MUNAS X UNIO Indonesia di Sintang, Kalbar

PADA hari Senin, 1 Agustus 2011 telah dibuka perhelatan akbar Munas X Unio Indonesia di Keuskupan Sintang, Kalbar dengan ditandai pemukulan gong oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, HE Archbishop Antonio Guido Filipazzi, didampingi oleh Ketua Unio Indonesia, RD. Ferry Sutrisna Wijaya, Ketua Unio Keuskupan Sintang, RD. Piet Apot Anggraini, Bapak Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus dan Bapak Bupati Sintang, Milton Crosby. Pada malam itu acara pembukaan Munas X selain diawali dengan sambutan-sambutan, selanjutnya disemarakkan dengan aneka pentas tarian etnik budaya Dayak yang dipersembahkan oleh kaum muda-mudi Katolik Keuskupan Sintang.

SEKILAS MUNAS UNIO INDONESIA

MUNAS Unio Indonesia diadakan tiga tahun sekali. Sejak tahun 2005 pada Munas VIII di Palasari Bali, para peserta Munas, yakni para imam diocesan dari pelbagai keuskupan di Indonesia, diajak untuk live in atau tinggal di tengah umat. Hal yang sama terjadi pada tahun 2008 pada Munas IX di Makassar dan Tana Toraja. Pada Munas X di Keuskupan Sintang ini para imam dan para bapak uskup yang hadir juga tinggal di rumah-rumah umat di wilayah Paroki Katedral Sintang, Kalbar.

Pada hari Selasa, 2 Agustus 2011 Misa Pembukaan Munas X Unio Indonesia diselenggarakan di Gereja Katedral yang dipersembahkan oleh tujuh Bapak Uskup sebagai selebran utama didampingi oleh Ketua Unio Sintang dan Ketua Unio Indonesia serta lebih dari 100 imam diocesan dan satu-dua imam tarekat, puluhan biarawati dan ribuan umat di Keuskupan Sintang. Nuncio ikut dalam Perayaan Ekaristi dengan duduk di tempat khusus di panti imam. Mgr. Blasius Pujoraharjo, Uskup Ketapang dan Penasihat Unio Indonesia, yang menjadi selebran utama menekankan pentingnya persaudaraan imamat yang berpusat pada Yesus Kristus, Gembala yang baik. Dan dalam homili yang dibawakan oleh Mgr. Petrus Timang, Uskup Banjarmasin, mengulas tema "Menemukan Wajah Yesus dalam diri Gembala yang Baik" serta menghubungkan dengan tema umum Munas X Unio Indonesia 2011 ini: "Menemukan Wajah Yesus di Bumi Kalimantan". Seorang imam hendaknya menghadirkan Wajah Tuhan, mengenal latar belakang budaya dan mencintai lingkungan hidup, demikianlah kata Mgr. Petrus Timang yang ditahbiskan menjadi Uskup Banjarmasin pada tahun 2008 setelah diumumkan pada Munas IX Unio Indonesia di Makassar.

PENGARAHAN DARI NUNCIO

SIDANG Munas X Unio Indonesia pada hari pertama, Selasa, 2 Agustus 2011 diawali dengan pengarahan Duta Besar Vatikan, Mgr. Antonio Guido Filipazzi berjudul: "Beberapa Pertimbangan tentang Ajaran Paus Benediktus XVI mengenai Imamat Ministerial". Ada tiga julukan yang dikenakan pada imam terkait hubungan fundamentalnya dengan Kristus, yakni imam adalah sahabat Tuhan Yesus, hamba-Nya, dan orang yang, seperti Yohanes Pembaptis, menjadi suara yang melayani Sang Sabda.

Nuncio mengajak para imam untuk menghayati misteri imamat dengan menarik aplikasi-aplikasi bagi kehidupan dan pelayanan imam saat ini yang meliputi (1) penyadaran dan pembinaan, (2) berbagai prioritas kehidupan imam, dan (3) imam dan panggilan. Ajakan nuncio mendapat tanggapan positif dan penuh antusias dari para imam dan bapak Uskup yang hadir dalam sidang. Mgr. Yulianus Sunarko, SJ, Bapak Uskup Purwokerto, mensharingkan dan menganalisa perbandingan suasana Gereja (dan para imam) di Eropa pada tahun 80-an dengan realitas Gereja di Indonesia tahun ini serta di masa mendatang.

WACANA BIDANG SOSIAL-POLITIK

Sidang kedua bertemakan "Keterlibatan Imam dalam Bidang Sosial Kemasyarakatan" yang menghadirkan seorang narasumber Bapak Lazarus, S.Sos. M.Si. Romo Edy Purwanto, Wakil Ketua Unio 2008-2011 yang pernah menjadi sekretaris eksekutif Komisi Kerawam KWI, menjadi moderator dalam sidang kedua ini.

Menarik bahwa dalam sessi tanya jawab tampil sebagai penanggap yang pertama Mgr. PC. Madagi, MSC yang memberi semangat kepada para imam untuk berani berpolitik di Bumi Indonesia ini. Sekaligus mengkoreksi pembicara soal gambaran "politik praktis" bagi umat Allah dan para imam. Romo Paulus Tongli dari Keuskupan Agung Makassar menyampaikan 2 hal: (1) bahaya pragmatisme dan (2) pentingnya komisi kerasulan awam, agar para imam mau ditugaskan untuk pendampingan ini.

 

KUNJUNGAN KE KOPERASI KREDIT

Sidang ketiga mengangkat tema: "Pemberdayaan Masyarakat melalui Koperasi Kredit (CU)" yang diadakan di dua tempat, yakni di CU Bima, dan yang lain di CU Keling Kumang di kota Sintang. Masing-masing kelompok mendengarkan sharing, perkenalan dan presentasi dari pengurus Koperasi Kredit tentang upaya mengangkat masyarakat dayak memenuhi kebutuhan hidup mereka dalam kelompok CU (Credit Union).

                Di kantor CU Keling Kumang, yang sudah mulai dengan mesin ATM itu, Bapak Yohanes setelah memperkenalkan teman-temannya, sebagai GM (General Manager), mempresentasikan soal CU Keling Kemang dan Transformatif Organization. Tiga pilar yang harus dipegang teguh dalam CU ialah (1) Pendidikan, (2) Silidaritas dan (3) Swadaya.

                Di kantor CU Bima, kabarnya Mgr. Y. Sunarko SJ, dengan antusias menanggapi sharing dan presentasi dari karyawan Komperasi Kredit yang sedang popular di masyarakat Kalbar beberapa tahun ini. Ketika kami diundang santap malam di pendopo Bapak Bupati Sintang, soal perkembangan koperasi Kredit di tengah masyarakatnya, sempat dikisahkan dengan kegiatan harian setiap warga bahwa setiap pagi mereka mendengar kokok ayam jago yang berbunyi: "Ceee Uuuuu!" Dan mulailah warga desa dan kota bekerja untuk mendapatkan uang untuk disimpan atau dikelola di kantor CU mereka.

PEMILIHAN PENGURUS BARU

SETELAH Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Unio Indonesia 2008-2011 yang disampaikan oleh Romo Ferry Sutrisna Wijaya (Ketua), didampingi oleh Romo Kusumawanta (Sekretaris I) dan sederet pengurus yang lain, maka diadakan diskusi dan sharing Regio tentang "Rencana Kerja Unio Indonesia" di masa mendatang yang dipandu oleh Romo Paulus Tongli dan Romo Yohanes Dwi Harsanto. Dalam diskusi per regio itu dipilih pula para animator regio yang nanti akan menjadi pengurus baru 2011-2014.

Pemilihan Pengurus Baru diselenggarakan di tempat Wisata Rohani Bukit Kelam, sekitar 30 km dari kota Sintang. Tampillah Romo Guido Suprapto, sekretaris eksekutif Komisi Kerawam KWI yang ikut Munas mendapat tugas dari Tim SC Munas X, menyampaikan peraturan Pemilihan Pengurus didampingi oleh Romo Edy Purwanto, Wakil Ketua Unio Indonesia 2008-2011. Mula-mula dipilihlah 6 nama yang dicalonkan sebagai ketua/wakil ketua. Dari 6 nama dipilihlah dua nama untuk menjadi ketua dan wakil ketua. Setelah itu, siding Munas X Unio Indonesia membantu ketua dan wakil terpilih dengan memilih sekretaris dan bendaraha. Sedangkan untuk pengurus yang lain menjadi tugas pengurus baru untuk melengkapi "cabinet"-nya.

Mula-mula terpilih satu nama: Edy Purwanto dengan angka tertinggi. Namun karena tugas barunya sebagai sekretaris eksekutif KWI dan berkat pertimbangan dari Mgr. Blasius Pujoraharjo, Penasihat Unindo, maka tugas menjadi ketua ditolak. Dalam putaran kedua terpilihlah dua nama yang mendapat angka yang sama, yakni 20, bagi Romo Kusumawanta dan Romo Terry Panomban. Setelah loby bersama Penasihat Unio, maka diputuskan:

Ketua: Romo Kusumawanta, dari Keuskupan Denpasar

Wakil: Romo Terry Panomban, dari Keuskupan Manado

Terpilih sebagai sekretaris 1 dan bendahara 1, yakni: Romo Yohanes Dwi Harsanto (KA Semarang) dan Romo Paulus Tongli (KA Makassar). Kemudian pada saat itu juga ditunjuk Bendahara 2: Romo Emanuel Sede (KA Palembang) dan pengurus RT Unio Indonesia di Jalan Kramat VII, Romo Guido Suprapto. Para pengurus baru ini akan dilantik dalam Misa Bersama Bapak Uskup dan umat di Sintang pada sore hari itu juga.

WISATA BUDAYA DI PUTUSSIBAU

SELAMA dua hari (Kamis dan Jumat, 4-5 Agustus 2011) para peserta Munas X Unio Indonesia berwisata budaya di Putussibau, Kapuas Hulu. Bapak Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus mengawal dari kota Sintang hingga ke Rumah Panjang Bali Gundi, setelah mampir ke Gereja Sejiram. Di Rumah Betang Bali Gundi sekitar jam 4 sore kami disambut dengan upacara adat, yakni memotong batang kayu dan meminum tuak untuk setiap orang yang mau memasuki rumah Bentang. Pada malam harinya diadakan upacara adat Mamasi bagi 17 imam yang dipilih di Rumah Bentang.

Wisata Budaya pada hari Jumat berlanjut dari Rumah Bentang Bali Gundi menuju ke Rumah Bentang Sungai Uluk Palin dan Rumah Bentang di Sungai Utik. Dalam setiap kunjungan berulang upacara penyambutan dengan memotong pohon dan meminum tuak bagi para tamu yang hadir. Rangkaian Wisata Budaya di Putussibau, Kapuas Hulu berakhir pada hari Jumat Malam dengan Perayaan Ekaristi Penutup bersama Bapak Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus di stadion olah raga di Putussibau, Kapuas Hulu dengan aneka tarian kreasi kaum muda Dayak di Kalimantan Barat itu.

(Rm. Boedi Prasetijo/Sie Publikasi dan Komunikasi Munas X Unio Indonesia/majalah jubileum)