Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 37 mnt 56 dtk yang lalu

Kamis, 2 November 2017

Kam, 02/11/2017 - 13:07

PEKAN BIASA XXX

HARI RAYA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN (U/T)

Bacaan I: 2Mak. 12: 43-46

Mazmur: 130:1-2.3-4.5-6a.6-7.8

Bacaan II: 1Kor. 15:12-34

Bacaan Injil: Yoh. 6:37-40

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

Renungan

Yesus menjanjikan keselamatan kepada semua yang percaya kepada-Nya. “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Bahkan, kepada penjahat yang bertobat Dia menjanjikan Firdaus, “Hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan aku di Firdaus” (Luk. 23:43). Di salib, sabda kerahiman sekaligus jaminan pengharapan ini diucapkan Yesus. Menanggapi permohonan yang disampaikan orang yang di salib di sebelah-Nya, Yesus melampaui pertanyaan mengenai salah dan benar, hukuman dan ganjaran. Pernyataan Yesus menunjukkan bahwa keselamatan kita lebih besar dari sekadar urusan dosa dan hukuman, kebaikan dan hadiah. Keselamatan kita tidak sesederhana konsep ”saya hidup suci maka selamat, saya berdosa maka tidak selamat”. Kalau demikian halnya, tidak ada manusia yang selamat karena kita semua berdosa. Keselamatan kita sesungguhnya adalah perwujudan belas kasih Allah. Inilah yang meneguhkan kita dan memberi harapan menggembirakan.

Pernyataan Yesus menghadirkan wajah kerahiman Allah yang tidak pernah lelah merangkul semua ciptaan dalam kemuliaan-Nya. Iman ini mendorong kita untuk mempercayakan pula saudara-saudari kita yang kita doakan pada hari ini kepada kerahiman Allah. Kita meyakini bahwa sebagai anggota dari satu Tubuh yang sama, yaitu Tubuh Kristus, kita, yang masih berziarah di dunia, dan mereka, yang sudah beralih kepada keabadian, akan menikmati kemuliaan abadi bersama Allah Maha Belas Kasih.

Bapa yang penuh kasih, semoga kerahiman-Mu membebaskan aku dari kegelapan dosa dan menghantar aku kepada hidup kekal. Semoga jiwa-jiwa orang beriman beristirahat dalam damai-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Agus letakkan batu pertama pembangunan Wisata Rohani Bunda Maria Ratu Pencinta Damai

Rab, 01/11/2017 - 22:23

Uskup Agung Pontianak “sedang mewujudkan mimpinya” dengan meletakkan batu pertama Pembangunan Wisata Rohani dan Rumah Retret Bunda Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan, Kalimantan Barat yang antara lain terdiri dari Gua Maria, Jalan Salib, patung Yesus yang terbesar di Kalimantan, kapel, aula, rumah penginapan dengan warna budaya yang ada di Kalimantan, dan miniatur Katedral Pontianak yang lama.

Peletakan batu pertama itu dilaksanakan sesudah Misa 29 Oktober 2107 di depan Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan, yang sudah dibangun di tempat itu sejak tahun 1973 dan ingin direnovasi menjadi wisata rohani dan rumah retret. Ribuan umat dari berbagai paroki di keuskupan agung itu datang menghadiri acara itu dengan berbagai sarana transportasi.

Hadir juga beberapa orang yang sudah dan akan terlibat dalam pembangunan itu serta beberapa suster Dominikan dari Asti yang akan menangani pelaksanaan wisata rohani dan rumah retret itu.

Menurut informasi yang belum terlalu jelas diperoleh oleh Mgr Agus, gua itu memiliki pesan perdamaian karena setelah G30S PKI terjadi bentrokan antara orang Dayak dan orang Cina, “dan Mgr Isak Doera Pr, yang waktu itu Pastor ABRI, ingin membuat perdamaian antara kedua kelompok itu dan mengajak mereka datang ke Gua Maria ini. Dari dari situ muncul nama Gua Maria Ratu Pencinta Damai ini.”

Mgr Agus menjelaskan, selain membangun aula yang akan mampu menampung 400 hingga 800 orang, akan juga dibangun miniatur Katedral Pontianak yang lama. “Ketika kami datang ke Pontianak, katedralnya sangat megah, namun sisa-sisa gereja yang lama hampir tidak ada lagi. Mudah-mudahan dengan miniatur ini, uskup yang pertama sampai yang sekarang bisa terlihat lewat foto-fotonya yang nanti dipajang di depan miniatur itu.”

Rumah penginapan dengan kelas hotel kecil, satu kamar, satu tempat tidur dan WC serta kamar mandi akan dibuat dua bagian, ada yang 4 unit dengan setiap unit memiliki 6 kamar dan ada yang 6 unit dengan setiap unit memiliki  4 kamar. “Mengapa kecil? Karena tanah ini berbukit-bukit, dan saya tidak mau merusak hutan.  Maka kita bangun sesuai kultur tanahnya.”

Selain itu, karena gua itu membawa nama Maria Ratu Pencinta Damai, “maka kami ingin membuat miniatur Indonesia di sini. Mungkin ada unit gaya Dayak, unit gaya Cina, unit gaya Jawa, unit gaya Melayu dan sebagainya, sesuai budaya di Kalimantan, yang sedang kita perhitungkan. Nanti kami minta ijin dari Majelis Adat Melayu. Ornamen-ornamen rumah akan mencerminkan gaya yang ada. Itu daya tarik. Kita di Kalbar kurang memperhatikan simbol-simbol kebhinekaan dan persatuan. Itu yang akan kami tuangkan dalam unit-unit. Pesan yang mau disampaikan adalah kebhinekaan,” jelas uskup seraya menambahkan akan dibangun pula rumah suster, kamar makan, kamar pembimbing dan karyawan.

Di tempat parkir direncanakan dibangun Patung Santa Bernadeth dan di depan aula dibangun plasa “agar nanti bisa dilaksanakan pawai lilin seperti di Lourdes pada setiap bulan Maria dan Bulan Rosario, mulai Patung Bernadeth lalu berkeliling sampai di Plaza dengan Berkat Sakramen Mahakudus dan berpuncak di Gua Maria ini.” Itulah mimpi saya. “Boleh enggak saya mimpi?” tanya Mgr Agus. “Boleh …” gemuruh jawaban umat.

Mgr Agus lalu memperkenalkan para arsitek dan insinyur yang sudah mulai bekerja dan bersiap menata tempa itu dengan membayangkan ribuan orang yang akan datang di Bulan Maria dan Bulan Rosario, bagaimana menampungnya dan bagaimana mereka bisa duduk, misalnya dengan menggunakan terap-terap di tanah yang miring.

“Maka mimpi ini harus terlaksana. Bukankah kita semua bangga kalau tempat ini indah? Betul enggak?” tanya uskup. “Betul ….” Jawab umat. “Aku pun bangga,” lanjut Mgr Agus .

Lalu bagaimana proses pembangunannya? Mgr Agus menekankan bahwa susteran, rumah karyawan dan Jalan Salib menjadi prioritas. Bagaimana dananya? Selain mengharapkan bantuan donatur, uskup berencana menjual kamar-kamar yang akan dibangun. “Saya akan jual satu kamar 30 juta rupiah, dan nama pembeli akan diabadikan di setiap kamar. Tuhan tidak menuntut itu, tapi saya manusia menghormati orang yang menyumbang.”

Total kebutuhan pembangunan itu antara 10 sampai 15 milyar. “Tapi jangan pikir milyar-milyar itu. Kita punya 27 paroki. Kita akan cari 15 paroki yang bisa membantu dan menyumbang untuk Jalan Salib dengan 15 perhentian dengan patung setinggi 2 meter itu,” kata uskup seraya mengajak semua umat bekerja sama agar mewujudkan mimpi itu terasa ringan.

Meski jumlahnya kelihatan besar, “kalau paroki, umat, dan keuskupan bekerja sama maka akan terasa ringan mewujudkannya. Coba bayangkan, kalau setiap umat di Keuskupan Agung Pontianak yang berjumlah 600.000 menyumbang 1000 rupiah.”

Mgr Agus menegaskan, siapa saja boleh menyumbang, sehingga tempat itu menjadi kebanggaan bersama bukan kebanggaan Uskup Agus saja, “tetapi kebanggaan umat Katolik Keuskupan Agung Pontianak, dan mudah-mudahan menjadi kebanggaan orang Kalbar,” kata uskup.”

Yang ingin membantu bisa menghubungi 0561 731280 atau 0812 5233 8650. Sumbangan dana bisa juga langsung disalurkan lewat Rekening BCA 512 5678 901 an Keuskupan Agung Pontianak.

Perayaan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Wisata Rohani dan Rumah Retret Bunda Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan ditutup dengan sebuah lagu memuji Santa Perawan Maria. (aop)

Umat Katolik dan umat Lutheran merayakan ulang tahun ke 500 Reformasi

Rab, 01/11/2017 - 13:39
Paus Fransiskus diapit oleh presiden dan sekretaris jenderal Federasi Dunia Lutheran, saat memimpin peringatan bersama Reformasi di bulan Oktober 2016 – AP

Tanggal 31 Oktober 2017 menandai ulang tahun ke-500 terbitnya 95 tesis dari teolog Jerman, Martin Luther, yang menggerakkan peristiwa Reformasi Protestan. Untuk menandai kejadian itu, di hari Selasa itu Dewan Kepausan untuk Peningkatan Umat Kristen dan Federasi Dunia Lutheran (LWF) mengeluarkan pernyataan bersama, yang mensyukuri karunia spiritual dan teologis yang diterima melalui Reformasi dan yang mengenang peristiwa-peristiwa peringatan yang terjadi selama setahun terakhir.

Tepat setahun yang lalu, Paus Fransiskus pergi ke Lund dan Malmo, kota-kota di Swedia, untuk mengikuti perayaan-perayaan Reformasi bersama para pemimpin LWF. Fokus liturgi di Katedral Lund yang kuno dan perayaan gembira kaum muda di arena Malmo adalah memohon pengampunan atas dosa-dosa abad lalu, serta merayakan kemajuan lima puluh tahun terakhir dan berjanji meningkatkan usaha bersama dalam pelayanan bagi orang yang paling membutuhkan.

Setahun kemudian, pernyataan hari ini mengingatkan peristiwa-peristiwa bersejarah itu, khususnya komitmen Paus Benediktus dan mantan presiden LWF, Uskup Munib Younan, untuk melanjutkan perjalanan ekumenis itu.

Pernyataan itu mengatakan bahwa perjalanan bersama selama lima puluh tahun terakhir telah menghasilkan “penghapusan prasangka, peningkatan saling pengertian dan identifikasi kesepakatan-kesepakatan teologis yang menentukan.”

Meskipun umat Katolik dan umat Lutheran belum bisa duduk bersama dalam satu meja Ekaristi, kedua Gereja itu mengakui “tanggung jawab pastoral bersama untuk menanggapi kehausan dan kelaparan rohani umat kita untuk menjadi satu di dalam Kristus.”

Memperingati Reformasi sec ara bersama di banyak negara seluruh dunia, tulis pernyataan itu, telah memungkinkan orang Lutheran dan orang Katolik mendapatkan wawasan baru dalam peristiwa-peristiwa abad ke-16 yang menyebabkan perpisahan mereka.

Memperhatikan kemajuan teologis yang dibuat melalui the Joint Declaration on the Doctrine of Justification (Pernyataan Bersama tentang Ajaran Pembenaran) pernyataan itu mengatakan bahwa persekutuan dan layanan bersama yang berkembang merupakan tanda harapan bagi dunia saat ini untuk mengatasi perpecahan dan fragmentasi.

Pernyataan itu diakhiri dengan komitmen untuk melanjutkan perjalanan menuju persatuan, yang dipandu oleh Roh Tuhan, dengan menyadari bahwa “apa yang kita miliki bersama jauh lebih banyak daripada yang masih memisahkan kita.” (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Rabu, 1 November 2017

Rab, 01/11/2017 - 12:39

PEKAN BIASA XXX

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (P)

Bacaan I: Why. 7:2-4.9-14
Mazmur: 24:1-2.3-4ab.5-6: R:6
Bacaan II: 1Yoh. 3:1-3

Bacaan Injil: Mat. 5:1-12a

Sekali peristiwa ketika melihat orang banyak itu, naiklah Yesus ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Renungan

Hari ini kita merayakan kekudusan, sebuah ”derajat” yang sering diidentikkan dengan kebahagiaan dan kemuliaan. Sabda Tuhan hari ini mengundang kita merenungkan kekudusan melalui dua teropong: rahmat dan harapan.

Pada prinsipnya, hanya ada satu yang kudus, yaitu Allah. Oleh karena itu, manusia sebenarnya hanya mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Kekudusan manusia dimungkinkan oleh kasih Allah yang memberi ruang kepada manusia untuk hidup dalam kemuliaan dan kebahagiaan bersama-Nya. Maka, di titik pertama, kekudusan adalah pertama-tama rahmat Allah. Namun, kekudusan bukan sebuah program yang dipaksakan Allah kepada manusia. Oleh karena itu, di titik kedua, di sisi manusia, kekudusan adalah harapan. Bukan harapan yang menunggu, tetapi harapan yang diperjuangkan. Demikianlah Tuhan Yesus Kristus mengundang kita untuk menjadi bahagia melalui ”delapan jalan kebahagiaan”. Santo Yohanes menegaskan, ”semua orang yang mempunyai harapan ini terhadap Kristus, menjaga dirinya supaya sungguh-sungguh suci, bersih dari dosa sebagaimana Kristus juga suci” (1Yoh. 3:3).

Kita adalah manusia yang dirahmati sekaligus selalu dipenuhi harapan. Tidakkah itu sungguh membahagiakan?

Allah Bapa sumber belas kasih, berilah aku kekuatan dalam iman dan harapan untuk menghidupi kekudusan dengan sukacita. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Pidyarto OCarm menahbiskan tiga diakon CP yang “ugal-ugalan” menjadi imam

Sel, 31/10/2017 - 22:16

“Kami bertiga yang hari ini ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Pidyarto, bukanlah lelaki ‘preman’ yang sering disebut “ugal-ugalan” oleh sesama frater, dosen, dan imam CP. Kami bertiga adalah lelaki baik-baik yang sudah dipilih Tuhan untuk dijadikan penjala dan pekerja di kebun anggur-Nya.”

Pastor Makarius Dala Koli CP “membela diri” dalam sambutannya mewakili kedua rekannya yang bersama-sama ditahbiskan imam oleh Uskup Malang Mgr Hendrikus Pidyarto Gunawan OCarm di Kapel Kongregasi Sengsara Yesus Kristus atau Kongregasi Pasionis (CP) di Bandulan Barat, Malang, Jawa Timur. Dua imam baru lainnya adalah Pastor Aluysius Sigit Pranowo CP, dan Pastor Marianus Krispinus Sihabit CP.

Meskipun dicap “ugal-ugalan”, yang tidak dijelaskan apa maksudnya itu, namun Pastor Makarius Dala Koli CP menjelaskan bahwa sejak masuk Kongregasi Pasionis “kami bertiga telah bertekad dalam hati untuk sedapat mungkin memberikan yang terbaik untuk kongregasi, Gereja, umat, dan masyarakat sekitar, “termasuk memberikan yang terbaik buat Indonesia, karena Indonesia merupakan “rahim” yang menjaga toleransi, dan kebhinekaan.”

Mereka ditahbiskan imam tepat pada hari peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017. “Dalam momentum Sumpah Pemuda hari ini, yang bertepatan dengan pentahbisan kami bertiga, ingin kami dengungkan bahwa rahmat tahbisan dan NKRI adalah harga mati,” tegas Pastor Makarius di depan seluruh umat yang hadir, serta para imam, biarawan dan biarawati, serta tamu undangan dan keluarga mereka.

Mgr Pidyarto dalam homili mengatakan, “Pentahbisan tiga diakon CP ini adalah suatu sukacita karena bertambahnya imam bukan hanya untuk Kongregasi Pasionis, tapi juga untuk Gereja Katolik. Di mana pun mereka nanti ditempatkan, mereka sudah berjanji untuk melayani umat yang dipercayakan kepada mereka demi kasih mereka kepada Yesus.”

Menjawab pertanyaan PEN@ Katolik seusai Misa tentang berkurangnya minat kaum muda untuk hidup membiara, Uskup Malang itu menegaskan bahwa tidak semua mengalami krisis panggilan. “Tidak semua mengalami krisis panggilan. Saya kira Indonesia belum terlalu mengalaminya. Banyak tarekat dan kongregasi masih mempunyai calon,” kata uskup yang dalam Misa itu didampingi konselebran Provinsial CP Indonesia Pastor Nikodemus Jimbun CP dan Pastor Markus Murjono CP.

Provinsial CP berpesan kepada ketiga imam baru itu dalam sambutannya bahwa, mulai hari itu, setelah ditahbiskan menjadi imam CP, “kalian bertiga harus tetap semangat, bergembira, sepenuh hati dan bertanggung jawab menuntaskan semua tugas dan pelayanan yang kongregasi berikan. Jalani semua tugas dan pelayanan itu, sampai ajal memisahkan kita dari dunia ini.”

Selain itu, imam itu berpesan agar mereka berhati-hati selama menjalankan tugas dan pelayanan, “sehingga janji imamat dan sumpah setia itu terus melekat dan tidak luntur karena sesuatu” Pastor Nikodemus Jimbun CP juga meminta agar mereka melayani umat di mana saja, entah di perkotaan maupun di pedesaan bahkan pedalaman. “Jangan pilih kasih dalam pelayanan, karena Yesus dan Santo Paulus dari Salib, pendiri Kongregasi Pasionis, tak pernah pilih kasih,” lanjut Pastor Provinsial CP itu. (Felixianus Ali)

Umat diajak bersaudara dengan setiap orang karena dengan binatang pun kita bersaudara

Sel, 31/10/2017 - 20:38

Santo Fransiskus Assisi dikenal sebagai pribadi yang suci tapi sekaligus bisa bicara dengan binatang-binatang. Dia bisa bersaudara dengan binatang. Demikian pula dengan makhluk lainnya. Maka, dia memanggil bulan sebagai saudari bulan dan matahari sebagai saudara matahari.

“Maka, kalau dengan binatang dan tanaman saja kita bersaudara, diharapkan kita juga bersaudara dengan setiap orang. Setiap orang adalah saudara dan saudari kita,” kata Pastor Agustinus Sarwanto SJ dalam acara pemberkatan binatang peliharaan dan tanaman di pelataran Gereja Santa Theresia Bongsari, Semarang.

