Tiga Injil Misa Natal tgl. 25 Des 2015

Selamat Natal!
Dalam tradisi Gereja Katolik ritus Latin, Natal dirayakan dalam tiga Misa Kudus, yakni pada malam hari 24 Desember, kemudian pada waktu fajar 25 Desember, dan akhirnya siang harinya. Ketiga perayaan itu melambangkan kelahiran Kristus dalam tiga wujud kenyataan. Pertama, su­dah terjadi sejak awal, yakni kelahirannya dalam kehen­dak Bapa di surga mengangkat kemanusiaan. Kenyataan kedua terjadi ketika Yesus lahir dari kandungan Maria. Dan kenyataan ketiga, kelahiran Kristus secara rohani dalam kehidupan orang beriman. Bacaan Injil dalam ketiga Misa Natal tersebut sejajar dengan tiga kenyataan tadi. Dalam Misa malam hari dibacakan Luk 2:1-14 yang menceritakan Maria melahirkan di Betlehem, kemudian dalam Misa fajar diperdengarkan Luk 2:15-20 yang mengabarkan lahirnya Kristus dalam kehidupan orang beriman yang pertama, yakni para gembala. Akhirnya, dalam Injil Misa siang hari, Yoh 1:1-18, ditegaskan bahwa sang Sabda ini sudah ada sejak semula. Ulasan kali ini akan menggarisbawahi ketiga kenyataan peristiwa kelahiran Kristus itu.

INJIL MISA MALAM HARI: Luk 2:1-14
Seperti dikisahkan dalam ayat 1-3, Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem untuk mematuhi edikt Kaisar Augustus yang mewajibkan orang mencatatkan diri di kampung halaman leluhur. Sekalipun tidak pernah dapat ditunjukkan edikt seperti itu benar-benar pernah dikeluarkan Kaisar Augustus, dapatlah dikatakan bahwa praktek seperti itu bukannya tak mungkin. Lukas memakainya sebagai motif dalam kisah kelahiran Yesus dalam rangka menjelaskan kedatangan Yusuf dan Maria ke Betlehem. Ini juga cara Lukas mengatakan bahwa Tuhan bahkan memakai otoritas bukan-Yahudi untuk menjelaskan bagaimana Yesus lahir di Yudea dan bukan di Nazaret. Kelembagaan Yahudi sen­diri kiranya tidak cukup. Bahkan lembaga itu sudah tak banyak artinya lagi. Seperti banyak orang asli Yudea lain, Yusuf dan Maria termasuk kaum yang ”terpencar-pencar” hidup dalam diaspora di daerah bukan asal. Ironisnya, yang betul-betul masih bisa memberi identitas ”orang Yudea” kini bukan lagi ibadat tahunan di Yerusalem, melainkan cacah jiwa yang digariskan penguasa Romawi.
Dalam ayat 4-5 disebutkan bahwa Yusuf pergi dari Nazaret ke Yudea ”agar didaftar bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung”. Dengan cara ini mereka tercatat resmi sebagai suami-istri di Yudea nanti. Oleh karena itu, Yesus juga secara resmi tercatat se­bagai keturunan Daud, baik bagi orang Yahudi maupun bagi administrasi Romawi. Dengan demikian, Lukas sedikit menyingkap apa yang nanti akan diutarakannya dengan jelas dalam Kisah Para Rasul, yakni kedatangan Juru Sela­mat bukanlah melulu bagi orang Yahudi, melainkan bagi semua orang di kekaisaran Romawi, bahkan bagi semua orang di jagad ini. Malahan bisa dikatakan bahwa justru kehadiran orang non-Yahudi-lah yang membuatnya betul-betul datang ke dunia ini! Kita-kita ini juga ikut membawa­nya datang ke dunia ini.
Menurut ayat 7, Maria melahirkan anak lelaki, anaknya yang sulung. Tambahan ”anak sulung” ini terutama memiliki makna yuridik, bukan biologis. Anak sulung memiliki hak yang khas yang tak dipunyai saudara-saudaranya. Dalam hal ini hak sebagai keturunan Daud. Oleh karena itu, ia juga nanti dapat mengikutsertakan siapa saja untuk masuk dalam keluarga besarnya. Anak bukan sulung tidak memiliki hak seperti ini.
Sang bayi yang baru lahir itu kemudian dibungkus de­ngan lampin dan dibaringkan dalam palungan. Ditambah­kan pada akhir ayat 7 ”karena tidak ada tempat bagi me­reka di rumah penginapan”. Bukan maksud Lukas mengata­kan bahwa mereka tidak dimaui di mana-mana. Tempat-tempat yang biasa sudah penuh para pengunjung yang mau mendaftarkan diri menurut edikt Kaisar Augustus. Me­reka akhirnya menemukan tempat umum yang ada di setiap dusun pada waktu itu yang biasa dipakai tempat istirahat rombongan karavan bersama hewan angkutan mereka. Semacam stasiun zaman dulu. Tempat-tempat seperti ini memiliki beberapa kelengkapan dasar, misalnya palungan tempat menaruh makanan bagi kuda atau hewan tunggangan. Sekali lagi ini cara Lukas mengatakan kelahiran Yesus ini terjadi di tempat yang bisa terjangkau umum. Tempat seperti itulah tempat bertemu banyak orang. Maka itu, nanti para gembala dapat dengan cepat mendapatinya.
Kelahiran Yesus yang diceritakan sebagai kejadian se­hari-hari itu kemudian dalam Luk 2:8-14 diungkapkan para malaikat kepada para gembala. Mereka amat beruntung bisa menyaksikan perkara ilahi dan perkara duniawi dalam wujud yang sama. Orang diajak melihat bahwa yang terjadi sebagai kejadian lumrah belaka itu ternyata memiliki wajah ilahi yang mahabesar. Bala tentara surga, para malaikat me­nyuarakan pujian kepada Allah. Dia yang mahatinggi kini menyatakan diri dalam wujud yang paling biasa bagi semua orang. Apa maksudnya? Kiranya Lukas mau menga­ta­kan bahwa orang-orang yang paling sederhana pun dapat merasakan kehadiran Yang Ilahi dalam peristiwa yang biasa tadi. Dan bahkan mereka bergegas mau mencari ke­nya­taan duniawi dari kenyataan ilahi yang mereka alami tadi.
Pengalaman rohani yang paling dalam juga dapat di­alami orang sederhana. Oleh karena itu, orang dapat meli­hat kehadiran Tuhan dalam peristiwa biasa. Sebuah catatan. Arah yang terjadi ialah dari atas, dari dunia ilahi ke dunia manusia, bukan sebaliknya. Kita tidak diajak mencari-cari dimensi ilahi dalam tiap perkara duniawi. Ini bisa meng­akibatkan macam-macam keanehan. Yang benar ialah me­ngenali perkara duniawi yang memang memiliki dimensi ilahi. Ada banyak perkara duniawi yang tidak memilikinya. Dalam arti itulah warta para malaikat kepada para gembala dapat membantu kita menyikapi dunia ini. Misteri inkarnasi ialah kenyataan yang membuat orang makin peka akan kenyataan duniawi yang betul-betul menghadirkan Yang Ilahi, bukan semua kenyataan duniawi.

INJIL MISA FAJAR: Luk 2:15-20
Para gembala kini menyampaikan yang diberitakan Tuhan pada mereka (ay. 15) kepada orang-orang yang ada di sekitar palungan. Kita andaikan bahwa di tempat umum itu ada banyak orang lain yang menginap dan me­nolong keluarga baru ini. Mendengar kata-kata para gem­bala mengenai warta malaikat tadi, semua orang menjadi terheran-heran. Para gembala itulah orang-orang yang per­tama-tama memberi arti bagi peristiwa kelahiran tadi. Mere­ka itu juga pewarta kedatangan Penyelamat yang bukan orang-orang yang secara khusus berhubungan dengan Allah seperti halnya Maria atau Yohanes Pembaptis ketika masih ada dalam kandungan (Katakan saja, para gembala itulah para teolog, para kristolog yang pertama-tama yang mampu memukau perhatian orang. Guru Besar mereka ialah para malaikat dan semua bala tentara surgawi).
Satu catatan lagi. Disebutkan dalam ayat 15 ”... gem­bala-gembala itu berkata satu kepada yang lain, ’Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat ....’” Kepada siapa kata-kata itu ditujukan? Dalam bacaan teks yang biasa, jelas ajakan itu ditujukan kepada satu sama lain. Namun demikian, bacaan teks yang melibatkan diri pembaca ke dalam teks akan membuat orang merasa saat itu juga diajak bersama pergi ke Betlehem menyaksikan kebesaran ilahi dalam wujud yang paling membuat orang mampu bersimpati kepada Tuhan. Lukas sering memakai teknik berbicara seperti ini. Dengan memakai bentuk percakapan (dan bukan hanya dengan cerita), Lukas dapat membuat pembaca merasa seolah-olah ikut hadir di situ. Dan pada saat tertentu ajakan akan terasa sebagai ajakan bagi pem­baca juga.
Yang hadir dalam pembacaan Injil Misa fajar bisa pula merasakannya. Dan bila itu terjadi, warta petikan Injil Misa Fajar akan menjadi makin hidup. Orang diajak para gembala yang telah menyaksikan kebesaran Tuhan untuk ikut pergi mencarinya ”di Betlehem”, di tempat yang ”kita semua tahu”, yang dapat dicapai, bukan di negeri antah-berantah. Warta Natal Lukas tak lain tak bukan ialah pergi mendapati dia yang lahir di tempat yang bisa dijangkau siapa saja – di ”Betlehem” – boleh jadi dalam diri orang yang kita cintai, boleh jadi dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, dalam diri orang-orang yang membutuh­kan kedamaian, atau juga dalam diri kita sendiri yang diajak ikut menghadirkannya. Ini bisa memberi arah baru dalam kehidupan. Betlehem bisa bermacam-macam wujud dan macamnya, namun satu hal sama. Di situlah Tuhan diam menantikan orang datang menyatakan simpati kepada-Nya. Adakah perkara lain yang lebih menyentuh?

INJIL MISA SIANG: Yoh 1:1-18
Pembukaan Injil Yohanes ini sarat dengan makna. Dikatakan dalam kedua ayat pertama ”Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan firman itu bersifat ilahi. Ia pada awal mulanya ada bersama dengan Allah” (Yoh 1:1-2). Guna memahaminya, orang perlu mengingat Kisah Penciptaan menurut tradisi dalam Kej 1:1-2:4a. Di situ dikisahkan bahwa pada awalnya Tuhan menjadikan terang dengan memfirmankannya. Firman-Nya menjadi kenyataan dalam ciptaan itu, yakni terang. Dan begitu selanjutnya hingga ciptaan paling kemudian, yakni umat manusia (dengan memakai gaya bahasa merismus ”laki-laki dan perempuan”) yang diberkati dan diberi we­wenang mengatur jagad ini sebagai wakil Tuhan pencipta sendiri.
Terjemahan ayat 1 ”Dan Firman itu bersifat ilahi” di­maksud menampilkan kembali makna kalimat Yohanes ”kai theos een ho logos” yang artinya bukan ”dan firman itu Tuhan” melainkan seperti yang terungkap dalam terjemahan di atas. Kata ”theos” di situ dipakai sebagai predikat dan tidak memakai artikel. Pemakaian seperti ini lebih mirip dengan adjektif ”ilahi” yang dipakai sebagai predikat dalam bahasa kita. Dan memang itulah yang dimaksud Yohanes. Dalam firman itu ada sifat ilahi. Dan rujukan ke Kisah Penciptaan ialah kata-kata Allah ”Jadilah terang!” (Kej 1:3) dan kata-kata penciptaan selanjutnya. Oleh karena itu, juga tidak mengherankan bila dalam Yoh 1:3 dikatakan tak ada yang ada di jagad ini yang dijadikan tanpa Firman itu. Selanjutnya, dalam ayat 4 ditegaskan bahwa ia itu kehidup­an dan kehidupan itu adalah terang bagi manusia. Dalam Kisah Kejadian tadi, terang menjadi ciptaan pertama yang mendasari semua yang ada.
Bagi Yohanes, kata ”dunia” (ay. 9, 10) menunjuk pada tempat kekuatan-kekuatan gelap yang melawan kehadiran ilahi (lihat ay. 5). Ke tempat seperti inilah terang ilahi ta­di bersinar dan terangnya tak dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan gelap. Yohanes menghubungkan peristiwa kelahir­an Yesus sebagai kedatangan terang ilahi ke dunia ini. Dengan latar Kisah Penciptaan maka jelas kelahiran Yesus itu ditampilkan Yohanes sebagai tindakan yang pertama da­lam karya penciptaan Tuhan. Namun demikian, arah tuju­an pembicaraan Yohanes bukan sekadar menyebut itu. Penciptaan ini dimaksud untuk menghadirkan Tuhan Pen­cipta. Bukan sebagai Tuhan yang kehadiran-Nya harus di­terjemahkan terutama dalam wujud hukum-hukum agama, seperti hukum Taurat, melainkan sebagai Bapa yang meng­asalkan kehidupan manusia, yang menyapa manusia dengan Firman yang membawakan kehidupan.
Bagi zaman ini, akan besar maknanya bila dikatakan bahwa iman akan kelahiran Kristus di dunia ini ialah kelan­jut­an kepercayaan bahwa Allah terus menciptakan jagad beserta isinya. Firman-Nya kuat. Terangnya tak terkalahkan meskipun banyak yang menghalangi. Dengan kata lain, mereka yang percaya bahwa jagad ini dapat menjadi baik dan ikut mengusahakannya sebetulnya memilih ada ber­sama Dia. Mereka yang suka menganggap buruk ciptaan dan memperlakukannya dengan buruk boleh jadi sudah berjalan menjauhinya.

Salam hangat,
A. Gianto