Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 17 mnt 6 dtk yang lalu

Debu di Kakimu

Sab, 14/07/2018 - 22:23

(Renungan berdasarkan bacaan Injil Markus 6:7-13 pada Minggu kelima belas pada Masa Biasa, 15 Juli 2018)

Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”  (Markus 6:11)

Injil kita hari ini berbicara tentang misi Dua Belas Rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Tidak ada beban tambahan dan yang tidak perlu. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Dan ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.

Saya saat ini menjalani program pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Program ini melatih saya untuk menjadi seorang pekerja pastoral yang baik dan penuh kasih. Salah satu tugas pokok saya adalah mengunjungi pasien, dan selama kunjungan, saya akan mendengarkan pasien dan mendampingi mereka dalam perjalanan mereka di rumah sakit. Sampai taraf tertentu, saya merasa bahwa saya berpartisipasi dalam misi dua belas murid Yesus, khususnya dalam pelayanan penyembuhan orang sakit. Namun, tidak seperti para murid Yesus, saya sadar bahwa saya tidak memiliki karunia penyembuhan. Saya sering mendoakan pasien, tetapi sejauh ini tidak ada penyembuhan instan, dan pasien terus berjuang dengan penyakit mereka. Namun, penyembuhan tidak terbatas hanya pada aspek fisik dan biologis. Penyembuhan adalah menyeluruh dan mencakup penyembuhan emosional dan spiritual. Dokter, perawat, dan staf rumah sakit telah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit pasien mereka, atau setidaknya membantu mereka untuk menanggung penyakit mereka dengan martabat. Saya percaya bahwa mereka pada dasarnya rekan kerja utama Yesus dalam pelayanan penyembuhan. Namun, dengan begitu banyaknya beban kerja yang mereka bawa dan waktu serta energi yang terbatas, mereka harus fokus pada penyembuhan fisik dan biologis. Para pekerja pastoral ada di sana untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi praktisi medis dan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual.

Dalam beberapa kunjungan , saya bersyukur bahwa banyak yang menyambut kehadiran saya. Namun, kadang-kadang, saya merasa keberadaan dan kunjungan saya tidak diinginkan. Pada saat seperti ini, saya tergoda untuk “mengebaskan debu dari kaki saya” sebagai peringatan bagi mereka. Seperti halnya, para murid diinstruksikan untuk melakukan itu. Namun, saya mencoba memahami mengapa pasien tidak begitu ramah. Mungkin, mereka merasa sakit. Mungkin, mereka butuh istirahat. Mungkin, obat mempengaruhi disposisi emosional mereka. Mungkin, mereka masih memiliki beberapa masalah serius yang harus mereka hadapi. Dengan kesadaran ini, saya tidak bisa hanya menilai mereka sebagai “orang jahat”. Mencoba untuk memahami mereka dan berempati dengan mereka, saya juga “mengebaskan debu dari kaki saya”, tetapi kali ini, itu bukan sebagai bentuk peringatan, tetapi mengebaskan “debu” kesalahpahaman, terburu-buru menghakimi, dan apati. Seorang pekerja pastoral adalah orang yang menjalankan misi Kristus untuk membawa kesembuhan, dan jika saya menanggapi penolakan dan kesulitan dengan kemarahan dan kebencian, maka saya hanya menciptakan lebih banyak rasa sakit dan perpecahan.

Apakah kita seorang praktisi medis atau bukan, kita semua dipanggil untuk berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Yesus Kristus ini. Kita semua terluka dan sakit dengan begitu banyak masalah yang kita miliki dalam hidup. Dengan demikian, itu adalah panggilan kita untuk membawa kesembuhan emosional dan spiritual bagi keluarga kita, bagi teman-teman kita, bagi masyarakat kita, bagi lingkungan sekitar kita dan bagi Gereja kita. Ini dimulai dengan kesediaan kita untuk “mengebaskan debu dari kaki kita”, debu ketakutan dan kebencian, debu reaksi emosional yang terburu-buru dalam menghadapi situasi yang menantang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Sab, 14/07/2018 - 21:41
Mgr Ewaldus Martinus Sedu/Foto berdasarkan Komsos KWI

Bapa Suci telah menerima pengunduran diri dari tugas pastoral Keuskupan Maumere yang sampaikan oleh Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD dan “Il Papa ha nominato Vescovo di Maumere (Indonesia) il Rev.do Sacerdote Ewaldus Martinus Sedu, finora Vicario Generale della stessa Circoscrizione” (Paus telah mengangkat sebagai Uskup Maumere (Indonesia) Pastor Ewaldus Martinus Sedu, yang kini bertugas sebagai Vikaris Jenderal keuskupan yang sama.”

Pengumuman itu disampaikan oleh Paus Fransiskus lewat Sala Stampa atau Kantor Pers Vatikan hari ini Sabtu, 14 Juli 2018, pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 17.00 WIB.

Pastor Ewaldus Martinus Sedu, menurut penjelasan dalam bahasa Italia itu, lahir tanggal 30 Juli 1963 di Bajawa (Keuskupan Agung Ende). Setelah mengikuti Seminari Menengah Mataloko, imam itu menyelesaikan studi filsafat dan teologinya di Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret, Flores. Dia ditahbiskan imam Keuskupan Agung Ende tanggal 7 Juli 1991.

Saat Keuskupan Maumere tercipta sebagai hasil pemekaran Keuskupan Agung Ende 14 Desember 2005, imam itu menjadi imam Keuskupan Maumere. Imam itu kemudian menjadi Pastor Rekan di Paroki Santo Joseph Maumere (1991-1993), Kepala Paroki Maria dari Gung Karmel Wolofeo (1993-1995), Pastor Paroki Santo Yoseph Maumere  dan Kepala Komisi Katekese Keuskupan Maumere (1995-1997).

Imam itu mengikuti menjalani studi untuk Lisensi Pedagogi di Salesianum di Roma (1997-2001) dan kembali menjadi dosen dan formator di Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret (2001-2009). Di tahun 2010 imam itu menjadi Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Santo Petrus Ritapiret dan sejak tahun 2015 menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Maumere.

Pastor Ewaldus Martinus Sedu akan menggantikan Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD. Mgr Kherubim adalah uskup kedua Keuskupan Maumere (sejak 2008) menggantikan Mgr Vincentius Sensi Potokota yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende. Menurut Komsos KWI, ketika bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi Ritapiret, Pastor Ewaldus Martinus aktif sebagai dosen dan pendamping para calon imam diosesan untuk beberapa keuskupan di Provinsi Gerejawi Ende.(paul c pati)

Artikel terkait:

https://penakatolik.com/2016/06/14/mgr-pareira-minta-para-imam-dan-pemimpin-belajar-dari-kebijaksanaan-salomo/

 

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Sab, 14/07/2018 - 19:42
Foto dari Berita Umat Katedral Bogor

Hari ini 14 Juli 2018, pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 17.00 WIB, Sala Stampa (Kantor Pers) Vatikan mengeluarkan pengumuman “Il Santo Padre ha nominato Vescovo della diocesi di Purwokerto (Indonesia) il Rev.do Sacerdote Christophorus Tri Harsono, finora Vicario Generale della diocesi di Bogor” (Bapa Suci telah mengangkat Uskup Keuskupan Purwokerto (Indonesia) Pastor Christophorus Tri Harsono, yang sampai sekarang menjabat Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor).

Pengumuman itu juga menjelaskan bahwa Pastor Christophorus Tri Harsono lahir tanggal 18 Januari 1966 di Bogor. Setelah mengikuti Seminari Menengah Stella Maris di Bogor, dia menyelesaikan studi filsafat dan teologinya di Universitas Katolik Bandung (Parahyangan). Dia ditahbiskan imam tanggal 5 Februari 1995 sebagai imam Keuskupan Bogor.

Menurut catatan di hari yang sama dari halaman Facebook dari Pastor Agustinus Surianto Himawan dari Bogor, uskup terpilih itu adalah “anak kolong” yang tinggal dan dibesarkan di kompleks Lanud Atang Sendjaja, Semplak, Bogor, karena ayahnya (Almarhum Pitoyo) merupakan anggota Paskhas TNI-AU. Pastor yang pernah mengenyam studi di Seminari Tinggi Petrus Paulus di Buah Batu, Bandung, itu ditahbiskan imam oleh Uskup Emeritus Bogor Mgr Michael Cosmas Angkur OFM.

“Tugas pastoral pertamanya setelah penahbisan adalah menjadi pastor rekan di Paroki Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung (1995-1996). Setelah itu pindah ke Bogor untuk menjadi pamong di Seminari Menengah Stella Maris (1996-1998),” jelasnya.

Sejak 1998 hingga 2001, imam itu ditugaskan melanjutkan studi bahasa dan budaya Arab di The Center or Arabic Studies of Comboni Missionaries, Cairo, Mesir, dan Pontifical Institut for Arabic & Islamic Studies (PISAI), Roma, Italia.

Sekembalinya ke Indonesia dia “mendapat perutusan sebagai dosen Islamologi pada Fakultas Filsafat Unpar sampai sekarang. Selain itu, pernah juga merangkap menjadi Rektor Seminari Tinggi Petrus Paulus, Bandung (2002-2005, lalu 2008-2014).”

Ketika menetap di Bandung, lanjutnya, imam itu “melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dialog antarumat beragama dan akrab dengan berbagai tokoh lintas agama,” namun di tahun 2014, Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menariknya kembali ke kota Bogor untuk menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor.

Hari ini, Sabtu 14 Juli 2018, Paus Fransiskus mempercayakan tugas baru bagi Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai gembala di Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah, melanjutkan pelayanan Mgr Julianus Kema Sunarka SJ yang telah mengundurkan diri karena usia pensiun.

Pengumuman itu secara resmi telah disampaikan pada hari yang sama oleh Pastor Tarcisius Puryatno sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Purwokerto di awal Perayaan Ekaristi Syukur di Gereja Katedral Kristus Raja.

Tanggal 29 Desember 216, Kantor Pers Vatikan mengumumkan bahwa Paus Fransiskus menerima pengunduran diri tugas kepemimpinan pastoral dari Uskup Purwokerto Mgr Julianus Kema Sunarka SJ.

Mgr Sunarka, yang lahir di Minggir, Sleman, DIY, 25 Desember 1941 itu, menjadi Uskup Purwokerto sejak 10 Mei 200 dengan memimpin umat sesuai statistik 27 Juli 2009 sebanyak 64.648 jiwa yang tersebar di 25 paroki.(paul c pati)

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Purwokerto Mgr Sunarka SJ

Mgr Sunarka tidak tahu tanggal kelahirannya tapi menjadi biji mata Tuhan

https://penakatolik.com/2017/08/10/terima-kasih-untuk-tni-au-paroki-lanud-atang-sendjaja-berhari-ulang-tahun-kedua

 

Apa itu viaticum?

Jum, 13/07/2018 - 23:23

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

318. Bagaimana upacara Sakramen ini dilaksanakan?

Upacara Sakramen ini secara esensial terdiri dari pengurapan dengan minyak yang, sedapat mungkin, diberkati oleh Uskup. Pengurapan ini diberikan pada dahi dan kedua tangan si sakit (ritus Roma) atau juga bagian-bagian tubuh lainnya (dalam ritus lainnya) diiringi dengan doa Imam yang memohon rahmat khusus Sakramen ini bagi si sakit.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1517-1519, 1531

319. Apa buah Sakramen ini?

Sakramen ini memberikan rahmat khusus yang mempersatukan si sakit lebih erat dengan Pribadi Kristus untuk kebaikannya dan kebaikan seluruh Gereja. Sakramen ini memberikan penghiburan, kedamaian, keberanian, dan bahkan pengampunan dosa jika si sakit tidak mampu mengakukan dosanya. Kadang-kadang jika dikehendaki Allah, Sakramen ini bahkan dapat mengembalikan kesehatan fisik. Secara umum, Pengurapan ini mempersiapkan si sakit untuk perjalanan menuju Rumah Bapa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1520-1523, 1532

320. Apa itu viaticum?

Viaticum adalah Ekaristi Kudus yang diterima oleh mereka yang akan meninggalkan kehidupan dunia ini dan mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju kehidupan kekal. Komuni dalam rupa tubuh dan darah Kristus yang wafat dan bangkit dari mati, yang diterima pada saat keberangkatan dari dunia ini menuju Bapa, merupakan benih kehidupan kekal dan kekuatan kebangkitan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1524-1525

Proclaim 2018 dibuka di Brisbane Australia

Jum, 13/07/2018 - 22:47
Orang Muda melakukan pertemuan doa (D.Okky@CSCAudiovisivi)

Konferensi Proclaim (wartakanlah) 2018 selama tiga hari dibuka tanggal 13 Juli 2018 di Brisbane, Australia, dengan tema “Tinggallah di dalam Aku” (Yoh. 15: 4). Konferensi itu merupakan kerja sama antara Keuskupan Agung Brisbane dan Pusat Evangelisasi Nasional Konferensi Waligereja Australia. Menurut pelaksana program itu, tiga konferensi sebelumnya, yang diadakan tahun 2012, 2014 dan 2016, berhasil. Konferensi itu terbuka untuk 500 peserta, dan sudah terjual habis. Bekerja sama dengan Shalom World TV, semua pidato utama akan disiarkan langsung. Penyelenggara konferensi itu, Eric Robinson, menjelaskan bahwa konferensi itu dirancang terutama sebagai konferensi untuk menginspirasi dan membaharui paroki-paroki. Kepemimpinan, perubahan budaya, kaum muda yang terlibat, rasa memiliki, dan pembaruan paroki adalah tema yang kami kembangkan melalui presentasi utama, sesi para pakar, diskusi yang difasilitasi oleh para pemimpin di bidang evangelisasi, dan belajar bersama. Komponen Perencanaan Visi Masa Depan memberikan kemungkinan bagi peserta untuk menyusun Rencana Aksi Pewartaan mereka sendiri. Maka, Proclaim 2018 akan berbuah saat rencana-rencana ini diimplementasikan di paroki-paroki setempat dan komunitas-komunitas di seluruh Australia. (pcp berdasarkan laporan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatikan News)

Tengkorak manusia mewarnai rute Jalan Salib Sa’pak Bayobayo di Tana Toraja

Jum, 13/07/2018 - 16:27
Jalan Salib di Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret Sa’pak Bayobayo, Tana Toraja. Di gua di balik lambang perhentian sengsara Yesus itu tersimpan tengkorak dan tulang belulang manusia/Foto Al Tandirassing

Kalau masih ada orang yang takut akan tulang belulang dan tengkorak manusia, ternyata masih ada orang-orang yang sehari-harinya akrab dengan kerangka manusia. Yohanes Kiding, yang biasa dipanggil Bapak Rian (nama dari anaknya), adalah salah satunya.

Sosok lelaki separuh baya itu berdiri di mulut gua batu dengan tongkat kayu di tangannya. Nafasnya mulai ngos-ngosan setelah melalui rute jalan salib sepanjang dua kilometer dengan kondisi mendaki dan menuruni lembah.

Dia berada di rute jalan salib Pusat Ziarah Keluarga Kudus Nazaret Sa’pak Bayobayo, Kecamatan Sangalla’, Kabupaten Tana Toraja, ketika Uskup Agung Makasar Mgr John Liku Ada’ datang memberkati dan meresmikan pusat ziarah itu, 3 Juli 2018.

Mendaki dan menuruni lembah membuat keringat membasahi topi putih nan lusuh yang bertengger di kepala Bapak Rian. Separuh bajunya telah basah dan laras panjangnya penuh lumpur. Sesekali ia menyeka keringat dengan punggung tangannya. Ia persis berdiri di depan mulut gua yang menganga ditemani ratusan tengkorak dan tulang belulang manusia di sepanjang sisi mulut gua itu.

Seminggu sebelumnya, Bapak Rian terlihat di sekitar mulut gua itu bersama 23 ibu berhiaskan emas di leher dan telinga, serta arloji berkilau diterpa sinar matahari. Beberapa ibu dari luar Toraja itu bergidik menutup hidung dan mulut mereka. Dua di antaranya tanpa ingin melihat tengkorak yang berserakan di mulut gua. Mereka memalingkan wajahnya ke arah kiri dan berjalan terus melewati tikungan. Di tikungan itulah mereka menunggu rombongan.

Kepada ibu-ibu itu, Bapak Rian menunjuk tengkorak-tengkorak dan tulang belulang sambil menjelaskan tentang gua itu. “Di sinilah para leluhur Toraja, khususnya Kampung Lampio ini, menguburkan mayat anggota keluarga mereka. Namun tidak seorang pun yang bisa mengenali lagi siapa-siapa saja yang dikuburkan di tempat ini.”

Juga dijelaskan bahwa usianya kubur itu mungkin sudah puluhan bahkan ratusan tahun. “Peti-petinya telah lapuk sehingga tengkorak-tengkoraknya dirapikan kembali di sekitar mulut gua ini,” jelas Bapak Rian.

Rombongan ibu-ibu peziarah itu mengangguk-angguk dengan terus menutup hidung dan mulut mereka. “Tidak apa-apa, Bu. Tengkorak-tengkorak dan tulang belulang ini sudah kering. Tidak berbau lagi. Tetapi tetap harus dihormati.”

“Lihatlah … di sekitar sini terdapat rokok dan permen serta sirih yang diantarkan oleh orang-orang kampung di sekitar sini. Mereka percaya bahwa para arwah leluhur ini masih membutuhkan persembahan dari orang-orang yang masih hidup. Itu sebabnya mereka mengantarkan permen serta rokok-rokok ke tempat ini,” jelas Bapak Rian. Dia menunjuk sebuah batu yang di atasnya berserakan permen dan rokok serta tas-tas kecil berisi sirih dan pinang.

Gua batu di sekitar Pusat Ziarah Sa’pak Bayobayo ini adalah gua alami yang terbentuk dari batu karst. Ada gua batu yang dalamnya bisa mencapai 24 meter tetapi ada pula yang hanya 5 meter. Gua-gua itu dijadikan pekuburan oleh para leluhur orang Toraja namun tidak dapat dikenali lagi.

Situs Sa’pak Bayobayo itu ditemukan ketika orang-orang mulai mendiami Desa Lampio sekitar tahun 1865. Namun situs ini baru terkenal sejak dibukanya Pusat Ziarah Keluarga Kudus di sekitar lokasi gua-gua itu.

Terbukanya pusat ziarah ini memungkinkan orang mengakses gua-gua berisi tengkorak dan tulang belulang itu dengan mudah. Apalagi, mulut-mulut gua itu berada persis di rute jalan salib yang dilalui para peziarah, rute yang sehari-hari dilalui oleh Bapak Rian sebagai tour guide di Pusat Ziarah Sa’pak Bayobayo.

Bapak Rian adalah sosok orang Toraja yang tidak takut pada tulang belulang dan tengkorak-tengkorak manusia. Ia justru menghormati para leluhur yang dikuburkan di tempat itu, salah satunya dengan menjaga agar tulang belulang dan tengkorak itu tetap tersusun rapi di sekitar mulut gua. “Bagaimana pun, tulang belulang dan tengkorak-tengkorak itu dulunya adalah manusia yang pantas dihormati,” kata Bapak Rian. (Al. Tandirassing)

Semua foto-foto di atas diambil oleh Al. Tandirassing untuk PEN@ Katolik

Siapa yang dapat menerima Sakramen Pengurapan orang sakit?

Jum, 13/07/2018 - 12:29
Pinterest

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT

313. Bagaimana Perjanjian Lama memandang penyakit?

Dalam Perjanjian Lama, penyakit dialami sebagai tanda kelemahan dan sekaligus dipahami sebagai sesuatu yang terikat dengan dosa. Para nabi menyadari bahwa penyakit dapat juga mempunyai nilai penebusan bagi dosa-dosanya sendiri dan orang lain. Demikianlah, penyakit ini dialami di hadapan Allah yang kepada-Nya mereka mohon kesembuhan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1499-1502

314. Apa makna bela rasa Yesus kepada orang sakit?

Bela rasa Yesus kepada orang sakit dan banyak penyembuhan yang dilakukan-Nya bagi yang sakit merupakan suatu tanda nyata bahwa Kerajaan Allah sudah datang bersama-Nya dan karena itu juga berarti kemenangan terhadap dosa, terhadap penderitaan, dan terhadap kematian. Dengan penderitaan dan kematian-Nya, Yesus memberikan makna baru kepada penderitaan kita yang jika dipersatukan dengan penderitaan-Nya dapat menjadi sarana pemurnian dan penyelamatan bagi kita dan bagi orang lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1503-1505

315. Bagaimana sikap Gereja terhadap orang sakit?

Setelah menerima tugas dari Allah untuk menyembuhkan orang sakit, Gereja berusaha melaksanakannya dengan merawat orang sakit dan menemani mereka dengan doa permohonan. Terlebih lagi, Gereja mempunyai Sakramen yang khusus ditujukan bagi orang sakit. Sakramen ini ditetapkan oleh Kristus dan ditegaskan oleh Santo Yakobus, ”Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan” (Yak 5:14).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1506-1513, 1526-1527

316. Siapa yang dapat menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit?

Setiap anggota umat beriman dapat menerima Sakramen ini segera setelah dia berada dalam bahaya maut karena penyakit atau usia lanjut. Si sakit bisa menerima Sakramen ini beberapa kali jika penyakitnya bertambah berat atau karena ada penyakit berat lainnya. Upacara sakramen ini, jika memungkinkan, didahului dengan pengakuan dosa pribadi si sakit.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1514-1515, 1528-1529

317. Siapa pelayan Sakramen ini?

Sakramen ini hanya dapat dilayani oleh Imam tertahbis (Uskup atau Pastor).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1516-1530

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Jum, 13/07/2018 - 04:05
Suster Marsiana PRR, pendamping rohani dalam Jamnas Sekami 2018 di Pontianak/PEN@ Katolik/pcp

Ketika 830 anak remaja dari 35 keuskupan di Indonesia (Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Merauke berhalangan hadir) berkumpul di Pontianak untuk ikuti Jambore Nasional Sekami 3-6 Juli 2018, mereka hidup bagaikan “keluarga” dalam 48 keluarga (kelas) di tiga kampung (sekolah) di belakang Katedral Santo Yoseph Pontianak.

Hampir dalam setiap gerakan hidup mereka di keluarga, kampung, tenda utama (lapangan SMA Santo Paulus), dan Katedral Pontianak mereka didampingi para angel pria dan wanita sebanyak 90 orang dan pendamping rohani sebanyak 90 orang. Para angel terdiri dari OMK dan animator Sekami dari Pontianak dan para pendamping rohani terdiri dari biarawan dan biarawati dari Keuskupan Agung Pontianak atau keuskupan peserta.

Cesar Marchello, seorang angel, mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia bertugas “membantu memperlancar jalannya acara  dengan menjadi ‘malaikat penjaga’ dalam keluarga. “Kami membantu peserta kalau mereka mengalami kesulitan, misalnya kalau barang hilang atau sakit,” kata Cesar yang bertugas sebagai koordinasi angel yang meneruskan pesan dari angel keluarga ke tim di sekretariat.

Para angel memang ditempatkan di setiap keluarga dan live in secara penuh dengan keluarga yang dipercayakan kepadanya. “Dalam tugas ini, tentu ada suka-duka, karena bisa saling berbagi pengalaman dan keceriaan, namun sebagai koordinator saya harus capek karena jarak jauh dan harus bolak-balik.”

Yang paling menyenangkan, Cesar bisa menerima pengalaman “memimpin kawan-kawan dan menerima kawan baru.” Cesar mengaku berkoordinasi dengan pendamping rohani agar semua peserta dalam keluarganya bisa mengikuti setiap acara dengan baik dan tepat waktu.

Suster Marsiana PRR dari Keluarga Santa Agnes di Kampung Galilea mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa tugasnya dalam keluarga adalah “sebagai kepala keluarga untuk menjaga dan mengawas termasuk di saat peserta tidur, serta mendampingi dan membimbing peserta dalam hal rohani dan jasmani selama jamnas.”

Sebagai pendamping rohani, suster membantu peserta mempertegas makna dan sasaran formasi misioner. “Setiap kali ada edukasi, kami harus membawa dalam renungan dan refleksi sehingga adik-adik peserta lebih mendalami bagaimana makna jamnas bagi seorang anak missioner, bagaimana berbagi sukacita Injili bagi sesama temannya,” kata Suster Marsiana.

Suster itu bercerita, dia sangat tersentuh dengan sharing peserta pria dari Keuskupan Agats yang mengatakan “saya dikasih makanan enak di sini, mandi airnya sejuk, cuacanya bagus, dan acara pembukaan jambore sangat indah dengan berbagai penari.”

Awalnya, nampak suasana sedih di antara anak-anak dalam keluarganya. 24 anak remaja dalam keluarganya datang dari 24 keuskupan berbeda. “Awalnya mereka sedih saat mau tidur malam karena ingat papa-mama, namun kebersamaan menghilangkan rasa sedih mereka,” kata suster.

Suster sendiri mendapatkan sukacita. “Karena adik-adik itu, meski panas dan capek, begitu gembira dan sukacita, maka saya menjadi lebih semangat melayani anak-anak misioner itu,” kata suster yang aktif dalam tim Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agung Pontianak dan pernah mengikuti Jamnas Sekami lima tahun lalu di Palasari, Bali.

Menurut suster itu, Jamnas Sekami di Pontianak lebih unggul daripada di Palasari hanya dalam hal tarian  pembukaan dari berbagai suku yang melibatkan 175 anak. Melihat manfaat jamnas itu, Suster Marsiana berharap kegiatan seperti itu tetap berjalan di tingkat keuskupan, kalau perlu tingkat nasional.

“Kegiatan ini hendaknya berkelanjutan 3 tahun sekali juga di tingkat keuskupan, supaya anak-anak Sekami merasa bahwa mereka diperhatikan dengan doa, derma, kurban, dan kesaksian (2D2K),” harap suster itu.(paul c pati)

Artikel Terkait:

mgr-agus-minta-anak-remaja-sekami-untuk-kristis-tapi-percaya-kepada-mama-papa-dan-teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami: Ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami: Ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Cesar Marchello (kanan, depan), koordinator angel dalam Jamnas Sekami 2018 di Pontianak/PEN@ Katolik/pcp Salah satu kegiatan peserta Jamnas Sekami/PEN@ Katolik/pcp Suster pendamping rohani mengajak peserta bersukacita/PEN@ Katolik/pcp Salah satu suasana keluarga/PEN@ Katolik/pcp Peserta Jamnas Sekami yang sakit ditemani angel dan pembina rohani serta dokter/PEN@ Katolik/pcp

Kardinal Tauran adalah contoh bagus “seorang imam, seorang uskup, seorang kardinal”

Kam, 12/07/2018 - 22:57
Paus Fransiskus mendupai jenazah Kardinal Tauran di akhir Misa Requiem di Basilika Santo Petrus/Vatican Media

Misa Requiem untuk Kardinal Jean-Louis Tauran, yang meninggal 5 Juli 2018 setelah pertempuran panjang melawan penyakit Parkinson, dirayakan di Basilika Santo Petrus, Vatikan, 12 Juli 2018. Kardinal Angelo Sodano yang bertugas sebagai Dekan Kolese Kardinal memimpin Misa itu.

Dalam homilinya, Kardinal Sodano mengenang Tauran sebagai lelaki “yang dengan gagah berani melayani Gereja Suci Kristus di tengah beban penyakitnya.” Pada saat kematiannya, Kardinal Tauran adalah Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama, dan Camerlengo dari Gereja Suci Roma.

“Selama bertahun-tahun saya menyaksikan semangat kerasulan yang besar dari almarhum kardinal, dalam tahun-tahun yang panjang pelayanan bersama untuk Tahta Suci, dan saya akan menyimpan kenangan bersyukur itu selamanya.”

Kardinal Tauran, kata  Kardinal Sodano, adalah contoh yang bagus dari “seorang imam, seorang uskup, seorang kardinal” yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani Gereja. Secara khusus di saat-sat terakhir ini untuk “dialog dengan semua orang yang berkehendak baik,” lanjut Kardinal Sodano.

Kardinal Sodano menyimpulkan bahwa Kardinal Tauran menghidupi kata-kata Gaudium et Spes dari Vatikan II: “Karena Allah Bapa adalah asal dan tujuan semua manusia, kita semua dipanggil untuk menjadi saudara. Oleh karena itu, kalau kita telah dipanggil menuju takdir yang sama, manusiawi dan ilahi, kita bisa dan kita harus bekerja bersama tanpa kekerasan dan tipu muslihat guna membangun dunia dalam kedamaian sejati.”(pcp berdasarkan laporan Christopher Wells dari Vatican News)

Artikel Terkait:

Gereja berduka atas meninggalnya Kardinal Jean Louis Tauran

Hubungan Islam dan Katolik harus berubah dari persaingan menjadi kerja sama

Sapaan Vatikan untuk umat Islam yang menjalani bulan Ramadhan dan Idul Fitri

Katolik dan Islam jalin hubungan antaragama dan atasi konflik

Apa itu indulgensi?

Kam, 12/07/2018 - 21:40

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

311. Dalam kasus tertentu, dapatkah Sakramen ini dilaksanakan dengan pengakuan umum dan absolusi umum?

Dalam kasus kebutuhan yang amat mendesak (seperti dalam bahaya maut) bisa dilakukan upacara rekonsiliasi umum dengan pengakuan umum dan absolusi umum, sejauh norma-norma Gereja dipatuhi dan ada intensi secara pribadi untuk mengakukan dosa-dosa berat jika hal itu memungkinkan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1480-1484

312. Apa itu indulgensi?

Indulgensi ialah penghapusan hukuman sementara di hadapan Allah sebagai akibat dari dosa-dosa yang kesalahannya sudah diampuni. Umat Kristen yang setia bisa mendapatkan indulgensi ini bagi dirinya sendiri atau bagi orang-orang yang sudah meninggal dengan syarat-syarat tertentu. Indulgensi ini diberikan melalui petugas Gereja, sebagai penyalur rahmat penebusan, membagikan kekayaan rahmat Kristus dan santo-santa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471-1479, 1498

Mgr Kopong Kung: Tahbisan diakon menegaskan ciri istimewa Gereja sebagai pelayan

Kam, 12/07/2018 - 20:55
Para diakon baru bersama Mgr Kopong Kung/Foto: Yuven Fernandez

Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung Pr menegaskan, tahbisan diakon bukan pertama-tama untuk menjawab kebutuhan Gereja, tetapi untuk menegaskan ciri istimewa Gereja itu sendiri sebagai pelayan.

“Gereja diutus untuk menjadi pelayan. Gereja hadir dengan ciri khas melayani sesuai semangat Yesus sendiri yang mengatakan datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan,” kata Mgr Kopong Kung ketika menahbiskan 10 frater dari Ordo Karmel menjadi diakon di Kapela Biara Karmel Beato Dionisius, Wairklau, Maumere, 8 Juli 2018.

Mgr Kopong Kung, yang didampingi 20 imam konselebran, lebih jauh mengatakan bahwa dalam pelayanan para diakon pasti akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. “Ada pengalaman penolakan atau menderita sebagaimana seperti yang dialami Tuhan sendiri,” tegas uskup itu seraya menceritakan bagaimana Yesus ditolak di tempat asalnya sendiri, di tempat kaum kerabatnya sendiri.

Uskup Larantuka itu mengibaratkan 10 diakon itu sebagai 10 orang berpenyakit kusta yang meminta penyembuhan dari, tetapi hanya satu orang yang kembali berterimakasih kepada Tuhan. “Tetapi hari ini saya melihat 10 diakon semuanya sehat,” ujar Uskup Frans seraya menegaskan bahwa mereka boleh menjadi diakon “bodoh” di dunia “tetapi bijaksana di hadapan Allah.”

Komisaris Komisariat Ordo Karmel Indonesia Timur Pastor Yohanes Bosco Djawa OCarm mengatakan bahwa angka 10 angka adalah yang tertinggi dalam penilaian dan sempurna. ”Jangan pernah berhenti mengejar kesempurnaan. Cara yang paling sederhana adalah sempurnakanlah hidupmu itu setiap hari. Itulah jalan untuk mencapai kesempurnaan,” jelas imam itu.

10 diakon baru itu adalah Didimus Dikwan Keumansay Moan Woda OCarm,  Valentino Untung Polo Maing OCarm, Wilfrid Abdon Ta’a OCarm, Viktorius Sesarius Gebo OCarm, Aloysius Doi OCarm, Fransiskus Pati Koten OCarm, Irenius Vinsensius Ngaku OCarm, Fransiskus Xaverius Nenga OCarm, Fransisco Vincenso F GareYoseph OCarm dan Donato de Jesu Marcal OCarm dari Paroki Nossa Senhora de Fatima, Keuskupan Maliana, Timor Leste. (Yuven Fernandez)

Perayaan tahbisan 10 diakon baru/Foto: Yuven Fernandez

Mgr Sunarko kunjungi pulau-pulau kecil: “Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita”

Kam, 12/07/2018 - 15:47
Mgr Adrianus Sunarko OFM mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Riau dengan kapal kayu/Foto Bruder Tri OFM

Ketika kembali ke biara setelah mendengar keputusan Paus Fransiskus dari Duta Vatikan untuk Indonesia tentang pengangkatannya sebagai Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM mulai membuka-buka peta melihat wilayah Keuskupan Pangkalpinang.

“Ternyata wilayahnya mencakup juga Kepulauan Riau. Dalam permenungan kemudian saya memilih motto Episkopat ‘Hendaklah banyak pulau bersukacita’ (Mzm 97:1). Motto ini semakin saya rasakan setelah mengadakan kunjungan pastoral dan berkeliling dari pulau ke pulau, berpindah-pindah dari pongpong (kapal kayu kecil bermesin dengan kapasitas 8-10 orang) seperti saat ini. Terimakasih untuk seluruh umat. Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita.”

Mgr Adrianus Sunarko OFM berbicara dalam Misa di Gereja Stasi Santa Maria Ratu Rosari, Pancur, 8 Juli 2018 saat mengadakan kunjungan pastoral ke Paroki Santo Carolus Borromeus, Ujung Beting, yang mencakupi  seluruh wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Lingga, di Provinsi Kepulauan Riau.

Berikut ini PEN@ Katolik mengangkat laporan Pastor Hans K Jeharut, imam Keuskupan Pangkalpinang, disertai foto-foto yang diambil oleh Bruder Tri OFM.

Tanggal 6-10 Juli 2018 Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, mengadakan kunjungan pastoral ke Paroki Santo Carolus Borromeus, Ujung Beting. Paroki itu mencakup seluruh wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Lingga. Menurut kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lingga, H Eddy Subrata, Kepulauan Lingga terdiri dari 604 pulau, sekitar tiga puluhan pulau dihuni penduduk dan lainnya tanpa penghuni.

Perjalanan dimulai dari Daek, Ibu Kota Kabupaten Lingga. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan speed boat dari Pelabuhan Punggur, Batam,  rombongan tiba di Pelabuhan Sei Tenam, Daek, pukul 13.30 WIB.

Gelombang laut yang tinggi membuat ciut nyali beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Wanita Katolik Republik Indonesia Keuskupan Pangkalpinang, Komunitas Medik Katolik Indonesia Kepulauan Riau, Komunitas iCare dari Singapura dan staf Komsos Keuskupan Pangkalpinang.

Di Daek, Uskup dan rombongan berkunjung ke Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lingga. Eddy Subrata berterimakasih atas kunjungan Uskup dan atas keterlibatan umat Katolik dalam upaya menjaga kerukunan di Kabupaten Lingga. “Umat Katolik adalah umat yang patuh,” kata Eddy Subrata.

Uskup kemudian mengunjungi dua keluarga Katolik di Daek. Menurut Purba, seorang umat, kalau ingin merayakan Ekaristi, mereka harus menyeberang ke pulau lain dengan pongpong, “tapi kalau pastor kebetulan datang ke Daek, kami merayakan Ekaristi di rumah.”

Setelah menikmati kopi dan durian Daek, rombongan melanjutkan perjalanan ke Linau untuk selanjutnya ke Ujung Beting. Untuk itu, rombongan harus menunggu air laut pasang supaya bisa naik ke pongpong. Namun saat ini mereka menunggu agak lama di pelantar (dermaga tradisional dengan tiang-tiang kayu pancang) karena sedang siklus ‘pasang sore.’

Jarak Linau ke Ujung Beting ditempuh dalam 30 menit. Beberapa ratus meter sebelum tiba di dermaga, masih di tengah laut, rombongan dalam tiga pongpong berhenti karena Uskup harus memberkati Patung Santa Maria Ratu Rosari, Patung Santo Petrus dan Ikon kerahiman Ilahi. Setelah pemberkatan, iring-iringan pongpong merapat ke pantai dan disambut meriah oleh umat yang sudah menunggu sejak siang.

Keletihan terbayar menyaksikan kegembiraan umat berjumpa dengan Gembalanya. Dari dermaga, Uskup dan rombongan beserta seluruh umat masuk ke gereja untuk berdoa. Setelah berdoa dan perkenalan singkat, mereka makan malam bersama.

Sabtu, 7 Juli 2018, Uskup memimpin Misa di Gereja Ujung Beting. Umat datang dari beberapa pulau di sekitar Ujung Beting. Mereka tiba dalam rombongan-rombongan kecil menggunakan sampan dan pongpong. Dalam Misa ini, delapan umat menerima Sakramen Krisma.

”Pulau-pulau akan bersukacita kalau Tuhanlah yang meraja atas pulau dan seluruh penghuninya,” kata uskup dalam homili mengutip Mazmur 97:1 yang menjadi motto tahbisan dan kegembalaan Mgr Sunarko. Setelah Misa, dokter-dokter dari KMKI melayani umat dengan pengobatan gratis dan penyuluhan cara hidup sehat, sedangkan Komunitas iCare mendampingi anak-anak, remaja, dan OMK dengan permainan-permainan edukatif sambil memberi animasi.

Malam hari, dalam pertemuan dengan umat, uskup mendengarkan beberapa permohonan umat terutama berkaitan dengan pendidikan anak-anak di pulau dan ketersediaan guru agama serta bahan-bahan pengajaran untuk dipakai di pulau-pulau.

Minggu 8 Juli 2018, Uskup berkunjung ke Stasi Pancur bersama umat Ujung Beting. Delapan pongpong berarak bersama di laut, dua di antaranya membawa patung Santa Maria dan Santo Petrus yang akan ditahtakan di Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Pancur.

Setelah sekitar satu jam mengarungi samudra, barisan pongpong itu tiba di Pancur. Misa Pemberkatan Gereja Santa Maria Ratu Rosari, yang dimulai pukul 10.00 WIB, diawali penyerahan kunci dari Ketua Panitia Pembangunan Gereja.

Dalam homili, Mgr Sunarko mengajak umat untuk meneladani Bunda Maria yang setia kepada kehendak Allah dalam segala situasi, sedih maupun gembira, sebagaimana peristiwa-peristiwa Rosario. Gereja itu mengambil nama Santa Maria Ratu Rosari, maka umat yang berdoa di gereja ini diminta meneladani sikap iman dan kesetiaan Bunda Maria.

Tanggal 8 Juli 2018, Mgr Sunarko merayakan HUT Imamat ke-23. Maka, setelah Misa umat mempersembahkan kue ulang tahun kepada Uskup, yang lalu membagi potongan-potongan kue kepada Kapolsek Senayang , Danramil, Danpos AL dan perwakilan pemimpin agama.

Dari Pancur, rombongan mengendarai mobil menuju Sei Tenam untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Manik. Di sana, Uskup bertemu umat dan menikmati kopi sore dan menunda perjalanan beberapa jam ke Pulau Pulon sambil menunggu angin reda. Pukul 18.30 WIB, tiga pongpong meninggalkan Pulau Manik menuju Pulau Pulon. Dalam kegelapan malam di bawah taburan cahaya bintang, pongpong melaju membelah samudra dan tiba pukul 20.15.

“Selamat datang Bapa, selamat datang ibu, selamat datang kami ucapkan. Selamat datang Bapa Uskup…” menggema suara umat Stasi Santo Aloisius Gonzaga, Pulon. Seluruh warga, Katolik dan non Katolik, hadir menyambut kedatangan Uskup. Suasana persaudaraan kian terasa karena semua menikmati makan malam bersama.

Setelah Misa, 9 Juli 2018, Uskup berdialog dengan umat dengan menekankan identitas umat Keuskupan Pangkalpinang yang berpusat pada Kristus, hidup dalam komunio (persekutuan), dan aktif mewartakan kesaksian hidup sebagai misi yang diemban. Sore hari, dengan kapal “Lintas Kepri,” Uskup dan rombongan menuju Dabo, stasi terakhir dalam rangkaian kunjungan pastoral itu.

Dalam Misa di sana, Uskup menceritakan kisah terpilihnya sebagai Uskup hingga memilih motto Episkopat “hendaklah banyak pulau bersukacita” (Mzm 97:1) dan berharap “Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita.”

Meski hujan rintik mengguyur Dabo sejak pagi, 10 Juli 2018, Uskup bersama rombongan meninggalkan Dabo menuju Batam.***

Artikel terkait:

Mgr Sunarko: kalau Tuhan sendiri jadi raja dalam hidup kita banyak pulau akan bersukacita

Mgr Adrianus Sunarko OFM ditahbiskan jadi Uskup Pangkalpinang bukan rancangan saya

Live streaming tahbisan Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko-ofm

Saat Misa Perdana, Mgr Sunarko terima kepemimpinan keuskupan dan tanda kesetiaan para imam

Foto: Bruder Tri OFM Foto: Bruder Tri OFM Mgr Sunarko rayakan HUT Imamat/Foto: Bruder Tri OFM Foto: Bruder Tri OFM Foto: Bruder Tri OFM

Para uskup Filipina ajak umat berdoa, mengaku dosa, beramal untuk “masa-masa sulit”

Kam, 12/07/2018 - 04:07
Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles/Foto Davao Today

Dalam seruan pastoral 9 Juli 2018, Konferensi Waligereja Filipina menyampaikan berbagai situasi yang mengkhawatirkan di negara itu seraya mendesak umat Katolik untuk menjadi pembawa damai.

Para uskup Katolik Filipina mengajak umat beriman untuk ikut bersama mereka berdoa, mengaku dosa, dan melaksanakan kegiatan amal kasih selama empat hari guna menebus dosa-dosa dari orang-orang yang menghujat Tuhan, yang memfitnah dan memberikan kesaksian palsu, dan yang melakukan atau membenarkan pembunuhan guna melawan kejahatan.

Ajakan itu muncul dalam seruan pastoral yang dibuat oleh Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) yang dirilis dalam konferensi pers pada akhir sidang paripurna ke-117 CBCP  di Manila, 9 Juli 2018.

Seruan pastoral, yang ditandatangani oleh presiden CBCP, Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles dengan judul, “Bersukacitalah dan bergembiralah!” itu menarik perhatian dalam “masa-masa sulit ini” di Filipina. Seruan itu mengajak umat Katolik berkomitmen untuk membuat perdamaian.

Para uskup mendesak umat beriman agar menjalankan hari doa dan pengakuan dosa tanggal 16 Juli 2018, pesta Santa Maria dari Gunung Karmel, “dengan memohon belas kasihan dan keadilan Allah bagi mereka yang telah menghujat Nama Suci Allah, mereka yang memfitnah dan memberikan kesaksian palsu, serta mereka yang melakukan pembunuhan atau membenarkan pembunuhan sebagai sarana untuk memerangi kriminalitas di negara kita.” Para uskup juga mengajak umat “berpuasa, berdoa dan melakukan kegiatan amal kasih selama tiga hari mulai 17 hingga 19 Juli 2018.”

Seruan itu tidak menyebut nama siapa pun tetapi menyinggung pernyataan-pernyataan mengejutkan yang dibuat oleh Presiden Rodrigo Duterte pada beberapa kesempatan. Hubungan Duterte dengan para uskup Katolik penuh gejolak. Para uskup mengkritik perang brutal presiden itu terhadap narkoba, dorongannya untuk mengembalikan hukuman mati dan bahasanya yang saru.

Duterte menuai kritik keras setelah menyebut Tuhan “bodoh” dalam sebuah pidato di kota Davao di bulan Juni. Pada kesempatan lain, hari Jumat 6 Juli 2018, presiden itu mengatakan akan mundur jika ada yang bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

Kepada “yang dengan angkuh menganggap diri mereka bijaksana dan menganggap iman Kristen itu omong kosong, yang menghujat Allah kita sebagai bodoh, Santo Paulus mengatakan: ‘Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia,’” kata para uskup.

Menjawab “orang-orang yang mengolok iman kita,” para uskup kembali mengutip Santo Paulus yang mengatakan bahwa Allah memilih yang bodoh untuk mempermalukan yang bijaksana dan yang lemah untuk memalukan yang kuat.

Dalam seruan pastoral itu, para uskup dari negara paling Katolik di Asia itu menyanggah tuduhan-tuduhan bahwa mereka “terlibat dalam gerakan-gerakan politik untuk mengacaukan pemerintah”. Mereka mengatakan, “Kami bukan pemimpin politik, dan tentu saja bukan lawan politik dari pemerintah.” Gereja, lanjut para uskup, menghormati otoritas politik yang terpilih selama mereka “tidak bertentangan dengan prinsip spiritual dan moral mendasar yang kita pegang teguh, seperti menghormati kesucian hidup, integritas ciptaan, dan martabat umat manusia.”

“Kalau kita berbicara tentang isu-isu tertentu,” kata para uskup, “itu selalu dari perspektif iman dan moral, terutama prinsip-prinsip keadilan sosial, tidak pernah memikirkan agenda politik atau ideologis.”

Seruan pastoral itu juga mengungkapkan  kegelisahan atas serangan terhadap personil gereja dan dimanfaatkan untuk menegaskan kembali panggilan dan misi Gereja untuk perdamaian dan untuk mengekspresikan solidaritas dengan orang miskin, orang-orang terlantar dan miskin, terutama pecandu narkoba yang diberi label sebagai “bukan-manusia” dan penjahat, serta para korban perang yang tidak bersalah dalam perang terhadap terhadap narkoba.

Duterte meraih kekuasaan dalam pemilihan presiden tahun 2016 dengan janji membunuh para penjahat dan mendesak orang untuk membunuh pecandu narkoba.

“Apakah kita akan tetap bertindak sebagai pengamat kalau mendengar orang-orang dibunuh dengan darah dingin oleh pembunuh kejam yang membuang kehidupan manusia seperti sampah?” tanya para uskup itu, seraya mengatakan untuk setiap tersangka narkoba yang tewas, seorang istri menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim.(pcp berdasarkan Vatican News dan CBCPNews)

Apakah bapa pengakuan terikat oleh rahasia?

Rab, 11/07/2018 - 22:43
Nigeria Catholic Blog

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

307. Siapa pelayan Sakramen (Rekonsiliasi)  ini?

Kristus telah mempercayakan pelayanan Rekonsiliasi ini kepada para Rasul-Nya, kepada para Uskup yang menjadi pengganti-pengganti para Rasul dan kepada para imam, rekan sekerja Uskup. Mereka ini menjadi alat kerahiman dan kebenaran Allah. Mereka melaksanakan kuasa pengampunan dosa atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1461-1466, 1495

308. Kepada siapa pengampunan dosa-dosa tertentu dikhususkan?

Pengampunan dosa-dosa berat tertentu (misalnya, yang dihukum dengan ekskomunikasi) dikhususkan kepada Takhta Suci atau kepada Uskup setempat atau Imam yang diberi kuasa khusus oleh Uskup. Tetapi, setiap Imam dapat memberikan pengampunan atas setiap dosa dan ekskomunikasi kepada orang yang berada dalam bahaya maut.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1463

309. Apakah bapa pengakuan terikat oleh rahasia?

Setiap bapa pengakuan, tanpa kecuali dan di bawah ancaman hukuman yang amat berat, terikat untuk memegang teguh ”meterai pengakuan” yang berarti kerahasiaan mutlak tentang dosa-dosa yang diungkapkan kepadanya dalam pengakuan karena keagungan pelayanan ini dan hormat yang harus diberikan kepada pribadi manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1467

310. Apa buah Sakramen ini?

Buah Sakramen Tobat ialah: berdamai kembali dengan Allah karena itu juga berarti pengampunan dosa-dosa, dan berdamai kembali dengan Gereja; pemulihan keadaan rahmat jika keadaan itu sudah hilang karena dosa, penghapusan hukuman kekal karena dosa-dosa berat dan penghapusan, paling sedikit untuk sebagian, hukuman sementara sebagai akibat dosa. Sakramen ini juga memberikan kedamaian, ketenangan suara hati, penghiburan rohani, dan bertambahnya kekuatan rohani untuk berjuang dalam kehidupan Kristen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1468-1470, 1496

Anak remaja tunjukkan kebudayaan masing-masing dalam Pentas Seni Sekami 2018

Rab, 11/07/2018 - 04:05
PEN@ Katolik/pcp

Selain Misa, edukasi tentang Identitas Gereja Misioner, Realisasi Formasi Misioner dan Berbagi Kreatifitas, serta dinamika kelompok dan pameran dari setiap keuskupan, pada hari kedua Jambore Nasional (Jamnas) Sekami 2018 peserta menampilkan pentas seni.

Pentas Seni di panggung utama yang terletak di Lapangan SMA Santo Paulus Pontianak, 4 Juli 2018, dan dihadiri oleh Uskup Agung Kuching Mgr Simon Poh dan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menampilkan berbagai tarian, lagu dan gerak, serta drama berdasarkan budaya masing-masing.

PEN@ Katolik menurunkan beberapa foto yang diambil di malam pentas seni itu:

PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp

 

 

 

 

 

 

 

 

Vincent, Garda Swiss di Vatikan yang berdarah Indonesia

Sel, 10/07/2018 - 23:41
Pastor Markus Solo SVD bersama Vincent, seorang Garda Swiss di Vatikan

Vincent, Garda Swiss di Vatikan, mengatakan kepada Pastor Markus Solo SVD, 9 Juli 2018, bahwa ayahnya berdarah Belanda dan Indonesia yang lahir di Bandung dan pindah ke Swiss tahun 1959 saat berusia 4 tahun. Dengan bangga Vincent mengaku bahwa dirinya 1/8 orang Indonesia. Maksudnya kualitas ke-Indonesia-an dalam dirinya hanya 1/8 artinya sangat kecil dan jauh “tetapi masih ada rasa memiliknya.” Kalau 1 artinya utuh, jelasnya, maksudnya orangtua satu negara saja, tidak terbagi; 1/2 artinya orangtua berasal dari dua negara berbeda sehingga rasa memilikinya setengah-setengah; kalau 1/4 artinya tendensi rasa memilikinya terhadap etnik orangtua sudah menipis. Pastor Markus sendiri adalah satu-satunya orang Indonesia yang kini berkarya di Kuria Roma, tepatnya pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama.(pcp)

Paus Fransiskus ‘bersyukur’ atas kunjungan ekumenis ke Bari

Sel, 10/07/2018 - 18:21

Dalam sambutannya setelah Doa Malaikat Tuhan di Vatikan, 8 Juli 2018, Paus Fransiskus mengapresiasi dan berterima kasih kepada semua yang mendukung kunjungannya di hari sebelumnya ke Kota Bari di Italia untuk doa ekumenis untuk perdamaian di Timur Tengah.

Dalam “hari doa dan perdamaian yang khusus di wilayah itu, ” seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, Paus didampingi oleh para patriark dari Gereja-Gereja Timur Tengah dan wakil-wakil mereka. “Saya bersyukur kepada Tuhan untuk pertemuan, yang merupakan tanda mengesankan  persatuan umat Kristen. Di situ terlihat peranserta antusias dari umat Allah.”

Paus Fransiskus sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada “Saudara-Saudara Kepala-Kepala Gereja-Gereja”, wakil-wakil mereka, dan atas sambutan Uskup Agung Bari Mgr Francesco Cacucci. Bapa Suci mengatakan bahwa dia “diteguhkan oleh sikap dan kesaksian mereka.”

Akhirnya, Bapa Suci mengucapkan terima kasih kepada banyak umat beriman yang menemani dan mendukung Paus dan para Patriark “melalui doa dan kehadiran mereka yang penuh sukacita.”

Pada hari Sabtu 7 Juli 2018, Paus Fransiskus menjadi tuan rumah refleksi ekumenis dan pertemuan doa di Kota Bari, Italia bagian selatan, untuk perdamaian di Timur Tengah.

Sembilan belas kepala dan wakil Gereja-Gereja Kristen berdoa bersama Bapa Suci dan mengadakan dialog tertutup dengan Paus di Basilika Kepausan Santo Nicholas.

Paus juga meluangkan waktu untuk menghormati relikui-relikui Santo Nicholas, orang kudus di masa sebelum Skisma Besar tahun 1054 yang memisahkan Gereja-Gereja Timur dan Barat.

Pada pertemuan doa, Paus Fransiskus mencela “ketidakpedulian atas pembunuhan” dan “sikap berdiam saja” yang dilakukan dunia terhadap tragedi yang terjadi di Timur Tengah.(pcp berdasarkan Vatican News)

Suasana pertemuan Paus Fransiskus dengan para patriark Gereja-Gereja Timur Tengah/Vatican Media Paus Fransiskus bersama para patriark Gereja-Gereja Timur tengah melepaskan merpati perdamaian/Vatican Media

Halaman