Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 35 mnt 44 dtk yang lalu

Injil dan Keselamatan

Min, 10/12/2017 - 01:23

Minggu Kedua Adven

10 Desember 2017

Markus 1: 1-8

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus (Mar 1:1)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Hari ini, kita membaca permulaan dari Injil menurut Markus. Di antara para penginjil, hanya Markus yang secara eksplisit memperkenalkan karyanya sebagai “Injil”. Kata “Injil” berarti “Kabar Baik”, atau dalam bahasa Yunani, “Evangelion”. Biasanya, kita memahami sebuah Injil sebagai karya tertulis tentang hidup dan sabda Yesus Kristus. Gereja telah menetapkan empat karya sebagai Injil kanonik. Kita memiliki Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Tapi, apa arti sebenarnya sebuah Injil? Kembali ke zaman Yesus, “Evangelion” sebenarnya adalah istilah teknis bagi proklamasi lisan dari keputusan kerajaan yang secara signifikan akan mempengaruhi kehidupan banyak orang. Seorang utusan akan berdiri di tengah alun-alun dan mengumumkan bahwa perang telah dimenangkan, dan kota tersebut telah diselamatkan. Ini adalah kabar baik, sungguh kabar yang besar dan menggembirakan. Santo Paulus adalah orang pertama yang mengadopsi istilah Injil ke dalam Gereja, dan ini menandakan sebuah proklamasi lisan tentang buah-buah karya penyelamatan yang dimenangkan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (lih. 1 Kor 15:1-4). Jadi, ketika kita membaca bahwa Santo Paulus mewartakan Injil, ini bukan berarti dia membaca bagian dari Injil menurut Markus atau Yohanes, namun ia mewartakan secara lisan bahwa kita telah diselamatkan oleh Yesus. Injil harus diproklamasikan karena hanya dengan percaya dan hidup melalui Injil, kita akan diselamatkan (lih. Rom 10:13-15).

Karena kita semua telah dibaptis, kita semua memiliki kewajiban untuk mewartakan Injil dan bekerja untuk keselamatan. Namun, kita mungkin bertanya, “Bagaimana kita akan memberitakan dan menyelamatkan jiwa-jiwa jika kita tidak dapat memberikan sakramen?” Benar bahwa memberikan sakramen dan homili hanya bagi kaum tertahbis, yakni diakon, imam, dan uskup, tetapi kita semua dipanggil untuk mewartakan Injil. Tapi bagaimana caranya? Kita ingat bahwa kita mewartakan Injil demi keselamatan, dan keselamatan yang Yesus berikan tidak terbatas dalam pengertian spiritual, tapi bersifat holistik. Ini adalah keselamatan bukan hanya dari dosa, tapi yang menyentuh semua aspek kemanusiaan kita. Yesus tidak hanya mengampuni dosa, tapi Ia menyembuhkan orang sakit, mengajar orang-orang, memberdayakan orang miskin, dan menentang struktur yang tidak adil dan membuat orang-orang tertindas.

Mengikuti teladan Tuhan dan Gurunya, Gereja bekerja untuk keselamatan yang holistik. Kita mengelola banyak rumah sakit di seluruh dunia untuk menyembuhkan orang sakit. Kita mengelola banyak sekolah di seluruh dunia untuk mendidik manusia dan membangun karakter. Banyak ilmuwan Katolik terlibat dalam banyak jenis penelitian terobosan. Pastor Georges Lemaitre, seorang imam dari Belgia, adalah astronom di balik teori Big Bang. Louis Pasteur, penemu proses pasteurisasi, adalah seorang awam yang rajin berdoa rosario. Kita membangun dan memperjuangkan juga masyarakat yang adil dan damai. Antonio de Montessinos, seorang Dominikan dari Spanyol, adalah salah satu imam pertama yang secara terbuka berkhotbah menentang perbudakan di Amerika. Untuk menunjukkan komitmennya terhadap keadilan dan perdamaian. Ordo Dominikan telah menempatkan delegasi permanennya di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa dan secara aktif terlibat dalam resolusi adil dan damai mengenai berbagai isu-isu global.

Musim Advent ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan makna Injil, dan bagaimana kita mewartakan Injil. Apa sarana yang kita gunakan untuk memberitakan Injil? Apakah kita menjadikan pewartaan Injil sebagai prioritas kita? Apakah kita bekerja dengan tekun untuk keselamatan kita sendiri dan orang lain?

 

 

Bagaimana Gereja berdoa kepada Maria?

Sab, 09/12/2017 - 10:50

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

555. Kapan persembahan diberikan kepada Allah?

Gereja mengucap syukur kepada Allah terus-menerus, terutama dalam merayakan Ekaristi saat Kristus memperkenankan Gereja untuk berpartisipasi dalam ucapan syukur-Nya kepada Bapa. Bagi orang Kristen, setiap peristiwa bisa menjadi alasan untuk mengucap syukur.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2637-2638, 2648

556. Apakah doa pujian itu?

Pujian adalah bentuk doa yang mengakui secara paling langsung bahwa Allah adalah Allah. Doa ini sama sekali tanpa kepentingan apa pun: mengidungkan pujian Allah semata-mata demi kepentingan Allah dan memuliakan Allah melulu karena Dia adalah Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2639-2643, 2649

557. Apa pentingnya Tradisi berkenaan dengan doa?

Dalam Gereja melalui Tradisi yang hidup, Roh Kudus mengajar anak-anak Allah bagaimana berdoa. Kenyataannya, doa tidak dapat direduksi pada keluarnya dorongan batin secara spontan, tetapi menyangkut kontemplasi, studi, dan pemahaman realitas rohani yang dialaminya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2650-2651

558. Apa sumber doa Kristen?

Sumber-sumber itu ialah Sabda Allah yang memberi kita ”pengenalan” akan Kristus (Flp 3:8), Liturgi Gereja yang mewartakan, menghadirkan, dan mengomunikasikan misteri keselamatan, keutamaan teologal dan situasi setiap hari karena di dalamnya kita dapat bertemu dengan Allah.

”Aku cinta pada-Mu, Tuhan,

dan satu-satunya rahmat yang kuminta

ialah mencintai Engkau selamanya. …

Allahku, jika lidahku tidak dapat mengatakan setiap saat

bahwa aku mencintai Engkau,

aku ingin agar hatiku mengulanginya kepada-Mu

sesering tarikan napasku”

(Pastor dari Ars, Santo Yohanes Maria Vianney)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2652-2662

559. Apakah ada banyak cara untuk berdoa dalam Gereja?

Dalam Gereja, ada bermacam-macam cara berdoa yang berhubungan erat dengan perbedaan konteks historis, sosial, dan kultural. Kuasa Mengajar Gereja mempunyai tugas untuk mempertimbangkan kesetiaan cara-cara doa ini kepada tradisi iman para Rasul. Adalah tugas para Imam dan Katekis untuk menjelaskan makna-makna tradisi iman ini yang selalu dikaitkan dengan Yesus Kristus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2663

560. Apa jalan doa kita?

Jalan doa kita ialah Kristus karena doa itu diarahkan kepada Allah Bapa kita, tetapi hanya dapat sampai kepada-Nya jika kita berdoa dalam nama Yesus, paling sedikit secara implisit. Kemanusiaan-Nya de facto merupakan satu-satunya jalan melalui mana Roh Kudus mengajar kita berdoa kepada Bapa. Karena itu, doa liturgi ditutup dengan rumusan ”melalui Yesus Kristus, Tuhan kami”.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2664, 2680-2681

561. Apa peran Roh Kudus dalam doa?

Karena Roh Kudus adalah Guru batin doa Kristen dan “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rom 8:26), Gereja menganjurkan kita untuk berseru dan memohon kepada-Nya dalam setiap situasi, ”Datanglah, Roh Kudus!”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2670-2672, 2680-2681

562. Dalam arti apa doa Kristen itu juga bersifat Marian?

Karena kerja samanya yang istimewa dengan karya Roh Kudus, Gereja sangat suka berdoa kepada Maria dan bersama Maria, pendoa yang sempurna, dan untuk ”memuliakan” dan berseru kepada Allah bersama dengannya. Maria menunjukkan ”Jalan” kepada kita, yaitu Putranya, satu-satunya Pengantara.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2673-2679, 2682

563. Bagaimana Gereja berdoa kepada Maria?

Terutama dengan Salam Maria, dengan doa ini Gereja memohon pengantaraan Sang Perawan Tersuci. Doa-doa Maria yang lain ialah: Rosario, himne Akathistos, Paraklesis (Penghibur), dan banyak himne serta lagu Maria dalam bermacam-macam tradisi Kristiani.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2676-2678, 2682

Pakar perudungan minta orang muda jadi pelopor anti bullying agar harmonis dalam tata pergaulan

Sab, 09/12/2017 - 02:52

Dosen dan pakar perudungan  (bully) dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Ratna Djuwita meminta orang muda Katolik dan orang muda dari agama lain untuk menjadi pelopor anti bullying yang kerap terjadi di sekitar kita, sebab bullying sudah bisa dipastikan berakibat negatif bagi perkembangan kepribadian seseorang.

“Saya mengajak orang muda, apabila dalam pergaulan setiap hari melihat ada yang melakukan bully, cegah dan jangan sampai perbuatan itu terjadi berulang-ulang,” tegas Ratna di depan sekitar 150 OMK dan orang muda agama Islam, Protestan, Buddha dan Konghucu  dalam Talk Show di aula Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang.

 

Talk Show yang diadakan 3 Desember 2017 oleh Seksi Kepemudaan Paroki HSPMTB Tangerang itu mengusung tema “The Harmony of the Humanity” dan subtema “Kau dan Aku Sama.” Selain Ratna Djuwita, dua narasumber lain adalah Dinda Vesca yang merupakan relawan dari “Indonesia Mengajar, Mari Berbagi” dan Fransiskus Xaverius Amekae yang pernah jadi korban bully waktu masih kecil.

 

Lebih lanjut Ratna mengajak seluruh orang muda agar saling memberikan perhatian, “sehingga di lingkungan maupun di tengah masyarakat selalu harmonis dalam tata pergaulan setiap hari.” Ditegaskan, membiarkan seseorang terus-menerus melakukan bully dianggap mendukung perbuatan itu.

 

Bully, yang terjadi di sekolah, tempat kerja atau di mana pun, sesungguhnya adakah tindakan sengaja seseorang atau sekelompok untuk menyakiti secara fisik, verbal, psikologis, sehingga korban bully merasa tidak berdaya. “Fakta ini sering terjadi dalam kehidupan pergaulan orang muda,” tegasnya.

 

Dinda pernah berpindah sekolah dari Bogor ke Jakarta. Di Jakarta ia mengalami perbuatan tidak menyenangkan dari teman-temannya di SMA. “Karena saya keturunan Tionghoa, maka teman-teman menghinaku dengan sebutan “Cina,” bahkan melempari saya dengan kursi. Saya pun sangat sakit hati bahkan saya berhenti sekolah dalam waktu lama, dan tidak naik kelas,” katanya.

 

Kejadian itu tidak membuat Dinda dendam, melainkan menjenguk temannya yang melakukan bully itu di tempat rehabilitasi, karena temannya itu belakangan diketahui adalah pengguna narkoba.

 

Fransisksus lahir sebagai anak kelima dari lima bersaudara dari Kawasan Indonesia Timur. Warna kulitnya hitam, maka teman-temannya memanggil dia “arang, arang’. Kendati mengalami bully, Fransiskus dari Paroki Kristus Raja Pejompongan itu tetap melakukan hal-hal positif.

 

Ada yang mengurung diri kalau dibully, tapi Fransiskus menganggap orang yang lakukan bully mendapat nilai-nilai kehidupan yang kurang baik dalam keluarganya. “Ketika saya ceritakan perbuatan bully terhadap diri saya kepada orang tua, mereka selalu memberikan motivasi agar saya tidak berkecil hati.”

 

Meskipun dibully, Fransiskus tetap belajar dan kini aktivis kerasulan keluarga paroki itu berkarya sebagai bisnis development di Unilever Indonesia. “Untuk mencegah bully, fokuslah pada yang dicita-citakan. Orang lain punya hak melakukan apa saja, maka saya lebih banyak mengabaikan bully itu,” katanya.

 

Melalui acara itu, kata ketua panitia Yudeta Delta Hendri Ana Gea, panitia berharap kaum muda lintas iman menjadi garda terdepan dalam mencegah bully. “Harapannya dengan kegiatan ini, para pemuda bisa menjadi pelopor anti bully dan menjadi orang yang selalu melakukan kebaikan,” katanya.(Konradus R Mangu)

 

Pertobatan menyambut Natal bisa diwujudkan dengan perhatian bagi penyandang disabilitas

Sab, 09/12/2017 - 01:37

Peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional tahun ini berbarengan dengan Minggu Adven pertama untuk untuk menyambut hari Raya Natal dengan pertobatan yang bisa diwujudkan dengan bersedia membangun kesadaran akan keberadaan sesama yang menyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus, serta menghormati, menghargai dan mampu berinteraksi dengan mereka.

Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ menyampaikan hal itu dalam Misa para penyandang disabilitas di Gereja Santa Theresia, Bongsari, Semarang, 3 Desember 2017, yang melibatkan anak asuh Panti Cacat Ganda Bhakti Asih, Ikatan Keluarga Katolik Tuna Rungu dan KB-TK-SD Inklusi Talenta.

Elizabeth Indira yang mengasuh siswa-siswi dari KB-TK-SD inklusi Talenta, yang dalam Misa itu mempersembahkan lagu pujian, mengatakan bahwa Misa bersama penyandang disabilitas semakin meneguhkan dan menguatkan mereka yang selama ini merasa tersisih.

“Kepedulian Gereja sungguh membawa kedamaian bahwa mereka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari komunitas Gereja. Umat secara umum pun semakin tergugah untuk menerima dan melibatkan penyandang difabel dalam berbagai kegiatan Gereja. Pada dasarnya penyandang difabel dapat berkarya bila kita memberi ruang dan kesempatan bagi mereka,” katanya.

Ketua Ikatan Keluarga Katolik Tuna Rungu Semarang Yoseph Sudharyanto  belajar di SLB Don Bosko Wonosobo sejak usia 6 tahun. Di tempat itu, dia dilatih berbicara. “Maka meskipun saya tunarungu, tetapi saya bisa bicara. Sekarang, saya bekerja sebagai penjahit. Saya memiliki istri dan dua anak. Berkat sekolah di SLB Don Bosko Wonosobo, saya bisa berinteraksi dengan orang normal,” katanya.

Pengasuh Panti Cacat Ganda Bhakti Asih Semarang, Th Sukrismiati, yang sudah 28 tahun bekerja di panti asuhan merasa anak-anak asuh sudah sebagai keluarganya. “Saya bahagia bisa mengabdi dan melayani anak-anak difabel. Karena jalinan kedekatan yang kami bangun setiap saat, maka kami bisa berkomunikasi dan mengetahui yang mereka butuhkan. Melalui tatapan mata pun, kami bisa merasakan kalau mereka selalu rindu bersama para pengasuh.”

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencanangkan 3 Desember sebagai Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Pencanangan itu telah dideklarasikan sejak 1982. Melalui peringatan itu, masyarakat diajak memperhatikan saudara-saudari yang menyandang disabilitas. Kesadaran itu dapat diwujudkan dengan menyediakan fasilitas publik yang ramah untuk penyandang disabilitas dan memberdayakan mereka agar mampu mandiri serta berkiprah di masyarakat.

Selain Misa di gereja, Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ bersama  wakil umat berkunjung ke Panti Cacat Ganda Bakti Asih dan  bercengkrama dengan anak-anak asuh di panti itu.(Lukas Awi Tristanto)

Bagaimana santo-santa itu menjadi pembimbing kita dalam berdoa?

Jum, 08/12/2017 - 18:16
Basilika Santo Paulus di Luar Tembok Kota Roma/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

564. Bagaimana santo-santa itu menjadi pembimbing kita dalam berdoa?

Santo-santa adalah model doa kita. Kita juga mohon mereka menjadi pengantara untuk kita dan juga untuk seluruh dunia di hadapan Tritunggal yang Mahakudus. Pengantaraan mereka merupakan pelayanan yang paling patut dipuji untuk rencana Allah. Dalam persekutuan para Kudus, melalui sejarah Gereja, telah berkembang bermacam-macam spiritualitas yang mengajar kita bagaimana hidup dan mempraktekkan cara-cara doa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2683-2684, 2692-2693

565. Siapa yang dapat mendidik kita dalam doa?

Keluarga Kristiani adalah tempat pertama untuk pendidikan doa. Doa harian keluarga secara khusus sangat dianjurkan karena merupakan saksi pertama kehidupan doa dalam Gereja. Katekese, kelompok-kelompok doa, dan ”bimbingan rohani” merupakan sekolah dan bantuan untuk doa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2685-2690, 2694-2695

566. Tempat-tempat apa yang mendukung untuk doa?

Orang dapat berdoa di mana saja, tetapi pilihan tempat tertentu dapat memberikan bantuan yang tidak dapat diabaikan. Gereja adalah tempat untuk doa liturgi dan perayaan Ekaristi. Tempat-tempat lain juga dapat membantu seseorang untuk berdoa, misalnya ”ruang doa khusus” di rumah, biara, atau tempat ziarah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2691, 2696

Paus berterima kasih kepada para donor Kandang dan Pohon Natal di Lapangan Santo Petrus

Jum, 08/12/2017 - 03:34

“Kandang Natal adalah tempat sugestif di mana kita merenungkan Yesus, yang telah menanggung penderitaan kita, mengajak kita untuk melakukan hal yang sama melalui tindakan belas kasih.” Paus Fransiskus membuat refleksi itu di hari Kamis, 7 Desember 2017, sambil berterima kasih kepada semua orang yang menyumbangkan Kandang Natal bertema karya belas kasih itu serta Pohon Natal setinggi 28 meter yang didirikan di tengah Lapangan Santo Petrus di Roma. Paus berharap agar kelahiran Tuhan menjadi kesempatan bagi semua orang untuk memperhatikan kebutuhan orang miskin dan semua orang, yang seperti Yesus, tidak ‘diterima oleh seseorang pun.’

Menurut laporan Radio Vatikan, sebelum meresmikan Kandang dan Pohon Natal di hari yang sama,  Paus Fransiskus bertemu dengan sekitar 4000 orang dari berbagai delegasi donor di aula audiensi Vatikan. Mereka antara lain mewakili Biara Benediktin dari Montevergine di Italia bagian selatan, yang menyumbangkan Kandang Natal, Keuskupan Agung Warmia dan Keuskupan Elk, keduanya dari Polandia, yang menyumbangkan pohon cemara merah, serta anak-anak yang sementara dalam perawatan penyakit kanker di berbagai rumah sakit di Italia yang membuat berbagai hiasan.

Mengomentari Pohon Natal itu, Paus mengatakan bahwa pohon itu adalah pertanda iman orang Polandia dan ungkapan kesetiaan mereka terhadap tahta Petrus. Seraya berterima kasih kepada anak-anak itu, Paus mengatakan bahwa mereka telah menyampaikan kepada Yesus mimpi dan keinginan mereka melalui hiasan-hiasan mereka yang, “akan dikagumi oleh para peziarah dari seluruh dunia.”

Paus mengatakan bahwa setiap tahun, Kandang Natal dan Pohon Natal menjadi simbol belas kasih Bapa Surgawi, dan keikutsertaan serta kedekatannya dengan umat manusia sehingga merasa tidak ditinggalkan dalam gelapnya waktu namun dikunjungi dan ditemani di tengah-tengah kesulitan.

Pohon yang menunjuk ke atas, kata Paus, mendorong kita untuk “merentangkan tangan meraih karunia-karunia tertinggi”, dan naik ke atas kabut awan, untuk merasakan betapa indah dan menyenangkan dibenamkan dalam terang Kristus. Dalam kesederhanaan kandang itu. lanjut Paus, kita bertemu dan merenungkan kelembutan Tuhan, yang terwujud dalam kandang Anak Yesus.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Adven dan Tahun Liturgi

Min, 03/12/2017 - 00:36

 

MINGGU PERTAMA ADVEN

3 Desember 2017

Markus 13: 33-37

“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.  (Mar 13:33)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Masa Adven telah dimulai. Masa ini menjadi tanda dimulainya tahun liturgi Gereja dan juga empat hari Minggu persiapan menuju Natal. Kita mungkin bertanya, “Mengapa tahun liturgi harus dibuka oleh masa Adven? Mengapa tidak Natal, Prapaskah atau Paskah?”

Ini ada kaitannya dengan tahun liturgi itu sendiri. Namun, apakah makna dari itu tahun liturgi? Secara sederhana, liturgi adalah perayaan ibadat Gereja sebagai bentuk pemujaan terhadap Allah yang benar. Jadi, melalui tahun liturgi, Gereja ingin menyembah Tuhan Allah setiap hari tanpa henti, dan dengan demikian memenuhi instruksi Santo Paulus untuk berdoa tanpa henti (1 Tes 5:17). Tidak ada momen dalam kehidupan Gereja dan umat Kristiani yang tidak dipersembahkan untuk menyembah Tuhan.

Namun, untuk menyembah Tuhan setiap saat dalam hidup kita adalah tuntutan yang sangat tinggi, dan bahkan mustahil. Beberapa dari kita, kita hanya pergi ke Gereja pada hari Minggu, dan mungkin berdoa secara pribadi sesekali waktu. Beberapa dari kita memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga kita pun bisa menghadiri Misa setiap hari dan menjadi bagian dengan organisasi paroki. Bagi anggota biarawan Dominikan seperti saya, Ekaristi harian dan ibadat harian telah terintegrasi dalam struktur kehidupan kami di biara, dan dengan demikian lebih mudah bagi kami untuk berdoa setiap hari. Tapi, bagi banyak dari kita yang bekerja untuk mencari nafkah, dan belajar untuk masa depan, lebih banyak waktu di Gereja bukanlah hal yang memungkinkan. Bahkan bagi saya pribadi, tanpa struktur biara, saya masih mengalami kesulitan berdoa.

Dari perspektif ini, masa Advent menjadi semakin penting bagi kita dalam membentuk sikap dan disposisi hati kita dalam memasuki tahun baru liturgi ini. Katekismus Gereja Katolik mengingatkan kita,”Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (No. 524).” Umat Kristiani perdana memiliki “semangat eskatologis” karena mereka percaya bahwa Yesus akan segera datang. Mereka ingin menjadi layak menyambut Kristus sehingga mereka hidup seolah-olah mereka bukan bagian dari dunia ini. Seperti yang Paulus katakan, “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga (Flp 3:20).” Banyak dari mereka menjual harta benda mereka sehingga tidak ada yang miskin di antara mereka (diakonia) dan mereka bisa fokus pada apa yang benar-benar penting: pengajaran para rasul (didake), persekutuan (koinonia), pemecahan roti (eukaristia), dan doa (proseuke) (Kis 2:42; 4:32-36). Bahkan orang-orang yang bukan anggota Gereja takjub dan berkata, “Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi!” Mungkin benar bahwa Yesus tidak datang dalam waktu hidup mereka, namun gaya hidup mereka telah mengubah komunitas dan masyarakat di sekitar mereka menjadi tempat tinggal  yang lebih baik. Yesus tidak datang, tetapi mereka membawa Yesus di tengah dunia.

Ini adalah panggilan masa Adven untuk menghidupkan kembali “semangat eskatologis” ini di dalam diri kita. Semangat yang membuat kita menyadari bahwa kita semua adalah peziarah di bumi ini dan kita berjalan menuju rumah kita yang sejati di dalam Kristus. Dunia ini bukanlah yang tempat tinggal kita yang permanen, dan karenanya, kebahagiaan kita tidak berakar pada hal-hal di bumi ini seperti uang, gadget, popularitas, dan kesuksesan. Memang benar bahwa kita perlu bekerja untuk mencari nafkah, dan seringkali karya-karya kita meninggalkan sedikit waktu untuk beribadah, tapi hidup kita selalu bisa menjadi tanda Kerajaan Allah, menjadi sebuah bentuk menyembah kepada Tuhan yang benar. Kita bisa jujur di tempat kerja atau sekolah, bisa menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga kita, dan bisa mengasihi orang miskin. Masa Adven bukan sekedar tentang penantian, tapi ini bagaimana kita dengan semangat membawa Yesus di tengah kita.

 

Vatikan bersiap merayakan Natal

Sab, 02/12/2017 - 21:31
Meskipun Pohon Natal dan Kandang Natal di tengah Lapangan Santo Petrus Vatikan masih sedang disiapkan dan baru akan diresmikan tanggal 7 Desember namun pohon Natal yang sudah menyalah beberapa hari terakhir ini meski hanya beberapa jam sehari telah mampu menambah keindahan apalagi di saat bulan purnama menghiasi langit. pohon-pohon dan kandang Natal juga mulai menghiasi beberapa bagian di dalam Vatikan.. Paul C Pati/PEN@ Katolik Foto Paul C Pati/Vatikan Foto Paul C Pati/Vatikan

 

 

SMPK Cor Jesu Malang budayakan membaca 30 menit di sekolah agar tak kerdil cara berpikir

Rab, 29/11/2017 - 06:15

Untuk meningkatkan kecerdasan intelektual dan melatih kekritisan murid dan agar murid terbiasa membaca supaya tidak kerdil dan kering cara berpikirnya, Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Cor Jesu Malang mengadakan program literasi “membaca selama 30 menit sebelum pelajaran di kelas.”

Budaya membaca di kalangan pelajar dan mahasiswa serta di masyarakat mulai berkurang karena pengaruh gadget  yang makin canggih, “maka budaya membaca (literasi) kembali kami hidupkan bagi seluruh murid SMPK Cor Jesu Malang,” kata Wakil Kepala Humas SMPK Cor Jesu Malang Veronica Endah 21 November 2017.

Ditegaskan bahwa menghidupkan budaya literasi merupakan salah satu program dari agenda kerja Keuskupan Malang dan Sekolah itu juga ingin meneruskan pesan Presiden Jokowi untuk membiasakan budaya membaca sejak awal demi melahirkan generasi yang cerdas dan memiliki intelektual yang baik.

Menurut Veronica Endah, program itu dikhususkan dan diwajibkan bagi kelas VII hingga kelas IX pada setiap hari pukul 14.00 WIB sebelum jam pulang sekolah. “Seluruh murid itu diwajibkan membaca dan mencermati setiap berita yang ada di setiap halaman salah satu koran lokal di Malang. Literasi media ini dilaksanakan di setiap kelas usai kegiatan belajar mengajar,” jelasnya.

Program yang mulai dilaksanakan dua tahun lalu itu, kini menggunakan koran lokal “agar anak-anak tidak bosan dan dapat memperluas wawasan dan informasi yang akan mereka dapat dari membaca.”

Veronica menambahkan, “literatur yang digunakan berupa buku bacaan yang ada di sekolah. Selain dipakai buat membaca, siswa juga dilatih mendiskripsikan kembali dalam bentuk resensi dan sebagainya. Sehingga tidak terkesan hanya membaca, melainkan mereka juga dilatih untuk dapat mengulas kembali apa yang mereka baca dalam bentuk tulisan,” terangnya.

Selain membaca, para siswa membuat bermacam poster, lengkap dengan karikatur dan narasinya, juga pantun dan puisi sesuai tema yang ditentukan guru setiap pekan. Tema yang pernah diangkat antara lain lingkungan, pola hidup sehat dan jenis makanan yang menyehatkan. Seluruh karya siswa ini dipajang di kelas masing-masing, baik di dalam maupun di luar kelas.

“Awalnya siswa keberatan. Pasalnya, waktu tugas belajar mereka sudah cukup padat. Namun, setelah dicoba beberapa bulan, mereka terbiasa dan dapat menjalankannya dengan lancar tanpa beban. Mereka juga mulai tekun membaca dan menulis karya. Meskipun awalnya sederhana,lambat laun karya mereka semakin bagus,” lanjutnya.

Kepala SMPK Cor Jesu, Juliana Herman Suprihatin menambahkan, “literasi perlu sekali ditingkatkan.  Dengan banyak membaca dan menulis, pengetahuan siswa bertambah dan wawasan semakin luas karena terus mengakses informasi baik dari buku, internet maupun surat kabar.”

Dia percaya, dengan membaca, anak-anak tidak mudah terpengaruh dengan berita-berita atau informasi yang tidak benar. “Ini juga merupakan program pembentukan mental dan karakter anak didik. Tanpa membaca, cara berpikir seseorang akan kerdil,” tegasnya. (Felixianus Ali)

Mgr Pareira menahbiskan buah-buah pertama Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere

Rab, 29/11/2017 - 05:28

“Menyandang predikat imam berarti mengemban tugas kegembalaan sebagai pelayan bukan penguasa untuk memerintah. Semua umat yang hadir berharap agar para imam meneladani Yesus Raja Alam Semesta yang rendah hati,” kata Mgr Gerulfus Kherubim Pareira.

Uskup Maumere yang didampingi 75 imam konselebran berbicara dalam Misa Tahbisan Imam dari Agustinus Yeremias Pitang, Agustinus Beda, dan Gabriel Rolly Davinsi yang merupakan angkatan pertama Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere.

Dalam tahbisan di Gereja Katedral Maumere, 26 November 2017, dengan tema “Yesus Kristus Raja Semesta Alam Teladan Para Imam” itu, Mgr Pareira juga menahbiskan imam Reminus Hambur CJD. Tiga imam yang lain adalah imam diosesan Maumere.

Menurut Mgr Pareira, empat imam baru itu diangkat oleh Kristus Imam Agung dan ditahbiskan menjadi imam yang sah untuk menjalankan tugas suci dan mulia mewartakan sabda Allah ke seluruh penjuru dunia. “Jagalah dirimu agar tetap percaya kepada Tuhan. Hendaknya cara hidupmu menjadi teladan dan kesukaan kaum kristiani,” uskup mengingatkan.

Mgr Pareira juga mengingatkan agar para imam bekerjasama dengan uskup, dipersatukan dengan uskup dan sama-sama dipanggil untuk melayani umat Allah.

Pastor Agustinus Beda Pr mengatakan, kehadiran umat dari berbagai paroki merupakan kado peneguhan terindah bagi mereka berempat untuk memulai petualangan sebagai pewarta Injil. “Kami selalu memohon dukungan doa agar kami tetap setia dengan imamat yang kami terima hari ini,” kata imam itu mewakili tiga imam lainnya.

Mgr Pareira menempatkan Pastor Agustinus Beda Pr di Paroki Watublapi, Pastor Agustinus Yeremias Pitang Pr di Paroki Kloangpopot dan Pastor Gabriel Rolly Davinsi Pr di Paroki Nebe. Superior Jendral Pastor Ruyrum Effing CJD menempatkan imam perdananya Pastor Reminus Hambur CJD di Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere. (Yuven Fernandez)

 

Paus refleksikan pengadilan terakhir dalam Angelus dan katakan kita akan diadili karena cinta

Sen, 27/11/2017 - 04:32
PEN@ Katolik/paul c pati

Dalam Angelus di hari Minggu terakhir tahun liturgis, Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta, 26 November 2017, Paus Fransiskus merefleksikan tentang pengadilan terakhir, dengan mengatakan Kerajaan Kristus adalah satu “pedoman dan pelayanan, tapi juga kerajaan yang pada akhir zaman akan ditegaskan dalam pengadilan.”

Paus Fransiskus yang tepat jam 12 siang waktu setempat muncul di jendela ruang kerjanya di lantai tiga apartemennya, berbicara dengan ribuan peziarah sedunia yang memenuhi lapangan Santo Petrus Vatikan di seputar pohon dan kandang Natal yang sementara dipersiapkan untuk diresmikan 7 Desember 2017.

Visi kedatangan Kristus yang kedua, seperti dalam Injil, kata Paus, memperkenalkan pengadilan terakhir, saat semua umat manusia akan hadir di hadapan-Nya, bersama Yesus, yang menjalankan wewenang-Nya, memisahkan satu sama lain, “seperti penggembala memisahkan domba-domba dari kambing.”

Paus Fransiskus mengingat kembali kriteria yang akan menjadi dasar penghakiman-Nya, seperti apa yang Yesus katakan, “Apa yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina, kamu melakukannya untuk-Ku.”

Menurut Paus, kriteria Yesus dalam pengadilan terakhir adalah “cinta yang konkret untuk sesama kita yang berada dalam kesulitan.” Paus menegaskan, “Di akhir hidup, kita akan dihakimi berdasarkan kasih, yaitu komitmen konkret kita untuk mengasihi dan melayani Yesus di dalam saudara kita yang paling hina dan paling membutuhkan.”

Paus mengakhiri renungannya dengan doa agar ”Perawan Maria membantu kita bertemu dengan Dia dan menerima Dia dalam Firman-Nya dan dalam Ekaristi, dan juga dalam saudara-saudari kita yang menderita kelaparan, sakit, penindasan, ketidakadilan.

Untuk mempersiapkan diri melakukan kunjungan apostolik ke Myanmar dan Bangladesh, pada hari Sabtu malam, Paus Fransiskus seperti biasanya berkunjung ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa kepada Santa Maria. Di sana Paus meletakkan bunga di depan Patung Maria Salus Populi Romani (Keselamatan orang-orang Romawi).

Dan sesudah Doa Angelus tradisional di Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus mengatakan, “Saya meminta kalian menemani saya dengan doa, sehingga kehadiran saya boleh menjadi tanda kedekatan dan pengharapan bagi orang-orang [Myanmar dan Bangladesh].”

Paus Fransiskus mengatakan, dia akan datang ke negara mereka untuk menguatkan “kesaksian iman dan Injil” dari umat Katolik masing-masing negara itu. Paus berharap kunjungannya akan menjadi “sumber harapan dan dorongan” bagi semua orang.

Paus akan mengunjungi Myanmar tanggal 27 hingga 30 November 2017 dan ke negara tetangganya Bangladesh tanggal 30 November hingga 2 Desember 2017.(paul c pati dari Vatikan)

Pohon dan Kandang Natal di Lapangan Santo Petrus sedang dipersiapkan untuk diresmikan tanggal 7 Desember 2017. PEN@ Katolik/paul c pati PEN@ Katolik/paul c pati

Bukan Raja Biasa

Min, 26/11/2017 - 02:54

Hari Raya Kristus Raja

26 November 2017

Matius 25: 31-45

“Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Mat 25:45).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Menjadi bagian dari generasi modern, kita hidup pada alam demokrasi dan tidak mengerti secara penuh apa artinya menjadi hamba seorang raja yang berkuasa mutlak. Raja dan ratu masa kini, seperti Kaisar Jepang dan Ratu Inggris, adalah raja dan ratu konstitusional. Kekuasaan mereka tidak lagi mutlak, tapi berdasarkan dan diatur oleh Konstitusi negara. Beberapa negara bahkan memilih untuk menghapus sistem pemerintahan monarki secara total, dan sang raja hanya menjadi simbol budaya masa lalu. Mungkin, salah satu gambaran terbaik dari seorang raja yang berkuasa secara mutlak bisa kita lihat pada acara televisi Game of Thrones. Dalam acara ini, dia yang duduk di Tahta Besi adalah raja yang memiliki kekuatan hampir absolut. Ribuan tentara mematuhinya dan semua penduduk memberi hormat. Dia adalah hukum itu sendiri, dan dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Tak heran jika kisah Game of Thrones berputar pada Tahta Besi, dan bagaimana para karakter saling berlomba untuk mengklaim takhta tersebut.

Injil hari ini memberi gambaran tentang kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman. Yesus akan duduk di atas takhta-Nya dan memberikan penghakiman-Nya atas segala bangsa. Mendengarkan bagian Injil ini, kita bisa membayangkan bahwa Yesus seperti seorang raja di atas Tahta Besi dengan mahkota emas-Nya, dikelilingi oleh malaikat yang perkasa. Namun, membaca Injil lebih lanjut, gambaran dahsyat ini segera diimbangi oleh gambaran lain. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai seseorang yang dipenjara, seorang pria tuna wisma yang lapar, haus dan telanjang. Dia berubah dari seorang manusia yang berkuasa penuh menjadi manusia yang miskin dan tak berdaya.

Dalam sejarah dunia, kita mungkin mengenal beberapa raja yang jatuh ke dari kekuasaan mereka. Raja Louis XVI dari Prancis adalah raja dengan kekuasaan absolut yang akhirnya dieksekusi dengan guillotine. Pu Yi, kaisar terakhir Tiongkok, dilayani oleh banyak hamba bahkan untuk menyikat giginya, tapi akhirnya dia kehilangan segalanya dan menjadi tukang sapu jalanan di Beijing. Namun, Yesus bukanlah raja-raja yang semacam ini, melainkan Dia memilih dengan bebas untuk menjadi satu dengan kita semua, terutama dengan mereka yang paling miskin dan tidak disukai oleh masyarakat. Kerajaan-Nya bukanlah berdasarkan kekuasaan dan kontrol, melainkan kerajaan orang miskin, lemah, dan terpinggirkan.

Sekarang, apakah kita bersedia masuk ke dalam Kerajaan orang-orang miskin ini? Seperti karakter dalam Game of Throne, kita ingin duduk di Tahta Besi versi kita sendiri. Namun, ini bukanlah Kerajaan Yesus. Sering kali kita merasa sudah menolong orang lain dengan memberi sesuatu kepada para pengemis, tapi ini tidak cukup. Jika Yesus adalah Raja kita, kita diajak melihat saudara dan saudari kita yang kurang beruntung ini sebagai mereka yang adalah empunya kerajaan, mereka yang duduk di tahta. Melayani Yesus Sang Raja berarti kita perlu melayani mereka dengan cara yang lebih signifikan. Ini adalah kerajaan yang didefinisikan oleh keadilan dan kebenaran, bukan kekuasaan dan kesuksesan.

Minggu yang lalu, Paus Fransiskus mendirikan Hari Dunia Kaum Miskin yang pertama, dan dalam homilinya dia berpesan, “Kita mungkin sering menganggap orang miskin hanya sebagai penerima manfaat dari perbuatan murah hati kita. Betapapun baiknya dan berguna tindakan semacam ini, mungkin karena mereka membuat kita peka terhadap kebutuhan mereka dan ketidakadilan yang sering menjadi penyebab kemiskinan, tindakan-tindakan ini seharusnya mengarah pada perjumpaan sejati dengan orang miskin dan berbagi yang menjadi cara hidup kita … Jika kita benar-benar ingin bertemu dengan Kristus, kita harus menyentuh tubuh-Nya di tubuh penderitaan orang miskin, sebagai tanggapan terhadap persekutuan sakramental yang dianugerahkan dalam Ekaristi.”

 

 

Mgr Agus resmikan kapel di lapas untuk beri harapan bagi yang putus asa, terlupakan dan ditinggalkan

Min, 26/11/2017 - 01:33

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus memberkati dan meresmikan kapel bernama Santa Katarina dari Siena di Lembaga Pemasyarakatan Khusus (LPKA) Anak Klas IIA Sungai Raya Pontianak, sebagai wujud perhatian Gereja bagi warga binaan dan memberikan harapan kepada anak-anak yang putus asa, yang terlupakan, dan yang ditinggalkan oleh orangtua mereka.

Dalam pemberkatan dan peresmian 24 November 2017 itu, Mgr Agus berterima kasih kepada LPKA itu yang menanggapi keinginan keuskupannya untuk mendirikan kapel itu bersama Keluarga Dominikan Pontianak. Mgr Agus pun menyerahkan kapel itu kepada Kepala Pembinaan Khusus Anak Lapas Klas IIA Sungai Raya Slamet Budiono.

Uskup Agung Pontianak juga mengharapkan agar pelayanan yang sudah dimulai oleh Keluarga Dominikan itu “dilanjutkan oleh Gereja, karena pelayanan itu sungguh membantu para warga binaan mengubah tingkah laku mereka, dan setelah bebas diharapkan mereka akan mempunyai iman yang kuat dan hidup baik di tengah masyarakat.”

Warga binaan di lapas, menurut uskup, adalah sesama yang perlu ditolong, karena “di sini mungkin mereka seringkali mengalami ketakutan, disingkirkan, dan tidak diterima.”

Kepala Bidang Keamanan, Kesehatan, Perawatan Narapidana/Tahanan dan Pengelolaan Basan dan Baran, Kanwil Kemenkumham Kalbar, Winduarto, berterima kasih kepada Keuskupan Agung Pontianak yang melengkapi sarana peribadatan sehingga kegiatan pembinaan rohani bagi warga binaan lebih sering dilakukan, dan “rasa bosan dan sepi dan trauma para narapidana,” berkurang.

Menurut data Subseksi Pendidikan dan Bunkemas, di lapas itu ada 10 warga binaan beragama Katolik dan 5 warga binaan beragama Kristen. (aop)

Jumat, 24 November 2017

Jum, 24/11/2017 - 11:22

PEKAN BIASA XXXIII

Peringtatan Wajib Santo Andreas Dung Lac, Imam dan kawan kawam Martir Vietnam (M)
Santo Krisogonus; Santo Vinsensius Liem; Santo Ignasius Delgado; Santo Dominikus An-Kham

Bacaan I: 1Mak. 4:36-37.52-59

Mazmur: 1Taw. 29:10-12d; R:13b

Bacaan Injil: Luk. 19:45-48

Pada waktu itu Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah. Maka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: ”Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Renungan

Tindakan revolusioner itu harganya mahal. Keberanian Yesus untuk membersihkan Bait Allah dari praktik-praktik kecurangan dan ketidakadilan membuat Ia semakin dibenci oleh para Imam dan pemimpin bangsa Yahudi. Tindakan Yesus mengganggu stabilitas kenyamanan dan kemapanan para pemimpin tersebut. Sementara nuansa yang sangat berbeda ditampilkan oleh Kitab Makabe. Di sana digambarkan sukacita bangsa Israel karena Bait Allah yang telah selesai dibangun dan betapa mereka penuh semangat untuk menghias Bait Allah tersebut dengan ornamen-ornamen indah sebagai persembahan bagi Allah.

Dulu orang Israel penuh sukacita atas Bait Allah karena itu berarti Allah berdiam bersama mereka. Di zaman Yesus, sukacita itu berganti dengan ketidakadilan dan kecurangan yang membuat Bait Allah bagaikan sarang penyamun.

Yesus mengingatkan orang Israel supaya bertobat dan kembali kepada sukacita yang pada masa lalu dialami leluhur mereka. Tetapi, pertobatan memang bukan perkara sederhana. Ketika manusia berniat untuk bertobat, ia harus berani mengubah dirinya secara revolusioner. Masalahnya, itu berarti harus mengubah situasi nyaman dan aman, ketenangan dan kenikmatan yang selama ini terbiasa dialami. Di sinilah tantangan bagi orang beriman. Beranikah kita mengubah cara hidup, membangun habitus baru untuk hidup seturut kehendak Allah? Atau kita memilih bertahan dengan segala kenyamanan seperti mereka yang menolak Yesus?

Tuhan Yesus, cairkanlah hatiku yang beku dan tuntunlah aku kepada pertobatan yang sejati. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Agus rayakan HUT ke-68 sambil ajak umat gunakan talenta yang diberikan Tuhan

Jum, 24/11/2017 - 11:12

Tuhan itu baik. Kita lahir ke dunia ini karena kemauan Tuhan dan ketika lahir kita diberi talenta masing-masing. Tugas kita adalah menggunakan talenta itu dengan dengan baik dan sepenuh hati, meski hanya satu talenta.  “Walaupun kita punya talenta yang hebat dan tinggi, tetapi jika kita tidak menggunakannya dengan baik, itu merupakan kesalahan.”

Pesan itu disampaikan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr dalam Misa yang dipimpinnya bersama 10 imam konselebran di Gedung Pasifikus milik Paroki Santo Yoseph Katedral Pontianak, 22 November 2017, untuk merayakan HUT ke-68 dari uskup agung itu. Mgr Agus lahir di Lintang, Kapuas, Sanggau, Kalimantan Barat, 22 November 1949.

Homili Misa yang dihadiri banyak umat, pastor, suster, bruder dan frater itu menekankan perumpamaan tentang talenta yang menurut uskup itu harus dipertanggungjawabkan oleh semua orang yang sudah menerimanya dari Tuhan.

“Saya ingat betul, waktu itu tanggal 21 Mei 2014 saya dipanggil oleh Duta Vatikan untuk menghadap. Dalam pertemuan itu saya ungkapkan isi hati saya, bahwa saya baru saja merasa “enak” di Keuskupan Sintang, mengapa sudah harus dipindah ke Keuskupan Agung Pontianak. Siapakah saya ini hanya seorang uskup pedalaman, anak kampung. Saya tahu bahwa tugas sebagai Uskup Agung Pontianak itu berat,” kenang Mgr Agung.

Ungkapan itu, menurut Mgr Agus, diungkapkan karena kesadaran bahwa sebagai manusia pasti punya kelemahan. Namun, uskup itu percaya bahwa semuanya itu adalah kemauan Tuhan dan Tuhan sanggup melengkapi kekurangan dan kelemahan yang ada dalam dirinya.

Bahkan Mgr Agus bangga mengatakan dirinya adalah anak kampung karena dia yakin akan kebaikan Tuhan, yang mau memakai dirinya meskipun dia anak kampung. Ungkapan refleksi Mgr Agus yang menceritakan perjalanan panggilannya sebagai anak kampung tertulis dalam buku Otobiografi Mgr Agustinus Agus berjudul “Anak Kampung Jadi Uskup Agung, yang diluncurkan bulan Juni 2017 pada pesta 40 tahun imamatnya.

Setelah Misa, seluruh umat yang hadir diundang menuju Wisma Keuskupan Agung Pontianak untuk melanjutkan acara yang Mgr Agus sebut sebagai acara kekeluargaan. Di sana ada lagu-lagu selamat ulang tahun, peniupan lilin, pemotongan kue ulang tahun, pembagian kue ulang tahun dan makan bersama. (aop/mssfic)

 

Kamis, 23 November 2017

Kam, 23/11/2017 - 11:37

PEKAN BIASA XXXIII (H) 

Santo Klemens I, Paus Martir; Santo Kolumbanus;
Beato Mikhael Agustinus Pro

Bacaan I: 1Mak. 2:15-29
Mazmur: 50:1-2.5-6.14-15; R:23b
Bacaan Injil: Luk. 19:41-44

Ketika Yesus telah dekat dan melihat kota Yerusalem, Ia menangisinya, kata-Nya: ”Wahai Yerusalem, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Renungan

Seorang gadis kecil mendapat hadiah sebuah kalung ”mainan” dari ayahnya. Meski mainan, tetapi kilau manik-maniknya sangat memikat hati gadis kecil itu. Dengan bangga setiap hari ia memakai kalung itu, kadang sambil bergaya di depan cermin. Sekian minggu berselang, ayahnya datang dan bertanya, ”Boleh ayah minta kalungmu?” Gadis itu menggeleng. Tiga kali ayahnya bertanya dan selalu ditanggapi dengan penolakan. Bahkan gadis kecil itu menjadi kesal lantaran mengira ayahnya ingin mengambil kalung kesayangannya. Lalu ayahnya pergi. Yang tidak diketahui oleh gadis kecil itu, di genggaman tangan ayahnya ada sebuah kalung emas asli nan berkilau yang tadinya hendak ditukar dengan kalung mainan tersebut.

”Jika engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu … tetapi semuanya sekarang tersembunyi bagimu” (Luk. 19:42). Yesus menangis melihat manusia yang begitu kokoh berpegang pada benteng keselamatan yang mereka bangun dengan segala kemegahan. Benteng keselamatan yang sejati sungguh tersembunyi sehingga tak dapat dijadikan sandaran atau jaminan pengharapan. Di sini sebuah pertanyaan ditujukan kepada kita, apakah kita mau terus berpegang pada kemuliaan yang tampak atau pada rahmat Allah yang tersembunyi?

Ya Allah, bukalah mataku supaya tidak disilaukan oleh yang fana dan mampu melihat rahmat-Mu yang tersembunyi. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Rudy Suparman, CEO Star Energy, terima Economic Challenges Award 2017 Kategori Energi

Kam, 23/11/2017 - 02:24

Metro TV, dalam program pukul 20.00-21.30, tanggal 21 November 2017, menayangkan secara langsung penyerahan penghargaan “Economic Challenges Awards 2017” dengan tema “Leading the Change” dalam 10 kategori, yakni energi, farmasi, infrastruktur, konstruksi, consumer dan retail, property dan real estate, perbankan, telekomunikasi, industri kreatif, CEO of the Year.

Di tengah tidak menentunya harga komoditas, kata pakar saham yang menjadi pembaca nominasi pertama, Ellen May, “sektor energi semakin penuh dengan tantangan. Namun, dengan terus meningkatnya kebutuhan energi membuat industri di sektor ini harus mampu bertransformasi untuk menjawab kebutuhan energi, sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis dengan baik.”

Setelah menayangkan lima perusahaan nominasi untuk kategori energi (PT Aneka Tambang (Persero) TBK, PT Medco Energi International TBK, PT Pertamina TBK, PT Perusahaan Gas Nasional TBK, dan Star Energy Group Holdings PTE LTD), Ellen May mengatakan “Dan, pemenang Economic Challenges Award 2017 Kategori Energi adalah Star Energy Group  Holdings PTE LTD.”

Maka, naiklah ke panggung seorang pengusaha Katolik dari Jakarta yakni Rudy Suparman, CEO PT Star Energy, yang kemudian menerima penghargaan Economic Challenges Award 2017 Kategori Energi dari Menteri ESDM Ignatius Jonan.

Setelah berterima kasih untuk penghargaan yang diterima, Rudy Suparman mengatakan, “apa yang kami lakukan di sini adalah untuk memperbesar kemampuan Indonesia dalam menghasilkan listrik dari tenaga panas bumi, yang merupakan energi yang ada di Indonesia sendiri. Kami harap apa yang kami lakukan menjadi satu persembahan bagi seluruh bangsa Indonesia.”

Menurut Metro TV yang memberi alasan penghargaan itu, perlambatan ekonomi masih terus membayangi Indonesia. “Rapor kinerja perusahaan-perusahaan di sektor strategis masih belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2017 cenderung masih stagnant. Sektor konsumsi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan karena pelemahan daya beli masyarakat. Hal ini pun memberikan tekanan pada pencapaian sektor industri. Economic Challenges Awards 2017 pun mencari perusahaan dan individu yang mampu menjawab tantangan ini.”(pcp)

Murid-murid SMAK Santa Maria Malang ikuti latihan kepemimpinan untuk tangkal radikalisme

Sel, 21/11/2017 - 23:18

Guna meningkatkan kecintaan dan bela negara, serta menangkal dan menjauhkan radikalisme dari sekolah, Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMAK Santa Maria Langsep Malang melaksanakan Latihan Kepemimpinan Tingkat Lanjut (LKTL) di perkebunan milik Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK).

Latihan kepemimpinan yang dilaksanakan 17-19 November 2017 dan diikuti 30 siswa-siswi sekolah itu,. menurut Wakil Kepala Kesiswaan SMAK Santa Maria YB Mispan, bertujuan untuk melatih mental, kedisiplinan, tanggung jawab, karakter, kejujuran, keakraban, “termasuk memiliki kecintaan yang mendalam terhadap NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Kebhinekaan.”

Kegiatan yang juga mengajak seluruh siswa-siswi SMAK Santa Maria untuk terus meningkatkan toleransi antarteman itu, jelas Mispan, dilengkapi bakti sosial yang dilakukan OSIS bagi masyarakat setempat yang berpenghasilan rendah dengan “menjual pakaian bekas layak pakai” untuk “melatih para murid untuk berempati dan peduli kepada sesama yang masih sangat membutuhkan bantuan.”

Pendamping OSIS itu menambahkan, sejak September hingga November 2017, calon-calon pengurus OSIS melakukan proses pembinaan dan penggemblengan di setiap jam pulang sekolah, “berupa latihan kedisiplinan dan tanggung jawab, yang merupakan hal terpenting dalam pembentukan karakter murid.”

Menurut Mispan, penggemblengan yang melibatkan semua pembina itu menerapkan sistem 50 persen dan 30 persen. “Artinya, 50 persen dilihat dari sisi kepribadian, kejujuran, dan kedisiplinan, dan 30 persen dari sisi akademis. Dengan demikian diharapkan dapat menghasilkan output yang sungguh diharapkan.”

Latihan kepemimpinan bertema “Strive for Progress” itu juga dilengkapi outbond untuk melatih kebersamaan dan kekompakan serta meningkatkan saling percaya dan cinta antarteman dalam bingkai NKRI.

Seorang murid kelas XII yang diangkat sebagai ketua panitia, Viona Wijaya, mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa masyarakat setempat menyambut baik kegiatan baksos dalam LKTL itu, “dan mereka meminta kami untuk kembali melakukan baksos serupa. Kami semua ikut senang dan gembira, walau pun yang kami berikan belum seberapa.” (Felixianus Ali)

 

Viona Wijaya YB Mispan

Selasa, 21 November 2017

Sel, 21/11/2017 - 14:06

PEKAN BIASA XXXIII

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)
Santo Nikola Giustiniani

Bacaan I: 2Mak. 6:18-31

Mazmur: 3:2-7; R:6b

Bacaan Injil: Luk. 19:1-10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Renungan

Zakheus adalah pemungut cukai yang bertindak tidak adil terhadap sesama. Tetapi ia juga korban dari kebencian masyarakat. Ia diberi label orang berdosa dan seakan selamanya ia harus membawa label atau cap itu ke mana pun ia pergi. Seakan tidak ada lagi kemungkinan atau kesempatan baginya untuk bertobat dan menjalani hidup yang lebih baik. Dengan kata lain, Zakheus adalah orang yang dikerdilkan oleh kebencian dan label yang diberikan masyarakat kepadanya. Perjumpaan Zakheus dengan Yesus adalah kritik bagi cara kita memperlakukan orang yang bersalah.

Zakheus bukan orang yang menikmati kejahatannya. Ia ingin dibebaskan, tetapi tidak dimungkinkan oleh stigma dan perlakuan masyarakat. Tetapi, ia tetap ingin mengalahkan kekerdilannya dengan memanjat pohon untuk bertemu dengan Yesus. Ia berusaha keras melampaui batas dirinya untuk bertemu dengan Yesus. Bukankah ini suatu tanda pertobatan?

Lalu, perjumpaan dengan Yesus mengubah segalanya. Yesus tidak mengatakan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya memberi Zakheus kesempatan untuk mewujudkan niat pertobatannya. Kemudian, terjadilah sukacita itu. Zakheus bertobat dan berbagi sukacita dengan orang miskin dan semua orang yang pernah menjadi korban kejahatannya. Penghakiman dan kebencian hanya akan membuat semua orang terpenjara, sedangkan belas kasih dan pengampunan memerdekakan manusia.

Tuhan Yesus, curahkanlah semangat belas kasih kepadaku supaya aku tidak mudah menghakimi sesama, melainkan menerima setiap orang dengan kasih. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Agustinus Agus berkati aula serba guna sumbangan alumni persekolahan suster

Sel, 21/11/2017 - 05:25

“Saya bangga dengan orang-orang Pontianak yang sukses, tetapi tidak melupakan tempat asalnya. Orang Kalbar yang sukses dan punya niat luhur ingin membangun Kalbar, pasti pahalanya lebih luhur lagi,” kata Mgr Agustinus Agus kepada wakil-wakil donatur dan alumni Sekolah Suster Pontianak, Vidjongtius, Ali, Suwana dan Lauren Sarinah, yang kini menjadi pengusaha di Jakarta.

Uskup Agung Pontianak berbicara tanggal 19 November 2017 dalam pemberkatan Aula Serba Guna Persekolahan Suster Pontianak, yang ide atau cikal bakal pembangunannya serta tekad bahu membahu membangun dan memajukan sekolah itu muncul dalam Reuni Akbar Lintas Angkatan 1960-1990 SD dan SMP Suster Pontianak, 25 Maret 2017.

Reuni itu terlaksana berkat dukungan Provinsial SFIC Suster Irene SFIC dan suster-suster lainnya, serta Tim Peduli Pendidikan Keuskupan Agung Pontianak, yang mendukung tekad para alumni untuk “tidak berpangku tangan, melainkan secara optimal dan bertahap membantu dan membawa sekolah suster ke tingkat yang lebih baik, khususnya dalam menghadapi perubahan pesat di dunia pendidikan saat ini.”

Sejak awal, menurut Mgr Agus, Gereja Katolik sudah memiliki karya rumah sakit, karya pendidikan dan karya sosial lainnya, “tetapi sekarang ini mutu pelayanan menurun, sudah ada pembedaan kaya dan miskin, maka perlu perubahan, bukan hanya di medan karya, tetapi juga dalam biara dan Gereja, jangan sampai sekolah Katolik, atau rumah sakit Katolik menjadi karya yang hanya disegani tetapi tidak dicintai.”

Uskup berharap semoga dengan perubahan, perkembangan dan pembangunan fasilitas pendukung seperti aula baru dari para donatur itu, pelayanan para Suster SFIC lebih baik lagi dan “menjadi contoh bagi masyarakat bahwa orang Katolik itu baik, sekolah Katolik itu baik, tidak membeda-bedakan suku, agama dan sebagainya,” tegas Mgr Agus.

Ketua Tim Peduli Pendidikan Juliana Sujadi menegaskan, sekarang sekolah Katolik banyak terpukul dari pelbagai segi di antaranya perubahan susunan penduduk, menghilangnya peran biarawan atau biarawati di kelas, persaingan dari sekolah-sekolah lain, jumlah murid menyusut, keuangan sulit, tingkat gaji tenaga pengajar rendah, lemah advertising atau marketing. “Sudah banyak sekolah Katolik ditutup. Upaya satu-satunya yang harus dilakukan agar bisa survive adalah berani berubah dan berinovasi,” katanya.

Vidjongtius yang juga Ketua Alumni SMP Suster Pontianak membenarkan bahwa dunia kompetisi tidak hanya merambah atau identik dengan dunia bisnis tetapi juga dunia pendidikan. “Kompetisi ini tidak bisa berhenti dan tidak bisa kita didikte. Kompetisi pasti lewat, maka kami sebagai alumni tergerak hati untuk membatu persekolahan suster agar  mampu berkompetisi dengan sehat dan tidak terlepas dari pengembangan mutu pelayanan,” katanya.

Menanggapi menurunnya kualitas maupun kuantitas sekolah Katolik, Sister Irene SFIC mengatakan, sejak awal misionaris datang ke Kalimantan Barat sudah mendirikan sekolah karena keprihatinan bahwa waktu itu tidak ada sekolah, bukan karena ada modal.

“Sudah seratus tahun lebih, tepatnya 28 November 1906, para suster misionaris dari Belanda datang ke Kalimantan Barat dengan karya awal pendidikan dan sampai saat ini para suster masih berkomitmen meneruskan karya ini,” kata Suster Irene seraya berterima kasih atas dukungan uskup dan pastor paroki serta semua orang yang berkehendak baik untuk membantu sekolah itu.(Suster Maria Seba SFIC)

Halaman