jerman, dan di beberapa Perguruan Tinggi di Polandia.

Selai itu, imam yang sudah melahirkan 13 doktor, baik sebagai promotor dan co-promotor, itu pernah membuat penelitian tentang karakteristik morfologis penduduk Pulau Palue, NTT, berat badan bayi di Flores, NTT, karakteristik antropometris beberapa kelompok etnis di Indonesia, pertumbuhan anak sekolah di Jakarta, system perkawinan di Paroki Nita dan Koting, Flores.

Hal lain yang pernah diteliti adalah norma pertumbuhan anak/remaja di Indonesia, usia menarche pada berbagai kelompok etnis di Indonesia, lingkaran perkawinan di Manggarai, Flores, dan di Timor Tengah Selatan, karakteristik morfologis mahasiswa Universitas Airlangga, pengaruh Medan Geopatis atas fertilitas manusia, dan perubahan tinggi badan di Indonesia.(PEN@ Katolik/shelvy/pcp)

Pastor Agustinus Tri Budi Utomo Pr (Romo Didik) dan Pastor Habil Josef Glinka SVD

Paus ajak umat Waldensian dan Metodis untuk ikut umat Katolik melayani orang miskin

Kam, 30/08/2018 - 22:03
Paus Fransiskus pada Audiensi Umum 29 Agustius 2018 di Vatikan. Foto ANSA

Dalam pesan yang dikirim kepada para peserta sinode tahunan Perhimpunan Gereja-Gereja Metodis dan Waldensian yang berlangsung di Torre Pellice, dekat Turin, Italia utara, 26-31 Agustus 2018, Paus menyatakan kedekatan persaudaraan Gereja Katolik dan dirinya serta mengajak umat Waldensian dan Metodis untuk ikut bersama umat Katolik dalam mewartakan Yesus, terutama bagi kaum miskin dan kaum terpinggirkan saat ini.

“Kami dipanggil untuk mempergunakan diri kami dalam mewartakan Yesus, yang akan bisa dipercaya jika itu dicerminkan dalam kehidupan dan dijalani dalam kegiatan amal kasih, terutama bagi banyak Lazarus yang mengetuk pintu kami saat ini,” tulis pesan yang dibacakan saat sinode itu dimulai hari Minggu oleh Eugenio Bernardini, moderator Waldensian Table, badan puncak Gereja itu.

“Dengan melayani orang-orang itu saat ini, membela martabat orang yang paling lemah dan meningkatkan keadilan dan perdamaian, kita bersama-sama menjadi agen perdamaian yang Tuhan umumkan di hari Paskah dan yang Dia tinggalkan kepada kita sebagai warisan,” tulis Paus, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Yang dibicarakan oleh 180 bapa sinode Metodis dan Waldensian dalam sinode itu, antara lain kehadiran Gereja dalam kehidupan publik dan komunitas, perbuatan baik dalam pelayanan dan pewartaan, migrasi dan ekumene

Sambil berdoa bagi mereka, Bapa Suci mengatakan bahwa dia membayangkan berdoa bersama mereka dan memohon kepada Bapa agar “bersama Tuhan, semua umat Kristen dapat berjalan dengan tulus hati menuju persekutuan penuh.” Paus juga menulis, “Hanya dengan cara ini, dengan menanggapi secara konkret panggilan Tuhan untuk ‘menjadi satu’, kita dapat mewartakan Injil dengan cara terbaik.”

Seraya mengenang pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan mereka di Argentina, Turin, dan Roma, Paus memohon agar Tuhan memberkati mereka, dan mendorong mereka berdoa bagi dirinya.

Uskup Lodi (Katolik) Mgr Maurizio Malvestiti, didampingi oleh Pastor Cristiano Bettega, direktur Kantor Nasional Konferensi Waligereja Italia untuk Ekumene dan Dialog Antaragama, merupakan tamu undangan dalam sinode itu.

Perhimpunan Gereja-Gereja Metodis dan Waldensian adalah gereja bersatu Italia yang didirikan tahun 1975 menyatukan Gereja Evangelis Waldensian dan Gereja Metodis Injili di Italia. Perhimpunan itu memiliki sekitar 50.000 anggota, di antaranya 45.000 umat Waldensian, sebagian besar di Italia, tetapi juga di Argentina dan Uruguay. Umat Metodis berjumlah sekitar 5.000 orang.(pcp berdasarkan Vatican News)

Halaman