Pen@ Katolik

Subscribe to pasokan Pen@ Katolik
pastoral and ecclesiastical news agency
Di-update: 36 mnt 5 dtk yang lalu

Kamis, 12 Oktober 2017

Kam, 12/10/2017 - 13:34

PEKAN BIASA XXVII (H)

Santo Wilfridus; Santo Serafinus dari Montegranaro; Maria Teresa Fasce

Bacaan I: Mal. 3:13-4:2a

Mazmur: 1:1-6; R:40:5a

Bacaan Injil: Luk. 11:5-13

Pada waktu itu, sesudah mengajar para murid berdoa, Yesus bersabda kepada mereka: ”Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Renungan

Orang segera ingin mendapatkan hasil instant dan nyata dari sebuah doa. Maka bila keinginannya tidak terpenuhi mulailah muncul kekecewaan, antipati dengan doa bahkan mulai menyalahkan Tuhan. Sikap yang sering terjadi adalah manusia seakan menuntut dan meminta Tuhan untuk mematuhi kehendaknya.

Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Allah Bapa adalah Kasih. Ia sumber kasih dan Ia mengetahui apa yang manusia perlukan. Belas kasih-Nya dibukakan terhadap siapa pun yang bermohon kepada-Nya (bdk. Luk. 11:13). Sikap bermohon kepada-Nya dalam doa dilandaskan pada keterbukaan serta penyerahan diri pada kehendak-Nya. Dengan ajaran ini Yesus mengajarkan agar kita selalu dan tidak jemu-jemunya membangun relasi dengan Allah melalui doa-doa dengan sikap penyerahan diri pada Kehendak-Nya.

Buah-buah dari relasi dengan Allah dalam doa teramati dalam sikap hidup dan tindakan yang benar. Nabi Maleakhi melukiskan bahwa sikap hidup yang benar membawa belas kasih Allah kepada orang yang setia kepada-Nya (bdk. Mal. 3:17). Orang benar dan takut akan Allah serta terbuka menyerahkan hidupnya kepada Allah akan memperoleh kebahagiaan (bdk. Mal. 4:2a).

Apakah kita selalu berdoa dalam setiap aktivitas hidup harian? Apakah kita sadar bahwa doa adalah kekuatan dalam hidup?

Allah Yang Mahabaik, bantulah aku untuk menyelami kehendak-Mu dalam seluruh hidupku. Semoga pula aku semakin mampu menyerahkan diri kepada-Mu. Amin. 

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Mgr Agus imbau keluarga Katolik dukung anaknya jadi imam karena Gereja sangat membutuhkan

Kam, 12/10/2017 - 03:36

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus berterima kasih kepada orang tua yang telah menyerahkan anak-anaknya menjadi imam dan minta orang tua “jangan takut anak kalian menjadi pastor dari kongregasi apa pun” karena Gereja membutuhkan banyak imam.

Mgr Agus berbicara dalam sambutan setelah pentahbisan dua imam dan tiga diakon dari Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE) di Kapela Maria Bunda Karmel, Pusat Kerohanian Katolik Shanti Buana Bandol, Kalbar. Tahbisan itu didampingi Bapa Pendiri Kongregasi CSE Pastor Yohanes Indrakusuma CSE dan Pelayan Umum Kongregasi CSE Pastor Sergius Paulus CSE dan imam konselebran lain.

Dua imam yang ditahbiskan adalah Pastor Macarius CSE dan Pastor Klimakus de Jesu CSE. Sedangkan tiga diakon yang ditahbiskan adalah Diakon Epiphanius Maria CSE, Diakon Hubertus Maria CSE, dan Diakon Marsianus CSE.

Mgr Agus menjelaskan, ketika datang ke Pontianak dia melihat keuskupan itu kekurangan tenaga padahal di mana-ama ada potensi mendirikan paroki, karena satu paroki dengan dua imam harus melayani sekitar 30 ribu umat Katolik di lebih dari 60 kampung.

Karena keuskupan itu betul membutuhkan imam-imam, maka Mgr Agus menerima tarekat apa saja yang mau berkarya di keuskupan itu dan hari itu uskup berbangga karena CSM bisa berkembang di sana. “Karena umat di sini macam-macam, maka pelayanannya juga macam-macam dan tidak seragam dari aneka ragam imam dari berbagai tarekat. Jadi, kita tak menekankan tarekat apa pun.”

Dijelaskan bahwa umat di Keuskupan Agung Pontianak berjumlah hampir 600 ribu orang. “Semua membutuhkan pelayanan rohani,” kata Mgr Agus seraya meminta umat berdoa “agar banyak orang menjadi pastor.”

Pastor Indrakusuma juga berterima kasih kepada keluarga yang merelakan anaknya menjadi imam. Namun dia tetap berharap agar mereka tetap berdoa bagi para imam “supaya mereka menjalankan tugas panggilannya dengan baik.”

Menurut imam itu, imam dan diakon dipanggil sebagai saksi-saksi Kristus untuk memberikan kesaksian tentang Yesus dan membawakan kasih setia Tuhan kepada semua orang. “Karena menjadi saksi, maka Anda semua harus betul-betul mengenal siapa Yesus itu. Kalau menjadi saksi tapi tidak mengenal siapa yang disaksikan, itu namanya bohong!” tegas imam itu kepada para imam dan diakon baru seraya mengajak mereka untuk menjalin relasi yang sungguh mesra dengan Yesus.

Dukungan untuk menjadi imam juga dikemukakan oleh Bupati Bengkayang Suryadman Gidot dalam sambutannya. “Saya juga menghimbau kepada orangtua supaya mendukung panggilan anak-anak yang ingin menjadi Imam, sebab mungkin ada orangtua yang tidak memberi izin jika anaknya ingin menjadi imam,” kata bupati seraya menegaskan bahwa kebahagiaan saat itu bukan hanya milik Gereja tetapi juga menjadi milik pemerintah. “Dalam menjalankan tugas pelayanan, para imam juga membina iman kepercayaan rakyat yang juga menjadi milik pemerintah.”

Dalam acara itu, Pastor Sergius Paulus CSE membacakan penempatan tugas pastoral dua imam dan tiga diakon yang baru menerima tahbisan itu. Pastor Macarius mendapat tugas sebagai pemimpin rumah di Bandol dan Pastor Klimakus sebagai tim formator di Cikanyere, Bogor. Kemudian, Diakon Epiphanius akan bertugas di Paroki Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Bandol, Diakon Hubertus di Paroki Santo Pius X Bengkayang, dan Diakon Marsianus di Paroki Santo Yosep Karangan.

Menurut Pastor Makarius, tahbisan adalah awal langkah para imam dan diakon baru untuk meneruskan karya pewartaan Injil. “Kami sadar, ini semua tidaklah mudah. Namun kami percaya, Tuhan akan memampukan kami untuk melaksanakannya,” kata imam baru itu seraya berharap mereka terus semangat dan komitmen untuk terus menghidupi panggilan mereka sebagai imam dan diakon. (aop/mssfic)

Mgr Agustinus Agus bersama Pastor Yohanes Indrakusuma CSE, Pastor Sergius Paulus CSE, serta para imam dan diakon yang ditahbis Mgr Agus menyanyi di saat hiburan Suasana altar saat tahbisan

Uskup Ruteng mengundurkan diri dan Mgr Silvester San diangkat jadi administrator apostolik

Rab, 11/10/2017 - 19:27

Hari ini 11 Oktober 2017, Kantor Pers Vatikan mengumumkan, “Il Santo Padre Francesco ha accettato la rinuncia al governo pastorale della diocesi di Ruteng (Indonesia) presentata da S.E. Mons. Hubertus Leteng, e ha nominato Amministratore Apostolico sede vacante et ad nutum Sanctae Sedis della medesima diocesi, S.E. Mons. Sylvester San, Vescovo di Denpasar” (Bapa Suci Fransiskus menerima pengunduran diri dari pemimpin pastoral Keuskupan Ruteng yang diajukan oleh Yang Mulia Uskup Hubertus Leteng, dan mengangkat Yang Mulia Mgr Silvester San, Uskup Denpasar, sebagai Administrator Apostolik sede vacante ed ad nutum Sanctae Sedis dari keuskupan yang sama).

Pengumuman yang sama disampaikan hari ini pukul 18.00 di Istana Keuskupan Ruteng oleh pelaksana tugas adinterim dari Nunciatura Apostolik di Indonesia Pastor Fabio Salerno dalam pertemuan yang dihadiri Mgr Hubertus Leteng, Mgr Silvester San, vikjen, dewan kuria, dewan konsultores, dan dewan imam Keuskupan Ruteng, serta Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia Pastor Siprianus Hormat Pr.

Sesudah membaca dekrit pengangkatan Mgr Silvester San, demikian siaran pers yang disebarkan oleh Keuskupan Ruteng, Pastor Fabio Salerno selaku Wakil Tahta Suci mengingatkan bahwa “tugas-tugas administrator apostolik akan berakhir ketika Pontifice Romano telah mengangkat uskup baru untuk Keuskupan Ruteng dan telah mengambil alih secara kanonik jabatan tersebut.”

