Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 2 hours 53 mnt yang lalu

Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Perkawinan?

Kam, 26/07/2018 - 17:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

347. Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Perkawinan?

Perzinaan dan poligami bertentangan dengan Sakramen Perkawinan karena kedua hal itu betul-betul berlawanan dengan martabat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan dengan kesatuan dan eksklusivitas cinta perkawinan. Dosa-dosa lainnya termasuk penolakan secara sadar untuk kemungkinan mempunyai anak yang bertentangan dengan kesuburan cinta perkawinan dan keterbukaan akan anugerah anak serta perceraian yang bertentangan dengan sifat tak terceraikannya perkawinan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1645-1648

348. Bilamana Gereja mengizinkan perpisahan fisik antara pasangan suami istri?

Gereja mengizinkan perpisahan fisik pasangan suami-istri jika karena alasan yang serius mereka tidak mungkin hidup bersama, walaupun mungkin ada harapan untuk rekonsiliasi. Tetapi selama salah satu dari pasangan itu masih hidup, yang lainnya tidak bebas untuk kawin lagi kecuali jika perkawinan itu batal dan dinyatakan demikian oleh otoritas Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1629, 1649

Paus sedih oleh kematian dalam kebakaran hutan Yunani

Rab, 25/07/2018 - 23:56

 

Seorang petugas pemadam kebakaran di Kineta, dekat Athena (AFP)

Paus Fransiskus mengirimkan telegram berisi ungkapan kesedihan atas kematian akibat kebakaran hutan di daerah dekat ibu kota Yunani, Athena, dan memastikan doanya untuk orang-orang yang meninggal. Setidaknya sudah 77 orang ditemukan mati terbakar.

Dalam telegram kepada para pejabat gerejawi dan sipil, yang dikirim oleh Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin atas keputusannya, Paus menyampaikan solidaritas sepenuh hati kepada semua yang terkena dampak tragedi ini.

Paus menyerahkan semua yang meninggal kepada cinta kasih Tuhan Yang Maha Kuasa, dan menyemangati para otoritas sipil dan personil darurat saat mereka melanjutkan upaya penyelamatan.

Sementara itu, John Carr di Athena melaporkan, setidaknya 60 orang tewas dalam kebakaran di wilayah Attica di sekitar Athena. Jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat karena ditemukan banyak lagi mayat di rumah-rumah yang musnah dilahap api.

Daerah paling parah adalah Mati, kota tepi laut yang populer di timur laut Athena. Dari udara daerah itu tampak seperti terkena bom nuklir. Pagi-pagi benar para pekerja penyelamat datang membawa tubuh-tubuh hangus dari 26 orang, termasuk wanita dan anak-anak. Mereka sebenarnya melarikan diri ke laut tapi gagal. Mereka bergerombol, saling berpelukan.

Gumpalan api, yang tiba-tiba menggelora turun dari bukit-bukit yang dipenuhi pepohonan, dikipas oleh angin barat yang kuat dengan kecepatan 9 gale force. Setidaknya 130 orang telah terluka, dan puluhan kritis. Ratusan rumah dipenuhi asap, dan sebagian besar dari sekitar 1000 mobil ditinggalkan karena panik oleh pengemudinya

Sekitar 700 orang, beberapa dari mereka turis, dievakuasi dari pantai di Mati oleh Penjaga Pantai Yunani. Tetapi yang lain harus bermalam di dalam air karena nyala api yang meluap mencapai tepi air. Beberapa orang dipastikan tenggelam, tersapu ke laut oleh angin kencang.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras menghentikan kunjungan resminya ke Bosnia dan terbang kembali ke Athena. Dia menyebut kebakaran itu sebagai tragedi nasional dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh. Siang ini masih ada kantung-kantung api di kedua daerah. Pemilik rumah yang kebingungan sedang memeriksa harta benda mereka yang rusak. Puluhan orang masih hilang. Sepanjang hari lebih banyak mayat yang ditemukan. (pcp berdasarkan Vatican News)

Paus mengirim ucapan belasungkawa untuk para korban runtuhnya bendungan Laos

Rab, 25/07/2018 - 23:11
Paus Fransiskus berdoa. ANSA

Paus Fransiskus mengirim ucapan belasungkawa kepada rakyat, Gereja dan otoritas sipil atas hilangnya nyawa dan banyaknya orang cedera di Laos pada hari Selasa, 24 Juli 2018, menyusul runtuhnya bendungan hidroelektrik di bagian tenggara Laos.

Menurut laporan Devin Watkins dari Vatican News, ratusan orang hilang dan kuatir meninggal setelah bendungan itu runtuh di Distrik San Sai, Provinsi Attapeu, yang menyebabkan banjir bandang yang menyapu rumah-rumah. Menurut Kantor Berita Laos, bencana itu menyebabkan lebih dari 6.600 orang kehilangan tempat tinggal.

Dalam telegram yang ditandatangani oleh Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin, Paus Fransiskus menyatakan “solidaritas tulusnya dengan semua orang yang terkena dampak bencana ini.”

Paus berdoa “terutama untuk ketenangan orang yang meninggal, untuk penyembuhan orang-orang yang terluka dan untuk penghiburan bagi semua orang yang berduka karena kehilangan orang yang mereka cintai dan yang kuatir akan nyawa orang-orang yang masih hilang.”

Paus Fransiskus juga memberi semangat “kepada otoritas sipil dan semua yang terlibat dalam pencarian dan penyelamatan saat mereka membantu para korban tragedi ini.”

Perusahaan Korea Selatan yang membangun bendungan itu mengatakan kantor berita Reuters bahwa keruntuhan itu disebabkan oleh hujan deras dan banjir. (pcp berdasarkan Vatican News)

Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?

Rab, 25/07/2018 - 18:17

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

345. Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?

Perkawinan campur (antara seorang Katolik dan seorang yang dibaptis bukan Katolik) membutuhkan izin otoritas gerejawi demi layaknya. Dalam kasus disparitas kultus (antara seorang Katolik dan seorang yang tidak dibaptis) memerlukan dispensasi demi sahnya. Dalam kedua kasus itu, hal yang pokok ialah kedua belah pihak mengakui dan menerima tujuan pokok dan ciri khas perkawinan. Perlu juga ditekankan bahwa pihak Katolik menerima kewajiban, yang juga sudah diketahui oleh pihak non-Katolik, untuk tetap menghayati imannya dan membaptis serta mendidik anak-anak mereka secara Katolik.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1633-1637

346. Apa buah Sakramen Perkawinan?

Sakramen Perkawinan menetapkan ikatan yang kekal dan eksklusif antara kedua mempelai. Allah memeteraikan kesepakatan perkawinan mereka. Karena itu, perkawinan yang sudah dilaksanakan dengan sah (ratum) dan sudah dilengkapi dengan persetubuhan (consumatum) antara dua orang yang sudah dibaptis tidak pernah dapat diceraikan. Terlebih lagi, Sakramen ini memberikan rahmat yang dibutuhkan bagi kedua mempelai untuk mencapai kesucian dalam kehidupan perkawinan mereka dan jika dianugerahi anak-anak, menerima tanggung jawab untuk merawat dan mendidik mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1638-1642

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan Uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Rab, 25/07/2018 - 17:49
Foto Komsos KWI

“Dua Uskup Baru Telah menentukan Hari Tahbisan,” demikian judul berita dari media online Komisi Komsos KWI http://www.mirifica.net/ 20 Juli 2018. Berita itu mengutip pesan singkat WA dari Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Sipri Hormat Pr bahwa “hari tahbisan dari dua uskup akan diadakan dalam bulan yang berbeda. Mgr Ewaldus akan ditahbiskan tanggal 26 September 2018 di Maumere. Sedangkan Mgr Christophorus akan ditahbiskan di Purwokerto tanggal 23 Oktober 2018. Sebagaimana lazimnya, tahbisan uskup akan diawali dengan Vesper Agung sehari sebelumnya.”

Ketika dikonfirmasi oleh PEN@ Katolik, Komsos Keuskupan Purwokerto belum bisa menjawab secara pasti tanggal dan tempat tahbisan Mgr Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto. Namun, berbagai media dari Flores menegaskan bahwa Misa Tahbisan Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan dilaksanakan 26 September 2018 pukul 15.00 Wita di Gelora Samador Maumere, Pulau Flores, bertepatan dengan HUT ke-77 Uskup Emeritus Mgr Gerulfus Kherubim Parera SVD.

Sehari sebelumnya, 25 September 2018, akan dirayakan Salve Agung di Gereja Katedral Santo Yoseph Maumere, dan Misa Pontifical akan dirayakan di tempat yang sama 30 September 2018. Dalam Salve Agung itu, uskup baru akan mengucapkan janji setia kepada Paus dan pengakuan iman, dan insignia atau atribut penanda uskup seperti cincin, kalung salib, dan tongkat gembala, yang akan digunakan uskup, akan diberkati.

Uskup baru Maumere Mgr Ewaldus Martinus Sedu Pr ditetapkan oleh Paus Fransiskus tanggal 14 Agustus 2018, bersamaan dengan Uskup baru Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono Pr.(pcp)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Paus berdoa untuk Nikaragua saat para uskup melanjutkan dialog

Sel, 24/07/2018 - 23:20
Kardinal Leopoldo Brenes memegang Sakramen Mahakudus di tengah kerumunan orang yang datang menyembah Kristus dalam Sakramen Mahakudus (AFP)

Di saat Paus Fransiskus terus mengikuti situasi dan berdoa bagi Nikaragua, para uskup Katolik Nikaragua pada Senin 23 Juli 2018 memutuskan untuk melanjutkan mediasi pembicaraan dengan pemerintah Presiden Daniel Ortega, menyusul pertemuan tertutup di Managua.

Kardinal Leopoldo Brenes yang merupakan Uskup Agung Managua mengatakan, pertemuan para uskup itu untuk memperbincangkan apakah akan terus ikut atau tidak dalam Proses Dialog Nasional.

Setelah pertemuan itu, menurut laporan Devin Watkins dari Vatican News, para uskup mengatakan bahwa dialog adalah langkah maju untuk membawa rekonsiliasi ke negara yang dilanda krisis itu.

Gereja sedang bertindak sebagai penengah pembicaraan antara pemerintah dan pemrotes yang menyerukan pengunduran diri Presiden Ortega dan pelaksanaan pemilihan lebih awal.

Demonstrasi damai yang dipimpin mahasiswa terhadap reformasi kesejahteraan sosial menjadi bentrokan dengan pasukan paramiliter dan polisi menembakkan peluru tajam. Setidaknya 360 orang telah tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan selama tiga bulan terakhir.

Banyak serangan terhadap para uskup dan para wakil Gereja telah terjadi, termasuk terhadap Kardinal Brenes dan Duta Vatikan untuk Nikaragua.

Paus Fransiskus mengatakan dia mengikuti situasi itu dengan seksama dan berdoa bagi semua orang Nikaragua. Tanggal 3 Juni, Bapa Suci memohon agar kekerasan di negara itu diakhiri.

Paus mengatakan, Gereja selalu mendukung dialog, tetapi “syaratnya harus terlibat aktif dalam menghormati kebebasan dan, di atas segalanya, kehidupan.”

Umat ​​Katolik di Amerika Latin dan di seluruh dunia mengadakan Hari Doa pada hari Minggu, 22 Juli 2018, sebagai tanda solidaritas dengan para korban kekerasan politik di Nikaragua.

Uskup Pembantu Keuskupan Managua Mgr Silvio José Báez menulis di Twitter, “Gereja Katolik Nikaragua akan tetap berpihak kepada rakyat, karena Yesus selalu berada di sisi mereka yang menderita.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Kardinal Brenes dari Nikaragua mengatakan Gereja dianiaya oleh rezim

Gereja merundingkan gencatan senjata sementara di Nikaragua

Apa kesepakatan Perkawinan itu?

Sel, 24/07/2018 - 19:22
Paus Fransiskus memberkati pasangan nikah. Foto: Alberto Pizzoli/Getty

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

343. Bagaimana upacara Sakramen Perkawinan dilaksanakan?

Karena Sakramen Perkawinan menetapkan kedua mempelai dalam sebuah status publik kehidupan dalam Gereja, pelaksanaan liturginya bersifat publik terjadi di hadapan seorang Imam (atau seorang saksi yang diberi wewenang oleh Gereja) dan para saksi lainnya.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1621-1624

344. Apa kesepakatan Perkawinan itu?

Kesepakatan perkawinan diberikan ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan mengungkapkan kehendak untuk saling memberikan diri mereka satu sama lain dengan tujuan untuk hidup bersama dalam perjanjian cinta yang setia dan subur. Karena kesepakatan menyebabkan perkawinan terjadi, kesepakatan itu mutlak perlu dan tidak tergantikan. Agar perkawinan itu sah, persetujuan ini harus jelas-jelas mengenai perkawinan yang sungguh-sungguh dan merupakan tindakan manusia yang sadar, bebas, tanpa kekerasan dan paksaan.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1625-1632, 1662-1663

Kardinal Brenes dari Nikaragua mengatakan Gereja dianiaya oleh rezim

Sel, 24/07/2018 - 16:56
Kardinal Leopoldo Brenes, Ketua Konferensi Waligereja Nicaragua (AFP)

Ketika para Uskup Nikaragua bertemu untuk memutuskan apakah akan melanjutkan mediasi Proses Dialog Nasional di tengah krisis politik dan sosial yang memburuk, pada hari Minggu 22 Juli 2018, Presiden Konferensi Waligereja Nikaragua yang juga ketua Komisi Dialog Nasional, Kardinal Leopoldo Brenes Solorzano, mengatakan bahwa Gereja Katolik di berbagai belahan dunia sedang dianiaya , termasuk di negaranya, yang sedang dianiaya oleh rezim Presiden Daniel Ortega.

Kecaman kardinal itu disampaikan saat seluruh benua Amerika Latin bersatu untuk berdoa bagi perdamaian di Nikaragua. Di sana, seperti dilaporkan oleh Linda Bordoni dari Vatican News, kerusuhan dan kekerasan politik telah menewaskan lebih dari 360 orang sejak pertengahan April dan penahanan lebih banyak orang.

Menurut Kardinal Brenes, “Gereja selalu mengalami penganiayaan” dan karena itu “Kami tidak asing lagi” dengan kenyataan ini. Saat ini, lanjut kardinal itu, dia dan teman-teman uskup sedang berdebat apakah akan terus ikut dalam Proses Dialog Nasional. Presiden negara itu bahkan menuduh para uskup berperilaku seperti “komplotan kudeta.”

Sejak aksi unjuk rasa damai yang dipimpin mahasiswa untuk menentang penghukuman reformasi kesejahteraan sosial berubah menjadi bentrokan besar dengan pasukan paramiliter dan polisi menembakkan peluru tajam, setidaknya terjadi tujuh episode pencemaran di gereja-gereja dan beberapa serangan terhadap para uskup dan perwakilan gereja.

Serangan terhadap Gereja Katolik dimulai setelah keuskupan meminta Ortega untuk mengantisipasi pemilihan yang dijadwalkan tahun 2021 menjadi Maret 2019 guna mengakhiri krisis sosial dan politik.

Paus Fransiskus menyatakan sungguh-sungguh memperhatikan dan memikirkan situasi di negara itu dan ikut prihatin bersama para uskup di negara itu. Ketika berbicara setelah Doa Malaikat Tuhan tanggal 3 Juni, Paus menyerukan untuk mengakhiri semua kekerasan dan berdoa bagi para korban dan keluarga-keluarga mereka.

Gereja, kata Paus, selalu mendukung dialog tetapi “perlu keterlibatan aktif dalam menghormati kebebasan dan, di atas segalanya, kehidupan.”

Sementara itu, Asosiasi Hak Asasi Manusia Nikaragua menuduh pendukung pemerintah Nikaragua “tidak peka terhadap rasa sakit”.

Mereka mengklaim para ibu dari para pemerotes yang ditahan di penjara El Chipote di Managua sedang diintimidasi sementara para tahanan sendiri sedang disiksa.

Komisi Hak Asasi Manusia Antar-Amerika juga mengecam “pembunuhan, pembunuhan di luar hukum, penganiayaan, penyiksaan dan penahanan sewenang-wenang yang dilakukan terhadap mayoritas warga muda negara itu.” Pemerintah Nikaragua menolak tuduhan itu.

Protes terhadap Ortega dan istrinya, Wakil Presiden Rosario Murillo, dimulai 18 April karena kegagalan reformasi jaminan sosial. Protes itu berubah menjadi permintaan pengunduran Presiden itu, setelah sebelas tahun berkuasa, atas tuduhan penyalahgunaan dan korupsi. (pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Gereja merundingkan gencatan senjata sementara di Nikaragua

 

 

Nicaragua’s Card. Brenes says Church persecuted by regime

The President of the Nicaraguan Bishops’ Conference denounces the government that, he says, is persecuting the Church

By Linda Bordoni

The Bishops of Nicaragua are meeting to  decide whether to continue mediating the National Dialogue Process amid a worsening political and social crisis.

In a dramatic statement on Sunday, a top Nicaraguan Cardinal said the Catholic Church in his country is being persecuted by the regime of President Daniel Ortega.

Cardinal Leopoldo Brenes Solorzano, President of the Nicaraguan Bishops’ Conference and of the Commission for National Dialogue, said that the Church is currently being persecuted in different parts of the world, including Nicaragua.

His condemnation came on the day in which the entire Latin American continent united to pray for peace in Nicaragua where political unrest and violence has killed over 360 people since mid-April and led to the detention of scores more.

Bishops deciding whether to continue mediating

Noting that “the Church has always suffered persecution” and therefore “We are no strangers” to this fact, Brenes said that he and his fellow bishops are currently debating whether to continue to participate in the National Dialogue Process, notwithstanding the country’s President’s statements accusing the bishops of behaving like “coup plotters”.

Since what began as peaceful rallies led by students to oppose punishing social welfare reforms spiraled into full blown clashes with paramiiltary and police forces shooting live ammunition, there have been at least seven episodes of desecration in churches and several attacks on bishops and church representatives.

The attacks against the Catholic Church started after the episcopate asked Ortega to anticipate elections scheduled for  2021 to March 2019 to put an end to the social and political crisis.

Pope’s appeal for  Nicaragua

Pope Francis expressed his preoccupation for the situation in the country saying he joins  the country’s bishops in their concerns. Speaking after the Angelus Prayer on 3 June, the Pope called for an end to all violence and prayed for the victims and their families.

The Church, he said,  is always in favor of dialogue but “it requires active engagement in respect for freedom and, above all, life.”

Prisons places of torture

The Nicaraguan Association for Human Rights meanwhile has accused supporters of the Nicaraguan government  of being “insensitive to pain”.

It claims that the mothers of imprisoned protesters in the Jail of El Chipote in Managua are being intimidated while the prisoners themselves are tortured.

The Inter-American Commission on Human Rights has also  denounced “murders, extrajudicial killings, mistreatment, torture and arbitrary detention perpetrated against the majority of the country’s young population”. The Nicaraguan government rejects the charges.

The protests against Ortega and his wife, Vice-President Rosario Murillo, began on 18 April because of the failure of the social security reforms and have become a call for the resignation of the President, after eleven years of power, on charges of abuse and corruption.

 

OMK di Keuskupan Agung Jakarta belajar ber-Ekaristi dengan baik dan benar

Sen, 23/07/2018 - 22:15

Orang muda Katolik (OMK) memiliki keinginan untuk berperanserta dalam Ekaristi Kudus, tapi kadang-kadang mereka merasa bingung, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh mereka lakukan. Maka, hari ini kita mengadakan sosialisasi tentang Panduan Ekaristi bersama OMK agar mereka bisa melakukan Ekaristi Kudus dengan baik sesuai hakekat berliturgi.

Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta (Komlit KAJ) Pastor Hieronymus Sridanto Aribowo Nataantaka Pr berbicara di sela-sela acara Sosialisasi Panduan Ekaristi Kudus bersama OMK se-KAJ di Aula Sekolah Santa Maria, Jakarta Pusat, 21 Juli 2018.

Sekitar 200 wakil paroki dan seksi kepemudaan seluruh paroki di KAJ menghadiri acara, yang juga dihadiri oleh Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr, Ketua Komisi Kepemudaan KAJ Pastor Albertus Yogo Presetianto Pr, dan anggota Komlit KAJ Yohana Hanna.

Dengan kegiatan itu, Pastor Sridanto berharap OMK bisa menyiapkan Ekaristi OMK secara baik dengan musik yang sesuai aturan liturgi, dengan urutan sesuai panduan yang memiliki pendasaran teologis dan biblis yang mungkin selama ini tidak diketahui OMK.

Sosialisasi itu, lanjut imam itu, searah dengan semangat Arah Dasar KAJ yang menyinggung tentang munculnya pelayan-pelayan pastoral di kalangan OMK. Selain itu, kata Pastor Sridanto, Ekaristi yang dilakukan OMK lebih hidup dan menggembirakan, “tidak kaku tapi semangat dan hidup.”

Sementara itu, menurut Yohana, nyanyian liturgi di gereja merupakan ekspresi iman maka kedudukan nyanyian liturgi tidak bisa diganti dengan musik atau lagu sekuler. “Yang penting dalam lagu bukanlah melodinya tetapi syairnya. Syair lagu yang dinyanyikan harus sesuai ajaran iman Katolik,” katanya.

Koordinator Sosialisasi Ekaristi OMK, Ika Belinda, menjelaskan bahwa sosialisasi itu merupakan jawaban atas satu poin evaluasi Tahun Ekaristi 2012 KAJ yang menghendaki adanya panduan Ekaristi Kudus OMK KAJ. “Proses itu telah berlangsung mulai tingkat paroki, kemudian dekenat, lalu diolah lagi di tingkat keuskupan, dan saat ini mulai disosialisasikan,” jelasnya.

Pastor Samuel Pangestu mengharapkan OMK mengambil peran dalam liturgi Ekaristi Kudus. “Gereja membutuhkan OMK yang melakukan hal-hal positif untuk pengembangan iman.”

Pastor Yogo yakin, panduan penyelenggaraan Ekaristi Kudus OMK itu “bisa mendorong para muda Katolik untuk semakin terlibat dalam Ekaristi dan meningkatkan imannya kepada Yesus.” (Konradus R. Mangu)

Apakah semua orang harus kawin?

Sen, 23/07/2018 - 19:15
Gambar diambil dari Daily Express

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

341. Unsur baru apa yang diberikan Kristus kepada Perkawinan?

Kristus tidak hanya memulihkan tujuan asali perkawinan, tetapi mengangkatnya ke dalam martabat Sakramen, memberikan kepada kedua mempelai suatu rahmat khusus untuk menghayati perkawinan mereka sebagai simbol cinta Kristus untuk mempelai-Nya, Gereja: ”Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat ” (Ef 5:25).

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1612-1617, 1661

342. Apakah semua orang harus kawin?

Perkawinan bukanlah suatu keharusan bagi setiap orang, terutama karena Allah memanggil beberapa laki-laki dan perempuan untuk mengikuti Yesus dalam hidup keperawanan atau selibat demi Kerajaan Surga. Pantangan untuk mendapatkan hal-hal yang baik dari perkawinan ini dalam rangka memusatkan diri pada urusan-urusan Allah dan berusaha menyenangkan-Nya. Mereka menjadi tanda keunggulan mutlak cinta Kristus dan penantian kembalinya kemuliaan-Nya.

Bacaan lebih lanjut: Katekismus Gereja Katolik 1618-1620

Mgr Agus: Keuskupan Agung Pontianak bisa berbuat sesuatu bagi Gereja nasional, internasional

Sen, 23/07/2018 - 04:53

Mengomentari keberhasilan Jambore Nasional (Jamnas) Sekami di Pontianak, 3-6 Juli 2018, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa “potensi Gereja itu luar biasa.” Yang penting, tanya Mgr Agus, “Berani ngak kita menyelenggarakannya? Berani ngak kita membuat terobosan?”

Sering, lanjut uskup asli Dayak itu, Gereja ragu-ragu membuat sesuatu, padahal “saya katakan, Keuskupan Agung Pontianak (KAP) menerima tawaran untuk melaksanakan Jamnas Sekami “bukan karena kita mampu, bukan karena uang kita cukup, tetapi, masa Gereja Katolik tidak bisa berbuat sesuatu?”

Pelaksanaan Jamnas Sekami 2018, tegas Mgr Agus, hendak menunjukkan “bahwa KAP bisa berbuat untuk Gereja nasional bahkan internasional, dan tentu harapan kita kalau ini baik, mudah-mudahan menjadi contoh bagi tempat lain.”

Mengomentari kesan bahwa dulu KAP tidur, Mgr Agus mengatakan “Bukan mau sombong, sebenarnya saya lihat keuskupan ini ada potensi. Saya rasa kalau ini bagus, kita semua menjadi bangga.”

Mgr Agus juga mengingatkan orangtua untuk bangga karena KAP mau memperhatikan anak-anak sejak dini dengan pelaksanaan Jamnas itu. “Bayangkan, kalau selesai jambore ini sekolah-sekolah minggu semakin mengamalkan semangat 2D2K (doa, derma, kurban, kesaksian),” kata Mgr Agus.

Artinya, kata uskup agung seraya menggarisbawahi tujuan Jamnas Sekami 2018 yang ingin mendekatkan peserta pada hakikat Gereja yang bersifat misioner, “dalam jambore ini peserta diajak menyadari kembali panggilan mereka sebagai misionaris yang diutus untuk saling membantu sesama anak (children helping children) yang diwujudkan melalui 2D2K.”

Anak-anak dilatih “berdoa bukan hanya untuk diri sendiri , melainkan untuk teman-teman mereka di seluruh dunia, terutama yang sedang berada dalam situasi memprihatinkan.” Mereka juga dilatih berderma untuk teman-teman mereka yang berkekurangan dan “berderma bukan karena mereka berkelimpahan, tetapi dalam keterbatasan mau berbagi dengan sesamanya.”

Untuk itu, lanjut Mgr Agus, “mereka berani mengurbankan dirinya, waktunya, tenaganya, uang sakunya, dan keinginannya demi membantu teman-teman mereka,” dan sebagai misionaris-Nya, anak-anak  mewartakan Sukacita Injil dengan kesaksian hidup nyata dalam hidup sehari-hari, “hidup yang dibentuk oleh nilai-nilai Injil.”(paul c pati)

Mgr Agustinus Agus menyanyi menghibur peserta Jamnas Sekami 2018 di Pontianak. PEN@ Katolik/pcp Mgr Agus bernyanyi bersama Uskup Agung Kuching Mgr Simon Poh. PEN@ Katolik/pcp Mgr Agus menyanyikan sebuah lagu Dayak, dan semua peserta ikut menari. PEN@ Katolik/pcp Mgr Agus bersama lima uskup dan 85 imam dalam Misa Pembukaan Jamnas Sekami 2018. PEN@ Katolik/pcp

Setelah penyelidikan, Paus Fransiskus menerima pengunduran diri uskup dari Honduras

Sen, 23/07/2018 - 01:52
Uskup Pembantu Tegucigalpa, Honduras Mgr Juan Jose Pineda Fasquelle. GREGORY A. SHEMITZ/CNS

Setelah melakukan penyelidikan dugaan penyimpangan di Keuskupan Agung Tegucigalpa, Honduras, Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Pembantu dari keuskupan agung itu Mgr Juan Jose Pineda Fasquelle yang berusia 57 tahun.

Vatikan membuat pengumuman itu, 20 Juli 2018, tanpa menyebutkan alasan mengapa uskup itu mengundurkan diri. Usia pensiun normal seorang uskup adalah 75 tahun.

Dalam surat tertanggal 20 Juli dan dirilis kepada pers, Uskup Pineda menulis bahwa dia ingin melayani uskup agungnya, para klerus, para frater calon imam dan umat Allah. “Jika saya berhasil, terpujilah Tuhan. Jika saya gagal, saya meminta maaf.”

Alasan untuk mundur, tulis uskup itu, diketahui oleh Tuhan dan atasannya, demikian laporan Carol Glatz dari Catholic News Service di Vatikan.

Uskup Pineda mengatakan dia telah meminta Paus Fransiskus beberapa bulan lalu untuk mengizinkan dia mengundurkan diri. “Saya berharap kita semua tenang,” tulisnya.

Uskup itu mengatakan dia akan menggunakan waktu untuk doa, refleksi, dan pembinaan pribadi, yang harus dilakukan setiap orang. Dan jika waktunya tiba akan “terus memberikan yang terbaik untuk Gereja dan kalian,” katanya.

Sebuah pengumuman resmi yang belum ditandatangani dari keuskupan agung itu berterima kasih kepada uskup itu atas 13 tahun pengabdiannya sebagai uskup pembantu dan berdoa “untuk misi baru yang dipercayakan kepadanya.”

Juru bicara Vatikan, Greg Burke, menegaskan di akhir tahun 2017 bahwa Paus Fransiskus telah memerintahkan penyelidikan atas dugaan penyimpangan di keuskupan agung itu, tetapi ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Saat itu muncul dugaan bahwa Kardinal Oscar Rodriguez Maradiaga dari Tegucigalpa salah menggunakan uang yang diterima keuskupan agung itu dari Universitas Katolik Honduras. Kardinal yang merupakan salah satu anggota Dewan Kardinal internasional dari Paus Fransiskus adalah juga kanselir di universitas itu

Laporan online yang dimuat oleh outlet berita Italia, L’Espresso, mengatakan surat-surat kabar setempat melaporkan bahwa Uskup Pineda, wakil kardinal itu, berperan dalam dugaan mismanagement dana keuskupan itu.

Kardinal Rodriguez membantah tuduhan itu dan mengatakan di bulan Desember bahwa Uskup Pineda telah meminta paus untuk mengadakan kunjungan apostolik “guna membersihkan namanya.”

Mingguan AS, National Catholic Register, melaporkan telah memperoleh beberapa kesaksian yang diberikan kepada penyidik ​​Vatikan oleh dua mantan frater yang menuduh uskup itu melakukan pelecehan seksual yang serius.

Uskup Pineda, yang lahir bulan Desember 1960, memasuki ordo religius Claretian. Dia ditahbiskan sebagai imam tahun 1988. Paus Benediktus XVI mengangkat dia menjadi Uskup Pembantu Keuskupan Tegucigalpa tahun 2005.(pcp berdasarkan laporan Carol Glatz dari Catholic News Service)

Utusan Paus ke Medjugorje memulai pelayanannya

Sab, 21/07/2018 - 22:54

Uskup Agung Henryk Hoser, pensiunan Uskup Agung Warsawa-Praha di Polandia, memulai mandatnya pada hari Minggu, 22 Juli 2018, sebagai Pengunjung Apostolik ke Paroki Santo Yakobus di Medjugorje. Dia akan secara resmi memulai pelayanannya dengan Misa di malam hari dan telah mengundang semua umat beriman dan peziarah yang ada di sana untuk berperanserta.

Uskup Agung Hoser pertama kali diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai utusan khusus Tahta Suci ke Paroki Santo Yakobus tanggal 11 Februari 2017. Saat itu Kantor Pers Tahta Suci menyatakan bahwa misi yang dipercayakan kepada Uskup Agung Warsawa-Praha saat itu “bertujuan untuk memperoleh pengetahuan lebih dalam tentang situasi pastoral di sana dan di atas semua itu, tentang kebutuhan umat beriman yang pergi ke sana untuk ziarah, dan atas dasar ini, menyarankan inisiatif pastoral yang mungkin untuk masa depan. Oleh karena itu, misi itu memiliki karakter pastoral yang eksklusif. ”Pernyataan itu mengatakan bahwa mandatnya diperkirakan berakhir di akhir musim panas 2017.

Pada hari Kantor Pers merilis pernyataan ini, Direktur Greg Burke menggarisbawahi bahwa “misi Utusan Khusus adalah tanda perhatian Bapa Suci terhadap para peziarah. Ruang lingkupnya bukan inkuisitorial, tetapi sangat pastoral. Utusan itu tidak akan memasuki persoalan mengenai penampakan Maria, yang merupakan kompetensi Kongregasi Ajaran Iman. Dia akan berhubungan dengan uskup keuskupan itu, dengan biarawan OFM yang mendapat kepercayaan Paroki Medjugorje itu, dan dengan umat beriman di daerah itu.” Dan Greg Burke mengakhiri pernyataannya dengan mengatakan, “Ini misi untuk para peziarah, bukan melawan siapa pun.”

Paus Fransiskus menunjuk Uskup Agung Hoser untuk kedua kalinya “sebagai pengunjung apostolik khusus untuk Paroki Medjugorje” tanggal 31 Mei 2018. Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Pers Tahta Suci, mandat itu akan berlaku untuk “periode yang tidak ditentukan dan ad nutum Sanctae” (sesuai pengaturan Tahta Suci).

Sekali lagi, Uskup Agung Hoser akan menjalankan “jabatan pastoral eksklusif” dalam kesinambungan dengan mandat pertamanya yang berakhir baru-baru ini. Kantor Pers Tahta Suci menjelaskan, “misi  Pengunjung Apostolik bertujuan untuk memastikan pendampingan stabil dan berkesinambungan bagi umat Paroki Medjugorje dan umat beriman yang pergi ke sana sebagai peziarah, dan yang kebutuhannya memerlukan perhatian khusus.”(pcp berdasarkan laporan Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News)

 

Menghadapi Kematian

Sab, 21/07/2018 - 21:53

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu Keenam Belas dalam Masa Biasa, 22 Juli 2018: Markus 6: 30-34)

Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk 6:31)

Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.

Namun, hak istimewa terbesar bagi saya adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani beberapa orang dalam perjalanan mereka menghadapi kematian. Kita tidak suka berbicara tentang kematian karena kita semua takut akan kematian, dan banyak yang masih memandang kematian sebagai hal tabu. Namun, di rumah sakit, memerangi kematian adalah aktivitas sehari-hari baik bagi pasien maupun para tenaga kerja medis. Kematian menjadi menakutkan karena hal ini mengakhiri hidup kita, menghancurkan impian kita, dan memutuskan hubungan kita dengan orang yang kita cintai. Saya berteman dengan seorang pria muda yang baru saja lulus dari sebuah universitas dengan banyak mimpi di dalam benaknya, namun kanker merampas impiannya dan dia harus menjalani kemoterapi yang merusak tubuhnya. Saya juga menemani seorang remaja yang mengalami gagal ginjal dan harus menghabiskan banyak uang untuk dialisis dan obatnya. Dia pun tidak bisa menyelesaikan sekolahnya, mencari pekerjaan, dan mengejar mimpinya. Seorang ibu muda harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di kampung halaman, pindah ke Manila, pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, hanya untuk sembuh dari kanker payudaranya. Keinginannya hanya satu untuk bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Namun, ketika saya melakukan perjalanan bersama mereka, saya menemukan bahwa kematian tidak hanya menakutkan tetapi juga sebuah kesempatan istimewa. Memang benar bahwa menghadapi kematian dapat memicu banyak perasaan negatif seperti penyangkalan, kemarahan, kepahitan, dan bahkan depresi. Seseorang dapat menyalahkan dirinya sendiri, atau marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Seseorang yang hanya bisa bergantung pada kemurahan hati orang-orang di sekitarnya bisa merasa tidak berdaya dan bahkan putus asa. Namun, ketika pasien mulai menerima situasinya, menghadapi kematian dapat berubah menjadi momen rahmat. Seseorang yang sedang menghadapi kematian dapat melihat apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sebagai orang sehat, kita bisa melakukan banyak hal; kita bekerja keras, kita mencapai banyak hal. Dengan begitu banyak hal di hidup kita, kita cenderung mengabaikan apa yang paling penting dalam hidup kita. Menghadapi kematian memperlambat kita, dan memberi kita waktu untuk berpikir jernih. Ini memberi kita kesempatan langka untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai dan untuk melakukan misi terakhir yang Tuhan percayakan kepada kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk beristirahat. Setelah bekerja keras menjalankan misi mereka, Yesus membawa mereka ke tempat yang sepi. Setelah berhasil dalam pewartaan mereka, para murid dapat dengan mudah menjadi angkuh dan penuh dengan diri mereka sendiri. Namun, peristirahatan yang sejati dapat menenangkan mereka dan mengarahkan kembali diri mereka kepada Yesus, sumber dari misi dan kesuksesan mereka.

Kita tidak harus menderita penyakit berat yang menghadapi kematian dan merenungkan hal-hal yang sungguh penting dalam hidup. Kita selalu dapat beristirahat, melalui doa dan refleksi. Tentunya, selalu baik untuk merefleksikan kata-kata Santo Yohanes dari Salib, “di saat kita mencapai senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita berdasarkan  harta duniawi dan keberhasilan kita, tetapi pada seberapa besar kita mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Dirdios Sekami Pontianak berharap peserta pulang dengan iman kuat dan mampu berbaur

Sab, 21/07/2018 - 16:01
Ketua Umum Panitia Pelaksana Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Jamnas Sekami) 2018 di Pontianak, Pastor Gregorius Sabinus CP/PEN@ Katolik/pcp

Ketua Umum Panitia Pelaksana Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Jamnas Sekami) berharap anak-anak peserta jambore telah pulang membawa iman Katolik yang kuat dan kemampuan untuk berbaur dengan semua anak seusia mereka di tempat mereka tinggal, tanpa merasa tersendiri tetapi bagian dari Indonesia.

Pastor Gregorius Sabinus CP berharap agar semua yang mereka laksanakan dan alami selama Jamnas Sekami di Pontianak 3-6 Juli 2018 itu “menjadi bekal mereka untuk menjadi militan dalam iman atau memiliki iman Katolik yang kuat, mendalam, dan bukan radikal, serta menjadi pegangan hidup mereka karena orang muda adalah tulang punggung Gereja.”

Harapan lain dari Direktur Diosesan (Dirdios) Sekami Keuskupan Agung Pontianak itu adalah agar jambore itu berhasil menciptakan atau meningkatkan semangat dan rasa berbangsa dan bernegara dalam diri peserta sehingga mereka “tahu bahwa mereka tidak sendirian di Indonesia yang memiliki berbagai macam suku, bangsa, bahasa, budaya dan agama.”

Itulah “buah” dan “bekal” yang diharapkan dibawa pulang oleh peserta dan dikembangkan oleh para pembinannya di tempat masing-masing. “Saya harapkan para pembina membaca situasi mereka agar mereka bukan sekedar bertemu di sini tapi apa yang mereka tangkap menjadi buah dan bekal mereka.”

Di saat anak-anak banyak terpengaruh dengan intoleransi, cuek, dan tidak mau peduli, tegas imam itu, “hidup bersama dan kekeluargaan di Indonesia perlu ditanamkan secara dini.” Apalagi pelajaran ‘kewargaan negara’ tidak ada saat ini dan pendidikan serta penghayatan Pancasila tidak segencar dulu.”

Kini, menurut imam itu, Gereja masih melihat Pancasila dan kebinekaan sebagai yang nomor satu. “Tidak bisa tidak, agar anak-anak kita tidak terkontaminasi dengan paham liberal, radikal dan intoleransi,” tegas imam itu seraya menambahkan bahwa untuk itulah tema Jamnas Sekami 2018 itu berbunyi “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan.”

Injil itu sendiri adalah Kabar Sukacita yang tidak bisa dipendam tapi harus dibagi, maka “Yesus, Sang Juru Selamat itu harus kita kabarkan dalam suasana sukacita dan hati gembira bukan dalam suasana bantahan dan keberatan,” tegas Pastor Sabinus.

Tema itu ditawarkan oleh KWI di masa liburan ini supaya anak-anak tidak asing dengan nilai-nilai Katolik dan nilai-nilai kebangsaan, karena tidak diajarkan lagi seperti jaman dulu, “dan supaya anak-anak tidak kehilangan makna hidup berbangsa dan bernegara.” Dan ternyata, seperti halnya dalam pra jambore di Keuskupan Agung Pontianak, “anak-anak remaja mudah memahaminya, karena penjelasan menggunakan bahasa yang mudah mereka tangkap.

Menanggapi keraguan anak-anak jaman now yang lebih berteman dengan teknologi moderen, imam itu menegaskan bahwa “justru ketika mereka gencar menghadapi serangan teknologi modern kita tawarkan nilai-nilai moral, karena kalau tidak demikian mereka tidak kuat sejak masa dini seperti sekarang.”

Sekarang adalah dunia orang muda dan remaja, “maka kita tetap membolehkan mereka menggunakan peralatan modern itu, sembari mengingatkan mereka untuk tetap punya kendali. Bibit kontrol diri harus ditanamkan sejak kecil, agar mereka nanti bijak memakai alat-alat itu.”

Pastor Sabinus berharap, anak Katolik, khususnya peserta Jamnas Sekami 2018, kini “memiliki rasa iman kekatolikan yang dalam, sekaligus merasa sungguh orang Katolik yang berbangsa dan bernegara bangsa sesuai semboyan Mgr Soegijaranata yakni 100 persen Katolik tetapi 100 persen juga  Indonesia, bukan orang Katolik yang terpisah dari Indonesia, tetapi orang Katolik yang memang orang Indonesia.”(paul c pati)

Artikel Terkait:

Pameran Sekami Manado tampilkan tari perang untuk dorong semangat mewartakan Injil

Peserta-Jamnas Sekami 2018 akan terus wartakan sukacita Injil dan mencintai kebinekaan

Animatris Sekami main sulap agar anak-anak kenal Yesus tapi menangis di meja makan

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Pameran Sekami Manado tampilkan Tari Perang untuk dorong semangat mewartakan Injil

Sab, 21/07/2018 - 04:15
Tarian Perang Tradisional Minahasa menghiasi Stand Pameran Sekami Keuskupan Manado dalam Jamnas Sekami 2018 di Pontianak/PEN@ Katolik/pcp

Dalam rangkaian Jambore Nasional Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Jamnas Sekami) 3-6 Juli 2018 di Pontianak, para direktur diosesan (dirdios) beserta pendamping rohani dan animator-animatris menyelenggarakan pameran yang menampilkan keanekaragaman budaya, variasi alat praga hingga buku pembinaan anak dan remaja, serta aneka hasil karya serta foto kegiatan anak dan remaja.

Salah satu yang menarik banyak peminat adalah stand Keuskupan Manado karena menampilkan langsung penari Tarian Perang Daerah Minahasa, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan Tarian Kabasaran, dan beberapa makanan tradisional yang bisa dicicipi.

Banyak peserta termasuk animator-animatris serta pembina rohani dan remaja peserta dari keuskupan lain mengunjungi stand Keuskupan Manado untuk berfoto bersama dengan tiga penari Tarian Kabasaran, yang tidak henti-hentinya menari diiringi ketukan tambur di depan stand mereka.

“Tarian Perang Tradisional Minahasa ini hendak menunjukkan semangat orang Minahasa. Tapi, tarian ini bukan sekedar ditampilkan sebagai kekayaan budaya di Keuskupan Manado tetapi juga pendorong agar para anggota Sekami senantiasa bersemangat dalam mewartakan Injil di Indonesia,” kata Pendamping Rohani Sekami Keuskupan Manado Pastor Marson Pungis Pr kepada PEN@ Katolik.

Menurut imam itu, Sekami Keuskupan Manado datang untuk membagikan keberagaman dan toleransi yang juga dihidupi atau dijalani di keuskupan itu, “karena wilayah Keuskupan Manado dengan 65 paroki yang tersebar di tiga provinsi (Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, dan Provinsi Gorontalo) memiliki beragam budaya, tapi kami datang menunjukkan kesatuan sebagai anggota Sekami Keuskupan Manado.”

Di saat yang sama, imam itu membuat video dari semua stand keuskupan yang ditampilkan “untuk mengenal dan belajar dari keuskupan lain,” dan ketika peserta dari keuskupan lain datang ke stand Keuskupan Manado “kami berharap mereka bisa mengenal budaya di wilayah Keuskupan ini dan menyadari keberagaman budaya di Indonesia yang saat ini bisa ditampilkan dalam satu tempat yakni Jamnas Sekami Pontianak.”

Dalam jambore itu, lanjut imam itu, selain menampilkan pameran, Sekami Keuskupan Manado yang diwakili 27 orang yang terdiri dari dirdios, pendamping rohani, animator dan animatris serta 19 peserta, juga menampilkan pentas seni berupa tarian daerah termasuk Tarian Kabasaran dan pakaian adat. Lebih daripada itu, “kami datang dengan kehendak tulus untuk berbaur dengan semua peserta dari Indonesia untuk menunjukkan kesatuan anak-anak Indonesia yang 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.”(paul c pati)

Artikel Terkait:

Peserta-Jamnas Sekami 2018 akan terus wartakan sukacita Injil dan mencintai kebinekaan

Animatris Sekami main sulap agar anak-anak kenal Yesus tapi menangis di meja makan

Peserta Jamnas Sekami 2018 didampingi malaikat penjaga dan pendamping rohani

Dialog uskup-peserta Jamnas Sekami ada tawaran sembako untuk ibadah di rumah ibadah lain

Mgr Agus minta anak remaja Sekami untuk kristis tapi percaya kepada mama papa dan teman

Pemerintah buka Jamnas Sekami ajaran tentang perdamaian penting di era globalisasi

Anak-anak remaja Sekami berdatangan ke Pontianak untuk berbagi sukacita dalam keragaman

Semua foto di bawah ini adalah foto PEN@ Katolik:

Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?

Jum, 20/07/2018 - 23:31
Foto diambil dari faithfulman.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

339. Bagaimana dosa mengancam Perkawinan?

Karena dosa asal, yang menyebabkan perpecahan persekutuan laki-laki dan perempuan yang dianugerahkan Allah, kesatuan perkawinan sangat sering terancam oleh ketidakharmonisan dan ketidaksetiaan. Tetapi, Allah dalam kerahiman-Nya yang tanpa batas memberikan kepada laki-laki dan perempuan rahmat untuk membawa kesatuan hidup mereka ke dalam harmoni dengan rencana ilahi asali.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1606-1608

340. Apa yang diajarkan Perjanjian Lama mengenai Perkawinan?

Allah membantu umat-Nya terutama melalui ajaran Hukum dan para Nabi untuk sedikit demi sedikit mendalami pemahaman kesatuan dan ketakterceraian perkawinan. Perjanjian perkawinan antara Allah dengan Israel mempersiapkan dan melambangkan awal Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus, Putra Allah, dengan mempelai-Nya, yaitu Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1609-1611

Superior Jenderal MC, Suster Mary Prema: Para suster Ibu Teresa tidak terlibat penjualan bayi

Kam, 19/07/2018 - 22:44
Suster Mary Prema, superior jenderal para suster Misionaris Cinta Kasih milik Ibu Teresa.

Suster Mary Prema, superior jenderal Misionaris Cinta Kasih (MC) yang didirikan dan dimiliki oleh oleh Ibu Teresa mengatakan, para suster tidak terlibat dalam penjualan bayi dari sebuah pusat penampungan ibu-ibu tidak menikah di Ranchi, India. Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja India Mgr Theodore Mascarenhas sependapat.

Karena kasus itu, seorang suster MC Teresa dan seorang pekerja di penampungan Nirmal Hriday, yang dikelola oleh para suster MC itu telah ditahan dan pihak berwenang memerintahkan pemeriksaan semua rumah yang dikelola para suster itu. Penahanan awal bulan ini terjadi karena pengaduan sepasang suami-isteri India yang membayar 120.000 rupee kepada karyawan Nirmal Hriday bernama Anima Indwar.

Menanggapi hal itu, Pemimpin Umum MC Suster Mary Prema mengeluarkan siaran pers di hari Selasa, 17 Juli 2018, yang mengatakan bahwa penjualan bayi yang baru lahir itu “tidak ada hubungannya dengan Kongregasi Misionaris Cinta Kasih.”

“Kami sangat sedih mendengar perkembangan terakhir” di rumah MC, tulis suster itu dalam pernyataan resmi itu. “Walaupun kami percaya penuh pada proses peradilan yang sedang berlangsung, kami ingin mengungkapkan penyesalan dan kesedihan atas apa yang terjadi dan keinginan untuk mengungkapkan dengan tegas kecaman terhadap tindakan individu yang tidak ada hubungannya” dengan kongregasi MC.

Meskipun percaya pada hukum dan pengadilan, Suster Prema menyesali “berkembangnya banyak cerita yang dibuat-buat, informasi menyimpang, berita palsu yang tersebar dan sindiran tanpa dasar yang dilontarkan mengenai Suster-Suster Ibu Teresa.”

Dalam siaran pers, Suster Prema bercerita, ketika Karishma Toppo, ibu yang tidak menikah, melahirkan bayinya tanggal 1 Mei di Nirmal Hriday, ia menyatakan dalam pendaftaran bahwa ia akan menyerahkan anaknya ke Komite Kesejahteraan Anak (CWC), otoritas pemerintah tingkat distrik yang bertugas untuk adopsi anak.

Indwar, yang sangat dipercaya oleh para suster, menemani Toppo dan pengawalnya untuk menyerahkan bayi itu ke CWC, tetapi, kata Suster Prema, penampungan atau para suster tidak dapat memastikan apakah anak itu benar-benar diserahkan kepada CWC, karena komite itu tidak mengeluarkan surat tanda terima telah mengambil hak asuh seorang anak.

Ketika ditanya tentang bayi yang diambil oleh CWC tanggal 3 Juli, Indwar mengakui bayi itu dijual di tempat lain. Dia diserahkan ke polisi.

Kemudian terungkap bahwa dari uang 120.000 rupee yang dibayar oleh pasangan yang mengadopsi anak itu, Indwar mengambil 20,000 rupee, yang mengawal 10.000 rupee dan Toppo, ibu biologis, 90.000 rupee guna melanjutkan studinya.

Keesokan harinya, Suster Concelia, penanggung jawab bagian ibu-ibu tidak menikah, dan Suster Marie Deanne, superior Nirmal Hriday ditangkap. Suster Deanne kemudian dibebaskan.

Yang terjadi di Nirmal Hriday itu “menyedihkan, tragis, tercela, tidak dapat diterima,” demikian penyesalan Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen Konferensi Waligereja India (CBCI) yang juga uskup pembantu Ranchi. Namun, kongregasi MC “benar-benar tidak terlibat dalam hal ini,” kata uskup itu kepada saluran TV Mirror Now.

Ketika berbicara dengan Vatican News lewat telepon, Uskup Mascarenhas mengatakan bahwa kepentingan pribadi sedang mengeksploitasi isu itu untuk memfitnah Ibu Teresa dan Gereja Katolik.

Ketika ditanya tentang pernyataan resmi Suster Prema, pejabat CBCI itu menguraikan pernyataan suster itu dalam tiga poin. Pimpinan MC telah menyatakan penyesalan dan kesedihan atas apa yang terjadi di pusat ordo itu di Ranchi. Kedua, para suster sama sekali tidak terlibat dan tidak bertanggung jawab atas tindakan-tindakan individu beberapa orang. Terakhir, para suster berdoa untuk peradilan dan mereka “terbuka untuk penyelidikan peradilan yang bebas dan adil.” Mereka juga berdoa bagi semua orang yang memihak mereka dan terus memihak mereka.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Kerabat Kerja Ibu Teresa melayani tanpa kata tapi karya nyata

Gereja India rayakan hari raya Ibu Teresa, guru yang paling unggul

Apa rencana Allah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?

Kam, 19/07/2018 - 21:00

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

SAKRAMEN PERKAWINAN

337. Apa rencana Allah berkenaan dengan laki-laki dan perempuan?

Allah yang adalah cinta dan yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk cinta telah memanggil mereka untuk mencinta. Dengan menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah memanggil mereka kepada persatuan hidup yang intim dan cinta dalam perkawinan. ”Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu” (Mat 19:6). Allah bersabda dan memberkati mereka: ”Beranak-cuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1601-1605

338. Untuk tujuan apa Allah menetapkan Perkawinan?

Hubungan perkawinan antara laki-laki dan perempuan, yang didasarkan dan didukung dengan hukum-hukumnya sendiri oleh sang Pencipta, menurut kodratnya bertujuan untuk persatuan dan kebaikan pasangan dan menurunkan serta mendidik anak-anak. Menurut rencana ilahi asali, persatuan perkawinan ini tak dapat diceraikan, seperti Yesus Kristus menegaskan: ”Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk 10:9).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1659-1660

Membunyikan lonceng gereja tidaklah cukup untuk melawan pembunuhan, kata seorang imam

Kam, 19/07/2018 - 15:59
Pastor Albert Alejo SJ minta orang-orang Gereja untuk bertindak melawan pembunuhan, dalam Kongres Filipina tentang Evangelisasi Baru di Paviliun Quadricentennial UST di Manila, 18 Juli 2018. Foto: MARTINA SUMMER DAGAL

Di hari pertama Kongres Filipina tentang Evangelisasi Baru di Manila, seorang imam Katolik mendesak para klerus dan pelaku hidup bakti untuk “bangun” dan bertindak memperjuangkan kehidupan di saat pembunuhan di Filipina terus berlanjut.

Pembela perdamaian Pastor Albert Alejo mengatakan, Gereja harus bersuara menentang pembunuhan seperti yang dilakukannya terhadap RUU Kesehatan Reproduksi. “Masalah sebelumnya adalah RUU Kesehatan Reproduksi. Para suster dan seminaris mau datang ke Kongres untuk membela kesucian hidup. Tapi sekarang, telur yang dibuahi sudah menjadi orang dewasa … yang sedang dibunuh. Mengapa kalian tidak mau melakukan sesuatu?” tanya Pastor Alejo.

“Bukankah ini waktunya bagi Gereja untuk lebih aktif? Apakah kita menunggu sampai lonceng gereja berbunyi?” ini kata sosiolog agama, ‘Kami butuh engkau nabi’,” kata imam itu. Beberapa bulan terakhir, beberapa keuskupan menyerukan agar lonceng gereja dibunyikan saat mereka berdoa bagi para korban pembunuhan terkait narkoba.

Menurut imam Yesuit itu, diperlukan orang-orang Gereja untuk terlibat aktif dalam “diskursus publik” bahkan di tengah serangan-serangan terhadap gereja. “Apakah kita tetap sebagai pengamat?” tanya Pastor Alejo.

“Kita perlu belajar bahasa bergabung, ikut serta dalam diskursus publik dan siap untuk diganggu oleh orang yang melihat kesalahan dalam diri kita. Tapi seharusnya itu tidak membuat kita berhenti berbicara,” lanjut imam itu.

Pastor Alejo memperingatkan juga bahwa pembunuhan imam hanyalah indikasi adanya “budaya impunitas” (kejahatan tanpa hukuman yang menimbulkan ancaman serius bagi hak asasi manusia. Red.) (pcp berdasarkan tulisan Joselle Dela Cruz di CPCPNews, 19 Juli 2018)

Artikel Terkait:

Keluarga Dominikan Filipina akan puasa melawan pembunuhan akibat perang melawan narkoba

Para uskup Filipina ajak umat berdoa, mengaku dosa, beramal untuk masa masa sulit

Umat Katolik Filipina berdemo menentang ancaman terhadap kehidupan

Gereja mendesak pertobatan atas pembunuhan yang merajalela di Filipina

Para uskup Filipina khawatir, perang lawan narkoba tewaskan 81 orang dalam empat hari

Halaman