Berita dan Event

Pesan Paskah 2018 Uskup Agung Kupang

Sesawi.Net - Sab, 31/03/2018 - 08:35
“JANGANLAH seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24) Saudara-saudari terkasih, Hari Raya Paskah tiba. Selamat Pesta Paskah. Kita tangguh dan teguh kembali dalam iman Kristiani kita: Kristus Hidup Jaya. Inilah peristiwa iman yang paling agung. Inilah Karya Agung Allah yang paling mulia bagi anak-anak-Nya. Kita Berjaya […]

Sambut Tri Hari Suci, Umat Kristiani di Beijing Jalani Rangkaian Paskah - www.netralnews.com

Google News - Sab, 31/03/2018 - 07:51

www.netralnews.com

Sambut Tri Hari Suci, Umat Kristiani di Beijing Jalani Rangkaian Paskah
www.netralnews.com
BEIJING, NNC - Warga negara Indonesia yang beragama Kristen dan Katolik di Beijing, Tiongkok, menggelar peribadatan misa Tri Hari Suci mulai Kamis (29/3) malam untuk memperingati rangkaian Paskah. Kegiatan yang diikuti sekitar 100 Kristiani itu ...
Ratusan WNI di Beijing Gelar Trihari SuciSuara.com

all 2 news articles »

Paus berdoa dengan “rasa malu, pertobatan, dan pengharapan” saat Jalan Salib di Colosseum

Pen@ Katolik - Sab, 31/03/2018 - 05:42

Renungan untuk 14 Perhentian Via Crucis atau Jalan Salib di Colosseum Roma, Jumat Agung malam, 30 Maret 2018, disusun oleh sekelompok orang muda Katolik (OMK) sebagai bagian dari persiapan untuk Sinode Para Uskup bulan Oktober. Tema-temanya berkisar dari migrasi hingga mengomunikasikan Yesus di internet. Namun, seperti biasanya Jalan Salib itu diakhiri dengan doa, yang dibacakan oleh Paus dan yang sering secara khusus ditulis sendiri oleh Bapa Suci. Tahun ini, Paus Fransiskus memilih memfokuskan doanya pada tiga kata kunci: “rasa malu, pertobatan, dan pengharapan.”

Tradisi Jalan Salib itu, menurut laporan Seàn-Patrick Lovett dari Vatican News berasal dari Paus Benediktus XIV di abad ke-18 dan dihidupkan kembali oleh Paus Paulus VI tahun 1964 dan sejak saat itu dirayakan setiap tahun oleh Paus.

Dalam doanya Paus mengatakan, “Kami punya banyak alasan untuk merasa malu, karena lebih memilih kekuasaan dan uang daripada Tuhan, karena lebih menyukai “keduniawian bukan keabadian,” karena meninggalkan bagi orang muda “dunia yang hancur karena perpecahan dan perang, dunia yang dilanda keegoisan tempat orang muda, orang yang rentan, orang sakit, dan orang tua terpinggirkan.”

Dalam doa itu Paus mengatakan, rasa malu karena semua orang “membiarkan diri mereka ditipu oleh ambisi dan kemuliaan yang sia-sia,” termasuk beberapa pelayan Gereja. Kami merasa malu, “karena kehilangan rasa malu,” kata Paus.

Pertobatan kami, lanjut doa Paus, terkait dengan kepastian bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita dari kejahatan, dari “kebencian, keegoisan, kesombongan, keserakahan, balas dendam, penyembahan berhala.” Hanya Dia yang dapat merangkul kita dan mengembalikan kita kepada martabat kita sebagai anak-anak-Nya. “Pertobatan lahir dari rasa malu kita, dari kepastian bahwa hati kita akan selalu tetap gelisah sampai ditemukan dalam diri kalian, satu-satunya sumber pemenuhan dan perdamaian,” Paus berdoa. Pertobatan, lanjut Bapa Suci, muncul karena “menyadari kecilnya kita, ketiadaan kita, kesombongan kita” dan membiarkan diri kita dipanggil untuk bertobat.

Sementara itu, pengharapan “menyalakan kegelapan dari keputusasaan kita,” karena kita tahu bahwa satu-satunya ukuran kasih Allah “adalah mencintai tanpa batas.” Paus Fransiskus berdoa agar pesan Injil bisa terus mengilhami banyak orang, “karena tahu bahwa hanya kebaikan yang bisa mengalahkan kejahatan dan dosa, hanya pengampunan yang bisa mengatasi kebencian dan balas dendam, hanya pelukan persaudaraan yang bisa membuyarkan permusuhan dan ketakutan akan yang lain.” Pengharapan ini meluas kepada Gereja yang selalu bisa menjadi “model kemurahan hati yang tidak egois, tempat berlindung yang aman, dan sumber kepastian dan kebenaran – terlepas dari semua upaya untuk mendiskreditkannya,” demikian Paus berdoa.

Paus mengakhiri setiap renungan itu dengan serangkaian permohonan kepada Tuhan Yesus, agar “memberikan rahmat kepada kita untuk merasakan rasa malu yang suci … pertobatan yang suci … dan pengharapan yang suci … selalu.” (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Foto-foto dari Vatican News

Bausastra Jawa: Kidung Wungu Dalem 2018, Kapirit Markus 16: 1-18

Sesawi.Net - Sab, 31/03/2018 - 04:56
Dhandhanggula Mrih sarkara purna Sabat ari, Marya Magdalena sartanira, Maria nenggih ibune, Rasul Dalem Yakobus, Lan Salome ingkang madosi, Tumbas reremponira, Arsa menyang kubur, Sinambi arerembagan, Sapa bakal nggulingake watu iki, Kanggo mbukak kuburan. Sareng celak sami nguningani, Sanyatane watu gedhe ika, Wus ana sing nggulingake, Lajeng mlebet mring kubur, Sru nyipati jejaka iki, Jubahe […]

Pastor Cantalamessa dalam homili Jumat Agung di Vatikan: Yohanes adalah model OMK

Pen@ Katolik - Sab, 31/03/2018 - 02:48

Dalam homili Ibadat Jumat Agung yang dipimpin Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, 30 Maret 2018, Pengkhotbah Rumah Kepausan Pastor Raniero Cantalamessa OFMCap mengatakan bahwa dalam Injilnya, Yohanes yang merupakan Murid Yesus itu, menunjukkan “jatuh cinta yang sebenarnya.” Setelah perjumpaannya dengan Yesus, “segala sesuatu tiba-tiba menjadi kurang penting,” kata Pastor Cantalamessa.

Karena Gereja sedang mempersiapkan Sinode tentang Orang Muda, imam itu menegaskan bahwa kesaksian Yohanes bisa menjadi model bagi orang muda Katolik (OMK) untuk menanggapi permintaan Paus Fransiskus kepada kita dalam Evangelii gaudium: “Saya mengajak semua umat Kristiani di mana pun, saat ini, untuk membuat perjumpaan pribadi yang baru dengan Yesus Kristus” (No. 3).

Pastor Cantalamessa memfokuskan homilinya kepada Yohanes sebagai saksi mata, yang menulis laporan tentang apa yang dia saksikan. Yohanes tidak hanya melihat apa yang dilihat orang lain. “Dia juga melihat arti dari apa yang terjadi,” kata Pastor Cantalamessa.

Ia melihat Anak Domba Allah yang dikorbankan, pemenuhan Paskah, “bait Allah yang baru, yang dari sisinya (…) mengalirkan air kehidupan.” Yohanes menyaksikan keluarnya Roh Allah, yang seperti, dalam permulaan, “mengubah kekacauan di kosmos,” lanjut imam itu.

Yohanes, jelas imam itu, memahami bahwa Yesus di kayu salib itu memperlihatkan Allah “sebagaimana adanya, dalam realitas-Nya yang paling intim dan paling sejati.” Kemudian Yohanes ingin menyatakan pemahaman ini sebagai “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:10), yang berarti bahwa itulah cinta yang penuh pengorbanan, cinta yang berisi pemberian diri. “Hanya di kayu salib itulah Tuhan membuktikan seberapa jauh cintanya: Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya” (Yoh 13: 1).

“Tuhan menyatakan dirinya di kayu salib sebagai agape, cinta yang memberi dirinya sendiri.” Pastor Cantalamessa menjelaskan bagaimana OMK dapat melakukan hal itu. “Perlulah mempersiapkan diri kalian sendiri untuk menghadiahkan seluruh diri kalian kepada orang lain dalam pernikahan, atau kepada Allah dalam hidup bakti, dimulai dengan menyumbangkan waktu kalian, senyuman kalian, (…) hidup kalian dalam keluarga, dalam paroki, dan dalam pekerjaan sukarela,” kata imam itu. Dengan cara ini, OMK akan belajar bagaimana menyatukan eros ke dalam agape, lanjut Pastor Cantalamessa.

Setelah Kisah Sengsara menurut Yohanes dan homili itu, umat di basilika itu melakukan Penghormatan Salib an menerima Komuni Kudus. (paul c pati berdasarkan Vatican News)

Pengkhotbah Rumah Kepausan Pastor Raniero Cantalamessa OFMCap membawakan homili

Foto-foto dari Vatican News

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator