Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 17 mnt 41 dtk yang lalu

Menghadapi Kematian

Sab, 21/07/2018 - 21:53

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu Keenam Belas dalam Masa Biasa, 22 Juli 2018: Markus 6: 30-34)

Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk 6:31)

Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.

Namun, hak istimewa terbesar bagi saya adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani beberapa orang dalam perjalanan mereka menghadapi kematian. Kita tidak suka berbicara tentang kematian karena kita semua takut akan kematian, dan banyak yang masih memandang kematian sebagai hal tabu. Namun, di rumah sakit, memerangi kematian adalah aktivitas sehari-hari baik bagi pasien maupun para tenaga kerja medis. Kematian menjadi menakutkan karena hal ini mengakhiri hidup kita, menghancurkan impian kita, dan memutuskan hubungan kita dengan orang yang kita cintai. Saya berteman dengan seorang pria muda yang baru saja lulus dari sebuah universitas dengan banyak mimpi di dalam benaknya, namun kanker merampas impiannya dan dia harus menjalani kemoterapi yang merusak tubuhnya. Saya juga menemani seorang remaja yang mengalami gagal ginjal dan harus menghabiskan banyak uang untuk dialisis dan obatnya. Dia pun tidak bisa menyelesaikan sekolahnya, mencari pekerjaan, dan mengejar mimpinya. Seorang ibu muda harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di kampung halaman, pindah ke Manila, pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, hanya untuk sembuh dari kanker payudaranya. Keinginannya hanya satu untuk bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Namun, ketika saya melakukan perjalanan bersama mereka, saya menemukan bahwa kematian tidak hanya menakutkan tetapi juga sebuah kesempatan istimewa. Memang benar bahwa menghadapi kematian dapat memicu banyak perasaan negatif seperti penyangkalan, kemarahan, kepahitan, dan bahkan depresi. Seseorang dapat menyalahkan dirinya sendiri, atau marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Seseorang yang hanya bisa bergantung pada kemurahan hati orang-orang di sekitarnya bisa merasa tidak berdaya dan bahkan putus asa. Namun, ketika pasien mulai menerima situasinya, menghadapi kematian dapat berubah menjadi momen rahmat. Seseorang yang sedang menghadapi kematian dapat melihat apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sebagai orang sehat, kita bisa melakukan banyak hal; kita bekerja keras, kita mencapai banyak hal. Dengan begitu banyak hal di hidup kita, kita cenderung mengabaikan apa yang paling penting dalam hidup kita. Menghadapi kematian memperlambat kita, dan memberi kita waktu untuk berpikir jernih. Ini memberi kita kesempatan langka untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai dan untuk melakukan misi terakhir yang Tuhan percayakan kepada kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk beristirahat. Setelah bekerja keras menjalankan misi mereka, Yesus membawa mereka ke tempat yang sepi. Setelah berhasil dalam pewartaan mereka, para murid dapat dengan mudah menjadi angkuh dan penuh dengan diri mereka sendiri. Namun, peristirahatan yang sejati dapat menenangkan mereka dan mengarahkan kembali diri mereka kepada Yesus, sumber dari misi dan kesuksesan mereka.

Kita tidak harus menderita penyakit berat yang menghadapi kematian dan merenungkan hal-hal yang sungguh penting dalam hidup. Kita selalu dapat beristirahat, melalui doa dan refleksi. Tentunya, selalu baik untuk merefleksikan kata-kata Santo Yohanes dari Salib, “di saat kita mencapai senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita berdasarkan  harta duniawi dan keberhasilan kita, tetapi pada seberapa besar kita mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Dirdios Sekami Pontianak berharap peserta pulang dengan iman kuat dan mampu berbaur

Sab, 21/07/2018 - 16:01
Ketua Umum Panitia Pelaksana Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Jamnas Sekami) 2018 di Pontianak, Pastor Gregorius Sabinus CP/PEN@ Katolik/pcp

Ketua Umum Panitia Pelaksana Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Jamnas Sekami) berharap anak-anak peserta jambore telah pulang membawa iman Katolik yang kuat dan kemampuan untuk berbaur dengan semua anak seusia mereka di tempat mereka tinggal, tanpa merasa tersendiri tetapi bagian dari Indonesia.

Pastor Gregorius Sabinus CP berharap agar semua yang mereka laksanakan dan alami selama Jamnas Sekami di Pontianak 3-6 Juli 2018 itu “menjadi bekal mereka untuk menjadi militan dalam iman atau memiliki iman Katolik yang kuat, mendalam, dan bukan radikal, serta menjadi pegangan hidup mereka karena orang muda adalah tulang punggung Gereja.”

Harapan lain dari Direktur Diosesan (Dirdios) Sekami Keuskupan Agung Pontianak itu adalah agar jambore itu berhasil menciptakan atau meningkatkan semangat dan rasa berbangsa dan bernegara dalam diri peserta sehingga mereka “tahu bahwa mereka tidak sendirian di Indonesia yang memiliki berbagai macam suku, bangsa, bahasa, budaya dan agama.”

Itulah “buah” dan “bekal” yang diharapkan dibawa pulang oleh peserta dan dikembangkan oleh para pembinannya di tempat masing-masing. “Saya harapkan para pembina membaca situasi mereka agar mereka bukan sekedar bertemu di sini tapi apa yang mereka tangkap menjadi buah dan bekal mereka.”

Di saat anak-anak banyak terpengaruh dengan intoleransi, cuek, dan tidak mau peduli, tegas imam itu, “hidup bersama dan kekeluargaan di Indonesia perlu ditanamkan secara dini.” Apalagi pelajaran ‘kewargaan negara’ tidak ada saat ini dan pendidikan serta penghayatan Pancasila tidak segencar dulu.”

Kini, menurut imam itu, Gereja masih melihat Pancasila dan kebinekaan sebagai yang nomor satu. “Tidak bisa tidak, agar anak-anak kita tidak terkontaminasi dengan paham liberal, radikal dan intoleransi,” tegas imam itu seraya menambahkan bahwa untuk itulah tema Jamnas Sekami 2018 itu berbunyi “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan.”

Injil itu sendiri adalah Kabar Sukacita yang tidak bisa dipendam tapi harus dibagi, maka “Yesus, Sang Juru Selamat itu harus kita kabarkan dalam suasana sukacita dan hati gembira bukan dalam suasana bantahan dan keberatan,” tegas Pastor Sabinus.

Tema itu ditawarkan oleh KWI di masa liburan ini supaya anak-anak tidak asing dengan nilai-nilai Katolik dan nilai-nilai kebangsaan, karena tidak diajarkan lagi seperti jaman dulu, “dan supaya anak-anak tidak kehilangan makna hidup berbangsa dan bernegara.” Dan ternyata, seperti halnya dalam pra jambore di Keuskupan Agung Pontianak, “anak-anak remaja mudah memahaminya, karena penjelasan menggunakan bahasa yang mudah mereka tangkap.

Menanggapi keraguan anak-anak jaman now yang lebih berteman dengan teknologi moderen, imam itu menegaskan bahwa “justru ketika mereka gencar menghadapi serangan teknologi modern kita tawarkan nilai-nilai moral, karena kalau tidak demikian mereka tidak kuat sejak masa dini seperti sekarang.”

Sekarang adalah dunia orang muda dan remaja, “maka kita tetap membolehkan mereka menggunakan peralatan modern itu, sembari mengingatkan mereka untuk tetap punya kendali. Bibit kontrol diri harus ditanamkan sejak kecil, agar mereka nanti bijak memakai alat-alat itu.”

Pastor Sabinus berharap, anak Katolik, khususnya peserta Jamnas Sekami 2018, kini “memiliki rasa iman kekatolikan yang dalam, sekaligus merasa sungguh orang Katolik yang berbangsa dan bernegara bangsa sesuai semboyan Mgr Soegijaranata yakni 100 persen Katolik tetapi 100 persen juga  Indonesia, bukan orang Katolik yang terpisah dari Indonesia, tetapi orang Katolik yang memang orang Indonesia.”(paul c pati)

Artikel Terkait:

Pameran Sekami Manado tampilkan tari perang untuk dorong semangat mewartakan Injil

Peserta-Jamnas Sekami 2018 akan terus wartakan sukacita Injil dan mencintai kebinekaan

Animatris Sekami main sulap agar anak-anak kenal Yesus tapi menangis di meja makan

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Pameran Sekami Manado tampilkan Tari Perang untuk dorong semangat mewartakan Injil

Sab, 21/07/2018 - 04:15
Tarian Perang Tradisional Minahasa menghiasi Stand Pameran Sekami Keuskupan Manado dalam Jamnas Sekami 2018 di Pontianak/PEN@ Katolik/pcp

Dalam rangkaian Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Jamnas Sekami) 3-6 Juli 2018 di Pontianak, para direktur diosesan (dirdios) beserta pendamping rohani dan animator-animatris menyelenggarakan pameran yang menampilkan keanekaragaman budaya, variasi alat praga hingga buku pembinaan anak dan remaja, serta aneka hasil karya serta foto kegiatan anak dan remaja.

Salah satu yang menarik banyak peminat adalah stand Keuskupan Manado karena menampilkan langsung penari Tarian Perang Daerah Minahasa, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan Tarian Kabasaran, dan beberapa makanan tradisional yang bisa dicicipi.

Banyak peserta termasuk animator-animatris serta pembina rohani dan remaja peserta dari keuskupan lain mengunjungi stand Keuskupan Manado untuk berfoto bersama dengan tiga penari Tarian Kabasaran, yang tidak henti-hentinya menari diiringi ketukan tambur di depan stand mereka.

“Tarian Perang Tradisional Minahasa ini hendak menunjukkan semangat orang Minahasa. Tapi, tarian ini bukan sekedar ditampilkan sebagai kekayaan budaya di Keuskupan Manado tetapi juga pendorong agar para anggota Sekami senantiasa bersemangat dalam mewartakan Injil di Indonesia,” kata Pendamping Rohani Sekami Keuskupan Manado Pastor Marson Pungis Pr kepada PEN@ Katolik.

Menurut imam itu, Sekami Keuskupan Manado datang untuk membagikan keberagaman dan toleransi yang juga dihidupi atau dijalani di keuskupan itu, “karena wilayah Keuskupan Manado dengan 65 paroki yang tersebar di tiga provinsi (Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, dan Provinsi Gorontalo) memiliki beragam budaya, tapi kami datang menunjukkan kesatuan sebagai anggota Sekami Keuskupan Manado.”

Di saat yang sama, imam itu membuat video dari semua stand keuskupan yang ditampilkan “untuk mengenal dan belajar dari keuskupan lain,” dan ketika peserta dari keuskupan lain datang ke stand Keuskupan Manado “kami berharap mereka bisa mengenal budaya di wilayah Keuskupan ini dan menyadari keberagaman budaya di Indonesia yang saat ini bisa ditampilkan dalam satu tempat yakni Jamnas Sekami Pontianak.”

Dalam jambore itu, lanjut imam itu, selain menampilkan pameran, Sekami Keuskupan Manado yang diwakili 27 orang yang terdiri dari dirdios, pendamping rohani, animator dan animatris serta 19 peserta, juga menampilkan pentas seni berupa tarian daerah termasuk Tarian Kabasaran dan pakaian adat. Lebih daripada itu, “kami datang dengan kehendak tulus untuk berbaur dengan semua peserta dari Indonesia untuk menunjukkan kesatuan anak-anak Indonesia yang 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.”(paul c pati)

Artikel Terkait:

Peserta-Jamnas Sekami 2018 akan terus wartakan sukacita Injil dan mencintai kebinekaan

Animatris Sekami main sulap agar anak-anak kenal Yesus tapi menangis di meja makan

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Semua foto di bawah ini adalah foto PEN@ Katolik:

Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?

Jum, 20/07/2018 - 23:31
Foto diambil dari faithfulman.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

339. Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?

Karena dosa asal, yang menyebabkan perpecahan persekutuan laki-laki dan perempuan yang dianugerahkan Allah, kesatuan perkawinan sangat sering terancam oleh ketidakharmonisan dan ketidaksetiaan. Tetapi, Allah dalam kerahiman-Nya yang tanpa batas memberikan kepada laki-laki dan perempuan rahmat untuk membawa kesatuan hidup mereka ke dalam harmoni dengan rencana ilahi asali.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1606-1608

340. Apa yang diajarkan Perjanjian Lama mengenai Perkawinan?

Allah membantu umat-Nya terutama melalui ajaran Hukum dan para Nabi untuk sedikit demi sedikit mendalami pemahaman kesatuan dan ketakterceraian perkawinan. Perjanjian perkawinan antara Allah dengan Israel mempersiapkan dan melambangkan awal Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus, Putra Allah, dengan mempelai-Nya, yaitu Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1609-1611

Superior Jenderal MC, Suster Mary Prema: Para suster Ibu Teresa tidak terlibat penjualan bayi

Kam, 19/07/2018 - 22:44
Suster Mary Prema, superior jenderal para suster Misionaris Cinta Kasih milik Ibu Teresa.

Suster Mary Prema, superior jenderal Misionaris Cinta Kasih (MC) yang didirikan dan dimiliki oleh oleh Ibu Teresa mengatakan, para suster tidak terlibat dalam penjualan bayi dari sebuah pusat penampungan ibu-ibu tidak menikah di Ranchi, India. Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja India Mgr Theodore Mascarenhas sependapat.

Karena kasus itu, seorang suster MC Teresa dan seorang pekerja di penampungan Nirmal Hriday, yang dikelola oleh para suster MC itu telah ditahan dan pihak berwenang memerintahkan pemeriksaan semua rumah yang dikelola para suster itu. Penahanan awal bulan ini terjadi karena pengaduan sepasang suami-isteri India yang membayar 120.000 rupee kepada karyawan Nirmal Hriday bernama Anima Indwar.

Menanggapi hal itu, Pemimpin Umum MC Suster Mary Prema mengeluarkan siaran pers di hari Selasa, 17 Juli 2018, yang mengatakan bahwa penjualan bayi yang baru lahir itu “tidak ada hubungannya dengan Kongregasi Misionaris Cinta Kasih.”

“Kami sangat sedih mendengar perkembangan terakhir” di rumah MC, tulis suster itu dalam pernyataan resmi itu. “Walaupun kami percaya penuh pada proses peradilan yang sedang berlangsung, kami ingin mengungkapkan penyesalan dan kesedihan atas apa yang terjadi dan keinginan untuk mengungkapkan dengan tegas kecaman terhadap tindakan individu yang tidak ada hubungannya” dengan kongregasi MC.

Meskipun percaya pada hukum dan pengadilan, Suster Prema menyesali “berkembangnya banyak cerita yang dibuat-buat, informasi menyimpang, berita palsu yang tersebar dan sindiran tanpa dasar yang dilontarkan mengenai Suster-Suster Ibu Teresa.”

Dalam siaran pers, Suster Prema bercerita, ketika Karishma Toppo, ibu yang tidak menikah, melahirkan bayinya tanggal 1 Mei di Nirmal Hriday, ia menyatakan dalam pendaftaran bahwa ia akan menyerahkan anaknya ke Komite Kesejahteraan Anak (CWC), otoritas pemerintah tingkat distrik yang bertugas untuk adopsi anak.

Indwar, yang sangat dipercaya oleh para suster, menemani Toppo dan pengawalnya untuk menyerahkan bayi itu ke CWC, tetapi, kata Suster Prema, penampungan atau para suster tidak dapat memastikan apakah anak itu benar-benar diserahkan kepada CWC, karena komite itu tidak mengeluarkan surat tanda terima telah mengambil hak asuh seorang anak.

Ketika ditanya tentang bayi yang diambil oleh CWC tanggal 3 Juli, Indwar mengakui bayi itu dijual di tempat lain. Dia diserahkan ke polisi.

Kemudian terungkap bahwa dari uang 120.000 rupee yang dibayar oleh pasangan yang mengadopsi anak itu, Indwar mengambil 20,000 rupee, yang mengawal 10.000 rupee dan Toppo, ibu biologis, 90.000 rupee guna melanjutkan studinya.

Keesokan harinya, Suster Concelia, penanggung jawab bagian ibu-ibu tidak menikah, dan Suster Marie Deanne, superior Nirmal Hriday ditangkap. Suster Deanne kemudian dibebaskan.

Yang terjadi di Nirmal Hriday itu “menyedihkan, tragis, tercela, tidak dapat diterima,” demikian penyesalan Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen Konferensi Waligereja India (CBCI) yang juga uskup pembantu Ranchi. Namun, kongregasi MC “benar-benar tidak terlibat dalam hal ini,” kata uskup itu kepada saluran TV Mirror Now.

Ketika berbicara dengan Vatican News lewat telepon, Uskup Mascarenhas mengatakan bahwa kepentingan pribadi sedang mengeksploitasi isu itu untuk memfitnah Ibu Teresa dan Gereja Katolik.

Ketika ditanya tentang pernyataan resmi Suster Prema, pejabat CBCI itu menguraikan pernyataan suster itu dalam tiga poin. Pimpinan MC telah menyatakan penyesalan dan kesedihan atas apa yang terjadi di pusat ordo itu di Ranchi. Kedua, para suster sama sekali tidak terlibat dan tidak bertanggung jawab atas tindakan-tindakan individu beberapa orang. Terakhir, para suster berdoa untuk peradilan dan mereka “terbuka untuk penyelidikan peradilan yang bebas dan adil.” Mereka juga berdoa bagi semua orang yang memihak mereka dan terus memihak mereka.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Kerabat Kerja Ibu Teresa melayani tanpa kata tapi karya nyata

Gereja India rayakan hari raya Ibu Teresa, guru yang paling unggul

Apa rencana Allah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?

Kam, 19/07/2018 - 21:00

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN PERKAWINAN

337. Apa rencana Allah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?

Allah yang adalah cinta dan yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk cinta telah memanggil mereka untuk mencinta. Dengan menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah memanggil mereka kepada persatuan hidup yang intim dan cinta dalam perkawinan. ”Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mat 19:6). Allah bersabda dan memberkati mereka: ”Beranak-cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1601-1605

338. Untuk tujuan apa Allah menetapkan Perkawinan?

Hubungan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, yang didasarkan dan didukung dengan hukum-hukumnya sendiri oleh sang Pencipta, menurut kodratnya bertujuan untuk persatuan dan kebaikan pasangan dan menurunkan serta mendidik anak-anak. Menurut rencana ilahi asali, persatuan perkawinan ini tak dapat diceraikan, seperti Yesus Kristus menegaskan: ”Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1659-1660

Membunyikan lonceng gereja tidaklah cukup untuk melawan pembunuhan, kata seorang imam

Kam, 19/07/2018 - 15:59
Pastor Albert Alejo SJ minta orang-orang Gereja untuk bertindak melawan pembunuhan, dalam Kongres Filipina tentang Evangelisasi Baru di Paviliun Quadricentennial UST di Manila, 18 Juli 2018. Foto: MARTINA SUMMER DAGAL

Di hari pertama Kongres Filipina tentang Evangelisasi Baru di Manila, seorang imam Katolik mendesak para klerus dan pelaku hidup bakti untuk “bangun” dan bertindak memperjuangkan kehidupan di saat pembunuhan di Filipina terus berlanjut.

Pembela perdamaian Pastor Albert Alejo mengatakan, Gereja harus bersuara menentang pembunuhan seperti yang dilakukannya terhadap RUU Kesehatan Reproduksi. “Masalah sebelumnya adalah RUU Kesehatan Reproduksi. Para suster dan seminaris mau datang ke Kongres untuk membela kesucian hidup. Tapi sekarang, telur yang dibuahi sudah menjadi orang dewasa … yang sedang dibunuh. Mengapa kalian tidak mau melakukan sesuatu?” tanya Pastor Alejo.

“Bukankah ini waktunya bagi Gereja untuk lebih aktif? Apakah kita menunggu sampai lonceng gereja berbunyi?” ini kata sosiolog agama, ‘Kami butuh engkau nabi’,” kata imam itu. Beberapa bulan terakhir, beberapa keuskupan menyerukan agar lonceng gereja dibunyikan saat mereka berdoa bagi para korban pembunuhan terkait narkoba.

Menurut imam Yesuit itu, diperlukan orang-orang Gereja untuk terlibat aktif dalam “diskursus publik” bahkan di tengah serangan-serangan terhadap gereja. “Apakah kita tetap sebagai pengamat?” tanya Pastor Alejo.

“Kita perlu belajar bahasa bergabung, ikut serta dalam diskursus publik dan siap untuk diganggu oleh orang yang melihat kesalahan dalam diri kita. Tapi seharusnya itu tidak membuat kita berhenti berbicara,” lanjut imam itu.

Pastor Alejo memperingatkan juga bahwa pembunuhan imam hanyalah indikasi adanya “budaya impunitas” (kejahatan tanpa hukuman yang menimbulkan ancaman serius bagi hak asasi manusia. Red.) (pcp berdasarkan tulisan Joselle Dela Cruz di CPCPNews, 19 Juli 2018)

Artikel Terkait:

Keluarga Dominikan Filipina akan puasa melawan pembunuhan akibat perang melawan narkoba

Para uskup Filipina ajak umat berdoa, mengaku dosa, beramal untuk masa masa sulit

Umat Katolik Filipina berdemo menentang ancaman terhadap kehidupan

Gereja mendesak pertobatan atas pembunuhan yang merajalela di Filipina

Para uskup Filipina khawatir, perang lawan narkoba tewaskan 81 orang dalam empat hari

Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri diminta terus perjuangkan cita-cita bangsa

Kam, 19/07/2018 - 07:12
Uskup Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri Mgr Ignatius Suharyo membagikan Rosario Merah-Putih untuk semua anggota TNI dan Polri beragama Katolik di Kalimantan Barat/PEN@ Katolik

“Saya yakin di NKRI ada komunitas-komunitas kecil yang terus berpegang teguh pada idealisme bangsa yang tidak luntur dipengaruhi arus zaman. Saya yakin pula, TNI dan Polri adalah komunitas kecil, apalagi kalau dicari umat Katoliknya, yang terus memperjuangkan cita-cita kemerdekaan yakni Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, NKRI dan Pancasila.”

Pernyataan itu disampaikan Uskup Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia, OCI) Mgr Ignatius Suharyo dalam homili di Kodam XII Tanjungpura, 18 Juli 2018.

Gereja Katolik Indonesia memiliki 37 keuskupan teritorial dan satu keuskupan kategorial, yakni OCI atau Keuskupan (Ordinariat) Militer di Indonesia, yang berdiri berdasarkan Surat Keputusan Kongregasi Suci untuk Pengembangan Iman tertanggal 2 Desember 1947 dengan Mgr Albertus Soegijapranata SJ sebagai Uskup Militer pertama di Indonesia, kedua Justinus Kardinal Darmojuwono, ketiga Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, dan keempat Mgr Suharyo.

Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, NKRI dan Pancasila, menurut Mgr Suharyo, adalah “nilai-nilai pokok yang tidak boleh luntur oleh arus zaman, yang hendaknya melandasi tugas dan tanggung jawab anggota TNI dan Polri Katolik untuk menjaga supaya Negara kita tetap sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa kita.”

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus membenarkan bahwa Gereja Katolik peduli kepada TNI dan Polri. Salah satu langkah yang diambilnya adalah meminta izin Uskup Agung Ende agar Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli Pr boleh mengikuti pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas),  karena KWI memiliki jatah satu orang setiap tahun.

“Dan dia diterima.” Kini imam itu menjadi Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri (Pasbanmilpol) OCI, yang mendampingi Mgr Suharyo dalam kunjungan pastoral 17-19 Juli 2018 itu.

Namun, Mgr Agus memohon maaf kepada Uskup OCI karena selama ini dia belum maksimal memberikan perhatian bagi umat di keuskupan itu. “Saya berjanji membagikan pengalaman dua hari ini kepada semua pastor paroki di Keuskupan Agung Pontianak ini agar mereka memberikan perhatian kepada anggota TNI dan Polri beragama Katolik.”

Dalam paparannya, Pastor Ronny menjelaskan, segenap insan TNI dan Polri menjunjung tinggi nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Tri Brata, “yang dapat membantu segenap prajurit (perwira, bintara, tamtama) dan purnawirawan untuk menjadi warga negara yang utuh dan warga Gereja yang utuh.”

Atau, lanjut imam itu, dalam bahasa uskup pribumi pertama dan pahlawan nasional Mgr Albertus Sugiyopranoto, “menjadi umat Katolik dan warga negara yang utuh, menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia, yakni mengabdi bagi pencapaian tujuan nasional atas dasar Pancasila serta demi keutuhan dan kedaulatan NKRI yang majemuk, plural, dan multikultural ini.”

Pastor Ronny juga mengajak umat keuskupan OCI untuk menyadari bahwa mereka semua, seperti para murid Yesus yang pertama, adalah pribadi-pribadi yang terpanggil dan terpilih dan “tidak pernah boleh mengatakan ‘kebetulan saya Katolik’.”

Keyakinan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan dipanggil, lanjut imam itu “seharusnya membuat kita menjadi warga Gereja yang bangga dengan jati diri kita sebagai murid murid Kristus. Kita sadar bahwa kita dipilih dan dipanggil tidak demi kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk mengikuti  Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan hidup demi sesama, demi kebaikan bersama.”

Mengamati wajah-wajah “cantik dan ganteng” para prajurit dan bayangkara negara, polisi dan tentara, yang “sungguh mengalami sukacita” saat kunjungan Uskup OCI itu, Pastor Ronny menambahkan, “mereka perlu mengalami sukacita dalam Tuhan Yesus dan Bunda Maria karena gembala utama OCI boleh datang menyapa, meneguhkan, menguatkan, dan memberi berkat dan doa agar mereka mampu dan dikuatkan dalam hidup menggereja, bermasyarakat dan bernegara dalam NKRI.”

Wakapolda Kalbar Brigjen Pol Gracia Sri Handayani mengatakan “Allah mengajak kita untuk menghormati orang lain walau berbeda ras, agama, pekerjaan, maupun strata sosial,” maka sebagai aparatur negara yang menangani keamanan adalah “kewajiban kita untuk memulai toleransi dalam diri sendiri, sehingga diteladani masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa.”

Kunjungan pastoral Uskup OCI dengan tema “Lebih Dekat dengan Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri, serta Peningkatan Spiritualitas Katolik dan Kebangsaan Prajurit Katolik demi Keutuhan dan Kedaulatan NKRI,” lanjut wakapolda, sangat dirindukan dan berguna bagi anggota TNI dan Polri di Kalbar.

Dalam acara tatap muka dengan umat Keuskupan OCI se-Garnizun Pontianak, Mgr Suharyo menjelaskan, kunjungan itu dilakukan secara konsisten untuk menguatkan iman umat keuskupan itu sekaligus menanamkan kecintaan mereka kepada NKRI. “Kunjungan ini untuk menanamkan semangat iman Katolik agar para prajurit mengabdi NKRI sebagai bagian perwujudan perutusan ke tengah dunia, bahwa cinta kepada bangsa adalah bagian dari iman.”

Mgr Suharyo yang juga membagikan Rosario Merah-Putih kepada semua yang hadir, membenarkan bahwa OCI  mempertegas komitmen militansi “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia”, terutama “agar para prajurit TNI dan Polri menanamkan semangat melayani.”(ak)

Artikel Terkait:

Mgr Suharyo di Pontianak: Keuskupan Militer tanda dukungan Gereja atas Kemerdekaan RI

Wakapolda Kalbar Brigjen Pol Gracia Sri Handayani memberi kesaksian/PEN@ Katolik Mgr Suharyo meyalami para anggota TNI/PEN@ Katolik Foto PEN@ Katolik Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri (Pasbanmilpol) OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli Pr bersama anggota TNI dan Polri beragama Katolik/PEN@ Katolik Mgr Agustinus Agus bercakap-cakap dengan anggota TNI beragama Katolik/PEN@ Katolik

Bagaimana pelaksanaan upacara Sakramen Penahbisan?

Rab, 18/07/2018 - 18:01
Paus menahbiskan imam-imam di Vatikan/Foto dari Catholic For Life

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

331. Bagaimana pelaksanaan upacara Sakramen Penahbisan?

Sakramen Penahbisan dilaksanakan, dalam setiap tingkatannya, dengan cara penumpangan tangan ke atas kepala yang ditahbiskan oleh Uskup yang mengucapkan doa agung Penahbisan. Dengan doa ini, Uskup memohon kepada Allah, bagi yang ditahbiskan, pencurahan Roh Kudus dan anugerah Roh sesuai dengan pelayanan yang dimaksud oleh Penahbisan tersebut.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1572-1574, 1597

332. Siapa yang dapat melayani Sakramen ini?

Hanya para Uskup yang ditahbiskan dengan sah sebagai pengganti para Rasul yang dapat melaksanakan Sakramen Penahbisan ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1575-1576, 1600

333. Siapa yang dapat menerima Sakramen ini?

Sakramen ini hanya dapat diterima secara sah oleh orang yang sudah dibaptis. Gereja mengakui dirinya terikat pada pilihan yang sudah dibuat oleh Tuhan. Tak seorang pun dapat menuntut untuk menerima Sakramen Penahbisan ini, tetapi harus melalui penilaian kelayakan untuk pelayanan ini oleh otoritas Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1577-1578, 1598

Fransiskan muda hendaknya jalani kedinaan, miliki pengharapan, teladani Santo Bonaventura

Rab, 18/07/2018 - 15:57

Provinsial Ordo Fratrum Minorum (OFM) Indonesia Pastor Mikael Peruhe OFM mengatakan ada tiga jurus penting yang perlu dilakukan Fransiskan muda, yang mengucapkan profesi pertama, sehingga dapat memelihara panggilannya dalam Keluarga Besar Fransiskan, yakni “menjalani kesederhanaan (kedinaan), memiliki pengharapan serta meneladani cara hidup Santo Bonevantura.”

Pastor Mikael Peruhe OFM berbicara dalam homili Misa Profesi Pertama 17 Novis Fransiskan di Gereja Paroki Santo Paulus Depok, Keuskupan Bogor, 15 Juli 2018. Pembina Rumah Transitus Depok Pastor Fransiskus Asisi Oki Dwihatmanto OFM dan Kepala Paroki Santo Paulus Pastor Gregrorius Pontus OFM menjadi konselebran Misa yang dihadiri sekitar 500 umat setempat termasuk keluarga dan sahabat dari para Fransiskan yang mengucapkan kaul pertama.

Dalam Misa bertema “Jika kami untuk melayani baiklah kita melayani” itu Pastor Mikael Peruhe menegaskan bahwa karya pewartaan Kabar Gembira di zaman Yesus bukanlah pekerjaan mudah karena ada ancaman bahkan ancaman keselamatan bagi mereka yang setia mewartakan-Nya. Meski demikian Yesus mengajak para murid dan rasul-Nya untuk memanfaatkan setiap karunia, dan itu menjadi kekuatan yang luar biasa, jelas imam itu.

Di zaman itu, jelas Pastor Peruhe, memang tidak mudah melakukan jurus kesederhanaan atau kedinaan. “Namun, setiap orang bisa secara sadar melepaskan kelekatannya pada hal-hal duniawi untuk merawat panggilannya, sehingga tetap baik adanya,” kata imam itu seraya meminta seorang Fransiskan “menghayati panggilan secara mendalam dan menghidupinya dengan semangat pelayanan dengan pengalaman hidup sederhana.”

Memiliki pengharapan berarti membangun relasi dengan Sang Pencipta, pemilik kehidupan. “Relasi yang baik dengan Yesus adalah suatu yang mutlak bagi mereka mencari kesucian diri. Sama halnya seperti Nabi Amos. Dia yakin bahwa dia diutus berbuat baik untuk Israel, kendati dia menyadari bahwa  tantangan dunia sangat berat,” kata Pastor Peruhe. Dia berharap 17 Fransiskan muda itu memiliki semangat pengharapan untuk “membangun relasi yang baik dengan Tuhan baik dalam suka maupun duka.”

Pada Pesta Santo Bonaventura itu, Pastor Peruhe juga mengajak para novis OFM yang mengucapkan profesi pertama itu meneladani cara hidup orang kudus itu, yakni pengalaman yang dirasakan sesuai dengan pesan aktual yang dialami saat ini.

Pastor Pontus bangga karena Profesi Pertama yang selama ini dilakukan di rumah pembinaan itu telah memantik semangat hidup membiara putera-putera di paroki itu, sedangkan Pastor Oki melihat kehadiran umat paroki sebagai tanda umat ikut mendoakan para novis “sehingga panggilan menjadi Fransiskan dapat terwujud sesuai cita cita para Fransiskan muda.”

Para Fransiskan muda yang umumnya berasal dari Manggarai, Flores, dan dari Malang, Jawa Timur, akan melanjutkan kuliah di STF Driyarkara Jakarta. (Konrad R. Mangu)

Artikel Terkait:

Fransiskan muda diajak melayani penuh persaudaraan seperti Santo Bonaventura

Provinsial OFM ajak 14 frater kaul pertama bersukacita berani bangun persaudaraan

Mgr Suharyo di Pontianak: Keuskupan Militer, tanda dukungan Gereja atas Kemerdekaan RI

Rab, 18/07/2018 - 06:56
Kapolda dan Wakapolda Kalbar diapit oleh Mgr Agustinus Agus dan Uskup OCI Mgr Ignatius Suharyo bersama Pastor Pasbanmilpol OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli/Foto: rk

Dalam kunjungan pastoral kepada umat di Keuskupan Umat Katolik di Lingkungan TNI dan POLRI (Ordinariatus Castrensis Indonesia, OCI) di Pontianak, 17-19 Juli 2018, Uskup OCI Mgr Ignatius Suharyo berkunjung juga ke Keuskupan Agung Pontianak (KAP) dan menjelaskan sejarah OCI kepada Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus bersama Kuria KAP, Dewan Keuangan KAP, DPP Katedral Pontianak dan panitia kunjungan itu.

Mgr Suharyo memang bersahabat dengan Mgr Agus sejak mereka hidup bersama di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta, tahun 1969. “Saya kakak kelas Mgr Agus,” kata Uskup Agung Jakarta dalam pertemuan di Wisma Keuskupan, di hari pertama, seraya berterima kasih kepada Mgr Agus, karena “selama menjalankan tugas sebagai Uskup OCI, saya belum pernah dijemput uskup di bandara.”

Uskup OCI, yang datang bersama Pastor Bantuan Militer TNI dan Polri (Pasbanmilpol) OCI Pastor Rofinus Ronny Neto Wuli dan staf sekretariat OCI Redem Kono, datang mengunjungi dan beraudiensi dengan Panglima Kodam XII/Tanjungpura dan pejabat Kodam XII/Tpr, Danlantamal XII/Pontianak, Danlanud Pontianak, serta dengan Kapolda Kalbar dan Pejabat Polda Kalbar. Kegiatan utamanya adalah bertemu warga OCI se-Garnisun Pontianak.

Keuskupan Militer di Asia, menurut Mgr Suharyo hanya ada di Filipina, Korea Selatan dan Indonesia. “Khusus Indonesia, sejarahnya amat menarik, karena Bapa Suci mendirikan Vikariat Militer di Indonesia bersamaan dengan zaman perjuangan kemerdekaan. Sesudah kemerdekaan, Belanda masih mengganggu di sana-sini.”

November 1948, lanjut Mgr Suharyo, Menteri Pertahanan saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendirikan unit pelayanan rohani dan mental untuk Angkatan Perang demi perjuangan kemerdekaan, dan satu bulan kemudian, Paus mendirikan Keuskupan Militer di Indonesia “untuk menunjukkan sikap jelas bahwa Gereja Katolik dari pusat di Vatikan mendukung perjuangan Kemerdekaan RI.”

Sebelumnya tahun 1946, Mgr Albertus Soegijopranoto SJ menulis surat kepada Paus meminta supaya Vatikan mengakui kemerdekaan RI. “Itu tanda lain bahwa Gereja Katolik sejak awal kemerdekaan sungguh mendukung kemerdekaan negara kita tercinta ini. Banyak tanda menunjukkan kedekatan sangat erat antara Gereja Katolik dengan negara. Itulah warisan bagi umat Katolik bahwa seperti apa pun tidak akan pernah tidak mencintai NKRI.”

Mgr Suharyo menyebut pahlawan nasional beragama Katolik, Mgr Albertus Soegijapranata SJ dan Kasimo, serta Slamet Riyadi dari TNI AD, Yos Sudarso dari TNI AL, dan Adi Sucipto dari TNI AU. “Warisan yang mereka tunjukkan menjadi warisan bagi kita semua,” tegas uskup.

Diceritakan, dulu Polri pernah masuk dalam kesatuan ABRI, dan waktu itu keuskupan di Indonesia bernama Keuskupan ABRI. Ketika Polisi disendirikan dan tidak ada lagi ABRI, “kami tidak mau melupakan warisan itu, maka namanya dirubah menjadi Keuskupan untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI dan POLRI. Itu khas Indonesia yang tidak ada di tempat lain.”

Tapi, Vatikan mulai menggunakan istilah yang selalu ditulis dalam laporan keuskupan yang dikirim Mgr Suharyo. “Bedanya, di Indonesia ini lembaga khas Gereja Katolik yang tidak diketahui institusi TNI dan POLRI, sedangkan di beberapa negara lain namanya Keuskupan Militer, di mana Pastor Militer dan Uskup Militer tinggal bersama tentara-tentara itu.”

Di Indonesia, jelas Mgr Suharyo, sejarahnya berbeda. Sukarno dan Soegijapranata yang bersahabat kental lupa membicarakan segi legalnya sehingga pada periode tertentu para pastor masuk ke lingkungan TNI dan POLRI dengan pangkat tituler, yang kini sudah tidak ada.

Julius Kardinal Darmaatmadja mencari jalan dengan menugaskan lima imam menjadi PNS masing-masing di Mabes TNI, di AD, AL, AU dan Kepolisian. “Tetapi ternyata posisi sebagai PNS kadang-kadang tidak menguntungkan, maka setelah imam imam itu pensiun, keadaan PNS tidak dilanjutkan.”

Kardinal mencari jalan lain lagi dengan mengutus empat imam ikut pendidikan militer sebagai perwira karir. Yang lulus hanya yang AD dan AU dengan perutusan jelas, tinggal di tempat pendidikan tanpa memikirkan karir lain. “Pastor Yos Bintoro dari AU masih tetap mengajar di Pangkalan Udara Adi Sucipto, sedangkan yang dari AD ternyata senang dengan karir maka dia meninggalkan imamat dan meniti jenjang karier di AD,” jelas Mgr Suharyo.

Sekarang, Uskup OCI berusaha bertemu para petinggi TNI dan Polri untuk menawarkan imam di TNI dan POLRI “asal ditempatkan di pendidikan, tidak di tempat lain.”

Menurut Pastor Ronny, selain mendengarkan pengarahan dari Danlantamal XII/Pontianak Laksma TNI Gregorius Agung WD dan Wakapolda Kalbar Brigjen Polisi Sri Handayani, yang juga beragama Katolik, dia juga mengajak umat Katolik TNI dan Polri se-Garnisun Pontianak untuk lebih dekat mengenal OCI dan meningkatkan spiritualitas Katolik serta “Kebangsaan Prajurit Katolik Demi Keutuhan dan Kedaulatan NKRI”.

Mereka juga mengikuti kegiatan penyegaran rohani dan tatap muka wawan hati dengan Uskup OCI, yang memimpin Misa bagi mereka di Aula Makodam XII Tpr sebagai puncak Kunjungan Pastoral OCI.(rk/ak)

Bergambar bersama di Polda Kalbar/Foto: rk Kunjungan ke Wisma Keuskupan Agung Pontianak/Foto: PEN@ Katolik Mgr Suharyo memberikan Plakat OCI kepada Mgr Agus/Foto: PEN@ Katolik Anak-anak pelajar menyambut Mgr Suharyo/Foto: rk

Apa buah Penahbisan Episkopat?

Sel, 17/07/2018 - 21:35
Tahbisan Mgr Carmel Zammit di Katedral Mdina /Foto: Photocity, Valletta

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

326. Apa buah Penahbisan Episkopat?

Penahbisan episkopat memberikan kepenuhan Sakramen Penahbisan. Penahbisan ini menyebabkan seorang Uskup menjadi penerus sah para Rasul dan mengintegrasikannya ke dalam kolegium para Uskup untuk bersama-sama dengan Paus melayani seluruh Gereja. Penahbisan ini memberikan wewenang mengajar, menguduskan, dan memerintah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1557-1558

327. Apa wewenang yang diserahkan kepada seorang Uskup dalam Gereja partikular?

Uskup yang diserahi tanggung jawab untuk mengurus Gereja particular merupakan kepala yang kelihatan dan dasar kesatuan bagi Gereja partikular tersebut. Demi Gereja dan sebagai wakil Kristus, seorang Uskup menjalankan wewenangnya sebagai gembala dibantu para Imam dan Diakon.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1560-1561

Peserta Jamnas Sekami 2018 akan terus wartakan sukacita Injil dan mencintai kebinekaan

Sel, 17/07/2018 - 20:48
Para remaja serta animator dan animatris peserta Jamnas Sekami 2018 di Pontianak mengucapkan komitmen di Katedral Santo Yosef Pontianak/Foto tangkapan layar dari video panitia Jamnas Sekami 2018.

Dengan tangan kanan terkepal di dada kiri sambil berdiri di Katedral Santo Yosef Pontianak terdengar seruan, “Kami, remaja dan animator-animatris, peserta Jambore Nasional Sekami 2018 berkomitmen  terus mewartakan sukacita Injil dengan menjalankan semangat dasar Sekami: doa, derma, kurban dan kesaksian; dan semboyan children helping children.”

Komitmen misioner peserta Jamnas Sekami 2018 di Pontianak itu dibaca bersama-sama dengan panduan Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia (Dirnas KKI) Pastor Markus Nur Widipranoto Pr di akhir Misa Penutupan 2018 di Katedral Santo Yosef Pontianak 6 Juli 2018.

Sekitar 1300 peserta jamnas dari 35 keuskupan di Indonesia (Keuskupan Agung Ende dan keuskupan Maumere tidak datang) kemudian mengucapkan komitmen kedua bahwa mereka akan, “selalu belajar menerima, menghargai dan mencintai kebinekaan yang ada dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud kasih kami kepada Kristus.”

Di hadapan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus yang memimpin Misa serta konselebran  Sekjen Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Sanggau Mgr Yulius Mencuccini CP dan Uskup Emeritus Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap, mereka lanjutkan komitmen ketiga untuk “selalu menggunakan cara-cara yang benar dalam mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai di tengah keanekaragaman suku, ras, agama, dan budaya di masyarakat dan negara Indonesia.”

Mereka sudah pulang ke keluarga, paroki, keuskupan masing-masing, dan sesuai komitmen empat, mereka “siap sedia menjadi misionaris yang selalu membantu terwujudnya gerakan anak-anak Sekami di tempat kami masing-masing.” Dan, semua tugas misioner tersebut, sesuai poin kelima, hendak mereka persembahkan “kepada Yesus, Sang Misionaris Sejati.”

Setelah pulang, Mgr Subianto yang juga Uskup Bandung meminta dalam homili Misa itu agar anak-anak Sekami menunjukkan identitas anak-anak missioner. “Sanggupkah anak-anak melawan arus, menjadi anak-anak anti nyontek, anti korupsi dan anti narkoba? Itulah tugas perutusan sangat konkret dalam hidup kita. Jangan mengaku anak-anak Sekami kalau masih nyontek!” tegas Uskup Bandung itu.

Selama jamnas, selain kegiatan outdoor dan dinamika terpimpin, peserta menerima edukasi tentang “Hakekat Gereja Misioner” dan melakukan dialog sukacita dengan Mgr Agus, Mgr Sudarso dan Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi. Dalam Misa itu, Mgr Subianto meminta mereka melihat dan mencari akar masalah mereka agar mampu mengikuti Yesus seperti Matius. “Selama akar masalah tidak ditinggalkan, tidak mungkin kita berjumpa dengan Tuhan dan mengalami sukacita, dan sepulang dari jambore ini kita belum menemukan Tuhan.”

Namun uskup itu yakin selama jambore para remaja bukan hanya berjumpa teman baru tapi sungguh bertemu Tuhan sehingga mengalami sukacita. “Mari pergi dari akar masalah dengan terus melaksanakan aktivitas doa, derma, kurban dan kesaksian (2D2K). Kalau sudah dilaksanakan, laksanakan jauh lebih banyak lagi, sehingga teman-teman lain akan mengenal kita sebagai anak-anak missioner.”

Menurut Mgr Subianto, kebinekaan itu adalah ciptaan, anugerah dan kehendak Tuhan, maka anak-anak Sekami harus menikmati kekayaan luar biasa itu secara bersama. Maka, uskup berharap ketika pulang orangtua kaget melihat anaknya mengalami sukacita luar biasa dan mau mengabdikan diri bagi keluarga, Gereja dan bangsa.

Dan, di saat kebinekaan bangsa sedang terancam, Mgr Subianto minta agar anak-anak Sekami “menjadi duta-duta kebinekaan bangsa Indonesia sehingga dengan demikian mudah-mudahan orangtua boleh bertanya ‘kapan ada jamnas untuk orangtua,’ karena mereka melihat anak-anaknya menjadi luar biasa hanya dalam tiga hari di Pontianak. Anak-anak mungkin juga berkata, ‘mama-papa, saya ketemu Yesus di Pontianak’ dan kalau mama-papa mau sukacita, ikutlah Yesus!”(paul c pati)

Dirnas KKI Pastor Markus Nur Widipranoto mengajak peserta Jamnas Sekami mengepalkan tangan dan mengucapkan komitmen mereka/Foto tangkapan layar dari video panitia Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC meminta anak-anak Sekami tunjukkan identitas anak-anak missioner/Foto Komsos KAP Misa Penutupan Jamnas Sekami 2018 dipimpin Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus/Foto Komsos KAP

Paus Fransiskus tiba-tiba muncul pimpin pernikahan Garda Swiss dan pasangannya

Sel, 17/07/2018 - 15:53
Paus Fransiskus dalam upacara pernikahan anggota Garda Swiss Luca Schafer dan Leticia Vera asal Brasil. Foto diambil dari La Stampa

Paus Fransiskus mengejutkan anggota Garda Swiss, Luca Elia Maria Schafer, dan calon istrinya dari Brasil, Leticia Vera, yang bekerja di Museum Vatikan, ketika muncul tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya di Gereja Santo Stephanus dari Abisinia untuk memberkati pernikahan mereka, 14 Juli 2018.

Garda Swiss adalah tentara Swiss yang bertugas sebagai pasukan upacara, penjaga Vatikan dan pengawal Paus. Gereja Santo Stephanus dari Abisinia yang kuno itu terletak di belakang Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Menurut Pastor Renato dos Santos, yang juga hadir dalam upacara itu, seperti dilaporkan oleh Vatican News, baik pasangan yang hendak menikah maupun orang-orang yang hadir dalam upacara itu tidak tahu langkah mengejutkan Paus itu. Memang, menurut La Stampa, anggota Garda Swiss itu pernah meminta Paus hadir dalam perkawinan mereka, tapi yang diharapkan bukanlah seperti yang terjadi hari itu.

Yang pertama terkejut adalah Pastor dos Santos asal Brasil itu. Ketika imam itu masuk ke sakristi untuk mempersiapkan perayaan itu, dia terkejut melihat Paus Fransiskus duduk di sakristi menunggunya sambil tersenyum. Bapa Suci mengambil alih tugasnya dan pergi ke depan.

“Tidak pernah dalam hidupku, tidak pernah aku berpikir bertemu Paus dalam sakristi,” kata Pastor dos Santos kepada Vatican News. Imam asal Brasil itu melihat orang-orang dalam gereja itu sangat terkejut dan mereka bertanya-tanya apakah itu benar-benar Paus Fransiskus. “Saya melihat dia sebagai pastor paroki sejati yang peduli pada domba-dombanya sendiri di paroki,” kata Pastor dos Santos. “Dia selalu begitu.”

Berita kehadiran Paus dalam pesta pernikahan itu disebarkan oleh imam-imam lain yang hadir lewat berbagai jejaring sosial. Rektor Tempat Ziarah Kristus Sang Penebus di Corcow (Rio de Janeiro) Pastor Omar Reposo menerbitkan dalam akun Instagramnya foto Paus dengan mempelai pria dan wanita itu disertai keterangan, “Lihatlah siapa yang datang sebagai kejutan! Paus Fransiskus selalu mengejutkan!” tulis La Stampa.

Namun, media itu mencatat bahwa peristiwa itu bukanlah yang pertama kalinya Paus Fransiskus memimpin pernikahan di Vatikan, karena bulan September 2014 Paus pernah memimpin upacara pernikahan 20 pasangan di Basilika Santo Petrus, dan sepasang orang tunarungu di kapel Casa Santa Marta, Juli 2016. Paus juga pernah memimpin “Pernikahan dalam penerbangan” yang terkenal antara pramugari dan pramugara asal Chili di pesawat yang Paus gunakan dalam perjalanan bulan Januari ke Chili.

Menurut Pastor dos Santos, homili Bapa Suci mencakup tiga kata kerja yakni “memulai”, berhenti”, “melanjutkan perjalanan.” Ketiga kata itu, menurut Paus  Fransiskus, diperlukan untuk dapat menjalani pernikahan dengan sepenuhnya.

“Paus menunjukkan betapa berharganya pernikahan di hatinya,” kata Pastor dos Santos. “Paus sangat menyukai sakramen ini karena membantu memulai sebuah keluarga dan ingin menempatkan Tuhan di tengah-tengahnya,” lanjut Pastor dos Santos. (pcp berdasarkan Vatican News dan La Stampa)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus minta tempatkan Kristus di pusat kehidupan perkawinan

Paus Fransiskus minta pastor paroki mendukung pasangan yang sudah menikah

Di mana tempat Sakramen Penahbisan dalam rencana penyelamatan ilahi?

Sen, 16/07/2018 - 22:52

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

324. Di mana tempat Sakramen Penahbisan dalam rencana penyelamatan ilahi?

Sakramen ini sudah dipralambangkan dalam Perjanjian Lama dalam pelayanan para Levi, dalam imamat Harun, dan dalam penetapan tujuh puluh ”Penatua” (Bil 11:25). Pralambang awal ini mencapai pemenuhannya dalam diri Yesus Kristus yang melalui kurban salib-Nya merupakan ”satu pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:5), ”Imam Besar menurut peraturan Melkisedek” (Ibr 5:10). Imamat Kristus yang tunggal dihadirkan melalui imamat jabatan.

”Hanya Kristuslah Imam yang sejati,

yang lainnya hanyalah pembantu-pembantu-Nya”

(Santo Thomas Aquinas)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1539-1546, 1590-1591

325. Apa tingkatan-tingkatan dalam Sakramen Penahbisan?

Sakramen Penahbisan terdiri dari tiga tingkatan yang tak tergantikan dalam struktur organik Gereja, yaitu: Episkopat, Presbiterat, dan Diakonat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1554-1593

Empat pekerja sosial Belanda bantu warga dusun untuk dapatkan air bersih

Sen, 16/07/2018 - 22:39
Para pekerja sosial Vrienden van Bokki membangun menara air dan sumur bor/ym

Empat orang dari sebuah yayasan amal dari negeri Belanda nampak di antara masyarakat Dusun Sarsang, Kampung Yasa Mulya, di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, membangun sumur bor guna mendapatkan air bersih bagi masyarakat setempat.

Para pekerja sosial dari Yayasan Vrienden van Bokki, Richard van Stel, Frank de Ron, Corne Grinwis, dan Jan van Gastel, berada di Merauke untuk membantu Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Merauke (PSE KAME) membangun sumur bor bagi masyarakat Dusun Sarsang tanggal 16 Juli 2018 itu.

Ketua Komisi PSE KAME Bruder Yohannes Kedang MTB mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa sumur bor itu merupakan program Komisi PSE, “karena selama ini warga dusun itu sangat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.”

Masyarakat di Sarsang jelasnya, kesulitan air bersih. “Maka, ketika tahun lalu saya ke Belanda dan berjumpa dengan Richard, kami ngobrol-ngobrol, lalu mereka punya niat untuk membantu,” kata bruder yang akrab disapa Bruder John itu, seraya menjelaskan bahwa keempat pekerja sosial itu memiliki koneksi dengan para bruder MTB di Belanda.

Dijelaskan, target pengerjaan sumur bor lengkap dengan menara air selesai dalam waktu satu minggu. “Ada dua titik sumur bor yang akan dibangun. Anggarannya sekitar 150 juta rupiah yang semuanya dibiayai oleh Yayasan Vrienden van Bokki,” kata bruder.

“Misi mereka ke sini adalah ingin menyaksikan langsung bagaimana sumur bor itu dibuat, lalu mereka ikut terjun bekerja bersama masyarakat. Jadi mereka tidak punya misi lain, mereka hanya pekerja sosial dan hati mereka hanya untuk bantu masyarakat miskin. Ini pertama kali mereka datang ke Indonesia dan ke Merauke,” lanjut Bruder John.

Selain itu, mereka akan mengunjungi beberapa kampung yang sudah mendapat program pemberdayaan masyarakat dari Komisi PSE KAME. Setelah pembangunan sumur bor selesai, Komisi PSE juga akan memberdayakan masyarakat Sarsang melalui program perkebunan organik, jelas bruder.

Richard van Stel mengaku telah melakukan aksi amal di beberapa negara di Afrika, Amerika dan Asia, bahkan pernah membangun perumahan murah bagi masyarakat miskin di Afrika. Tapi, “ini pertama kali kami datang di Indonesia … dan kami akan tinggal sampai Jumat depan, kita perlu waktu untuk kerja,” kata kata Richard dalam bahasa Inggris kepada PEN@ Katolik.

Ketua Dewan Stasi Santo Yoseph Sarsang Petrus Gonzalez berterima kasih kepada Komisi PSE KAME dan Yayasan Vrienden van Bokki atas program pembuatan sumur bor di dusun yang hanya biasa menampung air di saat hujan itu.

“Selama ini, kami menampung air atau mengambil air dari desa SP 2 dan desa Kuper. Kalau tidak punya kendaraan, masyarakat merasa kesulitan dan harus membeli air dari mobil tangki. Satu tangki harganya 150-200 ribu rupiah. Di sini ada 200 kepala keluarga,” kata Petrus. (Yakobus Maturbongs)

Para pekerja sosial Vrienden van Bokki membangun menara air dan sumur bor/ym Para pekerja sosial Vrienden van Bokki bergambar bersama Komisi PSE Kame dan warga Sarsang di lokasi pembangunan sumur bor/ym Ketua Komisi PSE KAME Bruder Yohannes Kedang MTB/ym

“Walikota suci” dari Florence, seorang Dominikan awam, sedang dalam proses beatifikasi

Sen, 16/07/2018 - 18:56
Giorgio La Pira

Namanya Giorgio La Pira. Hamba Allah itu adalah seorang Dominikan Awam yang lahir di Pozzallo, Sisilia, Italia, 9 Januari 1904 dan meninggal di Florence, Italia, 5 November 1977. Politisi dan sarjana hukum yang kemudian menjadi Walikota Florence itu kini dalam proses untuk menjadi seorang beato.

Menurut laporan Iacopo Scaramuzzi dari La Stampa di Kota Vatikan, 5 Juli 2018, Paus Fransiskus telah memberi wewenang kepada Kongregasi Penggelaran Kudus untuk menyebarluaskan ketetapan mengenai kebajikan heroik dari “walikota suci” dari Florence itu.

Animator muda dari Catholic Action (Aksi Katolik) itu tiba di Florence tahun 1926 untuk meraih gelar sarjana hukum dan kemudian tinggal terus di ibukota Tuscan, sebagai profesor hukum Romawi sejak 1933. Anggota Majelis Konstituante dari partai Demokrat yang beragama Katolik itu kemudian menjadi anggota Parlemen, dan Menteri Tenaga Kerja (1948-49). Kemudian La Pira menjadi Walikota Florence selama dua masa jabatan 1951-1957 dan 1961-1966.

Dia dikenal jauh di luar batas-batas Florentine karena perjuangan sosialnya yang diilhami Injil dan karena upayanya meningkatkan peristiwa-peristiwa perdamaian, seperti peristiwa 1965 yang membawanya ke Vietnam Utara, atau impian Mediterania sebagai “danau besar Tiberias” atau komitmen yang mendukung negara-negara dalam proses dekolonisasi.

Yohanes Paulus II mengenang La Pira beberapa kali. Misalnya, ketika di tahun 2004, La Pira menunjukkan “pengalaman luar biasa sebagai seorang politikus dan seorang umat beriman, yang mampu menyatukan kontemplasi dan doa untuk kegiatan sosial dan pemerintahan, dengan lebih mengutamakan orang miskin dan orang yang menderita.”

Ketua Konferensi Waligereja Italia Kardinal Gualtiero Bassetti pernah menulis “dia tidak bisa dipahami tanpa mempertimbangkan panggilan mistiknya, yang berlimpah-limpah kedalaman dan belaskasihannya.”

Proses beatifikasi La Pira dimulai di tingkat keuskupan di Florence tahun 1986 dan ditutup tahun 2005. Sekarang, dengan tanda tangan Paus Fransiskus, “Hamba Allah” La Pira menjadi “Yang Dimuliakan” dan mulailah proses untuk beatifikasi.

Selain La Pira, dalam audiensi yang diberikan Paus Fransiskus 5 Juli 2018 kepada Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus Kardinal Angelo Amato, Paus memerintahkan kepada departemen Vatikan itu untuk mengumumkan penetapan mengenai kebajikan heroik Pietro Di Vitale Italia (1916-1940), Alessia González-Barros y González (1971-1985), seorang gadis Spanyol yang meninggal pada usia 14 tahun, dan Carlo Acutis, seorang gadis muda yang lahir di Inggris dan meninggal karena leukemia pada usia 15 tahun di Monza (1991-2006).(pcp berdasarkan La Stampa)

Apa itu Sakramen Penahbisan?

Sen, 16/07/2018 - 01:21
Paus Fransiskus ketika menahbiskan imam dalam Misa di Basilika Santo Petrus 21 April 2017. (CNS photo/Paul Haring)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN UNTUK PELAYANAN PERSEKUTUAN DAN PERUTUSAN

321. Sakramen untuk pelayanan persekutuan dan perutusan?

Dua Sakramen, Penahbisan dan Perkawinan, memberikan rahmat khusus untuk perutusan tertentu dalam Gereja untuk melayani dan membangun Umat Allah. Sakramen-Sakramen ini memberikan sumbangan dengan cara yang khusus pada persekutuan gerejawi dan penyelamatan orang-orang lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1533-1535

SAKRAMEN PENAHBISAN

322. Apa itu Sakramen Penahbisan?

Sakramen yang melaluinya perutusan yang dipercayakan Kristus pada para Rasul-Nya terus dilaksanakan dalam Gereja sampai akhir zaman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1536

323. Mengapa Sakramen ini disebut dengan Penahbisan?

Tahbisan (ordo) menunjukkan tingkatan gerejawi yang dimasuki oleh seseorang melalui upacara pengudusan khusus (ordinasi). Melalui rahmat khusus Roh Kudus, Sakramen ini membuat orang yang ditahbiskan mampu melaksanakan kuasa suci atas nama dan dengan wewenang Kristus untuk pelayanan Umat Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1537-1538

 

 

Animatris Sekami main sulap agar anak-anak kenal Yesus, tapi menangis di meja makan

Sen, 16/07/2018 - 01:20
Narita bersama anak remaja Agats di stand Pameran Sekami Keuskupan Agats/PEN@ Katolik/pcp

Ketika anak remaja peserta Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (Jamnas Sekami) 2018 di Pontianak mempersiapkan diri untuk Pentas Seni dan para pembina rohani dan direktur diosesan menyiapkan pameran, seorang perempuan asal Saumlaki, Kei, mempertunjukkan kemahiran bermain sulap, tali rafia dipotong-potong dengan gunting namun tersambung kembali saat ditariknya.

Sekitar 275 animator dan animatris Sekami yang datang, sebagai peserta aktif, dari 34 keuskupan di Indonesia bertepuk tangan dalam pertemuan mereka di hari kedua jambore itu, 4 Juli 2018. Pertemuan di Gedung Pasifikus, belakang Katedral Santo Yoseph Pontianak,  itu diadakan untuk saling berbagi kreativitas masing-masing keuskupan dalam melayani anak-anak dan  remaja Sekami.

“Sulap dan berbagai games atau permainan menjadi sarana kami dalam memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anak di Keuskupan Agats, Asmat, Papua, dan itu yang kami tampilkan dalam,” kata Margareta Elsina Watkaat yang akrab dipanggil Narita kepada PEN@ Katolik dalam jambore yang diikuti sekitar 1500 orang termasuk panitia.

Penyuluh pertanian di Agats dan relawan Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agats itu membenarkan, games termasuk sulap “membantu karya kami di Papua yang tidak punya banyak alat praga” dan alat-alat praga yang diperkenalkan teman-teman seluruh Indonesia dalam pertemuan itu “sangat membantu kami.”

Masih banyak anak di Keuskupan Agats, menurut Narita, belum mengenal siapa Tuhan Yesus itu dan belum bisa membaca. “Maka kami memperkenalkan Tuhan Yesus dengan games atau permainan tentang Kitab Suci serta cara membuka Kitab Suci, mengucapkan kalimat Kitab Suci dan melengkapi kalimat Kitab Suci dengan berbagai cara termasuk Alkitab Ajaib dan matematika Kitab Suci yang menggunakan angka-angka tapi sulit dijelaskan saat ini,” jelas Narita.

Perempuan singel itu juga mengaku sulit menjelaskan kepada anak-anak perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. “Maka, selain tali rafia, kami gunakan kayu ‘ajaib’ kecil agar anak mempercayai Tuhan, tali pramuka, dan lain-lain.”

Namun, Narita yang belum dua tahun berpindah dari Saumlaki, Keuskupan Amboina, ke Agats merasa berada di tengah anak-anak dan remaja Agats karena panggilan Tuhan. “Dulu saya di Maluku, Saumlaki, tapi panggilan, cara dan rancangan Tuhan berbeda, lebih indah daripada jalan saya, maka ketika Tuhan menyuruh saya ke sana, ya saya ke sana.”

Dijelaskan bahwa dia pindah karena banyak yang bisa menangani anak-anak di Saumlaki. “Di Papua banyak anak butuh sentuhan, maka hati saya tergerak ke sana … dan di sana, saya menikmati keindahan saat bergembira bersama anak-anak. Sungguh, itu kegembiraan yang tidak ternilai. Kalau anak-anak di sana melihat saya datang, mereka ikut dari belakang.”

Meski demikian Narita perlu kekuatan yang dia dapatkan dari doa. “Di sana, kalau saya tidak mendekatkan diri dengan Tuhan, pasti saya tidak kuat,” jelas perempuan asal Maluku yang mengaku mendapat banyak pembelajaran dalam animasi dan edukasi selama Jamnas Sekami 2018.

Selain mendapat banyak teman dari seluruh keuskupan, “satu hal membuat saya menangis saat mendengar ‘Tujuh Permenungan Sebelum Makan’, khususnya mengenai makan berkeadilan atau makan secukupnya dan dihabiskan.” Dalam Laudato Si’, menurut permenungan itu, Paus Fransiskus mengatakan “Membuang makanan sama halnya kita mencuri dari meja makan orang miskin.”

Jamnas Sekami 2018 memang bernuansa Laudato Si’. Dalam acara makan, peserta menjalankan pola makan dengan kesadaran ekologis. Setelah semua mengambil makanan, mereka berdoa bersama, mendengarkan permenungan itu lalu makan dengan hening sekitar lima hingga tujuh menit, baru boleh bicara atau menambah makanan, dan ditutup dengan doa.

Selain makan secara berkeadilan, peserta disadarkan bahwa sepiring makanan adalah alam semesta, karena dihasilkan oleh kerja sama ibu di dapur, pedagang, petani, cacing dan mikroba, mineral, sinar matahari, air dan serangga. Peserta juga diminta makan dengan penuh syukur sambil menikmati keajaiban setiap rasa yang hadir di lidah, mengunyah perlahan-lahan, dan berharap semoga makanan itu penuh welas asih dan tidak di atas penderitaan makluk lain.

Selesai makan, mereka diajak memandang piring kosong di hadapannya dengan penuh rasa syukur karena telah menerima kebaikan alam, dan menyadari bahwa makanan itu telah berubah menjadi tubuh mereka dan kebaikan untuk mereka.

“Benar kan?! Saya datang ke sini tidak sia-sia! Saya dapatkan sesuatu yang paling penting dari Sekami. Selama ini kita membuang-buang makanan tanpa mengingat orang yang tak punya apa-apa, tetapi di sini saya belajar makan sedikit tanpa menyisakan satu butir nasi pun, karena memang saya mengasihi anak-anak miskin,” kata Narita yang menata berbagai alat praga termasuk alat sulap tali rafia di meja pameran Sekami Keuskupan Agats. (paul c pati)

Artikel terkait:

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Stand Pameran Sekami Keuskupan Agats menampilkan beberapa alat praga pendidikan agama termasuk alat sulap tali rafia, kayu ajaib dan akitab ajaib/PEN@ Katolik/pcp Narita memperagakan sulap dengan tali rafia/PEN@ Katolik/pcp Narita bersama tim animatris Keuskupan Agats sedang berbagi pengalaman/PEN@ Katolik/pcp

Paus pikirkan kelelahan dan kesepian para imam dalam pelayanan pastoral

Sen, 16/07/2018 - 01:00

JULI 2018: Para Imam dan Pelayanan Pastoral mereka

Kelelahan para imam … Anda tahu seberapa sering saya memikirkannya? Dengan kelebihan dan kekurangannya para imam bekerja di berbagai bidang. Karena bekerja di banyak bidang, mereka harus tetap aktif meskipun  kecewa.

Di saat seperti itu, ada baiknya bagi mereka untuk mengingat bahwa orang-orang mencintai imam-imam mereka, membutuhkan mereka, dan memercayai mereka.

Marilah berdoa bersama agar para imam, yang mengalami kelelahan dan kesepian dalam pelayanan pastoral mereka, dapat menemukan bantuan dan penghiburan dalam keintiman mereka dengan Tuhan dan dalam persahabatan mereka dengan sesama imam.

Halaman