Wakil Tahta Suci itu mengajak para imam yang hadir untuk bekerjasama dengan administrator apostolik, menunjukkan kesediaan, rasa tanggung jawab dan semangat persaudaraan imamat, dan meminta mereka mengembangkan persatuan, kerukunan dan keharmonisan umat Allah, agar umat Allah dapat mengalami sukacita dalam damai Tuhan.

Pastor Fabio Salerno juga meminta semua pihak untuk berdoa bagi Mgr Hubertus Leteng, yang telah menjalankan tugas selama tujuh tahun sebagai pelayan pastoral Keuskupan Ruteng, dan untuk Mgr Silvester San, sehingga beliau dapat menghasilkan buah berlimpah selama menjalankan tugas pelayanan di Keuskupan Ruteng. Mgr Fabio Salerno juga berterima kasih kepada Mgr Silvester San atas kesediaannya menerima tugas yang sangat penting itu.

Wakil Tahta Suci itu mengakhiri pertemuan dan menyerahkan Keuskupan Ruteng Kepada Bunda Allah, Santo Yosef, dan Santo Yohanes XXIII, yang pestanya diperingati hari ini 11 Oktober 2017.(pcp)

Senin, 9 Oktober 2017

Sen, 09/10/2017 - 12:58

PEKAN BIASA XXVII (H)
Abraham; Santo Yoh. Leonardus; Santo Louis Bertrand; Santo Innocentius; Santo Denis, Rustikus, dan Eleutrius ; Santo Dionisius

Bacaan I: Yun. 1:1-17; 2:10

Mazmur: Yun. 2:2-4.7; R:7c

Bacaan Injil: Luk.10:25-37

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ”Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: ”Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: ”Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: ”Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: ”Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: ”Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Renungan

Yesus mengajarkan kesediaan berbela rasa dan kepedulian bagi sesama sebagai pewujudnyataan iman. Beriman kepada Allah semestinya menyata dalam relasi, sikap, dan perbuatan untuk orang lain. Relasi kasih untuk sesama selalu menghidupkan dan menyelamatkan. Karenanya, wajah kasih dan kemanusiaan selalu bersifat universal tanpa pembedaan (bdk. Luk. 10:36-37).

Adakalanya manusia mengesampingkan bahkan menolak panggilan untuk menghidupi dan bertindak dalam semangat kasih. Penolakan demikian lahir karena keengganan terlibat dalam tanggung jawab, adanya tindak kesombongan diri, dan sikap acuh tak acuh (bdk. Yun. 1:3). Panggilan kemuridan sejatinya menyata dalam kepedulian pada sesama dan kehidupan. Apa pun konsekuensinya, tindakan kasih dan berbela rasa merupakan tindakan utama sebagai seorang yang beriman kepada Allah yang adalah Kasih. Apakah kita sudah menghidupi semangat kasih dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan?

Tuhan Sumber Kasih Sejati, berilah aku budi yang cerah dan hati yang penuh cinta. Semoga aku mampu menyatakan Kasih-Mu bagi sesama. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Setiap 3 Oktober, Fransiskan dan Fransiskanes mengenang manusia yang paling mereka kagumi

Min, 08/10/2017 - 23:52
Prosesi menyalahkan lilin

Setiap tahun, pada sore hari 3 Oktober, para anggota keluarga besar Fransiskan di mana-mana biasanya menghadiri ‘Acara Transitus Santo Fransiskus’. Pada tanggal yang sama di tahun 2017, Keluarga Besar Fransiskan (KEFRAP) di Keuskupan Agung Pontianak berkumpul dan berdoa bersama sebagai sebuah komunitas untuk mengenang dan menghormati seorang anak manusia yang paling mereka kagumi dan ikuti jejak langkahnya, karena keunggulannya dalam menyerupakan diri dengan Kristus.

Acara Transitus di Komunitas Susteran SMFA Pontianak diawali dengan rekoleksi kemudian dilanjutkan dengan ibadat Transitus yang dihadiri oleh seluruh tarekat Fransiskan baik Ordo Pertama (Ordo Kapusin Pontianak), Ordo Ketiga Regular (Bruder dan Suster) dan Fransiskan Awam (OFS).

Dalam acara itu, mereka mengenang bahwa sesungguhnya kematian Santo Fransiskus adalah model dari suatu kematian suci. Fransiskus yang sedang didekati Saudari Maut (badani) hanya punya satu keinginan, yaitu mati seperti Sang Panutan Agung, Sang Guru, Yesus Kristus.

Fransiskus meninggal tanggal 3 Oktober 1226 pada usia 44 tahun di Kapela Portiuncula. Dua tahun berikutnya, ia langsung dinyatakan ‘kudus’ oleh Gereja.

Di Bukit La Verna, dua tahun sebelumnya Fransiskus dikaruniai dengan lima luka suci (stigmata) yang membuatnya menjadi citra hidup dari Kristus yang tersalib. Luka-luka itu mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa pada tubuh Fransiskus, tetapi dia menanggung sakit itu dengan sabar demi cintanya kepada Yesus.

Di awal September 1224, Fransiskus menyepi ke sana untuk menyiapkan diri menghadapi Pesta Santo Mikael Malaikat Agung. Doa Fransiskus yang dia panjatkan di La Verna adalah bukti otentik ‘siapa’ sebenarnya dia dan ‘mengapa’ dia membawa dampak begitu besar atas sejarah umat manusia.

“Tuhanku Yesus Kristus, saya mohon kepada-Mu, karuniakanlah dua anugerah sebelum saya meninggal. Yang pertama agar Kauizinkan saya merasakan, dalam jiwa ragaku, sebanyak mungkin penderitaan hebat yang Engkau, Yesus Yang Manis, telah rasakan pada saat sengsara-Mu yang amat pahit itu. Yang kedua, agar saya boleh merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin cinta yang tak terbatas, dengan mana Engkau, Putera Allah, tergerak dan mau menanggung sengsara sedemikian itu bagi kami para pendosa,” demikian doa Fransiskus seperti tertulis dalam Fioretti halaman 223.

Pada penghujung perayaan Transitus, para Fransiskan menayangkan tablo menjelang wafatnya Santo Fransiskus. Dalam tablo itu, sebelum Fransiskus meninggal ada tradisi bagi-bagi Roti Fransiskus meniru teladan Yesus di malam Kamis Putih.

Perayaan itu ditutup dengan proses lilin seluruh Fransiskan dan Fransiskanes. Mereka memasang lilin dan dengan memegang lilin menyala mereka memperbaharui kesetiaan pada wasiat Santo Fransiskus Assisi dan mengucapkan janji kaul-kaul kebiaraan agar menjadi terang dan damai sepanjang perjalanan penziarahan hidup di dunia.(aop/mssfic)

Fransiskan dan Fransiskanes dalam prosesi sambil memegang lilin bernyala dan membaharui kaul Tablo menjelang wafatnya Santo Fransiskus

Pada Pesta Santo Fransiskus dari Assisi, para Fransiskan undang imam Dominikan untuk kotbah

Min, 08/10/2017 - 14:58

Memperingati Pesta Santo Fransiskus dari Assisi, para Fransiskan dan Fransiskanes di Keuskupan Agung Pontianak “untuk pertama kalinya berani” mengundang seorang imam Dominikan (OP) untuk berkotbah, padahal itu bukanlah kebetulan tetapi “tradisi dalam Gereja Katolik,” kata Pastor Edmund Nantes OP.

Pastor Dominikan yang kini bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia Pontianak itu membawakan homili Misa Pesta Santo Fransiskus dari Assisi yang dipimpin oleh Uskup Emeritus Pontianak Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap bersama beberapa imam konselebran di susteran Suster Misi Fransiskan Antonius (SMFA), Pontianak, 4 Oktober 2017, yang dihadiri sekitar 300 orang.

Sesuai tradisi itu, manakala Fransiskan merayakan pesta, yang memberi kotbah adalah imam Dominikan. Sebaliknya, kalau Dominikan merayakan pesta maka yang diundang memberikan kotbah adalah imam Fransiskan, sering terjadi di Roma dan di tempat lain.

Karena baru pertama terjadi saat Misa itu, Pastor Nantes lalu memperlihatkan beberapa contoh yang menunjukkan persaudaraan antara kedua ordo itu, dengan menunjukkan beberapa contoh gambar dan cerita yang memperlihatkan persaudaraan antara Fransiskan dan Dominikan.

Di Keuskupan Agung Pontianak kini berkarya sekitar 50 imam Fransiskan Kapusin (OFMCap). Selain undangan, hadir dalam Misa itu para imam, suster, bruder dan frater dari tarekat-tarekat yang menggunakan Spiritualitas Fransiskan di Pontianak.

Contoh jelas tradisi itu, lanjut imam itu, adalah saat umat Katolik mendoakan Litani Orang Kudus (Puji Syukur 128, Red.). Ketika mendoakan orang kudus yang merupakan imam dan biarawan-biarawati kalau yang lain diucapkan sendiri-sendiri tetapi kedua orang kudus itu disebut secara bersama-sama “Santo Fransiskus dan Dominikus” … dan yang hadir dalam Misa itu membalas sambil menyanyi “Doakanlah kami,” karena Pastor Nantes juga menyanyikan dua nama orang kudus itu.

Keistimewaan lain yang hanya diberikan kepada Santo Fransiskus dan Santo Dominikus, pendiri ordo Fransiskan dan Ordo Dominikan, adalah penempatan hanya kedua patung orang kudus itu pada dinding kiri dan kanan altar utama Basilika Santo Petrus di Vatikan. “Itu penghormatan khusus Gereja kepada Fransiskus and Dominikus karena mereka memperbaharui Eropa di abad 13,” kata imam asal Filipina itu.

Pastor Nantes juga menceritakan bagaimana gereja milik Fransiskan dan gereja milik Dominikan laksana Indomaret dan Alfamart yang selalu berdekatan, “bukan untuk berkompetisi tetapi karena punya satu semangat seperti kembar, Fransiskus mengikuti Yesus, orang miskin yang mengajar atau berkotbah, sedangkan Dominikan mengikuti Yesus sebagai pewarta yang miskin.”

Juga diceritakan bagaimana Santo Dominikus bukan dipuji oleh keluarga Dominikan sendiri tetapi oleh Santo Bonaventura yang Fransiskan, dan Santo Fransiskus bukan dipuji oleh keluarga Fransiskan tetapi oleh Santo Thomas Aquinas yang Dominikan.

Namun, “hari ini kita merayakan persaudaraan antara kita, termasuk dengan macam-macam saudara dan saudari Fransiskan dan Fransiskanes. Hari ini kita berkumpul bersama dengan fokus persaudaraan. Hari ini kita berpesta karena warisan Santo Fransiskus yang diberikan kepada kita.”

Sesudah Misa, Fransiskan dan Fransiskanes dan semua undangan merayakan pesta, namun menurut Bruder Agus MTB,  “Kehadiran kita malam ini bukan untuk pesta, karena (katanya) Fransiskan tidak boleh pesta. Kita hanya makan malam bersama untuk bersyukur karena telah mengikuti Sang Santo, telah mengambil Spiritualitas Santo Fransiskus dan Asisi. Makanan ini juga disiapkan oleh Fransiskan dan Fransiskanes yang ada di Pontianak yang dikumpulkan jadi satu untuk dinikmati bersama.”

Dan sebelum makan, berdoalah Pastor Kosmas Djang OFMCap dengan bersyukur atas rahmat panggilan mengikuti teladan Santo Fransiskus Assisi dan memohon berkat dan penemanan bagi kami mereka yang menghayati panggilan hidup dan spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi, “supaya dengan demikian kami bisa memberi kesaksian tentang kebaikan dan kasihmu bagi sesama kami di mana saja kami hadir, bekerja dan melayani.”

Sebagai ungkapan rasa syukur, kegembiraan, dan sukacita dan persaudaraan mereka, lanjut imam itu, “kami akan santap malam bersama, memperkuat tali persaudaraan di antara kami, dan setelah menerima berkat-Mu mampukanlah kami pulang menjadi berkat bagi sesama kami lewat seluruh diri kami dan perbuatan baik kami kepada sesama kami.”

Setelah makan bersama para saudara dan saudari Santo Fransiskus menari dan bernyanyi bersama sebagai satu keluarga besar untuk saling mendoakan, menghibur dan meneguhkan.(aop)

Patung Santo Fransiskus di Altar Basilika Santo Petrus

Rekan Kerja Allah

Min, 08/10/2017 - 00:59

MINGGU BIASA KE-27

8 Oktober 2017

Matius 21: 33-43

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Kebun anggur merupakan citra yang dekat dengan hati orang Israel. Nabi Yesaya menggunakan metafora ini untuk menggambarkan relasi Israel dan Allah mereka (lihat Yesaya 5: 1-8). Konsisten dengan nabi agung ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang kebun anggur versi-Nya sendiri untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya. Tuhan adalah pemilik kebun anggur yang adil dan juga murah hati, dan kita adalah para pekerja-Nya. Sekarang, terserah kepada kita untuk bekerja keras untuk Tuhan di kebun anggur-Nya dan menerima panen berlimpah, atau bermalas-malasan, dan akhirnya diusir dari kebun anggur.

Namun, ada cara lain untuk membaca perumpamaan ini. Selama tiga hari Minggu berturut-turut, kita mendengarkan perumpamaan yang menampilkan kebun anggur dan orang-orang yang terlibat dalam kebun anggur ini. Jika ada satu kesamaan dari ketiga perumpamaan tersebut, ini adalah hubungan yang sulit dan sering kali bermasalah antara pemilik kebun dan para pekerja.

Di Israel masa lalu, pemilik tanah yang besar mempekerjakan para buruh atau menyewakan tanah mereka kepada petani. Pada akhir hari, para pekerja menerima upah mereka, atau saat panen, penyewa mendapatkan bagian dari panen tersebut. Di sinilah situasi sering menjadi sangat sulit dan penuh konflik. Sang pemilik menginginkan keuntungan tertinggi dari tanah mereka, sementara para pekerja menginginkan penghasilan terbesar dari usaha mereka. Sering kali, buruh tani Israel menerima upah yang kecil atau bagian yang sangat kecil dari panen. Dengan pendapatan yang sangat kecil, mereka masih harus membayar pajak yang tinggi kepada penjajah Romawi dan juga sumbangan ke Bait Allah. Apa yang tersisa hampir tidak cukup untuk memberi makan keluarga mereka. Tentunya, pekerja yang tidak puas dan lapar sangat rentan terhadap aksi kekerasan terhadap sesama dan pemilik tanah. Namun, tidak semua pemilik lahan adalah buruk. Mereka yang baik akan memberi upah yang lebih dari cukup, namun mereka juga harus menghadapi masalah seperti beberapa pekerja yang cenderung malas, kasar terhadap rekan kerja, dan bahkan terlibat dalam pencurian panen.

Di zaman ini, kita tampaknya menghadapi masalah yang lebih kompleks dalam kaitannya dengan pemilik modal, pekerja dan pekerjaan. Dengan jaringan dan komunikasi global, perusahaan Amerika dapat mempekerjakan tenaga kerja Filipina yang bekerja di Manila yang melayani pelanggan dari Eropa. Dengan mobilitas yang hampir tidak terbatas, jutaan pekerja dari Indonesia atau Filipina mencoba peruntungannya di negara-negara Timur Tengah. Dengan pengembangan teknologi otomasi, banyak kerja manual secara bertahap digantikan oleh robot. Semakin banyak orang lebih memilih untuk membeli barang atau layanan secara Online. Salah satu perdebatan terpanas yang sekarang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah penggunaan inteletualitas buatan (Artificial Intellegence) untuk memberi keputusan bagi kasus-kasus hak asasi manusia di Pengadilan Internasional. Artificial Intellegence telah menjadi begitu canggih sehingga bisa memprediksi putusan hakim manusia. Kini, profesi manusia yang membutuhkan keahlian yang kompleks seperti hakim bahkan bisa digantikan oleh Artificial Intellegence. Banyak profesi yang tren di masa lalu telah punah, dan banyak profesi baru pun bermunculan. Namun, terlepas dari kemajuan dan kompleksitas ini, kita tetap menghadapi masalah mendasar: apakah yang memperkerjakan dan yang diperkerjakan memberikan apa yang diharapkan dan menerima  apa yang menjadi hak mereka?

Oleh karena itu, perumpamaan Yesus tidak hanya relevan untuk masa ini, tetapi juga terus menantang pemahaman mendasar tentang martabat kita sebagai rekan kerja Allah di kebun anggur-Nya. Sebagai pekerja, apakah sikap kita di tempat kerja mencerminkan sikap yang baik para pengikut Yesus? Sebagai pemilik atau atasan, apakah kita mewujudkan keseimbangan antara keadilan Allah dan kemurahan hati-Nya? Akhirnya, sebagai rekan kerja Tuhan, apakah kita bekerja untuk dunia yang lebih baik bagi kita dan generasi masa depan, atau kita hanya ingin mencapai kepentingan egois dan keserakahan kita?

(Catatan: hari ini adalah hari raya Bunda Maria Ratu Rosario La Naval de Manila, dan setiap pagi saya berdoa di hadapannya memohon inspirasi yang membimbing saya dalam menulis refleksi Mingguan ini. Semoga Sang Bunda terus membimbing dan menemani kita dalam perjalanan iman kita.)

 

 

Semua ketua lingkungan berbusana daerah diminta evaluasi peran umat dalam mewartakan Injil

Sab, 07/10/2017 - 21:14

Sebanyak 56 ketua lingkungan berbaris di depan gereja dengan busana dari berbagai daerahnya seperti Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa tengah, Flores, Kalimantan, Papua, Ambon, sambil memegang vandal masing-masing lingkungan yang dilengkapi gambar santo pelindung masing-masing.

Hari itu, Minggu, 1 Oktober 2017, adalah HUT ke-11 dan Pesta Nama Paroki Santa Helena, Curug, Tangerang. Mereka bersiap memasuki Gereja Santa Helena untuk  merayakan Misa yang dipimpin Kepala Paroki Santa Helena Curug Pastor Lukas Sulaeman OSC dan didampingi Pastor Rafael Adi Pramono OSC sebagai pastor rekan.

Dalam Misa bertema “Dengan semangat Spiritualitas Santa Helena kita amalkan Pancasila: makin adil makin beradab” dan dihadiri sekitar 1500 umat itu, para ketua lingkungan membawa vandal masing-masing ke depan altar, dan Pastor Lukas meminta mereka untuk melihat semua kemajuan yang telah dicapai umat. “Ulang tahun ini bermakna mengevaluasi bagaimana peran seluru umat Katolik dalam mewartakan Kabar Baik, Injil,” kata imam itu.

Menurut Pastor Lukas, iman tanpa perbuatan adalah mati, maka dalam konteks Paroki Santa Helena harus terus membangun semangat iman yang benar, “jangan hanya iman di bibir, melainkan harus diwujudkan dengan konkret.” Maka, iman umat harus terus bergerak dengan cara melakukan perbuatan baik, karena “berani melakukan kebaikan sekecil apapun itu berarti mewujudkan Kerajaan Allah.”

Pastor Lukas juga menambahkan bahwa perziarahan iman di dunia harus disertai pertobatan terus-menerus, seperti halnya Santo Paulus yang dulu penganiaya umat Kristen, Zakheus yang menunjukkan kerakusannya dengan memungut pajak, dan Santo Agustinus mengalami pergulatan iman yang kelam namun akhirnya menjadi pembela Kristus yang hebat.

Dalam perayaan setelah Misa itu, Pastor Lukas memberikan tumpeng kepada sejumlah pengurus yang telah lama mengabdi di paroki itu. (Konradus R Mangu)

 

Sabtu, 07 Oktober 2017

Sab, 07/10/2017 - 12:08

PEKAN BIASA XXVI (H)

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario

Bacaan I: Bar. 4:5–12.27–29
Mazmur: 69:33–37; R: 34a

Bacaan Injil: Luk. 10:17–24

Pada waktu itu ketujuh puluh murid itu kembali dari perutusannya dengan gembira dan berkata: ”Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.” Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: ”Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: ”Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Renungan

Seorang pemuda yang telah sukses pernah menyampaikan sharing demikian: ”Jika bukan pertolongan Allah melalui berbagai cara dan bantuan banyak orang, aku tidak akan pernah mengecap bangku sekolah hingga mendapatkan pekerjaan. Melihat kondisi kehidupan keluarga dan pekerjaan orangtua, mana mungkin aku dapat bersekolah tinggi? Aku tahu Allah itu Mahakasih dan memerhatikan orang yang mau berjuang serta berseru kepada-Nya”.

Kedalaman rahasia kehendak Allah tak mampu kita duga. Ia menyatakan kebaikan dan kasih setia-Nya kepada setiap orang yang rendah hati mau terbuka akan kehadiran-Nya. Ia tidak membeda-bedakan manusia dengan kriteria cerdik pandai, kaya miskin, tingkatan sosial, dan berbagai kriteria lain. Kehendak dan kebijaksanaan Allah terbuka bagi siapa saja yang rendah hati menyerahkan diri pada-Nya (bdk. Luk. 10:24).

Keterbukaan akan kehendak Allah menyata dalam kesediaan untuk kembali serta menyerahkan hidup dan segalanya kepada Allah (bdk. Bar. 4:19-22). Dari kita dituntut kesediaan kembali menata hidup seraya senantiasa bersyukur diikutsertakan dalam karya penyelamatan-Nya.

Apakah kita pernah bersyukur atas kasih Allah dalam hidup? Apa yang dapat kulakukan bagi sesama untuk mewujudnyatakan kebaikan Allah?

Allah Yang Mahabaik, terima kasih atas karya keselamatan-Mu di dunia ini. Semoga aku dapat menghidupi semangat kasih-Mu dan senantiasa mampu bersyukur kepada-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Suster dan bruder live in di rumah umat agar hidup membiara disuburkan oleh keluarga dan OMK

Jum, 06/10/2017 - 19:46

Suster, bruder, imam, anak-anak, semua menari gembira di depan Gereja Santa Teresia Bongsari, Semarang. Tangan, kaki dan badan digerak-gerakkan mengikuti alunan musik. Itulah gambaran salah satu kegiatan live-in bruder dan suster guna menumbuhkan kesadaran panggilan hidup bakti.

Live-in enam bruder dari enam tarekat dan 42 suster dari 16 tarekat, menurut Pastor Eduardus Didik Cahyono SJ dari Gereja Santa Theresia Bongsari, merupakan salah satu kegiatan 50 Tahun Gereja Santa Teresia Bongsari di tahun 2018. “Kita minta bantuan suster dan bruder untuk mendinamisir umat di lingkungan-lingkungan,” kata imam itu.

Dalam jangka pendek, imam itu berharap acara 24 September 2017 itu menjadi pemantik supaya umat lingkungan “bangun”, berkumpul, dan kemudian membantu mensosialisasikan acara-acara 50 tahun Gereja  Bongsari. “Itu kepentingan paroki supaya ketika dibangunkan dengan acara ini, rangkaian syukuran bersama 50 tahun itu lebih disambut umat,” kata Pastor Didik.

Mengingat jumlah panggilan hidup bakti menurun yang diindikasikan dengan penurunan bahkan kekosongan novis di beberapa kongregasi, live-in itu diharapkan bisa menumbuhkan panggilan pada diri umat dan anak muda supaya memberi perhatian pada hidup bakti.

Para suster dan bruder sendiri, Pastor Didik mengamati, sangat senang dan antusias dengan acara ini, “karena kita beri kesempatan memperkenalkan kongregasi atau tarekat serta biara-biaranya agar bisa menarik perhatian rekan-rekan muda di lingkungan.”

Memang Paroki Bongsari cukup subur dalam hidup panggilan, entah pastor, suster, atau bruder. “Maka kami merasa, hal itu bisa dilanjutkan dan dikembangkan. Bongsari menurut saya subur. Maka, kita mengundang para suster untuk mencari kader dan penerusnya di lingkungan-lingkungan.”

Ketika datang sehari sebelumnya, para suster dan bruder dijemput oleh umat untuk tinggal dan mengunjungi umat di wilayahnya. “Harapannya siang sampai sore menjadi kesempatan para suster dan bruder untuk keliling-keliling, untuk mulai menyapa umat,” kata Pastor Didik.

Sore harinya, suster atau bruder bersama umat mengadakan sarasehan bersama. Sarasehan Bulan Kitab Suci Nasional menjadi media pertemuan itu. “Kita mengambil momen itu untuk mengumpulkan umat,” kata Pastor Didik.

Selain orang tua, sarasehan melibatkan anak-anak, remaja dan kaum muda. “Diadakan acara kumpul anak-anak sampai orang dewasa. Selain membahas Kitab Suci, mereka memperkenalkan kongregasi, dan membangun relasi keakraban dengan orang muda. “Panggilan itu relasi. Kalau mereka sudah nyaman, sudah senang, semoga mereka lebih mudah tergerak,” kata Pastor Didik.

Selain umat bangkit dan merespon geliat 50 tahun Paroki Bongsari, Pastor Didik berharap, ada kesadaran umat dan tanggapan orang muda. “Ke depannya yang lebih luas adalah kesadaran umat bahwa hidup membiara tetap bagian dari kesadaran mereka, sehingga entah kapan, kita tidak tahu gerak Roh Kudus, bisa satu tahun, dua tahun, lima tahun, tetapi yang penting kita menabur pengalaman kebersamaan dengan umat. Siapa tahu yang kecil-kecil punya kesan mendalam sehingga nanti kalau sudah dewasa bisa menanggapi panggilan,” kata imam itu.

Suster Kurnia PI yang tergabung dalam Tim Kerja Pemerhati Panggilan Paroki Bongsari menceritakan, live-in suster dan bruder di paroki itu sudah lama tidak diadakan. “Ternyata sudah lama sekali tidak ada. Padahal saya sering live-in di gereja lain. Karena saya dimasukkan dalam tim ini, maka saya bekerja bersama tim untuk mengangkat ini supaya umat yang jarang sekali didatangi bruder, suster, itu semakin mengenal,” jelasnya.

Suster Kurnia prihatin dengan menurunnya panggilan hidup membiara. Dia berharap, melalui live-in, para suster dan bruder menggali dan mengajak umat untuk melihat situasi memprihatinkan itu, lalu mempunyai ide dan cara menyuburkannya. “Jadi menyuburkan panggilan bukan dari suster dan bruder sendiri saja tapi kerja sama dengan umat, keluarga, orangtua,” kata suster.

Diharapkan, dari keluarga muncul ide dan dari OMK muncul pandangan tentang biarawati-biarawan. “Jadi ada refleksi balik untuk suster dan bruder. Oh, selama ini caranya kurang pas diterima OMK, kurang diterima oleh PIR. Dengan sarasehan, saya berharap mereka terbuka,” kata Suster Kurnia.(Lukas Awi Tristanto)

Jumat, 6 Oktober 2017

Jum, 06/10/2017 - 13:13

PEKAN BIASA XXVI (H)

Santo Bruno; Beato Isidorus de Loor; Diego de San Vitores, Santa Maria Fransiska dari ke-5 luka Yesus

Bacaan I: Bar. 1:15-22
Mazmur: 79:1-5.8-9; R:9ac
Bacaan Injil: Luk. 10:13-16

Sekali peristiwa Yesus bersabda: ”Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

Renungan

Salah satu upaya yang dianjurkan di Tahun Kerahiman Ilahi adalah intensitas penerimaan Sakramen Tobat. Pada kenyataannya, kemauan untuk mengakukan dosa melalui sakramen tobat dilihat masih belum memadai. Rupa-rupa alasan di balik keengganan itu. Rasa malu, belum tahu bagaimana mesti mengaku dosa, tidak merasa bahwa dirinya berdosa, dan boleh jadi ada kesombongan manusiawi karena keengganan mengakui kebobrokan diri.

Pengakuan dosa membutuhkan kerendahan hati untuk ”menelanjangi” diri dengan mengakui kekurangan dan kelemahan. Karena itu, pengakuan dosa menuntut ketulusan, keberanian dan kerendahan hati di hadapan Allah untuk mengakui kedosaan dan menyesalinya (bdk. Bar. 1:15b-19. 21-22). Yesus sendiri mengecam keangkuhan dan ketegaran hati karena keengganan mengakui kedosaan dan pertobatan (bdk. Luk. 10:13-15). Keangkuhan seperti ini tidak akan memberikan kebahagiaan dan hidup berkeutamaan. Kecaman Yesus terhadap mereka yang tidak mau bertobat merupakan penegasan dan peneguhan dalam kerangka perutusan para murid untuk mewartakan pertobatan dalam menerima warta Kerajaan Allah (bdk. Luk. 10:16).

Apakah kita sudah mengakukan dosa-dosa? Sejauh mana kita sadari bahwa kita telah berdosa? Apa upaya kita untuk melakukan pembaruan dalam hidup?

Tuhan Yesus, ampunilah dosa-dosaku. Berilah rahmat-Mu agar aku dapat memperbarui hidupku hari demi hari. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

Katedral Marawi merayakan Misa pertama sejak serangan di bulan Mei

Kam, 05/10/2017 - 22:14

 

Katedral Santa Maria di Filipina selatan merayakan Misa pertamanya hari Minggu 3 Oktober 2017, empat bulan setelah serangan oleh sebuah kelompok teroris yang terkait ISIS. Kelompok Maute Al-Qaeda menyerang katedral Prelatur Marawi di pulau Mindanao itu tanggal 23 Mei 2017, yang memicu konflik dengan pasukan keamanan dan menghancurkan kota Marawi yang berpenduduk mayoritas Muslim itu. Sejak itu provinsi Lanao del Sur berada di bawah darurat militer. Dalam Misa Minggu, pesta Santa Teresa dari Lisieux, pelindung tentara Filipina, suara tembakan dan ledakan terdengar di balik doa dan nyanyian rohani. Sinar matahari masuk ke katedral itu melalui lubang-lubang pada dinding dan atap seng yang ditembusi peluru. Di katedral itu dibebaskan 28 Agustus oleh pasukan pemerintah itu seorang pastor tentara merayakan Misa yang dihadiri sekitar 300 pasukan pemerintah. Sebanyak 749 gerilyawan dibunuh oleh pasukan pemerintah sejak Mei, sementara 155 tentara tewas dalam aksinya. Menurut tentara, perlu masih waktu untuk mengakhiri pengepungan Marawi. Katanyha, masih lebih dari 40 sandera di tangan para teroris. Vikjen Jendral Marawi Pastor Teresito ‘Chito’ Suganob dan beberapa staf katedral disandera 23 Mei. Pastor itu bersama berapa orang diselamatkan oleh tentara Filipina 16 September. Saat serangan itu, Uskup Narawi Mgr Edwin dela Pena sedang mengunjungi stasi misi. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi jadi dasar pelayanan para suster SFIC bagi orang kusta

Kam, 05/10/2017 - 15:55

Sudah 100 tahun Suster-Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei, SFIC) melayani para pasien penyakit kusta di Rumah Sakit Kusta (RSK) Alverno Singkawang. Karya mereka diawali oleh para imam dari Saudara Dina Kapusin yang didirikan oleh Santo Fransiskus dari Asisi.

Lima suster SFIC pertama datang di Singkawang tahun 1906 atas permintaan para imam Kapusin yang memulai misi pelayanan bagi para penderita kusta setahun sebelumnya. “Kehadiran mereka dinantikan banyak orang miskin yang sakit dan terlantar serta anak-anak yang dibuang, dan sekelompok orang kusta. Para imam secara berkala memberi pelayanan rohani kepada mereka,” kata Mgr Agus saat membacakan sejarah singkat rumah sakit pada Misi Syukur 100 Tahun Kehadiran Pelayanan Rumah Sakit Kusta (RSK) Alverno Singkawang, 30 September 2017.

Mengingat Suster Cayetana van Tiel SFIC setiap hari berjalan kaki dari Singkawang untuk merawat mereka yang tinggal terasing pada pondok-pondok kayu beratap daun di hutan sekitar Gunung Sari dan setiap sore pulang ke komunitas setelah sterilkan diri di ruang kecil yang dibangun oleh misi di situ, Pastor Beatus Bayens OFMCap yang saat itu Kepala Paroki Singkawang menganjurkan agar suster tinggal sekitar rumah sakit.

Maka 14 November 1925, pastor itu  memberkati Biara Santo Fransiskus Asisi dan Suster Laurentiana van den Horst SFIC, Suster Cayetana van Tiel SFIC, dan Suster Ursula Bongers SFIC tinggal di situ dan setiap hari merawat dan melayani pasien.

Sampai saat ini, menurut suster provinsialnya, Suster Irene SFIC, para suster tetap meneruskan teladan para misionaris yakni “komit dengan pelayanan demi kemajuan atau keselamatan manusia yang butuh pelayanan, terutama yang terpinggirkan dan terasing yaitu penderita lepra atau kusta.” Bahkan, ceritanya, tahun 1939 Suster Ursula SFIC terjangkit dan harus diisolasi.

Karena waktu itu kusta merupakan penyakit sangat ditakuti, maka dibangun pagar sekeliling kompleks untuk mengasingkan diri dari orang luar. Kesunyian akibat isolasi menjadi tantangan sangat berat bagi para suster dan pasien. Mereka tidak berhubungan dengan dunia luar.

Dalam kaitan dengan Pesta Santo Fransiskus dari Asisi setiap tanggal 4 Oktober, Suster Irene SFIC membenarkan bahwa Spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi menjadi dasar pelayanan para susternya. Suatu hari, menurut sebuah catatan, Bapa Spiritualitas para Fransiskan itu bertemu penderita kusta. Dengan rasa muak ia turun dari kudanya, memberi uang dan memaksa dia mencium tangannya. Namun, orang kusta itu memberikan salam damai dan Fransiskus merasakan perubahan mendalam dalam dirinya. “Apa yang mengerikan, menjadi manis bagi jiwa raga,” tulis Fransiskus dalam wasiatnya.

Spiritualitas Fransiskan dibangun atas fondasi “pertobatan” itu, sebagai tanggapan atas undangan Yesus untuk pengakuan dosa yang menggiring orang kepada hidup sakramental dalam persekutuan Gereja. Persekutuan mistik dengan Kristus membawa pribadi peziarah kepada persatuan dengan Allah. Dalam surat wasiat ia mengatakan kepada pengikutnya, “Pertobatan adalah syarat memperoleh keselamatan dari Allah … dari Dia, oleh Dia dan dalam Dialah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat ……” (AngTBul XXIII:9).

Fransiskus mengalami pertobatan sejati yang mentransformasikan keseluruhan pribadinya. Sejak itu, dia melihat seluruh dunia tidak lagi dengan sikap (ingin) memiliki, melainkan hormat, respek dan keprihatinan mendalam. Dalam perspektif baru ini Fransiskus mengenali nilai-nilai lebih tinggi dan luhur, menemukan Allah saat melayani saudaranya dan orang-orang kusta. Pengalaman pahit-menjijikkan berubah menjadi sedemikian manis. Begitu menemukan Allah, Fransiskus mendengarkan Dia dengan penuh perhatian. Pertobatan bagi dirinya berarti perubahan dari hidup yang berpusat pada diri sendiri  menjadi hidup yang berpusat pada Allah, menjadi pengalaman pertobatan dalam arti alkitabiah.

Sebagai tanggapan terhadap kebaikan-Nya, Fransiskus berniat melupakan dan memberikan diri secara total kepada Allah, dengan sepenuh hati dan konkret mengasihi sesama. “Facere poenitentiam” adalah keputusan untuk hidup bagi Allah dalam kontak konkret dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Itulah keputusan untuk mempraktekkan perintah Allah yang paling utama.(aop/mssfic)

Suster Ursula Bongers SFIC tertular penyakit kusta di tahun 1939 dan tinggal sendiri di antara orang kusta

Para suster SFIC bersama para pasien kusta

 

 

 

Kamis, 5 Oktober 2017

Kam, 05/10/2017 - 13:29

 

PEKAN BIASA XXVI (H)
Beato Eugenius Bossilkoff; Santa Anna Maria Gallo; Beato Alberetus Marvalli; Beato Raymundus dari Kapua

Bacaan I: Neh. 8:1-5a.6-7.8b-13

Mazmur: 19:8-11; R:9a

Bacaan Injil: Luk. 10:1-12

Pada waktu itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

Renungan

Injil adalah kabar sukacita Allah yang menyelamatkan. Sukacita dan kegembiraan itu terwujud dalam diri dan kehadiran Yesus Kristus. Kepada siapa Warta Gembira itu disampaikan? Siapa yang mesti mewartakan Kabar Sukacita tersebut? Warta Gembira tentang keselamatan disampaikan untuk semua orang di mana pun dan kapan pun. Tugas pewartaan ini diembankan kepada semua orang yang percaya dan beriman kepada Yesus. Inilah tugas dan perutusan para murid. Diutus untuk membawa damai sejahtera bagi setiap orang.

Berhadapan dengan berbagai persoalan dan tantangan dunia di mana kita berada, tugas pewartaan itu tidaklah mudah. Adakalanya warta sukacita yang disampaikan mengalami penolakan. Namun, warta Injil mendesak dan aktual untuk diwartakan di tengah dinamika hidup manusia. Dituntut keberanian sekaligus kegigihan dalam upaya pewartaan Kabar Sukacita Allah yang menyelamatkan. Pewartaan pertama dan konkret hendaknya terungkap dalam kesaksian hidup sebagai seorang beriman melalui sikap, kata, tindakan dan perbuatan yang baik dan berkenan kepada Allah dan sesama. Apakah hidup kita sudah sesuai dengan warta Kabar Gembira?

Tuhan Yesus Kristus, bantulah aku untuk menjadi saksi-Mu dalam sikap hidup dan perbuatan sehari-hari. Semoga semakin banyak orang terbuka akan Sabda-Mu dan pada akhirnya mengalami sukacita berlimpah. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Uskup Manado ingatkan Kaum Bapak Katolik untuk awali pelayanan iman dengan perjumpaan

Kam, 05/10/2017 - 01:26

Uskup Manado Mgr Benediktus Estephanus Rolly Untu MSC mengingatkan para pengurus Kaum Bapak Katolik Keuskupan Manado (KBK-KM) untuk mengawali pelayanan iman mereka dengan pertemuan atau perjumpaan dengan orang lain, “karena hidup kita akan berarti bila berjumpa dengan orang lain, dan perjumpaan akan bermakna bila kita dikasihi dan disayang.”

Mgr Rolly Untu berbicara dalam Misa Pembukaan Rekoleksi KBK KM yang dipimpinnya di Panti Samadi Tomohon, 30 September sampai 1 Oktober 2017. Lebih dari 20 anggota badan pengurus KBK-KM mengikuti rekoleksi itu.

Sejumlah pertemuan atau perjumpaan Kristus juga diceritakan oleh Uskup Manado yang batu itu seraya berharap agar semua itu hendaknya menjadi pegangan para bapak Katolik dalam berkiprah untuk Keluarga, Gereja dan Tanah Air.

“Apalah artinya seorang bila tidak ada orang lain,” kata Mgr Rolly yang dalam rekoleksi itu juga menjadi pembicara tentang “Pelayan Iman Katolik” dengan menegaskan bahwa iman dalam kasih Kristus adalah iman yang sempurna.

Materi lain diberikan oleh Paulden, pewarta awam dari Surabaya, tentang “Tiada yang Tersembunyi (Berubah atau Diubah)” dan oleh Pembina Skolastikat MSC Pineleng dan Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng Pastor Jonas Atjas MSC tentang “Menjadi Satu untuk Kemuliaan-Nya.”

Pastor Jonas yang didampingi beberapa frater juga mengisi rekoleksi itu dengan Silentio Pertobatan ala Taize yang diakhiri dengan penyerahan Salib Kristus kepada Ketua II (Bidang Humas) untuk kemudian diteruskan secara bergilir kepada pengurus lainnya.

Rekoleksi yang juga digunakan untuk mengumpul saran berkaitan dengan keorganisasian ditutup dengan Misa yang dipimpin Penasehat Rohani KBK-KM Pastor Christ Santie MSC dan perjumpaan bersama KBK Paroki Tataaran yang menjadi lokasi penutupan kegiatan itu. (A Ferka)

Pemaparan materi oleh Paulden yang turut dihadiri Uskup Manado.(Foto: A. Ferka) Mgr Rolly Untu memimpin Misa Pembukaan di Kapel Panti Samadi. (Foto: A. Ferka)

Mgr Agus yakin, cinta kasih jadi dasar pelayanan dan sumbangan untuk melayani orang kusta

Rab, 04/10/2017 - 16:49

Mgr Agustinus Agus sangat yakin bahwa cinta kasihlah yang menjadi dasar dan dorongan pelayanan para misionaris dalam menjalankan misi memperhatikan orang-orang yang tersisih dan terbuang, serta dalam merintis karya kesehatan yang sudah berusia 100 tahun bagi orang kusta.

“Nama mereka sudah terdaftar di surga dan mereka kini sudah berbahagia bersama Bapa di surga. Sebenarnya sederhana hidup ini, tidak salah melakukan apapun yang baik. Tetapi, kalau kita tidak sadar bahwa nama kita terdaftar di surga, kita akan menjadi orang yang setengah-setengah dalam melakukan karya apapun itu,” kata Uskup Agung Pontianak itu.

Mgr Agus berbicara dalam homili Misa Syukur 100 Tahun Kehadiran Pelayanan Rumah Sakit Kusta (RSK) Alverno Singkawang. RSK itu didirikan 27 September 1917 ditandai pemberkatan Klinik Alverno dan kapel. Tapi puncak perayaan dilaksanakan 30 September 2017 dengan Misa bertema “Mengasihi penderita kusta ‘orang miskin dari Allah yang baik’ melalui Perayaan 100 Tahun RSK Alverno” yang juga dihadiri Uskup Emeritus Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap.

Dalam Misa yang dirayakan setelah rangkaian kegiatan bakti sosial, pertandingan olahraga, dan pameran sejarah RSK Alverno, Mgr Agus menegaskan keyakinannya bahwa para misionaris melayani tanpa pandang suku, agama, atau status. “Semua dilayani dengan penuh kasih, karena semua ciptaan Tuhan dan punya martabat yang sama.”

Mgr Agus berpesan agar pelayanan Katolik tidak membeda-bedakan. “Tidak ada syarat dalam sekolah atau rumah sakit Katolik bahwa orang bukan Katolik tidak boleh bersekolah di sekolah Katolik atau berobat di rumah sakit Katolik,” kata uskup.

Sejak berdiri di Gunung Sari tahun 1917, RSK Alverno milik Keuskupan Agung Pontianak (KAP) dan dilayani misionaris Kapusin (OFMCap) dan Suster-Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei, SFIC).

Tanggal 27 Oktober 1954, diadakan perjanjian pinjam pakai RSK Alverno dan empat rumah sakit keuskupan lain antara Vikaris Apostolik Pontianak Mgr Hendrikus Josephus Van Valenburg dengan Menteri Kesehatan RI, Lie Kiat Teng. Sejak itu RSK Alverno menjadi rumah sakit pemerintah, namun operasinya ditangani suster SFIC. Surat Menteri Dalam Negeri RI, 3 Oktober 1989, mengembalikan semua rumah sakit pinjaman, namun proses pengembalian RSK Alverno tidak lancar bahkan mengambang antara pemerintah atau swasta.

Meski status RSK Alverno dan Klinik Nyarumkop belum jelas, tanggal 10 April 2015, Mgr Agus menyerahkan pengelolaannya kepada Kongregasi SFIC melalui Yayasan Karya Kesehatan Santo Vincentius. Tanggal 31 Januari 2017, barulah Gubernur Kalbar Cornelis menandatangani akta penyerahan serta mengembalikan RSK Alverno dan Klinik Nyarumkop kepada KAP. Para suster SFIC, melalui yayasan itu, mulai menatanya kembali.

Gubernur berterima kasih kepada yayasan, keuskupan, dan Gereja Katolik yang sudah 100 tahun melaksanakan tugas kemanusiaan tanpa memandang suku dan agama. Diakui, pemerintah tidak membangun rumah sakit kusta karena masalah kusta dianggap tak ada lagi di Indonesia.

Ternyata, kata gubernur dalam acara yang juga dihadiri politisi, walikota, bupati, kapolres, kapolsek, dan beberapa kepala dinas itu, hampir 10 tahun menjabat gubernur, masih banyak terkena kusta. Tetapi mereka malu.” Maka Gubernur meminta agar keluarganya tidak mengucilkan penderita yang sudah sembuh. “Ilmu kedokteran begitu maju, jadi kita tidak perlu khawatir,” kata gubernur seraya meminta agar karya besar yang dijalankan Gereja Katolik dipertahankan, dan “saudara-saudara yang berkelimpahan rezekinya tolong bantu yayasan itu berapa pun kemampuan kita.”

Provinsial SFIC Suster Irene menggarisbawahi teladan misionaris perintis yang harus diteruskan hari ini yakni “komit dengan pelayanan demi kemajuan atau keselamatan manusia yang butuh pelayanan, terutama yang terpinggirkan dan terasing yaitu penderita lepra atau kusta.” Bahkan, ceritanya, tahun 1939 Suster Ursula SFIC terjangkit dan harus diisolasi.

Lima suster SFIC pertama datang di Singkawang tahun 1906 atas permintaan para imam Kapusin yang telah memulai misi setahun sebelumnya. “Kehadiran mereka sudah dinantikan oleh begitu banyak orang miskin yang sakit dan terlantar serta anak-anak yang dibuang, dan sekelompok orang kusta. Para imam secara berkala memberikan pelayanan rohani kepada mereka,” kata Mgr Agus yang membacakan sejarah singkat rumah sakit itu.

Awalnya penderita terasing di hutan sekitar Gunung Sari dan tinggal di pondok-pondok kayu beratap daun. Suster Cayetana van Tiel SFIC setiap hari berjalan kaki dari Singkawang untuk merawat mereka. Setiap sore dia pulang ke komunitas setelah sterilkan diri di ruang kecil yang dibangun oleh misi di situ.

Tanggal 27 September 1917, diberkati kapel dan ruang perawatan luka, cikal bakal RSK Alverno. Tahun 1919, dibangun tiga blok rumah papan untuk rawat inap. Sekitar 50 pasien tinggal di sana. Pastor Beatus Bayens OFMCap yang saat itu Kepala Paroki Singkawang menganjurkan agar suster tinggal sekitar rumah sakit. Maka 14 November 1925 dia memberkati Biara Santo Fransiskus Asisi dan Suster Laurentiana van den Horst SFIC, Suster Cayetana van Tiel SFIC, dan Suster Ursula Bongers SFIC tinggal di situ dan setiap hari merawat dan melayani pasien.

Karena waktu itu kusta merupakan penyakit sangat ditakuti, maka dibangun pagar sekeliling kompleks untuk mengasingkan diri dari orang luar. Kesunyian akibat isolasi menjadi tantangan sangat berat bagi para suster dan pasien. Mereka tidak berhubungan dengan dunia luar.

Kemudian pemerintah memberi subsidi 15 gulden per pasien tiap bulan. Para suster tidak mendapat apa-apa. Kekurangan biaya makan dan pengobatan pasien serta keperluan hidup para suster dicari dan diusahakan oleh Pater Superior Misi Kapusin dan Moeder Edwina SFIC.

Tahun 1934 dibangun gereja di kompleks rumah sakit dengan dana sumbangan dari pemimpin umum SFIC dan pinjaman dari Vikariat Apostolik Borneo yang dilunasi dengan menyicil. Saat Perang Dunia II, semua pastor dan suster dari Eropa dibawa ke kamp tahanan di Kuching, namun para suster di RSK Alverno diperbolehkan tinggal. Setelah perang, para misionaris kembali dan perlu bertahun-tahun untuk menjalankan karya seperti semula. Hampir semua keperluan diperoleh dari Misi, dan RSK Alverno terus berjalan di bawah kepemilikan KAP.(aop/mssfic)

Pameran perkembangan RSK Alverno Penyerahan Kembali RSK Alverno dari pemerintah kepada Keuskupan Agung Pontianak diterima oleh Mgr Agustinus Agus

Mgr Agustinus Agus bergambar bersama dua misionaris SFIC dari Belanda yang masih ada di Singkawang

Suster Ursula Bongers SFIC tertular penyakit kusta tahun 1939 dan tinggal sendiri di antara orang kusta Para suster SFIC bersama para pasien kusta Salahy sat6u misionaris tersisa Sr Rapael dan panitia bernyanyi

Rabu, 4 Oktober 2017

Rab, 04/10/2017 - 12:35

PEKAN BIASA XXVI
Peringatan Wajib Santo Fransiskus Assisi (P)
Santo Kuintinus

Bacaan I: Neh. 2:1-8

Mazmur: 137:1-6; R:6a

Bacaan Injil: Luk. 9:57-62

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: ”Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: ”Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: ”Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Dan seorang lain lagi berkata: ”Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Renungan

Hidup adalah pilihan. Setiap kita harus memilih dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan. Apa pun sebuah pilihan selalu mengandung konsekuensi tertentu sesuai bobot dan hierarki pilihan tersebut. Dibutuhkan keberanian untuk menentukan sebuah pilihan dengan berbagai risiko yang kerapkali muncul atas pilihan dalam hidup ini.

Nehemia memutuskan dengan berani untuk menata tanah leluhur dan iman bangsanya. Keberanian itu lahir karena keyakinan akan pendampingan Allah nenek moyangnya yang setia menyelamatkan bangsanya dalam berbagai persoalan hidup. Sikap Nehemia menunjukkan sebuah pilihan untuk mengutamakan iman akan Allah dan keselamatan bangsanya.

Beriman itu pun sebuah pilihan dan tanggung jawab. Yesus menegaskan sikap dan komitmen untuk mengikuti jalan hidup dan karya yang dilakukan-Nya. Oleh sebab itu, mengikuti Yesus berarti pula mengikuti-Nya secara total, mengesampingkan pilihan-pilihan lain, dan siap sedia dengan segala konsekuensi dari pilihan mengikuti Yesus dalam jalan kemuridan. Pilihan mengikuti Yesus membawa kebahagiaan dan keselamatan bila diwujudkan dengan penuh tanggung jawab. Apakah kita telah memilih Yesus secara total dalam hidup kita?

Allah Yang Mahabaik, kuatkan dan teguhkan aku untuk selalu setia mengikuti hidup dan jalan Putra-Mu Tuhan kami Yesus Kristus dalam tindakan sehari-hari. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Intensi Doa Paus Fransiskus untuk bulan Oktober untuk pekerja dan penganggur

Rab, 04/10/2017 - 05:26

Paus Fransiskus merilis pesan video yang menyertai intensi doa bulanannya untuk bulan Oktober. Intensi bulan ini untuk para pekerja dan penganggur: “Semoga semua pekerja menerima penghormatan dan perlindungan atas hak-hak mereka, dan semoga para penganggur mendapat kesempatan berkontribusi bagi kepentingan bersama.”

Teks pesan video berbunyi:

Kita harus selalu mengingat martabat dan hak orang-orang yang bekerja, mencela situasi di mana martabat dan hak-hak itu dilanggar, dan membantu memastikan kemajuan otentik oleh manusia dan masyarakat.

Marilah berdoa semoga semua pekerja menerima penghormatan dan perlindungan atas hak-hak mereka, dan para penganggur menerima kesempatan berkontribusi bagi kepentingan bersama.

Jaringan Doa Sedunia dari Kerasulan Doa dari Paus Fransiskus mengembangkan inisiatif “Video Paus” itu untuk membantu penyebaran ke seluruh dunia intensi bulanan Bapa Suci yang berkaitan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi umat manusia.(pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Video itu bisa dibuka di sini:

Selasa, 03 Oktober 2017,

Sel, 03/10/2017 - 14:23

PEKAN BIASA XXVI

Santo Gerardus dari Brogne (H)

Bacaan I: Zak 8:20-23

Mazmur: 87:1-3.4-5.6-7

Bacaan Injil: Luk. 9:51-56

Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Renungan

Andai saja semua orang sadar bahwa damai itu indah, tentulah tidak akan terjadi perselisihan, peperangan, serta berbagai tindakan yang merusak dan menghancurkan sesama. Persoalannya sering kali didasari oleh berbagai klaim kebenaran ideologi, cara pandang dan sikap ekstrem yang menganggap orang lain keliru dan sesat. Agaknya dibutuhkan keterbukaan yang tulus serta sikap menghargai satu sama lain dalam cara dan sikap hidup sehari-hari demi kebahagiaan bersama.

Sesungguhnya keselamatan Allah itu bersifat universal. Belas kasih dan keselamatan Allah tertuju bagi dan untuk semua bangsa. Ia tidak membeda-bedakan waktu, tempat maupun penerima keselamatan tersebut. Belas kasih-Nya mematahkan belenggu perbedaan, keterasingan dan kesombongan manusiawi. Namun, sering kali manusia menolak keselamatan Allah dan memenjarakan universalitas keselamatan Allah dalam ideologi ataupun kesombongan intelektual dan strata sosial yang ada (bdk. Luk.9:53-54). Bila keselamatan Allah terbuka dan diberikan kepada setiap orang, bukankah kita hendaknya bergegas mencari keselamatan Allah dalam hidup? Sejauh mana kita telah menghidupi belas kasih Allah dalam sikap hidup bersama orang lain di sekitar kita?

Allah Bapa yang Mahakasih, mampukanlah aku untuk menghidupi belas kasih dan keselamatan-Mu serta membahagiakannya kepada sesama di sekitarku. Amin.

Ziarah Batin 2017

 

Umat Katolik Cigugur dan sekitarnya jalani agama dengan tetap menerapkan kearifan lokal

Sel, 03/10/2017 - 00:06

Bulan September telah berlalu, namun saat itu ada peringatan tahunan menurut Kalender Sunda dirayakan oleh masyarakat penganut Agama Djawa Sunda (ADS) atau Sunda Wiwitan yang dikenal sebagai Cara Kahurun Urang (tradisi nenek moyang) yakni Seren Taun.

Agama yang dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan, menetapkan 22 Rayagung menurut kalender Sunda, yang sembilan hari lebih pendek dari Kalender Kristen dan tahun ini jatuh 14 September 2017, sebagai hari raya Seren Taun. Acara itu diperingati di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan tahun 1860 dan kini dihuni oleh Pangeran Djatikusuma.

Namun ternyata, Seren Taun tidak hanya dirayakan oleh umat Sunda Wiwitan tetapi juga umat Katolik di Cigugur dan sekitarnya. Bahkan banyak umat Katolik tidak hanya ikut merayakan tapi menjadi panitia pelaksana Seren Taun. Di samping itu, di malam menjelang 22 Rayagung, umat Paroki Cigugur dan Stasi  Cisantana merayakan Misa di gerejanya.

Menurut Pastor Yohanes Cantius Abukasman OSC, di tahun 1964, ayah Pangeran Djatikusuma yakni Pangeran Tedjabuana membubarkan ADS karena kebijakan pemerintahan “Orde Baru” Presiden Soeharto, yang saat itu hanya mengakui lima agama di Indonesia: Islam, Protestan, Katolik, Buddha dan Hindu. Pangeran Tedjabuana, orang tua dan saudara kandungnya, serta 7.000 pengikut menjadi Katolik dan aula Paseban digunakan sebagai gereja. Tahun 1976 pemerintah menyatakan aula itu sebagai warisan budaya dan banyak pengikut kembali ke Sunda Wiwitan.

Pastor Abukasman bersama keluarga juga masuk Katolik dan tetap Katolik sampai saat ini. Mantan Kepala Paroki Kristus Raja Cigugur yang baru pindah ke Katedral Bandung itu mengatakan kepada PEN@ Katolik di akhir September bahwa selama di Cigugur, “di malam Seren Taun saya selalu rayakan Misa yang mencerminkan pesta tradisional dengan bahasa, dekorasi, kostum dan ritual Sunda. Bukan mau eksklusif tetapi supaya Keuskupan Bandung, yang hidup di tanah Sunda, tidak menjadi Gereja asing bagi orang Sunda.”

Selama Misa yang dihadiri umat hingga bagian luar, kata Pastor Abukasman, umat menunjukkan banyak nilai tradisional, “dengan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang mereka terima, seperti kehidupan, pertanian, panen, dan semua produk pertanian yang mereka persembahkan kepada Allah di depan altar.”

Yang terjadi di Paseban, jelas imam itu, adalah kegiatan budaya, dan di gereja hanya yang liturgis, “sehingga Misa tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Seren Taun, walaupun setelah Misa banyak umat Katolik pergi ke Paseban untuk ikut kegiatan budaya di sana, ” dan “saya juga ke Paseban untuk menjadi pembicara dalam seminar antaragama dan doa bersama umat agama lain.”

Menurut imam itu, dia pun terus memotivasi umat paroki untuk bergabung dan terlibat dalam Seren Taun.  Dalam upacara Seren Taun banyak umat Katolik terlibat, misalnya sebagai penerima tamu, pembawa hasil bumi dalam prosesi, penari, dan pemain musik.

Imam asli Sunda itu mengatakan selalu mendorong umat parokinya untuk menjadi “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia, dan 100 persen Sunda,” serta menyarankan umatnya untuk ikut program pemerintah “guna menghidupkan kembali dan memperdalam kearifan lokal yang telah meningkatkan perdamaian dan mempersatukan bangsa.”

Pastor Abukasman mengutip dua contoh kearifan lokal Sunda: “Silih asah, silih asih, silih asuh” (yang mendorong orang untuk saling mengingatkan, saling membimbing dan saling mengasihi) dan “Awak sakujur, batur sakasur, batur sadapur, batur sasumur, batur salembur” (sebuah filosofi persaudaraan yang mengajarkan seseorang untuk memulai pengembangan dari diri sendiri hingga keseluruhan masyarakat karena mereka hidup di tatar yang sama, makan dari sumber yang sama, dan memanfaatkan sumberdaya alam yang sama). “Ini sesuai nilai Injil yang bisa menjadi perekat persatuan nasional, tapi orang cenderung melupakannya,” kata imam itu.

Seren Taun dimulai 17 Rayagung atau 9 September malam dengan arak-arakan obor dan aneka tarian tradisional. Hari itu PEN@ Katolik bertemu Kento Subarman, petani Sunda Wiwitan yang bertindak sebagai anggota panitia penyelenggara Seren Taun, dan dua pemain musik Katolik, Yohanes Sulaeman dan Libertus Badra. Mereka berbagi tentang tema Seren Taun tahun ini, “Memperkokoh adat untuk membangun kesadaran berbangsa.”

Menurut Kento Subarman, “Kita mulai dengan pawai obor, karena manusia yang tidak sempurna dan saling mengasihi mau saling menerangi.” Temanya tepat waktu, tegasnya, “karena kondisi nasional sekarang sedang tercabik-cabik sehingga kehilangan rasa kebangsaan. Tema itu mengajak kita kembali ke adat yang merupakan kodrat Yang Mahakuasa.” Tema, yang diharapkan bukan hanya merubah orang Cigugur tetapi semua warga, diimplementasikan “tidak muluk-muluk tetapi diharapkan mengilhami semua orang yang membaca liputan peristiwa ini,” katanya.

Kento menambahkan, budaya dan pertanian adalah dua hal tak terpisahkan. “Seren Taun adalah syukuran masyarakat agraris yang diharapkan mewujudkan tindakan keseharian untuk membangun kesejahteraan serta ketahanan pangan serta budaya dan keyakinan.”

Yohanes Sulaeman menegaskan, dalam Seren Taun dia lebih nyata merasakan dan melaksanakan yang tertulis dalam Injil. “Kalau dalam Injil itu initial, di sini nyata, saya mampu merasakan,”  katanya seraya menegaskan, seseorang boleh berkeyakinan apa saja, “asal jangan lupakan budaya, rupa dan bahasa.”

Menurut Libertus Badra, agama Katolik mengajarkan umat untuk “mencintai Tuhan Allahmu dengan segala akal budimu. Makna akal budimu dibuktikan secara praktek di sini dengan berbagai seni, berbagai makanan dan budi daya yang kita persembahkan kepada Sang Pencipta.”

Sebagai umat Katolik dia berharap Gaudium Et Spes tidak setengah hati dilaksanakan. Umat Katolik hendaknya menjadi “ragi” yang jelas, dan tidak boleh ada pihak yang mempengaruhi umat untuk tidak ikut perayaan budaya di Paseban itu. “Semoga lebih banyak umat Katolik Cigugur dan dusun-dusun di sekitar berpartisipasi dalam Seren Taun. Jika ada yang tidak beres, mari duduk bersama membahasnya demi kemajuan tradisi ini,” tegasnya. (paul c pati)

Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur Aula yang pernah dipakai sebagai gereja Pawai Obor

Halaman