Berita dan Event

FMKI Tolak Pemindahan Kedutaan ke Yerusalem & Kutuk Terorisme - Bisnis.com

Google News - Rab, 23/05/2018 - 01:01

Bisnis.com

FMKI Tolak Pemindahan Kedutaan ke Yerusalem & Kutuk Terorisme
Bisnis.com
Bisnis.com, JAKARTA – Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta (FMKI KAJ) menilai pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem telah menciptakan gejolak yang menimbulkan korban jiwa di Jalur Gaza, ...

Masyarakat Indonesia di Belanda Gelar Doa Perdamaian - Tribun Pontianak

Google News - Rab, 23/05/2018 - 00:33

Tribun Pontianak

Masyarakat Indonesia di Belanda Gelar Doa Perdamaian
Tribun Pontianak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, DEN HAAG - Masyarakat Indonesia di Belanda, yang terdiri atas beberapa kelompok lintas agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha, menggelar doa perdamaian bersama di Ruang Nusantara, Kedutaan Besar ...

Google News

Terbuka dan Toleransi Terhadap Perbedaan

Sesawi.Net - Rab, 23/05/2018 - 00:17
LEWAT Injil pada hari ini, Yesus mengajak kita untuk menjadi pribadi yang memiliki keterbukaan dan menunjukkan sikap toleransi terhadap golongan yang berbeda. Kita dituntut untuk tidak memandang rendah dan menaruh prasangka buruk atas perbuatan baik yang dilakukan oleh kelompok lain yang tidak sealiran dengan kita. Kita harus menyadari bahwa Tuhan memanggil setiap umat manusia untuk […]

Kata Mutiara – Rabu 23 Mei 2018

Sesawi.Net - Rab, 23/05/2018 - 00:12
KEANEKARAGAMAN bukan tentang bagaimana kita berbeda. Keanekaragaman adalah tentang merangkul keunikan satu sama lain. Ola Joseph Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

KWI: Umat Katolik Harus Proaktif Redam Hoaks - Bisnis.com

Google News - Sel, 22/05/2018 - 23:18

Bisnis.com

KWI: Umat Katolik Harus Proaktif Redam Hoaks
Bisnis.com
Bisnis.com, JAKARTA – Konferensi Waligereja Indonesia melalui Komisi Komunikasi Sosial menyelenggarakan Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia atau PKSN-KWI dengan ajakan kepada umat Katolik meredam berita palsu ...

Umat ​​Katolik Nigeria lakukan protes damai nasional dengan senjata Rosario

Pen@ Katolik - Sel, 22/05/2018 - 23:02

 

Dua imam yang tewas, (dari kiri ke kanan): Pastor Felix Tyolaha dan Pastor Joseph Gor

Hanya dengan ‘bersenjatakan’ Rosario, umat Katolik di 54 kota di seluruh Nigeria, pada tanggal 22 Mei 2018, ikut berpawai dalam protes damai nasional yang disebut “March for Life” (pawai untuk kehidupan), yang dilakukan bertepatan dengan pemakaman 17 umat paroki dan dua imam Katolik yang dibunuh oleh tersangka gembala, di Keuskupan Markudi, 24 April 2018.

Direktur Komunikasi Keuskupan Agung Abuja, Nigeria, Pastor Patrick Alumuku mengatakan kepada Paul Samasumo dari Vatican News di Vatikan bahwa March for Life, yang diumumkan oleh Konferensi Waligereja Nigeria, merupakan aksi solidaritas terhadap mereka yang tewas itu serta terhadap banyak korban terorisme lainnya di Nigeria.

Pastor Alumuku yang merupakan ketua yang dibentuk untuk March for Life di ibukota Abuja itu mengatakan bahwa Pastor Joseph Gor dan Pastor Felix Tyolaha dibunuh secara brutal bersama dengan umat paroki, ketika Misa berakhir di Paroki Santo Ignatius Ukpo-Mbalom, di Negara Bagian Benue.

Media lokal Nigeria melaporkan adanya ketegangan yang jelas dirasakan di Negara Bagian Benue tempat kedua imam dan para umat paroki itu tewas. Personel keamanan telah meyakinkan penduduk dan mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan keamanan. Mereka berulang kali memastikan bahwa para peserta pawai dan tempat pemakaman akan aman.

Para uskup Nigeria mengatakan kepada umat Katolik Nigeria di semua kota untuk datang hanya dengan ‘bersenjatakan’ Rosario dan Lilin.

Ketika berbicara dalam wawancara eksklusif dengan Vatican News di Roma, sehari setelah serangan Makurdi, empat Uskup dari Sabuk Tengah Nigeria, Uskup Makurdi Mgr Wilfred Anagbe CMF, Uskup Katsina-Ala Mgr Peter Adoboh, Uskup Gboko Mgr William Avenya, dan Uskup Otukpo Mgr Michael Ekwoy Apochi mengatakan bahwa teroris dan tentara bayaran telah menyusup dalam para gembala itu.

Mereka menggambarkan serangan-serangan di gereja itu sebagai sesuatu yang ”menghebohkan, biadab dan kejam.” Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin serangan mematikan seperti itu bisa terjadi di siang hari bolong dan para pelaku tidak memperhitungkan tindakan mereka.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Apa sebabnya Sakramen-Sakramen itu perlu bagi keselamatan?

Pen@ Katolik - Sel, 22/05/2018 - 21:51
Basilika Santo Petrus (dari Canadian Catechist)

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

230. Apa sebabnya Sakramen-Sakramen itu perlu bagi keselamatan?

Bagi orang beriman kepada Kristus, walaupun Sakramen-Sakramen itu tidak semuanya diberikan kepada setiap orang beriman, Sakramen perlu untuk keselamatan karena memberikan rahmat Sakramental, pengampunan dosa, pengangkatan sebagai anak-anak Allah, menyelaraskan diri kepada Kristus Tuhan dan keanggotaan di dalam Gereja. Roh Kudus menyembuhkan dan mengubah mereka yang menerima Sakramen-Sakramen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1122-1126, 1133

231. Apa itu rahmat Sakramental?

Rahmat Sakramental adalah rahmat Roh Kudus yang diberikan oleh Kristus dan terdapat dalam setiap Sakramen. Rahmat ini membantu orang beriman dalam perjalanannya menuju kesucian dan dengan demikian juga membantu Gereja untuk berkembang di dalam cinta kasih dan memberikan kesaksian kepada dunia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1129, 1131, 1134, 2003

232. Apa hubungan antara Sakramen dengan kehidupan kekal?

Dalam Sakramen, Gereja sudah ”mencicipi” kehidupan kekal, sambil ”menantikan penggenapan pengharapan yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1130

Puncta 23.05.18. Markus 9:38-40: Extra Eccclesiam, Nula Salus

Sesawi.Net - Sel, 22/05/2018 - 21:23
SEBELUM Konsili Vatikan II, Gereja punya pandangan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan (extra ecclesiam, nulla salus). Namun sejak Konsili Vatikan II tahun 1965, Gereja mengeluarkan Konstitusi Dogmatis dalam Lumen Gentium no. 16. Gereja mengakui bahwa di luar Gereja ada keselamatan bagi mereka yang berkehendak baik. Walaupun kita adalah anggota Gereja, tetapi kalau hidupnya […]

Hari Malaria Dunia 2018

Sesawi.Net - Sel, 22/05/2018 - 21:05
SENIN, 25 April 2018 dirayakan Hari Malaria Sedunia (World Malaria Day 2018) dengan tema bergelora: siap untuk mengalahkan malaria (ready to beat malaria). Tema ini menggaris bawahi energi dan komitmen kolektif komunitas global dalam menyatukan tujuan bersama, yaitu menciptakan dunia yang bebas malaria. Apa yang perlu diketahui? Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit […]

“Tarian Dewi Cinta”, Novel Baru Besutan Romo Benedictus Bambang Triatmoko SJ

Sesawi.Net - Sel, 22/05/2018 - 20:44
RELASI interpersonal itu selalu menarik untuk diperbicangkan. Tak terkecuali oleh Tarian Dewi Cinta, sebuah buku novel baru karya Romo Benedictus “Beni” Bambang Triatmoko SJ yang hari Minggu (20/5) malam lalu dirilis resmi di Jakarta. Buku novel ini diterbitkan oleh PT Kanisius Yogyakarta. Novel Tarian Dewi Cinta ini tak sekedar bicara tetang relasi interpersonal. Lebih dari […]

Renungan Harian, Rabu: 23 Mei 2018, Mrk. 9:38-40

Mirifica.net - Sel, 22/05/2018 - 19:00
AGI sebagian orang, hidup ini akan jadi berarti jika pendidikannya tinggi, hidup sejahtera, tak berkekurangan, sehat, punya anak, keluarga harmonis, bisa jalan-jalan, dsb. Ada seorang dokter yang sudah memiliki semuanya itu, tetapi dia tetap saja tidak bahagia, bahkan stres dan depresi. Berbulan-bulan dia mengurung diri di kamar, sebab tak tahu apa arti hidupnya lagi. Apa …

KWI terbitkan Nota Pastoral untuk pahami gagasan dan makna Pancasila sebagai Dasar Negara

Pen@ Katolik - Sel, 22/05/2018 - 18:56

“Memajukan dan mengembangkan  pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila sejalan dengan panggilan dan perutusan Gereja dalam menegakkan Kerajaan Allah di bumi Indonesia, di mana semua orang dapat hidup bersama dan bersaudara, merajut kesatuan, kerukunan dan perdamaian, serta bekerja keras demi perwujudan cita-cita kesejahteraan umum demi Indonesia jaya.”

Pernyataan itu ditulis dalam kata pengantar Nota Pastoral KWI 2018 bertajuk “Panggilan Gereja dalam Hidup Berbangsa – Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan,” yang diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di hadapan presidium dan beberapa sekretaris departemen dari KWI di Ruang Rapat KWI, Jakarta, 17 Mei 2018.

Menurut catatan yang diterima PEN@ Katolik dari KWI, Nota Pastoral KWI 2018 itu diterbitkan untuk menanggapi situasi bangsa yang diwarnai berbagai masalah dalam mewujudkan Indonesia yang satu sebagai rumah bagi semua komponen bangsa, juga dalam merespon tibanya tahun politik 2018-2019.

“Para Uskup Indonesia ingin mengajak umatnya dan masyarakat luas untuk semakin memahami gagasan dan makna Pancasila sebagai Dasar Negara, mengembangkan berbagai gerakan persaudaraan dan kemanusiaan lintas batas dengan berbagai cara yang pas dalam konteks keindonesiaan yang Bhinneka Tunggal Ika. Saya Indonesia Saya Pancasila,” lanjut catatan itu.

Dalam pengantar buku itu juga ditegaskan bahwa keinginan menerbitkan nota pastoral itu muncul dalam Hari Studi tahunan KWI 2017 yang berlangsung di Jakarta, 6-8 November 2017, dengan tema “Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan: Tugas Gereja Menyucikan Dunia.”

Materi bahasan dan dinamika diskusi dalam hari studi itu menyingkapkan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang memprihatinkan saat ini. “Dengan bantuan para narasumber, diskusi tentang realitas tersebut mengerucut pada penegasan kembali tugas perutusan Gereja di dunia dan komitmen menjadi Gereja yang relevan dan signifikan,” tulis pengantar itu.

Sebagai bagian utuh dari bangsa dan negara Indonesia, lanjutnya, “Gereja tidak dapat berdiam diri menghadapi kondisi memprihatinkan yang mengancam keberlangsungan kehidupan bersama di negara Indonesia. Gereja berada dalam satu rumah bersama, yaitu “Indonesia” yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kerukunan, perdamaian, keadilan, dan kebenaran demi kebaikan bersama.”

Para uskup juga yakin bahwa realitas yang memprihatinkan yang tengah diarungi bangsa dan negara “merupakan momentum dan panggilan bersama semua anak bangsa untuk menyatukan tekad dan menegaskan komitmen menjaga kesatuan serta merawat kebinekaan bangsa dan negara kita.”

Gereja, tegas para uskup dalam nota pastoral itu, “dipanggil untuk secara lebih tegas dan nyata menghadirkan diri sebagai komponen utuh bangsa dan negara Indonesia, yang juga bertanggung jawab merawat kesatuan dalam kebinekaan serta menjamin keutuhan negara Indonesia dalam keberagaman warisan budaya, agama, suku, dan bahasa.” (paul c pati)

foto-foto dari KWI dan Obor

FPLA Tangsel dan Anak Muda Katolik Gereja Santa Monika BSD ... - Kabartangsel.com

Google News - Sel, 22/05/2018 - 18:17

Kabartangsel.com

FPLA Tangsel dan Anak Muda Katolik Gereja Santa Monika BSD ...
Kabartangsel.com
Memperingati Hari Kebangitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei, Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bersama Anak Muda ...
FPLA Kota Tangsel Gelar Dialog Kebangsaan Antar Umat BeragamaWarta Kota
Peringati Harkitnas Gelar Dialog KebangsaanBidik Tangsel (Siaran Pers) (Blog)
Peringati Harkitnas, FPLA Tangsel Gelar Dialog Kebangsaanmetaonline (Sindiran) (Siaran Pers)

all 3 news articles »

Romo Agustinus Minta Masyarakat Jadi Orang Indonesia 100 Persen - Tribun Jakarta

Google News - Sel, 22/05/2018 - 17:22

Tribun Jakarta

Romo Agustinus Minta Masyarakat Jadi Orang Indonesia 100 Persen
Tribun Jakarta
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir. TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Memperingati hari kebangitan nasional (Harkitnas) 20 Mei, Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) Kota Tangsel bersama Anak Muda Katolik Gereja Santa ...
FPLA Tangsel dan Anak Muda Katolik Gereja Santa Monika BSD Gelar Dialog Kebangsaan Antar Umat BeragamaKabartangsel.com

all 2 news articles »

Pelita Hati: 23.05.2018 – Membangun Persaudaraan Sejati

Sesawi.Net - Sel, 22/05/2018 - 17:00
Bacaan Markus 9:38-40  Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan […]

Harapan Uskup Palangka Raya untuk Sinode I

Mirifica.net - Sel, 22/05/2018 - 16:54
SINODE I Keuskupan Palangka Raya diharapkan menelurkan hasil yang bukan sekadar pemikiran, refleksi dan diskusi manusiawi. Melainkan sungguh merupakan kehendak Allah melalui bimbingan Roh Kudus dan usaha keras bersama sebagai sarana melayani umat menuju kesejahteraan yang menyeluruh. Demikian disampaikan Uskup Keuskupan Palangka Raya Mgr Sutrisnaatmaka MSF saat membuka Sinode I Keuskupan Palangka Raya di Aula Magna …

Brevir Sore, Selasa: 22 Mei 2018, Pekan Biasa IX – O PEKAN I – HARI BIASA

Mirifica.net - Sel, 22/05/2018 - 16:00
  PEMBUKAAN P: Ya, Allah, bersegeralah menolong aku. U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin Alleluya. MADAH Bapa yang mahakuasa Senja hari sudah tiba Dengarkanlah madah kami Pengungkapan isi hati. Hati dan suara kami Bersatu padu memuji Cinta kami kepadaMu …

Uskup Agung Taipei Minta Paus Melindungi Taiwan

UCANews - Sel, 22/05/2018 - 15:01

Ketua Konferensi Waligereja Regional Cina (KWRC) Uskup Agung Taipei Mgr John Hung Shan-chuan meminta Paus Fransiskus untuk melindungi Taiwan agar negara itu tidak dikorbankan sebagai bagian dari kesepakatan Sino-Vatikan. Uskup Agung Hung juga meminta Paus untuk tidak meninggalkan Taiwan dalam kondisi apa pun.

Prelatus itu merupakan bagian dari delegasi KWRC yang menyampaikan informasi terkini kepada Vatikan tentang perkembangan keuskupan sejak kunjungan terakhir 10 tahun lalu.

Dalam wawancara dengan Radio Free Asia pada 15 Mei setelah kembali dari Roma, Uskup Agung Hung mengatakan ia menyampaikan kekhawatiran Taiwan tentang pembentukan hubungan diplomatik Sino-Vatikan pada pertemuan itu.

“Setiap kali ada rumor bahwa Vatikan dan Cina akan menjalin hubungan diplomatik, Taiwan sangat khawatir dan 23 juta penduduk mulai merasa khawatir,” katanya.

Ia mengatakan Taiwan adalah negara yang kurang beruntung dan yatim piatu secara internasional, maka Taiwan layak mendapat perhatian dari Paus.

“Saya sampaikan kepada Paus bahwa saya berharap (Tahta Suci) tidak akan melihat kami sebagai bagian dari Cina dan tidak akan mengaitkan kami. Mereka bisa menjalin hubungan diplomatik, tetapi hak dan kepentingan Taiwan hendaknya tidak dikorbankan,” kata Uskup Agung Hung.

“Saya berusaha mengatakan kepada Paus agar tidak menyakiti Taiwan, tetapi melindungi kami,” lanjutnya.

Ia mengatakan kepada Paus bahwa umat Katolik dan masyarakat Taiwan sangat mengagumi Paus. Namun mereka akan merasa frustrasi jika mereka mendengar bahwa Paus ingin memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

“Saya juga mengatakan kepada Paus, ‘Mohon jangan tinggalkan kami dalam kondisi apa pun.’ Dan Paus menjawab, ‘Tentu tidak!’” kenangnya.

Menurut laporan, Kung Ling-hsin, ketua Fakultas Jurnalistik Universitas Ming Chuan di Taiwan, mengkritik pernyataan Uskup Agung Hung dan menyebutnya sebagai “teori dua bangsa.”

Ia merujuk pada mendiang Santo Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengatakan kepada Stanislaus Lo Kuang, uskup agung Taipei saat itu, bahwa Taiwan hendaknya menjadi jembatan yang menghubungkan Gereja-Gereja Taiwan, Hong Kong dan Maucau dengan Cina, khususnya Gereja bawah tanah Cina.

“Apakah pernyataan uskup agung kepada Paus berarti bahwa Gereja Katolik di Taiwan menyampaikan kekhawatiran Gereja di Cina?” tanya Kung.

Sebagai tanggapan, Uskup Agung Hung mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia hanya ingin Paus memahami bahwa realitasnya adalah satu Cina dan satu Taiwan. Ia tidak berbicara tentang “teori dua bangsa” dan hanya berfokus pada undangan kepada Paus untuk mengunjungi Taiwan.

Ia menambahkan: “Jika Taiwan adalah bagian dari Cina, akankah Paus datang tanpa persetujuan Presiden Cina Xi Jinping?”

Clara, seorang umat Katolik di Taiwan, memuji Uskup Agung Hung atas refleksinya terkait realitas politik. Dikatakan, Tahta Suci akan memikirkan kembali apakah sungguh membutuhkan kebijakan “satu Cina” atau tidak.

Pada November nanti, Uskup Agung Hung akan menginjak usia 75 tahun dan pensiun.

Tujuh uskup Taiwan bertemu Paus Fransiskus pada 14 Mei. Mereka mengundang Paus untuk menghadiri Konggres Ekaristi yang akan digelar pada Maret tahun depan di Taiwan.

Uskup Agung Hung mengatakan jika kunjungan Paus batal, ia berharap Paus bisa mengirim sebuah pesan video kepada umat Katolik di Taiwan.

Ia juga mengatakan kepada media Taiwan bahwa Paus diminta untuk menyampaikan pesan kepada Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Dan Paus mengatakan: “Mohon bersikap ramah kepada Gereja Katolik.”

Ketujuh uskup Taiwan yang bertemu Paus Fransiskus adalah Uskup Agung Hung, Uskup Agung Kaohsiung Mgr Peter Liu Chen-chung, Uskup Hsinchu Mgr John Baptist Lee Keh-mean, Uskup Taichung Mgr Martin Su Yao-wen, Uskup Chiayi Mgr Thomas Chung An-zu, Uskup Tainan Mgr Bosco Lin Chi-nan dan Uskup Hualien Mgr Philip Huang Jaw-ming. Sekjen KWRC Pastor Otfried Chan juga menjadi bagian delegasi.

 

Pakistan dan Jepang Dapat Kejutan Topi Merah dari Paus Fransiskus

UCANews - Sel, 22/05/2018 - 12:35

Sekali lagi, Paus Fransiskus mengangkat kardinal dari keuskupan yang tak pernah diduga di Asia. Uskup Agung Osaka Mgr Thomas Aquinas Manyo Maeda dan Uskup Agung Karachi  Mgr Joseph Coutts  adalah dua penunjukan yang mengejutkan.

Kedua negara itu merupakan minoritas Katolik. Ada sekitar 950.000 umat Katolik di Jepang –  450.000 di antaranya adalah warga negara Jepang dan sisanya  ekspatriat, sebagian besar berasal dari Filipina dan keturunan Jepang yang beremigrasi ke Amerika Selatan pada awal abad ke-20. Di Pakistan, ada sekitar satu juta umat Katolik dari 2,5 juta umat Kristen di 180 juta penduduk negara itu, yang sebagian besar beragama Islam.

“Saya senang mengumumkan bahwa pada 29 Juni, saya akan mengadakan konsistori untuk  14 kardinal baru,” kata Paus Fransiskus, berkenan dengan upacara pelantikan  mereka, dalam sambutannya kepada ribuan umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada Minggu, 20 Mei, usai Doa Angelus.

“Negara-negara asal membuktikan keuniversalan Gereja, yang terus mewartakan cinta kasih Tuhan kepada semua orang di bumi,” tambahnya.

Mgr Courts yang diangkat menjadi Kardinal telah menjadi uskup keuskupan Hyderabad dari 1990 hingga 1998 sebelum pindah ke keuskupan Faisalabad. Tahun 2012, Paus Benediktus XVI mengangkatnya  sebagai uskup agung Karachi.

“Di keuskupan ini Gereja telah berada lebih dari enam dekade mewartakan kabar baik di bidang pendidikan,  kesehatan, dan menolong korban bencana alam  baik yang  terluka atau menderita sakit,” kata Kardinal (terpilih) Courts.

“Ini adalah waktu  mempromosikan keharmonisan. Itu adalah moto baru kami. Kami harus mempelajarinya dan mengajarkannya. Sekarang kami ditugasi memulihkan kerukunan  ke kota pelabuhan ini dengan menyambut umat sesuai  adat dan tradisi yang berbeda.”

Selama 15 tahun terakhir khususnya, Gereja Katolik Pakistan terus diserang oleh serangkaian serangan mematikan dan banyak pengikutnya ditangkap dengan menggunakan undang-undang penodaan agama yang ketat yang terus ditentang oleh Kardinal (terpilih) Coutts.

Kardinal (terpilih) Maeda sendiri dilaporkan terkejut atas pengangkatannya bersama dengan umat Katolik setempat karena Mgr Kikuchi, uskup agung baru Tokyo, diharapkan  mendapatkan topi merah. Mgr Kikuchi adalah ketua Caritas Asia dan terkenal di Roma.

Dia adalah anggota dari Kongregasi  Serikat Sabda Allah, menguasai banyak bahasa dan pernah menjadi misionaris di Ghana. Kardinal (terpilih) Maeda tidak menguasai banyak bahasa asing dan tidak memiliki pengalaman internasional.

Tetapi, Pastor Michael Kelly SJ, direktur eksekutif ucanews.com, mengatakan  Mgr Kikuchi mungkin “tidak akan lama untuk Tokyo. Dia adalah calon pejabat Vatikan dan akan mengisi  posisi lain di berbagai tempat di mana dia akan diutus termasuk Caritas dan beberapa lainnya.”

Pastor Kelly juga mencatat bahwa Paus mendengarkan para penasihat, termasuk Yesuit, ketika membuat keputusan mengenai jabatan penting.

Seperti dua negara Asia lainnya, Paus juga mengangkat kardinal dari Irak, Portugal, Italia, Polandia, Peru, Madagaskar serta beberapa pejabat tinggi Vatikan termasuk Uskup Agung Giovanni Angelo Becciu,   kepala staf di Sekretariat Negara. Dia juga telah menjadi utusan khusus Paus untuk penyelesaian masalah di pemerintahan  Malta.

Dari para kardinal baru, 11 orang berusia di bawah 80 tahun, membuat mereka berhak memilih  atau dipilih sebagai  pengganti Paus Fransiskus.

Para kardinal baru akan menerima “topi merah” mereka dalam sebuah konsistori di Roma pada 29 Juni, pesta Santo Petrus dan Paulus.

Penambahan 11 anggota baru dari Colegio Cardinal dikurangi jumlah di bawah 80 tahún yang punya hak memilih seorang Paus ke-125, lebih tinggi dari batas 120 yang ditetapkan oleh Paus Paulus VI. Paus Fransiskus telah mengangkat 60 kardinal dalam lima tahun selama is sebagai Paus dan sekarang berjumlah 213 kardinal masih hidup.

Kardinal lainnya yang diumumkan pada 20 Mei adalah vikjen  Keuskupan Agung Roma Mgr Angelo de Donatis, uskup agung Spanyol dan  Mgr Luis Ladaria SJ yang adalah Prefek Kongregasi  Ajaran Iman, Uskup Agung Antonio dos Santos Marto dari Fatima, Portugal; Mgr Pedro Barreto, uskup agung Huancayo, Peru; Msgr Desire Tsarahazana, uskup agung Toamasina, Madagaskar; dan Msgr Giuseppe Petrocchi, uskup agung L’Aquila, Italia.

Tiga uskup di atas 80 yang diangkat menjadi kardinal adalah uskup agung  emeritus Xalapa, Meksiko, Mgr Sergio Obeso Rivera; Mgr Toribio Ticona Porco,  uskup dari Keuskupan agung Corocoro, Bolivia; dan Pastor Aquilino Bocos Merino dari Spanyol.

 

24 Jemaat Ahmadiyah di Lombok Timur Masih Mengungsi Pasca-Serangan

UCANews - Sel, 22/05/2018 - 12:31

Sebanyak 24 jemaat Ahmadiyah – 21 perempuan dan 3 laki-laki – masih mengungsi di kantor kepolisian resor di Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat, setelah terjadi penyerangan dan perusakan terhadap sejumlah rumah milik mereka di Desa Gereneng, Kecamatan Sakra Timur, pada akhir pekan lalu.

“Teror penyerangan, kekerasan dan pengusiran terhadap warga negara yang sah, komunitas Muslim Ahmadiyah, terjadi tiga kali saat sedang berlangsungnya puasa Ramadan pada Sabtu dan Minggu (19-20 Mei) oleh kelompok radikal atas dasar kebencian dan intoleransi terhadap kelompok yang berbeda,” kata Yendra Budiana, juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), kepada jurnalis di Jakarta, Senin (22/5).

Akibatnya, lanjutnya, delapan rumah rusak ringan dan berat serta empat sepeda motor hangus terbakar.

Menurut Yendra, para pelaku adalah warga setempat. “Keinginan mereka adalah meratakan (rumah dengan tanah) karena dengan demikian (rumah) tidak bisa lagi ditinggali. Sehingga kemudian (jemaat Ahmadiyah) terpaksa mengungsi,” katanya kepada ucanews.com.

Ia pun meminta aparat kepolisian untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku. “Seharusnya aparat kepolisian tidak bimbang. Walaupun motifnya seakan-akan isu agama, tetapi itu kriminal. Aparat kepolisian seharusnya mengambil tindakan bukan berdasarkan pada isu melainkan pada tindakan (kriminal),” lanjutnya.

Yendra menambahkan bahwa saat ini jumlah jemaat Ahmadiyah yang bermukim di Pulau Lombok ada sekitar 1.000 orang. “Di kabupaten-kabupaten, mereka cenderung sulit didata karena tidak mau menampakkan diri karena ada ancaman kekerasan yang sangat kental,” katanya.

Wakil Ketua SETARA Institute Bonar Tigor Naipospos menyebut penyerangan dan perusakan rumah milik jemaat Ahmadiyah itu sebagai “tindakan biadab atas nama agama.”

“Aksi yang dilakukan oleh massa dari desa setempat ini didasari oleh sikap kebencian dan intoleransi pada paham keagamaan yang berbeda,” katanya.

“SETARA menuntut pemerintah untuk menjamin keamanan jiwa-raga dan hak milik seluruh warga Ahmadiyah, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Jemaat Ahmadiyah memiliki seluruh hak dasar sebagai warga negara yang dijamin oleh UUD 1945, hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegasnya.

Sementara itu, Khariroh Ali dari Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengatakan penyerangan dan perusakan rumah milik jemaat Ahmadiyah itu “menambah potret buram situasi kehidupan keagamaan yang diwarnai oleh kekerasan dan tindakan intoleransi.”

“Peristiwa ini seharusnya dapat diantisipasi segera oleh pemerintah daerah dan aparat keamanan mengingat ancaman penyerangan dan diskriminasi yang terus berlangsung di Propinsi Nusa Tenggara Barat terhadap jemaat Ahmadiyah,” katanya.

 

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator