Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 1 jam 46 mnt yang lalu

Apakah perlu menjalani hidup selibat untuk menerima Sakramen Penahbisan?

Sel, 31/07/2018 - 01:53

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

334. Apakah perlu menjalani hidup selibat untuk menerima Sakramen Penahbisan?

Untuk episkopat, mutlak perlu. Untuk presbiterat dalam Gereja Latin, yang dipilih adalah orang yang Katolik dan mempraktekkan selibat: orang-orang yang bermaksud melanjutkan penghayatan hidup selibat ”karena Kerajaan Surga” (Mat 19:12). Dalam Gereja-Gereja Timur, perkawinan tidak boleh dilaksanakan setelah seseorang ditahbiskan. Orang yang sudah kawin dapat ditahbiskan menjadi Diakon permanen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1579-1580; 1599

335. Apa buah Sakramen Penahbisan?

Sakramen ini memberikan pencurahan khusus Roh Kudus yang menjadikan orang yang menerimanya serupa dengan Kristus dalam tiga jabatan-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja sesuai dengan tingkatan Sakramen yang diterimanya. Penahbisan memberikan meterai spiritual yang tidak dapat dihapuskan, dan karena itu tidak dapat diulangi atau diberikan untuk sementara waktu.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1581-1589

336. Dengan wewenang apakah pelayanan imamat itu dilaksanakan?

Dalam menjalankan tugas pelayanan sucinya, para Imam yang ditahbiskan berbicara dan bertindak bukan atas wewenang mereka sendiri, bukan pula karena mandat atau delegasi komunitas tertentu, tetapi atas nama Pribadi Kristus Sang Kepala dan atas nama Gereja. Karena itu, imamat jabatan ini berbeda secara esensial dan tidak hanya dalam tingkatan dengan imamat umum seluruh umat beriman. Untuk pelayanan umat beriman, Kristus menetapkan Sakramen ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1547-1553; 1592

Pastor Patrick Hartadi OFMCap yang setia, disiplin, dan senang berkebun dimakamkan

Sen, 30/07/2018 - 23:44
Pastor Patrick Hartadi OFMCap. Foto berdasarkan https://deskgram.org/capuchinscamp

Hari ini, 30 Juli 2018, setelah Misa Requiem pukul 09.00 di Gereja Santo Agustinus Kubu Raya, Kalimantan Barat, jenazah Pastor Patrick Hartadi OFMCap, yang meninggal dalam usia 74 di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak 28 Juli 2018, pukul 00.10, dihantar untuk dimakamkan di Kerkop Santo Yusup Sungai Raya Pontianak.

Pastor Patrick yang lahir dengan nama permandian “Yohanes” di Teluk Pakedai, 26 Juli 1944, sebelum masuk biara bernama Lim Keng Siang. Setelah menamatkan SLTA, Yohanes Lim Keng Siang mengikuti jejak kakaknya Suster Angelita Limas SFIC untuk masuk biara dan memutuskan bergabung dengan Saudara-Saudara Kapusin. Tanggal 1 Agustus 1964, Yohanes Lim Keng Siang memasuki novisiat di Parapat Sumatera Utara dengan nama biara Patrick Hartadi.

Setelah pemakaman, Minister Provinsial Ordo Kapusin Pontianak Pastor Hermanus Mayong OFMCap mengatakan kepada PEN@ Katolik lewat media sosial bahwa Pastor Patrick “setia menjalankan panggilannya sebagai imam dan Fransiskan Kapusin.”

Selain itu, Pastor Patrick yang “setia berdoa dan tampil bersahaja” itu, menurut provinsialnya, “senang menekuni pekerjaan tangan, seperti berkebun, bertukang dan memperbaiki alat-alat elektronik.” Pelayanan yang dilakukan imam itu, “bukan untuk mendapatkan pujian, tetapi sungguh-sungguh memberikan diri.”

Jabatan yang ditekuni pastor itu saat meninggal adalah ekonom OFMCap Pontianak dan Pastor Pembantu Paroki Santo Agustinus Kubu Raya. Dan dalam menjalankan tugasnya, lanjut Pastor Mayong “Beliau disiplin. Setiap pagi pukul 07.00 berangkat dari Provinsialat menuju Komunitas Kapusin di Jalan Patimura untuk sekedar minum kopi dan ngobrol dengan para saudara di sana. Setelah itu pergi ke Bank atau ke Pusat Rehabilitasi Sabatu. Pulang untuk makan siang dan istirahat serta berkebun. Malam 19.00-20.00 kembali bekerja di kantornya di Provinsialat.”

Pusat Rehabilitasi Sabatu (SAling memBAnTU), yang menangani keterbatasan fisik, didirikan tanggal 1 Juli 1998 Bruder JLC Wijnans OFMCap, dan sampai akhir 2011 berada di bawah naungan Ordo Kapusin, dan sejak awal 2012 mulai  berdiri sendiri.

Pastor Patrick yang ditahbiskan imam tanggal 14 Juli 1972 itu, menurut pengamatan Pastor Mayong, “tidak pernah mau merepotkan orang lain, dan karena ketelitiannya, sebagian besar hidupnya diberikan untuk melayani sebagai sekretaris atau ekonom, baik di lingkungan ordo maupun keuskupan.”

Menurut informasi yang diterima PEN@ Katolik, selama menjadi saudara Kapusin, Pastor Patrick melaksanakan karya pelayanannya di berbagai tempat. Setelah tahbisan, Pastor Patrick yang menyelesaikan filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Parapat Sumatera Utara (1964-1972) ditugaskan sebagai Pastor Pembantu di Sanggau Kapuas (1972-1973), dan dikirim ke Roma untuk belajar di Universitas Kepausan Salesiana hingga mengantongi Lisensiat Pedagogi (1973-1978).

Kembali dari Roma, imam itu jadi pimpinan Persekolahan Katolik Nyarumkop di Singkawang (1979-1982), Persekolahan Nyarumkop (1982-1983), Vikjen atau Sekretaris Keuskupan Sanggau (1983-1991), Sekretaris Provinsi Kapusin Indonesia (1991-1994), sekretaris dan ekonom Badan Kerjasama Provinsi Kapusin atau BKS Prokap (1994-1996), Pastor Pembantu/Pastor Paroki Gembala Baik Pontianak dan Sekretaris Provinsi Kapusin Pontianak (1996-1997), Ekonom Keuskupan Palangkaraya (1997-2000), Sekretaris Provinsi Kapusin Pontianak (2000-2001), dan Ekonom Kapusin Pontianak dan Pastor Pembantu Paroki Santo Agustinus (2001-2018) Kubu Raya.

Menurut Pastor Laurentius Pras CDD yang juga Pastor Pembantu Paroki Santo Agustinus Kubu Raya, Pastor Patrick berangkat ke rumah sakit bukan karena sakit yang sangat vital. “Beliau masuk rumah sakit hari Selasa 24 Juli langsung puasa dan keesokan harinya operasi tangan karena sudah dua minggu dia mengalami perawatan karena tangannya tertimpa kayu yang dipotongnya di kebun,” cerita imam itu kepada PEN@ Katolik.

Tanggal 26 Juli, Pastor Patrick masih merayakan ulang tahun di rumah sakit. “Banyak tamu menyanyi bahagia, Pater juga ikut nyanyi. Sayangnya, ketika Pater mau buang air kecil, dia terjatuh da tak sadar diri. Tanggal 27 Juli malam kondisinya menurun drastis, dan menerima Sakramen Perminyakan.” (paul c pati)

Paus menerima pengunduran diri Uskup Agung Adelaide Australia Mgr Philip Wilson

Sen, 30/07/2018 - 20:26
Uskup Agung Adelaide Mgr Philip Edward Wilson

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Agung Adelaide, Australia, Mgr Philip Edward Wilson, 30 Juli 2018, setelah pengadilan membuktikan dirinya bersalah karena menutupi pelecehan seksual yang dilakukan seorang imam terhadap anak di bawah umur di tahun 1970-an.

Devin Watkins dari Vatican News melaporkan bahwa Pengadilan Australia menetapkan uskup agung itu terbukti bersalah di bulan Mei karena gagal melaporkan ke polisi pelecehan seksual terhadap dua putra altar yang dilakukan seorang imam di tahun 1970-an.

Tanggal 3 Juli, Uskup Agung Wilson, 67, dijatuhi hukuman penjara hingga 12 bulan tanpa ada pembebasan bersyarat selama 6 bulan.

Meskipun keluar dari pelayanan pastoral Keuskupan Agung Adelaide di bulan Mei, Uskup Agung Wilson menolak seruan untuk mengundurkan diri dari perannya sebagai uskup agung. Dia berencana naik banding dan sebelumnya dia mengatakan hanya akan mengundurkan diri kalau naik banding itu gagal.

Banyak politisi, termasuk Perdana Menteri Malcolm Turnbull, meminta Uskup Agung Wilson untuk mengundurkan diri.

Pelecehan itu terjadi di wilayah Hunter, di negara bagian New South Wales, ketika Uskup Agung Wilson bertugas sebagai pastor pembantu. Dua penuduh, yang saat itu putera-putera altar, mengatakan telah memberitahukan kepadanya pada tahun 1976 tentang pelecehan seksual yang dilakukan Pastor James Fletcher. Anak-anak lelaki, yang waktu itu berusia 10 dan 11 tahun, mengatakan uskup agung itu tidak melakukan apa pun dengan informasi itu.

Pastor Fletcher divonis bersalah tahun 2004 dengan sembilan kasus pelecehan seksual anak. Dia meninggal karena stroke tahun 2016 saat berada dalam penjara.

Kejahatan Uskup Agung Wilson terkait dengan periode 2004 hingga 2006, ketika Pastor Fletcher dituduh melakukan pelanggaran seksual anak. Hakim menemukan bahwa ia telah memperoleh tingkat kepercayaan yang dibutuhkan untuk melaporkan apa yang dia ketahui kepada pihak berwenang.

Uskup Agung Wilson, yang menderita penyakit Alzheimer, mengatakan kepada pengadilan bahwa dia tidak dapat mengingat apa yang dikatakan tentang pelecehan itu.

Ketua Konferensi Waligereja Australia Uskup Agung Markus Coleridge merilis pernyataan setelah menerima berita pengunduran diri Uskup Agung Wilson.

“Sementara proses peradilan akan terus berlanjut, pengunduran diri Uskup Agung Wilson adalah bab berikut kisah memilukan dari orang-orang yang mengalami pelecehan seksual di tangan Jim Fletcher dan yang hidupnya berubah selamanya,” kata Mgr Coleridge.

“Keputusan ini,” lanjut Mgr Coleridge, “dapat membawa penghiburan bagi mereka, meskipun mereka terus menderita.”(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Kardinal McCarrick

Setelah penyelidikan Paus Fransiskus menerima pengunduran diri uskup dari Honduras

Paus Fransiskus menerima lagi pengunduran diri dua uskup Chili

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Kantor Pers Vatikan beri pernyataan tentang kasus pelecehan seksual di Chili

Para uskup Chili ungkapkan rasa sedih dan malu atas pelecehan dan ingin dengarkan Paus

Apa itu pengusiran setan?

Sen, 30/07/2018 - 15:14
Pastor Gabriele Amorth, ketua eksorsis Roma. Aleteia

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

351. Apa itu Sakramentali?

Sakramentali adalah tanda-tanda suci yang ditetapkan oleh Gereja untuk menguduskan macam-macam situasi kehidupan. Di sini, termasuk doa yang diiringi dengan tanda salib dan tanda-tanda lainnya. Di antara Sakramentali yang penting ialah: pemberkatan-pemberkatan yang merupakan pujian kepada Allah dan doa untuk memperoleh karunia-Nya, pemberkatan seseorang dan barang-barang bagi ibadah kepada Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1667-1672, 1677-1678

352. Apa itu pengusiran setan?

Bilamana Gereja meminta dengan otoritasnya dalam nama Yesus bahwa seseorang atau objek tertentu dilindungi terhadap kuasa si Jahat dan membebaskannya dari cengkeraman si Jahat, maka hal itu disebut dengan pengusiran setan (exorcisme). Dalam bentuk biasa, hal ini dilaksanakan dalam ritus Sakramen Pembaptisan. Exorcisme Meriah dapat dilaksanakan hanya oleh seorang Imam yang diberi wewenang oleh Uskup.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1673

353. Bentuk-bentuk kesalehan populer apa yang mengiringi hidup Sakramental Gereja?

Cita rasa religius umat Kristen selalu terungkap dalam bermacam-macam bentuk kesalehan yang mengiringi hidup Sakramental Gereja, misalnya penghormatan terhadap relikwi, kunjungan terhadap tempat-tempat suci, ziarah, prosesi, jalan salib, dan rosario. Gereja dengan terang iman mendukung bentuk-bentuk autentik kesalehan populer ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1674-1676, 1679

WKRI Merauke deklarasikan persatuan dan kesatuan di puncak HUT ke-94 WKRI

Sen, 30/07/2018 - 00:53
Ketua Presidium Wanita Katolik RI DPD Merauke, Maria Goreti Letsoin/ym

Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Dewan Pengurus Daerah (DPD) Merauke mendeklarasikan persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia dalam keberagaman suku, bangsa dan keyakinan, dalam Pertemuan Akbar WKRI untuk merayakan Puncak Perayaan HUT WKRI ke-94 di sebuah horel di Merauke, 28 Juli 2018.

Dalam deklarasi itu mereka mengemukakan komitmen untuk “turut menjaga persatuan dan kesatuan antarumat beragama secara khusus di Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel dengan sikap saling menghormati dan mendukung” dan meminta kepada siapa pun untuk “menghormati dan menghargai Tanah Papua Selatan sebagai Gerbang Hati Kudus Yesus.”

Mereka juga “menentang oknum-oknum atau kelompok gerakan redikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1045, menolak praktik politik berbasis uang, dan mengajak semua umat untuk menjaga silaturahmi antarumat beragama dengan kegiatan yang saling membangun, melalui organisasi wanita di Kabupaten Merauke, Mappi dan Boven Digoel.”

Selain “menentang segala bentuk kekerasan dan memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak demi kualitas manusia dan keutuhan ciptaan,” mereka “menyerukan kepada setiap orangtua untuk memperhatikan anak-anak usia sekolah agar tidak mengkonsumsi pinang.”

Pemerintah, DPRD dan pihak keamanan diminta juga untuk “untuk segera menertibkan penjualan miras lokal dan berlebel, lem aibon, atau sejenisnya yang mengandung zat-zat adiktif yang merusak akhlak dan martabat manusia demi menyiapkan generasi emas yang cerdas, berkualitas dan demi terciptanya keluarga yang harmoni” di tiga kabupaten itu.

Menurut Ketua Presidium Wanita Katolik RI DPD Merauke, Maria Goreti Letsoin, pertemuan dalam rangka HUT ke-94 WKRI itu adalah pertemuan akbar pertama DPD itu yang diikuti pengurus daerah, cabang, hingga ranting. “Pertemuan akbar ini juga sekaligus mempersiapkan Kongres WKRI se-Indonesia 2018 di bulan oktober mendatang,” jelasnya.

Menjelang HUT WKRI ke-84, lanjutnya, DPD Merauke yang kini memiliki 13 cabang telah dilaksanakan beberapa kegiatan baksos dan pelayanan di masing-masing cabang dan ranting. “Selain itu, ada juga beberapa kegiatan perlombaan yang dikoordinir langsung oleh DPD guna menyatukan dan mempererat persatuan wanita Katolik,” kata Maria sebelum menghadiri Misa Syukur yang dipimpin Pastor John Kandam Pr. (Yakobus Maturbongs)

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Kardinal McCarrick

Sen, 30/07/2018 - 00:19
Kardinal Theodore McCarrick (AFP)

Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Agung emeritus Washington (AS), Kardinal Theodore McCarrick, dari Kolese Kardinal, 28 Juli 2018, dan pada saat yang sama, Bapa Suci melarangnya melaksanakan pelayanan publik apapun, demikian Kantor Pers Tahta Suci.

Paus Fransiskus mengarahkan Kardinal McCarrick untuk menjalani “kehidupan doa dan pengakuan  dosa sampai tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadapnya diperiksa dalam persidangan kanonik biasa.” Paus juga memberlakukan kepada Kardinal McCarrick “kewajiban untuk tinggal di sebuah rumah yang belum ditunjukkan kepadanya.”

Kardinal McCarrick mengirim surat pengunduran dirinya sebagai anggota Kolese Kardinal kepada Paus Fransiskus Jumat, 27 Juli 2018, malam.

Sebelumnya pada hari Selasa, 24 Juli 2018, Uskup Agung Boston Kardinal Sean O’Malley membahas tentang pelecehan seksual yang melibatkan para uskup, dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia “sangat terganggu” dengan tuduhan baru-baru ini tentang ketidalayakan seksual oleh Kardinal McCarrick.

“Saya sangat terganggu dengan laporan-laporan yang telah membuat trauma banyak umat Katolik dan anggota-anggota komunitas yang lebih luas ini,” tulis Kardinal O’Malley. Kardinal itu juga mengakui laporan semacam itu “menghancurkan para korban, keluarga-keluarga mereka, dan Gereja itu sendiri.” Kardinal O’Malley dengan jelas menyatakan bahwa setiap kasus baru yang dilaporkan menyebabkan orang-orang meragukan apakah Gereja “secara efektif mengatasi malapetaka ini.”

Berbicara tentang tuduhan terhadap Kardinal McCarrick, Kardinal O’Malley mengusulkan agar tuduhan-tuduhan itu segera diadili secara adil, agar ada penilaian kecukupan standar dan kebijakan dalam Gereja di setiap tingkatan, khususnya dalam kasus para uskup, serta adanya komunikasi jelas bagi umat Katolik dan semua korban tentang proses pelaporan tuduhan terhadap para uskup dan para kardinal.

Jika tindakan-tindakan ini tidak dilaksanakan, tegas Kardinal O’Malley, “otoritas moral Gereja yang sudah melemah” akan semakin terancam dan berbahaya. Pada akhirnya, “kepercayaan yang dibutuhkan Gereja untuk melayani umat Katolik dan memiliki peran berarti dalam masyarakat sipil yang lebih luas” dapat rusak.

“Saat ini tidak ada keharusan yang lebih besar bagi Gereja daripada meminta dirinya bertanggungjawab untuk mengatasi masalah-masalah ini, yang akan saya bawa ke dalam pertemuan saya yang akan datang dengan Tahta Suci dengan urgensi dan perhatian mendesak,” kata Kardinal O’Malley. (pcp berdasarkan Vatican News)

Apa buah Penahbisan Presbiterat?

Sen, 30/07/2018 - 00:05
Imam yang ditabiskan berjanji “hormat dan taat” kepada uskup pengganti-penggantinya. Foto: Stephen Brashear

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

(Nomor-nomor di bawah ini ditampilkan sebagai tambahan karena lupa ditayangkan sesuai urutannya)

328. Apa buah Penahbisan Presbiterat?

Pengurapan Roh memeteraikan Imam dengan suatu meterai rohani yang tak dapat dihapuskan dan yang menjadikan dia serupa dengan Kristus sang Imam Agung, dan membuatnya mampu bertindak atas nama Kristus sang Kepala. Sebagai rekan kerja Uskup, dia ditahbiskan untuk mewartakan Injil, melaksanakan upacara liturgi, terutama Sakramen Ekaristi, dari sinilah dia mendapatkan kekuatan dalam pelayanannya, dan menjadi gembala umat beriman.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1562-1567; 1595

329. Bagaimana Imam melaksanakan pelayanan ini?

Seorang Imam, walaupun ditahbiskan untuk perutusan universal, melaksanakan pelayanannya dalam Gereja partikular. Pelayanan ini dilakukan dalam persaudaraan sakramental dengan yang lainnya yang bersama-sama membentuk ”Presbiterat”. Dalam kesatuan dengan Uskup dan tergantung darinya, mereka bertanggung jawab atas Gereja partikular.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1568

330. Apa buah Penahbisan Diakonat?

Diakon yang dipersatukan dengan Kristus sang pelayan untuk semua, ditahbiskan untuk pelayanan Gereja. Dia melaksanakan pelayanannya di bawah wewenang Uskupnya dengan pelayanan Sabda, upacara liturgi, reksa pastoral, dan karya karitatif.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1569-1571; 1596

Pastor Reinier Van Leeuwen SCJ meninggal, warga KKI diminta pakai batik saat Misa Requiem

Sab, 28/07/2018 - 23:39
Pastor Reinier Van Leeuwen SCJ

Tanggal 25 Juli 2018 Pukul 12.21 waktu Kanada, Pimpinan Komunitas SCJ Montreal Kanada Pastor Jean Claude Bedard SCJ mengumumkan kepada anggota Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Montreal lewat halaman Facebook mereka bahwa Pastor Reinier Van Leeuwen SCJ telah meninggal hari itu Pukul 02.00 dini hari dalam perawatan rumah sakit karena menderita pneumonia.

Pastor Reinier Van Leeuwen SCJ pernah berkarya di Indonesia. Imam itu pernah mendirikan Radio Suara Gema Atmajaya yang sekarang dikenal dengan Radio Sonora Palembang tahun 1976, dan menjadi Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia sejak 1994 hingga 2001.

Imam yang lahir di Belanda, 9 Januari 1929 itu, menurut catatan Penerbit & Toko Rohani OBOR, datang ke Indonesia saat muda untuk melayani umat Katolik khususnya di daerah Sumatera Bagian Selatan.

Romo Rein, demikian panggilan akrabnya, lama berkarya di Palembang, “baik sebagai guru di Seminari Santo Paulus Palembang, maupun di dunia Komunikasi Sosial di Keuskupan Palembang, yang waktu itu dikenal dengan Sanggar Prativi Palembang.” Ketika berkarya di KWI Jakarta, imam itu ditugaskan juga sebagai General Manager Penerbit & Toko Rohani OBOR.

Memasuki masa pensiun, beliau memutuskan menikmati masa tua di Montreal dan tinggal di Komunitas SCJ Montreal dan menjadi anggota SCJ Kanada. Di Kanada, Romo Rein tetap melayani umat, termasuk umat Katolik Indonesia di Kanada. Ketika meninggal, Romo Rein berusia 89 tahun.

Menurut informasi dari Facebook KKI Montreal, Misa Pemakaman dan Pemakaman Pastor Reinier van Leeuwen SCJ akan diadakan hari Jumat, 3 Agustus 2018, Pukul 13.00 pm di Gereja Santo Antonius Maria Claret Montréal.

Untuk penghormatan kepada Pastor Reinier Van Leeuwen SCJ, warga KKI di Kanada diundang hadir dalam Misa dan pemakaman dengan mengenakan batik “sebagai penghormatan kepada beliau.”(paul c pati)

Dari Facebook Pastor Reinier Van Leeuwen SCJ

Mgr Christophorus Tri Harsono akan ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto, 16 Oktober

Sab, 28/07/2018 - 15:49

 

Mgr Christophorus Tri Harsono Uskup terpilih Keuskupan Purwokerto (kiri) bersama Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM saat pembacaan pengangkatan dari Paus Fransiskus. (Foto berdasarkan Aloisius Johnsis)

“Setelah membicarakan dengan Bapak uskup terpilih dan berkonsultasi dengan Nuncio dan Uskup pentahbis, maka telah diputuskan waktu pentahbisan Uskup baru kita,” tulis Administrator Keuskupan Purwokerto Pastor Tarcisius Puryatno dalam surat tertanggal 27 Juli yang dibagikan kepada semua pastor paroki se-Keuskupan Purwokerto.

Dalam surat yang juga dikirim kepada PEN@ Katolik oleh Komsos Keuskupan Purwokerto dijelaskan bahwa tahbisan Uskup Purwokerto yang baru Mgr Christophorus Tri Harsono akan dilaksanakan hari Selasa, 16 Oktober 2018 Pukul 15.00 WIB di Graha Widyatama Unsoed Purwokerto.

Sehari sebelum tahbisan itu, tepatnya 15 Oktober 2018 Pukul 18.00 WIB, akan dilaksanakan Salve Agung di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, dan sehari setelah tahbisan, Rabu 17 Oktober 2018, Pukul  18.00 WIB akan dirayakan Misa Stasional Perdana di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto.

Paus Fransiskus mempercayakan tugas baru kepada Pastor Christophorus Tri Harsono, yang sebelumnya berkarya sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor, menjadi Uskup Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah, melanjutkan pelayanan Mgr Julianus Kema Sunarka SJ yang telah mengundurkan diri karena usia pensiun.

Menurut sejarah Keuskupan Purwokerto, Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) mulai menetap di Purwokerto tahun 1927 dan Prefektur Apostolik Purwokerto didirikan tanggal 25 April 1932 ketika jumlah umat mencapai 4000 orang.  Status itu kemudian ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik tanggal 16 Oktober 1941, tanggal yang sama dengan rencana tahbisan uskup Mgr Christophorus Tri Harsono.

Vikariat Apostolik Purwokerto menjadi keuskupan bersamaan dengan berdirinya hierarki Gereja Katolik Indonesia tanggal 3 Januari 1961.

Menurut data 2013 dari Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, keuskupan itu memiliki 58.942 umat Katolik di antara 17.464.103 masyarakat di wilayah keuskupan itu. Umat Katolik di keuskupan itu tersebar di 25 paroki.(pcp)

Artikel Terkait:

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan Uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Lebih dari Roti

Sab, 28/07/2018 - 14:37

 

Mgr Pius Riana Prapdi menerimakan Komuni kepada orang sakit

(Renungan berdasarkan bacaan Injil pada Minggu ke-17 dalam Masa Biasa, 29 Juli 2018: Yohanes 6: 1-15)

Yesus berkata kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6: 5)

Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah membagikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.

Mari kita perhatikan pertanyaan Yesus kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6:5) Filipus, tampaknya akrab dengan tempat itu, menyatakan bahwa mustahil untuk memberi makan orang sebanyak itu, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini… ” (Yoh. 6: 7) Filipus cukup realistis, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan. Yesus tidak menanyakan “berapa,” tetapi “di mana.” Mungkin, jika Filipus hidup di zaman now, dia akan mengarahkan Yesus ke mal terdekat! Intinya adalah bahwa Filipus akan dengan semangat menyederhanakan seluruh masalah ke dalam masalah keuangan. Filipus tidak salah karena keuangan dan ekonomi adalah tulang punggung kehidupan kita sehari-hari dan bahkan kelangsungan hidup kita sebagai spesies, tetapi uang bukanlah satu-satunya hal yang penting. Filipus nantinya akan melihat setelah mujizat penggandaan roti, bahwa “di mana” merujuk pada Yesus sendiri. Dan seperti yang akan kita baca dalam bab 6, roti yang Yesus tawarkan tidak hanya dimaksudkan untuk manfaat biologis dan ekonomi, tetapi untuk kehidupan kekal.

Saat ini saya sedang menjalankan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya adalah membagikan Komuni Kudus bagi orang sakit. Dengan melayani orang sakit, khususnya melalui doa dan pemberian Komuni Kudus, saya diingatkan bahwa aspek fisik dan biologis dari kemanusiaan kita bukanlah satu-satunya hal yang harus dijaga. Memang benar bahwa banyak pasien yang saya temui bergulat dengan masalah keuangan, seperti bagaimana mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit dan obat-obatan yang mahal. Mereka juga harus bergumul dengan penyakit mereka yang kadang tidak dapat disembuhkan. Saya sendiri bingung bagaimana cara membantu mereka dalam masalah yang mendesak ini. Namun, seringkali, para pasien sendiri adalah orang yang meyakinkan saya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Apa yang saya lakukan, kemudian, adalah memperkuat iman mereka. Doa dan pemberian Komuni Kudus adalah manifestasi nyata dari kehadiran Yesus di antara kita, dan kehadiran-Nya bahkan lebih terasa bagi orang sakit. Seperti Injil kita saat ini, Yesus tidak hanya memperhatikan aspek fisik dari kehidupan kita, tetapi lebih mendasar lagi, Dia membawa kita ke realitas yang lebih dalam yang merupakan kerinduan jiwa kita yang terdalam. Sungguh sebuah paradoks bahwa dalam sakit, mereka menemukan Yesus.

Saat kita masih kuat dan sehat, seringkali kita melupakan kebenaran sederhana ini. Seperti Filipus, kita lebih peduli dengan mengumpulkan kekayaan, meraih ketenaran, dan mencapai kesuksesan. Bahkan sebagai orang yang melayani Gereja dan komunitas, kita menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengatur acara-acara amal, mengumpulkan dana, dan bahkan berdebat di antara kita sendiri tentang hal-hal sederhana. Kita kehilangan tujuan utama mengapa kita pergi ke Gereja. Kita gagal bertemu Yesus. Kita berdoa dan berharap bahwa kita dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan benar, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya kita ini dapat makan?”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Aplikasi “Vatikan Audio” untuk mendengarkan Paus dalam lima bahasa

Jum, 27/07/2018 - 23:54

Aplikasi audio untuk membantu pendengar agar  mudah mendengarkan Paus kini tersedia untuk perangkat seluler dalam lima bahasa. Aplikasi “Vatican Audio” yang dibuat oleh Dikasteri Komunikasi Vatikan itu dapat diunduh gratis dari App Store dan Google Play, demikian Robin Gomes dari Vatican News. Anda juga dapat memindai kode QR di atas untuk membuka tautan ke halaman unduh “Audio Vatikan”. Setelah menginstal, yang perlu Anda lakukan adalah memilih bahasa dan mendengarkan. Paus Fransiskus, yang biasanya berbahasa Italia, dapat didengar secara langsung dalam bahasa Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, dan Portugis. Ketika dia berbicara dalam bahasa ibunya Spanyol, aplikasi ini juga menyediakan audio dalam bahasa Italia. Peziarah dan pengunjung yang menghadiri acara kepausan di Lapangan Santo Petrus dapat juga mengikuti Paus dalam lima bahasa. Layanan ini merupakan tambahan untuk siaran langsung dalam bahasa yang berbeda yang sudah tersedia secara online dan di radio. Aplikasi ini juga akan tersedia untuk acara 31 Juli di Vatikan, saat Paus Fransiskus akan bertemu lebih dari 60.000 putera-puteri altar dari “Coetus Internationalis Ministrantium” (CIM), asosiasi internasional untuk para putera-puteri altar. (pcp berdasarkan Vatican News)

Pastor Markus Solo SVD merasa Deklarasi Roma masih berlanjut di Bali

Jum, 27/07/2018 - 23:13
Pastor Markus Solo SVD bersama Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana.

Dalam perjalanan ke Flores, Pastor Markus Solo SVD yang tahun lalu genap 10 tahun bekerja di Vatikan pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama mampir ke Denpasar, Bali, 27 Juli 2018, dan merasakan bahwa Deklarasi Roma masih berlanjut.

“Setelah silaturahmi dengan Uskup Bali Mgr Silvester San di istana keuskupan, kami diterima oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto, yang memfasilitasi pertemuan dengan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana,” kata imam dari Serikat Sabda Allah itu kepada PEN@ Katolik di hari yang sama.

Pastor Markus Solo melukiskan, dalam pertemuan dengan tokoh agama Hindu yang juga Rektor Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar itu, “Kami saling mendukung dan berbagi kegiatan dalam memajukan dialog lintas agama. Hindu menekankan persaudaraan inklusif. Gangguan-gangguan dari luar biasanya dihadapi dengan semangat persaudaraan, dan Gereja Katolik melalui Vatikan memajukan persahabatan universal yang terbuka dan inklusif serta rasa hormat antarumat beragama.”

“Penguatan dan perawatan identitas keagamaan adalah imperatif dalam upaya saling memperkaya secara spiritual,” kata imam asal Flores yang sudah 25 tahun berkarya di Eropa itu, seraya menegaskan, “Dunia butuh kesaksian kita.”

Ketika di Bali, imam itu “secara khusus” dihantar ke Pura Agung Jagadnatha di pusat kota Denpasar. “Di sana saya menyaksikan keindahan candi Hindu itu, terutama kekhusukan umat dalam berdoa pada Perayaan Bulan Purnama.”

Lebih daripada itu, menurut  imam yang fasih berbahasa Jerman karena studi dan berkarya sejak 1992 hingga 2017 di Austria, kunjungannya ke Bali untuk “merasakan suasana kehidupan dengan umat beragama Hindu.”  Namun di sana dia merasakan “kisah Deklarasi Roma masih berlanjut.”

Pengalaman yang dialami di Bali, menurut Pastor Markus Solo SVD, adalah berkat persahabatan dengan seorang tokoh Bali, Mayjen TNI (Purnawirawan) Wisnu Bawa Tenaya, yang bertugas sebagai Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Jakarta. Dia juga hadir dalam Seminar Dialog Antarumat Beragama bagi diaspora Indonesia di Eropa yang mengeluarkan Deklarasi Roma itu, 1 Juli 2018.

Sebanyak 48 peserta (23 negara di Eropa) dialog, yang diprakarsai oleh Kedutaan Besar RI untuk Tahta Suci Vatikan itu, menyatakan “dalam suasana penuh persaudaraan dengan tekad untuk terus memajukan kebersamaan dan kerukunan bangsa Indonesia” dan menyatakan:

  1. Kemajemukan agama, suku, dan bahasa adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat Indonesia dan keniscayaan yang harus dipelihara, dijaga dan dikembangkan bersama.
  2. Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah rumah bersama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus dirawat bersama.
  3. Tenggang rasa dalam kemajemukan masyarakat Indonesia menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama, karena kerukunan hidup umat beragama di Indonesia menjadi rujukan dan contoh bagi dunia internasional.
  4. Kesungguhan hati dan keterbukaan sikap dalam sikap kebersamaan, gotong royong, saling pengertian, penghargaan, dan persaudaraan dari pemerintah dan semua anak bangsa hendaknya dirawat dan dipelihara secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Masyarakat Indonesia agar tidak menggunakan agama dan simbol keagamaan demi kekuasaan politik.
  6. Semua umat beragama agar mampu menampilkan wajahnya yang ramah dan terbuka dalam semangat persaudaraan dalam keimanan, kemanusiaan dan keindonesiaan.
  7. Seluruh anak bangsa Indonesia, kendati berbeda agama, akan tetapi terikat dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air, karena semua berasal dari satu Rahim Ibu Pertiwi Indonesia.
  8. Semua masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh dunia perlu meningkatkan dialog antaragama dan bekerjasama yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.(paul c pati)

Pastor Markus Solo SVD bersama Uskup Bali Mgr Silvester San (tengah)

Mengapa keluarga Kristen disebut Gereja domestik?

Jum, 27/07/2018 - 22:31
Foto dari Our Sunday Visitor

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

349. Apa sikap Gereja terhadap mereka yang cerai dan kemudian kawin lagi?

Gereja, karena setia kepada Tuhannya, tidak dapat mengakui perkawinan orang-orang yang secara sipil bercerai dan kawin lagi. ”Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina” (Mrk 10:11-12). Gereja benar-benar menunjukkan keprihatinan yang dalam terhadap orang-orang itu, dan menganjurkan mereka hidup dalam iman, doa, beramal, dan memberikan pendidikan Kristiani bagi anak-anak mereka. Tetapi, mereka tidak dapat menerima absolusi Sakramental, menerima Komuni Kudus, atau mengemban tanggung jawab gerejawi tertentu selama situasi mereka tidak berubah karena secara objektif bertentangan dengan perintah Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1650-1651, 1665

350. Mengapa keluarga Kristen disebut Gereja domestik?

Keluarga Kristen disebut Gereja domestik karena keluarga menampilkan dan menghayati kodrat keluarga dan komunal Gereja sebagai keluarga Allah. Setiap anggota keluarga, sesuai dengan peranannya masing-masing, melaksanakan imamat baptisan dan memberikan sumbangan untuk menjadikan sebuah keluarga itu suatu komunitas rahmat dan doa, sebuah sekolah keutamaan manusiawi dan Kristiani dan merupakan tempat iman pertama kali diwartakan kepada anak-anak.

 

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1655-1658, 1666

Dua tahun mengenang Pastor Jacques Hamel yang dibunuh di depan altar

Kam, 26/07/2018 - 23:47

Hari ini, 26 Juli 2018, genap dua tahun Pastor Jacques Hamel dibunuh saat merayakan Misa di depan altar gereja parokinya di Perancis utara. Dalam Misa di Vatikan, Paus Fransiskus mengangkat kesaksian imannya sebagai pengingat semua martir Kristen lain yang darahnya tertumpah di seluruh dunia saat ini.

Di saat Misa di Casa Santa Marta, yang dirayakan bersama Uskup Agung Rouen, Normandia, Perancis Barat Daya, Mgr Dominique Lebrun, dan keluarga dari Pastor Jacques Hamel itulah Paus Fransiskus menggambarkan pastor paroki dari Perancis yang terbunuh itu sebagai “seorang yang lemah lembut dan baik, yang membina persaudaraan.”

Pastor Hamel dibunuh secara brutal oleh dua militan yang berafiliasi dengan ISIS saat merayakan Misa di Gereja Saint-Etienne-du-Rouvray di Rouen, demikian Linda Bordoni dari Vatican News melaporkan.

Maka hari ini, 26 Juli, untuk mengenang Pastor Hamel, lanjut laporan itu, keuskupannya menyelenggarakan serangkaian acara termasuk “Upacara Republik untuk perdamaian dan persaudaraan,” yang dihadiri juga oleh Menteri Dalam Negeri Perancis, dan sejumlah prakarsa keagamaan. Doa Rosario, prosesi hening, dan Misa yang dirayakan oleh Uskup Agung Dominique Lebrun pada waktu yang persis bersamaan pembunuhan Pastor Jacques adalah bagian prakarsa itu.

Uskup Agung Lebrun hadir dalam Misa di Casa Santa Marta. Saat itu Paus Fransiskus menyebut Pastor Hamel sebagai salah satu dari banyak “martir” Kristen dari Gereja saat ini. Mereka adalah pria dan wanita “yang dibunuh, disiksa, dipenjara, disembelih karena mereka menolak meninggalkan iman mereka dan menyangkal Yesus Kristus,” kata Paus.

Mereka membentuk “sebuah rantai” yang menggapai jauh hingga Pastor Jacques yang proses beatifikasinya dibuka tanggal April 2017 berkat dispensasi kepausan dari kebiasaan waktu menunggu selama lima tahun.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

10 Kenangan Katolik 2016: pembunuhan Pastor Hamel hingga usul hadap Timur saat Misa

Umat beriman berbondong-bondong ke Lourdes di bawah pengamanan ketat

Paus Fransiskus dengan Roselyne, saudara perempuan dari Pastor Hamel, dan Uskup Agung Rouen Mgr Dominique Lebrun di Lapangan Santo Petrus 14 September 2016 Pastor Jacques Hamel

Mgr Pablo Virgilio David mengecam pernyataan tentang HAM dalam pidato Duterte

Kam, 26/07/2018 - 21:30
Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David merayakan Misa dalam Konferensi Filipina tentang Evangelisasi Baru di UST di Manila, 19 Juli 2018. ROY LAGARDE

Wakil Ketua Konferensi Waligereja Filipina Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David mengecam pernyataan Presiden Rodrigo Duterte bahwa dia tidak peduli dengan hak asasi manusia (HAM) karena dia menolak mundur dari perang berdarah melawan narkoba.

Menurut Mgr David, pernyataan presiden itu berarti pembunuhan akan terus berlanjut dan lebih banyak nyawa akan hilang di sepanjang jalan. “Peringatannya menakutkan. Itu berarti kita harus menyiapkan diri melihat lebih banyak pembunuhan,” kata uskup itu.

Dalam pidato kenegaraan ketiga di depan parlemen Filipina, 23 Juli 2018, Duterte mengatakan bahwa perjuangan pemerintahannya melawan perdagangan obat-obatan terlarang masih jauh dari selesai. Sebaliknya, menurut dia, pembunuhan akan berlangsung “tanpa henti dan mengerikan” seperti di hari pembunuhan itu dimulai dua tahun lalu.

Memukul balik kritik terhadap dirinya, Duterte berkata, “yang kalian kuatirkan adalah HAM, yang saya kuatirkan adalah kehidupan manusia.”

Pernyataan itu, demikian penyesalan Mgr David, menyiratkan bahwa korban pembunuhan terkait narkoba bukanlah kehidupan manusia, sesuatu yang “Gereja tidak pernah bisa setujui.” Uskup itu pun menegaskan, “Pernyataan itu tidak masuk akal tetapi tidak terlalu mengejutkan karena telah dinyatakan dengan jelas pada beberapa kesempatan.”

Dijelaskan, bagi Gereja pecandu narkoba adalah “orang sakit.” Penggunaan narkoba, lanjut Mgr David, “bukanlah kejahatan yang pantas dibunuh. Yang dibutuhkan orang dengan gangguan penggunaan zat seperti itu adalah rehabilitasi dan kami di Gereja bersedia membantu upaya ini.”

“Ya, gunakan kekuatan hukum sepenuhnya, tuntut para pelanggar, penjarakan para penjual dan pemasok narkoba, tetapi selamatkan para pengguna; jangan bunuh mereka! Selain itu, kita tidak bisa lagi merehabilitasi orang yang sudah mati, kan?” lanjut uskup itu.

Mgr David mengatakan mereka akan setuju dengan kampanye Duterte melawan obat-obatan terlarang hanya jika diarahkan terhadap individu yang benar, khususnya pemasok besar narkoba.

“Kenapa pasokan obat terlarang tetap stabil kendati sudah terjadi semua pembunuhan itu?” tanya Mgr David. “Apakah tidak jelas bahwa para pecandu dan pedagang kecil serta penjual narkoba bukanlah akar penyebab masalah narkoba? Tidakkah jelas bahwa mereka juga adalah korban, dan bahwa mereka juga perlu diselamatkan, bukan dibunuh?”

“Pertarungan melawan obat-obatan terlarang memang harus tanpa henti dilaksanakan, tetapi pembunuhan-pembunuhan – baik oleh polisi atau oleh petugas bertopeng – harus dihentikan! Ini akan tetap menjadi permohonan kami yang keras dan tanpa henti,” kata Mgr David.(pcp berdasarkan laporan CBCPNews)

Artikel Terkait:

Keluarga Dominikan Filipina akan puasa melawan pembunuhan akibat perang melawan narkoba

Para Uskup Filipina khawatir perang lawan narkoba tewaskan 81 orang dalam empat hari

Para uskup Filipina ajak umat berdoa mengaku dosa beramal untuk masa-masa sulit

Umat Katolik Filipina berdemo menentang ancaman terhadap kehidupan

Gereja mendesak pertobatan atas pembunuhan yang merajalela di Filipina

Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Perkawinan?

Kam, 26/07/2018 - 17:55

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

347. Dosa apa yang sungguh-sungguh bertentangan dengan Sakramen Perkawinan?

Perzinaan dan poligami bertentangan dengan Sakramen Perkawinan karena kedua hal itu betul-betul berlawanan dengan martabat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan dengan kesatuan dan eksklusivitas cinta perkawinan. Dosa-dosa lainnya termasuk penolakan secara sadar untuk kemungkinan mempunyai anak yang bertentangan dengan kesuburan cinta perkawinan dan keterbukaan akan anugerah anak serta perceraian yang bertentangan dengan sifat tak terceraikannya perkawinan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1645-1648

348. Bilamana Gereja mengizinkan perpisahan fisik antara pasangan suami istri?

Gereja mengizinkan perpisahan fisik pasangan suami-istri jika karena alasan yang serius mereka tidak mungkin hidup bersama, walaupun mungkin ada harapan untuk rekonsiliasi. Tetapi selama salah satu dari pasangan itu masih hidup, yang lainnya tidak bebas untuk kawin lagi kecuali jika perkawinan itu batal dan dinyatakan demikian oleh otoritas Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1629, 1649

Paus sedih oleh kematian dalam kebakaran hutan Yunani

Rab, 25/07/2018 - 23:56

 

Seorang petugas pemadam kebakaran di Kineta, dekat Athena (AFP)

Paus Fransiskus mengirimkan telegram berisi ungkapan kesedihan atas kematian akibat kebakaran hutan di daerah dekat ibu kota Yunani, Athena, dan memastikan doanya untuk orang-orang yang meninggal. Setidaknya sudah 77 orang ditemukan mati terbakar.

Dalam telegram kepada para pejabat gerejawi dan sipil, yang dikirim oleh Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin atas keputusannya, Paus menyampaikan solidaritas sepenuh hati kepada semua yang terkena dampak tragedi ini.

Paus menyerahkan semua yang meninggal kepada cinta kasih Tuhan Yang Maha Kuasa, dan menyemangati para otoritas sipil dan personil darurat saat mereka melanjutkan upaya penyelamatan.

Sementara itu, John Carr di Athena melaporkan, setidaknya 60 orang tewas dalam kebakaran di wilayah Attica di sekitar Athena. Jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat karena ditemukan banyak lagi mayat di rumah-rumah yang musnah dilahap api.

Daerah paling parah adalah Mati, kota tepi laut yang populer di timur laut Athena. Dari udara daerah itu tampak seperti terkena bom nuklir. Pagi-pagi benar para pekerja penyelamat datang membawa tubuh-tubuh hangus dari 26 orang, termasuk wanita dan anak-anak. Mereka sebenarnya melarikan diri ke laut tapi gagal. Mereka bergerombol, saling berpelukan.

Gumpalan api, yang tiba-tiba menggelora turun dari bukit-bukit yang dipenuhi pepohonan, dikipas oleh angin barat yang kuat dengan kecepatan 9 gale force. Setidaknya 130 orang telah terluka, dan puluhan kritis. Ratusan rumah dipenuhi asap, dan sebagian besar dari sekitar 1000 mobil ditinggalkan karena panik oleh pengemudinya

Sekitar 700 orang, beberapa dari mereka turis, dievakuasi dari pantai di Mati oleh Penjaga Pantai Yunani. Tetapi yang lain harus bermalam di dalam air karena nyala api yang meluap mencapai tepi air. Beberapa orang dipastikan tenggelam, tersapu ke laut oleh angin kencang.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras menghentikan kunjungan resminya ke Bosnia dan terbang kembali ke Athena. Dia menyebut kebakaran itu sebagai tragedi nasional dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh. Siang ini masih ada kantung-kantung api di kedua daerah. Pemilik rumah yang kebingungan sedang memeriksa harta benda mereka yang rusak. Puluhan orang masih hilang. Sepanjang hari lebih banyak mayat yang ditemukan. (pcp berdasarkan Vatican News)

Paus mengirim ucapan belasungkawa untuk para korban runtuhnya bendungan Laos

Rab, 25/07/2018 - 23:11
Paus Fransiskus berdoa. ANSA

Paus Fransiskus mengirim ucapan belasungkawa kepada rakyat, Gereja dan otoritas sipil atas hilangnya nyawa dan banyaknya orang cedera di Laos pada hari Selasa, 24 Juli 2018, menyusul runtuhnya bendungan hidroelektrik di bagian tenggara Laos.

Menurut laporan Devin Watkins dari Vatican News, ratusan orang hilang dan kuatir meninggal setelah bendungan itu runtuh di Distrik San Sai, Provinsi Attapeu, yang menyebabkan banjir bandang yang menyapu rumah-rumah. Menurut Kantor Berita Laos, bencana itu menyebabkan lebih dari 6.600 orang kehilangan tempat tinggal.

Dalam telegram yang ditandatangani oleh Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin, Paus Fransiskus menyatakan “solidaritas tulusnya dengan semua orang yang terkena dampak bencana ini.”

Paus berdoa “terutama untuk ketenangan orang yang meninggal, untuk penyembuhan orang-orang yang terluka dan untuk penghiburan bagi semua orang yang berduka karena kehilangan orang yang mereka cintai dan yang kuatir akan nyawa orang-orang yang masih hilang.”

Paus Fransiskus juga memberi semangat “kepada otoritas sipil dan semua yang terlibat dalam pencarian dan penyelamatan saat mereka membantu para korban tragedi ini.”

Perusahaan Korea Selatan yang membangun bendungan itu mengatakan kantor berita Reuters bahwa keruntuhan itu disebabkan oleh hujan deras dan banjir. (pcp berdasarkan Vatican News)

Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?

Rab, 25/07/2018 - 18:17

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

345. Apa yang diperlukan jika salah satu mempelai bukan Katolik?

Perkawinan campur (antara seorang Katolik dan seorang yang dibaptis bukan Katolik) membutuhkan izin otoritas gerejawi demi layaknya. Dalam kasus disparitas kultus (antara seorang Katolik dan seorang yang tidak dibaptis) memerlukan dispensasi demi sahnya. Dalam kedua kasus itu, hal yang pokok ialah kedua belah pihak mengakui dan menerima tujuan pokok dan ciri khas perkawinan. Perlu juga ditekankan bahwa pihak Katolik menerima kewajiban, yang juga sudah diketahui oleh pihak non-Katolik, untuk tetap menghayati imannya dan membaptis serta mendidik anak-anak mereka secara Katolik.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1633-1637

346. Apa buah Sakramen Perkawinan?

Sakramen Perkawinan menetapkan ikatan yang kekal dan eksklusif antara kedua mempelai. Allah memeteraikan kesepakatan perkawinan mereka. Karena itu, perkawinan yang sudah dilaksanakan dengan sah (ratum) dan sudah dilengkapi dengan persetubuhan (consumatum) antara dua orang yang sudah dibaptis tidak pernah dapat diceraikan. Terlebih lagi, Sakramen ini memberikan rahmat yang dibutuhkan bagi kedua mempelai untuk mencapai kesucian dalam kehidupan perkawinan mereka dan jika dianugerahi anak-anak, menerima tanggung jawab untuk merawat dan mendidik mereka.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1638-1642

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan Uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Rab, 25/07/2018 - 17:49
Foto Komsos KWI

“Dua Uskup Baru Telah menentukan Hari Tahbisan,” demikian judul berita dari media online Komisi Komsos KWI http://www.mirifica.net/ 20 Juli 2018. Berita itu mengutip pesan singkat WA dari Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Sipri Hormat Pr bahwa “hari tahbisan dari dua uskup akan diadakan dalam bulan yang berbeda. Mgr Ewaldus akan ditahbiskan tanggal 26 September 2018 di Maumere. Sedangkan Mgr Christophorus akan ditahbiskan di Purwokerto tanggal 23 Oktober 2018. Sebagaimana lazimnya, tahbisan uskup akan diawali dengan Vesper Agung sehari sebelumnya.”

Ketika dikonfirmasi oleh PEN@ Katolik, Komsos Keuskupan Purwokerto belum bisa menjawab secara pasti tanggal dan tempat tahbisan Mgr Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto. Namun, berbagai media dari Flores menegaskan bahwa Misa Tahbisan Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan dilaksanakan 26 September 2018 pukul 15.00 Wita di Gelora Samador Maumere, Pulau Flores, bertepatan dengan HUT ke-77 Uskup Emeritus Mgr Gerulfus Kherubim Parera SVD.

Sehari sebelumnya, 25 September 2018, akan dirayakan Salve Agung di Gereja Katedral Santo Yoseph Maumere, dan Misa Pontifical akan dirayakan di tempat yang sama 30 September 2018. Dalam Salve Agung itu, uskup baru akan mengucapkan janji setia kepada Paus dan pengakuan iman, dan insignia atau atribut penanda uskup seperti cincin, kalung salib, dan tongkat gembala, yang akan digunakan uskup, akan diberkati.

Uskup baru Maumere Mgr Ewaldus Martinus Sedu Pr ditetapkan oleh Paus Fransiskus tanggal 14 Agustus 2018, bersamaan dengan Uskup baru Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono Pr.(pcp)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Halaman