Berita dan Event

Pacquiao “Tinju” Sikap Vatikan Terkait Hukuman Mati

UCANews - Sen, 06/08/2018 - 16:30

Juara tinju Emmanuel “Manny” Pacquiao – yang juga seorang senator Filipina yang sangat vokal tentang iman Kristen yang dianutnya – menyerang pernyataan yang disampaikan Vatikan pekan lalu terkait hukuman mati.

Pemain tinju itu mengatakan ia memiliki beberapa ayat Kitab Suci yang bisa mendukung advokasinya terkait pemberlakuan kembali hukuman mati di Filipina meskipun ada pernyataan dari Paus Fransiskus yang menentang hukuman mati sepenuhnya.

Pacquiao mengatakan Kitab Suci mengijinkan hukuman mati untuk orang-orang yang melakukan kejahatan mengerikan. Hukuman mati juga ada dalam konstitusi Filipina, katanya.

“Ini bukan tentang kita, apa yang saya pikirkan atau apa yang saya inginkan. Ini ada dalam Kitab Suci dan dalam konstitusi kita, maka seharusnya tidak ada masalah,” kata senator itu.

Dalam sebuah wawancara radio pada Sabtu (4/8), ia mengatakan isu itu akan dibahas dalam Senat “agar bisa dijelaskan secara mendalam dan iman semua orang bisa tercerahkan.”

Senator itu telah menekan persetujuan sebuah undang-undang (UU) yang akan memberlakukan kembali hukuman mati di negara itu sebelum akhir tahun ini.

Hukuman mati dilarang di negara berpenduduk mayoritas Katolik itu sejak 2006.

Namun Pacquiao mengatakan kasus perdagangan narkoba, pemerkosaan yang disertai pembunuhan, penculikan untuk uang tebusan dan perampokan yang disertai pembunuhan layak mendapatkan hukuman mati.

Rodolfo Diamante dari Komisi untuk Penjara dan Pelayanan Pastoral Konferensi Waligereja Filipina memberikan perlawanan dan menyebut pernyataan senator itu sebagai “interpretasi yang tidak benar” atas Kitab Suci.

“Sangat disayangkan,” kata Diamante. Menurutnya, “interpretasi yang tidak benar semacam itu berbahaya” karena “menjerumuskan publik.”

“(Pacquiao) dipilih masyarakat untuk melindungi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat … bukan menghancurkannya,” katanya.

Ia menyarankan agar senator itu meminta stafnya untuk melakukan “penelitian yang solid” sebelum membagikan pandangannya terkait suatu isu.

Pekan lalu Vatikan menyetujui perubahan dalam teks katekismus Katolik yang sebelumnya menerima hukuman mati “sebagai jalan terakhir.”

Teks baru itu mengakui bahwa “martabat seseorang tidak hilang bahkan setelah melakukan kejahatan yang sangat serius.”

Paus Fransiskus menentang hukuman mati. Ia mengatakan hukuman mati secara fundamental menentang ajaran Kristus karena tidak memiliki peluang akan penebusan, tidak memberi keadilan bagi korban dan mengandung balas dendam.”

Pada Januari tahun lalu, Pacquiao mengutip Kitab Suci untuk mendukung hukuman mati dan mengatakan bahwa Yesus Kristus bahkan dihukum mati karena pemerintah memberlakukan hukuman mati.

Presiden Rodrigo Duterte juga berniat memberlakukan kembali hukuman mati. Dalam pernyataan baru-baru ini, Istana Presiden mengatakan pemerintah akan berusaha melakukan “persuasi lembut” untuk meyakinkan para senator agar mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) yang akan memberlakukan hukuman mati.

Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan RUU yang memberlakukan hukuman mati tahun lalu. Sebuah peraturan dari para senat dibutuhkan untuk menjadikan RUU itu sebagai UU.

 

Plafon Gereja Mataram Runtuh Akibat Gempa Bermagnitudo 7,0 di Lombok

UCANews - Sen, 06/08/2018 - 16:12

Gempa berkekuatan 7,0 skala Richter menggoncang Pulau Lombok di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (5/8) dan menewaskan sedikitnya 91 orang dan menciderai lebih dari 200 orang lainnya serta mengakibatkan kerusakan terhadap ribuan bangunan termasuk gereja.

Gempa yang juga menggoncang Pulau Bali itu terjadi seminggu setelah gempa bermagnitudo 6,4 melanda wilayah tersebut pada 29 Juli ketika sedikitnya 16 orang tewas dan 355 orang cidera serta lebih dari 5.100 orang terpaksa mengungsi.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diterima oleh ucanews.com pada Senin (6/8) bahwa fokus utama saat ini adalah pencarian, penyelamatan dan pertolongan para korban serta pemenuhan kebutuhan dasar. Kebutuhan mendesak saat ini mencakup tenaga medis, air bersih, selimut, tikar, makanan siap saji dan layanan trauma healing.

Di antara bangunan yang rusak adalah gereja Paroki St. Maria Immaculata di Mataram, ibukota Propinsi NTB.

“Gempa kali ini lebih kuat dari gempa sebelumnya. Plafon gereja rusak namun bangunan tetap berdiri. Dinding gereja kuat, tidak ada yang retak,” kata Pastor Laurensius Maryono, pastor paroki, kepada ucanews.com.

“Umat aman. Tidak ada aktivitas di dalam gereja (saat terjadi gempa). Gereja dalam keadaan kosong,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa sejumlah umat paroki dan orang muda secara spontan membersihkan reruntuhan plafon pada Senin (6/8) pagi.

“Hari ini Misa harian ditiadakan karena (kondisinya) parah sekali. Besok bisa dimulai lagi di aula untuk sementara waktu,” katanya, seraya menambahkan bahwa renovasi akan segera dimulai.

Menurut Pastor Maryono, tim tanggap darurat paroki telah berkoordinasi dengan tim tanggap darurat dari Keuskupan Denpasar untuk mempersiapkan bantuan bagi para korban.

“Tim akan melakukan survei ke Lombok Utara dan Lombok Timur, pusat gempa. Kami melanjutkan kembali apa yang telah dilakukan. Kami mencari data baru untuk aktivitas kepedulian kami,” katanya.

Sementara itu, gereja Paroki Katedral Roh Kudus di Denpasar, Propinsi Bali, mengalami kerusakan ringan akibat gempa tersebut.

“Pada saat itu goyang. Hanya ornamen-ornamen batu tempel yang jatuh. (Kerusakannya) hanya sekitar satu persen dari bentuk total bangunan dalam katedral,” kata Sofyan, seorang anggota Dewan Pengurus Paroki, kepada ucanews.com.

“Tembok aman. Masih kokoh. Bahkan tadi pagi jam 06:30 WITA kami mengadakan Misa harian pagi,” katanya.

Meskipun demikian, ia mengatakan tim pembangunan paroki akan mempelajari kerusakan lebih lanjut.

Menurut laporan, lebih dari 130 gempa susulan terjadi pasca-gempa tersebut.

Kristoforus Manse dari Paroki St. Maria Immaculata di Mataram mengatakan ia harus tidur di sebuah lapangan terbuka bersama ratusan warga lainnya setelah gempa menggoncang wilayah itu.

“Kami takut akan gempa susulan dan tsunami,” katanya kepada ucanews.com.

Ia mengatakan ia tinggal di sebuah rumah yang terletak sekitar 500 meter dari bibir pantai.

“Setelah gempa, semua orang bingung mau lari kemana karena ada peringatan tsunami,” katanya.

Namun peringatan tsunami dicabut sekitar dua jam kemudian.

 

 

Rekam Jejak Pemilu dari Masa ke Masa - KOMPAS.com

Google News - Sen, 06/08/2018 - 15:38

KOMPAS.com

Rekam Jejak Pemilu dari Masa ke Masa
KOMPAS.com
Partai Nasional Indonesia (PNI): 57 kursi; Masyumi: 57 kursi; Nahdlatul Ulama (NU): 45 kursi; Partai Komunis Indonesia (PKI): 39 kursi; Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII): 8 kursi; Partai Kristen Indonesia (Parkindo): 8 kursi; Partai Katolik: 6 ...

Pendidikan Menjadi Fokus Utama bagi Uskup Agung Sri Lanka

UCANews - Sen, 06/08/2018 - 15:00

Uskup Agung Emeritus Oswald Gomis menghadapi tantangan besar sejak sekolah-sekolah Katolik diambil alih untuk  dikelola oleh  Pemerintah Sri Lanka  tahun 1960-an.

Kebijakan pemerintah “tentu saja bukan hal yang baik” dan ditujukan untuk memukul Gereja Katolik, kata uskup agung berusia 85 tahun, yang sangat dihormati oleh Presiden Maithripala Sirisena atas pelayanan keagamaan dan sosialnya yang luar biasa dalam sebuah perayaan di Kolombo pada 22 Juli  lalu.

Merayakan 50 tahun sebagai uskup, Uskup Agung Gomis percaya bahwa pemerintah seharusnya tidak mengambil alih sekolah-sekolah yang dikelola Gereja pada waktu itu.

“Pemerintah mengira sekolah adalah tempat untuk konversi. Dan  sejak hari itu semua ajaran agama lain telah dirusak,” katanya. “Saya selalu percaya bahwa Gereja Katolik memiliki misi yang sangat penting di Sri Lanka, dan misi itu adalah pendidikan.”

Sekolah-sekolah Katolik memiliki misi untuk menanamkan nilai-nilai Katolik di komunitas mereka dan mempraktekan nilai – nilai itu melalui ajaran agama setiap hari.

Uskup Agung Gomis mendirikan 15 sekolah  sebagai cabang dari sekolah-sekolah yang didirikan selama masanya sebagai uskup agung.

Dia pernah menjadi anggota Komisi Legislasi  dari Universitas Kolombo. Dia adalah seorang konsultan untuk panitia pembuatan  kamus Sinhala dan tetap menjadi konselor  Universitas Kolombo.

Dia telah menulis lebih dari 30 buku dan mendirikan Kongregasi Suster Maria Tanpa Noda.

Pendidik ini juga telah menjadi editor mingguan Katolik Sinhala tertua, Gnanartha Pradeepaya (Lampu Kebijaksanaan).

Masuknya dia ke dalam jurnalisme dimulai ketika dia adalah seorang siswa sekolah yang bersama dengan beberapa teman memulai sebuah majalah berjudul The Writer dan dengan  berpikir bahwa iklan harus dibeli dan tidak dibayar.

Setelah masuk  seminari tahun 1950, ia berkontribusi pada Aloysian Herald dengan Pastor Anslem De Croos. Dia ditahbiskan menjadi imam pada 3 Februari 1958, dan pentahbisan uskupnya  tahun 1968.

Setelah menjadi editor Gnanartha Pradeepaya  tahun 1961, ia menghadapi masa-masa sulit dengan aksi serikat pekerja pers. Kemudian setelah pengenalan UU Pengambilalihan Sekolah, pers “mengalami kerugian besar karena kami mencetak buku untuk sekolah.”

Untuk menambah kesengsaraannya, pemerintah memotong pasokan kertas koran (kertas yang digunakan untuk mencetak). Tetapi dia dibantu oleh uskup Chilaw, yang memiliki pers dan mengirim kuota korannya, dan M.D Gunasena dari surat kabar Dawasa membantu memasok lebih banyak.

Uskup Agung Gomis telah mendokumentasikan catatan sejarah Gereja Katolik dan sumbangsih rakyatnya bagi Sri Lanka.

Dia adalah ketua Kantor Komunikasi Sosial  Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia  selama 11 tahun dan berada di dewan direksi Radio Veritas.

Uskup agung Gomis menjelaskan bahwa pada masa itu Gereja Katolik mengalami beberapa perubahan, termasuk orientasi yang sejalan dengan budaya Sinhala. Ini diperlukan karena misionaris Prancis, Italia, Belgia dan Irlandia sebelumnya telah menjalankan misi pewartaannya di Sri Lanka.

Seni, arsitektur, perayaan tradisional seperti  Tahun Baru Sinhala dan kartu Natal lokal diperkenalkan. “Kami juga tahu bahwa ada kebaikan dalam budaya kami untuk dimasukkan ke dalam kehidupan Kristen,” kenangnya.

 

Festival Film Puskat

Sesawi.Net - Sen, 06/08/2018 - 14:59
 

Nasionalisme-ku, Nasionalisme-mu, Nasionalisme Kita - Mengenalkan Islam Damai (Blog)

Google News - Sen, 06/08/2018 - 14:47

Mengenalkan Islam Damai (Blog)

Nasionalisme-ku, Nasionalisme-mu, Nasionalisme Kita
Mengenalkan Islam Damai (Blog)
Dalam kontes ke-Indonesia-an kalangan Kristen menerapkan the Kingship of God. Yakni, kerajaan Tuhan diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai kemasyarakatan. Dikalangan Katolik, relasi agama dan nasionalisme tercakup dalam Invocatio Dei, yakni ...

Google News

Temu Mahasiswa yang Bukan Sekedar Bertemu

Sesawi.Net - Sen, 06/08/2018 - 12:55
“BERSATU Indonesia Merdeka”  menjadi tema Temu Mahasiswa PMKAJ (Pastoral Mahasiwa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ) 2018 yang dilangsungkan di Gunung Putri, 1-3 Agustus 2018. Kegiatan ini merupakan ajang perjumpaan Orang Muda Katolik se-universitas di Jakarta untuk bertemu, berdinamika, menerima informasi dan bertindak lanjut dalam membuat social project. Kegiatan hari pertama diawali dengan Parade Kebhinnekaan, kemudian mahasiswa […]

Ribuan Keluarga Asal Pakistan Ditolak Visanya Bertemu Paus Fransiskus di Irlandia

UCANews - Sen, 06/08/2018 - 10:20

Umat Katolik  di Pakistan terkejut  setelah pemerintah Irlandia menolak visa mereka untuk menghadiri Pertemuan Keluarga Internasional  yang akan datang.

Sekitar 10.000 keluarga  dari seluruh negeri itu – 600 dari Keuskupan Agung Karachi  mengajukan visa untuk  mengadiri acara 21-26 Agustus di Dublin yang akan dihadiri oleh Paus Fransiskus. Namun, semua pengajuan  mereka ditolak.

Pastor Anthony Abraz, pastor Paroki  Gembala Baik di Karachi, adalah salah satu dari enam imam yang permohonan visanya ditolak karena tidak memberikan bukti hubungannya dengan, atau bepergian ke acara serupa sebelumnya.

“Petugas visa telah menemukan bukti yang tidak cukup mengenai kewajiban keluarga, sosial, ekonomi atau kewajiban lain yang kuat untuk kembali ke negara asal mereka,” menurut tanggapan konsulat Irlandia di Karachi kepada para keluarga tersebut.

Mereka  juga menyatakan ketidakpuasan atas tujuan mereka untuk bepergian ke Irlandia, situasi keuangan, keadaan keluarga, detail pekerjaan, riwayat perjalanan, tuan rumah di Irlandia dan jadwal perjalanan.

“Semua aplikasi seharusnya dinilai berdasarkan kasus per kasus,” kata Pastor Abraz, ia menambahkan bahwa dua kelompok awam menerima surat dengan isi yang sama.

“Kami telah dengan hati-hati memilih calon peziarah, termasuk kepala sekolah dan direktur LSM, dari kelas eksekutif. Kardinal Joseph Coutts dari Karachi hanya memberikan surat rekomendasi kepada mereka yang tidak tertarik mencari suaka.”

Samuel Sarfraz, yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi di kota Multan, provinsi Punjab, menjual tanah perumahan untuk tambahan 300.000 rupee (US $ 2.420) untuk aplikasi visa yang tidak dapat dikembalikan dan biaya pendaftaran untuk keluarganya yang terdiri dari tiga anak untuk menghadiri acara di Irlandia.

“Ini adalah konspirasi untuk mengambil uang dari orang-orang yang sudah terpinggirkan dan didiskriminasikan di negara mayoritas Muslim. Jika kebijakannya adalah menolak semua orang Pakistan, mengapa mereka menerima biaya visa dan pendaftaran untuk pertemuan dunia itu?” tanyanya.

“Kami hanya ingin melihat Bapa Suci yang tercinta. Penolakan mempengaruhi prospek kami mengunjungi negara Eropa mana pun.”

Pakistan menduduki peringkat keempat dalam Daftar Doors World Open Doors 2017 dari 50 negara yang paling sulit untuk menjadi orang Kristen.

Kunjungan Paus Santo Yohanes Paulus II tahun 1981 adalah satu-satunya kunjungan paus ke Pakistan, sementara Henley Passport Index menempatkan paspor Pakistan sebagai yang terburuk keempat di dunia untuk perjalanan internasional.

Minoritas agama, terutama Kristen, Syiah  dan Ahmadiyah, sering menjadikan penganiayaan karena agama untuk hidup di pengasingan atau mendapat status pengungsi di negara lain.

 

Gereja di Propinsi Jinan Dibuldoser Otoritas Cina

UCANews - Sen, 06/08/2018 - 09:00

Bangunan gereja kedua dirobohkan oleh pemerintah Propinsi Jinan di Cina, sementara bangunan gereja ketiga akan mengalami hal serupa tidak lama lagi.

Setelah Gereja Katolik Liangwang dirobohkan pada 17 Juli, umat Katolik setempat berdoa di lokasi kejadian dan memprotes sikap otoritas yang tidak beralasan.

Gereja Katolik Shilihe dirobohkan awal tahun ini. Beberapa sumber memprediksi bahwa Gereja Katolik Wangcun juga akan segera dirobohkan.

Ketiga gereja tersebut masih digunakan dan semua gereja legal terdaftar secara resmi dalam pemerintah, demikian seorang sumber di Propinsi Jinan.

Gereja Katolik Liangwang dibangun pada 1920. Selama Revolusi Budaya, gereja ini diklasifikasi sebagai sebuah rumah pribadi. Setelah melalui prosedur hukum yang panjang, gereja itu dibangun kembali pada 2006.

Sore hari, pada 17 Juli, tiga wanita awam tengah bertugas di gereja itu ketika lebih dari 40 orang memaksa masuk, menggeledah mereka, mengambil telepon seluler mereka dan mengusir mereka dari gereja.

Sekitar 30 orang lainnya lalu tiba untuk membantu merobohkan bangunan gereja itu. Perobohan dilakukan meskipun masih ada banyak benda di dalam gereja.

Gereja itu dibangun di atas lahan yang disumbangkan oleh Desa Liangwang dan telah memperoleh ijin untuk mengadakan kegiatan secara resmi. Bangunan gereja dirobohkan karena Distrik Pian akan dikembangkan dengan berbagai gedung dan infrastruktur baru.

Seusai perobohan, pastor paroki dan presiden menyampaikan keluhan kepada otoritas tetapi tidak mendapat tanggapan.

“Bangku, altar dan kotak persembahan tertimbun puing-puing. Puing-puing ini lalu terbakar dan semua benda terbakar habis,” kata seorang umat.

Setelah mengetahui rencana perobohan bangunan gereja itu, umat berusaha memperoleh ijin dari otoritas untuk membangun gereja di tempat lain, tetapi bangunan gereja dihancurkan sebelum ada kesepakatan.

Berbagai sumber mengatakan distrik itu berjanji memberi kompenasi kepada gereja dan juga lokasi sementara yakni sebuah rumah, tetapi tawaran itu belum terwujud.

Umat mendatangi puing-puing gereja itu pada 23 Juli untuk menyampaikan doa agar permohonan mereka dikabulkan dan untuk memprotes perobohan tersebut.

Seorang umat percaya bahwa merobohkan gereja dan salibnya sama dengan menggali makam para leluhur di era feodal.

“Bisakah Anda membayangkan kepedihan dan penderitaan jika Anda melihat makam leluhur Anda digali dan tulang-tulang mereka dihancurkan?” tanyanya.

“Apakah pemerintah perlu melakukan ini? Umat hanya ingin tempat kecil untuk membangun sebuah gereja baru di wilayah sekitarnya tanpa mempengaruhi pembangunan,” katanya.

 

Mgr Agus minta diakon dan imam renungkan kembali moto panggilan di saat ‘kekeringan’

Pen@ Katolik - Sen, 06/08/2018 - 04:26
Tiga imam baru serta empat diakon baru bergambar bersama Mgr Agustinus Agus dan Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap dan para imam konselebran di Katedral Santo Yosef Pontianak.

Sebagai Alter Christus atau Kristus yang lain, imam adalah tokoh penting dalam Gereja dengan tugas utama membawa umat kepada keselamatan kekal. Namun, sebagai manusia dengan aneka keterbatasan, mereka harus selalu dengan rendah hati mengungsi kepada Tuhan dalam pelaksanaan tugas panggilan sebagai nabi, imam dan raja.

Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus berbicara dalam homili Misa Tahbisan diakon dan imam di Katedral Santo Yosef Pontianak yang dipimpinnya pada Pesta Santo Yohanes Maria Vianney, 4 Agustus 2018. Uskup Agung Emeritus Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap dan 52 imam jadi selebran.

Sebelum tahbisan, Mgr Agus minta kepada empat diakon dan tiga imam agar “merenungkan kembali moto panggilanmu, di mana olehnya engkau merasa diteguhkan dan dikuatkan,” kalau kalian mengalami masalah atau “kekeringan.”

Moto Panggilan Diakon Paulinus Surip Pr asal Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Serimbu Keuskupan Agung Pontianak (KAP) adalah “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku” (Ef. 3:7), Diakon Valerius Hilarion Pr asal Paroki Santo Yosep Pemangkat KAP adalah “Inilah aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8b), Diakon Josemaria Caritas CSE asal Paroki Gembala yang Baik Surabaya adalah “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:8), dan Diakon Methoddius CSE asal Magelang adalah “Bagiku hidup adalah Kristus, Kristuslah yang hidup dalam aku” (Galatia 2:20).

Sementara itu Pastor Matius Pr asal Paroki Santo Pius X Bengkayang KAP membawa moto “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini” (Markus 8:2), Pastor Marselinus M Jano OSM asal Keuskupan Ruteng membawa “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4a), dan Pastor Marsianus Iwan Setiawan CSE asal Paroki Kalvari Lubang Buaya Jakarta Timur membawa “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26).

Yang pertama bagi seorang imam, kata Mgr Agus kepada sekitar 2000 umat yang hadir, “dia mampu memberikan teladan yang baik kepada umat yang dilayani. Teladan seorang imam yang baik akan berdampak pada perkembangan iman dan perilaku umatnya.”

Uskup yakin, “Jika pastor paroki seorang yang kudus, umat akan menjadi suci. Sebaliknya, jika imam suam-suam kuku, umatnya menjadi buruk.” Untuk menjadi teladan yang baik, Mgr Agus minta para imam memperhatikan hal-hal kecil, misalnya, “bangun pagi tepat waktu untuk mempersembahkan Misa.” Banyak hal kecil bisa dilakukan, “tetapi kadang kita sepelekan, sehingga berdampak pada menurunnya kepercayaan umat terhadap kualitas hidup rohani imamnya.”

Mgr Agus mengingatkan bahwa Santo Yohanes Maria Vianney tidak cerdas secara intelektual tetapi mampu menginspirasi banyak orang melalui hidupnya yang sederhana dan saleh, bahkan menjadi orang kudus dan pelindung para imam, “karena dia melayani bukan dengan intelektualnya tetapi dengan hati.”

Mgr Agus minta semua imam, khususnya diakon dan imam yang baru ditahbiskan membawa semangat itu dalam menjalankan tugas di Paroki Santo Yosep Pemangkat untuk Diakon Paulinus Surip Pr; Paroki Santo Yosef Katedral Pontianak untuk Diakon Valerius Hilarion Pr; Paroki Santo Pius X Bengkayang untuk Diakon Josemaria Caritas CSE; Lambah Karmel Cikanyere, Jawa Barat, untuk Diakon Methoddius CSE; Paroki Santo Christoforus Sungai Pinyuh untuk Pastor Matius Pr; Kuasi Paroki Santo Yosef Jelimpo untuk Pastor Marselinus M Jano OSM; dan Pertapaan Shanti Bhuana Bandol untuk Pastor Marsianus Iwan Setiawan CSE.

Saat menyampaikan tempat tugas itu, Mgr Agus mengumumkan status Kuasi Paroki Jelimpo akan ditingkatkan menjadi paroki bulan Desember, dan Diakon Surip dan Hilarion akan ditahbiskan imam bulan Februari 2019 di Pemangkat.

Secara khusus Uskup Agung Pontianak mengatakan kepada orangtua dari dua diakon dan satu imam diosesan yang baru bahwa mereka bertiga telah masuk dalam keluarga besar imam projo KAP “dan kami akan menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak itu, namun tetap diharapkan kerja sama dari keluarga.”

Mewakili para imam dan diakon baru, Pastor Matius Pr menegaskan, tahbisan adalah langkah awal karya pewartaan Injil, maka mereka mohon dukungan agar setia melaksanakan tugas dan perutusan itu. Meski menyadari banyak tantangan dan ancaman di dunia, kata Pastor Matius, “kami percaya Tuhan akan memampukan kami mewartakan Injil dengan penuh sukacita Injil dan melayani dengan semangat dan komitmen panggilan kami sebagai imam dan diakon. Semoga berkat rahmat Roh Kudus dan bantuan Santa Perawan Maria, kami setia kepada Allah dan Gereja sampai akhir.”(Sr Maria Seba SFIC/ak)

Lebih dari 30.000 OMK Italia berziarah jalan kaki seminggu di seluruh keuskupan mereka

Pen@ Katolik - Sen, 06/08/2018 - 02:26

Lebih dari 30.000 orang muda Katolik (OMK) dari sekitar 200 keuskupan Italia berangkat secara berkelompok pada hari Jumat pagi, 3 Agustus 2018, mengikuti ziarah jalan kaki selama seminggu di wilayah keuskupan masing-masing. Ziarah itu akan berakhir dengan apel akbar di Roma di akhir pekan depan dengan pertemuan dengan Paus Fransiskus.

Ziarah itu, menurut laporan Robin Gomes dari Vatican News, diprakarsai oleh Pelayanan Nasional Departemen Kepemudaan Konferensi Waligereja Italia guna mempersiapkan Sinode tentang kaum muda di Vatikan bulan Oktober dan Hari Orang Muda se-Dunia (WYD) di Panama bulan Januari.

Pastor Michele Falabretti yang mengepalai kantor Departemen Kepemudaan itu menjelaskan bahwa mereka ingin menambahkan pengalaman khusus untuk pertemuan mereka dengan Paus, maka prakarsa itu disebut, “Per Mille Strade” (Melalui seribu jalan), yang merupakan ziarah OMK dan para pendamping mereka, dan Siamo Qui” (Kami ada Di sini), perjumpaan dengan Paus Fransiskus dalam dua hari terakhir di Roma, 11 dan 12 Agustus 2018.

Agar bisa memanfaatkan sebaik-baiknya ziarah berjalan kaki itu, setiap peserta dibekali perangkat ziarah berisi barang-barang praktis dan spiritual. Ini termasuk tas bahu dengan barang-barang seperti lampu untuk malam hari, topi, kantong air, buku harian, Injil, salib, buku komentar tentang perjumpaan antara Yesus dan para murid, kanvas kecil dengan gambar kafan suci, peta dan tanda pengenal.

Para peziarah muda juga dilengkapi kayu bundar, tempat menempatkan pengalaman mereka saat melewati berbagai tahap perjalanan mereka.

Pastor Falabretti mengatakan, tujuan ziarah itu untuk “membantu orang muda keluar dari jalan yang biasa mereka lalui, mengurangi kegiatan dan terus menyaksikan kesaksian-kesaksian hidup dan iman yang mereka temukan serta mengetahui kisah-kisah manusia zaman sekarang dan kesulitan-kesulitan dan harapan-harapannya. Perjalanan ini hendak membuat anak-anak berpikir dan merasa sebagai bagian dari Gereja.”

Setelah berziarah melintasi keuskupan masing-masing, anak-anak muda itu akan naik bus, kereta api, atau sarana lain untuk berkumpul di Roma hari Sabtu, 11 Agustus. Di sana mereka akan mengadakan doa malam di Circus Maximus yang akan dihadiri Bapa Suci.

Hari berikutnya, mereka akan menghadiri Misa di Lapangan Santo Petrus. Di akhir Misa, Paus akan menyerahkan mandat misionaris dan memberkati Salib Santo Damian dan Bunda Kita dari Loreto yang akan mereka bawa ke WYD di Panama, tahun depan.

Orang-orang muda itu didorong untuk tetap berhubungan dengan memposting pengalaman mereka secara online di media sosial yang akan dibagikan kepada semua secara real time di saat perjalanan ziarah berlangsung.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait

Paus Fransiskus dalam Minggu Palma minta OMK berteriak sebelum batu-batu berteriak

Paus Fransiskus pada pertemuan pra sinode orang muda harus serius diperhatikan

Logo ziarah jalan kaki OMK Italia

Kardinal Turkson: Pariwisata seharusnya memuliakan Tuhan dan meningkatkan martabat manusia

Pen@ Katolik - Sen, 06/08/2018 - 01:42
Kardinal Peter Turkson. Vatican Media

Prefek Dikasteri Promosi Pengembangan Manusia Integral Kardinal Peter Turkson telah menulis Pesan untuk Hari Pariwisata se-Dunia, yang berlangsung setiap tahun tanggal 27 September, dengan merefleksikan tema peringatan tahun ini: “Pariwisata dan Transformasi Digital.” Fokus tema itu, kata kardinal, adalah cara teknologi digital mengubah usia dan perilaku kita.

Karena perubahan itu, kata Kardinal Turkson, Hari Pariwisata se-Dunia, “mengajak kita untuk merefleksikan sumbangan kemajuan teknologi tidak hanya untuk meningkatkan produk dan layanan wisata, tetapi juga karena kemajuan ini merupakan bagian pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang hendaknya menjadi arah pertumbuhan sektor itu.”

Gereja, lanjut kardinal, seperti dilaporkan oleh Christopher Wells dari Vatican News, “selalu secara khusus memperhatikan pastoral pariwisata, rekreasi dan liburan,” sehingga wanita dan pria bisa berbagi nilai-nilai dan cita-cita mereka, dan bertumbuh sebagai individu.

Pariwisata merupakan cara penting untuk berbagi sumber daya, dan untuk “mendidik masyarakat tentang tanggung jawab bersama terhadap ‘rumah kita bersama.’”

Kardinal Turkson juga “secara khusus memikirkan” orang-orang muda, yang menjadi pusat Sidang Umum Sinode Para Uskup mendatang. Dokumen kerja sinode, demikian catatan kardinal itu, membahas betapa “perlu memberikan mereka pembinaan dan pendidikan antropologi, sehingga mereka bisa menjalani ‘kehidupan digital’ tanpa memisahkan perilaku online dan offline, atau membiarkan diri mereka tertipu oleh dunia maya.”

Akhirnya, kata Kardinal Turkson, “diharapkan Dikasteri ini merumuskan untuk semua, wisatawan dan orang yang berlibur, ‘agar pariwisata berkontribusi untuk memuliakan Tuhan, dan untuk semakin mengesahkan martabat manusia, pengetahuan bersama, persaudaraan spiritual, penyegaran tubuh dan jiwa.’”(pcp berdasarkan Vatican News)

Vatikan dianugerahi hadiah internasional untuk video tentang migran dan pengungsi

Puncta 06.08.18 Markus 9:2-10: Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

Sesawi.Net - Min, 05/08/2018 - 23:41
SETELAH Yesus mengatakan bahwa Dia akan menderita, dibunuh dan bangkit kembali, Dia mengajak 3 murid terdekatNya, Petrus, Yakobus dan Yohanes, bersama-sama Dia naik ke atas gunung. Ketika Dia sedang berdoa, pakaianNya putih berkilau-kilau, nampak mulia. Musa dan Elia nampak berbicara tentang kematianNya yang segera tiba. Petrus tidak mengerti dan merasa ketakutan. Namun ia menawarkan membuat […]

Yesus Menampakkan KemuliaanNya

Sesawi.Net - Min, 05/08/2018 - 23:36
INJIL hari ini berkisah tentang Petrus, Yohanes dan Yakobus yang menyaksikan peristiwa transfigurasi, perubahan rupa Yesus, yang menampakkan kemuliaanNya. Sebagai murid Kristus, kita juga dapat ikut serta mengalami kemuliaan bersamaNya. Namun tentu ada syarat yang harus dipenuhi, yakni bersedia mendengarkan sabdaNya dan setia menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Perjumpaan denganNya di dalam doa, memang akan […]

Kata Mutiara – Senin 6 Agustus 2018

Sesawi.Net - Min, 05/08/2018 - 23:32
TUHAN berbicara kepada kita setiap hari, hanya saja kita tidak tahu cara mendengarkan. Mahatma Gandhi Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Renungan Harian, Senin: 06 Agustus 2018, Mrk. 9: 2 – 10

Mirifica.net - Min, 05/08/2018 - 19:18
ENGALAMAN selalu memengharui kualitas iman seseorang. Pengalaman juga bisa menjadi fondasi yang mendasari kualitas hidup seseorang. Bahkan pengalaman bisa membawa orang kepada kebinasaan atau sebaliknya melahirkan kehidupan baru baginya. Pengalaman positif dan menyenangkan yang dialami Petrus, Yakobus dan Yohanes karena menyaksikan bahkan mengalami kemuliaan Yesus di atas gunung Tabor, sangat memengharui iman ketiga rasul ini. …

Pelita Hati: 06.08.2018 – Dengarkanlah Dia

Sesawi.Net - Min, 05/08/2018 - 17:00
Bacaan Markus 9:2-10 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka […]

Tahbisan Diakon dan Tahbisan Imam di Gereja St. Yoseph Katedral Pontianak (4)

Sesawi.Net - Min, 05/08/2018 - 12:11
BERIKUT ini kami sampaikan paparan visual dalam bentuk album foto yang merekam peristiwa Misa Penerimaan Sakramen Imamat Misa Tahbisan Imam di Gereja St. Yoseph Katedral Pontianak, Sabtu tangga 4 Agustus 2018. Gereja Katolik mengenal Sakramen Imamat dan itu hanya diberikan kepada mereka yang berstatus Diakon, calon imam yang dianggap layak untuk ditahbiskan sebagai imam. Tahbisan […]

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator