Sinode Uskup-uskup (Sidang Umum Biasa XIII)

Sinode Uskup-uskup
Sidang Umum Biasa XIII
Tema Sidang: EVANGELISASI BARU UNTUK PENYEBARLUASAN IMAN KRISTEN

SAPAAN DAN PESAN SIDANG UNTUK UMAT SELURUHNYA

Saudara-saudari,
“Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kamu”(Rm 1:7). Kami, Uskup-uskup dari seluruh dunia, atas undangan Uskup Roma, Sri Paus Benediktus XVI, bersidang untuk merefleksikan pokok “evangelisasi baru untuk penyebarluasan iman Kristen”. Sebelum kembali ke keuskupan-keuskupan kami, kami ingin menyapa Anda sekalian agar mendukung serta mengarahkan pemberitaan Injil di berbagai tempat di mana kita sekarang berada untuk memberikan kesaksian.

1. Seperti perempuan Samaritan di sumur
Mari kita mohon terang dari perikop Injil ini: perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria (lih. Yoh 4:5-42). Tidak ada seorang pun, laki atau perempuan, yang tidak mengalami seperti perempuan Samaria itu: duduk di pinggir sebuah sumur dengan tempayan kosong, dengan harapan akan terpenuhinya kerinduan hatinya yang paling dalam, yang dapat membuat hidupnya sungguh bermakna. Dewasa ini banyak sumur menawarkan diri sebagai pemuas dahaga umat manusia. Tetapi kita harus menyaring untuk menghindari air yang tercemar. Kita harus mencari ke arah yang tepat, agar tidak terjebak dalam kekecewaan yang bisa membawa kehancuran.

Seperti Yesus di sumur Sikhar, Gereja juga merasa wajib duduk di samping orang-orang dewasa ini. Gereja ingin menghadirkan Yesus dalam kehidupan mereka agar mereka dapat menjumpai Dia, karena hanya Roh-Nya saja yang merupakan air yang memberikan kehidupan yang sejati dan kekal. Hanya Yesus yang dapat membaca kedalaman hati kita dan mengungkapkan kebenaran mengenai diri kita:”Ia mengatakan kepada saya segala sesuatu yang sudah saya perbuat”(Yoh 4:29), demikian pengakuan perempuan itu kepada orang-orang sekotanya. Kata- kata itu merupakan maklumat yang terkait dengan pertanyaan yang membuka hati untuk percaya:”Mungkinkah Dia itulah Kristus?”(ibid)”. Hal itu menunjukkan bahwa siapapun juga yang menerima hidup baru dari perjumpaannya dengan Yesus tidak dapat berbuat lain daripada memaklumkan kebenaran dan harapan kepada orang-orang lain. Pendosa yang bertobat menjadi pemaklum keselamaatan dan dia mengantar seluruh kota kepada Yesus. Setelah menerima kesaksiannya, orang-orang itu beralih ke pengalaman perjumpaan pribadi:”Kami percaya tetapi bukan lagi karena apa yang engkau katakan; sebab kami sendiri sudah mendengar Dia, dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia”(Yoh 4: 42).

2. Suatu evangelisasi baru
Mengantar orang-orang zaman kita kepada Yesus, ke perjumpaan dengan Dia, adalah satu tugas yang mendesak, yang menyangkut semua bagian dunia, baik yang sudah lama maupun yang baru dievangelisasi. Sebab di mana-mana kita merasakan perlunya menghidupkan kembali iman yang menghadapi bahaya menjadi kabur dalam berbagai konteks budaya. Lingkup budaya itu membuat iman tidak berakar dalam hidup pribadi dan tidak kelihatan pengaruhnya dalam masyarakat; isi iman menjadi tidak jelas dan tidak menghasilkan buah yang sepadan.
Bukan berarti bahwa kita harus mulai lagi dari awal; tetapi bahwa kita harus masuk menempuh jalan panjang pemakluman Injil dengan keberanian apostolik seperti Paulus yang sampai berkata, “Celakalah saya bila saya tidak memaklumkan Injil!”( I Kor 9:16). Sepanjang sejarah, mulai dari abad-abad pertama zaman kekristenan sampai sekarang, Injil telah membentuk komunitas-komunitas orang beriman di seluruh dunia. Entah besar atau kecil, itulah hasil buah pengabdian dari berbagai angkatan saksi Yesus – misionaris dan martir – yang kita peringati dengan penuh syukur.

Perubahan pentas sosial, budaya, ekonomi, politik dan agama memanggil kita untuk sesuatu yang baru: menghayati pengalaman iman kita sebagai komunitas dengan cara yang baru dan memaklumkannya dalam satu evangelisasi yang “baru dalam semangatnya, dalam metodanya, dan dalam ungkapannya”[1] sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus II. Benediktus XVI mengingatkan bahwa itu adalah evangelisasi yang ditujukan “terutama kepada mereka yang, walaupun sudah dibaptis, namun menjauh dari Gereja dan hidup tanpa mengacu kepada hidup Kristen… untuk menolong orang-orang itu berjumpa dengan Tuhan yang memenuhi keberadaan kita dengan makna yang dalam dan damai; dan untuk membantu menemukan kembali iman, sumber rahmat yang membawa sukacita serta harapan bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat”.[2]

3. Perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus di dalam Gereja
Sebelum berbicara mengenai bentuk-bentuk yang semestinya ada dalam evangelisasi baru, kami merasa perlu menyampaikan kepada Anda keyakinan kami yang mendalam bahwa iman menentukan segala sesuatu dalam hubungan yang kita bangun dengan pribadi Yesus Kristus, yang mengambil inisiatif untuk menjumpai kita. Kerja evangelisasi baru adalah menampilkan sekali lagi perjumpaan dengan Kristus yang indah dan selalu baru kepada orang-orang zaman kita, kepada hati dan akal budinya yang sering bingung dan kacau, lebih-lebih kepada kita sendiri. Kami mengajak Anda untuk menatapi wajah Tuhan Yesus Kristus, untuk masuk ke dalam misteri hidup-Nya yang dianugerahkan bagi kita sampai di salib, yang diteguhkan kembali sebagai anugerah Bapa dalam pembangkitan-Nya dari antara orang mati, dan diberikan kepada kita melalui Roh. Dalam pribadi Yesus Kristus itu diungkapkan misteri kasih Allah Bapa untuk seluruh keluarga manusia. Dia tidak menghendaki bahwa kita tinggal dalam otonomi yang palsu. Sebaliknya, Ia mendamaikan diri kita dengan diri-Nya dalam satu perjanjian kasih yang diperbarui.

Gereja adalah lingkup ruang, yang diberikan dalam sejarah oleh Kristus, tempat kita dapat menjumpai Dia; sebab kepada Gereja itu Ia mempercayakan Sabda-Nya, Baptisan yang membuat kita menjadi anak-anak Allah, Tubuh dan Darah-Nya, rahmat pengampunan dosa terutama dalam sakramen Rekonsiliasi, pengalaman akan persekutuan yang memantulkan misteri Tritunggal Kudus sendiri serta daya Roh Kudus yang menghasilkan kasih bagi sesama.

Kita harus membentuk komunitas-komunitas yang ramah, tempat semua orang yang terpinggirkan merasa betah, serta pengalaman konkret mengenai persekutuan hidup dalam kekuatan kasih yang hangat – “Lihat betapa mereka saling mengasihi!”[3] – yang memikat pandangan manusia zaman ini. Keindahan iman harus memancar lebih-lebih dalam kegiatan Liturgi suci, terutama dalam Ekaristi Hari Minggu. Justru dalam perayaan liturgis itulah Gereja mengungkapkan diri sebagai karya Allah dan dalam sabda dan gerak-lakunya membuat makna Injil dapat dilihat.

Kini tugas kitalah untuk membuat pengalaman Gereja bisa diterima secara konkret; untuk memperbanyak sumur ke mana orang-orang yang haus diundang untuk menjumpai Yesus, dan untuk menawarkan oasis di padang gurun kehidupan. Komunitas-komunitas Kristen dan setiap murid Tuhan dalam komunitas bertanggung jawab untuk hal ini: kepada masing-masing telah dipercayakan satu kesaksian yang tak tergantikan, sehingga Injil dapat masuk ke dalam kehidupan semua orang. Hal itu menuntut dari kita hidup yang kudus.

4. Kesempaatan-kesempatan untuk berjumpa dengan Yesus dan mendengarkan Kitab Suci
Mungkin orang akan bertanya bagaimana melakukan semua itu. Kita tidak perlu menemukan strategi baru seakan-akan Injil itu satu produk yang harus dipajang di pasar agama-agama. Kita perlu menemukan kembali cara-cara Yesus mendekati orang dan memanggil mereka dan mempraktekkan cara-cara itu dalam lingkup masyaraakat dewasa ini.

Kita ingat, misalnya, bagaimana Yesus menyapa Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes dalam lingkup pekerjaan mereka, bagaimana Zakeus dapat beralih dari sekadar rasa ingin tahu kepada kehangatan perjamuan dengan Guru; bagaimana perwira romawi meminta Yesus untuk menyembuhkan seorang yag dekat dengan dia, bagaimana orang yang lahir buta berseru kepada Yesus untuk membebaskan dirinya dari keadaan yang membuat dia terpinggirkan; bagaimana Martha dan Maria merasakan ganjaran kehadiran Yesus ketika Dia menjadi tamu rumah dan hati mereka. Dengan menelusuri Injil halaman demi halaman dan pengalaman misioner para rasul dalam-awal, kita dapat menemukan aneka cara dan lingkup hidup, di mana hidup orang dibuka bagi kehadiran Kristus.

Sering membaca Kitab suci – diterangi oleh Tradisi Gereja yang meneruskannya kepada kita dan menjadi penafsirnya yang otentik – bukan hanya perlu untuk mengetahui isi Injil itu sendiri, yaitu pribadi Yesus dalam konteks sejarah penyelamatan. Membaca Kitab Suci juga membantu kita untuk menemukan kesempatan untuk menjumpai Yesus serta pendekatan-pendekatan yang sungguh injili yang berakar dalam dimensi-dimensi fundamental hidup manusia: keluarga, pekerjaan, persahabatan, beraneka bentuk kemiskinan dan pencobaan dalam hidup dan sebagainya.

5. Menginjili diri kita dan membuka diri untuk pertobatan
Kita hendaknya tidak berpikiran seakan-akan evangelisasi baru tidak menyangkut diri pribadi kita. Pada hari-hari ini para Uskup angkat suara untuk mengingatkan bahwa Gereja harus pertama-tama memperhatikan Sabda sebelum dia dapat menginjili dunia. Ajakan untuk evangelisasi menjadi panggilan untuk pertobatan.

Kami percaya teguh bahwa kita harus lebih dahulu berpaling kepada kekuatan Kristus; Dia sendirilah yang dapat membuat segalanya baru, lebih-lebih keberadaan kita yang miskin. Dalam kerendahan, kita harus mengakui bahwa kemiskinan serta kelemahan murid-murid Yesus, lebih-lebih para pelayan-Nya, membebani kredibilitas misi. Kita – pertama-tama kami para Uskup – pasti menyadari bahwa kita tidak pernah sungguh-sungguh mengimbangi panggilan dan perintah Tuhan untuk memaklumkan Injil kepada bangsa-banga. Kita tahu bahwa kita dengan rendah hati harus mengakui bahwa kita pun terkena luka-luka sejarah dan kita tidak ragu-ragu untuk mengakui dosa-dosa pribadi kita. Akan tetapi kita juga yakin bahwa Roh Tuhan mampu membarui Gereja-Nya dan membuat pakaiannya berkilau-kilauan bila kita membiarkan diri kita dibentuk oleh-Nya. Hal itu kelihatan dalam kehidupan para Kudus, yang patut dikenang dan dikisahkan sebagai sarana istimewa untuk evangelisasi baru.

Andaikata pembaruan ini bergantung pada kita, maka ada alasan serius untuk ragu-ragu. Tetapi pertobatan dalam Gereja, persis sama seperti evangelisasi, terjadi bukan pertama-tama oleh kita makhluk yang fana dan papa, melainkan lebih-lebih oleh Roh Tuhan. Di sinilah kita mendapatkan kekuatan dan kepastian kita bahwa si jahat tidak pernah akan mempunyai kata akhir entah di dalam Gereja atau pun dalam sejarah:”Jangan gelisah dan gentar hatimu”(Yoh 14:27), kata Yesus kepada murid-murid-Nya.

Kerja evangelisasi baru bertumpu pada kepastian yang cerah ini. Kita percaya pada inspirasi dan daya Roh Kudus, yang akan mengajarkan kepada kita apa yang harus kita katakan dan apa yang harus kita buat juga pada saat-saat yang paling sulit. Karena itu, tugas kitalah untuk mengatasi rasa takut dengan iman, kekuatan dengan harapan,dan ketidakpedulian dengan kasih.

6. Menangkap peluang-peluang untuk evangelisasi dalam dunia dewasa ini.
Keberanian penuh semangat ini juga memengaruhi cara kita memandang dunia dewasa ini. Kita tidak merasa kecut oleh karena suasana zaman dalam mana kita hidup. Dunia kita penuh dengan kontradiksi dan tantangan, tetapi ia tetap merupakan ciptaan Allah. Dunia terluka oleh yang jahat, tetapi Allah tetap mencintainya. Dunia merupakan ladang-Nya di mana benih Sabda bisa ditaburkan lagi agar sekali lagi menghasilkan buah.

Tidak ada ruang bagi pesimisme dalam budi serta hati mereka yang tahu bahwa Tuhan mereka sudah mengalahkan kematian dan bahwa Roh-Nya bekerja dengan kuasa di dalam sejarah. Kita mendekati dunia ini dengan kerendahan, tetapi juga dengan kebulatan hati, karena kepastian bahwa kebenaran akhirnya akan menang. Kita membuka mata untuk melihat dalam dunia ini undangan Kristus yang Bangkit untuk menjadi saksi bagi nama-Nya. Gereja kita hidup dan menghadapi tantangan-tantangan sejarah dengan keberanian iman serta kesaksian banyak putera-puterinya.

Kita tahu bahwa kita harus menghadapi di dunia ini satu pertempuran melawan “pemerintah-pemerintah” dan “penguasa-penguasa”,serta “roh-roh jahat” (Ef 6:12). Kita tidak tutup mata terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan oleh tantangan-tantangan itu, tetapi kita tidak menjadi takut karenanya. Hal itu benar terutama terhadap fenomena globalisasi yang bagi kita harus merupakan peluang untuk memperluas kehadiran Injil. Walaupun ada beban berat dalam menerima migran sebagai saudara dan saudari, migrasi tetap merupakan peluang untuk menyebarkan iman dan membangun persektuan dalam segala bentuknya. Sekularisasi, tetapi juga krisis sekitar kekuasaan politik dan negara, mendesak Gereja untuk memikirkan kembali kehadirannya di tengah masyarakat tetapi bukan untuk meninggalkannya. Bentuk-bentuk kemiskinan yang banyak dan selalu baru membuka kesempatan baru untuk pelayanan kasih: pemakluman Injil mengikat Gereja untuk ada bersama kaum miskin dan memikul penderitaan mereka seperti Yesus. Bahkan juga dalam bentuk-bentuk yang paling kasar dari ateisme dan agnostisisme, kita dapat mengenali – walaupun dalam cara-cara yang kontradiktif - adanya kerinduan dan bukan kekosongan, serta penantian yang mau mendapatkan satu jawaban yang tepat.

Terhadap persoalan-persoalan yang diajukan kepada iman dan Gereja oleh budaya-budaya yang dominan, kita membarui kepercayaan kita kepada Tuhan, karena yakin bahwa juga dalam lingkup budaya-budaya itu Injil adalah pembawa terang dan mampu menyembuhkan setiap kelemahan insani. Bukan kitalah yang harus memimpin karya evangelisasi, tetapi Allah, sebagaimana Sri Paus mengingatkan kita:”Kata yang pertama, inisiatif yang benar, aktivitas yang sejati datang dari Allah; dan hanya sejauh kita meyelip masuk ke dalam inisiatif ilahi, hanya dengan memohonkan inisiatif ilahi itu, kita juga – bersama Dia dan dalam Dia – akan mampu menjadi penginjil”.[4]

7. Evangelisasi, keluarga dan hidup bakti
Sudah sejak evangelisasi yang pertama, keluarga adalah lingkup alamiah, tempat penyebarluasan iman dari satu generasi ke generasi berikutnya; di situ, tanpa mengurangi figur serta tanggung jawab bapak keluarga, perempuan mempunyai peranan yang amat khusus. Dalam mewujudkan pemeliharaan keluarga untuk pendewasaan anak-anak, anak-anak itu diantar masuk ke dalam tanda-tanda iman, komunikasi dengan kebenaran-kebenaran dasar, pendidikan dalam doa serta kesaksian atas buah-buah cinta kasih. Walaupun datang dari situasi geografis, budaya dan sosial yang berbeda-beda, namun semua Uskup dalam Sinode menegaskan kembali peranan dasar dari keluarga dalam penyebaran iman. Tidak terpikirkan satu evangelisasi baru tanpa merasakan adanya tanggungjawab khusus untuk memaklumkan Injil kepada keluarga-keluarga dan untuk menopang mereka dalam tugas pendidikannya.

Tidak bisa disangkal kenyataan bahwa dewasa ini keluarga, yang terbentuk dalam perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang membuat mereka menjadi “satu daging saja”(Mat 19:6) dan terbuka untuk kehidupan, di mana-mana dihadapkan pada faktor-faktor krisis, dikelilingi oleh model-model kehidupan yang mempersulitnya, diabaikan oleh politik masyarakat padahal dia menjadi inti masyarakat itu, tidak selalu diindahkan dalam iramanya dan ditopang dalam tugasnya oleh komunitas-komunitas gerejawi sendiri. Justru itulah yang mendorong kami untuk megatakan bahwa kita harus memberikan reksa khusus untuk keluarga serta tugasnya dalam masyarakat dan Gereja, dengan mengembangkan cara-cara khusus untuk pendampingan sebelum dan sesudah perkawinan. Kami juga mau menyampaikan terima kasih kepada begitu banyak pasangan dan keluarga Kristen yang, dengan kesaksiannya, menunjukkan kepada dunia satu pengalaman persekutuan serta pelayanan, yang merupakan benih untuk satu masyarakat yang lebih bersaudara dan damai.

Juga terbayang dalam pikiran kami situasi keluarga serta hidup bersama yang tidak menaruh hormat pada citra persatuan dan kasih untuk seluruh hidup yang diserahkan Tuhan kepada kita. Ada pasangan-pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan sakramen perkawinan; bertambah banyak keadaan keluarga yang irregular yang dibangun setelah gagal perkawinan sebelumnya: duka cita pasangan yang juga membawa penderitaan bagi anak-anak untuk pendidikan imannya. Kepada mereka itu semuanya kami mau menyatakan bahwa kasih Tuhan tidak meninggalkan seorang pun, bahwa juga Gereja mencintai mereka dan terbuka untuk mereka semua, bahwa mereka tetap anggota Gereja juga kalau mereka tidak dapat menerima absolusi sakramental dan Ekaristi. Komunitas-komunitas katolik hendaknya terbuka untuk menerima mereka yang hidup dalam situasi demikian dan membantu mereka dalam proses pertobatan serta rekonsiliasi.

Kehidupan keluarga adalah tempat pertama di mana Injil bertemu dengan kehidupan sehari-hari dan menunjukkan kemampuannya untuk mengubah kondisi kehidupan yang fundamental ke dalam cakrawala kasih. Tetapi yang tidak kalah penting untuk kesaksian Gereja adalah menunjukkan bagaimana kehidupan yang sementara ini memiliki kepenuhan yang melampaui sejarah manusia dan menuju ke persekutuan kekal dengan Allah. Kepada perempuan Samaria Yesus tidak saja memperkenalkan diri sebagai yang memberikan kehidupan, tetapi sebagai Dia yang memberikan “kehidupan kekal” (Yoh 4:14). Anugerah Allah yang kita terima berkat iman, bukan hanya janji untuk keadaan hidup yang lebih baik di dunia ini, tetapi maklumat bahwa makna hidup kita yang paling tinggi melampaui dunia ini, berada dalam persekutuan penuh dengan Allah yang kita nantikan pada akhir zaman.

Mengenai cakrawala eksistensi manusia yang ultra-dunia ini ada saksi-saksi dalam Gereja dan dunia yang Tuhan panggil untuk hidup bakti. Justru karena dibaktikan secara total kepada Tuhan dengan hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian, maka hidup bakti merupakan tanda dunia yang akan datang, yang merelativasi setiap harta benda dunia ini. Sidang Sinode para Uskup menyampaikan terima kasih kepada Saudara-saudari ini atas kestiaan mereka kepada panggilan Tuhan dan atas sumbangan yang sudah dan sekarang mereka berikan untuk misi Gereja. Kami mengajak mereka untuk tetap berharap dalam situasi yang sulit juga untuk mereka, dalam masa perunahan ini. Kami mengajak mereka untuk berdiri teguh sebagai saksi serta penggerak evangelisasi baru di berbagai medan kehidupan, tempat mereka ditugaskan oleh kharisma lembaga mereka.

8. Komunitas-komunitas gerejawi dan banyak pelaku evangelisasi
Karya evangelisasi bukanlah hak khusus hanya untuk pribadi atau kelompok tertentu dalam Gereja, melainkan karya komunitas –komunitas gerejawi itu sendiri, tempat orang bisa mendapatkan sarana untuk perjumpaan dengan Yesus: Sabda, sakramen, persekutuan persaudaraan, pelayanan kasih, misi.

Dalam perspektif itu, peranan paroki mencuat lebih-lebih sebagai kehadiran Gereja di tempat orang-orang hidup, “mata air kampung”, begitu Yohanes XXIII biasa menyebutnya; dari mata air itu semua bisa minum dan merasakan di dalamnya kesegaran Injil. Paroki tidak bisa ditinggalkan, meskipun mungkin perlu perubahan, entah agar ditata dalam komunitas-komunitas Kristen yang kecil atau agar dibangun jaringan kerja sama dalam konteks pastoral yang lebih luas. Kami mendorong paroki-paroki untuk menjalin bentuk-bentuk misi yang baru sebagaimana dituntut oleh evangelisasi baru dengan reksa pastoral yang tradisional untuk umat Allah. Itu harus juga menyerap berbagai ungkapan penting dari devosi-devosi umat.

Di dalam paroki, pelayanan imam – bapak dan gembala umat – tetap amat penting. Kepada semua imam, para Uskup dari Sidang Sinode menyampaikan ucapan terima kasih serta simpati persaudaraan atas tugas mereka yang sulit. Kami mengajak mereka untuk memperkuat ikatan dalam presbiterium keuskupan, memperdalam hidup rohani mereka, dan terus mengusahakan pembentukan diri agar mampu menghadapi perubahan-perubahan.

Di samping para imam, kehadiran para diakon harus juga didukung, demikian juga kegiatan pastoral katekis dan banyak pelayan serta penggerak lain dalam bidang pewartaan, katekese, hidup liturgis serta pelayanan kasih. Berbagai bentuk partisipasi dan peranserta kaum beriman harus juga digiatkan. Rasanya tidak cukup ucapan terima kasih kami kepada kaum awam, laki dan perempuan, atas dedikasi mereka dalam berbagai pelayanan di komunitas-komunitas kita. Juga kepada mereka semua kami minta agar kehadiran serta peaayanan mereka dalam gereja ditempatkan dalam perspektif evangelisasi baru, sambil memperhatikan pembentukan kemanusiaan dan kekristenan mereka sendiri, pemahaman mereka akan iman serta kepekaan mereka terhadap fenomen budaya kontemporer.

Menyangkut kaum awam, kami ingin menyampaikan satu dua kata khusus kepada berbagai bentuk asosiasi lama maupun baru, serta gerakan eklesial dan komunitas-komunitas yang baru: Semuanya adalah ungkapan kekayaan anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada Gereja. Kami juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada bentuk-bentuk kehidupan serta komitmen di dalam Geeja ini, sambil menyemangati mereka untuk setia kepada kharisma mereka yang khusus dan kepada persekutuan gerejawi yang sungguh lebih-lebih dalam konteks konret Gereja partikular.

Juga kesaksian untuk Injil bukan hak khusus satu atau dua orang. Dengan gembira kami menyaksikan kehadiran banyak orang, laki dan perempuan, yang dengan cara hidupnya menjadi tanda injil di tengah dunia. Kami juga menyaksikan adanya orang-orang seperti itu di antara begitu banyak saudara-saudari Kristen; sayang bahwa persatuan dengan mereka belum penuh, namun mereka ditandai dengan Baptisan Tuhan dan mereka mewartakannya. Dewasa ini ada pengalaman yang mengharukan kita ketika kita mendengarkan banyak pemimpin Gereja-gereja serta komunitas-komunitas gerejawi yang memberikan kesaksian tentang kehausan mereka akan Kristus serta dedikasinya untuk pemakluman Injil. Mereka juga yakin bahwa dunia memerlukan satu evangelisasi baru. Kita bersyukur kepada Tuhan atas rasa persatuan ini mengenai perlunya misi.

9. Agar kaum muda boleh menjumpai Kristus.
Kaum muda amat dekat di hati kami, karena mereka adalah bagian yang penting dari umat manusia dan Gereja dewasa ini serta juga masa depannya. Mengenai mereka Uskup-uskup sama sekali tidak pesimis. Keprihatinan memang ada, sebab merekalah yang jadi sasaaran utama dari serangan-serangan yang paling gencar di zaman kita ini. Meskipun begitu kami tidak pesimistik, lebih-lebih karena di kedalaman sejarah kasih Kristus bergerak; tetapi juga karena kami merasakan dalam orang-orang muda kita adanya hasrat yang dalam untuk keotentikan, kebenaran, kebebasan, kemurahan hati; kami yakin bahwa jawaban yang tepat atas semuanya itu adalah Kristus.

Kami mau mendukung mereka dalam pencarian mereka. Dan kami mendorong komuntas-komunitas kita untuk mendengarkan mereka, berdialog dengan mereka dan tidak segan-segan memberikan jawaban yang tegas atas kondisi sulit kaum muda itu. Kami menghendaki agar komunitas-komunitas kita tidak menekan daya antusiasme orang muda itu tetapi mengimbanginya; dan untuk berjuang bersama mereka melawan kepalsuan serta petualangan kuasa-kuasa duniawi yang egoistis yang, untuk keuntungannya sendiri, menguras energi dan menghamburkan gairah orang-orang muda, dengan melepaskan mereka dari setiap kenangan penuh syukur atas masa lalu dan dari setiap visi yang dalam tentang masa depan.

Dunia orang-orang muda memang menuntut tetapi juga menjanjikan banyak untuk Evangelisasi Baru. Hal itu diperlihatkan oleh adanya banyak pengalaman, mulai dari yang menarik banyak orang muda seperti “World Youth Day” sampai ke yang paling tersembunyi – tetapi penuh daya – seperti berbagai pengalaman spiritualitas, pelayanan serta misi. Harus diakui peranan aktif orang muda dalam menginjili pertama-tama dan terutama dunia mereka.

10. Injil dalam dialog dengan budaya manusia serta pengalaman dan dengan agama-agama.
Evangelisasi Baru berpusat pada Kristus dan pada kepedulian terhadap pribadi manusia agar terjadi perjumpaan yang sungguh hidup dengan Kristus. Akan tetapi cakrawala penginjilan itu seluas dunia dan melampaui penglaman manusia yang manapun. Hal itu berarti bahwa dialog dengan budaya dikembangkan dengan hati-hati dengan keyakinan bahwa “benih-benih Sabda” dapat ditemukan di dalamnya, seperti sudah dikatakan oleh Bapak-bapak dari tempo dulu. Khususnya evangelisasi baru membutuhkan satu bentuk hubungan yang dibarui antara iman dan akal. Kami yakin bahwa iman punya kemampuan untuk menerima buah-buah pemikiran yang sehat yang terbuka bagi yang transenden, dan punya kekuatan untuk menyehatkan batas-batas serta kontradiksi yang ke dalamnya iman dapat jatuh. Iman tidak menutup mata, juga terhadap persoalan-persoalan gawat yang timbul dari adanya yang jahat dalam hidup dan sejarah manusia; iman itu membangkitkan terang pengharapan dari Misteri Paskah Kristus.

Perjumpaan antara iman dan akal juga menguatkan komitmen komunitas Kristen dalam bidang pendidikan dan budaya. Lembaga-lembaga pendidikan serta penelitian – sekolah dan universitas – menduduki tempat khusus dalam hal ini. Di manapun intelegensi manusia dikembangkan dan dibentuk, Gereja dengan senang memberikan pengalaman serta sumbangannya untuk pembentukan integral pribadi manusia. Dalam konteks itu, perhatian khusus harus diberikan kepada sekolah katolik, universitas katolik, lembaga pendidikan dan budaya yang otentik, di mana keterbukaan kepada yang transenden harus dipenuhi dalam perjalanan menuju perjumpaan dengan Yesus Kristus dan gereja-Nya. Semoga ucapan terima kasih para Uskup sampai ke semua orang yang terlibat dalam hal itu, meskipun dalam kondisi yang kadang-kadang sulit.

Evangelisasi meminta perhatian besar pada dunia komunikasi sosial, lebih-lebih media yang baru, di mana berpadu banyak kehidupan, persoalan dan harapan. Disitulah sering kali suara hati terbentuk, tempat orang menghabiskan waktunya dan melangsungkan kehidupannya. Di situ ada peluang baru untuk menyentuh hati manusia.

Satu bidang khusus untuk pertemuan antara iman dan akal dewasa ini adalah dialog dengan ilmu pengetahuan. Hal itu sama sekali tidak jauh dari iman, sebab ilmu pengetahuan itu memancarkan prinsip spiritual yang ditempatkan Tuhan di dalam makhluk ciptaan-Nya. Kita dapat melihat struktur-struktur rasional, yang atasnya makhluk ciptaan itu dibangun. Apabila ilmu pengeahuan dan tekhnologi tidak gegabah untuk mengurung manusia serta dunia dalam suatu materialisme yang tandus, maka keduanya menjadi sarana yang tidak ternilai untuk membuat kehidupan lebih manusiawi. Ucapan terima kasih kami juga untuk mereka yang terlibat dalam bidang ilmu pengetahuan yang sensituf itu.

Kami juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang terlibat dalam ungkaapan “genius” insane lainnya, yaitu seni dalam aneka ragam bentuk, dari yang paling antic sampai yang paling baru. Kami melihat dalam karya seni satu cara yang sungguh penuh makna dalam mengungkapkan spiritalitas, sebab karya seni itu berusaha untuk menjelmakan daya tarik manusia kepada keindahan. Kita bersyukur bila para artis, melalui ciptaannya yang indah, menampilkan keindahan wajah Allah dan makhluk ciptaan-Nya. Jalan keindahan adalah jalan yang amat efektif untuk evangelisasi baru.

Selain karya seni, semua aktivitas manusiawi menarik perhatian kita sebagai bagi kita untuk bekerja sama dengan penciptaan ilahi melalui pekerjaan. Kami ingin mengingatkan dunia ekonomi serta pekerjaan mengenai sejumlah hal yang timbul dari terang Injil: bebaskan pekerjaan dari kondisi-kondisi yang tidak jarang membuatnya menjadi beban yang tidak terpikulkan dan masa depan yang tidak pasti karena kini sering terancam oleh pengangguran orang-orang muda; menjadikan pribadi manusia sebagai pusat perkembangan ekonomi; memikirkan perkembangan itu sendiri sebagai peluang bagi umat manusia untuk bertumbuh dalam keadilan dan pesatuan. Dalam pekerjaan untuk mengubah dunia itu manusia dipanggil juga untuk menyelamatkan integritas ciptaan Allah demi pertanggungjawaban kepada generasi yang akan datang.

Injil juga memberikan terang atas penderitaan yang disebabkan oleh penyakit. Orang-orang Kristen harus membantu orang sakit agar mereka merasa bahwa Gereja dekat dengan mereka yang sakit atau menderita keterbatasan fisik. Kita pantas berterima kasih kepada semua orang yang secara pribadi dan manusiawi merawat orang-orang itu.
Politik adalah juga bidang yang dapat dan harus diterangi cahaya Injil agar langkah manusia diterangi. Politik menuntut komitmen untuk secara transparan dan tanpa tanpa interese pribadi memperhatikan kesejahteraan umum dengan sepenuhnya menghormati martabat manusia sedari kandungan sampai ke akhir yang kodrati, dengan menghormati keluarga yang didasarkan atas perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan dengan melindungi kebebasan akademik; dengan memberantas sebab-sebab ketidakadilan, ketidaksetaraan, diskriminasi, kekerasan, rasisme, kelaparan dan perang. Orang-orang Kristen diminta untuk memberikan kesaksian yang jelas mengenai perintah cinta kasih dalam menjalankan politik.

Akhirnya Gereja menganggap para penganut agama-agama lain sebagai mitra dialognya yang sudah sewajarnya. Seseorang memaklumkan Injil karena orang itu yakin akan kebenaran Kristus, dan bukan karena mau melawan orang lain. Injil Yesus adalah damai dan suka cita, dan murid-murid-Nya dengan senang mengakui apa saja yang benar dan baik yang disebarkan oleh roh keagamaan umat manusia di dalam dunia ciptaan Allah dan ditampilkan dalam bentuk beraneka agama.

Dialog antara para penganut berbagai agama pasti merupakan sumbangan untuk perdamaian. Dialog itu menolak setiap fundamentalisme dan mencela setiap kekerasan terhadap orang-orang beriman sebagai pelanggaran serius terhadap hak-hak manusia. Gereja-gereja di seluruh dunia bersatu dalam doa dan dalam persaudaraan dengan saudara-saudari yang menderita, dan memohon kepada mereka yang bertanggung jawab atas nasib masyarakat untuk melindungi hak setiap orang untuk dengan bebas memilih, mengakui dan memberi kesaksian tentang iman seseorang.

11. Memperingati Konsili Vatikan II dan mengacu ke Katekismus Gereja Katolik dalam Tahun Iman
Pada jalan yang dirintis oleh Evangelisasi Baru, kita mungkin juga merasa seakan-akan kita berada di padang gurun, di tengah bahaya sera tiadanya titik-titik acuan. Bapak Suci Benediktus XVI, dalam homilnya utuk misa pembukaan Tahun Iman, berbicara mengenai “desertifikasi rohani” yang semakin berkembang dalam dekade terakhir. Tetapi dia juga membesarkan hati kita dengan menegaskan bahwa “justru dengan bertolak dari pengalaman padang gurun ini, dari kehampaan ini, kita dapat menemukan lagi kegembiraan dalam beriman; hal itu amat penting untuk kita. Di padang gurun kita menemukan kembali nilai dari apa yang esensial untuk kehidupan”[5]. Di padang gurun, seperti perempuan Samaria, kita mencari air dan sumur untuk minum darinya: berbahagialah dia yang menjumpai Kristus di sana!

Kita berterima kasih kepada Bapak Suci untuk hadiah Tahun Iman, gerbang yang berharga untuk masuk ke jalan evangelisasi baru. Kita berterima kasih kepada Beliau juga karena telah mengaitkan Tahun ini dengan peringatan penuh syukur atas pembukaan Konsili Vatikan II lima puluh tahun yang lalu.Magisterium Konsili yang fundamental untuk zaman kita bersinar dalam Katekismus Gereja Katolik, yang sekali lagi diketengahkan sebagai referensi iman yang pasti dua puluh tahun setelah publikasinya. Itulah peringatan-peringatan yang penting, yang membantu kita memperkuat kelekatan kita yang dekat pada ajaran Konsili serta komitmen kita yang kuat untuk melaksanakan implementasinya.

12. Merenungkan misteri dan berada di pihak kaum miskin
Dalam perspektif itu kami ingin menunjukkan kepada umat beriman sekalian dua pengungkapan hidup iman yang tampaknya punya bobot khusus sebagai kesaksian kita dalam Evanglisasi Baru.

Hanya dari tatapan pada misteri Allah serta penyembahan Bapa, Putera dan Roh Kudus, hanya dari keheningan yang dalam, yang berperan bagaikan rahim yang menerima satu-satunya Sabda penyelamatan, mencuatlah kesaksian yang dapat dipercaya oleh dunia. Hanya keheningan dalam doa inilah yang dapat menjaga agar sabda keselamatan tidak hilang di dalam rebut gaduh dunia ini.

Sekarang kami meyampaikan satu dua kata terima kasih kepada semua orang, laki dan perempuan, yang membaktikan dirinya untuk doa dan kontemplasi di biara dan pertapaan-pertapaan. Tetapi perlulah bahwa saat-saat kontemplasi terjalin juga dengan hidup orang sehari-hari: ada ruang dalam jiwa, tetapi juga ada ruang fisik, yang mengingatkan kita akan Allah; ada tempat kudus dalam batin dan kanisah dari batu yang, bagaikan tempat penyeberangan, menjaga agar kita tidak tenggelam dalam banjir pengalaman; ada kesempatan ketika semua dapat merasa diterima, juga mereka yang hampir tidak tahu apa dan siapa yang harus dicari.

Simbol kedua untuk keotentikan evangelisasi baru mempunyai wajah orang miskin. Menempatkan diri berdampingan dengan orang yang terluka oleh kehidupan bukan hanya satu latihan sosial, tetapi lebih sebagai tindakan spiritual sebab wajah Kristus sendirilah yang bersinar dalam wajah orang miskin:”Apapun juga yang kamu lakukan bagi salah satu dari saudara-saudara-Ku yang paling kecil ini, kamu melakukannya untuk Aku”(Mat 25:40).

Kita harus mengakui bahwa orang miskin mendapat tempat istimewa dalam komunitas-komunitas kita, bukan untuk menyingkirkan seseorang, tetapi mau merefleksikan bagaimana Yesus mengikat diri-Nya pada mereka. Kehadiran orang miskin dalam komunitas-komunitas kita penuh daya yang misterius: hal itu mengubah orang lebih daripada yang terjadi karena satu ceramah, hal itu mengjarkan ke setiaan, membuat kita memahami kerapuhan hidup kita, mengajak kita untuk berdoa; pendek kata hal itu mengantar kita kepada Kristus.

Di lain pihak, ungkapan kasih harus juga disertai dengan komitmen untuk keadilan, dengan satu seruan kepada semua, yang miskin dan yang kaya. Karena itu ajaran sosial Gereja harus diintegrasikan ke dalam jalur evangelisasi baru, juga pembentukan orang kristen untuk membaktikan diri pada pelayanan bagi umat manusia dalam bidang sosial dan politik.

13. Sepatah kata kepada Gereja-gereja di berbagai bagian dunia
Mata Uskup-uskup yang berada dalam sidang sinodal terarah kepada semua komunitas eklesial yang tersebar di seluruh dunia. Pandangan mereka diusahakan agar komprehensif, karena panggilan untuk menjumpai Kristus itu satu,walaupun dalam keanekaragaman.

Dengan afeksi persaudaraan serta ucapan terima kasih, para Uskup dalam Sinode ingat akan Anda, orang-orang Kristen dari Gereja Timur Katolik, yang menjadi ahli waris evangelisasi gelombang pertama – satu pengalaman yang dijaga dengan kasih dan setia- serta mereka yang ada di Eropa Timur. Dewasa ini Injil datang kembali kepada Anda dalam satu evangelisasi baru melalui hidup liturgis, katekese, doa harian dalam keluarga, puasa, solidaritas antarkeluarga, partisipasi awam dalam hidup komunitas-komunitas dan dalam dialog dengan masyarakat. Di banyak tempat Gereja-gereja Anda berada dalam pencobaan dan gangguan yang membuatnya menjadi saksi partisipasi dalam sengsara Kristus. Sejumlah orang beriman terpaksa mengungsi. Sambil tetap memelihara persatuan dengan komunitas asal mereka, mereka dapat menyumbangkan tenaganya untuk reksa pastoral serta karya evangelisasi di negeri-negeri yang menerima mereka. Semoga Tuhan tetap melimpahkan berkat-Nya kesetiaan Anda. Semoga di waktu-waktu yang akan datang, hidup Anda boleh ditandai dengan pengakuan iman yang cerah serta penghayatannya dalam damai dan keebebasan beragama.

Kami mengarahkan pandangan kepada Anda, orang-orang Kristen, yang hidup di Negara-negara di Afrika, dan kami menyampaikan terima kasih kami kepada Anda atas kesaksian Injil yang Anda berikan, sering di tengah keadaan yang rumit. Kami mengajak Anda untuk menghidupkan kembali evangelisasi yang Anda terima dalam waktu-waktu belakangan ini, membangun Gereja sebagai keluarga Allah, memperkuat identitas keluarga serta mendukung komitmen imam-imam dan katekis terutama di dalam komunitas-komunitas Kristen yang kecil. Kami menegaskan perlunya mengembangkan perjumpaan antara Injil dan budaya-budaya lama dan baru. Amat dinantikan dan dengan kuat diserukan kepada dunia politik serta pemerintahan di berbagai Negara di Afrika agar, dalam kerja sama dengan orang-orang berkehendak baik, hak-hak asasi manusia dijunjung tinggi dan benua itu dibebaskan dari kekerasan dan konflik yang masih saja terjadi.

Uskup-uskup di Sidang sinodal mengajak Anda, umat Kristen di Amerika Utara, agar menanggapi dengan gembira panggilan untuk evangelisasi baru. Kami melihat dengan rasa syukur betapa komunitas-komunitas muda di negeri Anda sudah menghasilkan buah iman, kasih dan misi yang melimpah. Anda perlu mengakui masih adanya banyak ungkapan budaya dewasa ini di negeri Anda yang kini jauh dari Injil. Diperlukan pertobatan yang melahirkan komitmen bukan untuk keluar dari budaya Anda melainkan untuk tetap tinggal di tengah budaya itu agar menyinarinya dengan terang iman dan daya hidup. Sebagaimana Anda dengan tangan terbuka menerima imigran serta pengungsi menjadi penduduk baru di tanah Anda, semoga Anda juga mau membuka pintu rumah untuk iman. Tetaplah setia pada komitmen yang sudah dinyatakan dalam Sidang sinodal untuk Amerika, bersatulah dengan Amerika Latin dalam melanjutkan evangelisasi di benua yang Anda diami bersama.

Sidang sinodal menyampaikan perasaan syukur yang sama kepada Gereja di Amerika Latin dan Karibia. Dari negeri-negeri Anda, amat mengesan sepanjang masa pertumbuhan aneka bentuk kesalehan rakyat yang tetap melekat di hati banyak orang, serta pelayanan kasih dan dialog dengan budaya-budaya. Kini, dalam menghadapi banyak tantangan, terutama kemiskinan dan kekerasan, kami memberanikan Gereja di Amerika Latin dan Karibia untuk terus hidup dengan semangat misioner, memaklumkan Injil penuh harapan dan sukacita, membentuk komunitas-komuntes murid Kristus yang sungguh misioner, dengan memperlihatkan dalam komitmen putera-puterinya betapa Injil dapat menjadi sumber untuk satu masyarakat yang baru, adil dan bersaudara.Pluralisme agama juga menguji Gereja-gereja Anda dan menuntut pemakluman Injil secara baru.

Kepada Anda, orang-orang Kristen di Asia, kami juga memberikan semangat dan menyampaikan ajakan. Sebagai minoritas kecil di benua yang menampung hamper sepertiga penduduk dunia, kehadiran Anda merupakan benih subur yang dipercayakan kepada kuasa Roh kudus, yang bertumbuh dalam dialog dengan bermacam-macam budaya, dengan agama-agama tua dan dengan orang miskin yang tak terbilang. Kendati sering disingkirkan oleh masyarakat dan di banyak tempat juga dikejar-kejar, Gereja di Asia, dengan imannya yang kokoh, merupakan kehadiran Injil Kristus yang berharga, yang mewartakan keadilan, kehidupan dan harmoni. Orang-orang Kristen Asia, rasakanlah kedekatan persaudaraan dengan orang Kristen di bagian lainnya di dunia, yang tidak dapat melupakan bahwa justru di benua Anda - di Tanah suci – Yesus lahir, hidup, wafat dan bangkit dari antara orang mati.

Uskup-uskup menyampaikan ucapan terima kasih kepada Gereja-gereja di benua Eropa, yang sebagian dewasa ini dilanda sekularisasi yang kuat, kadang-kadang agresif; sebagian lagi masih terluka oleh regim-regim puluhan tahun yang memusuhi Allah dan humanitas. Kami melihat ke masa lalu dengan penuh syukur, tetapi juga ke masa kini, ketika di Eropa Injil menghasilkan pengungkapan serta pengalaman iman yang khusus – sering meluap dengan kekudusan – yang menentukan untuk evangelisasi di seluruh dunia: pemikiran teologi yang kaya, berbagai bentuk kharisma, beraneka pelayanan kasih bagi yang miskin, pengalaman kontemplatif yang dalam, pembentukan budaya yang humanistik yang merupakan sumbangan untuk menggariskan wajah martabat pribadi dan kesejahteraan umum. Semoga kesulitan-kesulitan yang kini ada tidak mematahkan semangat Anda sekalian, orang-orang Kristen Eropa; sebaliknya, semoga Anda menganggapnya sebagai tantangan untuk mengatasinya dan kesempatan untuk memaklumkan Kristus dan Injil kehidupan dengan lebih hidup dan dengan sukacita yang besar.

Akhirnya, Uskup-uskup dari Sidang sinodal menyalami umat di Oseania yang hidup di bawah perlindungan Salib Selatan. Kami berterima kasih kepada Anda atas kesaksian Anda mengenai Injil Yesus Kristus. Doa kami untuk Anda ialah agar semoga Anda merasakan kehausan yang dalam akan hidup baru, seperti perempuan samaria di sumur, dan semoga Anda mampu mendengarkan sabda Yesus yang berkata:”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah”(Yoh 4:10). Semoga Anda semakin kuat merasakan komitmen untuk mewartakan Injil dan membuat Yesus dikenal di seluruh dunua dewasa ini. Kami mengajak Anda untuk menjumpai Dia dalam hidup Anda sehari-hari, mendengarkan Dia dan, melalui doa serta meditasi, menemukan anugerah untuk bisa mengatakan:”Kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia”(Yoh 4:42).

14. Bintang Maria menerangi padang gurun
Di akhir pengalaman persekutuan Uskup-uskup seluruh dunia dan kerja sama dengan pelayanan Pengganti Petrus, kami mendengar bergema dalam diri kami perintah Yesus yang actual kepada rasul-rasul-Nya:”Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku…dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantisa sampai kepada akhir zaman”(Mat 28:19.20). Misi Gereja tidak ditujukan kepada satu wilayah geografis saja tetapi masuk ke lubuk hati yang paling tersembunyi dari orang-orang zaman kita untuk menarik mereka kembali kepada perjumpaan dengan Yesus, Dia yang Hidup, yang membuat diri-Nya hadir dalam komunitas-komunitas kita.
Kehadiran itu menggembirakan hati kita. Sambil bersyukur atas anugerah yang kita terima dari Dia pada hari-hari ini, kami menyampaikan kepada-Nya madah pujian:”Jiwaku memuliakan Tuhan […] karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:46.49). Kita jadikan kata-kata Maria ini sebagai kata-kata kita sendiri: sesungguhnya Tuhan telah melakukan hal-hal besar bagi Gereja-nya sepanjang masa di berbagai tempat di dunia ini; dan kita mengagungkan Dia, dengan keyakinan bahwa Ia pasti akan memandang kemiskinan kita untuk memperlihatkan kekuatan lengan-Nya pada hari-hari kita dan menopang kita pada jalan evangelisasi baru.

Figur Maria menuntun kita pada jalan yang harus kita jalani. Jalan kita, kata Sri Paus Benediktus XVI, dapat menyerupai jalan sepanjang padang gurun; kita tahu bahwa kita harus menempuhnya, dengan mambawa serta apa yang paling perlu: karunia Roh, penyertaan Yesus, kebenaran sabda-Nya, roti Ekaristi sebagai makanan kita, persahabatan dalam persektuan gerejawi, dorongan kasih. Air dari sumurlah yang membaut padang gurun bersemi. Sebagaimana bintang-bintang lebih cerah bersinar di malam hari di padang gurun, demikian juga terang Maria, Bintang evangelisasi baru, lebih cerah memancarkan sinardari langit pada jalan ziarah kita. Kepada dia kita menyerahkan diri kita dengan penuh kepercayaan.

šX›

[1] Yohanes Paulus II, Discourse to the XIX Assenmbly of CELAM, Port-au-Prince, 9 March 1983, n.3.

[2] Benediktus XVI, Homili dalam Ekaristi untuk pembukaan Sidang Umum Biasa ke XIII Sinode Uskup-Uskup, Roma, 7 Oktober 2012.

[3] Tertulianus, Apology, 39,7.

[4] Benediktus XIV, Renungan dalam ibadat pembukaan Sidang Sinode Uskup-Uskup, Roma, 8 Oktober 2012.

[5] Homili dalam Perayaan Ekaristi Pembukaan Tahun Iman, Roma 11 Oktober 2012.

sumber: www.pujasumarta.web.id/index.php/kwi