Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 51 mnt yang lalu

Apa arti ”Dikandung tanpa dosa”?

Jum, 02/03/2018 - 17:09
Khai Nguyen – Basilica of the National Shrine of the Immaculate Conception in Washington DC – 6496. Flickr.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

95. ”… Dilahirkan oleh Perawan Maria”: Mengapa Maria sungguh-sungguh Bunda Allah?

Maria sungguh-sungguh Bunda Allah karena dia adalah Bunda Yesus (Yoh 2:1; 19:25). Dia yang dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan menjadi sungguh-sungguh Putranya itu adalah Putra Abadi dari Allah Bapa. Dia adalah Allah sendiri.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 495-509

96. Apa arti ”Dikandung tanpa dosa”?

Secara bebas, Allah sudah memilih Maria sejak kekal untuk menjadi Bunda Putra-Nya. Untuk melaksanakan misinya, dia sendiri dikandung tanpa noda. Berarti, karena rahmat Allah dan karena jasa-jasa Yesus Kristus, Maria dikecualikan dari dosa asal sejak dalam kandungan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 487-492, 508

97. Bagaimana Maria turut berperan dalam rencana penyelamatan?

Dengan rahmat Allah, Maria dibebaskan dari setiap dosa pribadi selama hidupnya. Dia adalah orang yang ”penuh rahmat” (Luk 1:28), ”yang Kudus seluruhnya”. Ketika malaikat mewartakan kepadanya bahwa dia akan melahirkan ”Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk 1:32), dia dengan bebas memberikan jawaban dengan ”ketaatan iman” (Rom 1:5). Jadi, Maria memberikan dirinya sendiri seutuhnya kepada pribadi dan karya Putranya Yesus, dengan merangkul sepenuhnya kehendak ilahi menyangkut keselamatan umat manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 493-494, 508-511

THS-THM gembleng OMK agar makin militan dan setia kepada Kristus, Gereja dan orangtua

Jum, 02/03/2018 - 16:46

Tunggal Hati Seminari -Tunggal Hati Maria  (THS-THM) bertujuan untuk menggembleng orang muda Katolik (OMK) agar makin militan, serta setia kepada Kristus, kepada Gereja Katolik Roma dan kepada orangtua, kata Pastor Aloysius Gonzaga Luhur Pribadi Pr, salah satu dewan pendiri THS-THM dalam Misa pembukaan unit latihan olah raga bela diri THS-THM di Gereja Stasi Santo Petrus Krisologus Bumi Semarang Baru (BSB) yang merupakan bagian Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang, 25 Februari 2018.

Dalam perayaan itu, Pastor Luhur menyerahkan Surat Peneguhan bagi  tiga pelatih yang ditugaskan di stasi BSB itu, yakni Armindo Soares (THS), Aris Sarmento (THS), dan Kanisiana (THM), yang semuanya merupakan anggota THS-THM Ranting Paroki Baciro Yogyakarta.

Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ yang memimpin Misa itu menyambut positif rencana latihan THS-THM di stasi itu. “Kelompok THS-THM ini bisa menambah keragaman pembinaan bagi OMK Besar kemungkinan THS-THM adalah wadah komunitas kategorial  pertama di stasi ini. Kegiatan ini selaras dengan mimpi paroki yang ingin semakin menghidupkan kegiatan menggereja di stasi ini,” kata imam itu seraya berharap ada komunitas lain tertarik berkegiatan di stasi itu.

Selain olah raga bela diri, jelas Pastor Didik, dalam THS-THM para peserta akan diajak juga untuk makin akrab dengan kitab suci dan doa. “Latihan THS-THM juga akan membantu pembentukan karakter OMK menjadi makin berkomitmen, bertanggungjawab, disiplin, tekun, dan mudah untuk memusatkan konsentrasi pada hal-hal positif yang ingin dicapainya, serta menyehatkan dan menambah kebugaran bagi generasi muda,” kata imam itu.

Ronald Suitela sebagai pemrakarsa kegiatan menjelaskan, pembukaan latihan THS-THM di  Stasi Santo Petrus Krisologus BSB  dimaksudkan untuk  menjawab kebutuhan pendampingan OMK. “Sebelum meminta ijin kepada Pastor Kepala Paroki Bongsari, kegiatan ini telah disosialisasikan kepada OMK di Lingkungan Santo Petrus yang merupakan lingkungan terdekat dengan Gereja. Mulanya sekitar 12 anak seusia SMP dan SMA menanggapi ajakan mengikuti latihan THS-THM. Tapi dengan restu kepala paroki dan Misa pembukaan ini, calon peserta bertambah menjadi 25 orang. Melalui olah fisik dan kegiatan pendalaman iman dalam THS-THM ini, kami berharap OMK stasi ini semakin bersemangat dan memiliki kegiatan positif yang beragam,” katanya.

Selain Misa, dilaksanakan pula penanaman pohon Damar (Aghatis Dammara Rich) sebanyak enam pohon, sebagai penanda untuk menarik dan semakin memotivasi peserta ikut berlatih. Peragaan silat juga dilakukan, yang menurut Ronald Suitela, bukan untuk memamerkan kebolehan anggota THS-THM, tetapi justru ingin menampilkan kerendahan hati, karena dengan bersaksi sebagai pendekar Gereja, anggota THS-THM sedang berdoa dalam hati: Bukan sombong yang kucari, hanya iman sebiji sesawi dan inilah kesaksianku.” (Lukas Awi Tristanto)

Mgr Agus bawa teologi “kampung” ke Pekan Teologi di Universitas Santo Tomas Manila

Jum, 02/03/2018 - 05:54

 

Dalam simposium tentang “Masyarakat dan Pesan Kristiani” di Universitas Santo Tomas Manila, 28 Februari 2018, Uskup Pontianak Mgr Agustinus Agus menegaskan bahwa dia berasal dari kampung dan dia bangga akan hal itu, meski ada orang cenderung menganggap rendah mengatakan dari kampung.

Simposium dalam rangka Pekan Teologi 2018 itu dilaksanakan oleh Fakultas Teologi, Center For Religious Studies and Ethics, dan Institutes of Religion dari Universitas Santo Tomas Manila, 26 Februari hingga 2 Maret 2018, dengan tema Church in Communion: Theology and Expression, Selain Mgr Agus, 11 narasumber lain, dan Uskup Agung Yangon, Myanmar, Kardinal Charles Maung SDB, menjadi pembicara utama.

“Saya menganggap lahir dan dibesarkan di kampung merupakan sebuah berkat. Latar belakang saya mempersiapkan saya untuk berhubungan dengan budaya dan suku saya sendiri,” kata Mgr Agus yang menjelaskan mengenai Keuskupan Agung Pontianak dan Kalimantan dengan kelompok etnis dominan yakni sukunya, suku Dayak.

Dijelaskan, rumah tradisional suku Dayak adalah Rumah Panjang (Rumah Betang), dengan panjang yang bisa mencapai 300 sampai 400 meter dan menampung ratusan orang, berfungsi sebagai tempat pertemuan warga, tempat memutuskan cara hidup, tempat menyelesaikan perselisihan warga, dan tempat memutuskan cara berhubungan dengan suku-suku tetangga, serta mempertahankan diri dari musuh.

Rumah Betang, “adalah tempat belajar dan tempat adat istiadat serta tradisi diwariskan oleh tetua adat kepada kaum muda lewat cerita, lagu, puisi, dan bahkan tato.” Di situ, lanjut uskup, ibu-ibu mengajari anak-anaknya pekerjaan rumah tangga seperti seni kuliner, pembuatan keranjang dan tenunan, dan di situ juga anak-anak belajar berburu dan berperang dari ayah mereka, misalnya cara menjebak, memukul, memanah dan menombak.

“Inilah juga tempat penyembuhan dan doa. Warga berkumpul di sini untuk berdoa sebelum menanam dan mengucapkan terima kasih setelah panen. Di sini mereka mencari penyembuhan penyakit dengan herbal dan mantra dari dukun, sebelum kedatangan misionaris dan dokter. Rumah Panjang bukan hanya rumah, tetapi simbol kehidupan bersama secara rukun,” kata Mgr Agus yang mengaku persekutuan dan kerukunan di Rumah Panjang banyak diterapkan dalam lingkungan gerejani.

Namun, meskipun Gereja memiliki sakramen-sakramen untuk merayakan kejadian-kejadian penting dalam kehidupan manusia, Mgr Agus mengaku “masih banyak umat mengikuti ritual adat untuk perayaan kelahiran, pernikahan, dan kematian.” Meskipun pemerintah memiliki mekanisme pemerintahan dan undang-undang, para kepala suku dan tetua diberi juga wewenang untuk menyelesaikan berbagai perselisihan kepemilikan dan perkawinan, serta hukuman atas kejahatan tertentu, lanjut uskup.

Para frater calon imam, tegas Mgr Agus, terus mempelajari hukum adat dan praktik tradisional itu guna melestarikan dan belajar dari kebijaksanaan para tua-tua dan juga untuk menemukan hubungannya dengan iman dan cara hidup Katolik. Pengayauan (pemenggalan kepala manusia) adalah adat atau ritual Dayak yang terkenal untuk menghadapi musuh dan memperkuat diri dengan potensi tambahan dari orang-orang yang ditaklukkan.

“Tetapi dengan datangnya misionaris, praktik itu berhenti, karena menyadari bahwa kerukunan dan perdamaian adalah jalan lain yang lebih baik untuk memastikan kesejahteraan semua orang dan bahwa penghormatan terhadap kehidupan merupakan nilai terpenting bagi semua orang. Kini mereka biasa merayakan gawai Dayak. Semua orang diundang untuk merayakannya dalam kesatuan, dan untuk bersyukur atas semua yang baik dalam budaya kita, dan atas hal-hal yang meningkatkan perdamaian dan kerukunan. Inilah persekutuan sejati yang saya pelajari dari kampung,” kata Mgr Agus.

Uskup Agung Pontianak juga mengangkat moto orang Dayak, “Adil ka ‘talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka ‘jubata” (Adil terhadap sesama manusia, berpedoman hidup pada surga, selalu mengingat Tuhan sebagai pemberi kehidupan) dengan menegaskan bahwa “kita semua hidup karena Tuhan yang sama.”

Dalam kehidupan sehari-hari di kampungnya, jelas uskup, tidak ada simbol berbagi yang lebih baik daripada duduk dan makan bersama. “Makanan kami di kampung sangat sederhana, terdiri dari ikan yang ditangkap di sungai, atau binatang yang diburu di hutan dan sayuran yang baru dipetik di belakang rumah. Tak ada seorang pun dibiarkan tanpa makanan. Sebelum gigitan pertama, seseorang melihat apakah setiap orang sudah punya makanan. Semua diajak duduk dan makan, serta minum.”

Mgr Agus mengajak peserta mencoba tuak Dayak dan makanan yang ditanam dan dipanen bersama. “Arti Ekaristi dengan mudah dipahami oleh orang Dayak sebagai berbagi,” kata Mgr Agus seraya menambahkan perlunya mewartakan dan mengajarkan nilai hidup bersama dalam persekutuan di Gereja berdasarkan nilai tradisional rumah panjang.

Setelah berbicara mengenai persekutuan dan kerukunan orang kampung dan tentang kebenaran prinsip-prinsip yang harus didengar di “pasar,” tempat daya tarik ideologi politik bersaing, Mgr Agus mengajak peserta mendiskusikan tentang lingkungan. “Saya mengusulkan kita untuk naik ke altar. Lingkungan itu seperti altar tempat Tuhan dan manusia saling bertemu,” tegas prelatus itu seraya melukiskan indahnya sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas, dan hutan hujan tropis Kalimantan yang menyaingi hutan hujan Amazon, namun “sedihnya” sudah banyak dibabat oleh berbagai perusahaan multi nasional untuk perkebunan kelapa sawit.

Menurut Mgr Agus, orang Dayak sangat spiritual. Namun, terkadang mereka dituduh musyrik dan animis “karena menghormati kehadiran Tuhan dalam segala hal.” Yakin bahwa merusak alam adalah menghancurkan sakramen kehadiran-Nya, Mgr Agus menegaskan bahwa dalam simposium itu dia melihat bagaimana para biarawan Dominikan dengan indah mengungkapkan hubungan antara alam dan Sang Pencipta dalam moto mereka untuk Caleruega: “dekat dengan alam, lebih dekat kepada Tuhan.”

Orang-orang Dayak, jelas Mgr Agus, tidak memiliki tempat khusus untuk ibadah. “Hampir di mana-mana di kampung, ditemukan sesaji, di sawah, di depan sebuah pohon besar, di depan rumah, di pemakaman, dan lain-lain. Mereka mungkin tampak animistis, namun dasar praktik itu adalah rasa ilahi. Persembahan dibuat di sana sini. Pada peresmian suatu tempat, darah babi atau ayam dipersembahkan. Sebelumnya, beberapa kepala manusia pun dikorbankan. Di Kalimantan, kami berusaha mengalihkan perhatian umat beriman kepada Satu Korban yang diperlukan untuk pengampunan dosa, Satu Korban yang diperlukan dalam mengucap syukur atas setiap karunia baik yang kami terima melalui perayaan Ekaristi.”

Filosofi orang Dayak tentang “Adil ka ‘talino, bacuramin ka’ sorga, basengat ka ‘jubata,” lanjut Mgr Agus, telah mempersiapkan umatnya untuk bersatu dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan ibu pertiwi. “Semua ciptaan berasal dari Tuhan. Kita harus hidup bersama secara harmonis. Inilah kehendak Tuhan ‘di bumi seperti di surga.’ Jadi, manifestasi Allah atas dirinya atau “teofani” telah ditemukan di alam dan manusia dan sepenuhnya diungkapkan dalam pribadi Yesus Kristus Tuhan kita. Orang Dayak bisa terkait erat iman Kristiani kita. Para mahasiswa teologi dapat lebih mengeksplorasi hubungan antara budaya lokal dan orthopraxis. Inilah teologi saya yang rendah hati dari kampung, ke pasar, naik ke altar.”

Dalam tanya jawab, Mgr Agus, yang ditemani Pastor Johanes Robini Marianto OP, menambahkan bahwa dia suka menghadiri pesta di kampung, supaya bisa bertemu orang-orang kampung. Sayangnya, “Saya kadang-kadang merasa sedih, karena nilai yang sangat berharga di kampung semakin hilang ketika orang kampung sudah pergi ke kota.”

Hal lain yang dipersoalkan uskup itu adalah ajakan menghidupkan kembali Komunitas Basis Gerejawi (KBG), padahal sejak awal itu sudah ada dalam orang kampung. “Orang kota cenderung individual. Semangat hidup bersama orang kota sebagian hilang. ‘Kan lucu, kita sudah punya nilai yang tinggal dipertahankan, mengapa sekarang harus kita rebut kembali ketika kehidupan modern hadir di tengah masyarakat?”

Dalam retret para imam di ibu kota, uskup itu membawa mereka kembali ke asalnya yakni orang kampung dengan nilai-nilai yang seharusnya memotivasi mereka. Kemudian uskup bertanya mengapa mereka meninggalkan nila-nilai kampung mereka setelah menjadi imam, dan sekarang nampak kadang-kadang seperti orang kaya baru? Lalu uskup itu menegaskan bahwa dia sering mengatakan kepada orang kampung, “Kita bisa berubah, tapi yang tidak boleh berubah adalah nilai-nilai kita.”(paul c pati)

Apakah Kristus mempunyai tubuh manusiawi yang sesungguhnya?

Rab, 28/02/2018 - 19:47

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

92. Apakah Kristus mempunyai tubuh manusiawi yang sesungguhnya?

Kristus telah mengenakan tubuh manusiawi yang sesungguhnya sehingga melalui Dia, Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan. Atas dasar itu, Kristus dapat dilukiskan dan dihormati dalam gambar-gambar kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 476-477

93. Apa yang ditunjukkan oleh hati Yesus?

 

Yesus telah mengenal dan mencintai kita dengan hati seorang manusia. Hati-Nya yang ditembus demi keselamatan kita merupakan lambang cinta tak terbatas kepada Bapa dan setiap manusia.

 

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 478

94. Apa arti ungkapan ”dikandung dengan kuasa Roh Kudus …”?

 

Ungkapan ini berarti bahwa Perawan Maria mengandung Putra abadi di dalam rahimnya melalui kuasa Roh Kudus tanpa campur tangan seorang lelaki. Malaikat mengatakan hal ini kepadanya pada peristiwa Pewartaan kabar sukacita bahwa ”Roh Kudus akan turun atasmu” (Luk 1:35).

 

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 484-486

Kasih, belarasa dan persaudaraan suster OP bagi yang sakit, kekurangan dan terlantar

Rab, 28/02/2018 - 15:45

Waktu itu, di Cimahi, Jawa Barat, masih sangat banyak anak dan orang dewasa yang sakit dan kurang mampu, masih banyak anak usia sekolah tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak mampu membayar sekolah, dan masih banyak orang tua terlantar.

Seorang misionaris tak kuat melihat kenyataan itu, maka dia membagikan obat kepada yang sakit, mencarikan donatur agar anak-anak melanjutkan sekolah, mendirikan klinik untuk orang miskin, mendirikan sekolah kepandaian putri agar anak perempuan mendapatkan bekal hidup mandiri, serta mendirikan panti jompo untuk menampung orang tua yang terlantar.

Misionaris bernama Suster Philomena Baas OP dari Belanda itu pun merintis sebuah kerasulan sosial dengan nama Keluarga Asuh dan Anak Adopsi (Kelasi) yang merupakan bagian dari program karya misi sosial dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia (Ordo Pewarta (OP). Kerasulan sosial yang dimulai tahun 1975 itu dilaksanakan guna menanggapi kemiskinan, terutama di kota Cimahi.

Karena program itu banyak mendapat dukungan positif dari donatur serta pemerhati karya sosial, khususnya dari negara Belanda. Maka setelah misionaris itu meninggal, karya kerasulan sosial itu diteruskan oleh Suster Edmunda OP (alm) dan dilanjutkan oleh suster-suster Dominikan hingga saat ini. Nama-nama suster yang pernah memimpin dan membantu karya sosial Anak Asuh ini adalah Suster Caroline OP, Suster Luisi  OP, Suster Theresina OP, Suster Albertha OP dan sejak Januari 2017 Suster Elisabeth OP.

Meski sudah berjalan 43 tahun, ternyata persoalan yang dilihat Suster Philomena OP masih terasa dan memprihatinkan sampai saat ini, maka menurut catatan Suster Elisabeth OP, kerasulan dikembangkan dan dikelola terus sesuai semangat Santo Dominikus, yakni pewarta yang berbelarasa demi keselamatan jiwa-jiwa. “Kesulitan keuangan dan laporan sering jadi hambatan. Tetapi, semangat mewartakan Injil sebagaimana diteladankan oleh Santo Dominikus menggelora dalam jiwa Suster Edmunda OP untuk menemukan jalan demi melayani orang kurang mampu. Ketika pulang ke Belanda, ia ikut lari marathon untuk mempromosikan kerasulan sosial ini,” Hal ini kerap diceritakan dengan penuh semangat oleh Suster Edmunda OP, yang setiap tiga tahun sekali mendapat jatah cuti ke Belanda, selama dua bulan.

“Ketulusan, semangat mewartakan Injil, dan jejaring dengan banyak orang menjadi kekuatan yang diwariskan Suster Edmunda untuk kelangsungan kerasulan ini,” jelas Suster Elisabeth seraya menambahkan bahwa hingga kini para suster masih berjejaring dengan donatur luar dan dalam negeri. Unsur bahasa sangat memegang peranan untuk menjembatani  para suster dengan para donatur (institusi) di Belanda. Hal ini sempat menjadi kendala setelah Suster Edmunda dipanggil Tuhan tiga tahun lalu. Namun sekarang sudah teratasi baik dengan komunikasi bahasa Inggris.

Dalam perkembangannya, jelas suster, dahulu Kelasi bahkan bercita-cita membentuk yayasan, bahkan nama yayasan itu sudah dijadikan cop surat menyurat. Namun,  kongregasi mengembalikan kerasulan itu di bawah reksa pastoral kongregasi dan tidak menjadikannya yayasan tersendiri. Sayangnya, jelas Suster Elisabeth, donatur dalam dan luar negeri “mulai berkurang.”

Meski demikian demi terwujudnya “masyarakat bermartabat yang dilandasi nilai kasih, belarasa, dan persaudaraan,” yang menjadi visi dari Kelasi, Suster Elisabeth dan stafnya tetap “mengasihi dan melayani sesama, terutama yang kurang beruntung, terlantar dan tersingkir, dan mengembangkan persaudaraan dan kerjasama demi terwujudnya hidup yang makin sejahtera dan bermartabat.”

Kesaksian dan pelayanan kongregasi dalam menanggapi berbagai persoalan sosial, terutama untuk melayani sesama kurang mampu, kurang beruntung dan tersingkir di kota Cimahi, menurut Suster Elisabeth, dijalankan dengan nilai-nilai “kasih dan belarasa” serta “persaudaraan dan kegembiraan. Semua  nilai itu nampak dalam bantuan pendidikan yang pernah diterima lebih dari 2000 anak SD sampai SLTA, sejak awal dimulai sampai saat ini. Namun karena dana semakin menipis, hanya 138 anak mendapatkan bantuan itu tahun 2016 dan di awal 2017 verifikasi terhadap situasi kondisi anak dan keluarganya dibuat lagi “agar sesuai sasaran.”

Sewaktu Suster Edmunda masih ada, bantuan juga diberikan untuk Keluarga Asuh. Banyak keluarga miskin diberi modal usaha, bantuan sembako, biaya kontrak dan perbaikan rumah, pelayanan kesehatan, serta bingkisan untuk keluarga asuh saat Lebaran dan Natal. “Namun mulai 2017 pendampingan keluarga asuh difokuskan pada keluarga yang sungguh sangat kurang mampu dan lebih menitikberatkan pengembangan karakter dan kemandirian serta sikap solider di antara mereka, khususnya kepada anak-anak asuh,” jelas suster. Selama tahun 2017, sudah ada tiga kali pertemuan Anak Asuh untuk pembinaan mental dan karakter bahkan beberapa donatur bersedia menjadi narasumber.

Peninggalan kerasulan yang lain, Klinik Dewi Sartika yang didirikan 17 Oktober 1977, juga dibalut nilai-nilai itu, karena banyak orang miskin tinggal jauh dari rumah sakit dan mantri kesehatan. Sejak 2016, klinik itu juga melayani pasien BPJS. Saat ini klinik diampu oleh Suster Mariettha OP dan Suster  Alfonsa OP, serta beberapa dokter dan perawat.

Kursus menjahit untuk anak perempuan putus sekolah didirikan oleh Suster Philomena OP sejak 1935, namun karena banyak peminat, sejak 1939 ditingkatkan menjadi Sekolah Kepandaian Putri (SKP). Meski ditutup di awal pendudukan Jepang (1942), SKP dibuka kembali tahun 1967, dan akhirnya dibubarkan tahun 1973 karena pemerintah menuntut sekolah formal menggunakan kurikulum sesuai tuntutan pemerintah. Maka SKP kembali menjadi kursus menjahit.

Tahun 1989, Suster Elisabeth OP yang baru menyelesaikan pembinaan di Novisiat Baciro, Yogyakarta, mendapat tugas untuk mengembangkan kursus menjahit Dewi Sartika dengan membangun tempat khusus untuk menjahit. Karena peminat semakin sedikit, kursus ditutup tahun 2008 dan berubah menjadi layanan menjahit untuk kongregasi. Mulai awal 2017, Suster Elisabeth kembali ditempatkan di Cimahi. Saat ini, tempat jahit itu menjadi Griya Busana yang memproduksi aneka ketrampilan menjahit. “Hasil produksinya diharapkan menopang kelangsungan kerasulan sosial di kemudian hari,” jelas Suster Elisabeth.

Selain bidang kerasulan anak asuh, klinik dan menjahit, juga ada Panti Jompo “Tresna Wredha Karitas” Cibeber, yang juga didirikan oleh Suster Philomena tahun 1980 untuk lansia perempuan kurang mampu agar mengalami masa tua dengan tenang. Selain tempat tinggal nyaman, mereka mendapatkan makanan sehat, kesehatan, dan rohani, sehingga mereka mengalami hidup dan kematian yang bermakna. Para lansia berasal dari beragam latar belakang agama, suku dan asal-usul.

Unit laki-laki yang dibangun sejak 2002 oleh Suster Edmunda. Suster juga membeli tanah dan mengurus perijinan pembuatan makam bagi lansia yang dipanggil Tuhan. Tapi, lansia yang masih aktif tetap diberi kegiatan kerajinan tangan, “agar mereka mengisi waktu secara positif dan merasakan hidup mereka tetap mempunyai makna,” kata Suster Elisabeth. Saat ini panti Jompo Karitas dihuni oleh 23 oma dan 8 opa. Sejak delapan tahun lalu sampai sekarang panti jompo ini ada di bawah tanggung jawab Suster  Mariana OP.

Masih ada satu kerasulan lagi yakni Pondok Dominikus, yang terletak satu lokasi dengan delapan unit rumah yang memadai. Tujuannya sebagai rumah transit bagi keluarga kurang mampu. Lokasi ini dibangun tahun 2000 di daerah Cibeber. Mereka bisa menempati rumah ini dengan bayaran yang sangat murah, dan lamanya mereka tinggal bervariasi antara dua sampai delapan tahun. Pondok ini tidak pernah kosong, bahkan peminat selalu antri. “Kini kami memikirkan untuk membantu penghuni untuk menabung agar setelah selesai kontrak, mereka punya modal untuk pindah,” lanjut Suster Elisabeth yang bertanggung jawab atas pondok ini. Pertemuan-pertemuan dalam rangka bina rohani demi keselamatan jiwa-jiwa sebagaimana Semangat Santo Dominikus, mulai juga dilaksanakan secara rutin di Pondok Dominikus dengan pendampingan intensif.(pcp/aop)

 

 

Umat Katolik Filipina berdemo menentang “ancaman terhadap kehidupan”

Rab, 28/02/2018 - 14:14
Umat Katolik Filipina membawa tulisan-tulisan tentang kehidupan dalam “Jalan Kaki untuk Kehidupan” di Manila. Foto AFP

Umat ​​Katolik di lima kota utama Filipina mengadakan demonstrasi tanggal 24 Februari 2018 guna menentang pembunuhan terkait narkoba, penganiayaan terhadap umat Kristiani, proposal di Kongres untuk melegalkan perceraian, dan perubahan-perubahan pada konstitusi.

Robin Gomes dari Vatican News melaporkan dari Filipina bahwa Uskup Agung Manila Kardinal Luis Antonio Tagle memimpin umat dan para imam dalam “Walk for Life” (Jalan Kaki untuk Kehidupan) yang dilaksanakan pagi hari di seputar taman utama ibukota, seraya mendesak mereka untuk melawan “materialisme dan pragmatisme” dengan melihat setiap kehidupan sebagai “anugerah Tuhan”.

Dalam pawai demonstrasi itu, diangkat berbagai isu, antara lain, pembunuhan terkait narkoba, penganiayaan terhadap umat Kristiani, proposal di Kongres untuk melegalkan perceraian, dan perubahan-perubahan pada konstitusi.

Orang-orang yang memiliki hubungan dengan para korban “perang melawan narkoba,” yang terus berlangsung tanpa belas kasihan dari Presiden Rodrigo Duterte, ikut dalam prosesi lilin di Manila. Diperkirakan sekitar 2.000 orang ikut ambil bagian dalam prosesi itu. Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan, hampir 12.000 orang yang tersangka pengguna dan pedagang narkoba tewas terbunuh dalam kampanye itu.

Ketika mengakhiri demonstrasi itu dengan Misa di Quirino Grandstand, Kardinal Tagle mendesak umat Katolik untuk menghargai kehidupan, bahkan kehidupan musuh mereka, dan serta kehidupan masyarakat yang disebut orang buangan. “Mari kita kembalikan kepercayaan bahwa kehidupan orang lain, bahkan kehidupan musuh kita, adalah pemberian dari Tuhan,” kata kardinal. “Kalau kita mulai memikirkan apa keuntungan kehidupan orang lain bagi diri kita, maka mudah bagi kita untuk membunuh dan membuang kehidupan,” kardinal mengingatkan.

Pawai-pawai juga dilakukan secara serentak di kota Tarlac, San Pablo, Cebu, dan Cagayan de Oro.

Uskup Agung Jose Palma dari Cebu, di Filipina tengah, memimpin sekitar 5.000 umat Katolik dalam “Walk for Life with Mary” (Jalan Kaki untuk Kehidupan bersama Maria). Uskup agung itu mengatakan, umat Katolik mendukung perang pemerintah melawan narkoba tapi “mempertanyakan cara itu dilakukan karena motif dan keadaannya patut dipertanyakan.” Seraya menegaskan bahwa Tuhanlah pemilik tunggal kehidupan, Mgr Jose Palma mendesak umat beriman untuk melindungi kehidupan dari rahim hingga makam.”

Komisi Keluarga dan Kehidupan dari Konferensi Waligereja Filipina mengeluarkan pernyataan pastoral yang menentang usulan-usulan untuk melegalkan perceraian. Pernyataan itu mengingatkan para legislator di negara itu untuk melindungi konstitusi yang mengakui pernikahan “sebagai institusi sosial yang tidak dapat diganggu gugat” yang harus dilindungi oleh negara.(pcp berdasarkan Vatican News)

Bruder Han Gerritse CSD: Tukang masak pendiri kongregasi bruder di Keuskupan Manado

Sel, 27/02/2018 - 22:06

Salah satu perkembangan iman Katolik di Keuskupan Manado yang perlu diangkat adalah kehadiran seorang bruder dari Congregatio Septem Dolorum (Kongregasi Tujuh Kedukaan, CSD) yakni Bruder Gerritse Han CSD di Woloan, Tomohon, dan karya-karyanya yang sungguh nyata. Karya Allah melalui Bruder Han bagaikan biji sesawi yang kecil kemudian berkembang menjadi besar.

Bertahun-tahun lamanya Bruder Han sebagai anggota Kongregasi CSD dari Belanda, berkarya sendirian, tanpa komunitas dan tanpa pimpinan. Orang-orang sering bergurau, “Bruder Han itu adalah anggota, pemimpin komunitas dan serentak juga provinsial Kongregasi CSD,” karena beliau satu-satunya anggota CSD di Indonesia.

Yang mengagumkan, biar pun sendirian, Bruder Han tidak tenggelam dan hilang, melainkan secara kreatif dan inovatif mencari sendiri karya-karyanya, bahkan kemudian melahirkan kongregasi baru tingkat keuskupan yaitu Bruder Tujuh Dukacita Santa Maria (Kongregasi BTD). Padahal kemampuan intelektualnya sangat terbatas, karena semula sebagai Bruder CSD dia adalah tukang masak dan pembuat kue, yang kemudian diminta oleh pimpinannya untuk ikut kursus perawat kesehatan.

Dengan latar belakang perawat itulah Bruder Han bisa pergi ke tanah misi. Yang pertama tahun 1969 di Keppi Merauke, di Tanah Papua, kemudian tahun 1974 di Tomohon, Sulawesi Utara. Tanggal 2 April 2018, Bruder Han akan merayakan pesta 60 tahun hidup membiara sebagai anggota Kongregasi CSD yang hampir punah.

Sejak 1969 Bruder Han sudah berada di Indonesia. Itu berarti sudah 49 tahun. Di tahun 2018, Bruder  Han akan merayakan HUT ke-80 dan hidup membiara ke-60. Berarti, dia masuk biara sejak umur 20 tahun. Sesudah perayaan 2 April nanti, rupanya Pimpinan CSD di Belanda, Bruder Theo Blokland CSD, akan menarik Bruder Han kembali ke rumah induk di Belanda untuk menikmati usia senja bersama teman-teman bruder, setelah ia bekerja sendirian di Indonesia selama 49 tahun.

Maka, pantaslah umat Katolik dan Keuskupan Manado merayakan tanggal 2 April 2018, (hari Paskah ke-2 Pesta Kebangkitan Tuhan) itu secara meriah dan pantas untuk bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada Bruder Han.

Karya yang sangat harum dikenal di masyarakat adalah Panti Sayap Kasih di Woloan. Di sana dirawat anak-anak cacat berat sejak lahir, yang diserahkan orangtua mereka karena tidak mampu merawatnya, atau yang dicari sendiri oleh Bruder Han dari kampung-kampung dan ditampung di panti itu.

Bruder Han menyediakan tempat nyaman dan bersih untuk anak-anak itu, lengkap dengan pengasuh yang berjaga tiga shifts dan tenaga medis serta ahli fisioterapi. Anak-anak cacat berat di situ biasanya tidak umur panjang. Mereka bertahan sampai usia belasan tahun saja dan meninggal. Maka, di Panti Sayap Kasih disediakan makam bagi anak-anak yang sudah meninggal. Letaknya persis di samping panti itu dengan hanya menuruni tangga. Kompleks makam dibatasi tembok tinggi dengan lukisan Tuhan Yesus, Bunda Maria dan para malaikat bersayap yang menjaga makam anak-anak mungil itu.

Bruder Han yang berlatar belakang perawat kesehatan mempunyai ketergerakan hati yang khusus untuk anak-anak cacat. Ia bekerjasama dengan donatur dari Belanda untuk membangun tempat itu. Panti Sayap Kasih dimulai tahun 1999 dengan menyewa tempat di Desa Tataaran. Setelah ditemukan lahan yang tepat di pinggiran Desa Woloan, maka dibangunlah panti itu dan semua berpindah ke Woloan tahun 2003. Berarti sudah 19 tahun Panti Sayap Kasih menunjukkan “sekolah cinta kasih” yang nyata bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Banyak orang penting dan pejabat publik dari pusat dan daerah menyempatkan diri mengunjungi panti itu untuk membawa sumbangan dan menunjukkan kepedulian mereka bagi karya cinta kasih itu. Panti itu bahkan menjadi gerbang bagi donatur dari luar pulau Sulawesi untuk masuk Keuskupan Manado. Mereka bisa mengenal Gereja Katolik dari Panti Sayap Kasih itu.

Bruder Han mendirikan juga Akademi Fisioterapi yang mendukung karya perawatan anak-anak cacat itu. Beberapa bruder BTD disekolahkan di akademi itu supaya bisa melanjutkan karya-karya di bidang perawatan kesehatan. Dan, ada perkembangan baru. Akademi Fisioterapi yang selama ini mandiri dengan jumlah mahasiswa tidak mencukupi dan sumber dana yang justru mendapatkan subsidi silang dari donasi yang diterima oleh Panti Sayap Kasih itu, akan bergabung menjadi salah satu program studi atau fakultas dari Universitas Katolik De La Salle, Manado, supaya pengelolaannya lebih baik.

Untuk menaungi karya-karyanya itu, Bruder Han mendirikan Yayasan Manuel Runtu. Nama itu diambil dari nama seorang “penolong” atau tokoh agama Katolik yang dulu membantu para pastor zaman misionaris Belanda dan zaman Jepang. Bruder Han tidak memberi nama yayasannya dengan namanya sendiri atau nama kongregasinya, melainkan nama tokoh umat setempat yaitu Manuel Runtu dan disingkat Yamaru (Yayasan Manuel Runtu).

Sekitar tahun 1974, Bruder Han datang ke Manado merintis karya mandirinya dengan tinggal di Paroki Woloan dan menjadi pedagang buku keliling dengan mobil khusus yang sudah sangat dikenal oleh umat. Sebelum tinggal di Woloan, Bruder Han menumpang tinggal di Biara Frater CMM di Matani, Tomohon. Tahun 1982 atau 36 tahun lalu, Bruder Han biasa keliling menjual buku-buku dan benda-benda rohani. Saya waktu itu, sebagai frater tingkat I, masih bisa ingat dan mengenang karya Bruder Han yang sederhana itu. Ternyata karya-karya sederhana dan kecil itu perlahan-lahan berkembang terus sampai dengan berdirinya Panti Sayap Kasih, Akademi Fisioterapi, dan kongregasi baru yang lahir di Tomohon tahun 2001 yaitu Kongregasi Bruder Tujuh Dukacita Santa Maria (Kongregasi BTD).

Sejak 2001 hingga 2017, tempat pembinaan tarekat baru itu meminjam rumah uskup di Tomohon. Dulu, rumah di sebelah SMA Karitas itu adalah tempat tinggal Uskup Nicolas Verhoeven MSC. Sekarang Bruder BTD sudah mempunyai rumah pembinaan sendiri. Rumah permanen di Matani itu dibangun dengan biaya 3,2 milyar yang semuanya murni sumbangan dari donatur di Belanda atas jasa Bruder CSD.

Selama ini, rumah para Bruder BTD ada di Woloan dan di Tomohon, yaitu komunitas Santo Yosep di Woloan, Komunitas Hessevelt di Matani, dan Komunitas Dolorosa di Matani sebagai rumah pembinaan. Tahun 2018, mereka melayani umat di Tompasobaru dan membuka komunitas di Ranoyapo. Ada pula bruder yang diutus untuk menjaga asrama de La Salle Manado. Tahun ini ada lima novis tahun kedua yang akan mengucapkan kaul pertama dan lima novis tahun pertama, serta tiga orang postulan.

Bruder Han sendiri bercerita bahwa ia sebenarnya tidak ada harapan untuk pergi ke luar Belanda sebagai misionaris, karena sebagai bruder ia hanya mempunyai ketrampilan sebagai tukang masak. Padahal keinginannya adalah menjadi misionaris di tanah misi.

Salah satu sharing Bruder Han berbunyi, “Misi itu untuk apa, dengan diriku yang hanya menjadi tukang masak dan ahli membuat roti dan kue? Tetapi keragu-raguan saya tersebut dikuatkan dan diyakinkan ketika saya mendapat pesan dari atasanku, Bruder Dalmatius CSD, yang menjadi pemimpin umum saat itu, untuk belajar sebagai perawat kesehatan, maka harapan dan keyakinan (untuk bermisi) bisa muncul lagi. Biarpun dalam kenyataan hidup, saya merasa sulit belajar dan studi, namun dengan semangat besar dan penuh perhatian dan kegembiraan, saya mengikuti kursus itu sampai memperoleh ijazah tahun 1969. Namun di tahun yang sama (1969), saat belum menerima ijazah kelulusan, tangga 6 Januari 1969, saya bersama empat teman, telah menerima ‘cincin pengutusan’ dari Gereja dan diutus ke Indonesia, (Merauke dan Kepi). Selama lima tahun berada di tanah Papua, saya bekerja di rumah sakit, menjalankan patroli di kali Mappi,  untuk melayani anak sekolah melalui UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dan membuka poliklinik. Dan tahun 1974, saya mendapat ijin cuti  ke Belanda. Sesampainya di Belanda, kami mendapat surat dari Uskup Agung Merauke bahwa sebaiknya saya tetap saja di Belanda dan tidak usah kembali lagi ke Merauke!”

Karya-karya Allah melalui Bruder Han harus diceritakan supaya diketahui betapa pada awalnya tidak ada harapan, namun akhirnya penuh dengan karya nyata yang sangat berguna bagi pelayanan sesama.

Bruder Han tidak menjelaskan alasan Uskup Agung Merauke untuk tidak mengizinkannya kembali ke Merauke, karena mungkin beliau juga tidak tahu. Namun atasannya di Belanda tetap mengutusnya ke Indonesia, dan Bruder Han tinggal di Jakarta beberapa bulan sampai akhirnya mendapat tawaran untuk datang ke RS Gunung Maria Tomohon sebagai perawat kesehatan.

Inti dari pengalaman Bruder Han adalah “mulai dari mustahil untuk diutus ke tanah misi dan berakhir dengan keberhasilan karya misi yang luar biasa.” Mustahil, karena ia hanya mempunyai ketrampilan memasak dan membuat kue. Karena kesempatan belajar perawat kesehatan, dia diutus ke Merauke dan ditolak kembali ke sana. Itulah yang menghantar Bruder Han ke Tomohon dan di situlah ternyata Allah menunjukkan karya-karya besar. Salah satunya adalah melanjutkan Tarekat CSD yang akan punah dengan mendirikan Tarekat BTD, yang berdiri sebagai tarekat diosesan Keuskupan Manado.

Bruder Han dari awal sampai akhir tetap miskin. Namun, karya-karyanya begitu kaya dengan ungkapan kasih yang nyata kepada sesama disertai aset-aset warisannya kepada Tarekat Bruder BTD yang tidak sedikit jumlahnya. Di tangan Tuhan, talenta Bruder Han yang kecil dan sederhana, bisa menghasilkan karya-karya nyata yang besar, karena ditekuni dengan kasih, kesabaran, dan kesetiaan.(Sujoko msc)

(Tulisan ini merupakan tulisan ke-15 dari “Jejak Allah dalam Sejarah” karya Pastor Albertus Sujoko MSC)

Bagaimana Gereja mengungkapkan Misteri Penjelmaan?

Sel, 27/02/2018 - 20:03
Kuba Inkarnasi oleh Leandro Miguel Velasco, diambil dari Trinity Dome

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

89. Bagaimana Gereja mengungkapkan Misteri Penjelmaan?

Gereja mengakui bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dengan dua kodrat, kodrat Allah dan manusia, tanpa tercampur satu sama lain, tetapi dipersatukan dalam Pribadi Sabda. Karena itu, dalam kemanusiaan Yesus, segala hal – mukjizat, penderitaan, dan kematian-Nya – harus dilihat dalam rangka Pribadi Ilahi-Nya yang bertindak melalui kodrat manusia yang dipeluk-Nya.

”Ya Putra Tunggal dan Sabda Allah, Engkau yang abadi, Engkau yang telah sudi

menjelma menjadi manusia dari Bunda Allah yang tetap perawan, Maria (…),

Engkaulah satu dari Tritunggal , yang bersama dengan Bapa dan Roh Kudus,

selamatkanlah kami!”

(Liturgi Byzantin dari Santo Yohanes Krisostomus)

 Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 464-470, 479

90. Apakah Putra Allah yang menjelma itu mempunyai jiwa dengan pengetahuan manusia?

Putra Manusia mengambil tubuh yang mempunyai jiwa manusiawi yang rasional. Dengan intelek manusia-Nya, Yesus belajar banyak hal lewat pengalaman, tetapi juga sebagai Putra Allah, Dia mempunyai pengetahuan langsung dan hubungan erat dengan Allah Bapa-Nya. Dia juga memahami pikiran rahasia manusia dan rencana-rencana abadi yang diwahyukan-Nya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 470-474, 482

91. Bagaimana keselarasan antara kehendak ilahi dan kehendak Sabda yang menjadi daging?

Yesus mempunyai kehendak ilahi dan manusiawi. Dalam kehidupan-Nya di dunia, Putra Manusia secara manusiawi menghendaki semua yang sudah diputuskan secara ilahi bersama Bapa dan Roh Kudus untuk keselamatan kita. Kehendak manusiawi Kristus mengikuti sepenuhnya kehendak ilahi tanpa ada pertentangan, atau dengan kata lain, kehendak manusiawi-Nya menempatkan dirinya di bawah kehendak ilahi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 475, 482

Komite Koordinasi Awam Katolik di Republik Demokratik Kongo mendukung para pemrotes

Sel, 27/02/2018 - 00:53
Demonstran Katolik di Kinshasa meminta Presiden untuk berhenti (AFP)

Demonstrasi-demonstrasi yang kini berlangsung di Republik Demokratik Kongo, dengan tuntutan agar Presiden Joseph Kabila mengundurkan diri, juga diikuti oleh kelompok Katolik dengan nama yang Komite Koordinasi Awam.

Dalam pawai protes di Kinshasa, 25 Februari 2018, dua orang tewas dan puluhan lainnya cedera saat bentrokan dengan polisi dan militer. Ada juga yang tewas dalam demonstrasi serupa di kota Mbandaka, demikian laporan John Waters dari Vatican News.

Pawai itu merupakan protes atas usulan Presiden Republik Demokratik Kongo , Joseph Kabila, untuk menjalani masa jabatan ketiga. Sekarang hal itu dilarang, berdasarkan konstitusi negara. Lebih dari 3 juta orang diperkirakan bergerak menuju ibu kota, serta sejumlah kota provinsi lainnya. Polisi yang disebarkan di jalan-jalan menembakkan gas air mata serta tembakan peringatan guna membubarkan para pemrotes.

Banyak pemrotes itu adalah umat Katolik, yang menjadi anggota kelompok bernama Komite Koordinasi Awam, yang memiliki hubungan erat dengan Gereja Katolik di negara itu. Dalam pawai itu, komite itu memperlihatkan pernyataan yang berbunyi “Pengorbanan orang-orang yang tewas kemarin demi kebebasan di negara kita tidak akan sia-sia. Anggaran yang mengerikan ini harus ditambahkan dengan puluhan orang terluka, penangkapan dan pencemaran gereja-gereja serta korban agresi dan kebrutalan oleh polisi dan milisi. Kutukan tegas untuk perilaku yang tidak dapat dibenarkan dalam menghadapi orang-orang yang tampil secara damai dengan rosario, kitab suci, salib dan daun-daun zaitun di tangan mereka.”

Komite itu terus memuji perilaku banyak rakyat biasa Kongo dalam “perjuangan mereka untuk tujuan bersama kita.” Mereka juga meminta polisi untuk terus komit melindungi penduduk, dengan mengatakan, “Tidak akan berhenti sampai kita mendapatkan kembali martabat dan kebebasan kita.”

Joseph Kabila telah menjabat sebagai Presiden Republik Demokratik Kongo sejak 2006. Dia adalah mantan Kepala Angkatan Darat dan putra mantan Presiden Kongo, Laurent-Desire Kabila. Dia menggantikan ayahnya sebagai Presiden Kongo setelah ayahnya dibunuh tahun 2001 dan terlibat dalam negosiasi untuk mengakhiri Perang Kongo Kedua tahun 2004. Dia boleh terus berkuasa ketika konstitusi yang baru sedang disusun tahun 2006. Pemilihannya kembali di tahun 2011 banyak diperdebatkan karena tuduhan penyimpangan suara.

Desember 2016, juru bicara Kabila memperkirakan bahwa pemilihan Presiden yang baru tidak akan berlangsung sampai April 2018.(pcp berdasarkan Vatican News)

Salju turun di Roma dan Vatikan: aturan dan manusia

Sen, 26/02/2018 - 23:20

(Cerita ringan, berisi peristiwa dan refleksi tentang sesuatu yang jarang terjadi di Roma dan Vatikan yakni turunnya salju tanggal 26 Februari 2017 ini,  ditulis oleh seorang imam asal Indonesia yang sudah 25 tahun berkarya di Eropa dan 10 tahun di antaranya di Kuria Roma dalam Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama)

Padre Markus Solo SVD

Mungkin saya salah satu dari sekian banyak orang di Roma yang tidak terlalu serius menanggapi ramalan cuaca Italia tentang kemungkinan turun salju di Roma hari ini, Senin, 26 Pebruari 2018. Namanya juga “ramalan”, sebuah perkiraan. Proses menuju konklusi meteorologis ini tentu saja berbasis pada premis-premis yang merujuk pada fakta-fakta lapangan yang kebenarannya sudah sering terbukti. Tetapi selalu saja namanya ramalan. Kira-kira. Bisa ya, bisa tidak.

Pembuktian ramalan baru terjadi setelah masa terpenuhi ramalan itu berlalu. Apalagi belakangan ini ramalan cuaca di Roma sering meleset. Sekalipun demikian, pengumuman turunnya salju di Roma hari ini sudah dibuat publik dan beredar di berbagai media sosial.

Menariknya, pemerintah kota Roma meliburkan sekolah-sekolah dan menyerahkan kebijaksanaan kepada semua pemimpin perkantoran dan tempat kerja lainnya agar memutuskan yang terbaik dengan tidak bermain dengan resiko terhadap nyawa dan keselamatan manusia.

Tadi pagi setelah bangun tidur, saya membuka jendela untuk memeriksa kebenaran ramalan itu.  Saya terperanjat melihat alam putih ditudungi salju. Teringat kembali masa-masa salju selama 15 tahun hidup di Austria. Teringat wilayah Alpen yang indah itu. Terkenang wilayah paroki pegunungan penuh salju yang saya tempuh dengan roda-roda kendaraan berantai di tengah berbagai macam bahaya, tetapi selalu luput.

Untuk warga Roma, khususnya warga pendatang yang belum pernah melihat salju, tentu ini merupakan sebuah sensasi. Wilayah Mediterania atau Laut Tengah mulai dari Roma hingga ke Sisilia biasanya adalah zona bebas salju. Kalau salju turun, itu sebuah sensasi besar. Sebuah euforia luar biasa. Tapi itu bukan berarti bahwa di Roma tidak pernah turun salju. Tahun-tahun silam kadang-kadang terjadi kejutan. Tergantung dari perubahan cuaca alam.

Tanggal 4 Februari 2012 terakhir turun salju di Roma. Lebih tebal dan lebih lama dari hari ini. Saat itu termasuk peristiwa agak tiba-tiba karena ramalan cuaca waktu itu tidak mengatakannya dengan tegas. Roma tidak siap. Kota jatuh dalam chaos. Kali ini, kota sudah mengantisipasi sedikit sehingga kemacetan dan kecelakaan hampir tidak terjadi. Sirene P3K hampir tidak pernah kedengaran, berbeda dengan tahun 2012.

Hari ini, pemerintah kota Roma memutuskan untuk mempekerjakan hanya sekitar 30% jaringan transport publik. Ketika mengendarai mobil dari rumah kediaman, antara pukul 07.30 dan 08.00, jalanan sangat sepi. Satu dua kendaraan yang melintas, berlari dengan kecepatan sangat rendah, karena umumnya mobil-mobil Roma tidak memakai roda musim dingin yang bisa menepis salju. Mobil saya untungnya memiliki roda winter yang mengikuti peraturan pemerintah Italia agar dari November sampai April tetap menggunakan roda winter. Banyak perkantoran diliburkan. Aktivitas publik sangat berkurang.

Tiba di Vatikan, yang terletak di tengah kota Roma itu, gerbang sudah terbuka lebar. Tidak ada gangguan. Ketika melintas di depan Domus Santa Marta, rumah tempat tinggal Paus, dua serdadu tetap berjaga di depan pintu yang masih sedang diguyur salju. Jalanan masih penuh salju. Tempat parkir Vatikan kelihatan banyak yang kosong. Di pintu-pintu, serdadu-serdadu tetap berjaga. Pintu tetap terbuka. Vatikan bekerja seperti biasa.

Ketika melintasi Basilika Santo Petrus, saya kaget melihat deretan kursi-kursi yang biasanya digunakan untuk audiensi dengan Paus semua tertutup salju. Basilika Santo Petrus dan atap-atap Istana Kepausan semua berwarna putih didandani salju yang tak putus turun entah dari lapisan  langit ke berapa.

Di tengah Lapangan Santo Petrus saya mendengar teriakan sekelompok orang muda berpakaian hitam yang saling berkejaran dengan irama lari pelan-pelan. Riuh ketawa mereka terdengar menggema. Mereka sibuk membuat bola-bola salju dan saling melempar. Ada yang saling mendorong sekedar agar temannya jatuh terguling di salju. Saya mendekat dan bertanya siapa mereka. Jawab mereka, “Kami para pastor dari Kolese Amerika di Bukit Gianicolo. Kami datang untuk menyaksikan indahnya Vatikan di bawah salju.” Lalu mereka ramai-ramai membentuk sebuah patung “snowman” dari salju yang melukiskan seorang pastor dengan mengenakan kolar, berdiri persis satu garis dengan stupa Basilika Santo Petrus. Sebuah pemandangan menarik yang tidak biasa, lucu sekaligus inspiratif.

Salju di Roma adalah sesuatu yang jarang terjadi. Oleh karena itu, kota Roma tidak mempersiapkan diri untuk itu, seperti dilakukan oleh negara-negara Alpen di Eropa yang saban tahun berhadapan dengan salju yang menggunung.

Keuntungan situasi seperti ini ada beberapa. Pertama, masa turun salju mempererat tali kekeluargaan, karena hampir seluruh anggota keluarga berada di rumah karena banyak orang tidak kerja atau tidak ke sekolah. Dalam situasi ini, keindahan alam bisa dinikmati secara bersama dalam iklim sukacita kekeluargaan, dan banyak foto indah muncul. Kedua, orang sadar akan bahaya dan tidak mengambil resiko atas keselamatan diri. Salju menyebabkan jalan menjadi licin, maka banyak terjadi kecelakaan kendaraan dan banyak pejalan kaki jatuh. Kebijakan pemerintah menunjukkan sisi human sebuah hukum dan ketentuan yang berlaku, bahwasanya, nyawa dan keselamatan manusia adalah prioritas utama dan terutama dalam pemberlakuan hukum dan aturan.

Vatikan juga memberlakukan ketentuan yang sama. Ketika masuk kantor, banyak kolega mengirim berita kalau situasi dan kondisi tidak memungkinkan mereka untuk sampai ke tempat kerja. Menyadari bahwa resiko terlalu besar, mereka harus tinggal di tempat. Para pemimpin berbagai perkantoran di Vatikan juga menyampaikan hal yang sama, tak boleh bermain dengan resiko yang membahayakan keselamatan diri.

Sekeras-kerasnya hukum, ternyata juga bisa lembek di hadapan salju yang lunak dan bersifat sementara. Walaupun kadang hanya sebentar saja eksis, dan akan segera mencari menjadi air ketika berhadapan dengan sinar matahari, hukum dan peraturan yang dibuat manusia bisa bertekuk-lutut di hadapannya oleh karena satu hal penting: keselamatan diri manusia.

Antara aturan atau hukum dan kemungkinan resiko, manusia harus tetap menjadi subyek dari segalanya.***

 

 

 

 

 

Dengan cara bagaimana Yesus Kristus itu sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia?

Sen, 26/02/2018 - 17:11

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

87. Dengan cara bagaimana Yesus Kristus itu sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia?

Yesus secara tak terpisahkan adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia dalam kesatuan Pribadi Ilahi-Nya. Sebagai Putra Allah, yang ”dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa”, Dia telah menjadi sungguh-sungguh manusia, saudara kita, tetapi tetap sebagai Allah kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 464-467, 469

88. Apa yang diajarkan oleh Konsili Kalsedon (tahun 451) dalam hal ini?

Konsili Kalsedon mengajar kita untuk mengakui ”Putra yang satu dan sama, Tuhan kita, Yesus Kristus, sempurna dalam kemanusiaan-Nya, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, terdiri dari jiwa yang rasional dan badan, sehakikat dengan Bapa karena keilahian-Nya, ‘sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa’ (Ibr 4:15), berasal dari Bapa sebelum segala abad menurut keilahian-Nya, dan pada masa yang terakhir ini dilahirkan dari Maria, Perawan dan Bunda Allah, menurut kemanusiaan-Nya, untuk kita dan untuk keselamatan kita.”

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 467

Paus Fransiskus berdoa untuk dan  bersama para korban penganiayaan agama

Min, 25/02/2018 - 21:30
Suami dan anak perempuan Asia Bibi tiba di Vatikan untuk bertemu Paus Fransiskus

Paus Fransiskus melakukan pertemuan pribadi yang sangat khusus dengan beberapa korban penganiayaan agama dari berbagai belahan dunia di Vatikan, 24 Februari 2018. Paus secara khusus bertemu suami dan anak perempuan dari Asia Bibi dan dengan Rebecca Bitrus. Asia Bibi adalah wanita Pakistan yang ditahan di penjara wanita Multan, Punjab, sejak 2009. Dia dihukum mati karena dugaan penghujatan. Rebecca Bitrus adalah wanita muda Nigeria yang diculik dan ditahan selama dua tahun oleh kelompok jihad Boko Haram. Dalam pertemuan pribadi itu, Paus berdoa bersama dengan yang hadir, dengan memusatkan iman dan harapan. Beberapa dari yang hadir mengungkapkan bahwa Eisham, putri bungsu Asia Bibi berdoa dalam bahasa Urdu, sementara Rebecca dengan dialeknya sendiri, Hausa. Dengan demikian, suasana sharing yang luar biasa serta intensitas emosional itu terasa hidup. Menurut laporan, ketika berbicara kepada Paus, Eisham mengatakan bahwa dia membawa cinta ibunya kepada Paus. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Aid to the Church in Need (Bantuan bagi Gereja yang Membutuhkan, ACN), yayasan kepausan yang mendukung orang-orang Kristiani yang menderita di seluruh dunia. Setelah pertemuan, Presiden ACN Italia, Alessandro Mondeduro, mengatakan bahwa Paus sangat tergerak oleh kesempatan itu dan menggambarkan Asia Bibi dan Rebecca sebagai “martir-martir wanita: contoh menakjubkan untuk peradaban yang begitu takut akan penderitaan.”(pcp berdasarkan Varitan News)

Semangat Dominikus ditanamkan sejak taman kanak-kanak di Larantuka

Min, 25/02/2018 - 12:24

Rasa prihatin terhadap anak-anak usia dini atau yang berusia 4 hingga 6 tahun yang belum diperhatikan di desa, telah menggugah Theodorus Tegalusi Kelen, seorang tokoh masyarakat yang juga pensiunan guru dan pernah menjadi kepala sebuah SD, untuk mendirikan taman kanak-kanak di desa Riangpuho, paroki paling ujung Timur, tepatnya di kepala burung atau Tanjung Bunga, Keuskupan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, tanggal 8 Agustus 1988.

Hampir 10 tahun kemudian, tepatnya tahun 1997, ketika para suster Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia masuk ke Keuskupan Larantuka (1997) dan diberi kepercayaan oleh Uskup Larantuka untuk berpastoral di Kecamatan Tanjung Bunga, tepatnya di Paroki Waiklibang, TK yang bernama Fernandez itu diserahkan oleh paroki kepada para suster OP untuk dikelola.

Suster M Marcelina OP (alm) yang pertama datang ke sana lalu menerima sekolah itu dan mengganti namanya menjadi TK Santo Dominikus, sesuai nama pendiri Ordo Pewarta yakni Santo Dominikus, dan menjalankannya dengan kekhasan Dominikan.

Sesuai visi untuk menciptakan “anak Flores Timur yang sehat, cerdas, aktif dan kreatif dalam memajukan Gereja, Bangsa dan Negara serta Budaya Lamaholot,” maka TK itu berupaya menemani anak-anak untuk memiliki dasar iman dan takwa, untuk menjadi anak pembelajar dan berbelarasa, bersih dan sehat, dan melakukan kegiatan yang mendukung kreativitas anak serta menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran.

Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, kepala TK Santo Dominikus itu Suster Reny OP menegaskan, TK itu menerapkan Kurikulum Berbasis Dominikan. “Artinya, kegiatan-kegiatan belajar mengajar dalam TK itu kami kaitkan dengan semangat Santo Dominikus, sehingga anak-anak di TK ini menerapkan semangat Santo Dominikus dalam hidupnya,” jelas suster itu.

Menurut suster itu, mungkin terlalu tinggi memakai istilah Kurikulum Berbasis Dominikan, “Tapi yang saya maksud adalah dalam kegiatan harian ‘Bermain Sambil Belajar’ anak-anak itu kami terapkan enam Semangat Santo Dominikus yaitu semangat doa, belajar atau studi, bela rasa, mulai dari apa yang ada, demokrasi, dan persaudaraan serta kegembiraan.”

Tapi kurikulum yang sesungguhnya diterapkan adalah Kurikulum 2013 sesuai program pemerintah, “yang memang unggul karena menggunakan sistem pembelajaran saintifik yakni mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan, dan cocok untuk kalangan kami di desa,” karena dengan kurikulum itu, Suster Reny OP melihat anak-anaknya “lebih kreatif, inisiatif, dan mandiri.”

Untuk menumbuhkembangkan peserta didik, menurut Suster Reny, anak-anak diikutsertakan secara aktif dalam program tahunan, antara lain, Hari Dominikus, Hari Proklamasi dan hari nasional lain, hari raya keagamaan (Natal, Paskah dan Idul Fitri), serta kegiatan satu hari bersama para suster dan ibu guru di sekolah. “Dengan program-program itu, peserta didik lebih gembira, senang ke sekolah, dan semakin mandiri sesuai usia mereka.”

Suster Reny mengaku semua program dilaksanakan sesuai jadwal, namun keterbatasan dana masih menjadi kendala. “Tapi apa boleh buat, jalan saja, asal anak-anak senang dan sukacita dalam Tuhan,” tegas suster.

Yang penting, menurut Suster Reny OP, sejak usia dini anak-anak TK yang dipimpinnya diperkenalkan dengan tradisi-tradisi Gereja dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan Gereja seperti Jalan Salib, Program APP, dan kegiatan SEKAMI, “bahkan dibiasakan dengan doa, enam Semangat Dominikus, 5 S (senyum, Sapa, Salam Sopan, Santun).” Anak-anak diminta mengucapkannya setiap hari dan menjalankannya.

Hal lain yang dibiasakan adalah menabung lewat celengan hingga tabungan di bank, demo masak ubi dan pisang kukus, menanam jagung, membersihkan dan panen, serta membuat anak-anak sangat mandiri dengan mewajibkan mereka datang dan pergi ke TK tanpa diantar orangtua atau wali.(aop/pcp)

Yesus, Musa, dan Elia

Min, 25/02/2018 - 01:26

Minggu Kedua Prapaskah

25 Februari 2018

Markus 9: 2-10

Lalu Elia menampakkan diri kepada mereka bersama dengan Musa, dan mereka bercakap-cakap dengan Yesus. (Mrk 9: 4)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Kita memasuki hari Minggu kedua dalam masa Prapaskah, dan kita membaca dari Injil bahwa Yesus diubah rupa di hadapan ketiga murid-Nya di atas gunung. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Musim ini dikaitkan dengan suasana pertobatan dan mati raga, dan kita pun diajak untuk mengintensifkan doa, puasa, dan pantangan. Namun, kita memiliki bacaan yang menggambarkan kemuliaan Yesus di bumi, dan ini pastinya membawa pengalaman yang sangat meneguhkan bagi ketiga murid tersebut. Rasanya bacaan ini tidak begitu tepat untuk masa Prapaskah ini. Benarkah demikian?

Ketika Yesus berubah rupa, dua tokoh besar Israel, Musa, dan Elia datang dan berbicara dengan Yesus. Dua tokoh tersebut mewakili dua pilar dasar kehidupan religius Israel: Hukum dan Nabi. Namun, melihat dari dekat kisah orang-orang hebat ini, kita mungkin menemukan beberapa fakta menarik. Musa melihat semak duri yang terbakar di Gunung Horeb dan menerima nama suci Allah Israel (Kel 3). Dia juga berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum Taurat dari Allah di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia sendiri berpuasa ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19:8). Keduanya mendaki gunung untuk berjumpa Tuhan dan menerima misi mereka di sana. Seperti mereka, Yesus berpuasa selama 40 hari di padang gurun dan naik ke gunung untuk mendengarkan suara yang menguatkan dari Bapa-Nya.

Namun, gunung kudus tidak hanya membawa mereka ke pertemuan bahagia dengan Yang Ilahi, namun juga mengungkapkan misi yang mengubah hidup mereka. Di Horeb, Musa menerima tugas untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir. Sebagai akibatnya, dia harus berurusan dengan Firaun yang kejam dan keras kepala. Tidak hanya dengan Firaun, tapi Musa juga harus bersabar dengan bangsanya sendiri, Israel yang terus mengeluh dan menyalahkan Musa karena telah membawa mereka keluar dari Mesir. Elia menerima tugas untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Turun ke gunung juga berarti Elia sekali lagi berurusan dengan Ahab, raja Israel, dan ratunya, Izebel yang penuh dendam dan kejam. Sewaktu Yesus meninggalkan gunung, Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita dan mati di kayu salib. Dari gunung transfigurasi, Yesus memulai jalan salib-Nya yang panjang, dan berjalan menuju gunung berikutnya, Kalvari.

Dengan Injil hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa transfigurasi berhubungan erat dengan sengsara dan kebangkitan Yesus. Jadi, tidak salah jika bacaan ini di tempatkan dalam konteks Prapaskah. Seperti Yesus dan murid-murid-Nya, kita juga memiliki momen-momen transfigurasi kita. Di situlah kita berjumpa Tuhan, dan kehadiran-Nya memenuhi kita dengan sukacita. Seorang sahabat menceritakan pengalamannya tentang kedamaian yang tak terduga saat dia mengunjungi Sakramen Mahakudus. Dia sering mengunjungi Kapel Adorasi, namun baru pada hari itu, dia bertemu dengan Tuhan yang sangat hidup di dalam hatinya. Itu adalah hari ketika dia kehilangan pekerjaannya, bertengkar hebat dengan istrinya, dan ayahnya sakit serius. Meskipun ia ingin bertahan selamanya dalam pengalaman damai itu, ia kemudian menyadari bahwa ia harus kembali ke kehidupannya dan bergulat dengan masalah-masalah di depannya. Dia memiliki sebuah misi, dan dia harus meneruskan jalan salibnya. Kita memiliki transfigurasi kita sendiri dan membiarkan momen berharga ini memberdayakan kita untuk membawa salib kita sehari-hari.

 

 

Mengapa Putra Allah menjadi manusia?

Sab, 24/02/2018 - 21:19

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

85. Mengapa Putra Allah menjadi manusia?

Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, Putra Allah menjelma menjadi manusia dalam rahim Perawan Maria dengan kuasa Roh Kudus. Dia melakukannya untuk mendamaikan kita orang berdosa dengan Allah, untuk mengenal cinta Allah yang tak terbatas, untuk menjadi teladan kesucian kita, dan agar kita ”mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2Ptr 1:4).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 456-460

86. Apa arti kata ”Penjelmaan”?

Gereja menyebut misteri kesatuan Kudus kodrat ilahi dan manusiawi dalam satu Pribadi Ilahi ini dengan ”Penjelmaan”. Demi keselamatan kita, Putra Manusia telah menjadi ”daging” (Yoh 1:1-14) dan sungguh-sungguh menjadi manusia. Iman akan Penjelmaan merupakan ciri khas iman Kristen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 461-463, 483

Pastor Prier maafkan penyerangnya dan minta umat agar tidak takut dan lumpuh

Sab, 24/02/2018 - 14:08
Pastor Karl Edmund Prier SJ. Foto oleh Kompas Regional

“Saya merasa apa yang terjadi terhadap diri saya dalam kasus penyerangan di Gereja Lidwina, Bedog, menunjukkan keamanan atau toleransi di Indonesia menurun. Ini contoh dari berapa peristiwa akhir-akhir ini, maka apa yang saya alami tidak istimewa, hanya menyambung peristiwa sebelumnya. Maka saya berharap apa yang terjadi terhadap diri saya jangan membuat kita takut dan lumpuh, karena tujuan mereka adalah menakutkan dan melumpuhkan Gereja.”

Pastor Karl-Edmund Prier SJ mengatakan hal itu dalam pembicaraan lewat telepon dengan PEN@ Katolik, 24 Februari 2018, saat beredar lewat media sosial tulisan imam itu tentang apa yang dia saksikan, apa yang dia alami, dan kejadian menarik sesudah itu. “Ya, saya menulis itu,” kata Pastor Prier membenarkan bahwa yang beredar di media itu adalah tulisannya.

Setiap minggu kedua dan minggu keempat, imam itu memang ditugaskan membantu gereja Stasi Santa Lidwina Bedog, stasi dari Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Yogyakarta.

Dalam sharing saat homili Misa 19 Februari 2018 untuk pemberkatan kembali Gereja Santa Lidwina oleh Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, seperti tertulis dalam tulisan itu, Pastor Prier menegaskan dua hal. Pertama, “Jangan takut! Kita mengalami bantuan luar biasa pada saat di mana diperlukan.” Kedua, “Saya maafkan Sulyono dengan ikhlas. Karena saya juga tiap hari berdoa dalam Bapa Kami … seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Betul, tulis imam itu, dia sebenarnya bisa lari keluar gereja seperti kebanyakan orang yang mengikuti Misa 11 Februari 2018 di gereja itu saat Sulyono menyerang, “Namun suara hati saya berkata: Jangan pergi. ‘Gembala yang baik tidak boleh lari bila serigala datang.’ Saya tetap berdiri di altar untuk membelokkan perhatian si pelaku dari umat kepada saya. Sesudah memukul domba ‘serigala’ memang datang memukul gembala. Melalui gang tengah gereja dengan pedang panjang yang diangkat tinggi dia berteriak ‘Allahu akbar’. Namun di muka altar ia berhenti sebentar, seakan-akan masih berpikir kok orang ini tidak takut? bagaimana saya bisa membuat dia takut?”

Saat itu, imam itu merasa seperti Daud yang menghadap Goliat. “Anehnya tanpa takut sama sekali. Kemudian si Goliat datang ke belakang altar di mana saya berdiri. Dua kali aku dipukul di punggung, pukulan ketiga di kepala. Saya hanya berputar ke kanan, tetap berdiri di situ, tidak jatuh. Banyak darah mengalir dari kepala saya, maka saya pergi tanpa diikuti oleh dia. Ketua stasi Bedog mendekati saya dan berkata: kita pergi ke rumah sakit.”

Sesudah itu, Goliat memenggal kepala patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus, merusak mimbar, dan sebagainya. “Beberapa orang dari umat berusaha melawan dia dengan tongkat, dengan melempar kursi, namun tidak berhasil juga. Polisi yang segera tiba juga dilawan dan dilukai dengan pedang, sampai akhirnya suatu peluru dalam kaki menghentikan aksi babi-buta itu,” tulis imam itu.

Di UGD Panti Rapih imam itu bersama tiga orang yang terluka berat segera dibalut dan discan. “Dokter Wiryawan, ahli bedah, berkata pada saya: ini harus dioperasi; tetapi untung selaput otak dan otak sendiri masih utuh. Operasi langsung terjadi tanpa kesulitan. Sebagai oleh-oleh atau relikui saya mendapat pecahan tengkorak yang diambil dokter dari dalam kepala saya,” lanjut imam itu.

Menurut Pastor Prier, ada tiga hal menarik terjadi sesudah itu. Pertama, kunjungan Sri Sultan Hamengkubuwono X hari Minggu, 11 Februari 2018, di ICU Panti Rapih, dan mengatakan “Saya minta maaf pada Romo.” Menurut Pastor Nugroho SJ yang tinggal serumah dengan Pastor Prier, “Kalimat ini tidak pernah terdengar sebelumnya dari mulut Sang Raja Yogya.”

Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, Pastor Prier menegaskan bahwa dari informasi yang dia terima Sri Sultan tidak biasa meminta maaf secara eksplisit melainkan memberi perintah. “Maka ini sesuatu yang istimewa. Baru kali ini Sultan sebagai Raja meminta maaf.”

Kedua, Senin 12 Februari 2018, umat Katolik mulai membersihkan gereja di Bedog. “Namun anehnya, segera didampingi oleh umat Islam sebagai tanda solidaritas. Bersama-sama gereja dicat baru hingga sekarang nampak lebih segar. Bahkan seorang haji pada hari Senin langsung menyumbangkan patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus baru. Seorang lain menyumbangkan CCTV atau alat alarm yang juga langsung dipasang di gereja. Semuanya ini terjadi tanpa panitia dan rencana anggaran biaya. Hebat. Suatu tanda kuat, bahwa masyarakat Yogyakarta berusaha keras memperbaiki image sebagai kota nyaman yang akhir-akhir ini agak luntur,” tulis Pastor Prier.

Ketiga, Senin 19 Februari 2018, dirayakan ibadat syukur di gereja Bedog. “Gereja diberkati kembali oleh Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko. Para kurban pun hadir, masih dengan balut-balut, namun dengan rasa syukur di hati. Yang hadir bukan saja umat Bedog, tetapi dari seluruh kota Yogyakarta. Katanya 1400 orang. Tentu kompleks gereja dijaga ketat juga oleh polisi” tulis imam itu.

Sekarang, menurut Pastor Prier, dia sedang menikmati masa pemulihan. “Rasanya tidak sakit tetapi masih lemas, karena Hb (darah) masih rendah. Balutnya sudah dilepas, tinggal menunggu rambutnya tumbuh kembali.” Dalam pembicaraan dengan PEN@ Katolik, imam itu menambahkan bahwa umat pun masih dalam taraf penyembuhan dari trauma, khususnya anak-anak. “Kami berusaha agar trauma itu bisa dihilangkan.” (paul c pati)

 

Colosseum berubah menjadi merah hari ini guna mengenang umat Kristiani yang teraniaya

Sab, 24/02/2018 - 08:08

Peninggalan bersejarah paling terkenal di Roma, Colosseum, akan menyala merah hari ini, Sabtu, 24 Februari 2018, sebagai tanda solidaritas dengan semua orang yang dianiaya karena imannya. Perubahan warna, yang akan terjadi hari ini pukul 18.00 waktu Roma atau pukul 24.00 waktu Jakarta, merupakan prakarsa Aid to the Church in Need (Bantuan bagi Gereja yang Membutuhkan), yayasan  kepausan pendukung umat Kristiani yang menderita di lebih dari 140 negara di seluruh dunia.

Philippa Hitchen dari Vatican News melaporkan dari Kota Vatikan bahwa di saat yang sama, di Suriah, Katedral Maronite Santo Elia di kota Aleppo yang dilanda perang dan gereja Santo Paulus di kota Mosul, Irak, akan juga diterangi dengan warna merah, yang melambangkan darah banyak martir umat Kristiani baru-baru ini di sana.

Peristiwa di Roma akan mencakup kesaksian dua keluarga yang menjadi target karena iman Kristiani mereka: suami dan putri bungsu dari Asia Bibi dari Pakistan, yang menerima hukuman mati tahun 2010, serta Rebecca Bitrus dari Nigeria yang selama dua tahun menjadi sandera kelompok ekstrimis Boko Haram.

Eisham Ashiq, anak perempuan dari Asia Bibi, mengatakan kepada wartawan Vatican News itu bahwa keluarga itu yakin ibunya akan segera dibebaskan dari penjara, meskipun mereka harus segera meninggalkan Pakistan, karena keamanannya tidak dapat dijamin. Mereka meminta kepada presiden untuk memberikan pengampunan dan mereka berharap bisa bertemu Paus Fransiskus pada hari Sabtu untuk memintanya mendoakan kebebasannya.

Sedangkan Rebecca Bitrus mengatakan, meskipun menderita di tangan Boko Haram, dia tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan. Tidak juga ketika anak laki-lakinya yang berusia satu tahun terbunuh, atau saat dia disiksa dan diperkosa, yang mengakibatkan kelahiran anak lainnya.

Ketika akhirnya berhasil melarikan diri, dia mengatakan bahwa banyak orang mendesaknya untuk menyingkirkan anak itu, namun dengan bantuan para pemimpin Gereja setempat dia belajar menerima dan bahkan mencintai anak dari penculiknya.

Dia mendorong wanita-wanita lain yang disandera di Nigeria untuk terus percaya kepada Tuhan dan dia ingin meminta kepada Paus Fransiskus kalau mungkin untuk benar-benar memaafkan orang-orang yang menyebabkan begitu banyak kesakitan dan penderitaan.

2000 tahun lalu, umat Kristiani disiksa dan dibunuh di Colosseum karena menolak meninggalkan iman mereka. Di banyak negara di seluruh dunia, hal itu masih berlanjut hingga hari ini. Lebih dari 3.000 orang martir Kristen terbunuh tahun 2017 saja. Meskipun cerita mereka jarang menjadi berita utama, para penyelenggara peristiwa kali ini berharap apa yang mereka laksanakan sekarang akan membuat suara mereka terdengar dan ketidakpedulian yang melingkungi mereka berakhir.(pcp berdasarkan Vatican News)

Mgr Bruno Syukur: Umatku, rayakan gerakan kebangsaan, tingkatkan aksi kesetiakawanan sosial

Sab, 24/02/2018 - 07:02

Mencermati tanda-tanda zaman now, kami menyerukan: “Umatku, adakan dan rayakan gerakan-gerakan kebangsaan. Tingkatkan aksi kesetiakawanan sosialmu sebagai bagian utuh dari komitmenmu sebagai duta Kristus yang hebat”. Sebab “iman tanpa perbuatan (gerakan kebangsaan) adalah mati,” seru Rasul Yakobus (Bdk Yak 2,17).

Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur menulis seruan itu dalam Surat Gembala APP Keuskupan Bogor 2018 bertema “Aku Katolik – Aku Indonesia. Selamatkan tanah air kita,” yang tertanggal 3 Februari 2018, dan dibacakan di gereja-gereja keuskupan itu tanggal 10 dan 11 Februari 2018.

Mgr Paskalis Bruno juga mengutip pernyataan Paus Fransiskus yang mengingatkan umat Katolik bahwa, ”Iman sejati, yang tak pernah nyaman atau sepenuhnya individual, selalu melibatkan hasrat mendalam untuk mengubah dunia, meneruskan nilai-nilai, meninggalkan dunia ini agar lebih baik daripada ketika kita temukan” (EG 183).

Penegasan “Aku Indonesia” dalam tema surat gembala itu, menurut Uskup Bogor itu, mengandung komitmen kebangsaan yang berarti “kita memiliki keyakinan teguh untuk ikut serta mengembangkan bangsa dan tanah air Indonesia atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” dan “mengembangkan bangsa dan tanah air Indonesia itu menjadi ‘rumah kita bersama’, tempat semua orang Indonesia mengalami hidup dalam damai, sejahtera dan bersaudara.”

Komitmen keindonesiaan, lanjut uskup, mengandung spirit kesetiakawanan sosial, yang merupakan daya batin dan kerelaan hati untuk merasakan senasib, sepenanggungan dan saling membutuhkan satu terhadap yang lain. “Kesetiakawanan sosial terwujud dalam sikap peduli dan saling berbagi, yang dikonkretkan dalam gerakan-gerakan dan kegiatan kebangsaan,” tulis uskup.

Ada beberapa gerakan yang diusulkan Mgr Bruno Syukur. Yang pertama gerakan peduli akan pengamalan nilai-nilai Pancasila. “Adakan dan rayakan momen-momen kenegaraan bersama elemen bangsa lainnya, dengan doa bersama, gerak jalan bersama, bakti sosial bersama” untuk berjuang bersama membangun masyarakat yang beradab, adil dan saling menghargai, ajak uskup. Momen yang lain adalah dialog lintas iman dan dialog budaya, serta dialog dengan pejabat negara dan wakil rakyat.

Uskup meminta agar “gerakan pertobatan sakramental, berpuasa dan bersedekah” ditingkatkan dengan memenuhi bilik-bilik pengakuan dosa di gereja-gereja dan mengisi kotak-kotak derma dengan sukacita dan tulus. “Hapuskanlah hutang-hutang iri hati, dendam kesumat yang terpendam dalam hatimu. Berpestalah karena kita sudah berbalik kepada Allah, mengasihi sesama dan alam ciptaan ini,” tulis uskup.

Menyongsong Pilkada 2018, dan Pileg Pilpres 2019, uskup meminta umatnya melibatkan diri dan terjun dalam kehidupan berpolitik berwawasan nasional. “Semua umat yang mempunyai hak memilih mesti ikut aktif. Pilihlah pejabat-pejabat publik yang terbukti dan konsisten bertekad membangun kesejahteraan semua orang di kota, kabupaten dan provinsi,” minta uskup.

Sebagai kebangkitan dan tekad untuk bekerja bersama Kristus yang bangkit membarui dunia ini, Mgr Bruno Syukur meminta umat melakukan gerakan merayakan Paskah agar “bersama Dia, kita memberantas korupsi, tidak kompromi dengan kelompok-kelompok politis yang berorientasi hanya mencari kekuasaan demi kepentingan golongannya.”

Dalam gerakan ekologis untuk menyelamatkan tanah dan air dari pencemaran akibat kerakusan, ketamakan kita, Uskup Bogor mengatakan, “Bertobatlah dari menyiksa alam, memperkosa tanah dan air melalui perilaku kita yang tidak ramah lingkungan. Mari kita menciptakan keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan seluruh ciptaan dan manusia dengan sang Pencipta.”

Uskup juga meminta agar gerakan membangun masyarakat cinta damai dan keramahan sejati dimulai dari rumah kita, dari “Ecclesia domestica”, hingga masyarakat kota dan bangsa.(paul c pati)

Iman Katolik masuk Indonesia dengan susah payah

Jum, 23/02/2018 - 14:43

Pastor Albertus Sujoko MSC

Belajar sejarah masuknya iman Katolik ke Indonesia membuat saya kagum akan para misionaris perintis. Mereka mengalami banyak sekali rintangan dan kesulitan. Namun hasilnya, sekarang kita dapat merasakan perkembangan orang Katolik di Indonesia. Kalau mau berandai-andai, kita bisa bertanya, mengapa iman Kristiani yang sudah lebih dulu lahir di daerah Timur Tengah datang ke Indonesia sangat kemudian daripada Islam? Mengapa juga iman Katolik, yang sama-sama dari Belanda dengan iman Protestan, masuk ke Indonesia setelah Protestan? Semua itu membuat Gereja Katolik menjadi minoritas di Indonesia dibandingkan umat Islam dan umat Protestan. Fakta itu tentu ada latar belakang sejarahnya.

Agama Islam datang langsung dari Timur Tengah ke Indonesia dan sudah mempunyai pengikutnya sebelum pedagang Portugis dan VOC Belanda datang. Memang sebagai data sejarah, iman Kristiani pernah ada di Barus Sumatra Barat di abad ke-7 dan pembaptisan pertama di Ternate oleh pedagang Portugis bernama Gonsalo Veloso tahun 1534. Namun semuanya itu tidak ada kesinambungan. Lain dengan kehadiran Agama Islam yang sejak pertama datang terus dipelihara oleh para pengikutnya.

Orang bilang, iman Katolik itu datang ke Indonesia memutar dulu ke Belanda. Yesus lahir di Betlehem, tanah Yudea, sebagai orang Asia, lalu pergi ke Eropa dan datang ke Indonesia sebagai orang asing. Saya ingat waktu masih kecil di kampungku di Jawa Tengah. Saat itu, kalau ada orang mau masuk Katolik akan ditanya, “Kowe arep dadi Londo?” (Kamu mau jadi orang Belanda?). Mereka hanya tahu bahwa agama Katolik adalah agama orang Belanda.

Menurut buku sejarah yang saya baca, Pastor Jacobus Nelissen Pr, yang datang ke Batavia sebagai prefek apostolik di tahun 1808 dalam usia 50 tahun, hanya sembilan tahun berkarya. Dia meninggal di Batavia karena sakit tanggal 6 Desember 1817. Jabatannya sebagai prefek apostolik diganti oleh Pastor Lambertus Prinsen Pr, yang waktu datang ke Batavia berusia 29 tahun. Saat diangkat menjadi prefek apostolik usianya baru 38 tahun dan berada di Semarang sebagai stasi dari Batavia. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya 1830, Mgr Prinsen mengundurkan diri karena sakit. Kalau dihitung, usianya baru 51 tahun. Sekarang, imam berusia 51 tahun baru ditahbiskan menjadi uskup, sedangkan Mgr Lambertus Prinsen Pr berhenti sebagai uskup (prefek apostolik waktu itu) dalam usia 51 tahun,  karena sakit.

Awalnya yang bisa datang ke Indonesia hanya Pastor Praja (diosesan) Belanda yang mendapatkan surat izin (het radicaal) dari Pemerintah Kolonial. Mereka adalah pastor praja yang berwarganegara Belanda yang mendapat gaji dari pemerintah dan diutus hanya untuk melayani kebutuhan rohani orang Katolik Belanda dan Eropa. Pemerintah Belanda juga berhak menempatkan dan memindahkan klerus. Jadi penempatan klerus tidak menjadi wewenang prefektur apostolik, seperti seharusnya. Apalagi pemerintahan kolonial Belanda yang beragama Protestan memang tidak senang dengan kegiatan misionaris Katolik, sehingga dilakukan banyak pembatasan. Pembatasan itu , antara lain, misionaris Katolik tidak boleh mewartakan Injil di daerah yang sudah Kristen, seperti di Minahasa.

Pemerintah Belanda berpikiran sama dengan penjajah Jepang. Dengan motivasi berbeda, mereka berpikir bahwa pemerintah berhak mengatur pengangkatan dan penempatan uskup dan pastor. Penjajah Jepang memang tidak mengenal agama Katolik, sedangkan Pemerintah Belanda sangat mengenal agama Katolik tapi membencinya.

Fakta ini bisa menjadi pembelajaran yang baik tentang hubungan antara Pemerintah (negara) dan agama. Pemerintah tidak boleh mencampuri agama, dan agama juga tidak boleh mencampuri tugas pemerintah. Sekarang ini orang-orang masih berjuang untuk mendirikan negara agama. Bagi mereka hubungan antara agama dan negara (pemerintahan negara) belum jelas. Terlebih menjelang pilkada, isu agama akan dimanfaatkan sebagai kendaraan politik untuk mencapai kemenangan.

Ketika Pastor Nelissen dan Prinsen datang ke Batavia tahun 1808 mereka menemukan semangat orang Katolik Eropa di Batavia yang acuh tak acuh terhadap agama. Karena sulit menemukan dan mengembangkan iman, maka selama tahun 1808 mereka berdua hanya bisa membaptis 14 orang, yakni satu orang dewasa dari Eropa Timur, delapan anak hasil hubungan gelap, dan lima anak dari orangtua yang status perkawinannya sah. Hal itu menunjukkan betapa parahnya iman di Batavia. Kalau Batavia seperti itu, apalagi daerah lain.

Iman Katolik di Indonesia memang tumbuh dengan susah payah. Kesehatan para perintis cepat rusak karena terlalu banyak kerja, disertai iklim tropis yang sangat panas untuk tubuh Eropa mereka, dan makanan seadanya. Kesulitan mereka bertambah karena jumlah tenaga sangat sedikit, daerah yang sangat luas, dan pembatasan-pembatasan yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda.

Karel Steenbrink menyebutkan “kasus Grooff” ketika menjelaskan kasus Jan de Vries membaptis banyak orang di Minahasa dan menimbulkan kemarahan pada Gubernur Jenderal Mijer, sehingga Uskup Vrancken tidak berani lagi meminta izin tourne bagi imamnya untuk mengunjungi Indonesia Timur termasuk Minahasa. Kasusnya sangat menarik untuk disimak karena masalahnya adalah campur tangan pemerintah Belanda atas kewenangan Gereja Katolik.

Mgr Jacobus Gooff adalah Vikaris Apostolik Batavia yang pertama. Tiga pemimpin sebelumnya disebut prefek apostolik (Nellisen, Prinsen dan Scholten). Mereka sudah tahu aturan main bermisi di Hindia Belanda, yaitu harus mempunyai het radicaal dari pemerintah Belanda, semua misionaris mendapat gaji dari pemerintah, dan pemerintah berhak mengatur penempatan para klerus.

Mgr Grooff Pr sebelumnya adalah uskup di Suriname dan diangkat menjadi vikaris apostolik di Batavia. Ia datang tanggal 21 April 1845 bersama empat pastor pembantunya yang tidak memegang het radicaal. Inilah alasan utama perselisihan Mgr Grooff dengan Gubernur Jendral Jan Jacob Rochusen yang dikenal dengan “skandal Grooff”. Yang lebih parah lagi, Mgr Grooff berfikir seperti di Suriname bahwa uskup mempunyai hak penuh untuk mengatur penempatan para imamnya dan juga bisa menjatuhkan suspensi bila perlu, seperti memang demikian berlaku dalam Gereja Katolik.

Sementara itu pihak gubernur jenderal merasa memegang kekuasaan tertinggi di wilayah jajahan dan bisa mengatur para misionaris juga. Contoh kasus, ketika Mgr Grooff menjatuhkan suspensi kepada seorang imam, gubernur jenderal mau tahu alasan suspensi itu. Uskup menolak memberitahu alasannya karena hal itu adalah hak uskup. Gubernur Jenderal merasa sikap Mgr Grooff itu membahayakan keamanan dan ketertiban umum. Maka diusirlah Mgr Grooff bersama para imam pembantunya tanggal 3 Februari 1946, selang satu tahun saja dari kedatangannya di Batavia. Mgr Grooff sebenarnya diangkat menjadi Vikaris Batavia tahun 1842, namun baru bisa datang tahun 1845.

Berita pengusiran Mgr Grooff terdengar oleh umat Katolik di Belanda yang sedang mengalami toleransi hidup beragama dari Raja William II. Mereka segera menyiapkan aksi dan melancarkan protes, serta  mengadakan penyambutan besar-besaran terhadap kedatangan Mgr Grooff di Pelabuhan Helder tanggal 11 Juni 1846.

Masalah itu membuat pihak pemerintah kolonial Belanda dan Internuncius untuk Belanda Mgr Ferrieri turun tangan. Mereka berunding untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan mereka lalu disahkan oleh Raja Willem II tanggal 2 Januari 1847 dengan Nota Kesepakatan yang disebut Nota der punten.

Dalam kesepakatan itu disebutkan bahwa (pertama) Vikaris Apostolik bertanggungjawab atas administrasi Gereja (art.8) dan berwenang menempatkan serta memutasikan para misionaris (art.3), (kedua) Jumlah misionaris di Indonesia merupakan urusan Gereja meskipun het radicaal tetap diperlukan (art.11), dan (ketiga) Gubernur Jenderal berhak menilai apakah melalui pekerjaannya para misionaris itu menjaga keamanan dan ketertiban umum atau tidak (art.7).

Para perintis itu harus berjuang melawan kekuasaan pemerintah kolonial Protestan Calvinis Belanda yang anti-Katolik, mengatasi masalah sangat kurangnya tenaga misionaris, berhadapan dengan sikap acuh tak acuh dari orang-orang Katolik warga Belanda dan Eropa lainnya, dan anggapan pemerintah Belanda bahwa para misionaris Katolik itu hanya untuk menyediakan pelayanan rohani bagi orang-orang Eropa yang beragama katolik, bukan untuk mewartakan Injil kepada pribumi, serta larangan bagi misionaris juga untuk mewartakan Injil di daerah yang sudah mendapatkan warta Injil dari Protestan. Selain itu mereka kesulitan finansial, yang harus bergantung pada gaji pemerintah Belanda.

Meski banyak kesulitan dan banyak masalah sejak permulaan masuknya iman Katolik, namun perlahan-lahan iman Katolik terus tumbuh dan berkembang sampai sekarang. Kalau kita mengingat perjuangan para perintis untuk membuka kebun anggur Tuhan bagi Gereja Katolik di Indonesia, kita termotivasi untuk melanjutkan karya keselamatan yang mereka rintis itu.*

  • Tulisan ini merupakan tulisan ke-14 dari rangkaian tulisan Pastor Albertus Sujoko MSC berjudul “Jejak Allah dalam Sejarah.”

 

DAFTAR PUSTAKA

Humbert Jacobs SJ, Documenta Malucensia, vol. I (1542 – 1577), Roma, 1974, (758 hlm).

Martin Stigter MSC, Sejarah Gereja Katolik di Wilayah Keuskupan Manado, dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia 3a, hlm. 467 – 497. Penerbit KWI tahun 1974.

  1. Kurris SJ, Sejarah  Seputar Katedral Jakarta, Penerbit Obor 1992

Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia  1808 – 1942, A Documented History, Leiden, Nederland, 2003.

Frater Ludolf Bulkmans CMM, Misi Katolik di Keuskupan Manado dan di Maluku Utara pada abad ke 16 dan 17, diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh P. Jacobus Wagey Pr dan disusun dan dilengkapi oleh P. Jan van Paassen MSC, Wisma Transito, Desember 2011.

  1. Jan van Paassen, MSC, dan P. Sjaak Wagey Pr, Sejarah Karya MSC di Keuskupan Manado 1920 – 1945, Cahaya Pineleng, 2014.

Paulus Widyawan Wishiasta, Monsinyur Willekens SJ, Uskup Perintis Pribumisasi Pendidikan Imam, dan Pelayan Rohani Umat Katolik Indonesia, Obor, 2009.

 

Apa arti gelar ”Tuhan”?

Kam, 22/02/2018 - 23:18

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

83. Dalam arti apa Yesus adalah Putra Tunggal Allah?

Yesus adalah Putra Allah dalam cara yang unik dan sempurna. Pada saat pembaptisan dan transfigurasi-Nya, suara Bapa menyebut Yesus sebagai ”Putra Nya yang terkasih”. Dalam memperkenalkan Diri-Nya sebagai Sang Putra yang”mengenal Bapa” (Mat 11:27), Yesus menegaskan relasi-Nya yang tunggal dan abadi dengan Allah Bapa-Nya. Dia adalah ”Anak Tunggal Allah” (1Yoh 4:9), kedua dari Tritunggal. Dia adalah figur sentral pewartaan iman. Para Rasul melihat”Kemuliaan-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa” (Yoh 1:14).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 441-445, 454

  1. Apa arti gelar ”Tuhan”?

Dalam Kitab Suci, gelar ini menjelaskan Allah sebagai yang Mahakuasa. Yesus memakai gelar ini bagi Diri-Nya sendiri, dan mewahyukan kekuasaan ilahi-Nya lewat kekuasaan Nya terhadap alam, terhadap iblis-iblis, terhadap dosa, dan terhadap maut, terutama melalui Kebangkitan-Nya. Syahadat Jemaat Kristen pertama mengakui bahwa kekuasaan, hormat, dan kemuliaan yang diperuntukkan bagi Allah Bapa juga diperuntukkan bagi Yesus. ”Allah mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp 2:9). Dialah Allah dunia dan sejarah, sebagai Yang Satu, kepada siapa kita harus sepenuhnya menyerahkan kebebasan pribadi kita.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 446-451, 455

Halaman