Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 46 mnt 38 dtk yang lalu

Apa itu meterai Sakramental?

Jum, 18/05/2018 - 23:16

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

226. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan Gereja?

Kristus sudah mempercayakan Sakramen-Sakramen kepada Gereja-Nya. Sakramen-Sakramen itu adalah Sakramen-Sakramen ”Gereja” dalam arti ganda: Sakramen-Sakramen itu ”dari Gereja” sejauh merupakan tindakan Gereja, yang pada gilirannya merupakan Sakramen tindakan Kristus, dan ”untuk Gereja” sejauh Sakramen-Sakramen itu membangun Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1117-1119

227. Apa itu meterai Sakramental?

Karena meterai ini, orang Kristen dipersatukan dengan Kristus, mengambil bagian dalam imamat-Nya dalam berbagai cara, dan mempunyai peranan di dalam Gereja sesuai dengan kondisi dan fungsinya. Karena itu, mereka ini dikhususkan untukkondisi Gereja. Meterai ini tak dapat dihapuskan sehingga Sakramen-Sakramen bersangkutan hanya diterimakan satu kali selama hidup.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1121

Guru Persink diajak jadi teladan bagi anak didik guna menghalangi disintegrasi bangsa

Jum, 18/05/2018 - 23:00

Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Banten Bazari Syam  mengatakan, guru-guru yang mengajar agama Katolik bagi siswa-siswi yang tergabung dalam Persatuan Siswa-Siswi Negeri Katolik (Persink) se-Banten agar menjadi teladan dalam berperilaku di sekolah dan di masyarakat.

“Disintegrasi bangsa akhir-akhir ini adalah akibat jauhnya pengamalan agama dalam kehidupan. Mungkin guru hanya bertugas mentransfer ilmu kepada anak didik dan kurang memberikan teladan kepada mereka,” kata Bazari Syam di depan 60 guru pengajar Persink se-Provinsi Banten yang berkumpul di sebuah hotel di Serang, 11-12 Mei 2018.

Guru, hendaknya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan agama, tetapi yang lebih penting “mengaplikasikan ilmu agama di tengah masyarakat,” lanjut Bazari Syam dalam pertemuan yang dilaksanakan Bimas Katolik Banten untuk mendengarkan pengalaman guru Persink.

Mengamati berbagai kendala antara lain keterbatasan bahan ajar dan rendahnya motivasi orangtua untuk mendorong anaknya ikut Persink, kepala kantor kemenag itu berharap, meskipun gaji atau honor kecil, para guru “tetap ikhlas dan melakukan tugas dengan penuh tanggungjawab.”

Seorang guru Muslim, yang juga mengajar agama Islam, kisah Bazari Syam, secara riil tidak bisa menghidupi tiga orang anak kalau hanya mengandalkan honor dari sekolah tempat ia mengajar. Tapi karena keikhlasan, dengan rasa tanggungjawab, ternyata Tuhan memberikan rezeki dengan cara lain, dia mendapat keuntungan dengan menjadi perantara menjual motor dan tanah. “Inilah yang disebut ‘Rahmat Tuhan itu tidak jauh,’ kalau semua dijalankan dengan ikhlas,” tegasnya.

Sementara itu terdengar juga beberapa keluhan. Anggota tim kateketik dari Keuskupan Bogor Lorensius Atrik Wibawa mengelukan kesulitan bahan ajar dan menganjurkan guru selalu bekerja sama yang erat dengan Bimas Katolik setempat. “Kadang-kadang kesulitan tidak dikomunikasikan, maka tidak diketahui. Mulai sekarang coba bekerja sama dengan Bimas Katolik,” harapnya.

Agustina Maryati, guru Persink di Paroki Kristus Raja Cikande bagian timur mengatakan hanya enam guru Persink yang melayani 120 murid di daerahnya, apalagi “jarak rumah murid dengan tempat pembelajaran jauh, maka kadang anak-anak tidak datang.”

Rosa Ruwiyani, pengajar Persink di Kedaung, Sepatan, Tangerang, mengatakan hal yang sama bahwa banyak anak tidak hadir dalam sekolah minggu karena tidak diantar oleh orang tua mereka. Menurut catatan PEN@ Katolik, sekolah minggu terkadang menghadapi masalah juga di Paroki Odilia, Citraraya, karena untuk transportasi seorang anak dari daerah Solear harus mengeluarkan uang sebesar 50 ribu rupiah sekali jalan ke gereja.

Selama setahun, Pembimbing Masyarakat Katolik Banten Osner Purba selalu melakukan kunjungan ke paroki untuk menjalin kerja sama dengan pastor paroki dalam mengatasi kesulitan itu. “Kepala paroki bukan atasannya Pembimas Katolik atau sebaliknya, tetapi keduanya adalah mitra, yang berarti saling bekerja sama menyelesaikan problem yang dialami umat Katolik, termasuk guru Persink,” katanya. (Konradus R. Mangu)

12 orang terkenal yang mengandalkan Perawan Maria

Jum, 18/05/2018 - 18:38

Dalam Bulan Mei, saat perhatian kita tercurah kepada Maria, PEN@ Katolik secara khusus mengangkat sebuah artikel dari Aleteia yang ditulis oleh Cerith Gardiner tanggal 17 Mei 2018 yang menampilkan 12 aktor hingga olahragawan terkenal yang secara terbuka membagikan kasih sayang mereka kepada Bunda Maria Terberkati.

Dikatakan dalam tulisan itu bahwa sepanjang bulan ini perhatian kita tercurah kepada Maria, karena di sepanjang sejarah Maria telah mengilhami jutaan orang dengan rahmat, teladan, dan kasihnya. “Seperti semua ibu yang baik, dia mendukung kita melalui yang baik dan yang buruk, dengan cinta tanpa syarat …”

Bahkan beberapa orang yang sangat terkenal itu tidak pernah malu mengungkapkan cinta mereka kepada Perawan Maria, dan mereka berbicara tentang bagaimana mereka masih menyandarkan karier mereka kepadanya.

Maka, lihatlah gambar dan pandangan beberapa orang terkenal di bawah ini yang mengungkapkan pengabdian, kekaguman, rasa hormat, dan cinta mereka yang luar biasa untuk Bunda Yesus …

Jim Caviezel
Tentang devosi sang aktor kepada Maria: “Inilah inti iman saya. Hubungan saya dengan Yesus adalah berkat dia. Dia membawa Yesus kepada kami.”
AP
1/12 Willa Cather
Penerima American Pulitzer Prize mengklaim: “Hanya seorang wanita, yang ilahi, yang bisa tahu semua yang bisa diderita wanita.”
Wikipedia PD
2/12 Eduardo Verasregui
“Brad Pitt” dari Meksiko tidak pernah akan melakukan syuting kalau “Perawan Maria Yang Terberkati atau ibu saya menutup mata mereka.”
Eduardo Verastegui | Facebook |
3/12 Tim Watkins
Produser, sutradara, dan penulis film religius hanya menyatakan: “Saya tidak layak menyentuh jumbai-jumbai gaun Maria.”
The Blood & The Rose | Facebook |
4/12 Katie Ledecky
Juara renang yang saleh menyatakan: “Saya kira devosi kita kepada Maria sangat indah. Dia memiliki peran suci dalam agama Katolik, dan kita bisa belajar dari imannya yang kuat serta dari kerendahan hatinya.”
Katie Ledecky | Facebook |
5/12 J. R. R. Tolkien
Novelis terkenal dan penganut Katolik yang saleh menyatakan: “Semua persepsi saya tentang keindahan baik dalam keagungan dan kesederhanaan didasarkan pada Bunda Maria.”
Wikipedia PD
6/12 Gerry Faust
Mantan pelatih sepak bola Notre Dame mengatakan: “Ketidaksempurnaan kita dilupakan kalau intensi-intensi kita disampaikan kepada Kristus oleh Bunda-Nya yang tak bercela.”
Universitas Dominikan Ohio | Facebook |
7/12 Lech Walesa
Presiden Polandia yang kedua membagikan: “Dalam diri saya, saya bukan apa-apa. Semuanya berasal dari Tuhan dan Perawan Maria.”
UNESCO | Christelle ALIX | Flickr CC oleh NC ND 2.0
8/12

Simone Biles
Juara gimnastik Olimpiade berbicara tentang kekuatan Maria: “Salam Maria adalah doa yang indah dan saya merasakan doa itu menenangkan saya.”
ABC | Grup Gambar LA | Flickr CC oleh ND 2.0
9/12

GK Chesterton
Penulis dan filsuf Inggris mengklaim bahwa kita “mengabdi seorang Ibu yang tampaknya semakin cantik ketika generasi-generasi baru bangkit dan memanggilnya yang terberkati.”
Wikipedia PD
10/12 Johnny Sauter
Di akhir lombanya, juara NASCAR ini mengejutkan pemirsa dengan mengatakan: “Saya berterima kasih kepada Bunda Terberkati dan kepada Hati Kudus Yesus.”
Wikipedia CC oleh SA 3.0
11/12 Mark Van Guilder
Pemain hoki ini berbagi: “Saya penggemar berat Perawan Maria – kerendahan hatinya yang luar biasa … Maria adalah contoh yang luar biasa untuk melepaskan dan membiarkan kehendak Tuhan mengambil alih.”
AP
12/12

 

 

Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan Kristus?

Kam, 17/05/2018 - 22:52

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

224. Apa itu Sakramen dan ada berapa macam?

Sakramen-Sakramen yang ditetapkan oleh Kristus dan dipercayakan kepada Gereja merupakan tanda yang mendatangkan rahmat yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Ada tujuh Sakramen, yaitu Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi Kudus, Tobat, Pengurapan Orang Sakit, Penahbisan, dan Perkawinan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1113-1131

225. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan Kristus?

Misteri-misteri hidup Kristus merupakan dasar dari apa yang Dia bagikan di dalam Sakramen-Sakramen melalui para pelayan Gereja.

“Apa yang tampak di dalam diri Penyelamat kita

diwujudkan dalam Sakramen-Sakramen-Nya”

(Santo Leo Agung)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 461-463, 483

Umat Katolik harus terus meningkatkan persaudaraan sejati di tingkat akar rumput

Kam, 17/05/2018 - 20:57
Ist.

Umat Katolik harus terus-menerus mengupayakan dan meningkatkan persaudaraan sejati di tingkat akar rumput dengan membangun dialog dengan aksi yang nyata dan terus bergerak menciptakan perdamaian sejati, kata Pastor Benny Susetyo Pr kepada PEN@ Katolik menanggapi Silaturahmi Kebangsaan yang berlangsung di beranda Masjid Istiqlal, Jakarta, 16 Mei 2018.

Silaturahmi dalam rangka Memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2018, itu dihadiri enam tokoh lintas agama yakni Nasaruddin Umar dari agama Islam, Pendeta Henriette T Hutabarat-Lebang dari agama Kristen Protestan, Mgr Iqnatius Suharyo dari agama Katolik, Ida Pengelingsir Agung Patra Sukahef dari agama Hindu, Biksu Pannavaro Mahathera dari agama Budha, dan Chandra Setiawan dari agama Konghucu.

Menurut imam itu, hadir juga dalam Silaturahmi Kebangsaan, yang dilakukan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) itu, Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, Menko PMK Puan Maharani, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, dan tokoh-tokoh agama lain.

Menjawab pertanyaan media ini tentang bentuk dialog dengan aksi yang nyata yang masih perlu dilakukan umat Katolik, Pastor Benny Susetyo yang juga anggota Dewan Pengarah BPIP menegaskan bahwa “umat Katolik masih perlu meningkatkan dialog kehidupan dengan menciptakan hubungan yang harmonis dengan tetangga dan menciptakan suasana saling membutuhkan.”

Imam itu membenarkan bahwa umat Katolik sudah sedang melakukannya tetapi masih kurang dan, “sudah harus ditingkatkan dengan dialog praksis di akar rumput.”

Menag berharap agar kegiatan silaturahmi itu bisa menghangatkan kesadaran memori kolektif bangsa melalui tokoh-tokoh agama, bahwa pengejawantahan atau pengamalan nilai-nilai Pancasila itu hakikatnya adalah pengamalan dari nilai-nilai agama itu sendiri. “Seluruh sila yang ada dalam Pancasila kita hakikatnya adalah nilai-nilai agama,” tegas Menteri Lukman Hakim Saifuddin.(paul c pati)

Paus ucapkan selamat memasuki Ramadan dan sedih melihat ketegangan di Tanah Suci

Kam, 17/05/2018 - 17:27
Berdasarkan Vatican News

Dalam audiensi umum hari Rabu, 16 Mei 2018, di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus Fransiskus memberikan salam hormat bagi umat Muslim yang hendak memulai Bulan Ramadan keesokan harinya, seraya berharap “waktu yang istimewa untuk doa dan puasa ini membantu dalam menjalani jalan Allah yakni jalan perdamaian.”

Sebelumnya, Paus juga mengungkapkan rasa sangat khawatir dan sedih “karena meningkatnya ketegangan di Tanah Suci dan di Timur Tengah, dan karena spiral kekerasan yang semakin jauh dari jalan perdamaian, dialog dan negosiasi.”

Selain mengungkapkan “rasa duka mendalam terhadap orang-orang yang telah mati dan yang terluka dan saya dekat dengan doa dan kasih sayang bagi semua orang yang menderita,” Paus Fransiskus kembali menegaskan bahwa “penggunaan kekerasan tidak pernah mengarah pada perdamaian.” Sebaliknya, lanjut Paus, seperti terjemahan sambutan Paus dalam bahasa Inggris yang dibagikan oleh Kantor Pers Vatikan, “Perang melahirkan perang, kekerasan melahirkan kekerasan.”

Paus pun mengajak semua pihak yang terlibat serta masyarakat internasional untuk memperbarui komitmen mereka sehingga terjadi dialog, keadilan, dan perdamaian. “Mari kita mohon kepada Maria, Ratu Perdamaian. “Salam Maria …”(paul c pati)

Bagaimana Roh Kudus berkarya dalam liturgi Gereja?

Rab, 16/05/2018 - 23:33
dari http://www.newliturgicalmovement.org/

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

221. Dengan cara apa Bapa merupakan sumber dan tujuan liturgi?

Melalui liturgi, Bapa memenuhi kita dengan berkat-berkat-Nya dalam Sabda yang menjadi daging, yang wafat dan bangkit untuk kita dan mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati kita. Pada saat yang sama, Gereja menghormati-Nya dengan ibadah, pujian, dan syukur serta memohon kepada-Nya anugerah-anugerah Putra dan Roh Kudus

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1077-1083, 1110

222. Apa karya Kristus dalam liturgi?

Dalam liturgi Gereja, misteri Paskah Kristus ditandakan dan dihadirkan. Dengan memberikan Roh Kudus kepada para Rasul-Nya, Yesus mempercayakan kepada mereka dan pengganti-pengganti mereka kekuatan untuk menghadirkan karya penyelamatan Allah melalui kurban Ekaristi dan Sakramen-Sakramen lainnya. Dalam Sakramen-Sakramen inilah Kristus bertindak untuk mengomunikasikan rahmat-Nya kepada semua umat beriman di segala macam tempat dan waktu di dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1084-1090

223. Bagaimana Roh Kudus berkarya dalam liturgi Gereja?

Kerja sama yang paling erat antara Roh Kudus dengan Gereja terjadi dalam liturgi. Roh Kudus mempersiapkan Gereja untuk berjumpa dengan Allahnya. Roh Kudus mengingatkan dan menyatakan Kristus kepada iman jemaat. Dia membuat misteri Kristus betul-betul hadir. Dia mempersatukan Gereja dengan hidup dan perutusan Kristus dan menghasilkan buah persekutuan di dalam Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1091-1109, 1112

‘Nenek peziarah’ berjalan 900 kilometer lebih untuk berdoa bagi keluarga-keluarga

Rab, 16/05/2018 - 22:07
Emma Morosini mendapat julukan “nenek peziarah.” Foto Yolanda Longino

Awal bulan ini, di usia 94 tahun, Emma Morosini mendapat julukan “nenek peziarah” setelah dia menyelesaikan perjalanan ziarah sepanjang 570 mil atau 917,326 kilometer untuk menghormati Santa Perawan Maria dari Guadalupe.

Ziarahnya itu berlangsung selama 40 hari dari Monterrey, di Meksiko timur laut, ke Mexico City. Di sana dia berdoa di Basilika Perawan Maria dari Guadalupe, di depan tilma (mantol kasar yang dipakai suku Indian di Mexico) milik Santo Juan Diego.

Morosini, nenek asli Italia yang sudah 25 tahun lebih melakukan ziarah keliling dunia, tiba sore hari tanggal 12 Mei 2018 di Basilika Perawan Maria Guadalupe di Mexico City, untuk berdoa bagi keluarga-keluarga, bagi orang muda, dan bagi “perdamaian dunia.”

“Nenek peziarah” itu telah mengunjungi tempat-tempat ziarah di Portugal, Spanyol, Polandia, Israel, Brasil dan Argentina.

Selama ziarah, Morosini mulai berjalan setiap hari pukul 6:30 pagi, membawa koper kecil dan payung, dan demi keamanan dia mengenakan rompi reflektif.

Untuk makan, Morosini membawa susu, jus, roti, dan air, seraya menerima sepanjang jalan beberapa sumbangan buah dan sayuran.

Di berbagai titik dalam perjalanannya ia didampingi oleh personel medis dan keamanan sipil atau oleh Polisi Federal Meksiko. Sepanjang rute perjalanannya, dia sering mendapat rumah penginapan dari otoritas kota.

Dalam ziarah tahun 2015 di Argentina, ketika berusia 91 tahun, Morosini mengatakan kepada wartawan bahwa dia sedang berdoa untuk “perdamaian di dunia, untuk orang muda, untuk semua keluarga yang hidup terpisah. Banyak yang terpisah, sebagian hidup bersama tetapi bukan pasangan, atau mereka tidak memiliki anak. Sangat menyedihkan.”

“Nenek peziarah” itu disambut tepuk tangan sesama peziarah ketika dia tiba di Basilika Perawan Maria dari Guadalupe. Sebelum memasuki gereja, wanita itu berlutut, mencium tanah, membuat tanda salib dan berdoa hening selama beberapa saat.(paul c pati berdasarkan Catholic News Agency, 15 Mei 2018, Mexico City, Meksiko)

dari www.noticiasdequeretaro.com dari Pinterest Tempat Ziarah Perawan Maria Guadalupe di Mexico City, Mexico. Foto Eduardo Berdejo/CNA

Paus: kita perlu bersyukur kalau pemimpin agama aktif tumbuhkan budaya perjumpaan

Rab, 16/05/2018 - 19:10
Paus Fransiskus bertemu dengan umat Buddha di Yangon, Myanmar, 29 November 2017.

Perwakilan umat Buddha, Hindu, Jain, Sikh dan Kristen ikut serta dalam konferensi yang diselenggarakan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dengan tema “Dharma dan Logos – Dialog dan Kerja Sama dalam Abad yang Kompleks,” yang diikuti sekitar 200 wakil agama-agama Dharmik, atau agama-agama yang berasal dari anak benua India, 15 Mei 2018.

Keesokan harinya, 16 Mei 2018, Paus Fransiskus secara singkat bertemu dengan delegasi umat Buddha, Hindu, Jain, dan Sikh yang berpartisipasi dalam konferensi satu hari di Vatikan itu beserta satu kelompok lain biarawan Budha dari Thailand.

Ketika bertemu dengan perwakilan agama-agama Dharmik menjelang audiensi umum mingguannya, Paus menyatakan puas dengan konferensi yang mereka hadiri, seraya mengatakan “dialog dan kerja sama sangat penting pada saat seperti sekarang ini” yang ditandai oleh ketegangan, konflik dan kekerasan.

Paus mengatakan, kita perlu bersyukur kepada Tuhan kalau “para pemimpin agama secara aktif menumbuhkan budaya perjumpaan dengan memberikan contoh dialog yang berbuah dan dengan bekerja bersama secara efektif dalam melayani kehidupan, martabat manusia dan kepedulian terhadap ciptaan.”

Dalam pertemuan terpisah, delegasi biksu Budha dari Thailand memberikan kepada Paus “Kitab Suci yang diterjemahkan ke dalam bahasa hari ini oleh para biksu dari Kuil Wat Pho.” Paus berterima kasih kepada mereka untuk buku itu dengan mengatakan itulah tanda nyata kemurahan hati dan persahabatan yang dialami bersama umat Buddha dan Katolik selama bertahun-tahun.

Dalam hal ini, Paus Fransiskus mengingat kembali pertemuan di Vatikan antara Beato Paus Paulus VI dan Yang Mulia Somdej Phra Wanaratana, yang potretnya dapat dilihat di kantor Dewan Kepausan itu.

Paus mendesak umat Buddha dan umat Katolik untuk terus lebih berdekatan, “semakin saling mengenal dan semakin  menghargai tradisi spiritual masing-masing, serta memberikan kepada dunia kesaksian akan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan pembelaan martabat manusia.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa peranan liturgi dalam kehidupan Gereja?

Sel, 15/05/2018 - 23:37

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

219. Apa peranan liturgi dalam kehidupan Gereja?

Liturgi sebagai tindakan suci par excellence adalah puncak yang menjadi arah kegiatan Gereja dan merupakan sumber semua kekuatannya. Melalui liturgi, Kristus meneruskan karya penebusan kita dalam, dengan, dan melalui Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1071-1075

220. Apa isi tata keselamatan Sakramental?

Tata keselamatan Sakramental terdapat dalam komunikasi buah-buah penebusan Kristus melalui perayaan Sakramen-Sakramen Gereja, secara khusus Ekaristi, ”sampai Ia datang” (1Kor 11:26).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1076

Instruksi kehidupan kontemplatif wanita disajikan dalam konferensi pers

Sel, 15/05/2018 - 23:23

“Cor Orans” (Hati yang Berdoa) adalah judul dokumen yang memberikan instruksi tentang bagaimana menerapkan Konstitusi Apostolik Paus Fransiskus 2016 “Vultum Dei Quaerere” (Carilah Wajah Tuhan) yang ditujukan kepada kaum religius wanita di komunitas-komunitas kontemplatif.

Di dalamnya, Paus menyerukan perubahan-perubahan untuk dilaksanakan di 12 bidang beragam dari kehidupan doa hingga pakaian kerja.

“Cor Orans” disajikan dalam konferensi pers di Kantor Pers Takhta Suci, 15 Mei 2018, yang dipimpin oleh Sekretaris Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik Uskup Agung José Rodriguez Carballo, dan oleh wakil sekretaris kongregasi yang sama, Pastor Sebastiano Paciolla.

Di dunia saat ini ada hampir 38.000 biarawati yang hidup dalam biara tertutup, dan karena alasan ini isi dokumen baru itu menarik tidak hanya untuk Gereja dan untuk para biarawati itu sendiri tetapi juga untuk masyarakat pada umumnya, jelas Uskup Agung Rodriguez Caballo. Dokumen itu, lanjut Mgr Caballo bertujuan untuk “memperjelas ketentuan hukum, seraya mengembangkan dan memastikan prosedur pelaksanaannya.”

Dokumen itu memberikan panduan yang tepat mengenai semua aspek praktis, administratif, hukum dan spiritual yang berkaitan dengan pendirian dan jalannya biara-biara untuk para biarawati kontemplatif.

Ini termasuk spesifikasi rinci mengenai otonomi biara, dasar dan pendirian biara-biara itu sendiri, pemindahan dan penekanan yang mungkin terjadi, kebutuhan untuk kewaspadaan eklesial atas biara-biara, hubungan dengan uskup keuskupan yang bersangkutan, aturan dan peraturan tentang “pemisahan para biarawati dari dunia luar,” sarana komunikasi, berbagai bentuk biara termasuk “papal enclosure” (yang berarti kalau sudah masuk tidak boleh keluar lagi)  dan pembinaan.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Para uskup Chili ungkapkan rasa sedih dan malu atas pelecehan dan ingin dengarkan Paus

Sel, 15/05/2018 - 22:04

Paus Fransiskus saat ini sedang mengadakan serangkaian pertemuan tertutup dengan para uskup Chili untuk merumuskan tanggapan terhadap krisis pelecehan yang telah mengguncang Gereja di negara itu. Diskusi-diskusi itu dihadiri oleh 31 uskup dan uskup pembantu serta 3 uskup emeritus, dan akan berlangsung hingga 17 Mei 2018.

Pada malam sebelum pertemuan itu, dua uskup Chili mengadakan konferensi pers di Roma. Mereka adalah Uskup Pembantu Santiago yang juga Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Chili Mgr Fernando Ramos dan Uskup San Bernardo Mgr Juan Ignacio González.

Menurut Uskup Agung Ramos, surat Paus Fransiskus tertanggal 8 April memanggil para uskup ke Vatikan, dan para uskup datang secara khusus, “Untuk menerima kesimpulan dari laporan yang dibuat Uskup Agung Charles Scicluna (yang telah dikirim ke Chili oleh Paus Fransiskus untuk menerima informasi mengenai kasus pelecehan seksual di sana) setelah kunjungannya ke Chili, dan juga untuk memahami langkah-langkah jangka pendek, menengah dan panjang untuk memulihkan persekutuan dan keadilan.” Ini adalah “dua tema besar yang membuat Bapa Suci mengundang kami lewat suratnya,” lanjut Mgr Ramos.

Dalam konferensi pers di Roma itu, Uskup Agung Ramos mengatakan bahwa isi pertemuan dengan Paus akan mencakup, “Masalah penyalahgunaan kekuasaan, penyalahgunaan hati nurani, dan pelecehan seksual, yang telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir di Gereja Chili, serta mekanisme yang menyebabkan, dalam beberapa kasus, penyembunyian dan pengabaian serius terhadap para korban. Poin kedua adalah untuk membagikan kesimpulan yang Bapa Suci ambil dari laporan Uskup Agung Scicluna. Dan poin ketiga adalah ajakan Paus untuk membuat proses sinode pencermatan yang panjang guna memahami tanggung jawab masing-masing dan setiap orang berkaitan dengan luka-luka penyalahgunaan dan pelecehan mengerikan ini, dan guna mencari perubahan yang diperlukan agar tidak terulang lagi.”

Uskup Agung Ramos berbicara tentang perasaan “sedih dan malu” para uskup. “Rasa sedih, karena sayangnya ada korban: ada orang-orang yang menjadi korban pelecehan dan ini menyebabkan kami sangat sedih. Dan rasa malu, karena pelanggaran-pelanggaran ini terjadi di lingkungan Gereja, tempat yang seharusnya tidak pernah terjadi pelecehan seperti ini.”

Uskup Agung Ramos melanjutkan, “Kita harus meminta maaf 70 x 7. Saya kira itu perintah moral yang sangat penting bagi kita. Yang penting bahwa permintaan maaf itu benar-benar keinginan untuk berubah.” Dengan segala kerendahan hati, “kami akan mendengarkan apa yang akan dikatakan Paus,” lanjut uskup agung itu seraya melihat pertemuan itu sebagai “momen sangat penting” untuk pembaruan Gereja Chili.

Uskup González, yang juga berbicara dalam konferensi pers itu, mengatakan bahwa para uskup Chili melihat Paus Fransiskus sebagai contoh karena dia telah mengakui kesalahan-kesalahannya, karena dia meminta maaf, dan karena dia bertemu dengan para korban. “Para korban adalah pusat perhatian kami, dan karena itulah Gereja di Chili harus mengupayakan perubahan, dengan kerendahan hati dan pengharapan, dengan mengikuti ajaran Yesus,” kata Mgr González.

Ketika pertemuan dengan para uskup Chili itu diumumkan dalam komunike tanggal 12 Mei, Kantor Pers Vatikan menjelaskan bahwa “adalah hal mendasar untuk memulihkan kepercayaan di dalam Gereja melalui para Pastor yang baik yang memberi kesaksian lewat kehidupan mereka bahwa mereka telah mendengar suara dari Gembala Yang Baik, dan yang tahu bagaimana menemani penderitaan para korban, dan berupaya dengan cara pasti dan tak kenal lelah guna mencegah penyalahgunaan. Bapa Suci berterima kasih kepada saudara-saudara uskupnya karena kesediaan mereka untuk tetap taat dan rendah hati mendengarkan Roh Kudus, dan Paus kembali meminta Umat Allah di Chili untuk terus berdoa bagi pertobatan semua orang.” Komunike itu diakhiri dengan konfirmasi bahwa Paus tidak akan mengeluarkan pernyataan apa pun, baik selama atau setelah pertemuan, “yang akan berlangsung penuh kerahasiaan” itu. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Replika Patung Maria Bunda Segala Suku di Katedral Jakarta

Sel, 15/05/2018 - 20:15

Replika Patung Maria Bunda Segala Suku telah diberkati oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo tanggal 13 Mei 2018, bertepatan dengan Hari Komunikasi Sosial se-Dunia dan Peringatan Santa Perawan Maria dari Fatima, dan kini ditempatkan di Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta. Bersamaan dengan itu umat Katolik di Jakarta mengadakan Devosi dan Novena Besar Bunda Maria 2018 dengan tema “Menghayati Kekatolikan dalam Budaya Indonesia” disertai Doa Rosario, Talkshow,  Misa Inkulturasi berbagai budaya di sebuah ruang pertemuan Menara Mandiri Jakarta, 11-19 Mei 2018. Replika Patung Maria Bunda Segala Suku itu bermahkota peta Indonesia, Garuda Pancasila bertahta di dada, berkerudung Merah Putih, berkebaya brokat putih panjang dengan lukisan wayang Dewi Kunthi tua simbol kesabaran penuh kesucian di sisi kanan bawah dan lukisan wayang Dewi Sri simbol kesejahteraan dan kedamaian di sisi kiri bawah, dan berkain tenun motif Nusantara.(pcp)

Apa arti ”Amin” sebagai akhir dari pengakuan iman?

Sen, 14/05/2018 - 21:28

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

217. Apa arti ”Amin” sebagai akhir dari pengakuan iman?

Kata Ibrani ”Amin”, yang juga menjadi kata penutup Kitab Suci, beberapa doa dalam Perjanjian Baru, dan doa-doa liturgi Gereja, mengungkapkan ”Ya” kita yang total dan penuh kepercayaan terhadap apa yang kita akui dalam Syahadat, mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada-Nya, yaitu ”Amin” yang definitif (Why 3:14): Kristus, Tuhan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1061-1065

218. Apa itu liturgi?

Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitan-Nya. Dengan melaksanakan imamat Yesus Kristus, liturgi menyatakan dalam tanda-tanda dan membawa pengudusan bagi umat manusia. Pemujaan kepada Allah dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu oleh kepala dan para anggotanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1066-1070

Meskipun mengalami duka mendalam, Gereja Katolik tulus mengampuni pelaku teror

Sen, 14/05/2018 - 18:44

“Meskipun kami mengalami duka yang mendalam, namun Gereja Katolik dengan tulus mengampuni para pelaku teror dan mendoakan para pelaku yang menjadi korban,” tulis Kepala Paroki Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Pastor Alexius Kurdo Irianto Pr dalam pernyataan berjudul “Pernyataan Sikap Terhadap Peristiwa Pengeboman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Kota Surabaya.”

Pernyataan itu dikeluarkan di Surabaya, 13 Mei 2018, pukul 12.15 WIB, tepat lima jam setelah terjadi ledakan bom bunuh diri di depan gerejanya yang terletak di Jalan Ngagel Madya 1, Surabaya, yakni sekitar pukul 07.15, yang mengorbankan lima orang: tiga warga Gereja dan dua orang pelakunya serta mengakibatkan luka berat maupun ringan pada puluhan orang.

Atas peristiwa itu, tulis imam itu, Gereja Katolik di seluruh dunia, terutama umat Katolik Keuskupan Surabaya, dan secara khusus, umat Paroki Santa Maria Tak Bercela menyatakan, “Peristiwa ini merupakan duka yang mendalam bagi seluruh bangsa Indonesia. Gereja Katolik tidak takut terhadap teror yang selama ini selalu mengancam kehidupan bangsa Indonesia. Hentikan kekerasan! Kekerasan tidak ada membuahkan apa pun, kecuali korban jiwa.”

Duka yang mendalam disampaikan lewat surat itu bagi para korban dan keluarganya, “terutama untuk Saudara (Aloysius) Bayu, yang telah menghadang sepeda motor yang ternyata adalah pelaku bom bunuh diri tersebut. Jika tidak dihadang Saudara Bayu, akan lebih banyak membawa kurban jiwa.”

Dengan huruf kapital, Pastor Irianto juga menyatakan, “DENGAN TEGAS MENGECAM TEROR SEMACAM INI. INI HARUS SEGERA DIHENTIKAN! Kami menolak segala bentuk kekerasan karena tidak sesuai dengan martabat kehidupan manusia dan bertentangan dengan ajaran agama mana pun.”

Kepada umat Katolik seluruh Indonesia, dan khususnya umat Katolik Keuskupan Surabaya serta umat Paroki Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Pastor Irianto meminta agar tetap tenang dan tidak takut terhadap aksi teror. “Umat diharapkan tetap waspada dan tidak mudah terprovokasi terhadap ancaman atau terror di mana pun dan dalam bentuk apa pun,” tulisnya.

Selanjutnya umat diminta untuk tetap setia berbuat baik penuh kasih kepada siapa pun, sesuai nilai-nilai Kristiani yang diajarkan Tuhan Yesus. “Teruslah berbuat baik. Mari kita memberikan pengampunan yang tulus. Karena pengampunan adalah pintu yang terbuka untuk masa depan yang lebih bermanfaat bagi bangsa Indonesia.”

Kepala paroki itu juga berterima kasih kepada aparat keamanan yang telah sigap menangani peristiwa ini dan kepada siapa pun yang telah turut terlibat membantu serta memberikan simpati. “Kami mendukung segala upaya aparat keamanan untuk mencegah dan menghentikan ancaman dan aksi terror di mana pun,” tulis imam itu.

Menurut informasi yang diterima dari konferensi pers yang dilakukan pihak kepolisian, selain tiga pemboman yang menghantam Gereja Katolik Santa Maria Tak bercela, Gereja Kristen Indonesia dan Gereja Pantekosta, tanggal 13 Mei 2018 pagi, keesokan harinya terjadi ledakan bom di Blok B lantai 5, Rusun Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo, pada dini hari pukul 12.15 WIB. Sesudah itu terjadi ledakan bom di pintu gerbang Polrestabes Surabaya tanggal 14 Mei 2018 pukul 08.50 WIB.

Dalam konferensi pers itu disebutkan bahwa jumlah korban meninggal akibat ledakan bom dalam dua hari itu sebanyak 25 orang, 13 di antaranya pelaku bom.(pcp)

Paus berdoa bagi korban bom Surabaya dan agar tidak ada rasa benci di hati semua orang

Sen, 14/05/2018 - 17:44
Foto berdasarkan Vatican News

Dalam sambutan setelah berdoa Regina Caeli bersama para peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus Vatikan, 13 Mei 2018, dan sebelum menyalami para pekerja media terutama wartawan yang berkomitmen untuk menemukan kebenaran berita demi terciptanya masyarakat yang adil dan damai, dalam Hari Komunikasi se-Dunia itu Paus Fransiskus secara khusus berdoa bagi umat Kristen di Surabaya.

“Secara khusus saya dekat dengan orang-orang Indonesia yang terkasih, terutama dengan umat Kristen di kota Surabaya, yang sangat terpukul oleh serangan serius terhadap tempat-tempat ibadah. Saya memanjatkan doa untuk semua korban dan keluarga-keluarga mereka. Marilah bersama-sama kita memohon kepada Allah Sang Raja Damai supaya menghentikan tindakan-tindakan kekerasan ini, dan supaya tidak ada perasaan kebencian dan kekerasan di dalam hati semua orang, tetapi perasaan rekonsiliasi dan persaudaraan. Marilah berdoa dalam hening.”(pcp)

Umat Katolik diminta manfaatkan medsos guna membangun bangsa bukan untuk bertikai

Min, 13/05/2018 - 05:58

“Pergunakan waktu sebaik-baiknya dalam memanfaatkan media sosial untuk bergandengan-tangan menjalin kerjasama membangun bangsa, bukan sebagai instrumen untuk bertikai, saling menjelek-jelekkan, dan menyebar fitnah.”

Pernyataan itu merupakan rekomendasi pertama dari 12 poin rekomendasi seminar nasional yang merupakan puncak Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) di Palangkaraya yang dilakukan oleh Komisi Komsos KWI dari tanggal 7 hingga 13 Mei 2018 dengan tema “Kebenaran akan Memerdekakan: Gereja Katolik Menolak Hoax, Fake News, Hate Speech.”

Seminar 12 Mei 2018 itu menghadirkan pembicara, antara lain Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI Eusabius Binsasi, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Trias Kuncahyono, dan Guru Besar Sejarah Gereja Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Prof Eddy Kristiyanto juga mengajak umat untuk “menganalisa baik-baik pesan dan berita yang mengandung nuansa perpecahan dan adu domba.”

Alasannya, menurut seminar dengan tuan rumah Komisi Komsos Keuskupan Palangka Raya itu, “begitu banyaknya bertaburan hoax, fake news, dan hate speech di internet, yang bertujuan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara.”

Umat juga diajak “menghapus” dan “‘tidak mengirim” pesan dan berita yang berpotensi memberikan dampak negatif di masyarakat, serta mengajari teman, sahabat, keluarga, komunitas, dan masyarakat di sekitar “agar mampu memilah dan memilih pesan maupun berita yang ada di dunia maya, melalui berbagai pendekatan edukasi dan sosialisasi yang berbasis suara hati.”

Selain menegaskan bahwa nilai-nilai dasar kemanusiaan, kegembiraan, suka cita, dan pesan cinta kasih adalah konten terbaik yang layak disebarkan melalui media sosial demi membentuk karakter bangsa Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, cerdas, dan berakhlak mulia, seminar itu meminta umat untuk “menggali sebanyak mungkin data sahih, valid, dan reliable untuk men-check dan re-check berbagai bentuk pesan dan berita yang didapatkan melalui internet, agar tidak terjerumus dalam jebakan persepsi dan asumsi keliru.”

Keadilan dan kesaksian nyata dari pengalaman hidup, tegas seminar itu, merupakan kabar atau berita yang diminati komunitas modern, “sehingga pengabar sukacita tidak cukup sekedar menulis pesan dalam media sosial tanpa menjalani nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikannya.”

Oleh karena itu, seminar meminta agar pesan atau berita yang hendak disampaikan ke publik via media sosial “harus direnungkan dan dipertimbangkan dahulu secara sungguh-sungguh, karena konten negatif dapat memberikan dampak dahsyat yang merugikan umat manusia.” Pegangan etika dalam berinteraksi di media sosial yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap pengguna internet, menurut seminar itu, adalah “Responsibility-Empathy-Authenticity-Discernment-Integrity (READY).”

Ditegaskan bahwa anti-sosial merupakan sikap negatif yang dapat menimpa setiap orang yang tidak bijak dalam memanfaatkan teknologi. Untuk menghindari hal itu, umat diminta menjaga keseimbangan dan porsi yang tepat dalam bermedia sosial.” Dan karena yang tertulis di internet akan sangat sulit dihapus dan dihilangkan, “pastikan penyampaian konten yang benar, positif, jelas, dan terang menjadi prinsip yang dipegang dalam berkomunikasi di media sosial.”

Akses terhadap medsos secara baik, benar, berkualitas, dan bijaksana, tegas seminar itu, “akan memberi kecerahan dalam kehidupan individu, komunitas, dan masyarakat di sekitarnya, sebaliknya, pemanfaatan keliru justru akan merugikan pengguna untuk jangka pendek, menengah,dan panjang.”

PKSN di Palangkaraya, yang juga diisi dengan pelatihan audio visual, pelatihan menulis kreatif, literasi media, debat, lomba menggambar dan mewarnai, malam pagelaran budaya, serta rekoleksi, ditutup dengan Misa Hari Komunikasi se-Dunia 2018.

Menurut informasi yang diterima PEN@ Katolik dari Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI Pastor Kamilus Pantus Pr, Komisi Komsos KWI yang dibantu Tim Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta telah memproduksi film pendek berjudul “Kebenaran Akan Memerdekakan Kamu” yang bisa dilihat di https://youtu.be/-N7Z4yzjbHw yang diharapkan menjadi bahan refleksi bagi siapa saja khususnya keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia dalam menggaungkan pesan Paus.

Demi mendukung minat para penulis dan produser film, lanjut imam itu, Komisi Komsos KWI juga mengadakan Festival Film Pendek dan Lomba Penulisan Esai serta membuat buku pedoman dan poster perayaan hari komunikasi serta katekese pendalaman Pesan Paus untuk Hari Komunikasi se-Dunia. (paul c pati)

Semua foto dalam tulisan ini diambil dari halaman facebook Komsos KWI

Kisah iman dimulai dengan sebuah misi

Sab, 12/05/2018 - 21:41

Kita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.

Namun, kita melihat bahwa Yesus justru melakukan hal yang sebaliknya ketika Dia naik ke surga. Kristus yang telah bangkit bisa saja memilih tinggal dan menemani para murid. Kehadiran fisiknya yang permanen dapat meningkatkan semangat para murid, memberi mereka kenyamanan dan perlindungan. Namun, Dia memilih untuk pergi dan meninggalkan para murid-Nya di bumi. Mengapa Yesus melakukan hal yang tampaknya sangat kejam ini?

Ketika kita dengan seksama membaca Injil Markus 16:15-20 pada Hari Kenaikan Tuhan 10 Mei 2018, Yesus tidak sekedar meninggalkan murid-murid-Nya, tetapi Dia juga mengutus mereka untuk menjalankan misi mereka, “Pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada setiap makhluk.” (Mrk 16:15) Faktanya, Kenaikan Tuhan Yesus lebih banyak berbicara tentang pengutusan daripada perpisahan. Dia naik ke surga supaya murid-murid bisa bergerak maju. Yesus memahami bahwa jika Ia tinggal lebih lama, Ia menghalangi para murid untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka diutus, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mereka memiliki iman yang bahkan lebih tinggi, dan secara bertahap tumbuh dalam harapan dan kasih. Seandainya Petrus tetap tinggal, dia tidak akan menjadi pemimpin Gereja. Seandainya Yohanes tidak diutus, dia tidak akan menjadi penatua Gereja di Efesus dan menulis Injil Keempat.

Kisah iman dimulai dengan sebuah misi. Tuhan memanggil Abraham, mengutusnya pergi dari tanahnya di Ur, dan pergi ke Kanaan. Dia menjadi Bapak dari bangsa-bangsa besar bukan di tanah airnya, dimana dia hidup dalam kenyamanan, tetapi di tanah yang berbahaya dan tidak dikenal. Allah memanggil Musa dan orang Israel untuk pergi keluar dari tanah Mesir, dari tanah yang memberi mereka mentimun, bawang, dan melon. Mereka menjadi orang-orang yang bebas untuk menyembah Tuhan mereka, bukan di Mesir, tanah seribu dewa, tetapi di tanah yang Tuhan telah janjikan kepada mereka. St. Dominikus de Guzman memulai Ordo Pewarta (OP) dengan mengirimkan komunitasnya yang kecil dan rapuh ke berbagai kota di Eropa. Beberapa saudaranya meragukannya, beberapa menolak, dan lainnya berkeberatan dengan keputusannya. Namun, keputusannya terbukti menjadi titik balik bagi Ordo. Misi Ordo Pewarta bukanlah untuk membangun pertapaan stabil seperti halnya ordo-ordo lainnya yang lebih dahulu ada, tetapi menjadi sekelompok pewarta yang hidup dalam pengembaraan. Iman St. Dominikus telah melahirkan sebuah keluarga Dominikan yang saat ini hadir di lebih dari 100 negara.

Saya selalu berterima kasih kepada orang tua saya karena mengizinkan saya masuk seminari pada usia muda 14 tahun. Saya mengerti bahwa ini adalah keputusan yang sulit dan menyakitkan, tetapi keberanian mereka telah menjadikan saya seorang manusia yang sekarang ini. Pada mulanya, kedua orang tua saya dan saya sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi pada diri saya di seminari, tetapi kami yakin bahwa saya telah diutus, dari kenyamanan sebuah keluarga ke tengah-tengah Gereja yang sangat luas.

Sudahkah kita tumbuh dan menjadi orang yang dewasa dan berani? Beranikah kita mengutus orang yang kita cintai agar tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa? Sudahkah kita mempercayakan diri kita dan orang-orang yang kita kasihi ke dalam misi Allah?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

 

Paus desak “Circolo San Pietro” untuk menjadi saksi belas kasih dan kebaikan Tuhan

Sab, 12/05/2018 - 21:33
Paus Fransiskus mengibur seorang miskin

Paus Fransiskus pada hari Sabtu, 12 Mei 2018, menerima 300 anggota badan amal kasih Keuskupan Roma yang datang membawa hasil kolekte untuk dana amal kasih Paus yang dalam bahasa Italia disebut ‘Circolo San Pietro’ dan dalam bahasa Inggris disebut “Peter’s Pence” (Sedekah Santo Petrus) atau persembahan suka rela umat beriman untuk Vatikan

Pada kesempatan itu, Paus menasihati mereka agar berjuang menjadi wajah Gereja yang mendorong Gereja ke perbatasan, dan tanpa henti berjalan menemui saudara-saudari yang lapar dan haus karena rindu berbagi, mendekati serta mengungkapkan rasa solidaritas kepada mereka.

‘Circolo San Pietro’ didirikan tahun 1869 oleh sekelompok orang muda Katolik Roma untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan yang sakit.

Paus mengungkapkan penghargaannya untuk dana amal kasih itu yang katanya, “setiap hari melayani orang-orang paling kurang beruntung di kota” Roma. Dana amal kasih itu, lanjut Paus, adalah “usaha yang indah berupa dukungan dan bantuan bagi orang miskin”, tunas ‘tanaman anggur’ yang kaya dan berbuah, dan ungkapan “kebun anggur” gerejani.

Bapa Suci mendorong kelompok itu untuk tidak pernah “merasa malu akan daging saudara yang berluka,” tetapi menemukan “wajah Kristus” di setiap orang yang menderita dan membutuhkan. “Jadilah misionaris amal kasih Kristiani yang teguh dan jangan pernah lelah memberi kesaksian tentang belas kasihan dan kebaikan Tuhan, dan menjadi penghiburan bagi begitu banyak orang yang rapuh dan putus asa,” Paus.

Paus juga meminta para anggota “Circolo San Pietro” untuk meniru banyak “orang kudus amal kasih” dan membiarkan diri mereka dirangsang oleh “tanda-tanda kesucian” yang diberikan Tuhan melalui orang yang paling rendah hati.(pcp berdasarkan laporan Robin Gomes dari Vatican News)

Apa itu pengadilan akhir?

Sab, 12/05/2018 - 14:37
Mosaik Pengadilan Terakhir di Pintu Utama Basilika Santo Markus Venice, Italia

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

214. Apa itu pengadilan akhir?

Pengadilan akhir merupakan keputusan untuk masuk ke dalam kebahagiaan atau hukuman abadi yang dijatuhkan oleh Yesus terhadap ”orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar” (Kis 24:15) pada saat Dia kembali sebagai Hakim yang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Sesudah pengadilan terakhir badan yang dibangkitkan akan mengambil bagian dalam ganjaran yang diterima oleh jiwa pada pengadilan khusus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1038-1041, 1058-1059

215. Bilamana pengadilan ini terjadi?

Pengadilan ini akan terjadi pada hari kiamat, dan hanya Allah yang mengetahui hari dan waktunya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1040

216. Apa itu ”harapan akan langit dan bumi yang baru”?

Setelah pengadilan terakhir, seluruh dunia akan dibebaskan dari belenggu kehancuran. Dengan terbitnya ”langit yang baru” dan ”bumi yang baru” (2Ptr 3:13), dunia mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus. Kepenuhan Kerajaan Allah akan terjadi, yang berarti rencana keselamatan Allah ”untuk mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus sebagai Kepala, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Ef 1:10) akan diwujudkan secara definitif. Maka dalam kehidupan abadi itu, Allah akan menjadi ”semua di dalam semua” (1Kor 15:28).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1042-1050, 1060

Halaman