Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 37 mnt 39 dtk yang lalu

Paus Fransiskus minta agar pelaporan berita tepat dan lengkap

Min, 17/12/2017 - 12:21

Paus Fransiskus meminta agar “berita dikomunikasikan dengan ketenangan, ketepatan dan kelengkapan, dengan menggunakan bahasa yang tenang guna mendapatkan refleksi yang bermanfaat; kata-kata yang bijaksana dan jelas, yang menyisihkan bahasa yang mengganggu, kasar dan ambigu.

Paus Fransiskus berbicara dengan perwakilan majalah-majalah Italia hari Sabtu, 16 Desember 2017, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Radio Vatikan. “Adalah penting menyampaikan kriteria penilaian dan informasi dengan sabar dan tertata baik sehingga dapat dipahami dan dicamkan, dan tidak membingungkan serta salah arah,” kata Paus kepada sekitar 350 anggota Italian Periodical Press Union (USPI) dan Italian Federation of Catholic Weeklies (FISC) yang bertemu dengan Paus di Vatikan.

Paus mengatakan kepada mereka bahwa mereka memiliki misi untuk memberi informasi yang benar, untuk menyampaikan fakta sedekat mungkin dengan kenyataan. “Suara kalian yang bebas dan bertanggung jawab, sangat penting bagi pertumbuhan masyarakat mana pun yang ingin disebut demokratis, dan dengan demikian dipastikan akan terjadi pertukaran gagasan dan debat menguntungkan secara terus menerus berdasarkan data yang sesungguhnya dan dilaporkan dengan benar.

Paus mengamati, di zaman yang sering didominasi keinginan untuk cepat, dorongan untuk sensasi yang tidak tepat dan lengkap, dan emosi yang terlalu panas, kebutuhan akan informasi yang dapat dipercaya terasa mendesak, dengan data dan berita yang diverifikasi, yang tidak bertujuan untuk memukau dan menggairahkan, namun untuk menciptakan dalam diri pembaca pengertian kritis yang sehat, yang memungkinkan mereka membuat pertanyaan yang sesuai dan mendapatkan kesimpulan yang dapat dibenarkan.

Bapa Suci juga meminta agar hak atas informasi dan martabat setiap pribadi manusia “sungguh-sungguh dihormati” sehingga tidak ada orang yang dirugikan karena tidak ada bukti nyata dan bertanggung jawab. “Tidak perlu masuk ke dalam ‘dosa-dosa komunikasi': informasi salah, yang hanya mengatakan bagian yang sifatnya fitnah dan sensasional, atau penghinaan yang mencari hal-hal yang sudah lewat dan mengangkatnya saat ini,” kata Paus. “Itulah dosa-dosa berat yang merusak hati jurnalis dan merusak masyarakat,” lanjut Paus.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Yohanes Sang Saksi

Min, 17/12/2017 - 10:30

MINGGU ADVEN KE-3

17 Desember 2017

Yohanes 1:6-8, 19-28

“Yohanes datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang, supaya semua orang percaya melalui Dia. (Yoh 1: 7) ”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Dalam Injil Keempat, Yohanes Pembaptis memiliki peran penting: bukan hanya untuk membaptis, tapi untuk menjadi saksi. Dia bersaksi tentang sang Terang, sang  Mesias sejati, Yesus Kristus. Ketika para imam dan orang-orang Farisi dari Yerusalem datang kepadanya dan menginterogasinya untuk mengklarifikasi identitasnya, dia menjelaskan bahwa dia bukanlah Mesias, bahkan bukan seorang nabi, namun dia berseru, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!  (Yoh 1:23)” Sepertinya hal ini adalah hal mudah untuk Yohanes lakukan. Pertanyaan diajukan kepadanya, dan dia memberikan jawaban secara lugas dan percaya diri.Namun, melihat lebih dalam pada realitas zamannya, hal yang dilakukannya tidaklah semudah yang kita bayangkan.

Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat populer dan berpengaruh. Dia mampu menarik banyak orang dari segala penjuru Palestina. Orang-orang mendengarkannya dan meminta untuk dibaptis. Dia adalah seorang pengkhotbah karismatik yang mengubah banyak kehidupan orang-orang Yahudi. Dengan begitu banyak kesuksesan dan pujian, Yohanes lebih mudah melihat dirinya sebagai pemeran utama. Dia bisa saja berkata kepada para imam, “Akulah sang terang, sang Mesias. Lihatlah betapa banyak orang yang mengikuti dan berkumpul di sekitarku!” Dia telah menjadi lambang pewarta yang sukses. Namun, di saat yang paling krusial, dia tidak mengklaim pujian bagi dirinya sendiri, namun menunjuk pada sang Terang dan Mesias yang sebenarnya.

Dunia modern kita mungkin tidak sepaham dengan sikap Yohanes Pembaptis ini. Masyarakat kita sekarang termotivasi oleh kesuksesan dan prestasi. Kita diajarkan untuk berpikir positif, merasa nyaman dengan diri sendiri, dan menghindari kegagalan. Kita dilatih untuk mencapai impian kita, berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, dan percaya pada kemampuan kita. Banyak buku, artikel, dan video tentang ‘self-help’, kesuksesan, pemikiran positif, kepemimpinan yang efektif dan manajemen yang efisien membanjiri toko buku, televisi, dan internet. Perlu saya akui juga bahwa saya menggunakan metode manajemen waktu “Pomodoro” untuk membantu saya menyelesaikan refleksi ini. Kita hidup di dunia yang sangat percaya diri dan percaya bahwa kita dapat mencapai apapun. Dunia tanpa batas!

Tak heran bila nilai dunia kontemporer kita bertentangan dengan Yohanes. Kita mungkin mengatakan bahwa Yohanes seharusnya tidak menganggap dirinya terlalu rendah, ia seharusnya memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, atau seharusnya ia tidak terlalu pesimis. Namun, ini bukan tentang Yohanes yang memiliki kepercayaan diri rendah atau pemalu. Tindakan rendah hati Yohanes pada dasarnya adalah sebuah nubuat dan kesaksian, yang bahkan relevan sampai saat ini. Kesaksiannya menunjuk pada pengakuan radikal bahwa Allah adalah sumber dari semua kebaikan yang kita miliki dan kepada-Nya saja, semua kesempurnaan yang kita capai akan kembali. Saya tidak mengatakan bahwa berbagai bahan motivasi yang diproduksi oleh generasi kita tidak baik. Mereka sebenarnya membantu kita untuk menghasilkan yang terbaik. Namun, bahayanya adalah ketika kita mulai berpikir bahwa kita bisa melakukan semua dengan cara kita sendiri.Dengan begitu banyak prestasi, dunia saat ini mulai percaya bahwa Tuhan tidak diperlukan lagi, dan kita mulai berperan sebagai tuhan-tuhan kecil. Kita menghancurkan lingkungan hidup, memanipulasi kehidupan manusia, dan menyalahkan gunakan tubuh dan pikiran kita. Semua ini berakar pada keangkuhan manusia kita.

Kehidupan Yohanes menjadi saksi Terang sejati, sumber sejati dari semua kebaikan. Tindakan kenabiannya mengingatkan kita pada apa yang paling penting dalam hidup kita. Sekarang kita diajak tidak hanya untuk menjadi rendah hati dengan mengenali kehadiran Tuhan dalam semua pencapaian kita, dan bersyukur kepada-Nya. Namun, seperti Yohanes, kita dipanggil supaya hidup kita secara total menjadi tanda yang menunjuk pada Tuhan, dan bukan pada diri kita sendiri. Ini bukan lagi tentang kita, tapi Tuhan yang bekerja di dalam diri kita.

 

 

Mungkinkah selalu berdoa setiap saat?

Jum, 15/12/2017 - 18:51
Gambar dari The Praying Woman

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

576. Mungkinkah selalu berdoa setiap saat?

Doa itu selalu mungkin karena masa seorang Kristen adalah masa Kristus yang bangkit yang ”senantiasa” beserta kita (Mat 28:20). Karena itu, doa dan hi- dup seorang Kristen tidak terpisahkan.

”Sangat mungkinlah berdoa bahkan di tengah-tengah pasar atau sementara berjalan sendirian. Mungkin pula di tengah-tengah transaksi bisnis, sementara membeli atau menjual, atau bahkan sewaktu memasak”

(Santo Yohanes Krisostomus)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2742-2745, 2757

577. Apa itu doa Saat Yesus?

Doa ini disebut doa Yesus sebagai Imam Agung pada Perjamuan Malam Terakhir. Yesus, Imam Agung Perjanjian Baru, berdoa kepada Bapa-Nya ketika saat kurban-Nya, saat ”kepindahan-Nya” sudah mendekat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2604, 2746-2751, 2758

578. Dari mana asal doa Bapa Kami?

Yesus mengajarkan doa Kristen yang tak tergantikan ini, Bapa Kami, pada hari ketika salah seorang dari para murid-Nya melihat Dia berdoa dan bertanya kepada-Nya, ”Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1). Tradisi liturgi Gereja selalu memakai teks doa ini dari Santo Matius (Mat 6:9-13).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2759-2760, 2773

Jumat, 15 Desember 2017

Jum, 15/12/2017 - 14:50

PEKAN ADVEN II (U) 

Beato Bonaventura dari Pistoia; Santa Kristiana

Bacaan I: Yes. 48:17-19
Mazmur: 1:1-6; R: Yoh. 8:12
Bacaan Injil: Mat. 11:16-19

Yesus berkata kepada orang banyak, “Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

Renungan

Kesabaran adalah pilihan sikap yang tepat untuk mendengar dengan baik. Kita sering kali tidak sabar dalam mendengarkan sesama. Kita juga membawa kebiasaan tergesa-gesa dalam berliturgi—semua mau dilakukan dengan cepat. Yang sabar dalam mendengarkan dapat melahirkan kepekaan dalam bertutur dan bersikap. Kita sering jumpai dalam hidup ada orang yang sabar dalam mendengarkan, namun ada juga yang tidak sabar.

Allah tidak berpikir tentang diri-Nya sendiri. Allah peduli dengan hidup dan keselamatan manusia. Karena itu, selain para nabi, Dia mengutus Putra-Nya yang tunggal. Allah tidak pernah bosan menemui manusia dengan berbagai cara untuk menyelamatkan jiwanya dan menuntun pada hidup yang benar. Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar bagaimana kebekuan hati orang Israel dan hati orang zaman itu yang tidak mendengarkan ajaran Yesus dengan baik. ”Dengan apakah Kuumpamakan angkatan ini? Mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu tapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (Mat. 11:17).

Sikap hati yang tertutup dan tidak peka sulit peduli atas ajakan apa pun. Karena itu, momentum Adven seyogyanya digunakan untuk kembali merefleksikan sikap kepedulian dan kerelaan dalam mendengarkan ajakan yang mengantar kita kepada keselamatan dan kebaikan bersama.

Ya Tuhan, ajarilah aku agar mampu peduli dan peka dalam menanggapi sabda-Mu yang menuntun aku pada jalan keselamatan dan kebahagiaan kekal. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Paus bertemu pemimpin Aliansi Injili se-Dunia untuk bahas kebebasan beragama

Jum, 15/12/2017 - 14:35

Paus Fransiskus bertemu dengan para pemimpin Aliansi Injili se-Dunia (World Evangelical Aliance, WEA), 14 Desember 2017. Mereka berada di Roma untuk membahas kerjasama yang lebih erat dengan Gereja Katolik, terutama mengenai isu-isu kebebasan beragama.

WEA adalah jaringan Gereja-Gereja Protestan di 129 negara yang mewakili lebih dari 600 juta umat Kristen Injili di seluruh dunia. Delegasi yang hadir dalam audiensi dengan Paus itu dipimpin oleh Sekretaris Jenderal WEA, Uskup Efraim Tendero. Mereka juga melakukan pembicaraan dengan Dewan Kepausan untuk Peningkatan Persatuan Umat Kristen.

Ketika berbicara dengan Philippa Hitchen dari Radio Vatikan, Uskup Efraim mengungkapkan harapannya untuk memperkuat kerjasama praktis dengan umat Katolik di negara-negara seluruh dunia. Uskup Efraim mengatakan, dia membawa kepada Paus “sebuah panggilan untuk kemitraan yang lebih erat” dalam melindungi kebebasan beragama, meningkatkan pembagian Alkitab dan menangani masalah-masalah keadilan sosial. “Kami ingin melihat dunia ini jadi tempat merajanya kedamaian, keadilan dan kebenaran, tempat setiap orang memiliki standar kehidupan layak, dan tempat Yesus Kristus diakui sebagai Tuhan atas semua.”

Juga dikatakan, WEA dan Dewan Kepausan baru saja menyelesaikan tujuh tahun dialog, yang berpuncak pada lahirnya dokumen bersama tentang Kitab Suci dan Tradisi. Meskipun masih tetap ada perbedaan teologis yang utama, lanjutnya, semakin penting “mencari agenda bersama,” bukan “fokus pada perbedaan dan pada hal yang membuat kita terpisah.”

Sebelum diangkat sebagai ketua WEA, Uskup Efraim bertugas selama 20 tahun sebagai Direktur Nasional Dewan Gereja-Gereja Injili Filipina dan sebagai Presiden Layanan Bantuan dan Pengembangan Filipina, yang bekerja untuk mendukung orang miskin dan orang yang membutuhkan.

Di negara yang beranggotakan 80 persen umat Katolik Roma itu, jelasnya, hubungan ekumenis berjalan sangat baik dan baru-baru ini dia diminta berbicara dalam sebuah retret untuk konferensi para uskup Filipina. Ada juga kerjasama praktis yang kuat mengenai isu-isu mencakup  perdagangan manusia, menghadapi perubahan iklim, memerangi korupsi, meningkatkan perdamaian, dan memberikan bantuan dan pengembangan bagi korban banyak topan yang mempengaruhi wilayah itu.

Pendeta Thomas K Johnson, Duta Besar Kebebasan Beragama untuk Vatikan, juga hadir dalam audiensi dengan Paus. Dia menjelaskan mengapa ada kebutuhan mendesak untuk ikut memberantas meningkatnya penganiayaan terhadap orang Kristen di seluruh dunia.

Johnson mencatat bahwa masalahnya tidak terbatas pada satu area tertentu di dunia ini namun dia mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir mungkin telah terjadi penganiayaan terburuk sepanjang sejarah Gereja Kristen.

Dia mengingat konsultasi internasional, yang terjadi dua tahun lalu di ibukota Albania, Tirana, mengenai diskriminasi, penganiayaan dan kemartiran. Perwakilan dari WEA, Vatikan, Dewan Gereja-Gereja se-Dunia dan dunia Pentakosta membahas berbagai cara untuk menanggapi masalah tersebut “dengan cara yang terpadu.”

Meskipun Johnson mengakui masih ada masalah diskriminasi antara penganut Injili dan umat Katolik di beberapa negara, namun dia menambahkan bahwa umat Injili selalu merasa “disambut baik di Vatikan.”

Sebagai profesor filosofi dan spesialis hak asasi manusia, dia sangat khusus tertarik pada orang-orang Katolik dan Injili yang menerbitkan “materi-materi pendidikan yang telah kami kembangkan bersama.”

Dari pertemuan hari Kamis itu, dia mengatakan bahwa langkah-langkah kecil yang telah dilakukan bersama dapat menghasilkan “koalisi lebih luas untuk bertahun-tahun” dan memperkuat pesan bahwa, “Orang-orang Kristen dari semua keanekaragaman perlu saling melindungi di lapangan umum.” (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Apa saja kesulitan-kesulitan dalam doa?

Kam, 14/12/2017 - 15:04
Salib. Foto ini diambil oleh PEN@ Katolik/paul c pati dari Galleria Borghese, Roma

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

573. Apakah ada keberatan terhadap doa?

Kecuali pemahaman yang salah mengenai doa, banyak orang berpikir bahwa mereka tidak mempunyai waktu untuk berdoa atau berdoa itu tidak ada gunanya. Mereka yang berdoa dapat kehilangan semangat menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Untuk mengatasi aneka rintangan tersebut, diperlukan kerendahan hati, kepercayaan, dan ketekunan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2726-2728, 2752-2753

574. Apa saja kesulitan-kesulitan dalam doa?

Sering kali, doa kita dipersulit oleh pikiran melayang. Ia mengalihkan perhatian kita dari Allah dan dapat juga menyingkapkan apa yang membuat kita bergantung. Untuk itu, hati kita harus dengan rendah hati kembali kepada Allah. Sering kali, doa terancam oleh kekeringan. Siapa yang dapat mengatasi kekeringan, juga dapat setia kepada Allah meski tanpa hiburan yang dirasakan. Kejenuhan adalah satu bentuk kemalasan rohani yang disebabkan oleh berkurangnya kewaspadaan dan kecermatan hati.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2728-2733, 2754-2755

575. Bagaimana kita dapat memperkuat kepercayaan kita sebagai anak?

Kepercayaan kita sebagai anak diuji jika kita berpikir bahwa kita tidak didengarkan. Karena itu, perlulah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah Allah itu betul-betul Bapa yang kehendak-Nya kita cari untuk kita laksanakan, ataukah hanya alat untuk memenuhi keinginan kita. Jika doa kita dipersatukan dengan doa Yesus, kita akan tahu bahwa Dia memberikan kepada kita jauh lebih daripada sekadar anugerah ini atau itu. Kita menerima Roh Kudus yang mengubah hati kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2734-2741, 2756

Kamis, 14 Desember 2017

Kam, 14/12/2017 - 14:39

PEKAN ADVEN II 

Peringatan Wajib Santo Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja (P);

Santo Venantius Fortunatus; Santo Spiridion

Bacaan I: Yes. 41:13-20

Mazmur: 145:1.9-13b; R:8

Bacaan Injil: Mat. 11:11-15

Pada suatu hari Yesus berkata kepada orang banyak, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripadanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan—jika kamu mau menerimanya—ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan

Dalam hidup bermasyarakat dan bergereja kita selalu berinteraksi dengan banyak orang. Sering kali, pesan yang kita sampaikan saat komunikasi tidak ditangkap semuanya. Persepsi setiap orang yang terlibat dalam interaksi juga berbeda. Maka, dibutuhkan kesabaran dan cara yang tepat dalam menyampaikan pesan. Umumnya kita bergembira bila apa yang kita sampaikan didengar dengan baik, tetapi sebagai manusia mungkin kita juga akan kecewa bila kita tidak didengarkan. Allah juga mengamati, sering kali pesan-Nya melalui para nabi diabaikan. Bahkan Putra-Nya, Yesus Kristus, juga ditolak dan diabaikan. Itulah kenyataannya, tidak semua orang mau menjadi pendengar yang baik.

Bangsa Israel mengalami berbagai tantangan dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji. Banyak Nabi diutus bagi mereka untuk mengingatkan dan menunjukkan jalan bagi mereka. Berbagai nasihat dan seruan telah disampaikan, namun tidak ada yang tanggap. Maka, tiba pada saatnya Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menolong mereka.

Yohanes Pembaptis adalah salah satu tokoh yang paling besar dalam era Perjanjian Baru sebelum kedatangan Yesus. Yohanes selalu berseru dan berbicara tentang datang-Nya kerajaan Allah. Ajakan untuk bertobat terus disampaikan, namun tidak semua orang mau mendengarkannya. Itulah sebabnya Yesus bersabda: ”Yang bertelinga hendaklah mendengarkan” (Mat. 11:15). Semoga kita menjadi pendengar yang baik dan benar terhadap warta Sabda Allah dan siap sedia melaksanakannya dalam hidup.

Ya Tuhan, ajarlah aku untuk mendengar dengan rendah hati. Rahmatilah aku agar menjadi pendengar yang baik dalam berkomunikasi, terutama saat mendengarkan Firman-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Paus memberi katekese tentang Ekaristi: “Mengapa mengikuti Misa pada hari Minggu?”

Kam, 14/12/2017 - 05:56

Melewatkan Misa hari-hari Minggu berarti kehilangan perjumpaan dengan Tuhan, kata Paus Fransiskus kepada umat beriman yang hadir mengikuti Audiensi Umum mingguan di Aula Paulus VI pada hari Rabu, 13 Desember 2017. Renungan Paus saat itu tentang “Mengapa datang mengikuti Misa pada hari Minggu?”

Melanjutkan katekese tentang Ekaristi, Paus Fransiskus mengingatkan umat Kristiani “untuk membiarkan diri disambut oleh Dia, mendengar sabda-Nya, makan di meja-Nya, dan dengan kasih karunia-Nya memenuhi misi kita sebagai anggota-anggota Tubuh Mistik Gereja.”

Paus mengatakan, hari Minggu adalah hari suci bagi orang Kristiani, dan menjadi suci karena perayaan Ekaristi yang merupakan kehadiran Tuhan yang hidup di antara kita.

“Maka, Misa itu memberi arti hari Minggu bagi umat Kristiani,” kata Paus. “Macam apa hari Minggu itu kalau tidak ada perjumpaan dengan Tuhan?” tanya Paus.

Bapa Suci juga memalingkan pikirannya kepada komunitas Kristiani yang teraniaya, yang tidak dapat merayakan Misa setiap hari Minggu, dan yang berupaya sebaik mungkin untuk melakukan pertemuan doa di hari suci itu.

Paus Fransiskus juga menyebutkan beberapa masalah masyarakat sekuler “yang tidak lagi memiliki rasa hari Minggu yang diterangi dengan Ekaristi: ‘ini sungguh memalukan’,” kata Paus seraya merenungkan perlunya pemulihan kebutuhan itu.

Diingatkan,Konsili Vatikan Kedua meminta kita untuk merayakan Hari Tuhan itu sebagai hari sukacita dan hari istirahat dari kerja keras sebagai tanda martabat kita sebagai anak-anak Allah.

“Tanpa Kristus kita terbebani kelelahan dalam kehidupan sehari-hari, dengan kekhawatiran dan ketakutan akan hari esok,” kata Paus.

Pertemuan hari Minggu kita dengan Tuhan, lanjut Paus, memberi kita kekuatan untuk hidup hari ini dengan kepercayaan dan keberanian dan untuk terus maju dengan harapan.

Dijelaskan, dalam Ekaristi kita menerima rasa kebahagiaan abadi dan ketenangan ke mana kita dipanggil di mana tidak akan ada lagi kelelahan, atau rasa sakit, atau kesedihan atau air mata, “hanya sukacita hidup sepenuhnya dan selamanya bersama Tuhan.”

Paus akhirnya mengakui bahwa kualitas kehidupan umat Kristiani diukur dari kemampuan kita untuk mencintai sesama. Namun, Paus bertanya, “bagaimana kita dapat mempraktekkan Injil tanpa memanfaatkan energi yang diberikan oleh sumber Ekaristi yang tak habis-habisnya?”

Mengikuti Misa, Paus menyimpulkan, bukan untuk memberikan sesuatu kepada Tuhan, tetapi untuk menerima dari-Nya anugerah dan kekuatan untuk tetap setia kepada firman-Nya, untuk mengikuti perintah-perintah-Nya dan, melalui kehadiran-Nya yang hidup di dalam kita, untuk menjadi saksi-saksi kebaikan dan cinta-Nya di hadapan dunia. (pcp berdasarkan laporan Linda Bordoni dari Radio Vatikan)

Basilika Santa Sabina di Bukit Adventino, Roma, Gereja Induk Ordo Dominikan

Kam, 14/12/2017 - 02:48

Tanggal 4 Desember 2017, setelah menyelesaikan sebuah studi dan seminar tentang Orang Muda Katolik di Asia yang dilaksanakan di Pusat Misi dan Formasi Internasional di CIAM, yang terletak di Bukit Gianicolo, saya datang berkunjung ke sebuah basilika yang bertengger di Bukit Adventino di atas Sungai Tiber. Bukit-bukit itu adalah dua dari “Tujuh Bukit Roma.”

Nama basilika di Bukit Adventino itu adalah Basilika Santa Sabina. Basilika yang dibangun sekitar tahun 422 itu sangat terkenal di Kota Abadi Roma itu bukan saja terkenal karena disebut “Mahkota Adventono” dalam film dokumenter Pastor Allen White OP, atau menjadi gereja induk Ordo Dominikan atau Ordo Pewarta (OP) yang diserahkan oleh Paus Honorius III kepada Santo Dominikus, tetapi karena setiap tahun Uskup Roma atau Paus memulai Masa Puasa di sana.

Sudah menjadi tradisi bahwa pada setiap Hari Rabu Abu, seorang Paus akan datang ke Basilika Santa Sabina dan memimpin Misa Hari Rabu Abu di sana. Liturgi selalu dimulai dengan prosesi dari Gereja Benediktin Santo Anselmus ke Basilika Santa Sabina dengan iringan lagu Litani Para kudus. Prosesi itu dipimpin oleh biarawan Dominikan dan biarawan Benediktin disertai sejumlah kardinal, uskup agung dan uskup dan Bapa Suci di bagian belakang.

Menurut tradisi Gereja Roma yang berawal dari abad ke-4, demikian hasil bacaan saya dari berbagai sumber, umat beriman berjalan menyusuri jalan-jalan di Roma, sambil mengunjungi dan berdoa di berbagai gereja selama masa Prapaskah. Gereja-gereja ini dikenal sebagai Gereja Stasi. Tradisi itu dilaksanakan untuk memperkuat rasa komunitas di dalam Gereja Roma. Maka, Uskup Roma pun akan mengunjungi setiap bagian kota dan merayakan Misa bersama umat di gereja mereka. Selain Misa, ada prosesi, pembacaan Litani Orang Suci dan penghormatan terhadap relikui-relikui. Misa-Misa Stasi itu dimulai di Basilika Santa Sabina ini.

Menurut catatan, gereja abad ke-5 itu dibangun kembali di abad ke-9 dan direnovasi tahun 1914. Arsitekturnya unik menjelaskan tentang sejarahnya yang panjang dan kaya terkait dengan Santo Dominikus. Santa Sabina adalah basilika Romawi tertua yang masih ada di kota Roma. Basilika itu tetap mempertahankan kerangka tiang empat persegi panjang dan gaya arsitektur dan dekorasi yang asli.

Tahun 1218, Paus Honorius III mempercayakan gereja itu kepadanya untuk mendirikan komunitas bagi Ordo yang baru didirikannya. Di sana hingga kini, bisa ditemukan kantor pusat atau Kuria Ordo Dominikan.

Saya bersyukur bahwa kunjungan saya bersama Pastor John Giscard Mitakda MSC itu bisa ditemani oleh Promotor Internasional untuk Justice and Peace Suster Cecilia Espenilla OP dan boleh masuk dan melihat biara dan kantor kuria Ordo Dominikan, bahkan bisa melihat bukan hanya pohon jeruk yang ditanam oleh Santo Dominikus tetapi juga kamar tidur Santo Dominikus yang kini menjadi sebuah kapel kecil.

Dalam kunjungan itu saya juga senang bisa bertemu kembali dengan Promotor General untuk Dominikan Awam Pastor Rui Carlos Antunes e Almeida Lopes OP yang pernah saya temui di Indonesia dan Sekretaris Jenderal Ordo Pewarta Pastor Jean-Ariel Bauza-Salinas OP.(paul c pati)

Basilika Santa Sabina dari abad ke-5. Arsitekturnya unik dan tertua di kota Roma itu tetap mempertahankan kerangka tiang empat persegi panjang dan gaya arsitektur dan dekorasi yang asli/PEN@ Katolik/pcp Kapal Santo Dominikus di dalam Basilika Santa Sabina/PEN@ Katolik/pcp Misaik batu nisan Pastor Munoz de Zamora OP (1237 – 19 February 1300) di lantai lorong utama Basilika Santa Sabina. Biarawan Dominikan asal Spanyol itu menjadi Master Ordo Dominikan yang ketujuh di tahun 1285 dan kemudian menjadi Uskup Palencia/PEN@ Katolik/pcp Basilika Santa Sabina terkenal dengan pintunya, yang mungkin berasal dari awal abad ke-5 saat gereja itu dibangun. Satu panel pintu itu berisi penggambaran pertama penyaliban Yesus. Panel-panel itu menggambarkan kisah-kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru/PEN@ Katolik/pcp Kapel Santo Dominikus di dalam biara/kuria Ordo Dominikan. Kapel ini dulu merupakan kamar tidur Santo Dominikus/PEN@ Katolik/pcp Pohon jeruk yang ditanam oleh Santo Dominikus/PEN@ Katolik/pcp

Kapel Paus Pius V, seorang imam Dominikan bernama Michele Ghislieri yang menjadi Paus ke-224 tahun 1566, juga ada biara/kuria Ordo Pewarta ini. Kalau bertanya mengapa Paus sampai saat ini selalu mengenakan jubah putih maka Paus inilah jawabannya, sebagai tanda kasih persaudaraan keluarga terhadap Ordo, dan sebagai tanda kerendahan hati.PEN@ Katolik/pcp Dari salah satu balkon di biara/kuria Ordo Pewarta ini bisa terlihat Sungai Tiber di bawahnya, kota Roma, dan Kuba Basilika Santo Petrus. Dari Bukit Aventino ini kita bisa juga melihat Kuba Basilika Santo Petrus di Vatikan dengan hanya melihat pada sebuah lubang kunci pintu. Saya tidak bisa mengambil foto itu, maka saya mengambil foto dari AngMoKio yang bagus ini. Basilika Santa Sabina tamak dari luar.(Ist) Bersama Pastor John Mitakda MSC (kiri) dan Sekretaris Jenderal Ordo Pewarta Pastor Jean-Ariel Bauza-Salinas OP di ruang kerjanya/PEN@ Katolik Bersama Promotor Internasional untuk Justice and Peace Suster Cecilia Espenilla OP di Kapel Santo Dominikus/PEN@ Katolik

Rabu, 13 Desember 2017

Rab, 13/12/2017 - 14:49

PEKAN ADVEN II

Santa Lusia, Perawan dan Martir (M);
Santa Odilla

Bacaan I: Yes. 40:25-31
Mazmur: 103:1-4.8-10; R:1a
Bacaan Injil: Mat. 11:28-30

Sekali peristiwa bersabdalah Yesus, “Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Renungan

Kita selalu mendengarkan berbagai petuah dan nasihat saat wisuda ataupun pada saat hajatan pernikahan. Tidak pernah kita mendengar nasihat yang isinya menyesatkan atau bertujuan untuk menyusahkan orang yang diwisuda dan yang menikah. Yang sering kita dengar adalah ajakan untuk mengembangkan ilmu yang telah diperoleh dalam pekerjaan atau bagi mereka yang menikah diberi petuah untuk memelihara ikatan cinta yang telah dikukuhkan melalui Sakramen Pernikahan.

Dalam Injil yang kita renungkan, Yesus juga memberikan ajakan yang menyelamatkan. Ajakan Juru Selamat menganjurkan kepada kita semua agar senantiasa belajar bersyukur atas segala rahmat yang telah diterima dalam hidup. Yesus juga menunjukkan contoh bagaimana orang sebaiknya bersyukur dan bersikap rendah hati dalam menyikapi setiap peristiwa hidup. Dengan sikap demikian, semua beban terasa ringan dan indah untuk dijalani. Yesus mengajak kita untuk belajar dari-Nya, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 12:28-29)

Masa Adven terus menginspirasi kita untuk menantikan Tuhan dengan melakukan kebaikan dan berbagai kebajikan. Menantikan dengan hati gembira selalu melahirkan kekuatan baru. Tuhan bahkan selalu merahmati setiap orang menantikan kedatangan-Nya dengan hati tulus dan gembira. ”Orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:31). Belajarlah untuk menantikan Tuhan dengan hati gembira. Kekuatan baru selalu akan dicurahkan dari waktu ke waktu bagi yang beriman.

Ya Tuhan, kuatkanlah aku agar belajar menantikan kedatangan-Mu dengan sikap rendah hati dan sabar. Semoga aku dapat merasakan kehadiran-Mu dalam seluruh perjalanan hidupku. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Apakah meditasi dan doa kontemplatif itu?

Rab, 13/12/2017 - 03:32

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

570. Apakah meditasi itu?

Meditasi adalah refleksi penuh doa yang dimulai dengan Sabda Allah dalam Kitab Suci. Meditasi meliputi pikiran, imajinasi, dan keinginan untuk memperdalam iman, pertobatan hati, dan memperkuat kehendak kita untuk mengikuti Kristus. Meditasi adalah langkah pertama untuk menuju persatuan cinta dengan Allah kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2705-2708, 2723

571. Apakah doa kontemplatif itu?

Doa kontemplatif melulu hanya memandang Allah dalam keheningan dan cinta. Doa ini merupakan rahmat Allah, saat iman murni, di dalamnya seseorang berdoa mencari Kristus, menyerahkan dirinya kepada kehendak suci Bapa, dan meletakkan dirinya di bawah tindakan Roh Kudus. Santa Teresa Avila menggambarkan doa kontemplatif sebagai hubungan persahabatan yang amat erat, ”sering tinggal sendiri bersama Allah yang kita tahu mencintai kita”.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2709-2719, 2724, 2739-2741

572. Mengapa doa merupakan suatu ”pergulatan”?

Doa adalah rahmat cuma-cuma, tetapi selalu mengandaikan suatu jawaban tegas dari pihak kita karena mereka yang berdoa itu bergulat melawan diri mereka sendiri, melawan lingkungannya, dan khususnya melawan si Penggoda yang berusaha sekuat tenaga untuk menarik orang keluar dari doa. Pergulatan doa tidak terpisahkan dari kemajuan dalam hidup rohani. Kita berdoa seperti kita hidup karena kita hidup seperti kita berdoa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2725

Pastor Tom Uzhunnalil terima Mother Teresa Award untuk dedikasi penuh belas kasih

Rab, 13/12/2017 - 01:50

Pastor Tom Uzhunnalil SDB yang dibebaskan setelah 18 bulan ditahan di Yaman menerima Mother Teresa Award untuk Keadilan Sosial dari Harmony Foundation di Mumbai, 10 Desember 2017. Meski punya kesempatan meninggalkan negara itu, Pastor Tom memilih melayani orang jompo dari Misionaris Cinta Kasih di Yaman. Harmony Foundation mengakui kemanusiaan dan dedikasinya yang penuh belas kasih serta komitmennya terhadap karyanya di lokasi yang sangat berbahaya. Pada kesempatan itu, imam itu berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikannya untuk melayani misi di Yaman dan untuk semua orang yang berdoa untuk pembebasannya. Ketika ditanya oleh AsiaNews, apakah dia pernah memikirkan membandingkan pengalamannya dengan Santo Maximilian Kolbe, biarawan Fransiskan Conventual yang mengajukan diri dihukum mati menggantikan seorang pria yang tak dia kenal di kamp konsentrasi Auschwitz, Polandia, Pastor Tom menjawab, “Tidak pernah terpikir oleh saya.” Berbicara tentang “sisi gelap jiwa,” saat kesedihan, ketakutan, kebingungan dan kesendirian mendekati Tuhan, imam Salesian itu mengatakan dia tidak memiliki keraguan. “Saya tidak tahu kalau itu gelap … tapi bagiku selalu cerah.” “Saya bersyukur kepada Tuhan atas segalanya,” kata imam itu. Kendati pernah mengalami masa penderitaan dan kehilangan kebebasan di tangan para penculik, Pastor Tom berangsur-angsur tenang. Harmony Foundation menciptakan penghargaan itu Oktober 2005 untuk mengenang Ibu Teresa dari Calcutta dan untuk menyebarkan gagasan perdamaian, dialog dan bantuan masyarakat tanpa membedakan agama, kasta, kepercayaan, gender atau etnis. (pcp berdasarkan AsiaNews)

Yesus adalah raja dalam rupa-rupa wajah, termasuk wajah orang miskin dan tahanan

Rab, 13/12/2017 - 00:43

Yesus, Sang Raja Semesta Alam, hadir dalam rupa-rupa wajah, seperti wajah para imam, frater, suster, orang miskin, orang sederhana, orang dalam penjara dan lain-lain. Makanya, “sangat disayangkan kalau kita tidak memberi perhatian kepada orang miskin dan sederhana, padahal Yesus telah memperlihatkan dan memberi contoh.”

Uskup Manado Mgr Benediktus Estephanus Rolly Untu MSC berbicara dalam homili Misa Kristus Raja Semesta Alam Kevikepan Manado di Gereja Santa Teresia dari Kalkuta, Griya Paniki Indah, Paroki Yesus Gembala Baik Paniki, Manado, 26 November 2017. Lebih dari 1000 umat dari 10 paroki di kevikepan itu hadir dalam perayaan itu.

Menggambarkan bahwa Raja Semesta Alam itu bukanlah raja hanya dalam kegemerlapan tapi mencintai kita sampai akhir zaman, Mgr Rolly mengajak agar makna kerajaan Yesus menjadi pegangan dalam kehidupan umatnya sehari-hari.

Digambarkan bahwa Yesus adalah raja yang memimpin umat-Nya, yang datang bukan untuk dilayani tapi melayani umat-Nya, raja yang melayani secara pribadi dan langsung, dan raja yang sama dengan raja-raja lain yang memerintah rakyat-Nya, umat-Nya.”

Misa dengan 17 imam konselebran yang dilengkapi dengan Salve itu diawali dengan lomba defile. Seusai Misa dilaksanakan Lomba Koor Antarparoki.

Setelah melepas semua peserta defile kontingen paroki, Mgr Rolly didampingi sejumlah imam dan panitia pelaksana yang diketuai Welly Pesoth dengan Sekretaris Harold Pratasik ikut berjalan di belakangnya.

Harold Pratasik menjelaskan kepada PEN@ Katolik bahwa pemenang Lomba Defile itu adalah Paroki Santo Joseph Pelindung Pekerja Manado, diikuti Paroki Yesus Gembala Yang Baik Wanea dan Paroki Ratu Rosari Suci Tuminting, sedangkan pemenang Lomba Koor adalah Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan diikuti Paroki Raja Damai Tikala, dan Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado. (A Ferka)

Waktu apa yang tepat untuk berdoa?

Sel, 12/12/2017 - 14:34

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

567. Waktu apa yang tepat untuk berdoa?

Setiap saat itu baik untuk berdoa, tetapi Gereja mengusulkan kepada umat beriman irama tertentu untuk berdoa guna menjaga doa yang terus-menerus: doa pagi dan malam, doa sebelum dan sesudah makan, ibadat harian, Ekaristi hari Minggu, rosario, dan pesta-pesta tahun liturgi.

”Kita harus mengingat Allah lebih sering daripada tarikan napas kita”

(Santo Gregorius dari Nazianze)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2697-2698, 2720

568. Apa ungkapan-ungkapan hidup doa?

Tradisi Kristiani mempunyai tiga bentuk untuk mengungkapkan dan menghayati doa: doa dengan kata-kata, meditasi, dan doa kontemplatif. Ciri khas yang umum untuk ketiganya adalah ketenangan hati.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2697-2699

569. Bagaimana menjelaskan doa dengan kata-kata?

Doa dengan kata-kata menggabungkan badan dengan kedalaman doa batin. Bahkan, doa yang paling dalam pun tidak lepas dari doa dengan kata-kata. Tetapi, yang penting harus selalu keluar dari iman personal. Dengan doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan bentuk sempurna doa dengan kata-kata.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2700-2704, 2722

Selasa, 12 Desember 2017

Sel, 12/12/2017 - 14:13

PEKAN ADVEN II (U) 

Santa Yohanna Fransiska de Chantal;

Santa Perawan Maria dari Guadalupe

Bacaan I: Yes. 40:1-11

Mazmur: 96:1-3.10ac.11-13; R: Yes. 40:10ab

Bacaan Injil: Mat. 18:12-14

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Renungan

Setiap orang yang kehilangan barang atau kelupaan SIM, dokumen yang penting, KTP, atau sertifikat tanah, tentu reaksi kemanusiaan pertama yang muncul adalah gusar, panik, dan berusaha untuk menemukannya. Tidak ada seorang pun di antara kita yang masa bodoh atau tidak peduli bila terjadi kehilangan salah satu dokumen di atas. Demikian juga Allah. Dia merasa berbelas kasih dan berusaha untuk menemukan kembali setiap anak-Nya yang hilang. Allah tidak menghendaki kehilangan seorang pun dari anak-anak-Nya.

Bangsa Israel dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji juga mengalami pergumulan batin yang hebat. Ada dari antara mereka yang bahkan berpaling dan tidak setia terhadap Allah. Mereka melawan Allah dan melawan setiap pemimpin yang memimpinnya. Mereka melakukan dosa. Allah menyebut mereka sebagai anak-anak yang hilang dalam perjalanan. Allah senantiasa berusaha untuk kembali menemukan mereka. Para nabi diutus untuk mewartakan pertobatan, Allah sebagai Bapa yang Maharahim terbuka untuk menerima dan mengampuni dosa mereka. ”Tenangkanlah hatimu Yerusalem dan serukan kepadanya, bahwa perhambaan sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni… Ada suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan; luruskanlah di padang belantara, jalan raya bagi Allah kita!” (Yes. 40:2b-3).

Kedatangan Kristus membawa pengampunan. Seruan pertobatan terus dikumandangkan. Allah tetap pada pilihan sikap yang tidak berubah bahwa yang hilang dicari untuk ditemukan. Setiap insan manusia yang berdosa sangat berharga di mata Allah. ”Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anaknya hilang” (Mat. 18:14). Kitalah yang mesti terus berusaha untuk kembali kepada Allah bahkan kembali menemukan diri yang hilang di hadapan Allah. Allah dengan rindu dan penuh sukacita menantikan kedatangan dan pertobatan kita kembali ke dalam rangkulan kasih sayang-Nya.

Ya Tuhan, aku bersyukur atas kerahiman-Mu. Aku sering menjadi orang yang lupa kembali ke dalam rangkulan kasih sayang-Mu. Semoga hidupku menjadi daya tarik banyak orang kembali kepada rangkulan kasih-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Orang-orang berhendak baik diajak siapkan meja makan Natal bagi orang-orang miskin

Sel, 12/12/2017 - 01:29
Makan Siang Natal bersama orang miskin di Basilika Santa Maria di Trastevere, Roma

Pria dan wanita yang berkehendak baik di seluruh dunia diajak menyiapkan meja makan Natal untuk orang-orang yang membutuhkan. Demikian seruan Komunitas Sant’Egidio ketika membuka kampanye tahunannya untuk memberikan makan siang Natal bagi orang miskin, para tuna wisma, dan keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan.

Komunitas Sant’Egidio yang berbasis di Roma itu meminta sumbangan, berapa pun besarnya, untuk bisa memberikan tanda kedekatan dan perhatian nyata bagi saudara dan saudari kita yang membutuhkan.

Berkat bantuan teman-teman Sant’Egidio di seluruh dunia, tahun lalu lebih dari 50 orang miskin di Italia, dan lebih dari 200 di seluruh dunia, diundang merayakan Natal dan menikmati makan siang bersama bersama-sama berkat kampanye “Siapkan meja makan Natal.”

Tradisi makan siang bersama orang miskin sudah berlangsung 35 tahun tahun ketika sekelompok kecil orang miskin diundang ikut menikmati perjamuan yang diadakan di Basilika Santa Maria di Trastevere. Yang diundang antara lain beberapa orang lanjut usia, beberapa teman lingkungan yang merayakan Natal sendirian, dan beberapa orang gelandangan yang tidur “di luar dan sekitar” daerah itu.

Sejak saat itu, inisiatif itu telah berkembang dan menyebar dari wilayah Trastevere di Roma, tempat rumah Sant’Egidio berada, ke banyak bagian dunia, di mana pun komunitas itu berada.

Di Roma, makan siang itu masih berlangsung di bawah lukisan-lukisan dinding di Basilika yang megah, namun makanan Natal juga disiapkan bagi orang miskin di berbagai tempat, termasuk rumah jompo, penjara dan tentu saja gereja dan basilika lainnya.

Pelayanan bagi orang miskin adalah salah satu dari misi-misi utama Komunitas Sant’Egidio yang memandang dirinya sebagai sebuah keluarga yang disatukan oleh Injil. Itulah sebabnya, ketika keluarga-keluarga di seluruh dunia berkumpul di sekeliling meja untuk merayakan kedatangan Tuhan, anggota-anggota Sant’Egidio bersikeras agar komunitas itu melakukan hal yang sama bersama orang miskin “yang merupakan teman-teman dan keluarga kita.” (pcp, berdasarkan laporan Linda Bordoni dari Radio Vatikan)

Mgr Rolly Untu tegaskan, Gereja Katolik harus terus membuka diri untuk bangun dialog

Sen, 11/12/2017 - 19:07

Dalam hidup kebangsaan, Gereja Katolik termasuk kaum awam “harus terus membuka diri untuk membangun dialog dengan agama lain dengan dasar ketulusan,” kata Uskup Manado Mgr Benediktus Estephanus Rolly Untu MSC di depan para birokrat sipil dan anggota DPRD se-Sulawesi Utara dalam acara tatap muka di Wisma Keuskupan Manado, 6 Desember 2017.

Bagi Mgr Rolly, dialog itu penting untuk membangun sikap saling mengenal, meruntuhkan berbagai kecurigaan, dan mengikis fanatisme agama dan “dengan dialog, Gereja ingin meneruskan misi Tuhan.” Misi Tuhan, jelas uskup, adalah “merobohkan tembok-tembok pemisah dan membangun jembatan persahabatan dengan semua orang demi terwujudnya persaudaraan sejati yang mengarah pada hidup bersama yang lebih aman dan tenteram.”

Persaudaraan itu, lanjut Mgr Rolly, diperkuat dengan “melakukan kegiatan kekeluargaan dan kemanusiaan seperti silaturahmi saat perayaan hari besar keagamaan, bakti sosial lintas iman, pertemuan rutin para tokoh lintas agama, dan keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat.”

Mgr Rolly, yang didampingi Sekretaris Keuskupan Manado Pastor John Montolalu Pr sebagai pemandu acara, juga menegaskan bahwa Gereja Katolik dapat manfaatkan media sosial sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan dengan mewartakan ujaran dan ajaran kasih serta pengalaman persaudaraan dalam perbedaan.

Selain itu, Uskup Manado itu mengajak peserta tatap muka untuk mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan untuk menciptakan perubahan yang baik bagi bangsa Indonesia, “dengan terlibat aktif dalam berbagai gerakan bersama yang mengembangkan sikap terbuka dalam hidup beragama, memperkuat Bhinneka Tunggal Ika, membangkitkan  semangat bermusyawarah, dan mewujudkan keadilan sosial, kehadiran kita menjadi lebih berarti.” (A Ferka)

Senin, 11 Desember 2017

Sen, 11/12/2017 - 13:10
Pinterest

PEKAN ADVEN II (U)

Santo Damasus I, Paus

Bacaan I: Yes. 35:1-10
Mazmur: 85:9a-14; R: Yes. 35:4d
Bacaan Injil: Luk. 5:17-26

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: ”Hai saudara, dosamu sudah diampuni.”Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: ”Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: ”Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”—berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu—: ”Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: ”Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.”

Renungan

Apa yang dinubuatkan Nabi Yesaya terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Orang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, dan yang buta melihat. Terhadap orang lumpuh Yesus bersabda: ”Kepadamu Kukatakan, bangunlah angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu” (Luk. 5:24). Yesus menegaskan dan menyatakan kekuasaan-Nya untuk menyembuhkan orang lumpuh. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini takjub dan memuliakan Allah.

Ada banyak peristiwa dalam kehidupan kita yang menghadirkan keagungan Allah. Ada penyembuhan yang dirasakan dan dialami seseorang yang sakit berkat iman kepada Yesus Kristus. Ada keselamatan dari kecelakaan lalu lintas yang mencekam, ada pengalaman bebas dari kebakaran dan luput dari kecelakaan pesawat terbang. Pengalaman-pengalaman itu menambah iman kita kepada Yesus Kristus soko guru, tabib, dan pelindung bagi yang beriman. Semoga masa Adven yang kita jalani saat ini menginspirasi kita untuk semakin mengimani Yesus. Allah menjadikan segala sesuatu mungkin bagi orang yang beriman.

Ya Bapa, sering kali aku tidak mampu memahami keterlibatan dan penyertaan-Mu dalam setiap peristiwa hidupku. Rahmatilah aku agar peka melihat keagungan-Mu dalam setiap peristiwa dan perjalanan kehidupan ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pesan Natal PGI-KWI 2017: Di saat cemas dan terancam perpecahan, umat Kristiani ditantang wujudkan kerukunan

Sen, 11/12/2017 - 02:22

Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2017 yang berlangsung 6-16 November 2017, bukan hanya menghasilkan Pesan Sidang KWI 2017  berjudul “Panggilan Gereja Membangun Tata Dunia” tetapi juga Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan KWI.

Dalam sidang tahunan itu, draft Pesan Natal 2017 yang dibuat oleh PGI mendapatkan persetujuan dari KWI setelah mengalami beberapa perbaikan. Isi dari Pesan Natal Bersama PGI-KWI 2017 yang bertema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!” (Kol 3:15) itu tidak jauh berbeda dengan isi Pesan Sidang KWI 2017 yakni bahwa kelahiran Sang Raja Damai bisa dimaknai sebagai momentum untuk membarui hidup pribadi maupun hidup bersama, terutama sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk.

Sebagai warga Kristiani, tulis pesan itu, umat Kristiani ditantang untuk tak henti-hentinya mewujudkan damai sejahtera, kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Bahkan dalam pesan itu dikatakan bahwa memperjuangkan keadilan, memperkecil jurang kaya dan miskin, memberantas korupsi, merobohkan tembok pemisah atas nama suku, agama, dan ras adalah “mandat injili yang mesti kita perjuangkan di bumi Indonesia ini”

Lewat pesan itu, PGI dan KWI mengajak umatnya untuk menghidupi dan mengembangkan damai sejahtera yang merupakan anugerah Allah dengan jalan merangkul sesama, merawat ciptaan serta memajukan kerukunan dan persaudaraan, karena mereka menyadari bahwa “Saat ini kita sedang cemas. Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang terancam perpecahan. Keresahan dan kecemasan itu semakin terasa beberapa tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak yang, entah secara samar-samar atau pun secara terang-terangan, tergoda untuk menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus dasar kebangsaan kita, yaitu Pancasila.”

Hal itu, lanjut  pesan itu, terlihat dalam banyak aksi dan peristiwa, yakni “dalam persaingan politik yang tidak sehat dan yang menghalalkan segala cara, dalam fanatisme yang sempit, bahkan yang tidak sungkan membawa-bawa serta agama dan kepercayaan, dan dalam banyak hal lainnya. Dengan demikian, hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi sulit terwujud.”

Isi lengkap Pesan Natal Bersama PGI-KWI 2017:

PESAN NATAL BERSAMA

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)

DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)

TAHUN 2017

“Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu!”

(Kol. 3:15a)

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Natal adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat dan Raja Damai. Perayaan ini mengajak kita untuk menyimak kembali pesan utamanya. Karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, Allah telah mengutus Putra-Nya ke dunia (bdk. Yoh 3:16). Putra-Nya itu mengosongkan diri sehabis-habisnya dan menjadi manusia seperti kita (bdk. Flp 2:7). Ia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Ia, yang adalah Raja Damai dan Imanuel, Allah-beserta-kita, datang untuk membawa damai sejahtera kepada dunia, seperti yang diwartakan para malaikat kepada para gembala, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14).

Bagi kita umat Kristiani, kelahiran Sang Raja Damai merupakan suatu momentum untuk membaharui hidup pribadi maupun hidup bersama. Sebagai umat beriman, yang dilahirkan kembali, kita harus membuka diri agar damai sejahtera Kristus benar-benar memerintah dalam hati kita (bdk. Kol 3:15a). Kita mendambakan damai sejahtera, baik dalam hidup pribadi maupun dalam hidup bersama. Kita merindukan suatu bumi yang penuh damai dan umat manusia yang makin bersaudara. Hanya dengan demikian, kita akan mengalami sukacita sejati.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Sudah sepatutnya kita semua berusaha menemukan makna dan relevansi perayaan Natal bagi kita umat Kristiani dan bagi bangsa Indonesia. Perayaan Natal seharusnya menjadi momentum indah bagi kita untuk menyadari  kembali tugas perutusan serta komitmen kita, sebagai elemen bangsa dan negara tercinta ini. Kondisi dan situasi bangsa Indonesia saat ini merupakan tantangan sekaligus panggilan bagi kita untuk merenungkan dan menarik secara lebih seksama makna dari seruan Santo Paulus, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (Kol 3:15a). Kata-kata Paulus ini seharusnya mendorong kita untuk terus-menerus mengupayakan terwujudnya damai sejahtera, karena hanya dengan demikian kita memahami makna sejati Natal.

Sebagai anak-anak Allah, sumber damai kita, kita harus mewujudkan komitmen kristiani kita, yakni menjadi pembawa damai (bdk. Mt 5:9).

Saat ini kita sedang cemas. Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang terancam perpecahan. Keresahan dan kecemasan itu semakin terasa beberapa tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak yang, entah secara samar-samar atau pun secara terang-terangan, tergoda untuk menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus dasar kebangsaan kita, yaitu Pancasila. Hal itu terlihat dalam banyak aksi dan peristiwa: dalam persaingan politik yang tidak sehat dan yang menghalalkan segala cara, dalam fanatisme yang sempit, bahkan yang tidak sungkan membawa-bawa serta agama dan kepercayaan, dan dalam banyak hal lainnya. Dengan demikian, hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi sulit terwujud.

Cita-cita luhur bangsa Indonesia, sebagaimana diungkapkan dalam Pembukaan UUD 1945, untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan damai sejahtera, bukan saja di antara kita, tetapi juga di dunia, masih perlu kita perjuangkan terus bersama-sama. Sistem dan mekanisme demokrasi masih perlu kita tata dan benahi terus agar mampu mewujudkan secara efektif cita-cita bersama kita. Tentu saja hal ini tidaklah mudah.

Sebagai elemen bangsa, yang adalah kawanan kecil, kita, umat Kristiani tidak mampu menyelesaikan semua persoalan yang kita hadapi hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Inilah saatnya bagi kita untuk membiarkan damai Kristus memerintah dalam hati. Damai Kristus, yang memerintah dalam hati kita, merupakan kekuatan yang mempersatukan dan merobohkan tembok pemisah, “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef 2:14). Hanya dengan damai Kristus yang menguasai hati kita, kita akan dimampukan untuk membuka diri, merangkul dan menyambut sesama anak bangsa dan bersama mereka merajut kesatuan dan melangkah bersama menuju masa depan yang semakin cerah.

Inspirasi dan kekuatan spiritual yang mendorong kita untuk mewujudkan kesatuan dan  untuk sungguh-sungguh melibatkan diri dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia yang tercinta, kita timba dari kabar sukacita Yesaya: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan kepada kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yes 9:5-6).

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus

Kita selalu mendambakan damai sejati, yang dilandaskan pada keadilan dan kebenaran. Isi kabar sukacita Natal adalah kelahiran Sang Messias, yang akan mengokohkan Kerajaan-Nya, yaitu kerajaan keadilan dan kebenaran, di mana kita semua adalah warganya. Sebagai warga Kerajaan itu kita ditantang untuk memperjuangkan kesatuan, persaudaraan, kebenaran dan keadilan serta damai sejahtera. Memperjuangkan keadilan, memperkecil jurang kaya dan miskin, memberantas korupsi, merobohkan tembok pemisah atas nama suku, agama dan ras adalah mandat Injili yang mesti kita perjuangkan di bumi Indonesia ini.

Ketika kita sendiri berusaha memberikan kesaksian dalam usaha mewujudkan keadilan, kebenaran, damai sejahtera dan persaudaraan, tentu kita patut mawas diri. Mungkin kita masih menutup diri dalam kenyamanan hidup menggereja, sehingga lalai mewujudkan diri sebagai garam dan terang dunia. Mungkin kita sendiri masih enggan mengulurkan tangan kasih dan persaudaraan kepada sesama anak bangsa, terutama kepada mereka yang kecil dan terpinggirkan. Bukankah damai sejahtera hanya dapat terwujud ketika kita berhasil mengalahkan kepentingan diri demi kebaikan bersama? Bukankah Raja Damai yang lahir ke dunia menyadarkan kita bagaimana Dia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil 2:7)?

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus

Sebagai warga Kristiani, kita sendiri ditantang untuk tak henti-hentinya mewujudkan damai sejahtera, kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Karena itu, kita patut bersyukur atas hasil kerja keras dari Komisi Gereja Lutheran dan Katolik untuk menggalang persatuan. Selama 500 tahun, kita merajut kerukunan dan kehangatan persaudaraan di antara kita dengan jatuh bangun. Dari Juru Selamat, yang adalah Jalan, Kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6), kita belajar untuk merendahkan diri dan membuka diri satu sama lain. Dalam semangat itulah, kita belajar mengulurkan kebaikan dan kasih kepada sesama. Kita belajar saling mengampuni dan memaafkan. Jika ada kasih dan damai dalam hati kita masing-masing, kita akan bersukacita dan dapat bersama-sama mewujudkan komunitas ekumenis. Dengan bersatu sebagai umat Kristiani, kesaksian kita tentang kerukunan dan persaudaraan kepada masyarakat majemuk di negeri ini lebih berarti dan meyakinkan.

Selain rukun dengan sesama, damai yang dibawa Sang Juru Selamat juga mengajak kita untuk berdamai dengan segenap ciptaan. Saat ini ciptaan sedang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya. Tanpa tanggungjawab kita menggunakan dan menyalah-gunakan kekayaan yang ditanamkan Allah di dalamnya. Mewujudkan damai sejahtera dengan alam ciptaan berarti bertanggungjawab memulihkan keutuhannya. Selain itu, kita wajib mewujudkan keadilan dalam hidup bersama, karena alam merupakan sumber hidup yang disediakan Tuhan bagi semua manusia, dan bahwa segala sesuatu bersatu dan tertuju kepada Kristus sebagai kepala (Kol 1:15-22).   Dengan demikian, masih ada banyak yang perlu kita kerjakan untuk menciptakan kerukunan dan persaudaraan, sementara di lain pihak kita patut selalu bersyukur karena karya besar Tuhan yang kita alami bersama.

Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita semua untuk belajar dan mengembangkan kemampuan menerima perbedaan dan menyukurinya sebagai kekayaan kehidupan bersama kita di negeri ini. Marilah kita menghidupi dan mengembangkan damai sejahtera yang merupakan anugerah dari Allah, dengan jalan merangkul sesama, merawat ciptaan serta memajukan kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Hanya dengan demikian, kita dapat memberi kesaksian bahwa damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita. Selamat Natal, Tuhan memberkati.

SELAMAT NATAL 2017 DAN TAHUN BARU 2018

Jakarta, 22 November 2017

Atas nama

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)

Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang

Ketua Umum

Pdt. Gomar Gultom

Sekretaris Umum

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)

Mgr. Ignatius Suharyo

Ketua

Mgr. Antonius S. Bunjamin, OSC

Sekretaris Jendral

 

 

 

 

 

 

 

Mgr Agus berbahagia dalam “Mencari dan Menemukan Hadiah Natal untuk Saling Berbagi Kasih”

Min, 10/12/2017 - 18:25

Ketika membuka Bazar Natal Paroki Santo Yosep Katedral Pontianak 2017 yang bertema “Mencari dan Menemukan Hadiah Natal untuk Saling Berbagi Kasih” dan berlangsung 9-10 Desember 2017, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr mengatakan “sangat bahagia hari ini.”

Dalam acara seremonial pengguntingan pita, Mgr Agus mengatakan “Saya sangat bahagia pada hari ini, dalam pembukaan bazar di Paroki Santo Yosep Katedral Keuskupan Agung Pontianak. Kenapa saya bahagia? Karena salah satu fungsi dari bazar adalah menunjukkan bahwa kita ini bersaudara.”

Selain berterima kasih kepada Kepala Paroki Katedral Pastor Alexius Alex Mingkar Pr dan Pastor rekannya Pastor Yosep Maswardi Pr, serta Ekonom Keuskupan Pastor Andreas Kurnawan OP, dan segenap panitia yang menyelenggarakan bazar itu, Mgr Agus juga mengucapkan terima kasih kepada para pebisnis, pengusaha, organisasi sosial yang turut berpartisipasi dalam bazar itu.

“Hal ini menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki kepedulian terhadap masyarakat, terhadap orang banyak. Mereka hadir bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi lebih kepada memeriahkan acara ini yang sekali lagi bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan di antara seluruh umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak ini,” kata uskup agung itu.

Tujuan lain dari bazar itu, lanjut Mgr Agus adalah “untuk saling menjalin interaksi dan komunikasi yang sehat penuh sukacita agar relasi antarumat menjadi lebih akrab” setelah sepanjang tahun hidup kita penuh dengan ketegangan. Maka terimakasih juga disampaikan kepada seluruh umat yang hadir. “Saya merestui dan berdoa semoga kegiatan bazar ini bisa berjalan dengan baik dan tujuan yang diharapkan boleh tercapai,” lanjut uskup.

Mgr Agus juga mengungkapkan bahwa dalam pertemuan para uskup se-Indonesia muncul kesadaran bahwa Gereja Katolik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia ini. Bahkan prelatus itu mengutip Pesan Natal PGI-KWI 2017 yang mengungkapkan bahwa saat ini kita sedang cemas.

“Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang terancam perpecahan. Keresahan dan kecemasan itu semakin terasa beberapa tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak yang, entah secara samar-samar atau pun secara terang-terangan, tergoda untuk menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus dasar kebangsaan kita, yaitu Pancasila. Hal itu terlihat dalam banyak aksi dan peristiwa: dalam persaingan politik yang tidak sehat dan yang menghalalkan segala cara, dalam fanatisme yang sempit, bahkan yang tidak sungkan membawa-bawa serta agama dan kepercayaan, dan dalam banyak hal lainnya. Dengan demikian, hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi sulit terwujud,” kutip prelatus itu.

Dalam keadaan seperti itu, Gereja Katolik harus berani tampil dengan wajah berseri, sebagai pembawa damai yang mengedepankan cinta kasih, “yang menurut saya, cara salah satunya adalah mengadakan bazar seperti ini,” demikian sambutan Mgr Agus seraya menambahkan bahwa Yesus yang lahir ke dunia membawa damai, dan damai itu sungguh diperlukan seluruh umat manusia.

Mgr Agus lalu berkeliling memberkati stand-stand yang ada di basemen Katedral Santo Yosep Pontianak. Menurut panitia, ada 78 stand dalam bazar itu antara lain modern furniture, aksesoris Natal, pakaian, sembako, minuman dan makanan, foto booth, travel, property, perbankan, kosmetik, dan elektronik.

Bazar yang diawali dengan tarian barongsai itu juga dimeriahkan dengan lomba menghias pohon Natal dari bahan daur ulang, lomba mewarnai khusus anak-anak, dan kegiatan donor darah dan cek gula darah gratis. (mssfic)

Halaman