Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 5 hours 38 mnt yang lalu

Mgr Rolly Untu menahbiskan sembilan imam baru di Katedral Manado

Jum, 20/04/2018 - 23:44

Sembilan frater diakon, empat diosesan dari Keuskupan Manado dan lima dari Tarekat Missionariorum Sacratissimi Cordis Jesu (Misionaris Hati Kudus Yesus, MSC), ditahbiskan imam oleh Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dalam Misa di Katedral Hati Tersuci Maria Manado, 14 Maret 2018.

Kesembilan imam baru itu adalah Pastor Alexander Sondakh Pr, Pastor Olpensius Motikas Pr, Pastor Marson Pungis Pr, Pastor Stevian Undap Pr, Pastor Giovani Mario Krisanto Renyaan MSC, Pastor Leonardus Laratmase MSC, Pastor Hendrik Sumarre MSC, Pastor Ferdinandus Taran MSC, dan Pastor Stefanus Ardi Watuseke MSC.

Selain mengajak para imam baru untuk menjalankan tugas dan panggilan dengan baik di tengah umat dan masyarakat, Mgr Rolly Untu juga mengajak ara imam baru itu untuk menjaga imamat mereka.

Para imam baru itu ditugaskan di tempat berbeda, Pastor Sondakh di Paroki Santo Paulus Lembean, Pastor Motikas di Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng, Pastor Pungus di Paroki Hati Kudus Yesus Tanawangko, Pastor Undap di Paroki Santa Familia Mangaran, Pastor Renyaan dan Pastor Taran di Komda MSC Jateng-Kalsel, Pastor Laratmase di Pranovisiat MSC Pineleng, Pastor Sumere di paroki di Jayapura dan Pastor Watuseke di Seminari Menangah Kakaskasen. (A. Ferka)

Semua foto-foto ini diambil dari Komsos Keuskupan Manado:

Paus minta Konfederasi Benediktin meneruskan kemurahan hati, pendidikan dan dialog

Jum, 20/04/2018 - 23:18
Di Biara Santo Anselmus di Bukit Aventine Roma ini terletak Pusat Konfederasi Benediktin. Foto PEN@ Katolik/paul c pati

Dalam pertemuan di Ruang Klementin dari Istana Apostolik dengan sekelompok abbas dan biarawan Benediktin, yang merayakan ulang tahun ke-125 berdirinya Konfederasi Benediktin dan peletakan batu pertama Biara Santo Anselmus, Paus Fransiskus mengenang karya kemurahan hati, pendidikan, dan dialog yang diberikan oleh Benediktin bagi Gereja di seluruh dunia.

Paus Fransiskus mengatakan dalam sambutan pertemuan 19 April 2018 itu, bahwa spiritualitas Benediktin terkenal karena motonya “ora et labora et lege(doa dan kerja dan belajar). “Dalam kehidupan kontemplatif, Tuhan sering memberitahukan kehadiran-Nya secara tidak terduga. Dengan meditasi Sabda Allah dalam lectio divina, kita dipanggil untuk tetap mendengarkan suara-Nya guna menjalani ketaatan yang konstan dan penuh sukacita,” kata Paus.

Doa, lanjut Paus, membangkitkan dalam hati kami, kesediaan untuk menerima karunia luar biasa yang Tuhan selalu siap berikan kepada kita, “semangat baru yang menuntun kita, melalui pekerjaan sehari-hari kita, untuk berupaya membagikan karunia kebijakan Tuhan kepada sesama: kepada komunitas, kepada mereka yang datang ke biara untuk mencari Tuhan (quaerere Deum), dan kepada mereka yang belajar di sekolah, akademi dan universitas kalian.”

Di zamannya yang ditandai krisis nilai dan krisis institusi, Santo Benediktus digelari oleh Santo Gregorius Agung sebagai bintang yang bercahaya. “Ini karena dia mampu membedakan antara yang pokok dan yang sekunder dalam kehidupan spiritual, dan dengan tegas menempatkan Tuhan di tengah.” Maka, Paus mengajak para biarawan yang menjadi anak-anaknya saat ini, “jeli dalam mengenali apa yang berasal dari Roh Kudus dan apa yang berasal dari roh dunia atau roh iblis.”

Di zaman ini, ketika orang begitu sibuk sehingga tidak punya cukup waktu untuk mendengarkan suara Tuhan, “biara kalian menjadi laksana oase, tempat pria dan wanita dari segala usia, latar belakang, budaya, dan agama dapat menemukan indahnya keheningan dan menemukan kembali diri mereka, rukun dengan ciptaan, seraya memungkinkan Tuhan memulihkan ketertiban hidup mereka,” kata Paus.

Karisma Benediktin yang suka menyambut sesama dengan suka hati, menurut Paus, akan sangat berharga bagi evangelisasi baru, “karena memberi kesempatan kepada kalian untuk menyambut Kristus dalam setiap orang yang datang, seraya membantu mereka yang mencari Tuhan untuk menerima karunia rohani yang Dia miliki bagi kita masing-masing.”

Selain itu, menurut Paus, para Benediktin selalu diakui karena komitmen mereka untuk ekumenisme dan dialog antaragama. “Saya mendorong kalian untuk melanjutkan pekerjaan penting ini bagi Gereja dan bagi dunia, dengan menempatkan keramahan tradisional kalian dalam pelayanannya. Memang, tidak ada pertentangan antara kehidupan kontemplatif dan pelayanan terhadap sesama. Biara-biara Benediktin, baik yang di kota maupun jauh dari kota, adalah tempat-tempat doa dan keramahtamahan. Stabilitas kalian juga penting bagi mereka yang datang mencari kalian. Kristus hadir dalam perjumpaan ini: Ia hadir dalam biarawan, alam peziarah, dalam orang yang membutuhkan,” kata Paus.

Paus juga berterima kasih untuk pelayanan Benediktin di bidang pendidikan dan formasi di Roma dan di banyak bagian dunia. “Para Benediktin dikenal sebagai ‘sekolah melayani Tuhan’. Saya mendorong kalian, agar memberikan kepada para siswa bukan hanya gagasan dan pengetahuan yang diperlukan, tetapi peralatan alat bagi mereka untuk tumbuh dalam kebijaksanaan yang mendorong mereka untuk terus mencari Tuhan dalam hidup mereka, kebijaksanaan yang akan menuntun mereka untuk mempraktikkan saling pengertian, karena kita semua adalah anak-anak Tuhan, saudara dan saudari, dalam dunia yang sangat haus akan perdamaian ini,” kata Paus Fransiskus. (paul c pati)

Orang beriman itu siapa?

Kam, 19/04/2018 - 23:32

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

177. Orang beriman itu siapa?

Orang beriman Kristen adalah mereka yang sudah disatukan dengan Kristus melalui Sakramen Pembaptisan dan membentuk Umat Allah. Karena mereka sudah mengambil bagian dalam fungsi imamat, kenabian, dan rajawi Kristus dalam cara masing-masing, mereka dipanggil untuk melaksanakan misi yang sudah dipercayakan Allah kepada Gereja. Mereka semua sama dan sederajat dalam martabat sebagai anak-anak Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 871-872

178. Bagaimana Umat Allah terbentuk?

Dengan institusi ilahi, di antara umat beriman terdapat para pelayan suci yang menerima Sakramen Penahbisan yang membentuk hierarki Gereja. Anggota-anggota lain Gereja disebut kaum awam. Di antara hierarki dan kaum awam, terdapat orang-orang beriman tertentu yang mempersembahkan diri secara khusus kepada Allah dengan mengucapkan kaul menurut nasihat-nasihat Injil, yaitu kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 873-934

Tahbisan imam OP di Hong Kong dan Myanmar dan paroki baru untuk Dominikan

Kam, 19/04/2018 - 23:20

Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario, Gereja Konventual dari Rumah Santo Thomas Aquinas di Loikaw, Myanmar, ditahbiskan oleh uskup setempat, Mgr Stephen Tjephe, 3 April 2018. Di saat yang sama, Frater Pablito Thu Reh ditahbiskan menjadi diakon dan Frater Joseph Paku dan Frater Michael Tony ditahbiskan menjadi imam.

Uskup penahbis Mgr Stephen Tjephe memimpin Misa itu dengan konselebran Mgr Sotero Phamo, Mgr Peter Caku dan Mgr Basilio Athai. Konselebran lainnya adalah Provinsial dari Provinsi Rosario Suci Pastor Bonifacio Solis OP, para imam OP di Myanmar,  Pastor Matthew Shing mewakili Vikariat Filipina, Pastor Lawrence Reh mewakili komunitas Biara Santo Dominikus di Macau, tempat ketiga frater itu menyelesaikan Filsafat dan Teologi, dan 74 imam diosesan dan religius. Banyak umat awam dan kaum religius juga hadir.

Hari berikutnya, 4 April 2018, para imam yang baru ditahbiskan merayakan Misa Syukur. Saat itu Mgr Stephen Tjephe membawakan homili. Kemudian di hari yang sama, Pastor Solis dan Uskup Agung Yangon Charles Kardinal Bo menandatangani Memorandum of Agreement yang mempercayakan Paroki Santa Gemma Galgani kepada para imam Dominikan untuk jangka waktu dua puluh  tahun.

Sementara itu,  Hari Raya Kabar Sukacita 2018 di Hongkong dirayakan tanggal 9 April 2018. Tanggal itu kemudian dipilih menjadi tanggal pentahbisan dua imam Dominikan, anggota Provinsi Rosario Suci, di gereja Rosaryhill School Hong Kong. Uskup Hong Kong Mgr Michael Yeung memimpin  Misa dan menahbiskan Pastor Jordan OP dari Hong Kong dan Pastor Joseph Van Tran Huong OP dari Vietnam.

Banyak umat, sanak saudara dan keluarga, serta kaum religius dan imam hadir dalam perayaan itu. Perayaan itu bertepatan dengan berlangsungnya sidang khusus Dewan Provinsi yang biasanya berlangsung setiap tahun saat itu. Para anggota Dewan memiliki kesempatan untuk menyaksikan secara langsung peringatan tak terlupakan itu.(pcp berdasarkan op.org)

OMK belajar hukum agar masa depan tak rusak dan kewirausahaan agar orang lain gembira

Kam, 19/04/2018 - 22:51

Selain jalan santai, puluhan Orang Muda Katolik (OMK) dari anak dari berbagai paroki se-Dekenat belajar untuk tidak melakukan tindak pidana perlindungan anak, mengingat tindak pidana perlindungan anak paling banyak terjadi di Kabupaten Merauke dan sekitarnya, dan belajar serta mendengarkan beberapa tips serta motivasi untuk terjun di dunia usaha.

Masukan berupa sosialisasi itu diberikan oleh masing-masing Kajari Merauke Lukas Alexander Sinuraya dan Pengusaha Telur Asli Papua Thomas Kimko dalam pertemuan di Aula Hotel Megaria, 14 April 2018. Kegiatan itu diprakarsai oleh OMK Lingkungan Santo Markus dari Paroki Santo Yoseph Bambu Pemali dalam menyambut Pesta Pelindung Santo Markus, 25 April 2017.

Tujuan sosialisasi itu, kata Pendamping OMK Santo Markus Hilarius Ulukyanan kepada PEN@ Katolik, adalah untuk memberikan pemahaman tentang hukum kepada OMK, “agar mencegah mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum, apalagi tindakan itu dapat merusak masa depan mereka sebagai generasi penerus Gereja dan bangsa.”

Dia menghargai kejaksaan negeri yang merespon undangan itu bahkan kepala kejaksaan yang langsung datang sendiri membawa materi untuk OMK. “Saya sebagai pendamping OMK di Lingkungan Santo Markus, Paroki Bampel, mengucapkan terima kasih atas materi yang dibawakan. Kami sangat awam dalam pemahaman hukum dan banyak anak muda yang tidak paham akan hukum akhirnya melanggar hukum,” kata Hilarius.

Materi tentang kewirausahaan, lanjutnya diberikan untuk memotivasi OMK agar dapat bergelut dalam dunia usaha. “Tentunya, kegiatan ini membantu mempererat kebersamaan serta tali persaudaraan, agar OMK dapat menjadi garam dan terang terhadap sesamanya,” lanjut Hilarius.

Dijelaskan bahwa yang dilakukan itu adalah untuk kepentingan Gereja dan masyarakat. “Ini merupakan hal kecil yang kita lakukan untuk memotivasi orang muda agar dapat menjadi garam dan terang bagi yang lain, seperti yang tertulis dalam Kitab Suci agar Kabar Gembira diwartakan kepada semua orang dan membuat orang lain juga menjadi gembira,” kata Hilarius.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja OMK Santo Markus, Yohanes Parera, berharap afar materi hukum dan kewirausahaan yang diberikan dapat memotivasi OMK untuk menata masa depannya demi kepentingan Gereja dan bangsa.

“Selain menjauhi OMK dari hukuman, juga mengajak OMK untuk berwirausaha, kami juga berharap kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan OMK semakin erat. Ini juga kesempatan bagi OMK untuk bisa saling mengenal, dan ini juga motivasi bagi OMK,” kata Yohanes kepada PEN@ Katolik. (Geti Saga)

Mengapa Gereja itu bersifat Apostolik?

Rab, 18/04/2018 - 23:47
Basilika Santo Petrus, Lapangan Santo Petrus, dan Istana Apostolik. PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

174. Mengapa Gereja itu bersifat Apostolik?

Gereja itu pada dasarnya bersifat Apostolik karena didirikan di atas ”dasar para Rasul” (Ef 2:20). Gereja bersifat Apostolik dalam ajaran yang sama dengan ajaran para Rasul. Gereja bersifat Apostolik karena strukturnya, yaitu diajar, dikuduskan, dan dibimbing oleh para Rasul melalui pengganti-pengganti mereka, yaitu para Uskup dalam kesatuan dengan pengganti Petrus sampai pada kedatangan Kristus kembali.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 857-869

175. Apa isi dari misi para Rasul?

Kata ”Rasul” berarti ”dia yang diutus”. Yesus, yang diutus oleh Bapa, memanggil dua belas dari antara murid-murid-Nya dan memilih mereka menjadi para Rasul-Nya, menunjuk mereka menjadi para saksi pilihan dari kebangkitan- Nya dan dasar bagi Gereja-Nya. Ia memberi perintah kepada mereka untuk melanjutkan misi-Nya sendiri dengan berkata: ”Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21); dan, Dia berjanji untuk tetap tinggal bersama mereka sampai akhir zaman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 858-861

176. Pewarisan Apostolik?

Pewarisan Apostolik merupakan pewarisan melalui Sakramen Imamat Suci untuk melanjutkan misi dan kuasa para Rasul kepada para penerusnya, yaitu para Uskup. Berkat pewarisan ini, Gereja tetap dalam kesatuan iman dan kehidupan dengan asal usulnya dalam mewartakan Kerajaan Kristus di atas muka bumi ini selama berabad-abad.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 861-865

Paus renungkan Pembaptisan dan minta membuat tanda salib yang benar

Rab, 18/04/2018 - 23:14

Paus Fransiskus melanjutkan katekese tentang Pembaptisan pada Audiensi Umum Rabu, 18 April 2018, dengan mengatakan kata-kata dan gerak-gerik Sakramen itu mengungkapkan makna kehidupan baru kita di dalam Kristus. Saat itu Paus mengatakan bahwa tanda salib adalah pengingat siapa kita dan kita milik siapa, serta mengajak orang tua untuk mengajar anak-anaknya cara membuat tanda salib dengan benar, “karena kalau mereka mempelajarinya saat anak-anak, mereka akan membuatnya degan benar nanti saat dewasa.”

PEN@ Katolik menerjemahkan ringkasan resmi katekese Paus itu ke dalam bahasa Indonesia:

Saudara-saudariku yang terkasih: Dalam katekese berkelanjutan tentang Sakramen Pembaptisan, sekarang kita beralih ke kata-kata dan gerak-gerik yang mengungkapkan maknanya sebagai awal dari kehidupan baru kita di dalam Kristus. Pertama, orang tua ditanya nama apa yang mereka berikan kepada anak mereka. Nama yang kami terima saat Baptisan adalah pengingat terus-menerus bahwa setiap kita adalah pribadi yang unik, yang dicintai oleh Allah dan dipanggil untuk menanggapi cinta itu di setiap saat dalam kehidupan kita. Dilahirkan kembali oleh air dan Roh Kudus, kita menjadi anak-anak Allah dan memulai perjalanan iman dan pertumbuhan dalam kekudusan dalam kesatuan dengan Yesus, Anak Bapa yang kekal. Setelah berjanji untuk membesarkan anak mereka dalam iman Gereja, orang tua dan orang tua baptis kemudian membuat tanda salib di dahinya. Misteri salib menyertai kita pada setiap saat kehidupan kita, karena sekarang kita adalah milik Kristus dan bersama-sama dengan Dia melewati kematian menuju kehidupan. Setiap hari, ketika kita membuat tanda salib, semoga kita bersukacita dalam rahmat baptisan kita dan berusaha masuk lebih dalam lagi ke dalam misteri penebusan, kelahiran kembali dan kehidupan kekal yang dianugerahkan oleh Kristus Juruselamat kita.(pcp)

Dengan kesabaran lebih, Fransiskus Badar bantu anak cacat raih prestasi nasional

Rab, 18/04/2018 - 22:34
Fransiskus Saverius Badar

Mengajarkan kerajinan tangan bagi anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) membutuhkan kesabaran lebih. Dengan cara komando, anak cacat bisa ngambek. Maka, ikuti saja kemauan mereka dengan tetap memberi pendampingan. Demikian cara Fransiskus Saverius Badar (42) mengajar kerajinan tangan bagi anak-anak cacat di SLB Bhakti Luhur ALMA Wairklau Maumere selama enam tahun. “Menangani mereka butuh kesabaran, butuh ‘bantuan plus’ dari orang normal,” kata alumni SMAK Bhatyarsa Maumere tahun 1995 itu. Kesabarannya membuahkan hasil. Anak-anak cacat itu kini mampu menghasilkan kotak tissue dari tripleks yang dibalut kulit batang pisang, atau tempurung, atau bulu ayam, serta menghasilkan lampu hias dari tongkol jagung dan batok kelapa. Mereka bahkan meraih antara Juara I Pameran Kerajinan Tangan Tingkat Nasional di Yogyakarta dan Padang, dan Juara Pameran Kerajinan Tangan di Bandung 2017. “Dengan prestasi itu, mereka juga dapat menikmati kebanggaan sebagai layaknya seorang normal,” tegas Frans. “Anak cacat yang punya ketrampilan harus dibimbing dengan kesabaran penuh. Hanya dengan kesabaran dan melihat mereka dengan hati, anak cacat ini dapat menikmati hidup seperti orang normal,” kata Frans kepada PEN@ Katolik seraya menyesalkan bahwa banyak orang cacat tidak ditangani orang normal. (Yuven Fernandez)

Hasil kerajinan tangan anak-anak SLB Seorang anak SLB sedang membuat kerajinan tangan

Mengapa Gereja wajib mewartakan Injil ke seluruh dunia?

Sel, 17/04/2018 - 23:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

172. Mengapa Gereja wajib mewartakan Injil ke seluruh dunia?

Gereja wajib melaksanakan hal itu karena Kristus sudah memberikan perintah: ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Tugas misioner dari Allah ini berasal dari cinta Allah yang abadi yang mengutus Putra-Nya dan Roh Kudus karena ”Dia menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Tim 2:4).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 849-851

173. Dalam arti apa Gereja itu misioner?

Gereja, yang dibimbing oleh Roh Kudus, melanjutkan misi Kristus dalam perjalanan sejarah. Karena itu, orang-orang Kristen harus mewartakan Kabar Gembira yang dibawa oleh Kristus kepada setiap orang, dan dengan mengikuti jejak-Nya harus siap mengurbankan diri, bahkan sampai menjadi martir.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 852-856

Mgr Suharyo kenakan baju adat Minahasa dalam persaudaraan Paskah Kawanua

Sel, 17/04/2018 - 23:34

Ketika secara lisan diundang hadir dalam Perayaan Paskah Kawanua Katolik Jabodetabek, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo langsung mengatakan akan datang, “karena saya yakin kalau berkumpul dengan keluarga Kawanua pasti akan ada kegembiraan dan suasana persaudaraan yang sangat kuat.”

Benar, uskup asli Jawa itu hadir memimpin Misa perayaan itu didampingi enam imam konselebran, bahkan hadir dan berperanserta hingga selesai acara di Gedung Sinema Pancoran, Jakarta Selatan, 15 April 2018 itu. “Saya datang untuk bersama-sama dengan keluarga besar Kawanua Katolik merasakan kegembiraan dan persaudaraan, namun ternyata bukan hanya itu yang saya rasakan. Dalam tarian-tarian (tradisional Minahasa) itu, meskipun saya tidak tahu bahasanya, saya juga merasakan ada nilai-nilai rohani yang sangat mendalam.”

Karena itu, Mgr Suharyo berterima kasih atas undangan itu, karena sekarang “nilai-nilai rohani, kekeluargaan dan persaudaraan sangat penting dan dibutuhkan oleh masyarakat kita, dan saya yakin keluarga besar Kawanua Katolik akan menyebarkan semangat-semangat itu ke masyarakat luas.”

Mgr Suharyo mengatakan itu penting. “Karena saya sendiri kadang-kadang merasa lelah mendengar orang berkata-kata yang tidak baik, yang mengungkapkan kebencian dan kebohongan. Orang-orang seperti itu pasti hatinya panas terus, tidak pernah merasa gembira. Ketika mendengar orang berbicara mengenai permusuhan, mengungkapkan kata-kata benci, itu pasti merusak persaudaraan, dan di sini kita merasakan persaudaraan.”

Selain berterima kasih untuk pengalaman “yang sangat menyenangkan” itu, karena bagi diri Mgr Suharyo “ini adalah pengalaman Paskah, pengalaman rohani,” Uskup Agung Jakarta itu berterima kasih juga atas “baju baru yang saya pakai ini,” namun berharap dia tidak menjadi pribadi yang pecah karena kadang-kadang dia harus memakai pakaian (adat) yang lain.

Dalam perayaan setelah Misa dengan tema “Kristus Bangkit untuk Segala Suku” itu, Mgr Suharyo hadir dengan pakaian adat Minahasa, yang dihadiahkan panitia kepadanya, dan di atas panggung perayaan itu, Ketua Kawanua Katolik Stefi Rengkuan, yang ditemani Ketua Panitia Paskah Kawanua Katolik Ferdinand Djeki Dumais dan sembilan wakil pakasaan (anak suku) Minahasa yakni Tombulu, Tonsea, Bantik, Tolour, Tontemboan, Pasan, Ponosakan, Tonsawang, dan Babontewu, secara simbolis memakaikan baju adat Minahasa kepada Mgr Suharyo dengan menyematkan topi adat Minahasa.

Tema itu, lanjut Stefi Rengkuan, berdasarkan Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta dengan tema besar “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia” yang tahun ini mendalami sila Persatuan Indonesia. “Kita semua dari pelbagai suku yang mencintai Indonesia. Kalau kita sepakat bahwa Indonesia adalah Negara Kesatuan, maka tidak ada lagi istilah mayoritas minoritas. Semua sama dan satu saja. Apapun latar belakang suku dan Gereja kita, kita bersatu dalam satu iman akan Yesus yang satu dan sama.”

Menurut Ferdinand Dumais, sesuai semangat tema APP KAJ 2018 “Kita Bhinneka Kita Indonesia: Amalkan Pancasila” maka menjadi jelas bahwa semua anggota Kawanua Katolik berkewajiban menjadi transformer ke arah yang lebih baik. “Habis Gelap terbitlah Terang, Mapalus harus menjadi DNA dan karakter setiap anggota Kawanua Katolik,” tegasnya.

Selain makan malam bersama, Lisa A Riyanto dan penyanyi cilik Angel menghibur sekitar 500 warga Kawanua yang hadir. Atraksi Kolintang, Tari Jajar dan Selendang Biru juga memberi warna budaya malam itu. Selain pemberian penghargaan untuk tokoh Kawanua yang berjasa dalam mendirikan Kawanua Katolik, serta bingkisan Paskah kepada semua anak-anak dan door prize, peserta mengakhiri acara itu dengan Tarian Polonaise Minahasa, dan Mgr Suharyo pun ikut dalam tarian itu.

Sehari sebelum perayaan itu, menurut Stefi Rengkuan, Pengurus Kawanua Katolik dan Panitia Perayaan Paskah Kawanua Katolik Jabodetabek mengunjungi Panti Anak Pondok Damai Kampung Sawah untuk berbagi sukacita. Sejak pendiriannya, 8 Januari 2018, Kawanua Katolik, yang digerakkan oleh alumni Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen Tomohon, sudah berperanserta dalam Festival Mapalus di Bali, memberi donasi kepada lima seminari yang ada di Minahasa, membantu panti anak berkebutuhan khusus di Woloan (Minahasa), memberi donasi kepada para imam MSC yang sakit dan lansia, membedah buku “Leluhur Minahasa” karya Weliam Boseke di beberapa tempat di Jakarta dan Sulawesi Utara.

Kawanua Katolik yang baru berusia tiga bulan  itu sudah melakukan beberapa hal. Mgr Suharyo dalam homili menguatkan mereka bahwa apa pun peranan mereka, atau sekecil apa pun yang mereka lakukan, kalau itu mendorong perubahan atau transformasi di tengah keluarga, lingkungan atau komunitas dan tentu saja di tengah keluarga besar Kawanua ini, “Itulah Paskah.”(paul c pati)

 

Tari Jajar OMK Kawanua Katolik Jabodetabek Lisa A Riyanto

 

Dua wartawan dibunuh di Ekuador, Paus dan para uskup mengungkapkan kesedihan

Sel, 17/04/2018 - 21:40
Doa bagi mereka yang terbunuh

Paus Fransiskus menyatakan kesedihan setelah menerima berita tentang pembunuhan dua wartawan dan sopirnya oleh faksi yang kini dibubarkan yakni Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia yang dikenal dengan singkatan FARC.

“Saya berdoa bagi mereka, dan keluarga mereka, dan saya dekat dengan orang-orang Ekuador yang terkasih, seraya mendorong mereka untuk maju, bersatu dan tenang, dengan bantuan Tuhan dan Bunda-Nya yang Maha Kudus.”

Ketiga orang yang bekerja untuk surat kabar El Comercio itu mengalami “pembunuhan kejam” saat pergi ke perbatasan untuk menyelidiki peningkatan kekerasan yang dipicu oleh obat-obatan. Mereka diculik setelah melintasi pos pemeriksaan militer di provinsi Esmeraldas, Ekuador utara, di perbatasan dengan Kolombia selatan.

Sementara itu, para uskup Ekuador mengecam pembunuhan itu dan menyerukan perdamaian menyusul penculikan dan pembunuhan itu. Mereka menyatakan “keprihatinan mendalam” dan “kesedihan” serta menyerukan berakhirnya kekerasan dan ketidakadilan oleh kelompok-kelompok sosial dan politik bersenjata.

Dalam pernyataan yang mereka kirim ke Kantor Berita Fides, para uskup Ekuador menyatakan “doa tulus bagi istirahat abadi saudara-saudara kita” dan menulis tentang “kedekatan dan solidaritas mereka dengan keluarga mereka atas kehilangan manusia yang tak dapat diperbaiki itu, dan juga untuk semua wartawan yang mempertaruhkan hidup mereka untuk membuat kita tahu akan kebenaran fakta.”

Para uskup menyerukan kepada pemerintah Ekuador dan Kolombia untuk mengupayakan penciptaan dan konsolidasi “kondisi hidup yang lebih bermartabat, lebih adil dan lebih bersaudara, terutama di daerah perbatasan, seraya mengembangkan sumber pekerjaan dan kebijakan-kebijakan bantuan sosial, serta memperkuat sistem keamanan.”

Pernyataan itu mendesak kelompok-kelompok bersenjata “untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan guna mengatasi ketidakadilan dan untuk mematuhi inisiatif dialog dan rasa hormat untuk membangun demokrasi sejati yang bebas dari segala bentuk korupsi dan kekerasan.” Mereka yang menghasilkan uang dengan kegiatan-kegiatan tidak manusiawi didesak “untuk tidak tunduk pada keuntungan ekonomi yang berasal dari perdagangan manusia dan produksi serta perdagangan senjata dan zat-zat beracun.”

Dalam pesan itu, para uskup menegaskan kembali “komitmen kuat mereka untuk terus mengupayakan masyarakat yang lebih damai, adil dan mendukung,” karena mereka sadar akan situasi yang mengkhawatirkan di negara itu, termasuk “kelemahan struktur institusional, krisis ekonomi dan korupsi.”

Presiden Ekuador Lenin Moreno bersumpah untuk menemukan, menangkap, dan menghukum para pembunuh. Setelah menerima korfirmasi pembunuhan wartawan Javier Ortega, fotografer Paul Rivas dan sopir Efrain Segarra, yang diculik 26 Maret 2018 oleh orang-orang bersenjata anggota kelompok Oliver Sinisterra, presiden membatalkan perjalanannya, ke KTT Amerika di Peru, seraya bersumpah akan melakukan tindakan segera dalam koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Kolombia, dan berjanji untuk melawan teroris dalam apa yang dia sebut, “Dunia yang mereka pilih.”

Presiden juga mengatakan, “Saya akan menepati janji, seperti yang selalu saya lakukan. Saya akan menggunakan tangan yang kuat melawan para penjahat. Saya merasakan kepedihan sanak saudara.” Bagian dari janji itu, katanya, adalah memberikan hadiah setara dengan seratus ribu dolar, untuk menangkap pemimpinnya, yang dikenal dengan nama El Gaucho. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

 

Apa hubungan di antara Gereja Katolik dan agama-agama non-Kristen?

Sen, 16/04/2018 - 23:57
Mesjid dan Gereja Katolik di Kosovo

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

170. Apa hubungan di antara Gereja Katolik dan agama-agama non-Kristen?

Terdapat hubungan antara seluruh bangsa manusia yang berasal dari sumber yang sama dan mempunyai tujuan yang sama. Gereja Katolik mengakui apa yang baik dan benar dalam agama-agama lain itu berasal dari Allah dan merupakan pancaran dari kebenaran-Nya. Dengan demikian, juga merupakan persiapan untuk menerima Kabar Gembira dan dorongan untuk persatuan umat manusia di dalam Gereja Kristus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 841-845

171. Apa arti pernyataan ”di luar Gereja tidak ada keselamatan”?

Ini berarti bahwa semua keselamatan datang dari Kristus, Sang Kepala, melalui Gereja, yaitu tubuh-Nya. Jadi, mereka yang mengetahui bahwa Gereja didirikan oleh Kristus dan perlu untuk keselamatan, tetapi menolak untuk masuk atau tinggal di dalam Gereja, tidak dapat diselamatkan. Pada saat yang sama, berkat Kristus dan Gereja-Nya, mereka yang bukan karena kesalahan sendiri tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi secara jujur mencari Allah dan mencoba melaksanakan kehendak-Nya melalui suara hatinya, dapat mencapai keselamatan abadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 846-848

Patung Santa Perawan Maria dari Fatima

Sen, 16/04/2018 - 23:34
Guilio Napolitano untuk AFP

Patung Santa Perawan Maria dari Fatima tiba Lapangan Castel Sant’Angelo di Roma, 13 Mei 2006, untuk dibawa dalam prosesi di Lapangan Santo Petrus di Vatikan untuk menandai peringatan ke-25 sebuah percobaan dalam kehidupan Paus Yohanes Paulus II di Lapangan Santo Petrus tahun 1981. Paus percaya bahwa Perawan Maria yang menghalangi pembunuhan atas dirinya oleh di hari itu oleh penyerang Turki, Mehmet Ali Agca.

Foto oleh Guilio Napolitano untuk AFP yang diambil oleh media ini dari Aleteia (pcp)

Superioritas pengetahuan dan keputusan atas manusia

Sen, 16/04/2018 - 23:11
Malaikat. Diambil oleh PEN@ Katolik/pcp dari Basilika Santo Petrus Vatikan

Pastor Johanes Robini Marianto OP

Ada dua kemampuan makhluk ciptaan Tuhan, lebih dari sekadar ada. Rohani dengan campuran materi (tubuh), yaitu manusia atau roh murni (malaikat). Kedua kemampuan itu adalah akal budi (berhubungan dengan mengetahui) dan memutuskan secara bebas (dalam arti seseorang adalah tuan atas keputusan yang dia ambil dan bukan sekadar mengikuti instink kodrat seperti tanaman dan binatang). Yang kedua ini disebut kehendak (menghendaki). Kedua kemampuan ini beda antara manusia dan malaikat.

Pada malaikat, menurut Thomas Aquinas, setidaknya pengetahuan yang dimiliki karena kodratnya tercipta sebagai roh murni lebih tinggi dalam banyak hal daripada manusia. Bagaimana memahaminya?

Pertama, malaikat tidak perlu belajar. Maka akal budi malaikat itu selalu di dalam tindakan untuk mengetahui. Kemampuan akal budi malaikat bukan hanya berupa kemampuan (potensi) untuk mengetahui, tetapi akal budi malaikat selalu in action. Akal budi saya mempunyai kemampuan (potensi) untuk menguasai Matematika. Tetapi akal budi saya tidak setiap saat mengetahui matematika. Ada saatnya saya istirahat dan memikirkan yang lain (minimal saya malas belajar matematika). Tetapi akal budi malaikat selalu di dalam keadaan mengetahui. “Selalu di dalam keadaan menggunakan akal budi (mengetahui atau mengenal” tidak berarti malaikat selalu setiap saat harus mencari tahu (menggunakan akal budinya untuk tahu semua hal). Ini hanya mau mengatakan cara (mode) mengetahui (proses mendapat pengetahuan dari malaikat yang berbeda dengan manusia yang membutuhkan waktu untuk sampai tahu). Malaikat hanya selalu dalam keadaan mengetahui untuk obyek tertentu yang dibutuhkan demi tugasnya.

Kedua, sesuai dengan yang dikatakan Thomas Aquinas, bahwa “mengetahui membuat subyek lebih menyerupai yang diketahui” (resemblance/assimilation), maka pada malaikat, terutama di dalam pengetahuannya akan Tuhan, akan membuat malaikat lebih dekat dengan Tuhan. Itu sebabnya malaikat yang tingkatannya lebih tinggi akan lebih menyerupai Allah (karena dengan mengetahui ia akan lebih mencintai dan serupa dengan Tuhan).

Ketiga, karena tidak seperti manusia yang di dalam proses pengetahuan (mengetahui) perlu kembali kepada persepsi inderawi, malaikat itu pengetahuannya diberikan secara cuma-cuma oleh Allah sesuai dengan tingkatan dan kebutuhan malaikat di dalam menjalankan misi. Maka pengetahuan malaikat itu didapat karena dicurahkan oleh Allah (infused). Yang mereka dapat adalah sebuah pengetahuan yang menyeluruh untuk hal tertentu yang perlu diketahui, dan pada saat yang sama semua terbentang di depannya (misalnya hakikat sesuatu, kegiatannya dan bahkan konsekuensinya). Khusus pengetahuan tentang Allah, malaikat mengenal Allah dengan melihat dirinya sebagai gambaran yang dekat dengan Dia (sebagai roh murni). Namun karena tidak ada makhluk ciptaan yang secara utuh bisa mempresentasikan secara utuh dan sempurna Allah di dalam dirinya, maka pengetahuan malaikat berkat kemampuan kodratinya akan Allah pada malaikat pun terbatas (meski jauh lebih tinggi dari manusia). Untuk itulah pada malaikat dibutuhkan juga pencurahan pengetahuan adikodrati yang hanya bisa didapat kalau Allah berkenan mencurahkannya. Tetapi khusus untuk tata tercipta lain di bawah kodratnya (tumbuhan, binatang dan dunia manusia) pengetahuan kodrati yang dimiliki malaikat dicurahkan oleh Allah kurang lebih utuh sesuai dengan tingkatan mereka. Meski demikian, tetap sebagai makhluk ciptaan, malaikat tidak mengerti secara menyeluruh tentang ciptaan Allah (termasuk manusia). Apa konsekuensinya?

Di dalam hubungannya dengan Tuhan, pengetahuan malaikat tidak bisa mengetahui Tuhan di dalam Diri-Nya yang terdalam serta rencana-Nya kalau tidak diwahyukan. Maka malaikat tidak mengetahui misteri ilahi dan misteri rencana keselamatan Tuhan dengan sendirinya. Mereka tetap ciptaan. Malaikat tidak pernah tahu akan masa depan. Masa depan hanya diketahui Tuhan karena sebagaimana Yang Kekal semua terbentang di depan mata Tuhan, namanya masa depan. Malaikat juga tidak bisa mengetahui hati terdalam manusia, apalagi yang menyangkut keputusan kehendak bebas manusia. Hanya Allah yang tahu. Hanya Allah yang tahu segalanya (omniciensce) karena segala sesuatu itu di dalam Allah sebab Dia yang menciptakan segala sesuatu.

Keempat, karena pengetahuan malaikat dicurahkan oleh Allah, maka pengetahuan kodratiah (bukan adikodrati yang harus didapat dari perwahyuan Allah) malaikat tidak mungkin salah mengenai sesuatu. Kesalahan hanya terjadi apabila ada proses belajar (kemampuan akal budi di dalam potensi menjadi). Karena pengetahuan malaikat itu bukan dari proses belajar melainkan dicurahkan Allah yang maha tahu, maka pengetahuan yang melekat pada kemampuan kodratiah mereka tidak mungkin salah.

Berkat semua keterangan yang diberikan kepada Thomas Aquinas, maka kita mengerti dari kemampuan kodratiah; pengetahuan yang dimiliki malaikat dan bahkan proses mendapatkannya jauh mengungguli yang kita punya.***

Dagingku dan Tulangku

Min, 15/04/2018 - 02:00

Minggu Ketiga Paskah

15 April 2018

Lukas 24: 35-48

“Lihatlah tangan dan kakiku, bahwa itu aku sendiri. Sentuhlah saya dan lihatlah, karena hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang Anda lihat saya miliki. “(Lukas 24:39)

Kita mendengarkan kisah penampakan terakhir Yesus yang bangkit kepada para murid dalam Injil Lukas. Kehadiran-Nya menunjukkan bahwa Yesus masih memiliki beberapa misi untuk diselesaikan di bumi sebelum Dia naik ke surga. Khususnya dalam episode ini, Yesus datang untuk menepis keraguan para murid tentang kebangkitan badan-Nya. Beberapa murid mungkin memiliki gagasan bahwa penampakan-penampakan Yesus hanyalah ilusi belaka yang lahir dari rasa kehilangan dan kegagalan. Beberapa murid lain mungkin berpikir bahwa itu hanya roh tanpa tubuh atau hantu yang tampak seperti Yesus.

Yesus datang kepada mereka dan membuktikan bahwa Dia bukanlah ilusi atau sebuah rumor yang dibuat untuk memberikan harapan palsu. Dia menunjukkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka dan memakan ikan yang dipanggang seperti manusia hidup lainnya. Bahkan Yesus berkata bahwa Ia memiliki “daging dan tulang.” Para murid yang melihat dan menyentuh tubuh Yesus akan berseru di dalam hati mereka, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. (Kej 2:23).” Dari sini, kita mulai bisa melihat bahwa kebangkitan tubuh Yesus terkait erat dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian.

Jika kita kembali ke kisah penciptaan manusia dalam Kejadian bab 2, kita melihat gambar Allah sebagai seorang seniman yang membentuk umat manusia dari tanah liat. Allah juga memberikan kehidupan kepada manusia saat Dia menghembuskan roh kehidupan-Nya. Namun, segera setelah penciptaan, Allah berkata bahwa tidak baik bagi manusia seorang diri saja (Kej. 2:18). Dia kemudian membuat hewan-hewan lain, tetapi tidak ada satupun yang terbukti menjadi rekan yang sepadan bagi manusia itu. Dengan demikian, Tuhan, bertindak seperti seorang ahli bedah, membuat tidur sang manusia, mengambil tulang rusuknya, dan membentuk manusia lain. Ketika Adam bangun dan melihat untuk pertama kalinya makhluk lain yang serupa dengannya, dia bersorak, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kej 2:23).” Kisah tentang Penciptaan manusia yang sangat simbolis ini mencapai kesempurnaannya dalam penciptaan pria dan wanita, dan bagaimana mereka akan menjadi pasangan yang sepadan dalam misi untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kembali ke Injil Lukas, kisah tentang penampakan Tuhan yang bangkit kepada para murid ternyata adalah sebuah kisah penciptaan kembali. Setelah para murid membubarkan diri, menjadi pengecut yang melarikan diri, mereka menjadi sama lemahnya dengan tanah liat. Yesus datang untuk mengumpulkan mereka kembali dan membentuk mereka sekali lagi sebagai komunitas. Setelah murid-murid terluka secara mendalam dan kalah, mereka seperti pot tanah liat yang hancur berkeping-keping. Yesus datang untuk menghembuskan Roh-Nya dan membawa kesembuhan dan kedamaian sejati. Setelah para murid kehilangan arah dan makna, mereka seperti Adam pertama yang kesepian dan tidak lengkap. Yesus, sang Adam kedua, datang dan terus mengasihi mereka, dan dengan demikian, memulihkan tujuan mereka. Diciptakan kembali, para murid sekarang adalah pasangan Yesus yang sepadan dalam membawa pesan kebangkitan dan Injil kasih kepada umat manusia yang terluka.

Masing-masing dari kita adalah manusia terluka dan bergulat dengan banyak permasalahan. Terlepas dari usaha kita untuk menjadi murid Yesus yang baik, kita mengakui bahwa kita sama lemahnya dengan tanah liat. Kita tidak setia kepada Tuhan dan satu sama lain. Namun,Kristus yang bangkit tidak kehilangan harapan kepada kita. Ia mengumpulkan kita sekali lagi sebagai umat-Nya, dan dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kepada kita “daging dan darah-Nya yang sejati.” Mengambil bagian dalam tubuh kebangkitan Yesus ini berarti bahwa, kita telah diciptakan kembali sebagai mitra-Nya yang sepadan untuk membawa pesan harapan dan memenuhi misi cinta kasih, terlepas dari kemanusiaan kita yang rapuh dan lemah. Hanya di dalam Kristus yang telah bangkit, kita menemukan penggenapan sejati kita, namun dalam menjadi satu di dalam Yesus berarti kita juga terus mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita sampai akhir.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tiga suster muda ucapkan Kaul Pertama sebagai anggota Dominikan Sparkill di Pakistan

Min, 15/04/2018 - 01:40
Uskup Multan Mgr Benny Mario Travase yang memimpin Misa Kaul Pertama para suster OP

Tiga wanita muda, Suster Anna Bashir, Suster Mehreen Abbas, dan Suster Reema Ashraf mengucapkan kaul pertama mereka sebagai Suster-Suster Dominikan, dan secara resmi memasuki Kongregasi Sparkill di Bahawalpur, Pakistan, dan mulai menjalani kehidupan religius. Saat ini, 21 suster dalam komunitas itu nampak “gembira” karena dikunjungi anggota-anggota keluarga serta suster-suster dari kongregasi lain.

Ketiga suster itu mengikrarkan kaul di depan Suster Anna Bakhshi OP, Perwakilan Regional Komunitas Sparkill di Pakistan yang merupakan pemimpin komunitas yang sangat dicintai dan dihormati di sana, dalam sebuah Misa, 24 Februari 2018. Misa, yang dirayakan di Gereja Santo Dominikus yang merupakan gereja Katolik utama di Bahawalpur, dipimpin oleh Uskup Multan Mgr Benny Mario Travase dan diiringi paduan suara “berbakat.”

Sebelum mengucapkan kaul, tiga suster yang masih kuliah itu membagikan refleksi mereka tentang apa yang menarik mereka masuk dalam kehidupan religius dan apa yang paling mereka harapkan sebagai seorang suster yang sudah profes.

“Bagi saya, yang menarik saya untuk menjalani kehidupan religius adalah cinta, pelayanan tanpa pamrih, kerendahan hati, dan pengorbanan Yesus. Saya ingin hidup dalam Tuhan selamanya. Tindakan belas kasih dan cinta para suster bagi orang lain menginspirasi saya menjalani kehidupan religius. Sebagai suster berkaul, perlulah bagi saya menjaga kaul yang hendak saya nyatakan. Maka, saya perlu merenungkan empat pilar kehidupan religius (belajar, doa, komunitas, dan kontemplasi) yang membantu saya mendapatkan energi untuk melayani di kebun anggur Tuhan dengan roh yang sama yang Yesus miliki: roh kesetiaan, cinta, tekad, dan pengorbanan diri. Sebagai religius profes, saya akan mengikuti jejak Yesus dan hidup sesuai ajaran kongregasi saya,” kata Suster Anna Bashir OP yang sedang mempersiapkan gelar sarjana

“Kehidupan religius adalah kehidupan yang indah, tentang cinta Tuhan bagi ciptaan-Nya dan umat-Nya. Cinta ini menarik saya datang dalam kehidupan ini, dan saya mau memberikan diri saya sendiri secara bebas untuk cinta Kristus. Tuhan telah memanggil saya untuk memberi diri saya sendiri tanpa pamrih dan untuk menyebarkan Kabar Gembira-Nya, yakni bahwa Tuhan mengasihi kita semua. Saya sudah mengenal Suster-Suster Sparkill sejak kanak-kanak dan mereka membuat saya senang luar biasa untuk masuk kongregasi ini dan melanjutkan warisan sukacita mereka. Sebagai seorang suster yang sudah profes, saya akan mengikuti jejak Yesus dan hidup sesuai ajaran-ajaran baik yang telah diberikan oleh para suster saya. Saya akan pergi ke mana pun sesuai kebutuhan komunitas saya dan saya akan memberi diri saya dengan bahagia dan jujur,” kata Suster Mehreen Abbas yang sedang untuk meraih sarjana bidang Botani, Evolusi Hewan, dan Geografi.

“Cinta dan kemurahan Bapa Surgawi, kerendahan hati Tuhan Yesus Kristus, juru selamat saya, dan semangat-Nya untuk mengangkat orang-orang yang terpinggirkan dan yang ditolak dari masyarakat menarik saya masuk kehidupan religius. Sebagai suster yang profes, saya akan berupaya mengikuti Kristus lebih dekat dengan menjalankan tiga nasihat Injil yakni kemiskinan, kesucian, dan ketaatan. Saya akan membagikan hidup dan semua rahmat saya dengan sepenuh hati saat tinggal di komunitas. Saya berharap belajar lebih banyak tentang spiritualitas Pendiri kami dan karisma para suster awal kami,” kata Suster Reema Ashraf yang sedang belajar untuk meraih master dalam Sastra Inggris.

Ketiga suster itu akan tetap melanjutkan studi mereka dan akan sepenuhnya menjalankan pelayanan mereka saat menyelesaikan studi mereka.

Presiden Para Suster Dominikan Sparkill Suster Mary Murray OP mengatakan, “Di dunia, di mana kehidupan religius sering dianggap ketinggalan zaman, komitmen para remaja putri ini terhadap panggilan mereka dan pertumbuhan komunitas kami adalah tanda-tanda bahwa kehidupan religius masih sangat relevan. Di Pakistan, agama Katolik adalah agama minoritas yang secara luas tidak didukung oleh masyarakat yang lebih besar. Kesaksian para suster kami dalam masyarakat non-Katolik dan pelayanan mereka bagi orang-orang dari semua agama berbicara lantang tentang cinta dan perhatian Tuhan bagi semua orang. Di sana, kongregasi kami memberi harapan kepada dunia bahwa perdamaian dan toleransi itu mungkin, dan bahwa orang-orang dengan latar belakang dan budaya berbeda dapat hidup bersama dengan damai. Kaul pertama Suster Anna, Suster Mehreen, dan Suster Reema adalah hadiah bagi kongregasi kami. Semangat dan antusiasme mereka untuk kehidupan religius terbukti. Semoga mereka selalu diberkati dalam hidup mereka sebagai Suster-Suster Dominikan.” (paul c pati berdasarkan www.op.org)

Suster Mehreen Abbas OP Suster Anna Bashir OP Suster Reema Ashraf OP

Untuk pertama kalinya orang-orang kudus ikut pesta orang Malta di Valletta

Sab, 14/04/2018 - 23:07

Peristiwa Valletta, sebagai Ibukota Kebudayaan Eropa 2018, mencapai puncak yang baru di akhir pekan kedua Paskah saat Yayasan Valletta 2018 minta kepada umat paroki di ibu kota Malta itu untuk mengadakan prosesi dengan membawa empat patung pelindung dari tiga paroki Valletta, yakni Santo Dominikus, Santo Paulus dan Santo Agustinus, dan juga patung Bunda Kita Maria dari Bukit Karmel.

Acara, yang mempertemukan iman, religiositas masyarakat dan tradisi pesta orang Malta, itu memang bernama Il-Festa l-Kbira (Pesta Besar). Acara itu dimulai di Jumat malam dengan pawai band di sepanjang Jalan Republik, yang merupakan jalan utama di Valletta, kemudian diikuti dengan konser bersama di Lapangan Santo Georgious oleh dua orkes tiup Valletta, yaitu The King’s Own Band (terkait dengan Santo Dominikus) dan Società Filarmonika Nazionale La Valette (terkait dengan Santo Paulus).

Puncak aktivitas itu terjadi 7 April 2018 dengan prosesi bersama empat patung itu, peristiwa pertama dalam sejarah Valletta. Setiap paroki mengadakan Misa sebelum prosesi. Di Paroki Santo Dominikus, Misa dipimpin Uskup Agung Emeritus Malta Mgr Paul Cremona OP. Prosesi kemudian berangkat dari masing-masing gereja dan berkumpul di Lapangan Santo Gregorius di depan Istana Master Agung. Di sana, Uskup Agung Charles Jude Scicluna memimpin renungan singkat dan memberkati peserta dan hadirin.

Patung-patung kemudian diteruskan ke Jalan Republik sebelum kembali ke gereja masing-masing di larut malam. Ribuan orang yang memenuhi jalan-jalan ibukota membuat para pembawa patung dan pemain band sangat sulit pulang. Meskipun demikian, keempat paroki itu bisa menutup acara itu dengan lantunan antiphon orang kudus masing-masing dan Tantum Ergo yang diikuti Doa Umat, sebagaimana kebiasaan standar dalam semua pesta orang Malta. (pcp berdasarkan tulisan Alfred Grixti, seorang Dominikan Awam, di www.op.org)

Siapa yang termasuk dalam Gereja Katolik?

Jum, 13/04/2018 - 23:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

168. Siapa yang termasuk dalam Gereja Katolik?

Semua manusia dengan bermacam-macam cara termasuk dalam kesatuan Katolik Umat Allah atau terarah kepadanya. Mereka yang termasuk dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik adalah mereka, yang memiliki Roh Kristus, bergabung dengan Gereja melalui ikatan pengakuan iman, Sakramen-Sakramen, pemerintahan gerejawi, dan kesatuan. Mereka yang dibaptis, tetapi tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dalam arti tertentu berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik walaupun secara tidak sempurna.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 836-838

169. Apa hubungan Gereja Katolik dengan bangsa Yahudi?

Gereja Katolik mengakui hubungan khusus dengan bangsa Yahudi di dalam fakta bahwa Allah memilih mereka untuk menerima Sabda-Nya sebelum bangsa- bangsa lain. Mereka ”diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaannya sebagai manusia” (Rom 9:4-5). Iman bangsa Yahudi, tidak seperti agama-agama non-Kristen lain, sudah merupakan jawaban terhadap wahyu Allah dalam Perjanjian Lama.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 839-840

Pastor Leo Kleden SVD: Relasi suami-istri dan anak harus cerminkan Keluarga Kudus Nazareth

Jum, 13/04/2018 - 23:26

Sebagai laskar Bunda Maria, relasi suami-istri dan anak harus mencerminkan Keluarga Kudus Nazareth. Jadikanlah keluargamu sebagai rumah Tuhan yang  memiliki iman kuat dalam menghadapi berbagai problem hidup.

Ajakan itu diungkapkan Pastor Leo Kleden SVD dalam homili Misa Acies (pembaharuan janji) Legio Maria bertema “Legioner dalam hidup keluarga bercermin pada Keluarga Kudus Nazareth” yang dilaksanakan di Kapel Rumah Alma SLB Bhakti Luhur Wairklau Maumere, 13 April 2018.

Selain itu, doktor filsafat lulusan Universitas Leuven Belgia itu meminta 250 anggota Legio Maria dari 17 presidium, yang terdiri dari Paroki Wairpelit Nita, Paroki Koting dan Paroki Spiritu Santo Misir di Keuskupan Maumere itu, untuk selalu kembali ke Kitab Suci guna menemukan spiritualitas dan jati diri Maria. Dengan demikian, imam itu percaya bahwa sebagai laskar Bunda Maria mereka bisa menjadi “militan dalam menghadapi badai kehidupan yang datang silih berganti.”

Menyinggung tentang janji setia yang diperbarui para anggota Legio Maria, mantan Provinsial SVD Ende itu mengatakan, “Janji setia legioner harus betul-betul memahami acies yang bermakna kesiapan, ketajaman pandangan, dan keputusan tepat seorang prajurit di medan tempur.”

Fiat dari Bunda Maria yang berbunyi “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu,” minta imam itu, harus menjadi dasar hidup seorang legioner. “Janji setia untuk selalu menjadi laskar Bunda Maria harus nyata dalam tugas, pengabdian dan pelayanan di KBG, di Lingkungan dan juga di Gereja,” tegas imam Serikat Sabda Allah itu.

Leny, anggota Legio Maria dari Paroki Koting mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa dia menjadi anggota Legio Maria atas kemauan sendiri, “karena hidup ini belum lengkap tanpa doa dan baca Kitab Suci.” Sebagai guru SDK I Koting, lanjutnya, dia selalu membagi waktu untuk tugas mengajar dan waktu untuk Legio Maria, dan kalau menghadapi problem “saya selalu menanggapinya dengan tenang.”

Sebelum menjadi anggota Legio Maria, kata Getrudis, dari Kuria Mawar yang Gaib Paroki Spiritu Santo Misir, segala persoalan hidup yang terjadi dalam keluarga selalu dia tanggapi dengan emosional dan menimbulkan keributan. “Setelah jadi anggota Legio Maria, kehidupan dalam diri saya berubah. Saya harus menjadi teladan, karena semua orang dalam lingkungan tahu bahwa sebagai keluarga legioner harus menghayati kehidupan Bunda Maria dan Santo Yosef,” jelas Getrudis yang sudah 11 tahun bersama kelompok Legio Maria.

Setelah Misa Pembaharuan Janji, nampak para anggota Legio Maria itu makan siang bersama anak-anak Panti Asuhan SLB Bhakti Luhur Wairklau Maumere. (Yuven Fernandez)

Semua foto diambil oleh Yuven Fernandez

Malaikat, Ciptaan yang Tidak Kelihatan

Jum, 13/04/2018 - 18:32
Patung Malaikat di Basilika Santo Petrus Vatikan, diambil 26 November 2017 oleh PEN@ Katolik/Paul C Pati

Pastor Johanes Robini Marianto OP

Hadirnya misteri kejahatan, dosa (dan kematian sebagai akibatnya) tidak bisa dipisahkan dengan sebuah kebenaran iman yang mungkin sering terlupakan, yaitu adanya ciptaan yang tidak kelihatan yang disebut malaikat. Santo Thomas Aquinas mengamini yang diimani Gereja bahwa Tuhan menciptakan ciptaan lain selain yang kelihatan, yaitu malaikat. Kehadiran mereka mencerminkan secara dekat kesempurnaan Allah yang semata-mata roh murni.

Apa yang terjadi dengan ciptaan “yang tidak kelihatan” ini sehingga misteri kejahatan dan dosa harus dimengerti dari sini? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya mengerti dulu hakikat malaikat dan kemampuan kodratiah mereka serta panggilan mereka dan bagaimana perjalanan mereka menurut iman Kristen. Dari situ semua jawaban menjadi terang.

Mengapa berbicara tentang malaikat? Karena dengan berbicara tentang malaikat tidak hanya kita akan mengerti mereka (baca: malaikat) melainkan juga manusia. Dengan mengerti malaikat, kita mengerti panggilan terdalam kita, yaitu sisi spiritual manusia. Kehidupan malaikat (baca: kodrat kerohanian sebagai roh murni) adalah panggilan masa depan manusia. Manusia tidak akan jatuh pada sisi material saja dan melihat bahwa kesempurnaan untuk menjadi citra Allah itu terletak pada panggilannya yang sejati, yaitu kerohanian di dalam Allah.

Menjadi seperti malaikat itu adalah kemungkinan dan atau panggilan untuk membuka cakrawala panggilan sejati manusia (melampaui hal-hal material) dan dengan demikian menjadikan kehidupan kita lebih mendalam. Di situ kelihatan juga bagaimana sisi atau kemampuan intelektual melebihi hanya sisi teknologi dan kemampuan rasional yang dimiliki manusia.

Bicara tentang malaikat merupakan sebuah panggilan untuk semakin melampaui hal material, untuk lebih mendalam daripada hanya melihat sisi tehne (how) dan masuk pada interioritas manusia.1

Di tempat lain Bonino mengatakan, pembicaraan teologis tentang malaikat berakibat ganda. Pertama, berbicara tentang malaikat dan peranan mereka membuka perspektif kita akan keyakinan tentang persekutuan para kudus dan menguatkan keyakinan kita akan sisi sosial dan kosmis dari iman Kristiani. Kedua, dengan berbicara tentang malaikat kita diajak untuk mengerti bahwa Kerajaan Allah itu bukan utopia (artinya: masa depan yang tidak mungkin tercapai). Kita melihat Kerajaan Allah itu sudah ada dan diberikan kepada kita dengan cuma-cuma dan kita hanya perlu mau menerima Kerajaan Allah itu. Doa kita akan datangnya Kerajaan Allah sudah terjadi di dalam hidup para malaikat. Maka pembicaraan tentang malaikat, meskipun bukan yang utama di dalam Teologi Katolik, namun sangat penting, karena kehadiran malaikat itu pernyataan iman (wahyu) dan tidak bisa ditolak atau dikecilkan.

Sekali lagi Bonio mengatakan ini sama saja dengan “peristiwa pelipatgandaan roti di mana roti bagaimanapun kecil harus dikumpulkan sehingga tidak ada yang dihilangkan (Yoh 6: 12). Itulah sebabnya Angelology (Teologi tentang Malaikat) merupakan bagian esensial dari sebuah teologi juga dan layak dipelajari dan direnungkan karena maknanya yang dalam buat kita mengerti diri kita, panggilan kita serta apa yang terjadi pada kita.

Siapakah malaikat itu dan bagaimana kita yakin akan kehadiran (keberadaan) mereka?

Santo Thomas Aquinas mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa Tuhan, ketika menciptakan alam semesta dan seisinya (termasuk malaikat), bertujuan supaya mahluk tercipta semakin berpartisipasi di dalam kehidupan ilahinya supaya bahagia. Semakin sebuah ciptaan menyerupai Dia, semakin makhluk tercipta itu dekat dan berbahagia. “Semakin menyerupai Dia” itu juga semakin mencerminkan siapa Dia, di dalam arti diri Allah dan kesempurnaan-Nya. Ciptaan “barang mati” (baca: yang kami maksudkan adalah seperti batu, gunung) tentu hanya mencerminkan sifat hidup. Kalau tumbuhan dan binatang memang lebih tinggi dari ciptaan “barang mati” karena mempunyai instink kehidupan, namun belum mencerminkan kesempurnaan Tuhan sebagai persona (pribadi) dan bahkan kreativitas daya ilahi. Manusia sebagai kesatuan substansial antara tubuh dan jiwa memang merupakan ciptaan yang layak dianggap sebagai citra Allah (Kej 1:26). Namun Tuhan yang menciptakan dengan daya akal ilahi dan kehendak murni berkenan menciptakan juga ciptaan yang sungguh mencerminkan kedekatan dengan Dia yang adalah roh murni. Tujuannya selain supaya makhluk yang lebih dekat ini berbahagia, juga untuk menunjukkan “kedekatan” kesempurnaan hakikat-Nya. Di sinilah Tuhan menciptakan malaikat yang merupakan roh murni.

Di tempat lain Santo Thomas Aquinas juga mengatakan bahwa Tuhan yang merupakan Pencipta dan semata roh murni, dilengkapi dengan kehendak dan akal budi yang bebas, kreatif dan tidak terikat oleh ketidaksempurnaan karena korporealitas (kebertubuhan). Manusia yang merupakan citranya memang dilengkapi dengan kemampuan akal budi dan kehendak (bebas). Namun itu masih dibatasi oleh kebertubuhannya sehingga tetap tidaklah sempurna sebagai makhluk yang dekat mencerminkan hakikatnya (sebagai roh murni yang kehendak dan akal budi-Nya tidak terbatasi ruang dan waktu karena kebertubuhan). Maka Tuhan ingin supaya tampak dengan sempurna hakikat-Nya diciptakan-Nya malaikat yang roh murni dan menjalankan segala kehendak dan akal budi tanpa terikat oleh ruang dan waktu (karena bertubuh). Malaikat inilah yang mencerminkan paling dekat hakekat-Nya. Selain keberadaan malaikat memberikan gambaran kepada kita tujuan dan hakikat kita: memuji dan memuliakan Tuhan, sebagaimana hidup para malaikat.

Maka dari itu keberadaan malaikat bukanlah sebuah ciptaan atau rekaan mitos semata-mata melainkan secara akal budi, setidaknya menurut Santo Thomas Aquinas, bisa dibuktikan keberadaannya.

(Tulisan berikut tentang hakikat malaikat)

1 Serge-Thomas Bonino, O.P., Angesl and Demons. A Catholic Introduction, Washington DC: The Catholic University of America Press, 2016, hal. 106.

Halaman