Berita dan Event

Mungkinkah diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan?

Pen@ Katolik - Sen, 11/06/2018 - 18:00
Gambar diambil dari www.atotheword.com/doctrine-of-baptisms/water-baptism-necessary-salvation/

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

262. Mungkinkah diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan?

Karena Kristus wafat untuk keselamatan semua orang, yang diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan adalah mereka yang meninggal karena iman (Pembaptisan Darah), para katekumen, dan mereka yang bahkan tidak mengenal Kristus dan Gereja mencari Allah dengan sungguh-sungguh di bawah tuntunan rahmat dan berusaha melaksanakan kehendak-Nya (Pembaptisan Rindu). Gereja dalam liturgi mempercayakan anak-anak yang meninggal tanpa Sakramen Pembaptisan ke dalam kerahiman Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1258-1261, 1281-1283

263. Apa buah Sakramen Pembaptisan?

Sakramen Pembaptisan menghapuskan dosa asal, semua dosa pribadi, dan semua hukuman karena dosa. Hal ini membuat orang yang dibaptis ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi Tritunggal melalui rahmat pengudusan, rahmat pembenaran yang mempersatukan seseorang dengan Kristus dan Gereja-Nya. Seseorang ikut ambil bagian dalam imamat Kristus dan menerima dasar persatuan dengan semua orang Kristen. Ia menerima keutamaan teologal dan anugerah-anugerah Roh Kudus. Seseorang yang dibaptis menjadi milik Kristus selamanya. Dia ditandai dengan meterai Kristus yang tak dapat dihapuskan.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1262-1274, 1279-1280

264. Apa arti nama Kristen yang diterima waktu menerima Sakramen Pembaptisan?

Nama itu penting karena Allah mengenal masing-masing dari kita dengan nama, yaitu dalam keunikan sebagai pribadi. Dalam Sakramen Pembaptisan, seorang Kristen menerima namanya dalam Gereja. Lebih baik jika nama dari seorang santo atau santa yang bisa menjadi model kesucian bagi yang dibaptis dan dapat menjadi pengantara di hadapan Allah.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1256-1259, 1267

PMKRI St.Albertus Magnus Sungai Raya Audiensi Dengan Pastor Moderator - Tribun Pontianak

Google News - Sen, 11/06/2018 - 17:07

Tribun Pontianak

PMKRI St.Albertus Magnus Sungai Raya Audiensi Dengan Pastor Moderator
Tribun Pontianak
ID, SINGKAWANG - Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia melakukan temu sapa atau yang di kenal audiensi dengan Pastor Moderator Pastor Alexsius Alex Mingkar, Pr yang saat ini sebagai Pastor kepala Paroki St.Yosef Katedral Pontianak.

Google News

Viral, Foto Biarawati Bagi-bagi Paket Makanan Buka Puasa di Jalan - KOMPAS.com

Google News - Sen, 11/06/2018 - 17:06

KOMPAS.com

Viral, Foto Biarawati Bagi-bagi Paket Makanan Buka Puasa di Jalan
KOMPAS.com
PONTIANAK, KOMPAS.com - Hujan gerimis baru saja reda. Rombongan ibu-ibu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Katederal Santo Yosef Pontianak kemudian bergegas turun ke jalanan di seputaran gereja, Jumat (8/6/2018) sore. Sesaat sebelum ...

Pelita Hati: 12.06.2018 – Cita Rasa Kristiani

Sesawi.Net - Sen, 11/06/2018 - 17:00
Bacaan Matius 5:13-16 Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak  yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah […]

Pesparani Katolik Resmi Diluncurkan Kemenag RI – Pemprov Maluku - tajuktimur.com (Siaran Pers)

Google News - Sen, 11/06/2018 - 16:43

tajuktimur.com (Siaran Pers)

Pesparani Katolik Resmi Diluncurkan Kemenag RI – Pemprov Maluku
tajuktimur.com (Siaran Pers)
Wakil Ketua I LP3KN Romo agus Ulahayanan menyatakan Pesparani Nasional ini berawal dari usulan delegasi umat Katolik Keuskupan Amboina dipimpin Mgr Petrus C. Mandagie kepada pimpinan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 10 tahun silam.

Lagi, Seorang Imam Ditembak Mati Di Filipina

UCANews - Sen, 11/06/2018 - 16:13

Daftar korban tewas dalam Gereja Katolik di Filipina bertambah pada Minggu (10/6) ketika seorang imam ditembak mati saat hendak memimpin Misa di Propinsi Nueva Ecija.

Pastor Richmond Villaflor Nilo dari Keuskupan Cabanatuan ditembak di dalam Kapel Nuestra Senora dela Nieve di Kota Zaragoza.

Menurut polisi, ia ditembak ketika mengenakan jubah sebelum mengawali Misa. Sedikitnya ada tiga tembakan yang dilepaskan melewati jendela kapel tersebut.

Pastor Nilo adalah imam keempat yang ditembak di Filipina dalam enam bulan terakhir dan kedua dalam sepekan.

Pada Rabu (6/6) lalu, Pastor Rey Urmeneta dari Paroki St. Mikael Malaikat Agung di Kota Calamba diserang oleh dua pria bersenjata. Namun ia bertahan hidup.

Pada 29 April, seorang pria bersenjata menembak mati Pastor Mark Ventura, seorang kepala paroki di Kota Gattaran di Filipina bagian utara, seusai memimpin Misa Minggu.

Pada 4 Desember 2017, Pastor Marcelito Paez ditembak dan dibunuh di Kota Jaen, Propinsi Nueva Ecija.

“Tidak seorang imam pun, dan tidak seorang manusia pun, boleh dibunuh secara brutal dan tanpa rasa hormat dan impunitas,” kata Uskup Cabanatuan Mgr Sofronio Bancud dalam sebuah pernyataan.

Prelatus itu mengatakan “untuk membunuh seorang imam apa pun motif atau alasannya, hal ini bukan saja tidak Kristiani dan tidak manusiawi tetapi juga tidak seperti orang Filipina,” lanjutnya.

Pastor Nilo adalah pastor Paroki St. Vincentius Ferrer di Kota Zaragoza dan administrator keuangan Keuskupan Cabanatuan sebelum ia tewas ditembak.

“Kami mengutuk keras dan sangat berduka atas pembunuhan brutal itu … dan kekerasan dan budaya impunitas yang meningkat … bahkan terhadap klerus yang tidak berdaya,” kata Uskup Bancud.

Ia meminta umat Katolik untuk berdoa bagi arwah Pastor Nilo dan “bagi perdamaian, kesembuhan dan keamanan bagi komunitas kami,” dan bagi klerus dan kaum religius khususnya di Cabanatuan.

Ia juga menuntut “penyelidikan imparsial dan mendalam dan resolusi yang cepat.”

Para uskup di negara itu menyampaikan kekhawatiran akan jumlah imam yang dibunuh dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Konferensi Waligereja Filipina, Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, mengatakan ia “sangat sedih dan terganggu” oleh serangan terhadap para klerus.

“Saya sungguh-sungguh memohon kepada otoritas kita khususnya polisi agar berusaha sebaik mungkin dalam melakukan penyelidikan dan mengadili para pelaku kejahatan ini,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penyelidikan yang layak merupakan “hal terpenting dari berbagai macam hal yang bisa kita lakukan.”

“Kita bisa melakukan banyak hal tapi … sangat penting untuk memulihkan kepercayaan kita bahwa keadilan akan ditegakkan,” katanya.

Uskup Cubao Mgr Honesto Ongtioco mengatakan pembunuhan tidak akan menghentikan Gereja untuk mengungkap kebenaran dan mewartakan Injil.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (11/6), kelompok hak asasi manusia (HAM) Karapatan mengecam serangan terhadap sejumlah imam, seorang jurnalis dan seorang prosekutor dan menyebutnya “sebagai tanda jelas akan iklim impunitas yang berkembang di Filipina.”

Pada Kamis (7/6), Dennis Denora, penerbit pers komunitas Trends and Times, ditembak dan dibiarkan mati di Kota Panabo, Propinsi Davao del Norte.

Pada Senin (4/6), prosekutor Madonna Joy Tanyag yang tengah hamil ditusuk hingga tewas di Quezon City.

Juru bicara Karapatan, Cristina Palabay, mengatakan: “Ada keraguan besar bahwa otoritas akan mengungkap kebenaran akan pembunuhan (dan serangan) baru-baru ini” di tengah pembunuhan terkait pemberantasan narkoba.

“Pemerintah tidak mau melihat kesalahannya sendiri sebagai akibat dari korupsi dan aparat yang brutal dan mata duitan,” katanya.

 

Gereja dan Pancasila

Sesawi.Net - Sen, 11/06/2018 - 14:01
SAAT masih menjadi pelajar di sekolah dasar penulis teringat adanya sebuah lagu nasional yang sering diwajibkan oleh guru untuk dilantunkan bersama dengan judul Garuda Pancasila, yang lirik dan lagunya diciptakan P. Sudharnoto, sebagai berikut : Garuda Pancasila Akulah pendukungmu Patriot proklamasi Sedia berkorban untukmu Pancasila dasar negara Rakya adil makmur sentosa Pribadi bangsaku Ayo maju […]

“Kami Datang untuk Bernyanyi dan Bergembira” - Investor Daily

Berita Seminari Tinggi - Sen, 11/06/2018 - 12:16

Investor Daily

“Kami Datang untuk Bernyanyi dan Bergembira”
Investor Daily
Dalam tugas ini mereka juga sekaligus melakukan Aksi Panggilan kepada kaum muda untuk memperkenalkan profil Seminari Menengah Mertoyudan yang merupakan salah satu tempat persemaian tertua (104 tahun), pendidikan untuk menjadi Imam di ...

Canis Choir, Koor Seminari Mertoyudan yang Menggetarkan - Liputan6.com

Berita Seminari Tinggi - Sen, 11/06/2018 - 12:06

Liputan6.com

Canis Choir, Koor Seminari Mertoyudan yang Menggetarkan
Liputan6.com
Liputan6.com, Jakarta Kami datang untuk bernyanyi dan bergembira bersama, itulah yang selalu dikatakan Rektor Seminari Menengah Mertoyudan Romo TB Gandhi SJ dalam sambutannya selama melakukan Konser dan Aksi Panggilan Canis Choir.

PMKRI Harus Jawab Tantangan Zaman Now - Investor Daily

Google News - Sen, 11/06/2018 - 12:05

Investor Daily

PMKRI Harus Jawab Tantangan Zaman Now
Investor Daily
MATARAM- Keluarga besar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) baik yang masih aktif ataupun alumni hendaknya dapat memberi jawaban atas berbagai tantangan Zaman Now terkait dengan masa depan Indonesia. Satu hal yang ...
Ini Pesan Ketua Forkoma Hermawi Taslim Agar Bendera PMKRI Tetap Berkibar demi NKRIPos Kupang
PMKRI Harus Jadi Solusi Atas Tantangan Zaman NowSuara Pembaruan
PMKRI Harus Mampu Membaca Tanda-tanda ZamanRMOL.CO (Siaran Pers)

all 4 news articles »

Karolin Ajak Perempuan di Kalbar Ambil Bagian Dalam Pembangunan - Tribun Pontianak

Google News - Sen, 11/06/2018 - 11:55

Tribun Pontianak

Karolin Ajak Perempuan di Kalbar Ambil Bagian Dalam Pembangunan
Tribun Pontianak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Calon Gubernur Kalimantan Barat nomor urut dua, dr. Karolin Margret Natasa mengajak Wanita Katolik Republik Indonesia untuk bersama meningkatkan perannya dalam masyarakat dan pembangunan Kalbar ke ...

and more »

PMKRI Harus Jawab Tantangan Zaman Now - Tribunnews

Google News - Sen, 11/06/2018 - 11:48

Tribunnews

PMKRI Harus Jawab Tantangan Zaman Now
Tribunnews
COM, MATARAM - Keluarga besar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesika (PMKRI) baik yang masih aktif ataupun alumni hendaknya dapat memberi jawaban atas berbagai tantangan Zaman Now terkait dengan masa depan Indonesia.
PMKRI Harus Jawab Tantangan Zaman Now | Investor DailyInvestor Daily
PMKRI Harus Mampu Membaca Tanda-tanda Zaman - RmolRMOL.CO (Siaran Pers)
PMKRI Harus Jadi Solusi Atas Tantangan Zaman Now | Suara ...Suara Pembaruan
Pos Kupang -info terbaru (Blog)
all 4 news articles »

Demi Promosi Panggilan, Canis Choir Seminari Mertoyudan Pentas Bernyanyi 8-11 Juni 2018

Sesawi.Net - Sen, 11/06/2018 - 10:43
KAMI datang untuk bernyanyi dan bergembira.Itulah yang selalu dikatakan Rektor Seminari Menengah Mertoyudan Romo TB Gandhi SJ dalam sambutannya selama melakukan Konser dan Aksi Panggilan dengan membawa kelompok paduan suara bernama Canis Choir. Penampilan pertama Canis Choir di Gereja Katedral Jakarta, 8 Juni 2018 malam, telah mendapat sambutan hangat dari para pengunjung dan sebagian umat […]

Lentera Keluarga – Kebahagiaan

Sesawi.Net - Sen, 11/06/2018 - 09:18
Senin, 11 Juni 2018. PW St. Barnabas Bacaan: 1 Raj 17:1-6; Mzm 121:1-2.3-4.5-6.7-8; Mat 5:1-12. Renungan: SABDA Bahagia yang diajarkan Tuhan Yesus mau mengajak kita bahwa sumber kebahagiaan tidak terletak pada pada apa yang ada di luar, yang kita terima dan peristiwa hidup yang kita alami. Jika kebahagiaan itu diletakkan dalam pengalaman hari ini dan […]

Anak Nelayan Menjadi Uskup Baru Mindanao

UCANews - Sen, 11/06/2018 - 08:00

Seorang putra nelayan miskin dari kota pantai di Filipina selatan ditahbiskan menjadi uskup Tandag di provinsi Surigao del Sur, Mindanao pada 7 Juni.

Menjadi imam selama 25 tahun terakhir, Uskup Raul Bautista Dael, penduduk asli provinsi Misamis Oriental, ditahbiskan oleh Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung  Manila.

Ia akan menggantikan Uskup Agung Nereo Odcimar yang berusia 77 tahun, yang pensiun lebih awal, sebagai uskup Tandag.

Dalam pesannya selama upacara pentahbisan, Kardinal Tagle mengingatkan Uskup Dael bahwa menjadi seorang uskup “ini bukan suatu kehormatan (dan) bukan promosi, itu bukan karier.”

“Ini bukan menaiki tangga dan naik ke sana sebelum yang lain. Tidak, ini semua tentang misi, dengan cara yang sama seperti Yesus diutus,” kata prelatus Manila itu.

Kardinal Tagle memberitahukan uskup baru itu “tidak khawatir”  menjadi prajurit meskipun ada cobaan yang akan datang sebagai pemimpin Gereja.

Ketika tiba gilirannya untuk bicara, Uskup Dael mengatakan dia “gemetar ketakutan” setelah mendengar berita pengangkatannya dari Duta Besar Vatikan  pada  Februari.

“Seolah-olah misteri masuk melalui tubuh saya dan menembus seluruh tubuh saya sehingga saya bisa merasakan daging terdalam saya bergetar,” katanya kepada wartawan setelah pentahbisan.

Uskup Dael mengatakan dia tidak dapat membayangkan dirinya dipercayai dengan “misi yang sangat mulia.”

“Saya merasa tidak layak. Saya tahu kekurangan saya. Tetapi pada saat yang sama saya juga merasakan Tuhan senang dengan upaya saya meskipun saya memiliki kelemahan,” katanya.

Uskup Dael mengatakan dia tidak akan terburu-buru dalam keuskupannya tetapi akan meluangkan waktu untuk memperkenalkan dirinya kepada orang-orang yang akan dia layani.

“Saat ini, saya belum akan masuk ke hal-hal berat. Saya hanya ingin mendengarkan dan mengamati,” katanya.

Uskup Dael memilih motto uskupnya: “Duc di Altum (bertolaklah ke tempat yang dalam),” sebuah perikop dari injil,  untuk mengingatkannya tentang masa lalunya yang sederhana.

Dia mengatakan bahwa mottonya juga menyoroti “sentralitas persahabatan saya yang intim dengan Tuhan di mana seluruh pelayanan dan hidup saya bergantung.”

Sebelum masuk seminari, Uskup Dael menghabiskan sebagian besar masa remajanya di sekolah lokal di kota kelahirannya. Dia mengambil studi filsafat di Universitas Xavier yang dikelola Yesuit di kota Cagayan de Oro.

Dia memulai pembinaan religius dan imamatnya di Seminari Tinggi San Jose de Mindanao  tahun 1983. Untuk studi teologinya, ia belajar di Seminari Teologi Santo John Vianney dan lulus  tahun 1993.

Ia memperoleh lisensi dalam bidang teologi  di Sekolah Tinggi Teologi Loyola di Manila dan mengambil studi doktoralnya di Universitas Kepausan Gregorian di Roma.

 

Gereja Katolik Diserang di Kachin

UCANews - Sen, 11/06/2018 - 08:00

Sebuah gereja Katolik dirusak di Negara Bagian Kachin akibat pertempuran sporadis yang terus berlanjut antara militer Myanmar dan pemberontak Kachin.

Gereja Katolik Keluarga Kudus dan sebuah rumah di dekatnya diserang oleh militer Myanmar di desa Kamaing Kawng Ra,  kotapraja Hpakant, demikian menurut para saksi.

Pastor Paroki  Pastor Peter Nlam Tu mengatakan dia mendengar ledakan di dekat desa pada malam 30 Mei dan beberapa menit kemudian terdengar suara tembakan.

Dia mengatakan tampaknya tentara  menembak secara acak, meninggalkan lubang-lubang peluru di gedung gereja dan rumahnya.  Sebuah mortir yang tidak meledak mendarat di kompleks gereja.

“Keesokan harinya, militer datang dan menjinakkan granat yang belum meledak. Mereka tidak menanyai saya tentang serangan itu atau berbicara tentang siapa yang melakukannya,” kata Pastor Nlam Tu kepada ucanews.com.

Tang Lung, seorang katekis lokal, mengatakan dia dan seorang imam sedang mengadakan pertemuan dengan para pengungsi internal (IDP) ketika serangan itu terjadi. Dia mengatakan empat lubang peluru terlihat di gereja.

“Kami melaporkan kepada pemerintah desa, polisi, dan petugas pemadam kebakaran tentang granat  yang belum diledakkan dan kemudian mereka melaporkan kepada  militer, yang datang dan membawanya keesokan harinya,” kata Lung kepada ucanews.com.

Bom kedua meledak di dekat sebuah rumah, mengeluarkan  pecahan peluru melewati  dinding bambu dan merembes pipi seorang bayi perempuan  berusia 22 bulan.

Sekitar 300 umat Katolik di Kamaing Kawng Ra dan sekitar 45 IDP yang meninggalkan rumah mereka sebulan lalu berlindung di sebuah aula dekat kompleks gereja.

Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius – kota Mongkoe,  Negara Bagian Shan yang terkena serangan udara militer Myanmar pada 3 Desember.

Gereja Katolik Maria  Dikandung Tanpa Noda Kutkai, Negara Bagian Shan dilanda tembakan artileri kecil pada Februari 2015.

Lebih dari 60 gereja Kristen telah dihancurkan di Negara Bagian Kachin sejak gencatan senjata yang sudah lama rusak pada tahun 2011, demkian menurut kelompok advokasi Inggris Christian Solidarity Worldwide.

Sebagian besar penduduk negara Bagian Kachin  yang berjumlah 1,7 juta adalah orang Kristen, termasuk 116.000 umat Katolik.

Lebih dari 100.000 orang tetap terlantar di negara bagian Kachin dan negara bagian Shan sejak pertempuran pecah kembali pada 9 Juni 2011.

Militer Myanmar telah meningkatkan serangannya di Kachin sejak awal April dengan meluncurkan serangan terhadap Tentara Kemerdekaan Kachin menggunakan artileri berat, helikopter dan jet tempur.

Lebih dari 7.400 orang telah berlindung di kedua gereja Katolik dan Baptis, demikian menurut laporan PBB.

5 Pria Muslim Dibunuh di Thailand

UCANews - Sen, 11/06/2018 - 07:50

Sejumlah orang bersenjata M16 menembak mati lima pria yang sedang mengobrol di sebuah beranda pada Senin (11/6) di sebuah desa di Propinsi Yala, Thailand.

Kelima pria itu diidentifikasi oleh polisi sebagai umat Islam setempat. Mereka ditembak mati sekitar pukul 13.00 waktu setempat oleh para penyerang yang mengenakan jaket dan mengendarai dua sepeda motor.

Menurut polisi, para korban mungkin menjadi target balas dendam oleh separatis Islam atau warga desa atas permusuhan pribadi.

Penembakan itu merupakan kekejaman terbaru dalam serangkaian penembakan, pemboman dan pemenggalan kepala yang terus terjadi di tiga propinsi yang berpenduduk mayoritas Muslim – Yala, Pattani dan Narathiwat. Di ketiga wilayah ini, pemberontakan berdarah separatis terhadap pemerintahan Buddha dari Bangkok terjadi sejak 2004.

Sekitar 7.000 orang, sebagian besar warga desa beragama Buddha dan Islam, tewas dalam serangan balasan di ketiga propinsi itu. Selain itu, polisi dan tentara, biksu, guru dan pejabat pemerintah terus menjadi target dari anggota kelompok separatis seperti Barisan Revolusi Nasional di Pattani.

“Kami hidup dalam ketakutan,” kata seorang pria Muslim dari sebuah keluarga ternama di Pattani kepada ucanews.com. Ia minta tidak disebutkan namanya karena takut akan dicap sebagai kolaborator oleh separatis.

“Umat Islam dan Buddha, kami dulu hidup berdampingan dengan damai,” lanjutnya. “Kami menghadiri pernikahan dan pemakaman bersama. Sekarang kami tidak bisa melakukan itu.”

Bagi banyak warga setempat, bahkan melibatkan diri dalam kegiatan duniawi bisa berbahaya.

Banyak pengendara sepeda motor ditembak dalam serangan acak di tiga propinsi tersebut. Beberapa hari lalu, empat pria yang tengah mendulang emas di sebuah perkebunan karet di Narathiwat ditemukan tewas dengan luka tembakan di sekujur tubuhnya. Warga desa beragama Islam ini termasuk seorang bapak dan dua anak remajanya.

“Kami tidak tahu persis apa motifnya,” kata Manus Sixsamat, komandan polisi Narathiwat, kepada media setempat.

Para korban itu mungkin dibunuh oleh pemberontak Muslim atau pesaing mereka dalam pendulangan emas.

Batasan antara aksi kekerasan oleh pemberontak dan geng penjahat seringkali tidak jelas di ketiga propinsi itu.

“Penyelundup manusia, penyelundup narkoba, gembong lokal, aparat penipu – mereka semua terlibat,” kata seorang pakar forensik yang bekerja untuk pemerintah dan tinggal di Bangkok. Ia menolak untuk disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Banyak pembunuhan dan pemboman yang terjadi di wilayah rawan itu masih belum terselesaikan. Rezim militer telah berjanji untuk menenangkan wilayah itu, namun hanya ada sedikit kemajuan. Pemberontak masih bisa melakukan serangan sesuka hati.

Di akhir Mei, pada Minggu malam, terduga pemberontak meledakkan bom rakitan di 20 lokasi, terutama di ATM yang ada di ketiga propinsi itu dan juga Propinsi Songkhla. Dua perempuan terluka.

“(Separatis) selalu mencari cara untuk menciptakan kepanikan dan ketidaknyamanan,” kata juru bicara tentara, Kolonel Pramote Prom-in, kepada media. “Mereka mencari target yang mudah.”

 

Pastor Yang Baik Itu Sudah “Pergi”

Mirifica.net - Sen, 11/06/2018 - 06:05
Hari ini Minggu 10 Juni 2018 pkl 19.27 WIT meninggal mendadak di RS Pertamina Sorong, RD. Yoseph Lambertus Sena. Pastor Yosef adalah imam Keuskupan Agung Kupang. Dia ditahbiskan di Kupang tahun 2002. Karya tahun-tahun awal sebagai imam dijalankan di Keuskupan Agung Kupang. Sejak 2007, Pastor Yos diperbantukan di Keuskupan Manokwari-Sorong, sampai dia menghembuskan nafas terakhir. …

Hari ini, Hasyim Djojohadikusumo Lantik Pengurus KIRA NTT - BintangTimur.News

Google News - Sen, 11/06/2018 - 05:15

BintangTimur.News

Hari ini, Hasyim Djojohadikusumo Lantik Pengurus KIRA NTT
BintangTimur.News
Bintangtimur.news – Kupang – Ketua Dewan Pembina Kristen Katolik Indonesia Raya (KIRA) Pusat Hasyim Djojohadikusumo, hari ini, Senin (11/6), dijadwalkan melantik Pengurus KIRA NTT. Ketua umum KIRA Pusat Fary Djemi Francis dipastikan hadir ...

and more »

Paus ajak anak-anak untuk mengingat guru-guru dan sekolah pertama mereka

Pen@ Katolik - Sen, 11/06/2018 - 04:55

“Jangan pernah melupakan guru-guru pertama, jangan pernah melupakan sekolah, karena mereka adalah akar dari budaya Anda. Dan mengingat para guru kalian dan sekolah-sekolah kalian akan membantu kalian untuk tidak tercabut, dan membantu kalian menghasilkan bunga dan buah.”

Seruan itu disampaikan Paus Fransiskus kepada lebih dari 500 anak dari berbagai agama dari pinggiran kota Roma dan Milan di Italia, yang datang menemuinya di Vatikan, Sabtu, 9 Juni 2018 dalam prakarsa bernama “Treno dei Bambini” (bahasa Italia) yang berarti “Kereta Anak-Anak.”

Prakarsa “Treno dei Bambini,” yang merupakan bagian dari program “Courtyard of the Gentiles” dari Dewan Kepausan Vatikan untuk Kebudayaan bekerja sama dengan kereta api negara Italia, mencakup anak-anak bukan hanya Katolik tetapi juga Muslim, Budha, Ortodoks, ateis dan lain-lain.

“Treno dei Bambini” edisi keenam tahun ini bertema, “Kota yang Penuh Persahabatan.” Tujuannya adalah membangun kembali pinggiran-pinggiran kota yang tak terpelihara tempat anak-anak mengalami banyak kesulitan.

Ketika bertemu dengan anak-anak yang mengenakan topi merah Kereta Api Italia dan kaos putih bertuliskan “Treno dei Bambini,” Paus Fransiskus tidak menyampaikan pidato yang disiapkan tetapi menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tamu-tamu mudanya.

Paus mengenang guru-gurunya, terutama Stella, yang mengajarinya di kelas pertama dan ketiga. Paus mengatakan dia terus berhubungan dengan guru itu dan kemudian sebagai uskup dia menolong guru itu di saat sakitnya hingga kematiannya pada usia 94 tahun.

Paus Fransiskus sangat menghargai hadiah-hadiah yang dibuat anak-anak itu untuk dirinya dengan mengatakan, “ini penting karena kalian telah membuatnya dengan kecerdasan, dengan tangan dan dengan hati kalian.” Sesuatu yang dibuat dengan kecerdasan, dengan hati dan dengan tangan, lanjut Paus, adalah tulus dan manusiawi.(pcp berdasarkan Vatican News)

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia agregator