Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 17 mnt 53 dtk yang lalu

Apa yang harus dilakukan oleh peniten?

Sel, 10/07/2018 - 09:54
presnellonprivileges.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

302. Apa unsur-unsur pokok Sakramen Rekonsiliasi?

Unsur-unsur pokok itu ada dua: tindakan orang yang datang dan bertobat melalui karya Roh Kudus dan pengampunan dosa dari Imam yang bertindak atas nama Kristus untuk memberikan pengampunan, menentukan cara untuk berbuat silih atas dosa-dosa yang diperbuatnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1440-1449

303. Apa yang harus dilakukan oleh peniten?

Yang harus dilakukan adalah: pemeriksaan batin yang saksama; pertobatan (atau penyesalan) akan sempurna jika motivasinya cinta akan Allah; tidak sempurna jika berdasarkan pada motivasi-motivasi lainnya dan disertai niat yang tulus untuk tidak berdosa lagi; pengakuan terdiri dari menyatakan dosa-dosanya kepada Imam dan perbuatan silih atau laku tapa yang diusulkan oleh bapa pengakuan kepada orang yang bertobat untuk memperbaiki ”kerusakan” yang terjadi akibat dosa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1450-1460, 1487-1492

304. Dosa-dosa apa yang harus diakukan?

Semua dosa berat yang belum diakukan yang disadari melalui pemeriksaan batin yang teliti harus dibawa ke dalam Sakramen Tobat. Pengakuan dosa-dosa berat merupakan satu-satunya cara yang biasa untuk mendapatkan pengampunan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1456

305. Bilamana seseorang itu harus mengakukan dosa maut?

Setiap umat beriman yang sudah mencapai umur diskresi (mampu membedakan antara yang baik dan yang jahat) terikat untuk mengakukan dosa-dosa beratnya paling sedikit sekali setahun dan selalu dilakukan sebelum menerima Komuni Kudus.

306. Mengapa dosa-dosa ringan juga dapat menjadi objek pengakuan Sakramental?

Pengakuan dosa-dosa ringan juga sangat dianjurkan oleh Gereja, bahkan walaupun hal ini tidak mutlak perlu karena bisa membantu kita untuk membentuk suara hati yang benar dan melawan kecenderungan jahat. Ini membantu kita untuk disembuhkan oleh Kristus dan berkembang maju dalam hidup Roh.

Putra asli Marind pertama jadi anggota MSC setelah 115 tahun Gereja Katolik masuk Papua Selatan

Sel, 10/07/2018 - 09:02
Diakon Simon Petrus Takahanem Kaize MSC (tengah) tiba di Bandar Udara Mopah Merauke bersama rekannya Diakon Everandus Natalis Resubun MSC

Simon Petrus Takahanem Kaize, kelahiran Domande, 22 Februari 1989, merupakan putra asli Marind (suku asli Merauke) pertama yang menjadi anggota Tarekat Missionariorum Sacratisimum Coordis Jesu (MSC) setelah 115 tahun Gereja Katolik masuk di Papua Selatan.

Simon bersama tujuh frater dari Tarekat MSC dan dua frater diosesan menerima tahbisan diakon dari Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC di Kapel Seminari Tinggi Hati Kudus Yesus Pineleng, 29 Juni 2018.

Bersama rekannya yang juga ditahbiskan bersama, Diakon Everandus Natalis Resubun MSC, Diakon Simon kembali ke Merauke dan tiba di Bandar Udara Mopah Merauke 7 Juli 2018. Kedatangan mereka, untuk menjalani tahun diakonal di Keuskupan Agung Merauke, disambut di bandara oleh pihak keluarga serta beberapa anggota tarekat MSC.

Diakon Simon adalah Putra Marind ketiga yang dipanggil Tuhan untuk menjadi klerus, setelah Almarhum Pastor Soter Nautje Pr dan Pastor Pius Manu Pr.

Saat ditemui di Bandar Udara Mopah, Diakon Simon mengaku bahwa awalnya dirinya belum tertarik menjadi imam. Ketertarikannya menjadi imam baru muncul saat berada di bangku SMP ketika berjumpa dengan salah satu imam MSC.

“Saat SMA, ketika sudah 101 tahun Gereja Katolik masuk di Papua Selatan, belum ada putra daerah yang menjadi pastor MSC. Itu yang menjadi awal semangat perjuangan saya menjadi anggota MSC. Ini menjadi beban bagi saya, karena saya anak Marind pertama. Tapi saya juga mau membuktikan bagi orang lain bahwa kami orang Marind juga bisa,” kata Simon.

Setelah menjadi diakon, dia berharap ditahbiskan menjadi imam, dan putra Marind lain akan tertarik mengikuti jejaknya. “Saya yakin dan percaya pasti akan banyak anak Marind yang terpanggil,” kata Diakon Simon.

Ketua Pemuda Marind, Fransiskus Ciwe, sangat bersyukur, karena setelah 1 abad lebih Gereja Katolik masuk di Papua Selatan, seorang putra Marind ditahbiskan menjadi diakon di Tarekat MSC. “Kita harap ini bisa berlanjut sampai dengan tahbisan imamatnya nanti.  Kita masyarakat dan pemuda Marind semua  harus mendoakan agar tahbisan diakon yang sudah diterimanya terus berlanjut sampai imamat,” harap Ciwe yang ditemui di bandara di hari yang sama.

Di tempat dan hari yang sama yang sama, Petrus Alui Gebze selaku keluarga dari Diakon Simon mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang selama ini memberikan dukungan. “Saya, mewakili keluarga besar Kaize, Gebze, Mahuze, Samkakai, Ndiken, Basik-Basik dan Balagaize di wilayah adat Marind dan juga lebih khusus lagi keluarga besar dari Kampung Domande, berterima kasih kepada keluarga besar MSC yang selalu memberikan dorongan dan semangat kepada salah satu anak Marind, Simon Petrus Kaize,” katanya.

Dia berharap, dengan hadirnya seorang pastor anak Marind, suku Marind dapat melihat terang dan eksistensi Gereja Katolik di tanah ini semakin diperkuat. (Yakobus Maturbongs)

 

 

Gereja berduka atas meninggalnya Kardinal Jean-Louis Tauran

Sen, 09/07/2018 - 21:53
Kardinal Jean-Louis Tauran bersama Paus Santo Yohanes Paulus II/Foto Vatican Media

Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama Kardinal Jean-Louis Tauran meninggal hari Kamis sore, 5 Juli 2018, dalam usia 75 tahun. Ia menderita penyakit Parkinson. Menurut catatan Pastor Markus Solo SVD dari Vatikan yang dikirim ke PEN@ Katolik di hari itu, imam asal Indonesia bersama Kardinal Jean-Louis Tauran memulai dewan kepausan itu di tahun 2007.

“Tahun 2009, kami berdua mengunjungi Indonesia: Jakarta, Yogya. Denpasar dan Makassar. Pertama kali beliau melihat Indonesia dan sangat kagum. Beliau suka makan mangga harum manis. Saya bersyukur bisa bekerja sangat dekat dengan beliau, baik di kantor maupun waktu melakukan perjalanan,” jelas Pastor Markus Solo.

Menurut imam SVD yang sudah 10 tahun berkarya di Vatikan itu, Kardinal Jean-Louis Tauran “sangat human, mudah bergaul dan humoris, serta punya pengertian besar dan punya roh diplomat yang tinggi. Sayang sekali, lanjut imam itu, Parkinson menyerang tubuh kardinal itu beberapa tahun terakhir, sampai tubuhnya melemah, tetapi ingatan masih baik.”

Tiga minggu lalu, 12 Juni, jelas imam itu, Kardinal Tauran memutuskan untuk beristirahat di USA sambil menjalankan terapi. “Sayangnya kesehatan beliau memburuk, tubuhnya melemah, hingga meninggal tadi malam, 5 Juli 2018.”

Untuk mengenal Kardinal Tauran secara lebih dekat, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menerjemahkan tulisan Vatican News, yang terbit 6 Juli 2018 dengan judul Gereja berduka atas meninggalnya Kardinal Jean-Louis Tauran.”

Kardinal Jean-Louis Tauran, yang diciptakan dan dinyatakan sebagai Kardinal oleh Santo Yohanes Paulus II dalam Konsistori 21 Oktober 2003, dikenal dunia karena karyanya yang tak kenal lelah untuk meningkatkan perdamaian melalui dialog antarumat beragama. Kardinal itu menjadi terkenal karena dialah yang mengumumkan kepada dunia terpilihnya Paus Fransiskus. Pengumuman itu disampaikan kardinal itu dari Balkon Tengah Basilika Santo Petrus, 13 Maret 2013.

Kardinal Tauran, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama dan Camerlengo (kepala rumah tangga) Gereja Roma yang Suci, meninggal dunia di Amerika Serikat di saat sedang menerima perawatan untuk penyakit Parkinson yang telah dideritanya bertahun-tahun.

Kardinal, yang terus aktif meskipun sakit, melakukan perjalanan penting ke Arab Saudi, April 2018, dengan keyakinan bahwa kita terancam “bukan karena benturan peradaban, tetapi karena ketidakserasian antara ketidaktahuan dan radikalisme.” Dalam kunjungan itu, Kardinal Tauran menegaskan bahwa di masa depan dia akan mendidik dan mengajarkan kepada orang-orang bahwa umat Kristiani tidak dianggap sebagai warga negara kelas dua.

Dalam wawancara November lalu menyusul serangan terhadap Masjid Rawda di Sinai, yang digambarkannya sebagai “langkah baru menuju jurang maut,” kardinal itu menyerukan kepada semua pria dan wanita yang berkemauan baik untuk terus mengupayakan dialog, perdamaian, dan kebebasan. Seruan yang sama ditegakkannya kembali di akhir Mei lalu dalam pesan Ramadan untuk umat Muslim.

Dalam pesan untuk Perayaan Deepavali bagi umat Hindu, Oktober lalu, dengan judul “Umat Kristen dan Umat Hindu: Melampaui Toleransi,” Kardinal Tauran menyoroti tantangan terhadap intoleransi. Ditegaskan bahwa intoleransi merupakan penyebab kekerasan di banyak bagian dunia.

Dalam pesannya untuk Waisak, April 2018, kardinal itu mendorong umat Budha untuk bekerja sama melawan korupsi guna menciptakan budaya legalitas dan transparansi.

Kardinal Tauran lahir  di Bordeaux, Perancis, 5 April 1943. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah “Michel Montaigne” di Bordeaux, dan setelah dua tahun di Seminari Tinggi keuskupan, ia dikirim ke Roma sebagai mahasiswa Seminari Kepausan Perancis dan Universitas Kepausan Gregoriana. Di universitas itu dia menyelesaikan studi teologi dan filsafatnya serta memperoleh Lisensi dalam Filsafat dan Teologi.

Kardinal itu ditahbiskan imam 20 September 1969, dan menjalankan pelayanan imamatnya sebagai Vikaris Paroki Santa Eulalia di Bordeaux, seraya mengikuti kursus Hukum Kanon di Institut Katolik Toulouse. Ketika dipanggil ke Roma tahun 1973, Kardinal Tauran mengikuti Akademi Kepausan Eklesiastikal. Di sana staf diplomatik Tahta Suci itu dilatih. Di Universitas Kepausan Gregoriana, kardinal itu memperoleh gelar dalam Hukum Kanon.

Kardinal Tauran memasuki dinas diplomatik Takhta Suci bulan Maret 1975 dan ditugaskan ke Kedutaan Vatikan di Republik Dominikan. Dia berkarya di sana sampai tahun 1979 saat dipindahkan ke Kedutaan Vatikan di Lebanon. Dia tinggal di sana sampai Juli 1983, dan dipanggil untuk bekerja di Dewan Urusan Umum Gereja.

Dari tahun 1984 hingga 1988, Kardinal Tauran mengikuti karya Konferensi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa, serta acara-acara internasional seperti Konferensi Stockholm 1984 tentang Pelucutan Senjata, Forum Budaya 1985 di Budapest, Konferensi Tindak Lanjut Wina tahun 1986. Tahun 1988, kardinal itu ditunjuk sebagai Wakil Sekretaris Dewan Urusan Umum Gereja.

Tanggal 1 Desember 1990 ia terpilih sebagai Uskup Agung tituler Telepte dan dinominasikan sebagai Sekretaris Dewan untuk Urusan Umum Gereja yang kemudian bernama Seksi Hubungan dengan Negara-Negara dari Sekretariat Negara. Kardinal itu ditahbiskan uskup tanggal 6 Januari 1991 oleh Santo Yohanes Paulus II di Basilika Santo Petrus Vatikan.

Selama 13 tahun sebagai kepala Seksi Hubungan dengan Negara-Negara, kardinal itu melakukan banyak misi di luar negeri dan memimpin Delegasi Tahta Suci dalam berbagai konferensi internasional.

Yohanes Paulus II menciptakan dan menyatakan dirinya sebagai Kardinal di dalam Konsistori 21 Oktober 2003. Sebulan kemudian, tepatnya 24 November 2003, kardinal itu diangkat menjadi Pimpinan Arsip dan Perpustakaan Gereja Roma yang Suci.

Tanggal 25 Juni 2007, Paus Benediktus XVI mengangkatnya menjadi Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama, dan tanggal 26 Juni 2013 Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai Anggota Komisi Kepausan untuk Referendum tentang Institut Karya-Karya Religius.(Vatican News)

Artikel Terkait

Hubungan Islam dan Katolik harus berubah dari persaingan menjadi kerja sama

Sapaan Vatikan untuk umat Islam yang menjalani bulan Ramadhan dan Idul Fitri

Katolik dan Islam jalin hubungan antaragama dan atasi konflik

Kardinal Jean-Louis Tauran bersama Pastor Markus Solo SVD di Mesjid Istoqlal Jakarta Kardinal Jean-Louis Tauran mengumumkan terpilihnya Paus Fransiskus Kardinal Tauran bersama Paus Fransiskus

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami: Ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Sen, 09/07/2018 - 18:02
Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Mgr Agustinus Agus dan Mgr Pius Riana Prapdi dalam “Dialog Sukacita” bertema “Tindakan Pastoral Pemimpin Gereja dalam Lingkungan Kebhinekaan” di depan sekitar 1300 peserta Jamnas Sekami di Pontianak, 5 Juli 2018. Foto: Modestus

Ketika Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi berbicara dalam acara “Dialog Sukacita” bertema “Tindakan Pastoral Pemimpin Gereja dalam Lingkungan Kebhinekaan” di depan sekitar 1300 peserta Jambore Nasional (Jamnas) Sekami di Pontianak, 5 Juli 2018, seorang peserta bertanya tentang kasus tawaran sembako untuk beribadah di rumah ibadah agama lain.

Seorang peserta bertanya dan mencari solusi atas kasus umat yang diajak ikut ibadah di rumah ibadah agama lain dengan tawaran sembako setiap hari. Pengalaman anak remaja itu dibenarkan oleh seorang suster. “Memang dulu pas saya bertugas di sana, banyak kejadian seperti itu. Dan di tempat itu memang tidak ada katekis atau pembina agama, sehingga ada umat gampang tergiur dan dipengaruhi,” kata suster itu.

Mgr Agus prihatin dengan umat yang berkekurangan, yang mudah terpengaruh karena mereka membutuhkan bantuan sembako dan ingin merasakan hidup berkecukupan. “Salah satu solusinya adalah meningkatkan iman mereka dengan cara pembinaan dari orangtua. Kita harus memiliki sikap kritis seperti Thomas Rasul. Jangan mudah percaya iming-iming harta yang diberikan,” Mgr Agus memberi solusi.

Uskup Agung Pontianak itu meminta, “dengan moto Children Helping Children, seorang anak remaja Sekami yang mendengarkan informasi tentang ini harus melaporkannya kepada pihak yang berwenang seperti kepada orang tua atau pastor.”

Mgr Agus berharap agar acara Dialog Sukacita itu dapat meningkatkan semangat 2D2K (Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian) dan agar 1200 anak remaja peserta Jamnas Sekami itu bersama-sama memperjuangkan kebaikan dan saling menguatkan iman.(modestus, sinta)

Artikel terkait:

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kritis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Ketidakpercayaan

Sen, 09/07/2018 - 16:15

(Renungan berdasarkan bacaan Injil Minggu Keempat Belas pada Masa Biasa, 8 Juli 2018: Markus 6: 1-6)

 

“Dia kagum pada kurangnya iman mereka.” (Markus 6: 6)

 

Ketika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.

Tidak mungkin bagi seorang tukang kayu, menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan pekerjaan kasar untuk memperoleh kebijaksanaan yang demikian mendalam. Orang-orang Nazaret juga mengenal bahwa Yesus adalah putra Maria dan mengenal sanak keluarga-Nya. Tampaknya orang-orang sadar bahwa kerabat Yesus hanyalah orang Yahudi biasa dan miskin. Tak satu pun dari mereka tampaknya memiliki kepribadian yang menonjol. Yesus harus tinggal di tempatnya: seorang Yahudi biasa dan tukang kayu yang miskin. Jadi, bagi Yesus untuk menjadi pengkhotbah yang karismatik dan seorang rabi yang mengagumkan sungguh tidak layak dan tidak mungkin. Yesus, mengenali akar penyebabnya: ketidakpercayaan.

Kita hidup dua milenium setelah Kristus, tetapi sayangnya, mentalitas yang melemahkan ini terus ada dan bahkan berkembang di tengah-tengah kita. Ini adalah mentalitas yang mengurung orang-orang dalam keterbatasan mereka dan mengubur potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Inilah mentalitas yang mendorong fundamentalisme, rasisme, stereotip-stereotip negatif, dan ideologi destruktif lainnya yang memecah belah umat manusia. Sekali pecundang, selalu pecundang; sekali orang Jawa, selalu orang Jawa; sekali pecandu, selalu seorang pecandu. Namun, mentalitas ini tidak hanya terletak pada ideologi besar, tetapi juga mempengaruhi kehidupan pribadi kita: ketika kita berpikir kita selalu benar, dan yang lain salah; ketika kita percaya bahwa kita lebih suci dari yang lain; ketika kita hanya mempercayai diri kita sendiri; ketika kita menolak untuk memaafkan orang lain; ketika kita berpegang teguh pada keangkuhan kita.

Menghadapi mentalitas yang melumpuhkan ini, Yesus menunjuk pada sebuah kebenaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan iman. Dengan iman, yang adalah karunia rohani dari Allah, kita diberdayakan untuk melampaui batasan-batasan budaya, mental, tubuh kita sendiri. Dalam Injil, prasyarat dasar terjadinya sebuah mukjizat adalah iman. Orang lumpuh disembuhkan karena iman teman-temannya yang membawanya kepada Yesus (Markus 2: 1-6); wanita dengan pendarahan disembuhkan karena imannya (Markus 5: 25-34); Yesus memberi tahu Yairus, pejabat sinagoga untuk memiliki iman dan Yesus menghidupkan putrinya (Markus 5: 35-43).

Namun, mukjizat tidak selalu berarti kejadian luar biasa melampaui hukum alam, tetapi itu bisa menjadi peristiwa sederhana namun bermakna dalam kehidupan sehari-hari dan pribadi kita. Saat ini saya melakukan tugas pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Tugas saya adalah mengunjungi para pasien, memberi berkat, doa dan Komuni Kudus, tetapi pada dasarnya, adalah untuk bersama mereka dan mendengarkan mereka. Saya tidak dapat melakukan banyak hal dalam hal penyembuhan fisik, tetapi saya menyadari bahwa penyakit tidak hanya bersifat fisik. Kesembuhan mencakup aspek psikologis dan spiritual. Saya melakukan perjalanan bersama para pasien dalam sukacita, kesedihan, frustrasi, dan harapan mereka. Saya menemani mereka saat mereka mencoba menyelesaikan beberapa masalah seperti kemarahan, hubungan yang rusak, dan masa lalu yang menyakitkan. Ketika saya berjalan bersama mereka, saya juga menyadari kelemahan saya. Namun, terlepas dari hal-hal buruk ini, orang-orang dengan iman selalu menemukan kekuatan dan keberanian untuk menyembuhkan, untuk melampaui diri mereka sendiri dan menjalani kehidupan yang bermakna.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis, tapi percaya kepada mama-papa dan teman

Kam, 05/07/2018 - 03:34
Misa Pembukaan Jambore Nasional Sekami 2018 di Katedral Santo Joseph Pontianak/PEN@ Katolik/pcp

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus meminta anak remaja peserta Jambore Nasional (Jamnas) Sekami 2018 untuk menyadari bahwa Tuhan mencintai mereka semua dan bersikap kritis dan selektif namun percaya kepada mama-papa serta teman-teman yang baik agar tidak ditegur Tuhan seperti yang dikatakan kepada Rasul Thomas, “Berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya.”

Mgr Agus berbicara dalam Misa Pembukaan Jamnas Sekami 2018 di Katedral Santo Joseph Pontianak, 3 Juli 2018, yang dihadiri oleh 1315 peserta termasuk direktur keuskupan (dirdios) dari 35 keuskupan serta biarawan-biarawati yang menjadi pembina dan para animators dan animatris, yang berpawai dari lokasi jambore melewati beberapa jalan utama sepanjang hampir 1 kilometer.

Perarakan petugas liturgi, misdinar, perwakilan masing-masing keuskupan, serta Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus yang memimpin Misa dan konselebran Uskup Agung Kuching Malaysia Mgr Simon Poh, Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi, Uskup Agung Pontianak Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, dan Uskup Weetebula Mgr Edmund Woga CSsR, serta 85 imam berhenti ditangga katedral.

Setelah penyambutan berupa tarian sekitar 4 menit, Mgr Agus sebagai konselebran utama memotong tebu dengan sebuah parang, dan semuanya masuk ke dalam katedral  untuk metrayakan Misa yang dimeriahkan dengan koor berkekuatan 80 anak yang dipimpin oleh Pastor Fransiskus Kebry CM. Anak-anak itu adalah wakil paroki-paroki di dekenat Pontianak.

Dalam Misa yang juga merayakan HUT ke-175 berdirinya Sekami, Mgr Agus meminta anak-anak remaja untuk percaya kepada teman-teman sesama peserta jambore itu. “Kita datang ke sini untuk berbagi damai dan sukacita. Uskup yakin anak-anak dalam beberapa jam di Kalimantan sudah mendapat teman baru dari daerah lain,” kata uskup.

Dalam Pesta Tomas Rasul itu, Mgr Agus mengatakan bahwa dia bangga dengan Thomas yang tidak begitu saja percaya dengan berita yang didapatnya, “tetapi kritis dan selektif.”  Namun, anak-anak remaja, minta Mgr Agus, “dipanggil untuk berani percaya kepada papa dan mama, percaya dengan teman-teman yang baik, karena kalau tidak demikian bisa-bisa kita ditegur oleh Tuhan dengan mengatakan ‘berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya’.”

Uskup Agung Pontianak itu juga menegaskan bahwa Yesus mencintai para peserta jambore itu dengan menceritakan bahwa dia begitu terharu dalam upacara pembukaan sebelumnya oleh pihak pemerintah di Lapangan Persekolahan Santo Paulus Pontianak, karena ketika para uskup keluar menuju lapangan itu, rintik-rintik hujan mulai turun.

