Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 59 mnt yang lalu

Iman dan Penderitaan

Sab, 25/08/2018 - 16:54

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-21 pada Masa Biasa, 26 Agustus 2018: Yohanes 6: 60-69)

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh. 6:68).”

Dalam Injil kita Minggu ini, Simon Petrus dan murid-murid lain menghadapi pertanyaan penting: apakah mereka akan percaya pada kata-kata Yesus bahwa mereka perlu mengkonsumsi darah dan daging-Nya untuk mendapatkan kehidupan yang kekal, atau mereka akan menganggap Yesus sebagai orang gila dan meninggalkan Dia. Mereka berurusan dengan kebenaran yang sangat sulit dipercaya, dan hal paling mudah untuk dilakukan adalah meninggalkan Yesus. Namun, di tengah keraguan dan kurangnya pemahaman, Petrus menyatakan, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh 6:68).” Adalah iman yang menang atas keraguan terbesar, iman yang kita butuhkan juga.

Saya mengakhiri karya pastoral saya di salah satu rumah sakit tersibuk di Metro Manila. Pengalaman ini benar-benar memperkaya iman dan membentuk hati saya. Untuk melayani banyak pasien di rumah sakit ini adalah sebuah berkat bagi saya. Salah satu pertemuan yang paling mengesankan adalah dengan Christian [bukan nama sebenarnya].

Ketika saya mengunjungi bangsal anak, saya melihat seorang anak lelaki mungil, mungkin sekitar enam tahun, terbaring di tempat tidurnya. Dia ditutupi oleh selimut tipis dan tampak kesakitan. Kemudian saya berbincang dengan ibunya, Maria [bukan nama sebenarnya]. Dia mengatakan kepada saya bahwa proses dialisis tidak berjalan dengan baik dan dia sedikit demam sekarang. Ketika percakapan berlanjut, saya terkejut bahwa orang Christian tidaklah semudah yang saya kira. Dia sebenarnya berusia 16 tahun. Saya tidak mempercayai mata saya, tetapi sang ibu menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena ginjalnya menyusut dan bahkan hilang, dan karena kondisi yang mengerikan ini, pertumbuhannya berhenti, dan tubuhnya juga menyusut. Christian telah menjalani dialisis selama beberapa tahun, dan karena infeksi yang berulang, rumah sakit telah menjadi rumah keduanya. Maria sendiri kehilangan suaminya yang meninggal beberapa tahun yang lalu, dan berhenti bekerja untuk merawat Christian. Kakak perempuan Christian harus berhenti sekolah dan bekerja untuk mendukung keluarga.

Menyaksikan Christian dan mendengarkan Maria, saya hampir mencucurkan air mata saya. Terlepas dari formasi teologis dan filsafat saya yang panjang, saya tetap mempertanyakan Tuhan, “Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan mengerikan semacam ini terjadi pada lelaki kecil yang tidak berdosa? Mengapa Tuhan membiarkan hidupnya dan masa depan dirampas oleh penyakit ini?” Iman saya terguncang. Kemudian, saya bertanya kepada Maria bagaimana dia bisa menghadapi situasi itu. Dia menceritakan bahwa hal ini benar-benar sulit, tetapi dia telah menerima kondisinya, dan dia terus berjuang sampai akhir karena dia mengasihi Christian. Saya juga bertanya kepadanya apa yang membuatnya kuat, dan saya tidak akan pernah melupakan jawabannya. Dia mengatakan bahwa dia kuat ketika dia bisa melihat senyum kecilnya, dan ketika dia merasakan kebahagiaan yang sederhana yang terpancar dari wajah Christian.

Melalui Maria, saya merasa Tuhan telah menjawab pertanyaan dan keraguan saya. Memang benar hal-hal buruk terjadi, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia ada di dalam senyum sederhana Christian. Dia ada di dalam tindakan-tindakan kecil kasih dari Maria untuk putranya. Memang benar bahwa hidup penuh dengan penderitaan yang tidak dapat dimengerti dan momen-momen yang memilukan, seperti kehilangan orang yang dicintai, relasi yang berantakan, masalah kesehatan dan keuangan. Ini dapat memicu kemarahan dan kekecewaan kita terhadap Tuhan. Kita akan tetap marah, bingung dan tersesat jika kita fokus pada realitas yang menyakitkan ini, tetapi Tuhan mengundang kita untuk melihat-Nya dalam hal-hal sederhana yang tanpa diduga memberi kita kenyamanan, kekuatan, dan sukacita. Jika Yesus memanggil kita untuk memiliki iman sebesar biji sesawi, itu karena iman ini memberdayakan kita untuk mengenali Tuhan dalam hal-hal sederhana dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Admin medsos OMK kumpul di Jakarta guna membuat konten pewartaan lebih kreatif

Sab, 25/08/2018 - 14:00

Sebanyak 40 OMK yang sudah membuat akun-akun media sosial di keuskupan  masing-masing berkumpul di sebuah hotel Jakarta guna mengembangkannya akun-akun mereka, dengan menciptakan konten-konten pewartaan yang lebih kreatif.

“Sekarang kita bantu untuk lebih mengembangkan lagi dan lebih banyak lagi, lebih menjangkau banyak orang lagi dan lebih kece lagi, lebih keran lagi dan lebih mewartakan lewat medsos,” kata Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI Pastor Antonius Haryanto Pr kepada peserta training of trainers sosial media #2 yang diselenggarakan oleh Komisi Kepemudaan (Komkep) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), 24-26 Agustus 2018.

Kegiatan tahunan kedua itu mengajak OMK untuk aktif dalam pewartaan lewat media sosial. Pada pelatihan tahap pertama, peserta dilatih membuat konten-konten di media sosial, baik dengan gambar dan video serta bagaimana memviralkan. Sementara pada tahap kedua, para admin diajak membuat konten yang positif.

“Jadi tidak hanya kopi paste, tetapi berani membuat konten yang bisa memproduksi sendiri dan sebagainya. Jadi yang kemarin itu tahap dasar, sekarang udah tahap advance,” kata Pastor Haryanto kepada PEN@ Katolik di sela-sela kegiatan.

Selain Pastor Haryanto, dalam training of trainer social media #2 ini peserta mendengar masukan dari Christian Kosim sebagai pendiri Instakatolik, Katolikvidgram, Katolik Media dan pengurus Komisi Kepemudaan KWI, Lawrence Tjandra sebagai Director & Senior Consultant public relations dan brands, Riko Ariefano sebagai pendiri Komunitas Domus Cordis dan letsINSPIRE.co, Lisa Esti Puji H sebagai dosen Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya dan pengurus Komisi Kepemudaan KWI, Friesca Vienna Saputra dari Komunitas Domus Cordis dan letsINSPIRE.co, Stephen Pratama sebagai co-founder Katolikvidgram, Kevin Fatli sebagai co-founder Katolik Media, dan Rizal Rejadi sebagai motivator dan pengurus Komisi Kepemudaan KWI (Yakobus Maturbongs)

350 pasangan menunggu kunjungan Paus Fransiskus ke Pro-Katedral Santa Maria

Jum, 24/08/2018 - 23:17
Pro-Katedral Santa Maria di Dublin

Bagian pastoral pertama Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Irlandia untuk Pertemuan Keluarga se-Dunia akan diadakan Sabtu sore, 25 Agustus 2018, saat Paus mengunjungi Pro-Katedral Santa Maria di Dublin. Di sana Paus akan bertemu dengan 350 pasangan yang bertunangan dan baru menikah.

Pastor Kieran Mc Dermott, administrator baru pro-katedral itu berbicara dengan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News tentang apa yang akan terjadi dalam acara itu dan tentang pentingnya pro-katedral itu bagi masyarakat Irlandia.

Pertemuan dengan para pasangan yang bertunangan dan baru menikah itu akan berlangsung secara khusus atas permintaan Paus Fransiskus, kata Pastor Mc Dermott. Pasangan-pasangan dari setiap keuskupan di Irlandia akan hadir.

Sebelum kedatangan Paus, pasangan-pasangan itu akan ikut dalam program pastoral selama 90 menit yang berdasarkan bab 4 dari Seruan Apostolic Amoris Laetitia.

Ketika tiba, Paus pertama-tama akan meluangkan waktu beberapa saat untuk doa hening di depan altar yang didedikasikan tahun 2010 bagi para orang-orang yang selamat dari pelecehan yang dilakukan klerus dan institusi. Setelah itu, satu pasangan yang merayakan pesta emas akan menyambut Paus atas nama semua yang hadir. Kemudian dua pasangan akan menyampaikan kepada Paus pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanggapi Paus.

Pastor Mc Dermott memperkirakan, Paus Fransiskus akan membahas “arti cinta dari orang yang sudah menikah saat ini … panggilan keluarga saat ini. Dia akan berbicara kepada generasi berikut keluarga-keluarga Irlandia …. Kami tidak tahu apa yang akan dia katakan, tetapi kami sangat menantikan apa yang akan dia katakan kepada kami, dan apa yang bisa kami pelajari darinya juga dari pengalaman kehidupan keluarga sendiri yang sering dia sebut.”

Pastor Mc Dermott menjelaskan bahwa Katedral Dublin itu relatif modern karena Irlandia “sangat” dipengaruhi  oleh Reformasi Inggris. Pro-Katedral Santa Maria dibangun setelah Uskup Agung Troy membentuk komisi pembangunan sekitar tahun 1803 dan orang-orang Dublin mengumpulkan uang. Pro-katedral itu diberkati tahun 1825 oleh Uskup Agung Daniel Murray pada Pesta Santo Laurence O`Toole, pesta utama Keuskupan Agung itu. Katedral itu terletak di utara pusat kota Dublin di kawasan miskin. “Orang-orang Dublin sangat menyukai dan mencintai pro-katedral itu,” kata Pastor Mc Dermott. Pastor itu juga menjelaskan bahwa pro-katedral itu telah “menjadi tuan rumah beberapa peristiwa penting, seperti pemakaman kenegaraan.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Apakah ada bermacam-macam dosa?

Jum, 24/08/2018 - 19:01

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

393. Apakah ada bermacam-macam dosa?

Ada banyak macam dosa. Dosa bisa digolongkan menurut objek atau keutamaan atau perintah yang dilanggar. Dosa dapat secara langsung berkenaan dengan Allah, sesama, atau diri kita sendiri, dapat pula dibagi menjadi dosa pikiran, perkataan, perbuatan, atau kelalaian.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1852-1853, 1873

394. Bagaimana dosa dibedakan menurut bobotnya?

Perbedaannya ialah dosa berat dan dosa ringan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1854

Presiden Jokowi berkunjung ke Kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

Jum, 24/08/2018 - 13:59
Presiden Jokowi bersama dari kiri ke kanan: Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Pastor Antonius Benny Susetyo Pr, Menteri Sekretaris Negara Praktino, dan Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo. Foto JAY/Humas Sekretariat Kabinet RI

Hari ini, Jumat 24 Agustus 2018, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan disambut oleh Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo dan Sekretaris Jenderal KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC. Dalam kunjungan itu, Presiden Jokowi yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Praktino dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengadakan pertemuan tertutup di lantai dua kantor KWI bersama beberapa uskup.

Setelah pertemuan itu, Presiden Jokowi mengatakan kepada awak media, “Tadi bersama dengan Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), saya menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Pancasila, dengan keragaman, perbedaan agama, suku, adat, tradisi yang terus harus kita rawat, kita jaga persaudaraan kita, kerukunan kita, persatuan kita.”

Selain itu, lanjut Presiden Jokowi, dalam pertemuan itu  juga dibicarakan beberapa hal berkaitan dengan isu-isu di daerah. Terkait vonis 18 bulan kepada Melliana oleh Pengadilan Negeri Medan, Presiden Jokowi menegaskan bahwa dirinya tidak bisa mengintervensi hal-hal yang berkaitan dengan wilayah hukum di pengadilan. “Ya saya tidak bisa mengintervensi hal-hal yang berkaitan dengan wilayah hukum pengadilan,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden juga menegaskan bahwa kunjungannya ke KWI dan ke Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di sore hari itu, “tidak ada urusannya dengan Pemilihan  Presiden.”(pcp berdasarkan informasi dari Sekretariat Kabinet RI)

 

Biara Santa Tekla di Maalula dibuka kembali

Kam, 23/08/2018 - 23:55

Biara Ortodoks Santa Tekla, di kota Maalula, Suriah, akan segera dibuka kembali untuk kunjungan para peziarah dan turis. Pekerjaan rekonstruksi di biara hampir selesai. Malula dibebaskan dari militan di tahun 2014, setelah itu pemulihan kota dan biara dimulai. Seperti pernah dilaporkan oleh Fides tanggal 9 Juni lalu, sumbangan penting untuk rekonstruksi Santa Tekla datang dari organisasi veteran Rusia “Boevoe Bratstvo” (Saudara-Saudara Seperjuangan). Media Rusia melaporkan bahwa para biarawati telah kembali ke biara itu, 90% rekonstruksi sudah selesai, dan rekonstruksi akan selesai dalam beberapa minggu mendatang. Maalula, 55 km timur laut Damaskus, dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu tempat di mana bahasa Aram atau bahasa Yesus, masih digunakan. Rumah-rumah di sana baik biara Santa Tekla dan tempat kudus didedikasikan untuk Santo Sergius dan Bacchus, yang termasuk dalam Gereja Katolik Yunani-Melkite. Tanggal 3 Desember 2013, 13 suster Ortodoks Yunani dari Santa Tekla diculik dari biara, bersama dengan tiga rekan mereka. Penculikan itu berakhir dengan bahagia di hari Minggu, 9 Maret 2014, ketika para biarawati dan tiga kolaborator dibebaskan di wilayah Lebanon. Pembebasan juga terjadi berkat mediasi aparat intelijen Lebanon dan Qatar. (Agenzia Fides)

Apa itu dosa?

Kam, 23/08/2018 - 21:26

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

391. Apa yang dituntut dari kita untuk menerima kerahiman Allah?

Yang dituntut adalah agar kita mengakui kesalahan-kesalahan kita dan menyesal atas dosa-dosa kita. Allah dengan Sabda-Nya dan Roh-Nya telah menyingkap dosa-dosa kita dan memberikan kebenaran suara hati dan harapan akan pengampunan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1846-1848, 1870

392. Apa itu dosa?

Dosa adalah ”perkataan, tindakan, atau keinginan yang bertentangan dengan Hukum Abadi” (Santo Agustinus). Dosa adalah penghinaan terhadap Allah dalam ketidaktaatan kepada cinta-Nya. Dosa melukai kodrat dan solidaritas manusia. Kristus dalam penderitaan-Nya menyingkap sepenuhnya keseriusan dosa dan mengatasinya dengan kerahiman-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 184-1851, 1871-1872

Paus akan ke Irlandia, yang diguncang pelecehan seksual, untuk Pertemuan Keluarga se-Dunia

Kam, 23/08/2018 - 17:06

Dalam konferensi pers 21 Agustus 2018, direktur Kantor Pers Takhta Suci Greg Burke mengatakan bahwa Paus Fransiskus akan mengadakan kunjungan apostolik ke-24 di masa kepausannya dengan berkunjung ke Irlandia, 25-26 Agustus 2018, untuk bergabung dalam Pertemuan Keluarga se-Dunia ke-9 Gereja Katolik di Dublin.

Peristiwa Gereja Katolik selama lima hari yang  bertema “Injil Keluarga: Sukacita untuk Dunia” itu dimulai Selasa 21 Agustus dan akan berakhir Minggu, 26 Agustus. Yang menjadi sorotan kunjungan paus adalah Festival Keluarga di malam Minggu di Croke Park Stadium dan Misa penutup di hari Minggu di Phoenix Park.

Burke mengatakan bahwa kunjungan itu sangat singkat tetapi intens yang ditandai momen-momen doa khusus. Dikatakan, orang-orang akan melihat Paus berbicara dan berpesta bersama keluarga-keluarga dari seluruh dunia.

Pada hari Sabtu akan ada acara khusus di Katedral. Saat itu Paus akan menemui pasangan-pasangan muda yang baru menikah atau yang berencana untuk menikah sebentar lagi.

Irlandia adalah negara yang terguncang bencana pelecehan seksual terhadap ribuan umat Katolik yang dilakukan oleh para imam, biarawan dan biarawati, serta para uskup yang menutupi kejahatan itu.

Dalam surat terakhirnya, Bapa Suci menggambarkan bencana ini sebagai “kejahatan” yang menghasilkan luka dalam yang tidak pernah hilang.

Menurut jadwal kepausan, Bapa Suci akan berdoa di Kapel Sakramen Kudus yang berada di dalam Katedral Santa Maria. Di sana, sebuah lilin dinyalakan selama bertahun-tahun untuk para korban pelecehan seksual itu. Meskipun tidak dijadwalkan pertemuan dengan para korban pelecehan, Burke tidak menutup kemungkinan adanya pertemuan dengan mereka. “Paus bertemu para korban di negara-negara di mana pelecehan itu ‘jelas ada’,” katanya.

Juru bicara Takhta Suci itu mengatakan bahwa informasi apa pun mengenai hal itu akan dirilis setelah peristiwa itu terjadi, tetapi terserah kepada para korban apakah informasi pertemuan itu akan dirilis atau tidak. “Hal paling penting bagi Paus di saat-saat ini, adalah kunjungan itu merupakan momen doa, keheningan dan mendengarkan.”

Saat ditanya apakah perhatian media pada kekerasan seksual yang dilakukan klerus akan mengaburkan fokus Pertemuan Keluarga se-Dunia, Burke mengatakan, “Setiap perjalanan ke Irlandia tidak hanya tentang keluarga.” Juga dikatakan, “Paus sudah cukup beristirahat dan siap serta ingin berbicara tentang keluarga.”

Burke mengakui kunjungan Irlandia tidak akan mudah mengingat kejadian baru-baru ini di sana. Tapi, katanya, “jelas bahwa Paus pergi ke Irlandia untuk satu alasan, yakni Pertemuan Keluarga se-Dunia, dan itulah yang akan menjadi penekanannya.”

