Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 40 mnt yang lalu

Paus Fransiskus menerima skuter Vespa dari para penggemar

Sel, 04/09/2018 - 17:30
Kardinal Konrad Krajewski menaiki Vespa yang dihadiahkan kepada Paus untuk mengecek kendaraan itu. Vatican Media

Sekelompok penggemar Vespa memberikan skuter Vespa 50R tahun 1971 kepada Paus Fransiskus pada hari Minggu, 2 September 2018. Vesta itu akan dijual untuk mengumpulkan uang bagi kegiatan amal kasih. Paus Fransiskus bertemu dengan para peserta Rally Roma Caput Vespa Internasional ke-2 di Vatikan pada hari yang sama. Vespa Club in Time, yang menyumbangkan moped itu, menghias moped itu dengan lambang kepausan dan plat nomor khusus: BF362918, yang merupakan singkatan dari “Bergoglio” dan “Fransiskus” serta tahun kelahirannya (36) tanggal pemberian kendaraan itu (2 September 2018. Kardinal Konrad Krajewski menaiki motor itu sebentar untuk mengecek kendaraan baru Paus itu. Sebagai almoner Paus, kardinal itu akan bertanggung jawab melelang Vespa antik itu. Hasilnya akan disumbangkan atas nama orang miskin oleh Kantor Amal Kasih Kepausan. Setelah memarkir Vespa-Vespa 600-odd mereka di Vatikan, para penggemar skuter itu ikut dalam Doa Angelus yang Paus Fransiskus pimpin di Lapangan Santo Petrus pada siang hari. (Devin Watkins, Vatican News)

Vespa-vespa dari peserta Rally Roma Caput Vespa Internasional ke-2 diparkir Vatikan untuk mengikuti Doa Angelus yang dipimpin Paus. Vatican Media

Para uskup bersumpah tak akan menutup-nutupi pelanggaran yang dilakukan klerus

Sel, 04/09/2018 - 02:04

Terguncang dengan gugatan pelecehan seksual yang dilakukan klerus dalam Gereja Katolik khususnya di Amerika Serikat, para uskup di Filipina mengungkapkan “rasa sakit dan malu” atas kejahatan-kejahatan itu, seraya menjanjikan aksi dan tidak ada penyembunyian atas tindakan kriminal semacam itu.

Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) telah bersumpah bahwa klerus yang mencabuli gadis-gadis dan anak-anak kecil akan ditangani dengan tepat.

Ketua CBCP Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles mengatakan “situasi menyakitkan” itu memanggil para uskup untuk “meninjau kembali” hukum Gereja universal dan lokal tentang pelecehan seksual.

“… Dan dengan tekad dan komitmen baru menerapkannya dan tidak menutupinya,” kata Mgr Valles dalam pernyataan pastoral yang dikeluarkan 31 Agustus 2018.

Dalam suratnya di tahun 2016, CBCP telah memastikan kerjasama dengan otoritas sipil untuk mengatasi pelanggaran yang dilakukan klerus yang telah mencoreng wajah Gereja di seluruh dunia.

Para uskup mengatakan bertekad untuk memastikan bahwa Gereja adalah lingkungan yang aman bagi semua umat Katolik, terutama anak-anak, dan menjamin perhatian yang layak bagi para korban dan keluarga mereka.

Pernyataan berjudul “Seruan pastoral tentang perhatian dan perlindungan pastoral bagi anak-anak di bawah umur,” itu dimaksudkan untuk memandu keuskupan-keuskupan berdasarkan pendekatan global namun sejalan dengan hukum pidana lokal.

Seraya menyerukan seruan Paus Fransiskus, kepala CBCP juga meminta Gereja berdoa dan berpuasa di tengah pengungkapan rahasia pelanggaran yang dilakukan klerus.

“Situasi ini juga memanggil kami kepada sesuatu yang penting. Situasi itu mengingatkan kita untuk datang kepada Tuhan dalam doa,” lanjut Mgr Valles.

“Ini sesuatu yang dapat kita adakan dan lakukan di keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki kita, di komunitas-komunitas agama kita, dan dalam KBG-KBG (Komunitas Basis Gerejani) kita,” kata Mgr Valles.(Roy Lagarde dari cbcpnews)

Apa itu kebaikan umum?

Sen, 03/09/2018 - 23:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

407. Apa itu kebaikan umum?

Yang dimaksud dengan kebaikan umum ialah semua kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan orang-orang sebagai kelompok atau individu mencapai kesempurnaan (kebahagiaan) mereka sendiri.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 190-1906, 1924

408. Apa saja yang tercakup dalam kebaikan umum?

Kebaikan umum ini meliputi hormat dan pengakuan akan hak-hak fundamental pribadi, perkembangan hal-hal rohani dan jasmani pribadi dan masyarakat, damai dan keamanan bagi semua.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1907-1909, 1925

Pastor Andy Fanumbi rayakan pesta perak dengan operasi bibir sumbing dan gerakan seribu rupiah

Sen, 03/09/2018 - 23:43

Menyambut Pesta Perak (25 Tahun) Imamat yang akan berlangsung 5 September 2018, Pastor Andreas Fanumbi Pr atau yang akrab disapa Pastor Andy mengadakan bakti sosial operasi bibir sumbing dan celah langit-langit secara gratis di Rumah Sakit Bunda Pengharapan Merauke, dan mencanangkan  Gerakan Seribu Rupiah (Geser) untuk pemeliharaan situs-situs rohani yang ada di Keuskupan Agung Merauke.

Pelaksanaan operasi bibir sumbing gratis selama dua hari, 1-2 September 2018, itu dilakukan imam itu bekerja sama dengan Rumah Sakit Bunda Pengharapan, Yayasan Vivitas Indonesia, Smile Train dan Yayasan Permata Sari Semarang Indonesia, dan pencanangan Geser dilakukan bersama Yayasan Vivitas Indonesia, Yayasan Prima Unggul dan Smile Train, pada pembukaan kegiatan Character Building di Halaman Patung Hati Kudus Yesus Bandara Mopah Merauke, 1 September 2018.

Pastor Andy mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa operasi bibir sumbing diprioritaskan untuk anak-anak asli Papua yang kurang mampu, namun terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

“Kami tidak membuat perbedaan, hanya skala prioritas. Saudara-saudara orang asli Papua harus mendapat prioritas, sebab mereka yang mempunyai tanah ini. Kita memberi penghargaan dan apresiasi kepada orang asli Papua dan sesudah itu kepada saudara-saudara lain yang datang dan hidup bersama orang Papua di sini,” kata Pastor Andy di sela-sela kegiatan itu.

Dijelaskan, operasi bibir sumbing dilaksanakan karena imam itu memiliki visi di bidang kesehatan, dan Yayasan Vivitas Indonesia yang didirikan oleh imam itu juga memiliki relasi dengan Smile Train yang merupakan salah satu LSM Internasional dari New York.

“Saya sudah minta prioritas untuk kuota Papua dan sudah tiga kali dilaksanakan operasi bibir sumbing di Merauke. Untuk kuota tidak ada batasan. Berapa banyak pun siap dilayani, seribu, dua ribu atau tiga ribu orang, kami layani,” kata Pastor Andy.

Geser, menurut Pastor Andy, bertujuan untuk pemeliharaan situs-situs rohani yang ada di Keuskupan Agung Merauke, yakni Patung Hati Kudus Yesus di areal Bandara Mopah Merauke, Patung Kristus Raja Segala Bangsa di Kampung Poo, Distrik Jagebob, Patung Hati Kudus Yesus di Pulau Habe, Kampung Wambi, Distrik Okaba, dan beberapa situs lain.

Geser juga digalakkan untuk menolong masyarakat pinggiran kota Merauke yang butuh uluran tangan, khususnya yang terpuruk dalam kesehatan, pendidikan maupun ekonomi. “Dengan seribu rupiah kami dapat menolong. Saya ingin mengajak generasi muda memiliki keprihatinan sosial seperti ini. Saya ingin mengetuk hati anak-anak muda agar memiliki satu keprihatinan sosial demi kepentingan bersama. Melalui Geser kita membangun solidaritas rela berbagi dari kekurangan sesuai tema saya, yaitu berbagi kekurangan bersama sesama yang membutuhkannya,” kata imam itu.

Pastor Andy yakin Tuhan akan membuat mujizat dan tanda heran, “bahwa dari yang sedikit ada mujizat dan tanda-tanda heran yang luar biasa seperti dua ekor ikan dan lima roti, Yesus mengubahnya dan bisa memberi makan 5000 orang dan mereka makan sampai kenyang,” kata imam itu.

Setelah Geser, kegiatan dilanjutkan dengan acara Character Building yang dikemas dalam permainan outbound, yang menurut imam itu bertujuan “untuk membangun karakter anak-anak Papua.” (Yakobus Maturbongs)

Keluarga saat mengunjungi pasien yang selesai melakukan operasi bibir sumbing. YM Pencanangan Gerakan Seribu Rupiah oleh Pastor Andreas Fanumbi Pr yang ditandai dengan pemukulan tifa. YM

Sekolah-sekolah Katolik hendaknya membentuk dan menghasilkan siswa-siswi berkarakter

Sen, 03/09/2018 - 22:51

Sekolah-sekolah Katolik hendaknya sungguh membentuk dan menghasilkan siswa-siswa yang berkarakter. Harapan itu dikemukakan oleh Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dalam homili Misa Pembukaan Rapat Pleno XVI Komisi Pendidikan KWI.

Selain itu, dalam Misa yang berlangsung di Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Ambon, 27 Agustus 2018, Mgr Mandagi menegaskan dukungannya untuk rapat pleno itu dan berharap peserta mengalami keramahtamahan dan persaudaraan di Ambon secara nyata.

Selesai Misa, peserta disambut oleh Marching Band SMA Xaverius dan diantar menuju wisma Uskup Amboina untuk ramah tamah yang dihiasi nyanyian dan tarian khas Ambon serta jamuan makan bersama uskup, para imam, suster, frater dan umat.

Sebanyak 69 peserta, yang terdiri dari pengurus Komisi Pendidikan (Komdik) KWI, ketua-ketua Komisi Pendidikan Keuskupan dari Regio Sumatra, Jawa, Kalimantan, MAM (Manado, Amboina, Makassar), Nusra dan Papua serta perwakilan pengurus Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan serta perwakilan mitra Komdik yaitu Majelis nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK), Perhimpunan Akademi Politeknik Katolik Indonesia (PAPKI), dan Ikatan Insan Pendidikan Katolik Nasional (IIPKN), menghadiri rapat pleno itu.

Tema Rapat Pleno Komisi Pendidikan KWI yang berlangsung hingga 30 Agustus 2018 itu adalah “Aktualisasi Nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja dalam pendidikan Katolik di Indonesia.”

Dalam rapat pleno itu, selain mendengarkan sambutan dan laporan dari Sekretaris Eksekutif Komdik KWI Dr C Kuntoro Adi SJ, peserta menerima masukan dari beberapa narasumber, yaitu Ibu Alissa Wahid, Pastor Albertus Bagus Laksana SJ, Pastor Albertus Hartana SJ, dan Ch Bema Indradjis.

Dengan panduan Prof Anita Lie Ed.D, peserta lalu melaksanakan pendalaman bersama per regio dan menyusun Action Plan yang akan dilaksanakan di sekolah-sekolah Katolik di regio keuskupan masing-masing. Peserta juga mendengarkan sharing dari Ketua MPK Keuskupan Amboina Pastor Agustinus Arbol Pr tentang contoh raport karakter.

Di sela-sela rapat itu, peserta menghadiri undangan Walikota Ambon Richard Louhenapessy, alumni SMA Xaverius Ambon, yang menggambarkan potensi penduduk Ambon dalam bidang musik dan tarik suara sehingga kota Ambon disebut sebagai “City of Music.” Bahkan, menurut walikota, Ambon siap melaksanakan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I yang akan diadakan Oktober 2018. (Suster Sesil OP)

Tradisi

Sab, 01/09/2018 - 19:57

Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-22 pada Masa Biasa, 2 September 2018: Markus 7: 1-8, 14-15, 21-23

“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7: 8)

Dalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.

Seandainya Yesus meninggalkan semua tradisi, Dia seharusnya berhenti berbicara bahasa Aram, menahan diri untuk mengajar orang-orang, dan mulai melepas semua pakaian Yahudi-Nya. Namun, Yesus tidak melakukan hal-hal itu. Yesus menghormati tradisi dan mengakui pentingnya hal-hal ini. Namun, Yesus juga mengakui bahwa ada beberapa tradisi yang bermasalah dan perlu ditinggalkan. Menjadi bagian dalam aliran tradisi, Yesus mengajak kita untuk memahami dengan baik tradisi apa yang membawa kita kepada ibadat sejati kepada Allah dan kemajuan sejati bagi komunitas manusia.

Lebih dekat dengan Injil hari ini, orang-orang Yahudi memiliki ritual-ritual pemurnian karena mereka hanya bisa menyembah Tuhan ketika mereka bersih secara ritual atau tidak najis. Mereka pun dengan hati-hati menghindari benda-benda yang dapat membuat mereka najis seperti darah dan binatang-binatang najis, termasuk juga benda apa pun yang bersentuhan dengan hal-hal najis ini. Karena mereka tidak yakin apakah tangan dan peralatan makan mereka tidak bersentuhan dengan hal-hal najis, terutama jika mereka datang dari pasar atau ladang, mereka membuat kebiasaan untuk memurnikan tangan dan peralatan mereka untuk menghindari hal ini. Dengan demikian, berbagai ritual pemurnian berkembang menjadi tradisi bagi orang Yahudi. Ujud dari tradisi-tradisi ini baik karena mereka membantu orang-orang Yahudi bersih dari kenajisan dan dapat menyembah Tuhan. Namun, beberapa orang Farisi memberi penekanan berlebihan pada tradisi-tradisi ini dan menjadikannya absolut seolah-olah kegagalan untuk menjalankan ritual-ritual ini berarti mereka gagal untuk menghormati Tuhan. Mereka tidak bisa membedakan antara ibadat sejati yang mendatangkan kehormatan sejati bagi Tuhan, dan praktik-praktik tradisional lainnya yang membantu orang dalam mencapai ibadah ini.

Yesus tidak hanya mengundang kita untuk membedakan dengan seksama berbagai tradisi yang kita miliki, tetapi Yesus juga memberikan kepada kita sebuah tradisi yang lebih mendasar dalam menyembah Allah. Alih-alih “menurunkan” sebuah praktik atau hal, Yesus “menurunkan” sesuatu yang paling penting, yakni hidup-Nya sendiri untuk Allah dan kita semua. Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, diri-Nya yang sepenuhnya, dalam Perjamuan Terakhir, dan pengorbanan ini mencapai puncaknya di Salib. Persembahan diri-Nya menjadi ibadah yang paling sempurna bagi Allah, dan memenangkan rahmat keselamatan bagi kita semua. Yesus menyerahkan Tradisi besar ini kepada para murid-murid-Nya dan sepanjang zaman, kita dengan setia menjalan Tradisi ini dan mempersembahkan pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi. Sewaktu kita mengambil bagian dari persembahan diri Yesus, kita juga diberdayakan untuk “menurunkan” dan menyerahkan diri kita kepada orang lain. Ini berarti kita diundang untuk melakukan pengorbanan kita sehari-hari, bertekun dalam melakukan kebaikan, dan setia pada komitmen kita baik sebagai suami-istri, orang tua, imam, kaum religius, atau seorang profesional. Ketika kita menjalani tradisi terbesar ini setiap hari, kita tidak hanya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi menawarkan ibadah yang sempurna kepada Tuhan.

Frater Valentinus Bayuahadi Ruseno OP

 

 

Paroki Redemptor Mundi resmikan rumah formasi tempat orang muda dibina jadi pemimpin melayani

Jum, 31/08/2018 - 23:45

Beberapa menit menjelang peresmian sebuah gedung baru yang akrab disebut Rumah Formasi Paroki Redemptor Mundi, 29 Agustus 2018, seorang umat paroki itu bertanya, “Apa manfaat dari rumah formasi?”

“Gedung baru ini disebut Rumah Formasi. Rumah Formasi diperuntukkan bagi generasi muda paroki untuk melakukan dan merencanakan kegiatan paroki. Rumah Formasi adalah tempat untuk membuat sebuah power dan power itu bisa mempengaruhi yang lain. Generasi muda harus mempunyai power supaya bisa menjadi leader, supaya bisa membuat perubahan dalam masyarakat.”

Homili Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya Pastor Adrian Adiredjo OP menjawab pertanyaan tak langsung umat. “Kita tentu menginginkan anak-anak bisa menjadi centurion atau perwira untuk melayani. Centurio, dalam bahasa Latin, adalah perwira atau pemimpin bijaksana yang siap melayani. Biasanya orang yang sudah menjadi centurion atau pemimpin lupa akan dirinya. Namun centurion ini luar biasa, dia tidak seperti kacang lupa kulit. Dia tidak lupa akan orang kecil dan mau memikirkan orang lain. Perwira ini lain, dia ingat bawahannya,” tutur imam itu.

Biasanya, lanjut Pastor Adrian, orang yang sudah punya power sering kali merusak dirinya sendiri. “Nah, cara agar kita tidak dirusak oleh power lain adalah melayani. Akhirnya tujuan kita semua untuk mengenal Yesus sebagai Juru Selamat. Perbedaan suku, ras, warna kulit dan lain-lain tidak menghalangi centurion untuk mengenal Kristus,” kata Pastor Adrian.

Pemberkatan Rumah Formasi dihadiri para para ketua DPP dan BGKP, para ketua wilayah, ketua lingkungan, para suster OP dan suster SPM, serta para pastor di Redemptor Mundi.

Rumah Formasi itu didirikan tahun 2017 dan kini sudah selesai. Gedung baru yang berukuran sekitar 12 meter x 5 meter dan berlantai dua itu berada sisi timur Gereja Redemptor Mundi atau berhadapan dengan Klinik Pratama Redemptor Mundi. Gedung baru itu akan digunakan oleh Remaja Katolik (Rekat) dan OMK. (PEN@ Katolik/herman yk)

Mgr Suharyo ajak umat jadi anggota Gereja hidup dan kreatif saat gereja paroki diberkati

Jum, 31/08/2018 - 23:19
Foto Komsos Paroki Karawaci

Uskup Agung Jakarta (KAJ) Mgr Ignatius Suharyo mengajak seluruh umat Paroki Santo Agustinus Perum, Karawaci, Tangerang, agar menjadi anggota Gereja yang hidup dan penuh kreatif seperti Gereja Anthiokia, yang bertumbuh penuh pelayanan sehingga menjadi model perkembangan Gereja zaman sekarang.

Mgr Ignatius Suharyo berbicara dalam Misa 28 Agustus 2018 saat merayakan HUT ke-30 Paroki Karawaci, pesta pelindung paroki itu dan pemberkatan serta penandatanganan prasasti gedung gereja yang IMB-nya baru diterima “setelah menunggu lama dan melelahkan” yakni enam tahun lalu waktu Paroki Karawaci merayakan HUT ke-24. Pendirian gedung gereja juga awalnya diprotes warga sekitar.

Misa yang dipimpin Mgr Suharyo dengan konselebran Provinsial OSC Pastor Basilius Hendra Kimawan OSC, Kepala Paroki Karawaci Pastor Stefanus Suwarno OSC dan sembilan imam lain serta dihadiri sekitar 3000-an umat itu bertema “Bersatu dalam Keberagaman, Mensyukuri Rahmat Tuhan.”

Dalam sejarah awal Gereja Katolik, Mgr Suharyo mengisakan, ada tiga Gereja yakni Gereja Yerusalem, Gereja Efesus dan Gereja Anthiokia. Perkembangan Gereja Yerusalem dengan tokoh Yakobus ternyata tidak bertahan lama, karena tradisi orang Yahudi dikenal sangat fundamental dengan aturan Gerejanya, sedangkan Gereja Efesus yang melibatkan tokoh Yohanes hilang tak berbekas karena pertengkaran dan perselisihan antarumat. “Gereja yang selalu diwarnai perselisihan justru tidak bertahan lama,” kata uskup.

Gereja Anthiokia dikenal sebagai Gereja yang berkembang dengan baik, “bahkan selalu hidup dan sangat kreatif,” tegas Mgr Suharyo seraya mengajak perlu untuk mencontohi Gereja itu.

Syarat-syarat Gereja yang hidup dan kreatif, jelas Mgr Suharyo, pertama, “setiap pribadi atau anggota Gereja rela menyerahkan nyawanya untuk domba-domba.” Gereja Katolik Batavia (Jakarta) dibawa ke tanah Batavia 210 tahun lalu oleh para misionaris asing yang umumnya “berusia muda dan penuh semangat.”

Kehadiran mereka bukan disambut meriah tetapi disambut oleh wabah penyakit kolera dan berbagai penyakit lain. “Wabah kolera da malaria menjadi tantangan kala itu, tetapi mereka tekun mewartakan kasih Tuhan.” Akibat wabah itu, para misionaris meninggal dunia. “Mereka disebut martir-martir kecil saat itu. Mereka menyerahkan nyawa untuk mewartakan kebaikan Tuhan,” kata Mgr Suharyo.

Kedua, ketaatan dan kepasrahan yang diungkapkan oleh Santo Agustinus bahkan dengan ungkapan sangat menyentuh hati, “Tuhan, aku tidak akan tenang sebelum aku temukan Tuhan di dalam hatiku.” Ungkapan itu, lanjut uskup, “menjadi spirit sangat dahsyat buat umat paroki ini. Ungkapan ini adalah wujud nyata iman sangat kepada Tuhan.”

Pastor Suwarno mengapresiasi seluruh umat, para pastor yang bertugas di Paroki Karawaci sebelumnya, Ketua Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Sonny Wibisono dan kawan-kawannya, serta seluruh umat yang giat mengusahakan dana sehingga selesai pembangunan sarana yang paling dibutuhkan umat itu.

Pastor Suwarno berterimakasih kepada seluruh umat yang memberikan perhatian demi kelancaran pembangun gedung gereja itu. Sebelumnya, tak jauh dari gereja itu, dibangun Graha Agustinus yang dilengkapi berbagai sarana sehingga setiap Minggu bisa dilakukan pembinaan setiap kelompok kategorial di paroki itu. (PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

Apa dasar otoritas sosial?

Jum, 31/08/2018 - 17:19
Gambar dari Facebook Umat Katolik

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

405. Apa dasar otoritas sosial?

Setiap komunitas manusia membutuhkan otoritas yang sah untuk menjaga keteraturan dan memberikan sumbangan untuk mewujudkan kebaikan umum. Dasar otoritas itu terletak dalam kodrat manusia karena berhubungan dengan tatanan yang ditetapkan oleh Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1897-1902, 1918-1920

406. Bilamana otoritas itu dilaksanakan dengan cara yang sah?

Otoritas dilaksanakan secara sah jika bertindak demi kebaikan umum dan menggunakan sarana yang bisa dibenarkan secara moral untuk mencapainya. Karena itu, rezim politik harus ditentukan oleh keputusan bebas dari warga negaranya. Mereka harus menghormati prinsip ”aturan hukum” (rule of law) tempat hukum yang berkuasa, bukan kehendak sewenang-wenang dari beberapa orang. Hukum yang tidak adil dan peraturan-peraturan yang bertentangan dengan tatanan moral itu tidak mengikat bagi suara hati.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1901-1904, 1921-1922

Pastor Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia meninggal di usia 86 tahun

Jum, 31/08/2018 - 04:39

“Romo Glinka, semua telah tertata. Kamu pergi dengan megah dan gagah. Hidupmu betapa berarti… senyumlah dengan bangga menuju cahaya abadi yang telah menjemputmu. Requiescat in Pace,” tulis Pastor Agustinus Tri Budi Utomo Pr yang akrab dipanggil Romo Didik dalam halaman Facebooknya.

Berita media sosial tanggal 30 Agustus 2018 sekitar pukul 21.10 tentang meninggalnya Pastor Habil Josef Glinka SVD agak mengejutkan banyak orang karena Pastor Glinka baru merayakan HUT ke-86 tanggal 7 Juni lalu, dan tanggal 26 Agustus masih menghadiri peluncuran buku karangan Bernada Rurit berjudul “Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD – Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia.”

Pastor yang lahir di Chorzow, Polandia, 7 Juni 1932 itu adalah juga ilmuwan yang sejak 1985 hingga meninggal berkarya sebagai sebagai guru besar antropologi di Universitas Airlangga, Surabaya. Menurut berbagai catatan, imam yang menguasai dengan baik sembilan bahasa itu hidup mau menolong sesama tanpa memandang latar belakang agama dan status sosial seseorang.

Profesor Bioantropologi (Antropologi Ragawi) pada Jurusan Antropologi, FISIP, Universitas Airlangga, dan pada Fakultas Psikologi, Unversitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, itu menempuh pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah di Polandia (1939-1951), kemudian filsafat di Seminari Tinggi Serikat Sabda Allah (SVD), Pieniezno, Polandia (1951- 1954) dan teologi di seminari yang sama (1954-1958). Pastor Glinka ditahbiskan imam tahun 1957.

Sesudah pendidikan teologi, imam itu belajar biologi dan antropologi ragawi di Universitas Adam Mickiewicz, Poznan, Polandia, dan 1974-1975 serta 1976-1977 mengikuti Alexander von Humboldt postdoctoral research fellowship. Gelar Doktor Biologi dalam Antropologi diraihnya tahun 1969 di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, dan guru besar dalam Bioantropologi, di universitas yang sama tahun 1977.

Tanggal 27 Agustus 1965 Pastor Glinka tiba di Jakarta. Tahun berikutnya, imam yang pernah mengajar Filsafat Alam di Seminari Tinggi SVD di Pieniezno, Polandia, itu menjadi dosen Antropologi dan Filsafat Alam Hidup di STFK Ledalero, Flores, hingga 1977. Di samping itu Pastor Glinka menjadi dosen tamu di Universitas Nusa Cendana, Kupang, dan Unika Atma Jaya, Jakarta, sejak 1972 hingga 1974.

Sejak 1977 hingga 1985, imam itu menjadi guru besar Antropologi dan Filsafat Alam Hidup di STFK, Ledalero, namun dua tahun di antaranya, yakni 1982 sampai 1983, dia menjadi guru besar tamu di Johannes-Gutenberg-Universität, Mainz Jerman, dan di beberapa Perguruan Tinggi di Polandia.

Selai itu, imam yang sudah melahirkan 13 doktor, baik sebagai promotor dan co-promotor, itu pernah membuat penelitian tentang karakteristik morfologis penduduk Pulau Palue, NTT, berat badan bayi di Flores, NTT, karakteristik antropometris beberapa kelompok etnis di Indonesia, pertumbuhan anak sekolah di Jakarta, system perkawinan di Paroki Nita dan Koting, Flores.

Hal lain yang pernah diteliti adalah norma pertumbuhan anak/remaja di Indonesia, usia menarche pada berbagai kelompok etnis di Indonesia, lingkaran perkawinan di Manggarai, Flores, dan di Timor Tengah Selatan, karakteristik morfologis mahasiswa Universitas Airlangga, pengaruh Medan Geopatis atas fertilitas manusia, dan perubahan tinggi badan di Indonesia.(PEN@ Katolik/shelvy/pcp)

Pastor Agustinus Tri Budi Utomo Pr (Romo Didik) dan Pastor Habil Josef Glinka SVD

Paus ajak umat Waldensian dan Metodis untuk ikut umat Katolik melayani orang miskin

Kam, 30/08/2018 - 22:03
Paus Fransiskus pada Audiensi Umum 29 Agustius 2018 di Vatikan. Foto ANSA

Dalam pesan yang dikirim kepada para peserta sinode tahunan Perhimpunan Gereja-Gereja Metodis dan Waldensian yang berlangsung di Torre Pellice, dekat Turin, Italia utara, 26-31 Agustus 2018, Paus menyatakan kedekatan persaudaraan Gereja Katolik dan dirinya serta mengajak umat Waldensian dan Metodis untuk ikut bersama umat Katolik dalam mewartakan Yesus, terutama bagi kaum miskin dan kaum terpinggirkan saat ini.

“Kami dipanggil untuk mempergunakan diri kami dalam mewartakan Yesus, yang akan bisa dipercaya jika itu dicerminkan dalam kehidupan dan dijalani dalam kegiatan amal kasih, terutama bagi banyak Lazarus yang mengetuk pintu kami saat ini,” tulis pesan yang dibacakan saat sinode itu dimulai hari Minggu oleh Eugenio Bernardini, moderator Waldensian Table, badan puncak Gereja itu.

“Dengan melayani orang-orang itu saat ini, membela martabat orang yang paling lemah dan meningkatkan keadilan dan perdamaian, kita bersama-sama menjadi agen perdamaian yang Tuhan umumkan di hari Paskah dan yang Dia tinggalkan kepada kita sebagai warisan,” tulis Paus, seperti dilaporkan oleh Robin Gomes dari Vatican News.

Yang dibicarakan oleh 180 bapa sinode Metodis dan Waldensian dalam sinode itu, antara lain kehadiran Gereja dalam kehidupan publik dan komunitas, perbuatan baik dalam pelayanan dan pewartaan, migrasi dan ekumene

Sambil berdoa bagi mereka, Bapa Suci mengatakan bahwa dia membayangkan berdoa bersama mereka dan memohon kepada Bapa agar “bersama Tuhan, semua umat Kristen dapat berjalan dengan tulus hati menuju persekutuan penuh.” Paus juga menulis, “Hanya dengan cara ini, dengan menanggapi secara konkret panggilan Tuhan untuk ‘menjadi satu’, kita dapat mewartakan Injil dengan cara terbaik.”

Seraya mengenang pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan mereka di Argentina, Turin, dan Roma, Paus memohon agar Tuhan memberkati mereka, dan mendorong mereka berdoa bagi dirinya.

Uskup Lodi (Katolik) Mgr Maurizio Malvestiti, didampingi oleh Pastor Cristiano Bettega, direktur Kantor Nasional Konferensi Waligereja Italia untuk Ekumene dan Dialog Antaragama, merupakan tamu undangan dalam sinode itu.

Perhimpunan Gereja-Gereja Metodis dan Waldensian adalah gereja bersatu Italia yang didirikan tahun 1975 menyatukan Gereja Evangelis Waldensian dan Gereja Metodis Injili di Italia. Perhimpunan itu memiliki sekitar 50.000 anggota, di antaranya 45.000 umat Waldensian, sebagian besar di Italia, tetapi juga di Argentina dan Uruguay. Umat Metodis berjumlah sekitar 5.000 orang.(pcp berdasarkan Vatican News)

Latihan Kepemimpinan Kader PMKRI didik anggota menjadi garam dan terang dunia

Kam, 30/08/2018 - 21:05

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng Agustinus melakukan Latihan Kepemimpinan Kader (LKK), pendidikan formal berjenjang PMKRI untuk melatih kader-kader organisasi menjadi pemimpin masa depan, di Borong, Manggarai Timur, 27 Agustus hingga 1 September 2018.

“Melalui LKK ini diharapkan kader-kader PMKRI mampu menjadi garam dan terang dunia, menjadi pemimpin yang mengabdi dengan jiwa dan semangat kekatolikan,” demikian informasi yang disampaikan kepada PEN@ Katolik oleh Presidium Pendidikan Kaderisasi PP PMKRI  Fibrisio H Marbun saat LKK itu berlangsung.

Dalam LKK itu, Fibrisio berbicara tentang Kebijakan Nasional PMKRI, yang mengajak seluruh peserta mengetahui kebijakan-kebijakan PP PMKRI, grand issues, positioning dan tagline PMKRI.

Ditegaskan, PMKRI selama satu periode akan fokus pada grand issues Persatuan Indonesia, Hak Asasi Manusia dan Ekologis. PMKRI juga sedang mempersiapkan diri menyongsong Transformasi Organisasi melalui Lokakarya Nasional yang direncanakan Februari 2019. Selanjutnya, untuk merawat dan menjaga nilai-nilai kebangsaan PMKRI menggunakan tagline #Kita_Indonesia sebagai jargon perjuangannya.

DPC Cabang PMKRI Cabang Ruteng Santo Agustinus melalui Ketua Presidium Servasius Sarti Jemorang menyambut hangat dan berterimakasih atas kehadiran PP PMKRI pada LKK yang diikuti 17 peserta dari Cabang Ende, Cabang Palopo, Cabang Jakarta Pusat, Cabang Ngada dan Cabang Ruteng sebagai tuan rumah.(PEN@ Katoliki/pcp)

Artikel terkait:

PMKI gelar seminar kebangsaan dan deklarasi #kita_indonesia di Pekanbaru

Seminar Kebangsaan PMKRI: Keragaman jadikan Indonesia miliki kekhasan di mata dunia

https://penakatolik.com/PMKRI menghimbau seluruh kadernya untuk mengawal jalannya Pilkada

calon-PMKRI diajak jadi kader militan yang tidak takut merongrong demi kebenaran

Ketua baru PMKRI akan teladani semangat intelektualitas dan kerendahan hati St Thomas Aquinas

Apa itu prinsip subsidiaritas

Kam, 30/08/2018 - 18:50

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

403. Apa itu prinsip subsidiaritas?

Prinsip subsidiaritas menyatakan bahwa komunitas pada level yang lebih tinggi tidak boleh mengambil alih tugas komunitas pada level yang lebih rendah dan mengambil otoritasnya. Namun jika ada kebutuhan, komunitas yang levelnya lebih tinggi wajib mendukungnya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1883-1885, 1894

404. Apa lagi yang dituntut untuk terciptanya masyarakat manusia yang autentik?

Masyarakat manusia yang autentik menuntut hormat untuk keadilan, hierarki nilai-nilai yang adil, dan subordinasi dari dimensi material dan naluriah kepada dimensi batiniah dan rohaniah. Secara khusus, jika dosa sudah menyelewengkan suasana sosial, perlulah menyerukan pertobatan hati dan memohon rahmat Allah untuk memperoleh perubahan sosial yang betul-betul berguna bagi pribadi dan seluruh masyarakat. Cinta kasih yang menuntut dan memungkinkan praktek keadilan adalah perintah sosial yang paling agung.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1886-1889, 1895-1896

Paus Fransiskus: Keluarga merupakan tanda mengesankan dari mimpi Allah

Rab, 29/08/2018 - 23:40

Pada Audiensi Umum Rabu, 29 Agustus 2018, Paus Fransiskus merefleksikan kunjungannya ke Irlandia untuk menghadiri Pertemuan Keluarga se-Dunia. “Kehadiran saya” di Irlandia, kata Paus, “dimaksudkan terutama untuk memperkuat keluarga-keluarga Kristiani dalam panggilan dan misi mereka.”

Paus mengatakan, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, bahwa ribuan keluarga yang ikut ambil bagian dalam acara itu “adalah tanda mengesankan keindahan impian Allah bagi seluruh keluarga manusia.” Mimpi itu, lanjut Paus, “adalah persatuan, kerukunan, dan perdamaian dalam keluarga-keluarga dan di dunia.”

Paus juga mengatakan bahwa Tuhan memanggil keluarga-keluarga “untuk berpartisipasi dalam mimpi ini, dan menjadikan dunia sebagai rumah di mana tidak ada seorang pun yang sendirian, tidak ada yang tidak diinginkan, tidak ada yang dikecualikan.”

Setelah berterima kasih kepada semua orang membuat peristiwa itu berlangsung, Paus berbicara tentang hal-hal penting dari pertemuan itu, termasuk kesaksian tentang cinta suami-isteri yang disampaikan oleh pasangan-pasangan dari segala usia. “Kisah-kisah mereka,” kata Paus, “mengingatkan kita bahwa cinta suami-isteri adalah karunia khusus dari Tuhan, yang dibina setiap hari dalam ‘gereja domestik’ yakni keluarga.”

Paus juga berbicara menentang “budaya sementara” saat ini. Seraya menekankan nilai komunikasi antara anggota-anggota keluarga dari generasi-generasi yang berbeda, Paus Fransiskus menyesalkan bahwa dalam budaya “membuang,” kakek nenek sering “dikesampingkan.”

Paus menegaskan bahwa “kakek-nenek adalah kebijaksanaan, memori manusia, memori keluarga.” Dan, Paus mendorong kakek-nenek untuk mewariskan iman dan pengalaman mereka kepada cucu-cucu mereka; pada gilirannya cucu-cucu berbicara dengan kakek-nenek mereka “untuk meneruskan kisah mereka.”

Namun, di samping sukacita besar perjalanan itu, Paus Fransiskus mengakui “sedih dan pahit atas penderitaan yang disebabkan [di Irlandia] karena berbagai macam pelanggaran, bahkan di pihak anggota-anggota Gereja,” dan atas fakta “bahwa otoritas gerejawi di masa lalu tidak selalu tahu bagaimana menghadapi kejahatan-kejahatan ini dengan cara yang memadai.”

Paus mengatakan bahwa dia mendorong para uskup Irlandia “dalam upaya mereka untuk memperbaiki kegagalan-kegagalan masa lalu dengan kejujuran dan keberanian, seraya mempercayai janji-janji Tuhan dan mengandalkan iman yang mendalam dari bangsa Irlandia, guna memulai masa pembaharuan dalam Gereja di Irlandia.”

Menyimpulkan pengalaman perjalanannya, Paus Fransiskus mengatakan “Pertemuan Keluarga se-Dunia di Dublin adalah pengalaman kenabian dan menghibur dari begitu banyak keluarga yang berkomitmen dalam langkah injili perkawinan dan kehidupan keluarga; keluarga-keluarga murid-murid dan para misionaris, ragi kebaikan, ragi kesucian, ragi keadilan, dan ragi perdamaian.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Dua pastor memberi pelajaran tentang air dalam kegiatan lintas agama “Banyuning Srawung”

Rab, 29/08/2018 - 18:37

Seorang tokoh agama memberikan kendi kepada tiga orang muda dan terdengarlah doa-doa dari berbagai tokoh agama. Beberapa saat kemudian, peserta acara Banyuning Srawung (air persaudaraan) berjalan beramai-ramai menuju Sendang Wonosari yang tak jauh dari Balai Budaya Rejosari di Kudus yang merupakan pusat kegiatan hari itu untuk mengambil air (ngangsu banyu).

Selain tiga orang muda itu, nampak juga para postulan Misionaris Keluarga Kudus (MSF) membawa kendi berukuran lebih kecil dan berjalan dengan berapa komunitas lintas agama yang menampilkan atraksi kesenian masing-masing komunitas. Sementara itu, beberapa orang menyanyikan mantraman lagu-lagu Jawa sepanjang perjalanan hingga Sendang Wonosari.

Di Sendang Wonosari itu, 18 Agustus 2018, berlangsung upacara pengambilan air. Para postulan menari dengan gerakan mirip gelombang air, lalu mengambil air dari sumber air dan memasukkannya  ke dalam tiga kendi dan satu gentong besar yang telah disiapkan.

“Air memiliki banyak lambang yang menjelaskan relasi kita untuk bersaudara. Air merupakan lambang belas kasih. Air tidak pernah menolak ketika diminta oleh pohon, diminta oleh hewan, diminta oleh manusia,” kata Ketua Tim Pengelola Rumah Khalwat dan Balai Budaya Rejosari Pastor Lucas Heri Purnawan MSF dalam orarinya di Balai Budaya Rejosari setelah semua kembali dari Sendang Wonosari membawa air yang diambil di sana.

Air juga merupakan lambang kekuatan yang tak pernah bisa dipotong-potong. “Teman-teman tidak akan bisa memotong air dengan alat apa pun juga. Tetapi batu justru bisa pecah dengan palu,” kata imam itu. Melihat kekuatan air itulah, maka Pastor Heri menekankan bahwa air merupakan “lambang kedekatan, keuletan, dan kerekatan” yang membuat banyak orang mau berkumpul di tempat itu.

Selain menyampaikan filosofi Jawa “dadiya banyu, aja dadi watu!” (jadilah air, jangan jadi batu), yang mengajak manusia untuk bisa menyesuaikan diri di tempat mereka berada, Pastor Heri juga mengingatkan supaya air tidak dibuat keruh, “Aja ngubak-ubak banyu bening!” atau tetap menjaga kehidupan sosial.

Selain lambang bersaudara dan kegembiraan, Pastor Heri menekankan bahwa air adalah lambang kerendahan hati. “Srawung ini perlu ndlosor (merendah), seperti air yang selalu merendah, tidak mengagungkan siapa aku,” kata Pastor Heri seraya menambahkan bahwa air juga membuat kesejukan dan suasana hati yang adem. Maka, imam itu mengajak teman-teman muda dari berbagai agama dan kepercayaan yang hadir untuk bersama-sama dengan air itu mengambil makna srawung.

Sementara itu, dalam orasinya Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengajak para peserta bertindak seperti air, laku ambeging tirta. “Ketika kita bisa bertindak laksana air, maka hidup kita akan diwarnai, dimaknai dengan kemerdekaan, akan ditandai dengan kemerdekaan, akan ditandai dengan kerukunan dan persaudaraan,” kata imam itu.

Dalam berbagai agama, lanjut imam itu, air sangat disucikan. “Sahabat-sahabat, saudari-saudara kita beragama Islam akan menyucikan diri dengan wudhu sebelum berdoa. Umat Katolik masuk gereja ambil air bikin tanda salib,” tegas Pastor Budi yang juga melihat air menyembuhkan dan menyegarkan dan membersihkan. “Air membersihkan tubuh dan badan kita di saat kotor,” katanya.

Menurut Pastor Budi, laku ambeging tirta mengajak ratusan anak-anak, remaja, kaum muda dan orangtua yang hadir untuk berperilaku dengan perasaan air yang lembut dan penuh dengan belas kasih.

Di Balai Budaya Rejosari, air yang dibawa dari Sendang Wonosari dimasukkan dalam gentong air yang besar. Meskipun air melimpah di sekitar kita, pesan Pastor Budi, air mesti dilestarikan tanpa harus menunggu langka atau tak mampu dijangkau. “Air haruslah dihargai setiap tetesnya. Air mesti dijaga demi menjaga kehidupan itu sendiri,” kata imam itu.

Para tokoh lintas agama kemudian menyiramkan sebagian air pada tangan-tangan kaum muda, “karena tangan yang menjadi simbol dan sarana utama manusia untuk srawung, bebrayan dengan yang lainnya, harus senantiasa dicuci dan bersih.”

Tawur banyuning srawung yang ditandai dengan saling melemparkan air mengakhiri acara yang dimulai dengan upacara bendera itu. Dan  terdengarlah tawa gembira satu dengan yang lainnya meski pakaian mereka menjadi basah. “Ini lambang bahwa hidup senantiasa melempar dan membagikan kebajikan kepada yang lain dengan sukacita,” jelas Pastor Budi.

Ketika malam tiba, kaum muda dari berbagai agama datang kembali menggelar acara srawung lintas agama penuh keakraban dengan drama, nyanyian, tarian dan teater.

Monika Yunia dan Vani Octaviana pun terkesan dengan acara yang membuat mereka bisa bertemu banyak teman dari berbagai agama. “Walaupun berbeda-beda agama kita, suku kita, tradisi kita, tapi di sini kita dipertemukan untuk menjalin persaudaraan sejati,” kata Monika seraya berharap perbedaan bisa membuat kaum muda bersatu dan rukun. “Kegiatannya sangat seru,” kata Vani seraya berharap rasa hormat menghormati antarkaum muda dari berbagai latar belakang semakin kuat.(Lukas Awi Tristanto)

Terdiri dari apa saja dimensi sosial manusia?

Rab, 29/08/2018 - 16:01

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

401. Terdiri dari apa saja dimensi sosial manusia?

Bersamaan dengan panggilan pribadi kepada kebahagiaan, manusia mempunyai dimensi sosial sebagai unsur esensial kodrat dan panggilannya. Semua dipanggil ke arah tujuan yang sama, yaitu Allah. Ada kesamaan tertentu antara persatuan Pribadi Ilahi dan persaudaraan yang dibangun manusia di antara mereka dalam kebenaran dan cinta. Cinta kepada sesama tidak terpisahkan dengan cinta kepada Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1877-1880, 1890-1891

402. Apa hubungan antara pribadi dan masyarakat?

Pribadi manusia harus menjadi prinsip, subjek dan tujuan dari semua institusi sosial. Masyarakat tertentu, seperti keluarga dan komunitas sipil, perlu bagi pribadi manusia. Beberapa asosiasi lainnya, baik pada level nasional maupun internasional, juga bisa membantu, tetapi perlu menghormati prinsip subsidiaritas.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1881-1882, 1892-1893

Tema BKSN 2018 sesuai situasi Gereja Indonesia yang hidup dalam kemajemukan

Rab, 29/08/2018 - 15:30

Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2018 yang akan dirayakan selama September 2018 mengambil tema “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan.” Sesuai buku dari Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dengan judul tema itu yang diterima PEN@ Katolik, tema itu merupakan bagian dari sebuah tema besar selama empat tahun (2017-2020) yakni “Mewartakan Injil di tengah Arus Zaman.”

“Mewartakan Injil” menjadi fokus utama, sementara untuk tahun 2018, kekhasannya terletak pada kata “kemajemukan,” tulis edaran LBI itu. Dengan demikian, lanjutnya, “tema BKSN 2018 ini sungguh sesuai dengan situasi Gereja Indonesia yang di satu pihak, tetap dipanggil dan didorong untuk mewartakan Kabar Sukacita; tetapi di lain pihak, hidup dalam kemajemukan, sebuah situasi yang menuntut perhatian khusus.”

Selanjutnya, sesuai arahan Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) berkaitan dengan triple dialogue yang mesti mengiringi perutusan pewartaan Kabar Sukacita, dalam BKSN tahun ini umat Katolik di Indonesia “akan merenungkan panggilan mewartakan Injil dengan memperhatikan triple dialogue yakni, pertama, dialog dalam kemajemukan kaya-miskin, kedua, dialog dalam kemajemukan budaya, dan ketiga, dialog dalam kemajemukan agama.”

Untuk yang keempat, umat diajak menyadari bahwa kekristenan sendiri merupakan sesuatu yang majemuk. “Jika Anda sempat sampai ke Gereja Makam Suci di Yerusalem, di sanalah Anda akan melihat sesuatu yang sangat ironis. Justru di tempat di mana Yesus pernah dimakamkan, di sana terlihat perpecahan para pengikut-Nya,” tulis LBI seraya mengajak umat merenungkan bersama kemajemukan yang de facto terdapat dalam Tubuh Kristus atau Gereja sendiri pada minggu IV BKSN.

Untuk pendalaman Kitab Suci di masing-masing minggu, LBI menawarkan beberapa teks yakni Minggu I: dialog dengan kemiskinan Mat. 14:13-21, Minggu II: dialog dengan budaya Mat. 1:18-25, Minggu III: dialog dengan agama lain Mrk. 9:38-41, dan Minggu IV: dialog dengan Gereja lain Yoh. 17:20-23.

Harus diakui, teks-teks itu tidak langsung jelas berkaitan dengan tema yang direnungkan, “karena tema-tema yang dibicarakan masing-masing pertemuan sebenarnya merupakan refleksi kemudian yang dihasilkan dalam perjalanan Gereja atau boleh dikatakan tema-tema itu adalah tema-tema modern, kecuali misalnya tema kemiskinan. Dialog dengan kebudayaan atau dengan agama lain, bukanlah keprihatinan utama Gereja Awal. Tidak mengherankan kalau untuk tema-tema tersebut sulit atau tidak bisa ditemukan teks-teks alkitabiah yang langsung berkaitan dengan tema,” jelasnya.

Dalam pertemuan nasional 18-22 Juli 2016 di Sawangan, Bogor, LBI sepakat mengusung sebuah tema besar “Mewartakan Injil di tengah Arus Zaman” sebagai arahan selama empat tahun ke depan. Tema itu kemudian dijabarkan dalam empat tema yang lebih spesifik yang akan direnungkan terutama dalam BKSN selama empat tahun. Keempat tema itu adalah “Mewartakan Kabar Gembira dalam Gaya Hidup Modern” (2017), “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan” (2018), “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Lingkungan Hidup” (2019) dan “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Iman dan Identitas Diri” (2020).(PEN@ Katolik/paul c pati)

Presiden Konferensi Waligereja Amerika Serikat: Kami akan melakukan yang lebih baik

Sel, 28/08/2018 - 21:49
Ketua Konferensi Waligereja Amerika Serikat Kardinal Daniel DiNardo yang juga , Uskup Agung Galveston-Houston (©CATHOLICPRESSPHOTO)

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin, 27 Agustus 2018, Ketua Konferensi Waligereja Amerika Serikat Kardinal Daniel DiNardo berjanji untuk menerima tantangan Paus Fransiskus “untuk tegas dan menentukan dalam mengejar kebenaran dan keadilan.”

Dalam pernyataannya, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, kardinal itu memperbarui komitmen para uskup AS untuk menyelidiki persoalan-persoalan seputar Uskup Agung Theodore McCarrick, yang didisiplinkan oleh Paus Fransiskus setelah ditemukan bahwa tuduhan Mgr McCarrick telah melecehkan anak di bawah umur “dapat dipercaya” dan “terbukti.” Tak lama kemudian Bapa Suci menerima pengunduran diri McCarrick dari jabatannya sebagai kardinal.

Kardinal DiNardo juga memberikan referensi untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh surat dari mantan Duta Vatikan untuk Amerika Serikat Uskup Agung Carlo Maria Viganò. “Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan layak mendapat jawaban yang konklusif dan berdasarkan bukti,” tulisnya.

Dalam pernyataannya, Kardinal DiNardo mengatakan dia telah meminta Audiensi dengan Paus Fransiskus “untuk mendapatkan dukungannya bagi rencana aksi [konferensi waligereja itu].” Kardinal itu mengatakan, “Saya yakin Paus Fransiskus juga memiliki keinginan yang sama dengan kami untuk adanya keefektifan dan transparansi lebih besar dalam hal mendisiplinkan para uskup.” Kardinal DiNardo menambahkan, “Kami memperbarui kasih persaudaraan kami kepada Bapa Suci di masa-masa sulit ini.”

Pernyataan itu diakhiri dengan kata-kata Kardinal DiNardo kepada para penyintas dari pelecehan seksual, dan kepada keluarga-keluarga yang kehilangan orang yang dicintai karena pelanggaran atau pelecehan. “Aku minta maaf,” kata kardinal. “Kalian tidak lagi sendirian.”

Setelah mengingat langkah-langkah yang telah diambil para uskup untuk menangani kasus pelecehan di Gereja, Kardinal DiNardo dengan terus terang mengakui, “Dengan cara lain, kami telah membiarkan kalian.” Tapi, dia berkata, “Kami akan melakukan yang lebih baik.” (pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Kardinal McCarrick

Paus Fransiskus tentang pelecehan seksual yang dilakukan klerus terus mencari kebenaran

Surat Bapa Suci Fransiskus kepada umat Allah

 

Apakah kita ikut bertanggung jawab terhadap dosa yang dilakukan oleh orang lain?

Sel, 28/08/2018 - 21:10

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

399. Apakah kita ikut bertanggung jawab terhadap dosa yang dilakukan oleh orang lain?

Kita mempunyai tanggung jawab jika dengan sadar kita bekerja sama dengan mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1868

400. Apa itu struktur dosa?

Struktur dosa adalah situasi atau institusi sosial yang bertentangan dengan hukum ilahi. Struktur dosa ini merupakan ungkapan dan akibat dari dosa-dosa pribadi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1869

EKM di Paroki Tebet Jakarta: OMK yang memilih jalan gelap diminta ‘Back to Jesus’

Sel, 28/08/2018 - 18:19
EKM Paroki Tebet Jakarta. Dari kiri ke kanan: Pastor Damian Doraman OFMCap, Pastor Nobertus Desiderius OFMCap dan Pastor Yosua Sitinjak OFMCap

Dua orang muda yang mabuk sambil merokok nampak di sebuah keramaian penuh lengkingan musik diikuti beberapa orang muda lain yang menjadikan minum dan mabuk-mabukan sebagai kebiasaan seharian.

Namun tiba-tiba, seorang di antaranya sadar bahwa dia sedang berada di jalan gelap, jalan yang tidak diinginkan orang-orang yang percaya kepada Yesus. Yesus nampak di depan mereka, dan dia pun berlari mendekati Yesus, yang kemudian memeluknya dengan penuh kasih sebagai tanda menerima penyesalannya dan menerimanya kembali. Pemuda yang suka mabuk itu bertobat.

Itu sebuah cuplikan adegan dalam Ekaristi Kaum Muda (EKM) yang dipimpin Moderator OMK Paroki Fransiskus Asisi, Tebet, Jakarta Selatan Pastor Nobertus Desiderius OFMCap di Gereja Paroki Tebet 26 Agustus 2018, yang dihadiri sekitar 150 OMK paroki itu.

Dalam homilinya, pastor rekan di Paroki Tebet itu melihat adegan pertobatan anak muda yang sebelumnya jauh dari Tuhan itu sebagai wajah Gereja kaum muda saat ini. “Fragmen ini bisa juga dialami OMK saat ini dan tak jarang pula mereka tetap berada di jalan yang gelap. Yang memprihatinkan bahwa dalam peristiwa itu terlihat ada orang yang menjadi lebih percaya kepada Allah lain daripada Allah yang sesungguhnya,” kata imam itu.

Oleh karena itu, Pastor Nobertus mengajak OMK Paroki Santo Fransiskus Asisi Tebet untuk melepaskan kelamnya kehidupan dan berpegang teguh kepada imannya kepada Yesus bukan percaya hal-hal yang lain. ”Jika hidup kaum muda banyak yang lebih memilih jalan gelap, saya mengajak supaya ‘back to Jesus,” kata imam itu.

Diingatkan, OMK adalah asset atau kekuatan Gereja jaman ini, maka OMK diharapkan menjadi militan, “orang yang bisa membela bangsa, negara dan Gereja.” Wadah OMK, lanjut imam itu, penting “sebagai sarana pembentukan karakter yang baik bagi calon pemimpin bangsa.”

Selain Ekaristi, seluruh anggota OMK Santo Fransiskus Asisi Tebet mengikuti Talk Show dengan narasumber Maria Harfanti yang meraih gelar Miss World 2015 runner-up 2) dan Miss Indonesia 2015 (pemenang). Maria mengajak 150 OMK itu untuk membina diri menjadi pribadi yang selalu percaya diri dan percaya kepada Tuhan Yesus.

“Sebagai bagian masyarakat, kita semua hendaknya ikut mewujudkan harapan bersama dalam mencapai cita-cita bangsa,” kata Maria seraya berharap OMK paroki itu menjadi OMK tangguh yang memberi kontribusi bagi negara.

Umat dari Paroki Galaxy Bekasi itu mengatakan bahwa pencapaian sampai ke Miss World dan Miss Indonesia tidak lepas dari penyertaan Tuhan. “Saya berusaha melakukan yang terbaik walaupun saat itu banyak yang mencibir penampilan saya,” kata Maria seraya mendorong OMK agar tidak melupakan Tuhan yang pasti memberikan perlindungan.

Kepala Paroki Sato Fransiskus Asisi Tebet Pastor Damian Doraman OFMCap menilai kegiatan EKM itu menarik. “Selama ini paroki ini sering dijuluki paroki lanjut usia karena didominasi para sesepuh, meski OMK juga masih berperan dalam setiap pelayanan Gereja. Pastor Damian dan Pastor Yosua Boston Sitinjak OFMCap (pastor tamu) menjadi konselebran EKM yang dipimpin oleh Pastor Nobertus itu.

EKM dilengkapi dengan makan bersama, hiburan dan foto bersama di halaman depan Gereja Santo Fransiskus Asisi. (Konradus R. Mangu)

Halaman