HR SP Maria Diangkat ke Surga – 10 Agt 2025 (Luk 1:39-56):

DAPATKAH FIRDAUS PULIH KEMBALI?

Empat hal mengenai Maria dinyatakan sebagai ajaran iman dalam Gereja
Katolik. Dua di antaranya berasal dari zaman para Bapa Gereja, yakni
(1) Maria tetap Perawan, (2) Maria Theotokos, yakni Maria mengandung
dan melahirkan Tuhan Yesus, dan dua lainnya dari abad 19 dan 20
meskipun sudah dirayakan sejak berabad-abad sebelumnya, yaitu: (3)
Maria dikandung tanpa noda dosa asal (dinyatakan sebagai ajaran iman
tahun 1854) dan (4) Maria diangkat ke surga jiwa dan badan. Yang
terakhir ini baru resmi dinyatakan sebagai bagian ajaran iman Gereja
Katolik pada tahun 1950 meski sudah dirayakan di pelbagai tempat sejak
abad ke-4.

MENEMUKAN YANG HILANG
Merayakan peristiwa Maria diangkat ke surga dapat menjadi ungkapan
kepercayaan akan masa depan kemanusiaan sendiri. Pada satu saat nanti
umat manusia akan kembali berada bersama dengan Tuhan di surga. Masa
depan seperti ini bisa pula terjadi karena salah satu dari
kemanusiaan, yakni Maria, dipercaya sudah ada di sana dan kini ia
melantarkan doa-doa permohonan dari yang biasa hingga yang amat khusus
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita acap kali menyadari bahwa Tuhan
lebih mendengarkan kita – berkat Maria – daripada kita
mendengarkan-Nya. Maria tahu jalan-jalan menyampaikan doa kita kepada
Yang Maha Kuasa.

Diceritakan dalam Kitab Kejadian, manusia dan istrinya diusir dari
Firdaus karena melanggar larangan memakan buah pengetahuan baik dan
buruk. Ini dosa. Dosa membuat kemanusiaan merosot. Sebelumnya mereka
akrab dengan dunia ilahi, dapat bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia
merasa aman di hadapan-Nya. Tapi begitu mereka sadar telah melanggar
larangan-Nya, mereka takut bertemu dengan-Nya dan menyembunyikan diri.
Rasa saling percaya rusak dan mereka tidak lagi dapat berdiam di
Firdaus. Dikatakan Tuhan mengusir mereka dan bahkan menempatkan
malaikat penjaga berpedang api agar mereka tak bisa mendekat ke pohon
kehidupan. Manusia kini harus berjerih payah mencari makan agar hidup
terus. Istrinya harus menderita tiap kali mau menjadi ibu. Dan
penggoda mereka, ular, dikutuk sehingga jalan melata. Tapi juga
dikatakan seorang keturunan perempuan yang diperdayakannya itu nanti
akan meremukkan kepalanya. Ini semuanya ada dalam Kitab Kejadian 3,
khususnya Kej 3:15.

Mari kita bayangkan kelanjutan yang tidak diceritakan dalam Alkitab,
tapi boleh kita rasa-rasakan. Setelah mengeluarkan manusia dari
Firdaus, Tuhan pun mengatupkan pelupuk mata menghela nafas. Dan semua
penghuni surga pun tertunduk diam. Seluruh Firdaus lengang. Tuhan
kesepian. Suatu hari Ia mengambil keputusan untuk turun ke dunia
mencari manusia yang telah dipergikan-Nya. Ia pun mengubah diri
menjadi suara batin yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian,
manusia diam-diam dituntun-Nya melangkah, dengan jatuh bangun, lewat
lorong-lorong lain kembali ke Firdaus, lewat jalan yang tidak dijaga
malaikat berpedang api. Begitulah Ia berharap satu ketika nanti
manusia akan bisa berada kembali di surga mengusir suasana murung
untuk selama-lamanya.

Hari ini dirayakan kembalinya satu dari keturunan yang telah terusir
dari Firdaus tadi. Bukan itu saja. Dirayakan pula pulihnya suasana
gembira di surga. Dirayakan kebesaran Tuhan yang dapat membawa kembali
kemanusiaan ke sana. Dirayakan kemampuan manusia untuk berada bersama
dengan Tuhan. Dirayakan orang yang hidup tulus membiarkan diri
dituntun suara batin. Dan lebih dari itu. Kandungan suara batinnya itu
menjadi darah daging juga – menjadi manusia. Manusia pertama yang
bangkit dari kematian dan naik ke surga. Yesus dan dia yang kini
mengisi surga dengan kegembiraan. Dia itulah yang menuntun manusia
kembali ke sana. Sebagai Guru. Sebagai Gembala yang baik. Sebagai
Penyelamat. Tak mengherankan yang pernah membawanya masuk ke dunia ini
dengan sendirinya ikut terbawa kembali ke surga. Dia itu Maria, ibu
Yesus.

KIDUNG MAGNIFIKAT
Bacaan Injil pada perayaan hari ini (Luk 1:39-56) memuat dua bagian,
yakni kisah Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45) dan Kidung Pujian
“Magnifikat” (ay. 46-55) yang berakhir dengan ay. 56 sebagai penutup
kisah. Bagian pertama mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati
diri beruntung. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak
mengandung sampai usia senja kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis.
Dan dia yang masih ada dalam rahim itu melonjak kegirangan mendengar
salam yang diucapkan Maria yang datang berkunjung. Maria sendiri harus
melewati hari-hari tak enak memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan
dirinya kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang
datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi. Jawab malaikat
menunjuk pada peran Roh Kudus. Begitulah kisah yang disampaikan kepada
kita oleh Lukas. Dan kelanjutannya kita ketahui. Maria membiarkan Roh
Kudus bekerja dalam dirinya. Itu dia Tuhan yang mengubah diri menjadi
suara hati manusia. Dan suara hatinya itu jugalah yang membuatnya
berkata “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!”

Roh yang sama juga yang membuat Maria mengidungkan pujian yang
dibacakan hari ini. Kidung itu mulai pada ay. 46 dengan pujian bagi
Tuhan yang turun ke bumi untuk menyelamatkan umat-Nya. Ia membuat
hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna. Kemudian dalam ay.
48 terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil
sehingga mereka menjadi besar di mata orang. Tak perlu kita tafsirkan
ini sebagai teologi pembalikan nasib orang miskin jadi kaya dan orang
kaya jadi melarat. Ayat itu mewartakan kebesaran Tuhan yang tidak
takut berdekatan dengan orang kecil, bukan karena tindakan ini
romantik, ideal, melainkan karena orang kecil itu dapat memberinya
naungan dan mengurangi kesepiannya! Orang sederhana biasanya ingat
Tuhan dan itu cukup membuat-Nya menemukan kembali secercah kegembiraan
yang telah hilang dari surga dulu. Ini teologi sehari-hari.

Ayat-ayat selanjutnya, yakni Luk 1:49-55, berupa pembacaan kembali
riwayat terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan besar
Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan
pihak-pihak yang menindas mereka. Puji-pujian yang terungkap dalam
Magnifikat ini senada dengan ungkapan kegembiraan dan kepercayaan akan
perlindungan ilahi seperti terdapat dalam Kidung Hana dalam 1Sam
2:1-10.

Sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan,
ketidakberuntungan, aib, semuanya ini dikenakan sebagai hukuman bagi
suatu kesalahan. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan
kepada keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman
berkelanjutan. Dalam Kidung Magnifikat pendapat seperti ini tidak
diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya
kepadanya yang meminta pertolongan dari-Nya. Bagaimana dengan orang
yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa?
Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka? Kiranya bukan itulah yang
dimaksud. Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap
seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang
beruntung. Sama sekali bertolak belakang bila orang membiarkan
kekayaan, kedudukan, kepintaran membuat sesama yang kurang beruntung
menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju. Inilah
yang kiranya hendak disampaikan dalam ay. 52-53 yang mengatakan bahwa
kaum congkak hati akan diceraiberaikan, orang berkedudukan akan
direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa. Kidung
Magnifikat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh
Tuhan dengan kelebihan bukan untuk menikmatinya, melainkan untuk
memungkinkan sesama ikut beruntung. Di sini tidak ditawarkan sebuah
teologi penjungkirbalikan nasib, melainkan pelurusan hakikat kehidupan
sendiri.

Kepercayaan akan kebesaran Tuhan tidak bisa diterapkan begitu saja
untuk memerangi ketimpangan sosial yang mengakibatkan adanya
ketidakadilan yang melembaga. Namun demikian, kepercayaan ini dapat
membuat manusia semakin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan
sendiri. Keterbukaan kepada kehadiran ilahi akan membuat orang makin
lurus.

MEMUNGKINKAN FIRMAN ALLAH BERTUMBUH
Dalam Injil bagi Misa Vigilia (Luk 11:27-28) disebutkan ada seorang
perempuan yang menyebut bahagia ibu yang melahirkan Yesus (Luk 11:27).
Yesus menambahkan, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan
firman Allah dan yang memeliharanya.” Kata Indonesia “memelihara” ini
dengan tepat mengutarakan kembali ungkapan aslinya yang memuat
pengertian menjaga, menelateni, membesarkan. Agak bergema teologi
sabda seperti diutarakan dalam pembukaan Injil Yohanes. Yang menarik
ialah adanya penekanan pada kegiatan pihak manusia. Dikatakan manusia
dapat memelihara sabda Allah. Berarti sabda itu juga bisa berkembang
dalam diri manusia dan bahkan menjadi bagian kehidupannya. Maria ialah
salah satu yang menjalankannya. Seperti diutarakan dalam Luk 1:38
“Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”, sabda Allah yang
dibawakan malaikat kepadanya menjadi kehidupan karena diterimanya dan
dikandungnya. Dan Maria melahirkannya tadi dalam ujud manusia.
Kata-kata Yesus yang diteruskan dalam Luk 11:28 tadi memperjelas apa
artinya berbahagia karena bisa melahirkan dan membesarkannya. Maria
berbahagia karena ia mendengarkan firman Allah serta memeliharanya.

Salam,
A. Gianto