“Namun saya yakin, ini hujan berkat untuk membasahi kaki adik-adik sekalian serta para pastor dan suster yang pertama kali menginjak bumi Kalimantan ini. Dan tidak hujan. Apa artinya? Bagi saya itu tanda Tuhan mencintai kalian khususnya adik-adik terkasih. Tuhan betul mencintai kalian. Tuhan mencintai kita semua,” tegas prelatus itu.

Di akhir Misa, uskup metropolitan itu membuka secara resmi Jambore Nasional Sekami 2018 yang berlangsung hingga 6 Juli dengan pemukulan gong dan penyematan tanda peserta kepada satu peserta pria dari Keuskupan Agats dan peserta perempuan dari Keuskupan Agung Pontianak. (paul c pati)

Mgr Agustinus Agus, konselebran Utama Misa Pembukaan Jambore Nasional Sekami 2018/PEN@ Katolik/pcp Mgr Agus membuka Jamnas Sekami 2018 dengan pemukulan gong/PEN@ Katolik/pcp Misa Pembukaan Jamnas Sekami 2018 dengan 6 uskup dan 85 imam/PEN@ Katolik/pcp Pawai ke katedral diakhiri diakhiri dengan pembawa vandel KKI dan Sekami serta masing-masing keuskupan/PEN@ Katolik/pcp Suasana Misa dengan vandel nama-nama kampung tempat tinggal peserta jambore, Nazareth, Betlehem, dan Galilea/PEN@ Katolik/pcp

Pemerintah buka Jamnas Sekami: Ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Rab, 04/07/2018 - 03:10
Jamnas Sekami 2018 dimulai dengan pengguntingan pita balon oleh wakil pemerintah/PEN@ Katolik/pcp

“Membangun rasa toleransi dengan pihak-pihak atau umat lainnya adalah sejalan dengan tujuan semua ajaran agama yang mengajarkan perdamaian dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ajaran ini semakin penting ketika kita memasuki era globalisasi, saat hubungan antarmanusia semakin terbuka tanpa batas dan cenderung bebas.”

Kadis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Suprianus Herman berbicara mewakili Pejabat Gubernur Kalbar Doddy Riyadmadji dalam peresmian Jambore Nasional (Jamnas) Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (Sekami) di Lapangan SMA Santo Paulus Pontianak, 3 Juli 2018.

Suprianus membuka Jamnas Sekami 2018, yang akan berlangsung sampai 6 Juli itu, dengan mengatakan “Demi Nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus, dengan ini Jambore Sekami 2018 dimulai” kemudian dia menggunting pita balon. Balon-balon kemudian terbang ke udara.

Selain dihadiri oleh wakil pihak keamanan dan Dirjen Bimas Katolik, pengguntingan pita di depan peserta jambore itu ditemani juga oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Kuching Malaysia Mgr Simon Poh, Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi, Uskup Agung Pontianak Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, dan Uskup Weetebula Mgr Edmund Woga CSsR.

Menurut Suprianus, peran Gereja dan orangtua dituntut untuk “memberikan pendidikan kondusif kepada anak-anak tentang keagamaan, agar iman mereka bertumbuh sesuai ajaran Katolik yang baik dan benar.” Oleh karena itu dia berharap agar jambore itu “menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, bermartabat dan religius yang mengutamakan keamanan dengan menjaga stabilitas dan kerukunan.”

Atas nama pemerintah, Suprianus mengucapkan selamat atas pelaksanaan “acara yang sangat besar itu,” dan berharap  “semoga perayaan HUT ke-175 Sekami dan Jamnas Sekami 2018 berjalan baik dan lancar dan memberikan masukan positif bagi Gereja dan pemerintah dalam rangka pembangunan daerah untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera dan untuk pertumbuhan anak-anak yang belia dalam keimanan Katolik.”

Dalam rangka HUT ke-175 berdirinya Sekami, yang berdiri tahun 1843, ditampilkan tarian massal dengan penari sebanyak 175, yang antara lain memperlihatkan budaya Dayak, Melayu dan Tionghoa. Selain animasi misioner, penampilan lain dalam acara yang dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu adalah display Drumband SMA Santo Paulus dan Pertunjukan Barongsai.

Direktur Diosesan Sekami KAP Pastor Gregorius Sabinus CP menegaskan dalam sambutannya bahwa tema Jamnas Sekami 2018, “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan” sangat sesuai dengan situasi negara dan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa agama dan budaya.

Total peserta dari 35 keuskupan se-Indonesia ditambah dari Keuskupan Agung Kuching, Malaysia, dan utusan dari tiga keuskupan di Timor Leste, menurut imam itu, berjumlah sekitar 1500 orang termasuk panitia. “Peserta menempati ruang-ruang kelas di kompleks persekolahan Bruder MTB yaitu SD Bruder Melati, SMA Santo Paulus dan Kompleks Persekolahan SD dan SMP Suster SFIC. Mereka dibagi dalam tiga kampung yaitu Kampung Galilea, Kampung Nazareth dan Kampung Betlehem. Masing-masing kampung dihuni oleh kurang lebih 500 orang,” jelas Dirdios Sekami KP itu.(paul c pati)

PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik PEN@ Katolik PEN@ Katolik PEN@ Katolik PEN@ Katolik

Apa itu pertobatan batin?

Rab, 04/07/2018 - 00:29

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

300. Apa itu pertobatan batin?

Pertobatan batin ialah suatu dinamika ”hati yang patah dan remuk (Mzm 51:19) yang digerakkan oleh rahmat ilahi untuk menjawab cinta yang penuh kerahiman dari Allah. Pertobatan ini mengandung penyesalan akan dosa-dosa yang telah dilakukan, niat yang kuat untuk tidak berdosa lagi di masa datang, dan percaya akan pertolongan Allah. Orang yang bertobat ini berharap penuh kepada kerahiman ilahi.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1430-1433, 1490

301. Apa bentuk-bentuk silih dalam kehidupan Kristen?

Perbuatan silih dapat diungkapkan dalam macam-macam bentuk, tetapi terutama dalam puasa, doa, dan memberi derma. Bentuk-bentuk itu dan banyak bentuk yang lainnya dapat dipraktekkan dalam kehidupan seorang Kristen, secara khusus selama masa Puasa dan pada hari Jumat, hari silih.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1434-39

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Sel, 03/07/2018 - 14:58
Remaja Sekami dari Keuskupan Timika menyalami teman-teman dari Keuskupan Agung Pontianak/PEN@ Katolik/pcp

Anggota Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) dari 35 keuskupan beserta pendamping dan pembina mereka berkumpul di Pontianak untuk mengikuti Jambore Nasional Sekami, 3-6 Juli 2018. Ketika memasuki tempat pertemuan mereka meneriakkan ye-yel dan masing-masing menerima gelang yang terbuat dari anyaman kulit kayu khas Kapus dalam gelang kain bertuliskan Jamnas Sekami.

Dengan senyum sukacita mereka memasuki kompleks pertemuan di SMA Paulus Pontianak sambil menyalami anak-anak Sekami dari Keuskupan Agung Pontianak. “Anak-anak kami memang datang membawa sukacita dan membagikannya dengan semua peserta dari Nusantara,” kata Pendamping Rohani Sekami Keuskupan Ketapang Suster Florentina PIJ kepada PEN@ Katolik.

Oleh karena itu, suster berharap, peserta dari Keuskupan Ketapang bersemangat dalam jambore itu, “serta bertumbuh dalam iman, harap dan kasih kepada Yesus demi masa depan Gereja, agar nanti pulang mereka menjadi misionaris kecil dan duta-duta kasih bagi sesamanya.”

Pastor Yooce Pati dari Keuskupan Pangkalpinang yang datang dengan kekuatan 30 orang yang terdiri peserta, pembina dan pendamping juga berharap agar jambore itu membuat pesertanya “setelah kembali dari sini mempunyai semangat menjadi misionaris cilik untuk terus menerus mewartakan suka cita Injil  kepada siapa pun.”

Imam itu mengatakan kepada media ini bahwa mereka datang membawa semangat untuk bermisi dan “secara istimewa kami juga mempunyai misi untuk menyampaikan kebudayaan kami dalam sebuah tarian daerah, dan berharap membawa pulang pengalaman kebersamaan dalam keberagaman yang dialami di sini dan menjalaninya di keuskupan kami.”

Keuskupan Timika juga datang dengan kekuatan yang sama, 30 orang. Anselma Doo, pembina Sekami Keuskupan Timika, berharap “anak-anak yang datang bisa belajar dari anak-anak lain dari keuskupan lain dan mendapat banyak teman, banyak pengetahuan serta keceriaan.”

Pengetahuan itu yang ingin mereka bawa pulang ke Timika, “untuk dibagikan kepada-anak-anak lain di sana,” kata Anselma kepada PEN@ Katolik seraya mengaku bahwa tim Keuskupan Timika akan membagikan sukacita anak-anak misioner kepada seluruh peserta jambore itu.

Jambore Nasional Sekami di Pontianak, yang bertema “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan,” sesuai data yang diterima dari sekretariat jambore itu, akan dihadiri oleh 1315 peserta termasuk direktur keuskupan (dirdios) masing-masing serta biarawabiarawati yang menjadi pembina dan para animators dan animatris.

Para peserta akan tinggal dan beraktivitas dalam tiga kampung, yakni Kampung Galilea di SMA Santo Paulus, Kampung Nazareth di Persekolahan SD Susteran dan Kampung Betlehem di TK dan SD Bruder.

Keuskupan yang berhalangan atau tidak ikut jambore nasional itu adalah keuskupan adalah Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Maumere. Namun, jambore itu juga diikuti oleh dirdios dan animator-animatris dari Keuskupan Agung Kuching dan oleh Direktur Nasional serta dirdios-dirdios dari tiga keuskupan di Timor Leste.

Menurut Panitia, Jambore National Pontianak itu bertujuan untuk merayakan HUT ke-175 dari Sekami, meningkatkan wawasan remaja dan pendamping bahwa hakikat Gereja ialah persekutuan paguyuban murid-murid yang diutus untuk mewartakan sukacita Injil, meningkatkan rasa bangga dan bahagia pada diri remaja dan pendamping yang hidup dalam kebinekaan, dan mengobarkan semangat misioner pada diri remaja dan pendamping sehingga berani menjalani hidup dengan berbagi 2D2K (doa, derma, kurban, kesaksian) dalam kebinekaan.(paul c pati)

Wakil dari Keuskupan Timika menerima gelang tanda peserta/PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp PEN@ Katolik/pcp Anselma Doo dari Timika/PEN@ Katolik/pcp

Bilamana Kristus menetapkan Sakramen (Rekonsiliasi) ini?

Sel, 03/07/2018 - 01:53
Paus Fransiskus dan para imam memberikan Sakramen Rekonsiliasi kepada OMK

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

298. Bilamana Kristus menetapkan Sakramen (Rekonsiliasi) ini?

Tuhan yang sudah bangkit menetapkan Sakramen ini pada malam Paskah ketika Dia menampakkan Diri kepada para Rasul dan berkata kepada mereka: ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23).

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1485

299. Apakah orang yang dibaptis itu membutuhkan pertobatan?

Panggilan Kristus untuk pertobatan terus berlangsung selama hidup orang yang dibaptis. Pertobatan merupakan kewajiban terus-menerus bagi seluruh Gereja. Gereja itu kudus, tetapi di dalamnya juga termasuk orang-orang berdosa.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1427-1429

Iman Sang Perempuan

Sab, 30/06/2018 - 20:48

(Renungan Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa, 1 Juli 2018, Markus 5: 21-43)

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-murid-Nya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Paus Fransiskus dan 14 kardinal yang baru diciptakan kunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI

Sab, 30/06/2018 - 17:14
Paus Fransiskus menemui Paus Benediktus XVI bersama para kardinal baru/Vatican Media

Setelah mengangkat 14 kardinal baru dalam konsistori umum biasa pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, 28 Juni 2018, Paus Fransiskus mengajak mereka  mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI. Para kardinal baru itu adalah Louis Raphaël I Sako (69, Patriark Katolik Babilonia), Luis Fransisco Ladaria Ferrer (74, Prefek Kongregasi Ajaran Iman), Angelo De Donatis (64, Vikaris Jenderal Roma), Giovanni Angelo Becciu (70, Wakil Sekretaris Negara dan Delegasi Khusus Ordo Militer Berdaulat Malta), Konrad Krajewski (54, Kepala Lembaga Amal Kasih Kepausan),  Joseph Coutts (72, Uskup Agung Karachi), António Augusto dos Santos Marto (71, Uskup Leiria-Fátima, Portugal), Pedro Ricardo Barreto Jimeno (74, Uskup Agung Huancayo, Peru), Desiré Tsarahazana (64, Uskup Agung Toamasina, Madagaskar),  Giuseppe Petrocchi (69, Uskup Agung L’Aquila, Italia), Thomas Aquinas Manyo Maeda (69, Uskup Agung Osaka, Jepang), Sergio Obeso Rivera (86, Uskup Agung Emeritus Xalapa, Mexico), Toribio Ticona Porco (81, Uskup Emeritus Corocoro), dan Aquilino Bocos Merino CMF (80, imam asal Spanyol yang bertugas sebagai Superior Jenderal Emeritus Misionaris Putra-Putra Hati Maria Tak Bercela). Kini jumlah kardinal menjadi 227 orang, 125 di antaranya tidak ada hak memilih. Kardinal Konrad Krajewski menjadi kardinal kedua termuda dengan usia 54, sedangkan yang termuda tetap Kardinal Dieudonne Nzapalainga, Uskup Agung Bangui, Republik Afrika Tengah, dengan usia 51 tahun.(pcp)

Paus Fransiskus menemui Paus Benediktus XVI bersama para kardinal baru/Vatican Media

Mencerna Hakikat Malaikat

Sab, 30/06/2018 - 16:22

Oleh Johannes Robini Marianto OP

Bagaimana hakikat malaikat? Santo Agustinus sejak awal sudah mengingatkan kita bahwa “malaikat” itu bukan nama (apanya mereka atau hakikat mereka), melainkan kata kerja (artinya: diutus menjalankan misi). Kalau ditanya apa hakikat mereka, jawablah bahwa mereka adalah roh murni. Apa maksudnya?

Pertama, hal yang paling gampang untuk mengerti, malaikat adalah roh murni, tidak berbadan (bahkan tidak membutuhkan badan). Sudah dikatakan, karena diciptakan untuk semakin mencerminkan diri Allah yang Roh Murni, maka mereka tidaklah berbadan. Karena statusnya yang tidak berbadan, mereka tidak hidup seperti kita. Mereka tidak perlu makan dan minum. Mereka tidak melahirkan (maka tidak ada keturunan malaikat). Mereka juga tidak mengawinkan dan dikawinkan seperti kata Tuhan Yesus (Mrk 12:25). Bahkan nanti kita akan melihat bahwa cara mereka mengetahui dan menghendaki (kehendak) sangat berbeda dengan kita. Pertanyaan yang mungkin perlu dijawab adalah: bagaimana sebagai roh murni, malaikat tetap tidak sama dengan Tuhan?

Santo Thomas dalam hal ini mengembangkan pemikiran mendalam dengan membedakan dalam tataran metafisis (kenyataan keberadaan sesuatu) perbedaan antara esensi (apanya sesuatu atau hakikat sesuatu) dan keberadaan sesuatu. Kita bisa memikirkan sebuah konstruksi tentang sesuatu di pikiran kita. Namun, belum tentu sesuatu itu real. Saya bisa memikirkan adanya gajah yang terbang dengan segala deskripsi hakikat gajah terbang dan bagaimana dia hidup. Namun kenyataannya gajah yang bisa terbang tidak pernah ada. Tetapi sesuatu itu sungguh ada atau berada (nyata) apabila memang terbukti di kenyataan memang dia ada (berada).

Untuk membuat sesuatu itu ada, meski hakikatnya bisa dipikirkan, dibutuhkan sebuah tindakan, yaitu tindakan mengadakan sesuatu itu ada. Tindakan ini yang menyebabkan sesuatu itu ada. Di dalam hal ini kita sebut penciptaan. Penciptaan adalah pemberian keberadaan kepada sebuah hakikat. Apa artinya perbedaan hakikat dan keberadaan di dalam hubungannya dengan malaikat?

Di sinilah kita masuk dalam sebuah pemikiran yang mendalam dari Thomas Aquinas tentang keberadaan sebuah realitas. Bagi Thomas Aquinas, yang tersempurna di dalam pemikiran dan imajinasi kita, bukanlah yang utama. Yang terpenting adalah keberadaan sesuatu. Berada (nyata) sendiri adalah sebuah kesempurnaan! Itulah sebabnya dikatakan apa pun yang ada di dunia ini adalah kesempurnaan di dalam dirinya sendiri (lepas dari kekurangannya sebagai kodrat tercipta; hal mana adalah bagian sebagai ciptaan dibandingkan dengan Pencipta yang Mahasempurna) dan layak diterima dengan penuh syukur.

Bedanya antara kita dan Tuhan adalah bahwa Tuhan itu sejak awal adalah ada dan tidak pernah tidak ada. Maka keberadaan Tuhan (nyata) adalah hakikat-Nya sendiri. Tuhan selalu berada dan yang selalu berada dan ada adalah Tuhan! Maka hanya pada Tuhan ada identifikasi (kesamaan) antara hakikat dan keberadaan. Apa yang sempurna yang bisa dipikirkan di pikiran manusia, ada pada Tuhan dan bukan imajinasi belaka!

Malaikat yang merupakan makhluk roh murni, levelnya tidak mungkin sama dengan Allah karena malaikat itu, bagaimana pun mulianya dan menyerupai dan dekat dengan Allah yang roh murni, adalah sebuah tindakan Allah, yaitu penciptaan. Hakikat mereka yang ada sebagai roh murni tidak pernah akan ada kalau tidak diadakan (diciptakan). Santo Thomas, sebagaimana dikutip oleh Bonino, mengatakan bahwa semua yang bersifat roh murni tetaplah terbatas apabila keberadaannya (sebagai tercipta) membatasinya karena keberadaannya sebagai roh murni yang diciptakan selalu ada karena berpartisipasi (dicurahkan dan mengambil bagian) dari Keberadaan yang lebih luas (yaitu Tuhan sebagai Pencipta). Memang dibandingkan dengan semua ciptaan yang bertubuh (korporealitas) malaikat itu lebih sempurna. Malaikat sempurna dibandingkan ciptaan lain (termasuk manusia) karena di dalam malaikat tidak ada unsur material (tubuh) yang menyebabkan sesuatu itu kurang sempurna dan terbatas.

Kedua, mungkin yang lebih menarik adalah akibat kenyataan bahwa malaikat adalah roh murni. Karena malaikat bersifat roh murni, maka malaikat itu unik dan tidak sama satu dengan yang lain. Kalau manusia, yang membuat unik adalah kepribadiannya (psikologi) dan penampakannya (materialitas: bentuk tubuh, bentuk muka dll), tetapi sebagai spesies manusia dia itu sama. Kebertubuhan (materialitas) manusialah yang  membuat manusia satu dengan yang lainnya berbeda. Di dalam bahasa Thomas Aquinas, meminjam Aristoteles, materialitas (materi) yang ada pada manusialah yang membuat manusia beda; namun formanya (hakikatnya sebagai manusia yang membedakan dia dari makhluk lainnya) adalah sama.

Duplikasi terjadi bukan pada hakikat melainkan pada aspek materialitas (penampakan hakikat kemanusiaan). Dan karena kesempurnaan itu pada hakikat (bukan penampakannya), maka apabila sebuah ciptaan tidak mempunyai unsur material (tidak berbadan), maka perbedaannya mesti bukanlah dicari pada penampakan hakikat (badaniah) melainkan di dalam hakikat itu sendiri. Maka Gabriel dan Mikael itu berbeda bukan karena sifat (aspek psikologis) dan penampakan muka dan tubuh mereka berbeda (mereka tidak bertubuh!), melainkan karena zat atau hakikat Gabriel dan Mikael dari awalnya berbeda.

Maka perbedaan pada malaikat satu dengan yang lain adalah sebanyak (jumlah) keberadaan mereka yang diciptakan Tuhan. Masing-masing mewakili satu zat atau hakikat. Itulah yang membuat keunikan pada malaikat berbeda dengan manusia. Pada manusia perbedaannya bukan di hakikat melainkan pada perwujudan hakikat di dalam kebertubuhan dan konsekuensinya, sedangkan pada malaikat pada level hakikatnya sendiri (karena mereka tidak memiliki tubuh). Malaikat yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama sejak mereka diciptakan dan itu berakar di dalam keberadaan dan hakikat mereka sendiri yang diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan (dengan tugas dan fungsinya masing-masing tentunya).

Hal kedua dari konsekuensi immaterialitas pada malaikat adalah bahwa mereka tidak dapat mati. Mati dan hancur adalah akibat bertubuh. Apabila tidak ada tubuh, hanya roh murni, maka tidak akan mati. Tidak mati tidak sama dengan kekekalan. Kekekalan itu tiada awal dan akhir dan selalu ada dan berada: dari dulu, sekarang dan selamanya berada. Kekekalan hanya pada Tuhan. Namun tidak dapat mati (hancur) hanya ada pada malaikat sebagai ciptaan roh murni.

Setelah kita melihat keberadaan malaikat dan hakikat mereka, kita akan menelusuri lebih dalam lagi mengenai kehidupan malaikat. Yang kami maksudkan di sini adalah beberapa pertanyaan berikut: (a) bagaimana status kemampuan malaikat dibandingkan dengan manusia; terutama di dalam hal mengetahui, menghendaki, (b) apakah mereka bisa memengaruhi hidup manusia? (c) relasi mereka sebagai ciptaan roh murni dengan Allah, terutama di dalam misteri sejarah keselamatan (tata rahmat), dan (d) apa yang terjadi pada mereka setelah itu: apakah mereka selamanya bersama Allah atau mereka memberontak melawan Allah di dalam suatu saat setelah diciptakan. Dari kesemuanya yang kita bahas pada kehidupan malaikat. Dalam pembahan itu,diharapkan kita akan mengetahui asal muasal misteri kejahatan.

(Bersambung…)

 

Paus Fransiskus: Kemuliaan Kristus dan salib-Nya tidak dapat dipisahkan

Jum, 29/06/2018 - 23:13
Paus merayan Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus/Vatican Media

Pada Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus di Lapangan Santo Petrus, Roma, 29 Juni 2018, Paus Fransiskus mendesak umat Katolik untuk tidak menjadi batu sandungan di jalan Kristus, Yang Terurapi, yang kemuliaan-Nya tidak dapat dipisahkan dari salib-Nya.

“Dengan tidak memisahkan kemuliaan-Nya dari salib-Nya, Yesus ingin membebaskan murid-murid-Nya, Gereja-Nya, dari bentuk-bentuk kosong triumphalisme: bentuk-bentuk cinta, pelayanan, belas kasihan yang kosong, kosong manusia,” kata Paus dalam homilinya seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Dalam Misa untuk memperingati dua orang kudus yang menjadi pelindung Roma, yang bersama-sama menjadi martir di Kota Abadi itu, Paus juga memberkati pallium yang akan dikirim kepada 30 uskup agung metropolitan yang baru ditunjuknya di seluruh dunia dalam setahun terakhir.

Pallium adalah pita wol putih yang dipakai para uskup agung metropolitan di sekitar bahu mereka sebagai simbol otoritas dan persatuan mereka dengan Paus. Dalam satu keuskupan agung metropolitan dikelompokkan bersama keuskupan-keuskupan suffragan untuk membentuk wilayah geografis Gereja.

Paus memusatkan homili pada Injil Markus tentang pengakuan iman Santo Petrus kepada Yesus ketika mengatakan, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.” Paus mengatakan, Petrus telah melihat bagaimana Yesus “mengurapi” umat-Nya dengan harapan, sambil berjalan dari desa ke desa dengan satu tujuan yakni menyelamatkan dan menolong mereka yang dianggap hilang, mati, sakit, terluka dan bertobat.

Paus asal Argentina itu mengatakan, “Orang Yang Diurapi Tuhan terus membawa cinta dan belas kasih Bapa sampai akhir.” Paus juga mengatakan, “Kasih yang penuh belas kasih menuntut agar kita juga pergi ke setiap sudut kehidupan, untuk menjangkau semua orang, meskipun ini mungkin merugikan ‘nama baik’ kita, kenyamanan kita, status kita … bahkan kemartiran.”

Ketika Petrus tidak dapat menerima bahwa Yesus harus mati, ungkap Paus, dia menjadi musuh Tuhan dan “batu sandungan di jalan Mesias.” Kehidupan dan pengakuan iman Petrus, lanjut Bapa Suci, “juga berarti belajar mengenali cobaan-cobaan yang akan menyertai kehidupan setiap murid.”

Seperti Petrus, kata Paus, kita akan selalu tergoda untuk mendengar “bisikan” si jahat, yang akan menjadi batu sandungan bagi misi. Iblis, jelas Paus, menggoda dengan “berbisik” dari persembunyian, karena seperti seorang munafik dia ingin tetap tersembunyi dan tidak ditemukan.

Ikut bersama dalam pengurapan Kristus, juga berarti ikut bersama dalam kemuliaan-Nya, yang adalah salib-Nya. “Dalam Yesus,” kata Paus, “kemuliaan dan salib berjalan bersama; mereka tidak dapat dipisahkan.”

Paus menjelaskan, di saat kita menolak salib, meskipun kita dapat mencapai tingginya kemuliaan, kita akan membodohi diri sendiri, karena itu bukan kemuliaan Tuhan, tetapi jerat musuh.

Menurut Paus, kita sering merasakan godaan untuk menjadi orang Kristen dengan tetap menjaga jarak dari luka-luka Tuhan. Yesus menyentuh kesengsaraan manusia dan Dia meminta kepada kita untuk ikut bersama Dia menyentuh penderitaan tubuh orang lain yang menderita.(pcp berdasarkan Vatican News)

Mengapa Kristus menetapkan Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit?

Jum, 29/06/2018 - 17:53
Paus Fransiskus berlutut di depan seorang imam dan mengaku dosa. Foto: Vatican News

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

295. Mengapa Kristus menetapkan Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit?

Kristus, Sang Penyembuh jiwa dan badan kita, menetapkan Sakramen-Sakramen ini karena kehidupan baru yang Dia berikan kepada kita dalam Sakramen-Sakramen inisiasi Kristiani dapat melemah, bahkan hilang karena dosa. Karena itu, Kristus menghendaki agar Gereja melanjutkan karya penyembuhan dan penyelamatan-Nya melalui Sakramen-Sakramen ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1420-1421, 1426

SAKRAMEN TOBAT

296. Apa nama Sakramen ini?

Namanya Sakramen Penebusan Dosa, Sakramen Rekonsiliasi, Sakramen Pengampunan, Sakramen Pengakuan, dan Sakramen Tobat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1422-1424

297. Mengapa ada Sakramen Rekonsiliasi setelah Sakramen Pembaptisan?

Karena rahmat kehidupan baru yang diterima dalam Sakramen Pembaptisan tidak menghapuskan kelemahan kodrat manusia dan juga kecenderungan kepada dosa (yang disebut konkupisensi), Kristus menetapkan Sakramen ini untuk pertobatan orang yang dibaptis yang terpisah dari Dia karena dosa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1425-1426, 1484

Kardinal Joseph Coutts khawatir tidak bisa memberi banyak waktu untuk masyarakat

Jum, 29/06/2018 - 16:00
Kardinal Joseph Coutts dari Pakistan

Dalam Konsistori Umum Biasa, 28 Juni 2018, Paus Fransiskus menciptakan 14 kardinal baru dari berbagai negara. Salah satu di antaranya adalah Uskup Agung Karachi dari Pakistan, Kardinal Joseph Coutts. Namun dalam wawancara dengan Vatican News, Kardinal Coutts mengatakan terkejut dengan pencalonannya, karena “para klerus di Pakistan sangat dekat dengan masyarakat.” Lebih lanjut, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari media itu, Kardinal Coutts mengatakan, “Bagi kami, di negara miskin seperti Pakistan dan di Gereja kecil dan muda secara historis, kita semua, sebagai uskup atau uskup agung, menghabiskan banyak waktu dengan masyarakat. Dan syukur kepada Tuhan, kita tidak memiliki gaya hidup yang membuat kami melebihi masyarakat. Kami mencoba untuk bersama masyarakat dalam sebagian besar waktu kami.” Kardinal Coutts tidak yakin apakah tugas barunya akan mengurangi waktu yang dia miliki untuk bersama masyarakat. “Jadi untuk menjadi kardinal, saya belum tahu apa implikasinya. Tapi saya khawatir akan tercipta jarak,” kata kardinal itu, karena dia tidak lagi bisa memberi begitu banyak waktu bagi masyarakat. (pcp berdasarkan vatican news)

Wawancara dengan Kardinal Joseph Coutts

Wawancara dengan Kardinal Joseph Coutts

Artikel terkait:

Paus Fransiskus umumkan nama-nama 14 kardinal baru sesudah Ratu Surga

Paus Fransiskus: ‘Tuhan memiliki tempat khusus di hati-Nya untuk orang-orang cacat’

Kam, 28/06/2018 - 23:44
Paus nyalakan lilin Olimpiade Khusus/Vatican Media

Sebelum Audiensi Umum di ruang ber-AC Aula Paulus VI, Rabu, 27 Juni 2018, Paus Fransiskus secara khusus menyapa beberapa orang yang sakit dan cacat, dengan mengatakan bahwa Tuhan memiliki tempat khusus di hati-Nya bagi para penyandang cacat. Kemudian Paus memuji organisasi Olimpiade Khusus yang merayakan ulang tahun ke-50. Paus memberikan sambutan hangat kepada kelompok “Prakarsa Orang Muda Katolik Tuna Rungu dari Amerika” dan berdoa untuk hasil spiritual dari ziarah mereka ke Roma. Di luar Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus menyambut delegasi organisasi “Olimpiade Khusus”, yang merayakan ulang tahun ke-50 yayasannya. “Dunia olahraga memberikan kesempatan khusus bagi orang-orang untuk bertumbuh dalam saling pengertian dan persahabatan, dan saya berdoa agar Api Olimpiade ini bisa menjadi tanda sukacita dan harapan di dalam Tuhan yang menganugerahkan karunia persatuan dan perdamaian bagi anak-anak-Nya,” kata Paus. Paus kemudian memberi berkat sukacita dan perdamaian atas “semua orang yang mendukung tujuan Olimpiade Khusus.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Vatican Media Vatican Media Vatican Media

Bagaimana kemungkinan memberikan Komuni Kudus kepada orang Kristen yang lain?

Kam, 28/06/2018 - 21:17
cruxnow.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

293. Bagaimana kemungkinan memberikan Komuni Kudus kepada orang Kristen yang lain?

Pelayan Katolik boleh memberikan Komuni Kudus secara legitim kepada anggota Gereja Timur yang tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik jika mereka memintanya dengan kehendak mereka sendiri dan mempunyai disposisi yang memenuhi syarat. Sedangkan, kepada anggota komunitas gerejawi lainnya boleh diberikan jika mereka memintanya atas kemauan sendiri, mempunyai disposisi yang dituntut, dan ada tanda yang jelas bahwa mereka juga mempunyai iman yang sama mengenai Sakramen Ekaristi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1398-1401

294. Mengapa Ekaristi merupakan ”jaminan untuk kemuliaan yang akan datang”?

Ekaristi merupakan jaminan untuk kemuliaan yang akan datang karena Ekaristi memberikan berkat dan rahmat surgawi kepada kita, memperkuat kita dalam peziarahan kita dalam kehidupan ini dan membuat kita rindu akan kehidupan kekal. Ekaristi mempersatukan kita dengan Kristus yang duduk di sisi kanan Bapa, dengan Gereja di surga, dengan Perawan Maria yang Terberkati, dan dengan semua santo-santa.

Dalam Ekaristi, kita ”memecah-mecah satu roti

yang memberi kita obat keabadian, penawar racun kematian,

dan makanan yang membuat kita hidup selamanya dalam Yesus Kristus”

(Santo Ignatius dari Antiokhia)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1402-1405

Paus Fransiskus menerima lagi pengunduran diri dua uskup Chili

Kam, 28/06/2018 - 19:16

 

Paus Fransiskus bersama para uskup Chili dalam kunjungan mereka ke Roma, Mei 2018/Vatican News

Setelah menerima pengunduran diri tiga uskup Chili, seperti dilaporkan oleh Vatican News tanggal 11 Juni 2018, hari ini, 28 Juni 2018, Kantor Pers Tahta Suci mengumumkan bahwa Paus Fransiskus menerima pengunduran diri dua uskup Chili.

Diumumkan bahwa Bapa Suci telah menerima pengunduran diri dari kepemimpinan pastoral Keuskupan Rancagua, Chili, yang disampaikan oleh Mgr Alejandro Goić Karmelić, karena alasan telah mencapai batas usia.

Bapa Suci pun mengangkat Uskup Pembantu Santiago de Chile Mgr Luis Fernando Ramos Pérez sebagai Administrator Apostolik sede vacante et ad nutum Sanctae Sedis dari Keuskupan Rancagua, Chili.

Bapa Suci juga menerima pengunduran diri dari kepemimpinan pastoral Keuskupan Talca, Chili, yang disampaikan oleh Mgr Horacio del Carmen Valenzuela Abarca dan menunjuk Uskup Pembantu  Santiago de Chile Mgr Galo Fernández Villaseca sebagai Administrator Apostolik sede vacante et ad nutum Sanctae Sedis dari keuskupan yang sama, Talca, Chili.

Sebelumnya, menurut laporan Vatican News 11 Juni 2018,  Paus Fransiskus menerima permintaan pengunduran diri tiga orang uskup Chili yakni Uskup Osorno Mgr Juan Barros Madrid, Uskup Agung Puerto Montt Mgr Cristián Caro Cordero, dan Uskup Valparaiso Mgr Gonzalo Duarte García De Cortázar SS.CC.

Menurut laporan itu, permintaan pengunduran diri Mgr  Cordero dan Mgr Cortázar karena alasan telah mencapai batas usia.

Untuk mengisi tahta kosong tiga keuskupan itu, Bapa Suci mengangkat Mgr Jorge Enrique Concha Cayuqueo OFM sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Osorno, Pastor Ricardo Basilio Morales Galindo (Provinsial Ordo Mercedarian di Chili) sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Puerto Montt, dan Mgr Pedro Mario Ossandón Buljevic sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Valparaiso. Mgr Cayuqueo dan Mgr Buljevic adalah juga Uskup Pembantu Santiago de Chile.

Tanggal 18 Mei 2018, sebanyak 34 uskup Chili memohon maaf atas skandal pelecehan seks yang dilakukan klerus di negara mereka dan mengajukan pengunduran diri kepada Paus Fransiskus. Permintaan pengunduran mereka itu disampaikan setelah mereka bertemu dengan Paus Fransiskus selama tiga hari.

Ketika berbicara dengan pers setelah membaca pernyataan mereka, para uskup menjelaskan bahwa mereka telah menyerahkan jabatan mereka “ke tangan Bapa Suci dan akan membiarkan dia untuk bebas mengambil keputusan” atas mereka masing-masing.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Berita Terkait:

Kantor Pers Vatikan beri pernyataan tentang kasus pelecehan seksual di Chili

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Para uskup Chili ungkapkan rasa sedih dan malu atas pelecehan dan ingin dengarkan Paus

Paus akan menerima tiga korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus di Chili

Pelecehan seks Chili: Paus Fransiskus memohon maaf atas kesalahan kesalahan serius

Greg Burke: Paus Fransiskus rutin bertemu korban pelecehan seks yang dilakukan klerus

Pastor Philipp Johannes Wagner OP, rektor baru Basilika Santa Sabina

Kam, 28/06/2018 - 13:36
Pastor Philipp Johannes Wagner OP di dalam Basilika Santa Sabina, Roma

Dengan Dekrit yang sesuai Hukum Kanon 556-563, Uskup Agung Titular Mottola Mgr Angelo de Donatis, yang menjabat sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Roma, mengangkat Pastor Philipp Johannes Wagner OP sebagai rektor Basilika Santa Sabina. Keputusan itu diberikan di markas Vikaris Apostolik di Istana Lateran, Roma, tanggal 1 Juni 2018.

Melalui surat keputusan itu, Mgr Donatis memberikan kepada Pastor Philipp wewenang yang sesuai jabatannya. Selain itu, Mgr Donatis berterima kasih kepada rektor yang lama Pastor Miguel Ángel Del Río González OP.

Dalam keputusan itu, Uskup Agung Angelo de Donatis, mengingatkan semangat pastoral dalam budaya iman. “Gereja-gereja yang bersejarah di kota Roma, warisan seni yang tak tertandingi, pertama-tama menggambarkan nilai pastoral yang harus dijaga ketat, karena nilai itu selalu hidup dan aktif dalam kehidupan umat Katolik Keuskupan Roma.

Mgr Donatis menekankan pentingnya menjadi rektor “yang sebaik mungkin menjaga kultus dalam gereja Santa Sabina di Bukit Aventine itu dan melindungi warisan seni dan sejarahnya, sesuai bimbingan Master General (Pastor Bruno Cadoré OP). Uskup Agung Donatis dengan senang menggelari Pastor Philipp sebagai Rektor Basilika Santa Sabina.”

Pastor Philipp lahir tanggal 26 Mei 1969 dan menjadi seorang Dominikan sejak tahun 1990. Setelah masa novisiat dan studi di Bonn dan Roma, imam itu bekerja selama hampir sembilan tahun di Paroki Dominikan di Braunschweig, sebuah kota universitas di Jerman bagian utara.

Tahun 2004, Kapitel Provinsi mengangkatnya sebagai Master Mahasiswa dan tahun 2008 sebagai Master Novis. Selama itu Pastor Philipp tinggal di Worms, rumah novisiat bersama untuk provinsi-provinsi Dominikan yang berbahasa Jerman. Imam itu menjadi formator selama 13 tahun dan kemudian selama enam bulan tinggal di biara Santo Yohanes dan Santo Paulus di Venesia. Di sana, imam itu menerima pencalonannya sebagai Rektor Basilika Santa Sabina di Roma.

“Saya percaya bahwa Santa Sabina akan lebih memperlihatkan kehadiran Dominikan di Roma, dengan memberikan kepada banyak pengunjung di gereja itu, baik umat beriman dan wisatawan, kesempatan untuk menerima Basilika itu sebagai tempat spiritual, dan dengan menemui para biarawan Dominikan yang bersaksi tentang Injil,” kata imam itu. (paul c pati berdasarkan www.op.org)

Halaman