Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 51 mnt yang lalu

Paus Fransiskus pada Pertemuan Pra-Sinode: Orang muda harus serius diperhatikan

Sen, 19/03/2018 - 22:36

Paus Fransiskus membuka pertemuan Pra-Sinode di Roma pada hari Senin, 19 Maret 2018, dengan mengatakan, “Terlalu sering kita berbicara tentang orang muda tanpa bertanya apa pendapat mereka.”

Bahkan, lanjut Paus, ada yang cenderung “mengidolakan” orang muda, dan ada yang lebih memperhatikan kaum muda “dari jarak yang aman”, bukan membiarkan mereka menjadi pelaku utama masa depan mereka sendiri.

Paus lalu mengutip contoh-contoh Tuhan ketika berbicara melalui orang muda di dalam Kita Suci: Samuel, David dan Daniel, misalnya. Paus mengatakan kepada mereka yang hadir bahwa Gereja membutuhkan mereka, “Kalian telah diundang sebagai wakil orang muda di dunia karena sumbangan kalian sangat diperlukan,” kata Paus seperti dilaporkan oleh Seàn-Patrick Lovett dari Vatican News.

Paus Fransiskus juga menugaskan Gereja “tanpa kecuali” untuk mendengarkan kaum, demi mempersiapkan Sinode Para Uskup Oktober 2018 yang bertema: Orang Muda, iman dan pemahaman panggilan. Paus menegaskan bahwa Sinode yang akan datang adalah juga “Sebuah seruan kepada Gereja untuk menemukan kembali dinamika muda yang baru.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia secara pribadi telah membaca beberapa email mengenai kuesioner yang diposting online oleh Sekretariat Sinode dan merasa terpukul oleh tanggapan-tanggapan dari banyak orang muda.

“Seorang gadis mengamati bahwa kaum muda tidak punya rujukan dan tidak ada yang mendorong mereka untuk mengaktifkan sumber-sumber daya yang mereka miliki,” kata Paus. Sementara itu responden sama yang tidak mencantumkan namanya itu menyoroti bahaya-bahaya yang dihadapi orang muda hari ini dan mengakhirinya dengan seruan, “Bantulah dunia muda kita yang semakin berantakan.” Paus menggambarkan tangisan gadis ini sebagai sesuatu yang tulus dan membutuhkan perhatian. “Gereja harus belajar cara-cara baru kehadiran dan kedekatan,” kata Paus.

Paus Fransiskus mengingatkan orang muda bahwa, sepanjang perjalanan ini, kita perlu “berani menempuh jalan baru, meskipun jalan itu penuh risiko.” Ditegaskan, “Kita harus mengambil risiko, karena cinta tahu bagaimana mengambil risiko. Tanpa mengambil risiko, orang muda menjadi tua, dan Gereja juga menjadi tua. Itulah sebabnya kita membutuhkan kalian orang muda, batu-batu yang hidup dari sebuah Gereja dengan wajah muda.”

Paus mengakhiri dengan mengajak orang muda untuk mengungkapkan diri mereka sendiri “secara terus terang dan bebas.” Paus menegaskan, “Kalian adalah pelaku utama dan pentinglah bahwa kalian berbicara secara terbuka. Saya meyakinkan kalian bahwa sumbangan kalian akan diperhatikan secara serius.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Duta Vatikan Mgr Pierro Pioppo memberkati Gereja MRPD Pancasila Pontianak

Sen, 19/03/2018 - 14:46

Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Pierro Pioppo memberkati Gereja Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila Pontianak

Apakah ”tempat penantian” itu?

Sen, 19/03/2018 - 14:24

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

124. Dalam kondisi bagaimana tubuh Kristus ketika dibaringkan dalam makam?

Kristus sungguh-sungguh mengalami kematian dan pemakaman. Walaupun demikian, kekuatan Allah mencegah tubuh-Nya mengalami kerusakan.

Yesus Kristus turun ke tempat penantian,

pada hari ketiga, bangkit dari antara orang mati”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 624-630

125. Apakah ”tempat penantian” itu?

Tempat penantian ini berbeda dengan neraka terkutuk. Ini adalah situasi semua manusia, baik benar maupun jahat, yang mati sebelum Kristus. Pribadi ilahi Yesus turun kepada orang-orang benar yang menanti-nantikan Penyelamat sehingga mereka akhirnya dapat melihat Allah. Ketika Yesus memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (Ibr 2:14) melalui kematian-Nya, Yesus membebaskan orang-orang benar yang menantikan Sang Penebus dan membuka pintu gerbang surga bagi mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 632-637

Kapitel Pertama Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena berlangsung penuh rahmat

Sen, 19/03/2018 - 04:34

Kapitel Pertama Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena Jakarta, 16-18 Maret 2018, telah berlangsung dengan penuh rahmat dan disertai  Roh Kudus, serta berhasil memilih Stephanus Suriaputra OP sebagai Presiden Chapter Santa Katarina Siena Jakarta, yang didampingi lima definitor yaitu Lim Darmadi OP, Budiono OP, Ratna Wibowo OP, Winarno Broto OP dan Ida Laksmi OP.

Pernyataan itu disampaikan kepada PEN@ Katolik di akhir kapitel oleh Koordinator Nasional Dominikan Awam di Indonesia Theo A Atmadi OP. Palu persetujuan, lanjutnya, sudah diketok oleh Moderator Dominikan Awam Indonesia Pastor Andreas Kurniawan OP tanggal 18 Maret 2018 tepat pukul 12.00 WIB dan dilanjutkan dengan Berkat Pengutusan serta nyanyian Salve Regina dan Doa Malaikat Tuhan.

“Maka tetaplah sudah hasil kapitel itu, dan menjadi awal perjalanan kepengurusan Chapter Dominikan Awam Santa Katarina Siena yang beraktivitas dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta,” kata Theo Atmadi.

Kapitel atau General Chapter dalam bahasa Inggris, menurut Theo Atmadi, adalah pertemuan puncak untuk mengevaluasi, menentukan rencana ke depan serta memilih pengurus yang akan memangku jabatan selama tiga tahun. “Tentu saja pertemuan ini amat penting dan menentukan arah dasar kehidupan chapter ke depan,” tegasnya.

Dijelaskan, kapitel itu dimulai hari Jumat pagi, 16 Maret 2018, dengan doa bersama para anggota Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena Jakarta bersama para suster Dominikan (OP). “Hari pertama kapitel diisi dengan diskusi yang dilakukan oleh lima komisi yang menjadi pilar-pilar Dominikan yaitu Komisi Doa dan Studi, Komisi Pewartaan, Komisi Pembinaan, Komisi Komunitas atau Persaudaraan, dan Komisi Administrasi dan Keuangan.

Setelah mengevaluasi apa yang sudah dilaksanakan selama tiga tahun kepengurusan yang lalu (2015-2018), setiap komisi mengusulkan tindak lanjut serta program-program yang akan dilaksanakan untuk tiga tahun mendatang.

Karena kapitel ini adalah yang pertama bagi Dominikan Awam, Theo Atmadi mengamati, setiap kelompok diskusi komisi didampingi para suster Dominikan, yang sudah biasa melaksanakan kapitel. “Para suster ikut mengarahkan, mempertajam serta membantu proses diskusi di hari pertama kapitel.”

Para suster juga membantu peserta kapitel untuk menyadari kembali keutamaan-keutamaan Santo Dominikus dan Santa Katarina Siena yang menjadi pelindung Dominikan Awam Jakarta, serta untuk mempertimbangkan situasi-situasi nyata saat ini dan Arah Dasar KAJ. Sesudah itu, setiap komisi masuk dalam evaluasi dan penentuan program-program yang sesuai.

Hasil setiap komisi lalu dipresentasikan pada hari kedua, 17 Maret 2018, yang diawali dengan ibadat pagi. Dalam presentasi itu, berbagai pandangan serta usulan atau koreksi ditampung demi mematangkan usulan program setiap komisi, yang akan menjadi  acuan kepengurusan periode 2018-2021.

“Berkontemplasi atau berdoa sebelum berkarya, mati raga mengalahkan kepentingan pribadi demi kepentingan para saudara seordo, berbelarasa dalam persaudaraan, dan melaksanakan segalanya dengan kasih kepada sesama,” adalah semangat Santa Katarina yang disampaikan oleh Pastor Andreas Kurniawan OP saat meminta peserta menyiapkan batin di sore hari.

Pemilihan presiden dan para definitor yang akan membantu presiden dalam menyelenggarakan chapter diawali dengan Misa saat peserta memohon kehadiran Roh Kudus dalam pemilihan di hari ketiga itu, “agar dengan rahmat Tuhan, perjalanan yang baru dimulai itu menghasilkan buah-buah pelayanan yang bermakna bagi umat KAJ.” (pcp)

Kelompok karismatik wujudkan keterlibatan dalam masyarakat dengan baksos kesehatan

Min, 18/03/2018 - 23:52
Dari Blok BPK PKK KAJ

Sejak 9.00 WIB di hari Minggu, 11 Maret 2018, sekitar 2000 warga mendatangi TK Tarsisius Vireta, Kutabumi, Tangerang. Di sana sekitar 200 orang, antara lain 32 dokter umum, 30 dokter gigi, 12 dokter mata dan 20 dokter dari Perwakilan Umat Budha Indonesia, dan sejumlah relawan melayani mereka. Ada yang mendapatkan pelayanan kesehatan umum, ada yang mengecek gula darah dan kolesterol, ada yang memeriksa mata, ada juga yang giginya dicabut atau ditambal.

“Baksos pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat 2018 ini sesungguhnya merupakan wujud pengembangan iman dengan menyapa dan menyentuh mereka yang kurang mampu,” kata Koordinator Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Jakarta (BPK PKK KAJ) Ronald Moniaga kepada sejumlah media termasuk PEN@ Katolik.

Kegiatan rutin, yang sebenarnya untuk mengisi perayaan Hari Orang Sakit se-Dunia di bulan Februari itu, bertujuan untuk membantu orang-orang yang memerlukan bantuan. Tahun lalu baksos itu dilaksanakan di Teluk Gong, Jakarta Utara.

Moderator BPK PKK KAJ Pastor Christ Purba SJ mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa baksos itu merupakan wujud keterlibatan badan itu di tengah masyarakat. “Selain merupakan persembahan kasih kepada seluruh umat, kegiatan ini juga merupakan wujud beriman kepada Tuhan yang seharusnya berfaedah bagi masyarakat,” kata imam itu. (Konradus R. Mangu)

Dari Blok BPK PKK KAJ

Apa yang terjadi pada sakrat maut di Taman Getsemani?

Min, 18/03/2018 - 17:45
Gereja Segala Bangsa, atau juga dikenal sebagai Gereja atau Basilika Agony, adalah sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di Bukit Zaitun di Yerusalem, tepatnya di samping Taman Getsemani. Wikipedia Commons

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

121. Apa yang terjadi pada sakrat maut di Taman Getsemani?

Walaupun mengalami kengerian karena kematian manusiawi Yesus ”yang adalah Pemimpin kepada hidup” (Kis 3:15), kehendak manusiawi Putra Allah tetap selaras dengan kehendak Bapa demi keselamatan kita. Yesus menerima tugas untuk memikul dosa-dosa kita di dalam Tubuh-Nya yang ”taat sampai mati” (Flp 2:8).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 612

122. Apa buah dari kurban Yesus di salib?

Secara bebas, Yesus menyerahkan hidup-Nya sebagai kurban silih, yaitu bahwa Dia telah memulihkan kita dari dosa-dosa kita dengan ketaatan penuh cinta sampai mati. Cinta Sang Putra Allah ”sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1) ini mendamaikan kembali seluruh umat manusia dengan Bapa. Karena itu, kurban Paskah Kristus menebus umat manusia dengan cara yang unik, sempurna, dan definitif, dan membuka persekutuan dengan Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 613-617, 622-623

123. Mengapa Yesus memanggil para murid-Nya untuk memanggul salib mereka?

Dengan memanggil para murid untuk memanggul salib dan mengikuti Dia, Yesus ingin mempersatukan mereka, sebagai ahli waris, dengan kurban penebusan-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 618

Kalimantan Barat kehilangan seorang duta ekologi dan pemerhati sosial ekonomi

Min, 18/03/2018 - 14:18

“Kita telah kehilangan seorang duta ekologi dan pemerhati sosial ekonomi untuk masyarakat khususnya yang miskin di Kalimantan Barat.” Pernyataan itu diungkapkan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dalam Misa Requiem di Gereja Fransiskus Assisi Singkawang untuk mendoakan Pastor Jeremias Melis OFMCap yang meninggal dunia di Rumah Sakit Santo Vincentius Singkawang, Kalbar, 13 Maret 2018 pukul 17.20 WIB dalam usia 80 tahun.

Setelah Misa Requiem 14 Maret 2018 yang dipimpin Mgr Agus dengan konselebran Uskup Emeritus Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun, Vikjen Keuskupan Agung Pontianak Pastor William Chang OFMCap, Provinsial Kapusin Pastor Herman Mayong OFMCap, dan puluhan imam lain itu, jenazah Pastor Jemerias dimakamkan di pemakaman Katolik yang berlokasi di Jalan Kridasana Singkawang.

Apa yang dikatakan Mgr Agus dalam Misa Requiem dibenarkan oleh beberapa tulisan dan buku serta pernyataan yang berhasil dihimpun oleh PEN@ Katolik, karena aneka karya pelayanan pastor itu khususnya di bidang ekologi, di tengah maraknya penebangan hutan secara liar dan eksploitasi alam. Pastor Jeremias bekerja bersama tim pemerhati lingkungan serta Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Pontianak (PSE-KKP KAP) sebagai wujud pengabdian Gereja bagi umat dan masyarakat.

Selain aktif dalam gerakan pemerhati lingkungan dan sosial ekonomi, imam Kapusin asal negeri Belanda yang lahir 24 April 1938 dan resmi menjadi WNI tahun 1981 itu ikut memajukan dan mengembangkan perekonomian masyarakat Dayak Kalimantan Barat melalui Credit Union (CU) sejak 1992 hingga 2015.

“Seorang pencinta sejarah Kalimantan Barat telah berpulang,” tulis Indies Loner asal Singkawang yang kini berdomisili di Solo, Jawa Tengah. Rasa cinta yang mendalam, lanjut perempuan itu, membuat imam itu tidak berhenti mendalami dan menggali era kehidupan Borneo di masa lalu. “Ketekunannya menghasilkan beberapa karya buku, dengan tujuan agar masyarakat setempat tidak buta terhadap sejarah daerah mereka,” ungkap Indies.

Warta Paroki Singkawang menurunkan artikel tulisan Hes yang mengatakan, “Dengan ‘senjata’ tinta dan pena, maka sebuah nama mungkin saja akan kekal sepanjang masa. Dikenang karena sumbangsih berupa tulisan bagi dunia pengetahuan, pendidikan maupun kebudayaan yang tentu akan berguna baik di masa sekarang maupun masa depan. Ini pula yang tengah ditapaki oleh salah satu gembala kita. Meski karya-karyanya ia hasilkan tanpa tendensi apa-apa, namun publik boleh percaya bahwa apa yang dikerjakannya bukanlah suatu yang sia-sia dan besar pengaruhnya pada dunia pengetahuan, sejarah juga budaya.”

Sementara itu, Bruder Gregorius MTB  menceritakan bahwa Pastor Jeremias adalah sosok Fransiskan sejati yang sangat peduli dan mencintai lingkungan hidup, yang selalu menghimbau masyarakat untuk ikut memelihara dan menjaga kelangsungan hidup khususnya hutan. “Hutan merupakan paru-paru dunia. Hutan perlu dijaga dan ekologi perlu ditanamkan di hati masyarakat demi kelangsungan hidup anak cucu kita ke depan,” kata imam itu.

Lerry, yang pernah menjadi anak asrama binaan almarhum menulis, “Selamat jalan Pastor Jeremias OFMCap. Tak terasa 10 tahun telah berlalu. Ketika masih menjadi pastor paroki di Menjalin, engkau dengan penuh kesabaran dan kasih selalu menyayangi kami semua anak Asrama Putra Santo Petrus dan Paulus Menjalin. Setiap sore sesekali diselingi dengan gaya humoris yang mengocok perut. Engkau selalu bercerita tentang cinta kasih Kristus.

Ketika berbicara di hadapan umat  dalam kunjungan tim Komisi PSE-KKP KAP di Desa Subah, Kabupaten Sambas, 20 Mei 2011, Pastor Jeremias Melis OFMCap yang sudah menulis dan menerjemahkan beberapa buku mengatakan, seperti dikutip dalam blog Komisi PSE KAP, “Hentikan penghancuran Kalimantan, lestarikan alam dengan menjaga tanah, air, hutan dan udara yang ada di kampung kita. Kemajuan memang telah kita rasakan, namun itu hanya sementara untuk saat ini, tetapi di kemudian hari akumulasi persoalan atau gejolak sosial dalam memperebutkan tanah, air, hutan, akan membunuh anak cucu kita. Hal ini berarti hak paling asasi untuk hidup anak cucu kita pasti hilang.”(Suster Maria Seba SFIC)

Mati dan hidup

Min, 18/03/2018 - 02:48

Minggu kelima Prapaskah

18 Maret 2018

Yohanes 12:20-33

“Amin, amin, saya katakan kepada Anda, kecuali satu butir gandum jatuh ke tanah dan mati, itu tetap hanya sebutir gandum; Tapi jika mati, itu menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Saat penderitaan dan kematian Yesus telah tiba. Yesus mengerti bahwa para pemimpin Yahudi menginginkan dia mati, dan tidak ada hukuman lain yang lebih keji daripada penyaliban. Namun, Yesus tidak melihat penderitaan dan kematian-Nya sebagai kekalahan dan aib, namun justru sebaliknya. Penyaliban-Nya akan menjadi saat di mana Dia akan dimuliakan. Inilah saat kemenangan karena Yesus melihat diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, dan kemudian menghasilkan banyak buah. Ini bukanlah semacam teknik berpikir positif untuk melupakan penderitaan atau mengabaikan rasa sakit, namun Yesus memilih untuk merangkul penderitaan-Nya sepenuhnya dan membuatnya bermakna dan berbuah.

Di tingkat teologis, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah puncak dari karya penebusan, keselamatan kita. Yesus adalah kebangkitan dan hidup dan siapa pun yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup yang kekal. Pilihan biji gandum oleh Yesus, yang adalah bahan dasar pembuatan roti, mungkin berbicara tentang sakramen Ekaristi di mana Yesus memberikan kepenuhan diri-Nya kepada kita dalam bentuk roti. Jadi, melalui partisipasi kita dalam Ekaristi, kita menikmati buah-buah keselamatan yang telah dimenangkan oleh Kristus.

Namun, melalui pengorbanan dan kematian-Nya, Yesus juga memberi kita cara radikal untuk menjalani kehidupan ini. Sungguh, tidak ada yang salah dalam mengejar kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan karena ini juga merupakan anugerah dari Tuhan. Namun, ketika kita terlalu terpukau, dan sampai membuat sesama hanyalah sebagai alat untuk mendapatkan hal-hal ini, kita memilih jalan dunia. Sejak awal, dunia telah menawari kita jalan hidup yang berwawasan sempit dan egois. Ini adalah mentalitas “Me First,” kesuksesanku, kebahagiaanku, bahkan dengan mengorbankan sesama dan alam. Beberapa orang mengeksploitasi alam dan mencuri uang orang lain untuk memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa orang melecehkan bahkan anggota keluarga mereka hanya untuk mendapatkan kesenangan instan. Beberapa orang lainnya memanipulasi rekan kerja atau teman mereka untuk memiliki lebih banyak kekuasaan. Inilah yang ditawarkan dunia.

Hal-hal ini sebenarnya baik sejauh mereka memenuhi kebutuhan sementara kita sebagai manusia, tapi ketika kita menjadikannya sebagai segalanya, kita mulai kehilangan hidup kita. Beberapa ilmuwan menyebut efek ini sebagai “treadmill hedonis”: Kita terus bekerja keras, maju, dan mampu menghasilkan banyak hal yang lebih baik, namun hal ini tidak membuat kita lebih bahagia. Kita gagal menemukan apa yang kita benar-benar membuat kita manusia dan hidup, dan meski bernapas, kita sudah kehilangan hidup. Tidak salah jika Yesus berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya (Yoh 12:25).”

Paradoksnya adalah saat kita mati terhadap diri kita sendiri dan memberikan hidup kita kepada sesama, kita menemukan hidup dan berbuah. Terkadang, kita perlu mengorbankan hidup kita secara radikal. Santo Maximilianus Kolbe menawarkan hidupnya sebagai pengganti bagi seorang pemuda yang akan dieksekusi di kamp Auschwitz. Saat dia dikanonisasi, Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai martir cinta kasih. Tidak semua dari kita dipanggil untuk membuat pengorbanan radikal seperti Santo Maximilianus, tetapi kita dapat mati terhadap diri kita sendiri dalam hal-hal kecil, dan memberikan diri kita kepada sesama dengan cara-cara yang sederhana. Pertanyaan sekarang: bagaimana kita akan mati terhadap diri kita sendiri? Bagaimana kita memberi diri kita kepada sesama? Apa yang membuat hidup kita sungguh berbuah bagi diri kita dan orang lain?

 

Seminari Antonino Ventimiglia dan STT Pastor Bonus dikunjungi Nuncio dalam rangka HUT ke-20

Sab, 17/03/2018 - 23:47

Sore hari di kala hujan 11 Maret 2018, Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Pierro Pioppo bersama Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Antonino Ventimiglia Pastor Edmund Nantes OP dan Rektor Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pastor Bonus Pastor William Chang OFMCap memasuki Kapel Sang Pamanih (penabur) di seminari itu.

Di depan altar kapel inkulturasi Dayak itu, dua uskup agung dan dua imam itu berlutut dan berdoa dalam hening. Beberapa menit kemudian mereka berdiri bersama para imam lainnya, para frater yang tinggal dan belajar di STT itu dan beberapa anggota Gotaus dan menyanyikan Bapa Kami dalam Bahasa Latin.

Pastor William Chang OFMCap menyambut kedatangan Duta Vatikan dan berterima kasih atas kunjungan yang mendorong para staf untuk melaksanakan pelayanan untuk membina gembala-gembala yang baik bagi Gereja di seminari dan STT, yang tahun ini akan merayakan ulang tahun ke-20.

Pastor Nantes menceritakan kepada Duta Vatikan dalam kapel itu bahwa akta pendirian seminari antarkeuskupan dengan nama Seminari Tinggi Antonino Ventimiglia itu ditandatangani dalam Misa Pesta Santo Fransiskus dari Asisi tahun 1998 yang dipimpin Uskup Agung Hieronymus Bumbun OFMCap.

“Seminari yang dimulai di sebuah rumah sewa di Pontianak itu diawali dengan tiga frater. Namun, setahun kemudian jumlah frater menjadi 10 orang dan bulan Agustus 2000 seminari itu pindah di alamat saat ini di Pontianak bagian Utara,” jelas imam Dominikan asal Filipina itu.

Ketika rumah bina kaum religius Kapusin dan Pasionis pindah ke Pontianak, jelas Pastor Nantes, para frater Kapusin dan Pasionis ikut belajar teologi bersama para frater diosesan dari seminari itu di STT Pastor Bonus yang terletak di bagian depan seminari itu.

“Dalam 25 tahun keberadaannya,  STT Pastor Bonus telah mendidik 246 mahasiswa, 185 di antaranya adalah para imam yang aktif berkarya di delapan keuskupan di Kalimantan,” kata Pastor Nantes seraya menambahkan bahwa saat ini ada 23 mahasiswa Pastor Bonus.

Dari jumlah itu, 11 di antaranya adalah frater diosesan dari lima keuskupan di Kalimantan yang tinggal di Seminari Antonino Ventimiglia, 9 frater Kapusin dari Biara San Lorenzo di dekatnya, dan 3 frater Pasionis dari Biara Santo Vincentius Strambi, di seberang Sungai Landak. Selain itu masih ada juga 16 frater yang belajar program pastoral di STT itu namun tinggal di pos pastoral mereka masing-masing.

Menurut Pastor Nantes, adalah Duta Vatikan untuk Indonesia (1991-1998) Alm Uskup Agung Pietro Sambi yang mendorong para uskup Kalimantan untuk membangun seminari tinggi antarkeuskupan dan sekolah tinggi teologi untuk wilayah kegerejaan itu. “Pantas kalau sebuah daerah dengan jumlah umat Katolik kedua terbesar di Indonesia, setelah Flores, memiliki seminari tinggi sendiri,” kata Mgr Sambi.

Usulan itu lalu dibawa ke pertemuan para uskup Regio Kalimantan 24 Januari 1997, dan para uskup setuju membangunnya, pertama mengakomodasi para frater Kalimantan untuk belajar teologi setelah menyelesaikan kursus filsafat dan teologi dasar di Jawa dan Sumatera, dan para frater yang sudah menyelesaikan satu tahun pembinaan pastoral.

Para uskup sepakat bahwa tidaklah baik kalau calon imam untuk Kalimantan belajar filsafat dan teologi keluar dari konteks mereka. Oleh karena itu, lanjut Pastor Nantes, seminari tinggi antarkeuskupan itu memberikan pembinaan yang lebih kontekstual.

“Tanggal 23 April 1997 di Jakarta, para uskup Kalimantan dan para provinsial kongregasi religius yang melayani regio itu memutuskan untuk memulai pelajaran pada tahun ajaran 1998-1999 dan agar program itu setara dengan program master selama dua tahun,” tegas Pastor Nastes.

Dalam kunjungan Mgr Pierro Pioppo, seorang frater membacakan juga biografi Pastor Antonino Ventimiglia yang lahir tahun 1642 sebagai seorang bangsawan di kota Palermo, Pulau Sisilia, Italia, dan masuk biara Santo Yosef milik Ordo Klerus Reguler (Theatin) yang berpusat di kota Theate, Italia.

Setelah ditahbiskan imam, Pastor Antonino Ventimiglia diutus ke Madrid, Spanyol, untuk memimpin Novisiat Biara Theatin Santa Maria del Favore, dan dengan restu Paus Innocentius XI imam itu berangkat menuju Goa (India) tanggal 13 Januari 1683 dan berlabuh di sana tanggal 19 September 1683.

Setelah empat tahun berkarya di Goa, Pastor Ventimiglia ditunjuk menjadi misionaris di Borneo dan. Antonino berangkat dari Goa tanggal 5 Mei 1687 dan tiba di Macao 13 Juli 1687 dan menunggu kapal selama enam bulan untuk berlayar menuju Borneo.

Selama menunggu imam itu mengisinya dengan retret agung, matiraga dan berpuasa di tempat sepi. Karena kesalehannya, banyak orang Macao datang meminta bantuan, berkat dan bimbingan beliau, yang selalu berdoa kepada Santo Kayetanus, pendiri Ordo Theatin. Pastor Antonino juga mendengar kabar bahwa orang-orang di Borneo masih sangat primitif dan masih sangat ganas, dan bahwa misionaris yang tidak berasal dari Portugis dilarang berkarya di daerah jajahan Portugis.

Namun, sambil memegang buku Brevir dan mengenakan salib di leher, Pastor Ventimiglia naik ke kapal. Tanggal 16 Januari 1688, Pastor Ventimiglia berangkat menuju Banjarmasin tanpa membawa apa-apa kecuali sebuah salib yang dulu pernah dimiliki oleh Santo Aloysius Beltrami. Imam itu yakin, Penyelenggaraan Ilahi akan memberikan segalanya. Perjalanan menuju Banjarmasin tidaklah mulus. Ada banyak tantangan, antara lain dari Kapten Emmanuele Araugio yang memaksa imam itu kembali ke Macao. Namun, Pastor Ventimiglia tiba di Banjarmasin tanggal 2 Pebruari 1688.(paul c pati)

Bagaimana persembahan diri Yesus diungkapkan pada Perjamuan Malam Terakhir?

Sab, 17/03/2018 - 21:56
Museum of the Last Supper of Andrea del Sarto

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

119. Dengan cara apa Kristus menyerahkan Diri-Nya kepada Bapa?

Seluruh kehidupan Kristus merupakan persembahan kepada Bapa untuk melaksanakan rencana penyelamatan-Nya. Dia memberikan ”nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45), dan dengan cara ini, Dia mendamaikan seluruh umat manusia dengan Allah. Penderitaan dan kematian-Nya menunjukkan bahwa kodrat kemanusiaan Yesus merupakan sarana cinta ilahi yang sempurna dan berkehendak bebas menyelamatkan seluruh umat manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 606-609, 620

120. Bagaimana persembahan diri Yesus diungkapkan pada Perjamuan Malam Terakhir?

Pada Perjamuan Malam Terakhir bersama dengan para Rasul-Nya, Yesus mengantisipasi dua hal, yaitu simbolisasi penyerahan Diri-Nya dan membuatnya betul-betul hadir. ”Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu” (Luk 22:19), ”Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan …” (Mat 26:28). Jadi, Yesus menetapkan Ekaristi sebagai ”kenangan” (1Kor 11:25) akan kurban-Nya dan menetapkan para Rasul-Nya sebagai imam-imam perjanjian baru

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 610-611, 621

Paus tekankan pembinaan manusiawi dan rohani dalam hidup frater dan imam yang sedang studi

Sab, 17/03/2018 - 11:17

Dalam pertemuan santai dan informal dengan para frater calon imam serta para imam yang sedang studi di Roma, 16 Maret 2018, Paus Fransiskus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan dan pembinaan imamat seraya meminta mereka memperhatikan bina lanjut dalam hal rohani dan manusiawi dengan selalu terbuka kepada Roh Kudus.

Dalam sesi tanya jawab dengan para frater dan imam yang datang dari seluruh dunia untuk studi hal-hal berkaitan dengan Gereja dan tinggal di kolese-kolese kepausan dan asrama-asrama milik Gereja di Roma, Paus menjawab lima pertanyaan, yang diselingi lelucon, tawa dan sorakan.

Menanggapi pertanyaan seorang frater dari Perancis, yang ingin tahu bagaimana seorang imam bisa menjadi murid sekaligus menjadi misionaris yang rendah hati, Paus mengatakan bahwa seorang imam harus “bergerak, mendengarkan dan tidak pernah sendiri.”

Untuk pertanyaan frater dari Sudan tentang cara memahami panggilan bahkan setelah tahbisan, Paus menekankan pemahaman itu penting, karena pemahaman “membantu kita untuk maju terus dengan membuat kita mengerti apa yang benar dan apa yang tidak benar.”

Agar bisa memahami secara efektif, Bapa Suci mengatakan bahwa pemahaman perlu dilakukan dalam doa di hadapan Allah, dan juga dibutuhkan pembimbing rohani yang akan memberikan pedoman kepadanya. Tanpa pemahaman, kata Paus, alasan kehidupan seorang imam menjadi kaku dan legalistik serta menutup diri terhadap Roh Kudus, “yang sebenarnya harus menjadi teman dalam perjalanan kita.”

Untuk pertanyaan seorang frater Amerika Latin tentang cara menjaga keseimbangan yang sehat, Paus menggarisbawahi pentingnya pembinaan manusiawi. Frater “perlu menjadi manusia normal, yang punya teman, yang bisa tertawa dan mendengarkan orang yang sakit atau menghiburnya dengan belaian. Imam harus jadi seorang ayah dan berbuah, memberi hidup kepada orang lain. Imam itu bukan pejabat atau pegawai Tuhan.”

Diakon dari AS bertanya kepada Paus tentang sifat-sifat rohani seorang imam diosesan dan bagaimana menjalankannya dalam karya pastoral setiap hari. Sebagai jawaban, Paus menggunakan ungkapan “dioceseness” (keuskupan), atau peduli menjaga hubungan dengan uskup, meskipun dia seorang yang sulit, dan juga menjaga hubungan dengan sesama imam dan umat paroki. “Mempertahankan tiga hal ini akan membuat kalian menjadi orang kudus,” kata Paus.

Mengenai pernyataan imam Filipina mengenai pembinaan permanen para imam, Paus merekomendasikan agar para imam membentuk diri sesuai kebutuhan manusia, pastoral, spiritual, dan komunitas. “Pembinaan permanen hendaknya lahir dari kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan seseorang. Dalam budaya kontemporer ini, tanyalah kepada diri sendiri cara hidup dalam komunikasi virtual, cara menggunakan telepon genggam dan cara menghadapi godaan terhadap kesucian. Kebanggaan dan daya tarik uang, kekuasaan dan kenyamanan, harus diwaspadai,” lanjut Paus.(pcp)

Siapa yang bertanggung jawab atas kematian Yesus?

Jum, 16/03/2018 - 20:17
www.newsrss24.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

117. Siapa yang bertanggung jawab atas kematian Yesus?

Penderitaan dan kematian Yesus tidak dapat ditimpakan secara serampangan kepada semua orang Yahudi yang hidup pada zaman itu atau pun kepada keturunan mereka. Setiap pendosa, yaitu setiap manusia, betul-betul merupakan sebab dan alasan penderitaan Sang Penebus, dan kesalahan lebih besar dalam hal ini jatuh kepada mereka, terutama pengikut Kristus, yang semakin sering jatuh ke dalam dosa atau yang merasa senang akan keburukan dosa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 595-598

118. Mengapa kematian Yesus merupakan bagian dari rencana Allah?

Untuk mendamaikan dengan Diri-Nya semua yang ditentukan mati karena dosa, Allah berinisiatif mengutus Putra-Nya yang menyerahkan Diri bagi para pendosa. Seperti telah diwartakan dalam Perjanjian Lama, secara khusus mengenai kurban Hamba yang Menderita, kematian Yesus terjadi ”sesuai dengan Kitab Suci”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 599-605, 619

Keuskupan Manado akan selenggarakan temu berkala OMK ke-21 di Tompaso Baru

Kam, 15/03/2018 - 21:23

Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Manado sudah menyelenggarakan pertemuan berkala dua tahun sekali sejak tahun 1980. Setelah tertunda karena IYD Kedua di Manado dan AYD ke-7 di Yogyakarta, Pertemuan Berkala OMK Keuskupan Manado ke-21 mengganti nama menjadi Kusuma Youth Day 2018, akan dilaksanakan oleh Paroki Santo Paulus Tompaso Baru di bulan Oktober 2018. Kusuma adalah singkatan dari Keuskupan Manado.

Tuan rumah Kusuma Youth Day 2018, yang akan diisi dengan beberapa kegiatan antara lain  live-in, diskusi atau ngobrol pintar dan pentas seni itu, diputuskan dalam pertemuan wakil-wakil OMK dari delapan paroki di Kevikepan Stella Maris yang berkumpul di Paroki Santo Andreas Rasul Lolak, Bolaang Mongondouw (Bolmong), 10 Maret 2018.

Pemilihan Tuan Rumah Penyelenggaraan Kusuma Youth Day 2018 dan Pemilihan Pengurus OMK Kevikepan Stella Maris menjadi agenda pertemuan yang dipandu oleh Moderator OMK Kevikepan Stella Maris Pastor Ronny Singal Pr dan didampingi Tim Komkep Kusuma.

Selain memilih Paroki Tompaso Baru dari tiga paroki yang menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah (Paroki Santa Maria Ratu Rosari Modoinding, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Guaan dan Paroki Santo  Paulus Tompaso Baru), peserta pertemuan memilih, dari delapan calon yang ada, Rio Renyaan (OMK Paroki Kristus Raja Kotamobagu) sebagai ketua, Hendra L Suoth (Paroki Santo Fransiskus Xaverius Guaan) sebagai sekretaris dan Stella Maris Langi (Paroki Santa Perawan Maria Dumoga) sebagai bendahara.

Moderator OMK Kevikepan Stella Maris Pastor Ronny Singal Pr mengapresiasi hasil yang diputuskan OMK utusan paroki-paroki se-Kevikepan Stella Maris itu. “Memang ada dinamika. Ada proses. Tapi semuanya telah memilih yang terbaik. Saya senang dan berterima kasih atas semuanya itu,” ujar Kepala Paroki Santo Andreas Rasul Lolak itu PEN@ Katolik.

Pastor Ronny berharap momen itu akan meningkatkan aktivitas OMK baik di paroki-paroki maupun di Kevikepan Stella Maris. Imam itu meminta tuan rumah penyelenggaraan Kusuma Youth Day untuk memantapkan persiapan pelaksanaannya dan tiga pengurus terpilih segera melakukan konsolidasi termasuk melengkapi komposisi dan personalia pengurus OMK Kevikepan.(A. Ferka)

Bagaimana sikap Yesus terhadap kenisah di Yerusalem?

Kam, 15/03/2018 - 13:48

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

115. Bagaimana sikap Yesus terhadap kenisah di Yerusalem?

Yesus dituduh melawan kenisah, tetapi sebenarnya yang terjadi sebaliknya, Dia menghormatinya sebagai ”rumah Bapa-Ku” (Yoh 2:16), dan di sana pulalah Dia memberikan bagian yang penting dari ajaran-Nya. Tetapi, Dia juga meramalkan kehancurannya dalam hubungan dengan kematian-Nya, dan Dia menyebut Diri-Nya sendiri sebagai tempat tinggal definitif Allah di antara manusia.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 583-586, 593

116. Apakah Yesus bertentangan dengan iman Israel mengenai satu Allah dan satu penyelamat?

Yesus tidak pernah menolak iman akan satu Allah, bahkan tidak juga ketika Dia melaksanakan karya ilahi, yang memenuhi janji mesianis dan mewahyukan Diri-Nya setara dengan Allah, yaitu dalam pengampunan dosa. Namun, panggilan untuk percaya kepada Yesus dan seruan tobat menimbulkan kesalahpahaman Sanhedrin yang mengadili dan menganggap-Nya layak dihukum mati sebagai penghujat.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 587-591, 594

Duta Vatikan “yang murah senyum” lihat sendiri, Indonesia dan gereja-gerejanya benar indah

Kam, 15/03/2018 - 12:16

Paus Fransiskus, ketika mengutus Uskup Agung Piero Pioppo menjadi Duta Vatikan untuk Indonesia,  mengatakan, “Nanti saudara akan mengunjungi dan melihat gereja-gereja yang indah di Indonesia seperti Taman Eden.” Dan sekarang, kata Mgr Pioppo di depan umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak, “saya melihatnya sendiri bahwa benar demikian, maka setelah kembali dari Pontianak, saya akan menulis surat kepada Bapa Suci bahwa memang benar gereja-gereja di Indonesia itu indah.”

Mgr Pierro Pioppo berbicara di depan sekitar 1500 umat yang menghadiri pemberkatan Gereja Maria Ratu Pencinta Damai (MRDP) Pancasila, Pontianak, 11 Maret 2018. “Semoga tempat kudus ini diberkati dan dilindungi,” kata Duta Vatikan seraya menegaskan bahwa Keuskupan Agung Pontianak (KAP), seluruh Kalimantan dan negara Indonesia itu indah. “Indah Gereja, Indah Indonesia.”

Selain memberkati gereja MRPD, Mgr Pioppo memberkati Kapel Pusat Pastoral KAP yang terletak sekitar 200 meter di depan Katedral Pontianak, mengunjungi Seminari Antarkeuskupan Antonio Ventimiglia dan STT Pastor Bonus Pontianak, serta menghadiri Malam Ramah Tamah bersama para imam dan kaum religius, pimpinan keuskupan dan  paroki, wakil-wakil umat dan kelompok kategorial serta tokoh masyarakat di aula serbaguna milik Persekolahan Suster Pontianak.

PEN@ Katolik mengamati bagaimana Mgr Pioppo “dengan penuh senyuman” menerima penyambutan khas Dayak lewat tarian OMK Paroki MRDP di jalan raya depan gereja dan di halaman gereja ketika hendak memimpin Misa pemberkatan itu. Senyuman semakin besar terlihat ketika Mgr Pioppo melihat anak-anak Sekami paroki itu menyambutnya di halaman gereja dengan lambaian bendera kertas merah putih. Bahkan Mgr Pierro beberapa kali berhenti dan memberi tanda salib di dahi anak-anak kecil “dengan senyum” saat prosesi menuju altar.

Murid dari Seminari Menengah Nyarumkop, Dominikus Irfan, merasa bahwa kedatangan Mgr Piero Pioppo memberikan dukungan spiritual dan motivasi “serta daya pegas bagi kami untuk meniti panggilan khusus sebagai calon imam.”

Sedangkan Suster Yuliana SFIC yang sudah berusia lebih dari 80 tahun bangga karena boleh dikunjungi, disapa langsung bahkan diberkati oleh Duta Vatikan. “Sebenarnya ingin sekali jika Nuncio bisa kunjungi biara-biara,” kata Suster Yuliana. Ungkapan kerinduan didoakan dan diberkati oleh Duta Vatikan juga diungkapkan seorang kakek yang rela hadir dengan kursi roda akibat struk.

Mgr Agus dan Mgr Pierro datang juga ke Puspas KAP dan memberkati kapel kantor itu serta patung Hati Kudus dan Patung Maria di dalam kapel itu. “Terima kasih sudah menerima saya sebagai Nuncio di kapel yang bagus ini. Sangatlah penting kalau Tuhan ada bersama orang yang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan mulia. Kapel ini merupakan tanda kemurahan hati dan kepedulian besar kalian untuk Gereja Katolik, untuk uskup agung dan semua imam yang bekerja bersama dengan dan untuk kalian,” kata Duta Vatikan.

Atas nama Bapa Suci, Mgr Pioppo berterima kasih atas kepedulian para staf kantor puspas dan para donatur pembangunan kapel itu. “Bapa Suci, melalui mata saya, melihat apa saja,” kata Mgr Pioppo seraya memberkati yang hadir beserta keluarga, anak-anak, dan sahabat-sahabat mereka, dan berharap agar hidup mereka berbuah melimpah dan Paskah mereka penuh sukacita.

Tarian adat Dayak juga menyambut Mgr Pioppo di Seminari Antonino Ventimiglia dan memulai kunjungan itu dengan menyapa dan berfoto bersama para staf seminari dan STT Pastor Bonus serta para frater diosesan, frater Kapusin dan frater Pasionis, dan para anggota Gerakan Orang Tua Asuh untuk seminari (Gotaus).

Selain Rektor Seminari Antonino Ventimiglia Pastor Edmund C Nantes OP dan Rektor STT Pastor Bonus Pastor William Chang OFMCap, hadir juga Ekonom Keuskupan Pastor Andrei Kurniawan OP,  Rektor Biara Vinsensius Maria Strambi Pastor Mikael Duolodo CP, dan Pastor Pius Barces Seno CP, Pastor Barnabas Merico OFMCap, Pastor Robertus Ambrosius DMS, dan Pastor Yosef Maswardi Pr.

Sesudah doa bersama, sambutan selamat datang, perkenalan tentang Mgr Pioppo oleh Mgr Agus, dan perkenalan tentang seminari serta riwayat hidup pelindung seminari, dan sambutan Mgr Pioppo, tarian Dayak dari Sanggar Dara Rinyuangk menghantar hadirin ke refter seminari dan mampir di panggung Dayak untuk memberkati Patung Antonino Ventimiglia dari jarak jauh karena hujan. (Perkenalan seminari dan sambutan Mgr Pioppo akan diturunkan dalam tulisan terpisah. Red)

Sebelum masuk refter, Mgr Pioppo menerima setangkai bunga dari seorang anak kecil dalam tarian Dayak. Bunga itu diletakkan oleh Nuncio di depan Patung Maria di dalam refter kemudian menikmati kue-kue dan berbagai minuman ringan khas kota Pontianak.

“Mgr Pioppo memuji keindahan seminari kami. Very nice, kata beliau. Beliau sangat senang. Kami juga senang bisa bertemu wakil Bapa Suci untuk Indonesia. Beliau murah senyum. Beliau juga mengatakan bahwa kita wajib tersenyum,” kata Frater Iko.

Mgr Piopo merasa terhormat bisa mengunjungi seminari itu, dan mengatakan komunitas itu sangat khusus dan terberkati. Namun Nuncio mengingatkan bahwa Mgr Agus, Pastor Nantes dan Pastor  Chang “lupa sesuatu bahwa saya juga frater, bukan hanya imam, bukan hanya Monsignor, bukan hanya prelatus, bukan hanya diplomat, bukan hanya uskup agung.”

Selain mengingatkan bahwa seminari yang akan berusia 20 tahun itu adalah jantung Gereja dan seminari yang dikunjungi itu terkesan sangat besar karena menjadi seminari tinggi bersama antara semua delapan keuskupan di Kalimantan, Mgr Pioppo meminta para frater untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan mereka.

Ketika bertemu wakil umat, imam dan biarawan-biarawati, pemerintah serta polisi, di Aula Serbaguna Persekolahan Suster, Mgr Agus berterima kasih kepada Mgr Pioppo yang memberi semangat kepada umat Katolik KAP untuk membawa damai dan bekerja penuh kasih  serta memperjuangkan keadilan, “sehingga di mana pun umat Katolik berada dan berkarya, di sana ada damai dan kasih satu sama lain, sebagai sumbangan besar umat bagi bangsa dan tanah air.”

Mgr Pioppo berterima kasih karena, “Hati saya begitu meluap-luap karena di Indonesia dan Kalimantan Barat saya disambut dengan cara penuh persaudaraan. Ketika saya menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Jokowi, saya sangat merasa terhormat. Dia sangat baik kepada saya dan sangat menghargai kenyataan bahwa Paus Fransiskus memberikan wakilnya ke negara kita yang indah ini, Indonesia.”

Rasa syukur berada di KAP juga disampaikan kepada Tuhan oleh Duta Vatikan itu. “Saya merasa terhormat dan bersyukur kepada Tuhan karena berada di sini, dekat dan bersama kalian, guna melayani kalian dan belajar dari negara besar ini banyak pesan cinta, pemahaman, kerukunan, dan perdamaian. Berbagi nilai-nilai dalam hati kita dan melaksanakan nilai-nilai ini demi melayani semua orang adalah kemanusiaan kita,” kata Mgr Pioppo.(mssfic/pcp)

Tuduhan apa yang menyebabkan Yesus dihukum mati?

Rab, 14/03/2018 - 00:09

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

112. Apa arti penting Misteri Paskah Yesus?

Misteri Paskah Yesus, yang meliputi sengsara, wafat, kebangkitan, dan pemuliaan-Nya, merupakan pusat iman Kristen karena rencana Allah untuk menyelamatkan dunia telah terlaksana satu kali untuk selamanya melalui wafat Putra-Nya, Yesus Kristus.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 571-573

113. Tuduhan apa yang menyebabkan Yesus dihukum mati?

Beberapa pemimpin Israel menuduh Yesus telah bertindak melawan hukum, kenisah di Yerusalem, dan khususnya melawan iman akan satu Allah karena Dia mengumumkan Diri-Nya sebagai Putra Allah. Untuk alasan inilah mereka menyerahkan Dia ke tangan Pilatus agar dihukum mati.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 574-576

114. Bagaimana sikap Yesus sendiri terhadap Hukum Israel?

Yesus tidak menghapuskan Hukum yang diberikan Allah kepada Musa di Gunung Sinai, tetapi menggenapinya dengan memberinya interpretasi definitif. Dia sendiri adalah Pembuat Hukum ilahi yang sepenuhnya melaksanakan Hukum ini Terlebih, sebagai Hamba yang setia, Dia mempersembahkan kurban satu-satunya yang mampu menebus ”pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama Perjanjian yang pertama” (Ibr 9:15) melalui kematian-Nya.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 577-582, 292

Mgr Sunarko OFM kunjungi tanah kelahiran Merauke dan rayakan Misa bernuansa persatuan

Sel, 13/03/2018 - 11:25

Untuk mengucap syukur karena terlahir di Merauke, Papua, dan untuk bertemu umat dan teman-temannya di sana, Mgr Adrianus Sunarko OFM melakukan kunjungan ke tanah kelahirannya di Kabupaten Merauke, Papua. Uskup Pangkalpinang, yang tiba di Bandara Mopah Merauke 10 Maret 2018 bersama ibu kandungnya, disambut oleh Uskup Agung Merauke Mgr Nicolaus Adiseputra MSC.

