munas

Daftar Acara MUNAS XII

Kumpulan Foto dan Video Munas XI

Disiapkan di YouTube oleh: Nendro Saputro (dari majalah mingguan HIDUP).

Pastor Siprianus Hormat Pr menjadi Ketua Unio Indonesia

Musyawarah Nasional (Munas) ke-11 Unio Indonesia, paguyuban imam-imam diosesan atau projo (Pr), yang dilakukan di Ambon memilih Pastor Siprianus Hormat Pr sebagai ketua Unio Indonesia periode 2014-2017, menggantikan Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr dari Keuskupan Denpasar.

Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC melantik Pastor Siprianus bersama badan pengurusnya dalam Misa di Katedral Ambon tanggal 7 Oktober 2014. Presiden Internasional dari Apostolic Union of the Clergy (UAC) Mgr Giuseppe Magrin dari Roma, dua imam diosesan dari Timor Leste, umat keuskupan, serta para imam dan suster dari Keuskupan Amboina, serta berbagai undangan memenuhi gereja itu. Pemilihan pengurus itu sudah dilakukan tanggal 2 Oktober 2014.

Pastor Siprianus adalah imam diosesan dari Keuskupan Ruteng yang kini bekerja sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Badan Pengurus Unio Indonesia yang terpilih lainnya adalah:
Pelindung: Mgr Blasius Pujaraharja Pr
Penasehat: Mgr Vinsen Sensi Potokota Pr dan Mgr Agustinus Agus Pr
Ketua: Pastor Siprianus Hormat Pr
Wakil Ketua: Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr
Sekretaris I: Pastor PC Siswantoko Pr
Sekretaris II: Pastor Simon Lili Tjahjadi Pr
Bendahara I: Pastor Paulus Wirasmohadi Pr
Bendahara II: Pastor Eman Belo Sedo Pr
Kepala Pastoran Unio Indonesia: Pastor Guido Suprapto Pr
Bidang Komunikasi: Pastor Yustinus Ardianto Pr

Anggota:
Ketua Regio Jawa: Pastor Antonius Garbito Pambuaji Pr
Ketua Regio Sumatera: Pastor Yakobus Hariprabowo Pr
Ketua Regio Kalimantan Barat: Pastor Jhon Rustam Pr
Ketua Regio Kalimantan Timur: Pastor Anton B Doso Pr
Ketua Regio MAM: Pastor Stefanus Chandra Putra Endak Pr
Ketua Regio Nusra: Pastor Ferry Dhae Pr
Ketua Regio Papua: Pastor Izaak Bame Pr

Misa konselebrasi bersama 123 imam bersama Mgr Giuseppe Magrin, Pendiri dan Penasehat Unio Indonesia Mgr Blasius Pujaraharja Pr, Mgr Mandagi, Mgr Agustinus Agus Pr, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr, Mgr Joseph Suwatan MSC, Mgr Datus Hilarion Lega Pr, Mgr Silvester Tung Kiem San Pr untuk menutup munas dan meresmikan pengurus baru itu dirayakan juga sebagai Misa Syukur 20 Tahun Tahbisan uskup Amboina Mgr Mandagi, 50 Tahun Tahbisan Episcopat Uskup Emeritus Mgr Andreas Sol MSC, Peringatan 480 Tahun Imam Diosesan Berkarya di Indonesia, Peringatan 480 Tahun Misi Gereja Katolik di Maluku, dan Peringatan 469 Tahun Fransiskus Xaverius Tiba di Ambon.

Menurut Laporan Pertanggungjawaban yang dibacakan oleh Pastor Kusumawanta, di masa kepemimpinannya Unio Indonesia yang kini memiliki 2017 anggota di 37 keuskupan di Indonesia, telah menjalankan kegiatan-kegiatan pengembangan kehidupan imamat para anggota melalui kegiatan-kegiatan persaudaraan, serta pembinaan spiritual, mental dan intelektual, yang semuanya “berguna bagi karya pelayanan imamat.”

Selama tiga tahun masa kepemimpinan, lanjut imam itu, badan pengurusnya telah melaksanakan berbagai program di semua regio agar para anggota Unio Indonesia memiliki kehidupan spiritualitas yang baik dan sehat. Kegiatan yang dilaksanakan adalah Kursus Spiritualitas Imam Diosesan di Pusat Spiritualitas Girisonta Ungaran, Jawa Tengah, dan kegiatan bina lanjut atau on-going formation di setiap regio dan di tingkat nasional (Muntilan 2012) bertemakan Imam dan Katekese.

Munas itu dimulai dengan Misa di Katedral Ambon dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi dengan pemukulan tifa di rumah Gubernur Maluku oleh Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi bersama Gubernur Maluku, uskup Amboina, Ketua Unio Indonesia 2011-2014 dan Ketua Panitia Munas Unio XI di Ambon. Tercatat 13 uskup datang menghadiri Munas XI Unio Indonesia itu.

Penutupan dalam Misa di katedral yang sama ditandai dengan penyerahan bendera Unio Indonesia dari Pastor Kusumawanta kepada Pastor Siprianus Hormat, yang lalu menyerahkan bendera itu kepada seorang imam wakil Keuskupan Agung Palembang, yang akan menjadi tuan rumah Munas XII Unio Indonesia tahun 2017. Munas Unio Indonesia yang pertama dilaksanakan di Jakarta tahun 1983.

Setiap keuskupan mengirim wakil-wakil Unio Keuskupan sebagai imam peserta, yakni 1 peserta dari setiap keuskupan dengan jumlah 1-50 imam diosesan, 2 dari keuskupan dengan 51-100 imam diosesan, 3 dari keuskupan dengan 101-150 imam, dan 4 dari keuskupan dengan 150-200 imam. Dalam setiap munas, para imam mengikuti empat bentuk kegiatan. Pertama adalah sidang, studi, refleksi, sharing dan diskusi; kedua live-in dan analisa sosial di tengah umat; ketiga perayaan Ekaristi, ibadat, doa dan kegiatan rohani lainnya; dan keempat rekreasi dan kegiatan persaudaraan lainnya. (paul c pati)

sumber: http://penakatolik.com/2014/10/11/pastor-siprianus-hormat-pr-menjadi-ket...

Tags: 

Imam-imam Diosesan akan Bermusyawarah tentang Misi, Dialog dan Perdamaian

Foto2 dari Munas Sintang 2011

Imam-imam diosesan atau yang dikenal dengan imam-imam praja se-Indonesia akan mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) XI dengan menggunakan tema “Misi, Dialog dan Perdamaian” sebagai perspektif semua kegiatan refleksi dan diskusi serta kegiatan rohani dan keakraban.

Munas XI yang akan diadakan di Ambon, 1-8 Oktober 2014, menurut Ketua Unio Indonesia Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr, akan dihadiri oleh 165 imam dari 37 keuskupan di Indonesia “untuk meningkatkan persaudaraan dan kerasulan para imam diosesan seluruh Indonesia dalam pelayanannya bagi umat dan masyarakat.”

Unio, jelas imam itu, pertama-tama adalah paguyuban persaudaraan, “maka setiap kegiatan Unio seharusnya selalu diupayakan untuk membangun persaudaraan.” Selain mempererat persaudaraan dan mengembangkan jaringan komunikasi antarimam diosesan se-Indonesia, dengan munas itu diharapkan tumbuh kolegalitas diosesan yang berakar dan terlibat dalam konteks konkret umat dan masyarakat setempat dengan segala harapan, keprihatinan, tantangan, dan peluangnya.

“Kolegalitas diosesan tidak hanya menyangkut kolegalitas yang dibangun oleh uskup, melainkan kolegalitas keuskupan yang dibangun oleh uskup, imam diosesan, lembaga hidup bakti, dan semua umat beriman lainnya secara bersama-sama,” jelas imam itu.

Unio Indonesia, yang didirikan dalam Munas I di Jakarta 1983, adalah Federasi dari Unio Keuskupan-Keuskupan se-Indonesia. Imam diosesan saat ini berjumlah sekitar 2018 imam. Setiap tahun ditahbiskan sekitar 90 imam diosesan dari 37 keuskupan se-Indonesia. Unio Indonesia menyelenggarakan Munas setiap tiga tahun, Jakarta (1983), Malang (1986), Yogyakarta (1989), Salam (1992), Bandung (1995), Jakarta (1999), Surabaya (2002), Palasari Bali (2005), Makassar (2008), Sintang (2011).

Tujuan lain dari Munas di Ambon itu adalah meningkatkan kualitas hidup dan karya misioner imam-imam diosesan Indonesia dan mengembangkan sikap kepemimpinan yang kolegial dan partisipatoris. “Unio bukan hanya diadakan demi persaudaraan, namun lewat persaudaraan diharapkan Unio membantu meningkatkan kualitas hidup dan karya pada imam diosesan,” jelas Pastor Kusumawanta.

Selain itu, jelas imam asal Bali itu, munas itu diharapkan merumuskan pengembangan misi imam diosesan dalam konteks kultur. “Para imam diosesan harus dapat berkarya dalam kebudayaan dari masyarakat setempatnya.”

Yang juga akan dilaksanakan dalam munas itu adalah menentukan agenda kerja pengurus Unio Indonesia periode 2014-2017, “serta memilih pengurus Unio Indonesia Periode 2014-2017, yang diharapkan dapat melaksanakan agenda kerja yang sudah ditetapkan oleh munas.”

Di tengah munas yang diisi dengan live-in dan analisa sosial di tengah umat di Tobelo, Tanimbar-Saumlaki, Kei Langgur, sidang, studi, refleksi, sharing, dan diskusi, perayaan Ekaristi, ibadat, doa, kegiatan rohani, rekreasi dan kegiatan persaudaraan lain, peserta akan mendengarkan beberapa masukan seputar misi, dialog dan perdamaian.

Para pembicara adalah Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi, Ketua Internasional Apostolic Union of the Clergy (UAC) Mgr Giuseppe Magrin dari Roma, Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC, Pastor Neles Tebay Pr, Pendeta John Ruhulesin, Ketua MUI Maluku H Idrus Tukan, dan Gubernur Maluku Said Assegaf.

Guna merintis persaudaraan antarimam diosesan di wilayah Asia Tenggara, panitia sudah mengundang para imam diosesan dari Timor Leste, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Selain seluruh uskup di Indonesia, diundang juga bendahara UAC Pastor Antoni Thuruthiyil dan Animator UAC Asia Pastor Donlad De Souza. (paul c pati)

diambil dari: http://penakatolik.com/2014/09/26/imam-imam-diosesan-akan-bermusyawarah-...
Foto2: dari Munas Sintang 2011

Tags: 

Musyawarah Nasional XI UNIO Indonesia

MISI: DIALOG DAN PERDAMAIAN

MUNAS XI UNIO INDONESIA

AMBON, 1-8 OKTOBER 2014

Kami mohon doa dan dukungan dari umat agar Munas XI Unio Indonesia berjalan lancar dan sukses

Dari Ambon untuk Indonesia Damai.

Foto: Panitia Munas

Tags: 

TOR Musyawarah Nasional XI Unio Indonesia di Ambon

Musyawarah Nasional XI Unio Indonesia

Ambon, 01 s/d 08 Oktober 2014



Panitia Pengarah :

 

Ketua : RD. Gst Bgs Kusumawanta

d.a. Paroki St. Maria Ratu Rosari

Jln Mulawarman 92a, Gianyar 80515 Bali

Telpon : 0361 - 943457

HP : 081337033636

Email : dwanta61@gmail.com

Sekretaris : RD Yohanes Dwi Harsanto

HP : 081310614353

Email : dwi_harsanto@yahoo.com

Panitia Pelaksana :

 

Ketua : RD. Agustinus Arbol,

d.a. Keuskupan Amboina

Jln. Pattimura, 96 Ambon, 97124

Telpon : 0911 - 355164

Fax : 0911- 352556

HP : 081343140543

Email : agustinusarbol@ymail.com

Sekretaris : RD. Costan Fatlolon

HP : 081343279449

Email : costan_fatlolon@yahoo.com

 

  1. Latar Belakang Kegiatan :

Unio Indonesia adalah wadah persaudaraan Imam-Imam Diosesan se-Indonesia yang didirikan pada Musyawarah Nasional I Unio Indonesia di Jakarta tahun 1983. Unio Indonesia adalah Federasi dari Unio Keuskupan-Keuskupan se-Indonesia. Imam diosesan saat ini berjumlah sekitar 2018 imam. Setiap tahun ditahbiskan sekitar 90 imam diosesan dari 37 keuskupan se-Indonesia. Unio Indonesia menyelenggarakan Musyawarah Nasional setiap 3 tahun. Berturut-turut Munas diadakan di Jakarta (1983), di Malang (1986), di Yogyakarta (1989), di Salam (1992), di Bandung (1995), di Jakarta (1999), di Surabaya (2002), Palasari Bali (2005), Makassar (2008), Sintang (2011). Munas terakhir di Sintang memberi tugas kepada Pengurus Unio Indonesia untuk mengadakan Munas XI pada tahun 2014 di Keuskupan Amboina dengan tujuan untuk meningkatkan persaudaraan dan kerasulan para imam diosesan seluruh Indonesia dalam pelayanannya bagi umat dan masyarakat.

 

  1. Tema Kegiatan :

 

Munas XI akan menggunakan tema “Misi, Dialog dan Perdamaian”. Tema ini dijadikan perspektif untuk mengolah semua kegiatan selama Munas, baik kegiatan yang bersifat refleksi dan diskusi, maupun kegiatan kerohanian dan keakraban.

 

  1. Tujuan Kegiatan :

  1. Mempererat persaudaraan dan mengembangkan jaringan komunikasi antar imam diosesan se-Indonesia. Unio pertama-tama adalah paguyuban persaudaraan, maka setiap kegiatan Unio seharusnya selalu diupayakan untuk membangun persaudaraan.

  2. Menumbuhkan Kolegalitas diosesan yang berakar dan terlibat dalam konteks kongkret umat dan masyarakat setempat dengan segala harapan, keprihatinan, tantangan, dan peluangnya. Kolegalitas diosesan tidak hanya menyangkut kolegalitas yang dibangun oleh uskup, melainkan kolegalitas keuskupan yang dibangun oleh uskup, imam diosesan, lembaga hidup bakti, dan semua umat beriman lainnya secara bersama-sama.

  3. Meningkatkan kualitas hidup dan karya Misioner imam-imam diosesan Indonesia dan mengembangkan sikap kepemimpinan yang kolegial dan partisipatoris. Unio bukan hanya diadakan demi persaudaraan, namun lewat persaudaraan diharapkan Unio membantu meningkatkan kualitas hidup dan karya pada imam diosesan.

  4. Merumuskan Pengembangan misi Imam diosesan dalam konteks kultur Para Imam diosesan harus dapat berkarya dalam kebudayaan dari masyarakat setempatnya, dalam hal ini dalam kebudayaan Tana Toraja.

  5. Menentukan Agenda Kerja Pengurus Unio Indonesia Periode 2014-2017. Dalam agenda kerja diharapkan ada beberapa pokok program kerja yang seharusnya dapat dilaksanakan oleh Pengurus Unio Indonesia.

  6. Memilih Pengurus Unio Indonesia Periode 2014-2017. Pengurus yang baru diharapkan dapat melaksanakan agenda kerja yang sudah ditetapkan oleh Munas.

 

  1. Bentuk Kegiatan :

  1. Live in dan analisa sosial di tengah umat.

  2. Sidang, Studi, Refleksi, sharing, dan diskusi.

  3. Perayaan Ekaristi, ibadat, doa, dan kegiatan rohani lainnya.

  4. Rekreasi dan kegiatan persaudaraan lainnya

 

  1. Waktu dan Acara Kegiatan : MUNAS XI Unio Indonesia di Keuskupan Amboina, tgl 1-8 Oktober 2014, Tema: “Misi, Dialog dan Perdamaian” (Lihat Jadwal)




     

     

     

  2. Tempat Kegiatan :

 

Pelaksanaan Munas XI Unio Indonesia di Ambon menyangkut tempat menginap, bersosialisasi, untuk live in akan diadakan di Kota Ambon dan kepulauan Tanimbar dan sekitarnya. Panitia akan mengusahakan agar peserta dapat berinteraksi dan berefleksi bersama umat. Pengalaman bersama umat saat live in tersebut akan diolah sebagai bahan refleksi sehingga peserta Munas dapat pulang membawa suatu model kehidupan imam dan umat. Pengalaman bersama umat tersebut akan dialami lewat refleksi, diskusi, dialog, liturgi dan doa, malam keakraban, dan kebersamaan dengan umat.

 

  1. Peserta :

  1. Pelindung, Penasehat, Pengurus Unio Indonesia dan anggota khusus SC. 40 Orang. Panitia pelaksana OC. 70 orang.

Doa untuk Munas XI Unio Indonesia di Ambon

Doa untuk Munas XI Unio Indonesia di Ambon

Allah sumber segala berkat,
Kami bersyukur dan memuliakan Dikau,
Karena Engkau memanggil umat manusia
menuju keselamatan di dalam Dikau
dan dengan sesama, dalam diri Yesus PuteraMu, Tuhan kami.
Juga, karena Engkau memanggil dan menemani para imam diosesan,
yang membaktikan dirinya, membangun kerajaanMu di setiap keuskupan.

Pandanglah gerejaMu di tanah air kami Indonesia,
yang sejak 475 tahun lalu Kau bangun di Nusantara tercinta ini,
melalui kehadiran hambaMu Fransiskus Xaverius,
di kepulauan Ternate, Ambon dan sekitarnya;
semoga GerejaMu terus tumbuh teguh,
menjadi sarana keselamatan, perdamaian dan persaudaraan
di tengah masyarakat Nusantara tercinta.

Secara khusus, utuslah RohMu yang kudus
bagi para imam diosesan Indonesia,
yang akan mengadakan Munas ke 11 di Keuskupan Amboina dengan tema: Misi: Dialog dan Perdamaian.

Berkatilah panitia persiapan Munas ini, para imam dan Uskup Amboina,
yang mensyukuri 25 tahun tugas penggembalannya sebagai uskup.

Berkatilah juga, sesama imam dan biarawan-biarawati, serta para donatur dan Pemerintah Daerah,
bahkan sesama umat beragama dan masyarakat pada umumnya,
yang membantu dan menolong pelaksanaan Munas ini.

Semoga Munas ini, mengobarkan api misioner para  imam maupun umatMu
memperdalam cinta serta upaya membangun perdamaian dan persaudaraan sejati
melalui pelbagai kerjasama dan perjumpaan-perjumpaan spiritual yang menyejukkan.

Semoga Maria Bintang Laut, Bunda para imam,
menghantar Gereja dan imam Puteranya
menuju semangat misi yang baru dan tanggap membangun perdamaian sejati
di tanah air dan kepulauan kami,
demi Kristus, Tuhan dan imam agung kami, yang hidup dan berkuasa,
kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Bapa kami... Salam Maria... Kemuliaan..

St. Yohanes Maria Vianney, doakanlah kami
St. Fransiskus Xaverius, doakanlah kami
St. Maria Bunda para Imam, doakanlah kami

Tags: 

Umat Keuskupan Amboina Siap Jadi Tuan Rumah Munas XI Unio Indonesia 2014

Kesiapan dan kesediaan Umat Katolik Keuskupan Amboina menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) XI Unio Indonesia disampaikan langsung oleh Sang Gembala Keuskupan Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC dalam kesempatan Misa Hari Minggu Biasa XXI di Gereja St Fransiskus Xaverius Katedral Ambon, Minggu (26/8/2012).

Sebagaimana diketahui, sejak tanggal 24 Agustus 2012, Ketua Unio Indonesia Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr datang ke Ambon untuk menyampaikan secara resmi kepada Uskup perihal penyelenggaraan Munas XI Unio Inodonesia di Keuskupan Seribu Pulau ini.
“Kami hadir di sini membawakan misi khusus : mengajak umat untuk menyiapkan diri menghadapi peristiwa iman yang akan terjadi dua tahun mendatang. Peristiwa iman dimaksud adalah : pertama,  Gereja Katolik Keuskupan Amboina merayakan 480 tahun hadirnya karya Misi di Keuskupan Amboina ini secara khusus dan di Indonesia secara umum.  Kedua, Musyawarah Nasional XI Unio Indonesia yang akan dilaksanakan di Keuskupan Amboina tanggal 1-7 Oktober 2014. Akan hadir sekitar 200 Imam Projo dari 37 Keuskupan di Indonesia. Ketiga, Perayaan Syukur 20 tahun Mgr P.C. Mandagi MSC sebagai Uskup Diosis Amboina; dan inilah yang menjadi intensi khusus dari kedua perayaan itu.” Ujar Romo Wanta, sapaan akrab Pastor Dominikus Kusumawanta, dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Ambon.
Romo Wanta yang juga Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI menjelaskan, tujuan Munas XI Unio Indonesia adalah menegaskan kembali karya Allah di Indonesia yang diyakini dimulai dari Keuskupan Amboina.
Mengingat pentingnya perayaan peristiwa iman ini, Ketua Unio Indonesia mengimbau umat untuk berpartisipasi. “Saya mengajak umat Keuskupan Amboina untuk berpartisipasi dalam mempersiapkan perayaan-perayaan dimaksud, sehingga pada waktunya nanti boleh terselenggara dengan baik.”
“Kami akan mengundang Ketua Unio Internasional yang berkedudukan di Roma, Duta Vatikan untuk Indonesia, para Uskup seIndonesia, perwakilan Imam Projo dari beberapa negara tetangga seperti Brunei, Malaysia dan Timor Leste untuk turut hadir juga dalam perayaan iman dimaksud. Semoga peristiwa iman itu membangkitkan dan membaharui lagi iman seluruh umat Keuskupan Amboina.” Katanya.
Sementara itu Uskup Diosis Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC menyatakan siap menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan Munas XI Unio Indonesia di Ambon. “Saya setuju 1000 persen menjadi tuan rumah penyelenggaraan Munas XI Unio Indonesia di Keuskupan Amboina. Keuskupan Amboina harusnya bangga menerima kepercayaan ini. Peristiwa ini menjadi momentum bagi Keuskupan Amboina untuk dikenal di Indonesia dan dunia.”
Uskup Mandagi juga mengajak para imam, biarawan-biarawati dan seluruh umat untuk selain bekerja mempersiapkan diri secara fisik-lahiria, juga senantiasa rajin berdoa. “Menyongsong peristiwa iman ini, dibutuhkan persiapan. Dan persiapan yang sangat penting dan utama adalah Doa. Para imam dan umat keuskupan diharapkan berdoa, karna tanpa campur tangan Tuhan kerja keras kita tidak berarti.” Pungkas Mgr Mandagi.

Tags: 

UNIO: Wadah Persaudaraan Imam Diosesan

HIDUPKATOLIK.com - Setelah puas menyantap durian, peserta Munas UNIO X berkumpul di Aula Temenggung Tukong, Kompleks Gua Maria Bukit Kelam, Sintang, Rabu, 3/8. Pemilihan pengurus UNIO Indonesia segera digelar.

Setelah melalui beberapa putaran pemilihan, terpilih sebagai Ketua UNIO Periode 2011-2014, Pastor Dominikus Bagus Kusumawanta Pr dari Keuskupan Denpasar. Ia menggantikan Pastor Stanislaus Ferry Sutrisna Wijaya Pr dari Keuskupan Bandung yang telah tiga periode menjadi Ketua UNIO Indonesia. Pastor Wanta didampingi Wakil Ketua, Pastor Thomas Terry Ponomban Pr dari Keuskupan Manado.

Wadah persaudaraan

UNIO Indonesia dirintis dengan terbentuknya UNIO Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada 15 Juli 1955. Pada 28-29 Juni 1977 UNIO KAS mengadakan pertemuan yang dihadiri wakil imam Diosesan dari Keuskupan Bogor, Bandung, Purwokerto, Denpasar, Manado, Atambua, dan Merauke. Pertemuan ini mencetuskan gagasan untuk membentuk UNIO Indonesia. Baru pada Musyawarah Nasional I yang diadakan di Jakarta pada 14-17 Juni 1983 dan dihadiri wakil imam Diosesan dari 19 keuskupan, UNIO Indonesia secara resmi terbentuk.

UNIO adalah wadah persaudaraan imamat. UNIO Indonesia merupakan federasi dari UNIO keuskupan. Wadah ini bersifat terbuka dan sukarela, tetapi berupaya menjangkau dan melibatkan semua imam Diosesan (Praja) di Indonesia. Tujuan UNIO adalah menjadi sarana pengembangan hidup imamat dan pelayanan imam Diosesan Indonesia dalam semangat persaudaraan (bdk KHK Kan 298 $ 1). Sifat hubungan antar-UNIO Keuskupan, UNIO Indonesia, dan UNIO Internasional, bukanlah atasan dan bawahan, melainkan kesejajaran.

Setiap tiga tahun, UNIO Indonesia menggelar Munas. Munas UNIO XI tahun 2014 akan digelar di Keuskupan Amboina. Sementara Keuskupan Agung Palembang akan menjadi tuan rumah Munas UNIO XII tahun 2017.

Pengurus UNIO Indonesia 2011-2014

Pelindung : Mgr Blasius Pujaraharja (Ketapang)
Penasihat : Mgr Agustinus Agus (Sintang), Mgr Petrus Boddeng Timang (Banjarmasin), Mgr Vincentius Sensi Potokota (Ende)
Ketua : Dominikus Bagus Kusumawanta Pr (Denpasar)
Wakil Ketua : Thomas Terry Ponomban Pr (Manado)
Sekretaris 1 : Yohanes Dwi Harsanto Pr (Semarang)
Sekretaris 2 : Stefanus Sri Haryono Putro Pr (Bogor)
Bendahara 1 : Paulus Tongli Tandilosa Pr (Makassar)
Bendahara 2 : Emanuel Belo Sede Pr (Palembang)
Tim OGF : F.X. Sukendar Wignyosumarta Pr (Semarang) dan Ferry Sutrisna Wijaya Pr (Bandung)
Kepala Rumah Tangga Pastoran UNIO : Guido Suprapto Pr (Palembang)
Animator Regio Sumatra: Petrus Sukino Pr (Palembang)
Jawa: Antonius Garbito Pamboaji Pr (Bogor)
Kalimantan Barat : Dionisius Meligun Pr (Sanggau)
Kalimantan Timur : Simon Edy Kabul Teguh Santoso Pr (Banjarmasin)
Nustra Utara : Fransiskus Dei Dhae Pr (Ende)
Nustra Selatan : Leonardus Mali Pr (Kupang)
Manado, Ambon, Makassar : Marselinus Lolo Tandung Pr (Makassar)
Papua : Izaak Bame Pr (Manokwari-Sorong)

Y. Prayogo

http://www.hidupkatolik.com/2011/10/06/unio-wadah-persaudaraan-imam-dios...

Kusumawanta Pr: Panggilan Imam di Indonesia Menurun

HIDUPKATOLIK.com - Himbauan dan ajakan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi, pada Munas UNIO X di Keuskupan Sintang sangat penting. “Ini sesuatu yang sangat penting. Peringatan sekaligus penyadaran akan tugas dan panggilan seorang imam.”

Demikian Ketua UNIO Indonesia Periode 2011-2014 yang juga Sekretaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr.

Ditemui Y. Prayogo di Kantor Komisi Seminari KWI Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 15/8, imam Praja Keuskupan Denpasar yang lahir pada 10 November 1961 dan ditahbiskan pada 22 Agustus 1990 ini memaparkan tanggapan dan prioritasnya bagi UNIO Indonesia. Berikut petikannya:

Apa tanggapan Pastor terhadap imbauan dan ajakan Duta Besar Vatikan? 

Saya menanggapi positif apa yang disampaikan Duta Besar, terutama tentang krisis identitas dan moral sebagai imam. Ini harus menjadi bahan refleksi dan introspeksi bagi imam Diosesan (Praja) agar menjadi sosok imam sejati.

Duta Besar Vatikan menyinggung tentang penurunan jumlah panggilan imam. Apakah ini sudah terjadi di Indonesia? 

Jika dibuat rata-rata, jumlah panggilan imam di Indonesia belum menurun. Di beberapa keuskupan memang terjadi penurunan. Tapi, di keuskupan tertentu jumlah panggilan imam cenderung stabil, bahkan mengalami kenaikan.

Kesadaran akan penurunan jumlah panggilan imam sudah ada. Maka, untuk mengantisipasi, sejak tahun 2008, Komisi Seminari KWI mengadakan lokakarya untuk promosi panggilan secara nasional.

Lalu, bagaimana dengan kualitas hidup imamat? 

Tentang hal ini, saya tidak bisa memberikan penilaian karena banyak hal yang mempengaruhi. Namun, bagi saya, kualitas hidup imamat seorang imam dapat diukur dari kematangan atau kedewasaan hidup pribadi dan kemampuan memimpin atau menggembalakan umat. Di antara dua aspek ini, masih ada aspek lain, yaitu intelektualitas, afeksi, dan keterampilan. Untuk itu, pembinaan dan pendidikan di seminari menjadi sangat penting.

Duta Besar Vatikan juga menyinggung tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh imam. Apa tanggapan Pastor? 

Badan Kerjasama Bina Lanjut Imam Indonesia (BKBLII) pernah melakukan focus group discussion (FGD) tentang kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan kaum klerus dan religius. Baru-baru ini, ada surat dari Kongregasi Ajaran Iman yang mengharapkan agar para uskup di seluruh dunia memperhatikan gejala-gejala kasus pelecehan seksual oleh para imam. Diharapkan, para uskup membuat pedoman untuk menangani kasus-kasus seperti ini. Jadi, jika terjadi kasus, ada pedoman untuk menangani dan menyelesaikannya.

Apa yang akan menjadi prioritas UNIO Indonesia ke depan? 

Saya berharap, UNIO keuskupan mengadakan diskusi dan refleksi bersama atas ajakan Duta Besar Vatikan ini, sesuai dengan kekhasan masing-masing keuskupan. Selain itu, pertemuan juga bisa dijadikan ajang untuk menjalin persaudaraan. 

Kami, pengurus UNIO Indonesia, juga akan tetap melakukan on going formation (OGF) dan mendorong agar koordinator regio lebih aktif mengadakan pertemuan di regionya. Saya juga berpikir akan membuat sebuah pedoman bina lanjut imam Diosesan. Ini semacam buku pegangan untuk bina lanjut imam Diosesan. Selain itu, kami sedang mengusahakan membangun “rumah kebahagiaan imam Diosesan” untuk para imam Diosesan yang telah lanjut usia, serta pengadaan rumah studi untuk imam Diosesan di Jakarta.

Y. Prayogo - 

 
Tags: 

MUNAS X UNIO Indonesia di Sintang, Kalbar

PADA hari Senin, 1 Agustus 2011 telah dibuka perhelatan akbar Munas X Unio Indonesia di Keuskupan Sintang, Kalbar dengan ditandai pemukulan gong oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, HE Archbishop Antonio Guido Filipazzi, didampingi oleh Ketua Unio Indonesia, RD. Ferry Sutrisna Wijaya, Ketua Unio Keuskupan Sintang, RD. Piet Apot Anggraini, Bapak Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus dan Bapak Bupati Sintang, Milton Crosby. Pada malam itu acara pembukaan Munas X selain diawali dengan sambutan-sambutan, selanjutnya disemarakkan dengan aneka pentas tarian etnik budaya Dayak yang dipersembahkan oleh kaum muda-mudi Katolik Keuskupan Sintang.

SEKILAS MUNAS UNIO INDONESIA

MUNAS Unio Indonesia diadakan tiga tahun sekali. Sejak tahun 2005 pada Munas VIII di Palasari Bali, para peserta Munas, yakni para imam diocesan dari pelbagai keuskupan di Indonesia, diajak untuk live in atau tinggal di tengah umat. Hal yang sama terjadi pada tahun 2008 pada Munas IX di Makassar dan Tana Toraja. Pada Munas X di Keuskupan Sintang ini para imam dan para bapak uskup yang hadir juga tinggal di rumah-rumah umat di wilayah Paroki Katedral Sintang, Kalbar.

Pada hari Selasa, 2 Agustus 2011 Misa Pembukaan Munas X Unio Indonesia diselenggarakan di Gereja Katedral yang dipersembahkan oleh tujuh Bapak Uskup sebagai selebran utama didampingi oleh Ketua Unio Sintang dan Ketua Unio Indonesia serta lebih dari 100 imam diocesan dan satu-dua imam tarekat, puluhan biarawati dan ribuan umat di Keuskupan Sintang. Nuncio ikut dalam Perayaan Ekaristi dengan duduk di tempat khusus di panti imam. Mgr. Blasius Pujoraharjo, Uskup Ketapang dan Penasihat Unio Indonesia, yang menjadi selebran utama menekankan pentingnya persaudaraan imamat yang berpusat pada Yesus Kristus, Gembala yang baik. Dan dalam homili yang dibawakan oleh Mgr. Petrus Timang, Uskup Banjarmasin, mengulas tema "Menemukan Wajah Yesus dalam diri Gembala yang Baik" serta menghubungkan dengan tema umum Munas X Unio Indonesia 2011 ini: "Menemukan Wajah Yesus di Bumi Kalimantan". Seorang imam hendaknya menghadirkan Wajah Tuhan, mengenal latar belakang budaya dan mencintai lingkungan hidup, demikianlah kata Mgr. Petrus Timang yang ditahbiskan menjadi Uskup Banjarmasin pada tahun 2008 setelah diumumkan pada Munas IX Unio Indonesia di Makassar.

PENGARAHAN DARI NUNCIO

SIDANG Munas X Unio Indonesia pada hari pertama, Selasa, 2 Agustus 2011 diawali dengan pengarahan Duta Besar Vatikan, Mgr. Antonio Guido Filipazzi berjudul: "Beberapa Pertimbangan tentang Ajaran Paus Benediktus XVI mengenai Imamat Ministerial". Ada tiga julukan yang dikenakan pada imam terkait hubungan fundamentalnya dengan Kristus, yakni imam adalah sahabat Tuhan Yesus, hamba-Nya, dan orang yang, seperti Yohanes Pembaptis, menjadi suara yang melayani Sang Sabda.

Nuncio mengajak para imam untuk menghayati misteri imamat dengan menarik aplikasi-aplikasi bagi kehidupan dan pelayanan imam saat ini yang meliputi (1) penyadaran dan pembinaan, (2) berbagai prioritas kehidupan imam, dan (3) imam dan panggilan. Ajakan nuncio mendapat tanggapan positif dan penuh antusias dari para imam dan bapak Uskup yang hadir dalam sidang. Mgr. Yulianus Sunarko, SJ, Bapak Uskup Purwokerto, mensharingkan dan menganalisa perbandingan suasana Gereja (dan para imam) di Eropa pada tahun 80-an dengan realitas Gereja di Indonesia tahun ini serta di masa mendatang.

WACANA BIDANG SOSIAL-POLITIK

Sidang kedua bertemakan "Keterlibatan Imam dalam Bidang Sosial Kemasyarakatan" yang menghadirkan seorang narasumber Bapak Lazarus, S.Sos. M.Si. Romo Edy Purwanto, Wakil Ketua Unio 2008-2011 yang pernah menjadi sekretaris eksekutif Komisi Kerawam KWI, menjadi moderator dalam sidang kedua ini.

Menarik bahwa dalam sessi tanya jawab tampil sebagai penanggap yang pertama Mgr. PC. Madagi, MSC yang memberi semangat kepada para imam untuk berani berpolitik di Bumi Indonesia ini. Sekaligus mengkoreksi pembicara soal gambaran "politik praktis" bagi umat Allah dan para imam. Romo Paulus Tongli dari Keuskupan Agung Makassar menyampaikan 2 hal: (1) bahaya pragmatisme dan (2) pentingnya komisi kerasulan awam, agar para imam mau ditugaskan untuk pendampingan ini.

 

KUNJUNGAN KE KOPERASI KREDIT

Sidang ketiga mengangkat tema: "Pemberdayaan Masyarakat melalui Koperasi Kredit (CU)" yang diadakan di dua tempat, yakni di CU Bima, dan yang lain di CU Keling Kumang di kota Sintang. Masing-masing kelompok mendengarkan sharing, perkenalan dan presentasi dari pengurus Koperasi Kredit tentang upaya mengangkat masyarakat dayak memenuhi kebutuhan hidup mereka dalam kelompok CU (Credit Union).

                Di kantor CU Keling Kumang, yang sudah mulai dengan mesin ATM itu, Bapak Yohanes setelah memperkenalkan teman-temannya, sebagai GM (General Manager), mempresentasikan soal CU Keling Kemang dan Transformatif Organization. Tiga pilar yang harus dipegang teguh dalam CU ialah (1) Pendidikan, (2) Silidaritas dan (3) Swadaya.

                Di kantor CU Bima, kabarnya Mgr. Y. Sunarko SJ, dengan antusias menanggapi sharing dan presentasi dari karyawan Komperasi Kredit yang sedang popular di masyarakat Kalbar beberapa tahun ini. Ketika kami diundang santap malam di pendopo Bapak Bupati Sintang, soal perkembangan koperasi Kredit di tengah masyarakatnya, sempat dikisahkan dengan kegiatan harian setiap warga bahwa setiap pagi mereka mendengar kokok ayam jago yang berbunyi: "Ceee Uuuuu!" Dan mulailah warga desa dan kota bekerja untuk mendapatkan uang untuk disimpan atau dikelola di kantor CU mereka.

PEMILIHAN PENGURUS BARU

Imam Projo di Tengah Konteks Multikultural

Imam Projo di Tengah Konteks Multikultural
“Menemukan Benih-Benih Sabda di Toraja”

Musyawarah Nasional IX Paguyuban Imam Projo (UNIO) Indonesia
Makassar-Toraja, 04-10 Agustus 2008

Musyawarah Nasional IX Unio Indonesia yang mengambil tema: “Imam Projo di tengah Konteks Multikultural” dengan Sub Tema: “Menemukan Benih Sabda di Toraja” baru saja selesai. Ada beberapa hal menarik yang patut dicatat dari Munas kali ini: merupakan perhelatan nasional UNIO yang pertama kali digelar di luar Jawa-Bali; perayaan ekaristi yang pembuka yang dipimpin oleh Duta Vatikan Mgr. Leopoldo Girelli, dibuka langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan Bpk. Syahrul Yasin Limpo, dihadiri oleh 11 orang Uskup (Mgr.Leopoldo Girelli – Dubes Vatikan, Mgr.Blasius Pujaraharja, Pr. – Uskup Ketapang, Mgr.Prajasuta MSF – Uskup Banjarmasin, Mgr.Agustinus Agus, Pr. – Uskup Sintang, Mgr.Jos Suwatan, MSC – Uskup Manado, Mgr.Julius Sunarka, SJ – Uskup Purwokerto, Mgr.P.C. Mandagi, MSC – Uskup Amboina, Mgr.H. Datus Lega, Pr. – Uskup Sorong, Mgr.Nicolas Adi Seputra, MSC – Uskup Agung Merauke, Mgr.John Philip Saklil, Pr. – Uskup Timika, Mgr.John Liku Ada’, Pr. – Uskup Agung Makassar, Mgr.Piet Timang, Pr. – Uskup Terpilih Banjarmasin) bersama dengan beberapa utusan negara tetangga (Malaysia – 1 orang , Filipina – 1 orang , Timor Leste – 2 orang, Thailand – 2 orang), dan dihadiri oleh kurang lebih 87 orang imam dari 37 Keuskupan di Indonesia.

Fakta yang paling menarik adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah Unio Indonesia, pelaksanaan terbagi dalam dua kegiatan besar di dua tempat yang berbeda. Kegiatan Persidangan dilaksanakan di Makassar pada tanggal 04–07 Agustus 2008. Sementara Kegiatan Refleksi bersama Umat dilaksanakan di Toraja pada tanggal 07–10 Agustus 2008. Pemilihan Toraja sebagai tempat refleksi bersama umat dan masyarakat terjadi atas dasar permintaan para peserta Munas VIII UNIO Indonesia di Palasari, Bali tahun 2005 yang lalu. Hal ini terjadi karena para peserta Munas UNIO pada waktu itu merasa perlu melihat bagaimana iman kristiani dapat berkembang di tengah kebudayaan yang demikian unik seperti Toraja.
Untuk memperjelas bagaimana proses pelaksanaan Munas ini berjalan, berikut kami memberikan gambaran pelaksanaan Munas baik yang terjadi di Makassar maupun di Toraja.

Kegiatan di Makassar, 4–6 Agustus 2008
Kegiatan di Makassar berlangsung 4-6 Agustus 2008. Pada tahap ini, seluruh rangkaian kegiatan secara khusus diperuntukkan bagi pelaksanaan berbagai macam sidang.

1. Pra Kegiatan dan Penjemputan Peserta, Sebelum 4 Agustus 2008
Sejak dibentuk pada akhir 2007, Panitia Pelaksana Munas IX Unio Indonesia sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan: rapat-rapat persiapan dan lobi ke pihak pemerintah dan donatur, serta proses pencarian dana. Sebagai catatan, hal yang sama juga terjadi di Toraja. Puncak kesibukan persiapan adalah hari-hari terakhir menjelang pembukaan kegiatan. Proses terakhir dari persiapan kegiatan adalah penjemputan peserta yang mulai berdatangan sejak hari pertama dalam bulan Agustus.
Diawali dengan kedatangan Dubes Vatikan, rangkaian kedatangan peserta dimulai. Para peserta (termasuk para uskup) diantar untuk menginap pada keluarga-keluarga yang menyatakan kesediaannya untuk menerima mereka. Proses refleksi peserta sebenarnya sudah mulai terjadi pada tahap ini: peserta diajak untuk mengenal kehidupan umat yang berada di tengah kesibukan dan tantangan kota besar seperti di Makassar.

2. Perayaan Ekaristi dan Acara Pembukaan, 4 Agustus 2008
Tepat pukul 17.00 pada tanggal 04 Agustus 2008, perayaan ekaristi pembukaan Munas IX Unio Indonesia dimulai. Perayaan dilaksanakan di Paroki St. Fransiskus Asisi Panakkukang dan dipimpin oleh Duta Vatikan, Mgr. Leopoldo Girelli bersama para uskup yang hadir dari berbagai keuskupan di Indonesia, perwakilan pengurus Unio Indonesia (Ketua: P. St. Ferry Sutrisna) serta Perwakilan Unio Internasional (Fr. Franco Mulakkal). Dalam suasana inkulturatif Makassar para uskup dan para imam, baik peserta maupun imam Keuskupan Agung Makassar dengan jumlah kurang lebih 167 orang berarak memasuki Gereja dengan diiringi tabuhan gendang dan tarian “Batara” sebagai ungkapan penyambutan tamu agung.

Di awal perayaan, Pastor Paroki – P. Victor Patabang - atas UNIO Unit KAMS dan umat di Paroki St. Fransiskus Asisi menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta. Antusiasme umat untuk hadir dalam perayaan sangat terasa. Hal itu nampak dari dipenuhinya seluruh tempat duduk dan lokasi yang berada di sekitar Gereja. Suasana menjadi sedemikian meriah dalam perayaan itu dengan hadirnya persembahan lagu yang merupakan kolabolarasi Paduan Suara Resurrectionis dengan kelompok pengiring langgam keroncong “Bunga Desa” (yang berlatar belakang saudara-saudari kaum muslim), serta kelompok nyanyi anak-anak dengan iringan angklung dari BMA (Bina Musik Assisi).

Dalam khotbahnya, Uskup Agung KAMS, Mgr. John Liku-Ada’, mengajak umat dan para imam untuk merenungkan pertanyaan Yesus: “Menurut kamu siapakah Aku ini?”. Lewat pertanyaan tersebut umat dan imam yang mengikuti perayaan ekaristi diajak untuk melihat pentingnya pengenalan akan pribadi Yesus Kristus lewat proses inkulturasi. Proses seperti itulah yang akan terjadi selama munas berlangsung. Para imam akan diajak untuk sungguh mengalami dan mengenal kehadiran Yesus dengan segala bentuk khas dan tantangannya dalam budaya setempat baik di Makassar maupun di Toraja.

Tags: 
Subscribe to RSS - munas