Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 7 mnt yang lalu

OMK, PMKRI, Pemuda Katolik hormati misionaris dengan membakar 113 lilin 

Kam, 16/08/2018 - 01:04
Para peziarah muda menyalakan 113 lilin untuk para misionaris/ym

Untuk mengenang jasa dan pengorbanan para misionaris sekaligus untuk menghormati mereka, puluhan Orang Muda Katolik (OMK) dari beberapa paroki di Keuskupan Agung Merauke bersama Pemuda Katolik dan PMKRI Cabang Merauke melakukan ziarah ke makam para misionaris yang berada di halaman Paroki Santa Theresia Buti Merauke.

Dalam ziarah yang dilakukan pukul 16.30 hingga 18.30 tanggal 14 Agustus 2018, bertepatan dengan “Peringatan 113 Tahun Gereja Masuk di Papua Selatan” itu, para anggota OMK, PMKRI dan Pemuda Katolik membakar 113 lilin dan menaburkan bunga.

Ziarah itu diikuti juga oleh Diakon Simon Petrus Takahanem Kaize MSC serta Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Merauke Beatha Kandam, Ketua Badan Koordinasi OMK Dekenat Merauke Adriana Papo Gebze dan Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Merauke Petrus Alui Gebze.

Koordinator dan pemrakarsa ziarah itu, Maria Sebastiana Kornelia Kahol, mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa 113 tahun menjadi refleksi bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Merauke, khususnya orang muda, sehingga mereka perlu mengenang serta melihat kembali jasa para misionaris dalam merintis pekabaran injil di tanah Selatan Papua.

Selama ini Maria mengamati OMK semakin kurang mengenang jasa-jasa misionaris. “Kita bahkan tidak tahu dan tidak mengenal siapa mereka. Saya sering membaca buku jejak-jejak misionaris. Perjuangan mereka sangat mengerikan. Mereka harus melewati kondisi alam yang ganas, namun bisa menaklukkannya. Ini hal yang luar biasa,” kata Maria.

Yang perlu direfleksikan oleh OMK di keuskupan itu adalah bagaimana perjuangan para misionaris dalam memajukan orang Papua, betapa banyaknya tantangan yang harus mereka hadapi, “tetapi semuanya itu bisa mereka lakukan dengan semangat,” lanjut Maria.

Pada saat mereka datang, lanjut Maria, “orangtua kita masih pakai cawat dan sekarang kita sudah bisa berpakaian seperti ini. Pelayanan para misionaris dengan cinta kasih, dapat merangkul orang Papua untuk menerima sukacita Injil, sehingga kita bisa seperti ini. Dulu kita belum mengenal beras dan sebagainya, orang tua kita hanya hidup dengan makan sagu, ikan dan daging,” jelas Maria.

Maria lalu mengusulkan agar Ziarah ke Makam Misionaris menjadi agenda rutin keuskupan setiap tahun sebagai penghormatan bagi mereka. “Saya sangat terharu. Ini baru pertama kali kita lakukan pada peringatan hari misi Katolik. Ini bentuk penghormatan yang bisa kita berikan kepada para misionaris.”

Sementara itu Diakon Simon Petrus Kaize MSC mengatakan, meskipun kegiatan itu sederhana tetapi sangat bermakna. “Saya hampir menangis ketika memimpin doa, karena kita hanya beberapa orang, tetapi membangkitkan motivasi luar biasa. Ini bahan pembelajaran buat OMK sekarang, karena saat ini OMK sangat susah mengumpulkan teman-teman, padahal bisa lewat telepon. Dulu mereka lebih susah, tetapi tetap semangat untuk berkarya,” kata Diakon Simon kepada PEN@ Katolik.

Usai pembakaran lilin, OMK, Pemuda Katolik dan PMKRI yang hadir berkomitmen untuk “bersatu dan melanjutkan karya agung para misionaris di Selatan Papua.”(Yakobus Maturbongs)

Artikel Terkait:

Pastor Cornelis de Rooij MSC: OMK harus berani hadapi tantangan tak boleh mengeluh

Peristiwa 108 tahun Injil masuk Papua Selatan ajak umat jadi misionaris

Perda Merauke sebagai Gerbang Hati Kudus Yesus hormati karya misionaris MSC

Foto bersama OMK, Pemuda Katolik dan PMKRI dalam Ziarah ke Makam Misionaris/ym

Apa itu keadilan?

Rab, 15/08/2018 - 20:43
Yesus Hakim yang Adil

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

381. Apa itu keadilan?

Keadilan tampak dalam kehendak yang teguh dan terus-menerus untuk memberikan kepada orang lain yang menjadi haknya. Keadilan terhadap Allah disebut ”keutamaan religius”.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1807, 1836

382. Apa itu keberanian?

Keberanian tampak dalam kekuatan di tengah-tengah kesulitan dan terus-menerus mengikuti kebaikan. Keberanian bahkan dapat sampai pada kemampuan untuk mengorbankan hidup demi alasan yang bisa dibenarkan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1808, 1837

Santo Maximilian Kolbe dibunuh menggantikan seorang bapa keluarga dalam Perang Dunia II

Rab, 15/08/2018 - 17:51
Santo Maximilian Kolbe, seorang imam Fransiskan, salah satu korban Auschwitz

Dalam Perang Dunia II, Auschwitz di Polandia terkenal sebagai yang terbesar dari kamp-kamp konsentrasi dan pemusnahan Nazi Jerman. Di sana, setidaknya 1,1 juta pria dan wanita serta anak-anak meninggal atau dibunuh, sekitar 90 persen di antaranya orang Yahudi.

Namun, seorang imam Katolik berani menanggapi kekuatan kejahatan Nazi dengan kecintaan tanpa pamrih terhadap Injil, sehingga menjadi martir yang menjalani cinta total terhadap Tuhan dan manusia. Dia adalah Santo Maximilian Kolbe, seorang imam Fransiskan, salah satu korban Auschwitz, demikian laporan Robin Gomes dari Vatican News.

Pesta Santo Maximilian Kolbe dirayakan tanggal 14 Agustus, hari ketika dia dieksekusi oleh Nazi di Auschwitz tahun 1941 dengan suntikan mematikan, beberapa hari setelah dia mengajukan diri untuk menggantikan tahanan yang akan dihukum mati.

Setelah invasi Polandia oleh Jerman tahun 1939, Pastor Kolbe dan rekan-rekannya berlindung di biara dan membantu sekitar 3.000 pengungsi Polandia, di antaranya 2.000 orang Yahudi. Nazi menutup biara itu Mei 1941 dan Pastor Kolbe dan empat sahabatnya dikirim ke kamp kematian Auschwitz. Di sana imam itu melayani tahanan-tahanan lain.

Ketika seorang tahanan melarikan diri dari kamp, ​​sebagai pembalasan atas pelarian itu, Nazi memilih 10 orang lain untuk dibunuh dengan kelaparan. Salah satu dari 10 yang dipilih untuk mati, Franciszek Gajowniczek, mulai menangis memikirkan istri dan anak-anaknya.

 Tidak kuasa melihat hal ini, Pastor Kolbe pelan-pelan maju ke depan, melepaskan topinya, dan berdiri di depan komandan serta berkata, ‘Saya seorang imam Katolik. Biarkan aku menggantinya. Saya sudah tua. Dia punya istri dan anak-anak.’ Imam Fransiskan itu menunjuk Franciszek Gajowniczek dan mengulangi ‘Saya seorang imam Katolik dari Polandia; Saya ingin menggantinya, karena dia memiliki seorang istri dan anak-anak.’

Permintaannya dikabulkan!

Maximilian Kolbe, tahanan dengan nomor 16770 menderita siksaan lebih dari 15 hari, sebelum mati karena suntikan asam karbol yang mematikan. Dia meninggal pukul 12.30 tanggal 14 Agustus 1941 pada usia 47 tahun, seorang martir kerahiman.

Beato Paus Paulus VI menyatakan Pastor Kolbe sebagai beato tanggal 17 Oktober 1971, dan Santo Paus Yohanes Paulus II, mengkanonisasinya sebagai orang kudus tanggal 10 Oktober 1982.(pcp berdasarkan Vatican News)

Tema ‘Kebenaran’ mewarnai Pesta Santo Dominikus di Yogyakarta

Rab, 15/08/2018 - 15:48
Para siswa SMP Joannes Bosco Yogyakarta mempresentasikan gerakan Cinta Kebenaran

Pesta Santo Dominikus 8 Agustus 2018 dirayakan di Yogyakarta dalam berbagai bentuk oleh semua komunitas suster dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia, semua unit sekolah di bawah naungan Yayasan Santo Dominikus Kantor Cabang Yogyakarta (YSDKCY) dan juga Dominikan Awam.

Kegiatan dimulai dengan “Pekan Studi Dominikan” yang “wajib” diikuti seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun karyawan dengan tema umum untuk siswa, “Aku Teladan Kebenaran,” dan untuk guru dan karyawan “Aku Hidup dalam Kebenaran.” Pekan studi itu berlangsung di awal tahun pelajaran sesuai unit sekolah masing-masing.

Ketika para siswa SMP Joannes Bosco menggelar acara nonton bareng hasil kreasi pembuatan video “Tahun Cinta Kebenaran” yang dilombakan di lapangan in door sekolah, para siswa SD Joannes Bosco  menanam pohon, menonton video sejarah Santo Dominikus, dan membuat poster dengan tema “Merawat yang Sudah Ada dan Mencipta yang Belum Ada.”

Sesuai informasi dari YSDKCY, seluruh kegiatan siswa, guru, dan karyawan dalam perayaan ini difokuskan untuk menyambut “Tahun Cinta Kebenaran” (2018/2019), sebagai salah satu tema dari bingkai kinerja Sekolah Dominikan Indonesia.

Di bagian lain, SMA-SMK Dominikus Wonosari merayakan Misa dan melaksanakan lomba membuat dan menghias tumpeng, serta menghias kelas, dan TK-SD Fatima Rawaseneng melaksanakan senam bersama keluarga siswa, menghias tumpeng, dan perjamuan bersama.

Tanggal 4 Agustus 2018, seluruh guru dan karyawan YSDKCY mengisi kegiatan pesta dengan Misa, penganugerahan bagi Guru Karyawan Teladan Kontemplasi, dan perjamuan bersama di Pantai Sepanjang Gunungkidul.

Hari Rabu, 8 Agustus 2018, para siswa, guru dan karyawan SD dan SMP Joannes Bosco, anak-anak Day care, dan banyak orang tua siswa berkumpul di Gereja Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, untuk Misa.

Sesudah Misa, Novisiat Suster-Suster OP di Jalan Melati Wetan 55, Baciro, “diserbu” oleh anak-anak dari Pelangiku Day Care dan SD-SMP Joannes Bosco Yogyakarta. Rumah pembinaan para calon suster OP itu menyelenggarakan “open house” untuk para siswa, guru, dan karyawan.

Kesan-pesan yang ditulis para siswa mengungkapkan rasa syukur dan senang boleh melihat suasana dan rumah biara. “Akhirnya … tahu isi dalamnya rumah suster…,” tulis seorang anak.

Pada sore hari di hari pesta itu, Misa kembali dirayakan bersama Dominikan Awam Chapter Santo Martinus de Porres Yogyakarta dan beberapa undangan. Acara itu dilengkapi dengan makan bersama.

Untuk menyambut Pesta Santo Dominikus, Dominikan Awam mempersiapkan diri  dengan novena, Sakramen Tobat, dan penyusunan buku doa chapter itu. Buku yang sedang dalam proses penyusunan itu adalah buah kontemplasi selama hari-hari doa.

Sedangkan para suster OP, di Biara Santo Dominikus Maguwo, Biara Santo Katarina Pandega, Biara Santo Dominikus Wonosari, Biara Santo Dominikus Rawaseneng, dan Novisiat OP di Baciro, menantikan Pesta Santo Dominikus bukan saja dengan menghias ruangan-ruangan, tetapi dengan serangkaian acara doa.(Suster Krisanti OP)

Gerakan Cinta Kebenaran yang dicanangkan dalam perayaan Santo Dominikus di SD Joannes Bosco Doa bersama anak-anak dalam acara open house Novisiat OP Perayaan Ekaristi di GKR Baciro bersama Pastor Nando Pr. Pastor Oktavianus Eka Novi Setyanta Pr memberkati Gerakan Cinta Kebenaran dari unit-unit sekolah, saat Misa Perayaan Santo Dominikus YSD di Pantai Sepanjang Gunungkidul

Apa saja keutamaan-keutamaan manusiawi yang penting?

Rab, 15/08/2018 - 05:18
Empat keutamaan pokok adalah kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri. Site of Wisdom

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

379. Apa saja keutamaan-keutamaan manusiawi yang penting?

Keutamaan-keutamaan manusiawi yang penting disebut keutamaan pokok, semua yang lain dikelompokkan di bawahnya dan merupakan sendi kehidupan utama. Keutamaan-keutamaan pokok itu adalah kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1805, 1834

380. Apa itu kebijaksanaan?

Kebijaksanaan menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan kebaikan kita yang sejati dalam setiap situasi dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya. Kebijaksanaan menuntun keutamaan yang lainnya dengan menunjukkan ukuran dan kualitasnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1806, 1835

OMK Cawas rayakan keberagaman dengan kreativitas yang diikuti kaum muda berbagai agama

Rab, 15/08/2018 - 03:42

“Keberagamaan adalah kebanggaan yang harus kita jaga bersama-sama, setuju tidak? Inilah yang kita inginkan di Kecamatan Cawas, juga di Kabupaten Klaten dan seluruh Nusantara. Kan begitu. Sehingga hari ini, malam hari ini luar biasa. Kita ucapkan terima kasih. Kalau keberagaman ini kita jaga bersama-sama, tentunya masyarakat Cawas terutama juga akan adem, ayem, tentrem, nyambut gawene penak (bekerja nyaman), rejekine lancar (rejekinya lancar).”

Camat Cawas Muhammad Nasir berbicara dalam Malam Selebrasi Creaversity (rayakan keberagaman dengan kreativitas) yang digagas oleh OMK Paroki Maria Assumpta Cawas, Klaten, dan dilaksanakan di halaman parkir gereja paroki itu 4 Agustus 2018 malam.

Nasir berharap, acara yang menampilkan kesenian dari berbagai tradisi agama itu terus dijalankan. “Kita harus bersyukur dengan keberagaman ini,” katanya.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr juga mengapresiasi kegiatan yang bisa menjadi pertemuan orang muda dan masyarakat dari berbagai agama itu.

“Sangat bersyukur dan mengapresiasi kawan-kawan muda Katolik dan lintas agama di Cawas. Luar biasa!” kata Pastor Budi seraya menegaskan kegiatan itu selaras dengan rencana “Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda” di Semarang, 26-28 Oktober 2018, yang akan mengumpulkan kaum muda dari berbagai agama.

Pastor Budi pun menyanyikan dua lagu dengan iringan saksofonnya “yang merupakan gambaran keberagaman, karena sudah dipakai untuk berkolaborasi dengan berbagai tokoh agama,” jelas imam itu.

Kepala Paroki Cawas Pastor Yustinus Joko Wahyu Pr mengatakan, acara Malam Selebrasi Creaversity merupakan upaya untuk mencintai hidup, yang saat ini terancam karena berita-berita yang tidak benar dan sentimen-sentimen tertentu. “Hidup tidak menjadi aman. Maka, creaversity yang digagas oleh OMK ini tawarannya adalah menjawab kebutuhan kita yang paling dasar, aku ingin hidup, aku ingin nyaman, aku ingin aman,” kata imam itu.

Malam Selebrasi Creaversity yang dikunjungi masyarakat Kecamatan Cawas, adalah puncak dari beberapa kegiatan antara lain aksi sosial donor darah, sepeda santai, dan senam lansia yang sudah diselenggarakan beberapa waktu sebelumnya.(Lukas Awi Tristanto)

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menyanyi sambil main saksofonnya.

Paus kepada OMK Italia: ‘Pengharapan mengatasi kesengsaraan dan penindasan’

Sel, 14/08/2018 - 18:50

Dalam renungan malam Minggu, 11 Agustus 2018, untuk lebih dari 70.000 peziarah seluruh Italia di Circus Maximus Roma, Paus Fransiskus mengajak orang muda Katolik (OMK) untuk berani dalam perjalanan iman mereka dan untuk membantu orang-orang yang terperosok dalam kegelapan.

Paus juga mengajak mereka, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, untuk “lari menuju Yesus” dan saudara-saudari mereka “dengan hati penuh cinta, iman, dan sukacita.” Kecepatan yang lambat, menurut Paus, tidak berlaku dalam perjalanan iman, melainkan “langkah cepat dan lompatan berani.”

Paus Fransiskus mengatakan kepada para peziarah muda bahwa keberanian diperlukan “untuk bermimpi dan untuk menghadirkan Kerajaan Allah, sama seperti Yesus.” Umat Kristiani, lanjut Paus, tidak dipanggil untuk menghindari penderitaan, kekalahan, dan kematian. “Tuhan,” kata Paus, “memberi kita kekuatan terbesar atas semua ketidakadilan dan kelemahan manusia: Yesus menaklukkan maut dengan memberikan hidup-Nya bagi kita.”

Kekuatan itu, kata Paus Fransiskus, mendorong kita untuk mencari saudara-saudari kita, tidak peduli dengan kegelapan yang ada di sana. “Di saat kematian tampak menang,” kata Paus, “pada kenyataannya di saat itu terungkap kekalahan maut.”

Paus mengatakan kekuatan Kebangkitan Yesus begitu mudah tersebar dan mempengaruhi orang lain sehingga sejarah tidak dapat menahan kemajuannya.

“Di mana pun kehidupan ditindas; di mana kekerasan, perang, dan kesengsaraan berkuasa; dan di mana orang-orang dihina dan diinjak-injak: di sana pengharapan akan kehidupan masih bisa dihidupkan kembali.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel terkait:

Lebih dari 30.000 OMK Italia berziarah jalan kaki seminggu di seluruh keuskupan mereka

Apakah keutamaan manusiawi itu?

Sel, 14/08/2018 - 13:52
Gambar dari pewartasabda.wordpress.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

377. Apa itu keutamaan?

Suatu keutamaan adalah disposisi yang tegas dan menjadi kebiasaan untuk melakukan kebaikan. ”Tujuan kehidupan yang utama ialah untuk menjadi serupa dengan Allah” (Santo Gregorius dari Nyssa). Ada keutamaan manusiawi dan ada pula keutamaan teologal.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1803, 1833

378. Apakah keutamaan manusiawi itu?

Keutamaan manusiawi adalah kesempurnaan intelek dan kehendak, yang stabil dan menjadi kebiasaan, yang mengendalikan tindakan, mengatur nafsu, dan menuntun perbuatan kita menurut akal budi dan iman. Keutamaan ini diperoleh dan diperkuat lewat kebiasaan melakukan tindakan yang baik secara moral, dimurnikan, dan diangkat oleh rahmat ilahi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1804, 1810-1811, 1834, 1839

Berziarah dari Perancis ke Panama sambil berlayar selama 150 hari ke WYD 2019

Sel, 14/08/2018 - 03:20
17 peziarah, semua di bawah usia 30, sedang mempersiapkan perjalanan yang mengesankan dari Atlantik ke Panama selama beberapa minggu menuju WYD 2019. | D.R.

Sekelompok OMK yang terdiri dari 17 pria dan wanita dari Perancis, empat nakhoda, dan seorang imam, akan meninggalkan Notre-Dame de Rocamadour di teluk Brest, tanggal 31 Agustus 2018, setelah menerima berkat dari Uskup Bayonne Mgr Marc Aillet atas nama semua Uskup Perancis. Mereka akan berlayar dengan tiga kapal layar selama 105 hari ke Panama untuk bergabung dengan Paus Fransiskus dalam Hari Kaum Muda se-Dunia (WYD) di Panama, akhir Januari 2019.

Francesca Merlo dari Vatican News melaporkan bahwa OMK itu berasal dari beragam latar belakang, namun semuanya mempunyai keinginan yang sama yakni menyentuh Paus Fransiskus di Panama pada kesempatan istimewa itu. Mereka mengatakan akan memulai pelajaran hidup itu dengan harapan menemukan panggilan mereka, memahami tujuan hidup mereka, dan fokus pada masa depan mereka.

Dalam situs web mereka, tim itu disebut sebagai “petualangan spiritual, manusiawi, dan misionaris.” Meskipun belum pernah bertemu – dan meskipun sebagian besar awak kapal layar itu tidak pernah berlayar sebelumnya – mereka semua harus belajar berlayar bersama, hidup dan bekerja bersama, dan belajar cara laut dan alam.

Para peziarah mengatakan, tujuan mereka adalah membenamkan diri dalam kehidupan masyarakat setempat, mendengarkan cerita mereka, dan belajar dari pengalaman mereka ketika mereka melakukan perjalanan dari dari negara ke negara dan dari benua ke benua.

Dari tanggal 1-15 September mereka akan berlayar melalui Perancis, Spanyol, dan Portugal, berhenti pada tempat-ziarah pertama di Santiago de Compostela dan Tempat Ziarah Bunda Kita dari Fatima, untuk berbagi dan menjelaskan tujuan dari misi mereka.

Tanggal 30 September, ketika berada di Maroko, mereka akan mengikuti jejak-jejak Beato Charles de Foucault, dalam upaya untuk belajar tentang kehidupannya.

Dari tanggal 1 hingga 15 Oktober mereka berlayar melalui Kepulauan Canary, sebelum melakukan perjalanan ke Senegal di mana mereka akan menjalani sebuah misi di Dakar. Kemudian ke Cape Verde, dan dari tanggal 15 November hingga 5 Desember mereka menyeberangi Samudera Atlantik.

Tanggal 25 Desember mereka akan tiba di Kepulauan Karibia – Santa Lucia, Martinique, Dominique, dan Guadeloupe. Di sana mereka akan merayakan Natal. Berangkat dari sana tanggal 27 Desember, mereka akan tiba di Curacao tanggal 15 Januari dan berlayar terus hingga mencapai tujuan akhir mereka: Panama, tepat waktu untuk merayakan WYD, 22 hingga 27 Januari 2019.

Di atas kapal mereka membawa patung Santa Maria La Antigua, yang diberikan oleh Uskup Agung Panama. Patung, yang melambangkan Santo Pelindung Panama dan berasal dari Sevilla itu, akan menyeberang Samudra Atlantik dengan para peziarah muda yang berjiwa petualang itu. (pcp berdasarkan Vatican News)

Pastor Cornelis de Rooij MSC: OMK harus berani hadapi tantangan, tak boleh mengeluh

Sel, 14/08/2018 - 02:23

“Saya pesan kepada orang muda Katolik (OMK) untuk berani menghadapi tantangan dalam tugas pelayanan Gereja dan tidak boleh mengeluh. Kita punya otak, ada kaki, ada tangan dan ada mulut. Manfaatkan itu. OMK harus bekerja bersama, berbuat sesuatu bersama-sama, dan berpikir bersama.”

Misionaris terakhir tarekat Missionarii Sacratissimi Cordis Jesu (MSC) atau Misionaris Hati Kudus Yesus dari Negeri Belanda di Papua Selatan Pastor Cornelis de Rooij MSC berbicara dengan PEN@ Katolik di Biara MSC Merauke, 11 Agustus 2018, dalam rangka “113 Tahun Gereja Katolik di Papua Selatan” yang dirayakan 14 Agustus 2018.

Selain berpesan kepada OMK untuk mempertahankan semangat misionaris dalam mewartakan ajaran iman, pastor yang akrab dipanggil Pastor Kees itu berpesan agar OMK terus mengembangkan diri dalam sifat sosial dengan “berpikir bersama untuk berbuat bersama, bicara bersama untuk berbuat bersama.”

Menurutnya, OMK harus banyak memberikan diri untuk kepentingan bersama seperti yang dilakukan para misionaris. “OMK tak boleh bekerja untuk diri sendiri atau kepentingan pribadi, tapi berpikir positif dan bekerja bersama demi Gereja. Kalau ada kelompok orang yang ego-ego, tidak akan bisa jadi apa-apa. Ego itu harus dihilangkan.”

Dulu, rasa kebersamaan itu kuat, tapi sekarang banyak orang mau kaya, “jadi mulai urus diri sendiri dan akibatnya terjadi baku curi, baku mabuk dan lainnya,” cerita imam itu seraya meminta OMK bekerja bagi orang lain. “Ini dasar ajaran Yesus yaitu cinta kasih,” kata Pastor Kees seraya menyinggung sepak bola. “Tidak usah pikir jauh-jauh, sederhana saja. Kalau ada yang ego, tim akan tetap kalah. Tapi kalau bekerja sama, pasti hasilnya baik dan akan menang.”

Zaman modern lebih mudah, tegas Pastor Kees, karena kemajuan teknologi memberi banyak fasilitas penunjang bagi OMK. “Dulu sangat berat, misionaris harus jalan kaki untuk melayani umat. Tapi kita lakukan saja, tidak pernah mengeluh. Banyak tantangan dihadapi, baik soal makan dan medan yang cukup sulit, namun semuanya tidak terasa berat karena dilakukan dengan semangat dan hati bersih,” kata Pastor Kees seraya menambahkan bahwa kegembiraan yang didapatnya bersama orang Papua “membuat saya merasa tidak ada tantangan yang sulit dalam hidup saya.”

Para misionaris dulu bukan datang dengan intelektualitas tinggi, melainkan sebagai gembala. “yang memberikan hidupnya secara penuh agar memajukan orang Papua baik dalam hal rohani maupun jasmani,” tegas imam itu.

Pastor Kees menyebut Pastor Petrus Vertenten MSC (1884-1946), yang mendatangkan orang dari Belanda untuk menyembuhkan penyakit yang membunuh banyak orang Marind (penduduk asli Merauke) sekitar tahun 1920-an. “Misionaris dulu memang datang untuk mati di sini, mereka bekerja untuk orang Papua. Banyak misionaris yang mati, tapi mereka merasa seperti manusia Yesus yang hadir di tengah orang Papua. Meski banyak tantangan, misionaris berjuang memajukan orang Papua dan itu butuh proses panjang.”

Menurut Pastor Kees, misionaris tidak hanya memperhatikan hal agama, tapi juga pendidikan, kesehatan dan ekonomi. “Dulu misionaris membuat pelatihan pertanian, pertukangan dan lainnya. Jadi misionaris datang membuat umat Papua menjadi manusia seperti di daerah lain. Jangan ketinggalan dan jangan terjadi seperti nasib orang Indian di Amerika,” lanjut imam itu.

“Kami sebagai misionaris berkemauan keras untuk memperhatikan orang Papua. Ini dasar misionaris dulu dan saya teruskan perjuangan mereka sampai hari ini,” tegas Pastor Kees.

Pria kelahiran Tilburg, Belanda, 26 April 1941 itu, memulai karyanya di Keuskupan Agung Merauke tahun 1969. Pertama kali imam itu ditugaskan di Distrik Ninati, Kabupaten Boven Digoel hingga 1979, lalu dipindahkan ke Getentiri, Distrik Jair, kabupaten yang sama 1980-2006. Dalam tugas itu imam itu pernah menjadi Pastor Dekan Mindiptanah 1992-1998.

Pastor Kees, yang kini melayani umat di beberapa stasi dan sibuk dengan berbagai kegiatan sosial dan pernah mendirikan panti bagi anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS itu mengatakan, “Saya tinggal menunggu pensiun. Setelah pensiun saya akan kembali ke Belanda.” (Yakobus Maturbongs)

Pastor Yesuit dibunuh di Peru

Sen, 13/08/2018 - 23:50
Pastor Carlos Riudavets Montes

Seorang imam misionaris Yesuit asal Spanyol yang bekerja untuk orang-orang pribumi di daerah Amazonia Peru telah terbunuh. Jenazah Pastor Carlos Riudavets Montes ditemukan hari Jumat pagi, 10 Agustus 2018, dengan tangannya diikat dan beberapa luka tikaman tergeletak di dapur sekolah Valentín Salegui yang dia jalankan di distrik Yamakai-entsa di provinsi hutan Amazon, Bagua.

Tubuh imam itu, menurut Robin Gomes dari Vatican News, ditemukan oleh juru masak sekolah, kata Gumercinda Diure, direktur pendidikan wilayah Amazonia kepada radio RPP. Diure mengatakan itu tidak tampak seperti pencurian karena tidak ada yang dicuri.

Provinsi Yesuit Peru telah mengkonfirmasi kematian Pastor Riudavets. “Kami mengungkapkan rasa cemas dan sedih atas kematian Pastor Carlos Riudavets, kata provinsi Yesuit Peru dalam sebuah pernyataan.

Pastor Victor Hugo Miranda, juru bicara provinsi Yesuit Peru mengatakan kepada Vatican News bahwa Yesuit Peru telah menyatakan keprihatinan dan kekhawatiran mereka atas apa yang telah terjadi dan sedang menunggu informasi dari pihak berwenang mengenai pembunuhan Pastor Riudavets.

Sambil menolak segala bentuk kekerasan, Pastor Miranda mengatakan, para Yesuit Peru bangga akan pekerjaan dalam misi Pastor Riudavets, 73. Sekolah dari imam itu memberikan pendidikan kepada anak-anak dari kelompok pribumi Yamakai-Entsa, melayani di bagian tengah utara Amazon Peru selama 38 tahun.

Berasal dari Sanlúcar de Guadiana (Huelva), di Spanyol, Pastor Riudavets datang ke Peru sebagai skolastik muda dalam tahap persiapan pra-imamat. Ia belajar teologi di Lima dan memiliki pengalaman dalam mengajar di Piura di utara. Setelah tahbisan imamatnya, ia dikirim tahun 1980 ke misi Yesuit di Vikariat San Francisco Javier del Alto Maranon, sebuah wilayah yang mencakup bagian dari Jaén (di wilayah Cajamarca) yang merupakan tanah dari orang-orang Awajun-Wampis.

Pastor Miranda mengatakan Pastor Riudavets bekerja selama hampir 40 tahun di antara penduduk asli sebagai guru dan kemudian kepala sekolah dan sangat dekat dengan rakyat.

Pastor Riudavets, kata Diure, telah diancam oleh seorang siswa yang dikeluarkan dari sekolah. Polisi mengatakan mereka sedang menyelidiki pembunuhan itu. Konferensi Waligereja Peru mendesak pihak berwenang untuk mengklarifikasi fakta dan menangkap mereka yang bertanggung jawab.

The Pan-Amazon Ecclesial Network (REPAM) mencatat bahwa Pastor Riudavest sangat dicintai oleh orang-orang di daerah itu, terutama oleh orang-orang Awajún-Wampis. Pastor Riudavest meninggalkan warisan komitmen, tanggung jawab dan cinta untuk masyarakat pribumi, kata REPAM.

Kemiskinan mempengaruhi sekitar 35% penduduk wilayah Amazonia tempat imam yang dibunuh itu tinggal dan berkarya. Wilayah ini juga dihantam oleh sejumlah besar kasus penularan HIV, perkosaan gadis, penambangan ilegal dan tumpahan minyak yang mencemari pasokan air ke masyarakat setempat.(pcp berdasarkan Vatican News)

Bagaimana membentuk suara hati agar menjadi lurus dan benar?

Sen, 13/08/2018 - 23:29

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

374. Bagaimana membentuk suara hati agar menjadi lurus dan benar?

Suara hati yang lurus dan benar dibentuk melalui pendidikan, penghayatan Sabda Allah dan pengajaran Gereja, didukung oleh anugerah Roh Kudus dan dibantu oleh orang-orang bijak. Doa dan penelitian batin juga dapat sangat membantu pembentukan suara hati moral ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1783-1788, 1799-1800

375. Norma-norma apa yang selalu harus diikuti oleh suara hati?

Ada tiga norma umum: 1) seseorang tidak pernah boleh melakukan sesuatu yang jahat untuk mendapatkan hasil yang baik darinya, 2) Hukum Emas mengatakan: ”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12), 3) kasih selalu mulai dengan menghormati sesama dan suara hatinya walaupun ini bukan berarti menganggap baik apa yang secara objektif jahat.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1789

376. Apakah suara hati moral dapat membuat penilaian yang salah?

Seseorang harus selalu menaati penilaian yang keluar dari suara hatinya, tetapi ada kemungkinan dia membuat penilaian yang salah karena alasan-alasan yang mungkin berasal dari kesalahan orangnya. Tetapi, kesalahan dari suatu tindakan buruk yang dilakukan karena ketidaktahuan yang tak disengaja tidak dapat ditimpakan kepadanya. Namun demikian, tindakan tersebut tetaplah buruk secara objektif. Karena itu, seseorang harus berusaha untuk memperbaiki kesalahan suara hati moralnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1790-1794, 1801-1802

Mgr Rubi: Modal utama seorang gembala umat adalah kesediaan untuk diutus

Sen, 13/08/2018 - 23:09

Sebelum menahbiskan imam diosesan dari Keuskupan Purwokerto, Mgr Robertus Rubiyatmoko meminta agar tiga diakon itu menanggapi panggilan Tuhan dengan serius. “Menanggapi dengan kesejukan hati, dengan menyediakan diri untuk diutus bagi penggembalaan kawanannya. Kesediaan inilah yang menurut saya menjadi modal utama seorang gembala umat,” kata Mgr Rubi yang sebelumnya melakukan dialog interaktif dengan ketiga diakon itu.

Uskup Agung Semarang itu menahbiskan tiga imam diosesan Keuskupan Purwokerto di Gereja Santo Petrus Pekalongan, 31 Juli 2018. Tiga imam yang ditahbiskan adalah Pastor Yusuf Widiarko Pr, Pastor Ia Indra Pamungkas Pr, dan Pastor Florentinus Bram Mahendra Siagian Pr.

Dalam tahbisan itu, Mgr Rubi didampingi Uskup Emeritus Keuskupan Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ, Uskup Emeritus Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja Pr, dan Uskup Terpilih Keuskupan Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono Pr. Sejumlah imam diosesan, imam kongregasi, biarawan-biarawati, umat awam dan kaum muda hadir dalam tahbisan itu.

Seorang imam, lanjut Mgr Rubi, mesti bersedia diutus ke mana pun, kapan pun, justru karena dia menyediakan diri untuk melayani Allah dan Gereja-Nya melalui keuskupan. “Maka sudah semestinya kita menyerahkan diri seutuhnya pada kepentingan keuskupan,” kata Mgr Rubi.

Menurut Mgr Rubi, kesiapsediaan menjadi modal dasar seorang penatua, seorang imam, atau pun seorang gembala. “Siap sedia diutus ke mana pun dengan penuh keberanian tanpa ketakutan, tanpa kekhawatiran, tanpa was-was. Namun juga bisa diandalkan dan siap untuk melayani. Dan semua dilakukan dengan memberikan diri seutuhnya bahkan rela mati demi kawanan. Itu semua bisa diwujudkan dalam keseharian melalui teladan kehidupan yang sangat konkret,” kata prelatus itu.

Kepada umat yang hadir, Mgr Rubi mengatakan, bahwa ketiga imam baru itu telah menyediakan diri untuk kita semua, baik yang di dalam Gereja sendiri, maupun yang di luar Gereja. “Mudah-mudahan kesediaan diri ini mendapatkan tanggapan positif dari seluruh umat. Umat pun juga menanggapinya, mendukungnya dengan sukacita, tanpa menawar-nawar,” kata Mgr Rubi.

Mgr Rubi mengatakan, kesiapsediaan para imam hanya akan menjadi nyata, dan berbuah yang berlimpah kalau ditanggapi oleh kesediaan umat untuk mendukungnya.

Juga diingatkan bahwa Tuhan akan terus memanggil dan mendampingi meskipun imam adalah manusia lemah. “Melalui kesadaran diri yang penuh dengan kelemahan, akhirnya akan merasakan betapa Tuhan menggunakannya, memakainya dengan mendampingi dari waktu ke waktu. Rahmat Tuhan itu berlimpah,” kata Mgr Rubi.

Pastor Florianus Bram Mahendra Siagian mengatakan, dirinya tertarik menjadi imam ketika duduk di kelas 3 SD saat melihat seorang sosok imam yang menarik perhatiannya, Pastor Ia Indra Pamungkas mengatakan, seorang imam tidak hanya menggembalakan umat di Gereja, namun, ia juga menjadi gembala bagi masyarakat di luar Gereja untuk bersama-sama hidup dalam masyarakat luas.

Selama ini, upacara tahbisan imam di Keuskupan Purwokerto diselenggarakan di berbagai paroki secara bergantian. Menurut Kepala Paroki Santo Petrus Pekalongan Pastor Martinus Ngarlan Pr, hal itu bertujuan “untuk melibatkan semakin banyak umat dan memperkenalkan panggilan imam pada orang muda di berbagai tempat di daerah.”(Lukas Awi Tristanto)

Para suster OP di Cirebon rayakan Pesta Santo Dominikus dengan pekan studi, doa dan lomba

Sab, 11/08/2018 - 22:05
Tiga anak didik Sekolah Santa Maria Cirebon dengan ‘Dominic Award’ 2018

Dalam rangka Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018, PEN@ Katolik mendapat informasi dari Suster Albertine Padmo OP bahwa komunitas Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia (OP) di Biara Santa Maria Cirebon semakin menunjukkan kepedulian dan keterlibatan dalam karya-karya pendidikan dengan mengadakan Pekan Studi Dominikan untuk siswa dan guru di Persekolahan Santa Maria Cirebon, 1-5 Agustus 2018, Doa Novena Santo Dominikus bagi seluruh civitas akademika, dan aneka lomba untuk siswa. Lomba-lomba itu adalah mewarnai dan bercerita tentang Santo Dominikus untuk TK dan SD sampai kelas 3 dan membuat refleksi untuk kelas 4-6 SD, preaching contest untuk SMP dan SMA, memimpin kontemplasi untuk SMP dan SMA, membuat vlog serta stiker dan spanduk tentang habitus Cinta Kebenaran, dan membuat photo booth bertema pewartaan cinta kebenaran bagi guru di tiap unit sekolah. Dilakukan juga kegiatan sosial berupa pelatihan jurnalistik dan lomba terkait di Rumah Baca Santo Dominikus di Stasi Sukamulya, Paroki Kristus Raja Cigugur Kuningan. Puncak perayaan ditutup dengan Misa yang dipimpin Pastor Margo Murwanto MSF. Perayaan dilengkapi Penganugerahan Dominic Award 2018 bagi siswa berprestasi tingkat nasional dan international serta guru yang berhasil sebagai animator kontemplatif. Diberikan juga penghargaan bagi empat guru yang berpesta perak pengabdian di Yayasan Sekolah Santo Dominikus Cabang Cirebon yaitu Th Nugroho Triatmaja, Listyo Urbayani, Maria S W, Uka Sukaesih. Pesta perak hidup membiara Suster M Valentine OP juga dirayakan saat itu.(PEN@ Katolik/pcp)

Artikel Terkait:

Pondok Si Boncel rayakan Pesta St Dominikus bersama anak-anak dan Dominikan Awam

Yayasan Santo Dominikus Cirebon memenangkan Saint Dominic Olympiad

Marching Band Listya Dwijaswara dari Santa Maria Cirebon rebut juara Asia

Sekolah Santa Maria kenang 800 tahun Ordo Pewarta dengan ketoprak rohani a miracle of love

Suster Albertine OP berjuang demi udara bersih dan kesehatan di tengah debu batubara

Para suster OP Komunitas Santa Maria Cirebon

Mewartakan Iman

Sab, 11/08/2018 - 19:29

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil hari Minggu ke-19 dalam Masa Biasa, 12 Agustus 2018: Yohanes 6: 41-51)

Amin, amin, saya katakan kepada Anda, siapa pun yang percaya memiliki hidup yang kekal. Akulah roti hidup. (Yoh 6: 47-48)

Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi, dan membagikan buah dari kontemplasi).” Dia menekan lebih jauh dan bertanya apa yang ada di balik kontemplasi itu. Saya mulai bingung mencari jawaban. “Apakah ini studi? Hidup komunitas? Atau doa? Dia mengatakan bahwa semua jawaban saya adalah benar, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar. Saya akui saya tidak tahu. Dia pun tersenyum, dan dia mengatakan ini adalah iman.

Jawabannya sangat sederhana namun sangat masuk akal. Kita berdoa karena kita memiliki iman kepada Tuhan. Kita pergi ke gereja karena kita memiliki iman kepada Allah yang penuh belas kasih yang memanggil kita untuk menjadi umat pilihan-Nya. Sedangkan saya sendiri, saya memasuki Ordo Dominikan karena saya memiliki iman bahwa Allah yang murah hati memanggil saya untuk hidup membiara. Kita mewartakan karena kita memiliki iman pada Tuhan yang pengasih dan kita ingin berbagi Tuhan dengan sesama.

Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar filsafat dan teologi di salah satu universitas ternama di Filipina, tetapi ketika saya bertemu pasien dengan penyakit dan masalah yang sangat berat, saya menyadari bahwa semua pencapaian, pengetahuan, dan kebanggaan saya itu sia-sia. Bagaimana saya akan membantu pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang sangat besar? Bagaimana saya akan membantu pasien-pasien di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana saya akan membantu pasien yang marah pada Tuhan atau kecewa dengan hidup mereka? Namun, saya harus ada di sana untuk mereka, dan pewartaan yang terbaik sebenarnya adalah yang paling mendasar. Ini bukan pewartaan dalam bentuk diskursus teologis, diskusi filosofis, dan khotbah atau nasihat yang panjang. Untuk mewartakan di sini adalah untuk membagikan iman saya dan untuk menerima iman mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk mendengarkan kisah dan pergulatan mereka, untuk berbagi sedikit canda dan tawa, dan berdoa bersama dengan mereka. Berdoa untuk mereka adalah saat-saat langka di mana saya berdoa dengan semua iman saya karena saya tahu bahwa hanya iman ini yang dapat saya berikan kepada mereka.

Dalam Injil kita hari ini, kita membaca bahwa beberapa orang Yahudi bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki iman kepada Yesus. Namun, Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk benar-benar memakan-Nya karena Dia adalah Roti Kehidupan. Iman dalam Ekaristi sungguh menjadi penentu. Hanya dua kemungkinan: sebuah kegilaan atau iman terbesar. Sebagai umat Kristiani yang percaya pada Ekaristi dan menerima Yesus di setiap Misa, kita menerima rahmat dan tantangan luar biasa untuk memiliki dan menyatakan iman ini. Namun, ketika kita gagal untuk menghargai arti dan keindahan dari iman ini, dan hanya menerima Roti Hidup secara rutin, kita akan kehilangan iman ini.

Sebagai orang yang pergi ke gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Roti Hidup? Apakah iman kita memberdayakan kita untuk melihat Tuhan di tengah-tengah perjuangan dan tantangan hidup kita sehari-hari? Apakah kita memiliki iman yang dapat kita bagikan di saat yang paling penting?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Pondok Si Boncel rayakan Pesta St Dominikus bersama anak-anak dan Dominikan Awam

Sab, 11/08/2018 - 18:52
Suster Maria Yohana OP berdialog dengan Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF dalam Misa perayaan Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018 di Panti Asuhan Pondok Si Boncel. PEN@ Katolik/pcp

“Suster, mengapa suster memilih Ordo Pewarta (OP) sebagai cara hidup suster sampai sekarang?” tanya seorang imam. “Karena hubungan dengan para suster OP lebih akrab dan rumah saya dekat sekolah yang dijalankan para suster OP,” jawab suster itu. “Apa yang suster hidupi dalam kongregasi OP?” kejar imam itu. “Saya mengagumi cara hidup serta karya pelayanan para suster OP,” jawab suster itu.

Tanya jawab itu terjadi di Panti Asuhan Pondok Si Boncel, Srengseng Sawah Pasar Minggu, antara Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF dan Suster Maria Yohana OP yang merayakan HUT ke-80 dalam Misa perayaan Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018. Santo Dominikus, pendiri Ordo Dominikan (Ordo Pewarta, OP), lahir 8 Agustus 1170 di Caleruega, Spanyol.

Misa di bagian pintu masuk pondok itu, dihadiri 11 suster OP, 23 Dominikan Awam dari Chapter Santa Katarina Siena Jakarta, termasuk presidennya Stephanus Suriaputra OP, dan Koordinator Nasional Dominikan Awam di Indonesia Theo A Atmadi OP, dan 50 dari 72 anak Pondok Si Boncel bersama 15 ibu pendamping yang bertugas shift saat itu. 12 anak yang lain tidak hadir karena masih bayi.

Setelah mengingatkan riwayat Santo Dominikus dan usahanya melawan bidaah yang waktu itu berkembang, “agar manusia kembali kepada Allah,” Pastor Herlambang memastikan bahwa para suster dan Dominikan Awam sebelum berkaul pasti sudah dibekali atau merefleksikan cara hidup Santo Dominikus.

“Setiap biarawan-biarawati juga Dominikan Awam mengerti bahwa ikut kongregasi tidaklah mudah. Cara hidup biarawati memiliki sikap lepas bebas atau totalisme, siap terjun ke mana pun saat diutus. Untuk pesta ini, Dominikan Awam pun harus meninggalkan yang mereka sukai,” dalam kaitan dengan relasi dan kedekatan dengan barang duniawi, kata Pastor Herlambang seraya mengutip Lukas 9:62, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Awam, suster, anak-anak panti dan pengasuh pun diundang menjadi pewarta sejati seperti Santo Dominikus, “mewartakan yang benar dan tidak membuat berita tidak benar, karena kita hendak melawan bidaah jaman sekarang,” kata Pastor Herlambang. Imam itu juga mengajak mereka membawa berita-berita benar “supaya dunia tidak ditutupi kepalsuan dan kebohongan, tetapi cahaya kebenaran seperti yang diwartakan Santo Dominikus, yang selalu memberi inspirasi bagi wajah Gereja yang baru.”

Suster Maria Hildegardis Afra OP yang menjadi pimpinan komunitas para suster di panti itu sekaligus pembina rohani Dominikan Awam Jakarta, dari Taman Aries dan Pondok Indah, mengatakan kepada PEN@ Katolik, “meski acara ini sederhana dan singkat, namun terasa sekali persaudaraan Dominikan, khususnya semangat melayani, dan antusias dalam menghadiri perayaan.”

Memang, menurut suster itu, studi adalah salah satu pilar Dominikan yang perlu ditingkatkan dan diminati Dominikan Awam. Selain itu, mereka membutuhkan pendamping khusus, “bukan seperti saya yang sudah terbatas waktunya.”

Yang diharapkan dari Dominikan Awam, tegas Suster Hilde, adalah keterlibatan semakin besar dari generasi muda. “Kita sudah mulai. Di setiap perayaan, komunitas para suster melibatkan anak-anak, membiasakan mereka untuk studi atau mempertanyakan mengapa ada peristiwa ini atau bagaimana menghadapi situasi ini. Pertanyaan itu selalu kita bawa dalam dialog bersama,” kata Suster Hilde.

Pondok Si Boncel didirikan untuk mengurus anak-anak yatim piatu di bawah umur tujuh tahun. Panti itu didirikan tahun 1972 di Jalan Raden Saleh Raya nomor 7 Jakarta. Karena terbatas daya tampung, 1 April 1981 panti itu pindah ke Srengseng Sawah Pasar Minggu. Pengelolaan panti dipercayakan kepada para suster OP, yang tidak hanya merawat dan mendampingi anak-anak, tetapi perduli terhadap pendidikan yang harus diperoleh anak-anak khususnya pendidikan formal tingkat awal atau Taman Kanak Kanak.

Misa Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus 2018, menurut Suster Hilde, “mencoba mengangkat dan menunjukkan kepedulian dan keterlibatan lebih besar pada karya-karya kita” dan saat itu anak-anak kecil Pondok Si Boncel bukan hanya duduk sebagai peserta Misa melainkan terlibat sebagai koor. Mereka menyanyi dipimpin dua teman mereka yang bergantian menjadi dirigen, dan seorang membawa persembahan bersama seorang ibu pendamping. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Suster-Suster Dominikan gelar halalbihalal bersama warga sekitar panti asuhan

Kerasulan Dominikan Awam di Jakarta resmi didirikan sebagai yang pertama di Indonesia

Dominikan Awam diminta mewartakan dalam persaudaraan di masyarakat dan Gereja

Kapitel pertama Dominikan Awam Chapter Santa Katarina Siena berlangsung penuh rahmat

Tiga chapter persaudaraan Dominikan Awam di Indonesia diresmikan

Pastor Rufinus Sabtian Herlambang MSF memimpin Misa Pesta Santo Dominikus di Panti Asuhan Pondok Si Boncel. (PEN@ Katolik/pcp) Seorang anak Pondok Si Boncel memimpin lagu dalam Misa Pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp) Pastor menerima bahan roti dan anggur serta bahan persembahan yang dibawa seorang anak panti bersama ibu pendamping. (PEN@ Katolik/pcp) Suster M Yohana OP memotong tumpeng ulang gtahun ditemani Suster M Hildegardis Afra OP. (PEN@ Katolik/pcp) Suster Maria Hildegardis Afra OP (berdiri di tengah) bergambar bersama Dominikan Awam Jakarta yang hadir dalam pesta Santo Dominikus. (PEN@ Katolik/pcp)

Seminar Kebangsaan PMKRI: Keragaman jadikan Indonesia miliki kekhasan di mata dunia

Sab, 11/08/2018 - 00:29

Bangsa Indonesia memiliki banyak keragaman suku, adat, budaya dan agama. Dari keragaman itu terbentuklah bangsa ini. Keragaman ini menjadikan Indonesia memiliki kekhasan tersendiri di mata dunia. Lihat saja bangsa lain, mereka tidak mampu mempersatukan keragaman atau perbedaan sehingga muncullah perpecahan atau pun konflik. Namun, Indonesia mampu mempersatukan perbedaan, sehingga kita sangat diperhitungkan oleh bangsa lain.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTT Abdul K Makarim berbicara dalam Seminar Kebangsaan bertema “Meneguhkan Kembali Semangat #Kita_Indonesia, yang dilakukan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Aula Universitas Katolik Widya Mandira Penfui, Kupang, 10 Agustus 2018. Sekitar 700 peserta, terdiri dari seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, mahasiswa maupun pelajar, pimpinan ormas dan kaum millennial, mengikuti seminar itu.

Kegiatan itu merupakan rangkaian “road show kebangsaan’ di 15 kota di Indonesia. Kupang adalah kota tujuan pertama. Menurut informasi yang disampaikan kepada PEN@ Katolik, kegiatan itu digelar untuk menjawab kondisi bangsa hari ini. “Ketegangan yang ditimbulkan oleh viralnya frasa ‘Tahun Politik’ begitu dahsyat, sehingga dampak psikologisnya pun dirasakan hingga ke pelosok negeri,” tulisnya.

Yang menegangkan, lanjutnya, merebaknya isu-isu fundamentalisme agama di akar rumput dengan garang memisahkan kami dan kamu dari bingkai kekitaan. “Rasa persaudaraan yang selama ini terbangun begitu apik di atas fondasi kebhinekaan tergilas oleh pesona primordialisme yang menampilkan wajah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) demi kepentingan dan tendensi negatif,” tulis mereka.

Abdul K Makarim mengamati, keragaman bangsa Indonesia tidak membuat perpecahan, tetapi mampu mempererat tali persatuan. Untuk itu, Makarim mengajak generasi muda zaman now agar “selalu menggali sejarah bangsa, membangun nasionalisme dalam diri masing-masing, serta memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa.”

Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi majemuk telah membuktikan semangat  persatuan dan kesatuan dalam hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. “Ketika hadir dalam berbagai forum nasional saya selalu menyerukan bahwa NTT itu Nusa Tinggi Toleransi, itulah yang saya serukan berulang kali,” kata Makarim mengakhiri pembicaraannya.

Sekjen PP PMKRI, Thomson Silalahi, mengatakan ‘Kita Indonesia’ sebagai tema besar yang diangkat PMKRI sebagai tagline moral politik pembinaan-perjuangannya, menjadi relevan dengan konteks Indonesia hari ini. “#Kita_Indonesia adalah seruan moral sekaligus gerakan politik untuk menjahit kembali tenun kebangsaan yang terkoyak oleh arogansi identitas keakuan, kekamian, keagamaan, dan kesukuan,” kata Thomson.

#Kita_Indonesia, lanjutnya, adalah gerakan yang tidak hanya menghendaki persatuan Indonesia namun menentang gerakan-gerakan yang mengoyak tenun kebangsaan kita. Maka, “PMKRI secara konsisten menggaungkan gerakan #Kita_Indonesia di 15 Kota di Indonesia agar gerakan ini menjadi ‘serum’ perdamaian yang mempersatukan seluruh anak bangsa demi memajukan Indonesia lebih baik lagi.”

Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang, Engelbertus Boli Tobin, dalam pidato mengatakan, refleksi atas koyaknya persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan problem kemanusiaan. “Ketidakadilan yang berdampak langsung pada kesenjangan ekonomi dan memicu terjadinya pelanggaran HAM menimbulkan gerakan-gerakan yang ingin menggantikan dasar negara (Pancasila) dengan ideologi yang datang dari luar,” katanya.

Maka, Obi meminta pemerintah lebih serius mewujudkan keadilan yang berpijak di atas kepentingan semua dan di atas segalanya perlu menghormati martabat kemanusiaan. “Pemerintah dinilai belum mampu mewujudkan cita-cita pendirian bangsa: terwujudnya kesejahteraan umum di segala aspek kehidupan,” tegasnya.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

https://penakatolik.com/PMKRI menghimbau seluruh kadernya untuk mengawal jalannya Pilkada

calon-PMKRI diajak jadi kader militan yang tidak takut merongrong demi kebenaran

Ketua baru PMKRI akan teladani semangat intelektualitas dan kerendahan hati St Thomas Aquinas

Paus puji Ksatria Columbus untuk amal kasih, Injil keluarga, bantuan bagi umat Kristen teraniaya

Jum, 10/08/2018 - 23:41
Wakil-wakil negara membawa gambar Maria Pembantu Umat Kristiani dalam Misa pembukaan Program Doa Maria ke-18 Ksatria Colombus. Foto dari Knights of Colombus

Paus Fransiskus mendorong Ksatria Columbus untuk melaksanakan kegiatan amal kasih yang praktis serta berterima kasih atas komitmen mereka terhadap Injil keluarga dan jangkauan mereka kepada umat Kristen yang teraniaya.

Perasan Paus itu diungkapkan dalam pesan yang dikirim oleh Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin ke Konvensi Tertinggi ke-136 Ksatria Columbus, yang berlangsung di Baltimore, Maryland, AS, 7-9 Agustus 2018, seperti yang dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Mengomentari tema konvensi, “Ksatria Columbus: Ksatria Amal Kasih,” Kardinal Parolin mengatakan tema itu menyebabkan timbulnya ikatan tak terpisahkan antara iman dan aksi belas kasih para pendiri mereka yang ingin membangun komunitas persaudaraan yang berkomitmen untuk pembinaan umat Kristiani dan saling mendukung para anggotanya.

Kardinal Parolin mengajak mereka memperhatikan Seruan Apostolik Paus Fransiskus “Gaudete et Exsultate” tentang “Panggilan pada Kesucian.” Dalam seruan itu Bapa Suci berbicara tentang Sabda Bahagia sebagai “tanda pengenal” para pengikut Kristus, seraya mengatakan Khotbah di Bukit memberi kita “potret Sang Guru, yang diminta kami renungkan dalam kehidupan sehari-hari.”

Paus berharap agar program “Iman dalam Tindakan” para Ksatria, dengan penambahan komponen “Helping Hands” (tangan-tangan yang membantu), akan berbuah dalam kreativitas amal kasih, yang semakin disesuaikan dengan bentuk-bentuk baru kemiskinan dan kebutuhan manusia yang bermunculan di masyarakat saat ini.

Menyambut Pertemuan Keluarga-Keluarga se-Dunia di Dublin, Irlandia, 21-26 Agustus, Paus berterima kasih kepada para Ksatria atas komitmen mereka terhadap Injil Keluarga yang menyemangati panggilan laki-laki sebagai suami dan ayah Katolik, dan dengan mempertahankan sifat otentik pernikahan dan keluarga dalam masyarakat.

Bapa Suci juga menyatakan rasa terima kasih atas jangkauan belas kasih Para Ksatria Columbus terhadap orang Kristen yang teraniyaya, dan terutama mendesak mereka bagi berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah, pertobatan hati, komitmen tulus untuk berdialog dan menyeleaikan pertikaian secara adil

Ksatria Colombus yang didirikan tahun 1882 di Connecticut, AS, oleh Pastor Michael McGivney, adalah serikat pelayanan persaudaraan terbesar di dunia dalam Gereja Katolik dengan hampir dua juta anggota.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apakah suara hati moral itu?

Jum, 10/08/2018 - 22:49
Shutterstock photo

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

372. Apakah suara hati moral itu?

Suara hati moral yang terdapat dalam hati setiap orang merupakan suatu pertimbangan akal budi yang muncul pada saat tertentu dan mengarahkannya untuk melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. Berkat suara hati moral ini, pribadi manusia memahami kualitas moral suatu tindakan untuk dilaksanakan atau sudah dilakukan, membuat dia bisa mengambil tanggung jawab terhadap tindakannya. Jika betul-betul memperhatikan suara hati moral ini, orang bijak dapat mendengar suara Allah yang berbicara kepadanya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1776-1780, 1795-1797

373. Apa peranan martabat manusia berhadapan dengan suara hati moral ini?

Martabat pribadi manusia menuntut suara hati moral ini lurus dan benar (yang berarti sesuai dengan apa yang adil dan baik menurut hukum Allah). Karena menyangkut martabat manusia, tak seorang pun dapat dipaksa untuk melakukan tindakan yang berlawanan dengan suara hatinya, atau dihalangi untuk bertindak sesuai dengan suara hatinya, khususnya dalam hal-hal religius dan dalam batas batas kebaikan umum.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1780-1782, 1798

Edith Stein, seorang perempuan dialog dan pengharapan

Jum, 10/08/2018 - 05:08

https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2018-08/edith-stein-patron-saint-europe.html#play

Untuk merayakan Pesta Santa Teresa Benedicta dari Salib, kita ingat kata-kata Paus Santo Yohanes  Paulus II tentang Pelindung Eropa, yang juga dikenal sebagai Edith Stein, di kanonisasinya tahun 1998. Paus itu mengatakan bahwa Edith Stein “mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Kristus melewati penderitaan. Siapa pun yang benar-benar mencintai … menerima persekutuan dalam penderitaan bersama yang dicintai.”

Edith Stein (12 Oktober 1891 – 9 Agustus 1942), adalah seorang filsuf Yahudi Jerman yang masuk Katolik dan menjadi biarawati Karmelit Tak Bersepatu setelah membaca karya-karya pembaharu Ordo Karmelit, Santa Theresia dari Avila.

Dia dibaptis ke dalam Gereja Katolik Roma tanggal 1 Januari 1922 dan ingin menjadi Karmelit Tak Bersepatu tetapi dihalangi oleh penasehat spiritualnya. Dia mengejar panggilannya dan diterima di biara Karmelit Tak Bersepatu di Cologne, tanggal 14 Oktober 1934. Dia menerima pakaian religius Ordo itu sebagai novis di bulan April 1934. Edith Stein sekarang dikenal sebagai Suster Teresia Benedicta a Cruce – Teresa, Benedicta dari Salib. Baginya Salib Kristus adalah pembimbingnya dan merasa bahwa mereka yang memahami Salib Kristus harus memikulnya sendiri atas nama semua orang.

Tanggal 9 November 1938, anti-Semitisme Nazi jelas terlihat di seluruh dunia. Sinagoga dibakar, dan orang-orang Yahudi menjadi sasaran teror.

Tanggal 7 Agustus, pagi-pagi sekali, 987 orang Yahudi dideportasi ke Auschwitz. Barangkali pada tanggal 9 Agustus, Suster Teresa Benedicta dari Salib, saudara perempuannya Rosa yang juga telah masuk Katolik dan melayani di Biara Echt, dan banyak lagi orang-orangnya dibunuh di kamar-kamar gas.(pcp berdasarkan Vatican News)

Halaman