Hari Raya Keluarga Kudus thn. C, tgl. 27 Des 2015 (Luk 2:41-52)

Tinggal di Bait Allah
Kali ini diberikan ulasan tentang Luk 2:41-52 yang menceritakan bagaimana Yesus yang sudah berumur 12 tahun diajak orang tuanya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika mereka kembali ke Nazaret, Yesus tertinggal. Mereka kembali ke Yerusalem mencarinya. Pada hari ketiga mereka menemukannya sedang duduk di tengah-tengah para ahli agama di Bait Allah. Petikan Injil tersebut dibaca­kan pada Pesta Keluarga Kudus tahun C.

KENAPA YESUS TINGGAL DI BAIT ALLAH?
MAR : Apa maksud Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah? Supaya ia ikut Paskah?

HAR : Ya. Mulai umur 12 tahun semua anak Yahudi wajib mengikuti upacara agama. Pada usia itu mereka diresmikan masuk dunia orang dewasa dalam suatu upacara inisiasi. Dapat diperkirakan bahwa Yesus menerima upacara ini di Bait Allah di Yerusalem sebelum perayaan Paskah. Baru setelah ikut upacara itu, seorang anak dapat ikut serta penuh dalam pe­rayaan Paskah. Ia juga boleh diterima dalam sekolah Taurat.

MAR : Penjelasannya?

HAR : Orang Yahudi beranggapan bahwa tiap anak mem­punyai tiga guru utama. Yang pertama ialah ibunya sendiri. Dialah yang membesarkannya dari lahir hingga disapih. Kemudian, peran pendidik diambil alih ayahnya hingga anak itu memasuki masa pubertas pada umur 12-13 tahun. Pada usia itu seorang anak mulai masuk dunia orang dewasa dan wajib hidup menurut ajaran Taurat. Kini gurunya ialah Taurat sendiri. Maka itu, pada umur-umur itu se­orang anak diinisiasi dengan upacara sebagai ”Bar Mitzvah”, ungkapan Aram yang artinya ”anak ajaran Taurat”. Hingga kini di kalangan orang Yahudi, Bar Mitzvah adalah pesta terbesar bagi anak-anak dan orang tua mereka. Maknanya seperti pesta khitanan di Jawa, walau khitan atau sunat di kalangan Yahudi dilakukan ketika masih bayi, lihat Luk 2:21.

MAR : Dan setelah dinyatakan sebagai Bar Mitzvah, Yesus dapat ikut mendalami Taurat dan karena itu ia ting­gal di Bait Allah bertanya jawab dengan para ahli agama?

HAR : Betul! Di Bait Allah ada kelompok-kelompok se­kolah Taurat. Kita bayangkan Yesus berpindah-pindah mengikuti pelajaran dari kelompok satu ke kelompok berikutnya sehingga terpisah dari orang tuanya. Yusuf dan Maria sendiri kiranya juga sibuk berbicara dengan para orang tua lain dan kenalan di situ.

MAR : Belum puas tanyanya nih. Apa maksud diketemukan sesudah tiga hari (ay. 46)? Apakah ini menunjuk ke arah kebangkitan nanti?

HAR : Ceritanya begini. Orang tua Yesus sudah jauh me­ninggalkan Yerusalem pulang menuju Nazaret yang letaknya 150-an km di utara. Ketika menyadari Yesus tidak ada dalam rombongan, mereka terpaksa kem­bali ke Yerusalem. Perjalanan bolak-balik ini ma­kan waktu dua siang hari. Hari berikutnya, yakni hari ketiga, mereka menemukannya di Bait Allah. Dalam arti ini, ”hari ketiga” ini tidak usah dihubung-hubungkan dengan peristiwa kebangkitan.

MAR : Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada ibunya dalam ayat 49 menegaskan bahwa semestinyalah ia ”terserap dalam urusan-urusan Bapaku” (Yunaninya ”en tois tou patros mou”) dan dalam konteks ini memang berarti tinggal di rumah Bait Allah seperti lazim diungkapkan dalam terjemahan. Betulkah?

HAR : Setuju. Eh, omong-omong, di situ juga pertama kali­nya Yesus tampil berbicara. Perkataannya menjadi titik tolak untuk mulai mengenal siapa dia itu. Ia merasa wajib menyibukkan diri dengan perkara-perkara Bapanya. Dan mulai saat itu kehidupannya memang terpusat ke sana. Kita ingat kata-katanya yang terakhir ketika menghembuskan napas terakhir di salib. Dalam Luk 23:46, ia berseru kepada Bapa­nya dan menyerahkan nyawanya kepada-Nya. Kemu­dian dalam Luk 24:49, sebelum naik ke surga, ia masih meneguhkan hal yang dijanjikan Bapanya.

MAR : Tanya lagi. Lukas juga menyebutkan pada akhir petikan ini bahwa Yesus makin dewasa, bertambah bijaksana, dan makin dikasihi Allah dan manusia. Apa maksudnya?

HAR : Ini cara menggambarkan orang yang hidup bagi kepentingan Tuhan dan manusia. Mirip dengan yang dikatakan mengenai Samuel dalam 1Sam 2:26. Akan tetapi, Lukas menambah satu unsur lain, yakni ”hik­mat”. Gagasan ini menunjuk pada pengalaman hidup yang mengajar orang makin peka memahami kebutuhan orang. Yang membuat orang solider de­ngan sesama. Dia yang sudah jadi ”anaknya ajaran Taurat” dapat menghayatinya dengan hikmat. Ajaran agama menjadi hidup, tak mandek sebatas kewajib­an dan larangan melulu. Dia itu Taurat hidup yang dikirim Bapa kepada umat manusia.

MENYIMPAN DALAM HATI
Dua kali Lukas mengatakan bahwa Maria menyimpan hal yang dialaminya dalam hatinya. Pertama kali ketika mendengar para gembala mengisahkan pemberitahuan malaikat mengenai anak yang baru lahir di Betlehem (Luk 2:19) dan kedua kalinya di sini (Luk 2:51). Dalam gaya bahasa Semit, menyimpan dalam hati berarti memikirkannya berulang-ulang dan tiap kali menemukan arti yang makin dalam.
Ungkapan ”menyimpan dalam hati” juga dipakai menggambarkan sikap Yakub ketika mendengarkan kisah mimpi anaknya, Yusuf (Kej 37:11). Sebenarnya, Yakub meng­anggap Yusuf aneh-aneh saja. Namun demikian, Yakub menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Yang Ilahi yang menyampaikan sesuatu dengan cara yang belum sepenuhnya dimengertinya. Bukan seperti saudara-saudara Yusuf yang menurut ayat itu ”iri hati”, atau dengki, njotak, menolak. Contoh lain: Daniel mendapat penglihatan yang menggetarkan dan mendengar penjelasannya dari seorang makhluk ilahi. Dalam Dan 7:28, dikatakan bahwa ia amat gelisah dan ketakutan, tetapi di situ juga ditegaskan bahwa Daniel ”menyimpan dalam hati”, maksudnya se­makin meresapi makna penglihatan mengenai merajalelanya kejahatan dan diakhirnya kejahatan itu oleh kuasa ilahi. Maria lain lagi. Ia bukannya setengah percaya seperti Yakub atau tergetar seperti Daniel. Ia tahu siapa yang baru lahir darinya. Ia telah mendengarnya sendiri dari Gabriel (Luk 1:28-36). Akan tetapi, dalam peristiwa menemukan Yesus di Bait Allah, Maria memang belum sepenuhnya memahami yang dilakukan Yesus.
Dalam keempat pemakaian ”menyimpan dalam hati” itu, perasaan orang yang bersangkutan tidak sama. Demi­kian juga halnya Maria. Pertama kali ia memahami sepe­nuhnya, kedua kalinya belum, Yakub rada skeptik, Daniel gelisah dan pucat ketakutan setengah mati. Namun demi­kian, ketiga orang ini tetap mau mengerti lebih jauh apa yang sedang terjadi. Mereka tidak berhenti dan menutup diri, puas dengan sikap sudah tahu, merasa lebih aman bila tidak begitu saja menerima, atau gemetar ketakutan melulu, atau pasrah asal percaya begitu saja. Tidak berle­bihan bila dikatakan bahwa ”menyimpan dalam hati” itu ialah sikap yang membuat orang makin memahami misteri. Dan sikap ini tidak ditentukan oleh suasana batin atau perasaan-perasaan yang mengitarinya seperti jelas dalam contoh-contoh di atas.
Satu tambahan: ”menyimpan dalam hati” bukan berarti merahasiakan. Daniel malah membagikan yang dialaminya. Yakub tak memiliki alasan merahasiakannya karena Yusuf sendiri latah bercerita mengenai mimpinya kepada semua orang. Maria tentu berkali-kali menceritakannya ke orang-orang yang dekat kepadanya dan karena itulah Lukas men­dapat bahan-bahan bagi Injil mengenai masa kanak-kanak Yesus.
Boleh jadi ”menyimpan dalam hati” itu prinsip tafsir yang paling memungkinkan Sabda Tuhan betul-betul me­nyapa orang tanpa terikat pada keadaan dan suasana yang sering mengeruhkan kehadiran-Nya. Inilah yang menjadi kekuatan bagi yang bertugas menafsirkan Sabda Tuhan. Dia tetap bisa berbicara kepada orang banyak kendati ke­mampu­an dan keadaan penafsir berbeda-beda. Satu syarat­nya: mau ”menyimpannya dalam hati” seperti Maria, seperti Daniel, seperti Yakub.
Salam,
A. Gianto