Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 47 mnt yang lalu

Mengapa Gereja itu Satu?

Sel, 10/04/2018 - 19:10
PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

161. Mengapa Gereja itu Satu?

Gereja itu Satu karena sumber dan teladannya adalah kesatuan Pribadi-Pribadi dalam satu Allah Tritunggal. Sebagai Pendiri dan Kepala, Yesus Kristus menetapkan kesatuan semua umat manusia dalam satu tubuh. Sebagai jiwa Gereja, Roh Kudus mempersatukan semua umat beriman dalam kesatuan dengan Kristus. Gereja hanya mempunyai satu iman, satu kehidupan Sakramental, satu warisan Apostolik, satu pengharapan yang umum, dan cinta kasih yang satu dan sama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 813-815, 866

162. Di mana terdapat Gereja Kristus yang satu?

Gereja Kristus yang satu, sebagai sebuah susunan masyarakat dan terorganisir, ada dalam (subsistit in) Gereja Katolik, dipimpin oleh Pengganti Petrus dan para Uskup dalam kesatuan dengannya. Hanya melalui Gereja inilah orang bisa mendapatkan kepenuhan sarana keselamatan, karena Allah sudah mempercayakan semua berkat Perjanjian Baru kepada persekutuan Apostolik yang dikepalai oleh Petrus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 816-870

163. Bagaimana dengan orang-orang Kristen non-Katolik?

Di dalam Gereja dan komunitas-komunitas gerejawi yang terpisah dari kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dapat dijumpai banyak unsur pengudusan dan kebenaran. Semua anugerah ini berasal dari Kristus dan mendorong pada kesatuan Katolik. Anggota-anggota Gereja dan komunitas ini dipersatukan ke dalam Kristus melalui Sakramen Pembaptisan, dan karena itu kita mengakui mereka sebagai saudara-saudara kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 817-819, 870

Kekhasan Pesta Kerahiman Ilahi adalah penetapannya diminta sendiri oleh Yesus

Sel, 10/04/2018 - 16:52

Seraya mendaraskan Doa Rosario dan menyanyikan lagu-lagu Kerahiman Allah, sekitar 1300 orang melakukan prosesi dengan kendaraan bermotor sepanjang 9 kilometer dari SMK Santo Josef Nenuk menuju Katedral Maria Imakulata Atambua membawa Lukisan Kerahiman Ilahi.

Di Katedral Atambua itu, anggota Tunggal Hati Suci dan Tunggal Hati Maria (THS-THM) Keuskupan Atambua bersama para anggota kelompok-kelompok Kerahiman Ilahi dari Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, serta Keuskupan Dili, Keuskupan Maliana dan Keuskupan Baucau, yang ketiganya dari Timor Leste, melangsungkan ibadah penutupan Novena Agung Kerahiman Allah dan Lectio Divina.

Acara tanggal 8 April 2018 rangka Pesta Yesus Kerahiman Ilahi itu juga dilengkapi dengan Misa yang dipimpin Ketua Komisi Karya Misioner atau Dirdios Keuskupan Atambua Pastor Salvator Towary SVD. Misa itu sekalian menutup Novena Agung Kerahiman Ilahi yang dimulai pada Jumat Agung di paroki masing-masing yang dilaksanakan para devosan Kerahiman Ilahi dan kelompok Kategorial THS-THM se-Keuskupan Atambua.

Dalam homili, Pastor Salvator menggarisbawahi kekhasan Pesta Kerahiman yang menempati peringkat paling tinggi dari empat inti devosi kepada Yesus Kerahiman Ilahi yakni Lukisan Yesus Kerahiman Ilahi, Rosario Kerahiman Ilahi (Koronka), Jam Kerahiman Ilahi (pukul 15.00) dan Penyebaran Devosi Kerahiman Ilahi.

Kekhasan Pesta Kerahiman Ilahi, tegas jebolan dari Universitas Pontifikal Salesian Roma itu, adalah penetapan pesta itu “yang diminta oleh Yesus sendiri di tahun 1931 dalam penampakan-Nya kepada Suster Faustina di Plock-Polandia, agar pada hari ini semua Lukisan Yesus diberkati secara meriah dan dihormati di muka umum.”

Secara Theologis, lanjut mantan Ketua Komisi Kepemudaan Atambua itu, pemilihan hari Minggu pertama sesudah Paskah sebagai Pesta Kerahiman memiliki relasi yang sangat mendalam antara misteri Paskah dan Misteri Kerahiman Ilahi. “Relasi inilah yang diwujudnyatakan dalam Novena Agung yang dibuka hari Jumat Agung,” jelas Pastor Salvator.

Sedangkan dari aspek biblis, sesuai  Injil Yohanes 19: 31-37, devosi itu mengalir dari peristiwa Salib saat seorang serdadu menikam lambung Yesus dengan tombak dan segeralah mengalir air dan darah. “Dari sinilah memancar sakramen-sakramen Gereja yang menguduskan dan menyembuhkan umat yang setia dan penuh iman menerimanya,” jelas imam itu.

Dengan demikian Pastor Salvator mengajak semua umat untuk “menjadi Rasul Kerahiman Ilahi” sesuai ensiklik Paus Yohanes Paulus II berjudul “Dives in Misericordia” dan menjadi “misionaris Kerahiman Ilahi” sesuai Bulla Misericordiae Vultus dari Paus Fransiskus.

“Dengan berani berbuat baik, berbelas kasih dan mengampuni sesama di mana saja kita berada, kita membuat devosi itu berbobot bukan devosi kosong saja atau ritual belaka,” kata Pastor Salvator.

Menurut informasi yang diterima oleh PEN@ Katolik, peranserta dalam peristiwa itu atas undangan Koordinator Distrik THS-THM Keuskupan Atambua. “Peristiwa iman ini adalah salah satu kekhasan dari THS-THM Keuskupan Atambua untuk memberi warna khas dalam Spiritualitas THS-THM,” kata Pastor Salvator SVD, perintis, pembimbing dan pendamping rohani THS-THM Keuskupan Atambua sejak 2000.

Selain siraman rohani di pelataran Katedral Atambua dengan tema “Aku Bangga Menjadi Katolik” yang dibawakan oleh Poulden, seorang devosan Kerahiman Ilahi dari Keuskupan Surabaya, peserta juga menghadiri penutupan acara itu berupa Salve Agung di Katedral Atambua.(Fredirikus Tjeunfin)

Panduan untuk menjalani agama Kristen Katolik di abad ke-21

Sel, 10/04/2018 - 04:29

Dalam video eksklusif ini, Vatican Media menyoroti tema Seruan Apostolik yang baru dari Paus Fransiskus berjudul GAUDETE ET EXSULTATE (bergembiralah dan bersukacitalah) tentang panggilan untuk hidup suci di dunia saat ini.

Di Minggu Kerahiman Ilahi, Paus minta umat ‘kembaran Tomas’ untuk lihat diri sendiri

Sel, 10/04/2018 - 02:53

Dalam Minggu Kerahiman Ilahi, yang selalu dirayakan pada Minggu Kedua Paskah, Paus Fransiskus memfokuskan homili pada Tomas yang ragu namun kemudian “jatuh cinta kepada Tuhan,” menegaskan bahwa Tomas adalah kembaran kita, dan mengajak umat Katolik untuk melihat diri sendiri.

Kata “melihat,” kata Paus terdengar berulang kali dalam Injil hari itu, 8 April 2018. “Para murid bersukacita ketika mereka melihat Tuhan (Yoh. 20:20). Mereka memberi tahu Tomas, “Kami telah melihat Tuhan” (ayat 25),” demikian homili Paus yang dibagikan oleh Kantor Pers Vatikan.

Tetapi Injil tidak menggambarkan bagaimana mereka melihat-Nya, tegas Paus, tidak digambarkan bagaimana Yesus bangkit. Yang disebut hanyalah, “Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka” (ayat 20). Seolah-olah Injil ingin memberitahukan kepada bahwa itulah cara para murid mengenali Yesus hanyalah melalui luka-luka-Nya. Hal yang sama terjadi pada Tomas. Dia juga ingin melihat “tanda paku di tangan-Nya” (ayat 25), dan setelah melihat, dia percaya (ayat 27).

Terlepas dari kurangnya iman Tomas, lanjut Paus, kita harus berterima kasih kepadanya, karena dia tidak puas mendengar dari orang lain bahwa Yesus hidup, atau hanya untuk melihat Dia dalam daging. “Dia ingin melihat ke dalam, menyentuh dengan tangannya luka-luka Tuhan, tanda-tanda cinta-Nya.”

Injil menyebut Tomas itu Didymus (ayat 24), yang berarti Kembar, dan “dalam hal ini dia benar-benar saudara kembar kita. Karena bagi kita juga, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Tuhan sudah bangkit, tetapi tetap jauh tidak mengisi hidup kita. Tuhan yang menyendiri tidaklah menarik kita, betapa pun Dia adil dan suci. Tidak, kita juga perlu ‘melihat Tuhan, untuk menyentuh Dia dengan tangan kita dan untuk mengetahui bahwa Dia telah bangkit, dan bangkit bagi kita,” kata Paus.

Seperti para murid, menurut Paus Fransiskus, kita dapat melihat Tuhan juga melalui luka-luka-Nya. “Menatap luka-luka itu, para murid memahami kedalaman kasih-Nya. Mereka mengerti bahwa Dia telah mengampuni mereka, meskipun beberapa orang menolak dan meninggalkan Dia. “Masuk ke dalam luka-luka Yesus adalah merenungkan cinta tak terbatas yang mengalir dari hati-Nya. Ini jalannya. Jantungnya berdetak untuk saya, untuk kalian, untuk masing-masing kita,” kata Paus.

Dari lubuk hati Thomas muncul jawaban, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Paus juga menegaskan kalau kita masuk ke dalam misteri Tuhan melalui luka-luka Kristus, kita akan seperti Thomas yang tidak lagi hidup sebagai murid yang tidak yakin dan goyah, tetapi “jatuh cinta kepada Tuhan!”

Untuk mengalami cinta itu, tegas Paus, kita harus membiarkan diri kita diampuni. “Saya bertanya kepada diri sendiri, dan masing-masing kalian: apakah saya membiarkan diri saya diampuni? Untuk mengalami cinta itu, kita harus mulai dari sana. Apakah saya membiarkan diri saya diampuni?”

Di hadapan Allah kita tergoda melakukan apa yang dilakukan para murid dalam Injil: menyembunyikan diri di balik pintu tertutup, kata Paus. “Mereka melakukannya karena takut, namun kita juga bisa takut, malu membuka hati dan mengakui dosa-dosa kita. Semoga Tuhan memberi kita rahmat untuk memahami rasa malu, melihatnya bukan sebagai pintu tertutup, tetapi sebagai langkah pertama menuju perjumpaan.”

Kalau toh kita merasa malu, Paus mengatakan harus bersyukur. “Ini berarti kita tidak menerima kejahatan, dan itu bagus. Rasa malu adalah ajakan tersembunyi dari jiwa yang membutuhkan Tuhan untuk mengatasi kejahatan. Tragedinya adalah ketika kita tidak lagi malu pada apapun. Janganlah kita takut mengalami rasa malu! Biarkan kita melewati rasa malu demi pengampunan! Jangan takut malu! Jangan takut,” tegas Paus.(paul c pati)

Apakah itu karisma?

Sen, 09/04/2018 - 21:32

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

159. Mengapa Gereja disebut kenisah Roh Kudus?

Disebut demikian karena Roh Kudus tinggal di dalam tubuh itu, yaitu Gereja, baik dalam Kepalanya maupun dalam anggota-anggotanya. Roh Kudus juga membangun Gereja dalam cinta kasih melalui Sabda Allah, Sakramen-Sakramen, keutamaan-keutamaan, dan karisma-karisma.

”Sebagaimana jiwa untuk badan manusia, Roh Kudus bagi anggota-anggota Kristus,

yaitu Tubuh Kristus yang adalah Gereja” (Santo Agustinus)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 797-798, 809-810

160. Apakah itu karisma?

Karisma adalah anugerah-anugerah khusus Roh Kudus yang diberikan kepada individu untuk kebaikan orang lain, kebutuhan dunia, dan secara khusus untuk membangun Gereja. Merupakan tanggung jawab Kuasa Mengajar untuk membedakan karisma-karisma.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 799-801

Tujuan dan misi Vox Point dibentuk dengan tujuan mulia demi kepentingan kebangsaan

Sen, 09/04/2018 - 21:00

“Pergilah kita diutus!” Melihat tema Pertemuan Rapat Kerja dan Paskah Bersama Vox Point Indonesia di Aula Vertenten Sai Merauke, Ketua Vox Point Indonesia DPD Papua Kristosimus Yohanes Agawemu meminta peserta pertemuan untuk mengimani kata-kata itu dan menjadikan semua orang mengenal Vox Point “dengan seluruh tujuan dan misinya yang dibentuk dengan tujuan yang mulia, yaitu untuk kepentingan kebangsaan.”

Bagaimana pengurus Vox Point DPW yang ada di Keuskupan Agung Merauke dapat mengambil peran dalam mewujudkan itu adalah pertanyaan yang dikemukakan Kristosimus dalam Pengukuhan Pengurus Vox Populi Intitute (Vox Point) Indonesia Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Merauke, 7 April 2018.

Dia percaya, kalau tugas-tugas yang telah dirumuskan dilakukan dengan mengobarkan semangat Roh Kudus, “seluruh pengurus Vox Point DPW Merauke dapat menjadi garam dan terang demi kepentingan banyak orang, karena dengan demikian menjadi kekuatan iman yang dapat menghadirkan cinta kasih Tuhan lewat kedamaian serta persaudaraan.”

Melalui Vox Point Indonesia, jelasnya, meskipun berada di ujung Timur, suara orang Katolik dalam pikiran dan tindakan akan menjadi perhatian khusus bagi semua pihak, karena Vox Point hadir dan sejajar dalam berpikir untuk kepentingan bangsa dan negara. “Pikiran kita, tindakan kita, komunikasi kita dan tindakan kita harus menunjukan kedewasaan, menunjukan bahwa Vox Point sejajar dengan organisasi keagamaan lainnya dan sejajar dalam struktur organisasi pemerintahan maupun politik,” kata Kristosimus.

Dia juga berharap Vox Point dapat bangkit dengan semangat baru, seluruh pengurusnya bersatu dan meninggalkan segala bentuk perbedaan. “Mari menjadikan rasa persaudaraan yang kita miliki sebagai kekuatan iman untuk mewartakan kabar suka cita melalui tugas dan fungsi Vox Point,” pesannya.

Pertemuan yang diawali rapat pleno untuk membahas berbagai program kerja masing-masing bidang itu dilanjutkan dengan Misa Paskah Bersama dipimpin oleh Pastor Anselmus Amo MSC yang sekaligus mengukuhkan Pengurus Vox Point Indonesia DPW Merauke yang diketuai oleh Yoseph B Gebze.

Vox Point merupakan organisasi awam Katolik yang bertujuan untuk menyuarakan dan mewujudkan kebenaran serta keadilan, mengembangkan nila-nilai kebangsaan dan sebagai wadah kajian strategis bidang sosial politik, kemasyarakatan dan kenegaraan. Vox Point beranggotakan politisi, pejabat pemerintahan, TNI dan Polri, profesional dan pengusaha serta orang muda Katolik.

Vox Point DPD Papua terdiri dari DPW Merauke, DPW Jayapura, DPW Timika, DPW Asmat, DPW Mappi, DPW Boven Digoel dan DPW Pegunungan Bintang.(Getrudis Saga Keo)

Paus salami yang hadir dalam doa Ratu Surga dan serukan perdamaian di Suriah

Min, 08/04/2018 - 23:08

Sebelum berdoa Ratu Surga di akhir Misa Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 8 April 2018, Paus Fransiskus menyalami anggota-anggota umat beriman yang hadir di lapangan Santo Petrus, dan setelah doa itu Paus mengeluarkan seruan khusus untuk perdamaian di Suriah.

Paus Fransiskus berterima kasih kepada semua orang yang berpartisipasi dalam liturgi di hari Minggu itu, terutama Misionaris Cinta Kasih yang berkumpul di Roma untuk sebuah pertemuan. “Terima kasih atas pelayanan kalian!” kata Paus kepada mereka.

Paus juga mengucapkan Selamat Hari Paskah kepada umat Kristiani yang termasuk dalam Gereja-Gereja Timur yang merayakan Paskah hari ini, 8 April 2018. “Semoga Tuhan Yang Bangkit memenuhi mereka dengan cahaya dan kedamaian, dan menghibur komunitas-komunitas yang hidup dalam situasi-situasi yang sangat sulit,” kata Paus kepada mereka.

Pada kesempatan Hari Romani Internasional, Paus Fransiskus juga menyalami orang Rom dan Sinti yang hadir. “Saya memohon  perdamaian dan kerukunan bagi mereka yang menjadi anggota bangsa-bangsa kuno ini, dan berharap agar setiap hari bisa terjadi peningkatan budaya perjumpaan, dengan niat baik untuk saling mengenal dan menghormati.” Paus meminta mereka untuk berdoa baginya, dan mengajak mereka untuk berdoa bersamanya untuk bagi saudara-saudari Suriah yang menjadi pengungsi.

Paus juga menyalami semua peziarah yang hadir, seraya menempatkan semua yang hadir di bawah “mantel Maria, Bunda Kerahiman Ilahi.”

Setelah berdoa Ratu Surga bersama umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus itu, Paus Fransiskus secara khusus kembali memanjatkan permohonan atas nama Suriah.

Bapa Suci mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa kabar buruk datang dari Suriah. Pengeboman di Suriah telah menelan puluhan korban, banyak dari mereka wanita dan anak-anak, kata Paus. Selain itu, ada berita bahwa bom-bom itu mengandung zat kimia.

“Mari kita berdoa untuk semua yang meninggal, untuk yang terluka, untuk keluarga-keluarga yang menderita,” kata Paus Fransiskus, seraya menambahkan “Tidak ada perang yang baik atau perang yang buruk. Tidak ada, tidak ada, yang dapat membenarkan penggunaan instrumen pemusnahan semacam itu terhadap orang-orang dan penduduk yang tidak bersenjata.” (paul c pati berdasarkan laporan-laporan Vatican News)

Shalom

Min, 08/04/2018 - 00:06

Minggu Paskah Kedua (Minggu Kerahiman Ilahi)

8 April 2018

Yohanes 20: 19-31

“Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:19)

Ketakutan adalah emosi manusia yang alami dan mendasar. Takut memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup manusia karena emosi ini memperingatkan kita akan datangnya bahaya, dan menggerakkan kita untuk menghindarinya. Ilmu anatomi menunjukkan bahwa sumber emosi ini ada di dalam amygdala, bagian primitif dari otak yang juga dimiliki oleh hewan lain. Namun, tidak seperti binatang yang melarikan diri di hadapan predator, dengan otak yang lebih kompleks, kita juga menghadapi jenis ketakutan yang kompleks. Kita tidak hanya takut pada pemangsa, tetapi kita juga takut kehilangan pekerjaan, akan penyakit, dan kehilangan orang yang kita kasihi. Ada yang takut akan ketinggian (acrophobia), akan ruang kecil (claustrophobia), dan bahkan terhadap pisang (Bananaphobia)! Karena pikiran kita yang superior, ketakutan kita bahkan membesar karena kita bisa mengantisipasi bahaya yang masih jauh atau bahkan yang sesungguhnya belum ada. Inilah dasar dari kecemasan dan kekhawatiran.

Dalam Injil, para murid Yesus ketakutan. Mereka takut pada “orang Yahudi.” Mereka mungkin takut akan ditangkap karena dituduh mencuri tubuh Yesus oleh tentara Romawi dan penguasa Yahudi yang menemukan kuburan yang kosong. Para murid juga mungkin cemas akan masa depan mereka, apa yang akan terjadi setelah kematian dan berita tentang kebangkitan Yesus. Haruskah mereka membubarkan diri, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, atau apakah mereka akan tetap bersama? Akankah Yesus datang dan membalas mereka? Dikuasai oleh rasa takut dan ketidakpastian, mereka mengunci diri. Mereka lumpuh, hati mereka mengerut, dan mereka merekatkan diri pada hal-hal yang aman namun rapuh. Seperti para murid, rasa takut membekukan kita dan mengunci kita di zona nyaman kita. Takut terluka, kita berhenti mengasihi. Takut akan kegagalan, kita tidak lagi mengejar impian kita. Takut dimanipulasi, kita menolak membantu orang lain. Takut pengkhianatan, kita menghindari komitmen.

Namun, rasa takut tidak memiliki kata terakhir akan hidup kita. Meskipun ruangan terkunci, Tuhan masuk di tengah-tengah mereka. Kata pertama yang Dia katakan adalah “Damai”, dalam bahasa Ibrani, “Shalom.” Kemudian, Yesus menunjukkan luka-lukanya kepada mereka, sebuah bukti bahwa Dia benar-benar Yesus, guru mereka, yang disalibkan dan bangkit. Melihat Tuhan, sukacita memenuhi hati mereka, dan mereka tidak takut lagi. Shalom Yesus mengampuni dan memberdayakan. Shalom Yesus memberikan kekuatan batin dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Shalom Yesus memberikan keberanian untuk menerima penderitaan dan cobaan.

Yesus benar-benar bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, tetapi ini tidak mengubah situasi para murid. Masa depan mereka tetap tidak pasti. Otoritas Yahudi masih berusaha untuk menghancurkan mereka. Para prajurit Romawi setiap saat dapat menangkap mereka. Komunitas mereka sangat kecil dan lemah. Situasi mereka tetap suram, tetapi satu hal telah berubah. Mereka tidak takut lagi. Dengan Shalom-Nya di dalam hati para murid, Yesus menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka dan mengirim mereka dalam misi untuk mengampuni. Karena mereka telah diampuni dan menerima belas kasihan, mereka menjadi misionaris perdamaian dan mereka membawa pengampunan kepada orang lain. Seperti pintu batu kubur tidak dapat menghentikan Tuhan yang bangkit, sekarang pintu yang terkunci tidak dapat menghalangi para murid yang diberdayakan.

Shalom Yesus adalah anugerah kebangkitan bagi kita semua. Benar bahwa situasi dan masalah kita tidak banyak berubah, tetapi rasa takut tidak bisa lagi membekukan kita. Kita dipanggil untuk keluar dari kamar kita yang terkunci dan menjadi misionaris perdamaian dan belas kasihan. Meskipun sakit, gagal, dan penuh dengan frustrasi, kita terus mengasihi, melayani dan berkomitmen karena ini adalah siapa kita sesungguhnya, orang-orang yang telah menerima Shalom Yesus, belas kasihan Tuhan dan Roh Kudus. Kita tidak takut karena kita adalah umat yang tertebus!

Shalom!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Biara-biara tertua dalam agama Kristen Katolik terletak di padang gurun Mesir

Sab, 07/04/2018 - 22:30
Biara Santo Antonius. LorisRomito | CC BY-SA 3.0

Sejarah hidup bakti Katolik dimulai pada abad-abad awal setelah kematian Yesus Kristus. Awalnya ada banyak pria dan wanita yang mengikuti teladan Yesus Kristus dan hidup dalam pengasingan sebagai pertapa di padang gurun, seraya mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk doa dan kabar gembira.

Pertapa Kristen pertama yang tercatat adalah Santo Paulus dari Thebes, yang lahir tahun 227 di Mesir. Awalnya dia pergi ke padang gurun untuk menghindari penganiayaan, namun kemudian dia tetap tinggal di sana karena dia semakin dekat dengan Tuhan. Teladannya mengilhami Santo Antonius Agung untuk menerima kehidupan doa tapa yang sama di padang gurun sekitar tahun 270.

Santo Antonius umumnya dianggap sebagai “Bapak Monastik” atau “Bapa dari Semua Biarawan,” karena dia menarik banyak pengikut yang tinggal di dekatnya dan belajar cara-cara kesempurnaan Kristen dari dia. Namun, dia tidak membangun biara fisik apa pun, karena komunitasnya menciptakan sel pribadi sendiri di sekelilingnya, dengan menggunakan gua yang berdekatan atau gubuk-gubuk kecil. Namun dipercaya, beberapa pengikut awalnya mendirikan biara di situs pemakamannya di abad ke-4.

Biara itu sekarang dikenal sebagai “Biara Santo Antonius” dan terletak sekitar 200 mil tenggara Kairo. Mulanya hanya sekelompok pertapa yang tinggal saling berdekatan, tetapi seiring waktu biara itu menjadi lebih formal dan tumbuh menjadi sebuah komunitas.

Salah satu murid terdekat dari Santo Antonius, yakni Santo Makarius, juga mendirikan sebuah biara di gurun pasir Mesir yang terus digunakan saat ini. Biara itu bernama “Biara Santo Makarius di Scetis.”

Makarius hidup dari sekitar tahun 300 hingga tahun 391 dan dipengaruhi oleh Santo Antonius untuk mendedikasikan hidupnya pada doa. Teladan kekudusan-Nya menarik banyak orang dan Makarius mengumpulkan para pengikutnya ke dalam sebuah jenis kehidupan monastik yang “eremitis” atau “semi pertapa.”

Menurut Catholic Encyclopedia, “Para biarawan itu tidak terikat oleh aturan apa pun; sel-sel mereka berdekatan, dan mereka bertemu untuk ibadah ilahi hanya di hari-hari Sabtu atau Minggu. Prinsip yang menyatukan mereka adalah saling membantu, dan otoritas para sesepuh diakui tidak seperti otoritas superior monastik dalam arti kata yang ketat, tetapi lebih sebagai pedoman dan model kesempurnaan.”

Para biarawan hidup dengan cara seperti ini sejak didirikan tahun 360. Kini, para biarawan Koptik yang tinggal di sana meneruskan tradisi-tradisi pendiri mereka, tradisi monastik jenis tertua dalam agama Katolik dan sangat populer di tempat-tempat seperti Irlandia. Di sana mereka menciptakan biara-biara tipe pertapa sama yang menampilkan sel-sel pribadi yang berhimpit mengitari gereja pusat atau tempat pertemuan. Skellig Michael adalah salah satu biara-biara paling terkenal dalam barisan monastisisme ini.(paul c pati berdasarkan Aleteia)

Biara Santo Makarius di Padang Gurun Scetis. Berthold Werner | CC BY-SA 3.0 Biara Santo Makarius

Intensi doa Paus Fransiskus di Bulan April menolak ekonomi pengecualian

Sab, 07/04/2018 - 17:27

Paus Fransiskus pada hari Jumat, 6 April 2018, merilis pesan video yang mengiringi intensi doanya untuk bulan April 2018 yakni “Untuk Mereka yang Bertanggung Jawab dalam Masalah Ekonomi”. Dalam intensi doa untuk bulan April itu, Paus Fransiskus mengatakan, “Marilah kita mengangkat suara kita bersama, seraya meminta kepada para ekonom agar berani untuk menolak economy of exclusion (ekonomi pengecualian) dan tahu bagaimana cara membuka jalan baru.”

Sudah menjadi kebiasaan bagi Paus Fransiskus untuk merilis pesan video yang merinci intensi doa barunya setiap bulan.

Teks lengkap pesannya itu:

Ekonomi tidak bisa berupaya meningkatkan keuntungan dengan mengurangi tenaga kerja dan dengan demikian menambah barisan orang-orang yang dikecualikan.

(Ekonomi) harus mengikuti jalan yang ditandai oleh para pemimpin bisnis, politisi, pemikir, dan pemimpin dalam masyarakat yang menempatkan pribadi manusia pada tempat pertama, dan melakukan segala kemungkinan untuk memastikan bahwa ada peluang kerja yang bermartabat.

Marilah kita mengangkat suara bersama-sama, seraya meminta kepada ekonom untuk berani menolak ekonomi pengecualian dan tahu cara membuka jalan baru.

Jaringan Worldwide Prayer Network of the Video Apostleship of Prayer mengembangkan prakarsa “Video Paus” itu untuk membantu penyebaran intensi bulanan Bapa Suci terkait dengan tantangan yang dihadapi umat manusia.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Uskup Tanjung Selor Mgr Paulinus Yan Olla MSF akan ditahbiskan 5 Mei 2018

Sab, 07/04/2018 - 03:04

Dengan moto penggembalaan “Servus Veritatis”, Mgr Paulinus Yan Olla MSF akan ditahbiskan sebagai Uskup Tanjung Selor, Kalimantan Utara, 5 Mei 2018, demikian selebaran yang beredar di media dan ditandatangani oleh Ferdy Manurun Tanduklangi sebagai Ketua Umum, Pastor Stephanus Sumardi sebagai Sekretaris Umum, dan Mgr Yustinus Harjosusanto MSF sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Tanjung Selor.

Dalam selebaran yang berisi lambang dan jadwal penahbisan dari Uskup Tanjung Selor itu tertulis bahwa Ibadat Agung Menjelang Penahbisan Uskup Tanjung Selor akan dilaksanakan di Gereja Katedral Santa Maria Assumpta Tanjung Selor, 4 Mei 2018, pukul 18.00 wita, sedangkan penahbisannya berlangsung di Lapangan Agatis Tanjung Selor, 5 Mei 2018, pukul 09.00, dan dilanjutkan dengan perayaan syukur pukul 12.30. Misa Episkopal dirayakan di Katedral Tanjung Selor pada hari Minggu 6 Mei 2018, pukul 8.30.

Mgr Paulinus Yan Olla MSF yang lahir di Seoam, Eban, Timor, 22 Juni 1963, itu ditahbiskan imam 28 Agustus 1992 dan dipilih menjadi uskup 22 Februari 2018. Sebagai anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Congregatio Missionariorum a Sacra Familia, MSF), Mgr Yan Olla menempatkan elemen-elemen lambang tarekatnya itu di bagian atas dengan latar belakang warna merah pada lambang uskupnya, yang berbentuk perisai.

Elemen-elemen itu adalah sebuah bintang bersinar berwarna kuning keemasan, “yang melambangkan kedatangan Sang Juruselamat dan misteri inkarnasi-Nya,” sebuah salib berwarna hitam, “yang mengingatkan akan kepenuhan misteri keselamatan dalam wafat dan kebangkitan Kristus,” dan sebuah lingkaran berwarna putih “yang mengingatkan akan perintah misioner Kristus kepada kita: ‘Pergilah ke seluruh dunia!’”

Dua ekor burung rangkong atau enggang badak, yang dalam bahasa Dayak disebut tingang, nampak mengapit elemen-elemen lambang MSF itu. “Burung ini dihormati dan disucikan oleh masyarakat Dayak di tempat penggembalaan Mgr Yan Olla,” tulis selebaran itu.

Di bagian bawah kiri perisai itu, dengan latar belakang putih, adalah catut berwarna keperakan dan palu berkelir keperakan dengan pegangan berwarna coklat kayu, melambangkan Maria dari La Salette. “Dalam penampakan di La Salette, Perancis pada 1846, Maria berkalungkan sebuah salib yang pada sisi kiri Yesus terdapat palu sedangkan sisi kanan-Nya catut,” jelasnya.

Palu, lanjutnya, merupakan simbol karya kejahatan manusia yang terungkap dalam penggunaannya sebagai alat penyaliban, dan catut merupakan alat yang digunakan oleh mereka yang mencintai Yesus untuk menurunkan-Nya dari salib. “Maria La Salette dikenal sebagai Bunda Rekonsiliatriks atau Bunda Pendamai karena warta pertobatan yang diserukannya,” jelasnya.

Di bagian bawah kanan, dengan latar belakang hitam, terdapat setangkai bunga lili dengan tiga kuntum berwarna putih serta sebuah siku, peralatan tukang kayu, berwarna coklat kayu, yang  “melambangkan Yosef, mempelai Maria dan penjaga Keluarga Kudus.”

Di atas perisai terdapat galero atau topi khas klerus berwarna hijau, dengan enam jumbai di masing-masing sisinya, sedangkan di bagian tengah belakang perisai adalah salib pancang berwarna kuning keemasan.  “Galero hijau dengan enam jumbai berikut salib pancang ini merupakan penanda bahwa sang empunya lambang adalah seorang uskup,” jelasnya.

Di bagian bawah perisai terdapat pita berwarna kuning keemasan, bertuliskan moto penggembalaan Mgr Yan Olla dalam Bahasa Latin yakni Servus Veritatis, yang berarti pelayan atau hamba kebenaran (bdk. Yoh 14:6). “Yesus yang adalah kepenuhan pewahyuan Allah dan patut disembah merupakan pula Kebenaran tertinggi yang memerdekakan (bdk. Yoh 8:32),” demikian lambang uskup Mgr Yan Olla yang pernah menjabat Asisten Jenderal Kongregasi MSF di Roma (2001-2007) kemudian merangkap Sekretaris Jenderal Kongregasi MSS (2007-2013).

Ketika dipilih menjadi Uskup Tanjung Selor, Doktor Teologi Spiritual dari Pontificio Instituto di Spiritualita Teresianum Roma, 2004, itu menjabat Rektor Teologan MSF di Malang. (paul c pati)

Mengapa Gereja disebut ”Mempelai Kristus”?

Jum, 06/04/2018 - 22:38

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

157. Siapakah Kepala Tubuh?

Kristus adalah ”Kepala Tubuh, yaitu Gereja” (Kol 1:18). Gereja hidup dari Dia, di dalam Dia, dan untuk Dia. Kristus dan Gereja membentuk ”Seluruh Kristus” (Santo Agustinus), ”Kepala dan anggota-anggota membentuk pribadi mistik yang satu dan sama” (Santo Thomas Aquinas).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 792-795, 807

158. Mengapa Gereja disebut ”Mempelai Kristus”?

Gereja disebut ”Mempelai Kristus” karena Tuhan menyebut Diri-Nya ”Mempelai laki-laki” Gereja (Mrk 2:19). Kristus mencintai Gereja dan mempersatukan dia dengan-Nya dalam perjanjian abadi. Dia telah memberikan Diri-Nya bagi Gereja untuk memurnikannya dengan darah-Nya dan ”menguduskannya” (Ef 5:26), membuatnya menjadi bunda yang subur dari anak-anak Allah. Kalau istilah ”tubuh” mengungkapkan kesatuan antara ”kepala” dengan anggota-anggotanya, istilah ”mempelai” menekankan perbedaan dalam relasi pribadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 796-808

Paus dan para Patriark Armenia berkati patung perunggu Santo Gregorius dari Narek

Jum, 06/04/2018 - 19:26

Ditemani Presiden Armenia yang akan mengakhiri masa jabatannya, Serzh Sargsyan, dan dengan peranserta dua Patriark Gereja Apostolik Armenia dan Patriark Gereja Katolik Armenia, Paus Fransiskus memimpin peresmian dan pemberkatan patung Santo Gregorius dari Narek di Taman Vatikan, 5 April 2018.

Menurut laporan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News, hari itu merupakan saat yang sangat penting dalam perjalanan ekumenis antara Gereja Katolik dan Gereja Apostolik Armenia, karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, ketiga pemimpin Gereja Armenia berkumpul bersama dengan Paus dari Roma.

Itulah yang Paus Fransiskus doakan tahun 2015, tulis laporan itu. “Melalui kuasa penebusan dari pengorbanan Kristus, semoga darah yang telah ditumpahkan membawa keajaiban persatuan sepenuhnya dari murid-murid-Nya. Secara khusus, semoga kuasa itu memperkuat ikatan persaudaraan yang telah menyatukan Gereja Katolik dan Gereja Apostolik Armenia,” doa Paus.

Acara itu tidak berakhir hari itu di Taman Vatikan, karena patung yang sama sedang dibuat dan akan ditempatkan di taman Katedral Etchmiadzin. Peresmian patung itu akan dilaksanakan di sana akhir 2018. Katedral Etchmiadzin adalah gereja induk dari Gereja Apostolik Armenia, dan dianggap oleh para ahli sebagai katedral tertua yang dibangun di Armenia kuno, dan merupakan salah satu dari katedral tertua di dunia.

Dasar upacara peresmian dan pemberkatan itu ditentukan oleh Paus Fransiskus tanggal 12 April 2015 saat merayakan Misa di Basilika Santo Petrus untuk merayakan ulang tahun keseratus genosida satu setengah juta orang Armenia yang disebut Paus sebagai martir. “Satu abad telah berlalu sejak pembantaian mengerikan yang merupakan kemartiran sejati umat kalian. Saat itu banyak orang yang tidak bersalah mati sebagai pengaku iman dan martir demi nama Kristus,” kata Paus Francis pada kesempatan itu.

Dalam liturgi yang sama, Paus Fransiskus mengangkat Santo Gregorius dari Narek ke martabat  Doktor Gereja Universal. Paus menggambarkan Santo Gregorius sebagai biarawan yang “tahu bagaimana mengungkapkan perasan umat kalian lebih dari siapa pun,” dan yang, sebagai “penafsir jiwa manusia yang luar biasa, memberikan kata-kata profetis bagi kita.”

Kemudian bulan Juni 2016, Paus mengunjungi Armenia. Seraya menyebut genosida itu sebagai “yang pertama dari serangkaian malapetaka menyedihkan di abad lalu,” Paus Fransiskus memuji iman orang Armenia, “yang, dengan diterangi cahaya Injil, bahkan di saat-saat paling tragis dalam sejarah mereka, selalu menemukan dalam salib dan kebangkitan Kristus kekuatan untuk bangkit kembali dan memulai perjalanan mereka dengan penuh martabat.”

Santo Gregorius dari Narek diakui sebagai Santo di dalam Gereja Katolik dan di dalam Gereja Apostolik Armenia, yang secara khusus dihormati di kalangan umat Katolik dari Ritus Armenia.

Warisannya terus hidup melalui usaha ekumenis yang berpusat kepadanya. Dalam wawancara dengan Vatican News, Duta Besar Republik Armenia untuk Tahta Suci Mikayel Minasyan menggambarkan Santo Gregorius dari Narek sebagai simbol persaudaraan dan jembatan antara dua Gereja itu dan untuk semua umat Kristiani, “terlebih umat Kristiani di Timur Tengah.”

Gregorius dari Narek adalah biarawan, penyair, dan komponis serta penulis mistis Armenia di abad ke-10. Karya sastranya yang paling terkenal adalah buku doa, yang dikenal sebagai “Kitab Ratapan”. Buku itu dianggap sebagai karya agung literatur Armenia. Santo Gregorius sendiri mendefinisikan karya itu sebagai “ensiklopedia doa untuk semua bangsa”. Dia berharap bukunya akan memberikan bimbingan dalam doa bagi orang-orang dari semua lapisan kehidupan untuk mencapai Tuhan.(paul c pati)

garule.net epa european pressphoto agency

 

Herald Malaysia

Permintaan tebusan untuk pembebasan pastor Katolik yang diculik di Kongo

Jum, 06/04/2018 - 15:25

Pada hari Minggu Paskah, Pastor Celestin Ngango di Republik Demokratik Kongo telah diculik dan untuk pembebasannya para penculik meminta uang tebusan, demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh Konferensi Waligereja Nasional Kongo (CENCO) 3 April 2018. Dilaporkan bahwa para penculik imam itu telah menghubungi Paroki Santo Paulus di Karambi dan menuntut uang setara dengan 500.000 dolar AS untuk pembebasannya. Namun para pejabat Gereja belum mengungkapkan apakah tebusan akan dibayarkan atau tidak.

Pastor Ngango dipaksa untuk keluar dari mobilnya dan dibawa ke hutan oleh orang-orang bersenjata pada hari Minggu tidak lama setelah merayakan Misa Paskah di parokinya di Keuskupan Goma, Provinsi Kivu Utara, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News.

Dalam 23 tahun terakhir, ketegangan meningkat di Provinsi Kivu Utara dan Provinsi Kive Selatan. Bahkan akhir-akhir ini terlihat ledakan kekerasan di antara kelompok-kelompok milisi yang sering memeras uang dari warga sipil atau saling berperang untuk menguasai sumber daya mineral. Pada akhir Maret, sepuluh orang tewas dalam serangan di daerah Kivu Utara yang dilakukan oleh aliansi milisi. Akibatnya, kehadiran tentara di sana meningkat.

Imam lain, Pastor Robert Masinda, diculik di Kivu Utara bulan Januari tahun ini bersama lima orang lainnya. Semuanya dibebaskan dua hari kemudian. Tiga pastor dari Ordo Asumsionis, yakni Pastor Jean-Pierre Ndulani, Pastor Edmond Kisughi dan Pastor Anselme Wasukundi, ditangkap di sana bulan Oktober 2012, dan rekan imam mereka Pastor Jean-Pierre Akilimali dan Pastor Charles Kipasa diculik bulan Juli tahun lalu. CENCO mengatakan belum ada kabar dari mereka sejak saat itu.(pcp)

Dengan cara apa Umat Allah ikut ambil bagian dalam tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja?

Jum, 06/04/2018 - 01:05

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

155. Dengan cara apa Umat Allah ikut ambil bagian dalam tugas Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja?

Umat Allah ambil bagian dalam tugas imamat Kristus sejauh mereka yang dibaptis ini disucikan oleh Roh Kudus untuk mempersembahkan kurban rohani. Mereka ambil bagian dalam tugas kenabian Kristus jika mereka sungguh-sungguh menghayati iman mereka, memperdalam pemahaman dan memberikan kesaksian dalam hidup mereka. Umat Allah mengambil bagian dalam tugas rajawi Kristus melalui pelayanan, meneladan Yesus Kristus sebagai Raja Semesta Alam yang menjadikan Diri-Nya sebagai hamba dari semuanya, secara khusus bagi yang miskin dan menderita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 783-786

156. Dengan cara apa, Gereja adalah Tubuh Kristus?

Kristus yang bangkit mempersatukan murid-murid-Nya yang setia dengan Diri-Nya melalui Roh Kudus. Dengan cara ini, mereka yang percaya kepada Kristus, sejauh mereka dekat dengan-Nya secara khusus dalam Ekaristi, dipersatukan di antara mereka sendiri dalam cinta kasih. Mereka membentuk satu tubuh, yaitu Gereja; kesatuannya dialami dalam perbedaan para anggotanya, termasuk juga dalam perbedaan fungsinya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 787-791, 805-806

Katedral Lund Swedia akan merayakan Misa Katolik yang pertama sejak Reformasi

Kam, 05/04/2018 - 23:04

Keputusan Gereja Lutheran Swedia yang mengijinkan sebuah paroki Katolik merayakan Misa pertama sejak masa Reformasi di sebuah katedral abad pertengahan di kota Lund, Swedia selatan, mencerminkan semangat kunjungan Paus Fransiskus ke kota itu di tahun 2016 untuk menghadiri peringatan ekumene Reformasi Protestan.

Philippa Hitchen dari Vatican News melaporkan bahwa tanggal 3 April 2018 kapelan katedral Lutheran itu serta Paroki Santo Thomas (Katolik) mengumumkan bahwa prakarsa itu merupakan kelanjutan dari kunjungan bersejarah Paus Fransiskus ke kota itu di bulan Oktober 2016 untuk peringatan bersama ulang tahun ke-500 Reformasi.

Sejak Paus dan para pemimpin Federasi Lutheran se-Dunia berdiri bersama di katedral kuno itu, sambil berdoa memohon pengampunan dan berjanji untuk melakukan kerja sama spiritual dan praktis yang lebih dekat, maka umat Katolik dan Lutheran di Lund bertemu secara teratur di masing-masing gereja untuk berdoa Vesper atau ibadat malam ekumenis.

Salah satu promotor utama prakarsa bulanan ini adalah kapelan katedral, Pendeta Lena Sjöstrand, yang mengatakan bahwa kunjungan kepausan ke Lund dan kota terdekat Malmö “menyentuh begitu banyak orang”. Dia mengatakan, “melalui perayaan yang terus berlangsung ini, orang-orang senang melihat bahwa kunjungan itu bukan hanya ‘peristiwa satu kali’, tetapi merupakan cara konkret memperkuat hubungan antara dua komunitas Kristen itu.”

Di musim gugur ini, Paroki Katolik Santo Thomas akan menyelesaikan pekerjaan restorasi besar dan katedral itu menawari menerima komunitas itu pada hari-hari Minggu. Misa Katolik pertama sejak Reformasi akan dirayakan di sana tanggal 21 Oktober dan akan berlanjut setiap minggu sampai gereja paroki siap digunakan lagi di musim semi.

Para promotor prakarsa itu mencatat bahwa perkembangan itu mencerminkan semangat dari dokumen bersama 2013 berjudul “From Conflict to Communion” (dari pertikaian menuju persekutuan), yang berfokus pada buah-buah dialog lima puluh tahun sejak Konsili Vatikan II.

Katedral kuno, yang berasal dari abad ke-11, itu pada mulanya didedikasikan untuk Santo Laurensius  dan menjadi jantung religius daerah itu dalam Abad Pertengahan. Itulah salah satu contoh terbaik arsitektur Romawi di Eropa, yang menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahun.

Di bawah bangunan berbentuk arkus batu yang keras, Paus Fransiskus dan para pemimpin Lutheran berbicara tentang “perjalanan bersama untuk rekonsiliasi.” Mereka juga menandatangani pernyataan bersama yang mengajak umat Katolik dan Lutheran untuk menyaksikan lebih dekat bersama-sama, “untuk menghilangkan sisa-sisa hambatan” yang masih ada dalam upaya kesatuan Kristen sepenuhnya.

Pernyataan itu mendesak paroki-paroki dan komunitas-komunitas “untuk berani dan kreatif, sukacita dan penuh harapan” dalam kesaksian dan pelayanan bersama mereka kepada sesama yang membutuhkan. Prakarsa ekumenis terbaru ini merupakan tonggak penting lainnya, karena mempraktekkan semangat perjumpaan bersejarah itu, demikian laporan yang terbit di Vatican News itu. (paul c pati)

Ministry Link

Paus akhiri katekese tentang Misa dalam Audiensi Umum dalam suasana Paskah

Kam, 05/04/2018 - 04:32

Paus Fransiskus mengakhiri katekese tentang Misa dalam Audiensi Umum Rabu Paskah, 4 April 2018, yang bertema “Sukacita,” dan mengingatkan para peziarah bahwa bunga-bunga Paskah berbicara kepada kita tentang sukacita dan kegembiraan, sukacita yang kita rasakan dalam semakin terkenalnya Kristus Yang Bangkit, semakin besarnya pembenaran kita, semakin kudusnya Gereja.

Perayaan Paskah, tulis Christopher Wells dari Vatican News, berlangsung sepanjang masa Paskah, tetapi terutama dalam pekan ini, saat setiap hari dirayakan seperti Minggu Paskah. Paus meminta orang-orang memenuhi Lapangan Santo Petrus, Vatikan, itu untuk dengan penuh sukacita saling bersalaman sambil mengucapkan “Selamat Paskah,” dan juga mengajak mereka mengucapkan “Selamat Paskah” untuk “Paus Benediktus tercinta,” yang menurut Paus, sedang mengikuti perayaan-perayaan Paskah lewat televisi.

Katekese tentang Misa pada hari Rabu itu, lanjut Paus, berfokus pada ritus penutup, berkat dan pengutusan yang berlangsung sesudah doa penutup. “Dengan berkat, yang selalu mengikuti formula Trinitarian, Misa diakhiri sama seperti ketika dimulai dengan, “dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.”

Tetapi, kata Paus Fransiskus, penutupan liturgi itu bukanlah akhir dari kehidupan Kristiani kita, “Sebaliknya, itulah awal ‘komitmen kita terhadap kesaksian Kristiani.” Umat Kristiani, kata Paus, “jangan mengikuti Misa untuk memenuhi tugas mingguan dan kemudian melupakannya.” Orang Kristiani datang menghadiri Misa untuk berperanserta dalam Sengsara dan Kebangkitan Tuhan, dan kemudian hidup lebih baik lagi sebagai orang Kristiani. Misa hendaknya menuntun kita untuk berperan lebih besar dalam kehidupan Kristus, untuk bertindak seperti Yesus, dan itulah kekudusan umat Kristiani.”

Paus Fransiskus lalu menjelaskan bahwa kehadiran Kristus dalam Ekaristi tidak berakhir dengan Misa, tetapi berlanjut, “itulah sebabnya mengapa Hosti tersedia dalam tabernakel, baik untuk komuni bagi orang sakit dan untuk Adorasi. Ibadah Sakramen Mahakudus dalam Adorasi membantu kita untuk tinggal di dalam Kristus.”

Bapa Suci kemudian menggambarkan buah-buah Misa. Misa itu, kata Paus, laksana sebutir gandum “yang tumbuh dalam kehidupan kita sehari-hari, tumbuh dan matang dalam perbuatan-perbuatan baik, dalam sikap yang membuat kita lebih seperti Yesus.”

Kalau kita mengikuti Misa secara teratur, kata Paus, “kita bertumbuh bersama Kristus, dan semakin terpisah dari dosa. Sering ikut dalam liturgi itu memperbarui dan memperkuat ikatan kita satu dengan yang lain dalam komunitas Kristiani.” Dengan Misa, lanjut Paus, “kita melihat Kristus di dalam saudara dan saudari kita, di mana Dia menanti untuk ‘diakui, dilayani, dihormati, dan dikasihi’ oleh kita.”

“Dengan membawa harta kekayaan persatuan dengan Kristus,” kata Paus, “kita terus-menerus perlu kembali ke altar suci, sampai akhirnya, di firdaus, kita dapat merasakan sepenuhnya kebahagiaan dari pesta pernikahan Anak Domba.” (paul c pati)

Mengapa Gereja disebut Umat Allah?

Rab, 04/04/2018 - 23:16
ilquotidianoitaliano

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

152. Apa artinya Gereja merupakan Sakramen keselamatan universal?

Ini berarti bahwa Gereja merupakan tanda dan sarana, baik untuk rekonsiliasi dan persekutuan seluruh umat manusia dengan Allah maupun kesatuan seluruh bangsa manusia.

Gereja: Umat Allah,

Tubuh Kristus, Kenisah Roh Kudus

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 774-776, 780

153. Mengapa Gereja disebut Umat Allah?

Gereja adalah Umat Allah karena Allah menghendaki untuk menyucikan dan menyelamatkan manusia bukan secara terpisah, tetapi dengan menjadikan mereka satu keluarga yang dikumpulkan bersama oleh kesatuan Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 781, 802-804

154. Apa ciri khas Umat Allah?

Seseorang menjadi anggota umat ini melalui iman kepada Kristus dan pembaptisan. Umat ini berasal dari Allah Bapa, kepalanya adalah Yesus Kristus, tanda khususnya adalah martabat dan kebebasan anak-anak Allah, hukumnya adalah perintah baru cinta kasih, misinya adalah menjadi garam dan terang dunia, dan tujuan akhirnya adalah Kerajaan Allah yang sudah mulai di dunia ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 782, 804

Vatikan mengenang ulang tahun ke-50 kematian Martin Luther King Jr

Rab, 04/04/2018 - 14:44

Pada peringatan 50 tahun pembunuhan Dr Martin Luther King Jr, 4 April 2018, perwakilan Vatikan untuk PBB mengatakan Paus Fransiskus dan Dr King sama-sama yakin akan pentingnya anti-kekerasan dan akan kebutuhan solidaritas global.

Pendeta Baptis dari Amerika yang merupakan aktivis hak-hak sipil itu dibunuh di Memphis, Tennessee, tahun 1968, saat memerangi kemiskinan dan rasisme. Saat sedang berbicara dengan teman-teman di balkon Motel Lorraine Motel, tanggal 4 April 1968, sebuah peluru membunuhnya.

Menyusul kematian Dr King, Paus Paulus VI dalam sambutan Angelus di Lapangan Santo Petrus mengungkapkan dukacitanya atas pembunuhan “seorang nabi Kristen untuk integrasi rasial.”

Paus Fransiskus, dalam pidato di depan Kongres AS, 24 September 2015, mengatakan bahwa mimpi Martin Luther King Jr terus menginspirasi orang-orang Kristen di seluruh dunia.

Duta Vatikan dan Pengamat Tetap Tahta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa Uskup Agung Ivan Jurkovič berbicara dengan Alessandro Gisotti dari Vatican News tentang kesamaan antara Dr King dan Paus Fransiskus.

Kedua pria itu, kata Mgr Jurkovič, sama-sama memfokuskan pentingnya non-kekerasan dan kebutuhan akan solidaritas global. “Setiap perkembangan manusia hanya dapat dicapai melalui anti-kekerasan. Kekerasan merupakan masalah baru dan perpecahan baru.”

Mengenai perlunya solidaritas, Mgr Jurkovič mengatakan bahwa Gereja percaya, dan Martin Luther King Jr percaya, bahwa “kita semua milik satu keluarga manusia dan kita harus mengatasi setiap perpecahan, terutama yang didasarkan pada perbedaan ras atau sosial.”

“Persepsi adalah bahwa Paus Fransiskus adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar, secara konsisten membela hak asasi manusia … Berjuang untuk perdamaian,” kata Uskup Agung Jurkovič seraya menambahkan bahwa persepsi itu, “harus menjadi paradigma global pembangunan politik.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Martin Luther King melambaikan tangan kepada pendukung dalam “March on Washington” tahun 1963 Paus Paulus VI dan Martin Luther King Memorial Martin Luther King

Umat Tomohon awali Yubileum 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik dengan Pawai Lumen Christi

Sel, 03/04/2018 - 22:33

Umat Katolik se-Kevikepan Tomohon mengawali Perayaan Yubileum 150 Tahun Kembalinya Gereja Katolik di Keuskupan Manado dengan Pawai Lumen Christi dalam suasana hujan deras di Hari Minggu Paskah 1 April 2018, dari Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen hingga Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Tomohon. Pawai itu pun diawali dengan ibadah yang dipimpin Kepala Paroki Kakaskasen Pastor Johanis Pinontoan Pr. Ikut dalam pawai lampion dalam berbagai bentuk itu adalah anak-anak Sekami dan Sekar, OMK, Kaum Bapa Katolik dan Kaum Ibu Katolik dari tujuh paroki di kevikepan itu. Pawai Lumen Christi itu dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota (Sekkot) Tomohon Harold V Lolowang yang didampigi oleh Vikaris Episkopalis Kevikepan Tomohon Pastor Albertus Imbar Pr membuka sekaligus melepas para peserta Pawai Lumen Christi ini.(pcp dari berbagai sumber)

Halaman