Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 46 mnt 12 dtk yang lalu

Mgr Rubiyatmoko memukul dan menyobek-nyobek hoax dengan jurus-jurus silat

Sab, 26/05/2018 - 12:32

Suatu hari di Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang,  Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko melihat hoax lalu menghampirinya dan sejurus kemudian dengan gerakan jurus-jurus silat ia memukul dan menyobek-nyobek bidang tulisan hoax itu.

“Kalau ada hal-hal yang tidak baik, berita yang tidak baik, tinggalkan, tidak usah digubris. Yang baik disebarkan. Itulah cara pewartaan kita orang-orang Katolik. Siap? Sanggup? Sanggup menjadi pewarta kabar sukacita? Pewarta kebenaran? Menolak hal-hal yang tidak baik?” tanya Mgr Rubi menantang komitmen umat untuk melawan hoax.

Pemukulan dan penyobekan bidang tulisan hoax itu adalah tanda atau komitmen siap melawan hoax, tegas Mgr Rubi seraya mengajak orang-orang yang berkumpul di gereja itu untuk menjadi jurnalis-jurnalis, menjadi pewarta-pewarta, “menjadi saksi-saksi kebenaran Tuhan.”

Menurut Mgr Rubi, umat Katolik harus berusaha menjadi pewarta kebenaran seperti para rasul yang menjadi pewarta kebenaran yang memerdekakan. “Pewarta kebenaran yang menyelamatkan banyak orang,” kata uskup saat membuka Pekan Komsos 2018 Keuskupan Agung Semarang, 10-13 Mei 2018, di gereja itu dengan  menggunting pita film.

Mgr Rubi juga mengajak umat supaya peduli pada kerasulan komunikasi sosial (Komsos). “Komsos mau menyumbangkan karya pewartaan. Diharapkan kreativitasnya menjadi semakin bagus. Beberapa karyanya bisa diakses di web maupun youtube. Ada banyak kreativitas untuk bersama membangun kebersamaan kita,” katanya.

Ketua panitia Rosalia Rachma Rihadani mengatakan, Pekan Komsos 2018 mempunyai misi untuk mempertemukan semua anggota komsos se-Keuskupan Agung Semarang untuk belajar bersama dalam berbagai kegiatan di dalam workshop film, musik, dan menulis. Dia berharap dengan ketrampilan yang cukup, pelaku komsos bisa menjadi garda depan Gereja melawan hoax.

Sejumlah kegiatan digelar untuk memeriahkan acara tersebut seperti pameran karya, temu karya, workshop foto jurnalistik, workshop musik ilustrasi, film workshop penulisan naskah film, pagelaran seni dan perayaan ekaristi hari Komsos.(Lukas Awi Tristanto)

Suster Fox naik banding pada Departemen Kehakiman atas perintah pengusiran dirinya

Jum, 25/05/2018 - 23:51
Suster Fox naik banding

Ditemani oleh pengacara, biarawati-biarawati, para imam, dan pendukung lainnya, Misionaris Australia Suster Patricia Fox memohon kepada Departemen Kehakiman untuk membatalkan perintah pengusiran yang dikeluarkan terhadap dirinya oleh Kantor Imigrasi dan mengembalikan visa misionarisnya serta diizinkan untuk tinggal di negara Filipina.

Biarawati berusia 71 tahun, yang menghabiskan 27 tahun terakhir di Filipina, mengatakan dia ingin tetap tinggal di negara itu dan melanjutkan pelayanannya bagi orang Filipina yang miskin. “Keinginan saya adalah untuk dapat melanjutkan pekerjaan misi saya bersama dengan orang miskin dan saya harap ini akan menjadi hasil dari permohonan saya,” kata Suster Fox kepada wartawan, seperti dilaporkan oleh Roy Lagarde dari CBCPNews, Manila, 25 Mei 2018.

Tanggal 23 April, Kantor Imigrasi  mencabut visa misionaris biarawati itu dan memberinya waktu hanya sampai 25 Mei untuk meninggalkan negara itu atau kalau tidak dia akan dideportasi. Kantor itu menjelaskan bahwa Suster Fox masih dapat mengunjungi negara itu, asalkan dia mengajukan permohonan visa turis. Namun, petisi dari Kathy Panguban yang merupakan pengacara dan penasehat Suster Fox membuat perintah dari Kantor Imigrasi itu ditahan.

“Kami mengajukan banding hari ini. Berdasarkan Peraturan Omnibus Imigrasi, eksekusi Kantor Imigrasi itu ditunda,” kata Panguban dari National Union of People’s Lawyers. “Kami juga meminta Departemen Kehakiman untuk mengakui hukum kami sendiri,” lanjutnya.

Kemarin, Kantor Imigrasi menegaskan bahwa perintah bagi biarawati itu untuk meninggalkan Filipina sudah final karena diduga terlibat dalam kegiatan politik, melanggar ketentuan dalam visa misionarisnya.

Namun, Suster Mary John Mananzan dari Gerakan Melawan Tirani mengatakan bahwa tidak memeriksa suster itu adalah pelanggaran haknya berkaitan dengan proses yang sebenarnya. “Adalah tidak adil memerintahkan deportasi Suster Pat tanpa uraian yang jelas tentang apa yang telah dilakukannya demi kepentingan Filipina dan rakyat Filipina,” kata Mananzan.(paul c pati)

Apa kriteria lagu-lagu dan musik yang sesuai dengan perayaan liturgi?

Jum, 25/05/2018 - 23:11

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

238. Apa hubungan antara tindakan dan kata-kata dalam perayaan Sakramen?

Tindakan dan kata-kata sangat erat berhubungan dalam perayaan Sakramen. Bahkan walaupun tindakan simbolis itu sendiri sudah menjadi bahasa pada dirinya sendiri, masih perlulah kata-kata ritus menyertainya karena menghidupkan tindakan tersebut. Kata-kata liturgis dan tindakan itu tidak terpisahkan sebab keduanya merupakan tanda-tanda yang bermakna dan melaksanakan apa yang ditandakan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1153-1155, 1190

239. Apa kriteria lagu-lagu dan musik yang sesuai dengan perayaan liturgi?

Karena lagu-lagu dan musik sangat erat berhubungan dengan perayaan liturgi, perlulah memperhatikan beberapa kriteria: syairnya harus sesuai dengan ajaran Katolik, lebih baik kalau diambil dari Kitab Suci dan sumber-Sumber liturgi; harus merupakan ungkapan doa yang indah. Musiknya harus mempunyai kualitas tinggi. Lagu dan musik harus mendorong partisipasi aktif orang-orang yang hadir dalam perayaan liturgi, harus mengungkapkan kekayaan budaya Umat Allah dan ciri khas perayaan yang sakral dan agung. ”Dia yang bernyanyi dengan baik, berdoa dua kali” (Santo Agustinus).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1156-1158, 1191

Biara Benediktin merayakan ulang tahun yang ke-1000

Jum, 25/05/2018 - 22:41
Biara Buckfast di Devon, Inggris

Biara Buckfast, di Devon, Inggris, didirikan tahun 1018. Perayaan-perayaan sedang berlangsung untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-1000. Perwakilan Paus Fransiskus ambil bagian dalam perayaan tanggal 23 Mei 2018, seperti dilaporkan oleh Joachim Teigen dari Vatican News.

Tonik Anggur mereka telah menggembirakan hati orang-orang sejak tahun 1890. Dalam abad ke-20, jenis lebah tertentu milik mereka disukai oleh peternak lebah di seluruh dunia. Tetapi para biarawan Benediktin dari Biara Buckfast dapat melacak sejarahnya dari tahun 1018, dan menjadikan tahun ini sebagai ulang tahun ke-1000 mereka.

Hari Kamis 24 Mei 2018, Anders Kardinal Arborelius dari Swedia ikut bersama para biarawan di Biara Buckfast di Devon, Inggris, untuk merayakan ulang tahun ke-1000 itu. Kardinal Arborelius dipilih oleh Paus Fransiskus sebagai wakilnya untuk acara tersebut, yang juga mengundang seluruh hirarki episkopal Gereja Katolik di Inggris. Namun, acara itu hanyalah salah satu dari beberapa acara yang dijadwalkan guna merayakan ulang tahun dari salah satu dari biara-biara paling bersejarah di Inggris. Dengan demikian, mereka mengenang sejarah yang erat terkait dengan Inggris, Gereja Katolik, dan hidup membiara.

Biara Benediktin pertama didirikan tahun 1018 di dekat situs biara yang ada saat ini, meskipun lokasi tepatnya telah hilang dari sejarah. Pada saat berdirinya, Cnut Agung adalah raja Denmark, Inggris dan Norwegia. Saat itu orang Normandia belum menaklukkan Kepulauan Inggris. Hampir setengah abad sebelumnya, Konsili Winchester telah memelopori perubahan hidup membiara di Inggris setelah terjadi kemerosotan besar-besaran.

Tahun 1147, Buckfast menjadi biara kerahiban Sistersien, sebuah ordo yang baru dibentuk dengan menerapkan kehidupan yang keras. Akibatnya, terjadilah perubahan menyeluruh pada bangunan-bangunan biara itu sendiri.

Dalam abad-abad berikutnya, ukuran dan kekayaan biara itu semakin besar. Maka, biara itu menjadi target kampanye King Henry VIII. Buckfast pun dibubarkan di tahun 1539 dan kekayaannya dipindahkan ke Menara London.

Lebih dari tiga abad tanpa biarawan, biara itu melakukan iklan panggilan hidup membiara lewat The Tablet hingga kembali ke Buckfast di tahun 1881. Enam minggu setelah munculnya iklan itu, biarawan-biarawan Benediktin dari Perancis berpindah. Merekalah leluhur dari para biarawan masa kini. Datangnya biarawan-biarawan Perancis menjadi dasar lembaga-lembaga Sistersien sehingga membangun biara baru itu, yang efektifnya merekonstruksi biara Sistersien.

Para biarawan Buckfast menjalani kehidupan yang berakar pada semboyan Benediktin yakni ora et labora. Mereka bangun pukul 5.30 di pagi hari untuk perayaan berbagai liturgi termasuk Misa. Di siang hari, para biarawan mungkin tidak ada pekerjaan, maka mereka mencari apakah ada tempat penginapan  tamu, pusat retret, pusat konferensi dan taman besar untuk didatangi.

Di tengah hari dan sore hari mereka berkumpul lagi untuk berdoa. Para biarawan diizinkan melakukan Doa Malam harian secara hafalan di sebuah kapel gelap.

Doa dan kontemplasi mereka berakar dan memberikan arah pada pekerjaan mereka, dan meskipun para biarawan Buckfast hidup terpisah dari dunia, mereka telah menunjukkan kemampuan untuk menarik dunia ke dalam diri mereka sendiri, selama 1.000 tahun.(paul c pati)

Suster Fox yang diusir dari Filipina jadi emosional dan mencela proses tidak tepat

Kam, 24/05/2018 - 23:48
Suster Patricia Fox mengusap air matanya ketika para pendukungnya memberi bunga kepadanya saat dalam sebuah acara penghormatan yang dilaksanakan para pendukungnya di Manila, 30 April 2018. ROY LAGARDE

Suster Patricia Fox, yang biasa tersenyum dan ringan hati, menangis hari Kamis, 24 Mei 2018, saat mengungkapkan kekecewaan atas perintah tegas pemerintah agar dia tinggalkan Filipina. Biarawati Australia itu bisa segera dipaksa tinggalkan negara itu akhir pekan ini karena sehari sebelumnya Kantor Imigrasi menolak seruannya untuk diizinkan tinggal.

Suster Fox harus kecewa dan menyebut kasusnya “tidak ditangani dengan proses yang tepat.” Seraya mengusap air mata, suster itu mengaku sedang mempersiapkan diri kalau hal terburuk yang terjadi, “tetapi saya berharap yang terbaik. Saya berharap proses yang benar.”

Di hari itu, Kantor Imigrasi menegaskan kembali perintahnya untuk mencabut visa misionaris Suster Fox yang diduga oleh Presiden Rodrigo Duterte terlibat dalam kegiatan politik dan menjelek-jelekkan pemerintahannya.

Biarawati berusia 71 tahun itu mengaku ikut beberapa pertemuan tetapi mengatakan pertemuan-pertemuan itu bukanlah “kegiatan politik partisan.” Suster itu menegaskan tidak menemukan kesalahan untuk bergabung dengan petani, pekerja, dan masyarakat adat seraya memperjuangkan hak-hak mereka. “Misionaris harus membela martabat manusia,” kata Suster Fox. “Itulah tempat di mana orang-orang Gereja seharusnya berada, bersama orang-orang yang berjuang demi hak-hak mereka.”

Tanggal 16 April 2018, Kantor Imigrasi menahan Suster Fox menyusul keikutsertaannya dalam sebuah misi pencarian fakta internasional di Mindanao yang memeriksa situasi hak asasi manusia di wilayah yang saat ini berada di bawah undang-undang darurat militer itu.

Biarawati itu dilepaskan keesokan harinya setelah dia menyerahkan paspornya seraya menunggu penyelidikan lebih lanjut. Seminggu kemudian, kantor itu menurunkan visanya dari via misionaris jadi visa pengunjung sementara dan memerintahkannya untuk meninggalkan negeri itu dalam 30 hari. Perintah itu akan berakhir tanggal 25 Mei 2018.

“Jika ini terjadi pada saya, saya terus memikirkan berapa banyak lagi orang-orang yang saya ajak bicara di Mindanao: para pekerja dan keluarga-keluarga dari orang-orang yang terbunuh,” kata suster itu. “Mereka perlu keluar dari situasi ini karena mereka tidak diperlakukan sesuai martabat mereka sebagai manusia,” lanjut Suster Fox.

Suster Fox mengatakan dia berubah menjadi emosional karena dukungan yang mengalir, tidak hanya dari Gereja, tetapi juga dari berbagai sektor masyarakat. “Itulah sebabnya pikiran untuk pergi sangat sulit,” tegas suster itu seraya mengenang orang-orang yang mengatakan mereka tindak ingin dia pergi.

Pengacara Jobert Pahilga, yang merupakan penasihat Suster Fox, mengatakan akan mengajukan banding atas perintah terbaru Kantor Imigrasi di hadapan Departemen Kehakiman pada hari Jumat, 25 Mei 2018.

Dia menegaskan kembali bahwa keluhan bahwa Suster Fox terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik tidak memiliki dasar fakta dan hukum. “Kami telah memperkirakan bahwa Kantor Imigrasi akan menolak mosi untuk peninjauan kembali. Itulah sebabnya minggu lalu, kami telah menyiapkan permohonan banding,” katanya.

Pahilga juga mengatakan, meskipun Kantor Imigrasi menyatakan perintahnya sudah final dan perlu dilaksanakan, Suster Fox tidak dilarang untuk mengajukan banding ke Departemen Kehakiman. Menurut Peraturan Prosedur Kantor Imigrasi 2015, perintah membatalkan visa seseorang akan efektif 15 hari setelah menerima perintah tersebut, dan perintah itu ditarik dengan pengajuan mosi peninjauan kembali dan dengan pengajuan banding berikutnya.

“Jadi, perintah itu tidak segera dieksekusi seperti klaim Kantor Imigrasi,” kata Pahilga.(pcp berdasarkan laporan CBCPNews yang ditulis oleh Roy Lagarde dari Manila, Filipina, 24 Mei 2018)

Dari mana tanda-tanda Sakramental berasal?

Kam, 24/05/2018 - 16:42

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

236. Bagaimana liturgi dirayakan?

Perayaan liturgi dijalin dengan tanda-tanda dan simbol-simbol yang artinya berakar dalam penciptaan dan budaya manusia, ditentukan dalam peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan diungkapkan secara penuh dalam Pribadi dan karya Kristus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1145

237. Dari mana tanda-tanda Sakramental berasal?

Beberapa berasal dari ciptaan (cahaya, air, api, roti, anggur, minyak), yang lainnya berasal dari kehidupan sosial (mencuci, mengurapi dengan minyak, memecah roti), beberapa yang lainnya lagi berasal dari sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama (ritus Paskah, kurban, penumpangan tangan, pengudusan). Tanda-tanda ini, yang beberapa bersifat normatif dan tak berubah, diambil oleh Kristus dan dipakai untuk tindakan penyelamatan dan pengudusan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1146-1152, 1189

Pemimpin empat Gereja Irlandia datang ke Roma untuk peringati kesepakatan Jumat Agung

Kam, 24/05/2018 - 02:55
Uskup Agung Eamon Martin (Katolik) dan Uskup Agung Richard Clarke (Anglikan) saat Peluncuran “Flesh and Blood Ireland” di Katedral Santo Patrick di Armagh. Kampanye mobilisasi Gereja-Gereja itu bertujuan untuk membantu peningkatan jumlah pendonor darah dan organ tubuh di seluruh negeri.

Para pemimpin dari empat Gereja Kristen utama di Irlandia datang ke Roma hari Senin, 21 Mei 2018, untuk mengikuti acara peringatan ulang tahun ke-20 Perjanjian Jumat Agung di Irlandia Utara yang diajukan oleh menteri luar negeri Vatikan.

Acara, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Inggris dan Irlandia untuk Tahta Suci itu menyatukan para pemimpin Gereja Katolik, Anglikan, Presbiterian dan Methodis, bersama beberapa tokoh politik utama yang berperan dalam menyusun perjanjian penting yang ditandatangani di Belfast tanggal 10 April 1998 itu.

Perjanjian yang disetujui dalam referendum 22 Mei itu menandai perkembangan besar dalam proses perdamaian Irlandia Utara karena membantu mengakhiri kekerasan sektarian yang meluas antara umat Katolik dan Protestan.

Untuk menandai ulang tahun ke-20 itu, Uskup Agung Armargh (Katolik) Mgr Eamon Martin dan Uskup Agung Armargh (Anglikan) Richard Clarke mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan bahwa meskipun situasi politik saat ini rapuh, mereka berharap kesempatan itu akan mengobarkan semangat untuk mendapatkan kesempatan yang baik, penyembuhan, dan pengharapan.

Kedua pemimpin Gereja itu berbicara tentang pencapaian terpenting dari Perjanjian Jumat Agung itu dan tentang harapan mereka atas kunjungan Paus Fransiskus ke Irlandia di bulan Agustus.

Uskup Agung Martin menggambarkan Perjanjian Jumat Agung sebagai “momen penyelamatan jiwa” dan Uskup Agung Clarke mengatakan perjanjian itu, “membuka pintu yang jauh kekerasan.”

Menanggapi untuk kunjungan Paus Fransiskus ke Dublin untuk menghadiri Pertemuan Keluarga se-Dunia, Uskup Agung Clarke berharap gagasan “karunia keluarga” dapat disadari kembali oleh semua tradisi Kristen. Menurut uskup agung itu, para pemimpin Gereja Anglikan serta Mothes’ Union (ikatan ibu-ibu) terlibat dalam persiapan untuk acara itu.

Uskup Agung Martin berharap bahwa Paus akan “berbicara dalam situasi kami” di mana begitu banyak keluarga telah mengalami trauma akibat dampak The Troubles yang meninggalkan luka-luka mendalam. Prelatus itu juga berharap Paus akan memberi alasan untuk berharap, serta “penegasan untuk proses perdamaian yang rapuh dan belum matang yang telah dimulai.”

The Troubles (masalah) adalah sebuah konflik etno-nasionalis di Irlandia Utara selama akhir abad ke-20. Konflik yang dikenal secara internasional sebagai konflik Irlandia Utara itu dimulai akhir tahun 1960-an dan dianggap berakhir melalui Perjanjian Jumat Agung tahun 1998. Meskipun umumnya konflik ini terjadi di Irlandia Utara, kekerasan juga meluas ke beberapa bagian di Republik Irlandia, Inggris dan daratan Eropa.(paul c pati)

Paus minta mendoakan umat Katolik di Cina agar bersekutu penuh dengan Tahta Suci

Kam, 24/05/2018 - 01:34
Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus (AFP or licensors)

Dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus pada hari Rabu, 23 Mei 2018, Paus Fransiskus menghimbau semua umat Katolik agar secara rohani dekat dengan umat Katolik yang tinggal di Cina dan mendoakan umat mereka agar dapat menjalankan iman mereka dalam persekutuan penuh dengan Tahta Suci.

Menurut Paus, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, tanggal 24 Mei adalah Hari Raya “Maria Pertolongan Orang Kristen” yang “sangat dihormati di Tempat Ziarah Maria Sheshan, di Shanghai.”

Perayaan itu, lanjut Paus, mengajak kita untuk dekat secara rohani dengan semua umat Katolik yang tinggal di Tiongkok dan meminta kita untuk berdoa agar mereka “dapat menjalankan iman mereka dengan baik dan tenang” dan “bisa melakukan langkah-langkah persaudaraan, kerukunan dan rekonsiliasi yang konkret dalam persekutuan penuh dengan Penerus Santo Petrus.”

Paus juga mengatakan, “Murid-murid  Tuhan yang terkasih di Cina, Gereja Universal berdoa bersama kalian dan untuk kalian, agar meski di tengah kesulitan, kalian dapat terus mempercayakan diri kalian kepada kehendak Allah.”

Paus Fransiskus mengakhiri seruannya dengan mengatakan bahwa Perawan Maria akan tetap menolong mereka dan bahwa Perawan Maria akan menjaga mereka dengan kasih seorang ibu. (paul c pati)

Bagaimana Gereja di dunia ini merayakan liturgi?

Rab, 23/05/2018 - 21:50
Paus Fransiskus dalam sebuah Misa Kanonisasi Tempat Ziarah Nasional Maria Dikandung Tanpa Noda di Washington | REUTERS

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

233. Siapa yang bertindak dalam liturgi?

Dalam Liturgi, Kristus totus yang bertindak, Kepala dan Tubuh. Sebagai Imam Agung kita, Dia merayakan dengan tubuh-Nya, yaitu Gereja, baik di surga maupun di bumi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1135-1137, 1187

234. Siapa yang merayakan liturgi surgawi?

Liturgi surgawi dirayakan oleh para malaikat, oleh para Kudus Perjanjian Lama dan Baru, secara khusus Bunda Allah, oleh para Rasul, para martir dan ”suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9). Ketika kita merayakan misteri penyelamatan dalam Sakramen, kita mengambil bagian dalam liturgi abadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1138-1139

235. Bagaimana Gereja di dunia ini merayakan liturgi?

Gereja di dunia merayakan liturgi sebagai umat imami, setiap orang bertindak menurut fungsinya masing-masing dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Orang-orang yang dibaptis menyerahkan diri mereka dalam kurban rohani, para pelayan yang ditahbiskan merayakan sesuai dengan tugas yang mereka terima bagi pelayanan seluruh anggota Gereja, para Uskup dan Imam bertindak atas nama Pribadi Kristus, sang Kepala.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1140-1144, 1188

Keuskupan Palangka Raya bersinode agar punya dasar dan data umat untuk berpastoral

Rab, 23/05/2018 - 19:55
Mgr Sutrisnaatmaka saat tahbisan imam Pastor Yohanes Benyamin Wedu MSF di Paroki Raja Semesta Alam Nanga Bulik, Keuskupan Palangka Raya. Foto Cyril Us

Dalam rangkaian 25 tahun berdirinya, Keuskupan Palangka Raya melakukan Sinode I di Aula Magna Wisma Unio Keuskupan Palangka Raya, 22 Mei 2018, yang dihadiri sekitar 150 peserta. Menurut Uskup Palangka Raya Mgr Aloysius Sutrisnaatmaka MSF yang membuka sinode itu, umat keuskupan itu akan membahas pendataan umat agar memiliki dasar yang kuat untuk berpastoral dan melayani umat dengan metode yang dipertanggungjawabkan.

Sinode bertema “Gereja Palangka Raya yang Mandiri, Misioner dan Peduli Lingkungan Hidup” dan akan berlangsung hingga 27 Mei 2018 itu mengingatkan Pertemuan Pastores (perpas) Keuskupan Palangka Raya yang dilakukan untuk mempersiapkan sinode itu. PEN@ Katolik membaca dari media online keuskupan itu bahwa keuskupan itu mau bersyukur atas hadirnya 25 paroki dan 25 imam diosesan.

“Semuanya itu patut kita syukuri dalam pesta perak keuskupan. Demikian juga, peningkatan dalam hal kemandirian finansial semakin nampak. Dalam perkembangan beberapa tahun terakhir ini, jumlah paroki yang mandiri semakin banyak. Dari 25 paroki, tinggal 5 yang masih bersubsidi,” tulisnya.

Laporan itu juga menulis bahwa para peserta perpas sepakat untuk tidak mengundang narasumber sinode itu dari luar. “Kita tidak hanya memerlukan pembahasan yang sifatnya teoritis, tetapi juga pembahasan yang kontekstual yang bertolak dari situasi konkret keuskupan kita. Hal itu dapat dicapai dengan menghadirkan para narasumber yang mengetahui situasi lokal keuskupan,” tegas laporan 20 Februari 2018 itu.

Mgr Sutrisnaatmaka MSF berharap, seperti ditulis dalam laporan yang disebarkan oleh mirifica.net, agar sinode itu “menelurkan hasil yang bukan sekadar pemikiran, refleksi dan diskusi manusiawi, melainkan sungguh merupakan kehendak Allah melalui bimbingan Roh Kudus dan usaha keras bersama sebagai sarana melayani umat menuju kesejahteraan yang menyeluruh.”

Melihat perkembangan misi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, terus berlanjut di pedalaman Kalimantan Tengah, tulis sejarah Keuskupan Palangka Raya, Uskup Banjarmasin Mgr FX Prajasuta MSF berniat agar wilayah kegembalaannya dimekarkan menjadi dua keuskupan, yakni Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangka Raya. “Tanggal 14 November 1992, surat permohonan perihal pemekaran keuskupan dikirim ke Tahta Suci. Tanggal 14 April 1993, Tahta Suci mengabulkan permohonan itu dan mengumumkannya secara resmi, sebagai tahun berdirinya Keuskupan Palangka Raya dengan wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dan mengangkat Mgr Julius Aloysius Husin MSF sebagai uskup pertama Keuskupan Palangka Raya. Pentahbisannya dilaksanakan di Palangka Raya tanggal 17 Oktober 1993,” tulis sejarah itu.(paul c pati)

Umat ​​Katolik Nigeria lakukan protes damai nasional dengan senjata Rosario

Sel, 22/05/2018 - 23:02

 

Dua imam yang tewas, (dari kiri ke kanan): Pastor Felix Tyolaha dan Pastor Joseph Gor

Hanya dengan ‘bersenjatakan’ Rosario, umat Katolik di 54 kota di seluruh Nigeria, pada tanggal 22 Mei 2018, ikut berpawai dalam protes damai nasional yang disebut “March for Life” (pawai untuk kehidupan), yang dilakukan bertepatan dengan pemakaman 17 umat paroki dan dua imam Katolik yang dibunuh oleh tersangka gembala, di Keuskupan Markudi, 24 April 2018.

Direktur Komunikasi Keuskupan Agung Abuja, Nigeria, Pastor Patrick Alumuku mengatakan kepada Paul Samasumo dari Vatican News di Vatikan bahwa March for Life, yang diumumkan oleh Konferensi Waligereja Nigeria, merupakan aksi solidaritas terhadap mereka yang tewas itu serta terhadap banyak korban terorisme lainnya di Nigeria.

Pastor Alumuku yang merupakan ketua yang dibentuk untuk March for Life di ibukota Abuja itu mengatakan bahwa Pastor Joseph Gor dan Pastor Felix Tyolaha dibunuh secara brutal bersama dengan umat paroki, ketika Misa berakhir di Paroki Santo Ignatius Ukpo-Mbalom, di Negara Bagian Benue.

Media lokal Nigeria melaporkan adanya ketegangan yang jelas dirasakan di Negara Bagian Benue tempat kedua imam dan para umat paroki itu tewas. Personel keamanan telah meyakinkan penduduk dan mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan keamanan. Mereka berulang kali memastikan bahwa para peserta pawai dan tempat pemakaman akan aman.

Para uskup Nigeria mengatakan kepada umat Katolik Nigeria di semua kota untuk datang hanya dengan ‘bersenjatakan’ Rosario dan Lilin.

Ketika berbicara dalam wawancara eksklusif dengan Vatican News di Roma, sehari setelah serangan Makurdi, empat Uskup dari Sabuk Tengah Nigeria, Uskup Makurdi Mgr Wilfred Anagbe CMF, Uskup Katsina-Ala Mgr Peter Adoboh, Uskup Gboko Mgr William Avenya, dan Uskup Otukpo Mgr Michael Ekwoy Apochi mengatakan bahwa teroris dan tentara bayaran telah menyusup dalam para gembala itu.

Mereka menggambarkan serangan-serangan di gereja itu sebagai sesuatu yang ”menghebohkan, biadab dan kejam.” Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin serangan mematikan seperti itu bisa terjadi di siang hari bolong dan para pelaku tidak memperhitungkan tindakan mereka.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa sebabnya Sakramen-Sakramen itu perlu bagi keselamatan?

Sel, 22/05/2018 - 21:51
Basilika Santo Petrus (dari Canadian Catechist)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

230. Apa sebabnya Sakramen-Sakramen itu perlu bagi keselamatan?

Bagi orang beriman kepada Kristus, walaupun Sakramen-Sakramen itu tidak semuanya diberikan kepada setiap orang beriman, Sakramen perlu untuk keselamatan karena memberikan rahmat Sakramental, pengampunan dosa, pengangkatan sebagai anak-anak Allah, menyelaraskan diri kepada Kristus Tuhan dan keanggotaan di dalam Gereja. Roh Kudus menyembuhkan dan mengubah mereka yang menerima Sakramen-Sakramen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1122-1126, 1133

231. Apa itu rahmat Sakramental?

Rahmat Sakramental adalah rahmat Roh Kudus yang diberikan oleh Kristus dan terdapat dalam setiap Sakramen. Rahmat ini membantu orang beriman dalam perjalanannya menuju kesucian dan dengan demikian juga membantu Gereja untuk berkembang di dalam cinta kasih dan memberikan kesaksian kepada dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1129, 1131, 1134, 2003

232. Apa hubungan antara Sakramen dengan kehidupan kekal?

Dalam Sakramen, Gereja sudah ”mencicipi” kehidupan kekal, sambil ”menantikan penggenapan pengharapan yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1130

KWI terbitkan Nota Pastoral untuk pahami gagasan dan makna Pancasila sebagai Dasar Negara

Sel, 22/05/2018 - 18:56

“Memajukan dan mengembangkan  pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila sejalan dengan panggilan dan perutusan Gereja dalam menegakkan Kerajaan Allah di bumi Indonesia, di mana semua orang dapat hidup bersama dan bersaudara, merajut kesatuan, kerukunan dan perdamaian, serta bekerja keras demi perwujudan cita-cita kesejahteraan umum demi Indonesia jaya.”

Pernyataan itu ditulis dalam kata pengantar Nota Pastoral KWI 2018 bertajuk “Panggilan Gereja dalam Hidup Berbangsa – Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan,” yang diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di hadapan presidium dan beberapa sekretaris departemen dari KWI di Ruang Rapat KWI, Jakarta, 17 Mei 2018.

Menurut catatan yang diterima PEN@ Katolik dari KWI, Nota Pastoral KWI 2018 itu diterbitkan untuk menanggapi situasi bangsa yang diwarnai berbagai masalah dalam mewujudkan Indonesia yang satu sebagai rumah bagi semua komponen bangsa, juga dalam merespon tibanya tahun politik 2018-2019.

“Para Uskup Indonesia ingin mengajak umatnya dan masyarakat luas untuk semakin memahami gagasan dan makna Pancasila sebagai Dasar Negara, mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan lintas batas dengan berbagai cara yang pas dalam konteks keindonesiaan yang Bhinneka Tunggal Ika. Saya Indonesia Saya Pancasila,” lanjut catatan itu.

Dalam pengantar buku itu juga ditegaskan bahwa keinginan menerbitkan nota pastoral itu muncul dalam Hari Studi tahunan KWI 2017 yang berlangsung di Jakarta, 6-8 November 2017, dengan tema “Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan: Tugas Gereja Menyucikan Dunia.”

Materi bahasan dan dinamika diskusi dalam hari studi itu menyingkapkan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang memprihatinkan saat ini. “Dengan bantuan para narasumber, diskusi tentang realitas tersebut mengerucut pada penegasan kembali tugas perutusan Gereja di dunia dan komitmen menjadi Gereja yang relevan dan signifikan,” tulis pengantar itu.

Sebagai bagian utuh dari bangsa dan negara Indonesia, lanjutnya, “Gereja tidak dapat berdiam diri menghadapi kondisi memprihatinkan yang mengancam keberlangsungan kehidupan bersama di negara Indonesia. Gereja berada dalam satu rumah bersama, yaitu “Indonesia” yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kerukunan, perdamaian, keadilan, dan kebenaran demi kebaikan bersama.”

Para uskup juga yakin bahwa realitas yang memprihatinkan yang tengah diarungi bangsa dan negara “merupakan momentum dan panggilan bersama semua anak bangsa untuk menyatukan tekad dan menegaskan komitmen menjaga kesatuan serta merawat kebinekaan bangsa dan negara kita.”

Gereja, tegas para uskup dalam nota pastoral itu, “dipanggil untuk secara lebih tegas dan nyata menghadirkan diri sebagai komponen utuh bangsa dan negara Indonesia, yang juga bertanggung jawab merawat kesatuan dalam kebinekaan serta menjamin keutuhan negara Indonesia dalam keberagaman warisan budaya, agama, suku, dan bahasa.” (paul c pati)

foto-foto dari KWI dan Obor

Paus Fransiskus menjelaskan doa Salam Maria kalimat demi kalimat

Sen, 21/05/2018 - 23:41
Paus Fransiskus berdoa kepada Perawan Maria
Foto oleh Antoine Mekary | ALETEIA

Kita semua berdoa Salam Maria, tetapi berapa banyak dari kita yang tahu artinya yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya dikatakan oleh doa itu?

Dalam buku, “Maria, Bunda Semua” (María, Mamma di tutti), Paus Fransiskus sendiri mengajarkan kepada kita arti dari kata-kata dalam doa penting ini.

Penuh Rahmat

Malaikat Gabriel menyebut Maria “penuh karunia” (Luk 1:28). Dalam dirinya, jelas Paus, “tidak ada tempat untuk dosa, karena Tuhan telah memilih dia dari segala kekekalan untuk menjadi ibu Yesus, dan telah membebaskannya dari dosa asal.”

“Sabda menjadi daging di dalam rahimnya. Kita, juga, diminta untuk mendengarkan Allah, yang berbicara kepada kita, dan untuk menerima kehendak-Nya. Tuhan selalu berbicara kepada kita.”

Tuhan sertamu

Yang terjadi secara unik dalam Perawan Maria, kata Paus Fransiskus, “juga terjadi dalam tingkat spiritual dalam diri kita ketika kita menerima Sabda Tuhan dengan hati yang baik dan tulus, dan mempraktekkannya. Yang terjadi seolah-olah Tuhan menjadi daging dalam diri kita. Dia datang untuk tinggal dalam diri kita, karena Dia membuat rumah-Nya dalam diri mereka yang mengasihi Dia dan mematuhi Sabda-Nya. Tidaklah mudah memahami hal ini, tetapi, ya, mudah merasakannya di dalam hatimu.”

“Apakah kita mengira bahwa inkarnasi Yesus hanyalah peristiwa masa lalu, yang tidak mempengaruhi kita secara pribadi? Percaya kepada Yesus berarti memberikan tubuh kita kepada-Nya, dengan kerendahan hati dan keberanian yang sama seperti Maria.”

Terpujilah engkau di antara wanita

Bagaimana Maria menjalani imannya? Paus menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa “Dia menjalani imannya dalam kesederhanaan dari banyak pekerjaan sehari-hari serta kekhawatiran setiap ibu, misalnya menyediakan makanan dan pakaian, dan mengurus rumah … Justru, keberadaan normal Perawan Maria inilah yang menjadi dasar berkembangnya hubungan istimewa dan dialog mendalam antara dia dan Tuhan, antara dia dan Putranya.”

Terpujilah buah tubuhmu, Yesus

Maria mau menerima, tetapi tidak pasif, jelas Paus Fransiskus.

“Sama seperti dia menerima kuasa Roh Kudus secara jasmani, tetapi kemudian memberikan tubuh dan dan darah kepada Putera Allah yang bertumbuh dalam dirinya, demikian juga secara spiritual, dia menerima kasih karunia dan menanggapinya dengan iman. Karena alasan ini, Santo Agustinus mengatakan bahwa Perawan Maria ‘mengandung di dalam hatinya sebelum di rahimnya.’ Pertama-tama dia mengandung iman, dan kemudian Tuhan.”

Santa Maria, Bunda Allah

Bunda Penebus, lanjut Paus, “mendahului kita dan senantiasa menguatkan iman kita, panggilan kita, dan misi kita. Dengan teladan kerendahan hati dan kesiapannya untuk mematuhi kehendak Tuhan, dia membantu kita menerjemahkan iman kita menjadi pewartaan Injil yang penuh sukacita, tanpa batas.”

Doakanlah kami yang berdosa ini

Untuk menjelaskan arti dari bagian doa ini, Paus Fransiskus menceritakan suatu anekdot:

“Saya ingat suatu peristiwa, di Tempat Ziarah Lujan, saya berada di ruang pengakuan dosa, yang di depannya ada antrean panjang. Ada juga seorang pria muda yang sangat modern, dengan anting-anting, tato, semua … Dan dia datang mengatakan kepada saya apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Masalahnya besar, sangat sulit. Dan dia berkata kepada saya, ‘Saya ceritakan semua ini kepada ibu saya, dan ibu saya mengatakan: Pergilah kepada Perawan Maria Terberkati dan dia akan memberi tahu apa yang harus kaulakukan.’ Nah, itulah wanita yang punya karunia nasihat. Dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah putranya, tetapi dia menunjukkan jalan yang benar: pergilah ke Perawan Maria Terberkati, dan dia akan mengatakan kepadamu. Inilah karunia nasihat. Wanita yang rendah hati dan sederhana itu memberi putranya nasihat terbaik. Bahkan, pria muda itu berkata kepada saya, ‘Saya memandang Perawan Maria Terberkati dan saya merasa harus melakukan ini, ini, dan ini …’ Saya tidak tidak perlu berbicara; ibunya dan pria muda itu sendiri telah mengatakan segalanya. Inilah karunia nasihat. Kalian, ibu-ibu, yang memiliki karunia ini: mohonlah agar karunia itu diberikan kepada anak-anak kalian. Karunia menasehati anak-anak kalian adalah karunia dari Tuhan.”

Sekarang, dan waktu kami mati

Marilah kita mempercayakan diri kita kepada Maria, kata Paus Fransiskus, “agar dia, sebagai Ibu dari kakak sulung kita, Yesus, dapat mengajarkan kepada kita untuk memiliki semangat keibuan yang sama terhadap saudara-saudara kita, dengan kemampuan tulus untuk menerima, untuk memaafkan, untuk memperkuat, dan untuk menanamkan kepercayaan dan harapan. Dan inilah yang dilakukan seorang ibu.”

Jalan Maria menuju Surga dimulai “dengan ‘ya’ yang dia bicara di Nazareth, dalam menanggapi Utusan surgawi yang memberitahukan kehendak Tuhan kepadanya. Dalam kenyataannya, yang sebenarnya adalah: setiap ‘ya’ kepada Tuhan adalah langkah menuju Surga, menuju kehidupan kekal.”(paul c pati berdasarkan tulisan Gelsomino Del Guercio, Aleteia)

Mengapa Sakramen itu berdaya guna?

Sen, 21/05/2018 - 20:34
Tujuh Sakramen. Diambil dari Pinterest

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

228. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan iman?

Sakramen-Sakramen tidak hanya mengandaikan iman; unsur kata-kata dan ritual juga mengembangkan, memperkuat, dan mengungkapkannya. Dengan merayakan Sakramen, Gereja mengakui iman yang datang dari para Rasul. Hal ini menjelaskan asal dari rumusan kuno, ”lex orandi, lex credendi”, artinya Gereja percaya seperti yang didoakannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1122-1126, 1133

229. Mengapa Sakramen itu berdaya guna?

Sakramen itu berdaya guna ex opere operato (”melalui kenyataan bahwa tindakan Sakramen itu dilaksanakan”) karena Kristuslah yang bertindak dalam Sakramen itu dan mencurahkan rahmat yang ditandakan. Daya dari Sakramen tidak tergantung dari kesucian pribadi pelayannya. Namun, buah dari Sakramen itu tergantung dari disposisi orang yang menerimanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1127-1128, 1131

Paus Fransiskus umumkan nama-nama 14 kardinal baru sesudah Ratu Surga

Sen, 21/05/2018 - 02:00
CNS photo/Paul Haring

Berbicara kepada para peziarah dan pengunjung yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada hari Minggu, 20 Mei 2018, di penghujung sambutan seusai doa Ratu Surga, Paus Fransiskus mengumumkan bahwa dia akan mengangkat kardinal-kardinal baru dalam Konsistori tanggal 29 Juni 2018.

Paus mengatakan bahwa tempat-tempat asal para kardinal baru itu “mengungkapkan universalitas Gereja, yang terus mewartakan cinta kasih Tuhan yang penuh belas kasih kepada semua pria dan wanita di bumi.”

Orang-orang yang akan menerima topi merah dari Paus antara lain para uskup dari Irak, Pakistan, Portugal, Peru, Madagaskar, Italia dan Jepang.

Dalam daftar ini terdapat juga uskup agung asal Polandia Mgr Konrad Krajewski, yang bertugas sebagai almoner paus di Roma, dan tiga uskup agung Italia, Vikjen Keuskupan Roma Mgr Angelo De Donatis, Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman Mgr Luis Ladaria, dan Wakil Sekretaris Negara dan Delegasi Khusus untuk Ordo Militer Berdaulat Malta Mgr Giovanni Becciu. Paus Francis mengatakan bahwa nominasi mereka “menunjukkan ikatan yang tak terputus antara Tahta Petrus dan Gereja-Gereja lokal di seluruh dunia.

Bersama mereka, Paus Fransiskus juga menominasikan ke dalam Dewan Kardinal, uskup agung (pensiunan) Meksiko, uskup (pensiunan) Bolivia dan seorang imam dari Ordo Claretian. Mereka semua, menurut Paus, “telah menunjukkan keistimewaan dalam melayani Gereja.”

Nama-nama Kardinal baru itu adalah:

Yang Berbahagia Louis Raphaël I Sako (Patriark Katolik Babilonia Babilonia), usia 69,9 tahun

Yang Mulia Luis Frsnsico Ladaria Ferrer (Prefek Kongregation untuk Ajaran Iman), usia 74,1 tahun

Yang Mulia Angelo De Donatis (Vikaris Jenderal Roma), usia 64,4 tahun

Yang Mulia Giovanni Angelo Becciu (Wakil Sekretaris Negara dan Delegasi Khusus Ordo Militer Berdaulat Malta), usia 70 tahun

Yang Mulia Konrad Krajewski (Almoner dari Kantor Amal Kasih Kepausan), usia 54,5 tahun

Yang Mulia Joseph Coutts (Uskup Agung Karachi), usia 72,9 tahun

Yang Mulia António Augusto dos Santos Marto (Uskup Leiria-Fátima, Portugal), usia 71,1 tahun

Yang Mulia Pedro Ricardo Barreto Jimeno (Uskup Agung Huancayo, Peru), usia 74,3 tahun

Yang Mulia Desiré Tsarahazana (Uskup Agung Toamasina, Madagascar), usia 64 tahun

Yang Mulia Giuseppe Petrocchi (Uskup Agung L’Aquila, Italia), usia 69,8 tahun

Yang Mulia Thomas Aquinas Manyo Maeda (Uskup Agung Osaka, Jepang), usia 69,3 tahun

Yang Mulia Sergio Obeso Rivera (Uskup Agung Emeritus Xalapa, Mexico), usia 86,6 tahun

Yang Mulia Toribio Ticona Porco (Uskup Emeritus Corocoro), usia 81,1 tahun

Pastor Aquilino Bocos Merino CMF (Superior Jenderal Emeritus Misionaris Putra-Putra Hati Maria Tak Bercela), 80,1 tahun.

Dengan penambahan itu, maka jumlah kardinal akan menjadi 227 orang, 125 di antaranya tidak ada hak untuk memilih. Uskup Agung Konrad Krajewski akan menjadi kardinal kedua termuda dengan usia 54, sedangkan yang termuda tetap Dieudonne Kardinal Nzapalainga, Uskup Agung Bangui, Republik Afrika Tengah dengan usia 51 tahun.(paul c pati)

Paus Paulus VI akan dikanonisasi di Vatikan tanggal 14 Oktober 2018

Sab, 19/05/2018 - 23:16
Paus Paulus VI

Paus Fransiskus telah mengumumkan bahwa Paulus VI akan dinyatakan sebagai orang kudus pada hari Minggu, 14 Oktober 2018, di Vatikan. Paus Paulus VI, yang menutup Konsili Vatikan II di tahun 1965, akan dikanonisasi di Lapangan Santo Petrus bersama dengan Uskup Agung Oscar Arnulfo Romero, dan empat orang kudus lainnya, selama Sinode para Uskup di Vatikan.

Paulus VI lahir dengan nama Giovanni Battista Montini tahun 1897. Dia meninggal di kediaman kepausan Castel Gandolfo tanggal 6 Agustus 1978 setelah menjadi Paus selama 15 tahun. Saat Audiensi Umum tanggal 16 Maret 1966, Paulus VI menjelaskan “kekudusan bisa dijangkau oleh setiap orang” dan yang diperlukan untuk menjadi orang kudus hanyalah dua elemen yakni “rahmat Tuhan dan kehendak baik.”

Tetapi, Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan juga membutuhkan sebuah mukjizat. Mukjizat itu terjadi tahun 2014, saat seorang bayi yang belum lahir bisa disembuhkan secara misterius dalam rahim ibunya. Dalam kunjungan ke Brescia, tempat kelahiran Paulus VI, ibu dari bayi itu berdoa kepada Paus itu untuk pemulihan anaknya. Dan, berbeda dengan semua prediksi medis, bayi itu bisa sembuh total, dan wanita itu melahirkan bayi perempuan yang sehat. Keajaiban yang diperlukan untuk beatifikasi juga melibatkan penyembuhan seorang bayi dalam kehamilan yang sukar.

Kedua penyembuhan ini penting sampai saat ini karena di tahun ini dirayakan 50 tahun Ensiklik Paulus VI, Humanae Vitae, demi membela kehidupan, terutama yang belum lahir.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Roh Kudus Pentakosta

Sab, 19/05/2018 - 21:30

Pentakosta

20 Mei 2018

Yoh 20: 19-23

“Kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11).”

Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom.  Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristiani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentakosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?

Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah nyala api dan hinggap pada setiap rasul dan murid lainnya. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa yang berbeda, dan mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Hari itu, orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bisa mendengar dan mengerti karya Allah dan dipersatukan sebagai komunitas. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa misi Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan di antara kita yang dipisahkan oleh banyak tembok dan sekat-sekat perbedaan.

Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, dan bangsa, dengan beragam latar belakang, karakter, dan sistem nilai. Kita memiliki kepercayaan, keyakinan dan iman yang berbeda. Ini adalah pekerjaan roh jahat untuk menabur benih rasa takut dan kebohongan, dan dengan ketakutan dan ketidakpahaman terhadap yang lain, lebih mudah bagi kita untuk membangun tembok yang lebih tinggi dan menggali parit yang lebih dalam. Ini menjadi akar fundamentalisme dan radikalisme yang mematikan.

Roh Kudus mendorong kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menjangkau yang lain. Jika kita diciptakan menurut citra Allah yang adalah Tritunggal Mahakudus, dan jika Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang unik, namun hidup dalam kesatuan kasih, kita juga dirancang untuk menjadi individu yang unik, namun kita juga diciptakan sebagai pribadi yang hidup dengan sesama dan bagi sesama. Roh Kudus seperti induk burung elang yang ketika waktunya tiba, akan melemparkan anak-anak mereka dari tebing tinggi dan memampukan mereka terbang.

Beberapa jam setelah pengeboman, masyarakat membanjiri rumah sakit tempat para korban teror dirawat, dan menawarkan diri untuk menjadi donor darah bagi para korban. Seorang relawan berkomentar bahwa darah tidak mengenal suku, agama atau bangsa; hanya tahu tipe O, A, B atau AB! Roh Kudus bekerja melawan pekerjaan roh kudus, bapa segala dusta. Dengan demikian, Roh Kudus memberdayakan kita untuk mewartakan kebenaran dan karya besar Allah. Beberapa menit setelah pemboman, media sosial dibanjiri oleh gambar-gambar kurban-kurban yang tewas untuk menyebarkan ketakutan, tetapi kemudian para pengguna internet Indonesia menolak untuk menyebarkan rasa takut, dan mulai memasang di akun media sosial mereka tagar #kamitidaktakut.

