Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 51 mnt yang lalu

Apa yang menjadi misi Gereja?

Sel, 03/04/2018 - 21:57
Foto PEN@ Katolik/pcp di Vatikan

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

149. Apa asal dan kepenuhan Gereja?

Gereja menemukan asal dan kepenuhannya dalam rencana abadi Allah. Gereja dipersiapkan dalam Perjanjian Lama dengan pemilihan Israel, sebagai tanda pertemuan segala bangsa pada masa depan. Gereja yang didirikan oleh sabda dan karya Yesus Kristus, digenapi oleh kematian dan kebangkitan-Nya yang menyelamatkan, sudah dinyatakan sebagai misteri keselamatan melalui pencurahan Roh Kudus pada hari Pentekosta. Gereja akan disempurnakan dalam kemuliaan surgawi sebagai pertemuan semua orang dari seluruh dunia yang diselamatkan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 759-766, 778

150. Apa yang menjadi misi Gereja?

Misi Gereja ialah mewartakan dan menegakkan Kerajaan Allah yang telah dimulai oleh Yesus Kristus di antara segala bangsa. Gereja membentuk benih dan permulaan Kerajaan yang menyelamatkan ini di atas bumi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 767-769

151. Dalam arti apa Gereja itu sebuah misteri?

Gereja merupakan sebuah misteri sejauh, dalam realitas yang tampak itu, hadir dan aktif realitas spiritual ilahi yang hanya bisa dilihat dengan mata iman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 770-773, 779

Mgr Suharyo meminta umat Katolik menjauhi keserakahan dan merawat persatuan

Sel, 03/04/2018 - 21:30

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengajak seluruh umat Katolik di wilayah keuskupan agungnya untuk menjauhi keserakahan, karena keserakahan berdampak pada hilangnya persaudaraan serta pupusnya rasa persatuan dan kesatuan antarkelompok masyarakat.

“Dalam Katolik dikenal ada Tritunggal Mahakudus, tapi kali ini ada tritunggal maha tidak kudus yakni keserakahan yang meliputi tiga hal pokok, kekuasaan, uang dan gengsi. Keserakahan itu sama dengan penyembahan berhala yang sangat nyata. Objek penyembahan berhala bukan hanya pohon dan batu melainkan tiga hal tadi,” kata Mgr Suharyo dalam Misa Pontifikal Paskah di Katedral Jakarta,  1 April 2018.

Dalam Misa yang dihadiri sekitar 4000 umat dari berbagai paroki di KAJ itu, Mgr Ignatius Suharyo didampingi oleh Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr, Vikep KAJ Pastor Alexius Andang Binawan SJ, Sekretaris Uskup Pastor Vincentius Adi Prasojo Pr dan Kepala Paroki Katedral Jakarta Pastor Albertus Hani Rudi Hartoko SJ.

Selain banyak orang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kekuasaan dan uang kemudian mempertahankan kekuasaan itu dengan banyak uang demi gengsinya, Mgr Suharyo juga mengatakan bahwa karena keserakahan manusia menggunakan segala macam cara misalnya menipu dan menyuap hingga kekerasan fisik dan ujaran kebencian demi mencapai orientasi politik tertentu yakni kekuasaan.

Dalam acara konferensi pers sesudah Misa, Mgr Suharyo menegaskan kembali bahwa tahun 2018 merupakan Tahun Persatuan bagi KAJ dengan semboyan, “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka Kita Indonesia.” Dalam Paskah 2018 itu Uskup Agung Jakarta itu mengajak umat untuk “melakukan upaya nyata, menerjemahkan gagasan untuk mengelola dan merawat persatuan dengan sebaik-baiknya.”

Berkaitan dengan Pilkada serentak dan Pilpres tahun 2019, Mgr Suharyo mengatakan bahwa Gereja Katolik akan mengeluarkan edaran, berhubungan dengan kedua peristiwa itu, yang berisi ajakan agar “pemilih Katolik menggunakan hak pilih dan Gereja tidak mengajak untuk memilih figur tertentu.”

Dalam waktu dekat edaran itu akan disampaikan kepada seluruh umat dengan harapan “sebelum umat Katolik memilih, mereka sudah mencermati dan mendapatkan informasi siapa dan bagaimana figur yang akan mereka pilih.” Uskup menerima siapa pun pemimpin yang terpilih asalkan membawa kebaikan bersama.

Dikatakan bahwa orang Katolik juga terlibat dalam arena partai politik yang berbeda-beda, dan yang penting tegas uskup, semua orang Katolik yang terjun dalam politik harus tetap menjunjung tinggi moral Katolik. (Konradus R. Mangu)

Dalam Pesan Urbi et Orbi, Paus mohon buah perdamaian dan penghiburan bagi berbagai negara 

Sen, 02/04/2018 - 22:49

Saudara-saudari terkasih, Selamat Paskah! Yesus telah bangkit dari mati! kata Paus Fransiskus ketika mulai menyampaikan Pesan Urbi et Orbi (untuk kota dan untuk dunia) di hadapan orang-orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, 1 April 2018.

 

Pesan, yang berisi doa dan harapan agar beberapa negara yang sedang dilanda berbagai masalah menerima buah-buah perdamaian, berisi keyakinan Paus bahwa umat Kristiani percaya dan tahu bahwa kebangkitan Kristus adalah harapan sejati dari dunia, harapan yang tidak mengecewakan.

 

“Kebangkitan Kristus adalah kekuatan biji gandum, kekuatan kasih itu yang merendahkan diri-Nya dan memberikan diri-Nya sampai akhir, dan dengan demikian benar-benar memperbarui dunia” kata Paus seperti dilaporkan di hari yang sama oleh Kantor Pers Vatikan yang juga diterima oleh PEN@ Katolik.

 

Di saat sejarah mengalami begitu banyak tindakan ketidakadilan dan kekerasan, tegas Paus, kekuatan itu terus berbuah. Kekuatan ini, tegas Paus, “menghasilkan buah pengharapan dan martabat di mana ada perampasan dan pengucilan, kelaparan dan pengangguran di mana ada kaum migran dan pengungsi (begitu sering ditolak oleh budaya sampah saat ini), dan para korban perdagangan narkoba, perdagangan manusia dan bentuk-bentuk perbudakan kontemporer.”

 

Hari ini, kata Paus, kita memohon buah-buah perdamaian atas seluruh dunia, dimulai dengan tanah Suriah yang tercinta yang sudah lama menderita, yang penduduknya lelah karena perang yang tampak tak ada akhirnya. Paskah ini, Paus berharap, “semoga terang Kristus yang telah bangkit menyinari suara hati seluruh pemimpin politik dan militer, sehingga pembunuhan massal segera berakhir, sehingga hukum kemanusiaan dapat dihormati, dan sehingga ketentuan-ketentuan dibuat untuk memudahkan akses terhadap bantuan yang sangat dibutuhkan saudara-saudari kita, dan juga memastikan kondisi yang sesuai untuk kembalinya para pengungsi.”

 

Paus juga mengajak orang-orang untuk memohon buah-buah rekonsiliasi untuk Tanah Suci, yang hari-hari ini sedang juga mengalami luka-luka pertikaian yang sedang berlangsung tanpa mengecualikan orang-orang yang tak berdaya, dan untuk Yaman dan seluruh Timur Tengah, agar dialog dan saling menghormati bisa mengalahkan perpecahan dan kekerasan. “Semoga saudara-saudari kita di dalam Kristus, yang tidak jarang sanggup menahan ketidakadilan dan penganiayaan, menjadi saksi-saksi Tuhan yang bangkit dan kemenangan kebaikan atas kejahatan,” kata Paus.

 

Hari ini, Paus juga minta untuk memohon buah-buah pengharapan bagi mereka yang merindukan kehidupan yang lebih bermartabat, terlebih semua orang di wilayah-wilayah benua Afrika yang sangat terpengauruh oleh kelaparan, pertikaian endemik dan terorisme. “Semoga damai dari Tuhan yang telah bangkit menyembuhkan luka-luka di Sudan Selatan dan membuka hati-hati untuk berdialog dan saling mengerti. Janganlah kita melupakan para korban pertikaian itu, terutama anak-anak! Semoga di sana tidak kekurangan solidaritas terhadap semua orang yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka serta kekurangan kebutuhan pokok untuk hidup,” Paus berharap.

 

Buah-buah dialog untuk semenanjung Korea juga dimohon agar pembicaraan-pembicaraan yang sedang berlangsung dapat meningkatkan kerukunan dan perdamaian di wilayah itu. “Semoga orang-orang yang langsung bertanggung jawab bertindak dengan kebijaksanaan dan kearifan demi meningkatkan kebaikan rakyat Korea dan demi membangun hubungan kepercayaan di dalam masyarakat internasional,” Paus memohon.

 

“Kita juga memohon buah-buah perdamaian untuk Ukraina, agar langkah-langkah yang diambil untuk menyokong kerukunan diperkuat, dan difasilitasi oleh prakarsa-prakarsa kemanusiaan yang dibutuhkan rakyatnya,” kata Paus.

 

Buah-buah penghiburan bagi rakyat Venezuela, yang, sebagaimana ditulis oleh uskup-uskup mereka, sedang mendiami semacam ‘tanah asing’ di negara mereka sendiri, juga menjadi permohonan. “Semoga bangsa itu, dengan kuasa kebangkitan Tuhan Yesus, menemukan cara yang adil, penuh damai dan manusiawi untuk cepat mengatasi krisis-krisis politik dan kemanusiaan yang mencengkeramnya,” lanjut Paus.

 

“Semoga Kristus yang telah bangkit membawa buah-buah kehidupan baru kepada anak-anak, yang akibat perang dan kelaparan, tumbuh tanpa pengharapan, tanpa pendidikan dan perawatan kesehatan; dan kepada orang-orang tua yang tercampakkan oleh budaya egois yang mengucilkan mereka yang tidak ‘produktif’,” kata Paus Fransiskus.

 

“Kita juga memohon buah-buah kebijaksanaan bagi mereka yang memiliki tanggung jawab politik di dunia kita, agar mereka selalu menghormati martabat manusia, mengabdikan diri mereka secara aktif untuk mengejar kebaikan bersama, dan memastikan pengembangan dan keamanan warga negara mereka sendiri,” doa Paus Fransiskus.(paul c. pati)

Apa arti kata Gereja?

Sen, 02/04/2018 - 20:15

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

147. Apa arti kata Gereja?

Kata Gereja menunjuk kepada orang-orang yang dipanggil Allah dan berkumpul bersama dari setiap penjuru dunia. Mereka membentuk suatu persekutuan, yang melalui iman dan pembaptisan, menjadi anak-anak Allah, anggota-anggota Kristus dan kenisah Roh Kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 751-752, 777, 804

148. Apakah ada nama-nama dan gambaran-gambaran lain yang dipakai Kitab Suci untuk berbicara tentang Gereja?

Dalam Kitab Suci, kita dapat menemukan banyak gambaran yang memberikan berbagai aspek yang saling melengkapi misteri Gereja. Perjanjian Lama memakai gambaran-gambaran yang berhubungan dengan Umat Allah. Perjanjian Baru memberikan gambaran-gambaran yang berkaitan dengan Kristus sebagai Kepala umat ini yang menjadi Tubuh-Nya. Gambaran lain diambil dari kehidupan gembala (kawanan domba, gembala, kambing), dari dunia pertanian (padang, gua, kebun anggur, buah zaitun), dari dunia bangunan (tempat tinggal, batu, kenisah), dan dari hidup keluarga (pasangan suami-istri, ibu, keluarga).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 753-757

Paus Fransiskus di hari Minggu Paskah: ‘Mari segera tanggapi kejutan dari Tuhan!’

Sen, 02/04/2018 - 18:04

Dalam homili liturgi Minggu Paskah di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus Fransiskus yang berbicara tanpa teks mengatakan tergerak untuk mengatakan tiga hal yang terinspirasi dari pernyataan Injil, yang pertama bahwa Allah mengejutkan para wanita sehingga mereka mengungkapkan pernyataan yang menjadi salam dalam Gereja perdana: “Tuhan telah bangkit!”

Para wanita pergi untuk meminyaki tubuh Tuhan namun di sana mereka terkejut. “Kalau Tuhan mengumumkan sesuatu, selalu mengejutkan, karena Tuhan adalah Tuhan kejutan,” kata Paus Fransiskus.

Demikianlah sejak awal kisah keselamatan bersama Abraham: satu kejutan demi kejutan terjadi. “Tuhan tidak tahu bagaimana membuat pengumuman tanpa mengejutkan kita. Kejutan menggerakkan hati kita dan menyentuh kita di saat yang tidak kita harapkan,” kata Paus.

Pikiran kedua adalah tentang bagaimana para wanita itu pergi tergesa-gesa. “Kejutan Tuhan menuntut tanggapan segera. Petrus dan Yohanes berlari ke kubur. Para gembala di malam ketika Kristus dilahirkan berlari untuk melihat apa yang diungkapkan malaikat kepada mereka. Wanita Samaria juga berlari untuk mengatakan kepada bangsanya, “ini benar-benar baru. Saya telah bertemu orang yang memberi tahu saya semua yang pernah saya lakukan — dan orang-orang tahu apa yang perempuan itu telah lakukan,” kata Paus Fransiskus. Andreas tidak membuang waktu untuk pergi menyampaikan kepada Petrus bahwa dia telah menemukan Mesias. Orang-orang meninggalkan apa pun yang mereka lakukan — “ibu-ibu rumah tangga meninggalkan kentang di dalam belanga. Tentu kentang-kentang itu akan dibakar, tetapi yang penting adalah melihat wujud dari pernyataan itu.”

Paus menambahkan bahwa ada satu orang dalam Injil yang tidak ingin mengambil risiko. Dialah Thomas. “Tetapi Tuhan yang baik menunggunya sama dengan bagaimana Dia menunggu dengan sabar orang-orang yang tidak bangun dan segera menanggapi pengumuman penuh kejutan itu,” kata Paus.

Pikiran ketiga Paus Fransiskus adalah pertanyaan. “Bagaimana dengan saya? Apakah saya memiliki hati yang terbuka terhadap kejutan-kejutan Tuhan? Apakah saya dapat pergi dengan cepat, atau apakah saya selalu enggan bertindak dan berdalih sampai besok,” tanya Paus.

“Kejutan itu berkata apa kepada saya?” tanya Paus Fransiskus. Yohanes dan Petrus berlari ke kubur dan Injil mengatakan bahwa mereka percaya. Paus Fransiskus mengatakan bahwa kepercayaan Petrus “sedikit bercampur penyesalan karena telah menyangkal Tuhan.”

Paus mengakhiri homilinya dengan mengatakan bahwa sekarang giliran kita untuk bertanya “bagaimana dengan saya di hari ini di Paskah 2018 ini. Bagaimana dengan kalian?”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Foto-foto dari Vatican News

Paus minta di Malam Paskah: Berhentilah Berdiam. Atasilah Rasa Takut

Min, 01/04/2018 - 09:40

Paus Fransiskus dalam homili Misa Malam Paskah menantang umat Katolik untuk tidak berdiam diri, melainkan mengatasi rasa takut kita dan membagikan misi dan pesan Yesus, seraya menggambarkan bagaimana para murid Yesus berdiri “terdiam di hadapan Salib,” tidak mampu “berbicara atas nama Tuan mereka.”

Kita pun demikian, “terdiam saat menghadapi situasi yang tidak dapat kita kendalikan” karena yakin bahwa “tidak ada yang dapat dilakukan untuk membalikkan semua ketidakadilan yang dialami saudara dan saudari kita,” tegas Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, 31 Maret 2018.

Seraya meminta agar kita berhenti berdiam, Paus menegaskan bahwa “kegelapan dan keheningan membuat kita kehilangan arah dan melumpuhkan kami,” karena mereka “menceburkan kita ke dalam rutinitas menghancurkan yang merampas memori, membungkam harapan, dan menuntun pada pemikiran bahwa ‘selalu begini caranya’”. Bahkan Paus menambahkan, di tengah “diam yang besar,” batu-batulah yang “berteriak” dan memproklamirkan “cara baru untuk semua.”

Maka, di Malam Paskah itu Paus mengajak umat untuk mengatasi rasa takut. “Jangan takut … karena Dia telah bangkit.” Kata-kata itu, menurut Paus Fransiskus, harus “mempengaruhi kepastian dan keyakinan terdalam kita, serta menantang dan mendorong kita untuk percaya dan yakin bahwa Tuhan ‘terjadi’ dalam setiap situasi dan setiap orang.”

“Dia bangkit dari kematian … dan sekarang Dia menunggu kita,” lanjut Paus, sehingga kita dapat “ikut bersama dalam karya penyelamatan-Nya”. Kristus telah bangkit, ”Inilah pesan yang menopang harapan kita dan mengubahnya menjadi gerakan-gerakan kasih yang konkret.”

Bagi Paus Fransiskus, kunci untuk merayakan Paskah adalah mengenali bagaimana Tuhan secara terus menerus datang tanpa diundang ke dalam kehidupan kita, “seraya menantang kebiasaan kita, cara berpikir dan bertingkah kita yang konstan yang akhirnya melumpuhkan kita.” Tuhan mengajak kalian dan saya, “untuk keluar dari rutinitas kita dan memperbarui hidup kita.” Ajakan itu bersifat pribadi dan kuat: “Apakah kita mau membagikan pesan Kehidupan ini, atau apakah kita lebih suka terus berdiri tanpa berkata-kata di depan berlangsungnya peristiwa-peristiwa?”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Arti kebangkitan bagi kita yang hidup

Min, 01/04/2018 - 07:26

Minggu Paskah

1 April 2018

Yohanes 20: 1-10

… dia melihat dan percaya (Yoh 20: 8)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tuhan telah bangkit! Kematian telah dikalahkan! Paskah adalah kemenangan kita semua! Ini adalah sukacita Hari Raya Paskah, dan pada hari kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita memahami arti sebuah kebangkitan? Apa artinya ketika kita mengatakan bahwa kematian telah ditaklukkan?

Walaupun maut telah dikalahkan, kita semua tetap akan mati. Kita hanya tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana, tetapi kita yakin bahwa kematian akan datang. Kita tetap cemas dan takut akan realitas penderitaan dan kematian. Tampaknya kematian belum sungguh-sungguh dikalahkan? Memang benar bahwa terkadang kematian bisa menjadi sebuah pembebasan. Seorang wanita paruh baya yang saleh bercerita kepada pastor parokinya bahwa dia berdoa agar Tuhan akan memanggilnya ketika dia tampak masih cantik dan sebelum dia terlihat tua, keriput dan jelek. Kemudian, sang pastor pun berkomentar, “Lalu, kenapa kamu masih di sini!”

Jika kita perhatikan, para imam biasanya berkhotbah tentang kebangkitan saat misa arwah! Kebangkitan telah menjadi semacam penghilang rasa sakit bagi keluarga dan kerabat yang berduka. Kita yakin bahwa kematian mereka yang kita cintai bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan baru yang menanti, dan kita akan bergabung dengan Allah kita dalam hari kebangkitan. Meskipun para pastor kita berkhotbah tentang kebenaran yang menghibur, cara kita mewartakan kebangkitan cenderung menjadikan kehidupan kekal sebagai tempat pensiun yang permanen, dan kebangkitan sebagai realitas yang sangat jauh dari kehidupan yang sekarang. Seorang imam pernah menyatakan bahwa dia diciptakan tidak begitu tampan, dan karena itu dia merencanakan bahwa pada hari kebangkitan, dia akan segera mengambil tubuh penyanyi Kanada yang terkenal, Justin Bieber! Kebangkitan itu hanya untuk mereka yang sudah meninggal, dan itu tidak berarti banyak bagi kita yang masih hidup. Namun, kebangkitan Yesus di hari Paskah benar-benar untuk kita semua yang masih hidup di dunia.

Jika kita membaca kembali ke kebangkitan Yesus, Injil tidak menjelaskan bagaimana kebangkitan itu terjadi. Namun, ada kubur yang kosong, dan tubuh Yesus hilang. Petrus sangat bingung. Maria Magdalena menangis dengan sedih. Hanya ada satu murid yang mengerti. Dia adalah murid yang sangat mengasihi Yesus dan yang dikasihi Yesus. Meskipun menghadapi kematian dan kekosongan, cinta kasih tidak pernah hilang. Melalui mata kasih, murid ini dapat melihat kebangkitan.

Kasih dan kebangkitan memiliki hubungan yang erat, bahkan jejaknya kembali ke kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian. Kita diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Jika Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), kita diciptakan menurut citra kasih. Oleh karena itu, melebihi makhluk-makhluk lain, kita dirancang dengan kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi. Tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengasihi satu sama lain, kita juga dikaruniai kemampuan untuk dikasihi oleh Tuhan dan untuk mengasihi Tuhan. Tidak ada ciptaan lain di bumi yang dapat berpartisipasi dalam kisah kasih paling indah dengan Tuhan. Sayangnya, dosa menghancurkan kisah kasih dengan Tuhan ini, dan secara serius merusak kemampuan kita untuk mengasihi dan dikasihi. Sejarah umat manusia berubah menjadi sejarah dosa, penderitaan, dan kematian. Suami dan istri saling menyakiti, saudara saling membunuh, pria mengeksploitasi wanita, wanita menjual anak-anak mereka, dan manusia merusak alam. Manusia membutuhkan penebusan.

Sungguh, Allah dalam kasih-Nya menjadi manusia untuk memulai karya penebusan, dan penebusan Yesus ini mencapai puncaknya dalam kebangkitan-Nya. Salah satu anugerah yang terbesar dari kebangkitan adalah kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan dikasihi Allah dipulihkan. Saat Yohanes sang murid terkasih mampu melihat lebih jauh dari sekedar kubur yang kosong, dan percaya kepada Tuhan yang bangkit, Injil memberikan kita sebuah tanda bahwa rahmat kebangkitan telah bekerja. Jika Yohanes disembuhkan, karunia yang sama menyembuhkan kita juga dan memulihkan kemampuan kita untuk mengasihi Allah. Di tengah-tengah kekosongan hidup, kita diberdayakan untuk melihat Tuhan yang bangkit. Terlepas dari absurditas kehidupan, kita dimampukan untuk mengubah kesedihan dan rasa sakit kita menjadi kesempatan untuk mencintai lebih banyak dan melayani dengan lebih baik. Meskipun sakit dan mati, cinta tetap bertahan. Ini adalah kebangkitan Tuhan dalam hidup kita, Ini adalah hari Paskah!

 

 

Pastor Handoko MSC: Membuka usaha adalah peluang untuk berbuat baik bagi orang lain

Min, 01/04/2018 - 06:57
Pastor Agustinus Handoko MSC

Wakil Provinsial MSC Indonesia Pastor Agustinus Handoko MSC mengatakan bahwa membuka usaha ekonomi sesungguhnya sangat penting dan menjanjikan bagi orang muda saat ini, karena dengan merintis usaha ekonomi, orang muda bisa membuka peluang untuk melakukan kebaikan bagi orang lain.

Pastor Handoko berbicara dalam Talk Show berjudul “Social Enterpreneurship Era Millenial dan Kebhinekaan Kita”’ di  Café Secopi The Breez, Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Selatan, 24 Maret 2018.

Imam itu mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa talk show semacam itu bisa menginspirasi orang untuk melakukan kebaikan untuk orang lain. “Saya mengajak orang muda untuk membuka usaha yang positif yang menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani,” kata imam itu.

Lebih dari 100 orang dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta, serta aktivis entrepreneur, dan anggota koperasi dari berbagai paroki hadir dalam acara yang dilaksanakan oleh Pemuda Katolik bekerjasama dengan Lembaga Bina Muda Mandiri itu.

Menurut Pastor Handoko, tujuan Allah menciptakan manusia sesungguhnya agar manusia memiliki harapan baik dalam kehidupan ini walaupun manusia dihadapkan berbagai tantangan dan kesulitan. “Di tengah-tengah kesulitan manusia, Allah menunjukkan kasih-Nya. Allah menciptakan manusia seturut gambar atau citra-Nya,” kata imam itu seraya berharap agar setelah memperoleh kasih Allah itu orang muda membagikan pengalaman kasih kepada orang lain.

Talk Show yang dimoderatori oleh Bondan Wicaksono itu menghadirkan juga narasumber lain yakni pengusaha kopi Mikhael Rudy, pemilik Yayasan Prima Unggul yang juga memiliki sebuah panti asuhan di Pulo Mas Jakarta Timur Martinus  M Gea, dan psikolog Lucia Bulan.

Menurut Martinus, anak-anak yang tinggal di panti asuhannya bukan hanya menerima belas kasihan dari orang lain. “Mereka sendiri memiliki talenta dan mereka mengembangkan talenta itu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun sebelumnya mereka diberi pemahaman betapa pentingnya memiliki semangat kewirausahaan,” katanya.

Panti asuhannya dihuni 70 orang yang umumnya membuka usaha sendiri. “Mereka mempunyai usaha catering, cucian motor dan training center. Bahkan belum lama ini mereka bekerjasama dengan kelompok tertentu untuk menjual sayur-sayuran,” jelas umat Paroki Bonavantura, Jakarta Timur, yang pernah menjadi ketua umum Perhimpunan Panti Asuhan Katolik seluruh Indonesia.

Mikhael mengatakan, orang muda Katolik yang menghadapi kesulitan sebaiknya tidak putus asa. “Melakukan usaha apapun pasti ada tantangan. Tinggal bagaimana kita menghadapinya,” kata Mikhael yang mengaku sejak membuka usaha kopi sekitar dua tahun lalu juga menghadapi tantangan. “Puji Tuhan, usaha ini terus berjalan dan tetap eksis,” kata umat Paroki Santa Maria Regina Bintaro itu.

Lucia menceritakan, sejak kecil ia bercita-cita mempunyai usaha mandiri dan ketika menjadi mahasiswi Unika Atmajaya, ia bertekad menjadi usahawan. Namun, karena menyenangi makanan ia pun membuka usaha makanan. “Tetapi bukan tanpa tantangan. Di tengah hambatan dan tantangan saya tidak kapok, kata Lucia yang masih berwirausaha bidang makanan dan membuka usaha jasa layanan psikologi.

Dia menyadari bahwa orang muda saat ini dikenal individual, tapi memiliki semangat tinggi. “Banyak orang muda sukses dengan perjuangan yang gigih. Tapi ada juga orang muda yang membutuhkan pendampingan. Namun yang penting, ketika menghadapi tantangan atau kesulitan setiap orang harus memiliki ketahanan diri yang kuat agar ia tidak mudah putus asa dalam memulai dan menjalankan usaha ekonominya,” kata Lucia. (Konradus R. Mangu)

Lucia Bulan

Apa yang dilakukan Roh Kudus dalam Gereja?

Sab, 31/03/2018 - 16:34
ambar Roh Kudus di Kanopi Altar Basilika Santo Petrus. Foto diambil dari www.askideas.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

145. Apa yang dilakukan Roh Kudus dalam Gereja?

Roh Kudus membangun, menjiwai, dan menyucikan Gereja. Sebagai Roh Cinta Kasih, Roh Kudus memulihkan keserupaan ilahi yang hilang karena dosa bagi orang-orang yang dibaptis dan membuat mereka hidup di dalam Kristus, yaitu hidup yang sama dalam Tritunggal. Roh Kudus mengutus mereka untuk memberikan kesaksian akan Kebenaran Kristus dan membimbing mereka dalam tugas masing-masing sehingga semuanya mendapatkan ”buah Roh” (Gal 5:22).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 733-741, 747

146. Bagaimana Kristus dan Roh Kudus berkarya dalam hati umat beriman?

Kristus mengomunikasikan Roh-Nya dan rahmat Allah melalui Sakramen-Sakramen kepada semua anggota Gereja, yang memperoleh anugerah buah-buah kehidupan baru dalam Roh. Roh Kudus juga merupakan Guru doa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 738-741

Paus berdoa dengan “rasa malu, pertobatan, dan pengharapan” saat Jalan Salib di Colosseum

Sab, 31/03/2018 - 05:42

Renungan untuk 14 Perhentian Via Crucis atau Jalan Salib di Colosseum Roma, Jumat Agung malam, 30 Maret 2018, disusun oleh sekelompok orang muda Katolik (OMK) sebagai bagian dari persiapan untuk Sinode Para Uskup bulan Oktober. Tema-temanya berkisar dari migrasi hingga mengomunikasikan Yesus di internet. Namun, seperti biasanya Jalan Salib itu diakhiri dengan doa, yang dibacakan oleh Paus dan yang sering secara khusus ditulis sendiri oleh Bapa Suci. Tahun ini, Paus Fransiskus memilih memfokuskan doanya pada tiga kata kunci: “rasa malu, pertobatan, dan pengharapan.”

Tradisi Jalan Salib itu, menurut laporan Seàn-Patrick Lovett dari Vatican News berasal dari Paus Benediktus XIV di abad ke-18 dan dihidupkan kembali oleh Paus Paulus VI tahun 1964 dan sejak saat itu dirayakan setiap tahun oleh Paus.

Dalam doanya Paus mengatakan, “Kami punya banyak alasan untuk merasa malu, karena lebih memilih kekuasaan dan uang daripada Tuhan, karena lebih menyukai “keduniawian bukan keabadian,” karena meninggalkan bagi orang muda “dunia yang hancur karena perpecahan dan perang, dunia yang dilanda keegoisan tempat orang muda, orang yang rentan, orang sakit, dan orang tua terpinggirkan.”

Dalam doa itu Paus mengatakan, rasa malu karena semua orang “membiarkan diri mereka ditipu oleh ambisi dan kemuliaan yang sia-sia,” termasuk beberapa pelayan Gereja. Kami merasa malu, “karena kehilangan rasa malu,” kata Paus.

Pertobatan kami, lanjut doa Paus, terkait dengan kepastian bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita dari kejahatan, dari “kebencian, keegoisan, kesombongan, keserakahan, balas dendam, penyembahan berhala.” Hanya Dia yang dapat merangkul kita dan mengembalikan kita kepada martabat kita sebagai anak-anak-Nya. “Pertobatan lahir dari rasa malu kita, dari kepastian bahwa hati kita akan selalu tetap gelisah sampai ditemukan dalam diri kalian, satu-satunya sumber pemenuhan dan perdamaian,” Paus berdoa. Pertobatan, lanjut Bapa Suci, muncul karena “menyadari kecilnya kita, ketiadaan kita, kesombongan kita” dan membiarkan diri kita dipanggil untuk bertobat.

Sementara itu, pengharapan “menyalakan kegelapan dari keputusasaan kita,” karena kita tahu bahwa satu-satunya ukuran kasih Allah “adalah mencintai tanpa batas.” Paus Fransiskus berdoa agar pesan Injil bisa terus mengilhami banyak orang, “karena tahu bahwa hanya kebaikan yang bisa mengalahkan kejahatan dan dosa, hanya pengampunan yang bisa mengatasi kebencian dan balas dendam, hanya pelukan persaudaraan yang bisa membuyarkan permusuhan dan ketakutan akan yang lain.” Pengharapan ini meluas kepada Gereja yang selalu bisa menjadi “model kemurahan hati yang tidak egois, tempat berlindung yang aman, dan sumber kepastian dan kebenaran – terlepas dari semua upaya untuk mendiskreditkannya,” demikian Paus berdoa.

Paus mengakhiri setiap renungan itu dengan serangkaian permohonan kepada Tuhan Yesus, agar “memberikan rahmat kepada kita untuk merasakan rasa malu yang suci … pertobatan yang suci … dan pengharapan yang suci … selalu.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Foto-foto dari Vatican News

Pastor Cantalamessa dalam homili Jumat Agung di Vatikan: Yohanes adalah model OMK

Sab, 31/03/2018 - 02:48

Dalam homili Ibadat Jumat Agung yang dipimpin Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, 30 Maret 2018, Pengkhotbah Rumah Kepausan Pastor Raniero Cantalamessa OFMCap mengatakan bahwa dalam Injilnya, Yohanes yang merupakan Murid Yesus itu, menunjukkan “jatuh cinta yang sebenarnya.” Setelah perjumpaannya dengan Yesus, “segala sesuatu tiba-tiba menjadi kurang penting,” kata Pastor Cantalamessa.

Karena Gereja sedang mempersiapkan Sinode tentang Orang Muda, imam itu menegaskan bahwa kesaksian Yohanes bisa menjadi model bagi orang muda Katolik (OMK) untuk menanggapi permintaan Paus Fransiskus kepada kita dalam Evangelii gaudium: “Saya mengajak semua umat Kristiani di mana pun, saat ini, untuk membuat perjumpaan pribadi yang baru dengan Yesus Kristus” (No. 3).

Pastor Cantalamessa memfokuskan homilinya kepada Yohanes sebagai saksi mata, yang menulis laporan tentang apa yang dia saksikan. Yohanes tidak hanya melihat apa yang dilihat orang lain. “Dia juga melihat arti dari apa yang terjadi,” kata Pastor Cantalamessa.

Ia melihat Anak Domba Allah yang dikorbankan, pemenuhan Paskah, “bait Allah yang baru, yang dari sisinya (…) mengalirkan air kehidupan.” Yohanes menyaksikan keluarnya Roh Allah, yang seperti, dalam permulaan, “mengubah kekacauan di kosmos,” lanjut imam itu.

Yohanes, jelas imam itu, memahami bahwa Yesus di kayu salib itu memperlihatkan Allah “sebagaimana adanya, dalam realitas-Nya yang paling intim dan paling sejati.” Kemudian Yohanes ingin menyatakan pemahaman ini sebagai “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:10), yang berarti bahwa itulah cinta yang penuh pengorbanan, cinta yang berisi pemberian diri. “Hanya di kayu salib itulah Tuhan membuktikan seberapa jauh cintanya: Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya” (Yoh 13: 1).

“Tuhan menyatakan dirinya di kayu salib sebagai agape, cinta yang memberi dirinya sendiri.” Pastor Cantalamessa menjelaskan bagaimana OMK dapat melakukan hal itu. “Perlulah mempersiapkan diri kalian sendiri untuk menghadiahkan seluruh diri kalian kepada orang lain dalam pernikahan, atau kepada Allah dalam hidup bakti, dimulai dengan menyumbangkan waktu kalian, senyuman kalian, (…) hidup kalian dalam keluarga, dalam paroki, dan dalam pekerjaan sukarela,” kata imam itu. Dengan cara ini, OMK akan belajar bagaimana menyatukan eros ke dalam agape, lanjut Pastor Cantalamessa.

Setelah Kisah Sengsara menurut Yohanes dan homili itu, umat di basilika itu melakukan Penghormatan Salib an menerima Komuni Kudus. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Pengkhotbah Rumah Kepausan Pastor Raniero Cantalamessa OFMCap membawakan homili

Foto-foto dari Vatican News

Apa hubungan antara Roh Kudus dan Yesus Kristus dalam misi-Nya di dunia?

Jum, 30/03/2018 - 04:16

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

143. Apa hubungan antara Roh Kudus dan Yesus Kristus dalam misi-Nya di dunia?

Sejak Penjelmaan, Putra Manusia disucikan dalam kemanusiaan-Nya sebagai Mesias dengan pengurapan Roh Kudus. Dia mewahyukan Roh Kudus dalam pengajaran-Nya, melaksanakan janji-janji-Nya kepada para bapa bangsa, dan mengomunikasikan kepada Gereja yang sedang lahir ketika Dia menghembusi para Rasul sesudah kebangkitan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 727-730, 745-746

144. Apa yang terjadi pada hari Pentekosta?

Lima puluh hari sesudah kebangkitan, pada Hari Raya Pentekosta, Yesus Kristus yang sudah dimuliakan mencurahkan Roh Kudus secara berkelimpahan dan mewahyukan Roh Kudus sebagai Pribadi Ilahi sehingga Tritunggal dimanifestasikan secara penuh. Misi Kristus dan Roh Kudus menjadi misi Gereja yang diutus untuk mewartakan misteri persatuan Tritunggal.

”Kita sudah melihat Cahaya sejati,

kita sudah menerima Roh surgawi,

kita sudah menemukan iman yang benar,

kita menyembah Tritunggal yang tak terpisahkan,

yang telah menyelamatkan kita.”

 (Liturgi Byzantin, Tropario Vesper Pentekosta)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 731-732, 738

Mgr Agus dalam Misa Krisma: Hari ini giliran kami (para imam) minta doa dari umat

Jum, 30/03/2018 - 03:11

Menjadi gembala umat zaman sekarang, untuk melanjutkan karya pelayanan para rasul, bukanlah hal mudah. Oleh karena itu, para imam perlu mendapat dukungan dan doa dari umatnya, kata Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr di hadapan seluruh umat yang menghadiri Misa Krisma di Gereja Katedral Santo Yosep Pontianak, 28 Maret 2018.

“Hari ini sangat spesial, karena hari ini adalah hari ulang tahun atau pestanya para imam. Maka dari itu, kali ini kami terkesan agak egois, karena khusus hari ini giliran kami yang meminta doa dari umat,” kata Mgr Agus.

Sebanyak 78 imam, baik diosesan maupun religius, yang berkarya di Keuskupan Agung Pontianak hadir dalam Misa Krisma yang dipimpin oleh Mgr Agus yang didampingi Kepala Paroki Santo Agustinus Sungai Raya Pontianak Pastor Yandhie Buntoro CDD, dan Minister Provinsial Kapusin Pontianak Pastor Hermanus Mayong OFMCap.

Menjadi seorang imam, kata Mgr Agus dalam homilinya, diperlukan relasi yang mendalam dengan Tuhan serta iman yang teguh kepada Dia yang telah memilih mereka. “Kita patut bersyukur atas rahmat panggilan khusus ini, terlebih kita yang kecil ini mau dipakai oleh Tuhan untuk menjadi alat-Nya, maka jaga dan rawatlah rahmat panggilan ini,” minta uskup.

Selain berterima kasih kepada Mgr Agus yang memimpin Misa Pembaharuan Janji Imamat serta pemberkatan tiga jenis minyak untuk pelayanan sakramen, Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak Pastor Pius Barces CP memberi keterangan bahwa sejak hari Selasa sore hingga Rabu siang 78 imam yang hadir membaharui janji imamat ini mengikuti rekoleksi di Wisma Immaculata.

“Kami atas nama para imam se-Keuskupan Agung Pontianak mengucapkan terima kasih kepada Pastor Yohanes Subagyo Pr, Vikjen KAJ, yang telah membimbing dan membuka wawasan kami untuk semakin menghayati tugas dan pelayanan kami sebagai imam,” kata Pastor Barces.

Tiga jenis minyak yang diberkati adalah Minyak Krisma (sacrum chrisma) untuk memberkati para baptisan, tahbisan diakonat, tahbisan imamat, tahbisan uskup, dan Sakramen Krisma; Minyak Katekumen (oleum catecumenorum) untuk memberkati mereka yang ingin menjadi Katolik (para katekumen); dan Minyak Pengurapan Orang Sakit (oleum infirmorum) yang digunakan untuk memberkati mereka yang dalam kondisi sakit serius atau menjelang ajal. (Suster Maria Seba SFIC)

Paus Fransiskus membasuh kaki tahanan di penjara Regina Coeli Roma

Jum, 30/03/2018 - 00:51

Saat Mengenang Perjamuan Tuhan dalam Misa Kamis Putih, Paus Fransiskus membasuh kaki tahanan beragama Katolik, Islam, Buddha dan Kristen Ortodoks, seraya mengenang cara Yesus membasuh kaki ke-12 muridnya sebelum bersama-sama merayakan Perjamuan Terakhir bersama mereka.

Sejak awal kepausannya, Paus Fransiskus memilih untuk merayakan Misa Mengenang Perjamuan Tuhan di luar Vatikan, seraya mendatangi ke pusat-pusat penahanan dan rumah orang cacat untuk membasuh kaki para tahanan, pengungsi dan orang-orang terpinggirkan lainnya. Ini adalah tradisi yang dimulainya ketika menjadi Uskup Agung Buenos Aires. Di sana, dia secara teratur merayakan liturgi Kamis Putih di penjara lokal.

“Aku orang berdosa seperti kalian. Tetapi hari ini saya mewakili Yesus,” kata Paus Fransiskus tanpa teks kepada para tahanan di Penjara Regina Coeli, Roma, 29 Maret 2018. Paus meminta agar saat kaki mereka dibasuh olehnya, hendaknya mereka memikirkan kenyataan bahwa “Yesus mempertaruhkan nyawa-Nya menerima seorang pendosa yang datang kepada saya untuk mengatakan bahwa dia mencintai saya. Ini adalah pelayanan. Ini adalah Yesus. Sebelum memberi dirinya kepada kita dalam tubuh dan darah-Nya, Yesus mempertaruhkan dirinya untuk masing-masing kita – mempertaruhkan dirinya dalam pelayanan – karena dia begitu mencintai kita.”

Regina Coeli adalah penjara tertua dan paling terkenal di Roma, yang dihuni narapidana lebih 60 bangsa berbeda. Penjara, yang sangat dekat dengan Vatikan, sepanjang tepian Sungai Tiber, itu dibangun di situs sebuah biara abad ke-17 yang diubah menjadi penjara di akhir abad ke-19.

Seperti penjara lainnya di Italia, penjara itu menjadi berita utama karena masalah kepadatan dan tingkat bunuh diri yang tinggi. Dalam kunjungannya, Paus akan memberi salam kepada narapidana, mengunjungi yang sakit di ruang perawatan penjara dan bertemu dengan tahanan yang ditahan di sebuah bagian bagi tahanan yang membutuhkan perlindungan khusus selama penahanan mereka.

Sebagai bagian dari perayaan Misa di sana, Paus berlutut dengan membawa handuk dan baskom air untuk mencuci kaki dua belas narapidana, meneladani gerakan kerendahan hati dan pelayanan Yesus.

Dua belas orang, yang dipilih oleh otoritas penjara, berasal dari Italia, Filipina, Maroko, Moldavia, Columbia, Nigeria dan Sierra Leone. Delapan dari mereka beragama Katolik, sementara dua beragama Islam, satu beragama Buddha dan satu lagi Kristen Ortodoks.

Di tahun 2013, tidak lama setelah terpilih sebagai Paus, Paus Fransiskus mengunjungi pusat penahanan kaum muda. Di sana Paus memilih, untuk pertama kalinya, mencuci kaki beberapa wanita dan orang non-Kristen, yang menyebabkan perubahan dalam peraturan liturgi yang ditetapkan dalam Missale Romawi. Paus juga bertemu dengan pria dan wanita di pusat-pusat penahanan di sebagian besar kunjungan pastoralnya di luar negeri.

Paus Fransiskus adalah Paus keempat yang mengunjungi Regina Coeli. Paus yang sebelumnya pernah juga mengunjungi penjara Regina Coeli adalah Paus Yohanes XXIII di tahun 1958, Paus Paulus VI di tahun 1964, dan Paus Yohanes Paulus II di tahun 2000.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus: Tri Hari Suci adalah pusat iman Kristen

Kam, 29/03/2018 - 15:27

Dalam Audiensi Umum pada hari Rabu, 28 Maret 2018, Paus Fransiskus merenungkan tentang Tri Hari Suci dan menyebutnya sebagai pusat “iman dan panggilan kita di dunia,” serta mengajak umat Kristiani untuk menjadi alat penebusan dan harapan bagi saudara-saudari kita yang menderita.

Tiga hari atau Triduum mulai dengan Misa Perjamuan Tuhan pada Kamis malam dan berakhir pada Minggu Paskah. Dalam katekese, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, Bapa Suci mengatakan bahwa umat Kristiani dipanggil untuk menghayati misteri kematian dan kebangkitan Yesus sebagai “matriks kehidupan pribadi dan komunitas mereka.”

Paus Fransiskus mengatakan, klimaks tahun liturgi Gereja diproklamirkan dalam Misa pada Sekuensia Minggu Paskah, “Kristus, harapanku bangkit, mendahului ke Galilea.” Paus menyebutnya sebagai “pewartaan sukacita dan harapan” dan “seruan untuk tanggung jawab dan misi.”

Tri Hari Suci, kata Paus, mempersiapkan kita untuk menerima pewartaan ini. “Inilah pusat iman dan harapan kita. Itulah kerygma, yang terus-menerus menginjili Gereja, yang pada gilirannya diutus untuk menginjili.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa Tri Hari Suci memperbarui umat Kristiani yang sudah dibaptis dalam “arti kondisi baru mereka.” Dalam Pembaptisan, kata Paus, “kita bangkit bersama Yesus dan kita mati untuk hal-hal dan logika dunia ini.”

Paus mengatakan, kondisi baru ini harus dijalani secara konkrit setiap hari.

“Seorang umat Kristiani – jika mereka benar-benar membiarkan diri mereka dicuci oleh Kristus dan dilucuti oleh-Nya dari ‘manusia lama’ untuk berjalan dalam corak baru kehidupan, tidak akan binasa meski tetap berdosa. [Umat Kristiani] tidak dapat hidup lagi dengan kematian dalam jiwa mereka, juga tidak dapat menjadi penyebab kematian.”

Paus Fransiskus mengatakan, dunia menjadi “ruang untuk menjalani kehidupan kita yang baru dibangkitkan.”

Kita dipanggil untuk melakukan ini, kata Paus, “di atas kaki kita, dengan kepala terangkat tinggi. Dengan demikian kita dapat ikut merasakan kehinaan mereka, yang seperti Yesus, masih telanjang, masih membutuhkan bantuan, kesepian, dan kematian.”

Berkat Yesus dan bersama-Nya, kata Paus, kita menjadi “alat penebusan dan harapan, serta tanda-tanda kehidupan dan kebangkitan.”

Paus mengakhiri renungannya dengan mengajak semua umat Kristiani “untuk menjalani Tri Hari Suci dengan baik” dan “semakin masuk ke dalam misteri kematian dan kebangkitan Kristus.”

Semoga Perawan Maria, kata Paus Fransiskus, “menemani kita dalam perjalanan spiritual ini, dia yang mengikuti Yesus dalam penderitaannya, hadir bersama Dia di bawah Salib, dan menerima dalam hati ibunya sukacita akan kebangkitan.”(paul c pati berasarkan Vatican News)

Apakah karya Roh Kudus dalam diri Maria?

Rab, 28/03/2018 - 23:51

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

141. Apa yang digenapi Roh Kudus dalam diri Yohanes Pembaptis?

Roh memenuhi Yohanes Pembaptis, nabi terakhir Perjanjian Lama. Di bawah inspirasi Roh Kudus, Yohanes diutus untuk ”menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:17). Dia mewartakan kedatangan Kristus, Putra-Nya, dan dia melihat Roh turun dan tinggal bersama-Nya, Dia yang ”membaptis dengan Roh Kudus” (Yoh 1:33).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 717-720

142. Apakah karya Roh Kudus dalam diri Maria?

Dalam diri Maria, Roh Kudus membawa kepenuhan semua penantian dan persiapan Perjanjian Lama untuk kedatangan Kristus. Dengan cara yang khusus, Roh Kudus memenuhi Maria dengan rahmat dan membuat keperawanannya menjadi subur sehingga Maria dapat melahirkan Putra Allah yang menjadi daging. Roh Kudus membuat Maria menjadi Bunda ”Kristus sepenuhnya”, yaitu Bunda Yesus sebagai Kepala dan Bunda Gereja sebagai Tubuh-Nya. Maria hadir bersama kedua belas Rasul pada hari Pentekosta ketika Roh Kudus memulai ”zaman akhir” dengan perwujudan Gereja

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 721-726, 744

Paus Fransiskus mengunjungi Paus Benediktus dan Sekretariat Negara

Rab, 28/03/2018 - 23:33

Paus Fransiskus, tanggal 27 Maret 2018, mengunjungi Sekretariat Negara Vatikan, tempat sekitar 300 orang bekerja, untuk saling mengucapkan Selamat Paskah. Paus juga mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI di Biara Mater Ecclesiae di Vatikan untuk memberikan selamat Paskah kepadanya, demikian komunike Kantor Pers Takhta Suci. Dengan ditemani oleh Asesor, Mgr Paolo Borgia, Paus mengunjungi dan memberkati kantor-kantor Bagian Ketiga, yang didirikan bulan November untuk personil diplomatik Tahta Suci. Bapa Suci kemudian secara pribadi menyapa semua pejabat dan karyawan, memberi mereka selamat Paskah dan berterima kasih atas pekerjaan mereka. Terakhir kali Paus Fransiskus bertemu dengan pejabat dan staf sekretariat itu di bulan April 2013.(pcp)

Polda Kalbar dan Keuskupan Agung Pontianak bersinergi perangi hoax jelang Pilkada 2018

Rab, 28/03/2018 - 21:12
https://kap.or.id/

“Kami umat Katolik se-Keuskupan Agung Pontianak, Kalimantan Barat, menolak berita hoax yang dapat memecah belah persatuan bangsa, mendukung kepolisian melakukan penegakan hukum untuk memberantas pelaku hoax, dan siap mendukung Pilkada Kalbar berjalan dengan damai dan menjaga pluralisme di Kalbar.”

Deklarasi atau komitmen itu diucapkan oleh para imam, suster, bruder dan awam Keuskupan Agung Pontianak bersama dengan anggota kepolisian dalam gathering Keuskupan Agung Pontianak bersama Polda Kalimantan Barat (Kalbar) di Wisma Immaculata, Susteran SFIC Pontianak 27 Maret 2018.

Menurut laporan media online Keuskupan Agung Pontianak yang diterima PEN@ Katolik, tujuan gathering itu adalah untuk “mengoptimalkan peran Keuskupan Agung Pontianak dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif pada pelaksanaan Pilkada 2018 di Kalbar,” dan untuk “membuat komitmen bersama menangkal dan membendung penyebaran berita palsu (hoax) yang akhir-akhir ini terindikasi meresahkan dan membahayakan persatuan dan kesatuan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

“Berita palsu mampu mengeksploitasi perasaan sesaat seperti rasa cemas, rasa terhina, marah dan frustrasi. Berita palsu adalah wujud dari sikap intoleransi,” kata Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dalam gathering itu seraya mengingatkan bahwa di saat kampanye berlangsung suasana bersinggungan antarkelompok sangat rentan.

Prelatus itu menegaskan bahwa Gereja Katolik juga punya tanggungjawab untuk menjaga suasana damai dan kondusif dalam masyarakat. “Jika suasana dalam masyarakat tidak damai, maka semuanya akan terganggu,” jelas Mgr Agus.

Kapolda Kalbar  Irjen Polisi Drs Didi Haryono SH MH berterima kasih karena boleh diundang oleh pihak Keuskupan Agung Pontianak guna mendukung seluruh agenda nasional maupun daerah terkait dengan Pilkada 2018 untuk  memberantas hoax  yang dapat memecah belah persaudaraan bahkan persatuan dan kesatuan sebagai warga negara Indonesia.

Ditegaskan bahwa pihaknya siap berkontribusi dan bersinergi dengan pihak Gereja Katolik dan seluruh pemangku pelaksana Pilkada 2018 dalam menciptakan kampanye damai. “Kerja sama dengan beberapa lembaga ini dapat menjadi jurus jitu untuk menangkal hoax yang beredar di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat,” tegasnya.

Kapolda Kalbar juga mengajak para pastor sebagai tokoh agama untuk menjadi orang yang terdepan dalam menangkal dan membendung penyebaran berita palsu. “Para pastor yang adalah pemimpin umat, baik yang wilayah pelayanannya di kota maupun di daerah sangat efektif menjadi corong berita kebenaran,” tegas Didi Haryono.

Dia mengakui bahwa informasi yang belum terkonfirmasi dengan jelas kebenarannya dapat menimbulkan kegaduhan, keresahan, kecemasan, dan ketidakamanan dalam masyarakat. “Tapi syukur sampai dengan tahapan kampanye pilkada saat ini, Kalbar dalam keadaan aman dan kondusif,” tegas Kapolda Kalbar seraya berharap agar para pastor terus membangun kebhinekaan dan mampu lebih bijaksana menyikapi berita palsu dan hoax yang sudah menjadi viral di media sosial.

Yang harus selalu diingatkan kepada masyarakat menurut kapolda adalah menganalisa sebuah berita, mengenali sumber beritanya, dan berhenti menyebarkan kepalsuan dan kebohongan. (mssfic/paul)

Semua foto ini diambil dari Media Komunikasi Keuskupan Agung Pontianak https://kap.or.id/

Ketua Komisi Liturgi KAJ menanggapi hoax tentang warna pakaian umat saat Tri Hari Suci

Rab, 28/03/2018 - 18:42
Pastor Hieronymu Sridanto Aribowo/HIDUP Katolik

Baru-baru ini ada media sosial yang menguraikan tentang warna liturgi dalam Pekan Suci, dan secara khusus menegaskan bahwa warna liturgi Jumat Agung adalah merah dan bukan hitam, oleh karena itu pada Jumat Agung “umat tidak diperkenankan lagi memakai baju warna hitam. Kalau punya merah atau putih. Bila tidak punya ya sepunyanya. Ingat, Jumat Agung bukan Jumat kesedihan tapi Jumat Kemenangan.”

Alasannya, karena sesudah Konsili Vatikan II, Gereja merubah warna liturgi Jumat Agung menjadi merah. Jumat agung bukan lagi sebagai penderitaan Tuhan Yesus, tapi sebagai tanda kemenangan atas maut. “Penyaliban adalah penyaliban kedagingan atau keduniawian kita, dan Salib simbol kemenangan atas maut. Melalui penyaliban maka ada kebangkitan hidup. Inilah bukti kemenangan atas maut. Yesus bersabda,” jelasnya,

Namun, menanggapi hal itu, Ketua Komisi Liturgi KAJ Pastor Hieronymus Sridanto Aribowo Pr mengeluarkan tanggapan tertanggal 21 Maret 2018 yang diterbitkan tanggal 28 Maret 2018 lewat website KAJ atas “Beredarnya Hoax Tentang Warna Pakaian Umat Saat Merayakan Tri Hari Suci.”

Tanggapan itu berbunyi, “Mengacu pada spirit dasar Konstitusi Suci Liturgi Gereja (Sacrosanctum Concilium) dan Tradisi Gereja yang ditulis dalam Pedoman Umum Misale Romawi 336-341 dan 119, serta dengan semangat Arah Dasar KAJ 2016-2020 khususnya Sasaran Prioritas ke-3 “Membangun katekese dan liturgi yang hidup dan memerdekakan” maka kami tegaskan bahwa:

  1. Komisi Liturgi KAJ tidak pernah menetapkan warna liturgi untuk pakaian umat beriman yang datang merayakan Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, Paskah Vigili dan Hari Raya Paskah)
  2. Komisi Liturgi hanya mengatur busana liturgi untuk para pelayan liturgi dan selama ini sudah berlangsung dengan sangat baik di paroki-paroki.
  3. Silakan umat hadir merayakan Tri hari Suci dengan pakaian bebas, pantas, sopan, rapi dan bermartabat.”

Imam itu berharap semoga tanggapan itu membantu umat untuk “merenungkan dan merayakan misteri Kasih Allah, puncak iman kita dalam sengsara, wafat dan penderitaan Putra-Nya: Yesus Kristus.”(pcp)

Simbol apa yang digunakan untuk menunjuk pada Roh Kudus?

Sel, 27/03/2018 - 23:30

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

138. Apakah nama-nama lain dari Roh Kudus?

”Roh Kudus” adalah nama khusus dari Pribadi ketiga Tritunggal. Yesus juga menyebut-Nya Sang Penghibur (atau Pembela) dan Roh Kebenaran. Perjanjian Baru juga menyebut-Nya Roh Kristus, Roh Tuhan, Roh Allah, Roh Kemuliaan, dan Roh Perjanjian.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 691-693

139. Simbol apa yang digunakan untuk menunjuk pada Roh Kudus?

Ada banyak simbol Roh Kudus: air hidup yang memancar dari Hati Yesus yang terluka dan memuaskan dahaga orang-orang yang dibaptis, pengurapan dengan minyak suci, yang merupakan simbol Sakramental Penguatan, api yang mengubah apa saja yang disentuhnya, awan, gelap atau pun terang, yang merupakan simbol pewahyuan kemuliaan ilahi, penumpangan tangan sebagai simbol pencurahan Roh Kudus, burung merpati yang turun ke atas Kristus yang dibaptis dan tinggal bersama-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 694-701

140. Apa artinya Roh Kudus ”berbicara melalui para nabi”?

Istilah ”nabi” berarti orang yang diinspirasikan oleh Roh Kudus untuk berbicara atas Nama Allah. Roh membawa pewartaan Perjanjian Lama menuju kepada kepenuhannya di dalam Kristus. Misteri Kristus ini diwahyukan dalam Perjanjian Baru.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 687-688, 702-716, 743

Halaman