Berita dan Event

‘Gospel Truth’ for November 18, 2018

Vatican News - Kam, 15/11/2018 - 18:16
Listen to this week's edition of our reflections on the Gospel reading for the thirty-third Sunday in ordinary time, where Jesus speaks of His second coming, prepared by Jill Bevilacqua.

Pope at Mass: Martyrdom doesn’t make the news

Vatican News - Kam, 15/11/2018 - 18:00
At Mass at the Casa Santa Marta, the Pope comments on the day’s Gospel, saying that the Church is made manifest “in the Eucharist and in good works.”

Virginia Catholics praise dismissal of assisted suicide by state legislature

Catholic News Agency (CNA) - Kam, 15/11/2018 - 17:49

Arlington, Va., Nov 15, 2018 / 03:49 am (CNA/EWTN News).- Virginia Catholics are praising the decision of a joint commission of the state legislature to take no action on a study on assisted suicide.

Last year, Del. Kaye Kory (D-Fairfax) asked the Virginia state legislature to consider legalizing so-called “medical aid-in-dying” or physician-assisted suicide.

After receiving public comment, the Joint Commission on Health Care, which was tasked with studying the issue, voted 10-6 on November 7 to take no action on the issue.

“I was very pleased to receive the news that the Virginia Joint Commission on Health Care rejected efforts that might ultimately have led to the legalization of physician-assisted suicide in our commonwealth,” Bishop Michael Burbidge of Arlington told the Arlington Catholic Herald.  

“The commission received nearly 3,000 public comments against legalizing assisted suicide, and comments against assisted suicide outnumbered comments for assisted suicide 8-1! I thank the leadership of the Virginia Catholic Conference, the Arlington Diocese’s Office for Marriage, Family and Respect Life and so many citizens, especially among our Catholic faithful, for standing up for life!” he added.

In a statement posted to the Virginia Catholic Conference website, director of the conference Jeff Caruso said that voters’ voices had been “heard loud and clear” on the issue.

“In prayer and in public, your voices are urgently needed to bring Gospel values to bear on vital decisions being made by those who represent you,” he said.

Of the 3,000 comments against assisted suicide received by the commission, about 2,000 of them them were submitted through the Catholic Conference, Caruso told the Arlington Catholic Herald.

“The gift of life is something that should never be abandoned or discarded and that's the principal that was upheld by the joint commission,” he said.

Caruso said it was “very significant” that the commission declined to take action on assisted suicide, because it is something that could be helpful in the continued fight against legalizing it in the future.

The vote included all of the commission’s Republicans, as well as one vote from a Democrat on the commission. One of the commissioners who voted against assisted suicide was a surgeon, another was a physician.

Del. Scott Garrett (R-Lynchburg), who has experience as a surgeon, told the Virginia Mercury that he voted to take no action because he had witnessed people who had long-outlived their prognosis.

“The resiliency of the human condition is truly an amazing thing,” he said. “Each one of us has certainly, many, many times in our professional careers been faced with somebody who had no chance, they’re going to die in three months, and yet in fact it just wasn’t their time yet.”

The commission did pass several measures to improve health care in the state’s jails and prisons, including actions aimed at improving mental health and substance abuse.

Kory told the Virginia Mercury that she would not propose any assisted suicide legislation this year.

The seven states of California, Colorado, Hawaii, Montana, Oregon, Vermont, and Washington, plus the District of Columbia, have legalized assisted suicide.

 

US Bishops: ‘United with the Pope to eradicate sexual abuse’

Vatican News - Kam, 15/11/2018 - 17:41
The President of the US Bishops’ Conference closes the USCCB Fall General Assembly expressing confidence in Pope Francis’ guidance as the Church confronts the clerical sex abuse crisis.

Reflections for the XXXIII Sunday

Vatican News - Kam, 15/11/2018 - 17:13
Fr. Antony Kadavil reflects and comments on the readings at Mass for the thirty-third Sunday in ordinary time. His reflections highlight that Christ will come again in glory to judge the living and the dead.

Paus Fransiskus: Model Dasar Kebenaran adalah Yesus

UCANews - Kam, 15/11/2018 - 17:10

Berbohong atau menjadi tidak otentik itu sungguh tidak benar karena hal ini menghambat atau melukai hubungan manusia, kata Paus Fransiskus.

“Di mana ada kebohongan, di sana tidak ada cinta kasih, seseorang tidak bisa memiliki cinta kasih,” kata Paus Fransiskus dalam audiensi umum mingguan di Lapangan St. Petrus pada Rabu (14/11).

Menjalani kehidupan yang penuh dengan “komunikasi yang tidak jujur adalah masalah serius karena hal ini mengganggu hubungan dan oleh karena itu menghalangi cinta kasih,” kata Paus.

Paus melanjutkan rangkaian pembicaraannya tentang Sepuluh Perintah Allah. Kali ini fokusnya adalah perintah “Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.” Menurut Katekismus Gereja Katolik, perintah ini berarti tidak boleh salah mengartikan kebenaran.

“Kita selalu berkomunikasi,” baik dengan kata-kata, gestur, perilaku seseorang dan bahkan dengan diam atau absen, kata Paus. Orang berkomunikasi melalui siapa mereka, apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka katakan. Artinya, orang selalu berada pada persimpangan, “bertengger” antara berkata benar atau berbohong.

“Tetapi apa makna kebenaran?” tanya Paus.

Tulus saja tidak cukup, kata Paus, karena seseorang bisa tulus akan suatu keyakinan yang tidak benar. Dan menjadi benar juga tidak cukup karena seseorang bisa menyembunyikan makna sesungguhnya dari sebuah situasi di balik begitu banyak detil yang tidak signifikan.

Kadang orang berpikir bahwa mengungkap urusan dan informasi rahasia orang lain itu wajar saja, kata Paus, karena “saya hanya menyampaikan kebenaran.”

Namun gosip menghancurkan persekutuan dengan bersikap tidak bijaksana dan tidak pengertian, kata Paus.

Lidah itu seperti pisau, kata Paus, dan “gosip itu membunuh,” menghancurkan orang dan reputasi mereka.

“Lantas, apa itu kebenaran?” tanya Paus.

Model dasar dari kebenaran adalah Yesus yang datang ke dunia “untuk memberi kesaksian akan kebenaran.” Seperti Ia mengatakan kepada Pontius Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku,” demikian menurut Injil Yohanes (18:37).

Meneladani Yesus berarti menjalani hidup “dalam Roh kebenaran” dan menjadi saksi akan kebenaran, kasih pengampunan dan kesetiaan Allah, kata Paus.

“Setiap orang memperlihatkan atau menyembunyikan kebenaran dalam setiap tindakan mereka – mulai dari situasi kecil setiap hari hingga pilihan serius,” kata Paus. Maka manusia perlu bertanya kepada diri mereka apakah mereka jujur dan dan benar dalam kata-kata dan perbuatan mereka, “atau apakah saya seperti seorang pembohong yang menyembunyikan kebenaran?”

“Umat Kristen bukanlah laki-laki dan perempuan yang luar biasa. Tetapi mereka adalah anak-anak Bapa Surgawi yang adalah baik, tidak mengecewakan dan mengisi hati ini dengan cinta kasih kepada Saudara-Saudari kita,” kata Paus.

“Kebenaran bukan disampaikan dengan perkataan. Kebenaran adalah cara menjadi seorang manusia, cara hidup. Dan kalian melihatnya dalam setiap perbuatan,” kata Paus.

“Tidak menjadi pendusta berarti menjalani hidup seperti anak-anak Allah yang tidak pernah menyangkal” atau menentang dirinya dan tidak pernah berkata bohong,” kata Paus.

Ini adalah menjalani hidup dalam cara di mana setiap perbuatan mengungkap “kebenaran agung bahwa Allah adalah Bapa dan bahwa kalian bisa mempercayai-Nya,” kata Paus. Allah “mencintai saya, Ia mencintai kita dan (dengan demikian) kebenaran saya bertumbuh, saya menjadi orang yang jujur dan bukan pembohong.”

Pelita Hati: 16.11.2018 – Kehilangan Nyawa demi Memperolehnya

Sesawi.Net - Kam, 15/11/2018 - 17:00
Bacaan Lukas 17:26-37 Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. (Luk. 17:33) SAHABAT pelita hati, Pelita sabda hari ini masih melanjutkan tema tentang “Datangnya Kerajaan Allah”. Yesus mengingatkan para murid-Nya dengan menyebut peristiwa Air Bah zaman Nuh dan peristiwa Sodom dan Gomora di zaman dahulu kala. Peristiwa […]

Pecandu Judi Hong Kong Bertobat Setelah Peneguhan Iman

UCANews - Kam, 15/11/2018 - 16:58

Kecanduan berjudi tidak hanya merusak kehidupan para pecandu tetapi juga menghancurkan keluarga yang mengakibatkan terus bertambahnya pasangan yang menjadi korban mencari bantuan dari lembaga Katolik dan lembaga pendukung lainnya, demikian menurut survei terbaru Pusat Konseling Karitas yang menangani pecandu judi di  Hong Kong.

Lembaga ini  merilis hasil survei pada 8 November. Dikatakan lebih banyak pasangan yang meminta bantuannya sejak agensi itu diluncurkan pada 2003, dengan banyak istri mengeluh depresi, kesengsaraan ekonomi, dan kerusakan nyata atau potensial dalam hubungan keluarga dan hubungan sosial lainnya .

Pada konferensi pers, satu pasangan berbagi pengalaman mereka dalam menangani efek kerusakan akibat kecanduan judi pasangan dan bagaimana iman Katolik mereka telah membantu keluarga tetap bersama.

Sang suami, Yin, mengatakan ia  mulai memasang taruhan sebesar HK$50,000 ( 96,6 juta rupiah) pada satu waktu selama dekade terakhir, sampai berada pada satu titik di mana ia terpuruk hutang HK$77,000 ( Rp 144 juta).

Dia bahkan terpaksa pensiun dini dan menggunakan uang pensiunnya untuk menjaga kreditornya tetap aman. Tetapi meskipun menggunakan dua pertiga dari uang pensiun untuk melunasi utangnya, dia mengakui bahwa dia terus berjudi.

Nyonya Yin mengatakan kondisi ini telah memberikan beban besar pada keluarga mereka.

“Saya merasa tidak berdaya dan sering bertengkar dengannya,” katanya.

“Saya harus mulai bekerja, karena utangnya terus meningkat. Saya meminjam uang dari teman-teman dan kerabat kami sehingga kami bisa memenuhi kebutuhan.”

Dia mendorong suaminya untuk mengunjungi lembaga tersebut untuk menerima konseling pada tahun 2014. Dengan bantuan pekerja sosial, dan dukungan umat parokinya, Yin berhasil menghentikan kecanduannya dalam setahun.

“Dengan keyakinan saya pada Tuhan, saya merasa lebih aman dan lebih bisa mentolerir kelemahan suami saya dengan rasa cinta dan kesabaran yang lebih kuat,” katanya. “Sekarang saya berdoa untuknya setiap hari dan berharap Tuhan terus membimbing kita.”

“Keyakinan saya telah membuat saya lebih rendah hati dan menghormati orang lain,” kata Yin, menambahkan dia membagikan cerita ini  untuk memperingatkan orang lain tentang bahaya perjudian.

Sekitar 86 persen responden dalam jajak pendapat Lembaga Konseling ini dari 1.074 pasangan di Hong Kong adalah perempuan. Tujuh dari 10 yang menjawab melakukan pekerjaan sebagai karyawan yang menerima gaji sementara sisanya hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Masing-masing diperbolehkan untuk memilih beberapa jawaban. Hasilnya menunjukkan bahwa 93 persen merasa terganggu secara emosional dan tidak aman sebagai akibat dari perjudian yang terus menghantui pasangan mereka; 88 persen mengatakan mereka hidup dalam ketakutan karena sejumlah hutang mereka; dan 30 persen memendam pikiran untuk bunuh diri.

Selain itu, 79,5 persen khawatir keluarga mereka akan berantakan, 78 persen menggambarkan diri mereka sebagai “pecundang,” dan 89,5 persen mengatakan mereka sering bertengkar dengan pasangan mereka sebagai akibat dari kebiasaan judi mereka.

Lebih dari 71 persen mengaku mereka secara rutin mengabaikan kebutuhan mereka sendiri dan kebutuhan keluarga mereka; 66 persen mengatakan mereka mencoba menyembunyikan kebiasaan judi pasangan mereka dari kerabat dan teman-teman; 44 persen merasa mereka harus bersembunyi dari keluarga dan teman-teman mereka, entah karena malu atau karena mereka berhutang uang kepada mereka; dan 31 persen melampiaskan rasa frustrasi mereka pada kecanduan judi pasangan mereka pada anak-anak mereka.

Selain itu, 91 persen pasangan merasa standar hidup keluarga terus menurun sejak perjudian pasangan mereka tak terkendali lagi; 68 persen mengatakan masalah itu mempengaruhi pekerjaan mereka; 56 persen telah meminjam uang dari kerabat atau teman untuk melunasi utang judi pasangan mereka; 46 persen terpaksa menjual sebagian dari harta mereka; dan 30 persen mengatakan mereka dilecehkan oleh orang-orang yang berhutang judi kepada mereka.

Alfred Chan Chi-wah, seorang Kounselor senior di Lembaga itu, mendorong pasangan-pasangan penjudi biasa untuk terus mencari dukungan emosional dari agensi seperti dirinya.

Dia mengatakan mereka juga dapat mengambil manfaat dari belajar cara-cara baru menangani kecanduan pasangan mereka, keterampilan yang diajarkan pusat Konseling itu secara gratis.

Lembaga  ini didanai oleh Dana Ping Wo dari Biro Dalam Negeri Hong Kong dan telah menyediakan layanan konseling perjudian sejak 15 Oktober 2003.

Dalam 15 tahun terakhir, telah memberikan konseling kepada lebih dari 10.000 penjudi dan pasangan mereka di Wilayah Pemerintahan Khusus China itu.

Politisi Perempuan Inginkan Peran yang Lebih Besar di Bangladesh

UCANews - Kam, 15/11/2018 - 16:40

Mendekati waktu pemilu nasional bulan depan, politisi perempuan Bangladesh telah menyerukan representasi perempuan yang lebih baik di parlemen dan peran yang lebih besar dalam pembuatan kebijakan.

Bangladesh akan mengadakan pemilihan pada 30 Desember, menurut Komisi Pemilihan pada 12 November. Ini akan menjadi pemilu ke-11 sejak Bangladesh merdeka dari Pakistan pada 1971.

Sekitar 10.000 kandidat mencalonkan diri dari partai politik besar seperti Liga Awami yang berkuasa, partai politik tertua dan terbesar, dan Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), partai terbesar kedua.

Jatiya Sangsad (Majelis Nasional) memiliki 350 kursi termasuk 50 kursi khusus untuk wanita. Saat ini memiliki 18 anggota parlemen perempuan yang dipilih secara langsung.

Undang-undang representasi Rakyat dalam pemerintahan 2009, undang-undang yang mengatur regulasi untuk perwakilan politik di Bangladesh, mengharuskan semua partai politik untuk memastikan 33 persen perwakilan perempuan dalam keanggotaan mereka, di parlemen dan di komite parlemen pada 2020. Namun, politisi perempuan mengatakan partai gagal mencapai batas itu.

Selama seminar di Dhaka pada 13 November, sekitar 50 politisi perempuan dari partai-partai besar termasuk Liga Awami dan BNP menuduh bahwa partai-partai cenderung memberi perempuan pos-pos kecil dan menolak keterlibatan langsung mereka dalam proses pengambilan keputusan.

Democracy International, kelompok advokasi demokrasi dan advokasi hak asasi manusia yang berbasis di AS, menyelenggarakan seminar yang berjudul “Memajukan Kepemimpinan Perempuan dalam Pemilihan Nasional,” yang disponsori oleh USAid dan UKAid.

“Perempuan masih diperlakukan sebagai perempuan, bukan sebagai manusia, oleh semua partai politik,” kata Selima Hossain, mantan menteri dan wakil ketua BNP, pada seminar itu, menurut laporan surat kabar Dhaka Tribune.

“Saya telah menduduki reservation seats untuk dua priode terakhir dan saya menghargai keberadaannya, tetapi tidak bijaksana untuk berpikir bahwa perempuan tidak dapat dipilih secara langsung di daerah pemilihan,” kata anggota parlemen Liga Awami, Sofura Begum.

Dipika Samaddar, seorang Kristen Baptis yang mencalonkan diri dari partai Liga Awami dari di daerah pemilihan Barishal-2 di Bangladesh selatan, memiliki pandangan yang sama.

“Seorang anggota parlemen yang dipilih langsung berhak atas kehormatan besar, hak dan dukungan publik untuk bekerja untuk perubahan yang lebih baik dalam masyarakat, karena anggota parlemen yang memiliki reservation seats yang disediakan tidak dapat diharapkan. Dunia telah berubah dan para wanita di Bangladesh juga. Mereka berhak mendapatkan perwakilan politik yang lebih baik untuk kebaikan. negara, “kata Samaddar kepada ucanews.com.

Peminggiran perempuan dari representasi yang lebih baik adalah hasil dari pola pikir patriarkal, kata Rita Roseline Costa, dari komisi Perempuan Konferensi Waligereja Bangladesh.

“Perempuan telah mengalami perkembangan yang jauh dalam hal kontribusi mereka di masyarakat, negara dan dunia. Di negara-negara maju perempuan memiliki peran yang lebih baik dalam pembuatan kebijakan, tetapi dalam masyarakat yang didominasi laki-laki seperti Bangladesh perempuan dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Peran mereka dalam kepemimpinan terbatas dan seringkali bersifat ornamental, “kata Costa kepada ucanews.com.

“Seorang wanita yang kompeten dapat melayani masyarakat setara dengan laki-laki. Bangsa kita hanya bisa makmur jika kita dapat memastikan perempuan diizinkan untuk memainkan peran mereka dalam masyarakat dengan benar.”

Analis politik Rasheda Rawnak Khan mengatakan, sebuah arena untuk menunjukkan kemampuan diperlukan bagi perempuan dalam politik.

“Perempuan di Bangladesh melewati berbagai bentuk diskriminasi sejak dilahirkan. Seringkali potensi mereka tenggelam di tengah suasana yang tidak menguntungkan,” kata Khan kepada ucanews.com.

“Mulai dari tingkat akar rumput, partai politik harus menawarkan perempuan hak dan platform yang setara sehingga mereka dapat menaiki tangga kepemimpinan dan berkontribusi pada masyarakat dan negara.”

Lewat Museum Katedral, Umat KAJ Diajak Pikul Tanggung Jawab Sejarah

UCANews - Kam, 15/11/2018 - 16:37

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo meresmikan Museum Katedral yang baru selesai direnovasi dan terletak di kompleks Paroki Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat pada Rabu (14/11) sore.

Di hadapan para uskup dan sejumlah imam serta umat awam, Mgr Suharyo mengatakan Museum Katedral hendaknya tidak sekedar merupakan tempat menyimpan benda-benda mati namun juga mampu menghidupkan kembali ingatan akan sejarah khususnya di kalangan umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

“Harapannya supaya khususnya umat Katolik di KAJ tahu sejarah KAJ yang dimulai 211 tahun yang lalu. Tanpa tahu sejarah, kita tidak akan mampu untuk menggali nilai-nilai, keutamaan-keutamaan yang bertumbuh, berkembang mekar berkat bimbingan Tuhan sampai menjadi KAJ yang sekarang ini,” kata prelatus itu.

“Dengan kata lain, museum ini diadakan dan kemudian ditumbuhkembangkan untuk mengajak seluruh umat Katolik di KAJ khususnya untuk ikut terus memikul tanggung jawab sejarah,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Mgr Suharyo mengajak umat Katolik di KAJ untuk “terus merawat dan mengembangkan nilai-nilai itu menjadi Gereja sebagaimana kita cita-citakan, Gereja KAJ sebagai persekutuan murid-murid Kristus dan sebagai gerakan untuk memaklumkan Kerajaan Allah.”

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo membuka selubung papan nama Museum Katedral. (Foto: Katharina R. Lestari/ucanews.com)

 

Romo Albertus Hani Rudi Hartoko SJ, pastor kepala Paroki Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta Pusat, mengatakan peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda dan peringatan syukur Tahun Persatuan KAJ menjadi momentum peresmian Museum Katedral.

“Untuk diketahui sidang pertama Kongres Pemuda II, 27 Oktober 1928, itu berlangsung di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), gedung Pemuda Katolik, yang sekarang di kompleks katedral ini, di aula belakang,” katanya.

Terkait Museum Katedral, Romo Hani menjelaskan bahwa museum ini diprakarsai oleh Romo Rudolphus Kurris SJ dan diresmikan pada 28 April 1991 oleh ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) saat itu yakni Mgr Julius Riyadi Darmaatmadja SJ.

Selanjutnya Museum Katedral dipindahkan ke pastoran yang lama dan soft launching dilakukan pada 20 Agustus bertepatan dengan peringatan 20 tahun tahbisan episkopal Mgr Suharyo, katanya.

“Puji Tuhan, sore hari ini Museum Katedral sudah siap beroperasi dengan konsep bertumbuh. Museum ini terbuka untuk disempurnakan dari waktu ke waktu,” lanjutnya.

Di dalam Museum Katedral terdapat beberapa zona di mana koleksi benda-benda yang berkaitan dengan sejarah Gereja Katolik di Indonesia disimpan. (Katharina R. Lestari, Jakarta)

Juara Pesparani, Paduan Suara SD dan SMP Katolik Balikpapan Lantunkan Tiga Lagu di Depan Jokowi - Tribun Kaltim

Google News - Kam, 15/11/2018 - 15:06

Tribun Kaltim

Juara Pesparani, Paduan Suara SD dan SMP Katolik Balikpapan Lantunkan Tiga Lagu di Depan Jokowi
Tribun Kaltim
Pada acara tersebut juga dihadiri pula para Uskup se-Indonesia yang dipimpin MGR Ignatius Suharyo i sebaga pimpinan tertinggi KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), serta Gubernur Kaltim Isran Noor sebagai pimpinan Kontingen Juara Umum , dan ...

Harvard students hold Catholic Sex Week to explain Church teaching

Catholic News Agency (CNA) - Kam, 15/11/2018 - 14:27

Cambridge, Mass., Nov 15, 2018 / 12:27 am (CNA/EWTN News).- After Sex Week at Harvard University this year, the Catholic Student Association hosted a series of talks designed to offer insight on the Catholic understanding of sexuality.

Hosted Nov. 6-8, this was the first Catholic Sex Week the student organization had conducted. The events followed Harvard Sex Week on Oct. 28-Nov.4, which included discussions on polyamory, fetishes, and contraception.

Jack Clark, vice president of intellectual development for the Catholic Student Association, helped organize Catholic Sex Week, which he said was not a rebuttal to Harvard Sex Week but an opportunity for people to learn a different perspective on sexuality.

“After Harvard Sex Week, we kind of did a few events of our own just to get people talking, to present the Catholic view of sexuality,” Clark told CNA.

“I think the biggest goal was to educate ourselves and to a lesser extent the Harvard community on the reasoning and the belief behind the Catholic view on sex and sexuality.”

The event included three discussions – featuring as speakers Fr Patrick Fiorillo, the undergraduate chaplain; Steve and Helene Bowler, a Catholic married couple; and Dr. Janet Smith, the keynote speaker who also holds the Father Michael J. McGivney Chair of Life Ethics at Sacred Heart Major Seminary in Detroit.

At the talk on Tuesday, Fiorillo explained in detail some of the points in Humanae Vitae, the landmark encyclical reaffirming Church teaching against contraception, which marked its 50th anniversary earlier this year.

On Wednesday, married couple Steve and Helene Bowler shared their personal experience transitioning from a failure to live out the Church’s teaching on contraception to an eventual cooperation with it. Clark said the family is sympathetic to the difficulty of this teaching, but emphasized the spiritual growth it has produced.

Smith spoke on Thursday about the topic “Why sex is complicated.” The discussion approached a general understanding of the Catholic teaching on sexuality and how it differed from a do-what-you-want attitude, said Clark.

“Dr. Smith’s talk was really emphasizing the role of sex and how it can’t be separated from real emotional intimacy, from procreation, from the family, and obviously, from a Catholic perspective, we look at men and women as complimentary.”

The first two talks were held at the Catholic center and attracted about 30 people each. The third event was held on campus and welcomed 60 attendees. Jack was not sure if any non-Catholics attended the events, and said he did not yet know if the series would be repeated next year, but he said he sees the talks as a success.

“I don’t think there is a plan to set this up as an annual thing, but we certainly want to build on the moment that we created. I think people are talking about Catholic views on sexuality more than they have been… I am excited to see where that energy goes, whether it is reading groups or discussions or more talks.”
 

Menteri Jonan Imbau Pemuda Katolik Punya Semangat Militan untuk Membangun Indonesia - Surya

Google News - Kam, 15/11/2018 - 14:06

Surya

Menteri Jonan Imbau Pemuda Katolik Punya Semangat Militan untuk Membangun Indonesia
Surya
SURYA.co.id | JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) Ignasius Jonan mengimbau kepada Pemuda Katolik tetap mempunyai semangat militansi untuk membangun Indonesia. Pemuda Katolik tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, ...
Bakal Gelar Kongres Nasional di NTT, Karolin Pimpin PP Pemuda Katolik Temui Menteri JonanTribun Pontianak

all 5 news articles »

Dies Natalis ke 73 Pemuda Katolik, Jonan Minta Kader Militan dalam Bangun Bangsa dan Cinta Negara - Tribun Manado

Google News - Kam, 15/11/2018 - 13:02

Tribun Manado

Dies Natalis ke 73 Pemuda Katolik, Jonan Minta Kader Militan dalam Bangun Bangsa dan Cinta Negara
Tribun Manado
Organisasi yang memiliki historis panjang seiring dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia pada era pejuangan kemerdekaan pada Kamis, 15 November 2018 merayakan Dies Natalis (Hari Lahir) ke 73. Pada awalnya Pemuda Katolik bernama AMKRI ...

Kemkumham: Jumlah Organisasi Kemasyarakatan di Indonesia Terus Bertambah - Harian Ekonomi Neraca

Google News - Kam, 15/11/2018 - 11:02

Kemkumham: Jumlah Organisasi Kemasyarakatan di Indonesia Terus Bertambah
Harian Ekonomi Neraca
Sejak sebelum kemerdekaan, sejumlah organisasi masyarakat telah terbukti kontribusinya dalam pembangunan bangsa seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Taman Siswa, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Wanita Katolik Republik Indonesia."Dalam era ...

Bishop Malone criticized for $200,000 house renovation

Catholic News Agency (CNA) - Kam, 15/11/2018 - 09:31

Buffalo, N.Y., Nov 14, 2018 / 07:31 pm (CNA).- Bishop Richard Malone of Buffalo, New York has come under fire for reportedly spending an estimated $200,000 to renovate his new home - a former convent near St. Stanislaus Church.

Malone had announced in April that he would sell his bishop’s mansion to help pay for compensation for victims of sexual abuse in the diocese. He has since moved into his new residence with his priest assistant.

Internal diocesan documents and emails detailed the cost of the renovation, and were released in a Nov. 12 report from Charlie Specht of local news station WKBW. The estimated expenses include $22,000 for ramp access for handicapped visitors, $30,000 for landscaping, $7,200 to install WiFi, and $46,000 for a garage addition and a parking spot for staff.

Malone wrote in email released by WKBW that a visiting priest was “alarmed about my living in such a run down neighborhood” when Malone took him by the new residence.

“I wasn’t surprised by [the priest’s] reaction...no successor of mine would want to go there!” Malone wrote.

Publicly, however, Malone has told the press that he was looking forward to moving in, and said “it’s a good thing for me to be over there” in a neighborhood where “there are some encouraging signs.”

Last month, Siobhan O’Connor, former executive assistant to Malone, leaked internal diocesan documents to the local press. The documents purported to show that the diocese culled down a list of over 100 clergy accused of “criminal, abusive or inappropriate behavior” to a final, publicly released list of just 42 who were “removed from ministry, were retired, or left ministry” due to allegations. This list was originally released in March.

The diocese has since added names of accused clergy to the list, bringing the total number acknowledged by the diocese to 78.  

O’Connor reportedly suggested to Malone in March that he could live in the rectory of St. Joseph Cathedral in downtown Buffalo, taking up residence in a newly-vacated suite and allaying some of the additional costs of renovating the convent.

Malone thanked O’Connor for the idea at the time but said he needed the additional space for his “rather ample personal theological library” and his piano, and said he preferred to live in a residence that was solely his own, and not a parish rectory, WKBW reported.

According to additional emails, Malone requested that the convent be used solely as his residence, despite the fact that the building had been used for parish meetings, choir practices, and gatherings since the 1970s.

“I prize privacy above most everything,” Malone reportedly wrote. “I cannot live in a building that is used or meetings, or for anything other than my residence.”

Kathy Spangler, spokesperson for the diocese, responded to the situation in a statement to local media.

She said the rectory at the cathedral was “simply not suitable for the gatherings [the] bishop hosts and was therefore not considered,” and that the convent was chosen in order to “accommodate the many gatherings and events that a bishop hosts during the year.”

She said much of the expensive work was being done to make the building handicapped accessible, as well as other non-cosmetic improvements such as repairing air conditioning and bringing electrical systems up to code.

Spangler also said Malone would not have made the move to the convent if he were concerned for his safety in that neighborhood, and that the bishop “does not want to be alone.”

CNA reached out to the Diocese of Buffalo for further comment but did not receive a reply by press time.

 

Menimbang Isu Kebangkitan PKI - Hidyatullah.com mengabarkan kebenaran

Google News - Kam, 15/11/2018 - 09:28

Hidyatullah.com mengabarkan kebenaran

Menimbang Isu Kebangkitan PKI
Hidyatullah.com mengabarkan kebenaran
Seperti dilansir setkab.go.id Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada Pembukaan Kongres XX Tahun 2018 Wanita Katolik Indonesia (WKRI), di Magnolia Grand Ballroom Hotel Grand Mercure, Superblok Mega Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa ...

Sambut Hari Pahlawan, Ormas Katolik di Kota Depok Gelar Diskusi Kebangsaan

Sesawi.Net - Kam, 15/11/2018 - 09:20
ORMAS Katolik Kota Depok di antaranya Pemuda Katolik, WKR, dan ISKA merajut kerjasama dengan bersama mengadakan gelaran Diskusi Kebangsaan bertema “Demokrasi dan Konsensus Bersama dalam Bernegara”. Acara ini berlangsungdi Ruang Serba Guna St. Yohanes Santo Paulus II, Lt. 2 Gereja St. Paulus Depok, Minggu (11/11/2018). Ketua Panitia Diskusi Edi Silaban menerangkan, dasar diskusi ini adalah […]

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator