Gagasan Homili

Ulasan Injil mingguan

Minggu 20 Mei 2018:Tritunggal Mahakudus (Mat 28:16-20 & Rom 8:14-17)

Rekan-rekan yang budiman!
Seperti diperintahkan sang Guru, para murid kini berkumpul di Galilea. Yesus sendiri telah mendahului mereka. Begitulah, seperti disampaikan Matius pada akhir Injil pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus tahun ini (Mat 28:16-20), di Galilea, di sebuah bukit yang ditunjukkan sang Guru, mereka melihat Yesus dan mengenali kebesarannya, dan mereka sujud kepadanya. Kepada mereka ia menegaskan bahwa semua kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepadanya (ay. 18); sehingga tak perlu lagi ada keraguan (terungkap pada akhir ay. 17). Para murid diminta memperlakukan semua bangsa sebagai muridnya dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (ay. 19-20a). Ia juga berjanji menyertai mereka hingga akhir zaman (ay. 20b).

Minggu Pentakosta 20 Mei 2018 (Yoh 15:26-27; 16:12-15)

DISERU AGAR DATANG MENOLONG

Rekan-rekan yang baik!

Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum, seperti disebutkan dalam Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12. Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan lain, lihat Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13. Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50” ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, peringatan “hari ke-50” ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai melimpah.

Minggu Paskah VII tahun B - 13 Mei 2018 (Yoh 17:11b-19)

DOA YESUS BAGI PARA MURID

Pada hari Minggu Paskah VII tahun B ini dibacakan bagian doa Yesus pada perjamuan terakhir bagi para muridnya (Yoh 17:11b-19). Yesus meminta agar Bapa memelihara para murid dalam nama-Nya agar mereka menjadi satu seperti dia satu dengan Bapa. Diungkapkannya pula bahwa para murid diutus ke dunia, sebagaimana ia sendiri. Marilah kita dalami unsur-unsur itu dan lacak ke mana arahnya bagi zaman kita sekarang.

Minggu Paskah VI/B - 6 Mei 2018 (Yoh 15:9-17)

KEBERSAMAAN YANG MENGHIDUPKAN

Rekan-rekan yang budiman!

Bacaan Injil Yohanes bagi Minggu Paskah VI tahun B ini (Yoh 15:9-17) sarat dengan kosakata yang berhubungan dengan gagasan mengenai kasih, yakni “saling mengasihi”, “tinggal dalam kasih” “memberikan nyawa demi sahabat-sahabatnya”. Petikan ini diangkat dari bagian Injil Yohanes yang menyampaikan pengajaran Yesus kepada para murid selama perjamuan malam terakhir (Yoh 13:31-17:26). Para murid perlu belajar hidup terus tanpa kesertaan Yesus seperti biasa. Mereka diajarnya membangun kebersamaan dalam ujud lain. Dengan tujuan itulah kiranya diberikan pesan-pesan mengenai saling mengasihi dan sepenanggungan.

PENGAJARAN KHUSUS

Minggu Paskah V/B 29 April 2018 (Yoh 15:1-8 & 1Yoh 3:18-24)

POKOK ANGGUR YANG BENAR?

Rekan-rekan yang baik!

Menurut Yoh 15:1-8 Yesus mengumpamakan diri sebagai pokok pohon anggur yang benar dan para murid ialah ranting-ranting yang tumbuh dari pokok itu. Juga Bapanya yang ada di surga digambarkannya sebagai Dia yang mengusahakan agar ranting-ranting semakin berbuah. Apa maksud petikan ini?

Ada kesejajaran antara bacaan kedua (1Yoh 3:18-24) dengan petikan Injil. Penulis surat itu mengajak orang menyadari bahwa Allah itu sumber kehidupan yang sungguh (ay. 19). Seperti digambarkan dalam Injil kali ini, Dia itu pokok yang menjadi tumpuan hidup ranting-ranting. Juga kian jelas bahwa di dalam ranting yang hidup mengalir kekuatan yang berasal dari pokok. Sehubungan dengan itu, bacaan kedua, 1Yoh 3:18-24, melukiskan daya ini sebagai kehadiran Roh dalam diri orang yang percaya (ay. 24).

BACAAN DAN LITURGI

Minggu Paskah IV B 22 Apr 2018 (Yoh 10:11-18 & 1 Yoh 3:1-2)

TENTANG GEMBALA YANG BAIK

Dalam Yoh 10:11-18 Yesus mengibaratkan diri sebagai gembala bagi kawanan dombanya. Sebagai gembala, ia takkan lari bila ada serigala menyerang domba-dombanya. Tidak seperti orang upahan yang tak bertanggung jawab. Ia mengenal domba-dombanya dan mereka mengenalnya. Sebelum mulai membicarakan ibarat “gembala” dalam petikan yang dibacakan pada hari Minggu Paskah IV tahun B ini, baiklah dicatat bahwa dalam Injil Yohanes gagasan “gembala” sama dengan yang empunya kawanan domba. Tidak semua yang menggembalakan kawanan dibicarakan sebagai “gembala” yang dalam Injil Yohanes juga menjadi pemilik kawanan tadi.

GEMBALA YANG BAIK

Halaman

Subscribe to RSS - Gagasan Homili