Ketika tiba di rumah Uskup Agung Merauke, topi burung Cendrawasih langsung dipasang di kepala Mgr Sunarko dan rangkaian bunga hasil karya para siswa SD Fransiskus Xaverius II Merauke  dikalungkan di leher Uskup Pangkalpinang yang baru ditahbiskan uskup tanggal 23 September 2017 itu.

“Saya ingin mengunjungi kota kelahiranku Merauke untuk bertemu umat dan teman-temannya, sekaligus untuk mengucapkan syukur karena terlahir di Merauke,” kata Mgr Sunarko kepada PEN@ Katolik seraya menambahkan bahwa Merauke mengalami perubahan besar, namun tempat bersahaja dan penuh kedamaian.

Dalam Misa bernuansa etnis Papua, Jawa, Toraja dan Cina “demi persatuan dunia” yang dirayakan di Katedral Santo Fransiskus Xaverius Merauke, 11 Maret 2018, Mgr Sunarko membagikan pengalamannya dalam persahabatan dengan masyarakat dari berbagai suku dan agama, “yang membuat diri saya kata dengan pengalaman rohani.”

Seusai Misa, mantan provinsial OFM Indonesia dan Ketua Koptari itu berkumpul dengan umat, membagikan pengalamannya, dan mengajak semua orang terutama generasi muda untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati. “Untuk meraih kesuksesan seseorang harus berjuang, belajar, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, serta mengasihi sesama, mengikuti kegiatan Gereja dan menghindari pergaulan bebas,” Mgr Sunarko menasihati.

Sejak usia SD, Mgr Sunarko mengaku, selalu aktif dalam kegiatan Gereja dan muncul cita-cita untuk menjadi imam. “Akhirnya cita-cita itu menjadi kenyataan. Saya tidak menduga kalau saya diangkat menjadi uskup,” tegas uskup Pangkalpinang itu.

Mgr Sunarko lahir di Merauke 7 Desember 1966 dan menamatkan pendidikan di SD YPPK Santo Fransiskus Xaverius II kemudian belajar sebentar di SMP YPPK Johanes XXIII sebelum pindah ke Jawa. Murid-murid SD dan para guru serta kepala sekolah SD itu  ikut menyambut Mgr Sunarko dengan tarian dan lagu.

Suster Maria Etmunda Renwarin  PBHK yang juga alumnus SD YPPK Fransiskus Xaverius II bersyukur. “Kami keluarga besar SD YPPK Fransiskus Xaverius II berterima kasih karena dari sekolah ini terlahir seorang uskup,” kata suster itu dalam pertemuan dengan Mgr Sunarko. Suster itu berharap Mgr Adrianus Sunarko tetap kuat dan mampu menjalankan tugasnya dalam tanggung jawabnya menggembalakan umat Keuskupan Pangkalpinang, Indonesia dan dunia.(Getrudis Saga Keo)

Apa arti Transfigurasi?

Sel, 13/03/2018 - 01:56

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

110. Apa arti Transfigurasi?

Transfigurasi terutama menunjuk Tritunggal, ”Bapa di dalam rupa suara, Putra di dalam diri manusia Yesus, Roh Kudus di dalam rupa awan yang bersinar” (Santo Thomas Aquinas). Berbicara dengan Musa dan Elia tentang ”kepergian-Nya” (Luk 9:31), Yesus mewahyukan bahwa kemuliaan-Nya datang melalui salib, dan Dia mengantisipasi kebangkitan dan kedatangan-Nya yang mulia ”yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:21).

”Engkau ditransfigurasikan di atas gunung,

dan murid-murid-Mu, sejauh mereka mampu,

menyaksikan kemuliaan-Mu, ya Kristus, Allah kami

sehingga apabila mereka melihat Engkau disalibkan

mereka akan mengerti

bahwa penderitaan-Mu telah Engkau tanggung dengan rela

dan mewartakan kepada dunia

bahwa Engkau benar-benar cahaya Bapa”

(Liturgi Bizantin)

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 554-556, 568

111. Bagaimana Sang Mesias masuk ke Yerusalem?

Pada saat yang sudah ditentukan, Yesus memilih masuk ke Yerusalem untuk mengalami penderitaan dan kematian-Nya, kemudian bangkit dari kematian. Sebagai Mesias, Raja yang mewartakan kedatangan Kerajaan Allah, Dia masuk ke dalam kota dengan menaiki seekor keledai. Dia disambut oleh anak-anak kecil yang seruan pujiannya dipakai sebagai seruan Kudus dalam liturgi Ekaristi, ”Diberkatilah Dia yang datang dalam Nama Tuhan! Hosana (selamatkanlah kami)” (Mat 21:9). Liturgi Gereja memulai Pekan Suci dengan merayakan masuknya Yesus ke Yerusalem.

“YESUS KRISTUS MENDERITA SENGSARA DALAM PEMERINTAHAN PONTIUS PILATUS, DISALIBKAN, WAFAT, DAN DIMAKAMKAN

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 557-560, 569-570

Duta Vatikan berkati Gereja Pancasila agar umatnya rukun, damai dan saling menghormati

Sel, 13/03/2018 - 01:10
Penandatanganan Prasasti Pemberkatan Gereja Maria Ratu Pencinta Damai oleh Duta Vatikan Mgr Piero Pioppo dan Mgr Agustinus Agus. PEN@ Katolik/pcp

Dalam Masa Prapaskah, Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo mengajak umat dalam homili Misa Pemberkatan Gereja Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila Pontianak untuk melangkah menuju Paskah bersama Kristus, Putra Allah dan Putera Maria, “yang mendamaikan kita dengan Allah Bapa dan antara kita dengan sesama dalam kerukunan, penghormatan satu sama lain, dan damai.”

Setelah memberkati air dalam Misa 11 Maret 2018 itu, Mgr Pioppo memerciki altar  dan semua yang ada di Panti Imam serta seluruh umat dengan dibantu oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Uskup Sanggau Mgr Julius Meccucini CP. Hadir juga Uskup Agung Emeritus Pontianak Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap serta sekitar 30 imam konselebran. Sekitar 1500 umat termasuk kaum religius memenuhi gereja hingga balkon.

Mgr Pioppo lalu meletakkan reliqui orang kudus pada altar dengan berdoa “Para kudus Allah, engkau telah menerima tahta di bawah altar Allah. Doakanlah kami kepada Tuhan Yesus Kristus,” mendupai altar dengan meletakkan ukupan di atas altar dan menuangkan dupa di ukupan itu, lalu berdoa “Tuhan, semoga doa-doa kami membumbung ke hadirat-Mu laksana asap dupa ini; dan sebagaimana ruangan ini dipenuhi bau yang harum, semoga Gereja-Mu memenuhi dunia dengan keharuman Kristus,” dan setelah altar dibersihkan menyalakan lilin altar dengan berkata, “Semoga cahaya Kristus bersinar di dalam Gereja, sehingga semua bangsa dibawa kepada kepenuhan kebenaran.”

Sesudah komuni, Mgr Pioppo juga memberkati tabernakel, dan Mgr Agus memberkati Kapel Adorasi Ekaristi Abadi.

Duta Vatikan yang pernah berkarya di Sekretariat Negara Vatikan itu bersyukur kepada Tuhan karena bisa diundang ke Pontianak untuk memberkati Gereja MRPD Pancasila, berbahagia dalam kebersamaan dengan umat paroki yang menyambutnya dengan hangat serta “berdoa agar Maria memberkati semua yang hadir, melindungi gereja baru ini, serta Keuskupan Agung Pontianak, seluruh Kalimantan dan negara besar dan indah, Indonesia.”

Menyambung homili itu, Mgr Agus menegaskan bahwa suara Tuhan tetap diperdengarkan di gereja, guna membantu kita “melanjutkan perjalanan dan memberikan diri pada pembangun kembali bait rohani kita, serta mendorong kita untuk mengikuti-Nya dan selalu bertolak lagi menuju Dia dan saudara kita.”

Semua yang hadir juga diingatkan untuk memohon anugerah bagi semua manusia dengan perantaraan Maria Ratu Pencinta Damai, karena sebagai satu perkumpulan, satu bangsa, “kita bertolak demi melakukan karya amal dan menjadi bibit harmoni dan persatuan bagi kota kita, keuskupan kita, kabupaten kita, provinsi kita, negara kita, dan kemanusiaan seluruhnya.”

Prelatus itu meminta umat agar  berdoa kepada Maria Ratu Pencinta Damai agar di keuskupan itu terbina banyak pelaku perdamaian sesungguhnya. Sesuai kata-kata Paus Fransiskus yang memohon kehadiran Roh Kudus, Mgr Agus berdoa, “Hendaknya Roh berdiam di tempat kudus ini dan memenuhinya dengan anugerah yang dapat memampukan kita menjadi pencinta dan orang yang berkarya bagi perdamaian.”

Kepala Paroki MRPD Pancasila Pastor John Rustam Pr menjelaskan bahwa nama gereja MRPD Pancasila berasal dari nama gang tempat gereja itu berdiri yakni, Jalan Gusti Hamzah Gang Pancasila V Nomor 1 Pontianak. “Gereja ini sangat unik, selain nama pelindungnya Maria Ratu Pencinta Damai Pancasila, hampir semua ornament hias baik lukis, pahat, dan kaca patri, mengambil tema tentang Maria sebagai Bunda Yesus Kristus dan Bunda Gereja seluruhnya.”

Gereja itu didedikasikan untuk menghormati Maria “karena tanpa kesediaan, kerja sama dan pengorbanan untuk harus menjadi ibu Sang Juru Selamat meski masih gadis muda sampai menggendong jenazah putranya yang dilambangkan dengan Patung Pieta, Maria tetap setia dan tidak ada sejarah keselamatan tanpa kesediaan Maria untuk bekerja sama dengan Allah.”

Dijelaskan bahwa selesainya pembangunan gereja ini tak lepas dari jasa besar pemerintah Provinsi Kalbar, yakni Gubernur Kalbar waktu itu Cornelis, dan DPRD Provinsi Kalbar. Bahkan Pastor Rustam mengatakan sekitar 75 sampai 80 persen dana pembangunan gereja itu berasal dari pemerintah Kalbar dan selebihnya dari donatur dan umat MRPD.

Di akhir Misa itu, Mgr Pioppo dan Mgr Agus menandatangani prasasti pemberkatan Gereja MRPD Pancasila disaksikan oleh Cornelis, mantan Gubernur Kalbar, bersama isteri, dan oleh Bupati Landak dr Karolin Margret Natasa yang menjadi Ketua Pembangunan Gereja MRPD. Gereja itu sendiri sudah diresmikan oleh Cornelis sebelum akhir masa jabatannya, yakni 1 Januari 2018, tepat pada hari Raya Santa Maria Bunda Allah.(paul c pati)

Mgr Agus memulai pembangunan patung Maria Ratu Pencinta Damai, simbol kebinekaan

Sen, 12/03/2018 - 04:58

Di saat kebinekaan di Indonesia sedang digoncang, Uskup Agung Pontianak meresmikan dimulainya pembangunan sebuah patung Maria, yang sarat simbol persatuan, setinggi 12 meter, termasuk landasannya empat meter, di lapangan parkir Rumah Retret dan Wisata Rohani Anjongan, Kalimantan Barat.

“Kita harus menunjukkan bahwa kita mendukung kebinekaan itu, maka selain akan membangun rumah-rumah penginapan bergaya Dayak, Cina, dan suku-suku lain yang ada di Kalimantan termasuk Melayu, kalau diijinkan oleh Majelis Adat Melayu, kini kita memulai pembangunan patung Maria Ratu Pencinta Damai yang memperhatikan simbol-simbol kebinekaan dan persatuan,” kata Mgr Agustinus Agus.

Mgr Agus berbicara dengan PEN@ Katolik saat peletakan batu pertama pembangunan Patung Maria Ratu Pencinta Damai di lapangan parkir yang terhampar di depan bukit yang masih dipenuhi pepohonan, tempat berdirinya Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan sejak 29 April 1973, dan tempat sedang dibangunnya aula dan rumah retret, serta rumah suster, rumah pembimbing, dan kamar makan.

Selanjutnya di kawasan itu akan dibangun Jalan Salib dan rumah-rumah penginapan “laksana miniatur Indonesia yang membawa pesan kebinekaan,” kata Mgr Agus seraya menjelaskan bahwa rencana pengembangan Gua Maria menjadi Rumah Retret dan Wisata Rohani itu sudah dimulainya dengan peletakan batu pertama 29 Oktober 2017.

“Meski yang dibangun adalah simbol-simbol Katolik, namun saya ingin mengatakan bahwa umat Katolik terbuka untuk siapa pun. Jadi kalau dapat ijin, rumah Melayu pun akan kita bangun,” tegas Mgr Agus.

 

Patung Maria Ratu Pencinta Damai yang mulai dibangun itu pun, menurut Uskup Agung Pontianak itu, “sarat simbol kebinekaan, persatuan dan perdamaian.” Di bawah mantel patung itu, cerita Mgr Agus, akan berlindung suku-suku yang memiliki umat Katolik, khususnya Dayak dan Cina.

 

“Gua Maria yang sudah ada itu memiliki pesan perdamaian, karena setelah G30S PKI terjadi bentrokan antara orang Dayak dan orang Cina, dan mendiang Mgr Isak Doera Pr, yang waktu itu adalah pastor militer, ingin membuat perdamaian antara kedua kelompok itu dengan mengajak mereka datang berdoa bersama di Gua Maria itu. Dari dari situ muncul nama Gua Maria Ratu Pencinta Damai ini. Dan itulah yang ingin saya munculkan kembali dalam simbol patung,” kata Mgr Agus.

 

Peletakan batu pertama pembangunan patung itu didahului dengan ritual adat. “Ritual adat ini memang biasa dilakukan di sini, juga sebelum membangun tempat-tempat ibadat. Meletakkan batu pertama sama seperti membuat pondasi, maka kita pakai adat dulu baru naikkan bata dan segalanya,” kata Asip, pemimpin adat itu kepada PEN@ Katolik. Dia menegaskan bahwa adat dan agama tidak bertentangan, dan orang Katolik tidak menentang adat, karena  “agama menyempurnakan adat, yang merupakan turunan dari nenek moyang kita.”

 

Guna menyelesaikan pembangunan patung dan seluruh kawasan rumah retret dan wisata rohani sebagai bentuk kepedulian Gereja dalam menyediakan pusat pembinaan iman umat itu, Mgr Agus masih mengharapkan bantuan dengan menghubungi 0561 731280 atau 0812 5233 8650, atau langsung disalurkan lewat Rekening BCA 512 5678 901 an Keuskupan Agung Pontianak.(paul c pati)

Gambar patung yang sedang dibangun Suasana pemberkatan dan peletakan batu pertama /PEN@ Katolik/pcp Pembangunan rumah retret wisata rohani/PEN@ Katolik/soni Pembangunan aula dengan bentuk miniatur Katedral Pontianak yang lama yang dilengkapi semacam museum katedral/PEN@ Katolik/pcp Suasana pembangunan diambil dari atas bukit di Anjongan/PEN@ Katolik/soni

Halaman