Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 17 mnt 17 dtk yang lalu

Suster yang juga PNS mengaku, 25 tahun sebagai suster adalah kehebatan Tuhan

Rab, 27/06/2018 - 23:51
Suster Clarentine CIJ/Konradus

Keluarga dari Flores itu disebut keluarga besar, karena anak dalam keluarga itu sebanyak delapan orang. Dari delapan anak itu, satu di antaranya menjadi imam dan dua lainnya menjadi suster. Salah satu dari kedua suster itu, Suster Clarentine CIJ, merayakan pesta perak hidup membiara.

“25 tahun sebagai suster bukanlah suatu kehebatan saya, tapi kehebatan Tuhan dalam merawat perjalanan hidupku, serta dukungan kedua orangtua serta rekan-rekan saya,” kata Suster Clarentine  kepada PEN@ Katolik. Suster itu lahir di Larantuka, 2 Oktober 1969.

Petrus Ece Muda Pr yang memimpin Misa Perayaan 25 Tahun Hidup Membiara Suster Clarentine  CIJ, di Tebet, Jakarta Selatan, 23 Juni 2018 membenarkan bahwa “cinta dan kesetiaan Tuhan yang memanggil Suster Clarentine berkarya dalam pelayanan pendidikan.”

Misa yang dihadiri sekitar 100 orang yang terdiri dari keluarga dekat Suster Clarentine, umat Paroki Santo Antonius Padua, Jakarta, dan handai tolannya itu, menurut imam diosesan itu, adalah pesta iman saat seluruh yang hadir ikut mendukung dan mendoakan Suster Clarentine “agar tetap setia dalam tugas pelayanan sebagai seorang suster dari Kongregasi Pengikut Yesus (Congregatio Imitationis Jesu, CIJ).”

Perayaan bertema “Segalanya kutanggung  dalam Dia yang memberikanku kekuatan” (Filipi 4: 13), juga dihadiri Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi serta istrinya dan sejumlah tokoh asal Flores, NTT. Kepada mereka Pastor Ece mengatakan bahwa “umat Katolik dari Keuskupan Larantuka, Flores, umumnya memiliki sifat banyak bicara, suka kerja keras, suka berdoa dan banyak yang menjadi pewarta Injil, dan ciri-ciri itu ada dalam keluarga dari Suster Clarentine.”

Suster Clarentine mengucapkan kaul pertama tahun 1993 dan berkarya di bidang pendidikan setelah merampungkan Bimbingan Konseling (BK) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sebelumnya dia pernah mengajar di sejumlah sekolah yakni di Lembata, Kupang, Kranji (Bekasi), Maumere, Kalimantan, dan Manggarai (Flores).

Saat ini Suster Clarentine yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu bertugas sebagai guru BK di SMAN II Ende. Suster itu mengaku menghadapi berbagai tantangan, namun dengan motonya sesuai tema Misa itu, “saya bisa menghalau kegelisahan dan tantangan yang dihadapi dalam meniti panggilan sebagai abdi Yesus.” (Konradus R. Mangu)

Syarat apa yang dituntut untuk menyambut Komuni Kudus?

Rab, 27/06/2018 - 20:08
Paroki Santo Thomas Aquinas di Monterey Park, California, AS

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

291. Syarat apa yang dituntut untuk menyambut Komuni Kudus?

Untuk menerima Komuni Kudus, seseorang harus secara penuh tergabung dalam Gereja Katolik, dan dalam keadaan rahmat, yaitu tanpa kesadaran akan dosa yang mendatangkan maut. Setiap orang yang sadar melakukan dosa berat harus menerima Sakramen Rekonsiliasi lebih dahulu sebelum menerima Komuni. Hal yang juga penting bagi mereka yang hendak menerima Komuni Kudus adalah suasana hening dan doa, selain itu perlu memperhatikan pantang yang diwajibkan Gereja dan sikap tubuh (tata gerak dan pakaian) yang pantas sebagai tanda penghormatan di hadapan Kristus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1385-1389, 1415

292. Apa buah-buah Komuni Kudus?

Komuni Kudus mempererat kesatuan kita dengan Kristus dan dengan Gereja-Nya. Kecuali itu, juga menjaga dan memperbarui hidup rahmat yang diperoleh pada saat menerima Sakramen Pembaptisan dan Penguatan, dan membuat kita berkembang dalam cinta kepada sesama, memperkuat kita dalam cinta kasih, menghapus dosa- dosa ringan, dan menjaga kita dari bahaya dosa berat di masa depan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1391-1397, 1416

Paus Fransiskus mengubah hari Minggu biasa menjadi kejutan luar biasa

Rab, 27/06/2018 - 14:10
Paus dengan seorang cacat di Casa OSA/Foto berdasarkan Vatican News

Pada hari Minggu biasa 24 Juni 2018, Paus Fransiskus melakukan kunjungan yang disebut “kejutan luar biasa” oleh Vatican News yakni ke “Casale 4.5” di pinggiran kota Roma. Hal itu disebut  luar biasa oleh media itu karena yang biasa dilakukan Paus adalah kunjungan Jumat Belas Kasih atau Jumat Kerahiman.

Kali ini Paus Fransiskus muncul di sebuah koperasi bernama “Durante e dopo di Noi. Casa OSA” (Selama dan setelah kami. Rumah Para Pekerja Perawatan Kesehatan Terkait). Paus datang ke sana, menurut laporan itu, untuk berbicara dengan sekitar 200 ” dan memeluk mereka.

“Kami selalu mengindahkan kebahagiaan dan kesejahteraan mereka yang kami bantu – yang saat ini berjumlah sekitar 50.000 di seluruh Italia,” jelas presiden kelompok itu,  Luca Milanese, kepada Paus Fransiskus.

Tujuan mereka, lanjutnya, adalah agar setiap orang yang dilayani akan dapat meningkatkan kehidupan mereka, menjadi semakin otonomi, dengan bantuan orang-orang yang mereka cintai dan para pekerja perawatan kesehatan.

‘Casa OSA’ adalah proyek kehidupan yang menstimulasi emosi, sikap, hubungan dan keinginan mereka yang dibantu. Proyek itu juga “menopang keluarga-keluarga yang keinginan satu-satunya adalah menjamin masa depan yang bermartabat bagi anak-anak mereka bahkan ketika mereka sudah tidak ada,” kata Milanese.

Paus Francis mengatakan dia bersyukur akan adanya  “hari keluarga” dan mendorong mereka yang hadir dengan mengatakan “percayalah pada mimpi-mimpi dan pada keindahan hidup dalam persatuan dengan Tuhan.”

Fasilitas yang dikunjungi Paus Fransiskus itu adalah bagian dari rantai kerja dengan orang-orang penyandang cacat berat dan keluarga mereka untuk memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan dan bantuan jangka panjang bagi orang-orang cacat.

Yayasan “Dopo di Noi” yang non-profit itu didirikan tahun 1984 guna  membantu penyandang cacat untuk mengembangkan rencana jangka panjang dalam pandangan masa depan di saat anggota-anggota keluarga tidak dapat lagi memberikan perawatan. Ini adalah bagian dari organisasi lebih besar yang bernama Anffas yang telah mendedikasikan dirinya selama 60 tahun untuk mengadvokasi hak-hak para penyandang cacat.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus mengagetkan lima ibu yang berada dalam tahanan

Paus membuat kunjungan kejutan ke rumah sakit dan pelayanan sosial di Roma

Paus tiba-tiba kunjungi para imam lansia dan menderita

Paus memeluk orang-orang cacat di Casa OSA/Ist Paus bersama orang cacat di Casa OSA/Foto Vatican News

Paus bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron, penerima gelar Kanon Kehormatan

Rab, 27/06/2018 - 12:39
Paus Fransiskus dan Presiden Perancis berbagi hadiah/Vatican News

Paus Fransiskus bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam audiensi hari Selasa, 26 Juni 2017. Kemudian di hari yang sama, Presiden Macron menerima warisan gelar kanon kehormatan dari Basilika Lateran. Dalam audiensi itu Presiden Macron didampingi istrinya, Brigitte.

Menurut komunike dari Kantor Pers Tahta Suci, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, pembahasan Paus Fransiskus dan Presiden Perancis itu adalah tentang perlindungan lingkungan, migrasi, dan pencegahan konflik.

Komentar-komentar mereka tentang isu-isu global mencakup perlunya “komitmen multilateral untuk pencegahan dan penyelesaian konflik, terutama dalam kaitannya dengan pelucutan senjata.”

Selain berbagi pandangan tentang konflik di Timur Tengah dan Afrika, serta merefleksikan “prospek-prospek proyek Eropa,” Paus Fransiskus dan Presiden Macron berbicara tentang bagaimana agama berkontribusi bagi “kebaikan bersama” Perancis, terutama komitmen Gereja Katolik untuk memperbaiki masyarakat.

Mereka juga saling bertukar hadiah. Paus Fransiskus memberikan kepada Macron, yang dibaptis Katolik pada usia 12 tahun, sebuah medali Santo Martin dari Tours. Menurut cerita, orang kudus itu memotong dua jubahnya dan memberikan setengahnya kepada seorang pengemis di musim dingin.

Presiden Macron memberikan kepada Paus sebuah buku langka tahun 1936 dari Georges Bernanos yakni “Diary of a Country Priest”.

Setelah itu, Presiden Macron bertemu Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin dan Sekretaris Hubungan dengan Negara-Negara Uskup Agung Paul Richard Gallagher.

Kemudian pada sore hari, Presiden Emmanuel Macron menerima gelar “Kanon Kehormatan yang pertama dan satu-satunya” dari Basilika Santo Yohanes Lateran atau Katedral Roma.

Para pemimpin Perancis secara otomatis mewarisi gelar “Kanon Kehormatan” sesuai tradisi abad ke-15 saat Perancis adalah monarki. Kardinal terpilih Angelo De Donatis memimpin upacara itu dan memberikan gelar itu kepada Presiden Macron.(pcp berdasarkan Vatican News)

Paus Fransiskus berbincang dengan Presiden Perancis/Vatican News Presiden Perancis Emmanuel Macron menerima warisan gelar Kanon Kehormatan dari Basilika Lateran/Daily Express

Kaul sementara butuh komitmen, waktu, pengorbanan yang sama dengan kaul kekal

Sel, 26/06/2018 - 16:37
Frater Robertus Adi Nugroho OP dari Jakarta bertanda tangan atas janjinya

“Pengucapan kaul sementara, meski saat ini dilakukan untuk satu tahun, seharusnya dilakukan dengan suatu visi akan pengucapan kaul kekal di masa depan. Janji ini membutuhkan komitmen, waktu, dan pengorbanan yang sama dengan kaul kekal, janji yang menjadi kesaksian akan harapan kita akan kehidupan kekal.”

Pastor Filemon Dela Cruz OP mengatakan hal itu dalam renungannya saat, atas nama Master Ordo Dominikan Pastor Bruno Cadore OP, menerima kaul sementara dari Frater Johnny Luntungan OP yang berasal dari Manado, Frater Robertus Adi Nugroho OP dari Jakarta, dan Frater Lukas Sabdaningrat OP dari Bekasi.

Pembaruan Kaul Sementara bagi Ordo Dominikan sebagai pembaruan janji religius untuk taat kepada Tuhan, Bunda Maria, Santo Dominikus, Master Ordo dan penerus-penerusnya itu berlangsung hari Minggu, 24 Juni 2018, bertepatan dengan peringatan kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Pembaruan kaul itu dilangsungkan bersama-sama dengan doa pagi komunitas di kapel pastoran Redemptor Mundi Surabaya dan dihadiri seluruh komunitas frater dan suster Dominikan di Surabaya, serta formator Pastor Joseto Bernadas Jr OP.

Namun, dalam kehidupan religius, jelas imam dari Filipina yang bertugas sebagai kepala Rumah Santo Tomas Aquino Surabaya itu, sering muncul pertanyaan, “Bagaimana jika…?” Pertanyaan itu bisa menjadi persiapan yang baik akan masa depan, namun bisa juga menjadi sebuah cobaan.

Bagaimana jika saya tidak mampu? Bagaimana jika saya jatuh? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan keluarga saya yang sedang di luar? It semua adalah contoh-contoh pertanyaan yang sering muncul. Meski demikian, tegas imam itu, “Tuhan telah menyiapkan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dalam hidup komunitas dan dalam relasi dengan-Nya.”

Pastor Filemon juga mengajak para frater itu untuk menanyakan kembali berbagai hal yang ada dalam peraturan-peraturan hidup bersama sebagai religius. Di situ, jelas imam itu, “Terdapat kebijaksanaan para pendahulu kita dalam regula dan konstitusi yang kita taati. Jika saja kita benar-benar memahami dan melakukannya, niscaya kita dapat menjadi orang kudus di mata Tuhan.”(fr johnny luntungan op)

Artikel terkait:

Mgr Sutikno ingatkan hidup imamat tak janjikan sukses duniawi tapi bayang-bayang salib

Pastor Napoleon-Sipalay OP: Ordo Pewarta tak kejar kuantitas tapi kualitas pelayanan bagi Gereja

Tiga frater OP bertiarap di lantai kapel/Ist Dari kiri ke kanan: Frater Lukas Sabdaningrat OP, Frater Johnny Luntungan OP, Frater Robertus Adi Nugroho OP/Ist Pastor Filemon Dela Cruz OP bersama tigra frater yang mengucapkan kaul sementara/Ist Bersama beberapa imam, suster dan frater di Surabaya/Ist

Bilamana seseorang harus menyambut Komuni Kudus?

Sel, 26/06/2018 - 15:11
michaelckw.blogspot.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

289. Bilamana Gereja mengharuskan anggota-anggotanya berpartisipasi dalam perayaan Sakramen Ekaristi Kudus?

Gereja mengharuskan warga-Nya untuk berpartisipasi dalam perayaan Sakramen Ekaristi Kudus setiap Minggu, dan pada hari-hari suci yang diwajibkan, serta menganjurkan juga pada hari-hari lainnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1389, 1417

290. Bilamana seseorang harus menyambut Komuni Kudus?

Gereja menganjurkan kaum beriman, jika mereka mempunyai disposisi yang dituntut, menerima Komuni Kudus setiap kali mereka berpartisipasi dalam Ekaristi Kudus. Tetapi, Gereja mewajibkan mereka menerima Komuni Kudus paling sedikit satu kali dalam setahun selama masa Paskah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1389

PMKRI menghimbau seluruh kadernya untuk mengawal jalannya Pilkada

Sel, 26/06/2018 - 05:33
Berdasarkan Foto Baret Merah PMKRI/Ist

“Menghimbau kepada seluruh kader PMKRI di daerah-daerah yang melaksanakan Pilkada agar terlibat secara aktif untuk mengawal jalannya proses demokratis tersebut secara jujur dan adil dengan mengedepankan politik nilai yang berpijak pada keadilan, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif.”

Demikian salah satu dari beberapa pernyataan sikap Pengurus Pusat PMKRI dalam Pilkada Serentak 2018 yang dikeluarkan di Jakarta, 25 Juni 2018, dan ditandatangani oleh Presidium Gerakan Kemasyarakatan Yohanes Paulus Arianto Sani Namang, dan diketahui oleh Ketua Presidium Juventus Prima Yoris Kago dan Sekretaris Jenderal Tomson Sabungan Silalahi.

Pernyataan itu dikeluarkan karena Pengurus Pusat PMKRI menyadari bahwa momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara demokratis yang akan berlangsung 27 Juni 2018 menuntut tanggung jawab moral segenap tumpah darah Indonesia untuk menjamin terlaksananya pemilihan umum itu secara adil dan jujur tanpa mencederai persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dalam terang itu, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merasa terpanggil untuk terlibat aktif dalam upaya untuk mengawal Pilkada tersebut, sehingga momentum kontestasi kepemimpinan itu, selain mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang kredibel dan cakap, juga mampu meneguhkan keharmonisan bangsa dalam bingkai persatuan dan kesatuan sesuai dengan Pancasila,” tulis pernyataan sikap yang juga dikirim kepada PEN@ Katolik itu.

Dalam semangat mengawal proses demokratis serta menjaga keharmonisan bangsa pada momentum Pilkada itu, Pengurus Pusat PMKRI juga menyerukan agar pemilih “menolak praktek politik uang dan segala bentuk kampanye hitam yang berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan di antara sesama anak bangsa.”

Selain itu, pemilih diminta menggunakan pertimbangan rasional dan suara hati dalam memilah dan memilih kandidat kepala daerah sesuai dengan rekam jejak dan kapasitas intelektual untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kedaerahan dan kebangsaan, dan bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam keragaman di bawah terang Pancasila.

Pengurus Pusat PMKRI juga menghimbau kepada pihak Penyelenggara Pemilu, Polri, dan TNI untuk bersikap netral dalam proses Pilkada 2018.(paul c pati)

Ketua Waligereja Filipina tidak setuju seorang imam Katolik membawa senjata api

Sel, 26/06/2018 - 04:17
Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, Ketua Konferensi Waligereja Filipina/CBCPNews

“Beberapa hari terakhir ini, ada berita bahwa sejumlah imam Katolik meminta izin dari Kepolisian Nasional Filipina (PNP) agar mereka diizinkan membawa senjata api. Saya telah menyatakan pikiran saya tentang persoalan ini beberapa hari yang lalu melalui Radio Veritas, stasiun radio yang dikelola oleh Keuskupan Agung Manila, bahwa saya tidak setuju dengan tindakan semacam itu – bahwa seorang imam lebih baik membawa senjata api.”

Demikian dua alinea pertama surat yang ditulis oleh Ketua Konferensi Waligereja Filipina Mgr Romulo G Valles dari kantor waligereja itu, 23 Juni 2018. Surat itu diterbitkan oleh CBCPNews, sebuah media online dari kantor waligereja itu.

PNP sebelumnya melaporkan bahwa lebih dari 200 imam dan pendeta telah mengajukan permohonan izin untuk membawa senjata api di luar tempat tinggal mereka.

Uskup Agung Davao itu menjelaskan bahwa seorang imam adalah seseorang yang dibentuk untuk Kristus. “Dalam ajaran Gereja, seorang imam bertindak atas nama Kristus. Di tengah-tengah Gereja, di tengah-tengah masyarakat, karena anugerah penahbisan imamat, kita seharusnya melihat dan merasakan pribadi Kristus dalam kehadirannya. Dan, oleh karena itu, dengan pembentukan seorang imam untuk Kristus ini, bisa dikatakan bahwa tidaklah tepat bagi seorang imam untuk membawa senjata api untuk melindungi dirinya sendiri,” tulis prelatus itu.

Mgr Valles sangat menyadari bahaya dalam hidup para imam akhir-akhir ini, terutama setelah terjadi pembunuhan atas tiga imam dalam beberapa bulan terakhir. Para uskup yang sangat terganggu dan sangat sedih atas kematian para imam itu bahkan mencela pembunuhan-pembunuhan itu.

“Tapi tetap bagi saya, para imam sama sekali tidak perlu membawa senjata api. Itulah sebabnya, kami memberikan kepercayaan dan keyakinan kami kepada PNP dan kepada personel ketenteraman dan ketertiban terkait lainnya dalam pemerintahan. Kami berdoa bagi mereka dan menantang mereka untuk melakukan yang terbaik dalam tugas yang sangat sulit untuk melindungi kita semua, termasuk para imam,” tulis uskup agung itu.

Uskup Agung Davao itu menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada seorang imam pun yang bertanya kepadanya tentang hal itu. Sungguh pun demikian, “saya sangat tidak menganjurkan para imam saya, klerus dari Davao, untuk meminta izin dari PNP untuk membawa senjata api.”

Namun Mgr Valles menganjurkan para imam dari keuskupan atau keuskupan agung lain di Filipina untuk membicarakan hal itu dengan uskup mereka dan di antara para imam sendiri, apakah membawa senjata itu pantas bagi umat kita.

Mgr Valles mengakhiri suratnya dengan mengajak para imam untuk lebih banyak lagi berdoa agar semakin yakin dan bersyukur atas anugerah penahbisan yang telah mereka terima. “Kita dibentuk untuk Kristus dan bertindak atas nama-Nya dalam setiap saat kehidupan kita,” tulis ketua Konferensi Waligereja Filipina itu.(paul c pati)

Artikel terkait:

Para uskup menentang ide mempersenjatai para imam

Kematian tiga imam

Hari Perbaikan di Filipina

Pastor Richmond Nilo imam ketiga yang tewas di Filipina dalam enam bulan terakhir

Pastor Rey Urmeneta terhindar dari kematian

Pastor Ventura dimakamkan

Pastor Ventura ditembak mati setelah Misa

Penghormatan macam apa yang selayaknya diberikan kepada Sakramen Ekaristi?

Sen, 25/06/2018 - 18:34
Tabernakel Gereja Maria Ratu Pencinta Damai, Pancasila, Pontianak

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

285. Berapa lama kehadiran Kristus dalam Sakramen Ekaristi?

Kehadiran Kristus terus berlanjut selama rupa Sakramen Ekaristi tetap ada.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1377

286. Penghormatan macam apa yang selayaknya diberikan kepada Sakramen Ekaristi?

Penghormatan yang layak diberikan kepada Sakramen Ekaristi, baik selama perayaan atau di luar itu, adalah penyembahan latria, yaitu penyembahan yang layak diberikan kepada Allah. Gereja sangat menghormati Hosti yang sudah dikonsakrir. Gereja membawanya kepada orang yang sakit dan mereka yang tidak mungkin berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi; juga menakhtakan dalam adorasi umat beriman, dan mengaraknya dalam prosesi. Gereja menganjurkan umat beriman untuk mengunjungi dan menghormati Sakramen Mahakudus yang disimpan dalam tabernakel.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1378-1381, 1418

Paus menunjuk Beata Paraguay yang baru sebagai model bagi orang muda Katolik

Sen, 25/06/2018 - 04:11
Seorang perempuan Paraguay menghadiri Misa Beatifikasi untuk Beata Maria Felicia Chiquitunga (AFP)

Setelah Doa Malaikat Tuhan, 24 Juni 2018, Paus Fransiskus menunjuk seorang yang dibeatifikasi sehari sebelumnya di Paraguay sebagai model bagi semua orang muda. Paus Fransiskus mengatakan, kesaksian dari Suster Maria Felicia de Jesus Sacramentado itu adalah “ajakan untuk semua orang muda, terutama yang berasal dari Paraguay, untuk menjalani hidup mereka dengan kemurahan hati, kelemahlembutan dan sukacita.”

Menurut Paus,  seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, biarawati Karmelit yang hidup selama paruh pertama abad ke-20 dan yang meninggal pada usia 34 tahun itu “menerima penyakitnya dengan tenang.” Suster itu mengabdikan hidupnya untuk merawat para lansia, orang sakit dan narapidana.

“Pengalaman kerasulan yang bermanfaat  ini, ditopang oleh Ekaristi harian, menuntun pada konsekrasinya kepada Tuhan,” kata Paus.

Suster Maria Felicia de Jesus Sacramentado yang dikenal sebagai ‘Chiquitunga’ karena perawakannya yang kecil, dinyatakan sebagai Beata pada hari Sabtu 23 Juni 2018 oleh Prefek Kongregasi untuk Penggelaran Kudus Kardinal Angelo Amato.

Dalam Misa Beatifikasi di Asuncion, Kardinal Amato mengatakan dia “selalu siap bekerja sama, membantu, untuk kerukunan.”

Ribuan orang berkumpul di stadion Pablo Rojas di Asuncion untuk menghadiri Misa beatifikasi itu. Dalam Misa itu, Kardinal Amato membacakan biografi Chiquitunga dengan mengatakan, “Dialah orang yang menjawab 100 persen panggilan baptisnya dan imannya teguh.”

“Para saksi berbicara tentang imannya yang sangat besar, meyakinkan, dan luas, yang terwujud setiap hari dalam ketaatannya, amal kasihnya yang istimewa dan permintaan maaf atas kesalahannya sendiri dan kesalahan orang-orang lain,” kata kardinal.

Chiquitunga adalah wanita pertama yang dibeatifikasi di Paraguay. (pcp berdasarkan Vatican News).

Paus mengganti nama kantor komunikasi Vatikan

Sen, 25/06/2018 - 03:23
Paus Fransiskus di kantornya di Istana Apostolik (ANSA)

Lewat sebuah pengumuman yang diterbitkan oleh media cetak Vatikan, Osservatore Romano,  pada hari Sabtu, 23 Juni 2018, Paus Fransiskus mengubah nama Sekretariat untuk Komunikasi menjadi “Dikasteri untuk Komunikasi.” Sekretariat untuk Komunikasi dari Vatikan, yang merupakan organisasi induk dari Vatican News itu, sekarang akan bernama Dikasteri untuk Komunikasi. Paus Fransiskus membuat keputusannya itu terbuka untuk umum pada tanggal itu, setelah mendengar pendapat dari Dewan Kardinal. Dalam naskah yang diterbitkan di Osservatore Romano di hari yang sama, Uskup Agung Angelo Becciu, wakil dari Sekretariat Negara, mengatakan keputusan itu diambil dalam audiensi dengan Bapa Suci dan efektif berlaku pada hari Sabtu, 23 Juni 2018.(pcp berdasarkan Vatican News)

Yubileum 150 Tahun Keuskupan Manado: OMK harus lebih berani wartakan karya agung Tuhan

Sen, 25/06/2018 - 02:44
Sekjen Keuskupan Manado Pastor John Montolalu Pr dalam Misa Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik Bertumbuh Kembali di Keuskupan Manado Tingkat Kevikepan Stella Maris/PEN@ Katolik/michael

“Tuhan memberikan kita kemampuan berbeda-beda untuk mewartakan karya agung-Nya dalam kehidupan dan keseharian, meski kita pasti akan mengalami berbagai macam kesulitan dan persoalan yang terkadang membuat kita terjatuh.”

Sekjen Keuskupan Manado Pastor Johanis (John) Josep Montolalu Pr berbicara dalam Misa Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik Bertumbuh Kembali di Keuskupan Manado Tingkat Kevikepan Stella Maris (Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Bolmong, Kota Kotamobagu, dan Provinsi Gorontalo) di Lapangan Kotamobagu, 24 Juni 2018.

Pastor John Montolalu memimpin Misa bertema “Dengan semangat Yubileum 150 Tahun Gereja Katolik, Keuskupan Manado berjalan bersama dalam terang Yesus” didampingi 10 imam konselebran dari paroki-paroki sekevikepan itu.

Uskup Manado Mgr Estephanus Benedictus Rolly Untu MSC mencanangkan tahun yubileum itu di Gereja Katolik Stasi Kema, Paroki Santo Paulus Lembean, Sulawesi Utara, 14 September 2017 itu. Tanggal 14 September 2018, kata uskup itu, “kita akan merayakan 150 tahun Gereja Katolik Kembali dan Berkembang di Keuskupan Manado.” Untuk menuju perayaan puncak itu, setiap kevikepan dari sembilan kevikepan yang ada di Keuskupan Manado merayakan perayaan itu secara terpisah.

Dalam perayaan di Kevikepan Stella Maria itu, kata Pastor John  Montolalu kepada PEN@ Katolik, dia mengajak semua umat Katolik di kevikepan itu untuk mewartakan karya agung Tuhan, dan secara khusus imam itu berharap agar “OMK lebih berani tampil dan jangan ragu untuk terus-menerus mewartakan karya Tuhan, agar tersebar di seluruh wilayah Keuskupan Manado.”

“Inilah cerita kita dan Yubileum kita,” kata imam diosesan itu seraya menambahkan bahwa perayaan itu bukan akhir dari cerita, “namun ini menjadi tantangan kita untuk berjalan bersama melanjutkan cerita sehingga makin tersebar dan semakin banyak orang mendengarkan karya agung Tuhan.”

Harapan yang sama dikatakan kepada media ini oleh Lucky Musung, yang bertugas sebagai ketua panitia. “Selain bersyukur atas perayaan yubileum ini, saya berharap semoga umat se-Keuskupan Manado makin berkembang dalam mewartakan karya Tuhan,” katanya.

Perayaan Ekaristi yang diawali perarakan dari Gereja Kristus Raja Kotamobagu menuju Lapangan Kotamobagu itu dihadiri sekitar tiga ribu umat dari delapan paroki di kevikepan itu yakni Paroki Kristus Raja Kotamobagu, Paroki Kebangkitan Kristus Amurang, Paroki Santo Paulus Tompaso Baru, Paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosari Modoinding, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Guaan, Paroki Santo Andreas Rasul Lolak, Paroki Santa Maria Pengantara Dumoga dan Paroki Santo Kristoforus Gorontalo.

Menurut sejarah, tanggal 14 September 1868 Pastor Jan de Vries SJ berangkat dari Batavia dan mendarat di pantai Kema, Dia diutus oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr P Vrancken Pr (1847-1874) untuk memenuhi undangan Daniel Mandagi. Pensiunan tentara KNIL yang sudah menjadi Katolik di Jawa itu ingin membaptis anaknya. Namun, waktu itu tidak ada satupun pastor di wilayah Sulawesi Utara karena semua wilayah dikuasai oleh pendeta Protestan. Sisa-sisa umat Katolik dari karya misi tahun 1500-an pun sudah menjadi Protestan.

Tahun 1993, Uskup Emeritus Mgr Josef Suwatan MSC membuat perayaan sama memperingati 125 tahun peristiwa bersejarah itu. Waktu itu,  Mgr Jos kebetulan menemukan surat Daniel Mandagi itu yang diserahkan oleh Pastor Jocobus Wagey Pr (Imam diosesan Manado tertua). Pastor Wagey mendapatkan surat itu dari ketua umat di desa Tintjep, Paroki Sonder. Mgr Jos menyadari bahwa saat itu bertepatan dengan 125 tahun kehadiran Pastor Vries untuk memenuhi undangan tertulis itu. Maka, tahun 1993, diadakan perayaan besar-besaran dengan penghormatan Salib Tuhan Kita Yesus Kristus yang diarak berkeliling seluruh wilayah Keuskupan Manado. (michael)

Pembagian komuni/michael Pastor John Montolalu Pr bersama para imam konselebran dari semua paroki di Kevikepan Stella Maris/Ist

Vatikan memenjarakan mantan diplomat Tahta Suci karena pornografi anak

Sen, 25/06/2018 - 02:05
Tribunal Vatikan mengadili kasus pornografi anak yang dilakukan Mgr Carlo Capella, 23 Juni 2018. (ANSA)

Pengadilan (tribunal) Vatikan pada hari Sabtu, 23 Juni 2018, menyatakan bersalah seorang mantan diplomat Takhta Suci, dan memvonisnya selama lima tahun penjara karena “kepemilikan dan distribusi pornografi anak dengan jumlah yang besar.” Itulah pengadilan pertama dalam jenis seperti itu di Vatikan.

Selain tahanan penjara, tribunal Vatikan juga mewajibkan Mgr Carlo Alberto Capella, yang bertugas sebagai penasehat di Kedutaan Vatikan di Washington, AS, membayar denda sebesar € 5.000.

Hukuman untuk imam yang berasal dari Italia itu dibacakan oleh Presiden Tribunal Giuseppe Dalla Torre. Imam yang berusia 50 tahun itu mengaku melihat gambar-gambar itu saat dia mengalami masa yang dia sebut “kerapuhan” dan krisis interior.

Mgr Capella, yang ditahbiskan imam di Keuskupan Agung Milan tahun 1993, akan menjalani hukuman di barak Vatikan. Dia telah ditahan di sana sejak dia ditangkap tanggal 7 April 2018 setelah dipanggil pulang dari Washington.

Bulan Agustus 2017, departemen luar negeri AS telah memberi tahu Tahta Suci tentang kemungkinan adanya pelanggaran hukum berkaitan dengan gambar pelecehan seksual anak-anak oleh seorang anggota misi diplomatik Tahta Suci di Washington.

Polisi di Windsor, Kanada, mengatakan bahwa mereka telah mengeluarkan surat perintah penangkapan atas dirinya karena dicurigai memiliki dan mendistribusikan gambar-gambar pelecehan anak kecil di internet saat mengunjungi sebuah gereja di Kanada.

Pihak penuntut Vatikan menyerukan hukuman yang lebih keras yakni 5 tahun dan 9 bulan penjara serta denda € 10.000, mengingat jumlah bahan pornografi anak yang sangat banyak itu.

Pengadilan terhadap Mgr Capella merupakan pelaksanaan pertama Undang-Undang Kota Vatikan 2013 yang secara khusus mengkriminalisasi kepemilikan dan distribusi pornografi anak, dengan menghukumnya maksimal lima tahun penjara dan denda € 50.000.

Imam itu mengatakan dia menyadari bahwa tindakannya itu vulgar dan “tidak pantas.” Dia meminta maaf karena “kerapuhan” dan “kelemahannya” telah menyebabkan rasa sakit pada keluarganya, keuskupannya dan Tahta Suci.(pcp berdasarkan Vatican News)

 

Paus minta lembaga antaragama dorong dialog di antara orang berbeda agama

Sab, 23/06/2018 - 23:13
Paus Fransiskus berbicara dengan asosiasi antaragama dari Perancis bernama “Emouna Fraternité Alumni”/Foto Vatican News

Paus Fransiskus pada hari Sabtu, 23 Juni 2018, meminta kepada sebuah asosiasi antaragama dari Perancis yang bernama “Emouna Fraternité Alumni” untuk mendorong dialog di antara orang-orang yang berbeda agama dan meningkatkan perdamaian dan kesucian setiap kehidupan manusia. Asosiasi itu sendiri sedang berupaya menjalin ikatan solidaritas di kalangan agama-agama berbeda.

Paus mengatakan, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, bahwa kelompok itu membuktikan kemungkinan “untuk menjalani pluralisme yang sehat, dengan menghormati perbedaan dan nilai setiap orang.” Paus menambahkan bahwa kelompok itu memberikan kesaksian, dalam semangat keterbukaan, tentang “kemampuan agama untuk ikut serta dalam debat publik di masyarakat sekuler.”

“Ikatan solidaritas” mereka, lanjut Paus, menunjukkan bagaimana “dialog di kalangan anggota-anggota dari agama-agama berbeda merupakan syarat yang diperlukan untuk berkontribusi bagi perdamaian di dunia.”

Untuk itu, tegas Paus, diperlukan tiga sikap untuk mendorong dialog yakni “kewajiban menghormati identitas pribadi seseorang dan identitas orang lain, keberanian untuk menerima perbedaan, dan kesungguhan niat.”

Menurut Paus Fransiskus, solidaritas harus dijalani dalam “sikap keterbukaan terhadap orang lain” dan jangan pernah dalam “sinkretisme yang mendamaikan.”

Sebaliknya, lanjut Paus, “[solidaritas] selalu mencari dan tulus diperkaya oleh perbedaan-perbedaan, dengan keinginan untuk lebih memahami dan menghormati perbedaan-perbedaan itu, karena kebaikan setiap orang bersemayam dalam kebaikan semua orang.”

Paus mengatakan bahwa karya Asosiasi Emouna itu menunjukkan bahwa “agama bukanlah bagian dari masalah tetapi merupakan bagian dari solusi.”

Akhirnya, Paus Fransiskus mengajak mereka yang mempromosikan dialog antaragama “untuk menjadi pohon yang berakar kuat, yang ditanam dalam bumi sejarah dan tradisi kalian masing-masing.”

Paus mendorong mereka “membangun budaya perjumpan dan dialog, mempromosikan perdamaian, dan membela – dengan manis dan hormat – kesucian setiap kehidupan manusia melawan semua bentuk kekerasan fisik, sosial, pendidikan, atau psikologis.”

Marilah kita saling berdoalah, kata Paus Fransiskus, dan semoga Tuhan “membantu kalian berjalan sebagai saudara dan saudari sepanjang jalan perjumpaan, dialog, dan kerukunan dalam semangat kerja sama dan persahabatan.” (pcp berdasarkan Vatican News)

Anak sebagai tanda belas kasih Allah

Sab, 23/06/2018 - 22:18

 

(Renungan Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2018, berdasarkan Lukas 1:57-66.80)

“Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.” (Lk. 1:58)

Hari ini kita merayakan kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada dua tokoh protagonis pada Injil kita hari ini, Elizabeth, dan Zakharia. Santo Lukas mendeskripsikan pasangan itu sebagai “orang benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (Luk 1: 6) ”. Tapi, mereka tidak memiliki anak. Kemungkinan memiliki anak juga mendekati nol karena Elizabeth adalah mandul dan Zakharia sudah tua. Dalam masyarakat Yahudi kuno, anak dianggap sebagai berkat Tuhan dan sumber kehormatan, dan kemandulan adalah kutukan dan rasa malu.

Namun, malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia dan mengatakan kepadanya bahwa istrinya akan hamil meskipun usia mereka yang lanjut. Melihat lebih dekat makna dari nama pasangan ini, kitapun bisa berefleksi lebih dalam. Zakharia dalam bahasa Ibrani berarti “mengingat”, dan Elisabet berasal dari dua kata Ibrani, “Eli” dan “Sabath” berarti janji Tuhan. Dengan demikian, kedua nama itu bisa berarti Tuhan mengingat janji-Nya. Dalam Kitab Suci, ketika Tuhan mengingat, ini bukan sekedar berarti Tuhan mengingat kembali sesuatu dari memori, tetapi ini berarti Tuhan memenuhi apa yang pernah dijanjikan-Nya. Karena Allah telah memenuhi janji-Nya kepada leluhur Zakharia, maka Allah juga mengingat janji-Nya kepada Elisabet. Kisah Elizabeth menggemakan kisah-kisah para wanita hebat dalam Perjanjian Lama: Sarah (Kej 15: 3; 16: 1), Ribka (Kej 25:21), Rahel (Kej 29:31; 30: 1), ibu dari Simson dan istri Manoah (Hak 13: 2-3), dan Hana (1 Sam 1: 2).

Apa janji Tuhan kepada Elizabeth dan Zakharia, dan juga bagi kita semua? St. Lukas menunjukkan kepada kita bahwa janji Allah adalah Dia akan menunjukkan rahmat dan belas kasihan-Nya kepada Elisabeth dan Zakharia (lihat Luk 1:58). Kelahiran Yohanes Pembaptis menjadi tanda rahmat dan belas kasihan Allah terhadap pasangan yang saleh ini. Dengan demikian, kelahiran setiap anak adalah tanda bahwa janji Allah digenapi, tanda belas kasihan Allah kepada setiap orang tua. Kita ingat bahwa rahmat belas kasihan bukanlah sesuatu yang pantas kita terima. Belas kasih adalah berkat dan anugerah. Melalui setiap anak, Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita, dan bersama-sama dengan Elizabeth dan Zakharia, kita juga akan bersukacita.

Namun, hal ini tidak mudah. Kita hidup di dunia yang semakin merasa tidak nyaman dengan kehadiran anak-anak kecil di sekitar kita. Ada mentalitas jahat yang merayap ke generasi zaman now. Ini adalah mentalitas yang mempromosikan kesuksesan individu sebagai nilai kebahagiaan yang utama. Jadi, apa pun yang menghalangi kesuksesan harus diberantas. Ini termasuk pernikahan, kehidupan berkeluarga dan akhirnya anak-anak. Mereka tidak lagi dilihat sebagai anugerah yang diterima dengan rasa syukur, tetapi beban yang harus dihindari. Ketika saya mengunjungi Korea Selatan tahun lalu, sahabat saya dari negeri tersebut mengatakan bahwa generasi muda Korea bekerja sangat keras sampai mereka tidak lagi membuat pernikahan dan memiliki anak sebagai prioritas mereka. Memang, tidak seperti di Filipina atau Indonesia, tidak mudah menemukan anak-anak kecil bermain dengan bebas di Seoul. Saya kira penurunan pertumbuhan penduduk adalah masalah di banyak negara yang maju.

Kita tidak menyangkal fakta bahwa untuk membesarkan anak-anak adalah tanggung jawab yang melelahkan, dan kita juga tidak menyangkal kenyataan bahwa tidak semua dipanggil untuk menjadi orang tua. Namun, adalah sebuah kebenaran bahwa anak-anak adalah anugerah tidak hanya bagi keluarga tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia, dan dengan demikian, kita semua memiliki panggilan suci untuk melindungi dan menjaga kesejahteraan anak-anak kita. Kita akan melindungi anak-anak kita dari segala bentuk pelecehan, dari efek melemahkan kemiskinan, dan dari mentalitas egosentris dan kontrasepsi. Menghargai sebuah pemberian berarti menghormati sang pemberi, dan dengan demikian, menghormati setiap anak berarti menghormati Tuhan yang memberi mereka kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

KWI minta umat jadi pemilih cerdas, rasional, tolak politik uang, pilih kandidat beriman

Sab, 23/06/2018 - 21:55
Ketua Komisi Kerawam KWI Mgr Vincentius Sensi Potokota/Foto Kawali

Dalam pemilihan kepala daerah diharapkan, umat Katolik “Menjadi pemilih cerdas, bertanggungjawab, dan proaktif, artinya mau meluangkan waktu untuk mengecek nama di Daftar Pemilih Tetap (DPT), datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memberikan hak suara, dan ikut mengawasi penghitungan suara.”

Umat Katolik juga diharapkan “Memilih secara rasional, artinya mengetahui kandidat yang akan dipilih dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai media yang dipercaya, dan menolak politik uang, artinya berani menolak uang atau barang apapun yang diberikan dengan maksud agar mereka memilih calon tertentu.”

Permintaan  itu merupakan bagian dari Seruan Moral Komisi Kerawam KWI dalam Pilkada Serentak 2018 yang akan diselenggarakan 27 Juni 2018. Sebagai bagian bangsa, seruan yang ditandatangani Ketua Komisi Kerawam KWI Mgr Vincentius Sensi Potokota dan Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI Pastor Paulus Christian Siswantoko Pr mengingatkan umat bahwa mereka “terpanggil ikut merawat dan memajukan kehidupan demokrasi yang sehat, bersih, dan bermartabat.”

Pilkada serentak di 171 daerah, tegas seruan itu, menjadi momentum untuk menghayati semboyan “100% Katolik dan 100% Indonesia” sebagaimana diajarkan oleh Mgr Albertus Soegijapranata SJ.

Saat itu, umat sebagai pemilih diminta memilih kandidat yang “beriman, mengamalkan Pancasila (Bhinneka Tunggal Ika), tegas menolak radikalisme dan segala bentuk intoleransi, memperjuangkan kepentingan umum dan aspirasi Gereja Katolik, dan mempunyai rekam jejak yang baik.”

Umat juga diminta “memilih berdasarkan suara hati, bukan karena tekanan dan pesanan tertentu” serta “peka dan peduli dengan sesama pemilih, khususnya yang mengalami disabilitas atau keterbatasan.”

Seruan moral, yang mengingatkan umat Katolik bahwa mereka terpanggil ikut merawat dan memajukan kehidupan demokrasi dan sehat, bersih dan bermartabat, juga menegaskan bahwa politik pada dasarnya baik karena sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bersama (bonum commune).

“Politik sendiri mengandung nilai-nilai luhur seperti pelayanan, pengabdian, pengorbanan, keadilan, kejujuran, ketulusan, solidaritas, kebebasan, dan tanggungjawab. Jika nilai-nilai itu dihidupi dan menjadi pegangan dalam hidup berbangsa, maka politik akan menjadi salah satu bidang kehidupan amat mulia. Politik menjadi tampak tidak baik, suram, dan kotor karena pelaku atau aktor politiknya sering mengabaikan nilai-nilai tersebut,” tulisnya.

Serun moral itu juga menegaskan bahwa umat Katolik “dipanggil dan diutus Allah untuk menjadi garam dan terang dunia” (bdk. Mat.15:13-14). Dalam konteks Pilkada, jelasnya, garam dan terang dunia dapat diupayakan dengan menjadi pemilih yang baik, bijak, dan cerdas; menjadi bagian panitia penyelenggara dalam berbagai tingkatan; menjadi kandidat yang bersaing dengan cara-cara bermartabat.

“Pilkada merupakan kesempatan untuk menghidupi nilai-nilai kristiani yang universal. Oleh karena itu, kehidupan politik harus selalu berada dalam batas-batas moral sehingga kehidupan bersama yang lebih baik akan menjadi kenyataan (bdk. Gaudium et Spes no. 74),” lanjutnya.

Maka, selain kepada pemilih, seruan itu disampaikan kepada umat Katolik sebagai kandidat dan sebagai penyelenggara pemilu (KPU, Bawaslu, dan DKPP), serta ormas-ormas Katolik. “Ormas-ormas Katolik hendaknya selalu bersinergi dan bekerjasama mensukseskan pesta demokrasi tersebut.”

Para kandidat diminta berkampanye bersih tanpa mengumbar kebencian, menyebar berita bohong, dan mempolitisasi SARA; mengetahui peta persoalan di daerahnya dan memiliki solusi tepat; mempunyai komitmen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat setempat, Gereja Katolik, dan agama lain, dan mempunyai wawasan dan keberanian memadai untuk menghadapi berbagai persoalan bangsa yang sangat memprihatinkan akhir-akhir ini seperti munculnya kelompok-kelompok radikal  di banyak daerah.

Penyelenggara pemilu diminta memahami dan melaksanakan secara konsisten undang-undang pemilu serta aturan berlaku, bekerja profesional dan netral, melayani masyarakat dan kandidat serta partai politik secara baik, memberikan informasi cukup dan akurat kepada masyarakat terkait Pilkada, dan menegakkan kode etik penyelenggara pemilu secara konsisten.

Seruan diakhiri harapan agar umat Katolik “ikut menciptakan suasana aman dan damai, sebelum, pada saat, dan sesudah pemilihan kepala daerah berlangsung dengan tidak terprovokasi oleh berbagai ajakan, ajaran, dan tawaran yang mengarah pada munculnya konflik, perpecahan, dan kekerasan dalam masyarakat. Bersikap aktif membangun komunikasi dan kerjasama dengan kelompok dan umat beragama lain karena pesta demokrasi ini menjadi tanggungjawab semua warga masyarakat.” (paul c pati)

Apa arti altar?

Jum, 22/06/2018 - 23:09
Paus Fransiskus rayakan Ekaristidi Basiika Santo Petrus di Vatikan 10 April 2018. CNS photo/Paul Haring

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

297. Mengapa Sakramen Ekaristi Kudus itu Perjamuan Paskah?

Sakramen Ekaristi Kudus itu perjamuan Paskah sejauh Kristus menghadirkan Paskah-Nya secara sakramental dan memberikan kepada kita Tubuh dan Darah-Nya, yang diberikan sebagai makanan dan minuman, yang mempersatukan kita dengan Diri-Nya dan satu sama lain dalam kurban-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1382-1384, 1391-1396

288. Apa arti altar?

Altar adalah simbol Kristus yang hadir, baik sebagai kurban persembahan (altar kurban) dan sebagai makanan dari surga yang diberikan kepada kita (meja perjamuan Allah).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1383, 1410

 

Paus dalam Misa di Jenewa: ‘Persatuan ditemukan dalam pengampunan’

Jum, 22/06/2018 - 16:41
Paus merayakan Misa di Palexpo Convention Center/Foto Vatican News

Dalam homili Misa di Palexpo Convention Center, saat mengadakan perjalanan apostolik ke Jenewa, Swiss, 21 Juni 2018, Paus Fransiskus menyampaikan pesan pengampunan dan langkah menuju persatuan umat Kristen dengan mengatakan bahwa doa “Bapa Kami” mengajarkan kita untuk menjadi Gereja yang terfokus pada Tuhan, Gereja yang menemukan Roh persatuan dalam pengampunan.

Dalam homili itu, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, Bapa Suci juga berbicara tentang tiga kata dari doa Yesus, “Bapa Kami,” yakni bapa, roti (makanan, rezeki), dan pengampunan.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa doa itu dimulai dengan “Bapa Kami”, yang merupakan “kunci untuk membuka hati Tuhan.” Kata-kata ini, kata Paus, adalah untuk mengingatkan bahwa orang Kristen bukanlah anak yatim atau hidup terisolasi.

“Kata-kata ‘Bapa Kami’ mengungkapkan identitas kita, makna kehidupan kita: kita adalah putra dan putri terkasih Allah,” tegas Paus Fransiskus.

Doa Yesus, lanjut Paus, mengajarkan kita untuk berpikir sebagai Gereja yang terfokus pada “kata Engkau (-Mu) yakni Allah,” yang merupakan “peta jalan untuk kehidupan rohani.” Kita dipanggil, sebagai putra dan putri Allah, untuk “memperhatikan saudara dan saudari kita dalam satu keluarga manusia” … “termasuk yang belum lahir, orang yang lebih tua yang tidak bisa lagi berbicara, orang yang sulit kita memaafkan, orang miskin dan orang yang terbuang.”

Paus Fransiskus kemudian merenungkan kata kedua, yakni roti. Roti itu, kata Paus, “penting untuk kehidupan.” Maka Paus memperingatkan, “Celakalah mereka yang berspekulasi tentang roti!” Paus mengatakan, “kesederhanaan roti” dapat membantu kita menemukan kembali “keperkasaan diam dan doa, ragi kehidupan manusia yang sesungguhnya.”

Paus mengatakan, roti bukan hanya kebaikan material, yang semua orang butuhkan untuk bertahan hidup, tetapi juga sebuah kebutuhan spiritual, yakni “Yesus sendiri.”

Paus menegaskan, “Jika Dia bukan menjadi makanan harian kita, pusat dari hari-hari kita, udara yang kita hirup, maka segalanya tidak ada artinya.”

Akhirnya, Paus Fransiskus berbicara tentang pengampunan, yang “tidak mudah”. Paus mengatakan bahwa pengampunan merupakan karunia timbal balik yang kami berikan kepada orang yang menyakiti kami dan kepada diri kami sendiri.

“Tuhan membebaskan hati kita dari semua dosa, Dia memaafkan semua yang sudah berlalu. Namun dia hanya meminta satu hal dari kita: agar kita pada gilirannya tidak pernah bosan memaafkan. Dia mau agar kita mengeluarkan pengampunan umum untuk dosa-dosa orang lain. ”

Tindakan pengampunan, kata Paus, “juga merupakan karunia yang kita terima dari Tuhan dan dikembalikan kepada-Nya.”

“Pengampunan memperbarui; pengampunan menyebabkan mukjizat.”

Dengan cara ini, kata Paus Fransiskus, “kita akan menjadi lebih seperti Bapa, yang mengasihi tanpa syarat. Dan Dia akan mencurahkan Roh persatuan kepada kita.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel terkait:

Paus mengingatkan bahwa Tuhan memohon umat Kristen untuk bersatu

Paus berkunjung ke Jenewa dalam Ziarah Ekumenis

Tahta Suci merilis Jadwal Ziarah Ekumenis Paus Fransiskus

Wakil-wakil Katolik dan Protestan membuat dokumen bersama tentang pendidikan

Suasana kebaktian ekumene/Reuters Vatican News Umat memenuhi Palexpo Convention Center Jenewa untuk Misa Paus menyapa umat yang menantinya di depan Palexpo Convention Center Jenewa

“Berjalan, Berdoa dan Bekerja Bersama,” semboyan Paus dalam “Ziarah Ekumenis”

Jum, 22/06/2018 - 13:28
Paus Fransiskus ambil bagian dalam pertemuan ekumenis di WCC, Jenewa (AFP)

Paus Fransiskus menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik untuk ekumene dalam renungan singkatnya tentang semboyan yang dipilih untuk “ziarah ekumenis” itu yakni “Berjalan, Berdoa dan Bekerja Bersama.” Penegasan itu diungkapkan dalam sambutannya di depan Panitia Pusat Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC) serta sejumlah delegasi ekumenis, otoritas sipil dan anggota rombongan Paus di Jenewa, Swiss, dalam rangka HUT ke-70 WCC, 21 Juni 2018.

Berbicara tentang “Berjalan”, Paus mengatakan, kita harus berjalan ‘Masuk’ agar “bergerak konstan ke pusat guna mengakui bahwa kita adalah cabang-cabang yang dicangkokkan ke dalam satu pokok anggur yaitu Yesus” dan berjalan ‘Keluar’ kepada banyak orang pinggiran dalam dunia saat ini, “guna ikut membawa karunia Injil yang menyembuhkan kepada para saudara dan saudari kita yang menderita.”

“Doa” adalah oksigen dari ekumene, kata Paus. “Tanpa doa, persekutuan menjadi goyah dan tanpa kemajuan, karena angin Roh yang mendorong maju kita halangi.”

Terakhir tentang “Bekerja Bersama.” Di sini, kata Paus, “Saya ingin menegaskan kembali bahwa Gereja Katolik mengakui pentingnya karya yang dilakukan Komisi Iman dan Tata Tertib serta keinginan-keinginan untuk terus berkontribusi dalam karya itu melalui peranserta para teolog yang berkualifikasi tinggi.”

Paus mengatakan, “pencarian visi bersama Gereja yang dilakukan Komisi Iman dan Tata Tertib, bersama dengan upaya mempelajari isu-isu moral dan etika yang dilakukannya, menyentuh bidang-bidang yang sangat penting bagi masa depan ekumene.”

Selain itu, Paus Fransiskus meminta semua umat Kristen menjauhi godaan untuk membuat paradigma kultural mereka sendiri sebagai yang mutlak dan terperangkap dalam kepentingan partisan. “Perjalanan ekumenis kita didahului dan disertai dengan ekumene darah yang mendorong kita maju ke jalan menuju persatuan umat Kristen,” kata Paus.

Sambutan Paus itu dimulai dengan ucapan terima kasih bagi mereka yang membuka jalan “supaya kita bisa berkumpul bersama hari ini sebagai saudara dan saudari yang memilih jalan pengampunan dan tidak bersusah payah menanggapi kehendak Tuhan ‘supaya mereka semua menjadi satu’.”

Paus mengatakan, karena cinta kepada Yesus “mereka tidak membiarkan diri mereka terperosok dalam ketidaksepakatan, tetapi sebaliknya menatap masa depan dengan berani, percaya pada persatuan dan meruntuhkan hambatan-hambatan kecurigaan dan kekhawatiran.”

Paus memuji WCC yang, katanya, dilahirkan untuk melayani gerakan ekumenis, yang berasal dari panggilan yang kuat untuk misi. “Karena, bagaimana umat Kristen bisa mewartakan Injil, kalau mereka sendiri terpisah-pisah?” kata Paus.

Paus juga prihatin karena saat ini ekumene dan misi mungkin tidak lagi begitu terjalin erat seperti awalnya. Maka Paus mengingatkan mereka yang hadir bahwa “mandat misi semua umat Kristen menentukan identitas kita.”

“Iman kepada Yesus Kristus bukanlah buah konsensus, Umat Allah juga tidak dapat dirubah menjadi LSM,” kata Paus seraya mengungkapkan bahwa karunia yang Tuhan minta kita tawarkan adalah pengetahuan tentang Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa yang benar-benar dibutuhkan adalah jangkauan evangelis baru. Paus yakin bahwa meningkatnya dorongan misionaris akan membawa kita pada persatuan lebih besar.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Berita-berita terkait:

Paus mengingatkan bahwa Tuhan memohon umat Kristen untuk bersatu

Paus berkunjung ke Jenewa dalam Ziarah Ekumenis

Tahta Suci merilis Jadwal Ziarah Ekumenis Paus Fransiskus

Wakil-wakil Katolik dan Protestan membuat dokumen bersama tentang pendidikan

catholicnewsworld.com

Apa arti transubstansiasi?

Kam, 21/06/2018 - 22:31
Disputa Sakramen lukisan Raphael, diambil dari Wellspring

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

283. Apa arti transubstansiasi?

Transubstansiasi berarti perubahan seluruh substansi roti ke dalam substansi Tubuh Kristus dan seluruh substansi anggur ke dalam substansi Darah Kristus. Perubahan ini terjadi dalam doa Ekaristi melalui kata-kata Kristus dan karya Roh Kudus. Tetapi, ciri khas luar roti dan anggur, yaitu ”rupa Ekaristi” tetap tidak berubah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1376-1377, 1413

284. Apakah pemecahan roti itu juga membagi Kristus?

Pemecahan roti tidak membagi Kristus. Dia hadir secara penuh dan lengkap dalam setiap rupa Sakramen Ekaristi dan dalam setiap bagiannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1377

Halaman