
“Hal Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya, dan ia tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.” Lukas 13:19 · Selasa Pekan Biasa XXX
Kita gemar kisah dari kecil menjadi besar. Warung kopi di pinggir jalan yang kini punya ratusan cabang. Usaha rintisan yang dimulai di garasi lalu mengubah cara orang bekerja. Anak kampung yang kelak berdiri di podium dunia. Kisah semacam itu selalu laku, karena ia memberi kita harapan bahwa yang mungil pun punya masa depan.
Tetapi kita jarang bertanya bagaimana persisnya yang kecil itu menjadi besar. Yang kita kagumi biasanya hasil akhirnya: pohon yang rimbun, gedung yang menjulang, pengikut yang jutaan. Prosesnya kita lewati, seolah pertumbuhan terjadi begitu saja.
Injil hari ini (Luk 13:18–21) justru mengajak kita menengok ke bawah tanah. Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah dengan biji sesawi yang ditaburkan orang di kebunnya, lalu tumbuh menjadi pohon tempat burung-burung bersarang. Ia juga mengumpamakannya dengan ragi yang diambil seorang perempuan dan dimasukkan ke dalam tiga sukat tepung, sampai seluruh adonan mengembang. Dua perumpamaan, satu pertanyaan: apa yang terjadi di antara biji dan pohon, di antara segenggam ragi dan adonan yang mengembang?
Disembunyikan dulu
Jawaban pertama ada pada kata yang mudah terlewat. Terjemahan kita mengatakan ragi itu “diadukkan” ke dalam tepung. Dalam bahasa Yunani, Lukas memakai kata ekrypsen · menyembunyikan: perempuan itu menyembunyikannya. Biji sesawi pun bernasib serupa. Ia ditanam, masuk ke dalam tanah, hilang dari pandangan.
Pertumbuhan dalam Kerajaan Allah selalu dimulai dari yang tersembunyi. Tidak ada yang bisa memotret saat ragi bekerja atau saat akar pertama menembus tanah. Yang terjadi berlangsung dalam gelap, tanpa penonton dan tanpa tepuk tangan.
Hidup Yesus mengikuti pola yang sama. Ia lahir dan dibaringkan di palungan. Tiga puluh tahun Ia hidup di Nazaret, kampung yang tak tercatat dalam kitab-kitab tua, bekerja sebagai tukang. Ketika akhirnya Ia mewartakan Kerajaan Allah, Ia tidak membangun kekuasaan. Ia berjalan kaki dari desa ke desa, lalu berakhir di salib seperti seorang penjahat.
Biji yang harus pecah
Jawaban kedua lebih sulit diterima. Biji tidak tumbuh dengan tetap utuh. Kulitnya harus pecah, isinya harus habis menjadi makanan bagi kecambah. Yesus sendiri mengatakannya dalam Injil Yohanes: jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24).
Di mata dunia, salib adalah kegagalan. Di mata iman, salib adalah saat biji itu pecah. Kasih Allah dinyatakan justru ketika Yesus menyerahkan hidup-Nya, dan dari hidup yang diserahkan itu lahir keselamatan bagi banyak orang.
Bahkan setelah bangkit, Ia tidak memilih panggung. Ia tidak muncul di Bait Allah dengan kemuliaan yang membungkam para penentang-Nya. Ia menemui murid-murid-Nya satu per satu: menyapa yang berduka, menenangkan yang takut, menguatkan yang ragu.
Gereja pun tumbuh dengan cara yang sama. Sekelompok kecil murid dengan latar belakang biasa, berkumpul di rumah-rumah, dibayangi penolakan dan penganiayaan. Paulus mencatat apa yang ia tanggung: dipenjara, didera, tiga kali mengalami karam kapal, lapar dan haus (2 Kor 11:23–27). Ia tidak menjadi besar dengan menghindari semua itu. Injil berakar di kota-kota dan bangsa-bangsa justru lewat kesetiaannya menanggung semua itu.
Siapa yang menumbuhkan
Lalu, siapa sebenarnya yang membuat biji itu tumbuh? Di sini Injil memberi jawaban yang paling rendah hati. Dalam perumpamaan lain, Markus bercerita tentang seorang petani yang menabur benih, lalu tidur dan bangun, malam dan siang. Benih itu bertunas dan tumbuh, dan orang itu tidak tahu bagaimana caranya (Mrk 4:26–29). Paulus mengatakan hal serupa kepada jemaat Korintus: aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1 Kor 3:6).
Tugas manusia adalah menanam, menyembunyikan ragi, dan setia merawat. Pertumbuhan itu sendiri tetap rahasia Allah. Karena itu kita tak perlu cemas ketika hasilnya belum kelihatan, dan tak perlu sombong ketika hasilnya mulai tampak.
Pesan ini terasa tajam bagi zaman yang mengukur segala sesuatu dengan angka tayang dan jumlah pengikut. Injil kini bisa menjangkau banyak orang lewat tulisan, gambar, musik, dan video. Semua itu baik, dan dapat menjumpai orang di tempat mereka berada. Tetapi video yang indah hanya membuat orang berhenti sejenak. Yang mengubah hidup seseorang tetaplah sabda yang diterima dengan hati terbuka, lalu bekerja diam-diam seperti ragi dalam adonan. Pertumbuhan yang sejati jarang bisa diukur pada minggu pertama.
Hal yang sama berlaku dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin merasa iman kita masih kecil. Kita berdoa tetapi masih cemas, berusaha sabar tetapi mudah tersinggung, mencoba berbuat baik di rumah atau di lingkungan tetapi rasanya tak ada yang memperhatikan. Jangan cepat berkecil hati. Permintaan maaf yang tulus, kesediaan mendengarkan anggota keluarga, kunjungan kepada orang sakit, dan doa yang tetap dipanjatkan di tengah kesulitan adalah biji-biji yang sedang bekerja di bawah tanah.
Perhatikan juga untuk apa pohon itu tumbuh besar. Bukan untuk dikagumi, melainkan supaya burung-burung punya tempat bersarang.
Ukuran keberhasilan Kerajaan Allah tidak terletak pada tinggi pohonnya, tetapi pada berapa banyak yang menemukan keteduhan di cabang-cabangnya.
Kita boleh terus mengagumi kisah dari kecil menjadi besar. Namun Injil hari ini mengajak kita mengagumi bagian yang tak pernah difoto: waktu yang panjang di bawah tanah, kulit biji yang rela pecah, dan tangan Allah yang bekerja ketika kita tertidur. Kerajaan Allah tidak datang dengan gemuruh. Ia selalu mulai dari hal-hal kecil yang ditanam dengan iman dan kasih, lalu dibiarkan tumbuh dalam gelap, sampai pada waktunya Allah sendiri membuatnya menjadi pohon.
