Berita dan Event

Brevir Pagi: Selasa Prapaskah I, 20 Februari 2018

Mirifica.net - Sel, 20/02/2018 - 02:37

SELASA I – PAGI

PEMBUKAAN
P: Ya Tuhan, sudilah membuka hatiku.
U: Supaya mulutku mewartakan pujianMu.

Pembukaan: Ant. Marilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.

MAZMUR 94 (95)

Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan,
bersorak-sorai bagi penyelamat kita.
Menghadap wajahNya dengan lagu syukur,
menghormatiNya dengan pujian.

Tuhanlah Allah yang agung,
merajai segala dewa.
Dasar bumi terletak di tanganNya,
puncak gunungpun milikNya.
MilikNyalah laut, Dia membuatnya,
daratanpun buatan tanganNya.

Mari bersujud dan menyembah,
berlutut di hadapan Tuhan, pencipta kita.
Dialah Allah kita, kita umatNya,
Dialah gembala kita, kita kawananNya.

Hari ini dengarkanlah suaraNya:
“Jangan bertegar hati seperti di Meriba,
seperti di Masa, di padang gurun;
ketika leluhurmu mencobai Aku,
walau menyaksikan karya Ku yang agung.

Empat puluh tahun Aku muak akan mereka itu;
maka Aku berkata: Umat ini tersesat hatinya,
mereka tidak mengerti maksud bimbinganKu.
Sebab itu Aku bersumpah dalam murkaKu:
Mereka takkan beristirahat bersama Aku.”

Ant. Marilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.

MADAH

Kristus surya keadilan
Kini fajar Kaudatangkan
Enyahkanlah kegelapan
Tampilkanlah kehidupan.

S’moga pertobatan kami
Di masa Prapaska ini
menurunkan rahmat ampun
Atas dosa yang bertimbun.

Bila tiba hari paska
Perkenanankan para hamba
Bersorak kegembiraan
Merayakan kebangkitan.

Ya Tritunggal mahasuci
Trimalah pujian kami
Yang kami lambungkan ini
Dengan ikhlas penuh bakti. Amin.

Ant.1: Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya akan mendaki gunung Tuhan.

Mazmur 23

Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya,*
jagat dan semua penghuninya.

Sebab Tuhan yang mendasarkan bumi atas laut,*
menegakkannya atas samudera raya.

Siapakah boleh mendaki gunung Tuhan,*
siapakah berdiri di tempatNya yang kudus?

Yang bersih tangannya dan murni hatinya,*
yang tidak bersikap curang dan tidak bersumpah palsu.

Dia yang menerima berkat Tuhan,*
dan memperoleh balas jasa dari Allah, penyelamatnya.

Orang demikianlah yang mencari Tuhan,*
yang menghadap hadirat Allah Yakub.

Tinggikanlah tiangmu, hai gapura-gapura,+
dan lebarkanlah dirimu, gerbang abadi,*
supaya masuklah Raja mulia.

Siapakah Raja mulia itu?+
Tuhan yang perkasa dan perwira,*
Tuhan yang jaya dalam peperangan.

Tinggikanlah tiangmu, hai gapura-gapura,+
dan lebarkanlah dirimu, gerbang abadi,*
supaya masuklah Raja mulia.

Siapakah Raja mulia itu?+
Tuhan semesta alam,*
Dialah Raja mulia.

Ant.1: Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya akan mendaki gunung Tuhan.

Ant.2: Pujilah Tuhan yang adil, agungkanlah raja kekal.

Tb 13,1-9

Terpujilah Allah yang hidup selama-lamanya,*
kerajaanNya tetap untuk segala abad.

Allah menyiksa dan mengasihani,+
Allah mematikan dan menghidupkan,*
tak seorangpun lolos dari kuasaNya.

Luhurkanlah Allah di hadapan bangsa-bangsa, hai umat Israel,+
sebab kita disebarkan di antara mereka,*
untuk mewartakan keagunganNya.

Luhurkanlah Dia di hadapan semua orang,+
sebab Dialah Tuhan, Dialah Allah kita,*
Dialah Bapa kita sepanjang segala abad.

Allah menyiksa kita karena kita jahat,*
namun Ia akan mengasihani kita lagi.

Dan mengumpulkan kita dari antara semua bangsa,*
tempat kita terpencar-pencar.

Jika kamu dengan segenap hati bertobat kepada Tuhan,*
Dan melakukan kebenaran;

Maka Tuhan akan berbalik kepadamu,*
dan tidak lagi menyembunyikan wajahNya.

Saksikanlah karya agung yang akan dikerjakan Tuhan bagimu,*
dan bersyukurlah dengan suara lantang.

Pujilah Tuhan yang adil,*
agungkanlah raja kekal.

Adapun aku, aku meluhurkan Tuhan di tanah pembuangan,*
mewartakan kuasaNya kepada bangsa yang berdosa ini.

Bertobatlah, kaum pendosa, dan lakukanlah yang baik di hadapan Tuhan,*
barangkali Tuhan akan berbelaskasihan kepadamu.

Aku hendak mengagungkan Allahku, raja surga,*
dan memuliakan keagunganNya dengan segenap hati.

Ant.2: Pujilah Tuhan yang adil, agungkanlah raja kekal.

Ant.3: Patutlah orang saleh memuji-muji Allah.

Mazmur 32

Bersoraklah, orang jujur, bagi Tuhan,*
patutlah orang saleh memuji-muji.

Bersyukurlah kepada Tuhan: dengan kecapi,*
bermazmurlah bagiNya dengan iringan gambus.

Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan,*
padukanlah seruanmu dengan petikan dawai.

Sebab firman Tuhan selalu benar,*
segala sesuatu dikerjakanNya dengan setia.

Tuhan mencintai keadilan dan hukum,*
bumi penuh dengan kasih setiaNya.

Oleh firman Tuhan langit dijadikan,*
dan segala bintang oleh nafas mulutNya.

Bagaikan dalam kantung, air laut dikumpulkanNya,*
dan samudera raya dalam bejana.

Hendaknya segenap bumi takut akan Tuhan,*
semua penduduk gemetar terhadapNya.

Sebab Tuhan berfirman, maka semua terjadi,*
Dia memerintahkan, maka semua ada.

Tuhan menggagalkan rencana para bangsa,*
Ia meniadakan maksud segala kaum.

Rencana Tuhan tetap selamanya,*
rencana Tuhan turun-temurun.

Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan,*
umat yang terpilih menjadi milikNya.

Dari surga Allah mengamati,*
memandang umat manusia.

Dari kediamanNya Ia menilik,*
semua penduduk bumi.

Hati setiap orang dibentukNya,*
segala tingkah laku diselamiNya.

Raja tak akan menang karena besarnya tentara,*
orang perkasa takkan selamat karena kekuatannya.

Kuda tidak berguna untuk merebut kemenangan,*
betapapun kuat dan tangkasnya.

Sebab Tuhan menjaga hambaNya yang takwa,*
yang berharap akan kasih setiaNya.

Untuk melepaskan mereka dari maut,*
dan menghidupi mereka di masa kelaparan.

Maka kita berharap akan Tuhan,*
Dialah penolong dan perisai kita.

Demi Dialah hati kita bergembira,*
pada namaNya yang kudus kita percaya.

Tunjukkanlah kiranya kasih setiaMu, ya Tuhan,*
sebab padaMulah kami berharap.

Ant.3: Patutlah orang saleh memuji-muji Allah.

Bacaan Singkat (Yl 2,12-13)

Berbaliklah kepadaKu dengan sepenuh hatimu, dengan puasa dan ratap tangismu. Hendaknya tidak saja kausobek pakaianmu, tetapi sobeklah juga hatimu, dan berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia mahapengasih dan penyayang, lagi sabar dan kaya akan rahmat; Iapun sedih melihat kemalanganmu.

Lagu Singkat

P: Tuhan akan melepaskan daku dari perangkap,* Dan dari jerat musuh. U: Tuhan. P: Dari lawan yang memfitnah. U: Dan dari jerat musuh. P: Kemuliaan. U: Tuhan.

Ant. Kidung: Tuhan, ajarilah kami berdoa, seperti Yohanes telah mengajar murid-muridnya.

KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)

Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*
sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umatNya.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa,*
putera Daud, hambaNya.

Seperti dijanjikanNya dari sediakala,*
dengan perantaraan para nabiNya yang kudus.

Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita,*
dan dari tangan semua lawan yang membenci kita.

Untuk menunjukkan rahmatNya kepada leluhur kita,*
dan mengindahkan perjanjianNya yang kudus.

Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita,*
akan membebaskan kita dari tangan musuh.

Agar kita dapat mengabdi kepadaNya tanpa takut,*
dan berlaku kudus dan jujur di hadapanNya seumur hidup.

Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah yang mahatinggi,*
sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalanNya.

Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umatNya,*
berkat pengampunan dosa mereka.

Sebab Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan;*
Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.

Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut,*
dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.

Ant. Kidung: Tuhan, ajarilah kami berdoa, seperti Yohanes telah mengajar murid-muridnya.

Doa Permohonan:

Kristus telah menyerahkan diri kepada kita sebagai roti yang turun dari surga. Marilah kita memuji Dia dan berdoa kepadaNya:
U: Kristus, roti kehidupan, kuatkanlah kami.
P: Ya Tuhan, Engkau menguatkan kami dengan perjamuan ekaristi,* semoga kami mengambil bagian sepenuhnya dalam kurban PaskaMu.
P: Semoga kami menyimpan sabdaMu dalam hati yang baik dan tulus ikhlas,* supaya kami menghasilkan buah dengan tekun dan tabah.
P: Semoga kami giat bekerja sama dengan Dikau dalam menyempurnakan dunia,* sehingga damaiMu yang diwartakan oleh Gereja lebih mudah diterima.
P: Kami telah berdosa, ya Tuhan, kami telah berdosa,* hapuskanlah kesalahan kami dan selamatkanlah kami.

Bapa Kami

Doa Penutup

Tuhan, kerinduan kami, pandanglah umatMu ini. Semoga dalam menjalani masa tobat, hati kami selalu bergembira karena rindu akan Dikau. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup …

PENUTUP
P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita kehidup yang kekal.
U: Amin.

Jadi Tidaknya Rizieq Pulang, Eggi Sudjana: Masih Insya Allah - VIVA.co.id

Google News - Sel, 20/02/2018 - 00:41

VIVA.co.id

Jadi Tidaknya Rizieq Pulang, Eggi Sudjana: Masih Insya Allah
VIVA.co.id
Kedua, adalah kasus penyebaran kebencian. Kasus ini dilaporkan oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia pada 26 Desember 2016. Mahasiswa Katolik ini menilai ceramah yang dilakukan Rizieq melecehkan umat kristiani. Dan kasus yang tak kalah ...

Doa Bapa Kami

Sesawi.Net - Sen, 19/02/2018 - 23:08
DALAM  sabdaNya pada hari ini, Yesus memberi nasihat kepada kita agar berdoa dengan sikap batin yang benar. Dengan rendah hati datang ke hadapan Allah, sapalah Dia dengan penuh hormat dan kasih; gunakan kata-kata yang singkat, padat dan tidak bertele-tele. Agar kita dapat berdoa dengan benar, Yesus mengajarkan kepada kita sebuah doa yang ringkas, indah dan […]

Kata Mutiara – Selasa 20 Februari 2018

Sesawi.Net - Sen, 19/02/2018 - 23:04
DOA harian kepada Tuhan seharusnya jangan pernah dilihat sebagai sebuah tugas. Melainkan harus menjadi kebutuhan dalam hidup kita, sama seperti udara adalah kebutuhan kita untuk bernafas dan hidup. Oliver Powell Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Satu Milyar Lebih Sedikit, Donasi Amal Kasih untuk Keuskupan Agats dari FMKI KAJ et al (2)

Sesawi.Net - Sen, 19/02/2018 - 22:41
INI tentang penutupan program Donasi Gerakan Solidaritas Asmat. Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk di Kabupaten Asmat telah menjadi perhatian kita bersama. Menurut data Kemensos (7/2), 71 anak meninggal dunia dari total lebih dari 800 anak yang mengalami campak maupun gizi buruk. Status KLB sendiri sudah dicabut oleh Bupati Kabupaten Asmat Elisa Kambu […]

Renungan Harian, Selasa: 20 Februari 2018, Mat. 6:7-15

Mirifica.net - Sen, 19/02/2018 - 19:00

ADA saat kita tertekan oleh beban kehidupan yang berat, kita berharap beban itu secepatnya hilang. Kita merasa cemas, mungkin juga mengeluh. Dalam kecemasan, kita mengharapkan campur tangan Tuhan untuk menyelesaikannya. Kecemasan itu pulalah yang dialami bangsa Israel ketika akan kembali ke Yerusalem. Namun, Tuhan menghendaki sebuah proses yang harus mereka alami. Proses itu digambarkan sebagai berikut: Agar rotu dapat dimakan, petani haru menabur dan menanam benih gandum; agar benih gandum yang ditanam bisa tumbuh subur, maka perlu pengairan yang baik, agar ada air yang mengairi bumi, maka perlu hujan dari langit. Ini menunjukkan bahwa cara kerja Tuhan tidak seperti yang kita pikirkan. Biasanya manusia menginginkan bahwa segala sesuatu haruslah instan. Namun, bagi Tuhan proses lebih penting ketimbang hasil yang instan.

Bagaikan air yang menyegarkan dan menumbuhkan benih, demikian juga Sabda Tuhan itu meneguhkan, menghidupkan dan memberikan daya dahsyat bagi mereka yang sungguh menerimanya dengan hati. Sehingga sabda Tuhan itu tidak pernah sia-sia, tetapi akan menghasilkan buah kebaikan. Sesuai dengan Injil Matius hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita suatu doa yang setiap kali kita daraskan. Namun, pertanyaannya adalah apakah kita telah menghayati dan melakukan isi doa Bapa Kami tersebut dalam tindakan nyata setiap hari? Pertolongan Allah membutuhkan keterlibatan manusia. Oleh karena itu, partisipasi kita sangat diharapkan, misalnya, kerelaan mengampuni orang lain sehingga kita pun mengalami kasih dan pengampunan.

Ya Allah, aku meyakini bahwa Engkau memiliki rencana bagiku masing-masing, berilah aku kekuatan supaya dalam setiap pergumulan hidup ini aku tetap setia kepada-Mu. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2018, Penerbit Obor, Jakarta

Mgr Suharyo: Kendati begitu beragam, kita adalah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa

Pen@ Katolik - Sen, 19/02/2018 - 19:00
Mgr Suharyo dalam perayaan REBA Ngada 2018 di Anjungan NTT TMII, Foto dari dok KAJ

Ketika memasuki masa Prapaskah 2018, KAJ sedang menjalani Tahun Persatuan dengan semboyan “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia”. “Kita ingin memaknai pengalaman hidup kita, khususnya dalam konteks kesatuan dan kebhinekaan bangsa kita, sebagai karya Allah. Kita bersyukur karena Tuhan menyapa kita juga melalui pengalaman keragaman berbangsa”.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo menulis hal itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2018 bertema “Kita Bhinneka, Kita Indonesia” yang dibacakan di gereja-gereja di KAJ sebagai pengganti khotbah Misa 10 dan 11 Februari 2018.

Keragaman itu, jelas Mgr Suharyo, tercermin antara lain dalam angka-angka ini, “Negara dan Bangsa Indonesia terdiri dari 17.504 pulau, 1.340 suku bangsa dan 546 bahasa. Kendati begitu beragam, kita adalah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.”

Dalam surat gembala tertanggal 9 Februari 2018 itu, Mgr Suharyo menegaskan bahwa “Kita hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai rumah kita bersama.” Maka umat diajak mensyukuri kesatuan dan sekaligus keragaman itu, antara lain dalam Doa Prefasi Tanah Air: “Berkat jasa begitu banyak tokoh pahlawan, Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa, … kami bersyukur atas bahasa yang mempersatukan, … dan atas Pancasila dasar kemerdekaan kami”.

Sebagai bangsa beragam, lanjut uskup, “kita mempunyai cita-cita yang sama, yaitu mewujudkan negara yang berketuhanan, adil dan beradab, bersatu, berhikmat dan bijaksana serta damai dan sejahtera.”

Namun di lain pihak, lanjut prelatus itu, umat KAJ tidak bisa menutup mata terhadap peristiwa-peristiwa yang menjauhkan mereka dari cita-cita sebagai bangsa. “Secara khusus berkaitan dengan cita-cita Persatuan Indonesia, kita menyaksikan perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat, seringkali justru tampak sebagai penghambat.”

Mgr Suharyo mengutip salah satu penelitian yang dilakukan Wahid Foundation bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia, April 2016, yang menunjukkan bahwa 59,9% dari responden yang diminta tanggapannya, “memiliki kelompok yang dibenci.” Kalau benar demikian, tegas uskup agung itu, “bukan persatuan dalam kebhinekaan yang tumbuh, tetapi kebencian yang menjadi wajah masyarakat kita.

Juga dikutip hasil penelitian CSIS Agustus 2017 bahwa generasi muda (usia 17-29 tahun di 34 provinsi) menyatakan optimis mengenai masa depan Indonesia: 26,9% sangat optimis, 62,3% cukup optimis, dan mereka juga tidak setuju (52%) atau kurang setuju (32%) mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Namun, dalam penelitian yang sama diungkap, 58,4% tidak menerima pemimpin berbeda agama. “Angka-angka itu menunjukkan ada sesuatu yang tidak baik, tidak ideal dalam hidup kita sebagai bangsa,” tegas Mgr Suharyo yang menegaskan bahwa dalam kenyataan seperti itu iman kita menuntut untuk peduli. “Kita ingin mewujudkan kepedulian dengan terus-menerus berusaha mengamalkan Pancasila. Kita ingin mengubah tantangan-tantangan ini menjadi kesempatan untuk mewujudkan iman dengan melakukan gerakan-gerakan nyata, mulai dari yang paling sederhana.”

Sesuai tema tahun persatuan 2018, uskup berharap semoga masa Prapaskah “menjadi kesempatan istimewa bagi kita untuk makin mampu memahami kehendak Allah bagi bangsa kita, khususnya terkait dengan kesatuan dan keragaman bangsa kita,” serta semoga “kita makin mampu mengalami dan merasakan kehadiran-Nya yang menyelamatkan dan kita dikuatkan dalam upaya merawat dan menjaga persatuan dalam kebhinekaan kita dalam upaya menghadirkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.”

Dalam surat gembala itu juga ditulis banyak program yang ditawarkan oleh Panitia Penggerak Tahun Persatuan di lingkungan, paroki, sekolah, dan komunitas-komunitas yang dapat langsung dijalankan, misalnya menyanyikan lagu “Kita Bhinneka – Kita Indonesia”, mendaraskan Doa Tahun Persatuan, mengadakan kenduri paroki, buka puasa bersama, piknik kebangsaan dengan mengunjungi tempat bersejarah nasional dan banyak hal lain yang terdapat dalam buku “Pedoman Karya dan Inspirasi Gerakan Pastoral-Evangelisasi Tahun Persatuan Keuskupan Agung Jakarta”.

Ada upaya lain sesuai kebutuhan setempat. Tapi yang penting, menurut uskup, “kita berusaha (mulai dari lingkup RT/RW) mempererat persaudaraan dalam masyarakat, tanpa membedakan agama, suku, etnis, dan perbedaan lain. “Harapannya, dalam upaya berkesinambungan dan saling terkait, usaha-usaha kita membangun persatuan dalam keragaman akan berbuah dalam wujud habitus dan budaya baru.”

Ketika habitus dan budaya baru bertumbuh dan berkembang, Mgr Suharyo percaya, “bertumbuh dan berkembang pulalah Kerajaan Allah, kerajaan kebenaran, keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera.” (paul c pati)

Pelita Hati: 20.02.2018 – Tak Berpanjang Kata

Sesawi.Net - Sen, 19/02/2018 - 17:00
Bacaan Matius 6:7-15 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Mat.6:7-8) DALAM pelita sabda hari ini  Tuhan memberi pengajaran tentang “Doa Bapa Kami”, yang […]

Apa konsekuensi-konsekuensi lain yang muncul dari dosa asal?

Pen@ Katolik - Sen, 19/02/2018 - 16:00
Original Sin dari Pinterest

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

77. Apa konsekuensi-konsekuensi lain yang muncul dari dosa asal?

Sebagai konsekuensi dosa asal, kodrat manusia terluka dalam kekuatan alamiahnya tanpa menjadi rusak secara total. Karena dosa asal ini, muncullah kebodohan, penderitaan, kekuasaan maut, dan kecenderungan terhadap dosa. Kecenderungan ini disebut konkupisensi.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 405-409, 418

78. Setelah dosa yang pertama, apa yang dilakukan oleh Allah?

Sesudah dosa yang pertama, dunia dibanjiri dosa, tetapi Allah tidak membiarkan manusia berada di bawah kuasa maut. Dalam ”Protoevangelium” (Kej 3:15), Allah memaklumkan dengan cara yang misterius bahwa kejahatan akan dikalahkan dan manusia akan diangkat dari kedosaannya. Pernyataan ini merupakan pewartaan pertama Mesias dan Penebus. Karena itu, kedosaan ini pada masa yang akan datang disebut dengan ”kedosaan yang membahagiakan” karena ”memunculkan Penebus Agung bagi kita” (Liturgi Malam Paskah).

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 410-412, 420

GBK Rusak, Fadli Bandingkan Kelakuan Suporter Indonesia dan Inggris - Detikcom (Siaran Pers)

Google News - Sen, 19/02/2018 - 15:46

Detikcom (Siaran Pers)

GBK Rusak, Fadli Bandingkan Kelakuan Suporter Indonesia dan Inggris
Detikcom (Siaran Pers)
Umat Gereja Lidwina Sleman Masih Jalani Trauma Healing. DETIKNEWS | Senin 19 Februari 2018, 20:35 WIB Umat Gereja Katolik Santa Lidwina Bedog, Gamping, Sleman masih menjalani trauma healing pasca aksi penyerangan oleh pelaku menggunakan senjata tajam ...

and more »

Ulasan Eksegetis Bacaan K.S Minggu Prapaskah II/B

Mirifica.net - Sen, 19/02/2018 - 15:00

Terang Batin Dan Hikmat

Rekan-rekan yang baik!
Dikisahkan dalam Mrk 9:2-10 (Injil  Minggu Prapaskah II tahun B) bagaimana Yesus mengajak tiga orang muridnya, yakni Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di sana mereka melihat sisi lain dari pribadi Yesus. Ia “berubah rupa dan pakaiannya pun bersinar putih berkilauan”. Tampak juga kepada mereka Elia dan Musa yang sedang berbicara dengan Yesus. Petrus spontan ingin mendirikan tiga kemah bagi masing-masing. Saat itu juga terdengar suara yang menyatakan bahwa “Inilah Anak-Ku yang terkasih , dengarkanlah dia!” Ketika para murid “memandangi sekeliling”, artinya sadar kembali masih menjejak bumi ini, hanya Yesus seorang dirilah yang mereka lihat. Apa arti peristiwa penampakan kemuliaan ini? Apa maksud larangan agar para murid tidak menceritakan penglihatan mereka sebelum “Anak Manusia” bangkit dari antara orang mati? (ay. 9-10)

Pada awal petikan disebutkan “enam hari kemudian”. Markus bermaksud merangkaikan kejadian ini dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias (Mrk 8:29) dan pernyataan Yesus sendiri bahwa dirinya sepenuhnya hidup dan dibimbing Yang Maha Kuasa, juga dalam mengalami penderitaan. Inilah artinya Anak Manusia (8:31). Sebutan ini muncul kembali pada akhir petikan ini. Selang waktu enam hari dalam Injil Markus tidak usah diartikan sebagai 6 x 24 jam. Itu cara menyebut tenggang waktu yang cukup untuk menyadari pengalaman batin mengenai pernyataan-pernyataan tadi. Dalam petikan yang diperdengarkan hari ini, pengalaman tadi didalami lebih lanjut.

Gunung Yang Tinggi

Dalam Alkitab acap kali gunung yang tinggi digambarkan sebagai tempat orang bertemu dengan Yang Maha Kuasa dalam kebesaran-Nya. Di situ Ia menyatakan kehendak-Nya. Di puncak Sinai turunlah Sabda Tuhan kepada Musa; di sana juga Musa menerima loh batu , yakni Taurat, yang kemudian dibawakan kepada umat dan menjadi pegangan hidup mereka (Kel 24: 12-18). Juga nabi Elia berjalan 40 hari 40 malam sampai ke gunung Horeb dan di sana ia menerima penugasan dari Allah untuk menunjukkan kewibawaan-Nya kepada raja Israel (1Raj 19:8-18). Pembaca zaman itu akan segera menangkap motif berjumpa dengan Allah di gunung yang tinggi dengan penugasan khusus seperti terjadi pada Elia dan Musa. Tokoh-tokoh itu juga tampil dalam peristiwa kali ini.

Dalam petikan hari ini dikatakan Yesus membawa serta Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung. Apa artinya pengisahan ini? Mereka ini murid-murid paling dekat. Ketiga murid itu juga nanti jelas-jelas disebut Markus diajak Yesus menyertainya di taman Getsemani (Mrk 14:33, bdk. Mat 26:37). Mereka diperbolehkan menyelami batin Yesus, baik sisi kebesarannya, seperti kali ini, maupun sisi paling manusiawinya nanti di Getsemani. Yesus itu pribadi yang bisa dikenali dan membiarkan diri dikenali. Dan pengalaman ini betul-betul bisa ikut dialami. Sejauh mana mereka dapat memasukinya adalah soal lain. Yang penting ada orang-orang yang mengikutinya yang diajak berbagi pengalaman batin. Pengalaman batin yang mana?

Berubah Rupa

Di atas gunung itu Yesus “berubah rupa”. Pakaiannya jadi putih berkilauan. Dalam cara bicara orang waktu itu, pakaian membuat sosok yang berpakaian itu dilihat dan dikenal. Jadi maksudnya, sosok Yesus dilihat sebagai penuh cahaya. Kerap gambaran ini ditafsirkan sebagai pernyataan kebesarannya. Dan memang benar. Namun ada latar yang dalam yang patut dikenali pula. Rumus berkat dalam Bil 6:25 dapat membantu kita mengerti kedalamannya. Ayat ini ialah salah satu dari tiga pasang berkat yang boleh diucapkan oleh imam Harun bagi umat (Bil 6:24-27). Bunyinya: “Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia”. Sinar yang terpancar dari wajah Tuhan dijajarkan dengan kasih karunia yang diberikan-Nya. Dengan latar alam pikiran ini, bisa dipahami bila sosok Yesus menjadi terang bercahaya itu karena dipenuhi kasih karunia Yang Maha Kuasa. Sebentar kemudian juga terdengar suara dari awan-awan “Inilah AnakKu yang terkasih!” Pembaca zaman kini sebaiknya menyadari bahwa kita tidak diajak melihat peristiwa itu atau diajak membayang-bayangkannya. Yang disampaikan di situ ialah pengalaman batin ketiga murid terdekat tadi. Saat itu mereka melihat Yesus sebagai orang yang terberkati secara khusus, sebagai orang yang disinari terang wajah Yang Maha Kuasa, dan menerima kasih karunia-Nya. Pengalaman inilah yang mereka bagikan kepada generasi selanjutnya lewat Injil. Karena itu, kita dapat ikut menikmati buahnya tanpa mendapat penampakan seperti itu sendiri. Pengalaman rohani dalam retret dan latihan rohani acap kali lebih baik dibahasakan sebagai menikmati buah hasil pengalaman para murid tadi daripada sebagai penglihatan mistik secara langsung.

Dalam Pengkhotbah 8:1 disebutkan, hikmat kebijaksanaan membuat wajah orang menjadi bersinar. Yesus ditampilkan Injil sebagai orang yang penuh dengan hikmat kebijaksanaan. Hikmat kebijaksanaan ialah ujud kehadiran ilahi yang nyata di tengah-tengah masyarakat manusia. Dikatakan juga dalam ayat kitab Pengkhotbah tadi bahwa sinar wajah berkat kebijaksanaan tadi mengubah “kekerasan wajah” orang. Dalam cara bicara Ibrani, wajah yang terang bersinar berlawanan bukan dengan wajah gelap dan sayu, melainkan dengan wajah penuh ungkapan kekerasan, kelaliman dan menakutkan. Dalam diri Yesus kini berdiamlah kebijaksanaan ilahi. Cahaya kasih karunia ilahi inilah yang akan menyingkirkan sisi-sisi kekerasan dari kemanusiaan. Inilah yang mulai disadari ketiga murid tadi.

Suara Dari Atas

Ketiga murid tadi juga melihat Elia dan Musa bercakap-cakap dengan Yesus. Markus tidak menyebutkan isi pembicaraan mereka. Juga Matius tidak merincikannya. Boleh jadi memang Markus bermaksud mengatakan isi pembicaraan itu bukan hal penting lagi. Yang lebih penting ialah mengalami bahwa Yesus itu seperti tokoh-tokoh besar yang akrab dengan Allah sendiri. Dari Injil Lukas diketahui sedikit tentang pembicaraan mereka. Musa dan Elia disebutkan berbicara dengan Yesus mengenai “tujuan perjalanan”, Yunaninya “exodos”-nya, Yesus (Luk 9:31) yang kini sedang menuju Yerusalem. Di sanalah ia nanti membawa keluar kemanusiaan dari kungkungan keberdosaan menuju ke kehidupan baru. Tokoh-tokoh besar yang akrab dengan Allah itu kini menyertai perjalanan Yesus ke sana.

Bagaimanapun juga, reaksi Petrus yang dicatat ketiga Injil menunjukkan bahwa para murid tidak serta merta menangkap arti penglihatan tentang Elia dan Musa tadi. Petrus ingin mendirikan kemah bagi ketiga tokoh itu. Hikmat kebijaksanaan dan kasih karunia seolah-olah bisa dinikmati kehadirannya tanpa hubungan dengan umat manusia di luar sana. Ini malah cenderung membatasi ruang gerak kebijaksanaan.

Mereka mendengar suara dari atas yang menyatakan bahwa Yesus itu “AnakKu yang terkasih”. Artinya, ia sedemikian dekat dengan Dia yang ada di atas sana dan mendapatkan semua dari-Nya. Pernyataan tadi diikuti dengan seruan untuk mendengarkannya. Ia dapat memperdengarkan kebijaksanaan ilahi karena hikmat telah memenuhi dirinya.

Mengendapkan Pengalaman Batin

Ketika keluar dari pengalaman batin yang kuat tadi, ketiga murid itu hanya mendapati Yesus seorang diri. Mereka kembali ke pengalaman sehari-hari. Tapi kali ini keadaannya berbeda. Mereka baru saja melihat bagaimana Yesus mendapat terang ilahi sepenuh-penuhnya. Namun demikian, pengalaman batin ini masih perlu mereka endapkan agar tidak tercampur baur dan malah membuat mereka lupa daratan. Dalam bahasa sekarang, masih butuh diintegrasikan dengan kehidupan yang nyata, bukan untuk dibangga-banggakan.

Karena itulah mereka dilarang menyiarkan apa yang mereka lihat di gunung tadi. Bukannya mereka diminta merahasiakannya. Mereka diharapkan menyadari artinya bagi kehidupan mereka sendiri terlebih dahulu. Dikatakan, larangan itu diberikan sampai Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati. Maksudnya, lebih dari sekedar menanti sampai waktu Paskah. Murid-murid diminta agar semakin menyadari siapa sebenarnya Yesus itu: dia yang nanti bangkit mengatasi maut, yang mendapat kasih karunia sedemikian penuh sehingga kematian nanti tak lagi menguasainya. Ia malah mendapatkan kehidupan baru bagi kemanusiaan.

Tidak usah orang zaman ini merasa terdorong melihat penampakan kebesaran Yesus seperti tiga murid tadi. Juga tidak semua murid Yesus waktu itu ikut melihatnya demikian. Bagian kita seperti bagian para pembaca Injil awal, yakni menyadari dan mengerti siapa Yesus itu lewat pengalaman batin ketiga murid tadi. Seperti mereka, baru bila kesadaran ini sudah menyatu dalam kehidupan, maka kita dapat merasa diperbolehkan menyiarkannya. Kita tidak diminta begitu saja menceritakan gebyarnya Yesus. Kita diajak menekuni siapa dia itu bagi kita dan bila sudah makin terang bagi kita sendiri, maka kita baru bisa membawakannya kepada orang lain. Yesus sendiri baru mulai memperkenalkan siapa Allah setelah ia dinyatakan sebagai Anak yang terkasih-Nya ketika dibaptis (Mrk 1:11 Mat 3:17 Luk 3:22) dan akan semakin membawakan-Nya ketika sekali lagi dinyatakan sebagai Anak-Nya yang terkasih dalam peristiwa di gunung kali ini (Mrk 9:7 Mat 17:5 Luk 9:35). Inilah teologi pewartaan yang disarankan dalam petikan Injil hari ini.

Dari Bacaan  Kedua (Rm 8:31a-34)

Dalam bagian suratnya kepada umat di Roma yang dibacakan kali ini, Paulus menegaskan bahwa orang yang percaya bakal dilindungi oleh Yang Mahakuasa sendiri tanpa hitung menghitung. Bahkan Ia rela mengorbankan orang yang paling dekat dengan-Nya sendiri, “anak-Nya”, demi membela kemanusiaan. Itulah pemahaman Paulus  mengenai peristiwa penyaliban Yesus – dan juga kebangkitannya yang menjadi tanda bahwa pengorbanannya tidak sia-sia.

Gambaran mengenai kebesaran serta kerelaan ilahi ini menggemakan kisah pengorbanan Abraham akan  Ishak yang diperdengarkan dalam bacaan  pertama (Kej 22:1-2; 9a,10-13, 15-18). Dalam kedua bacaan ini diketemukan kata serta gagasan “tidak menyayangkan” orang yang amat dekat dan dikasihi, lihat Kej 22:16 dan Rm 8:32. Dalam kitab Kejadian, kisah ini diceritakan bukan semata-mata untuk menampilkan keberanian serta iman Abraham melainkan terutama untuk menunjukkan betapa besarnya kesetiaan Allah sendiri pada janji-Nya kepada Abraham. Paulus memahami peristiwa ini lebih dalam. Seperti  Abraham yang tidak menyayangkan anaknya satu-satunya yang terkasih – Ishak – begitu pula Allah: Ia tidak menyayangkan Yesus, Anak-Nya, demi orang banyak. Inilah yang terpikir Paulus.

Tapi ada hal yang menarik yang dapat  diperhatikan lebih saksama. Dalam kisah Abraham, Ishak tidak jadi dikorbankan karena suruhan mengorbankan hanyalah batu ujian dan petunjuk mengenai kesetiaan. Yesus mati di  salib. Ia korban sungguhan. Allah berani kehilangan orang yang paling dekat pada-Nya agar banyak orang melihat keberanian-Nya dan percaya. Orang yang membiarkan diri dibuat percaya bakal selamat, bakal tahan dicobai. Tak bakal terhukum karena yang bakal bisa menghukum, yakni Allah dan Kristus yang kini duduk di sisi-Nya justru telah mau mengorbankan diri agar manusia tak terhukum. Inilah teologi Paulus. Ini juga penjelasan mengapa ia mengajak agar orang menjadi percaya akan kebesaran ilahi.

Salam hangat,
Kredit Foto: Transfigurasi (Doc.http://www.umanesimocristiano.org/)

Brevir Sore, Senin Prapaskah I, 19 Februari 2018

Mirifica.net - Sen, 19/02/2018 - 14:35

SENIN I – SORE

PEMBUKAAN
P: Ya, Allah, bersegeralah menolong aku.
U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

MADAH

Yesus Engkau menganjurkan
Supaya kami bertahan
Dalam pantang dan puasa
Agar slamat sejahtera.

Dampingilah para umat
Yang kini ingin bertobat
Ampunilah dosa kami
Yang sungguh kami sesali.

Bersihkanlah hati kami
Di masa prapaska ini
Agar pantas merayakan
Hari kebangkitan Tuhan.

Ya Tritunggal mahasuci
Trimalah pujian kami
Yang kami lambungkan ini
Dengan ikhlas penuh bakti. Amin.

Ant.1: Tuhan memperhatikan orang miskin.

Mazmur 10

Pada Tuhan aku berlindung: mengapa Engkau berkata kepadaku:*
“Terbanglah ke gunung bagaikan burung!

Sebab dari tempat yang gelap orang jahat merentangkan busur,+
memasang anak panah pada talinya,*
untuk memanah orang yang tulus hati.

Kalau hilang segala pegangan,*
apa daya orang benar?”

Tuhan ada di dalam baitNya yang kudus;*
Tuhan bertakhta di surga.

PandanganNya selalu mengamat-amati,*
sorotan mataNya menguji manusia.

Tuhan menguji orang yang benar dan yang jahat,*
Ia membenci mereka yang mencintai kelaliman.

Dengan api dan belerang dihujaniNya penjahat,*
dihanguskanNya mereka dengan angin panas.

Sebab Tuhan adil, Ia mengasihi keadilan,*
Ia memandang orang benar.

Ant.1: Tuhan memperhatikan orang miskin.

Ant.2: Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Mazmur 14

Tuhan, siapa boleh menumpang di kemahMu,*
siapa boleh tinggal di gunungMu yang suci?

Yaitu orang yang hidup tanpa cela dan berlaku jujur,+
yang berkata benar dalam hatinya,*
dan tidak memfitnah dengan lidahnya.

Yang tidak berbuat jahat terhadap saudaranya,*
tidak mendatangkan nista kepada sesama.

Yang menjauhi orang berdosa,*
dan memberi hormat kepada yang takwa.

Yang berpegang pada sumpah, meskipun rugi,*
tidak meminjamkan uang dengan makan riba.

Yang tak mau memungut uang suap,*
untuk merugikan orang tak bersalah.

Barang siapa berbuat demikian,*
tidak akan goyah selama-lamanya.

Ant.2: Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Ant.3: Allah memilih kita menjadi anakNya dengan perantaraan PuteraNya.

Ef 1,3-10

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus,+
yang telah memberkati kita dalam Kristus,*
dengan segala berkat rohani di surga.

Sebab dalam Kristus, Allah telah memilih kita,+
sebelum menciptakan jagat raya,*
supaya kita kudus dan tak bercela di hadapanNya.

Dengan cinta, Allah telah menentukan kita menjadi puteraNya,+
dengan perantaraan Yesus Kristus,*
karena kerelaan kehendakNya.

Supaya terpujilah rahmatNya yang mulia,+
yang dianugerahkanNya kepada kita,*
dalam Putera yang dikasihiNya.

Dalam Kristus, kita telah memperoleh penebusan berkat darahNya,+
yaitu pengampunan atas segala pelanggaran kita,*
menurut kekayaan rahmatNya yang dilimpahkanNya kepada kita.

Dengan segala hikmat dan kebijaksanaan,+
Allah telah menyatakan rencana kehendakNya kepada kita,*
Sekadar kerelaan yang diikhtiarkanNya dalam Kristus sejak dahulu.

Untuk menggenapkan segala jaman,+
yaitu menyatukan segala sesuatu di surga dan di bumi,*
dalam diri Kristus sebagai kepala.

Ant.3: Allah memilih kita menjadi anakNya dengan perantaraan PuteraNya.

Bacaan Singkat (Rom 12,1-2)

Saudara-saudara, demi kerahiman Allah aku memperingatkan kamu: persembahkanlah tubuhmu sebagai kurban yang hidup, yang suci dan berkenan pada Allah. Itulah ibadatmu yang sejati. Janganlah kamu menyesuaikan diri dengan dunia ini, melainkan berubahlah menjadi manusia berbudi baru, sehingga kamu sanggup membedakan apa yang dikehendaki Allah, apa yang baik, apa yang berkenan padaNya, dan apa yang sempurna.

Lagu Singkat

P: Dengarkanlah aku, ya Tuhan,* Kasihanilah aku. U: Dengarkanlah. P: Sembuhkanlah aku, sebab aku berdosa di hadapanMu. U: Kasihanilah aku. P: Kemuliaan. U: Dengarkanlah.

Ant. Kidung: Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku.

KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)

Aku mengagungkan Tuhan,*
hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku.

Sebab Ia memperhatikan daku,*
hambaNya yang hina ini.

Mulai sekarang aku disebut: yang bahagia,*
oleh sekalian bangsa.

Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang mahakuasa;*
kuduslah namaNya.

Kasih sayangNya turun-temurun,*
kepada orang yang takwa.

Perkasalah perbuatan tanganNya:*
dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya

Orang yang berkuasa diturunkanNya dari takhta;*
yang hina-dina diangkatnya.

Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan;*
orang kaya diusirNya pergi dengan tangan kosong

Menurut janjiNya kepada leluhur kita,*
Allah telah menolong Israel, hambaNya.

Demi kasih sayangNya kepada Abraham serta keturunannya,*
untuk selama-lamanya.

Ant. Kidung: Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku.

Doa Permohonan:

Tuhan Yesus Kristus telah menyelamatkan umatNya dari dosa. Marilah kita mohon dengan rendah hati:
U: Yesus, putera Daud, kasihanilah kami.
P: Ya Kristus, Engkau telah menyerahkan diri bagi Gereja untuk menguduskannya dengan pembasuhan air dan sabda kehidupan,* perbaharuilah dan sucikanlah kiranya GerejaMu dengan pertobatan.
P: Guru yang baik, tunjukkanlah kepada kaum muda-mudi jalan yang telah Kautetapkan bagi mereka masing-masing,* agar mereka berani menempuhnya dan menjadi bahagia.
P: Engkau berbelaskasihan terhadap semua orang yang menderita, dan memberi pengharapan dan kesembuhan kepada orang-orang sakit,* bukalah hati kami untuk menghibur mereka.
P: Semoga kami ingat akan martabat yang kami terima dalam pembaptisan,* sehingga kami hidup bagiMu dengan setia.
P: Berilah damai dan kemuliaan kepada orang yang telah berpulang,* dan terimalah kami kelak bersama mereka dalam kerajaanMu.

Bapa Kami

Doa Penutup

Ya Allah, penyelamat orang berdosa, bukalah hati kami untuk menerima ajaranMu. Semoga kami bertobat dari dosa dan memperoleh manfaat dari mati raga kami. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup …

PENUTUP
P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita kehidup yang kekal.
U: Amin.

Pemuda Sikh, Hindu akan Menghadiri Pertemuan Persiapan Sinode di Vatikan

UCANews - Sen, 19/02/2018 - 12:09

Para uskup India telah memilih lima orang muda, termasuk seorang Sikh dan seorang Hindu, untuk bergabung dengan sekitar 300 orang muda dari seluruh dunia dalam sebuah pertemuan persiapan untuk sinode para uskup pada Oktober tentang kaum muda.

Inderjit Singh dari Keuskupan Jalandhar di Punjab akan mewakili agama Sikh sementara Sandeep Pandey dari Keuskupan Vasai di negara bagian Maharashtra akan mewakili agama Hindu pada pertemuan yang berlangsung 18-24 Maret.

Tiga orang lainnya – Percival Holt, Paul Jose dan Shilpa adalah pemimpin Pemuda Katolik India, jaringan pemuda nasional Gereja tersebut.

Sekitar 300 orang muda diharapkan menghadiri pertemuan enam hari di Roma untuk membahas isu-isu yang mempengaruhi kaum muda di dunia modern untuk membantu para uskup memahami mereka dan merencanakan program pastoral yang sesuai.

Diskusi pada pertemuan ini “akan diringkas dalam sebuah dokumen dan diserahkan  kepada para uskup yang berpartisipasi” dalam sinode pada Oktober mendatang, kata Uskup Franco Mulakkal, ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja India dalam sebuah pernyataan pada 14 Februari.

Paus Fransiskus telah mendedikasikan Majelis Umum Sinode  Uskup ke-15 untuk kaum muda, dengan memilih tema pertemuan 3-28 Oktober,  “Kaum Muda, Iman, dan Pilihan hidup.”

Sinode tentang orang muda akan berlanjut dalam sinode keluarga, Uskup Mulakkal mengatakan bahwa Paus Fransiskus mengharapkan “sebuah gerakan, jalan yang kuat, sebuah pertemuan sejati dengan pemuda dan sangat ingin mendengarkan mereka dan berjalan bersama mereka.”

 

Sedikit ulasan ke- IMLEK-an

Mirifica.net - Sen, 19/02/2018 - 11:01
  1. Pada zaman Ahala Oet Tee / Huang Ti 2692 – 2598 SM : Tahun baru imlek masih diwarnai budaya petani. Ini adalah perayaan musim semi; budaya kosmis menjadi warna tebal hidup umat. kegembiraan para petani biasa menggarap lahan pertanian  yang akan menghasilkan panenan. Kue Ranjam :  “nian gao”, yang dimaksudkan makanan penyumpal dewa dapur  “Cao Wang Ye” ( Ciao Ong Ya ) yang pada tahun baru itu mau liburan, Nha supaya Dewa Dapur tidak berceritera tentang kejelekan-kejelekan keluarga, maka mulut dewa dapur diseseli kue ranjam. “Anghppauw” ( Hong Bao)  di samping diyakini memberi keberuntungan, tetapi juga meruapakan penangkal roh jahat. Angpauw biasa diletakkan di bawah bantal tempat tidur anak dengan keyakinan untuk mengusir roh jahat mengganggu anak kecil. Kebiasaan menyulut kembang api, adalah tindakan mengusir roh jahat, supaya di tahun baru haya ada roh baik.
  2. Pada Zaman Kong Hu Cu 551 SM -525 SM Tahun Baru Imlek sudah diwarnai tokoh moral. Tahun baru Imlek diwarnai laku wawas hidup atas perilaku manusia untuk hidup lebih luhur.Sikap keutamaan yang dipentingkan : kerendahan hati, solidaritas dan diskresi. Juga adapt taapee , bekti pada orang tua. Dan juga adapt soya mendapatkan tekanan. Tahun baru Imlek di Indonesia lebih diwarnai ke –Kong Hu Cu an, yang peduli moral kehidupan : pengaruh Budha-  Konghucu-Tao. . Misalnya tentang nama tahun yang bersangkutan dengan  peduli lingkungan yang dihubungkan dangan sikap Budhisme ;  tahun-tahun diacu pada binatang-binatang : tikus, kerbau, harimau, kelicni, naga, ular, kuda , kabing, monyet, ayam, anjing, babi
  3. Pada zaman ahala Qin ( bacan Chin – asal kata Cina) tahun baru Imlek diwaranai ideologi anti penganut paham Kong Hu Cu. Maka para penganut Kong Hu Cu dianiaya dan ada 500 Kong Hucu-is di bunuh secara kejam. Imllek tertuju pada penghormatan Qin.
  4. Pada zaman Ahala Tang 618 M -907 M: Zaman keemasan ; ideologi anti Konghucu ditinggalkan.. Muncul istilah “Tionghoa” dari “Zhonghoa” atau “Chengguo” =  “Kerajaan Tengah” , begitu popeler. Marganya lalu menyebut diri mereka marga Tangren – Tenglang (Jawa Barat). Tidak aneh bahwa ada kota Tangerang, dimana marga Tang ini bertempat tinggal.
  5. Pada zaman Ahala Qing (baca Ching) 1644-1911. Muncullah budaya Mandarin dari  kata Portugis “Mandarim”, yang berasal dari kata Sansekerta “mantrin”, yang berarti pejabat tinggi. Jadi bahasa Mandarin itu bahasa bangsawan “pejabat tinggi”. Kosa kata ini lebih dipopulerkan oleh orang Barat. Muncullah Imlek “ke-Mandarin-an”. Budaya kebangsawanan Cina.

Kata “Imlek” berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berarti “penanggalan bulan” atau “yinli” dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan “Chunjie” (perayaan musim semi). Kegiatan perayaan itu disebut “Guo nian” (memasuki tahun baru), sedang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “konyan”. Di Indonesia mereka merayakan Tahun Baru Imlek sebagai perayaan hari lahirnya Kong Hu Chu yang lahir di tahun 551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi itu berselisih 551 tahun. Jika tahun Masehi saat ini 2007, maka tahun Imleknya menjadi 2007 + 551 = 2558.

Hanya sayangnya di kebanyakan negara lainnya diluar Indonesia; mereka merayakan tahun baru Imlek bukannya tahun 2558 melainkan tahun 4644, sebab dalam sejarah tercatat, bahwa penanggalan Imlek dimulai sejak tanggal 8 Maret 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Jadi tepatnya ialah 4644 tahun yang lampau, maklum bagi mereka tahun baru Imlek hanya berdasarkan perayaan budaya saja, jadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan Kong Hu Chu.

“Gong Xi Fa Cai – Wan Shi Ru Yi – Shen Ti Jian Kang”  Yang berarti semoga sukses selama-lamanya & selalu dalam keadaan sehat bersama merayakan Hari Raya Imlek. Adalah sama halnya dengan Bersama Merayakan Hari Raya Tahun Baru, Bersama Merayakan Hari Lebaran. Bersama Berbhnineka Tunggal Ika. Dengan demikian kita tidak ber-‘icak-icak’. Berpura-pura  saja,  menipu diri sendiri!

*    *    *

Sejauh ingatan ke ‘tempo dulu’, ketika orang Belanda masih menjadi penguasa negeri terindah  di dunia, yang sekarang kita kenal dengan nama  IMLEK,  dulu namanya, menurut logat Betawi, disebut ‘Taon baru Ciné’. Sedangkan  yang sudah sejak lama juga kita rayakan sebagai Hari Raya Tahun Baru, dulunya di kampung-kampung  di Jakarta dikenal sebagai ‘Taon Baru Belandé’. Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang  sangkakalanya bergema dari JalanPengangsaan Timur 56, Jakarta, oleh proklamator Sukarno dan Hatta,pada tanggal 17 Agustus 1945, telah membuka  lembaran baru dalamsejarah Indonesia. Bangsa kita telah merdeka.  Berbagai suku-bangsakita seperti suku bangsa Jawa, Sunda,  Melayu, Minang, Batak, Madura, Aceh,  Makasar, Bugis, Minahasa, Maluku, Timor, Flores, Bali, Papua,dan banyak lainnya, —-  kemudian  yang berasal etnis Tionghoa, etnis asal Arab, etnis asal Belanda, etnis asal India, Pakistan, dll telah sama-sama menyingsingkan lengan baju, berjuang bersama, mengalirkan keringat, mengujurkan darah, berkorban  demi Indonesia Baru yang menurut kemampuan dan situasinya. Masing-masing telah memberikan sumbangannya. Kita juga  mengenal nama-nama asal etnis Tionghoa seperti a.l.Siauw Giok Tjhan, Tjoa Sek Ien, Tan Po Goan, Tan Ling Dji, Oei Tjoe Tat, YapTiam Hin, John  Lie, dll   yang telah memberikan seluruh hidupnya demiusaha  kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah pejuang-pejuang kemerdekaan yang tidak bisa dihapuskan namanya dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

*    *    *

Sejak 1965 ,  Jendral Suharto dengan rezim Orbanya,  telah memutar kembali jarum sejarah kemajuan bangsa kita.  Politik dan kebijakan Orba telah sangat  merusak persatuan bangsa yang telah digalang dan dikembangkan dengan susah payah, oleh para ‘founding fathers’ bangsa. Politik anti-Tionghoa yang sudah lama dikonsep  oleh golongan Kanan AD TNI, berkembang subur,  merajalela sejadi-jadinya, begitu ia  menjadi kebijakan dan politik resmi pemerintah Orba. Politik anti-Tionghoa tsb  terus berlangsung, sampai jatuhnya Presiden Suharto.  Masih segar di dalam ingatan masyarakat, betapa  media dan pers, nama-nama jalan serta toko-toko tidak boleh menggunakan bahasa dan kata Tionghoa. Masih teringat betapa semua sekolah Tionghoa ditutup, dan bahasa Tionghoa dilarang,  – – – –   sampai-sampai nama-nama Tionghoapun, – — – sesuatu yang bersifat  amat pribadi dan merupakan  hak azasi manusia yang paling elementer, itupun, dengan berbagai cara dipaksakan supaya diganti dengan nama ‘pribumi’ , nama Indonesia ‘asli’ .

Poltik penindasan  dan pembelengguan terhadap kebiasaan, adat istiadat serta tradisi  budaya Tionghoa, bertujuan a.l untuk mengakhiripengaruh  budaya Tionghoa terhadap yang mereka namakan ‘bangsa pribumi’  Indonesia.  Anéh kedengarannya, begaimana  mungkin, bahwa,

pada  masa ketika ide-ide  pencerahan dan demokrasi berkumandang di mancanegara,  namun, di negeri kita bisa terjadi penindasan terhadap adat istiadat, tradisi dan budaya etnis tertentu bangsa sendiri, kongkritnya bangsa Indonesia asal etnis-Tionghoa.

*    *    *

Sejak jatuhnya rezim reperesif Orba,  meski masih begitu banyaknya kekurangan dan kendala yang memperlambat bahkan berusaha  merintangi pelaksanaan tuntutan reformasi dan demokratisasi,  namun,   – – – hati kita menjadi lega, semakin optimis melihat haridepan bangsa ini.Sebab utamanya ialah, sedikit banyak bangsa kita telah menarikpelajaran dari pengalamannya sendiri. Memilih jalan reformasi dandemokratisasi ketimbang jalan otokrasi, rasialisme dan diskriminasiterhadap warga bangsa sendiri.  Optimisme tsb beralasan, karena rezimlaknat yang dalam sejarah bangsa kita menjalankan politk anti-Tionghoadan anti-Tiongkok yang paling biadab,  formalya telah berakhir padabulan Mei 1998.

*    *    *

Ada beberapa hal yang perlu dicatat,  peristiwa-peristiwa bersejarah yang patut disambut  dan didukung sejak jatuhnya Presiden Suharto dan mulai diusahakannya reformasi dan demokrtisasi dalam kehidupan bernegara hukum. Pertama PERANAN GUS DUR, yang sejak beliau menjabat Presiden RI, hari Raya Imlek dilepaskan dari belenggu yang memasung hidup dan berkembangnya budaya etnis-Tionghoa Indonesia. Sehingga mulai berkiprahlah semangat dan langgam demokrasi dan saling menghormati di antara pelbagai suku dan etnis, khususnya etnis-Tionghoa.Kedua, keputusan Presiden Megawati Sukarnoputri ketika beliau masihmenjabat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, yang secara resmi dan tegas menyatakan bahwa Tahun Baru Imlek menjadi HARI RAYA NASIONAL INDONESIA.

Ketiga, adalah disahkannya oleh DPR UU No. 12/2006 mengenai Kewarganegaraan Indonesia. Presideh SBY mengatakan bahwa UU No12/2006 tsb sebagai sebuah karya monumental yang mengubah paradigma perilaku. Yang dimaksudkan ialah bahwa kewarganegaraan seorang Indonesia tidak lagi ditandai oleh ciri-ciri fisiknya, teapi oleh status hukumnya.Mungkin agak berkelebihan apa yang dikatakan oleh Menteri Hukum dan HAM bahwa dengan UU yang baru tersebyt telah dinihilkan diskriminasi atas ras-etnik.

Menteri Hukum dan HAM  dengan tegas  mengatakan, UU 12/2006 menjadikanorang Tionghoa Indonesia menjadi suku Tionghoa Indonesia.Keempat, ialah pernyataan fihak Kepolisian Kalimantan Timur, yangmengundang warganegara Indonesia asal etnis-Tionghoa untuk ambilbagian dalam seleksi untuk menjadi calon perwira kepolisian (BeritaXinhua/Antara). Kepala Kepolisian Inspektur Jendral Indarto menyatakanbahwa semua orang Indonesia, termasuk etnis-Tionghoa punya hak samauntuk menjadi perwira Kepolisian.Kelima, DIKELUARKANNYA oleh Jawatan Pos Indonesia,  perangko-perangko 12 Shio Tiongkok. Yakni 12 macam binatang yang mewakili 12 cabang bumi, yang digunakan sebagai lambang tahun kelahiran seseorang. Dalam pemberitaannya KB Xinhua menyatakan bahwa penerbitan seri perangko Indonesia itu, telah menambah suasana gembira kegiatan perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia. Indonesia kali ini menerbitkan 200.000 helai prangko Shio, dan lebih dari 200.000 album edisi khusus, sampul hari pertama dan carik kenangan. Juga terdapat keterangan rinci mengenai asal usul almanak Imlek, tahun baru Imlek serta Shio dalam bahasa-bahasa Mandarin, Indonesia dan Inggris. Diperkenalkan pula sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia dengan harapan agar berbagai etnis di Indonesia dapat bersama-sama membangun sebuah negara yang indah.

*    *    *

Perkembangan sekitar masalah  etnis-Tionghoa dewasa ini, — ditinjau dengan latar belakang betapa lebih dari 32 tahun rezim Orba,  ketika politik diskriminasi anti-etnik Tionghoa berlangsung, — bolehlah dikatakan telah mengalami kemajuan yang cukup besar dan mendalam. Meskipun, seperti diingatkan Gu Dur baru-baru ini, dalam praktek politik diskriminasi Orba terhadap etnis-Tionhoa, di sana sini masih dengan keras kepala  terus dilaksanakan oleh sementara pejabat.  Dalam hal seperti itu, maka pemerintah tidak ada jalan lain, harus menindak para pejabat yang masih bersikeras hendak mempertahankan kebijakan dan politik Orba terhadap para warganegara Indonesia asal etnis-Tionghoa. Yang melakukaknnya banyak dengan motif untuk memperoleh keuntungan materil dan finansil.

*      *      *

Hari Raya Imlek Tahun ini, bisalah dikatakan telah berlansung dalam suasana yang lebih baik dan lebih meriah, lebih mendalam artinya dihubungkan dengan kesatuan dan persatuan bangsa.  Ini semua adalah hasil perjuangan yang lama dan susah payah, baik dari golongan etnis-Tionghoa sendiri, maupun dari seluruh kekuatan reformasi dan demokratisasi negeri ini.

Akhirul kalam marilah:

KITA RAYAKAN BERSAMA  HARI  RAYA NASIONAL IMLEK.

 

Publikasi Tulisan di atas sudah seizin Mgr. J. Sunarka, SJ.

 

 

 

 

Laporan dari Roma: 64 Tahun IRRIKA, Berguna dan Penting untuk Saling Menguatkan

Sesawi.Net - Sen, 19/02/2018 - 10:57
HARI Sabtu, 17 Februari 2018 diselenggarakan perayaan ulang tahun IRRIKA ke-63. Perayaan diisi dengan misa kudus, dialog dan refleksi atas perjalanan IRRIKA. Misa dipimpin oleh Pastor Markus Solo Kewuta SVD bersama di para imam konselebran. Acara berlangsung di Gereja Santa Catharina Sienna Roma, sebuah paroki militer di Italia. Berdiri sejak tahun 1955 Kelahiran IRRIKA tepatnya […]

Korban Perang Tamil Mewaspadai Kemenangan Rajapaksa

UCANews - Sen, 19/02/2018 - 10:49

Mantan Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa yang memenangkan pemilihan kepala daerah secara mutlak  membuka kembali luka lama bagi korban perang Tamil.

Kemenangan besar mutlak  partai Sri Lanka Podujana Peramuna (SLPP) mengancam orang Tamil yang sedang mencari  kerabat yang hilang selama rezim Rajapaksa.

Rajapaksa, yang merupakan presiden dari tahun 2005 hingan  2015, memimpin kekalahan Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE), mengakhiri perang saudara selama 26 tahun pada  2009.

Dia tetap populer di kalangan sebagian besar komunitas Sinhala di  Sri Lanka namun dikalangan  banyak minoritas Tamil ia tidak dipercaya.

Rezim Rajapaksa menolak permintaan pertanggungjawaban atas kejahatan perang yang terjadi selama perang sipil, dengan perkiraan PBB bahwa sebanyak 40.000 warga sipil Tamil terbunuh pada tahap akhir konflik tersebut.

Ananthy Sasitharan, seorang aktivis Tamil dan utusan daerah, mengatakan bahwa kemenangan pemilihan SLPP merupakan ancaman bagi HAM.

“Kami melihat ini sebagai kemenangan ekstremisme,” kata Sasitharan, yang suaminya hilang secara misterius menjelang akhir perang tahun 2009.

“Rezim Rajapaksa selalu menekan orang Tamil, melanggar hak asasi manusia dan menegakan keadilan atas pelanggaran hak dan kejahatan perang.”

Kasipillai Jeyavanitha, Ketua Forum untuk Orang yang Hilang secara Paksa di Vavuniya, mengatakan bahwa rezim Rajapaksa bertanggung jawab atas banyak orang yang hilang.

“Kami belum mendapat keadilan bahkan delapan tahun setelah perang usai, tapi kami terus menekannya,” kata Jeyavanitha.

“Dia harus bertanggung jawab atas kerabat kami yang hilang karena kami menyerahkan anak-anak kami ke tangan militer selama masa rezimnya.”

Pastor Jeyabalan Croos dari Keuskupan Mannar, seorang aktivis hak asasi manusia Tamil, mengatakan bahwa PBB menyerukan pengadilan berbeda untuk menyelidiki tuduhan kejahatan perang.

“A.S. kemudian mensponsori bersama sebuah resolusi melawan kejahatan perang dengan pemerintah, namun tidak ada keadilan yang diberikan kepada orang-orang Tamil kami,” katanya.

 

Kenapa Ahmadiyah dianggap bukan Islam: Fakta dan kontroversinya - BBC Indonesia

Google News - Sen, 19/02/2018 - 10:04

Kenapa Ahmadiyah dianggap bukan Islam: Fakta dan kontroversinya
BBC Indonesia
Hal prinsip yang membedakan antara Islam arus utama dan Ahmadiyah, sebagaimana dikatakan oleh ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), adalah masalah kenabian. ''Karena Ahmadiyah menganggap ada nabi setelah Nabi Muhammad. Itu suatu pendapat yang tidak ...

Kapitel Kapusin Provinsi Medan Februari 2018: Pastor Kornelius Sipayung OFMCap Tetap Minister Provinsial

Sesawi.Net - Sen, 19/02/2018 - 09:55
PEKAN lalu, tepatnya tanggal 12-16 Februari 2018,  telah berlangsung acara Kapitel Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap) Provinsi Medan. Pertemuan ‘nasional’ OFMCap Provinsi Medan in mengambil tempat di Biara Kapusin Nagahuta, Pematang Siantar, Sumut. Salah satu hasil Kapitel adalah penetapan jajaran kepemimpinan OFMCap Provinsi Medan masa bakti  tahun 2018-2021. Terpilih kembali menjadi Minister Provinsial OFMCap Provinsi Medan […]

Brevir Siang, Senin Prapaskah I, 19 Februari 2018

Mirifica.net - Sen, 19/02/2018 - 09:32

SENIN I – SIANG

PEMBUKAAN
P: Ya, Allah, bersegeralah menolong aku.
U: Tuhan, perhatikanlah hambaMu.

Madah

Engkau Tuhan raja mulya
Yang mengatur segalanya
Fajar pagi Kauterbitkan
Panas siang Kaukobarkan.

Padamkan api sengketa
Yang memisahkan sesama
Teguhkan s’mangat berpadu
Yang menyatukan sekutu.

Kabulkanlah doa kami
Ya Allah Bapa surgawi
Bersama Putra dan RohMu
Sekarang serta selalu. Amin.

Ant.1: Sabda Tuhan menyenangkan hati dan menerangi mata.

Mazmur 18B (19B)

Sabda Tuhan sempurna,*
menyegarkan jiwa.

Peraturan Tuhan teguh,*
membuat arif orang bersahaja.

Titah Tuhan tepat,*
menyenangkan hati.

Perintah Tuhan jelas,*
menerangi mata.

Hikmat Tuhan baik,*
tetap selamanya.

Keputusan Tuhan benar,*
adil selalu.

Lebih indah dari pada emas murni,*
lebih manis dari pada madu lebah.
Aku memperhatikan hukumMu,*
maka besarlah ganjaranku.

Siapa sadar akan pelanggarannya?*
Ampunilah dosa yang tak kusadari.

Lindungilah hambaMu terhadap keangkuhan,*
jangan aku dikuasai olehnya.

Maka hidupku suci,*
bebas dari pelanggaran besar.

Semoga Engkau berkenan akan ucapan mulutku,+
dan akan renungan hatiku di hadapanMu,*
ya Tuhan, padas dan penebusku.

Ant.1: Sabda Tuhan menyenangkan hati dan menerangi mata.

Ant.2: Tuhan akan bangkit untuk merajai bangsa-bangsa dengan adil.

Mazmur 7 – I

Ya Tuhan, Allahku, kepadaMu aku berlindung,*
selamatkan daku dari para pengejarku dan bebaskan daku.

Jangan sampai mereka menerkam aku seperti singa,*
dan menyeret aku, tanpa ada yang membebaskan.

Ya Tuhan, Allahku, jika aku bersalah,*
jika tanganku berbuat curang,

jika aku berbuat jahat terhadap kawan,*
atau merugikan lawan yang tak beralasan,

biarlah musuh mengejar dan menangkap aku,+
menginjak-injak hidupku ke tanah,*
melemparkan kemuliaanku ke dalam debu.

Bangkitlah, Tuhan, dalam kemurkaanMu,+
melawan amarah para penindasku;*
lindungilah aku dengan menjatuhkan hukuman.

Hendaklah bangsa-bangsa berkumpul mengelilingi Engkau,*
bertakhtalah dan rajailah mereka.

Engkaulah hakim segala bangsa,+
hakimilah aku sesuai dengan kejujuranku,*
dan menurut kesucian hatiku.

Semoga berakhirlah kejahatan orang berdosa,+
Teguhkanlah hati orang yang baik,*
ya Allah yang adil, yang menyelami lubuk hati.

Ant.2: Tuhan akan bangkit untuk merajai bangsa-bangsa dengan adil.

Ant.3: Allah hakim yang adil dan kuat, penyelamat orang yang tulus hati.

Mazmur 7 – II

Perisaiku ialah Allah,*
penyelamat orang yang tulus hati.

Allah itu hakim yang adil,*
amarahNya berkobar setiap hari.

Biar penindas mengasah pedang,*
melenturkan busur dan membidik;

namun bagi diri sendirilah ia menyiapkan senjata maut,*
dan menyalakan anak panahnya.

Ia mengandung kejahatan,*
ia hamil kelaliman dan melahirkan dusta.

Ia membuat lubang dan menggalinya,*
lalu terperosok sendiri ke dalamnya.

Begitulah kelaliman kembali kepada si jahat,*
dan kekerasan menimpa dia sendiri.

Aku bersyukur kepada Tuhan karena keadilanNya,*
dan bermazmur bagi nama Tuhan yang mahatinggi.

Ant.3: Allah hakim yang adil dan kuat, penyelamat orang yang tulus hati.

Bacaan Singkat Yes 58,7

Bagikanlah makananmu kepada orang lapar; terimalah orang gelandangan di rumahmu. Kalau kamu melihat orang telanjang, berilah mereka pakaian.

P: Hendaklah kamu berbelaskasih.
U: Seperti Bapamu berbelaskasih.

Doa Penutup

Ya Allah, penyelamat orang berdosa, bukalah hati kami untuk menerima ajaranMu. Semoga kami bertobat dari dosa dan memperoleh manfaat dari mati raga kami. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan pengantara kami, yang hidup …

PENUTUP
P: Marilah memuji Tuhan.
U: Syukur kepada Allah.

Pesan Paus Fransiskus Untuk Hari Komunikasi ke-52, 2018

Mirifica.net - Sen, 19/02/2018 - 09:30

 

PESAN BAPA SUCI FRANSIKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

 24 Januari 2018

 “Kebenaran itu  akan Memerdekakan Kamu (Yoh 8:32)

Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian

Saudara dan Saudari yang terkasih,

KOMUNIKASI adalah bagian dari rencana Allah bagi kita dan jalan utama untuk menjalin persahabatan. Sebagai manusia kita diciptakan seturut gambar dan rupa Sang Pencipta, dan karenanya kita bisa mengungkapkan dan membagi hal-hal yang benar, baik dan indah. Kita mampu melukiskan pengalaman-pengalaman kita sendiri serta tentang dunia sekitar kita, dengan demikian menciptakan kenangan sejarah serta pengertian tentang pelbagai peristiwa. Namun apabila kita begitu saja menuruti hasrat pribadi serta kebanggaan pada diri, maka kita dapat merusak cara kita memanfaatkan kemampuan berkomunikasi. Hal ini dapat dilihat sejak awal sejarah, dalam dua kisah alkitabiah tentang Kain dan Habel serta Menara Babel (bdk. Kej 4:4-16; 11:1-9). Kemampuan untuk memelintir kebenaran merupakan fenomena yang melekat pada kemanusiaan kita, baik pribadi maupun masyarakat. Sebaliknya, manakala kita setia pada rencana Allah, maka komunikasi akan menjadi sarana efektif bagi pencarian kebenaran dan kebaikan secara bertanggungjawab.

Saat ini, dalam dunia komunikasi serta sistem digital yang sedemikian cepat berubah, kita menyaksikan penyebaran dari apa yang dikenal sebagai “berita bohong” (fake news). Kenyataan ini mengundang kita berefleksi, dan itulah sebabnya saya memutuskan untuk kembali mengangkat pokok tentang kebenaran dari  Pesan Hari Komunikasi Sedunia para pendahulu saya, sejak Paus Paulus VI.  Pada tahun 1972 Paus Paulus VI mengkat tema: Komunikasi Sosial demi Pelayanan Kebenaran. Maksud saya adalah memberikan dukungan pada komitmen kita bersama untuk membendung penyebaran berita bohong, serta mengangkat keluhuran martabat jurnalisme dan tanggungjawab pribadi para jurnalis untuk menyampaikan kebenaran.

  1. Apa yang “palsu” tentang Berita Palsu?

Wacana “berita palsu” telah menjadi objek diskusi dan debat yang sengit. Umumnya berita palsu mengacu pada penyebaran informasi sesat secara daring (online) atau melalui media tradisional. Berita palsu terkait dengan informasi palsu tanpa berdasarkan data atau memutar balik data dengan tujuan menipu dan mencurangi baik pembaca maupun pemirsa atau pendengar. Penyebaran berita palsu dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, memengaruhi keputusan-keputusan politik, dan melayani kepentingan-kepentingan ekonomi.

Berita palsu itu bisa efektif, terutama karena mampu mengelabui seolah-oleh berita yang benar dan masuk akal. Kedua, berita palsu,  namun meyakinkan ini, amat cerdik serta mampu menarik perhatian, dengan memunculkan hal-hal stereotipe dan apa yang menjadi objek keingintahuan umum, serta mengeksploitasi emosi-emosi sesaat seperti kecemasan, rasa terhina, kemarahan dan frustrasi. Kemampuan untuk menyebarkan berita palsu semacam itu sering kali ditopang oleh kemampuan memanfaatkan, dengan manipulasi, pelbagai jejaring sosial dan cara kerjanya. Cerita-cerita yang tidak benar dapat menyebar begitu cepat,  sehingga bantahan-bantahan dari pihak berwenang sekalipun gagal membendung dampak negatif yang ditimbulkannya.

Kesulitan untuk membuka kedok dan menyingkirkan berita palsu juga disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak orang berinteraksi dalam ruang lingkup digital yang seragam, yang “kedap” terhadap aneka sudut pandang dan pendapat yang berbeda, sehingga informasi sesat tumbuh subur di tengah tidak adanya informasi tandingan dari sumber-sumber lain yang dapat secara efektif menangkal prasangka dan melahirkan dialog konstruktif. Akibatnya, berita palsu itu menyeret orang menjadi kaki-tangan untuk meneruskan penyebaran gagasan tak berdasar dan bias. Tragedi dari informasi sesat ialah pendiskreditan pihak-pihak lain, menampilkan mereka sebagai musuh, dengan tujuan menjadikan mereka sasaran kebencian dan mengobarkan konflik. Berita bohong adalah wujud dari sikap intoleran dan hipersensitif, yang hanya akan mengarah kepada penyebaran arogansi dan kebencian. Itulah capaian akhir dari kebohongan.

  1. Bagaimana Kita Dapat Mengenali Berita Palsu?

Kita semua tanpa kecuali bertanggungjawab menangkal berita palsu. Ini bukan tugas gampang, karena informasi sesat berakar pada retorika menyesatkan yang dengan sengaja dibuat sedemikian ringkas dan kadang-kadang memanfaatkan mekanisme psikologis yang mengelabui. Saat ini berbagai upaya yang patut dipuji sedang dilakukan untuk menciptakan program-program pendidikan yang bertujuan membantu orang menafsirkan dan menilai informasi yang disajikan media, dan mengajar mereka untuk secara aktif berperan membuka kedok kepalsuan, dan bukannya secara tidak sengaja malah giat menyebarkan informasi sesat. Kita patut menghargai aneka prakarsa kelembagaan dan hukum yang bertujuan mengembangkan regulasi untuk mengendalikan fenomena tersebut, demikian juga upaya yang sedang dilakukan pelbagai perusahaan teknologi dan media untuk menemukan kriteria pembuktian identitas pribadi yang tersembunyi di baik jutaan profil digital.

Namun upaya mencegah dan mengidentifikasi cara informasi sesat bekerja, juga memerlukan proses disermen mendalam dan seksama. Kita perlu membuka kedok dari apa yang dapat disebut “taktik ular” yang dipakai oleh mereka yang menyamarkan diri agar dapat menyerang pada setiap waktu dan tempat. Inilah strategi yang digunakan oleh “ular licik” dalam Kitab Kejadian, yang pada awal umat manusia,  menciptakan berita bohong yang pertama. (bdk. Kej 3:1-15). Itulah awal sejarah tragis dosa manusia, dosa pembunuhan yang dilakukan kakak-beradik yang pertama (bdk. Kej 4) dan dari situ terus muncul kejahatan lain yang tak terhitung banyaknya, yang melawan Tuhan, sesama, masyarakat dan ciptaan. Strategi dari “bapa segala dusta” yang cerdik ini (Yoh 8:44) meniru bentuk rayuan licik dan jahat yang merasuk ke dalam hati dengan argumen-argumen palsu dan memikat.

Dalam kisah tentang dosa pertama, si penggoda mendekati si perempuan, dengan berpura-pura menjadi seorang sahabat yang peduli pada kesejahteraannya. Ia menyampaikan sesuatu yang hanya separuh benar: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej 3:1). Padahal yang benar adalah Tuhan tidak pernah melarang Adam makan buah dari semua pohon, tetapi hanya buah dari satu pohon saja: “Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya” (Kej 2:17). Perempuan itu membantah perkataan si ular, namun membiarkan dirinya terperangkap oleh hasutan si ular: “Tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kej 3:2). Jawaban perempuan itu ditulis dengan istilah yang legalistik dan negatif; setelah mendengarkan si penggoda dan membiarkan dirinya terperdaya oleh fakta-fakta menurut versi si ular, perempuan itu pun terperdaya. Maka, ia menuruti apa yang dikatakan si penggoda dengan yakin: “Sekali-kali kamu tidak akan mati!” (Kej 3:4).

“Dekonstruksi” si penggoda kemudian tampil dalam bentuk kebenaran: “Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej 3:5). Perintah Allah sebagai Bapa, yang dimaksudkan untuk kebaikan mereka (manusia pertama), diputar-balikkan oleh bujuk rayu si musuh: “Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya” (Kej 3:6). Episode alkitabiah ini mejelaskan suatu unsur hakiki dari refleksi kita, yaitu tidak ada informasi sesat yang tidak berbahaya; sebaliknya, mempercayai kepalsuan dapat mendatangkan akibat-akibat yang sangat buruk. Bahkan suatu penyimpangan yang nampaknya kecil pun dapat menyebabkan akibat-akibat berbahaya.

Penyebab semua ini adalah keserakahan kita.  Berita palsu sering kali menjadi viral, menyebar dengan sangat cepat sehingga sulit dihentikan, bukan karena dorongan untuk berbagi yang memang mengilhami media sosial, melainkan karena berita palsu itu merangsang keserakahan yang tak pernah terpuaskan, yang dapat muncul dengan begitu mudah dalam diri manusia. Tujuan ekonomis dan manipulatif  yang memacu informasi sesat berakar pada kehausan akan kekuasaan, hasrat untuk memiliki dan menikmati, yang pada akhirnya menyebabkan korban penipuan yang lebih tragis, yakni  tipu-daya si jahat yang bergerak dari satu kepalsuan ke kepalsuan lainnya untuk mencabut kita dari  kebebasan batiniah kita. Itulah mengapa pendidikan tentang kebenaran berarti mengajar orang untuk melakukan disermen, mengevaluasi, dan memahami hasrat dan kecenderungan kita yang paling dalam, sebab jika tidak demikian maka kita akan kehilangan wawasan tentang apa yang baik dan menyerah pada setiap godaan.

  1. “Kebenaran itu akan Memerdekakan Kamu” (Yoh 8:32)

Pencemaran terus-menerus oleh bahasa bohong dapat berakhir pada semakin gelapnya kehidupan batin kita. Pengamatan Dostoevsky menjelaskan hal itu: “Orang-orang yang menipu diri dan mempercayai tipuannya sendiri akan sampai pada suatu titik,  di mana mereka tidak dapat lagi mengenal kebenaran di dalam diri mereka, atau di sekitar mereka, dan dengan demikian mereka kehilangan rasa hormat terhadap diri mereka sendiri dan terhadap orang lain. Dan ketika mereka tidak lagi memiliki rasa hormat pada diri mereka sendiri, mereka akan berhenti mencintai, dan kemudian untuk menyibukkan diri dan mengalihkan perhatian dari diri mereka yang tanpa kasih, mereka mengumbar berbagai nafsu dan kenikmatan badani, serta tenggelam dalam ketamakan yang meyerupai binatang, dalam kebiasaan untuk terus menerus berbohong kepada sesama dan diri mereka sendiri”. (The Brothers Karamazov, II, 2).

Lalu, bagaimana kita dapat mempertahankan diri dari kebohongan? Penangkal paling jitu terhadap virus kepalsuan adalah pemurnian oleh kebenaran. Dalam Kekristenan, kebenaran bukan melulu suatu realitas konseptual yang berhubungan dengan bagaimana kita menilai segala sesuatu, menentukan sesuatu  benar atau salah. Kebenaran itu tidak sekadar mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi, “menyingkap kenyataan”, sebagaimana kebenaran diartikan dalam istilah Yunani kuno yaitu aletheia (dari kata a-lethès, “tidak tersembunyi”). Kebenaran mencakup keseluruhan hidup kita. Dalam Alkitab, kebenaran mengandung makna dukungan, soliditas dan kepercayaan, seperti yang tersirat oleh akar kata ‘aman,’ asal-usul  kata ‘amin’ dalam liturgi kita. Kebenaran adalah sesuatu ke mana anda dapat bersandar agar tidak jatuh. Dalam pengertian relasional ini, Dialah satu-satunya yang dapat sungguh-sungguh diandalkan dan dipercayai – Dia yang bisa kita andalkan – adalah Tuhan yang hidup. Oleh karena itu, Yesus dapat berkata: “Akulah kebenaran” (Yoh 14:6). Kita menemukan kembali kebenaran ketika kita mengalaminya di dalam diri kita sendiri, dalam kesetiaan dan kepercayaan kepada Dia yang mengasihi kita. Inilah satu-satunya yang dapat membebaskan kita: “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32).

Bebas dari kepalsuan dan mencari relasi, merupakan dua unsur yang tidak boleh hilang dari kata dan perbuatan kita, agar kata dan sikap kita benar, otentik dan dapat dipercaya. Untuk mengenal kebenaran, kita perlu mengenal segala sesuatu yang mendorong terbentuknya persekutuan dan yang memajukan kebaikan, serta  membedakannya dari apa pun yang cenderung mengasingkan, memecah belah, dan menentang. Karena itu, kebenaran sesungguhnya tidak dapat dipahami,  ketika kebenaran dipaksakan dari luar sebagai sesuatu yang impersonal. Kebenaran hanya dapat mengalir dari relasi bebas di antara orang-orang dan dari saling mendengarkan. Kita juga tidak akan pernah bisa berhenti mencari kebenaran, selama kepalsuan selalu bisa menyelinap masuk, bahkan ketika kita menyatakan hal-hal yang benar. Argumen yang tak dapat salah, sesungguhnya berlandas pada fakta-fakta yang tak terbantahkan, namun jika argumen itu digunakan untuk melukai orang lain dan untuk mendiskreditkan orang itu di hadapan orang lain, maka betapapun argumen itu kelihatannya benar, argumen tersebut sesungguhnya tidak mengungkap kebenaran. Kita bisa mengenal kebenaran setiap pernyataan dari buahnya: apakah pernyataan itu memicu pertengkaran, menimbulkan perpecahan, mendorong pengunduran diri; atau sebaliknya, pernyataan itu mengembangkan refleksi yang matang dan berlandas pada informasi benar yang mengarah kepada dialog konstruktif  dengan hasil-hasil yang bermanfaat.

  1. Perdamaian adalah Berita yang Sebenarnya

Penangkal terbaik melawan  kebohongan bukan strategi, melainkan masyarakat: masyarakat yang tidak serakah tetapi bersedia mendengarkan, masyarakat yang berikhtiar melakukan dialog tulus agar kebenaran dapat tersingkap: masyarakat yang tertarik oleh kebaikan dan bertanggung jawab atas cara bagaimana memanfaatkan bahasa. Jika tanggung jawab adalah jawaban terhadap penyebaran berita bohong, maka tanggung jawab berat  itu berada di pundak orang-orang yang tugasnya memberikan informasi, yaitu para wartawan, pengawal berita. Di dunia sekarang ini, tugas mereka adalah memberikan informasi bukan sekadar sebagai suatu  pekerjaan.  Tugas itu adalah sebuah misi, perutusan. Di tengah hiruk pikuk dan hingar-bingar kesibukan menyampaikan berita pertama serta tercepat, para jurnalis mesti ingat bahwa intisari informasi bukanlah kecepatan menyampaikan atau dampaknya pada para audiens, melainkan orang perorangan. Memberikan informasi kepada orang lain berarti membentuk mereka; itu berarti ada hubungannya dengan kehidupan orang lain. Itulah alasannya mengapa menjamin keakuratan sumber dan melindungi komunikasi adalah sarana riil untuk memajukan kebaikan, membangkitkan kepercayaan, dan membuka jalan menuju persekutuan dan perdamaian.

Maka, saya ingin mengajak semua orang untuk memajukan  jurnalisme perdamaian. Jurnalisme perdamaian tidak dimaksudkan sebagai jurnalisme “pemanis rasa” yang menolak mengakui adanya masalah-masalah serius atau jurnalisme yang bernada sentimentalisme. Sebaliknya, jurnalisme perdamaian adalah suatu jurnalisme yang jujur ​​dan menentang kepalsuan, slogan-slogan retoris, dan pokok berita yang sensasional. Sebuah jurnalisme yang diciptakan oleh masyarakat untuk masyarakat, yang melayani semua orang, terutama mereka – dan mereka adalah mayoritas di tengah dunia kita – mereka yang tidak bersuara. Sebuah jurnalisme yang tidak terpusat pada breaking news (berita sela) tetapi menelisik sebab-sebab yang mendasari konflik, guna memajukan pemahaman yang lebih mendalam dan memberi sumbangan bagi jalan keluar dengan memulai suatu proses yang baik. Sebuah jurnalisme yang berkomitmen untuk menunjukkan beragam alternatif terhadap meningkatnya keributan dan kekerasan verbal.

Untuk mencapai tujuan ini, seraya menimba ilham dari untaian doa Fransiskan, kita sebagai pribadi mesti  berpaling kepada Sang Kebenaran:

Tuhan, jadikanlah kami alat damai-Mu.

Bantulah kami mengenali kejahatan yang tersembunyi dalam suatu komunikasi yang tidak membangun persekutuan.

Bantulah kami untuk membuang racun dari berbagai penilaian kami.

Bantulah kami untuk berbicara tentang orang lain sebagai saudara dan saudari kami.

Dikaulah yang setia dan dapat diandalkan; semoga perkataan kami menjadi benih kebaikan bagi dunia:

di mana ada teriakan, biarkanlah kami berlatih mendengarkan;

di mana ada kebingungan, biarkanlah kami mengilhami keselarasan;

di mana ada ketidakjelasan, biarkanlah kami membawa kejelasan;

di mana ada pengucilan, biarkanlah kami memberi solidaritas;

di mana ada kegemparan, biarkanlah kami memakai ketenangan;

di mana ada kedangkalan, biarkanlah kami mengajukan persoalan-persoalan nyata;

di mana ada prasangka, biarkanlah kami membangkitkan kepercayaan;

di mana ada permusuhan, biarkanlah kami membawa rasa hormat;

di mana ada kepalsuan, biarkanlah kami membawa kebenaran.

Amin.

 

Sri Paus Fransiskus

 

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator