Tuhan Tak Pernah Absen

“Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: ‘Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.’ Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.” Lukas 13:12–13 · Senin Pekan Biasa XXX

Delapan belas tahun cukup untuk mengubah bayi menjadi orang dewasa. Selama itu pula seorang perempuan dalam Injil Lukas berjalan dengan tubuh tertekuk. Lukas mencatatnya singkat: ia sama sekali tidak dapat berdiri tegak (Luk 13:11). Kita tak tahu namanya, siapa keluarganya, atau bagaimana ia bertahan hidup. Yang kita tahu, selama delapan belas tahun dunianya adalah tanah di depan kakinya. Untuk menatap wajah orang, ia harus memiringkan kepala dengan susah payah. Barangkali yang paling melelahkan baginya bukan rasa sakit, melainkan pagi yang selalu sama.

Pada suatu hari Sabat, Yesus mengajar di sebuah rumah ibadat, dan perempuan itu ada di sana. Detail kecil ini mudah terlewat. Sakit yang panjang sering membuat orang berhenti datang, karena malu dipandangi, lelah ditanyai, atau kecewa pada doa yang tak kunjung dijawab. Ia tetap datang dan mendengarkan.

Yang lebih mengejutkan, ia tidak meminta apa-apa. Banyak orang sakit dalam Injil berteriak, menyentuh jubah, menerobos kerumunan, bahkan membongkar atap. Perempuan ini tidak. Ia tidak memanggil Yesus. Yesuslah yang melihatnya, memanggilnya, lalu berkata, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Ia meletakkan tangan-Nya, dan seketika perempuan itu berdiri tegak dan memuliakan Allah.

Delapan belas tahun membungkuk. Satu hari, Ia melihatnya.

Dilihat lebih dulu

Kita hidup di dunia yang memperhatikan suara paling keras. Yang mengeluh paling lantang dilayani lebih dulu, yang viral dibantu lebih cepat. Padahal banyak penderitaan berlangsung tanpa suara. Seorang ibu bertahun-tahun merawat suaminya yang lumpuh dan tak pernah mengeluh di depan tetangga. Seorang ayah menyembunyikan cemasnya soal uang sekolah anak di balik kelakar di warung kopi. Ada pula orang yang tersenyum setiap hari sambil memikul pergumulan yang tak pernah ia ceritakan, supaya tidak membebani siapa pun.

Orang-orang di rumah ibadat itu barangkali sudah terbiasa dengan si perempuan bungkuk. Delapan belas tahun cukup untuk mengubah penderitaan seseorang menjadi pemandangan biasa. Yesus melihat apa yang tak lagi dilihat orang. Di balik punggung yang melengkung, Ia melihat manusia yang terus bertahan. Ia tidak memerlukan permohonan panjang untuk tahu apa yang sedang ditanggung seseorang.

Delapan belas tahun cukup untuk mengubah penderitaan seseorang menjadi pemandangan biasa.

Diam yang bukan absen

Namun kisah ini menyisakan pertanyaan yang tak nyaman. Mengapa harus delapan belas tahun? Bila Ia berkuasa menyembuhkan, mengapa tidak sejak tahun pertama?

Lukas tidak menjawabnya, dan kita sebaiknya tidak tergesa mengisi kekosongan itu. Allah tidak menciptakan kejahatan dan tidak bersukacita atas penderitaan manusia. Ia memang sanggup menarik kebaikan dari yang buruk. Hari itu, derita yang lama tersembunyi menjadi saksi belas kasih-Nya di hadapan orang banyak. Tetapi itu tidak berarti setiap sakit adalah hukuman, atau bahwa orang harus menderita dulu supaya layak dikasihi.

Yang perlu dikoreksi justru cara kita mengukur. Kita menilai kebaikan Tuhan dari seberapa cepat doa dikabulkan. Ketika sakit tak kunjung sembuh, rumah tangga tetap sulit, atau utang tak lunas bertahun-tahun, kita mulai bertanya apakah Ia masih mendengar. Pertanyaan itu manusiawi. Kisah perempuan bungkuk tidak menghapusnya, tetapi memberinya jawaban yang lebih tahan lama: diamnya Tuhan tidak sama dengan ketidakhadiran-Nya.

Kejujuran juga menuntut kita mengakui hal yang sering dihindari mimbar: tidak semua kesabaran berakhir dengan mukjizat. Ada yang berdoa bertahun-tahun dan penyakitnya tetap tinggal. Ada yang meninggal sebelum keadaannya berubah. Harapan kristiani tidak menjanjikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Ia adalah keyakinan bahwa Allah tetap menyertai ketika keadaan tidak berubah. Kadang Ia membebaskan, kadang Ia menguatkan.

Menerima salib juga tidak berarti menyerah. Kita tetap berobat, meminta tolong, dan melawan ketidakadilan. Namun ketika semua usaha sudah dijalani dan beban masih harus dipikul, iman yang matang tampak dalam keberanian untuk tetap percaya, meski belum memahami seluruh jalannya.

Lembu, keledai, dan seorang putri

Kisahnya tidak berhenti pada kesembuhan. Kepala rumah ibadat gusar. Ia tidak marah karena seorang perempuan telah menderita delapan belas tahun, tetapi karena kesembuhan itu terjadi pada hari Sabat. Kepada orang banyak ia berkata: ada enam hari untuk bekerja, datanglah pada hari-hari itu untuk disembuhkan. Aturan menjadi lebih besar daripada manusia.

Jawaban Yesus tajam dan membumi. Pada hari Sabat pun, kata-Nya, kalian melepaskan lembu atau keledai dari kandang untuk dibawa minum. Dalam bahasa Yunani, Lukas memakai kata kerja yang sama, lyō · melepaskan, untuk lembu yang dilepaskan dan untuk perempuan yang harus dilepaskan dari ikatannya. Kalau tali seekor hewan boleh diurai pada hari Sabat, mengapa ikatan seorang manusia yang sudah berlangsung delapan belas tahun tidak boleh?

Lalu Yesus menyebutnya putri Abraham, sebutan yang dalam Perjanjian Baru hanya muncul di sini. Perempuan yang selama ini dikenal lewat punggungnya dikembalikan martabatnya sebagai anggota umat perjanjian. Pada zaman itu orang mudah menghubungkan sakit dengan dosa, tetapi Yesus tidak mencari-cari kesalahannya. Ia membelanya, dan pembelaan itu pun tidak pernah ia minta.

Dari sini lahir panggilan bagi kita: jangan hanya mengasihani orang yang menderita, belajarlah mengagumi mereka. Orang yang bertahun-tahun merawat keluarganya yang sakit, bangun berkali-kali setiap malam dan menangis sendirian di dapur, tidak pernah menerima piagam. Begitu pula orang dengan keterbatasan fisik yang tetap bekerja, orang yang ditinggal mati dan perlahan belajar hidup kembali, orang yang diperlakukan tidak adil dan berjuang agar hatinya tidak menjadi pahit. Penderitaan tidak otomatis membuat orang lebih baik, sebab ia bisa melukai dan mengguncang iman. Namun bila dijalani bersama rahmat, di sanalah tumbuh kesabaran dan keteguhan yang tidak bisa dipelajari di tempat lain.

Karena itu, jangan tergesa menghakimi. Jangan menganggap hidup yang berat sebagai tanda kurang diberkati. Yang paling dibutuhkan orang yang menderita sering kali bukan ceramah tentang kesabaran. Ia butuh seseorang yang mau melihatnya lebih dulu, sebelum ia sempat meminta.

Perempuan itu tidak pernah meminta. Ia hanya datang, membungkuk, dan mendengarkan, seperti banyak orang di sekitar kita hari ini. Selama delapan belas tahun mungkin tak seorang pun benar-benar melihatnya, tetapi Tuhan tidak pernah absen dari hidupnya. Hari itu Ia melihatnya lebih dulu, memanggilnya, lalu membelanya di hadapan orang yang lebih sibuk menghitung hari daripada menghitung luka. Tugas kita tidak jauh berbeda: hadir bagi mereka yang tak pernah meminta, supaya tak ada lagi yang merasa ditinggalkan, baik oleh Tuhan maupun oleh sesamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *