Vesper Natal tgl. 24 Des 2015 (Mat 1:1-25)

Silsilah Yesus dalam Injil Matius

Dalam Misa Vespertina menjelang Natal sore hari tanggal 24 Desember dibacakan Mat 1:1-25. Petikan ini terdiri dari dua bagian. Yang pertama memuat silsilah Yesus (ay. 1-17) dan yang kedua mengisahkan peristiwa kelahirannya (ay. 18-25). Karena agak panjang, di beberapa tempat boleh jadi akan dibacakan bentuk singkat, yakni ayat 18-25 saja. Namun demikian, baiklah kita catat beberapa gagasan mengenai bagian pertama tadi karena memberi konteks makna yang dalam kepada bagian kedua.

Pertama-tama, dengan silsilah itu hendak ditunjukkan bahwa Yesus adalah tokoh yang sejak awal mula dijanjikan Tuhan kepada Abraham, bapak segala orang beriman dan yang selanjutnya diteguhkan dengan kebesaran Raja Daud. Kemudian keturunan Daud berlangsung hingga pembuang­an yang betul-betul mengubah jati diri orang Israel, dari yang membanggakan diri sebagai bangsa pilihan menjadi bangsa tawanan yang perlu menyadari dan menyesali ke­dosaannya. Akan tetapi, dalam kedaaan itu tumbuhlah harap­an akan kedatangan seorang Mesias yang akan memu­lihkan kebesaran mereka. Orang Israel memang memahami masa lampau mereka dalam ukuran-ukuran ketiga masa tadi: dari Abraham hingga Daud, dari Daud hingga Pem­buangan, dan dari Pembuangan hingga kedatangan Mesias yang dinubuatkan Nabi Yesaya 7:14 yang nanti akan dikutip dalam Mat 1:23 dan diterapkan kepada kelahiran Yesus oleh Maria. Tiap masa memiliki makna yang khas. Secara tak langsung, Matius mengikutsertakan Yesus dalam kedua masa yang pertama dan menerapkan masa ketiga kepada Yesus dengan jelas.

Orang yang mengenal riwayat tokoh-tokoh yang dise­but dalam silsilah itu tentu akan menikmati bacaan ini. Namun demikian, tak banyak yang dapat mengenali satu persatu para leluhur Yesus itu. Orang Yahudi yang biasa pada zaman dulu pun tidak akan bisa begitu saja mengenal cerita tentang tokoh-tokoh itu. Matius sadar akan hal ini. Oleh karena itu, pada akhir silsilah ini, yakni pada ayat 17, diberikan rangkuman. Ada 14 keturunan dalam masing-masing dari ketiga masa dalam kehidupan bangsa Israel tadi. Apa makna angka 14 ini? Angka 14 ialah hasil dari 2 kali 7, yakni angka yang melambangkan keutuhan yang keramat sifatnya. Dua kali angka 7 berarti sungguh keramat. Yang amat keramat ini terulang tiga kali. Pengulangan tiga kali ini juga khas. Bila dua kali berarti menggarisbawahi pentingnya, tiga kali menunjukkan suasana khidmat (Ingat seruan para serafim dalam Yes 6:3 ”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan ...!” yang juga dipakai dalam liturgi ekaristi). Oleh karena itu, jelas bahwa tiga kali penyebutan 2 kali 7 ketu­run­an dalam silsilah Yesus itu dimaksud untuk mengajak orang agar bersikap khidmat menghadapi kenyataan yang teramat keramat, yakni peristiwa kelahiran Yesus yang diceritakan dalam ayat 18-25.

Mendekati kisah kelahiran Yesus dengan suasana khid­mat, sadar akan sakralnya kisah itu akan memberi banyak kekuatan kepada orang sekarang. Banyak yang akan bertanya-tanya mengapa saya katakan ”mendekati kisah” dan bukan ”mendekati kelahiran sang Penyelamat”? Sikap khidmat ini juga sikap Yusuf menghadapi kisah malaikat yang berbicara kepadanya lewat mimpi. Yusuf sadar akan apa yang terjadi. Dan dengan segala ketulusannya ia mene­rima kehadiran yang keramat dalam kehidupannya. Ia menerima apa yang terjadi pada Maria. Boleh jadi tidak seluruhnya dimengerti. Sesungguhnya ia baru mengerti dan dapat benar-benar menerima setelah mendengarkan kisah yang dibawakan malaikat kepadanya. Sikap hormat seperti ini membuatnya ikut serta dalam karya penyelamatan.

Malaikat bersabda kepada Yusuf dan menjelaskan bahwa yang terjadi pada Maria itu menurut apa yang telah dinubuatkan Nabi Yesaya (Yes 7:14), yakni anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan dia Imanuel, yang artinya Allah menyertai kita. Yusuf yang telah mendengarkan kisah malaikat dengan khidmat tadi akan menerapkannya kepada anak yang nanti dilahirkan Maria. Ia dinamainya Yesus, yang artinya Tuhan itu pemberi keselamatan, dalam arti ia menyertai kita – Imanuel. Tuhan tidak meninggalkan kita.

”Tuhan beserta kita” inilah yang akan lahir di tengah-tengah kumpulan orang di mana saja dan kapan saja yang bersedia mendengarkan kisah kehadiran yang keramat di dunia ini. Warta Natal yang dibawakan petikan Injil Matius pada kesempatan ini besar kandungan rohaninya. Orang diajak mende­ngar­kan kisah kehadiran Tuhan dalam kehidupan ini. Me­nurut Matius, tidak sukar memenuhi ajakan itu. Yang perlu ialah sikap khidmat di hadapan Yang Ilahi yang tampil dalam kehidupan ini dalam macam-macam wujud. Kita ingat pada akhir Injil Matius, pembi­caraan mengenai peng­hakiman terakhir dipusatkan pada apa orang berhasil atau tidak melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesama. Begitu­lah, sejak awal Matius mengajak kita belajar makin peka akan isyarat-isyarat dari Tuhan sendiri. Dan Yusuf menjadi gambar orang yang sampai ke sana, dengan segala ketulus­an yang membuatnya mampu mendengarkan khidmat kisah kehadiran Tuhan di dekatnya. Pada kesempatan ini juga kita mendapat ajakan seperti itu.

Salam hangat,
A. Gianto