Imam Diosesan “bertobat” dan bergiat dalam Katekese

Bina Lanjut Imam: suatu panggilan hakiki

Bina lanjut imam (imam diosesan) adalah kewajiban karena merupakan panggilan hakiki seorang imam (bdk. Pedoman Hidup Imam no.17). Jika para imam ingin tetap mewartakan Injil sesuai amanat agung Kristus kepada murid-murid-Nya (bdk. Mat. 28: 18-20), maka membina diri secara terus menerus adalah mutlak perlu. Orang yang berhenti belajar dia akan berhenti mengajar dan berhenti pula mewartakan. Karena apa yang diajarkan diperoleh melalui pembelajaran dan pembinaan secara terus menerus. Oleh karena itu, menyikapi amanat tersebut yang didukung oleh himbauan pesan pastoral Sidang para Uskup Indonesia 2011, para imam diosesan yang berhimpun dalam Unio Indonesia mengadakan program bina lanjut imam di Muntilan tgl 8-12 Mei 2012, tentang Imam dan Katekese.

Mengapa tentang Imam dan Katekese?

Pertama kita harus sadari bahwa seorang imam (imam diosesan) adalah seorang pemimpin rohani (di dalam Gereja). Sebagai seorang pemimpin rohani dengan demikian dia adalah seorang yang berjiwa religius, memiliki keahlian dalam hidup rohani. Keahlian dalam bidang kerohanian itu bukan hanya diperoleh melalui studi akademik melainkan karena latihan yang terus menerus tanpa henti sampai menjadi ahli dalam kerohanian. Keahlian itu digunakan untuk mengantar umat yang dilayaninya pada pemahaman dan pengalaman iman akan Allah yakni “memahami bertapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu sekalipun melampaui segala pengetahuan” (Ef. 3:18-19). Oleh karena itu imam perlu memiliki wawasan yang luas tentang kehidupan menggereja di tengah dunia. Dia diharapkan memiliki jiwa penggerak, pembaharu dan pelopor karya pastoral Gereja yang sedang berziarah (bdk. PDV, 16). Maka pembinaan lanjut bagi imam Diosessan (Unio Indonesia) secara terus menerus berkesinambungan mutlak diperlukan.

Kedua, selain sebagai pemimpin rohani seorang imam (imam diosesan) adalah juga seorang pendoa. Seorang pendoa berarti memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam berdoa, dalam mengagumi sesuatu yang indah dan mulia suci. Khususnya dalam menghadapi arus sekularisme teladan imam sebagai pendoa serta ajakannya untuk berdoa amatlah penting bagi umat.

Ketiga, disamping imam sebagai pemimpin rohani, dan pendoa, dia juga pelayanan dan pewarta Injil. Kuasa rohani yang diberikan kepada imam bukan untuk digunakan kepentingan diri sendiri melainkan untuk pelayanan kepada umat. Seperti Kristus datang ke dunia ”bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:45)”. Pola hidup sebagai pelayan umat itu penuh arti bagi masyarakat Indonesia yang acapkali masih menampilkan sisa-sisa feodalisme. Tanpa semangat melayani imam diosesan sukar menjadi terang dan garam dunia. Selain itu, untuk menjadi pemimpin rohani sejati, seorang imam (diosesan) harus memiliki jiwa seorang nabi, yang selalu menyadari panggilan dan hidupnya dalam kuasa dan rencana Allah. Ia tidak mewartakan diri atau pikirannya sendiri melainkan Allah dan pikiran Allah (bdk. 1 Kor 2:6-16). Imam hendaknya mampu mewartakan iman kristiani dengan cara atau bahasa yang relevan dengan tuntutan zaman. Dengan semangat kenabian, mewartakan Injil dalam gerakan katekese umat, imam melaksanakan tugas misi Kristus di dunia.

Keempat, mengapa katekese? Karena Gereja dipanggil untuk mewartakan Kabar Gembira kepada dunia. Tugas ini adalah “rahmat dan panggilan khas Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam” (EN 14). Gereja mewartakan Injil, karena Injil itu “ragi yang menimbulkan perombakan di dunia ini” (FABC V, 8.1.4). Katekese merupakan bagian integral dari pelaksanaan tugas pewartaan Gereja. Gereja bertugas untuk “memajukan dan mematangkan pertobatan awal, mendidik orang yang bertobat dalam iman dan menggabungkannya dalam komunitas Kristiani” (Pedoman Umum Katekese no. 61). Maka katekese menjadi sentral dalam karya perutusan Gereja di dunia karena menyangkut pembinaan iman anggota-anggota Gereja, sejak masa katekumenat sampai mencapai kedewasaan rohani. Termasuk dalam proses katekese ini ialah pelajaran agama di sekolah.

Sebagai proses pendewasaan iman, tugas fundamental katekese ialah mengantar orang masuk ke dalam kehidupan umat dan perutusannya serta membantu umat beriman untuk mengetahui, merenungkan dan merayakan misteri Kristus. Katekese juga membantu orang untuk mengembangkan sikap misioner dan dialog (bdk. Pedoman Umum Katekese no 85-86). Oleh karena itu, katekese perlu dilihat sebagai suatu proses yang terencana dan sistematis, yang meliputi pengembangan, pengetahuan dan sikap serta penghayatan iman pribadi maupun kelompok, yang dilaksanakan untuk membantu umat sehingga semakin dewasa dalam iman. Katekese merupakan tanggungjawab seluruh Gereja. Dalam Gereja partikular, Uskup adalah penanggungjawab utama karya katekese, karena “di antara tugas-tugas mendasar para Uskup, pelayanan Injil menduduki tempat utama” (LG 25). Tentu saja, pelaksanaan tugas ini dibantu oleh para imam, kaum religius dan katekis. Tidak terlepas dari tanggungjawab itu para Imam diosesan yang pada umumnya berkarya sebagai para pastor paroki.

Apa tujuan dari Bina Lanjut Imam tentang Katekese?

Agar para imam diosesan menyadari betapa pentingnya katekese dalam karya Gereja. Anjuran Apostolik Yohanes Paulus II 1979, Catechesi Tradandae no. 18 menyatakan bahwa “Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen”. Setelah menyadari para imam perlu “bertobat” lalu belajar dengan memperbaiki diri membaca buku dan sungguh-sungguh memiliki ketrampilan dalam berkatekese baik untuk anak dan remaja, siswa di sekolah, orang muda, keluarga dan usia lanjut di paroki maupun kelompok kategorial.

Katekese umat sebagai arah karya katekese di Indonesia sejak tahun 1980 perlu ditumbuhkembangkan lagi dalam lingkungan hidup umat khususnya melalui komunitas-komunitas basis atau kelompok kategorial. Katekese umat perlu diperkaya dengan Injil, Tradisi dan ajaran Gereja. Para Imam diosesan di masing-masing keuskupan diharapkan mampu melaksanakan karya katekese yang berasal dari umat oleh umat dan untuk umat.

Apa saja yang menjadi sarana pertobatan imam diosesan dalam karya katekese?

Pertama, para imam diosesan yang ikut dalam bina lanjut imam bertekad untuk “bertobat” dan menggiatkan karya katekese dalam Gereja. Artinya para imam diosesan berani menjadi pribadi imam yang tahan uji, memiliki komitmen kuat dalam berkatekese, mempunyai spiritualias imam diosesan yang dihayati dan diamalkan, memiliki ketrampilan dalam berorganisasi dan membangun jaringan lintas iman dan agama serta berani memulai untuk terlibat langsung di tengah kancah kehidupan masyarakat untuk mewartakan iman.

Kedua, pertobatan itu membutuhkan usaha yang konkrit sebagai imam. Karena peran imam sangat sentral dalam kehidupan Gereja. Merujuk norma hukum Gereja kan. 773 dinyatakan bahwa menjadi tugas khusus dan berat bahwa para gembala rohani (imam) hendaknya mengusahakan katekese umat beriman kristiani agar iman mereka melalui pengajaran dan pengalaman hidup kristiani menjadi hidup, disadari dan penuh daya. Para imam adalah pemimpin umat dan sumber pengetahuan iman umat, untuk itu perlu kerjasama dan dukungan bagi semua yang terlibat dalam katekese.

Ketiga, usaha pertobatan dengan bekerja keras melaksanakan tugas dan peran imam dalam katekese yakni: (1) memberi perhatian pada katekis baik yang purna waktu maupun paruh waktu (jika belum memiliki berani mengangkat katekis paroki) (2) memberikan katekese yang serasi untuk perayaan sakramen-sakramen, (3) menyiapkan anak-anak menyambut sakramen tobat, ekaristi dan krisma, (4) memberi pendidikan lanjutan (mistagogi) setelah komuni pertama, (5) memberikan katekese pada yang cacat badan atau mental, (6) meneguhkan dan menerangi iman remaja, orang muda dan dewasa dengan berbagai macam cara dan bentuk katekese yang kontekstual di era digital.

Muntilan, tgl 12 Mei 2012.

RD. Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta (Ketua Unio Indonesia)