Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 52 mnt yang lalu

Pesta Maria yang baru harus dirayakan mulai tahun ini pada Senin sesudah Minggu Pentakosta

Sel, 27/03/2018 - 23:12

Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen telah mengklarifikasi bahwa Peringatan Perawan Maria Terberkati, Bunda Gereja, menjadi Peringatan Wajib yang harus dirayakan dalam Misa Ordinarium Ritus Latin oleh semua umat, mulai tahun ini.

Pesta baru itu akan dirayakan pada hari Senin setelah hari Minggu Pentakosta.

Pemberitahuan, yang ditandatangani oleh prefek kongregasi itu, Kardinal Robert Sarah, menulis, masih ada pengecualian, sesuai rubrik-rubrik dalam Misale Romawi: “Kalau hari Senin atau hari Selasa setelah Pentakosta adalah hari-hari saat umat diwajibkan atau terbiasa menghadiri Misa, maka Misa Minggu Pentakosta dapat diulang, atau Misa Roh Kudus bisa dirayakan.”

Namun demikian, tegas dokumen itu, “semua yang lain sama, dipilih Peringatan Wajib dari Perawan Maria Terberkati, Bunda Gereja.”

Karena Pentakosta adalah pesta yang dapat dipindahkan, terikat pada perayaan Paskah, maka peringatan yang baru itu dapat dihimpitkan pada peringatan santo-santa atau beato-beata. Namun, kalau hal itu terjadi maka yang diutamakan adalah pesta Maria, Bunda Gereja.

Pesta yang baru itu dimasukkan ke dalam Kalender Universal Gereja Latin di awal tahun ini oleh Paus Fransiskus, dalam dekret tertanggal 11 Februari 2018, pada ulang tahun ke-160 penampakan Maria di Lourdes. Sebelumnya, izin untuk merayakan sebuah pesta Maria sudah dianjurkan hingga Polandia dan Argentina, serta Basilika Santo Petrus, dan beberapa Ordo dan Kongregasi Religius.

Gelar “Bunda Gereja” dianugerahkan kepada Perawan Maria Terberkati oleh Beato Paus Paulus VI selama Konsili Vatikan II. Pemahaman tentang keibuan Maria telah berkembang selama dekade-dekade setelah Vatikan II, terutama ketika Gereja merenungkan telah ajaran Konsili itu tentang Maria pada bab 8 dari Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen gentium).(pcp berdasarkan Vatican News)

Raja properti, yang berdevosi kepada Maria dan membagikan ribuan rosario, telah pergi

Sel, 27/03/2018 - 13:29
Benny Tungka, foto Dkl dari radarindonesianews.com

Setelah menjalani perawatan medis cukup lama akibat kanker, Yohanes Benny Tungka, kelahiran Makassar 13 Oktober 1957, yang dikenal luas di Provinsi Sulawesi Utara, karena Grup Megamas miliknya telah ‘menyulap’ bibir pantai teluk Manado menjadi Kawasan Bisnis dan Pariwisata belanja yang dikenal luas, meninggal dunia pada Minggu Palma, 25 Maret 2018, pukul 00.08 wita.

Namun, lebih daripada itu seorang imam diosesan dari Keuskupan Manado, Pastor Jimmy Tumbelaka Pr memiliki catatan yang luar biasa tentang devosi Yohanes Benny Tungka kepada Bunda Maria. Kepada PEN@ Katolik, imam itu mengatakan bahwa devosi usahawan yang menghadirkan Megamall, mal pertama di Kota Manado, di tahun 2005, itu dimulai dari pengalaman dengan mamanya.

“Beliau dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta. Beliau rasakan bagaimana perhatian mama  terhadapnya, yang acapkali nakal, namun selalu didoakan oleh mamanya. Berdasarkan pengalaman ini beliau merasakan keibuan Maria. Bunda Maria merasakan penderitaan putranya Yesus Kristus. Dengan penuh iman, Maria selalu mengatakan ‘terjadilah padaku menurut perkataan-Mu’. Benny selalu diteguhkan dengan kasih sayang Bunda Maria dan diteguhkan selalu untuk penuh iman alami sakitnya,” kata Pastor Jimmy Tumbelaka.

Untuk lebih mengenal hubungan imam itu dengan raja properti di Kota Manado itu, Pastor Jimmy Tumbelaka mengizinkan PEN@ Katolik mengangkat dengan sedikit perubahan dan penjelasan catatannya di akun Facebooknya:

Kenangan Bersama Yohanes Benny Tungka

Awal aku mengenal beliau tahun 2002. Waktu itu di Poso (Sulawesi Tengah) beredar isu bahwa Tentena (pusat Kristen yang didatangi puluhan ribu pengungsi) akan dikepung dan akan diserang sehingga semuanya akan binasa. Saya dan Pastor Antonius Bayu Nuryartanto ditelepon oleh beliau untuk segera ke Jakarta ketemu dengan orang penting di sana.

Saya ingat, ketika kami tiba di Manado dan menyampaikan kepada uskup tentang hal ini, bapa uskup tak menyetujui kami ke Jakarta, padahal di tangan kami sudah ada dua tiket pemberian Benny Tungka. Kami melawan uskup dan atas restu vikjen kami berangkat ke Jakarta. Di Jakarta kami dijemput oleh orang bergaya preman yang merupakan utusan Benny dan oleh suster-suster Ursulin utusan uskup. Kami memilih preman itu dan pergi ke tempat yang sudah direncanakan.

Di tempat itu, kami tidak langsung ketemu dengan presiden tetapi dengan ajudannya. Kami mengutarakan semua hal yang sementara terjadi di Poso. Dari tempat itu, kami kemudian dibawa ke Biara Ursulin di depan Istana Negara. Saat makan, kami dikunjungi oleh uskup kami. Saya dan Bayu tegang. Kami sepakat untuk memperlihatkan sikap jika kami disikapi tidak baik. Tapi ternyata, uskup memeluk kami berdua dengan penuh cinta. Kami menyampaikan semua hal yang telah kami perbuat dalam perjumpaan tadi. Uskup menawarkan kami untuk liburan sedikit di Jakarta, tetapi kami segera kembali ke Tentena karena situasi itu. Sampai di Tentena, Benny memberi kami dua unit HP Satelit. Maklum, di Poso dan sekitarnya saat itu belum bisa digunakan hp lainnya.

Itulah awal perjumpaan dengan Benny. Sesudah itu, setiap saya datang ke Manado pasti saya mengunjunginya, saat Kawasan Megamas sementara dibangun. Saya selalu mandi bersama beliau di sauna beliau. Saat itu banyak sekali kami perbincangkan, baik yang serius dan yang kocak. Paling banyak kocak dan canda beliau menggoda saya dengan “cewek”. Maka, relasi kami semakin akrab, sampai-sampai beliau agak resmi menjadikan saya adiknya dan beliau menjadi kakakku.

Saat saya tinggal di Jogja, tanpa dirancang usahaku untuk mendapatkan sepeda motor didengar oleh Benny. Beliau lalu mengirimkan sepeda motor untukku dan merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang kualami karena pemberian motor itu. Beliau menceritakan bagaimana kecemasan dan doa-doanya untuk saya, bahkan beliau meminta suster-suster Karmel untuk mendoakan saya.

Di tahun 2009, kami lebih rutin bertemu, apalagi saat itu saya menjadi kapelan di Katedral. Saya pun mulai mengetahui apa yang sementara diperjuangkan oleh beliau, kondisi tubuhnya, dan devosi-devosi beliau kepada Bunda Maria dengan cara yang begitu bervariasi yakni melalui Doa Angelus atau Ratu Surga, Maria Penolong Abadi, Doa Rosario, Doa Rosario Pembebasan, Doa Kerahiman Ilahi, dan Doa Pohon Keluarga.

Semua doa itu didaraskan begitu setia dan taat sampai-sampai ketika beliau tak sanggup lagi membaca dan melafalkannya, semua doa ini dimasukkan dalam rekaman, baik secara lafal biasa maupun dalam bentuk lagu. Semua anggota keluarga pun diajak mendoakan doa-doa bersamanya. Bahkan, para tamu yang berkunjung pada saat jam doa itu diajak olehnya untuk berdoa bersama.

Sehubungan dengan aktivitas berdoa itu, Benny bercita-cita membagikan sejenis Rosario untuk setiap devosi itu ke banyak orang di seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Beliau mulai mengadakannya dan membagikannya. Mungkin target 100.000 ribu sudah tercapai.

Beliau terus bertumbuh dengan pengalaman ini dan sekitar tahun 2017 beliau mengadakan satu rosario saja untuk semua devosi yang menggunakan ‘rosario’. Saya ingin penemuan jenis rosario ini dinamakan “Rosario Yohanes” karena diciptakan oleh Yohanes Benny Tungka.

Jenis rosario itu telah dicetak dan diedarkan. Puluhan ribu atau mungkin, saya sangka, sudah ratusan ribu Rosario Yohanes lengkap dengan rumusan doa-doanya telah diedarkan. Jumlah lengkapnya akan saya tanya kepada Arifin, asisten pribadinya yang begitu lama.

Sekitar dua bulan lalu, beliau mendapatkan vonis dari dokter yang menanganinya bahwa paling lama empat bulan lagi penyakitnya tak akan teratasi. Menghadapi vonis itu, Benny semakin pasrah dan penuh cinta kepada Tuhan, kepada keluarga dan seluruh karyawan, pegawai, buruh serta handai taulan.

Kekagumanku kepada Benny adalah, tak pernah dia mengeluh atau protes kepada Tuhan atas semua yang dialaminya. Benny selalu bersyukur dan penuh gairah membahagiakan semua orang. Disaksikan istrinya, Benny pernah bilang kepada saya “Pastor, tadi malam saya alami paling mesra dalam hidup ini bersama istriku.” Istrinya agak malu tersenyum kepada suaminya. Istrinya, Lucia, memang istri satu-satunya untuk selamanya bagi Benny yang terbaik.

Benny … terlalu banyak pemberianmu kepadaku. Materi, yang tak terhitung jumlahnya, dan teristimewa cinta, perhatian dan pengalaman hidupmu, sungguh semakin meneguhkan panggilanku sebagai imam.

Selamat Jalan Kakakku Benny. Doaku selalu untukmu sekeluarga. Doakan saya yang sementara berjuang di dunia ini.

Salam,

Pastor Jimmy Tumbelaka Pr

Benny Tungka membagikan Rosario di Sekolah Tinggi Filsafat – Seminari Pineleng Benny Tungka bersama istri, foto TRIBUNMANADO, ALEXANDER PATTYRANIE Pastor Jimmy Tumbelaka Pr

Apa yang dipercaya Gereja ketika mengaku: ”Aku percaya akan Roh Kudus”?

Sel, 27/03/2018 - 00:50
Wikimedia Commons

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

136. Apa yang dipercaya Gereja ketika mengaku: ”Aku percaya akan Roh Kudus”?

Percaya akan Roh Kudus berarti mengakui iman akan Pribadi ketiga Tritunggal, yang berasal dari Bapa dan Putra, dan ”disembah dan dimuliakan bersama dengan Bapa dan Putra”. Roh diutus ”ke dalam hati kita” (Gal 4:6) sehingga kita menerima hidup baru sebagai anak-anak Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 683-686

137. Mengapa misi Sang Putra dan Roh Kudus itu tak terpisahkan?

Di dalam Tritunggal yang tak terpisahkan, Putra dan Roh Kudus itu berbeda, tetapi tidak terpisahkan. Sejak awal mula sampai berakhirnya waktu, jika Bapa mengutus Putra, Bapa juga mengutus Roh-Nya yang mempersatukan kita dengan Kristus di dalam iman sehingga sebagai anak-anak angkat kita dapat menyebut Allah sebagai ”Bapa” (Rom 8:15). Roh itu tidak kelihatan, tetapi kita dapat mengetahui-Nya melalui karya-karya-Nya, yaitu ketika Roh mewahyukan Sabda kepada kita dan ketika Roh berkarya di dalam Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 687-690, 742-743

Paus Fransiskus dalam Minggu Palma minta OMK berteriak sebelum batu-batu berteriak

Sen, 26/03/2018 - 19:35

Di Hari Minggu Palma ini, saat kita merayakan Hari Orang Muda se-Dunia, kita mendengar dengan jelas jawaban Yesus kepada seluruh orang Farisi di masa lalu dan di masa kini, bahkan orang-orang masa sekarang ini, “Jika mereka ini diam, maka batu-batu ini akan berteriak” (Luk 19:40).

Kaum muda yang terkasih, kata Paus Fransiskus dalam homili Misa Hari Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, 25 Maret 2018, “kalian bisa berteriak dalam diri kalian. Kalian boleh memilih ‘Hosana!’ Hari Minggu, agar tidak jatuh ke dalam ‘Salibkan dia!’ hari Jumat … Kalian boleh tidak tetap diam. Kalaupun orang lain tetap diam, kalaupun kami orang tua dan para pemimpin, yang begitu kerap korupsi, tetap diam, kalaupun seluruh dunia tetap diam dan kehilangan sukacitanya, saya bertanya kepada kalian, ‘Akankah kalian berteriak?’”

“Tolong, ambillah pilihan itu, sebelum batu-batu sendiri berteriak,” pinta Paus Fransiskus dalam Misa yang diawali pukul 10 pagi dengan perarakan menuju obelisk (tiang atau monumen Mesir yang tinggi bersisi empat dengan mahkota berbentuk piramida di tengah Lapangan Santo Petrus, bersama orang muda Katolik (OMK) dari Keuskupan Roma dan keuskupan-keuskupan lain pada kesempatan Hari Orang Muda se-Dunia ke-33, yang diadakan di tingkat keuskupan, dengan tema, “Jangan takut, Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1:30).

Di bawah obelisk itu, Paus memberkati daun-daun palma dan daun-daun zaitun, kemudian berarak kembali bersama OMK dengan daun palma besar ke depan Basilika Santo Petrus untuk memimpin Misa dan Pengenangan Sengsara Tuhan. Di akhir Misa, saat OMK bertugas sebagai pembawa persembahan, dan sebelum Berkat Apostolik, kepada Bapa Suci diberikan kesimpulan dari Rapat Pra-Sinode untuk mempersiapkan Sidang Umum Biasa ke-15 dari Sinode Para Uskup, yang akan diadakan bulan Oktober 2018, dengan tema, “Kaum muda, iman dan pemahaman panggilan.”

Orang muda yang terkasih, kata Paus dalam homili Misa Minggu Palma itu, “sukacita yang Yesus bangkitkan dalam diri kalian adalah sumber kemarahan bahkan kejengkelan bagi beberapa orang, karena orang muda yang penuh sukacita sulit dimanipulasi. Orang muda yang penuh sukacita sulit dimanipulasi!”

Tetapi kini, lanjut Paus, jenis teriakan ketiga adalah mungkin, “Dan beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus: ‘Guru, tegurlah murid-murid-Mu itu’. Jawab-Nya: ‘Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak” (Luk 19:39-40).

Cobaan untuk membungkam orang muda selalu ada, kata Paus seraya mengatakan bahwa orang-orang Farisi sendiri menegur Yesus dan minta kepada-Nya untuk membungkam mereka.

“Ada banyak cara untuk membungkam orang muda dan membuat mereka tidak kelihatan. Banyak cara untuk membius mereka, membuat mereka tetap diam, tidak meminta apa-apa, tidak bertanya apa-apa. ‘Diamlah, kau!’ Ada banyak cara untuk menenangkan mereka, untuk membuat mereka tidak terlibat, untuk membuat mimpi-mimpi mereka tidak menarik dan suram, tidak penting dan tidak bermutu.

Dokumen Pertemuan Pra-Sinode, yang diserahkan kepada Paus Fransiskus oleh seorang pemuda dari Panama, negara yang akan menjadi tuan rumah Hari Orang Muda se-Dunia 2019, seperti dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup Kardinal Lorenzo Baldisseri di Kantor Pers Vatikan sebelum Minggu Palma, merupakan salah satu sumber yang akan disumbangkan untuk mempersiapkan Instrumentum Laboris untuk Sinode itu sendiri.

Selain itu, lanjut Kardinal Baldisseri, kontribusi lain akan diberikan oleh konferensi-konferensi waligereja, Sinode Gereja Katolik Timur dan dokumen-dokumen sintesis yang dihasilkan setelah mendengarkan sesi-sesi yang dilakukan di keuskupan-keuskupan di seluruh dunia.

Hasil kuesioner online yang diajukan kepada orang muda dan intervensi dari seminar internasional mengenai orang muda yang diselenggarakan oleh Sekretariat Jenderal Sinode bulan September 2017 akan juga ditambahkan, disertai pengamatan spontan yang dikirim oleh individu dan kelompok dari seluruh dunia.

Kardinal Baldisseri mengatakan, dokumen yang disusun selama minggu itu, dibagi tiga bagian yang diawali dengan pendahuluan. Bagian pertama berkaitan dengan tantangan dan peluang orang muda di dunia saat ini, kedua tentang iman dan panggilan, tentang pemahaman dan penemanan orang muda, dan ketiga tentang kegiatan pembinaan dan pastoral Gereja.

Menurut catatan kardinal itu, sekitar 15.300 orang muda dari lima benua mengambil bagian dalam pertemuan itu baik secara fisik maupun secara virtual. (paul c pati berdasarkan siaran dari Kantor Pers Vatikan dan media Vatikan lain)

Paus Fransiskus berfoto selfi dengan OMK di akhir Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus. TIZIANA FABI, AFP, Getty Images

Bagaimana Kristus mengadili orang yang hidup dan yang mati?

Min, 25/03/2018 - 23:15
Lukisan Pengadilan Terakhir karya Michelangelo di Kapel Sistina

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

133. Bagaimana sekarang Tuhan Yesus memerintah?

Sebagai Tuhan kosmos dan sejarah, Kepala Gereja, Kristus yang sudah dimuliakan tinggal secara misteri di atas bumi tempat benih dan permulaan kerajaan-Nya hadir dalam Gereja. Suatu hari, Dia akan datang kembali dalam kemuliaan, tetapi kita tidak tahu saatnya. Karena itu, kita perlu berjaga-jaga untuk mengantisipasinya dengan berdoa ”Datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 22:20).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 668-674, 680

134. Bagaimana kedatangan Allah dalam kemuliaan-Nya itu terjadi?

Sesudah pergolakan dunia berlalu, kedatangan Kristus dalam kemuliaan-Nya akan terjadi. Kemudian, akan datang kemenangan Allah yang definitif pada akhir zaman dan menyusul Pengadilan Terakhir. Dengan cara demikianlah Kerajaan Allah akan terjadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 675-677, 680

135. Bagaimana Kristus mengadili orang yang hidup dan yang mati?

Kristus akan mengadili dengan kekuasaan yang Dia dapatkan sebagai penebus dunia yang datang membawa keselamatan untuk semua. Segala rahasia hati akan terungkap, dan semua tindakan terhadap Allah dan sesama akan menjadi nyata. Setiap orang, sesuai dengan bagaimana peri kehidupannya, akan menerima ganjaran atau hukuman abadi. Dengan cara ini, ”kepenuhan Kristus” (Ef 4:13) akan terlaksana saat ”Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 678-679, 681-682

Aksi Paskah PMKRI, membuat meja jualan bagi pedagang mama-mama Papua di pasar

Min, 25/03/2018 - 18:16

Memasuki Pasar Baru Mopah Merauke, Papua, semua akan melihat bahwa sebagian besar meja jualan milik mama-mama Papua di pasar itu sudah rusak dan tidak layak untuk digunakan. Anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Merauke Santo Fransiskus Xaverius juga melihat hal itu.

“Berdasarkan diskusi dengan teman-teman, akhirnya kita sepakati untuk bentuk Tim Aksi Paskah dan kami meminta dukungan senior-senior agar kita bisa melakukan aksi sosial ini. Ini juga bagian dari misi kami, PMKRI, harus terlibat dan berjuang bersama masyarakat kecil, terutama yang membutuhkan bantuan atau pertolongan,” kata Ketua saat ditemui PEN@ Katolik di Pasar Mopah 23 Maret 2018.

Dalam menyambut Perayaan Paskah 2018 dan sebagai bentuk kepedulian, tegasnya, PMKRI Cabang Merauke berinisiatif membantu mama-mama Papua dengan menggalang aksi sosial dan turun langsung ke Pasar Baru Mopah Merauke, untuk membuat meja jualan yang baru bagi pedagang mama-mama Papua.

Dengan sumbangan sukarela dari para anggota serta bantuan para donatur, PMKRI berhasil mengumpulkan bahan untuk membuat meja jualan, “lalu dikerjakan sendiri oleh para anggota, meja jualan lengkap dengan peti penyimpan barang dagangan,” jelas Yohanis.

PMKRI menargetkan untuk menyediakan sebanyak 20 meja dengan ukuran 3 x 4 meter. Namun untuk saat ini dengan bahan yang ada, baru bisa disiapkan setengah dari yang ditargetkan. “Target kami 20 meja, namun karena bahan belum mencukupi, kami akan bangun 10 dulu. Kami akan tetap bekerja sesuai target kami, seperti permintaan dari mama-mama,” lanjut Yohanis.

Dia juga berharap agar aksi sosial seperti ini bisa dilakukan oleh seluruh Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang ada di Kabupaten Merauke. OKP, jelasnya, perlu memiliki kepekaan untuk melihat berbagai persoalan di masyarakat, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke harus punya keseriusan melihat kebutuhan mama-mama pasar asli Papua.

“Pasar ini menjadi kebutuhan kita semua. Untuk itu saya juga berharap OKP-OKP yang lain untuk bersama sama kita melihat kebutuhan di pasar. Apa yang bisa kita bantu ya kita bantu,” harap Yohanis.

Melihat kondisi di lapangan, penghasilan mama-mama dari hasil jualannya masih jauh tertinggal dengan para pendatang, karena tempat penjualan kurang baik, bahan yang dijual masih tergantung pada alam dan belum ada pendampingan dalam hal berdagang, maka “Kami meminta pemerintah daerah lebih fokus pada pembangunan pasar. Perlu dibangun pasar lokal khusus untuk menjual pangan lokal bagi orang asli. Selanjutnya harus ada pendampingan agar mereka mampu bersaing. Sudah saatnya pasar mama-mama Papua berdiri sendiri,” kata Yohanis.

Koordinator Pedagang Mama-Mama Papua, Devota Basik-Basik, mengapresiasi kepedulian PMKRI Cabang Merauke, karena menurut dia, aksi yang dilakukan sangatlah membantu mama-mama Papua yang sudah tidak lagi memiliki tempat jualan yang layak seperti sebelumnya.

“Kami senang ada yang peduli akan kebutuhan kami di pasar. Pemerintah tidak perhatikan kita di sini, meja-meja jualan semua sudah tidak layak,” keluhnya.(Getrudis Saga Keo)

Pasang Surut Kehidupan

Min, 25/03/2018 - 03:20

Minggu Palma, Mengenang Sengsara Tuhan

25 Maret 2018

Markus 11: 1-10; Markus 14: 1-15: 47

“walaupun dalam rupa Allah … melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2: 6-7)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Kita merayakan Minggu Palma. Hari ini adalah satu-satunya perayaan liturgis di mana dua Injil yang berbeda dibacakan. Injil pertama, biasanya dibacakan di luar Gereja, adalah tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, dan Injil kedua menceritakan tentang sengsara dan wafatnya Yesus. Merenungkan pada dua bacaan ini, kita mendengarkan dua tema yang berbeda dan bahkan bertentangan, yakni tentang kemenangan dan kekalahan. Ini adalah dua tema dasar, tidak hanya dalam kehidupan Yesus, tetapi dalam kehidupan kita juga.

Yesus yang disambut saat Ia masuk ke Yerusalem melambangkan saat-saat kesuksesan dan sukacita kita. Itu adalah ketika kita meraih sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Ini adalah saat-saat ketika kita menyelesaikan sekolah kita, ketika kita mendapatkan pekerjaan baru, atau ketika kita menyambut kelahiran anggota keluarga terbaru. Ini adalah peristiwa “pasang” kehidupan. Sementara, kisah sengsara Yesus berbicara tentang saat-saat kekalahan dan kesedihan kita. Saat inilah kita mengalami kehilangan besar dalam hidup kita. Ada saat-saat seperti ketika kita gagal dalam ujian atau proyek yang menentukan, kita kehilangan pekerjaan kita, dan kita mengalami kematian dalam keluarga. Ini adalah peristiwa “surut” kehidupan. Melewati masa-masa pasang dan surut kehidupan, Yesus mengajarkan kita pelajaran berharga. Pada masa kemenangan, kita ditantang untuk tetap rendah hati dan bersyukur, seperti Yesus yang naik keledai. Di saat-saat kekalahan, kita diajak untuk dengan sabar menanggung saat-saat ini dan mempersembahkannya kepada Tuhan, seperti Yesus yang merangkul salib-Nya.

Namun, ada sesuatu yang lebih dari ini. Jika kita membaca bacaan kedua dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi (2: 6-11), kita mendengarkan salah satu madah yang paling indah dalam Perjanjian Baru. Madah ini menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus. Jika kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Allah tidak hanya memberi kita kesuksesan atau mengizinkan kita mengalami penderitaan, tetapi di dalam Yesus, Allah mengalami sendiri apa artinya menjadi sukses dan juga gagal. Ini menjadi titik perubahan radikal dari citra Allah sebagai Tuhan yang jauh, tapi tidak tersentuh. Dia juga bukan seperti boneka teddy bear yang dapat kita peluk saat kita sedih. Dia juga bukan piala yang kita pamerkan di saat kemenangan kita. Allah kita adalah satu dengan kita dalam semua pengalaman kita, baik sukacita maupun kesedihan, baik kemenangan maupun kekalahan.

Dalam Kitab Kejadian bab 3, kita membaca kisah pertama tentang kegagalan manusia. Adam dan Hawa ditipu oleh ular dan mereka pun tidak taat kepada Tuhan. Memang benar bahwa mereka gagal, dan mereka harus meninggalkan Taman Eden. Namun, Tuhan tidak berhenti mengasihi mereka. Tuhan membuatkan mereka pakaian dari kulit untuk menutupi ketelanjangan mereka dan memberi mereka perlindungan. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan yang keras di luar Taman. Namun, ada sesuatu yang bahkan lebih luar biasa. Setelah Kejadian bab 3, kita tidak akan pernah membaca lagi tentang Taman Eden dan apa yang terjadi di dalam, melainkan kisah-kisah Adam, Hawa dan keturunan mereka. Mengapa? Karena Tuhan tidak memilih untuk tinggal di Taman Eden, dan memisahkan diri dari para manusia yang lemah, tetapi Dia mengikuti Adam dan Hawa dan berjalan bersama mereka. Dia menemani mereka, bergulat bersama, menangis bersama dan berbagi kebahagiaan mereka. Sungguh, Kitab Suci adalah buku tentang Tuhan dan umat-Nya.

Saat kita memasuki Pekan Suci, semoga kita menemukan waktu untuk merefleksikan: Bagaimana Tuhan menjadi bagian dalam pasang surut kehidupan kita? Sudahkah kita menjadi teman berbagi bagi saudara-saudari dalam pasang surut kehidupan mereka? Apakah kita sungguh menemani Yesus di jalan salib dan kebangkitannya?

 

 

Umat Katolik ditantang melakukan Jalan Salib ekstrim di saat Prapaskah

Sab, 24/03/2018 - 21:31

Jalan Salib ekstrim di masa Prapaskah, yang sudah dimulai satu dekade lalu di Polandia oleh seorang pastor muda kini sudah diikuti oleh puluhan ribu orang, bahkan prakarsa itu sudah mendapatkan surat dukungan dari Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin.

Dalam Jalan Salib, yang merupakan ziarah, latihan fisik dan rohani, serta tantangan pribadi itu, peserta akan berjalan sepanjang 40 kilometer termasuk malam hari dengan berdoa dan bermeditasi di empat belas perhentian (stasi) penderitaan dan penyaliban Yesus.

Puluhan ribu peziarah di puluhan negara, dari Islandia hingga Antartika, telah mengambil tantangan itu setiap tahun, sejak gagasan itu disusun oleh Pastor Jacek Stryczek, orang Polandia yang pernah menjadi pastor kampus dan yang terkenal karena merintis bentuk-bentuk penginjilan.

Dimulai dengan Misa malam, para peziarah berjanji untuk berjalan dalam keheningan, sendirian atau dalam kelompok-kelompok kecil, dengan melintasi banyak medan yang menantang, menuju tempat ziarah atau tujuan religius lain. Dengan hanya membawa yang dibutuhkan dalam perjalanan, mereka merencanakan rute perjalanan mengitari Jalan Salib, dengan berhenti untuk berdoa dan mendengarkan renungan disediakan dalam sebuah situs web dengan aneka bahasa multilingual website.

Prakarsa itu telah terbukti sangat sukses di Polandia. Di negara itu, orang muda memandangnya sebagai ungkapan perlawanan terhadap budaya konsumen yang merajalela. Situs Polandia itu memberikan lebih dari 600 rute untuk dipilih, beberapa di antaranya tercatat lebih dari 130 kilometer atau 83 mil.

Dalam tulisan Philippa Hitchen, yang muncul di Vatican News 23 Maret 2018, ditulis, “Daripada berpantang cokelat atau kopi atau Facebook dalam masa Prapaskah (atau Pekan Suci ini), mengapa tidak mempertimbangkan untuk melakukan perjalanan seperti itu, memberikan kesempatan untuk memperdalam atau menemukan hubungan baru dengan Tuhan, khususnya di saat menjelang perayaan Paskah yang agung? (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Duta Vatikan ajak para frater untuk tempatkan Yesus di pusat hidup mereka

Sab, 24/03/2018 - 03:07

Melalui inkarnasi putera-Nya, Tuhan Kita Yesus Kristus, Allah ingin membuat semua tempat di dunia sebagai pusat kasih-Nya, maka Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Pierro Pioppo mengajak para frater calon imam di Kalimantan untuk menempatkan Yesus Kristus di pusat hidup mereka dan menegaskan bahwa nanti sebagai para imam diosesan dan imam religius mereka ditugaskan untuk membuat Yesus Kristus menjadi jantung dunia.

Mgr Pioppo berbicara dengan para frater diosesan, Kapusin dan Pasionis di Kapel Sang Pamanih (penabur) saat berkunjung ke Seminari Tinggi Antarkeuskupan Antonino Ventimiglia, Pontianak, 11 Maret 2018. Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, Rektor Seminari Antonino Ventimiglia Pastor Edmund Nantes OP dan Rektor STT Pastor Bonus Pastor William Chang OFMCap dan beberapa imam juga hadir.

Kalian “dipanggil menjadi sumber persekutuan yang berkomitmen bagi kaum miskin dan orang-orang terkebelakang dan juga dipanggil untuk membuat bangsa Indonesia dan seluruh bangsa di dunia menjadi contoh persekutuan, kerukunan, perdamaian, pemahaman, penerimaan,” kata Nuncio.

Menurut Duta Vatikan, sebuah karya besar hanya bisa dilakukan, “kalau kita memiliki Yesus Kristus di pusat hidup kita, di pusat jiwa dan raga kita, di pusat perjuangan kita, di pusat studi dan komitmen kita,” karena, “Yesus Kristus itu satu-satunya Juru Selamat kita, saudara kita, sahabat kita, Tuhan kita, harapan kita.”

Maka, Mgr Pioppo mengajak para frater diosesan dari lima keuskupan di Kalimantan yang mengirim frater saat ini di seminari itu serta para frater Pasionis (CP) dan Kapusin (OFMCap) yang belajar bersama di Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus di kompleks seminari itu untuk membiarkan diri mereka mendengar dan menyambut kehadiran Yesus Kristus di dalam setiap diri mereka, “karena itulah alasan hidup kita yakni untuk bertemu Kristus.”

Dijelaskan, hanya Kristus yang memahami dan “bisa membuat kita menjadi gembala yang baik seperti diri-Nya,” maka para frater diminta memikirkan hal itu setiap mereka hendak mengerjakan sesuatu. “Yesus memahami hidup kita, Dia yang membuat kita menjadi manusia yang sehat, imam yang sehat, diakon yang sehat dan saat ini sebagai frater yang sehat dan nanti menjadi gembala yang sangat bisa dan sangat sehat dengan senyuman bukan hanya dengan sesama umat Katolik tetapi dengan semua umat manusia.”

Dibandingkan masa lalu, Mgr Pioppo mengamati, saat ini semakin banyak orang mencari Yesus dengan cara yang istimewa, berdebat tentang Dia, dan ingin memahami-Nya, maka “kita dipanggil-Nya untuk mempersiapkan diri dan untuk memberi kesaksian tentang kehadiran Yesus di dunia, Yesus yang bisa membuat dunia menjadi baru, Yesus mampu memberikan kepada kita semua harapan, suka cita dan keselamatan abadi.”

Mgr Pierro Pioppo menegaskan bahwa salah satu alasan kunjungannya di seminari itu, adalah “untuk mengingatkan bahwa yang menjadi pusat persekutuan kalian adalah seseorang bernama Yesus Kristus, Tuhan dan Jurus Selamat kita.”

Maka, kalau para frater itu berada di seminari itu guna mempersiapkan diri untuk membuat sesuatu yang baik bagi masyarakat, “maka saya minta kalian dalam setiap saat hidupmu mengorientasikan kembali hidup kalian kepada Yesus Kristus, dan nanti kalau kalian akan ditahbiskan diakon, tolong tempatkan Yesus Kristus di dalam jiwa dan ragamu, melalui sikap rekonsiliasi, pelaksanaan ajaran Kristiani, pengarahan spiritual, Sakramen Rekonsiliasi, ketaatan terhadap superior, dan mengikuti arah spiritual di seminari atau di paroki-paroki.”

Selain mengajak para frater untuk meningkatkan kehidupan Kristen sehingga Kristus semakin banyak tinggal dalam diri mereka, Mgr Pioppo berdoa agar Tuhan memberkati semua imam dan frater serta paroki yang mereka layani, komunitas mereka, superior mereka, uskup mereka, dan mengajak para frater agar “juga mendoakan saya, misi saya, pelayanan saya yang baru untuk Indonesia raya yang indah, dan supaya saya boleh semakin sesuai dengan Tuhan Kita Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk melayani dan memberi hidup-Nya bagi semua orang.”(paul c pati)

Apa makna penyelamatan dari kebangkitan?

Jum, 23/03/2018 - 23:06
Pemandangan tentang Kebangkitan di Gereja Juru Selamat di atas Darah yang Tertumpah dari SAINT-PETERSBURG.COM

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

131. Apa makna penyelamatan dari kebangkitan?

Kebangkitan adalah puncak dari penjelmaan. Kebangkitan mengukuhkan keilahian Kristus dan semua hal yang Dia lakukan dan ajarkan. Kebangkitan memenuhi semua pelaksanaan janji yang dibuat untuk kita. Terlebih lagi Kristus yang bangkit, penakluk dosa dan maut, adalah prinsip pembenaran dan kebangkitan kita. Kebangkitan menganugerahi kita rahmat sebagai anak angkat yang sungguh-sungguh merupakan partisipasi real dalam kehidupan Putra Tunggal satu-satunya. Pada akhir zaman, Dia akan membangkitkan tubuh-tubuh kita.

”YESUS KRISTUS NAIK KE SURGA DAN DUDUK

DI SEBELAH KANAN ALLAH BAPA YANG MAHAKUASA”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 651-655, 658

132. Apa artinya naik ke surga?

Sesudah empat puluh hari, Yesus menampakkan Diri kepada para Rasul dalam kondisi manusia biasa, yang menutup kemuliaan-Nya sebagai Yang Sudah Bangkit, Kristus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa. Dialah Tuhan yang dalam kemanusiaan-Nya memerintah dalam kemuliaan Putra Allah tanpa akhir dan tak berubah menjadi pengantara kita di hadapan Bapa. Dia mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita dan memberi kita harapan bahwa pada suatu hari kita akan mencapai tempat yang sudah disiapkan bagi kita.

”DARI SITU IA AKAN DATANG

UNTUK MENGADILI

ORANG YANG HIDUP DAN YANG MATI”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 659-667

Dalam Misa Acies, legioner Dekenat Tangerang diminta teladani ketaatan Maria

Jum, 23/03/2018 - 18:35

Pembimbing Rohani Komisium Maria Assumpta Dekenat Tangerang Pastor Lukas Sulaeman OSC mengajak sekitar 900 anggota Legio Maria se-Dekenat Tangerang untuk terus meneladani ketaatan Maria, yang dirahmati, diberkati dan dipilih Tuhan dalam kesadaran dan membiarkan Tuhan merancang seluruh kehidupan serta arah perjalanan imannya.

“Ketaatan Maria menjadi spirit dan teladan bagi para legioner. Kepasrahan Maria yang membiarkan Tuhan membimbingnya, menjadi jalan Karya Penebusan dan perwujudan Karya Keselamatan Allah,” kata Pastor Sulaeman dalam Misa Acies 2018 di Gereja Santa Helena, Curug, Tangerang, 17 Maret 2018. Dalam Misa itu pastor Lukas didampingi selebran sebanyak delapan imam yang bertugas di 13 paroki di Dekenat Tangerang.

Misa dengan tema “Bersatu dalam Keberagaman melalui Spiritualitas Maria” diwarnai dengan perarakan pembukaan yang disertai perwakilan 74 presidium dengan mengenakan pakaian adat sejumlah daerah di Indonesia dan memegang vandel masing-masing.

Dalam Misa Acies, yang dirayakan setiap tahun sebagai wujud ungkapan penegasan dan komitmen prajurit Maria dan sebagai sarana membaharui komitmen pelayanan, Pastor Lukas menceritakan kehadiran Maria dalam Gereja Perdana saat berkumpul bersama murid-murid Yesus dalam sehati sejiwa, serta peristiwa Pentekosta saat Maria berkumpul bersama para murid Yesus dan Roh Kudus datang memberikan cahaya terang bagi para pengikut-Nya.

Menurut Pastor Sulaeman, Maria mempersembahkan seluruh hidupnya oleh kehendak Allah, maka jika anggota Legio Maria selalu hormat dan taat, maka ada jaminan untuk menampaki jalan suci.

“Dua hal penting yang patut diteladani para legioner yakni kerendahan hati dan kepasrahan kepada Tuhan, yang mesti dipraktekkan dalam kehidupan setiap hari,” kata Pastor Sulaeman seraya mengajak para legioner untuk meneladani keutamaan Bunda  Maria.

Ketua Komisium Maria Assumpta, Antonius Rusli Krisno, mengatakan bahwa dengan Misa Acies para legioner semakin mengobarkan semangat dan keutamaan Maria dalam kehidupan sebagai prajurit Maria. (Konradus R. Mangu)

Mgr Adiseputra:  Prodiakon adalah sumbu yang telah bernyala, namun  perlu disegarkan

Jum, 23/03/2018 - 16:11
Foto dari kawali.org

Untuk pertama kalinya para prodiakon, baik lelaki maupun perempuan, dari paroki-paroki se-Dekenat Merauke di Keuskupan Agung Merauke, melaksanakan rekoleksi bersama. Uskup Agung Merauke Mgr Nicolaus Adiseputra MSC langsung mendukung dan hadir dalam kegiatan itu karena menyadari tugas mereka yang sangat penting untuk membantu para imam.

Mgr Adiseputra berada di Aula Gereja Bampel, Merauke, sebagai pembicara rekoleksi bagi 53 prodiakon dari paroki-paroki se-Dekenat Merauke berlangsung 17 Maret 2018. “Mereka datang untuk mengikuti rekoleksi, agar tugas mulia mereka untuk memimpin ibadat di lingkungan, memimpin pemakaman dan membagikan komuni di gereja dan bagi orang sakit semakin dijalankan dengan baik,” kata uskup seraya berharap agar para prodiakon  saling memberikan informasi, saling menguatkan dan saling memupuk solidaritas.

“Mereka, para peserta ini, adalah sumbu yang telah bernyala, tetapi dengan rekoleksi ini mereka disegarkan kembali agar ketika kembali ke paroki mereka kembali segar dan nyala semakin besar,” kata uskup kepada PEN@ Katolik, seraya menegaskan bahwa rekoleksi atau kegiatan penyegaran bahkan pembinaan berkelanjutan perlu bagi para prodiakon karena tugas mereka amat penting dan mulia.

Prodiakon, jelas Mgr Adiseputra, adalah orang-orang yang betul-betul memberikan waktu untuk umat, karena pelayanan dalam gereja bukan hanya tugas seorang imam. Menyinggung adanya prodiakon perempuan, uskup itu menjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki dipanggil untuk berdoa dan membentuk Gereja Perdana, maka prodiakon perempuan boleh juga, karena dalam Kitab Suci dijelaskan bahwa orang yang bertemu Yesus saat bangkit adalah perempuan, yakni Maria dan Martha Kitab Suci.

“Merekalah  yang setia dan meneruskan semua berita Kebangkitan,” kata Mgr Adiseputra yang menjelaskan bahwa kaum perempuan juga turut serta dalam karya keselamatan Allah. Saat Lazarus meninggal, kaum perempuan juga turut menjemput Yesus, lanjut uskup seraya menegaskan bahwa banyak perempuan menonjol dalam karya kerasulan awam dan dalam pelayanan. “Jadi bukan hanya lelaki saja. Maka perlu pembaruan dalam pelayanan,” lanjut uskup.

Ahli Hukum Gereja Keuskupan Agung Merauke Pastor Donatus Wea S Turu Pr menjelaskan tugas prodiakon sangat mulia, “karena membantu imam membawa sakramen orang sakit, memimpin ibadah lingkungan dan membawa renungan di umat setelah berkoordinasi dengan pastor paroki dan dewan lingkungan. Jadi prodiakon bukan mengambil alih tugas imam atau dewan lingkungan.”

Dia meminta agar prodiakon “jangan ragu  dan jangan segan, karena tugas itu mulia, karena sesuai Hukum Kanonik.” Bahkan, lanjut imam asal Flores itu, saat terjadi kekurangan imam, prodiakon harus tampil. “Jadi prodiakon bukan asal jadi, bukan seperti kata banyak orang bahwa prodiakon hanya ban seref,” kata Pastor Donatus yang menegaskan bahwa Hukum Gereja menempatkan prodiakon sebagai orang luar biasa, awam yang bertugas.

Juga dilukiskan bahwa prodiakon pasti sakit hati kalau melihat umat di saat menyambut, memilih berpindah meninggalkan barisan yang dilayaninya ke barisan yang dilayani imam. “Sakit hati dan tersinggung memang, karena masih ada umat tak mengerti sambut Tubuh dan Darah Kristus dan pikiran mereka masih sebelum Konsili Vatikan II,” tegas imam itu.

Ancelina Tepu Kambun utusan Paroki Kelapa Lima menyadari bahwa prodiakon amatlah penting bila imam tidak ada, maka Alumni STFT “Fajar Timur” itu berharap pertemuan pertama itu dilaksanakan secara berkala.(Agapitus Batbual)

 

Mengapa kebangkitan itu sekaligus merupakan peristiwa transenden?

Kam, 22/03/2018 - 17:02

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

128. Mengapa kebangkitan itu sekaligus merupakan peristiwa transenden?

Walaupun peristiwa kebangkitan merupakan peristiwa historis yang dapat diverifikasi dan diuji melalui tanda-tanda dan para saksi, tetapi sekaligus merupakan peristiwa yang melampaui dan mengatasi sejarah sebagai sebuah misteri iman karena merupakan masuknya kemanusiaan Kristus ke dalam kemuliaan Allah. Karena alasan yang terakhir inilah, Kristus yang bangkit tidak menampakkan Diri-Nya kepada dunia, tetapi hanya kepada para murid-Nya, dan menjadikan mereka saksi- saksi-Nya di hadapan umat manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 647, 656-657

129. Bagaimana kondisi tubuh Yesus yang bangkit?

Kristus yang bangkit bukanlah satu bentuk kedatangan kembali ke dalam kehidupan duniawi. Tubuh yang bangkit adalah tubuh yang sama dengan yang disalibkan, dengan membawa bekas-bekas kesengsaraan-Nya. Namun, tubuh itu telah mengambil bagian dalam kehidupan ilahi dan memiliki ciri-ciri tubuh yang sudah dimuliakan. Atas dasar ini, Yesus yang telah dibangkitkan bebas sepenuhnya untuk menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dalam pelbagai sosok, atas cara dan di mana saja Ia kehendaki.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 645-646

130. Bagaimana peristiwa kebangkitan itu merupakan karya Tritunggal?

Kebangkitan Kristus merupakan karya Allah yang transenden. Ketiga Pribadi bertindak bersama sesuai dengan cara masing-masing: Bapa memanifestasikan kekuasaan-Nya, Putra menerima kembali” kehidupan yang Dia persembahkan dengan bebas (Yoh 10:17), mempersatukan kembali jiwa dan badan-Nya yang dihidupkan, dan Roh Kudus memuliakan-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 648-650

Vatikan merilis jadwal Paus Fransiskus untuk Pekan Suci 2018

Kam, 22/03/2018 - 04:01

Vatikan sedang mempersiapkan Pekan Suci dengan jadwal penuh perayaan-perayaan yang dijadwalkan untuk bagian paling suci dari tahun Gereja, dan Vatikan News akan menyiarkan liturgi-liturgi kepausan sepanjang Pekan Suci, dengan komentar langsung dalam bahasa Inggris.

Christopher Wells dari Vatican News melaporkan bahwa Pekan Suci 2018 dimulai pada Minggu Palma, 25 Maret, dengan perayaan Hari Orang Muda se-Dunia ke-33, yang dirayakan di tingkat keuskupan. Perayaan Gereja yang dilakukan setiap tahun untuk orang muda itu berganti-ganti antara perayaan internasional dan acara-acara keuskupan yang diadakan setiap dua-tiga tahun.

Hari Orang Muda se-Dunia tahun bertema, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” Itu kata-kata Malaikat Gabriel kepada Perawan Terberkati saat diberi kabar oleh malaikat Tuhan, sebagaimana diceritakan dalam Injil Lukas.

Untuk keuskupan Roma, perayaan itu akan berlangsung di Lapangan Santo Petrus. Paus Fransiskus akan memimpin Pemberkatan Daun Palma dan Perarakan Minggu Palma, diikuti oleh Misa Sengsara Tuhan.

Pada Kamis Putih ada dua acara liturgi yang utama yakni Misa Krisma, yang dirayakan di Basilika Santo Petrus, dan Misa Malam Perjamuan Tuhan, yang akan dipersembahkan oleh Bapa Suci di penjara Regina Coeli, tidak jauh dari Vatikan.

Dalam Misa Krisma, Uskup setempat memberkati Minyak-Minyak Suci yakni Minyak Krisma, yang digunakan untuk Sakramen Krisma (Penguatan), dan juga dalam Sakramen Pembaptisan dan Tahbisan Suci; Minyak untuk Katekumen, juga digunakan dalam Pembaptisan; dan Minyak untuk Orang Sakit, untuk Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Di Roma, minyak-minyak yang sudah diberkati itu dibawa ke Gereja Katedral yakni Basilika Agung Santo Yohanes Lateran, dan dari situ akan dibagikan ke paroki-paroki di seluruh keuskupan.

Pada Kamis malam, Paus Fransiskus akan merayakan Misa Perjamuan Tuhan, memperingati pelembagaan Ekaristi dan Imamat. Mengikuti kebiasaan yang sudah ditetapkan pada awal kepausannya, Paus akan mengatakan Misa di penjara, tahun ini di Regina Coeli. Dalam liturgi itu, Paus Fransiskus akan mencuci kaki dua belas narapidana, meniru tindakan Yesus sendiri pada Perjamuan Terakhir.

Paus juga akan mendapat kesempatan untuk mengunjungi narapidana yang sakit di rumah sakit penjara, dan juga para tahanan di “Bagian VIII”, kawan bebas fasilitas bagi tahanan yang mungkin berisiko bagi masyarakat.

Hari berikutnya, Jumat Agung, Paus Fransiskus akan memimpin liturgi Pengenangan Sengsara dan Wafat Tuhan. Kebaktian pada hari Jumat Agung bukanlah Misa, karena tidak diadakan Ekaristi Kudus. Ritual itu terdiri dari Liturgi Sabda, Penghormatan Salib, dan Komuni Kudus. Sat itu, hosti yang sudah dikonsekrasi pada Kamis Putih dibagikan kepada para imam dan umat beriman.

Setelah Liturgi itu, Paus Fransiskus akan pergi ke Colosseum. Di sana Paus akan memimpin Via Crucis, Jalan Salib. Bapa Suci akan memberi renungan di akhir kebaktian, yang diikuti dengan Berkat Apostoliknya.

Ritual Pekan Suci mencapai puncaknya dalam Malam Paskah di Sabtu Suci yang Paus sebut sebagai “Mother of all Vigils” (induk semua vigili). Upacara dimulai dengan pencahayaan api baru, yang akan berlangsung di atrium Basilika Santo Petrus. Kemudian, dengan Lilin Paskah, para imam akan menuju panti imam dan di sana Paus Fransiskus akan memimpin Misa Kudus. Misa ini terkenal karena nyanyian Exultet, pewartaan tentang Kebangkitan Yesus dari kematian, dan karena liturgi pembaptisan setelah Liturgi Sabda.

Akhirnya, pada Minggu Paskah pagi, Paus Fransiskus akan merayakan Misa Kebangkitan Tuhan di Lapangan Santo Petrus. Setelah Misa, Bapa Suci akan memberikan Berkat Urbi et Orbi – untuk Kota [Roma], dan dunia.

Vatican News akan memberikan liputan lengkap semua peristiwa paus disertai komentar langsung untuk liturgi besar. Siaran dimulai sebelum awal setiap upacara.

Inilah jadwal lengkap acara paus selama Pekan Suci 2018 (semua dalam waktu Roma):

Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan Yesus – 25 Maret

Hari Orang Muda se-Dunia XXXIII

Lapangan Santo Petrus

10.00 Misa Raya dari Mengenang Sengsara Tuhan Yesus (dengan Berkat dan Perarakan Palma)

Rabu Suci – 28 Maret

Lapangan Santo Petrus

10.00 Audiensi Umum

Kamis Putih – 29 Maret

Basilika Santo Petrus

10.00 Misa Krisma

Penjara Regina Coeli

16.30 Misa Malam Perjamuan Tuhan

Jumat Agung – 30 Maret

Basilika Santo Petrus

17.00 Pengenangan Sengsara dan Wafat Tuhan

Colosseum

21.15 Via Crucis (Jalan Salib)

Sabtu Suci – 31 Maret

Basilika Santo Petrus

20.30 Malam Paskah – Misa Kebangkitan Tuhan

Minggu Paskah – 1 April

Mgr Viganò, Prefek Sekretariat Vatikan untuk Komunikasi, mengundurkan diri

Kam, 22/03/2018 - 01:56

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Mgr Dario Edoardo Viganò, Prefek Sekretariat Vatikan untuk Komunikasi, 21 Maret 2018, padahal Mgr Viganò telah dipilih Paus untuk menjadi ujung tombak reformasi media Vatikan.

Dalam surat yang diterbitkan oleh Kantor Pers Tahta Suci, Paus mengatakan bahwa setelah merenungkan dengan hati-hati permintaan Mgr Viganò untuk mundur dari posisinya sebagai Prefek Sekretariat Komunikasi, Paus menerima pengunduran dirinya “namun bukan tanpa usaha” untuk mempertahankannya.

Dalam surat itu, Paus yang mencalonkan Viganò sebagai “asesor” (seseorang yang berhak melakukan asesmen) terhadap Dikasteri Komunikasi dengan meminta dia untuk tetap berada di dalam sekretariat itu agar dapat terus memberikan “kontribusi manusiawi dan profesionalnya” kepada prefek baru itu dan kepada reformasi media.

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Paus Fransiskus, tertanggal 19 Maret, Viganò mengacu pada kontroversi baru-baru ini menyangkut karyanya dan berterima kasih kepada Paus atas dukungan “paternal dan solid” yang dimanifestasikan melalui seluruh mandatnya.

Namun, jelasnya, ia telah memutuskan untuk mundur demi menghormati orang-orang yang telah bekerja bersama dia selama beberapa tahun ini, dan demi mencegah “Motu Proproi” tentang reformasi media Vatikan, dapat dengan cara apa pun “ditunda, dirusak atau bahkan diblokir.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Tanda-tanda apakah yang menjadi saksi kebangkitan Yesus?

Rab, 21/03/2018 - 18:53
Gua kosong Yesus di Yerusalem. Foto oleh Ronen Zvulun dari Reuters

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

126. Di mana letak kebangkitan Kristus dalam iman kita?

Kebangkitan Kristus merupakan mahkota kebenaran iman kita kepada Kristus, dan bersama salib menjadi bagian inti Misteri Paskah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 631, 638

127. Tanda-tanda apakah yang menjadi saksi kebangkitan Yesus?

Kecuali tanda kubur kosong, para wanita memberikan kesaksian tentang kebangkitan Yesus. Merekalah yang pertama-tama bertemu dengan Kristus dan mewartakan-Nya kepada para Rasul. Kemudian, Yesus ”menampakkan diri kepada Kefas (Petrus) dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu, Ia menampakkan Diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus” (1Kor 15:5-6) yang lain juga. Para Rasul tidak mengarang cerita tentang kebangkitan karena bagi mereka sendiri hal itu tidak mungkin. Bahkan, Yesus memperingatkan karena ketidakpercayaan mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 639-644, 656-657

Keuskupan Agung Pontianak gelar Pra-Jamnas Sekami guna menyambut Jamnas Sekami 2018

Rab, 21/03/2018 - 15:32

Untuk semakin mendalami peran sebagai misioner-misioner cilik, yang bisa saling menghargai serta menghargai keberagaman dan bisa berbagi sukacita Injili kepada teman-teman dalam semangat kebinekaan, dan untuk semakin mantap menyongsong Jambore Nasional (Jamnas) Sekami (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) 2018, sekitar 500 orang datang ke Persekolahan Bruder Kanisius di Paroki Stella Maris Siantan, Pontianak.

Drumband siswa dan siswi SD Kanisius menyambut anak dan remaja Sekami dari 11 Paroki se-Dekenat Pontianak serta para animator dan animatris,  angels, pendamping rohani, dan panitia penyelenggara memasuki persekokahan itu, dan setelah semua peserta menerima pengalungan name tag, dimulailah acara Pra-Jamnas Sekami se-Dekenat Pontianak yang berlangsung 16-18 Maret 2018.

Pra-Jamnas, untuk mempersiapkan Jamnas Sekami 2018 di Pontianak, 3-6 Juli 2018, itu dibuka dengan Misa yang dipimpin oleh Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia Keuskupan Agung Pontianak (Dirdios KKI KAP) Pastor Gregorius Sabinus CP, 16 Maret 2018.

Selama Pra-Jamnas, peserta berbaur dalam kelompok-kelompok kecil, layaknya sebuah keluarga dengan nama orang kudus sebagai pelindung keluarga. Beberapa keluarga kemudian dimasukkan dalam satu kelompok yang disebut kampung. Semua peserta membentuk tiga kampung, pertama, Kampung Bethlehem dengan anggota keluarga Santo Yosef, Santa Maria, Santo Michael dan Santo Gabriel; kedua, Kampung Galilea dengan anggota keluarga Santo Stefanus, Santo Theresia dan Santo Tarsisius; dan ketiga, Kampung Nazareth dengan anggota keluarga Santo Fransiskus, Santa Clara dan Santo Paulus.

PEN@ Katolik mengamati, selama tiga hari, peserta diajak menimba kekuatan rohani melalui Perayaan Ekaristi, doa bersama, sharing dan bina iman. Mereka juga didampingi dalam gathering melalui seminar yang diberikan oleh suster, bruder dan pastor. Di malam puncak, peserta diajak unjuk bakat dalam acara pentas seni budaya.

Sebagai tuan rumah Jamnas Sekami 2018, Keuskupan Agung Pontianak sudah membentuk panitia, sudah membekali dan menyelenggarakan pembinaan rohani bagi 134 partisipan (angels, animator dan pendamping rohani), dan sudah rekoleksi bagi tim inti, 11 Februari 2018, serta pembekalan angels, 21 Februari 2018.

Pra-Jamnas Sekami se-Dekenat Pontianak, yang dikatakan sebagai puncak persiapan menyongsong jamnas itu, ditutup dengan Misa di Gereja Stella Maris Siantan, yang juga dipimpin oleh Dirdios KKI KAP. (Suster Maria Seba SFIC)

Patung Perawan Perdamaian di Venezuela lebih tinggi dari Patung Liberty

Sel, 20/03/2018 - 23:17
Patung Perawan Perdamaian

Dari tahun 1892 sampai 1954, ketika Pulau Ellis berfungsi sebagai pelabuhan utama untuk masuk ke Amerika Serikat, kaum migran yang datang dari seberang Atlantik disambut oleh patung neoklasik kolosal yang menggambarkan apa yang mereka cari: kebebasan.

“Dan kemudian, tiba-tiba kami mendengar kerusuhan besar dan kami datang ke Amerika,” kenang seorang migran. “Dan semua orang mulai berteriak bahwa mereka melihat Lady (perempuan) itu, Patung Liberty.”

Patung tembaga, yang sering disebut Lady, setinggi 153 kaki dan satu inci atau 46 meter itu merupakan hadiah dari masyarakat Prancis untuk masyarakat Amerika Serikat di tahun 1886. Desainnya dirancang oleh pematung Prancis Frédéric Auguste Bartholdi dan dibangun oleh Gustave Eiffel, yang membangun menara dengan menggunakan namanya, di Paris.

Selama bertahun-tahun, Lady Liberty atau Patung Liberty dengan nama formal “Liberty Enlightening the World” berdiri sebagai patung tertinggi di seluruh Amerika. Kemudian, tahun 1983, pematung Spanyol Manuel de la Fuente mendirikan patung Santa Perawan Maria berukuran 153 kaki dengan nama “Virgen de la Paz” (Perawan Perdamaian), di negara bagian Trujillo, di Venezuela barat.

Patung yang mengagumkan, yang seluruhnya terbuat dari beton dengan berat sekitar 2.400.000 pound, itu lebih tinggi beberapa inci dari Patung Liberty (151 kaki dari dasar hingga obor) dan beberapa inci lebih tinggi dari patung Christ Redeemer (Kristus Penebus) yang terkenal di dunia dengan tinggi 38 meter di puncak Gunung Corcovado, Rio de Janeiro, Brasil.

Patung Perawan Perdamaian dibangun atas perintah Presiden Venezuela Luis Herrera Campins di dataran setinggi 4,752 kaki yang disebut “Peña de la Virgen” (Batu Perawan). Menurut informasi, di situ Perawan Maria pernah menampakkan diri di tahun 1570. Dalam kisah itu disebutkan seorang perempuan muda berjalan menyusuri jalan-jalan di desa Carmona untuk membeli lilin. Sekelompok pria mendekatinya seraya bertanya, “Mengapa kamu berjalan sendirian?” Perempuan itu pun menjawab, “Aku tidak sendirian, aku bersama Tuhan, matahari dan bintang-bintang.” Dalam versi lain, perempuan itu menjawab, “Kakak-kakak, jangan lupa aku berjalan bersama Tuhan, pelindungku.” Kemudian orang-orang itu mengikutinya saat dia menghilang di balik bebatuan, dan menyadari identitasnya sebenarnya.

Sama seperti Patung Liberty, Patung Perawan Perdamaian dapat dikunjungi dengan memasuki bagian dalamnya yang memiliki lima balkon. Dari situ bisa disaksikan pemandangan hutan tropis di sekitarnya yang luar biasa.

Kedua monumen itu kaya akan simbol. Patung Liberty menggambarkan Libertas, dewi kebebasan Romawi, yang memegang obor dengan tangan kanannya di atas kepala serta papan di tangan kirinya bertuliskan aksara Romawi JULY IV MDCCLXXVI (4 Juli 1776), yang merupakan tanggal Deklarasi Kemerdekaan AS. Patung “Virgen de la Paz” terinspirasi oleh Perawan Maria Ratu Pencinta Damai yang merupakan pelindung rohani negara bagian Trujillo sejak 1568 dan keuskupan lokal sejak tahun 1960. Patung itu memegang merpati putih di tangan kanannya, yang merupakan simbol perdamaian di bumi.

Patung itu juga memegang rekor lain, yakni patung tertinggi yang menggambarkan Maria di seluruh dunia. Meskipun ukurannya sangat besar dan simbolnya sangat kuat menggugah, namun patung itu tidak menarik pengunjung sebanyak lokasi pariwisata lain di negara itu.(pcp berdasarkan Aleteia)

dari entornointeligente.com Wikipedia

Tanda-tanda apakah yang menjadi saksi kebangkitan Yesus?

Sel, 20/03/2018 - 18:01
Dari Catholic Exchange

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

126. Di mana letak kebangkitan Kristus dalam iman kita?

Kebangkitan Kristus merupakan mahkota kebenaran iman kita kepada Kristus, dan bersama salib menjadi bagian inti Misteri Paskah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 631-638

127. Tanda-tanda apakah yang menjadi saksi kebangkitan Yesus?

Kecuali tanda kubur kosong, para wanita memberikan kesaksian tentang kebangkitan Yesus. Merekalah yang pertama-tama bertemu dengan Kristus dan mewartakan-Nya kepada para Rasul. Kemudian, Yesus ”menampakkan diri kepada Kefas (Petrus) dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu, Ia menampakkan Diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus” (1Kor 15:5-6) yang lain juga. Para Rasul tidak mengarang cerita tentang kebangkitan karena bagi mereka sendiri hal itu tidak mungkin. Bahkan, Yesus memperingatkan karena ketidakpercayaan mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 639-644, 656-657

Komisi HAK KAS laksanakan pameran lukisan untuk edukasi perdamaian dan kerukunan

Sel, 20/03/2018 - 16:42
Pastor Aloys Budi Purnomo Pr (ketiga dari kiri) memberi keterangan pers

“Kita semua tahu, hingga hari ini, salah satu keprihatinan global yang sedang memedihkan hati sebagian besar bangsa-bangsa adalah masalah Palestina. Perang tak kunjung berakhir. Darah terus bersimbah. Air mata duka kian merana. Upaya-upaya untuk menggapai perdamaian tak kunjung menjadi kenyataan,” kata Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr berbicara dengan awak media tentang penyelenggaraan Pameran Lukisan bertema “Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita” di Pastoran Johannes Maria, kompleks Unika Soegijapranata, Semarang, 19 Maret 2018. Pastor Budi adalah Pastor Kepala Reksa Pastoral Kampus Unika Soegijapranata sejak 22 November 2017 dan juga Ketua Komisi HAK KAS, yang menjadi penyelenggara pameran 21-25 Maret 2018.

“Ternyata, ketika cita-cita perdamaian untuk Palestina dan kerukunan untuk negara kita digemakan, akan menjadi sebuah daya tarik,” kata Pastor Budi melukiskan tema besar pameran itu.

Indonesia, jelas Pastor Budi, termasuk dalam 128 negara, bersama empat negara anggota tetap Dewan Keamanan: Cina, Prancis, Rusia, dan Inggris, yang mendukung resolusi PBB yang mendesak Amerika Serikat menarik keputusan yang menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mendukung relosusi PBB itu, bahkan sudah mengungkapkan sikapnya itu dalam KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki, 13 Desember 2017. Sebelumnya, 7 Desember 2017, Presiden Jokowi juga mengecam keras sikap Trump yang secara sepihak mengklaim pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Pameran lukisan ini juga menjadi sebentuk apresiasi kita terhadap sikap Presiden Jokowi dalam kasus ini. Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi menegaskan dukungannya terhadap Palestina, khususnya dalam konteks niat Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, padahal Yerusalem selama ini diterima bangsa-bangsa sebagai kota perdamaian, baik untuk Palestina maupun Israel. Karenanya, dalam pameran ini terdapat pula beberapa lukisan yang bersubjek Presiden Joko Widodo,” kata Pastor Budi dalam keterangan pers itu.

Pastor Budi mengutip perkataan Paus Fransiskus bahwa tidak boleh secara sepihak mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel, karena “itu kota perdamaian.” Pastor Budi, yang sudah tiga kali ke sana, melihat kota itu sebagai tempat yang damai bagi semua agama samawi Yahudi, Nasrani (Katolik dan Kristen) dan Islam.

“Maka, dalam konflik politis antara Israel-Palestina, yang menjadi korban bukan hanya umat salah satu agama, melainkan semua umat beragama di Palestina. Itulah sebabnya, melalui pameran ini kita menyerukan perdamaian untuk rakyat Palestina, namun seruan itu sekaligus menjadi wujud kita merajut kerukunan di Tanah Air kita, Indonesia. Jangan sampai seruan-seruan perdamaian kita untuk Palestina justru membuat kerukunan di antara kita terkoyak,” kata imam itu.

Menurut Pastor Budi, 100 lukisan akan dipajang dalam pameran 21-25 Maret 2018 di Pastoran Johannes Maria itu. “Sebanyak 46 pelukis dan 30 skester dari Semarang, Ungaran, ​Ambarawa, Salatiga, Boyolasi, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta akan terlibat dalam Pameran Lukisan itu, bersama sejumlah komunitas seni rupa seperti Sanggar Seni Tosan Aji Gedongsongo Ungaran, Omah Seni Mbah Semar Ambawara dan Komunitas arsiSKETur Semarang.”

Selain memamerkan lukisan, panitia juga menggelar pentas seni rakyat yang nyaris punah, diskusi, dan teater serta lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, “untuk merayakan perdamaian dan merayakan kerukunan.”

Pameran itu akan dibuka dengan pawai yang mengarak beberapa lukisan dari pastoran masuk kampus, “supaya yang tersembunyi akhirnya terbaca di luar, di jalan dan di kampus, lalu kembali ke pastoran.” Pastor Budi berharap, setelah pameran lukisan, kegiatan bisa berlanjut dengan berbagai peristiwa berikut yang bermanfaat dalam rangka mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.

Ketua panitia MA Soetikno mengatakan, pameran itu adalah jawaban akan keprihatinan yang terjadi terkait dengan perdamaian. Maka, dalam acara itu, katanya, “anak-anak pun diajak untuk memaknai perdamaian dengan mengikuti lomba menggambar dan mewarnai gambar bertema perdamaian. Semua, dari anak-anak sampai dewasa, diajak terlibat dalam pameran ini dalam rangka edukasi perdamaian dan kerukunan dan dalam semangat multikultural dan keberagaman.”(Lukas Awi Tristanto)

Halaman