Kusumawanta Pr: Panggilan Imam di Indonesia Menurun

HIDUPKATOLIK.com - Himbauan dan ajakan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi, pada Munas UNIO X di Keuskupan Sintang sangat penting. “Ini sesuatu yang sangat penting. Peringatan sekaligus penyadaran akan tugas dan panggilan seorang imam.”

Demikian Ketua UNIO Indonesia Periode 2011-2014 yang juga Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr.

Ditemui Y. Prayogo di Kantor Komisi Seminari KWI Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 15/8, imam Praja Keuskupan Denpasar yang lahir pada 10 November 1961 dan ditahbiskan pada 22 Agustus 1990 ini memaparkan tanggapan dan prioritasnya bagi UNIO Indonesia. Berikut petikannya:

Apa tanggapan Pastor terhadap imbauan dan ajakan Duta Besar Vatikan? 

Saya menanggapi positif apa yang disampaikan Duta Besar, terutama tentang krisis identitas dan moral sebagai imam. Ini harus menjadi bahan refleksi dan introspeksi bagi imam Diosesan (Praja) agar menjadi sosok imam sejati.

Duta Besar Vatikan menyinggung tentang penurunan jumlah panggilan imam. Apakah ini sudah terjadi di Indonesia? 

Jika dibuat rata-rata, jumlah panggilan imam di Indonesia belum menurun. Di beberapa keuskupan memang terjadi penurunan. Tapi, di keuskupan tertentu jumlah panggilan imam cenderung stabil, bahkan mengalami kenaikan.

Kesadaran akan penurunan jumlah panggilan imam sudah ada. Maka, untuk mengantisipasi, sejak tahun 2008, Komisi Seminari KWI mengadakan lokakarya untuk promosi panggilan secara nasional.

Lalu, bagaimana dengan kualitas hidup imamat? 

Tentang hal ini, saya tidak bisa memberikan penilaian karena banyak hal yang mempengaruhi. Namun, bagi saya, kualitas hidup imamat seorang imam dapat diukur dari kematangan atau kedewasaan hidup pribadi dan kemampuan memimpin atau menggembalakan umat. Di antara dua aspek ini, masih ada aspek lain, yaitu intelektualitas, afeksi, dan keterampilan. Untuk itu, pembinaan dan pendidikan di seminari menjadi sangat penting.

Duta Besar Vatikan juga menyinggung tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh imam. Apa tanggapan Pastor? 

Badan Kerjasama Bina Lanjut Imam Indonesia (BKBLII) pernah melakukan focus group discussion (FGD) tentang kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan kaum klerus dan religius. Baru-baru ini, ada surat dari Kongregasi Ajaran Iman yang mengharapkan agar para uskup di seluruh dunia memperhatikan gejala-gejala kasus pelecehan seksual oleh para imam. Diharapkan, para uskup membuat pedoman untuk menangani kasus-kasus seperti ini. Jadi, jika terjadi kasus, ada pedoman untuk menangani dan menyelesaikannya.

Apa yang akan menjadi prioritas UNIO Indonesia ke depan? 

Saya berharap, UNIO keuskupan mengadakan diskusi dan refleksi bersama atas ajakan Duta Besar Vatikan ini, sesuai dengan kekhasan masing-masing keuskupan. Selain itu, pertemuan juga bisa dijadikan ajang untuk menjalin persaudaraan. 

Kami, pengurus UNIO Indonesia, juga akan tetap melakukan on going formation (OGF) dan mendorong agar koordinator regio lebih aktif mengadakan pertemuan di regionya. Saya juga berpikir akan membuat sebuah pedoman bina lanjut imam Diosesan. Ini semacam buku pegangan untuk bina lanjut imam Diosesan. Selain itu, kami sedang mengusahakan membangun “rumah kebahagiaan imam Diosesan” untuk para imam Diosesan yang telah lanjut usia, serta pengadaan rumah studi untuk imam Diosesan di Jakarta.

Y. Prayogo - 

 
Tags: