Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 45 mnt 57 dtk yang lalu

Jurnalisme damai sangat penting saat ini, kantor media harus serius tanggapi berita palsu

Jum, 11/05/2018 - 23:46
Ketua Konferensi Waligereja India (CBCI) yang juga ketua Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) bersama Paus Fransiskus Bombay Mgr Oswald Gracias

Ketua Konferensi Waligereja India (CBCI) serta ketua Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC), Uskup Agung Bombay Mgr Oswald Gracias, menegaskan bahwa jurnalisme damai “sangat penting” untuk melawan berita palsu.

Oleh karena itu, Kardinal Gracias menyatakan puas dengan tema dari pesan Hari Komunikasi se-Dunia, Minggu, 13 Mei 2018 yang dipilih Paus Fransiskus, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Berita palsu dan jurnalisme untuk perdamaian.”

Tuhan, kata kardinal itu, telah memberi kita media dan fasilitas untuk “mengkomunikasikan kebenaran”, namun seperti dikatakan Bapa Suci, “kekuatan jahat” telah mulai menggunakan komunikasi “untuk memberikan kepalsuan, bukan kebenaran,” yakni berita palsu.

Pernyataan-pernyataan itu dikutip oleh PEN@ Katolik dari wawancara Kardinal Gracias, yang merupakan anggota Dewan Kardinal (C9) atau kelompok sembilan kardinal yang dipilih oleh Paus Fransiskus untuk menasihatinya tentang upaya reformasi, dengan Robin Gomes dari Vatican News tentang seberapa pentingnya “jurnalisme damai” di dunia saat ini, termasuk di India.

Menurut kardinal itu, berita palsu itu sangat berbahaya, “karena hasil akhirnya bisa berupa ketidakrukunan, kemarahan, prasangka, atau kebencian yang sama sekali tidak berdasar, kepalsuan.” Memerangi berita palsu, lanjut kardinal, “merupakan tantangan bagi Gereja dan kantor-kantor media harus serius menanggapinya.”

Berita palsu, tegas kardinal, juga merupakan tantangan bagi pemerintah India. “Perlu membedakan antara berita palsu dan kebenaran, bagaimana tidak membiarkan berita palsu mempengaruhi diri kita sendiri dan bagaimana melawan berita palsu di media dengan memberikan kebenaran.” Tantangan “luar biasa” itu, lanjut kardinal membutuhkan juga “orang-orang yang mengkhususkan diri di media untuk memberi nasihat kepada Gereja.”

Berita palsu, lanjut Kardinal Gracias, secara khusus sangat berbahaya bagi India yang kaya akan ragam agama, bahasa dan budaya, di mana kerukunan sangat penting. “Siapa pun yang tidak suka dengan kerukunan dapat menciptakan pemecahan. Para penabur berita palsu adalah musuh dari kebenaran, musuh-musuh negara dan merupakan kekuatan jahat, yang perlu diperangi dengan segala cara yang bisa dilakukan,” tegas kardinal.(paul c pati)

Gubernur Soekarwo resmikan Gedung Vidya Loka UKDC: Orang kecil menunggu Pancasila

Jum, 11/05/2018 - 18:26

Saat ini bhinneka tunggal ika agak terdegradasi karena adanya ketidakadilan. Karenanya, ketidakadilan harus dicarikan solusi dalam kehidupan agar tidak mengganggu kebhinekaan. Orang kecil atau kaum marhaen selalu menunggu kehadiran Pancasila, dan tugas kitalah untuk membantu mereka dan mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya.

Gubernur Jatim Soekarwo berbicara saat meresmikan Gedung Vidya Loka Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) di Jalan Dr Ir H Soekarno No. 201, Surabaya, 27 April 2018. Peresmian itu diawali dengan Misa yang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono Pr, pemotongan tumpeng dan makan bersama, serta seminar nasional bertema “Bhinneka Tunggal Ika” dengan narasumber Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj, Wantimpres Mayjen Pol Sidarto Danusubroto, dan Anggota DPR RI Eva Kusuma Sundari.

Menurut Soekarwo, peresmian Gedung Vidya Loka merupakan perwujudan working ideology karena semua kalangan hadir dan ikut menyemarakkan suasana. “Ini kejadian luar biasa. Diundang oleh Romo semua datang dan senang di sini. Tidak ada konsep kebhinekaan yang saling menghargai seperti di negara kita ini,” kata Soekarwo seraya menambahkan bahwa konsep kebhinekaan tertuang pada Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Pancasila sendiri, menurut gubernur, mengandung tiga dimensi yakni dimensi realitas yang dibuat oleh founding fathers, dimensi ideologi yang meletakkan cita-cita ke depan, dan dimensi working ideology. “Menyikapi hal ini, NU kemudian merumuskan Islam Nusantara yang endingnya adalah memadukan konsep agama dan budaya. Perkawinan antara agama dan budaya merupakan salah satu solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi selama ini,” lanjutnya.

Karena itu, Soekarwo menghimbau agar perguruan tinggi Katolik memberikan bantuan dan fasilitas pendidikan yang sama bagi anak non-Katolik dan anak yang memiliki kemampuan akademik namun tidak mampu secara ekonomi. Dengan begitu, tegas gubernur, “wujud nyata working ideology berjalan dalam keseharian perguruan tinggi.”

Uskup Surabaya sekaligus Ketua Pembina Universitas Katolik Darma Cendika Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono menanggapi imbauan gubernur dengan menegaskan bahwa UKDC merupakan “rintisan kaum Katolik yang ikut prihatin pada layanan pendidikan yang makin lama makin mahal.” Maka, lanjut uskup, “universitas ini dari awal dikhususkan bagi yang ingin meneruskan ke perguruan tinggi, namun kondisi ekonominya tidak memadai.”

Said Aqil Siradj menegaskan dalam seminar bahwa Pancasila sudah final dan Indonesia tidak perlu menjadi negara agama. Meski Indonesia merupakan negara yang mayoritas beragama Islam, lanjutnya, tetapi NU dalam Muktamar tahun 1984 memutuskan bahwa NKRI dan Pancasila adalah finalisasi usaha mendirikan negara. “Mereka yang berusaha mendirikan negara agama seharusnya bercermin pada negara-negara Timur Tengah yang konflik akibat ISIS. Kita dengan Pancasila justru berhasil menyatukan kaum nasionalis dan religius,” ujar Said Aqil.

Sidarto Danusubroto menyayangkan beredarnya informasi palsu (hoax) dan pernyataan-pernyataan memecah belah yang bahkan telah digunakan untuk mendiskreditkan pemerintah melalui isu-isu SARA. Upaya-upaya itu, jelasnya, menunjukkan lemahnya pemahaman untuk mendaratkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa.

Menurut Rektor UKDC Pastor Yustinus Budi Hermanto Pr, salah satu tujuan pembangunan Vidya Loka adalah untuk membangun manusia Indonesia yang Pancasilais dengan tidak melupakan nilai-nilai kekatolikan.

Sedangkan Ketua Yayasan Darma Cendika Pastor Adrian Adiredjo OP menjelaskan, gedung baru UKDC yang dibangun delapan lantai dengan dana sekitar 30 miliar rupiah dan dilengkapi fasilitas kafe dan lapangan basket indoor, serta mulai dibangun  29 Oktober 2015 itu “diharapkan dapat menunjang peningkatan kegiatan akademik dan ekstra kurikuler.”

UKDC, yang kini memiliki sekitar 700 mahasiswa, bermula ketika sekelompok sarjana dan cendekiawan Katolik di Surabaya mendirikan Yayasan Darma Cendika di Surabaya, 7 November 1984. Yayasan yang bergerak dalam kegiatan pendidikan, kesehatan, dan sosial itu bertujuan untuk membantu pemerintah meningkatkan derajat kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat dan Bangsa Indonesia dalam arti seluas-luasnya.

“Untuk merealisasi tujuan itu, langkah pertama yang dilakukan adalah mendirikan perguruan tinggi yang diberi nama Universitas Katolik Darma Cendika. Universitas ini memulai perkuliahannya secara resmi  tanggal 1 September 1986. Selanjutnya tanggal ini ditentukan sebagai saat berdirinya Unika Darma Cendika. Operasional awalnya dulu di SMA Hendrikus Klampis,” jelas Pastor Adiredjo.

Ijin operasional diperoleh dari Koordinator Kopertis Wilayah VII, No. 365/Q/1986, tertanggal 20 Juni 1986, dan ditingkatkan menjadi Status Terdaftar dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 0217/O/1987, tanggal 11 April 1987, berlaku untuk Fakultas Teknik (jurusan Teknik Industri dan Teknik Arsitektur), Fakultas Ekonomi (jurusan Manajemen dan Akuntansi) dan Fakultas Hukum. Tahun 2002 semua program studi, Ilmu Hukum, Arsitektur, Teknik Industri, Manajemen dan Akuntansi terakreditasi berdasarkan Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi. (herman yk/magda dotik)

Para uskup Myanmar minta Tahta Suci mengorganisir konferensi tentang Rohingya

Jum, 11/05/2018 - 18:03
Pertemuan Kardinal Bo dengan Paus Fransiskus di Myanmar

Dalam pertemuan dengan Paus Fransiskus di Vatikan, para pemimpin Gereja Myanmar mengatakan bahwa mereka mendiskusikan dampak positif dari perjalanan paus ke negara mereka dan perlunya solusi internasional untuk penderitaan para pengungsi Rohingya.

Selain itu, menurut laporan Philippa Hitchen dari Vatican News tanggal 10 Mei 2018, para uskup Myanmar juga meminta Tahta Suci untuk menyelenggarakan konferensi internasional mengenai penderitaan rakyat Rohingya yang tidak memiliki negara. Mereka berada di Roma untuk bertemu Paus Fransiskus dan pejabat Vatikan guna membahas konflik etnis yang terus mengganggu negara mereka.

Paus melakukan kunjungan tiga hari ke Myanmar di bulan November tahun lalu, seraya mendesak umat Katolik, Budha dan semua anggota masyarakat untuk mengupayakan perdamaian dan rekonsiliasi di negara Asia Tenggara itu.

Perhatian utama selama kunjungan kepausan ke Myanmar dan negara tetangga Bangladesh adalah nasib ratusan ribu pengungsi Rohingya, yang lari menghindari konflik antara pasukan pemerintah dan pejuang kemerdekaan di negara bagian Rakhine utara.

Setelah pertemuan pribadi antara Paus dan para uskup Myanmar di Vatikan tanggal 8 Mei 2018, ketua Konferensi Waligereja Myanmar Kardinal Charles Bo berbicara kepada Vatican News tentang dampak kunjungan paus ke negaranya.

Kardinal itu mengatakan bahwa setelah kunjungan itu, “seluruh bangsa pada umumnya mulai memahami pesan Paus dan bahkan menghormati pribadi Paus serta Gereja Katolik.” Dan salah satu manfaatnya adalah bahwa para uskup “memiliki akses yang lebih mudah ke pemerintah”, termasuk ke para jenderal regional dan pemimpin militer tertinggi.

Kardinal Bo mengatakan bahwa secara pribadi dia meminta agar Paus Fransiskus mengirim pesan kepada Aung San Suu Kyi dan kepada Jenderal Min Aung Hlaing seraya menyerukan perdamaian di negara itu. Kardinal mengatakan bahwa Paus “mengatakan dia pasti akan melakukan hal itu.”

Berbicara tentang nasib pengungsi Rohingya, kardinal mengatakan dia “meminta apakah Sekretaris Negara Vatikan dapat menyelenggarakan “pertemuan internasional karena tidak ada dari negara-negara ini mau menerima orang-orang ini dan memberikan kewarganegaraan” kepada mereka. Dikatakan bahwa tidak jelas apakah Bangladesh, yang menerima bantuan internasional untuk para pengungsi, akan terus mendukung mereka ketika bantuan itu mengering.

Kardinal Bo mengatakan bahwa Bapa Suci setuju untuk “berbicara dengan Sekretaris Negara,” seraya menambahkan bahwa dia berharap konferensi dapat diselenggarakan di akhir tahun ini.

Kardinal juga mengatakan bahwa dia akan melakukan perjalanan ke negara bagian Rakhine di sebelah utara bersama kelompok Religions for Peace (agama-agama untuk perdamaian). Anggota-anggota kelompok itu, ditambah para duta besar Eropa akan bertemu dengan Aung San Sui Kyi tanggal 25 Mei dan kemudian terbang ke negara Rakhine “untuk melihat sendiri situasi itu.” Menurut rencana, lanjut kardinal, kelompok itu akan membuat laporan independen tentang apa yang mereka amati.(paul c pati menurut Vatican News)

 

Kitab Suci dan tradisi beri beberapa kemungkinan tempat tinggal Maria setelah Kebangkitan

Jum, 11/05/2018 - 05:29
Rumah Perawan Maria, Foto Andrew Hurley | CC BY SA 2.0

Tidak ada alamat pasti yang diberikan oleh Kitab Suci tentang ke mana dan di mana tempat tinggal ibu Yesus, setelah Yesus bangkit dari kematian dan naik ke surga. Meskipun demikian, Kitab Suci juga memberikan beberapa petunjuk.

Sudah umum diterima bahwa Yoseph, ayah angkat Yesus sudah meninggal di saat kematian Yesus. Maka, Yesus pun menjadi anggota keluarga yang bertanggung jawab atas ibunya yang sudah tua. Dan, ketika hampir mati di kayu salib, Yesus menunjuk salah satu murid-Nya untuk menjaganya.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya, dan murid yang Dia cintai berdiri di dekat-Nya, Dia berkata kepada ibu-Nya, “Wanita, lihatlah, putramu!” Kemudian Dia berkata kepada murid itu, “Lihatlah, ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu membawanya ke rumahnya sendiri. (Yohanes 19: 26-27)

Sebagian besar ahli Kitab Suci setuju dengan tradisi bahwa “murid terkasih” itu adalah Santo Yohanes Penginjil. Awalnya, Yohanes nampak menjaga Maria di Yerusalem, seperti yang disebutkan dalam kitab Kisah Para Rasul.

Kemudian rasul-rasul itu kembali ke Yerusalem dari Bukit Zaitun. Bukit itu terletak kira-kira satu kilometer jauhnya dari Yerusalem. Di Yerusalem mereka pergi ke rumah tempat mereka menumpang, lalu naik ke kamar yang di atas. Rasul-rasul itu, yaitu Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus anak Alfeus, Simon Patriot dan Yudas anak Yakobus; semuanya selalu dengan sehati berkumpul untuk berdoa. Mereka berdoa bersama wanita-wanita termasuk Maria ibu Yesus, dan bersama saudara-saudara Yesus. (Kis 1: 12-14)

Itu berarti bahwa setidaknya setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus, Maria hidup bersama para rasul di Yerusalem. Ada tradisi yang mengatakan bahwa di sanalah Maria menjalani sisa hidupnya, menjalani “jalan salib” setiap hari, menapak langkah-langkah putranya. Dalam tradisi ini, pengangkatan Maria ke surga terjadi di Yerusalem dan disaksikan oleh para rasul.

Sampai hari ini ada gereja di dekat Bukit Zaitun yang dikatakan sebagai tempat penguburan Maria dan dihormati oleh Gereja Ortodoks Timur. Ada juga lokasi lain di Yerusalem yang disebut Gereja Tidur (Gereja kematian Perawan Maria), yang dikelola oleh biarawan Benediktin. Kedua situs mengklaim sebagai situs Maria diangkat ke Surga.

Di sisi lain, ada tradisi yang menempatkan Yohanes Penginjil di kota Efesus. Banyak yang percaya, karena Yohanes tinggal di kota ini maka Perawan Maria tinggal bersamanya dan pengangkatannya ke Surga terjadi di sana juga. Ini kemudian diperkuat oleh wahyu pribadi dari Beata Anne Catherine Emmerich di abad ke-19, yang menempatkan rumah Perawan Maria di Efesus.

Sebuah rumah abad pertama ditemukan di Efesus oleh Suster Marie de Mandat-Grancey tahun 1891, bersama reruntuhan gereja yang dibangun di atasnya di abad ke-4. Situs ini telah menjadi tempat ziarah populer bagi banyak orang, termasuk beberapa paus di abad lalu.

Akhirnya, di mana pun Maria hidup selama hari-hari terakhir hidupnya, ketika dia diangkat ke Surga, dia menjadi ibu kami dan tetap menjadi Ibu Gereja, selalu menjadi perantara bagi kami di hadapan putranya.(pcp, berdasarkan tulisan Philip Kosloski dari Aleteia)

 

Apa itu neraka?

Jum, 11/05/2018 - 05:17
Kedalaman Negara, Lukisan di Basilika Santa Maria del Fiore, Italia

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

212. Apa itu neraka?

Neraka merupakan kutukan kekal bagi mereka yang mati dalam keadaan dosa berat karena pilihan bebas mereka sendiri. Penderitaan neraka yang utama adalah keterpisahan kekal dari Allah yang merupakan satu-satunya sumber kehidupan dan kebahagiaan yang merupakan tujuan kita diciptakan dan yang merupakan kerinduan kita. Kristus menjelaskan realitas ini dengan kata-kata: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal”(Mat 25:41).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1033-1035, 1056-1057

213. Bagaimana adanya neraka ini diperdamaikan dengan kebaikan Allah yang tak terbatas?

Allah menghendaki “supaya semua orang berbalik dan bertobat”(2Pet 3:9), namun Ia menciptakan manusia dalam keadaan bebas, dan manusia sendiri mempunyai tanggung jawab; Allah menghargai keputusan-keputusan kita. Karena itu, manusialah yang dengan bebas memisahkan dirinya dari kesatuan dengan Allah jika pada saat kematian dia tetap berpegang teguh pada pendiriannya dalam dosa berat dan menolak cinta dan kerahiman Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1036-1037

Mgr Suharyo tahbiskan empat imam di HUT ke-211 KAJ: Imamat bukan tujuan tapi jalan yang dipilih

Jum, 11/05/2018 - 02:48
Foto diambil dari http://www.santo-laurensius.org/

“Imamat bukan tujuan. Imamat adalah jalan yang dipilih untuk menjawab panggilan Tuhan menuju kesempurnaan kasih, kepenuhan hidup Kristiani, dan kesucian yang sempurna,” kata Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo dalam homili sebelum menahbiskan empat frater diakon menjadi imam Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di Paroki Santo Laurensius Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan.

Dengan cara berbeda-beda, jelas Mgr Suharyo, seluruh umat, biarawan-biarawati, para imam dan keluarga ikut berperan sehingga Diakon Bonifasius Lumintang, Diakon Ambrosius Lolong, Diakon Nemesius Pradipta, dan Diakon Yosef Purboyo Diaz “berani mengambil keputusan untuk memilih jalan hidup imamat sebagai jalan untuk menuju panggilan kesempurnaan kasih, kepenuhan hidup Kristiani, dan kesucian yang sempurna.”

Mgr Suharyo juga berterima kasih kepada keempat diakon itu yang telah memutuskan untuk bergabung dengan KAJ untuk mewartakan sukacita Injil dan mengemban “tanggung jawab sejarah KAJ,” karena tanggal tahbisan 8 Mei 2018 hari ini “KAJ persis merayakan HUT ke-211. Mungkin ini adalah satu-satunya angkatan yang menerima tahbisan pas ketika kita merayakan HUT KAJ,” kata uskup agung.

Selain pilihan tanggal tahbisan, para diakon tidak memilih bacaan khusus tahbisan tetapi menggunakan bacaan harian hari itu tentang perkataan Yesus, “Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi.” Menurut Mgr Suharyo, seandainya Yesus tidak pergi, para murid akan terus tergantung pada Yesus yang hadir secara fisik, merasa nyaman dan aman-aman saja. Kalau Yesus pergi, “Roh Kudus yang diutus Yesus akan menarik murid-murid itu dari zona nyaman dan menguatkan mereka dengan daya kasih yang baru, sehingga mereka siap mewartakan sukacita Injil dengan percaya dan gembira.” Moto tahbisan keempat imam baru itu adalah “Percaya dan bersukacitalah dalam Kristus.”

Tanggal tahbisan, bacaan Injil dan moto tahbisan para mam baru itu, kata Mgr Suharyo, “mengingatkan saya akan panggilan kita semua sebagai murid-murid Kristus, apa pun status kita, seperti apa pun corak hidup kita kita, untuk berjalan menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup Kristiani.

Mgr Suharyo juga menjelaskan maksud dari panggilan kesucian seperti tertulis dalam Seruan Apostolik Paus Fransiskus tanggal 19 Maret 218 berjudul “Gaudete et Exsultate” (Bergembira dan Bersukacitalah)  tentang panggilan menuju kesucian pada zaman dan dunia sekarang ini. “Kita bertumbuh dalam kesucian yang merupakan panggilan kita semua melalui hal-hal kecil sehari-hari.”

Mgr Suharyo menutup homili dengan mempersilakan keempat frater diakon yang akan ditahbiskan untuk menuliskan pengalaman jalan kesucian menuju imam baru, dan menambahkan kata-kata orang suci bahwa “Jalan hidup dirumuskan sebagai kesempatan untuk berbuat kasih. Melakukan hal-hal sehari-hari yang biasa dengan cara yang luar biasa.”

Dalam ritus penutup, Pastor Bonifasius Lumintang Pr mewakili tiga imam baru lain berharap agar sukacita yang mereka rasakan “sungguh menjadi sukacita bagi Gereja universal dan khususnya KAJ.” Para imam baru itu, lanjut Pastor Boni, senang karena kehadiran semua umat dalam Misa itu “menjadi dukungan bagi kami untuk melayani sebagai imam di KAJ … doakan kami semua supaya tetap setia …”

Setelah memberikan berkat perdana kepada semua yang hadir dalam Misa, mereka mendengar penempatan dan tugas perutusan bagi mereka. Selain diminta untuk segera menyelesaikan S2 teologi di Yogyakarta, keempat imam itu, per 1 Juli 2018, ditugaskan sebagai pastor rekan di Paroki Kalvari Lubang Buaya untuk Pastor Bonifasius Lumintang Pr, di Paroki Albertus Harapan Indah untuk Pastor Ambrosius Lolong Pr, di Paroki Santo Gregorius Kutabumi untuk Pastor Nemesius Pr, dan di Paroki Thomas Rasul Bojong Indah untuk Pastor Yosef Purboyo Diaz Pr. (paul c pati dari berbagai sumber)

Gereja-Gereja berkumpul untuk berdoa ‘Datanglah Kerajaan-Mu’

Rab, 09/05/2018 - 23:44

Prakarsa tahunan, yang dimulai di Gereja Inggris, telah tumbuh menjadi gerakan doa ekumene sedunia dengan nama ‘Datanglah Kerajaan-Mu’ yang meminta umat Kristiani seluruh dunia untuk berdoa dan orang lain lain untuk mengenal kekuatan Kristus dalam kehidupan mereka.

Prakarsa itu, seperti dilaporkan oleh Philippa Hitchen dari Vatican News, dimulai dua tahun lalu sebagai ajakan dari para Uskup Agung Anglikan dari Canterbury dan dari York, yang meminta umat Kristiani untuk ikut dalam doa sedunia mulai hari raya Kenaikan hingga perayaan Pentakosta.

Seraya mengenang cara Roh Kudus turun atas para murid pertama, umat Kristiani dipanggil untuk menerima tugas membagikan iman mereka kepada orang lain guna mengubah dunia dewasa ini.

Dalam video website, Uskup Agung Canterbury Justin Welby mengajak semua orang untuk berdoa secara sadar bahwa Tuhan mendengar semua orang yang berpaling kepadanya dalam iman. “Doa dibuat atas keyakinan bahwa kekuatan terkuat di dunia itu tidak terlihat. ‘Datanglah Kerajaan-Mu’ dibuat atas keyakinan, yang diberikan kepada kita oleh Yesus, ini. Seringkali ketika kita berdoa, kita tidak langsung melihat hasilnya, tetapi kita tahu kita harus percaya dan yakin bahwa Yesus mendengar doa kita,” kata uskup Anglikan itu.

‘Datanglah Kerajaan-Mu’ kini telah tumbuh menjadi gerakan ekumene internasional, yang diikuti oleh banyak denominasi Kristen.

Ketua Konferensi Waligereja Katolik Inggris dan Wales Uskup Agung Westminster Mgr Vincent Nichols mengatakan, ‘Datanglah Kerajaan-Mu’ adalah doa kerinduan, tetapi juga pengharapan dan kepercayaan akan janji Allah. “Bagi saya itu doa yang sangat luar biasa. Kerukunan yang tertulis dalam ciptaan akan tercapai dalam doa itu di saat kita hidup dalam ketidaknyamanan dan kesakitan serta penyesalan dan kesetiaan yang besar terhadap janji akan apa yang dapat dilakukan Kristus dan apa yang akan dilakukan Kristus.”

Situs itu memberikan banyak bahan untuk gereja-gereja dan pribadi-pribadi dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Jepang, Portugis, Kiswahili, dan Korea.

Situs itu mendorong gereja-gereja untuk mengadakan acara-acara doa dan menulisnya secara online agar orang lain dapat ikut dalam inisiatif lokal, atau sekedar berdoa dalam kedamaian dan ketenangan rumah-rumah atau tempat-tempat kerja mereka.

Bahan-bahan online juga menawarkan banyak kesaksian video dari orang-orang yang hidupnya telah diubah secara radikal oleh kekuatan doa, dengan cara yang mengejutkan dan seringkali rahasia.

Itulah sebabnya komunitas-komunitas dan gereja-gereja di seluruh dunia berkumpul bersama, antara Kenaikan tanggal 10 Mei dan hari raya Pentakosta tanggal 20 Mei, untuk berdoa agar teman-teman, keluarga, dan tetangga mereka dapat mengenal Kristus dan memberi kesaksian tentang iman itu di dunia.

Uskup Agung Justin Welby menegaskan, “Jangan pernah meremehkan kekuatan dan pengaruh yang dimiliki oleh doa-doa kalian di dunia!”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

OMK ikuti latihan bela negara guna menumbuhkan disiplin dan semangat cinta tanah air

Rab, 09/05/2018 - 22:57

Untuk menumbuhkan disiplin dan semangat cinta tanah air kepada generasi muda, puluhan Orang Muda Katolik (OMK) dari Komunitas Basis Santo Fransiskus Asisi dari Paroki Santo Aloysius Gonzaga Kampung Muting Distrik Ulilin Kabupaten Merauke, Papua, mengikuti latihan bela negara yang digelar oleh Pos Simpang PNG dan Pos Kalimandom Satgas Pamtas Yonif Raider 323/BP Kostrad.

Materi pelatihan dari kegiatan dengan nama Bina Mental Spiritual OMK, yang diselenggarakan atas prakarsa pengurus paroki di halaman SMPN Muting, 6 Mei 2018 itu, menurut Komandan Pos Simpang PNG sekaligus koordinator kegiatan itu Letda Inf Protasius, adalah pembekalan tentang wawasan Nusantara, latihan kedisiplinan, dan berbagai game yang membutuhkan kerjasama tim. “Yang tidak pernah ketinggalan pada setiap kegiatan bela negara ini adalah arena flying fox yang belum pernah diadakan di wilayah Muting,” lanjut Protasius.

Dijelaskan bahwa berbagai permainan berkelompok diberikan untuk memupuk sikap tanggungjawab, tenggang rasa dan jiwa kebersamaan di antara peserta. “Berbagai permainan yang kami ajarkan bertujuan untuk meningkatkan inteligensi peserta saat dihadapkan dengan permasalahan yang harus diselesaikan dengan cara berkelompok,” kata Protasius seraya menambahkan bahwa dalam hal itu bukan peran perorangan yang dibutuhkan, tetapi bagaimana hasil yang diharapkan dapat tercapai.

Pembina OMK Paroki Santo Aloysius Suster Maria mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa kegiatan itu sengaja menggandeng para prajurit Satgas, “agar menumbuhkan kedisiplinan dan kerjasama antar pemuda yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kelangsungan generasi Katolik yang berkualitas.”

Berbagai arena outbond yang disiapkan pada kegiatan itu memang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Satgas Yonif Raider 323 Kostrad dari home base di Banjar, Jawa Barat. “Belajar sambil bermain akan lebih efektif untuk memasukkan isi dan tujuan pembelajaran itu sendiri,” jelasnya.

Salah satu peserta Regina Da Costa mengatakan dirinya sangat tertarik dengan kegiatan outbond terutama flying fox, “karena baru pertama kali saya mencoba wahana itu.”(Getrudis Saga Keo)

Apa arti istilah ”surga”?

Rab, 09/05/2018 - 19:25
Basilica Santa Maria Altar Surga di Roma, Foto diambil dari http://photography-on-the.net/

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

209. Apa arti istilah ”surga”?

”Surga” berarti suatu keadaan bahagia yang tertinggi dan definitif. Mereka yang mati dalam keadaan rahmat Allah dan tidak membutuhkan pemurnian lebih jauh berkumpul bersama Yesus dan Maria, para malaikat, dan para kudus. Mereka merupakan Gereja surga, tempat mereka melihat Allah ”muka dengan muka” (1Kor 13:12). Mereka hidup dalam kesatuan cinta dengan Tritunggal dan menjadi pengantara kita.

”Kehidupan yang benar dan sejati ialah:

Bapa, melalui Putra, dan dalam Roh Kudus,

mencurahkan anugerah-anugerah surgawi-Nya

kepada segala sesuatu tanpa kecuali.

Melalui kerahiman-Nya, kita manusia juga menerima

janji hidup ilahi yang tak dapat diragukan lagi”

(Santo Cyrillus dari Yerusalem)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1023-1026, 1053

210. Apa itu api penyucian?

Api penyucian ialah keadaan mereka yang mati dalam persahabatan dengan Allah, ada kepastian akan keselamatan kekal mereka, tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1030-1031, 1054

211. Bagaimana kita bisa membantu jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan di api penyucian?

Karena ada persekutuan para kudus, kaum beriman yang masih berjuang di dunia ini dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian dengan mempersembahkan doa-doa untuk mereka, khususnya kurban Ekaristi. Mereka juga dapat membantu mereka dengan beramal, indulgensi, laku tapa, dan tobat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1032

Pastor Albert yang tewas dihormati karena aksinya untuk rekonsiliasi umat Kristen dan Muslim

Rab, 09/05/2018 - 18:58

“Pastor Albert, yang berusia 71 tahun dan salah satu dari imam tertua dari Bangui, adalah pastor yang dihormati dan dikenal karena kesederhanaan dan simpatinya, dan di atas segalanya karena karyanya yang bijaksana dan tak kenal lelah demi rekonsiliasi antara umat Kristen dan umat Muslim,” demikian tulisan yang diterima Agenzia Fides dari Pastor Federico Trinchero, imam Karmelit yang tinggal di biara Our Lady of Carmel di Bangui, ibu kota Republik Afrika Tengah.

Pastor Albert Tungumale Baba adalah imam yang tewas bersama sekitar dua puluh umat beriman di pagi hari 1 Mei 2018, dalam serangan terhadap Paroki Notre Dame de Fatima yang dilakukan oleh sebuah kelompok bersenjata dari Km 5.

“Selama fase perang yang paling akut itu, beberapa tahun Pastor Albert menerima ribuan pengungsi dari daerah tetangga di parokinya yang letaknya sangat dekat dengan Km 5. Apalagi. Semua orang mengenal pastor itu karena cintanya yang besar kepada Sango (bahasa nasional Afrika Tengah). Pastor Albert bisa menerjemahkan setiap kata (tanpa menggunakan bahasa Prancis), dengan solusi brilian atau kata-kata lucu,” kata misionaris itu.

“Dalam sebuah wawancara, Pastor Albert berkata bahwa hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan Afrika Tengah. Banyak yang masih mencoba menyelamatkan Afrika Tengah: tentara nasional, pasukan Uni Afrika, misi Prancis (yang masih memiliki jasa besar karena tidak membuat konflik itu menjadi pembantaian), tentara Uni Eropa, MINUSCA, misi besar PBB (yang, meskipun dengan segala keterbatasan, adalah satu-satunya solusi yang mungkin saat ini) dan Rusia akan segera bertindak. Bahkan Paus Fransiskus mencoba dengan kunjungannya November 2015, sayangnya, efek kunjungan itu menghilang dan kesempatan membalik halaman terbuang sekali lagi. Bentrokan telah berlipat ganda di seluruh negeri dan perdamaian tampaknya hampir lebih jauh dari sebelumnya,” tulis Pastor Federico.

Misionaris itu menegaskan kembali bahwa “perang di Afrika Tengah, yang dimulai awal tahun 2012, bukanlah benturan agama atau etnis. Sebaliknya, merupakan konflik kesekian untuk menaklukkan kekuasaan dan untuk eksploitasi kekayaan berlimpah yang terkandung di lapisan tanah sebelah bawah. Sayangnya, unsur agama masuk dengan keras, meracuni hidup bersama antara umat Kristen dan umat Muslim.”

Saat homili Mia pemakaman imam yang terbunuh bersama beberapa korban itu, Uskup Agung Bangui Dieudonné Kardinal Nzapalainga mencela kelambanan pemerintah, kelambatan PBB, dan risiko bahwa umat Kristen menyerah kekecewaan atau, lebih buruk lagi, pada logika kekerasan dan balas dendam. Ada musuh berbahaya yang sedang menghancurkan Afrika Tengah. Dan musuh ini, kata Kardinal, adalah iblis. Hanya senjata iman yang dapat mengatasinya.

“Bangui, yang terluka di pusat imannya, tidak marah kepada Tuhan, sebaliknya kepada orang-orang yang tidak menginginkan perdamaian dan terus menghalangi negara itu, seolah-olah negara itu harus dikutuk masuk ke dalam kesengsaraan dan perang. Bangui dan semua Afrika Tengah sedang mencari para pahlawan – di antara penguasa, tentara, kaum muda – yang bersama-sama dengan gagah berani mengatakan tidak untuk perang dan ya untuk perdamaian,” kata Pastor Federico. (pcp berdasarkan Agenzia Fides)

CENTRAFRIQUE-PRESSE.COM

‘Jurnalisme Damai’ untuk membantu membangun dunia yang lebih damai

Sel, 08/05/2018 - 22:35
Prof Johan Galtung

Setiap tahun pada hari Minggu sebelum Pentakosta, Gereja merayakan Hari Komunikasi se-Dunia untuk merayakan prestasi media dan untuk memfokuskan pada cara mengunakan komunikasi sebaik mungkin untuk mempromosikan nilai-nilai Injil.

Menjelang Hari Komunikasi se-Dunia ke-52 pada hari Minggu ini, Paus Fransiskus merilis pesan berjudul “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Berita palsu dan jurnalisme untuk perdamaian.”

Jurnalisme damai pertama diartikan sekitar 60 tahun yang lalu oleh cendekiawan tentang perdamaian terkemuka, Johan Galtung. Dia menyebut jurnalisme damai sebagai model dan sumber pilihan praktis bagi para wartawan.

Galtung sendiri mendefinisikan jurnalisme damai sebagai saat “ketika editor dan wartawan membuat pilihan – apa yang akan dilaporkan, dan bagaimana melaporkannya – yang menciptakan peluang bagi masyarakat luas untuk mempertimbangkan dan menghargai tanggapan-tanggapan tanpa kekerasan terhadap konflik.”

Ketika berbicara kepada Alessandro Gisotti dari Vatican News, Galtung menjelaskan bagaimana dia menguraikan konsep “jurnalisme damai” dan mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian dan dukungan Paus Fransiskus.

Galtung menjelaskan, dengan hanya mempelajari dan menganalisis cara berita dilaporkan di surat kabar Norwegia selama tahun 1960-an, “dan itu ketika kami berbicara tentang Kuba dan Kongo,”  ia menyadari empat kesimpulan bahwa berita itu: harus negatif (harus memiliki sesuatu yang berhubungan dengan perang dan kekerasan), harus ‘berorientasi pada aktor’ bukan struktur atau harus ada seseorang yang disalahkan, harus mempengaruhi negara-negara kita (negara-negara elit), dan khususnya mempengaruhi orang-orang penting di negara-negara penting.

Maka, jelasnya, ambillah peristiwa apapun dan lihatlah apakah peristiwa itu memenuhi satu atau semua dari empat kriteria ini. “Pada titik ini, peristiwa itu mudah menjadi berita,” tegasnya.

Enam puluh tahun sejak Galtung menguraikan konsep “jurnalisme damai”, ia berbicara tentang apa artinya konsep itu saat ini dan menunjukkan bahwa ia fokus pada konsep perdamaian dan sampai pada kesimpulan bahwa ada perbedaan antara perdamaian “positif” dan perdamaian “negatif.”

“Jurnalisme damai terbagi dua: jurnalisme damai ‘negatif’, yang mencoba memecahkan konflik untuk mengurangi kekerasan; dan jurnalisme damai ‘positif’, yang ingin menjajaki kemungkinan kerjasama yang lebih positif. Dengan kata lain, yang pertama berfokus pada aspek negatif dan yang kedua pada aspek positif,” katanya.

Paus Fransiskus mendedikasikan Pesan Hari Komunikasi se-Dunia 2018 untuk “jurnalisme damai” dan Galtung berterima kasih untuk itu. Dia percaya bahwa Paus Fransiskus adalah salah satu dari tokoh-tokoh positif terbesar zaman kita dan “jelas, saya sangat terpukul dengan pendiriannya pada konsep seperti “jurnalisme damai” dan dukungannya adalah dorongan besar.

Mengomentari penegasan Paus Fransiskus dalam pesannya bahwa “perdamaian adalah berita yang sebenarnya,” Galtung menjawab, “Mengapa begitu sulit bagi media untuk menginformasikan tentang perdamaian? Kenapa media nampak hanya tertarik pada perang?” Menurut Galtung, ini “karena mereka tidak tahu bagaimana menulis tentang perdamaian, bahkan mereka tidak tahu bagaimana membuat konsep perdamaian!”

Dia mencatat kasus luar biasa di Denmark ketika tiba-tiba orang-orang mulai bicara tentang ‘rekonsiliasi’, tentang rekonsiliasi yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Denmark di masa lalu dan para wartawan tidak menulis tentang itu karena mereka bahkan tidak mengerti tentang itu!

Dia juga menyatakan pendapatnya bahwa para wartawan perempuan umumnya lebih peduli dan lebih mampu menempatkan “jurnalisme damai” ke dalam praktik daripada rekan pria mereka.

Galtung mengakhiri pembicaraan dengan  menekankan bahwa budaya “Jurnalisme Damai” berakar pada pendidikan dan pelatihan jurnalis, dan tidak menerima begitu saja pedoman yang ditetapkan oleh beberapa sekolah tinggi jurnalistik di dunia saat ini, guna melepaskan diri dari model negatif dan memperkenalkan konsep “Jurnalisme Damai”. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tahta Suci merilis jadwal ‘ziarah ekumenis’ Paus Fransiskus ke Jenewa bulan Juni

Sel, 08/05/2018 - 16:58

 

Paus Fransiskus bersama Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-Gereja se-Dunia Pendeta Olav Fykse Tveit.

Rincian program perjalanan Paus Fransiskus ke kota Jenewa, Swiss, telah dirilis oleh Tahta Suci, dengan rincian bahwa perjalanan itu merupakan “ziarah ekumenis” untuk merayakan peringatan 70 tahun Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC) di kota itu.

Menurut laporan Richard Marsden dari Vatican News, kunjungan sehari ke kota itu akan berlangsung hari Kamis, 21 Juni 2018, yang meliputi pertemuan dengan perwakilan dari berbagai denominasi di Pusat Ekumenis Jenewa yang diikuti dengan Misa di sebuah pusat konvensi di bagian utara kota itu.

Paus Fransiskus akan menjadi paus pertama yang mengunjungi Jenewa sejak Santo Yohanes Paulus II, yang berhenti di sana tahun 2004 sebagai bagian dari kunjungan pastoral selama enam hari ke Swiss.

Paus akan berdoa dan berdialog dengan anggota-anggota WCC yang berasal dari 110 negara dan mewakili lebih dari 500 juta umat Kristen termasuk Ortodoks, Anglikan, Baptis, Lutheran dan Methodis. Tahta Suci bukan anggota WCC, tetapi merupakan pengamat lembaga itu dan sering mengirim perwakilan pada pertemuan-pertemuannya dengan maksud untuk meningkatkan persatuan antara umat Kristiani dari berbagai denominasi.

Setelah upacara penyambutan di bandara internasional Jenewa di pagi hari tanggal 21 Juni, Paus Fransiskus akan mengadakan pertemuan pribadi dengan Presiden Konfederasi Swiss, yang saat ini adalah Alain Berset.

Paus kemudian akan melakukan perjalanan ke pusat WCC untuk mengikuti pertemuan Doa Ekumenis dalam memberikan homili. Setelah itu, Paus akan menikmati makan siang bersama para pimpinan organisasi itu di Institut Ekumenis di Château de Bossey, sekitar 25 km di luar kota, sebelum kembali ke Jenewa untuk memberikan ceramah sebagai bagian dari pertemuan ekumenis.

Paus akan merayakan Misa di pusat konvensi Palexpo di dekat bandara kota Jenewa. Dari situ Paus akan kembali ke Roma pada pukul 8 malam.

Lebih dari 70.000 orang menghadiri Misa kepausan terakhir yang dipimpin oleh Santo Yohanes Paulus II pada 14 tahun yang lalu. Para pejabat di Palexpo mengatakan, tempat mereka dapat menampung lebih banyak orang.

Sekitar 38 persen penduduk Swiss mengidentifikasi dirinya sebagai umat Katolik Roma, dan 27 persen menjadi anggota gereja-gereja Protestan.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apa itu kehidupan kekal?

Sel, 08/05/2018 - 14:52

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

207. Apa itu kehidupan kekal?

Kehidupan kekal adalah kehidupan yang mulai langsung setelah kematian. Kehidupan ini tidak mempunyai akhir, akan didahului dengan pengadilan khusus bagi setiap orang oleh Kristus yang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Pengadilan khusus ini akan dipastikan pada pengadilan akhir.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1020, 1051

208. Apa itu pengadilan khusus?

Pengadilan khusus adalah pengadilan yang berakibat langsung, terjadi setelah kematian. Melalui jiwanya yang abadi, setiap orang akan menerima pembalasan sesuai dengan iman dan perbuatannya. Pembalasan ini bisa berarti masuk ke dalam kebahagiaan surga, secara langsung atau setelah proses pemurnian, atau masuk ke dalam kutukan abadi neraka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1021-1022, 1051

Pastor Ventura, yang dipuji sebagai martir orang miskin dan pejuang keadilan sosial, dimakamkan

Sen, 07/05/2018 - 23:41

Disertai pujian sebagai martir bagi orang miskin dan pejuang untuk keadilan sosial di Provinsi Cagayan, Filipina, Pastor Mark Ventura yang ditembak mati dibawa untuk terakhir kalinya ke Katedral Santo Petrus dan Paulus di Tuguegarao City, tempat dia ditahbiskan. Di sana Uskup Agung Tuguegarao Mgr Sergio Utleg memimpin Misa pemakaman bagi imam itu, 7 Mei 2018.

Lebih dari seribu orang berkumpul di katedral itu di hari Senin itu. Di sana, di lantai katedral itu nampak peti jenazah imam itu terletak sepanjang Misa. Dan dalam homili, terdengar suara Mgr Sergio Utleg, “Kami mencela tindakan brutal dan pengecut ini dengan istilah yang paling keras,” kata Mgr Sergio Utleg yang menahbiskan Ventura sebagai pastor pertama setelah dia menjadi Uskup Agung Tuguegarao tahun 2011.

Mgr Utleg mengatakan bahwa dia berharap Ventura, seorang imam muda namun “bersemangat dan berdedikasi,” bisa menjalani pelayanan “panjang dan berbuah.” Tetapi, hanya berakhir dengan peluru pembunuh, lanjut uskup, seperti dilaporkan oleh Roy Lagarde dari CBCPNews.

Alasan kematiannya, menurut uskup agung itu hanya satu hal yang pasti, “Dia dibunuh oleh pembunuh bayaran.” Pembunuh-pembunuh bayaran, lanjut Mgr Utleg, tumbuh subur di masyarakat yang memiliki banyak orang miskin dan penganggur. Melakukan kejahatan menguntungkan di sana “dan di sana penjahat tidak ditangkap, tetapi diberi penghargaan.”

Mgr Utleg menambahkan, “Ini tuntutan atas kegagalan kami sendiri sebagai masyarakat yang membiarkan pembunuhan dilakukan dengan kekebalan hukum.”

Pastor Ventura ditembak mati setelah merayakan Misa dan saat membaptis anak-anak di kota Gattaran, Cagayan, 29 April 2018. Imam itu dikenal karena advokasi anti-penambangan dan karena membantu masyarakat adat di provinsi itu.

Prelatus itu sudah meminta pihak kepolisian agar bertindak cepat dalam mengejar para pelaku dan membawa mereka ke pengadilan.

Setelah Misa, jenazah Pastor Ventura dibawa dalam prosesi pemakaman menuju pemakaman umum Tuguegarao. Di sana imam itu dimakamkan. (pcp berdasarkan laporan CBCPNews)

Surat Gembala Mgr Pareira: Sikap golput tunjukkan ketidakdewasaan dan gampang cuci tangan

Sen, 07/05/2018 - 20:38

Menjelang pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wagub NTT serta Bupati dan Wakil Bupati Sikka 27 Juni 2018, Uskup Maumere Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD mengeluarkan surat gembala yang menegaskan bahwa sikap golput menunjukkan ketidakdewasaan dan gampang mencuci tangan atas segala peristiwa yang sedang dan bakal terjadi.

Dalam surat gembala itu, Mgr Pareira meminta umat di 36 paroki se-Keuskupan Maumere sebagai warga gereja dan warga negara untuk berkomitmen dengan melibatkan diri secara aktif dalam pesta demokrasi tanpa harus mengambil sikap golput.

“Orang-orang yang mengambil sikap golput menunjukkan ketidakdewasaan atau bahkan akan menjadi orang yang gampang mencuci tangan atas segala peristiwa apapun yang sedang dan bakal terjadi. Marilah ikut memilih, karena memilih adalah panggilan nurani orang beriman untuk menentukan masa depan daerah, provinsi dan bangsa,” tulis uskup.

Surat gembala setebal 19 halaman yang dibacakan serentak sebagai pengganti homili di semua gereja pada hari Minggu 6 Mei 2018 mengungkapkan, terselenggaranya pemilu yang aman dan damai kalau umat memastikan dirinya sudah terdaftar sebagai pemilih dan mengawal proses pemilihan itu.

Uskup juga meminta agar umatnya “tidak terlibat praktek politik uang, tidak menyebarkan hoax dan fitnah, dan tidak tergoda kepentingan jangka pendek dengan memilih orang tertentu yang berasal dari suku dan agama yang sama demi uang,” melainkan “berpikir dan bekerja untuk perubahan yang lebih baik dan berkelanjutan.”

Mgr Pareira juga meminta semua pastor paroki untuk bekerjasama dengan semua pelayanan pastoral, lembaga Gereja dan organisasi lain, serta orang-orang yang berkehendak baik, “untuk merancang dan melaksanakan pemberdayaan melalui katekese politik di KBG-KBG agar umat Katolik sadar dan bertanggungjawab mengembangkan komunitas politik di wilayah tersebut sesuai nilai-nilai Kristiani.”(Yuven Fernandez)

Para uskup Peru dukung ‘Pawai untuk Kehidupan’ dan mengecam agen yang promosikan aborsi

Sen, 07/05/2018 - 20:04
‘Pawai untuk Kehidupan’ di Lima

Dalam pesan untuk demonstrasi “Pawai untuk Kehidupan” yang berlangsung di ibukota Lima, Sabtu, 5 Mei 2018, Konferensi Waligereja Peru menunjukkan bahwa kehidupan yang belum dilahirkan masih dilindungi oleh Konstitusi Peru.

“Adalah bertentangan dan tidak konsisten bahwa, sementara masyarakat Peru berjuang melawan kejahatan, pembunuhan, penculikan, dan pembunuhan wanita serta berusaha untuk mengakhiri pembunuhan, masih ada gerakan dan organisasi dengan pendanaan besar mempromosikan aborsi dan menyerang orang yang dikandung. Orang, yang benar-benar tidak berdosa dan tidak berdaya, tidak dapat membela diri sendiri dari penyerang,” tulis para uskup.

Diperkirakan 800.000 orang berpawai melalui jalan-jalan di Lima untuk mempromosikan budaya pro-kehidupan di Peru. Konstitusi Peru tidak secara eksplisit menyebutkan aborsi, sebaliknya mengacu pada hak orang yang belum lahir untuk diperlakukan secara legal seperti orang sudah dilahirkan. Aborsi hanya diperbolehkan kalau kehamilan membuat hidup atau kesehatan ibu terancam. Wanita yang mengupayakan aborsi karena alasan lain dapat dipenjara maksimal dua tahun. Yang melakukan aborsi dapat dipenjara hingga empat tahun. Kontrasepsi tersedia di negara itu, tetapi tidak untuk remaja dan pasangan yang belum menikah.

Pesan dimulai dengan mengingatkan orang-orang yang berkumpul itu bahwa hak untuk hidup adalah hak pertama seseorang, “karena itu adalah hak fundamental dan dasar dari semua hak lain.” Maka, kehidupan tidak dapat bergantung pada keputusan manusia.

Pesan itu dilanjutkan dengan kata-kata, “Kita harus berhati-hati dan mencela setiap kebijakan publik yang tidak memperhitungkan orang yang dikandung, karena kehidupan dimulai dari konsepsi dan konstitusi politik kita melindungi dan membesarkannya  tanpa diskriminasi atau syarat sosial.”

Pesan itu berakhir dengan pengamatan bahwa masyarakat yang tidak mempertahankan kehidupan yang belum dilahirkan pada akhirnya akan menghadapi kehancuran mereka sendiri.

Sebuah pesan juga dikirim ke Pawai untuk Kehidupan yang berlangsung di Amerika Serikat. Pesan itu menggemakan kata-kata Paus Fransiskus ketika mengunjungi Peru “Jangan biarkan pengharapan dicuri. Marilah bekerja bersama!”(pcp berdasarkan Vatican News)

Apa yang terjadi dengan badan dan jiwa kita sesudah kematian?

Sen, 07/05/2018 - 17:04
Paus Fransiskus meletakkan stola di kotak kaca yang berisi tubuh Santo Pio di Gereja Santa Maria delle Grazie di Tempat Ziarah Santo Pio dari Pietrelcina di San Giovanni Rotondo, Italia, 17 Maret (CNS photo/courtesy Shrine of St. Pio of Pietrelcina)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

204. Apa hubungan antara kebangkitan Kristus dengan kebangkitan kita?

Sebagaimana Kristus sungguh-sungguh bangkit dari kematian dan sekarang hidup selama-lamanya, demikian pula Dia sendiri akan membangkitkan setiap orang pada akhir zaman dengan badan yang tak dapat binasa. “Mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”(Yoh 5:29).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 998-1002-1003

205. Apa yang terjadi dengan badan dan jiwa kita sesudah kematian?

Sesudah kematian, yaitu terpisahnya jiwa dengan badan, badan menjadi rusak sedangkan jiwa, yang tak dapat mati, menghadapi pengadilan Allah dan menantikan persatuannya kembali dengan badan setelah dibangkitkan pada saat Tuhan datang kembali. Pertanyaan mengenai bagaimana kebangkitan badan terjadi itu melampaui kemampuan imajinasi dan pemahaman kita sebagai manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 992-1004, 1016-1018

206. Apa artinya mati dalam Kristus Yesus?

Mati dalam Kristus Yesus berarti mati dalam keadaan rahmat Allah tanpa dosa berat (dosa yang membawa maut). Seorang yang percaya kepada Kristus, dengan mengikuti teladan-Nya, dapat mengubah kematiannya menjadi suatu tindakan ketaatan dan cinta kepada Bapa. “Benarlah perkataan ini: jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2Tim 2:11).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 992-1004, 1016-1018

Umat Keuskupan Tanjung Selor memiliki uskup yang baru: Mgr Paulinus Yan Olla MSF

Min, 06/05/2018 - 06:02

“Kita semua dengan gembira menyambut Bapak Uskup Paulinus Yan Olla MSF sebagai Pemimpin Keuskupan Tanjung Selor,” demikian pengumuman Uskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto MSF di Lapangan Agatis, Tanjung Selor, Kalimantan Utara, setelah menahbiskan penggantinya, 5 Mei 2018.

Pengumuman itu disambut tepuk tangan para uskup, imam, suster, bruder, dan umat di lapangan itu. Mgr Harjo yang merupakan uskup penahbis juga bertepuk tangan sambil berdiri di samping Mgr Yan Olla yang lengkap dengan mitra dan tongkat uskup.

Uskup Paulinus Yan Olla MSF menduduki tahtanya dan sambil berdiri di depan  tahtanya menerima salam damai dari semua uskup konselebran termasuk Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Piero Pioppo. Misa pun dilanjutkan. Dalam ritus penutup, Uskup Paulinus Yan Olla MSF memberkati umat di seputar lapangan itu dengan menaiki sebuah mobil jeep merah terbuka.

Tahbisan itu diawali dengan Vesper atau Salve Agung di Katedral Santa Maria Assumpta, Tanjung Selor, Jumat 4 Mei 2018. Dalam Salve yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC itu, uskup yang baru itu mengungkapkan pengakuan iman dan janji setianya.  Dalam Salve itu juga diberkati Insignia Uskup yakni tanda-tanda yang akan dikenakan uskup baru itu: mitra, cincin, tongkat pastoral dan salib, serta beberapa perlengkapan kegiatan liturgis uskup.  Tanggal 6 Mei 2018 dirayakan Misa Episkopal di katedral.(pcp)

Pastor Benny Susetyo ajak umat ikut kegiatan masyarakat demi menjaga kemajemukan

Sab, 05/05/2018 - 23:18
PEN@ Katolik

Untuk membantu mencegah perpecahan yang mengancam kebhinekaan, anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Pastor Antonius Benny Susetyo Pr mengajak umat Katolik untuk selalu terlibat dalam kegiatan masyarakat di tingkat RT, RW, desa atau kelurahan, sehingga tercipta kerja sama, kerukunan, persahabatan, pertemanan dengan umat beragama lain.

Pastor Benny Susetyo berbicara dalam talk show bertema “Kebhinekaan Berawal dari Keluarga” yang dihadiri sekitar 300 umat Katolik di Gedung Karya Pastoral Paroki Santa Helena, Curug, Tangerang, 29 April 2018.

Dalam acara yang diselenggarakan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki Curug bekerja sama dengan Komunitas Pria Katolik (KPK), Couple for Christ (CFC), Legio Maria  dan Wanita Katolik RI di paroki itu, Pastor Benny mengakui saat ini kemajemukan bangsa Indonesia sedang diuji. “Kalau dulu persahabatan antara Katolik dengan agama lain dianggap biasa, akhir-akhir ini mengalami hambatan sejak meletusnya kasus Ahok. Hal ini disebabkan karena semua persoalan digiring ke ranah politik identitas,” tegas imam itu.

Pastor Benny mengaku dekat KH Hasyim Muzadi, tokoh Islam dan mantan Ketua Umum Nahdatul Ulama (NU) dari Malang, Jawa Timur. “Dulu, saya boleh bermain ke tempat Hasyim Muzadi, tapi kini kalau saya bertandang ke tempat beliau menjadi masalah. Inilah maka saya sebut kemajemukan sedang dalam ancaman, dan sebagai warga negara Indonesia, ini pekerjaan rumah berat bagi seluruh umat Katolik.”

Bahkan ancaman itu, terasa sampai pada pemilihan ketua OSIS di sekolah. “Anak-anak mulai diajarkan memilih pengurus OSIS yang seagama. Pergaulan dikotak-kotakan  sehingga anak terlibat dalam kelompok yang hanya satu agama. Ini sangat mengerikan,” kata imam itu.

Maka, pastor itu mengajak orangtua untuk selalu menjalin hubungan baik di tengah masyarakat tanpa membedakan suku, agama dan kepercayaan dan dengan melibatkan putera-puterinya agar mereka mengenal keragaman di Indonesia dan menumbuhkan saling hormat-menghormati. “Jika anak Anda bergaul dengan orang lain berbeda iman, itu berarti ia belajar mengenal dan memahami agama lain. Anak yang mengalami proses perkembangan sosial yang baik akan saling menghargai,” jelas Pastor Benny.

Pastor Benny juga mengkritik Gereja Katolik yang hanya bergiat sebatas ruang terbatas. “Kalau boleh anak-anak sekolah Minggu diajak mengunjungi masjid, vihara, atau kelenteng, sehingga mereka mengenal tempat ibadah agama lain.”

Menjawab pertanyaan peserta soal kafir yang diucapkan umat agama lain kepada penganut Katolik (Kristen), Pastor Benny menganjurkan agar ucapan itu tidak ditanggapi. “Yang menyebut kafir untuk orang lain itu tidak mengerti arti kata kafir. Kafir sebenarnya ditujukan kepada mereka yang tak mengenal Tuhan, sementara orang Katolik percaya adanya Tuhan,” jelas imam itu.

Selain Pastor Benny, acara itu menampilkan Psikolog Pendiri Rumah Konsultasi Tiga Generasi Anastasia Satryio M.Psi  dan pasangan suami-istri Cosmas Damianus Heru Prakasa dan Margaretha Heryawan.

Menurut Anastasia Satryio, orangtua perlu mengenalkan keberagaman di Indonesia dengan mengajak anak-anak untuk terbuka dan menghilangkan kecurigaan kepada pihak lain. “Sebelum membangun kebersamaan perlu kita hilangkan rasa saling curiga,” kata psikolog itu seraya mengajak orangtua mendiskusikan keberagaman di ruang keluarga dan memperkenalkan suku-suku yang ada, mengajak anak-anak berkunjung ke tempat lain untuk mengenal agama, suku, adat istiadat, makanan khas lain, “sehingga bisa tahu tentang keberagaman itu.”

Pasutri Cosmas-Margaretha membangun keluarga dari suku Jawa (Heru) dan suku Tionghoa (Etha). Kendati awalnya masing-masing ditolak keluarga tapi dalam perjalanan keduanya saling menerima perbedaan, bisa tetap akur dan mempunyai anak yang bertumbuh dalam perbedaan. (Konradus R Mangu)

 

Kematian Seorang Imam

Sab, 05/05/2018 - 21:35

(renungan didedikasikan bagi Pastor Mark Anthony Ventura)

 

Minggu Paskah ke-6

6 Mei 2018

Yohanes 15:9-17

 

Kita hidup di belahan dunia di mana kekerasan dan kematian telah menjadi konsumsi sehari-hari kita. Setiap hari, kehidupan manusia secara paksa dirampas karena alasan yang sangat sepele. Orang tua membunuh bayi mereka. Saudara menghabisi saudara. Sahabat memanipulasi dan memanfaatkan sahabat. Beberapa dari kita mungkin turun ke jalan dan menuntut keadilan. Namun, banyak dari kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, karena kita harus bekerja, belajar dan menjalankan tugas-tugas lainnya. Kita menjadi mati rasa atau buta terhadap tanah yang telah menjadi merah oleh darah saudara-saudari kita. Kehidupan, berharga di mata Tuhan, ternyata sangat murah di tangan manusia.

Namun, beberapa hari yang lalu, saya sangat terganggu oleh berita seorang imam muda yang dibunuh secara brutal. Namanya adalah Mark Antony Ventura, dan dia baru berusia 37 tahun ketika dia tanpa belas kasih ditembak mati. Hidupnya diambil beberapa saat setelah ia merayakan misa paginya di Cagayan, Filipina. Dia masih di dalam kapel kecil, sedang memberikan berkatnya kepada anak-anak, dan tiba-tiba, seorang pria tak dikenal datang dan menembaknya. Alasan kepada dia dihabisi belum jelas, namun advokasinya untuk keadilan dan kedamaian mungkin menjadi alasan utama.

Kematiannya mengingatkan akan kematian Uskup Agung Oscar Romero dari San Salvador. Uskup kudus ini dibunuh tepat setelah mengkonsekrasikan tubuh dan darah Kristus, dan saat dia jatuh ke tanah, darahnya bersatu dengan darah Kristus. Uskup lainnya, seorang Dominikan, Mgr Pierre Claverie OP dari Oran, Aljazair, mengalami nasib yang serupa. Para teroris meletakkan bom di mobilnya, dan ledakannya tidak hanya membunuh Uskup Pierre, tetapi juga sahabat dan sopirnya yang beragama Islam. Dalam kejadian berdarah itu, dagingnya bersatu dengan daging teman Muslimnya.

Menyaksikan tubuh Pastor Mark yang terbaring tanpa nyawa di tanah dan bersimbah darah, tidak hanya sangat mengusik hati nurani, tetapi juga sangat menyakitkan. Hal ini sangat mengusik hati nurani karena memberi kita efek mengerikan bahwa jika orang-orang jahat ini bisa tanpa ampun membunuh seorang imam, duta pengampunan dan belas kasih, sekarang mereka bisa menghancurkan siapa saja yang menghalangi di jalan mereka. Namun, kematiannya juga menyakitkan karena kematiannya adalah juga kematian kita sebagai Umat Tuhan. Jubah putihnya yang bercampur tanah dan bersimbah darah, adalah pakaian putih kita yang kita kenakan saat kita dibaptis. Tangannya yang tidak lagi bernyawa, yang pernah memberkati orang-orang dan menguduskan roti dan anggur suci, adalah juga tangan kita yang membesarkan anak-anak kita dan membangun masyarakat. Mulutnya yang terbungkam yang pernah mewartakan Kabar Baik, mengampuni dosa, dan mengutuk kejahatan, adalah juga mulut kita yang menerima hosti kudus dan mengajarkan kebijaksanaan kepada anak-anak kita. Pembunuhan Pastor Markus adalah pembunuhan seorang imam, dan secara simbolis ini adalah pembunuhan kita semua, umat Allah.

Jalan imamat adalah jalan yang saya dan beberapa dari kita telah pilih. Ini adalah jalan yang sering memberi kita kenyamanan duniawi, dan bonus tak terduga. Ini adalah jalan yang menghujani kita dengan ketenaran, kesuksesan, dan kemuliaan. Namun, ini adalah jalan yang sama yang menghadapkan kita dengan wajah kejahatan. Ini adalah jalan yang yang menantang kita untuk berada di sisi para korban dan membela keadilan. Ini adalah jalan yang membuat kita dianiaya, diejek dan bahkan dibunuh. Pilihannya adalah milik kita. Untuk mengakhiri renungan kecil ini, izinkan saya mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah gereja yang tidak memprovokasi krisis apa pun, sebuah Injil yang tidak mengusik hati nurani, sebuah Firman Tuhan yang tidak ada masuk ke dalam jiwa siapa pun, sebuah Injil yang tidak berhadapan dengan dosa nyata dari masyarakat di mana Injil itu diwartakan – Injil macam apakah itu?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Halaman