Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 37 mnt 21 dtk yang lalu

Sabtu, 11 November 2017

Sab, 11/11/2017 - 13:50

PEKAN BIASA XXXI

Peringatan Wajib Santo Martinus dari Tours, Uskup (P)
Santo Theodorus Konstantinopel

Bacaan I: Rm. 16:3-9.16.22-27

Mazmur: 145:2-3.4-5.10-11; R: 1b

Bacaan Injil: Luk. 16:9-15

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” ”Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”

Renungan

Paus Fransiskus mengatakan, ”Kebahagiaan tidak dapat diunduh dari internet”. Ungkapan ini senada dengan kebijaksanaan tua yang berkata, ”uang tidak dapat membeli kebahagiaan”. Tuhan Yesus mengajak kita beranjak dari ilusi kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia materi. Istilah ”mammon” kiranya bukan hanya menunjuk pada perkara uang, melainkan juga semua berhala dunia materi yang mengikat manusia untuk merasa cukup dengan kesementaraan. Tuhan Yesus secara jelas menyodorkan dua hal untuk dipilih: Allah atau mammon?

Kekuatan uang dan materi memang sangat menarik dan mampu meyakinkan kita bahwa tanpa materi kita tidak bisa bahagia, bahkan tidak bisa hidup. Tuhan Yesus kiranya juga tidak meminta kita meninggalkan uang dan materi begitu saja. Ia mengarahkan kita untuk waspada terhadap keterikatan. Ketika kita sulit tersenyum ketika tidak punya uang, atau ketika hidup kita disibukkan oleh belanja dan belanja tanpa kendali, mungkin kita mulai terikat oleh mammon.

Allah mengundang kita untuk memilih keabadian dan beranjak mengikuti kehendak-Nya. Hanya persahabatan dengan-Nya yang menuntun kita pada kebahagiaan sejati. Dalam dunia materialistis dan konsumeris ini, mari kita tiada henti mohon kekuatan Roh Allah untuk memampukan kita memilih Allah, dan bukan mammon.

Tuhan Yesus, bantulah aku melepaskan diri dari ikatan berhala-berhala duniawi dan mampukanlah aku setia kepada-Mu dalam penziarahan hidup ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Gereja harus berjuang wujudkan nilai nilai Pancasila agar tetap relevan dan signifikan bagi bangsa

Jum, 10/11/2017 - 23:00
Pastor Doktor Peter C Aman OFM/Dokpen KWI

Gereja, yang dalam sejarahnya dikenal karena memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial-karitatif, “perlu berjerih payah dan bekerja keras dengan semua yang berkehendak baik, dan mengoptimalkan potensinya sendiri untuk berkiprah dan terlibat di banyak bidang dan lembaga publik.”

Pernyataan itu adalah bagian hasil pengamatan Pastor Doktor Peter C Aman OFM dalam Sidang Tahunan 2017 Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang dimulai dengan hari studi tiga hari dengan mendengar sharing dari Pastor Feliks Supranto SSCC, Jeirry Sumampaw dari PGI, dan Alisa Q Munawaroh Rahman dari Jaringan Gus Durian, serta diskusi di antara para uskup.

Sidang bertema “Menjadi Gereja Yang Relevan Dan Signigfikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia” dan berlangsung 6-16 November 2017 di Jakarta itu dihadiri 35 uskup serta beberapa uskup emeritus.

Kondisi yang digambarkan para narasumber, tulis dosen Moral Kristiani di STF Driyarkara dalam laporan yang disebarkan oleh Dokpen KWI itu, “berpotensi menghancurkan bangunan kebangsaan” maka lewat diskusi para uskup merasa “Gereja ditantang untuk menjadi kekuatan masyarakat warga dalam memperjuangkan kebersamaan dan merawat Pancasila, demi mewujudkan keluarga bangsa Indonesia atas dasar Pancasila.”

Menurut pengamatan Direktur Komisi JPIC-OFM Indonesia itu, Gereja perlu mengupayakan pemurnian dan optimalisasi tugas Gereja dalam menyucikan dunia melalui perjuangan perwujudan nilai-nilai Pancasila sehingga “akan tetap relevan dan signifikan bagi dunia, khususnya Indonesia.”

Para gembala juga perlu semakin menyadari bahwa “padang rumput Indonesia semakin gersang.” Maka, mereka ditantang untuk tetap setia, menyerupai Sang Gembala Agung. “Para gembala berbau domba adalah tuntutan nyata, merajut kesatuan dan hadir dalam kehidupan umat; bahkan memberi terang pengarah atau menjadi suara hati dunia, seperti kata Paus Paulus VI,” tegas imam itu.

Ditambahkan, “Gereja diminta bersuara untuk keadilan dan perampasan hak-hak masyarakat, merevitalisasi organisasi-organisasi Katolik agar lebih terlibat dalam persoalan bangsa, serta meretas jalan bagi evangelisasi yang memperhitungkan soal-soal sosial, budaya serta keadilan sosial-ekologis.”

Pastor Aman mengamati, Gereja ditantang untuk keluar menebarkan kasih sayang tulus bagi masyarakat Indonesia, yang semakin eksklusif berdasar agama atau kepercayaan. “Berdialog dengan tulus, berbagi kebaikan tanpa ingin menguasai adalah pintu lebar bagi dialog iman dan perwujudan kebersamaan persaudaraan.”

Maka, tegasnya, Gereja Katolik ditantang untuk mengintegrasikan spirit dialog dalam kebijakan pastoral dan formasi tenaga pastoral ke depan. “Nilai-nilai Pancasila, yang memang sejalan dengan nilai-nilai Kristiani, dapat diangkat dalam pastoral dan refleksi teologis Gereja (teologi Pancasila).”

Yang juga diperlukan adalah memajukan kerja sama awam-hierarki dalam pendidikan nilai-nilai Pancasila serta mendorong awam untuk terjun ke bidang politik, ekonomi dan pemerintahan, mengasah kepekaan dan mendorong aksi: mewujudkan tugas dan tanggung jawab sosial awam Katolik agar menjadi pelaku keadilan dan pemulih keutuhan ciptaan, dan menggalakkan usaha pembangunan ekonomi dengan memperhatikan hak-hak masyarakat (adat), keadilan dan perlindungan lingkungan hidup.

“Mesti menjadi komitmen awam Katolik untuk mencegah semakin lebarnya kesenjangan antara yang kaya dan miskin, dan pencabutan hak-hak masyarakat serta kecemburuan sosial. Kerasulan kepada awam kaya perlu dilakukan. Kedamaian hanya dapat terwujud jika ada keadilan. Mewujudkan keadilan adalah saripati dari tugas mewartakan Injil. Pendampingan dan panduan pemimpin Gereja untuk awam agar berani terlibat di pelbagai lini kehidupan terasa makin perlu,” tegas Pastor Aman.

Bagian akhir pernyataan itu mengharapkan gembala Gereja menjadi promotor utama untuk mendekatkan Gereja dengan masyarakat, “agar Gereja tidak terkesan eksklusif, tetapi hadir dalam gerakan afirmatif melalui aksi sosial, pemberdayaan masyarakat serta membangun kebersamaan hidup demi mengikis kecemburuan, antipati dan penolakan.”

Kerja sama dengan pemerintah, pemimpin masyarakat atau adat dan agama menjadi pilihan penting untuk pemimpin Gereja. “Memajukan peran masyarakat awam, terutama tokoh-tokoh adat, yang sebenarnya masih signifikan, kendati sering diperalat korporasi,” tegasnya.

Selain itu, Komsos KWI melaporkan, Pastor Feliks Supranto SSCC, imam yang berkarya di pinggiran Tangerang, Banten, yang sehari-hari bergelut dengan persoalan dialog lintas agama, mengatakan, umat Katolik itu minoritas, “tapi kita harus menjadi minoritas kreatif yang mampu merawat Pancasila, sekaligus mampu memperkenalkan identitas Katolik secara benar bahwa kita juga warga negara yang baik.”

Dalam membangun relasi keagamaan, lanjut imam itu, orang perlu menghilangkan apriori dalam dirinya seraya berusaha menjadi ragi bagi yang lain.“Kita ini kadang-kadang sudah berpikir yang bukan-bukan. Padahal belum kenal, belum saling sapa,” jelas imam itu seraya meminta peserta sidang agar terlebih dahulu merubah pandangan-pandangan apriori.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas PGI Jeirry Sumampaw menegaskan, negara sedang mengalami semacam degradasi, masyarakat begitu mudah mengeritik pemimpin negara, lemahnya penegakan hukum, situasi sosial ekonomi yang rawan, kemiskinan di mana-mana, fenomena kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin, merajalelanya korupsi, merenggangnya relasi antarpenganut agama secara kualitatif, meningkatnya ujaran kebencian, dan kecenderungan meningkatnya pendidikan sektarian.

Dia mengajak para uskup dan peserta sidang untuk mulai terlibat aktif, terutama dalam penguatan dan pendampingan masyarakat. ““Masyarakat ini harus dijadikan sebagai subjek dan tidak sekedar menjadi penonton terhadap apa yang terjadi di tengah masyarakat saat ini,” tegasnya.

Alisa Rahman juga menegaskan adanya peningkatan insiden kekerasan dan intoleransi dalam 12 tahun terakhir, serta peningkatan jumlah legislasi yang rentan diskriminasi atas dasar prinsip mayoritas-minoritas, menguatnya intoleransi dalam masyarakat umum yang didasarkan pada sikap eksklusivisme dan ekstrimisme dalam beragama, terorisme, intoleransi, dan lemahnya penegakan hukum.

Mencermati dinamika sentimen agama di Indonesia yang terus berkembang, Alisa berharap para uskup dan pemimpin Gereja Katolik di Indonesia terus memperhatikan dinamika sentimen agama dalam politik Indonesia. “Kita membutuhkan peran pemuka agama yang lebih kuat, terutama untuk merespons situasi yang diprediksi tidak setenang seperti yang diharapkan,” kata Alisa.(paul c pati, berdasarkan laporan Dokpen dan Komsos KWI)

Foto-foto berdasarkan Website Dokpen KWI

Pastor Feliks Supranto SSCC/Dokpen KWI Jeirry Sumampaw/Dokpen KWI Alisa Rahman/Dokpen KWI

Jumat, 10 November 2017

Jum, 10/11/2017 - 14:21

PEKAN BIASA XXXI

Peringatan Wajib Santo Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja (P)
Santo Andreas Avelino

Bacaan I: Rm. 15:14-21

Mazmur: 98: 1.2-3ab.3cd-4; R: 2b

Bacaan Injil: Luk. 16:1-8

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”

Renungan

Sering dikatakan bahwa pencuri itu cenderung lebih cerdik dari polisi. Mungkin salah satu alasannya adalah kebutuhan bertahan hidup, dalam hal ini tidak tertangkap, yang memaksa mereka mencari segala macam jalan yang paling aman. Kiranya demikianlah situasi yang digambarkan dalam kisah bendahara yang cerdik. Ia harus bertahan hidup, sehingga muncullah ide cerdiknya.

”Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya” (Luk. 16:8). Yesus mengkonfrontasikan anak-anak dunia dengan anak-anak terang, mengisyaratkan sebuah tantangan bagaimana anak-anak terang dapat membawa terang itu kepada dunia. St. Paulus menegaskan tugas pelayanan kita kepada dunia, yaitu pewartaan injil. Di dunia yang sering dikatakan semakin sekuler dan materialistis, kita bertanya tentang bagaimana menemukan cara-cara kreatif untuk menyampaikan kabar sukacita ke hati manusia. Tetapi, sebelum itu, jauh lebih penting bertanya kepada diri kita, apa yang menggerakkan diri kita untuk melayani dan mewartakan Injil? Apakah pelayanan itu bernilai situasi hidup-mati bagi kita, atau dengan kata lain sesuatu yang maha penting, sebagaimana St. Paulus dan bendahara yang cerdik? Atau karena ingin ikut terlibat saja?

Allah Bapa penuh kasih, penuhilah aku dengan semangat untuk mewartakan Injil sehingga kebaikan-Mu semakin dikenal oleh semua orang. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Paus Fransiskus melarang penjualan rokok di dalam Negara Kota Vatikan

Kam, 09/11/2017 - 22:28

Paus Fransiskus akan menghentikan penjualan rokok dan tembakau di dalam Kota Vatikan. Demikian pernyataan yang dikeluarkan hari Kamis, 9 November 2017, oleh Direktur Kantor Pers Tahta Suci Greg Burke. Dalam pernyataan itu dikatakan bahwa Tahta Suci “tidak dapat bekerja sama dengan praktik yang jelas-jelas merugikan kesehatan orang.” Seraya mengutip statistik Organisasi Kesehatan Dunia bahwa merokok menyebabkan lebih dari tujuh juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, Greg Burke mengatakan mulai awal tahun depan rokok tidak akan lagi dijual di Vatikan. Burke mengakui, penjualan rokok menjadi sumber pendapatan Takhta Suci, namun dia mengatakan “tidak ada keuntungan yang sah jika mengorbankan nyawa manusia,” meskipun rokok yang dijual kepada karyawan dan pensiunan di Vatikan mendapat pemotongan harga. Burke menambahkan, penjualan cerutu besar akan terus berlanjut saat ini karena asapnya tidak dihirup. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Paus mulai rangkaian katekese Ekaristi dan mengatakan “Arahkan hatimu bukan ponselmu”

Kam, 09/11/2017 - 15:04

Paus Fransiskus mengingatkan umat beriman bahwa Ekaristi adalah peristiwa indah di mana Yesus Kristus sendiri hadir. Namun saat Misa, Paus sangat sedih melihat bermunculan banyak ponsel bukan saja milik umat beriman, tapi juga milik banyak imam dan uskup.

Berbicara kepada orang-orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk Audiensi Umum 8 November 2017, Paus Fransiskus memulai serangkaian refleksi baru yang berfokus pada Ekaristi dan menyoroti pentingnya cara menghadiri dan berpartisipasi dalam Misa, agar benar-benar mengalami hubungan kita dengan Tuhan.

Kepada sekitar 13.000 peziarah yang hadir untuk audiensi mingguan itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa selama perayaan Misa “Tuhan hadir bersama kita, namun berkali-kali kita berbicara dengan orang lain dan tidak dekat dengan Dia.”

Paus Fransiskus menjelaskan, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Radio Vatikan bahwa penting bagi orang Kristiani untuk “memahami makna dan nilai Misa Kudus agar dapat sepenuhnya menjalani hubungan kita dengan Tuhan.”

Paus berharap agar kita tidak melupakan begitu banyak orang di seluruh dunia yang selama 200 tahun berjuang sampai mati membela Ekaristi. “Sampai hari ini, ada orang yang mempertaruhkan nyawa untuk mengikuti Misa di hari Minggu,” kata Paus.

Paus mengenang sejarah orang-orang Kristen di Afrika Utara yang ditangkap saat merayakan Misa di tahun 304 dalam penganiayaan oleh Kaisar Diocletian Romawi. “Kalau ditanya mengapa mereka menghadapi bahaya sedemikian, orang-orang Kristiani itu mengatakan bahwa kehidupan Kristiani mereka akan berakhir jika mereka tidak menghadiri Misa.” Orang-orang kristiani itu, kata Paus, dibunuh dan menjadi saksi-saksi Ekaristi, yang mereka pilih di atas kehidupan fana mereka.

Melihat pentingnya kembali ke akar dan menemukan kembali makna sebenarnya dari tindakan yang kita lakukan dalam perayaan Sakramen-Sakramen, Paus mengatakan bahwa Ekaristi mengizinkan kita “mengambil bagian dalam pengorbanan Misa dan mendekati meja Tuhan.”

Juga dijelaskan, kata Ekaristi berarti ucapan syukur, karena kita bersyukur kepada Tuhan yang membolehkan kita menerima-Nya. Paus juga merujuk Konsili Vatikan II yang terus membuat pembaharuan liturgi guna mendorong perjumpaan antara umat beriman dan Kristus.

Bahkan ketika menggambarkan Sakramen Ekaristi sebagai “peristiwa yang menakjubkan di mana Tuhan hadir,” Paus mencatat bahwa terlalu sering umat beriman menggambarkan Misa itu membosankan. “Apakah Tuhan membosankan?,” tanya paus kepada yang hadir. “Tidak, bukan, imamnya. Para imam? Kalau begitu para imam itu harus bertobat!”

Dan, ketika menjelaskan mengapa kita harus melakukan hal-hal tertentu selama Misa, Paus bertanya: “Sudahkah kalian melihat cara anak-anak membuat Tanda Salib?” tanya Paus seraya menambahkan, “Kita harus mengajari mereka cara melakukannya dengan baik, karena begitulah Misa dimulai, begitulah hidup dimulai, begitulah hari dimulai!”

Melanjutkan komentarnya tentang seringnya Misa dijalani dengan cara yang dangkal, Paus Fransiskus mengatakan bahwa sebenarnya yang dikatakan imam saat merayakan Ekaristi adalah “Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan” bukan “Marilah mengarahkan ponsel kalian untuk mengambil foto!”

“Ini jelek,” kata Paus. “Saya sangat sedih saat merayakan Misa di Lapangan atau di Basilika (Santo Petrus) dan saya melihat banyak ponsel bermunculan. Dan bukan hanya milik umat beriman, tapi juga banyak imam dan uskup. Tolong! Misa bukan pertunjukan!”

Sangatlah penting untuk menemukan kembali makna Ekaristi dan Sakramen-Sakramen lain yang merupakan tanda-tanda kasih Allah, cara-cara istimewa untuk bertemu dengan Dia, Paus Fransiskus mengakhiri katekesenya. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Kamis, 9 November 2017

Kam, 09/11/2017 - 12:19

PEKAN BIASA XXXI

Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran (P)
Santo Teodorus Tiro, Martir

Bacaan I: Yeh. 47:1-2.8-9.12

Mazmur: 46:2-3.5-6.8-9; R: 5

Bacaan II: 1Kor. 3: 9b-11.16-17

Bacaan Injil: Yoh. 2:13-22

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ”Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: ”Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: ”Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: ”Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Renungan

Hari ini kita merayakan pemberkatan Gereja Katedral Keuskupan Roma, yang boleh disebut sebagai gereja induk bagi umat Katolik Roma. Basilika St. Yohanes Lateran dibangun pada tahun 324 dan menjadi simbol kemerdekaan umat kristiani.

Pada hari pemberkatan gereja induk seluruh umat Katolik ini, Injil Yohanes mengajak kita merenungkan makna gereja. Setelah kisah perjamuan nikah di Kana, Injil menyajikan kisah Yesus yang mengamuk di Bait Allah. Bisa dipastikan kebanyakan orang kristiani membenarkan tindakan Yesus itu. Tetapi, mari membayangkan seorang imam yang mengamuk, atau setidaknya marah di dalam gereja. Meskipun posisi dan alasannya benar, bisa dipastikan ia menuai kontroversi dan mungkin diserang banyak haters.

Tindakan Yesus di Bait Allah mestinya selalu menjadi kritik yang menyentak kita. Apakah gereja adalah tempat penuh cinta, atau sekadar wadah aneka peraturan, birokrasi, kebiasaan yang membelenggu manusia dan menyulitkan manusia untuk mengalami kehadiran Allah? Dan apakah gereja menjadi tempat orang yang rendah hati dan bersemangat kasih, atau orang-orang arogan yang anti kritik?

Nabi Yehezkiel menceritakan penglihatan tentang air yang mengalir dari Bait Tuhan. Gereja kita memang semestinya menjadi sungai yang mengalirkan air yang jernih; sungai cinta kasih, sukacita, dan belas kasih yang menyejukkan manusia.

Tuhan Yesus Raja Cinta, ajarilah aku membangun persekutuan iman dan kasih yang sejati di dalam nama-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Gereja mendesak pertobatan atas pembunuhan yang merajalela di Filipina

Rab, 08/11/2017 - 19:36

Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Agung Lingayen-Dagupan Mgr Socrates Villegas menyerukan pertobatan di tengah meningkatnya jumlah korban tewas di kalangan penjahat dan tersangka pelaku narkoba, termasuk anak di bawah umur.  Waktu memanggil semua orang, termasuk para pemimpin politik dan Gereja untuk bertobat “agar penyembuhan dapat dimulai,” kata Mgr Villegas.

Dalam homili Misa Minggu “Lord Heal Our Land” (Tuhan, sembuhkan negeri kami) di Tempat Ziarah Maria Ratu Damai, yang juga dikenal sebagai Tempat Ziarah Edsa di Quezon City, 5 November 2017, Mgr Villegas mengatakan, “Kita perlu bertobat sebagai sebuah bangsa.”

Uskup agung itu menegaskan, “Bertobatlah sekarang. Waktu bukan milik kita. Mulailah penyembuhan dengan bertobat sekarang. Kita tidak bisa menyembuhkan sebagai suatu bangsa dengan menyalahkan orang lain. Yang pertama, kita hanya bisa menyalahkan diri kita sendiri. Biarkan penyembuhan dimulai di sini … dalam diri setiap orang di sini.”

Namun, pemimpin Gereja itu mengatakan, meskipun menghentikan pembunuhan merupakan langkah besar, perjalanan penyembuhan demi nilai-nilai bangsa yang “terbalik masih akan menjadi perjalanan yang panjang.”

Dikatakan, banyak orang Filipina “tersesat” dan memilih “jalan kegelapan bukan terang” karena membiarkan pembunuhan terjadi dalam perang berdarah terhadap narkoba yang dilakukan pemerintah.

Kelompok hak asasi manusia menghitung kematian karena tindakan keras pemerintah terhadap obat-obatan terlarang itu lebih dari 13.000 orang sejak pemerintahan Duterte berkuasa bulan Juni tahun lalu.

Mgr Villegas mengatakan seruan untuk bertobat harus dipimpin oleh pemimpin Gereja “karena tetap tenang saat harus berbicara dan berkoar-koar saat yang dibutuhkan diam.”

“Tuhan ampunilah kami para pemimpin Gereja-Mu. Kasihanilah kami,” kata uskup agung, yang juga meminta “penyembuhan” di kalangan pemimpin pemerintah dari partai-partai penentang dan “biarkan politik melayani orang miskin.”

Kalau loyalitas partai untuk kesejahteraan publik, maka kebutuhan bertobat adalah keharusan, lanjut uskup agung itu seraya menegaskan bahwa tidak ada pemerintah untuk selamanya dan tidak ada politisi untuk selamanya. “Hanya Tuhan yang abadi. Berpalinglah kepada Tuhan dan berpalinglah dari politik yang merusak,” kata Mgr Villegas.(pcp berdasarkan CBCP)

Paus Fransiskus bertemu pemimpin Muslim Mesir Ahmed al-Tayeb

Rab, 08/11/2017 - 13:32

Paus Fransiskus bertemu Sheikh Ahmed Muhammad al-Tayeb di hari Selasa, 7 November 2017.  Imam Besar Al-Azhar itu berada di Roma untuk menghadiri sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komunitas St Egidio. Tidak dikeluarkan rincian pertemuan pribadi itu, namun pertemuan itu menandai kunjungan kedua pemimpin Muslim terkemuka dari Mesir itu ke Vatikan dalam dua tahun. Pertemuan pertamanya dengan paus terjadi di bulan Mei 2016 menandai sebuah langkah maju yang penting setelah lima tahun dialog tertunda antara Tahta Suci dan universitas bergengsi Al-Azhar. April 2017, Paus Fransiskus pergi ke Kairo untuk mengunjungi kantor pusat beasiswa Muslim Sunni dan menghadiri konferensi perdamaian internasional di sana. Selama dua hari kunjungannya ke Mesir, paus mendesak para pemimpin agama untuk mengecam pelanggaran hak asasi manusia dan mengecam upaya-upaya untuk membenarkan kekerasan dan kebencian atas nama Allah. Paus memohon agar terjadi dialog lintas agama, dengan mengatakan satu-satunya yang berbeda dari budaya perjumpaan yang beradab adalah “kekasaran konflik.” Seraya mengenang kunjungan Santo Fransiskus kepada Sultan di Mesir delapan abad yang lalu, Paus menghimbau agar terjadi dialog yang berdasarkan ketulusan dan keberanian untuk menerima perbedaan.(Radio Vatikan)

Rabu, 8 November 2017

Rab, 08/11/2017 - 12:09

PEKAN BIASA XXXI (H)

Santa Teoktista; Santo Klaudius, dan kawan-kawan. Martir.

Bacaan I: Rm. 13:8-10

Mazmur: 112:1-2.4-5.9; R: 5a

Bacaan Injil: Luk. 14:25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: ”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Renungan

Mengapa kita menjadi Katolik? Setiap orang punya motivasi dan kisahnya sendiri. Ada yang karena iman orangtuanya alias dibaptis sejak bayi, ada yang karena ketertarikan pada ajaran iman Katolik, ada yang karena perkawinan, dan sangat mungkin juga ada yang karena ikut-ikutan.

Hari ini kedua bacaan mengajak kita untuk merenungkan kembali motivasi dan tujuan kita menjadi pengikut Kristus. Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus menegaskan apa yang menjadi pusat dari jalan kemuridan, yaitu mengikuti jejak-Nya. Mengikuti jejak Kristus berarti menghidupi sikap lebas bebas dan setia memikul salib. Dalam bacaan pertama, St. Paulus menambahkan kasih sebagai roh utama hidup kita. Maka, apa pun yang menjadi motivasi atau alasan di balik baptisan yang kita terima, kita diundang untuk berkembang dan bertumbuh menjadi murid Kristus yang semakin baik.

Apa yang dikatakan Tuhan Yesus dan refleksi St. Paulus menjadi tantangan bagi kita: Apakah kita berani menjadi murid sejati penuh kasih yang lepas bebas dan setia? Mungkin dahulu ada yang menjadi murid Yesus karena ikut suami atau istri, tetapi Yesus mengajak kita tidak berhenti pada apa yang ada masa lalu, untuk terus berjalan mengikuti jejak-Nya, semakin dekat dan semakin setia supaya hidup kita berbuah limpah.

Tuhan Yesus yang baik, tuntunlah aku menjadi murid yang setia mengikuti jejak-Mu supaya aku semakin menyerupai Engkau dan menjadi kabar gembira bagi sesama. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Anak-anak Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang berikrar mencintai Indonesia

Sel, 07/11/2017 - 18:45

Di depan altar Gereja Paroki Santa Theresia Bongsari, Semarang, dalam Misa hari Minggu 29 Oktober 2017, anak-anak paroki itu tampil dengan berbagai pakaian daerah, dan di antara dua anak yang membawa bendera di sebelah kiri dan dua anak di sebelah kanan, seorang anak memekikkan Sumpah Pemuda ala anak-anak yang diikuti teman-teman yang lain.

“Kami anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai tanah air Indonesia dengan menyayangi binatang dan tanaman, serta menjaga kebersihan lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarangan, tetapi meletakkan pada tempatnya.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai bangsa Indonesia, bersedia bersahabat dengan teman-teman tanpa membedakan kaya-miskin, suku, agama dan ras.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai Bahasa Indonesia dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tekun dan rajin belajar, mengembangkan diri, meraih cita-cita.

“Kami, anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari, mencintai Gereja Katolik dengan rajin berdoa, ibadah ke gereja, terlibat kegiatan-kegiatan Gereja dan mengasihi sesama.”

Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini sungguh perlu digemakan. Alasan itu mengajak Paroki Bongsari menggemakannya sampai ke anak-anak. Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ mengatakan, “Anak-anak Gereja Santa Theresia Bongsari Semarang ingin melanjutkan dan tetap mengobarkan semangat pemuda-pemudi Indonesia. Maka, pada perayaan Ekaristi, mereka mengenakan busana berbagai daerah dan menampilkan tarian daerah serta mengucapkan ikrar mereka.”

 

Dijelaskan bahwa orang-orang muda sudah menyadari bahwa Indonesia merupakan rumah bersama bagi seluruh warga dengan berbagai perbedaan latar belakang. “Dengan perbedaan yang ada, pemuda dan pemudi Indonesia bertekad mewujudkan negara merdeka, berdaulat, damai, adil dan makmur. Mereka berikrar bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa Indonesia.”

 

Semangat  Sumpah Pemuda 1928 itu, tegas imam itu, perlu terus dikobarkan dan diwariskan kepada generasi muda. “Kita ingin menjaga dan merawat kebhinekaan Indonesia yang indah ini agar lebih sejahtera, damai dan adil. Untuk itu, kita perlu  bersatu padu berjuang bersama mewaspadai dan bertindak bila ada sekelompok masyarakat yang mengancam kebhinekaan Indonesia dan memaksakan ideologinya yang tidak sejalan dengan Pancasila,” kata Pastor Didik Chahyono SJ. (Lukas Awi Tristanto)

 

Selasa, 7 November 2017

Sel, 07/11/2017 - 17:47

PEKAN BIASA XXXI (H)

Santo Willibrordus; Beata Maria Assumta Pallota; Santo Ernestus; Santo Herkulanus; Beata Gratia dari Kotar

Bacaan I: Rm. 12:5-16a
Mazmur: 131:1.2.3
Bacaan Injil: Luk. 14:15-24

Pada waktu itu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Sementara perjamuan berlangsung, seorang dari tamu-tamu itu berkata kepada Yesus: ”Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.”

Renungan

Tidak semua orang mengerti apa karunia yang diberikan Allah kepadanya. Boleh jadi, sampai orang menutup mata, ada banyak karunia yang belum disadari, digali, dan dikembangkan. Maka, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ”apa yang sudah kulakukan dengan karunia yang diberikan Allah?” Setiap orang mesti terlebih dahulu sadar akan karunia yang dimiliki.

Dalam Injil hari ini Yesus menceritakan kisah orang yang abai dengan karunianya. Karunia yang dimaksud adalah ”status” orang terpilih untuk diundang ke perjamuan. Para undangan ini malah asyik dengan diri sendiri. Sebagai seorang kristiani, lepas dari semua karunia khusus dan personal yang dimiliki masing-masing orang, kita semua diberi karunia dasar: orang-orang terpilih yang diberkati dan dikasihi Allah, para undangan istimewa Allah. Tetapi Santo Paulus melontarkan pertanyaan, untuk apa dan siapa karunia itu? Seberapa penting maknanya bagi kita?

Karunia mengandaikan tanggung jawab. Maka, merujuk kepada refleksi Santo Paulus, kita dipanggil untuk senantiasa membuka diri dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari kesatuan yang mesti saling menopang dengan orang lain. Kasih membuka gerbang sehingga aneka karunia dapat saling berjumpa dan menyempurnakan kemanusiaan.

Allah maha belas kasih, mampukan aku untuk selalu terbuka kepada sesama dan saling menopang supaya terjadilah kehendak-Mu di atas bumi ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Sidang KWI 2017 dibuka untuk bicarakan Gereja yang relevan dan signifikan

Sen, 06/11/2017 - 16:34
Maxi Paat

Hari ini, 6 November 2017, para uskup se-Indonesia berkumpul di Jakarta untuk mengikuti Sidang KWI 2017. Pembukaan Sidang KWI yang akan berlangsung hingga 16 November 2107 itu bertema “Gereja yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia.” Karena Duta Vatikan yang baru untuk Indonesia belum datang ke Indonesia, maka pembukaan sidang, yang seperti biasa dihadiri oleh Dirjen Bimas Katolik dan Ketua PGI, itu dihadiri oleh Pastor Fabio Salerno, pelaksana tugas Ad Interim dari Duta Besar Vatikan untuk Indonesia. Ada empat uskup baru yang untuk pertama kalinya hadir dalam Sidang KWI yakni empat uskup yang baru ditahbiskan tahun ini: Uskup Sintang Mgr  Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Pangkalpinang Mgr Mgr Adrianus Sunarko OFM. Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC.(pcp)

 

Semua foto ini diambil oleh Maxi Paat

Senin, 6 November 2017

Sen, 06/11/2017 - 12:33

PEKAN BIASA XXXI (H)

Santo Nuno Pereira; Santo Leonardus dari Noblac

Bacaan I: Rm. 11:29-36
Mazmur: 69:30-31.33-34.36-37; R:14cd

Bacaan Injil: Luk. 14:12-14

Yesus berkata kepada orang Farisi yang mengundang Dia makan: ”Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Renungan

“Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya!” (Rm. 11:29). Kemurahan hati adalah keutamaan yang tidak bergantung pada apa pun, sebuah pilihan sikap yang datang dari dalam. Bukan karena orang lain murah hati kepada saya maka saya bermurah hati kepadanya. Murah hati adalah pilihan pribadi saya karena saya mencintai sesama. Inilah semangat kemurahan hati Allah. Kemurahan hati yang demikian tidak akan pernah mengenal kata menyesal, karena tidak bersyarat.

Pernyataan St. Paulus di atas sungguh mengungkapkan kemurahan hati sejati Allah, yang didasari cinta teramat besar kepada manusia. Apa pun balasan yang diterima, kemurahan hati sejati tidak pernah menyesal dan mundur. Yesus mengundang kita untuk menghidupi kemurahan hati sejati ini. Bukan tentang apa yang bisa kita dapatkan atau tentang siapa yang pantas mendapatkan, tetapi memberi sebagai pilihan hati.

Di era komersialisasi sekarang ini, kemurahan hati sangat mungkin menjadi gratifikasi berbalut negosiasi, transaksi, dan pelancar aneka kepentingan. Kemurahan hati berubah menjadi cinta murahan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengkritisi kemurahan hati yang bercabang, dan harapan yang seakan wajar untuk menerima ganjaran dari setiap kebaikan kita. Yesus mengajak kita untuk merasakan kebahagiaan dari tindakan memberi, bukan karena kita menerima balasan setimpal, tetapi, kata Yesus: “engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar” (Luk. 14:14).

Tuhan Yesus, berilah aku hati yang tulus untuk mencintai dan melakukan kebaikan kepada sesama. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pelajar dan alumni Kolese Gonzaga diminta jadi putra-putri Allah yang memerdekakan orang lain

Min, 05/11/2017 - 18:15

Belajar mengajar di SMA Kolese Gonzaga harus membuat pelajar menjadi putra-putri Allah yang merdeka dari belenggu dan ketakutan serta mau memerdekakan orang lain karena diri mereka sendiri sudah merdeka. Karena, kalau Anda makan dan yang lain tidak makan dan kalau Anda berpendidikan dan yang lain tidak berpendidikan, itu tidak adil, padahal Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) berharap kita adil dan beradab, berarti menciptakan budaya kasih dengan saling memperhatikan sesama di mana pun.

Vikaris Jenderal KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr berbicara dalam homili Misa Syukur 30 Tahun atau Lustrum VI SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti Jakarta yang dilaksanakan di sekolah yang terletak di Pejaten Barat Jakarta Selatan, 3 November 2017.

Dalam Misa bertema “Mensyukuri Kebhinekaan” yang dipimpin vikjen bersama para imam lulusan Wacana Bhakti sebagai konselebran, Pastor Pangestu menegaskan bahwa kebhinekaan bukanlah slogan karena “Roh Kudus yang mempersatukan kita dalam Gereja dengan simbol satu tubuh yang berarti kalau yang satu menderita yang lain pun ikut menderita.”

Ditegaskan, negara, bangsa, masyarakat, serta sekolah dan seminari itu sama-sama membutuhkan daya kesatuan dan kerja sama, maka “jangan sekedar bersyukur atas kebhinekaan tapi atas wujud nyatanya, karena sekarang banyak orang berpikir sangat primordialisme, sangat memperhatikan kesukuan dan agamanya.”

Namun imam itu percaya, hal itu “no way” dalam Generasi Milenial di Kolese Gonzaga. “Dalam teman-teman orang muda generasi ini tidak ada itu primordial dan diskriminasi. Mereka sangat cair dan sangat mudah menerima hal-hal yang baik,” kata imam itu.

Vikjen berharap agar lulusan Kolese Gonzaga menjadi yang terbaik bukan setengah-setengah dalam memberikan sumbangan bagi Gereja dan bangsa ini. “Berbahagialah Anda Generasi Milenial dengan teknologi yang ‘hanya tek langsung jadi’, tapi jangan lupa, dengan dijiwai oleh Roh Kudus, selamatkanlah semua orang dan berikan kesejahteraan bersama, bukan menjadi monster yang membunuh orang lain.”

Dalam sambutan mewakili Provinsial Serikat Yesus (SJ) Indonesia, Socius Provinsial Ordo Serikat Yesus (Jesuit) Provinsi Indonesia Pastor Lucianus Suharjanto SJ menyampaikan pesan dari pastor provinsial yang juga merupakan pesan dari Kongregasi Jenderal ke-36 Serikat Yesus yang berakhir 12 November 2016 di Roma agar institusi itu mendalami dan mengadopsi tiga ketrampilan dasar yang dibutuhkan zaman ini yakni diskresi (discernment), kolaborasi (collaboration), dan networking.

“Diskresi letaknya di antara logika dan estetika. Logika itu kotak bentuknya, tetapi kalau kita dikotak-kotakan kita tidak rela. Kalau kita diperlakukan hanya dengan logika kita marah. Tapi tanpa logika kita bubrah. Di antara logika dan estetika ada diskresi, yaitu kejernihan batin untuk menangkap yang paling baik yang dikehendaki Tuhan. Keterampilan diskresi harus dimiliki oleh institusi ini,” tegas imam itu.

Kolaborasi terletak antara kata dan sastra. “Antara kata dan sastra ada elokuensi,  yaitu kemampuan untuk menemukan kata, frasa dan kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan peristiwa. Ketepatan itu adalah langkah untuk memulai karya yang baik dan benar,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa di jaman ini, networking telah difasilitasi dengan teknologi tingkat tinggi yakni cyberspace yang harus dikuasai, khususnya oleh Generasi Milenial.

Sesudah Misa para pelajar serta alumni dan undangan menyaksikan berbagai penampilan angkatan serta Wacana Bhakti Symphony Orchrestra dan makan bersama yang diawali dengan pemotongan Tumpeng Lambang Rasa Syukur oleh Kepala Sekolah SMA Gonzaga Pastor Leonardus E.B. Winandoko SJ, M.Ed, yang diberikan vikjen KAJ yang mewakili Uskup Agung Jakarta sebagai pemilik seminari dan sekolah.

Acara itu dilengkapi pengenalan orang-orang “yang demikian berdedikasi dalam pendidikan, yakni para pastor dan bruder yang pernah pernah berkarya sebagai rektor, minister atau moderator di Kolese Gonzaga dan pamong di Seminari Wacana Bakti, serta para alumni Kolese Gonzaga dan Wacana Bhakti yang sudah menjadi imam. Selain itu diberikan penghargaan bagi guru dan karyawan yang sudah berkarya selama 10, 15, 20, 25 dan 30 di kolese dan seminari itu.

Di saat Misa Syukur, terdengar juga doa bagi para imam, guru, karyawan dan siswa SMA Kolese Gonzaga yang sudah meninggal. Secara khusus disebut Almarhum Pastor Joseph Ignatius Gerardus Maria Drost SJ dan Pastor Redemptus Murtisunu Wisnumurti SJ. Doa-doa umat lain, selain dalam Bahasa Indonesia disampaikan juga dalam Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, Bahasa Batak Karo dan Bahasa Batak Toba.

“Ya Bapa, berkatilah para alumni SMA Kolese Gonzaga agar selalu mengembangkan semangat magis dalam memperjuangkan nilai-nilai luhur hasil pendidikan di sekolah ini: Competence, Conscience, Compassion, dan Commitment semata-mata demi kemuliaan-Mu yang lebih besar.

Dalam rangka 30 tahun Kolese Gonzaga dilaksanakan juga Seminar Kebangsaan Memperingati Hari Soempah Pemoeda “Merajut Semangat Kebangsaan dalam bingkai NKRI” tanggal 28 Oktober 2017 dengan tema “Kembali ke Semangat Soempah Pemoeda 1928 untuk Keutuhan Indonesia” khusus untuk para pendidik dengan pembicara Pastor Franz Magnis Suzeno SJ, Syafei Maarif, dan KH Said Agil Siradj.  Sedangkan 1 November 2017 bertema “Pengamanan dan Pengamalan Pancasila” khusus untuk SMP dan SMA dengan pembicara Yudi Latif, Pastor Baskoro Poedji Noegroho SJ dan Mohamad Sobari.

Acara-acara lain yang juga dilakukan untuk “mensyukuri kebhinekaan” adalah Pameran Buku dan Peluncuran buku karya siswa (28 Oktober-1 November), Gonzaga Lustrum Festival 21-28 Oktober, Family Gathering 22 Oktober, Pagelaran Wayang Kulit “Pandawa Ngencer” 4 November, Live In Kolese 24 Oktober sampai 5 November, dan Art Performance 31 Oktober dan 1 November. Lustrum VI Kolese Gonzaga bertema Gonz for Indonesia.

Rektor Seminari Menengah Wacana Bhakti Pastor Adrianus Andy Gunardi Pr  dalam sambutannya mensyukuri begitu banyak orang hebat yang telah dibangun dari sekolah dan seminari itu, juga guru-guru dan karyawan, serta 68 imam yang ditahbiskan dari seminari itu.

“Cinta kepada Tuhan dapat dilihat lewat cinta kepada sesama. Dimensi-dimensi humanistik, man for others, merupakan bagian dari hidup kita. Maka, lingkungan sekolah dan seminari ini membangun cinta kepada Allah yang dibuktikan melalui cinta kepada sesama,” tegas alumnus Seminari Wacana Bhakti itu.(aop)

Pergulatan Seorang Pewarta

Min, 05/11/2017 - 01:30

MINGGU BIASA KE-30

5 November 2017

Matius 23: 1-12

“Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Mat 23: 3)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Membaca Injil Minggu ini, saya merasa bahwa Yesus menegur para imam dan pewarta sabda-Nya karena “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Sayangnya, banyak dari kita gagal dalam hal ini. Kita memberitakan pengampunan, namun beberapa imam hidup dalam pertengkaran berkepanjangan dengan rekan imam lainnya atau dengan beberapa umat mereka. Kita mengajarkan kebaikan dan persahabatan dengan Tuhan, namun beberapa dari kita tidak pernah tersenyum dan tampak sombong. Kita memberitakan keadilan, tapi terkadang kita gagal memberi keadilan kepada mereka yang bekerja di paroki atau biara.

Saya sendiri bergulat dengan hal ini. Sering kali saya berkhotbah atau menulis meminta umat untuk mengambil bagian yang lebih aktif di Gereja atau terlibat dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian, namun saya sendiri kesulitan untuk mewujudkan ajakan tersebut. Saya pernah menjadi anggota KADAUPAN di rumah formasi kami di Manila. Ini adalah kelompok kerasulan para frater Dominikan yang memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Salah satu tugas dasar kami adalah membantu orang-orang miskin yang datang ke tempat kami. Terkadang, kami membantu secara finansial, tapi sering kali kita menyediakan makanan, air minum dan pakaian. Harus kuakui bahwa setiap kali orang miskin datang, aku bergulat untuk menemui dan membantu mereka karena lebih mudah bagi saya untuk tinggal di perpustakaan dan membaca buku.

Namun, terlepas dari ketidakkonsistenan ini, saya percaya bahwa Yesus penuh belas kasihan kepada kita, para pewarta Sabda-Nya dan pekerja di ladang anggur-Nya, karena Dia mengerti bahwa terlepas dari niat kudus kita, kita terus jatuh karena kelemahan manusiawi kita. Bahkan Santo Paulus memahami pergulatan kita dengan kelemahan kita, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17)”

Tuhan Yesus akan sangat berbelaskasihan kepada kita yang bergulat untuk menghidupi apa yang kita wartakan, tetapi Dia tidak akan mentolerir jika pewartaan hanya untuk pamer atau keuntungan pribadi. Inilah konteks Injil hari ini. Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan ahli Taurat yang berkhotbah tentang Hukum Taurat dan mengajarkan penerapannya yang rumit karena ingin memamerkan kelihaian mereka, dan dengan demikian, mendapatkan kehormatan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan gelar kehormatan, “Rabi” atau “Bapa”, dan diperlakukan sebagai VIP di masyarakat Yahudi. Mereka tidak melayani Tuhan, tapi mereka memanipulasi Hukum Allah untuk melayani kepentingan mereka pribadi. Yesus sangat geram karena ini adalah pelecehan serius terhadap panggilan suci mereka untuk mewartakan dan melayani Allah Israel yang telah memilih mereka.

Pesan yang sama berlaku bagi kita, para pewarta dan pelayan Firman Allah. Apakah ada niat tersembunyi dan egois dalam pewartaan dan pelayanan kita? Apakah kerasulan kita hanya mendapatkan ketenaran dan kepuasan? Apakah kita menimbun kekayaan dan mencari kehidupan yang lebih nyaman? Apakah kita menjadikan panggilan suci kita sebagai pewarta sebuah karir untuk mencapai sukses dan kemuliaan? Dalam suratnya kepada para imam Filipina, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan memiliki poin kuat untuk kita refleksikan bersama baik sebagai imam maupun para awam pewarta Sabda-Nya, “Merupakan sebuah skandal bagi seorang imam untuk meninggal kaya raya … Inilah satu-satunya tugas kita – untuk menjadi Yesus dan untuk memberi Yesus yang adalah harta kita yang sejati.”

 

Intensi Doa Paus Fransiskus untuk November: Memberi kesaksian tentang Injil di Asia

Sab, 04/11/2017 - 21:06
Umat Kristiani India berdoa bagi ketenangan orang-orang yang ditinggalkan di sebuah pemakaman di saat Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman di di Bhopal – EPA

Paus Fransiskus telah merilis pesan video yang menyertai intensi doa bulanannya untuk November 2017. Intensi bulan ini adalah untuk Evangelisasi: Memberi kesaksian tentang Injil di Asia. Semoga umat Kristiani di Asia, yang memberi kesaksian tentang Injil dalam kata-kata dan perbuatan, boleh meningkatkan dialog, perdamaian, dan saling pengertian, terutama dengan orang-orang yang berbeda agamanya.

Teks pesan video itu berbunyi:

Keistimewaan paling mencolok di Asia adalah keragaman masyarakat yang menjadi ahli waris budaya-budaya, agama-agama dan tradisi-tradisi kuno.

Di benua ini, tempat Gereja adalah minoritas, tantangannya sangat kuat.

Kita harus meningkatkan dialog di kalangan agama-agama dan budaya-budaya.

Marilah berdoa agar umat Kristiani di Asia dapat meningkatkan dialog, perdamaian dan saling pengertian, terutama dengan mereka yang beragama lain.

Jaringan Kerasulan Doa se-Dunia dari Paus Fransiskus mengembangkan inisiatif “Video Paus” guna membantu penyebaran intensi bulanan Bapa Suci di seluruh dunia terkait tantangan-tantangan yang dihadapi umat manusia.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

 

 

Sabtu, 04 November 2017

Sab, 04/11/2017 - 14:26

PEKAN BIASA XXX

Peringatan Wajib Santo Karolus Boromeus, Uskup (P)
Santo Emerik

Bacaan I: Rm. 11:1-2a.11-12.25-29

Mazmur : 93:12-13a.14-15.17-18; R: 14a

Bacaan Injil: Luk. 14:1.7-11

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan

Santo Paulus menyampaikan seruan tegas: ”Jangan kamu merasa pandai!” (Rm. 11:25). Seruan ini berkaitan dengan situasi orang Israel yang merasa kaum pilihan. Karena status itu, mereka merasa mempunyai derajat lebih tinggi daripada bangsa lain. Mereka meyakini pula bahwa hidup mereka lebih unggul dari yang lain.

Arogansi bukan hanya persoalan orang Israel. Kenyataannya, merasa lebih tinggi dan terhormat itu ”kesukaan alamiah” manusia. Termasuk kita, mungkin. Inilah pula yang dibicarakan Yesus dalam Injil. Dengan sederhana, Yesus mengingatkan bahwa ”di atas langit masih ada langit”. Ia tidak hanya bicara tentang kenyataan bahwa selalu ada orang yang lebih pandai atau hebat daripada kita. Lebih dari itu, Ia ingin kita menyadari kehadiran Allah yang melebihi segala sesuatu. Dia pulalah yang memberikan semua kehebatan yang kita miliki.

Allah sesungguhnya menjadi standar atau ukuran kehormatan bagi kita. Bukan seberapa hebat kita, melainkan kerendahan hati dan ketaatan kepada-Nya yang menjadi pangkal kehormatan. Allah akan memuliakan mereka yang berkenan kepada-Nya, sebagaimana Ia telah memuliakan Yesus Kristus. Bersikaplah rendah hati, demikian ditandaskan Yesus: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11).

Tuhan Yesus, ajarilah aku menjadi rendah hati dan taat kepada kehendak Allah. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Paus Fransiskus peringatkan penghasut perang bahwa buah peperangan hanyalah kematian

Jum, 03/11/2017 - 19:04

Paus Fransiskus merayakan Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, Kamis 2 November 2017, dengan memperingati semua orang yang meninggal dalam perang, seraya mengingatkan umat manusia agar tidak melupakan pelajaran masa lalu dan bahwa satu-satunya buah yang dihasilkan oleh konflik adalah kematian.

Paus mengungkapkan kata-kata peringatan yang keras kepada para penghasut perang dalam homili di Monumen Peringatan dan Pemakaman Perang AS Nettuno sekitar 50 kilometer selatan Roma.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan melaporkan, dalam kesempatan itu Paus mengulangi lagi keyakinannya bahwa “peperangan menghasilkan tidak lebih dari kuburan dan kematian.” Paus juga menegaskan bahwa dia memilih berkunjung ke pemakaman perang sebagai pertanda bahwa “kini umat manusia sepertinya tidak belajar dari pelajaran masa lalu, atau tidak ingin mempelajarinya.”

Monumen itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan orang yang tewas dalam operasi militer yang dilakukan untuk membebaskan Italia (dari Sisilia ke Roma) dari Nazi Jerman. Kapel di pemakaman itu berisi daftar 3095 orang yang hilang.

Paus tiba di pemakaman itu sebelum sore hari maka dia bisa menghabiskan waktu untuk refleksi dan penghormatan pribadi kepada 7.860 tentara yang kebanyakan masih muda, yang menyerahkan hidup mereka demi kebebasan dan rasa hormat kepada umat manusia.

Seraya berjalan dalam hening di antara deretan-deretan batu nisan, Paus Fransiskus membungkuk untuk membaca beberapa nama dan tanggal yang tertulis di marmer putih. Dalam homili, Paus menegaskan bahwa fakta-fakta itu menunjukkan bahwa satu-satunya buah dari perang adalah kematian .

Kepada umat berkumpul di hari suci itu untuk menghormati semua orang yang telah meninggal, Paus mengatakan bahwa dia memilih datang ke tempat ribuan orang tewas dalam pertempuran berdarah itu untuk kembali memohon kepada Tuhan “Tolonglah Tuhan: hentikan mereka. Jangan ada lagi perang. Jangan ada lagi pembantaian yang sia-sia.”

“Tolonglah Tuhan, semuanya hilang karena peperangan,” doa Paus dalam homili tanpa teks dan emosi melihat makam ratusan ribu pria muda yang harapannya “diputuskan dengan kejam, di saat dunia kembali berperang bahkan bersiap meningkatkan perang.”

Menurut Paus, saat ini ada orang yang kerjanya hanya untuk menyatakan perang dan melakukan konflik. “Mereka akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri dan segalanya.” Karena hari itu hari pengharapan dan air mata, Paus mengatakan bahwa air mata yang bercucuran dari yang kehilangan suami, anak laki-laki dan teman-temannya saat perang hendaknya tidak pernah dilupakan.

“Tapi umat manusia tidak belajar dari pelajaran dan sepertinya tidak mau mempelajari pelajaran itu,” kata Paus yang kemudian mengajak umat berdoa secara khusus  bagi kaum muda yang terjebak dalam konflik. “Banyak di antara mereka yang sekarat setiap hari dalam perang kecil-kecil,” kata Paus seraya mengingat ribuan anak tak berdosa yang sedang membayar harga perang.

Setelah merayakan Misa Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman di Pemakaman Militer Nettuno, Paus Fransiskus pergi ke Monumen Peringatan Gua-Gua Ardeatine untuk berdoa bagi korban pembantaian Perang Dunia Kedua. Di sana tahun 1962 dibantai 335 pria dan anak laki-laki sipil Italia dalam aksi balas dendam atas serangan yang dilakukan pejuang perlawanan yang menewaskan 33 anggota unit polisi militer Nazi. Di sana Paus berdoa dan memberikan refleksi singkat. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Jumat, 3 November 2017

Jum, 03/11/2017 - 13:28

PEKAN BIASA XXX (H)

Santo Martinus de Porrez; Santo Hubertus; Beato Pius Campidelli; Beato Rupert Mayert

Bacaan I: Rm. 9:1-5

Mazmur: 147: 12-13. 14-15. 19-20; R: 12a

Bacaan Injil: Luk. 14: 1-6

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: ”Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka: ”Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya.

Renungan

Santo Paulus menyampaikan ungkapan hatinya tentang betapa berharganya umat yang dilayani. Ia rela melakukan apa pun demi mereka. Manusia itu berharga, melebihi apa pun. Santo Paulus tentunya belajar dari Kristus yang menunjukkan dengan tegas betapa berharganya manusia di hadapan Allah. Dalam Injil dikisahkan peristiwa penyembuhan orang yang sakit busung air. Kisah penyembuhan itu menjadi kontroversi karena persoalan hukum: Yesus menyembuhkan di hari Sabat. Bagi orang Yahudi, tindakan Yesus adalah pelanggaran hukum yang bisa dikenakan sanksi berat. Tetapi, Yesus tetap memilih memperjuangkan hidup manusia. Pilihan Yesus ini kiranya menjadi pesan berharga bagi kita, bahwa hukum dan status menjadi relatif ketika berhadapan dengan keselamatan manusia.

Di dalam masyarakat yang hidup berdasarkan sistem dan peraturan, hal itu menjadi tantangan sulit. Yang meneguhkan kita adalah kenyataan bahwa Allah sendiri rela merendahkan diri dan melawan segala yang ”normatif dan lazim” demi memuliakan manusia? Kita diundang untuk belajar dari sikap Allah untuk memperjuangkan kehidupan dan keselamatan manusia, di atas hukum, status, derajat, suku, warna kulit, harta, dan kuasa.

Tuhan Yesus, ajari aku mencintai sesamaku dengan tulus dan berani memperjuangkan kehidupan dalam segala situasi. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Empat uskup Indonesia memberkati Taman Doa Bukit Fatima Larantuka, Flores

Kam, 02/11/2017 - 23:09

 

Empat Uskup Indonesia, Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung, Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, Uskup Agung Ende Mgr Vinsensius Sensi Potokota Pr, dan Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM,  memberkati Taman Doa Bukit Fatima Larantuka di Bukit Tuakeha-San Dominggo, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Pemberkatan taman doa, 31 Oktober 2017. itu diawali Misa yang dipimpin Mgr Sensi Potokota dengan pengkhotbah Mgr Subianto Bunjamin, yang juga Sekretaris Jenderal KWI. Setelah Misa yang diikuti ribuan umat dari berbagai paroki di Kota Larantuka dan dari berbagai daerah di Indonesia serta unsur pemerintah dan wakil rakyat daerah, juga para imam, biarawan-biarawati, empat uskup itu memberkati taman doa itu dan menandatangani prasastinya. Peresmian Taman Doa Bukit Fatima dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan. Staf Khusus Presiden Komjen Polisi (Purn) Gorris Mere, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Anggota DPRD RI Melchias Markus Mekeng, Kapolda NTT Brigjen Polisi Agung Sabar Santoso, Komandan Lanud Eltari Kupang Ronny Moningka dan sesepuh masyarakat Flotim di Jakarta Yakob Riberu juga hadir dalam Misa dan peresmian taman doa itu.(Emanuel Bataona)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bersama Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan empat saat peresmian Tman Doa Bukit Fatima. Foto Dokumen dari Humas Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Halaman