Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 49 mnt yang lalu

Apakah kita berani menyentuh orang-orang yang menderita kusta modern?

Min, 11/02/2018 - 00:18

KUSTA

Minggu di Biasa ke-6

11 Februari 2018

Markus 1: 40-45

“Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir. (Mrk 1:41)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salah satu karunia terbesar yang dimiliki manusia adalah sebuah sentuhan. Kita diciptakan sebagai makhluk bertubuh, dan ilmu biologi mengajarkan bahwa hampir semua permukaan tubuh kita dipenuhi oleh system saraf untuk menerima stimulan eksternal melalui kontak sentuh, seperti kehangatan dan rasa sakit. Ini adalah langkah pertama dalam mekanisme kelangsungan hidup kita karena ini membantu kita untuk mengidentifikasi bahaya atau ancaman yang mendekat. Namun, ini juga adalah langkah pertama dalam pertumbuhan otentik kita sebagai manusia. Seorang bayi akan merasa dicintai saat dipeluk oleh orang tuanya. Seorang balita yang belajar berjalan akan merasakan bimbingan dan keamanan saat ayahnya memegang tangannya. Bahkan orang dewasa pun butuh kenyamanan dan kehangatan dari keluarganya.

Di dalam Kitab Suci, jika ada satu hal yang menghancurkan karunia sentuhan ini, ini adalah kusta. Kusta atau yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyebabkan kerusakan kulit dan saraf di sekitar tubuh. Cedera terbesar yang ditimbulkan penyakit ini adalah seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan stimulan eksternal seperti rasa sakit. Sebagai konsekuensinya, penderita kusta secara berangsur-angsur kehilangan anggota tubuhnya seperti jari, rambut, hidung, lengan, dan kakinya karena luka berulang yang tidak terdeteksi atau luka yang tidak diobati.

Namun, yang paling menyedihkan mengenai penyakit ini adalah stigma yang diterima orang kusta dari komunitas mereka. Pada zaman Yesus, orang kusta diusir dari komunitas mereka karena orang takut untuk tertular penyakit ini. Bahkan, orang menganggap kusta sebagai hukuman Tuhan (lihat 2 Taw 26:20). Karena itu, penderita kusta tidak hanya sakit secara biologis tapi secara ritual adalah najis, artinya dia tidak dapat beribadah dan menyembah Tuhan karena dia dilarang masuk ke rumah ibadat atau ke Bait Allah (lihat Im 13). Dia harus seru “najis, najis!” untuk mengingatkan orang-orang di dekatnya tidak menyentuhnya, jika tidak, orang tersebut mungkin menjadi najis juga. Seseorang dengan kusta tidak hanya kehilangan karunia sentuhan dari tubuhnya, tapi juga dari komunitasnya dan Tuhannya. Tak heran, kusta adalah penyakit yang paling ditakuti masyarakat Israel kuno.

Dengan latar belakang ini, kita dapat sepenuhnya menghargai apa yang Yesus lakukan terhadap orang kusta. Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Yesus tidak hanya menghadapi risiko tertular penyakit ini, namun Yesus bisa menjadi najis. Namun, Yesus bersikukuh karena Dia tahu bahwa karunia sentuhan adalah apa yang paling dibutuhkan manusia. Sungguh, sentuhan Yesus membawa penyembuhan dan mengembalikan karunia sentuhan yang hilang. Penderita kusta itu sekali lagi bisa merasakan kebaikan hidup, bisa masuk kembali ke komunitasnya, dan bisa menyembah Tuhannya.

Saat kita memanggil Yesus sebagai juru penyelamat, ini berarti bahwa dengan mengorbankan diri-Nya, Yesus membangun kembali hubungan yang hilang antara kita dan diri kita sendiri, antara kita dan sesama kita, dan di antara kita dan Allah. Bagaimana Yesus melakukannya? Dengan pemberian sentuhan. Allah kita adalah roh, tapi Allah kita tidaklah abstrak. Dia menjadi daging sehingga kita bisa merasakan kasih-Nya secara total, yakni sentuhan-Nya. Sebagai murid-murid-Nya, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih nyata Allah ini dengan memperluas sentuhan Allah ini kepada sesama. Apakah kita berani menyentuh orang-orang yang menderita kusta modern, seperti kemiskinan? Apakah kita rela memulihkan hubungan yang telah rusak dalam hidup kita? Apakah kita berani menjadi sarana kasih dan sentuhan Allah dalam hidup kita?

 

 

Paus kepada para imam Stigmatins: Bawalah api cinta Tuhan kepada umat Kristiani

Sab, 10/02/2018 - 22:24

Api. Itulah gambaran yang Paus Fransiskus gunakan saat bertemu Kongregasi Stigmata Kudus, atau para imam Stigmatins dalam audiensi 10 Februari 2018. “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!” (Lukas 12:49). Api itu, kata Paus Fransiskus, adalah kasih Tuhan bagi kita.

Paus kemudian mengajak mereka untuk “mengobarkan kembali di dalam diri kalian dan komunitas kalian api Firman Tuhan,” demikian laporan Suster Bernadette Mary Reis dari Vatican News.

Pesan Paus itu disampaikan kepada para imam Stigmatins yang berada di Roma untuk menghadiri Kapitel Jenderal dan yang berkumpul di Vatikan untuk audiensi dengan Bapa Suci. Pesan tertulis itu dibagikan kepada para pastor itu sedangkan Paus berbicara secara spontan.

Kongregasi Stigmata Kudus atau lengkapnya Kongregasi Stigmata Kudus Tuhan Kita Yesus Kristus (Congregazione Delle Sacre Stimmate Di Nostro Signore Gesu’ Cristo, CSS), didirikan di Verona, Italia, tahun 1816 oleh Santo Gaspar Bertoni. Panggilan misi mereka secara khusus untuk melayani para uskup, mewartakan Sabda Tuhan, dan pembinaan kaum muda serta klerus. Mereka hadir di 15 negara (termasuk Indonesia, Red.) dan berjumlah sekitar 400 anggota.

Dalam teks yang dipersiapkan, Paus Fransiskus berkata, “Di dalam Kitab Suci, Tuhan dibandingkan dengan api, namun Dia adalah api cinta, yang menaklukkan hati orang bukan dengan kekerasan, namun dengan menghormati kebebasan dari setiap orang.”

Paus menyoroti cara Bapa Pendiri mereka mewartakan Injil dengan rendah hati dan penuh sukacita sesuai contoh gaya penginjilan Yesus sendiri. “Melalui sukacita hidup kalian,” kata Paus Fransiskus, “kalian bisa membawa orang untuk bertobat, menyatu dengan Kristus.” Sebenarnya, justru “komunitas persaudaraan para misionaris” yang membenarkan pewartaan Injil karena komunitas itu sudah “diuji dengan api,” kata Paus.

Paus pun meminta mereka “membawa api ini ke dalam umat Kristiani, di mana iman begitu banyak orang perlu dibangkitkan kembali.” Di atas segalanya, Paus meminta mereka keluar untuk mewartakan Injil “kepada orang miskin, dan kepada mereka yang tidak merasa dicintai oleh siapapun” yakni orang bersedih, tertekan, para tahanan, tunawisma, imigran, dan mereka yang menghindar dari perang.

Paus juga mengingatkan mereka untuk memberi “perhatian khusus kepada keluarga” sesuai teladan Santo Gaspar, yang menukarkan kepada anak-anaknya “cinta untuk Pasangan Suci, Maria dan Yusuf.” Setelah meminta mereka untuk mendoakannya, Paus Fransiskus memberkati mereka yang hadir dan segenap kongregasi mereka, dan meninggalkan kata-kata, “Semoga Tuhan selalu mengobarkan misi kalian dengan api Roh Kudus!” (pcp berdasarkan Vatican News)

Gereja Katolik Bogor sambut perayaan Imlek dengan Misa Imlek tanggal 15 atau 17 Februari

Sab, 10/02/2018 - 15:24

Terkait dengan perayaan Imlek tahun ini (Imlek 2569) yang jatuh pada hari Jumat, 16 Februari 2018, yang merupakan hari Jumat pertama dalam Masa Prapaskah dan Rabu Abu yang jatuh tanggal 14 Februari 2018, maka Mgr Paskalis Bruno Syukur mengeluarkan sebuah kebijakan.

“Tanpa mengurangi sukacita perayaan Imlek dan masa Prapaskah, Gereja Keuskupan Bogor melalui Bapa Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur memberikan kebijakan: 1. Hari Jumat, 16 Februari 2018 tetap berlaku sebagai hari wajib masa pantang dan puasa sesuai aturan masa Prapaskah; 2. Perayaan Misa Imlek dapat dirayakan pada hari Kamis malam (15 Februari 2018) atau pada hari Sabtu, 17 Februari 2018 sebelum pukul 12.00 WIB,” demikian bunyi keputusan itu.

Dalam tulisan Ketua Komisi Komunikasi Sosial Pastor  David Lerebulan Pr, yang muncul di website keuskupan itu, ditegaskan bahwa Gereja Katolik turut menyambut dengan tangan terbuka terkait perayaan Imlek dengan mengadakan Misa Imlek. “Sejatinya perayaan Misa ini sebagai bentuk ungkapan syukur atas segala berkat yang diterima pada tahun yang akan ditinggalkan dan memohon berkat bagi tahun baru yang akan dijalani,” tulisnya.

Juga diharapkan agar dengan kebijakan itu menjadi jelas bagi umat dan para imam yang hendak merayakan Imlek untuk tetap menjaga keutamaan masa tobat kita (Masa Prapaskah), dan “semoga tidak ada lagi kegalauan umat dalam menyambut sukacita Imlek di tengah masa Prapaskah.”

Kebijakan itu dibuka dengan penjelasan tentang penerbitan Keppres No. 6 tahun 2000 pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Presiden Keempat RI) untuk menggantikan Inpres No.14 tahun 1967 yang telah memberikan angin segar bagi etnis Tionghoa dalam mengekspresikan kepercayaan, budaya dan tradisinya.

“Imlek dan Cap Go Meh yang menjadi perayaan besar bagi etnis Tionghoa kini dapat dirayakan secara terbuka di ruang publik. Pada era Presiden Megawati (Presiden Kelima RI), Imlek pun dijadikan sebagai libur nasional di Indonesia,” tulis imam itu.

Dalam tradisi Tionghoa, lanjutnya, Imlek adalah perayaan pergantian tahun berdasarkan siklus fase bulan. Seperti umumnya pergantian tahun dalam tradisi penanggalan romawi (berdasarkan siklus matahari) yang terjadi pada malam 31 Desember, demikian pula kemeriahan Imlek dirayakan.(pcp)

 

Uskup Agung Pontianak beri dispensasi dari pantang daging bagi umatnya yang rayakan Imlek

Sab, 10/02/2018 - 12:48
Dokpen KWI

Menanggapi berbagai pertanyaan tentang Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh hari Jumat dalam masa Prapaskah 2018, saat umat Katolik wajib berpantang dari daging dan pilihan pribadi, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus memberikan dispensasi dari kedua jenis pantang itu bagi umatnya dan mengusulkan agar pantang itu dipindahkan ke hari lain.

Dispensasi itu tertulis dalam Kebijakan Pastoral Keuskupan Agung Pontianak tentang Perayaan Tahun Baru Imlek pada hari Jumat Pantang Masa Parpaskah, 16 Februari 2018, yang  dikeluarkan oleh uskup agung itu tanggal 7 Februari 2018

Karena isi kebijakan pastoral itu begitu lengkap menceritakan tentang Imlek dan alasan mengapa orang Katolik boleh merayakan Imlek, apa saja yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam Misa Imlek, berbagai tradisi menyambut Imlek, serta nilai-nilai yang dapat kita petik dalam Perayaan Imlek, maka PEN@ Katolik menurunkan secara lengkap kebijakan pastoral itu:

KEBIJAKAN PASTORAL KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK (KAP)

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK PADA HARI JUMAT PANTANG MASA PRAPASKAH,

TANGGAL 16 FEBRUARI 2018

Kebijakan Pastoral KAP ini dibuat untuk menanggapi berbagai pertanyaan tentang Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada hari Jumat Pantang dalam masa Prapaskah tahun 2018.

Kata “Imlek” berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berasal dari kata Yin Li, yang berarti “Penanggalan bulan” atau lunar calendar.

Perayaan “Imlek” sebenarnya adalah perayaan menyambut musim semi yang disebut dengan Chun Jie. Musim dingin yang membuat aktivitas manusia seakan-akan berhenti segera berlalu dan tibalah musim semi di mana para petani mulai dapat menanam kembali. Seperti pada masyarakat tradisional lainnya yang mengandalkan alam untuk kehidupan mereka, maka datangnya musim semi yang menandai munculnya harapan baru merupakan peristiwa yang wajib dirayakan.

Orang Katolik Boleh Merayakan Imlek

Permasalahan Misa Imlek harus dilihat dalam kerangka hubungan antara iman dan budaya. Iman selalu, membutuhkan budaya, baik dalam penghayatan maupun dalam pewartaan. Iman tak pernah melayang di udara tanpa bungkus budaya (GS 53). Iman kristiani tidak terikat pada satu budaya tertentu, tetapi bisa diungkapkan dalam sebuah budaya. Dalam arti itulah, iman kristiani bersifat Katolik (Yun: catholicos berarti umum). Agar penghayatan iman bisa sungguh mendalam dan pewartaan iman dapat sungguh menarik dan dimengerti, maka iman perlu dibungkus dengan budaya yang sesuai (GS 58). (bdk. Romo Dr. Petrus Maria Handoko, CM. 2014. Bolehkah Merayakan Misa Imlek. Jakarta: Hidup.(25 Januari 2014).

Dasar teologis hubungan antara iman dan budaya yang sedemikian itu ialah peristiwa Inkarnasi Sang Sabda. Sang Sabda menjadi manusia dalam budaya Yahudi dan mengungkapkan penghayatan iman-Nya melalui bungkus budaya Yahudi. Inilah ajaran resmi Megisterium Gereja. Pasti setiap Uskup Katolik mengikuti ajaran ini. (bdk. Romo Dr. Petrus Maria Handoko, CM. 2014. Bolehkah Merayakan Misa Imlek. Jakarta: Hidup.(26 Januari 2014).

Secara konkret, penggunaan warna liturgi merah, hio, pai-pai, membagi buah, membagi angpau, barongsai, dan yang lain haruslah selalu pemaknaan kembali secara Katolik. Penggunaan ungkapan budaya ini juga harus menjaga kesakralan liturgi yang ada. Lebih tepat jika barongsai tidak dilakukan di dalam liturgi dan tidak di dalam gereja. Pemberkatan buah jeruk dan angpau bisa dilakukan setelah komuni dan kemudian dibagikan sesudah Misa. (bdk. Rm. Samuel Pangestu, Pr. 2018. Kebijakan Pastoral KAJ: Perayaan Tahun Baru Imlek Pada Hari Jumat Pantang Masa Prapaskah, Tanggal 16 Februari 2018).

Beberapa tradisi untuk menyambut Tahun Baru Imlek

Tradisi Bunga Mei Hua

Di negara Tiongkok dikenal 4 musim, yaitu Musim Semi, Musim Panas, Musim Gugur dan Musim Dingin.

Tahun Baru Imlek datang bersamaan dengan Musim Semi, maka dulu dikenal dengan istilah Festival Musim Semi. Bunga Mei Hwa adalah pertanda datangnya Musim Semi, itulah sebabnya terdapat tradisi di masyarakat Tionghoa, menggunakan bunga ini sebagai hiasan di rumah ketika Imlek tiba, sehingga terkesan suasana yang sejuk, nyaman dan indah. Tidak ada makna spiritual dalam kehadiran bunga Mei Hua tersebut.

Ucapan Selamat

Di hari raya Tahun Baru Imlek, gantungan maupun tempelan tulisan-tulisan ucapan selamat mungkin merupakan suatu kewajiban dan yang terpenting dalam merayakan hari raya imlek, karena tulisan-tulisan tersebut adalah pernak-pernik yang paling sering ditemukan. Tulisan selamat tersebut menandakan doa dan harapan warga Tionghoa, baik bagi dirinya sendiri maupun doa dan harapan untuk keluarga dan sahabat-sahabatnya. Tulisan Imlek biasanya dalam bentuk bahasa mandarin dengan huruf berwarna emas dan hitam, sedangkan warna dasarnya adalah warna merah.

Tulisan ucapan selamat yang popular bagi warga Tionghoa adalah “Gong Xi Fa Cai”, yang artinya selamat mendapatkan rezeki. Selain itu terdapat juga tulisan harapan dan ucapan selamat seperti “Sheng Yi Xing Long”, Wan Shi Ru Yi, dan masih banyak lagi.

Tulisan “Fu” adalah tulisan Mandarin yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Bahagia. Tulisan Fu menandakan harapan untuk hidup bahagia di tahun yang baru ini. Ada juga yang menempelkan Huruf “Fu” secara terbalik. Sebutan Mandarin, terbalik adalah Dao, Dao ini memiliki nada yang sama dengan Dao yang artinya adalah tiba. Dengan Tulisan Fu yang terbalik, warga Tionghoa mengharapkan tibanya kebahagian di tahun baru ini.

Tulisan “Chun” adalah tulisan Mandarin yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Musim Semi. Musim semi adalah musim terbaik di antara empat musim yang ada, sehingga bunga bermekaran dengan cantik, pemandangan terindah di musim semi. Di musim semi semua aktivitas menjadi normal kembali, petani mulai bercocok tanam sehingga berharap untuk mendapatkan panen yang lebih baik. Tahun Baru Imlek juga disebut sebagai Festifal Musim Semi atau Ghun Jie.

Sepasang Puisi (Dui Lian) yang artinya puisi musim semi adalah tulisan-tulisan puisi yang penuh kebahagian dan biasanya ditempelkan di sisi kanan dan kiri pintu. Sama halnya dengan tulisan-tulisan ucapan selamat, Dui Lian merupakan harapan dan doa warga Tionghoa untuk masa depan dan kehidupan yang lebih baik di tahun yang datang. Selain itu, juga menandakan suka cita warga Tionghoa dalam merayakan Hari Raya Tahun Baru Imlek.

  • Gambar Ikan

Pasti ada yang bertanya, apa pula kaitan ikan dengan Hari Raya Imlek. Mengapa setiap merayakan Hari Raya Imlek pasti ada gambar Ikan sebagai pernak-pernik Imlek. Ikan merupakan makanan favorit warga Tionghoa, namun Ikan juga merupakan lambang keberuntungan dalam tradisi Tionghoa. Kata Ikan dalam bahasa mandarin adalah “Yu”. Kata tersebut memiliki nada yang sama dengan Yu yang artinya adalah lebih. Setiap warga Tionghoa mengharapkan rezeki yang berlebihan, hidup yang lebih sehat dan bahagia serta usaha yang lebih lancar.

  • Mercon atau Petasan “Bian Pao”

Menurut kepercayaan warga Tionghoa, Mercon atau Petasan yang memiliki suara ledakan ini dapat mengusir makhluk halus dan juga berbagai ketidakberuntungan, sehingga di tahun yang akan datang penuh dengan keberuntungan serta kebahagian. Mercon atau petasan ini pada mulanya digunakan untuk mengusir hewan buas yang memakan manusia yaitu Hewan Nian (Nian Shou).

  • Barongsai dan Singa

Barongsai adalah tarian tradisional Tionghoa dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Singa yang merupakan raja hewan ini melambangkan kegagahan, keberanian dan keberuntungan. Singa juga dipercayai dapat mengusir segala ketidakberuntungan serta mengusir mahluk-mahluk halus yang mengganggu kehidupan manusia. Oleh karena itu, Tahun Baru Imlek sering dimeriahkan dengan adanya tarian barongsai yang bermaksud untuk mengusir segala ketidakberuntungan sehingga tahun yang baru ini dapat hidup dengan lancar dan bahagia. Barongsai dalam bahasa Mandarin disebut dengan “Wu Shi”. Selain barongsai, singa juga sering ditempel di dinding dalam bentuk stiker besar dan juga patung-patung miniatur singa yang dijadikan sebagai pajangan di lemari dan meja.

  • Lampion atau Lentera Merah

Dalam mata masyarakat Tionghoa, lampion atau lentera Merah memiliki arti kebersamaan, persatuan, bisnis yang lancar dan sukses, keberuntungan, semangat, kebahagiaan dan yang terpenting adalah penerangan hidup. Oleh karena itu, kita sering melihat lampion atau lentera merah yang digantungkan di hampir setiap rumah warga Tionghoa yang merayakan Hari Raya Imlek. Selain rumah, di jalan raya, pusat perbelanjaan maupun restoran juga sering ditemukan lampion atau lentera merah ini.

  • Gambar 12 Shio

Gambar 12 Shio juga merupakan salah satu pernak-pernik yang terpenting dalam merayakan Tahun Baru Imlek. Shio adalah symbol hewan yang digunakan untuk melambangkan tahun dalam astrologi Tionghoa sesuai dengan kalender Imlek. Setiap tahun diwakili oleh satu shio. Shio dalam tradisi Tionghoa berjumlah 12 (dua belas) sehingga siklus shio juga 12 tahun. Biasanya Tahun Baru Imlek juga menandakan pergantian shio sehingga shio di tahun sebelumnya akan ditinggalkan dan menyambut kedatangan shio yang baru. Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa menghiasi rumahnya dengan pernak-pernik shio tahun baru dengan harapan shio baru tersebut dapat memberikan keberuntungan dan kebahagiaan bagi mereka. Tahun 2018 adalah tahun Shio Anjing.

  • Jeruk

Mungkin banyak akan bertanya, apa kaitan dengan jeruk dengan Hari Raya Imlek. Jeruk dalam bahasa Mandarin adalah Ju. Ju memiliki nada yang hampir sama dengan Ji. Tulisan Mandarin dari Ju juga sangat mirip dengan Ji. Ji artinya keberuntungan sehingga dengan adanya jeruk berarti kita bisa mendapatkan keberuntungan sepanjang tahun.

  • Nenas

Gantungan nenas di Tahun Baru Imlek, mayoritas terdapat di daerah Tiongkok Selatan hingga Asia Tenggara, yaitu daerah dengan bahasa lokal Hokkian atau Tiociu, termasuk Taiwan, Hongkong, dan Asia Tenggara. Karena dalam bahasa lokal Hokkian dan Tiociu, nenas disebut “wang lai”, kata “wang” dalam kedua bahasa lokal mempunyai arti “jaya” (bukan diartikan “uang” dalam bahasa Indonesia, seperti banyak orang Tionghoa Indonesia mengartikannya), sedangkan kata “lai” berarti “datang”. Maka dengan menggantungkan atau memajang nenas di lingkungan rumah pada saat Tahun Baru Imlek, orang mengharapkan tahun baru ini juga akan mendatangkan kejayaan bagi keluarga tersebut.

  • Angpao

Mungkin semua kita sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Saat ini, pemberian angpau tidak hanya dilakukan saat merayakan Imlek, tapi angpau juga dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan yang sifatnya bahagia dan sukacita seperti memberikan angpau saat ulang tahun dan menikah. Memberikan angpau kepada generasi yang lebih muda seperti anak-anak kecil dan muda-mudi yang belum menikah dalam Tahun Baru Imlek adalah sebagai harapan atau ucapan selamat dari si pemberi angpau kepada si penerima angpau. Saat memberikan angpau, si pemberi angpau biasanya akan mengucapkan berbagai ucapan selamat dan harapannya kepada penerima angpau. Contohnya, “Semoga Anda mencapai kemajuan dalam belajar”, “Semoga Anda sehat selalu”, “Semoga karir Anda semakin baik” dan lain sebagainya.

Nilai-nilai yang dapat kita petik dalam Perayaan Imlek

Gereja Katolik menghargai makna dari peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Ada beberapa nilai yang dapat kita maknai kembali sebagai orang beriman Katolik dari budaya merayakan Imlek:

  1. Perayaan Imlek adalah perayaan kehidupan yang pasti menghargai dan menghormati Tuhan Sang Pencipta (taqwa), manusia dan alam ciptaan.
  2. Perayaan Imlek merupakan perayaan pendamaian (rekonsiliasi dan harmoni) antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam ciptaan.
  3. Perayaan Imlek merupakan sarana perwujudan adat istiadat yang menjadikan manusia sebagai Jen (manusia bijak).
  4. Perayaan Imlek adalah perayaan syukur bersama keluarga dan komunitas serta masyarakat.
  5. Perayaan Imlek adalah perayaan persaudaraan yang diwujudkan dengan berbela rasa dan berbagi kepada sesama manusia yang miskin dan menderita.

Usulan kebijakan Pastoral Perayaan Imlek 2018

Berhubung perayaan Imlek tahun 2018 bertepatan dengan hari Jumat di mana umat Katolik wajib berpantang dari daging dan pantang pilihan pribadi, maka sebagai Uskup Keuskupan Agung Pontianak, saya memberikan dispensasi dari kedua jenis pantang ini bagi sesama umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak. Pantang tersebut dapat dipindahkan ke hari lain.

Keuskupan Agung Pontianak mengharapkan umat Allah yang merayakan tahun baru Imlek mempertimbangkan dialog dengan budaya Tionghoa. Semoga kita semakin dewasa dalam mempertimbangkan dan memilah mana yang bermakna, baik dari ajaran Gereja Katolik tentang pantang dan puasa di masa Prapaskah, maupun dari budaya dan tradisi Tionghoa. Oleh karena itu Keuskupan Agung Pontianak menawarkan kebijakan sebagai berikut: “Umat Allah dapat merayakan Misa Syukur Tahun Baru Imlek pada hari Jumat tanggal 16 Februari 2018, dengan penuh sukacita dan berbela rasa serta berbagi rejeki dengan orang miskin, menderita dan tersisih serta berkebutuhan khusus. Ibadat jalan salib baik secara pribadi maupun kelompok atau paroki pada tanggal 16 Februari 2018 dapat dipindahkan ke hari lain.”

Demikianlah kebijakan Pastoral Keuskupan Agung Pontianak tentang perayaan Imlek pada umumnya dan tahun 2018 pada khususnya yang bertepatan dengan hari Jumat 16 Februari sesudah hari Rabu Abu (pantang). Semoga umat Allah Keuskupan Agung Pontianak semakin tangguh dalam Iman terlibat dalam persaudaraan dan berbela rasa terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Amin.

“Salam persatuan dalam kebhinekaan”

Pontianak, 7 Februari 2018

Mgr Agustinus Agus

Uskup Agung Pontianak

(aop)

Pekerja Katolik Dekanat Tangerang mengawali Pra May Day dengan futsal jenaka

Jum, 09/02/2018 - 23:57

Sebanyak 300-an pekerja Katolik dari enam paroki se-Dekanat Tangerang mengikuti kegiatan Pra May Day dengan menggelar kegiatan pertandingan futsal jenaka yang dipusatkan di lapangan Sekolah Tarsisius Vireta Kutabumi, Tangerang, 4 Februari 2018, untuk mengawali seluruh rangkaian kegiatan menuju May Day tanggal 1 Mei 2018.

Dalam futsal jenaka itu, kata Ketua Panitia Pra May Day Thomas Yulianto kepada PEN@ Katolik, “para peserta puteri mengikuti pertandingan dengan menggunakan kaca mata hitam sedangkan peserta putera menggunakan penutup mata dengan karton dengan lubang yang sangat kecil, yang semuanya bertujuan  untuk memupuk rasa persatuan dan kebersamaan para pekerja Katolik yang ada di Dekanat Tangerang.”

Selain futsal jenaka, yang dibuka dengan doa yang dipimpin Ketua Seksi PSE Paroki Santo Gregorius Agung Paul Zainiputra, Pra May Day akan diisi juga dengan seminar tentang kewirausahaan dan koperasi di Paroki Santo Laurensius Alam Sutera, 25 Februari 2018.

Pra May Day itu dihadiri juga oleh pendamping buruh dari Paroki Santa Odilia, Citraraya, Tangerang, Pastor Sipri Smakur SSCC dan Suster M Immaculata Silalahi SFD, dan para koordinator buruh setiap paroki di dekanat yang dikenal sebagai ‘dekanat buruh’ itu karena menurut data keuskupan dekanat itu merupakan wilayah keuskupan dengan jumlah buruh atau pekerja terbanyak di KAJ.

Menurut rencana, tanggal 8 April 2018 akan dilaksanakan bazar di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang, dan tanggal 29-30 April 2018 di Paroki Santo Gregorius Agung, Kutabumi. Pada puncak May Day, 1 Mei 2018, akan dilaksanakan Misa yang dipimpin Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo dan dilanjutkan dengan dialog bersama uskup.

Suster Immaculata Silalahi mengatakan, selama ini kongregasinya mendampingi para buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja. Fokus pelayanan yang dilakukan adalah pelatihan ekonomi rumahtangga, mengunjungi dan memberikan motivasi dalam menghadapi kehidupan ini. “Kami dari SFD melayani dengan hadir bersama di tengah-tengah mereka,”’  kata Suster Imma.

Pastor Sipri Smakur menambahkan bahwa dia selalu hadir pada setiap kegiatan buruh di parokinya yang tergabung dalam suatu komunitas  atau wadah sendiri, bukan di bawah seksi PSE.(Konradus R Mangu)

Paus Fransiskus mencela “momok modern” perdagangan manusia

Jum, 09/02/2018 - 23:27

 

Paus bertemu anggota-anggota Santa Marta Group (Vatican Media)

Paus Fransiskus menerima anggota Santa Marta Group, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk memberantas perdagangan manusia dan perbudakan modern tanggal 9 Februari 2018 dengan mengatakan bahwa perdagangan manusia adalah “momok modern, yang terus menyebabkan penderitaan manusia yang tak terhingga.”

Santa Marta Group adalah sebuah aliansi kepala-kepala polisi internasional dan para uskup dari seluruh dunia yang bekerja sama dengan masyarakat sipil dalam proses yang didukung oleh Paus Fransiskus untuk memberantas perdagangan manusia dan perbudakan modern. Kelompok yang dalam minggu ini menyelenggarakan konferensi kelima di Roma itu dikembangkan oleh Konferensi Waligereja Inggris dan Wales.

Dalam sambutannya kepada para peserta konferensi, Paus Fransiskus berharap, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, agar hari-hari refleksi dan pengalaman bersama mereka semakin menerangi keterkaitan antara aspek global dan lokal dalam perdagangan manusia. “Sungguh memalukan kami” bahwa perdagangan manusia semakin meluas dibandingkan sebelumnya, terutama dalam masyarakat yang lebih makmur.

Paus lalu fokus pada upaya-upaya untuk mengeksplorasi “berbagai bentuk keterlibatan masyarakat untuk mentolerir, dan mendorong, terutama berkaitan dengan perdagangan seks, eksploitasi pria, wanita dan anak-anak yang rentan”

Paus mengatakan, masyarakat tidak hanya harus “membongkar struktur jahat” yang membuat perdagangan manusia, tapi juga harus menyelesaikan masalah-masalah lebih besar yang menciptakan lingkungan yang membolehkan perdagangan manusia berkembang. Secara khusus, Paus menunjuk “penggunaan bertanggung jawab terhadap teknologi dan media komunikasi” serta pentingnya mempersoalkan model-model ekonomi yang cenderung “mengambil keuntungan atas orang.”

Paus percaya, “diskusi kalian di hari-hari ini akan juga membantu meningkatkan kesadaran akan meningkatnya kebutuhan untuk mendukung para korban kejahatan ini dengan menyertai mereka untuk kembali ke masyarakat dan untuk memulihkan martabat manusia mereka.”

Paus mengatakan, Gereja bersyukur “atas segala upaya yang dilakukan untuk membawa balsem belas kasih Tuhan kepada orang yang menderita, karena ini juga merupakan langkah penting dalam penyembuhan dan pembaharuan masyarakat secara keseluruhan.” Paus juga mendorong peserta agar dalam karya mereka ditingkatkan kesadaran akan perlunya mendukung para korban perdagangan manusia.(pcp berdasarkan Vatican News)

Apa yang diajarkan oleh Kitab Suci tentang penciptaan dunia yang kelihatan?

Jum, 09/02/2018 - 15:52
Wikiwand

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

62. Apa yang diajarkan oleh Kitab Suci tentang penciptaan dunia yang kelihatan?

Melalui kisah penciptaan dalam ”enam hari”, Kitab Suci mengajarkan nilai dunia yang diciptakan dan tujuannya, yaitu untuk memuji Allah dan melayani umat manusia. Setiap ciptaan menerima eksistensinya dari Allah, dan dari Dia pulalah manusia menerima kebaikan dan kesempurnaannya, hukum dan tempatnya sendiri di dalam alam semesta.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 337-344

63. Di mana tempat pribadi manusia dalam penciptaan?

Pribadi manusia merupakan puncak ciptaan yang kelihatan sejauh dia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 343-344, 353

64. Hubungan apa yang ada di antara barang-barang ciptaan?

Ada saling ketergantungan dan hierarki di antara makhluk-makhluk sebagaimana yang dikehendaki Allah. Sekaligus terdapat kesatuan dan solidaritas di antara para makhluk karena semuanya mempunyai Pencipta yang sama, semuanya dicintai oleh-Nya dan diatur untuk kemuliaan-Nya. Menghormati hukum-hukum yang tertulis dalam penciptaan dan relasi-relasi yang berasal dari kodrat ciptaan itu merupakan prinsip kebijaksanaan dan dasar moralitas.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 342, 354

65. Apa hubungan antara karya penciptaan dan karya penebusan?

Karya Penciptaan berpuncak pada karya yang lebih besar lagi, yaitu karya penebusan yang dalam kenyataannya membangkitkan ciptaan baru yang di dalamnya segala sesuatu akan menemukan kembali makna dan kepenuhannya.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 345-349

Pastor Hermanus Mayong OFMCap menjadi Minister Provinsial Ordo Kapusin Pontianak

Jum, 09/02/2018 - 13:49
Dari kiri ke kanan: Pastor Josep Yuwono OFMCap, Pastor Adrianus Derry OFMCap, Pastor Victorius Dwiardy OFMCap, Pastor Hermanus Mayong OFMCap, Pastor William Chang OFMCap, dan Pastor Iosephus Erwin, OFMCap

Setelah 50 anggota Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFMCap) Provinsi Pontianak, yang mengikuti Kapitel Ordo Kapusin 2018 (kesembilan) dengan tema ‘Membumikan Spiritualitas Kapusin Dalam Karya,’ mendalami spiritualitas Kapusin dalam sendi-sendi pelayanan karya mereka, serta memikirkan bersama butir-butir dan rekomendasi penting yang berguna bagi visi dan misi Ordo, mereka memilih Pastor Herman Mayong OFMCap sebagai Minister Provinsial Kapusin Pontianak untuk periode 2018-2021. Kapitel, yang berlangsung di Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Sei Raya, 5-8 Februari 2018, dan dihadiri oleh Definitor General Ordo Kapusin untuk wilayah Asia/Pasifik Pastor Victorius Dwiardy OFMCap dari Roma, mengangkat Pastor William Chang OFMCap sebagai Wakil Minister Provinsial, Pastor Yulius Lingga OFMCap sebagai Sekretaris, Pastor Iosephus Erwin OFMCap sebagai Definitor 2, Pastor Adrianus Derry OFMCap sebagai Definitor 3 dan Pastor Josep Yuwono OFMCap sebagai Definitor 4.(mssfic)

50 kapitularis kapitel Ordo Kapusin 2018

Foto-foto Dokumentasi OFMCap

 

Uskup Emeritus Jayapura Mgr Hermanus Ferdinandus Maria Munninghoff OFM meninggal dunia

Jum, 09/02/2018 - 12:57

Uskup Emeritus Jayapura Mgr Hermanus Ferdinandus Maria Munninghoff OFM yang menyayangi orang Papua dan menyuarakan pelanggaran hak asasi manusia di Papua meninggal dunia pada usia 96 tahun di Belanda, 7 Februari 2018, setelah sakit selama sebulan.

Uskup Emeritus Munninghoff, yang lahir di Woerden, Belanda, 30 November 1921, ditahbiskan imam tanggal 15 Maret 1953, diangkat sebagai Uskup Jayapura 6 Mei 1972, dan ditahbiskan sebagai uskup Jayapura 10 September 1972.

Ia menjabat sebagai sekretaris Uskup Jayapura Mgr Rudolf Joseph Manfred Staverman OFM sejak 1957 hingga 1997, saat ia diangkat sebagai uskup, dan mengundurkan diri sebagai uskup Jayapura 19 Agustus 1997, dan digantikan oleh Mgr Leo Laba Ladjar OFM. Tanggal 9 Agustus 2005, uskup itu meninggalkan Papua dan tanggal 12 Agustus 2015 untuk kembali ke Belanda.

Provinsial OFM di Jayapura Pastor Gabriel Ngga, menurut catatan Facebook dari Pastor Jost Kokoh Prihatanto,  mengunjungi Uskup Emeritus Munninghoff di rumah perawatan di Nijmegen, Belanda, dua minggu lalu. Di sana, menurut Pastor Gabriel, uskup emeritus itu sudah dirawat sekitar satu bulan karena sakit tua dan penyakit kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuh.

“Ketika ditanya apakah beliau senang tinggal di rumah perawatan, beliau bilang ‘saya senang tinggal di sini, diperhatikan oleh staf di sini, tapi kematian saya sudah dekat,’” kata Pastor Gabriel seraya mengenang masyarakat Papua yang mengingat Uskup Emeritus Munninghoff sebagai pejuang hak asasi manusia yang menyuarakan pelanggaran HAM di Papua.

Staf di Keuskupan Jayapura, Suster Laura FSGM, pernah bertemu Uskup Emeritus Munninghoff di tahun 2000. Uskup itu, jelasnya, mudah bersahabat dengan orang sekitar dan menyayangi orang Papua. (pcp)

Siapa para malaikat itu?

Kam, 08/02/2018 - 17:05

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

59. Apa yang diciptakan Allah?

Kitab Suci mengatakan, ”Pada awal mula, Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Gereja dalam pengakuan imannya menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, yang kelihatan dan tak kelihatan, semua makhluk spiritual dan yang bertubuh, yaitu para malaikat dan dunia yang kelihatan, khususnya, manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 309-310, 325-327

60. Siapa para malaikat itu?

Malaikat-Malaikat adalah makhluk murni spiritual, bukan makhluk bertubuh, tak kelihatan, tak dapat mati, dan berpribadi, dianugerahi akal dan kehendak. Mereka mengontemplasikan dan bertatap muka dengan Allah terus-menerus, dan mereka memuliakan-Nya. Mereka mengabdi-Nya dan menjadi pembawa pesan dalam melaksanakan misi penyelamatan-Nya bagi semua.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 328-333, 350-351

61. Dengan cara bagaimana para malaikat hadir dalam kehidupan Gereja?

Gereja bergabung dengan para malaikat dalam menyembah Allah, meminta pertolongan mereka dan memperingati mereka dalam liturgi.

”Di samping setiap orang beriman, berdiri seorang malaikat

sebagai pelindung dan gembala

yang akan menuntunnya kepada kehidupan”

(Santo Basilius Agung)

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 334-336, 352

Mgr Mandagi minta delapan imam yang ditahbiskan menjadi teladan dari apa yang mereka ajarkan

Kam, 08/02/2018 - 15:28

Calon imam tercinta, kamu akan diterima masuk kalangan para imam. Kamu akan menjalankan tugas suci mengajar, di dalam Kristus, Sang Guru. Wartakanlah kepada semua orang Sabda Allah, yang telah kamu terima sendiri dengan suka hati. Dan sambil merenungkan Hukum Tuhan, jagalah agar kamu tetap percaya akan Sabda Tuhan dan menjadi teladan dari apa yang kamu ajarkan.

Sapaan uskup itu diungkapkan Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC dalam Misa Tahbisan tujuh imam diosesan Amboina dan satu imam biarawan MSC di Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius Ambon 3 Februari 2018.

Kepada calon imam yang disapa sebagai “putera-puteraku” itu, Mgr Mandagi berharap agar pengajaran mereka menjadi pegangan bagi umat Allah, dan “cara hidupmu menjadi kesukaan bagi kaum Kristiani, agar dengan perkataan dan teladan kamu membangun Gereja Allah.”

Menurut Mgr Mandagi, para diakon itu ditahbiskan imam untuk mengabdi Kristus, Pengajar, Imam Agung dan Gembala, “sesudah mendengar kesaksian umat dan setelah dipertimbangkan baik-baik” oleh karena itu, “mereka akan menjadi gambaran dari Kristus, Imam Agung yang abadi, dan digabungkan dalam martabat para uskup.”

Mereka ditahbiskan dengan motto “In Te domine , speravi. Non confundar in aeternum” (Kepada-Mu, ya Tuhan, aku berharap, untuk selamanya aku tidak akan hancur) “untuk menjadi imam yang sah dalam Perjanjian Baru untuk mewartakan Injil, dan untuk menggembalakan Umat Allah, lagi pula untuk merayakan Ibadat Ilahi, terutama Perayaan Ekaristi.”

Oleh karena itu, Mgr Mandagi minta agar para diakon yang akan ditahbiskan untuk memperhatikan apa yang mereka lakukan, dan meneladani apa yang mereka jalankan. “Seraya kamu merayakan misteri wafat dan kebangkitan Tuhan, hendaklah kamu berusaha mematikan anggota-anggota tubuhmu dari segala jenis kejahatan dalam cara hidup yang baru,” minta uskup.

Dalam pelayanan Pembaptisan, tegas uskup, mereka mengumpulkan orang ke dalam Umat Allah, melalui Sakramen Tobat mereka mengampuni dosa atas nama Kristus dan Gereja, dan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit, mereka mendampingi orang yang sakit. “Dengan menjalankan upacara-upacara yang kudus, dengan mempersembahkan doa-doa pujian dan syukur, serta doa-doa sepanjang hari, kamu tidak hanya berdoa untuk umat Allah, melainkan juga untuk seluruh dunia.”

Dalam melakukan semua itu, Mgr Mandagi minta, agar para imam baru itu ingat bahwa mereka diambil dari antara umat manusia dan ditetapkan bagi manusia untuk menghubungkan mereka dengan Allah. Maka, “penuhilah tugas Kristus Imam Agung itu senantiasa dengan gembira dalam cinta kasih yang sejati. Jangan mencari apa-apa yang menyenangkan dirimu sendiri, melainkan carilah semuanya yang berkenan kepada Kristus.”

Akhirnya, Mgr Mandagi mengajak mereka bersatu dengan uskup dan di bawah pimpinannya, berusaha menggembalakan umat beriman menjadi satu keluarga dan mengantar mereka, dengan pengantaraan Kristus, kepada Allah Bapa dalam Roh Kudus. “Yesus, Gembala yang baik, harus selalu menjadi teladan bagimu. Dia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Dia datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang.”

Setelah tahbisan, kata Mgr Mandagi kepada PEN@ Katolik, para imam baru itu ditempatkan di berbagai tempat: “Pastor Joseph El Pr jadi kepala SMP Katolik Xaverius Passo, Ambon, dan pastor rekan Paroki Passo); Pastor Sebastianus Takndare Pr menjadi Kepala Paroki Kao, Maluku Utara; Pastor Zakarias S Ohoiledwarin Pr menjadi kepala SMP Katolik Xaverius, Ambon; Pastor Alfons Suarubun Pr menjadi kepala SMP Katolik Masohi dan Rektor Seminari Santo Andreas, Masohi; Pastor Godefridus Frawowan Pr menjadi Pastor Kuasi Paroki Buli, Halmahera Timur; Pastor Laurentius Takndare Pr menjadi Kepala Paroki Elat, Katlarat, Kei Besar dan kepala SMP Katolik Katlarat; Pastor Abraham Fatlolon Pr menjadi kepala SMAK Saumlaki dan Pastor Rekan Paroki Saumlaki; Pastor Tobias Farneubun MSC berkarya di daerah MSC di Kalimantan Timur.”(paul c pati)

Foto-foto dari berbagai sumber:

Mgr Agus mendapat ‘anak’ baru dan berjanji akan menjadi bapa yang baik baginya

Kam, 08/02/2018 - 05:05

Setelah berterima kasih kepada keluarga yang menyerahkan seorang anak kepadanya, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr mengatakan, mulai sekarang anak itu “menjadi ‘anak’ saya, dan sebagai uskup saya akan menjadi bapa yang baik baginya, namun bukan berarti dia putus hubungan dengan keluarganya.”

Mgr Agus berbicara dalam Misa Pentahbisan Diakon Matius di Gereja Paroki Santo Pius X Bengkayang, 3 Februari 2018. Karena diakon itu adalah diakon diosesan atau projo maka dia menjadi milik uskup dan dia diterima dalam keluarga baru paguyuban imam-imam diosesan (UNIO) Keuskupan Agung Pontianak.

“Relasi dengan keluarga sama seperti biasa. Percayalah saya sebagai uskup ingin menjadi bapa yang baik untuk Diakon Matius. Sebagai uskup, saya punya banyak anak buah yakni para imam diosesan. Masa depan mereka, termasuk Diakon Matius ada di tangan saya,” kata Mgr Agus.

Uskup agung itu bahkan meminta Diakon Matius untuk menerimanya sebagai ‘bapa’ dan berjanji akan mempersiapkan para imam diosesan sebaik mungkin. Meskipun kadang-kadang saya harus  marah, “tapi saya akan tetap baik, itu janji uskup,” kata Mgr Agus.

Selain itu Mgr Agus menjelaskan bahwa keuskupan yang dipimpinnya masih membutuhkan banyak imam, yang akan menyiapkan umat untuk hidup kekal bersama Bapa di surga. Setelah menghitung jumlah umat sekitar 600.000 dan jumlah imam sebanyak 80 orang di keuskupan agung itu, uskup menegaskan bahwa setiap imam yang ada di keuskupannya rata-rata harus melayani sekitar 7500 umat.

Disadari bahwa sebagai gembala yang harus melayani banyak domba “para imam itu kadang-kadang punya kelemahan, maka kita perlu mendoakan mereka,” kata Mgr Agus seraya meminta umatnya untuk tidak hanya melihat para imam dari segi negatifnya saja. “Banyak imam yang hanya dikenal segi negatifnya, tanpa dilihat segi positifnya. Berapa kali kalian memuji imam kalian?” tanya uskup yang mengamati lebih banyak kritik daripada pujian yang diterima para imamnya.

Diakon Matius, yang akan menjalani masa diakonat di Paroki Santo Christophorus Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, membawa motto panggilan “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.” (Mrk 8:2) dan menegaskan bahwa dia tidak akan menyerah. Bahkan dalam sambutannya dia bernyanyi: “Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa. Mujizat Tuhan ada, saat hati menyembah.  Jangan pernah menyerah, jangan berputus asa. Mujizat Tuhan ada, bagi yang setia dan percaya.

Dari laporan yang diterima PEN@ Katolik diketahui bahwa Diakon Matius, yang lahir di Sentalang Ayun, 12 Juli 1988, berasal dari Paroki Santo Pius X Bengkayang. Setelah menjalani Masa Tahun Orientasi Panggilan  di Nyarumkop tahun 2008-2009, dia menjalani Tahun Orientasi Rohani di Seminari Tinggi Santo Giovanni XXIII, Malang, 2009-2010.

Setelah studi filsafat dan teologi dijalaninya di Widya Sasana Malang (2010-2014) dan Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Santo Yosep Samalantan (2014-2015), frater itu melanjutkan studi pasca sarjana di Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus di Siantan Hulu Pontianak Timur (2015-2017).

Frater yang sejak 2017 menjalani masa pastoral pra-diakonat di Paroki Santo Christophorus Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, terlahir di tengah keluarga Protestan yang sederhana, saat dia tumbuh menjadi anak yang gembira, mampu bersyukur meskipun tidak punya harta.

Di saat kecil cita-citanya adalah menjadi tentara. Namun dia sedih saat SMP mendengar ungkapan para orangtua di kampung: “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, nanti juga pulang kampung pegang pisau getah.” Kata-kata itu sangat melemahkan namun juga membuat Matius bersemangat untuk bersekolah.

Keterbatasan biaya dialaminya saat ingin sekolah di SMA Santo Paulus Nyarumkop, maka niatnya diurungkan. Akhirnya dia masuk SMA Santo Fransiskus Asissi Bengkayang dan tinggal di Asrama Pastoran Bengkayang dengan pembina asrama Pastor Jhon Rustam Pr dan pendamping Mateus Teon. Baru setahun di sana, ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas dan kaki kanannya patah. Peristiwa ini kembali melemahkan semangatnya untuk melanjutkan sekolah. Namun dia ditolong oleh pembinanya sehingga tetap melanjutkan sekolah sambil membantu dan bekerja di Pastoran Bengkayang.

Ketertarikan menjadi imam tumbuh saat dia diajak oleh seorang frater, diakon dan pastor ikut tourne (pelayanan) ke stasi-stasi yang jarang dikunjungi karena keterbatasan tenaga imam. Keadaan itu membuat hatinya tergerak dan masuk Tahun Orientasi Panggilan di Nyarumkop. Mulanya dia meragukan panggilannya, namun “Saya percaya akan kerahiman Allah yang begitu baik. Dialah yang memampukan saya menjawab panggilannya.”

Bupati Bengkayang Suryadman Gidot yang hadir dalam Misa Tahbisan itu turut bangga atas peristiwa itu dan berharap “semoga Diakon Matius tetap setia sampai akhir.” (mssfic/aop)

Jika Allah itu mahakuasa dan mahabaik, mengapa ada kejahatan?

Rab, 07/02/2018 - 02:41

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

57. Jika Allah itu mahakuasa dan mahabaik, mengapa ada kejahatan?

Terhadap pertanyaan ini, yang menyedihkan dan sekaligus juga misterius, hanya keseluruhan iman Kristenlah yang dapat memberikan jawaban. Allah sama sekali bukanlah penyebab kejahatan, baik langsung maupun tidak langsung. Dia menerangi misteri kejahatan di dalam Putra-Nya, Yesus Kristus, yang wafat dan bangkit untuk mengalahkan kejahatan moral itu, yaitu dosa manusia, yang menjadi akar dari semua kejahatan lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 309-310, 324, 400

58. Mengapa Allah mengizinkan kejahatan ada?

Iman memberikan kepastian kepada kita bahwa Allah tidak akan mengizinkan kejahatan jika Dia tidak menyebabkan suatu kebaikan yang datang dari kejahatan itu. Hal ini dilaksanakan oleh Allah dengan cara yang menakjubkan dalam wafat dan kebangkitan Kristus. Kenyataannya, dari kejahatan moral yang paling besar dari semuanya (pembunuhan Putra-Nya), Dia membawa kebaikan yang paling besar dari semuanya (kemuliaan Kristus dan penebusan kita).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 311-314, 324

Warakawuri juga diajak hidupi Pancasila dan bangun dialog bersama masyarakat

Sen, 05/02/2018 - 20:15

“Ayo kita mulai membangun sikap srawung. Maka, bagus kalau pertemuan-pertemuan Santa Monika juga melibatkan mereka yang dari komunitas-komunitas lain yang berbeda agama, tetapi satu iman pada Tuhan yang Maha Esa, membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, semakin beriman apapun agamanya.

Ajakan itu disampaikan oleh Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) Pastor Aloysius Budi Purnomo Pr kepada 600 perempuan anggota Perhimpunan Warakawuri Katolik (PWK) Santa Monika dari 31 cabang se-Keuskupan Agung Semarang ketika mereka bertemu di Gereja Kristus Raja Ungaran.

Tujuan pertemuan mereka tanggal 21 Januari 2018 itu adalah merayakan Natalan Bersama yang diisi dengan Misa, hiburan dan ramah tamah, namun setelah menghibur mereka dengan beberapa lagu tiupan saxophone, dalam acara bertema “Dalam Terang Iman Menghidupi Nilai-nilai Pancasila” itu, Pastor Budi  meminta mereka untuk saling meneguhkan dan juga “membangun sikap srawung atau membangun dialog bersama masyarakat.”

Meskipun demikian, sebelum membuat pelayanan keluar, Ketua PWK Santa Monika Pusat Maria Katarina Susanti Syamsudin mengajak ibu-ibu janda itu supaya tetap mendampingi keluarga. “Jangan kita lupakan, ibu-ibu Santa Monika tetap menjadi pendamping keluarga-keluarga anak-anak kita. Itulah pelayanan yang utama di dalam keluarga, sebelum kita lanjut ke pelayanan keluar, dan kepada komunitas kita,” katanya.

Ketua PWK Santa Monika Koordinasi Cabang KAS Maria Sri Swasanti Suyono menjelaskan kepada PEN@ Katolik bahwa PWK Santa Monika mengumpulkan ibu-ibu warakawuri Katolik  yang sudah ditinggalkan oleh suami, baik itu meninggal atau pun sebab-sebab yang lain, untuk bersama-sama bergabung di perhimpunan itu “guna menyatukan visi dan misi perhimpunan warakawuri Katolik, yakni melayani sesama dengan penuh kasih Tuhan.”

Sedangkan menurut seorang anggota perhimpunan, Theresia Sudirlan, banyak ibu janda Katolik menghadapi persoalan dan hidup mereka kurang bahagia. “Maka, motivasi mereka untuk berkumpul ini adalah untuk saling menggembirakan, saling memberi, saling menerima, dan saling meneguhkan bahwa mereka tidak sendiri.”(Lukas Awi Tristanto)

Sudah 90 tahun para Frater BHK mencerdaskan bangsa lewat pendidikan kaum muda

Sen, 05/02/2018 - 16:33

Untuk merayakan Pesta Syukur 90 Tahun Karya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK) di Indonesia, 2 Februari 2018, keluarga besar Kongregasi Frater BHK yang didirikan oleh Uskup Utrecht (Belanda) Mgr.Andreas Ignatius Schaepman (13 Agustus 1873) merayakan Misa di Biara Santo Yosef Maumere bersama dua unit sekolah asuhan mereka, SMPK dan SMAK Frateran Maumere.

Misa dengan tema “Dalam Kegembiraan, Syukur serta Pengharapan Kami Berziarah pada Hati Kudus Menyongsong Hari Depan” itu dipimpin oleh Pastor Cyriakus Ndolu OCarm dengan konselebran Pastor Willy Boy Pr dan Pastor Edgar RCJ.

“Sudah 90 tahun para biarawan dari Kongregasi Frater BHK, sebagai pelaku hidup bakti, mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia lewat pendidikan bagi kawula muda,” kata Pastor Cyriakus Ndolu dalam homilinya.

Menurut Prior Biara Carmel Wairklau Maumere itu, di saat seluruh Gereja merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah Allah,  para frater BHK yang juga menjalani hidup bakti itu menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, karena mereka memang “dikhususkan untuk Allah.” Oleh karena itu, mereka “bagaikan Boneka India yang boleh dipandang tapi jangan diraba,” kata Pastor Cyriakus.

Sebagai pelaku hidup bakti, kata imam itu, para frater itu “hanya melihat dan mengabdi Allah semata.” Maka, sebelum kaul kekal, lanjut biarawan Karmel itu, para Frater BHK pun boleh buka mata lebar-lebar untuk melihat keindahan dunia “tetapi setelah kaul kekal, tutup mata rapat-rapat dan hanya mengabdi kepada Tuhan.”

Pimpinan Biara BHK Santo Yosef Maumere Frater M Herman BHK menjelaskan, para Frater BHK asal Belanda yang datang ke Indonesia tahun 1928 menjadikan Malang (Jawa Timur) sebagai pusat biara. Kemudian, lanjutnya, dalam kurun waktu antara tahun 1945 hingga 1958, kongregasi itu melebarkan sayapnya ke Kupang, Ndao dan Ndona (keduanya di Ende), Maumere, Hokeng serta Larantuka.

Selain optimis bahwa setiap tahun jumlah kawula muda yang bergabung dengan kongregasi itu akan meningkat, frater asal Lembata itu memohon doa untuk kelancaran Kapitel Provinsi maupun Kapitel Umum dari kongregasi itu.

Musik Kampung dan Tarian Tobelo menghibur resepsi di Aula Mardi Wiyata yang dihadiri para guru serta para karyawan SMP dan SMAK Frateran Maumere, OSIS SMP dan SMAK Frateran Maumere, para suster Sang Timur, para suster CIJ, anak asrama SMP Frater dan dari enam asrama yang menampung peserta didik SMAK Frateran Maumere. (Yuven Fernandez)

 

Apa penyelenggaraan ilahi itu?

Sen, 05/02/2018 - 15:59

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

54. Bagaimana Allah menciptakan semesta alam?

Dari kehendak bebas-Nya, Allah menciptakan semesta alam dalam kebijaksanaan dan cinta. Dunia diciptakan bukan karena kebutuhan, atau takdir buta, ataupun kebetulan. Allah menciptakan dari ketiadaan (ex nihilo) (2Mak 7:28) sebuah dunia yang teratur dan baik. Ia jauh mengatasi ciptaan-Nya. Allah memelihara ciptaan-Nya dalam keberadaan dan menopangnya, memberinya kemampuan untuk bertindak, membimbingnya menuju kepenuhannya melalui Putra-Nya dan Roh Kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 295-301, 317-320

55. Apa penyelenggaraan ilahi itu?

Penyelenggaraan ilahi terletak pada kesediaan Allah untuk membimbing makhluk-makhluk ciptaan-Nya menuju tujuan akhir mereka. Allah adalah Tuan yang berkuasa atas rencana-Nya. Tetapi untuk melaksanakannya, Allah juga berkehendak untuk bekerja sama dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Allah menganugerahkan kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya martabat untuk dapat bertindak dari kebebasan mereka sendiri dan saling memimpin satu sama lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 302-306, 321

56. Bagaimana kita bekerja sama dengan penyelenggaraan ilahi?

Dengan tetap menghormati kebebasan kita, Allah meminta kita untuk bekerja sama dengan-Nya dan memberikan kepada kita kemampuan untuk melaksanakannya melalui semua tindakan, doa, dan penderitaan kita. Jadi, Allah membangkitkan dalam diri kita ”kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan Nya” (Flp 2:13).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 307-308, 323

Gerakan Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani semakin berkembang

Min, 04/02/2018 - 21:38

Lukas Awi Tristanto

“Tangan kanan-Mu, Tuhan, mulia karena kekuasaan-Mu (Bdk Keluaran 15:1-21)” menjadi tema Pekan Doa se-Dunia untuk Persatuan Umat Kristiani 2018. Tema tersebut digumuli dalam refleksi dan doa selama satu pekan, 18-25 Januari 2018.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menjelaskan, tema itu lahir berdasarkan pengalaman konkret umat dan masyarakat di Karibia. Saat ini umat Kristiani dan masyarakat Karibia dari berbagai tradisi melihat tangan Tuhan aktif berkarya membebaskan mereka dari belenggu penjajahan dan perbudakan. Mereka mengalami tindakan penyelamatan Tuhan yang membawa kebebasan.

Karena itulah nyanyian Musa dan Miriam (Kel 15: 1-21) yang merupakan nyanyian kemenangan atas penindasan, dijadikan tema pekan doa itu untuk 2018. Tema ini telah diangkat dalam himne The Right Hand of God yang ditulis dalam sebuah lokakarya Konferensi Gereja-Gereja di Karibia bulan Agustus 1981, dan telah menjadi “lagu kebangsaan” gerakan ekumenis di wilayah itu, yang diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa berbeda.

Tangan kanan Tuhanlah yang membawa orang keluar dari perbudakan, memberi harapan dan keberanian yang terus-menerus kepada umat-Nya. Itulah yang terus membawa harapan kepada umat dan masyarakat di Karibia. Dalam menyaksikan harapan bersama ini, Gereja-Gereja bekerja sama untuk melayani semua orang di wilayah itu, terutama yang paling rentan dan terbengkalai.

Dalam kata-kata nyanyian rohani, “tangan kanan Allah sedang menanam di tanah kita, menanam benih kebebasan, harapan dan cinta”, mereka mengalami tangan kanan Tuhan yang menyelamatkan.

Berdasarkan pengalaman itulah, maka dalam rangka pekan doa 2018, Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristiani (Vatikan, Katolik Roma) dan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (Gereja-Gereja Protestan) bekerjasama mempersiapkan bahan-bahan renungan yang dibagikan kepada umat Kristiani.

Bahan-bahan itu kemudian diterbitkan sesuai situasi dan konteks pengalaman di Indonesia dalam rupa booklet dan brosur untuk didistribusikan ke paroki-paroki, komunitas-komunitas religius serta gereja-gereja Kristen.

Selain mendoakan secara pribadi maupun bersama di gereja atau pun komunitas-komunitas religius, ibadah ekumene dalam rangka pekan doa itu pun digelar atas kerja sama Komisi HAK KAS maupun Komisi HAK Kevikepan di wilayah KAS dengan kerja sama gereja-gereja Kristen setempat.

Semakin berkembang

Gerakan Pekan Doa se-Dunia untuk Persatuan Umat Kristiani makin berkembang di KAS. Hal ini terlihat dengan banyaknya gereja-gereja yang mulai merintis gerakan itu. Komisi HAK KAS dan Komisi HAK Kevikepan Semarang bekerja sama dengan Persekutuan Gereja-Gereja Kota Semarang (PGKS) membuka ibadah ekumene di kota Semarang 18 Januari 2018. Ibadah di Gereja Santo Athanasius Agung Semarang itu dihadiri 14 pendeta dan 11 imam  Katolik serta umat setempat.

Tanggal 22 Januari 2018, ibadah ekumene diselenggarakan di GKI Gereformeerd Semarang yang dihadiri 4 imam Katolik dan 16 pendeta serta umat dari berbagai gereja. Tanggal 25 Januari 2018 penutupan ibadah ekumene diselenggarakan di Gereja Santa Theresia Bongsari yang dihadiri 12 pendeta dan 8 imam Katolik dan dilanjutkan dengan pentas seni dan talk show tentang “Beragama dalam Masyarakat Plural”.

Di beberapa tempat di wilayah Kevikepan Semarang juga diadakan kegiatan serupa seperti di Gereja Paroki Gubug yang dihadiri 7 pendeta dan 1 imam Katolik tanggal 25 Januari 2018. Hari itu juga di Ungaran, ibadah Ekumene yang diselenggarakan di Gereja Kristus Raja Semesta Alam dihadiri 12 pendeta dan 2 imam Katolik. Di  Salatiga ibadah ekumene diselenggarakan di Gereja Kristen Muria Indonesia, 22 Januari 2018.

Di Kevikepan Yogyakarta, ibadah ekumene diselenggarakan di Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji yang dihadiri 10 imam Katolik dan 7 pendeta, 24 Januari 2018. Di Kevikepan Surakarta ibadah ekumene dihadiri 2 imam Katolik dan 2 pendeta, 20 Januari 2018. Di wilayah yang sama yakni di Gereja Santa Perawan Maria Wedi Klaten, ibadah ekumene dihadiri 1 imam Katolik dan 7 pendeta, 25 Januari 2018. Di Kevikepan Kedu, ibadah ekumene di adakan di Gereja Santo Rafael Kalinegoro, Pancaarga Magelang yang dihadiri 8 imam Katolik dan 5 pendeta, 23 Januari 2018.

Ibadah ekumene dalam rangka pekan doa itu kini mendapat sambutan yang baik dari para pendeta, imam Katolik, umat dari berbagai gereja, bahkan sejumlah biarawan dan biarawati.

Dalam ibadah ekumene di GKI Gereformeerd Semarang, 22 Januari 2018, Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ mengaku menemukan banyak orang yang dengan sangat otentik mengupayakan persatuan umat kristiani. Lebih lanjut, imam dari Gereja Santa Theresia Bongsari itu mengajak semua pihak melalui kerja sama ekumenis untuk melakukan terobosan-terobosan supaya semakin dirasakan bagi banyak orang. “Mari kita menyadari bersama, membuat aktivitas-aktivitas yang sungguh bisa mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini,” ajak imam itu.

Sedangkan dalam ibadah ekumene di Gereja Santa Theresia Bongsari, Pendeta Joko Wibowo dari Gereja Kristen Jawa mengatakan bahwa dalam persatuan umat Allah dipanggil untuk melakukan karya nyata kebaikan. “Paling tidak, kebaikan yang boleh kita lakukan adalah bergandengan tangan dengan saudara-saudara kita dalam sebuah kebersamaan. Ketika kita dengan rela mampu memegang tangan saudara kita yang lemah, itulah sebuah persatuan, itulah sebuah kebersamaan, dan itulah sebuah karya bersama,” tegasnya.

Selaras dengan RIKAS 2016-2035

Menurut Pastor Budi, tema pekan doa 2018 selaras dengan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035 dan ARDAS KAS 2016-2020 yang mengajak kita semua “untuk mewujudkan Peradaban Kasih dalam Masyarakat Indonesia yang Sejahtera, Bermartabat dan Beriman dengan menjadi Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif.”

Dalam arti tertentu, kita pun mengalami belenggu penindasan dalam wujud bahaya kekerasan, kemiskinan, korupsi dan bencana alam yang belakangan ini masih terjadi di negeri kita,” kata imam itu seraya berharap agar umat Allah, kian hari, kian membangun peradaban kasih di antara umat Kristiani dan kemudian meluas mengakar di antara semua umat manusia dalam kehidupan yang rukun, bersatu bahagia, sejahtera dan bermartabat.

“Selamat menjadi duta-duta yang menghadirkan tangan kanan Tuhan yang menyelamatkan di tengah masyarakat yang ditandai realitas multikultural beragam dan majemuk ini dengan mengedepankan kasih-Nya melalui kehidupan kita yang rapuh ini,” kata pastor Budi yang menegaskan bahwa kita semua dipanggil dan diutus untuk menghadirkan tangan kanan Tuhan yang menyelamatkan “dengan menjadi pembawa damai dan tak lelah merajut persaudaraan sejati dengan siapa saja.”***

Pastor Aloys Budi Purnomo Pr

Suster Silvy Susanti SFIC yang pernah menjadi misionaris di Kenya meninggal dunia

Min, 04/02/2018 - 14:29
Sustet Silvy ketika masih bertugas di misi Kenya sebagai bidan.

Kongregasi Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC) Provinsi Indonesia memberitakan bahwa pagi hari ini, 4 Februari 2018, pukul 02.20, Suster Silvy Susanti SFIC menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak dalam usia 69 tahun.

Menurut keterangan dari Provinsial SFIC Suster Irene SFIC, Misa Requiem akan dilaksanakan Senin 5 Februari 2018 Pukul 10.00 WIB di Kapel Susteran Santo Antonius Pontianak, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pemakaman di Kerkop-Pemakaman Katolik Santo Yusuf Sungai Raya.

Suster Silvy Susanti lahir di Pontianak, Kalbar, 08 Desember 1949. Dia bergabung bersama Kongregasi SFIC sebagai postulan di tahun 1988, masuk Novisiat 3 Juli 1989, dan mengikrarkan kaul kekal 28 Juni 1997.

Tanggal 10 Oktober 2015, suster itu merayakan 25 tahun hidup membiaranya bersama 13 kolega suster yang juga merayakan pesta membiara 50 tahun, 40 tahun dan 25 tahun pesta membiara.

Suster “yang dikenal lemah lembut tutur bahasanya ini,” demikian keterangan dari provinsialat SFIC, pernah mengabdikan diri selama 16 tahun sebagai misionaris di misi SFIC di Naroosura, Kenya, Afrika.

Sebagai bidan, suster itu sungguh mengalami kehadiran Tuhan melalui pasien dan orang-orang sakit yang ia layani. Meskipun mengalami banyak tantangan di tanah misi seperti perbedaan budaya dan bahasa, namun satu hal yang menarik adalah Suster Silvy sangat mencintai tugasnya sebagai misionaris.”

Dijelaskan, “rasa cinta yang besar inilah yang menjadi kekuatan baginya untuk melewati semua tantangan sulit dengan sabar dan penuh iman, karena dia percaya bahwa Tuhan yang diimaninya, Dia itulah yang memampukan dirinya untuk menjalani tugas perutusannya ini dengan gembira,” demikian informasi dari para suster SFIC yang berterima kasih atas pengabdian dan teladan hidup yang telah diberikan suster itu “kepada kami yang masih berziarah di dunia ini.”(mssfic)

Suster Silvy Susanti SFIC Suster Silvy (kedua dari kiri yang berdiri di barisan depan) ketika merayakan pesta membiara 50th, 40th dan 25th pesta membiara 13 kolega suster lainnya.

Sebuah Sentuhan

Min, 04/02/2018 - 00:30

Minggu di Biasa ke-5

4 Februari 2018

Markus 1: 29-39

“Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. (Mrk 1:31)”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kisah mukjizat penyembuhan Yesus yang pertama, dan orang pertama yang disembuhkan Yesus adalah seorang perempuan, ibu mertua Petrus. Perhatikan juga tiga tindakan Yesus terhadap wanita ini: mendekati, mengangkat tangannya, dan membangunkan dia. Ketiga tindakan ini sangat simbolis bukan hanya karena mereka membawa penyembuhan, tetapi juga melalui tindakan ini, Yesus memberdayakan perempuan tersebut untuk berdiri di atas kakinya dan melayani (Diakonia). Setelah malaikat melayani Yesus di padang gurun (Mrk 1:13), manusia pertama yang melayani Yesus adalah seorang wanita dan ibu.

Kita sebagai manusia, memiliki indra perasa sebagai yang paling mendasar bagi kita. Mata kita perlu bersentuhan dengan partikel cahaya untuk bisa melihat, telinga kita perlu menerima gelombang suara untuk mendengar, tetapi seluruh tubuh kita diselimuti oleh jaringan saraf yang berfungsi untuk mengenali informasi dasar seperti suhu, rasa sakit, dan tekanan. Ini dirancang dengan indah bagi kita bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk menjalani hidup secara sepenuhnya. Dengan demikian, sentuhan atau kontak fisik sangat mendasar bagi kehidupan dan relasi kita sebagai manusia.

Kita belajar keutamaan-keutamaan dasar pertama dan keindahan hidup melalui sentuhan. Sebagai bayi, kita dipeluk oleh orang tua kita; kita pun mulai tumbuh dalam kenyamanan, keamanan, dan cinta. Namun, sentuhan tidak hanya dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak, tapi juga oleh pria dan wanita dewasa. Seorang frater kami yang sedang melakukan pelayanan di salah satu rumah sakit di Manila pernah dinasihati oleh seniornya bahwa orang dewasa setidaknya membutuhkan satu pelukan berkualitas setiap hari. Dia mungkin tidak bisa menyembuhkan penyakit, tapi ketika ia secara fisik hadir untuk pasien, dia akan membawa harapan dan kenyamanan. Kita berjabat tangan sebagai ungkapan saling percaya dengan satu sama lain, kita memberi ciuman sebagai tanda kasih, dan bahkan dalam olahraga dan permainan yang memerlukan kontak fisik, kita menumbuhkan rasa persahabatan dan persaudaraan kita.

Sayangnya, karena dosa dan kelemahan kita, kita mengubah karunia sentuhan ini menjadi alat penghancur kemanusiaan kita. Banyak saudara dan saudari kita menjadi korban sentuhan tidak manusiawi ini. Banyak perempuan dan anak-anak menerima pelecehan fisik dan seksual bahkan di dalam rumah dan keluarga mereka sendiri. Banyak juga yang terjerat dalam prostitusi, perbudakan modern, dan pekerja anak. Anak kecil, alih-alih pergi ke sekolah dan menerima pelukan dari orang tua mereka, memegang senjata untuk membunuh anak-anak lainnya. Perempuan muda, alih-alih menyelesaikan pendidikan mereka dan menikmati masa muda, harus menjajakan tubuh mereka untuk sesuap nasi bagi keluarga mereka. Laki-laki muda, alih-alih bekerja dan menjadi ayah yang baik, bergulat dengan kecanduan obat-obatan untuk mengatasi depresi disebabkan oleh kemiskinan.

Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuatnya sentuhan kita dan Dia mengundang kita untuk merebut kembali kekuatan ini untuk membawa penyembuhan dan pemberdayaan, terutama bagi mereka yang telah menderita karena sentuhan yang tidak manusiawi ini. Apakah sentuhan dan tindakan kita membawa kesembuhan bagi keluarga dan masyarakat kita? Apakah sentuhan kita memberdayakan orang di sekitar kita? Apakah sentuhan kita mengarahkan orang lain untuk melayani Tuhan?

 

 

Paus Fransiskus: ‘Hidup bakti diperbarui dalam perjumpaan dengan Yesus’

Sab, 03/02/2018 - 23:29

Dalam homili Misa Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah yang dirayakan di Basilika Santo Petrus Vatikan, 2 Februari 2018, Paus Fransiskus mengatakan kepada kaum religius pria dan wanita yang hadir dalam rangka Hari Hidup Bakti se-Dunia ke-22 bahwa hidup bakti “lahir dan terlahir kembali dari perjumpaan dengan Yesus karena Dia itu miskin, suci, dan taat.”

Paus Fransiskus merenungkan dalam homili itu, seperti dilaporkan oleh Devin Watkins dari Vatican News, tentang persembahan Yesus ke Bait Suci dan perjumpaan antara dua pasangan: Maria dan Yusuf yang keduanya masih muda, serta Simeon dan Anna yang keduanya sudah tua.

“Yang tua menerima dari yang muda, sementara yang muda mempergunakan yang tua,” kata Paus. “Dalam Bait Suci, Maria dan Yusuf menemukan akar dari suku bangsa mereka,” dan juga “menemukan “akar iman mereka”, yang merupakan “seni hidup bersama Tuhan, belajar dari pengalaman orang-orang yang telah pergi sebelum kita,” kata Paus seraya menegaskan bahwa pertukaran yang bermanfaat antara yang muda dan yang tua ini dimungkinkan karena berpusat pada Yesus.

Menurut Paus mengatakan, hal itu juga berlaku dalam kehidupan hidup bakti pria dan wanita. “Semuanya dimulai dalam perjumpaan dengan Tuhan,” kata Paus yang menekankan bahwa “Perjalanan hidup bakti kita lahir dari sebuah perjumpaan dan sebuah panggilan.”

Namun, Bapa Suci mengingatkan, “kita tidak dapat memperbarui perjumpaan kita dengan Tuhan tanpa orang lain.” Yesus, lanjut Paus, harus berada di pusat kehidupan kita dan yang muda harus belajar dari anggota komunitas yang lebih berpengalaman.

“Karena, kalau yang muda diminta membuka pintu-pintu baru, yang tua memegang kuncinya. Sebuah institut akan awet muda kalau kembali ke akarnya dan mendengarkan anggota-anggota yang lebih tua. Tidak ada masa depan tanpa perjumpaan antara yang tua dan yang muda. Tidak ada pertumbuhan tanpa akar dan tidak ada yang berbunga tanpa tunas baru. Tidak pernah ada nubuat tanpa ingatan, atau ingatan tanpa nubuat.”

Paus Fransiskus memperingatkan agar tidak memandang “layar ponsel lebih daripada memandang mata-mata saudara-saudari kita.” Kalau proyek-proyek, metode-metode, dan organisasi-organisasi mendapatkan prioritas utama, kata Paus, “hidup bakti tidak akan menarik lagi.”

Hidup bakti, kata Paus, “membebaskan kita dari kesukaan terhadap semua kepunyaan guna mencintai Tuhan dan sesama dengan sepenuhnya.” Seperti Simeon, kata Paus, membantu kita memegang Tuhan dan mengingat-Nya dalam semua hal yang kita lakukan.

Menurut Paus Fransiskus, rahasia menuju kehidupan spiritual yang bersemangat adalah “kesediaan untuk membiarkan diri kita menjumpai Yesus dan dijumpai oleh Dia.”

“Kalau kita menjumpai Yesus dan saudara-saudari kita dalam peristiwa-peristiwa hidup kita sehari-hari, hati kita tidak akan lagi ditentukan oleh masa lalu atau masa depan, namun akan mengalami ‘yang sekarang dari Allah’ dalam perdamaian dengan semua orang.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Halaman