Berita dan Event

Menuai Hasil Perbuatan

Sesawi.Net - Min, 18/11/2018 - 11:48

Puncta 18.11.18. Markus 13:24-32 Hari Kedatangan Tuhan

Sesawi.Net - Min, 18/11/2018 - 11:32
BEBERAPA waktu lalu Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana berkunjung ke Papua. Dalam foto tergambar Ibu Iriana menggendong seorang anak Papua dan Pak Jokowi menggandeng anak lain. Betapa indahnya. Kedatangan orang nomor satu di Indonesia dinantikan dan membawa sukacita. Anak-anak itu pasti sangat bergembira. Kedatangan Tuhan juga digambarkan dalam bacaan Injil hari ini. Dalam nubuat […]

Artists begin work on Vatican Christmas nativity – out of sand

Catholic News Agency (CNA) - Min, 18/11/2018 - 06:25

Vatican City, Nov 17, 2018 / 04:25 pm (CNA/EWTN News).- The Vatican’s nativity scene will be a little bit different this year. In a departure from the traditional Neapolitan or Maltese figures of recent years, the scene of Christ’s birth will be entirely sculpted from sand.

Beginning Nov. 17, four artists are beginning their work in St. Peter’s Square, crafting nearly 46,000 cubic feet of sand, equal to around 700 tons, into a grand “Sand Nativity.”

The creators, who have been sculpting sand nativities in the Italian town of Jesolo for years, say on their website that the goal is “to build the largest sand nativity in Christendom in the center of Rome in order to provide moments of authentic and joyful contemplation to all those who love Christmas.”



Sand Nativity scene in the Italian town of Jesolo. Credit: Town of Jesolo.

A partnership between the mayor of Jesolo and Patriarch Francesco Moraglia of Venice is what brought the famous sand sculptures to the Vatican for Christmas 2018.

The Jesolo sand, as it is called, was brought to the square from the Dolomites, a mountain range in northeastern Italy near Jesolo. The four sculptors who will transform the shapeless mounds into the traditional figures of Jesus’ birth hail from Holland, Russia, the Czech Republic, and the United States.

Phase one of construction will begin with a large pyramid of sand; spaces will then be dug into the sides and the sand compacted. A few days later, a protective structure will be built around the sand. The true sculpting phase will begin Nov. 21 and go until the first week of December.

In the final 48 hours, which will be Dec. 5-6, the final touches will be placed, before the big reveal Dec. 7, the same day as the annual lighting ceremony of the St. Peter’s Square Christmas tree.

The tradition to have a tree in St. Peter’s Square was begun by Pope St. John Paul II in 1982. This year’s tree comes from the Forest of Cansiglio in northern Italy, which is near the Dolomites.

Pope Francis and the ‘spilled cup of coffee’

Vatican News - Min, 18/11/2018 - 01:07
One of the protagonists of “Sharing the Wisdom of Time”, a book by ‘Pope Francis and friends’ speaks of his contribution to the publication and of his deep belief that the young and the old have a lot to learn from each other.

Renungan Harian, Minggu: 18 November 2018 (Markus 13:24-32)

Mirifica.net - Min, 18/11/2018 - 01:00
Injil hari ini mengingtkan saya waktu saya menjadi guru. Sebelum ulangan/ujian, saya selalu memberi kisi-kisi kepada para murid-murid saya. Dalam Injil hari ini, Yesus pun sedang memberi kisi-kisi tentang akhir zaman. Saya mencoba membandingkan suasana kelas dan keadaan para murid ketika mendengar kisi-kisi. Murid saya akan senang bila saya memberi kisi-kisi karena mereka bisa lebih …

Mari Berbagi Kasih.

Sesawi.Net - Sab, 17/11/2018 - 23:40

Paus Fransiskus: Gosip membunuh, karena lidah membunuh, seperti pisau

Pen@ Katolik - Sab, 17/11/2018 - 23:35
Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum/AFP

Dalam katekese berkelanjutan tentang Sepuluh Perintah Allah, Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum mingguannya merenungkan perintah kedelapan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” atau sering disingkat “Jangan bersaksi dusta.”

Kepada para peziarah di Lapangan Santo Petrus 14 November 2018, Paus mengatakan, orang Kristiani dipanggil untuk “jujur ​​tidak hanya dalam kata-kata tetapi dalam seluruh cara bertindak kita terhadap orang lain.”

Paus mengatakan, “model utama kita dalam hal ini adalah Yesus sendiri. Ia adalah kebenaran secara pribadi, yang pada pengadilannya di hadapan Pilatus, mengungkapkan bahwa Ia datang ke dunia ini untuk bersaksi tentang kebenaran.”

Kalau seseorang tidak berkomunikasi secara autentik, Paus menggarisbawahi, itu masalah serius karena menghambat hubungan dan karena itu menghambat cinta. “Di mana ada kebohongan, di sana tidak ada cinta,” lanjut Paus.

Paus juga menegaskan bahwa bergosip itu membunuh. Membunuh, jelas Paus, “karena lidah membunuh, seperti pisau.” Hati-hati, lanjut Paus, gosip “adalah teroris karena dia melempar bom dan pergi.” “Orang Kristiani bukanlah pria dan wanita yang luar biasa, kata Paus, “namun adalah anak-anak Bapa surgawi, yang baik dan tidak mengecewakan kita, dan menempatkan di dalam hati kita kasih bagi saudara-saudari kita.”

“Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu,” tegas Paus, berarti hidup sebagai anak-anak Allah, bertindak sesuai kehendak-Nya dan percaya kepada-Nya. “Perintah itu meminta kita menjalani hidup baru ini sepenuhnya, dan dengan demikian memberikan kesaksian yang benar tentang kasih Allah yang menyelamatkan, yang berinkarnasi dalam kemanusiaan Kristus Tuhan kita. “Aku percaya akan Allah,” kata Paus Fransiskus, “inilah kebenaran yang besar.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Ghana’s Bishops saddened by migration ask Caritas Ghana to step-in

Vatican News - Sab, 17/11/2018 - 23:02
As the Catholic Church commemorates World Day of the Poor, this Sunday, Ghanaian Bishops have been reflecting on poverty in the country, migration and youth unemployment among other concerns.

Card. Turkson urges limiting emergence and spread of antibiotic resistance

Vatican News - Sab, 17/11/2018 - 22:51
Cardinal Peter Turkson, the Prefect of the Department for the Service of Integral Human Development, released a message on the occasion of the World Antibiotic Awareness Week (WAAW), Nov. 12-18.

Selamat Hari Minggu

Sesawi.Net - Sab, 17/11/2018 - 21:59

Buku Baru: ”Perempuan yang Pergi Pagi-pagi”, Kisah Hidup Berbalut Spiritualitas

Sesawi.Net - Sab, 17/11/2018 - 21:10
BUKU Perempuan yang Pergi Pagi-Pagi ditulis oleh Sigit Kurniawan, lebih tepatnya FX Sigit Kurniawan. Saya kira menuliskan nama penulisnya secara lengkap, sampai menyebut pula nama baptisnya perlu di sini, karena nama baptis FX (Fransiskus Xaverius) menjelaskan kedalaman spiritualitas tertentu dari sang penulis. Seperti sudah kita mahfumi, Fransiskus Xaverius adalah seorang misionaris besar, yang menyebarkan iman […]

Nilai Agama Penguat Pendidikan Karakter, MUI Kudus Ingin Ada Tindak Lanjut Perda Diniyah - isknews.com (Siaran Pers)

Berita Seminari Tinggi - Sab, 17/11/2018 - 20:49

isknews.com (Siaran Pers)

Nilai Agama Penguat Pendidikan Karakter, MUI Kudus Ingin Ada Tindak Lanjut Perda Diniyah
isknews.com (Siaran Pers)
Diketahui, Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan pendidikan keagamaan islam non formal yang menggali nilai-nilai keagamaan dan moral islami sebagai pelengkap pendidikan agama bagi siswa sekolah dasar dan menengah. “Jadi kami ... Perda ini akhirnya juga ...

Pope: Ratzinger Prize-winners help us turn our thoughts to God

Vatican News - Sab, 17/11/2018 - 20:44
Presiding at the Ratzinger Prize award ceremony, Pope Francis shared his sentiments of gratitude for the Pope Emeritus’ legacy and expressed appreciation for this year’s prize-winners.

Pope commends blind peoples’ work for poorest and abandoned

Vatican News - Sab, 17/11/2018 - 19:55
Pope Francis on November 17 met some 400 members of the Apostolic Movement of the Blind on their 90th anniversary.

Pope Francis: Include the Holy Spirit in art, theology

Catholic News Agency (CNA) - Sab, 17/11/2018 - 19:34

Vatican City, Nov 17, 2018 / 05:34 am (CNA/EWTN News).- In the face of the difficulties of the modern-age, artists and theologians need the inspiration of the Holy Spirit – the source of joy and hope, Pope Francis said Saturday, during the awarding of the 2018 Ratzinger Prize.

“Against the backdrop and in the context of the great problems of our time, theology and art must therefore continue to be animated and elevated by the power of the Spirit, which is the source of strength, joy and hope,” he said Nov. 17.

“I thank the theologians and the architects who help us to lift our heads and turn our thoughts to God,” he added. “Let [their work] always be addressed to this end.”

Pope Francis spoke with members of the Joseph-Ratzinger-Benedict XVI foundation, which is headed by Fr. Federico Lombardi. During the audience in the Clementine hall, the pope bestowed the 8th annual Ratzinger Prize on Swiss architect Mario Botta and Bavarian theologian Marianne Schlosser.

The Ratzinger Prize was started in 2011 to recognize scholars whose work demonstrates a meaningful contribution to theology in the spirit of Cardinal Joseph Ratzinger, the Bavarian theologian who became Pope Benedict XVI.

It is not the first time a woman has been awarded the prize, he noted, but stressed the importance of greater recognition of the contribution of women to the sciences, to theological research and to the teaching of theology, which were “for so long considered almost exclusive territories of the clergy.”

This contribution should be encouraged, and “find a wider space, in keeping with the growing presence of women in the various fields of responsibility for the life of the Church,” he said, pointing to the example set by St. Teresa of Avila, St. Catherine of Siena, St. Therese of Lisiuex and St. Hildegard of Bingen, who are all considered Doctors of the Church.

Francis also praised the contribution of the other prize winner, architect Mario Botta. He noted the importance of sacred buildings throughout the history of the Church, as places which show “a concrete call to God” and express “the faith of the believing community.”

“The commitment of the architect, creator of sacred space in the city of men, is therefore of highest value, and must be recognized and encouraged by the Church, especially when we risk the oblivion of the spiritual dimension and the dehumanization of urban spaces,” he stated.

Pope Francis also encouraged members of the foundation to continue to study the writings of Benedict XVI, both those from his time as pope and before, “but also to face the new themes on which faith is called to dialogue,” like care of creation and defense of human dignity.

For admirers of Benedict’s spiritual legacy, there is a “mission to cultivate it and to continue to make it bear fruit,” he said. “His is a spirit that views the problems of our time with awareness and courage, and knows how to draw, from attention to Scripture in the living tradition of the Church, the wisdom necessary for a constructive dialogue with today’s culture.”

Schlosser, 59, has been a professor of the theology of spirituality at the University of Vienna since 2004. Pope Francis appointed her a member of the International Theological Commission in 2014.

She has translated a large part of the body of work of St. Bonaventure into German and was the researcher for the second volume of the total works of Joseph Ratzinger, which was on "the Idea of Revelation and the Theology of the History of Bonaventure." Her expertise is in Patristics and the theology and spirituality of the late Middle Ages.

Botta, 75, is an internationally-acclaimed architect, who has designed many different buildings, including homes, schools, libraries, museums, and banks. He has also designed several significant religious buildings, among them the Church of St. John the Baptist in Mogno, the Cathedral of Evry near Paris, and the Co-cathedral of Santo Volto in Turin.

He is also the designer of one of the chapels on display in the Holy See's pavilion at this year's Venice Architecture Biennale.

Harapan di Hari Akhir

Pen@ Katolik - Sab, 17/11/2018 - 19:32

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-33 dalam Masa Biasa, 18 November 2018: Markus 13: 24-32)

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Mrk. 13:26)

Buku terakhir di Alkitab dikenal juga sebagai Kitab Wahyu. Dalam Bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “apokalopsis” yang berarti penyingkapan atau pewahyuan. Literatur “apokaliptik” merupakan karya-karya tulis mengungkap rahasia peristiwa masa depan, dan biasanya, ini adalah kejadian-kejadian dramatis di akhir dunia. Injil kita hari Minggu ini diambil dari Markus pasal 13, dan bab ini juga dikenal sebagai apokaliptik kecil.

Markus 13 berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Namun, ketika kita membaca lebih seksama, kita menemukan beberapa peristiwa yang menyedihkan dan bahkan mengerikan yang akan mendahului kedatangan Yesus yang mulia ini. Bait Allah Yerusalem akan dihancurkan, pengikut-pengikut Yesus akan mengalami penganiayaan, dan matahari, bulan, dan objek-objek angkasa lainnya tak lagi berfungsi. Zaman ini akan menjadi waktu yang mengerikan bagi manusia untuk hidup.

Bagi pembaca modern seperti kita, Injil kita hari ini tidak terdengar optimis sama sekali. Sebenarnya, kita mungkin mempertanyakan apakah ini adalah Kabar Baik tentang keselamatan atau kisah mimpi buruk yang sekedar menakut-nakuti anak-anak kecil? Bagi banyak dari kita yang menghadiri misa Mingguan dengan setia, kita mendengarkan kisah apokaliptik kecil ini di akhir setiap tahun liturgi Gereja. Karena kita mendengar kisah ini dari tahun ke tahun, kisah apokaliptik ini telah kehilangan giginya, dan kita tidak lagi takut dengan hal-hal yang akan terjadi. Toh nyatanya, kita masih hidup dan baik-baik saja.

Namun, literatur apokaliptik memiliki dampak dan makna yang berbeda bagi umat Kristiani pertama, yang adalah pembaca pertama Injil Markus. Bagi Gereja Perdana, apokaliptik tidak berarti cerita horror akhir dunia yang menakutkan, melainkan sebuah pesan harapan. Umat ​​Kristiani awal adalah minoritas kecil di kekaisaran Romawi yang besar. Karena mereka teguh dalam keyakinan mereka untuk menyembah Allah yang esa, dan menolak untuk menyembah Kaisar Roma dan dewa-dewa Romawi, mereka terus menerus menjadi subjek pelecehan, penganiayaan dan bahkan menjadi martir.

Salah satu penganiayaan yang paling brutal terhadap umat Kristiani terjadi di bawah perintah Kaisar Nero. Dia menyalahkan umat Kristiani atas api yang membakar sebagian Kota Roma. Dia memerintahkan agar umat Kristiani untuk ditangkap dan disiksa. Beberapa menjadi umpan binatang buas. Beberapa dimakan oleh anjing-anjing lapar. Lainnya dibakar hidup-hidup untuk menerangi Kota Roma di malam hari. Dalam masa keputusasaan ini, Markus pasal 13 memberi mereka Injil pengharapan. Tidak peduli apa yang terjadi pada umat Kristiani, apakah itu diskriminasi, penganiayaan, bencana, atau bahkan akhir dunia, mereka yakin bahwa Allahlah yang memegang kendali; Dia yang berkuasa dan memiliki kata terakhir.

Fakta bahwa kita dapat membaca refleksi kecil ini berarti bahwa kita hidup dalam zaman yang jauh lebih baik dibandingkan dengan umat Kristiani yang dianiaya. Namun, pesan dari literatur apokaliptik tetap relevan bagi kita semua. Menghadapi tantangan dan kerja harian, kejadian yang tidak terduga dan tidak menyenangkan, dan berbagai masalah dan kerumitan hidup, kita cenderung frustrasi, dan kehilangan harapan. Semakin banyak orang muda saat ini yang dengan mudah mengalami depresi, dan sebagian, sayangnya, memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena kita tidak lagi tahu bagaimana berharap. Dalam bukunya, “Crossing the Threshold of Hope”, Santo Yohanes Paulus II ditanya apakah sang paus pernah meragukan hubungannya dengan Tuhan, terutama dalam masa sulit dalam hidupnya. Jawabannya sederhana namun penuh pengharapan, “Jangan takut!” Gereja adalah sekolah yang mengajar anak-anaknya untuk berani berharap karena pada akhirnya, Tuhanlah yang memiliki kata akhir, dan kita tidak perlu takut.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Ratzinger prize awarded to theologian and architect

Vatican News - Sab, 17/11/2018 - 18:48
Pope Francis awards the Ratzinger Prize to architect Mario Botta and theologian Marianne Schlosser on Saturday 17th of November.

Central African Republic: Massacre of civilians and religious

Vatican News - Sab, 17/11/2018 - 18:48
Violence continues in the Central African Republic, as a displaced persons camp operated by the Catholic Church is attacked. Militants also targeted the Cathedral and the Bishop’s residence in the southern city of Alindao.

Menhan: Memojokkan, Menjelek-jelekkan, Memfitnah Orang Itu Bukan Budaya Indonesia - merdeka.com

Google News - Sab, 17/11/2018 - 18:45

merdeka.com

Menhan: Memojokkan, Menjelek-jelekkan, Memfitnah Orang Itu Bukan Budaya Indonesia
merdeka.com
Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, itu Indonesia," ujarnya. Ia menilai masyarakat tidak perlu membahas tentang apakah nanti akan masuk surga atau neraka. Namun yang terpenting saat ini, hidup bersatu membela bangsa dan negara ...
Menhan: kejahatan merajalela kalau orang baik diamANTARA
Menhan: Saling Hujat Jadi MalapetakaMedcom ID

all 9 news articles »

EU Leaders warn Britain they won't renegotiate Brexit deal

Vatican News - Sab, 17/11/2018 - 18:27
European Union leaders have warned Britain that they will not renegotiate a draft deal on it leaving the EU, the process known as Brexit. Brussels fears that Britain's tense political situation could make a "no-deal" more likely.

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator