Berita dan Event

Kerendahan Hati

Sesawi.Net - Sab, 04/11/2017 - 05:33
ORANG Farisi sangat bangga dengan status sosial mereka yang tinggi sebagai pemuka agama. Mereka gila hormat sehingga di dalam pesta perkawinan pun, mereka selalu berebut tempat untuk menduduki kursi kehormatan. Lewat perumpamaan pada hari ini, Yesus mengingatkan kita semua akan pentingnya sikap kerendahan hati. Sehebat apa pun kita, hendaknya jangan merasa super sehingga meremehkan dan […]

Kata Mutiara – Sabtu 4 November 2017

Sesawi.Net - Sab, 04/11/2017 - 05:29
KERENDAHAN hati mengakui bahwa tidak ada orang yang dapat mengubah orang lain, namun dengan iman, usaha, dan pertolongan Tuhan, hati kita sendiri pun dapat mengalami perubahan yang besar. L. Whitney Clayton Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Brevir Pagi, Sabtu: 04 Oktober 2017, Pekan Biasa XXX – O Pekan II – Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI

Mirifica.net - Sab, 04/11/2017 - 04:00

PEMBUKAAN

P: Ya Allah, bersegeralah menolong aku.

U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Alleluya.

MADAH

Kristus cahaya dunia

Terbitlah bagaikan surya

Datanglah, kami menunggu

Kami siap menyambutMu.

Kristus Anakdomba Paska

Yang dibunuh namun jaya

Datanglah, kami menanti

Sudah rindu hati kami.

Kristus gembala utama

Yang wafat membela domba

Datanglah, jangan terlambat

Kami mendambakan slamat.

Terpujilah Yesus Kristus

Dengan Bapa dan Roh kudus

Yang hidup dan berkuasa

Kini dan sepanjang masa. Amin.

PENDARASAN MAZMUR

Antifon

Kami mewartakan kasihMu pagi hari, ya Tuhan dan kesetiaanMu di waktu malam.

Mazmur 91 (92)

Betapa baiklah bersyukur kepada Tuhan,*

memuji namaMu, Allah yang mahatinggi;

mewartakan kasihMu pagi hari,*

dan kesetiaanMu di waktu malam:

dengan membunyikan gambus dan kecapi,*

dengan iringan celempung.

Sebab Engkau menggembirakan daku dengan karyaMu yang agung,*

aku bersorak-sorai karena perbuatan tanganMu.

Betapa agung pekerjaanMu, ya Tuhan,*

betapa luhur segala rencanaMu.

Orang bodoh tidak dapat menyadarinya,*

orang dungu tidak akan mengerti.

Biarpun orang jahat meriap seperti rumput,†

dan orang durhaka berkembang pesat,*

namun mereka akan binasa selama-lamanya.

Sedangkan Engkau, ya Tuhan,*

Engkau luhur selama-lamanya.

Sebab para musuhMu akan binasa,*

para penjahat Kaucerai-beraikan.

Tetapi aku Kaujadikan kuat seperti banteng,*

dan Kauurapi dengan minyak yang harum mewangi.

Orang jujur bertumbuh bagaikan palma,*

berkembang bagaikan pohon jati.

Mereka ditanam dekat bait Tuhan,*

bertunas di pelataran rumah Allah.

Pada masa tuapun mereka masih berbuah,*

dan tetap subur dan segar.

Mereka mewartakan, betapa adillah Tuhan pelindungku,*

tak ada kecurangan padaNya.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon

Kami mewartakan kasihMu pagi hari, ya Tuhan dan kesetiaanMu di waktu malam.

Antifon

Muliakanlah Allah kita.

Ul 32,1-12

Dengarlah, hai langit, aku akan berbicara,*

hai bumi, dengarkanlah kata mulutku.

Semoga ajaranku tercurah bagaikan hujan,*

dan bertaburan laksana embun;

bagaikan hujan lebat di padang hijau,*

bagaikan hujan rintik-rintik pada rerumputan.

Nama Tuhan hendak kuwartakan,*

muliakanlah Allah kita.

Perkasalah Tuhan, sempurna karyaNya,*

sungguh lurus kebijaksanaanNya.

Allah setia, tiada kecurangan padaNya,*

adillah Ia dan tulus ikhlas.

Tetapi anak-anakNya berbuat jahat terhadap Dia,*

angkatan yang buruk dan curang.

Begitukah kaubalas kebaikan Tuhan,*

hai orang yang bodoh dan tak berbudi?

Bukankah Dia Bapamu, yang menciptakan dikau,*

yang membentuk dan menghidupi engkau?

Ingatlah akan masa yang lampau,*

renungkanlah sejarah leluhurmu.

Tanyakanlah kepada bapamu, ia akan mengisahkannya,*

tanyakanlah kepada orang tua-tua, mereka akan menerangkannya.

Tatkala Yang mahatinggi membagikan tanah kepada bangsa-bangsa,*

tatkala Ia menentukan tempat kediaman bagi setiap orang,

Ia menetapkan perbatasan antara bangsa-bangsa,*

sehingga setiap penguasa mendapat bagiannya.

Maka Israel menjadi milik Tuhan,*

dan suku-suku Yakub pusakaNya.

Tuhan menjumpai umatNya di gurun pasir,*

di padang belantara yang sunyi senyap.

Tuhan melindungi dan membesarkannya,*

memeliharanya bagaikan biji mata,

seperti rajawali melindungi sarangnya,*

melayang-layang di atas anaknya,

membentangkan sayap-sayapnya,*

dan membawa anaknya di atas kepaknya.

Hanya Tuhan sendirilah yang membimbing umatNya,*

tiada dewa lain di sampingNya.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon

Muliakanlah Allah kita.

Antifon

Betapa mulia namaMu, ya Tuhan, di seluruh bumi.

Mazmur 8

Tuhan, Allah kami,*

betapa mulia namaMu di seluruh bumi!

KeagunganMu luhur mengatasi langit,†

mulut kanak-kanak dan bayi berbicara bagiMu,*

untuk membungkam musuh dan lawanMu.

Jika kupandang langitMu, karya jariMu,*

bulan dan bintang yang Kauciptakan:

Apakah manusia sehingga Kauperhatikan,*

siapakah dia sehingga Kaupelihara?

Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah,*

Kaumahkotai dengan kemuliaan dan semarak.

Kauberi dia kuasa atas buatan tanganMu,*

segala-galanya Kautundukkan kepadanya.

Domba, sapi dan ternak semuanya,*

hewan di padang dan margasatwa;

burung di udara dan ikan dilaut,*

semuanya yang melintasi arus lautan.

Tuhan, Allah kami,*

betapa mulia namaMu di seluruh bumi!

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon

Betapa mulia namaMu, ya Tuhan, di seluruh bumi.

BACAAN SINGKAT

(Rom 12,14-16a)

Berkatilah orang yang menganiaya kamu. Berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis. Hendaklah kamu sehati sependapat; janganlah pikirkan yang mulukMuluk, tetapi perhatikanlah yang sederhana.

Lagu Singkat

P: Bibirku bersorak-sorai,* Dan memuji Engkau dengan nyanyian.

U: Bibirku bersorak-sorai,* Dan memuji Engkau dengan nyanyian.

P: Lidahku mengucapkan sabdaMu.

U: Dan memuji Engkau dengan nyanyian.

P: Kemuliaan.

U: Bibirku bersorak-sorai,* Dan memuji Engkau dengan nyanyian.

Antifon Kidung

Ya Tuhan, bimbinglah kami ke jalan damai sejahtera.

KIDUNG ZAKARIA

(Luk 1,68-79)

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*

sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umatNya.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa,*

putera Daud, hambaNya.

Seperti dijanjikanNya dari sediakala,*

dengan perantaraan para nabiNya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,*

dan dari tangan semua lawan yang membenci kita.

Untuk menunjukkan rahmatNya kepada leluhur kita,*

dan mengindahkan perjanjianNya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,*

akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepadaNya tanpa takut,*

dan berlaku kudus dan jujur di hadapanNya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang mahatinggi,*

sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalanNya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umatNya,*

berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan,*

Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,*

dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

Seperti pada permulaan sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Antifon Kidung

Ya Tuhan, bimbinglah kami ke jalan damai sejahtera.

DOA PERMOHONAN

Kristus berkenan dijumpai dan dicintai dalam semua saudara kita, teristiwa dalam mereka yang ditimpa kesusahan. Maka hendaklah kita bertekun dalam doa dan berkata:

U: Sempurnakanlah kami dalam cintaMu, ya Tuhan.

P: Pagi-pagi sudah kami kenangkan kebangkitanMu, ya Tuhan,* dan kami mohonkan kurnia penebusanMu bagi semua orang.

P: Semoga hari ini kami memberi kesaksian tentang Engkau,* dan dengan perantaraanMu menyampaikan persembahan kepada Bapa.

P: Semoga kami melihat Engkau dalam setiap orang,* dan mengabdi Engkau dalam mereka.

P: Kristus, Engkaulah pokok anggur yang benar, dan kami carang-carangnya,* semoga kami tinggal dalam Engkau, menghasilkan buah banyak dan memuliakan Allah Bapa.

BAPA KAMI

Bapa kami yang ada di surga,

dimuliakanlah namaMu.

Datanglah kerajaanMu.

Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.

Berilah kami rezeki pada hari ini.

Dan ampunilah kesalahan kami,

seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin

DOA PENUTUP

Ya Tuhan, kami memuji Engkau dengan perkataan dan perbuatan. Seluruh jiwa raga kami adalah kurniaMu, maka hendaknya seluruh hidup kamipun menjadi milikMu. Demi Yesus Kristus, pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin

PENUTUP

P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U: Amin.

======

Sumber: Buku Ibadat Harian Ofisi Menurut Ritus Roma Diterbitkan Oleh PWI-Liturgi, 1995, Penerbit Nusa Indah Ende.

Karolin Minta Pemuda Katolik Rencanakan Program Bersentuhan Langsung dengan Masyarakat - Tribun Pontianak

Google News - Sab, 04/11/2017 - 00:12

Tribun Pontianak

Karolin Minta Pemuda Katolik Rencanakan Program Bersentuhan Langsung dengan Masyarakat
Tribun Pontianak
ID, LANDAK - Bupati Landak, Karolin Margret Natasa membuka secara resmi Musyawarah Komisariat Cabang Pemuda Katolik Kabupaten Landak tahun 2017 di ruang rapat utama DPRD Landak, Jumat (3/11/2017). Karolin mengatakan, kehadiran ...
Pemuda Katolik Landak Gelar Muskomcab-Mapenta 2017Antara Kalbar (Sindiran) (Siaran Pers) (Blog)

all 5 news articles »

4 November St. Felix dari Valois

Mirifica.net - Sab, 04/11/2017 - 00:00

1127-1212
Di daerah Meaux, Perancis, ia hidup menyendiri untuk masa yang cukup panjang dan diakui sebagai rekan St. Yohanes dari Matha ketika mendirikan Ordo Trinitas Mahasuci untuk berkarya membebaskan para budak. Namanya berarti “gembira” dari kata Latin.
Sumber dan gambar: Galuzzi, Antonio. 1 Februari 2001. Dalam santiebeati.it. Diakses pada 20 Oktober 2017

Pope at Mass: 'our faith makes us men and women of hope'

News.va - Jum, 03/11/2017 - 23:54
(Vatican Radio) Pope Francis on Friday celebrated Mass in St. Peter’s Basilica for all those Cardinals and Bishops who have died over the past year . During his homily the Pope reflected on the reality of death, but he also reminded us of the promise of eternal life which is grounded in our union with the risen Christ. Listen to the report by Linda Bordoni : “Today’s celebration, Pope Francis said, once more sets before us the reality of death.  It renews our sorrow for the loss of those who were dear and good to us.” But more importantly, reflecting on the liturgical reading of the day, he said it increases our hope for them and for ourselves, as it expresses speaks of the  resurrection of the just. The resurrection of the just “They are the multitude – he continued - that, thanks to the goodness and mercy of God, can experience the life that does not pass away, the complete victory over death brought by the resurrection”. And recalling Jesus’ sacrifice on the cross the Pope said that “by His love, He shattered the yoke of death and opened to us the doors of life”. Our faith in the resurrection opens the doors to eternal life The faith we profess in the resurrection, Pope Francis explained, makes us men and woman of hope, not despair, men and women of life, not death, for we are comforted by the promise of eternal life, grounded in our union with the risen Christ. He urged the faithful to be trusting in the face of death as Jesus has shown us that death is not the last word. Our souls, he said, thirst for the living God whose beauty, happiness, and wisdom has been impressed on the souls of our brother cardinals and bishops whom we remember today.   Hope does not disappoint Pope Francis concluded giving thanks for their generous service to the gospel and the Church and reminding those present that Hope never disappoints.     (from Vatican Radio)...

RIP Sr. Miryam CB

Sesawi.Net - Jum, 03/11/2017 - 23:12
KABAR duka datang dari Kongregasi Suster-suster Carolus Borromeus (CB). Telah meninggal dunia di Yogyakarta pada hari Jumat tanggal 3 November 2017 menjelang tengah malam ini: Sr. Miryam CB. Almarhum sejak tahun 1977 sampai beberapa tahun kemudian berkarya di Seminari Mertoyudan untuk mengurusi valet. Requiescat in pace et vivat ad aeternam.    

Pope Francis’prayer intention for November: To witness the Gospel in Asia

News.va - Jum, 03/11/2017 - 22:14
(Vatican Radio)  Pope Francis has released a video message accompanying his monthly prayer intention for November 2017. This month’s intention is for Evangelization: To witness to the Gospel in Asia . That Christians in Asia, bearing witness to the Gospel in word and deed, may promote dialogue, peace, and mutual understanding, especially with those of other religions The text of the video message reads: The most striking feature of Asia is the variety of its peoples who ar  heirs of ancient cultures, religions and traditions. On this continent where the Church is a minority, the challenges are intense. We must promote dialogue among religions and cultures. Let us pray that Christians in Asia may promote dialogue, that peace and mutual understanding, especially with those of other religions .     The Pope's Worldwide Prayer Network of the Apostleship of Prayer developed the "Pope Video" initiative to assist in the worldwide dissemination of monthly intentions of the Holy Father in relation to the challenges facing humanity. (from Vatican Radio)...

83 Tahun Paroki Katedral Malang: Misa Penerimaan Sakramen Krisma dan Pelantikan DPP

Sesawi.Net - Jum, 03/11/2017 - 21:45
PADA hari Minggu 29 Oktober 2017 telah berlangsung misa  penerimaan Sakramen Krisma dan acara seremonial pelantikan DPP  di  Gereja Katedral Malang. Yang dilantik adalah mereka yang didapuk berbakti sebagai anggota  DPP Paroki Katedral Malang periode 2017-2020. Kedua acara itu juga menandai perayaan HUT ke-83 tahun Paroki Katedral Malang. Gereja Katedral Malang yang besar anggun dan […]

Pope Francis' homily for Deceased Cardinals and Bishops

News.va - Jum, 03/11/2017 - 20:10
(Vatican Radio) Pope Francis on Friday celebrated Mass in St. Peter’s Basilica for deceased Cardinals and Bishops . During his homily the Pope reflected on the reality of death reminding us that “the faith we profess in the resurrection makes us men and woman of hope, not despair, men and women of life, not death, for we are comforted by the promise of eternal life, grounded in our union with the risen Christ”. Please find below the full text of the Pope’s homily : Today’s celebration once more sets before us the reality of death.  It renews our sorrow for the loss of those who were dear and good to us.  Yet, more importantly, the liturgy increases our hope for them and for ourselves. The first reading expresses a powerful hope in the resurrection of the just: “Many of those who sleep in the dust of the earth shall awake, some to everlasting life, and some to shame and everlasting contempt” (Dan 12:2).  Those who sleep in the dust of the earth are obviously the dead.  Yet awakening from death is not in itself a return to life: some will awake for eternal life, others for everlasting shame.  Death makes definitive the “crossroads” which even now, in this world, stands before us: the way of life, with God, or the way of death, far from him.  The “many” who will rise for eternal life are to be understood as the “many” for whom the blood of Christ was shed.  They are the multitude that, thanks to the goodness and mercy of God, can experience the life that does not pass away, the complete victory over death brought by the resurrection. In the Gospel, Jesus strengthens our hope by saying: “I am the living bread that came down from heaven.  Whoever eats of this bread will live forever” (Jn 6:51).  These words evoke Christ’s sacrifice on the cross.  He accepted death in order to save those whom the Father had given him, who were dead in the slavery of sin.  Jesus became our brother and shared our human condition even unto death.  By his love, he shattered the yoke of death and opened to us the doors of life.  By partaking of his body and blood, we are united to his faithful love, which embraces his definitive victory of good over evil, suffering and death.  By virtue of this divine bond of Christ’s charity, we know that our fellowship with the dead is not merely a desire or an illusion, but a reality. The faith we profess in the resurrection makes us men and woman of hope, not despair, men and women of life, not death, for we are comforted by the promise of eternal life, grounded in our union with the risen Christ. This hope, rekindled in us by the word of God, helps us to be trusting in the face of death.  Jesus has shown us that death is not the last word; rather, the merciful love of the Father transfigures us and makes us live in eternal communion with him.  A fundamental mark of the Christian is a sense of anxious expectation of our final encounter with God.  We reaffirmed it just now in the responsorial psalm: “My soul thirsts for God, for the living God.  When shall I come and behold the face of God?” (Ps 42:2).  These poetic words poignantly convey our watchful and expectant yearning for God’s love, beauty, happiness, and wisdom. These same words of the psalm were impressed on the souls of our brother cardinals and bishops whom we remember today.  They left us after having served the Church and the people entrusted to them in the prospect of eternity.  As we now give thanks for their generous service to the Gospel and the Church, we seem to hear them repeat with the apostle: “Hope does not disappoint” (Rom 5:5).  Truly, it does not disappoint!  God is faithful and our hope in him is not vain.  Let us invoke for them the maternal intercession of Mary Most Holy, that they may share in the eternal banquet of which, with faith and love, they had a foretaste in the course of their earthly pilgrimage. (from Vatican Radio)...

Paus Fransiskus peringatkan penghasut perang bahwa buah peperangan hanyalah kematian

Pen@ Katolik - Jum, 03/11/2017 - 19:04

Paus Fransiskus merayakan Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, Kamis 2 November 2017, dengan memperingati semua orang yang meninggal dalam perang, seraya mengingatkan umat manusia agar tidak melupakan pelajaran masa lalu dan bahwa satu-satunya buah yang dihasilkan oleh konflik adalah kematian.

Paus mengungkapkan kata-kata peringatan yang keras kepada para penghasut perang dalam homili di Monumen Peringatan dan Pemakaman Perang AS Nettuno sekitar 50 kilometer selatan Roma.

Linda Bordoni dari Radio Vatikan melaporkan, dalam kesempatan itu Paus mengulangi lagi keyakinannya bahwa “peperangan menghasilkan tidak lebih dari kuburan dan kematian.” Paus juga menegaskan bahwa dia memilih berkunjung ke pemakaman perang sebagai pertanda bahwa “kini umat manusia sepertinya tidak belajar dari pelajaran masa lalu, atau tidak ingin mempelajarinya.”

Monumen itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan orang yang tewas dalam operasi militer yang dilakukan untuk membebaskan Italia (dari Sisilia ke Roma) dari Nazi Jerman. Kapel di pemakaman itu berisi daftar 3095 orang yang hilang.

Paus tiba di pemakaman itu sebelum sore hari maka dia bisa menghabiskan waktu untuk refleksi dan penghormatan pribadi kepada 7.860 tentara yang kebanyakan masih muda, yang menyerahkan hidup mereka demi kebebasan dan rasa hormat kepada umat manusia.

Seraya berjalan dalam hening di antara deretan-deretan batu nisan, Paus Fransiskus membungkuk untuk membaca beberapa nama dan tanggal yang tertulis di marmer putih. Dalam homili, Paus menegaskan bahwa fakta-fakta itu menunjukkan bahwa satu-satunya buah dari perang adalah kematian .

Kepada umat berkumpul di hari suci itu untuk menghormati semua orang yang telah meninggal, Paus mengatakan bahwa dia memilih datang ke tempat ribuan orang tewas dalam pertempuran berdarah itu untuk kembali memohon kepada Tuhan “Tolonglah Tuhan: hentikan mereka. Jangan ada lagi perang. Jangan ada lagi pembantaian yang sia-sia.”

“Tolonglah Tuhan, semuanya hilang karena peperangan,” doa Paus dalam homili tanpa teks dan emosi melihat makam ratusan ribu pria muda yang harapannya “diputuskan dengan kejam, di saat dunia kembali berperang bahkan bersiap meningkatkan perang.”

Menurut Paus, saat ini ada orang yang kerjanya hanya untuk menyatakan perang dan melakukan konflik. “Mereka akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri dan segalanya.” Karena hari itu hari pengharapan dan air mata, Paus mengatakan bahwa air mata yang bercucuran dari yang kehilangan suami, anak laki-laki dan teman-temannya saat perang hendaknya tidak pernah dilupakan.

“Tapi umat manusia tidak belajar dari pelajaran dan sepertinya tidak mau mempelajari pelajaran itu,” kata Paus yang kemudian mengajak umat berdoa secara khusus  bagi kaum muda yang terjebak dalam konflik. “Banyak di antara mereka yang sekarat setiap hari dalam perang kecil-kecil,” kata Paus seraya mengingat ribuan anak tak berdosa yang sedang membayar harga perang.

Setelah merayakan Misa Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman di Pemakaman Militer Nettuno, Paus Fransiskus pergi ke Monumen Peringatan Gua-Gua Ardeatine untuk berdoa bagi korban pembantaian Perang Dunia Kedua. Di sana tahun 1962 dibantai 335 pria dan anak laki-laki sipil Italia dalam aksi balas dendam atas serangan yang dilakukan pejuang perlawanan yang menewaskan 33 anggota unit polisi militer Nazi. Di sana Paus berdoa dan memberikan refleksi singkat. (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

Renungan Harian, Sabtu: 04 November 2017, Luk.14:1.7-11

Mirifica.net - Jum, 03/11/2017 - 19:00

ANTO Paulus menyampaikan seruan tegas: “Jangan kamu merasa pandai!” (Rm. 11:25). Seruan ini berkaitan dengan situasi orang Israel yang merasa sebagai kaum pilihan. Karena status itu, mereka mempunyai derajat lebih tinggi daripada bangsa lain. Mereka meyakini pula bahwa hidup mereka lebih unggul dari bangsa lainnya.

Aroganis bukan hanya persoalan orang Israel. Kenyataannya, merasa lebih tinggi dan terhormat itu “kesukaan alamiah” manusia. Termasuk kita, mungkin. Inilah pula yang dibicarakan Yesus dalam Injil. Dengan sederhana, Yesus  mengingatkan bahwa “di atas langit masih ada langit”. Ia tidak hanya berbicara tentang kenyataan bahwa selalu ada orang yang lebih pandai atau hebat daripada kita. Lebih dari itu, Ia ingin kita menyadari kehadiran Allah yang melebihi segala sesuatu. Dia pulalah yang memberikan semua kehebatan yang kita miliki.

Allah sesungguhnya menjadi standar atau ukuran kehormatan bagi kita. Bukan seberapa hebat kita, melainkan hati dan ketaatan kepada-Nya yang menjadi pangkal kehormatan Allah akan memuliakan mereka yang berkenan kepada-Nya, sebagaimana Ia telah memuliakan Yesus Kristus. Bersikaplah rendah hati, demikian ditandaskan Yesus: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Luk. 14:11).

 Tuhan Yesus, ajarilah aku menjadi rendah hati dan taat kepada kehendak Allah. Amin.

Renungan Harian ini diambil dari Buku “Ziarah Batin 2017”, Diterbitkan oleh Penerbit OBOR, Jakarta

Kredit Foto     :  

 

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator