dialog

Spiritualitas Dialog

Pada tahun 1999 s/d 2004 di Maluku terjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang mengerikan. Memang ada banyak penyebab dari targedi kemanusiaan ini. Namun salah satu penyebab yang sangat jelas ialah konflik antar-umat beragama, yakni antara umat Kristen Protestan dan umat Muslim. Konflik ini diwarnai dengan saling balas dendam, saling mengancam, saling benci, saling menyerang, bahkan saling membunuh. Agama yang sebenarnya merupakan sumber perdamaian telah digunakan sebagai pemicu konflik dan kekerasan. Karena itu benarlah apa yang dikatakan oleh Dr. Asghar Ali Engineer, penerima penghargaan nobel alternatif, The Right Livelihood, tokoh gerakan non-kekerasan dan reformis dari India:

“Agama adalah sumber untuk menciptakan perdamaian. Itulah esensi agama. Mereka yang menggunakan dalih agama untuk melakukan kekerasan adalah mereka yang bermain dengan kekuasaan. Bukan agama yang bertanggung jawab atas kekerasan, melainkan obsesi pada kekuasaan dan keserakahan. Menjadi orang beragama yang baik berarti menolak menyakiti sesama manusia dan menjadi manusia yang baik. Berarti tidak terjebak pada simbol-simbol agama. Kekerasan tidak akan menghasilkan apa pun, kecuali kehancuran” (Kompas, 1 Juni 2006, hlm. 16).

Pada saat itu, berkali-kali saya sebagai Uskup Diosis Amboina menyerukan lewat media massa cetak dan elektronik, bahwa konflik antar umat beragama bisa dihindari dan diatasi bukan dengan saling balas dendam, melainkan dengan dialog antar-umat beragama. Dan memang, hal ini terutama dilaksanakan melalui pertemuan Malino II. Syukur kepada Allah karena konflik itu bisa diatasi, dan kini perdamaian serta keamanan semakin mewarnai Maluku. Dialog antar-umat bergama itu selanjutnya tetap dipupuk, dirawat, dan dikembangkan atas rupa-rupa cara.

Melalui tulisan ini, saya ingin membahas apakah artinya dialog antar-umat beragama melalui beberapa pokok berikut ini:

I. DIALOG SEBAGAI SPIRITUALITAS KRISTIANI;

II. DASAR DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA;

III. CARA-CARA MEWUJUDKAN DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA;

IV. BENTUK-BENTUK DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA.

 

 

  1. DIALOG SEBAGAI SEBUAH SPIRITUALITAS KRISTIANI

Sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkal bahwa di dunia ini ada aneka ragam agama, baik di kalangan agama Kristen maupun di kalangan agama non- Kristen. Bagaimana sikap Gereja atau agama Katolik terhadap agama-agama non-Katolik seperti Protestan, Anglikan, Ortodoks, dan terhadap agama-agama non-Kristen seperti Muslim, Hindu, Buddha dan Yahudi? Paus Paulus VI (almarhum) dalam ensikliknya Ecclesiam Suam, 6 Agustus 1964, memperkenalkan dialog. Memang berkesan bahwa dialog mengutamakan dimensi mengetahui, atau berkesan semata-mata pertukaran gagasan. Namun dialog sebenarnya adalah sebuah sikap atau corak hidup demi mewujudkan diri manusia yang sosial dan religius. Dialog melibatkan pelaku manusiawi secara menyeluruh.1)

Dikatakan juga dalam dokumen yang dikeluarkan oleh sekretariat agama-agama non-Kristen, The Attitude of the Church Toward the Followers of Other Religions: Reflections and Orientations on Dialogue and Mission, May 10, 1984:

“Dialog merupakan sikap baru. Dialog tidak hanya berarti diskusi, melainkan juga mencakup semua hubungan antar-agama yang positif dan konstruktif dengan orang perorangan dan komunitas iman lain, yang ditujukan untuk saling mengerti dan saling memperkaya” (No. 3).

Sebagai sebuah “sikap saling berhubungan” antar-agama-agama, dialog adalah sebuah spiritualitas, yang menurut romo Robert Hardowiryana SJ, berarti sebuah corak hidup rohani yang berkaitan erat dengan neomatikos: orang-orang yang hidup oleh Roh (bdk. Rom 8: 1-7), atau sebuah sikap dasar praktis dan eksistensial orang-orang beriman, yang merupakan konsekwensi dan ekspresi dari kesadaran eksistensi religius mereka.2) Jadi dialog adalah sebuah cara bertindak, sikap dan semangat yang membimbing perilaku seseorang.

 

  1. DASAR DIALOG

Dialog antar-umat bergama bukan terutama tumbuh dari kenyataan sesaat bahwa umat-umat beragama terlibat saling konflik dan konflik ini harus diatasi dengan taktik dialog. Tetapi justru dialog timbul sebagai buah-buah iman dari umat beragama.

  1. Iman akan Allah Tritunggal

Dialog antar-umat beragama tumbuh dari refleksi atas iman akan Allah Tritunggal: “Bapa abadi mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih timbal balik Bapa dan Putra adalah Pribadi Roh Kudus. Misteri Allah Tritunggal kasih dan persekutuan merupakan model

unggul dalam relasi insani dan dasar dialog”.3) Dialog antar-umat beragama timbul dari tuntutan iman, lahir dari iman, dan harus dipupuk dengan iman.4)

__________________________

  1. Bdk. Paus Yohanes Paulus II, Ut Omnes Unum Sint, 25 Mei 1995, no. 28.

  2. Bdk. R. Hardowiryana SJ, Spiritualitas Imam Diosesan Melayani Gereja Di Indonesia Masa Kini, Kanisius, Yogyakarta, 2000, hlm. 12.

  3. Kardinal Francis Arinze, Surat kepada Ketua Konferensi-Konferensi Uskup-Uskup tentang Spiritualitas Dialog, 3 Maret 1999, no. 2.

  4. Ibid, no. 1.

Tags: 
Subscribe to RSS - dialog