Secara keseluruhan, Paus dijadwalkan menyampaikan enam pidato utama dalam 36 jam keberadaannya di Irlandia.(pcp berdasarkan Vatican News)

Paus kepada anggota legislatif: “Politisi Katolik dipanggil untuk memberi kesaksian”

Rab, 22/08/2018 - 23:52

Paus Fransiskus bertemu dengan Jaringan Legislator Katolik Internasional (ICLN) dalam konferensi tahunan ke-9 mereka, seraya mengatakan kepada mereka bahwa posisi mereka sebagai orang Katolik dengan peran otoritatif adalah untuk menyebarkan undang-undang yang berdasarkan ajaran Gereja guna membantu umat Katolik dan umat dari minoritas dari agama-agama lain yang teraniaya di seluruh dunia.

Dalam pertemuan itu, seperti dilaporkan oleh Francesca Merlo dari Vatican News, Bapa Suci menyatakan bahwa tema kebebasan beragama dan suara hati, yang menjadi pusat renungan dalam pertemuan ICLN 2018, itu “sangat penting dan aktual.”

Paus Fransiskus mengingatkan para anggota ICLN tentang salah satu dokumen terpenting Konsili Vatikan II, yang diterbitkan 7 Desember 1965, yakni Deklarasi Dignitatis Humanae, yang masih relevan saat ini. Paus mengatakan, saat itu para Para Bapa Konsili membahas kekhawatiran yang muncul di sekitar rejim-rejim yang berusaha “memaksa warga negara mempraktekkan agama mereka dan membuat hidup menjadi sulit dan berbahaya bagi komunitas-komunitas agama,” meskipun kebebasan agama diakui dalam konstitusi mereka.

Bapa Suci kemudian berbicara tentang bagaimana Dignitatis Humanae dapat diterapkan pada penganiayaan agama saat ini – dengan menyatakan bahwa, sayangnya, fenomena ini masih berlanjut di beberapa negara. Situasi itu sebenarnya memberatkan umat Katolik dan kelompok minoritas agama lain yang berpusat di daerah yang terkena dampak fundamentalisme, kata Paus.

Paus Fransiskus menyatakan bahwa kebebasan beragama saat ini harus “secara sadar menghadapi dua hal yang sama-sama mengancam dan menentang ideologi: relativisme sekuler dan radikalisme agama – dalam realitas radikalisme pseudo-agama.”

Paus mengatakan kepada para anggota ICLN bahwa, meskipun mereka semua memainkan peran berbeda di negara mereka masing-masing, kesamaan mereka adalah niat baik untuk melayani Kerajaan Allah dengan komitmen politik yang jujur.

“Jauh dari perasaan atau tampil sebagai pahlawan atau korban, politisi Katolik dipanggil, pertama dan terutama, seperti setiap orang yang dibaptis, untuk berupaya menjadi saksi – melalui kerendahan hati dan keberanian – dan untuk mengusulkan undang-undang konsisten yang berdasarkan pandangan Katolik tentang kemanusiaan dan masyarakat, dan selalu berusaha bekerja sama dengan semua orang yang memiliki pandangan yang sama seperti ini,” kata Paus.

ICLN adalah asosiasi legislator, perwakilan pemerintah, ahli dan otoritas sipil dan politik. Pertemuan tahunan mereka mencakup audiensi dengan Bapa Suci guna meningkatkan pembinaan dan pendidikan mereka. Mereka bertemu dengan tujuan untuk mencapai dan menyebarkan visi bersama tentang tema yang diusulkan, berdasarkan ajaran Gereja, sesuai peran mereka sebagai individu di pemerintahan dan institusi lain di negara mereka.

Tahun ini menandai pertemuan tahunan ke-9 ICLN dengan judul “The ICLN Religious Freedom Summit” (pertemuan puncak kebebasan beragama ICLN). Tema ini didedikasikan untuk merenungkan perhatian yang diberikan Gereja dalam beberapa tahun terakhir terhadap orang Katolik yang dianiaya di seluruh dunia dan untuk mengembangkan prakarsa-prakarsa masa depan dalam situasi di mana, “ada harapan,” kata Presiden ICLN, Prof Dr Christiaan Alting von Geusau.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apa itu karunia-karunia Roh Kudus?

Rab, 22/08/2018 - 22:44

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

389. Apa itu karunia-karunia Roh Kudus?

Karunia-karunia Roh Kudus adalah disposisi tetap yang membuat kita mudah mengikuti ilham Roh Kudus. Karunia-karunia itu ada tujuh: hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan akan Allah, kesalehan, dan Roh takut akan Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1830-1831, 1845

390. Apa itu buah-buah Roh Kudus?

Buah-buah Roh Kudus adalah kesempurnaan yang dibentuk dalam diri kita sebagai buah-buah pertama kemuliaan abadi. Tradisi Gereja membuat daftar dua belas: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan hati, kebajikan, kemurahan hati, kelemahlembutan, kesetiaan, kesederhanaan, penguasaan diri, dan kemurnian (Gal 5:22-23, Vulgata).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1832

Hari Pangan Sedunia 2018 ajak keluarga Katolik berbagi terutama bagi yang miskin dan kelaparan

Rab, 22/08/2018 - 22:25

Setiap tahun Gereja Katolik merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS) tanggal 16 Oktober “sebagai ungkapan rasa syukur akan kasih Allah yang telah memberi kehidupan berupa aneka bahan pangan untuk kelangsungan umat manusia,” tulis Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dalam penjelasan Gerakan HPS Nasional 2018.

Penjelasan yang juga dikirim kepada PEN@ Katolik itu menegaskan bahwa tema gerakan HPS tahun 2018 adalah “Keluarga Sebagai Komunitas Berbagi Pangan.” Melalui gerakan HPS itu, lanjutnya, “keluarga Katolik diundang untuk menyadari bahwa sumber pangan yang telah dianugerahkan oleh Allah secara cuma-cuma adalah juga diperuntukkan bagi kesejahteraan semua orang dengan kerelaan untuk berbagi, terutama kepada saudara kita yang miskin dan kelaparan.”

Juga diharapkan agar dalam keluarga, “setiap pribadi mendidik diri sendiri dan bersama dalam menumbuhkan sikap berbelarasa, menemukan kembali nilai dan makna solidaritas dalam hubungan antarmanusia.”

Di bawah ini PEN@ Katolik mengangkat secara lengkap  penjelasan yang menggunakan judul tema gerakan HPS Nasional 2018 itu:

KELUARGA SEBAGAI KOMUNITAS BERBAGI PANGAN

Gerakan HPS Nasional 2018

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

Pengantar :

Setiap tahun Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada tanggal 16 Oktober diperingati dan dirayakan oleh Gereja Katolik sebagai ungkapan rasa syukur akan kasih Allah yang telah memberi kehidupan berupa aneka bahan pangan untuk kelangsungan umat manusia. Tema gerakan HPS tahun 2018 adalah “Keluarga Sebagai Komunitas Berbagi Pangan”. Melalui gerakan HPS ini Keluarga Katolik diundang untuk menyadari bahwa sumber pangan yang telah dianugerahkan oleh Allah secara cuma-cuma adalah juga diperuntukkan bagi kesejahteraan semua orang dengan kerelaan untuk berbagi, terutama kepada saudara kita yang miskin dan kelaparan. Dalam keluarga, setiap pribadi mendidik diri sendiri dan bersama dalam menumbuhkan sikap berbelarasa, menemukan kembali nilai dan makna solidaritas dalam hubungan antarmanusia.

Keluarga Sebagai Komunitas

Yohanes Paulus II, dalam suratnya kepada keluarga (1994), mengatakan “keluarga merupakan suatu komunitas yang cara keberadaan dan cara hidup bersamanya adalah persekutuan antarpribadi-pribadi.” Dasar keluarga adalah cinta Kasih (KGK 2201, 2204), terbuka kepada anugerah kehidupan dan mengandung masa depan masyarakat. Keluarga adalah sel inti masyarakat di mana kita belajar hidup bersama orang lain dan menjadi milik satu sama lain; Keluarga adalah tempat pertama dan terutama pendidikan integral seorang anak: pendidikan kasih, pendidikan moral dan etika, pembinaan kepribadian, pendidikan intelektual dan afektif, dan pendidikan iman. Dengan kata lain, dalam keluarga seorang anak lahir, dibentuk, dan berkembang (GS, 47. 52). Singkatnya, kualitas keluarga menentukan kualitas masyarakat.

Keluarga Katolik dalam kenyataan sehari-hari tidak terlepas dari realitas yang harus mereka temui yaitu untuk berelasi dengan keluarga dalam masyarakat dan Gereja sendiri. Keluarga yang pada hakekatnya merupakan persekutuan cinta kasih, mengemban misi untuk menjaga dan mengungkapkan serta menyalurkan cinta kasih itu kepada dunia. Salah satu tugas keluarga Katolik di tengah dunia adalah ikut serta dalam pengembangan masyarakat dan ikut serta dalam kehidupan dan misi Gereja (FC 17).

Dalam hubungan dengan masyarakat, keluarga memiliki peranan sosial dan politik. Berkaitan dengan peranan sosial, keluarga memiliki tanggung jawab membaktikan diri melalui kegiatan pengabdian sosial. Pengabdian sosial itu dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah berbagi pangan kepada sesama yang membutuhkannya. Namun semangat yang perlu mendasari pengabdian tersebut adalah kepekaan akan kebutuhan sesama dan kerelaan untuk membantunya atau berbagi (FC 30). Dalam konteks tugas Keluarga ikut serta dalam kehidupan misi Gereja adalah menyalurkan karya keselamatan melalui cinta kasih. Cinta kasih merupakan pengungkapan dan perwujudan dari misi panggilan Gereja sebagai nabi, imam dan raja (FC 32). Keluarga menjadi  Ecclesia Domestica  (Gereja Rumah Tangga) karena mengambil bagian dalam kelima tugas atau peran Gereja, yaitu persekutuan, liturgi, pewartaan Injil, pelayanan dan kesaksian iman.

Tantangan dan Kondisi Pangan Saat ini

 

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia (UU No.18/2012).  Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama, karena itu pemenuhannya menjadi hak asasi setiap individu (Deklarasi Roma Tahun 1996 pada KTT Pangan Dunia). Badan Pangan Dunia (FAO) menetapkan juga bahwa hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak dan keluarganya atas pangan, dan setiap orang harus bebas dari kelaparan. Namun faktanya masih banyak saudara kita yang belum terpenuhi haknya atas pangan, beberapa data berikut menunjukkan situasi yang ada di tanah air kita tercinta.

Indonesia merupakan negara yang terkenal akan kekayaan alam dan kesuburan tanahnya. Semestinya, dengan kondisi itu, Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, apalagi jika menyangkut masalah pangan (nota Pastoral KWI 2018, 5.1). Namun menurut data dari BPS dan Global Hunger Index (GHI) tahun 2017, memperlihatkan masih ada sekitar 26,58 juta penduduk miskin dan dari jumlah tersebut masih ada 19,4 juta berada dalam situasi kekurangan pangan atau kekurangan gizi. Kasus kelaparan dan kekurangan gizi yang terjadi di tanah Asmat Papua pada bulan Januari 2018 yang berdampak pada berbagai penyakit dan berujung pada kematian menunjukkan salah satu fenomena bahwa kelaparan dan kekurangan gizi di Indonesia masih menjadi masalah serius (Harian Kompas Januari dan Februari 2018).

Namun ada hal lain yang cukup memprihatinkan dan mengejutkan, bahwa Indonesia ternyata masuk urutan kedua dengan tingkat food waste dan food loss terbesar di dunia, dengan nilai index 42,11. Food waste dan food loss dapat diartikan sebagai sampah makanan, atau sisa makanan yang terjadi dari proses produksi maupun yang diakibatkan dari perilaku konsumen itu sendiri. Jika menelaah perhitungan tersebut, semakin besar nilai yang didapat, semakin kecil sisa makanan atau sampah makanan yang di produksi sebuah negara. Ini berarti nilai 42,11 yang dimiliki Indonesia masih jauh dari kata berhasil dalam mengurangi produksi sampah atau sisa makanan. Sumber data dari www.foodsustainability.eiu.com. Situasi di atas memperlihatkan kepada kita semua, di tengah masih begitu banyaknya saudara kita yang berkekurangan pangan (makanan), ada banyak pula saudara kita yang berkelebihan makanan dan membuangnya. Paus Fransiskus menyebutnya budaya ‘membuang’ yang mewarnai perilaku hidup kita (LS 22). Situasi tersebut berakar pada praktek ekonomi pasar yang menciptakan manusia menjadi konsumeris dan hedonis, mengabaikan nilai-nilai moral dan agama, budaya, sosial dan keluarga. Buah-buah dari pengabaian nilai-nilai tersebut adalah kerakusan, ketamakan, pemborosan dan egoisme. Oleh karena itu penanaman dan penghayatan nilai-nilai menghargai pangan sebagai berkat dari Allah untuk semua mahluk dan semangat solidaritas pangan memang harus ditumbuhkan mulai dari lingkungan keluarga, dan berbagai komunitas atau kelompok dalam masyarakat.

Keluarga Komunitas Berbagi Pangan

 

Beberapa inspirasi kitab suci ini dapat menjadi motivasi dan dasar iman keluarga sebagai komunitas kecil dan bersama dengan keluarga lain memiliki kepedulian untuk berbagi pangan kepada sesama yang kelaparan. Keluarga dapat meneladan sikap Allah dan Yesus sendiri yang memberi makan orang lapar dan untuk menolong orang-orang mengusahakan makanannya sendiri. Setiap keluarga, sesuai dengan kemampuannya masing-masing, dipanggil untuk terlibat dalam keprihatinan Allah dan menjadi tangan-Nya untuk memberi makan kepada yang lapar.

Putra Allah, Yesus Kristus sendiri mengatakan bahwa diri-Nya adalah ‘roti’ Hidup (Yoh. 6:25-59). Melalui roti hidup Yesus mengorbankan diri-Nya menjadi santapan rohani bagi kita. Sama seperti Yesus yang telah memberi diri bagi keselamatan kita maka menjadi orang kristiani kita dipanggil untuk memberikan diri bagi orang lain dalam bentuk berbagi makanan (pangan). Yesus menggunakan simbol ‘roti’ untuk diri-Nya. Kita tahu bahwa roti (makanan) adalah kebutuhan pokok manusia. Tanpa makanan manusia tak dapat hidup. Yesus menyebut diri-Nya sebagai ‘roti’ hidup berarti sumber kelimpahan dan memberi kehidupan. Percaya kepada Yesus berarti kita diajak bekerja dan berkomitmen mengupayakan agak tetap ada makanan (pangan) bagi kehidupan kita, bagi sesama dan makhluk hidup lainnya. Tidak memberi makanan adalah kejahatan dan kelaparan adalah penistaan terhadap Yesus sumber pemberi hidup berkelimpahan.

Elia dan Janda Sarfat (1 Raj. 17:7-14): Melalui Elia Tuhan memberikan makanan kepada Janda Sarfat. Dia percaya bahwa tepung terigu dalam temayannya tidak akan habis dan minyak dalam buli-bulinya tidak akan berkekurangan. Janda dan anaknya pun mendapat makanan beberapa waktu lamanya. Ia menyadari bahwa itu semua adalah pemberian dan berkat dari Allah, oleh karena itu dalam kemiskinan dan kekurangannya janda itu masih memberi makan kepada Elia utusan Allah. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kekurangan dan kemiskinan bukanlah halangan untuk berbuat baik dan berbagi kepada orang lain.

Yesus memberi makan 5000 orang (Mrk. 8:1-10; Mat. 14:13-21; Luk. 9:10-17; Yoh. 6:1-13). Kemurahan dari belas kasihan Yesus terhadap kebutuhan orang yang kelaparan dengan memberikan tanggung jawab memenuhi kebutuhan mereka kepada murid-murid-Nya. Kristus bermaksud membangkitkan di dalam diri mereka suatu kesadaran atau hati yang peka bahwa percaya dan mengikuti-Nya mencakup kesediaan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup, termasuk kebutuhan yang paling vital yaitu makan. Oleh karena itu Ia memerintah kepada murid-murid-Nya: ‘Kamu harus memberi mereka makan’. Yesus juga mengajarkan kepada para murid bahwa sedikit yang kita miliki, dapat dijadikan berkelimpahan apabila dipersembahkan kepada Tuhan dan diberkati oleh-Nya. Perintah Yesus yang sama juga ditujukan kepada kita semua umat-Nya.

Apa yang Dapat Dilakukan oleh Keluarga

 

Makan bersama dalam keluarga dan bersyukur atas berkat Tuhan berupa makanan (pangan) yang kita konsumsi setiap hari. Karena Allah telah menyediakan makanan bagi kita dan semua makhluk (Kej. 1:39-40). Menghargai makanan berarti menghargai yang menyediakan dan pemberi makanan, yakni Allah. Bentuk penghargaan dapat diwujudkan dengan makan sehat dan secukupnya, seperti yang kita doakan dalam doa Bapa Kami, “berilah kami rezeki pada hari ini (makanan secukupnya) (Luk. 11:3). Dengan makanan sehat dan secukupnya berarti kita tidak menyisakan dan membuang makanan yang ada dan tersedia. Dengan konsumsi makanan secukupnya dan sehat menghindari kita dari kerakusan, pemborosan, berbagai macam penyakit dan menghargai alam yang sudah menyediakan semuanya bagi kita. Seperti diungkapkan oleh Mahatma Gandhi: “bumi menyediakan makanan cukup untuk kebutuhan setiap manusia, tetapi bukan untuk keserakahan”.

Seperti perintah Yesus “kamu harus memberi mereka makan” mengingatkan kita bahwa makanan (pangan) adalah domain “kasih dan solidaritas”. Oleh karena itu jika ada orang yang mati karena kelaparan atau kekurangan gizi maka kita semua bersalah dan harus bertanggung jawab. Orang Samaria yang baik hati (Luk.10:25-37) mendahulukan orang yang tidak berdaya merupakan wujud cinta kasih kepada sesama sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus sendiri, mencintai sesama berarti menjadi sesama bagi orang yang setengah mati, tak berdaya dan membutuhkan segera pertolongan.

Ada banyak praktek baik yang sudah dilakukan oleh Gereja selama ini dalam memperingati HPS, sebaiknya ditingkatkan. Misalnya mengadakan pendalaman iman dan animasi, mengadakan perayaan liturgi sebagai ungkapan syukur atas pangan yang dianugerahkan Allah dan mengadakan kolekte khusus pada Hari Pangan Sedunia (HPS) baik di stasi/lingkungan/paroki komunitas-komunitas devosional, kategorial, organisasi (PK, WKRI, PMKRI, dst) maupun lembaga-lembaga pendidikan. Seperti Paulus mengumpulkan sumbangan untuk membantu mereka yang lapar (bdk. Kis. 11:28-29). Kolekte yang terkumpul tersebut diserahkan kepada Keuskupan dan juga KWI yang dikelola oleh Komisi PSE-KWI untuk bantuan darurat pangan dan pemberdayaan komunitas untuk meningkatkan pangan keluarga di keuskupan-keuskupan.

 

Penutup

Ungkapan kasih sayang yang paling indah adalah ketika kita bisa berbagi, apa pun bentuknya terutama berbagi dalam keluarga, kepada kedua orang tua, ayah ibu, suami/istri, anak, saudara, sahabat, dan orang-orang di sekeliling kita. Tak lupa juga berbagi rezeki kepada mereka yang paling membutuhkan yaitu mereka yang hidupnya sedang kesusahan, kelaparan, dan serba kekurangan seperti anak yatim piatu, fakir miskin, pengungsi dan lainnya.

Kardinal O’Malley menyerukan konsekuensi bagi kepemimpinan Gereja

Sel, 21/08/2018 - 22:54
Paus Fransiskus bersama Kardinal Sean O’Malley. Foto: Vatican Media

Uskup Agung Boston dan kepala Komisi Kepausan Vatikan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur Kardinal Sean O’Malley memposting pesan video di situs Keuskupan Agung Boston sebagai tanggapan atas laporan Juri Utama Pennsylvania. Video itu diposting hari Sabtu, 18 Agustus 2018, dua hari sebelum Paus Fransiskus merilis sebuah surat kepada Umat Allah sebagai tanggapan atas krisis pelecehan seksual yang dilakukan klerus yang sedang berlangsung.

Kardinal O’Malley mengatakan, seperti yang dilaporkan oleh Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News  bahwa “kata-kata gagal” untuk situasi yang dihadapi Gereja di AS. Kardinal itu mengatakan bahwa hati “bersedih” karena kita lagi-lagi mendengar “rasa sakit yang menghancurkan  yang dialami orang-orang yang selamat,” dan “kami tetap dipermalukan oleh kegagalan mengerikan ini untuk melindungi anak-anak dan orang-orang yang rentan, dan kami menegaskan komitmen kami bahwa kegagalan ini tidak akan pernah terulang.”

Kardinal O’Malley melihat banyak pelaku telah dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan mereka. Namun, dia juga mengakui bahwa Gereja belum “membangun sistem akuntabilitas yang jelas dan transparan serta konsekuensi untuk kepemimpinan Gereja yang kegagalannya telah memungkinkan kejahatan-kejahatan ini terjadi.” Kardinal juga mengatakan bahwa semua yang berperanserta dalam misi Gereja harus “menerima pertobatan rohani” dan bahwa “transparansi hukum dan akuntabilitas pastoral” harus dituntut dari mereka.

“Tindakan segera” harus diambil, lanjut Kardinal, karena “jam terus berdetak.” Kardinal kemudian menyatakan bahwa baik umat Katolik dan masyarakat sipil telah kehilangan kesabaran dan kepercayaan dalam “kepemimpinan Gereja.” Tetapi, kardinal itu berharap agar kegagalan masa lalu dapat diperbaiki. Dia menyerukan kepada Gereja “untuk membantu agar umat tidak putus asa.” Dia juga mengatakan bahwa sering kali “orang yang selamat dan para korbanlah yang dengan berani mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh putus asa.”

Kardinal mengakui, “krisis yang kita hadapi adalah hasil dari dosa-dosa klerus dan kegagalan-kegagalan klerus” dan hanya dapat diatasi dengan “keterlibatan dan kepemimpinan pria dan wanita awam di dalam Gereja kita, individu-individu yang dapat membawa kompetensi, pengalaman, dan keterampilan mereka pada tugas yang kita hadapi.”

Kardinal O’Mally menyimpulkan bahwa hanya dengan mengenali kenyataan yang dihadapinya, Gereja bisa “mendapatkan kembali kepercayaan, keyakinan, dan dukungan umat Katolik di masyarakat kita. Kita harus maju cepat dan dengan tujuan. Tidak ada waktu untuk di sia-siakan.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Surat Bapa Suci Fransiskus kepada umat Allah

Paus Fransiskus tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus terus mencari kebenaran

Paus berterima kasih kepada para uskup Chili untuk upaya tegas melawan pelecehan

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Pelecehan seks Chili, Paus Fransiskus memohon maaf atas kesalahan-kesalahan serius

Paus minta maaf kepada korban pelecehan seksual yang dilakukan imam

Keutamaan teologal adalah iman, harapan, dan cinta kasih

Sel, 21/08/2018 - 21:29

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

385. Apa saja itu keutamaan teologal?

Keutamaan teologal adalah iman, harapan, dan cinta kasih.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1813

386. Apa itu keutamaan iman?

Iman adalah keutamaan teologal yang olehnya kita percaya kepada Allah dan semua yang sudah diwahyukan kepada kita dan disampaikan oleh Gereja karena Allah adalah Kebenaran. Melalui iman, manusia dengan bebas menyerahkan dirinya kepada Allah. Karena itu, orang yang percaya berusaha mencari dan melaksanakan kehendak Allah karena ”iman bekerja melalui kasih” (Gal 5:6).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1814-1816, 1842

387. Apa itu harapan?

Harapan adalah keutamaan teologal, dengannya kita merindukan dan menantikan kehidupan abadi yang berasal dari Allah sebagai kebahagiaan kita, mempercayakan diri kita kepada janji Kristus, dan bersandar pada bantuan rahmat Roh Kudus agar pantas menerimanya dan tetap bertahan sampai akhir hidup kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1817-1821, 1843

388. Apa itu cinta kasih?

Cinta kasih adalah keutamaan teologal, dengannya kita mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Yesus menyebut cinta kasih sebagai perintah yang baru, pemenuhan hukum. ”Cinta kasih adalah pengikat kesempurnaan” (Kol 3:14) dan dasar dari keutamaan yang lainnya. Dari cinta kasih ini, semua keutamaan yang lain memperoleh hidup, inspirasi, dan keteraturan. Tanpa cinta kasih, ”sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” dan ”aku sama sekali tidak berguna” (1Kor 13:1-3).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1822-1829, 1844

Surat Bapa Suci Fransiskus kepada Umat Allah

Sel, 21/08/2018 - 19:46

Surat dari Bapa Suci Fransiskus kepada Umat Allah

“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita” (1 Kor 12:26). Kata-kata Santo Paulus ini bergema kuat di dalam hati saya ketika saya melihat sekali lagi penderitaan yang dialami banyak anak di bawah umur karena pelecehan seksual, penyalahgunaan kekuasaan dan penyalahgunaan hati nurani yang dilakukan oleh sejumlah besar klerus dan kaum hidup bakti. Kejahatan yang menimbulkan luka yang dalam serta ketidakberdayaan, terutama di antara para korban, tetapi juga dalam anggota-anggota keluarga mereka dan di kalangan umat yang lebih besar dan juga di kalangan orang-orang yang tidak beragama. Di masa lalu, tidak ada upaya untuk meminta maaf dan memperbaiki kerusakan itu. Ke depan, semua upaya yang akan diambil guna menciptakan budaya yang mampu mencegah terjadinya situasi seperti itu, dan juga guna mencegah kemungkinan menutup-nutupi dan melanggengkan situasi-situasi itu. Rasa sakit para korban dan keluarga mereka juga merupakan penderitaan kita. Maka, sangatlah mendesak bahwa kita sekali lagi menegaskan komitmen kita guna memastikan perlindungan terhadap anak-anak di bawah umur dan terhadap orang dewasa yang rentan.

  1. Jika satu anggota menderita …

Beberapa hari terakhir ini, dipublikasikan sebuah laporan yang menceritakan secara panjang lebar pengalaman-pengalaman dari sedikitnya seribu orang yang selamat, korban pelecehan seksual, penyalahgunaan kekuasaan dan hati nurani di tangan para imam selama sekitar tujuh puluh tahun. Meskipun bisa dikatakan bahwa sebagian besar kasus ini terjadi di masa lampau, namun seiring berjalannya waktu kita tahu penderitaan dari banyak korban itu. Kita, luka-luka ini tidak pernah akan hilang dan luka-luka itu menuntut kita untuk mengutuk keras kekejaman-kekejaman ini dan bersama-sama mencabut budaya kematian ini; luka-luka ini tidak pernah hilang. Rasa sakit yang menyayat hati para korban ini, yang berteriak hingga ke langit, telah lama diabaikan, didiamkan atau dibungkamkan. Namun, jeritan mereka lebih kuat daripada semua langkah yang dimaksudkan untuk membungkamnya, atau bahkan berusaha menyelesaikannya dengan keputusan-keputusan yang meningkatkan gravitasinya dengan jatuh dalam keterlibatan. Tuhan mendengar seruan itu dan sekali lagi menunjukkan kepada kita di sisi mana Dia berdiri. Kidung Maria tidaklah salah dan dengan diam-diam terus bergema sepanjang sejarah. Karena Allah akan mengingat janji yang Dia buat kepada leluhur kita: “Ia mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1: 51-53). Kita merasa malu ketika tahu bahwa gaya hidup kita telah menyangkal, dan terus menyangkal, kata-kata yang kita ucapkan.

Menyadari besarnya dan beratnya kerusakan yang terjadi pada begitu banyak kehidupan, dengan rasa malu dan sesal, kita melihat sebagai komunitas gerejawi bahwa kita tidak berada pada tempat yang seharusnya kita berada, bahwa kita tidak bertindak tepat waktu. Kita tidak menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak kecil; kita meninggalkan mereka. Saya mengutip perkataan Ratzinger, yang saat itu masih Kardinal, dalam doa Jalan Salib Jumat Agung 2005. Kardinal itu mengidentifikasi seruan kesakitan dari begitu banyak korban dan berseru: “Berapa banyak kotoran ada di Gereja, dan bahkan di antara mereka yang, dalam imamat, harus sepenuhnya menjadi milik [Kristus]! Betapa besarnya harga diri, betapa besarnya rasa puas diri! Pengkhianatan Kristus oleh para murid-Nya, penerimaan tidak layak mereka atas tubuh dan darah-Nya, tentu saja merupakan penderitaan terbesar yang dialami oleh Sang Penebus; itu menusuk hati-Nya. Kita hanya bisa memohon kepada-Nya dari lubuk hati: Kyrie eleison – Tuhan, selamatkan kami! (lih. Mat 8:25)” (Stasi Kesembilan).

2.… semua anggota turut menderita

Luas dan beratnya semua yang terjadi membutuhkan penanganan komprehensif dan komunal. Meskipun pertobatan itu selalu penting dan perlu guna melihat kebenaran dari apa yang terjadi, dalam dirinya sendiri ini tidak cukup. Kini kita ditantang sebagai Umat Allah untuk menanggung rasa sakit saudara-saudari yang terluka jiwa dan raganya. Kalau, di masa lalu, tanggapan merupakan salah satu kelalaian, kini kita menginginkan solidaritas, dalam arti terdalam dan paling menantang, untuk menjadi cara menempa sejarah sekarang dan masa depan. Dalam solidaritas, konflik, ketegangan dan terutama semua korban dari setiap jenis pelecehan dapat menemukan uluran untuk melindungi dan menyelamatkan mereka dari rasa sakit (bdk. Evangelii Gaudium, 228). Solidaritas itu meminta kita, pada gilirannya, untuk mencela segala sesuatu yang membahayakan integritas seseorang. Solidaritas yang menyerukan perjuangan melawan semua bentuk korupsi, terutama korupsi spiritual, “karena itulah kebutaan yang nyaman dan memuaskan diri, di mana segala sesuatu tampak bisa diterima: penipuan, fitnah, egoisme, dan bentuk-bentuk kepentingan diri sendiri yang tidak nampak, karena “Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang” (2 Kor 11:14) ”(Gaudete et Exsultate, 165). Seruan Santo Paulus untuk ikut menderita bersama mereka yang menderita adalah penangkal terbaik terhadap semua upaya kita untuk mengulangi kata-kata Kain: “Apakah aku penjaga adikmu?” (Kej 4: 9).

Saya sadar akan upaya dan karya yang dilakukan di berbagai belahan dunia untuk menjamin dan menerapkan mediasi yang diperlukan guna memastikan keselamatan dan perlindungan integritas bagi anak-anak dan orang dewasa yang rentan, serta penerapan ‘toleransi nol’ dan cara-cara membuat semua orang yang melakukan atau menutupi kejahatan-kejahatan ini bertanggung jawab. Kami telah lambat menerapkan tindakan-tindakan dan sanksi-sanksi yang sangat diperlukan ini, namun saya yakin bahwa mereka akan membantu untuk menjamin budaya peduli yang lebih besar di masa kini dan di masa depan.

Bersama dengan upaya-upaya itu, setiap orang yang dibaptis harus merasa terlibat dalam perubahan sosial dan gerejawi yang sangat kami butuhkan. Perubahan ini menuntut perubahan pribadi dan komunitas yang membuat kita melihat sesuatu sebagaimana Tuhan melihatnya. Karena seperti yang suka dikatakan oleh Santo Yohanes Paulus II: “Jika kita benar-benar hendak kembali merenung tentang Kristus, kita harus melihat Dia terutama di wajah-wajah orang-orang yang ingin Dia identifikasi wajah-Nya” (Novo Millennio Ineunte, 49). Untuk melihat sesuatu sebagaimana Tuhan melihatnya, tinggallah di tempat yang Tuhan inginkan, ubahlah hati sesuai kehadiran-Nya. Untuk melakukannya, doa dan pengakuan dosa akan membantu. Saya mengajak semua umat Allah yang setia untuk melakukan doa pertobatan penuh penyesalan, seraya mengikuti perintah Tuhan. [1] Ini dapat membangkitkan hati nurani dan membangkitkan solidaritas dan komitmen kami terhadap budaya peduli yang mengatakan “tidak pernah lagi” melakukan setiap bentuk pelecehan.

Mustahil memikirkan perubahan kegiatan kami sebagai Gereja tanpa mencakup peranserta aktif dari semua anggota Umat Allah. Memang, setiap kali kita mencoba menggantikan, atau membungkam, atau mengabaikan, atau memperkecil Umat Allah menjadi kaum elit yang kecil, kita akhirnya menciptakan komunitas, proyek, pendekatan teologis, spiritualitas dan struktur tanpa akar, tanpa ingatan, tanpa wajah, tanpa tubuh dan akhirnya, tanpa kehidupan. [2] Ini jelas terlihat dalam cara anomali dalam memahami otoritas Gereja, yang umum di banyak komunitas tempat terjadi pelecehan seksual dan penyalahgunaan kekuasaan dan hati nurani. Seperti halnya klerikalisme, pendekatan yang “tidak hanya menghapus karakter umat Kristiani, tetapi juga cenderung mengurangi dan meremehkan anugerah baptisan yang Roh Kudus tempatkan di dalam hati umat kita”. [3] Klerikalisme, apakah dipupuk oleh para imam sendiri atau oleh umat awam, akan menyebabkan pengecilan dalam tubuh Gereja yang mendukung dan membantu melanggengkan banyak kejahatan yang kita kutuk saat ini. Mengatakan “tidak” pada pelecehan adalah mengatakan “tidak” pada semua bentuk klerikalisme.

Selalu baik untuk diingat bahwa “dalam sejarah keselamatan, Tuhan menyelamatkan sebuah bangsa. Kita tidak pernah sepenuhnya menjadi diri kita sendiri kecuali kita milik sebuah bangsa. Maka, tidak ada yang diselamatkan sendirian, sebagai individu yang terasing. Sebaliknya, Tuhan menarik kita kepada diri-Nya, dengan mempertimbangkan jalinan rumit hubungan antarpribadi yang ada dalam komunitas manusia. Tuhan ingin masuk ke dalam kehidupan dan sejarah sebuah bangsa” (Gaudete et Exsultate, 6). Konsekuensinya, satu-satunya cara yang harus kita tanggapi terhadap kejahatan yang telah menghitamkan begitu banyak kehidupan ini adalah mengalaminya sebagai tugas yang menyangkut kita semua sebagai Umat Allah. Kesadaran untuk menjadi bagian sebuah bangga dan sebuah sejarah bersama akan memungkinkan kita untuk mengakui dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan masa lalu kita dengan keterbukaan penuh pertobatan yang dapat memungkinkan kita diperbarui dari dalam. Tanpa peranserta aktif dari semua anggota Gereja, segala sesuatu yang dilakukan untuk mencabut budaya pelecehan dalam komunitas kita tidak akan berhasil dalam menghasilkan dinamika yang diperlukan untuk perubahan yang nyata dan realistis. Dimensi puasa dan doa penuh pertobatan akan membantu kita sebagai Umat Allah untuk datang di hadapan Tuhan dan saudara-saudara kita yang terluka sebagai orang berdosa yang memohon pengampunan dan anugerah rasa malu dan pertobatan. Dengan cara ini, akan muncul tindakan yang dapat membangkitkan cara-cara yang sesuai dengan Injil. Karena, “kapan pun kita berusaha kembali ke sumbernya dan memulihkan kesegaran asli Injil, jalan baru muncul, jalan baru kreativitas terbuka, dengan berbagai bentuk ungkapan, tanda-tanda dan kata-kata yang lebih mengesankan dengan makna baru untuk dunia saat ini. (Evangelii Gaudium, 11).

Penting bahwa kita, sebagai Gereja, dapat mengakui dan mencela, dengan sedih dan malu, kekejaman yang dilakukan oleh kaum hidup bakti, para klerus, dan semua orang yang dipercayakan dengan misi untuk menjaga dan memperhatikan orang-orang yang paling rentan. Mari kita mohon pengampunan atas dosa kita sendiri dan dosa orang lain. Kesadaran akan dosa membantu kita untuk mengakui kesalahan-kesalahan, kejahatan-kejahatan dan luka-luka yang disebabkan di masa lalu dan memungkinkan kita, pada saat ini, menjadi lebih terbuka dan berkomitmen sepanjang perjalanan pertobatan baru.

Demikian juga, pengakuan dosa dan doa akan membantu kita membuka mata dan hati terhadap penderitaan orang lain dan mengatasi rasa haus akan kekuasaan dan harta yang seringkali menjadi akar kejahatan-kejahatan itu. Semoga puasa dan doa membuka telinga kita terhadap rasa sakit yang dirasakan oleh anak-anak, orang muda dan orang cacat. Puasa, yang dapat membuat kita lapar dan haus akan keadilan dan mendorong kita untuk berjalan dalam kebenaran, mendukung semua langkah hukum yang mungkin diperlukan. Puasa yang mengguncang dan menuntun kita untuk berkomitmen dalam kebenaran dan amal kasih dengan semua pria dan wanita yang berkemauan baik, dan dengan masyarakat pada umumnya, dan untuk memberantas segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, pelecehan seksual dan penyalahgunaan hati nurani.

Dengan cara ini, kita dapat menunjukkan dengan jelas bahwa panggilan kita menjadi “tanda dan alat persekutuan dengan Allah dan persatuan seluruh umat manusia” (Lumen Gentium, 1).

“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita,” kata Santo Paulus. Dengan laku doa dan pengakuan dosa, kita akan menjadi sebagai individu dan sebagai komunitas yang sesuai seruan ini, sehingga kita dapat bertumbuh dalam karunia belas kasih, dalam keadilan, pencegahan, dan perbaikan. Maria memilih untuk berdiri di kaki salib Anak-Nya. Dia melakukannya tanpa ragu, berdiri teguh di sisi Yesus. Dengan cara ini, Maria mengungkapkan cara dia menjalani seluruh hidupnya. Ketika kita mengalami kesedihan yang disebabkan oleh luka-luka gerejawi ini, kita akan melaluinya dengan baik, bersama  Maria, “untuk lebih bertekun pada doa”, dengan berusaha kian bertumbuh dalam cinta dan kesetiaan kepada Gereja (SANTO IGNATIUS LOYOLA, Latihan Rohani, 319). Maria, yang pertama dari para murid, mengajarkan kepada kita semua sebagai murid-murid bagaimana kita harus berhenti tanpa alasan, sebelum orang yang tidak bersalah menderita. Melihat Maria adalah menemukan model pengikut sejati Kristus.

Semoga Roh Kudus memberi kita anugerah pertobatan dan pengurapan batin yang diperlukan untuk mengungkapkan kesanggupan dan tekad kita untuk berani memberantas kejahatan-kejahatan pelecehan ini.

FRANSISKUS

Kota Vatikan, 20 Agustus 2018

[1] “Jenis (setan) ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa. (Mat 17:21).

[2] Bdk. Surat kepada Umat Allah Peziarah di Chili (31 Mei 2018).

[3] Surat kepada Kardinal Marc Ouellet, Ketua Komisi Kepausan untuk Amerika Latin (19 Maret 2016).

Diterjemahkan oleh PEN@ Katolik/paul c pati

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus terus mencari kebenaran

Paus berterima kasih kepada para uskup Chili untuk upaya tegas melawan pelecehan

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Pelecehan seks Chili, Paus Fransiskus memohon maaf atas kesalahan-kesalahan serius

Paus minta maaf kepada korban pelecehan seksual yang dilakukan imam

Siswa SD-SMP hadiri upacara bendera di sekolah tempat membentuk pribadi Pancasilais

Sab, 18/08/2018 - 23:37

Sesuai Nota Pastoral KWI 2018 yang menegaskan bahwa sekolah adalah tempat membentuk siswa  yang berpribadi Pancasilais, pribadi yang mencintai bangsa dan negara NKRI, maka Yayasan Santo Dominikus Cimahi, Jawa Barat, memprogramkan Upacara Bendera bagi siswa-siswi SD Santa Maria dan Santo Yusup serta SMP Santo Mikael beserta semua guru dan karyawan. Kepala Sekolah SD Santo Yusup, Hedvigis Retno Astanti, bertindak sebagai pemimpin upacara memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia, di lapangan sekolah, 17 Agustus 2018. Dalam amanatnya, ibu kepala sekolah itu mengajak para siswa untuk “mengisi kemerdekaan dengan kerja cerdas yaitu tekun belajar.” Dalam rangkaian peringatan hari kemerdekaan itu, tanggal 16 Agustus 2018 diadakan pesta rakyat dengan berbagai lomba tradisional seperti tarik tambang, balap bakiak, futsal bersarung, makan krupuk. Menurut panitia pelaksana, selain untuk menghidupi kebebasan sebagai anak-anak Allah dan membangun persahabatan, diharapkan lomba-lomba dan upacara itu “membantu setiap siswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, bertanggung jawab, mampu bekerjasama dan menghargai perbedaan. (Suster Sesilia OP)

Tubuh Kristus dalam Kehidupan Kita

Sab, 18/08/2018 - 23:03

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-20 dalam Masa Biasa, 19 Agustus 2018: Yohanes 6: 51-58)

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal… (Yoh. 6:54)”

Ekaristi adalah salah satu ajaran Yesus yang paling sulit untuk dipahami apalagi dipercayai. Orang-orang dapat dengan mudah setuju dengan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa kita perlu mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Orang-orang mungkin kesulitan untuk memaafkan dan mengasihi musuh, tetapi mereka akan menerima bahwa pembalasan dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, Yesus tidak hanya mengajarkan hal-hal yang indah ini. Yesus mewartakan kebenaran yang total tentang keselamatan kita. Dia adalah Roti Kehidupan, dan Roti Hidup ini adalah darah dan daging-Nya sendiri. Yesus tidak hanya meminta kita untuk percaya tetapi untuk memakan daging-Nya dan minum darah-Nya sehingga kita dapat memiliki hidup yang kekal.

Bagi orang Yahudi waktu itu, makan daging manusia adalah sebuah kekejian dan minum darah, bahkan darah hewan, adalah hal terlarang. Jadi, ketika Yesus mengatakan kepada mereka untuk mengkonsumsi Daging dan Darah-Nya, banyak orang Yahudi berpikir bahwa Yesus itu gila. Orang-orang mengikuti Yesus karena mereka menyaksikan kuasa Yesus dalam melipatgandakan roti, dan mereka ingin menjadikan-Nya pemimpin mereka. Namun, Yesus mengingatkan mereka bahwa tidak tepat jika mereka hanya mengikuti Dia karena dia memberi mereka makan dengan roti biasa. Mereka perlu bekerja untuk Roti Hidup yakni Yesus sendiri. Banyak pengikut awal Yesus bersungut-sungut, dan akhirnya, mereka meninggalkan Dia, karena pengajaran yang sangat sulit ini.

Di zaman sekarang, Ekaristi tetap sulit untuk dipahami. Apakah roti tawar kecil putih dan setetes anggur ini benar-benar Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana makanan biasa ini mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus? Mengapa kita harus menekuk lutut kita dihadapan hosti kecil? Pemikir-pemikir besar telah mencoba menjelaskan misteri itu, tetapi tidak satu pun dari penjelasan mereka yang cukup memadai. Santo Thomas Aquinas yang mampu menulis salah satu penjelasan paling mendalam tentang Ekaristi, akhirnya harus mengakui bahwa ini adalah misteri iman. Dia menulis dalam nyanyiannya kepada Sakramen Mahakudus, Tantum Ergo, “Præstet fides supplementum, Sensuum defectu (Biarkan iman melengkapi, saat indera gagal).”

Sungguh, iman terbesar diperlukan untuk menerima misteri terbesar, karena bentuk makanan yang paling sederhana membawa kita ke kehidupan kekal. Namun, ini menjadi salah satu Kabar Baik yang Yesus bawa. Kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang hanya kita peroleh di akhirat, tetapi Yesus menjadikan kehidupan ini tersedia di sini dan saat ini. Jika Tuhan bisa benar-benar hadir dalam roti kecil ini, Dia juga hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan di dalam hal paling sederhana sekalipun. Jika Yesus dipecah dan dibagikan dalam Ekaristi, Ia pun mampu memeluk kita di saat-saat yang paling gelap dan pahit dalam hidup. Jika Yesus yang adalah sang Kebijaksanaan Allah, terkandung dalam hosti kecil ini, Kebijaksanaan ini memberi kita makna yang sejati dalam kehidupan kita yang sederhana.

Saya akan mengakhiri karya pastoral saya di rumah sakit, dan satu hal yang paling saya syukuri adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani banyak pasien, dan melayani Komuni Kudus bagi mereka. Ekaristi sebagai kehadiran Kristus yang nyata menjadi penghiburan dan kekuatan mereka. Ini menjadi tanda terbesar bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka meskipun ada banyak masalah yang harus mereka hadapi. Melalui Tubuh Kristus dalam Ekaristi dan Firman-Nya di dalam Alkitab, kita bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan makna di tengah-tengah realitas sakit dan kematian. Dalam Ekaristi, hidup kita bukan sekedar serentetan peristiwa-peristiwa tanpa arti, tetapi partisipasi kita dalam kehidupan kekal Allah.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Paus Fransiskus tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus: Terus mencari kebenaran

Sab, 18/08/2018 - 22:48

Laporan tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus di Pennsylvania adalah kejutan besar bagi Gereja di Amerika Serikat. Tiga tahun lalu, pada Pertemuan Keluarga se-Dunia di Philadelphia, Paus Fransiskus bertemu sekelompok korban pelecehan, dan membuat pernyataan yang sangat keras tentang perlunya melawan kejahatan-kejahatan ini.

“Korban harus tahu bahwa Paus ada di pihak mereka.” Itulah salah satu bagian terkuat dalam pernyataan yang dirilis Direktur Kantor Pers Takhta Suci Greg Burke, menyusul adanya laporan dari Pennsylvania tentang pelecehan seksual terhadap lebih dari seribu korban, yang dilakukan oleh lebih dari 300 imam.

Kata-kata itu, seperti dilaporkan oleh Alessandro Gisotti dari Vatican News, mengingatkan apa yang dikatakan Paus Fransiskus tiga tahun lalu saat Paus bertemu sekelompok korban pelecehan dalam Pertemuan Keluarga se-Dunia yang berlangsung di Pennsylvania, di kota Philadelphia.

“Saya sangat menyesal bahwa beberapa uskup gagal dalam tanggung jawab mereka untuk melindungi anak-anak,” kata Paus pada pertemuan yang berlangsung 27 September 2015 itu. Beralih kepada para korban pelecehan, Paus mengakui dengan sedih bahwa “Sangat terganggu ketika tahu bahwa dalam beberapa kasus, para uskup bahkan menjadi pelaku pelecehan itu.”

Paus mengatakan, “Saya berjanji kepada kalian bahwa kami akan terus mengikuti jalan kebenaran. Klerus dan para uskup akan bertanggung jawab kalau mereka melakukan pelecehan atau kalau mereka tidak melindungi anak-anak.”

Dan, lanjut Paus, “Dalam keluarga iman kita dan dalam keluarga-keluarga manusiawi kita, dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan pelecehan seksual terhadap anak-anak harus tidak boleh lagi disimpan secara rahasia dan dengan malu.”

Di hari itu, kepada para uskup dari seluruh dunia yang ikut serta dalam pertemuan di Philadelphia, Paus Fransiskus mengulangi komitmennya untuk memerangi wabah pelecehan. Paus berkata dengan tegas, “Kejahatan dan dosa pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur tidak boleh lagi dirahasiakan; Saya berkomitmen untuk memastikan bahwa Gereja berupaya melindungi anak di bawah umur dan saya berjanji bahwa mereka yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban.”

Ketika kembali ke Roma dari kunjungan di Philadelphia itu, Paus Fransiskus kembali ke masalah pelecehan seksual yang dilakukan klerus saat menjawab pertanyaan wartawan di pesawat. “Kalau seorang imam melakukan pelecehan, itu sangat berat,” kata Paus, “karena panggilan imam adalah untuk membantu anak-anak laki-laki atau perempuan itu untuk bercita-cita tinggi, untuk bertumbuh dalam kasih Tuhan, untuk semakin matang dan baik. Dan kalau tidak melakukan tugas itu, dia menghancurkan semua itu. Itu kejahatan. Maka, praktisnya pelecehan seksual adalah penistaan.”

Paus kembali menekankan, “Hal-hal ini tidak boleh ditutup-tutupi; dan yang menutupi juga bersalah, bahkan beberapa uskup yang menutup-nutupinya. Itu mengerikan.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Paus minta Gereja dibersihkan dari momok pelecehan seksual terhadap anak kecil

Paus hentikan uskup yang dituduh lindungi imam pelaku pelecehan

Paus mengangkat wakil baru untuk Sekretariat Negara Vatikan

Kam, 16/08/2018 - 16:00

Pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, 15 Agustus 2018, Paus Fransiskus mengangkat Uskup Agung Edgar Peña Parra sebagai wakil baru untuk Urusan Umum Sekretariat Negara Vatikan. Uskup agung itu akan mulai bertugas 15 Oktober menggantikan Kardinal Angelo Becciu, yang menjalani tugas itu sejak 10 Mei 2011 hingga 29 Juni 2018. Uskup Agung Peña Parra adalah uskup agung tituler Telepte, dan saat ini menjabat Duta Vatikan untuk Mozambique. Uskup Agung Edgar Peña Parra lahir di Maracaibo (Venezuela), 6 Maret 1960. Saat tahbisan imamatnya, 23 Agustus 1985, ia ditugaskan di Keuskupan Maracaibo. Dengan gelar dalam Hukum Kanon, imam itu lalu memasuki pelayanan diplomatik Tahta Suci tanggal 1 April 1993. Uskup Agung Peña Parra bekerja di Perwakilan Kepausan di Kenya, Yugoslavia, dan di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa. Dia juga bekerja di Kedutaan Vatikan di Afrika Selatan, Honduras, dan Meksiko. Dia digelari Uskup Agung Tituler Telepte 8 Januari 2011 dan ditahbiskan uskup 5 Februari 2011. Dia menjadi Duta Vatikan untuk Pakistan sejak 2001 hingga 2014, dan untuk Mozambik sejak 21 Februari 2015. Uskup Agung Peña Parra bisa berbicara bahasa Spanyol, Italia, Inggris, Prancis, Portugis, dan Serbo-Kroasia.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apa itu penguasaan diri?

Kam, 16/08/2018 - 15:37
YKMI

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

383. Apa itu penguasaan diri?

Penguasaan diri bisa membatasi kecenderungan daya tarik untuk kesenangan, mampu mengendalikan kehendak terhadap naluri, dan memberi keseimbangan dalam penggunaan barang-barang ciptaan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1809, 1838

384. Apa itu keutamaan teologal?

Objek langsung, alasan, dan asal mula keutamaan teologal ialah Allah. Dipenuhi dengan rahmat pengudusan, keutamaan teologal memberikan kepada seseorang kemampuan untuk hidup dalam hubungan dengan Tritunggal. Keutamaan-keutamaan teologal merupakan dasar dan kekuatan bagi tindakan moral seorang Kristen dan memberi hidup pada keutamaan manusiawi. Keutamaan teologal merupakan jaminan kehadiran dan karya Roh Kudus dalam kemampuan-kemampuan manusiawi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1812-1813, 1840-1841

Siswa-siswi di Cimahi diajak cintai kebenaran, tepat waktu, berhenti mem-bully dan mencontek

Kam, 16/08/2018 - 14:44
Misa Pesta Santo Fransiskus di persekolahan Santo Dominikus Cimahi dipimpin Pastor Dany Sanusi OSC

Hendaklah siswa-siswi dalam Yayasan Santo Dominikus Cimahi (TK Santa Theresia, SD Santa Maria, SD Santo Yusup, SMP Santo Mikael) “menjadi Teladan Cinta Kebenaran dengan memiliki sikap tanggung jawab dan mengembangkan nilai keramahan dengan selalu menyapa, memberi senyum, serta salam kepada sesama yang dijumpainya.” Ajakan itu disampaikan Pastor Dany Sanusi OSC dalam Misa Pesta Santo Dominikus di halaman persekolahan itu, 8 Agustus 2018. Pada pesta itu, semua unit sekolah itu mengawali Tahun Cinta Kebenaran dengan memulai habitus baru yaitu in time, stop bully, stop mencontek, biasa mengucapkan maaf, tolong, terima kasih, dan mengunakan media sosial untuk pewartaan. Dalam Misa itu juga dluncurkan buku para guru yayasan berjudul “Dari Kontemplasi Menjadi Aksi” yang berisi refleksi kebahagiaan menjadi guru. Refleksi itu merupakan hasil kontemplasi para guru. Setelah Misa, para guru menampilkan drama berjudul “uang kaget” yang menceritakan uang sebagai harta duniawi akan cepat habis, sedangkan harta rohani tidak akan habis. Para guru dan karyawan juga menampilkan band, gerak dan lagu. Acara itu diselingi pemberian penghargaan kepada Bartolomeus Riswanto sebagai teladan kontemplasi dan kepada Benedikta Tatik sebagai penggerak semangat kontemplasi. Dalam rangkaian pesta itu, para siswa-siswi TK hingga SMP berlomba dalam mewarnai dan dalam menyanyikan lagu “Veritas Semboyanku.” (PEN@ Katolik, Suster Sesilia OP)

“Dari Kontemplasi Menjadi Aksi” tulisan para guru diluncurkan Para guru dan karyawan menghibur Penghargaan untuk Bartolomeus Riswanto sebagai teladan kontemplasi dan untuk Benedikta Tatik sebagai penggerak semangat kontemplasi

Halaman