Berita dan Event

Pelita Hati: 13.07.2018 – Roh Tuhan yang Bekerja

Sesawi.Net - Kam, 12/07/2018 - 17:00
Bacaan Matius 10:16-23 Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan […]

Mgr Sunarko kunjungi pulau-pulau kecil: “Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita”

Pen@ Katolik - Kam, 12/07/2018 - 15:47
Mgr Adrianus Sunarko OFM mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Riau dengan kapal kayu/Foto Bruder Tri OFM

Ketika kembali ke biara setelah mendengar keputusan Paus Fransiskus dari Duta Vatikan untuk Indonesia tentang pengangkatannya sebagai Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM mulai membuka-buka peta melihat wilayah Keuskupan Pangkalpinang.

“Ternyata wilayahnya mencakup juga Kepulauan Riau. Dalam permenungan kemudian saya memilih motto Episkopat ‘Hendaklah banyak pulau bersukacita’ (Mzm 97:1). Motto ini semakin saya rasakan setelah mengadakan kunjungan pastoral dan berkeliling dari pulau ke pulau, berpindah-pindah dari pongpong (kapal kayu kecil bermesin dengan kapasitas 8-10 orang) seperti saat ini. Terimakasih untuk seluruh umat. Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita.”

Mgr Adrianus Sunarko OFM berbicara dalam Misa di Gereja Stasi Santa Maria Ratu Rosari, Pancur, 8 Juli 2018 saat mengadakan kunjungan pastoral ke Paroki Santo Carolus Borromeus, Ujung Beting, yang mencakupi  seluruh wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Lingga, di Provinsi Kepulauan Riau.

Berikut ini PEN@ Katolik mengangkat laporan Pastor Hans K Jeharut, imam Keuskupan Pangkalpinang, disertai foto-foto yang diambil oleh Bruder Tri OFM.

Tanggal 6-10 Juli 2018 Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, mengadakan kunjungan pastoral ke Paroki Santo Carolus Borromeus, Ujung Beting. Paroki itu mencakup seluruh wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Lingga. Menurut kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lingga, H Eddy Subrata, Kepulauan Lingga terdiri dari 604 pulau, sekitar tiga puluhan pulau dihuni penduduk dan lainnya tanpa penghuni.

Perjalanan dimulai dari Daek, Ibu Kota Kabupaten Lingga. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan speed boat dari Pelabuhan Punggur, Batam,  rombongan tiba di Pelabuhan Sei Tenam, Daek, pukul 13.30 WIB.

Gelombang laut yang tinggi membuat ciut nyali beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Wanita Katolik Republik Indonesia Keuskupan Pangkalpinang, Komunitas Medik Katolik Indonesia Kepulauan Riau, Komunitas iCare dari Singapura dan staf Komsos Keuskupan Pangkalpinang.

Di Daek, Uskup dan rombongan berkunjung ke Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lingga. Eddy Subrata berterimakasih atas kunjungan Uskup dan atas keterlibatan umat Katolik dalam upaya menjaga kerukunan di Kabupaten Lingga. “Umat Katolik adalah umat yang patuh,” kata Eddy Subrata.

Uskup kemudian mengunjungi dua keluarga Katolik di Daek. Menurut Purba, seorang umat, kalau ingin merayakan Ekaristi, mereka harus menyeberang ke pulau lain dengan pongpong, “tapi kalau pastor kebetulan datang ke Daek, kami merayakan Ekaristi di rumah.”

Setelah menikmati kopi dan durian Daek, rombongan melanjutkan perjalanan ke Linau untuk selanjutnya ke Ujung Beting. Untuk itu, rombongan harus menunggu air laut pasang supaya bisa naik ke pongpong. Namun saat ini mereka menunggu agak lama di pelantar (dermaga tradisional dengan tiang-tiang kayu pancang) karena sedang siklus ‘pasang sore.’

Jarak Linau ke Ujung Beting ditempuh dalam 30 menit. Beberapa ratus meter sebelum tiba di dermaga, masih di tengah laut, rombongan dalam tiga pongpong berhenti karena Uskup harus memberkati Patung Santa Maria Ratu Rosari, Patung Santo Petrus dan Ikon kerahiman Ilahi. Setelah pemberkatan, iring-iringan pongpong merapat ke pantai dan disambut meriah oleh umat yang sudah menunggu sejak siang.

Keletihan terbayar menyaksikan kegembiraan umat berjumpa dengan Gembalanya. Dari dermaga, Uskup dan rombongan beserta seluruh umat masuk ke gereja untuk berdoa. Setelah berdoa dan perkenalan singkat, mereka makan malam bersama.

Sabtu, 7 Juli 2018, Uskup memimpin Misa di Gereja Ujung Beting. Umat datang dari beberapa pulau di sekitar Ujung Beting. Mereka tiba dalam rombongan-rombongan kecil menggunakan sampan dan pongpong. Dalam Misa ini, delapan umat menerima Sakramen Krisma.

”Pulau-pulau akan bersukacita kalau Tuhanlah yang meraja atas pulau dan seluruh penghuninya,” kata uskup dalam homili mengutip Mazmur 97:1 yang menjadi motto tahbisan dan kegembalaan Mgr Sunarko. Setelah Misa, dokter-dokter dari KMKI melayani umat dengan pengobatan gratis dan penyuluhan cara hidup sehat, sedangkan Komunitas iCare mendampingi anak-anak, remaja, dan OMK dengan permainan-permainan edukatif sambil memberi animasi.

Malam hari, dalam pertemuan dengan umat, uskup mendengarkan beberapa permohonan umat terutama berkaitan dengan pendidikan anak-anak di pulau dan ketersediaan guru agama serta bahan-bahan pengajaran untuk dipakai di pulau-pulau.

Minggu 8 Juli 2018, Uskup berkunjung ke Stasi Pancur bersama umat Ujung Beting. Delapan pongpong berarak bersama di laut, dua di antaranya membawa patung Santa Maria dan Santo Petrus yang akan ditahtakan di Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Pancur.

Setelah sekitar satu jam mengarungi samudra, barisan pongpong itu tiba di Pancur. Misa Pemberkatan Gereja Santa Maria Ratu Rosari, yang dimulai pukul 10.00 WIB, diawali penyerahan kunci dari Ketua Panitia Pembangunan Gereja.

Dalam homili, Mgr Sunarko mengajak umat untuk meneladani Bunda Maria yang setia kepada kehendak Allah dalam segala situasi, sedih maupun gembira, sebagaimana peristiwa-peristiwa Rosario. Gereja itu mengambil nama Santa Maria Ratu Rosari, maka umat yang berdoa di gereja ini diminta meneladani sikap iman dan kesetiaan Bunda Maria.

Tanggal 8 Juli 2018, Mgr Sunarko merayakan HUT Imamat ke-23. Maka, setelah Misa umat mempersembahkan kue ulang tahun kepada Uskup, yang lalu membagi potongan-potongan kue kepada Kapolsek Senayang , Danramil, Danpos AL dan perwakilan pemimpin agama.

Dari Pancur, rombongan mengendarai mobil menuju Sei Tenam untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Manik. Di sana, Uskup bertemu umat dan menikmati kopi sore dan menunda perjalanan beberapa jam ke Pulau Pulon sambil menunggu angin reda. Pukul 18.30 WIB, tiga pongpong meninggalkan Pulau Manik menuju Pulau Pulon. Dalam kegelapan malam di bawah taburan cahaya bintang, pongpong melaju membelah samudra dan tiba pukul 20.15.

“Selamat datang Bapa, selamat datang ibu, selamat datang kami ucapkan. Selamat datang Bapa Uskup…” menggema suara umat Stasi Santo Aloisius Gonzaga, Pulon. Seluruh warga, Katolik dan non Katolik, hadir menyambut kedatangan Uskup. Suasana persaudaraan kian terasa karena semua menikmati makan malam bersama.

Setelah Misa, 9 Juli 2018, Uskup berdialog dengan umat dengan menekankan identitas umat Keuskupan Pangkalpinang yang berpusat pada Kristus, hidup dalam komunio (persekutuan), dan aktif mewartakan kesaksian hidup sebagai misi yang diemban. Sore hari, dengan kapal “Lintas Kepri,” Uskup dan rombongan menuju Dabo, stasi terakhir dalam rangkaian kunjungan pastoral itu.

Dalam Misa di sana, Uskup menceritakan kisah terpilihnya sebagai Uskup hingga memilih motto Episkopat “hendaklah banyak pulau bersukacita” (Mzm 97:1) dan berharap “Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita.”

Meski hujan rintik mengguyur Dabo sejak pagi, 10 Juli 2018, Uskup bersama rombongan meninggalkan Dabo menuju Batam.***

Artikel terkait:

Mgr Sunarko: kalau Tuhan sendiri jadi raja dalam hidup kita banyak pulau akan bersukacita

Mgr Adrianus Sunarko OFM ditahbiskan jadi Uskup Pangkalpinang bukan rancangan saya

Live streaming tahbisan Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko-ofm

Saat Misa Perdana, Mgr Sunarko terima kepemimpinan keuskupan dan tanda kesetiaan para imam

Foto: Bruder Tri OFM Foto: Bruder Tri OFM Mgr Sunarko rayakan HUT Imamat/Foto: Bruder Tri OFM Foto: Bruder Tri OFM Foto: Bruder Tri OFM

Konferensi Waligereja Thailand Gelar Tiga Perayaan

UCANews - Kam, 12/07/2018 - 15:38

Lebih dari 8.000 umat beragama menghadiri tiga perayaan yang digelar oleh Konferensi Waligereja Thailand.

Di antara peserta adalah dua kardinal, satu uskup agung dan 11 uskup serta seorang uskup agung emeritus dari Malaysia, seorang kardinal dan seorang uskup dari Laos dan Duta Besar Vatikan untuk Thailand.

Ketiga perayaan tersebut diselenggarakan di Universitas Chiang Rai Rajabhat di Thailand bagian utara pada Sabtu (7/7) lalu.

Peserta merayakan peresmian Keuskupan Chiang Rai, penahbisan Uskup Joseph Wutthilert Haelom dan peluncuran persiapan peringatan ke-350 Vikariat Apostolik Siam (Misi Siam: 1669-2019).

Hadir pula perwakilan dari beberapa denominasi Protestan dan sejumlah pemimpin agama Buddha, Hindu, Islam dan Sikh.

Benih pertama Kabar Gembira disebarkan di Siam (kini Thailand) pada 1544.

Pada 2015, Gereja lokal merayakan peringatan ke-50 pengangkatan dua komunitas Gereja sebagai keuskupan agung, yakni Bangkok dan Thare-Nongseng. Selama lebih dari 50 tahun, delapan keuskupan baru dibentuk: Chanthaburi, Ratchaburi, Chiang Mai, Ubon Ratchathani, Udon Thani, Nakhon Ratchasima, Surat Thani dan Nakhon Sawan.

Dengan pembentukan Keuskupan Chiang Rai, Thailand kini memiliki dua keuskupan agung dan sembilan keuskupan sufragan.

Tujuan pembentukan keuskupan baru itu adalah untuk memberikan pemantauan yang lebih dekat dan efektif terhadap karya pastoral, pelayanan dan penyebaran Kabar Gembira.

Dua uskup yang melayani Keuskupan Chiang Mai dan Chiang Rai akan menjalankan tugas mereka secara lebih efektif dan efisien.

Mengingat setiap keuskupan merupakan wilayah yang lebih kecil, kunjungan pastoral bisa lebih sering dilakukan khususnya di wilayah pegunungan.

 

Mahkamah Agung di India Pertegas Hukuman Mati untuk Tiga Pemerkosa

UCANews - Kam, 12/07/2018 - 15:19

Mahkamah Agung di India telah mempertegas hukuman mati untuk tiga orang yang didakwa memerkosa seorang perempuan di dalam sebuah bus yang tengah melaju di New Delhi enam tahun lalu.

Meskipun demikian, sejumlah pengacara dan aktivis Kristiani ragu jika hukuman mati bisa menghentikan maraknya kasus pemerkosaan.

Putusan yang dijatuhkan pada Senin (9/7) itu mempertegas vonis hukuman mati yang diberikan kepada ketiga terdakwa atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang mahasiswi berusia 23 tahun pada 2012 lalu.

Mahkamah Agung menolak permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh tiga dari empat terdakwa atas vonis tahun lalu tersebut.

Terdakwa keempat yang juga menghadapi hukuman mati tidak mengajukan peninjauan kembali atas vonis yang diterimanya.

“Menjatuhkan hukuman mati kepada orang atas kejahatan yang mengerikan tidak akan menghentikan pemerkosaan,” kata Suster Mary Scaria MC, seorang pengacara Mahkamah Agung dan aktivis hak asasi manusia.

“Masyarakat harus berusaha mengubah cara berpikir orang. Hendaknya ada perubahan sosial untuk menghormati perempuan. Jika tidak, pemerkosaan, penindasan dan kekejaman terhadap perempuan tidak akan berhenti,” lanjutnya.

“Sejumlah orang berpikir bahwa perempuan adalah subyek kesenangan mereka dan bisa dipakai sesuka mereka. Persepsi mereka harus berubah,” tegasnya.

Kasus yang memunculkan kecaman nasional itu terjadi pada 16-17 Desember 2012 di dalam sebuah bus yang tengah melaju. Enam orang memerkosa dan menyerang secara kasar perempuan itu sebelum melemparnya ke tengah jalan. Perempuan itu kemudian dirawat di rumah sakit dan diterbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik, namun ia meninggal dunia pada 29 Desember.

Proses peradilan yang cepat menjatuhkan hukuman mati kepada Mukesh Singh, Pawan Gupta, Vinay Sharma dan Akshay Thajur. Mahkamah Agung kemudian mempertegas hukuman tersebut.

Salah seorang terdakwa, Ram Singh, diduga bunuh diri saat berada di penjara. Seorang remaja yang juga menjadi pelaku pemerkosaan dibebaskan dari rumah pembinaan setelah menjalani hukuman penjara selama tiga tahun.

“Sejumlah orang tidak takut hukum. Setiap hari kita membaca dan mendengar berita tentang kekerasan, maka harus ada mekanisme agar masyarakat memahami bahwa kita semua sama di mata hukum,” kata Suster Scaria.

Badan Statistik Kejahatan Nasional mengatakan jumlah kasus pemerkosaan di India meningkat, dari 2.487 kasus pada 1971 menjadi 24.206 kasus pada 2011. Pada 2014, ada 36.735 kasus pemerkosaan dan pada 2016 angkanya meningkat menjadi 38.947 kasus.

M.P. Raju, seorang pengacara Mahkamah Agung beragama Katolik, mengatakan kepada ucanews.com bahwa dari sudut pandang Gereja Katolik, hukuman mati tidak bisa diterima karena “apa pun kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, kita tidak punya hak untuk membunuh seseorang, anak Allah.”

Pastor Denzil Fernandes SJ yang memimpin Institut Sosial India mengatakan Gereja menentang hukuman mati.

“Tetapi dalam kasus ini, hukum telah mempertimbangkannya sebagai kasus terlangka dari yang langka, maka kami menghormati keputusan itu,” katanya.

“Ajaran Katolik adalah bahwa kita tidak punya hak untuk mencabut nyawa orang lain dengan cara apa pun. Ada pilihan lain seperti hukuman penjara seumur hidup di mana setidaknya seseorang punya waktu untuk berubah. Sebagain besar negara beradab telah menghapus hukuman mati,” lanjutnya.

Para terdakwa tersebut kini memiliki pilihan hukum untuk mengajukan gugatan kuratif atas hukuman mati itu dengan landasan bahwa bukti atau unsur hukum tidak diperdebatkan dan hal ini melanggar prinsip keadilan.

Jika gugatan itu juga ditolak, permohonan pengampunan bisa diajukan kepada presiden India.

 

Pemimpin Gereja Desak Pemerintah India Bantu Wilayah Yang Dilanda Kerusuhan  

UCANews - Kam, 12/07/2018 - 13:22

Negara Bagian Odisha,  India, telah mengusulkan untuk bekerja sama dengan Gereja Katolik untuk meyiapkan fasilitas kesehatan  canggih di distrik Kandhamal yang miskin, tempat kekerasan anti-Kristen yang menelan 100 jiwa satu dekade lalu.

Menteri Kesehatan Negara Bagian itu Pratap Jena mengatakan pemerintah terbuka untuk berkolaborasi dengan Keuskupan Agung Cuttack-Bhubaneswar atau lembaga-lembaga Gereja lainnya untuk mendirikan sebuah rumah sakit di distrik itu, di mana tingkat kematian ibu dan bayi termasuk yang tertinggi di India.

Jena mengajukan usulan itu ketika para pejabat Gereja dari keuskupan agung dan wakil-wakil dari Konferensi Waligereja India bertemu dengannya dan menteri kepala negara Naveen Patnaik pada 2 Juli menjelang peringatan 10 tahun kerusuhan yang meletus di negara bagian itu tahun 2008.

“Menteri membuat usulan dan berjanji  memberikan lahan untuk rumah sakit yang bebas biaya,” kata Pastor Dibakar Parichha, seorang pejabat keuskupan agung yang menghadiri pertemuan itu.

Pastor Parichha mengatakan kepada ucanews.com bahwa para pejabat Gereja termasuk Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen Konferensi Waligereja India, “secara serius menindaklanjuti”  proposal tersebut.

“Orang-orang di sana sangat membutuhkan fasilitas kesehatan yang dapat diandalkan. Banyak wanita dan anak-anak menderita karena kekurangan perawatan medis. Gereja berkomitmen  membantu mereka,” kata imam itu, ia menambahkan Gereja saat ini tidak mengoperasikan fasilitas kesehatan di distrik ini.

Sementara tingkat kematian ibu di India berada pada tingkat rata-rata 254 per 100.000 kelahiran hidup, angka itu telah naik setinggi 303 orang di Odisha, menjadikan negara ini menjadi salah satu dari empat negara paling berbahaya bagi wanita hamil.

Negara bagian timur ini juga memiliki tingkat kematian bayi terburuk di negara itu, karena 44 dari setiap 1.000 bayi baru lahir tidak dapat merayakan ulang tahun pertama mereka, menurut data pemerintah.

Angka yang tepat mungkin “jauh lebih tinggi” karena di desa-desa terpencil di distrik Kandhamal yang didominasi masyarakat suku, orang-orang hidup dalam kondisi pendidikan dan budaya yang diliputi keprihatinan, kata Pastor Parichha.

Pastor Pradosh Chandra Nayak, vikjen keuskupan agung, mengatakan banyak bayi yang baru lahir meninggal karena malaria dan penyakit lainnya yang sebenarnya dapat dicegah.

John Barwa dari Cuttack-Bhubaneswar, juga menghadiri pertemuan baru-baru ini. Dia mengatakan Naveen “mendorong Gereja bergabung untuk membantu negara berkembang dengan menjadi bagian dari proses.”

“Rumah sakit tidak diragukan lagi akan sangat membantu orang-orang Kandhamal terlepas dari apa iman dan agama seseorang,” katanya.

Keuskupan agung itu, yang mencakup distrik tersebut, akan berusaha mempercepat pengajuan itu, tambahnya.

Delegasi Gereja juga menekan administrasi negara untuk mempercepat pemberian kompensasi yang ditingkatkan yang telah diperintahkan oleh Mahkamah Agung India kepada para korban kerusuhan 2008.

Pastor Parichha mengatakan Mahkamah Agung  tahun 2016 meminta negara untuk membayar ganti rugi tambahan 300.000 rupee (US $ 4.545) kepada para keluarga 39 orang Kristen yang tewas dalam kerusuhan. Ini di atas 500.000 rupee ($ 7.575) yang masing-masing diterima sebelumnya.

Pengadilan juga meminta negara untuk membayar kompensasi 30.000 rupee (US $ 454) bagi mereka yang terluka parah dan 10.000 rupee bagi mereka yang mengalami luka ringan.

Namun, pemerintah setempat tampaknya mengabaikan perintah itu, memaksa aktivis HAM untuk mengajukan banding ke pengadilan negara bagian, yang pada  Mei memerintahkan agar dana dialokasikan  memberi kompensasi kepada para korban.

Setelah intervensi pengadilan, negara bagian mengatakan telah mentransfer 215 juta rupee ke administrasi distrik Kandhamal untuk didistribusikan.

Meskipun demikian, “banyak yang belum menerima kerusakan tambahan,” kata Pastor Parichha. Dia telah dipercayakan untuk menyusun daftar orang-orang yang belum mendapatkan uang.

Para pemimpin Kristen seperti Pastor Parichha mengatakan bahwa hampir 100 orang Kristen tewas dalam kerusuhan yang terjadi setelah pembunuhan pemimpin Hindu Swami Laxmanananda Saraswati pada 23 Agustus 2008.

Catatan pemerintah negara bagian menempatkan korban tewas lebih kecil, hanya 39 orang.

Pembunuhan Touting Saraswati dianggap sebagai serangan Kristen pada Hinduisme, kelompok fanatik menyerang orang Kristen, membakar 6.000 rumah dan lebih dari 300 gereja. Sebagian besar orang Kristen dibunuh karena menolak untuk mengingkari iman mereka, menurut laporan.

Segera setelah kerusuhan, para pemimpin Gereja menuduh pemerintah negara bagian meminta polisi untuk mengabaikan kasus itu sehingga polisi melakukan penyelidikan yang ceroboh atau setengah hati terhadap pembunuhan tersebut.

Mereka melihat ini sebagai bentuk persetujuan diam-diam dan pengesahan terhadap tindakan kelompok-kelompok fanatik Hindu.

Selama kerusuhan, negara diperintah oleh koalisi yang terdiri dari Partai Bharatiya Janata (BJP) yang pro-Hindu dan Biju Janata Dal (BJD), sebuah partai lokal. Sejak tahun 2000, BJD keluar dari aliansi dan sekarang memerintah negara sendirian.

 

Inilah Permulaan Pemekaran Wilayah-wilayah di Keuskupan Manado - Tribun Manado

Google News - Kam, 12/07/2018 - 10:02

Tribun Manado

Inilah Permulaan Pemekaran Wilayah-wilayah di Keuskupan Manado
Tribun Manado
VOC melarang misi Katolik dari 1602 sampai 1799 di wilayah Hindia Belanda (Indonesia). Katolik nanti bertumbuh dan berkembang kembali di wilayah Keuskupan Manado 150 tahun lalu dengan kedatangan Van De Vries. Ia mengatakan sebelum ...
Sejarah Gelombang Awal Kedatangan Para Misionaris MSC di Wilayah Keuskupan Manadoinfo terbaru (Blog)

all 4 news articles »

Pihak Berwenang Larang Seorang Imam  Cina

UCANews - Kam, 12/07/2018 - 09:47

Pejabat kantor  urusan agama pemerintah Cina merekomendasikan  pelarangan seorang imam  karena memimpin ziarah.

Para pengamat meyakini kasus ini baru pertama kali terjadi di bawah undang-undang (UU) agama baru yang berlaku secara nasional pada 1 Februari lalu.

Biro urusan etnis dan agama menilai bahwa imam itu bertindak bertentangan dengan Sinisisasi keagamaan yang bertujuan untuk menghapuskan pengaruh luar dengan norma-norma budaya dan sosial Cina.

Biro  tersebut  di distrik Changan, provinsi Hebei mengeluarkan surat tertanggal 11 Juni ke keuskupan Shijiazhuang dan Asosiasi Katolik Patriotik Cina yang menyerukan pelarangan.

Pastor Sun Linghui dari Gereja terbuka, diberitakan bahwa pada 4 Mei ia membawa sekelompok peziarah ke provinsi Shanxi utara, tempat komunitas Katolik telah ada sejak abad ke-17.

Ziarah itu diklaim memiliki dampak sosial “sangat buruk” yang membenarkan penangguhan kegiatan misionaris Pastor Sun dan pembatalan pendaftaran resminya.

Pasal dalam UU  baru itu mengatakan bahwa segala tindakan dalam 30 hari sejak diterimanya surat itu, termasuk penunjukan seorang imam untuk segera diberlakukan.

Pasal 73 UU  baru itu menyatakan bahwa setiap warga yang melakukan kegiatan keagamaan yang tidak sah maka segala kepemilikan  properti atau pendapatan disita serta dilarang menjalankan peran mereka  sebagai klerus.

Surat ini lebih khusus berhubungan dengan aktivitas Pastor Sun dan  secara lebih umum menyerukan kepada asosiasi patriotik untuk memperkuat pengawasan para uskup demi menjaga keharmonisan sosial.

Pastor Sun mencatat bahwa, meskipun ada rekomendasi, belum ada keputusan tentang pelarangannya. “Berdoalah untuk saya dan Gereja,” katanya melalui telepon. Dia menambahkan: “Itu dia, itu dia.” Lalu dia menutup teleponnya.

Sebuah sumber yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada ucanews.com bahwa upaya  untuk menyingkirkan Pastor Sun dikaitkan dengan ketegangan antara imam dan pemimpin Gereja Katolik  setempat.

Sumber lain menambahkan bahwa beberapa anggota Gereja lainnya, yang juga menentang Pastor Sun, dapat melaporkan keterlibatannya dalam ziarah ke pejabat urusan agama Cina.

Yang lain mencatat bahwa, Pastor Sun menjadi korban dari UU  baru itu yang mencakup praktik keagamaan.

“Apa masalah bagi seorang imam untuk membawa umat beriman dalam ziarah?” tanya seorang anggota Gereja. “Ini urusan internal Gereja kami  dan ziarah itu baik untuk iman kami.”

Rekomendasi diskualifikasi bertentangan dengan perlindungan konstitusional Cina terhadap kebebasan beragama, tambah anggota Gereja itu.

 

Para uskup Filipina ajak umat berdoa, mengaku dosa, beramal untuk “masa-masa sulit”

Pen@ Katolik - Kam, 12/07/2018 - 04:07
Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles/Foto Davao Today

Dalam seruan pastoral 9 Juli 2018, Konferensi Waligereja Filipina menyampaikan berbagai situasi yang mengkhawatirkan di negara itu seraya mendesak umat Katolik untuk menjadi pembawa damai.

Para uskup Katolik Filipina mengajak umat beriman untuk ikut bersama mereka berdoa, mengaku dosa, dan melaksanakan kegiatan amal kasih selama empat hari guna menebus dosa-dosa dari orang-orang yang menghujat Tuhan, yang memfitnah dan memberikan kesaksian palsu, dan yang melakukan atau membenarkan pembunuhan guna melawan kejahatan.

Ajakan itu muncul dalam seruan pastoral yang dibuat oleh Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) yang dirilis dalam konferensi pers pada akhir sidang paripurna ke-117 CBCP  di Manila, 9 Juli 2018.

Seruan pastoral, yang ditandatangani oleh presiden CBCP, Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles dengan judul, “Bersukacitalah dan bergembiralah!” itu menarik perhatian dalam “masa-masa sulit ini” di Filipina. Seruan itu mengajak umat Katolik berkomitmen untuk membuat perdamaian.

Para uskup mendesak umat beriman agar menjalankan hari doa dan pengakuan dosa tanggal 16 Juli 2018, pesta Santa Maria dari Gunung Karmel, “dengan memohon belas kasihan dan keadilan Allah bagi mereka yang telah menghujat Nama Suci Allah, mereka yang memfitnah dan memberikan kesaksian palsu, serta mereka yang melakukan pembunuhan atau membenarkan pembunuhan sebagai sarana untuk memerangi kriminalitas di negara kita.” Para uskup juga mengajak umat “berpuasa, berdoa dan melakukan kegiatan amal kasih selama tiga hari mulai 17 hingga 19 Juli 2018.”

Seruan itu tidak menyebut nama siapa pun tetapi menyinggung pernyataan-pernyataan mengejutkan yang dibuat oleh Presiden Rodrigo Duterte pada beberapa kesempatan. Hubungan Duterte dengan para uskup Katolik penuh gejolak. Para uskup mengkritik perang brutal presiden itu terhadap narkoba, dorongannya untuk mengembalikan hukuman mati dan bahasanya yang saru.

Duterte menuai kritik keras setelah menyebut Tuhan “bodoh” dalam sebuah pidato di kota Davao di bulan Juni. Pada kesempatan lain, hari Jumat 6 Juli 2018, presiden itu mengatakan akan mundur jika ada yang bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

Kepada “yang dengan angkuh menganggap diri mereka bijaksana dan menganggap iman Kristen itu omong kosong, yang menghujat Allah kita sebagai bodoh, Santo Paulus mengatakan: ‘Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia,’” kata para uskup.

Menjawab “orang-orang yang mengolok iman kita,” para uskup kembali mengutip Santo Paulus yang mengatakan bahwa Allah memilih yang bodoh untuk mempermalukan yang bijaksana dan yang lemah untuk memalukan yang kuat.

Dalam seruan pastoral itu, para uskup dari negara paling Katolik di Asia itu menyanggah tuduhan-tuduhan bahwa mereka “terlibat dalam gerakan-gerakan politik untuk mengacaukan pemerintah”. Mereka mengatakan, “Kami bukan pemimpin politik, dan tentu saja bukan lawan politik dari pemerintah.” Gereja, lanjut para uskup, menghormati otoritas politik yang terpilih selama mereka “tidak bertentangan dengan prinsip spiritual dan moral mendasar yang kita pegang teguh, seperti menghormati kesucian hidup, integritas ciptaan, dan martabat umat manusia.”

“Kalau kita berbicara tentang isu-isu tertentu,” kata para uskup, “itu selalu dari perspektif iman dan moral, terutama prinsip-prinsip keadilan sosial, tidak pernah memikirkan agenda politik atau ideologis.”

Seruan pastoral itu juga mengungkapkan  kegelisahan atas serangan terhadap personil gereja dan dimanfaatkan untuk menegaskan kembali panggilan dan misi Gereja untuk perdamaian dan untuk mengekspresikan solidaritas dengan orang miskin, orang-orang terlantar dan miskin, terutama pecandu narkoba yang diberi label sebagai “bukan-manusia” dan penjahat, serta para korban perang yang tidak bersalah dalam perang terhadap terhadap narkoba.

Duterte meraih kekuasaan dalam pemilihan presiden tahun 2016 dengan janji membunuh para penjahat dan mendesak orang untuk membunuh pecandu narkoba.

“Apakah kita akan tetap bertindak sebagai pengamat kalau mendengar orang-orang dibunuh dengan darah dingin oleh pembunuh kejam yang membuang kehidupan manusia seperti sampah?” tanya para uskup itu, seraya mengatakan untuk setiap tersangka narkoba yang tewas, seorang istri menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim.(pcp berdasarkan Vatican News dan CBCPNews)

Apakah bapa pengakuan terikat oleh rahasia?

Pen@ Katolik - Rab, 11/07/2018 - 22:43
Nigeria Catholic Blog

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

307. Siapa pelayan Sakramen (Rekonsiliasi)  ini?

Kristus telah mempercayakan pelayanan Rekonsiliasi ini kepada para Rasul-Nya, kepada para Uskup yang menjadi pengganti-pengganti para Rasul dan kepada para imam, rekan sekerja Uskup. Mereka ini menjadi alat kerahiman dan kebenaran Allah. Mereka melaksanakan kuasa pengampunan dosa atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1461-1466, 1495

308. Kepada siapa pengampunan dosa-dosa tertentu dikhususkan?

Pengampunan dosa-dosa berat tertentu (misalnya, yang dihukum dengan ekskomunikasi) dikhususkan kepada Takhta Suci atau kepada Uskup setempat atau Imam yang diberi kuasa khusus oleh Uskup. Tetapi, setiap Imam dapat memberikan pengampunan atas setiap dosa dan ekskomunikasi kepada orang yang berada dalam bahaya maut.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1463

309. Apakah bapa pengakuan terikat oleh rahasia?

Setiap bapa pengakuan, tanpa kecuali dan di bawah ancaman hukuman yang amat berat, terikat untuk memegang teguh ”meterai pengakuan” yang berarti kerahasiaan mutlak tentang dosa-dosa yang diungkapkan kepadanya dalam pengakuan karena keagungan pelayanan ini dan hormat yang harus diberikan kepada pribadi manusia.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1467

310. Apa buah Sakramen ini?

Buah Sakramen Tobat ialah: berdamai kembali dengan Allah karena itu juga berarti pengampunan dosa-dosa, dan berdamai kembali dengan Gereja; pemulihan keadaan rahmat jika keadaan itu sudah hilang karena dosa, penghapusan hukuman kekal karena dosa-dosa berat dan penghapusan, paling sedikit untuk sebagian, hukuman sementara sebagai akibat dosa. Sakramen ini juga memberikan kedamaian, ketenangan suara hati, penghiburan rohani, dan bertambahnya kekuatan rohani untuk berjuang dalam kehidupan Kristen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1468-1470, 1496

Berbagi Dengan Tulus

Sesawi.Net - Rab, 11/07/2018 - 21:06
DALAM SabdaNya pada hari ini, Yesus mengutus kita semua untuk mewartakan Injil dengan tulus, tanpa menuntut imbalan apapun. Sadari bahwa kita telah menerima kebaikanNya secara cuma-cuma, maka sudah selayaknya kita berbagi kepada sesama dengan cuma-cuma pula. Tidak hanya berupa materi, tapi juga non materi seperti perhatian, kehadiran, tenaga, waktu dan juga pengampunan. Janganlah jemu-jemu untuk […]

Kata Mutiara – Kamis 12 Juli 2018

Sesawi.Net - Rab, 11/07/2018 - 20:59
KEBAHAGIAAN tidak dihasilkan dari apa yang kita dapatkan, tetapi dari apa yang kita berikan. Ben Carson Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Renungan Harian, Kamis: 12 Juli 2018, Mat. 10:7-15

Mirifica.net - Rab, 11/07/2018 - 19:00
EKAN beriman terkasih, menjadi pengikut atau murid Yesus berarti dipanggil untuk diutus. Kualitas dalam menjalankan perutusan ditentukan oleh seberapa besar kesungguhan untuk belajar dan mendengarkan pengajaran dari-Nya. Hal itu ditentukan pula oleh seberapa dalam kedekatan kita dengan-Nya. Tugas pemberitaan paling pertama adalah “memberitakan Kerajaan Surga sudah dekat.” Tugas perutusan ini justru menyiratkan pesan bahwa kehadiran …

Pelita Hati: 12.07.2018 – Selalu Berbuat Baik

Sesawi.Net - Rab, 11/07/2018 - 18:00
Bacaan Matius 10:7-15 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. (Mat […]

Hari Orang Muda Sedunia 2019, Kamu Berkesempatan untuk Ikut dan Bertemu Paus. Bagini Caranya - Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)

Google News - Rab, 11/07/2018 - 16:59

Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)

Hari Orang Muda Sedunia 2019, Kamu Berkesempatan untuk Ikut dan Bertemu Paus. Bagini Caranya
Amorpost Berita Katolik (Siaran Pers) (Blog)
Orang muda Katolik dari Indonesia bisa hadir juga lho di acara itu. Hari Orang Muda Sedunia 2019 yang dijadwalkan pada 22-27 Januari 2019 tersebut akan dihadiri orang muda Katolik dari seluruh dunia. Jadi, kamu bisa mendapat kesempatan untuk ...

Uskup Timika: Imam Harus Beraroma Tungku Api

UCANews - Rab, 11/07/2018 - 16:10

Uskup Keuskupan Timika, Papua, Mgr Jhon Philipus Saklil Pr mengatakan imam di Papua secara khusus imam Diosesan (Projo) di Papua dan Papua Barat harus beraroma tungku api.

“Artinya seorang pastor Projo karena iman dan kasih, mewujudkan imannya itu sampai ke dapur umat,” kata Mgr. Jhon Saklil dalam khotbahnya pada perayaan Ekaristi pembukaan Temu Unio Regio (TUR) Papua di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika,  Papua, Senin.

Temu Unio Regio Papua ke-5 tahun 2018 merupakan agenda rutin dua tahunan para pastor Diosesan  yang berkarya di lima keuskupan yang ada di Papua dan Papua Barat.

Pertemuan kali ini, para imam disuguhkan tema Imam Beraroma Tungku Api, dengan sub tema, Imam Projo Papua bersama umat dalam semangat gerakan tungku api keluarga (Gertak) sebagai gerakan penyelamatan manusia dan alam Papua menuju Gereja yang solider dengan duka dan kecemasan manusia di tengah pluralisme.

“Menjadi pastor di Papua tidak gampang, sebab berhadapan dengan realitas umat yang tergerus akibat arus globalisasi yang mana dusun mereka habis dijual padahal itu adalah sumber hidup mereka, itu adalah tungku api mereka, tungku api keluarga,” ujarnya.

Untuk itu ia berharap agar melalui pertemuan semua imam Projo Regio Papua tersebut dapat menghasilkan gagasan-gagasan baru yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan pengembangan program tungku api yang diharapkan dapat dilaksanakan di keuskupan masing-masing sebagai sebuah gerakan bersama.

Pertemuan yang diagendakan digelar selama sepekan mulai Senin (9/7) – Senin (16/7) tersebut juga mengagendakan kegiatan “live in” masing-masing pastor Projo yang hadir bersama dengan keluarga-keluarga umat Katolik di kampung-kampung.

Kegiatan tersebut bertujuan agar para imam dapat menyelami secara langsung duka dan kecemasan umat sehingga mampu mewujudkan Gereja yang solider melalui gerakan tungku api keluarga.

Jeremias Rahadat, Timika, Papua

“Perburuan” Dimulai Setelah Penahanan Biarawati MC di India 

UCANews - Rab, 11/07/2018 - 15:51

Sejumlah tokoh Kristiani mengatakan pemerintah yang pro-Hindu di Negara Bagian Jharkhand, India, telah memulai perburuan terhadap lembaga-lembaga Kristiani beberapa hari setelah polisi menahan seorang biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih (MC) yang dituduh melakukan perdagangan anak.

Para pejabat pemerintah yang dipimpin oleh Bharatiya Janatha Party (BJP) tengah melakukan pencarian di lembaga-lembaga Kristiani khususnya panti yang dikelola oleh Kongregasi MC di Ranchi, ibukota negara bagian itu, dan kota-kota lainnya seperti Jamshedpur dan Gumla.

“Pemerintah tengah menargetkan lembaga-lembaga kami untuk memfitnah kami,” kata Uskup Auksilier Ranchi Mgr Telesphore Bilung.

Pencarian dan penyelidikan dimulai setelah Suster Concilia MC yang mengelola sebuah panti untuk para ibu yang tidak menikah di Ranchi dijebloskan ke penjara selama 14 hari pada Kamis (5/7) lalu.

“Kami mendapat laporan dari berbagai wilayah di negara bagian ini tentang pencarian yang dilakukan pemerintah itu. Melalui operasi pencarian ini, pemerintah tengah berupaya membuktikan bahwa umat Kristiani dan lembaga mereka terlibat dalam aktivitas ilegal,” kata prelatus itu.

Suster Concilia adalah kepala panti Nirmal Hriday (hati yang lembut). Ia ditangkap bersama seorang karyawan setelah muncul keluhan bahwa karyawan tersebut meminta uang kepada sepasang suami-isteri yang tidak memiliki anak untuk seorang bayi. Namun karyawan itu tidak menepati janjinya.

Para pejabat pemerintah juga merazia sebuah panti MC lainnya yakni Nirmala Shishubhavan (rumah untuk anak-anak murni) dan memindahkan 22 anak ke sebuah fasilitas pemerintah, kata Pastor Peter Martin.

Pastor Martin adalah seorang pengacara yang memberi bantuan hukum kepada para biarawati MC.

Selain itu, pemerintah juga memindahkan 13 ibu yang tidak menikah dari Nirmal Hriday ke panti-panti yang dikelola pemerintah, lanjut imam itu.

Pastor Martin mengatakan tindakan pemerintah itu ilegal dan para pejabat Gereja berencana mengunjungi Pengadilan Tinggi untuk meminta petunjuk untuk “mengakhiri praktek ilegal dan tekanan semacam itu” terhadap komunitas Kristiani.

Abhraham Mathai, ketua Suara Kristen India, mengatakan kepada ucanews.com bahwa pengadilan hendaknya memperhatikan apa yang sedang terjadi di Jharkhand.

Mantan wakil ketua Komisi Minoritas Negara Bagian Maharashtra itu mengatakan faktanya adalah para biarawati MC telah berhenti memberi bayi untuk adopsi sejak 2015 setelah mereka tidak sepakat tentang prinsip-prinsip dalam peraturan pemerintah yang membolehkan seorang individu, pasangan suami-isteri yang sudah bercerai dan pasangan suami-isteri yang berpisah untuk mengadopsi anak.

“Menuduh para biarawati melakukan perdagangan anak itu sangat konyol, tidak beralasan dan tidak masuk akal,” katanya.

Ia meminta pengadilan untuk berhenti mengorbankan para biarawati, sebuah hal yang “dimotori oleh motif jahat untuk memfitnah karya mengagumkan dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih dan memberi kesan buruk bagi kongregasi ini baik di dalam maupun di luar negeri.”

Mathai mengatakan kelompok-kelompok Hindu sebelumnya berusaha menuduh para biarawati MC terlibat dalam aktivitas Kristenisasi. Namun upaya itu gagal.

“Tidak mengejutkan bahwa elemen-elemen jahat itu muncul kembali untuk menangkap para biarawati atas tuduhan yang meragukan,” lanjutnya.

Juru bicara Kongregasi MC, Sunita Kumar, mengatakan karya Kongregasi MC yang didirikan oleh Santa Teresa dari Kolkata pada 1950 itu “ada di depan publik.”

Seraya menyambut baik investigasi yang dilakukan oleh pemerintah, ia mengatakan kepada ucanews.com: “Kami tidak menyembunyikan apa pun.”

Kongregasi MC berkomitmen untuk melayani “termiskin dari yang miskin” dan memiliki 5.000 biarawati di lebih dari 770 panti – 243 di antaranya di India. Mereka mengelola panti untuk orang miskin dan sekarat serta tempat penampungan untuk para ibu yang tidak menikah dan yatim piatu.

Para tokoh Kristiani mengatakan sejak pemerintahan BJP berkuasa pada 2014, komunitas mereka mengalami kekerasan dan tekanan di tangan kelompok-kelompok Hindu yang semakin gencar melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan mereka yakni menjadikan India sebagai negara Hindu.

Jharkhand memiliki sekitar 1 juta umat Kristiani, hampir semuanya masyarakat adat. Total jumlah penduduk negara bagian ini adalah 32 juta orang. Sekitar 4,3 persen jumlah penduduk Kristiani ini hampir dua kali lipat dari data nasional.

 

Orang Asia Pertama Memimpin Kongregasi Suster Assumpta

UCANews - Rab, 11/07/2018 - 14:44

Suster Rekha Chennattu dari Kongregasi Suster-suster Assumpta, adalah orang Asia pertama yang terpilih  memimpin kongregasi yang berbasis di Paris itu,  mengatakan prioritasnya ialah melayani orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat.

Suster Chennattu, dari India, terpilih sebagai pemimpin umum Kongregasi Suster-suster Assumpta pada  5 Juli yang diadakan di Lourdes, Prancis.

“Itu bukan pilihan saya dan saya pikir itu adalah pilihan Tuhan,” kata Suster Chennattu, seorang profesor Kitab Suci  dan seorang peserta Sinode Para Uskup tentang Evangelisasi Baru di Vatikan.

Berfokus pada orang-orang terlantar akan menjadi “tanda identitas” kongregasinya selama enam tahun ke depan selama  masa kepemimpinannya, kata Suster Chennattu kepada ucanews.com.

“Sepanjang hidupku, aku menemukan pilihan Tuhan untukku selalu lebih baik daripada pilihanku,” kata biarawati itu.

Dia adalah anggota komisi Teologi dari Federasi Konferensi-konferensi Waligereja  Asia (FABC) dan seorang anggota staf pengajar di Jnana-Deepa Vidyapeeth, yang merupakan sebuah lembaga filsafat dan teologi milik kepausan yang berbasis di Pune, India.

Kongregasi Assumpta ididirikan  tahun 1839 di Prancis oleh Santa Marie-Eugenie de Jesus dan sekarang memiliki anggota di lebih dari 40 negara yang melayani di 33 negara di Amerika, Asia, Afrika dan Eropa. Di India, mereka memiliki komunitas di sejumlah negara bagian – Kerala, Maharashtra, Bihar dan Jharkhand.

Suster Chennattu, yang merupakan anggota Gereja Syro-Malabar yang berbasis di Kerala, mengatakan bahwa dia akan benar-benar berkomitmen untuk peran barunya dan mengandalkan dukungan para suster di seluruh dunia.

Suster Chennattu mengatakan mereka akan mendedikasikan diri untuk membantu orang-orang seperti para migran, tunawisma, dan Dalit,  yang sebelumnya dikenal sebagai “orang-orang yang tak tersentuh”.

Ini adalah prinsip panduan untuk bekerja pada “batas-batas dalam pelayanan kehidupan.”

Sebuah pernyataan dari Kongregasi Assumpta  mengatakan bahwa kapitel umum menantikan periode anugerah dan kelahiran kembali.

 

Nyawa Jurnalis di Sri Lanka Terancam

UCANews - Rab, 11/07/2018 - 14:31

Beberapa kelompok pemerhati media di Sri Lanka mengecam upaya intimidasi terhadap sejumlah jurnalis lokal yang terlibat dalam sebuah investigasi The New York Times terkait pembangunan pelabuhan secara masif yang dibiayai oleh Cina.

Mereka meminta para rekanan mantan Presiden Mahinda Rajapaksa untuk berhenti menyerang dua jurnalis lokal – Dharisha Bastians dan Arthur Wamanan – yang membantu surat kabar milik Amerika Serikat tersebut.

Bastians dan Wamanan dituduh bertindak atas nama pemerintah saat ini untuk memfitnah Rajapaksa, seorang pengacara yang pernah menjabat sebagai presiden untuk periode 2005-2015.

Sebuah kampanye di Facebook dan Twitter yang menuduh Bastians dan Wamanan melakukan bias politik muncul setelah berita itu dipublikasikan pada 26 Juni lalu. Dan pada sebuah konferensi pers, foto close-up dari Bastians diperlihatkan.

Hal ini dilihat sebagai ancaman karena ketika Rajapaksa menjabat sebagai presiden dan mengekang kebebasan media, 11 jurnalis dibunuh dan beberapa lainnya dipukul.

Koresponden The New York Times untuk Asia Selatan yang berbasis di New Delhi, Maria Abi Habib, menulis berita yang telah menimbulkan kontroversi di Sri Lanka itu.

Berita itu berisi pinjaman senilai 1 miliar dolar Amerika Serikat dari Cina oleh pemerintahan yang dipimpin oleh Rajapaksa untuk membangun Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka bagian selatan. Pembangunan pelabuhan itu sendiri gagal menarik para pengusaha dan sebaliknya memberi Beijing sebuah pijakan strategis dekat dengan pesaingnya, India.

Dan berita yang merujuk pada investigasi resmi yang masih berjalan atas dugaan pembayaran oleh China Harbor Engineering Co. milik Cina kepada masyarakat disebut berkaitan dengan kegagalan Rajapaksa dalam kampanyenya pada 2015.

Aravinda Dilruk, seorang jurnalis senior, mengatakan kritik apa pun terhadap keterlibatan Bastians dan Wamanan hendaknya memiliki landasan faktual dan bukan sekedar mempertanyakan motif mereka.

Ketua Free Media Association Cabang Asia Selatan di Sri Lanka, Lakshman Gunasekera, mengkhawatirkan keselamatan Bastians dan Wamanan.

“Penyebutan nama dan upaya untuk mempermalukan kedua jurnalis Sri Lanka ini sangat membahayakan dan mengkhawatirkan karena ini dilakukan oleh orang-orang yang sama yang melakukan hal yang sama sebelumnya saat mereka masih berkuasa,” katanya.

“Saat rezim mereka, kami – para jurnalis – melewati sebuah masa di mana penyebutan nama secara langsung seperti itu dan penargetan para jurnalis bisa berakhir dengan serangan fisik, lemparan granat ke rumah, penghilangan, pembunuhan dan pembantaian,” lanjutnya.

Free Media Movement (FMM) di Sri Lanka juga mengeluhkan ancaman terhadap keselamatan Bastians dan Wamanan.

Lasantha Ruhunage, ketua Asosiasi Pekerja Media Sri Lanka, mengatakan ada banyak cara untuk menanggapi berita media termasuk proses hukum.

Rajapaksa telah menyampaikan bantahan secara publik bahwa ia menerima dana kampanye.

Michael Slackman, editor internasional The New York Times, mengatakan pada 3 Juli bahwa jika Rajapaksa mempersoalkan laporan media itu, ia hendaknya menghubungi para editor seniornya.

“The Times berharap otoritas Sri Lanka menjamin keselamatan para jurnalis yang bekerja bagi organisasi media kami atau lainnya,” katanya.

 

Indonesia Butuh Generasi Muda yang Kaya Konsep - tajuktimur.com (Siaran Pers)

Google News - Rab, 11/07/2018 - 13:21

tajuktimur.com (Siaran Pers)

Indonesia Butuh Generasi Muda yang Kaya Konsep
tajuktimur.com (Siaran Pers)
Hal itu disampaikan Mensos saat memberikan kuliah umum pada Rapat Kerja Nasional IX dan studium generale Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Di hadapan para mahasiswa, Mensos yang juga pernah menjadi aktivis ...

Google News

Para Misionaris Imam Praja Belanda, Pembuka Jalan Kekatolikkan 'Kembali' di Indonesia - Tribun Manado

Google News - Rab, 11/07/2018 - 11:47

Tribun Manado

Para Misionaris Imam Praja Belanda, Pembuka Jalan Kekatolikkan 'Kembali' di Indonesia
Tribun Manado
Laporan Wartawan Tribun Manado, David Manewus. TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Gereja Katolik Keuskupan Manado akan merayakan 150 tahun masuknya kembali Gereja Katolik di wilayah keuskupan Manado. Semua tidak lepas dari kedatangan ...

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator