Dari Pengembangan Sosial Ekonomi menjadi Pengembangan Spiritualitas Ekonomi

“Dari Pengembangan Sosial Ekonomi menjadi Pengembangan Spiritualitas Ekonomi”

  • RET-RET RASUL PSE di Hening Griya-Purwokerto pada 9 – 13 April 2013, diikuti 27 orang peserta yang terbagi dalam dua kubu yang seimbang: Frater 13 orang, Imam 13 orang dan dipersatukan dalam 1 orang Diakon yg jadi jembatan dan pemersatu.

  • Keseluruhan rangkaian acara dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi Seminari KWI, Mgr.Dominikus Saku, dengan didampingi oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI, Rm. Sipri Hormat,Pr dan Ketua UNIO Indonesia, Rm. Dr. Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. Dengan berinspirasikan cerita Injil tentang panggilan Petrus, dkk dari menjadi penjala ikan ke menjadi penjala manusia, Bapa Uskup Domi mengajak peserta ret-ret untuk mencermati keberadaan pribadinya masing-masing yang oleh Allah telah diangkat dan dikonsekrasikan menjadi pribadi dan kelompok terpanggil khusus. Bahwasannya, sebagai pribadi terpanggil kita merupakan pribadi istimewa di hadapan Allah, yang diproyeksikan khusus oleh Allah melalui Gereja bagi misiNya menyelamatkan dunia. Demikianpun sebagai kelompok terpanggil khusus, kita tetaplah selalu menjadi kawanan kecil, yang tak Cuma kecil dari segi jumlah, tapi juga kecil dari segi kualitas dan karena itu sangatlah penting untuk kita terus berjuang memperbaharui diri sesuai tuntutan jaman dan kebutuhan tempat kerja kita masing-masing. Dengan bantuan dan kekuatan Allah yang sudah mengubah Petrus, dkk dari Cuma bergulat dengan ikan dan uang menjadi bergulat untuk Tuhan dan sesame, semoga kita pun dalam kerapuhan dan ketakberdayaan manusiawi kita mampu memajukan kesejahteraan dan keselamatan banyak orang dengan kekuatan dan kekuasaan Allah sendiri.

  • Usai ekaristi, rangkaian acara pembukaan dilanjutkan dengan mendengarkan seklumit penjelasan Panitia tentang dasar, alasan dan tujuan yang mau dicapai dari kiegiatan ini. Panitia, melalui Bapak…….. mengungkapkan dasar dan alasan yang menjadi pijakan dari kegiatan ini yakni KONVENAS UNIO di Tomohon, Sulawesi pada tahun lalu yang merekomendasikan perlunya diadakan ret-ret social bagi para agen pastoral dalam rangka menanamkan rasa cinta yang besar terhadap karya pastoral social ekonomi. Sedangkan Harapan dan tujuan yang mau dicapai yakni terorbitnya para Rasul PSE jaman ini dalam karya pastoral dan pelayanan Gereja. Bertumpu pada rekomendasi di atas, maka Komisi PSE KWI dalm kerjasama dengan Komisi Seminari KWI dan UNIO Indonesia berinisiatif untuk menyelenggarakan Ret-Ret Rasul PSE yang kita geluti saat ini.

  • Rm. Wanta, Pr (selaku Ketua UNIO Indonesia) menyampaikan beberapa pokok pikiran yang bisa menjadi “api” yang mengobarkan semangat cinta kita dalam perjuangan menjadi “Rasul PSE” jaman ini. Karena menurut beliau, persoalan pokok yang mencuat dan yang menjadi perhatian utama dalam kehidupan Gereja kita sekarang yakni social ekonomi. Bahwa doa dan ritus keagamaan memang penting, tapi mengaplikasikannya dalam hidup nyata sehari-hari amatlah penting. Iman butuh perbuatan. Dan memang faktanya, hanya bila orang kenyang dan sejahtera baru ia bisa berdoa dengan baik dan khusuk, bukan? Intinya kesejahteraan bonum communae amatlah penting tuk mendapat perhatian Gereja. Dan itu merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama sebagai agen pastoral gereja jaman ini, sebagai “Rasul PSE” jaman ini.

  • Selanjutnya, Rm. Sipri Hormat dan Rm. Sipri Hormat, Pr (Selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI)., mencoba merefresh cara berpikir kita tuk kembali ke format dasar cara berpikir kita sebagai pencinta filsafat, yakni berjuang tuk selalu berpikir kritis. Faktanya, jaman kita berlari begitu cepat menggendong kemajuan. Kita seperti terpaksa lari terbirit-birit untuk menyesuaikan diri di dalamnya. Globalisasi dunia telah membawa serta gaya hidup materialistic, konsumeristik dan hedonistic. Pertanyaannya, bagaiamanakah kita menjaga eksistensi kita di dalam perubahan dan kemajuan dunia yang begini cepat? Berpkir kritis yang spiritual, tetaplkah menjadi pilihan utama bagi kita para agen pastoral. Bahwa secepat apapun dunia kita bergerak dan berubah, kita manusia tetap menjadi Subjek yang menentukan. Sebagai Subjek beriman, kita percaya bahwa Yesus Kristus yang kita imani tetaplah Dia yang satu dan sama, baik kemarin, hari ini dan selama-lamanya. Roh yang menuntun dan menjiwai kita juga tetap satu dan sama yakni Roh Kudus yang dianugerahkan Bapa dan Yesus. Mantan Formator dan Dosen di Seminari Tinggi St.Petrus Ritapiret dan STFK/T Ledalero ini, ahirnya mengajak kita untuk hal berikut ini: ret-ret ini, bukanlah ceramah, tetapi proses pergumulan yang tidak Cuma menuntut cara berpikir kritis, tapi juga perlu memiliki keterbukaan diri dan kerendahan hati yang tulus dari kita semua.

  • Mgr. Domi, sesuai kapasitas beliau sebagai Ketua Komisi Seminari KWI, makin meruncing daya rerfelksi kita dengan tiga hal berikut:

  1. Fakta bahwa demokratisasi, globalisasi dan ideolgisme sesat telah merengsek masuk dan bahkan telah meresap wilayah kehidupan Gereja dengan para agen dan calon agen pastoralnya. Hal itu merupakan tantangan terbesar bagi Gereja jaman ini. Untuk mengakomodir, mengantisipasi dan memerangi bahaya destruktif dari aliran dan gerakan tersebut, maka Gereja melalui KOmisi Seminari, berjuang untuk terus melakukan animasi panggilan, khususnya bagi pendidikan dan pembinaan para calon agen pastoralnya di tiap Lembaga Pendidikan Semianist. Bahwa, sesungguhnya, sekarang ini Gereja membutuhkan agen pastoral yang mewartakan keselamatan gereja yang otentik, yang mengacu pada salib Yesus.

  2. Kegiatan seperti ini membantu kita untuk membackup seluruh tugas dan karya pastoral kita dengan spirit PSE. Perjuangan kita bukan saja pada kesejahteraan bersama,tapi terutama pada keadilan bagi semua orang. Yang kita kejar adalah kesejahteraan melalui keadilan. Gereja memperjuangkan hal itu melalui PSE. Gereja diharapkan menjadi “jembatan” bagi jurang keadlian yang memang jaraknya amatlah dalam bagi banyak orang dan kelompok. Namun kita perlu tetap menyadari bahwa perjuangan to keadilan makin lama makin rumit. Oleh karena itu, spirit kebersamaan perlu terus kita jaga, solidaritas antar kita amatlah penting bagi iman akan kesejahteraan bersama yang coba kita perjuangkan melalui keadilan.

  3. Kegiatan keRasulan PSE dengan 3M-nya ini, hendaknya menjadi “inspirasi” bagi tugas-tugas pastoral kita ke depan dalam upaya menghadirkan Kristus yang berkarya di masa kita ini. Karena itu harapan Bapa Uskup, agar kita yang terlibat dalam kegiatan ini diperbaharaui menjadi bukti nyata dari kehadiran Kristus masa kini, terutama bagi mereka yang belum/tak tersapa.

 

 

Sebagai kata akhir highlight hari pertama ret-ret kita, Saya mengangkat kembali pernyataan reflektif Mgr Domi di akhir pembicaraan beliau semalam: “dengan sisa dana APBN yang 20% dari yang telah dianggarkan 80% bagi PNS di Negara kita, kita berjuang untuk mensejahterakan 2ratusan juta penduduk di Negara kita ini”. Pertanyaan buat kita: Mungkinkah kita bisa????? Yang pasti dalam iman kita percaya bahwa “Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin”. Apalagi, meminjam istilah Rm Wanta, “kita yang terpilih datang ke tempat ini memiliki charisma untuk PSE dan punya potensi untuk melakukan gerakan PSE di tempat tugas kita masing-masing”. Karena menurut Rm Sipri, kita adalah kelompok pemikir kritis yang punya kemampuan membaca tanda-tanda jaman dalam bingkai Profidentia Dei”. Apalagi dalam terang Injil dan kotbah Bapa uskup dalam misa pembukaan hari ini, bahwa kita merupakan “Kelompok Petrus, dkk” abad ini yang telah diubah Tuhan sendiri menjadi “kelompok kecil khusus” yang terpilih untuk menjadi penjala dan pejuang kesejahteraan dan keadilan manusia jaman ini. Kita amat diharapkan untuk menjadi “penjala manusia” yang tidak Cuma berjuang bagi “Pengembangan Sisoal Ekonomi”, tapi juga terutama mampu mengubah hal itu menjadi “Pengembangan Spiritual Ekonomi”. Artinya, mari kita berjuang bagi kesejahteraan ekonomi umat dengan spirit kekuatan iman yang kita miliki. “Gereja utus Anda karena Gereja butuh Anda”, kata Mgr Domi. Saya tambahkan, “Keuskupan utus kita karena Keuskupan butuh kita”. ---&&&---

 

sekian&trims.

Rm. Eman, Pr.

Tags: