Berita dan Event

Uskup Agung Medan Mgr Anicetus B Sinaga: Tokoh Pemimpin Itu Bisa Mendamaikan - Tribun Medan

Google News - Min, 01/10/2017 - 04:24

Tribun Medan

Uskup Agung Medan Mgr Anicetus B Sinaga: Tokoh Pemimpin Itu Bisa Mendamaikan
Tribun Medan
Ketua Komisi Kerawam (Kerasulan Awam) Pangkal Pinang, Romo Hans Jeharut yang turut hadir dalam rapat kerja Vox Point Indonesia Sumut 2017. Romo Hans menyampaikan, bahwa perlu mendukung orang Katolik yang sangat berkompenten dan ...

Brevir Pagi, Minggu: 1 Oktober 2017 Pekan Biasa XXVI – O PEKAN II – HARI MINGGU BIASA XXVI

Mirifica.net - Min, 01/10/2017 - 04:00

PEMBUKAAN

P: Ya Allah, bersegeralah menolong aku.

U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Alleluya.

MADAH

Allah hidup dan meraja

Alleluya, alleluya

Maut sudah dikalahkan

Hidup sudah dilimpahkan.

Alleluya, alleluya

Terpujilah Kristus Tuhan.

Hari ini hari Tuhan

Alleluya, alleluya

Hari penuh kesukaan

Hari raya kebangkitan

Alleluya, alleluya

Terpujilah Kristus Tuhan.

Mari kita bergembira

Alleluya, alleluya

Bersyukur sambil memuji,

Bermadah sambil bernyanyi

Alleluya, alleluya

Terpujilah Kristus Tuhan.

PENDARASAN MAZMUR

Antifon

Terberkatilah yang datang demi nama Tuhan, alleluya.

Mazmur 117 (118)

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik,*

kekal abadi kasih setiaNya.

Hendaklah Israel berkata,*

kekal abadi kasih setiaNya.

Hendaklah kaum Harun berkata,*

kekal abadi kasih setiaNya.

Hendaklah orang yang takwa berkata,*

kekal abadi kasih setiaNya.

Dalam kesesakan aku berseru kepada Tuhan,*

Ia menjawab dan melegakan daku.

Tuhan di pihakku, aku tidak takut,*

Apa yang dapat dilakukan manusia terhadapku?

Tuhan di pihakku, Ia penolongku.*

Aku melihat pembenciku tersipu-sipu.

Lebih baik berlindung pada Tuhan,*

dari pada percaya kepada manusia.

Lebih baik berlindung pada Tuhan,*

dari pada percaya kepada bangsawan.

Segala bangsa mengepung aku,*

tapi berkat nama Tuhan mereka kubinasakan.

Mereka mengepung aku rapat-rapat,*

tapi berkat nama Tuhan mereka kubinasakan.

Mereka mengepung aku seperti lebah,†

seperti nyala api yang menjilat-jilat,*

tapi berkat nama Tuhan mereka kubinasakan.

Aku didesak-desak sampai terjatuh,*

tetapi Tuhan menolong aku.

Tuhanlah kekuatan dan pelindungku,*

Dialah kemenanganku

Suara gembira dan sorak-sorai,*

terdengar di perkemahan para pemenang.

“Tuhan bertindak dengan tangan kuat,*

tangan Tuhan mahakuasa”.

Aku tidak akan mati, aku tetap hidup,*

untuk mewartakan karya-karya Tuhan.

Tuhan sering menyiksa aku,*

namun tidak menyerahkan daku kepada maut.

Bukalah bagiku gerbang kemenangan,*

supaya aku masuk dan bersyukur kepada Tuhan.

Inilah pintu gerbang Tuhan,*

para pemenang masuk ke dalamnya.

Syukur kepadaMu, sebab Engkau memenangkan daku,*

dan menjadi penyelamatku.

Batu yang dibuang oleh para pembangun,*

telah menjadi batu sendi.

Karya Tuhanlah itu,*

sangat mengagumkan kita.

Pada hari inilah Tuhan bertindak,*

mari kita rayakan dengan gembira.

Ya Tuhan, berilah kami keselamatan!*

Ya Tuhan, berilah kami kesejahteraan!

Terberkatilah yang datang demi nama Tuhan,†

kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan,*

Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita.

Beraraklah dengan membawa ranting berdaun,*

hiasilah tanduk-tanduk mesbah.

Allahkulah Engkau, Engkau kupuji,*

Allahku, Engkau kuagungkan.

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik,*

kekal abadi kasih setiaNya.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon

Terberkatilah yang datang demi nama Tuhan, alleluya.

Antifon

Marilah kita memuji Allah kita, alleluya.

Dan 3,52-57

Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah leluhur kami,*

kepadaMulah pujian selama segala abad.

Terpujilah namaMu yang mulia dan kudus,*

kepadaMulah pujian selama segala abad.

Terpujilah Engkau dalam baitMu yang mulia dan kudus,*

kepadaMulah pujian selama segala abad.

Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaanMu,*

kepadaMulah pujian selama segala abad.

Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya,†

dan bersemayam di atas singgasana,*

kepadaMulah pujian selama segala abad.

Terpujiah Engkau di bentangan langit,*

kepadaMulah pujian selama segala abad.

Pujilah Tuhan, hai segala karya Allah,*

kepadaNyalah pujian selama segala abad.

Pujilah Bapa dan Putera dan Roh kudus,*

kepadaNyalah pujian selama segala abad.

Kidung ini tidak ditutup dengan “Kemuliaan”

Antifon

Marilah kita memuji Allah kita, alleluya.

Antifon

Pujilah Tuhan karena kemuliaanNya yang besar, alleluya.

Mazmur 150

Pujilah Tuhan di tempatNya yang kudus,*

pujilah Dia di angkasaNya yang gemilang.

Pujilah Dia karena karyaNya yang agung,*

pujilah Dia karena kemuliaanNya yang besar.

Pujilah Dia dengan bunyi sangkakala,*

pujilah Dia dengan kecapi dan celempung.

Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian,*

pujilah Dia dengan gitar dan seruling.

Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting,†

Pujilah Dia dengan ceracap gemercing,*

segala yang bernafas, pujilah Tuhan.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon

Pujilah Tuhan karena kemuliaanNya yang besar, alleluya.

BACAAN SINGKAT

(Yeh 36,25-27)

Aku akan mereciki kamu dengan air suci, maka sucilah kamu dari segala kenajisan, dan kamu akan Kulepaskan dari semua berhalamu. Kamu akan Kuberi hati yang baru, dan semangat baru Kutempatkan dalam batinmu. Hati yang membatu akan Kuambil dari batinmu, dan kamu akan Kuberi hati yang lembut, dan Aku membuat kamu berlaku menurut ketetapanKu; hukumKu akan kamu tepati dan kamu laksanakan.

LAGU SINGKAT

P: Kami akan memuji Engkau, ya Allah,* Dan menyerukan namaMu.

U: Kami akan memuji Engkau, ya Allah,* Dan menyerukan namaMu.

P: Kami akan mewartakan karyaMu yang agung.

U: Dan menyerukan namaMu.

P: Kemuliaan Kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U: Kami akan memuji Engkau, ya Allah,* Dan menyerukan namaMu.

Antifon Kidung

Barang siapa memberi kamu minum air segelas demi namaKu karena kamu murid-muridKu, tak akan kehilangan ganjarannya, sabda Tuhan.

KIDUNG ZAKARIA

(Luk 1,68-79)

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*

sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umatNya.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa,*

putera Daud, hambaNya.

Seperti dijanjikanNya dari sediakala,*

dengan perantaraan para nabiNya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,*

dan dari tangan semua lawan yang membenci kita.

Untuk menunjukkan rahmatNya kepada leluhur kita,*

dan mengindahkan perjanjianNya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,*

akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepadaNya tanpa takut,*

dan berlaku kudus dan jujur di hadapanNya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang mahatinggi,*

sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalanNya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umatNya,*

berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan,*

Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,*

dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin

Antifon Kidung

Barang siapa memberi kamu minum air segelas demi namaKu karena kamu murid-muridKu, tak akan kehilangan ganjarannya, sabda Tuhan.

DOA PERMOHONAN

Penyelamat kita telah turun ke dunia untuk hidup di tengah kita. Marilah kita mengucap syukur kepadaNya dan berkata:

U: Engkaulah cahaya dan sukacita kami, ya raja mahamulia.

Tuhan Kristus, fajar cemerlang, buah sulung kebangkitan,* semoga kami mengikuti Engkau dalam cahaya kehidupan.

Tunjukkanlah kepada kami kebaikanMu yang tertera dalam setiap makhluk,* supaya kami melihat kemuliaanMu di mana-mana.

Janganlah membiarkan kami dikalahkan oleh kejahatan,* tetapi tolonglah kami mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Ketika Engkau dibaptis di sungai Yordan, Engkau diurapi oleh Roh kudus,* semoga kami hari ini bertindak atas dorongan Roh kudus itu juga.

BAPA KAMI

Bapa kami yang ada di surga,

dimuliakanlah namaMu.

Datanglah kerajaanMu.

Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.

Berilah kami rezeki pada hari ini.

Dan ampunilah kesalahan kami,

seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin

DOA PENUTUP

Allah yang amat baik hati, Engkau menyatakan kuasaMu yang tak terhingga terutama dengan menyayangi dan mengasihani kami. Limpahilah kami dengan rahmatMu, agar kami berusaha mencapai janjiMu dan kelak ikut merasakan sukacita surgawi. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh kudus, sepanjang segala masa. Amin.

PENUTUP

P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U: Amin.

Sumber: Ibadat Harian Komisi Liturgi KWI

 

Niat Baik

Pen@ Katolik - Min, 01/10/2017 - 01:20

Minggu Biasa ke-26

1 Oktober 2017

Matius 21: 28-32

“Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (Mat 21:31)

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Santo Bernardus dari Clarivaux pernah berpendapat bahwa Jalan menuju neraka dibuat dengan niat baik. Ucapannya mungkin terdengar agak mengerikan, tapi dia berbicara sebuah kebenaran. Jika kita hanya memiliki niat baik atau rencana yang luar, tapi kita tidak pernah bergerak untuk memulai langkah pertama, tidak akan terjadi apa-apa. Kita ingin fokus pada pendidikan kita, namun kita terus terganggu oleh status di FacebookOnline chat, atau menonton ribuan video di YouTube, maka kita tidak akan membuat kemajuan. Kita ingin menyelesaikan banyak pekerjaan di tempat kerja, tapi perhatian dan energi kita terkonsumsi oleh begitu banyak hal-hal lain. Maka, niat baik kita tetaplah sebuah niat.

Perumpamaan pada hari Minggu ini berbicara tentang niat baik yang sama sekali tidak berguna jika tidak terwujud dalam tindakan nyata. Namun, lebih dari sekedar mencapai produktivitas, perumpamaan itu mengajarkan kita sebuah kebenaran yang lebih primordial. Di akhir perumpamaan ini, Yesus bertanya kepada para penatua bangsa Yahudi, Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Perumpamaan ini mengajarkan kita tentang melakukan kehendak Bapa.

Dari kedua anak itu, kita belajar bahwa melakukan kehendak Tuhan bisa menjadi sangat sulit dan penuh tuntutan. Saya pernah menjalani program “live-in” dengan keluarga petani di Wonosari, Yogyakarta. Saya tinggal dengan keluarga yang menggarap tanah mereka yang kecil dan terkesan tandus. Setiap pagi, mereka pergi ke ladang dan memastikan tanaman mereka masih hidup. Tugas saya adalah membantu mereka di ladang. Namun, karena terbiasa dengan kehidupan seminari, saya hanya mampu bertahan selama satu jam bekerja di bawah terik matahari, dan kemudian hanya beristirahat sambil melihat keluarga ini bekerja sangat keras. Saya membayangkan bahwa kedua anak dalam perumpamaan ini mengetahui bekerja di kebun anggur tidaklah mudah, dan mereka tidak menyukai hal ini. Anak pertama segera menolak keinginan ayahnya, sementara anak kedua mengatakan ya, namun tidak jadi berangkat.

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa anak kedua berubah pikiran. Mungkin, dia tidak punya rencana untuk bekerja di sana, dan apa yang dia katakan adalah kebohongan belaka. Namun, saya cenderung percaya bahwa sebenarnya dia memiliki niat baik untuk memenuhi tugasnya, namun dia berkecil hati setelah membayangkan kesulitan yang akan dia hadapi di kebun anggur, dan akhirnya tidak melakukan apa-apa. Mungkin banyak dari kita yang seperti anak kedua ini. Kita ingin membantu lebih banyak Gereja kita, namun kita selalu terlambat menghadiri misa, mengeluh tentang homili pastor, dan tidak berpartisipasi dalam berbagai kegiatan atau organisasi di paroki. Kita ingin memuliakan Tuhan, namun hidup kita tidak mencerminkan kehidupan seorang Kristiani yang baik karena kita menikmati gosip, iri dengan anggota Gereja lainnya, dan  pilih-pilih dalam pelayanan kita. Tak heran bagi beberapa orang, Gereja terasa seperti neraka!

Kita ingat bahwa kedua orang ini adalah anak dari pemilik kebun anggur dan dengan demikian, kebun anggur itu sejatinya adalah milik mereka. Jika mereka menolak bekerja, mereka akan kehilangan kebun anggur mereka. Keluarga petani tempat saya tinggal beberapa waktu, bekerja sangat keras meski mengalami banyak kesulitan. Saya menyadari bahwa semua ini mereka lakukan karena tanah mereka yang kecil memberi mereka kehidupan. Melakukan kehendak Tuhan sering kali penuh kesulitan, namun pada akhirnya, semua untuk kebaikan kita. Saya percaya tidak terlambat untuk mewujud nyatakan niat baik kita, dan dari anak kedua, kita bisa berubah menjadi anak pertama. Kita bekerja di kebun anggur Tuhan karena kebun anggur itu adalah milik kita juga.

 

1 Oktober St. Virilus dari Leyre

Mirifica.net - Min, 01/10/2017 - 00:00

 

Inilah kisah seorang kudus yang hidup 300 tahun lebih di abad 11. Virilus menjabat sebagai kepala biara di St. Savior Leyre, Yesa Navarre, Spanyol. Ia sangat tertarik pada misteri hidup abadi, terus bermeditasi, lalu ter-‘hipnotis’ dengan kicauan burung bulbul. Sebangunnya dari meditasi yang ia rasakan hanya satu jam, ia ternyata telah melewati 300 tahun.

Tradisi mengutip otobiografinya: “Waktu itu, aku sungguh tersiksa akan dilemma hidup abadi, dan keraguanku terus menganggu tanpa henti. Aku berdoa kepada Tuhan Allah kita, supaya Dia mencerahkanku tentang misteri ini dan mengobarkan cahaya di hatiku. Pada petang musim semi, seperti biasa, aku berjalan melewati hutan Leandro di Leyre. Kelelahan, aku pun duduk dan berisitrahat di samping air mancur, lalu terserap, terhiptonis saat mendengar kicauan indah burung bulbul (Nightingale). Setelah menghabiskan beberapa waktu, saya kembali ke biara. Saat saya melewati pintu utama, tidak ada biarawan yang saya kenal. Saya berjalan melewati keanehan itu, dan dikejutkan dengan berbagai detail. Perlahan, aku sadar bahwa sesuatu yang aneh sudah terjadi. Sadar bahwa tidak ada seorangpun yang mengenalku, aku pergi ke Priory, yang dengan setia dan seksama mendengarkan ceritaku. Kami pergi ke perpustakaan untuk mencoba memecahkan misteri ini lewat dokumen kuno. Kami menemukan bahwa “300 tahun lalu, seorang pertapa suci bernama St. Virilus memimpin biara dan telah dimakan binatang buas pada sebuah perjalanan musim semi”. Dengan air mata, aku tahu bahwa pertapa yang dimaksud adalah diriku dan Tuhan telah memenuhi doaku.”

Sumber dan gambar: Stradella, Piero. 12 Juni 2008. Dalam santiebeati.it. Diakses pada 21 September 2017

Mgr Sunarko, “Kalau Tuhan sendiri jadi raja dalam hidup kita, banyak pulau akan bersukacita”

Pen@ Katolik - Sab, 30/09/2017 - 23:47

 

Mgr Adrianus Sunarko OFM telah diangkat dan ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Pangkalpinang menggantikan mendiang Mgr Hilarius Moa Nurak SVD yang dikenal sebagai Uskup Seribu Pulau atau juga disebut Uskup Samudera.

Wilayah Keuskupan Pangkalpinang memang terdiri dari tiga provinsi yaitu Provinsi Bangka Belitung (Babel), Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), dan sebagian wilayah Provinsi Riau, yang merupakan provinsi kepulauan. Provinsi Kepri sendiri memiliki lebih dari 2.408 pulau. Luas wilayah keuskupan itu, termasuk laut, lebih dari 270.000 km2, dan daratannya hanya sekitar 35.500 km2.

Oleh karena itu, sejak ditahbiskan tahun 1987, Mgr Hilarius menggalakkan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai arah perahu kegembalaannya, guna mengimplementasikan visi Gereja Asia hasil Sidang Pleno Uskup se-Asia tahun 1990 di Bandung menuju Gereja Partisipatif.

Ketika ditahbiskan sebagai Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM membawa motto penggembalaan “Laetentur Insulae Mutae” yang artinya ”Hendaknya banyak pulau bersukacita” (Mazmur 97:1). Untuk lebih memahami arah penggembalaannya bagi lebih dari 43.000 umatnya di 16 paroki, Paul C Pati dari PEN@ Katolik mewawancarai  Mgr Sunarko di Keuskupan Pangkalpinang, sehari setelah pentahbisannya, 24 September 2017.

PEN@ Katolik: Salve di Gereja Bernadeth, tahbisan di Stadion Depati Amir dan Misa Perdana di Katedral Pangkalpinang berjalan meriah dengan partisipasi umat dan masyarakat yang begitu besar. Apa yang Mgr Sunarko rasakan?

MGR ADRIANUS SUNARKO OFM: Sangat baik dan positif dari segi partisipasi. Mungkin tidak sempurna, tapi dari segi keterlibatan, mereka sungguh mempersiapkan, bekerja keras, dan mencari dana. Mereka masing-masing sudah menjalankan peran dengan baik, dari petugas parkir hingga anggota koor dan hal-hal lain yang tidak kelihatan. Itu modal besar. Bagi saya, semua itu menjadi inspirasi atau dorongan untuk memberikan yang terbaik, mengingat keterlibatan banyak orang dengan pengorbanan besar sekali. Saya tahu rapat-rapat mereka bahkan sampai pagi.

Semua acara dalam rangkaian tahbisan ini meninggalkan kesan betapa dekatnya Gereja dengan pemerintah, pihak keamanan, dan umat beragama lain!

Ya, memang di satu pihak perlu disyukuri kalau betul kesan pertama yang kelihatan itu. Namun, yang kelihatan itu perlu dijaga terus, karena dalam situasi perpolitikan nasional dengan pilkada dan pemilu, selalu ada orang yang memanfaatkan macam-macam isu untuk memecah-belah, seperti isu ras dan isu agama, yang dipakai untuk kepentingan pendek.

Maka, tetap harus waspada dan memelihara yang baik. Perlu juga disadari bahwa keadaan itu tidak otomatis diterima. Suasana itu sudah lama diupayakan. Kalau melihat bagusnya forum umat beragama yang ada di sini, pasti mereka sudah sering bertemu, pasti sudah terbangun dari tindakan-tindakan seperti itu. Bahkan, saya dengar Mgr Hilarius sering mengunjungi para kiai. Sekali lagi, hal baik perlu disyukuri, tapi jangan sampai seolah-olah berpikir itu otomatis terjadi, melainkan sesuatu yang diperjuangkan. Jadi harus terus dijaga, khususnya untuk tahun-tahun depan menyongsong pilkada serentak dan pemilu.

Yang menarik bahwa dalam tahbisan ini muncul semacam janji Bapak Uskup untuk membuat pulau-pulau bersukacita. Bagaimana mewujudkannya?

Dari segi mazmur sendiri, maksudnya bukan menjanjikan, melainkan mengharapkan supaya ada sukacita. Kalau menurut mazmur itu, syaratnya satu, bukan karena saya atau siapa pun, tetapi kalau yang menjadi raja dalam hidup kita adalah Tuhan sendiri. Itu yang penting, bukan berhala-berhala lain seperti uang, kekuasaan, kemalasan, dan ego. Kalau itu menjadi tuan atau raja, maka tidak ada sukacita. Harapannya adalah, kalau kita bersama-sama berupaya supaya yang menjadi raja dalam hidup kita adalah Tuhan sendiri, barulah ada sukacita.

Tapi untuk menjadikan Allah sebagai raja, mereka perlu lebih mengenal dan dekat dengan Tuhan lewat pelayanan pastoral dan sarana Gereja yang lebih baik, karena di banyak pulau belum ada sarana Gereja untuk pendidikan dan kesehatan. Ada langkah konkret untuk menghadirkan Allah di sana?

Saya belum tahu secara konkret. Tetapi kalau saya baca dokumen-dokumen keuskupan ini, yang diupayakan adalah memperkuat unit-unit kelompok-kelompok kecil yang dinamakan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Harapannya adalah, dengan kelompok kecil mereka mudah berkumpul dan untuk saling membaca Kitab Suci dan saling mempererat persaudaraan serta solidaritas. Itu terutama yang saya lihat harus diintensifkan dan harus diteruskan.

Allah menjadi raja secara konkret dalam KBG-KBG. Kalau dalam komunitas-komunitas itu Allah yang menjadi utama, maka satu sama lain akan saling memperhatikan, saling mendoakan. Itu konkretnya. Yang lain nanti kita pelajari, misalnya, tentang yayasan persekolahan dan karya kategorial lain. Kita nanti akan melihat bersama apa yang kurang, apa yang lebih, atau apa yang perlu diperbaiki.

Apa yang akan Mgr Sunarko prioritaskan dalam pelayanan di keuskupan ini?

Dari segi strategi keuskupan, prioritasnya ya KBG itu. Namun, dua-duanya penting, partisipasi umat dan peran gembala. Peran gembala penting untuk memotivasi atau menjadi sumber inspirasi. Namun sebenarnya, ide besar KBG itu justru adalah partisipasi bersama.

Visi Keuskupan Pangkalpinang  (sesuai Sinode Kedua Keuskupan Pangkalpinang Agustus 2011, Red.) mengatakan “Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang, dijiwai oleh Allah Tritunggal Mahakudus, bertekad menjadi Gereja Partisipatif.” Jadi dua-dua penting, peran gembala penting tapi tidak mutlak. Gembala juga harus memainkan peran penting seperti kunjungan dan kehadiran, tapi jadi terbatas. Tetapi KBG tidak boleh terlalu tergantung pada imam atau tidak berbuat apa-apa. Jangan sampai kalau gembalanya buruk mereka ikut buruk. Itu ide Gereja Partisipatif. Dua-duanya harus diperhatikan.

Benar, dari perjumpaan-perjumpaan terasa bahwa mereka mengharapkan kehadiran. Itu harus menjadi prioritas, mengupayakan kehadiran melalui kunjungan-kunjungan. Dari situ bisa terlihat mana yang juga penting.

Tapi, apakah jumlah imam diosesan atau projo di sini masih kurang, sehingga masih banyak pulau kurang mendapatkan pelayanan pastoral?

Sebenarnya jumlah imam di keuskupan ini relatif banyak. Mungkin jumlah imam projo di keuskupan ini paling banyak di keuskupan-keuskupan di Sumatera. Jumlah imam di sini hampir 70 orang. Dari sudut itu, jumlah imam projo di sini banyak. Bahkan banyak imam kita ditugaskan di Merauke, Palembang, Bengkulu, dan Pringsewu. Tapi apakah cukup atau tidak? Kualitas pelayanan tentu saja soal lain. Harus dilihat apakah ada keluhan.

Ya dalam arti tertentu, kita punya cukup imam. Tapi memang wilayahnya luas dan terpencar. Namun sekali lagi, dua-duanya penting. Jumlah imam tidak bisa dipaksakan, meski kita harus tetap pupuk dan kembangkan lewat promosi panggilan. Kalau ada banyak orang berminat menjadi imam, kita syukuri. Tapi, jangan terlalu tergantung kepada imam. Imam tetap punya peranan penting, tetapi partisipatif harus dikembangkan. Umat harus memainkan perannya dan KBG jangan bergantung 100 persen pada imam. Tidak semua imam itu orang kudus, maka dua-duanya harus saling mendung. Imam yang sedang lemah, misalnya, bisa menjadi bersemangat lagi melihat umat yang kuat, dan umat yang terpecah bisa dipersatukan kembali kalau imamnya baik.  Jadi, peran imam itu penting namun perlu pembinaan terus-menerus, tak bisa dimutlakkan.

 

KBG, antara lain, mau menghidupkan Gereja, baik awam maupun hierarki. Dalam komunitas kecil itu awam diberi peran, agar pada unit-unit terkecil pun orang sungguh menghayati dan mempraktekkan imannya. Menurut evaluasi, kalau komunitas-komunitas kecil itu sungguh hidup, itulah Gereja yang sungguhnya.***

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator