Berita dan Event

Paroki Bongsari lebih dulu menghidupkan hidup iman Katoliknya baru bangunannya

Pen@ Katolik - Sab, 15/09/2018 - 15:54
Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ menjelaskan perihal pengakuan dosa kepada mahasiswa dan mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT

“Gereja Santa Theresia Bongsari sudah 50 tahun dimekarkan dari Katedral Semarang. Tapi, kehidupan iman umat terjadi jauh sebelumnya. Kami lebih menghidupkan hidup iman Katolik baru bangunannya. Komunitas dibangun lebih dulu daripada bangunan gereja fisiknya.”

Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ mengatakan hal itu kepada para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus saat mereka melakukan Praktik Profesi Lapangan (PPL) di gereja itu, 14 September 2018.

Pastor Didik mengakui, gereja itu sering jadi tempat kegiatan lintas iman dan sudah didatangi berbagai kelompok. Terkait budaya, jelas imam itu, “umat Paroki Bongsari hidup dalam tradisi Jawa yang sangat diwarnai keterbukaan terhadap berbagai kelompok, tepa selira. Maka, kehidupan umat Bongsari sama seperti kehidupan masyarakat di sekitar Semarang. Agama itu alat bantu untuk hidup bersama orang lain,” kata aktivis gerakan dialog lintas agama itu.

Berbagai kegiatan yang pernah digelar bersama masyarakat lintas agama di gereja itu antara lain tebar benih ikan, menanam bakau, berbagi sembako, dialog kebangsaan, maupun pentas seni. “Kita sangat menyatu dengan masyarakat sekitar maupun kota Semarang.”

Umat Bongsari terbiasa hidup dalam masyarakat umum, tak hanya dalam lingkungan Gereja. “Mereka aktif dalam RT, RW, dan kelurahan. Banyak jadi panitia HUT Kemerdekaan RI dan tak sedikit aktif dalam kegiatan olahraga. Maka, tak jarang halaman gereja ini dipakai untuk berbagai kegiatan. “Ini yang membuat Gereja Katolik sangat diterima,” kata Pastor Didik.

Pastor Didik menjelaskan kepada para mahasiswa yang diantar oleh Ketua II Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang, Yoseph Edy Riyanto, bahwa kegiatan Gereja Bongsari sebisa mungkin melibatkan warga sekitar. “Kami tak punya intensi lain kecuali masyarakat juga mengalami kegembiraan,” kata imam itu. Gereja itu selalu libatkan masyarakat lintas agama dalam kegiatan sosial, karena “kita orang Katolik Indonesia dengan budaya sama, bukan orang asing,” kata imam itu.

Jelasnya, lanjut Pastor Didik, Gereja tidak melulu menghidupi kehidupan ritual ibadah, tapi juga pewartaan bagi umatnya, persekutuan dalam aneka paguyuban Gereja, dan pelayanan bagi yang membutuhkan. “Hidup Gereja tak hanya ibadat tapi menyentuh semua kehidupan,” lanjut imam itu seraya menjelaskan bahwa Gereja aktif dalam masyarakat lewat Komisi Kemasyarakatan dan mendorong umat untuk mandiri secara ekonomi lewat Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi.

Menjawab pertanyaan seorang mahasiswi tentang cara Gereja Katolik menjalin kerukunan dengan umat Kristen non-Katolik, Pastor Didik menjelaskan, selama ini Gereja Katolik aktif dalam dialog lintas gereja dalam gerakan ekumene. “Kami jalin komunikasi dan kerukunan umat kristiani dalam gerakan ekumene misalnya Natal Bersama, Paskah Bersama, dan Pekan Doa se-Dunia. Mewujudkan kerukunan juga butuh perjuangan. Doa dan ibadatnya dibicarakan bersama. Kami tidak saling memaksakan tradisi masing-masing,” kata imam itu.

Peserta lain bertanya tentang pendidikan imam dan suster. “Untuk jadi imam, ada pendidikan cukup panjang, ada yang mulai setingkat sekolah menengah, dan setelah menjadi imam ada yang harus menempuh pendidikan lanjut. Selain berkarya di gereja, ada imam yang berkarya di sekolah, kampus dan tempat karya lain yang dihidupi lembaga hidup baktinya.”

Menjawab tentang pendidikan biarawati, Suster Virgo PI menjelaskan, untuk menjadi suster, seorang harus melalui masa aspiran, postulat, novisiat, yuniorat, hingga kaul kekal. “Para suster juga aktif dalam berbagai bidang karya yang dihidupi kongregasinya, misalnya sekolah, balai pengobatan, rumah jompo, panti asuhan maupun pemberdayaan ekonomi melalui credit union,” jelas suster.

Usai berdialog para mahasiswa diantar oleh Pastor Didik mengunjungi gereja untuk melihat properti dalam gereja misalnya air suci, altar, dan ruang pengakuan dosa. Peserta pun menyimak perihal pengakuan dosa dalam tradisi Gereja Katolik. (Lukas Awi Tristanto)

Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ bersama mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus. Foto PEN@ Katolik/LAT Para mahasiswa-mahasiswi IAIN Kudus yang diantar oleh Ketua II FKUB Kota Semarang, Yoseph Edy Riyanto bergambar bersama Kepala Paroki Bongsari Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ di depan Gereja Bongsari. PEN@ Katolik/LAT

Dialog Kebangsaan di Kalbar, Ma'ruf Amin: Pancasila Tak Bisa Diganti - Detikcom (Siaran Pers)

Google News - Sab, 15/09/2018 - 15:50

Detikcom (Siaran Pers)

Dialog Kebangsaan di Kalbar, Ma'ruf Amin: Pancasila Tak Bisa Diganti
Detikcom (Siaran Pers)
... oleh akademis Jipridin. Acara ini diikuti sejumlah organisasi pemuda, dari KAHMI, PMII, pemuda Katolik, hingga mahasiswa Katolik. ... Ma'ruf Amin mengajak semua hadirin bersyukur karena Indonesia memiliki landasan ideologi Pancasila. Menurutnya ...
Di Kalbar, Kiai Ma'ruf Disambut Masyarakat Dayak dan MaduraRepublika Online
Di Kalbar, KMA Disambut Masyarakat Dayak dan Umat Lintas AgamaSINDOnews.com (Siaran Pers)

all 13 news articles »

Gereja Katedral Sanggau: Empat Kali Terjadi Pembangunan Gereja (2)

Sesawi.Net - Sab, 15/09/2018 - 14:13
SEJARAH mencatat bahwa terjadi empat kali pembangunan gedung gereja di Sanggau. Dan berikut ini adalah catatan kenangan historisnya. Pertama, Gereja Paroki Sanggau yang pertama ini pada awalnya hanya dibangun seadanya.  Bangunan pertama terjadi di tahun 1928. Dibuat ‘seadanya’, karena keterbatasan biaya. Akibatnya, bangunan gereja ‘edisi pertama’ itu juga tidak mampu bertahan lama. Kedua, itulah sebabnya, […]

Gereja Katedral Sanggau: Semula Mungil sebagai Gereja Paroki, Kini Besar dan Gagah (1)

Sesawi.Net - Sab, 15/09/2018 - 13:51
DULU sekali, gedung Gereja Hati Kudus Yesus – Paroki Katedral Sanggau di Keuskupan Sanggau, Kalbar, sungguh amat kecil.  Gereja Katedral Sanggau itu hanya mampu menampung kapasitas umat paling banyak 500-an orang. Kini, setelah gedung bangunan gereja lama dirobohkan dan kemudian muncul bangunan gedung Gereja Katedral Sanggau yang baru, kapasitas muatnya menjadi empat kali lipat:  2.000-an […]

St. Perawan Maria Bunda Berdukacita

Sesawi.Net - Sab, 15/09/2018 - 11:09
SATU hari sesudah pesta Salib Suci, Gereja memperingati St. Perawan Maria Bunda Berdukacita. Kita mungkin tak bisa membayangkan betapa dukacita yang dialami Bunda Maria. Putera terkasih yang dikandung, dilahirkan dan dibesarkannya menderita secara tragis di salib. Di bawah kaki salib puteranya, Bunda Maria menjadi ‘martir’ tanpa menumpahkan darah. Di dalam perjalanan salib dan di bawah kaki […]

SMP Santa Maria Berdoa Bersama untuk Indonesia - Riau Pos (Siaran Pers)

Google News - Sab, 15/09/2018 - 10:16

Riau Pos (Siaran Pers)

SMP Santa Maria Berdoa Bersama untuk Indonesia
Riau Pos (Siaran Pers)
Doa dilakukan oleh peserta didik yang mewakili lima agama di Indonesia, yaitu Budha, Islam, Kristen Protestan, Hindu, dan Katolik. Dalam doa ini, seluruh civitas akademika SMP Santa Maria diajak untuk bersama-sama mendoakan perdamaian dan ...

Google News

Bagaimana Gereja mendukung kehidupan moral seorang Kristen?

Pen@ Katolik - Sab, 15/09/2018 - 01:04
Foto dari grade12religionisu.weebly.com

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

429. Bagaimana Gereja mendukung kehidupan moral seorang Kristen?

Gereja adalah komunitas tempat orang-orang Kristen menerima Sabda Allah, pengajaran ”Hukum Kristus” (Gal 6:2), dan rahmat Sakramen-Sakramen. Mereka dipersatukan dengan kurban Ekaristi Kristus sedemikian sehingga kehidupan moral mereka merupakan suatu ibadah rohani, dan mereka belajar teladan kesucian dari Perawan Maria dan dari kehidupan santo-santa.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2030-2031, 2047

430. Mengapa Kuasa Mengajar Gereja berkenaan dengan bidang moral?

Sudah menjadi tugas Kuasa Mengajar Gereja untuk mewartakan iman agar dipercaya dan dipraktekkan dalam kehidupan. Tugas ini bahkan meluas pada perintah-perintah khusus hukum kodrati karena menaati hal ini perlu untuk keselamatan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 2032-2040, 2049-2051

Suster Cristina, pemenang “The Voice” Italia 2014, mengagumi keberagaman di Indonesia

Pen@ Katolik - Jum, 14/09/2018 - 23:55
Foto PEN@ Katolik/Konradus Mangu

“Orang muda Katolik dipanggil untuk terlibat dan tidak perlu merasa takut dengan adanya keberagaman di tengah masyarakat,” kata Suster Cristina OSU, pemenang “The Voice” Italia 2014, seraya memuji dan mengagumi keberagaman yang dimiliki masyarakat Indonesia sehingga terlihat damai dan rukun, serta memuji Panitia JOYFest (Jakarta Catholic Youth Festival) 2018 yang memilih tema relevan tentang keberagaman di Indonesia.

Suster Cristina Scuccia OSU dari Italia itu berbicara dalam konferensi pers bersama penyanyi asal Amerika Matt Maher dalam kegiatan JOYFest 2018 di gedung ICE BSD Tangerang, 11 September 2018.

Menyinggung tentang keberagaman di negaranya, suster itu menegaskan bahwa orang merasa ketakutan tentang keberagaman , “karena itu sulit untuk dipersatukan.”

Beberapa hari sebelumnya, cerita Suster Cristina, dia diundang makan malam bersama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Subharyo dan para imam. Saat itu, tegasnya, dia merasa sangat takjub melihat Katedral Jakarta berdiri berhadapan langsung dengan Mesjid Besar Istiqlal Jakarta. “Saya melihat itu dan saya sangat takjub akan masyarakat yang damai dan rukun di negara ini,” kata Suster Cristina.

Menjawab pertanyaan pers tentang fenomena kurang aktifnya OMK di sejumlah negara, suster itu melihatnya sebagai gejala atau fenomena umum dan suster itu berharap kehadirannya di Indonesia bisa mengajak OMK Indonesia dengan semangatnya bersama-sama membangun Gereja dan memuliakan nama Tuhan.

“Keterlibatan saya dalam musik ingin mengajak OMK untuk ambil bagian dalam membangun negara ini sesuai potensi yang dimiliki,” kata Suster Cristina dalam bahasa Italia yang diterjemahkan oleh Agatha Lidya Nathania.

Suster Cristina mengatakan, dia pernah bertugas di Brasil selama dua tahun. “Di sana kegiatan Ekaristi hari Minggu seperti sebuah pesta meriah, tapi setelah kembali ke Italia pengalaman ber-Ekaristi penuh semangat itu tidak ditemukan. Misa di Italia kurang dihadiri orang muda,” tegasnya.

Setiap kali bangun pagi, “saya selalu berdoa untuk kaum muda sekiranya mereka tergerak untuk aktif dalam kegiatan Gereja,” kata suster itu seraya mengaku bahwa lewat musik dia mau mengajak kaum muda untuk tidak putus asa, “tapi bersama-sama membangun dunia ini, membangun Gereja.

Menurut Matt Maher, di Amerika dia bermain musik dengan bekerjasama dengan berbagai pihak, bukan hanya Katolik tapi di non-Katolik, misalnya gereja-gereja denominasi Kristen, “karena mereka memiliki kerinduan untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan.”

Ketua Umum JOYFest 2018 menjelaskan, kegiatan itu sesungguhnya seperti yang dilakukan tahun lalu di Glodok Kemayoran dengan tema keluarga, “sedangkan tahun ini kegiatan ini difokuskan hanya untuk kaum muda.”

Dalam kegiatan itu ada juga stand dari 17 kelompok kategorial di KAJ, “yang mengajak kaum muda untuk terlibat dalam komunitas kategorial sesuai dengan minat atau kesukaannya,” jelasnya.

Kegiatan lain adalah seminar dengan berbagai narasumber, misalnya Menteri ESDM Ignatius Jonan. Seminar-seminar itu dilakukan secara parallel dengan melibatkan sekitar 22 narasumber dengan aneka topik mencakup relasi, karir dan iman.

Vikep KAJ Pastor Andang Binawan SJ dalam homili Misa pembukaan mengajak OMK untuk selalu membuka diri dan mendengarkan sapaan Tuhan apalah memilih menjadi pelayan Tuhan atau melayani dalam bidang hidup berkeluarga.

Puncak kegiatan menampilkan Suster Cristina dan Matt Maher dan timnya. Sebanyak sembilan 9 lagu dinyanyikan oleh Suster Cristina sambil menceritakan perjalanannya menjadi penyanyi hingga terkenal saat ini. Ia mengaku mengalami tantangan “tapi Tuhan Yesus adalah pelindungku.” (PEN@ Katolik Konradus R Mangu)

Suster Cristina dan Matt Maher dalam Konferensi Pers. PEN@ Katolik/Kontradus Mangu Suasana seminar. Foto Jansi Kuntag Suasana Seminar. Foto Jansi Kuntag Suasana panggung. Foto Jansi Kuntag

Kita Doakan Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap di ICU RS St. Elisabeth Medan

Sesawi.Net - Jum, 14/09/2018 - 23:02
USKUP Keuskupan Sibolga Mgr. Ludovikus Simanullang OFMCap tengah kritis dan kini dirawat di ICU RS St. Elisabeth Medan dengan bantuan alat pernafasan (ventilator). Demikian keterangan internal di kalangan rohaniwan-rohaniwati di Medan menjawab Sesawi.Net, Jumat (14/9) jelang tengah malam ini. Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCCap beberapa waktu lalu baru saja menjalani operasi pengangkatan batu empedu. Beberapa hari […]

Para Salesian Muda di Malawi, Zimbabwe dan Zambia, persiapkan diri untuk Sinode

Pen@ Katolik - Jum, 14/09/2018 - 22:54
Beberapa Salesian muda dari Zambia, Malawi, Zimbabwe yang mengikuti reli. Foto Vatican Media

Lebih dari 800 orang muda dari paroki-paroki dan sekolah-sekolah yang dijalankan oleh Ordo Salesian Don Bosco di Malawi, Zimbabwe dan tuan rumah Zambia mengikuti reli orang muda Katolik (OMK) selama seminggu di Keuskupan Mansa. Mereka diundang menghadiri reli itu untuk menyadarkan mereka tentang Sinode yang akan datang untuk OMK yang akan diadakan di Vatikan, bulan depan.

Koordinator Orang Muda Nasional dari Konferensi Waligereja Zambia yang juga Koordinator Orang Muda Provinsial Suster-Suster Salesian, Suster Chanda Nsofwa FMA, dan Delegasi Orang Muda untuk Zambia, Malawi, Zimbabwe dan Provinsi Namibia Pastor Christopher Kunda SDB, menyatakan puas dengan hasil acara itu dan tingkat kesadaran yang tercipta.

“Reli Orang Muda yang diselenggarakan oleh Keluarga Salesian menarik lebih dari 800 orang muda dari Zambia, Malawi dan Zimbabwe dengan tujuan untuk menyadarkan mereka akan Sinode Orang Muda mendatang yang akan berlangsung bulan Oktober tahun ini,” kata mereka, seperti dilaporkan oleh Mwenya Mukuka dari Lusaka, Zambia, untuk Vatican Media.

Selama acara itu, OMK bisa mengajukan pertanyaan dan mencari klarifikasi tentang Sinode itu, dan diberi kesempatan mengekspresikan diri serta mengajukan pertanyaan tentang topik, ‘Orang muda di dunia saat ini, discernment panggilan, dan pilihan kehidupan.’

Pusat pertemuan itu adalah saat-saat doa, yang diajarkan dengan baik sepanjang hari. Ada juga Ziarah Orang Muda ke Katedral Maria Diangkat ke Surga Mans, Zambia, dan jalan-jalan ke Danau Bangweulu di Distrik Samfya tempat Misa penutupan dirayakan.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Melihat Tuhan dari Perempuan Berkebaya dan Berjarit

Sesawi.Net - Jum, 14/09/2018 - 22:45
MATAHARI belum begitu menyengat, suasana pagi juga belum begitu ramai. Di sela lalu-lalang kendaraan tampak sosok para ibu atau simbah yang berkebaya dan berjarit. Ada yang sedang ngobrol dengan tukang becak, ada yang menunggu bus kota, dan ada yang cuma berdiri saja, mungkin karena menanti jemputan dari keluarga. Kira-kira begitulah suasana yang saya alami puluhan […]

Puncta 15.09.18. PW Santa Maria Berduka cita, Lukas 2:33-35

Sesawi.Net - Jum, 14/09/2018 - 22:27
MARIA  Dolorosa atau Maria berdukacita mengapa kita rayakan? Bukankah yang kita pestakan semestinya peristiwa-peristiwa yang membahagiakan? Ada 7 dukacita Maria yang dicatat dalam Kitab Suci. Namun senyatanya seluruh hidup Maria diliputi dukacita. Simeon meramalkan dukacita Maria. Mengungsi ke Mesir. Yesus hilang di Bait Suci. Berjumpa Yesus di jalan salibNya. Yesus wafat di kayu salib. Pieta, […]

Museum Misi Keuskupan Manado Diberkati 3 Uskup - Tribun Manado

Google News - Jum, 14/09/2018 - 22:03

Tribun Manado

Museum Misi Keuskupan Manado Diberkati 3 Uskup
Tribun Manado
Sementara Uskup Rolly dan Uskup Suwatan memberkati bagian bawah. Tampak di situ, salib-salib pertemuan Orang Muda Katolik se-Indonesia atau Indonesian Youth Day (IYD) 2016. Juga beberapa relief sejarah lainnya. Semua masih dikembangkan.

and more »

Renungan Harian, Sabtu: 15 September 2018, Yoh. 19:25-27

Mirifica.net - Jum, 14/09/2018 - 19:00
ENDERITAAN acap digunakan sebagai alasan mengapa manusia mengeluh pada Tuhan. Iman manusia pun mudah digoyahkan di hadapan pengalaman buruk. Apalagi jika hal itu dialami oleh orang-orang baik. Pengkotbah mengatakan, ” ada orang-orang benar yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar.” …

Pelita Hati: 15.09.2018 – Tetap Setia di dalam Duka

Sesawi.Net - Jum, 14/09/2018 - 17:00
Yohanes 19:25-27 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. SAHABAT pelita hati, Hari ini kita […]

Percik Firman: Salib Suci Kristus

Sesawi.Net - Jum, 14/09/2018 - 16:49
DI gereja inilah dulu Kaisar Konstantinus dibaptis. Letaknya di antara Basilika Yohanes Lateran dengan Universitas Kepausan Lateran, Roma. Pada zaman Kaisar Konstantinus Agama Kristen menjaga agama resmi negara di Kekaisaran Romawi sekitar tahun 312/313. Pada tanggal 14 September Gereja merayakan pesta Salib Suci. Penemuan Salib Tuhan ini dikaitkan dengan penemuannya oleh Santa Helena, ibunda Kaisar […]

Dua Perguruan Tinggi Katolik di Filipina Bantu Anak-Anak Terlantar

UCANews - Jum, 14/09/2018 - 15:53

Anak-anak dari warga suku yang terlantar dari Filipina bagian selatan telah menemukan suaka di dua perguruan tinggi Katolik ternama.

Universitas Santo Tomas di Manila dan Universitas San Jose Recolatos di Cebu mengatakan mereka akan memastikan bahwa sekitar 100 anak yang terlantar akibat operasi anti-pemberontakan akan mendapat akomodasi dan pendidikan.

Pastor Pablo Tiong OP, wakil rektor Universitas Santo Tomas, mengatakan Gereja “memahami penderitaan para pelajar dari warga suku” yang pendidikannya terganggu oleh perang.

Sekitar 60 pelajar dari warga suku di wilayah bagian selatan Mindanao akan tinggal di seminari yang dikelola oleh Ordo Dominikan di Manila sambil menempuh studi di perguruan tinggi tersebut.

Pastor Tiong mengatakan perguruan tinggi itu selalu terbuka untuk warga suku.

Di Kota Cebu, Filipina bagian tengah, sekitar 32 anak dari warga suku tinggal di Kampus Augustinian Recollects di Universitas San Jose Recoletos.

Uskup Agung Cebu Mgr Jose Palma menyerahkan anak-anak itu kepada kongregasi religius karena ia merasa sedih atas “pelanggaran dan kekerasan” yang dialami oleh warga suku di Mindanao.

Prelatus itu mengatakan situasi mereka “hendaknya menjadi keprihatinan bukan hanya bagi para misionaris kita yang berkarya di desa-desa di wilayah pegunungan … tetapi hendaknya juga menjadi keprihatinan kita.”

Uskup Agung Palma mengatakan melayani warga suku adalah “respon umat Katolik terhadap ajakan Paus Fransiskus kita yang terkasih untuk memperhatikan Saudara dan Saudari kita dalam masyarakat.”

Para dosen relawan dari kedua perguruan tinggi tersebut akan melayani anak-anak itu.

Bruder Takoy Kakosalem mengatakan modul kuliah akan mengikuti “kurikulum adat” dan “sesi psikologi” akan dimasukkan untuk membantu anak-anak mengatasi trauma akibat konflik.

“Anak-anak ini dan keluarga mereka saat ini terlantar. Mereka meninggalkan komunitas mereka untuk mencari keselamatan karena konflik bersenjata di Mindanao,” kata Jong Monzon dari Jaringan Selamatkan Sekolah Kita.

Organisasi itu mencatat sekitar 57 sekolah warga suku terpaksa ditutup karena kahadiran tentara di tengah komunitas warga suku.

 

Piya Macliing Malayao, sekjen Katribu atau kelompok warga suku, mengatakan pemberlakuan darurat militer di Mindanao telah menciptakan semakin banyak gangguan terhadap komunitas warga suku dan juga sekolah warga suku,

 

Menurut Katribu, 26.000 warga suku termasuk sekitar 3.000 anak sekolah terdampak oleh konflik itu sejak 2016.

 

 

Ketika Seni Membuat Patung Pianggap Perbuatan Dosa

UCANews - Jum, 14/09/2018 - 15:40

Seorang awam  Katolik Yaqoob Masih merupakan tokoh kontroversial dan penentang di antara banyak tokoh  Kristen di provinsi Punjab karena patung-patung yang dibuatnya.

Bersama keluarganya, pria berusia 53 tahun ini telah membuat aneka patung religi selama empat dekade terakhir ini di Warispura, pinggiran kota Kristen –  Faisalabad, Punjab.

Karya-karyanya laku terjual seperti kacang goreng di empat toko buku yang dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Putri-Putri St. Paulus. Karya-karyanya dapat dilihat di paroki-paroki pedesaan. Namun, bagi banyak orang, ia dianggap sebagai orang berdosa.

“Sayangnya, sebagian besar kritik berasal dari komunitas kami sendiri,” kata Masih kepada ucanews.com.

Banyak imam menasihatinya untuk bertobat dan dibaptis kembali. “Mereka mengatakan saya melakukan penyembahan berhala,” kata Masih, seraya menambahkan iman tidak begitu rapuh sehingga perlu dilindungi dari ancaman.

Muslim konservatif di Pakistan juga melihat patung-patung sebagai serangan budaya dan anti-agama.

Setelah kemerdekaan dari India dan mendirikan negara Pakistan tahun 1947, ibukota Punjab, Lahore, menjadi pusat budaya nasional dan mewarisi banyak monumen bersejarah dan patung-patung kebangsaan Inggris dan India. Namun, hampir semuanya menghilang.

Tantangan

Selama periode Islamisasi penguasa militer Zia-ul-Haq, patung besar Ratu Victoria tahun 1974 dikeluarkan dari pekarangan Majelis Punjab dan diganti Alquran dari  kayu7.

Tahun 1950, patung perunggu Mahatma Gandhi, bapak bangsa India, diturunkan dan dihancurkan  selama kerusuhan di Karachi, ibukota provinsi Sindh.

Demikian juga, Taliban Pakistan melarang perwakilan artistik makhluk hidup atas nama fundamentalisme Islam.

Tahun 2007, kelompok garis keras itu mementaskan gambar Buddha yang diukir pada abad ketujuh di tebing di Lembah Swat,  provinsi Khyber Pakhtunkhwa bagian utara.

Pemerintah awal tahun ini mengembalikan ukiran tersebut, salah satu yang terbesar di Asia Selatan, dengan bantuan para arkeolog Italia.

Tahun lalu, tiga patung Buddha berusia 1.500 tahun ditemukan di tempat  sampah di Museum Nasional di Karachi.

Untungnya, Masih belum menghadapi pertentangan dari Muslim setempat. Ayah dua anak itu telah memesan sebuah kios di luar Gua Maria Nasional di desa Mariamabad, provinsi Punjab yang akan menjadi tempat ziarah Katolik tahunan dari 7-9 September.

Dia berharap untuk mendapatkan keuntungan baik dengan menjual rosario, miniatur gua Maria, salib dan plakat yang ditulis dengan ayat-ayat Alkitab serta patung-patung dari berbagai orang kudus.

Pada musim Natal, palungan bayi dijual dengan harga berkisar hingga lebih dari US $ 240, Masih menjual dengan hanya sekitar setengah harga yang dikenakan oleh toko-toko yang dikelola Gereja.

Membuang patung yang rusak atau hancur menimbulkan tantangan bagi Masih dan yang lainnya. Pakistan memiliki undang-undang penodaan agama yang ketat yang meliputi “kemarahan perasaan keagamman” yang berlaku untuk semua agama dan didenda atau dihukum hingga 10 tahun penjara. Masih harus membuang patung-patung yang tidak diinginkan dengan cara yang tidak menimbulkan bahaya sisa-sisa yang diinjak-injak, sesuatu yang akan menyebabkan pelanggaran.

Pematung sampai saat ini belum dapat membangun outlet penjualan mandiri sendiri yang permanen. “Saya bergantung pada suster-suster Putri St Paulus untuk menjual patung-patung itu,” katanya.

Gereja-gereja Protestan tidak akan menangani penjualan patung-patung ini, dengan banyak Protestan menuduh Gereja Katolik menyembah berhala, tambahnya.

Tanggapan Gereja

Untuk melawan kritik semacam itu, Komisi Kateketik Konferensi Waligereja India  menggunakan halaman Facebook-nya untuk menciptakan kesadaran dan pemahaman yang lebih besar. “Banyak pastor tidak tahu perbedaan antara patung dan berhala,” salah satu komentar netizen.

Pusat Pendidikan Jeremiah, sebuah asosiasi Katolik yang berpusat di Lahore, mendukung para seniman termasuk melalui pendidikan non-formal untuk anak-anak dari keluarga miskin di daerah kumuh.

Lima orangtua, termasuk janda, sekarang dilatih untuk menghasilkan patung-patung Kristen, keterampilan yang akan membantu mendukung mereka dan tanggungan mereka.

Pusat itu percaya bahwa dengan menciptakan karya-karya rohani  adalah seni  yang perlu dilestarikan untuk generasi mendatang.

 

Uskup Rolly dan Uskup Suwatan Ziarah di Pekuburan Para Imam Jelang Acara Puncak Yubileum - Tribun Manado

Berita Seminari Tinggi - Jum, 14/09/2018 - 15:08

Tribun Manado

Uskup Rolly dan Uskup Suwatan Ziarah di Pekuburan Para Imam Jelang Acara Puncak Yubileum
Tribun Manado
TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Uskup Keuskupan Manado, Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dan Uskup Emeritus Josef Suwatan MSC berziarah ke pekuburan para imam, religius, awam di SMA Seminari Menengah Fransiskus ...

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator