Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 36 mnt 44 dtk yang lalu

Selasa, 24 Oktober 2017

Sel, 24/10/2017 - 12:23

PEKAN BIASA XXIX (H)
Santo Antonius Maria Claret; Aloysius Guanella

Bacaan I: Rm. 5:12.15b.17-19.20b-21
Mazmur: 40:7-10.17; R: 8a.9a
Bacaan Injil: Luk. 12:35-38

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah para hamba itu.”

Renungan

Waspada berarti tidak lengah atau menjadikan siap siaga. Kewaspadaan merupakan sebuah tindak mawas diri untuk tidak terbuai, terlena atau terbenam dalam sesuatu hal. Seseorang yang pinggangnya tetap berikat dan pelitanya bernyala adalah seorang hamba yang siap sedia melayani serta memaknai hidup dan waktunya. Sikap kewaspadaan demikian yang diingatkan oleh Yesus dalam menyikapi dan mengisi hidup dengan iman. Kewaspadaan ini diajarkan-Nya agar orang yang percaya tetap setia, optimis, seraya mampu menyiapkan diri akan berbagai hal yang akan datang dalam hidup, terutama berkenaan dengan kedatangan kembali Tuhan dalam hidup kita. ”Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (Luk. 12:35).

Sikap setia dan siaga yang dijalankan lahir dengan sepenuh hati karena iman. Iman akan Yesus Kristus inilah yang telah menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Rasul Paulus menegaskan bahwa karena dosa manusia pertama maka maut menjalar kepada semua orang yang telah berdosa. Tetapi oleh kasih karunia Allah dalam diri Yesus Kristus manusia dibenarkan dan diselamatkan untuk hidup kekal (bdk. Rm. 5:21). Semoga kita semua mampu mengisi hidup dan memaknainya dalam iman akan Yesus yang menyelamatkan, sambil tetap siap siaga akan berbagai godaan dan penyesatan yang menjauhkan kita dari jalan Tuhan.

Tuhan Yesus, berilah aku iman yang kuat agar tetap setia kepada-Mu di tengah tantangan dan godaan dunia ini. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Paus Fransiskus bertemu Theophilos III, Patriark Orthodoks Yunani dari Yerusalem

Sen, 23/10/2017 - 21:00

Paus Fransiskus bertemu pada hari Senin, 23 Oktober 2013, dengan Patriark Ortodoks Yunani dari Yerusalem, Theophilos III, seraya menyerukan berakhirnya kekerasan dan diskriminasi terhadap orang-orang dari berbagai agama berbeda di Tanah Suci. Pemimpin Orthodox itu mengunjungi Roma dari tanggal 22 sampai 25 Oktober 2017 untuk menemui pejabat-pejabat tinggi Vatikan.

Dalam audiensi, Paus Fransiskus mengingat perjalanannya ke Yerusalem tahun 2014 dan mengungkapkan kegembiraannya atas pemugaran makam Yesus yang berlangsung baru-baru ini di Basilika Makam Suci, sebuah proyek yang menunjukkan kerja sama erat antara Ortodoks, Armenia dan Kustodia Fransiskan untuk Tanah Suci.

Paus menyampaikan kedekatannya dengan semua pihak yang menderita akibat konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Palestina, dengan mengatakan bahwa kurangnya pemahaman terus “menciptakan keresahan, pembatasan hak-hak dasar dan perginya banyak orang dari tanah mereka.” Paus menyerukan peningkatan upaya untuk mencapai perdamaian berdasarkan keadilan dan pengakuan hak semua orang.

Paus bersikeras agar status quo Yerusalem dipertahankan dan dilestarikan, sementara kekerasan, diskriminasi dan intoleransi terhadap tempat-tempat ibadah Yahudi, Kristen atau Muslim harus ditolak dengan tegas.

Paus Fransiskus juga mengirim salam kepada anggota-anggota komunitas Kristen yang berbeda-beda  di wilayah itu, dengan mengatakan bahwa dia berharap mereka dapat terus diakui sebagai warga negara dan umat beriman yang ikut mendukung kebaikan bersama. Dukungan ini akan semakin efektif, tegas Paus, sejauh ada kerukunan di antara Gereja-Gereja yang berbeda.

Secara khusus, paus meminta peningkatan kerja sama dalam mendukung keluarga-keluarga Kristen dan kaum muda, sehingga mereka tidak terpaksa meninggalkan negara itu. Meskipun kita tidak bisa mengubah masa lalu atau mengabaikan kegagalan amal kasih yang sudah diberikan selama berabad-abad, kata Paus, orang Kristen harus melihat masa depan rekonsiliasi dan persekutuan, guna memenuhi doa Tuhan “agar mereka semua menjadi satu.”(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Pastor Napoleon Sipalay OP: Ordo Pewarta tak kejar kuantitas tapi kualitas pelayanan bagi Gereja

Sen, 23/10/2017 - 18:20

Provinsial Dominikan (Ordo Pewarta) Provinsi Filipina Pastor Napoleon Sipalay Jr OP berada di Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, untuk menghadiri pentahbisan Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP, 13 Oktober 2017. Dalam Misa Tahbisan Imam yang dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono itu, Pastor Sipalay dan Pastor Adrian Adiredjo OP sebagai kepala Paroki Redemptor Mundi bertindak sebagai konselebran.

Setelah Misa dan makan malam, Paul C Pati dari PEN@ Katolik dan Arue bertemu dengan Pastor Sipalay untuk wawancara mengenai perayaan itu, jumlah imam Dominikan Indonesia, karya-karya Dominikan di Indonesia, penugasan Pastor Mingdry, dan hubungan dengan para suster Dominikan dan Dominikan awam.

Apa kesan Pastor tentang perayaan tahbisan Pastor Mingdry ini?

Saya sangat bahagia dan terinspirasi melihat pertumbuhan Dominikan di tempat ini yang tidak hanya ditandai dengan tahbisan imam baru, tapi dengan berbagai usaha bersama Keluarga Dominikan (para imam, frater, suster dan awam) dengan uskup dan para pastor lain, yang menunjukkan bagaimana sebenarnya hidup menggereja itu. Kami, Dominikan, tidak sendiri, tapi bersama dengan semua orang yang bekerja sama dengan kita. Saya pikir, inilah gambaran yang sangat bagus tentang membangun Gereja, terutama di sini di Surabaya.

Tapi hanya empat orang Indonesia yang ditahbiskan imam untuk Provinsi Filipina selama lebih dari satu dekade!

Sebenarnya Ordo Dominikan tidak mengejar jumlah atau kuantitas tapi kualitas pelayanan yang bisa kita berikan untuk Gereja. Ya, jika kita hanya mengejar jumlah, kita bisa menahbiskan banyak imam dalam setahun. Pelayanan kita sebagai Dominikan untuk Gereja adalah pelayanan doktrinal. Jadi sejak awal kita harus mempersiapkan para frater untuk terlibat dalam peran pewartaan ajaran Gereja atau membantu berteologi, dan para frater harus dipersiapkan lewat studi dan kualifikasi.

Maka, banyak frater belum ditahbiskan sampai mereka menyelesaikan pendidikannya. Itu persyaratan minimum. Tapi, setelah tahbisan Pastor Mingdry ada banyak frater dari Indonesia yang akan ditahbiskan.

Sekali lagi, karena mengejar pelayanan doktrinal untuk Gereja, kita harus mempersiapkan para frater. Jadi, meski baru empat imam Dominikan asal Indonesia yang ditahbiskan satu dekade, setidaknya mereka adalah Dominikan.

Bagaimana dengan karya-karya Dominikan di dua rumah Dominikan di Indonesia?

Ketika datang di Pontianak, kami diminta untuk hadir menangani dialog antaragama dan formasi seminari. Namun, saya kira saat ini permintaannya untuk terlibat dalam evangelisasi melalui pendidikan. Uskup menantang kami bukan hanya bekerja sama dengan keuskupan tetapi juga dengan pemangku kepentingan lain, kongregasi lain dan umat awam untuk nanti mendirikan universitas Katolik untuk Kalimantan. Dan di sini, di Surabaya, kami diminta membantu Paroki Redemptor Mundi dan formasi para calon imam di seminari.

Pendidikan memang merupakan salah satu prioritas Provinsi Dominikan Filipina. Saya berharap karunia yang kami miliki di Filipina bisa kami bawa ke sini juga. Tapi lebih dari sekedar sekolah, seminari atau paroki, tantangan bagi kami adalah bagaimana menggunakan karunia sebagai Dominikan untuk membantu orang benar-benar mengenal Tuhan dan dengan mengenal Tuhan, mereka menjadi lebih dekat dengan-Nya. Kita memiliki diktum: “Semakin tahu, semakin mencintai. Semakin mengenal Tuhan, semakin mencintai Tuhan.”

Namun, Uskup Agung Pontianak dan Uskup Surabaya mengatakan keuskupan mereka membutuhkan lebih banyak imam!

Tantangan ini sangat penting. Saya kira, kita harus mengikuti apa yang Tuhan katakan, “Mintalah kepada Tuhan yang mempunyai panenan, untuk mengirimkan pekerja-pekerja dalam panenan-Nya.” Tetapi lebih dari sekedar berdoa, kita harus melakukan bagian kita, melakukan promosi panggilan, bukan hanya pergi menemui orang-orang, tetapi peduli dengan kaum muda di tempat kita berada, melakukan pelayanan pastoral bagi kaum muda, dan mendorong mereka untuk melihat indahnya mendedikasikan diri kepada Tuhan dan indahnya kehidupan religius.

Pelayanan Dominikan  bukan hanya dalam kehidupan religius tetapi menjadi presbyter, pemimpin perayaan Ekaristi dan pelayanan sakramen-sakramen. Saya sendiri tidak yakin bahwa panggilan itu hanya sedikit. Ada banyak orang yang bermurah hati. Yang kita perlukan adalah menciptakan suasana dan pengalaman akan Tuhan dan panggilan Tuhan mudah-mudahan membawa mereka ke dalam pelayanan, tidak hanya untuk Dominikan tetapi untuk Gereja. Kita harus mempromosikan panggilan terutama panggilan imamat, tidak hanya sebagai Dominikan tapi imam diosesan dan imam kongregasi lain.

Di mana Pastor akan menempatkan Pastor Mingdry?

Mindry akan menjalani program untuk tahbisan baru. Tahun pertama selalu dekat rumah formasi. Di Indonesia rumah formasi ada di Surabaya. Tapi saya dengar dari formatornya bahwa dia harus menyelesaikan beberapa program yang belum diselesaikan. Jadi dia harus menyelesaikannya dulu sebelum ditugaskan di sini. Tapi apa pun ini, tugas pertamanya di Surabaya dan kedua di tempat misi. Karena Pontianak ditugaskan untuk misionaris, dia akan menjalani tahun kedua di sana selama satu atau dua tahun. Setelah bertugas di tempat misi ia akan mendapat tugas lain dan dikirim di mana diperlukan. Tapi saya kira Surabaya lebih membutuhkannya, karena di sini ada paroki dan ada permintaan uskup untuk mengurus universitas.

Saya dengar, banyak calon imam Dominikan di Indonesia tumbuh berkat campur tangan para Suster Dominikan!

Harus simbiosis. Saya percaya ke mana pun mereka pergi untuk mempromosikan panggilan, mereka mempromosikan Keluarga Dominikan, tidak hanya untuk menjadi imam tetapi menjadi suster apostolik bahkan Dominikan awam. Tapi ke depan, semoga kita bisa mempromosikan aspek lain dari Keluarga Dominikan yang belum ada di Indonesia, yakni suster kontemplatif. Kelompok ini tidak pernah berhenti berdoa untuk kita, tidak pernah berhenti memohon kepada Tuhan untuk mengirim lebih banyak pekerja ke panenan. Saya berharap nanti bisa melihat mereka di sini.

Dominikan awam juga berada di bawah Provinsi Filipina. Bagaimana Pastor melihat Dominikan Awam di Indonesia?

Mereka tidak hanya sangat kreatif tapi sangat pantas untuk memenuhi panggilan mereka. Satu kelompok pernah datang untuk meminta agar mereka menjadi bagian Keluarga Dominikan, padahal di tempat  mereka di Jakarta tidak imam Dominikan. Ada juga kelompok Dominikan Awam di beberapa tempat di Indonesia, di mana imam Dominikan tidak ada tetapi ada Suster Dominikan.

Para Dominikan Awam harus didorong untuk benar-benar menemukan peran mereka di pelayanan kita. Saya berharap mereka bisa menjadi kolaborator aktif. Di sini di paroki ini sangat jelas peran mereka dalam banyak aspek. Saya juga melihat di Pontianak mereka berkolaborasi dengan kehadiran para imam di sana. Tapi, lebih dari sekadar partisipasi liturgis atau ritual pengucapan kaul, hendaknya mereka lebih aktif dalam pelayanan Dominikan yang nyata, dalam pelayanan pendidikan, pelayanan dalam evangelisasi melalui aspek yang berbeda di masa depan, media misalnya. Karena, mereka bukanlah tambahan dalam Ordo Pewarta, mereka juga pewarta, mereka harus bersuara di Gereja, tidak seperti kita yang berkhotbah lewat mimbar, karena mereka awam, tapi bersuara dengan cara berbeda. Mereka bukan pekerja tambahan tapi mitra.***

Pajak

Min, 22/10/2017 - 02:57

Hari Minggu Biasa ke-29

22 Oktober 2017

Matius 22: 15-22

“… Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Benjamin Franklin pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian dan pajak.” Sungguh, pajak adalah fakta yang tidak menyenangkan dan juga tidak dapat dihindari dalam hidup kita sebagai warga negara. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari jerih payah kita tiba-tiba diambil, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana itu pergi. Praktek perpajakan sebenarnya sudah terjadi sejak komunitas manusia pertama di bumi. Ide dasarnya adalah bahwa pajak akan menyediakan sumber daya yang untuk kemajuan bersama, seperti membangun jalan, pendidikan dan perawatan kesehatan berkualitas. Namun, hal ini sering disalahgunakan. Di zaman dulu, para raja dan kepala suku menarik pajak agar mereka bisa membangun istana megah mereka dari pada membangun rakyatnya. Sayangnya, situasi tersebut tidak banyak berubah di zaman sekarang. Para pejabat korup menarik pajak hanya untuk membangun “istana” mereka yang megah, dan bukannya membangun rakyat.

Pada masa Yesus, pajak adalah isu yang sangat sensitif. Orang-orang Yahudi sederhana dikenai pajak oleh penjajah Romawi, dan bagi mereka yang tidak mampu membayar, mereka akan dipenjara, harta-benda mereka akan disita dan bahkan menghadapi hukuman mati. Ini membuat para petani dan pekerja Yahudi sederhana semakin miskin dan tak berdaya. Baik Yesus maupun orang Farisi juga menjadi korban dari sistem perpajakan yang menindas dan tidak adil ini.

Tidak ada yang suka membayar pajak kepada penjajah Romawi, namun sebagian besar orang Yahudi akan memilih untuk mematuhi peraturan dan membayar pajak karena mereka tidak menginginkan masalah datang. Orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi saleh lainnya membenci menggunakan koin Romawi karena di dalamnya, ada gambar Kaisar yang diukir sebagai dewa. Seluruh sistem perpajakan adalah penyembahan berhala. Namun, banyak orang Farisi tetap membayar pajak agar mereka tetap hidup.

Pesan yang biasanya kita dengar dari Injil hari ini adalah Yesus yang cerdik mengalahkan para Farisi dan Herodian yang ingin menjebak Dia dengan pertanyaan yang rumit. Namun, sebenarnya, ada banyak hal yang dipertaruhkan di sini. Meskipun pertanyaan itu ditujukan kepada Yesus, pertanyaan yang sama berlaku untuk semua orang Yahudi yang terpaksa membayar pajak kepada bangsa Romawi. Dengan demikian, jika mereka menuduh Yesus sebagai penyembah berhala, mereka juga menuduh mayoritas orang Yahudi untuk membayar pajak.

Jawaban Yesus bukanlah jawaban kategoris ya atau tidak, tetapi ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak hanya menyelamatkan-Nya dari perangkap, tapi juga menyelamatkan setiap orang yang terpaksa membayar pajak dari tuduhan sebagai penyembah berhala. Orang-orang Yahudi yang sederhana harus bekerja sangat keras bagi keluarga mereka, dan terpaksa membayar pajak demi keselamatan diri mereka. Tidak cukup, para Farisi menuduh mereka sebagai penyembah berhala karena membayar pajak. Ini sungguh kejam karena para Farisi ini yang seharusnya menjadi contoh kekudusan, justru menjauhkan banyak orang jadi Tuhan. Syukurlah, jawaban Yesus menyingkirkan rasa bersalah ini dari orang-orang Yahudi yang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka. Ini bukanlah sekedar membayar pajak, tetapi sungguh menjadi kudus di hadapan Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita mungkin taat membayar pajak kita kepada pemerintah dan hidup sebagai warga negara yang patuh hukum, tetapi sekali lagi Injil hari ini bukanlah sekedar tentang membayar pajak. Apakah kita, seperti orang-orang Farisi, hanya mau menjadi suci sendiri dengan menjadi sangat aktif di Gereja dan memberi kolekte besar, tetapi malah menghalangi sesama yang ingin menjadi kudus? Apakah kita sekedar menghakimi dan mencibir mereka yang tidak bisa aktif di Gereja karena harus bekerja keras menghidupi keluarga mereka? Apakah kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan atau malah melakukan hal yang sebaliknya?

 

 

Pasionis bertugas ke seluruh dunia untuk bangkitkan pendosa lewat pewartaan sengsara Yesus

Min, 22/10/2017 - 02:38

Santo Paulus dari Salib mendirikan Congregatio Passionis Iesu Christi (Kongregasi Pasionis, CP) dengan tujuan supaya ada orang yang mati bagi dunia dan hidup hanya bagi Allah. Sebagai nafiri, mereka akan pergi ke segala penjuru dunia untuk membangkitkan orang pendosa dengan mewartakan sengsara Yesus Kristus, karya terbesar dan mengagumkan dari cinta kasih Allah.

Pastor Martinus Jeruit CP berbicara dalam homili Misa Syukur atas rahmat dari Santo Paulus dari Salib, yang dirayakan oleh Keluarga Besar Kongregasi Pasionis Pontianak bersama umat dan para biarawan dan biarawati yang berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, di Gereja Santo Hironimus Tanjung Hulu Pontianak, Kalbar, 19 Oktober 2017. Orang kudus itu meninggal di Roma, 18 Oktober 1775.

“Semoga kita semakin menyadari makna di balik lambang Kongregasi Pasionis, di mana kita mengikuti Yesus untuk menjadi pewarta sabda salib-Nya. Passio kita tidak hanya rasa sakit. Passio kita saat ini ialah menghadapi setiap tantangan yang muncul dari diri kita masing-masing, karena justru dalam setiap tantangan itulah kita menemukan apa yang dialami oleh Yesus sendiri ketika Ia harus mengorbankan diri-Nya untuk hidup kita,” lanjut Pastor Jeruit.

Imam itu lalu mengajak Keluarga Pasionis untuk menghayati semangat Pasionis dan segala sesuatu sebaik mungkin. “Dalam nama Yesus Kristus di salib, kita yakin bisa menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia,” tegas Pastor Jeruit yang didampingi konselebran Pastor Pius Barces CP, Pastor Gregorius Sabinus CP, Pastor Damianus Juin CP, Pastor0 Amsori CP, dan Pastor Edmund Nantes OP.

Buku pengantar Misa itu menceritakan bahwa Paulus Fransiskus, nama kecil Santo Paulus dari Salib,  lahir di Ovada, Genoa, Italia Utara, tanggal 3 Januari 1694, sebagai anak kedua dari 16 anak dari Lukas Danei, seorang pedagang kain yang kaya raya dan sangat baik. Bersama isterinya,  Anna Maria Massari, mereka menjadi teladan bagi keluarga-keluarga Kristen di Ovada.

Di bawah bimbingan orangtuanya, Paulus bertumbuh dewasa menjadi seorang yang beriman teguh. Semenjak kecil ia sudah diarahkan oleh ibunya untuk menghayati penderitaan Kristus. Apabila ia menangis karena luka-luka kecil di badannya, ibunya selalu mengatakan bahwa Yesus dahulu menderita luka-luka yang jauh lebih berat.

Tahun 1720, Paulus mengalami penampakan ajaib. Tiba-tiba nama Yesus dengan huruf putih serta gambar salib tertera pada bagian dada jubah hitamnya. Penampakan ajaib itu terjadi tiga kali. Pada penampakan ketiga, Bunda Maria berpesan agar dia mendirikan tarekat religius yang khusus menghayati Sengsara Kristus dan meningkatkan kebaktian kepada-Nya. Anggota-anggota tarekat itu pun diminta berpakaian seperti yang tampak dalam penglihatan itu.

Tanggal berdiri CP adalah 22 November 1720 saat Uskup Alessandria memberikan kepada Paulus sebuah jubah hitam Pasionis. Setelah menerima jubah itu Paulus menyendiri di sebuah bilik gereja San Carlo di Castellazzo selama 40 hari (23 November 1720 – 1 Januari 1721) dan menulis Regula Kongregasi Pasionis.

Menurut Pastor Jeruit, jubah hitam melambangkan tanda perkabungan. “Maria dalam penampakan itu mengartikan warna hitam sebagai tanda perkabungan. Sang Bunda berkabung karena sengsara Putranya, terlebih karena kematian Putranya di salib untuk menebus dosa kita. Putranya wafat dan karena itu, Yesus tidak ada di dunia bersama bunda-Nya karena Ia harus turun ke tempat penantian, masuk dalam kegelapan, ketiadaan, dan kehampaan.”

Selain menghayati salib dan sengsara Yesus, Pasionis meletakkan cinta kasih persaudaraan sebagai  identitas dalam kongregasinya. Dalam kongregasi itu, lanjut imam itu, setiap anggota saling mendukung, saling menyapa, saling berbagi, karena dalam kasih persaudaraan tidak ada perbedaan, semua dipanggil melakukan kehendak Allah.

Tahun 1727, Paulus ditahbiskan menjadi imam, dan menjadi pengkhotbah yang disukai umat. Biara pertama didirikannya di Monte Argentaro. Setelah lama berjuang mewujudkan pesan Bunda Maria, tarekatnya diakui sah oleh Takhta Suci. Setelah itu Paulus giat mendirikan biara di berbagai tempat hingga 11 biara. Selain tarekat untuk para imam, di tahun 1771 Paulus mendirikan Tarekat Suster-Suster Passionis. (mssfic)

Pastor Martinus Jeruit CP

Sabtu, 21 Oktober 2017

Sab, 21/10/2017 - 13:10

PEKAN BIASA XXVIII (H)

Santo Hilarion dari Gaza; Santa Ursula dkk.

Bacaan I: Rm. 4:13.16-8

Mazmur: 105:6-9.42-43; R: 8a

Bacaan Injil: Luk. 12:8-12

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.”

Renungan

Sikap yang mengagumkan ditunjukkan oleh seorang kepala daerah yang bangga menyebut dan mengakui dirinya seorang Katolik dalam berbagai kesempatan. Walau disadari secara politis kurang menguntungkan, mengingat penghargaan atas perbedaan iman masih kurang mendapat porsi yang berimbang di negara ini. Ia mengatakan bahwa hal yang memberanikan dirinya adalah karena iman akan Yesus Kristus. Menurutnya, iman akan menjaga dan menyelamatkannya dari keinginan serta kekuatan jahat entah dari mana pun dan apa pun bentuknya.

Yesus mengajarkan para murid keberanian dan kesetiaan untuk mengakui iman mereka dalam situasi apa pun. Mengapa? Karena Yesus sendiri menyertai dan membela mereka dalam menghadapi berbagai konsekuensi dari warta dan iman tersebut. Jaminan penyertaan itu ditegaskan dalam diri Roh Kudus yang mendampingi dan membela para murid. Penyertaan Yesus inilah yang menjadi kekuatan serta peneguhan bagi setiap orang beriman.

Rasul Paulus menunjukkan buah dari sikap beriman dalam diri Abraham. Meski secara manusiawi tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham tetap berharap dan percaya akan janji Allah. Harapan dan kepercayaan Abraham menyata dalam kasih karunia yang diterimanya. ”Engkau telah kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” (Rm. 4:17a). Semoga iman kita pun berbuah nyata dalam kesaksian dan pengalaman hidup harian kita.

Tuhan Yesus, tambahkanlah imanku. Kuatkanlah aku agar berani memberikan kesaksian iman akan Dikau di mana pun aku berada. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Paus belasungkawa atas pembunuhan wartawan Malta yang sedang selidiki korupsi

Sab, 21/10/2017 - 01:01

Paus Fransiskus menyampaikan ucapan belasungkawa atas pembunuhan jurnalis dari Malta, yang tengah menyelidiki korupsi di antara para politisi terkemuka di negara pulau kecil di Mediterania itu.

“Sedih atas kematian tragis Daphne Caruana Galizia, Yang Mulia Paus Fransiskus berdoa untuk istirahat kekalnya, dan meminta Anda menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarganya,” tulis Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin dalam telegram yang dikirim atas nama Paus kepada Uskup Agung Malta Mgr Charles Scicluna.

“Kepada Anda, Bapa Suci juga memastikan kedekatan spiritualnya dengan orang-orang Malta di saat sulit ini, dan memohon berkat Tuhan atas bangsa ini,” tulis kardinal itu.

Caruana Galizia, blogger terkenal dan kritikus pedas terhadap pemerintah dan pihak oposisi, terbunuh di hari Senin, 16 Oktober 2017, dalam ledakan dahsyat yang menghancurkan mobilnya saat dia meninggalkan rumahnya di daerah pedesaan di bagian utara Malta yang sangat Katolik itu.

Polisi Malta mengatakan tanggal 19 Oktobner 2017 bahwa mereka percaya Caruana Galizia dibunuh dengan bom yang terpasang di bawah mobilnya, namun dikendalikan dari jarak jauh.

Pembunuhan jurnalis berusia 53 tahun itu mengejutkan negara itu. Tiga putranya meminta pengunduran diri Perdana Menteri Joseph Muscat. Caruana Galizia adalah salah satu kritikus paling keras terhadap Muscat. Dia sedang berupaya mengungkapkan hubungan istrinya serta anggota-anggota pemerintahannya dengan perusahaan shell di Panama. Tuduhan itu ditolak oleh Muscats.

Uni Eropa, yang juga beranggotakan Malta, dan sekelompok pakar hak asasi manusia PBB menuntut penyelidikan independen yang cepat atas pembunuhan itu.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Para wartawan di Valletta, Malta, memprotes pembunuhan wartawan investigatif Daphne Caruana Galizia, REUTERS

Katedral Sintang Diresmikan: Mgr Samuel Oton Sidin terima kasih kepada Mgr Agus, Gubernur Cornelis

Jum, 20/10/2017 - 20:18

  

Gereja Katedral Sintang yang dipersembahkan kepada Kristus Raja sebagai pelindungnya sudah diresmikan dan konsekrasi minggu lalu, dan dalam perayaan itu Uskup Sintang Mgr Samuel Oton Sidin menyadari akan besarnya belas kasih Allah dan keterlibatan banyak orang dan banyak pihak, khususnya Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus “yang menggagas pembangunan katedral ini dalam kebersamaan dengan Gubernur Kalbar Cornelis.”

Gubernur Gornelis sudah meresmikan Katedral Kristus Raja Sintang tanggal 14 Oktober 2017 dan Mgr Agustinus Agus mengkonsekrasi katedral seluas 780 meter persegi dan dapat menampung 1.200 umat itu tanggal 15 Oktober 2015 dalam Misa yang dipimpinnya bersama konselebran Mgr Samuel Oton Sidin dan Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi dan beberapa imam.

Uskup Sintang menegaskan, Mgr Agus bukan saja menggagas melainkan memproses dan menggiring pembangunan gereja itu sampai selesai, sedangkan Gubernur Cornelis bukan hanya menggagas pembangunan itu bersama Mgr Agus “tetapi juga mengucurkan sumbangan finansial yang sungguh besar bagi pembangunannya.” Peletakan batu pertama berlangsung 21 November 2014 oleh Gubernur Kalbar, pembangun fisik dimulai 31 Januari 2015 serta dan selesai 10 Oktober 2017.

Banyak orang dan pihak yang membantu terbangunnya gereja katedral itu dengan berbagai bentuk dan cara “yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu namanya, kami juga haturkan terima kasih setulus-tulusnya dari sanubari kami yang terdalam,” kata uskup seraya mengatakan bahwa nama-nama para donatur akan dicantumkan pada marmer yang akan dipasang pada salah satu bagian katedral itu. Uskup mohon maaf karena tidak semua nama akan tercantum di situ, “namun kiranya semua tercakup.”

Dalam sambutan, Uskup Sintang paparkan hakikat gereja katedral dan peranannya dalam keuskupan. “Gereja katedral adalah tempat tahta uskup, tanda kekuasaan dan kekuatan gembala dalam Gereja partikular dan tanda kesatuan orang-orang yang percaya dalam iman yang diwartakan Yesus selaku gembala kawanan domba,” kata uskup seraya menegaskan keagungan arsitekturnya menggambarkan kenisah rohani yang dibangun dalam setiap jiwa, sebagai “Bait Suci Allah yang hidup.”

Gereja katedral, lanjut Mgr Samuel Oton Sidin, harus dianggap pusat liturgi keuskupan dan induk gereja di setiap keuskupan. “Dalam hati setiap umat harus ditanamkan cinta dan penghormatan kepada katedral ini. Untuk tujuan itu, sungguh bermanfaat mengadakan perayaan tahunan pembaktian dan peziarahan,” kata uskup seraya menambahkan bahwa katedral juga menjadi contoh bagi gereja-gereja lain di keuskupan tentang tata letak dan ornamen gereja menurut penetapan buku-buku liturgi dan dokumen-dokumen terkait. “Maka tidak bisa diatur hanya menurut selera pribadi.”

Juga ditegaskan, tahta uskup hanya satu dan tetap dan ditempatkan sedemikian rupa agar uskup tampak benar-benar memimpin seluruh umat dalam perayaan. “Karena uskup mengurus Gereja partikular yang dipercayakan kepadanya bukan saja dengan nasihat, ajaran dan teladan tetapi kewibawaan dan kuasa suci yang diterima melalui tahbisannya,” kata Uskup Sintang seraya meminta umat bersatu dengan uskup seperti Gereja menyatu dengan Kristus dan Kristus dengan Bapa agar semua sehati sejiwa demi kemuliaan Allah dan menyadari bahwa manifestasi utama Gereja terdapat dalam peranserta yang penuh dan aktif seluruh umat dalam perayaan-perayaan liturgi terutama dalam Ekaristi dalam doa bersama.

Katedral megah bergaya semi gotik berpadu dengan ornamen suku Dayak kini berdiri di Sintang. “Sudah lama saya bermimpi untuk bisa membangun Katedral Kristus Raja Sintang. Mimpi saya itu, kini terwujud. Lega rasanya. Di akhir masa jabatan sebagai Uskup dan Administrator Apostolik Keuskupan Sintang, saya dapat menyelesaikan dan memenuhi harapan umat Keuskupan Sintang,” kata Mgr Agus yang mengaku sempat meneteskan air mata saat peresmian katedral oleh Gubernur Cornelis.

Kemegahan Katedral Sintang terlihat dengan jelas dari luar. Namun semua itu menjadi lengkap saat memasuki pintu utama dan melihat gambar La Disputa tentang Sakramen Mahakudus di plafon, barisan pilar kiri dan kanan penyangga atap variasi ‘les’ menyerupai ranting dan daun sebagai simbol pohon kehidupan, gambar-gambar pada plafon yang melukiskan peristiwa-peristiwa Penciptaan hingga Kenaikan Yesus, lukisan Jalan Salib, 12 rasul dan orang-orang kudus di ventilasi dan jendela, lukisan tujuh Sakramen di sayap kiri di atas pintu masuk, dan foto uskup-uskup yang pernah bertugas di Keuskupan Sintang.

Selain altar yang dihiasi Anak Domba Allah dan Burung Pelikan, yang keduanya melambangkan pengorbanan sejati, katedral gotik ini nampak tinggi, lebar dan lengkung pada pintu, jendela dan ornamen. Banyaknya jendela membuat cahaya menerangi ruangan gereja di siang hari, ruangan tersebut di kala siang. Ornamen-ornamen khas Dayak nampak menyatu pada pintu dan bagian-bagian lain.

Di depan, di antara jejeran bangku utama yang kiri dan yang kanan ada “titik fokus” yang tegak lurus ke plafon gereja. Titik fokus itu dirancang dengan keramik khusus dan menunjukkan arah pengutusan.

Semua yang ada dalam katedral ini ada maknanya. Mgr Agus menjelaskan semuanya dan memperkenalkan semua yang terlibat dalam pembangunan itu. Demi membangun tanpa melupakan sejarah, candi katedral yang lama masih tetap dipertahankan guna menghargai apa yang dilakukan umat dan pimpinan Gereja zaman dulu.

“Kami mohon kepada-Mu, sudilah Engkau memberkati cathedra dan kursi imam ini. Berilah supaya mereka yang duduk di kursi ini, mewartakan sabda-Mu dengan semangat dan membagi-bagikan misteri-Mu dengan pantas. Semoga melalui mereka yang Kau pilih sebagai rekan pengajar kebenaran Engkau menghidupi umat-Mu …” demikian Mgr Agus ketika memberkati cathedra dan kursi imam.

Setelah Mgr Agus memberkati ambo dan mimbar, serta ruang pengakuan dosa, dia bersama Mgr Samuel Oton Sidin dan Mgr Pius Riana Prapdi memerciki umat di dalam dan luar gereja dan sekeliling tembok gereja, juga pastoran, patung Bunda Maria, gambar-gambar kudus, dan patung Santo Yosef, serta patung Kristus Raja di halaman gereja.

Lagu Vidi Aquam dan Asperges Me terdengar saat pemercikan berlangsung. Dan setelah pemercikan selesai Mgr Agus berdoa, ”Semoga Allah, Bapa yang penuh belaskasihan tinggal di dalam rumah doa ini. Semoga Rahmat Roh Kudus membersihkan kita, karena kita adalah kenisah kehadiran-Nya.”(aop)

Jumat, 20 Oktober 2017

Jum, 20/10/2017 - 11:07

PEKAN BIASA XXVIII (H)
Santa Maria Bertilla Boscardin; Santo Yohanes Paulus II, Paus; Santa Irene dari Portugal, Santa Maria – Theresia Soubiran

Bacaan I: Rm. 4:1-8
Mazmur: 32:1-2.5.11; R: 7
Bacaan Injil: Luk. 12:1-7

Sekali peristiwa, berkerumunlah beribu-ribu orang, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.”

Renungan

Abraham adalah Bapa orang beriman. Oleh kepercayaannya Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (bdk. Rm. 4:3). Paulus menunjukkan sikap keberimanan Abraham sebagai teladan bagi orang-orang beriman. Sikap beriman Abraham membawa kepenuhan janji bagi bangsa Israel. Ia adalah nenek moyang mereka yang beriman.

Lukas dalam Injilnya menceritakan bagaimana Yesus memberikan pengajaran khusus bagi murid-murid. Ajaran tersebut mengingatkan dan menegaskan para murid untuk selalu jujur dan terbuka terhadap Allah dan sesama. Yesus menekankan sikap hidup jujur dan percaya. Abraham sebagai bapa orang beriman ditampilkan kembali. Ia tampil sebagai sosok yang mewakili cara beriman bagi manusia. Sikap yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid ialah agar mereka memiliki sikap takut dan setia akan Allah. Inilah kemegahan yang telah ditunjukkan Abraham. Ia menerima tugas perutusan dari Allah dengan iman yang gembira dan kuat. Martabat kemanusiaan kita diangkat kembali karena Allah memberikan cinta-Nya. Setiap kita diteguhkan untuk berani mengakui dan mengimani Yesus sebagai Penyelamat. Apakah kita sudah menghidupi iman secara konkret? Bagaimana iman dapat dinyatakan dalam tindakan sehari-hari?

Tuhan Yesus, bantulah aku untuk selalu jujur dalam hidup. Bukalah hatiku agar berani mengakui dan mengimani Engkau sebagai Tuhan, di mana pun aku berada. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Paus adalah “mercu suar pengharapan” yang wujudkan persatuan yang sedang kita upayakan

Kam, 19/10/2017 - 21:19

Para teolog Metodis dan Katolik bertemu di luar Roma minggu ini untuk memperingati 50 tahun berlangsungnya kelompok dialog ekumenis pertama mereka setelah Konsili Vatikan II. Sesi pertama dari Komisi Internasional Katolik-Motodis itu diadakan di kota berbukit Ariccia itu di bulan Oktober 1967.

Tanggal 19 Oktober 2017, Paus Fransiskus bertemu dengan anggota-anggota Komisi itu saat ini bersama para pemimpin Dewan Metodis se-Dunia. Saat itu Paus mengatakan bahwa setengah  abad dialog telah “membebaskan kita dari keterasingan dan kecurigaan dan membantu kita untuk saling mengenal sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.”

Dalam pembicaraan dengan Philippa Hitchen dari Radio Vatikan, Uskup Metodis Afrika Selatan Ivan Abrahams yang bertugas sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Metodis se-Dunia memuji cara Paus Fransiskus menjangkau generasi muda. “Dia adalah ‘mercu suar pengharapan’ dan ‘seseorang yang mewujudkan persatuan yang sedang kita upayakan untuk dijalani,’” katanya.

Namun, meski Abrahams menegaskan bahwa kerja sama praktis mengenai isu-isu seperti migrasi, pengungsi atau perubahan iklim itu penting, konsensus dalam dialog teologis tetap penting karena “kita perlu mengklarifikasi beberapa hal agar kita bisa berjalan bersama.”

Abrahams juga mengangkat buah-buah konkret perjalanan ekumenis itu dengan mengatakan bahwa dua bahan utama yang menandai “perjalanan atau ziarah selama 50 tahun” ini adalah cinta dan kepercayaan yang telah dibangun dan tercermin dalam tujuh laporan bersama yang telah dihasilkan sejauh ini.

Salah satu tantangan besar, katanya, adalah bagaimana membuat buah-buah dialog itu “meresap ke tingkat lokal dan kita perlu melihat cara melakukannya dengan lebih efektif.”

Dikatakan, laporan dialog terakhir berjudul ‘Panggilan menuju Kekudusan: dari kemuliaan menuju kemuliaan’ menekankan bahwa upaya persatuan adalah “bagian mendasar dari misi dan kesaksian kita kepada dunia, untuk melihat terwujudnya doa imamat agung Yesus.”

Berbicara tentang situasi di negara asalnya Afrika Selatan, Abrahams mengatakan bahwa ia melihat kematian apartheid pada masa hidupnya dan “Saya berharap dalam hidup saya ini bisa melihat kenyataan bahwa ‘mereka menyatu’.”

Berbicara tentang model kepemimpinan Metodis, dia mengatakan tidak ada kompromi pada isu-isu utama dalam iman, namun “kita tidak menerapkan model ‘satu ukuran untuk semua’, dengan membiarkan berbagai konferensi otonomi membuat keputusan sendiri seputar misi dan kesaksian.

Ketika ditanya tentang upaya-upaya Paus Fransiskus untuk memberikan kepada konferensi-konferensi  para uskup Katolik setempat lebih banyak otonomi dalam mengambil keputusan pastoral, Abrahams mengatakan, “Saya pikir itu benar-benar merupakan satu-satunya cara, kalau kita berbicara tentang integritas Injil, karena setiap konteks budaya jelas-jelas berbeda.”(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Kamis, 18 Oktober 2017

Kam, 19/10/2017 - 13:13

PEKAN BIASA XXVIII (H)
Santo Paulus dari Salib; Santo Petrus dari Alkantara

Bacaan I: Rm. 3:21-30
Mazmur: 130:1-6; R: 7
Bacaan Injil: Luk. 11:47-54

Sekali peristiwa, tatkala duduk makan di rumah seorang Farisi, Yesus berkata: “Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.

Renungan

Yesus mengecam kepalsuan dan kemunafikan. Kecaman itu menjadi lebih tajam karena ditujukan terhadap mereka yang diberi mandat untuk menuntun hidup sesamanya namun tidak dilakukan, dengan rupa-rupa argumen yang menyesatkan. Kepalsuan dan kemunafikan semakin menyata dengan alasan nama baik, jabatan, kehormatan, dan demi popularitas. Kepalsuan berarti menutupi apa yang seharusnya dinyatakan adanya atau tidak menampilkan diri sejatinya. Sementara kemunafikan menyata dalam sikap, bicara, dan tindakan yang seolah-olah suci, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang dikemukakan. Terhadap sikap demikian kecaman Yesus menjadi aktual dan mendalam. Sikap dan tindakan hidup hendaknya didasari oleh iman. Iman mendorong kita untuk berbuat kebaikan dan memberikan kehidupan bagi sesama.

Paulus menyerukan tentang Allah yang satu dan universal. Kasih sayang Allah terbuka untuk siapa saja yang hidup berlandaskan iman. Kasih setia Allah telah nyata dalam diri Yesus Kristus yang menebus kita secara cuma-cuma. Atas dasar inilah selayaknya kita bergembira dan bermegah karena iman, bukan karena kecemerlangan intelektual, popularitas atau jabatan semata.

Apakah kita sungguh hidup jujur dalam beriman? Bersediakah kita berbuat baik bagi sesama di sekitar kita?

Tuhan Yesus, berilah aku sikap kejujuran dan ketulusan. Semoga aku mampu bersyukur atas kasih-Mu dalam hidup hari demi hari. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Anak 15 tahun jadi Asdep Kesetaraan Gender Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Pembangunan Keluarga

Kam, 19/10/2017 - 04:20

Paula Theresa Putri Jeremi Silewe adalah nama lengkap dari Tesya yang masih berusia 15 tahun, namun tanggal 11 Oktober 2017 dia resmi menggantikan posisi Budi Mardaya, S.E. M.Si, Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Pembangunan Keluarga di Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Jakarta.

Dalam rapat bersama Menteri KPPA dan Sekretaris Menteri, semua Deputi dan semua Asisten Deputi, “Saya menyampaikan berbagai masalah tentang kesetaraan gender yang belum tercapai jika masih adanya stereotype masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Akibatnya hak-hak perempuan dan anak perempuan belum dapat terpenuhi secara keseluruhan. Perempuan dan laki-laki memang berbeda secara biologis namun jangan dibedakan kesempatan mereka,” kata Tesya.

Semua pengambil keputusan itu adalah anak muda. Tesya sendiri adalah murid dari SMAK Frateran Maumere Flores NTT. Memperingati Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh pada hari itu, 21 anak mengikuti program Sehari Jadi Menteri (SJM) 2017 yang berlangsung tanggal 6-12 Oktober 2017 di KPPA Jakarta. Posisi menteri itu diganti oleh Ayu Juwita (19) dari Sumatera Utara.

Tema program itu di tahun ini adalah “Stop Perkawinan Usia Anak.” Dalam rapat itu, Tesya yang merupakan anak pertama pasangan Yeremias Dewa dan Aseldi Lio Utapara menegaskan bahwa perkawinan usia anak adalah salah satu permasalahan yang berpengaruh pada hak-hak perempuan.

“Perkawinan usia anak membawa dampak yang sangat besar pada kemiskinan, putus sekolah dan kesehatan. Perkawinan usia anak disebabkan oleh banyak aspek antara lain budaya, ekonomi, lingkungan, kesenjangan sosial dan pergaulan bebas,” tegas Tesya seraya menambahkan bahwa hal itu sangat mempengaruhi tidak terpenuhinya hak anak perempuan.

Oleh karena itu, lanjut Tesya, para peserta SJM yang merupakan hasil seleksi dari 1800 anak Indonesia yang dilakukan oleh Plan International Indonesia, Aliansi AKSI, dan KPPPA, “harus mampu memberikan rekomendasi kepada KPPA agar dapat meminimalisir Perkawinan Usia Anak.”

Tesya mengakui materi yang diberikan pada kegiatan SJM sangat bermanfaat bagi kaum muda zaman sekarang yakni kepemimpinan transformatif, hak-hak yang harus didapat oleh anak, public speaking dan Pendidikan Ketrampilan Hidup Sehat.

“SJM merupakan salah satu kegiatan untuk mendukung dan membuktikan bahwa anak perempuan bisa menjadi pemimpin. Kegiatan ini sangat bermanfaat agar pandangan masyarakat terhadap anak perempuan bahwa pekerjaannya hanya di rumah dapat berubah,” katanya.

SJM adalah implementasi dari gerakan BIAAG (Because I Am A Girl) yang dilakukan untuk mendukung anak perempuan agar dapat memimpin dan mengambil keputusan penting bagi mereka. Gerakan ini pun mendukung gerakan global yang dipimpin perempuan untuk hak anak perempuan dan kesetaraan gender. (Yuven Fernandez)

Sr Alberta OP: Saya mau hidup sebagai Perawan Kristus yang miskin dan taat sampai ajal saya

Rab, 18/10/2017 - 02:30

“Suster, perkenankanlah saya atas nama Gereja bertanya, apa yang suster harapkan dari Tuhan dan dari Gereja-Nya yang kudus?” tanya Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang dijawab oleh Suster Maria Alberta OP, “Bapak Uskup, saya mengharapkan agar saya diperkenankan mengikuti Kristus dengan hidup sebagai biarawati dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia yang telah saya pilih.”

Uskup Bandung yang juga uskup dari kongregasi itu bertanya dalam Upacara Kaul Kebiaraan dalam Misa Perayaan Syukur Profesi Kekal Suster M Alberta OP dan Hidup Membiara 50 tahun Suster M Assumpta OP dan Suster M Yohana OP, 40 tahun Suster M Chatharina OP dan Suster M Christa OP, serta 25 tahun Suster M Charlie OP, Suster Mariana OP, dan Suster M Vianita OP di Katedral Kristus Raja Purwokerto, 15 Oktober 2017. Suster Assumpta tidak hadir karena kakaknya meninggal dunia.

“Apakah Suster sungguh-sungguh bersedia menerima segala konsekuensi dalam mengikuti Kristus dengan hidup sebagai Perawan Kristus yang miskin dan taat?” Pertanyaan lanjutan itu dijawab oleh Suster Alberta dengan mengatakan, “Dengan bantuan Rahmat Allah saya bersedia menerima segala konsekuensi dari penyerahan diri saya kepada Tuhan.”

Menurut Mgr Subianto, Santo Dominikus memberi contoh berpakaian yang pas dan pantas dalam perjamuan Tuhan dengan menjadikan hidupnya suci dan kudus, maka para pestawati ditanya apakah mereka sudah menyiapkan diri dengan pakaian pas “yaitu berbuat, berkata dan berdoa secara pantas sesuai tuntutan kaul dengan segala konsekuensinya?” karena “Allah akan kecewa kalau kita ucapkan kaul keperawanan, kemiskinan dan ketaatan, tapi pakaian hidup kita, yaitu hati, budi dan aksi, tidak pantas sebagai orang berkaul.”

Setelah homili dan Syahadat Para Rasul, Suster Alberta ditanya kesediaan untuk membaktikan diri lebih penuh kepada Allah dan mengikuti Yesus dan Bunda-Nya dalam keperawanan, kemiskinan dan ketaatan. “Saya Bersedia,” jawab suster yang lalu bertiarap depan altar saat terdengar Litani Para Kudus.

Suster Alberta pun mengikrarkan kaul kekal dalam perayaan yang dihadiri sekitar 400 orang termasuk belasan saudara para pestawati yang beragama Islam, para suster dan awam Dominikan, serta orangtua, kakak-adik dan saudara para pestawati menghadiri Misa.

“Saya Suster Maria Alberta, mengucapkan kaul dan berjanji akan taat kepada Tuhan, kepada Santa Perawan Maria, kepada Santo Dominikus dan kepada Suster Anna Marie Dwiyanti Suprihastuti OP selaku Pemimpin Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia dan para penggantinya, sesuai dengan Regula Santo Agustinus dan Konstitusi Kongregasi ini. Saya mau hidup sebagai Perawan Kristus yang bersikap taat, miskin seperti Kristus sampai waktu ajal saya,” demikian kaul Suster Alberta.

Guna menyatukan diri dengan wafat dan kebangkitan Yesus, mengingatkan ikatan kaul, dan setia pada janji yang diikrarkan, Suster Anna Marie OP menyerahkan salib dan cincin yang diberkati oleh Mgr Subianto kepada Suster Alberta.

 

Lebih dari 60 suster OP yang sudah kaul kekal kemudian mengelilingi meja altar. Sementara itu, di tengah lagu “Doa Seorang Anak,” Suster Alberta memohon restu orangtuanya. Sesudah mendapat restu, suster itu dibawa masuk ke dalam kelompok lingkaran itu dan Suster Anna Marie OP sebagai pemimpin umum berseru: “Dengan ini saya menyatakan bahwa Suster Maria Alberta diterima secara definitif dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia.”

 

Dalam Misa dengan tema “Aku Ini Hamba Tuhan, Terjadilah Padaku Menurut Perkataan-Mu” itu, Mgr Subianto ditemani 13 konselebran antara lain Administrator Keuskupan Purwokerto Pastor Tarsisius Puryatno Pr, Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Pastor Bonifasius Abbas Pr, Provinsial MSC Pastor Johny Luntungan MSC yang merupakan sepupu dari Suster Alberta OP dan Provinsial Oblat Maria Immaculata Pastor Antonius Rajabana OMI, dan tiga imam lain yang merupakan kakak dari tiga pestawati.

 

Suster Anna Marie berterima kasih kepada Mgr Subianto dan para imam yang hadir, serta keluarga-keluarga para pestawati yang turut menyemai dan mendukung putri-putrinya dalam kongregasinya.

 

Menurut Agnes Tikoalu, ibu dari Suster Alberta, dia tak menyangka bahwa Alberta mau menjadi suster. “Itu semua rencana Tuhan. Anak terkecil dari empat bersaudara, yang ketika kecil tomboi, seperti lelaki, dan tak suka pakai rok itu, sudah menyelesaikan studi periklanan di Universitas Indonesia, tiba-tiba mengatakan mau masuk biara,” kata Agnes, yang bersama Suster Angelica OP turut mendirikan TK Boncel di tahun 1983 dan menjadi suami dari seseorang yang pernah aktif sebagai ketua wilayah dan prodiakon di Paroki Jagakarsa, Jakarta.

 

Suasana persaudaraan yang sudah dimulai dalam acara bersama di malam pesta itu, berlanjut dengan makan siang bersama sesudah Misa, yang diawali dengan pemotongan tumpeng secara bersama oleh para pestawati yang potongan pertama diserahkan oleh Suster Yohana OP kepada Mgr Subianto.(paul c pati)

Selasa, 17 Oktober 2017

Sel, 17/10/2017 - 13:25

PEKAN BIASA XXVIII
Peringatan Wajib Santo Ignatius dari Antiokhia, Uskup dan Martir (M)

Bacaan I: Rm. 1:16-25
Mazmur: 19:2-5; R:2a
Bacaan Injil: Luk. 11:37-41

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: ”Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”

Renungan

Adalah hal yang lumrah dan sopan, serta sehat, bila mencuci tangan sebelum makan. Tindakan sedemikian diajarkan turun temurun sebagai sikap santun dan peduli kesehatan. Kebiasaan manusiawi ini dikaitkan Yesus dalam pengajaran akan tindak kejujuran dan ketulusan. Kecaman yang dikemukakan-Nya menunjukkan betapa sering manusia memoles sikap, hidup, dan tindakannya hanya karena aturan, gaya, ikut-ikutan, martabat atau pun demi keuntungan diri. Dalam keseharian terungkap dengan istilah ”hanya casing-nya saja”. Yesus mengecam sikap demikian. Sikap hidup dan perbuatan hendaknya selaras dengan hati (bdk. Luk. 11:39).

Rasul Paulus dengan tegas kembali mengajarkan bahwa ”Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm. 1:16). Injil menuntun orang kepada iman dan keselamatan. Mengatakan diri beriman berarti kita mesti hidup sesuai dengan iman. Iman bukan sekadar wacana verbal dalam diskusi dan argumen logis (bdk. Rm. 1:21). Iman mesti menyata dalam tindakan hidup dan perbuatan yang sesuai kehendak serta kebenaran Ilahi.

Sejauh manakah kita telah menghidupi iman secara sungguh? Niat apa yang hendak kita lakukan agar iman semakin teguh?

Yesus yang baik, ajarilah aku untuk mewujudnyatakan imanku akan Dikau dalam hidup dan tindakan sehari-hari. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Peringatan 100 Tahun Penampakan Maria di Fatima ditandai pelepasan balon berbentuk Rosario

Sel, 17/10/2017 - 01:23

Ribuan umat Katolik dari 36 paroki di Keuskupan Maumere, Flores, NTT, mengadakan ziarah di Sanctuarium Wisung Fatima Lela, 27 kilometer arah Selatan Kota Maumere, untuk memperingati 100 Tahun Penampakan Maria di Fatima, 13 Oktober 2017.

Sebelum memimpin Misa, Uskup Maumere Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD menandai perayaan itu dengan pelepasan balon berbentuk Rosario.

Mgr Kherubim mengatakan, penampakan Maria di Fatima ditandai dengan matahari yang berputar-putar mengelilingi manusia dan hujan yang mengguyur Fatima. “Akibat dari penampakan di Fatima itu, banyak orang berdosa berbalik kepada Tuhan dan runtuhnya komunis di Eropa. Pada kesempatan itu umat berdoa juga secara khusus kepada komunis untuk berbalik kepada Allah,” kata Uskup Kheru.

Kepala Paroki Santo Thomas Morus Maumere Pastor Lorens Noi Pr mengangkat kembali dalam homilinya tentang musibah Kota Renha Larantuka, 27 Pebruari 1979, saat air bah dari Ile Mandiri memporakporandakan Larantuka.

Banyak rumah terhanyut ke laut. Kota Larantuka seketika berubah. Manusia banyak terseret ke laut. Seorang putri cilik pun ikut terseret. Anehnya, beberapa hari kemudian putri cilik itu ditemukan dan dirawat di rumah sakit.

“Rasa duka kedua orang tuanya berubah menjadi tangis sukacita. Mereka membawa putri cilik itu ke sebuah kapela yang berkhasiat ilahi. Ketika koster membawa keluar patung Bunda Maria, sontak putri cilik itu mengatakan kepada orangtuanya, ‘mama ini yang memegang tangan saya dan menghantar saya ke pantai.” Mama itu adalah Bunda Maria. Kini putri cilik itu telah menjadi suster,” cerita Pastor Lorens.

Pastor Lorens lalu berpesan kepada para peziarah untuk bersama Bunda Maria mengadakan revolusi moral politik dan ekonomi. “Berdoalah Rosario setiap hari agar tidak jatuh dalam dosa. Dengan doa Rosario kita akan menghancurkan tujuh musuh dunia yakni angkuh, iri hati, kikir, cabul, malas, rakus dan marah,” tegas imam diosesan asal Bajawa itu.

Menyinggung tentang penampakan Bunda Maria di Fatima, Pastor Lorens mengatakan peristiwa penampakan itu hendaknya menyadarkan kita bahwa Bunda Maria selalu hadir dalam prosesi kehidupan manusia. “Umat Katolik Keuskupan Maumere harus mencontohi Bunda Maria yang berposisi sebagai hamba Tuhan dan bukan berhamba pada harta, uang dan medsos,” kata Pastor Lorens.(Yuven Fernandez)

Surabaya Bishop ordains the forth Indonesian Dominican priest of the Philippines province

Sen, 16/10/2017 - 23:34

Bishop Vincentius Sutikno Wisaksono of Surabaya ordains Father Mingdry Hanafi Tjipto OP as the forth Indonesian Dominican priest of the Philippines province. The ordination held in Redemptor Mundi Parish of Surabaya, the only parish in Indonesia which is run by the Dominicans, on the 100th of Fatima, 13 October 2017.

During his homily, Bishop Sutikno reminded Father Mingdry that priestly life does not promise worldly success, job satisfaction, high esteem, flattery and idol, career or promotional development, and old age benefits such as workers, “but the risk of life in the shadow of the cross.”

Bishop Sutikno was accompanied by Redemptor Mundi parish priest Father Adrian Adiredjo OP and the Prior Provincial of Dominican Province of the Philippines Father Napoleon Sipalay Jr OP as well as OP priests from Indonesia and the Philippines, the priests from the Diocese of Surabaya, and Father Francis Andry Hanafi Tjipto OFM, the younger brother of Father Mingry.

With the help of Father Andry and his mother, Setyowati, in front of about 750 priests, nuns, and congregations, including the Dominican priests of Indonesia and the Philippines, and Dominican sisters and laity of Indonesia, Father Mingdry wore the stole and kasula he received from the bishop, who then anointed his hands and handed him a patena with a host and a cup with wine.

Setyowati told PEN@ Katolik that she was “very proud and happy, because the village boy could be a priest.” When asked for the family recipes that help her two children became priests, Setyowati confirmed that she did nothing but praying because it was their own vocation. “Mingdry especially want to be a priest since his time as altar boy. He woke up early to attend Mass. He was glad to join retreat and visit to the monasteries,” said Setyowati hoping that Father Mingdry better and full serve the Church.

Father Sipalay told PEN@ Katolik that he was very happy and very inspired by Father Mingdry’s ordination, because “our growth in the place is not only marked by a new priest ordination, but I think the concerted efforts from our Dominican family here (priests, brothers, sisters and laity), from the support of the bishop and other priests. This shows only that this how we are the Church, we are not alone as the Dominican Order, but we are together with all collaborators. It is a very good image of building our Church, especially here, Surabaya.

The civil engineering graduate, who was born in Surabaya 10 September 1980, is now a priest who will serve at Redemptor Mundi Parish. He finished his Philosophy Formation at Philippine Dominican Center of Institutional Studies Manila (2009-2011) and Theological Formation at the University of Santo Tomas Manila (2011-2016). He professed his first vow on May 5, 2009, solemn vow on April 8, 2012, and was ordained deacon on April 25, 2017.

“I was interested to enter the seminary when I was an altar boy of Christ the King Parish of Surabaya. I was so touched when a priest lifted the bread and wine that transformed into the Body and Blood of Christ in the Prayer of Consecration,” said Father Mingdry OP, who claimed to introduce with the Dominican order during a vocation expo run by Dominican sisters at Saint Mary Immaculate Parish in Surabaya. (paul c pati)

Mgr Sutikno ingatkan, hidup imamat tak janjikan sukses duniawi tapi bayang-bayang salib

Sen, 16/10/2017 - 17:46

Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono mengingatkan sebelum tahbisan imam di sebuah gereja di Surabaya bahwa hidup imamat tidak menjanjikan sukses duniawi, kepuasan kerja, penghargaan tinggi, sanjungan dan pujaan, perkembangan karir atau promosi, serta jaminan hari tua seperti pekerja, “tetapi menanggung resiko hidup dalam bayang-bayang salib.”

Mgr Sutikno memberi peringatan itu dalam homili Ritus Tahbisan Imam dari Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP di Redemptor Mundi Surabaya, satu-satunya paroki yang dijalankan Ordo Pewarta (Dominikan, OP) di Indonesia, pada Pesta 100 Tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima, 13 Oktober 2017.

Dalam Misa Mgr Sutikno didampingi Kepala Paroki Redemptor Mundi Pastor Adrian Adiredjo OP dan Provinsial Ordo Dominikan Filipina Pastor Napoleon Sipalay Jr OP serta para imam OP dari Indonesia dan Filipina, dan para imam dari Keuskupan Surabaya, serta Pastor Fransiskus Andry Hanafi Tjipto OFM, adik kandung dari Pastor Mingdry.

Uskup Surabaya mengutip Paus Fransiskus yang menyebut tantangan hidup imamat zaman ini adalah “kesetiaan injili sampai akhir.” Secara khusus, lanjut uskup, Paus ingin mengatakan bahwa “kesetiaan mewartakan Injil, yaitu Yesus Kristus sebagai Kabar Gembira Keselamatan, justru di tengah-tengah ketidakpastian, kesulitan dan ancaman penderitaan, dan hanya kasih Kristus yang jadi kekuatan hidup.”

Yang utama dalam panggilan hidup imamat adalah kesetiaan atau konsistensi, namun selalu muncul pertanyaan, “apakah saya bisa setia dan konsisten sampai akhir, bukan sekedar betah atau survive.” Di samping itu, lanjut paus, “yang hendak menjadi imam harus menanggung resiko untuk ditolak, diabaikan dan tidak dihargai, seperti halnya Yesus sendiri.”

Namun, Paus mengingatkan agar terus hidup dalam pengharapan, sebab kita anak-anak Allah yang diselamatkan dalam pengharapan. “Justru dalam penderitaan, kesengsaraan dan ancaman bahwa kini imamat kehilangan arti atau apa artinya salib kalau hidup imamat hanya akan menuju kesia-siaan, iman kita diuji dalam pengharapan.”

Misa tahbisan bertema “100 Tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima,” kata Mgr Sutikno, meneguhkan keutamaan hidup kesetiaan dalam pengharapan Kristiani akan janji Allah yang mengutus sekaligus memberi jaminan kekuatan hidup untuk setia sampai akhir, seperti dinyatakan dalam hidup Bunda Maria,” yang siap menanggung penderitaan dengan mengatakan “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Maka, uskup minta Saudara Mingdry menghayati hidup imamatnya dengan mengandalkan kekuatan akan Kristus yang memberikan kekuatan hidup untuk setia sampai akhir. Uskup ingatkan, salah satu bagian paling mengesankan dalam tahbisan imam adalah saat calon bertiarap, tanda penyerahan diri untuk mempersembahkan hidup sebagai kurban.

“Saudara Mingdry, selama kamu bertiarap, Gereja mohon kekuatan ilahi dengan Litani Para Kudus agar kamu dapat mempersembahkan diri kepada Tuhan dan umat-Nya sebagai kurban hidup, seperti riwayat semua orang kudus yang menghiasi hidupnya dengan korban suci penyerahan diri dalam pengharapan bahwa hidup bukan sia-sia, karena dengan itu kamu menyelamatkan banyak orang,” kata uskup.

“Kita mohon kepada Bunda Maria semoga Saudara Mingdry kuat dan taat sampai akhir dalam mempersembahkan hidupnya bagi keselamatan jiwa-jiwa, terutama bagi umat Allah di Keuskupan Surabaya yang akan dilayaninya,” lanjut uskup yang bersama semua yang hadir berdoa” Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdoa ini sekarang dan waktu kami mati, Amin.”

Sebelum homili, provinsial OP Filipina memohon agar uskup menahbiskan Diakon Mingdry, yang menurutnya layak ditahbiskan. Menurut penilaian umat dan orang-orang yang mengenalnya, tegas provinsial, “saudara ini layak ditahbiskan menjadi imam. Saya dan umat yang hadir di sini adalah saksinya.”

Maka sesudah homili, uskup bertanya apakah Saudara Mingdry bersedia melaksanakan tugas seorang imam dan misteri Yesus Kristus dalam Gereja, mewartakan Sabda Allah, menyerahkan diri kepada Allah demi keselamatan manusia, dan taat kepada pimpinannya.

Mendengar kesediaan dan janjinya, uskup mengajak umat berdoa agar Tuhan memberikan anugerah ilahi-Nya kepada Saudara Mingdry, yang lalu bertiarap di tengah Doa Litani Para Kudus. Sebelum Doa Tahbisan, Saudara Mingdry menerima penumpangan tangan dari uskup serta semua imam yang hadir termasuk Pastor Andry OFM.

Dengan bantuan Pastor Andry dan ibunya, di depan sekitar 1000 imam, suster, dan umat, termasuk Dominikan Awam, Pastor Mingdry mengenakan stola dan kasula yang diterimanya dari uskup, yang lalu mengurapi tangannya dan menyerahkan kepadanya patena dengan hosti serta piala dengan anggur.

Masih dalam suasana bergambar bersama, Setyowati mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia “sangat bangga dan bahagia, karena anak kampung bisa jadi pastor.” Ketika ditanya resep keluarga sehingga dua anaknya menjadi pastor, Setyowati menegaskan “itu panggilan dia, sejak SD sebagai misdinar, saat dia rajin bangun pagi untuk hadiri Misa, retret dan kunjungan ke biara.”

Harapan ibu agar Pastor Mingdry semakin baik dan penuh melayani Gereja juga diungkapkan kakaknya Irene Maria Jeny Hanafi. “Semoga bisa melayani dengan baik,” kata Jeny yang juga bersyukur karena akhirnya adiknya berhasil ditahbiskan. Sebagai kakak dia berbahagia karena dua adiknya dipilih Tuhan menjadi imam. “Mama dan kami hanya berdoa agar pilihan hidup mereka berhasil baik, karena pilihan itu muncul dalam diri mereka sendiri,” kata Jeni.

Pastor Sipalay mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia sangat senang dan terinspirasi dengan tahbisan Pastor Mingdry, karena “pertumbuhan kami bukan hanya ditandai dengan tahbisan imam baru, tetapi upaya bersama Keluarga Dominikan, imam, frater, suster dan awam, dengan dukungan uskup, dan para imam lain. Inilah artinya menggereja, kita bukan hanya sendiri sebagai Ordo Dominikan, tapi kita bersama semua yang bekerja sama dengan kita. Tahbisan imam itu adalah wajah yang sangat bagus untuk membangun Gereja, khususnya di sini, Surabaya.

Meski demikian, Ketua Panitia AM Handoko, yang sudah 11 tahun berkecimpung di Paroki Redemptor Mundi merasa tahbisan itu akan semakin semarak kalau semua anggota panitia semakin besar memberi dukungan karena “sungguh menanggapi Roh Kudus dalam menjalankan tugas di paroki.”

Sarjana teknik sipil yang lahir di Surabaya 10 September 1980 itu kini menjadi imam yang akan berkarya di Paroki Redemptor Mundi . Formasi Filsafat dijalankan di Philippine Dominican Centre of Institutional Studies Manila (2009-2011) dan Formasi Teologi di University of Santo Tomas Manila (2011-2016). Kaul pertama diucapkan 5 Mei 2009, kaul kekal 8 April 2012, dan tahbisan diakon 25 April 2017.

“Awal ketertarikan saya masuk seminari adalah saat aktif mengikuti Putra Altar di Paroki Kristus Raja Surabaya. Saya begitu tersentuh saat Romo mengangkat roti dan anggur yang berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam Doa Konsekrasi,” kata Pastor Mingdry OP yang mengaku berjumpa dengan Ordo Dominikan saat ekspo panggilan para suster OP di Gereja Santa Maria Tidak Bercela, Surabaya.” (paul c pati)

Kerabat Kerja Ibu Teresa diminta lakukan regenerasi dengan libatkan kaum muda

Sen, 16/10/2017 - 15:47

Pembimbing Rohani Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) Pastor Paulus Rubur CICM mengajak anggota dan pengurus organisasi itu untuk melakukan regenerasi anggota dengan melibatkan semua orang termasuk kaum muda Katolik.

“Pelayanan untuk kaum miskin, lemah, sakit dan terpinggirkan selama 32  tahun merupakan anugerah yang patut disyukuri. Pada saat usia yang makin bertambah, KKIT dan seluruh anggota bukan hanya memberikan semangat kepada anggota, tetapi juga mengajak orang muda melakukan pelayanan yang sama,” kata Pastor Paulus Rubur CICM dalam homili Misa HUT ke-32 KKIT di aula Paroki Santo Yohanes Penginjil, Blok B, Jakarta Selatan, 7 Oktober 2017.

Koordinator Nasional KKIT Sinta Hidayat dan Ketua KKIT Jakarta Maria T Tresnawati hadir dalam Misa itu bersama lebih dari seratus pegiat karya sosial dari yang tergabung dalam KKIT di berbagai paroki.

Pastor Rubur mengatakan bahwa Santo Thomas Aquinas berpendapat bahwa daya nalar manusia yang semakin dekat dengan Allah semakin tidak memahami Allah itu sendiri, sedangkan teolog Endri Nowen sependapat dengan mengatakan “Manusia  tidak sanggup untuk mengenal Allah lebih mendalam,”

Pastor Rubur mengaitkan pendapat para teolog itu dengan pelayan yang dilakukan di KKIT. “Bisa saja seseorang aktif dalam KKIT tapi sesungguhnya dia tidak mengenal Allah. Bisa saja dalam pelayanannya pegiat KKIT itu mendapati jiwanya kosong,” kata imam itu.

Mother Teresa adalah sosok  yang dikenal menjadi santa karena memiliki semangat melayani penuh kasih. Ia melayani dengan pengorbanan yang tulus, ia merawat yang sakit, memberikan penghiburan bagi yang berduka, dan dari pekerjaan yang dilakukan itu ia bahkan pernah mengalami jiwa yang kosong, kekelaman spiritualitas. “Ada saat-saat di mana Mother Teresa merasa seperti ditinggalkan oleh Allah dalam pelayanan,”’ kata imam itu.

Mencermati kisah hidup Bunda Teresa saat yang menemukan wajah Allah di saat dia melayani yang sakit, yang lemah, dan yang tersingkir, Pastor Rubur bertanya, ”Apakah pelayanan yang dilakukan para pegiat KKIT di Indonesia menemukan wajah Allah di dalam diri mereka?”

Pastor Paulus lalu menganjurkan agar KKIT melakukan regenerasi dengan melibatkan kaum muda. “Karya sosial umumnya atau rata-rata dilakukan oleh mereka yang berkehendak baik dan sudah berusia lanjut, dan saya harapkan spirit pelayanan KKIT ditularkan kepada generasi muda,” kata imam itu.

Menurut Sinta Hidayat, mengajak kaum muda memang perlu, “namun kenyataannya akan menghadapi kesulitan, karena generasi sekarang lebih care dengan facebook sehingga untuk mengajak mereka, ada yang senang tapi ada yang perlu waktu.” Meskipun demikian dia akan akan diperhatikan usul itu.

Maria T Tresnawati mengatakan semoga semangat HUT ke-32 bisa memberikan semangat pelayanan dengan meneladani Mother Teresa sebagai model karena dia yang menjadi inspirasi dalam pembentukan KKIT Indonesia. (Konradus R Mangu)

 

Citra Allah

Sab, 14/10/2017 - 22:37

Hari Minggu Biasa ke-28

15 Oktober 2017

Matius 22: 1-14

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu! (Mat 22:9)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Yesus sudah berada di Yerusalem. Konfrontasi antara Yesus dan pemimpin bangsa Yahudi semakin memanas. Yesus pun mendekati hari-hari terakhir-Nya. Dengan konteks ini, perumpamaan hari ini tidak terlalu sulit untuk kita pahami. Tamu yang diundang mewakili elit Israel yang menolak Yesus, dan dengan demikian, menolak Allah sendiri. Pembakaran kota mungkin mengarah pada invasi Kekaisaran Romawi dan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Orang-orang biasa yang kemudian diundang dan datang, mewakili orang-orang dari semua bangsa yang menerima Kristus. Namun, beberapa orang yang sudah ada di pesta pernikahan tidak memakai baju pernikahan yang diharapkan.  Pakaian yang tepat menjadi pertanda bahwa para tamu menghormati sang tuan rumah, dan juga ini menjadi simbol iman, perbuatan baik dan kehidupan kudus kita. Bagi mereka yang gagal menghormati Raja melalui pakaian mereka akan diusir dari perjamuan.

Pada tahapan ini, perumpamaan ini memang mudah untuk dipahami. Kita dipanggil untuk tidak meniru beberapa elit Israel yang menolak Yesus, tapi untuk menerima undangan Allah dengan penuh suka cita. Mengenai pakaian yang layak, kita juga diharapkan bisa menghidupi iman kita sepenuhnya. Namun, ada sesuatu yang terus mengganjal dalam hati saya. Apakah itu? Penafsiran ini menyajikan dua citra Raja yang bertentangan. Di satu sisi, sang raja sangat murah hati, gigih untuk mengundang para tamunya, dan terbuka untuk menerima orang-orang biasa. Tapi, di sisi lain, dia adalah raja yang otoriter dan menuntut keadilannya dengan cara-cara kekerasan. Seperti raja di zaman dahulu, dia akan menghancurkan orang-orang yang mencemarkan nama baiknya, sampai-sampai membakar kota mereka atau melemparkan mereka ke dalam kegelapan. Jika kita tidak cukup hati-hati, kita bisa mengidentifikasi raja ini dengan citra Allah yang kita miliki. Kita mungkin mulai percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang suka menghukum orang-orang yang jahat bahkan dengan cara-cara yang keras. Dia adalah Allah mudah tersinggung oleh kesalahan-kesalahan sederhana, dan tidak berbelas kasih untuk memaafkan.

Kita ingat bahwa kita diciptakan menurut citra Allah. Sekarang jika kita memiliki Allah yang pendendam dan tak kenal ampun, kita secara tidak sadar berperilaku seperti citra Allah yang penuh kekerasan ini. Di Filipina, di mana mayoritas adalah orang Katolik dan Kristen, pembunuhan tanpa proses hukum terhadap para terduga kriminal meningkat dengan tajam. Anehnya, beberapa orang tampaknya menyetujui dan bahkan senang dengan kejadian berdarah ini. Sikap ini mungkin merupakan cerminan dari citra Allah yang penuh dendam dan kekerasan.

Citra Allah semacam ini bisa mempengaruhi kita juga dengan cara yang lebih halus. Meskipun sudah minta maaf secara tulus, sulit bagi kita untuk memaafkan seorang teman yang telah menyakiti kita, suami yang telah mengkhianati kita, atau atasan yang telah bertindak tidak adil. Sebagai seorang ayah dan suami, kita bertindak otoriter dan bahkan tak mau mendengarkan pendapat anggota keluarga lain. Sama halnya dengan pastor, suster, atau atasan yang bertindak sendiri tanpa mau menerima koreksi. Terkadang, Kita fokus pada kelemahan orang lain, dan bukan pada usaha mereka untuk menjadi lebih baik. Dari pada membantu mereka bangkit dari kegagalan mereka, kita memilih untuk menertawakan mereka dan membuat gosip. Citra Allah seperti ini hanya menghambat pertumbuhan iman kita, tapi juga merusak hubungan kita yang sehat dengan sesama.

Saya percaya bahwa beberapa aspek perumpamaan tetap benar dan relevan, seperti keterbukaan radikal Allah bagi semua orang, dan iman kita yang harus dihidupi sepenuhnya. Namun, dalam tahapan yang lebih mendalam, perumpamaan ini menantang citra Allah kita yang tidak benar, seperti Allah yang penuh dendam dan kekerasan. Injil mengundang kita untuk menemukan kembali citra Allah di dalam pribadi Yesus yang mengasihi kita sampai akhir, dan mati agar kita bisa hidup.

 

 

Mgr John Philip Saklil tahbiskan imam-imam diosesan “hasil kebun sendiri”

Kam, 12/10/2017 - 19:45

Di halaman Katedral  Tiga Raja Timika, Papua, hari Sabtu, 7 Oktober 2017, nampak prosesi adat warga Papua dengan pakaian adat masing-masing menari-nari membawa empat orang diakon di atas tandu. Dua dari diakon itu adalah putra sulung dari sukunya yang siap jadi imam pertama.

Keluarga dan masyarakat adat Suku Amungme dan Suku Nduga membawa Diakon Ibrani Gwijangge, orang pertama yang menjadi imam dari suku itu, dari Suku Biak membawa Diakon Yosias Ferdinand Wakris yang juga putra pertama yang menjadi imam dari sukunya yang mayoritas Protestan.

Dua lainnya, Diakon Yance Yanuarius Yogi dan Diakon Selphius Goo dibawa oleh masyarakat dan keluarga dari Suku Mee, Paniai.

Kemudian keluarga-keluarga menyerahkan para diakon kepada Gereja Katolik yang diwakili Uskup Timika Mgr John Philip Saklil di halaman katedral. Kepada uskup, keluarga dari Diakon Yosias menyerahkan Piring Keramik Cina “sebagai tanda penyerahan anak kepada Tuhan.” Piring Keramik Cina biasa digunakan oleh Suku Biak sebagai ‘mahar’ atau emas kawin dari pihak pria kepada pihak wanita.

Tahbisan dilaksanakan hari itu bertepatan dengan Pesta Bunda Maria Ratu Rosario dan HUT ke-7 Konsekrasi Katedral Tiga Raja Timika, Papua. Uskup Timika Mgr John Philip Saklil didampingi Vikjen Pastor Martin Kuayo Pr, Pastor Rekan Katedral Pastor Honoratus Pigai Pr, dan imam-imam konselebran dari seluruh wilayah keuskupan serta para imam Keuskupan Manado, Jayapura, Agats, dan Sorong.

Khotbah Mgr Philip Saklil mengingatkan para diakon yang akan ditahbiskan serta para imam yang hadir dan seluruh umat tentang empat fungsi imam dalam Gereja Katolik, yaitu sebagai murid Kristus “yang menanggapi panggilan Allah secara total dengan meninggalkan keluarga atau adat istiadat demi dan hanya kepada Allah,” sebagai Rasul Kristus “yang menjalani tugas kerasulan untuk melayani orang lain dalam suka maupun dalam kesepian,” sebagai presbiter (menjadi rumah Tuhan) “yang bisa menjadi panutan orang lain,” dan sebagai pelayan sakramen “dengan Sakramen Ekaristi sebagai Jantung Imamat.”

Atas nama teman-temannya, Pastor Yance Yogi mengatakan tahbisan imamat itu diibaratkan seperti honai (rumah adat Papua) dari empat diakon yang ditahbiskan menjadi imam. “Honai pertama untuk Allah Bapa, honai kedua untuk Bapak Uskup, honai ketiga untuk para imam baru, dan honai keempat untuk seluruh umat Keuskupan Timika,” kata imam baru itu.

Keuskupan Timika memiliki umat sebanyak 112.240 yang tinggal di 37 paroki yang terbagi dalam lima dekenat yakni Mimika-Amimuga, Teluk Cenderawasih, Moni Puncak Jaya, Paniai, dan Kamapi. Namun, beberapa paroki belum mempunyai imam tetap, dan beberapa paroki masih dipimpin oleh pastor awam (petugas pastoral paroki baik diakon awam pria atau wanita).

Luas wilayah Keuskupan Timika kurang lebih 81.810 kilometer persegi yang terbentang dari pantai selatan yang berbatasan dengan Laut Arafuru, naik ke bagian barat pegunungan tengah Papua, dan turun ke bagian utara Teluk Cenderawasih yang meliputi Kepulauan Yapen, Biak, dan Supiori, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.

Keuskupan Timika, yang terbentuk tahun 2004 dengan uskup pertama Mgr John yang berkarya dengan motto Parate Viam Domini  (Siapkan Jalan bagi Tuhan), merupakan pemekaran dari Keuskupan Jayapura. Selain imam diosesan yang kini berjumlah 23 orang, imam-imam yang berkarya di keuskupan ini berasal dari Serikat Jesus, OFM, dan SCJ. Tarekat-tarekat suster di keuskupan itu adalah FCH, OSU, AK, DSY, TMM, dan KSFL.

Acara tahbisan juga dimeriahkan oleh drumband SD Seminari Keuskupan Timika. Melihat kehadiran dan partisipasi anak-anak seminari, Uskup John berharap timbul benih-benih panggilan dari masyarakat asli Papua, seperti yang dirayakan hari ini yang digambarkan oleh Mgr John dengan mengatakan “keempat diakon ini adalah hasil kebun sendiri.”(Vincent Budi)

 

http://penakatolik.com/wp-content/uploads/2017/10/WhatsApp-Video-2017-10-12-at-7.16.17-PM.mp4

 

http://penakatolik.com/wp-content/uploads/2017/10/WhatsApp-Video-2017-10-12-at-7.14.31-PM1.mp4

 

 

Halaman