Gagasan Homili

Ulasan Injil mingguan

Injil Minggu Biasa XXIX/B - 21 Okt 2018 (Mrk 10:35-45)

DUDUK DI KANAN KIRINYA?

Berikut ini sekadar catatan mengenai Mrk 10:35-45 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXIX tahun B. Petikan Injil kali ini mengungkapkan keinginan Yakobus dan Yohanes untuk memperoleh kedudukan di kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaannya nanti. Tetapi Yesus malah menanyai mereka, sanggupkah minum dari cawan yang diminumnya dan menerima baptisan yang diterimanya. Ditambahkannya, ia tak dapat menjanjikan kedudukan itu karena hanya Allah sendirilah yang menentukan siapa yang pantas ke sana. Kemudian Yesus mengatakan, barangsiapa ingin jadi orang besar hendaknya menjadi orang yang melayani orang lain. Bagi Anak Manusia, melayani dan mengamalkan diri menjadi jalan penebusan bagi umat manusia.

KEDUDUKAN KHUSUS, JADI PAHALA KHUSUS?

Injil Minggu Biasa XVIII/B 14 Okt 2108 (Mrk 10:17-30)

AGAMA DAN KEROHANIAN SEJATI

Bacaan Injil Minggu Biasa XXVIII tahun B ini (Mrk 10:17-30) memuat pernyataan Yesus bahwa lebih mudah bagi seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 25; lihat pula Mat 19:23-24 Luk 18:25). Murid-murid bereaksi, bila begitu, siapa yang bakal selamat? Menanggapi persoalan ini, Yesus mengemukakan memang tak mungkin bagi manusia, namun bukan demikian bagi Allah; bagi-Nya semuanya bisa terjadi. Apa artinya pembicaraan itu dan apa wartanya bagi kita sekarang?

SIKAP BERAGAMA DAN KEROHANIAN SEJATI?

Ada orang yang datang dan bertanya kepada Yesus, apa yang mesti diperbuat supaya mendapatkan hidup kekal (Mrk 10:17). Yesus merujuk kepada perintah-perintah agama (ay. 19). Tetapi setelah orang itu berkata bahwa semua sudah dijalankannya (Mrk ay. 20), Yesus mengajaknya melangkah lebih jauh. Disarankannya kepada orang itu untuk mengamalkan kekayaannya bagi kaum papa lalu mengikutinya (ay. 21).

Injil Minggu Biasa XXVII/B tgl. 7 Okt 2018 ((Mrk 10:2-16)

MASALAH HUKUM ATAU SOAL IMAN?

Masalah yang dibawa ke hadapan Yesus oleh orang-orang Farisi kali ini berkisar pada prinsip diperbolehkan atau tidaknya seorang suami menceraikan istrinya (Mrk 10:2-16, Injil Minggu Biasa XXVII tahun B). Memang dalam hukum Taurat, seperti mereka ketahui, tindakan itu diizinkan asal dilakukan dengan cara yang ditetapkan, yakni dengan surat cerai resmi yang dibuat oleh suami dan langsung diserahkan ke tangan istrinya – jadi resmi. Istri yang mendapat surat cerai seperti ini dapat menikah lagi dengan sah, tetapi bila suami baru nanti menceraikannya atau meninggal, maka suami yang dulu tidak boleh menikahinya kembali.

Injil Minggu Biasa XXVI th B 30 Sept 2018 (Mrk 9:38-43.45.47-48.)

KESERAGAMAN ATAU KERAGAMAN?

Rekan-rekan yang budiman!

Suatu ketika Yohanes, salah satu dari para murid Yesus, bercerita kepada guru mereka bahwa mereka melihat orang yang mengeluarkan setan demi namanya. (Injil Minggu Biasa XXVI tahun B, Mrk 9:38-43.45.47-48.) Langsung Yohanes mencegahnya, kan orang itu bukan salah satu dari pengikut para murid Yesus! Murid ini berpendapat bahwa siapa saja yang mau menjalankan hal-hal yang baik mestinya bergabung dulu dengan kelompok yang sudah mapan seperti para murid terdekat tadi. Bukan sendiri-sendiri. Yohanes mengatakan “bukan pengikut kita”. Terasa adanya pendapat bahwa mengikuti Yesus baru dapat dijalani bersama dengan para muridnya. Seolah-olah mereka itu satu-satunya agen penyalur. Rupa-rupanya Yohanes berpikir dalam kerangka “keseragaman” dan tidak melihat nilai “keragaman” di antara para pengikut Yesus.

MENGIKUTI YESUS

Injil Minggu Biasa XXV/B tgl. 23 Sept 2018 (Mrk 9:30-37)

MENGIKUTI DIA PADA JALANNYA

Rekan-rekan,
Injil bagi hari Minggu Biasa XXV tahun B kali ini (Mrk 9:30-37) memuat pernyataan Yesus yang kedua kalinya kepada murid-muridnya mengenai kesengsaraan, salib, serta kebangkitannya. Sesudah itu, ia juga memberi pengajaran agar dalam mengikutinya para murid tidak berpamrih bakal mendapat kedudukan. Sebelum mendalami pengajaran ini, marilah ditengok sejenak maksud serta makna pemberitahuan mengenai sengsara tadi bagi komunitas para murid waktu itu.

Injil Minggu 24B tgl 16 Sep 2018 (Mrk 8:27-35)

ENGKAU ITULAH MESIAS!

Judul di atas dipetik dari jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus kepada para murid mengenai siapa dirinya menurut mereka sendiri. Kedengarannya sederhana, apa adanya, muncul dari kesadaran mereka sendiri. Akan tetapi belum jelas apa sesungguhnya yang hendak disampaikan Mrk 8:27-35 (dibacakan sebagai pada hari Minggu Biasa XXIV tahun B) dengan peristiwa tanya jawab seperti ini. Matk pernah mampir Roma. Sebelum kembali ke Venezia, ia saya bujuk tinggal lebih lama. Saya antar dia ziarah ke makam Petrus. Kan Mark pernah jadi asistennya di Roma dulu. Kami berbincang-bincang sambil berjalan ke lorong-lorong bawah tanah Basilica San Pietro.

SOSOK YESUS DI MATA ORANG
GUS: Kejadian ini bertempat di Kaisarea Filipi – apa ada penjelasannya? Kota itu kan letaknya amat di utara, di kaki gunung Hermon, di Libanon, sekitar 45 km sebelah timur kota Tirus.

Injil Minggu XXIII/B tgl. 9 Sept 2018 (Mrk 7:31-37)

EFATA! - TERBUKALAH!

Rekan-rekan yang budiman!

Kali ini Injil Markus menampilkan kisah unik: penyembuhan orang tuli. Hanya dalam Injil Markus sajalah peristiwa ini disampaikan. Dalam petikan Mrk 7:31-37 (hari Minggu Biasa XXIII tahun B) ada beberapa hal menarik yang kurang begitu saya pahami. Karena kekurangan waktu untuk membalik-balik komentar Injil, saya bujuk saja Mark menerangkan makna kisah penyembuhan ini. Ia biasanya pendiam dan tak banyak kata, tapi kali ini ia suka bercerita dan tidak keberatan suratnya saya teruskan kepada kalian.

Teriring salam dari refter Kanisius
A. Gianto.

======================================

Gus yang baik!

Injil Minggu XXII/B tgl 2 Sep 2018 (Mrk 7:1-8.14-15.21-23)

SIKAP BERAGAMA YANG SEJATI ?

Rekan-rekan yang baik!
Dalam tiap agama ditumbuhkan dan dikembangkan hidup rohani lewat lembaga hukum, aturan, tatacara, upacara, dan pemahaman kisah-kisah sakral (Kitab Suci). Jadi ada tujuan, yakni kerohanian, dan ada pula sarananya, yaitu kelembagaan tadi. Dalam kenyataan kerap tujuan dan sarana saling bertukar. Misalnya, tata upacara atau hukum-hukum agama menjadi makin dipentingkan dan menyingkirkan semua yang dirasa tidak sejalan. Akibatnya, kelembagaan lambat laun menjadi tujuan beragama, bukan lagi sarana. Orang bisa mulai merasa sesak, kurang leluasa. Sering dalam keadaan ini ada pembaruan untuk menjernihkan tujuan semula. Hidup beragama biasanya berada di antara dua kutub itu. Bisa lebih dekat dengan yang satu, bisa menjauh dari yang lain. Ada kecenderungan untuk hanya melihat tujuan sehingga sarana kelembagaan disepelekan. Tapi ada juga tarikan untuk mementingkan sarana dengan akibat tujuan menjadi kabur.

Injil Minggu Biasa XXI/B tgl. 26 Agt 2018 (Yoh 6:60-69)

LUAR BIASA!

Rekan-rekan,

Dari bacaan Yoh 6:60-69 dapat disimpulkan bagaimana para murid yang paling dekat pun bisa mengalami kesulitan memahami perkataan Yesus mengenai dirinya sendiri sebagai roti kehidupan yang turun dari surga. Lebih sukar lagi mengerti penjelasan Yesus dalam Yoh 6:65 bahwa tak ada seorang pun dapat datang kepadanya bila Bapa tidak mengaruniakannya. Untuk menemukan jalan sampai ke Bapa katanya perlu lewat Yesus. Tapi sekarang ditandaskan, untuk datang ke Yesus perlu karunia dari Bapa. Mau ke mana pembicaraan yang melingkar-lingkar ini? Tak mengherankan, banyak yang meninggalkannya dan tak jadi pengikutnya lagi. Agama kan mesti dijalani, tidak diomongkan melulu! Kita ini cuma ingin menjalankan yang dimaui Yang Kuasa, kok pakai putar-putar begitu. Begitulah pikir para murid. Marilah kita dalami Injil yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXI tahun B ini.

Injil Minggu XX th B - 19 Agt 2018 (Yoh 6:51-58)

HARAPKAN BURUNG TERBANG TINGGI...

Rekan-rekan yang budiman!

Umat Perjanjian Lama meninggalkan tanah Mesir untuk memperoleh kemerdekaan di negeri yang dijanjikan kepada mereka (Kel 3:7-10; 6:5-7; Ul 26:5-9). Ada kalanya di tengah perjalanan mereka menyesali telah melepaskan tempat mereka biasa hidup sehari-hari demi sebuah negeri yang baru berujud janji itu (Kel 16:3). Dapatkah mereka sampai ke sana dengan selamat? Bagaimana melewati gurun gersang yang mengerikan ini? Syukur semuanya telah terjadi. Dan pokok-pokok terpenting pengalaman di gurun tadi dikenang turun temurun dalam ibadat. Dipercaya pula bagaimana hari demi hari umat mendapat makanan langsung dari langit (Kel 16:12-35; bdk. Bil 11:7-8) sehingga mereka dapat berjalan terus.

Injil Minggu 12 Agt 2018 (Luk 1:39-56): Hari Raya Maria diangkat ke dalam kemuliaan surgawi

DAPATKAH FIRDAUS PULIH KEMBALI?

Empat hal mengenai Maria dinyatakan sebagai ajaran iman. Dua di antaranya berasal dari zaman para Bapa Gereja, yakni (1) Maria tetap Perawan, (2) Maria Theotokos - Maria mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus, dan dua lainnya dari abad 19 dan 20 meskipun sudah dirayakan sejak berabad-abad sebelumnya, yaitu: (3) Maria dikandung tanpa noda dosa asal (dinyatakan sebagai ajaran iman tahun 1854) dan (4) Maria diangkat ke surga jiwa dan badan. Yang terakhir ini baru resmi dinyatakan sebagai bagian ajaran iman Gereja Katolik pada tahun 1950 meski sudah dirayakan di pelbagai tempat sejak abad ke-4.

MENEMUKAN YANG HILANG

Injil Minggu XVIII /Th B tgl. 5 Agt 2018 (Yoh 6:24-35)

MAKANAN YANG MENGHIDUPKAN

Pada awal Injil Minggu Biasa XVIII tahun B, Yoh 6:24-35, disebutkan bagaimana orang banyak yang telah mendapatkan makan dari Yesus (lihat Injil Minggu sebelum ini, Yoh 6:1-15) mencarinya di Kapernaum. Mereka menemukan dia di pantai seberang. Seperti dikisahkan pada akhir Injil Minggu lalu, mereka adalah orang-orang yang ingin menjadikannya raja, tetapi Yesus menyingkir dari mereka.

Injil Minggu Biasa 29 Jul 2018 ( Yoh 6:1-15)

BINGKISAN KASIH

Injil Minggu Biasa XVII tahun B, Yoh 6:1-15, mengisahkan bagaimana Yesus mampu memberi makan lima ribu orang dengan membagi-bagikan lima roti jelai dan dua ikan yang kebetulan tersedia pada waktu itu. Sisa potongan roti setelah semua orang makan bahkan mencapai dua belas bakul penuh! Apa wartanya? Sebelum membicarakan lebih lanjut, marilah kita memahami kisah “Yesus memberi makan orang banyak” bukannya sebagai tindakan ajaib “memperbanyak makanan” semata-mata. Tekanan diletakkan pada perhatian Yesus kepada orang-orang yang mendatanginya, bukan pada mukjizatnya sendiri.

Injil Minggu Biasa XV-Th B tgl. 22 Juli 2018 (Mrk 6:30-34)

KE TEMPAT SUNYI SEJENAK
Rekan-rekan yang baik!
Kedua belas murid yang diutus dua berdua ke pelbagai tempat kini kembali berkumpul dengan dia. Injil jelas-jelas menyebut mereka “rasul”, artinya orang yang diutus. Dalam pengutusan itu mereka dibekali kuasa atas roh jahat sehingga orang-orang yang mereka datangi dapat mulai mengenal siapa yang mengutus. Orang yang luar biasa. Dan ia bakal datang sendiri ke tempat kami! Tak mengherankan banyak yang tak sabar menunggu. Ada yang mengikuti para rasul yang kembali menemui sang Guru. Orang-orang itu ingin segera melihat sendiri siapa dia yang dikabarkan para utusannya. Itulah suasana yang melatari Mrk 6:30-34 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVI tahun B ini. Para pendengar di zaman ini boleh mencoba memasuki suasana batin itu dengan ikut merasa-rasakannya.

Injil Minggu XV/B tgl. 15 Jul 2018 (Mrk 6:7-13)

MENGHARAPKAN KEDATANGANNYA
Rekan-rekan yang budiman!
Bagi kedua belas murid, seperti diutarakan dalam Mrk 6:7-13 (Injil Minggu Biasa XV tahun B), diutus berarti siap berangkat mewartakan tobat, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit. Juga para utusan diminta agar berani pergi tanpa membawa kelengkapan. Hanya yang paling dibutuhkan boleh dipakai: tongkat dan alas kaki saja. Mereka juga tak boleh takut tidak diterima dengan baik. Itukah syarat-syarat agar dapat memakai kuasa yang dipercayakan Yesus kepada mereka? Begitulah perasaan kedua belas murid pada waktu itu. Ay. 12-13 memberi kesan bahwa mereka sanggup menjalankan pengutusan ini dengan gairah. Bagaimana dengan kita para pendengar dan pembaca Injil pada zaman ini? Apakah kita diharapkan menjadi seperti mereka? Marilah kita dalami terlebih dahulu kisah pengutusan ini.

Halaman

Subscribe to RSS - Gagasan Homili