Berita dan Event

Penjara untuk Aktivis Filipina yang Menyinggung Perasaan Keagamaan

UCANews - Kam, 09/08/2018 - 09:00

Mahkamah Agung (MA) Filipina memenjarakan  seorang aktivis yang menyinggung perasaan keagamaan dengan menggelar protes di dalam katedral di Manila tahun 2010.

Pengadilan memvonis pemandu wisata dan aktivis budaya  Carlos Celdran dengan hukuman penjara minimum dua bulan, 21 hari dan jangka waktu maksimum satu tahun, satu bulan, 11 hari.

Tahun 2010, Celdran mengejutkan para pejabat Gereja ketika dia memasuki katedral saat Misa dan mengangkat plakat dengan kata “Damaso” mengacu pada karakter fiktif Padre Damaso dari novel pahlawan nasional Jose Rizal Noli me Tangere, yang menceritakan tentang perlakuan kejam para biarawan Spanyol.

Aktivis itu memprotes dugaan campur tangan Gereja Katolik dalam pengesahan RUU Kesehatan Reproduksi yang kemudian ditunda pengesahannya di Kongres.

Tahun 2012, pengadilan Manila memutuskan Celdran bersalah karena menyinggung perasaan keagamaan. Putusan itu diperkuat pada Agustus 2013 dan oleh Pengadilan Banding pada  Desember tahun lalu.

Dalam keputusan yang dikeluarkan pada 7 Agustus, MA  menolak petisi Celdran yang berusaha  membatalkan putusan Pengadilan Banding.

“Kami setuju dengan (Pengadilan Banding) dalam menemukan bahwa tindakan para pemohon dimaksudkan untuk mengejek dan menghina para imam yang keyakinannya dan berprinsip bertentangan dengan dirinya sendiri,” demikian pernyataan keputusan MA.

Pengadilan mengatakan Celdran gagal menghadirkan bukti untuk menunjukkan bahwa pengadilan yang lebih rendah keliru dalam mengeluarkan keputusan.

Dalam permohonannya yang diajukan pada Oktober 2015, aktivis itu meminta MA mendekriminalisasi pelanggaran berdasarkan KUHP Revisi  dengan menyatakan itu tidak konstitusional.

Pasal 133 KUHP menghukum siapa pun yang “di tempat ibadah atau selama perayaan upacara keagamaan, melakukan tindakan yang sangat menyakitkan perasaan umat beriman.”

Dalam sebuah pernyataan, Keuskupan Agung Manila mengatakan kasus Celdran merupakan ranah  pemerintah.

Pastor Roy Bellen dari Komsos Keuskupan Agung Manila mengatakan bahwa keuskupan agung itu tidak menuntut  kasus hukum apa pun terhadap Celdran.

“Meskipun ada keluhan awal yang dibuat  pihak berwenang mengetahui insiden itu dan  mereka dapat membantu mencegah situasi seperti itu terjadi lagi, keuskuan agung tidak pernah melakukan tindakan hukum apapun,” kata Pastor Bellen.

“Kami tidak mengatakan bahwa keuskupan agung senang (dengan keputusan pengadilan) hanya karena seseorang telah divonis bersalah,” katanya, seraya menambahkan bahwa Gereja selalu menginginkan kebaikan umat dan lembaga.

“Kami bukan satu-satunya institusi dengan keinginan seperti itu. Saya yakin pemerintah juga bekerja untuk kebaikan yang sama,” kata Pastor Bellen.

Dalam sebuah posting di akun Twitter-nya, Celdran mengatakan: “Ini terjadi. Permohonan saya di MA ditolak dan hukuman saya ditegakkan.”

Tahun 2015, Kardinal Luis Antonio Tagle,uskup agung Manila mengatakan telah memaafkan Celdran, dan menambahkan bahwa “sejauh menyangkut Gereja, itu sudah berakhir.”

 

RUN4U dalam Gambar (1)

Sesawi.Net - Kam, 09/08/2018 - 08:48
PADA hari Minggu pagi-pagi sekali tanggal 29 Juli 2018 telah berlangsung acara RUN4U –sebuah perhelatan olahraga santai dengan dua menu acara pokok yakni lari-lari santai sejauh 5 km dan jalan santai sejauh 2 km. RUN4U dibesut oleh BPK PKK KAJ (Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik KAJ) bersama mitranya PUKAT KAJ (Profesional Usahawan Katolik KAJ). […]

Menag: Pesparani bakal Jadi Sejarah Baru Umat Katolik - Investor Daily

Google News - Kam, 09/08/2018 - 08:09

daulat.co (Siaran Pers)

Menag: Pesparani bakal Jadi Sejarah Baru Umat Katolik
Investor Daily
JAKARTA- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparni) 27 Oktober hingga 2 November mendatang bakal menjadi sejarah baru umat Katolik di Indonesia. “Pesparani membuat sejarah ...
Menag Bersyukur Penyelenggaraan Pesparani Umat Katolik Dapat Terwujuddaulat.co (Siaran Pers)

all 2 news articles »

Perjalanan Vatikan dari Mendukung hingga Menolak Hukuman Mati - tirto.id (Siaran Pers) (Blog)

Google News - Kam, 09/08/2018 - 07:03

tirto.id (Siaran Pers) (Blog)

Perjalanan Vatikan dari Mendukung hingga Menolak Hukuman Mati
tirto.id (Siaran Pers) (Blog)
Hal inilah yang kiranya menjadi dasar Paus Fransiskus ketika menyetujui revisi baru dari Pasal 2267 Katekismus Gereja Katolik yang menegaskan bahwa praktik hukuman mati "tidak bisa diterima". Dilansir dari Vatican News, keputusan itu diumumkan ...

Puncta 08.08.18. Matius 15:21-28: Anak Polah Bapa Kepradah

Sesawi.Net - Kam, 09/08/2018 - 06:35
DALAM Injil diceritakan seorang ibu dari Kanaan, yang anaknya sakit kerasukan setan dan sangat menderita, meminta tolong pada Yesus. Yesus tidak menggubrisnya. Bahkan murid-murid-Nya merasa terganggu karena ia teriak-teriak, “suruhlah wanita itu pergi”. Yesus menyindir dengan perkataan halus “Aku diutus hanya kepada Domba-domba umat Israel yang hilang”. Namun wanita itu teguh tak bergeming, ia tetap […]

Puncta 09.08.18. Matius 16:13-23: Salah Paham

Sesawi.Net - Kam, 09/08/2018 - 06:31
SUATU kali seorang istri marah-marah kepada suaminya karena ketika ia telpon ke hp suami, yang menjawab suara perempuan yang menyebut namanya Veronika. Ia melabrak suaminya yang dituduh selingkuh dengan Veronika. Suaminya menjelaskan bahwa Veronika adalah operator HP. Salah paham itu sering terjadi. Petrus pun juga salah memahami siapa Yesus sebenarnya. Saat ditanya oleh Yesus, “Siapa […]

Mengenal Yesus

Sesawi.Net - Kam, 09/08/2018 - 06:03
KATA orang, tak kenal maka tak sayang. Bisa jadi dalam keseharian hidup kita berjumpa dengan banyak orang, kita tahu dan kenal dengan sekian banyak orang. Bahkan bisa jadi pengenalan kita akan sesama itu sangat mendalam. Tapi bisa juga hanya sekadar saja pengenalan kita akan sesama. Hari ini melalui Injil Mat 16:13-23, Yesus menggugat kita, sejauhmana dab […]

Tiada Kemuliaan Tanpa Salib

Sesawi.Net - Kam, 09/08/2018 - 00:27
YESUS menegur Petrus karena ia memiliki pandangan yang keliru tentang Mesias. Mesias bukanlah pemimpin politik yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi dengan kekuasaan dan kekerasan. Mesias adalah Putra Allah yang datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari penjajahan dosa dan maut, dengan jalan penderitaan, pengurbanan dan kasih. Lewat sabdaNya, kita diundang untuk […]

Kata Mutiara – Kamis 9 Agustus 2018

Sesawi.Net - Kam, 09/08/2018 - 00:20
KARENA Kristus dibangkitkan, kita dapat memandang setiap peristiwa kehidupan kita, bahkan yang paling negatif, dengan mata baru dan hati yang baru Paus Fransiskus Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Lentera Keluarga – Mengenal Pikiran Allah

Sesawi.Net - Kam, 09/08/2018 - 00:17
Kamis, 9 Agustus 2018. Bacaan: Yer 31:31-34; Mzm 51:12-13.14-15.18-19; Mat 16:13-23 Renungan: SIAPAKAH yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?”  (Rm 11:34). Tidak mudah untuk mengenal pikiran dan perasaan orang yang ada bersama dengan kita, apalagi mengenal pikiran dan kehendak Tuhan. Pengalaman Petrus menjadi pelajaran berharga bagi kita bagaimana kitapun kadang “gagal paham” […]

LIMA Basketball Nationals 2018 Berlangsung di Surabaya - KOMPAS.com

Google News - Rab, 08/08/2018 - 23:09

KOMPAS.com

LIMA Basketball Nationals 2018 Berlangsung di Surabaya
KOMPAS.com
SURABAYA, Kompas.com - Perhelatan kompetisi basket yang mempertemukan kampus-kampus terkemuka Indonesia bertajuk Liga Mahasiswa (LIMA) Basketball Nationals 2018 siap digelar. Gelaran ini sekaligus menjadi menutup rangkaian kompetisi bola ...
LIMA Basketball Nationals 2018 siap digelar di SurabayaANTARA

all 5 news articles »Google News

Jelang Pesparani 2018, LP3KN Gelar Seminar Nasional - Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)

Google News - Rab, 08/08/2018 - 19:54

Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)

Jelang Pesparani 2018, LP3KN Gelar Seminar Nasional
Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)
Keduanya sepakat jika Pesparani ini bisa menjadi ajang memupuk persaudaraan antarumat beragama terutama umat Katolik seluruh Indonesia. Seminar ini ditutup dengan makan malam bersama bersama dan pembagian door prize. Acara akbar Pesparani ...

Di SMK Katolik Santa Maria, Donor Darah Dioptimalkan Sebagai Sarana Edukasi Siswa - Tribun Pontianak

Google News - Rab, 08/08/2018 - 17:15

Di SMK Katolik Santa Maria, Donor Darah Dioptimalkan Sebagai Sarana Edukasi Siswa
Tribun Pontianak
Selain dengan Palang Merah Indonesia Cabang Pontianak, juga dilibatkan komponen lain semisal militer, alumni dan sebagainya. "Kegiatan donor darah ini tidak hanya ditargetkan untuk lingkungan Yayasan Pendidikan Kalimantan (YPK) saja. Puji Tuhan ...

Google News

Pelita Hati: 09.08.2018 – Salib: Jalan Menuju Keselamatan

Sesawi.Net - Rab, 08/08/2018 - 17:00
Bacaan Matius 16:13-23 SAHABAT pelita hati, Kini kita berjumpa dengan kisah “Pengakuan Petrus” dan “Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus”. Pengakuan jujur Petrus bahwa Yesus adalah Mesias yang hidup mendapat pujian dari Tuhan, bahkan Petrus diserahi kunci kerajaan surga serta menjadikan Petrus ‘Sang Batu Karang’ itu sebagai pendasar kokoh berdirinya Gereja umat Allah yang tak tergoyahkan […]

Goa Masih Menjadi ‘Baterai’ Katolikisme untuk Asia

UCANews - Rab, 08/08/2018 - 15:14

Goa, bekas jajahan Portugis yang sekarang memiliki pantai dengan berperingkat salah satu yang  paling terkenal di India, terus mempromosikan Kekristenan di Asia sebagai bagian dari warisan kolonialnya, demikian menurut Uskup Agung Emeritus Raul Gonsalves.

Uskup Emeritus berusia 91 tahun itu percaya para misionaris Yesuit, yang berpusat di tanah airnya pantai barat daya benua itu sejak abad ke-16, masih memiliki efek  di seluruh benua itu, meskipun ada dugaan upaya untuk “membersihkan secara etnis” wilayah tersebut sebagai basis Umat ​​Katolik di masa lalu.

Uskup Agung Gonsalves mengatakan, Goa telah menghasilkan uskup untuk sejumlah negara karena keyakinan iman yang kuat tertanam dalam begitu banyak keluarga di wilayah itu.

Negara bagian kecil India ini, yang mencakup keuskupan Goa dan Daman, telah menghasilkan sekitar 60 uskup dan kardinal untuk India, Pakistan, dan Afrika, demikian menurut Pastor Joaquim Loiola Pereira, sekretaris Uskup Agung Goa Mgr Filipe Neri Ferrao saat ini.

Keuskupan Goa dibentuk tahun 1533, 23 tahun setelah Portugis menaklukkan negara itu.

Imam pertama dari Keuskupan Goa, Pastor Andre Vaz, ditahbiskan 55 tahun kemudian  tahun 1558 di tengah perasaan umum di antara para misionaris kolonial bahwa penduduk setempat “tidak layak” menjadi imam, kata Pastor Pereira.

Uskup pertama dari negara bagian itu adalah Mgr Matheus de Castro, yang ditahbiskan  tahun 1637.

Sejak itu, banyak imam  dari Goa diangkat Vatikan menjadi uskup untuk  memimpin banyak keuskupan di India karena Goa adalah pusat Kekristenan di India setelah Kerala, kata Pastor Pereira.

Sekitar 500.000 dari 1,8 juta penduduk Goa tercatat sebagai umat Katolik, sementara di Kerala sekitar 5 juta dari 36 juta warganya adalah umat Katolik, dan 1 juta lainnya berasal dari denominasi Kristen lainnya.

Namun, dampak kedua negara ini terhadap urusan agama global sangat besar.

Misalnya, sekarang ada 80 uskup yang melayani di berbagai pos di seluruh dunia yang lahir di Kerala. Lebih dari setengah (50) dari uskup itu melayani di keuskupan negara bagian itu.

Namun, ini tidak selalu demikian. Selama era kolonial mereka dilarang melakukan penginjilan di luar negara bagian, yang sangat menurunkan pengaruh mereka.

Bahkan, jumlah uskup yang lahir di Kerala baru mulai meningkat setelah Konsili Vatikan II  (1962-65), yang menekankan karya misi bahwa  setiap Gereja harus terus berkembang maju dan menyebarkan Firman  ke seluruh dunia.

Sebaliknya, Portugis, yang memerintah Goa selama 450 tahun dengan sejarah yang sebanding dengan yang ada di Inggris, datang dengan mandat untuk terus mengekspansi misionaris. Mereka diikuti oleh para misionaris Fransiskan, Dominikan, Yesuit dan Agustinian.

“Mereka meneruskan penyebarluasan misionaris melalui Goa ke Afrika Selatan, Jepang dan Cina,” kata Pastor Pereira.

Roh misionaris ini masih terlihat di sejumlah uskup dan kardinal yang tetap aktif di India dan Pakistan tetapi jika dilacak mereka berasal dari Goa.

Contoh terbaru adalah Kardinal Joseph Coutts dari Keuskupan Agung Karachi, yang menerima topi merah pada 28 Juni.

Dia peringkat sebagai kardinal kelima dengan akar di Goa, mengikuti jejak Kardinal Valerian Gracias dari Bombay (1900-1978), Kardinal Joseph Cordeiro dari Karachi (1918-1994), Kardinal Ivan Dias (1936-2017) dan Kardinal Oswald Gracias (1944-sekarang).

Sementara di Pakistan hanya dua prelatus yang telah diangkat menjadi kardinal dan keduanya adalah – Kardinal Cordeiro dan Kardinal Coutts – juga masih berakar dari Goa.

Hubungan ini sudah ada sejak era kolonial ketika Karachi berperan sebagai pelabuhan dan bandara  “ramah” terdekat ke Pakistan.

Pada saat blokade selama tahun-tahun terakhir pemerintahan kolonial, ribuan keluarga Goa menuju ke Pakistan dengan rencana selanjutnya untuk kemudian menjelajah ke Afrika dan negara-negara lain. Namun, ada yang memutuskan untuk tinggal di sana.

Kemudian, sebelum Pemerintah Kolonial Inggris India dirancang untuk menciptakan Pakistan pada tahun 1947, ribuan orang dari Goa melakukan perjalanan, bekerja dan menetap di kota-kota besar seperti Karachi.

Setelah India dibagi, banyak yang tidak dapat kembali ke rumah leluhur mereka di Goa, di mana aset mereka dibekukan dan dianggap “milik musuh.”

Sementara banyak tokoh agama dari Goa telah menjadi terkenal, pemimpin terkemuka dari wilayah itu yang menjadi pusat perhatian adalah Altino Ribeiro de Santana, uskup pertama negara itu.

Ia dilahirkan di Porvorim dan ditahbiskan imam pada Oktober 1938. Setelah melayani sebagai asisten pastor paroki dan pastor militer, ia memperoleh gelar doktor dalam bidang teologi dari Universitas Gregorian  Roma.

Kemudian, pada usia 39, ia menjadi imam pertama dari Keuskupan Agung Goa untuk diangkat menjadi uskup dan ditahbiskan pada Oktober 1955 di Katedral Se di Goa Lama.

Pada  Juli 1955, Paus Paulus VI mendirikan Keuskupan Sa da Bandeira di Angola. Pastor De Santana diangkat sebagai uskup pertama dan melayani umat di keuskupannya sebagai misionaris sejati, setia dan tanpa lelah.

Dia tinggal di sana dari tahun 1956 hingga 1972, ketika dia diangkat sebagai uskup Keuskupan Beira di Mozambique, Afrika.

Dia meninggal karena serangan jantung sekitar satu tahun kemudian, pada 27 Februari 1973, tak lama setelah sebuah bom diledakkan di luar tempat kediamannya oleh rezim militer yang berkuasa dalam upaya untuk menakut-nakuti dia.

Pada saat itu, dia sedang menyembunyikan dua imam Portugis yang dituduh melakukan kejahatan terhadap negara dan dicap sebagai ancaman keamanan.

Setelah tubuhnya dikuburkan di Beira, warga Sa da Bandeira meminta agar jenazahnya  dibawa ke kota mereka di mana dia telah hadir dan hidup bersama mereka selama 16 tahun. Keinginan mereka dipenuhi pada  4 April 1974.

Meskipun Goa memiliki banyak tempat terkenal, desa Aldona tercatat karena telah menjadi tempat kelahiran tidak kurang dari enam uskup.

Mereka adalah mendiang Mgr Ferdinand Fonseca, uskup agung Bombay; Mendiang Mgr Anthony Lobo, uskup Islamabad, Pakistan; Mgr U Joseph Coutts, uskup Agung Karachi; Mgr Felipe Neri Ferrao, uskup agung Goa dan Daman; Mgr Evarist Pinto, uskup agung Emeritus  Karachi; dan Mgr Anil Couto, uskup agung Delhi yang juga sepupu Kardinal Coutts.

Prelatus lain dari Goa, yang menjadi Sekjen Konferensi Waligereja India adalah Mgr  Theodore Mascarenhas. Pastor Pereira mengatakan, panggilan imam keuskupan yang berlimpah sebagian berasal dari praktik keluarga di wilayah itu yang secara tradisional “mempersembahkan satu anak kepada Allah.”

Uskup Agung Gonsalves mengatakan itu juga berhubungan dengan sistem doa yang berbeda di Goa. Di masa lalu, umat Katolik di Goa akan berdoa kepada Tuhan membantu mereka memenuhi keinginan-Nya, sedangkan hari ini mereka meminta agar Dia membantu mereka melaksanakan apa yang mereka lihat sebagai mandat mereka, katanya.

 

Rumah Sakit Katolik Bantu Korban Gempa di Lombok

UCANews - Rab, 08/08/2018 - 14:29

Sejumlah rumah sakit Katolik telah mengirimkan tim medis untuk melayani ratusan orang yang mengalami cedera akibat gempa bermagnitudo 7 yang mengguncang Lombok di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (5/8) lalu.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban tewas hingga Selasa (7/8) mencapai 105 orang, sementara 236 orang lainnya menderita luka-luka. Ribuan bangunan mengalami kerusakan dan ribuan orang terpaksa mengungsi.

“Tenaga medis sangat dibutuhkan untuk menangani para korban,” kata Suster Paulina SSpS, kepala Bagian Humas RS St. Antonius di Ampenan, Mataram, ibukota Propinsi NTB, kepada ucanews.com.

Ia mengatakan rumah sakit merawat sekitar 12 pasien yang menderita luka-luka akibat gempa.

“Kami tempatkan di tempat parkir karena situasi tidak memungkinkan, gempa susulan masih terjadi. Baru setengah jam yang lalu kami masukkan ke ruang perawatan,” lanjutnya.

Lebih dari 176 gempa susulan terjadi setelah gempa mematikan itu.

Suster Paulina mengatakan rumah sakit telah mengirim satu tim perawat ke RSUD Propinsi karena rumah sakit yang dikelola pemerintah tersebut lebih membutuhkan bantuan untuk menangani operasi.

“Banyak relawan yang sudah menghubungi saya. Tapi saya tanya dulu kepada mereka, mau mengirim apa. Kalau bentuk medis oke, saya butuh tenaga dokter spesialis ortopedi dan bedah syaraf,” katanya.

Menurut biarawati itu, rumah sakit bekerjasama dengan RS St. Vincentius A Paulo di Surabaya, Propinsi Jawa Timur.

Dr. Agung Kurniawan Saputra, juru bicara RS St. Vincentius A Paulo di Surabaya, mengatakan rumah sakit mengirim tim medis beranggotakan tiga perawat pada Senin (6/8) atau sehari setelah gempa terjadi.

“Pagi tadi tambahan satu dokter dan satu perawat. Total ada empat perawat dan satu dokter. Untuk tim kedua ini, karena gempanya lebih besar dan sebagian besar infrastruktur rusak, sampai kemarin malam mereka stand by di RS St. Antonius untuk membantu menangani korban yang cukup membludak,” katanya.

Ia menambahkan tim medis biasanya melayani para korban selama satu minggu.

Sebelumnya, setelah gempa berkekuatan 6,4 skala Richter mengguncang wilayah yang sama pada 29 Juli, RS St. Vincentius A Paulo mengirimkan  satu tim medis beranggotakan dua dokter, tiga perawat dan satu tenaga farmasi ke lokasi kejadian. Mereka melayani para korban hingga Jumat (3/8).

“Mulai hari ini atau nanti siang, mereka akan menyusuri daerah-daerah di lapangan bekerjasama dengan aparat setempat, jika memungkinkan,” katanya, seraya menambahkan bahwa transportasi mengalami gangguan akibat gempa.

Dr. Felix Gunawan, direktur eksekutif Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki), mengatakan lembaganya telah menyiapkan obat-obatan.

“Kami sudah menyiapkan obat-obatan untuk membantu para korban gempa dan akan disalurkan melalui RS St. Antonius,” katanya, seraya menambahkan bahwa rumah sakit itu anggota Perdhaki.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan telah mengirim 87 tenaga medis ke sejumlah wilayah yang terkena dampak paling parah yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur.

Menurut Kementerian Kesehatan, sebagian besar korban menderita trauma kepala dan fraktur terbuka.

 

OMK Berbagai Universitas di Jakarta Sepakat Memperkuat Persatuan dalam Kebhinnekaan

UCANews - Rab, 08/08/2018 - 13:14

Para orang muda Katolik (OMK) dari berbagai universitas di Jakarta mengadakan temu mahasiswa untuk memperkuat semangat persatuan dalam kebhinnekaan.

“Bersatu Indonesia Merdeka” merupakan tema dari Temu Mahasiswa dari Pastoral Mahasiwa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ) 2018 yang dilangsungkan di Gunung Putri, 1-3 Agustus 2018.

Kegiatan ini merupakan ajang perjumpaan OMK   se-universitas di Jakarta untuk bertemu, berdinamika, menerima informasi dan bertindak lanjut dalam membuat project social.

Kegiatan hari pertama diawali dengan Parade Kebhinekaan, kemudian mahasiswa diajak untuk mendengarkan sesi “Panggilan Gereja Dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara” oleh Romo Ignatius Swasono SJ selaku Romo Moderator.

Romo Swasono  menjelaskan bahwa panggilan Gereja dalam hidup berbangsa dan bernegara sesuai Nota Pastoral KWI 2018.

Pada hari kedua, acara dimulai dengan sesi “Mahasiswa dan Ancaman Keruntuhan Pancasila” yang dibawakan oleh Mikael Gorbacev Dom (Peneliti, Penggiat Lingkungan & Kebangsaan) menyebutkan bahwa untuk menguatkan kembali semangat persatuan dan kebhinekaan diwujudkan dalam kehidupan bermahasiswa sesuai dengan Pancasila dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial secara positif.

Dialog keagamaan juga dipaparkan oleh lima pembicara lintas agama dan kepercayaan yang mengusung tema “Membangun Kembali Spirit Kebangsaan yang Terkoyakan”. Sesi ini dimoderatori Hieronymus Kopong Bali (Pegiat Komunitas Katolik & Kebangsaan).

Alissa Wahid  dari Gusdurian mengatakan bahwa “untuk mulai bergerak, mari pikirkan kenapa dan mengapa kita perlu bergerak. Jika sudah, caranya pasti akan banyak karena kaum muda itu kreatif. Orang muda perlu terlibat jauh dan melakukan bebapa hal.

Desiana Samosir dari Komisi Kepemudaan KWI menegaskan juga “kalau hanya mengenal satu warna saja, maka akan punya bloking untuk bertemu dengan orang komunitas yang itu aja. Orang muda Katolik  harus punya wajah Gereja dan bangsa yang ditunjukkan dalam wajah komunitas, turut berdiskusi dan perbanyak dalam dialog dengan beda agama.”

Kemudian Dewi Kanti dari Kepercayaan Sunda Wiwitan menekankan bahwa “adat dan kebudayaan tetap harus dilestarikan. Berbudaya dan beragama perlu seimbang dalam berkehidupan. Seren Taun menjadi tradisi adat  Sunda Wiwitan yang juga tradisi kebhinekaan tiap tahun.”

Kemudian Agus Hartono dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga mengatakan, “Pemuda perlu kritis dalam menghadapi keadaan dan tantangan dalam dunia milenial. Semangat kerelawanan dalam Tzu Chi dengan spirit DA AI (Cinta Kasih). Berpegang teguh pada Buddhis bukan hanya beribadah di Vihara, tetapi juga terjun dalam masyarakat.”

Yan Mitha Djaksana dari  Perhimpunan Pemuda Hindu mengatakan,  “Orang muda mempunyai tugas yang sangat penting sebagai penerus bangsa, perii  kritis dalm mengahadapi keadaan. Perlu juga menciptakan sejarah, supaya tidak terlupakan seperti menulis di media sosial yang positif menanggapi tantangan untuk orang muda dalam dunia milenial ini.“

Peserta juga mengakrabkan diri dengan kegiatan outbound yang berspiritkan kemerdekaan. Outbound ini terdiri dari 5 pos di mana setiap peserta dituntut untuk saling bekerjasama menyelesaikan permainannya.

Lalu dilanjutkan dengan kesepakatan Project Social. Pada sesi ini peserta merancang dan akan merealisasikan beberapa action plan dalam kurun waktu satu tahun ke depan secara bersama diantaranya interaksi keagamaan, kampanye media sosial, bakti sosial, dan buka bersama & seminar.  (VR-LB)

 

Wartakan Kebenaran, Uskup KAP Mgr. Agustinus Agus Rangkul Para Jurnalis

Sesawi.Net - Rab, 08/08/2018 - 09:49
DI balik lensa dan di ujung pena, maka nurani sang wartawanlah yang akhirnya menentukan langkah penting berikutnya. Yakni, mau mewartakan kebenaran faktual atau yang lainnya. Pokok inilah yang menjadi bahasan bersama dalam acara wawan hati antara Bapak Uskup Agung Keuskupan Agung Pontianak dan para jurnalis Katolik yang berdomisili atau bekerja di sekitaran Kota Pontianak. Aggiornamento. […]

Renungan Harian, Kamis: 09 Agustus 2018, Mat. 16: 13 – 23

Mirifica.net - Rab, 08/08/2018 - 09:03
EPANG menjadi salah satu negara yang anak – anak dan kaum mudanya melakukan bunuh diri tertinggi di dunia. Namun, di sisi lain Jepang juga menjadi salah satu negara yang jarang terjadi konflik terbuka di tengah-tengah masyarakatnya. Konon, angka kematian bunuh diri yang semakin signifikan ini terjadi karena suasana kehangatan, keterbukaan dan dialog yang kurang terjalin …

Beato Paus Paulus VI Segera Dikanonisasi Menjadi Santo

UCANews - Rab, 08/08/2018 - 08:40

Pada peringatan 40 tahun wafatnya  Beato Paulus VI, Paus Fransiskus turun ke lantai bawah Basilika Santo Petrus untuk berdoa di makam pendahulunya yang sederhana tersebut.

Paus yang mengawal sesi terakhir Konsili Vatikan II dan mengawali penerapan ajarannya, meninggal pada 6 Agustus 1978, di Castel Gandolfo, kediaman musim panas kepausan di luar kota Roma.

Ia dimakamkan enam hari kemudian di lantai bawah basilika. Tidak seperti kebanyakan paus yang dimakamkan di sana, makamnya ada di dalam tanah – bukan dalam sarkofagus – dan ditutupi dengan lempengan marmer travertin sederhana.

Melantunkan doa Angelus bersama umat di Lapangan Santo Petrus pada 5 Agustus, Paus Fransiskus mengingatkan pada umat hari peringatan itu dan rencananya untuk mengkanonisasi pendahulunya pada  14 Oktober.

“Dari surga mungkin dia berdoa bagi Gereja yang sangat dia cintai dan untuk perdamaian di dunia,” kata Paus Fransiskus.

Dia mengajak umat yang berada di Lapangan St. Petrus  untuk bersama dengan dia  bertepuk tangan untuk “paus modernitas yang hebat ini.”

 

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator