Selamat Paskah !

TUHAN TELAH BANGKIT!
Tidak ada laporan bagaimana persisnya kebangkitan itu terjadi, dengan cara apa, kapan saatnya dan siapa-siapa yang pertama melihat peristiwa itu. Jalannya peristiwa akan tetap tersembunyi, hanya jejak-jejak peristiwa itu sajalah yang dikenali. Namun demikian, ada pokok yang mendasari kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit. Yang pertama ialah makam yang kosong dan yang kedua ialah keyakinan orang-orang yang terdekat bahwa ia tidak lagi berada di antara orang mati. Amat besar peran kesaksian orang-orang yang datang mencari dia yang tadinya wafat dan dimakamkan seperti disampaikan dalam Mrk 16:1-8 (Malam Paskah); Yoh 20:1-9 (Minggu Paskah pagi ); dan Luk 24:13-35 (Minggu Paskah sore).

Imam Diosesan di Tengah Arus Zaman

IMAM DIOSESAN DI TENGAH ARUS ZAMAN
(Inti Sari Ret-Ret Imam Unio Keuskupan Denpasar)
Oleh: RD Eman Ano

Selagi bumi tak berhenti berputar mengelilingi matahari, maka dunia dengan ruang dan waktu yang menghiasinya takkan pernah berhenti untuk berubah-ubah. Maka yang kekal adalah perubahan menjadi kebenaran yang tak terbantahkan sebagaimana telah dikumandangkan Herakleitos, filsuf kuno, yang pemikirannya itu malah tak pernah kuno.

Bumi atau dunia dengan ruang dan waktu yang berubah-ubah itu kita kategorikan sebagai zaman. Umumnya oleh Filsafat, zaman itu terbagi atas kuno-modern-postmodern dan kontemporer. Apapun bentuk dan kondisi zaman yang ada, yang pasti ada perubahan di setiap zaman. Dan dalam proses menuju perubahan selalu ada arus yang bermain, yang kadang bergerak cepat-lambat, pasang-surut. Dalam arus zaman itulah “the special calling”, para imam diosesan berkiprah dan berjuang menabur dan mewartakan benih Kerajaan Allah yang telah dimulai oleh Sang Guru Imam Agung Yesus Kristus. Pertanyaan mendasar di sini yakni: Mampukan para imam Diosesan mendayung dan bergerak maju dalam arus zaman yang ada? Dengan mengusung kekuatan iman bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil”, maka mampu dan bisa merupakan jawaban yang dapat diberikan.

Sebagai Para Imam Diosesan di Keuskupan Denpasar, yang mencakup Bali dan NTB, dengan sikon yang ada telah dan akan selalu memberikan arus zaman yang menantang dan musti dihadapi untuk dilalui dengan dan bersama Yesus Sang Guru. Maka, ret-ret kali ini yang mengambil tema IMAM DIOSESAN DI TENGAH ARUS ZAMAN, sebenarnya mencerminkan keseriusan dan kesanggupan kami untuk siap berjuang dan bergulat melintasi arus zaman yang ada untuk menabur-menumbuhkembangkan (atau dalam bahasa Sinode III Keuskupan Denpasar), memancarkan wajah Kristus dalam arus zaman yang sedang dan terus bergelora di Keuskupan ini.

Imam Diosesan: Butuh kerohanian dan pembebasan bagi Perubahan

Ret-ret UNIO Keuskupan Denpasar yang berlangsung di Batu Riti-Bedugul, pada, 31 Agustus – 5 September 2015 dibuka dengan Perayaan Ekaristi Kudus, yang dipimpin langsung oleh Pendamping Ret-Ret, Rm. Dr. Dominikus Gst Bgs Kusumawanta, Pr. Pastor Paroki Gianyar, yang pada tahun ini merayaan perak imamatnya, melalui kotbahnya menantang dan mengajak para imam untuk mengintrospeksi diri sambil bertanya: Apakah yang menjadi branding, kekhasan utama di Keuskupan kita, yang dengan mengacu padanya kita bergerak dan berjuang sebagai agen pastoral di Keuskupan ini pada zaman ini? Refleki atas pertanyaan tersebut dengan berinspirasikan Injil Lukas 4 yang bagi beliau dipandang sebagai revolusi sosial Yesus, memunculkan tiga kebutuhan berikut: Pertama, Imam Diosesan perlu kerohanian untuk perubahan; Kedua, perlu pembebasan untuk perubahan dan Ketiga, perlu selalu menjaga persekutuan (communion) dengan Tuhan, sesama dan umat untuk memperjuangkan perubahan.

Imam itu “A person set apart of God”

Pergumulan mendalami tema ret-ret kali ini, diawali dengan membangkitkan kembali refleksi essensial dari eksistensi seorang imam. Bahwa panggilan imam itu bermula dari kerinduan, keinginan Tuhan karena cintaNya untuk pribadi terpanggil. “Mari, ikutilah Aku” (Mrk. 2:14). Tuhan yang punya inisiatif. Menjadi imam itu pilihan Tuhan (Luk. 6:13), penetapan Tuhan, penetapan Illahi dan berlaku SELAMANYA (karakter infilibilitas:tak terhapuskan). Penetapan itu internal, bukan eksternal, dari dalam Kehendak Tuhan. Panggilan itu khusus dari Allah karena kita menjadi pribadi yang istimewa. Imam itu “A person set apart of God” (Luk 6:12-16). Imam terpanggil pada kekudusan dan kemuliaan Allah. Imam itu reperesanti dari Sang Guru kita Yesus Kristus. “Disciple attached to the master”. Tugas imam yakni berdoa. “Prayer is breath of the disciple life”. Lalu mewartakan Sabda Tuhan. “Listen to the world of the Master”.

Disposisi Imam di Tengah Arus Zaman

Zaman ini, dengan arus dan pergerakannya yang begitu cepat telah memberikan perubahan yang signifikan. Perubahan itu, bagi para imam yang juga berada dan berjuang bagi menabur dan menumbuhkembangkan Kerajaan Allah di dunia menjadi tantangan yang menarik. Saya lalu teringat dengan sebuah istilah theologi dogmatic yang pernah dikemukakan oleh dosen favorit saya waktu kuliah di STFK Ledalero, yang hemat saya bisa melukiskan situasi itu: “Tremendum et fascinosum”: sebuah situasi yang menakutkan tapi menarik dan sayang kalau tidak digenggam dan digeluti. Arus zaman ini, dengan perubahan yang menjadi tantangan itu memang di satu sisi menakutkan, tapi di sisi yang lain disayangkan untuk tidak digenggam atau dibiarkan berlalu tanpa kita para imam “menceburkan” diri atau “bertolak ke kedalaman” untuk mengendus, menemukan dan menebarkan benih Kerajaan dan kemuliaan Allah di dalamnya. Imperatif Yesus kepada para muridNya untuk pergi, kamu diutus juga mengandung arti bahwa kita perlu pergi, masuk dan bergulat dalam arus zaman yang sedang berkembang dan menggelora untuk “menemukan” dan “menampakan” keselamatan dan kemuliaan Allah bagi dunia.

Para Imam Diosesan merupakan imam yang telah-sedang dan akan selalu diutus dalam arus zaman yang sedang terjadi. Salah satu identitas zaman ini yakni adanya wajah lesu dari pribadi-pribadi yang “lelah” memperjuangkan kehidupan dalam zaman yang serba kompetitif dan bergerak begitu cepat, yang oleh Arbi Sanit, dalam bukunya: Mega trend 200O, dilukiskan sebagai sikon yang bergerak begitu cepat, dan kita manusia lari terbirit-birit mengejar ketertinggalan yang terjadi. Pertanyaannya, bagaimana para imam memposisikan diri dalam arus zaman yang terjadi seperti itu?

Retret Imam Unio Keuskupan Denpasar

Kegiatan tahunan Unio Keuskupan Denpasar 2015 adalah Retret Imam. Menarik bahwa retret Unio keuskupan Denpasar 2015 dibimbing oleh Pastor Paroki Gianyar yang telah merayakan 25 tahun imamat. Dengan tema: "Imam Diosesan di tengah Arus Zaman." Dalam retret itu ada beberapa sesi: pertama. Panggilan Murid-Murid, Imam" Pelayan Iman, Ekaristi sumber spiritualitas hidup imam, Imam dan Kepemimpinan, Imam : Pewarta Sabda Tuhan. Dalam persoalan hidup imam diosesan ditemukan banyak terjadi tabrakan kehidupan yang tidak jarang membuat luka-luka batin. Maka di hari terakhir ada penerimaan sakramen pengakuan lalu Adorasi Sakramen Maha Kudus dengan Pembaharuan janji imamat. Semoga para imam Unio Keuskupan Denpasar menjadi akar tunggang keuskupan Denpasar. Pemberi retret Romo I Gst Bgs Kusumawanta (Pastor Paroki Gianyar) dan Bapak Vincent (Semarang). Tu est Sacerdos in Aeternum.

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia RSS