Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 46 mnt 53 dtk yang lalu

Pokok Anggur

Sab, 28/04/2018 - 23:16

Minggu Paskah Kelima

29 April 2018

Yohanes 15: 1-8

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (Yoh 15:1)”

Jika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan Bapa-Nya adalah sang pengusaha anggur. Seperti Yesus, para murid tentu tidak asing dengan perkebunan anggur dan proses pembuatan anggur. Bahkan, bagi orang Yahudi, minum anggur bukan sekadar masalah kesenangan, tetapi juga bagian penting dari ritual perjamuan Paskah Yahudi yang menghidupkan kembali pengalaman pembebasan dari Mesir. Jadi, citra-citra seperti pokok anggur, penanam anggur dan ranting-ranting anggur tidak hanya akrab bagi para murid, tetapi juga menjadi sarana yang sungguh bermakna untuk menyampaikan ajaran Yesus.

Membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus dan para murid sedang merayakan Perjamuan Terakhir, dan kita membayangkan bahwa ketika Yesus mengajarkan kebenaran ini, para murid sedang menikmati makanan dan minuman anggur mereka. Ketika mereka sedang minum anggur, para murid menyadari bahwa anggur berkualitas tinggi berasal dari buah anggur unggulan, dan buah anggur ini diproduksi oleh kebun anggur terbaik yang memiliki pokok anggur yang sehat dan para pekerja yang tekun. Melalui citra ini, Yesus telah meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa-Nya telah melakukan yang terbaik untuk membuat ranting-ranting-Nya berbuah, dan sekarang adalah pilihan para murid untuk menghasilkan buah. Sebagai ranting, satu-satunya cara menghasilkan buah adalah dengan tetap bersatu dengan pokok anggur yang benar.

Instruksi Yesus untuk tinggal di dalam Dia tampaknya tidak sulit untuk diikuti. Tetapi, hanya beberapa jam berselang setelah Perjamuan Terakhir, Yesus akan ditangkap, dan para murid segera melupakan semua yang Yesus ajarkan. Yudas mengkhianati Dia, Petrus menyangkal Dia, dan sisanya melarikan diri dan bersembunyi. Hanya beberapa murid yang tetap tinggal bersama Dia: beberapa murid wanita, Murid yang dikasihi Yesus, dan ibu-Nya. Intinya jelas sekarang. Sangat mudah untuk tinggal di dalam Yesus ketika segala sesuatu mudah dan nyaman, tetapi ketika hal-hal menjadi sulit, para murid menghadapi pertanyaan eksistensial: apakah akan tetap tinggal di dalam Yesus atau pergi meninggalkan Dia?

Ketika hidup kita menjadi seperti gurun dan tidak menghasilkan buah yang diharapkan, apakah kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Seorang teman bercerita bagaimana dia awalnya bersemangat melayani Gereja dengan bergabung dengan sebuah organisasi. Namun, setelah beberapa waktu, ia frustrasi dan kecewa oleh sikap-sikap yang tidak menyenangkan dari beberapa anggota. Dia menyadari bahwa kelompoknya tidak berbeda dengan organisasi lain yang diganggu oleh gosip, intrik, dan perpecahan. Tentu saja, saya menyarankan dia untuk meninggalkan kelompoknya dan mencari kelompok yang lebih baik, seperti Ordo Dominikan! Namun, dia memilih untuk tetap tinggal dan mengatakan kepada saya bahwa kelompok yang sulit ini memberinya kesempatan untuk mengasihi Yesus lebih besar. Saya mulai menyadari bahwa saat dia memilih untuk tinggal, dia telah memiliki banyak buah, yakni kesabaran, belas kasihan, dan pengertian.

Pertanyaan yang sama sekarang ditujukan kepada kita. Apakah kita akan tetap tinggal di dalam Kristus pada masa-masa sulit? Apakah kita tetap tinggal bahkan ketika kita tidak merasakan buahnya? Apakah kita tetap setia sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Korea Utara dan Korea Selatan setuju upayakan perdamaian, para uskup menyebutnya ‘keajaiban’

Sab, 28/04/2018 - 22:19
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengucapkan selamat jalan kapada Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di akhir pertemuan mereka 27 April (ANSA)

Para pemimpin kedua negara, yang secara teknis masih berperang satu sama lain, setuju untuk mengupayakan denuklirisasi atau penghapusan penggunaan senjata nuklir, kerjasama ekonomi, penyatuan kembali keluarga-keluarga di semenanjung yang terpisah, hingga perjanjian damai yang definitif.

Terobosan itu terjadi hari Jumat, 27 April 2018, dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di perbatasan yang sangat ketat dijaga oleh militer antara kedua negara itu. Pertemuan itu, menurut laporan Alastair Wanklyn dari Vatican News, menandai pertemuan pertama antara para pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan dalam lebih dari satu dekade.

Pertemuan itu tampaknya berjalan lebih baik dari yang direncanakan, ketika pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in berjabat tangan di perbatasan, dan kemudian masing-masing melangkah ke wilayah lain. Ini pertama kalinya bagi pemimpin Korea Utara untuk mengunjungi Korea Selatan dan Kim mengatakan dia ingin mengakhiri sejarah konfrontasi.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin itu mengatakan akan berupaya menyingkirkan senjata nuklir, yang tampaknya termasuk senjata yang Korea Utara tunjukkan dalam uji coba nuklir dan peluncuran rudal. Mereka tidak menetapkan jadwal untuk ini tetapi mengatakan akan meminta bantuan negara-negara lain.

Kim dan Moon menghabiskan beberapa jam bersama, dan berbicara secara pribadi sekitar 30 menit. Mereka berbicara tentang penyatuan kembali keluarga-keluarga yang terpisah karena Perang Korea dan kelanjutan kerja sama ekonomi. Kim tampaknya mengacu pada kondisi jelek jalan-jalan di Utara, dan mengatakan para pejabatnya iri dengan rel kereta api Selatan.

Sementara itu Konferensi Waligereja Korea menyambut baik pertemuan itu dan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pertemuan itu merupakan “kesempatan berharga” yang Tuhan berikan kepada orang Korea dalam menjawab doa-doa mereka. Selama berbulan-bulan, Gereja di Korea Selatan berdoa setiap malam untuk perdamaian. Karena itu, para uskup mengatakan, “sesuatu yang ajaib sedang terjadi di negeri ini.”

Alasannya, pertemuan itu tampaknya mustahil, ketika tahun lalu Pyongyang dan Presiden Amerika Serikat saling mengejek dengan ancaman nuklir. Kemudian, di bulan Januari, Kim mengatakan dia terbuka untuk berbicara. Dalam beberapa minggu, atlet-atlet Korea berbaris di bawah satu bendera dalam Olimpiade Musim Dingin.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Memasuki Industri Four Point Zero, STFK Ledalero harus mengubah paradigma dan mentalitas

Sab, 28/04/2018 - 19:52
Pastor Bernardus Raho SVD, dari blogspot Seminari Ledalero

Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, Pastor Bernardus Raho SVD mengatakan, guna berpacu dengan perubahan-perubahan dalam rangka meningkatkan mutu memasuki Industri Four Point Zero (4.0) yang mengarah ke produksi masa depan berbasis internet, STFK Ledalero harus terus mengubah paradigma dan mentalitas dari penyelenggaraan pendidikan seminari tinggi yang bersifat privat kepada penyelenggaraan sekolah tinggi filsafat yang berkiprah di wilayah publik.

Pastor Bernardus Raho berbicara dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero dalam rangka Wisuda 119 Sarjana Negara Program S1 Filsafat Periode II tahun akademik 2016/2017 dan 46 Magister Teologi Program S2 Teologi tahun akademik 2016/2017 di Aula STFK Ledalero Sabtu, 28 April 2018.

Maka, lanjut imam itu, selain harus tunduk pada ketentuan-ketentuan publik yang terjelma dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, “para dosen harus mengubah paradigma sebagai pastor yang tugas utamanya melakukan pelayanan pastoral menjadi dosen yang tugas utamanya melakukan tridarma perguruan tinggi yakni melakukan tugas pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.”

Pastor Bernardus Raho yang sudah delapan tahun memimpin STFK Ledalero itu menjelaskan, dalam perangkingan perguruan tinggi yang dikeluarkan tahun 2017, STFK Ledalero masih menempati urutan cukup tinggi yakni peringkat ke-177 dari 4.570 perguruan tinggi se-Indonesia.

Sementara itu, lanjutnya, dalam rekap nilai pedagogi berdasarkan almamater yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Sumberdaya Iptek dan Dikti tanggal 2 Pebruari 2018, STFK Ledalero menempati urutan ke-59 dan berada di atas Unpad Bandung yang berada pada urutan ke-60, Universitas Widya Mandala Surabaya pada urutan ke-61, Universitas Sebelas Maret Solo urutan ke-62, Universitas Veteran Yogyakarta urutan ke-63 dan Universitas Andalas urutan ke-64.

“Kamu adalah terang dunia … hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga,” demikian imam itu mengutip Injil Mateus seraya mengajak para wisudawan an wisudawati untuk menjadi cahaya bagi saudara-saudari di tengah dunia yang kelam! “Cintailah cahaya kebijaksanaan!” ajak Pastor Bernardus Raho.

Sementara itu, Ketua Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende Pastor Alfons Mana SVD memberikan apresiasi kepada civitas academica yang telah membangun komunitas persaudaraan sejati. “Tidak pernah ada tawuran di lembaga STFK Ledalero,” ujar Pastor Alfons disambut tertawa para hadirin.

Pastor Alfons juga menegaskan bahwa lewat peristiwa hari itu almamater itu memberikan pedang untuk bekal perjuangan di medan perang. “Pedang ini tidak ada gunanya kalau tidak kamu gunakan dalam perang kehidupan. Dan pedang ini tidak akan menuju sasaran kalau engkau enggan maju selangkah demi selangkah dengan mata yang awas dan perhitungan yang matang.” (Yuven Fernandez)

Tiga foto ini adalah Dokumentasi Yuven Fernandez

Apa itu hidup bakti?

Jum, 27/04/2018 - 23:43
300 kaum religius Indonesia yang mengikuti Penutupan Tahun Hidup Bakti di Lembang, Jawa Barat, 2-5 Desember 2015, memberikan tanda telapak tangan pada bejana yang bertuliskan janji mereka untuk “senantiasa melanjutkan peziarahan iman yang telah dimulai oleh para pendahulu dengan menyegarkan dan menghidupi spiritualitas dan karisma tarekat masing-masing.”

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

192. Apa itu hidup bakti?

Hidup bakti adalah suatu bentuk hidup yang diakui oleh Gereja. Ini merupakan jawaban bebas terhadap panggilan khusus dari Kristus. Dalam jawaban itu, mereka mempersembahkan diri mereka secara total kepada Allah dan mencari kesempurnaan cinta kasih yang digerakkan oleh Roh Kudus. Ciri khas persembahan diri ini ialah mengikuti nasihat-nasihat Injil.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 914-916, 944

193. Apa yang dapat diberikan hidup bakti ini kepada misi Gereja?

Hidup bakti mengambil bagian dalam misi Gereja melalui penyerahan diri total kepada Kristus dan kepada saudara-saudarinya dengan memberikan kesaksian akan harapan Kerajaan Surga.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 931-933, 945

Teroris dan tentara bayaran telah menyusup, kata para uskup Nigeria melihat 19 umat dan imam tewas

Jum, 27/04/2018 - 23:24
Para Uskup Nigeria

Para Uskup Katolik Nigeria mengecam keras serangan 24 April 2018 terhadap Gereja Katolik dan serangan berikutnya terhadap umat yang dicurigai sebagai gembala. Mereka menggambarkan serangan itu “menghebohkan, biadab dan kejam.”

Setidaknya 19 orang termasuk dua imam tewas ketika orang-orang yang dicurigai sebagai gembala Fulani menembaki gereja di Lingkungan Ayar Mbalom di Wilayah Pemerintahan Gwer East di Negara Bagian Benue, Nigeria, demikian laporan Pastor Paul Samasumo.

Berbicara kepada Vatikan News dalam wawancara eksklusif, empat uskup dari Daerah Tengah Nigeria menggambarkan serangan itu “menghebohkan, biadab dan kejam.” Para gembala itu meluncurkan serangan mematikan pada umat paroki menjelang akhir Misa pagi.

Di hadapan Presiden Konferensi Waligereja Nigeria Uskup Agung Augustine Akubeze, para uskup itu mengatakan kepada Pastor Paul Samasumo bahwa serangan tak beralasan terhadap umat mereka, telah membuat mereka hancur. Empat uskup wilayah tengah Nigeria itu adalah Uskup Makurdi Mgr Wilfred Anagbe CMF, Uskup Katsina-Ala Mgr Peter Adoboh, Uskup Gboko Mgr William Avenya, dan Uskup Otukpo Mgr Michael Ekwoy Apochi. Para prelatus itu mengamati, itu adalah serangan besar kedua setelah serangan Malam Tahun Baru ketika para gembala itu membunuh 72 orang.

Para uskup Nigeria yakin bahwa teroris dan tentara bayaran telah menyusup pada para gembala Fulani itu. Mereka bertanya-tanya bagaimana serangan-serangan ini bisa terus terjadi di siang hari bolong dan para pelaku hampir selalu tak pernah mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. “Sebagaimana kami amati, aparatur pemerintah benar-benar tidak berdaya, tidak berfungsi atau sengaja tidak berdaya dan sengaja tidak berfungsi,” kata Uskup Avenya atas nama para uskup lain yang hadir.

Para uskup mengatakan, dunia perlu memperhatikan apa yang terjadi di Daerah Tengah Nigeria, di sana sebagian besar orang yang diserang adalah umat Kristen minoritas. “Dunia tidak mendengarkan kita. Di Rwanda dimulai seperti ini; dunia tidak mendengar. Dimulai seperti ini bertahun-tahun lalu di Jerman. Dunia tuli. Inilah yang sedang terjadi pada kita, dan dunia perlu tahu bahwa kita sedang dalam masalah!” kata Uskup Avenya.

Menurut Uskup Peter Adoboh dan Uskup Wilfred Anagbe, ada juga kebutuhan mendesak akan air bersih dan bantuan kemanusiaan untuk kamp-kamp pengungsi di dalam negeri. Saat orang-orang lari menghindari serangan, muncul beberapa kamp di Daerah Tengah.

“Daerah ini didominasi pedesaan, dan orang-orang di sana tidak punya suara di mana pun. Jika Gereja tidak bisa bersuara bagi mereka, maka kita dalam masalah. Gereja sedang berusaha agar mereka didengar … situasi menyedihkan ini harus didengar. Dunia harus tahu bahwa genosida (mulai terjadi terhadap) sebagian besar suku minoritas di Daerah Tengah dan … di utara,” kata Uskup Avenya.

Para uskup menegaskan, sebagai pastor dan gembala mereka ingin mendorong umat, para imam dan kaum religius untuk tidak kehilangan harapan. “Kami adalah umat dari Kebangkitan,” kata para uskup, “dan kami memiliki harapan.”

Kamis pagi, 26 April 2018, para uskup Nigeria bertemu Paus Fransiskus dan secara pribadi melaporkan kepadanya mengenai keadaan Gereja di Nigeria. Kunjungan ke Vatikan adalah kunjungan rutin yang dilakukan semua uskup Katolik, idealnya setiap lima tahun, yakni kunjungan Ad Limina (Ad Limina apostolorum). Menjelang kunjungan-kunjungan seperti itu, para uskup diharuskan menyusun laporan-laporan terperinci tentang keuskupan mereka masing-masing, yang memberikan wawasan komprehensif mengenai keadaan Gereja di negara mereka. Di Vatikan, para uskup juga bertemu berbagai dikasteri Tahta Suci.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Para pemimpin agama Korea serukan perdamaian jelang KTT, Paus berdoa agar hasilnya baik

Jum, 27/04/2018 - 22:36
Pagar militer yang ditutupi pita perdamaian di sebuah taman dekat Zona Demiliterisasi yang membagi Korea Utara dan Korea Selatan (AFP)

Konferensi Agama-Agama Korea untuk Perdamaian (KCRP) meminta pemerintah Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Jepang untuk mendukung langkah rekonsiliasi di semenanjung yang terbagi itu guna mendukung pertemuan tingkat tinggi pekan ini antara Seoul dan Pyongyang.

Dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan oleh Vatican News, 26 April 2018, KCRP, yang didukung oleh Ketua Konferensi Waligereja Korea Mgr Kim Hee-joong, mengatakan bahwa negara “mendambakan” kedatangan “musim semi perdamaian.”

Menjelang pertemuan 27 April 2018 antara Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, pernyataan itu mengingatkan bahwa pemisahan di antara dua bagian dari semenanjung itu adalah penghalang terakhir yang ditinggalkan oleh Perang Dingin.

Para pemimpin agama itu menyerukan kepada para pemerintah utara dan selatan agar memenuhi kewajiban mereka untuk meneruskan dialog dan saling pengertian. Pernyataan itu mendesak pemimpin Korea Utara untuk memanfaatkan kesempatan itu guna “mematahkan rantai yang telah mengikat dan membatasi tanah ini selama lebih dari tujuh puluh tahun.”

Mereka juga menyerukan kepada semua pemimpin politik yang terlibat dalam proses pemulihan untuk mendukung upaya-upaya rekonsiliasi ini, seraya menambahkan bahwa “Amerika Serikat adalah negara kunci untuk membawa perdamaian ke Semenanjung Korea.” Mereka meminta AS, Cina, Rusia dan Jepang untuk mendukung KTT itu, serta pertemuan yang direncanakan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara bulan depan.

Pada hari Rabu, 25 April 2018, Paus Fransiskus juga berdoa agar pertemuan minggu ini berhasil baik, dengan menggambarkannya sebagai kesempatan untuk “dialog transparan dan langkah konkret untuk rekonsiliasi” guna menjamin perdamaian di semenanjung itu dan di seluruh dunia.

Ketika berbicara dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Paus meyakinkan kepada orang-orang Korea bahwa dia akan tetap mendoakan mereka, seraya menambahkan bahwa Tahta Suci “menyertai, mendukung dan mendorong setiap prakarsa tulus dan berguna” untuk membangun perdamaian dan persahabatan di antara bangsa-bangsa. Paus mendesak semua pemimpin politik untuk “berani berharap” dan untuk menjadi pembangun perdamaian.

Kim Jong-un akan bertemu Moon Jae-in pukul 9.30 pagi waktu setempat. Itu yang pertama kalinya seorang pemimpin Korea Utara melintasi garis demarkasi militer sejak akhir perang Korea lebih dari 60 tahun lalu.

Keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi antara kedua negara mereka, yang secara teknis masih berperang karena perjanjian damai tidak pernah ditandatangani ketika perang berakhir tahun 1953. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Bagaimana kaum awam mengambil bagian dalam tugas kenabian?

Kam, 26/04/2018 - 23:34

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

190. Bagaimana kaum awam mengambil bagian dalam tugas kenabian?

Mereka mengambil bagian dengan menerima Sabda Kristus dan mewartakannya kepada dunia dengan kesaksian hidup, karya, kata-kata, tindakan, dan katekese. Tindakan pewartaan kabar gembira ini mempunyai daya guna yang khusus karena dilaksanakan dalam situasi real dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 904-907, 942

191. Bagaimana mereka mengambil bagian dalam tugas rajawi?

Kaum awam mengambil bagian dalam tugas rajawi Kristus karena mereka menerima kuasa dari-Nya untuk mengatasi dosa dalam diri mereka dan dalam dunia melalui penyangkalan diri dan kesucian hidup mereka. Mereka melaksanakan bermacam-macam tugas pelayanan bagi komunitas dan mereka mengisi kegiatan-kegiatan temporal dan kelembagaan dalam masyarakat dengan nilai-nilai moral.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 908-913, 943

Dewan Kardinal sedang siapkan rancangan Konstitusi Apostolik Kuria Roma yang baru

Kam, 26/04/2018 - 23:10
Paus Fransiskus bertemu dengan Dewan Kardinal C9 di Vatikan/Vatican News

Direktur Kantor Pers Tahta Suci, Greg Burke, dalam penjelasan kepada wartawan tentang Pertemuan Dewan Kardinal C9 bersama Paus Fransiskus tanggal 25 April 2018 mengatakan bahwa pertemuan sesi ke-24 yang berlangsung sejak dua hari lalu lebih banyak untuk membaca kembali rancangan Konstitusi Apostolik Kuria Roma yang baru.

Semua anggota hadir Dewan Kardinal itu hadir, kecuali Kardinal George Pell. Kalau Kardinal Reinhard Marx tidak hadir tanggal 23 April, Bapa Suci tidak hadir di pagi hari tanggal 25 April karena harus melakukan audiensi umum, demikian keterangan pers kantor itu yang juga diterima oleh PEN@ Katolik.

Menurut rencana, kalau para kardinal sudah menyetujui teks yang mereka baca kali ini, maka dokumen itu akan diserahkan kepada Bapa Suci untuk pertimbangan lebih lanjut dan untuk persetujuan. Dokumen itu, menurut Greg Burke, beberapa hal penting antara lain, Kuria Roma untuk melayani Bapa Suci dan Gereja-Gereja partikular, sifat pastoral dari kegiatan kuria, institusi dan pembinaan Seksi Ketiga dari Sekretariat Negara, dan pewartaan Injil serta semangat misioner sebagai perspektif yang mencirikan aktivitas segenap Kuria.

Juga dijelaskan bahwa Kardinal Sean O’Malley meng-update kepada para kardinal itu tentang banyak upaya yang telah dilakukan di seluruh dunia untuk perlindungan anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan. “Dalam rapat pleno baru-baru ini, Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak di Bawah Umur mendengar kesaksian-kesaksian dari para anggota yang baru diangkat, dari Brasil, Etiopia, Australia dan Italia.”

Kardinal itu menyoroti komitmen sangat besar dan kompetensi luar biasa dari para Anggota Komisi yang sangat  baik mewakili keanekaragaman budaya di dunia. “Dia juga mengulangi prioritas untuk harus memulai dari pengalaman hidup, seraya terus mendengarkan para korban dan menerima pengalaman-pengalaman mereka,” kata Greg Burke .

Para kardinal itu juga mendengar update dari Sekretaris Sekretariat Komunikasi Mgr Lucio A Ruiz tentang keadaan reformasi sistem komunikasi Vatikan yang terkini, jelas Direktur Kantor Pers Tahta Suci itu seraya menambahkan bahwa Pertemuan Dewan Kardinal berikut akan berlangsung tanggal 11, 12 dan 13 Juni 2018.(paul c pati)

Nigeria: Gereja diserang, dua imam dan 16 umat paroki tewas

Kam, 26/04/2018 - 22:18
Polisi militer Nigeria berpatroli di daerah di mana boko haram milisi lainnya melakukan serangan (AFP)

Datang laporan tanggal 24 April 2018 tentang serangan terhadap Gereja Katolik Santo Ignatius di Mbalom, di negara bagian Benue tengah di Nigeria. Gereja itu dikepung, dan di saat umat beriman meninggalkan gereja para pelaku mulai menembaki mereka. Dua imam dan 16 umat paroki terbunuh. Peristiwa ini hanyalah peristiwa terakhir dari serangkaian serangan di Nigeria selama beberapa tahun terakhir, seperti dilaporkan oleh Joachim Teigen dari Vatican News.

Presiden Nigeria Muhammadu Buhari mengecam keras serangan itu. Keuskupan Makamdi, di mana gereja itu terletak, juga mengungkapkan keluhan mereka atas ketidakamanan penduduk.

Direktur Komunikasi Keuskupan Agung Abuja, Pastor Patrick Alumuku, menjelaskan kepada Vatikan News bahwa serangan itu terjadi dalam apa yang disebut sebagai “keranjang roti dari Nigeria”. “Kelompok-kelompok gembala-gembala nomaden (pengembara) dipaksa pindah ke selatan karena penggurunan, yang mengakibatkan konflik atas tanah dan sumber daya di wilayah subur ini,” katanya.

Menurut Human Rights Watch, lebih dari 3000 orang telah tewas dalam serangan sejak 2010.

Meskipun Boko Haram belum menyatakan bertanggung jawab, ini jelas ideologi Boko Haram, kata Pastor Alumuku, seraya menambahkan bahwa orang-orang ini diserang karena mereka Kristen, di wilayah di mana jumlah mereka mencapai 95 persen dari jumlah penduduk.

Meskipun, pemimpin Nigeria telah mencela serangan itu, Pastor Alumuku menemukan respon dari keinginan pemerintah Nigeria, yang mengatakan “tidak ada yang dilakukan untuk menghentikan pembunuhan yang terjadi hari demi hari.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Bagaimana kaum awam mengambil bagian dalam imamat Kristus?

Rab, 25/04/2018 - 22:39

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

188. Apa yang menjadi panggilan kaum beriman awam?

Panggilan kaum awam ialah mencari Kerajaan Allah dengan menerangi dan mengatur tugas-tugas duniawi sesuai dengan rencana Allah. Dengan cara ini, mereka menjawab panggilan kesucian dan kerasulan yang diberikan kepada semua yang sudah dibaptis.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 897-900, 940

189. Bagaimana kaum awam mengambil bagian dalam imamat Kristus?

Mereka mengambil bagian dalam imamat Kristus, khususnya melalui Ekaristi, dengan mempersembahkan hidup mereka dengan seluruh pekerjaan, doa dan usaha kerasulan, kehidupan keluarga dan jerih payah sehari-hari, beban hidup yang ditanggung dengan sabar dan penghiburan bagi jiwa dan badan sebagai sebuah kurban rohani yang ”karena Yesus Kristus, berkenan kepada Allah” (1Ptr 2:5). Dengan itu, para awam pun sebagai yang ditahbiskan Kristus dan diurapi Roh Kudus mempersembahkan dunia itu sendiri kepada Allah.

 Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 901-903

Paus akan menerima tiga korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus di Chili

Rab, 25/04/2018 - 22:23
Kepala Kantor Pers Tahta Suci, Greg Burke

Menjawab pertanyaan-pertanyaan para wartawan tentang pertemuan Paus Fransiskus dengan para korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus di Chili, kepala kantor pers Tahta Suci, Greg Burke, mengeluarkan pernyataan pada hari Rabu, 25 April 2018, yang juga diterima oleh PEN@ Katolik bahwa akhir pekan ini para korban itu akan diterima oleh  Paus Fransiskus di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan.

Nama ketiga orang yang akan diterima itu, menurut Burke, adalah Juan Carlos Cruz, James Hamilton dan Jose Andrés Murillo. “Paus berterima kasih karena mereka menerima undangannya. Dalam hari-hari perjumpaan pribadi dan persaudaraan ini, Paus Fransiskus ingin meminta maaf kepada mereka, ingin ikut merasakan penderitaan mereka dan membagikan rasa malunya atas apa yang telah mereka derita dan, di atas segalanya, ingin mendengarkan saran-saran mereka agar tidak lagi terjadi tindakan-tindakan tercela ini.”

Burke mengatakan dalam pernyataan itu bahwa Paus akan menerima para korban secara individu, “seraya membiarkan setiap mereka berbicara selama mereka perlu.”

Juga dikatakan bahwa Paus meminta doa untuk Gereja di Chili di saat menyakitkan ini, “dengan harapan agar pertemuan-pertemuan ini dapat berlangsung dalam suasana penuh kepercayaan dan menjadi langkah penting yang diperlukan untuk pemulihan dan agar penyalahgunaan suara nurani dan kekuasaan dan, terutama, pelecehan seksual di dalam Gereja, tak terjadi lagi selamanya.” (paul c pati)

23 kongregasi perkenalkan diri di “Zaman Now” lewat live in, pameran, talk show

Rab, 25/04/2018 - 02:42

Sebanyak 23 kelompok ordo dan tarekat serta seminari di Keuskupan Agung Pontianak (KAP) merayakan hari Minggu Doa Panggilan se-Dunia ke-55 dengan live in selama tiga hari, 20-22 April 2018, di keluarga-keluarga dalam Paroki Keluarga Kudus Kota Baru KAP.

Kelompok yang ikut live in yang diprakarsai Seksi Kerasulan Keluarga dan Panggilan Paroki Kota Baru itu adalah Seminari Tinggi Antonino Ventimiglia, CM, Putri Kasih, Alma, SMFA, CSE, Putri Karmel, OP, OFMCap, OSCap, MTB, MSC, CP Putra dan Putri, SFD, KFS, OSA, OSM, MSA, SDC, PRR dan SFIC.

Tujuan live in untuk “memperkenalkan kepada umat, khususnya OMK, tentang berbagai ordo, tarekat, dan kongregasi yang berkarya di KAP, kekayaan panggilan dalam Gereja Katolik, dan mengajak OMK mau menjawab panggilan menjadi imam, bruder dan suster,” kata koordinator seksi itu, Hermanus Herman, kepada PEN@ Katolik.

Lima orang dari setiap ordo atau kongregasi ikut dalam live in bertema “Zaman Now … Masih Mau Berjubah?” dengan hastag #Mendengarkan, Menegaskan, Menghidupi Panggilan# itu. “Kami disambut begitu hangat dan penuh haru. Salah satu keluarga yang kami kunjungi mengatakan, ‘Ini peristiwa langka. Jarang-jarang ada suster, bruder, frater berkunjung ke rumah’,” lanjut Suster Romana SFIC.

Selain memperkenalkan ordo atau tarekat serta sharing pengalaman hidup membiara dan tanya jawab dalam pertemuan bersama umat di lingkungan, yang melibatkan Biak, Rekat, OMK dan umat, peserta juga mengunjungi umat yang sakit, lansia atau jompo, yang bermasalah dan jarang ke gereja.

Dalam kunjungan itu, kata Suster Immaculata SFIC mengatakan kepada media ini, ada anggota keluarga mengatakan, “Menjadi anugerah luar biasa bagi kami setelah dikunjungi suster, bruder maupun frater,” dan ada pula yang mengatakan, “Kaum berjubah ini sungguh membawa berkat bagi keluarga kami.”

Dalam Misa Hari Minggu Doa Panggilan di Gereja Kota Baru, 22 April 2018, yang dipimpin Kepala Paroki Pastor Yulianus Astanto Adi CM bersama enam imam konselebran sebagai puncak aksi panggilan itu, Pastor Andreas Kurniawan OP yang menyampaikan homili mengatakan bahwa tidak mudah mendengarkan suara Tuhan di zaman serba canggih ini.

“Banyak suara lebih menarik terdengar melalui aneka medsos seperti smartphone, sehingga suara Tuhan yang lembut menyapa tidak terdengar lagi,” kata Pastor Andrei yang mengajak umat membangun relasi mendalam dengan Sang Gembala yang baik dan berdoa agar semakin banyak kaum muda bersedia menjawab panggilan Tuhan sebagai imam, bruder maupun suster.

Menurut data, KAP memiliki 97 imam, 317 suster, 48 bruder dan 415.239 umat. “Boleh dihitung secara kasar, satu pastor harus melayani sekitar 4.281 umat. Kita butuh banyak pastor yang bisa menghadirkan Kristus dalam rupa Komuni Kudus sebagai jaminan untuk memperoleh keselamatan, memperoleh hidup yang kekal, sebab Yesus bersabda, Akulah Roti Hidup,” lanjut imam Dominikan itu.

Pastor Astanto berterima kasih atas kehadiran para imam, bruder, frater dan suster yang memberi warna tersendiri di hati umat melalui live in dan aksi panggilan di parokinya dan menghimbau seluruh umat agar lebih tekun berdoa dan merelakan anak-anaknya untuk menjadi imam, bruder dan suster.

Setelah Misa, umat mengunjungi stan-stan panggilan dari berbagai ordo atau kongregasi serta menyaksikan pentas seni oleh para imam, bruder, frater dan suster. “Dulu paham saya, menjadi suster itu hidupnya hanya berdoa, ternyata mereka boleh menampilkan kreasi dan bakat melalui tarian dan lagu,” kata seorang anggota OMK.

Selain makan siang di stan-stan makanan yang disediakan tiap lingkungan, peserta menyaksikan Talk Show Panggilan di halaman gereja, yang dikemas oleh panitia dengan melibatkan OMK. Talk show itu menampilkan Pastor Kebry CM dan Frater Iko Pr sebagai MC dan Pastor John Wahyudi OFMCap, Frater Pio CSE, Suster Erika SDC, dan Suster Margareta OSA sebagai nara sumber.

Pastor John, yang tertarik menjadi imam Kapusin karena jubah coklat dan persaudaraan yang begitu kental dikalangan pengikut Santo Fransiskus Assisi, mengatakan bahwa “panggilan itu misteri dan tidak ada kata terlambat untuk menjawab panggilan-Nya.

Menurut Suster Erika, pertanyaan “Who Am I?” membuat dia berani memutuskan untuk tidak menikah dan menjadi biarawati, karena “saya ingin menjadi berkat bagi orang lain, berani meninggalkan segala-galanya untuk memperoleh segala-galanya.”

Ketertarikan Frater Pio untuk menjadi biarawan tertanam sejak kecil. Dia memilih CSE karena suka dengan cara hidup para rahib Benediktin. “Jangan takut melangkah jika sudah ada panggilan, beranilah mengatakan ‘ya’ karena panggilan itu sekuat jawaban. Semakin berani saya mengatakan ‘ya’ maka saya akan semakin kuat setiap hari,” pesannya kepada OMK.

Suster Margareta mengatakan, dia menjadi biarawati OSA karena pernah diasuh oleh para suster OSA di asrama. “Saya punya keinginan kuat menjadi suster, karena di kampungku belum ada yang jadi imam, bruder dan suster,” tegasnya.

Talk show ditutup dengan doa dan berkat. Sebelum pulang seluruh imam, bruder, frater dan suster naik ke pentas dan menyanyikan “Pangilan Hidupku”.(Suster Maria Seba SFIC)

Bagaimana para Uskup melaksanakan fungsi penggembalaan mereka?

Sel, 24/04/2018 - 22:38
Dokpen KWI

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

185. Kapan Kuasa Mengajar Gereja tidak dapat sesat?

Kuasa Mengajar Gereja tidak dapat sesat jika Paus di Roma, sebagai Gembala Tertinggi Gereja, atau Dewan para Uskup, dalam kesatuan dengan Paus, terutama jika berkumpul bersama di dalam suatu konsili ekumenis, memaklumkan secara definitif suatu ajaran yang menyangkut iman atau moral. Kuasa Mengajar juga tidak dapat sesat jika Paus dan para Uskup, dalam Pengajaran biasa, setuju dalam mengusulkan sebuah ajaran secara definitif. Setiap umat beriman harus tunduk pada ajaran tersebut dengan ketaatan iman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 890-891

186. Bagaimana para Uskup melaksanakan pelayanan pengudusan mereka?

Para Uskup menguduskan Gereja dengan menyebarkan rahmat Kristus melalui pelayanan sabda dan Sakramen-Sakramen, khususnya Ekaristi Kudus, dan juga lewat doa, teladan, dan karya mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 893

187. Bagaimana para Uskup melaksanakan fungsi penggembalaan mereka?

Setiap Uskup, sejauh dia menjadi anggota Uskup, mempunyai tugas untuk melayani semua Gereja partikular dan seluruh Gereja bersama dengan semua Uskup lain yang ada dalam kesatuan dengan Paus. Seorang Uskup yang mendapat kepercayaan untuk melayani suatu Gereja partikular, melaksanakan tugasnya dengan wewenang kuasa sucinya sendiri yang biasa dan langsung dan melaksanakan dalam nama Kristus, Gembala yang Baik, dalam kesatuan dengan seluruh Gereja di bawah naungan pengganti Petrus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 894-896

Wakil-wakil Katolik dan Protestan membuat dokumen bersama tentang pendidikan perdamaian

Sel, 24/04/2018 - 22:26
Dari kiri ke kanan: Pastor Markus Solo SVD (anggota delegasi dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, Vatikan, PICD), Marietta Ruhland (Anggota delegasi Dewan Gereja-Gereja se-Dunia WCC), Dr Olaf  Fykse Tveit (Sekretaris Jenderal WCC), Mgr Indunil Janakaratne Kodithuwakku Kankanamalage (anggota delegasi PICD), Dr Peniel Rajkumar (anggota delegasi WCC), Mgr Santiago Michael (anggota delegasi PICD)

Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) dari Vatikan dan Kantor Dialog Antaragama dan Kerja Sama Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC) bertemu di Jenewa, Swiss, dari 16-18 April 2018, untuk merayakan pertemuan tahunan mereka. Staf dari kedua kantor itu menyatu dalam doa, persahabatan, dan kerja bersama membuat sebuah dokumen berjudul “Pendidikan untuk Perdamaian dalam Dunia yang Multi Agama.” Delegasi PCID juga bertemu dengan Pendeta Olav Fykse Tveit, sekretaris umum WCC. Seraya mengungkapkan kegembiraannya atas kunjungan yang akan datang dari Paus Fransiskus ke WCC pada kesempatan ulang tahun ke-70 WCC, Tveit menekankan bahwa kunjungan kepausan akan menjadi kesaksian harapan sekaligus peluang untuk kerja sama ekumenis lebih lanjut demi umat manusia kita bersama. Delegasi PCID juga mengakui dengan penuh syukur persahabatan dan kerja sama yang mereka alami selama masa jabatan Dr Clare Amos, yang pensiun baru-baru ini dari WCC. Kedua delegasi sepakat untuk melanjutkan kerja sama erat mereka dalam mengembangkan dialog antaragama secara ekumenis. (pcp, berdasarkan www.oikoumene.org)

 

 

Penghasilan sangat kecil dari guru agama Katolik, bahkan tanpa honor, jadi perhatian

Sel, 24/04/2018 - 22:13

Anggota Tim Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta (Komdik KAJ) Aloysius Prasetio mengatakan, komisinya sangat prihatin dengan penghasilan guru agama Katolik yang mengabdikan dirinya di lembaga pendidikan negeri dan swasta non-Katolik, namun belum mendapatkan upah sesuai harapan, bahkan jauh dari upah minimum regional.

Keprihatinan itu diungkapkan Aloysius Prasetio dalam rekoleksi para guru Katolik yang mengajar di lembaga pendidikan negeri dan swasta non-Katolik yang dilaksanakan di aula Paroki Santa Helena, Tangerang, 14 April 2018. Sebanyak 60 guru dari 13 paroki di Dekenat Tangerang, KAJ, hadir dalam rekoleksi itu.

Pernyataan Prasetio itu muncul untuk menanggapi sharing pengalaman dari Yusup Purnomo Hadiyanto bahwa ada banyak guru tetapi hanya sedikit yang terlibat bahkan susah mendapatkan guru untuk memberikan pendidikan agama Katolik atau katekese bagi umat lainnya.

“Mengharapkan guru aktif mengajar di paroki dan melayani para siswa sepertinya banyak kendala. Mereka mengaku waktunya tidak ada, dan seksi pendidikan tidak memberikan honor untuk membeli bensin dalam membantu pelayanan anak didik,” kata Yusuf.

Namun dia mengakui, kondisi itu bukan hanya terjadi di Paroki Santa Helena Curug, tapi di paroki-paroki se-KAJ. Oleh karena itu, Yusuf berusaha mendapatkan alokasi sejumlah dana dari dewan paroki setempat. “Sekalipun jumlahnya hanya 1.500.000 rupiah per tahun, itu bisa digunakan untuk memberikan perhatian kepada para guru yang ikhlas mengabdikan diri selama ini,” katanya.

Prasetio mengakui, karena penghasilan guru honor yang bekerja di paroki dan sekolah-sekolah negeri swasta menjadi perhatian, maka Komdik KAJ mendorong paroki masing-masing untuk memberikan honor kepada para guru Katolik itu, “sebab bagaimana pun para guru itu adalah ujung tombak dari Komdik KAJ yang ikut melakukan reksa pastoral KAJ seperti yang diamanatkan dalam program Komdik.”

Menurut informasi yang diterima PEN@ Katolik, gaji dari sejumlah guru yang mengajar di sekolah negeri dan swasta masih jauh dari harapan, padahal selain mengajar mereka ikut serta membina kelompok Bina Iman Anak dan Bina Iman Remaja.

Anggota Komdik KAJ, Mari Irawati Sidharta juga mengakui kondisi minimnya honor guru agama Katolik dan mengusulkan agar kondisi itu dipetakan oleh masing-masing kepala paroki untuk memberikan honor walaupun sedikit kepada para guru yang bekerja untuk paroki.

Anggota lainnya, Alexius Aur, menambahkan bahwa tengah kesulitan yang dihadapi itu, para guru mencoba merefleksikan pekerjaannya itu dengan mengatakan bahwa hambatan itu memang ada “tetapi lakukan pelayanan itu sebaik-baiknya karena Tuhan pasti memberikan jalan terbaik dalam mengatasi kesulitan tersebut.”

Film Bapak Abraham yang dikenal sebagai Bapak Bangsa diputar juga pada kesempatan itu untuk menunjukkan bahwa kendati mengalami pencobaan, pada akhirnya Tuhan memberikan hikmat yang luar biasa kepada Abraham.(Konradus R Mangu)

Apa yang menjadi perutusan Paus?

Sen, 23/04/2018 - 15:43

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

182. Apa yang menjadi perutusan Paus?

Paus, Uskup Roma dan pengganti Santo Petrus, adalah sumber dan dasar yang kelihatan dari kesatuan Gereja. Dia adalah wakil Kristus, kepala Dewan para Uskup dan Gembala Gereja Universal. Lewat penetapan ilahi, ia memperoleh kuasanya yang penuh, tertinggi, langsung, dan universal.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 880-882, 936-937

183. Apa tugas Dewan para Uskup?

Dewan para Uskup dalam kesatuan dengan Paus, dan tak pernah tanpa dia, juga melaksanakan otoritas tertinggi dan penuh atas Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 883-885

184. Bagaimana para Uskup melaksanakan tugas mengajar mereka?

Karena mereka adalah saksi-saksi autentik iman para Rasul dan diberi wewenang Kristus, para Uskup dalam kesatuan dengan Paus mempunyai tugas mewartakan Kabar Gembira dengan setia dan otoritas penuh kepada semua umat beriman. Melalui iman adikodrati, Umat Allah menghayati iman mereka di bawah bimbingan Kuasa Mengajar Gereja yang hidup.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 888-890, 939

Paus Fransiskus minta kepada 16 imam baru ditahbiskan untuk “Berbelas kasih”

Sen, 23/04/2018 - 02:15

Paus Fransiskus menahbiskan enam belas diakon, termasuk 11 diosesan dari Keuskupan Roma, dalam Misa di Basilika Santo Petrus pada Hari Doa Panggilan se-Dunia, yang dikenal sebagai Hari Gembala yang Baik,  22 April 2018, dan meminta mereka untuk tidak “bosan menjadi berbelas kasih.” Paus juga mengatakan, “Pikirkan dosa kalian, penderitaan kalian, penderitaan yang telah diampuni Yesus. Berbelas kasihlah! ”

Hari Doa Panggilan se-Dunia, yang diselenggarakan setiap tahun pada Hari Minggu Paskah keempat, yang juga dikenal sebagai Hari Gembala yang Baik, bertujuan untuk memenuhi perintah Tuhan, “mintalah kepada Tuan yang memiliki hasil panen itu untuk mengutus pekerja-pekerja untuk mengumpulkan hasil panen-Nya.”

Sebuah website waligereja menegaskan, Gereja sepenuhnya menghargai semua panggilan, namun pada hari Minggu ini perhatian diberikan kepada panggilan untuk menjadi pelayan tertahbis yakni imamat dan diakonat, untuk kehidupan religius dalam segala bentuknya (pria dan wanita, kontemplatif dan apostolik), untuk serikat kehidupan apostolik, untuk institut-institut sekular dalam keragaman pelayanan dan keanggotaan mereka, serta untuk kehidupan misionaris, dalam pengertian tertentu misi ‘ad gentes‘ [kepada bangsa-bangsa].”

Enam belas orang yang ditahbiskan pada hari Minggu itu berasal dari seluruh dunia: selain lima orang Romawi dan tiga orang India, para imam baru itu berasal dari Kroasia, Vietnam, Myanmar, Kolombia, El Salvador, Madagaskar, Rumania, dan Peru.

“Semoga ajaran kalian menjadi makanan bagi Umat Allah,” kata Paus, “dan parfum hidup kalian menjadi sukacita dan dukungan bagi umat beriman Kristus.” Dan, lanjut Paus, “semoga kata dan teladan kalian mencerahkan Rumah Tuhan yakni Gereja.”

Paus Fransiskus mendorong para imam baru untuk berniat menyenangkan Tuhan sendiri, bukan diri mereka atau orang lain, atau mencari kepentingan diri sendiri lainnya. Hendaknya mereka hanya berkepentingan  untuk “melayani Tuhan, demi kebaikan umat Allah yang suci.”(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Mgr Adi Saputra tahbiskan tiga imam baru di halaman Gereja Santo Yosep Bambu Pemali

Sen, 23/04/2018 - 00:53

Uskup Agung Merauke Mgr Nicholaus Adi Saputra MSC menahbiskan Diakon Samuel Yanem MSC serta Diakon Maximilian Boas Pegan Pr dan Diakon Fransiskus Dionisius Loan Pr  menjadi imam dalam Misa di halaman Gereja Santo Yosep Bambu Pemali, Merauke, 21 April 2018.

“Kami wakil dari orangtua diakon bertiga dan seluruh umat ingin menyerahkan putra-putra kami kepada Gereja. Kami dan seluruh umat akan selalu berdoa untuk mereka dan para imam agar mereka semua menjadi gembala-gembala kami yang baik,” kata orangtua ketiga calon imam itu kepada Mgr Adi Saputra yang memanggil ketiga diakon untuk maju ke depan altar.

“Menurut penilaian orang-orang yang mengenalnya dengan baik, saudara-saudara kita ini layak untuk ditahbiskan menjadi imam. Saya dan seluruh umat yang hadir di sini adalah saksinya,” tegas Wakil Provinsial MSC Indonesia Pastor Agustinus Handoko MSC.

“Dengan bantuan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, kami memilih saudara-saudara kita ini untuk menerima dan melaksanakan tugas pelayanan sebagai imam,” jawab Uskup Merauke dan umat menjawab “Syukur kepada Allah.” Para calon imam itu lalu menyatakan bersedia menjalankan tugas dan tanggungjawab menjadi gembala yang baik dengan penuh ketaatan. 

Setelah menerima penumpangan tangan dari Mgr Adi Saputra dan para imam lain sebagai tanda penerimaan masuk ke dalam kolegialitas para imam, ketiga imam itu menerima doa tahbisan diiringi lagu Veni Creator oleh koor yang diperkuat oleh seminaris, para suster, dan koor paroki, kemudian pengenaan stola imam dan penyerahan kasula untuk dipakaikan oleh orangtua. “Jadilah pelayan umat yang baik” kata uskup dan dijawab oleh para imam baru “Mohon doa bapak uskup.”

Mgr Adi Saputra lalu mengurapi tangan para imam baru dan menyerahkan alat Misa dan bahan persembahan kepada mereka. “Melalui kuasa Roh Kudus, Allah Bapa telah mengurapi Tuhan Yesus Kristus. Semoga Dia mendampingi engkau demi kesucian umat-Nya dan demi kemuliaan nama-Nya,” kata uskup saat doa pengurapan tangan.

Saat ritus penutup Uskup Merauke mengucapkan selamat kepada para imam baru dan terima kasih kepada orangtua yang merelakan anaknya untuk menggembalakan umat Allah, dan meminta supaya para imam baru bersedia ditempatkan di mana saja untuk melayani umat, dan “membiarkan Allah melalui Roh Kudus bekerja dalam hatimu.”

Pastor Agustinus Handoko MSC dalam sambutannya meminta imam baru maupun lama untuk mengutamakan nilai ketaatan, “karena di jaman now, menjadi imam yang taat itu sangat sulit.” Juga ditegaskan, banyak orang hidup dalam ketidaktaatan, sehingga imam harus mampu menjadi contoh ketaatan bagi umatnya. “Ketaatan menjadi harga mati bagi seorang imam!” tegas imam itu.

Pastor Handoko juga minta agar imam menjaga martabat, jangan mengotorinya dengan kepentingan pribadi. “Martabat sebagai imam harus dijaga, karena begitu banyak martabat imamat menjadi tidak berharga karena kepentingan pribadi,” lanjut Pastor Handoko seraya meminta para imam tidak mengecewakan umat seperti yang sering dia dengar.

Mengakhiri sambutannya, Pastor Handoko mengumumkan bahwa Pastor Samuel Yansen MSC akan ditempatkan di Keuskupan Agung Palembang dan Pastor Maximilian Boas Pegan asal Keuskupan Agung Kupang serta Pastor Fransiskus Dionisius Loan asal Keuskupan Agung Atambua ditugaskan ke daerah Papua Selatan.

Bupati Merauke Frederikus Gebze, yang mengharapkan kerja sama yang baik antara semua pihak untuk memproteksi nilai ketaatan para imam, mengatakan akan memberikan masing-masing satu unit sepeda motor dan uang tunai 10 juta rupiah kepada tiga imam baru itu. “Ini penghargaan sekaligus motivasi agar lebih banyak generasi muda Katolik mau menjadi imam.” (Getrudis Saga Keo)

Para uskup Meksiko mengecam pembunuhan pastor dan menyerukan rekonsiliasi

Sen, 23/04/2018 - 00:18

Para uskup Meksiko meluncurkan seruan mendesak untuk membangun budaya perdamaian dan rekonsiliasi. Seruan itu dibuat menyusul pembunuhan seorang pastor Katolik yang diserang di Paroki Jalisco. Pastor Juan Miguel Contreras Garcia adalah imam keempat yang dibunuh di negara itu sejak awal tahun.

Konferensi Waligereja Meksiko, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, menyatakan kesedihan dan kecemasan atas pembunuhan Pastor Juan Miguel Contrera Garcia, berusia 33 tahun, yang dibunuh oleh sekelompok penyerang bersenjata di parokinya tanggal 20 April 2018.

Menurut laporan, serangan yang terjadi segera setelah perayaan Misa itu merupakan yang terbaru dari serangkaian serangan terhadap para imam di Meksiko. Sebelumnya, Pastor Ruben Alcantara Diaz dibunuh tanggal 18 April, tepat sebelum perayaan Misa di parokinya di Keuskupan Izcalli.

Serangan terhadap klerus  sudah umum di Meksiko. Di sana, tingkat pembunuhan mencapai tingkat historis yang tinggi di tahun 2017, dan kekerasan yang meluas di negara itu belum menjauhi Gereja Katolik.

Dalam pernyataan itu, para uskup meluncurkan seruan mendesak untuk membangun budaya damai dan rekonsiliasi. “Kejadian-kejadian yang menyedihkan ini meminta kita semua untuk melakukan pertobatan yang dalam dan tulus,” kata pernyataan itu.

“Kami meminta otoritas yang kompeten untuk menjelaskan peristiwa dramatis ini dan untuk mengambil tindakan sesuai hukum keadilan,” lanjut pernyataan itu.

Para uskup juga menyerukan kepada para pelaku kekerasan “untuk tidak hanya meletakkan senjata”, tetapi juga menolak “kebencian, dendam, pembalasan dan semua sentimen yang merusak,” lanjut pernyataan para uskup. (pcp berdasarkan Vatican News)

Gembala yang baik

Sab, 21/04/2018 - 21:53

Hari Minggu Paskah keempat

22 April 2018

Yohanes 10: 11-18

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11).”

Kitab Suci itu dipenuhi dengan citra gembala yang baik. Mazmur favorit saya adalah Mazmur 23, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Nabi Yesaya yang menghibur bangsa Israel di pembuangan Babel, berbicara tentang Tuhan yang seperti gembala yang akan mengumpulkan kembali domba-domba Israel yang hilang dan membawa mereka pulang (Yes 40:11). Beberapa pemimpin besar Israel adalah gembala. Musa merawat kawanan domba ayah mertuanya ketika ia dipanggil oleh Allah (Kel 3). Daud juga sedang menjaga kawanan domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia sebagai raja (1 Sam 16). Tidak heran jika Yesus juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik.

Dari Injil hari ini, kita dapat mempelajari tiga karakter gembala yang baik. Pertama, Yesus membedakan antara Gembala yang Baik dan para gembala yang buruk. Gembala yang baik adalah pemilik domba-dombanya dan bertanggung jawab atas hidup mereka. Sementara, para gembala yang buruk  merasa tidak memiliki domba, dan bekerja terutama untuk uang, bukan untuk domba. Inilah mengapa ketika bahaya datang dari serangan hewan buas atau pencuri, mereka akan lari dan menyelamatkan nyawa mereka sendiri daripada melindungi domba mereka. Nabi Yeremia mengkritik para pemimpin Israel yang korup dan tidak adil pada masanya dan ia pun bernubuat, “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak (Yer 23:1)!”

Karakter kedua dari seorang gembala yang baik adalah dia mengenal dengan baik domba-dombanya dan memanggil mereka dengan nama mereka. Domba-domba di Yudea dipelihara untuk mendapatkan bulu domba atau wol dan untuk dikorbankan. Khususnya yang ditujukan untuk produksi wol, gembala akan hidup bersama dengan kawanannya selama bertahun-tahun. Tidak heran jika dia mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan ciri-ciri fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘kaki kecil’ atau ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba-domba itu begitu akrab dengan suara gembala dan akan mendengarkan setiap kali dia memanggil mereka. Ini mengingatkan saya pada anjing peliharaan kami di rumah. Kami menyebutnya “cipluk,” dan ibu dan adik saya merawatnya dengan baik. Jadi, setiap kali ibu atau adik saya memanggil namanya, cipluk segera lari mendekati mereka. Namun, setiap kali saya mencoba memanggil namanya, cipluk tidak memberi perhatian!

Karakter ketiga dan paling penting adalah gembala yang baik akan menyerahkan hidupnya bagi domba-dombanya. Karakter ini tampaknya berlebihan, namun hal ini sungguh terjadi. Kita ingat bahwa gembala yang baik memiliki ikatan yang kuat dengan domba-dombanya dan merawat mereka dengan baik, ia pun tidak akan ragu-ragu dalam menjaga domba-dombanya dari serangan predator dan perampok yang berbahaya. Tidak jarang, gerombolan perampok tanpa belas kasih memukuli gembala yang berani bahkan sampai mati. Gembala-gembala ini secara harfiah menyerahkan hidupnya untuk domba-domba itu. Ini tidak jarang terjadi pada zaman Yesus di Palestina, dan masih terjadi di zaman kita di beberapa belahan dunia.

Tuhan kita adalah Gembala yang baik dan ini berarti bahwa kita adalah domba-domba milik-Nya. Dia mengenal kita masing-masing secara mendalam, bahkan lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tidak akan meninggalkan kita ketika hidup kita menghadapi masalah serius dan bahaya. Dia tidak hanya akan memperhatikan kita selama kita menghasilkan “wol,” tetapi Dia terus mengasihi kita bahkan saat kita tidak menjadi domba yang baik. Yesus Sang Gembala baik meletakkan hidup-Nya di kayu salib, sehingga kita, domba-domba-Nya, dapat memiliki hidup yang berkelimpahan. Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita menjadi domba yang baik? Apakah kita mengenali suara-Nya? Apakah kita mendengarkan Dia? Apakah kita benar-benar mengikuti Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Halaman