Kisah-kisah heroik juga muncul. Ada Aloysius Bayu, seorang sukarelawan paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya, yang tewas dalam ledakan. Seandainya dia tidak menghentikan para teroris yang mencoba memasuki premis gereja, bisa tak terhitung orang menjadi korban hari itu. Kematiannya tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mengharapkan suaminya pulang dan seorang bayi kecil yang membutuhkan ayahnya. Namun, itu bukan tanpa harapan. Daripada menyerah pada ketakutan atau kemarahan, teman-teman Bayu melihat kematiannya sebagai pengorbanan yang mengarah ke harapan baru. Salah seorang temannya menyatakan, “Kita tidak boleh berhenti pergi ke Gereja. Jika kita berhenti, Bayu akan mati sia-sia.” Roh Kudus mendorong kita untuk berani mewartakan karya Allah dan membuat dunia yang penuh kejahatan menjadi tempat yang lebih baik.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Hubungan Islam dan Katolik harus berubah dari persaingan menjadi kerja sama

Sab, 19/05/2018 - 21:02

“Pikiran yang ingin kami bagikan kepada kalian pada kesempatan ini, saudara-saudari Muslim yang terkasih, menyangkut aspek penting hubungan antara umat Kristen (baca: Katolik) dan Muslim: kebutuhan untuk berubah dari persaingan menjadi kerja sama.”

Pernyataan itu disampaikan dalam Pesan untuk Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1439 H atau 2018 M yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dengan judul “Kristen dan Muslim: Dari Persaingan menuju Kerja Sama.”

Dalam pesan yang sama dewan kepausan itu mengungkapkan juga penghargaan atas pentingnya bulan Ramadan dan upaya umat Islam di seluruh dunia untuk berpuasa, berdoa dan membagikan karunia Allah Yang Maha Kuasa kepada orang miskin.

Pesan yang ditandatangani di Vatikan, 20 April 2018, oleh Jean-Louis Kardinal Tauran dan Uskup Miguel Ángel Ayuso Guixot, M.C.C.I., masing-masing presiden dan sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama itu menegaskan bahwa semangat persaingan telah terlalu sering menandai hubungan masa lalu antara orang Kristen dan Muslim.

Konsekuensi negatif akibat semangat itu, tulis pesan itu, adalah “kecemburuan, saling tuduh dan ketegangan,” dan dalam beberapa kasus menyebabkan konfrontasi penuh kekerasan, “terutama saat agama diperalat, terutama karena kepentingan pribadi dan motif-motif politik.”

Persaingan antaragama seperti itu, lanjut pesan dewan kepausan itu, “melukai citra agama dan pengikutnya, dan menumbuhkan pandangan bahwa agama bukanlah sumber perdamaian, tetapi sumber ketegangan dan kekerasan.”

Untuk mencegah dan mengatasi konsekuensi-konsekuensi negatif ini, tulis pesan itu, umat Kristen dan Muslim perlu mengingat kembali nilai-nilai agama dan moral yang mereka miliki bersama, sambil mengakui perbedaan-perbedaan mereka.

“Dengan mengakui apa yang kita miliki bersama dan menghormati perbedaan, kita dapat lebih kuat membangun landasan hubungan yang penuh damai, seraya berubah dari persaingan menjadi kerja sama efektif demi kebaikan bersama,” tulis pesan itu.

Menurut dewan kepausan itu, umat Katolik dan Muslim bersama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk memberi kesaksian tentang Yang Mahakuasa, dan untuk membagikan kepercayaan mereka kepada sesama, sambil menghormati agama dan sentimen agama mereka.

Untuk bisa melanjutkan hubungan damai dan persaudaraan, tulis pesan itu, “marilah kita bekerja bersama dan saling menghormati. Dengan cara ini kita akan memuliakan Yang Maha Kuasa dan meningkatkan kerukunan dalam masyarakat, yang menjadi semakin multi-etnis, multi-agama dan multi-budaya.”

Dewan kepausan itu mengakhiri pesannya dengan kembali mengucapkan selamat menjalani puasa yang berbuah dan selamat merayakan ‘Id yang penuh sukacita, dan kami “memastikan kepada kalian solidaritas kami dalam doa.”(paul c pati)

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Sab, 19/05/2018 - 20:48
Anggota-anggota Konferensi Waligereja Chili merilis sebuah pernyataan yang dalamnya mereka mengajukan pengunduran diri menyusul pelecehan seksual yang dilakukan klerus di negara mereka (AFP)

Sebanyak 34 uskup Chili yang membentuk Konferensi Waligereja Chili merilis pernyataan pada hari Jumat, 18 Mei 2018, yang menganjuran pengunduran diri dan meletakkan nasib mereka di tangan Paus Fransiskus, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News.

Setelah tiga hari pertemuan dengan Paus Fransiskus di Vatikan, para uskup Chili bertemu dengan pers dan membacakan pernyataan yang berisi ucapkan terima kasih kepada Paus karena telah mendengarkan mereka “secara kebapakan dan karena telah memberikan koreksi persaudaraan” selama hari-hari “refleksi dan doa” ini.

Berbicara singkat kepada pers setelah membaca pernyataan mereka, para uskup menjelaskan bahwa mereka telah menyerahkan jabatan mereka “ke tangan Bapa Suci dan akan membiarkan dia untuk bebas mengambil keputusan” atas mereka masing-masing.

Mereka juga merujuk dokumen yang diserahkan kepada mereka secara pribadi oleh Paus yang di dalamnya ditunjukkan serangkaian “hal yang benar-benar tercela yang telah terjadi di Gereja Chili terkait penyalahgunaan kekuasaan, hati nurani dan seksual yang tidak dapat diterima, dan yang telah menyebabkan berkurangnya semangat kenabian yang menunjukkan sifat Gereja.”

Di atas segalanya, kata para uskup, mereka memohon maaf atas penderitaan yang dialami para korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus, kepada Paus, kepada umat Allah dan kepada negara mereka atas kesalahan dan kelalaian besar mereka.

Mereka juga berterima kasih kepada Uskup Agung Charles Scicluna dan kepada Pastor Jordi Bertomeu, para prelatus yang ditugaskan Paus untuk menyelidiki dan menyusun laporan sebanyak 2.300 halaman berkaitan dengan skandal pelecehan seks yang telah mengguncang Gereja Chili, atas dedikasi pastoral dan pribadi mereka, dan atas upaya mereka selama beberapa minggu untuk menyembuhkan luka-luka masyarakat dan Gereja di negara mereka.

“Kami berterima kasih kepada para korban atas ketekunan dan keberanian mereka dalam menghadapi semua kesulitan berat secara pribadi, spiritual, sosial dan keluarga,” sebuah beban yang sering diperburuk oleh ketidakpahaman dan serangan umat gerejani.

Seraya menggambarkan hari-hari “dialog jujur” yang baru berlalu itu sebagai tonggak sejarah dalam proses perubahan mendalam yang dipandu oleh Paus Fransiskus, para uskup mengatakan bahwa dalam persekutuan dengan Paus, mereka ingin menegakkan kembali keadilan dan berkontribusi untuk memperbaiki kerusakan yang ada, guna memberikan dorongan baru bagi misi kenabian Gereja di Chili. Di sana, kata mereka, “Kristus seharusnya selalu menjadi pusat.”

Seraya bersumpah untuk bertanggung jawab sepenuhnya pada jalan baru ini, para uskup mengakhiri pernyataan mereka dengan mengungkapkan keinginan mereka agar “wajah Tuhan bisa bersinar lagi” di Gereja Chili dan dengan “kerendahan hati dan pengharapan” mereka menghimbau semua orang untuk membantu mereka dalam upaya mereka.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Halaman