Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 26 dtk yang lalu

Paus ajak umat Waldensian dan Metodis untuk ikut umat Katolik melayani orang miskin

Kam, 30/08/2018 - 22:03
Paus Fransiskus pada Audiensi Umum 29 Agustius 2018 di Vatikan. Foto ANSA

Dalam pesan yang dikirim kepada para peserta sinode tahunan Perhimpunan Gereja-Gereja Metodis dan Waldensian yang berlangsung di Torre Pellice, dekat Turin, Italia utara, 26-31 Agustus 2018, Paus menyatakan kedekatan persaudaraan Gereja Katolik dan dirinya serta mengajak umat Waldensian dan Metodis untuk ikut bersama umat Katolik dalam mewartakan Yesus, terutama bagi kaum miskin dan kaum terpinggirkan saat ini.

“Kami dipanggil untuk mempergunakan diri kami dalam mewartakan Yesus, yang akan bisa dipercaya jika itu dicerminkan dalam kehidupan dan dijalani dalam kegiatan amal kasih, terutama bagi banyak Lazarus yang mengetuk pintu kami saat ini,” tulis pesan yang dibacakan saat sinode itu dimulai hari Minggu oleh Eugenio Bernardini, moderator Waldensian Table, badan puncak Gereja itu.

“Dengan melayani orang-orang itu saat ini, membela martabat orang yang paling lemah dan meningkatkan keadilan dan perdamaian, kita bersama-sama menjadi agen perdamaian yang Tuhan umumkan di hari Paskah dan yang Dia tinggalkan kepada kita sebagai warisan,” tulis Paus, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Yang dibicarakan oleh 180 bapa sinode Metodis dan Waldensian dalam sinode itu, antara lain kehadiran Gereja dalam kehidupan publik dan komunitas, perbuatan baik dalam pelayanan dan pewartaan, migrasi dan ekumene

Sambil berdoa bagi mereka, Bapa Suci mengatakan bahwa dia membayangkan berdoa bersama mereka dan memohon kepada Bapa agar “bersama Tuhan, semua umat Kristen dapat berjalan dengan tulus hati menuju persekutuan penuh.” Paus juga menulis, “Hanya dengan cara ini, dengan menanggapi secara konkret panggilan Tuhan untuk ‘menjadi satu’, kita dapat mewartakan Injil dengan cara terbaik.”

Seraya mengenang pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan mereka di Argentina, Turin, dan Roma, Paus memohon agar Tuhan memberkati mereka, dan mendorong mereka berdoa bagi dirinya.

Uskup Lodi (Katolik) Mgr Maurizio Malvestiti, didampingi oleh Pastor Cristiano Bettega, direktur Kantor Nasional Konferensi Waligereja Italia untuk Ekumene dan Dialog Antaragama, merupakan tamu undangan dalam sinode itu.

Perhimpunan Gereja-Gereja Metodis dan Waldensian adalah gereja bersatu Italia yang didirikan tahun 1975 menyatukan Gereja Evangelis Waldensian dan Gereja Metodis Injili di Italia. Perhimpunan itu memiliki sekitar 50.000 anggota, di antaranya 45.000 umat Waldensian, sebagian besar di Italia, tetapi juga di Argentina dan Uruguay. Umat Metodis berjumlah sekitar 5.000 orang.(pcp berdasarkan Vatican News)

Latihan Kepemimpinan Kader PMKRI didik anggota menjadi garam dan terang dunia

Kam, 30/08/2018 - 21:05

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng Agustinus melakukan Latihan Kepemimpinan Kader (LKK), pendidikan formal berjenjang PMKRI untuk melatih kader-kader organisasi menjadi pemimpin masa depan, di Borong, Manggarai Timur, 27 Agustus hingga 1 September 2018.

“Melalui LKK ini diharapkan kader-kader PMKRI mampu menjadi garam dan terang dunia, menjadi pemimpin yang mengabdi dengan jiwa dan semangat kekatolikan,” demikian informasi yang disampaikan kepada PEN@ Katolik oleh Presidium Pendidikan Kaderisasi PP PMKRI  Fibrisio H Marbun saat LKK itu berlangsung.

Dalam LKK itu, Fibrisio berbicara tentang Kebijakan Nasional PMKRI, yang mengajak seluruh peserta mengetahui kebijakan-kebijakan PP PMKRI, grand issues, positioning dan tagline PMKRI.

Ditegaskan, PMKRI selama satu periode akan fokus pada grand issues Persatuan Indonesia, Hak Asasi Manusia dan Ekologis. PMKRI juga sedang mempersiapkan diri menyongsong Transformasi Organisasi melalui Lokakarya Nasional yang direncanakan Februari 2019. Selanjutnya, untuk merawat dan menjaga nilai-nilai kebangsaan PMKRI menggunakan tagline #Kita_Indonesia sebagai jargon perjuangannya.

DPC Cabang PMKRI Cabang Ruteng Santo Agustinus melalui Ketua Presidium Servasius Sarti Jemorang menyambut hangat dan berterimakasih atas kehadiran PP PMKRI pada LKK yang diikuti 17 peserta dari Cabang Ende, Cabang Palopo, Cabang Jakarta Pusat, Cabang Ngada dan Cabang Ruteng sebagai tuan rumah.(PEN@ Katoliki/pcp)

Artikel terkait:

PMKI gelar seminar kebangsaan dan deklarasi #kita_indonesia di Pekanbaru

Seminar Kebangsaan PMKRI: Keragaman jadikan Indonesia miliki kekhasan di mata dunia

https://penakatolik.com/PMKRI menghimbau seluruh kadernya untuk mengawal jalannya Pilkada

calon-PMKRI diajak jadi kader militan yang tidak takut merongrong demi kebenaran

Ketua baru PMKRI akan teladani semangat intelektualitas dan kerendahan hati St Thomas Aquinas

Apa itu prinsip subsidiaritas

Kam, 30/08/2018 - 18:50

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

403. Apa itu prinsip subsidiaritas?

Prinsip subsidiaritas menyatakan bahwa komunitas pada level yang lebih tinggi tidak boleh mengambil alih tugas komunitas pada level yang lebih rendah dan mengambil otoritasnya. Namun jika ada kebutuhan, komunitas yang levelnya lebih tinggi wajib mendukungnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1883-1885, 1894

404. Apa lagi yang dituntut untuk terciptanya masyarakat manusia yang autentik?

Masyarakat manusia yang autentik menuntut hormat untuk keadilan, hierarki nilai-nilai yang adil, dan subordinasi dari dimensi material dan naluriah kepada dimensi batiniah dan rohaniah. Secara khusus, jika dosa sudah menyelewengkan suasana sosial, perlulah menyerukan pertobatan hati dan memohon rahmat Allah untuk memperoleh perubahan sosial yang betul-betul berguna bagi pribadi dan seluruh masyarakat. Cinta kasih yang menuntut dan memungkinkan praktek keadilan adalah perintah sosial yang paling agung.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1886-1889, 1895-1896

Paus Fransiskus: Keluarga merupakan tanda mengesankan dari mimpi Allah

Rab, 29/08/2018 - 23:40

Pada Audiensi Umum Rabu, 29 Agustus 2018, Paus Fransiskus merefleksikan kunjungannya ke Irlandia untuk menghadiri Pertemuan Keluarga se-Dunia. “Kehadiran saya” di Irlandia, kata Paus, “dimaksudkan terutama untuk memperkuat keluarga-keluarga Kristiani dalam panggilan dan misi mereka.”

Paus mengatakan, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, bahwa ribuan keluarga yang ikut ambil bagian dalam acara itu “adalah tanda mengesankan keindahan impian Allah bagi seluruh keluarga manusia.” Mimpi itu, lanjut Paus, “adalah persatuan, kerukunan, dan perdamaian dalam keluarga-keluarga dan di dunia.”

Paus juga mengatakan bahwa Tuhan memanggil keluarga-keluarga “untuk berpartisipasi dalam mimpi ini, dan menjadikan dunia sebagai rumah di mana tidak ada seorang pun yang sendirian, tidak ada yang tidak diinginkan, tidak ada yang dikecualikan.”

Setelah berterima kasih kepada semua orang membuat peristiwa itu berlangsung, Paus berbicara tentang hal-hal penting dari pertemuan itu, termasuk kesaksian tentang cinta suami-isteri yang disampaikan oleh pasangan-pasangan dari segala usia. “Kisah-kisah mereka,” kata Paus, “mengingatkan kita bahwa cinta suami-isteri adalah karunia khusus dari Tuhan, yang dibina setiap hari dalam ‘gereja domestik’ yakni keluarga.”

Paus juga berbicara menentang “budaya sementara” saat ini. Seraya menekankan nilai komunikasi antara anggota-anggota keluarga dari generasi-generasi yang berbeda, Paus Fransiskus menyesalkan bahwa dalam budaya “membuang,” kakek nenek sering “dikesampingkan.”

Paus menegaskan bahwa “kakek-nenek adalah kebijaksanaan, memori manusia, memori keluarga.” Dan, Paus mendorong kakek-nenek untuk mewariskan iman dan pengalaman mereka kepada cucu-cucu mereka; pada gilirannya cucu-cucu berbicara dengan kakek-nenek mereka “untuk meneruskan kisah mereka.”

Namun, di samping sukacita besar perjalanan itu, Paus Fransiskus mengakui “sedih dan pahit atas penderitaan yang disebabkan [di Irlandia] karena berbagai macam pelanggaran, bahkan di pihak anggota-anggota Gereja,” dan atas fakta “bahwa otoritas gerejawi di masa lalu tidak selalu tahu bagaimana menghadapi kejahatan-kejahatan ini dengan cara yang memadai.”

Paus mengatakan bahwa dia mendorong para uskup Irlandia “dalam upaya mereka untuk memperbaiki kegagalan-kegagalan masa lalu dengan kejujuran dan keberanian, seraya mempercayai janji-janji Tuhan dan mengandalkan iman yang mendalam dari bangsa Irlandia, guna memulai masa pembaharuan dalam Gereja di Irlandia.”

Menyimpulkan pengalaman perjalanannya, Paus Fransiskus mengatakan “Pertemuan Keluarga se-Dunia di Dublin adalah pengalaman kenabian dan menghibur dari begitu banyak keluarga yang berkomitmen dalam langkah injili perkawinan dan kehidupan keluarga; keluarga-keluarga murid-murid dan para misionaris, ragi kebaikan, ragi kesucian, ragi keadilan, dan ragi perdamaian.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Dua pastor memberi pelajaran tentang air dalam kegiatan lintas agama “Banyuning Srawung”

Rab, 29/08/2018 - 18:37

Seorang tokoh agama memberikan kendi kepada tiga orang muda dan terdengarlah doa-doa dari berbagai tokoh agama. Beberapa saat kemudian, peserta acara Banyuning Srawung (air persaudaraan) berjalan beramai-ramai menuju Sendang Wonosari yang tak jauh dari Balai Budaya Rejosari di Kudus yang merupakan pusat kegiatan hari itu untuk mengambil air (ngangsu banyu).

Selain tiga orang muda itu, nampak juga para postulan Misionaris Keluarga Kudus (MSF) membawa kendi berukuran lebih kecil dan berjalan dengan berapa komunitas lintas agama yang menampilkan atraksi kesenian masing-masing komunitas. Sementara itu, beberapa orang menyanyikan mantraman lagu-lagu Jawa sepanjang perjalanan hingga Sendang Wonosari.

Di Sendang Wonosari itu, 18 Agustus 2018, berlangsung upacara pengambilan air. Para postulan menari dengan gerakan mirip gelombang air, lalu mengambil air dari sumber air dan memasukkannya  ke dalam tiga kendi dan satu gentong besar yang telah disiapkan.

“Air memiliki banyak lambang yang menjelaskan relasi kita untuk bersaudara. Air merupakan lambang belas kasih. Air tidak pernah menolak ketika diminta oleh pohon, diminta oleh hewan, diminta oleh manusia,” kata Ketua Tim Pengelola Rumah Khalwat dan Balai Budaya Rejosari Pastor Lucas Heri Purnawan MSF dalam orarinya di Balai Budaya Rejosari setelah semua kembali dari Sendang Wonosari membawa air yang diambil di sana.

Air juga merupakan lambang kekuatan yang tak pernah bisa dipotong-potong. “Teman-teman tidak akan bisa memotong air dengan alat apa pun juga. Tetapi batu justru bisa pecah dengan palu,” kata imam itu. Melihat kekuatan air itulah, maka Pastor Heri menekankan bahwa air merupakan “lambang kedekatan, keuletan, dan kerekatan” yang membuat banyak orang mau berkumpul di tempat itu.

Selain menyampaikan filosofi Jawa “dadiya banyu, aja dadi watu!” (jadilah air, jangan jadi batu), yang mengajak manusia untuk bisa menyesuaikan diri di tempat mereka berada, Pastor Heri juga mengingatkan supaya air tidak dibuat keruh, “Aja ngubak-ubak banyu bening!” atau tetap menjaga kehidupan sosial.

Selain lambang bersaudara dan kegembiraan, Pastor Heri menekankan bahwa air adalah lambang kerendahan hati. “Srawung ini perlu ndlosor (merendah), seperti air yang selalu merendah, tidak mengagungkan siapa aku,” kata Pastor Heri seraya menambahkan bahwa air juga membuat kesejukan dan suasana hati yang adem. Maka, imam itu mengajak teman-teman muda dari berbagai agama dan kepercayaan yang hadir untuk bersama-sama dengan air itu mengambil makna srawung.

Sementara itu, dalam orasinya Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengajak para peserta bertindak seperti air, laku ambeging tirta. “Ketika kita bisa bertindak laksana air, maka hidup kita akan diwarnai, dimaknai dengan kemerdekaan, akan ditandai dengan kemerdekaan, akan ditandai dengan kerukunan dan persaudaraan,” kata imam itu.

Dalam berbagai agama, lanjut imam itu, air sangat disucikan. “Sahabat-sahabat, saudari-saudara kita beragama Islam akan menyucikan diri dengan wudhu sebelum berdoa. Umat Katolik masuk gereja ambil air bikin tanda salib,” tegas Pastor Budi yang juga melihat air menyembuhkan dan menyegarkan dan membersihkan. “Air membersihkan tubuh dan badan kita di saat kotor,” katanya.

Menurut Pastor Budi, laku ambeging tirta mengajak ratusan anak-anak, remaja, kaum muda dan orangtua yang hadir untuk berperilaku dengan perasaan air yang lembut dan penuh dengan belas kasih.

Di Balai Budaya Rejosari, air yang dibawa dari Sendang Wonosari dimasukkan dalam gentong air yang besar. Meskipun air melimpah di sekitar kita, pesan Pastor Budi, air mesti dilestarikan tanpa harus menunggu langka atau tak mampu dijangkau. “Air haruslah dihargai setiap tetesnya. Air mesti dijaga demi menjaga kehidupan itu sendiri,” kata imam itu.

Para tokoh lintas agama kemudian menyiramkan sebagian air pada tangan-tangan kaum muda, “karena tangan yang menjadi simbol dan sarana utama manusia untuk srawung, bebrayan dengan yang lainnya, harus senantiasa dicuci dan bersih.”

Tawur banyuning srawung yang ditandai dengan saling melemparkan air mengakhiri acara yang dimulai dengan upacara bendera itu. Dan  terdengarlah tawa gembira satu dengan yang lainnya meski pakaian mereka menjadi basah. “Ini lambang bahwa hidup senantiasa melempar dan membagikan kebajikan kepada yang lain dengan sukacita,” jelas Pastor Budi.

Ketika malam tiba, kaum muda dari berbagai agama datang kembali menggelar acara srawung lintas agama penuh keakraban dengan drama, nyanyian, tarian dan teater.

Monika Yunia dan Vani Octaviana pun terkesan dengan acara yang membuat mereka bisa bertemu banyak teman dari berbagai agama. “Walaupun berbeda-beda agama kita, suku kita, tradisi kita, tapi di sini kita dipertemukan untuk menjalin persaudaraan sejati,” kata Monika seraya berharap perbedaan bisa membuat kaum muda bersatu dan rukun. “Kegiatannya sangat seru,” kata Vani seraya berharap rasa hormat menghormati antarkaum muda dari berbagai latar belakang semakin kuat.(Lukas Awi Tristanto)

Terdiri dari apa saja dimensi sosial manusia?

Rab, 29/08/2018 - 16:01

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

401. Terdiri dari apa saja dimensi sosial manusia?

Bersamaan dengan panggilan pribadi kepada kebahagiaan, manusia mempunyai dimensi sosial sebagai unsur esensial kodrat dan panggilannya. Semua dipanggil ke arah tujuan yang sama, yaitu Allah. Ada kesamaan tertentu antara persatuan Pribadi Ilahi dan persaudaraan yang dibangun manusia di antara mereka dalam kebenaran dan cinta. Cinta kepada sesama tidak terpisahkan dengan cinta kepada Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1877-1880, 1890-1891

402. Apa hubungan antara pribadi dan masyarakat?

Pribadi manusia harus menjadi prinsip, subjek dan tujuan dari semua institusi sosial. Masyarakat tertentu, seperti keluarga dan komunitas sipil, perlu bagi pribadi manusia. Beberapa asosiasi lainnya, baik pada level nasional maupun internasional, juga bisa membantu, tetapi perlu menghormati prinsip subsidiaritas.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1881-1882, 1892-1893

Tema BKSN 2018 sesuai situasi Gereja Indonesia yang hidup dalam kemajemukan

Rab, 29/08/2018 - 15:30

Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2018 yang akan dirayakan selama September 2018 mengambil tema “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan.” Sesuai buku dari Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dengan judul tema itu yang diterima PEN@ Katolik, tema itu merupakan bagian dari sebuah tema besar selama empat tahun (2017-2020) yakni “Mewartakan Injil di tengah Arus Zaman.”

“Mewartakan Injil” menjadi fokus utama, sementara untuk tahun 2018, kekhasannya terletak pada kata “kemajemukan,” tulis edaran LBI itu. Dengan demikian, lanjutnya, “tema BKSN 2018 ini sungguh sesuai dengan situasi Gereja Indonesia yang di satu pihak, tetap dipanggil dan didorong untuk mewartakan Kabar Sukacita; tetapi di lain pihak, hidup dalam kemajemukan, sebuah situasi yang menuntut perhatian khusus.”

Selanjutnya, sesuai arahan Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) berkaitan dengan triple dialogue yang mesti mengiringi perutusan pewartaan Kabar Sukacita, dalam BKSN tahun ini umat Katolik di Indonesia “akan merenungkan panggilan mewartakan Injil dengan memperhatikan triple dialogue yakni, pertama, dialog dalam kemajemukan kaya-miskin, kedua, dialog dalam kemajemukan budaya, dan ketiga, dialog dalam kemajemukan agama.”

Untuk yang keempat, umat diajak menyadari bahwa kekristenan sendiri merupakan sesuatu yang majemuk. “Jika Anda sempat sampai ke Gereja Makam Suci di Yerusalem, di sanalah Anda akan melihat sesuatu yang sangat ironis. Justru di tempat di mana Yesus pernah dimakamkan, di sana terlihat perpecahan para pengikut-Nya,” tulis LBI seraya mengajak umat merenungkan bersama kemajemukan yang de facto terdapat dalam Tubuh Kristus atau Gereja sendiri pada minggu IV BKSN.

Untuk pendalaman Kitab Suci di masing-masing minggu, LBI menawarkan beberapa teks yakni Minggu I: dialog dengan kemiskinan Mat. 14:13-21, Minggu II: dialog dengan budaya Mat. 1:18-25, Minggu III: dialog dengan agama lain Mrk. 9:38-41, dan Minggu IV: dialog dengan Gereja lain Yoh. 17:20-23.

Harus diakui, teks-teks itu tidak langsung jelas berkaitan dengan tema yang direnungkan, “karena tema-tema yang dibicarakan masing-masing pertemuan sebenarnya merupakan refleksi kemudian yang dihasilkan dalam perjalanan Gereja atau boleh dikatakan tema-tema itu adalah tema-tema modern, kecuali misalnya tema kemiskinan. Dialog dengan kebudayaan atau dengan agama lain, bukanlah keprihatinan utama Gereja Awal. Tidak mengherankan kalau untuk tema-tema tersebut sulit atau tidak bisa ditemukan teks-teks alkitabiah yang langsung berkaitan dengan tema,” jelasnya.

Dalam pertemuan nasional 18-22 Juli 2016 di Sawangan, Bogor, LBI sepakat mengusung sebuah tema besar “Mewartakan Injil di tengah Arus Zaman” sebagai arahan selama empat tahun ke depan. Tema itu kemudian dijabarkan dalam empat tema yang lebih spesifik yang akan direnungkan terutama dalam BKSN selama empat tahun. Keempat tema itu adalah “Mewartakan Kabar Gembira dalam Gaya Hidup Modern” (2017), “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan” (2018), “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Lingkungan Hidup” (2019) dan “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Iman dan Identitas Diri” (2020).(PEN@ Katolik/paul c pati)

Presiden Konferensi Waligereja Amerika Serikat: Kami akan melakukan yang lebih baik

Sel, 28/08/2018 - 21:49
Ketua Konferensi Waligereja Amerika Serikat Kardinal Daniel DiNardo yang juga , Uskup Agung Galveston-Houston (©CATHOLICPRESSPHOTO)

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin, 27 Agustus 2018, Ketua Konferensi Waligereja Amerika Serikat Kardinal Daniel DiNardo berjanji untuk menerima tantangan Paus Fransiskus “untuk tegas dan menentukan dalam mengejar kebenaran dan keadilan.”

Dalam pernyataannya, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, kardinal itu memperbarui komitmen para uskup AS untuk menyelidiki persoalan-persoalan seputar Uskup Agung Theodore McCarrick, yang didisiplinkan oleh Paus Fransiskus setelah ditemukan bahwa tuduhan Mgr McCarrick telah melecehkan anak di bawah umur “dapat dipercaya” dan “terbukti.” Tak lama kemudian Bapa Suci menerima pengunduran diri McCarrick dari jabatannya sebagai kardinal.

Kardinal DiNardo juga memberikan referensi untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh surat dari mantan Duta Vatikan untuk Amerika Serikat Uskup Agung Carlo Maria Viganò. “Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan layak mendapat jawaban yang konklusif dan berdasarkan bukti,” tulisnya.

Dalam pernyataannya, Kardinal DiNardo mengatakan dia telah meminta Audiensi dengan Paus Fransiskus “untuk mendapatkan dukungannya bagi rencana aksi [konferensi waligereja itu].” Kardinal itu mengatakan, “Saya yakin Paus Fransiskus juga memiliki keinginan yang sama dengan kami untuk adanya keefektifan dan transparansi lebih besar dalam hal mendisiplinkan para uskup.” Kardinal DiNardo menambahkan, “Kami memperbarui kasih persaudaraan kami kepada Bapa Suci di masa-masa sulit ini.”

Pernyataan itu diakhiri dengan kata-kata Kardinal DiNardo kepada para penyintas dari pelecehan seksual, dan kepada keluarga-keluarga yang kehilangan orang yang dicintai karena pelanggaran atau pelecehan. “Aku minta maaf,” kata kardinal. “Kalian tidak lagi sendirian.”

Setelah mengingat langkah-langkah yang telah diambil para uskup untuk menangani kasus pelecehan di Gereja, Kardinal DiNardo dengan terus terang mengakui, “Dengan cara lain, kami telah membiarkan kalian.” Tapi, dia berkata, “Kami akan melakukan yang lebih baik.” (pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Kardinal McCarrick

Paus Fransiskus tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus terus mencari kebenaran

Surat Bapa Suci Fransiskus kepada umat Allah

 

Apakah kita ikut bertanggung jawab terhadap dosa yang dilakukan oleh orang lain?

Sel, 28/08/2018 - 21:10

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

399. Apakah kita ikut bertanggung jawab terhadap dosa yang dilakukan oleh orang lain?

Kita mempunyai tanggung jawab jika dengan sadar kita bekerja sama dengan mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1868

400. Apa itu struktur dosa?

Struktur dosa adalah situasi atau institusi sosial yang bertentangan dengan hukum ilahi. Struktur dosa ini merupakan ungkapan dan akibat dari dosa-dosa pribadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1869

EKM di Paroki Tebet Jakarta: OMK yang memilih jalan gelap diminta ‘Back to Jesus’

Sel, 28/08/2018 - 18:19
EKM Paroki Tebet Jakarta. Dari kiri ke kanan: Pastor Damian Doraman OFMCap, Pastor Nobertus Desiderius OFMCap dan Pastor Yosua Sitinjak OFMCap

Dua orang muda yang mabuk sambil merokok nampak di sebuah keramaian penuh lengkingan musik diikuti beberapa orang muda lain yang menjadikan minum dan mabuk-mabukan sebagai kebiasaan seharian.

Namun tiba-tiba, seorang di antaranya sadar bahwa dia sedang berada di jalan gelap, jalan yang tidak diinginkan orang-orang yang percaya kepada Yesus. Yesus nampak di depan mereka, dan dia pun berlari mendekati Yesus, yang kemudian memeluknya dengan penuh kasih sebagai tanda menerima penyesalannya dan menerimanya kembali. Pemuda yang suka mabuk itu bertobat.

Itu sebuah cuplikan adegan dalam Ekaristi Kaum Muda (EKM) yang dipimpin Moderator OMK Paroki Fransiskus Asisi, Tebet, Jakarta Selatan Pastor Nobertus Desiderius OFMCap di Gereja Paroki Tebet 26 Agustus 2018, yang dihadiri sekitar 150 OMK paroki itu.

Dalam homilinya, pastor rekan di Paroki Tebet itu melihat adegan pertobatan anak muda yang sebelumnya jauh dari Tuhan itu sebagai wajah Gereja kaum muda saat ini. “Fragmen ini bisa juga dialami OMK saat ini dan tak jarang pula mereka tetap berada di jalan yang gelap. Yang memprihatinkan bahwa dalam peristiwa itu terlihat ada orang yang menjadi lebih percaya kepada Allah lain daripada Allah yang sesungguhnya,” kata imam itu.

Oleh karena itu, Pastor Nobertus mengajak OMK Paroki Santo Fransiskus Asisi Tebet untuk melepaskan kelamnya kehidupan dan berpegang teguh kepada imannya kepada Yesus bukan percaya hal-hal yang lain. ”Jika hidup kaum muda banyak yang lebih memilih jalan gelap, saya mengajak supaya ‘back to Jesus,” kata imam itu.

Diingatkan, OMK adalah asset atau kekuatan Gereja jaman ini, maka OMK diharapkan menjadi militan, “orang yang bisa membela bangsa, negara dan Gereja.” Wadah OMK, lanjut imam itu, penting “sebagai sarana pembentukan karakter yang baik bagi calon pemimpin bangsa.”

Selain Ekaristi, seluruh anggota OMK Santo Fransiskus Asisi Tebet mengikuti Talk Show dengan narasumber Maria Harfanti yang meraih gelar Miss World 2015 runner-up 2) dan Miss Indonesia 2015 (pemenang). Maria mengajak 150 OMK itu untuk membina diri menjadi pribadi yang selalu percaya diri dan percaya kepada Tuhan Yesus.

“Sebagai bagian masyarakat, kita semua hendaknya ikut mewujudkan harapan bersama dalam mencapai cita-cita bangsa,” kata Maria seraya berharap OMK paroki itu menjadi OMK tangguh yang memberi kontribusi bagi negara.

Umat dari Paroki Galaxy Bekasi itu mengatakan bahwa pencapaian sampai ke Miss World dan Miss Indonesia tidak lepas dari penyertaan Tuhan. “Saya berusaha melakukan yang terbaik walaupun saat itu banyak yang mencibir penampilan saya,” kata Maria seraya mendorong OMK agar tidak melupakan Tuhan yang pasti memberikan perlindungan.

Kepala Paroki Sato Fransiskus Asisi Tebet Pastor Damian Doraman OFMCap menilai kegiatan EKM itu menarik. “Selama ini paroki ini sering dijuluki paroki lanjut usia karena didominasi para sesepuh, meski OMK juga masih berperan dalam setiap pelayanan Gereja. Pastor Damian dan Pastor Yosua Boston Sitinjak OFMCap (pastor tamu) menjadi konselebran EKM yang dipimpin oleh Pastor Nobertus itu.

EKM dilengkapi dengan makan bersama, hiburan dan foto bersama di halaman depan Gereja Santo Fransiskus Asisi. (Konradus R. Mangu)

Paus bertemu para uskup Irlandia: Cermatilah langkah-langkah baru untuk saat-saat baru ini

Sen, 27/08/2018 - 23:59

Sebelum terbang kembali ke Roma dari Pertemuan Keluarga se-Dunia di Dublin, Irlandia, Paus Fransiskus bertemu para anggota Konferensi Waligereja Irlandia di Biara Para Suster Dominikan dan mendesak para uskup untuk “mencermati dan menetapkan langkah-langkah baru untuk zaman baru ini” dalam kepedulian Gereja terhadap orang miskin, korban pelanggaran dan dalam meneruskan iman.

Melalui kata-kata perpisahannya, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News, Paus mendorong para uskup dalam upaya mereka, di masa yang penuh tantangan ini, untuk bertekun dalam pelayanan mereka sebagai pewarta Injil dan gembala kawanan domba Kristus.

Paus berterima kasih atas kepedulian mereka terhadap orang miskin, orang yang dikecualikan dan yang miskin seperti terlihat dalam surat pastoral mereka baru-baru ini tentang tunawisma dan tentang pelecehan. Paus juga berterima kasih kepada mereka karena dukungan, yang mereka berikan kepada para imam mereka yang terluka dan putus asa menghadapi skandal terbaru, sering diabaikan atau diremehkan.

Bapa Suci kemudian memusatkan perhatiannya pada “kebutuhan Gereja untuk mengakui dan memperbaiki, dengan kejujuran dan keberanian evangelis, kegagalan-kegagalan masa lalu berkenaan dengan perlindungan anak-anak dan orang dewasa yang rentan.”

Paus melihat para uskup telah “dengan tegas bergerak maju, bukan hanya dengan melakukan langkah pemurnian dan rekonsiliasi dengan para korban pelanggaran dan pelecehan, tetapi juga, dengan bantuan Dewan Nasional untuk Perlindungan Anak-anak dalam Gereja di Irlandia, dengan membentuk seperangkat norma yang bertujuan memastikan keselamatan orang-orang muda.”

Dalam tahun-tahun ini, kata Paus, “mata kita semua terbuka melihat gawatnya dan luasnya pelecehan seksual dalam berbagai latar sosial.” Di Irlandia, seperti di tempat lain, lanjut Paus, “kejujuran dan integritas yang dipilih Gereja untuk menghadapi bab menyakitkan dalam sejarahnya dapat memberikan contoh dan peringatan kepada masyarakat secara keseluruhan.”

Paus Fransiskus kemudian berbicara tentang pentingnya menularkan  iman dalam integritas dan keindahannya ke dalam konteks masyarakat Irlandia yang berkembang pesat. Paus mengatakan, Pertemuan Keluarga se-Dunia telah memberikan harapan dan dorongan besar agar keluarga-keluarga bertumbuh dan semakin menyadari peran mereka yang tak tergantikan dalam mewariskan iman.

Sekolah-sekolah Katolik dan program-program pengajaran agama juga memainkan peran yang sangat penting dalam menciptakan budaya iman dan rasa pemuridan misionaris. Pembinaan  religius yang sejati, ungkap Bapa Suci, membutuhkan para guru yang penuh sukacita yang dapat membentuk bukan hanya pikiran tetapi juga hati dalam mencintai Kristus dan dalam melaksanakan doa.

Paus memuji iman yang kuat dari orang Irlandia dalam mengatasi pergolakan tahun-tahun belakangan ini dan memberikan kesempatan untuk pembaruan interior Gereja. Sebagai kesimpulan, Bapa Suci berharap agar para uskup, dengan kerendahan hati dan kepercayaan pada rahmat Tuhan, dapat “mencermati dan menetapkan langkah-langkah baru untuk saat-saat yang baru ini.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Satu buah Pertemuan Keluarga se-Dunia adalah menjadi sumber dorongan bagi orang lain

Dalam Misa Penutupan Pertemuan Keluarga se-Dunia Paus meminta maaf atas litani pelanggaran

Paus Fransiskus bertemu orang-orang yang selamat dari pelecehan di Irlandia

Paus serukan tercipta keluarga bangsa-bangsa sedunia yang bersatu dan solider dengan yang lemah

Paus bertemu dengan pasangan-pasangan yang bertunangan dan baru menikah

350 pasangan menunggu kunjungan Paus Fransiskus ke Pro-Katedral Santa Maria

Paus akan ke Irlandia yang diguncang pelecehan seksual untuk Pertemuan Keluarga se-Dunia

Satu buah Pertemuan Keluarga se-Dunia adalah menjadi sumber dorongan bagi orang lain

Sen, 27/08/2018 - 21:46
Paus Fransiskus dalam Misa di Phoenix Park, Dublin (AFP)

Paus Fransiskus menegaskan dalam homili Misa Penutupan Pertemuan Keluarga se-Dunia di Phoenix Park, Dublin, Irlandia, 26 Agustus 2018, bahwa dalam dunia modern diperlukan dorongan semangat, dan “salah satu buah” pertemuan itu bagi para peserta adalah kembali ke rumah masing-masing “dan menjadi pemberi semangat bagi orang lain.”

Selain itu, Paus meminta keluarga-keluarga dari seluruh keuskupan di Irlandia dan dari seluruh penjuru dunia untuk memberi kesaksian tentang cinta pengorbanan Yesus. “Cinta itu sendiri dapat menyelamatkan dunia kita dari belenggu dosa, keegoisan, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap orang yang kurang beruntung,” kata Paus seraya menegaskan bahwa “itulah cinta yang kita tahu di dalam Kristus Yesus.”

Namun, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, Paus juga mengakui bahwa “tugas memberi kesaksian tentang Kabar Gembira tidaklah mudah. Seraya mengenang para misionaris besar Irlandia seperti Santo Columbanus, Paus mengatakan, “Keberhasilan misionaris mereka yang luar biasa itu tidak didasarkan pada metode taktis atau rencana strategis, tetapi pada kepatuhan yang rendah hati dan membebaskan terhadap bisikan Roh Kudus.”

Paus mengatakan, “melalui Sakramen Pembaptisan dan Sakramen Penguatan, setiap orang Katolik diutus untuk menjadi misionaris, ‘seorang murid misionaris’.” Faktanya, “Gereja secara keseluruhan dipanggil untuk “pergi” membawa sabda hidup kekal untuk semua orang yang terpinggirkan di dunia kita.”

Paus mengakhiri homili dengan tantangan menggetarkan bagi seluruh Gereja, “orangtua dan kakek-nenek, anak-anak dan kaum muda, pria dan wanita, kaum religius, para kontemplatif dan misionaris, diakon dan imam” untuk “membagikan Injil keluarga sebagai sukacita bagi dunia!”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Dalam Misa Penutupan Pertemuan Keluarga se-Dunia Paus meminta maaf atas litani pelanggaran

Paus Fransiskus bertemu orang-orang yang selamat dari pelecehan di Irlandia

Paus serukan tercipta keluarga bangsa-bangsa sedunia yang bersatu dan solider dengan yang lemah

Paus bertemu dengan pasangan-pasangan yang bertunangan dan baru menikah

350 pasangan menunggu kunjungan Paus Fransiskus ke Pro-Katedral Santa Maria

Paus akan ke Irlandia yang diguncang pelecehan seksual untuk Pertemuan Keluarga se-Dunia

Apa itu kebiasaan buruk?

Sen, 27/08/2018 - 20:12
“Tujuh Dosa Mematikan dan Empat Hal Terakhir” karya Hieronymus Bosch

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

397. Bagaimana dosa berkembang?

Dosa menciptakan kecenderungan ke arah kebiasaan untuk berdosa: lewat pengulangan tindakan yang sama, dosa melahirkan kebiasaan buruk.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1865-1876

398. Apa itu kebiasaan buruk?

Kebiasaan buruk merupakan lawan dari keutamaan. Kebiasaan buruk adalah kebiasaan yang melenceng dari kebaikan yang mengaburkan suara hati dan membuat seseorang cenderung melakukan hal buruk. Kebiasaan buruk ini dapat dikaitkan dengan yang disebut tujuh dosa pokok, yaitu: kesombongan, iri hati, hawa nafsu, kemarahan, keserakahan, kecemburuan, kemalasan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1866-1867

PMKRI gelar seminar kebangsaan dan deklarasi #Kita_Indonesia di Pekanbaru

Sen, 27/08/2018 - 14:50

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pekanbaru bersama Pengurus Pusat PMKRI yang diwakili Presidium Pendidikan Kaderisasi, Lembaga Ekonomi Kreatif, Lembaga Media dan Publikasi menggelar seminar kebangsaan dan deklarasi #Kita_Indonesia di aula Kesbangpol Kota Pekanbaru, 25 Agustus 2018.

Pembicara seminar dengan moderator Sovia Siagian adalah Harry Rau dari Seksi Kerasulan Awam DPP Santa Maria a Fatima, Kawit sebagai Pembimas Hindu, Haji Alpizar dari MUI Kota Pekanbaru dan Fibrisio H Marbun dari Presidium Pendidikan dan Kaderisasi PP PMKRI.

Sesuai tema seminar “Junjung Keberagaman #Kita_Indonesia,” pemateri berbicara sesuai konteks ke-Indonesia-an, tantangan terhadap ideologi bangsa dan peranserta kaum muda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan saat ini, demikian rilis yang dibagikan kepada PEN@ Katolik.

Maka, ada yang berbicara tentang keberagaman sebagai jiwa masyarakat Indonesia, toleransi dalam hidup bermasyarakat yang majemuk, seminar kebangsaan sebagai sarana memperteguh nilai-nilai kebangsaan, dan wawasan kebangsaan Indonesia sebagai harga mati.

Menurut Fibrisio, kegiatan itu merupakan gerakan moral PMKRI sebagai anak bangsa dalam menjaga dan merawat keberagaman serta membangun solidaritas sesama pemuda dan mahasiswa agar tetap dalam garis perjuangan meneguhkan #Kita_Indonesia.

“Kaum muda harus ambil bagian dalam merawat dan menjaga keutuhan bangsa, menyadari persatuan Indonesia itu diperkuat oleh keberagaman dan perbedaan, dan sepakat perbedaan bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan,” kata Fibrisio dalam seminar yang ditutup dengan pembacaan narasi deklarasi #Kita_Indonesia.(pcp)

Artikel Terkait:

Seminar kebangsaan PMKRI keragaman jadikan Indonesia miliki kekhasan di mata dunia

PMKRI menghimbau seluruh kadernya untuk mengawal jalannya Pilkada

Ketua baru PMKRI akan teladani semangat intelektualitas dan kerendahan hati St Thomas Aquinas

 

Dalam Misa penutupan Pertemuan Keluarga se-Dunia Paus meminta maaf atas litani pelanggaran

Min, 26/08/2018 - 23:50
Paus merayakan Misa di Phoenix Park, Dublin (ANSA)

Tanpa diduga, dalam Misa Penutupan Pertemuan Keluarga se-Dunia di Taman Phoenix Dublin, Paus Fransiskus meminta maaf atas litani pelanggaran yang dilakukan Gereja terhadap pria, wanita, dan anak-anak di Irlandia.

Vatican News menggambarkan langkah itu belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak terduga. Itu terjadi dalam Ritus Tobat dalam Misa saat selebran dan umat beriman mengakui dosa-dosa mereka, bertobat, dan meminta belas kasihan dan pengampunan.

Paus Fransiskus, yang berbicara dalam bahasa Spanyol, meminta maaf atas daftar pelanggaran atau pelecehan yang dilakukan Gereja di Irlandia. Dia mulai dengan merujuk pertemuan Sabtu malam dengan delapan orang yang selamat dari pelanggaran dan, berdasarkan apa yang mereka katakan kepadanya, Paus mengatakan dia ingin “menempatkan kejahatan-kejahatan ini di hadapan belas kasihan Tuhan, dan meminta maaf atas kejahatan-kejahatan itu.”

Doa Paus itu diterjemahkan secara bersamaan oleh penerjemahnya, Mgr Mark Miles.

Di bawah ini, silakan membaca transkrip terjemahan itu:

“Kemarin, saya bertemu delapan orang selamat yang telah menderita penyalahgunaan kekuasaan, suara hati, dan juga pelecehan seksual. Dari apa yang mereka katakan kepada saya, saya ingin menempatkan kejahatan-kejahatan ini di hadapan belas kasihan Tuhan, dan meminta pengampunan atasnya.

Kami meminta maaf atas pelanggaran-pelanggaran di Irlandia, penyalahgunaan kekuasaan, hati nurani, dan pelecehan seksual yang dilakukan anggota yang memiliki peran-peran tanggung jawab di dalam Gereja. Secara khusus, kami meminta maaf atas semua pelanggaran yang dilakukan dalam berbagai jenis institusi yang dijalankan oleh kaum religius pria dan wanita dan oleh anggota-anggota Gereja lainnya, dan kami meminta maaf atas kasus-kasus eksploitasi melalui pekerjaan manual tempat bergantung begitu banyak wanita dan pria. Kami meminta maaf.

Kami meminta maaf karena di saat-saat tertentu kami sebagai Gereja tidak menunjukkan kepada orang-orang yang selamat dari pelanggaran apa pun, belas kasihan, dan pencarian keadilan serta kebenaran melalui tindakan nyata. Kami meminta maaf.

Kami meminta maaf untuk beberapa anggota hirarki Gereja yang tidak bertanggung jawab atas situasi yang menyakitkan ini dan tetap diam. Kami meminta maaf.

Kami meminta maaf untuk semua saat ketika kepada banyak ibu singel diberitahu bahwa mencari anak-anak mereka yang telah dipisahkan dari mereka, dan hal yang sama dikatakan kepada anak perempuan dan anak lelaki mereka sendiri, bahwa ini adalah dosa berat. Ini bukan dosa berat. Kami meminta maaf.

Tuhan, pertahankan dan tingkatkan keadaan malu ini, dan berikan kami kekuatan untuk bekerja demi keadilan. Amin.(paul c pati)

Paus Fransiskus bertemu orang-orang yang selamat dari pelecehan di Irlandia

Min, 26/08/2018 - 23:02
Paus Fransiskus berdoa hening di hadapan Sakramen Mahakudus di Pro-Katedral Dublin mana lilin dinyalakan sejak tahun 2010 untuk mengenang semua korban kekerasan dan pelecehan yang dilakukan lembaga dan klerus dalam Gereja. Dari gereja itu Paus pergi menemui delapan orang yang selamat dari pelecehan. Vatican Media

Kantor Pers Vatikan membenarkan bahwa dalam kunjungannya ke Irlandia Paus bertemu dengan delapan orang Irlandia yang selamat dari pelecehan yang dilakukan klerus (pelayan Tuhan, yang diberi mandat berupa tahbisan. Red.), kaum religius dan institusi. Pertemuan itu, menurut Vatican News berlangsung Sabtu malam 25 Agustus 2018 selama sekitar 90 menit. Para peserta menggambarkan pertemuan itu “ramah dan sopan.”

Menurut pernyataan singkat yang dikeluarkan oleh Kantor Pers Vatikan, kedelapan orang selamat yang bertemu Paus Fransiskus adalah Ny Marie Collins, Pastor Patrick McCafferty, Pastor Joe McDonald, Anggota Dewan Kota Dublin Damian O’Farrell, Paul Redmond, Clodagh Malone, Bernadette Fahy, dan korban selamat lain yang memilih tetap anonim.

Segera setelah pertemuan itu, dua dari mereka merilis pernyataan yang mengatakan bahwa Paus Fransiskus “mencela pelanggaran dan menutupi dalam Gereja.” Paus menggambarkannya sebagai “caca,” istilah sehari-hari dalam bahasa Spanyol yang secara harfiah berarti “kotoran” atau “tahi.”

Dua orang yang selamat, Clodagh Malone dan Paul Redmond, masih bayi ketika mereka dipaksa berpisah dari ibu-ibu mereka yang tinggal di lembaga-lembaga yang dikelola Gereja dan dikenal sebagai “Rumah Ibu dan Bayi” saat itu. Mereka mengatakan bahwa mereka minta kepada Paus untuk secara terbuka menyerukan “rekonsiliasi dan reuni keluarga-keluarga ini.”

Dalam pidato pertamanya di Irlandia di Sabtu pagi, untuk otoritas politik dan sipil, Paus Fransiskus mengakui “skandal besar di Irlandia yang disebabkan oleh pelecehan anak muda oleh anggota-anggota Gereja.” Paus selanjutnya mengakui “kegagalan otoritas gerejawi dalam mengatasi kejahatan-kejahatan menjijikkan ini.”

Sekali lagi pada hari Minggu, dalam kunjungannya ke Tempat Ziarah Maria di Knock, Paus meminta pengampunan atas kejahatan pelecehan seksual yang dilakukan klerus. Dalam referensi yang jelas untuk pertemuannya dengan orang-orang yang selamat di malam sebelumnya, Paus mengatakan tidak ada orang yang tidak terharu dengan cerita-cerita orang-orang yang “menderita pelecehan, yang kemurniannya dirampok, dan yang terus membawa bekas luka karena kenangan menyakitkan.”(paul c pati)

Bilamana orang melakukan dosa berat?

Min, 26/08/2018 - 22:03

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

395. Bilamana orang melakukan dosa berat?

Seseorang melakukan dosa berat bilamana secara serentak terdapat unsur-unsur: hal berat, pengetahuan penuh, dan persetujuan bebas. Dosa ini merusak cinta kasih dalam diri kita, kita kehilangan rahmat pengudusan, dan jika tidak menyesal akan membawa kita kepada kematian abadi neraka. Dosa ini dapat diampuni dengan cara biasa melalui Sakramen Pembaptisan dan Tobat atau Rekonsiliasi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1855-1861, 1874

396. Kapan seseorang melakukan dosa ringan?

Seseorang melakukan dosa ringan yang berbeda secara esensial dengan dosa berat jika berkenaan dengan hal yang kurang serius, atau jika menyangkut hal besar, di dalamnya tidak terdapat pengetahuan yang penuh dan persetujuan yang lengkap. Dosa ringan tidak merusak perjanjian dengan Allah, tetapi melemahkan cinta kasih dan memunculkan afeksi yang tidak teratur terhadap barang-barang ciptaan. Dosa ini menghalangi kemajuan jiwa dalam melaksanakan keutamaan dan dalam mempraktekkan kebaikan moral. Dosa ini patut mendapatkan ganjaran hukuman sementara yang memurnikan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1862-1864, 1875

Paus serukan tercipta keluarga bangsa-bangsa sedunia yang bersatu dan solider dengan yang lemah

Min, 26/08/2018 - 05:13
Vatican Media

Paus Fransiskus pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menciptakan keluarga bangsa-bangsa dan masyarakat sedunia yang memiliki rasa persatuan dan solidaritas, terutama dengan yang paling lemah dari saudara-saudara kita. Seraya menyerukan perlindungan terhadap orang-orang yang rentan, Paus juga mengecam “skandal besar” pelecehan seksual klerus terhadap kaum muda oleh anggota-anggota Gereja di Irlandia sebagai “kejahatan-kejahatan yang menjijikkan.”

Seruan Paus itu terungkap dalam sambutan kepada kepada otoritas Irlandia, masyarakat sipil dan korps diplomatik di Istana Dublin, sebagai bagian dari kunjungan dua hari Paus ke Dublin, Sabtu dan Minggu, 25-26 Agustus 2018, pada kesempatan Pertemuan Keluarga se-Dunia yang berlangsung di Ibukota Irlandia, 21-26 Agustus 2018, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

“Keluarga-keluarga,” kata Paus, “adalah perekat masyarakat; kesejahteraan mereka tidak bisa diterima begitu saja, tetapi harus ditingkatkan dan dilindungi dengan semua cara yang tepat.”

Melihat bahwa “kebencian rasial dan etnis, konflik keras dan kekerasan, penghinaan terhadap martabat manusia dan terhadap hak asasi manusia yang mendasar, serta semakin besarnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin,” bertentangan dengan arti seluruh dunia sebagai satu keluarga, Paus mendesak agar kita tidak pernah kehilangan harapan atau keberanian untuk bertahan dalam keharusan moral untuk menjadi pembawa damai dan pelindung satu sama lain.

Paus secara khusus menyatakan puas dengan Perjanjian Jumat Agung yang ditandatangani 20 tahun lalu guna mengakhiri konflik panjang antara umat Protestan dan umat Katolik di Irlandia Utara, dan mengharapkan “kerukunan, rekonsiliasi dan saling percaya di masa depan.”

Bertumbuhnya “budaya membuang” yang materialistik, kata Paus, sebenarnya membuat kita semakin tidak peduli kepada orang miskin dan kepada anggota-anggota keluarga manusia kita yang paling tak berdaya, termasuk yang belum lahir, yang kehilangan hak untuk hidup.” Paus menambahkan, “Mungkin tantangan paling mengganggu dalam hal ini di saat ini adalah krisis pengungsi besar-besaran.” Paus pun menyerukan adanya kebijaksanaan, luasnya visi dan kepedulian kemanusiaan yang jauh melampaui keputusan politik jangka pendek.

Ketika berbicara tentang perlindungan bagi yang rentan, seperti wanita, anak-anak, dan anak-anak yatim piatu, Paus mengakui “skandal besar terjadi di Irlandia karena pelecehan seksual terhadap anak-anak muda yang dilakukan anggota-anggota Gereja yang bertanggung jawab atas perlindungan dan pendidikan mereka.” Paus mengatakan, “kegagalan otoritas gerejawi – para uskup, superior religius, imam, dan lainnya – yang mampu menangani kejahatan-kejahatan menjijikkan ini telah benar-benar menimbulkan kemarahan, dan tetap menjadi sumber rasa sakit dan malu bagi umat Katolik.” Paus minta kepada kepemimpinan Gereja untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mengadopsi norma-norma ketat yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa kejahatan-kejahatan itu tidak terjadi lagi.

Dalam “Surat kepada Umat Allah” baru-baru ini, Paus mengatakan telah menyerukan komitmen yang lebih besar untuk “menghilangkan momok ini di Gereja.”

Namun, Paus Fransiskus mengakui bahwa Gereja di Irlandia, di masa lalu dan sekarang, telah memainkan peran dalam “meningkatkan kesejahteraan anak-anak yang tidak dapat dihalang-halangi.” Paus berharap agar “gravitasi skandal pelecehan, yang telah menyinari kegagalan banyak orang, akan berfungsi untuk menekankan pentingnya perlindungan anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan di bagian masyarakat secara keseluruhan.”

Bapa Suci menyatakan puas dengan hubungan Tahta Suci-Irlandia dan warisan Kristen yang kaya dari bangsa, para pengkhotbah pertama Palladius dan Patrick, orang-orang kudus dan pujangga Gereja seperti Columba, Columbanus, Brigid, Gall, Killian dan Brendan .(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus bertemu dengan pasangan-pasangan yang bertunangan dan baru menikah

350 pasangan menunggu kunjungan Paus Fransiskus ke Pro-Katedral Santa Maria

Paus akan ke Irlandia yang diguncang pelecehan seksual untuk Pertemuan Keluarga se-Dunia

Vatican Media AFP

Paus bertemu dengan pasangan-pasangan yang bertunangan dan baru menikah

Sab, 25/08/2018 - 23:44

Paus Fransiskus sudah tiba di Dublin, Irlandia. Bagian pastoral pertama Perjalanan Apostolik ke-24 Paus Fransiskus terjadi pada Sabtu sore, 25 Agustus 2018, dengan kunjungan ke Pro-Katedral Santa Maria di Dublin di mana Paus bertemu dengan sekitar 400 pasangan yang bertunangan dan baru menikah dari semua 26 keuskupan di Irlandia. Beberapa saat Paus berdoa dalam hening di hadapan Sakramen Mahakudus di mana lilin telah dinyalakan sejak tahun 2010 untuk mengenang semua korban kekerasan dan pelecehan yang dilakukan lembaga dan klerus dalam Gereja. Paus kemudian mendengarkan sambutan dari sepasang suami isteri yang merayakan ulang tahun ke-50 pernikahan mereka 50, dan menerima dua pertanyaan – masing-masing dari pasangan yang sedang bertunangan dan pasangan yang baru menikah. Kemudian Paus menanggapi masing-masing pertanyaan itu dalam sambutannya yang sudah disiapkan namun beberapa kali keluar dari sambutan itu dengan penambahan beberapa saran dan beberapa kisah pribadi.(pcp berdasaran Vatican News)

HUT Gua Maria Kerep Ambarawa jadi saat belajar kesatuan dalam keluarga dan masyarakat

Sab, 25/08/2018 - 23:22

Seraya mendaraskan Doa Rosario diselingi lagu Ave Maria, malam hari itu lebih dari 2000 umat Katolik berjalan sambil memegang lilin, yang apinya berpendar-pendar terkena angin, mengarak patung Maria yang ditandu para calon imam dari pelataran patung Maria Assumpta Ambarawa, melalui taman doa, dan tiba di lokasi Gua Maria Ambarawa.

Di depan gua mereka merayakan Misa HUT Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) 15 Agustus 2018. Di malam hari itu “kita semua bergembira karena Gereja semesta merayakan Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga, dan itu bertepatan dengan HUT ke-64 Gua Maria Kerep Ambarawa. Dalam bahasa Jawa menjadi Tumbuk Agung,” Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengawali homilinya.

Homili Misa bertema “Peran Maria sebagai Pemersatu Para Putra” (Kenya Mariyah Suhing para Putra) dibawakan oleh Mgr Rubi secara interaktif diselingi hal-hal jenaka sehingga umat tertawa. Selain pertanyaan menakutkan, Mgr Rubi bertanya, “Apa yang menggembirakan sesudah umat menikah?” Umat memberi jawaban beragam, di antaranya, “ketika anak-anak lahir.”

Dari pengalaman mendampingi keluarga, Mgr Rubi menemukan, ketika anak-anak sudah besar, banyak keluarga kuatir akan anak-anaknya karena godaan narkoba, pergaulan bebas, dan ketidakrukunan. “Inilah kepedihan luar biasa orang tua, apalagi kalau anak-anaknya berkelahi, saling mendiamkan, dha jothakan, tak mau rukun. Sedih!” kata Mgr Rubi.

Menurut Mgr Rubi, tema Misa itu hendak merenungkan mengenai Bunda Maria sebagai suhing para putra, “mau mengajak kita semua melihat keprihatinan orang tua masing-masing kalau melihat anak-anak pada congkrah (tidak rukun), kalau melihat anak-anak pada konflik, pada berkelahi dan menimbulkan perselisihan.”

Bunda Maria, tegas Mgr Rubi, mempunyai jiwa seorang ibu yang bisa menjadi tali pengikat untuk anak-anaknya, dan itu bisa dirasakan di GMKA, tempat “umat dari berbagai tempat berkenan datang berdoa bersama karena Bunda Maria.”

Mgr Rubi berharap, semangat Bunda Maria yang menyatukan semua anak-anak menjadi inspirasi umat Katolik untuk mewujudkan kesatuan umat Allah. “Bunda Maria adalah Bunda kita sing iso ngesuhi, yang menjadi suh, tali pengikat kita semua. Di balik itu ada harapan agar umat Katolik yang terdiri dari berbagai macam orang, berbagai macam latar belakang keluarga, pendidikan, budaya, apa pun itu bisa mewujudkan kesatuan sebagai umat Allah, orang-orang yang telah ditebus.”

Menurut Mgr Rubi, Bunda Maria akan sedih melihat anak-anaknya konflik tidak bisa bersatu. Maka, “kita semua diajak menjadi pembawa kedamaian, pembawa kerukunan dalam lingkup kehidupan masing-masing, di rumah dengan bojo (pasangan) ya rukun, karo wong tua (dengan orang tua) ya rukun, dengan kakak adik juga rukun. Dengan tetangga juga rukun menaburkan kedamaian, menaburkan keramahtamahan satu sama lain.”

Tentang belajar membangun kesatuan dan kebersamaan, Mgr Rubi mengajak umat belajar dari Bunda Maria ketika mengunjungi sepupunya, Elisabeth. “Salah satu modal utama untuk menjaga kesatuan adalah keberanian menempatkan orang lain pada posisi yang pertama, yang lebih penting daripada saya,” ungkap prelatus itu seraya mengenang Maria yang sedang mengandung rela naik bukit untuk mengunjungi sepupunya Elisabeth yang membutuhkan pertolongan lebih.

“Kalau dalam kehidupan bukan egoisme yang kita tanamkan, sebaliknya kepentingan pihak lain, orang lain kita anggap yang paling utama, yang paling penting, yang mesti kita prioritaskan, maka di situ kerukunan, kesatuan akan terwujud,” kata uskup.

Bunda Maria dan Bunda Elisabeth, adalah dua pribadi yang sungguh saling melengkapi, saling memuji, karena saling menempatkan pihak lain menjadi pribadi yang lebih utama. “Kalau bisa seperti ini, saya yakin konflik, perselisihan tidak akan terjadi, atau bisa kita singkirkan, termasuk dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat,” kata Mgr Rubi yang mengajak umat menyambut tahun demokrasi dengan membawa damai. “Jangan sampai perbedaan pilihan politik menimbulkan perpecahan di antara kita, termasuk ketika mau mendukung calon-calon yang ada di antara kita, jangan sampai menimbulkan perpecahan,” minta uskup.

Menurut ketua tim pengelola GMKA Alamsyah Jaynurdin, selama ini GMKA menjalin tali persaudaraan dalam keberagaman dengan masyarakat sekitar GMKA dan pemerintahan setempat. Jelang perayaan HUT itu, tim itu bersama masyarakat sekitar menggelar kenduri, 14 Agustus 2018. “Kita semua membaur bersama sambil tukar pikiran untuk kerukunan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” katanya. (Lukas Awi Tristanto)

 

 

Halaman