Berita dan Event

Jumat, 17 November 2017

Pen@ Katolik - Jum, 17/11/2017 - 13:04

PEKAN BIASA XXXII (H)

Peringatan Wajib Santa Elizabeth dari Hungaria, Perawan
Santo Dionisius Agung; Santo Gregorius Thaumaturgos; Santo Gregorius dari Tours

Bacaan I: Keb. 13:1-9

Mazmur: 19:2-3.4-5; R:2a

Bacaan Injil: Luk. 17:26-37

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: “Sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Renungan

Paus Fransiskus sering mengingatkan supaya kita tidak terjebak dalam ”kesementaraan”. Pada level pertama, kesementaraan menunjuk pada gaya hidup yang berpusat pada materi dan kesenangan duniawi. Paus mengingatkan kita untuk menghindari materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan keterikatan pada uang. Pada level kedua, kesementaraan juga menunjuk pada keyakinan bahwa semua yang ada di dunia ada dalam kuasa manusia.

Hal ini yang dikritik oleh Kitab Kebijaksanaan, bahwa manusia menganggap diri sebagai allah penguasa jagat raya. Kitab Kebijaksanaan menyampaikan pesan yang sebenarnya sederhana, tetapi dalam: Barang fana hanya ciptaan yang menggambarkan sepotong gambaran kuasa Allah yang maha dahsyat. Tetapi, barang ciptaan itu memang sedemikian menggoda, sehingga tidak sedikit manusia yang berhenti terpaku di hadapan kefanaan sehingga seakan hal material menjadi nyawa mereka. Injil Lukas mengingatkan kita akan kisah istri Lot yang kehilangan nyawa karena ingin mempertahankan ”nyawanya”. Karena terikat pada dunia yang ada di belakangnya, istri Lot mengalami kebinasaan.

Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Di mana nyawa hidup kita letakkan? Kepada siapa hidup kita sandarkan? Pada gambarnya atau pelukisnya?

Allah Bapa pencipta semesta, bantulah aku dengan tuntunan Roh-Mu untuk melepaskan diri dari keterikatan akan segala yang fana dan mengarahkan diri kepada kebahagiaan sejati bersama-Mu. Amin.

Renungan Ziarah Batin 2017

 

Bukan Kudeta, Militer Bersihkan Zimbabwe dari Koruptor - CNN Indonesia

Google News - Jum, 17/11/2017 - 12:36

CNN Indonesia

Bukan Kudeta, Militer Bersihkan Zimbabwe dari Koruptor
CNN Indonesia
Bukan Kudeta, Militer Bersihkan Zimbabwe dari Koruptor Anak-anak sekolah melewati kendaraan lapis baja di perempatan di Kota Harare, Zimbabwe, Rabu (15/11). (AFP PHOTO). Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar RI di Harare, Stephanus Yuwono, ...

and more »

Brevir Siang, Jumat: 17 November 2017 PEKAN BIASA XXXII – O PEKAN IV Pw S. Elisabet dr Hungaria (P)

Mirifica.net - Jum, 17/11/2017 - 10:00

PEMBUKAAN
P: Ya, Allah, bersegeralah menolong aku.
U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin
Alleluya

MADAH

Sungguh agung cinta Tuhan
Yang tidak takut berkurban
Mautpun tak menghalangi
Kasih setya yang sejati.

Selalu siap mengabdi
Datang untuk melayani
Itulah semangat Tuhan
Yang harus kita wujudkan.

Terpujilah Allah Bapa
Bersama Putra tercinta
Yang memperoleh Roh suci
Pembaharu muka bumi. Amin.

PENDARASAN MAZMUR

Antifon
Makmurlah orang yang mencintai hukumMu, ya Tuhan.

Mazmur 118 (119),161-168

Kaum curang mengejar aku tanpa alasan,*
hatiku sungguh takut akan mereka.

Tetapi aku bergembira atas sabdaMu,*
seperti orang yang mendapat harta besar.

Aku benci dan muak terhadap dusta,*
tetapi hukumMu kucintai.

Tujuh kali sehari aku memuji Engkau,*
karena keputusanMu yang tepat.

Makmurlah orang yang mencintai hukumMu,*
tiada batu sandungan bagi mereka.

Aku mengharapkan keselamatanMu, ya Tuhan,*
aku menepati perintahMu.

Aku berpegang pada ketetapanMu,*
aku amat mencintainya.

Aku memperhatikan perintah dan ketetapanMu,*
sebab seluruh hidupku terbuka di hadapanMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon
Makmurlah orang yang mencintai hukumMu, ya Tuhan.

Antifon
Himpunan umat beriman hidup sehati dan sejiwa.

Mazmur 132 (133)

Alangkah baik dan menyenangkan,*
tinggal bersama sebagai saudara.

Bagaikan minyak wangi di atas kepala,*
yang mencucuri janggut Harun dan menetesi jubahnya.

Bagaikan embun di gunung Hermon,*
bagaikan embun yang turun di bukit Sion.

Sebab di Sionlah Tuhan menurunkan berkat,*
dan menganugerahkan kehidupan untuk selama-lamanya.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon
Himpunan umat beriman hidup sehati dan sejiwa.

Antifon
Ya Tuhan, belalah aku terhadap gangguan orang berdosa.

Mazmur 139 (140),1-9.13-14

Ya Tuhan, bebaskanlah aku dari orang jahat,*
lindungilah aku terhadap kekerasan.

Mereka merencanakan kejahatan,*
sepanjang hari mencari pertengkaran.

Seperti ular, mereka mengasah lidahnya,*
mulut mereka penuh racun ular berbisa.

Ya Tuhan, belalah aku terhadap gangguan orang berdosa,*
lindungilah aku terhadap kekerasan.

Mereka bermaksud menjatuhkan daku,*
dengan memasang jerat.

Orang yang kurang ajar membentangkan jaring,*
dan memasang perangkap di jalanku.

Aku berkata: “Ya Tuhan, Engkaulah Allahku,*
dengarkanlah seruan doaku.

Tuhan, ya Tuhanku, Engkaulah penyelamatku,*
lindungilah kepalaku pada hari pertempuran.

Ya Tuhan, janganlah Kaupenuhi keinginan orang berdosa,*
janganlah Kaudukung tipu muslihat mereka”.

Aku tahu, bahwa Tuhan adil terhadap orang tertindas,*
dan membela hak orang miskin.

Sungguh, orang jujur akan memuji namaMu,*
orang suci akan hidup di hadapan wajahMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon
Ya Tuhan, belalah aku terhadap gangguan orang berdosa.

BACAAN SINGKAT
(Flp 4,8.9)
Saudara-saudara, segala yang benar, luhur dan adil, segala yang suci, manis dan mulia, segala yang utama dan patut dipuji, itulah yang harus kamu pikirkan. Dan apa saja yang telah kamu pelajari dari padaku, serta yang kamu terima dan dengar dari padaku, atau yang kamu saksikan padaku, itu pula yang harus kamu lakukan. Jika demikian, maka Allah, pokok segala damai, akan tetap menyertai kamu.

P: Aku hendak bermazmur bagiMu, ya Tuhan.
U: Aku hendak hidup tanpa cela.

DOA PENUTUP
Tuhan Yesus Kristus, ketika Engkau bergantung pada kayu salib demi keselamatan kami, dunia diliputi kegelapan di tengah hari. Terangilah kiranya jalan hidup kami, agar kami dapat mencapai kehidupan kekal. Sebab Engkaulah pengantara kami, sepanjang segala masa. Amin.

PENUTUP
P: Marilah memuji Tuhan.
U: Syukur kepada Allah.

Sumber : Ibadat Harian Komisi Liturgi KWI

Lentera Keluarga – Mengenal Tuhan via Ciptaan

Sesawi.Net - Jum, 17/11/2017 - 09:40
Jumat, 17 November 2017. Elisabeth dari Hungaria Bacaan: Keb 13:1-9:  Mzm 19:2-5: Luk 17:26-37 Renungan KITAB Kebijaksanaan mengajarkan kepada kita hari ini tentang bagaimana kita mengenal Allah melalui ciptaan. Kita dengan mudah mengenal keindahan alam, keteraturan alam, misteri alam, keunikan setiap ciptaan dll, maka dengan indah Kitab Kebijaksaan mengajak kita untuk “go beyond” (melihat yang […]

Orang Rimba masuk Islam demi KTP: 'Kini mereka mengenal Tuhan' kata Menteri Khofifah - BBC Indonesia

Google News - Jum, 17/11/2017 - 08:25

BBC Indonesia

Orang Rimba masuk Islam demi KTP: 'Kini mereka mengenal Tuhan' kata Menteri Khofifah
BBC Indonesia
Kami lalu memutuskan memilih Islam," jelas Yusuf. Indonesia hanya mengakui enam agama secara resmi, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, serta Konghucu. Dalam kartu tanda penduduk dan kartu keluarga, setiap warga negara harus ...

and more »

Orang Kristen Minta Perlindungan pasca Protes Mencekam

UCANews - Jum, 17/11/2017 - 05:00

Seorang uskup Katolik mencari perlindungan untuk komunitas Kristen di negara bagian Madhya Pradesh, India tengah, setelah kaum nasionalis Hindu turun ke jalan-jalan sambil membakar obor dan mengejek misionaris.

Aksi demonstransi  pada 10 November itu menuduh pemerintah kabupaten Sagar tidak bertindak berdasarkan pengaduan yang diajukan terhadap misionaris karena melanggar undang-undang yang membatasi konversi agama.

Mereka mengeluarkan ultimatum bahwa jika pemerintah gagal bertindak dalam dua minggu, mereka akan memulai serangan tak terbatas di depan panti asuhan yang dikelola Gereja Katolik di keuskupan.

Masalah di Sagar dimulai pada bulan September setelah pejabat pemerintah mengusir seorang imam Katolik yang bekerja di panti asuhan tersebut dan menutup misi berusia 20 tahun tersebut setelah terjadi perselisihan mengenai hak atas tanah tersebut.

Para pemimpin gereja mengatakan bahwa tindakan pemerintah dihasut oleh kelompok Hindu.

Pemimpin fundamentalis Dharam Jagaran Samanwaya Samiti (komite koordinasi kebangkitan agama), yang menyelenggarakan pawai tersebut, mengatakan kepada media bahwa layanan sosial gereja,  pelayanan di bidang pendidikan dan perawatan kesehatan merupakan fasad untuk mengonversi orang-orang yang mudah tertipu ke dalam agama Kristen.

Para pemrotes mengatakan bahwa mereka bekerja dengan pemerintah untuk sebuah undang-undang nasional melawan konversi agama dan untuk memeriksa kegiatan misionaris. Madhya Pradesh dan lima negara bagian India lainnya memiliki undang-undang yang membuat konversi agama melalui pemaksaan dan kekerasan ilegal.

“Kami berada di bawah tekanan yang luar biasa,” kata Uskup Anthony Chirayath dari Keuskupan Sagar yang menyerahkan sebuah memorandum kepada pejabat distrik dan menteri negara bagian dan gubernur yang mencari intervensi mereka untuk melindungi orang-orang Kristen.

Dia ingin pemerintah mengambil langkah segera untuk mengakhiri “kampanye palsu dan jahat” ini di media yang menyoroti orang-orang Kristen  seakan “keluar untuk mengubah orang-orang Hindu, melanggar hukum.”

Fakta membuktikan propaganda itu, katanya. Sagar memiliki sekitar 300.000 porang. Tapi sejak awal tahun 1986, keuskupan itu hanya memiliki 1.000 umat Katolik. “Jumlah kami belum bertambah dalam setiap tahun, tetap saja kami dituduh mengubah orang,” katanya.

Distrik ini hanya memiliki sekitar 5.000 orang Kristen di antara 2,3 juta orang, 92 persen di antaranya adalah orang Hindu. Di negara yang berpenduduk mayoritas Hindu, orang Kristen berjumlah kurang dari 1 persen dari 72 juta penduduk.

Pemimpin Kristen mengatakan bahwa negara, yang dikuasai oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) yang pro-Hindu secara diam-diam mendukung kekerasan terhadap orang-orang Kristen yang diatur oleh nasionalis Hindu yang mendorong untuk mendirikan sebuah negara Hindu di India.

Negara tersebut mencatat setidaknya 300 insiden kekerasan dalam enam bulan pertama tahun ini, menurut Shibu Thomas, founder of Persecution Relief yang mencatat penganiayaan terhadap orang-orang Kristen.

Misionaris di keuskupan mengatakan bahwa kampanye oleh aktivis garis keras Hindu membuat pekerjaan mereka semakin sulit karena penduduk desa memandang mereka sebagai pelaku dan pelanggar hukum.

Brevir Pagi, Jumat: 17 November 2017 PEKAN BIASA XXXII – O PEKAN IV Pw S. Elisabet dr Hungaria (P)

Mirifica.net - Jum, 17/11/2017 - 04:00
PEMBUKAAN
P: Ya, Allah, bersegeralah menolong aku.
U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang dan sepanjang segala abad. Amin
Alleluya.MADAH
Mari bernyanyi untuk menghormati
Wanita suci yang pantas dipuji
Hati berbakti sungguh tahan uji
Slalu mengabdi.

Tak terkalahkan oleh jerat lawan
Namun bertahan di tengah godaan
Memperjuangkan kerajaan Tuhan
Dan persatuan.

Berat tapanya tekun dalam doa
Siap sedia mengabdi sesama
Di mana-mana menyumbangkan jasa
Dengan gembira.

Dimulyakanlah Bapa mahamurah
Bersama Putra penebus dunia
Roh kudus pula penghibur Gereja
Slama-lamanya. Amin.

PENDARASAN MAZMUR

Antifon
Ciptakanlah hati murni bagiku, ya Allah, dan baharuilah semangat tabah dalam batinku.

Mazmur 50 (51)

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu,*
menurut besarnya rahmatMu, hapuskanlah kesalahanku.

Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,*
dan cucilah aku dari dosaku.

Kusadari pelanggaranku,*
dosaku selalu membayang di hadapan mataku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkaulah aku berdosa,*
yang jahat di hadapanMu kulakukan.

Jadi ternyata Engkau adil bila menghukum aku,*
dan tepatlah keputusanMu.

Sungguh aku dilahirkan dalam kesalahan,*
dan dalam dosa aku dikandung ibu.

Sungguh Engkau berkenan akan ketulusan hati,*
Engkau meresapkan kebijaksanaan ke dalam batinku.

Bersihkanlah aku, agar aku jadi murni,*
basuhlah aku agar jadi putih melebihi salju.

Sampaikanlah kabar sukacita kepadaku,*
semoga hati yang Kauremukkan bersorak gembira.

Palingkanlah wajahMu dari dosaku,*
hapuskanlah segala kesalahanku.

Ciptakanlah hati murni bagiku, ya Allah,*
baharuilah semangat tabah dalam batinku.

Janganlah Kaubuang aku dari hadapanMu,*
janganlah Kauambil rohMu yang kudus dari padaku.

Kembalikanlah kepadaku kegembiraan atas keselamatanMu,*
dan berilah aku semangat yang rela.

Maka aku akan mengajarkan sikap hatiMu kepada orang berdosa,*
supaya mereka kembali kepadaMu.

Lepaskanlah aku dari dosa pembunuhan, ya Allah penyelamatku,*
maka aku akan memashyurkan keadilanMu.

Ya Tuhan, sudilah membuka bibirku,*
supaya mulutku mewartakan pujianMu.

Engkau tak berkenan akan kurban sembelihan,*
kurban bakar yang kupersembahkan, tidak Kausukai.

Persembahan kepada Allah, ialah jiwa yang menyesal,*
hati remuk redam takkan Kautolak.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon
Ciptakanlah hati murni bagiku, ya Allah, dan baharuilah semangat tabah dalam batinku.

Antifon
Bersukacitalah, hai Yerusalem sebab dengan perantaraanmu semua orang akan dihimpun di hadapan Tuhan.

Tb 13,10-16

Pujilah Tuhan, hai para pilihanNya,*
berpestalah dengan gembira dan bersyukurlah kepadaNya.

Hai Yerusalem, kota suci,†
Allah menyiksa kamu karena perbuatanmu yang jahat,*
tetapi Ia akan mengasihani kembali orang-orang yang jujur.

Luhurkanlah Tuhan dengan selayaknya,†
bersyukurlah kepada raja yang kekal abadi,*
supaya rumahNya dibangun kembali bagimu dengan gembira.

Tuhan akan menghantar pulang semua tawananmu,*
dan engkau akan bersukacita selama-lamanya.

Engkau bermandikan cahaya gemilang, hai Yerusalem,*
dan seluruh bumi sujud hormat kepadamu.

Dari jauh bangsa-bangsa datang kepadaMu,*
membawa persembahan sebagai tanda bakti bagi Tuhanmu.

Mereka memandang tanahmu sebagai tanah suci,*
dan menyerukan nama Tuhan di tengahmu.

Hai Yerusalem, engkau akan bersukacita atas putera-puterimu,†
sebab mereka semua diberkati Tuhan,*
dan dihimpun di hadapanNya.

Berbahagialah semua yang mencintai engkau,*
yang bersukacita atas damai sejahteramu.

Pujilah Tuhan, hai hatiku, pujilah Tuhan Allah kita,*
sebab Ia membebaskan kotaNya Yerusalem dari segala penderitaannya.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon
Bersukacitalah, hai Yerusalem sebab dengan perantaraanmu semua orang akan dihimpun di hadapan Tuhan.

Antifon
Pujilah Allahmu, hai Sion, Ia mengutus sabdaNya ke bumi.

Mazmur 147 (147B)

Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem,*
pujilah Allahmu, hai Sion.

Sebab Ia menguatkan palang pintu gerbangmu,*
Ia memberkati para pendudukmu.

Sebab Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu,*
dan mengenyangkan dikau dengan gandum yang paling baik.

Ia mengutus sabdaNya ke bumi,*
dengan segera firmanNya berlari.

DiturunkanNya salju seperti bulu domba,*
dihamburkanNya embun beku bagaikan abu.

DilemparkanNya hujan es seperti kerikil,*
siapa dapat menahan dinginnya?

Ia bersabda lagi, maka es mencair kembali,*
Ia menyuruh anginNya bertiup, maka air mengalir.

Dialah yang menyampaikan firmanNya kepada Yakub,*
ketetapan dan hukumNya kepada Israel.

Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa,*
hukum-hukumNya tidak mereka kenal.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon
Pujilah Allahmu, hai Sion, Ia mengutus sabdaNya ke bumi.

BACAAN SINGKAT
(Rom 12,1-2)

Saudara-saudara, demi kerahiman Allah aku memperingatkan kamu! Persembahkanlah tubuhmu sebagai kurban yang hidup, yang suci dan berkenan pada Allah. Itulah ibadatmu yang sejati. Janganlah kamu menyesuaikan diri dengan dunia ini, melainkan berubahlah menjadi manusia berbudi baru, sehingga kamu sanggup membedakan apa yang dikehendaki Allah, apa yang baik, apa yang berkenan padaNya dan apa yang sempurna.

LAGU SINGKAT
P: Tuhan memandang dia,* Serta menolong dia.
U: Tuhan memandang dia,* Serta menolong dia.
P: Tuhan menyertai dia dan meneguhkan dia.
U: Serta menolong dia.
P: Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh kudus.
U: Tuhan memandang dia,* Serta menolong dia.

Ant.Kidung:

Inilah tandanya bagi semua orang, bahwa kamu sungguh-sungguh muridKu, yakni kalau kamu saling mencintai.

KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*
sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umatNya.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa,*
putera Daud, hambaNya.

Seperti dijanjikanNya dari sediakala,*
dengan perantaraan para nabiNya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,*
dan dari tangan semua lawan yang membenci kita.

Untuk menunjukkan rahmatNya kepada leluhur kita,*
dan mengindahkan perjanjianNya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,*
akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepadaNya tanpa takut,*
dan berlaku kudus dan jujur di hadapanNya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang mahatinggi,*
sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalanNya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umatNya,*
berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan,*
Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,*
dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Ant.Kidung:
Inilah tandanya bagi semua orang, bahwa kamu sungguh-sungguh muridKu, yakni kalau kamu saling mencintai.

DOA PERMOHONAN
Saudara-saudara, bersama dengan semua wanita kudus, marilah kita memuji penyelamat kita, sambil berseru:
U: Datanglah, ya Tuhan Yesus.
P: Yesus Tuhan kami, Engkau telah mengampuni wanita berdosa karena cinta kasihnya yang besar,* ampunilah kami, ya Tuhan, karena kamipun sangat berdosa.

P: Yesus Tuhan kami, Engkau dilayani oleh para wanita selama perjalananMu ke Yerusalem,* perkenankanlah kami juga mengikuti jejakMu.

P: Yesus Tuhan kami, Engkau didengarkan Maria ketika Marta melayani,* semoga kami mengabdi kepadaMu dalam iman dan cinta kasih.

P: Yesus Tuhan kami, semua orang yang melakukan kehendakMu Kausebut saudara, saudari dan ibuMu,* semoga kami menyenangkan Dikau dengan perkataan dan perbuatan.

BAPA KAMI
Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah namaMu.
Datanglah kerajaanMu.
Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini.
Dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin

DOA PENUTUP
Allah, bapa para yatim piatu, santa Elisabet melihat dan menghormati Kristus dalam kaum miskin. Semoga karena doanya kamipun melayani orang malang dan papa dengan cinta kasih sejati. Demi Yesus Kristus, pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin

PENUTUP
P: (+) Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U: Amin.

Sumber : Ibadat Harian Komisi Liturgi KWI

Pope Francis to lead Prayer for Peace in South Sudan and DRC

News.va - Jum, 17/11/2017 - 00:07
(Vatican Radio) Pope Francis is to preside over a Prayer for Peace in South Sudan and in the Democratic Republic of Congo on November 23rd in St. Peter’s Basilica at 5.30pm Rome time. “ Solidarity with South Sudan ” in association with the Justice and Peace office of religious organizations worldwide, has organized the Prayer and confirmed that when Pope Francis heard of the initiative he made it known that he wanted to be personally involved.  Christians across the world are invited to pray together on that day and time for Peace in the world, and above all in South Sudan and in DRC, two conflict ravaged nations in which millions of displaced people are suffering the effects of terrible humanitarian crises. Sr. Yudith Pereira Ric o, the Associate Executive Director of Solidarity in Rome, told journalists that the main thing people ask her to do when she travels to South Sudan, is to tell the world what is happening in their country. The world’s newest country spiraled into civil war in late 2013, two years after gaining independence from Sudan, causing one fourth of the 15 million-strong population to flee their homes. Sister Yudith described the continuing violence and abuse taking place in South Sudan as “Silent Genocide”. She told Linda Bordoni what it means for the suffering people of South Sudan to know that the Pope and Christians across the world are praying for them: Listen : Sister Yudith said that for them, to know that people outside of South Sudan, in Rome, and in other places are praying for them, is to know that “we have the world with us”. “For them it a source of strength and hope for the future to feel that they are not alone, and this is important because otherwise where can they find the courage to resist what they are enduring now as refugees, victims…” she said. And highlighting the many abuses the most vulnerable people are enduring including the use of rape as a weapon of war, Sr Yudith said “to know that people are talking about this means that they too, as human beings count”. “They feel they don’t count for anybody: for politicians they don’t count, they don’t exist – they are only fighting for power and for money.” She says most people don’t even know where South Sudan is or the fact that it is the newt country. To acknowledge and to pray for them, she said, is to give them dignity and saying “we are with you”. She said that notwithstanding the terrible events that caused the new nation to disintegrate into conflict the people still want to be one. She explained that they came from 20 years of war, they did not have a national identity, and while the warmongers are vying for power and control the new generations, the women and all ordinary people are convinced they can all live together peacefully. Sr Yudith also spoke of Pope Francis’ interest in the nation and of how it has positively impacted the desire to set in motion some kind of peace process. “He is waiting for them to begin something so he can come and lend his support, but they have to begin…” she said.         (from Vatican Radio)...

17 November St. Juan del Castillo

Mirifica.net - Jum, 17/11/2017 - 00:00

 

14 November 1596 – 17 November 1628

Salah satu martir Jesuit di Rio de La Plata bersama Rocco Gonzales de Sta. Cruz dan Alonso Rodriguez. Berasal dari keluarga bangsawan, ia masuk Jesuit pada usia 17 tahun di Madrid. Dua tahun setelahnya, ia berkesempatan melayani pada peristiwa “reduksi” di mana para Jesuit menyatukan kaum Indian agar terindar dari penjajahan di Paraguay dan Uruguay.

Setelah itu, Juan berangkat ke Buenos Aires untuk studi filafat dan teologi, berlanjut ke karya reduksi yang semakin luas. Ia ditangkap karena dituduh sebagai penyihir, dirajam, lalu dibakar. Juan hanya berteriak “Demi Tuhan!” ketika ia mati.

Sumber dan gambar: Borrelli, Antonio. 2 Agustus 2002. Dalam santiebeati.it. Diakses pada 12 November 2017

Parikan Rohani Bahasa Jawa Bacaan Misa Harian: 16-19 November 2017

Sesawi.Net - Kam, 16/11/2017 - 23:59
PANTUN HARI INI Beli karcis ikut antrian, Beruntunglah karcis masih ada. Tuhan kayak menerima pujian, Karena Tuhan semuanya ada. Simpan rapat dalam almari, Dibutuhkan baru diambil. Yang mempunyai akan diberi, Yang tidak punya akan diambil. Sumber bacaan Misa hari ini Wahyu 4: 1-11 Lukas 19: 11-28 Sorblimbing, Respati Kasih, 16112017 26 Sapar 1951 Dal, Wuku […]

Pope Francis makes surprise visit field hospital in St. Peter's Square

News.va - Kam, 16/11/2017 - 23:44
(Vatican Radio)  Pope Francis made a surprise visit on Thursday afternoon to a small "field hospital" set up in front of St. Peter's Square to provide medical care for Rome's poor. During the short visit, the Pope greeted volunteers and poor people waiting to receive care ahead of the first World Day of the Poor, taking place on Sunday, November 19. He was accompanied by Archbishop Rino Fisichella, President of the Pontifical Council for Promoting the New Evangelisation. The healthcare structure is an initiative connected to that Day and announced by the Pontifical Council for Promoting the New Evangelisation . Pope Francis called for the celebration of the World Day of the Poor at the end of the Jubilee Year of Mercy. (from Vatican Radio)...

Hidup Di Dunia Adalah Persiapan Menuju Hidup Kekal

Sesawi.Net - Kam, 16/11/2017 - 23:38
SABDA pada hari ini mengajak kita semua untuk meneladan sikap nabi Nuh yang taat melaksanakan kehendak Allah meski orang di sekitarnya mencemoohnya; dan tidak meniru tindakan istri Lot yang mengalamai kebinasaan karena mengabaikan perintah Allah demi hal duniawi. Hidup di dunia tidaklah abadi, setiap saat kematian akan datang menjemput dan kita tidak berkuasa untuk menolaknya. […]

Kata Mutiara – Jumat 17 November 2017

Sesawi.Net - Kam, 16/11/2017 - 23:33
HIDUP hanyalah ruang kelas dengan kesempatan mulia, untuk mempersiapkan kita menuju keabadian. Billy Graham Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Pope meets with members of Apostolic Confederation for the Clergy

News.va - Kam, 16/11/2017 - 23:20
(Vatican Radio) Pope Francis held an audience with international members of the Apostolic Confederation for the Clergy in the Vatican on Thursday. He invited participants to reflect on the ordained ministry, "in, for and with the diocesan community".  The Pope said, "One becomes an expert in spirituality of communion primarily thanks to conversion to Christ, to the docile opening to the action of the Spirit, and by welcoming one’s brothers." The following is the Pope’s address to those present: Dear priests, “Behold, how good and pleasant it is when brothers dwell in unity!” (Psalm 133,1). These verses of the psalm go well after the words of Msgr. Magrin, impassioned president of the International Confederation Apostolic Union of Clergy. It is truly a joy to meet and to feel the fraternity that arises among us, called to the service of the Gospel following the example of Christ, the Good Shepherd. To each one of you I address my cordial greeting, which I extend to the representatives of the Apostolic Union of the Laity. In this Assembly you are reflecting on the ordained ministry, “in, for and with the diocesan community”. In continuity with previous meetings, you intend to focus on the role of pastors in the particular Church; and in this rereading, the hermeneutic key is the diocesan spirituality that is the spirituality of communion in the manner of the Trinitarian communion. Msgr. Magrin underlined that word, “diocesan”: it is a key word. Indeed, the mystery of the Trinitarian communion is the high model of reference for the ecclesial community. Saint John Paul, in his Apostolic Letter Novo millennio ineunte, recalled that “the great challenge facing us in the millennium which is now beginning” is precisely this: “to make the Church the home and school of communion” (43). This involves, in the first instance, “[promoting] a spirituality of communion, making it the guiding principle of education wherever individuals and Christians are formed” (ibid). And today we have a great need for communion, in the Church and in the world. One becomes an expert in spirituality of communion primarily thanks to conversion to Christ, to the docile opening to the action of the Spirit, and by welcoming one’s brothers. As we are well aware, the fruitfulness of the apostolate does not depend only on activity or on organizational efforts, although these are necessary, but firstly upon divine action. Today as in the past the saints are the most effective evangelizers, and all the baptized are called to reach towards the highest measure of Christian life, namely, holiness. This is even more applicable to ordained ministers. I think of worldliness, the temptation of spiritual worldliness, so often concealed in rigidity: one calls the other, they are “stepsisters”, one calls the other. The World Day of Prayer for the Sanctification of Priests, which is celebrated every year on the Feast of the Sacred Heart of Jesus, constitutes an ideal opportunity to implore of the Lord the gift of zealous and holy ministers for His Church. To achieve this ideal of holiness, every ordained minister is called to follow the example of the Good Shepherd, who gave His life for His sheep. And from where can we draw this pastoral charity, if not from the heart of Christ? In Him the celestial Father has filled us with the infinite treasures of mercy, tenderness and love: here we can always find the spiritual energy indispensable to be able to radiate His love and His joy in the world. And we are led to Christ every day also in the filial relation with our Mother, Mary Most Holy, especially in the contemplation of the mysteries of the Rosary. Closely linked with the path of spirituality is commitment to pastoral action in the service of the people of God, visible today and in the concreteness of the local Church: pastors are called to be wise and faithful servants who imitate the Lord, who don the apron of service and bend to the lives of their communities, to understand their history and to live the joys and sufferings, expectations and hopes of the flock entrusted to them. Indeed, Vatican Council II taught that the right way for ordained ministers to achieve holiness is in “[performing] their duties sincerely and indefatigably in the Spirit of Christ”; “by the sacred actions which are theirs daily as well as by their entire ministry which they share with the bishop and their fellow priests, they are directed to perfection in their lives” (Decreto Presbyterorum Ordinis, 12). You rightly highlight that ordained ministers acquire the right pastoral style also by cultivating fraternal relations and participating in the pastoral journey of the diocesan Church, in its appointments, its projects and its initiatives that translate the programmatic guidelines into practice. A particular Church has a concrete face, rhythms and decisions; it must be served with dedication every day, bearing witness to the harmony and unity that is lived and developed with the bishop. The pastoral journey of the local community has as an essential point of reference the pastoral plan of the diocese, which must take precedence over the programmes of associations, movements or any other particular group. And this pastoral unity, of everyone around the bishop, will bring unity to the Church. And it is very sad when, in a presbytery, we find that this unity does not exist, it is apparent. And there gossip reigns: gossip destroys the diocese, destroys the unity of presbyters, the unity among them and with the bishop. Brother priests, remember, please: we always see bad things in others – because cataracts don’t appear in this eye – eyes are always ready to see ugly things, but I urge you not to arrive at gossip. If I see bad things, I pray or, as a brother, I speak. I do not act as a “terrorist”, because gossip is a form of terrorism. Gossiping is like through a bomb: I destroy the other person and go away calmly. Please, no gossip, they are the like the woodworm that eat through the fabric of the Church, of the diocesan Church, of the unity among all of us. Dedication to the particular Church must then be expressed more broadly, with attention to the life of all the Church. Communion and mission are correlated dynamics. One becomes a minister to serve one’s own particular Church, in obedience to the Holy Spirit and one’s own bishop and in collaboration with other priests, but with the awareness of being part of the universal Church, which crosses the boundaries of one’s own diocese and country. If the mission is an essential quality of the Church, it is especially so for he who, ordained, is called to exercise the ministry in a community that is missionary by nature, and to educate in having a world view – not worldliness, but a world view! Indeed, mission is not an individual choice, due to individual generosity or perhaps pastoral disillusionment, but rather it is a choice of the particular Church that becomes a protagonist in the communication of the Gospel to all peoples. Dear brother bishops, I pray for each one of you and for your ministry, and for the service of the Apostolic Union of Clergy. And I pray also for you, dear brothers and sisters. May my blessing accompany you. And remember: do not forget to pray for me too, as I am in need of prayers! Thank you. (from Vatican Radio)...

Pope Francis sends letter to COP23 climate conference in Bonn

News.va - Kam, 16/11/2017 - 22:35
(Vatican Radio)  Pope Francis has sent a letter to participants in the COP-23 UN Convention on climate change, taking place in Bonn, Germany on 6-17 November. The letter was sent to Prime Minister Frank Bainimarama of the Fiji Islands, which is officially hosting the event, and was read out to COP-23 participants. Pope Francis congratulated the world leaders present at the COP-23 event and invited them "to maintain a high level of cooperation". He renewed his "urgent call" for renewed dialogue "on how we are building the future of the planet." "We need an exchange that unites us all," he said, "because the environmental challenge we are experiencing, and its human roots, regards us all, and affects us all." The Pope warned participants not to fall into "four perverse attitudes" regarding the future of the planet: "denial, indifference, resignation and trust in inadequate solutions." Finally, Pope Francis sent his well-wishes that the COP-23 would be "inspired by the same collaborative and prophetic spirit manifested during the COP-21" event at which the historic Paris agreement was signed. Please find below the official translation of the Pope's message: Excellency, Nearly two years ago, the international community gathered within this UNFCCC forum, with most of its highest government representatives, and after a long and complex debate arrived at the adoption of the historic Paris Agreement. It saw the achievement of consensus on the need to launch a shared strategy to counteract one of the most worrying phenomena our humanity is experiencing: climate change. The will to follow this consensus was highlighted by the speed with which the Paris Agreement entered into force, less than a year after its adoption. The Agreement indicates a clear path of transition to a low- or zero-carbon model of economic development, encouraging solidarity and leveraging the strong links between combating climate change and poverty. This transition is further solicited by the climatic urgency that requires greater commitment from the countries, some of which must endeavour to take a leading role in this transition, bearing in mind the needs of the most vulnerable populations. These days you are gathered in Bonn to carry out another important phase of the Paris Agreement: the process of defining and constructing guidelines, rules and institutional mechanisms so that it may be truly effective and capable of contributing to the achievement of the complex objectives it proposes. In such a path, it is necessary to maintain a high level of cooperation. From this perspective, I would like to reaffirm my urgent call to renew dialogue on how we are building the future of the planet. We need an exchange that unites us all, because the environmental challenge we are experiencing, and its human roots, regards us all, and affects us all. [...] Unfortunately, many efforts to seek concrete solutions to the environmental crisis are often frustrated for various reasons ranging from denial of the problem to indifference, comfortable resignation, or blind trust in technical solutions (cf. Encyclical Laudato si’, 14). We should avoid falling into the trap of these four perverse attitudes, which certainly do not help honest research or sincere and productive dialogue on building the future of our planet: denial, indifference, resignation and trust in inadequate solutions. Moreover, we cannot limit ourselves only to the economic and technological dimension: technical solutions are necessary but not sufficient; it is essential and desirable to carefully consider the ethical and social impacts and impacts of the new paradigm of development and progress in the short, medium and long term. From this perspective, it is increasingly necessary to pay attention to education and lifestyles based on an integral ecology, capable of taking on a vision of honest research and open dialogue where the various dimensions of the Paris Agreement are intertwined. It is useful to remember that the Agreement recalls the “grave … ethical and moral responsibility to act without delay, in a manner as free as possible from political and economic pressures, setting aside particular interests and behaviour” (cf. Message to COP-22). This means, in effect, propagating a “responsible awareness” towards our common home (cf. Encyclical Laudato si’, 202; 231) through the contribution of all, in explaining the different forms of action and partnership between the various stakeholders, some of whom do not lack to highlight the ingenuity of the human being in favour of the common good. While I send my greetings to you, Mr President, and to all the participants in this Conference, I hope that, with your authoritative guidance and that of the Fiji Islands, the work of these days will be inspired by the same collaborative and prophetic spirit manifested during the COP-21. This will enable an acceleration of awareness-raising and consolidate the will to make effective decisions to counteract the phenomenon of climate change while at the same time fighting poverty and promoting true human development as a whole. This commitment is supported by the wise providence of God Most High. (from Vatican Radio)...

Pope at daily Mass: The Kingdom of God is within us

News.va - Kam, 16/11/2017 - 22:24
(Vatican Radio) The kingdom of God is not a show, much less a carnival; it does not go looking for publicity. Its growth comes from the Holy Spirit, rather than from “pastoral plans.” That was the message of Pope Francis in his daily homily at the Casa Santa Marta on Thursday. The point of departure for the Pope’s homily was the Pharisees’ question in the day’s Gospel about when the Kingdom of God will come. It is a simple question, the Pope said, which can be asked in good faith, as appears in numerous passages in the Gospel. John the Baptist, for example, when he was imprisoned, sent his disciples to Jesus to ask Him if He was the Messiah, or if they should look for another. Later, in another passage, the same question is turned around: during His Passion, the bystanders say to Jesus, “If you are he, come down from the Cross.” Pope Francis said there are always doubts, there is always curiosity about when the Kingdom of God will come. “The Kingdom of God is in your midst”: That is the answer of Jesus. That is the “glad tidings” in the synagogue of Nazareth, when Jesus, after having read a passage from Isaiah, says that that Scripture is fulfilled “today,” in their midst. Like a seed, when it is sown, grows from within, so the Kingdom of God grows “in hiding,” in the midst “of us,” the Pope repeated. Or it is like “the gem, or the treasure,” but always in humility: “But who makes that seed grow? Who makes it sprout? God, the Holy Spirit, who is within us. And the Holy Spirit is the spirit of meekness, the spirit of humility, He is the spirit of obedience, the spirit of simplicity. It is He who makes the Kingdom of God grow with, not pastoral plans, the great things… No, it is the Spirit, in hiding. He makes it grow, and the moment arrives, and the fruit appears.” In the case of the good thief, the Pope asked when the seed of the Kingdom of God was sown in his heart. Perhaps it was his mother, Pope Francis suggested, or perhaps a rabbi when he was explaining the law. And then, perhaps, it is forgotten – but at a certain point “in hiding,” the Spirit makes it grow. What this means, the Pope said, is that the Kingdom of God is always “a surprise,” because it is “a gift given by the Lord.” Jesus explains that “the Kingdom of God does not come in such a way that it attracts attention, and no one will say, ‘Look, there it is,’ or ‘Look, here it is.’” “It is not a show, or, even worse, a carnival,” he said, although often times we think of it that way.” “The Kingdom of God is not seen with haughtiness or pride; it does not love publicity. It is humble, hidden, and thus it grows. I think that when the people saw the Madonna, those who followed Jesus [said]: ‘That’s the mother, ah…’ The most holy woman, but in hiding. No one knew the mystery of the Kingdom of God, the holiness of the Kingdom of God. And when she was close by the Cross of her Son, the people said, ‘But the poor woman, with this criminal as a son, poor woman…’ Nothing, no one understood.” The Kingdom of God, then, always grows in hiding, the Pope said, because it is there, in our midst, that the Holy Spirit “makes it sprout, until it bears fruit.” “We are all called to take this road of the kingdom of God: It is a vocation, it is a grace, it is a gift, it is given freely, it is not purchased, it is a grace that God gives us. And all we who are baptized have the Holy Spirit within [us]. How is my relationship with the Holy Spirit, Who makes the Kingdom of God grow within me? A good question for all of us to ask ourselves today. Do I believe this? Do I truly believe that the Kingdom of God is in the midst of us, it is hidden? Or do I like spectacle even more?” Pope Francis concluded his homily by asking the Holy Spirit for the grace to make “make the seed of the Kingdom of God” grow in us and in the Church, with strength, “so that it might become large, give refuge to many people, and give the fruits of sanctity.” (from Vatican Radio)...

Doa bersama keluarga adalah kekuatan yang perlu ditekankan dalam pembinaan perkawinan

Pen@ Katolik - Kam, 16/11/2017 - 21:49

Doa adalah kekuatan dalam keluarga. Itu adalah keyakinan Komisi Keluarga Keuskupan Manado. Maka, di saat doa bersama dalam keluarga-keluarga saat makan, sebelum tidur dan bangun pagi mulai cenderung jarang terjadi, komisi itu membawa tema “Keluarga Bahagia adalah Keluarga yang Berdoa” dalam program pendampingan bagi pimpinan umat dan pembina perkawinan.

Ketika menggelar program pendampingan bagi pimpinan umat dan pembina perkawinan di Paroki Maria Ratu Damai Melongguane dan Paroki Santa Maria Mangaran, Talaud, Komisi Keluarga Keuskupan Manado yang dipimpin ketua komisi, Selvie Rumampuk, juga membawa tema itu.

Sebanyak 48 pimpinan umat yang terdiri dari Pengurus Dewan Pastoral Paroki, Stasi dan Wilayah Rohani serta Pembina Perkawinan “yang merupakan ujung tombak di tengah umat” di dua paroki yang ada di Kabupaten Kepulauan Talaud itu mengikuti kegiatan yang digelar di Paroki Melongguane, 11-12 November 2017.

Doa bersama dalam keluarga pun menjadi salah satu materi, berkaitan dengan cara membangun keluarga bahagia, yang disampaikan oleh Pasutri Johanis Pantouw-Selvie Rumampuk. Materi lain adalah komunikasi yang baik dalam keluarga, keterbukaan, kejujuran, kerelaan memaafkan satu sama lain, dan menjadikan keluarga sebagai Gereja kecil.

Selain mendengarkan paparan materi-materi itu, dalam kegiatan yang dibuka dan ditutup oleh Kepala Paroki Maria Ratu Damai Melongguane Pastor Delis Umbas SJ, peserta juga berdiskusi seputar peran sebagai suami dan sebagai istri.

Selvie Rumampuk mengatakan kepada PEN@ Katolik bahwa kegiatan itu dimaksudkan untuk memberi pembekalan kepada pembina atau pendamping keluarga dan agar mereka dapat memberi persiapan perkawinan kepada calon nikah. “Setelah kegiatan ini diharapkan peserta menerapkan apa yang telah mereka terima baik untuk keluarga maupun kepada umat termasuk kepada calon-calon nikah,” katanya. (A. Ferka)

Pontifical Council for Culture’s Plenary Assembly looks at the future of humanity

News.va - Kam, 16/11/2017 - 21:24
The Future of Humanity: New Challenges to Anthropology , that’s the title of the Pontifical Council for Culture’s Plenary Assembly which is taking place in Rome this week. How is the image of the human person changing in the present world and is science and technology changing fundamental anthropological concepts? Those are just two of the questions that will be addressed during the gathering. The Plenary is also examining the anthropological changes in three specific areas: the possibilities of body transformation offered by medicine and genetics; the ethical implications of neuroscience; and the social and anthropological transformations caused by the development of technology. The meeting will include experts from around the world as well as members of the Council. Bishop Paul Tighe is the Secretary of the Pontifical Council for Culture, he spoke to Vatican Radio’s Lydia O’Kane about the link between culture and science and the relationship between scientific research and the Christian tradition. Listen to the interview: Bishop Tighe explains that the basis of this Plenary, “is an attempt to look at what it means to be human; what it is that gives value to human life; what does it mean for us to be individuals, but individuals who live in society and how that expresses itself culturally. He goes to say that, “our interest is in looking at the developments that are happening in the area of science, that are causing us maybe to think again about what it means to be human…” Science and Christian tradition Asked whether there can be harmony between the Christian tradition and scientific research, the Bishop says, “I think we would always want to say absolutely. We believe that the human person is made in the image and likeness of God; part of our being made in the likeness and image of God is being made with an intelligence with a capacity to understand our environment and to understand our world.” Bishop Tighe also emphasizes that, “science is hugely important. Science has contributed so much to this world, scientists in particular have sacrificed themselves in so many ways to help the human race…” The Plenary Assembly of the Pontifical Council of Culture continues until 18th November. (from Vatican Radio)...

Parikan Rohani Bahasa Jawa Berdasarkan Bacaan Misa Harian

Sesawi.Net - Kam, 16/11/2017 - 21:15
Parikan Dina Minggu Iki Samubarang nganggo tatanan, Dimen ditata sarta dititi. Sing ngudi kawicaksanan, Bakal kabirat susahing ati. Sing ngopeni kewan aran srati, Pait ning enak jangane pare. Aja nganti kowe ora ngerti, Sedulurmu kang wus sumare. Lemah garing nandur pari gaga, Nunggu udan kapan wayahe. Poma dipoma padha siyaga, Ora ngerti Gusti kapan rawuhe. […]

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator