Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 59 mnt 18 dtk yang lalu

Paroki Bongsari lebih dulu menghidupkan hidup iman Katoliknya baru bangunannya

Sab, 15/09/2018 - 15:54
Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ menjelaskan perihal pengakuan dosa kepada mahasiswa dan mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT

“Gereja Santa Theresia Bongsari sudah 50 tahun dimekarkan dari Katedral Semarang. Tapi, kehidupan iman umat terjadi jauh sebelumnya. Kami lebih menghidupkan hidup iman Katolik baru bangunannya. Komunitas dibangun lebih dulu daripada bangunan gereja fisiknya.”

Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ mengatakan hal itu kepada para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus saat mereka melakukan Praktik Profesi Lapangan (PPL) di gereja itu, 14 September 2018.

Pastor Didik mengakui, gereja itu sering jadi tempat kegiatan lintas iman dan sudah didatangi berbagai kelompok. Terkait budaya, jelas imam itu, “umat Paroki Bongsari hidup dalam tradisi Jawa yang sangat diwarnai keterbukaan terhadap berbagai kelompok, tepa selira. Maka, kehidupan umat Bongsari sama seperti kehidupan masyarakat di sekitar Semarang. Agama itu alat bantu untuk hidup bersama orang lain,” kata aktivis gerakan dialog lintas agama itu.

Berbagai kegiatan yang pernah digelar bersama masyarakat lintas agama di gereja itu antara lain tebar benih ikan, menanam bakau, berbagi sembako, dialog kebangsaan, maupun pentas seni. “Kita sangat menyatu dengan masyarakat sekitar maupun kota Semarang.”

Umat Bongsari terbiasa hidup dalam masyarakat umum, tak hanya dalam lingkungan Gereja. “Mereka aktif dalam RT, RW, dan kelurahan. Banyak jadi panitia HUT Kemerdekaan RI dan tak sedikit aktif dalam kegiatan olahraga. Maka, tak jarang halaman gereja ini dipakai untuk berbagai kegiatan. “Ini yang membuat Gereja Katolik sangat diterima,” kata Pastor Didik.

Pastor Didik menjelaskan kepada para mahasiswa yang diantar oleh Ketua II Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang, Yoseph Edy Riyanto, bahwa kegiatan Gereja Bongsari sebisa mungkin melibatkan warga sekitar. “Kami tak punya intensi lain kecuali masyarakat juga mengalami kegembiraan,” kata imam itu. Gereja itu selalu libatkan masyarakat lintas agama dalam kegiatan sosial, karena “kita orang Katolik Indonesia dengan budaya sama, bukan orang asing,” kata imam itu.

Jelasnya, lanjut Pastor Didik, Gereja tidak melulu menghidupi kehidupan ritual ibadah, tapi juga pewartaan bagi umatnya, persekutuan dalam aneka paguyuban Gereja, dan pelayanan bagi yang membutuhkan. “Hidup Gereja tak hanya ibadat tapi menyentuh semua kehidupan,” lanjut imam itu seraya menjelaskan bahwa Gereja aktif dalam masyarakat lewat Komisi Kemasyarakatan dan mendorong umat untuk mandiri secara ekonomi lewat Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi.

Menjawab pertanyaan seorang mahasiswi tentang cara Gereja Katolik menjalin kerukunan dengan umat Kristen non-Katolik, Pastor Didik menjelaskan, selama ini Gereja Katolik aktif dalam dialog lintas gereja dalam gerakan ekumene. “Kami jalin komunikasi dan kerukunan umat kristiani dalam gerakan ekumene misalnya Natal Bersama, Paskah Bersama, dan Pekan Doa se-Dunia. Mewujudkan kerukunan juga butuh perjuangan. Doa dan ibadatnya dibicarakan bersama. Kami tidak saling memaksakan tradisi masing-masing,” kata imam itu.

Peserta lain bertanya tentang pendidikan imam dan suster. “Untuk jadi imam, ada pendidikan cukup panjang, ada yang mulai setingkat sekolah menengah, dan setelah menjadi imam ada yang harus menempuh pendidikan lanjut. Selain berkarya di gereja, ada imam yang berkarya di sekolah, kampus dan tempat karya lain yang dihidupi lembaga hidup baktinya.”

Menjawab tentang pendidikan biarawati, Suster Virgo PI menjelaskan, untuk menjadi suster, seorang harus melalui masa aspiran, postulat, novisiat, yuniorat, hingga kaul kekal. “Para suster juga aktif dalam berbagai bidang karya yang dihidupi kongregasinya, misalnya sekolah, balai pengobatan, rumah jompo, panti asuhan maupun pemberdayaan ekonomi melalui credit union,” jelas suster.

Usai berdialog para mahasiswa diantar oleh Pastor Didik mengunjungi gereja untuk melihat properti dalam gereja misalnya air suci, altar, dan ruang pengakuan dosa. Peserta pun menyimak perihal pengakuan dosa dalam tradisi Gereja Katolik. (Lukas Awi Tristanto)

Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ bersama mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT Para mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus yang diantar oleh Ketua II FKUB Kota Semarang, Yoseph Edy Riyanto bergambar bersama Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ di depan Gereja Bongsari. PEN@ Katolik/LAT

Bagaimana Gereja mendukung kehidupan moral seorang Kristen?

Sab, 15/09/2018 - 01:04
Foto dari grade12religionisu.weebly.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

429. Bagaimana Gereja mendukung kehidupan moral seorang Kristen?

Gereja adalah komunitas tempat orang-orang Kristen menerima Sabda Allah, pengajaran ”Hukum Kristus” (Gal 6:2), dan rahmat Sakramen-Sakramen. Mereka dipersatukan dengan kurban Ekaristi Kristus sedemikian sehingga kehidupan moral mereka merupakan suatu ibadah rohani, dan mereka belajar teladan kesucian dari Perawan Maria dan dari kehidupan santo-santa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2030-2031, 2047

430. Mengapa Kuasa Mengajar Gereja berkenaan dengan bidang moral?

Sudah menjadi tugas Kuasa Mengajar Gereja untuk mewartakan iman agar dipercaya dan dipraktekkan dalam kehidupan. Tugas ini bahkan meluas pada perintah-perintah khusus hukum kodrati karena menaati hal ini perlu untuk keselamatan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2032-2040, 2049-2051

Suster Cristina, pemenang “The Voice” Italia 2014, mengagumi keberagaman di Indonesia

Jum, 14/09/2018 - 23:55
Foto PEN@ Katolik/Konradus Mangu

“Orang muda Katolik dipanggil untuk terlibat dan tidak perlu merasa takut dengan adanya keberagaman di tengah masyarakat,” kata Suster Cristina OSU, pemenang “The Voice” Italia 2014, seraya memuji dan mengagumi keberagaman yang dimiliki masyarakat Indonesia sehingga terlihat damai dan rukun, serta memuji Panitia JOYFest (Jakarta Catholic Youth Festival) 2018 yang memilih tema relevan tentang keberagaman di Indonesia.

Suster Cristina Scuccia OSU dari Italia itu berbicara dalam konferensi pers bersama penyanyi asal Amerika Matt Maher dalam kegiatan JOYFest 2018 di gedung ICE BSD Tangerang, 11 September 2018.

Menyinggung tentang keberagaman di negaranya, suster itu menegaskan bahwa orang merasa ketakutan tentang keberagaman , “karena itu sulit untuk dipersatukan.”

Beberapa hari sebelumnya, cerita Suster Cristina, dia diundang makan malam bersama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Subharyo dan para imam. Saat itu, tegasnya, dia merasa sangat takjub melihat Katedral Jakarta berdiri berhadapan langsung dengan Mesjid Besar Istiqlal Jakarta. “Saya melihat itu dan saya sangat takjub akan masyarakat yang damai dan rukun di negara ini,” kata Suster Cristina.

Menjawab pertanyaan pers tentang fenomena kurang aktifnya OMK di sejumlah negara, suster itu melihatnya sebagai gejala atau fenomena umum dan suster itu berharap kehadirannya di Indonesia bisa mengajak OMK Indonesia dengan semangatnya bersama-sama membangun Gereja dan memuliakan nama Tuhan.

“Keterlibatan saya dalam musik ingin mengajak OMK untuk ambil bagian dalam membangun negara ini sesuai potensi yang dimiliki,” kata Suster Cristina dalam bahasa Italia yang diterjemahkan oleh Agatha Lidya Nathania.

Suster Cristina mengatakan, dia pernah bertugas di Brasil selama dua tahun. “Di sana kegiatan Ekaristi hari Minggu seperti sebuah pesta meriah, tapi setelah kembali ke Italia pengalaman ber-Ekaristi penuh semangat itu tidak ditemukan. Misa di Italia kurang dihadiri orang muda,” tegasnya.

Setiap kali bangun pagi, “saya selalu berdoa untuk kaum muda sekiranya mereka tergerak untuk aktif dalam kegiatan Gereja,” kata suster itu seraya mengaku bahwa lewat musik dia mau mengajak kaum muda untuk tidak putus asa, “tapi bersama-sama membangun dunia ini, membangun Gereja.

Menurut Matt Maher, di Amerika dia bermain musik dengan bekerjasama dengan berbagai pihak, bukan hanya Katolik tapi di non-Katolik, misalnya gereja-gereja denominasi Kristen, “karena mereka memiliki kerinduan untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan.”

Ketua Umum JOYFest 2018 menjelaskan, kegiatan itu sesungguhnya seperti yang dilakukan tahun lalu di Glodok Kemayoran dengan tema keluarga, “sedangkan tahun ini kegiatan ini difokuskan hanya untuk kaum muda.”

Dalam kegiatan itu ada juga stand dari 17 kelompok kategorial di KAJ, “yang mengajak kaum muda untuk terlibat dalam komunitas kategorial sesuai dengan minat atau kesukaannya,” jelasnya.

Kegiatan lain adalah seminar dengan berbagai narasumber, misalnya Menteri ESDM Ignatius Jonan. Seminar-seminar itu dilakukan secara parallel dengan melibatkan sekitar 22 narasumber dengan aneka topik mencakup relasi, karir dan iman.

Vikep KAJ Pastor Andang Binawan SJ dalam homili Misa pembukaan mengajak OMK untuk selalu membuka diri dan mendengarkan sapaan Tuhan apalah memilih menjadi pelayan Tuhan atau melayani dalam bidang hidup berkeluarga.

Puncak kegiatan menampilkan Suster Cristina dan Matt Maher dan timnya. Sebanyak sembilan 9 lagu dinyanyikan oleh Suster Cristina sambil menceritakan perjalanannya menjadi penyanyi hingga terkenal saat ini. Ia mengaku mengalami tantangan “tapi Tuhan Yesus adalah pelindungku.” (PEN@ Katolik Konradus R Mangu)

Suster Cristina dan Matt Maher dalam Konferensi Pers. PEN@ Katolik/Kontradus Mangu Suasana seminar. Foto Jansi Kuntag Suasana Seminar. Foto Jansi Kuntag Suasana panggung. Foto Jansi Kuntag

Para Salesian Muda di Malawi, Zimbabwe dan Zambia, persiapkan diri untuk Sinode

Jum, 14/09/2018 - 22:54
Beberapa Salesian muda dari Zambia, Malawi, Zimbabwe yang mengikuti reli. Foto Vatican Media

Lebih dari 800 orang muda dari paroki-paroki dan sekolah-sekolah yang dijalankan oleh Ordo Salesian Don Bosco di Malawi, Zimbabwe dan tuan rumah Zambia mengikuti reli orang muda Katolik (OMK) selama seminggu di Keuskupan Mansa. Mereka diundang menghadiri reli itu untuk menyadarkan mereka tentang Sinode yang akan datang untuk OMK yang akan diadakan di Vatikan, bulan depan.

Koordinator Orang Muda Nasional dari Konferensi Waligereja Zambia yang juga Koordinator Orang Muda Provinsial Suster-Suster Salesian, Suster Chanda Nsofwa FMA, dan Delegasi Orang Muda untuk Zambia, Malawi, Zimbabwe dan Provinsi Namibia Pastor Christopher Kunda SDB, menyatakan puas dengan hasil acara itu dan tingkat kesadaran yang tercipta.

“Reli Orang Muda yang diselenggarakan oleh Keluarga Salesian menarik lebih dari 800 orang muda dari Zambia, Malawi dan Zimbabwe dengan tujuan untuk menyadarkan mereka akan Sinode Orang Muda mendatang yang akan berlangsung bulan Oktober tahun ini,” kata mereka, seperti dilaporkan oleh Mwenya Mukuka dari Lusaka, Zambia, untuk Vatican Media.

Selama acara itu, OMK bisa mengajukan pertanyaan dan mencari klarifikasi tentang Sinode itu, dan diberi kesempatan mengekspresikan diri serta mengajukan pertanyaan tentang topik, ‘Orang muda di dunia saat ini, discernment panggilan, dan pilihan kehidupan.’

Pusat pertemuan itu adalah saat-saat doa, yang diajarkan dengan baik sepanjang hari. Ada juga Ziarah Orang Muda ke Katedral Maria Diangkat ke Surga Mans, Zambia, dan jalan-jalan ke Danau Bangweulu di Distrik Samfya tempat Misa penutupan dirayakan.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Apakah semuanya dipanggil pada kesucian Kristen?

Kam, 13/09/2018 - 23:36
Relief Jalan Salib di luar Gereja Salib Suci Pedoulas di Cyprus. Getty Images

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

427. Kebaikan-kebaikan apa yang bisa menjadi pahala bagi kita?

Digerakkan oleh Roh Kudus, kita mendapat pahala bagi diri kita sendiri dan orang lain dengan rahmat-rahmat yang dibutuhkan untuk pengudusan kita dan untuk mencapai hidup abadi. Bahkan, kebaikan-kebaikan sementara yang cocok bagi kita dapat menjadi pahala yang sesuai dengan rencana Allah. Namun, tak seorang pun mendapat pahala untuk rahmat awal yang merupakan asal usul pertobatan dan pembenaran.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2010-2011, 2027

428. Apakah semuanya dipanggil pada kesucian Kristen?

Semua orang beriman dipanggil pada kesucian Kristen. Ini merupakan kepenuhan hidup Kristen dan kesempurnaan cinta kasih. Hal ini dilaksanakan melalui kesatuan intim dengan Kristus, dan dalam Dia dengan Tritunggal yang Mahakudus. Jalan kesucian bagi seorang Kristen itu melalui jalan salib dan akan sampai kepada kepenuhannya pada saat kebangkitan akhir orang-orang benar saat Allah akan menjadi segala dalam segala.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2012-2016, 2028-2029

Umat Katolik dan Budha AS bersama-sama membantu orang miskin dan tunawisma

Kam, 13/09/2018 - 23:10
Seorang tunawisma tidur di lantai di New York City (2017 Getty Images)

Proyek Perumahan Ramah Lingkungan, yang menyatukan umat Katolik dan umat Budha untuk memberikan rumah ramah lingkungan bagi orang miskin dan tunawisma di Brooklyn, Chicago, dan Los Angeles, mengirim delegasi pemimpin Katolik dan Budha, yang dipimpin Uskup Brooklyn Mgr Nicholas DiMarzio untuk mengunjungi Vatikan.

Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama mengundang perwakilan proyek itu untuk datang Roma guna menghormati almarhum Kardinal Jean-Louis Tauran. Pada kesempatan itu, Mgr Nicholas DiMarzio berbicara dengan Devin Watkins dari Vatican News tentang prakarsa itu.

“Proyek Perumahan Ramah Lingkungan berbicara sesuai semangat Laudato Si’. Itu usulan Kardinal Tauran sebelum dia meninggal,” kata Uskup DiMarzio. Gagasan Kardinal Tauran, lanjut uskup,  adalah agar umat Buddha dan umat Katolik bekerja sama dalam proyek yang terinspirasi oleh ajaran ensiklik itu.

Uskup DiMarzio mengatakan, kardinal almarhum itu berharap proyek itu membantu “orang miskin,” terutama para tunawisma dan orang cacat. Panel surya, beberapa jenis perangkat penghemat energi lainnya, atau taman di atap ditambahkan untuk membuat proyek-proyek itu “hijau.”

Para pemimpin Budha di masing-masing tiga kota itu akan berperanserta dalam prakarsa berorientasi pelayanan itu, dengan menjadikannya tonggak penting dalam dialog antaragama.

Mgr DiMarzio mengatakan, umat Katolik hendaknya memperhatikan hal-hal administratif, seperti konstruksi dan pendanaan. “Sedangkan umat Buddha,” katanya, “akan memberikan beberapa bantuan tambahan untuk proyek-proyek itu.” Akan ada ruang meditasi dalam rumah-rumah itu. “Mereka boleh datang dan mengajar meditasi, atau sesuatu yang dapat mereka sumbangkan yakni milik mereka sendiri,” kata uskup.

Dialog antaragama, kata Uskup DiMarzio, memiliki empat elemen utama, yaitu spiritual, sosial, pelayanan, dan teologis. “Satu pelayanan tidak pernah benar-benar berjalan baik, guna menunjukkan bahwa kita dapat bekerja sama dalam sebuah proyek pelayanan. Itulah yang Kardinal Tauran bayangkan ”bagi Proyek Perumahan Ramah Lingkungan” itu.

Di Los Angeles, proyek ini akan membangun rumah untuk pria dan wanita di Skid Row, sebuah area di mana tinggal sekitar 6.000 orang tunawisma. Di Chicago, proyek akan memperluas Mercy Housing (Perumahan Belaskasih), yang memberikan tempat tinggal permanen bagi orang miskin dan tunawisma.

“Dengan cara tertentu,” kata Uskup DiMarzio, “Saya sangat bangga dengan proyek saya di Brooklyn dan Queens, karena ketika kami merencanakan masa depan, kami menyadari bahwa kami berada dalam apa yang mereka sebut sebagai tsunami penuaan.”

Proyek kotanya secara khusus difokuskan pada para lansia yang tidak memiliki rumah dan berpenghasilan rendah. Meskipun mungkin menderita cacat fisik dan mental, mereka sering berjuang untuk membayar sewa.

Uskup DiMarzio mengatakan, di tahun 2030, New York City akan semakin besar dengan tambahan 2 juta orang. Hampir setengah dari mereka akan menjadi warga senior. “Generasi Baby Boom akan datang, dan mereka akan tinggal di kota. Mereka akan lebih membutuhkan perumahan yang mendukung dan perumahan yang bersubsidi,” kata Mgr DiMarzio.(pcp berdasarkan Vatican News)

Katedral Sanggau, hadiah HUT dan permohonan umat Katolik Sanggau untuk Mgr Mencuccini

Kam, 13/09/2018 - 17:51
Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau. Foto PEN@ Katolik/Samuel

“Tanggal 13 Maret 2008, saat saya merayakan HUT ke-62, sebagai kenangan, saya diberikan satu hadiah yang tidak langsung saya buka. Pagi hari sesudahnya, baru saya buka bungkus hadiah itu. Di dalamnya saya dapatkan satu surat dan satu desain gambar gereja dalam bentuk tiga dimensi.”

Uskup Sanggau Mgr Giulio Mencuccini CP asal Italia bercerita saat memberi sambutan dalam Misa Konsekrasi dan Peresmian Katedral Hati Kudus Yesus Sanggau, 11 September 2018. Surat itu berbunyi, “Umat Keuskupan Sanggau mohon agar Bapak Uskup membangun Gereja Katedral baru, dan kalau suka, inilah desain gambar gereja baru itu dan kami umat siap membantu.”

Sesudah itu, Mgr Mencuccini berbicara dengan Pastor Franz Xaver Brantschen OFMCap. Misionaris asal Swiss itu menyetujui rencana pembangunan gereja baru dengan mengatakan, “wajar dibangun gereja baru, karena gereja lama sudah hampir 45 tahun digunakan.” Gereja yang lama itu merupakan gereja ketiga di Kota Sanggau. Gereja pertama dibangun tahun 1928, kedua tahun 1938 dan ketiga dibangun tahun 1965.

Pastor Brantschen hanya memohon agar kerangka besi gereja lama, yang dibawa dari Belanda, dipakai untuk membangun satu gereja di kampung. “Kini kerangka gereja katedral lama sudah menjadi kerangka untuk gereja di Paroki Bunut sebagai kenangan,” kata Mgr Mencuccini dalam sambutannya.

Berawal dari hadiah, “jati diri umat se-Keuskupan Sanggau mulai diwujudkan dan hasilnya adalah gereja katedral unik-artistik yang menggabungkan agama Barat dengan arsitektur seni serta kepercayaan suku Dayak,” lanjut uskup itu.

Menurut sejarah, jelas Mgr Mencuccini, Katedral Sanggau pertama tidak dibangun sebagai katedral, tetapi gereja pusat Paroki Sanggau. Gereja itu menjadi katedral karena Kewedanan Sekadau yang mencakup Kabupaten Sanggau menjadi keuskupan. “Sejak menjadi vikaris jenderal kemudian uskup pertama Keuskupan Sanggau, tak pernah masuk dalam program keuskupan ide membangun katedral baru, karena yang lama masih dianggap baik dan banyak umat merasa terikat secara emosional dengan gereja itu. Lebih-lebih, saya menaruh hormat terhadap Pastor Franz Xaver Brantscheen OFMCap yang telah membangunnya,” kata uskup.

Menurut buku “Karya Agung Allah di Tengah Umat-Nya/Gereja “Hati Kudus Yesus” Katedral Sanggau” tulisan Pastor Severyanus Ferry Pr, Stasi Sanggau berdiri 22 Desember 1912 saat Sanggau masih bagian wilayah Prefektur Apostolik Kalimantan yang berpusat di Pontianak.

Walaupun belum ada pastor menetap, secara berkala stasi ini dilayani oleh imam-imam Ordo Kapusin (OFMCap) dari Belanda. Melihat keperluan saat itu, tahun 1925, Pastor Kanisius OFMCap diangkat menjadi pastor pertama Stasi Sanggau. Gedung gereja pun mulai dibangun tahun 1928. Selain gereja, dibangun juga pastoran sebagai tempat tinggal para pastor yang melayani Stasi Sanggau.

Namun gereja itu tidak tahan lama. Tahun 1931, dibangun lagi gereja baru. Gereja kedua lebih baik dan representatif.  Sejak 1925 hingga masa pendudukan Jepang (sekitar 1942), jumlah umat Katolik di Sanggau sekitar 1000 orang. Untuk itu, para imam Kapusin mulai menetap di Pastoran Sanggau demi pelayanan pastoral yang lebih efektif.

Selama masa pendudukan Jepang, jumlah umat di Sanggau tidak berkembang karena semua pastor dari Belanda dibuang ke kamp interniran di Kuching (Sarawak). Mereka baru kembali ke Indonesia setelah Jepang kalah perang tahun 1945.

Sekembalinya ke Indonesia, semangat dan kepercayaan diri orang Dayak bangkit. Kesadaran akan pentingnya pendidikan mulai tumbuh. Kesadaran ini muncul sebagai buah Kongres Persatuan Dayak (1948) yang diprakarsai para murid sekolah Katolik dan eks-seminaris.

Tahun 1950, Administrator Apostolik Pontianak Mgr Tarcisius van Valenberg OFMCap mendatangkan berbagai kongregasi imam, bruder dan suster untuk berkarya di wilayah Prefektur Apostolik Pontianak. Dengan bertambahnya tenaga misionaris, dibangunlah sekolah-sekolah dan gereja-gereja. Stasi-stasi  pun mulai dimekarkan, Sekadau (1950), Jangkang Benua dan Pusat Damai (1952), Jemongko (1956) dan Batang Tarang (1958).

Sejak 1960, pelayanan di Paroki Sanggau diserahkan kepada misionaris Kapusin dari Swiss. Waktu itu ada enam misionaris dari Swiss di Sanggau yaitu Pastor Ewald Beck OFMCap, Pastor Franz Xaver Brantschen OFMCap, Pastor Matthau OFMCap, Pastor Rene Roscy OFMCap, Pastor Lazarus OFMCap dan Pastpr Agatho Elsender OFMCap.

Karena perkembangan umat yang pesat, tahun 1967, dibangun gereja ketiga yang lebih besar dengan kerangka besi yang didatangkan dari Belanda. Seiring dengan perkembangan umat, tanggal 10 Juli 1982, diumumkan Surat Keputusan Pendirian Keuskupan Sanggau. Keuskupan baru diresmikan 5 Desember 1982. Gedung gereja yang awalnya gereja paroki berubah status menjadi katedral, bangunan gereja induk, tempat kediaman uskup.

Namun, Minggu, 8 Mei 2011, Mgr Mencuccini merayakan Misa terakhir di Katedral Sanggau itu. Gereja yang telah berdiri selama lebih dari 40 tahun itu dibongkar dan akan diganti dengan katedral baru. Dan, Selasa, 11 September 2018, Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau diresmikan oleh Bupati Sanggau Paulus Hadi dan Bupati Sekadau Rupinus dan dikonsekrasi oleh Mgr Ignatius Suharyo dan Mgr Giulio Mencuccini. (PEN@ Katolik/Samuel)

Mgr Giulio Mencuccini CP saat memberi sambutan Peresmian dan Pemberkatan Katedral Sanggau 11 September 2018. Foto PEN@ Katolik/Samuel Katedral Hati Kudus Yesus Keuskupan Sanggau yang diresmikan oleh Bupati Sanggau Paulus Hadi dan Bupati Sekadau Rupinus dan dikonsekrasi oleh Mgr Ignatius Suharyo dan Mgr Giulio Mencuccini 11 September 2018. Foto PEN@ Katolik/Samuel Gereja dan pastoran Sekadau yang kedua Gereja dan Pastoran Sanggau yang pertama Gereja ketiga Paroki Sanggau yang menjadi katedral Sanggau

Apakah ada rahmat-rahmat lainnya?

Rab, 12/09/2018 - 23:44
Foto diambil dari web “Our Daily Bread”

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

424. Apakah ada rahmat-rahmat lainnya?

Di samping rahmat habitual, ada pula rahmat aktual (karunia-karunia untuk situasi tertentu), rahmat sakramental (karunia yang diterima dalam setiap Sakramen), rahmat khusus atau karisma (karunia-karunia yang ditujukan untuk kebaikan umum Gereja), antara lain rahmat status tertentu yang terdapat pada pelaksanaan pelayanan-pelayanan gerejawi dan tanggung jawab kehidupan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1999-2000, 2003-2004, 2023-2024

425. Apa hubungan antara rahmat dan kebebasan manusia?

Rahmat mendahului, mempersiapkan, dan mendorong jawaban bebas kita. Rahmat ini menjawab kerinduan terdalam kebebasan manusia, memanggil untuk bekerja sama, dan menuntun kebebasan menuju kepada kesempurnaannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2001-2002

426. Apa itu pahala?

Secara umum, pahala menunjuk pada hak untuk mendapatkan imbalan karena suatu perbuatan baik. Berkenaan dengan Allah, kita sama sekali tidak mampu memiliki pahala apa pun karena kita sudah menerima segalanya secara cuma-cuma dari Dia. Tetapi, Allah memberikan kemungkinan kepada kita untuk mendapatkan pahala melalui kesatuan dengan cinta Kristus, sumber segala pahala kita di hadapan Allah. Karena itu, pahala untuk pekerjaan yang baik pertama-tama dan terutama harus dikaitkan dengan rahmat Allah kemudian kehendak bebas manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2006-2010, 2025-2026

Paus akan bertemu para uskup guna membahas perlindungan anak di bawah umur

Rab, 12/09/2018 - 23:26
Berdasarkan Foto AFP

Paus Fransiskus telah mengundang para ketua semua konferensi waligereja di seluruh dunia untuk mengadakan pertemuan di Roma guna membahas pencegahan pelecehan terhadap anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan.

Pengumuman itu, menurut Christopher Wells dari Vatican News, disampaikan oleh Wakil Direktur Kantor Pers Takhta Suci Paloma García Ovejero dalam konferensi pers tentang pertemuan Dewan Kardinal Penasihat, yang ditutup 12 September pagi.

Komunike dari dewan kardinal itu memberikan rincian lebih lanjut. Pertemuan dengan Paus akan berlangsung di Vatikan, 21-24 Februari 2019. Dalam pernyataan itu dikatakan bahwa dalam reuni minggu ini, Konsili telah “merenungkan sepenuhnya bersama Bapa Suci tentang masalah pelecehan.”

Pengumuman pers hari Rabu itu didedikasikan untuk peninjauan pertemuan Dewan Kardinal Penasehat minggu ini. Ovejero mencatat bahwa semua anggota dewan hadir, kecuali Kardinal George Pell, Kardinal Francisco Javier Errázuriz, dan Kardinal Laurent Monsengwo Pasinya. Paus Fransiskus sepenuhnya mengikuti dalam karya para kardinal itu, meskipun tidak hadir pada poin-poin tertentu karena tugas resmi lainnya.

Menurut Ovejero, “Sebagian besar pekerjaan dewan itu didedikasikan untuk penyesuaian akhir rancangan Konstitusi Apostolik baru tentang Kuria Roma, yang untuk sementara berjudul Praedicate evangelium.” Salinan teks sementara telah disampaikan kepada Bapa Suci, dengan harapan dokumen itu akan ditinjau kembali dalam kerangka hukum kanonik, dan tunduk pada revisi lebih lanjut.

Kepada yang hadir dalam pertemuan dewan itu, Kardinal Sean Patrick O’Malley OFMCap mengupdate karya Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur.

Akhirnya, para kardinal sekali lagi menyatakan solidaritas penuh mereka dengan Paus Fransiskus sehubungan dengan apa yang telah terjadi pada minggu-minggu terakhir.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Dalam porseni, OMK diharapkan rebut trophy dan medali persaudaraan dalam iman dan kasih

Rab, 12/09/2018 - 22:39

Ketika membuka Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) OMK Dekenat Merauke 2018 di GOR Hiad Sai Merauke, 12 September 2018, Deken Dekenat Merauke Pastor John Kandam Pr meminta agar peserta menjalin keakraban kebersamaan dan kekompakan dan merebut kejuaraan dalam sportifitas dan kedewasaan.

“Itulah kualitas yang harus kita tunjukkan dengan cinta kasih,” kata Pastor John Kandam seraya berharap kegiatan itu menggali potensi OMK untuk terjun ke dunia olahraga tingkat daerah maupun nasional, dan kali berikut dilaksanakan lomba persahabatan dengan umat agama lain.

Pastor John Kandam membuka porseni itu dengan penendangan bola. Porseni, yang diawali pawai itu merupakan kerja sama antara Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata dengan Badan Koordinasi Orang Muda Katolik (OMK) Dekenat Merauke, Keuskupan Agung Merauke, itu akan dilaksanakan hingga 27 Oktober 2018.

Hal senada disampaikan oleh Moderator OMK Dekenat Merauke Pastor Aloysius Batmiyanik MSC. Pastor itu berpesan agar porseni itu tidak menjadi ajang bersaing dengan menunjukan fisik yang kuat, “melainkan momen di mana OMK dapat merebut trophy dan medali persaudaraan dalam iman dan kasih.”

Menurut Pastor Batmiyanik, OMK adalah energi bagi Gereja dan masyarakat di Kabupaten Merauke. “Itu berarti kalian harus menularkan energi positif yang nampak pada interaksi setiap hari, entah dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat, lewat tutur sapa serta sepak terjang meraung kebersamaan dalam kasih,” pesan imam itu

Ketua Panitia Gerardus Mayela menegaskan, porseni bertujuan meningkatkan semangat kebersamaan dan persatuan antara OMK se-Dekenat Merauke serta membangun kerja sama antarparoki dan membangun kapasitas dan kualitas OMK.

“Pemuda dalam dunia kontemporer merupakan kekuatan yang senantiasa berada pada lini terdepan dalam membangun pembinaan rohani, sosial, ekonomi dan politik. Saat ini, orang muda diharapkan lebih melibatkan diri dalam kegiatan kerohanian, karena globalisasi sedang mengoncang dunia dan orang muda kehilangan pendirian dan pertahanan diri,” kata Gerardus Mayela. Dia berharap dengan kegiatan itu OMK se-Dekenat Merauke “tetap eksis dan menjadi teladan bagi OMK lain yang sedang berkembang.”

Porseni yang diikuti diikuti tujuh paroki, satu kuasi paroki dan satu stasi mandiri itu memperlombakan bola volley, sepak bola, futsal, vokal grup, baca Kitab Suci dan renungan, nyanyi solo, cerdas cermat agama, paduan suara dan reli Rosario. (PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs)

Mengenang peristiwa  9 September bersama para Paus

Rab, 12/09/2018 - 04:34

 

Paus Fransiskus meletakkan mawar putih di tepi kolam Ground Zero di New York. Foto berdasarkan Bernadette Felix – Google+

Dalam menghadapi terorisme yang terjadi tanggal  9 September (9/11), Santo Paus Yohanes Paulus II, Paus emeritus Benediktus XVI, dan Paus Fransiskus semua mengingatkan dunia untuk mengupayakan jalan damai dan cinta, yang mengalahkan semua bentuk kebencian dan kekerasan.

Pada hari ulang tahun ke-17 serangan 11 September 2001 di World Trade Center di New York, Devin Watkins dari Vatican News, mengajak melihat perkataan dan tindakan dari ketiga Paus itu ketika menghadapi kengerian 9/11.

Paus Santo Yohanes Paulus II: 2001

Hari itu hari Selasa. Paus Yohanes Paulus II (JPII) menyaksikan peristiwa-peristiwa yang disiarkan langsung di televisi. Sekretaris persnya kemudian menceritakan bagaimana JPII berusaha menghubungi Presiden AS George W Bush melalui telepon untuk menyatakan kedekatannya dengan rakyat Amerika. Tetapi presiden tidak dapat dijangkau dan berada di lokasi yang aman untuk alasan keamanan. Sebagai gantinya, Paus mengirim telegram yang mencela “serangan tidak manusiawi” itu dan memastikan doanya di masa-masa sulit itu.

Keesokan harinya, hari Rabu, Paus Yohanes Paulus II mengadakan Audiensi Umum mingguan di bawah tekanan penderitaan batin. 9/11, kata Paus, “adalah hari yang kelam dalam sejarah manusia, serangan yang mengerikan terhadap martabat manusia.” Paus menambahkan: “Hati manusia adalah sebuah neraka. Dari situ, kadang-kadang, muncul tindakan keganasan yang teramat buruk.”

Paus emeritus Benediktus XVI: 2008

Tanggal 20 April 2008, Paus Benediktus XVI melakukan kunjungan kepausan pertama ke Ground Zero di New York. Untuk menghormati para korban, Paus memilih untuk tidak memberikan pidato. Sebaliknya, Paus berdoa.

Di bawah langit kelabu, obo (alat musik double reed jenis woodwind) memainkan nada sedih ketika Paus turun ke monumen yang belum selesai untuk menatap ke dalam kolam. “Ya Allah, karena besarnya tragedi ini, kami mencari cahaya dan bimbingan-Mu karena di saat kami menghadapi peristiwa-peristiwa mengerikan seperti itu.”

Paus Benediktus kemudian menyalakan lilin untuk mengenang para korban yang meninggal di New York, Washington D.C., dan di penerbangan United Airlines 93 yang jatuh di Pennsylvania.

Paus Fransiskus: 2015

Tujuh tahun kemudian, Paus Fransiskus mengikuti jejak pendahulunya, dengan mengunjungi monumen Ground Zero yang telah selesai tanggal 25 September 2015. Hanya suara air mengalir yang dapat didengar ketika Bapa Suci meletakkan mawar putih di tepi kolam.

Di lokasi simbolis itu, Paus Fransiskus mengadakan pertemuan antaragama, dan menyerukan semua agama untuk bersama-sama meningkatkan perdamaian.

“Tempat kematian ini menjadi tempat kehidupan juga,” kata Paus. Ini “sebuah himne untuk kemenangan kehidupan atas para nabi kehancuran dan kematian, untuk kebaikan atas kejahatan, untuk rekonsiliasi dan persatuan atas kebencian dan perpecahan.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Apa itu Hukum Baru atau Hukum Injil?

Rab, 12/09/2018 - 03:19
Foto dari katolisitas.org

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

420. Apa itu Hukum Baru atau Hukum Injil?

Hukum Baru atau Hukum Injil yang diwartakan dan dipenuhi oleh Kristus adalah kepenuhan dan penggenapan hukum ilahi, yang kodrati, dan diwahyukan. Hukum Baru ini diringkas dalam perintah untuk mengasihi Allah dan sesama dan saling mencintai satu sama lain seperti Kristus mencintai kita. Merupakan juga kenyataan batin: rahmat Roh Kudus yang membuat cinta semacam itu menjadi mungkin. Hukum ini merupakan juga ”hukum yang memerdekakan orang” (Yak 1:25) karena mendorong kita untuk bertindak secara spontan karena diingatkan oleh cinta kasih.

”Hukum yang Baru terutama adalah rahmat Roh Kudus yang sama

yang diberikan kepada orang beriman di dalam Kristus”.

(Santo Thomas Aquinas)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1965-1972, 1983-1985

421. Di mana orang menemukan Hukum Baru ini?

Hukum Baru ini bisa ditemukan dalam seluruh hidup dan pewartaan Kristus dan dalam katekese moral para Rasul. Khotbah di Bukit merupakan ungkapannya yang utama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1971-1974, 1986

Mgr Suharyo: “Katedral Hati Kudus Yesus Sanggau, simbol pluralitas kebhinekaan”

Rab, 12/09/2018 - 02:13
Foto bersama antara lain para uskup, imam, putera-puteri altar dan pemerintah. PEN@ Katolik/Samuel

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Pr menegaskan, bangunan Katedral Hati Kudus Yesus Sanggau bukan sekedar bangunan milik umat Katolik, tetapi di dalamnya ada pula andil pemerintah dan etnis lain. “Inilah wajah Gereja yang mencerminkan pluralitas kebhinekaan,” tegas Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) itu.

Mgr Suharyo berbicara dalam homili Misa Konsekrasi dan Dedikasi Katedral baru itu dalam Misa 11 September 2018 yang dipimpinnya bersama konselebran Uskup Sanggau Mgr Julius Giulio Mencuccini CP dan 15 uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia beserta puluhan imam lain.

Katedral “megah” itu mampu menampung 2500 umat. Namun, Mgr Suharyo mengingatkan, “bangunan gereja yang megah secara fisik akan menjadi tidak bernilai, jika gereja dalam hati umat tidak terbangun dengan baik.”

Tarian Barongsai yang dibawakan oleh Yayasan Singa Bhakti Bersama mengawali perayaan itu, kemudian sebuah tarian adat mengiringi para uskup dan imam memasuki katedral yang dipadati ribuan umat, namun masih banyak umat yang mengikuti Misa itu dari luar katedral.

Mgr Mencuccini asal Fossacesia, Abruzzo, Italia, membenarkan, katedral itu merupakan sintesis perpaduan antara budaya dan nilai gerejawi, sehingga setiap sudutnya terdapat lambang-lambang sarat makna. “Gereja ini adalah gereja inkulturasi, di mana terkandung perpaduan antara seni, budaya dan nilai gerejawi. Gereja ini sudah mengakar dalam budaya,” kata uskup.

Menurut Ketua Umum Panitia Pelaksana Pastor Richardus Riadi Pr, pembangunan katedral itu menelan biaya 35 miliar rupiah. “Dana itu berasal dari iuran umat sebesar 25 ribu per orang, sehingga terkumpul dana umat sebesar 14 miliar rupiah. Selain itu, Pemerintah Kabupaten menyumbang 18 miliar rupiah dan hasil sumbangan lain sebesar 5 miliar rupiah,” jelas Vikaris Jenderal Keuskupan Sanggau itu.

“Rampungnya pembangunan katedral ini juga berkat kerjasama yang baik dengan banyak pihak seperti donatur, arsitek, pemborong dan seluruh umat baik yang Katolik maupun non-Katolik,” kata Pastor Riadi.

Ornamen dan desain Katedral Sanggau memiliki pondasi dasar, apabila dilihat dari atas, seperti salib Romawi, kemudian dipadukan dengan budaya sehingga ada tujuh menara yang menyimbolkan lumbung padi masyarakat Dayak.

Pada setiap lumbung padi itu, jelas Pastor Riadi, ada tiang-tiang sandong dan di tengah gereja ada dua tiang sandong utama sebagai penyangga gereja, dan kaca-kaca patri menggambarkan sejarah keselamatan umat manusia, mulai dari penciptaan Adam dan Hawa yang ditempatkan di Taman Eden.

Mewakili umat wilayah Kabupaten Sekadau, Bupati Sekadau Rupinus mengatakan, Gereja Katolik di wilayah Keuskupan Sanggau itu kaya dengan nilai religius dan sarat akan simbol etnik atau budaya setempat. Oleh karena itu, bupati itu berpendapat bahwa pendedikasian katedral itu merupakan momentum yang patut disyukuri dan perlu dirawat bersama.

Dalam sambutannya, Bupati Sanggau Paulus Hadi mengatakan, momentum itu merupakan pesta besar yang melibatkan banyak umat. Ribuan umat yang hadir ikut ambil bagian guna menyatukan visi dan misi Kota Sanggau yang “berbudi dan beriman”, kata Paulus Hadi seraya menambahkan, “Saya melihat kerjasama antarumat beragama di Kabupaten Sanggau ini luar biasa. Hal ini nampak dalam keterlibatan umat baik Katolik maupun non-Katolik dalam acara pemberkatan katedral ini. Mereka semua ingin bersama-sama merawat kerukunan dan kebinekaan.”

Di akhir Misa, Prasasti Katedral Sanggau itu ditandatangani oleh Mgr Suharyo dan Mgr Mencuccini, serta Paulus Hadi dan Rupinus yang meresmikan katedral itu dengan pengguntingan pita.(PEN@ Katolik/Samuel)

Para uskup dan Pemerintah Kabupaten Saggau dan Kabupaten Sekadau. PEN@ Katolik/Samuel Dari kiri ke kanan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr, Uskup Sanggau Mgr Julius Giulio Menccuccini CP dan Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Pr. PEN@ Katolik/Samuel Wajah Panti Imam di Katedral Sanggau. PEN@ Katolik/Samuel Uskup Sanggau Mgr Julius Giulio Menccuccini CP menandatangani Prasasti Katedral Sanggau. PEN@ Katolik/Samuel Suasana pengguntingan Pita Katedral Sanggau oleh pemerintah. PEN@ Katolik/Samuel

Suster Cristina OSU, pemenang Voice of Italy 2014, berada di Jakarta untuk JOYFest 2018

Sen, 10/09/2018 - 22:22
Foto diambil dari http://www.kemmannu.com/

Suster Cristina Succia OSU,  pemenang Voice of Italy 2014, sudah berada di Jakarta untuk tampil dalam Jakarta Catholic Youth Festival 2018 (JOYFest 2018) di ICE BSD Tangerang, 11 September 2018. Hari Minggu pagi, 9 September, suster itu hadir dalam Misa Perutusan 250 anggota panitia dan relawan acara itu di Aula Yustinus Unika Atmajaya, Jakarta.

Ketika menyampaikan sambutan dalam bahasa Italia yang diterjemahkan seorang panitia, Suster Cristina mengatakan senang berada di Indonesia setelah melewati perjalanan sangat lama. Suster Cristina lalu mengajak orang muda Katolik (OMK) untuk “selalu mengandalkan Tuhan, sehingga kegiatan ini boleh berlangsung dengan sukses.”

Suster itu mengaku dirinya hanya mengandalkan Yesus dalam setiap perjalanan hidupnya dan dirinya juga merasa kecewa “tapi saya merasakan bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan saya dalam setiap perjalanan hidup dari waktu ke waktu.”

Suster itu mengajak OMK untuk menyukseskan JOYFest 2018 yang sesuai dengan Sinode Para Uskup tentang Orang Muda di Vatikan Oktober tahun ini dan selalu percaya “Tuhan pasti memberikan rahmat yang berlimpah dalam kegiatan JOYFest ini.”

Suster Cristina mengaku senang melihat semangat OMK yang akan memberikan tenaga dan pikiran untuk kesuksesan JOYFest 2018, seperti yang disaksikannya dalam flashmob theme song JOYFest 2018 berjudul “Unites in His Joyous Light.”

Dalam homili Misa itu, Vikaris Episkopalis Keuskupan Agung Jakarta Pastor Alexius Andang Binawan SJ mengajak OMK untuk bertumbuh dan berbuah dalam iman dan melihat JOYFest 2018 sebagai berkat yang menyenangkan untuk mengamalkan kehidupan sehari-hari. “Kegiatan ini merupakan proses  pembentukan diri, setelah merasa diri disapa Tuhan, untuk melakukan pelayanan bersama,” kata imam itu.

Lewat JOYFest 2018, lanjut imam itu, Tuhan menyapa OMK yang terketuk ‘pintu hatinya’ untuk melakukan kegiatan bersama yang positif sambil merayakan perbedaan. “Semoga OMK menanggapi panggilan Tuhan dan bisa mendengarkan apa yang menjadi kehendak Tuhan,” harap imam itu.

Sesuai tema JOYFest 2018 “The joy of diversity, a celebration of God’s creation” (sukacita keberagaman, sebuah perayaan ciptaan Tuhan), JOYFest 2018, menurut panitia, bertujuan untuk “mempersatukan kaum muda Katolik Asia untuk bersama-sama merayakan perbedaan sebagai berkat yang menyenangkan, dan untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.”(PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu)

Artikel Terkait:

https://penakatolik.com/2018/08/02/omk-jakarta-akan-menggelar-joyfest-2018-di-ice-bsd-tangerang/

Apa hubungan antara hukum kodrati dan Hukum Lama?

Sen, 10/09/2018 - 19:53
Foto diambil dari Sabda Space

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

418. Apa hubungan antara hukum kodrati dan Hukum Lama?

Hukum Lama adalah tahap pertama Hukum yang diwahyukan. Hukum ini mengungkapkan banyak kebenaran yang secara kodrati dapat dipahami oleh akal budi dan karena itu diperteguh dan dibuat autentik dalam perjanjian keselamatan. Ketetapan-ketetapan moralnya, yang diringkas dalam Sepuluh Perintah Allah, memberikan dasar bagi panggilan manusia, melarang apa yang bertentangan dengan cinta kepada Allah dan sesama, dan menetapkan apa yang esensial untuk itu.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1961-1962, 1980

419. Di mana tempat Hukum Lama ini dalam rencana keselamatan?

Hukum Lama ini memungkinkan orang untuk mengenal banyak kebenaran yang dapat dipahami oleh akal budi, menunjukkan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh, seperti guru yang bijaksana, mempersiapkan seseorang untuk bertobat dan menerima Injil. Tetapi walaupun Hukum ini suci, bersifat rohani, dan baik, namun Hukum Lama ini belum sempurna karena pada dirinya sendiri tidak memberikan kekuatan dan rahmat Roh kepada yang melaksanakannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1963-1964, 1982

Kardinal O’Malley: Pemimpin Gereja harus dengarkan suara-suara korban pelecehan

Sen, 10/09/2018 - 15:54
Ketua Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur Kardinal Sean O’Malley dan Paus Fransiskus. Vatican Media

Saat menutup Sidang Plenonya di Vatikan, 9 September 2018, Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur menegaskan kembali pentingnya mendengarkan orang-orang yang selamat (penyintas) dari pelanggaran yang dilakukan klerus sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus.

Penjagaan dan perlindungan anak di bawah umur dari kekerasan seksual yang dilakukan klerus menjadi prioritas mendesak bagi Gereja Katolik yang semakin ditekan untuk memberikan tanggapan kredibel dan kuat kepada para korban, keluarga mereka, komunitas mereka dan semua umat Katolik. Badan untuk tugas itu adalah Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur yang didirikan sebagai badan penasehat Paus.

Mandat dari komisi yang diketuai Kardinal Sean O’Malley itu adalah mengusulkan prakarsa-prakarsa yang paling tepat untuk melindungi anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan agar Gereja dapat melakukan segala kemungkinan untuk memastikan bahwa kejahatan-kejahatan seperti yang telah terjadi tidak terulang lagi.

Mandat itu dilakukan dengan menyatukan upaya-upayanya pada upaya-upaya lembaga-lembaga lain dan pada konferensi-konferensi waligereja di seluruh dunia dan dengan menghasilkan sarana seperti pedoman, praktik-praktik yang baik dan kursus pembinaan bagi kepemimpinan Gereja.

Dalam pembicaraan dengan Sergio Centofanti dari Vatican News, Kardinal O’Malley berbicara tentang masalah paling mendesak dan signifikan yang menjadi pusat pembicaraan para anggota Komisi itu selama sidang.

Ketika ditanya apakah, mengingat situasi saat ini, Gereja benar-benar mendengarkan para penyintas dan belajar dari mereka, Kardinal O’Malley mengatakan “peristiwa-peristiwa terbaru dalam Gereja telah membuat kita semua fokus pada kebutuhan mendesak untuk adanya respon jelas dari pihak Gereja tentang pelecehan seksual yang dilakukan terhadap anak-anak di bawah umur.”

Tentu , kata kardinal, salah satu tugas dan tanggung jawab komisi itu adalah mendengarkan para penyintas. “Kami selalu ingin mendapatkan kesaksian para penyintas guna menginformasikan pertimbangan dan pendapat kami” dan seperti yang sering kami lakukan, kata kardinal “kami mulai pertemuan kami dengan mendengarkan dua kesaksian.”

Satu prioritas yang dikhususkan oleh O’Malley adalah pekerjaan yang dilakukan para anggota Komisi untuk membahas uskup-uskup yang baru diangkat.

“Setiap tahun kami berusaha keras membawa suara para penyintas kepada kepemimpinan Gereja. Itu sangatlah penting kalau orang mau tahu betapa penting bagi Gereja untuk menanggapi dengan cepat dan benar kapan saja situasi pelecehan muncul.”

Kardinal O’Malley juga menegaskan, jika Gereja tidak bisa menanggapi dengan sepenuh hati dan membuatnya prioritas, semua kegiatan lain akan menderita.

Kardinal juga menjelaskan betapa Komisi itu tidak kenal lelah membawa pesan pengamanan itu di seluruh dunia.

Di beberapa benua, kata kardinal, ini tema baru dan beberapa wilayah Gereja mengalami kekurangan sumber daya, maka Komisi merencanakan pelaksanaan konferensi baru seperti di Brasil, Kolombia dan Polandia dan bekerja sesuai pedoman dan praktik terbaik serta mengembangkan instrumen audit yang akan digunakan oleh konferensi waligereja untuk mengukur pelaksanaan dan kepatuhan mereka.

Kardinal O’Malley mengomentari umpan balik positif yang diterima Komisi tentang pendidikan dan pembinaan dan dari serangkaian prakarsa untuk membentuk panel penasehat di berbagai benua berbeda.

Kardinal O’Malley setuju bahwa ada banyak kebingungan – di masyarakat – tentang peran dan mandat Komisi itu dan ia menjelaskan bahwa komisi itu bukanlah badan yang menangani kasus-kasus masa lalu atau situasi-situasi pelanggaran tertentu.

“Kami mencoba merubah masa depan sehingga tidak mengulangi sejarah menyedihkan, dan kami melakukan itu dengan membuat rekomendasi-rekomendasi kepada Bapa Suci dan memperkenalkan praktik-praktik dan pedoman terbaik yang mempertimbangkan program pengamanan, pencegahan, dan pendidikan yang membahas pembinaan kepemimpinan sehingga para uskup, imam, dan kaum religius diperlengkapi untuk bisa menanggapi dan menjadikan pengamanan anak-anak dan kepedulian pastoral bagi para korban sebagai prioritas mereka,” kata kardinal.

Dalam bahasa Inggris, ungkap Kardinal O`Malley, kami memiliki pepatah: “Mencegah lebih baik daripada mengobati.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan tulisan Linda Bordoni dari Vatican News)

Paus mendesak para uskup baru untuk menjadi pria pendoa, pewarta, persekutuan

Sab, 08/09/2018 - 23:53
Paus Fransiskus menemui uskup-uskup yang baru diangkat. Vatican News

Paus Fransiskus, pada tanggal 8 September 2018 di Vatikan, menemui 75 uskup yang baru diangkat di 34 negara Afrika, Asia, Amerika Latin dan Oceania, dan mendesak mereka untuk merawat ternak mereka seperti Gembala yang Baik, dengan menjadi pria-pria pendoa, pewarta dan persekutuan.

Para uskup baru itu sedang mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa, Vatikan, tanggal 3-15 September 2018, guna membantu mereka dalam pelayanan. Di antara mereka ada lima uskup dari Indonesia: Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin, Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, Uskup Tanjung Selor  Mgr Paulinus Yan Olla MSF , dan Uskup Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm.

Dalam pembicaraan dengan para uskup itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa uskup dibentuk untuk Kristus, Gembala yang Baik dan Imam yang tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan memberi hidup-Nya untuk domba-domba-Nya, terutama yang paling lemah, sebagian besar di antaranya berada dalam bahaya.

Sebagai pendoa, kata Paus,setiap hari seorang uskup membawa umat dan situasi-situasinya ke hadapan Tuhan dan menjadi seperti Yesus, “korban dan altar bagi keselamatan umat-Nya.”

Tugas kedua seorang uskup adalah pergi memberitakan Injil ke tempat-tempat di mana Tuhan tidak dikenal atau dihina dan dianiaya, bukan duduk terus di kantornya laksana manajer perusahaan atau seorang pangeran. Dalam tugas ini, “dia harus menjadi saksi rendah hati terhadap Injil seperti Yesus, tanpa menyerah pada godaan kekuasaan, gratifikasi, keduniaan atau memproyeksikan diri sendiri, dan tanpa melemahkan Yesus yang disalibkan dan bangkit.”

Seorang uskup adalah orang yang mengumpulkan orang-orang guna mempererat persekutuan lewat keterlibatan yang rendah hati. “Dia berakar di wilayah itu, dengan menolak godaan untuk sering keluar dari keuskupannya sembari mencari kejayaan sendiri. Tanpa pernah lelah mendengarkan kawanan dan imam-imamnya,” kata Paus. Seorang uskup, lanjut Paus, meningkatkan persaudaraan dengan menunjukkan bahwa mereka adalah para gembala “bukan untuk prestise, karier atau ambisi tetapi untuk memberi makan kawanan domba Tuhan, bukan sebagai tuan tetapi sebagai model.”

Dalam hal ini, Paus mengingatkan para uskup untuk melawan krerikalisme, yang kata Paus, sangat umum dalam komunitas-komunitas yang memiliki persoalan pelecehan seksual, persoalan kekuasaan dan persoalan hati nurani. “Itu mengotori persekutuan, menghasilkan perpecahan dan melicinkan banyak kejahatan saat ini,” kata Paus. “Mengatakan tidak pada pelanggaran berarti tegas mengatakan tidak pada setiap bentuk klerikalisme,” tegas Paus.

Kecenderungan lain yang dikecam Paus adalah apa yang disebutnya “leaderism,” sikap berwibawa yang bisa nyaman dan menarik, tetapi tentu bukan dari Injil.

Dalam tugas mereka sebagai gembala, Bapa Suci mendesak para uskup untuk secara khusus memperhatikan keluarga-keluarga, para seminaris, kaum muda dan orang miskin.

Seraya mengingatkan bahwa keluarga-keluarga adalah sel-sel pertama setiap masyarakat dan Gereja-Gereja pertama, karena mereka adalah Gereja-Gereja domestik, Paus mendorong inisiatif persiapan pernikahan dan pendampingan bagi keluarga-keluarga. “Belalah kehidupan dalam kandungan seperti halnya para jompo, dukunglah orang tua dan kakek-nenek dalam misi mereka,” minta Paus.

Mengenai para seminaris, Paus menyerukan untuk menjamin adanya formasi yang sehat, terbuka, otentik dan tulus bagi mereka, dengan memberikan prioritas khusus pada discerment panggilan.

Seraya mengingatkan para uskup bahwa dunia yang lebih baik bergantung pada orang muda, Paus mendesak para uskup untuk mencari dan mendengarkan serta menerima mereka seadanya, bahkan saat mereka dipengaruhi konsumerisme dan hedonisme, dan berani memberikan Injil kepada mereka.

Akhirnya, Paus mendorong para uskup untuk melawan kemiskinan rohani dan material serta mendedikasikan waktu dan energi untuk orang paling kecil, tanpa takut tangan mereka menjadi kotor.

Paus memperingatkan para uskup agar tidak menjadi suam-suam kuku, biasa-biasa saja dan malas. “Kecenderungan yang menghindari pengorbanan menyebabkan intoleransi dan menjelekkan Injil,” kata Paus.

Paus mengingatkan bahwa iblis masuk melalui saku, dan mengakhiri sambutannya dengan berharap mereka mengalami “kegelisahan suci akan Injil, satu-satunya kegelisahan,” yang menurut Paus, “memberi kedamaian.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Lebih dari Penyembuhan

Sab, 08/09/2018 - 22:32

Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-23 dalam Masa Biasa, 9 September 2018: Markus 7: 31-37

“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37)

Minggu ini kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan bisu. Terinspirasi oleh mukjizat ini, kita berharap bahwa Yesus akan menyembuhkan penyakit kita dan memecahkan segala masalah kita. Jadi, kita pergi ke berbagai tempat atau pun kegiatan di mana kita percaya Yesus akan menyembuhkan kita. Kita pergi ke situs ziarah, kita menghadiri pertemuan doa, dan kita menjadi aktif terlibat di Gereja. Kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus akan menyelamatkan kita. Namun, bagaimana jika doa kita tidak dikabulkan? Bagaimana jika masalah kita tidak selesai tetapi bertambah jumlahnya? Bagaimana jika penyakit kita tidak sembuh, tetapi semakin parah? Suatu kali, saya mengunjungi Flora [bukan nama sebenarnya], pasien kanker usus besar, dan dia bertanya kepada saya, “Frater, saya memiliki iman kepada Tuhan Yesus, dan saya dengan setia melayani di Gereja, tetapi mengapa saya menderita penyakit yang mengerikan ini?” Tentunya, ini pertanyaan yang sulit dijawab.

Dalam Injil hari ini, Markus, penginjil, tampaknya menampilkan Yesus sebagai seorang penyembuh iman tradisional. Sama seperti penyembuh lainnya, Yesus menyentuh bagian tubuh yang yang bermasalah, yaitu telinga dan lidah. Yesus juga meludah karena, pada zaman itu, air liur diyakini memiliki efek terapeutik. Tindakan meludah sendiri juga dianggap bisa mengusir roh jahat, dan beberapa penyakit diduga berasal dari roh jahat ini. Kemudian, Yesus mengucapkan sepatah kata, “Efata!” Ini seperti para penyembuh lainnya yang mendaraskan mantra atau doa, untuk mempengaruhi penyembuhan yang diinginkan.

Terinspirasi oleh citra semacam ini, kita mulai memperlakukan Yesus sebagai seorang penyembuh iman. Kita hanya perlu memiliki iman kepada-Nya, dan semuanya akan menjadi baik. Kita percaya kepada-Nya, dan kita akan diselamatkan. Namun, citra Yesus yang seperti ini adalah sebuah distorsi dan bahkan berbahaya. Kita menjadikan Yesus sebagai pemecah masalah instan, dan ini tidak selalu benar. Sekali lagi, bagaimana jika kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan meskipun kita sudah beriman kepada-Nya?

Markus mengundang kita untuk membaca Injilnya lebih dalam. Ada sesuatu yang luar biasa yang biasanya luput dari perhatian kita. Dalam bahasa Yunani, istilah untuk bisu atau sulit berbicara dalam Injil Markus adalah “mogilalos.” Istilah ini juga sebenarnya digunakan dalam kitab Yesaya ketika sang nabi bernubuat, “Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu – mogilalos – akan bersorak-sorai (Yes. 35:6, dari bacaan pertama kita)”. Namun, nubuatan ini bukan hanya tentang penyembuhan penyakit, tetapi juga tentang pemulihan yang menyeluruh akan umat Allah (lihat Yes 35: 1-10). Markus tidak hanya ingin menampilkan Yesus sebagai seseorang penyembuh iman, tetapi ia menunjukkan kepada kita bahwa nubuatan Yesaya telah digenapi. Di dalam Yesus, Tuhan telah datang kepada umat-Nya dan menebus kita. Namun, apa maksud penggenapan ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

Ini berarti iman kita kepada Yesus lebih besar dari diri kita sendiri, masalah dan kecemasan pribadi kita. Memang benar bahwa kita mungkin tidak segera disembuhkan dan tidak mendapatkan solusi untuk masalah kita, namun dengan imam, hidup kita dan kemampuan kita untuk mengasihi semakin luas. Dan, saat kita mampu lebih mengasihi, kita mulai mengubah juga orang-orang di sekitar kita. Seperti ketika orang berubah, dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik.

Kembali ke Flora. Setelah merenung sejenak, saya menjawab Flora, “Saya tidak tahu mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal ini terjadi. Tapi, lihatlah, keluarga ibu melakukan yang terbaik untuk membantu ibu pulih karena mereka mengasihi ibu. Sekarang, ibu juga melakukan yang terbaik untuk sembuh karena ibu mengasihi mereka. Lihat Tuhan telah membuat ibu lebih besar dari diri ibu sebelumnya, dan ini adalah iman.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Pahlawan Katolik, para atlet, ofisial Asian Games wariskan semangat cinta tanah air

Sab, 08/09/2018 - 22:20
Berdasarkan Foto dari Facebook Keuskupan Agung Jakarta

Para pendahulu termasuk para pahlawan Katolik telah lama mewariskan semangat cinta tanah air dan para atlet serta ofisial pesta olahraga Asian Games di Jakarta dan Palembang (18 Agustus-2 September 2018) bukan saja mengukir prestasi dan memancarkan energi dan pesan kemajuan olahraga di kawasan Asia, tetapi meninggalkan pesan membela tanah air.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo berbicara dalam homili Misa Syukur atas penyelenggaraan Asian Games ke-18 yang meraih kemenangan gemilang menduduki posisi keempat dengan 31 medali emas, 24 medali perak dan 43 medali perunggu.

Misa Syukur, yang diprakarsai oleh komunitas Vox Point Indonesia dan Sumber Daya Rasuli (Sudara) yang membawahi para praktisi dan pemerhati SDM Katolik, dipimpin oleh Mgr Suharyo dengan konselebran Vikjen Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Pastor Samuel Pangestu Pr, Kepala Paroki Katedral Jakarta Pastor Hani Rudi Hartoko SJ, Pastor Rofinus Neto Wuli Pr (pastor tentara) dan Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ Pastor Erwin Santoso MSF. Misa itu diikuti dengan ramah tamah

Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman, para ofisial dan atlet Asian Games 2018, antara lain Richard Sam Bera, Edgar Marvelo, Aldila Sutjiadi, Kevin, Minarti, Gregoria Mariska Tunjung, Raymond, Adela, Empie Wuisan, Diana Wuisan, Eddy Wikanta, Michael Bambang Hartono dan Debby Susanto, nampak hadir. Juga hadir pasangan suami istri Susanti dan Alan Budi Kusuma, mascot bulu tangkis Indonesia yang mengharumkan nama bangsa Indonesia tahun 1992, dan ribuan umat Katolik. Tidak semua bisa masuk dalam katedral yang sudah penuh.

Sebelum menyampaikan homili, mewakili umat KAJ Mgr Suharyo menyampaikan profisiat kepada seluruh ofisial dan atlet yang telah menorehkan prestasi sangat membanggakan dengan perolehan banyak medali. Menurut uskup, pada minggu-minggu sebelum pelaksanaan Asian Games “telah didaraskan doa-doa di seluruh paroki agar perhelatan olahraga itu dilakukan dalam semangat kekompakan, damai, tanpa perselisihan dan bersikap sportif.”

Menurut Mgr Suharyo, hasil Asian Games yang dimulai sehari setelah HUT Kemerdekaan RI, selain merekatkan persatuan bangsa juga meraih keberhasilan, sensasi bangsa, bahkan inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia. “Asian Games memiliki arti penting yakni cinta tanah air di tengah masyarakat yang sedang terpolarisasi akibat berbagai kepentingan politik dan kekuasaan.”

Mgr Suharyo menyebut sejumlah nama Katolik yang telah mewariskan rasa cinta tanah air, yakni  para pahlawan nasional seperti Mgr Albertus Soegijapranata, Slamet Riyadi, dan Yos Sudarso. “Tokoh lain yang sangat terkenal adalah Van Lith (misionaris). Meski orang Belanda, dia tetap hadir membela kaum tertindas kala itu. Kehadiran para misionaris tetap membela rakyat yang sedang menderita.”

Semangat yang diwariskan para pahlawan beragama Katolik “dan kini para atlet dan ofisial Asian Games menjadi teladan dan inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia karena mereka menunjukkan keteladanan membela Tanah Air.”(Konradus R. Mangu)

Foto dari Halaman Facebook Keuskupan Agung Jakarta

Paus kepada orangtua: Bekerja samalah dengan sekolah

Jum, 07/09/2018 - 23:55
Vatican Media

Paus Fransiskus menyalami para anggota Asosiasi Orangtua Italia yang merayakan ulang tahun ke-50 tahun ini. Asosiasi itu  berkarya untuk mendukung komitmen orangtua untuk keluarga dan pendidikan sesuai dengan prinsip-prinsip etika Kristen.

Seraya memuji karya asosiasi yang mengacu pada pendidikan anak-anak di sekolah, dalam audiensi di Aula Paulus VI, 7 September 2018 itu, Paus Fransiskus mengamati aliansi antara keluarga-keluarga dan sistem sekolah. Tetapi Paus juga menekankan bahwa kadang-kadang kemitraan ini terancam, seperti, keluarga tidak menghargai pekerjaan guru, dan sekolah merasakan pengaruh invasif dari orangtua.

Untuk mengubah situasi ini, kata Paus berkata, “ada yang harus mengambil langkah pertama” agar kepercayaan dapat dipupuk.

Paus menekankan, tanpa sekolah dan guru, orangtua menanggung risiko sendirian dalam “kegiatan pendidikan dan kurang mampu menghadapi tantangan-tantangan pendidikan baru yang berasal dari budaya kontemporer, masyarakat, media massa, dan teknologi baru.”

Merujuk Seruan Apostoliknya Amoris Laetitia, Paus mengungkapkan, “sekolah bukanlah pengganti orangtua tetapi melengkapi mereka.” Karena itu, lanjut Paus, dalam pendidikan sekolah, kerja sama antara berbagai komponen komunitas pendidikan tidak boleh pernah kurang. Tanpa sering berkomunikasi dan tanpa saling percaya, komunitas tidak terbangun dan tanpa komunitas tidak mungkin mendidik.”

Guna memperkuat aspek kerja sama antara orangtua dan pendidik, Paus Fransiskus menceritakan kisah di masa kecilnya. Paus mengatakan kepada peserta yang hadir bahwa setelah ia membantah gurunya, ibunya dipanggil dan datang ke sekolah. Kemudian di depan guru itu ibunya menyuruhnya untuk meminta maaf, dan dilakukannya. Paus Fransiskus mengatakan, dia pikir peristiwa itu sudah berakhir dan selesai, tetapi ibunya punya pemikiran lain ketika dia pulang.

Paus juga berkomentar bahwa adalah tugas Gereja untuk membantu menghilangkan isolasi pendidikan yang keluarga dapat rasakan, seraya menambahkan bahwa komunitas Gereja adalah tempat yang bisa didatangi orangtua untuk menerima kepercayaan dan dukungan.

Mengakhiri kata-katanya, Paus Fransiskus mengatakan kepada orangtua bahwa anak-anak “adalah karunia paling berharga yang telah kalian terima.” Paus juga menegaskan bahwa komitmen dan kemurahan hati merekalah yang akan membantu anak-anak mereka untuk bertumbuh dalam iman dan karakter. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Halaman