Berita dan Event

Puncta 20.05.18 Hari Raya Pentakosta: Mereka Mulai Berkata-kata

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 22:37
WAKTU berpastoral di Kalimantan, saya sering disuguhi air putih bening yang bikin orang pandai berkata-kata. Orang menyebutnya ‘air kata-kata’. Itu karena setelah minum air itu, seluruh kata-kata meluncur dengan derasnya tanpa bisa dikontrol. Itulah yang namanya arak. Tentu bukan karena itulah para murid Yesus mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, tetapi karena diilhamkan Roh Kudus kepada […]

Guru dari 40 Sekolah Kumpulkan Rp 24 Juta untuk Korban Bom di Gereja - Surya Malang

Google News - Sab, 19/05/2018 - 21:33

Surya Malang

Guru dari 40 Sekolah Kumpulkan Rp 24 Juta untuk Korban Bom di Gereja
Surya Malang
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah bersama organisasi lain menggelar acara bertajuk 'Islam dalam bingkai Keindonesiaan dan Kemanusian' di Ciputra Hall, Surabaya, Sabtu (19/5/2018). Acara ini di hadiri oleh ...

Google News

Roh Kudus Pentakosta

Pen@ Katolik - Sab, 19/05/2018 - 21:30

Pentakosta

20 Mei 2018

Yoh 20: 19-23

“Kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11).”

Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom.  Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristiani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentakosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?

Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah nyala api dan hinggap pada setiap rasul dan murid lainnya. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa yang berbeda, dan mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Hari itu, orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bisa mendengar dan mengerti karya Allah dan dipersatukan sebagai komunitas. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa misi Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan di antara kita yang dipisahkan oleh banyak tembok dan sekat-sekat perbedaan.

Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, dan bangsa, dengan beragam latar belakang, karakter, dan sistem nilai. Kita memiliki kepercayaan, keyakinan dan iman yang berbeda. Ini adalah pekerjaan roh jahat untuk menabur benih rasa takut dan kebohongan, dan dengan ketakutan dan ketidakpahaman terhadap yang lain, lebih mudah bagi kita untuk membangun tembok yang lebih tinggi dan menggali parit yang lebih dalam. Ini menjadi akar fundamentalisme dan radikalisme yang mematikan.

Roh Kudus mendorong kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menjangkau yang lain. Jika kita diciptakan menurut citra Allah yang adalah Tritunggal Mahakudus, dan jika Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang unik, namun hidup dalam kesatuan kasih, kita juga dirancang untuk menjadi individu yang unik, namun kita juga diciptakan sebagai pribadi yang hidup dengan sesama dan bagi sesama. Roh Kudus seperti induk burung elang yang ketika waktunya tiba, akan melemparkan anak-anak mereka dari tebing tinggi dan memampukan mereka terbang.

Beberapa jam setelah pengeboman, masyarakat membanjiri rumah sakit tempat para korban teror dirawat, dan menawarkan diri untuk menjadi donor darah bagi para korban. Seorang relawan berkomentar bahwa darah tidak mengenal suku, agama atau bangsa; hanya tahu tipe O, A, B atau AB! Roh Kudus bekerja melawan pekerjaan roh kudus, bapa segala dusta. Dengan demikian, Roh Kudus memberdayakan kita untuk mewartakan kebenaran dan karya besar Allah. Beberapa menit setelah pemboman, media sosial dibanjiri oleh gambar-gambar kurban-kurban yang tewas untuk menyebarkan ketakutan, tetapi kemudian para pengguna internet Indonesia menolak untuk menyebarkan rasa takut, dan mulai memasang di akun media sosial mereka tagar #kamitidaktakut.

Kisah-kisah heroik juga muncul. Ada Aloysius Bayu, seorang sukarelawan paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya, yang tewas dalam ledakan. Seandainya dia tidak menghentikan para teroris yang mencoba memasuki premis gereja, bisa tak terhitung orang menjadi korban hari itu. Kematiannya tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mengharapkan suaminya pulang dan seorang bayi kecil yang membutuhkan ayahnya. Namun, itu bukan tanpa harapan. Daripada menyerah pada ketakutan atau kemarahan, teman-teman Bayu melihat kematiannya sebagai pengorbanan yang mengarah ke harapan baru. Salah seorang temannya menyatakan, “Kita tidak boleh berhenti pergi ke Gereja. Jika kita berhenti, Bayu akan mati sia-sia.” Roh Kudus mendorong kita untuk berani mewartakan karya Allah dan membuat dunia yang penuh kejahatan menjadi tempat yang lebih baik.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Hubungan Islam dan Katolik harus berubah dari persaingan menjadi kerja sama

Pen@ Katolik - Sab, 19/05/2018 - 21:02

“Pikiran yang ingin kami bagikan kepada kalian pada kesempatan ini, saudara-saudari Muslim yang terkasih, menyangkut aspek penting hubungan antara umat Kristen (baca: Katolik) dan Muslim: kebutuhan untuk berubah dari persaingan menjadi kerja sama.”

Pernyataan itu disampaikan dalam Pesan untuk Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1439 H atau 2018 M yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dengan judul “Kristen dan Muslim: Dari Persaingan menuju Kerja Sama.”

Dalam pesan yang sama dewan kepausan itu mengungkapkan juga penghargaan atas pentingnya bulan Ramadan dan upaya umat Islam di seluruh dunia untuk berpuasa, berdoa dan membagikan karunia Allah Yang Maha Kuasa kepada orang miskin.

Pesan yang ditandatangani di Vatikan, 20 April 2018, oleh Jean-Louis Kardinal Tauran dan Uskup Miguel Ángel Ayuso Guixot, M.C.C.I., masing-masing presiden dan sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama itu menegaskan bahwa semangat persaingan telah terlalu sering menandai hubungan masa lalu antara orang Kristen dan Muslim.

Konsekuensi negatif akibat semangat itu, tulis pesan itu, adalah “kecemburuan, saling tuduh dan ketegangan,” dan dalam beberapa kasus menyebabkan konfrontasi penuh kekerasan, “terutama saat agama diperalat, terutama karena kepentingan pribadi dan motif-motif politik.”

Persaingan antaragama seperti itu, lanjut pesan dewan kepausan itu, “melukai citra agama dan pengikutnya, dan menumbuhkan pandangan bahwa agama bukanlah sumber perdamaian, tetapi sumber ketegangan dan kekerasan.”

Untuk mencegah dan mengatasi konsekuensi-konsekuensi negatif ini, tulis pesan itu, umat Kristen dan Muslim perlu mengingat kembali nilai-nilai agama dan moral yang mereka miliki bersama, sambil mengakui perbedaan-perbedaan mereka.

“Dengan mengakui apa yang kita miliki bersama dan menghormati perbedaan, kita dapat lebih kuat membangun landasan hubungan yang penuh damai, seraya berubah dari persaingan menjadi kerja sama efektif demi kebaikan bersama,” tulis pesan itu.

Menurut dewan kepausan itu, umat Katolik dan Muslim bersama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk memberi kesaksian tentang Yang Mahakuasa, dan untuk membagikan kepercayaan mereka kepada sesama, sambil menghormati agama dan sentimen agama mereka.

Untuk bisa melanjutkan hubungan damai dan persaudaraan, tulis pesan itu, “marilah kita bekerja bersama dan saling menghormati. Dengan cara ini kita akan memuliakan Yang Maha Kuasa dan meningkatkan kerukunan dalam masyarakat, yang menjadi semakin multi-etnis, multi-agama dan multi-budaya.”

Dewan kepausan itu mengakhiri pesannya dengan kembali mengucapkan selamat menjalani puasa yang berbuah dan selamat merayakan ‘Id yang penuh sukacita, dan kami “memastikan kepada kalian solidaritas kami dalam doa.”(paul c pati)

Para uskup Chili mohon maaf atas skandal pelecehan seks dan mengajukan pengunduran diri

Pen@ Katolik - Sab, 19/05/2018 - 20:48
Anggota-anggota Konferensi Waligereja Chili merilis sebuah pernyataan yang dalamnya mereka mengajukan pengunduran diri menyusul pelecehan seksual yang dilakukan klerus di negara mereka (AFP)

Sebanyak 34 uskup Chili yang membentuk Konferensi Waligereja Chili merilis pernyataan pada hari Jumat, 18 Mei 2018, yang menganjuran pengunduran diri dan meletakkan nasib mereka di tangan Paus Fransiskus, demikian laporan Linda Bordoni dari Vatican News.

Setelah tiga hari pertemuan dengan Paus Fransiskus di Vatikan, para uskup Chili bertemu dengan pers dan membacakan pernyataan yang berisi ucapkan terima kasih kepada Paus karena telah mendengarkan mereka “secara kebapakan dan karena telah memberikan koreksi persaudaraan” selama hari-hari “refleksi dan doa” ini.

Berbicara singkat kepada pers setelah membaca pernyataan mereka, para uskup menjelaskan bahwa mereka telah menyerahkan jabatan mereka “ke tangan Bapa Suci dan akan membiarkan dia untuk bebas mengambil keputusan” atas mereka masing-masing.

Mereka juga merujuk dokumen yang diserahkan kepada mereka secara pribadi oleh Paus yang di dalamnya ditunjukkan serangkaian “hal yang benar-benar tercela yang telah terjadi di Gereja Chili terkait penyalahgunaan kekuasaan, hati nurani dan seksual yang tidak dapat diterima, dan yang telah menyebabkan berkurangnya semangat kenabian yang menunjukkan sifat Gereja.”

Di atas segalanya, kata para uskup, mereka memohon maaf atas penderitaan yang dialami para korban pelecehan seksual yang dilakukan klerus, kepada Paus, kepada umat Allah dan kepada negara mereka atas kesalahan dan kelalaian besar mereka.

Mereka juga berterima kasih kepada Uskup Agung Charles Scicluna dan kepada Pastor Jordi Bertomeu, para prelatus yang ditugaskan Paus untuk menyelidiki dan menyusun laporan sebanyak 2.300 halaman berkaitan dengan skandal pelecehan seks yang telah mengguncang Gereja Chili, atas dedikasi pastoral dan pribadi mereka, dan atas upaya mereka selama beberapa minggu untuk menyembuhkan luka-luka masyarakat dan Gereja di negara mereka.

“Kami berterima kasih kepada para korban atas ketekunan dan keberanian mereka dalam menghadapi semua kesulitan berat secara pribadi, spiritual, sosial dan keluarga,” sebuah beban yang sering diperburuk oleh ketidakpahaman dan serangan umat gerejani.

Seraya menggambarkan hari-hari “dialog jujur” yang baru berlalu itu sebagai tonggak sejarah dalam proses perubahan mendalam yang dipandu oleh Paus Fransiskus, para uskup mengatakan bahwa dalam persekutuan dengan Paus, mereka ingin menegakkan kembali keadilan dan berkontribusi untuk memperbaiki kerusakan yang ada, guna memberikan dorongan baru bagi misi kenabian Gereja di Chili. Di sana, kata mereka, “Kristus seharusnya selalu menjadi pusat.”

Seraya bersumpah untuk bertanggung jawab sepenuhnya pada jalan baru ini, para uskup mengakhiri pernyataan mereka dengan mengungkapkan keinginan mereka agar “wajah Tuhan bisa bersinar lagi” di Gereja Chili dan dengan “kerendahan hati dan pengharapan” mereka menghimbau semua orang untuk membantu mereka dalam upaya mereka.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

Lokakarya Video Jurnalism, Program Signis Indonesia di Denpasar Mei 2018

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 20:45
ACARA  dimulai dengan mendengarkan arahan dari Presiden SIGNIS Indonesia Pastor Steven Lalu Pr mengenai rangkaian seluruh acara. Ia mendorong peserta SIGNIS Indonesia menjadi komunikator yang baik. Lebih lanjut, imam diosesan Keuskupan Manado ini berpendapat, orang yang bisa menjadi komunikator yang baik pastilah juga serius  menghayati spiritualitas, punya keterampilan, dan mau bekerjasama membina jejaring. Di akhir […]

40 Sekolah Galang Dana Solidaritas Cinta untuk Korban Bom Bunuh Diri Surabaya, Terkumpul Rp 24 Juta - Tribun Jakarta

Google News - Sab, 19/05/2018 - 20:30

Tribun Jakarta

40 Sekolah Galang Dana Solidaritas Cinta untuk Korban Bom Bunuh Diri Surabaya, Terkumpul Rp 24 Juta
Tribun Jakarta
TRIBUNJAKARTA.COM, SURABAYA - Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah dengan sejumlah organisasi lain diantaranya Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia, Maarif Institute AGPAII menggelar acara bertajuk 'Islam dalam ...

Renungan Harian, Minggu: 20 Mei, Hari Raya Pentakosta

Mirifica.net - Sab, 19/05/2018 - 19:00
ARI ini kita merayakan Hari Raya Pentakosta, peristiwa turunnya Roh Kudus atas para rasul (Kis. 2:1-11). Peristiwa ini dirayakan sebagai kelahiran gereja. Gereja ada untuk membawa semua orang pada keselamatan. Sebab, Allah menghendaki semua orang selamat dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (bdk. 1 Tim.2:4). Allah Bapa telah menyelamatkan kita dengan perantaraan Yesus Kristus dan dalam …

Pelita Hati: 20.05.2018 – Berani Bersaksi

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 17:00
Bacaan Kisah Rasul 2:1-11; Yohanes 15:26-27;16:12-15 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. (Yoh 15:26-27) Sahabat pelita hati, HARI ini Gereja merayakan hari raya Pentakosta. Pentakosta adalah hari yang ke-50 […]

2 Perempuan Indonesia capai 7 puncak tertinggi dunia - BeritagarID

Google News - Sab, 19/05/2018 - 15:43

BeritagarID

2 Perempuan Indonesia capai 7 puncak tertinggi dunia
BeritagarID
Setelah melalui perjalanan panjang, tim Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) yang beranggotakan dua perempuan pendaki, berhasil menyelesaikan misi mereka untuk menaklukkan tujuh puncak tertinggi di dunia. ... di dunia ...
Bangga! 2 Srikandi Indonesia Sukses Kibarkan Bendera Merah Putih di Everest, Begini Kata JokowiTribunnews
Membanggakan! Dua Mahasiswi Tangguh Ini Berhasil Capai Puncak EverestIDN Times (Siaran Pers) (Blog)
Sukses capai puncak Everest, 2 mahasiswi Indonesia kibarkan bendera merah putihmerdeka.com
Tribun Jakarta -Bisnis.com
all 106 news articles »

Sejenak Keluar dari Biara, Bergaul dengan Elemen Masyarakat di FKUB Kabupaten Cilacap

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 10:43
KINI, saatnya para suster biarawati sejenak mau meninggalkan ‘zona nyaman’ keluar dari susteran/biara untuk bergaul akrab dengan semua elemen anak bangsa melalui berbagai kesempatan pertemuan lintas agama. Sr. Editha PBHK di Cilacap mengisahkan pengalamannya saat bergaul dengan semua elemen masyarakat di sebuah acara temu wicara anggota masyarakat lintas agama di Kabupaten Cilacap, Keuskupan Purwokerto, Jateng. […]

Hari Raya Pentakosta B: Roh Kudus, Penolong untuk Bersaksi Setiap Hari

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 09:56
Kis. 2:1-11; Gal. 5:16-25; Joh. 15:26-27.16:12-15 HARI ini, Hari Raya Pentakosta, kita akan merenungkan tentang Roh Kudus, Pribadi Ketiga Allah yang hampir tidak pernah kita bicarakan atau kita renungkan. Berdoa kepada Bapa, setiap kali kita berdoa Bapa Kami. Berdoa kepada Allah Putra, kita selalu menyebut nama Yesus Kristus. Berdoa mohon pertolongan Ibu Maria, kita sekarang […]

Pst Steven: Komunikator Wartakan Pesan Cinta Kasih - Manado Post online

Google News - Sab, 19/05/2018 - 09:40

Manado Post online

Pst Steven: Komunikator Wartakan Pesan Cinta Kasih
Manado Post online
Sebanyak 40 peserta hadir terdiri atas utusan dari Komisi Komsos keuskupan-keuskupan dan lembaga-lembaga penyiaran yang bergabung dalam asosiasi media Katolik Signis Indonesia,” beber Pst Steven. Dia menambahkan, pelatihan didampingi tim ...

Kecil tak Terlihat namun Indah, Begitulah Gereja St. Yoseph Katedral Pontianak

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 09:15
BERIKUT ini paparan visual dalam kilasan foto yang menunjukkan indahnya ornamen Katedral Pontianak. Sering tak terlihat, namun detil-detil kecil ini ternyata indah bila berada di balik lensa kamera. Kami menyajikannya untuk para pembaca Sesawi.Net.

Mutasi Tugas Para Imam Montfortan (SMM): Ke Belanda, Jadi Rektor, dan Pedalaman Kalteng

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 09:06
“GEMBALAKANLAH domba-dombaku,” demikian kata Yesus kepada Petrus. “Pesan ini sangat aktual untuk kita semua, terlebih bagi para Monfortan yang pada sore hari ini menyelenggarakan Misa Pengutusan bagi anggotanya yang akan diutus ke berbagai tempat,” demikian Romo Yosep SMM, Rektor Seminari Tinggi SMM Pondok Kebijaksanaan di Malang. Sebentar lagi, ia akan menyerahkan tanggungjawabnya sebagai rektor kepada […]

Apakah itu Pengorbanan? Catatan Filosofis atas Film “Shundo”

Sesawi.Net - Sab, 19/05/2018 - 08:39
KETIKA Tuan Deputi Araki merancang sedemikian rupa sehingga seolah-olah Kagawalah yang membunuh Guru Matsumiya, ia menganggapnya sebagai suatu pengorbanan yang harus dibuat Kagawa. Kagawa harus dibunuh sebagai korban demi keselamatan seluruh rakyat Inaba. Melihat film itu, tentu menarik untuk bertanya, sebenarnya apakah pengorbanan itu? Film Shundo yang dirilis pada 2013 ini mengambil latar tahun 1732, […]

Apa itu meterai Sakramental?

Pen@ Katolik - Jum, 18/05/2018 - 23:16

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

226. Apa hubungan antara Sakramen-Sakramen dengan Gereja?

Kristus sudah mempercayakan Sakramen-Sakramen kepada Gereja-Nya. Sakramen-Sakramen itu adalah Sakramen-Sakramen ”Gereja” dalam arti ganda: Sakramen-Sakramen itu ”dari Gereja” sejauh merupakan tindakan Gereja, yang pada gilirannya merupakan Sakramen tindakan Kristus, dan ”untuk Gereja” sejauh Sakramen-Sakramen itu membangun Gereja.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1117-1119

227. Apa itu meterai Sakramental?

Karena meterai ini, orang Kristen dipersatukan dengan Kristus, mengambil bagian dalam imamat-Nya dalam berbagai cara, dan mempunyai peranan di dalam Gereja sesuai dengan kondisi dan fungsinya. Karena itu, mereka ini dikhususkan untukkondisi Gereja. Meterai ini tak dapat dihapuskan sehingga Sakramen-Sakramen bersangkutan hanya diterimakan satu kali selama hidup.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1121

Guru Persink diajak jadi teladan bagi anak didik guna menghalangi disintegrasi bangsa

Pen@ Katolik - Jum, 18/05/2018 - 23:00

Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Banten Bazari Syam  mengatakan, guru-guru yang mengajar agama Katolik bagi siswa-siswi yang tergabung dalam Persatuan Siswa-Siswi Negeri Katolik (Persink) se-Banten agar menjadi teladan dalam berperilaku di sekolah dan di masyarakat.

“Disintegrasi bangsa akhir-akhir ini adalah akibat jauhnya pengamalan agama dalam kehidupan. Mungkin guru hanya bertugas mentransfer ilmu kepada anak didik dan kurang memberikan teladan kepada mereka,” kata Bazari Syam di depan 60 guru pengajar Persink se-Provinsi Banten yang berkumpul di sebuah hotel di Serang, 11-12 Mei 2018.

Guru, hendaknya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan agama, tetapi yang lebih penting “mengaplikasikan ilmu agama di tengah masyarakat,” lanjut Bazari Syam dalam pertemuan yang dilaksanakan Bimas Katolik Banten untuk mendengarkan pengalaman guru Persink.

Mengamati berbagai kendala antara lain keterbatasan bahan ajar dan rendahnya motivasi orangtua untuk mendorong anaknya ikut Persink, kepala kantor kemenag itu berharap, meskipun gaji atau honor kecil, para guru “tetap ikhlas dan melakukan tugas dengan penuh tanggungjawab.”

Seorang guru Muslim, yang juga mengajar agama Islam, kisah Bazari Syam, secara riil tidak bisa menghidupi tiga orang anak kalau hanya mengandalkan honor dari sekolah tempat ia mengajar. Tapi karena keikhlasan, dengan rasa tanggungjawab, ternyata Tuhan memberikan rezeki dengan cara lain, dia mendapat keuntungan dengan menjadi perantara menjual motor dan tanah. “Inilah yang disebut ‘Rahmat Tuhan itu tidak jauh,’ kalau semua dijalankan dengan ikhlas,” tegasnya.

Sementara itu terdengar juga beberapa keluhan. Anggota tim kateketik dari Keuskupan Bogor Lorensius Atrik Wibawa mengelukan kesulitan bahan ajar dan menganjurkan guru selalu bekerja sama yang erat dengan Bimas Katolik setempat. “Kadang-kadang kesulitan tidak dikomunikasikan, maka tidak diketahui. Mulai sekarang coba bekerja sama dengan Bimas Katolik,” harapnya.

Agustina Maryati, guru Persink di Paroki Kristus Raja Cikande bagian timur mengatakan hanya enam guru Persink yang melayani 120 murid di daerahnya, apalagi “jarak rumah murid dengan tempat pembelajaran jauh, maka kadang anak-anak tidak datang.”

Rosa Ruwiyani, pengajar Persink di Kedaung, Sepatan, Tangerang, mengatakan hal yang sama bahwa banyak anak tidak hadir dalam sekolah minggu karena tidak diantar oleh orang tua mereka. Menurut catatan PEN@ Katolik, sekolah minggu terkadang menghadapi masalah juga di Paroki Odilia, Citraraya, karena untuk transportasi seorang anak dari daerah Solear harus mengeluarkan uang sebesar 50 ribu rupiah sekali jalan ke gereja.

Selama setahun, Pembimbing Masyarakat Katolik Banten Osner Purba selalu melakukan kunjungan ke paroki untuk menjalin kerja sama dengan pastor paroki dalam mengatasi kesulitan itu. “Kepala paroki bukan atasannya Pembimas Katolik atau sebaliknya, tetapi keduanya adalah mitra, yang berarti saling bekerja sama menyelesaikan problem yang dialami umat Katolik, termasuk guru Persink,” katanya. (Konradus R. Mangu)

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator