Kumpulan Foto dan Video Munas XI

Disiapkan di YouTube oleh: Nendro Saputro (dari majalah mingguan HIDUP).

Spiritualitas Dialog

Pada tahun 1999 s/d 2004 di Maluku terjadi sebuah tragedi kemanusiaan yang mengerikan. Memang ada banyak penyebab dari targedi kemanusiaan ini. Namun salah satu penyebab yang sangat jelas ialah konflik antar-umat beragama, yakni antara umat Kristen Protestan dan umat Muslim. Konflik ini diwarnai dengan saling balas dendam, saling mengancam, saling benci, saling menyerang, bahkan saling membunuh. Agama yang sebenarnya merupakan sumber perdamaian telah digunakan sebagai pemicu konflik dan kekerasan. Karena itu benarlah apa yang dikatakan oleh Dr. Asghar Ali Engineer, penerima penghargaan nobel alternatif, The Right Livelihood, tokoh gerakan non-kekerasan dan reformis dari India:

“Agama adalah sumber untuk menciptakan perdamaian. Itulah esensi agama. Mereka yang menggunakan dalih agama untuk melakukan kekerasan adalah mereka yang bermain dengan kekuasaan. Bukan agama yang bertanggung jawab atas kekerasan, melainkan obsesi pada kekuasaan dan keserakahan. Menjadi orang beragama yang baik berarti menolak menyakiti sesama manusia dan menjadi manusia yang baik. Berarti tidak terjebak pada simbol-simbol agama. Kekerasan tidak akan menghasilkan apa pun, kecuali kehancuran” (Kompas, 1 Juni 2006, hlm. 16).

Pada saat itu, berkali-kali saya sebagai Uskup Diosis Amboina menyerukan lewat media massa cetak dan elektronik, bahwa konflik antar umat beragama bisa dihindari dan diatasi bukan dengan saling balas dendam, melainkan dengan dialog antar-umat beragama. Dan memang, hal ini terutama dilaksanakan melalui pertemuan Malino II. Syukur kepada Allah karena konflik itu bisa diatasi, dan kini perdamaian serta keamanan semakin mewarnai Maluku. Dialog antar-umat bergama itu selanjutnya tetap dipupuk, dirawat, dan dikembangkan atas rupa-rupa cara.

Melalui tulisan ini, saya ingin membahas apakah artinya dialog antar-umat beragama melalui beberapa pokok berikut ini:

I. DIALOG SEBAGAI SPIRITUALITAS KRISTIANI;

II. DASAR DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA;

III. CARA-CARA MEWUJUDKAN DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA;

IV. BENTUK-BENTUK DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA.

 

 

  1. DIALOG SEBAGAI SEBUAH SPIRITUALITAS KRISTIANI

Sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkal bahwa di dunia ini ada aneka ragam agama, baik di kalangan agama Kristen maupun di kalangan agama non- Kristen. Bagaimana sikap Gereja atau agama Katolik terhadap agama-agama non-Katolik seperti Protestan, Anglikan, Ortodoks, dan terhadap agama-agama non-Kristen seperti Muslim, Hindu, Buddha dan Yahudi? Paus Paulus VI (almarhum) dalam ensikliknya Ecclesiam Suam, 6 Agustus 1964, memperkenalkan dialog. Memang berkesan bahwa dialog mengutamakan dimensi mengetahui, atau berkesan semata-mata pertukaran gagasan. Namun dialog sebenarnya adalah sebuah sikap atau corak hidup demi mewujudkan diri manusia yang sosial dan religius. Dialog melibatkan pelaku manusiawi secara menyeluruh.1)

Dikatakan juga dalam dokumen yang dikeluarkan oleh sekretariat agama-agama non-Kristen, The Attitude of the Church Toward the Followers of Other Religions: Reflections and Orientations on Dialogue and Mission, May 10, 1984:

“Dialog merupakan sikap baru. Dialog tidak hanya berarti diskusi, melainkan juga mencakup semua hubungan antar-agama yang positif dan konstruktif dengan orang perorangan dan komunitas iman lain, yang ditujukan untuk saling mengerti dan saling memperkaya” (No. 3).

Sebagai sebuah “sikap saling berhubungan” antar-agama-agama, dialog adalah sebuah spiritualitas, yang menurut romo Robert Hardowiryana SJ, berarti sebuah corak hidup rohani yang berkaitan erat dengan neomatikos: orang-orang yang hidup oleh Roh (bdk. Rom 8: 1-7), atau sebuah sikap dasar praktis dan eksistensial orang-orang beriman, yang merupakan konsekwensi dan ekspresi dari kesadaran eksistensi religius mereka.2) Jadi dialog adalah sebuah cara bertindak, sikap dan semangat yang membimbing perilaku seseorang.

 

  1. DASAR DIALOG

Dialog antar-umat bergama bukan terutama tumbuh dari kenyataan sesaat bahwa umat-umat beragama terlibat saling konflik dan konflik ini harus diatasi dengan taktik dialog. Tetapi justru dialog timbul sebagai buah-buah iman dari umat beragama.

  1. Iman akan Allah Tritunggal

Dialog antar-umat beragama tumbuh dari refleksi atas iman akan Allah Tritunggal: “Bapa abadi mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih timbal balik Bapa dan Putra adalah Pribadi Roh Kudus. Misteri Allah Tritunggal kasih dan persekutuan merupakan model

unggul dalam relasi insani dan dasar dialog”.3) Dialog antar-umat beragama timbul dari tuntutan iman, lahir dari iman, dan harus dipupuk dengan iman.4)

__________________________

  1. Bdk. Paus Yohanes Paulus II, Ut Omnes Unum Sint, 25 Mei 1995, no. 28.

  2. Bdk. R. Hardowiryana SJ, Spiritualitas Imam Diosesan Melayani Gereja Di Indonesia Masa Kini, Kanisius, Yogyakarta, 2000, hlm. 12.

  3. Kardinal Francis Arinze, Surat kepada Ketua Konferensi-Konferensi Uskup-Uskup tentang Spiritualitas Dialog, 3 Maret 1999, no. 2.

  4. Ibid, no. 1.

Tags: 

Pastor Siprianus Hormat Pr menjadi Ketua Unio Indonesia

Musyawarah Nasional (Munas) ke-11 Unio Indonesia, paguyuban imam-imam diosesan atau projo (Pr), yang dilakukan di Ambon memilih Pastor Siprianus Hormat Pr sebagai ketua Unio Indonesia periode 2014-2017, menggantikan Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr dari Keuskupan Denpasar.

Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC melantik Pastor Siprianus bersama badan pengurusnya dalam Misa di Katedral Ambon tanggal 7 Oktober 2014. Presiden Internasional dari Apostolic Union of the Clergy (UAC) Mgr Giuseppe Magrin dari Roma, dua imam diosesan dari Timor Leste, umat keuskupan, serta para imam dan suster dari Keuskupan Amboina, serta berbagai undangan memenuhi gereja itu. Pemilihan pengurus itu sudah dilakukan tanggal 2 Oktober 2014.

Pastor Siprianus adalah imam diosesan dari Keuskupan Ruteng yang kini bekerja sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Badan Pengurus Unio Indonesia yang terpilih lainnya adalah:
Pelindung: Mgr Blasius Pujaraharja Pr
Penasehat: Mgr Vinsen Sensi Potokota Pr dan Mgr Agustinus Agus Pr
Ketua: Pastor Siprianus Hormat Pr
Wakil Ketua: Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr
Sekretaris I: Pastor PC Siswantoko Pr
Sekretaris II: Pastor Simon Lili Tjahjadi Pr
Bendahara I: Pastor Paulus Wirasmohadi Pr
Bendahara II: Pastor Eman Belo Sedo Pr
Kepala Pastoran Unio Indonesia: Pastor Guido Suprapto Pr
Bidang Komunikasi: Pastor Yustinus Ardianto Pr

Anggota:
Ketua Regio Jawa: Pastor Antonius Garbito Pambuaji Pr
Ketua Regio Sumatera: Pastor Yakobus Hariprabowo Pr
Ketua Regio Kalimantan Barat: Pastor Jhon Rustam Pr
Ketua Regio Kalimantan Timur: Pastor Anton B Doso Pr
Ketua Regio MAM: Pastor Stefanus Chandra Putra Endak Pr
Ketua Regio Nusra: Pastor Ferry Dhae Pr
Ketua Regio Papua: Pastor Izaak Bame Pr

Misa konselebrasi bersama 123 imam bersama Mgr Giuseppe Magrin, Pendiri dan Penasehat Unio Indonesia Mgr Blasius Pujaraharja Pr, Mgr Mandagi, Mgr Agustinus Agus Pr, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr, Mgr Joseph Suwatan MSC, Mgr Datus Hilarion Lega Pr, Mgr Silvester Tung Kiem San Pr untuk menutup munas dan meresmikan pengurus baru itu dirayakan juga sebagai Misa Syukur 20 Tahun Tahbisan uskup Amboina Mgr Mandagi, 50 Tahun Tahbisan Episcopat Uskup Emeritus Mgr Andreas Sol MSC, Peringatan 480 Tahun Imam Diosesan Berkarya di Indonesia, Peringatan 480 Tahun Misi Gereja Katolik di Maluku, dan Peringatan 469 Tahun Fransiskus Xaverius Tiba di Ambon.

Menurut Laporan Pertanggungjawaban yang dibacakan oleh Pastor Kusumawanta, di masa kepemimpinannya Unio Indonesia yang kini memiliki 2017 anggota di 37 keuskupan di Indonesia, telah menjalankan kegiatan-kegiatan pengembangan kehidupan imamat para anggota melalui kegiatan-kegiatan persaudaraan, serta pembinaan spiritual, mental dan intelektual, yang semuanya “berguna bagi karya pelayanan imamat.”

Selama tiga tahun masa kepemimpinan, lanjut imam itu, badan pengurusnya telah melaksanakan berbagai program di semua regio agar para anggota Unio Indonesia memiliki kehidupan spiritualitas yang baik dan sehat. Kegiatan yang dilaksanakan adalah Kursus Spiritualitas Imam Diosesan di Pusat Spiritualitas Girisonta Ungaran, Jawa Tengah, dan kegiatan bina lanjut atau on-going formation di setiap regio dan di tingkat nasional (Muntilan 2012) bertemakan Imam dan Katekese.

Munas itu dimulai dengan Misa di Katedral Ambon dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi dengan pemukulan tifa di rumah Gubernur Maluku oleh Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi bersama Gubernur Maluku, uskup Amboina, Ketua Unio Indonesia 2011-2014 dan Ketua Panitia Munas Unio XI di Ambon. Tercatat 13 uskup datang menghadiri Munas XI Unio Indonesia itu.

Penutupan dalam Misa di katedral yang sama ditandai dengan penyerahan bendera Unio Indonesia dari Pastor Kusumawanta kepada Pastor Siprianus Hormat, yang lalu menyerahkan bendera itu kepada seorang imam wakil Keuskupan Agung Palembang, yang akan menjadi tuan rumah Munas XII Unio Indonesia tahun 2017. Munas Unio Indonesia yang pertama dilaksanakan di Jakarta tahun 1983.

Setiap keuskupan mengirim wakil-wakil Unio Keuskupan sebagai imam peserta, yakni 1 peserta dari setiap keuskupan dengan jumlah 1-50 imam diosesan, 2 dari keuskupan dengan 51-100 imam diosesan, 3 dari keuskupan dengan 101-150 imam, dan 4 dari keuskupan dengan 150-200 imam. Dalam setiap munas, para imam mengikuti empat bentuk kegiatan. Pertama adalah sidang, studi, refleksi, sharing dan diskusi; kedua live-in dan analisa sosial di tengah umat; ketiga perayaan Ekaristi, ibadat, doa dan kegiatan rohani lainnya; dan keempat rekreasi dan kegiatan persaudaraan lainnya. (paul c pati)

sumber: http://penakatolik.com/2014/10/11/pastor-siprianus-hormat-pr-menjadi-ket...

Tags: 

Halaman

Subscribe to Unio Indonesia RSS