Berita dan Event

OMK Vietnam Diingatkan Agar Bekerja Bagi Keadilan

UCANews - Sen, 19/11/2018 - 15:43

Para pemimpin Gereja mendorong ribuan Orang Muda Katolik di Vietnam utara untuk membela korban ketidakadilan dan menyumbangkan organ demi menyelamatkan mereka yang membutuhkan.

Sekitar 15.000 orang muda Katolik dari 10 keuskupan di wilayah utara Vietnam menghadiri pertemuan Hari Orang Muda untuk wilayah utara Vietnam yang diselenggarakan Keuskupan Hai Phong di International Fair Exhibition Centre milik pemerintah di Hai Phong City pada 14-15 November yang lalu.

Mgr Thomas Vu Dinh Hieu dari Keuskupan Bui Chu mengingatkan para peserta akan terus merajalelanya ketidakadilan yang berakibat jatuhnya korban karena ketidakadilan.

“Banyak warga dengan tenang menggunakan ponsel pintar untuk merekam video atau mengambil gambar kasus kekerasan domestik dan sekolah, perkelahian fisik di antara siswa dan bahkan siswa yang melawan guru, untuk diposting di media sosial dan menarik banyak komentar negatif,” kata Mgr Hieu.

Dia mengatakan mereka harus melakukan sesuatu untuk mencegah insiden semacam itu dan menyelamatkan korban. “Kaum muda Katolik bertindak seperti sahabat – sahabat Tuhan dan menjadi rasul bagi  saudara – saudari yang lain,” kata uskup itu, seraya menambahkan bahwa umat Katolik harus melindungi dan menyelamatkan saudara – saudari  yang rentan menjadi korban dalam masyarakat.

Ketika ditanya apakah umat Katolik dapat memberikan donasi organ, Mgr Hieu mengatakan bahwa gereja mendorong donasi organ untuk memberi hidup bagi warga lain  sebagai tindakan amal Kristen.

Dia mengatakan banyak umat Katolik dari keuskupan Bui Chu dan Phat Diem berjanji untuk menyumbangkan kornea mata mereka usai kematian ke Rumah Sakit Mata Pusat di Hanoi untuk membantu saudara – saudari yang menderita masalah mata.

Ketua Caritas Vietnam mengatakan umat Katolik dari keuskupannya menyumbangkan kornea untuk membantu lima pasien.

Mgr Joseph Nguyen Nang dari Keuskupan  Phat Diem mengingatkan peserta untuk mengambil tanggung jawab dalam membangun dan melindungi gereja dengan menjalani hidup yang bermartabat Kristiani, melakukan hal-hal yang baik bagi masyarakat, membawa kabar baik kepada orang lain dan menjaga lingkungan hidup.

Mgr Nang menceritakan tentang  seorang tukang cukur yang memotong rambutnya telah membuat bintang Natal dan menawarkannya kepada seorang lelaki tua non-Katolik. Orang tua itu menggantung bintang di depan rumahnya dan meminta tukang cukur membawanya untuk menghadiri perayaan Natal di gereja.

“Kita harus bersaksi kepada Allah dengan berani berbicara tentang nilai-nilai Katolik kepada banyak orang,” katanya. Para peserta dengan keras mengulang kata-kata Mgr Nang: “Bantulah siapa saja, jangan mengganggu orang, jangan membuang sampah sembarangan.”

Mary Tran Thi Hien dari Paroki Yen Bai mengatakan bahwa dia belajar hal-hal yang berguna dari pertemuan itu. “Pertemuan itu memberi saya kekuatan dan kegembiraan untuk menghadapi kesulitan dan menjadi saksi Tuhan dalam kehidupan sehari-hari saya,” katanya. “Aku bangga menjadi seorang Katolik.”

Kardinal Peter Nguyen Van Nhon dari Keuskupan Agung Hanoi memimpin Misa penutupan bersama dengan 300 imam.

Selama pertemuan tersebut, para peserta belajar katekismus, menyuymbangkan atraksi pertunjukan budaya, menonton drama Alkitab, mengikuti adorasi Ekaristi dan mengaku dosa di hadapan para imam.

Paus Fransiskus: Kita Harus Mendengar Jeritan Orang Miskin

UCANews - Sen, 19/11/2018 - 15:25

“Bagaimana mungkin Allah di surga dapat mendengar jeritan orang miskin, kalau begitu banyak orang yang melihat atau berdiri di dekat mereka tidak mendengar atau tidak peduli?” tanya Paus Fransiskus.

Orang harus melakukan “pemeriksaan batin yang serius untuk memahami apakah kita benar-benar mampu mendengarkan orang miskin,” kata paus dalam pesan untuk Hari Orang Miskin Sedunia yang akan dirayakan pada 18 November.

Pesan itu berfokus pada sebuah ayat dari Mazmur 34 bahwa “apabila orang malang berseru, Tuhan mendengarnya.”

“Mari kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana mungkin tangisan orang miskin, yang jeritannya sampai ke Tuhan, tidak mampu menembus telinga kita dan mengapa kita tidak peduli dan tanpa ekspresi?” tanya paus dalam pesannya.

Untuk menyadari penderitaan orang lain dan tahu cara terbaik untuk merespons dengan cinta, orang harus belajar untuk diam dan mendengarkan, kata paus.

“Jika kita berbicara terlalu banyak, kita tidak akan bisa mendengarnya,” katanya.

Itulah yang sering terjadi ketika prakarsa yang penting dan perlu dilakukan lebih sebagai cara untuk menyenangkan diri sendiri “daripada benar-benar mendengarkan jeritan orang miskin,” katanya.

“Kita sering terperangkap dalam budaya yang memaksa kita untuk melihat diri sendiri” dan terlalu “memanjakan diri,” katanya. Orang-orang seperti itu percaya bahwa tindakan altruisme mereka sudah cukup tanpa harus merasakan empati atau kebutuhan untuk berkorban atau “membahayakan” diri mereka secara langsung.

Tidak ada yang mau menjadi miskin atau termarjinalisasi, dianiaya dan mengalami ketidakadilan, kata paus.

Paus mengatakan kemiskinan disebabkan oleh keegoisan, kesombongan, keserakahan dan ketidakadilan. Ini adalah kejahatan yang setua umur manusia, tetapi juga dosa-dosa di mana orang-orang tak berdosa terperangkap, membawa konsekuensi pada tingkat sosial, yang dramatis.

“Jawaban Tuhan untuk orang miskin selalu merupakan intervensi keselamatan untuk menyembuhkan luka jiwa dan raga, memulihkan keadilan dan membantu untuk memulai hidup baru dengan bermartabat. Jawaban Tuhan juga merupakan daya tarik agar mereka yang percaya padanya bisa melakukan hal yang sama, “tambahnya.

Hari Orang Miskin Sedunia dimaksudkan sebagai upaya kecil yang dapat dilakukan seluruh gereja agar orang miskin tahu bahwa tangisan mereka tidak pernah tidak didengar, kata paus.

“Ini seperti setetes air di padang pasir kemiskinan, namun itu bisa menjadi tanda berbagi bagi mereka yang membutuhkan, bahwa mereka mengalami kehadiran aktif seorang saudara laki-laki atau perempuan,” katanya.

Pertemuan ini adalah panggilan untuk keterlibatan pribadi, bukan delegasi kepada orang lain, katanya. Dan itu bukan pemberian yang bersifat  dingin, jauh, tetapi suatu tindakan yang membutuhkan “perhatian penuh kasih” sama seperti Allah menawarkan semua orang.

Begitu banyak orang yang membutuhkan pencarian makna keberadaan mereka dan tanggapan atas pertanyaan mereka tentang mengapa mereka terpuruk sejauh ini dan bagaimana mereka dapat membebaskan diri. Mereka menunggu seseorang untuk datang dan berkata ‘semangat dan bangkitlah.’

 

Sayangnya, orang sering ditolak, tidak tertarik pada orang miskin. Jeritan orang miskin sering kali ditimpali dengan teguran dan peringatan untuk diam dan bersabar. Ada fobia pada orang miskin yang nyata. Mereka dilihat tidak hanya sebagai orang miskin, tetapi juga sebagai pembawa ‘ketidakamanan dan ketidakstabilan’ yang harus ditolak dan disingkirkan ketempat yang jauh.

 

“Kecenderungan untuk menciptakan jarak berarti orang menjauhkan diri dari Yesus sendiri, yang tidak menolak orang miskin, tetapi memanggil mereka dan menghibur mereka,” kata paus.

Kalau anggota Gereja Katolik menawarkan perawatan dan bantuan, mereka dimotivasi oleh iman mereka dan keinginan untuk membagikan Kabar Gembira dengan orang lain. Dia mengatakan bahwa para uskup, imam, religius, dan umat Katolik awam harus mengakui bahwa “di dunia yang sangat miskin, kapasitas kita untuk bertindak sangat terbatas, lemah dan tidak memadai. ”

Gereja harus bekerja sama dengan orang lain sehingga upaya bersama dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih efektif, katanya.

Gereja harus memberi kebebasan dengan sikap rendah hati, “tanpa mencari sorotan,” katanya.

“Dalam melayani orang miskin, hal terakhir yang kita butuhkan adalah perjuangan untuk tempat pertama,” katanya. Orang miskin tidak membutuhkan pahlawan, tetapi cinta yang tahu bagaimana tetap tersembunyi dari pengakuan duniawi, katanya.

“Para protagonis sejati adalah Tuhan dan orang miskin,” dan mereka yang melayani hanyalah instrumen “di tangan Tuhan untuk mewujudkan kehadiran dan keselamatannya.”

Uskup Agung Rino Fisichella, presiden Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru, mengatakan kepada para wartawan bahwa Paus berharap Hari Orang Miskin Seduni akan mengingatkan semua orang di gereja untuk mengarahkan pandangan mereka kepada orang miskin, mendengarkan dengan sungguh-sungguh kebutuhan mereka dan merespon langsung dengan cinta yang bertujuan untuk mengembalikan martabat mereka.

Gereja-gereja, organisasi dan lembaga lokal sekali lagi diminta untuk inisiatif yang kreatif menumbuhkan momen-momen pertemuan nyata, persahabatan, solidaritas, dan bantuan konkret.

Uskup agung itu mengatakan paus akan merayakan Misa di Basilika Santo Petrus pada 18 November bersama orang-orang miskin dan sukarelawan, dan dia akan makan siang sesudahnya dengan sekitar 3.000 orang di aula  Paulus VI Vatikan. Kelompok relawan dan sekolah juga akan menawarkan makanan gratis dalam suasana “perayaan dan berbagi, “tambahnya.

 

Tuhan, Semoga Aku Melihat

Sesawi.Net - Sen, 19/11/2018 - 12:35
BACAAN Injil hari ini, Lukas 18:35-43 tentang orang buta di pinggiran kota Yerikho memberi beberapa catatan penting untuk direfleksikan: Kerinduan untuk melihat bagi si buta sangat kuat, lebih daripada kebutuhan akan makanan dan lainnya. Bagi si buta, dunia adalah kegelapan, tanpa cahaya. Maka yang dibutuhkannya adalah seberkas cahaya, agar bisa melihat indahnya dunia ciptaan Tuhan ini. […]

Vatikan Angkat Uskup Agung Hanoi yang Baru

UCANews - Sen, 19/11/2018 - 10:04

Tahta Suci telah mengangkat seorang uskup dari sebuah keuskupan di wilayah utara untuk memimpin Keuskupan Agung Hanoi yang saat ini masih berselisih dengan pemerintah Vietnam terkait properti yang dulu menjadi milik Gereja.

Pada Sabtu (17/11), Paus Fransiskus mengangkat Uskup Hai Phong Mgr Joseph Vu Van Thien sebagai uskup agung Hanoi.

Dalam sebuah pengumuman tertanggal 18 November, Mgr Joseph Nguyen Chi Linh, ketua Konferensi Waligereja Vietnam, mengatakan Uskup Agung (terpilih) Thien akan menggantikan Kardinal Peter Nguyen Van Nhon dari Hanoi yang telah berusia 80 tahun dan pengunduran dirinya telah diterima oleh Paus Fransiskus.

Menurut pengumuman itu, Uskup Agung (terpilih) Thien juga diangkat sebagai administrator apostolik Keuskupan Hai Phong.

Mgr Linh mengatakan pelantikan Uskup Agung (terpilih) Thien akan diadakan pada 18 Desember di Katedral St. Yosef di Hanoi.

“Pengangkatan itu merupakan sebuah kejutan dan kehormatan bagi saya. Saya ingin kalian semua berdoa kepada Allah agar Ia melimpahkan rahmat-Nya kepada saya sehingga saya mampu melaksanakan misi baru ini,” kata Uskup Agung (terpilih) Thien kepada sekitar 1.000 umat yang menghadiri Misa syukur khusus untuk pengangkatannya di Katedral Bunda Maria Ratu Rosari di Hai Phong City.

Uskup Agung (terpilih) Thien – yang berusia 58 tahun dan berasal dari Propinsi Hai Duong – ditahbiskan sebagai imam untuk Keuskupan Hai Phong pada 1988. Setelah menyelesaikan studi di Institute Katolik di Paris pada 2000, ia diangkat sebagai uskup untuk keuskupan tersebut pada 2002. Ia kini berkarya sebagai wakil sekjen Konferensi Waligereja Vietnam.

Keuskupan Agung Hanoi – yang menerima benih-benih iman pertama dari sejumlah misionaris asing sekitar 400 tahun lalu – tengah menghadapi perselisihan terkait bekas properti milik Gereja yang telah dirampas oleh pemerintah.

Pada 15 November, Kardinal Nhon mengatakan otoritas setempat telah memulai pembangunan di atas lahan sekolah yang dulu dikelola oleh keuskupan agung. Sekolah yang terletak di atas lahan seluas 6.737 meter persegi dan dekat dengan kediaman uskup agung itu dirampas oleh pemerintah pada awal 1970-an.

Kardinal Nhon mengatakan Gereja lokal tidak pernah berhenti meminta pemerintah untuk mengembalikan properti yang dulu menjadi miliknya di sekitar kediaman uskup agung. Namun permintaan itu tidak pernah ditanggapi.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga tidak memenuhi permintaan uskup agung akan sebuah lahan baru di luar ibukota yang diajukan tiga tahun lalu.

Kardinal Nhon meminta “para imam dan umat Katolik setempat untuk berdoa agar otoritas pemerintah menghormati properti Gereja dan memenuhi kebutuhan iman Gereja lokal.”

To help fight sex abuse, Catholic group offers guide to the news

Catholic News Agency (CNA) - Sen, 19/11/2018 - 06:41

Lansing, Mich., Nov 18, 2018 / 04:41 pm (CNA/EWTN News).- Catholic bishops must act to counter sex abuse of adults as well as minors, says a lay group that has compiled a reader of news stories, analysis and commentary to help renewal and reform.

“We believe clergy sexual misconduct with adults is at the core of so many of the problems of the Church in the last many decades,” the group No More Victims told the bishops.

“As you deal with the scandal of [Archbishop Theodore] McCarrick and abuse committed by bishops, we urge you to include in your concerns efforts to rid seminaries, dioceses and all Church institutions and structures of those who are involved in sexual misconduct with adults.”

Lay people of Michigan’s Diocese of Lansing formed the group No More Victims. They have produced the reader “What We Laity Are Reading that has Shaken Us to the Core,” compiling news stories and analysis about sexual abuse and misconduct by Catholic clergy.

The group sent copies of the reader to the media and to the U.S. bishops. It also sent the bishops a letter signed by executive director Jason Negri, a Michigan attorney, as well as board member broadcaster and author Al Kresta and moral theologian Janet E. Smith, who is an adviser to the group.

“We know the tasks before you are truly of epic proportions and will affect the faith and salvation of many for decades to come,” their letter continued. “We are praying that what needs to be done to rebuild and purify the Church will be done.”

The group asked the bishops to consider its members “loyal partners in the work of the Church,” adding “we would like to stand with you through this crisis in your commitment to the Gospel which brings healing and calls us all to true holiness.”

A copy of the reader is provided at the No More Victims website, www.nomorevictimsmi.org.

The reader’s material, dating back to the 1990s, is generally from a U.S. perspective. No More Victims said it shows “what the crisis looks like from the standpoint of the average lay Catholic with access to the internet.”

The collection includes news stories about abuse victims, including abused seminarians, as well as news, opinion and commentary from abuse victims, priests, Catholic lay leaders and other observers such as Sandro Magister, Matthew Schmitz, Kenneth L. Woodward, Mary Eberstadt and Daniel Mattson.

In its introduction, the No More Victims group hoped that the reader would help the bishops find methods that will assure laity that seminarians will not be sexually harassed but rather “taught the fullness of the faith.” Actions are needed to ensure that there is no “network of priests who engage in sexual misconduct” in a diocese, and to ensure that priests who violate chastity “in serious ways” will be given an opportunity to repent and change. Bishops’ actions must ensure that “unchaste priests who refuse to repent and change their ways” will be asked to leave the priesthood.

The reader aimed to help find ways “to correct fellow bishops whose response to sex abuse cases is poor, confuses the faithful, and reflects badly upon all bishops,” No More Victims said.

Included in the collection is a Time Magazine essay from a Catholic priest who wrote that he was repeatedly sexually abused as a 15-year-old altar boy in New Jersey by a visiting priest of the New York archdiocese; an Irish-born California priest who was groomed and abused in Ireland by a priest who waited until he was 18 so it would not appear to be abuse; a priest who, according to the Pennsylvania grand jury report, arranged for an abortion for a young girl he had allegedly raped from 1980-1985; a Crux News report on Chilean seminarians who suffered sex abuse; a National Catholic Register report on seminarians sexually abused in Honduras; a 2011 Gawker report on sex abuse and, in the report’s own words, a “secret gay cabal” in Florida allegedly under former Archbishop of Miami John Favalora.

A December 2013 Vanity Fair story on an alleged “gay lobby” at the Vatican between cardinals, priests and monks that “survives on secrecy” is included, as is a 2018 CNA report on priest-sociologist Father D. Paul Sullins’ consideration of sex abuse trends, including apparently strong statistical correlations between sex abuse, a priesthood that is disproportionately homosexual, and a seminary life with a reported “gay subculture.”

The reader has several pages listing “troubling headlines” and it recommends the documentary “Sex Abuse in the Church: Code of Silence,” made in France about how priests have been reassigned to escape prosecution. It ends with “a disturbing account of how Cardinal Bergoglio handled the case of Fr. Grassi in Buenos Aires.”

The reader’s appendix lists key documents, online resources, coordinated responses, and books.

“We believe the extent of this problem is tremendous and the time to purify the Church is now,” No More Victims said in the reader introduction. “The focus here is on another huge problem: the continuing presence of priests who engage in sexual misconduct with adults, especially males, and the effect they have on the Church ― the harm they have done to victims, their pernicious influence in seminaries, the extent of their influence in dioceses, and the way they impede zealous promotion of the gospel.”

“Some of the articles are from a perspective hostile to the Church but that does not negate their veracity,” it added. “While many of these articles may seem sensationalist, it is in fact the reality of abuse that is truly responsible for the shocking nature of what is reported.”

The introduction said it is difficult to believe all the stories of abuse, but claimed “the sheer volume of them gives credence to them,” in addition to the abuse reported in the 2018 Pennsylvania grand jury report about six Catholic dioceses in the state.

“If you know any of these articles to report false information, please provide your reasons because we have come to believe the material they contain,” No More Victims said, predicting “Once the presence of predator priests and unchaste priests is eliminated, we expect that there will be an influx of devout, chaste men into the priesthood.”

“We are lay people who love Jesus, our Church, our bishops, our priests. We know there are holy and exemplary bishops, and bishops who serve us heroically, and we want them to have a Church that fully supports their invaluable work,” said the group.

“We know that many bishops have inherited messes of various kinds and it seems that often the default way of dealing with priests who live immoral lives is to look the other way. But we think that is the wrong answer–the Church deserves priests fully committed to being faithful to their vows, and those who are not ought to reform or resign.”

The group said it does not aim to force bishops to resign or to embarrass or harass them. Rather, it wants bishops to take strong action to restore trust in the episcopacy.

“We don’t intend to stop praying, fasting, and advocating for change until that happens,” No More Victims said.

Paus Fransiskus makan  siang bersama orang miskin di Vatikan

Pen@ Katolik - Sen, 19/11/2018 - 01:59
Vatican Media

Paus Fransiskus pada hari Minggu, 18 November 2018, bergabung dengan sekitar 1.500 orang miskin dan sekelompok relawan untuk makan siang guna merayakan Hari Orang Miskin se-Dunia. Setelah Misa di Basilika Santo Petrus, tempat Paus mendesak umat beriman untuk mengindahkan jeritan orang miskin dan mengatakan bahwa “tangisan orang miskin setiap hari menjadi semakin kuat tetapi kurang didengar, tenggelam oleh keramaian segelintir orang kaya, yang tumbuh semakin sedikit dan semakin kaya,” Paus menyapa orang banyak yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk Doa Angelus, dan kemudian pergi ke Aula Paulus VI dan duduk di meja utama. Sebelum makan siang disajikan, Paus berterima kasih kepada mereka yang menyiapkan makan siang itu dan kepada mereka yang melayani, kemudian berdoa memohon berkat Tuhan bagi semua yang hadir. Sebuah band orang muda dari Tempat Ziarah Bunda Kita dari Pompei menemani makan siang itu dengan iringan musik. Lasagna, daging ayam, kentang tumbuk dan tiramisu menjadi menu makanan siang itu. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Linda Bordoni dari Vatican News)

Vatican Media Vatican Media

Sidang Sinodal KWI ditutup dengan Misa peringatan lima tahun terpilihnya Paus Fransiskus

Pen@ Katolik - Sen, 19/11/2018 - 01:37
Misa Penutupan Sidang Sinodal KWI 2018 di Katedral Jakarta dipimpin oleh Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo. Foto Hanaphi

“Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk merayakan Misa Kudus pertama kalinya di Katedral Jakarta yang besar dan indah ini. Sejak (diresmikan) 1901, ia telah menyambut banyak peristiwa penting Gereja Katolik di Indonesia, dan hari ini ia adalah saksi atas betapa besar cinta umat Katolik dan bangsa Indonesia kepada Paus dan misi universalnya.”

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo berbicara dalam homili Misa Penutupan Sidang Sinodal KWI di Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, 14 November 2018. Misa yang dipimpinnya itu dihadiri oleh para uskup yang menghadiri sidang itu di Bandung 5-13 November, duta besar dan diplomat dari berbagai negara, serta umat  yang memenuhi katedral itu.

Mgr Piero Pioppo lalu mengajak umat untuk berdoa agar Paus Fransiskus “menjadi asas dan landasan yang kelihatan dari iman, kasih dan persekutuan.” Fransiskus adalah Paus ke-266. Dia terpilih sebagai Paus pada hari kedua Konklaf Kepausan 2013, 13 Maret 2013.

Menurut Duta Vatikan yang lahir di Savona Italia, 29 September 1960 itu, lahir dari semangat misionaris, para uskup, imam dan katekis serta umat awam yang kudus. Juga dikatakan bahwa Allah telah memberikan sumbangan kepada Indonesia melalui kehadiran Gereja Katolik “yang senantiasa rendah hati dan bijaksana dalam berdialog dan melaksanakan misinya dalam kemurahan hati dan penuh semangat.”

Makanya, dalam perayaan itu Nuntius mengajak berterima kasih kepada penyelenggaraan ilahi atas karunia besar yang dialami Indonesia, khususnya “untuk pelayanan unggul Paus Fransiskus, pemimpin yang kelihatan dari Gereja Kristus, yang telah menjalaninya selama lima tahun dan akan melanjutkannya dengan murah hati tanpa kenal lelah demi kebaikan setiap anak-anaknya di Indonesia.”

Paus Fransiskus, lanjut Nuntius, memahami dan mencintai anak-anaknya di Indonesia, tahu suka duka mereka, memahami upaya, harapan dan mimpi setiap orang dan menemani pelayanan para uskup, para imam, kaum hidup bakti, semua keluarga dam semua orang yang dengan tulus hati mencari Allah. “Dia adalah gembala universal yang baik, dia memperhatikan dengan penuh hormat bangsa kita dan masyarakat kita. Dia juga tidak pernah berhenti  mendorong dan mengajarkan kita untuk meningkatkan martabat dan kemajuan kita,” kata Nuntius.

Paus Fransiskus selalu berdoa dan berupaya untuk perdamaian, kerukunan, dan persatuan di antara kita, warga negara Indonesia, kata Nuntius seraya mengajak umat berterima kasih dengan Mazmur 23 “Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku ….”

Bacaan Injil hari itu, mujizat penyembuhan 10 orang kusta, “menjelaskan kepada kita tentang sikap kita yang seharusnya bila berhadapan dengan rahmat yang telah Tuhan kerjakan melalui pelayanan Bapa Suci kepada Gereja Katolik Indonesia demi kebaikan umat kita, melalui kontribusi yang Dia berikan dengan murah hati, dengan menjaga dialog antaragama, kerukunan dan perdamaian di antara warga dalam negara yang luas ini.”

Nuntius juga mengajak untuk meneladani seseorang yang setelah disembuhkan, yang kembali bersyukur atas kebaikan yang telah dilakukan Yesus kepadanya. “Semoga perayaan pesta Sri Paus Fransiskus membantu kita untuk memohon kepada Tuhan  agar selalu menciptakan hati yang selalu bersyukur demi kebaikan semua saudara kita, bangsa kita, Gereja kita, dan semua umat manusia.”

Di bagian lain Nuntius menyampaikan proficiat kepada Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum KWI periode 2018-2021 dan mengajak seluruh umat untuk terus mendoakan agar para uskup dan seluruh kepengurusan KWI dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

Sejam sebelum Misa dilakukan peresmian penandatanganan dan pembukaan selubung Museum Katedral Jakarta oleh Mgr Ignatius Suharyo disaksikan oleh para uskup se-Indonesia dan ratusan umat. Pembangunan museum itu, kata Mgr Suharyo memiliki arti penting sebagai tanda bahwa umat Katolik memiliki tanggung jawab sejarah. “Museum Katedral Jakarta memang tempat menyimpan barang-barang mati, tetapi diharapkan hadirnya museum ini mengingatkan semua orang akan masa lampau dengan nilai-nilai moral yang perlu diteladani,” kata Mgr Suharyo.

Sebelum berkat penutup, diumumkan Presidium KWI  Periode 2018-2021 sesuai hasil pemilihan Sidang Sinodal KWI 2018. (PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu, pcp) Foto: Hanphi

Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo. Foto Hanaphi

Renungan Harian, Senin: 19 November 2018 (Lukas 18:35-43)

Mirifica.net - Sen, 19/11/2018 - 01:16
Dalam bacaan Injil hari ini, pertanyaan di ataslah yang membawa kesembuhan dan keselamatan bagi pengemis buta, yang duduk di pinggir jalan. Rasa ingin tahunya mengalahkan kebutaannya. Matanya memang buta tetapi telinganya tidak tuli. Telinganya seumpama mata yang mengamati keadaan sekelilingnya. Telinga yang senantiasa berjaga-jaga terhadap situasi sekelilingnya, maka ketika orang buta tersebut mendengar orang banyak …

Pope: 'when we meet the Lord we will bring only what we have given'

Vatican News - Min, 18/11/2018 - 23:08
Reflecting on the Gospel reading of the day at the Sunday Angelus, Pope Francis reminded the faithful that when we meet the Lord we will be called to account for our lives.

Puncta 19.11.18. Lukas 18:35-43 Beriman Itu Butuh Proses

Sesawi.Net - Min, 18/11/2018 - 22:33
PELAJARAN berharga dapat kita petik dari proses beriman seorang buta bernama Bartimeus. Kendati buta tetapi rasa ingin tahunya besar. Buta tidak membuat dia diam tak berusaha. Ternyata hati dan perasaannya tidak buta. Ia belajar mendengar, menangkap pesan orang-orang di sekitarnya tentang siapakah Yesus itu. Mata batinnya menyimpulkan Yesus Anak Daud adalah orang yang dijanjikan akan […]

Archbishop Vigano ordered to pay 2m euro to brother in inheritance dispute

Catholic News Agency (CNA) - Min, 18/11/2018 - 20:01

Milan, Italy, Nov 18, 2018 / 06:01 am (CNA/EWTN News).- An Italian court has ordered Archbishop Carlo Maria Viganò to pay back nearly 2 million euro of inheritance, plus interest and legal fees to his brother, Father Lorenzo Vigano.

Archbishop Vigano had been managing the brothers’ inheritance since their father’s death in 1961. According to Italian paper La Stampa, the brothers hold about 20 million euro in real estate, and about six million euro in cash.

The archbishop, who had been collecting money from the estate, was ordered to pay his brother back half of what he had collected - which amounted to 1.8 million euro, or more than 2 million U.S. dollars, plus fees.

The inheritance has reportedly been a cause of contention in their relationship for years - Fr. Lorenzo Vigano, a Jesuit biblical scholar who has lived in Chicago for years, has tried to sue over the inheritance numerous times. This is the first time he has succeeded in being rewarded any money.

The inheritance has also reportedly caused friction between Archbishop Vigano and his sister Rosanna, whom he paid 8,600 euro in 2014 to settle a lawsuit, according to The Catholic Universe.

Archbishop Vigano is the former Apostolic Nuncio to the United States, a position he held from 2011-2016. His public letter of Aug. 26, accusing Pope Francis of knowing about the allegations of sexual misconduct against former cardinal Theodore McCarrick and failing to act, thrust him into the center of the debate about the Church sex abuse scandal this summer.

Vigano had previously made headlines in the 2011-2012 “Vatileaks” scandal, during which some documents from the office of Benedict XVI were leaked to Italian journalists. The documents revealed that Vigano had told the Pope that he couldn’t take up his assignment in the U.S. because he had to take care of his ailing brother, Lorenzo.

Lorenzo said in an interview at the time that while he had suffered a stroke, he had not been close to his brother in years due to conflicts over their inheritance, and that his illness was no reason for Vigano to reject his new position, according to La Stampa.

While Archbishop Vigano went into hiding in August, fearing for his safety after the publication of his letter on Francis and McCarrick, he has not remained silent. He has written two additional letters on the sex abuse scandal, and sent a message to the U.S. bishops ahead of their meeting this week, urging them to be “courageous shepherds” in the face of the sex abuse crisis.

Invite Jesus into the storms of life, Pope Francis says

Catholic News Agency (CNA) - Min, 18/11/2018 - 19:19

Vatican City, Nov 18, 2018 / 05:19 am (CNA/EWTN News).- During a difficult time, it can be easy to see only the immediate problem; but asking Jesus to be the guide is the key to weathering the storm, Pope Francis said Sunday at a Mass with 6,000 poor and volunteers.

“The boat of our life is often storm-tossed and buffeted by winds. Even when the waters are calm, they quickly grow agitated. When we are caught up in those storms, they seem to be our only problem,” the pope said Nov. 18.

“But the issue is not the momentary storm, but how we are navigating through life. The secret of navigating well is to invite Jesus on board. The rudder of life must be surrendered to him, so that he can steer the route.”

“Today,” he continued, “let us invite Jesus into the boat of our life. Like the disciples, we will realize that once he is on board, the winds die down and there can be no shipwreck.”

Francis celebrated Mass in St. Peter’s Basilica for the World Day of the Poor, which he established in 2016 at the end of the Jubilee of Mercy. The theme for 2018 is taken from Psalm 34: “This poor one cried out and the Lord heard.”

After Mass, he ate a lunch of lasagna, chicken nuggets, mashed potato and tiramisu with poor in the Vatican’s Paul VI hall.

Before the meal, Francis offered a blessing, saying "we thank everyone and pray to God to bless us all. A blessing from God for all, all [of us] who are here. May God bless each one of us, bless our hearts, bless our intentions, and help us to go forward."

In his homily at Mass, the pope reflected on Matt. 14:22-33, which gives the account of Jesus walking across the water to meet his disciples in the boat, which was being tossed about by waves.

As St. Matthew writes, after the multiplication of the loaves and fishes, Jesus left the crowd of people and his disciples and went up on a mountain to pray.

His disciples set off in a boat for the other side of the Sea of Galilee, “meanwhile the boat, already a few miles offshore, was being tossed about by the waves, for the wind was against it. During the fourth watch of the night, [Jesus] came toward them, walking on the sea.”

There are several lessons that can be taken from this Gospel passage, the pope said; one being to have the courage to leave behind comfort and an easy life. “To go where? To God by praying, and to those in need by loving. These are the true treasures in life: God and our neighbor,” he said.

He explained that Jesus’ disciples were not meant to have a carefree life, “traveling light, ready to leave passing glories behind, careful not to cling to fleeting goods.”

“Christians know that their homeland is elsewhere,” he underlined. “We do not live to accumulate; our glory lies in leaving behind the things that pass away in order to hold on to those that last.”

“Let us ask for the grace to hear the cry of all those tossed by the waves of life,” he said: The unborn, starving children, young people in places of conflict, the elderly, those forced to leave their home and native country.

Taking care of those in need is not a “sociological option, it is not the fad of a pontificate; it is a theological requirement,” he emphasized.  “It entails acknowledging that we are beggars pleading for salvation, brothers and sisters of all, but especially of the poor whom the Lord loves.”

After Mass, Pope Francis led the Angelus in St. Peter’s Square. Before the prayer, he reflected on the day’s Gospel passage from Mark. In the passage, the pope explained, Jesus is saying that the story of people and of individuals all have a goal: “permanent encounter with the Lord.”

“We do not know the time nor the ways in which [the end of the world] will happen,” Francis said. “We know, however, a fundamental principle which we must confront: ‘Heaven and earth will pass away, but my words will not pass away,’ Jesus says.”

At the end he offered a special prayer for everyone affected by the fires that are “scourging California” and for the victims of the winter storm on the east coast.

“May the Lord welcome the deceased into his peace, comfort the family members and support those who commit themselves to help,” he prayed.

The pope also prayed for those who died in a Nov. 15 attack on the Cathedral of the Sacred Heart in Alindao, in the Central African Republic. At least 42 people died in the attack, including at least one priest, according to local reports. Some unofficial estimates have said the death toll could reach as high as 100. Many of the people killed were refugees sheltering at the church.

Pope Francis said, “we pray for the dead and the wounded and for an end to all violence in that beloved country, which is in great need of peace.”

PLN Peduli Bantu Gerja Katolik di Senakin - Tribun Pontianak

Google News - Min, 18/11/2018 - 19:12

Tribun Pontianak

PLN Peduli Bantu Gerja Katolik di Senakin
Tribun Pontianak
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Alfon Pardosi. TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Ngabang, memberikan bantuan uang tunai kepada Gereja Katolik Santo Agustinus Stasi Senakin, Kecamatan Sengah Temila ...

Pope at Mass: go up to God to go down to others

Vatican News - Min, 18/11/2018 - 18:52
On the World Day of the Poor, Pope Francis reflects on the Gospel for the Dedication of the Basilica of St Peter, saying that like Jesus, Christians must go down to meet the needs of others after having gone up to meet God in prayer.

Pope prays for peace in Central African Republic and for victims of California fire

Vatican News - Min, 18/11/2018 - 18:33
Speaking after the Angelus prayer on Sunday, Pope Francis expressed his sorrow for the massacre this week in the Central African Republic where dozens were killed and injured in a refugee camp and turned his thoughts to those affected by a raging camp fire in California.

Pope Francis: ‘hear the cry of the poor’

Vatican News - Min, 18/11/2018 - 17:20
Pope Francis celebrated Holy Mass on Sunday to mark the World Day of the Poor. Hundreds of homeless and poor people from Rome and surrounding areas were present to participate in the liturgy that took place in St. Peter's Basilica.

Pelita Hati: 19.11.2018 – Gigih dalam Beriman

Sesawi.Net - Min, 18/11/2018 - 17:00
Bacaan Lukas 18:35-43 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?”  Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia […]

Jangan Suka Marah

Sesawi.Net - Min, 18/11/2018 - 14:48

Karya Seni di Balik Jubah Pastor Romo Matheus Juli Pr dari Keuskupan Ketapang (3)

Sesawi.Net - Min, 18/11/2018 - 14:29
MALAM itu, Romo Matheus Juli Pr menjadi bintang. Ibarat magnet, maka sejumlah karya seni hasil olah kreatif imam diosesan (praja) Keuskupan Ketapang di Provinsi Kalbar ini membetot atensi semua tetamu. Di penghujung akhir bulan September 2018 lalu, gemerlapnya pendaran lampu yang menghiasai foyer lobi grand ballroom Hotel Mulia ikut menjadikan tampilan karya seni itu semakin […]

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator