Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 17 mnt 29 dtk yang lalu

Mgr Christophorus Tri Harsono akan ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto, 16 Oktober

Sab, 28/07/2018 - 15:49

 

Mgr Christophorus Tri Harsono Uskup terpilih Keuskupan Purwokerto (kiri) bersama Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM saat pembacaan pengangkatan dari Paus Fransiskus. (Foto berdasarkan Aloisius Johnsis)

“Setelah membicarakan dengan Bapak uskup terpilih dan berkonsultasi dengan Nuncio dan Uskup pentahbis, maka telah diputuskan waktu pentahbisan Uskup baru kita,” tulis Administrator Keuskupan Purwokerto Pastor Tarcisius Puryatno dalam surat tertanggal 27 Juli yang dibagikan kepada semua pastor paroki se-Keuskupan Purwokerto.

Dalam surat yang juga dikirim kepada PEN@ Katolik oleh Komsos Keuskupan Purwokerto dijelaskan bahwa tahbisan Uskup Purwokerto yang baru Mgr Christophorus Tri Harsono akan dilaksanakan hari Selasa, 16 Oktober 2018 Pukul 15.00 WIB di Graha Widyatama Unsoed Purwokerto.

Sehari sebelum tahbisan itu, tepatnya 15 Oktober 2018 Pukul 18.00 WIB, akan dilaksanakan Salve Agung di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, dan sehari setelah tahbisan, Rabu 17 Oktober 2018, Pukul  18.00 WIB akan dirayakan Misa Stasional Perdana di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto.

Paus Fransiskus mempercayakan tugas baru kepada Pastor Christophorus Tri Harsono, yang sebelumnya berkarya sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor, menjadi Uskup Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah, melanjutkan pelayanan Mgr Julianus Kema Sunarka SJ yang telah mengundurkan diri karena usia pensiun.

Menurut sejarah Keuskupan Purwokerto, Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) mulai menetap di Purwokerto tahun 1927 dan Prefektur Apostolik Purwokerto didirikan tanggal 25 April 1932 ketika jumlah umat mencapai 4000 orang.  Status itu kemudian ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik tanggal 16 Oktober 1941, tanggal yang sama dengan rencana tahbisan uskup Mgr Christophorus Tri Harsono.

Vikariat Apostolik Purwokerto menjadi keuskupan bersamaan dengan berdirinya hierarki Gereja Katolik Indonesia tanggal 3 Januari 1961.

Menurut data 2013 dari Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, keuskupan itu memiliki 58.942 umat Katolik di antara 17.464.103 masyarakat di wilayah keuskupan itu. Umat Katolik di keuskupan itu tersebar di 25 paroki.(pcp)

Artikel Terkait:

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan Uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Lebih dari Roti

Sab, 28/07/2018 - 14:37

 

Mgr Pius Riana Prapdi menerimakan Komuni kepada orang sakit

(Renungan berdasarkan bacaan Injil pada Minggu ke-17 dalam Masa Biasa, 29 Juli 2018: Yohanes 6: 1-15)

Yesus berkata kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6: 5)

Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah membagikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.

Mari kita perhatikan pertanyaan Yesus kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6:5) Filipus, tampaknya akrab dengan tempat itu, menyatakan bahwa mustahil untuk memberi makan orang sebanyak itu, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini… ” (Yoh. 6: 7) Filipus cukup realistis, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan. Yesus tidak menanyakan “berapa,” tetapi “di mana.” Mungkin, jika Filipus hidup di zaman now, dia akan mengarahkan Yesus ke mal terdekat! Intinya adalah bahwa Filipus akan dengan semangat menyederhanakan seluruh masalah ke dalam masalah keuangan. Filipus tidak salah karena keuangan dan ekonomi adalah tulang punggung kehidupan kita sehari-hari dan bahkan kelangsungan hidup kita sebagai spesies, tetapi uang bukanlah satu-satunya hal yang penting. Filipus nantinya akan melihat setelah mujizat penggandaan roti, bahwa “di mana” merujuk pada Yesus sendiri. Dan seperti yang akan kita baca dalam bab 6, roti yang Yesus tawarkan tidak hanya dimaksudkan untuk manfaat biologis dan ekonomi, tetapi untuk kehidupan kekal.

Saat ini saya sedang menjalankan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya adalah membagikan Komuni Kudus bagi orang sakit. Dengan melayani orang sakit, khususnya melalui doa dan pemberian Komuni Kudus, saya diingatkan bahwa aspek fisik dan biologis dari kemanusiaan kita bukanlah satu-satunya hal yang harus dijaga. Memang benar bahwa banyak pasien yang saya temui bergulat dengan masalah keuangan, seperti bagaimana mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit dan obat-obatan yang mahal. Mereka juga harus bergumul dengan penyakit mereka yang kadang tidak dapat disembuhkan. Saya sendiri bingung bagaimana cara membantu mereka dalam masalah yang mendesak ini. Namun, seringkali, para pasien sendiri adalah orang yang meyakinkan saya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Apa yang saya lakukan, kemudian, adalah memperkuat iman mereka. Doa dan pemberian Komuni Kudus adalah manifestasi nyata dari kehadiran Yesus di antara kita, dan kehadiran-Nya bahkan lebih terasa bagi orang sakit. Seperti Injil kita saat ini, Yesus tidak hanya memperhatikan aspek fisik dari kehidupan kita, tetapi lebih mendasar lagi, Dia membawa kita ke realitas yang lebih dalam yang merupakan kerinduan jiwa kita yang terdalam. Sungguh sebuah paradoks bahwa dalam sakit, mereka menemukan Yesus.

Saat kita masih kuat dan sehat, seringkali kita melupakan kebenaran sederhana ini. Seperti Filipus, kita lebih peduli dengan mengumpulkan kekayaan, meraih ketenaran, dan mencapai kesuksesan. Bahkan sebagai orang yang melayani Gereja dan komunitas, kita menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengatur acara-acara amal, mengumpulkan dana, dan bahkan berdebat di antara kita sendiri tentang hal-hal sederhana. Kita kehilangan tujuan utama mengapa kita pergi ke Gereja. Kita gagal bertemu Yesus. Kita berdoa dan berharap bahwa kita dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan benar, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya kita ini dapat makan?”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Aplikasi “Vatikan Audio” untuk mendengarkan Paus dalam lima bahasa

Jum, 27/07/2018 - 23:54

Aplikasi audio untuk membantu pendengar agar  mudah mendengarkan Paus kini tersedia untuk perangkat seluler dalam lima bahasa. Aplikasi “Vatican Audio” yang dibuat oleh Dikasteri Komunikasi Vatikan itu dapat diunduh gratis dari App Store dan Google Play, demikian Robin Gomes dari Vatican News. Anda juga dapat memindai kode QR di atas untuk membuka tautan ke halaman unduh “Audio Vatikan”. Setelah menginstal, yang perlu Anda lakukan adalah memilih bahasa dan mendengarkan. Paus Fransiskus, yang biasanya berbahasa Italia, dapat didengar secara langsung dalam bahasa Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, dan Portugis. Ketika dia berbicara dalam bahasa ibunya Spanyol, aplikasi ini juga menyediakan audio dalam bahasa Italia. Peziarah dan pengunjung yang menghadiri acara kepausan di Lapangan Santo Petrus dapat juga mengikuti Paus dalam lima bahasa. Layanan ini merupakan tambahan untuk siaran langsung dalam bahasa yang berbeda yang sudah tersedia secara online dan di radio. Aplikasi ini juga akan tersedia untuk acara 31 Juli di Vatikan, saat Paus Fransiskus akan bertemu lebih dari 60.000 putera-puteri altar dari “Coetus Internationalis Ministrantium” (CIM), asosiasi internasional untuk para putera-puteri altar. (pcp berdasarkan Vatican News)

Pastor Markus Solo SVD merasa Deklarasi Roma masih berlanjut di Bali

Jum, 27/07/2018 - 23:13
Pastor Markus Solo SVD bersama Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana.

Dalam perjalanan ke Flores, Pastor Markus Solo SVD yang tahun lalu genap 10 tahun bekerja di Vatikan pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama mampir ke Denpasar, Bali, 27 Juli 2018, dan merasakan bahwa Deklarasi Roma masih berlanjut.

“Setelah silaturahmi dengan Uskup Bali Mgr Silvester San di istana keuskupan, kami diterima oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto, yang memfasilitasi pertemuan dengan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana,” kata imam dari Serikat Sabda Allah itu kepada PEN@ Katolik di hari yang sama.

Pastor Markus Solo melukiskan, dalam pertemuan dengan tokoh agama Hindu yang juga Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar itu, “Kami saling mendukung dan berbagi kegiatan dalam memajukan dialog lintas agama. Hindu menekankan persaudaraan inklusif. Gangguan-gangguan dari luar biasanya dihadapi dengan semangat persaudaraan, dan Gereja Katolik melalui Vatikan memajukan persahabatan universal yang terbuka dan inklusif serta rasa hormat antarumat beragama.”

“Penguatan dan perawatan identitas keagamaan adalah imperatif dalam upaya saling memperkaya secara spiritual,” kata imam asal Flores yang sudah 25 tahun berkarya di Eropa itu, seraya menegaskan, “Dunia butuh kesaksian kita.”

Ketika di Bali, imam itu “secara khusus” dihantar ke Pura Agung Jagadnatha di pusat kota Denpasar. “Di sana saya menyaksikan keindahan candi Hindu itu, terutama kekhusukan umat dalam berdoa pada Perayaan Bulan Purnama.”

Lebih daripada itu, menurut  imam yang fasih berbahasa Jerman karena studi dan berkarya sejak 1992 hingga 2017 di Austria, kunjungannya ke Bali untuk “merasakan suasana kehidupan dengan umat beragama Hindu.”  Namun di sana dia merasakan “kisah Deklarasi Roma masih berlanjut.”

Pengalaman yang dialami di Bali, menurut Pastor Markus Solo SVD, adalah berkat persahabatan dengan seorang tokoh Bali, Mayjen TNI (Purnawirawan) Wisnu Bawa Tenaya, yang bertugas sebagai Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Jakarta. Dia juga hadir dalam Seminar Dialog Antarumat Beragama bagi diaspora Indonesia di Eropa yang mengeluarkan Deklarasi Roma itu, 1 Juli 2018.

Sebanyak 48 peserta (23 negara di Eropa) dialog, yang diprakarsai oleh Kedutaan Besar RI untuk Tahta Suci Vatikan itu, menyatakan “dalam suasana penuh persaudaraan dengan tekad untuk terus memajukan kebersamaan dan kerukunan bangsa Indonesia” dan menyatakan:

  1. Kemajemukan agama, suku, dan bahasa adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat Indonesia dan keniscayaan yang harus dipelihara, dijaga dan dikembangkan bersama.
  2. Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah rumah bersama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus dirawat bersama.
  3. Tenggang rasa dalam kemajemukan masyarakat Indonesia menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama, karena kerukunan hidup umat beragama di Indonesia menjadi rujukan dan contoh bagi dunia internasional.
  4. Kesungguhan hati dan keterbukaan sikap dalam sikap kebersamaan, gotong royong, saling pengertian, penghargaan, dan persaudaraan dari pemerintah dan semua anak bangsa hendaknya dirawat dan dipelihara secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Masyarakat Indonesia agar tidak menggunakan agama dan simbol keagamaan demi kekuasaan politik.
  6. Semua umat beragama agar mampu menampilkan wajahnya yang ramah dan terbuka dalam semangat persaudaraan dalam keimanan, kemanusiaan dan keindonesiaan.
  7. Seluruh anak bangsa Indonesia, kendati berbeda agama, akan tetapi terikat dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air, karena semua berasal dari satu Rahim Ibu Pertiwi Indonesia.
  8. Semua masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh dunia perlu meningkatkan dialog antaragama dan bekerjasama yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.(paul c pati)

Pastor Markus Solo SVD bersama Uskup Bali Mgr Silvester San (tengah)

Mengapa keluarga Kristen disebut Gereja domestik?

Jum, 27/07/2018 - 22:31
Foto dari Our Sunday Visitor

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

349. Apa sikap Gereja terhadap mereka yang cerai dan kemudian kawin lagi?

Gereja, karena setia kepada Tuhannya, tidak dapat mengakui perkawinan orang-orang yang secara sipil bercerai dan kawin lagi. ”Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina” (Mrk 10:11-12). Gereja benar-benar menunjukkan keprihatinan yang dalam terhadap orang-orang itu, dan menganjurkan mereka hidup dalam iman, doa, beramal, dan memberikan pendidikan Kristiani bagi anak-anak mereka. Tetapi, mereka tidak dapat menerima absolusi Sakramental, menerima Komuni Kudus, atau mengemban tanggung jawab gerejawi tertentu selama situasi mereka tidak berubah karena secara objektif bertentangan dengan perintah Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1650-1651, 1665

350. Mengapa keluarga Kristen disebut Gereja domestik?

Keluarga Kristen disebut Gereja domestik karena keluarga menampilkan dan menghayati kodrat keluarga dan komunal Gereja sebagai keluarga Allah. Setiap anggota keluarga, sesuai dengan peranannya masing-masing, melaksanakan imamat baptisan dan memberikan sumbangan untuk menjadikan sebuah keluarga itu suatu komunitas rahmat dan doa, sebuah sekolah keutamaan manusiawi dan Kristiani dan merupakan tempat iman pertama kali diwartakan kepada anak-anak.

 

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1655-1658, 1666

Dua tahun mengenang Pastor Jacques Hamel yang dibunuh di depan altar

Kam, 26/07/2018 - 23:47

Hari ini, 26 Juli 2018, genap dua tahun Pastor Jacques Hamel dibunuh saat merayakan Misa di depan altar gereja parokinya di Perancis utara. Dalam Misa di Vatikan, Paus Fransiskus mengangkat kesaksian imannya sebagai pengingat semua martir Kristen lain yang darahnya tertumpah di seluruh dunia saat ini.

Di saat Misa di Casa Santa Marta, yang dirayakan bersama Uskup Agung Rouen, Normandia, Perancis Barat Daya, Mgr Dominique Lebrun, dan keluarga dari Pastor Jacques Hamel itulah Paus Fransiskus menggambarkan pastor paroki dari Perancis yang terbunuh itu sebagai “seorang yang lemah lembut dan baik, yang membina persaudaraan.”

Pastor Hamel dibunuh secara brutal oleh dua militan yang berafiliasi dengan ISIS saat merayakan Misa di Gereja Saint-Etienne-du-Rouvray di Rouen, demikian Linda Bordoni dari Vatican News melaporkan.

Maka hari ini, 26 Juli, untuk mengenang Pastor Hamel, lanjut laporan itu, keuskupannya menyelenggarakan serangkaian acara termasuk “Upacara Republik untuk perdamaian dan persaudaraan,” yang dihadiri juga oleh Menteri Dalam Negeri Perancis, dan sejumlah prakarsa keagamaan. Doa Rosario, prosesi hening, dan Misa yang dirayakan oleh Uskup Agung Dominique Lebrun pada waktu yang persis bersamaan pembunuhan Pastor Jacques adalah bagian prakarsa itu.

Uskup Agung Lebrun hadir dalam Misa di Casa Santa Marta. Saat itu Paus Fransiskus menyebut Pastor Hamel sebagai salah satu dari banyak “martir” Kristen dari Gereja saat ini. Mereka adalah pria dan wanita “yang dibunuh, disiksa, dipenjara, disembelih karena mereka menolak meninggalkan iman mereka dan menyangkal Yesus Kristus,” kata Paus.

Mereka membentuk “sebuah rantai” yang menggapai jauh hingga Pastor Jacques yang proses beatifikasinya dibuka tanggal April 2017 berkat dispensasi kepausan dari kebiasaan waktu menunggu selama lima tahun.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

10 Kenangan Katolik 2016: pembunuhan Pastor Hamel hingga usul hadap Timur saat Misa

Umat beriman berbondong-bondong ke Lourdes di bawah pengamanan ketat

Paus Fransiskus dengan Roselyne, saudara perempuan dari Pastor Hamel, dan Uskup Agung Rouen Mgr Dominique Lebrun di Lapangan Santo Petrus 14 September 2016 Pastor Jacques Hamel

Mgr Pablo Virgilio David mengecam pernyataan tentang HAM dalam pidato Duterte

Kam, 26/07/2018 - 21:30
Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David merayakan Misa dalam Konferensi Filipina tentang Evangelisasi Baru di UST di Manila, 19 Juli 2018. ROY LAGARDE

Wakil Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David mengecam pernyataan Presiden Rodrigo Duterte bahwa dia tidak peduli dengan hak asasi manusia (HAM) karena dia menolak mundur dari perang berdarah melawan narkoba.

Menurut Mgr David, pernyataan presiden itu berarti pembunuhan akan terus berlanjut dan lebih banyak nyawa akan hilang di sepanjang jalan. “Peringatannya menakutkan. Itu berarti kita harus menyiapkan diri melihat lebih banyak pembunuhan,” kata uskup itu.

Dalam pidato kenegaraan ketiga di depan parlemen Filipina, 23 Juli 2018, Duterte mengatakan bahwa perjuangan pemerintahannya melawan perdagangan obat-obatan terlarang masih jauh dari selesai. Sebaliknya, menurut dia, pembunuhan akan berlangsung “tanpa henti dan mengerikan” seperti di hari pembunuhan itu dimulai dua tahun lalu.

Memukul balik kritik terhadap dirinya, Duterte berkata, “yang kalian kuatirkan adalah HAM, yang saya kuatirkan adalah kehidupan manusia.”

Pernyataan itu, demikian penyesalan Mgr David, menyiratkan bahwa korban pembunuhan terkait narkoba bukanlah kehidupan manusia, sesuatu yang “Gereja tidak pernah bisa setujui.” Uskup itu pun menegaskan, “Pernyataan itu tidak masuk akal tetapi tidak terlalu mengejutkan karena telah dinyatakan dengan jelas pada beberapa kesempatan.”

Dijelaskan, bagi Gereja pecandu narkoba adalah “orang sakit.” Penggunaan narkoba, lanjut Mgr David, “bukanlah kejahatan yang pantas dibunuh. Yang dibutuhkan orang dengan gangguan penggunaan zat seperti itu adalah rehabilitasi dan kami di Gereja bersedia membantu upaya ini.”

“Ya, gunakan kekuatan hukum sepenuhnya, tuntut para pelanggar, penjarakan para penjual dan pemasok narkoba, tetapi selamatkan para pengguna; jangan bunuh mereka! Selain itu, kita tidak bisa lagi merehabilitasi orang yang sudah mati, kan?” lanjut uskup itu.

Mgr David mengatakan mereka akan setuju dengan kampanye Duterte melawan obat-obatan terlarang hanya jika diarahkan terhadap individu yang benar, khususnya pemasok besar narkoba.

“Kenapa pasokan obat terlarang tetap stabil kendati sudah terjadi semua pembunuhan itu?” tanya Mgr David. “Apakah tidak jelas bahwa para pecandu dan pedagang kecil serta penjual narkoba bukanlah akar penyebab masalah narkoba? Tidakkah jelas bahwa mereka juga adalah korban, dan bahwa mereka juga perlu diselamatkan, bukan dibunuh?”

“Pertarungan melawan obat-obatan terlarang memang harus tanpa henti dilaksanakan, tetapi pembunuhan-pembunuhan – baik oleh polisi atau oleh petugas bertopeng – harus dihentikan! Ini akan tetap menjadi permohonan kami yang keras dan tanpa henti,” kata Mgr David.(pcp berdasarkan laporan CBCPNews)

Artikel Terkait:

Keluarga Dominikan Filipina akan puasa melawan pembunuhan akibat perang melawan narkoba

Para Uskup Filipina khawatir perang lawan narkoba tewaskan 81 orang dalam empat hari

Para uskup Filipina ajak umat berdoa mengaku dosa beramal untuk masa-masa sulit

Umat Katolik Filipina berdemo menentang ancaman terhadap kehidupan

Gereja mendesak pertobatan atas pembunuhan yang merajalela di Filipina

Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Perkawinan?

Kam, 26/07/2018 - 17:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

347. Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Perkawinan?

Perzinaan dan poligami bertentangan dengan Sakramen Perkawinan karena kedua hal itu betul-betul berlawanan dengan martabat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan dengan kesatuan dan eksklusivitas cinta perkawinan. Dosa-dosa lainnya termasuk penolakan secara sadar untuk kemungkinan mempunyai anak yang bertentangan dengan kesuburan cinta perkawinan dan keterbukaan akan anugerah anak serta perceraian yang bertentangan dengan sifat tak terceraikannya perkawinan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1645-1648

348. Bilamana Gereja mengizinkan perpisahan fisik antara pasangan suami istri?

Gereja mengizinkan perpisahan fisik pasangan suami-istri jika karena alasan yang serius mereka tidak mungkin hidup bersama, walaupun mungkin ada harapan untuk rekonsiliasi. Tetapi selama salah satu dari pasangan itu masih hidup, yang lainnya tidak bebas untuk kawin lagi kecuali jika perkawinan itu batal dan dinyatakan demikian oleh otoritas Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1629, 1649

Paus sedih oleh kematian dalam kebakaran hutan Yunani

Rab, 25/07/2018 - 23:56

 

Seorang petugas pemadam kebakaran di Kineta, dekat Athena (AFP)

Paus Fransiskus mengirimkan telegram berisi ungkapan kesedihan atas kematian akibat kebakaran hutan di daerah dekat ibu kota Yunani, Athena, dan memastikan doanya untuk orang-orang yang meninggal. Setidaknya sudah 77 orang ditemukan mati terbakar.

Dalam telegram kepada para pejabat gerejawi dan sipil, yang dikirim oleh Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin atas keputusannya, Paus menyampaikan solidaritas sepenuh hati kepada semua yang terkena dampak tragedi ini.

Paus menyerahkan semua yang meninggal kepada cinta kasih Tuhan Yang Maha Kuasa, dan menyemangati para otoritas sipil dan personil darurat saat mereka melanjutkan upaya penyelamatan.

Sementara itu, John Carr di Athena melaporkan, setidaknya 60 orang tewas dalam kebakaran di wilayah Attica di sekitar Athena. Jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat karena ditemukan banyak lagi mayat di rumah-rumah yang musnah dilahap api.

Daerah paling parah adalah Mati, kota tepi laut yang populer di timur laut Athena. Dari udara daerah itu tampak seperti terkena bom nuklir. Pagi-pagi benar para pekerja penyelamat datang membawa tubuh-tubuh hangus dari 26 orang, termasuk wanita dan anak-anak. Mereka sebenarnya melarikan diri ke laut tapi gagal. Mereka bergerombol, saling berpelukan.

Gumpalan api, yang tiba-tiba menggelora turun dari bukit-bukit yang dipenuhi pepohonan, dikipas oleh angin barat yang kuat dengan kecepatan 9 gale force. Setidaknya 130 orang telah terluka, dan puluhan kritis. Ratusan rumah dipenuhi asap, dan sebagian besar dari sekitar 1000 mobil ditinggalkan karena panik oleh pengemudinya

Sekitar 700 orang, beberapa dari mereka turis, dievakuasi dari pantai di Mati oleh Penjaga Pantai Yunani. Tetapi yang lain harus bermalam di dalam air karena nyala api yang meluap mencapai tepi air. Beberapa orang dipastikan tenggelam, tersapu ke laut oleh angin kencang.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras menghentikan kunjungan resminya ke Bosnia dan terbang kembali ke Athena. Dia menyebut kebakaran itu sebagai tragedi nasional dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh. Siang ini masih ada kantung-kantung api di kedua daerah. Pemilik rumah yang kebingungan sedang memeriksa harta benda mereka yang rusak. Puluhan orang masih hilang. Sepanjang hari lebih banyak mayat yang ditemukan. (pcp berdasarkan Vatican News)

Paus mengirim ucapan belasungkawa untuk para korban runtuhnya bendungan Laos

Rab, 25/07/2018 - 23:11
Paus Fransiskus berdoa. ANSA

Paus Fransiskus mengirim ucapan belasungkawa kepada rakyat, Gereja dan otoritas sipil atas hilangnya nyawa dan banyaknya orang cedera di Laos pada hari Selasa, 24 Juli 2018, menyusul runtuhnya bendungan hidroelektrik di bagian tenggara Laos.

Menurut laporan Devin Watkins dari Vatican News, ratusan orang hilang dan kuatir meninggal setelah bendungan itu runtuh di Distrik San Sai, Provinsi Attapeu, yang menyebabkan banjir bandang yang menyapu rumah-rumah. Menurut Kantor Berita Laos, bencana itu menyebabkan lebih dari 6.600 orang kehilangan tempat tinggal.

Dalam telegram yang ditandatangani oleh Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin, Paus Fransiskus menyatakan “solidaritas tulusnya dengan semua orang yang terkena dampak bencana ini.”

Paus berdoa “terutama untuk ketenangan orang yang meninggal, untuk penyembuhan orang-orang yang terluka dan untuk penghiburan bagi semua orang yang berduka karena kehilangan orang yang mereka cintai dan yang kuatir akan nyawa orang-orang yang masih hilang.”

Paus Fransiskus juga memberi semangat “kepada otoritas sipil dan semua yang terlibat dalam pencarian dan penyelamatan saat mereka membantu para korban tragedi ini.”

Perusahaan Korea Selatan yang membangun bendungan itu mengatakan kantor berita Reuters bahwa keruntuhan itu disebabkan oleh hujan deras dan banjir. (pcp berdasarkan Vatican News)

Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?

Rab, 25/07/2018 - 18:17

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

345. Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?

Perkawinan campur (antara seorang Katolik dan seorang yang dibaptis bukan Katolik) membutuhkan izin otoritas gerejawi demi layaknya. Dalam kasus disparitas kultus (antara seorang Katolik dan seorang yang tidak dibaptis) memerlukan dispensasi demi sahnya. Dalam kedua kasus itu, hal yang pokok ialah kedua belah pihak mengakui dan menerima tujuan pokok dan ciri khas perkawinan. Perlu juga ditekankan bahwa pihak Katolik menerima kewajiban, yang juga sudah diketahui oleh pihak non-Katolik, untuk tetap menghayati imannya dan membaptis serta mendidik anak-anak mereka secara Katolik.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1633-1637

346. Apa buah Sakramen Perkawinan?

Sakramen Perkawinan menetapkan ikatan yang kekal dan eksklusif antara kedua mempelai. Allah memeteraikan kesepakatan perkawinan mereka. Karena itu, perkawinan yang sudah dilaksanakan dengan sah (ratum) dan sudah dilengkapi dengan persetubuhan (consumatum) antara dua orang yang sudah dibaptis tidak pernah dapat diceraikan. Terlebih lagi, Sakramen ini memberikan rahmat yang dibutuhkan bagi kedua mempelai untuk mencapai kesucian dalam kehidupan perkawinan mereka dan jika dianugerahi anak-anak, menerima tanggung jawab untuk merawat dan mendidik mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1638-1642

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan Uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Rab, 25/07/2018 - 17:49
Foto Komsos KWI

“Dua Uskup Baru Telah menentukan Hari Tahbisan,” demikian judul berita dari media online Komisi Komsos KWI http://www.mirifica.net/ 20 Juli 2018. Berita itu mengutip pesan singkat WA dari Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Sipri Hormat Pr bahwa “hari tahbisan dari dua uskup akan diadakan dalam bulan yang berbeda. Mgr Ewaldus akan ditahbiskan tanggal 26 September 2018 di Maumere. Sedangkan Mgr Christophorus akan ditahbiskan di Purwokerto tanggal 23 Oktober 2018. Sebagaimana lazimnya, tahbisan uskup akan diawali dengan Vesper Agung sehari sebelumnya.”

Ketika dikonfirmasi oleh PEN@ Katolik, Komsos Keuskupan Purwokerto belum bisa menjawab secara pasti tanggal dan tempat tahbisan Mgr Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto. Namun, berbagai media dari Flores menegaskan bahwa Misa Tahbisan Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan dilaksanakan 26 September 2018 pukul 15.00 Wita di Gelora Samador Maumere, Pulau Flores, bertepatan dengan HUT ke-77 Uskup Emeritus Mgr Gerulfus Kherubim Parera SVD.

Sehari sebelumnya, 25 September 2018, akan dirayakan Salve Agung di Gereja Katedral Santo Yoseph Maumere, dan Misa Pontifical akan dirayakan di tempat yang sama 30 September 2018. Dalam Salve Agung itu, uskup baru akan mengucapkan janji setia kepada Paus dan pengakuan iman, dan insignia atau atribut penanda uskup seperti cincin, kalung salib, dan tongkat gembala, yang akan digunakan uskup, akan diberkati.

Uskup baru Maumere Mgr Ewaldus Martinus Sedu Pr ditetapkan oleh Paus Fransiskus tanggal 14 Agustus 2018, bersamaan dengan Uskup baru Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono Pr.(pcp)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Paus berdoa untuk Nikaragua saat para uskup melanjutkan dialog

Sel, 24/07/2018 - 23:20
Kardinal Leopoldo Brenes memegang Sakramen Mahakudus di tengah kerumunan orang yang datang menyembah Kristus dalam Sakramen Mahakudus (AFP)

Di saat Paus Fransiskus terus mengikuti situasi dan berdoa bagi Nikaragua, para uskup Katolik Nikaragua pada Senin 23 Juli 2018 memutuskan untuk melanjutkan mediasi pembicaraan dengan pemerintah Presiden Daniel Ortega, menyusul pertemuan tertutup di Managua.

Kardinal Leopoldo Brenes yang merupakan Uskup Agung Managua mengatakan, pertemuan para uskup itu untuk memperbincangkan apakah akan terus ikut atau tidak dalam Proses Dialog Nasional.

Setelah pertemuan itu, menurut laporan Devin Watkins dari Vatican News, para uskup mengatakan bahwa dialog adalah langkah maju untuk membawa rekonsiliasi ke negara yang dilanda krisis itu.

Gereja sedang bertindak sebagai penengah pembicaraan antara pemerintah dan pemrotes yang menyerukan pengunduran diri Presiden Ortega dan pelaksanaan pemilihan lebih awal.

Demonstrasi damai yang dipimpin mahasiswa terhadap reformasi kesejahteraan sosial menjadi bentrokan dengan pasukan paramiliter dan polisi menembakkan peluru tajam. Setidaknya 360 orang telah tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan selama tiga bulan terakhir.

Banyak serangan terhadap para uskup dan para wakil Gereja telah terjadi, termasuk terhadap Kardinal Brenes dan Duta Vatikan untuk Nikaragua.

Paus Fransiskus mengatakan dia mengikuti situasi itu dengan seksama dan berdoa bagi semua orang Nikaragua. Tanggal 3 Juni, Bapa Suci memohon agar kekerasan di negara itu diakhiri.

Paus mengatakan, Gereja selalu mendukung dialog, tetapi “syaratnya harus terlibat aktif dalam menghormati kebebasan dan, di atas segalanya, kehidupan.”

Umat ​​Katolik di Amerika Latin dan di seluruh dunia mengadakan Hari Doa pada hari Minggu, 22 Juli 2018, sebagai tanda solidaritas dengan para korban kekerasan politik di Nikaragua.

Uskup Pembantu Keuskupan Managua Mgr Silvio José Báez menulis di Twitter, “Gereja Katolik Nikaragua akan tetap berpihak kepada rakyat, karena Yesus selalu berada di sisi mereka yang menderita.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Kardinal Brenes dari Nikaragua mengatakan Gereja dianiaya oleh rezim

Gereja merundingkan gencatan senjata sementara di Nikaragua

Apa kesepakatan Perkawinan itu?

Sel, 24/07/2018 - 19:22
Paus Fransiskus memberkati pasangan nikah. Foto: Alberto Pizzoli/Getty

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

343. Bagaimana upacara Sakramen Perkawinan dilaksanakan?

Karena Sakramen Perkawinan menetapkan kedua mempelai dalam sebuah status publik kehidupan dalam Gereja, pelaksanaan liturginya bersifat publik terjadi di hadapan seorang Imam (atau seorang saksi yang diberi wewenang oleh Gereja) dan para saksi lainnya.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1621-1624

344. Apa kesepakatan Perkawinan itu?

Kesepakatan perkawinan diberikan ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan mengungkapkan kehendak untuk saling memberikan diri mereka satu sama lain dengan tujuan untuk hidup bersama dalam perjanjian cinta yang setia dan subur. Karena kesepakatan menyebabkan perkawinan terjadi, kesepakatan itu mutlak perlu dan tidak tergantikan. Agar perkawinan itu sah, persetujuan ini harus jelas-jelas mengenai perkawinan yang sungguh-sungguh dan merupakan tindakan manusia yang sadar, bebas, tanpa kekerasan dan paksaan.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1625-1632, 1662-1663

Kardinal Brenes dari Nikaragua mengatakan Gereja dianiaya oleh rezim

Sel, 24/07/2018 - 16:56
Kardinal Leopoldo Brenes, Ketua Konferensi Waligereja Nicaragua (AFP)

Ketika para Uskup Nikaragua bertemu untuk memutuskan apakah akan melanjutkan mediasi Proses Dialog Nasional di tengah krisis politik dan sosial yang memburuk, pada hari Minggu 22 Juli 2018, Presiden Konferensi Waligereja Nikaragua yang juga ketua Komisi Dialog Nasional, Kardinal Leopoldo Brenes Solorzano, mengatakan bahwa Gereja Katolik di berbagai belahan dunia sedang dianiaya , termasuk di negaranya, yang sedang dianiaya oleh rezim Presiden Daniel Ortega.

Kecaman kardinal itu disampaikan saat seluruh benua Amerika Latin bersatu untuk berdoa bagi perdamaian di Nikaragua. Di sana, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, kerusuhan dan kekerasan politik telah menewaskan lebih dari 360 orang sejak pertengahan April dan penahanan lebih banyak orang.

Menurut Kardinal Brenes, “Gereja selalu mengalami penganiayaan” dan karena itu “Kami tidak asing lagi” dengan kenyataan ini. Saat ini, lanjut kardinal itu, dia dan teman-teman uskup sedang berdebat apakah akan terus ikut dalam Proses Dialog Nasional. Presiden negara itu bahkan menuduh para uskup berperilaku seperti “komplotan kudeta.”

Sejak aksi unjuk rasa damai yang dipimpin mahasiswa untuk menentang penghukuman reformasi kesejahteraan sosial berubah menjadi bentrokan besar dengan pasukan paramiliter dan polisi menembakkan peluru tajam, setidaknya terjadi tujuh episode pencemaran di gereja-gereja dan beberapa serangan terhadap para uskup dan perwakilan gereja.

Serangan terhadap Gereja Katolik dimulai setelah keuskupan meminta Ortega untuk mengantisipasi pemilihan yang dijadwalkan tahun 2021 menjadi Maret 2019 guna mengakhiri krisis sosial dan politik.

Paus Fransiskus menyatakan sungguh-sungguh memperhatikan dan memikirkan situasi di negara itu dan ikut prihatin bersama para uskup di negara itu. Ketika berbicara setelah Doa Malaikat Tuhan tanggal 3 Juni, Paus menyerukan untuk mengakhiri semua kekerasan dan berdoa bagi para korban dan keluarga-keluarga mereka.

Gereja, kata Paus, selalu mendukung dialog tetapi “perlu keterlibatan aktif dalam menghormati kebebasan dan, di atas segalanya, kehidupan.”

Sementara itu, Asosiasi Hak Asasi Manusia Nikaragua menuduh pendukung pemerintah Nikaragua “tidak peka terhadap rasa sakit”.

Mereka mengklaim para ibu dari para pemerotes yang ditahan di penjara El Chipote di Managua sedang diintimidasi sementara para tahanan sendiri sedang disiksa.

Komisi Hak Asasi Manusia Antar-Amerika juga mengecam “pembunuhan, pembunuhan di luar hukum, penganiayaan, penyiksaan dan penahanan sewenang-wenang yang dilakukan terhadap mayoritas warga muda negara itu.” Pemerintah Nikaragua menolak tuduhan itu.

Protes terhadap Ortega dan istrinya, Wakil Presiden Rosario Murillo, dimulai 18 April karena kegagalan reformasi jaminan sosial. Protes itu berubah menjadi permintaan pengunduran Presiden itu, setelah sebelas tahun berkuasa, atas tuduhan penyalahgunaan dan korupsi. (pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Gereja merundingkan gencatan senjata sementara di Nikaragua

 

 

Nicaragua’s Card. Brenes says Church persecuted by regime

The President of the Nicaraguan Bishops’ Conference denounces the government that, he says, is persecuting the Church

By Linda Bordoni

The Bishops of Nicaragua are meeting to  decide whether to continue mediating the National Dialogue Process amid a worsening political and social crisis.

In a dramatic statement on Sunday, a top Nicaraguan Cardinal said the Catholic Church in his country is being persecuted by the regime of President Daniel Ortega.

Cardinal Leopoldo Brenes Solorzano, President of the Nicaraguan Bishops’ Conference and of the Commission for National Dialogue, said that the Church is currently being persecuted in different parts of the world, including Nicaragua.

His condemnation came on the day in which the entire Latin American continent united to pray for peace in Nicaragua where political unrest and violence has killed over 360 people since mid-April and led to the detention of scores more.

Bishops deciding whether to continue mediating

Noting that “the Church has always suffered persecution” and therefore “We are no strangers” to this fact, Brenes said that he and his fellow bishops are currently debating whether to continue to participate in the National Dialogue Process, notwithstanding the country’s President’s statements accusing the bishops of behaving like “coup plotters”.

Since what began as peaceful rallies led by students to oppose punishing social welfare reforms spiraled into full blown clashes with paramiiltary and police forces shooting live ammunition, there have been at least seven episodes of desecration in churches and several attacks on bishops and church representatives.

The attacks against the Catholic Church started after the episcopate asked Ortega to anticipate elections scheduled for  2021 to March 2019 to put an end to the social and political crisis.

Pope’s appeal for  Nicaragua

Pope Francis expressed his preoccupation for the situation in the country saying he joins  the country’s bishops in their concerns. Speaking after the Angelus Prayer on 3 June, the Pope called for an end to all violence and prayed for the victims and their families.

The Church, he said,  is always in favor of dialogue but “it requires active engagement in respect for freedom and, above all, life.”

Prisons places of torture

The Nicaraguan Association for Human Rights meanwhile has accused supporters of the Nicaraguan government  of being “insensitive to pain”.

It claims that the mothers of imprisoned protesters in the Jail of El Chipote in Managua are being intimidated while the prisoners themselves are tortured.

The Inter-American Commission on Human Rights has also  denounced “murders, extrajudicial killings, mistreatment, torture and arbitrary detention perpetrated against the majority of the country’s young population”. The Nicaraguan government rejects the charges.

The protests against Ortega and his wife, Vice-President Rosario Murillo, began on 18 April because of the failure of the social security reforms and have become a call for the resignation of the President, after eleven years of power, on charges of abuse and corruption.

 

OMK di Keuskupan Agung Jakarta belajar ber-Ekaristi dengan baik dan benar

Sen, 23/07/2018 - 22:15

Orang muda Katolik (OMK) memiliki keinginan untuk berperanserta dalam Ekaristi Kudus, tapi kadang-kadang mereka merasa bingung, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh mereka lakukan. Maka, hari ini kita mengadakan sosialisasi tentang Panduan Ekaristi bersama OMK agar mereka bisa melakukan Ekaristi Kudus dengan baik sesuai hakekat berliturgi.

Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta (Komlit KAJ) Pastor Hieronymus Sridanto Aribowo Nataantaka Pr berbicara di sela-sela acara Sosialisasi Panduan Ekaristi Kudus bersama OMK se-KAJ di Aula Sekolah Santa Maria, Jakarta Pusat, 21 Juli 2018.

Sekitar 200 wakil paroki dan seksi kepemudaan seluruh paroki di KAJ menghadiri acara, yang juga dihadiri oleh Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr, Ketua Komisi Kepemudaan KAJ Pastor Albertus Yogo Presetianto Pr, dan anggota Komlit KAJ Yohana Hanna.

Dengan kegiatan itu, Pastor Sridanto berharap OMK bisa menyiapkan Ekaristi OMK secara baik dengan musik yang sesuai aturan liturgi, dengan urutan sesuai panduan yang memiliki pendasaran teologis dan biblis yang mungkin selama ini tidak diketahui OMK.

Sosialisasi itu, lanjut imam itu, searah dengan semangat Arah Dasar KAJ yang menyinggung tentang munculnya pelayan-pelayan pastoral di kalangan OMK. Selain itu, kata Pastor Sridanto, Ekaristi yang dilakukan OMK lebih hidup dan menggembirakan, “tidak kaku tapi semangat dan hidup.”

Sementara itu, menurut Yohana, nyanyian liturgi di gereja merupakan ekspresi iman maka kedudukan nyanyian liturgi tidak bisa diganti dengan musik atau lagu sekuler. “Yang penting dalam lagu bukanlah melodinya tetapi syairnya. Syair lagu yang dinyanyikan harus sesuai ajaran iman Katolik,” katanya.

Koordinator Sosialisasi Ekaristi OMK, Ika Belinda, menjelaskan bahwa sosialisasi itu merupakan jawaban atas satu poin evaluasi Tahun Ekaristi 2012 KAJ yang menghendaki adanya panduan Ekaristi Kudus OMK KAJ. “Proses itu telah berlangsung mulai tingkat paroki, kemudian dekenat, lalu diolah lagi di tingkat keuskupan, dan saat ini mulai disosialisasikan,” jelasnya.

Pastor Samuel Pangestu mengharapkan OMK mengambil peran dalam liturgi Ekaristi Kudus. “Gereja membutuhkan OMK yang melakukan hal-hal positif untuk pengembangan iman.”

Pastor Yogo yakin, panduan penyelenggaraan Ekaristi Kudus OMK itu “bisa mendorong para muda Katolik untuk semakin terlibat dalam Ekaristi dan meningkatkan imannya kepada Yesus.” (Konradus R. Mangu)

Apakah semua orang harus kawin?

Sen, 23/07/2018 - 19:15
Gambar diambil dari Daily Express

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

341. Unsur baru apa yang diberikan Kristus kepada Perkawinan?

Kristus tidak hanya memulihkan tujuan asali perkawinan, tetapi mengangkatnya ke dalam martabat Sakramen, memberikan kepada kedua mempelai suatu rahmat khusus untuk menghayati perkawinan mereka sebagai simbol cinta Kristus untuk mempelai-Nya, Gereja: ”Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat ” (Ef 5:25).

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1612-1617, 1661

342. Apakah semua orang harus kawin?

Perkawinan bukanlah suatu keharusan bagi setiap orang, terutama karena Allah memanggil beberapa laki-laki dan perempuan untuk mengikuti Yesus dalam hidup keperawanan atau selibat demi Kerajaan Surga. Pantangan untuk mendapatkan hal-hal yang baik dari perkawinan ini dalam rangka memusatkan diri pada urusan-urusan Allah dan berusaha menyenangkan-Nya. Mereka menjadi tanda keunggulan mutlak cinta Kristus dan penantian kembalinya kemuliaan-Nya.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1618-1620

Mgr Agus: Keuskupan Agung Pontianak bisa berbuat sesuatu bagi Gereja nasional, internasional

Sen, 23/07/2018 - 04:53

Mengomentari keberhasilan Jambore Nasional (Jamnas) Sekami di Pontianak, 3-6 Juli 2018, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa “potensi Gereja itu luar biasa.” Yang penting, tanya Mgr Agus, “Berani ngak kita menyelenggarakannya? Berani ngak kita membuat terobosan?”

Sering, lanjut uskup asli Dayak itu, Gereja ragu-ragu membuat sesuatu, padahal “saya katakan, Keuskupan Agung Pontianak (KAP) menerima tawaran untuk melaksanakan Jamnas Sekami “bukan karena kita mampu, bukan karena uang kita cukup, tetapi, masa Gereja Katolik tidak bisa berbuat sesuatu?”

Pelaksanaan Jamnas Sekami 2018, tegas Mgr Agus, hendak menunjukkan “bahwa KAP bisa berbuat untuk Gereja nasional bahkan internasional, dan tentu harapan kita kalau ini baik, mudah-mudahan menjadi contoh bagi tempat lain.”

Mengomentari kesan bahwa dulu KAP tidur, Mgr Agus mengatakan “Bukan mau sombong, sebenarnya saya lihat keuskupan ini ada potensi. Saya rasa kalau ini bagus, kita semua menjadi bangga.”

Mgr Agus juga mengingatkan orangtua untuk bangga karena KAP mau memperhatikan anak-anak sejak dini dengan pelaksanaan Jamnas itu. “Bayangkan, kalau selesai jambore ini sekolah-sekolah minggu semakin mengamalkan semangat 2D2K (doa, derma, kurban, kesaksian),” kata Mgr Agus.

Artinya, kata uskup agung seraya menggarisbawahi tujuan Jamnas Sekami 2018 yang ingin mendekatkan peserta pada hakikat Gereja yang bersifat misioner, “dalam jambore ini peserta diajak menyadari kembali panggilan mereka sebagai misionaris yang diutus untuk saling membantu sesama anak (children helping children) yang diwujudkan melalui 2D2K.”

Anak-anak dilatih “berdoa bukan hanya untuk diri sendiri , melainkan untuk teman-teman mereka di seluruh dunia, terutama yang sedang berada dalam situasi memprihatinkan.” Mereka juga dilatih berderma untuk teman-teman mereka yang berkekurangan dan “berderma bukan karena mereka berkelimpahan, tetapi dalam keterbatasan mau berbagi dengan sesamanya.”

Untuk itu, lanjut Mgr Agus, “mereka berani mengurbankan dirinya, waktunya, tenaganya, uang sakunya, dan keinginannya demi membantu teman-teman mereka,” dan sebagai misionaris-Nya, anak-anak  mewartakan Sukacita Injil dengan kesaksian hidup nyata dalam hidup sehari-hari, “hidup yang dibentuk oleh nilai-nilai Injil.”(paul c pati)

Mgr Agustinus Agus menyanyi menghibur peserta Jamnas Sekami 2018 di Pontianak. PEN@ Katolik/pcp Mgr Agus bernyanyi bersama Uskup Agung Kuching Mgr Simon Poh. PEN@ Katolik/pcp Mgr Agus menyanyikan sebuah lagu Dayak, dan semua peserta ikut menari. PEN@ Katolik/pcp Mgr Agus bersama lima uskup dan 85 imam dalam Misa Pembukaan Jamnas Sekami 2018. PEN@ Katolik/pcp

Setelah penyelidikan, Paus Fransiskus menerima pengunduran diri uskup dari Honduras

Sen, 23/07/2018 - 01:52
Uskup Pembantu Tegucigalpa, Honduras Mgr Juan Jose Pineda Fasquelle. GREGORY A. SHEMITZ/CNS

Setelah melakukan penyelidikan dugaan penyimpangan di Keuskupan Agung Tegucigalpa, Honduras, Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Pembantu dari keuskupan agung itu Mgr Juan Jose Pineda Fasquelle yang berusia 57 tahun.

Vatikan membuat pengumuman itu, 20 Juli 2018, tanpa menyebutkan alasan mengapa uskup itu mengundurkan diri. Usia pensiun normal seorang uskup adalah 75 tahun.

Dalam surat tertanggal 20 Juli dan dirilis kepada pers, Uskup Pineda menulis bahwa dia ingin melayani uskup agungnya, para klerus, para frater calon imam dan umat Allah. “Jika saya berhasil, terpujilah Tuhan. Jika saya gagal, saya meminta maaf.”

Alasan untuk mundur, tulis uskup itu, diketahui oleh Tuhan dan atasannya, demikian laporan Carol Glatz dari Catholic News Service di Vatikan.

Uskup Pineda mengatakan dia telah meminta Paus Fransiskus beberapa bulan lalu untuk mengizinkan dia mengundurkan diri. “Saya berharap kita semua tenang,” tulisnya.

Uskup itu mengatakan dia akan menggunakan waktu untuk doa, refleksi, dan pembinaan pribadi, yang harus dilakukan setiap orang. Dan jika waktunya tiba akan “terus memberikan yang terbaik untuk Gereja dan kalian,” katanya.

Sebuah pengumuman resmi yang belum ditandatangani dari keuskupan agung itu berterima kasih kepada uskup itu atas 13 tahun pengabdiannya sebagai uskup pembantu dan berdoa “untuk misi baru yang dipercayakan kepadanya.”

Juru bicara Vatikan, Greg Burke, menegaskan di akhir tahun 2017 bahwa Paus Fransiskus telah memerintahkan penyelidikan atas dugaan penyimpangan di keuskupan agung itu, tetapi ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Saat itu muncul dugaan bahwa Kardinal Oscar Rodriguez Maradiaga dari Tegucigalpa salah menggunakan uang yang diterima keuskupan agung itu dari Universitas Katolik Honduras. Kardinal yang merupakan salah satu anggota Dewan Kardinal internasional dari Paus Fransiskus adalah juga kanselir di universitas itu

Laporan online yang dimuat oleh outlet berita Italia, L’Espresso, mengatakan surat-surat kabar setempat melaporkan bahwa Uskup Pineda, wakil kardinal itu, berperan dalam dugaan mismanagement dana keuskupan itu.

Kardinal Rodriguez membantah tuduhan itu dan mengatakan di bulan Desember bahwa Uskup Pineda telah meminta paus untuk mengadakan kunjungan apostolik “guna membersihkan namanya.”

Mingguan AS, National Catholic Register, melaporkan telah memperoleh beberapa kesaksian yang diberikan kepada penyidik ​​Vatikan oleh dua mantan frater yang menuduh uskup itu melakukan pelecehan seksual yang serius.

Uskup Pineda, yang lahir bulan Desember 1960, memasuki ordo religius Claretian. Dia ditahbiskan sebagai imam tahun 1988. Paus Benediktus XVI mengangkat dia menjadi Uskup Pembantu Keuskupan Tegucigalpa tahun 2005.(pcp berdasarkan laporan Carol Glatz dari Catholic News Service)

Utusan Paus ke Medjugorje memulai pelayanannya

Sab, 21/07/2018 - 22:54

Uskup Agung Henryk Hoser, pensiunan Uskup Agung Warsawa-Praha di Polandia, memulai mandatnya pada hari Minggu, 22 Juli 2018, sebagai Pengunjung Apostolik ke Paroki Santo Yakobus di Medjugorje. Dia akan secara resmi memulai pelayanannya dengan Misa di malam hari dan telah mengundang semua umat beriman dan peziarah yang ada di sana untuk berperanserta.

Uskup Agung Hoser pertama kali diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai utusan khusus Tahta Suci ke Paroki Santo Yakobus tanggal 11 Februari 2017. Saat itu Kantor Pers Tahta Suci menyatakan bahwa misi yang dipercayakan kepada Uskup Agung Warsawa-Praha saat itu “bertujuan untuk memperoleh pengetahuan lebih dalam tentang situasi pastoral di sana dan di atas semua itu, tentang kebutuhan umat beriman yang pergi ke sana untuk ziarah, dan atas dasar ini, menyarankan inisiatif pastoral yang mungkin untuk masa depan. Oleh karena itu, misi itu memiliki karakter pastoral yang eksklusif. ”Pernyataan itu mengatakan bahwa mandatnya diperkirakan berakhir di akhir musim panas 2017.

Pada hari Kantor Pers merilis pernyataan ini, Direktur Greg Burke menggarisbawahi bahwa “misi Utusan Khusus adalah tanda perhatian Bapa Suci terhadap para peziarah. Ruang lingkupnya bukan inkuisitorial, tetapi sangat pastoral. Utusan itu tidak akan memasuki persoalan mengenai penampakan Maria, yang merupakan kompetensi Kongregasi Ajaran Iman. Dia akan berhubungan dengan uskup keuskupan itu, dengan biarawan OFM yang mendapat kepercayaan Paroki Medjugorje itu, dan dengan umat beriman di daerah itu.” Dan Greg Burke mengakhiri pernyataannya dengan mengatakan, “Ini misi untuk para peziarah, bukan melawan siapa pun.”

Paus Fransiskus menunjuk Uskup Agung Hoser untuk kedua kalinya “sebagai pengunjung apostolik khusus untuk Paroki Medjugorje” tanggal 31 Mei 2018. Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Pers Tahta Suci, mandat itu akan berlaku untuk “periode yang tidak ditentukan dan ad nutum Sanctae” (sesuai pengaturan Tahta Suci).

Sekali lagi, Uskup Agung Hoser akan menjalankan “jabatan pastoral eksklusif” dalam kesinambungan dengan mandat pertamanya yang berakhir baru-baru ini. Kantor Pers Tahta Suci menjelaskan, “misi  Pengunjung Apostolik bertujuan untuk memastikan pendampingan stabil dan berkesinambungan bagi umat Paroki Medjugorje dan umat beriman yang pergi ke sana sebagai peziarah, dan yang kebutuhannya memerlukan perhatian khusus.”(pcp berdasarkan laporan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News)

 

Halaman