Seraya mengenang Pesta Santo Fransiskus Assisi tanggal 4 Oktober 2017, dalam pemberkatan binatang tanggal 15 Oktober 2017 itu, Pastor Sarwanto mengatakan kepada umat yang membawa binatang peliharaan kesayangannya bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang istimewa.

“Kita adalah makhluk istimewa karena dipercaya untuk memberi nama kepada seluruh binatang yang ada. Meskipun anjing-anjing ini sama tetapi namanya berbeda-beda. Mungkin burung ini juga punya nama yang berbeda,” kata imam itu.

Pastor Sarwanto berharap, melalui pemberkatan binatang-binatang kesayangan ini umat semakin dekat dengan Tuhan. “Semoga kita semakin bersaudara dengan seluruh ciptaan Tuhan dan juga khususnya dengan saudari-saudari kita sesama manusia,” kata imam itu.

Usai peneguhan dan pemberkatan air, Pastor Sarwanto memberkati binatang-binatang yang dibawa umat dengan memercikkan air suci. Umat membawa berbagai jenis binatang seperti anjing, burung, ular, kucing, dan musang.  Tak hanya binatang, sejumlah tanaman pun ikut diberkati.

Beberapa waktu terakhir ini, Gereja Santa Theresia Bongsari memilih pastoral ekologi sebagai salah satu gerak pastoral yang dihidupi. Maka, berbagai kegiatan diupayakan untuk membangun kesadaran dan peduli pada bumi sebagai rumah tinggal bersama. Salah satunya adalah pemberkatan binatang dan tanaman di hari itu.

Dan, anjing-anjing pun menampilkan keterampilan mereka di penghujung acara pemberkatan itu.(Lukas Awi Trustanto)

Selain keberanian dan komitmen, OMK harus gunakan strategi dalam tugas pewartaan

Sen, 30/10/2017 - 21:38

Uskup Manado Mgr Benediktus Estephanus Rolly Untu MSC menegaskan, dalam tugas pewartaan kabar baik di mana pun orang muda Katolik (OMK) berada, strategi tidak boleh dilupakan, karena “strategi merupakan hal yang tak kalah pentingnya di samping keberanian dan komitmen.”

Mgr Rolly Untu berbicara saat memberikan sapaan pada acara penutupan Katon Youth Day 2017 di aula Paroki Santo Yohanes Penginjil Laikit, Sulawesi Utara, 29 Oktober 2017. Katon adalah Kevikepan Tonsea yang mencakup delapan paroki.

“Kalau cuma modal keberanian dan komitmen, tidaklah cukup. Habis tenaga. Maka perlu juga strategi,” lanjut Mgr Rolly Untu seraya menegaskan bahwa Sakramen Krisma, yang merupakan salah satu sakramen inisiasi, adalah salah satu strategi. “Strategi itu dibutuhkan dalam kerangka pewartaan kabar baik, agar tugas atau panggilan bisa berjalan dengan baik dan sukses,” tegas uskup.

Uskup juga mengajak OMK untuk belajar dari Yeremia yang dipanggil Tuhan untuk tugas pewartaan kabar baik. Yeremia, murid Yesus, kata Mgr Rolly, berhasil melaksanakan tugas pewartaan karena adanya strategi.

Katon Youth Day, yang berlangsung di Paroki Laikit, dari tanggal 26 hingga 29 Oktober 2017 adalah kegiatan OMK Kevikepan Tonsea. “Acara ini merupakan implementasi dari salah satu program Komkep Keuskupan Manado dalam rangka memantapkan nilai dasar dan spiritual OMK yang cerdas, tangguh, militan dan misioner,” kata Koordinator OMK Kevikepan Tonsea Gusti Kalengkongan kepada PEN@ Katolik.

Sejumlah acara diadakan dalam Katon Youth Day yang diikuti 500-an OMK dari 8 paroki sekevikepan itu, yakni live-in, seminar, pertemuan umum, pagelaran seni budaya, Misa dan sapaan uskup. Selama live in, peserta wajib mengikuti irama hidup dari keluarga tempat ia tinggal, berdoa bersama dan akhirnya akan diminta membuat refleksi atas pengalaman perjumpaan yang dialaminya.

Dalam seminar Katon Youth Day yang mengadopsi model Indonesian Youth Day dan Asian Youth Day itu, peserta dibagi delapan kelompok dengan delapan bahasan yakni narkoba, wirausaha, kaum marginal, lingkungan hidup, politik, teknologi informasi, dialog dengan agama lain dan bangga jadi pemuda Indonesia.

Acara penutupan yang diawali Misa yang dipimpin Vikep Tonsea Pastor Damianus Yangko Alo Pr dan Moderator OMK Kevikepan Tonsea Pastor Aloysius Pondaag Pr, dihadiri juga oleh Ketua Komkep Keuskupan Manado Pastor Andre Rumayar Pr dan Pastor Paroki Laikit Pastor Bertje Karundeng Pr. (A. Ferka)

Krisma bukan hanya penuhi administrasi tapi curahan Roh Kudus agar berani wartakan Sabda Tuhan  

Sen, 30/10/2017 - 20:42

Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Maumere Pastor Ewaldus Sedu Pr mengingatkan 760 pelajar Kota Maumere agar tidak melihat Sakramen Krisma (Penguatan) hanya untuk memenuhi administrasi krisma tetapi “curahan Roh Kudus untuk membuat Anda sekalian berani mewartakan Sabda Tuhan ke seluruh penjuru dunia.”

Pastor Ewaldus Sedu memimpin perayaan Penerimaan Sakramen Krisma bagi 760 pelajar Kota Maumere di Gereja Katedral Santo Yoseph Maumere, 29 Oktober 2017. Vikjen didampingi Sekretaris Uskup Pastor Epi Rimo Pr, Kepala Paroki Pastor Yohanes Satu Pr, dan Pastor Yoris Role Pr.

Dalam Misa yang dimeriahkan Paduan Suara Ekumene Gita Kusuma Bhayangkara Polres Sikka, imam asal Bajawa itu meminta para pelajar itu untuk menerima Roh Kudus dengan sepenuh hati tidak sekedar memenuhi administrasi krisma.

“Dengan menerima Sakramen Krisma, Anda dituntut untuk dekat dengan Allah dan membuat perubahan perilaku. Tanggalkan baju lama dan kenakan baju baru sebagai pelajar yang beriman teguh kepada Allah dan mampu melibas tantangan yang dihadapi,” minta imam itu.

Memberikan kesaksian tentang Tuhan Yesus, kata vikjen, tidak mudah. Namun, tegasnya, “Tidak ada hidup yang tak pernah ada tantangan dan masalah. Tetapi Roh Kudus adalah kekuatan kita untuk bertahan dalam iman akan Yesus,” jelas vikjen.

Selesai menerima Sakramen Krisma, Yorgi Parera mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa sebelum penerimaan sakramen itu mereka kami sudah dibekali pelbagai hal tentang sakramen itu. “Dengan menerima Sakramen Krisma saya ditantang untuk dewasa dalam hal iman. Perubahan ini harus saya tunjukkan lewat perilaku iman, baik di sekolah maupun di masyarakat,” ujar peserta didik SMAK Frateran Maumere itu.

Sementara itu di tanggal yang sama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo memberikan Sakramen Krisma kepada 334 umat Paroki Gregorius Agung Kutabumi, Tangerang, Mgr Suharyo didampingi Kepala Paroki Gregorius Agung Kutabumi Pastor Yustinus Sulistiadi Pr dan pastor rekan Pastor Ignatius PH Wicaksono Pr.

Perayaan dihadiri sekitar 3000-an umat itu dilengkapi kegiatan awal dan akhir bulan sepanjang tahun 2017 yakni Perarakan Patung Bunda Maria Fatima. Mgr Suharyo ikut dalam perarakan itu.

Kepada para penerima Sakramen Krisma, Mgr Suharyo berpesan agar pengalaman kasih yang diterima mereka tunjukkan dan menjadi inspirasi serta teladan bagi seluruh umat Katolik. “Kasih yang terbatas dilakukan selama ini tapi dengan bantuan curahan Roh Kudus bisa mengubah kasih menjadi tak terbatas serupa dengan Kristus,” kata Mgr Suharyo.

Menurut Pastor Sulistiadi, perayaan iman dan kunjungan Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo itu  semakin membuat umat paroki yang terdiri dari berbagai suku itu semakin bersatu padu. Dan dalam semangat perayaan Sumpah Pemuda yang dirayarakan sehari sebelumnya, selesai berkat penutup, umat mengakhiri perayaan itu dengan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa.”(Yuven Fernandez/Konradus R Mangu)

Senin, 30 Oktober 2017

Sen, 30/10/2017 - 12:52

PEKAN BIASA XXX (H)

Santo Marcellus; Beao Angelus dari Acri, Imam dan Biarwan; Beato Dominikus Collins, dan kawan-kawan Martir.

Bacaan I: Rm. 8:12-17
Mazmur: 68:2.4.6-7ab.20-21; R:21a
Bacaan Injil: Luk. 13:10-17

Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: ”Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: ”Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: ”Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Renungan

Yesus mendobrak aturan-aturan kaku yang sering kali menyengsarakan banyak orang sezaman-Nya. Kabar Gembira tentang keselamatan Allah dinyatakan-Nya dengan berbagai tindakan yang menyembuhkan dan membahagiakan. Penyembuhan orang sakit pada hari Sabat (bdk. Luk. 13:12), menunjukkan belas kasih dan cinta Allah melampaui aturan, tata cara dan hukum keagamaan. Tindakan Yesus hendak mengajarkan universalitas kasih Allah yang tidak terikat waktu dan ruang. Kasih Allah diberikan untuk semua dan siapa saja yang terbuka akan Sabda-Nya. Warta dan penyataan belas kasih Allah membawa kesembuhan dan keselamatan.

Belas kasih Allah menjadi sebuah tawaran bagi setiap orang. Agar mampu menerima dan menghidupi semangat kasih Allah maka hidup harus dipimpin oleh Roh Allah sendiri. Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang menerima Roh menjadi bagian dari anak-anak Allah. Dan oleh Roh itu pula kita berani menyebut Allah sebagai Bapa (bdk. Rm. 8:15). Martabat sebagai anak-anak Allah memampukan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah Bapa dan pada akhirnya mampu memberi kesaksian akan kasih Bapa yang menyelamatkan.

Memberikan kesaksian akan kasih Allah berarti kita memberikan diri dan seluruh yang ada pada kita sebagai saluran berkat Allah bagi sesama dan dunia sekitar kita. Hanya dengan demikian kita layak disebut murid Kristus Yesus. Apakah hidup dan tindakan kita sudah menunjukkan semangat kita sebagai pengikut Yesus?

Tuhan Yesus, Engkau telah menunjukkan kasih Bapa dalam hidup dan tindakan-Mu. Bantulah aku untuk mengikuti teladan-Mu dalam hidup sehari-hari. Semoga hidup dan tindakanku sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Para Suster SFIC rayakan berbagai usia hidup membiara yang pastas diteladani kesetiaannya

Min, 29/10/2017 - 21:50

Sore menjelang malam, dua orang suster didorong dengan kursi roda ke depan altar dan bersama enam suster lainnya mereka memegang lilin bernyala dengan tangan yang satu dan tangan lainnya memegang sebuah teks. Lalu mereka membacakan teks yang berisi janji setia hidup membiara.

Janji setia hidup membiara para suster Kongregasi Suster Fransiskus dari Perkandungan Bunda Suci Allah (SFIC) itu disampaikan dalam Misa yang dipimpin Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus di Kapel Susteran Santo Antonius Pontianak, 28 Oktober 2017. Perayaan itu dihadiri antara lain oleh sanak keluarga, kenalan, dan sahabat para pestawati.

Lamanya hidup membiara dan tugas dari delapan suster itu berlainan. Meski masih bersemangat, Suster Yohana Waha SFIC yang hari itu merayakan 60 Tahun Hidup Membiara kini hanya menghabiskan masa tuanya di kursi roda, sedangkan temannya di kursi roda, Suster Agelita Limas SFIC yang merayakan 50 Tahun Hidup Membiara masih aktif sebagai perawat dan bersemangat mengunjungi kamar suster yang sakit untuk menemani mereka sarapan dan minum obat.

Suster Catharina Sailan SFIC juga merayakan 60 Tahun Membiara, namun dia masih aktif dalam pastoral care di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak, mengunjungi dan mendoakan para pasien. Suster Xaveria Arpina SFIC yang merayakan 50 Tahun Hidup Membiara pernah menjadi misionaris selama 15 tahun di Afrika. Kini dia masih menjalani tugas sebagai pemimpin komunitas.

Ternyata, di antara para pestawati ada juga, pemimpin SFIC tingkat internasional. Suster itu, merayakan 40 Tahun Hidup Membiara bersama Suster Paulina Pareira SFIC, yang lama bertugas sebagai guru dan kini di masa pensiunnya menjadi teman-teman suster yang sakit di komunitasnya.

Dua suster lain yang merayakan 25 Tahun Hidup Membiara adalah Suster Herkulana SFIC dan Suster Ely Odilia SFIC. Selain memperkenalkan “kekayaan” para pestawati itu, provinsial atau pemimpin para suster SFIC Provinsi Indonesia, Suster Irene SFIC, mengatakan bahwa para suster muda termasuk dirinya hendaklah “bercermin dari teladan dan menimba semangat mengagumkan dan menantang dari para suster yang sudah tua tentang kesetiaan hidup mereka.”

Mewakili para pestawati lainnya, Jenderal SFIC Suster Adriana mengatakan “tidak terasa” meski sudah sekian tahun menjalani panggilan sebagai SFIC dan dipindahkan ke sana-ke sini dengan aneka tugas. Namun, dalam perayaan itu, katanya, para suster mencoba menelusuri dan bernostalgia tentang perjalanan hidup sekian tahun sebagai SFIC, mulai postulat, novisiat, yuniorat, sampai bina lanjut setelah kaul kekal.

“Tugas perutusan yang telah dipercayakan kepada kami juga mengajak kami mengenang kembali bahwa kami pernah mengalami jatuh bangun, namun dibangunkan lagi untuk berdiri tegak. Kami menyadari bahwa panggilan hidup kami sebagai SFIC melulu karena kasih dan kehendak Allah yang memilih kami bagi rencana-Nya, bagi misi-Nya dan ini berarti bukan rencana dan misi kami sendiri,” kata suster itu.

Bahkan suster Jenderal SFIC yang kini tinggal di Generalat SFIC Tagaytay, Filipina, itu mengatakan bahwa pengalaman bergumul, berjuang, bahkan menderita “menjadikan kami semakin memiliki semangat kesederhanaan, kepatuhan, cinta kasih dan matiraga.”

Mgr Agustinus Agus dalam homili Misa menegaskan bahwa terkadang kaum religius mengeluh dengan tugas perutusan yang Tuhan percayakan kepada mereka. “Hal-hal seperti ini bisa mengganggu perjalanan panggilan kita sebagai orang yang dipilih. Tuhan memberikan talenta kepada kita supaya kita menghargai dan membagikannya kepada sesama dan menghasilkan buah berlimpah,” kata uskup agung itu.

Santap malam serta lantunan tembang-tembang hiburan dan tarian dari para suster dan Mgr Agustinus Agus melengkapi acara malam itu. (Suster Maria Seba SFIC)

Pestawati (dari kiri ke kanan) Suster Adriana Tony SFIC, Suster Catharina Sailan SFIC, Suster Xaveria Arpina SFIC, Suster Paulina Pareira SFIC, Suster Herkulana SFIC, Suster Ely Odilia SFIC. Di kursi roda, Suster Yohana Waha (kiri) dan Suster Agelita Limas SFIC (kanan)

Provinsial SFIC Suster Irene SFIC Suster Adriana Tony SFIC, Jenderal SFIC

Hukum yang Terutama

Min, 29/10/2017 - 06:24

Minggu Biasa ke-30

29 Oktober 2017

Matius 22: 34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat 22:37)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Apa itu cinta kasih? Jika kita bertanya kepada pasangan muda yang sedang jatuh cinta, cinta berarti lebih banyak waktu bersama dan terhubung online bahkan sampai larut malam. Bagi para imam muda, cinta kasih adalah mendengarkan pengakuan dosa dengan sabar selama berjam-jam. Bagi pasangan yang baru mendapatkan bayi mereka, cinta kasih bisa berarti siap menggantikan popok sang bayi bahkan di tengah malam. Cinta kasih adalah semangat, dedikasi dan pengorbanan.

Namun, cinta juga menjadi salah satu kata yang paling disalahgunakan dalam sejarah manusia. Atas nama cinta, seorang pemuda membawa kekasihnya kepada perbuatan yang tidak pantas. Demi cinta kepada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok etik lain dan membakar desa mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak yang mereka anggap musuh-musuh dari Tuhan mereka.

Anehnya, situasi ini tidak jauh berbeda dengan zaman Yesus. Demi cinta kepada Hukum Taurat, orang-orang Farisi mematuhi Hukum Taurat bahkan dalam segala aspek dalam kehidupan sehari-hari mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan bangsa mereka, orang-orang Zelot melawan dan bahkan membunuh orang-orang Romawi dan mereka yang bekerja untuk penjajah. Demi cinta kepada Tuhan, kelompok Essen memisahkan diri dari dunia yang mereka anggap tidak lagi murni dan membangun komunitas eksklusif mereka sendiri di gurun. Demi cinta kepada Bait Suci, para imam bekerja keras untuk mempersembahkan korban setiap hari dan siap untuk mati bagi Bait Suci.

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus apa hukum yang terbesar, ini bukan hanya tentang sekedar wacana teologis, tetapi ini akan mengungkapkan sikap fundamental Yesus terhadap Allah dan Hukum Yahudi. Apakah Yesus sama seperti orang Farisi yang lebih mengasihi Hukum daripada sesama, atau seperti orang Zelot yang mencintai bangsa mereka sampai mati, atau Yesus adalah lebih dari mereka? Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Pernahkah saya bertanya kepada seorang frater yang sedang belajar Hukum Kanonik atau Hukum Gereja, “apakah hukum tertinggi dalam Hukum Kanonik?” Dia segera menjawab, suprema lex, semua hukum berpedoman dan bermuara pada keselamatan jiwa-jiwa. Kode Hukum Kanonik berisi lebih dari 2 ribu ketentuan yang mengatur berbagai aspek kehidupan Gereja, dan semua ini tidak masuk akal jika bukan karena cinta kasih kepada Tuhan dan sesama.

Sekarang sebagai murid-murid Yesus, apakah cinta kita kepada Tuhan, doa dan perayaan-perayaan sakramen membawa kita lebih dekat ke sesama kita, untuk lebih berkomitmen dalam memperjuangkan keadilan, untuk lebih bertanggung jawab sebagai anggota keluarga dan masyarakat? Apakah cinta kita kepada sesama, kasih sayang bagi anak cucu kita dan teman-teman kita, semangat kita dalam pelayanan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan?

 

 

Camat Wedi Puguh Priyadi hargai inisiatif Gereja Katolik dalam memperingati HPS

Sab, 28/10/2017 - 21:50

Camat Wedi, Klaten, Puguh Priyadi, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Gereja Katolik dalam memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) karena, “pangan sangat berperan dan merupakan sumber kehidupan dan menyangkut gizi,” katanya.

Hadir dalam peringatan HPS bertema “Membangun Gizi Keluarga” di Rayon Klaten yang dilaksanakan di kompleks Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten, camat itu menegaskan, “Kalau gizi ini menyangkut dengan bayi tentunya. Kalau meningkatkan kualitas kehidupan, yang jelas diawali dari bayi. Tidak mungkin bayi tidak sehat akan menjadikan manusia yang berkualitas,” katanya.

Acara peringatan HPS itu ditandai dengan pemotongan pita di lokasi pameran produk-produk pertanian dan pangan lokal. Acara kemudian dilanjutkan dengan sarasehan tentang gizi keluarga dan upaya membangun ketahanan pangan di tingkat keluarga.

Dalam sarasehan, para pembicara menegaskan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dengan cara mengatur pola makan dan hidup sehat, dan upaya memenuhi kebutuhan pangan dengan mengusahakan di pekarangan sendiri.

Acara peringatan HPS serupa digelar di berbagai paroki dengan menonjolkan kekhasan parokinya. Semua peringatan di paroki disertai Perayaan Ekaristi dengan warna-warna berbeda sebagai penanda HPS.

Perayaan HPS Ragon Klaten di Paroki Wedi, 14 Oktober 2017, itu bertujuan antara lain supaya keluarga-keluarga semakin meningkatkan gizi anggota keluarganya sehingga sungguh membantu mempersiapkan generasi muda masa datang yang sungguh-sungguh berkualitas.

Hal itu ditekankan oleh Pastor Adrianus Maradyo Pr. “Mungkin ada fenomena dalam kehidupan di keluarga yang cenderung membelikan mungkin makanan atau masakan yang dihidangkan untuk anggota keluarganya. Bisa jadi masakan itu kurang dari segi kebersihan, dari segi gizi, dari segi kualitas,” katanya seraya berharap dengan peringatan HPS tahun ini keluarga-keluarga memperhatikan bahan-bahan makanan yang dikonsumsi anggota keluarganya.

Pastor Maradyo percaya, kalau keluarga sehat, masyarakat juga sehat, kecamatan sehat, kabupaten sehat, bahkan negeri pun mempunyai masyarakat yang sehat. “Memberi gizi keluarga terlebih untuk anak-anak juga akan semakin meningkatkan martabat kehidupan masa depan anggota keluarga negara ini.”

Oleh karena itu, imam itu berharap generasi muda yang akan datang bukan lagi menjadi generasi instan tetapi “generasi muda yang sungguh-sungguh berkualitas, lebih-lebih berkaitan dengan kepribadiannya,” katanya dalam acara yang diikuti utusan dari paroki-paroki se-Rayon Klaten dan pejabat Muspika Kecamatan Wedi.(Lukas Awi Tristanto)

Jumat, 27 Oktober 2017

Jum, 27/10/2017 - 15:20

PEKAN BIASA XXIX (H)

Santo Frumensius

Bacaan I: Rm. 7:18-25a

Mazmur: 119:66.68.76.77.93.94; R:68b

Bacaan Injil: Luk. 12:54-59

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang banyak: ”Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Renungan

Rasul Paulus mengatakan adanya kecenderungan manusiawi yang jahat dalam diri manusia. Kecenderungan jahat manusia lahir karena sikap mengutamakan kehendak sendiri dan membiarkan diri terlena dalam kelemahan tubuh yang fana. Roh kuat, tetapi daging lemah. Karena kelemahan daging insani manusia terpenjara dalam dosa. Namun, berkat iman akan Allah, kita memperoleh pengertian yang benar bahwa Allah melalui Yesus Kristus telah menyelamatkan kita dari kedosaan.

Dalam hidup harian, kita sering kali dihadapkan pada pilihan untuk berbuat baik atau jahat, memutuskan yang baik atau yang buruk. Agar dapat memberikan penilaian dan pilihan yang tepat dalam hidup dibutuhkan evaluasi dan kemauan memperbarui diri. Tuhan telah menganugerahkan akal budi dan keutamaan agar bijak memutuskan yang benar dan melakukannya. Berhadapan dengan berbagai tawaran, godaan, dan tantangan hidup, kita dituntut agar mampu memilih yang benar, yang menghidupkan dan menyelamatkan. Kemampuan untuk memilih yang baik dan benar telah kita terima dalam dan melalui Yesus Kristus. Persoalannya ialah kuatnya kecenderungan manusiawi yang mengutamakan kehendak diri semata serta membiarkan kelemahan insani merajalela dalam hidup kita.

Allah Yang Mahabaik, ajarilah aku memahami kebaikan yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Mampukan aku untuk membagikan anugerah-Mu bagi sesama dalam kehidupan di tengah masyarakat. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Rohaniwan Cendekiawan Budayawan Pastor John Dami Mukese SVD meninggal dunia

Jum, 27/10/2017 - 14:54

Kamis, 26 Oktober 2017, pukul 02.15 di RSUD Ende, Flores, Pastor John Dami Mukese SVD meninggal dunia dalam usia 67 tahun. Imam yang lahir tanggal 24 Maret 1950 di Menggol, Benteng Jawa, Manggarai Timur, Flores, NTT itu dikenal sebagai penyair religius, penulis, wartawan dan dosen.

Dalam lingkup sastra NTT, nama Pastor JDM, begitu dia biasa menulis namanya di akhir setiap karya-karya puisinya, bukanlah nama kemarin sore. Dalam “Melacak Jejak Puisi dalam Sastra NTT,” Yohanes Sehandi menulis bahwa nama dan pengaruh karya-karya sastra JDM sudah mulai dikenal dan dirasakan sejak tahun 1979. Bahkan imam itu disebut sebagai penyair kebanggaan NTT sekaligus penyair produktif NTT, generasi setelah Gerson Poyk.

Imam itu juga telah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi religius, antara lain Doa-Doa Semesta, Puisi-Puisi Jelata, Doa-Doa Rumah Kita, Kupanggil Namamu Madonna, Puisi Anggur, dan Menjadi Manusia Kaya Makna.

Pastor JDM telah mencurahkan seluruh pikiran dan jiwa puitisnya dengan berkarya di dunia sastra. Kepenyairan John Dami Mukese memang tidak diragukan lagi. Puisinya penuh inspirasi yang juga kerap menjembatani pikiran-pikiran teologi yang rumit ke dalam bahasa dan rasa yang sederhana dalam konteks masyarakat Flores yang sederhana tempat imam itu menulis dan berefleksi.

Puisinya bagai Doa Litani dan Nyanyian Mazmur dalam bentuk baru dan lebih membumi. Puisi seperti “Natal seorang Petani”, “Natal Seorang Nelayan”, “Natal Buruh Kecil”, adalah sebagian kecil refleksi John Dami Mukese akan soal-soal yang berhubungan dengan dimensi religiositas masyarakat.

Kendati titik berangkat puisi John Dami Mukese lebih bernuansa Katolik, namun kemampuan untuk memilih dan memilah kata serta ketaatan pada struktur puisi menyebabkan puisinya dapat dinikmati oleh siapa saja dalam pengalaman religiositas yang beragam. Barangkali ini alasan yang cukup masuk akal, mengapa sajak-sajaknya berjudul “Doa-Doa Semesta,” yang ditulis dalam 20 bait, layak dan pernah dimuat di majalah sastra terkemuka “Horison” di tahun 1983.

Buku kumpulan puisi berjudul “Doa-Doa Semesta” yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah Ende itulah yang kemudian melejitkan nama JDM hingga ke tingkat nasional dan disebut sebagai representasi sastrawan kawasan Timur Indonesia: “Chairil Anwar”nya Indonesia Timur.

Di luar puisi dan kepenyairan, John Dami Mukese bukan hanya budayawan tapi sekaligus rohaniwan dan cendekiawan yang merayakan dunia tulis menulis sebagai tempat menumpahkan refleksi yang penuh harapan iman dan kasih, menggugat dan memberikan apresiasi pada kompleksnya kehidupan iman dan zaman masyarakat yang terus berubah.

Sejak belajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero Flores dan CPAF – University of the Philippines, John Dami Mukese telah biasa menuangkan gagasan-gagasan dalam tulisan di Media FOX. Dunia menulis dan keprihatinannya pada budaya literasi menempatkannya sebagai redaktur majalah mingguan Dian dan Flores Pos. Ia juga editor untuk penerbit Nusa Indah Ende.

Sebagai budayawan sekaligus rohaniwan dan cendekiawan, ia merekam kehidupan masyarakat dari bilik-bilik sunyi, tidak hanya lewat syair puisi tapi juga historiografi, karena John Dami Mukese sejatinya adalah pencinta sejarah dan anugerah.

Dia juga editor untuk buku “Indahnya Kaki Mereka” yang bercerita tentang kehidupan misionaris tempo dulu dalam tiga seri buku. Buku ini cukup menggambarkan minat dan keseriusan John Dami Mukese, karena di sana ia tidak saja bertindak sebagai editor, juga sebagai pewawancara sekaligus menuliskan kembali hasil wawancaranya. Perspektif sejarahnya dengan mudah dijumpai dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan termasuk memilah struktur penulisan pasca wawancara. Ia menulis bersama sejarawan Edu Jebarus.

Selain menulis puisi, mantan Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Dian, itu aktif mengisi kolom opini di sejumlah media online di NTT. Salah satunya Mengubah Penjara Menjadi Panggung Kemerdekaan” yang dipublikasikan di provinsisvdende.weebly.com.

John Dami Mukese telah menjadi “sumur” tempat generasi baru menimba “oase”, “air inspirasi”. Boleh dibilang tak mungkin menulis atau membicarakan puisi NTT saat ini tanpa menyebutkan Penyair John Dami Mukese.

Begitu pun, tak mungkin melewatkan refleksi Natal dalam konteks masyarakat petani dan nelayan, tanpa terlebih dahulu menyimak puisinya tentang “Natal seorang Petani” dan “Natal seorang Nelayan”. Begitu sederhana, namun menancap di kepala untuk diingat.

Pastinya, kepergian Pastor John merupakan kehilangan bagi dunia sastra NTT khusunya dan Indonesia pada umumnya. Namun gairah sastra yang ditorehkan melalui karya-karya puisinya akan terus dikenang dan diapresiasi para pencinta dunia sastra. (Pastor Josafat Kokoh Prihatomo Pr)

Tulisan pada halaman facebooknya ini telah mengalami sedikit perubahan dan editan.

Kamis, 26 Oktober 2017

Kam, 26/10/2017 - 15:07

PEKAN BIASA XXIX (H)
Santo Lucianus dan Marcianus

Bacaan I: Rm. 6:1923
Mazmur: 1:1-4.6; R:40:5a
Bacaan Injil: Luk. 12:49-53

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: ”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

Renungan

Kebaikan dan kejahatan. Dua kutub yang tidak bisa menyatu secara utuh menjadi satu kutub tertentu. Keduanya memiliki konsekuensi yang juga berbeda. Dalam dunia keseharian manusia, perbedaan demikian menyata dalam sikap dan perbuatan. Tidak mudah untuk hidup lurus dan jujur di tengah dunia manusia yang diwarnai intrik serta berbagai kepentingan pribadi.

Yesus menunjukkan bahwa hidup beriman serta tindakan kebenaran memiliki konsekuensi yang tidak mudah. Beriman kepada Yesus memiliki tuntutan untuk hidup seturut perintah-Nya. Perintah itu ialah hukum cinta kasih. Cinta kasih menyata dalam perbuatan baik, kejujuran, solidaritas dan berbagai tindakan yang bermuara pada kasih. Tidak semua orang terbuka akan warta cinta dalam iman akan Kristus. Perwujudan iman akan Yesus di tengah dunia manusia inilah yang akhirnya membawa pertentangan dan pemisahan. Ciri hidup beriman ialah menjauhi kecemaran dan kedurhakaan dan nafsu duniawi karena perhambaan dosa. Rasul Paulus mengarahkan kita pada keyakinan bahwa beriman berarti pula hidup sebagai orang-orang benar, beroleh buah yang membawa kepada pengudusan dan akhirnya kehidupan kekal (bdk. Rm. 6:23).

Tuhan Yesus Kristus, acapkali aku jatuh dalam ketakutan dan kekhawatiran karena beriman kepada-Mu. Teguhkanlah aku agar berani memberi kesaksian tentang Engkau dalam situasi apa pun juga. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Pelatih, penulis lagu Gereja dan salah satu maestro musik KAJ meninggal dunia

Kam, 26/10/2017 - 14:50

Hari Kami, 26 Oktober 2017, pukul 01.15, Linus Putut Pudyantoro yang telah mengabdikan dirinya sebagai pelatih dan penulis lagu Gereja meninggal dunia secara mendadak. Linus Putut Pudyantoro yang lahir di Palembang, 23 September 1964, meninggalkan dua putra (Dinus dan Stanis), sementara isterinya Ririn telah meninggal dunia karena sakit beberapa tahun yang lalu.

Jenazah dari Alumnus SD Pangudi Luhur Yogyakarta, Seminari Mertoyudan tahun 1980, dan penggagas Mia Patria Choir disemayamkan di rumah kediamannya di Jalan Pertengahan, Gang Arimbi nomor 89, RT 003/RW 007 Kelurahan Cijantung, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di sana akan dirayakan Misa Requiem pada Hari Kamis, 26 Oktober 2017, pukul 19.30. Rencananya Misa Pelepasan Jenazah akan dilaksanakan di Gereja Aloysius Gonzaga Cijantung, Jalan Pendidikan III Cijantung, Jakarta Timur, Jumat, 27 Oktober 2017, Pukul 12.00.

Salah satu maestro musik KAJ, pencipta lagu Gereja, pegiat paduan suara di Jakarta itu sering melakukan pelayanan di berbagai daerah dan terakhir melatih dan menjadi dirigen pada Tahbisan Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko di Lapangan Bhayangkara Akpol Semarang, 20 Mei 2017, dan pada Tahbisan Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM di Stadion Depati Amir Pangkalpinang, 23 September 2017.

Komponis Putut Pudyantoro, yang bersama Mia Patria Choir dengan anggota dari “golongan tidak mampu” telah tampil di  berbagai pentas internasional dan sejumlah pameran Indonesia melalui gerak tari-tarian dan nyanyian di sejumlah negara di Eropa,  telah banyak melahirkan komposisi-komposisi lagu-lagu rohani. Putut telah membawa musik etnik Indonesia ke dalam lagu rohani.

Pembuat album lagu rohani yang bisa mengiringi pendarasan doa koronka dan rosario itu pernah tampil bersama Mia Patria Choir di hadapan Paus Fransiskus saat Audiensi Umum, Rabu, 21 September 2016, dalam rangkaian lawatan budaya ke beberapa negara di Eropa.

Mereka melantunkan lagu-lagu daerah dan lagu kebangsaan Indonesia. Mereka diberi waktu dua menit, namun kemudian diminta terus menyanyi, mengiringi Paus masuk ke arena audiensi sampai berkeliling menyapa ratusan ribu peziarah. “Ternyata hampir 25 menit. Kami tak menduga Paus berhenti di depan kami dan memberikan berkat. Kami merasa takjub dan bersyukur,” kata Putut.(aop/pcp)

Jadi saudara dalam perbedaan tidak sulit asalkan menerima adanya banyak perbedaan di bumi

Rab, 25/10/2017 - 17:23

Oleh Suster Andrea Desi Rihani OP

Kongregasi mengutus saya mendalami ilmu psikologi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Di kampus itu, mayoritas staf, dosen dan mahasiswa beragama Islam dan memakai jilbab. Saat ospek universitas dan ospek fakultas, rasanya saya selalu diperhatikan di mana pun saya duduk, berdiri dan berjalan. Saya benar-benar berbeda di antara dua ribuan mahasiswa angkatan 2016. Bahkan dosen dan panitia heran dengan kehadiran saya. Pakaian kebiaraan saya menjadi sorotan apalagi bagi teman-teman yang kurang tahu atau bahkan sama sekali belum pernah bertemu dengan biarawati.

Namun, saya selalu percaya bahwa Tuhan punya rencana atau misi tertentu untuk saya laksanakan di mana pun saya diutus. Memang, ketika perutusan disampaikan oleh pemimpin, saya belum mengerti rencana itu. Saya pun belajar memahaminya dalam proses perjalanan tugas perutusan itu.

Sebagai seorang Dominikan, saya syukuri perutusan untuk kuliah di tempat yang berbeda. Itulah waktu yang Tuhan berikan bagi saya untuk mewartakan, bukan sekedar lewat kata, tetapi hidup harian dalam hal sederhana. Di sini saya ditantang untuk selalu mengingat bahwa diri saya di mana dan kapan pun menjadi tanda kehadiran Gereja dan juga Kongregasi Ordo Pewarta (OP). Maka, setiap hari saya berjuang memberi kesaksian yang baik, agar keselamatan jiwa-jiwa mencakup semua orang, bukan hanya pribadi tertentu.

Bekal saya untuk memasuki dunia berbeda ini adalah hati yang penuh kasih, seperti yang Tuhan sampaikan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat.22:39).” Sabda itulah yang saya pegang teguh. Saya sangat yakin, ketika dengan hati yang peduli, hati yang mengasihi, dan hati yang mau berbagi saya memasuki suatu kelompok, meski saya berbeda agama dan budaya bahkan dikatakan minoritas, saya tidak akan mengalami kesulitan.

Kisah orang Samaria yang baik hati, kisah wanita berzina, kisah anak yang hilang juga menjadi inspirasi bagi saya untuk bisa menghayati hidup dalam perbedaan. Di belahan dunia mana pun kita tinggal, belaskasih dan pengampunan selalu dibutuhkan untuk bisa hidup berdampingan dengan sesama. Kita membutuhkannya, maka kita pun harus membagikannya meski kita sendiri berjuang memiliki keutamaan itu.

Maka, selain belajar, di kampus itu saya menghadirkan diri bagi teman-teman yang butuh tempat untuk bercerita, berbagi pengalaman menyenangkan maupun sedih, luka dan segala penderitaan mereka. Bagi saya, memberi semangat dan motivasi teman-teman termasuk sesuatu yang berharga. Selain itu saya membantu teman-teman mendalami materi kuliah.

Di kelas, saya juga membantu dosen menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan selama kuliah. Kadang-kadang, jika dosen membutuhkan sesuatu, atau ada yang tertinggal di tata usaha, saya turun dari lantai empat lewat tangga menuju tata usaha di lantai dasar. Bagi saya, sekecil apa pun, itu kesempatan untuk berbuat baik bagi teman-teman dan dosen. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat orang di sekitarku merasa nyaman dan terbantu, ketika saya melakukan pewartaan lewat hal-hal sederhana.

Saya merasa, semangat Gereja dan semangat Ordo Pewarta adalah merangkul seluruh umat manusia. Merangkul bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti tersenyum, menyapa, dan membantu orang yang membutuhkan, meski saya sendiri pusing dengan tugas kuliah. Ada banyak kebaikan bisa dilakukan dan saya mencoba melakukan yang bisa saya lakukan dengan hati tulus. Saya sangat percaya, berbuat baik adalah cara menabur benih yang buahnya juga akan saya tuai. Semakin bermurah hati, semakin banyak saya menerima kemurahan hati Tuhan lewat pribadi di sekitar saya.

Di kampus, saya tidak pernah merasa dibedakan. Teman-teman menerima saya tanpa keraguan untuk berdiskusi tentang agama. Saya merasa, di sini letak salah pewartaan, menghadirkan Gereja yang memang sangat asing bagi sebagian besar teman-teman saya. Bahkan banyak teman tidak tahu bahwa suster adalah biarawati dari agama Katolik. Awalnya mereka sungkan bertanya tentang hidup para suster, terutama apakah suster menikah atau tidak. Tetapi, lama kelamaan mereka bisa bertanya dengan santai. Saya pun merasa, apapun yang mereka tanyakan adalah pintu masuk bagi berkomunikasi untuk mengenalkan keutamaan hidup agama masing-masing.

Saya selalu menekankan, tujuan setiap agama sama yaitu kebaikan untuk sampai pada perjumpaan dengan Tuhan di surga. Selain itu, saya tekankan, semua orang apa pun agamanya diharapkan bisa berbuat baik kepada sesamanya, atau jika tidak bisa berbuat baik minimal tidak menyakiti, seperti yang dikatakan Dalai Lama. Dalam komunikasi penting untuk memahami dengan benar bahwa yang kuanggap benar tidak bisa dipaksakan menjadi kebenaran mutlak bagi orang lain. Maka, saya juga tekankan pentingnya saling menghormati bukan hanya agama tetapi pendapat masing-masing.

Saya ingat saat pertengahan kuliah semester satu. Beberapa dosen dan kaprodi bertanya kepada saya, “Suster, apakah suster bahagia kuliah di sini? Suster diperlakukan dengan baik oleh para dosen dan teman-teman mahasiswa kan?” Pertanyaan dan kepedulian para dosen agar saya benar-benar nyaman itu membuat saya terharu.

Di awal masuk, ada mata kuliah dari dosen beragama Islam, yang memberi saya kesempatan untuk presentasi tentang Gereja Katolik dan kehidupan para suster. Setelah presentasi, ada teman setiap bulan menawarkan uang jajan. Alasannya, saat presentasi seorang teman bertanya tentang uang saku, dan saya menjawab para suster tidak memiliki uang saku. Di waktu berbeda, serombongan teman membuat kesepakatan untuk bergantian mengantar jemput saya dari biara ke tempat kuliah. Mereka berpikir biarawati tidak biasa berada di lingkungan luar dan terlalu berbahaya bepergian sendiri. Tentu saya terharu dengan segala bentuk kepedulian mereka. Tetapi saya menjelaskan bahwa kami dilatih untuk menjadi pribadi mandiri.

Setiap kali saya datang dan akan pulang kuliah, tukang-tukang parkir kampus pun selalu menyapa saya dengan sangat semangat. Saya banyak belajar dari mereka, yang awalnya seperti tidak biasa melihat penampilan biarawati. Bahkan ada teman saya mengatakan, “Baju suster tidak pernah diganti, di mana dan kapan pun selalu sama.” Lama kelamaan saya menjadi terbiasa dan merasa kita semua satu keluarga yang saling peduli.

Kampus menjadi  rumah saya untuk belajar toleransi dalam perbedaan. Seperti dikatakan Ahmad Wahib, “toleransi beragama berarti menghormati manusia dalam keseluruhan adanya, memandang hidup rohani orang lain sebagai hak pribadinya yang tak dapat diganggu gugat atau dikendalikan dari luar.” Ini saya alami saat kuliah atau kerja kelompok. Ketika teman-teman sholat, mereka memberi saya kesempatan untuk berdoa. Terkadang saya ikut ke masjid. Sementara teman-teman sholat, saya mendoakan Malaikat Tuhan atau Rosario.

Menjadi Dominikan menyemangati saya untuk menjadikan hidup ini sebagai sumber inspirasi kebaikan bagi siapa pun terutama di kampus. Saya merasa, budaya menyapa, meminta maaf, mengakui saat salah, berbagi makanan dan ilmu, berterima kasih dan berempati adalah keutamaan-keutamaan hidup yang harus terus diperjuangkan untuk hidup di jaman sekarang. Dan saya melihat, keutamaan ini bisa saya bangun bersama teman-teman lain.

Ali bin Abi Thalib terkenal dengan nasihat bijaknya “Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.” Saya mengingat kata-kata ini saat kaprodi mengungkapkan harapan pribadinya kepada saya, “semoga kampus kita ini mampu menyampaikan kepada dunia sekitar bahwa yang kita junjung tinggi di sini adalah toleransi, di mana setiap mahasiswa memiliki hak yang sama dalam hal apa pun juga demi untuk mengembangkan dirinya menjadi mahasiswa yang berguna bagi agamanya dan negaranya.”

Menjadi saudara dalam perbedaan tidaklah sulit, asalkan hati kita terbuka menerima bahwa di bumi ini ada banyak hal berbeda, bahkan tidak ada sesuatu yang benar-benar sama. Oleh karena itu, diperlukan hati dan pikiran terbuka, agar perbedaan tidak menjadi pembatas yang menghalangi kita untuk berelasi. Saya percaya, setiap manusia di kolong langit dipanggil menjadi duta perdamaian guna membangun dunia yang damai untuk semua mahluk. Kita adalah pribadi yang dipanggil untuk menjadi saudara bagi sesama.***

 

 

Rabu, 25 Oktober 2017

Rab, 25/10/2017 - 13:10

PEKAN BIASA XXIX (H)
Santa Margaretha; Santo Gaudensius; Beato Yohanes Angel Poro, Imam; Santo Krisantus dan Daria

Bacaan I: Rm. 6:12-18
Mazmur: 124:1-8; R:8a
Bacaan Injil: Luk. 12:39-48

Pada suatu ketika berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: Camkanlah ini baik-baik! Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” Kata Petrus: ”Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan: ”Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

Renungan

Rasul Paulus menunjukkan dua macam perhambaan. Hamba dosa adalah hidup yang dikuasai oleh berbagai keinginan fana yang merusak dan membawa kematian. Sedangkan hamba kebenaran adalah hidup yang ditandai dengan segala tindakannya berada di bawah kasih karunia Allah yang memerdekakan. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, Yesus membebaskan manusia dari penjara dosa dan kuasa maut (bdk. Rm. 6:18). Oleh karena itu, manusia memperoleh hidup dan dituntun dalam kebenaran Allah yang menyelamatkan. Untuk itulah Paulus mengingatkan agar tetap taat setia dan menyerahkan diri kepada Allah sebagai pilihan yang memerdekakan.

Hamba kebenaran dikemukakan oleh Yesus dalam sikap seorang hamba yang siap siaga menanti dan melayani tuannya. Sikap menanti dan siaga sebagai sebuah tindak kesetiaan iman. Ada banyak hal yang dapat merongrong kesetiaan beriman. Sikap egois, nafsu serakah, kekuasaan, dsb, menjadi tantangan untuk setia pada Allah dalam semangat kerendahan dan penyerahan diri (bdk. Luk. 12:45). Kesetiaan beriman kepada Allah membawa pada kebahagiaan dan keselamatan yang menjadi pilihan dan tujuan utama hidup manusia.

Apakah kita tetap setia beriman meskipun berhadapan dengan tantangan dan persoalan hidup?

Tuhan Yesus Kristus, Engkau menghendaki agar aku selamat dan bahagia. Semoga aku tetap setia beriman kepada-Mu dan mewujudkan iman itu di tengah dunia. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Misionaris cilik diajak memiliki kepekaan hati, berbelas kasih, dan hormati lingkungan

Rab, 25/10/2017 - 02:35

Sehari sebelum Pelantikan Serikat Kepausan Anak-Anak Misioner Indonesia (SEKAMI) Paroki Santo Yosep Katedral dari Keuskupan Agung Pontianak (KAP), 22 Oktober 2017, yang dipimpin oleh Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia (KKI) KAP Pastor Gregorius Sabinus CP, anak-anak SEKAMI mengikuti rekoleksi bertema “Inilah Aku, Utuslah Aku” (Yesaya 6:8).

Rekoleksi yang dimaksudkan “sebagai pembekalan untuk membangun iman anak-anak sehingga siap diutus menjadi misionaris cilik di zaman ini,” membahas apa saja yang menjadi nilai misioner yang perlu dihayati oleh para misionaris cilik. Yang pertama tentang kepekaan hati untuk misi sejagat, “karena kepekaan hati menjadi ciri khas misionaris cilik yang siap diutus.”

Yang kedua tentang penghargaan terhadap hak dan martabat anak dan remaja. Dalam rekoleksi itu, menurut tim itu, anak-anak diajak memiliki sikap berbelas kasih seperti Allah, membuka pintu hati terhadap kesukaran orang lain, berbagai bentuk penderitaan tersembunyi, kemiskinan materi, juga beraneka ragam kesengsaraan seperti kesulitan hidup seorang anak, masalah berbelit dalam keluarga, tidak punya tempat tinggal, anak muda yang tidak melihat makna hidup, perempuan dan pria lanjut usia yang hidup sendirian, orang yang hidup dalam pengasingan, dan orang yang tidak dapat mengenyam pendidikan, seni, atau budaya.

Bahasan tentang sikap solider, sebagai yang ketiga, “mengajak misionaris cilik untuk menghormati lingkungan dan semua makhluk hidup, serta untuk mengolah tanah dengan bijaksana.” Dijelaskan bahwa bumi adalah milik Tuhan dan manusia menerimanya sebagai hadiah dan diberi amanat dengan tanggungjawab besar untuk memeliharanya, bukan memboroskan segala sumberdaya alamnya.

“Bumi merupakan tempat tinggal bersama dan saat ini ia sedang menderita dan terabaikan. Tidak boleh ada sikap masa bodoh saat menghadapi bencana lingkungan seperti banjir dan asap akibat kebakaran hutan, hilangnya seluruh keindahan alam, punahnya binatang-binatang, serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati, atau penggundulan hutan secara besar-besaran di beberapa bagian tertentu bumi ini,” demikian anak-anak itu diyakinkan dalam rekoleksi.

Dalam perutusan, para peserta diminta meneladani dua pelindung karya misi yaitu Santo Fransiskus Xaverius dan Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus.

Kemudian di akhir rekoleksi, peserta dibekali beberapa buah rohani yang dapat dilakukan oleh remaja misioner yakni selalu menjadikan unsur perutusan sebagai nafas dalam setiap pertemuan misalnya dengan berdoa bagi tanah misi dan misionaris-misionaris asing.

Buah rohani lainnya adalah berani memberikan diri bagi orang lain atau sesama yang tersisihkan, mengupayakan kegiatan-kegiatan misi melalui pertemuan khusus, berbagi kasih dalam tindak nyata sehari-hari, dan memiliki komitmen pribadi dan kelompok sekomunitas dengan semangat 2D2K (Doa, Derma, Kurban, Kesaksian), (mssfic)

Koperasi yang lahir dari “rahim Gereja” masih mempertahankan nilai kejujuran

Sel, 24/10/2017 - 21:28

Oleh Valery Kopong

Beberapa koperasi yang saat ini sedang beroperasi, umumnya “dilahirkan” dari lingkungan Gereja. Adanya koperasi yang hadir oleh peran imam, menunjukkan kepekaan imam yang tidak hanya memiliki keahlian dalam berkhotbah dan menafsirkan Kitab Suci tetapi membangun kesejahteraan umat melalui koperasi.

Koperasi menjadi benteng kekuatan ekonomi bagi para anggotanya dan sekaligus memberikan proteksi bagi anggota dari jeratan rentenir. Mengapa beberapa imam Katolik memberikan penyadaran tentang ketahanan ekonomi dan membangun kesejahteraan melalui koperasi? Seberapa jauh koperasi memberikan dampak pada kehidupan bagi anggotanya?

Tulisan ini bertitik tolak pada pengalaman pendirian Koperasi Madani. Pada tahun 2004, sebelum menjadi paroki di tahun 2012,  Stasi Gregorius Agung, Kota Bumi, Tangerang, mendapat angin segar dari Pastor Johanes Sudrijanta SJ yang mau mengumpulkan beberapa umat yang pernah berkecimpung di koperasi.

Ajakan ini bertujuan untuk mendirikan koperasi di lingkup Stasi Santo Gregorius sebagai bentuk kepedulian imam itu terhadap ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi umat yang saat itu hidup dalam paguyuban iman sebuah stasi.

Setelah ada kesepakatan berdirinya Koperasi Madani, seluruh administrasi termasuk ijin atau badan hukumnya diselesaikan. Cukup lama Koperasi Madani berkantor di Stasi Gregorius. Tetapi dalam perkembangan lanjut, dirasa bahwa koperasi bisa berkembang lebih pesat bila harus keluar dari lingkungan gereja. Saat itu, Pastor Maximianus Sriyanto SJ yang menjabat sebagai Pastor Kepala Paroki Santa Maria Tangerang meminta agar Koperasi Madani keluar dari lingkungan gereja.

Pengurus pun mencari tempat strategis untuk dikontrak. “Ruang terbuka” itu memberikan peluang bagi Koperasi Madani untuk menjaring anggota-anggota baru tanpa memandang latar belakang primordial. Pergerakan jumlah anggota dari hari ke hari mengalami kenaikan yang signifikan. Sampai saat ini jumlah anggota Koperasi Madani sebanyak 1.361 orang dan jumlah simpanan anggota sebesar 2.359.679.491,00.

Koperasi Kredit (Credit Union) Madani itu dibentuk tanggal 19 Desember 2004 dengan bidan Pastor Sudrijanta. Koperasi Kredit Madani berubah menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Madani karena di saat pengurusan ijin koperasi itu diminta menyetorkan dana jaminan sebesar Rp 15.000.000 dan jika tidak memiliki dana sejumlah itu sebaiknya tidak mendirikan Koperasi Kredit tetapi Koperasi Serba Usaha. Akhirnya tepat tanggal 17 Juni 2010  KSU Madani memperoleh ijin  atau badan hukum dengan Nomor 518/32/BH/DIS-KUKM.

Koperasi: Wadah Perjumpaan

Gereja semakin menyadari diri bahwa pewartaan Kabar Gembira saat ini tidak harus menggunakan label keagamaan karena label itu justeru menimbulkan jarak sosial yang jauh yang akhirnya akan menemukan titik buntu komunikasi antarumat beragama. Dalam kehidupan masyarakat yang plural, tuntutan membangun komunikasi berarti masing-masing orang harus keluar dari dirinya untuk menjumpai yang lain. Martin Heidegger pernah berkata, dalam membangun relasi yang baik, “aku harus keluar dari diri dan berjumpa dengan ‘aku-ku’ yang lain.”  Relasi yang dibangun antarumat beragama saat ini terasa sedikit mengalami benturan, karena setiap orang melihat agama masing-masing sebagai titik pembeda bahkan pemberi jarak pada pola relasi itu.

Melihat kondisi seperti ini, perlu dicari wadah yang tepat dan dilihat sebagai titik jumpa antara orang-orang yang memiliki label agama yang berbeda. Penulis melihat, semakin banyak anggota koperasi dengan latar belakang yang berbeda mengindikasikan bahwa proses menyatukan dan terutama membangun komunikasi yang intens bisa terlaksana secara baik.

Pernah saya bertanya pada seorang anggota Koperasi Madani yang beragama Islam. “Mengapa ibu bergabung dengan Koperasi Madani?” Dengan penuh keluguan ibu ini menjawab bahwa dia memilih menjadi anggota Koperasi Madani karena “masih percaya akan pengelolaan koperasi yang dilakukan oleh orang Katolik yang dikelola secara baik, jujur dan transparan.”

 

Mendengar pengakuan tulus ibu Muslim itu, hatiku bergidik diam. Benarkah koperasi-koperasi yang dikelola orang Katolik masih mempertahankan nilai-nilai kejujuran? Melihat dan menyaksikan beberapa koperasi “bodong” yang bergeliat mencari nasabah dan setelahnya dana yang dikumpulkan itu dibawa kabur, memberikan kesimpulan sederhana bahwa koperasi-koperasi yang lahir dari “Rahim Gereja” masih mempertahankan nilai kejujuran sebagai benteng kuat dalam membangun kepercayaan publik.  Kejujuran itu ibarat “fatamorgana” yang sayup kelihatan tetapi cukup berpengaruh terhadap ruang kepercayaan publik akan kredibilitas diri.

 

Kejujuran menjadi daya tarik tersendiri dan bahkan menjadi titik penentu dalam menggaet anggota-anggota baru untuk masuk dalam kehidupan berkoperasi. Koperasi, walaupun tidak bersentuhan langsung dengan kegiatan inti pewartaan Gereja tetapi memberikan pengaruh kepada orang-orang sekitar.

 

Di sini, koperasi juga menjadi wadah perjumpaan bagi orang-orang dari latar belakang agama yang berbeda. Ketika mereka bertemu di bawah “payung koperasi,” seakan masing-masing pribadi melepaskan identitas primordial dan dengannya komunikasi berjalan secara natural. Koperasi menjadi media pewartaan paling baik tentang pelayanan penuh cinta kasih seperti yang diwartakan oleh Yesus.***

Halaman