ATAMBUA – UnioIndonesia.org Ketua Unio Indonesia, RD. Florens Maxi Un Bria, bertemu dengan 12 imam projo Keuskupan Atambua yang mengikuti kegiatan Ongoing Formation (OGF) di Emaus Pastoral Center (EPC), Nela, Atambua, Selasa (20/10/2026), pkl. 20.30 WITA. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat identitas imam diosesan, meneguhkan spiritualitas persaudaraan imamiah, serta mendorong pentingnya pembinaan berkelanjutan dalam kehidupan dan pelayanan para imam di Gereja partikular.


Dalam pengantar pertemuan, RD. Florens menyampaikan apresiasi kepada Unio Keuskupan Atambua yang telah menyelenggarakan kegiatan OGF sebagai salah satu bentuk tindak lanjut pertama setelah Musyawarah Nasional (Munas) XV Unio Indonesia di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada September 2026.

Menurut dia, kegiatan OGF tidak semata-mata menjadi kesempatan untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan pastoral para imam, tetapi terutama menjadi ruang untuk memperdalam kesadaran mengenai identitas dan tanggung jawab sebagai imam diosesan yang dipanggil untuk membangun Gereja partikular di keuskupan masing-masing.

Ia menyebutkan bahwa jumlah imam projo di seluruh Indonesia saat ini mencapai 2.792 orang. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya peran dan tanggung jawab imam diosesan dalam mengembangkan kehidupan Gereja, terutama melalui pelayanan sakramental, pendampingan pastoral, dan keterlibatan langsung dalam kehidupan umat.

Untuk menegaskan keluhuran panggilan imamat, RD. Florens mengutip pemikiran Santo Yohanes Maria Vianney mengenai peran imam yang tidak tergantikan dalam perayaan Ekaristi. Tanpa pelayanan imam, Ekaristi tidak dapat dirayakan sebagaimana ditetapkan dalam kehidupan sakramental Gereja.

Ia juga merujuk pada pemikiran Paus Benediktus XVI mengenai keluhuran Ekaristi sebagai karya ilahi yang melampaui berbagai bentuk kebaikan manusia. Betapapun besarnya kebaikan yang dilakukan manusia, nilai karya Allah yang berlangsung dalam Ekaristi memiliki kedudukan yang khas karena Allah sendiri bertindak dalam misteri keselamatan tersebut melalui pelayanan imam.

Dalam konteks itu, RD. Florens mengingatkan bahwa identitas imam tidak dapat dipisahkan dari kedekatannya dengan Kristus dan kesadaran akan tanggung jawab untuk menghadirkan karya keselamatan Allah di tengah kehidupan umat.

Pembahasan kemudian diarahkan pada pentingnya persaudaraan sebagai salah satu dimensi fundamental spiritualitas imam diosesan.

RD. Florens menjelaskan bahwa dalam kegiatan OGF Nasional di Bandung pada 2025, dikemukakan tiga bentuk persaudaraan, yakni persaudaraan biologis, persaudaraan sosiologis, dan persaudaraan teologis atau persaudaraan imamiah.

Persaudaraan biologis bertumpu pada hubungan keluarga dan ikatan darah, sedangkan persaudaraan sosiologis berkembang melalui hubungan sosial dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun persaudaraan teologis atau imamiah berakar pada kesatuan panggilan, tahbisan, dan perutusan para imam dalam pelayanan Gereja.

Menurut RD. Florens, persaudaraan imamiah inilah yang harus terus dikembangkan dalam kehidupan bersama para imam projo. Persaudaraan tersebut tidak cukup dipahami sebagai kedekatan personal atau kebersamaan dalam kegiatan tertentu, tetapi mesti diwujudkan melalui solidaritas, kesediaan untuk saling mendukung, dan tanggung jawab bersama terhadap keberlangsungan pelayanan Gereja.

Untuk memperjelas makna persaudaraan tersebut, ia menguraikan simbol-simbol yang terdapat dalam logo Unio Indonesia. Piala atau cawan melambangkan imamat dan pengorbanan, sedangkan tongkat melambangkan kepemimpinan uskup sekaligus kesatuan para imam dengan uskupnya. Sementara itu, lingkaran yang saling berantai melambangkan persaudaraan dan kesetaraan martabat para imam dalam kehidupan imamat.
Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan hubungan antara Unio Indonesia dan Unio pada tingkat keuskupan. RD. Florens mengatakan bahwa kehidupan Unio secara nyata berlangsung di keuskupan masing-masing, sedangkan Unio Indonesia menjalankan peran sebagai penghubung dan pemersatu Unio antarkeuskupan.
Dengan demikian, penguatan organisasi dan spiritualitas Unio mesti berangkat dari kehidupan nyata para imam dalam komunitas dan pelayanan di tingkat keuskupan.
Dalam kesempatan yang sama, RD. Florens menyampaikan sejumlah pemikiran para uskup yang selama ini memberikan perhatian terhadap pengembangan Unio Indonesia.
Ia mengutip pandangan Mgr. Agustinus Agus yang menempatkan persaudaraan sebagai perhatian utama dalam perjalanan Unio Indonesia. Berdasarkan pengalaman mengikuti Musyawarah Nasional Unio Indonesia sejak penyelenggaraan pertama hingga Munas XIV, Mgr. Agustinus Agus menegaskan bahwa persaudaraan senantiasa menjadi inti kehidupan Unio.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan Unio tidak cukup dinilai dari struktur organisasi ataupun program kegiatannya, tetapi terutama dari kualitas persaudaraan yang benar-benar tumbuh di antara para imam.
Sementara itu, merujuk pada pemikiran Mgr. Siprianus Hormat, RD. Florens menegaskan pentingnya OGF sebagai kebutuhan mendasar dalam kehidupan imam diosesan. Pembinaan tidak dapat dianggap selesai ketika seseorang menerima tahbisan, sebab perjalanan imamat menuntut proses pertumbuhan dan pembaruan yang terus berlangsung.
Ia juga memaparkan sejumlah aspek pembinaan yang mendapat perhatian Mgr. Robertus Rubiyatmoko, meliputi formasi, kepribadian, kerohanian atau spiritualitas, intelektualitas, pastoral, kehidupan komunitas, dan kesehatan.
Seluruh aspek tersebut perlu dikembangkan secara seimbang agar para imam memiliki ketahanan pribadi dan kualitas pelayanan yang memadai dalam menghadapi perubahan zaman.
Secara khusus, RD. Florens mengingatkan pentingnya pemeliharaan kehidupan rohani di tengah perkembangan teknologi digital. Tanpa kedalaman spiritualitas, imam berisiko kehilangan orientasi pelayanannya karena terbawa oleh tekanan dan derasnya arus kehidupan digital.
Selain kehidupan rohani, kehidupan komunitas juga menjadi tantangan tersendiri bagi imam diosesan. Kondisi pelayanan yang tersebar di berbagai wilayah sering kali menuntut para imam menjalankan tanggung jawab pastoral dengan intensitas tinggi sehingga kesempatan untuk membangun kebersamaan perlu terus diupayakan.
Karena itu, selain OGF, perhatian juga perlu diberikan pada permanent formation atau pembinaan permanen sebagai proses yang menyertai seluruh perjalanan kehidupan imamat.
Dalam kerangka pembinaan tersebut, para imam didorong untuk mengembangkan spiritualitas berpikir positif agar mampu menjadi pewarta kabar gembira yang menghadirkan harapan, membangun kepercayaan, dan memberikan penguatan kepada umat.
Selanjutnya, RD. Florens mengangkat pemikiran Mgr. Hilarion Datus Lega mengenai Unio sebagai paguyuban persaudaraan yang menumbuhkan semangat kebersamaan dan sikap saling membantu di antara para imam.
Semangat tersebut dirumuskan melalui spiritualitas priest helping priest, yakni imam yang hadir untuk membantu dan menopang sesama imam.
Dalam pemikiran tersebut, imam projo juga dipandang sebagai akar tunggang Gereja dan keuskupan. Gambaran ini menegaskan kedudukan imam diosesan yang berakar dalam kehidupan Gereja lokal dan memiliki tanggung jawab berkelanjutan terhadap pertumbuhan serta perkembangan umat.
RD. Florens selanjutnya menekankan kekhasan spiritualitas imam projo yang hidup dan melayani di tengah umat. Imam diosesan dipanggil untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan, hadir di tengah masyarakat, serta terlibat dalam berbagai dinamika kehidupan dunia tanpa kehilangan identitas dan orientasi spiritualnya.
Kekhasan lain yang tidak dapat dipisahkan dari identitas imam projo ialah keterikatannya dengan uskup dan Gereja lokal. Dalam hubungan tersebut, loyalitas kepada uskup menjadi bagian penting dari tanggung jawab imamat, yang perlu disertai sikap kritis dan konstruktif demi kebaikan bersama serta perkembangan pelayanan Gereja.
Berkenaan dengan penyelenggaraan OGF, RD. Florens menjelaskan bahwa program tersebut merupakan salah satu rekomendasi Munas XIV Unio Indonesia di Mataloko. Rekomendasi itu lahir dari kesadaran akan pentingnya ruang pembinaan yang tidak hanya mengembangkan kualitas pribadi imam, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan kebersamaan dalam menjalankan tugas pelayanan.
Menurut dia, persaudaraan yang kokoh tidak terbentuk dengan sendirinya. Persaudaraan membutuhkan sikap dan komitmen konkret yang terus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah sikap yang perlu dibangun antara lain kemurahan hati, kesediaan berbagi dengan sukacita, solidaritas dan bela rasa, kemampuan memahami sesama, serta kemauan untuk merawat persaudaraan dan kebersamaan.
Selain itu, para imam perlu mengembangkan kesiapsediaan untuk melayani dengan rela hati, kemampuan berbagi peran dan mendelegasikan tanggung jawab, serta komitmen untuk terus berjalan bersama sampai akhir.
Sikap-sikap tersebut menjadi penting mengingat kehidupan imamat tidak pernah terlepas dari perbedaan karakter, pengalaman, pandangan, dan tantangan pelayanan. Dalam situasi demikian, persaudaraan menuntut kesediaan untuk melampaui kepentingan pribadi dan membangun kehidupan bersama yang saling menguatkan.
Pada bagian akhir pertemuan, RD. Florens memberikan penekanan khusus pada spiritualitas memberi dan saling membantu sebagai wujud nyata persaudaraan imamiah.
Ia menegaskan bahwa kemurahan hati tidak menjadikan seseorang kehilangan sesuatu, tetapi justru memperkaya kualitas hidup dan relasinya dengan sesama.
Untuk menjelaskan gagasan tersebut, ia mengutip sebuah pepatah Tiongkok yang menggambarkan bahwa nilai kebaikan orang yang memberi diperhitungkan melalui perkalian, sedangkan nilai orang yang hanya menerima diperhitungkan melalui penambahan.
Melalui perumpamaan itu, RD. Florens hendak menunjukkan bahwa tindakan memberi memiliki daya pengganda karena kebaikan yang dibagikan dapat menghasilkan kebaikan-kebaikan baru dalam kehidupan bersama.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa semangat berbuat baik perlu disertai sikap realistis. Kemurahan hati harus tumbuh dari kesadaran yang matang, disesuaikan dengan kemampuan, serta diarahkan pada kebutuhan nyata sesama.
Perjumpaan yang menyenangkan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat orientasi pembinaan para imam projo Keuskupan Atambua melalui kegiatan OGF. Pesan utama yang mengemuka ialah bahwa kualitas imamat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pribadi dalam menjalankan pelayanan pastoral, tetapi juga oleh kesediaan untuk terus dibina, bertumbuh dalam spiritualitas, dan memelihara persaudaraan yang berakar pada kesatuan panggilan.
Dengan demikian, OGF diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pembinaan sesaat, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa perjalanan imamat merupakan proses pembentukan diri yang terus berlangsung, baik dalam hubungan dengan Kristus, kesatuan dengan uskup, maupun persaudaraan bersama sesama imam.
Penulis: Tim Media OGF Unio Keuskupan Atambua
Editor: Yudel Neno, Pr

