Berita dan Event

Apa peranan Kitab Suci di dalam kehidupan Gereja?

Pen@ Katolik - Sel, 16/01/2018 - 21:24
Pintu Suci Basilika Santo Paulus di Luar Tembok. PEN@ Katolik/pcp

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

23. Bagaimana kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

Kitab Suci adalah satu sejauh Sabda Allah itu satu. Rencana penyelamatan Allah itu satu, dan inspirasi ilahi dari kedua Perjanjian itu juga satu. Perjanjian Lama mempersiapkan yang Baru dan Perjanjian Baru menyempurnakan yang Lama, keduanya saling menerangkan satu sama lain.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 128-130, 140

24. Apa peranan Kitab Suci di dalam kehidupan Gereja?

Kitab Suci memberikan dukungan dan kekuatan bagi kehidupan Gereja. Bagi Putra-Putri Gereja, Kitab Suci merupakan suatu peneguhan iman, makanan jiwa, dan sumber hidup spiritual. Kitab Suci adalah jiwa teologi dan khotbah pastoral. Para pemazmur berkata bahwa Kitab Suci ”pelita bagi kakiku dan cahaya bagi langkahku” (Mzm 119:105). Karena itu, Gereja menganjurkan semua umat beriman untuk sering membaca Kitab Suci karena ”tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (Santo Hieronimus).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 131-133, 141-142

Kesedihan

Sesawi.Net - Sel, 16/01/2018 - 21:06

Campak dan Gizi Buruk

Sesawi.Net - Sel, 16/01/2018 - 19:36
JUMLAH korban meninggal karena campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua, tercatat 61 anak. Imunisasi campak massal ulangan dilaksanakan mulai Senin, 15 Januari 2018. Mengapa masih ada campak dan gizi buruk? Pada Jumat, 15 September 2017 di markas FAO Roma, Italia dikeluarkan laporan resmi  tentang kelaparan ulang (the resurgence of hunger), yang mempengaruhi 815 […]

Renungan Harian, Rabu: 17 Januari 2018, Mrk. 3:1-6

Mirifica.net - Sel, 16/01/2018 - 19:00

ATA orang bijak, siapa diri kita identik dengan apa yang kita pikirkan. Jika kita memikirkan hal-hal positif, maka kita akan menjadi pribadi yang baik; demikian pun sebaliknya. Kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam kisah Injil selalu muncul untuk mempersoalkan karya yang sedang dikerjakan Yesus. Seakan isi kepala mereka dipenuhi niat dan rancangan yang negative. Mereka acap mencari celah agar bisa menjerat dan menyalahkan Yesus.

Kisah Injil hari ini  mengisahkan hal yang serupa. Kaum Farisi mempersoalkan mukjizat penyembuhan yang dilakukan pada hari Sabat.Bagi mereka, seluruh kegiatan dan karya ditiadakan pada hari Sabat, juga jika itu berhubungan dengan menyelamatkan sesame.Hal ini justru berbanding terbalik dengan pewartaan Yesus yang mengutamakn manusia di atas aturan.Mereka pun menyalahkan tindakan Yesus dan mempersoalkan-Nya.

Namun, apa yang salah di mata mereka adalah kebenaran di mata Yesus. Maka, Yesus bertanya kepada meeka soal mana yang diperbolehkan di hari Sabat; menyembuhkan atau membunuh.

Kita pun cenderung bertindak serupa kaum Farisi, kukuh mempertahankan nilai-nilai meskipun harus mengabaikan sesame yang membutuhkan pertolongan.Marilah kita menjernihkan hati dan pikiran kita.Biarkan segala kebaikan dan kebenaran menguasai hati dan pikiran kita. Dengan demikian, kita akan semakin dituntun menjadi orang-orang yang baik.

Ya Bapa, jernihkanlah hati dan pikiranku sehingga hanya memikirkan dan menghayati segala kebaikan yang berasal dari-Mu.Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2018, Penerbit OBOR Indonesia

Pelita Hati: 17.01.2018 – Degil Hati

Sesawi.Net - Sel, 16/01/2018 - 17:00
Bacaan Markus 3:1-6 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” […]

Pemuda Katolik Bantu Orang Miskin Keluar Dari Kemiskinan

UCANews - Sel, 16/01/2018 - 16:39

Terdorong oleh keinginan untuk meningkatkan taraf hidup para petani miskin, seorang pemuda Katolik yang kini berusia 29 tahun, Yoseph Leribun, rela pulang ke kampung halamannya di Labuan Bajo, Flores.

Ia menanggalkan profesinya sebagai jurnalis dan meninggalkan Jakarta pada tahun 2012 lalu.

Sebagai anak dari keluarga petani, ia pun sadar bahwa panggilannya adalah untuk meningkatkan taraf hidup ribuan petani yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap hari dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.

“Mereka sudah berada di situasi seperti ini sejak lama, tidak tahu bagaimana memaksimalkan potensi mereka,” katanya.

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 5,2 juta penduduk. Sebanyak 55,4 persen di antaranya beragama Katolik, dan sekitar 1,1 juta orang hidup miskin.

Secara nasional, propinsi tersebut menduduki peringkat ketiga terkait angka kemiskinan. Peringkat pertama dan kedua adalah Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat.

Di Kabupaten Manggarai Barat, kampung halaman Leribun, 42 persen dari jumlah penduduk hidup miskin. Sebagian besar adalah petani.

Ini merupakan realita yang memprihatinkan mengingat Labuan Bajo, sebagai ibukota kabupaten, telah diubah menjadi tempat wisata moderen. Wilayah ini terkenal atas komodo dan pulau-pulaunya yang indah.

Labuan Bajo juga menarik investasi besar untuk sejumlah proyek raksasa seperti bandar udara, pelabuhan, hotel dan resor.

Tahun lalu, sekitar 84.000 wisatawan mengunjungi wilayah itu. Pemerintah juga tengah menarik sebanyak 500.000 wisatawan untuk beberapa tahun mendatang.

Sayangnya, pembangunan semacam itu semakin meminggirkan warga setempat, sebagian besar petani.

“Saya terkejut ketika saya tahu bahwa suplai sayuran dan daging untuk hotel dan resor berasal dari wilayah lain, bukan dari warga setempat,” kata Leribun.

Ia pun terdorong untuk mempelajari suplai makanan. Secara perlahan-lahan, ia mengembangkan cara baru bercocok-tanam yang memungkinkan petani menjadi pemain utama dalam industri wisata, bukan sekedar penonton.

Pelopor Proyek

Pada akhir tahun 2012, Leribun mulai menanam sayuran dengan menggunakan pupuk organik. Ia juga beternak babi dan ayam. Ia hanya mengandalkan literatur dan panduan yang ada di internet karena ia tidak pernah mengikuti pelatihan sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian, proyek kecilnya sukses. Hal ini mengilhami petani lain untuk mengikuti metodenya.

Ia lalu melatih petani dan memberi mereka modal kecil untuk menjalakan proyek mereka sendiri. Tidak butuh waktu lama bagi masing-masing petani untuk mendapatkan keuntungan bulanan sekitar Rp 700.000 – Rp 1.000.000 dari hasil menjual sayuran ke restoran dan warga setempat.

Melihat potensi tersebut, Leribun pun mendirikan Kampung Ternak. Di sini ia dan puluhan petani beternak ayam, babi dan ikan lele untuk dipasok ke restoran dan dijual kepada warga setempat.

Keberhasilannya dalam memberdayakan petani mendapat perhatian dari Yayasan Daya Pertiwi, sebuah kelompok non-profit yang terlibat dalam pengembangan ekonomi warga desa. Kelompok ini memberi bantuan finansial dan pelatihan kepada komunitas yang dibentuk Leribun, dan pada tahun 2015 menunjuk Leribun sebagai manager proyek.

Selain itu, pada tahun 2016, Leribun juga terpilih sebagai salah satu dari 10 “duta petani muda” oleh beberapa NGO, termasuk Oxfam.

Sejak saat itu, ia terlibat dalam kampanye nasional yang mempromosikan pentingnya pertanian bagi orang muda.

Meyakinkan Orang Muda

Banyak orang muda berpikir bahwa petani bukan profesi yang menjanjikan.

Oleh karena itu, banyak orang muda di beberapa desa di Pulau Flores memilih menjadi sopir ojek dan pekerja migran.

“Akibatnya jumlah petani menurun drastis dan mempengaruhi hasil pertanian,” kata Leribun.

Menurut data Kementerian Pertanian, 65 persen dari 26,3 juta petani berusia lebih dari 45 tahun. Dan tidak ada tanda-tanda regenerasi.

Kini tugas Leribun adalah meyakinkan orang muda bahwa petani adalah pekerjaan yang menjanjikan selama mereka tahu cara melakukannya, yakni mengikuti sarannya.

Gregorius Afioma, direktur Sunspirit for Justice and Peace, mengakui bahwa meyakinkan orang muda untuk bekerja di ladang itu tidak mudah karena banyak lahan sudah tidak subur lagi akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan sejak 1980-an.

Ia juga mengkritik pemerintah karena melupakan petani dalam proyek pengembangan wisata yang masif.

“Apa yang dilakukan Leribun menggarisbawahi pengabaian pemerintah,” katanya.

Buah Keberhasilan

Bone Juang, 52, mengatakan bahwa ia bisa memperoleh penghasilan tetap dari beternak sejak mulai bekerja bersama Leribun pada tahun 2012.

Dengan beternak, ia mampu mengirim anak tertuanya ke perguruan tinggi. Anaknya ini, seorang perempuan, sudah lulus tahun lalu. Sementara dua anaknya yang lain masih kuliah.

“Saya beruntung bertemu Leribun,” katanya. “Pikiran saya sangat terbuka tentang bagaimana memanfaatkan peluang untuk mendapatkan uang.”

Keberuntungan serupa dialami oleh Liborius Trisnyoman Bisaend. Ia sempat menganggur. Namun sekarang ia bisa menghasilkan sekitar Rp 900.000 per bulan dari hasil menjual ayam.

“Saya yakin usaha ini menganyam masa depan saya yang lebih cerah,” kata pria berusia 29 tahun itu.

Saat ini, Leribun terlibat dalam berbagai program pelatihan untuk petani di sejumlah desa. Ia ingin menggandeng semakin banyak orang muda.

“Jalan masih panjang, tapi tidak ada sesuatu yang mustahil,” katanya.

 

Kepolisian Filipina Luncurkan Kembali Perang Melawan Narkoba 

UCANews - Sel, 16/01/2018 - 15:17

Sejumlah tokoh Gereja di Filipina mengingatkan akan “pembunuhan yang semakin banyak terjadi” setelah kepolisian nasional mengumumkan peluncuran kembali perang melawan narkoba.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) mengatakan kampanye anti-obat terlarang yang dilakukan oleh Presiden Rodrigo Duterte menewaskan sedikitnya 13.000 orang sejak diluncurkan 2016 lalu.

Kepala Kepolisian Nasional Ronald de la Rosa berjanji akan melakukan operasi “tanpa pertumpahan darah,” dan polisi akan menjunjung “semangat sejati” dari “tokhang” atau kampanye anti-narkoba yang dilakukan polisi.

“Tokhang” merupakan gabungan dari dua kata Visayan – “toktok” (ketuk) dan “hangyo” (minta) – dan berarti kampanye dari pintu-ke-pintu yang dilakukan polisi guna meminta para pengguna narkoba agar menyerahkan diri untuk rehabilitasi.

“Semangat ‘tokhang’ jika diterapkan dengan baik tidak akan menimbulkan pertumpahan darah,” kata Ronald. “Makanya disebut ketuk dan minta.”

Meskipun demikian, Uskup Kalookan Mgr Virgilio David ragu jika aparat mampu menyingkirkan stigma pembunuhan yang terjadi saat kampanye tahun lalu.

“Mereka hampir saja menghapus darah dari kasus-kasus pembunuhan yang tidak terselesaikan,” katanya.

Dalam “laporan akhir” yang dikeluarkan bulan lalu, pemerintah mencatat 3.967 “individu yang terlibat narkoba” yang tewas selama operasi anti-narkoba. Sementara itu, sebanyak 16.355 kasus pembunuhan dilaporkan masih dalam penyelidikan.

“Berapa banyak ‘kematian dalam penyelidikan’ yang dilakukan oleh orang-orang bertopeng yang sudah diselesaikan? Mengapa para pembunuh tidak pernah ditahan, dikejar atau ditangkap?” tanya Uskup Virgilio.

Ia mengatakan kepada ucanews.com bahwa pembunuhan tidak pernah berhenti bahkan setelah polisi mengumumkan penundaan kampanye anti-narkoba pada Oktober tahun lalu.

Menurut prelatus itu, sedikitnya 19 orang tewas sejak 13 Okotober hingga 13 Januari di dekat kediamannya di Caloocan. Di sini pembunuhan terkait narkoba seringkali terjadi.

“Apa lagi yang kita harapkan (dari peluncuran kembali kampanye itu)? Dugaan Anda sebaik dugaan saya,” lanjutnya.

Suster Mary John Mananzan, seorang biarawati Benediktin yang aktif mengkritik kebijakan pemerintah terkait perang melawan narkoba, juga mengatakan pembunuhan tidak berhenti.

“Peluncuran kembali (kampanye itu) hanya meningkatkan perang melawan narkoba, dan kita akan melihat semakin banyak kematian,” katanya. “Tentu saja orang miskin akan terus menjadi korban.”

Nardy Sabino, sekjen Promosi Respon Umat Gereja, mengatakan peluncuran kembali kampanye anti-narkoba hanya akan “memperkuat budaya impunitas” di negara itu.

“Tidak ada penyesalan dalam kepemimpinan kepolisian nasional terkait begitu banyak kasus penyalahgunaan dan pembunuhan,” katanya.

“Polisi harus fokus pada rantai suplai. Mereka hendaknya menangkap pengedar narkoba yang besar dan bukan membunuh orang miskin yang adalah korban dari industri raksasa ini,” lanjutnya.

 

Netizens Beradaptasi Dengan Penyensoran Media Sosial di Vietnam

UCANews - Sel, 16/01/2018 - 14:16

Pastor Anthony Le Ngoc Thanh setiap hari memposting tulisannya tentang isu-isu sensitif politik seperti korupsi dan kerusakan  lingkungan.

Demi tujuan  yang baik, pastor Katolik tersebut juga menggunakan akun Facebook-nya untuk meminta kebebasan beragama dan hak politik.

Dia telah memiliki 14.000 pengikut hanya dalam setahun setelah sebelumnya akun Facebooknya diserang oleh hacker.

Pastor Thanh mengatakan bahwa dia mencoba memenuhi permintaan publik akan sumber informasi selain yang dikeluarkan oleh media pemerintah.

Vietnam melarang surat kabar swasta, sehingga media sosial telah menjadi cara efektif bagi masyarakat untuk berbagi informasi dan mengungkapkan pendapat mereka, katanya.

Internet merupakan “anugerah” yang Tuhan tawarkan kepada orang-orang yang hidup di bawah rezim otoriter seperti di Vietnam, kata Pastor Thanh.

Pada akhir Desember, terungkap bahwa pemerintah Vietnam telah mengerahkan lebih dari 10.000 orang yang disebut pasukan siber untuk melawan “pandangan yang salah” di Internet.

Letnan Jenderal Nguyen Trong Nghia, seorang pejabat militer senior yang bertanggung jawab atas urusan politik, menuduh pasukan musuh menggunakan internet untuk mencoba merongrong pemerintah komunis di negara tersebut.

“Dalam setiap jam, menit, dan detik, kita harus siap bertempur secara proaktif melawan pandangan yang salah,” katanya.

Lebih dari 60 persen dari 94 juta orang Vietnam menggunakan Internet, menurut Nghia.

Pastor John Nguyen Ngoc Nam Phong, seorang Facebooker populer yang berbasis di ibukota Hanoi, mengatakan bahwa badan siber  pemerintah yang disebut Force 47 tidak bertindak sendiri.

Sebuah pasukan pembentuk opini online lainnya,  termasuk siswa, guru dan mantan tentara,  beroperasi di bawah Departemen Propaganda Pusat Komunis.

Pastor Phong mengatakan bahwa tujuan utama kedua pasukan tersebut adalah mempertahankan pemerintahan otoriter.

Mereka menyebarkan laporan media yang dijalankan negara dan juga mengancam pembangkang dan menyebarkan berita palsu atau menyimpang.

Membobol situs populer yang dijalankan oleh aktivis adalah taktik lain.

Pastor Phong, yang memiliki 31.000 pengikut di Facebook, mengatakan bahwa dia telah diancam untuk dibunuh dan tahun lalu dilarang bepergian ke luar negeri.

Vietnam telah meningkatkan upaya menyensor Internet, menyerukan pengawasan lebih ketat terhadap media sosial dan menghapus konten-konten yang dianggap menyinggung.

Tahun lalu Facebook, atas perintah Vietnam, menghapus 159 akun yang dianggap merusak reputasi pemimpin atau mempromosikan pandangan anti-Komunis.

YouTube memblokir 4.500 video atau 90 persen atas permintaan pemerintah.

Majelis Nasional memperdebatkan sebuah undang-undang keamanan siber yang mengharuskan perusahaan teknologi asing menyimpan data tertentu di server di negara tersebut.

Namun, Pastor Thanh mengatakan bahwa pasukan siber pemerintah tidak dapat mencegah puluhan juta pengguna Internet mengakses sumber berita non-pemerintah.

Imam tersebut mengatakan bahwa netizen dengan mudah mengenali komentar membosankan dan dogmatis yang disebarluaskan secara online oleh para pendukung pemerintah.

Pastor Thanh mengatakan akan lebih baik jika semakin banyak orang dipekerjakan sebagai pejuang siber pemerintah karena mereka harus membaca pandangan yang berlawanan untuk merespons.

Secara bertahap mereka secara pribadi akan terpengaruh untuk menjadi lebih baik oleh pemaparan tersebut.

“Saya hanya memblokir komentar yang menyinggung agama, tapi menerima komentar yang mengompori atau mengancam saya karena saya ingin mereka membaca tulisan saya,” katanya.

Imam tersebut mengatakan bahwa jumlah orang yang percaya pernyataan dari para pemimpin negara telah turun drastis selama beberapa tahun terakhir karena dampak media sosial.

“Adalah penting bahwa Gereja mengajarkan orang bagaimana menggunakan Internet dengan sehat dan benar memilih, menganalisis, memberi komentar dan menilai berata berdasarkan ajaran Gereja,” kata Pastor Thanh.

Banyak netizen menyadari bahwa mereka memiliki hak hukum untuk secara terbuka mengungkapkan pendapat di media sosial, tambahnya.

 

Masyarakat Kawanua Katolik Resmi Dibentuk - Tribunnews

Google News - Sel, 16/01/2018 - 13:21

Tribunnews

Masyarakat Kawanua Katolik Resmi Dibentuk
Tribunnews
Ketua Kawanua Katolik yang baru ini mengajak seluruh Warga Kawanua Katolik (KK) untuk terus bekerja sama memajukan organisasi KK, dan mendorong kerja sama dengan semua kelompok Kawanua, juga dengan kelompok etnis-etnis yang ada di Jabodetabek yang ...

and more »

Paus Fransiskus Menjawab Chile

Mirifica.net - Sel, 16/01/2018 - 12:37

SEMINGGU sebelum Paus Fransiskus melakukan lawatannya ke dua negara di Amerika Latin, Chile dan Peru, tiga gereja Katolik di Santiago diserang bom beruntun. Sementara itu, di satu gereja lain pelaku meninggalkan grafiti dengan pesan akan meledakan bom langsung dari dalam jubah Paus.

Tidak jelas apa sesungguhnya motif pelaku.  Apalagi, seperti diungkapkan oleh Presiden Chile, Michelle Bachelet, serangan itu aneh karena pelakunya sulit diidentifikasi keterkaitannya dengan kelompok masyarakat tertentu di Chile. Namun, dari peristiwa serangan bom dan sejumlah grafiti yang ditinggalkan di gereja kita bisa melihat bahwa hubungan Gereja Katolik Chile dengan kelompok masyarakat tertentu di sana masih meninggalkan sejumlah persoalan.

Saya mencatat paling tidak ada 3 persoalan utama yang sedang dihadapi oleh Gereja Katolik di Chile. Pertama, bangkitnya kesadaran masyarakat asli (indiginous people) akan indentitas lokal mereka. Hal ini terungkap dari berbagai pesan yang disebarkan, di mana mereka menghendaki otonomi seluas-luasnya dari pengaruh serta hegemoni Gereja Katolik di Chile. Tentang hal ini, media online Katolik yang berbasis di Inggris, catholicherald.co.uk, menulis, “We will never submit to the dominion you want to exercise over our bodies, our ideas and actions, because we were born free to chose the path we want to take. Against every monk and nun and against every preacher. Bodies free, impure and wild.”

BACA JUGA: three-churches-bombed-ahead-of-papal-visit-to-chile

Seperti masyarakat di belahan dunia lainnya, saat ini Chile juga sedang bergumul dengan persoalan pengungsi dan imigran. Pergumulan ini tentu tidak lepas dari sejarah panjang Chile yang ditandai dengan pergolakan antara rezim sosialis dan kaum kapitalis lokal yang bersekutu dengan Amerika Serikat. Pernah terjadi di Chile, sebuah rezim Sosialis tumbang melalui kudeta berdarah. Presiden Salvador Allende yang juga didukung oleh Partai Kristen Demokrat (terpilih melalui Pemilu demokratis) tewas dengan patriotik, oleh pemberontakan militer, kaum kapitalis lokal, dan sekutu Amerika Serikat.

Tetapi kematiannya berbekas panjang hingga sekarang.  Demi sebuah tema tunggal: cita-cita sosialis melalui jalan demokratis. Kudeta Chile kini menjadi causa celebrare, sebuah contoh yang selalu disebut ketika orang membincangkan cara-cara menuju negara sosialis tanpa melalui revolusi model Marx-Lenin. Inilah persoalan kedua, yakni pertentangan ideologis dalam masyarakat Chile hingga menimbulkan pengungsi dan imigran. Karena pertentangan ideologi ini, banyak tokoh dan warga Chile telah menjadi tahanan politik. Tokoh politik dan warga lainnya berupaya menyelamatkan diri dengan mencari suaka di negara lain.

Persoalan ketiga adalah penyimpangan seksual yang dilakukan oleh kaum klerus (clerical sexual abuse) di Chile. Hingga menjelang kedatangan Paus di Chile, sejumlah orang bahkan melakukan protes. Mereka menuntut agar Paus dapat menyelesaikan kasus-kasus penyimpangan seksual oleh kaum klerus yang telah mencoreng wajah Gereja Katolik.

Jawaban Paus

Sesuai dengan misi perjalanan apostoliknya, kehadiran Paus Fransiskus di Chile sudah pasti membawa serta pesan “harapan dan kasih”. Hari ini, Selasa (16/1), setelah bertemu dengan Presiden Bachelet,  Paus dijadwalkan akan memimpin misa di O’Higgins Park. Selesai misa Paus akan berkunjung ke penjara wanita di Santiago. Kunjungan ini bisa diartikan sebagai sebuah tindaklanjut dari pesan “harapan dan kasih” yang dibawa Paus sekaligus menjadi jawaban atas kegelisahan masyarakat Chile. Paus Fransiskus pergi dan bertemu langsung dengan para tahanan. Kehadirannya tidak lain adalah untuk meneguhkan para tahanan, membebaskan rasa yang dibelenggu oleh tembok-tembok penjara.

Kemudian setelah berkunjung ke penjara, sore nanti Paus akan bertemu secara khusus dengan para imam, biarawan dan biarawati, para seminaris dan para novis di Katedral Santiago. Di Katedral ini, Paus akan berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Apakah Paus juga akan menyinggung soal kasus penyimpangan seksual oleh kaum klerus di lingkungan Gereja Katolik Chile? Hal ini menarik ditunggu, mengingat dalam beberapa kasus yang terjadi di negara lainnya Paus Fransiskus memiliki perhatian yang luar biasa. Ia bahkan pernah mengatakan akan memberikan toleransi nol bagi siapapun di lingkungan Gereja Katolik, tak terkecuali para uskup dan menyebut para imam yang melakukan penyimpangan seksual sebagai “satanic mass“. Poinnya adalah Paus ingin memulihkan kembali wajah Gereja yang sempat tercoreng karena perilaku penyimpangan seksual oleh segelintir klerus. Dan, Gereja Katolik Indonesia dapat mengambil hikmah dari perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Chile dan Peru.

 

 

 

 

 

 

 

Sehati dan Sejiwa Bangun Budaya Bebas Korupsi di Keuskupan Malang

Sesawi.Net - Sel, 16/01/2018 - 12:23
PERILAKU koruptif telah begitu merusak, menggerogoti kehidupan masyarakat terjadi di mana-mana baik di dunia bisnis, pemerintahan, lembaga negara, maupun di institusi agama, termasuk Gereja. Korupsi dalam segala bentuknya telah menjadi kejahatan yang sistemik, dinamis, dan meluas dari pusat sampai ke daerah. Demikian yang disampaikan Romo Agis O.Carm,  Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Keuskupan […]

Kapitel Umum Terakhir Kongregasi Bruder MTB di Belanda Putuskan Generalat MTB Pindah ke Pontianak

Sesawi.Net - Sel, 16/01/2018 - 11:55
SEPANJANG tahun 2017 kemarin, telah terjadi serentetan peristiwa penting yang membawa  suatu perubahan besar bagi Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (MTB). Sungguh istimewa bahwa sepanjang tahun 2017 lalu itu, Kongregasi Bruder MTB  telah mengukir dua peristiwa luar biasa penting yang patut menjadi ingatan kita. Kedua peristiwa penting itu adalah sebagai berikut: Tanggal 25 Juni-2 Juli […]

Mgr. Domi: Isu Migran dan Perantau Harus Dilihat Menyeluruh

Sesawi.Net - Sel, 16/01/2018 - 10:50
ISU migran dan perantau harus dilihat secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Ini karena persoalan tersebut sangat kompleks terkait dengan mental hidup pribadi dan budaya masyarakat, ekonomi, pendidikan dan banyak aspek hidup lain. Demikian diungkapkan Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, Migran dan Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Dominikus Saku dalam lokakarya yang diselenggarakan Komisi […]

Keuskupan Regio Nusra Kembangkan Pastoral Buruh Migran yang Terintegrasi

Mirifica.net - Sel, 16/01/2018 - 09:54

MASALAH-masalah akibat perantauan membutuhkan pendekatan yang terpadu dan terintegrasi. Selain kerja sama antara keuskupan-keuskupan asal, transit, dan tujuan para migran, penanganan masalah-masalah itu perlu melibatkan banyak komisi dalam perangkat pastoral keuskupan dan paroki.

Demikian fokus pembicaraan lokakarya yang diselenggarakan Komisi Keadilan, Perdamaian, Migran dan Perantau (KKPMP) keuskupan wilayah regio Nusa Tenggara di Labuan Bajo, Florese, NTT, 15 – 19 Januari 2018.

Rm. Marten Jenarut Pr. yang menjadi ketua panitia menyatakan, pertemuan ini melanjutkan sejumlah gagasan pastoral migran yang dibahas pada pertemuan di Mataloko yang melibatkan keuskupan-keuskupan di Flores sebagai tempat asal, Keuskupan Tanjung Selor sebagai keuskupan transit, dan tiga keuskupan yang menjadi tujuan para migran.

“Pertemuan pada Oktober 2017 itu mendesak supaya ditemukan pola pendekatan pastoral yang lebih serius dan tepat sasar terhadap isu migrasi. Karena itu, lokakarya ini mengundang perangkat-perangkat pastoral keuskupan dan para pegiat atau aktivis yang terkait dengan isu migran dan perantau,” kata Rm. Marten dalam arahan pembuka lokakarya, Senin (15/01/2018).

Diharapkan, lanjut Rm. Marten, pertemuan empat hari ini dapat menghasilkan program kerja yang bisa dijadikan sebagai gerakan bersama dalam menangani isu migrasi di keuskupan-keuskupan Regio Nusa Tenggara, yaitu program kerja terpadu, terintegrasi, dengan melibatkan banyak komisi. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk pembentukan migrant desk di setiap keuskupan yang berfungsi sebagai penghubung antara keuskupan tujuan, transit, dan asal dari para migran.

Lokakarya dihadiri 70 utusan dari keuskupan-keuskupan Regio Nusa Tenggara, yaitu Keuskupan Agung Kupang dan Ende, Keuskupan Denpasar, Weetebula, Atambua, Larantuka, Maumere, dan Keuskupan Ruteng.

Setiap keuskupan terdiri atas Direktur Pusat Pastoral atau Sekretariat Pastoral, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), Komisi atau Sekretariat Gender, Komisi Keadilan dan Perdamaian – Migran Perantau (KKPMP), Lembaga Caritas, Pusat Pastoral, dan aktivis pemerhati isu migrasi.

Turut hadir dalam lokakarya ini Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, Migran dan Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Dominikus Saku, Ketua Komisi PSE KWI Mgr. Yohanes Philipus “Gaiyabi” Saklil, dan Ketua Sekretariat Gender KWI Mgr. Nikolaus Adi Seputra, MSC.

Harus Kerja sama

Mgr. Dominikus Saku mengajak para peserta untuk melihat isu migran dan perantau secara menyeluruh, dari hilir sampai ke hulu. Persoalan ini sangat kompleks karena berkaitan dengan mental hidup pribadi dan budaya masyarakat, ekonomi, pendidikan, dan banyak aspek hidup lainnya. Untuk itu perangkat-perangkat pastoral yang ada di tingkat paroki, keuskupan dan lintas keuskupan perlu bekerja sama.

Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, Migran dan Perantau Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Dominikus Saku

“Mau tidak mau harus bekerja sama. Selain mendukung kesepakatan tripartit keuskupan asal, transit dan tujuan, kita di keuskupan-keuskupan asal perlu melakukan gerakan bersama memberdayakan kehidupan dengan melibatkan semua komisi terkait dengan pembentukan diri manusia. Dan ini mulai sekarang,”kata Mgr. Domi saat memaparkan arah gerakan pendampingan pastoral buruh migran, Selasa (16/01/2018).

Sejalan dengan itu, komisi-komisi atau perangkat pastoral perlu melakukan pertobatan untuk tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Sikap ego-sektoral dan ego-komisi perlu dihindari karena itu tidak lagi dapat menyelesaikan masalah secara signifikan.

“Pertama, komisi-komisi tidak boleh tidur nyenyak karena ini masalah mendesak. Yang kedua, tidak diperkenankan lagi untuk kerja sendiri-sendiri,” tegas Uskup Atambua itu.

Paus Fransiskus: Ketakutan adalah dosa ketika menolak migran

UCANews - Sel, 16/01/2018 - 09:51

Takut dan khawatir dengan dampak migrasi bukanlah dosa, kata Paus Fransiskus, namun adalah dosa ketika membiarkan ketakutan tersebut menyebabkan penolakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

“Dosa adalah membiarkan ketakutan ini menentukan tanggapan kita, membatasi pilihan kita, untuk berkompromi dengan rasa hormat dan kemurahan hati, untuk memberi permusuhan dan penolakan,” kata Sri Paus pada 14 Januari, saat homili  dalam Misa memperingati Hari Migran dan Pengungsi Sedunia.

Sementara rasa takut adalah reaksi alami manusia, demikian  Bapa Suci.  “Dosa adalah menolak bertemu dengan orang  lain, yang berbeda, yang bertetangga, padahal ini adalah kesempatan istimewa untuk bertemu dengan Tuhan.”

Ribuan migran dan pengungsi sekarang tinggal di Roma, dan berasal dari lebih dari 60 negara, bergabung dengan Paus Fransiskus dan  kardinal, uskup dan imam untuk Misa di Basilika Santo Petrus.

Sementara peduli terhadap migran dan pengungsi menjadi prioritas Paus Fransiskus,  Hari Dunia untuk Migran dan Pengungsi menjadi perayaan tahunan Gereja Katolik selama lebih dari 100 tahun. St. Pius X memulai perayaan itu  tahun 1914.

Setelah doa  Angelus di Lapangan Santo Petrus usai Misa, Paus Fransiskus mengumumkan bahwa “demi  alasan pastoral”, tanggal perayaan tahunan dipindahkan ke hari Minggu kedua  September. Hari Migran dan Pengungsi Sedunia berikutnya,  akan berlangsung pada 8 September 2019.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, diperkirakan 258 juta orang tinggal di luar negara kelahiran mereka. Jumlah tersebut mencakup 26 juta pengungsi dan pencari suaka, yang terpaksa melarikan diri dari tanah air mereka karena perang atau penganiayaan.

Bagi orang-orang di negara tuan rumah, kata Sri Paus, ini berarti menyambut pendatang baru, membuka dirt “tanpa mengurangi keanekaragaman mereka,” dan mengenali potensi mereka.

 

Brevir Pagi, Selasa: 16 Januari 2018- Pekan Biasa II – O Pekan II Hari Biasa

Mirifica.net - Sel, 16/01/2018 - 04:00

PEMBUKAAN
P: Ya Tuhan, sudilah membuka hatiku.
U: Supaya mulutku mewartakan pujianMu.

Pembukaan: Ant. Marilah kita menyembah Allah, Tuhan yang mahamulia.

MAZMUR 94 (95)

Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan,
bersorak-sorai bagi penyelamat kita.
Menghadap wajahNya dengan lagu syukur,
menghormatiNya dengan pujian.

Tuhanlah Allah yang agung,
merajai segala dewa.
Dasar bumi terletak di tanganNya,
puncak gunungpun milikNya.
MilikNyalah laut, Dia membuatnya,
daratanpun buatan tanganNya.

Mari bersujud dan menyembah,
berlutut di hadapan Tuhan, pencipta kita.
Dialah Allah kita, kita umatNya,
Dialah gembala kita, kita kawananNya.

Hari ini dengarkanlah suaraNya:
“Jangan bertegar hati seperti di Meriba,
seperti di Masa, di padang gurun;
ketika leluhurmu mencobai Aku,
walau menyaksikan karya Ku yang agung.

Empat puluh tahun Aku muak akan mereka itu;
maka Aku berkata: Umat ini tersesat hatinya,
mereka tidak mengerti maksud bimbinganKu.
Sebab itu Aku bersumpah dalam murkaKu:
Mereka takkan beristirahat bersama Aku”.

Kemuliaan kepada Bapa…
Seperti pada…

Ant. Marilah kita menyembah Allah, Tuhan yang mahamulia.

Madah

Gelap berkurang, malam hampir hilang
Fajar gemilang menyebarkan terang.
Marilah kita memanjatkan doa
Kepada Bapa.

Semoga Bapa berbelaskasihan
Membimbing kita dalam pengabdian
Dan merestui karya darma bakti
Sepanjang hari.

Ya Bapa kami, sudilah kabulkan
Harapan hati yang kami ungkapkan
Secara tulus demi Yesus Kristus
Dalam Roh Kudus. Amin.

Ant.1: Kirimkanlah cahaya dan kebenaranMu, ya Tuhan.

Mazmur 42 (43)

Berikanlah keputusan yang adil kepadaku, ya Allah,+
dan belalah hakku terhadap orang jahat,*
luputkanlah aku dari orang yang curang dan penipu.

Engkaulah Allah pelindungku, mengapa aku Kaubuang?*
Mengapa aku sedih, tersesak oleh musuh?

Kirimkanlah cahaya dan kebenaranMu untuk menuntun aku,*
dan mengantar aku ke gunungMu yang kudus, ke tempat kediamanMu.

Maka aku akan menuju ke mesbah Allah,+
menghadap Allah, sukacita dan kegembiraanku,*
dan bersyukur kepadaMu dengan kecapi, ya Allah, Allahku!

Mengapa engkau tertekan dan gelisah, wahai jiwaku?+
Berharaplah kepada Allah, aku akan bersyukur lagi,*
kepada Allah, penolongku.

Ant.1: Kirimkanlah cahaya dan kebenaranMu, ya Tuhan.

Ant.2: Ya Tuhan, sudilah menyelamatkan kami sepanjang hidup kami.

Yes 38,10-14.17-20

Aku berkata: Di puncak kehidupanku,+
aku menuju pintu alam maut,*
ke sana aku dipanggil untuk selanjutnya.

Aku berkata: Aku tidak akan memandang Tuhan lagi,+
di dunia orang yang hidup,*
tidak lagi akan kujumpai orang antara penduduk bumi.

Pondokku akan dibongkar,*
dicabut bagaikan kemah gembala.

Bagaikan tukang tenun Engkau menggulung hidupku,*
memotong benang hidupku dari pakan.

Siang malam aku Kaubiarkan,+
hingga pagi aku mengaduh,*
seperti singa Engkau meremuk tulangku.

Seperti burung layang-layang aku mencecit kegelisahan,*
berdekut laksana burung merpati.

Pudarlah mataku karena menengadah,*
aku tertindas, ya Tuhan, tolonglah aku.

Namun, jiwaku telah Kauhindarkan dari liang kubur,*
dan segala dosaku Kaubuang jauh.

Alam maut tidak memuji Engkau,+
orang mati tidak memuliakan Dikau,*
yang turun ke dalam kubur tidak mengharapkan kesetiaanMu.

Hanya yang hidup memuji Engkau, seperti aku sekarang ini,*
semoga kesetiaanMu diwartakan turun-temurun.

Ya Tuhan, sudilah menyelamatkan daku,+
maka kami akan membunyikan kecapi,*
di rumah Tuhan, sepanjang hidup kami.

Ant.2: Ya Tuhan, sudilah menyelamatkan kami sepanjang hidup kami.

Ant.3: Ya Allah, Engkau pantas dipuji di Sion.

Mazmur 64 (65)

Ya Allah, Engkau pantas dipuji di Sion,*
dan kepadaMulah nadar dipenuhi.

Engkau biasa mendengarkan doa,+
semua makhluk yang lemah datang kepadaMu,*
karena merasa bersalah.

Walaupun dosa melebihi kekuatan kami,*
namun Engkau mengampuninya.

Berbahagialah orang yang Kaupilih dan Kauundang,*
untuk diam di pelataranMu.

Semoga kami turut menikmati kebaikan rumahMu,*
di dalam baitMu yang suci.

Secara mengagumkan Kaukabulkan doa kami,*
ya Allah yang adil, penyelamat kami.

Engkaulah kepercayaan seluruh bumi,*
sampai ke batas-batas samudera.

Engkau membuat gunung yang kokoh kuat,*
pinggangMu berikatkan keperkasaan.

Engkau meredakan deru lautan,*
meredakan gemuruh gelombangnya.

Para penghuni seluruh bumi,*
takut akan kuasaMu yang dahsyat.

Dari timur sampai ke barat,*
Kaupenuhi dunia dengan sorak-sorai.

Tanah kami Kaukunjungi dengan kelimpahanMu,*
Kaubuat kaya dan subur.

Mega langit penuh air,*
yang Kausediakan untuk kesuburan tanah.

Begini Engkau mengerjakannya,+
Engkau menggenangi alur bajak dan membasahi gumpalan tanah,*
menggemburkan tanah dengan hujan dan memberkati tumbuhnya tanam-tanaman.

Dengan demikian seluruh tahun Kaumahkotai dengan kebaikanMu,*
jejakMu membawa kesuburan.

Bahkan padang gurunpun menjadi subur,*
dan bukit-bukit menghijau permai.

Padang rumput berdandanan kambing domba,+
lembah-lembah berselimutkan panenan,*
semuanya bersorak-sorai dan menyanyikan pujian.

Ant.3: Ya Allah, Engkau pantas dipuji di Sion.

Bacaan Singkat (1Tes 5,4-5)

Saudara-saudara, kamu tidak hidup dalam kegelapan, sehingga hari Tuhan tiba-tiba dapat mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.

Lagu Singkat

P: Perhatikanlah suaraku, ya Tuhan,* Aku berharap pada sabdaMu. U. Perhatikanlah. P: Aku bangun pagi-pagi dan berseru. U: Aku berharap pada sabdaMu. P: Kemuliaan. U: Perhatikanlah.

Ant.Kidung: Selamatkanlah kami dari tangan semua lawan yang membenci kami, ya Tuhan.

KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*
sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umatNya.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa,*
putera Daud, hambaNya.

Seperti dijanjikanNya dari sediakala,*
dengan perantaraan para nabiNya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,*
dan dari tangan semua lawan yang membenci kita.

Untuk menunjukkan rahmatNya kepada leluhur kita,*
dan mengindahkan perjanjianNya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,*
akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepadaNya tanpa takut,*
dan berlaku kudus dan jujur di hadapanNya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang mahatinggi,*
sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalanNya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umatNya,*
berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan,*
Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,*
dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Ant.Kidung: Selamatkanlah kami dari tangan semua lawan yang membenci kami, ya Tuhan.

Doa Permohonan

Penyelamat kita telah menerangi dunia dengan kebangkitanNya. Marilah kita memuji Dia dan dengan rendah hati berkata:
U: Bimbinglah kami pada jalanMu, ya Tuhan.
P: KebangkitanMu, ya Tuhan Yesus, kami kenangkan dalam doa pagi ini,* semoga harapan akan kemuliaanMu menerangi kami sepanjang hari.
P: Terimalah, ya Tuhan, keinginan dan rencana kami,* dan berkatilah segala usaha kami pada hari ini.
P: Semoga kami hari ini maju dalam cinta kasihMu,* agar segala hal-ihkwal berguna bagi kami dan bagi semua orang.
P: Ya Tuhan, semoga terang kami bercahaya di depan orang,* sehingga mereka melihat perbuatan kami yang baik dan memuliakan Bapa di surga.

Bapa Kami

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah cahaya sejati yang menyinari semua orang untuk menyelamatkan mereka. Kuatkanlah kami agar dapat menyiapkan bagiMu jalan perdamaian dan keadilan. Sebab Engkaulah pengantara kami, yang hidup…

PENUTUP
P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita kehidup yang kekal.
U: Amin.

Sumber : Ibadat Harian Komisi Liturgi KWI

Pengurus Kawanua Katolik Jabodetabek dilantik untuk “membasuh kaki” teman-temannya

Pen@ Katolik - Sel, 16/01/2018 - 03:58

Pengurus lengkap Kawanua Katolik Jabodetabek dilantik bukan untuk berkuasa, bukan untuk memerintah, bukan untuk memberikan instruksi, tetapi untuk menjadi pelayan, untuk membungkuk dan mencuci kaki teman-teman mereka, umat Katolik Kawanua yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), kata Pastor Johny Luntungan MSC.

“Jika Anda yang dilantik sore hari ini memiliki semangat untuk dilayani, coret namanya. Kalau Anda yang akan dilantik minta untuk diistimewakan, dinomorsatukan, selalu disebut namanya, delete namanya. Tetapi, kalau Anda siap memberikan apapun yang Anda miliki bahkan nyawa Anda untuk kemuliaan nama Tuhan dan untuk nama baik Kawanua Katolik Jabodetabek, Anda adalah pengurus yang belum kerja tetapi sudah membuat sesuatu yang istimewa,” lanjut imam itu.

Provinsial MSC Indonesia Pastor Johny Luntungan MSC berbicara dalam homili Misa Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 Kawanua Katolik Jabodetabek yang dirayakan di Graha Zeni Angkatan Darat, Jakarta, 14 Januari 2018. Tema Misa itu menggunakan motto organisasi itu Nos Unum Sumus (kita adalah satu) yang bersinergi dengan semboyan Sulawesi Utara “Torang Samua Basudara.” Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Angelica Tengker serta beberapa tokoh masyarakat Kawanua lainnya di Jabodetabek juga hadir.

Di depan sekitar 800 umat yang hadir, imam yang diangkat sebagai moderator dari pengurus sebesar 75 orang itu mengingatkan mereka yang hendak dia lantik agar bertanya, “kalau saya mendapat trust (kepercayaan) dari teman-teman Kawanua Katolik, siapkah saya jalankan kepercayaan itu dengan berani melepaskan kepentingan pribadi dan keuntungan diri sendiri dan selalu memprioritaskan ad maiorem dei gloriam (untuk kemuliaan Allah), dan untuk mengedepankan kepentingan orang lain?”

Seusai homili, nama-nama pengurus dibaca dan semuanya datang ke depan altar. Pastor Luntungan lalu berdoa dan memberkati serta memerciki mereka dengan air kudus. Di depan bendera Merah Putih dan Bendera Kawanua Katolik yang juga berdiri di depan altar, para pengurus mengungkapkan janji mereka.

Organisasi kemasyarakatan itu resmi diproklamirkan pada Perayaan Syukur Tahbisan Uskup Manado Mgr Rolly Untu MSC di Aula Sekolah Tarsisius Kemakmuran, 26 Agustus 2017, dan dihadiri Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta. Dewan Presidium 2018-2023 dipimpin oleh Stefanus Rengkuan sebagai ketua dan Welly Boseke, John Puah serta Stella Mamahit masing-masing sebagai wakil ketua, serta J Maxi Paat sebagai sekretaris jenderal, dan Sonny Liauw sebagai bendahara.

 

Organisasi itu memiliki bidang Seni, Budaya dan Pariwisata; Kesejahteraan Sosial; Pendidikan dan Kaderisasi; Liturgi; Keadilan, Perdamaian, Keutuhan Ciptaan; Ekonomi dan Pengembangan Usaha; Olahraga, Kepemudaan, dan Kreativitas; Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Kesehatan; Public Relation dan Humas; serta Multi Media dan Dokumentasi.

 

Di bagian penutup Misa, Stefanus Rengkuan mengajak seluruh warga Kawanua Katolik untuk terus bekerja sama memajukan organisasi yang baru itu, dan mendorong agar organisasi itu bekerja sama dengan semua kelompok Kawanua dan semua kelompok etnis berlabel Katolik yang ada di Jabodetabek.

 

Seusai Misa, kelompok Tari Selendang Biru, Tari Jajar Orang Muda Katolik Kawanua Katolik Jabodetabek, Kor Kerukunan Keluarga Kawanua Katolik Kalvari, Musik Kolintang, dan Tari Kabasaran menghibur para undangan sambil makan kue-kue dan makanan malam khas Manado.

 

Siaran pers, yang dikeluarkan pengurus yang baru dilantik itu, menulis bahwa kehadiran organisasi Kawanua Katolik Jabodetabek disambut oleh warga Kawanua Katolik, karena sudah lama dinantikan. “Terasa ada kerinduan hadirnya suatu wadah yang dapat menghimpun warga Kawanua Katolik untuk terus bersatu dan bersama-sama berkarya lewat berbagai potensi yang ada, termasuk dalam pelestarian nilai-nilai luhur leluhur Minahasa,” tulisnya.

 

Organisasi itu, lanjutnya, juga hadir karena merasa keragaman suku, budaya, agama, bahasa dan adat-istiadat yang ada di Indonesia merupakan suatu kekayaan yang potensial dan disyukuri untuk memperkuat kepribadian bangsa menjadi suatu bangsa yang besar. (paul c pati)

 

16 Januari St. Marcelus I

Mirifica.net - Sel, 16/01/2018 - 00:00

 

Paus yang identitas dan jejak hidupnya tersarukan cukup lama dengan St. Marcelinus, Paus yang mati sebagai martir pada 304. Dipercaya tradisi, Marcelus mati martir pada persekusi Diocletian.

Sumber dan gambar: Agasso, Domenico. 7 Januari 2002. Dalam santiebeati.it. Diakses pada 2 Januari 2017

Jadikan Kasih Sebagai Landasan Hidup

Sesawi.Net - Sen, 15/01/2018 - 23:35
ORANG Farisi sangat menjunjung tinggi hukum Sabat yang telah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Namun dengan dibuatnya sejumlah peraturan yang memberatkan banyak orang dan mengabaikan nilai kemanusiaan, maka makna hukum Sabat kian menjadi kabur. Padahal Tuhan merancang hukum tersebut untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia. Hukum dan peraturan memang dibuat agar kehidupan manusia menjadi […]

Kata Mutiara – Selasa 16 Januari 2018

Sesawi.Net - Sen, 15/01/2018 - 23:30
CINTA dan belas kasih adalah kebutuhan, bukan kemewahan. Tanpa cinta dan belas kasih, kemanusiaan tidak dapat bertahan. Dalai Lama Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator